Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 19

 
Jilid 19

Ternyata yang muncul itu adalah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan empat orang lainnya adalah Si Peng Khek. Ciok Giok Yin tahu jelas bagaimana kepandaian mereka. Untuk melawan Si Peng Khek saja tidak sanggup, apalagi ditambah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Setelah mundur beberapa langkah, Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya lalu berdiri tegak sambil menatap mereka berlima. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa gelak seraya berkata.

"Di mana-mana manusia pasti akan bertemu, tak disangka kita bertemu kembali di sini!"

Walau dalam hati Ciok Giok Yin ada rasa gentar, namun di wajahnya tetap tampak gagah, sepasang matanya bersinar terang.

"Setelah bertemu di sini, lalu mau apa?" sahutnya. Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa terkekeh.

"Terlebih dahulu aku mengucapkan terimakasih padamu, karena tempo hari kau memapahku sampai ke kuil Yeh Ling Si. Kebaikan itu masih belum kubalas." Dia memandang Ciok Giok Yin. "Tak kusangka ilmu rias wajahmu itu, cukup hebat!" "Maling tua, hari itu kalau aku tidak melihatmu terluka parah, aku pasti tidak melepaskanmu!" bentak Ciok Giok Yin.

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa gelak.

"Aku pun tahu, kalau waktu itu kepandaianmu tidak punah, tentu aku tidak dapat melepaskan diri, dan hari ini kita pasti tidak bertemu di sini."

Ciok Giok Yin diam, tapi wajahnya tampak bengis sekali. "Bocah, kau harus tahu diri, cepat keluarkan!" kata Siau Bin

Sanjin-Li Mong Pai.

"Keluar apa?" tanya Ciok Giok Yin tertegun. "Kau jangan berpura-pura!"

"Maling Tua, bicara harus ada ujung pangkalnya, jelaskanlah!" "Benda dari Ciu Kiong!"

"Ciu Kiong?" "Tidak salah!" "Benda apa itu?"

"Pokoknya serahkan benda itu, aku akan mengampuni nyawamu, jadi kau masih bisa balas dendam kelak!"

"Sekarang juga aku akan menuntut balas dendamnya!" "Bocah, kau boleh coba!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin membara, pertanda hawa amarah sudah memuncak. Dia berkertak gigi seraya membentak.

"Tua bangka, sambut seranganku!" Laksana kilat Ciok Giok Yin melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Akan tetapi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek tertawa dingin dan mendengus.

"Hmmm!"

Di saat bersamaan, mereka telah menghindari serangan Ciok Giok Yin. Setelah menghindar, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai juga menjulurkan tangannya untuk menyambar baju Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin menyimpan kitab Cu Cian dan potongan kain di dalam bajunya, maka bagaimana mungkin dia membiarkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai menyambar bajunya? Maka dia langsung mencelat ke belakang, mengelak sambaran tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Justru di saat ini Si Peng Khek berempat telah mendorongkan telapak tangan masing-masing ke arah Ciok Giok Yin. Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga dorongan itu! Bahkan juga amat dingin sekali, sulit dilawan. Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan badan menggigil kedinginan.

Sedangkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung menjulurkan tangannya untuk mencengkeram lengan Ciok Giok Yin lalu tertawa gelak. Suara tawanya amat keras, menusuk telinga dan amat tak sedap didengar. Di saat bersamaan dia pun membentak.

"Bocah, kau:..."

Di saat lengannya hampir tercengkeram, mendadak badan Ciok Giok Yin terpental ke atas. Ternyata dia sudah terkena angin pukulan yang dilancarkan Si Peng Khek.

"Habislah!" serunya memilukan.

Badannya melayang bagaikan layang-layang putus ke dalam jurang yang amat gelap. Di saat bersamaan terdengar suara seruan di tempat jauh.

"Adik! Adik!" Tampak sosok bayangan merah melayang turun di tempat itu. Siapa bayangan merah itu? Tidak lain adalah Heng Thian Ceng. Dengan sepasang mata berapi-api wanita itu membentak bagaikan guntur.

"Kalian para penjahat, bayar nyawa adikku!" Sembari membentak, dia pun menyerang Si Peng

Khek. Mendadak Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai membentak.

"Berhenti!"

Si Peng Khek segera berkelit, sedangkan Heng Thian Ceng masih dalam posisi menyerang. Sepasang matanya melotot, sehingga wajahnya yang amat buruk itu tampak menyeramkan.

"Heng Thian Ceng, apa hubunganmu dengan dia?" tanya Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

"Dia adalah adikku, maling tua! Cepat bayar nyawa adikku!" sahut Heng Thian Ceng. Sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

Perlu diketahui, dalam jiwa Heng Thian Ceng, Ciok Giok Yin merupakan orang yang tak boleh hilang. Kini Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, bagaimana mungkin masih bisa hidup? Karena itu, Heng Thian Ceng menyerang Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dengan sepenuh tenaga dan tampak nekat sekali.

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tertawa dingin.

"Heng Thian Ceng, orang lain takut kau, tapi lohu justru tidak!"

Usai berkata, dia pun menangkis pukulan Heng Thian Ceng.

Perlu diketahui, Heng Thian Ceng merupakan wanita iblis dunia persilatan yang amat terkenal. Mengenai kepandaiannya, sudah pasti amat tinggi dan luar biasa. Setelah menangkis serangan itu, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terpaksa menyurut mundur karena Heng Thian Ceng menyerangnya dengan bertubi-tubi dan amat dahsyat. Sesungguhnya kepandain Heng Thian Ceng masih lebih rendah setengah tingkat dari Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Namun saat ini Heng Thian Ceng sudah nekat sehingga membuat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terdesak mundur. Si Peng Khek yang menyaksikan itu segera maju dengan serentak.

"Hei! Nenek peot buruk, kau harus mati bersama bocah itu!" bentak Hian Peng Khek.

Si Peng Khek langsung menyerangnya. Walau Heng Thian Ceng berkepandaian tinggi, namun tetap tidak sanggup melawan mereka. Kini pakaiannya sudah berlumuran darah. Akan tetapi dia tetap berkertak gigi melawan mereka, sebab hatinya amat sakit melihat Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang. Mendadak terdengar suara jeritan. Ternyata Heng Thian Ceng terpukul jatuh di tanah.

"Uaaakh!"

Darah segar tersembur dari mulutnya, namun cepat sekali dia telah meloncat bangun. Selama ini Heng Thian Ceng jarang bertemu lawan yang setimpal. Tapi kini keadaannya justru amat mengenaskan. Karena itu bagaimana dia tidak gusar?

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!" bentaknya dengan suara gemetar sambil mencelat ke depan.

Saat ini keadaannya sudah menyerupai hantu penasaran. Rambutnya awut-awutan, mulutnya berdarah dan pakaiannya juga sudah berlumuran darah. Kelihatannya Heng Thian Ceng akan binasa di tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek. Namun mendadak terdengar suara siulan nyaring menembus angkasa lalu tampak sesosok bayangan melayang turun di tempat itu. Siapa orang yang baru muncul itu?

Ternyata si Bongkok Arak. Begitu melihat orang tua bongkok itu, Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek segera bersiul kemudian melesat pergi. "Bayar nyawa adikku!" bentak Heng Thian Ceng.

Ketika dia baru mau melesat pergi mengejar mereka, si Bongkok Arak langsung mencegahnya.

"Khui Fang Fang, kau bilang apa?" tanyanya dengan suara dalam.

Sepasang mata Heng Thian Ceng memerah.

"Aku bilang apa pun ada hubungan apa denganmu? Cepat minggir! Aku tidak bisa melepaskan mereka!"

Wanita itu segera mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan. Si Bongkok Arak mengibaskan tangannya, membuat Heng Thian Ceng terdorong ke belakang tiga langkah.

Sedangkan si Bongkok Arak tetap menghadang di hadapannya.

"Khui Fang Fang, kau jelaskan dulu baru pergi!" katanya dingin.

Heng Thian Ceng tahu bahwa dirinya bukan tandingan si Bongkok Arak, maka berdiri diam di tempat.

"Uaaakh!"

Tiba-tiba mulut Heng Thian Ceng menyemburkan darah segar lagi.

"Kau terluka?" tanya si Bongkok Arak. "Tidak salah."

"Sebetulnya apa gerangan yang terjadi?"

"Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh mereka." "Hah? Sungguh?" seru si Bongkok Arak terkejut.

"Buat apa aku membohongimu?" "Kau jalan bersamanya?" "Tidak."

"Bagaimana kau tahu?" "Aku menyaksikannya."

Si Bongkok Arak menghela nafas panjang lalu berkata dengan nada sedih.

"Habislah! Itu jurang maut! Kalau pun tidak mati, juga sulit keluar dari situ. Kelihatannya. " Dia menatap Heng Thian

Ceng. "Khui Fang Fang, kini dia telah mati. Seharusnya kau tidak usah merindukannya lagi."

"Itu adalah urusanku!" "Jadi kau mau apa?"

"Aku akan menuntut balas dendamnya, biar aku mati bersamanya!"

Mendengar itu, sekujur badan si Bongkok Arak menjadi merinding. Orang tua bongkok itu tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng begitu mencintai Ciok Giok Yin. Akhirnya dia bergumam perlahan.

"Jodoh yang terlarang!"

"Kau bilang apa?" tanya Heng Thian Ceng.

"Khui Fang Fang, tahukah kau dia keturunan siapa?" "Keturunan siapa?"

"Keturunan. " Si Bongkok Arak menggeleng-gelengkan

kepala. "Dia sudah mati, percuma kukatakan."

Usai berkata begitu, si Bongkok Arak langsung melesat pergi. Sedangkan Heng Thian Ceng berjalan ke pinggir jurang itu sambil menangis terisak-isak. Sampai di pinggir jurang, dia memandang ke dalam. Air matanya tampak berderai-derai.

Beberapa saat dia memandang ke dalam jurang, kemudian bergumam.

"Adik, kakak pasti membalas dendammu itu!"

Usai bergumam, dia lalu duduk di pinggir jurang dan memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak. Tak terasa dua hari sudah berlalu, namun Heng Thian Ceng masih duduk di pinggir jurang itu. Kadang-kadang dia memandang ke bawah, berharap dapat melihat sesuatu di bawah jurang itu. Namun jurang itu amat dalam, sehingga dia tidak dapat melihat jelas.

Kadang-kadang dia pun pasang kuping, mendengarkan dengan seksama, tapi juga tidak mendengar suara apa pun. Akhirnya Heng Thian Ceng betul-betul putus asa. Dia memandang satu kali lagi ke bawah, barulah melesat pergi. Ketika Heng Thian Ceng baru melesat pergi, dari balik batu besar muncul seseorang, ternyata si Bongkok Arak. Orang tua bongkok itu minum beberapa teguk araknya lalu mendekati pinggir jurang. Dia memusatkan penglihatannya ke bawah jurang, namun juga tidak dapat melihat jelas ke bawah. Orang tua bongkok itu biasanya di hadapan orang lain selalu berlaku konyol dan seperti linglung. Tapi mengenai mati hidupnya Ciok Giok Yin, kelihatannya amat penting baginya. Dia berharap akan terjadi suatu kemujizatan atas diri Ciok Giok Yin. Karena itu tanpa sadar mulutnya bergumam.

"Tampang Siauw Kun tidak kelihatan pendek umur. Seandainya Siauw Kun masih punya harapan hidup, bagaimana cara memisahkannya dengan Khui Fang Fang?" Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Sulit! Sulit! Sulit! Kecuali. "

Si Bongkok Arak berhenti bergumam. Keningnya tampak berkerut-kerut, seakan sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya menghela nafas panjang seraya berkata.

"Yah! Bagaimana nanti saja!" Usai berkata begitu, dia langsung melesat pergi. Namun perasaan dalam hatinya amat tercekam. Karena 'Siauw Kun' terpukul jatuh ke dalam jurang, boleh dikatakan tidak akan selamat, kecuali terjadi suatu kemujizatan. Kalau tidak, jangan harap bisa hidup. Sejak si Bongkok Arak pergi suasana di pinggir jurang itu berubah menjadi sunyi. Kejadian tiga hari yang lalu meninggalkan sebuah sejarah di puncak gunung tersebut. Tapi sejarah itu hanya diketahui beberapa orang saja. Terutama bagi Heng Thian Ceng sejarah itu terukir dalam ingatannya.

Padahal dia mendengar kabar dari dunia persilatan, bahwa Ciok Giok Yin dilukai seorang gadis misterius sehingga kepandaiannya punah. Kemudian mendengar lagi kabar, bahwa Ciok Giok Yin menuju ke arah barat. Karena itu, tanpa menghiraukan apa pun dia terus mengejar ke arah

barat. Dalam perjalanan dia mendengar suara bentakan orang, maka segera menuju ke arah suara bentakan itu. Justru tidak terpikirkan, Ciok Giok Yin terpukul jatuh ke dalam jurang oleh Siau Bin Sanjin dan Si Peng Khek. Betapa duka hatinya!

Hatinya boleh dikatakan remuk menyaksikan kejadian tersebut. Kini dia telah meninggalkan tempat itu dengan membawa duka yang amat dalam.

Wanita iblis itu selamanya tidak pernah menaruh cinta terhadap siapa pun. Namun terhadap Ciok Giok Yin justru menaruh cinta murninya. Kini hatinya telah hampa, tidak memperoleh apa pun. Di saat seperti itulah seorang wanita memang harus dikasihani. Akan tetapi sepasang tangan Heng Thian Ceng berlumuran darah. Entah sudah berapa banyak orang yang mati di tangannya. Maka tidak ada orang yang menaruh kasihan dan simpati padanya. Sementara sang waktu terus berlalu. Sedangkan di dunia persilatan timbul lagi suatu badai. Timbulnya badai itu tidak lain adalah karena perbuatan Heng Thian Ceng. Dia seperti sudah gila, membunuh orang baik golongan putih maupun golongan hitam. Entah berapa banyak orang yang mati di tangannya, terutama para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Bagaimana Ciok Giok Yin yang terpukul jatuh ke dalam jurang? Apakah dia masih hidup? Semula ketika jatuh, dia masih dalam keadaan sadar dan membuka matanya lebar- lebar, berharap dapat meraih sesuatu agar nyawanya bisa selamat. Tapi tak disangka dinding jurang itu amat licin. Lagi pula jaraknya beberapa depa, sehingga tangannya tak dapat meraihnya. Itu membuatnya putus asa.

"Habislah nyawaku!" katanya sambil menghela nafas panjang.

Dia memejamkan sepasang matanya, menunggu ajal datang menjemputnya. Berselang beberapa saat, mendadak sekujur badannya terasa sakit sekali, akhirnya dia pingsan. Sejak Ciok Giok Yin berkecimpung di dunia persilatan, memang tidak pernah merasa tenang dan aman, boleh dikatakan selalu mengalami mara bahaya dan bergumul dengan maut serta kematian. Dari mulut si Bongkok Arak menyebutnya 'Siauw Kun' (Tuan Muda). Dapat dibayangkan asal-usulnya amat luar biasa. Karena itu apabila dia tidak memikul tugasnya kelak.

Kehidupan manusia di dunia memang demikian. Kalau manusia mampu menerima segala penderitaan maupun percobaan, barulah akan membuat dirinya bertambah tabah dan menambah pengalamannya dalam kehidupannya. Suatu penderitaan maupun percobaan justru merupakan hikmah dalam kehidupan manusia. Sementara Ciok Giok Yin yang telah pingsan itu entah berapa lama kemudian mulai siuman perlahan-lahan. Dia merasa dirinya melayang-layang sepertinya berada di dalam sebuah perahu. Namun dia juga merasa seperti berada di keluarga Tong ketika masih kecil, bersama Bwee Han Ping memanjat ke atas pohon, terayun- ayun terhembus angin. Ciok Giok Yin mulai berpikir, merasa bukan itu. Namun sesungguhnya dirinya berada di mana? Dia betul-betul bingung.

Berselang beberapa saat, mendadak dia teringat akan suatu kejadian, yakni dirinya terpukul jatuh ke bawah jurang oleh Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek. Hatinya tersentak setelah teringat akan kejadian tersebut. Kemudian dia berkata dalam hati. 'Iya! Aku sudah mati, karena rohku melayang-layang tiada tempat untuk berteduh.' Kemudian dia berpikir lagi, semua budi dan dendam juga telah berakhir sampai di sini. Semua kenangan masa lalu maupun kejadian yang menimpa dirinya terus bermunculan di pelupuk matanya.

Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya amat berduka, yaitu walau sudah mati, tapi justru masih belum tahu sebetulnya dia keturunan siapa. Kalau begitu, tetap tidak bisa mencari kedua orang tuanya. Dia menghela nafas panjang, lalu membuka matanya perlahan-lahan. Sungguh di luar dugaan, ternyata dirinya terbaring di atas sebuah batu. Dia merasa heran, kemudian membalikkan badannya ingin bangun. Akan tetapi mendadak dia merasa seluruh tulangnya seperti telah remuk.

"Aduuuh! Sakit sekali!" jeritnya.

Di saat bersamaan, sekonyong-konyong terdengar suara yang telah dikenalnya.

"Kau sudah siuman?"

Ciok Giok Yin segera membuka matanya lebar-lebar. Dilihatnya sosok bayangan wanita diselimuti kabut hijau. Itu membuatnya merinding.

"Bukankah aku sudah mati?"

"Kau tidak mati," sahut bayangan itu.

"Hah? Aku belum mati?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan. "Ya."

"Tempat apa ini?" "Jurang Maut." "Jurang Maut?" "Ya."

"Lo cianpwee yang menyelamatkanku?" "Tidak dapat dikatakan aku menyelamatkanmu, melainkan kau yang memang belum seharusnya mati." Ucapan bayangan itu berhenti sejenak. "Kaum rimba persilatan yang tahu Jurang Maut ini dapat dihitung dengan jari, juga tiada seorang pun yang dapat keluar masuk jurang ini." Mendengar itu Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Kalau begitu, tidak seharusnya lo cianpwee menyelamatkanku." katanya.

"Maksudmu?"

"Kalau aku tidak dapat keluar dari jurang ini, berarti seumur hidup akan hidup di sini, jadi tiada artinya sama sekali."

"Apa maksud ucapanmu itu?"

"Maksudku... masih banyak urusan yang harus kuselesaikan." "Tentang ini kau tidak usah cemas, aku punya akal agar kau

dapat keluar dari tempat ini." "Punya akal?"

"Ya. Sekarang kau tidak usah banyak berpikir, karena badanmu belum pulih. Baik-baiklah beristirahat, tentunya punya jalan untuk keluar."

Usai berkata, bayangan itu berkelebat dan dalam sekejap sudah hilang. Ciok Giok Yin tetap berbaring di atas batu. Dia menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya berada di dalam sebuah ruang batu. Kemudian dia memejamkan mata, mulai menghimpun hawa murninya. Kira-kira setengah hari, rasa sakit di badannya mulai berkurang. Ketika dia membuka mata, justru melihat sosok bayangan kehijau-hijauan berdiri di depannya. Begitu melihat Ciok Giok Yin membuka mata, dia segera berkata.

"Mungkin kau sudah lapar, makanlah! Setelah itu himpun lagi hawa murnimu!" Ciok Giok Yin bangun duduk lalu berkata.

"Lo cianpwee, entah harus bagaimana aku membalas budi pertolongan lo cianpwee?"

"Jangan berkata demikian, mungkin nanti aku membutuhkan tanganmu untuk melakukan sesuatu." Ucapan bayangan itu berhenti sejenak. "Kau makanlah dulu! Setelah kondisi badanmu pulih, barulah kita berbicara lagi," lanjutnya.

Dalam waktu sekejap, bayangan kehijau-hijauan itu sudah hilang. Ciok Giok Yin melihat ke arah meja, tampak sepiring nasi dan sepiring daging rusa. Dia memang telah merasa lapar, maka segera turun lalu menyantap makanan itu dengan lahapnya. Usai makan, dia kembali ke atas batu dan mulai menghimpun hawa murninya. Tiga hari berturut-turut, bayangan kehijau-hijauan itu mengantar makanan untuk Ciok Giok Yin. Setelah lewat tiga hari kondisi badannya telah pulih.

Dia mulai menghimpun hawa murninya lagi. Ketika membuka mata, tampak bayangan kehijauhijauan itu sudah berada di tempat itu. Entah sejak kapan dia datang? Ciok Giok Yin cepat- cepat turun. Ketika dia baru mau berlutut, mendadak merasa di hadapannya ada selapis tembok yang tak kelihatan menahan dirinya, sehingga membuatnya tidak bisa berlutut. Di saat bersamaan bayangan kehijau-hijauan itu berkata.

"Siauhiap tidak usah memberi hormat. Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap!"

Ciok Giok Yin tahu bahwa wanita itu mengerahkan semacam ilmu yang amat luar biasa dan itu membuatnya kagum bukan main.

"Budi pertolongan lo cianpwee tidak akan kulupakan selama- lamanya," katanya dengan hormat.

Bayangan kehijau-hijauan itu duduk di kursi batu. "Siapa suhu siauhiap?" tanyanya. "Beliau bernama Cu Wei To!" "Julukannya adalah Sang Ting It Koay?" "Ya. Lo cianpwee kenal suhuku?"

"Aku pernah dengar."

"Mohon tanya gelar lo cianpwee."

"Aku tidak mau tersiar di dunia persilatan, maka alangkah baiknya tidak kuberitahukan. Setelah kau meninggalkan tempat ini, janganlah kau ceritakan tentang keadaan tempat ini, agar tidak menarik perhatian golongan hitam."

"Aku pasti tidak akan menceritakannya."

"Siapa namamu?" tanya bayangan kehijau-hijauan itu. "Aku bernama Ciok Giok Yin."

"Ketika aku berada di atas melihatmu, membuatku teringat akan seseorang."

"Siapa?"

"Yakin yang telah kukatakan padamu, Bu Tek Thay Cu- Siangkoan Hua."

"Siangkoan Hua?" "Ya."

"Sesungguhnya siapa dia?"

"Dia adalah Sin Kiong Te Kun (Majikan Istana Dewa). Kepandaiannya amat tinggi, boleh dikatakan tiada tanding di dunia persilatan. Dia berhati lurus dan amat baik terhadap siapa pun." "Dia berada di mana sekarang?"

"Istana Dewa berada di mana, aku pun tidak begitu jelas."

Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Ketika berada di atas tebing, dia bergumam memanggil nama Siangkoan Hua. Pasti mereka punya hubungan istimewa!'

Terdengar bayangan kehijau-hijauan itu berkata lagi. "Sekarang aku akan menurunkan dua macam ilmu padamu,

agar kau dapat keluar masuk jurang ini. Tapi kedua macam ilmu itu, tidak boleh digunakan untuk menghadapi musuh, kau harus ingat!"

"Ya, aku tidak akan menggunakan kedua macam ilmu itu untuk menghadapi musuh," sahut Ciok Giok Yin.

"Bagus! Mari kita keluar!"

Usai berkata, tampak bayangan kehijau-hijauan itu berkelebat ke luar. Ciok Giok Yin segera mengikutinya dari belakang.

Begitu sampai di luar, dia nyaris berseru kaget. Ternyata di atas kelihatan seperti mulut sumur, tingginya mungkin mencapai ribuan kaki. Kalau tidak bertemu wanita itu, tidak mati pun sulit baginya untuk keluar. Kecuali punya sepasang sayap seperti burung, barulah bisa terbang ke atas. Kalau tidak, jangan harap bisa keluar dari tempat tersebut.

Bayangan kehijau-hijauan itu berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.

"Kedua macam ilmu itu disebut Hui Keng Pou (Ilmu Langkah Terbang). Perhatikanlah!"

Tampak bayangan kehijau-hijauan itu berkelebatan, mempertunjukkan Hui Keng Pou tersebut. Ciok Giok Yin terbelalak, karena ilmu tersebut amat aneh dan luar biasa, penuh gerakan-gerakan tak terduga. Walau Ciok Giok Yin amat cerdas, namun untuk menguasai ilmu Hui Keng Pou itu harus membutuhkan waktu tiga hari. "Bagus, kau telah berhasil!" kata bayangan kehijau-hijauan itu.

Ciok Giok Yin segera bertanya,

"Apakah lo cianpwee masih ada petunjuk lain?" tanya Ciok Giok Yin.

Bayangan kehijau-hijauan itu berpikir sejenak, setelah itu barulah menyahut.

"Kitab Cu Cian yang berada di dalam bajumu, kuharap ditinggalkan di sini!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak. "Mengapa?" tanyanya tak tertahan.

"Kau tidak usah khawatir. Aku pikir berdasarkan kepandaianmu sekarang, kemungkinan besar kau tidak sanggup menjaga kitab itu. Aku harap setelah kau berhasil memperoleh Seruling Perak, datanglah ke mari belajar ilmu itu, dan aku pun ada sedikit urusan membutuhkan bantuanmu.

Apakah kau bersedia membantuku?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin segera merogohkan tangan ke dalam bajunya. Kitab Cu Cian tersebut masih berada di dalam bajunya. Dia berkata dalam hati, 'Apakah dia juga ingin belajar ilmu Gin Tie Cu Cian (Seruling Perak Kitab Cu Cian)?'

Mendadak bayangan kehijau-hijauan itu berkata.

"Kau tidak usah banyak curiga. Aku hanya menghendakimu ke mari satu kali lagi, sebab aku punya sedikit urusan membutuhkan bantuanmu. Tapi itu pun setelah kau menguasai ilmu tinggi, barulah dapat menyelesaikannya. Kalau tidak, akan menimbulkan musibah dalam rimba persilatan."

Setelah mendengar apa yang dikatakan bayangan kehijau- hijauan itu, wajah Ciok Giok Yin memerah seketika. Dia segera mengeluarkan kitab Cu Cian itu seraya berkata.

"Kalau begitu, mohon lo cianpwee baik-baik menyimpan kitab ini! Setelah aku berhasil memperoleh Seruling Perak, pasti segera kemari."

Bayangan kehijau-hijauan itu menerima kitab tersebut seraya berkata.

"Semoga kau berhasil!"

Tampak bayangan itu berkelebat, sudah masuk ke dalam ruang batu. Ciok Giok Yin bersiul panjang, kemudian tampak badannya mencelat ke atas. Ternyata dia telah menggunakan ilmu Hui Keng Pou.

Ilmu Hui Keng Pou tersebut terdiri dari dua gerakan, yaitu gerakan Terbang dan gerakan Mendepak. Setelah badannya mencelat belasan depa, lalu kakinya mendepak dinding batu, seketika badannya meluncur ke atas seperti terbang dan cepatnya laksana kilat. Tak seberapa lama kemudian dia sudah sampai di atas tebing. Tanpa membuang waktu, dia langsung melesat pergi. Saat ini pakaian Ciok Giok Yin sudah tersobek sana sini, boleh dikatakan menyerupai seorang pengemis. Akan tetapi wajahnya tetap tampan dan cerah.

Sementara sang surya pun sudah mulai tenggelam ke ufuk barat. Sedangkan Ciok Giok Yin telah memasuki sebuah kota kecil. Dia menundukkan kepalanya memandang pakaiannya, memang sudah tidak karuan. Karena itu, dia membeli satu stel pakaian. Setelah berganti pakaian, dia langsung berubah seperti putra hartawan. Ciok Giok Yin bermalam di penginapan, keesokan paginya baru berangkat ke Gunung Liok Pan San.

Kini dia harus cepat-cepat mencari Thian Thong Lojin, untuk mengungkap rahasia potongan kain itu. Apabila tidak berhasil menemukan Seruling Perak, selama-lamanya dia tidak akan berhasil menuntut balas semua dendam itu. Gunung Liok Pan San begitu luas. Harus ke mana dia mencari Lembah Tiang Cing Kok? Dia amat menyesal mengapa hari itu tidak bertanya jelas pada si Bongkok Arak, jadi tidak usah membuang waktu mencari ke sana ke mari.

Namun dia yakin pasti berhasil mencari Thian Thong Lojin, seperti halnya ketika ke Gunung Thian Sang mencari Thian Lui Sianseng, maka dia tidak merasa gugup sama sekali. Di saat dia sedang melesat, mendadak terdengar suara dari balik sebuah batu besar. Dia segera melesat ke atas batu besar itu lalu melongok ke bawah. Seketika berkobarlah hawa amarahnya. Ternyata di bawah terdapat enam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang duduk-duduk di tanah. Di hadapan mereka tergeletak seorang gadis dengan posisi telentang. Gadis itu tak berpakaian sama sekali. Sepasang payudaranya menonjol ke atas, itu sungguh merangsang sekali. Sepasang mata gadis itu terpejam, kelihatannya seperti tidur pulas. Siapa yang melihat pasti tahu kalau gadis itu terkena obat bius.

Ciok Giok Yin tahu apa yang akan dilakukan anggota-anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu. Sudah barang tentu membuat amarahnya semakin memuncak. Di saat dia baru mau meloncat turun, mendadak hatinya berkata 'Mengapa aku tidak mencuri dengar apa yang akan dikatakan mereka?' Karena itu dia batal meloncat turun, segera tengkurap di atas batu besar itu. Untung gadis tersebut, masih belum mereka nodai. Keenam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu terus menatap sepasang payudara itu dengan tak berkedip, kemudian menatap ke bagian bawah tersebut. Tampak pula mereka menelan air liur, sepertinya ingin segera merangkak ke atas tubuh yang indah dan mulus itu. Setelah itu mereka saling memandang lalu menatap ke arah gadis itu lagi.

Mendadak salah seorang dari mereka berkata. "Kita tidak boleh membuang-buang waktu." "Kalau begitu, harus bagaimana?" tanya yang lain.

Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang bicara duluan itu menyahut. "Aku akan mengemukakan satu usul." "Usul apa?"

"Undi."

"Undi?"

"Ng!"

"Caranya?"

"Seperti cara yang sering kita pakai, orang pertama yang menang, berarti dia berhak duluan. Sisa lima diundi lagi, yang menang berarti giliran kedua. Nah, dengan cara demikian, kita tidak akan berebut."

"Cara ini memang tepat, tapi kalau dia dibawa pulang, jangan-jangan akan terjadi kerepotan."

"Kerepotan apa?"

"Kalau atasan memeriksa, ternyata gadis ini sudah tidak utuh, bukanlah. "

"Kita menculik gadis ini, yang penting dipersembahkan kepada tua bangka itu! Siapa yang akan memeriksa barang itu utuh atau tidak? Ya, kan?"

"Apakah gadis itu tidak akan bicara?"

"Kau memang bodoh. Dia sudah merasakan kenikmatan bagaimana mungkin akan bicara tentang itu? Bukanlah selanjutnya kita akan tinggal di dalam kuburan?"

"Kalau begitu, mari mulai kita undi!"

Mereka berenam mulai mengadakan suatu pengundian. Akhirnya salah seorang menjadi pemenang. Akan tetapi seorang di antara mereka kelihatan tidak senang. "Cara undian ini tidak adil. Kalian jangan lupa! Aku adalah pemimpin kalian berlima. Kalau aku tidak diberi kesempatan duluan Hm!"

Yang menang itu diam saja, kelihatannya memang merasa segan terhadap pemimpinnya itu. Kemudian mereka berlima mulai mengundi lagi, sedangkan pemimpin itu akan memperkosa gadis itu duluan. Yang lain sudah usai mengundi, maka pemimpin itu berkata.

"Sekarang sudah beres, maka aku yang duluan! Setelah itu barulah giliran kalian."

Dia segera menanggalkan pakaian, lalu bagaikan macan kelaparan menerkam ke arah gadis itu. Di saat bersamaan terdengar suara bentakan mengguntur.

"Kau memang cari mampus!"

Tampak sesosok bayangan meluncur ke bawah bukan main cepatnya. Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak sesosok tubuh terpental beberapa depa, kemudian jatuh tak bangun lagi. Yang lain langsung memandang orang yang baru muncul itu dan seketika mereka berseru kaget.

"Kau!"

Ternyata orang yang baru muncul itu adalah Ciok Giok Yin. "Tidak salah, memang aku!" sahut Ciok Giok Yin.

Kegusaran Ciok Giok Yin memang sudah memuncak. Maka dia langsung menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu dengan pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus

pertama. Bukan main dahsyatnya serangan itu, menimbulkan angin yang menderu-deru. Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tahu-tahu enam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu telah tergeletak di tanah menjadi mayat. Keenam anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu belum sempat melampiaskan nafsu birahi mereka, namun sudah binasa di tangan Ciok Giok Yin. Ini sungguh tak terduga sama sekali.

Setelah membinasakan keenam orang itu, Ciok Giok Yin malah berdiri tertegun. Karena gadis itu telanjang bulat, tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu, maka segera menggeledah baju mereka mencari obat penawar. Namun tidak menemukan obat penawar sama sekali. Itu membuatnya termangu-mangu di tempat, sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tentunya tidak boleh membiarkan gadis itu terus telentang di tanah dalam keadaan telanjang bulat, harus segera menolongnya. Akan tetapi Ciok Giok Yin justru tidak tahu, gadis itu terkena obat bius jenis apa, lalu bagaimana membuatnya siuman. Lama sekali Ciok Giok Yin berpikir, akhirnya manggut-manggut seraya berkata.

"Hanya mencari Thian Thong Lojin."

Karena itu dia segera membungkus tubuh telanjang itu dengan pakaian gadis itu sendiri, setelah itu digendongnya untuk dibawa pergi. Ketika melanjutkan perjalanan, hidungnya mencium aroma tubuh gadis yang amat harum. Itu membuat pikirannya menerawang. Mendadak dia tersentak sadar dan mengingatkan dirinya sendiri. Ciok Giok Yin, sedemikian tipis tenaga ketenangan. Kalau kau terus seperti itu masa depanmu amat bahaya sekali. Setelah tersentak sadar dan mengingatkan dirinya sendiri, pikiran Ciok Giok Yin sudah tidak menerawang lagi. Namun dalam gendongannya adalah seorang gadis cantik, maka tidak mengherankan kalau hatinya tetap berdebar-debar.

Tanpa sadar dia menundukkan kepala memandang wajah gadis itu. Memang cantik dan bibirnya juga seperti sedang menyunggingkan senyuman. Itu membuat Ciok Giok Yin menjadi kehilangan kesadarannya. Namun seketika dia baru mau menciumnya, mendadak terdengar suara dengusan dingin.

"Hm!"

Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin! Dia segera menengok ke sekelilingnya, tapi tidak tampak seorang pun. Dengusan dingin itu justru membuatnya tersadar, tidak berani memandang wajah gadis itu lagi, langsung mengerahkan ginkangnya melesat ke dalam sebuah lembah. Setelah melesat ke dalam lembah, justru melihat dinding batu di sisi kiri dan kanan, warnanya kehijauhijauan. Hati Ciok Giok Yin tergerak dan membatin. 'Jangan-jangan ini adalah lembah Tiang Cing Kok!'

Tak seberapa lama kemudian di depan matanya tampak sebidang tanah yang berlumut hijau.

"Lembah Tiang Cing Kok!" serunya tak tertahan.

Dia langsung melesat ke tanah yang berlumut hijau itu. Dia berjalan di situ sambil memandang ke depan. Terlihat pula rumput hijau yang pendek-pendek, dan beberapa tumpuk batu sebesar-besar kepalan. Dia tidak begitu memperhatikan semua itu, melainkan terus berjalan ke dalam tumpukan batu itu. Tak disangka ketika kakinya baru menginjak ke dalam, dia merasa terkurung di dalam puncak-puncak gunung yang amat tinggi. Keadaan di tempat itu menjadi seperti di dalam jurang maut.

Di saat bersamaan, dia segera mencelat ke atas, ke arah tebing sebelah kiri. Di saat merosot turun dia terbelalak, ternyata di situ terdapat pohon-pohon besar. Dahan pohon bergerak-gerak terhembus angin, menimbulkan suara.

"Kreeek! Kreeeek. "

Suara itu kedengaran amat menyeramkan sehingga membuat sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Di saat bersamaan dia pun melihat banyak bayangan seperti roh halus bergentayangan di situ, menyebabkan matanya menjadi berkunang-kunang. Ciok Giok Yin bersiul nyaring. Seketika bayangan-bayangan roh halus itu sirna entah ke mana. Namun saat ini Ciok Giok Yin justru berada di dalam rimba yang dipenuhi pohon-pohon besar yang tak terhitung jumlahnya. Dia tahu bahwa kini dirinya berada di dalam sebuah formasi aneh, percuma kalau menerobos ke sana ke mari. Oleh karena itu dia sendiri diam di tempat, kemudian berseru nyaring.

"Kalau tempat ini adalah Lembah Tiang Cing Kok, pasti adalah tempat tinggal Thiang Thong lo cianpwee! Aku Ciok Giok Yin ke mari mohon bertemu!"

Suara seruannya berkumandang ke mana-mana, tapi tidak terdengar sahutan sama sekali. Mendadak Ciok Giok Yin berseru lagi.

"Kalau lo cianpwee tidak ingin menemuiku, tidak jadi masalah! Tapi di tengah jalan aku menyelamatkan seorang gadis dari tangan para penjahat! Kini masih dalam keadaan pingsan, kelihatannya seperti terkena semacam obat bius, mohon lo cianpwee sudi menolongnya!"

Seusai Ciok Giok Yin berseru, sekonyong-konyong terdengar suara desiran angin. Di saat bersamaan dia pun merasa sepasang tangannya menjadi ringan, ternyata gadis yang digendongnya telah hilang. Ciok Giok Yin tersentak, dan langsung membentak.

"Kalau punya kepandaian cepat perlihatkan. "

Belum juga Ciok Giok Yin usai membentak, sudah merasa serangkum angin pukulan menerjang ke arahnya. Ciok Giok Yin mencelat ke belakang secara reflek, lalu memandang ke depan. Tampak sepasang matanya terbelalak, tenyata pemandangan tadi telah sirna. Di hadapannya berdiri seorang tua yang rambut, jenggot dan sepasang alisnya putih bagaikan salju.

Tangannya menjinjing gadis itu, matanya menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

"Bocah, siapa kau?" bentaknya dengan dingin.

Begitu menyaksikan sikap orang tua berambut putih yang amat kasar itu, timbullah keangkuhan Ciok Giok Yin.

"Siapa kau?" sahut Ciok Giok Yin dengan dingin pula.

Seketika sepasang mata orang tua berambut putih menyorot lebih tajam.

"Lohu bertanya padamu!" bentaknya lagi. Ciok Giok Yin telah lupa akan tujuannya ke tempat ini, sehingga bersikap lebih angkuh.

"Mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Orang tua berambut putih mendengus.

"Hm! Bocah, aku akan kembali baru menghajarmu!" Usai berkata, orang tua itu melesat pergi.

Ciok Giok Yin segera membentak. "Berhenti!"

Akan tetapi, orang tua itu telah tidak kelihatan. Ciok Giok Yin memang bersifat keras dan angkuh. Seharusnya dia tidak boleh berlaku demikian kasar terhadap orang tua itu. Narnun dia justru tidak dapat memastikan orang tua itu Thiang Thong  Lojin atau bukan, maka mengambil keputusan untuk bertarung dengannya. Oleh karena itu dia tetap berdiri di tempat, menunggu datangnya kembali orang tua berambut putih.

Berselang beberapa saat kemudian, terdengar suara siulan yang amat nyaring, lalu tampak sesosok bayangan berkelebat. Dalam sekejap bayangan itu sudah berada kira-kira satu depa di hadapan Ciok Giok Yin. Siapa bayangan itu? Tidak lain adalah orang tua berambut putih.

"Bocah, dari mana kau membawa gadis itu kemari?" bentaknya sambil menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

"Apa hubunganmu dengan dia?" Ciok Giok Yin balik bertanya. "Dia adalah putriku!"

"Mohon tanya lo cianpwee adalah Thiang Thong Lojin?" "Tidak salah!"

"Aku Ciok Giok Yin." "Aku tidak bertanya namamu, yang kutanyakan adalah dari mana kau membawa putriku ke mari? Bagaimana dia tidak berpakaian sama sekali? Kalau kau tidak menjelaskan, jangan harap dapat meninggalkan tempat ini!"

Ciok Giok Yin tidak menyangka Thiang Thong Lojin bersikap begitu kasar, bahkan berprasangka buruk pula terhadapnya. Namun demi membersihkan dirinya, dia menekan hawa gusarnya.

"Putri lo cianpwee ditangkap oleh beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee..." sahutnya.

"Perkumpulan Sang Yen Hwee?" tanya Thiang Thong Lojin tak tertahan.

"Tidak salah, dengarlah dulu!"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang kejadian itu. "Ketika para penjahat itu ingin menodai putri lo cianpwee,

kebetulan aku melewati tempat itu, kemudian kubunuh mereka berenam. Tapi putri lo cianpwee masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan aku tidak tahu dia terkena obat bius jenis apa, maka aku membawanya ke mari. Salahkah aku menyelamatkannya?"

"Siapa bilang kau salah? Sekarang kau harus bagaimana membereskannya?" bentak Thiang Thong Lojin.

Perkataan Thiang Thong Lojin yang tiada ujung pangkalnya itu membuat Ciok Giok Yin tertegun.

"Aku?" "Tentu kau!"

"Ada urusan apa dengan diriku?"

"Bocah, kau masih berani berpura-pura di hadapan lohu?" Ciok Giok Yin betul-betul kewalahan menghadapi Thiang Thong Lojin yang bicara tak pakai aturan itu.

"Harap lo cianpwee memberi penjelasan!" sahutnya dingin. "Aku bertanya lagi, dalam hal hubungan apa lelaki boleh

melihat tubuh seorang gadis?"

"Sulit dikatakan. Gadis kecil ketika mandi, sudah barang tentu kedua orang tuanya akan melihat. "

Belum usai Ciok Giok Yin berkata, wajah Thiang Thong Lojin sudah tampak gusar.

"Aku tidak bertanya tentang hubungan orang tua dengan anak!" bentaknya sengit.

Ciok Giok Yin tertegun. Dia memang kurang pengalaman, maka tidak tahu akan maksud Thiang Thong Lojin.

"Kalau begitu, apakah hubungan suami isteri?"

Thiang Thong Lojin mengangguk

"Itu baru betul!" Dia tampak berpikir sejenak. "Putriku bernama Tung Yun, sekarang kujodohkan denganmu. Kau mau bilang apa lagi?"

Ciok Giok Yin terbelalak. Sambil menyurut mundur tiga langkah dia menyahut dengan perlahan-lahan.

"Ini. ini mana boleh?"

"Mengapa?"

"Aku menyelamatkannya, tidak bermaksud menerima imbalan apa pun."

"Kau telah melihat tubuhnya!" "Aku melihat tubuhnya, itu belum tentu harus memperisterinya."

"Kau tidak mau, kau harus mau!" Mendengar itu, gusarlah Ciok Giok Yin.

"Mana ada perjodohan yang dipaksa?" katanya lantang. Thiang Thong Lojin maju tiga langkah seraya membentak. "Kau berani menolak?"

Ciok Giok Yin tidak menyangka akan terjadi hal tersebut, maka dia menyahut lantang.

"Tidak mau!"

"Bocah, sungguh besar nyalimu!" Thiang Thong Lojin maju selangkah lagi. "Lohu bertanya padamu, siapa berani menjamin bahwa bukan kau yang melakukan itu? Hm! Kau sengaja menangkapnya, lalu membawanya ke mari seakan menaruh budi padaku?"

Ciok Giok Yin tertegun dituduh berbuat seperti itu. "Lo cianpwee. " Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin

mencacinya, namun batal melontarkannya.

"Bagaimana lo cianpwee sedemikian tidak pakai aturan? Apakah lo cianpwee telah pikun?" lanjutnya.

Sepasang mata Thiang Thong Lojin menyorot tajam. "Lohu akan memaksamu harus mau. " bentaknya.

"Tidak mau! Tidak mau!" teriak Ciok Giok Yin sekeras- kerasnya.

Wajah Thiang Thong Lojin berubah bengis. "Kalau kau tidak mau, berarti aku tidak akan mengampunimu!" katanya sepatah demi sepatah. Sambil melancarkan serangan.

Ciok Giok Yin tersentak. Ketika dia baru mau menangkis, mendadak terdengar suara seruan.

"Ayah, jangan!"

Thiang Thong Lojin langsung mundur sambil mendengus dingin.

"Hmm! Anak Yun, kau jangan turut campur! Aku harus menghajarnya!"

Usai berkata, Thiang Thong Lojin maju lagi. Tampak sesosok bayangan melayang turun di tengah-tengah mereka, ternyata adalah Tung Yun.

"Ayah jangan marah dulu, aku ingin bertanya padanya," katanya merdu.

Thiang Thong Lojin melototi Ciok Giok Yin, lalu menyurut mundur beberapa langkah. Sedangkan Tung Yun maju ke hadapan Ciok Giok Yin sambil berkata dengan lembut.

"Tuan telah menyelamatkan diriku, selamanya takkan kulupakan budimu. Ayahku bersifat aneh, mohon jangan Tuan simpan dalam hati. Kalau Tuan sudah tiada urusan lain, lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat ini! Budi pertolonganmu, aku pasti membalasnya kelak."

Gadis itu memang cantik sekali. Maka tidak mengherankan kalau hati Ciok Giok Yin tergerak. Namun dia sudah punya tunangan, mana boleh. Karena itu dia berkata dengan suara

rendah pula.

"Nona Tung, aku sudah punya tunangan, maka tidak bisa mengabulkan permintaan ayahmu. Aku mohon maaf, dan harap Nona tidak menyalahkanku!" Gadis cantik itu memandangnya.

"Aku tidak menyalahkanmu, lagi pula urusan ini tidak bisa dipaksa. Cepatlah kau pergi agar ayahku tidak sampai merepotkanmu lagi."

Dia bermaksud baik, tapi Ciok Giok Yin justru tidak bisa segera pergi.

"Aku ada urusan ingin mohon bantuan ayahmu." "Urusan apa?"

"Berhubungan dengan sepotong kain." "Sepotong kain?"

"Ya."

"Ada apa potongan kain itu?"

"Karena potongan kain itu menyangkut asal-usulku."

Tung Yun, terbelalak menatap Ciok Giok Yin seraya bertanya. "Ada urusan begitu?"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

Tung Yun berpikir sejenak.

"Berikan potongan kain itu padaku, aku akan bertanya pada ayahku."

Ciok Giok Yin mengeluarkan potongan kain seraya berkata, "Inilah potongan kain yang kumaksudkan."

Tung Yun menerima potongan kain tersebut lalu berbisik, "Kau tunggu sebentar!"

Gadis itu membalikkan badannya lalu berjalan mendekati ayahnya. Sepasang bola matanya berputar-putar sejenak, kemudian dia berkata dengan lirih.

"Ayah telah mengambil keputusan itu, tidak boleh diganggu gugat! Pokoknya dia harus memperisterimu!" bentak Thiang Thong Lojin.

Air muka Tung Yun berubah, kemudian dia berkata dengan air mata berlinang-linang.

"Ayah tidak takut akan ditertawakan kaum rimba persilatan?" Thiang Thong Lojin tertegun,

"Apa yang harus ditertawakan?"

"Kaum rimba persilatan akan mengatakan Ayah memaksa orang menikah denganku. Kalau begitu, apakah aku masih punya muka menemui orang? Lebih baik aku mati saja."

Thiang Thong Lojin tampak tertegun lagi. Menyaksikan itu, Tung Yun segera berkata lagi.

"Dia bermaksud baik, lagi pula dia telah menyelamatkan diriku dari tangan para penjahat. Kalau tidak, apakah aku masih bisa bertemu Ayah?"

Usai berkata, Tung Yun menangis terisak-isak.

Air mata wanita memang merupakan senjata yang amat ampuh. Begitu Tung Yun menangis, hati Thiang Thong Lojin pun menjadi lunak. Namun mendadak orang tua berambut putih itu menghempas kakinya seraya berkata,

"Biar Ayah berpikir sebentar!"

Tung Yun khawatir kalau-kalau ayahnya akan berubah pikiran, maka dia cepat-cepat berkata, "Ayah, dia ke mari ingin mohon bantuan." "Bantuan apa?"

"Dia memiliki sepotong kain, menyangkut asal-usulnya, maka jauh-jauh dia ke mari menemui Ayah, agar mengungkap rahasia kain potongan itu, mungkin. "

Thiang Thong Lojin memutuskan perkataan Tung Yun, "Potongan kain apa?"

Tung Yun memperlihatkan potongan kain tersebut. "Ini, Ayah!"

Thiang Thong Lojin menerima potongan kain itu, lalu diperhatikannya dengan mata tak berkedip. Setelah itu tampak keningnya berkerut-kerut sedang berpikir keras. Saat ini, dia sudah tidak memikirkan urusan putrinya, karena perhatiannya tercurah pada potongan kain itu. Kelihatannya dia amat tertarik. Ciok Giok Yin yang melihat dari jauh hatinya berdebar- debar tegang. Tak diragukan lagi Thiang Thong Lojin juga mengalami kesulitan memecahkan rahasia potongan kain itu.

Apabila orang tua berambut putih itu tidak dapat mengungkap rahasia potongan kain tersebut, berarti selamanya tak dapat diungkapkan. Beberapa saat kemudian mendadak Thiang Thong Lojin melemparkan kain itu sambil membentak dengan sengit.

"Mana lohu punya waktu mempedulikan urusanmu? Cepat enyah!"

Ciok Giok Yin menyambut potongan kain itu sambil menyahut dengan gusar.

"Kau cuma bernama kosong!"

Ciok Giok Yin ingin melesat pergi. Sekonyong-konyong Thiang Thong Lojin mem- bentak bagaikan guntur. "Berhenti!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya lalu bertanya dengan dingin.

"Masih ada urusan apa?"

Thiang Thong Lojin tertawa gelak seraya berkata, "Seandainya lohu bernama kosong, lihat siapa yang sanggup

mengungkapnya."

"Aku pasti dapat menemukan orang yang mampu mengungkap rahasian potongan kain ini!" sahut Ciok Giok Yin.

Dia tidak mempedulikan Thiang Thong Lojin lagi, sebab khawatir kalau-kalau orang tua berambut putih itu akan mendesaknya menikah dengan Tung Yun. Maka dia segera melesat pergi dengan wajah gusar.

Setelah Ciok Giok Yin melewati puncak gunung, mendadak terdengar suara merdu di belakangnya.

"Tunggu sebentar, Tuan!"

Ciok Giok Yin segera berhenti sekaligus membalikkan badannya. Tampak Tung Yun sedang melesat ke arahnya. Ginkang gadis itu cukup tinggi, sehingga dalam sekejap sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin.

"Nona ada petunjuk apa?" tanya Ciok Giok Yin dingin.

Tung Yun menatapnya sejenak, kemudian berkata dengan perlahan-lahan.

"Ayahku bersikap kasar padamu, aku sungguh merasa tidak enak!"

"Itu tidak apa-apa. Nona ke mari hanya karena urusan itu?" "Bukan."

"Lalu karena urusan apa?" "Potongan kain itu."

Ciok Giok Yin tertegun.

"Memangnya kenapa potongan kain itu?"

"Kau harus memperoleh Bu Keng Sui (Air tanpa Akar)." "Bu Keng Sui?"

"Ya."

"Apa yang disebut Bu Keng Sui?"

"Mungkin potongan kain itu harus direndam dalam Air Tanpa Akar itu, barulah dapat diketahui rahasianya, sampai jumpa!"

Tung Yun segera melesat pergi.

"Terimakasih atas petunjuk Nona!" seru Ciok Giok Yin dengan lantang. Usai berseru, dia justru berdiri termangu-mangu.

Tidak menyangka sama sekali, potongan kain tersebut berhubungan pula dengan Air Tanpa Akar. Ini sungguh merupakan hal aneh! Memang banyak hal aneh di dunia persilatan, sulit untuk diduga. Ciok Giok Yin terus berpikir. Asal-usulnya diketahui Tiong Ciu Sin Ie, mengapa tidak mau memberitahukan dari dulu? Sebelum meninggal, kakek tua itu cuma berpesan agar Ciok Giok Yin pergi ke gunung Cong Lam San mencari Can Hai It Kiam. Namun Can Hai Kian justru

dibunuh oleh orang yang menyamar sebagai dirinya. Kemudian muncul Cou Kiong, akhirnya Cou Kiong mati di tangan Siau Sin Sanjin-Li Mong Pai, cuma meninggalkan potongan tersebut.

Sedangkan potongan kain itu harus direndam dengan Air Tanpa Akar, lalu harus mencari ke mana Bu Keng Sui itu? Kalau Bu Keng Sui itu kepunyaan orang lain, bagaimana mungkin orang itu akan memberikannya? Ciok Giok Yin yakin bahwa Bu Keng Sui merupakan benda pusaka, tidak gampang memperolehnya. Lama sekali Ciok Giok Yin berpikir, akhirnya dila membanting kakinya seraya berkata sengit.

"Bagaimana nanti saja!"

Kemudian dia melesat pergi Dalam perjalanan dia terus berpikir mana yang harus dituju. Mendadak timbul suatu niat dalam hatinya, ternyata dia ingin menuju Kuil Yeh Ling Si yang pernah didatangi oleh Siau Bin Sanjin Li Mong Pai. Kini apa salahnya pergi ke kuil itu melihat-lihat, lalu berangkat ke Gunung Kee Jiau San tempat markas Thay Kek Bun untuk menengok Seh Yong Yong, tunangannya. Biar bagaimanapun harus mencari suatu tempat untuk tempat tinggalnya, tidak bisa selamanya menumpang di rumah orang. Seusai berpikir demikian, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi laksana kilat, menuju Kuil Yeh Ling Si.

Hari sudah mulai gelap, namun kuil tersebut sudah berada di depan. Suasana di sekitar kuil itu sunyi senyap, tidak terdengar suara orang. Ciok Giok Yin khawatir kalau-kalau di depan kuil terdapat anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, maka dengan waspada dia mengerahkan ginkangnya untuk meloncati tembok lalu melesat ke dalam kuil itu. Dari ruang dalam hingga beberapa kamar, sama sekali tidak menemukan seorangpun, bahkan kelihatannya kuil itu tidak pernah dihuni orang.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening berpikir, mungkin kuil ini merupakan tempat pijakan sementara bagi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai tempo hari. Setelah berpikir demikian, dia pun ingin. Mendadak terdengar suara yang amat lirih,

"Dengar-dengar waktu hari raya malam itu."

Suara lirih itu berasal dari ruangan depan. Ciok Giok Yin segera melesat ke ruangan itu, namun sudah tidak terdengar apa-apa lagi. Beberapa saat kemudian terdengar suara lirih itu berkata, "Kita di sini melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa diketahui siapa pun, mengapa tidak boleh? Yang penting jangan menyia-nyiakan kesempatan ini."

Terdengar suara bentakan nyaring, yaitu suara seorang gadis. "Kalian semua memang kodok buduk yang ingin makan

daging angsa! Dasar tak tahu diri!" Terdengar suara lelaki.

"Toaya hari ini memang ingin menikmati tubuhmu."

Ciok Giok Yin sudah mendengar jelas dari mana asal suara, ternyata berada di bawah lantai. Apakah di bawah lantai terdapat ruang rahasia?

Mendadak terdengar suara 'Plak!'

Kemudian terdengar pula suara jeritan, yang disusul oleh suara rintihan. Jelas sama-sama terluka. Mendadak Ciok Giok Yin melihat di dinding ruangan itu terdapat sebuah titik hitam yang mencurigakan. Dia segera mendekati dinding itu kemudian menekan titik hitam tersebut. Di saat bersamaan terdengar suara 'Kreeeek'.

Ternyata bagian lantai di ruangan itu terbuka sedikit, namun di dalam agak gelap. Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya lalu melongok ke dalam. Sebelum dia melihat jelas, sekonyong- konyong dari dalam melesat ke luar sosok bayangan, ternyata seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, karena bajunya bersulam sepasang burung walet. Ketika melihat Ciok Giok Yin, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu tampak tertegun.

"Bocah, siapa kau?" bentaknya. "Ciok Giok Yin."

Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu berseru tak tertahan. "Apa? Omong kosong!"

Rupanya dia telah mendengar tentang Ciok Giok Yin yang terpukul ke dalam jurang maut. Di saat dia berseru kaget, terlihat lagi dua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee melesat ke luar dari bawah lantai. Ciok Giok Yin amat mendendam terhadap para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee maka dia langsung menyerang ketiga orang itu dengan totokan mematikan. Terdengar suara jeritan, ketiga orang itu telah tertotok, roboh tak bisa bangun lagi.

Setelah membinasakan ketiga orang itu, Ciok Giok Yin segera meloncat ke dalam lantai yang terbuka itu. Ketika sepasang kakinya menginjak dasar, mendadak terdengar suara rintihan dari sebuah ruang batu dan tampak pula cahaya menyorot ke luar. Ciok Giok Yin bergerak cepat melesat ke dalam ruang batu itu dan terbelalak begitu masuk ke dalam. Ternyata di lantai ruang batu itu tergeletak sosok mayat. Bajunya bersulam sepasang burung walet telah berlumuran darah, bahkan kepala mayat itu pun telah hancur. Tentunya mayat itu anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

Di sudut ruang batu itu juga tergeletak seorang wanita berpakaian hitam. Mulutnya mengeluarkan suara rintihan, pertanda dia telah terluka parah. Dia tergeletak menghadap ke dalam, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajahnya. Ciok Giok Yin mendekati wanita itu dan begitu melihat seketika juga berseru kaget.

"Kau!"

Sungguh di luar dugaan, ternyata Ciok Giok Yin pernah bertemu wanita berpakaian hitam ini di kuil Cak Ong Bio. Pada waktu itu gadis tersebut juga dalam keadaan terluka. Tak disangka wanita berpakaian hitam ini adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee juga. Ketika Ciok Giok Yin berseru kaget, wanita berpakaian hitam itu terkejut oleh seruannya dan segera memandang ke arah Ciok Giok Yin.

Sepasang matanya tampak suram. "Kau..." serunya lemah. Dia tidak tahu nama Ciok Giok Yin, karena ketika bertemu, dia tidak menanyakan namanya. Ciok Giok Yin mendengus.

"Hm! Memang aku, tak terduga kan?"

Tiba-tiba wanita berpakaian hitam itu membuka mulut. "Uaaakh!"

Darah segar menyembur ke luar dari mulutnya, setelah itu dia berkata dengan lemah sekali.

"Bukankah kau adalah Ciok Giok Yin yang selalu menentang perkumpulan Sang Yen Hwee kami?"

"Tidak salah!" sahut Ciok Giok Yin dengan dingin. "Tahukah kau siapa aku?"

"Kau adalah wanita busuk yang tak tahu diri!" Wanita berpakaian hitam tersenyum getir,

"Katamu memang benar, demikian diriku," dia menarik nafas dalam. "Tetapi kuberitahukan, namaku Kiok San, tugasku di perkumpulan Sang Yen Hwee adalah menjaga semacam barang yang amat rahasia."

Hati Ciok Giok Yin tergerak, "Barang apa itu?"

Kiok San tidak menyahut, melainkan berkata lain.

"Tak kusangka mereka begitu jahat, ingin menodai diriku. Salah seorang itu telah kubinasakan, tapi orang itu telah berhasil memutuskan nadi di jantungku." Dia berhenti sejenak kemudian melanjutkan. "Setelah kejadian ini aku sudah tidak bisa bernaung di bawah perkumpulan Sang Yen Hwee lagi." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Di kuil Cak Ong Bio, kau telah menyelamatkan nyawaku."

"Pada waktu itu aku tidak tahu kau adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee," kata Ciok Giok Yin dingin.

"Kalau tahu?"

"Aku pasti akan menambah satu pukulan lagi untukmu." "Sekarang masih belum terlambat."

"Terus terang, aku tidak akan mengampuni setiap anggota perkumpulan Sang Yen Hwee."

Mendadak mulut Kiok San menyemburkan darah segar lagi, setelah itu dia berkata lirih.

"Sekarang kau boleh turun tangan."

"Aku akan menunggu kau pulih dulu!" bentak Ciok Giok Yin. Kemudian dia menatap Kiok San tajam. "Katakan, barang apa yang kau jaga itu?"

Akan tetapi Kiok San tidak menyahut, melainkan memejamkan matanya, kelihatannya seperti sudah mati.

Hati Ciok Giok Yin tersentak kemudian berkata dalam hati, 'Aku tidak boleh membiarkannya mati, harus tanya dia menjaga barang apa.'

Ciok Giok Yin segera duduk lalu memegang tangan wanita berpakaian hitam. Tangan wanita itu dirasakannya amat dingin, namun di tenggorokannya masih terdapat sedikit nafas. Karena itu dia segera menghimpun hawa murninya lalu disalurkan ke dalam tubuh Kiok San. Berselang beberapa saat kemudian, nafas Kiok San mulai lemah, sepasang matanya tetap tertutup rapat. Ciok Giok Yin segera menyalurkan hawa murninya lagi ke dalam tubuh Kiok San dan tak seberapa lama kemudian sepasang mata Kiok San terbuka perlahan-lahan. Bibirnya bergerak-gerak beberapa kali, akhirnya terlontar juga beberapa kata. "Mengapa... kau... membuatku... siuman...?"

Ciok Giok Yin tahu ajal Kiok San hampir tiba, maka dia berkata lembut.

"Kau menjaga suatu barang penting perkumpulan Sang Yen Hwee. Seandainya kau ingin berbuat baik terhadap dunia persilatan dan meninggalkan nama harum, bukanlah lebih baik kau serahkan barang itu padaku?" Tiba-tiba dia teringat sesuatu, maka segera bertanya, "Sebetulnya ada apa waktu hari raya di malam itu? Tadi aku mendengar pembicaraan mereka."

Kiok San balik bertanya dengan suara lemah seakan bergumam.

"Apakah... aku... harus... mengatakannya?"

"Kau harus mengatakannya padaku. Aku tahu pada dasarnya kau berhati baik. Cuma kau terpengaruh sehingga terjerumus ke dalam perkumpulan itu." Ciok Giok Yin menatapnya, "Demi meninggalkan nama harummu, kau harus mengatakannya padaku."

Kening Kiok San tampak berkerut-kerut, kelihatannya seperti serba salah. Akan tetapi akhirnya dia berkata.

"Baik, kuberitahukan... padamu. "

Ciok Giok Yin segera memegang tangannya seraya berkata, "Katakanlah!"

Mendadak tampak air mata Kiok San meleleh.

Ciok Giok Yin cepat-cepat menghapus air matanya, "Apakah hari ini... tanggal " tanya Kiok San tersendat-sendat.

"Hari ini tanggal dua bulan lima," sahut Ciok Giok Yin. "Kalau... begitu... masih... ada... tiga... hari. "

"Maksudmu?"

"Di... di dalam... bajuku... terdapat... selembar... daftar...

nama... tolong... ambilkan. !"

Ciok Giok Yin segera merogohkan tangannya ke dalam baju Kiok San untuk mengeluarkan selembar kertas.

Terdengar suara Kiok San semakin lemah.

"Tepatnya... tanggal lima... bulan lima... turun... tangan. di

tengah... malam... membunuh... para ketua... partai... agar...

mereka... menyerah... pada... perkumpulan... Sang... Yen. "

Bibir Kiok San sudah tidak bergerak, ternyata wanita berpakaian hitam itu telah meninggal. Sedangkan Ciok Giok Yin terkejut bukan main mendengar itu. Dia cepat-cepat memaparkan kertas itu, ternyata di dalamnya tercantum nama delapan partai besar dunia persilatan. Apabila perkumpulan Sang Yen Hwee berhasil membunuh para ketua partai tersebut, bukankah dunia persilatan akan dikuasai perkumpulan Sang Yen Hwee? Kini cuma tinggal tiga hari, kalau hanya dirinya sendiri yang pergi memberitahukan kepada para ketua partai itu, tentunya akan terlambat. Karena itu dia tidak mau membuang-buang waktu, segera melesat ke arah gunung Cong Lam San. Mendadak ada tiga sosok bayangan melayang turun....