Setan Harpa Jilid 06

 
Jilid 06

"BETUL ! Katakan saja Siau Hui-un, rahasia apa yang kupunyai," Siau Hui-un tertawa dingin.

"Heeehhh . . heeehhh . . . heeehhh . . . kau benar-benar hendak memaksa aku untuk mengatakannya?"

Penundaan yang berulang-ulang ini akhirnya membuat Ong Bun-kim habis sabarnya, dengan mendongkol bentaknya:

"Hey, katakan dengan cepat!" Siau Hui-in tertawa dingin.

"Coa Siok-oh !" katanya, "sebelum kau menikah dengan si Manusia latah dari empat samudra, bukankah kau masih mempunyai seorang kekasih yang bernama Phang Pak bun dengan julukan Mo kui seng kiam (pedang malaikat setan iblis)?"

Ketika mendengar nama orang tersebut, tiba-tiba saja paras muka Coa Siok oh berubah hebat, ia seperti kaget dan takut, untuk sesaat tak mampu berkata apa apa.

Lain halnya dengan Ong Bun kim, dengan wajah menyeringai penuh hawa napsu membunuh, ia segera membentak:

"Sungguhkah perkataan itu?"

"Benar!" jawab Coa Siok oh akhirnya dengan sedih, "apa yang dikatakan memang benar, aku memang mempunyai seorang kekasih yang bernama Phang Pak bun, tapi setelah aku menikah dengan Su hay bong kek, aku hanya mencinta Su hay bong kek seorang, terlepas apakah perkawinan itu membuat aku harus mengorbankan cinta kasihku, tapi yang pasti, setelah kawin dengan Su hay bong kek aku telah menyerahkan sisa cinta kasihku hanya kepada si latah dari empat samudra seorang..."

"Hmmm . . ! Setelah kawin, dengan Su hay bong kek, bukankah kau masih mengadakan hubungan dengannya?" kembali Siau Hui un mengejek dengan nada dingin.

"Haaah..!" Coa Siok oh menjerit kaget.

Paras muka Ong Bun kim ikut berubah hebat, segera bentaknya:

"Benarkah hubungan cintamu dengan orang itu belum putus? Benarkah setelah perkawinanmu dengan ayahku, di luar pengetahuan ayah kau me lakukan hubungan gelap dengannya?" "Tidak... aku tidak pernah melakukan..." teriak Coa Siok oh terkejut, sekujur badannya gemetar keras, mukanya ikut memancarkan pula pula rasa takut dan ngeri.

Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Hmmm..! Kalau begitu kalian tentu mengadakan pertemuan gelap untuk saling melampiaskan keluh kesah dan rasa kangen?"

"Tidak, kami tidak pernah melakukannya..."

Perempuan itu, menjerit dengan penuh kesedihan, untuk sesaat ia tak dapat mengendalikan emosi dalam hatinya lagi sambil menutup wajahnya ia menangis tersedu-sedu.

Dia mengapa menangis? Mengapa bersedih hati? . .

Mungkin hanya dia sendiri yang mengetahui jawabannya.

"Kau tak usah menangis!" bentak Ong Bun kim ketus, "bila kenyataannya memang demikian maka hanya ada satu kemungkinan saja yakni turun tangan mencelakai ayahku agar orang yang tidak disukai disingkirkan, pasti kaulah yang telah membunuh ayahku, sebab setelah kematian ayahku, kau bisa melanjutkan kembali hubungan dengan Phang Pak bun..."

"Tidak . . " jerit Coa Siok oh seperti orang kalap.

"Kau tak usah menyangkal lagi, sebab ini merupakan kenyataan..." bentak Ong Bun kim.

"Tidak, tidak, ini bukan kenyataan, hal ini tak pernah terjadi aku tak pernah melakukan hal itu..."

"Hmmm! Bukti sudah ada, apakah kau masih belum mau mengaku?" ejek Ong Bun kim semakin sinis.

"Tidak, aku tak pernah mencelakai ayahmu, aku tak pernah membunuh ayahmu. " Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, bentaknya: "Kurang ajar, kau masih belum mau me-ngaku?"

"Oh Thian .... " jeritnya seperti orang kalap. "Aku aku

tidak pernah melakukan itu. "

"Kalau kau tidak mau mengaku lagi, jangan salahkan kalau kubunuh dirimu. !"

Ancaman dari Ong Bun kim itu diucapkan dengan nada bersungguh-sungguh, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tercekat perasaannya, apa lagi sinar matanya yang lebih tajam dari sembilu itu, menatap di atas wajah Coa Siok oh tanpa berkedip, seakan-akan hendak melalapnya hidup-hidup...

Coa Siok oh amat sedih sekali, ia tak bisa berbicara apa- apa kecuali menangis tersedu-sedu.

Selangkah demi selangkah Ong Bun kim mendekati perempuan itu, lalu bentaknya lagi:

"Mau mengaku atau tidak?"

Isak tangis Coa Siok oh tiba tiba berhenti, pancaran sinar yang menggidikkan hati terlintas di wajahnya, kemudian katanya lirih:

"Kau . . . kau .. . bunuhlah aku mati di tanganmu aku

merasa lebih puas dari pada mati di tangan orang lain!"

Ucapan ini membuat Oag Bun kim tercengang malah, ia termenung sejenak kemudian baru berkata dengan dingin:

"Sandiwara memang sangat bagus, kau memang seorang pemegang peranan yang amat berbakat. Baiklah, aku ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu. "

"Tak usah banyak bicara, turun tanganlah dengan cepat!" Ong Bun-kim tik dapat mengekang diri lagi, dia lantas membentak:

"Kalau begitu jangan salahkan kalau aku bertindak kejam."

Sambil membentak, sebuah bacokan maut yang amat dahsyat segera dilontarkan ke tubuh Coa Siok-oh.

Terhadap datangnya ancaman tersebut Coa Siok-oh sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia sama sekali tidak melihat akan pukulan dari Ong Bun-kim itu.

Tampaklah angin pukulan yang maha dahsyat tersebut segera akan menghantam dedaunan, tapi perempuan itu masih berdiri tak berkutik di tempat semula.

"Blaaang !"

Akhirnya pukulan maha dahsyat dari Ong Bun kim itu bersarang telak di atas dadanya, Coa Siok-oh mendengus tertahan dan muntah darah segar, tubuhnya terlempar ke- belakang dan roboh terkapar di atas tanah.

Ong Bun-kim melejit ke udara dan meluncur ke depan, kemudian dicengkeramnya tubuh perempuan itu seperti burung elang menyambar anak ayam

Mengenaskan sekali keadaan Coa Siok-oh waktu itu, napasnya sudah sangat lemah, jiwanya sudah berada di ambang maut.

"Hey, sebetulnya kau bersedia mengaku tidak kalau kau yang telah mencelakai ayahku?" teriak Ong Bun-kim dengan geramnya.

Coa Siok-oh tak mampu berkata apa-apa, hanya air matanya yang jatuh bercucuran membasahi wajahnya

Ia merasa amat sedih, ia tak mampu berkata-kata lagi. Ong Bun-kim telah mengangkat telapak tangan kanannya pelan-pelan, seandainya Coa Siok-oh tidak mau mengaku juga, kemungkinan besar ia benar-benar akan membunuhnya.

Suasana udara di sekeliling tempat itu terasa menjadi sesak dan sumpek, hanya pembunuhan yang tebal seakan- akan menyelimuti setiap sudut gelanggang itu.

"Mau bicara tidak?" bentak Ong Bun-kim. Coa Siok-oh masih belum juga menjawab.

Akhirnya Ong Bun-kim tak dapat menahan sabar lagi, bentaknya keras-keras:

"Akan kubunuh dirimu!"

Telapak tangannya segera diayunkan ke bawah melancarkan sebuah pukulan mematikan.

Akan tetapi sebelum pukulan mautnya sempat mengakhiri nyawa perempuan yang malang itu mendadak...

"Tahan!" serentetan bentakan nyaring menggelegar memecahkan keheningan tempat itu.

Belum habis suara bentakan itu, cahaya tajam tampak berkilauan.

Ong Bun-kim segera menarik kembali serangannya sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah depan, maka terlihatlah kurang lebih tiga kaki di hadapannya berdiri sesosok bayangan hitam yang membawa sebuah lampu lentera.

"Siapa?" bentak Ong Bun-kim.

"Thi-teng-kek (tamu membawa lampu). " "Mau apa kau?" Thi-teng-khek tertawa ewa. "Apakah kau adalah putranya si Latah dari empat samudra?" tegurnya.

"Betul!"

"Terhadap semua peristiwa yang baru saja berlangsung, aku telah mengikutinya dengan mata kepala sendiri, bukankah kau ingin membuktikan siapa yang telah melahirkan dirimu?"

"Betul!"

"Kau berani memastikan bahwa Coa Siok-oh bukan ibumu?"

"Yaa, sebab kemungkinannya bukan ibuku jauh lebih besar dari pada kemungkinan sebagai ibuku!"

"Sekalipun demikian, kau masih belum bisa memastikan kalau dia benar-benar bukan ibumu!"

Ong Bun-kim termenung sebentar, ia merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, ia masih belum dapat memastikan kalau Coa Siok-oh bukan ibu kandungnya.

Maka setelah tertegun sejenak, ia menyahut: "Benar juga perkataanmu itu!"

"Nah, andaikata dia adalah ibu kandungmu, bagaimana dengan kau?"

"Tidak, tidak mungkin, dia bukan ibunya!" teriak Siau Hui-un dengan penasaran.

"Salah seorang diantara kalian berdua adalah ibu kandung saudara ini, dan kenyataan tersebut merupakan suatu kenyataan yang tak terbantahkan, tapi siapakah yang benar-benar merupakan ibu kandungnya, hal ini masih merupakan suatu persoalan yang harus dibuktikan dulu. " "Apakah kau dapat membuktikan?"

"Aku tidak bisa, tapi aku punya cara untuk membuktikannya!"

"Apakah caramu itu?"

"Pertama, Kui-jn suseng dapat membuktikan persoalan ini sebab waktu itu setelah Kui-jin suseng membunuh ayahmu, dia telah masuk ke rumah kembali untuk menculikmu, bukankah begitu?"

"Benar!"

"Tadi kedua orang perempuan ini sama-sama mengatakan bahwa mereka memburu ke luar rumah tapi dilukai oleh Kui-jin suseng, maka salah seorang diantara mereka berdua pasti sedang berbohong!"

"Benar, Kui-jin suseng memang bisa mem-buktikan siapa yang lagi berbohong !" Ong Bun-kim manggut-manggut.

"Kedua, ada orang lain lagi yang bisa membuktikan pula siapakah yang telah melahirkan dirimu...." ujar Tamu pembawa lampu lagi.

"Siapakah orang itu?"

"Dia adalah seorang jagoan aneh yang telah termashur namanya semenjak puluhan tahun berselang, orang itu bernama Hiat-hay-khi-khek (Tamu penunggang kuda dari lautan darah), konon dia adalah saudara angkat dari ayahmu, tapi sejak kematian ayahmu, tiba-tiba saja jejaknya tidak diketahui, jika kau dapat menemukan orang ini maka teka teki disekitar siapakah ibu kandungmu akan segera terpecahkan."

"Orang itu bernama Hiat-hay-khi-khek?" tanya Ong Bun- kim. "Benar, lengkapnya Hiat hay-khi-khek Ku Sau kang, setiap kali munculkan diri, orang itu selalu menunggang seekor kuda berbulu merah, mengenakan jubah warna merah dan kain cadar merah, maka orang persilatan menyebutnya sebagai si tamu penunggang kuda dari lautan merah!"

Ong Bun-kim manggut-manggut tanda paham. Tamu pembawa lampu kembali berkata: "Kecuali kedua orang itu, aku rasa tak ada orang ketiga yang bisa membuktikan siapakah yang telah melahirkan dirimu, maka dari itu, kau harus menjumpai salah seorang di antara mereka berdua, sebab kalau tidak kau selidiki dahulu persoalan ini hingga jelas, siapa tahu yang kau bunuh justru adalah ibu kandungmu sendiri."

Ong Bun-kim berpikir sebentar, kemudian katanya: "Bagus sekali, untuk sementara waktu baiklah dia

kulepaskan lebih dulu."

Setelah berhenti sejenak, sinar matanya segera dialihkan kembali ke wajah Coa Siok-oh, kemudian bentaknya:

"Coa Siok-oh, kau tak usah mencari mampus, tunggu saja setelah kubuktikan kebenaran dari kejadian ini, hmm! Jika terbukti kaulah pembunuh ayahku....hemmm! Kau pasti akan kucincang!"

Selesai berkata, ia lantas membantingkan tubuh Coa Siok-oh ke atas tanah. Pada saat itulah Siau Hui-un segera berkata:

"Nak, akhirnya persoalan ini pasti akan menjadi jelas dengan sendirinya, banyak bicara juga tak berguna, lebih baik ikut aku saja pulang ke rumahku."

"Pulang ke mana?" "Lembah Sin-li kok!"

Dengan sedih Ong Bun-kim gelengkan kepalanya. "Tidak!" ia menampik.

"Kenapa?"

"Sebab aku hendak mencari Mo-kui-kiam-jiu (pedang sakti setan iblis) untuk membalas dendam!"

"Kau hendak mencari si Pedang sakti tangan blis untuk menuntut balas. . . ?" ulang SiauHui un.

"Benar !"

"Kau lebih baik kau. jangan pergi !"

"Tidak ! Bagaimanapun jua aku harus pergi !" "Kemungkinan besar kau bukan tandingannya." "Aku pasti berhasil membinasakan dirinya!" "Jadi kau bersikeras hendak ke sana ?"

"Benar! Bagaimanapun jua aku harus ke sana!"

"Aaaai .... kalau begitu, berhati-hatilah kau....!" pesan perempuan itu lirih.

Terhadap perhatian serta kasih sayang dari Siau Hui un, Ong Bun kim merasakan kehangatan yang sukar dilukiskan dengan kata - kata.

"Aku pasti akan berhati - hati, kau pulang-lah sendiri !" katanya.

"Baik, aku berangkat dulu !"

Siau Hui un menggerakkan kakinya pelan-pelan berlalu dari situ, wajahnya diliputi kesedihan. Tiba tiba ia menghentikan kembali langkah kakinya kemudian bertanya dengan lirih:

"Nak, aku hendak mengajukan satu pertanyaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk menjawabnya?"

"Katakanlah !"

"Sudahkah kau mempunyai sahabat perempuan ?"

Pertanyaan tersebut sama sekali di luar dugaan, hal ini malah membuat Ong Bun kim tertegun, ia tidak habis mengerti kenapa Siau Hui un mengajukan pertanyaan seperti itu.

Setelah tertegun lama sekali, akhirnya ia baru menjawab: "Ibu, aku sudah punya ..."

"Kalau begitu, sayangilah teman perempuanmu itu, sebab banyak kejadian di dunia ini yang berlangsung akibat cinta yang kurang setia."

Dengan penuh rasa terima kasih Ong Bun kim melirik sekejap ke arah Siau Hui un.

"Aku pasti akan menyayanginya!" sahut Ong Bun kim sambil manggut-manggut.

Siau Hui un menghela napas panjang, pelan-pelan ia beranjak dan berlalu dari situ dengan sedih, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap di balik puncak Hu hau hong sana.

Ong Bun kim sendiri hanya berdiri mematung di tempat, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sementara itu si nona berbaju kuning itu sudah memayang bangun Coa Siok oh kemudian membawanya masuk ke dalam rumah, sebelum masuk dengan penuh perasaan dendam ia melotot sekejap ke arah Ong Bun kim, lalu sambil mengertak gigi katanya:

"Kau pasti akan memperoleh pembalasannya!" Ong Bun kim memandang sekejap ke arah nona berbaju kuning itu, lalu tertawa dingin, di balik tertawa dinginnya itu penuh diliputi perasaan masgul, murung dan sedih.

Teka teki siapakah ibu kandungnya masih tetap merupakan sebuah tanda tanya besar.

Atau dengan perkataan lain, dia telah melepaskan musuh besar pembunuh ayahnya, hal ini sangat memurungkan pikirannya juga membuat sedih hatinya, akan tetapi dia harus menggunakan segala upaya yang dimilikinya untuk menahan pukulan batin tersebut.

Dia harus menjumpai salah seorang di antara Kui jin suseng dan Hiat hay khi khek, sebab kecuali mereka berdua tiada orang lain yang dapat membongkar teka teki tersebut.

Berpikir sampai di situ, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang.

Helaan napas Ong Bun-kim itu masih tetap menunjukkan keputus asaannya terhadap nasib, kesedihan terhadap kehidupan dan kemasgulan, menghadapi setiap kegagalan yang selalu dideritanya selama ini.

Ia telah beranjak, pelan pelan berlalu dari situ.

"Hey saudara, tunggu sebentar! Mau ke mana kau?" tiba tiba Tamu pembawa lampu menegur.

"Ke perguruan Hau kwan!"

"Setiap perbuatan yang dilakukan berdasarkan pada luapan emosi pasti akan menjumpai kegagalan-belaka, aku harap sebelum kau lanjutkan niatmu itu, berpikirlah tiga kali sebelum bertindak " "Terima kasih banyak atas perhatianmu!"

"Saudara, memang banyak kejadian yang kau temui sekarang merupakan peristiwa-peristiwa membingungkan hati, akan tetapi tak sampai beberapa bulan lagi, suatu badai dunia persilatan yang maha dasyat segera akan berlangsung di depan mata. "

"Badai macam apakah itu?"

"Ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu lebih dahulu, dulu aku pernah berjumpa beberapa kali dengan ayahmu, ilmu silatnya mungkin memang dapat dikatagorikan sebagai tiada  tandingannya  di  kolong  langit. "

"Tidak, masih ada seorang jago lihai yang disebut Si-ong- mo-ci (Iblis cantik pembawa maut). "

-ooo00dw00ooo-

BAB 17

"AAAH...! Perempuan yang kau maksud kan itu hanya satu dongeng belaka, benarkah mata uang kematian adalah barang peninggalannya, sampai kinipun hanya merupakan suatu dugaan belaka, meskipun demikian aku tahu bahwa sebab kematian ayahmu bukanlah dikarenakan suatu pembunuhan akibat cinta yang begitu sederhana. "

"Lantas karena apa ?" tanya Ong Bun-kim keheranan. "Kemungkinan besar karena sejilid kitab pusaka ilmu

silat yang maha sakti."

"Karena sejilid kitab pusaka?"

"Betul, karena sejilid kitab pusaka, dan kemungkinan besar kitab pusaka itu tersimpan di dalam tubuhmu!" "Apa kau bilang? Tersimpan dalam tubuhku?" "Benar, tersimpan dalam tubuhmu!"

"Aaah...! Hal ini tidak mungkin, aku tidak mempunyai apa apa...kecuali sebuah mainan Liong-bei....eeh, jangan- jangan di atas mainan Liong bei tersebut?"

"Hal ini tidak mungkin, sebab setelah perempuan- perempuan itu membinasakan ayahmu, mereka mengaku- ngaku pula sebagai ibumu, itu berarti benda itu pasti berada di salah satu bagian dari tubuhmu, kalau tidak, apa  gunanya mereka harus mengaku sebagai ibumu dan berusaha mendekati dirimu? Kalau rahasia tersebut hanya berada di atas mainan Liong-bei tersebut, mereka toh bisa turun tangan untuk membunuhmu kemudian merampas benda tersebut, benar bukan?"

"Betul, tapi. aku benar benar tidak mempunyai apa apa

lagi!"

"Pasti ada, hanya sekarang kau belum menemukannya saja."

Dengan seksama Ong Bun kim mencoba untuk membayangkan setiap bagian tubuhnya, akan tetapi ia selalu tidak berhasil untuk menemukan bagian tubuh yang manakah dirasakan sangat istimewa sehingga sejilid kitab pusaka ilmu silat dapat di sembunyikan dalam tubuhnya, sayang semua usaha nya selalu tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Akhirnya lamunan itu disadarkan kembali oleh perkataan si Tamu pembawa lampu.

"Tentang persoalan itu, kau tak perlu buru-buru untuk mengetahuinya, sebab masih ada satu persoalan lainnya yang terasa jauh lebih aneh lagi " "Masalah apa?"

"Suhumu Kui jin suseng bukankah masih hidup segar bugar di dunia ini...?"

"Benar!"

"Kalau ia benar-benar masih hidup, kenapa ia tak berani munculkan diri untuk bertemu denganmu serta memberitahukan tentang peristiwa pembunuhan terhadap ayahmu itu kepadamu? Bukankah dibalik kejadian ini  terasa banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan hati...?"

"Benar!"

"Selain itu, kenapa ia bunuh ayahmu tapi tidak membunuh dirimu? Bukankah di balik kejadian ini terasa pula hal hal yang kurang wajar...!"

"Benar!"

"Nah, jika kita tinjau lagi kemunculannya kembali dalam dunia persilatan, bukan saja wajahnya ditutup dengan kain cadar, diapun memakai sebuah lengan palsu di tangan kirinya, jelas maksud tujuannya hanya ada satu kemungkinan."

"Kemungkinan apakah itu?"

"Mungkin ia takut kalau seseorang mengetahui jika ia masih hidup di dunia ini, di samping itu bila dilihat dari hasratnya yang begitu besar untuk mendapatkan semua mata uang kematian tersebut, agaknya benda itu penting sekali artinya bagi dia.... seakan-akan ia sedang membuktikan akan kebenaran suatu masalah atau seseorang."

"Siapakah orang itu?"

"Tentu saja aku tidak tahu! Jika kau ingin mengetahui jawaban dari persoalan persoalan itu, maka carilah Kui jin suseng, sebab hanya dia yang dapat memberi penjelasan kepadamu. Maka dari itu, bagaimanapun jua kau harus mencarinya sampai ketemu."

"Tapi, dia tak ingin bertemu lagi denganku!"

"Itu soal gampang, asal kau gunakan sedikit siasat, aku rasa dia pasti akan munculkan diri sekali lagi, asal sekali saja ia menampakkan diri, ini sudah lebih dari cukup untukmu!"

"Aku pasti dapat menemukannya kembali, aku pasti dapat menemukannya kembali!" seru Ong Bun kim sambil menggigit bibirnya kencang-kencang.

"Bagus, kalau begitu aku akan pergi dulu, kita jumpa lagi dilain waktu..." kata tamu pembawa lampu.

Begitu selesai berkata, tubuhnya lantas melayang pergi dari situ, tampak cahaya lampu berkelebat lewat, tahu tahu ia sudah berlalu dari hadapannya.

Oag Bun kimi tidak habis mengerti siapakah orang itu, iapun tidak menyangka orang itu memiliki ilmu silat yang tiada taranya, cukup dilihat dari gerakan tubuhnya yang begitu cepat, dapat diketahui bahwa tenaga dalamnya benar benar amat sempurna.

Untuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdiri tertegun di tempat, pelbagai masalah yang mencurigakan selapis demi selapis menyelimuti benaknya, ini semua membuatnya terjerumus dalam penderitaan yang amat sangat.

Kecuali si Jago pedang setan iblis, ia mulai membenci orang kedua... dialah Kiu jin suseng, gurunya yang telah merawat dan mewariskan ilmu silatnya selama ini kepadanya. Sesungguhnya dia tak ingin berbicara dengan bekas gurunya itu, akan tetapi justru terdapat banyak persoalan yang hanya bisa diselesaikan olehnya saja, hanya dia seorang yang dapat membantunya untuk mengungkapkan pelbagai kecurigaan yang menyelimuti benaknya selama ini.

Maka ia bertekad hendak mencarinya sampai ketemu... meski sekarang belum mungkin, tapi suatu ketika cita- citanya ini pasti akan berhasil dengan nyata.

Berpikir sampai di situ, Ong Bun kim menarik napas panjang panjang, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah rumah kayu itu, kemudian memutar badannya dan berlalu dari situ.

Setelah turun dari puncak Hu hau hong, berangkatlah Ong Bun kim menuju ke arah Hau kwan.

Hau kwan terletak di bukit Cing liong san, dan suatu hari sampailah si anak muda itu di bukit tersebut.

Sementara ia sedang melakukan perjalanan cepat, tiba- tiba terdengar suara teriakan keras bergema dari arah belakang.

"Yang sedang melakukan perjalanan di depan situ apakah Ong sauhiap?"

Mendengar sapaan tersebut, Ong Bun kim serta merta berhenti dan berpaling, terlihatlah seorang gadis berbaju hijau sedang menyusul ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Ternyata gadis itu tak lain adalah Lan Siong ling, si nona yang pernah menangis tersedu-sedu setelah mendengarkan petikan harpa Ong Bun kim di luar benteng Tui hong po.

Ong Bun kim tertawa getir, kemudian katanya.

"Oooh... rupanya nona Lan di situ, maaf kalau tempo hari aku Ong Bun kim pergi tanpa pamit." "Waktu itu, kenapa kau pergi tanpa pamit?" tanya Lan Siok ling dengan wajah murung.

"Aku tak ingin mengganggu ketenangan nona."

"Tapi kalau ingin pergi, seharusnya kau memberitahukan dulu niatmu itu kepadaku."

Ong Bun kim cuma tertawa belaka, dia tak ingin berkenalan dengan gadis itu sebab dia tahu pertemuan selalu indah, tapi setelah berkenalan belum tentu berbahagia.

Maka sambil menarik kembali senyumannya dia bertanya:

"Entah ada urusan apa kau datang mencariku?"

Lan Siok Ling agak tertegun menghadapi pertanyaan tersebut, tapi dengan cepat jawabnya.

"Kalau tiada urusan apakah aku tak boleh datang mencarimu?"

"Tentu saja boleh, cuma kebetulan sekali aku masih ada urusan penting pada saat ini."

"Aku dengar kau hendak mencari Hou kwan Kwancu untuk membalas dendam...?" tanya Lan Siok ling kemudian.

"Benar !"

"Benarkah kau juga merupakan anak muridnya Kui jin Suseng, si sastrawan setan harpa?"

"Benar!"

"Aku lihat wajahmu bertambah murung dan sedih, sesungguhnya rahasia hati apakah yang sedang kau pikirkan?" Bagaikan seorang kekasih, ia sangat menaruh perhatian terhadap keadaan Ong Bun kim, hal ini membuat si anak muda itu merasakan hatinya sangat terhibur, baginya cinta kasih adalah sesuatu hal yang sangat penting sekali artinya.

Ia tertawa getir, kemudian sahutnya:

"Aaaah...! Tidak apa apa... siapa bilang aku mempunyai rahasia hati?"

"Kau jangan bohong, beritahukanlah kepadaku secara berterus terang, dari pada aku selalu rnenguatirkan tentang dirimu."

Yaa, betapa kuatirnya ia tentang pemuda tersebut, setingkat lebih mendalam daripada rasa perhatian adalah cinta, yang benar ia telah mencintai Ong Bun-kim, mencintainya sejak pandangan pertama...

Ong Bun-kim menghela napas panjang, bisiknya kemudian:

"Sekalipun kuberitahukan semuanya itu kepadamu, lalu apa gunanya ?"

"Beritahulah kepadaku, sebab aku sangat menguatirkan keadaanmu, aku menaruh perhatian khusus kepadamu!"

Dari sikap maupun mimik wajah Lan Siok ing, Ong Bun- kim telah menyadari bahwa gadis tersebut telah jatuh cinta kepadanya, sebaliknya ia sendiri justru tak pernah merasa jatuh hati atau tertarik kepadanya.

Ia tertawa getir dan katanya:

"Aku bersedia mengikuti kau menuju ke Hou kwan, seandainya terjadi sesuatu di sana, dua orang rasanya jauh akan lebih baik dari pada seorang diri."

"Tidak, silahkan kau pergi saja, urusan yang menyangkut diriku pribadi biar kuselesaikan sendiri!" Dari balik kelopak mata Lan Siok-ling, air mata sudah mengembang dan nyaris meleleh keluar wajah nyasangat murung dan sedih, membuat siapapun yang menyaksikan keadaannya itu akan ikut beriba hati.

Ong Bun-kim melirik sekejap ke arahnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun memutar badan dan berlalu dari sana.

Dengan sedih Lan Siok-ling memandangnya beberapa kejap, lama sekali, tiba-tiba wajahnya menunjukkan suatu perubahan aneh,tanpa banyak berbicara diapun menutulkan kakinya ke atas permukaan tanah dan meluncur pergi dari situ.

Setelah meninggalkan Lan Siok-ling seorang diri, dengan kecepatan tinggi Ong Bun-kim melanjutkan kembali perjalanannya, tak lama kemudian sampailah si anak muda itu di luar lembah naga hijau.

Dua buah patung harimau besar yang dipahat dari batu cadas berdiri di kiri kanan mulut lembah, harimau itu sedang mementangkan cakarnya dengan wajah yang garang, bukan saja indah pahatannya lagi pula sangat hidup.

Sebuah bangunan loteng berdiri tegak dimulut lembah, dan di atas bangunan itu terpancanglah sebuah papan nama yang bertuliskan:

"HOU-KWAN".

Ong Bun-kim mendesis sinis, baru saja dia hendak menggerakkan tubuhnya untuk menyusup masuk ke dalam lembah tersebut, mendadak terdengar bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian belasan sosok bayangan manusia melayang datang dari empat penjuru dan menghadang jalan perginya. Ong Bun-kim merasa agak terkejut, dengan cepat ia mendongakkan kepalanya serta memperhatikan para pendatang itu.

Sebagai pemimpin dari rombongan itu adalah seorang kakek bercambang yang berusia antara limapuluh tahunan, ia membawa senjata sepasang gelang baja dan berwajah gagah.

Ong Bun-kim tertawa ringan, pelan-pelan ia melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Kakek bercambang itu mengayunkan sepasang senjata gelangnya, lalu membentak dengan nyaring:

"Apakah saudara bernama Ong Bun-kim?" "Benar!"

"Kau juga yang telah membinasakan hou-khi-lak-pian (enam cambuk penunggang harimau), lima orang anak buah perguruan kami?"

"Betul!"

"Kau benar-benar seorang manusia berbakat aneh yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, yaa gagah yaa lihay, itu baru merupakan naga diantara manusia!"

"Terima kasih atas pujianmu..." kata Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.

"Entah karena persoalan apakah saudara berkunjung ke mari?"

"Mencari Mo-kui-kiam-jiu si jago pedang setan iblis!" Kakek bercambang itu tertawa sinis.

"Tidak sulit apabila ingin bertemu dengan kwancu kami, cuma kau mesti melewati penjagaan kami lebih dulu. Aku Mo-huan-jiu (elang iblis sakti) mohon beberapa petunjuk jurus silatmu!"

"Hmm......! Apa gunanya mencari kematian buat diri sendiri!" jengek si anak muda sinis.

"Sekalipun aku bakal mati di tanganmu, kematian itupun sangat membanggakan hatiku."

Hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajah Ong Bun-kim, katanya sambil tertawa:

"Kalau begitu jangan salahkan kalau aku berhati kejam dan bertangan keji..."

Diiringi sebuah bentakan nyaring, tiba-tiba si anak muda itu menerjang maju ke muka, harpa besinya digetarkan lalu menyapu ke depan dengan disertai tenaga serangan yang amat dahsyat.

Waktu itu Ong Bun-kim telah diliputi oleh kobaran hawa napsu membunuh, maka dalam serangan tersebut ia sertakan juga segenap tenaga dalam yang dimilikinya, sungguh dahsyat ancaman tersebut bikin hati orang bergetar keras.

Cahaya emas berkelebat lewat, gelang baja raksasa yang berada di tangan kanan Hui-huan Sinkun tiba-tiba disodok ke muka menyongsong datangnya harpa besi dari Ong Bun- kim, sementara gelang baja raksasa yang berada di tangan kirinya balik melancarkan ancaman ke dada si anak muda itu.

Sungguh dahsyat dan ganas serangan dari ilmu Mo- huan-jiu tersebut, bukan perubahan jurus serangannya saja yang aneh dan sakti, bahkan keganasan serta kecepatannya cukup membuat orang menjulurkan lidahnya. Tidak terasa Ong Bun-kim terdesak mundur selangkah, cepat-cepat harpa besinya diayun ke muka secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Dikala Ong Bun-kim sedang melancarkan tiga jurus serangannya, beberapa orang manusia berbaju kuning yang ada di sisi gelanggang segera maju ke muka dan mengepung anak muda itu rapat-rapat.

Tampaknya begitu Mo-huan-jiu menunjukkan gejala kalah, maka beberapa orang manusia berbaju kuning serentak akan melancarkan sergapan.

Mendadak Ong Bun-kim merasakan semangatnya berkobar kembali, dalam waktu singkat ia melancarkan  lima buah serangan berantai, serangan itu jauh lebih dahsyat dari serangan pertama tadi, malah disertakan juga kekuatan yang lebih ampuh dari angin puyuh.

Mo-huan-jiu kena didesak hingga mundur tujuh delapan langkah, melihat serangannya berhasil, Ong Bun-kim memburu ke depan, dengan jurus Nu to-pak-an (gelombang besar menghantam pantai) ia melancarkan sebuah pukulan kembali.

Betapa terkejutnya Mo-huan-jiu menghadapi serangan kilat sedahsyat itu, untuk menghindar sudah tak sempat, akhirnya timbullah tekadnya untuk beradu jiwa.

Ia membentak keras, gelang bajanya secepat kilat disambit ke tubuh Ong Bun-kim sebagai senjata rahasia

Tindakan tersebut sungguh di luar dugaan Ong Bun-kim, dengan jarak sedekat itu ditambah lagi ancaman gelang terbang itu muncul dengan kecepatan luar biasa, tak sempat ia berkelit ke samping terpaksa harpa besinya ditarik kembali lalu dipakai untuk menyongsong datangnya gelang baja tersebut. "Criiing !" benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, percikan bunga api bertebaran ke empat penjuru.

Mendadak, dikala Ong Bun-kim mempergunakan harpa besinya untuk membendung gelang baja dari Mo-huan-jiu tersebut, gelang besi kedua dari Mo huan-jiu kembali dilontarkan ke arahnya.

Tindakan tersebut sungguh di luar dugaan Ong Bun-kim, rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, sebab sementara harpa besinya masih tergencet oleh senjata lawan, gelang baja kedua sudah keburu menyusul tiba lagi.

Terpaksa sambil menggigit bibir, tubuhnya berputar jencang, dengan memaksakan diri ia pentalkan diri ke samping.

"Breeet...!" sekalipun ia menghindar cukup cepat, tak urung bajunya tersambar pula oleh gelang baja itu sehingga robek sebagian besar, saking kagetnya peluh dingin sampai bercucuran membasahi tubuhnya.

"Criiing...!" gelang baja itu menghantam di atas dinding batu menimbulkan percikan api, batu gunung berguguran hebat dan ini membuktikan betapa dahsyatnya tenaga serangan tersebut.

Hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Ong Bun- kim makin menebal, jeritnya:

"Bajingan, kubunuh kau. "

Secepat kilat tubuhnya meluncur ke arah Mo-huan-jiu, sementara harpa bajanya langsung disodokkan ke atas batok kepala lawan.

Padahal waktu itu Mo-huan-jiu masih belum hilang rasa kagetnya, mana mungkin ia dapat menghindarkan diri dari serangan maut Ong Bun-kim itu? Mendadak.... Bentakan nyaring berkumandang bagaikan guntur membelah bumi, belasan orang manusia berbaju kuning serentak menyerbu ke muka, dengan tenaga pukulan bagaikan amukan ombak di tengah samudra mereka bersama-sama melepaskan sebuah pukulan ke tubuh Ong Bun-kim...

Serangan gabungan dari belasan orang manusia berbaju kuning itu sungguh cepat bagaikan kilat, baru saja Ong Bun-kim akan melancarkan serangan balasan, beberapa gulung angin pukulan sudah keburu menyambar tiba...

ooo0dw0ooo

Bab 18

ONG BUN-KIM meraung keras, tubuhnya berkelebat ke tengah udara dan melintas sejajar di angkasa, dengan suatu gerakan yang sangat aneh ia berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan belasan orang kakek berbaju kuning itu.

Dengan terjadinya peristiwa itu, hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Ong Bun-kim makin menebal, dengan alis mata berkerenyit bentaknya:

"Bangsat, rupanya semua pingin mampus?"

"Belum tentu !" jawab salah seorang dari manusia berbaju kuning itu dingin.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu, hayolah dicoba dulu!" teriak Ong Bun-kim sambil tertawa seram.

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, harpa besi dipegangnya dengan tangan kiri sementara jari tangan kanannya memetik tali-tali senar itu, maka berkumandanglah suara irama harpa yang serasa membetot sukma siapa saja...

"Awas! Irama pembetot sukma..." kedengaran seseorang berpekik dengan nada terperanjat.

Termasuk Mo-huan-jiu, seketika itu juga paras muka semua orang berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.

Tiba-tiba berbareng dengan berkumandangnya irama pembetot sukma tersebut, secepat kilat Ong Bun-kim menerjang ke muka,belum sempat belasan orang manusia berbaju kuning itu hilang rasa kagetnya, tahu-tahu harpa besi itu sudah menyambar datang.

Jeritan-jeritan ngeri segera berkumandang memecahkan kesunyian.. darah segar muncrat keempat penjuru, suasana waktu itu betul-betul mengerikan.

Begitulah, diantara berkelebatnya harpa besi menyambar kian kemari, dalam waktu singkat belasan orang manusia berbaju kuning itu , termasuk Mo huan jiu tewas secara mengerikan.

Kecepatannya dalam melancarkan serangan dan kekejiannya dalam merenggut nyawa orang, cukup membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Ong Bun kim menghentikan gerakan tubuhnya, memandang belasan sosok mayat yang bergelimpangan di atas tanah, ia memperdengarkan serentetan suara, tertawa dingin yang mengerikan.

Kemudian anak muda itu putar badannya dan meneruskan terobosannya masuk ke dalam lembah.

Belum jauh Ong Bun kim menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang: "Berhenti!"

Mendengar bentakan tersebut tanpa terasa Ong Bun-kim menghentikan langkah kakinya, tampaklah seorang perempuan cantik berbaju kuning diiringi belasan orang kakek berbaju kuning telah muncul di hadapannya.

Begitu tiba di gelanggang, dengan sorot mata yang tajam perempuan cantik berbaju kuning itu menyapu sekejap belasan sosok mayat yang bertimpangan di tanah, lalu dengan paras muka berubah serunya:

"Saudara, sungguh keji perbuatanmu!"

"Keji...?" jengek Ong Bun-kim sambil tertawa dingin, "yang terhitung keji masih ada di belakang."

"Oooh... rupanya kau adalah Ong Bun-kim?" "bentak perempuan cantik berbaju kuning lagi dengan paras muka berubah.

"Tepat sekali!"

"Kau datang ke mari untuk mencari balas?" "Benar!"

Perempuan cantik berbaju kuning itu segera tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... jadi kau datang ke mari untuk menemui Kwancu kami?" katanya.

"Perkataanmu sekali lagi benar, dan kau ingin menghalangi keinginanku ini?"

"Kwancu mempersilahkan kau masuk, nah! Silahkan..." kata perempuan itu dengan suara dalam.

Terkejut juga Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau pihak lawan akan bertindak semudah ini untuk mempersilahkannya masuk, hadangan tidak dilakukan, pertarunganpun segera ditiadakan, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang aneh?

Sepasang alis matanya berkenyit, seakan-akan ia sudah merasakan pula akan hawa pembunuhan yang menyelimuti di balik kesemuanya itu.

Memang, iapun tahu kalau perjalanannya menuju ke Hou-kwan diliputi oleh pelbagi mara bahaya yang setiap saat mengancam keselamatan jiwanya, akan tetapi kendatipun jalan itu langsung menembus ke neraka, ia tetap akan melewatinya juga.

Yaa, bagaimanapun juga, dia hendak menantang perang terhadap kematian....

"Bagaimana...? Engkau takut?", tiba tiba perempuan cantik berbaju kuning itu menyindir.

Ong Bun kim segera sadar kembali dari lamunannya, dengan lirikan tajam ia memandang sekejap ke arah perempuan cantik berbaju kuning, kemudian sambil mengangkat bahu, busungkan dada dan mengangkat kepala ia meneruskan langkahnya ke depan.

Perempuan cantik berbaju kuning itupun mengikuti dari belakangnya. Sepanjang perjalanan, ia saksikan banyak bayangan manusia yang bergerak-gerak di balik kegelapan, seakan-akan terdapat berpuluh-puluh manusia yang bersembunyi di sekitar tempat itu sambil mencari kesempatan untuk melancarkan sergapan ke arahnya.

Ong Bun-kim mendengus dingin, sikapnya masih tetap tenang dan mantap, karena ia sudah tidak memikirkan lagi soal mati hidupnya.

Dalam waktu singkat sampailah mereka di luar dinding pekarangan Hou-kwan, dua barisan manusia-manusia berbaju kuning yang jumlahnya mencapai puluhan orang berdiri berjajar di kedua belah samping pintu gerbang pekarangan tersebut, mereka berdiri dengan gagah dan berwajah keren serta serius.

Ong Bun-kim segera menghentikan langkahnya. "Silahkan masuk!" seru perempuan cantik berbaju kuning

yang berada di belakangnya dengan cepat.

Ong Bun-kim tertawa ewa, ia segera meneruskan perjalanannya memasuki dinding pekarangan tersebut.

Setelah masuk ke dalam dinding pekarangan maka tampaklah sebuah bangunan gedung yang amat besar terbentang di depan mata, setelah melewati jalan yang beralas batu sampailah dia di depan pintu gerbang.

Pada anak tangga menuju ke pintu gerbang kembali ada belasan orang manusia berbaju kuning yang berdiri berjajar dikedua belah sisinya.

Di samping kiri dan kanan pintu berdiri lagi dua buah patung harimau batu yang sedang mendekam, ini semua menambah keangkeran suasana di sekitarnya:

Setibanya di depan anak tangga, sekali lagi Ong Bun-kim berhenti, ia mengernyitkan alis matanya seakan-akan sedang mempertimbangkan suatu masalah besar.

"Silahkan masuk!" kembali perempuan cantik berbaju kuning itu berseru.

Ong Bun-kim tertawa dingin, dengan nada yang tidak diketahui maknanya ia mendesis:

"Silahkan?"

"Bukankah kau ingin berjumpa dengan Kwancu kami?" "Benar!"

"Kalau memang begitu silahkan masuk!" "Di manakah Kwancu kalian?"

"Sudah menunggu kedatanganmu semenjak tadi dalam ruangan tengah!"

"Kalau begitu suruh saja dia yang ke luar ke mari!"

Paras muka perempuan cantik berbaju kuning itu berubah hebat.

"Hey, sebetulnya kau yang ingin mencari dia? Ataukah dia yang hendak mencarimu?" demikian ia menegur.

"Itu bukan menjadi soal, aku hanya ingin bertanya, bukankah ia mengundangku datang ke mari?"

"Benar!"

"Kalau aku memang diundang datang, kenapa sebagai tuan rumah ia tidak menyambut sendiri kedatangan tamunya?"

Perempuan cantik berbaju kuning itu tertegun, ucapan dari Ong Bun-kim itu benar-benar membuat ia terbungkam dan tak mampu membantah lagi.

Sesungguhnya Ong Bun-kim mempunyai perhitungannya sendiri, ia tak mau masuk ke dalam ruangan karena siapa tahu kalau dalam ruangan justru telah dipasang alat perangkap yang sangat lihay? la kuatir bila masuk ke dalam maka akan lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan...

Sebab itulah setelah mempertimbangkannya sejenak, akhirnya ia memutuskan lebih baik tidak masuk ke dalam.

Maka Ong Bun-kimpun tidak langsung masuk ke dalam ruangan untuk mencari Mo-kui-kiam-jiu.

Perempuan cantik berbaju kuning itu tertawa dingin. "Hehh....heehh....heehh....kalau begitu aku akan masuk untuk memberi laporan terlebih dulu!"

Dengan langkah lebar ia lantas masuk ke dalam ruangan.

Ong Bun-kim hanya berdiri menanti di bawah undak- undakan batu di luar pintu gerbang, sementara belasan orang manusia berbaju kuning itu berdiri berjajar di belakangnya, sehingga secara otomatis timbullah suatu hawa pembunuhan yang tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.

Tak lama kemudian, dari balik pintu gerbang berkumandanglah suara gelak tertawa yang amat nyaring, seorang kakek tinggi besar dan tegap dengan memakai baju kuning dan berusia enampuluh tahunan, diiringi dua orang kakek pendek lagi bungkuk serta perempuan cantik berbaju kuning itu munculkan diri di depan mata.

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.

Tak usah ditanyapun ia sudah tahu bahwa kakek yang berjalan di paling depan itu tak lain adalah Hou-kwan kwancu si jago pedang setan iblis yang dicari-cari.

Sementara itu, si jago pedang setan iblis sendiripun telah menghampiri Ong Bun-kim sambil tertawa nyaring, sikapnya sombong, tinggi hati dan tak enak dipandang.

"Kau yang bernama Ong Bun-kim?" tegur si jago pedang setan iblis setelah tertawa tergelak.

"Benar! Dan kau adalah si jago pedang setan iblis?" "Tepat sekali, kau benar-benar gagah dan tampan, tak

malu disebut sebagai manusia berbakat aneh dari dunia persilatan."

"Hsehh....heeehhh....heeehhh tapi aku rasa tak bisa dibandingkan dengan mendiang ayahku, bukan?" Hebat juga perubahan wajah Mo-kui-kiam-jiu,

"Mana, mana dibandingkan dengan ayahmu. tentu saja kau kelihatan lebih gagah!"

"Kwancu terlalu memuji!"

Sementara pembicaraan antara mereka berdua berlangsung, orang tidak melihat pancaran sikap permusuhan diantara kedua orang itu, seakan-akan dua orang sahabat yang saling bertemu saja, padahal di hati kecil mereka justru terlintas segala intrik serta hawa napsu membunuh yang menyeramkan.

Cuma kedua belah pihak sama-sama mempunyai kemantapan serta semangat untuk menyimpan napsu membunuh itu dalam hati kecilnya, maka hal tersebut tidak sampai tercermin pada wajah masing-masing.

Paras muka Mo-kui-kiam-jiu berubah hebat, lalu tegurnya:

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Masa Kwancu tidak tahu?" Ong Bun-kim balik bertanya.

"Mencari aku?" "Benar!" "Karena apa?" "Dendam!"

Si Jago pedang setan iblis segera tertawa dingin.

"Heehh heeehh heeehh kalau memang kedatanganmu untuk membalas dendam, kelirulah jika kau bunuhi anak buahku!" "Tapi orang-orang itu justru diutus Kwancu untuk membunuhku, jadi terpaksa aku harus menindak mereka!" jawab Ong Bun-kim sambil tertawi dingin pula.

Sekali lagi paras muka Mo-kui-kiam-jiu berubah. "Karena dendam apakah kau datang mencariku?"

"Jago pedang setan iblis, kau tak usah berlagak pilon, apakah kematian ayahku bukan atas hasil karya dari kwancu seorang?"

"Perkataanmu itu sungguh membuat hati orang nenjadi bingung dan tidak habis mengerti, bukankah ayahmu tewas di tangan Kui-jin suseng? Kenapa bisa menyangkut diriku pula?"

Sekali lagi paras muka Ong Bun-kim berubah, hawa pembunuhan tak terkendalikan lagi dan segera memancar ke luar dari balik matanya, dengan suara menggelegar ia membentak.

"Jago pedang setan iblis, kau manusia rendah, bajingan terkutuk yang tak tahu malu."

"Harap dijaga sopan santunmu dalam bercakap-cakap." "Aku ingin bertanya kepadamu, tenaga dalammu tak bisa

memenangkan        ayahku,        bukankah        kau       telah

mempergunakan Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) untuk mencelakai ayahku?"

"Hal ini memang kenyataan!"

"Cukup dengan dasar ini, aku dapat membinasakan dirimu!"

"Hmm...! Aku kuatir kau tak sanggup melakukannya!"

Ong Bun-kim tertawa dingin, dengan suara dalam kembali ia membentak: "Aku ingin mengajukan satu persoalan lagi kepadamu !" "Katakan!"

"Kematian ayahku bukanlah lantaran terkena siasat busukmu yang bekerja sama dengan Kui jin suseng?"

"Apa kau bilang?"

Ong Bun-kim tertawa dingin.

"Heehhh... heehhh... heeehh... oleh karena putrimu Coa Siok-oh tidak tega turun tangan membinasakan ayahku, maka kau menarik Kui-jin suseng agar berpihak kepada mu dengan bayaran tinggi, dan ayahkupun mati terbunuh olehnya?"

"Omong kosong!" bentak jago pedang setan iblis dengan gusar.

"Heehhh... heehhh... heeehhh... Mo-kui-kiam-jiu!" kembali Ong Bun kim mengejek dengan wajah diliputi hawa membunuh, "setelah mempunyai keberanian untuk membunuh orang, mengapa kau tidak mempunyai keberanian untuk mengakuinya?"

Jago pedang setan iblis tertawa seram.

"Haahhh . . . haaahhh . . . haahhh . . Ong Bun-kim" katanya, "kau harus mengerti selama hidup belum pernah aku berbohong, setelah mempunyai keberanian untuk membunuh orang, aku mempunyai keberanian untuk mengakuinya..."

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak mengakuinya?"

"Karena aku tidak pernah merasa melakukan perbuatan semacam itu...!" Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, katanya kemudian sambil tertawa:

"Terserah kau bersedia mengakui atau tidak, aku tetap akan membunuh dirimu!"

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, secepat sambaran kilat ia menerjang maju ke depan.

Air muka Mo-kui-kiam-jiu ikut berubah, sambil tertawa dingin hardiknya keras-keras: "Kau kepingin mampus?"

Ong Bun-kim tertawa.

"Mo-kui-kiam-jiu, setelah berani kudatangi tempat ini, tentu saja soal mati hidup sudah tidak kupikirkan lagi,.."

"Bagus sekali!" seru jago pedang setan iblis setelah berhenti sejenak ia berpaling sambil membentak lagi. "siapkan senjataku!"

"Pedang Cing-kang kiam berada di sini!" seorang kakek bungkuk mengiakan sambil melangkah maju.

Dengan hormatnya kakek bungkuk itu mengangsurkan pedang tersebut dengan kedua belah tangannya.

Setelah menerima pedang Ging-kang-kiam tersebut, dengan paras muka sedingin es dan tatapan mata setajam sembilu Mo-kui-kiam-jiu menatap wajah Ong Bun-kim tanpa berkedip.

Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Ong Bun- kim, tegurnya mendadak dengan suara dingin:

"Jago pedang setan iblis, yang hendak turun tangan hanya kau seorang? Ataukah termasuk seluruh anak buahmu?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku seorangpun sudah lebih dari cukup..." "Seandainya anak buahmu turun tangan mengeroyok diriku?"

"Soal itu tak usah kau kuatirkan!" jawabnya, setelah berhenti sejenak, bentaknya sambil berpaling, "Lu Hengcu!"

"Tecu siap menerima perintah!" perempuan cantik berbaju kuning itu mengiakan sambil tampil ke depan.

"Selama aku sedang melangsungkan pertarungan melawan Ong Bun kim, setiap anggota perguruan kita dilarang ikut campur dalam pertempuran tersebut !"

"Tecu siap melaksanakan hukuman!"

"Bagus, andaikata aku kalah di tangannya, kalianpun tak boleh menyusahkan Ong Bun kim, biarkan ia pergi dari sini tanpa diganggu!"

"Baik!"

Selesai meninggalkan pesannya, Mo kui kiam-jiu baru berpaling kepada Ong Bun kim sambil bertanya:

"Sekarang, kau bisa berlega hati, bukan?"

"Mati hiduppun tidak kupikirkan lagi, kenapa musti  tidak berlega hati?"

"Mau turun tangan hayolah cepat lakukan!" "Boleh, cuma kita tak usah bertarung di sini!" "Lantas di mana?"

"Di puncak Liong ciok hong!"

"Puncak tanduk naga?" ulang Ong Bun kim tercengang, "di manakah letak tempat itu?"

"Jangan kau tanyakan di mana letak tempat itu, katakan saja berani tidak kau menyertai diriku ke situ?" Kontan saja Ong Bun kim mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahh... asal Kwancu berani mendatangi tempat itu, tentu saja aku Ong Bun kim akan melayani keinginanmu."

"Kalau begitu, hayo ikut aku!"

Habis berkata ia lantas menutulkan ujung kakinya ke tanah dan berangkat meninggalkan Hou-kwan menuju ke sebuah bukit di belakang sana.

Ong Bun kim tertawa dingin, ia menyusul di belakangnya dengan tak kalah cepatnya.

Setelah naik ke atas tebing, mereka berputar menuju ke sebuah puncak jauh di depan sana, dalam waktu singkat sampailah kedua orang itu di puncak bukit itu, dan si Jago pedang setan iblispun segera menghentikan larinya.

Ong Bun kim mencoba untuk mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, tampak olehnya luas puncak itu mencapai sepuluh kaki, di bawah sana ternganga sebuah jurang yang tiada terkirakan dalamnya.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tempat ini memang merupakan sebuah tempat yang sangat bagus!" katanya kemudian sambil tertawa dingin.

Jago pedang setan iblis ikut tertawa dingin.

"Benar, tempat ini memang suatu tempat yang sangat baik, di bawah dasar jurang sana akan menjadi tempat kubur dari salah seorang di antara kita berdua!"

"Manusia pedang setan iblis, tak usah banyak berbicara lagi, loloskan senjatamu!" bentak Ong Bun kim kemudian. Jago pedang setan iblis tertawa dingin- "Criing...!" cahaya tajam berkilauan, tahu-tahu pedang Cing kang kiam telah diloloskan dan siap melancarkan serangan.

"Silahkan kau turun tangan lebih dulu!" bentaknya kemudian.

"Sebagai tamu tidak akan mendahului tuan rumah, silahkan kwancu turun tangan lebih dulu!"

"Terhadap seorang boanpwe angkatan muda macam kau, kenapa aku musti turun tangan duluan? Ada baiknya kau saja yang menyerang lebih dahulu."

Ong Bun kim tertawa sinis.

"Hmm! Kalau begitu maaf!" katanya.

-ooo000dw000ooo-