Setan Harpa Jilid 20

 
Jilid 20

WAKTU itu Tay khek-Cin-kun benar-benar telah bertekad untuk beradu jiwa, ditengah bentakan yang amat nyaring, bagaikan orang kalap saja ia menubruk ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Ketua dari perguruan San tian-bun itu memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan, tampaknya ia telah menduga akan tindakan tersebut.

Sementara itu, Phang Pak bun telah menggetarkan pula pedangnya sambil melancarkan sebuah serangan yang amat dahsyat.

Tay-khek-Cin-kun maupun-Phang Pak-bun hampir boleh dikata menyerang dalam waktu yang bersamaan, tapi cahaya putih segera berkelebat lewat, tahu-tahu ketua dari perguruan San tian bun tersebut sudah melepaskan diri dari sergapan gabungan itu.

Gerakan tubuhnya ini sangat cepat dan enteng, tahu-tahu ancaman dari Tay-khek cin-kun serta Phang Pak-bun tersebut sudah mengenai sasaran yang kosong.

Sambil tertawa dingin, ketua dari perguruan San-tian- bun itu berseru:

"Kalian berdua kenapa musti beradu jiwa denganku? Meskipun kalian kehilangan Ong-Bun-kim, aku toh juga kehilangan seorang wakil ketua, apakah hal ini tak bisa dikatakan sebagai impas?"

"Enak betul kalau bicara" teriak Tay khek cin kun dengan penuh rasa geram, "akan ku pertaruhkan selembar nyawa tuaku ini untuk beradu jiwa denganmu!"

"Apa gunanya.."

Belum habis ia berkata, seperti harimau yang terluka Tay khek-cinkun telah menubruk ke depan sambil melancarkan sebuah serangan dahsyat, pukulan itu bukan saja amat dahsyat, jurus serangannya juga aneh dan tangbguh.

Phang Pak dbun membentak kaeras, diapun ikbut menyerbu ke gelanggang sambil melancarkan serangan kilat.

Baik Tay-khek-cinkun maupun Phang Pak bun, kedua- duanya sudah mempunyai maksud untuk beradu jiwa, mereka tak ambil perduli lagi apa yang bakal menimpa diri mereka berdua.

Menyaksikan kesemuanya itu, ketua dari perguruan San- tian-bun tersebut segera membentak.

"Tampaknya sebelum mampus kalian berdua belum puas?" Tay kbek cin-kun maupun Phang Pak-bun tidak menjawab seruannya itu, mereka malahan menyerang makin kalap.

"Bagus, bagus sekali!" seru ketua dari perguruan San- tian-bun semakin naik darah, "Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepada kamu berdua!"

Ditengah seruan tersebut, secara beruntun telapak lengannya diayunkan ke depan melancarkan tiga buah serangan dahsyat. Semua serangan itu dilancarkan bukan saja dengan jurus-jurus yang aneh dan sakti, bahkan dikombinasikan pula dengan gerakan tubuhnya yang cepat, kedahsyatannya betul-betul mengerikan hati.

Dalam waktu singkat, berkobarlah suatu pertarungan sengit yang melibatkan ketiga orang itu.

Mendadak suatu bentakan nyaring yang memekikkan telinga menggetarkan sukma, menyusul kemudian.

"Blaaaaam !" dalam suatu benturan yang sangat keras itu, tubuh Phang Pak bun mencelat ke belakang dan muntah-muntah darah segar, ia tak sanggup bangkit lagi.

Menyaksikan kejadian itu Tay-khek Cin-kun menjadi terkesiap, peluh dingin mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

Mendadak ketua dari perguruan San tian bun itu maju menyerang dengan suatu gerakan tubuh yang aneh dan cepat, lali secepat kilat ia melancarkan dua buah serangan berantai.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki ketua dari perguruan San tian bun ini betul-betul mengerikan sekali, sekalipun harus menghadapi kerubutan dua orang jago sekaligus, ternyata Phaog Pak bun yang memiliki tenaga dalam paling cetek telah terluka lebih dulu ditangannya. Dengan demikian sudah barang tentu tenaga dalam yang dimiliki Tay khek Cin-kun lebih-lebih tak bisa mengatasi kelihayan lawannya lagi.

Tapi waktu itu dia sudah nekad dan berniat untuk berada jiwa, karena kenekadannya ini, ternyata untuk sesaatpun ketua dari perguruan San tian bun pun tak bisa banyak berkutik terhadapnya.

Dalam waktu singkat, puluhan jurus kembali sudah lewat.

Tiba-tiba...

"Blamm!" suatu bebnturan keras kedmbali terjadi, amenyusul kemudiban berkumandang jerit kesakitan yang memilukan hati.

Sambil muntah muntah darah segar, tubuh Tay khek Cin kun mencelat ketengah udara dan terjatuh ke dalam jurang.

Sekalipun Tay khek Cinkun terhajar oleh sebuah pukulannya namun perempuan misterius ketua dari perguruan San tian bun seediripun terhajar pula oleh pukulan Tay khek Cinkun.

Dengan susah payah ia berusaha untuk tetap berdiri kemudian sambil tertawa dingin selangkah demi selangkah berjalan menghampiri Phang Pak-bun, mencengkeram tubuhnya dan mengangkatnya keudara.

"Hahh haaabh haaahh lebih baik kau turun juga kebawah!" teriaknya sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

Tubuh Phang Pak bun yang sudah terangkat ke udara itu, dengan cepat dilemparkan ke dalam jurang tersebut.

Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak lagi, suara tertawanya sangat menyeramkan, membuat siapapun yang mendengar merasa bulu buduknya pada bangun berdiri.

Yaa, peristiwa ini memang cukup menggembirakan hatinya, karena ia berhasil menyingkirkan sumber bencana dari muka bumi, ini berarti selanjutnya ia tak usah kuatir apa-apa lagi.

Jurang itu tak terhitung dalamnya, siapa yang bisa hidup setelah terlempar kedalam jurang tersebut?

OOOO0dw0OOOO

BAB 62

APAKAH Ong Bun kim telah tewas? Apakah Tay khek Cinkun serta Phang-Pak bun telah terkubur pula didasar jurang yang puluhan laksa kaki dalamnya ini?

Andaikata semuanya itu merupakan kenyataan, hal itu sungguh merupakan suatu peristiwa yang tragis.

Thian tak akan membiarkan dendam berdarah ini lenyap tak berbekas, ibarat batu yang tercebur didalam samudra, kalau tidak, bukankah kejahatan akan semakin meraja lela dalam dunia ini?

Begitulah, ketika Ong Bun kim termakan oleh pukulan dari ketua perguruan San tian bun yang maha dahsyat itu sehingga tubuhnya mencelat ketengah udara, ia segera jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya ia tersadar kembali dari pingsannya dalam keadaan kesakitan hebat, pelan-pelan ia teringat kembali akan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya.

Ia masrih ingat ketikat ketua perguruaqn San tian bun rturun tangan keji kepadanya, dia pun masih ingat dia bersama Lui Thian ciu terlempar ke dalam jarang untuk selanjutnya apapun tak teringat lagi olehnya.

"Jangan-jangan aku sudah mati ?" demikian ia mulai berpikir dalam hatinya.

Berpikir sampai disitu, sinar matanya muIai celingukan kesana kemari untuk mencari tahu keadaan yang sesungguhnya, ternyata ia berada dalam sebuah ruangan batu...

Ia tak bisa berpikir, kenapa ia bisa berada disini... kenapa ia bisa berada dalam ruangan batu semacam ini, sebab dari kesemuanya itu terbukti sudah kalau dia belum mati, ia masih hidup segar bugar didunia ini.

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan.

Dengan cepat Ong Bun kita berpaling keluar pintu ruangan batu itu, ia saksikan seorang nona berbaju putih sedang berjalan mendekat dengan langkah yang lemah gemulai.

Sekali lagi Ong Bun kim tertegun dibuatnya.

Nona berbaju putih itu berusia antara lima belas, enam belas tahunan, dia mempunyai sepasang kepang yang panjang, wajahnya tidak terhitung cantik tapi mukanya yang bulat telur terasa manis sekali.

Sambil tersenyum dia berjalan mendekati pembaringan Ong Bun kim, senyuman manis yang menghiasi bibirnya membuat dia tampak menarik, uniuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdiri termangu-mangu sambil menatap wajahnya itu.

Ia berjalan ke hadapan Ong Bun kim. lalu menegur. "Kau sudah sadar cukup lama?" Suaranya merdu merayu membuat orang serasa terbuai ke dalam impian.

Ong Bun kim tertegun oleh pertanyaan itu jawabnya kemudian:

"Aku baru saja sadar, apakah apakah kau yang telah menolong aku! ?"

"Betul." sambil tersenyum nona berbaju putih itu mengangguk.

Ong Bun kim ingin melompat bangun, tapi nona berbaju putih itu segera mencegah-nya sambil berkata:

"Jangan bangun dulu, luka yang kau derita belum sembuh, luka semacam itu paling pantang untuk sembarang bergerak!"

"Nona, banyak terima kasih atas pertolonganmu!" kata Ong Bun-kim dengan penuh luapan rasa terima kasih.

"Tak usah berterima kasih kepadaku!" "Ke mana larinya yang seorang lagi?"

"Luka yang dideritanya tidak berada dibawah keadaan lukamu, mungkin jauh lebil parah malah, sekarang dia sedang merawat lukanya dalam ruangan lain."

Mendengar perkataan itu, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat sekali.

"Jadi dia masih hidup di dunia ini?" "Benar!"

"Bagaimana jalannya cerita sehingga nona berhasil menolong diriku?".

"Dua hari berselang aku mendengar suara pertarungan berkumandang dari atas sana," cerita nona berbaju putih itu, "ketika aku masih berdiri di bawah jurang sana, kusaksikan kalian berdua terjatuh dari atas sana..."

"Jadi tempat ini letaknya terada didasar jurang tersebut?" tanya Ong Bun kim.

"Benar! Bukankah kalian kena dihajar oleh ketua dari perguruan San tian bun sehingga terjatuh kedalam jurang?"

"Darimana kau bisa tahu?" tanya si anak muda itu dengan hati terperanjat.

Nona berbaju putih itu segera tertawa.

"Kecuali kalian semua, masih ada beberapa orang yang kena dihajar pula sehingga terjatuh kedalam jurang ini, tapi tenaga dalam yang dimiliki orang-orang itu terlampau cetek. kebanyakan mereka tewas setelah terjatuh ke dalam jurang ini."

Belum habis si nona berbaju putih itu bercerita, tiba-tiba dari luar pintu berkumandang lagi suara seorang perempuan.

"Siok-khim, luka yang diderita sauhiap itu belum sembuh, kenapa kau malahan mengajaknya untuk banyak bicara?"

Mendengar teguran tersebut, paras muka nona berbaju putih itu segera berubah menjadi merah padam karena jengah, kepalanya kontan saja tertunduk rendah-rendah.

"Siapa disitu?" tanpa terasa Ong Bun kim bertanya dengan perasaan bergetar keras.

"Ibuku !" jawab nona berbaju putih itu cepat kemudian dengan nyaring ia menyahut:

"Ibu, aku sudah tahu!"

"Berikan obat tadi kepadanya agar dimakannya." "Baik, ibu!"

Seraya mengiakan, dari dalam sakunya nona berbaju putih itu mengeluarkan sebutir pil dan diserahkan kepada Ong Bun kim sambil memberi tanda agar pemuda itu bersedia untuk menelannya.

Dengan perasaan berterima kasih Ong Bun kim memandang sekejap kearahnya, kemudian baru menerima pil tersebut dan ditelannya.

Ketika Ong Bun kim telah menelan pil tersebut, secara beruntun nona berbaju putih itu menotok kembali beberapa buah jalan darah penting ditubuh anak muda tersebut, bakau saja cara menotoknya amat jitu dan cekatan, tenaga dalam yang dimilikipun amat sempurna, hal mana jauh berada diluar dugaan Ong Bun kim.

Setelan menelan obat dan memperoleh pengobatan dari nona berbaju putih itu, luka yang diderita Ong Bun kim praktis telah sembuh kembali, kesehatan tubuhnya pulih kembali seperti sedia kala, dan iapun melompat turun dari atas pembaringan.

"Nona. banyak terima kasih atas budi pertolonganmu!" katanya sambil memberi hormat kepada gadis tersebut.

"Aaah..! Hanya persoalan sekecil ini, buat apa kau musti memikirkannya dalam hati."

"Apakah aku boleh mengunjungi ibumu?"

"Boleh saja, tapi...apakah kau tidak menjenguk dulu sahabatmu itu?"

"Sahabat? "dengus Ong Bun-kim sambil tertawa dingin, "kau anggap orang itu adalah sahabatku!"

"Apakah bukan?" "Tepat-sekali perkataanmu itu, dia bukan saja sahabatku, bahkan masih terhitung seorang musuh besarku"

"Apa? Dia adalah musuh besarmu?" Rupanya nona berbaju putih itu merasa terkejut sekali, dengan sepasang mata terbelalak lebar ditatapnya wajah Ong Bun kim itu tanpa berkedip.

"Betul, dia adalah musuh besarku" jawab Ong Bun-kim, "Ia telah membunuh ayah ibuku."

"Sungguh?"

"Kalau begitu, kau hendak membunuhnya?"

"Yaa, aku sangat benci kepadanya, aku ingin menghirup darahnya, memakan daging tubuhnya, tentu saja dia harus kubunuh!"

Dengan termangu-mangu nona berbaju putih itu menatap tajam wajah Ong Bun kim sekian waktu, akhirnya dia berkata lagi:

"Tapi luka yang dideritanya belum sembuh kembali!" "Aku bisa menunggu sampai luka yang dideritanya

sembuh kembali baru membunuhnya! nona lebih baik sekarang bawalah aku untuk berjumpa dengan ibumu."

Nona berbaju putih itu manggut-manggut, dia lantas berjalan keluar dari pintu ruangan lebih dulu diikuti Ong Bun kim dari belakang.

Setelah keluar dari pintu ruangan, mereka tiba di sebuah ruangan yang luas, nona berbaju putih itu segera berbelok ke dalam sebuah pintu batu yang lainnya.

Ong Bun kim tidak menyangka kalau dalam ruangan bawah tanah tersebut, ternyata terdapat arsitek bangunan yang begini menakjubkan. Sementara itu mereka sudah tiba didepan sebuah pintu ruangan, nona berbaju putih itu segera maju mengetuk pintu, kemudian serunya:

"Ibu, sauhiap ini ingin sekait berjumpa denganmu!" "Suruhlah dia masuk!"

Nona berbaju putih itu memandang sekejap ke arah Ong Bun kim, tiba-tiba ia menempelkan bibirnya disisi telinga pemuda itu dan berbisik:

"Andaikata kau menyaksikan sesuatu yang aneh atau seram nanti, aku harap kau jangan menunjukkan sikap terkejut"

Ong Bun kim tertegun, ia tidak habis mengerti terhadap ucapan tersebut, namun kepalanya dianggukkan juga.

Pelan-pelan nona berbaju putih itu mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam.

Ong Bun kim menjumpai suasana dalam ruangan batu itu gelap gulita.

Sekali lagi ia dibikin tertegun oleh suasana ditempat itu, tapi ia tidak berdiam lama sambil membesarkan nyalinya dia berjalan maju lebih ke depan, dalam kegelapan lamat- lamat ia masih dapat melihat bahwa tempat itu adalah sebuah kamar tidur.

Didepan pembaringan terdapat sebuah bangku sesosok bayangan hitam duduk disitu.

Dengan tubuh agak menggigil Ong Bun kim maju tiga langkah ke depan, kemudian sambil memberi hormat katanya.

"Boanpwe Ong Bun kim sengaja datang untuk menyampaikan rasa terima kasihku atas budi pertolongan yang telah kuterima!" "Hanya persoalan sekecil itu harap kau jangan memikirkannya selalu didalam hati, silahkan duduk Ong sauhiap!" la menunjuk sebuah kursi dihadapannya.

"Terima kasih!" sahut Ong Bun kim sambil duduk.

Setelah itu pemuda tersebut duduk, baru mendongakkan kepalanya memandang ke depan, tapi apa yang kemudian terlihat hanpir saja membuat sianak muda itu menjerit keras.

Ternyata perempuan yang duduk dihadapannya itu memiliki selembar wajah yang menakutkan sekali, baik diatas wajahnya maupun pada hidung dan bibirnya seakan- akan telah terbakar sehingga kulitnya mengelupas, daging merah yang bercampur darah tampak menghiasi wajahnya disana sini, ini menyebabkan wajahnya betul-betul menakutkan sekali.

Siapa yang tidak akan terkejut setelah menyaksikan raut wajah sejelek dan seseram ini.

Dalam pada itu, perempuan jelek itu telah tertawa getir, katanya:

"Bukankah wajahku tampak menakutkan sekali?"

Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, bukan menjawab dia malahan balik bertanya:

"Aku lihat wajah cianpwe telah dirusak orang, bukankah demikian?"

"Betul Kau she Ong? Apakah ayahmu juga seorang jago dari dunia persilatan?"

"Benar!"

"Apakah kau mempunyai hubungan yang erat dengan Su-hay-bong-khek (manusia latah dari empat samudra) Ong See liat?" "Dia adalah ayahku!" jawab Ong Bun-kim dengan perasaan bergetar keras.

Sekujur tubuh perempuan bertampang jelek itu segera menggigil keras, katanya agak gemetar:

"Oh....jadi... jadi Ong See liat adalah ayahmu?" "Betul, apakah cianpwe kenal dengan ayahku?"

Perempuan bermuka jelek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa getir.

"Entahlah, cuma aku tahu manusia macam apakah dirinya itu, apa kau datang ke perguruan San tian bon untuk menuntut balas?"

"Benar.....! Kau.. .kau...darimana kau bisa tahu?" "Bukankah ketua dari perguruan San tian bun telah

membinasakan ayahmu..?"

"Benar!"

"Aku lihat tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat menandingi kelihayan dari ketua perguruan San tian bun?"

"Betul!"

"Ketua dari perguruan San tian bun benar-benar telah membinasakan ayah ibumu?"

"Benar!"

"Kau tahu dia bernama siapa?" "Aku tidak tahu!"

"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, dia bernama Lui Thian Ciu!" Mendengar nama tersebut, sekujur badan Ong Bun kim bergetar keras karena luapan emosi.

"Bukan, dia bukan Lui Thian ciu" sahutnya. "sebab Lui Thianciu tidak lebih hanya wakil ketua dari perguruan San tian bun!"

"Apa?, dia hanya seorang wakil ketua saja?" "Benar!"

Perempuan berwajah jelek itu duduk termangu-mangu, entah apa yang sedang dipikirkannya ketika itu? Entah apa pula yang sedang ia pertimbangkan...?

Lama kelamaan Ong Bun kim merasa tidak sabar pula, tiba-tiba ia bertanya.

"Kenapa kau bisa mengetahui segala sesuatunya dengan sejelas ini? Apakah kau pun salah seorang anggota perguruan San tian bun?"

"Benar !"

Terhadap perempuan ini, Ong Bun kim menaruh suatu kesan yang mendalam sekali, dia tak tahu apa sebabnya perempuan itu sampai berdiam ditempat seperti ini? Dia pun tak tahu kenapa wajahnya bisa dirusak sehingga hancur menjadi begitu rupa?

Berpikir sampai disini, tanpa terasa dia bertanya lagi. "Cianpwe, siapa yang telah merusak wajahmu?" Perempuan berwajah jelek itu tertawa getir.

"Bukan hanya wajahku saja yang rusak, sepasang  mataku juga telah dikorek keluar" katanya.

"Haah !" saking kagetnya Ong Bun kim menjerit tertahan, sampai sekarang dia baru mengerti kenapa sepalang mata perempuanb itu bisa cekundg ke dalam, teranyata biji matabnya telah dikorek orang.

Setelah tertawa getir, kembali katanya.

"Kaku dibicarakan, mungkin kau tak akan percaya, orang yang telah mencelakai diriku ini tak lain adalah suamiku sendiri."

"Apa? Suamimu? Jadi.... jadi dia telah mencelaka dirimu? Siapa siapa sama suamimu itu?"

"Lui Thian ciu!" "Apa?"

Ong Bun kim menjerit keras-keras, hampir saja tubuhnya melompat bangun dari atas kursi, sebab perkataan tersebut benar-benar telah menggetarkan perasaan Ong Bun kim.

Untuk sesaat lamanya, si anak muda itu hanya memandangi perempuan tersebut dengan perasaan terkesiap, sebab ucapannya itu bukan saja di luar dugaannya, bahkan membuat hatinya merasa terperanjat sekali.

"Kau... kau tidak percaya?" tanya perempuan berwajah jelek itu.

"Boanpwe bukannya tidak percaya, tapi aku sedang berpikir, kalau kau mengatakan Lui Thian ciu adalah ketua dari perguruan San tian bun itu, berarti kau adalah nyonya ketua?"

"Benar!"

"Lantas, mengapa dia telah mencelakai dirimu?" "Lantaran seorang perempuan, dan perempuan itu

adalah Yu hay kian wa (perempuan genit berjiwa cabul) Ciu

Li li!" "Aku pikir perempuan yang kau maksndkan itu tentulah ketua dari perguruan San tian bun yang sekarang ini?"

"Kemungkinan besar memang demikian, konon di masa lalu si perempuan genit berjiwa cabul Ciu Li li amat mencintai ayahmu, bahkan tergila-gila kepadanya, tapi ayahmu tak pernah memandang sebelah matapun terhadap cinta kasihnya itu."

"Dia memang berwajah cantik dan bertubuh montok, ketika gagal memperoleh cinta balasan dari ayahmu, dari cinta tumbuhlah menjadi rasa benci, ternyata timbul dendamnya untuk membunuh ayahmu.

"Maka diapun berkomplot dengan Lui Thian-ciu. "Sebenarnya  aku  tidak  tahu  tentang  kejadian  tersebut,

kemudian  dari  mulut  seorang  anggota  perguruanku  baru

kuketahui duduk persoalan yang sebenarnya, gara-gara persoalan itu kami menjadi cekcok dan berselisih paham, ternyata akibat dari percekcokan itu dia malah secara berani dan terang-terangan membawa Ciu Li li pulang ke rumah !"

"Aaah..! Sungguhkah telah terjbadi peristiwa sdemacam ini?" taanya Ong Bun kimb dengan wajah berubah hebat.

"Benar!" pertemuan itu menghela napas sedih, "berbicara soal kecantikan, wajahku tidak berada dibawah kecantikan Ciu Li li tapi aku tidak habis mengerti kenapa suamiku bisa jatuh cinta kepadanya? Mungkin Ciu Li li memang mempunyai dasar kecabulan sehingga tehniknya bermain cinta diatas pembaringan jauh lebih hebat dan pintar dari padaku, sehingga hal mana membuat suamiku terpesona."

"Yah, kemungkinan besar memang begitu."

Ong Bun kim manggut-manggut, "memang tak sedikit terjadi peristiwa semacam ini, seorang laki-laki yang sudah beristri ternyata terpikat kembali oleh perempuan cabul." Perempuan berwajah jelek itu manggut-manggut, kembali katanya:

"Perjumpaan perempuan genit berjiwa ca bui Ciu Lili dengan Lui Thian-ciu ini ibaratnya kayu kering bertemu dengan api, bukan saja mereka tidak pandang sebelah mata pun kepadaku, bahkan sering kali bercumbu rayu secara menyolok didepan mataku sendiri.

"Dalam keadaan begini aku tahu bahwa marahpun tak ada gunanya, karenanya aku pun hanya membungkam diri belaka.

"Lama kelamaan sikap Ciu Lili makin berani, ternyata dia telah menganggap diriku sebagai duri dalam matanya."

"Suatu hari aku dengar mereka sedang berunding untuk mencelakai ayah ibumu, Ciu Li-li menyuruh Lui Thian ciu menampilkan diri dan memikat diri Siau Hui un, agar  usaha mereka untuk turun tangan bisa lebih gampang memperoleh hasil."

"Aku yang mendengar rencana busuk mereka itu segera menampilkan diri untuk menghalangi perbuatan mereka itu, tapi agaknya Lui Thian ciu telah terpengaruh oleh Ciu Li li, bukan saja nasehatku tidak digubris, bahkan sepasang mataku dikorek keluar, wajahku dirusak dan tubuhku dilemparkan ke dalam jurang ini."

"Sungguhkah telah terjadi peristiwa ini?" seru Ong Bun kim sambil menahan geramnya.

"Benar, padahal waktu itu aku sedang mengandung, untung saja ketika terjatuh ke dalam jurang, tubuhku tercebur ke dalam kolam air disini sehingga nyawaku berhasil diselamatkan oleh seorang manusia aneh yang menghuni dalam gua ini, kalau dihitung dengan jari aaai! Sudah lima belas tahun peristiwa itu berlangsung." Ong Bun kim kembali menggigit bibirnya menahan luapan emosi dalam hatinya.

"Perbuatannya sungguh mengerikan sekali, hatinya betul-betul teramat kejam, cianpwe kau ingin membalas rdendam tidak?"

"Tentu saja ingqin, cuma sepasarng mataku sekarang telah buta, bagaimanapun juga tak mungkin bukan kusuruh putriku untuk pergi membunuh ayah kandungnya sendiri?"

Tiba-tiba Ong Bun kim bangkit berdiri, lalu kepada gadis berbaju putih itu katanya:

"Aku hendak menengok orang yang terluka itu."

ooooOdwOoooo

BAB 63

"BUKANKAH dia adalah musuh besarmu? tanya perempuan berwajah jelek itu.

"Benar!"

"Siapa namanya?"

Ong Bun kim berpikir sebentar, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Entahlah, aku sendiri pun kurang tahu."

"Siok-kim, bawalah dia ke sana!" perintah perempuan bertampang jelek itu kemudian.

"Baik, ibu!"

Perempuan berbaju putih itupun membawa Ong Bun kim menuju kedalam sebuah ruang an batu, ruangan yang letaknya berada sebelah menyebelah dengan ruangan batu yang dihuni Ong Bun kim semula. Waktu itu Lui Thian ciu sedang berbaring diatas pembaringan, ia telah sadar kembali, betapa terkejutnya dia ketika dilihatnya Ong Bun kim muncul secara tiba-tiba didepan mata, wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, ditatapnya si anak muda itu dengan pandangan ketakutan.

Dengan garang dan kasar Ong Bun kim mencengkeram tubuh Lui Thian-ciu dan diangkat nya dari atas pembaringan.

Melihat perbuatan dari pemuda tersebut, nona berbaju putih itu segera membentak keras.

"Ong sauhiap, luka yang dideritanya belum sembuh, kau tahu!"

"Aku tahu!" jawab Ong Bun kim sambil tertawa dingin. "Ong Bu-kim!" tegur Lui Thian ciu ketus, "mau apa

kau?"

"Membawamu untuk bertemu dengan tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwa kita berdua!"

"Siapakah dia?"

"Sebentar kau bakal tahu sendiri!"

Selesai berkata. Ong Bun kim segera menyeret tubuhnya dan membawa Lui Thian ciu menuju ke ruangan yang dihuni perempuan berwajah jelek tersebut.

Nona berbaju putih itu menjadi tertegun dan cuma berdiri termangu saja disana.

Ketika Ong Bun-kim tiba didepan perempuan jelek itu, terdengar perempuan tersebut menegur.

"Ong siauhiap kah yang datang?" "Benar!" Selesai berkata. Ong Bun kim lantas melemparkan tubuh Lui Thian ciu ke hadapan perempuan jelek itu, katanya:

"Lui Thian ciu, sekarang dongakkan kepalamu dan coba kau lihat siapakah yang berada dihadapanmu ini?"

"Apa? Dia dia adalah Lui Thian ciu ?" teriak perempuan jelek itu dengan terkejut.

Sekujur tubuhnya segera menggigil keras bagaikan kena aliran listrik bertegangang tinggi.

Lui Thian ciu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah perempuan jelek dihadapannya, densan terkejut ia berteriak keras:

"Kau....kau adalah... kau adalah..."

Rupanya rasa kaget dan ngeri yang melampaui batas membuatnya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Ong sauhiap, benarkah dia adalah Lui Thian ciu?" seru perempuan jelek itu dengan suara gemetar keras.

"Benar, dialah suamimu yang bagus, suami yang telah mencelakaimu hingga menjadi begitu rupa."

Mendadak perempuan berwajah jelek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa seram suaranya yang keras dan nyaring itu cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya.

"Ibu, kenapa kau.,..?" jerit si nona berbaju putih itu dengan terkejut.

Perempuan jelek itu menghentikan gelak tertawanya, kemudian menjawab:

"Lui Thian-ciu, kau masih kenal dengan aku?" "Kau....kau adalah Siau ciu?" jerit Lui thian ciu dengan

perasaan terperanjat. "Benar, haaahhh... .haaahh haahah aku adalah Kwan Siau ciu, kau tidak menyangka bukan, setelah sepasang mataku kau korek keluar dan wajahku kau rusak kemudian kau lemparkan tubuhku kedalam jurang, ternyata aku masih hidup segar bugar sampai sekarang..."

"Siau ciu..."

Teriaknya itu pebnuh dengan suarda gemetar, takuat dan menyesal.b

"Lui Thian ciu." bentak Kwan Siau ciu lagi dengan suara lantang, "kau tidak menyangka akan menjumpai keadaan seperti hari ini bukan? Inilah kalau Thian punya mata."

Kembali ia tertawa tergelak, tertawa keras seperti orang kalap yang sudah tak waras otaknya.

Si nona berbaju putih Kwan Siok kim tiba-tiba bertanya dengan suara tergagap:

"Ibu apakah apakah dia adalah ayahku?"

"Betul, dia adalah ayahmu yang lebih kejam dari binatang dan telah mencelakai kita seperti saat ini. "

Dalam pada itu Ong Bun kim telah mencengkeram  tubuh Lui Thian ciu dan mengangkatnya tiaggi tinggi keudara, dengan auara lantang bentaknya kemudian:

"Lui Thian ciu, tidak kusangka kalau hatimu begini kejam seperti ular berbisa, bahkan lantaran seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata kau tega untuk menyiksa dan mencelakai istri sendiri dengan cara sekejam itu. Hmm! Masih terhitung manusiakah dirimu itu?"

"Ong sauhiap, lepaskan dia!" tiba-tiba nona berbaju putih itu membentak keras. Dengan perasaan kaget Ong Bun kim berpaling dan mengawasi wajah Kwan Siok kim.

"Ong suuhiap, lepaskan dia!". Kwan Siok kim kembali mengulangi kata-katanya.

"Kenapa?"

"Lepaskan dia, karena dia adalah ayahku!"

Ong Bun kim memandang sekejap lagi kearah-nya, kemudian ia melepaskan Lui Thiau ciu dari cengkeramannya.

"Ayah !" Kwan Siok kim segera berteriak keras, ia menubruk kedalam pelukan Lui Thian ciu.

Bagaimanapun juga cinta kasih anak terhadap ayahnya adalah cinta alam, sekalipun Lui Thian-ciu telah melakukan perbuatan yang mencelakai ibunya, toh dia tetap merupakan ayah kandung.

Apalagi semua peristiwa itu tidak dialami sendiri oleh Kwan Siok kim, oleh karena itu rasa benci dalam hatinya adalah suatu perasaan yang tawar, rasa cintanya kepada orang tua jauh lebih kuat dari pada segala-galanya.

Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu segera berubah hebat wajahnya.

Kwan Siau ciu juga berubah air mukanya, dengan suara nyaring dia lantas membentak.

"Siok kim, jangan dekati dia!" "Tidak, ibu..."

"Tinggalkan dirinya!" "Ibu. !". Sambil membaringkan diri dalamb pelukan Lui Thdian ciu, gadis aitu mulai menanbgis tersedu-sedu.

Sekujur badan Lui Thian ciu gemetar keras, tanpa disadari dua titik air mata menyesal meleleh juga membasahi pipinya.

Perduli dia adalah seorang manusia bengis yang berhati buas dan kejam, siapa yang akan tahan, menghadapi panggilan yang begini mesrah dan penuh kasih sayang itu?

Sekali lagi Kwan Siau ciu membentak dengan suara lantang: "Siok kim, minggir kau dari situ."

Kali ini bentakan tersebut disertai dengan napsu membunuh yang sangat mengerikan, sehingga kedengarannya menggetarkan sukma.

Mengikuti bentakan itu dengan tubuh menggigil keras ia bangkit berdiri.

"Ibu !" pekik Kwan Siok kim dengan rasa kaget.

"Lui Toian ciu!" bentak Kwau Siau ciu, "menyingkir dari putriku, kau tidak pantas untuk memeluknya!"

Lui Thian ciu menghela napas panjang, tiba-tiba ia mendorong tubuh Kwan Siok kim yang masih menangis tersedu-sedu dalam pelukannya itu sambil berkata dengan pedih:

"Betul aku memang tidak pantas !"

Kwan Siok kim terkesiap, dia memandang ke arah Lui Thian ciu dengan wajah melongo, teriaknya keras-keras:

"Ayah !"

Tiba-tiba ia menutup muka sendiri dan menangis tersedu-sedu. Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu menjadi kebingungan sendiri, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

"Lui Thian ciu, apa lagi yang hendak kau ucapkan?" bentak Kwan Siau cu dengan suara nyaring.

Bagaikan seekor ayam jago yang kalah bertarung, Lui Thian ciu menundukkan kepalanya dengan lemas, katanya dengan pedih.

"Tidak ada!"

"Kenapa kau tidak turun tangan lagi untuk membinasakan diriku?"

"Siau ciu..."

"Hayolah, cepat turun tangan! Sekarang aku toh sudah berada di hadapanmu..."

"Siau ciu..."

"Lui Thian ciu. kalau kau tidak membunuhku, aku akan membunuh dirimu!"

"Siau ciu. "

"Siau ciu yang rsekarang sudah tbukan Siau ciu qyang dulu lagi!r"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, mendadak ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Liu Thian cu.

Ditengah jeritan kaget dari Kwan Siok-kim, terdengar bunyi benturan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.

Tubuh Lui Thian ciu mencelat sejauh satu kaki lebih, sambil muntah darah segar tubuhnya roboh terkulai diatas tanah: "Ayah...!" jerit Kwan Siok kim dengan suara lengking.

Dia melompat kedepan dan menubruk ke atas tubuh Lui Thian ciu.

Cinta kasih yang diperlihatkan gadis itu terhadap ayahnya membuat Ong Bun kim merasa iba hati, hatinya terasa amat sedih sekali.

Isak tangis yang memilukan hati membuat Kwan Siau ciu yang terpengaruh emosi berdiri kaku ditempat, sekujur tubuhnya menggigil keras, bisa dibayangkan bagaimanakah gejolak perasaan hatinya waktu itu.

Dalam pada itu, Lui Thian ciu sudah tertunduk diatas tanah, sambil menyeka noda darah dari ujung bibirnya, ia berusaha menenangkan pergolakan hatinya, kemudian berkata.

"Perkataan ibumu memang benar, aku bukan ayahmu, aku... aku... aku tidak pantas,.."

Ketika mengucapkan kata kata tersebut, rasa sedih dalam batinya tak bisa dibendung lagi tiba-tiba sebaris air mata jatuh terlinang membasahi pipinya, dapat dilihat betapa sedih dan duka-nya lelaki tersebut.

Sekali lagi perasan Ong Bun kim bergetar keras. Ucap Lui Thian ciu lagi dengan penuh emosi:

"Selama hidup aku sudah banyak melakukan kesalahan yaa benar. Ciu Li li telah mencelakai diriku, menghancurkan kebahagiaan kita semua aku tidak memohon kepada kalian agar memaafkan diriku, aku adalah seorang manusia yang tidak pantas untuk dimaafkan"

"Aku, aku memaafkan dirimu, aknpun menghormati dirimu!" kata Kwan Siok kim dengan penuh emosi. "Terlambat semuanya sudah terlambat, tak mungkin bagiku untuk menyesali semua peristwa itu lagi."

Gumaman yang lirih akhirnya memanggil kembali liangsimnya yang sudah terlanjur jahat, tiba-tiba ia menemukan bahwa selama ini ia sudah banyak melakukan perbuatan yang menakutkan.

Tapi sekarang, menyesalpun tak ada gunanya karena nasi telah berubah menjadi bubur.

"Lui Thian ciu!" tiba-tiba Ong Bun kim membentak keras, "apakah orang yang berniat membunuh ayahku juga Ciu Li li?"

"Benar!"

"Kau sebagai ketua perguruan San tian bun, kenapa bisa diturunkan pangkatnya menjadi wakil ketua?"

"Ciu Li li telah merayu anak buahku dengan tubuhnya yang montok, ini semua membuat mereka menghianati diriku, kedudukan ketua perguruanpun diambil alih olehnya, sampai kini kehadiranku dalam perguruan San tian bun tidak lebih hanya sebuah boneka saja."

"Kemana larinya ke enam jilid kitab pusaka dari enam partai besar..?" tanya pemuda itu lagi.

"Berada ditangan Ciu Li Ii"

Ong Bun kim segera berpaling kepada Kwan-Siau ciu, lalu katanya.

"Cianpwe, ijinkanlah aku untuk membunuhnya." "Membalas dendam bagi kematian ayahmu memang

merupakan kewajiban sebagai seorang anak, tentu saja kau boleh membunuhnya untuk membalaskan sakit hatimu!" jawab Kwan Siau-ciu dengan penuh emosi. "Terima kasih atas kebaikan cianpwe!"

Seusai berkata selangkah demi selangkah pemuda itu segera berjalan mendekati Lui Thian ciu.

Mendadak Kwan Siok-kim melompat ke depan dan menghadang jalan perginya.

"Mau apa kau?" bentaknya keras keras.

"Aku hendak membalaskan dendam bagi kematian ayah ibuku!"

"Aku tidak memperkenankan dirimu untuk membunuhnya!"

Menyaksikan hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Kwan Siok-kim, diam-diam Ong Bun kim merasa bergidik juga, tanyanya dengan gelisah.

"Kenapa?"

"Sebab dia adalah ayahku !"

"Tapi dia adalah musuh besar pembunuh orang tuaku!" Paras muka Kwan Siok-kim kembali beru bah hebat,

bentaknya.

"Ong Bun kim, jika kau berani turun tangan terhadapnya, maka akupnn hendak membinasakan dirimu."

Ong Bun kim menggigit bibirnyab menahan pergoldakan emosi, kataanya dengan cepbat:

"Akan tetapi aku bertekad hendak membunuhnya." "Kalau begitu, cobalah untuk menyerang!"

Ong Bun kim tertawa dingin, tiba-tiba ia melompat ke muka sambil melancarkan serangan ke-arah Kwan Siok kim, gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat. "Ong Bun kim kau berani?" teriak Kwin Siok kim dengan marah.

Ia melejit ke samping menghindarkan diri dari serangan Ong Bun kim. kemudian pergelangan tangannya diayunkan kedepan, sebuah pukulan yang mana dahsyat telah dilontarkan pula ke arah tubuh Ong Bun kim.

Kecepatan Kwan Siok kim dalam melancarkan serangannya itu sungguh cepatnya bukan kepalang, Ong Bun kim hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu badannya sudah didesak kembali oleh segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat.

"Ong Bun kim!" hardik Kwan Siok kim. "jika kau berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau akupun hendak membinasakan dirimu."

Ong Bun-kim adalah seorang pemuda yang tinggi hati. andaikata Kwan Siok kim memohonnya secara baik baik agar jangan membunuh Lui Thian ciu, mungkin saja ia bersedia-mengabulkan permintaan gadis itu untuk tidak membunuh ayahnya.

Tapi sikap kasar dari nona tersebut, membuat pemuda itu makin bertekad untuk membunuh Lui Thian-ciu

oooOdwOooo

BAB 64

SAMBIL tertawa angkuh serunya: "Aku Ong Bun kim bertekad akan membinasakan dirinya mau apa kau?"

Seraya berkata tubuhnya melejit keudara dan sekali lagi menubruk kedepan dengan kecepatan luar biasa, Dengan mempergunakan jurus Hek ya mo im (bayangan iblis ditengah malam) ia melontarkan sebuah pukulan ketubuh Kwan Siok kim.

Dalam melancarkan serangannya ini Ong Bun-kim telah sertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, kedahsyatan dari pukulan tersebut ibaratnya gulungan ombak yang menghantam tepian pantai.

Kwan Siok kim segera membentak keras, di balik ancaman serangan dari Ong Bun kim tersebut dia lepaskan juga sebuah pukulan untuk mengunci datangnya ancaman tersebut.

Bayangan manusia berkelebat lebwat, sekali lagdi Ong Bun-kim kaena didesak hinbgga mundur berulang kali ke belakang.

Agaknya pada saat inipun Kwan Siok kim berminat untuk melakukan adu jiwa dikala Ong Bun kim sudah kena didesak mundur ke belakang itu, tubuhnya menerjang kembali ke depan dengan kecepatan tinggi, secara beruntun ia lepaskan pula dua buah pukulan berantai. 

Sedemikian cepatnya serangan itu, mrmbuat Ong Bun kim agak sulit juga untuk menahan datangnya ancaman tersebut.

"Tahan !" mendadak Lui Thian ciu membentak keras. Oleh bentakan tersebut, baik Ong Bun kim maupun

Kwan Siok kim segera menghentikan serangannya dan berpaling memandang ke wajah Lui Thian ciu.

"Lui Thian ciu apa yang hendak kau katakan lagi?" bentak Ong Bun kim dengan suara keras.

Lui Thian-ciu, menggigit bibir menahan gejolak emosi dalam da dadanya, ia berkata: "Ong Bun kim, kalau berbicara dari soal tenaga dalam, kau masih belum mampu untuk membunuhku, tapi sekarang aku sedang menderita luka dalam yang cukup parah, sekalipun kau hendak membunuhku juga bukan suatu tindakan yang cukup dibanggakan, aku percaya kau sendiripun tak akan melakukan tindakan seperti ini."

Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Heeehh... heeehhh... heeehhh terhadap dirimu, aku Ong Bun kim mah tak perlu menguatirkan persoalan tetek bengek itu"

"Mungkin, apa yang kau katakan ada benarnya juga, tapi aku orang she Lui ingin mengajukan satu permintaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk mengabulkannya?"

"Apa permintaanmu itu?"

"Beri sedikit kesempatan kepadaku untuk hidup lebih lanjut, aku harus hidup didunia ini, tak usah kuatir aku kabur, aku orang she Lui pasti akan memberi suatu keadilan kepadamu."

Agaknya Ong Bun kim telah merasakan bahwa dibalik semua perkataan dari Lui Thian ciu itu mengandung suatu maksud yang amat mendalam, pemuda itu bisa memaafkan kesalahannya, sebab ia tak lebih hanya diperalat orang lain, pembunuh yang sesungguhnya tak lain tak bukan adalah Ciu Li li.

Apalagi Kwan Siok kim juga telah menyelamatkan selembar jiwanya, gadis itu sangat membutuhkan kasih sayang dari ayahnya, apa pula artinya membunuh lelaki tersebut dihadapannya?

Berpikir sampair disitu, diapunt menggertak gigqi dan menjawab.r "Jadi....untuk sementara waktu, kau ingin hidup lebih jauh?"

"Betul, bagiku hal mana merupakan suatu hal yang sangat penting!"

"Baiklah, aku tak akan membunuhmu, cuma ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu, tahukah kau buah Hiat li itu dihasilkan pada daerah yang mana dari selat Thian-mo-sia-ini?"

"Engkau membutuhkan buah Hiat li?" "Betul!"

Dari sakunya Lui Thian ciu mengeluarkan sebuah botol, dalam botot itu berisikan sebiji buah Hiat li berwarna merah darah sebesar ibu jari.

Sambil menyerahkan botol tersebut ketangan Ong Bun- kim, dia berkata:

"Inilah buah Hiat li yang kau butuhkan nah, ambillah."

Tindakan yang diluar dugaan ini cukup mencengangkan hati Ong Bun kim, untuk sesaat ia menjadi tertegun.

"Tahukah kau akan kegunaan dari buah Hiat li ini?" tanyanya.

"Buah ini melupakan buah paling beracun didunia, tapi sari racunnya justru merupakan sari racun yang tak ternilai harganya dalam jagad dewasa ini, barang siapa terkena racun buah Hiat-li, maka tiga jam kemudian pasti akan tewas secara mengerikan, sebaliknya kalau orang itu sudah keracunan hebat lebih dahulu baru terkena racun ini, sebagai akibatnya semua pengaruh racun akan Ienyap tak berbekas, nah ambillah benda ini."

Betulkah dalam selat Thian-mo-sia ini masih terdapat benda beracun semacam ini? "Aku pikir susah ditemukan, apakah kau enggab menerima pemberianku ini ?"

Ong Bun kim berpikir sejenak, akhirnya ia terima juga botol tersebut seraya berkata:

"Terima kasih banyak atas pemberianmu ini, dikemudian hari aku Ong Bun kim tentu akan menyampaikan resa terima kasihku kepadamu"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling ke arah Kwan Siau ciu sambil berkata:

"Kwan cianpwe aku berangkat lebih dulu!"

"Ona sauhiap, kau tidak jadi membunuhnya?* tegur Kwan Siau ciu dengan suara dingin.

Ong Bun kim manggut-manggut.

"Ya, aku tidak jadi membunuhnya" ia menyahut. "ia tak lebih hanya seoraag manusia yang telah diperalat orang lain, apalagi penderitaanmu sudah cukup parah, sudah sepantasnya kalau ia memberikan segala yang telah ia khilafkan selama ini kepadamu..."

"Tidak, aku tak ingin bertemu lagi dengan-nya!" jerit Kwan Siau ciu keras-keras.

Kemudian kepada Lui Thian ciu, serunya lagi. "Lui Thian ciu, enyah kau dari sini, Selama hidup aku tak bertemu lagi dengan kau."

"Siu Ciu. " seru Lui Thian ciu dengan pedih.

"Aku sudah bukan Siau ciu mu lagi enyah kau dari sini." "Ooh... Siau ciu, aku tahu salah, aku tidak memohon

pengampunan darimu, aku adalah seorang lelaki yang tak pantas diampuni dosa-dosanya, tapi aku tak boleh mati sekarang, saat ini aku harus tetap hidup lebih lanjut. " "Aku tidak menyuruh kau mampus, aku hanya minta kepadamu agar segera enyah dari sini"

"Siau ciu..." jerit Lui Thian ciu. "Enyah !?"

Dalam suaranya yang meluap, Kwan Siau ciu tak dapat mengendalikan emosinya lagi, tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya menampar muka Lui Thian ciu keras- keras.

Jangan dilihat perempuan itu adalah seseorang yang buta, ternyata tamparan tersebut dilakukan dengan sangat tepat dan hebat.

"Plook...!" termakan oleh tamparan yang sangat keras tersebut, Lui Thian ciu terdorong mundur sejauh empat lima langkah lebih.

Tapi lelaki itu tidak menjadi jera, dia malahan maju lebih ke depan sambil berseru: "Hajarlah aku, aku hanya memohon kepadamu agar aku diijinkan untuk berkumpul selama beberapa hari dengan putriku..."

Kwan Siau ciu mengangkat kembali telapak tangan kanannya siap menampar, tapi ia tak sanggup melanjutkan perbuatannya itu, tiba-tiba sekujur badannya gemetar keras, kemudian sambil menangis tersedu-sedu, katanya:

"Kau setan jahanam, apakah masih belum cukup kau siksa diriku selama ini?"

"Siau ciu..."

Tiba-tiba Kwan Siok kim maju ke depan dan berlutut dihadapan Kwan Siau ciu, lalu merengek.

"Ooooh. ibu, maafkanlah kesalahan anak selama ini." "Aku..." Kwan Siau ciu tak sanggup melanjutkan kembali kata katanya, ia menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.

"Oooh ibu!" kembali Kwan Siok bkim merengek, "dselama ini, belaum pernah kuminbta apa-apa darimu, aku hanya memohon kepada kau untuk mengabulkan permintaanku ini."

"Nak, kau tak akan memahami sampai dimanakah siksaan batin yang telah kualami selama ini."

Dalam detik inilah terungkap kasih sayang yang paling mulia dari seorang anak terhadap orang tuanya, sekalipun Lui Thian ciu sudah banyak melakukan kejahatan dan kebusukan, namun putrinya masih tatap menaruh hormat dan sayang kepadanya, bahkan memohonkan pengampuan bagi dirinya."

Akhirnya Ong Bun kim merasakaa juga luapan perasaan tersebut, sambil menggigit bibir menahan rasa sedihnya, tiba-tiba ia menyela:

"Kwan cianpwe, bolehkah aku ikut berbicara?" "Apa yang hendak kau katakan?"  "Maafkanlah dia!"

"Apa? Apa kau bilang?" dengan perasaan terkejut Kwan Siau ciu menjerit keras.

Ong Bun kim tertawa getir. "Aku saja tidak niat membunuhnya, mengapa kau tak bisa pula untuk memaafkan dirinya?" ia berkata.

"Kau... kenapa kau hendak melepaskan dia ?" "Lantaran kau !"

"Aku ?" "Betul, kau adalah seorang perempuan yang bernasib jelek, sudah sepantasnya kau mendapatkan apa yang belum kau peroleh selama ini, apalagi dia bukan pembunuh ayahku yang sesungguhnya, bila kau dapat memperoleh kebahagian dikemudian hari, aku percaya arwah ayah  ibuku dialam bakapun akan ikut bergembira."

"Tapi. dia ingin membunuhku...!"

"Yang sudah lewat dibiarkanlah lewat, pepatah kuno mengatakan jika seorang manusia jahat dapat berpaling, emaspun tak bisa menggantinya, mungkin saja ia benar benar membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih jauh, memaafkan dirinya bukan suatu kesalahan atau dosa, tapi suatu kebajikan, suatu kemuliaan."

Kwan Siau ciu tidak menyangka kalau Ong Bun kim bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, saking tak dapat membendung luapan rasa harunya, dia berseru.

"Ong sauhiap, kau betul-betul baik sekali" Ong Bun kim tertawa getir.

"Secara tiba-tiba saja kutemukan dendam kesumat yang terjalin dalam dunia pada saat ini sudah terlampau banyak, padahal ada bbanyak masalah dyang belum tentau harus diselesbaikan dengan menggunakan "darah". Kwan cianpwe, dapatkan kau memaafkan dirinya?"

"Aku. "

Perempuan itu sungguh merasa kebingungan, dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Padahal berbicara yang sesungguhnya dia pasti bersedia untuk memaafkan lelaki itu. Yaa, penderitaan selama lima belas tahun membuatnya merasa kesepian dan tersiksa, ia membutuhkan cinta yang diberikan Lui Thian ciu kepadanya sudah cacad, tapi bagaimanapun jauh lebih baik daripada sama sekali tanpa cinta.

Tiba-tiba Lui Thian ciu menjatuhkan diri berlutut diaadapan Kwan Siau ciu dengan air mata bercucuran:

"Ooo Siau ciu, terima kasih banyak... terima kasih banyak atas kesedihanmu untuk mengampuni semua kesalahanku."

Berada dalam keadaan begini, Kwan Siau ciu tak sanggup berbicara lagi, dia hanya menangis tersedu-sedu....

Ong Bun kim merasa hati kecilnya amat tersentuh oleh adegan yang mengharukan itu, tiba-tiba ia merasa bahwa dalam hidupnya selama ini, untuk pertama kalinya dia telah melakukan suatu perbuatan baik, ia merasa hatinya, lega dan nyaman.

Perasaan lega dan nyaman macam itu belum pernah ia rasakan sebelumnya, tapi sekarang ia telah merasakan dengan begitu hangat dan sahdu.

"Kwan cianpwe, aku hendak mohon diri lebih dulu." bisiknya kemudian kepada Kwan Siau ciu.

"Ong sauhiap!" ucap Kwan Siau ciu sambil berusaha untuk menahan isak tangisnya. "sulit rasanya untuk menemukan orang kedua yang begitu baik seperti kau di dalam dunia ini."

Ong Bun kim tertawa getir. "Kwan cianpwe terlalu memuji, nah. aku akan mohon diri lebih dulu." katanya.

Seusai berkata, dia lantas memutar badan dan beranjak meninggalkan ruangan itu.

"Ong sauhiap, maaf kalau aku tak akan menghantarmu lebih jauh" bisik Kwan Siau ciu.

"Tak usah repot-repot!" "Siok kim, hantar Ong sauhiap keluar dari gua ini" "Baik!"

Setelah menyeka air mata yang membasahi pipinya, Kwan-Siok kim berjalan keluar lebih dahulu dari gua tersebut disusul Ong Bun kim di belakangnya.

"Ong sauhiap!" rtiba-tiba Lui Tthian ciu berserqu sambil menyusrul ke depan pintu.

Ong Bun kim menghentikan langkahnya dan berpaling. "Ada apa?" tanyanya.

"Aku merasa berterima kasih sekali kepada mu atas kesediaanmu untuk memberi kesempatan ini. aku - aku

...aku... aku amat bersyukur, budi kebaikanmu ini tak akan ku lupakan untuk selamanya!"

"Asal kau bisa baik-baik bersikap dan menyayangi Kwan cianpwe dikemudian hari, itu sudah lebih dari cukup bagiku, tapi ingat! Jika kau lain dimulut lain di hati, suatu ketika aku Ong Bun kim pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuhmu"

"Aku berjanji tak akan melakukan perbuatan laknat dan terkutuk seperti dulu lagi, Ong sauhiap! Baik-baiklah jaga dirimu"

"Pulanglah ke dalam gua!"

Sampai disini, ia lantas melanjutkan kembali langkahnya mengikuti dibelakang Kwan Siok kim.

Setelah keluar dari gua, sebuah sungai kecil terbentang didepan sana. Kwan Siok-kim memperlambat langkahnya dan menengok sekejap ke arah Ong Bun-kim. kemudian ia berbisik:

"Ong sauhiap !" "Ada apa?"

"Ben... bencikah kau kepadaku?" ia berbisik dengan pandangan mata yang sayu.

Mengawasi wajahnya yang murung itu, Ong Bun kim tertawa.

"Aneh benar kau ini!" serunya, "kenapa aku musti membencimu? Kau toh tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadapku!"

"Aku ..aku merasa bersalah kepadamu."

"Tidak, kau tak pernah melakukan kesalahan apa-apa kepadaku"

"Tapi... tapi aku telah bertarung melawan dirimu tadi" "Aah. kenapa aku musti menyalahkan dirimu?"

"Aku. aku tahu kau tak senang hati kepadaku"

"Aku cukup memaklumi keadaanmu waktu itu, sebab seandainya aku menjadi kau. aku-pun..mungkin sekali akan pula seperti apa yang telah kau lakukan tadi!"

"Ong sauhiap. kau.......tahukah kau bahwa aku merasa bersedih hati setelah kejadian itu? tapi... tapi terpaksa aku musti berkelahi denganmu karena aku amat mencintai ayahku.. "

"Sudah kukatakan tadi, aku tak pernah menyalahkan dirimu" sesudah teriawa lebar, ia melanjutkan, "kau tak perlu menghantar aku lebih jauh lagi, aku bisa pergi sendiri."

"Kau hendak pergi kemana?" "Bukit Lui im san"

"Bukit Lui im san?" "Benar!"

Kwan Siok kim segera menuding ke sebuah bukit paling tinggi yang terbentang dihadapannya.

"Bukit yang tampak paling tinggi itulah bukit Lui im san!" katanya.

"Terima kasih banyak nona atat petunjukmu, nah kita berpisah saja sampai disini."

"Tidak, Ong sauhiap, bersediakah kau menuruti keinginanku untuk menghantar kau lebih jauh lagi?"

Dengan wajah berkatup ia menatap wajah pemuda itu tajam tajam, seakan-akan kuatir kalau permintaannya itu ditampik.

Ong Bun kim tidak tega untuk menolak permintaan orang, terutama setelah menyaksikan mimik wajahnya yang mengenaskan itu, setelah menghela napas panjang katanya:

"Aaaai ! Aku hanya akan merepotkan dirimu saja" "Aku bersedia."

"Baiklah!"

Perjalanan pun dilanjutkan kembali dengan membungkam, sampai lama, lama sekali mereka belnm juga saling berbicara, seakan-akan ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan, seperti juga ada sesuatu yang sedang mereka kenang...

Tanpa terasa mereka sudah melakukan perjalanan satu li lebih.

Tiba2 Ong Bun kim menghentikan langkahnya seraya berpaling.

"Nona Kwan!" ucapnya kemudian "lebih baik kita berpisah sampai disini saja" Dengan wajah termangu gadis itu menatapnya lekat lekat, pancaran sinar pedih dan murung menyelimuti wajahnya tebal-tebal, lama kemudian ia bertanya.

"Apakah... apakah kau akan datang lagi kemari?" pertanyaan tersebut sangat menggetarkan perasaan Ong Bun kim. tapi diluar wajahnya ia masih tetap tersenyum..

"Tak usah kuatir, aku pasti akan kemari lagi" janjinya. "Aku... aku tahu, kau... kau tak akan datang kemari

lagi..."

Tiba-tiba Ong Bun kim menjumpai titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi gadis itu, dibalik butiran air mata itu tersimpanlah suatu luapan perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku tak akan datang kemari lagi?" tanya sianak muda itu kemudian.

"Sebab kau tidak menyukai aku!"

Ong Bun kim segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia sudah tahu kearah manakah perkataan itu diucapkan, hal mana membuatnya menjadi terkesiap dan harus memandang wajah Kwan-Siok kim dengan sinar mata termangu.

"Jangan-jangan ia telah jatuh cinta kepadaku...." Ong bun kim mulai bertanya kepada diri sendiri.

Ya, gadis itu menang telah jatuh cinta kepadanya, kalau tidak mana mungkin dia dibuat sedih dan menderita seperti itu, beginilah kalau seorang gadis mulai jatuh cinta pada pandangannya yang pertama.

"Kau sudah mempunyai kekasih?" serunya lagi dengan murung. Ong Bun kim tak ingin membohonginya sebab ia terlalu baik dan terlalu mulia, maka jawabnya berterus terang:

"Aku, bukan cuma punya kekasih, pula mempunyai istri!"

"Ah, sungguhkah itu...?" "Benar!"

Tiba-tiba gadis itu menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu, nangis seperti seorang gadis yang menangis lantaran patah hati atau dikecewakan oleh kekasihnya.

Tindakan si nona yang tak terduga-duga ini kontan saja membuat Ong Bun kim menjadi berdiri termangu seperti orang bodoh.

"Nona Kwan, kee... kenapa kau?" tegurnya kemudian dengan suata agak tergagap.

"Aku aku...." karena sesenggukan ia tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Mendadak ia melompat kedepan dan menubruk ke dalam rangkulan Ong Bun kim sambil menangis tersedu- sedu.

0000OdwO0000

BAB 65

ONG BUN-KIM menjadi bodoh, ia tak mengira kalau gadis tersebut bakal bersikap demikian, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan. Lama, lama sekali, dia baru bertanya.

"Kee... kenapa kau?"

"Aku. " Akhirnya ia mendorong tubuh Ong Bun kim dan mundur kebelakang, tapi air matanya bagaikan dua buah anak sungai mengucur keluar dengan derasnya, membuat siapa-pun merasa tak tega untuk melihatnya lebih lanjut.

Ong Bun kim menghela napas panjang.

"Ong sauhiap !" tiba-tiba gadis itu berkata lagi, "setelah kau pergi dari sini, aku berharap kau bisa datang lagi untuk menjenguk diriku, aku akan selalu teringat akan dirimu, setiap waktu setiap saat selalu memikirkan kau!"

Selesai berkata, dia lantas memutar badannya  dan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung Kwan Siok kim yang semakin menjauh, Ong Bun-kim menghela napas panjang.

"Aaai mungkin aku dapat teringat akan dirimu, tapi aku tak akan kemari lagi" dia berbisik.

Kemudian sambil memutar badan, berangkatlah pemuda itu menuju ke bukit Lui im san.

Belum jauh ia pergi, tiba-tiba pemuda itu berhenti kembali, rupanya ia teringat kembali akan diri Tay kbek Cinkun serta Phang Pak bun, entah kemana perginya kedua orang itu?

"Mungkinkah mereka tewas ditangan Ciu Li li?"

Tapi sekarang dia tak sempat lagi untuk memikirkan persoalan itu, ia harus segera berangkat menuju ke gua Bu cing tong.

Berpikir sampai disitu, sekari lagi dia melompat ke udara dan berangkat meninggalkan tempat itu.

Ong Bun Kim tak pernah menyangka kalau Tay-khek Cinkun serta Phang Pak bun sudah ketimpa musibah dan tidak diketahui bagaimana nasibnya pada saat ini. Sebelum malam hari menjelang tiba, Ong Bun kim telah tiba di bukit Lui im san, tampak olehnya kabut putih yang amat tebal menyelimuti seluruh tanah perbukitan tersebut, sekalipun hujan tidak turun, tapi secara lamat-lamat terdengar suara gerumuhnya guntur yang memekikkan telinga...

-oo0dw0oo--