Setan Harpa Jilid 02

 
Jilid 02

SASTRAWAN setan harpa merupakan seorang tokoh persilatan yang memecahkan nyali siapapun yang menjumpainya, bukan saja ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, terutama Pek-mo ki (irama selaksa iblis) yang merupakan senjata utamanya, entah sudah berapa banyak orang yang tewas oleh irama khim mautnya itu.

"Suasana dalam dunia persilatan waktu itu sangat kalut, jago-jago lihay dari enam partai tersebar dimana-mana untuk menyelidiki jejak dari Kui jin suseng, tapi sastrawan setan harpa yang dicari-cari ini ternyata lenyap begitu saja dari keramaian dunia persilatan."

"Tahun itu, tiba-tiba datang seseoraag yang menyampaikan kabar bahwa Si Latah dari empat samudera Ong Si liat terbunuh ditangan Kui jin su seng, diketahui tewas sewaktu terjadi pertarungan melawan setan harpa mungkin karena lukanya yang terlampau parah, akhirnya ia tewas dalam keadaan mengerikan."

Kendatipun demikian, sebuah lengan Kui jin suseng berhasil pula dikutungi oleh Su-hay bong kek, menanti aku menyusul ke lembah Lip jit kok, kedua orang bininya sudah lenyap tak berbekas..."

"Yaa, tidak salah lengan guruku tidak bakal salah lagi. "

"Lantas siapakah yang menyampaikan berita buruk itu kepadamu?" "Pihak sana hanya mengakui sebagai Ya Pian-kok ataukah Siau Hui un ?" tanya Ong Bun kim lagi.

"Lantas ibuku sesungguhnya aku juga tak tahu!" "Ayahmu belum pernah menyinggung tentang soal ini,

kecuali Siau Hui un dan Coa Siok oh sendiri mungkin tak ada orang ketiga dalam dunia persilatan yang mengetahui tentang persoalan ini. Sebab ketika ayahmu memberi kabar kalau dia punya anak aku sudah lupa menanyakan perempuan manakah yang telah melahirkan kau. Si Kelawar malam pun sempat memberi kabar, katanya Ong Bun kim putra Su-hay bong kek telah dibawa telah dibawa oleh Sastrawan setan harpa."

"Mengapa sastrawan setan harpa membinasakan ayahku? Kenapa aku tidak sekalian ia bunuh?" pekik Ong Bun-kim sambil menggertak gigi menahan emosi.

"Disinilah letak keanehan yang membuat orang tidak habis mengerti, tapi peristiwa aneh justru telab terjadi setelah Su-hay-bong-kek mati terbunuh."

"Peristiwa aneh apa yang telah terjadi?"

"Ternyata Kwancu dari perguruan  Hau-kwan  tidak mati. "

"Apa? la belum mati?" Ong Bun kim berpekik nyaring, ia sunguh dibuat tercengang oleh kenyataan tersebut.

"Yaa, Kwancu dari Hau-kwan tersebut tidak  mati bahkan masih hidup segar bugar dalam dunia ini. Setelah Su-hay-bong-kek mati, ia muncul kembali di dalam dunia persilatan, bahkan semenjak itu nama besar Hau-kwan makin lama semakin tersohor di dunia. " "Jadi kalau begitu, memang Kwancu dari Hau-kwan yang telah mencelakai ayahku dengan siasat Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik)?"

"Benar, kemungkinan besar memang selalu ada, karena berbicara menurut ilmu silat yang dimiliki Si Latah dari empat samudra, bila ia tidak dicelakai lebih dulu secara diam-diam meninjau dari ilmu silat yang dimiliki Kui jin suseng tak mungkin ia bisa menandingi kelihayannya si Latah."

"Apakah orang yang mencelakai ayahku lebih dulu secara diam diam adalah Coa Siok-ih?"

"Kemungkinan besar memang dia?"

"Menurut dugaanmu, siapa yang telah melahirkan aku?" "Bila ditinjau dari keadaan pada umumnya, bila Coa

Siok oh yang melahirkan kau, tidak mungkin ia akan mencelakai ayahmu."

"Yaa benar! Jadi kalau begitu kemungkinan besar aku dilahirkan oleh Siau Hui un."

"Jika kita kumpulkan semua data yang ada, kemudian diambil suatu kesimpulan maka akan ditemukan lagi suatu kemungkinan lain yakni Kui jin suseng pasti adalah sahabat atau anggota perguruan dari Hau-kwan, kalau tidak mustahil ia akan membinasakan ayahmu!"

Ong Bun kim menggertak gigi menahan emosi yang meluap-luap, hawa napsu membunuh memancar keluar dari balik matanya ia berkata.

"Aku akan pergi membunuh Hau-kwan kwancu, akan kutemukan juga jejak dari Kui-jin su-seng." Kemudian dengan pancaran hawa napsu membunuh yang menyala-nyala ia menatap wajah Tui-hong poocu tanpa berkedip, lalu bentaknya.

"Hau kwan berada dimana?"

"Kau hendak mengunjungi perguruan Hau-kwan?" tanya Tui-hongpocu dengan paras berubah.

"Benar!"

"Aku harap kau suka berpikir tiga kali sebelum berbuat, sebab jago lihay yang barkumpul di dalam Hau-kwan beribu-ribu orang banyaknya..."

"Kau tak usah menguatirkan tentang persoalan ini, aku yakin masih mempunyai kemampuan untuk mengatasinya!"

"Baiklah! Kalau engkau berkeyakinan demikian, akupun tidak akan bersikeras untuk merahasiakan tempat itu cuma masih ada satu persoalan yang lebih penting hendak kuberi tahukan dulu kepadamu."

"Persoalan apakah itu?"

"Sejak tujuh-delapan tahun berselang, diatas bukit Soat- im-san telah muncul suatu perguruan yang misterius dan mengerikan hati, banyak jago persilatan yang tewas ditangan pemimpin perguruan itu, ada orang menduga orang tersebut adalah salah seorang dari kedua bini ayahmu..."

"Sungguhkah perkataan ini?" bisik Ong Bun-kim lagi dengan perasaan bergetar ksras.

"Sungguh!"

"Aku pasti akan berkunjung ke situ untuk menyelidiki keadaan yang sesungguhnya, sekarang beritahu kepadaku Hau-kwan terletak dimana?" "Di bukit Cing-liong-san (bukit naga hijau)"

"Kalau begitu, aku hendak mohon diri lebih dahulu!" "Sekarang juga Ong sauhiap hendak berangkat?" "Benar!"

"Benarkah Kiam-hay-Iak-yu mati ditanganmu?" "Tidak benar!"

Sambil berkata ia lantas beranjak dan menuju ke pintu luar...

Kini bukan saja kemurungan dan kesedihan menyelimuti wajahnya, suatu kekesalan dan rasa bingung memenuhi pula beban pikirannya.

Yaa, kalau dulu ia tidak mengejar apa-apa tapi sekarang banyak persoalan yang dia kejar yakni menuntut kebenaran serta pembalasan dendam atas kematian orang tuanya.

Ia harus membalas dendam dia akan mencari Kui jin Suseng sampai ketemu, dia pun hendak mencari Kwancu dari Hau-kwan untuk menuntup balas.

Kalau di masa masa dahulu ia masih meragukan kegunaannya hidup didunia ini, maka sekarang ia mulai menyadari betapa pentingnya suatu kehidupan baginya.

Ia merasa dirinya harus melakukan suatu perjuangan, menciptakan suatu usaha besar yang menggetarkan seluruh dunia seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, apa yang ingin diperoleh umat manusia dia ingin mendapatkannya juga termasuk nama besar, kedudukan serta cinta kasih.

Diantara kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti wajahnya kini tampil pula suatu perubahaa yang aneh, itulah keangkuhan keketusan serta ambisi yang membara. Ketika tubuhnya sudah keluar dari benteng Tui-hong-po, tiba-tiba seseorang menegur dari belakang dengan suara merdu:

"Ong sauhiap!"

Serta merta Ong Bun-kim menghentikan langkahnya seraya berpaling, ia saksikan Lan Siok-ling sedang menghampirinya dengan senyuman menghiasi ujung bibir.

Akan tetapi dikala sorot mata Lan Siok-ling membentur diatas wajah Ong Bun-kim, tiba-tiba paras mukanya agak berubah.

"Kau kau tidak apa-apa bukan? Tiada sesuatu yang tak beres?" tegurnya penuh perhatian.

Ong Bun-kim tertawa ewa.

"Terima kasih banyak atas perhatian nona, aku tidak apa-apa, boleh aku tahu ada urusan apa nona menemuiku?"

"Bukankah kau masih berhutang dua bait permainan khim kepadaku? Aku ingin menuntut janji!"

"Oooh kiranya tentang soal itu, bila kita berjumpa bagi dikemudian hati, pasti akan kupersembahkan sebuah permainan lagu yang indah untuk nona"

"Apa salahnya kalau sekarang saja?" "Sekarang?"

"Yaa, benar, sekarang?" Ong Bun kim tertawa getir. "Sekalipun aku berhutang satu lagu kepada nona"

"Kau keliru" tukas Lan Siok-ling, "bukan cuma satu tapi dua satu karena kau hutang dan yang lain setelah hadiahmu kepadaku" Ong Bun-kim amat suka dengan kepolosan serta kelincahan Lan Siok ling, perkataan itu membuatnya tertawa lebar.

"Baik, baik jangan merecoki aku terus mari berangkat, kumainkan dua lagu untukmu?"

Ong Bun kim dan Lan Siok-liang melanjutkan perjalanan keluar dari benteng Tui hong po, tak lama kemudian mereka sudah tiba disuatu tempat yang sepi,.

"Bagaimana kalau disini saja?" kata Lan Siok-liang kemudian sambil tertawa.

Ong Bun kim tertawa ewa, ia manggut-manggut. Ketika memandang daun kering yang berguguran dalam hutan, timbul rasa sedih dalam hati kecilnya. Setelah duduk bersila, ia meletakkan khim besi itu dalam pangkuannya Lan Siok liang ikut duduk, diawasinya anak muda itu dengan sebuah senyuman dikulum....

Ong-Bun-kim mencoba dulu senar khimnya, lalu memetikkan sebuah lagu sedih yang menyayat hati.

Dentingan tali senar seolah-olah berubah menjadi linangan air mata kekasih... seperti seorang gadis yang menangis karena ditinggalkan pergi oleh kekasihnya seperti pula seorang istri yang ditinggal mati suaminya. irama

yang begitu memedihkan hati membuat orang berduka dan ingin menangis.

Memang lagu ini amat memedihkan hati, dahulu ia selalu memetikkan lagu tersebut untuk diri sendiri, kini sekalipun ia mainkan lagu untuk membayar hutangnya kepada Lan Siok-liang hakekatnya lagu itu dipetik demi melampiaskan rasa sedih yang menyelimuti hatinya.

Dibalik permainan musik itu tertera semua kesedihan dan kepedihan yang dialaminya tempo dulu, lagu itu kedengaran lebih meresap dihati, membuat orang makin berduka.

Belum habis sebuah Iagu dimainkan Lan Siok-liang telah menutup mukanya sambil menangis  tersedu-sedu, pekiknya.

"Jangan kau teruskan... jangan kau teruskan..." Permainan khim telah berhenti. Suasana pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.

Lan Siok-ling telah dibuat sedih oleh permainan lagu itu, ia sedang menangis tersedu-sedu.

oooo0OdwO0ooo

Bab 5

IRAMA PEMBETOT SUKMA

DIBALIK kelopak mata Ong Bun-kim terhias pula tetesan air mata, ditatapnya Lan Siok ling sekejap dengan pandangan berkaca-kaca, lalu diambilnya khim besi itu dan pelan-pelan berlalu dari sana.

Ia tidak berpamitan dengan Lan Siok-ling, sebab ia tak ingin mendapatkan kasih sayang dan hiburan dari umat manusia di dunia ini, yang dibutuhkan olehnya sekarang adalah ketenangan untuk sementara waktu serta kenangan dimasa lalu.

Pelan-pelan ia berjalan ke depan, pergi tanpa tujuan, tiada pikiran yang melintas dalam benaknya, iapun tak tahu ke arah mana ia harus pergi.

Malam telah kelam, kesunyian mencekam seluruh permukaan jagad. Dari balik hutan sebelah sana, lamat-lamat masih kedengaran suara teriakan dari Lan Siok liang.

"Ong sauhiap.... Ong sauhiap..."

Teriaknya penuh kedukaan mempunyai daya pikat sekali demi sekali berkumandang masuk ke dalam telinganya, kesemuanya itu membuat ia makin bergolak, perasaan sedihnya makin menebal..

Ia tidak menjawab langkahnya masih dilanjutkan meneruskan jalan setapak menuju ke muka tanpa tujuan.

Tiba tiba suara tertawa dingin yang menyeramkan menyadarkan Ong Bun kim dari kesedihan ia mendongakkan kepalanya dengan kaget.

Sesosok bayangan hitam entah sendiri kapan telah berdiri kurang lebih lima depa dihadapannya.

Tak terkirakan rasa kage Ong Bum kim atas kemunculan bayangan tersebut, ditunggunya sekian lama  tanpa bersuara, namun bayangan hitam itu belum juga menggerakkan tubuhnya.

"Siapa kau?" akhirnya Ong Bun-kim membentak. "Kaulah yang memainkan irama laga yang bernada sedih

itu?" tegur orang tadi dengan suara yang dingin

menyeramkan. "Benar!"

"Sungguh tak kusangka kalau seni bermain khim yang kau miliki sudah mencapai taraf yang luar biasa, hal ini sungguh berada diluar dugaan orang."

"Engkau terlalu memuji!"

"Apakah kau muridnya Kui-jin Su-seng?" "Betul!" "Waah."...kalau begitu repot.

Berbareng dengan selesainya perkataan si bayangan hitam itu, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, dengan suatu gerakan yang amat cepat, beberapa sosok bayangan meluncur masuk ke dalam gelanggang dan menghadang jalan pergi si anak muda itu.

Ong Bun-kim menengadah dan memperhatikan pendatang pendatang itu, ternyata mereka adalah lima orang pendeta tua.

Menyusul kemudian berkelebat kembali bayangan- bayangan manusia, puluhan sosok manusia bermunculan dari empat penjuru dan segera mengepung Ong Bun-kim. Mereka terdiri dari golongan paderi, golongan iman serta golongan preman jumlahnya mencapai tiga puluhan orang lebih.

Kembali Ong Bun-kim memperhatikan orang-orang itu, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih keras, sebab dari dandanan orang-orang itu dapat di ketahui bahwa mereka terdiri dari kawanan jago lihay yang tergabung dalam enam partai besar.

Tak pernah disangka olehnya kalau berita tentang terbunuhnya Kui-jin suseng sedemikian cepat nya sudah tersiar luas dalam dunia persilatan, itu berati kedatangan dari orang-orang itu jelas mengandung maksud tak baik.

Sedikitpun tak salah, adapun kedatangan dari kawanan jngo yang tergabung dalam enam partai besar itu memang untuk menyelidiki kasus kematian yang menimpa Kiam- hay-lak-yu, sebab menurut keterangan yang diperoleh, kematian keempat serangkai itu justru terkena oleh enam macam ilmu pukulan. Seorang pendeta tua yang rupanya sebagai pemimpin rombongan dengan sombong memandang Ong Bu-kim sekejap, lalu setelah maju tiga langkah ke depan dan memberi hormat katanya.

"Selamat berjumpa sicu, ditengah jalan tadi kami dengar dari Ngo-ou tiau-kek (pengait sakti dari lima telaga) yang mengatakan bahwa sicu kemungkinan besar adalah ahli waris dari Kui-jin suseng?"

"Benar!"

"Tolong tanya gurumu sekarang berada dimana?" "Tidak tahu!"

Jawaban ini membuat para jago dari enam partai besar tertegun.

Pendeta tua itu kembili berkata dengan dingin.

"Apakah sicu tahu kalau antara gurumu dengan enam partai bssar mempunyai sedikit persoalan?"

"Aku pernah mendengar tentang soal ini, boleh aku tahu apa kehendak kalian?"

Seorang imam yang menggembol pedang segera tampil ke depan katanya dingin:

"Puluhan tahun berselang gurumu telah mencuri enam jilid kitab pusaka dari enam partai persilatan, kau tahu buku-buku-itu telah disembunyikan dimana?"

"Sayang Kui jin Suseng tak pernah membicarakan persoalan itu denganku !" sahut Ong Bun-kim dengan hati berkerut.

"Aaah tak mungkin? Masa persoalan yang dilakukan

gurunya tak pernah dikatakan kepada muridnya?" "Mau percaya boleh, tak mau percaya juga tidak mengapa, terserah pada kalian sendiri!"

"Anak muda, ketahuilah! Apabila kau tidak mengatakan dimanakah gurumu berada, hari ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan begitu saja"

"Hmm... Apa yang hendak kalian lakukan?" ejek Ong Bun-kim sambil tertawa sinis.

Imam segera tertawa dingin.

"Heeehhh..,. heeehnhh,.., heeehh... Bila kau kami bekuk, masa gurumu tak akan munculkan diri untuk menolong jiwamu?" ejeknya.

Ong Bun-kim tertawa tergelak, gelak tertawanya begitu angkuh dan tinggi hati, sama sekali tak dipandang sebelah matapun orang-orang yang berada dihadapannya... jelas perbuatan imam tersebut telah membangkitkah hawa napsu membunuhnya.

Senyuman yang semula menghiasi wajahnya, kini lenyap tak berbekas, sebagai gantinya sambil menyengir sinis katanya.

"Aku anjurkan kepada kalian, janganlah sekali-kali mencari gara-gara denganku, sebab sampai waktunya aku bisa berbuat tidak sungkan-sungkan kepada kamu semua. Hmm, aku tak ingin setelah terjadi sesuatu kalian baru menegur aku karena kelewat kejam!"

"Bajingan keparat, kau terlalu latah, lihat pedangku?" bentak imam tersebut penuh kegusaran.

"Criiing...!" cahaya tajam yang menyilaukan mata memancar ke angkasa, tahu-tahu ia sudah meloloskan pedangnya dan menyerang Ong Bun kim dengan serangan kilat. Dahsyat dan tajam ancaman tersebut, ini menunjukkan kalau imam itu pun merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi,

Ong Ban-kim tidak gentar, ancaman tersebut masih belum cukup untuk melukai tubuhnya, hanya sedikit mengelit ke samping tahu-tahu ancaman tersebut sudah dihindari.

"Hei. tua bangka hidung kerbau, kau sungguh kepingin mampus?" bentaknya dengan marah.

Bentakan itu bukan saja penuh keramahan bahkan disertai pula dengan hawa napsu membunuh yang menyala- nyala, kesemuanya itu membuat setiap pendengarnya merasa bergidik hatinya.

Imam yang melakukan serangan itu ikut terkejut paras mukanya berubah hebat, setelah memandang sekejap wajah Ong Bun-kim dengan perasaan terkesiap, ia berkata:

"Betul, bila kau tidak mengatakan jelek gurumu serta memberitahukan dimanakah ke enam jilid kitab pusaka itu disembunyikan, hari ini kalau bukan kau yang kami tawan, darah kamilah yang akan berceceran diatas tanah perbukitan ini!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, ia membentak keras:

"Apa yang ingin kukatakan telah kuutarakan, bila kalian masih ngotot ingin mampus, kenapa tidak maju kemari untuk mencobanya?"

Seraya berkata khim besi itu disiapkan lalu di tatapnya sekeliling tempat itu dengan pandangan mata yang mengerikan, hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh gelanggang. Rupanya imam tadi sudah tak dapat mengendalikan emosinya lagi, kembali ia menerjang ke muka dengan garang.

Sambil membentak keras, cahaya pedang berkilauan, dengan suatu ancaman yang cepat menggetarkan hati ia menusuk dada Ong Bun kim.

Bersama waktunya ketika imam tersebut melancarkan serangan, bentakan nyaring berkumandang, memecahkan kesunyian lima sosok bayangan manusia termasuk jago-jago dari golongan paderi, imam dan preman secara beruntun melepaskan serangan kilat.

Enam orang jago lihay dari enam perguruan besar melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa, bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.

Tapi merekapun cukup mengerti, sebagai ahli waris dari Kui jin Suseng sudah dapat dipastikan Ong Bun-kim mempunyai dasar kepandaian silat yang cukup tangguh.

Apalagi dalam ganggamannya sekarang masih siap sebuah Khim besi, mereka harus bekerja sama untuk membereskan musuhnya secepat mungkin, dengan begitu Ong Bun-kim tiada kesempatan untuk melancarkan serangan dengan Irama Selaksa iblisnya.

Enam sosok bayangan manusia berkelebat kesana kemari, masing-masing melancarkaan sebuah serangan dengan gencar.

Ong Bun-kim tidak mandah diserang dengan begitu saja, sambil membentak nyaring Ong Bun-kim mengayunkan tangan kirinya, sementara Khim besi di tangan kanannya melancarkan pula sebuah serangan dahsyat.

Serangan ini dilaocirkart dengan kecepatan yang luar biasa, tampak bayangan manusia berputar ke sana kemari lalu jerit kesakitan menggelegar di-angkasa seorang imam terkena serangan dan roboh tewas.

Dengan jatuhnya korban, jago-jago lihay dari enam perguruan lainnya menjadi amat terperanjat.

"Ketahuilah hei manusia-manusia tekebur!" bentak Ong Bun-kim, bila kalian ngotot untuk melancarkan serangan terus, yang mampus bukan hanya seorang saja."

Paras muka jago-jago dari enam partai besar berubah hebat, napsu membunuh berkobar dalam dada mereka belasan sosok bayangan manusia disertai suara bentakan yang memekikkan telinga serentak menyerbu ke arah Ong Bun-kim.

Bayangan manusia berlapis-lapis bagaikan jaring laba- laba, bayangan telapak tangan, cahaya pedang membiaskan sinar tajam yang menyilaukan mata.

Dengan rasa geram Ong Bun-kim membentak:

"Baik, jika kalian memang ingin mampus jangan salahkan kalau aku akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran!"

Bayangan khim, pukulan telapak tangan serentak memenuhi angkasa.

Jerit-jerit kesakitan kembali berkumandang memenuhi angkasa, puluhan orang jago dari enam partai besar yang sedang maju menyerang, seketika terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah oleh pukulan yang tak terwujud dari anak muda itu.

Tiba-tiba. dikala kawanan jago enam perguruan sama- sama terpukul ke belakang, tiga kali suara dentingan khim berkumandang memecahkan kesunyian, ketika dentingan suara khim tersebut ibaratnya pedang pedang tajam yang menembusi ulu hati mereka.

Ong Bun kim rupanya sudah dibuat marah, dengan tangan kiri membopong khim, tangan kanan nya memetik senar-senar alat musik itu,maka terdengarlah suara irama musik yang tinggi melengking dan membetot sukma.

Pucat pias paras muka jago jago dari enam partai, mendadak terdengar seorang diantaranya berteriak:

"Hati-hati itulah irama pembetot nyawa."

Sedikitpun tidak salah, irama musik yang dipetik Ong Bun-kim waktu itu memang irama pembetot nyawa, salah satu diantara irama maut yang tercantum dalam Pek-mo-ki (irama setaksa iblis).

Ong Bun-kim sudah tak dapat menahan amarahnya hawa pembunuh yang menggidikkan hati telah menyelimuti wajah anak muda itu, sambil menyeringai seram, ia memetik irama pembetot nyawa itu.

Sekarang tak ada yang bergerak lagi, puluhan orang jago dari enam partai besar itu telah berdiri sekaku patung, mereka sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengerahkan tenaga murni irama pembetot nyawa hanya bisa dilawan dengan kekuatan Iwekang saja.

Irama khim masih mengalun bagaikan sayatan pisau, sayatan yang membelah hati mereka...

"Aduuh. aduuh."

Jeritan demi jeritan berkumandang memecahkan kesunyian, sudah ada lima orang yang muntah darah dan roboh terjengkang ditanah.

Akan tetapi pembotot sukma dari Ong Bun kim masih berlangsung terus tanpa adanya tanda-tanda berhenti, bila permainan khimnya sampai dilanjutkan hingga selesai, sudah dapat dipastikan belasan orang jago dari enam partai besar itu mungkin akan tewas semui secara mengerikan.

Jeritan-jeritan yang menyayat hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, ada delapan orang yang roboh kembali sesudah muntah muntah darah segar.

Pembunuhan brutal yaa, pembunuhan ini memang suatu pembunuhan yang brutal, untuk melampiaskan semua rasa dendam dan bencinya, pemuda yang sedang dicekam perasaan kebencian ini tak segan-segan menciptakan suatu badai pembunuhan yang kejam.

Tampaknya sebentar lagi semua jago dari enam perguruan besar akan tewas dalam mengerikan.

Di saat-saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba berkumandang suara tiupan seruling yang merdu merayu bagaikan irama dewa.

Begitu irama seruling tadi berkumandang, seketika itu juga daya pengaruh dari Khim pembetot sukma lenyap tak berbekas.

Kawanan jago dari enam partai besar yang sedang mengerahkan tenaga dalam untuk melakukan perlawanan itu segera terbebas dari tekanan, bagaikan memperoleh pengampunan, mereka menghembuskan napas lega.

Dengan demikian, Ong Bun-kim menghentikan pula permainan Khim mautnya.

Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa serta tiba-tiba ia menerjang ke arah mana berasalnya irama seruling tadi.

Tapi sebelum anak muda itu sempat berlalu dari situ, sesosok bayangan manusia telah menerjang lebih dulu ke hadapan Ong Bun-kim. Terpaksa pemuda Ong menarik kembali gerakan tubuhnya sambil menyurut mundur, seorang kakek kurus yang bertubuh pendek tahu-tahu sudah muncul di hadapan dengan wajah menyeringai seram.

"Kembalikan nyawa kakakku..." demikian ia membentak.

Berbareng dengan suara bentakan itu, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke dada Ong Bun-kim.

Sungguh cepat serangan yang dilancarkan kakek kurus pendek itu, dalam keadaan tidak bersiap siaga nyaris Ong Bun kim tersapu oleh pukulan tersebut.

Sesungguhnya Ong Bun-kim sedang marah dan mendendam lantaran permainan irama Khimnya di kacau oleh irama seruling orang, dan kini kakek pendek tersebut menyergapnya secara gencar tanpa mengucapkah sepatah katapun, keadaan ini ibarat nya minyak bertemu api, kontan saja semakin membangkitkan.kemarahan di hatinya.

"Bangsat! Mau apa kau?" hardiknya dengan napsu membunuh meluap.

"Mau apa? Bajingan cilik... tentu saja menggorok lehermu."

"Kenapa?"

"Yang-ciang (pukulan hawa pinas) salah seorang diantara Kiam hay lak yu yang kau bunuh adalah kakakku, sekarang serahkan nyawa anjingmu." Sambil membentak ia menerjang lagi ke depan segulung angin pukulan yang amat dingin cepat menerpa ke depan.

"Cari mampus." teriak Ong Bun-kim semakin marah. Telapak tangan kanannya segera diayun melepaskan sebuah pukulan maut. Dengan cepat ancaman diri Im-ciang (pukulan hawa dingin) terbendung, tapi sebelum anak muda itu sempat berbuat sesuatu, bentakan dingin tiba-tiba berkumandang lagi dari empat penjuru, menyusul kemudian puluhan titik cahaya berkilauan mengancam tubuh Ong Bun kim dari mana-mana.

Serangan dahsyat dari taburan senjata rahasia itu membuat Ong Bun kim hampir saja tak dapat menghindarkan diri, cepat dia menyurut mundur ke belakang.

Tapi pada saat itulah kembali ada puluhan titik cahaya tajam yang menerjang tiba dari mana-mana. Karena terlalu gegabah menghadapi ancaman lawan untuk kesekian kalinya Ong Bun-kim terdesak lagi sejauh tujuh delapan langkah ke belakang

Tiba-tiba suara hentakan nyaring menggelegar di udara, menyusul kemudian sesosok bayangan hitam menerjang kearan Im ciang.

Dengusan tertahan berkumandang diudara, menyusul tubuh si pukulan hawa dingin roboh terjengkang ketanah.

Semua adegan yang berlangsung dihadapannya ini segera membuat Ong Bun kim tertegun.

Ia mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, maka tampaklah bayangan itu sudah berdiri tiga kaki dihadapannya orang itu adalah seorang manusia berkerudung hitam, dalam genggamannya menenteng seseorang dia adalah Im ciang.

Betapa cepatnya gerakan tubuh orang itu bisa terlihat dari semua tindakan yang ia lakukan, Ong-Bun-kim menjadi amat terperanjat. Sementara itu, si bayangan berkerundung mengempit tubuh Im-ciang dengan tangan tangan kirinya, sedang tangan kanannya digunakan untuk menepuk bebas jalan darah ditubuhnya.

Pelan-pelan si pukulan hawa dingin siuman kembali dari pingsannya.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin, lalu- bentaknya:

"Pukulan hawa panas dari Kiam-hay-lak-yu apakah merupakan kakakmu...?"

"Benar, tapi si... siapa kau?"

"Kau tidak berhak untuk mengetahui siapakah aku, tapi yang jelas mata uang kematian yang dimiliki kakakmu tidak dibawa serta ke bukit Jin-gwat-hong, apakah disembunyikan di tempatmu?"

Ketika Ong Bun-kim mendengar ucapan tersebut, jantungnya berdetak lebih keras, napsu membunuh pun seketika menyelimuti seluruh wajahnya..

Kalau didengar dari pembicaraan yang berlangsung, bisa disimpulkan bahwa manusia berkrudung itu adalah pembunuh sesungguhnya yang telah membinasakan Kiam- hay-lak-yu, tak heran kalau napsu membunuh seketika menyelimuti wajah pemuda itu.

"Mau apa kau?" kedengaran si pukulan berhawa dingin bertanya dengan suara dingin.

"Aku menghendaki mata uang kematian itu!" "Jangan bermimpi disiang hari bolong!" "Oooh jadi kau ingin mampus?"

"Kalau benar kenapa kau tidak cepat turun tangan?" Manusia berbaju hitam itu tertawa dingin, suara tertawanya mengerikan sekali, tiba-tiba tangan kanannya melancarkan suatu sodokan kedepan dan tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok.

Termakan oleh totokan tersebut, orang itu terlongo kesakitan, mukanya mengejang keras, otot-otot hijaunya pada moncol keluar keadaannya sungguh amat tersiksa.

Ong Bum-kim selama ini hanya berdiri tak berkutik ditempat, rupanya ia sedang menikmati cara si manusia berkerudung menyiksa musuhnya...

"Mau menjawab tidak?" ejek manusia berkerudung itu dengan suara dingin.

"Aku... aku..."

"Jika kau tak mau berbicara lagi, jangan salahkan kalau sebelum ajalmu tiba akan mengalami suatu penyiksaan yang luar biasa hebatnya..."

"Baik... baik aku berbicara!"

Manusia berkerudung hitam itu tertawa bangga ia membebaskan orang itu dari pengaruh totokan. lalu bentaknya:

"Cepat jawab! Kau simpan dimana benda tersebut?"

Si pukulan berhawa dingin menarik napas berulang kali untuk melegakan dadanya, setelah itu baru merogoh sakunya dan nengeluarkan sebuah mata uang yang perak seperti apa yang pernah di peroleh Ong Bun kim.

Manusia berkerundung hitam tertawa dingin, setelah mendapat mata uang kematian itu katanya:

"Kau sangat jujur, baiklah! Kuampuni selembar jiwamu!" Tubuh si pukulan berhawa dingin dilemparkan ke muka dan..."Bruuk! sambil muntah darah segera ia terbanting ke tanah, mungkin lantaran isi perutnya mengalami kegoncangan, orang tersebut jatuh tidak sadarkan diri

Manusia berkerudung hitam itu tertawa seram tanpa menggubris lagi keadaan musuhnya dia melompat pergi dari situ.

"Berhenti!" Ong Bun-kim segera membentaknya.

Dengan suatu gerakan kilat ia melompat kemuka dan menerjang kehadapan manusia berkerudung hitam itu.

Karena bentakan tadi, serta merta manusia berkerudung itu menghentikan gerakan tubuhnya, saat itulah dengan suatu lompatan kilat Ong Bun-kim telah menghadang jalan perginya.

"Mau apa kau?" tegur manusia berkerudung itu sambil tertawa dingin.

"Mau apa? Heee heeehhh heeehh... aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu!" kata Ong Bun- kim sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Kalau ingin berkentut. kenapa tidak cepat kau lepaskan bau busukmu itu ?"

"Aku pikir Kiam hay-lak-yu yang ditemukan tewas diatas puncak Jit-gwat-hong tentu telah mati ditanganmu bukan?"

"Ada apa?"

"Jika benar demikian, maka ada sesuatu bagian dari perbuatan saudara yang membuat seorang tak senang!"

-oooOdwOooo-

BAB 6 SILUMAN BUNGA PENGHISAP DARAH

"MEMBUAT orang tidak senang?" tanya orang itu keheranan. "Yaa, bila kau bunuh orang mustinya cantumkan dulu namamu, jadi perhitungannya tidak sampai ditagihkan kepada orang lain. Coba bayangkan, kalau sampai terjadi begini orang akan bersenang hati tidak?"

"Apakah orang-orang pada mencarimu?"

"Tentu saja, bahkan ada satu persoalan hendak kusampaikan padamu..."

Sesudah berhenti sebentar, ia bertanya lagi: "Apakah kau pandai juga menggunakan ilmu pukulan dari enam partai besar?"

"Kalau benar kenapa?" "Sebetulnya siapa kau?"

"Aku rasa tak ada kepentingan untuk memberitahukan hal ini kepadamu."

Paras muka Ong Bun kim masih tetap tenang bahkan sekulum senyuman masih mengatasi ujung bibir nya, siapapun tidak akan tahu kalau hawa pembunuhan telah berkobar dalam dadanya.

Kembali pemuda itu tertawa, katanya.

"Saudara, kenapa kau tak berani menyebutkan namamu?"

"Sebab apa aku harus mengatakannya kepadamu?" "Lepaskan kain kerudungmu itu, akan kulihat siapa

gerangan manusia pengecut macam kau !"

"Hmm... kau masih belum pantas untuk mengetahuinya!" "Lantas siapa yang pantas?". "Tidak tentu. "

Ong Bun kim tertawa seram, kembali katanya.

"Jadi kedatangamu untuk mendapatkan mata uang kematian tersebut. ?"

"Tepat sekali !"

"Akupun mempunyai sebuah."

"Apa?" mungkin lantaran kaget, manusia berkerudung hitam itu menjerit tertahan.

Kembali Ong Bun-kim tertawa hambar. "Kenapa? Kau tidak percaya?"

"Dimana kau simpan benda tersebut?" Ong Bun-kim segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan mata uang kematian, sambil di letakkan pada telapak tandannya ia berkata.

"Benda ini bukan yang kaucari?" Sorot mata manusia berkerudung yang tajam itu menatap mata uang kematian dalam telapak tangan Ong Bun-kim tanpa berkedip, kemudian tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh.,.. betul, mata uang kematian yang berada di tanganmu memang benda yang asli!"

"Tentu saja asli, memangnya aku sengaja membohongi kau?."

"Bawa kemari!" bentak manusia berkerudung hitam itu dengan suara sedingin es.

"Kau menginginkannya?" "Benar, hayo bawa kemari!" "Seperti yang kau lihat, benda ini berada dalam telapak tanganku, kenapa tidak kau ambil sendiri?"

"Baik..."

Diiringi bentakan tersebut manusia berkerudung biiam itu menerjang ke hadapan Ong Bun-kim dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tangannya langsung menyambar mata uang tadi.

Cengkeraman yang dilancarkan manusia berkerudung hitam itu terhitung cepat sekali bagaikan sambaran kilat, dimana ujung jarinya berkelebat lewat ia sudah mencoba mata uang tersebut.

Disaat ujung jari manusia berkerudung hitam itu hampir menempel diujung mata uang tersebut tiba-tiba Ong Bun- kim membentak nyaring, khim besi yang telah disiapkan ditangan kirinya langsung menyodok ke muka.

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan yang luar biasa.

Bayangan manusia kembali berkelebat, dari serangan manusia berkerubung hitam itu merubahnya menjadi serangan membacok, kendatipun ancaman dari Ong Bun- kim dihindari, tak urung peluh dingin membasahi juga tubuhnya lantaran kaget.

Ong Bun-kim tak kalah kegetnya oleh keadaan tersebut. Selisih  jarak  antara  kedua  belah  pihak  amat  pendek,

biasanya bila ia serang musuh dengan jurus Hong-kian-jian-

im (gulungan angin membuyarkan sisa awan), pukulan tersebut pasti akan bersarang telak.

Tapi kenyataannya musuh dapat menghindarkan diri, ini menunjukkan kalau ilmu silat yang dimiliki lawan tidak berada dibawah kepandaian sendiri. Manusia berkerudung itu menengadah dan tertawa seram, katanya:

"Bocah keparat, hampir saja aku tertipu oleh siasatmu!" "Betul !" kata Ong Bun-kim pula sambil tertawa panjang,

"seandainya kau tak dapat menghindarkan diri dari seranganku ini, nyaris nyawamu lenyap oleh khim bajaku."

"Untung aku cukup cekatan dan pandai menghindarkan diri dengan seranganmu, kalau tidak bukankah aku bakal celaka?"

"Betul, kalau engkau pandai mempergunakan ilmu pukulan dari enam partai besar, sudah tentu kenal dengan guruku bukan?"

"Betul..."

"Sekarang dia berada dimana?" "Darimana aku tahu?"

"Kau segan mengatakannya?"

"Tidak sulit kalau kau ingin mengetahui dimanakah ia berada, cuma ada syaratnya."

"Apa syaratnya?" tanya Ong Bun-kim dengan perasaan hati bergetar keras.

"Serahkan mata uang kematian itu kepadaku!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Seandainya syarat lain yang diajukan, mungkin ia akan menyutujuinya dengan segera tapi hanya soal ini tak bisa dia penuhi.

Terpaksa dari apa kegunaan mata uang kematian tersebut benda itu merupakan benda yang diberikan Lui-tin jiu menjelang kematiannya, tentu saja ia tak dapat menyerahkannya kembali kepada orang lain.

"Bagaimana? Merasa keberatan?" ejek manusia berkerudung hitam itu sambil tertawa dingin.

Ong Bun-kim mengerutkan dahinya, lalu menjawab dengan ketus:

"Benar, aku tak bisa memenuhi keinginanmu itu, tapi kaupun harus tahu bila tidak kau katakan dimanakah ia berada, maka jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini!"

Manusia berkerudung hitam itu tak mau kalah dengan cepat ia berkata pula:

"Bila kaupun tidak menyerahkan mata uang kematian kepadaku, jangan harap bisa tinggalkan pula tempat ini dengan selamat!"

"Kalau begitu, rupanya kita harus berkelahi dulu untuk menentukan siapa lebih unggul dari kita?"

"Memang begitu seharusnya!" "Kenapa tidak dicoba sekarang juga?"

Ong Bun-kim masukkan "mata uang kematian" itu kedalam sakunya, lalu memegang khim baja tersebut dengan tangan kanannya, sinar pembunuhan ymg menggidikkan hati memancar keluar dari balik matanya, selangkah demi selangkah ia maju mendekati musuhnya.

Manusia berkerudung hitam itu ikut maju pula ke depan.

Suasana menjadi tegang, setiap saat pertarungan dapat berkobar...

Ditengah keheningan, tiba-tiba manusia berkerudung itu berteriak keras, bagaikan sosok sukma gentayangan ia menerjang maju ke depan dan menghantam batok kepala Ong Bun-kim dengan gaya bukit tay-san menindih kepala.

Bukan saja serangan itu dilakukan amat cepat, tenaga pukulan yang disertakan pun amat berat.

Ong Bun-kim berkelit kesamping, begitu terhindar dari serangan maut manusia berkerudung itu, Khim bajanya seperti sambaran kilat menyerang kemuka dengan jurus Liok-hoa-tiu-su (bunga berguguran air mengalir)...

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan tinggi, bayangan manusia saling menyambar dan masing-masing pihak sudah melepaskan tiga buah serangan berantai.

Walaupun hanya tiga jurus yang singkat, namun sudah cukup bagi kedua belah pihak untuk menilai sampai dimanakah taraf kepandaian yang dimiliki musuhnya, mereka sadar bahwa kekuatan mereka seimbang, berarti bukan pekerjaan yang gampang bagi mereka untuk merobohkan lawannya.

Tiba-tiba Ong Bum-kim membentak keras, dengan menggunakan tangan kirinya ia melancarkan sebuah serangan memakai jurus Sin-liong kian-jiao (naga sakti unjuk cakar).

Manusia berkerudung hitam itu memutar tangan kanannya satu lingkaran, lolos dari serobotan Ong Bua-kim, ia mencoba untuk melakukan balasan tapi dalam sekejap itulah Ong Bun-kim telah menyapu tubuh lawan dengan senjata kim bajanya.

Manusia berkerudung hitam itu jadi gugup, dalam keadaan yang terdesak, ia tangkis ancaman itu dengan tangan kirinya.

"Cari mampus." bentak Ong Bun-kim. Tenaga serangannya tiga kali lipat diperhebat dan pukulan itu bersarang telak diatas lengan kiri nya.

"Traaak." diiringi benturan nyaring, manusia berkerudung hitam itu tergetar mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan

Ong Bun-kim menengadah dan memperhatikan keadaan lawannya, tapi dengan perasaan kaget ia segera menjerit.

Menurut perkiraannya semula, sampai dimana pun sempurnanya tenaga dalam yaag dimilikinya lawan, setelah termakan oleh pukulan tersebut niscaya akan kutung, siapa tahu kenyataannya lengan itu masih utuh dan sehat seperti sedia kala.

Tidaklah heran kalau kejadian itu membuat Ong Bun kim merasa amat terperanjat.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa hambar katanya.

"Bocah keparat, kau memang tidak malu menjadi ahli warisnya Kui-jin-su seng tapi menurut pendapatku, rupanya ilmu silatmu sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari Kui-jin suseng sendiri....

"Engkau terlampau memuji!"

"Eeeh bocah muda, bagaimana kalau kau sambut kembali sebuah seranganku ini?"

Sambil membentak nyaring sekali lagi manusia berkerudung hitam itu menerjang ke depan, telapak tangan kanannya diayunkan kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

"Kurangajar!" pemuda itu berpekik nyaring, "sebelum salah seorang diantara kita mampus, hari ini kita tak boleh berhenti!" Dengan mempergunakan senjata khim bajanya ia melepaskan juga sebuah serangan yang gencar.

"Tahan!" tiba tiba bentakan keras berkumandang dari luar gelanggang, bentakan tersebut nyaring dan penuh kekuatan.

Menyusul suara bentakan itu muncul beberapa sosok bayangan manusia dari empat penjuru.

Karena kehadiran manusia-manusia yang tak di-undang itu, terpaksa manusia berkerudung itu mau pun Ong Bun- kim menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.

Sorot mata mereka sama-sama dialihkan ke arah mana berasalnya suara bentakan tadi, tampak seorang perempuan gemuk berbaju metab menyala diiringi empat orang gadis berbaju merah pula muncul ditepi gelanggang...

Dengan senyuman dikulum perempuan gemuk berbaju merah itu menyapu sekejap sekeliling gelanggang, lalu sinar matanya berhenti diatas wajah Ong Bun-kim.

"Heeeh heeeh.... hehh. Jadi kau yang menjadi ahli warisnya Kui-jin Suseng?" ia menegur sambil tertawa dingin.

"Kalau benar kenapa?"

"Kau pernah berkunjung ke bukit Jit-gwat-hong?" "Benar!"

"Apa yang kau temukan diatas puncak Jin-gwat-hong tersebut?"

"Mayat dari Kiam-hay lak-yu!" "Dan kau pula orang yang telah membinasakan Samjie hekhou (rase hitam berlengan tiga)?" perempuan itu kembali bertanya.

Mendengar nama -orang itu Ong Bun-kim merasakan hatinya bergetar keras, karena nama "Sam-Jinhek-hou" baru pertama kali di dengarnya, meski demikian nama orang itu amat menggetarkan perasannya, sebab sebelum ajalnya Lui- tian jiu telah mengatakan bahwa pembunuh mereka adalah seseorang yang menggunakan huruf, Sam" sebagai permukaan namanya.

Maka ia tertawa dingin, dengan sengaja tak sengaja diliriknya manusia berkerudung itu sekejap, lalu ejeknya:

"Sam-jiu-hek-hou?" "Benar!"

Sepasang alis mata Ong Bun-kim berkerut kencang,  suatu perubahan mimik wajah yang sukar di lukiskan dengan kata kata melintas diatas wajah nya, setelah termenung sebentar dengan kecerdasan serta kemampuannya, ia dapat menduga perempuan macam apakah manusia yang bernama Sam-jiu-hek-hou tersebut.

Ia tersenyum lebar, kemudian tanyanya: "Kau maksudkan perempuan berbaju hitam yang membinasakan Kiam-hay-lak yu itu?

"Benar! Memang dialah yang kumaksudkan, itu berarti kau benar-benar telah berjumpa dengannya, apakah ia sudah tewas ditanganmu?"

Setelah Ong Bun-kim berhasil membuktikan persoalan ini dia mulai merasa bingung oleh masalah lain, tak bisa disangsikan lagi kalau Kiam hay-lak yu memang tewas ditangan Sam jiu-hek hou, tapi siapa pula yang telah membinasakan Rase hitam berlengan tiga itu? Siapa pula manusia berkerudung hitam yang sesungguhnya?

Pelbagai tanda tanya dan kecurigaan menyelimuti seluruh benak Ong Bun-kim, hingga kini jangankan memahaminya, untuk mengetahui apa gerangan yaag telah terjadipun ia tak bisa.

Kendatipun demikian, anak muda itu tertawa seram juga dengan suara yang amat sinis..

"Kenapa kau menuduh aku yang telah membinasakannya?"

"Yaa, sebab kau ingin mendapatkan mata uang kematian tersebut?"

Ong Bun-kim tertawa lebar, pelan-pelan sinar matanya dialihkan ke wajah manusia berkerudung Hitam itu. sekarang ia dapat menduga bahwa Sam jiu-hek-hou kemungkinan besar telah tewas ditangan manusia berkerudung hitam yang berada di hadapannya sekarang.

Maka ia tertawa lebar, katanya.

"Sayang seribu kali Sayang tuduhanmu itu tak beralasan, sebab aku tak pernah membinasakan Sam jiu-hek-hou tersebut!"

"Lantas ia telah binasa ditangan siapa?"

"Aku tak berani menuduh seenaknya sendiri, karena aku tidak menyaksikan peristiwa pembunuhan itu dengan mata kepala sendiri"

"Bukankah engkau mempunyai mata uang kematian?" "Betul! Dan memang begitu kenyataannya"

"Kalau begitu, cepat serahkan kepadaku!" Sambil membentak perempuan gemuk berbaju merah itu memburu ke depan dan langsung menerjang ke arab si anak muda itu dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya dan sorot mata seperti salju, ditatapnya wajah Ong Bun-kim tanpa berkedip

"Bila aku keberatan untuk menyerahkannya kepadanya?" ejek Ong Bun-kim sambil tertawa sinis.

"Keberatan untuk menyerahkannya kepadaku?

Hmm kalau engkau berani berbuat demikian, darah dari tubuhmu akan segera berceceran dihadapanmu!"

Manusia berkerudung hitam yang selama ini hanya membungkam terus, tiba-tiba tertawa dingin lalu katanya:

"Bukankah kau adalah Sip hiat-yau-hoa (Siluman bunga penghisap darah), anak buah dari Sin-li kokcu?"

Mendengar disebutkannya nama itu, paras muka perempuan gemuk berbaju merah itu berubah hebat.

"Benar, akulah orang yang kau maksudkan, siapa kau?" tegurnya.

"Siapakah aku lebih baik tak usah kau tanyakan, yang perlu kau ketahui adalah akupun mempunyai sebiji mata uang kematian"

"Apa? Kaupun memiliki satu biji mata uang kematian?

Hal ini mana mungkin terjadi!"

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, pokoknya aku memang memiliki juga sebiji mata uang kematian!"

Kontan saja Siluman bunga penghisap darah tertawa dingin.

"Bagus sekali, jikalau kaupun memeliki sebiji mata uang kematian, maka sebelum kau serahkan pula kepadaku hari ini, jangan harap bisa tinggal kan tempat ini dalam keadaan selamat"

"Kalau memang begitu, apa salahnya kalau kita saling mencoba sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang kau miliki?"

Siluman bunga penghisap darah tidak banyak berbicara, ketika manusia berkerudung hitam itu menyelesaikan kata- katanya, dengan sekali lompat tahu-tahu perempuan gemuk itu sudah berada dihadapan musuhnya.

Jangan dilihat badannya yang segede gentong, ternyata kelincahan tubuhnya tidak kalah dengan perawan.

"Siapakah diantara kalian berdua yang hendak maju lebih dahulu." bentaknya.

Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin, baru saja dia akan menjawab, Ong Bun-kim telah keburu tertawa dingin.

"Aku!" jawabnya singkat.

"Bagus sekali, kalau memang begitu cobalah dahulu sebuah pukulanku ini !"

Ditengah bentakan keras, secepat kilat tubuhnya menerjang ke hadapan Ong Bun-kim, lalu dengan suatu gerakan yang aneh dia hantam wajah anak muda itu.

Sungguh cepat dan dahsyat serangan yang dilepaskan oleh Siluman bunga penghisap darah.

Ong Bun-kim sama sekali tidak gentar, sambil tertawa dingin telapak tangan kirinya diayun pula ke depan melepaskan sebuah serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan paling tinggi, baru saja serangan dari Ong Bun-kim dilancarkan. Siluman bunga pengisap darah telah merubah gerakan serangannya, dari suatu serangan membacok tiba-tiba ia menyodok jalan darah Ciang tay-hiat ditubuh lawan.

Ketepatan dalam serangan, kedahsyatan dalam penggunaan tenaga sungguh membuat orang merasa kagum.

Ong Bun-kim tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan orang, sambil membentak keras khim besi ditangannya diayunkan pula ke depan langsung menyambar dada Siluman bunga pengisap darah.

Agak terperanjat perempuan gemuk berbaju merah itu menghadapi serangan kilat lawan, tanpa sadar dia menyurut mundur tiga langkah.

Tapi Ong Bun-kim tak mau memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, menggunakan kesempatan tersebut, sekali lagi dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Kali ini, si anak muda menyerang dengan gerakan yang lebih garang, lebih keji dan telengas.

Siluman bunga pengisap darah membentak nyaring dengan gaya beradu jiwa ia menerjang kemuka.

Ong Bun-kim membentak pula keras-keras, dengan khim bajanya ia melancarkan sebuah serangan balasan.

Dalam waktu singkat lima jurus sudah lewat tanpa terasa.

Mendadak Ong Bun-kim membentak keras: "Roboh kau !"

"Blaaang !" sebuah pukulan dengan khim bajanya bersarang telak ditubuh perempuan gemuk berbaju merah itu, tak ampun ia mencelat ke belakang dan roboh terkapar darah kental muncrat keluar membasahi sekeliling bibirnya.

Apa yang terjadi sekarang hanya berlangsung dalam sekejap mata, tak sampai sepuluh gerakan Ong Bun-kim telah berhasil melukai siluman bunga penghisap darah yang lihay ini menunjukkan bahwa ilmu silat yang dimilikinya benar-benar sudah mencapai taraf yang amat tinggi.

Disaat Siluman bunga penghisap darah roboh terkapar sambil membentak Ong Bun-kim menerjang ke muka tapi empat orang gadis berbaju meraa yang berada dibelakang serentak membentak, lalu sambil menerjang ke depan mereka hadang jalan pergi anak muda itu.

0000OdwO0000

BAB 7

KELELAWAR MALAM

"CARI mampus." bentak Ong Bun kim marah.

Sambil membentak keras, serentak kedua belah tangannya diayunkan untuk melancarkan serangan tangan kiri menyerang dengan menggunakan senjata khim baja.

Manusia berkerudung yang misterius tadi hanya berdiri disamping gelanggang sambil berpeluk tangan, ia tidak bergerak ataupun mengucapkan sesua tu seakan-akan ia kelewat senang menikmati cara Ong Bun kim membunuh orang secara keji. .

Betul juga, jerit kesakitan menyayatkan hati seketika berkumandang memenuhi angkasa.

Dua orang gadis berbaju merah yang menghadang jalan pergi Ong Bun kim tadi sudah terhajar sampai jatuh terjengkang diatas tanah. Ketika dua orang rekannya menyaksikan adegan seram itu, dengan ketakutan cepat-cepat mereka mundur kebelakang.

Ong Bun-kim menatap mereka dengan pandangan tajam yang menggidikkan hati, kembali bentaknya.

"Siapa lagi yang sudah bosan hidup ? Hayo cepat laporkan dulu siapa namanya!"

Dengan ketakutan kembali dua orang perempuan berbaju merah itu mundur selangkah ke belakang.

Kekejaman dan kebrutalan menghiasi wajah Ong Bun- kim yang dingin, selangkah demi selangkah ia maju ke muka menghampiri Siluman bunga penghisap darah yang masih tergeletak ditanah itu.

Bayangan manusia berkelebat lewat, dan tahu-tahu perempuan gemuk berbaju merah itu sudah di cengkeramnya.

Begitu korban berhasil ditangkap, sambil menyengir seram ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Disaat itulah Siluman bunga penghisap darah sadar kembali dari pingsannya ketika ia mengetahui kalau tubuhnya sudah terjatuh dalam cengkeraman Ong Bun-kim, kontan saja paras mukanya berubah menjadi pucat keabu- abuan.

"Heehh...heeeh heeehhh... tolong tanya sekarang, siapakah yang akan mampus dengan darah berceceran?" ejek Ong Bun-kim sambit tertawa dingin tiada hentinya.

"Mau. mau apa kau?"

Ong Bun-kim tertawa congkak, sekulum yang sukar diraba artinya menghiasi ujung bibirnya. "Sulit untuk dikatakan apa yang bakal kulakukan" demikian ia menjawab dengan sinis, "kemungkinan kau akan kubunuh, kemungkinan juga kau akan kulepas, itu semua tergantung apakah kau bersedia menjawab sebuah pertanyaan yang akan kuajukan kepadamu!"

"Pertanyaan apa yang hendak kau ajukan kepadaku?" "Apakah kau adalah anak buah dari Sin-li-kok (lembah

gadis suci)?" Ong Bun kim mulai bertanya, "Tepat sekali

pertanyaanmu itu!"

"Lembah Sin-li-kok terletak dimana?" "Sayang aku tak mau menjawab!"

"Wahai Siluman bunga penghisap darah! teriak "anak muda itu dengan penuh kemarahan, jika kau tidak menjawab pertanyaanku ini pertama-tama akan kurusak lebih dulu raut wajahmu, kemudian....heeebhh heeehhh heeeh akan kusuruh kau merasakan lagi suatu penyiksaan yang terkeji sebelum akhirnya jiwamu kurenggut."

Cukup hebat ancaman tersebut, seketika itu juga sekujur badan Siluman bunga penghisap darah gemetar keras.

"Jangan,....jangan kau lakukan itu......baiklah kujawab dengan sejujurnya. Lembah Sin li kok terletak diatas bukit Soat im san."

"Apa. ? Lembah Sin li kok berada diatas bukit Soat im

san ?" saking kagetnya Ong Bun kim sampai menjerit tertahan.

Secara tiba-tiba saja ia teringat akan perkataan yang pernah disampaikan Tui hong pocu kepadanya menurut kakek itu, diatas bukit Soat-im-san telah muncul sebuah perguruan yang amat misterius, dan kokcu dari lembah tersebut kemungkinan besar adalah salah satu diantara Siau Hiu un dan Coa Siok oh.

"Betul, letaknya berada diatas bukit Soat im-san!" Siluman bunga penghisap darah kembali membenarkan.

Dalam waktu yang amat singkat itu pelbagai perubahan berlangsung diatas wajah Ong Bun kim kejadian yang hakikatnya berada diluar dugaan ini membuat anak muda itu merasa kaget bercampur tercengang, untuk sesaat ia cuma dapat berdiri tertegun dengan wajah kebingungan.

Lama.....lama sekali paras muka Ong Bun kim baru berubah kembali menjadi tenang, kembali ia bertanya:

"Siapakah nama kokcu kalian?"

"Kui kok sin li (Gadis suci lembah setan)!"

"Aku menanyakan siapa nama sebenarnya?" bentak anak muda itu.

"Aku tidak tahu!"

"Apa? Tidak tahu? Omong kosong... masa kalian tidak tahu siapa namanya yang sesungguhnya."

"Tapi aku sungguh tidak tahu!"

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat. "Jadi kau sengaja tak mengakuinya?" ia berteriak.

"Tidak, aku tidak berkepentingan untuk membohongi kau, kami benar-benar tak tahu siapa nama aslinya, sebab kami semua hanya menyebutnya sebagai Kui kok sin li!" jawab siluman bunga penghisap darah dengan nada yang panik.

Ong Bun kim termenung sebentar, ia merasa tidak mungkin memang kalau Siluman penghisap darah sengaja membohonginya, tapi harusnya orang itu dibunuh? Atau diampuni saja selembar jiwanya?

Lama, lama sekali, akhirnya ia tertawa dingin. "Sesungguhnya kau ingin mati ataukah ingin hidup?" ia

menegur.

"Kalau ingin mati bagaimana? Dan kalau ingin hidup bagaimana pula."

"Kalau ingin hidup pergi beritahu kepada kokcu kalian bahwa dalam tiga hari mendatang, putra Su-hay-pong-kek Ong Si liat akan datang menyambanginya!"

"Tentang soal ini, aku bisa melaksanakannya untukmu!"

Ong Bun kim tidak berbicara lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat secara beruntun ia menotok empat buah jalan darah kematian diatas tubuh Siluman bunga penghisap darah, kemudian katanya:

"Jalan darah kematian ditubuhmu sudah kutotok semua bila kokcu kalian tak sanggup untuk membebaskan pengaruh totokan itu, maka jiwamu tak bisa melewati empat hari lagi, nah sekarang kau boleh enyah dari hadapanku..."

Sembari berkata, tubuh siluman bunga penghisap darah yang gemuk besar itu dilemparkan ke arah seorang gadis berbaju merah yang berada dihadapannya.

Dengan cepat gadis berbaju merah itu menyambut tubuh siluman bunga penghisap darah, tapi untuk sesaat lamanya ia cuma berdiri tertegun disitu rupanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Menyaksikan sikap musuhnya, Oug Bun kim segera membentak keras: "Hei, apa lagi yang kalian tunggu? Kalau enggan enyah dari sini, mari akan kuhantar kalian untuk pulang ke alam baka!"

Sesudah ditegur, dua orang gadis berbaju merah itu baru tersentak dari lamunannya, tanpa berbicara lagi mereka putar badan dan mengambil langkah seribu.

Sepeninggal perempuan-perempuan dari Sin li kok manusia berkerudung hitam itu baru mengejek sambil tertawa dingin:

"Caramu bersikap maupun tindakan yang kau ambil tak berbeda jauh dengan kelakuan gurumu dimasa lampau, itulah dinamakan begitu gurunya begitu juga muridnya, kagum kagum aku benar-benar merasa kagum!"

Ong Bun-kim tertawa dingin pula.

"Heeehhh heehh heeehh bukankah telah kau akui bahwa Kiam hay-lak-yu telah tewas semua ditanganmu?"

"Masa kau percaya? Aku hanya membohongimu!" "Kenapa?"

"Sebab kau telah menuduh akulah yang melakukan perbuatan itu. Padahal aku mengidap suatu penyakit aneh yakni apa yang telah dituduhkan kepadaku selalu kuakui dengan begitu saja!"

"Lantas apakah Sam jiu-hek-hou juga tewas di tanganmu?" tanya Ong Bun-kim lagi.

"Ooooh rupanya sekarang aku harus menyangkalnya!"

Ong Bun-kim tertegun, ia tak menyangka kalau manusia berkerudung hitam itu menyangkal sebagai pembunuh dari perempuan yang bernama Rase hitam berlengan tiga, sebab dengan begini maka berarti bahwa persoalan dibalik kesemuanya itu bukan persoalan yang gampang. Kembali ia termenung sejenak, lalu tanyanya:

"Berapa biji mata uang kematian yang berhasil kau miliki?"

"Hanya satu biji?"

"Betul, bila ditambah milikmu maka aku akan memiliki dua biji!"

Ong Bun-kim segera tertawa lebar.

"Oooh...... tampaknya kau begitu bernapsu uniuk mendapatkan pula mata uang kematian yang berada disakuku ini?"

"Betul!"

"Kau ingin berkelahi sekali lagi?"

"Tidak, aku tak ingin berkelahi... aku menghendaki suatu penyelesaian secara damai"

"Penyelesaian secara danai bagaimana maksudmu."

"Tak ada salahnya jika kita bertaruh, akan kuletakkan mata uang kematian yang kumiliki ini dalam genggamanku, lalu kau boleh menebak adakah atau tidak mata uang tersebut dalam genggaman yang kusodorkan ke hadapanmu, jika kau berhasil menebaknya secara jitu, maka mata uang kematianku ini akan kuberikan kepadamu."

"Kalau aku tak berhasil untuk menebaknya?!"

"Tentu saja kau harus serahkan mata uang kematian milikmu itu kepadaku."

"Bagus sekali, aku setuju!"

Manusia berkerudung hitam itu masukkan tangan kanannya ke dalam saku, tak lama kemudian tangan itu dicabut keluar, dengan mengepalnya kencang kencang, tangan kanan tadi diangsurkan ke hadapan Ong Bun-kim.

"Hayo coba kau tebak!." katanya.

Ong Bun-kin rada gentar, jantungnya serasa berdetak lebih kencang, ia tak tahu bagaimana jadinya bila ia kalah dalam pertaruhan tersebut ?

Mendadak ia seperti menemukan sesuatu, sambil tertawa lebar segera katanya:

"Ada! Hayo cepat buka."

Dalam bentakan Ong Bun-kim yang sangat nyaring itu, Manusia berkerudung hitam tersebut benar-benar membentang tangannya. Tak salah lagi, dalam genggamannya memang terdapat sebiji mata uang kematian.

Kontan saja manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin.

"Heeehhh heeehhh......heeeh... rupanya tebakanmu tepat sekali, nah ambillah pergi!"

Sinar emas tampak berkilauan, tahu-tahu mata uang kematian itu sudah dilemparkan ke arah Ong Bun kim.

Tertegun juga sianak muda itu setelah menerima mata uang kematian tersebut, karena ia tak mengira kalau manusia berkerudung hitam itu akan bertindak sejujur itu.

Manusia berkerudung hitam itu kembali tertawa dingin. "Aku telah kalah bertaruh dan mata uang kematian

sudah kau dapatkan, apa lagi yang harus kutunggu disini? Selamat tinggal!" katanya.

Selesai berkata, ia putar badan dan siap meninggalkan tempat itu. "Hei, tunggulah sebentar!" tiba-tiba Ong Bun-kim membentak keras.

Manusia berkerudung hitam itu menghentikan kembali langkah kakinya, ia bertanya:

"Hei anak muda, apa lagi yang hendak kau tanyakan kepadaku."

"Ada sesuatu urusan yang hendak kurundingkan denganmu" kata Ong Bun kim, jika mata uang kematian ini kembalikan kepadamu..."

"Aku diminta untuk memberitahukan dimana gurumu berada?" sambung manusia berkerudung hitam itu segera.

"Benar!"

Kembali Manusia berkerudung hitam itu tertawa dingin. "Heehhh heeehh heeehh sayang aku enggan untuk

bertukar syarat denganmu!"

Jawaban dari manusia berkerudung hitam itu sungguh berada diluar dugaan Ong Bun-kim, tanpa sadar ia menjerit:

"Kenapa?"

"Sebab nilai untuk memberitahukan jejak gurumu tak bisa dibayar hanya dengan sebiji mata uang kematian saja, dan lagi beberapa hari kemudian kedua biji mata uang kematian itu bakal terjatuh kembali ketanganku."

Berbicara sampai disana tanpa menanti lebih lama lagi ia putar badan dan berlalu dari sana.

Tindakan lawannya ini tentu saja membuat Ong  Bun kim tertegun, untuk sesaat dia tak tahu ada yang musti dilakukan.

-oo0dw0oo-