Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 04

 
Jilid 04

Orang-orang yang berada di tempat itu, rata-rata kaum rimba persilatan yang sudah terkenal. Namun mereka merasa merinding akan kehadiran orang berpakaian merah. Orang itu ternyata Heng Thian Ceng, wanita buruk rupa. Dia berdiri tegak di samping Ciok Giok Yin. Sepasang matanya menyorot tajam, memandang ke sekeliling.

"Kalian semua ingin berbuat apa?"

"Ingin menyelidiki satu urusan," sahut Sin Ciang Yo Sian. "Urusan apa?"

"Jejak Seruling Perak."

"Kalian juga menghendaki Gin Tie itu?"

Sin Ciang Yo Sian tahu akan kelihayan Heng Thian Ceng, apabila salah menjawab, nyawanya pasti akan

melayang. Karena itu, dia berpikir beberapa saat, setelah itu baru menyahut.

"Lohu. "

Namun Heng Thian Ceng langsung membentak memotong perkataannya.

"Kau berada di hadapan siapa menyebut dirimu 'Lohu' cepat enyah!"

Begitu membentak, Heng Thian Ceng pun maju tiga langkah. Walau Sin Ciang Yo Sian amat gusar dalam hati, tapi tidak berani melampiaskannya. Dia melototi Ciok Giok Yin, lalu melesat pergi tanpa menoleh lagi. Di saat bersamaan mereka yang lain pun ikut melesat pergi, dalam sekejap mereka sudah tidak kelihatan. Ciok Giok Yin segera memberi hormat pada Heng Thian Ceng.

"Terimakasih, lo cianpwee!" ucapnya.

"Tidak usah berterimakasih, aku cuma demi dirimu yang difitnah!" kata Heng Thian Ceng lalu menatap Ciok Giok Yin. "Mereka bertanya apa padamu?" "Hanya bertanya ada hubungan apa aku dengan lo cianpwee." "Bagaimana kau menjawabnya?"

"Tidak ada hubungan apa-apa."

"Betul. Nah, sekarang kau boleh pergi."

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, namun menoleh ke belakang lagi seraya bertanya.

"Apakah lo cianpwee yang memperoleh Seruling Perak itu?" "Apa maksudmu bertanya begitu?"

"Hanya. "

Ternyata Ciok Giok Yin melihat wajah wanita itu sudah diliputi hawa membunuh, maka tidak berani melanjutkan

ucapannya. Akan tetapi mendadak Heng Thian Ceng berkata.

"Aku pernah bilang, kalau kelak kita berjumpa kembali, mungkin aku akan membunuhmu. Kau masih ingat, bukan?"

Ciok Giok Yin menyahut angkuh. Ternyata sifat aneh Sang Ting It Koay telah menular padanya.

"Kalau kau yang memperoleh Gin Tie itu, aku pasti berkata jujur pada orang lain! Namun ketahuilah, mengenai Gin Tie itu, aku pun harus memperolehnya!"

Heng Thian Ceng tertegun.

"Kau juga ingin merebutnya?" katanya. "Tidak salah."

"Mau apa kau ingin memperoleh Gin Tie itu?"

"Lo cianpwee juga mau apa ingin memperoleh Gin Tie itu?" "Untuk dihadiahkan pada orang."

Hati Ciok Giok Yin tergerak ketika mendengar ucapan itu. "Dihadiahkan pada siapa?"

"Kau sudah terlampau banyak bertanya, pergilah!"

"Lo cianpwee belum memberitahukan padaku, apakah Gin Tie itu berada pada lo cianpwee?"

"Bukankah tulisan pada dinding batu itu sudah menjelaskan?" Sesaat Ciok Giok Yin terdiam, namun kemudian berkata.

"Aku telah difitnah oleh Sou Bin Koay Siu. Lo cianpwee harus menaruh perhatian tentang itu."

Heng Thian Ceng manggut-manggut. "Aku tahu!"

Setelah itu, dia pun melesat pergi bagaikan segumpal asap. Dalam waktu sekejap sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.

Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Dia tidak habis pikir, mengapa Heng Thian Ceng selalu melindunginya? Sungguh aneh! Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi.

Kini dalam benaknya, selain berisi dendam Sang Ting It Koay, juga memikirkan Hou Siu Kouw, apakah ibunya telah kembali? Dan bagaimana keadaan Bwee Han Ping? Saat ini dia tidak tahu akan jejak Ho Siu Kouw, kalau begitu, tentunya harus pergi menengok Bwee Han Ping. Apabila gadis itu aman tinggal di rumah keluarga Tong, Ciok Giok Yin akan mulai menuntut balas dendam Sang Ting It Koay.

Ketika melakukan perjalanan, mendadak dia teringat akan kitab tipis peninggalan Sang Ting It Koay. Di dalam kitab itu tercantum nama Kang Out Pat Kiat, salah seorang di antaranya Tui Hong Sin Cian (Jenderal Sakti Pengejar Angin) Cu Ling Yun. Tempat tinggalnya tidak jauh, yaitu perkampungan Hong Yun Cuang. Mengapa tidak berangkat ke sana dulu'? Ciok Giok Yin langsung melesat bagaikan kilat menuju perkampungan Hong Yun Cuang.

Jarak ke perkampungan tersebut tidak begitu jauh. Maka berselang beberapa saat kemudian, sudah tampak halaman perkampungan tersebut yang amat luas. Di bawah matahari senja, tampak beberapa huruf di tembok perkampungan tersebut, 'Hong Yun Cuang'. Ciok Giok Yin mendekati gerbang perkampungan itu, dan setelah dekat dia tertegun. Ternyata di pintu gerbang itu tergantung kain putih, pertanda perkampungan itu sedang berkabung. Sungguh diluar dugaan! Di saat orang sedang berduka cita, dia malah datang menuntut balas, tentunya tidak berperasaan sama sekali. Akan tetapi Ciok Giok Yin justru merasa tidak rela pergi. Setelah termenung sejenak, dia pun melangkah memasuki perkampungan itu. Tiba-tiba dari arah samping pintu gerbang muncul empat orang, kelihatannya para jongos perkampungan itu. Salah seorang memperhatikan Ciok Giok Yin, lalu menjura seraya bertanya.

"Apakah Tuan Muda ingin melawat Cuangcu (Majikan Perkampungan)?"

Ciok Giok Yin tertegun. "Cuangcu?"

"Ya."

"Kapan cuangcu kalian meninggal?" "Semalam."

"Sakit apa?"

"Sakit mendadak lalu meninggal." "Sebelumnya dia pernah sakit?" "Tidak pernah." "Sungguh aneh!"

"Apakah Tuan Muda kemari bukan untuk melawat?"

"Tidak salah. Aku dan Cuangcu kalian ada sebuah janji, maka hari ini aku berkunjung kemari. Tak diduga dia sudah meninggal, itu betul-betul di luar dugaan."

"Janji apa?"

Keempat jongos itu termangu-mangu.

Ciok Giok Yin menatap mereka, dan sekilas suatu pikiran timbul dalam benaknya.

"Yah! Tidak usah kukatakan!" Dia diam sejenak. "Aku sudah kemari, tentunya harus melawat! Tuan pengurus, harap tunjuk jalan!" Sudah lama Ciok Giok Yin ikut kakek tua berjenggot putih, maka dia tahu tata krama. Ucapannya amat sopan, membuat keempat jongos itu tidak berani menolak. Salah seorang jongos itu segera membalikkan badannya membawa Ciok Giok Yin ke dalam. Sedangkan yang lain tetap berdiri di sana. Ciok Giok Yin mengikuti jongos itu ke dalam. Bukan main megahnya rumah tersebut! Tampak para jongos dan pelayan wanita bermuram durja, kelihatan amat sedih

sekali. Berdasarkan itu, membuktikan bahwa Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun memang telah meninggal.

Akan tetapi, dalam hati Ciok Giok Yin malah timbul rasa curiga.

Mendadak terdengar suara tangisan yang amat

memilukan. Ciok Giok Yin segera memandang ke arah ruang duka. Tampak sebuah meja besar dekat dingin. Di atas meja besar itu terdapat berbagai macam buah-buahan, makanan dan sebuah papan nisan bertulisan nama orang yang meninggal. Di depan meja besar itu, terdapat sebuah peti mati, sedangkan yang menangis itu tentunya sanak keluarga orang yang meninggal. Tiba-tiba seorang tua berseru lantang. "Ada tamu datang melawat, anak yang berbakti harus mengucapkan terimakasih!"

Sebuah gordyn tersingkap, lalu muncul seorang pemuda berpakaian duka. Pemuda itu menangis hingga sepasang matanya membengkak. Namun ketika gordyn itu disingkap, berkelebat sepercik cahaya. Di saat pemuda berpakaian duka itu baru mau berlutut, Ciok Giok Yin justru berseru.

"Tunggu!"

Mendengar seruan itu, semua orang menjadi

tertegun. Mereka langsung memandang Ciok Giok Yin dengan penuh keheranan, Ciok Giok Yin memang tampan. Namun, di saat ini wajahnya diliputi hawa membunuh. Orang tua yang berseru tadi maju selangkah, mendekati Ciok Giok Yin.

"Mohon tanya siapa Tuan Muda?" "Ciok Giok Yin."

Nama tersebut bagaikan sambaran geledek di siang hari bolong, membuat hati semua orang tersentak, dan wajah mereka berubah pucat pias seketika. Tak disangka pemuda itu adalah orang yang membunuh Khiam Sin Hweshio dalam satu jurus. Semua orang tahu akan maksud kedatangannya, terutama pemuda berpakaian duka itu, sepasang matanya menyorot penuh kebencian. Sedangkan suasana di ruang duka tentu berubah menjadi tegang mencekam. Yang masih tampak tenang hanyalah orang tua yang berseru tadi.

"Tuan muda Ciok, ada petunjuk apa?" katanya dengan perlahan.

"Bagaimana Cu Cuangcu mati?"

"Sakit mendadak lalu meninggal semalam."

Ini memang tidak masuk akal. Sebab bagi orang yang berkepandaian tinggi, tidak mungkin akan sakit mendadak hingga meninggal. Apalagi Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan, lebih tidak percaya tentang itu. Karena itu dia maju dua langkah, lalu berkata dengan suara dalam.

"Aku mengerti ilmu pengobatan, ingin membuka tutup peti mati untuk memeriksa Cu Cuangcu, sesungguhnya dia mengidap penyakit apa?"

Wajah orang tua itu langsung berubah menjadi hebat. "Peti mati sudah ditutup, tidak boleh sembarangan dibuka

lagi."

"Mungkin aku dapat membuat Cu Cuangcu hidup kembali." "Apa maksudmu itu?"

"Tiada maksud apa-apa, hanya ingin membuka peti mati ini."

Badan orang tua itu agak bergemetar, kemudian menghadang di hadapan Ciok Giok Yin.

"Kau berani cari gara-gara di sini?" bentaknya keras. "Harus Anda mengerti!"

"Apa yang harus kumengerti?"

"Aku punya janji dengan Cu Cuangcu, maka peti mati ini harus dibuka."

Mendadak pemuda berpakaian duka itu menggeram. "Kau cari mati!"

Lalu menyerang dada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin berkelit, justru ke arah peti mati. Di saat bersamaan tampak sosok bayangan hitam berkelebat bagaikan setan gentayangan ke arah Ciok Giok Yin, dan terdengar suara seruan.

"Harap Tuan Muda berhenti!" Padahal Ciok Giok Yin sudah menjulurkan tangannya sambil mengerahkan lwee kangnya, siap membuka tutup peti

mati. Namun ketika mendengar suara seruan itu, dia menarik kembali tangannya sambil menoleh. Ternyata seorang wanita berpakaian duka berdiri di sana. Sepasang mata wanita itu masih basah, sedangkan wajahnya tampak berduka sekali. Ciok Giok Yin tersentak, lalu berkata dalam hati. 'Tidak salah, wanita ini pasti nyonya Cu. Dari wajahnya dapat diketahui bahwa benar semua ini.' Ciok Giok Yin segera mundur selangkah.

"Siapa kau?" katanya dingin.

"Aku adalah Nyonya Cu," sahut wanita berpakaian duka itu. "Nyonya mau bicara apa?"

"Mohon tanya Tuan Muda ada permusuhan apa dengan mendiang suamiku?"

"Tiada permusuhan apa-apa." "Punya dendam?"

"Tiada dendam."

"Kalau begitu, kau..." bentak pemuda berpakaian duka dengan gusar. Dia ingin menyerang Ciok Giok Yin, namun wanita berpakaian duka itu cepat-cepat mencegahnya.

"Nak, tenang dulu!" katanya dengan suara gemetar. Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin. "Tuan muda dengan mendiang suamiku tiada permusuhan dan tiada dendam, tapi mengapa ingin membuka peti mati memeriksa mayat mendiang suamiku? Bolehkah dijelaskan padaku?"

Ciok Giok Yin menatap semua orang, lalu menyahut dengan dingin.

"Menuntut balas dendam almarhum suhuku." "Siapa suhumu?"

"Suhuku adalah Sang Ting It Koay." "Sang Ting It Koay?"

"Tidak salah."

"Dengar-dengar empat belas tahun yang lampau, dia mati terpukul orang di puncak Gunung Muh San."

Mendadak Ciok Giok Yin tertawa gelak. Suara tawanya mengandung kedukaan dan dendam kebencian. Ternyata dia

teringat akan keadaan Sang Ting It Koay yang mengenaskan, hidup menderita di lembah Tok Coa Kok tanpa sepasang  kaki. Kalau dia tidak memiliki lwee kang tinggi, tentu sudah mati dari dulu. Dapat dibayangkan betapa menderita dan tersiksanya Sang Ting It Koay hidup seorang diri di dalam lembah itu. Usai tertawa, Ciok Giok Yin lalu berkata dengan dingin.

"Sayang sekali, beliau tidak mati!"

Bukan main terkejutnya semua orang yang berada di situ! Mereka saling memandang dengan wajah pucat pias. Begitu pula Nyonya Cu, dia tampak terkejut sekali.

"Belum mati?" katanya. "Tidak salah."

"Dia tinggal di mana sekarang?" "Sekarang dia justru sudah tiada." "Sudah mati?"

"Dugaan Nyonya memang tidak salah."

"Kalau begitu, Tuan Muda pasti menerima pesan dari almarhum untuk kemari menuntut balas?" Ciok Giok Yin mengangguk. Nyonya Cu menghela nafas panjang.

"Tapi Tuan Muda datang terlambat," katanya dengan sedih. "Masih belum terlambat."

"Maksudmu?"

"Aku ingin membuka peti mati untuk membuktikannya!"

Air muka Nyonya Cu, pemuda berpakaian duka dan beberapa orang tua yang berada di rumah itu seketika berubah. Diam- diam mereka semua sudah bersiap-siap. Asal Ciok Giok Yin bergerrak, mereka pasti akan menyerangnya dengan serentak. Gerak-gerik mereka itu tidak terlepas dari mata Ciok Giok Yin, maka timbullah rasa curiga dalam

hatinya. Bagaimana mungkin begitu kebetulan? Hari ini dia kemari, justru Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun meninggal semalam. Oleh karena itu, dia berkeras ingin membuka peti mati itu untuk memeriksanya. Suasana di ruang duka menjadi tegang mencekam. Pemuda berpakaian duka menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian.

"Tuan Muda, orang mati habis hutangnya. Apakah kau masih tidak mau melepaskannya?" kata Nyonya Cu.

"Aku ingin menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, baru puas hatiku."

"Hanya menyaksikannya dengan mata kepalamu sendiri?" "Tidak salah."

"Kau ingin merusak mayat?" "Ini. "

Ciok Giok Yin terdiam, merasa tidak enak hati. Dia terus berpikir, membuka peti mati merusak mayat, memang dapat melampiaskan dendam suhu. Namun terhadap sanak famili orang yang meninggal, merupakan suatu penghinaan

besar. Oleh karena itu, menyebabkan Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa, hanya berdiri termangu-mangu.

"Apakah Tuan Muda memikirkan akibatnya merusak mayat?" tanya Nyonya Cu.

"Akibatnya?" "Ng! "

"Apa akibatnya?"

"Kami semua pasti harus menjaga keutuhan mayat mendiang suamiku. Maka kami akan menghadapimu dengan serentak.

Apakah kau akan selamat meninggalkan tempat ini?"

Perkataan Nyonya Cu membuat Ciok Giok Yin gusar, sepasang matanya langsung berapi-api.

"Apakah Nyonya tahu seorang tokoh rimba persilatan dikeroyok oleh kaum rimba persilatan sehingga menyebabkan tokoh itu kehilangan sepasang kakinya, akhirnya harus hidup menderita dan tersiksa di sebuah lembah? Keadaannya yang mengenaskan itu tentunya akan menimbulkan kegusaran Nyonya. Ya, kan?"

"Berdasarkan apa yang kudengar, itu cuma merupakan suatu kesalah pahaman saja."

"Kesalah pahaman?" "Nyatanya memang begitu!" Ciok Giok Yin tertawa getir.

"Kesalah pahaman itu sungguh mengerikan!"

"Kalau begitu, kau tetap berkeras ingin membuka peti mati?" "Ya!"

Air muka Nyonya Cu berubah menjadi hebat.

"Aku punya satu permohonan," katanya dengan suara gemetar.

"Katakan!"

"Bolehkah kau jangan merusak mayat suamiku?"

Ciok Giok Yin memandang ke sekelilingnya. Tampak semua orang menatapnya dengan kebencian, dan itu membuat hatinya tersentak. Sesungguhnya hati Ciok Giok Yin tidak jahat, bahkan boleh dikatakan amat baik. Mendadak dia teringat akan sebuah pepatah 'Orang sudah mati, segalanya telah berakhir.' Teringat akan pepatah tersebut, dia lalu berpikir, seandainya dia adalah sanak famili keluarga Cu, kalau ada orang ingin merusak mayat, lalu dirinya harus

bagaimana? Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin manggut- manggut.

"Nyonya Cu, silahkan buka peti mati! Kalau benar suamimu sudah mati, maka semua dendam habis sampai di sini!"

"Orang sejati cuma sepatah kata!"

"Pasti! Harap Nyonya membuka peti mati itu!"

Nyonya Cu berpaling, ketika baru mau membuka peti mati itu. Mendadak pemuda berpakaian duka itu maju selangkah.

"Ibu...," katanya.

"Nak, kalau tidak begini, Tuan Muda Ciok pasti curiga. Kau mundur saja!"

Pemuda berpakaian duka mundur, namun sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam kebencian. Saat ini, para jongos sudah membawa perkakas. "Buka peti mati!" seru Nyonya Cu dengan sedih. Para jongos langsung membuka peti mati itu dengan perkakas yang telah mereka siapkan.

"Ting! Tang...!"

Tak lama kemudian, peti mati itu terbuka. Ciok Giok Yin mendekati peti mati itu dengan wajah diliputi hawa membunuh. Dia menundukkan kepala melihat, tampak seorang tua yang wajahnya pucat pias terbaring di dalam peti mati itu. Orang tua itu berpakaian baru, namun memang sudah tidak bernafas

lagi. Ciok Giok Yin tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Membuktikan bahwa orang tua itu memang telah mati. Akan tetapi, semua orang yang berada di ruang duka itu tampak bersiap-siap. Ciok Giok Yin menghela nafas panjang, kemudian menjura pada Nyonya Cu.

"Aku mempercayai perkataan Nyonya, selamat tinggal!" ucapnya.

Badan Ciok Giok Yin bergerak, ternyata dia sudah melesat ke luar. Akan tetapi, di saat bersamaan, mendadak terdengar suara menderu-deru, ternyata suara angin pukulan yang mengarah Ciok Giok Yin. Bersamaan itu, terdengar pula suara bentakan sengit.

"Anak jahanam, kau telah menghina keluarga Cu, sehingga membuat kami tidak punya muka lagi bertemu kawan-kawan rimba persilatan! Tinggalkan nyawamu!"

Pemuda berpakaian duka juga ikut melancarkan pukulan. Sedangkan badan Ciok Giok Yin berada di udara, tentunya amat sulit baginya untuk menangkis atau

berkelit. Karena itu, dia terpaksa merosot turun lalu berdiri di tempat. Wajahnya yang tampan berubah menjadi dingin, sepasang matanya berapi-api menatap

"Kalian mau apa?" "Menghabisimu!" "Kalian mampu?"

"Tidak percaya lihat saja!"

Ruang duka itu kini dipenuhi hawa membunuh. Sedangkan kegusaran Ciok Giok Yin sudah memuncak. Dia mengangkat sepasang tangannya, tapi mendadak Nyonya Cu berseru dengan suara gemetar.

"Tunggu, Tuan Muda!"

Ciok Giok Yin menurunkan sepasang tangannya.

"Ada petunjuk apa, Nyonya?" katanya sambil menatap Nyonya Cu. Nyonya Cu menoleh menatap pemuda berpakaian duka.

"Binatang! Kau berani berlaku kurang ajar?" bentaknya sengit.

Pemuda berpakaian duka menundukkan kepala, kelihatannya amat takut pada Nyonya Cu.

"Ibu....

Nyonya Cu berkata dengan air mata bercucurann. "Binatang! Mulai sekarang dan selanjutnya kau masih berani

sedemikian kurang ajar, aku pasti tidak mengakumu sebagai anak lagi! Cepat berlutut di hadapan peti mati!"

Pemuda berpakaian duka segera berlutut di hadapan peti mati.

Barulah Nyonya Cu menoleh memandang Ciok Giok Yin. "Tuan Muda Ciok, pandanglah mukaku, kejadian tadi jangan

disimpan dalam hati!" katanya. Ciok Giok Yin merasa tidak

enak melampiaskan kegusarannya. "Nyonya, aku mohon diri!" Dia segera melesat pergi. Tak lama kemudian, dia sudah berada di luar perkampungan Hong Yun Cuang. Saat ini malam sudah larut. Langit diselimuti awan hitam. Sedangkan salju masih beterbangan, ternyata saat itu musim rontok. Angin dingin terus berhembus menderu-deru.

Walau pakaian Ciok Giok Yin agak tipis, namun dia memiliki lwee kang tinggi, maka tidak merasa dingin. Dia terus melesat di bawah terjangan salju, sambil berkata dalam hati. 'Lebih baik aku mencari kota untuk bermalam.' Lagi pula dia sudah merasa lapar sekali. Ternyata sejak meninggalkan lembah Tok Coa Kok, dia sama sekali tidak makan dan minum. Oleh karena itu, dia terus melesat.

Berselang beberapa saat dia tiba di sebuah kota kecil, lalu berjalan perlahan memasuki sebuah jalan. Namun, semua rumah di kota itu sudah tertutup rapat. Siapa yang ingin keluar dalam udara yang amat dingin ini? Tentunya mereka sedang menghangatkan badan di ranjang atau di depan

tungku. Kebetulan Ciok Giok Yin melihat sebuah rumah penginapan, tapi juga sudah tutup. Dia mendekati penginapan itu, lalu mengetuk pintu. Lama sekali barulah terdengar suara serak, terus mencaci tidak karuan.

"Udara sedemikian dingin, masih ada yang ke mari menyampaikan berita duka? Siapa orang sial dangkalan itu? Membuat darahku langsung naik!"

Ciok Giok Yin mendengar jelas cacian itu, maka membuatnya amat gusar. Sementara suara cacian itu sudah sampai di balik pintu, terdengar lagi suara bentakan.

"Siapa?"

"Aku!" "Siapa kau?"

"Aku ya aku!"

"Kau kemari menyampaikan berita duka?" Seketika kegusaran Ciok Giok Yin memuncak. Dia tidak menyangka ada orang yang begitu tidak tahu tata krama. Perlahan-lahan dia menjulurkan tangannya, lalu terdengar suara.

Braak!

Pintu itu telah hancur. Kemudian, Ciok Giok Yin juga mengayunkan tangannya.

Plaaak!

Ternyata dia menampar orang itu.

"Kau memang anjing buta, berani mencaci sembarangan!" bentaknya.

Orang itu tidak tahu apa yang terjadi, namun masih sempat menjerit kesakitan.

"Aduuuh!" Dia menatap Ciok Giok Yin. "Kau berani memukul orang?" bentaknya gusar. Kini orang itu sudah melihat jelas Ciok Giok Yin, namun karena Ciok Giok Yin berdandan seperti pemuda desa, maka orang itu menjadi berani.

"Dasar anak kampungan tak tahu diri! Kau sudah makan..." cacinya lagi.

"Plaaak!"

Ternyata Ciok Giok Yin sudah menamparnya, bahkan kali ini jauh lebih keras dari pada tadi, sehingga membuat gigi orang itu rontok tiga buah, dan pipinya membengkak.

"Aduh! Mak.... Tolong! Ada orang mau pukul aku..." jeritnya. Tak lama, muncullah beberapa orang dari belakang.

"Ong Sam, apa yang terjadi?" tanya salah seorang dari mereka.

Di saat bertanya, orang itu sudah melihat Ciok Giok Yin, begitu pula yang lain. Ciok Giok Yin berdiri dengan wajah dingin, dan sepasang matanya menyorot tajam menatap mereka. Orang-orang itu terkejut bukan main. Karena tatapan Ciok Giok Yin membuat mereka merinding. Sebelum orang yang dipanggil Ong Sam menyahut, Ciok Giok Yin telah mendahuluinya.

"Kalian tanya padanya!"

"Dia... dia pukul aku... tanpa alasan," sahut Ong Sam.

Mendengar itu, semua orang menatap Ciok Giok Yin dengan gusar.

"Mohon tanya..." tanya salah seorang dari mereka. Mendadak Ciok Giok Yin mendekati Ong Sam.

"Coba katakan sekali lagi!" bentaknya sengit. Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan siksaan yang dialaminya setahun yang lalu.

Salah seorang lagi, segera teringat akan mulut Ong Sam yang amat jahat itu, maka dia segera memberi hormat pada Ciok Giok Yin.

"Harap Tuan jangan marah!" katanya, kemudian orang itu memandang Ong Sam. "Kau pasti sembarangan mencaci, sehingga membangkitkan kegusaran tuan ini! Cepat enyah! Untuk apa punya pelayan yang begini macam!" bentaknya sengit. Orang itu mengayunkan kakinya menendang Ong Sam.

"Aduuuh...!" jerit Ong Sam. Mendadak dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang itu, "Majikan, memang aku yang bersalah. Jangan pecat aku, maafkan aku kali ini...," katanya memohon. Ternyata orang itu majikan penginapan.

Menyaksikan itu Ciok Giok Yin malah merasa tidak enak dalam hati.

"Sudahlah! Ajar dia agar lain kali tidak berlaku kurang ajar lagi!" katanya kepada majikan penginapan. Ong Sam cepat- cepat berlutut di hadapan Ciok Giok Yin.

"Aku yang bersalah, tidak seharusnya aku mencaci maki Tuan Muda. Kalau aku dipecat, ibuku yang sudah tua di rumah, pasti akan mati kelaparan," ujarnya. Diam-diam Ciok Giok Yin menghela nafas panjang, dia membujuk majikan penginapan agar tidak memecat Ong Sam.

"Aku memandang muka tamu ini, kali ini kau kuampuni, cepat bangun!" kata majikan penginapan pada Ong Sam. Bukan main girangnya Ong Sam! Dia segera bangkit berdiri, kemudian membawa Ciok Giok Yin ke kamar belakang, dan melayaninya dengan hormat sekali. Kini dia sudah tahu, pemuda tampan ini pasti orang dunia persilatan. Kalau tidak, bagaimana mungkin gerakannya begitu cepat? Diam-diam Ciok Giok Yin tertawa geli dalam hati, sebab melihat Ong Sam begitu takut dan menghormatinya.

Sudah setahun lebih Ciok Giok Yin tidak menikmati hidangan lezat, kali ini dia betul-betul bersantap bagaikan macan kelaparan.

Seusai makan, barulah Ciok Giok Yin duduk beristirahat. Mendadak terdengar suara yang amat lirih.

Serrr!

Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka matanya. Sekilas dia melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan pakaian putih, berkelebat melewati pintu kamarnya. Dia segera meloncat turun. Justru di saat bersamaan tampak sebuah benda putih meluncur ke arahnya. Ciok Giok Yin bergerak cepat menyambut benda itu, yang rasanya amat lunak. Kemudan tanpa melihat benda itu, dia langsung melesat ke luar. Setelah itu, dia mencelat ke atas atap. Dilihatnya sosok bayangan putih berkelebat, kemudian menghilang. Ciok Giok Yin tersentak, lalu berkata dalam hati. 'Sungguh cepat gerakannya, membuktikan wanita itu memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi!'

Ciok Giok Yin tidak tahu akan maksud wanita itu, maka dia berdiri termangu-mangu di atap. Tiba-tiba dia teringat akan benda lunak yang di tangannya. Maka benda itu segera dilihatnya, ternyata gumpalan kertas. Ciok Giok Yin tercengang. Dia cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu dan kemudian dibacanya. Ternyata tulisan dalam kertas itu hanya berbunyi ' hati-hati' . Ciok Giok Yin tertegun. Apa maksud dengan kata 'hati-hati' itu? Dia tidak kenal wanita itu, mengapa memperingatkannya? Apakah ada orang menguntitnya dari belakang? Ketika Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak terdengar suara dengusan dingin di belakangnya.

"Hmmmm!"

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya. Dilihatnya seorang berusia empat puluhan berdiri di belakangnya. Orang itu mengenakan pakaian hitam, di bagian depan bersulam sepasang burung walet warna putih. Wajah orang itu tampak dingin sekali, sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin tanpa berkedip.

"Bocah, sungguh cepat langkah kakimu!" katanya. Ciok Giok Yin tertegun.

"Siapa Anda?"

"Ciu Kah, si Penyelidik dari perkumpulan Sang Yen Hwee!" "Sang Yen Hwee?"

"Tidak salah!" "Ada urusan apa?"

"Mari bicara di luar kota!"

Ciu Kah melesat pergi menuju pinggir kota. Ciok Giok Yin tanpa banyak pikir, langsung mengikutinya. Tak lama mereka berdua sudah tiba di pinggir kota. Ciu Kah berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.

"Cepat serahkan Gin Tie!" katanya lantang. "Gin Tie?"

"Tidak salah!" "Aku juga sedang mencari Seruling Perak itu, cepat serahkan!"

Ciu Kah tertawa dingin.

"Bocah, kalau kau tidak mengaku, aku pasti menghabisimu! Lihat kau mau mengaku atau tidak? Dan juga kau pun harus menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"

Usai berkata, Ciu Kah langsung menyerang Ciok Giok

Yin. Bukan main gusarnya pemuda itu! Dia tidak menyangka, bahwa begitu keluar dari Goa Toan Teng Tong, akan begitu banyak orang mendesaknya menyerahkan Seruling Perak. Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Peta Si Kauw Hap Liok Touw memang ada padaku, maka kalau kau punya kepandaian, silakan ambil!" bentaknya sambil balas menyerang. Seketika serangkum angin yang amat panas menerjang ke arah Ciu Kah.

"Soan Hong Ciang!" seru orang itu kaget. "Tidak salah, memang Soan Hong Ciang!"

Ketika tanya jawab itu, pertarungan mereka telah melewati tujuh jurus. Kedudukan Ciu Kah di perkumpulan Sang Yen Hwee amat tinggi, tergolong pula pesilat kelas satu. Maka tidak mengherankan kalau jurus-jurus yang dikeluarkannya amat lihay. Pertarungan mereka sangat sengit, sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru. Mendadak terdengar suara siulan panjang, dan tampak sesosok bayangan melayang turun di tempat mereka bertarung.

Ternyata orang berpakaian hitam yang di bagian dada bersulam sepasang burung walet warna putih juga. Di lengan kiri orang itu, melingkar seekor ular beracun warna keemas- emasan, menjulurkan lidahnya menyemburkan uap

beracun. Kemunculan orang itu membuat Ciu Kah menyurut mundur beberapa langkah, kemudian memberi hormat.

"Tong Cu (Pemimpin Ruang)!" Ternyata orang itu Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia mendengus.

"Hm!"

Kemudian Tong Cu itu menatap Ciok Giok Yin. Namun wajahnya tidak tampak, sebab ditutup dengan kain hitam, yang tampak hanya sepasang matanya yang menyorot

tajam. Selangkah demi selangkah dia mendekati Ciok Giok Yin. "Bocah, cepat serahkan Seruling Perak!" bentaknya.

"Jangan harap!" "Kau cari mati!"

Ciok Giok Yin teringat pada Phing Phiauw Khek yang mati di tangan para iblis perkumpulan Sang Yen Hwee. Seketika timbullah rasa dendamnya terhadap orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee. Maka dia langsung melancarkan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga ke arah orang itu. Akan tetapi, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee itu menggerakkan tangannya perlahan-lahan, membuat tenaga pukulan Ciok Giok Yin seperti tenggelam ke dalam laut. Kemudian Tong Cu itu  pun mengibaskan tangannya. Bukan main dahsyatnya kibatasan tangan orang itu! Membuat Ciok Giok Yin terpental tiga depa ke belakang. Tampak dari mulutnya mengalir keluar darah segar, dan matanya terasa berkunang-kunang.

Di saat bersamaan sesosok bayangan putih melayang turun dari angkasa dan langsung menyambar Ciok Giok Yin, sekaligus dibawa pergi. Bukan main cepatnya gerakan bayangan itu!

"Lepaskan dia!" bentak Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciun Kah dengan serentak lalu melesat

mengejarnya. Bayangan putih membawa Ciok Giok Yin ke dalam rimba. Setelah sampai di tengah rimba dia menaruh Ciok Giok Yin ke bawah seraya berkata dengan suara rendah.

"Cepatlah kau pergi, aku akan menghadang dua orang itu!" Ciok Giok Yin masih dalam keadaan sadar. Dia melihat wanita itu tidak lain adalah wanita yang melempar secarik kertas padanya. Namun dia tidak menduga, bahwa wanita itu berwajah buruk, amat tak sedap dipandang.

Hati Ciok Giok Yin tersentak. "Mohon tanya Nona. "

Wanita itu menyahut dingin sebelum Ciok Giok Yin usai berkata.

"Namaku Yap Ti Hui." "Yap Ti Hui?"

"Ya." "Ini. "

"Tidak mirip sebuah nama kan? Hi hi hi..:!" Wanita itu tertawa cekikikan. Suara tawanya amat nyaring dan merdu, sangat sedap didengar, tidak seperti wajahnya yang tak sedap dipandang.

"Kau masih belum pergi?" bentak wanita itu. "Tapi Nona. !"

Tiba-tiba terdengar suara siulan, membuat Yap Ti Hui mengerutkan kening. Saat ini Ciok Giok Yin telah terpukul oleh Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tahu jelas bahwa dirinya tidak bisa membantu wanita itu, bahkan sebaliknya malah akan merepotkannya. Karena itu, dia langsung menarik nafas dalam-dalam menghimpun hawa murninya, kemudian melesat pergi. Baru saja berlari belasan depa, dia mendengar suara pertarungan antara Yap Ti Hui dengan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ci Kah. Mendadak terdengar bentakan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. "Kau masih ingin kabur?"

Tong Cu itu langsung memanahnya. Karena Ciok Giok Yin telah terluka dalam, maka telinganya kurang peka. Tahu-tahu panah itu telah menancap di bahunya, sehingga darah segarnya langsung mengucur,

"Aduuuuh!" jeritnya lain roboh di tanah.

Untung dia tidak pingsan. Dia menahan rasa sakit dan berkertak gigi berupaya bangkit berdiri, kemudian kabur sekencang-kencangnya. Kini pakaiannya berlumuran darah, lagi pula sebelumnya dia telah terluka parah, maka makin lama larinya semakin lemah, sebab terlampau banyak darah mengucur keluar.

Akhirnya dia roboh pingsan di atas salju. Sementara salju terus brterbangan dan dingin berhembus menderu-

deru. Perlahan-lahan tubuh Ciok Giok Yin tertutup salju, namun panah yang menancap di bahunya masih menongol di permukaan salju. Suara pertarungan antara Yap Ti Hui dan kedua orang itu sudah tidak terdengar lagi. Suasana di tempat itu menjadi sangat hening. Ini sudah keesokan harinya.

Mendadak seseorang bagaikan arwah penasaran muncul di tempat itu. Tiba-tiba orang itu mengeluarkan suara

'Ih' Ternyata dia melihat sebatang panah nongol di permukaan salju. Di saat bersamaan, secara mendadak Ciok Giok Yin siuman. Dia langsung meloncat bangun dan ketika ingin lari, dia melihat sosok bayangan di hadapannya. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"

Dia menyerang orang itu. Orang itu terbelalak dan tertegun, namun cepat-cepat berkelit. Setelah menyerang, Ciok Giok Yin lalu membalikkan badannya kabur sekencang-kencangnya.

Sekonyong-konyong terdenngar suara di belakangnya. Sambil terus berlari, Ciok Giok Yin menoleh ke belakang. Ternyata yang bersiul adalah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah. "Berhenti, kau ingin membawa pergi Seruling Perak?" bentak Tong Cu perkumpulan dan Sang Yen Hwee.

Akan tetapi, orang yang muncul tadi menghadang di depannya.

Tentunya membuat Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee amat gusar.

"Siapa kau?" bentaknya keras.

"Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk Roh)!" "Kau ingin cari mati?"

"Tidak begitu gampang!" Blam.

Ternyata mereka berdua sudah saling mengadu pukulan. Setelah beradu pukulan, Cak Hun Ciu tergerak hatinya. 'Apakah bocah itu memiliki benda pusaka rimba persilatan... Seruling Perak?' Karena berpikir begitu, dia

mengerahkan lwee kangnya, lalu melancarkan sebuah pukulan ke arah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Bukan main dahsyatnya pukulannya itu! Tidak percuma orang itu mempunyai julukan Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk

Roh). Pukulan yang dilancarkannya, berhasil mendesak Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee selangkah ke belakang. Cak Hun Ciu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia bergerak cepat menyambar Ciok Giok Yin, lalu dibawa pergi Akan

tetapi, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee tertawa dingin, lalu bergerak cepat menghadang di depan Cak Hun Ciu.

Apa boleh buat Cak Hun Ciu terpaksa melempar Ciok Giok Yin, kemudian melancarkan serangan ke arah kedua orang itu. Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga melancarkan serangan serentak.

Blaaammmm! Walau Cak Hun Ciu berkepandaian tinggi, namun Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga berkepandaian tinggi, itu membuat Cak Hun Ciu tidak kuat menahan gempuran lwee kang mereka berdua.

"Aaaakh!" jeritnya.

Mulutnya menyembur darah segar. Badannya terpental beberapa depa, kebetulan jatuh di dekat Ciok Giok Yin. Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menatap ke sana, sepasang matanya menyorot tajam dan dingin. Dia dan Ciu Kah mendekati mereka selangkah demi selangkah, kedua orang itu pun berpikir, Seruling Perak dan peta Si Kauw Hap Liok Touw pasti akan jatuh ke tangan mereka berdua. Akan tetapi, di saat bersamaan, medadak melesat ke luar seorang wanita berambut panjang mangenakan pakaian putih langsung menyerang mereka berdua. Wanita itu tidak lain adalah Yap Ti Hui, Betapa gusarnya Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee!

"Akan kuhabisi kan!" bentaknya mengguntur.

"Kau mampu? Kau menginginkan Seruling Perak, akupun menginginkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"

Blam!" Plaak!

Ternyata mereka sudah mulai bertarung. Walau dikeroyok dua orang, Yap Ti Hui masih kelihatan gesit. Kepadaiannya sungguh amat tinggi dan aneh pula. Akan tetapi, justru mengherankan, Yap Ti Hui bertarung sambil mundur, seakan ingin memancing mereka meninggalkan tempat itu. Namun Tong Cu perkumpulan harus adalah orang licik. Setelah menyerang, dia malah kembali ke tempat semula. Mendadak sepasang matanya terbelakak, ternyata dia melihat sebuah panji kecil menancap di tanah. Panji kecil itu bergambar sekepal rambut putih.

"Pek Hoat Hujin (Nyonya Rambut Putih)!" serunya kaget. Apabila panji tersebut muncul, pasti akan muncul pula Pek Hoat Hujin. Belasan tahun ini, Pek Hoat Hujin telah menggemparkan dunia persilatan. Baik golongan putih maupun golongan hitam, tiada seorangpun pernah melihat wajah aslinya, sebab dia muncul dan hilang selalu secara

mendadak Seketika Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee memberi isyarat kepada Ciu Kah, kemudian mereka melesat pergi meninggalkan tempat itu.

"Kalian mau kabur ke mana?" bentak Yap Ti Hui.

Wanita berbaju putih itu langsung mengarahkan ging kang mengejar mereka berdua. Sementara Ciok Giok Yin siuman perlahanlahan. Ketika membuka matanya, dia melihat Cak Hun Ciu pingsan di sebelahnya. Ciok Giok Yin tahu, dia terluka parah lantaran menolongnya. Oleh karena itu hatinya menjadi berduka sekali.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee!" serunya dengan mata bersimbah air. Lama sekali. Beberapa saat kemudian Cak Hun Ciu membuka matanya perlahan-lahan.

"Sobat kecil, aku... aku sudah tidak kuat...," katanya dengan suara lemah sekali. Hati Ciok Giok Yin, tersentak.

"Lo cianpwee, aku mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan...,"

Cak Hun Ciu tersenyum geitr, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sobat kecil, nyawamu sediripun sulit dipertahankan."

Perkataan Cak Hun Ciu membuat Ciok Giok Yin tersentak sadar, dan nyaris pingsan seketika. Kini dia baru ingat di bahunya masih tertancap panah, dan darah segarnya masih mengalir. Kalau tidak segera menambah darahnya, mungkin dia hanya bisa hidup tiga atau lima hari lagi. Akan tetapi, di tempat yang amat sepi ini, ke mana dia harus mencari obat untuk menambah darahnya? Satu-satunya jalan, dia cuma duduk diam menunggu kematian. Namun Ciok Giok Yin tidak rela mati dengan cara begitu. Sebab dia masih punya banyak urusan yang harus diselesaikannya, yaitu asal-usulnya, mencari kekek tua berjengot putih, menuntut balas dendam Sang Ting It Koay, dan mencari Seruling Perak serta sebuah kitab Cu Cian. Apabila dia mati, bukankah semua itu akan ikut kandas? Oleh karena itu, Ciok Giok Yin berusaha tenang.

"Lo cianpwee...," katanya.

Cak Hun Ciu menggoyang-goyangkan sebelah tangannya, "Sobat kecil, terus terang lohu sama sekali tidak berniat

menolongmu, cuma mendengar mereka berkata, kau memiliki

Seruling Perak, lohu ingin.... tapi...," Berkata sampai di sini, Cak Hun Ciu terbatuk-batuk, kemudian memuntahkan darah segar.

Ciok Giok Yin merasa tidak tega, maka segera mengurut dadanya.

"Sobat kecil, betulkah kau telah memperoleh Seruling Perak itu?" tanya Cak Hun Ciu.

Ciok Giok Yin menggeleng kepala.

"Aku sama sekali tidak pernah melihat Seruling Perak itu...," dia menutur apa yang telah dialaminya.

"Mengapa Lo cianpwee menginginkan Seruling Perak itu?" katanya kemudian.

"Kini urusan sudah jadi begini, tidak usah kukatakan lagi. Sobat kecil, bagian dadaku telah remuk, aku pikir...,"

Berkata sampai di situ, mulutnya menyemburkan darah segar lagi, dan wajahnya pucat pasi. Hati Ciok Giok Yin menjadi kalut.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee...,"

"Usiamu masih muda, dan masa depanmu pasti cemerlang. Maka... aku ingin menyalurkan hawa murniku ke dalam tubuhmu agar kau dapat hidup beberapa hari lagi. Asal dalam waktu beberapa hari, kau berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie, dia pasti bisa menyembuhkanmu." kata Cak Hun Ciu perlahan- lahan.

"Tiong Ciu Sin Ie?" "Tidak salah."

"Sebetulnya bagaimana orangnya?"

Di dalam benak Ciok Giok Yin, muncul bayangan kakek tua berjenggot putih. Dia yakin kakek tua berjenggot putih itulah Tiong Ciu Sin Ie.

"Dia sudah berusia lanjut, dan rambutnya putih bagaikan perak. Dia tahu cara menjaga badan dan mahir ilmu pengobatan, maka dia tampak seperti baru berusia lima puluhan. Asal kau berhasil mencarinya, kaupun pasti bisa sembuh," sahut Cak Hun Ciu.

Ciok Giok Yin manggut-manggut dan amat terharu, sebab Cak Hun Ciu akan menyalurkan hawa murninya.

"Lo cianpwee tidak boleh berbuat demikian." Cak Hun Ciu menghela nafas panjang.

"Sobat kecil, apakah nyawa kita berdua harus melayang di sini? Seandainya ajalmu belum tiba, tentunya dapat mencari Tong Cu!"

Ciok Giok Yin tidak menyahut. Cak Hun Ciu menatap Ciok Giok Yin dengan mata suram.

"Lohu ingin bertanya satu hal padamu." "Mengenai hal apa? Tanyalah!"

"Kau suddah bertunangan belum?" "Belum."

"Bagus! Lohu punya seorang anak perempuan, namanya Ie Ling Ling, namun telah hilang belasan tahun. Lohu harap kau dapat mencarinya, lalu kalian menikah menjadi suami istri.

Kalau permintaan lohu ini kau kabulkan, lohu akan mati dengan mata terpejam. Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya dia mengangguk. Cak Hun Ciu tampak girang sekali.

Dia berkertak gigi sambil bangun duduk. Setelah itu, sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung Ciok Giok

Yin. Ternyata Cak Hun Ciu mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh pemuda itu. Seketika Ciok Giok Yin merasa di punggungnya ada aliran hangat menerobos ke dalam tubuhnya.

Berselang beberapa saat, sepasang telapak tangan Cak Hun Ciu merosot ke bawah. Ciok Giok Yin segera menoleh ke belakang, ternyata Cak Hun Ciu sudah meninggal dengan mata terpejam.

Demi nyawa Ciok Giok Yin, orang tua itu memperpendek nyawanya sendiri. Dapat dibayangkan, betapa terharunya Ciok Giok Yin. Lagi pula kini dia pun menjadi menantu orang tua itu.

Tidak heran dia menangis meraung-raung, lama sekali dia menangis sedih. Berselang beberapa saat, barulah dia berhenti menngis, lalu mengubur mayat Cak Hun Ciu. Kuburan itu diberinya papan nama, agar kelak bisa membawa Ie Ling Ling ke sana untuk berziarah. Ciok Giok Yin meninggalkan tempat tanpa arah. Yang jelas dalam waktu sepuluh hari, dia harus berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie. Kalau tidak, dia pasti akan mati. Kini dia pun menaruh dendam terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee, karena orang-orang perkumpulan tersebut telah melukai dirinya, bahkan juga telah membunuh Cak Hun Ciu, mertuanya itu.

Tapi yang terpenting, dia harus berusaha mencari Tiong Ciu Sin Ie, sebab kalau tidak, segala-galanya pasti

berakhir. Karena melakukan perjalanan tergesa-gesa, membuat bahunya mulai mengucurkan darah lagi. Namun dia tetap bertahan. Dalam perjalanan, dia terus berpikir. Apakah Tiong Ciu Sin Ie adalah kakek tua berjenggot putih? Kalau benar, kakek tua itu pasti dapat menyembuhkannya. Akan tetapi, harus ke mana dia pergi mencari Tong Cu tersebut? Di dunia persialatan yang sedemikian luas, untuk mencari seseorang, bukan merupakan hal yang gampang.

Urusan yang samar-samar. Harapan yang samar-

samar. Namun. Justru ada suatu kekuatan terus mendukung dirinya. Sepertinya dia melihat seorang tua berambut dan berjengot putih bagaikan perak, berdiri di hadapannya.

Kemudian orang tua itu menjulurkan tangannya mencabut panah yang menancap di bahunnya, setelah itu mulai mengobatinya. Ciok Giok Yin yang mengerti ilmu pengobatan, tanpa sadar berseru.

"Kakek tua...!"

Mendadak terdengar suara tawa dingin di belakangnya, yang disusul oleh suara parau.

"Bocah, kali ini tiada lagi yang akan menyelamatkanmu!"

Ciok Giok Yin tersentak sadar dari lamunannya. Dia segera membalikkan badannya dan seketika merasa sukmanya terbang pergi. Ternyata Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah berdiri di sana, menatapnya dengan dingin  sekali. Saat ini, Ciok Giok Yin telah terluka parah. Kalaupun tidak terluka parah, dia juga tidak akan mampu menandingi kedua orang itu. Musuh berhadapan, mata pasti memerah.

"Bayar nyawa mertuaku!" bentak Ciok Giok Yin.

Dia langsung menerjang ke arah ke dua orang itu. Kedua orang itu sama sekali tidak berkelit, cuma mendengus dingin.

"Hmmm! Lebih baik kau diam!"

Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menggerakkan tangannya, sehingga membuat pukulan Ciok Giok Yin kandas seketika. Di saat bersamaan, dia pun merasakan adanya serangkum angin halus menerjang ke arahnya, sehingga sekujur badannya menjadi tak bertenaga. Ciok Giok Yin menghela nafas panjang dan berkeluh dalam hati,

'Habislah!' Dia memejamkan matanya, keringat sebesar-besar kacang hijau merembes keluar dari keningnya.

Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee, mendekati Ciok Giok Yin selangkah demi selangkah, sepasang matanya menyorot bengis. Langkahnya menimbulkan suara 'Serrr! Serrrr' Mautpun mulai mendekati Ciok Giok Yin. Apakah dia akan mati di tempat itu? Sesungguhnya Ciok Giok Yin memang tidak ingin mati, sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikannya.

Namun apa boleh buat, keadaan tidak menginginkanya untuk hidup. Kini hatinya terasa hampa, apapun tidak dapat dirasakannya! Mungkin disaat manusia hampir mati, memang begitu. Karena apabila berpikir yang bukan-bukan, malah akan menambah penderitaan. Saat ini, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee sudah mendekati Ciok Giok Yin. Dia mengangkat sebelah tangannya, siap melancarkan pukulan maut ke arah Ciok Giok Yin.

Mendadak terdengar suara siulan yang amat nyaring, bergema menembus angkasa. Di saat bersama, melayang turun sebuah panji kecil di tengah-tengah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Cak Hun Ciu . Panji kecil itu berwarna merah, di tengahnya ada gambar rambut putih panjang. Bukan main terkejutnya Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee !

"Pek Hoat Hujin!" serunya tanpa sadar. Sekujur badannya bergemetar, lalu melesat pergi dan diikuti Ciu Kah dari belakang.

Ciok Giok Yin tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun dia mendengar suara siulan itu dan suara seruan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Akan tetapi, Ciok Giok Yin tetap tidak membuka matanya, menunggu Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee turun tangan membunuhnya. Lama sekali tidak terjadi apa-apa, lagi pula suasana di tempat itu telah berubah menjadi sangat hening. Ciok Giok Yin merasa heran, kemudian dengan perlahan-lahan membuka sepasang matanya. Dia terbelalak, karena Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah sudah tidak kelihatan.

Ciok Giok Yin merasa penasaran. Dia menengok ke sekeliling, namun tidak tampak seorangpun di sekitarnya. Dia berkata dalam hati. 'Siapa Pek Hoat Hujin? Apakah barusan dia yang menyelamatkanku? Padahal aku tidak pernah berjumpa dengannya, juga tidak pernah mendengar tentang dirinya.

Bagaimana dia mau turun tangan menyelamatkan diriku?' Ciok Giok Yin benar-benar tidak habis pikir tentang itu, tidak habis pikir, sebetulnya siapa Pek Hoat Hujin tersebut? Dia mencoba menggerakkan badannya. Ternyata tangannya telah pulih hanya saja merasa beberapa jalan darahnya agak

tersumbat. Memang wajar, sebab dia banyak kehilangan darah. Kalau dia memperoleh obat penambah darah, kesehatannya pasti akan pulih seperti semula.

Bahaya telah berlalu, maka kini timbul lagi harapannya. Dia mengayunkan kakinya, mulai melesat pergi. Sementara hari sudah mulai gelap. Sedangkan angin dingin terus berhembus, sehingga salju tak henti-hentinya beterbangan. Tak seberapa lama kemudian dia mulai merasa lelah, namun demi mencari Tiong Ciu Sin Ie, dia harus terus bertahan. Bahunya mulai mengucurkan darah lagi. Itu membuatnya cepat merasa lelah dan matanya mulai berkunang-kunang. Dia berharap mendapatkan sesuatu tempat yang tenang untuk beristirahat sejenak,Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan. Mendadak dia behenti. Ternyata dia meihat sebuah kuil tua. Tanpa perduli ada bahaya atau tidak di dalam kuil tua itu, dia langsung menerobos ke dalam.

Di dalam kuil tua itu terdapat beberapa buah patung dewa dan sebuah meja bobrok, tidak terdapat benda lain. Suasana di dalam kuil tua itu amat mcnyeramkan, sehingga sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Tiba-tiba terdengar suara 'Serrt', dan tampak sebuah benda hitam meluncur

turun. Bukan main terkejuinya Ciok Giok Yin, sehingga bulu kuduknya berdiri. Lama sekali, tidak terdengar suara itu

lagi. Ciok Giok Yin menoleh perlahan-lahan, tapi tidak tampak ada sesuatu di dalam kuil tua itu, barulah Ciok Giok Yin menarik nafas lega. Namun di saat bersamaan, tampak berkelebat sebuah benda hitam meluncur ke dalam kuil. Kali ini Ciok Giok Yin memberanikan diri untuk melihat dengan seksama. Setelah melihat jelas benda hitam yang meluncur ke dalam itu, Ciok Giok Yin nyaris tertawa geli, karena ternyata adalah kelelawar. Kini dia betul-betul menarik nafas lega. Dia mengambil keputusan untuk tidur di kolong meja bobrok itu, esok pagi baru melanjutkan perjalanan.

Karena itu, dia merangkak ke dalam meja itu Akan tetapi,

mendadak dia berseru kaget dan langsung membalikkan badannya untuk keluar dari kolong meja. Kali ini dia betul-betul merasa sukmanya terbang entah ke mana dan sekujur badannya pun merinding. Ternyata ketika dia merangkak ke dalam kolong meja, tangannya menyentuh tubuh seseorang yang berlumuran darah.

Walau Ciok Giok Yin tergolong pemuda pemberani, namun di saat ini, dia seorang diri berada di dalam kuil tua yang suasananya menyeramkan, membuatnya merasa takut juga. Apalagi setelah menyentuh tubuh orang yang berlumuran di kolong meja itu, tentu dia bertambah takut dan merasa seram.

Setelah berada di luar kolong meja, barulah Ciok Giok Yin ingat, tubuh orang itu masih terasa hangat, pertanda orang itu belum mati. Seketika timbul rasa simpatinya terhadap orang yang berlumuran darah di kolong meja. Dia harus memeriksa luka orang itu, siapa tahu masih bisa ditolong. Dia membungkukkan badannya, namun ketika dia baru mau merangkak ke dalam kolong meja, tiba-tiba terdengar suara siulan yang amat nyaring, dan tak lama kemudian tampak sesosok bayangan hitam melayang turun di depan kuil.

Ciok Giok Yin segera memandang ke sana. Orang yang baru datang itu berwajah amat bengis dan seram, sepasang matanya menyorot liar dan ambutnya awut-awutan. Sungguh menakutkan orang itu! Dia memandang ke dalam kuil tua itu. Begitu melihat Ciok Giok Yin, orang itu langsung bertanya.

"Siapa kau?" Ciok Giok Yin yang telah ketularan sifat aneh Sang Ting It Koay, menyahut ketus.

"Perduli amat siapa aku?"

"Bocah, aku ingin bertanya satu urusan padamu!" bentak in itu.

"Urusan apa?"

"Kau harus mengatakannya dengan jujur!" "Kalau tidak?"

"Aku akan mematahkan tangan dan kakimu, kemudian membeset kulitmu, setelah itu...,"

"Setelah itu bagaimana?"

"Akan kucincang kau jadi daging halus!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar itu. Kemudian dia berkata dalam hati. 'Kalau kedatangannya lantaran diriku, walau aku mengatakan sejujurnya, juga sulit lolos dari bahaya. Seandainya kedatangannya karena orang yang berlumuran darah di kolong meja itu...'

"Mau bertanya apa, tanyakan saja!" katanya dengan dingin. "Kau pernah melihat seseorang?"

"Siapa?"

"Seorang yang terluka parah, sekujur badannya berlumuran darah!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut sambil berkata dalam hati. 'Ternyata memang begitu!'

"Aku melihat!" sahutnya dingin. "Dia berjalan ke mana?"

"Dia berlari cepat sekali, kelihatannya... berlari ke arah timur!"

"Baik! Kalau kau berdusta, aku akan kemari mencabut nyawamu!"

Mendadak sepasang mata orang itu menyorot bengis.

"Tua bangka sialan! Bagaimana kau dapat lolos dari tanganku Tui Beng Thian Cun (Malaikat Langit Pengejar Nyawa)?" katanya dengan sengit. Badannya bergerek, tahu-tahu sudah melesat pergi.

Orang itu menyebut dirinya Tui Beng Thian Cun. Namun Ciok Giok Yin belum pernah berkecimpung di dunia persilatan, maka tidak tahu asal-usul orang itu. Namun Ciok Giok Yin yakin, orang itu bukan dari golongan lurus.

"Kalau aku masih bisa hidup, aku bersumpah akan membasmi para penjahat di dunia persilatan, agar orang baik tidak dicelakai para penjahat lagi!" gumamnya.

Mendadak Ciok Giok Yin tersentak, kemudian berkata dalam hati. 'Kalau Tui Beng Thian Cun itu tidak berhasil mengejar, pasti akan balik ke mari. Aku dan orang tua berlumuran darah itu, tentunya akan celaka di tangannya.' Oleh karena itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat merangkak ke dalam kolong meja itu, lalu membawa orang tua berlumuran darah itu meninggalkan kuil tua.

Ciok Giok Yin membawa orang tua berlumuran itu menuju ke arah barat. Dia yakin Tui Beng Thian Cun tidak akan kembali dalam waktu singgkat. Tak seberapa lama, Ciok Giok Yin sampai di sebuah gunung. Dia meihat sebuah goa, kemudian bersembunyi di dalam goa itu, dan rasanya cukup aman. Udara amat dingin, membuat sekujur badannya menggigil. Itu karena dia terluka parah, sudah tiada tenaga untuk menghimpun hawa murninya. Lagi pula tadi dia terus berjalan dengan kencang, sudah barang tentu melelahkan dirinya, namun membuat badannya terasa hangat. Kini dia telah berhenti, ditambah terhembus angin dingin, maka tidak mengherankan kalau sekujur badannya menjadi menggigil.

Hingga saat ini, dia masih belum melihat jelas wajah orang tua yang berlumuran darah itu. Maka dia keluar dari goa, mencari sedikit dahan kering, kemudian dibawa ke dalam  goa. Akan tetapi, bagaimana cara menyalakan api? Dia termangu-mangu. Mendadak dia teringat pada orang tua yang

berlumuran darah. Dia adalah kaum rimba persilatan, tentunya membawa barang-barang itu.

Karena itu, Ciok Giok Yin segera merogoh ke dalam baju orang tua yang terluka parah itu. Benar di dalam baju orang tua itu terdapat semacam batu yang dapat dipergunakan untuk menyalakan api. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyalakan api dan membakar dahan-dahan pohon kering itu. Setelah api menyala dan dahan-dahan itu terbakar, keadaan di dalam goa menjadi agak terang dan hangat.

Dia justru tidak berpikir, menyalakan api di malam hari pasti akan terlihat orang. Saat ini barulah dia menengok ke arah orang tua yang berlumuran darah. Seketika dia terbelalak dan sekujur badannya menjadi gemetar.

"Kakek Tua! Kakek Tua..." serungnya kaget. Dia menggoyang-goyangkan badan orang tua itu. "Kakek Tua! Kakek Tua. " Air matanya bercucuran. Ciok Giok Yin terus

menangis, sehingga tidak mampu berkata. Siapa orang tua yang badannya berlumuran darah itu? Ternyata kakek tua berjenggot putih yang sedang dicari Ciok Giok Yin. Justru tak disangka, kini kakek tua itu terluka parah dengan sekujur badan berlumuran darah, bahkan nafasnya juga amat lemah. Ciok Giok Yin terus menangis meraung-raung.

Kakek tua berjengot putih adalah penolongnya, dan juga satu-satunya orang yang amat dekat dengannya. Kini keadaan kakek tua berjenggot putih itu sudah sekarat, bagaimana dia tidak merasa sedih? Saking sedihnya, Ciok Giok Yin menjadi lupa bertanya pada kakek tua berjenggot putih apa gerangan yang terjadi. Dia cuma terus menangis dan menangis, kalau saat ini kakek tua berjenggot putih meninggal, di dunia ini sudah tiada lagi orang yang amat dekat dengannnya. Dia tidak boleh membiarkan kakek tua berjenggot putih itu mati.

Mereka berdua harus hidup, sebab masih banyak urusan yang harus mereka selesikan, juga banyak hal yang harus ditanyakan pada kakek tua berjenggot putih itu. Dia terus menangis sambil memanggil kakek tua berjengot putih itu.

"Kakek Tua! Kakek Tua. "

Suara tangisnya amat memilukan. Akhirnya air matanya berubah menjadi agak kemerah-merahan, ternyata matanya mulai mengeluarkan air mata darah. Berselang beberapa saat kemudian, telinga kakek tua berjenggot putih itu sepertinya mendengar suara tangisan Ciok Giok Yin. Hatinya tergerak, lalu menarik nafas yang amat panjang. Mendengar itu Ciok Giok Yin langsung berhenti menangis.

"Kakek Tua , aku adalah Anak Yin. " katanya.

Perlahan-lahan kakek tua berjenggot putih membuka matanya. Walau pandangannya agak kabur, namun dia masih dapat melihat seraut wajah yang amat dikenalnya. Seketika kakek tua berjenggot putih bergumam.

"Apakah ini... ini dalam mimpi. ?"

Mendengar suara itu, Ciok Giok Yin bertambah sedih.

"Kakek Tua, ini bukan mimpi, aku benar Anak Yin," sahutnya terisak-isak. Kakek tua berjenggot putih mengangkat sebelah tangannya perlahan-lahan, kemudian membelai wajah Ciok Giok Yin. Sedangkan wajah kakek tua tampak tenang dan berseri.

"Sungguhkah. kau adalah Anak Yin?"

"Sungguh, Kakek Tua!" Kakek tua itu membelalakakan matanya, agar dapat melihat lebih jelas, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan, kau membohongiku."

"Kakek Tua, aku tidak bohong, aku memang benar Anak Yin." "Anak Yinku kurang berbakat, lagi pula tidak pernah belajar

ilmu silat. Kau pasti Ciok Giok Yin palsu, yang belum lama

muncul di dunia persilatan. Cepat katakan sejujurnya!"

Ciok Giok Yin tahu saat ini pikiran kakek tua itu masih kabur, maka dia segera mengeluarkan sebutir obat Ciak Kim Tan, lalu dimasukkan ke dalam mulut kakek tua itu.

"Kakek Tua, ini obat Ciak Kim Tan pemberian Kakek Tua. Telanlah obat ini, Kakek Tua pasti dapat melihat dengan jelas siapa diriku.

Kakek tua itu menelan obat tersebut. Berselang beberapa saat, mendadak dia memeluk Ciok Giok Yin erat-erat, sambil berkata dengan suara gemetar.

"Nak, sungguh menyusahkanmu!" Dia berhenti sejenak. "Nak, tuturkanlah segala apa yang menimpa dirimu!"

lanjutnya.

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menutur tentang apa yang dialaminya selama ini. Kakek tua berjenggot putih mendengarkan dengan penuh perhatian. Seusai Ciok Giok Yin me- nutur, kakek tua itu berkata.

"Nak, sabarlah sebentar!"

Kakek tua itu merogoh ke dalam bajunya untuk mengeluarkan sebuah botol kecil. Kemudian dia menuang dua butir obat berwarna putih, sekaligus dimasukkan ke dalam mulutnya. "Nak, aku akan bersemedi sejenak. Setelah itu, barulah kita bicara."

Kakek tua itu langsung duduk bersemedi, mulai menghimpun hawa murninya. Ciok Giok Yin terus memandangnya. Dalam hatinya entah merasa girang atau sedih. Dia merasa girang karena berjumpa kakek tua berjenggot putih, tapi sedih karena kakek tua itu terluka parah. Seandainya kakek tua itu. Dia

tidak berani berpikir lagi, cuma air matanya yang meleleh. Di saat bersamaan, dia pun merasa pandangannya agak gelap. Itu karena terlampau banyak mengeluarkan darah. Dia segera duduk dan memejamkan matanya untuk beristirahat.

Akan tetapi, dia sama sekali tidak bisa beristirahat, sebab pikirannya terus berjalan. Dia memikirkan ilmu pengobatan yang diturunkan kakek tua berjenggot putih padanya, apakah terdapat bahan obat yang dapat menahan darah? Walau terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan itu, hanya ada satu cara, yaitu mengambil darah orang yang sehat, kemudian disalurkan ke dalam tubuhnya. Sembari berpikir, dia membuka matanya memandang ke arah kakek tua berjenggot putih.

Dilihatinya wajah kakek tua itu masih kekuning-kuningan. Kini dalam hati Ciok Giok Yin amat dendam pada perkumpulan Sang Yen Hwee, juga pada Tui Beng Thian Cun.

Dia bersumpah apabila dia masih bisa hidup, akan memusnahkan perkumpulan Sang Yen Hwee. Mengenai Tui Beng Thian Cun, dia akan mencincangnya demi menuntut balas dendam kakek tua berjenggot putih. Mendadak kakek tua berjenggot putih itu membuka sepasang matanya, kemudian pasang kuping mendengarkan suara di luar. Tapi yang terdengar hanya suara desiran angin, tidak ada suara

lain. Kakek tua itu tampak lega. Dia segera menggenggam tangan Ciok Giok Yin, sambil berkata agak terisak.

"Nak, Kakek ke luar justru demi dirimu." Ciok Giok Yin tertegun.

"Demi diriku?"

"Tidak salah, aku melihat tulangmu tidak cocok untuk belajar ilmu silat, namun kau justru harus belajar ilmu silat, maka aku pergi ke gunung mencari bahan obat untukmu."

"Kakek Tua berhasil mencari bahan obat itu?"

"Segala benda pusaka maupun buah langka yang berkhasiat, tidak bisa dicari. Kalau berjodoh, barulah dapat menemukannya. Maka, selama itu aku tidak pulang ke Tong Keh Cuang." Dia memandang bahu Ciok Giok Yin.

"Nak, aku harus mencabut panah itu dulu, barulah kita bercakap-cakap."

Kakek tua berjenggot putih menotok jalan darah di bahu Ciok Giok Yin. "Nak, jangan kuatir, tidak akan sakit."

Mendadak tangan kakek tua itu bergerak cepat, ternyata telah berhasil mencabut panah itu.

"Aduuuh!" jerit Ciok Giok Yin.

Dia nyaris pingsan. Sedangkan kening kakek tua itu mengucurkan keringat. Dia cepat-cepat menaruh obat pada bekas luka panah itu.

"Nak, aku akan membantumu melancarkan peredaran darahmu."

Ciok Giok Yin mengangguk. Kakek tua berjenggot putih mulai membantu Ciok Giok Yin melancarkan jalan

darahnya. Berselang sesaat, wajah kakek tua itu tampak berubah hebat.

"Nak, kau cuma bisa hidup enam hari lagi," kata dengan suara gemetar.

"Aku sudah tahu." Sahutnya , dengan tenang, tanpa terkejut. "Kau bilang Cak Hun Ciu menyuruhmu pergi mencari Tiong

Ciu Sin le?" "Ya."

"Tahukah kau siapa aku?" "Aku. "

Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa. Walau dia dibesarkan kakek tua berjenggot putih, namun tidak tahu julukannya.

"Sesungguhnya aku tidak mau memberitahukan, tapi kini sudah amat terdesak sekali, maka harus kuberitahukan. Aku memang Tiong Ciu Sin Ie."

"Kakek Tua. "

"Nak,aku telah terluka parah oleh pukulan Tui Beng Thian Cun. Setelah aku mati, dendamku ini berada pada bahumu, kau harus menuntut balas dendamku ini!"

"Kakek tua tidak akan. "

Tiong Ciu Sin Ie tersenyum getir.

"Aku menyembuhkan seorang musuhnya. Entah bagaimana dia mengetahuinya, maka dia menantangku bertarung.

Kepandaiannya memang amat tinggi sekali, cuma dengan sebuah pukulan, dia telah berhasil melukaiku." Tiong Ciu Sin Ie menarik nafas dalam-dalam.

"Nak, tahukah kau tentang asal-usulmu?" Ciok Giok Yin menggelengkan kepala. "Tidak tahu."

"Kelak kau harus pergi ke gunung Cong Lam San mencari Can Hai It Kiam. Dia akan menyerahkan sepucuk surat padamu.

Setelah membaca surat itu, kau akan tahu sendiri." "Dia akan menyerahkan padaku?" "Kau harus bilang, Tiong Ciu Sin Ie yang suruhmu ke sana." Sepasang biji mata Tiong Ciu Sin Ie berputar.

"Nak, nyawamu cuma tinggal enam hari." lanjutnya. "Anak Yin sudah tahu itu."

Tiong Ciu Sin Ie mengerutkan kening.  "Kau tahu penyakitmu itu?" katanya heran. Ciok Giok Yin mengangguk.

"Tahu."

"Bagus! Ilmu pengobatanku ada yang menerusinya."

Tiong Ciu Sin Ie mengeluarkan sebuah pipa perak yang amat kecil, kemudian juga mengeluarkan dua batang jarum dan obat koyok.

"Tancapkan pada saluran darahmu!"

Terkejut sekali Ciok Giok Yin mendengar itu, sebab dia mahir ilmu pengobatan, berkata dengan suara bergetar.

"Kakek Tua, tidak boleh! Anak Yin tidak bisa. "

Wajah Tiong Ciu Sin Ie berubah dingin.

"Cepat tancapkan, tentunya kau punya alasan!" bentaknya sengit.

Akan tetapi, Ciok Giok Yin tidak melakukan itu, karena dia tahu Tiong Ciu Sin Ie akan menyalurkan darahnya, kalau begitu, bukankah nyawa kakek tua itu akan melayang? Tiong Ciu Sin Ie menatap Ciok Giok Yin dengan gusar, kemudian mendadak menarik tangannya, sekaligus menancapkan pipa kecil itu di lengannya. Setelah itu, sebelah ujung pipa kecil itu juga ditancapkan pada lengannya sendiri. "Apabila kau sudah merasa agak pusing, boleh mencabut pipa kecil itu!" pesannya.