Setan Harpa Jilid 04

 
Jilid 04

PERTARUNGAN sengitpun kembali berkobar, kedua belah pihak sama-sama menggunakan kecepatan yang paling tinggi untuk merobohkan lawannya.

Diantara bayangan manusia yang saling menyambar, kedua belah pihak masing-masing telah melepaskan dua buah serangan berantai, oleh desakan tersebut tubuh Ong Bun kim secara beruntun terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.

Tiba-tiba segulung tenaga pukulan yang sangat kuat menggulung ke arah tubuhnya.

Ong Bun kim menangkis dengan tangan kirinya, tapi serangan pi pa besi dari Bunga iblis dari neraka telah menggulung lagi dengan gencarnya.

Dalam keadaan demikian, hilanglah posisi baik bagi Ong Bun kim untuk mempertahankan diri, jangankan mendesak musuhnya, untuk menghindarkan diri pun sudah tak sempat.

Terpaksa ia harus mengertak giginya sambil melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Traaaang . !" dalam benturan yang sangat keras itu, harpa besi dalam genggaman Ong Bun-kim terlepas dari cekatannya.

Tak terkira rasa kagetnya menghadapi kejadian tersebut, sebelum ingatan kedua melintas dalam benaknya, tubuh si Bunga iblis dari neraka telah menggulung datang dengan cepatnya.

Musnahlah semua kesempatan Ong Bun kim untuk menghindarkan diri dari terkaman itu, ia menjadi nekad, tiba-tiba sepasang tangannya di-rentangkan lebar-lebar lalu dipeluknya Bunga iblis dari neraka kencang-kencang.

Sudah barang tentu Bunga iblis dari neraka tak akan menyangka kalau musuhnya akan mempergunakan gaya "bebas" untuk menerkamnya, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan gelagapan sendiri.

Tak ampun lagi badannya segera dipeluk Ong Bun kim erat-erat.

Kontan Bunga iblis dari neraka menjerit kaget sekeras- kerasnya... Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan ini betul-betul membuat Bunga iblis dari neraka mati kutunya, di dalam pelukan Ong Bun kim yang begitu erat dan hangat, ia tak berani berkutik barang sedikitpun juga.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba tiba Bunga iblis dari neraka membentak keras:

"Hei, sebetulnya kau bersedia lepas tangan tidak."

Ong Bun kim tertegun. "Kee... kenapa aku musti lepas tangan?" bantahnya.

"Tapi .... tapi. tidak seharusnya kau memeluk tubuhku

terus menerus." seru si nona dengan mendongkol.

Sesungguhnya Ong Bun kim adalah seorang pemuda terpelajar yang mengetahui akan sopan santun, diapun tahu antara pria dan wanita sebetulnya terpisah oleh batas batas tertentu.

Tapi iapun segeta berpikir lain, andaikata eadis itu dilepaskan dengan begini saja, bukankah tindakan tersebut ibaratnya melepaskan harimau pulang ke gunung? Sebentar lagi. pasti akan terjatuh pula dalam cengkeramannya.

Maka sesudah termangu sejenak, diapun berkata: "Kenapa aku tak boleh memelukmu?"

"Kau . . ." keadaan si Bunga iblis dari neraka sekarang yaa kheki yaa cemas, untuk sesaat lamanya ia tak mampu berkata apa-apa.

Lama, lama kemudian barulah ia membentak: "Kau... kau... belum juga mau melepaskan aku?"

Tiba-tiba Ong Bun kim seperti telah menyadari sesuatu, jari telunjuk tangan kanannya segera disodokkan ke muka.

Bunga iblis dari neraka hanya merasakan sekujur badannya menjadi kesemutan lalu kaku dan tak dapat berkutik lagi, ternyata Ong Bun kim telah menotok jalan darahnya.

Sesudah gadis itu tak bisa berkutik lagi, Ong Bun kim baru melepaskan pelukannya dan menghembuskan napas panjang, pelan-pelan dia maju ke depan dan memungut harpa besinya yang tergeletak di tanah.

Berbicara sebenarnya, kedudukan dari Tee ih mo hoa tadi sudah berada di atas angin, bahkan kemenangan telah berada di tangannya, siapa yang mengira kalau sebuah pelukan yang hangat dari lawannya telah membuatnya dari kedudukan yang unggul menjadi pihak yang kalah.

Sesudah jalan darahnya tertotok, nona itu betul betul tak dapat berkutik, saking jengkel dan mendongkolnya ia hanya bisa melototkan sepasang matanya bisar besar, tak sepotong kata-pun bisa diucapkan.

Sementara itu Ong Bun kim telah kembali ke tengah gelanggang, diliriknya gadis yang bernama Bunga iblis dari neraka itu sekejap, ketika terbayang kembali pelukan hangat yang baru dilakukannya, tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh di hatinya.

Perasaan itu sangat sensitif dan aneh sekali, bahkan dia sendiripun tak dapat menerangkan perasaan yang bagaimanakah itu?

Berbicara sejujurnya, Bunga iblis dari neraka adalah seorang gadis cantik jelita yang sangat mempesonakan hati orang bahkan sekalipun Yo kui hui atau See si pada jaman dahulu lahir kembali, belum tentu kecantikan mereka bisa menandingi keayuan gadis ini.

Ketika merasakan dirinya diperhatikan, dengan gemas bercampur mendongkol Bunga iblis dari neraka berseru:

"Kenapa tidak kau bebaskan jalan darahku yang tertotok?"

"Kenapa harus kubebaskan jalan darahmu? Bukankah kau hendak membinasakan diriku?"

"Kau... kau..." saking mendongkolnya gadis itu tak mampu melanjutkan kata-katanya, malah ia berdiri dengan tubuh yang gemetar keras.

Ong Bun kim segera tertawa.

"Nona, terus terang kuakui bahwa wajah nona diwaktu marah jauh lebih cantik dan menarik dari pada diwaktu- waktu biasa." godanya.

Ong Bun-kim adalah seorang pria yang sombong angkuh dan ketus, tapi dalam keadaan seperti ini ternyata ia tidak lupa untuk menggunakan ke-angkuhan serta keketusannya untuk mempermainkan seorang gadis yang sudah tak berkutik.

Bunga iblis dari neraka marah sekali dampratnya. "Iblis keji yang tak punya perasaan, lihat saja nanti! Aku tak akan mengampuni dirimu!"

Ong Bun-kim menengadah dan tertawa seram.

"Haahhh haahhh haahhh jangan lupa bahwa kau telah terjatuh ke dalam cengkeraman-ku," ejeknya.

"Kalau kau memang jagoan, kalau kau memang betul- betul bernyali dan berilmu tinggi, hayo bunuhlah aku!"

"Tidak, aku enggan membunuhmu. "

"Lantas, apa yang hendak kau lakukan?"

"Tak banyak! Aku hanya berharap agar kau bersedia memenuhi tiga buah syaratku."

"Apa syaratmu itu?"

"Pertama, kau tak boleh berkelahi lagi denganku. "

"Kedua?"

"Untuk sementara waktu syarat kedua dan ke tiga belum berhasil kutemukan, maka harus kau tunggu sampai  saatnya kutagih hutang ini darimu, tentu saja bila kau tak menyanggupinya, akupun tak akan melepaskan dirimu!"

Bunga iblis dari neraka menggigit bibirnya menahan diri, akhirnya ia berkata.

"Baik, kukabulkan permintaanmu itu!" "Tak akan menyesal?"

"Pasti tidak!"

Memang sangat hebat tindakan dari Ong Bun-kim ini, dengan dikabulkannya syarat itu oleh si Bunga iblis dari neraka, sama pula artinya dengan ia menyerah seratus persen terhadap Ong Bun-kim, selamanya jangan harap bisa membalas dendam lagi. Sekulum senyuman penuh kemenangan ter-sungging di ujung bibir Ong Bun-kim, pelan-pelan ia menghampiri tubuh Bunga iblis dari neraka serta membebaskan totokannya.

Biru saja jalan darah itu dibebaskan... "Plok." tiba-tiba sebuah tamparan yang amat nyaring telah bersarang di pipi kiri si anak muda itu, Ong Bun-kim sangat terkejut dan melompat mundur sambil memegangi pipi kirinya yang panas lagi pedas.

Ternyata dengan suatu gerakan secepat kilat Bunga iblis dari neraka telah menghadiahkan sebuah tempelengan untuk pemuda itu.

"Kau....kau...." anak muda itu hanya bisa mengucapkan sepatah kata saja dengan mata terbelalak, secara beruntun ia telah mundur sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula.

"Kenapa dengan aku?" ejek nona itu.

"Kenapa......kenapa kau menyesal?" teriak pemuda itu dengan perasaan penasaran.

"Siapa bilang aku menyesal? Aku toh setuju untuk tidak berkelahi denganmu? Kapan aku pernah berjanji kalau tak boleh menempeleng dirimu? Kapan. ? Hayo jawab!"

"Ploook !" tempelengan kedua kembali dilancarkan.!

Ong Bun-kim dengan susah payah berusaha menghindarkan diri, sayang tempelengan itu terlalu cepat, sehingga untuk kedua kalinya ia kena ditampar pipi kanannya.

Dalam sekejap mata sepasang pipi Ong Bun-kim menjadi merah dan membengkak keras, ia menjadi kalap, tiba-tiba teriaknya: "Rupanya kau sudah bosan hidup."

Belum habis berkata, sebuah pukulan telah dilancarkan ke arah si nona cantik itu.

Cepat-cepat Bunga iblis dari neraka melejit ke tengah udara dan menghindarkan diri ke samping.

"Tahan....!" tiba-tiba perempuan setengah umur yang selama ini hanya membungkam membentak keras.

Ong Bun-kim menarik kembali serangannya sambil berpaling, ia saksikan nyonya setengah umur itu sedang memandang ke arahnya dengan wajah sedih dan murung.

Mimik wajah seperti itu amat mengenaskan, untuk sesaat Ong Bun-kim menjadi tertegun.

"Bee... benarkah kau bernama Ong Bun-kim?" tanya nyonya setengah umur itu kemudian dengan nada sedih.

"Aku rasa tiada kepentingan khusus bagiku untuk mencatut nama orang lain!"

"Bolehkah aku tahu berapa usiamu tahun ini?" "Ada apa kau tanya-tanya umurku?"

"Aku hendak membuktikan suatu persoalan, kau bersedia bukan untuk menyebutkan usiamu?"

"Delapan  belas   tahun!" "Haah. ? Delapanbelas tahun?"

Nyonya setengah umur itu menjerit tertahan lalu mukanya bertambah murung, bahkan sepasang matanya menjadi merah dan air mata mulai mengembang dalam kelopak matanya.

"Apakah dalam tubuhmu terdapat sebuah Liong-bei?" kembali ia bertanya lebih lanjut. Ketika mendengar pertanyaan itu, Ong Bun-kim segera merasakan hatinya bergetar keras, ia seakan-akan teringat akan sesuatu, mendadak teriaknya tertahan:

"Kau..."

"Aku..." air mata nyonya setengah umur itu mulai bercucuran membasahi pipinya.

Ong Bun kim betul-betul merasakan hatinya bergetar keras, seperti terkena aliran listrik bertegangan tinggi, ia tertegun dan untuk sesaat lamanya tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tak sulit baginya untuk menduga, perempuan setengah umur ini pastilah salah satu diantara Coa Siok-oh atau Siau Hui-un, yakni dua orang wanita yang kemungkinan besar adalah ibu kandungnya.

Dengan suara agak gemetar Ong Bun-kim bertanya: "Sii. siapakah kau?"

"Aku...aku adalah ibumu. "

Sekali lagi Ong Bun-kim berdiri gemetar seperti tekanan aliran listrik bertegangan tinggi, peristiwa ini sungguh berada di luar dugaannya, dan pertemuan yang tak terduga ini seolah-olah telah merubah semua garis hidupnya.

"Ooooh... anakku sayang.... tak kusangka. tak kusangka

kau masih hidup di dunia ini..." bisik nyonya setengah umur itu dengan suara gemetar.

Belum habis perkataan itu, ia sudah menangis terisak sejadi-jadinya. benarkah perempuan ini adalah ibunya?

Isak tangis yang begitu memedihkan hati bukankah ibarat jerit tangis dari seorang ibu yang tercinta?. Ong Bun-kim tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, diapun ikut berteriak: "Ibu. "

Ia lari ke depan dan menubruk ke dalam pelukan perempuan itu, bagaikan seorang pengembara yang sudah lama tak pernah berjumpa dengan sanak keluarganya.

Pemuda itu menangis, ia menangis tersedu-sedu karena gembira.

Iapun menangis karena sedih, seakan-akan ia hendak menceritakan semua suka duka yang di-alaminya selama limabelas tahun ini....

Ibu dan anak saling berpelukan sambil menangis, suasana benar-benar sangat mengharukan.

Tampaknya Bunga iblis dari neraka ikut terharu oleh adegan yang memilukan hati itu, diam-diam ia ikut mengucurkan air mata.

Lama, lama sekali, akhirnya nyonya setengah umur itu mendorong tubuh Ong Bun-kim dari pelukannya, lalu berkata:

"Biar kulihat dirimu...yaa limabelas tahun sudah lewat, aku...aku mengira kau sudah mati di tangan Kui-jin suseng....sungguh tak kusangka ibu....ibu masih bisa berjumpa lagi denganmu "

Berbicara sampai di situ, kembali perempuan setengah umur itu menangis tersedu-sedu.

Tapi tangisannya sekarang bukan tangisan kesedihan, tapi suatu luapan rasa gembira yang tak terkendalikan.

Diam-diam Ong Bun-kim berusaha pula untuk mengendalikan perasaan pedihnya, ia memanggil:

"Ibu. " "Ada apa anakku sayang?"

"Ibu, bolehkah aku menanyakan tentang satu persoalan kepadamu?" pinta Ong Bun-kim.

"Katakanlah!"

"Benarkah ayahku adalah si manusia latah dari empat samudra Ong See-liat?"

"Benar!"

"Apakah dia masih mempunyai seorang istri yang lain?" "Benar !"

"Oooh . . . ibu, bolehkah kau memberitahukan  kepadaku, siapa namamu ?"

Agaknya pertanyaan tersebut mencengangkan perempuan setengah umur itu, sesudah tertegun sesaat ia berkata:

"Apakah kau tidak tahu siapa namaku?"

"Betul, oooh ibu! Bukankah kau adalah Toan kiam giok jin (manusia cantik pedang kutung) Siau Hui un ?"

"Bukan, aku adalah Coa Siok oh!" "Apa?" jerit Ong Bun kim tertahan.

Kejadian ini benar benar berada di luar dugaannya, dengan perasaan tercekat ia mundur tiga empat langkah ke belakang.

"Jadi... jadi kau... kau adalah putrinya Mo kui kiam jiu?" bisiknya dengan nada gemetar.

"Benar !"

Untuk kedua kalinya Ong Bun kim berdiri tertegun. Mimpipun ia tak pernah menduga sampai ke situ... yaa, kejadian ini sungguh berada di luar dugaannya, sebab ibunya tak lain adalah putri dari Mo kui kiam jiu, si jago pedang setan iblis yang merupakan musuh bebuyutan ayahnya, bukankah dia juga yang telah mencelakai selembar nyawa ayahnya ?

Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti Coa Siok oh. mengawasi wajah Ong Bun kim yang berubah- ubah itu, lalu tanpa sadar ia menegur lirih :

"Nak, kenapa kau ?"

"Oooh . . . ibu, aku tidak apa-apa, aku .. ." pemuda itu menjadi gelagapan dan tak sanggup melanjutkan kata katanya.

"Apakah kau beranggapan bahwa aku pembunuh ayahmu ? Bukankah kau menduga demikian karena aku adalah putri dari Mo-kui kiam jui si jago pedang setan iblis?"

"Bee benar !"

"Nak, apakah kau masih belum tahu bahwa ayahmu telah tewas di tangan Kui jin suseng si sastrawan setan harpa?"

"Aku tahu, tapi akupun mengerti bahwa sebelum Kui-jin suseng melaksanakan pembunuhan tersebut, ada orang yang telah mencelakai ayahku lebih dahulu, sebab kalau tidak begitu, berdasarkan ilmu silat yang dimiliki Kui-jin suseng tak nanti bisa menandingi kelihayan dari ayahku!"

"Jadi maksudmu salah satu diantara kedua orang istrinya adalah komplotan pembunuh yang telah mencelakai ayahmu terlebih dahulu, kemudian baru mengundang kehadiran Kui-jin suseng untuk melakukan pembunuhan tersebut secara terang terangan?" "Benar!"

"Kalau begitu pasti perbuatan dia!" "Siapa? Siau Hui-un?"

" Benar!"

00OdwO00

BAB 11

Seandainya Coa Siok-oh adalah ibu kandung dari Ong Bun kim, maka orang yang mencelakai ayahnya dan membantu Kui jin suseng untuk membinasakan ayahnya adalah toan kiam giok jin (perempuan cantik pedang kutung) Siau Hui un.

Ong Bun kim pun berhasil pula membuktikan suatu persoalan lain, yakni kokcu dari lembah Sinli kok bukan lain adalah Siau Hui-in.

Paras mukanya kontan saja berubah hebat, dengan suara keras menahan geram, teriaknya:

"Oooh ibu, beritahu kepadaku, apakah perkawinanmu dengan ayahku lantaran mendapat perintah dari ayahmu? Bukankah tujuanmu adalah untuk membalas dendam?"

"Keadaan yang sesungguhnya pada saat itu memang begini!"

"Kemudian ?"

"Kemudian kubuktikan bahwa sesungguhnya aku telah jatuh cinta kepadanya, tentu saja aku tak tega untuk mencelakai ayahmu lagi secara diam diam."

Ong Bun kim menganggukkan kepalanya berulang kali, kembali ia bertanya: "Bagaimanakah watak ayahku?"

"Baik sekali... justru lantaran kubuktikan bahwa dia sangat baik, maka tanpa sadar aku-pun telah  mencintainya!"

"Ibu... bersediakah kau menceritakan segala sesuatu yang menyangkut tentang ayahku?"

"Aaaai... kecuali Siau Hui un dan diriku seorang, ayahmu masih mempunyai seorang kekasih..."

"Apa? Ayahku masih mempunyai seorang kekasih lagi ?"

"Benar! Hanya saja siapakah perempuan yang menjadi kekasihnya itu tak pernah ayah mu katakan, seringkali ia berkelana dalam dunia persilatan untuk menemukan jejak perempuan itu, tapi hingga menjelang ajalnya, ia masih belum tahu di manakah dia berada!"

"Ketika ayahku terbunuh, apakah kau, Siau Hui un dan aku bertiga berada di tempat?" Ong Bun kim kembali bertanya.

"Yaa, kita semua berada di rumah! Waktu itu ayahmu baru ke luar rumah untuk bepergian, tiba tiba Tok khak cin kun dari Bu lim sam lo (tiga tua dan dunia persilatan) datang memberi kabar yang mengatakan bahwa ayahmu telah dibunuh oleh Kui jin suseng."

"Ketika aku hendak menyusul ke tempat kejadian, pada saat itulah Kui jin suseng telah tiba di depan pintu, aku dihajar sampai terluka dan selanjutnya tidak kuketahui bagai mana kejadian seterusnya, tapi sewaktu aku sadar kembali, kutemukan tubuhku sudah berbaring dalam sebuah hutan, aku tak tahu siapa yang telah  menyelamatkan jiwaku, dan bagaimana kejadian selanjutnya, akupun tak tahu." Dengan sedih Ong Bun kim manggut-manggut.

"Apakah setelah kejadian itu, kau balik kembali kerumah untuk mencariku...?" tanyanya.

"Benar, sayang baik jejak Siau Hui un mau pun jejakmu sudah tak ketahuan lagi, banyak tahun sudah aku berusaha melacaki jejak Kui-jin suseng, selama masa itu akupun berhasil melatih sejenis irama seruling yang dapat mematahkan daya pengaruh Pek mo ki andalannya nak, kenapa Kui jin suseng tidak membinasakan dirimu ?"

Ong Bun kim hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, sebagai pertanda bahwa apapun tidak diketahui olehnya.

Lama, lama sekali ia baru bertanya lagi:

"Ibu, benarkah Mo kui kiam jiu telah membeli Kui jin suseng untuk mencelakai ayahku?"

"Tentang soal ini. tentang soal ini., .dari-msna aku bisa

tahu?"

"Ibu, lantas pada saat ini kau tinggal di mana?"

"Di bawab tebing Hu hau hong bukit Hau-tau san!" Setelah berhenti sejenak, iapun bertanya pula: "Kau sendiri, sekarang akan ke mana?"

Ong Bun kim tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, sesudah itu baru sahutnya:

"Aku hendak mencari musuh besar ayahku!" "Maksudmu, kau hendak menyatroni perguruan Hau

kwan?" Coa Sik oh menegaskan. "Benar!" "Ooooh... jangan! Jangan nak, kau tak boleh ke sana, ilmu silat yang kau miliki masih belum cukup untuk menandingi kelihayan kakekmu..."

"Mo kui kiam jiu bukan kakekku, aku tidak mempunyai seorang kakek macam gembong iblis itu!" teriak anak muda itu.

"Yaaa, dia memang bukan kakekmu... ia memang tidak pantas menjadi kakekmu..." gumam Coa Siok oh dengan air mata bercucuran, "tapi aku berbicara yang sesungguhnya nak, ilmu silatmu kemungkinan besar masih bukan tandingan dari Mo-koui-kiam-jiu ..."

"Ibu tak usah kuatir, aku tidak pernah memikirkan persoalan ini di dalam hati !"

Ketika dilihatnya anak muda itu tetap kukuh dengan pendiriannya, Coa Siok-oh mulai sadar bahwa pendirian anaknya tak mungkin bisa di rubah lagi, dengan sedih dan murung diapun menghela napas panjang.

"Aaaai... baiklah, jika kau tetap dengan tekadmu, akupun tak akan menghalangi, nah, aku mohon diri lebih dulu!"

"Ibu, kau hendak pulang ke rumah?" "Benar !"

"Begitupun ada baiknya juga, bila aku ada urusan, sampai waktunya pasti akan kukunjungi rumahmu !"

Demikianlah, ibu dan anak yang baru saja berjumpa akhirnya harus berpisah kembali.

Tentu saja, suasana pada saat itu sangat-mengharukan sekali, tetapi apa boleh buat! Perpisahan memang tak dapat dipisahkan dalam sejarah kehidupan seorang manusia. Ong Bun-kim tetap merahasiakan tujuan kepergiannya terhadap ibunya, dia tak mau memberi tahu kepada ibunya bahwa sesungguhnya dia hendak berkunjung ke lembah Sin-Iikok untuk membuat perhitungan dengan Siau Hui-un.

Diapun tidak berharap ibunya ketimpa suatu musibah yang tidak diharapkan, sebab dalam kehidupannya selama ini, sudah terlalu banyak kesengsaraan dan penderitaan yang dialaminya, dia tak ingin menambah kesusahan bagi ibunya.

Maka ditunggunya hingga bayangan punggung dari ibunya Coa Siok oh sudah menjauh, pemuda itu baru menghela napas sedih.

Akhirnya, bayangan tubuh dari Coa Siok-oh lenyap dari pandangan mata.

Ong Bun-kim; menghela napas panjang.

"Aaaai... dia adalah seorang perempuan yang amat buruk nasibnya... ia adalah perempuan yang terlalu banyak menderita..."

Ia berduka bagi nasib ibunya yang buruk, diapun bersedih hati oleh kesengsaraan yang me-nimpa dirinya.

Bunga iblis dari neraka yang berdiri di sisinya mendadak bertanya:

"Apakah dia adalah ibumu?"

Ong Bun kim memandang sekejap ke wajah Bunga iblis dari neraka, lalu dengan sedih manggut manggut.

Tiba tiba Bunga iblis dari neraka menemukan sesuatu, dari pancaran sinar mata dan perubahan mimik wajah Ong Bun kim, ia telah menemukan bahwa sesungguhnya pemuda yang berada dihadapannya sekarang adalah seorang pemuda yang patut dikasihani, betapa tidak? Dari pancaran sinar matanya dapat diketahui betapa menderita dan sengsaranya pemuda itu sepanjang kehidupannya di dunia ini.

Kalau dilihat pula dari mimik wajahnya maka pemuda itu seakan-akan pernah mengharapkan sesuatu, tapi apa yang diharapkan tak pernah kesampaian.

Ong Bun kim kembali menghela nafas panjang. "Aaaai...nona, kau boleh pergi dari sini!" katanya kemudian.

Bunga iblis dari neraka ikut menghela napas.

"Yaa, aku memang harus pergi dari sini" katanya, "tak pernah ada orang yang bisa berkumpul terus menerus, pada akhirnya suatu perpisahan akan memisahkan kita, aku hanya berharap pada suatu ketika kita bisa bertemu kembali."

Dengan langkah yang sangat pelan ia memutar badannya dan berlalu dari situ.

Mendadak... pada saat Bunga iblis dari neraka hendak memutar badannya dan berlalu dari situ, serentetan suara tertawa dingin yang tak sedap didengar berkumandang memecahkan kesunyian.

Menyusul suara tertawa dingin itu, kedengaran seseorang berkata dengan suaranya yang dingin menyeramkan:

"Heehh.. .heeeehhh... heeehhh... suatu adegan perpisahan yang menawan hati, oooh...betapa asyiknya!".

Mendengar suara itu, dengan terkejut Ong Bun kim memutar badannya sambil menengok, terlihatlah seorang pemuda berbaju perlente, sambil menggoyangkan kipasnya menghampiri mereka sambil tertawa dingin tiada hentinya. Pemuda berbaju perlente itu tampan sekali, cuma sayang mimik wajahnya terselip suatu sifat tengik dan cabul yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Haaah.. . kau?" jerit Bunga iblis dari neraka dengan paras muka berubah hebat.

"Benar, akulah yang telah datang! Apakah kau masih teringat dengan diriku? Oooh... kalau memang begitu halnya, betapa gembiranya hatiku...!"

Bunga iblis dari neraka tertawa dingin.

"Heehhh.... heeehhh... mau apa kau datang ke mari?" teriaknya.

Pemuda berbaju perlente itu tertawa misterius, pelan- pelan sinar matanya dialihkan ke atas wajah Ong Bun-kim, kemudian sambil tersenyum katanya lirih:

"Kalau dugaanku tidak keliru, tentunya saudara ini adalah ahli waris dari Kui-jin suseng yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, bukan?"

"Benar, siapakah kau?" sahut Ong Bun kim ketus.

"Aku adalah Teng Kun, tapi orang lain lebih suka memanggilku sebagai Hiat hay long cu (si laki-laki hidung belang pembuat lautan darah)."

"Bolehkah aku tahu ada urusan apa kau datang mencariku?"

"Oooh... urusan penting sih tidak ada, aku hanya mendengar orang berkata bahwa saudarapun memiliki mata uang kematian?"

"Benar! Apakah saudara datang mencariku lantaran persoalan itu?" "Tepat sekali dugaanmu itu!" Paras muka Ong Bun ki-m berubah hebat, lalu sambil tertawa tawa katanya kembali:

"Kalau kau menginginkan mata uang kematian tersebut, ada baiknya dipersilahkan untuk mengambil sendiri!"

Hiat hay longcu Teng Kun melirik sekejap ke arah Bunga iblis dari neraka, kemudian sambil menggoyangkan kipasnya pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan...

Bunga iblis dari neraka segera membentak nyaring:

"Hiat-hay-long cu ! Kalau kau berani turun tangan, jangan salahkan kalau kucabut selembar jiwamu !"

Hiat - hay long cu tertawa terbahak-bahak, mendadak tubuhnya melompat ke udara, kemudian bagaikan anak panah yang. terlepas dari busurnya dia meluncur ke depan dan menerjang ke tubuh Ong Bun-kim.

Sungguh cepat dan dahsyat terjangan dari Hiat hay-long- cu tersebut, begitu sampai di hadapan musuhnya, kipasnya lantas diayun ke muka menyambar wajah si anak muda.

Belum lagi serangan tersebut mengenai sasarannya, mendadak bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian:

"Tahan !"

Menyusul bentakan tersebut, sesosok bayangan manusia menerjang masuk ke dalam arena dan langsung melancarkan sebuah serangan dahsyat ke tubuh Hiat hay long cu.

Sungguh cepat datangnya ancaman dari bayangan manusia tersebut, hal ini memaksa Hiat hay long cu harus menarik kembali serangannya dan buru-buru mengundurkan diri. Kejadian ini sungguh di luar dugaan siapa-pun juga, untuk sesaat mereka semua menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Ong Bun kim sendiri juga sudah mundur ke belakang, tapi begitu ia mendongakkan kepalanya, kontan saja sekujur badannya bergetar keras.

Ternyata manusia berkerudung hitam yang misterius itu tiba tiba muncul kembali di tempat itu, teringat bahwasanya manusia berkerudung itu kemungkinan besar adalab gurunya Kui jin suseng, untuk sesaat lamanya anak muda itu menjadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan...

Sementara, itu, Hiat-hay long cu sambil ter-senyum telah menegur:

"Saudara siapakah kau? Mengapa wajahmu kau kerudungi dengan kain hitam?"

Dengan ketus jawab manusia berkerudung hitam itu: "Rahasia pribadiku tak perlu kau campuri, justru aku

mempunyai suatu persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu..."

"Silahkan kau katakan !"

"Benarkah Sam jiu hek hou (rase hitam berlengan tiga) telah kau perkosa lebih dulu sebelum dibunuh...?"

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tapi ia tidak memberi komentar apa-apa.

Sebaliknya Hiat hay long cu tetap tersenyum lebar. "Siapa  yang  bilang  kalau  Rase  hitam  itu  kuperkosa?

Keliru besar saudara, kalau hubungan yang dilakukan atas

dasar mau sama mau, itu bukan perkosaan namanya..." Manusia berkerudung hitam itu mendengus dingin.

"Hmm...! Kau tak usah banyak bicara, pokoknya yang pasti ia telah kau bunuh, kemudian ke empat biji mata uang kematian yang berada di sakunya telah kau bawa kabur, bukankah begitu?"

"Benar, apakah kedatanganmupun lantaran ingin mendapatkan mata uang kematian?"

"Dugaanmu tepat sekali, nah sekarang cepat serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

"Maaf, tak bisa kupenuhi keinginanmu itu!" "Bangsat! Rupanya kau kepingin mampus!"

Sambil membentak keras, manusia berkerudung hitam itu menerjang ke arah Hiat-hay long cu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, kemudian sebuah pukulan dilancarkan menyodok ke perutnya.

Bentakan keras itu segera menyadarkan kembali Ong Bun kim dari lamunannya, sinar matanya kontan mencorong tajam, dengan suara menggeledek mendadak bentaknya:

"Tahan!"

Bentakan itu disertai dengan nada yang mengerikan dan menggidikkan hati, hal ini membuat semua orang yang berada di sekitar arena menjadi terkesiap lantaran kaget.

Baik manusia berkerudung hitam maupun Hiat hay long cu Teng Kun yang bersiap-siap melakukan pertarungan, serentak menarik kembali pukulannya dan melompat mundur ke belakang, serta merta sinar mata merekapun di alihkan ke wajah Ong Bun kim. Mencorong sinar tajam dari sepasang mata Ong Bun kim, ia menatap manusia berkerudung hitam itu tanpa berkedip, kemudian bentaknya:

"Siapa kau? Hayo jawab!"

Bentakan itu masih kedengaran keras dan menggidikkan hati, hal tersebut menunjukkan bahwa ia tak sanggup mengendalikan emosi dalam hatinya.

Bisa dimaklumi betapa kerasnya goncangan jiwa yang menimpa si anak muda itu, sebab apa yang tidak diinginkan akhirnya terlihat di hadapan matanya.

Ia sangat berharap manusia berkerudung ini adalah Kui jin suseng, tapi diapun sangat berharap agar dia bukan Kui- jin suseng yang sedang dicari, karena seandainya terbukti dia adalah Kui jin suseng, maka banyak persoalan yang selama ini membingungkan hatinya segera akan terungkap.

Seandainya dia benar-benar adalah Kui jin suseng... Oh, Tian! Apa yang harus ia lakukan ?

Manusia berkerudung hitam itu tampak tertegun setelah dibentak oleh Ong Bun kim barusan, menyusul kemudian dengan suara dingin katanya:

"Apakah kau sudah lupa siapakah diriku, anak muda ?" "Aku tidak lupa, cuma aku ingin bertanya kepadamu,

benarkah lengan kirimu itu palsu?"

"Benar!"

"Sesungguhnya siapakah kau? Hayo jawab!" "Kenapa harus kujawab?"

"Aku ingin tahu siapakah kau!"

Manusia berkerudung hitam itu kembali mendengus dingin. "Hmm ! Aku rasa tiada suatu keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaanmu itu?"

"Bukankah kau adalah Kui jin suseng, sastrawan setan harpa ?" teriak Ong Bun kim seperti setengah kalap.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa seram. "Heeehhh .... heeehhh . , . heehhh . . . dengan dasar apa

kau   mengatakan   bahwa   aku   adalah   Kui   jin  suseng?"

ejeknya.

"Lengan kirimu kutung!" "Hanya berdasarkan hal ini?" "Benar!"

"Hmm...! Sayang dugaanmu keliru besar-sebab aku bukan Kui jin suseng yang kau maksudkan!"

"Sesungguhnya siapakah kau?"

"Sudah kukatakan kepadamu tadi, tiada suatu keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaan itu!"

Ong Bung kim benar-benar naik pitam, segera bentaknya kembali:

"Kurang ajar! Jadi kau tetap ngotot tak mau mengatakan siapakah dirimu yang sesungguhnya ?"

"Betul !"

"Kau anggap aku tak bisa merobek kain kerudung yang menutupi wajahmu itu."

"Hmmm...! Seandainya kau merasa memang memiliki kepandaian untuk berbuat demikian, silahkan untuk mencopot sendiri kain kerudung yang menutupi wajahku ini!" ejek manusia ber-kerudung itu sambil mendengus. Hawa nafsu membunuh yang mengerikan dan suatu perubahan perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata kata segera menyelimuti paras muka Ong Bun kim.

Dengan suatu lompatan bagaikan harimau ganas yang menerjang anak domba, ia menerjang ke hadapan manusia berkerudung hitam itu sambil bentaknya:

"Kau benar benar hendak memaksa diriku untuk turun tangan sendiri?"

"Benar!"

"Kalau begitu, sambutlah seranganku ini!"

Dalam gusar dan kobaran emosinya, secepat sambaran petir Ong Bun kim menerjang maju ke muka, lalu dengan tangan kiri menyodok-kan sebuah pukulan dahsyat, harpa besi ditangan kanannya menyapu pinggang manusia berkerudung hitam itu.

Rupanya anak muda itu benar benar sudah diliputi amarah yang tak terkendalikan, terbukti dalam serangan tersebut, ia telah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Agaknya manusia berkerudung hitam itu tahu kelihayan lawan, ia tak berani menyambut pukulan tersebut secara gegabah, dengan suatu lompatan yang lincah, tubuhnya mengegos ke samping.

Ong Bun kim tak sudi membiarkan musuhnya kabur, begitu serangan yang pertama tidak mengenai sasarannya, serangan kedua yang jauh lebih dahsyat segera dilancarkan.

Disaat Ong Bun kim melepaskan pukulan untuk kedua kalinya itulah, tiba tiba Hiat hay long cu membentak keras, kipasnya direntang kan lebar lebar lalu disodokkan ke tubuh Ong Bun kim dengan kecepatan luar biasa. Peristiwa ini benar benar diluar dugaan siapapun.

Bayangan kipas tampak berkelebat lewat dan tahu tahu sudah mampir di atas punggung si anak muda itu.

Bunga iblis dari neraka yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut, segera bentaknya. "Bangsat! Kau ingin mampus..."

00OdwO00

Bab 12

TUBUHNYA lantas melompat kedepan, senjata Pie pa baja yang berada dalam genggamannya di pergunakan untuk menyambar pinggang Hiat hay long du Teng Kun.

Sekalipun serangan yang dilancarkan Bunga iblis dari neraka dilakukan dengan kecepatan luar biasa, namun tak sempat baginya untuk membendung ancaman yang dilakukan Hiat hay long cu terhadap Ong Bun kim...

"Blaaam... !" dalam keadaan yang tidak terduga, punggung Ong Bun kim terhajar telak oleh serangan yang maha dahsyat itu.

Anak muda itu segera terhuyung maju sejauh tujuh delapan langkah, kemudian muntah-muntah darah.

Betapa sakitnya hati Bunga iblis dari neraka menyaksikan kejadian itu, dengan geramnya ia membentak keras, lalu sambil melancarkan serangan dengan mempergunakan pie-pa bajanya dia membentak:

"Teng Kun, kubunuh dirimu!"

Cahaya berkilauan membumbung di angkasa, dengan membawa desingan angin tajam yang memekikkan telinga, Pie-pa baji itu langsung menghantam ke tubuh Hiat hay long cu.

"Bagus sekali!" teriak Hiat hay long cu sambil mengayunkan pula kipasnya, "kalau kau begitu bernapsu ingin berkelahi, apa salahnya kalau kulayani beberapa jurus seranganmu?"

Kipasnya menyambar kian ke mari, secara licik dan manis dia melepaskan pula sebuah serangan balasan.

Sebagai jago tangguh yang sama-sama lihay-nya, serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan paling tinggi, terlihatlah bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul kemudian Hiat hay Long cu harus mundur sejauh tujuh-delapan langkah sebelum dapat berdiri tegak.

Hawa napsu membunuh yang sangat mengerikan menyelimuti seluruh wajah Bunga iblis dari neraka, sambil menggigit bibir menahan geramnya, ia membentak:

"Teng Kun, sambutlah kembali beberapa jurus seranganku ini!"

Diiringi suatu bentakan nyaring, tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya menerjang ke muka.

"Tunggu sebentar!" tiba tiba Hiat hay longcu membentak nyaring.

Sambil melindungi tubuhnya dengan silangan kipas, secara beruntun ia mundur sejauh lima-enam langkah ke belakang.

"Apa lagi yang kau inginkan?" tegur Bunga iblis dari neraka dengan suara ketus.

Hiat hay long cu tertawa tengik, katanya kemudian setelah cengar cengir sejenak: "Bolehkah aku tahu, apa hubunganmu dengannya?"

Pertanyaan ini sungguh berada di luar dugaan orang, kontan saja Bunga iblis dari neraka tertegun dibuatnya, tapi hanya sejenak saja, sambil tertawa dingin katanya kemudian:

"Kau tidak berhak untuk menanyakan soal ini!"

"Apakah dia adalah kekasihmu?" desak Hiat hay long cu lebih jauh.

"Mau kekasihnya atau bukan, lebih baik kau tak usah turut campur, sebab hal ini bukan urusanmu!"

"Seandainya dia bukan kekasihmu, apa pula gunanya kau membantu orang asing yang tiada sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Heeehhh . . hehhh . . hehhh . . aku tidak ambil perduli apa yang hendak kau katakan, pokoknya hari ini kau hendak kubunuh dan ku-cincang menjadi berkeping- keping!"

"Sudahlah nona manis, jangan melibatkan dirimu dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, percuma! Hal ini malah akan menyiksa dirimu sendiri..."

"Bangsat! Mulutmu kotor seperti anjing yarg gemar makan najis, terima saja kematianmu!"

Diiringi bentakan nyaring yang penuh kegusaran, Bunga iblis dari neraka menerjang maju ke muka, terlihatlah bayangan hitam berkelebat lewat dan tahu tahu senjata pie- pa baja itu sudah melepaskan dua buah serangan berantai.

Hiat hay long cu tak berani bertindak gegabah, diapun membentak sambil berkelit ke samping.

Tapi bunga iblis dari neraka enggan melepaskan musuhnya dengan begitu saja, bagaikan bayangan saja ia menyusul dari belakang dan secara beruntun melancarkan kembali tiga buah serangan beruntun.

Pada saat ini, hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Bunga iblis dari neraka, serangan demi serangan yang dilancarkannya tak sebuahpun yang bukan termasuk serangan mematikan, dalam sekejap mata ia sudah melepaskan sepuluh buah serangan berantai.

Sementara pertarungan di pihak lain sedang berlangsung, manusia berkerudung hitam itu telah menerjang ke hadapan Ong Bun kim sambil membentak nyaring:

"Hayo cepat serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

Dengan ujung tangannya Ong Bun kim menyeka noda darah yang membasahi ujung bibirr nya, kemudian tertawa dingin.

"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh . . boleh saja, asal kau lepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahmu, kemudian memberitahukan siapakah kau, mata uang kematian segera kuserahkan kepadamu!"

"Kalau aku berkeberatan untuk melakukan apa yang kau harapkan?"

"Hmmm . . .! Atau mungkin mumpung aku sedang menderita luka dalam yang parah, maka kau hendak turun tangan kepadaku?" ejek Ong Bun kim sambil tertawa sinis.

"Mungkin saja aku berbuat demikian, aku ingin bertanya kepadamu, bukankah kau hendak berkunjung ke lembah Sin li kok?"

"Betul!"

"Nah, dari pada mata uang itu kau bawa mati, lebih baik serahkan saja kepadaku!" Berbicara sampai di situ, tangannya lantas berkelebat ke depan mencengkeram tubuh Ong Bun kim.

Hakekatnya Ong Bun kim sudah terlampau lemah sesudah isi perutnya menderita luka parah, mana mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman manusia berkerudung hitam itu.

Sambil membentak keras, terpaksa ia harus menggunakan harpa besinya untuk mematahkan serangan tersebut.

Akan tetapi, sebelum serangan itu berhasil dilancarkan, tiba tiba darah dalam rongga dadanya bergolak keras, tak ampun lagi ia muntah darah segar, tubuhnya segera roboh terjengkal ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri...

Entah berapa waktu sudah lewat, akhirnya pemuda itu sadar kembali dari pingsannya...

Ketika matanya pelan-pelan direntangkan, tampaklah seraut wajah yang diliputi kesedihan muncul di depan matanya

Pemuda itu dapat mengenali orang itu sebagai Bunga iblis dari neraka, noda air mata masih membekas di atas wajahnya, ketika itu dengan pandangan yang sedih ia sedang mengawasi wajah Ong Bun kim, mimik wajahnya menunjukkan rasa kuatir yang tebal, tentu saja di-samping rasa cinta dan kesedihan.

Tiba-tiba Ong Bun kim menemukan tubuhnya berbaring di dalam pelukan gadis tersebut.

Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, buru buru tangannya merogoh ke dalam saku, betul juga, kedua biji mata uang kematian itu sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia menemukan selembar kertas yang berisi tulisan. Surat itu buru-buru diambil ke luar dan dibaca isinya, terbacalah sebagai berikut:

"Bun kim:

Mata uang kematian telah kuambil, sebab benda tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan diriku, betul, aku adalah Kui jin suseng, aku pula yang telah membunuh ayahmu..."

Ketika membaca sampai di sini, Ong Bun kim segera merasakan kepalanya menjadi pening bagaikan dipukul oleh martil yang berat, sekujur badannya gemetar keras.

"Ooooh . . . Thian!" gumamnya, "ia benar-benar adalah Kui jiu suseng . . . dia adalah pembunuh ayahku . . ."

Setelah pergolakan dalam hatinya berhasil diatasi pemuda itu membaca surat tersebut lebih jauh:

" . .. . aku tidak memohon pengampunan atau maaf darimu, tapi aku harus melanjutkan hidupku, sebab hal ini sama pentingnya seperti kubunuh ayahmu tapi tidak membunuh dirimu.

Tentunya kau bertanya pada diri sendiri bukan: "Kalau toh kau membunuh ayahku, mengapa tidak membunuh pula diriku?" terhadap pertanyaan ini suatu waktu kau pasti akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang aku tak ingin memberitahukan hal ini kepadamu.

Hidup bagiku adalah suatu kejadian yang amat menyiksa diriku, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku harus melanjutkan hidupku, sebab perbuatan yang kulakukan harus kuselesaikan sendiri, jangan beritahu kepada siapapun jua bahwa aku masih hidup, sebab bagikau, hal ini penting sekali artinya. Cukup sekian suratku ini, baik-baiklah menjaga dirimu. Tertanda : Kui-jin suseng."

Ketika Ong Bun kim selesai membaca surat itu, ia tak bisa mengatakan bagaimana pedih dan bencinya perasaannya waktu itu, tapi yang pasti baik perasaan sedih maupun perasaan benci kedua-duanya berkecamuk di dalam hatinya.

Akhirnya apa yang dikhawatirkan, apa yang ditakutkan kini sudah menjadi kenyataan.

"Aku akan membunuhmu .... Kui jin suseng!" gumamnya.

"Hey, apa yang kau katakan?" teriak Bunga iblis dari neraka dengan terperanjat, "siapa yang hendak kau bunuh? Kui jin Suseng?"

"Benar!"

"Kenapa? Bukankah dia adalah gurumu?"

"Yaa, dia adalah guruku, tapi dia pula yang telah membinasakan ayahku ..."

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi? Kalau dia telah membunuh ayahmu, mengapa ia wariskan ilmu silatnya kepadamu?"

"Hingga detik ini, persoalan itu masih merupakan sebuah teka teki, dewasa ini aku tak dapat memahaminya."

Dengan sedih Bunga iblis dari neraka menganggukkan kepalanya, ia melirik sekejap Ong Bun-kim yang berbaring dalam pelukannya, kemudian menghela napas panjang.

Ong Bun-kim dapat menyaksikan kepedihan dan rasa sayang yang terpancar dari wajah Bunga iblis dari neraka, tanpa terasa ia bertanya: "Kaukah yang telah menyelamatkan jiwaku?" "Benar, aku yang telah menolong dirimu!"

"Aaaai ! Aku tidak mengerti apa sebabnya kau bersikap demikian baiknya kepadaku? Sepanjang hidupku, belum pernah aku merasa berterima kasih kepada orang lain... terlebih terhadap seorang perempuan!" kata Ong Bun-kim dengan sedih.

"Aaaai... kenapa musti berterima kasih?" nona itu seperti merasakan pula suatu kepedihan, ia ikut menghela napas.

"Ke mana larinya Hiat-hay-long-cu?" tanya Ong Bun-kim setelah termenung sejenak.

"Kabur! Setelah termakan pukulanku, dia kabur dengan membawa luka dalamnya!"

"Sesungguhnya manusia macam apakah Hiat hay long cu itu?"

"Dia adalah seorang manusia yang paling cabul di dunia, entah berapa banyak anak gadis dan istri orang yang digagahi olehnya, oleh karena orangnya terlalu licik dan banyak tipu muslihatnya, selain itu ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, maka tak seorang manusiapun yang bisa berkutik terhadapnya!"

"Suatu hari, aku pasti akan mencarinya untuk membuat perhitungan" sumpah Ong Bun-kim sambil menggigit bibir.

Setelah mengucapkan kata kata tersebut, mereka mulai membungkam dalam seribu bahasa, masing masing terbuai dalam pikirannya sendiri, sementara suatu perasaan murung dan sedih mengelilingi kalbu hatinya.

Berbaring dalam pelukan Bunga iblis dari neraka, Ong Bun-kim merasakan suatu kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, perasaan anehpun muncul menyelimuti benaknya, belum pernah ia alami keadaan seaneh ini semenjak dilahirkan di dunia.

Pada umumnya bilamana seseorang berada dalam kesepian dan sebatangkara, ia akan membutuhkan kasih sayang dan kehangatan dari orang lain, demikian pula halnya dengan Ong Bun-kim.

Ia membutuhkan kehangatan, ia lebih-lebih membutuhkan kasih sayang... hanya saja dalam hatinya yang kesepian dan sendirian tak pernah terlintas ingatan, apa gerangan cinta itu.

Dan kini, Bunga iblis dari neraka telah memberikan apa yang dibutuhkan, tak heran kalau ia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya selama ini.

Agaknya, perasaan hangat yang muncul dalam hatinya telah memberi banyak sekali harapan dan tekad baginya untuk melanjutkan hidup, sekarang ia baru mengerti bahwa kasih sayang dan perhatian adalah suatu hal yang mutlak diperlukan oleh manusia.

Sementara ia masih termenung, Bunga iblis dari neraka telah bertanya lagi:

"Kau tidak merasakan sesuatu yang tidak beres bukan?" "Aku baik sekali !"

Sambil berkata dia lantas menegakkan tubuhnya dan menengok ke arah gadis tersebut, memandang wajahnya yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan serta kesedihan yang menyelimuti mukanya, tanpa terasa ia bertanya:

"Teringat apakah kau?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Tidak, aku tidak teringat apa apa, sebab aku sendiripun tak tahu perbuatan apakah yang telah kulakukan, aaai . . . .

! Kau tidak akan mengerti, aku aku. "

Suaranya makin lama semakin parau dan tiada berkelanjutan.

"Kau menyesal karena menolongku?"

"Tidak..." saking sedihnya, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Keadaan tersebut amat mencengangkan Ong Bun-kim, ia sampai terbelalak dibuatnya. Ia tak tahu mengapa gadis itu bersikap demikian, mengapa ia dapat menampilkan sikap semacam ini?

Dengan termangu-mangu Ong Bun-kim memandang ke arahnya.

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ong Bun-kim, lalu menangis tersedu-sedu.

"Hey, kenapa kau?" tegur Ong Bun-kim dengan wajah tertegun.

Tapi gadis itu cuma menangis tersedu, ia membungkam dalam seribu basa.

Dengan lembut Ong Bun-kim mendongakkan kepalanya, ketika menyaksikan butiran air mata yang membasahi pipinya, tiba-tiba pemuda itu merasakan sesuatu dorongan napsu yang aneh, tak tahan lagi ia balas memeluk gadis itu dan mencium bibirnya...

Seluruh perasaan dan kehidupannya ia curahkan dalam ciumannya yang pertama, ia telah mempersembahkan segala sesuatunya itu untuk seorang gadis yang masih asing baginya. Ia gemetar keras, bahkan menggigil seperti orang kedinginan... Bagi gadis itu, ciuman tersebut entah suatu keberuntungan atau suatu ketidak beruntungan, tiba-tiba diapun memeluk nya, ia membiarkan kobaran api asmara dalam hatinya berkembang dan tumbuh di hati mereka berdua ....

Cinta telah terjadi!

Bagaikan sebuah sandiwara, sebelum itu mereka tak pernah berjumpa, tak pernah saling mengenal, tapi kini bibit cinta mulai bersemi dalam hati mereka berdua, bagi mereka cinta adalah sesuatu yang aneh tapi nikmat dan menggetarkan sukma.

Ong Bun-kim telah jatuh cinta dalam pandangannya yang pertama, cinta ini merupakan pula cintanya yang pertama.

Ia telah mempersembahkan perasaannya untuk perempuan asing yang baru saja dijumpainya, cuma. hasil

apakah yang bakal ia petik dari cinta pertamanya ini?

Tiba-tiba. gadis itu mendorongnya dan melepaskan diri

dari rangkulan, kemudian teriak nya dengan terperanjat: "Tidak .... tidak "

Ong Bun-kim tertegun, ditatapnya gadis itu dengan perasaan pedih, suatu penampikan dalam suasana yang amat sensitif ini telah menyinggung perasaannya, membuat ia merasa sedih dan tundukkan kepalanya dengan lemas...

"Keee . . . kenapa kau . . . ?" tegurnya kemudian agak tergagap.

"Aku . . . aku ... " tiba-tiba gadis itu menangis makin menjadi. "Apakah aku telah menganiaya dirimu? Apakah kau benci kepadaku? Marah kepadaku?"

"Tidak, tidak ... aku . . . aku tidak pantas untukmu!"

Sekujur badan Ong Bun-kim gemetar keras, dengan terkesiap ia mendongakkan kepalanya dan mengawasinya tajam-tajam, perkataan tersebut menimbulkan perasaan seram dan ngeri dalam hati kecil pemuda itu.

"Kenapa? Kenapa kau berkata begini?" tanyanya dengan jantung berdebar keras.

"Aku tidak pantas mendapat kasih sayangmu, sebab kau adalah orang baik...!"

"Apakah kau bukan orang baik?"

"Aku?" tiba tiba ia tergelak tertawa, suara tertawanya kedengaran begitu kalap, seram dan tak sedap didengar.

Sekian lama kemudian, ia melanjutkan lebih jauh :

"Bagi dirimu, aku jauh lebih jahat berkali lipat dari padamu, aku adalah orang paling jahat!"

"Jahat?"

"Benar, aku jahat, aku jauh lebih jahat dari padamu"

Pelan-pelan gadis itu bangkit berdiri, ditatapnya sekejap wajah Ong Bun kim dengan termangu, lalu katanya:

"Lupakanlah peristiwa ini!"

"Apa...? Melupakannya....? Kau minta aku melupakannya...?" ia mengeluh. . .

Jeritan tersebut muncul dari lubuk hatinya, dari dasar hatinya yang paling dalam ....

"Ya, lupakanlah!" jawab Bunga iblis dari neraka dengan suara yang dingin dan tajam. "Tidak, aku tidak akan melupakannya!"

"Aku minta kepadamu, lupakanlah peristiwa ini!" "Beritahu dulu, kenapa aku harus melupakannya...?" "Tak usah kau tanyakan hal itu, aku hanya minta

kepadamu untuk melupakan peristiwa tadi!"

"Tidak, aku tak dapat melupakannya... tak dapat melupakannya...selama hidup tak akan kulupakan..." gumaman tersebut makin lama semakin lirih, paras mukanya makin diliputi kemurungan dan kesedihan yang makin tebal.

Dalam hati kecilnya ia menjerit, mengeluh: "Oooh...Thian! Inilah cintaku yang pertama...apakah

harus seperti nasibku, mendapatkan penghancuran dan pemusnahan yang tak berperi kemanusiaan...?"

Yaa, Thian tidak seharusnya bersikap berat sebelah kepadanya, pengalaman hidupnya sudah cukup sengsara dan menderita, haruskah ia mengalami pula cinta pertamanya yang akan berakhir dengan tragis dan penuh kesedihan?

Ia bukan seorang manusia super, dia seperti pula manusia biasa pada umumnya, ia tidak berharap cinta pertamanya harus berakhir bagaikan bayangan berakhir tanpa kesan apa-apa.

"Kalau kau dapat melupakan peristiwa ini, banyak kebaikan yang akan kau terima, ingatlah perkataanku, lupakan kejadian tadi, nah selamat tinggal!" kata Bunga iblis dari neraka dengan sedih.

"Kau hendak pergi ke mana?"

"Jangan perhatikan diriku, tak usah kau tahu ke mana aku hendak pergi. . .!" Habis berkata, ia lantas putar badan dan berlalu dari sana.

Ia mirip seorang gadis yang kejam dan tak punya perasaan, ia seperti seorang nona yang tak tahu apa artinya sayang dan cinta, ia telah pergi dengan begitu saja ...

"Tunggu sebentar!" tiba tiba Ong Bung kim berkata.

Tanpa terasa gadis itu menghentikan langkah-nya, tapi ia tidak berpaling, tanyanya:

"Masih ada persoalan apa yang hendak kau tanyakan?" "Beritahukan kepadaku, siapa namamu?"

"Bunga iblis dari neraka!"

Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, ia putar badannya dan berlalu dari situ dengan kecepatan luar biasa.

"Beritahu kepadaku, siapa namamu." teriak Ong Bun- kim dengan suara setengah menjerit.

Tapi gadis asing yang telah dicintainya itu sudah pergi tanpa berpaling, pergi dengan begitu saja.

Ia telah pergi membawa serta kasih sayang dan cinta pertama Ong Bun-kim, ia seakan-akan pergi  tanpa perasaan, dan yang tertinggal hanya kesedihan dan kepedihan bagi Ong Bun-kim.

Dia duduk di sana seperti orang yang kehilangan ingatan, sambil memandang awan di angkasa, gumamnya lirih:

"Oooh... Thian! Apa yang terjadi dengan diriku...? Apa pula yang telah kuperoleh. ?"

Sekarang, ia merasakan bahwa apapun tidak berhasil ia dapatkan, bahkan ia merasa seperti kehilangan sesuatu, yang mana membuat bertambahnya duka nestapa dalam hatinya.

00OdwO00

BAB 13

KETIKA dipikir hatinya makin sedih, akhirnya tanpa disadari pemuda itu melepaskan harpa besinya dan mulai memetik senarnya membawakan sebuah lagu yang berirama sedih ....

Menggunakan permainan khim tersebut, semua perasaan cinta dan dendamnya dilampiaskan ke luar irama yang pedih dengan nada yang menggetarkan sukma segera mengalun di angkasa dan menyayat nyayat hati ....

Sesungguhnya Ong Bun kim adalah seorang pemuda yang berhati keras, tapi pada saat ini, mengikuti permainan harpa, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran.

Sebuah lagu telah selesai dibawakan.

Walaupun irama lagu sudah hampir berakhir, tapi suara yang memilukan hati masih mengalun di angkasa . . .

Pelan-pelan Ong Bun kim bangkit berdiri lalu beranjak dan melangkah maju ke depan namun baru beberapa langkah kemudian tiba-tiba ia berhenti lagi.

Kurang lebih satu kaki di hadapannya, entah sejak kapan telah duduk seorang gadis berbaju abu-abu yang berwajah pucat, berambut panjang dan bersikap sedih.

Ia masih muda, tapi bila diperhatikan lebih seksama, ia terasa seakan-akan bagaikan seorang nenek-nenek yang sudah lanjut usia, mimik wajahnya yang kesal menunjukkan betapa murung dan sedih hatinya. Air mata masih menodai wajahnya, mungkinkah ia menangis karena sedih mendengarkan irama lagu yang dibawakan Ong Bun kim?

Sejak kapankah gadis itu berdiri di sana? Ong Bun kim tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Gadis itu telah mendongakkan kepalanya dan menatap tajam wajah Ong Bun kim, seakan-akan ia sedang bertanya:

"Mengapa kau bawakan lagu yang bernada sedih dan menyayat hati itu . . ."

Ong Bun-kim tidak bertindak apa-apa, dia hanya bisa memandang gadis tersebut dengan wajah termangu-mangu.

Bila dilihat dari biji mata si nona berbaju abu-abu yang murung, Ong Bun kim merasa seakan-akan ia terkenang kembali dengan semua kesedihan dan ketidak beruntungan di masa masih kanak-kanak dulu.

Suatu perasaan senasib sependeritaan tiba-tiba terlintas dalam benaknya dan menyelimuti perasaannya.

Mereka berdiri saling bertatapan, seakan akan pihak lawan adalah duplikat dari pengalaman yang dialaminya.

-oo0dw0oo-