Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 07

 
Jilid 07

Seketika wajah Fang Jauw Cang berubah menjadi pucat pias dan dia langsung meloncat ke sisi pintu, siap melancarkan pukulan. Sedangkan Ciok Giok Yin cepat-cepat mengenakan pakaian. Kini dia yakin Fang Jauw Cang memang ingin menyelamatkannya, hanya saja sepasang matanya yang bening sering melirik kearah selangkangannya, itu membuatnya merasa tidak enak. Akan tetapi, suara langkah di luar itu makin lama makin jauh. Setelah itu barulah Ciok Giok Yin berkata dengan suara rendah. 

“Terima kasih Saudara Fang telah menyelamatkanku. Budi baikmu takkan kulupakan selama-lamanya.”

Akan tetapi, sepasang bola mata Fang Jauw Cang malah berputar, kemudian dia berkata ringan.

“Kini bukan saatnya berbicara, cepat pergi!” Wajahnya masih tampak tegang sekali. Usai berkata,

tangannya menekan dinding batu, dan seketika dinding batu itu

terbuka sedikit. Fang Jauw Cang melongok ke luar, ternyata di luar tidak tampak seorangpun. Maka dia segera melambaikan tangannya kearah Ciok Giok Yin agar keluar. Ciok Giok Yin cepat-cepat mengikutinya dari belakang. Sambil berjalan, Ciok Giok Yin menengok ke kiri anya kanan. Dilihatnya banyak kamar batu dan terdengar pula banyak suara, tapi tidak terdengar jelas suaranya.

Dia mendongakkan kepala melihat, hanya tampak batu, pertanda tempat itu adalah sebuah goa. Ciok Giok Yin terus mengikuti Fang Jauw Cang melewati lorong yang berliku- liku. Mendadak terdengar suara geraman di kamar batu sebelah kiri. Ciok Giok Yin terperangah, sehingga langkahnya terhenti. Fang Jauw Cang segera menariknya.

“Jangan lihat, harus segera meninggalkan tempat ini!” bisiknya.

Namun Ciok Giok Yin tidak bergerak, malah memandang kamar batu itu melalui jendela. Seketika dia terbelalak, kemudian matanya berapi-api, ternyata di dalam kamar batu itu terdapat empat pemuda tampan dalam keadaan bugil dengan tangan dan kaki terikat. Menyaksikan itu, timbullah kegusaran Ciok Giok Yin. Dia mengangkat sebelah tangannya siap…. Akan tetapi, Fang Jauw Cang cepat-cepat menarik lengannya, seraya berkata dengan nada memohon.

“Kau tidak boleh turun tangan, sebab kalau menimbulkan suara, sulit bagimu meninggalkan tempat ini.”

Usai berkata, Fang Jauw Cang Iangsung menariknya pergi. Ketika mereka berdua melewati sebuah pintu samping,

mendadak terdengar suara bentakan.

“Siapa?”

Seketika wajah Fang Jauw Cang berubah dan dia segera menarik Ciok Giok Yin ke samping, lalu memberatkan langkahnya seraya menyahut.

“Aku!”

“Mau apa kau kemari?” anya seseorang dari dalam.

Ciok Giok Yin mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Kouw Yun Yong. Seketika mata Ciok Giok Yin membara, kelihatannya dia sudah siap….

Gerak-geriknya itu tidak terlepas dari mata Fang Jauw Cang, maka Fang Jauw Cang langsung memberi isyarat agar Ciok Giok Yin tidak bergerak sembarangan. Namun Ciok Giok Yin berbisik tersendat-sendat.

“Aku… aku….” “Kenapa kau?” “Tidak ada apa-apa.”

Mendadak terdengar suara Khouw Yun Yong.

“Apakah kau sudah gatal? Tapi kau masih belum waktunya. Kelak aku akan memberitahukan pada ayah, pilih yang terbaik untukmu.”

Fang Jauw Cang menghela nafas panjang, lalu menarik Ciok Giok Yin pergi. Akan tetapi, ketika Ciok Giok Yin baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara aneh di kamar batu sebelah kanan. Itu adalah suara rintihan kenikmatan lelaki, tentunya membuat Ciok Giok Yin terheran-heran. Dia tidak mempedulikan isyarat Fang Jauw Cang, melainkan malah mendekati jendela kamar batu itu. Setelah itu, dia mengintip ke dalam melalui cela-cela jendela tersebut. Seketika wajahnya menjadi memerah, bahkan hatinya pun berdebar-debar tidak karuan. Ternyata di dalam kamar batu itu, terdapat sebuah ranjang besar. Di atas ranjang besar itu tampak berbaring seorang wanita dalam keadaan telanjang bulat. Di atas tubuh wanita itu, terdapat seorang pemuda yang berotot kuat, juga dalam keadaan telanjang bulat, sedang berayun-ayun mengadakan hubungan intim dengan wanita itu. Akan teapi, berselang sesaat, wanita itu mendorong pemudah berotot itu ke samping.

Saat ini di sini ranjang besar itu, masih berdiri enam pemuda tampan, diantaranya Khouw Yun Yong. Salah seorang pemuda mendekati ranjang besar itu, seraya berkata dengan suara ringan.

“Suhu….”

Sebelum pemuda itu usai berkata, wanita itu sudah mengerlingnya seraya berkata.

“Kuberikan padamu.”

Pemuda yang berotot tadi turun dari ranjang. Pemuda tampan lain segera memasukkan sebutir pil ke dalam mulut pemuda berotot itu lalu berjalan pergi melalui pintu samping. Wanita itu tersenyum, kemudian berseru merdu.

“Kemarilah? “

Tampak seorang pemuda tampan langsung meloncat ke atas ranjang bagaikan macam kelaparan. Pemuda tampan itu  segera memeluknya erat-erat. Ketika dia sudah siap melakukan itu, kelima pemuda termasuk Khouw Yun Yong, tampak memerah wajah mereka dan tubuh mereka pun agak gemetar. Mereka terus menelan ludah. Rupanya terangsang oleh pemandangan itu, membuat nafsu birahi mereka bangkit. Sementara Ciok Giok Yin sudah siap menerjang ke dalam, namun Fang Jauw Cang langsung menariknya

pergi. Karena mereka terburu-buru, mereka menimbulkan suara. Mendadak terdengar suara bentakan.

“Siapa?”

Tiada sahutan. Suasana ditempat itu menjadi hening. Tampak sosok bayangan melesat ke luar mengejar. Fang Jauw Cang mana berani menyahut? Dia terus menarik Ciok Giok Yin berlari secepat-cepatnya. Terdengar suara langkah di belakang mereka, kemudian terdengar suara bentakan keras.

“Berhenti!”

“Kalau tidak berhenti, kalian akan segera mati!” “Ih! Fang Jauw Cang!”

“Kau sungguh berani, makan di dalam merusak di dalam pula!”

“Kau harus tahu kelihayan orang-orang Ban Hoa Tong (Goa Selaksa Bunga)!”

Akan tetapi, berselang beberapa saat kedua orang itu telah melesat keluar dari Ban Hoa Tong.

Wajah Fang Jauw Cang sudah pucat pias.

“Saudara Ciok, kau harus cepat-cepat kabur!” katanya. “Bagaimana Saudara Fang?”

“Aku….”

Wajah Fang Jauw Cang tampak muram, dan sekujur badannya gemetar. “Mari kita kabur bersama!” ajak Ciok Giok Yin.

Fang Jauw Cang membanting kaki saking gugupnya. “Jangan pedulikan aku, kau cepat kabur! Kalau terlambat,

pasti celaka!”

“Tidak!”

“Kau tidak tahu kelihayan Ban Hoa Tongcu (Majikan Goa Selaksa Bunga), kau lekas kabur saja!”

Akan tetapi, sudah tampak beberapa bayangan berkelebat kearah mereka.

“Kabur? Mau kabur ke mana?” bentak salah seorang dari mereka.

Seketika tampak tujuh delapan pemuda muncul di situ, termasuk Khouw Yun Yong. Mereka telah mengepung Ciok Giok Yin dan Fang Jauw Cang. Saat ini ditempat itu telah diliputi hawa membunuh! Fang Jauw Cang merapatkan badannya pada Ciok Giok Yin. Sekujur badannya terus bergemetar seperti kedinginan.

Khouw Yun Yong menatap Fang Jauw Cang dengan mata berapi-api.

“Kau sungguh berani melepaskan tawanan! Dengan susah payah aku menangkapnya, namun kau malah melepaskannya! Tahukah kau peraturan di sini?” bentaknya gusar.

“Aku… aku… suheng!” sebut Fang Jauw Cong dengan gemetar dan terputus-putus. Khouw Yun Yong maju melangkah.

“Bagus kau tahu! Kuperintahkan kau cepat tangkap dia, agar hukumanmu dapat diringankan!”

Fang Jauw Cang termundur dua langkah. “Aku… aku…” katanya gagap. “Kau berani membangkang perintahku? Mau cari mati?” bentak Khouw Yun Hang gusar. Mendadak sepasang tangannya bergerak, menyerang kearah Fang Jauw Cang.

“Dasar tak tahu malu, kau barani!” bentak Ciok Giok Yin mengguntur. Dia amat membenci Khouw Yun Yong, maka mengerahkan delapan bagian lwee kangnya untuk menyerang Khouw Yun Yong. Tentunya dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya pukulan yang dilancarkannya itu. Pukulan itu menimbulkan suara menderu-deru bagaikan topan. Ternyata Ciok Giok Yin menggunakan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.

Sang Ti It Koay terkenal karena ilmu pukulan tersebut, namun dia sendiri belum berhasil melatih ilmu pukulan itu seperti keberhasilan yang dicapai Ciok Giok Yin. Kalau Sang Ting It Koay masih hidup dan menyaksikan hasil yang diperoleh Ciok Giok Yin, pasti merasa bangga sekali! Namun masih ada satu orang yang telah berhasil menguasai ilmu pukulan Soan Hong Ciang hingga tingkat yang amat tinggi, tidak lain adalah Chiu Tiong Thau, murid murtad Sang Ting It Koay! Demi menuntut balas dendamnya, justru tanpa sengaja Sang Ting It Koay telah menyelamatkan Ciok Giok Yin.

Ketika Ciok Giok Yin melancarkan pukulan itu, Khouw Yun Yong sudah tahu akan kehebatan ilmu pukulan tersebut, maka cepat-cepat berkelit. Di saat bersamaan, pemuda-pemuda lain sudah menerjang kearah Fang Jauw Cang. Demi menyelamatkan Ciok Giok Yin, Fang Jauw Cang terpaksa harus bertarung dengan saudara-saudara seperguruannya. Dia berharap, sebelum mati dapat melihat Ciok Giok Yin pergi dengan selamat. Itu merupakan harapan satu-

satunya. Sementara kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak, bagaimana mungkin melepaskan Khouw Yun Yong begitu

saja? Oleh karena itu, dia menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, mengeluarkan jurus pertama Terbang. Tampak badan Ciok Giok Yin mencelat ke atas, kemudian berputar dan sepasang telapak tangannya berkelebatan. Terdengar suara gemuruh, mengarah pada Khow Yun Yong.

Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati, dan tampak darah segar muncrat ke mana-mana. Ternyata Khouw Yun Yong sudah tergeletak binasa di lantai. Kali ini Ciok Giok Yin menggunakan jurus tersebut, merasa lwee kangnya bergolak, tapi tidak merasa aliran darahnya mengalir terbalik. Dia paham itu karena Pil Api Ribuan Tahun, telah menambah lwee kangnya.

Setelah berhasil membunuh Khouw Yun Yong, semangat Ciok Giok Yin menjadi bangkit. Dia menengok kearah Fang Jauw Cang, kelihatannya sudah mulai kewalahan menghadapi mereka, bahkan mulutnya sudah mengeluarkan darah.

Itu pertanda dia telah terluka dalam. Dia berusaha mati- matian menyelamatkan Ciok Giok Yin, namun kini justru telah terluka parah. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin menggeram.

“Yang tidak takut mati boleh maju!”

Tampak sepasang tangannya bergerak, dan seketika terdengar suara menderu-deru. Ketujuh pemuda yang tadinya mengeroyok Fang Jauw Cang, kini berbalik mengeroyok Ciok Giok Yin.

Serangan yang mereka lancarkan sangat dahsyat, sehingga Ciok Giok Yin terdesak ke belakang dua langkah dan matanya terasa berkunang-kunang. Di saat bersamaan, Fang Jauw Cang juga memuntahkan darah segar karena terpukul oleh seorang pemuda. Badannya sempoyongan nyaris roboh. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Dia ingin menolongnya tapi terhadang oleh pemuda-pemuda itu maka dia jadi

gugup. Kelihatannya Fang Jauw Cang akan binasa di tangan pemuda itu. Namun mendadak tampak sosok bayangan meluncur turun. Seketika terdengar pula suara

jeritan. Ternyata pemuda yang ingin membunuh Fang Jauw Cang itu telah roboh berlumuran darah, dan tak dapat bangun lagu. Begitu melihat orang yang baru muncul itu, bukan main girangnya Ciok Giok Yin!

“Lo cianpwee!” serunya.

Siapa yang baru muncul itu? Ternyata Heng Thian Ceng. “Bocah temanmu telah terluka parah, cepat bawa dia pergi!”

kata Hen Tian Cang. Usai berkata Heng Thian Ceng pun menyerang pemuda-pemuda itu. Ciok Giok Yin segera mendekat Fang Jauw Gang, dan menggenggam tangannya seraya berkata.

“Saudara Fang merasa….”

Ucapan Ciok Giok Yin terputus karena tiba-tiba Fang Jauw Cang memuntahkan darah segar dan kemudian pingsan. Ciok Giok Yin langsung mengempitnya ingin membawa pergi. Akan tetapi mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh. Suara tawa itu sepertinya mengandung suatu kekuatan, membuat hati Ciok Giok Yin tergetar-getar. Tanpa sadar dia melesat ke tempat suara tawa itu.

“Bocah, kau masih belum membawa pergi temanmu yang terluka itu? Mau tunggu kapan?” bentak Hang Thian Ceng.

Suara bentakan Heng Thian Ceng menyadarkan Ciok Giok Yin. “Bagaimana lo cianpwee?”

“Aku akan menghadang mereka, cepat pergi! Kalau terlambat, sulit meloloskan diri!”

Sementara suara tawa itu masih terdengar terkekeh-kekeh tak henti-hentinya. Heng Thian Ceng langsung mengeluarkan suara siulan panjang. Ciok Giok Yin melihat wajahnya agak luar biasa, mana berani ayal lagi? Dia langsung menyambar Fang Jauw Cang sekaligus membawanya pergi. Suara tawa terkekeh- kekeh itu mulai tak kedengaran, namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak berani melambankan langkahnya. Dia terns melesat laksana kilat.

Tak terasa keringat dinginnya mulai mengucur. Tampak sesosok bayangan merah berkelebat, ternyata Heng Thian Ceng sudah menyusulnya.

“Bocah, kau sungguh berani! Bagaimana kau cari gara-gara dengan Ban Hoa Tongcu? Apakah kau sudah bosan hidup?” katanya.

“Aku tidak pernah cari gara-gara dengannya,” sahut Ciok Giok Yin. Dia segera menutur tentang kejadian itu. Barulah Heng Thing Ceng mengerti.

“Coba kau lihat bocah yang kau kempit itu, bagaimana keadaannya?”

Kini mereka sudah memasuki sebuah rimba. Ciok Giok Yin menggeleng-geleng kepala.

“Demi menyelamatkanku, dia sama sekali tidak memikirkan nyawanya sendiri. Dia bertarung dengan saudara-saudara seperguruannya. Meskipun jantungnya belum anya, namun luka dalamnya amat parah. Apa yang harus kulakukan?”

“Bukankah kau telah mewarisi ilmu pengobatan Tiong Ciu Sin Ie? Apakah kau tidak mampu mengobatinya?”

Ciok Giok Yin menyahut dengan wajah murung.

“Aku memang menyimpan obat Giok Ju, namun Cuma dapat menahan luka dalam agar tidak bertambah parah. Kalau ingin mengobatinya, harus cari tempat yang sepi, menggunakan lwee kang untuk mengobatinya. Tapi… orang yang mengobatinya, dalam waktu setengah tahun, tidak boleh bergebrak dengan siapa pun.”

Heng Thian Ceng menundukkan kepala, sambil berpikir, berselang sesaat dia berkata.

“Dapat tertolong.”

“Mohon petunjuk lo cianpwee!”

“Agar temanmu ini cepat sembuh, harus pergi ke Bu Ceng Kok (Lembah Tanpa Perasaan), untuk memohon sebutir pil Sui Seng Tan (Pil Penyambung Hidup), Cuma ini jalan satu- satunya, tiada jalan lain lagi.”

“Bu Ceng Kok?” “Ng!” Ciok Giok Yin terperangah, seab selama ini dia tidak pernah mendengar tentang Bu Ceng Kok.

“Di mana lembah itu?” “Kau mau ke sana?” “Tentu.”

“Tahukah kau peraturan di lembah itu apabila ingin memohon sebutir pil Sui Seng Tan?”

“Peraturan?” “Tidak salah.” “Peraturan apa?”

“Bagi siapapun yang ingin memohon sebutir pil tersebut, harus menyerahkan diri padanya selama-lamanya. Lagi pula harus setulus hati.” Sahut Heng Thian Ceng dengan diam. Dia menatap Ciok Giok Yin. “Setelah menyerahkan diri pada Kokcu (Majikan Lembah), dia pula akan mengatur dirimu.”

“Apakah masih diperbolehkah berkecimpung di dunia persilatan?”

“Tentang itu, aku tidak tahu sama sekali.” Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

“Lo cianpwee aku ingin ke sana melihat-lihat.” Heng Thian Ceng tampak tercengang.

“Kau tidak punya cara lain untuk mengobatinya?” “Tidak.”

Heng Thian Ceng berpikir sejenak. “Mari berangkat!” katanya kemudian.

Heng Thian Ceng melesat pergi. Ciok Giok Yin cepat-cepat mengempit Fang Jauw Cang, lalu melesat pergi mengikuti Heng Thian Ceng. Dalam perjalanan, Ciok Giok Yin terus berpikir.

Apabila Bu Ceng Kokcu melarangnya berkecimpung di dunia persilatan lagi, lalu bagaimana dengan semua urusannya?

Bukankah akan kandas begitu? Oleh karena itu, dia masih belum mengambil keputusan untuk berangkat ke Bu Ceng Kok. Akan tetapi apabila tidak berangkat ke sana, tentunya tidak dapat menyembuhkan luka Fang Jauw Cang. Seandainya dia yang mengobati Fang Jauw Cang dengan menggunakan lwee kang, sudah jelas dia harus beristirahat setengah tahun.

Selain itu, dia pun tidak boleh bertarung dengan siapapun kalau memaksa diri bertarung, akan membuatnya cacat seumur hidup, bahkan kemungkinan besar akan merenggut nyawanya. Oleh karena itu, setelah berpikir berulang kali, akhirnya dia mengambil keputusan terus berangkat ke Bu Ceng Kok untuk bermohon sebutir pil Sui Seng Tan. Asal Bu Ceng Kokcu memperbolehkannya berkecimpung di dunia persilatan setengah tahun, dia pasti menyelesaikan semua urusannya dalam waktu tertentu itu, barulah kembali ke lembah Bu Ceng Kok untuk menyerahkan diri. Fang Jauw Cang adalah penolongnya. Dia sama sekali tidak mementingkan nyawanya sendiri, bahkan rela berkorban demi Ciok Giok Yin. Apabila dia tidak berupaya menyelamatkannya, apakah dia masih terhitung orang gagah?

Karena itu, Ciok Giok Yin harus berupaya menyelamatkannya, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Lagi pula dia telah mengambil keputusan untuk berkawan selama-lamanya dengan Fang Jauw Cang. Entah berapa lama kemudian, mendadak Heng Thian Ceng menghentikan langkahnya.

“Sudah sampai,” katanya sambil memandang Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin memandang ke depan. Tampak puncak gunung menjulang tinggi ke langit menembus awan. “Sungguh indah puncak gunung itu!” serunya tanpa sadar. Kemudian dia menoleh memandang Heng Thian Ceng.

“Lo cianpwee, Bu Ceng Kok terletak di mana?”

“Lembah itu,” sahut Heng Thian Ceng sambil menunjuk kearah kiri.

Ciok Giok Yin memandang ke tempat yang ditunjuk Heng Thian Ceng, tempat itu amat gelap, membuat orang merasa seram. Dia menaruh Fang Jauw Cang di atas sebuah batu, kemudian berkata pada Heng Thian Ceng.

“Lo cianpwee, tolong jaga dia sebentar, aku mau ke sana!”

Ketika Ciok Giok Yin baru melesat, Heng Thian Ceng segera menjulurkan tangannya.

“Tunggu!”

“Ada petunjuk apa, lo cianpwee?”

“Sekarang kau ke sana. Seandainya mereka menjodohkanmu, lalu bagaimana tanggung jawabmu terhadap Cak Hun Ciu?”

Ciok Giok Yin tersentak ketika mendengar ucapan Heng Thian Ceng itu. Sebelum mati, Cak Hun Ciu memang telah menjodohkan putrinya yang bernama Li Ling Ling pada Ciok Giok Yin. Namun kini demi kawan baiknya, mau tidak mau dia harus mengeraskan hati memasuki lembah itu. Kini setelah Heng Thian Ceng mengajukan pertanyaan tersebut, justru membuat Ciok Giok Yin tertegun.

“Sementara ini aku belum dapat memikirkan itu,” sahutnya. “Jangan lupa! Masih ada Nona Ho yang di Goa Toan Teng.

Harus bagaimana kau mengurusinya?” tanya Heng Thian Ceng lagi. Ciok Giok Yin termangu-mangu, kemudian memandang Heng Thian Ceng seraya bertanya.

“Lo cianpwee, urusan sudah begini, aku harus bagaimana?” Heng Thian Ceng mengerutkan kening.

“Bocah, kau di sini saja, biar aku yang pergi melihat-lihat.” “Itu mana boleh?”

“Kenapa tidak boleh?”

“Aku tidak boleh membiarkan lo cianpwee ke Lembah Bu Ceng Kok, sebab Fang Jauw Cang adalah temanku.”

Heng Thian Ceng mengibaskan tangannya.

“Usiaku sudah tua, tidak mungkin mereka akan mencari seorang tua anya.”

“Lagi pula, berdasarkan sedikit mukaku, mereka masih harus memberi sedikit pengertian.”

Usai berkata, tanpa menunggu persetujuan Ciok Giok Yin, Heng Thian Ceng langsung melesat kearah lembah itu. Ciok Giok Yin terpaksa berdiri di sisi batu besar itu, menjaga Fang Jauw Cang. Dia memperhatikan wajah Fang Jauw Cang, tampak begitu halus, Cuma pucat pias lantaran terluka parah. Ciok Giok Yin berkata dalam hati. ‘Dia mirip sekali seperti anak gadis.’

Mendadak Ciok Giok Yin menegur dirinya sendiri dalam hati. ‘Ciok Giok Yin! Kau sungguh keterlaluan! Dia telah menyelamatkan dirimu, malah kau memikirkan yang bukan atas dirinya!’ Dia segera memandang ke tempat lain.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melayang turun di hadapannya, ternyata Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin mengira Heng Thing Ceng telah berhasil memperoleh sebutir pil Sui Beng Tan, maka cepat-cepat menyapanya.

“Lo cianpwee kok sedemikian cepat?” Heng Thaing Ceng menghela nafas panjang, menggeleng- geleng kepala seraya menyahut.

“Tidak jadi!”

“Apa yang tidak jadi?”

“Ternyata lembah Bu Ceng Kok melarang kaum wanita memohon obat, walau aku sudah mendebat dengan mereka, namun mereka tetap melarangku masuk. Apa boleh buat, terpaksa kau yang ke sana.”

“Kalau begitu, lo cianpwee tolong jaga dia.” Ciok Giok Yin segera melesat ke lambah itu.

Ketika dia baru mau masuk, tiba-tiba terasa ada desiran anya yang amat kuat menahan dirinya. Dan disaat bersamaan terdengar suara yang amat dingin.

“Siapa kau? Besar sekali nyalinya mengacau di sini!”

Ciok Giok Yin berkelit ke samping. Dia tahu diri. Karena saat ini dia ada perlu memohon pada Bu Ceng Kokcu, maka tidak berani bertindak gegabah. Dia mendongakkan kepala, tampak seorang lelaki berusia pertengahan. Menghadang di depannya dengan wajah dingin. Ciok Giok Yin segera memberi hormat.

“Aku bernama Ciok Giok Yin. Tujuanku kemari untuk memohon sebutir pil Sui Beng Tan.”

“Kau tahu peraturan di sini?” “Tahu.°

“Silakan masuk!”

Lelaki itu menyingkir ke samping. Ciok Giok Yin berjalan ke dalam. Berselang beberapa saat, tampak sederet rumah bersandar pada tebing gunung. Salah satu di antara rumah- rumah itu amat besar dan megah. Sedangkan orang-orang yang berlalu lalang di dalam lembah itu, semuanya kelihatan tak berperasaan, dan kelihatan seperti banyak urusan mengganjel dalam hati. Ciok Giok Yin berjalan menuju rumah besar itu, dan langsung masuk ke ruang depan, akan tetapi muncul enam lelaki berusia pertengahan menghadangnya.

“Siapa kau?” anya selang seorang di antara mereka. “Ciok Giok Yin.”

“Ada urusan apa kau dong kemari?’

“Ingin memohon sebutir pil Sui Beng Tan.” “Harap tunggu!”

Lelaki itu masuk ke dalam, namun sesaat kemudian telah keluar lagi.

“Kokcu menunggumu di dalam, silakan masuk!” kata lelaki itu.

Ciok Giok Yin melangkah ke dalam, ternyata Bu Cing Koksu berada di situ di kursi, wajahnya dingin sekali. Namun sepasang matanya bersinar tajam, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian.

“Kau ingin memohon sebutir pil Sui Beng tan?” anya orang tua kecil kurus itu.

Ciok Giok Yin mengangguk. “Ya.”

“Tahukah kau peraturan di lembah ini?” “Tahu.”

“Bagus!” “Mohon tanya pada Kokcu, selanjutnya apakah aku boleh keluar?” tanya Ciok Giok Cu.

“Tidak boleh.”

“Apakah seumur hidup aku harus tinggal di dalam lembah ini?”

“Itu rahasia lembah ini, sebelum kau resmi menyerahkan diri, rahasia itu tidak dapat diberitahukan.”

“Aku ingin tahu sedikit.” “Tidak dapat diberitahukan.”

Seandainya benar Bu Ceng Kokcu melarangnya meninggalkan lembah Bu Ceng Kok, bukankah seumur hidupnya akan habis di dalam lembah ini? Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

“Aku dengar, orang yang kemari memohon obat, harus menuruti perkataan Kokcu, juga Kokcu akan menjodohkan orang tersebut. Apakah benar urusan ini?”

“Tidak salah.”

“Aku akan menuruti semua perkataan Kokcu, hanya bermohon Kokcu sudi memberiku waktu setengah tahun, agar aku dapat menyelesaikan semua urusanku. Setelah itu, aku akan kembali ke sini.”

Orang tua kecil kurus itu menyahut dengan wajah tak berperasaan.

“Selama ini tiada kecuali.”

Berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Kau terlampau cerewet, kalau kau merasa kesulitan, , lebih baik pergi saja.”

Usai berkata, orang tua kecil kurus itu bangkit berdiri, kelihatannya ingin meninggalkan ruang itu.

Sudah barang tentu amat mencemaskan Ciok Giok Yin. “Harap Kokcu tunggu sebentar!” serunya.

Bu Ceng Kokcu tetap berdiri. “Katakan!”

“Aku mohon sedikit petunjuk.” “Tentang apa?”

“Untuk apa Kokcu memiliki pil Sui Beng Tan?” “Menolong orang.”

“Kalau memang untuk menolong orang, mengapa orang yang memohon obat itu harus menyerahkan diri pada Kokcu?”

“Ini sudah merupakan peraturan di sini.” “Siapa yang membuat peraturan itu?’ “Lohu.”

Ciok Giok Yin tertawa gelak, “Aku ikut Tiong Ciu Sin Ie….”

Mendadak Bu Ceng Kokcu memotong cepat. “Tiong Ciu Sin Ie?” sergah Bu Cing Koksu. “Ng”

“Apa hubunganmu dengan Tiong Ciu Sin Ie?” Wajah Bu Ceng Kokcu tampak aneh, begitu pula sepasang matanya, menyorot sinar aneh pula. Sedangkan Ciok Giok Yin tidak tahu, antara Tiong Ciu Sin Ie dan Bu Ceng Kokcu terdapat budi atau dendam. Namun tadi sudah mengatakan begitu, tentunya tidak dapat ditarik kembali. Oleh karena itu, dia menyahut lantang.

“Sejak kecil aku ikut beliau, juga belajar ilmu pengobatan….” “Kau telah mewarisi ilmu pengobatannya, kenapa tak mampu

mengobati orang?” sergah Bu Ceng Kokcu lagi. “Tentu mampu.”

“Kalau begitu, mengapa kau kemari minta pil Sui Beng Tan?” “Aku dengar pil tersebut amat mujarab.”

“Baik, kuhadiahkan sebutir pil Sui Beng Tan padamu.” Kata Bu Ceng Kokcu.

Kemudian dia memandang orang yang berdiri di ruangan itu seraya berkata.

“Ambilkan sebutir pil Beng Tan!”

Perubahan yang mendadak itu, sungguh membuat Ciok Giok Yin tertegun dan tidak habis anya. Sebetulnya Bu Ceng Kokcu dan Tiong Ciu Sin Ie punya hubungan apa. Bu Ceng Kokcu kembali duduk. Suasana di ruangan itu berubah menjadi hening.

“Maaf! Bolehkah aku tahu ada hubungan apa Kokcu dengan Tiong Ciu Sin Ie?”

“Dulu dia pernah menyelamatkan nyawaku, maka kini aku menghadiahkan sebutir pil Sui Beng Tan padamu, hitung- hitung aku membalas budinya.” Sahut Bu Cing Kokcu.

“Selain Tiong Ciu Sin Ie, apakah masih ada orang lain yang boleh minta obat tanpa syarat?” anya Ciok Giok Yin lagi. “Kau terlampau banyak bertanyak.”

Sementara orang yang masuk ke dalam tadi sudah kembali lagi.

“Berikan padanya, antar tamu!” kata Bu Ceng Kokcu.

Tampak badan Bu Ceng Kokcu berkelebat, kemudian menghilang di pintu samping. Ciok Giok Yin menerima pil tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi dia melesat pergi. Dalam waktu sekejap dia sudah meninggalkan Lembah Bu Ceng Kok. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan! Tidak tampak Heng Thian Ceng dan Fang Jauw Cang berada di tempat itu, dan sama sekali tidak meninggalkan jejak. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, dia bertanya dalam hati. ‘Apakah telah terjadi sesuatu atas diri mereka?’ Mendadak terdengar suara bentakan keras menembus angkasa. Ciok Giok Yin mengenali suara bentakan itu, tidak lain adalah suara bentakan Heng Thian Ceng.

Dia langsung melesat ka arah suara bentakan itu, dan dalam sekejap sudah tiba di tempat itu. Tampak Heng Thian Ceng mengempit Fang Jauw Cang, sedang bertarung dengan tujuh pemuda. Terdengar ketujuh pemuda itu membentak.

“Turunkan dia!”

“Kalau kau tidak turunkan dia, jangan harap dapat pergi dari sini!”

Heng Thian Ceng tertawa dingin.

Mendadak dia melancarkan beberapa pukulan, namun Cuma membuat mereka mundur satu langkah. Setelah itu, mereka mulai mengepung Heng Thian Ceng.” Sebenarnya, tidak sulit bagi Heng Thian Ceng untuk meloloskan diri. Sedangkan bagi ketujuh pemuda, untuk merebut Fang Jauw Cang dari tangannya, juga tidak gampang. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin langsung berseru. “Lo cianpwee tidak usah gugup!”

Dia menerjang kearah pemuda-pemuda itu, namun mendadak Heng Thian Ceng melempar Fang Jauw Cang ke arahnya seraya berseru.

“Sambut!”

Ciok Giok Yin bergerak cepat menyambut Fang Jauw Cang, lalu melesat jauh dari tempat itu. Setelah itu, dia memasukkan pil Sui Bang Tan ke dalam mulut Fang Jauw Cang. Jari tangannya juga bergerak menotok beberapa jalan darahnya, agar Fang Jauw Cang cepat pulih. Saat ini Heng Thian Ceng sudah dapat bergerak leluasa. Tampak sepasang tangannya berkelebatan seketika terdengar suara jeritan dan tampak dua pemuda roboh tak berkutik.

Di saat berasamaan terdengar suara tawa terkekeh-kekeh. Begitu mendengar suara tawa itu, air muka Heng Thian Ceng langsung berubah. Dia segera menoleh memandang Ciok Giok Yin, kebetulan Fang Jauw Cang sudah bangkit berdiri.

“Kalian berdua cepat pergi!” kata Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin tidak mengerti.

“Lo cianpwee….”

“Jangan banyak bicara, cepat pergi!”

Sekonyong konyong terdengar suara orang bertanya. “Mau pergi ke mana?”

Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Dilihatnya empat orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, rata-rata berusia lima puluhan. Wajah mereka seperti mayat.

“Kau adalah Ciok Giok Yin?” tanya salah seorang dari mereka sambil tertawa dingin.

“Tidak salah.” “Ketua kami mengundangmu!”

“Ada urasan apa ketua kalian mengundangku?” “Sampai di sana, kau akan mengetahuinya.”

“Saat ini aku tidak punya waktu, lain hari aku pasti ke sana.”

Sembari berkata, Ciok Giok Yin menarik Fang Jauh Cang. Namun ketika baru mau meninggalkan tempat itu, keempat orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee mendengus dingin.

“Hmmm! Kau mau ke mana?”

Mereka berempat mendorongkan tangan masing-masing ke depan. Seketika terdengar suara menderu-deru. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Kalian ingin memaksaku?" bentaknya.

"Kalau kau tidak bersedia ikut kami, terpaksa dengan cara demikian!"

"Cari mati!"

Ciok Giok Yin juga mendorong sepasang tangan ke depan. Keempat orang itu langsung melancarkan pukulan serentak,

seketika terasa hawa yang amat dingin. Mendadak Heng Thian Ceng berseru kaget.

"Cepat mundur, Si Peng Khek (Empat Orang Es)!"

Ciok Giok Yin tersentak, dan cepat-cepat mencelat ke belakang sekaligus menarik Fang Jauw Cang. Saat ini kening keempat orang itu mengeluarkan selapis kabut putih yang amat dingin. Menyaksikan itu, sekujur tubuh Ciok Giok Yin menjadi merinding. Dia sama sekali tidak tahu, kungfu apa

itu. Sepasang mata Si Peng Khek melotot, persis seperti mayat hidup, kemudian mereka berempat maju selangkah demi selangkah. Sekonyong-konyong Si Peng Khek membentak, kemudian melancarkan pukulan serentak ke arah Ciok Giok Yin. Namun di saat bersamaan, tampak sosok bayangan meluncur ke arah mereka sekaligus menyambar Ciok Giok Yin dan dibawanya melesat pergi.

"Lepaskan dia!" bentak Si Peng Khek.

"Dia buronan Perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Bukan main cepatnya gerakan orang itu. Ternyata dia juga sempat menyambar Fang Jauw Cang. Berselang beberapa saat, barulah dia berhenti dan menaruh mereka ke bawah. Dia segera memberi hormat.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee!" ucapnya. Orang tua bongkok meneguk arak, lalu menyahut.

"Kelihatannya kita memang berjodoh, sudah tiga kali aku menolongmu."

Ciok Giok Yin tersenyum. "Tiga kali?"

"Tidak salah."

"Kalau begitu, aku berhutang budi pertolongan tiga kali pada lo cianpwee"

Orang tua bongkok itu tertawa gelak, meneguk arak lagi seraya berkata.

"Itu tidak usah disimpan dalam hati. Aku menolongmu lantaran punya sebab lho!"

"Sebab apa?"

"Kau mirip seseorang." "Siapa?"

Orang tua bongkok menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak usah dibicarakan, perlahan-lahan aku mencarinya." Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Oh ya! Bolehkah aku tahu nama lo cianpwee?" "Kau ingin tahu namaku?"

"Ya."

"Tidak usah."

Badan orang tua bongkok bergerak, tahu-tahu sudah melesat pergi dan sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Fang Jauw Cang terbelalak menyaksikan itu.

"Ka..., kakak Yin, kau tidak kenal dia?" "Tidak kenal."

"Dia bilang sudah tiga kali menolongmu."

"Aku cuma ingat dua kali dia menolongku, namun dia bilang tiga kali, aku tidak ingat yang satu kali itu."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Adik, sesungguhnya Ban Hoa Tong itu tempat apa?"

Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Fang Jauw Cang langsung berubah menjadi kemerah-merahan.

"Ban Hoa Tong di dunia persilatan, merupakan tempat yang misterius pernahkah kau dengar di dunia persilatan terdapat Bun (Pintu), Tong (Goa), Kok (Lembah) dan Hu (Rumah)?"

"Bun Tong Kok Hu?" "Ng!"

"Aku tidak pernah dengar."

"Bung Tong Kok Hu merupakan empat tempat yang amat misterius. "

Ciok Giok Yin menatap Fang Jauw Cang dengan mata terbelalak.

Memang benar, sejak Ciok Giok Yin berkelana di dunia persilatan, belum pernah mendengar tentang keempat tempat tersebut, maka dia terheran-heran.

Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Bun adalah Liok Bun (Pintu Hijau). "

"Liok Bun?"

"Ng! Kau pernah mendengar tentang Liok bun itu?" Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya, tapi aku tidak tahu berada di mana Liok Bun itu." Fang Jauw Cang menggeleng kepala.

"Akupun tidak begitu jelas, karena mereka tidak berhubungan dengan dunia persilatan, maka tiada seorangpun tahu itu."

Mendengar itu, harapan Ciok Giok Yin pun jadi kandas. Ternyata Bun It Coan menyuruhnya pergi ke Liok Bun,

memperlihatkan sebuah cincin pemberiannya kepada ayahnya dan mohon agar diajarkan semacam ilmu silat, jadi bisa membalas dendam Bun It Coan. Namun tidak tahu berada di mana Liok Bun tersebut.

"Adik, lanjutkan ceritamu!" katanya setelah termenung sejenak.

Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Yang lain adalah Ban Hoa Tong, Bu Ceng Kok dan Khong- Khong Hu. "

"Hah? Tadi aku baru keluar dari Bu Ceng Kok." Air muka Fang Jauw Cang berubah.

"Kau ke sana?" "Ng!"

"Kakak Yin, bagaimana kau ke sana?" "Mohon pil Sui Beng Tan. "

Ciok Giok Yin menutur tentang semua itu. Saking terharunya sehingga air mata Fang Jauw Cang meleleh.

"Kakak Yin, kau... kau " katanya terputus-putus.

Fang Jauw Cang ingin mengatakan sesuatu, namun tak mampu mencetuskannya.

"Adik, demi menyelamatkanku, kau telah banyak berkorban. Apakah aku tidak boleh berkorban sedikit untukmu? Lagi pula kini Bu Ceng Kokcu tidak menahan diriku di sana." Dia menatap Fang Jauw Cang. "Adik, mengenai Ban Hoa Tong, kau belum menceritakan padaku," lanjutnya.

Fang Jauw Cang mendongakkan kepala, memandang Ciok Giok Yin dengan air mata bercucuran.

Ciok Giok Yin menatapnya.

"Adik, kau sungguh cantik!" katanya tanpa sadar.

Hati Fang Jauw Cang tersentak, sehingga tanpa sadar kakinya menyurut mundur satu langkah. "Kau... kau..." katanya terputus-putus. "Maaf! Aku keterlepasan omong!"

Barulah Fang Jauw Cang berlega hati, kemudian tertawa.

"Ban Hoa Tongcu mempelajari semacam ilmu silat aneh. Setiap tahun pasti menyuruh kaum pemuda, untuk melatih ilmu silatnya itu."

"Oh! Betulkah urusan itu?" tanya Ciok Giok Yin. "Betul."

"Oh ya! Mengapa Adik mati-matian menyelamatkanku?" "Karena aku melihat obat Ciak Kim Tan di dalam bajumu." "Obat Ciak Kim Tan?"

"Ng!"

"Karena itu, kau mati-matian menyelamatkanku?"

"Dulu ketika ayahku berkelana di dunia persilatan, pernah menerima budi pertolongan Tiong Ciu Sin Ie, maka ayahku berpesan, apabila kelak aku berjumpa orang yang memiliki obat Ciak Kim Tan, aku harus membalas budi."

Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Ooooo! "

"Ketika aku melihat obat Ciak Kim Tan di dalam bajumu, aku yakin kau bukan Tiong Ciu Sin Ie, mungkin penerusnya. Karena itu, aku berusaha menolongmu."

Kini Ciok Giok Yin baru mengerti, maka dia manggut-manggut lagi. Mendadak air muka Fang Jauw Cang agak berubah. "Kakak Yin, sekarang aku harus cepat-cepat pulang." "Pulang?"

"Aku khawatir Ban Hoa Tongcu akan mencederai ayahku, maka aku harus cepat-cepat pulang, membawa ayahku bersembunyi, agar ayahku tidak dicelakainya."

"Kalau begitu kau harus segera pulang, jangan membuang waktu lagi!"

"Kakak Yin, setelah memberi tahu pada ayahku, aku akan segera mencarimu. Boleh kan?"

"Lebih baik kau menemani ayahmu! Banyak bahaya di dunia persilatan, kalau kurang hati-hati, nyawa akan melayang.

Kalau aku sempat, aku pasti pergi mencarimu."

"Tidak, setelah kuberitahu tentu ayahku akan pergi bersembunyi. Lalu kau harus ke mana cari aku? Kakak Yin, lain kali kita jangan berpisah lagi ya?"

"Aku memang berharap demikian, tapi. "

"Kenapa?"

"Aku tidak punya tempat tinggal tetap, lagipula banyak musuh, itu akan menyusahkanmu."

"Aku tidak takut. Asal aku berasamamu, aku tidak akan takut apa pun. Tempat mana kau pergi, aku pun bisa pergi."

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin punya teman seperti itu! Saking terharunya dia menggenggam tangan Fang Jauw Cang erat-erat.

"Adik, sungguh girang hatiku punya teman kau!" "Kakak Yin. "

"Adik, kau boleh pergi sekarang." Seketika mata Fang Jauw Cang berkaca-kaca, kelihatannya dia merasa amat berat meninggalkan Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, sampai jumpa!"

Fang Jauw Cang melesat pergi. Sedangkan Ciok Giok Yin masih berdiri termangu-mangu di tempat. Akan tetapi, hatinya amat girang dan senang. Sebab kini dia sudah punya teman yang sehat dan sejati. Itulah yang amat menggirangkan hatinya. Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi. Tak seberapa lama, tampak sosok bayangan melesat dari arah berlawanan bagaikan kilat. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyingkir ke samping, agar orang itu lewat duluan. Akan tetapi oleh yang muncul dari arah berlawanan itu, malah berhenti di hadapan Ciok Giok Yin.

Mereka berdua saling memandang, kemudian sama-sama mengeluarkan suara 'Ih'. Ternyata orang itu adalah Lu Jin (Orang Jalanan) yang memakai kain penutup muka. Lu Jin tertawa.

"Saudara Kecil, kuucapkan selamat padamu." katanya. Ciok Giok Yin tertegun.

"Mengapa Anda mengucapkan selamat padaku? Memangnya ada apa?"

"Kau telah memperoleh benda pusaka yang dari Goa Cian Hud Tong. Bukankah aku harus mengucapkan selamat padamu?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggeleng- gelengkan kepala.

"Tidak usah dibicarakan."

"Apakah Saudara Kecil khawatir aku akan merebutnya?" "Aku tidak bermaksud demikian." "Lalu kenapa?"

Ciok Giok Yin menceritakan tentang Pil Api Ribuan Tahun dan lain sebagainya, namun tidak memberitahukan tentang secarik kertas lain. Ternyata dia juga memperoleh secarik kertas yang didalamnya tertera ilmu silat. Dia khawatir Lu Jin akan merebut kertas tersebut. Lu Jin tampak terkejut.

"Kalau begitu, tubuh Saudara Kecil berbeda dengan orang biasa."

"Ya."

"Saudara Kecil, bagaimana kelak kau menikah?" tanya Lu Jin setelah berpikir sejenak. Wajah Ciok Giok Yin memerah.

"Apa boleh buat. Aku terpaksa tidak menikah," sahutnya perlahan.

Lu Jin tertawa gelak.

"Itu tidak mungkin, tentunya ada jalan keluarnya." "Aku mengerti ilmu pengorbanan, justru telah berpikir

tentang itu, namun tiada jalan keluarnya sama sekali."

"Menurutku, pasti ada jalan keluarnya." "Memang ada, tapi sulit dilaksanan." "Apa?"

Sesungguhnya Ciok Giok Yin merasa enggan memberitahukan, namun akhirnya memberitahukan juga dengan wajah kemerah-merahan.

"Wanita harus memahami Im Yang Ceng Koy." "Im Yang Ceng Koy?"

"Ya." Lu Jin diam.

"Saudara kecil, tentang itu aku akan carikan untukmu," katanya setelah berpikir sejenak.

"Kau bisa mendapatkannya?" "Aku yakin bisa."

"Tapi, aku. "

"Tidak usah tapi, kita berjumpa sudah seperti kawan lama. Antara orang dengan orang, selain saling memperalat, sudah pasti saling membantu dan saling menolong. Lagi pula aku ingin membantumu dengan setulus hati."

Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata. "Terima kasih, Saudara." kemudian menatapnya. "Kau

mengatakan kita kawan lama. Apakah masih tidak

memperbolehkan aku melihat wajahmu?" lanjutnya.

Lu Jin tampak tertegun. Beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Orang berkawan berdasarkan hati, bukan berdasarkan wajah 'kan? Masa kini kebanyakan orang berwajah palsu, maka lebih baik aku memakai kain penutup muka, agar orang tidak tahu aku jahat atau baik."

Sepasang mata Lu Jin menyorot tajam.

"Saudara kecil, kini aku memang punya kesulitan, kelak kalau ada kesempatan kau pasti bisa melihat wajahku, aku minta maaf untuk sekarang." tambahnya.

Ciok Giok Yin tidak mengerti akan maksud ucapannya. "Saudara jangan berkata begitu." Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara-suara bentakan berkumandang menembus angkasa.

Lu Jin mengerutkan kening.

"Saudara kecil, mari kita ke sana melihat-lihat."

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu mereka berdua melesat ke sana.

Dalam sekejap mereka berdua sudah tiba di tempat itu, kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon sambil mengintip. Tampak pula lima orang, namun Lu Jin dan Ciok Giok Yin tidak kenal kelima orang itu. Delapan orang itu sedang menatap sebuah bungkusan yang tergeletak di tanah. Bentuk bungkusan itu mirip sebuah kitab. Mendadak salah seorang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee, tertawa terkekeh seraya berkata kepada kelima orang itu.

"Barang ada di situ, kalau kalian punya kepandaian boleh ambil."

Salah seorang berbadan kurus tinggi maju dua langkah sambil menatap bungkusan itu lalu membentak.

"Benda pusaka rimba persilatan! Orang berhati luhur boleh memilikinya!"

Orang kurus tinggi itu membungkukkan badannya. Namun ketika baru mau mengambil bungkusan tersebut, sekonyong- konyong orang tua perkumpulan Sang Yen Hwee tadi langsung melancarkan pukulan ke arahnya. Orang itu berkelit ke samping, dan gagal mengambil bungkusan tersebut. Ciok Giok Yin memandang Lu Jin, sedangkan Lu Jin sedang menatap bungkusan itu dengan penuh perhatian, sepertinya tahu apa isinya. Di saat bersamaan, orang kurus tinggi yang gagal mengambil bungkusan tadi membentak.

"Kitab Cu Cian ini bukan milik perkumpulan Sang Yen Hwee! Siapa yang melihat pasti punya bagian!"

"Kalau kau masih merasa penasaran, silakan ambil!" sahut orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee itu dengan dingin.

Tiba-tiba seorang berusia pertengahan ingin memungut bungkusan itu, namun salah seorang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee langsung melancarkan pukulan ke arahnya.

Orang berusia pertengahan itu tidak berkelit, melainkan melancarkan pukulan pula.

Blam...! "Aduuuuh!"

Orang berusia pertengahan itu terhuyung-huyung ke belakang lima langkah. Badannya sempoyongan dan mulutnya menyembur darah segar, kemudian roboh. Bukan main gusarnya keempat temannya. Mereka menatap orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee dengan penuh dendam. Akan tetapi, tiada seorang pun berani mencoba lagi mengambil bungkusan tersebut. Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik pohon, kini sudah tahu apa isi bungkusan itu, ternyata Cu Cian yang diimpi-impikannya selama ini. Justru tidak disangka Cu Cian tersebut berada di situ. Oleh karena itu, mendadak dia bersiul panjang, kemudian melesat ke tempat itu, sekaligus menyambar bungkusan itu, dan berhasil.

Ciok Giok Yin masih ingat akan pesan suhunya. 'Kau harus memperoleh Seruling Perak dan Cu Cian, belajar ilmu kungfu yang paling tinggi di kolong langit...! Kini dia telah memperoleh Cu Cian itu. Sementara delapan orang termasuk yang terluka itu, terbelalak akan kemunculan Ciok Giok Yin namun kemudian mereka tampak gusar sekali. Mereka melotot dan siap menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Akan tetapi, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

"Berhenti!"

Semua orang menoleh, tampak sosok bayangan hijau berkelebat ke tempat itu, bukan masin cepatnya! Ternyata seorang gadis berbaju hijau. "Cepat mundur sepuluh depa, Sang Dewi mau datang!"

Ketujuh orang itu langsung mundur sejauh sepuluh depa, dan wajah mereka tampak agak pucat. Namun Ciok Giok Yin masih tetap berdiri di tempatnya, suara bentakan gadis baju hijau itu dianggapnya sebagai angin lalu. Ternyata dia ingin melihat, sebetulnya siapa yang dipanggil sang dewi, yang kewibawaannya dapat memundurkan ketiga orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee. Sementara sepasang mata gadis berbaju hijau itu sudah melotot, karena melihat Ciok Giok Yin tidak bergeming sama sekali.

"Kau tuli ya?" bentaknya.

Ciok Giok Yin membalikkan badannya perlahan-lahan, lalu menyahut dengan dingin sekali.

"Kau yang tuli."

Usai menyahut dingin, Ciok Giok Yin juga melotot. Bukan main gusarnya gadis berbaju hijau itu! Dia tidak menyangka ada orang begitu berani, mendengar nama Sang Dewi, justru tidak merasa takut sama sekali. Gadis berbaju hijau itu mau menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Namun begitu melihat Ciok Giok Yin yang amat tampan itu, sepasang matanya terbeliak dan hatinya juga berdebar-debar. Dia berkata dalam hati, 'Sungguh tampan pemuda ini!'

Karena itu, kegusarannya tidak dapat dilampiaskan, dan kemudian dia berkata dengan lembut.

"Sang Dewi akan segera tiba, cepat taruhlah kitab Cu Cian itu, lalu mundur sepuluh depa!"

"Mengapa aku harus mundur?" sahut Ciok Giok Yin angkuh. "Kau tidak takut mati?"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hm! Aku belum pernah merasakannya!" Gadis berbaju hijau berusaha menekan kegusarannya. "Mengapa kau begitu keras kepala?"

"Sifatku memang demikian."

Air muka gadis berbaju hijau itu langsung berubah. Di saat bersamaan tampak sebuah tandu yang amat indah, digotong dua wanita meluncur ke tempat itu. Gadis baju hijau itu segera memberi hormat ke arah tandu.

"Selamat datang, suhu!"

"Kau sudah mengusir mereka semua?" Terdengar pertanyaan yang amat halus dari dalam tandu. Gadis baju berhijau itu segera membalikkan badannya, kemudian berkata lantang.

"Perintah dari sang Dewi, kalian semua harus meninggalkan tempat ini!"

Ketika orang tua dari perkumpulan Sang Yen Hwee, menyahut dengan suara parau.

"Kami mengalah pada sang Dewi!"

Usai menyahut, mereka bertiga segera melesat

pergi. Sedangkan yang lain, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam, lalu bersama orang yang terluka tadi mereka berjalan pergi. Ketika melihat mereka sudah pergi, Ciok Giok Yin juga tidak mau lama-lama di situ. Ketika dia mau beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam tandu.

"Adik kecil, kau jangan pergi dulu!"

"Ada apa?" sahut Ciok Giok Yin dengan gusar.

Saat ini Lu Jin yang masih bersembunyi di balik pohon, diam- diam mengucurkan keringat dingin untuk Ciok Giok Yin.

Sebetulnya dia tidak menghendaki Ciok Giok Yin memunculkan diri, namun saat itu telah terlambat. Terdengar lagi suara yang amat halus dari dalam tandu. "Siapa namamu?" "Ciok Giok Yin!" "Siapa suhumu?"

"Tidak dapat kuberitahukan!"

Terdengar suara tawa di dalam tandu, lalu berkata. "Kau boleh bersikap dingin dan angkuh, namun di dunia

persilatan, tiada seorang pun berani bersikap demikian kurang

ajar terhadapku."

"Siapa kau?" bentak Ciok Giok Yin.

"Thian Thay Siang Ceng (Sang Dewi Dari Thian Thay)." "Thian Thay Siang Ceng?"

Sementara gadis berbaju hijau sudah mengucurkan keringat dingin. Kelihatannya gadis itu amat memperhatikan Ciok Giok Yin. Diam-diam dia memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin agar bicara lebih sopan, tapi Ciok Giok Yin justru tidak memperdulikannya. Tiba-tiba nada suara Thian Thay Sian Ceng berubah menjadi dingin.

"Tidak salah! Kau pernah mendengarnya?" Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Sayang sekali!"

"Apa yang disayangkan?"

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar gelar besarmu itu!" "Hari ini aku akan suruh kau ingat!"

"Aku pasti ingat! Maaf, aku mohon pamit!" Terdengar suara tawa nyaring di dalam tandu, lalu membentak.

"Ciok Giok Yin, kau masih ingin pergi?" "Apakah kau ingin menahanku?"

Usia bertanya dan ketika baru mau melesat pergi, tiba-tiba terasa serangkum tenaga yang amat lunak menerjang ke arahnya dari dalam tandu indah itu. Tenaga lunak itu membut Ciok Giok Yin tidak dapat melesat pergi.

"Kau tidak bisa pergi!" terdengar lagi suara bentakan dari dalam tandu.

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia tidak tahu mengapa Thian Thay Sian Ceng berlaku seperti itu padanya.

"Kalau kau punya kepandaian harap keluar!" bentaknya.

Ciok Giok Yin sudah siap menggunakan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang untuk menghadapi Thian Thay Sian Ceng. Namun Thian Thay Sian Ceng justru tertawa nyaring lalu berkata.

"Dalam dunia persilatan masa ini, tiada seorang pun sebelum mati dapat melihat wajahku. Maka sebelum kau mati, juga akan seperti mereka!"

"Aku punya permusuhan apa denganmu?" "Tentu ada!"

"Permusuhan apa?"

"Kau tidak usah tahu, yang jelas kau harus bersiap-siap untuk menghadapi maut!"

Seketika terasa ada serangkum angin yang amat dahsyat menerjang dari dalam tandu. Di saat bersamaan telinga Ciok Giok Yin mendengar suara yang amat lirih. "Cepat tiarap, hentikan pernafasan pura-pura mati!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak. Dia melihat bibir gadis berbaju hijau itu bergerak-gerak. Jelas dia yang berkata lirih. Dia pasti punya alasan tertentu. Mengapa tidak mencoba menuruti petunjuknya? Ciok Giok Yin lalu pura-pura menjerit dan merobohkan diri. Kelihatannya dia persis seperti terserang oleh angin pukulan itu.

"Anak Yun, ambil bungkusan yang di tangannya!" kata Thian Thay Sian Seng.

Gadis berbaju hijau menurut, lalu mengambil bungkusan itu, dan langsung dilempar ke dalam tandu. Berselang sesaat bungkusan itu terlemparkan ke luar dari dalam tandu, dan terdengar pula suara Thian Thay Sian Ceng.

"Barang palsu, mari kita pergi!"

Tampak tandu indah itu meluncur meninggalkan tampat itu. Sedangkan gadis baju hijau masih sempat menoleh ke belakang memandang Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah. Apa yang dikatakan Thian Thay Sian Ceng tadi, Ciok Giok Yin mendengar dengan jelas, bahwa Cu Cian itu palsu, sehingga membuatnya termangu-mangu. Tiba-tiba tampak sosok bayangan melesat ke luar dari balik pohon, yaitu Lu Jin. Sedangkan Ciok Giok Yin juga bangkit berdiri.

"Adik Kecil, kau tidak apa-apa?" tanya Lu Jin sambil menatapnya.

"Tidak apa-apa."

Lu Jin tampak tertegun.

"Sungguh merupakan hal aneh!" gumamnya.

"Saudara, sebetulnya siapa Thian Thay Sian Ceng itu?" tanya Ciok Giok Yin. "Thian Thay Sian Ceng di dunia persilatan, boleh dikatakan merupakan seekor naga sakti yang tampak kepala tidak tampak ekornya. Memang tidak salah apa yang dikatakannya tadi, tiada seorang pun di dunia persilatan, sebelum mati dapat melihat wajahnya," sahut Lu Jin. "Adik Kecil punya perselisihan apa dengannya?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar julukannya itu, dari mana munculnya perselisihan kami?"

"Kalau begitu, mengapa tidak turun tangan terhadapmu?" "Entahlah."

"Setahuku, tidak ada sama sekali orang bisa lolos dari tangan Thian Thay Sian Ceng. Bagaimana Adik Kecil tidak terjadi suatu apapun?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang apa yang dikatakan gadis berbaju hijau tadi. Lu Jin manggut-manggut.

"Oooo! Pantas kalau begitu!"

Ciok Giok Yin membungkukkan badannya memungut bungkusan itu, lalu dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi sebuah kitab biasa, tidak terdapat tulisan apa pun. Saking gusarnya dia langsung membuang kitab tersebut. Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Ohya! Aku ingin bertanya tentang seseorang." Katanya kepada Lu Jin.

"Siapa?"

"Tiat Yu Kie Su (Satria Baju Besi)." "Tiat Yu Kie Su?"

"Ng!" "Dia seorang pendekar yang tiada tempat tinggal tetap.

Sudah beberapa tahun dia tidak pernah muncul di dunia persilatan, mungkin sudah meninggal! Mengapa Adik Kecil menanyakannya?"

Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin dan penuh diliputi bahwa membunuh.

"Membalas dendam." "Membalas dendam?" "Ng!"

"Usia Adik Kecil masih muda, bagaimana mungkin punya dendam dengannya?"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Suhuku Sang Thian Thay Sian Ceng dikeroyok Kang Ouw Pat Kiat, menyebabkannya hidup tidak mati pun tidak, amat menderita di lembah. "

Ciok Giok Yin menutur tentang apa yang dialami Sang Ting It Koay, setelah itu melanjutkan.

"Karena itu, aku harus membunuh orang itu." Lu Jin berkata.

"Sudah beberapa tahun aku tidak melihat orang tersebut, aku kira dia telah meninggal."

"Kalau begitu, aku harus mencari kuburannya." kata Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Adik Kecil, orang mati habis hutang. Kini suhumu sudah berada di alam baka, tentunya dapat memanfaatkan mereka. Lagi pula. " Ciok Giok Yin menatapnya dingin sekali. "Masih ada perkataan apa, katakan saja!" Sepasang mata Lu Jin berputar sejenak.

"Aku lebih tua darimu, juga pernah berkecimpung di dunia persilatan. Tentunya aku pernah mendengar tentang Kang Ouw Pat Kiat. Ternyata mereka digosok oleh orang yang tak bertanggung jawab. Namun sudah terlambat, karena nasi telah menjadi bubur.

"Tidak begitu sederhana."

"Adik Kecil, kau dengar dulu! Setelah Kang Ouw Pat Kiat tahu mereka digosok oleh orang itu, merekapun segera pergi mencarinya, namun orang itu sudah hilang entah ke mana."

"Siapa orang itu?" "Chiu Tiong Thau." "Chiu Tiong Thau?" "Ng!"

"Bagaimana kepandaian orang itu?"

"Amat tinggi sekali, boleh dikatakan sudah mencapai pada tingkat kesempurnaan."

"Bagaimana kelakuannya terhadap orang?" tanya Ciok Giok Yin serius.

"Orang itu banyak akal busuk, kejam dan berhati licik," sahut Lu Jin.

Ciok Giok Yin tidak berani mengungkap tentang hubungannya dengan Chiu Tiong Thau. Namun diam-diam sudah mengambil suatu keputusan, setelah berhasil menguasai ilmu silat tinggi, dia akan membasmi orang tersebut demi membersihkan nama baik perguruannya.

Setelah mengambil keputusan tersebut, Ciok Giok Yin lalu memberi hormat pada Lu Jin seraya berkata.

"Saudara, banyak-banyak terimakasih atas bantuanmu. Sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, langsung melesat perti. Dia terus berpikir, apakah perkataan Lu Jin dapat dipercaya?

Mengapa dia berusaha membersihkan nama Kang Ouw Pat Kiat?

Apakah Lu Jin adalah teman baik Kang Ouw Pat Kiat? Ini memang mungkin, sebab Lu Jin pernah berkecimpung di dunia persilatan, tentunya pernah berhubungan dengan orang-orang tersebut. Akan tetapi tidak semestinya mendengarkan perkataannya. Seandainya Kang Ouw Pat Kiat terhasut orang, mengapa kemudian Sang Ting It Koay tidak mengetahuinya?

Pokoknya harus membunuh Kang Ouw Pat Kiat itu, agar Sang Ting It Koay dapat tenang di alam baka! Karena berpikir demikian, maka Ciok Giok Yin langsung berangkat ke Uah Hou Po. Dia memutuskan malam itu harus tiba di tempat tersebut.

Karena itu, dia terus melesat tanpa berhenti sama

sekali. Berselang beberapa saat, hari sudah malam. Samar- samar dia melihat sebuah bukit, yang bentuknya amat aneh, persis seperti seekor harimau sedang mendekam. Tidak salah lagi, Uah Hou Po pasti berada di bukit itu Ciok Giok Yin mempercepat langkahnya, tak lama dia sudah sampai di depan sebuah gapura. Pada gapura itu terdapat beberapa huruf, yaitu 'Uah Hou Po'

Namun sungguh mengherankan, sebab saat ini sudah malam, tapi pintu gapura itu masih terbuka. Suasana di dalam amat sunyi dan cukup menyeramkan. Akan tetapi hati Ciok Giok Yin sedang diliputi dendam, maka tidak merasa seram maupun takut, langsung melangkah ke dalam. Dia harus mencari Hui Pian-Ma Khie Ou membuat perhitungan. Namun sampai di dalam, keadaan tetap sunyi, tidak tampak apapun dan tidak terdengar suara apa-apa. Gelap gulita, suasana di tempat itu seperti di kuburan, menyeramkan dan amat mencekam. Itu membuat Ciok Giok Yin bercuriga, bagaimana halaman yang begitu luas, tidak tampak seorang pun menjaga di situ?

Bukankah aneh sekali?

Dia sengaja memberatkan langkahnya, sehingga menimbulkan suara 'Sert! Sert! Sert!' Itu agar ada orang muncul. Kalau ada orang muncul pasti tidak sulit untuk mencari Hui Pian-Ma Khie Ou. Akan tetapi jangankan suara orang, suara hewan pun tidak kedengaran. Setelah melewati halaman itu, tampak sebuah rumah yang amat besar. Ciok Giok Yin mendekati rumah itu, juga amat mengherankan. Ternyata pintu rumah itu terbuka lebar. Terlihat sebuah ruangan besar, namun gelap gulita. Ciok Giok Yin memperhatikan ruangan itu, tidak terlihat seorang pun di sana. Maka dia berjalan ke dalam. Dia menengok ke sana kemari, tetapi tidak melihat seorang pun. Akhirnya dia berjalan ke dalam melalui koridor samping.

Sungguh panjang koridor itu, menembus sampai ke halaman belakang.

Ciok Giok Yin tidak percaya kalau dirinya tidak akan menjumpai seseorang. Dia berjalan sambil memperhatikan tempat yang dilaluinya. Tempat itu tidak tampak berantakan. Dia sungguh tidak mengerti, mengapa rumah besar ini amat sepi? Apakah mereka sudah pindah semua?

Katanya dalam hati. Dia terus berjalan ke dalam, namun rumah itu tetap sunyi, tak terdengar suara apapun, juga tidak terlihat apa-apa. Ciok Giok Yin berkertak gigi, sambil membalikkan badannya untuk kembali ke ruang depan. kemudian dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Justru tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu, membuat badannya sempoyongan nyaris terjatuh. Dia langsung menundukkan kepalanya, seketika merinding sekujur badannya. Badannya berkelebat, sudah berada di pintu.

Dia melihat lagi ke lantai di mana tadi tanpa sengaja menendang sesuatu. Tanpa sadar dia berseru kaget dan bulu kuduknya pada bangun. Ternyata di lantai itu penuh dengan mayat yang tak utuh, tampak amat mengenaskan. Walau Ciok Giok Yin bernyali besar, namun hatinya tetap berdebar tegang, dan keringat dinginnya pun mengucur. Apa gerangan yang telah terjadi di sini? Siapa yang turun tangan sekejam ini? Ternyata mayat-mayat yang tak utuh itu, terdiri dari lelaki, wanita, tua, muda dan anak kecil, semuanya berjumlah seratus lebih. Selain mayat, juga terdapat bangkai ayam, anjing dan kucing, bertumpuk di lantai itu.

Ketika masuk, Ciok Giok Yin tidak memperhatikan lantai di ruang depan tersebut, lagi pula keadaan amat gelap. Karena tidak melihat seorang pun di dalam, maka setelah kembali ke ruang depan, dia justru berjalan mondari-mandir di situ, sehingga tanpa sengaja menendang mayat. Pantas di rumah sebesar itu, tidak terdengar suara maupun tampak

seseorang. Selama Ciok Giok Yin berkelana di dunia persilatan, baru kali ini melihat keadaan seperti itu. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu dekat pintu, sambil memperhatikan tempat itu. Dia berharap dapat menemukan suatu jejak. Akan tidak, selain mayat dan bangkai hewan, tidak tampak sesuatu yang mencurigakan. Itu berarti pembunuh itu bukan demi harta, melainkan demi menuntut balas.

Itu membuat Ciok Giok Yin merasa merinding. Perlu diketahui, Ciok Giok Yin sama sekali tidak berhati jahat, sebaliknya malah boleh dikatakan berhati bijak. Dia ingin membunuh Hui Pian-Ma Khie Ou, hanya demi menuntut balas dendam Sang Ting It Koay. Sebab dia telah menyaksikan bagaimana penderitaannya di dalam lembah itu. Kini menyaksikan pemandangan yang begitu mengenaskan, timbullah rasa dukanya.

"Aku harus...," gumamnya perlahan-lahan.

Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya. "Sungguh kejam hatimu!"

Ciok Giok Yin tersentak, dan langsung membalikkan badannya. Begitu melihat tanpa sadar dia berseru kaget.