Setan Harpa Jilid 23

 
Jilid 23

TINDAKAN dari Thia Eng ini benar-benar jauh diluar dugaan siapapun juga, bukanlah ia sudah terkena racun keji dan tak mungkin bisa menggunakan tenaga dalam lagi? Agaknya Yu leng lojin juga dibikin tertegun oleh kejadian tersebut, sehingga untuk sesaat lamanya ia cuma bisa berdiri melongo.

Dalam waktu singkat Thia Eng telah berhasil merampas kedua buah benda mestika itu dari tangan lawan. Yu Leng lojin segera membentak keras, tubuh berikut kursinya bersama sama meluncur ke depan dan menerjang ketujuh Thia Eng.

000OdwO000

BAB 72

SUNGGUH hebat dan mengerikan serangan yang dilancarkan Yu leng lojin dalam keadaan gusar ini, tak bisa dihindari lagi Thia Eng kena dipaksa sehingga harus mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Cepat-cepat ia membalikkan badannya untuk menghindarkan diri. kemudian telapak tangan kanannya diayunkan kemuka balas melancarkan sebuah pukulan kilat.

Yu leng lojin segera melayang mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula, bentaknya:

"Saudara, mengapa kau tidak segera kau serahkan kedua buah benda mustika itu kepadaku?"

Thia Eng mengejek sinis sambil tertawa dingin:

"Atas dasar apa kau memerintahkan diriku untuk berbuat demikian?"

"Saudara, memangnya kau sudah tak mau lagi nyawamu itu? Ketahuilah kau sudah terkena racun jahatku!"

"Jangan kuatir." kata Thia Eng sambil tertawa dingin, "kalau cuma racun semacam itu mah masih selum cukup mampu untuk melukai diriku racunmu itu tidak mempan terhadap diriku"

Paras muka Yu leng lojin berubah sedikit, agaknya ia terkejut mendengar perkataan tersebut. "Apakah sama sekali tidak merasakan gejala-gejala keracunan di dalam tubuhnya?"

"Sama sekali tidak merasakan abpa-apa, aku merdasakan tubuhku asegar bugar sepberti sedia kala"

Walaupun musuhnya telah berkata begitu, akan tetapi Yu leng lojin masih tetap beranggapan bahwa hal ini adalah tak mungkin bisa terjadi, sebab racun tak berwujud  miliknya itu adalah sejenis racun jahat yang hebat sekali daya kerjanya, sepanjang pengetahuannya, belum pernah ada orang yang dapat meloloskan diri dari serangan tersebut dalam keadaan selamat.

Buncu atau ketua dari perguruan San tian bun yang dikatakan sangat lihaypun tak mampu meluputkan diri dan serangan racunnya, mana mungkin Thia Eng bisa terkecuali dari kenyataan tersebut?

Namun, bila ditinjau dari keadaan Thia Eng yang segar bugar, tampaknya anak muda itupun tidak memperlihatkan gejala keracunan, lalu apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Paras mukanya kembali berubah hebat, teriaknya kemudian:

"Silahkan kau merasakan kelihayanku sekali lagi!"

Begitu sehabis berkata, sekali lagi Yu-leng lojin meluncur kedepan sambil menyerang Thia Eng, secara beruntun dia melepaskan dua buah serangan, sedangkan Thia Eng pun tidak tanggung-tanggung segera melancarkan juga dua buah serangan balasan.

Sementara itu, Kwan Siok kim yang bersusah payah menguruti seluruh jalan darah dan nadi penting ditubuh Ong Bun-kim sama sekali tidak mendatangkan hasil apa- apa, si anak muda itu masih tetap berada dalam keadaan tak sadarkan diri. Karena kehabisan tenaga dan kecapaian setengah mati sehingga sekujur bidannya bermandikan keringat, terpaksa Kwan Siok-kim menghentikan usahanya untuk memberi pertolongan dengan duduk bersila mengatur pernapasan.

Giok bin hiap yang menyaksikan kejadian itu buru-buru mendorong tubuh Yu Cing dan menghampiri Ong Bun kim, tapi setelah melancarkan beberapa totokan ke tubuh Ong Bun kim, ia sendiripun tampak agak tertegun.

Yu Cing menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan keadaan itu, segera tegurnya:

"Ayah, bagaimana keadaannya?"

Dengan perasaan berat Giok bin hiap menggelengkan kepalanya berulang kali sahutnya.

"Aku lihat sudah tak tertolong lagi!"

"Apa ?" hampir semua orang hadir di sekitar tempat itu menjerit kaget.

"Jalan darah nadi penting Sam im ciat meh nya sudah ditotok mati orang, kecuali terdapat obat mujarab didunia ini, rasanya sulit untuk menembusi nadi pentingnya yang tersumbat itu!"

"Obat mujarab apakah itu?"

"Aku sendiripunr tidak dapat metnyebutkannya daqlam waktu singkrat"

"Lantas dia ..dia masih bisa hidup berapa lama lagi?" "Tiga hari? Bukankah sekalipun dapat di ketahui obat

mujarab apa yang bisa menyembuhkan dirinya, dalam tiga hari yang begitu singkat tak mungkin bisa didapatkannya, bukankah itu berarti bahwa jiwanya susah ditolong lagi?"

"Benar!" Paras muka semua orang menjadi berubah tegang sekali sesudah mendengar perkataan itu, peluh dingin tanpa terasa bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka.

Perlu diketahui, yang disebut sebagai nadi Sam-im-ciat meh adalah suatu nadi penting yang mempengaruhi mati hidup seorang, apabila nadi tersebut sampai terkena pukulan maka tiada harapan buat orang tersebut untuk hidup lebih jauh, tentu saja kecuali kalau ada obat mujarab yang bisa menggerakkan kembali peredaran darah dalam sekitar nadi tersebut.

Tapi, obat mujarab adalah suatu benda yang bisa dijumpai tak bisa dicari, kemana dia harus mencari obat tersebut dalam dunia yang begini luasnya ini.

Mendadak terdengar suara bentakan keras menggelegar di udara, tampak Thia Eng dan Yu leng lojin sama-sama memisahkan diri kebelakang kemudian...

"Uaaak!" Yu leng lojin telah muntahkan darah kental dari mulutnya.

Sedangkan paras muka Thia Eng juga berubah agak memucat.

Dalam keadaan demikian Yu leng Iojin segera memperlunak sikapnya, dengan lembut ia berkata.

"Ilmu silat yang saudara miliki betul-betul mengagumkan sekali, biarlah aku orang she So mohon diri lebih dahulu"

Seusai berkata dia lantas melayang pergi meninggalkan ruangan itu diikuti wakil ketuanya dan si Dewi mawar merah.

Tak selang beberapa saat kemudian, Ciu Li li dan kedua orang pelindung hukumnya juga ikut berlalu dari situ. Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang saling susul menyusul.

Dalam waktu singkat ada tujuh delapan orang jago persilatan yang sudah terkapar di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi, darah kental meleleh keluar dari ketujuh lubang inderanya.

"Ruangan ini ada racunnya" mendadak kedengaran ada orang berteriak keras.

Suasana dalam ruangan itu seketika berubah menjadi sangat gaduh paras muka semua orang berubah hebat, menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, segenap orang yang berada didalam ruangan Tat mo wan telah kabur keluar dari tempat itu dengan terbirit-birit seakan-akan-disana telah terjadi sesuatu yang mengerikan hati.

Dalam waktu singkat, ruangan Tat mo wan telah berubah menjadi suatu tempat yang sepi dan mengerikan, kecuali ketujuh delapan sosok mayat itu, tidak nampak lagi bayangan manusia lain yang berada disana.

Setelah semua orang mengundurkan diri dari ruang Tat mo wan. rasa ngeri masih belum lenyap dari hati masing- masing, malah ada diantara mereka yang berdiri dengan tubuh menggigil.

Tak lama kemudian, kembali terdengar lima kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, lagi-lagi ada lima orang yang roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan yang mengerikan hati.

Beberapa orang itu tampaknya memiliki tenaga dalam yang tidak terlampau tinggi apalagi tidak segera berusaha untuk mengatur pernapasan dan mendesak keluar hawa racun dari dalam tubuhnya, tak ampun lagi hawa racun itu menyerang ke dalam isi perutnya yang mengakibatkan kematian bagi mereka semua.

Adegan ini sungguh merupakan suatu pemandangan yang sangat menggetarkan hati.

Dalam waktu singkat, mayat-mayat itu telah berubah menjadi hitam seperti arang, ini menunjukkan betapa jahatnya racun tersebut.

Sedang sisa jago lainnya sama-sama kuatir kalau tubuh merekapun keracunan, serentak orang-orang itu duduk bersila untuk mengatur napas masing-masing.

Untuk sesaat lamanya suasana dalam arena menjadi hening dan diliputi suasana yang serba menyeramkan. Akhirnya ada juga yang telah bangkit berdiri, tapi ada juga yang masih duduk bersila dengan wajah memucat.

Tiang seng lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya.

"Masih ada siapa lagi yang keracunan?" "Aku !"

Ada empat orang menyahut mereka adalah si Jago pembawa lampu, Yu Cing, Bunga iblis dari neraka dan seorang kakek berbaju hitam.

Tiang seng lojin segera menyerahkan masing-masing seorang pil penawar racun, katanya "Cepat kalian telan obat ini!"

Setelah menelan pil tersebut, kembali mereka duduk bersila untuk mendesak keluar racun yang mengeram dalam tubuhnya.

Dalam pada itu Thia Eng telah berjalan menghampiri Ong Bun kim, katanya kemudian: "Bagaimana keadaannya?" Giok bin-hiap menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menjawab dengan sedih: "Aku lihat ia sudah tak tertolong lagi"

"Kenapa?"

"la sudah termakan pukulan keji Ciu Li-li yang menyumbat nadi penting San-im ciat meh nya. kecuali terdapat obat mujarab didunia ini, rasanya tiada harapan lagi baginya untuk hidup lebih jauh!"

Kenyataan yang membuktikan bahwa Thia Eng sama sekali tidak keracunan ini segera mengejutkan hati semua orang, dia benar-benar seorang pemuda yang aneh sekali, mengapa ia tidak takut terhadap racun tak berwujud dari Yu leng lojin.

Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tidak masuk akal, mungkinkah ia kebal terhadap racun? Tapi hal ini tak mungkin terjadi, sebab diapun terdiri dari darah dan daging.

"Engkoh cilik she Thia, benarkah kau sama sekali tidak keracunan?" tegur Tiang sang lojin kemudian.

"Benar!"

"Hal ini mana mungkin bisa terjadi?" "Kenapa tak bisa terjadi?"

"Kau bukan seorang manusia yang luar biasa, kau sama sama terdiri dari darah dan daging."

"Oooh, kiranya soal itu! Yaa, oleh karena semenjak kecil aku sadari terbiasa makan sejenis rumput yang mujarab, maka akibatnya tubuhku timbul semacam kekuatan yang bisa menolak pengaruh setiap racun, itulah sebabnya aku kebal terhadap segala macam racun"

"Oooh. kiranya begitu!" "Untung Thia sauhiap muncul tepat pada saatnya hari ini, coba kalau tidak, entah bagaimana akibatnya?" kata Giok bin hiap, "atas nama guruku, lohu mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Thian sauhiap ini!"

"Hanya persoalan kecil, buat apa musti di pikirkan? "

Sementara itu, Bunga iblis dari neraka telah mohon diri dari Lian ih lihiap dan Yu Cing.

Mendengar itu. Yu Cing segera berkata.

"Mengapa kau harus terburu buru pergi meninggalkan tempat ini? Apakah kau tidak akan menunggu Ong Bun kim lagi?"

"Menunggu dia....?" sekilas senyuman pedih menghiasi wajah Bunga iblis dari neraka, "aku pikir tak perlu lagi..."

"Kenapa?"

"Sebab hal itu hanya akan menambah kesedihan dalam hatiku saja."

"Apakah kau tidik msagaatirkan keselamatannya?" "Tentu saja aku amat menguatirkan keselamatannya,

bahkan jauh lebih merasa kuatir daripada si-apapun juga. karena itu dengan sedih ia menghentikan kembali langkah kakinya yang sudah hampir melangkah pergi itu.

"Locianpwe." terdengar Thia Eng pun berkata "Sungguhkah Ong Bun kin tak bisa ditolong lagi?"

"Yaa !"

Menyakaikan paras muka Ong Bun kim yang pucat pias seperti mayat dan gigi yang terkatup kencang, beberapa orang gadis yang mencintainya itu tak dapat mengendalikan perasaannya lagi diam-diam mereka mengucurkan air mata kesedihan. "Apakah tak bisa disadarkan dari pingsannya" Kwan Siok kim bertanya dengan air mata bercucuran.

"Untuk menyadarkan sih gampang" jawab Giok bin  hiap, setelah berhenti sebentar katanya kemudian, "Baiklah akan kusadarkan dirinya siapa tahu kalau dia ingin mengucapkan sesuatu kepada kalian"

Berbicara sampai disitu hawa murninya lantas disalurkan kedalam telapak tangannya kemudian secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh Ong Bun kim, hawa murni yang kuat pelan-pelan disalurkan keluar untuk menambah kekuatan dalam tubuh pemuda itu.

Kurang lebih setengah jam kemudian pelan-pelan Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu tapi apa yang terlihat hanyalah bayangan manusia yang sangat kabur.

Kesadarannya masib tetap kabur dan tidak jernih, ia tak bisa teringat kembali kejadian dimasa lalu, tidak teringat sekarang dia hanya berada daIam keadaan kosong, termangu dan tak tahu apa yang dilihatnya.

Kemudian ia mendengar dari kejauhan seperti ada orang yang sedang berteriak memanggil namanya.

"Engkoh Ong..."

Maka satu ingatan segera melintas dalam benaknya: "Rupanya aku belum mati."

Lebih kurang setengah perminum teh kemudian akhirnya ia dapat melihat jelas pemandangan yang terbentang didepan matanya... ia membuka bibirnya ingin berbicara tapi sampai lama sekali dia baru bisa berkata dengan lirih.

"Aku... aku belum matikah?" "Ya, engkoh Ong kau... kau belum mati." jawab Kwan Siok kim sambil berusaha keras menahan rasa sedihnya.

Pelan-pelan Ong Bun kim pun dapat teringat kembali semua peristiwa yang telah terjadi, wajahnya segera berubah, tanyanya:

"Dimana Ciu Li li?" "Sudah pergi!"

"Bagaimana dengan pedang Sin kiam dan kotak besi berisi kitab ilmu pedang itu?"

"Ada disini!" buru-buru Thia Eng menjawab. Sambil berkata dia lantas menyodorkan pedang Sin kiam dan kotak besi itu kehadapan Ong Bun kim.

Si anak muda itu tertegun, ia tidak kenal dengan Thia Eng, diapun tak tahu siapakah orang itu, setelah memandangnya sekian lama dengan wajah termangu tegurnya:

"Siapakah kau?"

"Aku bernama Thia Eng!"

Giok bin hiap segera menghela napas katanya.

"Sungguh beruntung hari ini ada Thia sauhiap, kalau tidak, aaai Entah bagaimana akibatnya."

Secara ringkas dia lantas menceritakan seluruh kejadian itu kepada Ong Bun kim.

Selesai mendengar penuturan tersebut, dengan penuh rasa terima kasih Ong Bun kim segera berkata.

"Budi kebaikan saudara Thia yang telah merampaskan kembali benda mustika itu, entah bagaimana caranya bagiku untuk membalas, kau bilang Tay khek Cinkun dan Phang Pak bun berada di-tempatmu?" "Betul soal kesehatan mereka berdua, harap saudara Ong jangan kuatirkan!"

Kembali Ong Bun kim menghela napas. "Siaute tak tahu bagaimana musti membayar semua budi kebaikan ini kepadamu."

"Aaaah, saudara Ong ! Mengapa kau musti mengucapkan kata-kata semacan itu? Harap kau menerima kembali kedua buah benda mustika ini."

Sekali lagi Ong Bun kim menghela napas panjang. "Siaute tak lebih hanya seorang yang sudah hampir mati,

biar benda mestika itu berada ditangan saudara saja, benda itu berhasil kau rampas kembali dari tangan orang, sudah sepantasnya kalau benda itu menjadi milikmu, harap kau menerimanya"

"Hal ini mana boleh, hal ini mana boleh..." seru Thia Eng cepat-cepat dengan gugup.

"Keputusanku sudah bulat, silahkan saudara Thia menerimanya!"

"Kejadian semacam ini tak boleh sekali kali sampai terjadi, benda mestika telah memilih tuannya sendiri, setelah Sin kiam itu memilih saudara sebagai pemiliknya, mana boleh kau serahkan kepadaku? Jangan ditampik lagi, hayo terimalah kembali benda milikmu itu.."

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Ong Bun kim menerima kembali pedang sin kiam dan kotak besi itu kemudian sesudah menghela napas panjang katanya lagi.

"Aku adalah seorang yang sudah hampir mati, apa toh gunanya benda mestika tersebut untukku. "

"Engkoh Ong, kau tak bakal mati." seru Kwan Siok kim dengan air mata bercucuran. "Aku tahu kalau nadi Sam im-ciat-meh ku sudah tertotok dalam tiga hari aku pasti akan mati, cuma mati hidup sama sekali tidak menjadi persoalan bagiku, hanya ada beberapa macam persoalan yang mau tak mau harus kukatakan."

"Katakanlah !"

Ong Bun-kim memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya:

"Meskipun pedang suci sin kiam menunjuk aku dan nona Kwan sebagai sepasang suami istri, tapi aku masih mempunyai beberapa orang gadis yang kucintai, akupun sudah berhutang budi banyak kepada beberapa orang gadis itu, terutama kepada Tan Hong hong!"

Berbicara sampat disitu, ia merasa tenggorokannya bagaikan tersumbat, air matanya jatuh bercucuran dengan deras dan kata-katanya terputus sampai ditengah jalan.

Bunga iblis dari neraka juga mengucurkan air matanya, sampai detik ini Ong Bun kim masih teringat kepadanya, ini menandakan kalau ia benar-benar mencintainya secara tulus, bagaimana mungkin hatinya tidak terharu dibuatnya?

Sekalipun ia telah berkorban baginya, tapi apalah artinya pengorbanan tersebut?

Orang lain yang rela mati demi kekasihpun tak sedikit jumlahnya apa lagi dengan pengorbanannya itu, dia telah mendapat seluruh cinta kasih Ong-Bun kim terhadap dirinya, kejadian ini sungguh-sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengharukan hatinya.

Dengan air mata bercucuran dia lantas berbisik.

"Adik Ong, aku... pengorbananku tidaklah terhitung seberapa." "Tidak, aku sudah terlalu banyak berhutang budi kepadamu, selama aku masih hidup budi kebaikan tersebut tak akan kulupakan untuk selamanya."

Kecuali air mata yang jatuh berlinang, apalagi yang bisa dia katakan?

"Enci Tan, semoga saja dalam penitisan yang akan datang aku... aku bisa membalas hutang-hutangku ini kepadamu." kata Ong Bun kim lagi.

Sementara pedihnya hati "Enci Tan, tahukah kau aku paling mencintai dirimu?"

"Aku aku tahu" gadis itu menangis terisak, dengan amat sedihnya.

ooooOdwOoooo

BAB 73

TIBA-TIBA Ong Bun kim menguasai rasa sedihnya didalan hati. lalu berkata: "Asal kau dapat memahami perasaanku, hal ini sudah lebih dari cukup, enci Tan, kau boleh pergi sekarang!"

"Mengapa?"

"Apakah kau ingin menyaksikan ajalku tiba?" "Tidak, kau tak akan mati..."

Ong Bun kim segera tertawa pedih, pelan-pelan sinar matanya dialihkan ke wajah Lan Siok ling, sapanya:

"Nona Lan..."

"Ong siangkong...." belum lagi berbicara, air matanya sudah jatuh bercucuran. Ong Bun kim teringat kembali akan kebaikan Lan Siok- ling terhadap dirinya, gadis itu betul-betul mencintainya dengan setulus hati, bahkan rela menyerahkan tubuh dan kesuciannya disaat ia hampir mati dulu, diantara sekbian banyak gadids yang dikenal,a gadis ini memabng pantas untuk menerima cintanya pula.

Setelah berpikir sejenak, Ong Bun kim berkata.

"Nona Lan, kau adalah istriku yang pertama, kau telah menyerahkan segala sesuatunya kepadaku, dulu aku adalah seorang yang hampir mati. sekarang akupun seseorang yang sudah hampir mati."

"Kau tidak akan mati!" jerit gadis itu dengan amat sedihnya.

"Aku tahu, aku adalah seseorang yang sudah mendekati ajalnya, tapi kau telah banyak berkorban bagiku dan banyak pula yang telah kau berikan kepadaku, bukankah dalam rahimmu sudah terdapat darah dagingku?"

"Benar!"

"Kau harus baik baik mendidiknya nanti!"

"Aku dapat mendidiknya secara baik-baik, kau tak usah kuatir"

Pelan-pelan Ong Bun kim segera mengangguk dalam hati kecilnya, sedang saat kematian ini segera muncul suatu perasaan lega. yaa, bagaimanapun juga kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang pantas untuk digirangkan.

Agaknya sebelum ajalnya tiba, Ong Bun kim ingin menyelesaikan dulu semua persoalannya secara jelas dan terang, kalau tidak, dia tak akan bisa beristirahat dengan hati yang tenang. Ditatapnya sskejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia berseru.

"Kim losat, bolehkah aku berbicara beberapa patah kata denganmu?"

Tay-pangcu dan perkumpulan Hui mo pung itu tampak agak tertegun ketika mendengar namanya dipanggil Ong Bun kim, sekilas perasaan yang sangat aneh segera terlintas diatas wajahnya, pelan-pelan dia berjalan ke hadapan anak muda itu. .

"Urusan apakah yang hendak kau bicarakan dengan aku

?"

Kulit wajah Ong Bun kim mengejang keras beberapa

kali, kemudian tanyanya. "Siapa namamu?"

Pertanyaan yang diajukan oleh Ong Bun kim ini sekali lagi membuat Kim lo sat ter tegun, tapi segera sahutnya:

"Aku bernama Ku Pek hoa!"

"Nona Ku, ayahmu dan ayahku adalah sahabat sehidup semati, semenjak kita masih berada didalam perut, mereka telah mengikat tali perkawinan kita berdua, aku Ong Bun- kim bukannya hendak menyangkal kebenaran ini tapi kau harus mengerti, aku Ong Bun kim bukannya ingin mengawini dirimu didalam cara seperti apa yang kau inginkan."

"Aku mengerti!"

"Akupun mengerti bahwa kau mempunyai cara kerja dan tujuanmu sendiri, tapi cara kerjamu itu justru membuat aku orang she Ong Bun kim merasa benci dan sakit hati."

"Mengipa kau merasa sakit hatib?" "Dengan mengdgunakan pelbagaai cara yang kejbi dan mengerikan, Kau telah menciptakan badai pembunuhan dalam dunia persilatan, membuat partai Hoa san, Soat-san dan Tiam cong terpaksa harus takluk di bawah kekuasaanmu."

"Aku berbuat demikian toh demi kepentinganmu." "Sudah  kukatakan  tadi,  aku  enggan  kawin  denganmu

dalam cara yang kau inginkan itu, aku mempunyai harga

diri, sebelum mati aku berharap kau dapat mawas diri" "Mawas diri?"

"Benar. Kejadian yang kau lakukan selama ini sudah cukup banyak, kau harus mulai memperbaiki cara kerjamu itu dengan memikirkan keselamatan umat persilatan, kalau tidak maka akhirnya pasti ada orang yang akan melenyapkan dirimu."

"Masih ada sesuatu yang ingin kau bicarakan lagi denganku?" seru Kim lo sat kemudi an dengan suara dingin.

"Tidak ada, kau boleh pergi!" Kim lo sat melemparkan pandangnya yang terakhir ke wajah Ong Bun kim, kemudian memandang ke arah Gin losat, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan kekerasan hati gadis itu, Ong Bun kim menjadi terteguh, sinar matanya segera dialihkan ke wajah Kwan Siok kim, ditatapnya gadis itu sampai lama sekali tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia tak tahu apa yang harus dikatakan.

Sampai lama, lama sekali, Ong Bun kim baru berkata: "Nona Kwan kau juga boleh pergi diri sini!" "Tidak, aku tidak akan pergi!"

Ong Bun kim segera menghela napas panjang, lkatanya: "Aku sudah merupakan seseorang yang hampir mati,

lebih baik kalian semua pergi dari sini... Pergi  meninggalkan aku..."

Suaranya itu mendekati setengah merengek, ya dia memang sangat berharap kalau gadis gadis itu bisa meninggalkan dirinya, ia tidak berharap mereka menyaksikan kematiannya, sebab hal mana hanya akan menambah penderitaan dan kesedihan dihati mereka semua.

Tapi tak seorang manusiapun diantara mereka yang berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba Ong Bun kim berkata kepada Giok bin hiap. "Supek lebih baik kedua buah benda ini kau bawa

kembali ketempat semula."

Tampaknya hanya perbuatan itu saja yang bisa  dilakukan maka Giok bin hiap lantas manggut-manggut diterimanya pedang Sin kiam dan kotak besi itu kemudian dimasukkan kedalam saku.

"Aaah tidak betul.." tiba-tiba Tiang seng lojin berseru dengan- suara keras.

Ucapan tersebut segera menggetarkah perasaan semua orang, tanpa terasa sinar mata mereka pun dialihkan kre wajah kakek ptanjang usia iniq.

"Cianpwe, aparnya yang tidak benar?" tanya Giok bin hiap dengan suara dalam.

"Suhumu adalah seorang manusia suci yang lihay sekali, mana mungkin ia tak bisa menghitung bakal terjadinya peristiwa hari ini kalau tidak, tak mungkin juga akan terjadi peristiwa penyembahan terhadap pedang suci ini."

"Maksud cianpwe ?"

"Tak ada salahnya kalau kau periksa dulu isi kotak besi tersebut, seandainya isi kotak cuma kitab ilmu pedang, rasanya dia tak usah harus meletakkannya dalam kotak besi, siapa tahu kalau isi kotak besi itu bukan buku melainkan obat penawar?"

Ucapan tersebut segera menyadarkan kembali semua orang dari lamunan, benar juga, kemungkinan besar hal itu memang terjadi, andaikata isinya cuma sejilid ilmu pedang, mengapa harus disimpan dalam kotak besi? Besar memang kemungkinannya kalau isi kotak besi itu adalah obat penawar.

Buru-buru Giok bin hiap mengeluarkan kembali kotak besi itu dan membuka penutupnya.

Apa yang kemudian terlihat didalam kotak tersebut, sungguh membuat Giok bin hiap menjadi tertegun.

Tampaklah dalam kotak itu terletak sejilid kitab kecil berwarna kuning serta sepucuk surat.

Yang hebat adalah surat itu, sebab pada sampulnya dengan jelas bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi demikian:

"Surat ini ditujukan untuk: Ong Bun-kim. tertanda: Hek mo im"

"Aaaah..Disini benar benat terdapat sepucuk surat?" jerit Giok bin hiap segera.

"Ada surat?" semua orang ikut berseru tertahan. Kejadian ini amat menggetarkan hati semua orang, seakan-akan dada mereka dihantam oleh suatu benda yang sangat berat, berdebar keras jantung mereka semua.

Buru-buru Giok bin hiap mengambil keluar surat itu dan diserahkan kepada Ong Bun kim.

Setelah membaca tulisan diatas sampul itu, tanpa terasa Ong Bon kim menjerit keras:

"Hek mo im benar-benar seorang manusia yang luar biasa, ternyata ia bisa mengetahui kehadiranku didunia ini"

Suatu harapan untuk hidup lebih lanjut segera muncul dalam hatinya, siapa tahu dalam surat itu dicantumkan pula di mana obat pemunah tersebut bisa didapatkan.

Tangan yang memegang surat itu terasa sedikit agak gemetar, cepat-cepat dirobeknya sampul tersebut dan dibaca isi suratnya:

"Tertuju untuk Ong Bun kim:

"Pada saat kau membaca surat ini, dirimu pasti sudah terkena serangan keji dan jiwamu terancam bahaya, aku sudah menghitung bahwa kau bakal menjumpai musibah tersebut.

Didalam surat ini terdapat sebungkus obat mujarab, setelah kau minum kemudian ditembusi dengan tenaga dalam, penyakitmu itu akan sembuh kembali seperti sedia kala.

Meskipun ayahmu dan Yu Tiong adalah murid-muridku, namun mereka tidak berjodoh mendapatkan Sin kiam ini.

Kau berbakat bagus dan punya rejeki besar, kau lah orang yang paling cocok untuk mendapatkan pedang suci ini. Moga-moga saja sehabis mempelajari jurus pedang ini kau bisa berbakti untuk kesejahteraan umat persilatan, mendirikan perguruan Sin kiam-bun dan berjuang demi tegaknya keadilan dan kebenaran.

tertanda: Hek mo im"

Sehabis membaca isi sarat itu dengan perasaan terkejut bercampur girang Ong Bun kim segera berteriak.

"Aku bisa tertolong !"

"Sungguh !" hampir semua orang menjerit saat yang bersamaan.

Ong Bun kim manggut-manggut, ia membalikkan sampul surat itu dan betul juga, sebuah kertas bungkusan berwarna merah segera terjatuh ke atas tanah.

Setelah mengambil bungkusan merah itu dari tanah, Ong Bun kim menyerahkan surat itu kepada Giok bin hiap untuk dibaca, seusai membaca surat tersebut Giok bin hiap ikut merasa gembira.

Dengan cepat dia berseru.

"Cepat telan obat penawar itu, akan ku bantu dirimu untuk menyembuhkan luka tersebut!"

Ong Bun kim manggut-manggut mengiakan, dia segera menelan obat tersebut kedalam perut.

Terasa obat itu harum dan segar rasanya meski membawa sedikit rasa getir.

Ketika Ong Bun kim selesai menelan obat tersebut. Giok bin hiap segera menyalurkan tenaga dalamnya lewat sepasang telapak tangan keatas jalan darah penting ditubuh Ong Bun kim, lalu diurutnya semua nadi-nadi penting dibadannya. Dengan kombinasi tenaga dalam Giok bin hiap yang sempurna, serta kemanjuran obat yang mujarab itu, pelan- pelan nadi Sam im ciat meh didalam tubuh Ong Bun kim yang tersumbat itu berhasil ditembusi.

Dalam usaha penyembuhan ini, seluruhnya telah menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya.

Ketika nadi Sam im ciat mehnya sudah tembus, Ong  Bun kim mengerahkan kembali tenaga dalamnya untuk mengelilingi badan ia merasa nadi yang semula tersumbat itu sekarang telah berhasil ditembusi kembali, maka pelan pelan dia bangkit berdiri.

Ketika sorot matanya menyapu sbekejap sekelilidng tempat itu, amendadak ia berbseru:

"Kemana perginya Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong?"

"Entahlah, ia sudah pergi meninggalkan tempat ini!" "Pergi meninggalkan tempati ini?"

"Benar!" sahut Yu cing, "ketika kau sedang menyembuhkan lukamu itu, ia telah pergi dari sini!"

Dalam hati kecil Ong Bun kim segera timbul suatu perasaan yang amat berat, dia amat rindu kepadanya rindu kepada perempuan yang telah berkorban demi kepentingannya itu.

Akhirnya dia tertawa getir, katanya:

"Tidak kukira Ong Bun kim bisa lolos dari bahaya kematian."

"Orang yang lolos dari kematian, biasanya akan mendapat rejeki yang besar," ujar Tiang seng lojin sambil tertawa, "bukankah Hek-mo im memerintahkah dirimu untuk mendirikan perguruan Sin kiam bun? Lohu adalah orang pertama yang bersedia masuk menjadi anggota perguruanmu itu!"

"Sungguhkah perkataan dari locianpwe ini?" seru Ong Ban kim dengan perasaan girang.

"Yaa, bukan cuma aku seorang, semua yang hadir disinipun bersedia untuk menggabungkan diri ke dalam perguruanmu!"

Kejut dan girang Ong Bun kim menghadapi kenyataan ini, dia terkejut karena tak tahu bagaimana caranya untuk memangku tugas berat sebagai seorang ketua dan suatu perguruan besar, dia girang karena semua jago-jago lihay dari dunia persilatan ini bersedia masuk menjadi anggota perguruannya.

Maka Ong Bun Kim berkata.

"Sekarang aku akan pergi ke gua Bu cing tong untuk berlatih pedang, setelah berhasil dengan latihan itu. kita baru akan mendirikan perguruan Sin kiam bun secara  resmi, entah apakah kalian punya usul-usul yang lain?"

Tiang seng lojin termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Baiklah, kalau begitu, kami akan mohon diri lebih dahulu"

Demikianlah, Tiang seng lojin dan Hian ih lihiap segera berpamitan kepada semua orang untuk berangkat lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Menyusul kemudian Yu Tiong dan Yu Cing juga mohon diri untuk pergi menengok Leng po siancu.

Ti teng kek (jago pembawa lampu) serta kelelawar malam menyusul pergi juga dari sana... Kini dalam arena tinggal Lan Siok ling, Thia Eng dan Kwan Siok kim.

Dengan termangu-mangu Ong Bun kim mengawasi wajah Lan Siok ling tanpa berkedip, lama sekali ia tak berkata-kata.

Lama, lama sekati akhirnya Lan Siok ling menghela napas panjang katanya.

"Ong siangkong bagaimana dengan kita sekarang?"

Bagaimana? Ong Bun kim mana tabhu? Paling tidadk sampai detik aini ia masih beblum dapat menikah secara resmi dengan gadis itu.

Maka sambil tertawa getir katanya. "Aku pasti akan mengawini dirimu!"

"Tapi bukan sekarang bukan?" bisik Lan Stok ling sambil menghela napas sedih:

"Yaa dalam hal ini aku mohon pengertian darimu."

"Aku bisa memahami kesulitan mu tapi aku berharap agar kau jangan melupakan diriku."

"Sepanjang masa aku tak akan melupakan diri mu" "Kalau begitu aku akan pergi dulu! Nona Kwan harap

kau bisa baik-baik menjaga Ong siangkong"

"Aku dapat menjaganya baik-baik" jawab Kwan Siok kim sedih, "harap kau tak usah kuatir."

"Kalau begitu aku akan pergi dulu?"

Dengan membawa perasaan sedih dan hati yang hancur, pelan-pelan gadis itu pergi meninggalkan tempat itu.

Agaknya nasibnya memang ditakdirkan untuk sengsara, ia mencintai sekali pemuda itu tapi ia tak pernah merasakan kegembiraan barang sedikit pun, namun ia tak pernah mengeluh atau merasa menyesal, sebab ia memang benar- benar amat mencintainya.

Memandang hingga bayangan tabuh gadis itu lenyap dari pandangan mata, Kwan siok kim baru menghela rapas sedih bisiknya.

"Engkoh Ong, dia benar-benar seorang gadis yang patut di kasihani. ia baik sekali."

Ong Bun kim manggut-manggut lirih.

"Yaa aku tahu kalau dia adalah gadis yang baik, gadis yang pantas dikasihi, dikemudian hari aku akan membayar semua kekurangan ini kepadanya, aku pasti akan menyayangi nya sepanjang masa."

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, tiada kedengaran sedikit suarapun, mereka seakan-akan sudah terbawa ke alam pikirannya masing-masing.

"Saudara Ong !" tiba-tiba Thia Eng menyapa dengan suara yang lirih.

"Ada apa saudara Thia?"

"Apakah kau hendak pergi menengok keadaan dari Thay khek cinkun dan Mo ini seng kiam?"

Ong Bun kim berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Aku harus pergi melatih ilmu pedang, rasanya tak mungkin bisa pergi kesana, apakah Saudara Thia dapat menerangkan keadaanku ini kepada mereka berdua, kalian mohonkan maaaf dari ku"

"Baiklah kalau begitu siaute akan mohon diri lebih dahulu" "Silahkan saudara Thia." Thia Eng segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya juga sudah lenyap dari pandangan mata.

Maka Ong Bun kim dan Kwan Siok kim segera mengucapkan terima kasihnya kepada Hoat hay siangjin ketua partai Siau lim yang telan meminjamkan ruangan Tat mo wannya untuk menyelenggarakan pertemuan penyembahan pedang tersebut, setelah itu mereka baru berangkat meninrggalkan kuil Sitau lim si.

Di tqengah jalan Ongr Bun kim bertanya kepada Kwan Siok kim.

"Noaa Kwan kau hendak kemana?"

"Aku cuma keluar menengok dirimu, sekarang aku hendak pulang kerumah dan kau?"

"Aku akan ke gua Bu cing tong untuk berlatih pedang"

Maka berangkatlah kedua orang itu menuju ke gua Bu cing tong, ketika sampai dibawah bukit Thian mo san Kwan Siok ling baru mohon diri kepada pemuda itu.

Perpisahan memang selalu terasa berat, dengan perasaan yang berat mereka saling berjanji untuk bertemu kembali di lain waktu sebelum akhirnya berpisah menuju ketempat masing-masing.

Demikianlah setelah berpisah dengan Kwan Siok ling, berangkatlah Ong Bun kim menuju ke gua Bu cing tong, tak urung ia merasa kesepian juga untuk mendiami ruangan yang begitu besar seorang diri.

Tapi rasa kesepian itu segera terbunuh setelah ia menetap disana dan mengeluarkan kitab pedangnya untuk melatih diri dengan ilmu pedang Sin-kiam-kiam hoat yang maha dahsyat itu...

Waktu berlalu dengan cepatnya...

Untuk menyaksikan ketujuh jurus ilmu pedang itu, Ong Bun kim telah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguasahinya setiap jurus serangan yang dipergunakan tentu memiliki daya kekuatan yang benar-benar luar biasa sekali.

Ketika mereka merasa yakin bahwa apa yang dipelajarinya sudah cukup sempurna, Ong-Bun kim memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Apa yang dipikirkan segerapun dilaksanakan, ketika melangkah keluar dari gua Bu cing tong. dalam hati kecilnya dia berpikir:

"Sekarang aku harus pergi kemana lebih dulu. Aaah, benar! Aku musti mencari Ciu Li li, pembunuh ayah ibuku itu untuk membalas dendam. "

Ia bertekad akan menggunakan tenaganya itu untuk membalas dendam sakit hatinya.

Begitu keputusan diambil, dia lantas menggerakkan badannya meluncur kearah lembah Thian mo sia, dia tak menghubungi Kwan Siok kim lebih dulu, seorang diri didalam lembah Thian mo sia yang tersohor karena keangkerannya itu.

Setelah menembusi hutan batu karang yang menjulang tinggi ke angkasa, sampailah pemuda itu di hadapan selat Thian mo sia.

Ong Bun kim tidak berhenti sampai disitu saja, dia lantas melanjutkan perjalanannya meluncur masuk ke dalam lembah tersebut. Tiba-tiba suatu bentakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.

"Berhenti!"

Bayangan manusia menyambar lewat, tahu-tahu beberapa orang manusia kilat atau San tianjin telah muncul didepan mata dan menghadang jalan perginya.

Ong Bun kim sama sekali tidak menghentikan langkah tubuhnya, sambil membentak keras tubuhnya menerjang kemuka, diantara ayunan telapak tangannya jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang silih berganti.

Ditengah lengkingan jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma itu, tahu-tahu Ong Bun kim sudah meneroboi masuk ke dalam lembah Thian mo sia.

Tiba-tiba bayangan putih kembali berkelebat lewat didepan mata, puluhan orang manusia kilat kembali munculkan diri didepan mata dan menghadang jalan perginya.

"Minggir kalian dari sini!" bentak Ong Bun kim keras.

Di tengah bentakan yang amat keras itu, tenaga serangannya yang maha dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Serangan kilat yang dilancarkan Ong Bun kim ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, sementara pada saat yang hampir bersamaan, puluhan orang manusia kilat pun berdatangan melepaskan sebuah pukulan yang tak kalah hebatnya.

Dimana hembusan angin puyuh menyambar lewat, Ong Bun kim segera merasakan datangnya suara tekanan maha dahsyat yang menggencet tubuhnya, dalam keadaan begitu terpaksa Ong Bun kim harus mengundurkan diri ke belakang.

Sorot matanya yang tajam segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:

"Kalian enggan memberi jalan kepada ku?" "Benar!"

oooOdwOooo

BAB 74

"CRIIING....." suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu pedang "Sin-kiam" milik Ong Bun kim telah diloloskan dari sarungnya. Cahaya tajam yang berkilauan segera memancar keempat penjuru, hawa dingin serasa menyelimuti angkasa.

Tiba-tiba terdengar seorang menjerit tertahan. "Aaaah...! Pedang Sin-kiam..."

"Benar!" sahut Ong Bun-kim dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, "inilah pedang Sin-kiam, bila kaIian tak mau menyingkir lagi, hati-hati kalau aku akan membinasakan kalian semua."

Seorang segera tertawa dingin.

"Saudara, kau tak usah menggerbtak sambal di hdadapan kami, taak nanti kami sebmua akan jeri kepada pedangmu itu, justru ingin kami ketahui sampai dimanakah kehebatan dari pedangmu itu"

"Bangsat! Jadi kalau begitu kalian sudah pada bosan hidup? Bagus lihat serangan!" Ditengah bentakan nyaring, pedang Sin kiam di ayunkan ketengah udara, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa diiringi desingan suara yang amat nyaring, sebuah serangan dahsyat telah dilancarkan keluar.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Belum lagi suara pedang menyambar lewat, cahaya tajam yang memancar keluar sudah cukup untuk merenggut nyawa manusia, empat orang manusia kilat yang berada tepat dihadapannya segera tersambar oleh senjata mestika itu dan tewas seketika.

Diantara jeritan jeritan ngeri yang menyayatkan hati tersebut, Ong Bun kim kembali melanjutkan perjalanannya langsung menerjang ke arah bangunan megah berbentuk benteng yang merupakan markas besar dari perguruan San tian bun itu.

Gerakan tubuh yang dilakukan Ong-Bun-kim ini sudah teramat cepat, bayangan manusia hanya berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah tiba di pintu gerbang perguruan San tian bun tersebut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, kembali ada puluhan sosok bayangan manusia menghadang jalan perginya.

Melihat kesemuanya itu Ong Bun kim naik pitam, dengan wajah berubah menjadi dingin menyeramkan bentaknya:

"Bangsat, kalian mau menyingkir tidak?"

Dari rombongan jagoan tersebut, segera muncul seorang manusia kilat, agaknya ia merupakan pemimpin dari rombongan tersebut, dengan suara sedingin es segera tegurnya. "Ada urusan apa kau datang kemari?" "Untuk mencari buncu kalian !"

Belum lagi Ong Bun kim menyelesaikan kata-2 nya, mendadak dari balik ruangan yang megah itu terdengar seseorang berkata dengan suara yang merdu.

"Hanya satu bulan tak bersua, tampahnya kau Ong Bun kim telah berhasil mempelajari ilmu sakti dari pedang sin kiam? Bagus ... bagus sekali. Justru ingin kuketahui, sampai dimanakah kehebatan ilmu pedang Sin kiam kiam hoat yang telah kau pelajari itu."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dari balik pintu gerbang segera muncul sesosok bayangan manusia dengan langkah yang amat pelan, orang itu tidak lain adalah Ciu Li li, Buncu dari perguruan San tian bun. .

Selapis hawa napsu membunuh yang tebal segera menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim begitu dilihatnya musuh besar pembunuh orang tuanya itu telah menampakkan diri didepan mata.

Sambil tertawa seram serunya.

"Ciu Lili tempo hari aku telah menerima sergapan licikmu yang nyaris mengakbibatkan kematianku, nah! Sengaja aku datang kemari hari ini untuk membayar hutang-hutang itu!"

Ciu Li li tertawa dingin.

"Heeehh... heeehh... heeehh Ong Bun kim, sekalipun kau memiliki pedang Sin kiam, bukan berarti aku bakal jeri untuk menghadapimu!"

Ong Bun kim tertawa seram.

"Haaah... haaahh... haaahh... aku toh tidak mengatakan kalau Buncu takut kepadaku!" "Ong Bun kim dengan cara apakah kau hendak membalas dendam sokit hatimu itu? Mengapa tidak kau utarakan sendiri secara berterus terang..."

"Heeeh... heeeh.... heeeh.... tidak kusangka kalau Ciu Buncu juga seorang yang suka berteras terang"* jengek Ong Bun kim sambil tertawa dingin, "bagus sebagai seorang tamu, aku Ong Bun kim akan menuruti kemauanmu saja!"

"Bagus sekali, kenapa kita tidak mendatangi bukit terjal itu lagi untuk berduel disana?"

"Tempat bagus sekali, silahkan berangkat Ciu Buncu."

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ciu Lili segera berangkat lebih dahulu menuju ke tebing curam dibelakang gunung sana.

Ong Bun kim tidak berdiam diri belaka, dengan cepat diapun menggerakkan tubuhnya menyusul dari belakang.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah berdiri diatas tebing curam itu dan saling berhadapan.

Sambil menggigit bibir menahan rasa dendam yang berkobar, Ong Bun kim berkata.

"Ciu Li li, aku akan membacok tobuhmu menjadi tiga bagian, kemudian membuang nyawamu kedalam jurang."

"Jangan tekebur dulu Ong Bun kim!" jengek Ciu Li li sambil tertawa dingin "kita toh belum melakukan pertarungan siapa menang siapa kalah juga belum diketahui, apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu itu terlalu awal diucapkan?"

Ciu Li li tidak merasa yakin kalau dirinya bakal tewas, ditangan lawan itulah sebabnya merasa takutpun tak ada gunanya, dia masih yakin kalau ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh untuk membela diri, itulah sebabnya terhadap keinginan Ong Bun kim untuk membalas dendam itu sedikitpun ia tidak memikirkannya kedalam hati.

"Ciu Li li" kembali Ong Bun kin membentak dengan suara sedingin es "aku akan segera melancarkan serangan!"

"Silahkan!"

Kegusaran dan api dendam yang berkobar didalam dada Ong Bun kim saat itu sudah tak terbendung lagi, sambil membentak keras tubuhnya segera meluncur kedepan dan langsung menerjang tubuh Ciu Li li yang berada dihadapannya itu.

Didalam tubrukarn yang dilancartkan oleh Ong Buqn kim ini, dia rtelah sertakan juga seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, sungguh mengerikan sekali keadaannya.

Diantara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, pedang sin kiam yang berada ditangannya telah diluncurkan kedepan melancarkan sebuah serangan yang mematikan.

Daya kekuatan yang terpancar dari balik pedang Sin kiam tersebut betul-betul luar biasa sekali, diantara gulungan cahaya hijau yang memenuhi seluruh angkasa mengancam dada Ciu Li li dengan sebuah ancaman maut yang mengerikan sekali.

Sementara cahaya kilat yang tajam dengan kekuatan yang maha dahsyat langsung menerjang kemuka.

Ciu Li li membentak keras, sambil memutar badannya cepat-cepat dia menghindar ke samping.

Sementara tubuhnya sedang berkelit dari ancaman, Ong Bun kim telah melancarkan kembali serangannya yang kedua dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan lagi.

Pedang mestika itu benar-benar sebuah benda yang luar biasa sekali, cahaya pedang bersinar bagaikan halilintar dan sanggup mencabut nyawa siapa pun yang terkena sambarannya, hampir saja Ciu Li li terkurung dibalik sinar pedang yang amat tebal itu sehingga tak mampu meloloskan diri.

Pada mulanya Ciu Li li sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap kehebatan ilmu pedang Sin kiam, tapi setelah terbukti dengan keampuhannya, dia baru terkesiap, sambil membentak keras secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan kilat.

Tapi begitu kedua buah serangan tersebut dilancarkan, percikan darah segar segera berhamburan kemana-mana, sebuah goresan panjang yang tiga inci dalamnya telah merobek lengan kirinya itu sehingga tak ampun lagi darah segar bercucuran membasahi seluruh lantai.

Melihat musuhnya sudah terluka, Ong Bun kim mendesak maju lebih kedepan, sambil tertawa seram katanya:

"Ciu Li li, hari ini juga aku akan menuntut hutang darah dengan darah segar tubuhmu!"

Ciu Li-li tertawa dingin, "Hmm.....! Belum tentu!" jawabnya.

"Ciu Li li, robek kain cadar yang menutupi wajahmu itu, ingin kulihat bagaimanakah tampang dengan perempuan jalang semacam kau itu"

Ciu Li li kembali tertawa dingin.

"Kau merasa dirimu memiliki kepandaian yang tangguh, mengapa tidak kau robek sendiri cadar mukaku ini?" jengeknya.

Mengikuti desakan Ong Bun kim yang selangkah demi sejangkah maju kedepan itu, Ciu Li Ii pun selangkah demi selangkah mundur terus ke sudut kanan tebing curam tersebut, dari delapan jengkal menjadi lima jengkal... tiga jengkal... dan akhirnya berhenti.

Ong Bun kim tertawa seram.

"Heeh... heeh... heehh... Ciu Li-li kau tak akan lolos dari cengkeramanku"

Belum habis perkataan itu tubuh Ong Bon kim telah meluncur kemuka dengan kecepatan luar biasa, cahaya tajam menyambar lewat, pedang Sin kiam tersebut telah diayunkan kedepan menyerang tubuh Ciu Li-li.

Pada saat Ong Bun kim sedang melancarkan serangan itulah tiba tiba...

Ciu Li li melepaskan sebuah serangan untuk membendung datangnya serangan tersebut kearahnya, tubuhnya melejit ketengah udara dan langsung terjun kedalam jurang yang dalamnya tiada taranya itu.

Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini sungguh membuat Ong Bun kim menjadi tertegun dan melongo, dia tak pernah mengira sampai kesitu.

Mimpipun dia tak akan mengira kataa Ciu Li li lebih rela bunuh diri dengan terjun ke-dalam jurang daripada menerima kematiannya diujung pedang Ong Bun kim.

Untuk setaat lamanya Ong Bun-kim menjadi tertegun dan tak habis mengerti.

Ia betul-betul merasakan hatinya berdebar keras oleh tindakan Ciu Li Ii yang bunuh diri dengan terjun kedalam jurang itu, ia tidak menyangka kalau didetik terakhir keberhasilannya untuk membalas dendam sakit hatinya, Ciu Li li mengambil keputusan untuk berbuat demikian. Bagaimana pun juga kejadian ini membuatnya merasa amat menyesal sekali.

Entah lewat berapa lamanya, tiba-tiba Ong bun kim mencium semacam bau mesio yang aneh sekali, sekujur tubuhnya kontan saja bergetar keras, tanpa sadar ia menjerit.

"ini tertanam-obat peledak!"

Baru saja ucapan terakhir itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, ledakan yang dahsyat itu juga menggoncangkan seluruh permukaan tanah di mana ia berada.

Paras muka Ong Bun kim seketika itu juga berubah sangat hebat..

Menyusul kemudian terjadilah suate ledakan dahsyat yang benar-benar memekikkan telinga, jilatan api yang membara segera memancar ke tengah udara, batu cadas berguguran ke jurang, bumi serasa bergoncang keras, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

Ledakan mesiu itu berkumandang dari jauh dan makin lama semakin dekat, semua jalan tembusnya hampir tersumbat seluruhnya.

"Blaaammm.."

Suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kembali berkumandang memecahkan kesunyian, batu karang berguguran dan berterbangan memenuhi seluruh angkasa, bahkan banyak diantaranya yang meluncur ke arahnya ini membuat Ong Bun kim semakin terkesiap, buru-buru telapak tangannya diayunkan ke depan memukul rontok batuan yang mengancam ketubuhnya itu. Tetapi baru saja ia berhasil mbenghancurkan sedrangan batu gelaombang yang perbtama, hujan batu yang dilontarkan akibat dari ledakan yang kedua kembali meluncur ke tubuhnya.

Dalam keadaan begini, ia benar-benar merasa tak mampu untuk melakukan perlawanan lagi.

Mau mundur jelas tak mungkin, sebab di-belakang sana terbentang sebuah jurang yang dalamnya tak terkirakan.

Dalam keadaan demikian, maka satu-satunya jalan baginya adalah memilih jalan satu diantara kedua buah jalan yang ada, tetap berada disini atau terjun kedalam jurang?

Dalam pada itu sudah banyak sekali batuan cadas yang menghajar diatas badannya, darah kental telah bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, ia hampir saja berubah menjadi manusia darah.

Tapi sianak muda itu tetap menggigit bibir menahan diri, sampai pada akhirnya, ketika ia sudah merasa tak tahan untuk tetap berada disana, sambil menghimpun kekuatannya yang terakhir dia melompat kedalam jurang.

"Aaaah !" tanpa disadari ia menjerit kaget, tubuhnya meluncur lurus ke bawah, akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri..

"Pluunng......!" ternyata ia terjatuh kedalam sungai bssar yang terbentang didalam jurang tersebut.

Tubuhnya segera terbawa oleh arus sungai yang deras itu mengalir ke depan.

Entah sudah berapa jauh tubuhnya terbawa oleh arus, akhirnya Ong Bun kim tersadar kembali dari pingsannya, ketika ia mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar sana, ternyata entah sedari kapan tangannya sudah memegang sebuah balok kayu dan sedang mengalir menuju ke hilir dengan gerakan pelan.

Mendadak....

Dari antara lekukan dasar sungai tersebut tampak ada puluhan sosok mayat yang sedang mengalir pula ke arah hilir, menyaksikan kesemuanya itu, Ong Bun kim merasa amat terkejut.

Darimana datangnya puluhan sosok mayat itu?

Sementara berpikir demikian, tubuh Ong Bun kim telah mengalir menuju ke hilir, mengikuti arus sungai yang deras, ketika membawa sampai ke sebuah jeram pemisah air, ia terbawa oleh arus yang kuat mengalir ke sebelah kiri.

Ditengah sungai tampak batu-batu cadas bermunculan disana sini, setelah melewati goncangan demi goncangan akibat benturan yang keras, hampir saja ia jatuh pingsan karena getaran-getaran tersebut mengakibatkan isi perutnya mengalami luka yang cukup parah.

Arus sungai semakin mengalir kedepan semakin deras alirannya.

Sungai tersebut makin kedepan semakin sempit pula permukaannya...

Waktu itu sekujur badan Ong Bun kim sudah penuh dengan luka, hampir boleh dibilang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan gerakan lagi, dalam keadaan demikian terpaksa ia pasrahkan mati hidupnya kapada nasib.

Tiba-tiba...

Ong Bun kim menjebrit tertahan, tdernyata air sunagai itu mengalibr menuju ke dalam sebuah gua karang. "Mati aku kali ini !" pekik Ong Bun kim didalam hati. Mendadak...

Segulung arus kuat menggulung tiba dan membawa kayu yang dipegang Ong Bun kim itu meluncur kedepan dengan lebih kencang, dimana akhirnya dengan menimbulkan suara benturan yang sangat keras memasuki dinding gua karang itu.

Akibat dari benturan tersebut Ong Bun kim merasakan isi perutnya sekali lagi mengalami suatu kegoncangan yang maha dahsyat, tak ampun dia segera muntah darah segar, tubuhnya terseret masuk dengan cepatnya kedalam gua karang tersebut.

Maka semua kesadarannya pun ikut hilang pada saat itu pula.

Entah berapa lama telah lewat, pelan-pelan pemuda itu sadar kembali dari pingsannya ia merasakan sekujur badannya kesakitan semua, ia mencoba untuk meraba sekeliling tempat itu, ternyata tempat dimana ia berbaring masih terdapat air.

Suasana dlsekelilingnya gelap gulita, sukar untuk melihat keadaan disekitar tempat itu.

"Apakah aku belum mati...?" ingatan tersebut melintas lewat didalam benaknya.

Tapi begitu ingatan tersebut melintas lewat, tanpa terasa sekujur tubuhnya ikut menggigil keras, bulu kuduknya pada berdiri semua.

Akan tetapi ketika sinar matanya menangkap kilatan cahaya tajam yang terpancar keluar dari pedang Sin kiam tersebut, itu segera membuktikan diri bahwa dirinya masih hidup. Teringat kembali dengan peristiwa yang  baru dialaminya, sekali lagi sianak muda itu mengkirik karena ngeri.

"Tempat manakah ini?" ingatan lain melintas dalam benaknya.

Dia tak tahu dimanakah dia berada sekarang, maka cepat-cepat pemuda itu duduk bersila mengatur pernapasan dan berusaha untuk menyembuhkan dulu luka dalam yang dideritanya.

Untunglah tak lama kemudian semua luka yang dideritanya itu berhasil disembuhkan.

Sekarang, secara lamat-lamat ia dapat menangkap bahwa tempat dimana ia berada sekarang adalah sebuah gua.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri kemudian berjalan kedepan.

Entah beberapa langkah dia sudah lewat, tiba-tiba ujung kakinya seperti membentur sesuatu benda yang amat keras, sewaktu diperiksa pemuda itu segera menjerit kaget.

Ternyata tulang belulang manusia berserakan disekeliling tempat itu.

Tak kuasa lagi Ong Bun kim bersin beberapa kali, tanpa terasa bulu roma pada bangun berdiri dia mundur dua tiga langkah kebelakang.

Ia merasakan suatu cekaman perasaan ngeri yang amat menakutkan sebab melihat dari begitu banyaknya tulang belulang manusia yang berserakan disekitar tempat itu, dapat diketahui bahwa tidak sedrikit manusia yatng tiba disitu qdan tewas ditemrpat itu juga.

"Tempat ini benar-benar adalah suatu tempat setan. "

pekik Ong Bun kim didalam hati. Dengan sangat berhati-hati dia berjalan memasuki gua tersebut.

Gua air itu panjang sekali, sudah tiga kali lebih Ong Bun kim menelusurinya, tapi belum juga nampak ujungnya, sementara suatu perasaan dingin yang mendatangkan perasaan ngeri tiba-tiba muncul dalam hati kecil anak muda itu.

Dia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan maut yang setiap saat mengancam jiwanya.

Perasaan semacam ini belum pernah dirasakan sebelumnya, tapi sekarang dia telah merasakan.

Setelah berjalan lebih kurang dua kaki lagi, akhirnya sampailah Ong Bun kim di depan sebuah pintu yang amat besar.

Ia mencoba untuk mendorong pintu besar itu, "krek" dengan cepat pintu batu itu terpentang lebar.

Dengan membawa perasaan tercekat dan kuatir, Ong Bun kim masuk ke dalam, ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan batu yang amat besar sekali.

oooOdwOooo

BAB 75

SUASANA didalam ruangan batu itu sangat gelap  gulita, dekat suatu lekukan batu yang cekung kedalam, Ong Bun kim menyaksikan ada sesosok bayangan hitam, seperti manusia seperti pula makhluk aneh bercokol ditempat itu, bergidik Ong Bun kim menyaksikan kesemuanya itu.

"Siapa?" dengan suara keras ia membentak. Bayangan hitam itu tetap tak berkutik di tempat semula. Suatu perasaan yang amat mengerikan timbul didasar hati Ong Bun kim, pedang Sin kiam dipegangnya erat-erat kemudian selangkah demi selangkah dia maju kemuka mendekati bayangan hitam tersebut...

Sreet! Sreet! Sreeet! Langkah kaki yang menimbulkan suara gemerisik berkumandang dalam ruangan itu semakin menambah seramnya suasana disekitar sana.

Dalam pada itu, Ong Bun kim telah tiba lebih satu kaki dari hadapan bayangan hitam, itu sekarang dia dapat melihat jelas bahwa bayangan tersebut adalah sesosok tubuh manusia, rambutnya panjang dan awut-awutan tidak karuan, keadaannya sangat mengerikan.

Ong Bun kim menarik napas dingin tanpa sadar dia mundur satu langkah kebelakang.

Setelah gejolak perasaan dalam hatinya berhasil diatasi pemuda itu segera membentak lagi: "Siapakah kau?"

Orang itu masih tetap tidak menjawab atau melakukan sesuatu gerakan, berkutikpun tidak.

"Jangan jangan orang itu sudah mati " demikian Ong Bun kim berpikir.

-oo0dw0oo--