-->

Setan Harpa Jilid 05

 
Jilid 05

AKHIRNYA, Ong Bun-kim melemparkan kerlingannya yang pelan-pelan beranjak... keadaan seperti juga keadaan dikala meninggalkan Lan Siok lin tempo hari.

Ia tidak merasa sayang, pun tidak mengucapkan sepatah katapun ! Mereka tidak saling menyapa, tidak saling merasa sayang, pun tidak perlu suatu perpisahan, tapi dibalik sanubari masing-masing telah terselip suatu perasaan murung yang tipis.

Ia telah pergi... pergi membawa harpa besinya, menuju ke halaman baru dari perjalanan hidupnya...

Lembah Sin Ii kok, terletak di bukit selatan Soat im san.

Di mulut lembah itu berdiri sebuah batu karang yang terbuat dari alam, batu itu amat besar dan berbentuk seperti seorang gadis, mungkin nama Sin li kok berasal dari keadaan alam di situ.

Ketika Ong Bun kim tiba di mulut lembah, hawa napsu membunuh segera berkobar dalam dadanya, ia merasa andaikata tiada Siau Hui un, tak mungkin ayahnya bakal tewas di tangan Kui jin suseng.

Ia hendak melenyapkan lembah Sin li kok dari muka bumi... ia hendak mencincang tubuh Siau Hui un menjadi berkeping-keping.

Hawa napsu membunuh yang berkobar dalam dadanya makin lama semakin menebal, dengan sekali lompatan tubuh ia menerobos masuk ke dalam lembah Sin li kok...

Tapi, baru beberapa tombak ia berjalan, mendadak serentak pemuda itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Secara tiba-tiba timbul goncangan keras dalam hatinya, ia merasa seakan-akan mendapat firasat jelek.

Sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya, mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia segera berkelebat bagaikan sambaran petir, tahu-tahu empat orang nona berbaju merah sudah menghadang di hadapan Ong Bun kim. Si anak muda itu segera mendongakkan kepalanya, ketika mengetahui apa yang terjadi, paras mukanya segera berubah hebat.

Seorang nona berbaju merah yang berada di paling depan, segera menegur dengan suara dingin;

"Siap kau? Berani benar menyatroni lembah Sin li kok kami?"

Ong Bun kim mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahh... lembah Sin li kok bukan neraka atau tempat terlarang yang tak boleh dikunjungi orang, kenapa aku Ong Bun kim tak boleh mendatanginya?"

Diiringi gelak tertawa yang mengerikan, tubuh Ong Bun kim secepat sambaran kilat telah menerjang ke arah keempat orang nona berbaju merah itu, harpa besinya sekuat tenaga dibacokkan ke depan:

Pada saat ini Ong Bun kim benar-benar sedang diliputi hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar, bisa dibayangkan sendiri dalam serangan tersebut tentu disertakan juga tenaga pukulan yang mengerikan.

Seandainya pukulan itu sampai mengenai sasaran, tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya gadis gadis itu.

Dikala Ong Bun kim sudah hampir menyarangkan pukulannya di tubuh lawan itulah, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring:

"Tahan!"

Karena bentakan tersebut, Ong Bun kim segera menarik kembali serangannya sambil melompat mundur, ketika diperhatikan orang itu, paras mukanya kembali berubah hebat, sebab orang itu bukan lain adalah Si hiat yau hoa (Siluman bunga penghisap darah).

"Aku kira siapa yang datang, tak tahunya adalah Ong sauhiap!" demikian Siluman bunga penghisap darah menyapa.

Sikap lembut dan halus yang diperlihatkan Siluman bunga penghisap darah ini sama sekali berada di luar dugaan Ong Bun kim, segera bentak nya dengan ketus:

"Yaa, memang aku yang datang, mau apa kau?" Siluman bunga penghisap darah tersenyum.

"Bolehkah aku tahu, mau apa kau datang ke mari?" tanyanya.

"Aku hendak mencari Kokcumu!"

"Ooooh... kebetulan sekali, aku memang sedang menerima perintah dari Kokcu kami untuk mencarimu, silahkan masuk!"

Tercengang juga Ong Bun kim menghadapi sikap lembut dan penyambutan hormat dari Siluman bunga penghisap darah, sebab seingatnya mereka tak pernah bersahabat, malah sebaliknya merupakan musuh bebuyutan yang pernah diwarnai dengan pertarungan-pertarungan sengit.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, kemudian ujarnya:

"Apakah Kokcumu juga akan mencariku?" "Benar, silahkan!"

Seraya berkata ia lantas menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat. Ong Bun kim tidak tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan Siau Hui un, diam-diam ia tertawa dingin, lalu sambil mengangkat kepalanya maju ke depan.

Anak muda itu mempunyai perhitungan sendiri, ia merasa setelah berani datang ke situ ia tak akan memperdulikan mati hidupnya di dalam hati, ia musti meninggalkan tenaga intinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Lembah itu panjang sekali, akan tetapi sempitnya bukan kepalang.

Pepohonan tumbuh dengan suburnya di sepanjang lembah, sebuah jalan setapak menghubungkan mulut lembah itu dengan lembah bagian dalam, Siluman bunga penghisap darah berjalan mengikuti di belakang anak muda itu.

Setelah menembusi hutan yang lebat, tampaklah sebuah bangunan loteng yang indah dan megah muncul di kejauhan sana.

Setelah melewati dinding pekarangan, sampailah mereka di tengah tanah lapang di muka gedung, terlihatlah di kedua belah sisi jalan kecil yang menghubungkan pintu gerbang, masing-masing berdiri berjajar lima enampuluh orang gadis.

Paras muka setiap anak gadis itu amat keren dan serius, tak seorangpun diantara mereka yang bersikap bebas.

Tanpa sadar Ong Bun kim menghentikan langkah kakinya.

Siluman bunga penghisap darah segera ter senyum, katanya: "Setelah Kokcu kami mengetahui akan kehadiranmu, beliau telah memimpin segenap anggotanya untuk menyambut kedatanganmu!"

"Terima kasih banyak!" dengus Ong Bun-kim sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Selesai berkata ia lantas melanjutkan perjalanannya ke depan, ia tidak perduli apakah gadis-gadis itu akan turun tangan kepadanya atau tidak, ia harus berhadapan dengan maut yang berada di depan mata.

Ketika tiba di pintu gerbang, tampaklah dua buah patung malaikat perempuan yang terukir dari batu marmer berdiri di sisi kiri dan kanan pahatan tersebut sangat hidup, indah dan menawan hati.

"Silahkan masuk, Ong sauhiap!" kata Siluman bunga penghisap darah.

Ong Bun-kim termenung dan berpikir sebentar, kemudian sambil membusungkan dada ia masuk ke dalam.

Ruang tengah gedung itu sangat besar, lebar dan megah, tak kalah rasanya dengan keindahan istana.

Di kedua belah sisi ruang tengah masing-masing berdiri belasan orang gadis berbaju merah, diantaranya terdapat pula perempuan-perempuan yang telah berusia lanjut.

Di ruang tengah belakang meja kebesaran duduk seorang gadis berbaju merah yang berusia dua puluh satu-dua tahunan, dibelakang gadis itu masing-masing berdiri dua orang perempuan tua berbaju merah pula.

Dalam hati Ong Bun-kim lantas berpikir: "Mungkinkah dia adalah Toan-kiam-giok-jin (perempuan cantik pedang kutung) Siau Hui-un ? Tapi mengapa semuda itu? Tidak, tidak mungkin! Seharusnya dia adalah seorang perempuan yang telah berusia empat puluh tahunan!"

Sementara ia masih berpikir, dara berbaju merah itu sudah bangkit berdiri.

Ong Bun-kim lantas berpaling ke arah Siluman bunga penghisap darah sambi l tanyanya:

"Apakah dia adalah Kokcu kalian?" "Bukan, dia adalah wakil Kokcu kami."

Belum habis Siluman bunga penghisap darah berkata, si nona berbaju merah itu sudah berkata sambil tersenyum:

"Apakah yang datang adalah Ong sauhiap?" "Benar!"

"Harap kau bersedia memaafkan, berhubung masa latihan Kokcu kami belum berakhir, beliau tak dapat menyambut sendiri kedatanganmu, maka dari itu aku Tong Wan-tin mohon maaf yang sebesar-besarnya!"

"Tidak berani ....!" kata Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, ia sudah tiba di depan ruangan itu, tiba-tiba ia merasakan suasana dalam ruangan tersebut penuh diliputi oleh hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.

Ong Bun kim segera tertawa dingin, lalu katanya: "Apakah nona adalah Hu Kokcu dari lembah Sin li kok

ini?"

"Benar!"

"Aku khusus datang ke mari untuk menjumpai Kokcu kalian!" "Bolehkah aku tahu ada urusan apa?"

"Oooh....soal ini adalah urusan pribadi antara diriku dengan dirinya, jadi lebih baik kau tak perlu tahu."

"Silahkan duduk Ong sauhiap, seusai latihan Kokcu kami pasti akan datang menjumpai diri mu!"

Mendengar perkataan tersebut, paras muka Ong Bun kim berubah hebat, segera bentaknya: "Kau tak usah mencarikan alasan baginya, pokoknya aku ingin sekarang juga bertemu dengannya!"

"Tapi....tapi.... tentang soal ini..."

Ong Bun kim tertawa nyaring, kembali katanya:

"Jika kau tidak mengundangnya sekarang juga, jangan salahkan kalau aku Ong Bun-kim terpaksa harus menyalahi dirimu!"

"Tentang soal ini..." tampaknya Tong Wan-tin agak dibikin serba salah oleh tindakan pemuda itu.

"Bagaimana?" kata Ong Bun-kim kemudian sambil tertawa lebar, "mau pergi atau tidak?"

"Ong sauhiap, agaknya kau suka membuat susah orang?" tegur Tong Wan-tia akhirnya dengan perasaan kurang senang.

Ong Bun-kim lagi-lagi tertawa.

"Persoalannya bukan soal menyusahkan orang atau tidak, tapi yang pasti aku harus segera bertemu dengannya."

"Tentang soal ini..."

"Hayo pergi dan suruh dia ke luar untuk menjumpai diriku!"

"Aku rasa hal ini tak mungkin bisa terjadi!" "Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup."

Ong Bun kim tak bisa mengendalikan perasaannya lagi, sambil membentak keras, tubuhnya secepat sambaran kilat meluncur ke hadapan Tong Wan tin dan menghantam kepalanya.

Tindakan tersebut segera menimbulkan kegemparan di kalangan gadis-gadis berbaju merah yang berada di luar ruangan, paras muka mereka rata-rata berubah hebat.

Sementara itu, serangan yang dilancarkan Ong Bun kim telah tiba di hadapan Tong Wan-tin, dalam keadaan demikian mau tak mau dia musti menggerakkan tubuhnya untuk berkelit ke samping, kemudian bentaknya dengan suara nyaring:

"Tahan !"

Ong Bun kim menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ke belakang.

"Apakah kau telah bersedia untuk memanggilnya ke luar?" ia menegur dengan nada yang sinis.

Kali ini paras muka Tong Wan tin yang berubah hebat. "Ong   sauhiap,   ketahuilah   bahwa   Kokcu   kami sama

sekali   tidak   menganggap   dirimu   sebagai   musuh besar,

apakah kedatanganmu kemari adalah untuk mencari balas?" "Benar!"

"Tapi kami mendapat perintah dari Kokcu untuk menerima Ong sauhiap dengan pelayanan sebaik-baiknya!"

"Sudahlah, kau tak usah banyak berbicara lagi," tukas Ong Bun kim dengan geramnya, "pokoknya kalau ia tidak kau panggil keluar, seluruh anggota perguruannya akan kubantai sampai ludas!" "Ong sauhiap, kau jangan terlalu memaksa orang! "seru Tong Wan tin mulai naik darah.

"Kalau aku mau mendesak terus lantas kenapa? Lihat serangan!"

Sambil membentak nyaring, Ong Bun kim melompat maju ke depan, telapak tangannya segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat ke tubuh Tong wan tin, wakil ketua dari lembah Sin li kok.

Sebagaimana diketahui adapun kedatangan, Ong Bun kim ke tempat itu adalah untuk mencari balas, tentu saja dalam melancarkan serangannya ia telah sertakan pula segenap tenaga dalam yang dimilikinya, daya penghancur yang di-hasilkan sungguh ibaratnya gulungan ombak yang menyapu daratan."

"Kurang ajar, apakah kau menganggap aku adalah orang yang mudah dipermainkan," bentak Tong Wan tin.

Berbareng dengan bentakan tersebut, dia melepaskan pula sebuah serangan balasan.

Bayangan manusia saling menyambar, secepat sambaran kilat harpa besi dari Ong Bun kim menyambar ke depan.

Agaknya Tong Wan tin tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun kim telah mencapai tingkatan sesempurna itu, termakan oleh desakan tersebut, tak kuasa lagi ia kena terdesak sehingga harus mundur sejauh tiga, empat langkah dengan sempoyongan. 

Ong Bun kim tidak melepaskan musuhnya dengan begitu saja, bagaikan bayangan saja ia menyusul ke depan, dengan harpa besinya secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai. Secara beruntun Tong Wan-tin didesak hingga musti mundur sejauh satu kaki lebih, karena posisinya berada di bawah angin, otomatis iapun tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.

Mendadak Tong Wan-tin membentak nyaring, dalam situasi yang amat berbahaya, pergelangan tangannya diayunkan ke depan, serangan dari Ong Bun-kim segera dibendung, kemudian secara beruntun dia lancarkan pula dua buah serangan balasan.

Ternyata tenaga dalam yang dimiliki Tong Wan-tin termasuk hebat juga. Bayangan manusia segera saling menyambar, dalam waktu singkat sepuluh gebrakan lewat tanpa terasa.

Diam-diam terkejut juga Ong Bun-kim, dia tidak menduga kalau Hu-kokcu yang masih muda itu sanggup menerima sepuluh buah pukulannya tanpa kalah, dari sini bisa diketahui bahwa kepandaian silat yang dimiliki Siau Hui-un pasti sudah mencapai puncak kesempurnaan.

-oooo0dw0ooo-

BAB 14

TERBAYANG kesemuanya itu, berkobar kembali hawa napsu membunuh dalam hati Ong Bun kim, ia membentak keras, jurus jurus mematikan dilancarkan secara berantai, dalam waktu singkat dia melancarkan pula lima buah pukulan dahsyat.

"Blaaam.... !" akhirnya sebuah pukulan berhasil menghajar telak di tubuh Tong Wan-tin, ia muntah darah dan tubuhnya mencelat ke belakang. Seorang gadis berbaju merah secepat kilat maju ke muka menyambar tubuh Tong Wan tin. Ong Bun kim tidak puas berbuat sampai di situ saja, kembali ia membentak keras, "Lepaskan orang itu . . ."

Seperti banteng terluka, ia menerjang ke muka secara garang. Akan tetapi sebelum Ong Bun-kim berhasil mendekati dara berbaju merah itu, dua sosok bayangan manusia telah menggulung ke arahnya dengan amat dahsyat.

Dua orang yang melancarkan serangan itu adalah dua orang pelindung dari wakil Kokcu yakni dua orang nenek baju merah yang membawa tongkat.

Sungguh hebat serangan gabungan dari dua orang nenek tersebut, seketika itu juga Ong Bun-kim terdesak hebat dan harus melompat mundur ke tempat semula.

"Kurang ajar, kalian pingin mampus?" bentak Ong Bun- kim sangat marah.

"Ong sauhiap, kau jangan kelewat sombong."

Dalam pada itu belasan orang gadis berbaju merah yang berada di ruang depan telah menyerbu maju ke depan, dalam waktu singkat hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh gelanggang.

Sepasang mata Ong Bun-kim melotot besar dan memancarkan sinar membunuh yang menggidikkan hati, katanya:

"Kalau Kokcu kalian tidak diundang ke luar lagi, hati- hati kalau sampai kubantai kalian semua!"

"Ong sauhiap, kenapa kau tidak mencoba untuk turun tangan lebih dulu ... " ejek nenek baju merah yang berada di sebelah kanan.

"Jadi kalian benar benar ingin mampus?" bentak Ong Bun kim dengan marahnya. "Benar, silahkan Ong sauhiap untuk turun tangan!"

Ong Bun kim tak dapat mengendalikan amarah yang menggelora dalam hatinya lagi, tiba tiba jari tangan kanannya bergetar memetikkan tiga kali sentilan senar khim

....

"Tingg... ! Tingg...! Ting...!" inilah petikan Kau hun ki ( irama penggaet sukma ) yang maha dahsyat tersebut.

Paras muka semua orang berubah hebat, hati mereka seperti disayat dengan pisau tajam, peluh mulai membasahi seluruh jidatnya, jelas daya pengaruh dari ketiga petikan senar khim itu mengakibatkan getaran getaran dalam jiwa semua orang.

Akan tetapi sebelum pemuda itu melanjutkan petikan mautnya, mendadak terdengar seseorang membentak keras:

"Tahan!"

Irama khim seketika terhenti, menyusul mana sesosok bayangan manusia berwarna merah melayang turun di hadapan Ong Bun kim. Ternyata dia adalah seorang gadis berbaju merah yang berdandan sebagai seorang dayang.

"Mau apa kau datang ke mari?" bentak Ong Bun kim. "Boleh aku tahu, apakah saudara adalah Ong sauhiap?"

tanya dayang berbaju merah itu tenang.

"Benar!"

"Budak mendapat perintah dari Kokcu untuk mempersilahkan Ong sauhiap menjumpainya!"

"Sekarang dia berada di mani?" "Ikutilah diriku!" Berbicara sampai di situ, dayang berbaju merah itu segera berjalan menuju ke ruang belakang dengan langkah yang lemah gemulai.

Ong Bun-kim agak ragu sejenak, dahinya berkerut, tapi akhirnya sambil menggigit bibir ia ikuti juga di belakang dayang itu.

Setelah melewati ruang belakang mereka berbelok menelusuri sebuah serambi panjang, dan akhirnya tiba di depan sebuah pesanggrahan yang letaknya tersendiri, di depan pesanggrahan itu merupakan sebuah kebun bunga, pemandangan sangat indah dan menawan hati.

Dayang berbaju merah itu mengetuk pintu pesanggrahan itu, dari dalam seseorang segera menegur:

"Siapa di situ?"

"Ong Sauhiap, telah tiba!"

"Dipersilahkan masuk!" Dayang berbaju merah itu mendorong pintu dan masuk ke dalam, Ong Bun-kim mendongakkan kepalanya memperhatikan suasana dalam ruangan, ternyata ruangan itu adalah sebuah ruang tamu yang megah dan mewah sekali.

Empat orang dayang berbaju merah berdiri berjajar dikedua belah sisi pintu ruangan.

Salah seorang gadis berbaju merah itu segera berkata sambil tersenyum:

"Ong Sauhiap, silahkan duduk!"

"Aku datang ke mari untuk mencari Kokcu kalian ... " "Tentang soal ini aku sudah tahu, duduklah sebentar

sementara kulaporkan kedatanganmu ke dalam!"

"Silahkan!". Dayang berbaju merah itupun tidak berbicara lagi, ia lantas beranjak dan menuju ke ruang belakang, sementara Ong Bun-kim duduk sambil berusaha menekan kobaran api kegusaran dan hawa napsu membunuh yang berkecamuk dalam dadanya.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki manusia yang lirih bergema memecahkan kesunyian, sewaktu pemuda itu mendongakkan kepalanya, tampaklah dayang berbaju merah tadi telah muncul  kembali mengiringi seorang nyonya cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Ong Bun-kim... cuma senyuman tersebut penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh.

"Jadi kaulah Kokcu dari lembah Sin li-kok...?" sapanya sambil tertawa lebar.

Kendatipun ia berbicara sambil tertawa lebar, akan tetapi kedengaran juga bahwa suara nya agak gemetar karena terpengaruh oleh pergolakan emosi . .

"Betul, aku adalah Kokcu dari lembah Sin-li-kok!" nyonya cantik itu membenarkan.

"Kau bernama Siau Hui-un?"

"Betul, dan kau adalah muridnya Kui-jin Suseng (sastrawan setan harpa)...?" nyonya cantik itu balik bertanya.

"Tepat sekali, dan aku pula putranya Sun hay bong kek (manusia latah dari empat samudra)!"

Tiba-tiba di atas wajah Siu Hui un terjadi pergolakan emosi yang amat hebat, serunya: "Sungguh tak kusangka Kui jin suseng tidak membunuh dirimu!"

"Heeehhh... heeehhh...heeehhh...kenapa? Kau merasa hal ini di luar dugaan? Siau Hui un, kau tahu tidak apa maksud kedatanganku hari ini ke sini?"

"Tentu saja menengok aku!"

"Menengok kau? Hmmm....! Jangan bermimpi disiang hari bolong, aku datang untuk merenggut selembar jiwamu. "

"Kenapa...?" jerit Siau Hui un tercengang, " mengapa kau hendak merenggut nyawaku?"

"Sebab kau telah membunuh ayahku Si manusia latah dari empat samudra Ong See liat!" jawab Ong Bun kim setengah membentak, hawa napsu membunuh yang mengerikan seketika menyelimuti seluruh wajahnya.

"Aaaah...!" sekali lagi Siau Hui un berteriak kaget, serunya dengan suara gemetar: "siapa yang memberitahukan hal tersebut kepadamu...? Siapa? Katakan!"

"Ibuku!"

"Nak, akulah ibumu yang sesungguhnya..." Siau Hui un segera menjerit keras.

"Apa?"

Jerit tertahan dari Ong Bun kim keras dan nyaring, tubuhnya ikut mundur lima enam langkah dengan ketakutan, ucapan tersebut hakekatnya merupakan guntur yang membelah bumi di tengah hari bolong, dengan kerasnya menghempaskan semua pikiran dan perasaan hatinya ke tanah. Sepasang matanya dipentangkan lebar lebar, pemuda itu masih sangsi apakah ucapan tersebut betul-betul telah didengar olehnya.

"Kau... kau... apa yang kau katakan?" tiba tiba bisiknya dengan suara gemetar.

"Nak, aku adalah ibu kandungmu, ibumu yang sesungguhnya!" jawab Siau Hui un lagi sepatah demi sepatah kata.

Kali ini Ong Bun kim benar-benar berdiri terkesiap, ia berdiri seperti sebuah patung dan tak mampu bergerak.

Hakekatnya peristiwa itu merupakan suatu kejadian di luar dugaan yang membuatnya tidak habis mengerti dan bingung, mungkinkah dia mempunyai dua orang ibu? Tidak! Tidak! Jelas hal ini tidak mungkin, tak nanti di dunia ini terdapat peristiwa semacam ini.

Ong Bun-kim berdiri seperti orang bodoh, kejadian yang dihadapinya secara tiba-tiba ini sungguh membuat hatinya amat kaget dan terkesiap.

"Nak, aku tidak menyangka kalau kau masih hidup di dunia ini" keluh Siau Hui un dengan suara yang memilukan hati, "kau mengapa kau tidak mengakui diriku sebagai ibumu?"

Berkata sampai di situ, tidak tahan lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu semakin kebingungan lagi, ia merasa seakan-akan berada di atas awang awang, yaa ampun! Sesungguhnya apa yang telah terjadi? Lagi-lagi ada seorang perempuan mengaku sebagai ibu kandungnya dan perempuan itu ternyata adalah Siau Hui un, salah seorang isteri ayahnya. Bila diperhatikan dari mimik wajahnya, tidak terlihat sikap kepura-puraannya, tapi bagaimana dengan Coa Siok eh? Apakah dia itu cuma mengaku-ngaku saja? Atau Siau Hui un yang mengaku-ngaku?

Pemuda itu merasa bingung dan tidak habis mengerti, ia sungguh-sungguh tidak tahu apa yang musti dilakukan.

"Nak, kenapa .... kenapa kau?" akhirnya Siau Hui un menegur. "Aku... aku ... "

"Kau curiga bahwa aku bukan ibu kandungmu?" tanya perempuan she Siau itu tiba-tiba.

Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Heeehhh . . . heeehhh . . . heeehhh . . . pintar juga kau, benar, aku memang mencurigai dirimu!" katanya.

"Bukan cuma kau yang mencurigai diriku, aku sendiri juga curiga kepadamu..."

"Kenapa?" tanya Ong Bun kim malah tertegun.

"Setelah anakku dilarikan Kui jin suseng, sudah pasti Kui jin suseng tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja..."

"Tapi Kui jin Suseng telah melepaskan diriku..." "Apakah dalam tubuhmu terdapat sebuah Liong bei?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, kini ada dua orang perempuan yang menanyakan Liong bei (lencaua naga) miliknya, hal ini membuat duduknya persoalan makin membingungkan hati.

Akhirnya ia mengambil ke luar Liong bei tersebut seraya bertanya:

"Bukankah benda ini adalah Liong bei?" Melihat itu, tiba tiba Siau Hui un berteriak keras: "Kau benar benar adalah ..adalah puteraku..."

Dengan begitu emosi dan pergolakan perasaan yang meluap-luap ia merentangkan sepasang tangan nya untuk memeluk Ong Bun kim..seakan-akan seorang ibu yang sudah lama merindukan putranya dan tiba-tiba menemukan kembali putra yang dicintainya itu . . . tidak tahan dia ingin memeluk dan menciumnya.

Sesungguhnya luapan perasaan seorang ibu terhadap putranya adalah suatu luapan emosi yang wajar dan seringkali bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.

Ong Bun kim berdiri bodoh dan tak sanggup melakukan sesuatu apapun.

Ia membiarkan Siau Hui un memeluk tubuhnya, membiarkan perempuan itu menangis terisak dan membiarkan air matanya jatuh bercucuran membasahi bajunya... sementara ia sendiri, tenggelam dalam alam kebingungan yang amat sangat.

Benar, sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Sebetulnya siapakah yang merupakan ibu kandungnya?

Siau Hui un kah? Atau Coa Siok oh?

Dari dulu hingga sekarang, rasanya belum pernah terjadi peristiwa semacam ini dalam dunia persilatan.

Lama lama sekali, akhirnya Siau Hui un mendorong tubuh Ong Bun kim seraya berkata:

"Nak, kau telah dewasa .... limabelas tahun sudah kita tak pernah berjumpa muka... sungguh tak kusangka kau masih hidup. . ." Isak tangisnya sungguh amat memilukan hati, membuat orang yang melihatnya ikut terharu dan tercekam oleh perasaan sedih.

Ong Bun kim segera tersadar kembali dari alam kebingungannya, katanya dengan cepat:

"Kau bilang apa? Kau. . . kau adalah... ibu kandungku?" "Apakah kau anggap aku sedang berbohong? Kau

anggap aku hanya mengaku-ngaku saja?"

"Tapi, bagaimana dengan Coa Siok oh?" "Dia adalah bibimu!"

"Tapi, ia mengatakan bahwa dia adalah iba kandungku, mana mungkin ada seorang bibi yang mengaku sebagai ibu?"

"Apa kau bilang? Jadi... jadi... kau telah berjumpa dengan Coa Siok oh?"

"Benar!"

"Huuuh...! Tak tahu malu, padahal ia mandul, ia tak bisa mempunyai anak, mana mungkin dia bisa menjadi ibumu? Akulah yang benar, akulah ibu kandungmu."

"Tahukah engkau, sesaat sebelum ayahku dibunuh oleh Kui jin suseng, ia telah dicelakai dulu oleh seseorang?"

"Oooh... benarkah begitu? Kalau memang demikian, sudah pasti dialah yang melakukan perbuatan terkutuk itu !"

"Kau maksudkan Coa Siok oh?"

"Benar, dia adalah putrinya Mo kui kiam jiu (jago pedang setan iblis), tentunya kau tahu bukan ketika Mo kui kiam jiu menjodohkan putrinya kepada ayahmu, peristiwa ini disertai juga dengan suatu maksud tujuan tertentu?" "Aku tahu !"

"Kalau demikian adanya, pastilah dia kuatir dibunuh olehmu, maka diakuinya kau sebagai anaknya !"

Tentu saja ucapan tersebut bukannya tidak masuk di akal, tapi bagaimanakah duduk persoalan yang sesungguhnya, hal ini masih harus diselidiki dan dibuktikan kebenarannya lebih dahulu.

Pemuda itu hanya bisa mengambil kesimpulan ketika itu, yakni barang siapa bukan ibunya, berarti orang itulah pembunuh yang telah mencelakai jiwa ayahnya.

Maka dia bertanya kembali:

"Bagaimanakah keadaannya sewaktu ayahku terbunuh waktu itu?"

"Hari itu ayahmu pergi karena ada urusan, tak lama kemudian muncul Tay khek Cinkun yang mewartakan bahwa ayahmu terbunuh oleh Kui jin Suseng, maka aku memburu keluar. Tapi pada saat itulah Kui jin Suseng telah memburu sampai di depan pintu, ia bertarung melawanku di mana akhirnya aku terhajar hingga terluka, ketika aku sadar kembali dari pingsan dan memburu masuk, ke dalam rumah, kutemukan baik Coa Siok oh maupun dirimu telah lenyap tak berbekas !"

Ternyata apa yang dia katakan persis seperti apa yang diucapkan oleh Coa Siok oh tempo hari.

Kejadian ini semakin membingungkan Ong Bun kim, semakin mengacaukan pikiran maupun perasaan hatinya.

Sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Lama, lama sekali, akhirnya dia bertanya lagi:

"Tahukah kau bahwa ayahku masih mempunyai seorang kekasih lagi?" "Yaa, ia pernah memberitahukan soal itu kepada kami, tapi siapakah perempuan itu? Kami tidak tahu!"

Ong Bun kim merasakan suatu penderitaan yang tiada taranya, sebab ada dua orang perempuan yang mengaku sebagai ibunya, sedang apa yang diceritakan kedua orang perempuan itu ternyata sama dan tak ada bedanya, ini membuat sulit baginya untuk menentukan siapa yang asli dan siapa yang gadungan ....

Tentu saja tidak mungkin ia mempunyai dua orang ibu kandung.

Atau dengan perkataan lain, salah seorang diantaranya pasti cuma mengaku-ngaku belaka... tapi ia tidak mengerti apa tujuan perempuan tersebut dengan perbuatan mengaku- ngakunya itu?

Berpikir sampai di sini, tidak tahan lagi dia lantas membentak:

"Sebetulnya siapakah diatara kalian berdua yang benar- benar adalah ibu kandungku?"

"Nak, kau... kau... mengapa kau tidak mau percaya dengan perkataanku?" pekik Siau Hui un dengan suara memilukan hati.

"Bukannya aku tidak mau percaya kepadamu, tapi Coa Siok oh juga mengatakan bahwa dia adalah ibuku, aku menjadi sangsi, siapakah sesungguhnya diantara kalian berdua yang merupakan ibu kandungku?" ucap Ong Bun kim dengan perasaan yang amat sedih.

"Lantas saat ini dia berada di mana?" "Mau apa kau?"

"Mencarinya untuk membuktikan suatu persoalan." Ong Bun kim berpikir sejenak, ia merasa ada benarnya juga usul tersebut, sebab asal Coa Siok oh berhasil dijumpai, lantas kedua orang itu ditemukan satu sama lainnya, bukankah secara otomatis persoalannya akan menjadi jelas sendiri?"

Berakhir sampai di situ, tak tahan lagi dia lantas bertanya:

"Kau hendak menjumpai Coa Siok oh?" "Benar!"

"Kau bersedia pergi menjumpainya bersama-samaku?" "Benar!"

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita berangkat bersama!" kata Ong Bun kim ketus. "Ia tinggal di mana?"

"Soal ini lebih baik tak usah kau campuri!" "Lantas kapan kita akan berangkat?" "Sekarang juga!"

"Boleh saja, aku lebih suka kalau persoalan ini dapat diselesaikan secepatnya!"

"Bagus sekali, kalau begitu mari kita berangkat!"

Siau Hui un manggut-manggut, bersama Ong Bun kim ia ke luar dari ruangan dan menuju ke ruangan paling depan, setelah menyerahkan semua tugas sehari-hari tentang masalah lembah kepada wakil Kokcunya Ton Wan tin, bersama si anak muda itu berangkatlah dia meninggalkan lemah Sin likok ....

Bila ditinjau dari kesungguhan hati Siau Hui-un untuk membuktikan kebenaran dari kemelut tersebut, tampaknya ia memang tidak mirip sebagai orang yang cuma mengaku- ngaku belaka, lantas bagaimanakah perkembangan selanjutnya mengenai peristiwa ini? Apakah dia adalah ibunya?

Mungkin Coa Siok oh bukan ibu kandungnya, melainkan hanya mengaku ngaku belaka?

Lantas apa maksud dan tujuan dari salah seorang diantara kedua orang perempuan itu mengaku-ngaku sebagai ibu kandungnya?

Yah, persoalan ini memang cukup di luar dugaan dan membuat orang tidak habis mengerti, membuat orang tak tahu apa yang musti dilakukan untuk mengatasi kemelut tersebut.

Dengan langkah yang sangat cepat kedua orang itu berangkat menuju ke bukit Hau tau san, di tengah jalan Ong Bun kim kembali bertanya:

"Selama kau, Coa Siok oh dan ayahku bertiga tinggal dalam lembah Lip jin kok, apakah selain kalian masih ada pelayan lain?"

"Tidak ada!"

"Jadi kalau begitu hanya kalian bertiga saja yang mengetahui tentang peristiwa ini?"

"Benar!"

"Kejadian ini terasa amat sulit untuk dilakukan pemeriksaan serta penyelidikan, seandainya waktu itu mereka mempunyai pembantu rumah tangga atau dayang, maka mungkin saja kecuali tiga orang yang bersangkutan masih ada orang keempat yang mengetahui tentang persoalan itu."

Suatu hari sampailah mereka di atas bukit Hau tau san.

Bukit itu tidak terlampau tinggi, tapi bentuk nya mirip dengan sebuah kepala harimau, puncak Hu hau hong (puncak harimau mendekam) letak nya berada disebelah selatan bukit Hau tau san.

-ooo00dw00ooo-

BAB 15

DALAM waktu singkat sampailah kedua orang itu di bawah puncak Hu hau hong, kepada Ong Bun kim, Siau Hui un segera bertanya:

"Apakah Coa Siok oh berdiam di sini?" "Benar!"

"Mungkin kau dibohongi olehnya?"

"Aku rasa tidak, sebab jika ia membohongi diriku, hal ini membuktikan bahwa dia bukan ibuku."

Sesaat kemudian tibanya mereka berdua di bawah puncak bukit itu, dengan mata yang tajam mereka celingukan kesana ke mari, akhir nya di atas puncak Hu hau-hong ditemukan sebuah rumah kayu kecil.

"Benar, ia memang berdiam di sini, coba lihat! Di sana terdapat sebuah rumah kayu kecil!" seru Ong Bun-kim dengan perasaan bergetar keras.

Dengan gerakan cepat ia melayang ke muka dan dalam beberapa kali lompatan saja sudah tiba di depan pintu.

Menyusul kemudian Siau Hui - un juga sampai di muka pintu.

Pintu rumah kayu itu tertutup rapat, Ong Bun-kim merasakan hatinya bergolak keras, dengan perasaan berdebar ia maju dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang dari dalam ruangan, dan pintupun dibuka orang.

Ong Ban-kim segara mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang membukakan pintu, adalah dara berbaju kuning yang pernah dihajarnya sampai terluka itu.

Paras muka si nona berbaju kuning itupun berubah hebat setelah bertemu dengan Ong Bun kim, serunya tertahan:

"Oooh rupanya kau!"

"Benar, aku yang telah datang!"

"Ada urusan apa kau datang ke mari?" "Mencari gurumu!"

"Mau apa?"

"Soal ini tak usah kau campuri, pokoknya undang saja gurumu agar ke luar menjumpai diriku!"

"Tapi guruku sedang pergi dan belum pulang!" kata nona berbaju kuning itu cepat.

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat: "Apa? Dia tak berada di rumah?"

"Betul, sudah dua hari guruku pergi keluar, sampai sekarang beliau belum lagi pulang ke rumah"

"Hey, pengakuanmu itu sungguh-sungguh ataukah cuma berbohong?" tegur Ong Bun-kim lagi ketus.

"Tentu saja sungguhan, masa aku musti membohongi dirimu, dan lagi akupun tidak mempunyai keharusan untuk berbohong!"

Sekali lagi paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, katanya dengan ketus: "Sebelum aku masuk ke dalam rumah untuk melakukan pemeriksaan sendiri, aku masih belum dapat mempercayai perkataan dari nona!"

Seraya berkata, dia lantas maju ke muka dan bermaksud masuk ke dalam rumah.

"Hey, mau apa kau...?" bentak si nona berbaju kuning itu dengan paras muka berubah.

Sekali menjejakkan kakinya ke atas tanah, dengan kecepatan luar biasa tubuhnya meluncur ke depan dan menghadang di depan pintu rumahnya.

Merasakan jalan perginya terhadang dengan kening berkerut Ong Bun-kim menghentikan langkah majunya lalu melirik sekejap wajah si nona dengan tatapan dingin.

"Hmmm .... mau apalagi?" jengeknya sinis, "tentu saja akan menggeledah rumahmu!"

"Kau berani?"

"Kenapa tidak berani ? Hayo cepat menyingkir!"

Paras muka si nona berbaju kuning itu berubah hebat, ia segera menggetarkan seruling peraknya sambil membentak:

"Silahkan mencoba, hmm! Jangan mimpi bisa menerobos masuk ke dalam rumah dengan begitu saja!"

"Bangsat, kau pingin mampus?" bentak Ong Bun kim sangat marah.

Diiringi bentakan nyaring, tubuhnya menerjang maju ke muka, tangan kirinya diayunkan dan sebuah pukulan maha dahsyat ditepiskan dalam keadaan marah menggulung ke depan.

Ketika dilihatnya Ong Bun kim melepaskan serangan, dengan gerakan cepat nona beibaju kuning itu memutar seruling peraknya, diantara kilatan cahaya yang berkilauan dia serang raut wajah Ong Bun kim.

Si anak muda itu membentak keras, harpa besi di tangan kanannya segera disodokkan ke muka, kemudian telapak tangan kirinya berputar dan secara beruntun melancarkan dua buah serangan berantai, ini menyebabkan si nona berbaju kuning itu terdesak hebat dan mundur berulang kali ke belakang.

Dalam pada itu, Ong Bun kim sudah menyerbu masuk ke dalam ruangan rumah kecil itu.

Mendadak... pada saat Ong Bun kim sedang melancarkan serangan secara bertubi-tubi, dari luar pintu berkumandang suara bentakan nyaring:

"Sahabat dari manakah yang telah menerbitkan keonaran di bawah puncak Hu hau hong "

Belum habis teriakan itu, si nona berbaju kuning telah berteriak kegirangan.

"Suhuku telah pulang!"

Mendengar itu, Oag Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia berpaling, maka tampaklah sesosok bayangan manusia secepat terbang sedang melayang naik ke puncak dari bawah tebing Huhau hong tersebut.

Dalam sekejap mata, bayangan manusia itu sudah tiba di depan pintu. Tak salah lagi, orang itu adalah Coa Siok-oh yang sedang mereka cari-cari jejaknya.

Ong Bun - kim merasakan perasaannya bergolak keras, dengan perasaan minta maaf dia lirik sekejap si nona berbaju kuning itu, kemudian putar badan dan berjalan ke luar. Sementara itu, Coa Siok-oh merasakan hatinya bergetar keras ketika sinar matanya saling membentur dengan sorot mata Siau Hui un, paras mukanya kontan berubah, hardiknya:

"Ooooh. rupanya kau!"

"Betul, memang aku yang telah datang ke mari!" Coa Siok oh segera tertawa dingin.

"Hehhh... heehh... heehh... sungguh tak kusangka limabelas tahun tak bersua, kau tampak lebih muda dan lebih gagah!"

"Aku lihat kaupun bertambah muda dan gagah!" ejek Siau Hui un pula dengan sinis.

Dua orang istri Su-hay-bong kek (manusia latah dari empat semudra) Coa Siok-oh dan Siau Hui un akhirnya

bertemu lagi untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun berpisah.

Kedua orang perempuan itu sama-sama mengaku sebagai ibu kandung Ong Bun-kim, entah bagaimana akhir dari perkembangan tragedi ini?

Tampaklah raut wajah kelua orang itu sama-sama diliputi oleh hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Tiba-tiba Coa Siok-oh mendengar suara langkah manusia menghampirinya, dengan cepat dia berpaling, tapi begitu mengetahui kalau Ong Bun-kim juga berada di situ, paras mukanya kontan berubah, teriaknya tertahan:

"Nak, kaupun berada di sini?"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... betul, akupun ikut datang ke mari. " jawab pemuda itu sambil tertawa dingin.

"Kau datang bersama Siau Hui-un?" "Betul!"

Dalam sekejap mata, paras muka Coa Siok oh mengalami pelbagai perubahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata... perubahan itu yaa bimbang yaa tertegun juga kaget dan tercekat...

Ong Bun kim tertawa dingin, kembali katanya: "Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh . . kau bilang kau

adalah ibu kandungku?"

"Nak, apakah kau tidak percaya?"

"Betul, aku tidak percaya, sebelum duduknya persoalan menjadi jelas aku tak berani mengakui dirimu sebagai ibuku..."

Sementara itu, Siau Hui un yang berada di sisinya segera mengejek dengan suara dingin:

"Coa Siok oh, apakah kau yang melahirkan Ong Bun kim?"

"Apanya yang tidak benar?" "Huuuh... tidak tahu malu!" "Apa..? Kau... kau bilang apa?"

"Aku bilang kau adalah perempuan yang tak tahu malu!"

.

Paras muka Coa Siok oh kontan berubah hebat,

bentaknya:

"Kau mengatakan Ong Bun kim dilahirkan oleh siapa?" "Aku!" jawab Siau Hui un ketus.

"Apa...? Kau yang melahirkan Ong Bun kim?" "Betul!" Gemetar keras sekujur badan Coa Siok oh karena gusar, segera bentaknya keras keras:

"Perempuan tak tahu malu!"

Kali ini paras muka Siau Hui un yang berubah hebat, segera bentaknya pula:

"Kau bilang apa?"

"Kau adalah perempuan yang tak tahu malu, akulah yang melahirkan Ong Bun kim!"

Kedua orang perempuan itu sama-sama bersikeras mengatakan bahwa Ong Bun kim mereka yang lahirkan, kalau ditinjau dari mimik wajah mereka, tampaknya mereka bersungguh-sungguh dan tidak bohong.

Sekali lagi paras muka Ong Bun kim berubah hebat. "Sesungguhnya siapa yang telah melahirkan aku?"

bentaknya.

"Aku!"

"Aku!"

Dua orang perempuan itu serentak menyahut dengan suara lantang.

Ong Bun kim menjadi tertegun, lalu dengan penuh kegusaran bentaknya keras keras: "Sebetulnya siapa?"

"Aku!" sekali lagi kedua orang perempuan itu menyahut hampir bersamaan waktunya.

Belum pernah Ong Bun kim menjumpai ke jadian seaneh ini, ia benar-benar berdiri tertegun dan tak mampu berbuat apa-apa.

"Coa Siok oh!" Dengan suara lantang Siau Hui un membentak, "lebih baik jangan menempelkan emas di atas wajahmu sendiri, Huuuh...! Kau kawin dengan Ong See liat karena kau hendak mencelakai jiwa Ong See liat, dan sekarang kau takut dibunuh oleh Ong Bun kim, maka kau tidak berani mengakuinya, bukankah begitu?"

"Kaulah pembunuh sesungguhnya yang telah mencelakai jiwa Ong See liat...!" bentak Coa Siok oh.

"Wahai Coa Siok oh, setelah kau mempunyai keberanian untuk membunuh, kenapa tidak mempunyai keberanian untuk mengaku?"

"Kau. "

Tampaknya Coa Siok oh sudah tak dapat mengendalikan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, sambil membentak keras tiba-tiba ia menerkam ke arah Siau Hui un, seruling peraknya diputar sedemikian rupa melancarkan sebuah serangan yang maha dahsyat.

"Perempuan berhati busuk bagaikan ular berbisa, kau terlalu kejam dan jahat, kubunuh dirimu!"

Cahaya berkilauan menyambar lewat, tahu-tahu ujung seruling perak itu sudah tiba di depan dada Siau Hui un.

Karena diserang, dengan suatu lejitan cepat Siau Hui un menyingkir ke samping, kemudian sambil mengayunkan telapak tangan kanannya ia membentak keras.

"Bangsat, kau berani bermain kasar denganku? Baik, kubunuh kau perempuan rendah yang tak tahu malu."

Di tengah bentakan keras, telapak tangannya segera didorong ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dua orang itu sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa, lagi pula serangan itu sangat dahsyat dengan jurus-jurus pukulan yang buas dan mematikan, seakan-akan kedua belah pihak sama-sama bertekad untuk membinasakan musuhnya di ujung telapak tangan mereka sehingga rasa benci dan dendam dajam hatinya bisa terlampiaskan.

Ong Bun kim semakin sakit hatinya menyaksikan pertarungan antara kedua orang perempuan itu, betapapun jua, salah seorang di antara mereka pastilah ibu kandungnya.

Dalam dugaannya semula, ia mengira asal Coa Siok oh dan Siau Hui un bisa saling berjumpa maka urusan akan segera menjadi beres, tapi kenyataannya sekarang bukan penyelesaian yang dijumpai, sebaliknya duduknya persoalan malah semakin bertambah kalut.

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke tengah gelanggang, tampak olehnya bahwa pertarungan antara kedua orang perempuan itu masih berlangsung dengan serunya.

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, segera bentaknya:

"Tahan!"

Mengikuti suara bentakan tersebut, kedua orang perempuan itu sama-sama menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.

"Kalian berdua jangan berkelahi dihadapanku!" kata Ong Bun kim lagi dengan suara kasar.

"Nak, bunuh saja perempuan itu, dia adalah pembunuh ayahmu dialah yang telah mencelakai ayahmu!" bentak Siau Hui un.

"Bun kim, dia yang harus dibunuh!" teriak Coa Siok oh pula, "dialah yang telah mencelakai ayahmu, perempuan berhati keji itulah yang telah membunuh ayahmu dan menyusahkan kita!"

Hampir meledak batok kepala Ong Bun kim saking bingung dan sedihnya, terutama setelah mendengar teriakan teriakan itu, hatinya semakin pedih seperti disayat-sayat dengan pisau.

Sementara itu Coa Siok oh dan Siau Hui un masih saling berhadapan bagaikan dua ekor ayam jago yang siap bertempur, mereka berdiri saling melotot dengan penuh kegusaran, tampaknya suatu pertempuran berdarah segera bakal terjadi.

Tiba-tiba Ong Bun kim tertawa dingin, kemudian katanya:

"Sudah. kalian tak perlu ribut dulu, untuk sementara waktu kuputuskan bahwa kalian berdua adalah ibuku!"

"Tidak!" teriak Coa Siok oh, "akulah ibu kandungmu yang sesungguhnya, akulah yang telah melahirkan dirimu!"

"Bukan, dia bukan ibumu" balas Siau Hui un, "akulah ibumu yang sebenarnya... kau jangan sampai tertipu!"

Ong Bun kim menbungkam dalam seribu  basa ditatapnya kedua orang itu sekejap lalu otaknya berputar keras berusaha untuk menemukan jalan lain guna menanggulangi persoalan ini, dia harus berhasil menemukan suatu cara untuk membuktikan bahwa siapakah di antara kedua orang wanita itu adalah ibu kandungnya, dan siapa pula di antaranya yang merupakan musuh besar pembunuh ayahnya..."

Tiba-tiba Coa Siok oh bertanya dengan nada penuh emosi. "Nak, apakah kau tidak percaya kepadaku? Apakah kau tidak percaya bahwa aku adalah ibu kandungmu?"

Ucapan tersebut amat mengharukan hati, seakan-akan hatinya menjadi remuk redam karena pemuda itu tak mau percaya dengan perkataannya.

"Tidak, untuk sementara waktu aku tak dapat mempercayai perkataanmu, akupun tak bisa mengambil keputusan!" jawab Ong Bun-kim dengan suara ketus.

"Kau pasti bisa memutuskannya! pekik Coa Siok-oh dengan suara amat sedih.

Belum habis perkataannya itu, tiba-tiba dia mengayunkan seruling peraknya dan dihantamkan ke atas ubun-ubunnya, dengan kematian dia hendak menunjukkan bahwa dialah ibu kandung Ong Bun-kim.

Betapa terperanjatnya si anak muda itu, cepat tubuhnya berkelebat ke depan, ditangkisnya ayunan seruling perak itu dengan harpa besinya...

"Trang....!" bacokan maut dari Coa Siok-oh itu segera terhantam ke samping oleh tangkisan itu.

"Hey, mau apa kau?" bentak Ong Bun kim.

"Aku.... aku ingin mati saja!" jerit perempuan itu seperti orang kalap, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Tapi kematian tak dapat menyelesaikan masalah yang kau hadapi!" bentak pemuda itu lagi.

Siau Hui un yang berada di sampingnya tiba-tiba tertawa dingin, ejeknya dengan nada sinis:

"Jangan kuatir, dia tak akan mampus!" "Kenapa?" tanya Ong Bun kim sambil melirik sekejap ke arah Siau Hui un dengan tatapan tajam.

"Perempuan itu pandai bersandiwara, dia ingin menggunakan cara kematian untuk membuat kau percaya, padahal ia sama sekali tidak bermaksud untuk mati, seperti juga ketika ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan ayahmu..."

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, sebab perkataan itu cukup masuk di akal, kemungkinan demikian memang selalu ada.

Coa Siok-oh betul-betul marah, mendongkol bercampur penasaran, teriaknya keras-keras:

"Siau Hui un, kau..."

"Aku kenapa? Toh semua perkataanku adalah kata kata yang sejujurnya memangnya aku sengaja berbohong?"

Coa Siok oh membentak penuh kegusaran, sekarang ia sudah tidak tahan lagi, sambil membentak tubuhnya menerkam ke arah Siau Hui un secara ganas, seruling peraknya disertai desingan tajam melancarkan juga serangan serangan maut.

"Siau Hui un! Aku akan beradu jiwa dengan mu!" bentaknya.

Secepat kilat dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Serangan-serangan yang dilancarkan Coa Siok oh ini rata-rata ganas dan jurus serangannya keji, agaknya ia memang berniat untuk membinasakan Siau Hui un di ujung seruling peraknya.

Dengan cekatan Siau Hui un menghindarkan diri dari ketiga buah serangan maut tersebut, kemudian tubuhnya melejit dan menyerang ke depan secepat kilat, di antara ayunan pergelangan tangannya, secara beruntun diapun melancarkan tiga buah serangan balasan.

Untuk kedua kalinya dua orang perempuan itu terlibat dalam pertarungan sengit karena ingin memperebutkan anak.

"Tahan!" bentak Ong Bun kim.

Kali ini dia ikut menerjang ke muka, dengan jurus Feng hun ciu si (memisahkan adu keseimbangan) dia hadang di hadapan kedua orang perempuan itu, lalu sambil memancarkan sinar mata yang penuh disertai hawa napsu membunuh bentaknya:

"Jika kalian berani bertarung lagi, jangan salahkan kalau kamu berdua kubunuh semua!"

Ancaman itu diutarakan dengan penuh diliputi hawa pembunuhan yang menggidikkan hati, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi ngeri dan bergidik.

Baik Coa Siok oh maupun Siau Hui un yang mendengar seruan tersebut sama-sama mundur tiga empat langkah dengan badan merinding.

"Baiklah!" kata Ong Bun kim kemudian, "kata kan sekarang, sesungguhnya siapakah ibuku?"

"Aku!"

"Aku!"

"Omong kosong!" bentak Ong Bun kim kalap "jangan sampai menimbulkan kemarahanku tahu? Jangan salahkan kalau kubunuh kalian berdua bila keadaan berlarut terus menerus!" Kali ini, si anak muda itupun sudah diliputi kegusaran yang memuncak, pancaran hawa amarah nya membuat siapapun akan bergidik.

"Coa Siok oh, benarkah kau tidak mau mengaku?" tiba tiba Siau Hui un mengancam dengan suara dingin.

"Mengaku apa?"

"Mengaku kau sebagai pembunuh Ong See liat? Hm... baik, kalau kau tidak mau mengaku juga tidak mengapa..."

"Mau apa kau?"

Siau Hui un tertawa dingin.

"Heeehhh.. heeehhh... heeehh... kalau memang begitu, jangan kau salahkan bila aku tidak mengingat lagi kebaikan kita di masa lalu dengan membongkar semua rahasiamu secara umum!"

"Aaaah..!" Coa Siok oh menjerit kaget.

Sebaliknya Ong Bun kim dengan sinar mata yang diliputi hawa napsu membunuh menatap wajah Coa Siok oh tanpa berkedip...

Hakekatnya ucapan dari Siau Hui un tersebut sangat menggetarkan perasaan Ong Bun kim, sebab ia mulai berpikir, rahasia apakah yang dimiliki Coa Siok oh sehingga tidak boleh diketahui oleh orang lain?

Sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari atas wajah Coa Siok oh ke atas wajah Siau Hui-in, kemudian katanya dengan dingin: "Katakan ! Rahasia apakah yang dia miliki sehingga tidak boleh diketahui orang lain!"

Siau Hui-un tidak segera menjawab, sebalik nya kembali mengancam dengan ketus:

"Bagaimana Coa Siok oh? Mau bicara atau tidak?" -ooo00dw00ooo-

BAB 16

PERASAAN ngeri dan takut sempat menyelinap diantara perubahan mimik wajah Coa Siok-oh, seolah termenung sejenak akhirnya ia berkata.

"Rahasia apakah yang telah kumiliki? Kenapa tidak diuarkan sekarang juga ? Hmm... aku ingin tahu permainan busuk apakah yang hendak kau perlihatkan dihadapanku."

"Oooh... jadi kalau begitu kau tak mau mengaku? Kau hendak paksa aku untuk menguarkan rahasia tersebut ?" ancam Siau Hui-un dengan wajah makin sinis.

-oo0dw0oo-