Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 14

 
Jilid 14

Kedua sosok bayangan itu turun di hadapannya. Ternyata si Bongkok Arak dan Cou Ing Ing.

"Lo cianpwee!" seru Ciok Giok Yin.

Dia menatap Cou Ing Ing sejenak, tapi ingin memanggil gadis itu. Oleh karena itu dia pilih diam. Sedangkan si Bongkok Arak malah meneguk arak sampai beberapa teguk, kemudian baru membuka mulut.

"Kami telah salah melakukan satu hal." Ciok Giok Yin tertegun.

"Hal apa?"

"Tentang kejadian di perkampungan Pah Ong Cuang." Mendengar itu wajah Ciok Giok Yin langsung memerah,

kemudian dia menghela nafas panjang dan berkata.

"Sebab itu kini bertambah satu musuh tangguh."

Si Bongkok Arak melotot seraya bertanya, "Kau menyesal?" "Menyesal pun telah terjadi."

"Hmm! Kau harus banyak istri agar bisa bersenang-senang dan hidup bahagia. Itu merupakan cara terbaik, bukan?" kata Cou Ing Ing seperti bergumam ditujukan kepada Ciok Giok Yin.

Dia berkata sungguh-sungguh atau menyindir, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu. Ciok Giok Yin menatapnya sejenak, kemudian tersenyum getir. Namun dia tidak berani mengucapkan apa pun sebab dia tahu bahwa Cou Ing Ing masih dendam padanya lantaran tindakannya sehingga ayahnya mati bunuh diri. Berselang sesaat si Bongkok Arak berkata.

"Perbuatan itu tidak perlu disesalkan, karena merupakan perbuatan seorang pendekar. Coba pikir, Nona Yu menikah dengan lelaki semacam itu bagaimana mungkin akan rela? Jangan-jangan dia akan membunuh diri. Kau merusak pernikahan itu, justru telah menyelamatkan Nona Yu, juga menyelamatkan putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang. Sebab kalau tidak, kemungkinan besar Nona Yu akan membunuhnya." Ciok Giok Yin berpikir sejenak kemudian manggut-manggut, sebab apa yang dikatakan si Bongkok Arak itu memang masuk di akalnya. Mendadak Cou Ing Ing memandang ke langit lalu menambahkan beberapa patah kata.

"Kelak Nona Yu itu pasti membalas budi pertolongan tersebut, tentunya merupakan pasangan yang serasi." Usai berkata, mulut gadis itu tampak cemberut.

Ciok Giok Yin tersenyum getir. "Adik Ing, aku bukan. "

"Siapa Adik Ingmu?" bentak Cou Ing Ing.

Sesungguhnya Cou Ing Ing ingin sekali akrab kembali dengan Ciok Giok Yin. Namun ayahnya baru saja mati, bahkan secara tidak langsung mati di tangan Ciok Giok Yin. Ditambah kali ini Ciok Giok Yin tidak bicara baik-baik dan lembut padanya, malah terus diam saja. Karena itu kemarahannya menjadi bangkit kembali. Setelah itu Cou Ing Ing membentak, hati Ciok Giok Yin menjadi panas, namun dia tetap sabar.

Menyaksikan itu, si Bongkok Arak segera berkata, "Nona Cou, harap bersabar!"

Kemudian dia menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Kau harus memperoleh Seruling Perak secepatnya, agar dapat menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit."

"Seruling Perak?" "Tidak salah."

"Lo cianpwee, apabila aku memperoleh Seruling Perak itu, justru hanya diserahkan kepada keturunan Hai Thian Tayhiap. Bagaimana mungkin aku bisa menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit?" "Setelah kau menguasai ilmu silat tertinggi di kolong langit, barulah Seruling Perak itu kau serahkan kepadanya pun tidak akan terlambat."

"Bukankah itu berarti secara tidak langsung aku menyerakahi milik orang lain?"

Si Bongkok Arak tertawa gelak.

"Tidak jadi masalah. Pokoknya aku yang bertanggung jawab." Sesungguhnya Ciok Giok Yin juga menginginkan demikian.

Apabila berhasil memperoleh Seruling Perak dan kitab Cu Cian,

maka dia akan melatih ilmu silat tertinggi di kolong langit agar bisa menuntut balas dendam suhunya, kakak angkatnya mertuanya dan membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee.

Maka dia bertanya kepada si Bongkok Arak.

"Apakah lo cianpwee telah memperoleh kabar tentang Seruling Perak itu?"

Si Bongkok Arak mengangguk. "Tentu."

Hati Ciok Giok Yin tergerak. "Di mana?"

"Sekarang kita harus ke kaki Gunung Cong Lam San." Ciok Giok Yin terbelalak.

"Ke kaki Gunung Con Lam San?" "Ng!"

"Seruling Perak berada di sana?" "Kita ke sana menunggu seseorang!" "Menunggu seseorang?"

Mendadak si Bongkok Arak menyela.

"Orang itu menerima pesan dari Can Hai It Kiam. Dia akan menyerahkan sepucuk surat padamu, berhubungan dengan Seruling Perak dan asal usulmu. Tapi orang itu tertangkap oleh perkumpulan Sang Yen Hwee, lalu dipaksa harus memberitahukan jejak Seruling Perak."

"Hah? Surat?" seru Ciok Giok Yin tertahan.

"Yang kita harapkan adalah surat itu," kata si Bongkok Arak.

Sekonyong-konyong sepasang mata Cou Ing Ing menyorot dingin, kemudian dia membentak, "Cepat buka bajumu!"

Perubahan yang mendadak itu sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun, namun di samping itu juga membangkitkan sifat angkuhnya.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Sudah pasti ada sebab tertentu," sahut Cou Ing Ing ketus. "Aku tidak."

"Kau berani bilang tidak?"

"Aku sudah bilang tidak, lalu kenapa?" "Mencabut nyawamu!"

Saking gusarnya, Ciok Giok Yin malah tertawa gelak. "Apakah begitu gampang?"

Cou Ing Ing mengerutkan kening. "Sungguhkah kau tidak bisa?" "Tidak bisa."

Cou Ing Ing mulai mengangkat sebelah tangannya. Wajahnya penuh diliputi hawa membunuh. Mendadak dia bergerak secepat kilat, ternyata telah melancar sebuah pukulan. Biar bagaimana pun Ciok Giok Yin tetap merasa bersalah terhadap Cou Ing Ing, maka dia tidak mau menangkis maupun berkelit.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan terhantam oleh pukulan itu. Namun di saat bersamaan si Bongkok Arak cepat-cepat mendorong dan sebelah tangannya ke depan seraya berkata,

"Nona Cou, dia tidak akan palsu."

Cou Ing Ing segera menarik kembali pukulannya, sekaligus mundur dua langkah, namun sepasang matanya masih tetap menyorot dingin.

Justru itu membuat Ciok Giok Yin menjadi terperangah. Si Bongkok Arak berkata,

"Saudara Kecil, tentunya kau juga tahu, kini di dunia persilatan terdapat seseorang memalsukan dirimu dan selalu melakukan kejahatan. Karena itu dia menghendakimu membuka baju, ingin tahu apakah di dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah apa tidak."

Ciok Giok Yin betul-betul dibuat kewalahan.

"Lo cianpwee juga tidak percaya?" tanyanya kepada si Bongkok Arak.

"Tidak bisa tidak kemudian."

Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa membalikkan badannya menghadap si Bongkok Arak, kemudian membuka bajunya, agar si Bongkok Arak dapat melihat bagian dadanya. Si Bongkok Arak manggut-manggut.

"Kita cepat pergi!" katanya pada Cou Ing Ing lalu melesat pergi. Cou Ing Ing melototi Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi mengikuti si Bongkok Arak. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, setelah itu dia pun melesat pergi mengikuti mereka.

Ilmu ginkang yang paling rendah di antara mereka bertiga, tentunya adalah Ciok Giok Yin, maka dia tertinggal belasan depa. Sedangkan si Bongkok Arak kelihatannya belum mengerahkan ginkangnya sepenuh tenaga, namun kecepatannya sudah seperti sambaran kilat. Begitu pula ilmu ginkang yang dimiliki Cou Ing Ing, maka membuat Ciok Giok Yin amat terkejut dalam hati. Ciok Giok Yin tidak habis pikir, bagaimana dalam beberapa bulan kepandaian Cou Ing Ing menjadi begitu tinggi? Apakah dia menemukan suatu kemujizatan sehingga kepandaiannya bertambah begitu cepat?

Dia merasa amat malu dalam hati, sebab nafasnya sudah mulai tersengal-sengal. Tapi dia berkertak gigi, terus melesat dengan sepenuh tenaga. Ketika hari mulai sore mereka bertiga sudah tiba di kaki Gunung Cong Lam San. Si Bongkok Arak yang berdiri di atas sebuah batu besar mendadak berseru,

"Celaka!"

Badannya mencelat ke belakang sambil melancarkan sebuah pukulan ke belakang. Seketika terdengar suara jeritan dan tampak seseorang terpental kemudian roboh binasa. Si Bongkok Arak menoleh ke belakang,

"Cepat pergi!" katanya.

Kemudian dia melesat ke dalam lembah, si Bongkok Arak terus melancarkan pukulan ke kiri dan ke kanan, bahkan kadang-kadang ke depan. Terdengar suara jeritan di sana sini.

Ciok Giok Yin yang melesat di paling belakang melihat mayat- mayat bergelimpangan. Ternyata para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mati terkena pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak. Mendadak si Bongkok Arak melesat ke atas sebuah batu besar dan tinggi. Dia melihat belasan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee terpencar menjaga di sana. Di tengah-tengah pelataran batu itu berdiri seseorang. Dia adalah Cong Hoat (Kepala Pelindung) Perkumpulan Sang Yen Hwee.

Julukannya adalah Siau Bin Sanjin (Orang Gunung Wajah Tawa), bernama Li Mong Pai. Di sudut pelataran batu itu tergeletak seorang berpakaian abu-abu. Dia adalah Tui Hong Khek (Si Pengejar Angin) Cou Kiong dari partai Cong Lam Pai.

Ternyata tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai menekan jalan darah Pai Hwee Hiat Cou Kiong. Begitu melihat kemunculan si Bongkok Arak, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai langsung tertawa dingin dan berkata.

"Sungguh cepat Anda memperoleh informasi ini!" Si Bongkok Arak tertawa gelak lalu menyahut. "Sepasang kakimu juga amat cepat."

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa dingin lagi. "Apakah Anda bisa memberitahukan nama asli?" Si Bongkok Arak menyahut.

"Li Mong Pai, itu tidak perlu. Apabila kalian ingin meninggalkan tempat ini dengan selamat, lebih baik melepaskan orang itu!"

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa kering dua kali lalu berkata.

"Anda jangan bermimpi, sebab kami masih belum memperoleh benda yang kami inginkan!"

Justru di saat bersamaan Cou Ing Ing melesat ke atas pelataran batu itu. Ketika menyaksikan keadaan pamannya yang mengenaskan, dia langsung berseru memanggilnya dengan pilu. "Paman! Paman...!"

Ketika dia baru mau menghampiri Cou Kiong, mendadak Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa licik dan berkata.

"Kalau kau berani maju melangkah lagi, lohu pasti segera mencabut nyawanya!"

Usai berkata, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai mengerahkan sedikit lwee kangnya. Seketika juga Cou Kiong merintih dan mulutnya menyemburkan darah segar. Setelah itu dia memandang Cou Ing Ing dengan mata suram.

"Anak Ing...!" panggilnya lemah.

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai mengerahkan sedikit tenaga lagi, membuat Cou Kiong berkertak gigi menahan sakit.

"Lebih baik kau simpan sedikit semangatmu!" kata Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai sambil tertawa berkekeh-kekeh.

Cou Kiong mengeluarkan suara rintihan. "Emmmh!"

Bukan main sakitnya hati Cou Ing Ing menyaksikan itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengucurkan air mata dan berdiri termangu-mangu di tempat. Begitu pula si Bongkok Arak, tak terpikirkan suatu cara untuk menolong Cou Kiong.

Tapi biar bagaimana pun dia harus menyelamatkannya. Sebab kalau tidak, Seruling Perak pasti akan tiada yang tahu. Kalau tidak berhasil memperoleh Seruling Perak itu, selamanya Ciok Giok Yin tiada punya kesempatan untuk membalas dendam.

Mendadak terdengar suara siulan panjang dan tampak sosok bayangan melesat ke pelataran batu. Siapa orang itu? Tidak lain adalah Ciok Giok Yin. Begitu dia melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee menjaga di situ, timbullah kegusarannya dan langsung menyerang mereka. Yang digunakan adalah ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, jurus pertama dan jurus kedua. Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Ternyata telah terjadi pertarungan mati-matian.

Sementara Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, ketika melihat kemunculan Ciok Giok Yin, sepasang matanya langsung memancarkan sinar tajam dan dingin, kemudian memandang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Kalian harus menghalangi bocah keparat itu!" serunya dengan lantang. Seruan itu merupakan perintah, maka para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu segera mengepung Ciok Giok Yin.

Di saat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai berseru, tanpa sadar telapak tangannya yang menekan Cou Kiong mengendur. Itu tidak terlepas dari mata si Bongkok Arak. Karena itu kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Dengan gerakan yang amat cepat dia melesat ke arah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

Perlu diketahui, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai juga berkepandaian amat tinggi dan bereaksi cepat. Namun pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak sudah mendekati dadanya. Maka dia harus menangkis kalau tidak, pasti akan terluka parah, bahkan mungkin juga nyawanya akan melayang. Akan tetapi dia tidak gugup sama sekali, sebaliknya malah tertawa panjang sambil sebelah tangannya mendorong Cou Kiong.

Seketika terdengar suara jeritan dan badannya terpental beberapa depa lalu roboh. Di saat bersamaan sebelah tangannya ingin menangkis pukulan yang dilancarkan si Bongkok Arak, tapi justru terlambat sedikit.

Plak!

Bahunya terkena pukulan. Sehingga tulangnya remuk. Dapat dibayangkan betapa sakitnya.

Phuuuuh!

Seketika itu juga mulutnya menyemburkan darah segar. Badannya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan kelihatan tak dapat berdiri tegak.

Betapa terkejutnya Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, sebab dia tidak tahu siapa orang tua bongkok itu. Dia tahu jelas bahwa orang tua bongkok itu telah membuatnya terluka dalam sehingga sulit baginya memberikan perlawanan. Dia juga tahu bahwa nyawa Cou Kiong sudah sulit untuk diselamatkan.

Karena itu dia berkata dengan suara serak,

"Baik, kita sudah serah terima!" Dia segera mundur dari tempat itu. "Mari kita pergi!"

Para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee cepat-cepat meninggalkan pelataran batu itu.

"Li Mong Pai, aku selalu menunggu pembalasanmu!" kata si Bongkok Arak sambil tertawa terbahak-bahak lalu melesat ke arah Cou Kiong.

Sedangkan Cou Ing Ing, ketika melihat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai pergi, dia langsung mendekati Cou Kiong,

"Paman! Paman!" panggilnya sambil menangis.

Akan tetapi Cou Kiong sudah sekarat. Tangan dan kakinya sedingin es. Untung Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai cuma mendorongnya. Kalau memukulnya, nyawanya pasti sudah melayang saat itu. Cou Ing Ing terus menangis hingga suaranya menjadi serak. Gadis itu teringat masa kecilnya. Setiap kali Cou Kiong pulang ke rumah, pasti mengajarnya ilmu silat. Tak disangka. Ciok Giok Yin juga kenal Cou Kiong. Maka

ketika melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee melarikan diri, dia sama sekali tidak mengejar, melainkan mendekati Cou Kiong.

"Paman Cou! Paman Cou!" panggilnya dengan air mata berlinang.

Di saat inilah si Bongkok Arak melayang turun dan langsung menegur mereka berdua. "Apa gunanya kalian berdua menangis dan memanggilnya? Biar kulihat sebentar!"

Dia memutar guci araknya yang tergantung di punggungnya di depan lalau meneguk beberapa kali. Setelah itu barulah dia menjongkokkan badannya.

"Lo cianpwee, tolong selamatkan pamanku!" kata Cou Ing Ing terisak-isak.

Si Bongkok Arak mengangguk.

"Aku akan berusaha sekuat tenagaku."

Orang tua bongkok itu segera membangunkan Cou Kiong untuk duduk, kemudian dia sendiri duduk di belakangnya dan sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggungnya. Ternyata si Bongkok Arak menyalurkan lwee kangnya ke dalam tubuh Cou Kiong. Berselang beberapa saat ubun-ubun si Bongkok Arak mulai mengeluarkan uap putih dan dari keningnya merembes keluar keringat sebesar kacang hijau. Itu membuktikan dia sedang menyalurkan lwee kang sepenuhnya.

Ciok Giok Yin dan Cou Ing Ing menyaksikannya dengan hati cemas. Cou Ing Ing mencemaskan nyawa Cou Kiong. Gadis itu berharap pamannya itu bisa selamat. Sedangkan Ciok Giok Yin mencemaskan asal usul dirinya. Apabila Cou Kiong mati, sudah barang tentu dia tidak akan tahu asal usul dirinya juga tidak akan tahu tentang Seruling Perak, bahkan tidak bisa belajar ilmu silat tertinggi di kolong lagit. Lalu bagaimana dapat menuntut balas semua dendam itu?

Setelah Can Hai It Kiam mati, dia kira selamanya tidak akan tahu asal usulnya. Siapa sangka justru muncul si Bongkok Arak memberitahukan tentang Cou Kiong. Coba bayangkan bagaimana dia tidak cemas dan panik menyaksikan keadaan Cou Kiong yang sekarat itu? Lewat beberapa saat si Bongkok Arak melepaskan sepasang telapak tangannya lalu menghela nafas panjang sambil berkata, "Aku sudah berusaha sekuat tenagaku." Dia menyeka keringat di keningnya, lalu memandang Cou Ing Ing. "Sebentar lagi dia akan siuman. Manfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan tentang Seruling Perak, jangan menyia- nyiakan kesempatan itu!"

Berselang sesaat Cou Kiong mengeluarkan suara lemah. "Emmmmh "

Cou Ing Ing cepat-cepat memanggilnya. "Paman! Anak Ing di sini."

Ciok Giok Yin juga ikut memanggilnya.

"Paman Kiong! Paman Kiong pasti masih ingat padaku."

Kelihatan Cou Kiong mendengar suara mereka. Sepasang matanya terbuka perlahan-lahan, namun amat suram. Dia memandang Cou Ing Ing dan bibirnya bergerak. Kemudian dia pun memandang Ciok Giok Yin. Keningnya sedikit berkerut, sepertinya dia tidak mengenali Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin segera berkata.

"Belasan tahun yang lalu aku ikut Tioang Ciu Sin Ie pernah tinggal di rumah keluarga Cou beberapa waktu. Paman Cou coba ingat!"

Cou Ing Ing cepat-cepat menyambung, "Paman, dia adalah Anak Yin."

Bibir Cou Kiong bergerak lagi, namun tidak mengeluarkan suara. Cou Ing Ing tampak gugup.

"Paman tahu asal-usul Anak Yin dan tentang Seruling Perak itu?"

Bibir Cou Kiong terus bergerak. Kelihatannya dia amat menderita, tapi akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang amat lirih. "Can... Hai... It... Kiam... dibunuh... oleh... Ciok... Giok... Yin. "

Cou Ing Ing segera menyela.

"Bukan dia. Orang lain yang menyamar sebagai dirinya membunuh Can Hai It Kiam. Anak Ing berani menjamin itu. Paman, cepatlah beritahukan tentang Seruling Perak!"

Sebetulnya Ciok Giok Yin juga ingin menjelaskan, tapi si Bongkok Arak langsung memberi isyarat padanya agar diam.

Berselang sesaat, bibir Cou Kiong bergerak lagi dan terdengar suaranya yang amat lirih.

"Sebelum... mati... Can... Hai... It... Kiam. berpesan

padaku... mencari... Tiong... Ciu... Sin... Ie... menyerahkan...

sesuatu. "

"Menyerahkan apa?" tanya Cou Ing Ing.

Kelopak mata Cou Kiong mulai tertutup, namun mulutnya masih mengeluarkan suara lirih.

"Di... dalam... baju. "

Bibirnya masih bergerak, namun tidak mengeluarkan suara lagi. Sedangkan sepasang matanya sudah tertutup rapat.

Ternyata dia telah mati.

"Dia belum memberitahukan Seruling Perak berada di mana?" tanya si Bongkok Arak sambil menghela nafas panjang.

Ciok Giok Yin yang cerdas itu tiba-tiba teringat akan perkataan terakhir Cou Kiong 'Di dalam baju'.

Karena itu dia segera berkata, "Tadi Paman Kiong mengatakan di dalam baju, jangan-jangan rahasia itu berada di dalam bajunya, tentunya dijahit dari dalam." Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin, justru menyadarkan si Bongkok Arak dan Cou Ing Ing.

"Tidak salah. Memang tidak terpikirkan ke situ?" kata mereka serentak.

Cou Ing Ing segera membalikkan baju Cou Kiong, sekaligus memeriksanya dengan seksama. Di balik baju itu memang terdapat jahitan benang kuning, tapi tidak terdapat apa

pun. Mereka bertiga terus memperhatikan jahitan benang kuning itu, tapi tetap tidak menemukan apa-apa. Akan tetapi si Bongkok Arak yakin bahwa dalam jahitan benang kuning tersebut pasti tersimpan suatu rahasia yang menyangkut Seruling Perak. Seandainya Cou Kiong bisa hidup beberapa saat, tentunya akan memberitahukan rahasia itu. Cou Kiong pasti tahu sebab Can Hai It Kiam pasti telah memberitahukan padanya. Si Bongkok Arak menyobek kain itu lalu diserahkan kepada Ciok Giok Yin.

"Cari akal untuk mengungkap teka-teki ini!" katanya.

Ciok Giok Yin menerima kain itu dengan kening berkerut. "Lo cianpwee, apakah masih ada orang di dunia persilatan

yang dapat mengungkap teka-teki ini?"

Si Bongkok Arak meneguk araknya, sehingga terdengar suara 'Kruk! Kruk!'

Setelah itu barulah dia menyahut, "Biar kupikir sebentar!"

Keningnya tampak berkerut-kerut, kemudian kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan, kelihatannya dia memang sedang berpikir keras.

"Ada," katanya kemudian. "Siapa?" tanya Ciok Giok Yin. Si Bongkok Arak menyahut,

"Orang itu mahir dalam hal perbintangan, pengobatan, lukisan, musik dan lain sebagainya. Lagi pula ilmu silatnya sudah mencapai taraf kesempurnaan."

Walau si Bongkok Arak sudah berkata panjang lebar, tapi belum menyebut nama orang tersebut. Karena itu Cou ing Ing yang tidak sabaran dan langsung bertanya, "Siapa orang itu?"

"Thian Thong Lojin (Orang Tua Menembus Langit)," sahut si Bongkok Arak.

"Thian Thong Lojin?" tanya Ciok Giok Yin tak tertahan. Si Bongkok Arak mengangguk.

"Ya."

"Beliau tinggal di mana?"

"Gunung Liok Pan San, di dalam lembah Tiang Cing Kok."

Ciok Giok Yin segera memberi hormat pada si Bongkok Arak seraya berkata,

"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee, sekarang aku akan ke sana,"

Usai berkata, dia membalikkan badannya. Namun ketika baru mau melesat pergi, si Bongkok Arak cepat-cepat berseru.

"Tunggu!"

"Lo cianpwee masih ada petunjuk lain?"

Si Bongkok Arak menyahut, "Orang tua itu bersifat amat aneh, tidak pernah berhubungan dengan kaum rimba persilatan! Kau harus ingat satu hal, berlakulah sedikit sungkan terhadapnya!" Dia berhenti sejenak. "Kebetulan tiada urusan lain, biar aku menemanimu. " Mendadak ucapannya terhenti

lagi.

"Kalian tunggu di sini sebentar!"

Si Bongkok Arak langsung melesat ke puncak seberang. Ciok Giok Yin yakin si Bongkok Arak pasti melihat sesuatu, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin mendadak dia melesat pergi? Kini di tempat itu tinggal Ciok Giok Yin dan Cou Kiong. Mereka berdua adalah musuh, kawan atau. ? Sementara ini sulit

dipastikan! Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin mendekatinya untuk menghiburnya. Namun wajah gadis itu tampak dingin sekali, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak berani mendekatinya. Sedangkan Cou Ing Ing juga kelihatan tidak mau berdiri bersamanya. Dia membungkukkan badannya merangkul mayat Cou Kiong, kemudian tanpa bersuara membawa mayat itu ke arah samping. Kelihatannya gadis itu mencari suatu tempat untuk mengubur mayat Cou Kiong.

"Adik. biar aku bantu kau," kata Ciok Giok Yin.

"Siapa membutuhkan bantuanmu?" sahut Cou Ing Ing dengan dingin.

Walau Cou Ing Ing menyahut ketus dan dingin, namun dalam hatinya tetap berharap Ciok Giok Yin mengikutinya. Akan tetapi Ciok Giok Yin justru tidak beranjak dari tempatnya. Karena dia tidak punya keberanian itu, lagi pula dia pun bersifat angkuh, maka dia tetap berdiri di tempat, tidak mengikuti Cou Ing Ing ke dalam lembah. Beberapa saat kemudian dia menghempaskan kakinya seraya berkata,

"Urusanku sendiri, mengapa harus ditemani dan campur tangan orang lain?"

Usai berkata tanpa menunggu si Bongkok Arak kembali dia langsung melesat pergi ke arah utara. Dia menuju Lembah Tiang Ciang Kok di gunung Liok Pan San menemui Thian Thong Lojin, untuk mengungkap teka-teki potongan kain itu. Tak lama setelah dia melakukan perjalanan, hari pun sudah mulai gelap. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya pegunungan, sama sekali tiada asap dan orang. Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan beberapa kali, bergema menembus angkasa. Hati Ciok Giok Yin tersentak, kemudian dia cepat- cepat melesat ke arah suara itu. Tak lama, dia melihat sebuah kuil bertulisan 'Kuil Cing Hong Si'. Kuil tersebut justru adalah biara Siauw Lim Pay.

Ciok Giok Yin mendorong daun pintu lalu melangkah ke dalam. Betapa terkejutnya, karena dia. melihat tujuh delapan sosok mayat biarawan tergeletak di dalam kuil. Sekujur badan mayat-mayat itu kehitam-hitaman.

"Soan Hong Ciang!" serunya tak tertahan.

Biarawan-biarawan di kuil itu semuanya mati terpukul oleh Ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Tidak salah lagi orang yang turun tangan jahat itu memiliki ilmu pukulan yang serupa dengan ilmu pukulan miliknya. Berdasarkan keadaan mayat- mayat itu, dapat diketahui bahwa Sam Yang Hui Kang yang dimiliki orang itu telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Mendadak dalam benak Ciok Giok Yin terlintas seseorang, tidak lain adalah murid murtad perguruannya yang bernama Chiu Tiong Thau. Ketika berpikir sampai di situ, hatinya nyaris meloncat ke luar. Setelah itu wajahnya berubah menjadi dingin dan diliputi hawa membunuh. Ternyata dia teringat akan penderitaan suhunya di dalam lembah, hidup tersiksa belasan tahun. Semua penderitaan dan siksaan yang dialami suhunya justru dikarenakan orang tersebut. Kalau orang itu tidak dibasmi, bukan cuma suhunya tidak bisa tenang di alam baka, bahkan juga dunia persilatan tidak akan tenang selamanya.

Berdasarkan hasutannya terhadap Kang Ouw Pat Kiat untuk mengeroyok suhunya, membuktikan orang itu amat licik dan banyak akal busuknya. Dari mayat-mayat biarawan Siauw Lim, siapa yang melihat pasti tahu mereka terbunuh oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Rimba persilatan masa kini, selain Chiu Tiong Thau, sudah pasti dirinya yang memiliki ilmu pukulan tersebut. Karena Sang Ting It Koay, suhunya pernah memberitahukan bahwa ilmu Sam Yang Hui Kang itu, adalah ilmu ciptaan Sam Yang Siu sucouwnya, berdasarkan sebuah kitab suci aliran Budha.

Ilmu tersebut hanya diwariskan kepada Sang Ting It Koay, tidak pernah diwariskan kepada orang lain. Akan tetapi apabila menginginkan ilmu Sam Yang Hui Kang mencapai tingkat tertinggi, harus makan obat peninggalan sucouw, yaitu obat Peng Ting Tan. Ketika itu walau Sang Ting It Koay bersifat aneh, namun amat membenci kejahatan. Padahal dia boleh makan obat tersebut untuk menambah lwee kangnya. Tapi dia justru tidak mau makan. Ternyata dia ingin mencari seorang pewaris yang berbakat agar dapat mencemerlangkan perguruannya sekaligus mengembangkan Sam Yang Hui Kang.

Akhirnya dia bertemu Chiu Tiong Thau, lalu menerimanya menjadi murid. Namun tak disangka Chio Tiong Thau justru berhati srigala. Pada suatu hari ketika Sang Ting It Koay pergi, dia langsung mencuri makan obat Peng Ting Tan tersebut.

Lantaran khawatir Sang Ting It Koay mengetahui hal itu, maka dia kabur secara diam-diam. Dia tidak diam sampai di situ, melainkan menghasut Kang Ouw Pat Kiat, sehingga Sang Ting It Koay dikeroyok oleh Kang Ouw Pat Kiat, menyebabkan Sang Ting It Koay hidup menderita dan tersiksa di dalam lembah.

Chiu Tiong Thau mengira Sang Ting It Koay telah mati. Maka dia pergi ke puncak Gunung Hwa San, untuk ikut serta dalam pertemuan besar rimba persilatan. Karena itu dia berhasil merebut gelar jago Nomor Wahid di kolong langit. Dia pun pernah satu kali di puncak Gunung Muh San. Setelah itu tiada kabar beritanya lagi. Mengenai perbuatan Chiu Tiong Thau di puncak Gunung Muh San, Sang Ting It Koay tidak pernah memberitahukan pada Ciok Giok Yin, maka dia tidak tahu sama sekali. Apa yang dikatakan Sang Ting It Koay berputar sejenak dalam benaknya. Kemudian dia memandang mayat-mayat itu lagi.

Saat ini dia bertambah yakin, bahwa para biarawan itu mati akibat perbuatan Chiu Tiong Thau. Namun apa maksudnya tiada sebab musabab membunuh para biarawan Siauw

Lim? Dia pun tahu bahwa saat ini kepandaiannya dibandingkan dengan Chiu Tiong Thau, boleh dikatakan bukit kecil bertemu gunung besar. Kalau pun berlatih dua puluh tahun lagi, tetap tidak akan bisa menyamai kepandaian orang itu. Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin melangkah ke ruang dalam. Dia ingin mencari seseorang yang masih hidup untuk menanyakan tentang peristiwa ini.

Di ruang dalam terdapat sebuah altar dan tampak sebuah lampu minyak masih menyala, maka ruang itu tidak begitu gelap. Di sana terdapat pula beberapa sosok mayat yang semua mayatnya juga kehitam-hitaman terpukul oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Di dalam ruangan itu agak remang- remang, membuat suasana cukup menyeramkan. Meskipun Ciok Giok Yin bernyali besar, namun sekujur badannya tetap merinding. Di saat dia merasa merinding justru mendadak melihat dinding ruang dalam itu terdapat sebaris tulisan. Dia segera mendekati dinding itu, sekaligus membaca tulisannya 'Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin' Huruf-huruf itu ditulis dengan darah.

"Haah? Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin ?" serunya tak tertahan.

Di saat bersamaan sekonyong-konyong terdengar suara pujian mereka sang Buddha.

"Omitohud! Sian Cay Sian Cay!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Tampak berdiri belasan hweeshio, masing-masing menggenggam sebuah toya, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian. Yang berdiri di paling depan adalah Tay Yap Hui Su. Tianglo dari ruang Pengawas Siauw Lim Pay. Dengan wajah muram Tay Yap Su memandang mayat-mayat yang tergeletak di lantai, kemudian menatap Ciok Giok Yin dengan tajam dan dingin.

Beberapa saat kemudian barulah padri tua itu berkata, "Siau sicu, sungguh sadis hatimu!" Berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Para murid biara ini dendam apa denganmu? Mengapa kau membunuh mereka?" Pada hal Ciok Giok Yin juga tidak tahu perbuatan siapa itu. Maka tidak mengherankan kalau hatinya menjadi gugup. Dia berjalan ke luar perlahan-lahan lalu berdiri di hadapan para hweeshio tersebut.

"Taysu! Harap Taysu jangan salah paham, aku juga baru tiba di sini..." katanya.

"Siau sicu, barusan aku dengar kau berkata, 'Pembunuhnya adalah Ciok Giok Yin'. Apakah itu juga salah paham?" sergah Tay Yap Hui Su.

Ketika Tay Yap Hui Su sedang berkata, ketujuh belas hweeshio lainnya terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata berapi-api penuh dendam.

Serrrrt!

Mereka memutar toya masing-masing, kemudian membentuk semacam formasi mengepung Ciok Giok Yin. Suasana di ruang itu mendadak berubah menjadi tegang mencekam, membuat orang akan merasa sesak nafas. Menyaksikan suasana itu, diam-diam Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya.

Pada waktu bersamaan dia pun berkata dalam hati. 'Mana boleh diriku dijadikan kambing hitam?' Oleh karena itu dia segera berkata lantang, "Taysu, secara tidak sengaja aku melihat tulisan di dinding, maka aku membaca tulisan itu. Kalau tidak percaya, Taysu boleh membacanya!"

"Membunuh orang meninggalkan tulisan, tentunya adalah perbuatanmu!" sahut Tay Yap Hui Su dingin.

Ciok Giok Yin tertegun.

"Bagaimana Taysu menganggap begitu?" Tay Yap Hui Su menatapnya tajam.

"Siu sicu tahu jelas dalam hati, mengapa masih bertanya?" "Aku memang tidak mengerti!"

"Belum lama ini, kau selalu berbuat demikian!" "Belum lama ini?"

"Apakah masih keliru?"

Mendengar itu, wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin, kemudian dia berkata dengan dingin pula.

"Taysu, orang yang telah menyucikan diri harus menjaga mulut! Taysu terus menuduhku, lebih baik Taysu menjelaskan!"

Walau Tay Yap Hui Su sudah berusia lanjut dan cukup dalam pertapaannya, namun menyaksikan para murid perguruannya terbunuh, hatinya tidak terluput dari kegusaran. Wajahnya yang welas asih itu tersirat pula hawa membunuh.

"Siau sicu, baru-baru ini kau melakukan perkosaan dan pembunuhan! Setelah itu kau pun meninggalkan namamu di dinding! Apakah itu palsu semua?"

Tay Yap Hui Su berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Perbuatanmu itu, tidak dapat diampuni!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar ucapan itu. "Betulkah ada kejadian itu?"

"Memang betul!"

"Apa yang disaksikan Taysu?" "Itu!"

Tay Yap Hui Su menunjuk mayat-mayat di lantai, lalu menunjuk ke arah dinding yang terdapat tulisan. Ciok Giok Yin mengerutkan kening. "Taysu menganggap itu adalah perbuatanku?" Tay Yap Hui Su mengangguk.

"Berdasarkan bukti!"

"Maksud Taysu adalah tulisan di dinding itu?" "Masih ada. Apakah aku harus mengatakannya?" "Silakan!"

"Kau adalah murid Sang Ting It Koay! Ya, kan?" "Tidak salah!"

"Seng Ting It Koay menguasai ilmu apa?" "Sam Yang Hui Kang!"

"Ilmu pukulan apa?" "Soan Hong Ciang!"

Tay Yap Hui Su manggut-manggut, sepasang matanya menyorotkan hawa membunuh yang amat berat. Mendadak jubahnya mengembung, pertanda kegusarannya telah memuncak, sehingga mengeluarkan hawa membuat jubahnya mengembung.

"Omitohud! Para murid perguruanku mati karena apa?" "Mati karena terpukul oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang!"

sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Tidak keliru?" "Tentu tidak!"

Tay Yap Hui Su maju tiga langkah sambil berkata, "Siau sicu adalah murid Sang Ting It Koay, sudah pasti menguasai ilmu Sam Yang Hui Kang dan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Lalu apakah masih ada penjelasan lain?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Siau sicu, bagaimana pertanggungan jawabmu?" bentak Tay Yap Hui Su.

Ketika mendengar suara bentakan itu, Ciok Giok Yin merasa hatinya berdebar-debar tidak karuan. Telinganya juga merasa ngung-ngungan tak henti-hentinya. Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka bahwa padri tua itu akan terus mendesaknya. Memang benar para hweeshio Kuil Cing Hong Si itu terbunuh oleh ilmu pukulan Soan Hong Ciang, sedangkan Ciok Giok Yin justru menguasai ilmu pukulan tersebut, maka membuatnya sulit untuk menjelaskan. Yang jelas, itu bukan perbuatannya.

Karena terdesak akhirnya Ciok Giok Yin berkata, "Kalau begitu, Taysu pasti menganggap itu adalah perbuatanku?"

"Betul!"

"Aku memang memiliki ilmu pukulan Soan Hong Ciang, tapi belum mencapai ke tingkat seperti ini! Kini aku punya satu permintaan!"

"Permintaan apa?" tanya Tay Yap Hui Su.

"Apabila Taysu dapat mempercayaiku, beri aku waktu tiga bulan! Agar aku bisa mencari orang yang melakukan pembunuhan ini, lalu aku akan ke Kuil Siauw Lim Si untuk menjernihkan kesalahpahaman ini!"

"Siau sicu, percuma kau menggunakan siasat licik ini!" "Kalau begitu, Taysu mau bagaimana?"

"Saat ini juga kau harus ikut ke Kuil Siauw Lim Si!" sahut padri tua itu dengan tegas.

Ciok Giok Yin mulai gusar. "Kalau tidak?" tanyanya kasar. "Kalau tidak, siau sicu mau. "

Ketika Tay Yap Hui Su berkata sampai di situ, ketujuh belas hweeshio lainnya sudah memutar toya masing-masing, langsung membentuk sebuah lingkaran mengurung Ciok Giok Yin.

Melihat itu, kegusaran Ciok Giok Yin mulai memuncak.

Dia tertawa dingin lalu berkata, "Taysu adalah Tianglo (Tetua) Siauw Lim Pay, namun tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah!"

Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata, ketujuh belas hweeshio ditambah Tay Yap Hui Su sudah mulai melangkah maju. Itu membuat hati Ciok Giok Yin tersentak. Ternyata dia teringat akan Cap Pwe Lo Han Tin (Formasi Delapan Belas Arahat) Siauw Lim Si. Sejak Tatmo Cousu menciptakan formasi terebut, hingga kini belum ada orang yang mampu memecahkannya.

Siapa yang terkurung di dalam Cap Pwe Lo Han Tin jangan harap bisa meloloskan diri. Kini mereka justru mengurungnya dengan formasi tersebut, membuktikan mereka berniat membunuhnya. Yang jelas Tay Yap Hui Su yang mengepalai formasi.

Mendadak padri tua itu berseru dan seketika juga ketujuh belas hweeshio berikut dirinya mulai berputar. Makin lama makin cepat, kemudian berubah agak lamban. Di saat bersamaan Ciok Giok Yin membentak mengguntur.

"Aku memang ingin belajar kenal dengan Cap Pwe Lo Han Tin yang amat tersohor itu!"

Mendadak dia melesat ke arah Tay Yan Hui Su. Ternyata dia berpikir kalau berhasil mendesak padri tua itu ke luar, tentu formasi itu akan menjadi kacau balau. Karena itu dia menyerang Tay Yap Hui Su menggunakan delapan bagian tenaganya.. Akan tetapi pada waktu bersamaan dia merasa tenaga yang amat lunak menangkis balik tenaga pukulannya. Bum!

Terdengar suara ledakan dahyat. Ciok Giok Yin terdorong mundur ke tempat semula dan seketika merasa sepasang lengannya kesemutan serta darah pun bergolak-golak tidak karuan. Saat ini dia tidak melihat jelas bayangan orang, sepertinya cuma terlihat tembok abu-abu. Selain itu juga merasa tenaga lunak terus menerjangnya. Perlu diketahui, Cap Pwee Lo Han Tin Siauw Lim Pay memang sudah amat terkenal. Siapa pun yang berkepandaian bagaimana tingginya, juga sulit menerobos ke luar dari formasi tersebut. Lagi pula kedelapan belas hweeshio itu tergolong pesilat tinggi di dunia bersilatan.

Di saat mereka berputar, toya di tangan mereka juga ikut berputar sehingga menimbulkan semacam tenaga lunak. Kalau orang yang berkepandaian tinggi, masih bisa menangkis tenaga lunak itu dengan pukulan. Namun harus menggunakan tenaga lunak pula, baru bisa bertahan beberapa saat. Apabila tidak, hanya menerjang ke sana ke mari secara tidak karuan dan membabi buta, justru akan membuat dirinya terserang oleh tenaga lunak tersebut. Seandainya terus terserang oleh tenaga lunak itu, niscaya akan membuat tulang orang yang terserang itu menjadi remuk dan dagingnya pun akan hancur. Akan tetapi kalau mereka cuma ingin menangkap orang yang terkurung itu hidup-hidup, tentunya tidak akan menyerangnya dengan sepenuh tenaga, maka orang yang terkurung hanya akan  lemas tak bertenaga, lalu ditangkap. Namun Tay Yap Hui Su sudah menganggap Ciok Giok Yin sebagai pembunuh. Lagi pula tempo hari dia membunuh tiga tosu dari partai Gobi Pay, dan urusan itu pun belum beres.

Ditambah lagi belum lama ini di dunia persilatan telah terjadi kasus perkosaan dan pembunuhan, meninggalkan nama Ciok Giok Yin di dinding. Sehingga padri tua itu mengambil keputusan untuk membasminya. Sementara Ciok Giok Yin telah melancarkan sebuah pukulan yang tiada artinya sama

sekali. Dia berkertak gigi dan sepasang matanya membara. Kemudian melancarkan dua jurus ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang yang menimbulkan suara menderu-deru dan mengandung hawa panas. Terdengar suara ledakan dahsyat memekakkan telinga. Bum!

Ciok Giok Yin terpental kembali ke tempat semula. Sepasang lengannya terasa ngilu, tidak kuat diangkat lagi. Di saat bersamaan diapun merasa serangkum tenaga lunak menerjang ke dadanya membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Ciok Giok Yin! Namun dia tidak rela menunggu maut menjemputnya. Dia coba lagi mengerahkan lwee kangnya. Namun ketika baru mau melancarkan sebuah pukulan, mendadak terdengar suara bentakan Tay Yap Hui Su,

"Kalau siau sicu mau mendengar nasihatku, lebih baik menyerahkan diri!"

"Aku tidak bersalah, mengapa harus menyerahkan diri?" sahut Ciok Giok Yin dengan dingin dan angkuh.

"Kalau begitu, kau tidak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati?"

"Kalian Siauw Lim Pay, menganggap sebagai ketua rimba persilatan lalu bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain!"

"Kau sudah terbukti bersalah, percuma berdebat!"

Kali ini kegusaran Ciok Giok Yin betul-betul telah memuncak. "Kalian keledai gundul, silakan turun tangan!"

Tay Yap Hui Su menyebut nama Sang Buddha. "Omitohud! Ini adalah kehendak sicu!"

Padri tua itu mulai menyerang Ciok Giok Yin dengan tenang lunak. Begitu pula ketujuh belas hweeshio lainnya. Mereka terus memutar toya masing-masing ke arah padanya. Saat ini Ciok Giok Yin betul-betul terdesak! Tapi dia masih menghimpun hawa murninya lalu menerjang ke luar. Kini dia sudah nekat, tidak lagi memikirkan akibatnya lagi. Yang jelas dia ingin membunuh para hweeshio itu. Namun mendadak terdengar suara ledakan lagi.

Bum!

Pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin, sepertinya membentur dinding baja, membuat matanya berkunang- kunang dan darahnya terus bergolak. Dia menghela nafas panjang, kemudian mundur ke tempat semula dan berdiri diam di situ sambil memejamkan mata menunggu mati. Justru di saat itu terbayang kembali semua dendamnya dan segala apa yang dialaminya.

"Aku tidak boleh mati! Aku tidak rela mati penasaran!" serunya mendadak dengan suara parau.

Terdengar suara sahutan Tay Yap Hui Su.

"Omitohud! Mereka yang kau perkosa dan kau bunuh, termasuk para hweeshio di sini, apakah mereka memang harus mati?"

Ucapannya berhenti sejenak, kemudian terdengar lagi, "Siau sicu, kau harus menerima nasibmu!"

Kini Ciok Giok Yin semakin terdesak oleh tenaga lunak itu, sehingga nyaris tidak bisa bernafas. Pandangannya mulai gelap dan sekujur badannya terasa sakit, seakan tulang-tulangnya mau remuk. Perlahan-lahan nafasnya menjadi lemah dan sepasang bola matanya memerah serta mulutnya mengeluarkan buih putih. Pada waktu bersamaan terdengar pula gemelutuk pada seluruh tulangnya, akhirnya dia roboh pingsan. Ada pepatah mengatakan. 'Orang tidak harus mati, pasti selamat'.

Buktinya di saat bersamaan tampak sosok bayangan kuning melesat ke sana, bukan main cepat dan ringannya. Bayangan kuning itu langsung melancarkan pukulan ke arah Cap Pwe Lo Han Tin itu! Sedangkan kedelapan belah hweeshio itu, sama sekali tidak menduga bahwa akan ada orang menyerang dari luar. Maka formasi itu menjadi kacau dan sudah barang tentu tenaga lunak itu pun buyar dengan sendirinya. Seandainya kedelapan belasa hweeshio itu bersiap, tentunya orang yang baru muncul itu sulit menyerang mereka. Orang itu justru menggunakan cara, menyerang selagi orang lengah. Oleh karena itu Cap Pwe Lo Han Tin dapat dipecahkannya. Orang itu tidak berlaku lamban. Dia langsung melesat ke arah Ciok Giok Yin. Sekaligus menyambarnya dan membawanya pergi. Dalam waktu sekejap dia sudah menghilang di kegelapan malam.

Sementara itu Tay Yap Hui Su berdiri termangu-mangu. Padahal Cap Pwe Lo Han Tin sudah hampir berhasil membasmi Ciok Giok Yin. Namun tak disangka tiba-tiba muncul orang itu dan berhasil memecahkan Cap Pwe Lo Han Tin, bahkan sekaligus membawa pergi Ciok Giok Yin. Sesaat kemudian barulah Tay Yap Hui Su melesat pergi bersama tujuh belas hweeshio lainnya. Tentunya bertambah pula kebencian mereka terhadap Ciok Giok Yin. Karena itu bagaimana mungkin mereka akan membiarkan kabur? Akan tetapi Tay Yap Hui Su juga merasa amat malu, sebab kali ini Cap Pwe Lo Han Tin yang amat tersohor itu justru telah dipecahkan oleh orang tak dikenal, bahkan orang itu berhasil menyelamatkan Ciok Giok Yin. Itu merupakan pukulan dahsyat bagi Siau Lim Pay.

Lagi pula, mereka pun tidak melihat jelas wajah orang itu. Apabila tersiar ke rimba persilatan pasti akan membuat Siauw Lim Pay kehilangan muka. Dan sudah barang tentu akan mengurangi kewibawaan Siauw Lim Pay. Sementara Ciok Giok Yin yang ditolong orang berbaju kuning memakai kain penutup muka, entah berapa lama kemudian barulah siuman perlahan- lahan. Ciok Giok Yin membuka matanya. Dia menemukan dirinya terbaring di atas sebuah batu besar. Dia coba menghimpun hawa murninya, terasa baik-baik saja. Justru membuatnya bercuriga, apakah dirinya masih berada di dunia?

"Apakah aku sudah mati?" gumamnya.

Mendadak terdengar suara sahutan di samping nya. "Kau belum mati, aku yang membawamu ke mari." Begitu mendengar suara sahutan itu, Ciok Giok Yin segera bangun. Dilihatnya seorang berbaju kuning memakai kain penutup muka berdiri di sampingnya sepasang matanya menyorot tajam. Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan orang itu. Ternyata ketika dia terkurung oleh Bu Lim Sam Siu di depan Goa Sesat, orang tersebut yang menyelamatkannya.

Seketika Ciok Giok Yin memberi hormat padanya seraya berkata, "Terimakasih atas pertolongan cianpwee, aku tidak akan lupa selama-lamanya."

"Itu cuma merupakan pertolongan yang tak berarti, tidak usah diingat dalam hati."

"Maaf, bolehkah aku tahu nama cianpwee?"

"Kita bertemu secara kebetulan, untuk apa aku harus meninggalkan nama dan marga?"

"Kita bertemu kedua kalinya," kata Ciok Giok Yin sambil menatapnya.

"Tidak salah. Tempo hari aku pernah berkata, apabila Saudara Kecil sudah amat terdesak hingga tidak bisa menaruh kaki di dunia persilatan lagi, maka aku bersedia membawamu ke suatu tempat yang dapat menjamin keselamatan nyawamu."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin merasa agak tidak

senang. Namun terhadap orang yang telah menyelamatkannya, dia tidak berani mengutarakan ketidak senangan itu.

"Terimakasih atas perhatian Anda. Namun aku bukan orang yang takut mati. Lagi pula aku merasa tidak melakukan kejahatan di dunia persilatan. Karena itu aku tidak perlu menyembunyikan diri."

Sepasang mata orang berbaju kuning itu menyorotkan sinar yang penuh kelicikan. Lantaran mukanya tertutup kain, tentunya tidak dapat diketahui bagaimana air mukanya. "Saudara Kecil, mengapa kau bertarung dengan para keledai Siauw Lim Pay itu?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi lalu menyahut dengan sengit. "Suhuku punya murid murtad, menyamar sebagai diriku,

membunuh para hweeshio di Kuil Cing Hong Si. Karena itu mereka menganggap semua itu adalah perbuatanku."

Orang berbaju kuning memakai kain penutup muka manggut- manggut.

"Kalau begitu, dia adalah suhengmu?" "Tidak salah."

"Kau tahu namanya?" "Chiu Tiong Thau." "Chiu Tiong Thau?" "Ng!"

"Bagaimana kepandaiannya?"

"Suhuku pernah bilang, kepandaiannya sudah amat tinggi, boleh dikatakan tiada tanding di dunia persilatan."

Sepasang bola mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka tampak berputar sejenak, lalu dia berkata.

"Kau yakin kepandaianmu dapat menyamainya? Maka kau ingin membasmi murid murtad suhumu itu?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Kalau benar dia yang membunuh para hweeshio Kuil Cing Hong Si, aku bukan tandingannya! Tapi... aku tetap berusaha membasminya!" sahutnya dengan mata berapi-api. Itu membuat badan orang berbaju kuning memakai kain penutup muka agak tergetar, namun cepat sekali kembali seperti biasa.

"Apa julukan suhumu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Julukan suhuku adalah Sang Ting It Koay."

"Aku pernah dengar bahwa dia sudah mati belasan tahun yang lalu."

"Tidak."

"Kini suhumu masih hidup?" "Sudah mati."

"Kapan suhumu mati?"

"Kira-kira setengah tahun yang lalu." "Di mana makamnya?"

Ciok Giok Yin tertegun, 'Untuk apa orang ini menanyakan makam suhuku?' tanyanya dalam hati.

Karena itu dia bertanya, "Apa maksud cianpwee menanyakan makam suhuku?"

Sepasang bola mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka berputar, kemudian dia menyahut.

"Aku cuma sekedar bertanya, sebab dulu kami pernah bertemu. Maksudku, kalau sempat dan kebetulan melewati makamnya, aku akan ziarah. Saudara Kecil tidak usah bercuriga, aku tidak bermaksud apa-apa."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin baru mau. Mendadak teringat

semasa hidupnya, Sang Ting It Koay pasti banyak musuh. Kalau tempat makam Sang Ting It Koay tersiar ke rimba persilatan, mungkin akan ada musuh menggali tulang belulangnya. Karena berpikir demikian, maka Ciok Giok Yin berkata,

"Mohon maaf! Sebelum suhuku mati, pernah berpesan padaku, jangan membocorkan tempat makamnya, sebelum membasmi murid murtad itu. Sebab itu, sementara ini aku tidak berani memberitahukan pada cianpwee."

Sepasang mata orang berbaju kuning memakai kain penutup muka menyorot tajam sekali. Lengan kirinya tampak bergerak sedikit. Namun cepat sekali sudah kembali seperti semula. Ciok Giok Yin sama sekali tidak memperhatikannya cuma melihat sorot matanya, sehingga membuat sekujur badannya merinding. Dia berkata dalam hati, 'Sungguh tinggi lwee kang orang ini!'

Beberapa saat kemudian orang berbaju kuning memakai kain penutup muka berkata,

"Baik, aku tidak akan memaksamu!" Dia menatap Ciok Giok Yin. "Saudara Kecil, aku masih tetap mengulangi perkataanku tempo hari! Apabila kau terdesak hingga tidak bisa menaruh kaki di dunia persilatan, aku pasti membantumu. Sampai jumpa!"

Dia langsung melesat pergi tanpa menunggu Ciok Giok Yin membuka mulut. Ciok Giok Yin berdiri diam di tempat. Tak dapat diduga sama sekali kepandaian orang itu boleh dikatakan amat tinggi. 'Sebetulnya siapa dia? Mengapa dia selalu mengatakan kelak akan membantuku?'

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan jawabannya, sehingga membuatnya menggeleng- gelengkan kepala. Para tokoh dunia persilatan memang misterius dan sulit diduga. Seperti halnya orang itu, dua kali bertemu justru pada di saat kritis. Dia tidak merasa takut akan bersalah terhadap Siauw Lim Pay, turun tangan menyelamatkannya. Sungguh dia gagah berani! Kelihatannya orang tersebut adalah pendekar berhati bajik. Akan tetapi mengapa mukanya harus ditutupi kain sehingga membuat orang terkesan misterius terhadapnya? Akhirnya Ciok Giok Yin teringat akan kejadian di Kuil Cing Hong Si. Tidak salah lagi para hweeshio itu pasti dibunuh oleh Chiu Tiong Thau.

Berdasarkan itu, sudah pasti dia tahu tentang Ciok Giok Yin, maka sengaja menyamar sebagai dirinya untuk melakukan kejahatan di dunia persilatan. Berpikir sampai di situ, sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api, rasa dendamnya terhadap Chiu Tiong Thau semakin dalam. Namun kemudian teringat akan kepandaiannya sendiri, yang masih jauh dibandingkan dengan orang lain. Apabila dia ingin menuntut balas, harus berhasil mencari Seruling Perak dan kitab Cu Cian. Setelah berpikir begitu, barulah dia teringat akan tujuan utamanya. Oleh karena itu dia langsung melesat pergi, tujuannya adalah Gunung Liok Pan San. Akan tetapi mendadak terdengar suara tertawa dingin di belakangnya.

"He he! Ciok Giok Yin, tak disangka kita berjumpa lagi!"

Begitu mendengar suara itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Tampak ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berdiri satu depa di hadapannya. Justru amat mengherankan, kali ini dia tidak memakai kain penutup muka, maka terlihat wajahnya penuh diliputi hawa membunuh.

Seketika Ciok Giok Yin membentak sengit. "Siluman yang tak habis dibasmi, aku. "

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee segera memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Bocah, tempo hari kau dapat meloloskan diri, tapi takdirmu memang harus mati di tanganku, maka kita berjumpa di sini! Hari ini kau tidak akan bisa lolos dari tanganku!"

Usai berkata, dia langsung menyerang Ciok Giok Yin. Namun mendadak semacam bau aneh menerobos ke dalam hidung ketua perkumpulan Sang Yen Hwee itu. Dia baru menerjang ke depan, justru roboh gedebuk seketika! Keningnya berkerut- kerut, kelihatannya amat menderita sekali. Padahal Ciok Giok Yin sudah siap menangkis serangannya. Tapi saat ini dia menjadi melongo ketika menyaksikan keadaan orang itu.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin melancarkan sebuah pukulan untuk menghabisi nyawa ketua perkumpulan Sang Yen Hwee itu. Namun dia berjiwa ksatria, tidak mau berbuat begitu curang. Karena itu dia tetap berdiri di tempat.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, silakan turun tangan!" bentaknya sengit.

Namun bagaimana mungkin ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menghiraukannya? Dia berusaha bangun, kemudian menengok ke sekeliing seraya membentak,

"Orang pandai dari mana, jangan cuma berani turun tangan secara gelap! Cepat perlihatkan diri!"

Terdengar suara sahutan yang amat dingin, "Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, barangku itu sudah harus kau kembalikan padaku!"

"Barang apa?" "Kitab Cu Cian!"

Ciok Giok Yin yang berdiri tak jauh tentunya mendengar jelas perkataan itu.

"Kitab Cu Cian?" serunya lantang.

"Siapa kau?" tanya perkumpulan Sang Yen Hwee. Terdengar sahutan dingin, "Kau ingin lihat?"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menyahut dengan gusar.

"Punya kepandaian boleh berhadapan, jangan bertindak curang menyebarkan racun secara gelap! Itu terhitung orang gagah apa? Aku memang ingin lihat siapa kau?" Tampak sosok bayangan berkelebat bagaikan roh, tahu-tahu di tempat itu sudah bertambah satu orang.

"Bu Tok Siangsang!" seru Ciok Giok Yin dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Bu Tok Sianseng itu mengangguk pada Ciok Giok Yin, kemudian memandang ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tertawa dingin seraya berkata,

"Ketua, kau telah terkena racunku, yaitu racun Cit Pou San (Racun Bubuk Tujuh Langkah)! Kalau kau ingin selamat, cepat kembalikan kitab Cu Cianku itu!"

"Kitab Cu Cian memang berada padaku, tapi kau harus berikan obat penawar racun dulu!" sahut ketua perkumpulan Sang Yen Hwee licik.

Bu Tok Sianseng mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam bajunya seraya berkata.

"Obat penawar ada di sini!"

Sepasang mata ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menyorot aneh, terus menatap bungkusan kecil di tangan Bu Tok Sianseng, kelihatannya ingin sekali merebutnya.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, kau tidak usah memikirkan yang tidak-tidak! Jarak di antara kita kira-kira delapan langkah. Sebelum kau melangkah sampai di hadapanku, kau sudah jadi mayat!"

Bagaimana ketua perkumpulan Sang Yen Hwee tidak akan paham akan hal tersebut? Tapi dia telah memeras otaknya hingga memperoleh kitab Cu Cian dari tangan Bu Tok Sianseng. Kini harus dikembalikan padanya, tentunya dia merasa tidak rela. Sebab asal berhasil menemukan Seruling Perak, dia pasti dapat melatih ilmu silat tertinggi di kolong langit. Setelah dipikir-pikir, dia berkesimpulan bahwa nyawanya jauh lebih penting dari pada kitab Cu Cian itu. Maka walau merasa tidak rela, tetap harus mengeluarkan kitab tersebut dari dalam bajunya yang masih dibungkus rapi. "Kita sudah boleh tukar menukar?" tanyanya. Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Boleh."

Di saat bersamaan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berpikir, asal aku memperoleh obat penawar itu, dan segera minum, pasti tidak takut lagi menghadapi Bu Tok Sianseng.

Karena itu dia berkata, "Kau lemparkan dulu obat penawar itu!"

Namun tak disangka Bu Tok Sianseng juga amat cerdik, tentunya tidak akan terjebak oleh akal busuk ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tertawa dingin, menatap ketua perkumpulan Sang Yen Hwee seraya berkata perlahan,

"Perhitunganmu memang jitu! Setelah memperoleh obat penawar ini, maka kau akan segera meneguknya, kemudian kabur seenaknya. Tapi sayang sekali lho! Aku tidak akan tertipu olehmu!"

Bukan main malunya ketua perkumpulan Sang Yen Hwee mendengar itu! Dia tidak menyangka Bu Tok Sianseng sedemikian cerdik.

"Bagaimana kalau kau macam-macam, tapi aku beritahukan dulu! Apabila kau berani menggunakan siasat licik, kau tidak akan bisa kabur sejauh sepuluh depa, sebab aku telah menaburkan racun Pek Pou Tui Hun (Racun Seratus Langkah), kau pasti sudah mendengar jelas!"

Bukan main terkejutnya ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, sehingga sekujur badannya menjadi dingin. Sebab itu, bagaimana dia masih berani memikirkan akal busuk untuk menjebak Bu Tok Sianseng?

"Baik, kita lemparkan bersama!" katanya. "Tepati janji." "Tentu!"

Akan tetapi ketua perkumpulan Sang Yen Hwee masih khawatir Bu Tok Sianseng akan menggunakan cara licik. Maka dia menambahkan,

"Apa yang kukatakan pasti kulaksanakan!" Bu Tok Sianseng mengangguk.

"Begitu pula aku!"

Kemudian mereka berdua, melemparkan benda di tangan masing-masing dalam waktu bersamaan. Cepat sekali Bu Tok Sianseng melihat kitab Cu Cian itu, lalu segera dimasukkan ke dalam bajunya. Setelah itu dia memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin, lalu badannya bergerak melesat pergi. Ciok Giok Yin tidak berani berlaku ayal, langsung melesat mengikutinya dari belakang. Dia ingat kitab Cu Cian sudah berada pada Bu Tok Sianseng, maka tidak berani bergerak lamban, terus melesat laksana kilat mengikutinya.. Belasan mil kemudian, barulah Bu Tok Sianseng berhenti.

"Kau sudah tahu tentang jejak Seruling Perak itu?" tanyanya sambil menatap Ciok Giok Yin.

"Tidak tahu," sahut Ciok Giok Yin sambil menggelengkan kepala.

"Walau memiliki kitab Cu Cian, tanpa Seruling Perak tiada gunanya," kata Bu Tok Sianseng. Dia merogohkan tangan ke dalam bajunya untuk mengeluarkan kitab Cu Cian, lalu diberikan kepada Ciok Giok Yin."Simpanlah baik-baik!"

Itu sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun! Dia sama sekali tidak menjulurkan tangannya mengambil kitab itu, cuma menatap Bu Tok Sianseng dengan mata terbelalak lebar.

"Apakah kau bercuriga?" tanya Bu Tok Sianseng. Dia membuka bungkusan itu lalu memperlihatkan isinya, yang berupa sebuah kitab tipis kepada Ciok Giok Yin. "Kitab Cu cian tiada hurufnya, maka harus menemukan Seruling Perak."

Ciok Giok Yin tercengang.

"Apakah Anda punya suatu syarat? Lebih baik beritahukan saja," tanyanya.

"Tiada syarat apapun."

"Kalau begitu, Anda berjuang mati-matian demi memperoleh kitab Cu Cian itu, lalu secara cuma-cuma diberikan pada orang, bukankah merupakan hal yang amat di luar dugaan?"

"Kau tidak usah bertanya tentang itu." "Aku harus paham."

"Kau akan paham kelak."

Ciok Giok Yin tidak melihat kepura-puraannya, maka menjulurkan tangannya menerima kitab Cu Cian tersebut. Kemudian dibukanya kitab itu, namun tidak melihat sebuah huruf pun.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening lalu bertanya. "Sungguhkah ini adalah kitab Cu Cian?"

Bu Tok Sianseng mengangguk. "Sedikit pun tidak salah."

"Anda tahu akan rahasia kitab Cu Cian ini?"

"Bukankah aku sudah bilang, kau harus menemukan Seruling Perak. Kalau tidak, kitab Cu Cian ini merupakan barang tak berarti."

Ciok Giok Yin percaya Bu Tok Sianseng tidak berbohong. Maka cepat-cepat disimpan kitab tersebut ke dalam bajunya, setelah itu dia memberi hormat seraya berkata,

"Kalau Anda punya suatu syarat, kapan pun boleh memberitahukan padaku, sampai jumpa!"

Badan Ciok Giok Yin bergerak melesat pergi. Dia tidak habis pikir, mengapa Bu Tok Sianseng rela menyerahkan kitab Cu Cian padanya, bahkan tiada syarat pula? Itu sungguh membingungkannya! Berselang beberapa saat, mendadak tercium bau anyir yang amat menusuk hidung. Dia mengerutkan kening, berkata dalam hati. 'Mungkin ada orang mati dan terluka!' Ciok Giok Yin mendekati tempat bau anyir itu. Dilihatnya enam sosok mayat tergeletak di bawah sebuah pohon, yang semuanya mengenakan jubah pendeta Taoisme.

Mayat-mayat itu tampak agak kehitam-hitaman, jelas terkena pukulan Soan Hong Ciang. Yang amat mengejutkannya, di pohon besar itu terdapat beberapa huruf yang ditulis dengan Kim Kong Ci (Ilmu Jari Arahat). 'Yang membunuh para Tosu Gobi adalah Ciok Giok Yin' Setelah membaca huruf-huruf itu, dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin. Dia berkertak gigi hingga terdengar bunyi gemeletuk.

"Kalau aku tidak mencincang Chiu Tiong Thau, hatiku tidak akan puas!" gumamnya.

Mendadak terdengar suara orang berteriak minta tolong, yang kedengarannya amat memilukan. Begitu mendengar suara itu sepasang mata Ciok Giok Yin menjadi membara dan dia langsung melesat ke arah suara itu. Dia yakin orang yang berteriak minta tolong itu, pasti di bawah ancaman Chiu Tiong Thau. Dia berani memastikan itu, karena berdasarkan mayat- mayat tosu Gobi Pay yang belum lama mati. Itu pun membuktikan bahwa Chiu Tiong Thau belum pergi jauh.

Tak lama Ciok Giok Yin sudah mendekati tempat suara teriakan minta tolong tadi. Dia cepat-cepat bersembunyi di belakang sebuah batu besar, kemudian mengintip. Dilihatnya seorang gadis tergeletak di tanah, sama sekali tidak mengenakan sehelai pakaian pun, alias telanjang bulat. Bukan main putih mulus dan indahnya tubuh gadis itu, terutama sepasang payudaranya yang montok, ditambah. Menyaksikan

itu sekujur badan Ciok Giok Yin terasa panas dingin. Di hadapan gadis telanjang bulat itu berdiri seorang pemuda berpakaian mewah. Karena dia berdiri membelakangi Ciok Giok Yin, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajahnya.

"Sampai aku jadi hantu pun tidak akan mengampunimu!" bentak si gadis.

Pemuda berpakaian mewah tertawa terkekeh.

"Apakah aku Ciok Giok Yin tidak setimpal denganmu? Kalau kau mengabulkan permintaanku, aku akan segera membebaskan jalan darahmu yang tertotok itu! Kita. "

Sebelum pemuda berpakaian mewah itu usai berkata, gadis telanjang bulat sudah berseru tak tertahan.

"Ciok Giok Yin?" "Ya!"

"Sungguhkah kau adalah Ciok Giok Yin?" "Apakah aku palsu?"

Sepasang mata si gadis berapi-api.

"Kau... kau adalah maling cabul, aku. " bentaknva sambil

menuding pemuda berpakaian mewah. Namun dia tidak melanjutkan ucapannya. Sedangkan Ciok Giok Yin yang bersembunyi di belakang pohon, sudah gusar sekali mendengar itu, sehingga sekujur badannya gemetar. Saking tak tahan, dia melesat ke luar seraya membentak bagaikan guntur.

"Jahanam! Kau berani menyamar diriku!"

Pemuda berpakaian mewah membalikkan badannya, ternyata memang mirip Ciok Giok Yin. "Bocah keparat! Kau justru berani menyamar sebagai diriku!" katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Dia langsung menyerang Ciok Giok Yin, mengarah pada jalan darah penting. Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak. Tanpa menyahut dia segera menangkis dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Seketika terdengar suara benturan dahsyat.

Blam!

Disusul dengan suara jeritan. Pemuda berpakaian mewah terpental satu depa. Akan tetapi dia cepat-cepat bangkit berdiri lalu membentak sengit.

"Ciok Giok Yin, aku akan membuatmu sulit melangkah kelak!"

Usai membentak, dia langsung melesat pergi, lalu menghilang di sebuah tikungan. Di saat Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi mengejarnya, tiba-tiba teringat akan gadis telanjang bulat. Dia khawatir akan muncul penjahat lain berbuat yang bukan-bukan terhadap gadis itu maka dia tidak berani pergi mengejar pemuda berpakaian mewah, melainkan segera membuka baju luarnya, lalu dilempar ke arah gadis itu. Ciok Giok Yin berdiri membelakanginya.

"Harap Nona cepat berpakaian!"

Lama sekali Ciok Giok Yin menunggu, namun tidak mendengar suara apa pun. Itu membuatnya bercuriga, maka perlahan-lahan dia membalikkan badannya. Dilihatnya si gadis itu masih tergeletak di tanah. Ciok Giok Yin cepat-cepat membaliknya badannya lagi seraya berkata,

"Nona harus segera berpakaian."

"Jalan darah Cian Mo Hiatku tertotok...," sahut si gadis.

Ciok Giok Yin tersentak sadar, teringat perkataan pemuda yang menyamarkan dirinya, mengatakan akan membebaskan jalan darah gadis itu. Apa boleh buat! Ciok Giok Yin terpaksa membalikkan badannya, sekaligus bergerak cepat membebaskan jalan darah gadis itu. Setelah itu dia pun menyambar baju luarnya, karena melihat pakaian gadis itu berada di situ, lalu membalikkan badannya. Dilihatnya seorang gadis berbaju ungu berdiri di situ. Ciok Giok Yin terbelalak karena merasa mengenalnya.

"Hah? Kau..." serunya tak tertahan.

Gadis baju ungu menatap Ciok Giok Yin sambil mundur dua langkah dan berseru pula.

"Kau adalah. "

"Aku adalah Ciok Giok Yin asli." "Apa buktinya?"

"Adik Yong, mungkin ayahmu telah memberitahukan padamu tentang perjodohan kita."

Ternyata gadis baju ungu itu adalah putri Seng Ciu Suseng- Seh Ing, bernama Seh Yong Yong. Kening Seh Yong Yong berkerut, kemudian dia tersenyum seraya bertanya,

"Ayah memang telah memberitahukan padaku. Tapi apakah di badanmu terdapat suatu tanda istimewa?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ada, di dadaku terdapat sebuah tahi lalat merah. "

Mendengar itu, Seh Yong Yong langsung menangis, sekaligus mendekap di dada Ciok Giok Yin. Mereka berdua berjumpa secara kebetulan, membuat hati Ciok Giok Yin terasa pilu. Dia pun tidak tahu, haruskah memberitahukan gadis itu bahwa Seng Ciu Suseng telah mati? Ciok Giok Yin belum mengambil keputusan, namun membelainya seraya berkata lembut,

"Adik Yong, beritahukan padaku apa gerangan yang terjadi? Bagaimana kau berjumpa mating cabul yang menyamar diriku itu?"

Sekujur badan Seh Yong Yong tampak gemetar, dia masih menangis terisak-isak. Isak tangis gadis itu membuat Ciok Giok Yin ikut mengucurkan air mata. Karena teringat akan kematian Seng Ciu Suseng mertuanya itu, lagi pula dia pun teringat akan Kang Ouw Pat Kiat yang terhasut oleh Chiu Tiong Thau, akhirnya harus mengalami kematian yang mengenaskan. Kini Kang Ouw Pat Kiat ada yang telah mati, ada pula yang kehilangan jejak, membuat Ciok Giok Yin merasa berduka.

Sementara Seh Yong Yong masih terus menangis. Menyaksikan itu hati Ciok Giok Yin seperti tertusuk-tusuk, kemudian membelainya seraya berkata lembut,

"Adik Yong, ceritakanlah agar mengurangi kedukaan hatimu!"

Akan tetapi Seh Yong Yong masih terus menangis dengan air mata berderai-derai.

"Adik Yong, apakah kau..." tanya Ciok Giok Yin dengan hati kebat kebit.

Walau Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya namun Seh Yong Yong adalah gadis yang cerdas, maka dia tahu tujuan pertanyaan yang terputus itu.

"Itu tidak, tapi kalau kau terlambat muncul selangkah saja. "

Usai menyahut Seh Yong Yong mulai menangis lagi. "Adik Yong, seharusnya aku datang ke rumahmu

mengunjungi ibu mertua. " kata Ciok Giok Yin sambil menyeka

air mata gadis itu.

Tak disangka ucapan Ciok Giok Yin malah membuat tangis Seh Yong Yong semakin menjadi.

Ciok Giok Yin tertegun dan segera bertanya, "Ada apa sebetulnya?" "Sebulan yang lalu, seorang pemuda tak dikenal mengantar mayat ayahku ke rumah. Begitu melihat mayat ayahku, ibuku pun meninggal seketika," sahut Yong Yong.

Terbelalak Ciok Giok Yin. "Hah? Siapa pemuda itu?"

"Dia tidak memberitahukan namanya, cuma mengatakan ayah telah mati, dan kau pun tahu itu."

Usai berkata, Seh Yong Yong mendongakkan kepala memandangnya. Meskipun air mata masih meleleh, namun gadis itu tetap cantik jelita. Ciok Giok Yin menggenggam tangannya erat-erat, menghela nafas panjang lalu menutur tentang kesalahpahaman suhunya dengan Kang Our Pat Kiat dan lain sebagainya.

Setelah itu, diapun menambahkan, "Adik Yong, aku... aku sungguh bersalah padamu!"

Seh Yong Yong menatapnya dengan air mata berlinang-linang sambil berkata dengan lembut.

"Kau tidak bisa dipersalahkan dalam hal itu. Setelah aku mengubur kedua mayat orang tuaku, kemudian aku mencarimu. Namun tak disangka aku bertemu maling cabul itu di tempat ini dan dia berhasil menotok jalan darahku. "

"Jadi kau kira dia adalah diriku?"

"Semula dia tidak memberitahukan namanya. Setelah dia mengatakan namanya, barulah kukira kau, sehingga membuatku nyaris pingsan seketika."

"Aku bersumpah pasti membunuhnya!" katanya sengit sambil berkertak gigi.

Seh Yong Yong menghapus air matanya yang membasahi pipinya, lalu bertanya, "Kakak Yin, kini kau mau pergi ke mana?" "Aku harus pergi ke Gunung Liok Pan San untuk menemui Thian Thong Lojin," sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Thian Thong Lojin?"

"Ya. Karena ada sesuatu persoalan sulit, maka aku harus mohon petunjuk beliau."

"Aku temani kau ke sana."

Ciok Giok Yin merasa serba salah. Bukan karena dia merasa enggan berjalan bersama tunangannya itu, melainkan merasa dirinya banyak musuh. Itu sulit baginya melindungi tunangannya. Apabila terjadi sesuatu, tentunya akan menyesal seumur hidup.

"Adik Yong, banyak bahaya dalam rimba persilatan, lebih baik kau pulang saja. Setelah aku kembali dari Gunung Liok Pan San, aku pasti menengok."

Ucapan Ciok Giok Yin membuat air mata gadis itu meleleh lagi.

"Seorang diri berada di rumah, bukankah akan lebih menderita?" katanya terisak.

Ciok Giok Yin berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Seh Yong Yong. Akan tetapi dia justru merasa tidak leluasa membawanya serta. Ini menyebabkan menjadi bimbang, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di samping mereka, Ciok Giok Yin segera menoleh. Betapa girang hatinya ketika dia melihat orang itu!