Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 21

 
Jilid 21

Begitu mendengar suara seruan itu, Ciok Giok Yin segera mendongakkan kepalanya. Ternyata yang melesat ke tempat itu adalah Tong Wen Wen, sehingga membuatnya berseru tak tertahan.

"Kakak Wen!"

Tong Wen Wen berdiri kira-kira dua depa. "Lepaskan dia!" katanya dengan wajah dingin. "Tidak bisa!" sahut Ciok Giok Yin.

Ketika melihat wajah Ciok Giok Yin penuh hawa membunuh, sekujur badan Tong Wen Wen merinding. Dia tahu bahwa kakaknya amat kejam terhadap Ciok Giok Yin, tentunya Ciok Giok Yin tidak akan melepaskannya. Namun keluarga Tong cuma tinggal satu keturunan anak lelaki. Kalau Ciok Giok Yin turun tangan membunuhnya, bukankah keluarga Tong akan putus turunan? Karena itu Tong Wen Wen berkata memohon.

"Adik Yin, aku mohon kau sudi mengampuninya!" Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot penuh dendam. "Kakak Wen, aku tidak bisa mengampuninya!" "Mengapa?"

"Dia. "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya, karena merasa tidak enak menceritakan tentang perbuatan Tong Eng Kang dengan Mo Hwe Hud. Saat ini wajah Tong Eng Kang tampak kemerah-merahan. Dia masih ada rasa malu, sebab apabila Ciok Giok Yin menceritakannya pada Tong Wen Wen, tentunya amat memalukan keluarga Tong. Sedangkan Tong Wen Wen bertanya mendesak.

"Kenapa dia?"

"Kakak Wen, aku cuma bisa bilang tidak boleh melepaskannya."

"Adik Yin, aku mohon kau sudi memandang mukaku melepaskannya! Sebab keluarga Tong cuma tinggal dia satu- satunya anak lelaki. Apakah kau tega melihat keluarga Tong putus turunan?"

Ciok Giok Yin menatap Tong Wen Wen dengan mata tak berkedip. Kelihatannya seperti sedang berpikir. Menyaksikan itu Tong Wen Wen segera berkata lagi.

"Lepaskan dia, leluhur keluarga Tong pasti berterimakasih padamu!"

Beberapa saat kemudian Ciok Giok Yin berkata. "Aku boleh melepaskannya, tapi harus ada syarat." "Syarat?"

"Ng!"

"Adik Yin, katakanlah!"

"Dia harus merubah sifat buruknya, kalau tidak, kelak kalau bertemu aku tidak akan mengampuninya."

Tong Wen Wen memandang Tong Eng Kang.

"Kakak, keluarga Tong tinggal kau dan aku, harap kau jadi orang baik-baik, jangan seperti almarhum yang cuma menuruti sifat kemauannya."

Tong Eng Kang menundukkan kepala, sama sekali tidak berani bersuara. Mendadak Ciok Giok Yin bertanya kepada Tong Wen Wen.

"Kakak Wen, kau bilang Paman Tong kenapa?" "Sudah meninggal."

Seketika Tong Eng Kang melesat pergi, namun wajahnya penuh diliputi dendam kebencian. Di saat bersamaan Tong Wen Wen juga melesat pergi ke arah yang berlawanan, kemudian menghilang di balik sebuah batu besar.

"Kakak Wen! Kak Wen!" seru Ciok Giok Yin. Dia segera mengejar gadis itu karena harus menjernihkan kesalahpahaman tempo hari.

Ciok Giok Yin yakin bahwa Tong Wen Wen pasti amat membencinya, sebab mengira yang mempermainkannya adalah orang yang menyamar dirinya. Oleh karena itu dia mengerahkan ginkangnya mengejar Tong Wen Wen. Akan tetapi gadis itu sudah tidak kelihatan. Itu membuatnya terheran-heran, karena Ciok Giok Yin tahu jelas mengenai kepandaiannya. Tapi baru berpisah beberapa bulan, ginkang gadis itu sudah begitu tinggi, tentunya mengalami suatu kemukjizatan. Namun dia tidak boleh membiarkan Tong Wen Wen terns salah paham terhadap dirinya. Sebab itu Ciok Giok Yin terus mengejar seraya berseru.

"Kakak Wen, aku ingin bicara padamu!"

Ciok Giok Yin berseru lagi, lantaran tidak mendengar sahutan. "Kakak Wen, kau berada di mana?"

Suara Ciok Giok Yin bergema sampai ke mana-mana, tapi dia tetap tidak mendengar suara sahutan Tong Wen Wen. Ciok Giok Yin tidak putus asa. Dia terus berseru-seru dengan mengerahkan lwee kangnya. Mendadak tampak sesosok bayangan melesat ke arahnya. Sepasang mata Ciok Giok Yin amat tajam, maka langsung melihat jelas siapa orang itu.

Ternyata orang itu adalah Lok Ceh, ketua baru partai Thay Kek Bun.

"Nona Lok!" seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Kakak Yin!" sahut Lok Ceh bernada sedih. Gadis itu langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin, dan isak tangisnya pun meledak seketika.

"Adik Ceh, mengapa kau tidak berada di markas Thay Kek Bun?" tanya Ciok Giok Yin ringan sambil membelai rambut gadis itu.

Lok Ceh tidak menyahut, melainkan terus menangis dengan air mata berderai-derai.

Ciok Giok Yin bertanya lagi dengan lembut.

"Adik Ceh, katakan padaku apa gerangan yang terjadi?" tanya Ciok Giok Yin lagi dengan lembut.

"Kakak Yin, aku bersalah padamu," sahut Lok Ceh terisak- isak. "Mengapa?"

"Thay Kek Bun bersama tiga puluh orang lebih, semuanya mati tak tersisa."

Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu. "Perbuatan siapa itu?"

Lok Ceh termenung sejenak, lalu menutur.

"Tiga hari yang lalu ketika tengah malam, mendadak muncul seseorang berpakaian abu-abu, memakai kain putih penutup muka. Kepandaiannya sungguh amat tinggi sekali! Cuma beberapa saat para anggota Thay Kek Bun telah dibunuh semua, hanya aku sendiri yang berhasil meloloskan diri."

Usai menutur gadis itu menangis lagi. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu!

"Orang itu berasal dari perguruan mana?" "Tidak jelas."

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu.

"Beberapa waktu lalu ada seorang gadis bernama Seh Yong Yong menuju tempatmu. Sekarang dia berada di mana?"

Lok Ceh tertegun. "Tidak ada." "Tidak ada?"

"Sejak kau meninggalkan tempat kami tiada seorang pun pernah ke sana."

Mendengar itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi lemas, bahkan matanya berkunang-kunang dan merasa dirinya tenggelam entah ke mana. Akhirnya dia bergumam.

"Dia pergi ke mana? Bok Tiong Jin, apakah kau telah mencelakainya?"

Usai bergumam dia berkertak gigi penuh kegusaran. Ternyata dia mencurigai Bok Tiong Jin. Lok Ceh tidak mengerti akan gumaman Ciok Giok Yin, maka dia bertanya.

"Apa? Bok Tiong Jin?" "Ya."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Ciok Giok Yin menutur dengan sengit.

"Karena merasa tidak leluasa diikutinya, lagi pula aku khawatir akan terjadi sesuatu atas dirinya, maka kusuruh dia pergi ke tempatmu. Tapi kebetulan muncul Bok Tiong Jin dan dia bersedia mengantarnya. "

Kemudian Ciok Giok Yin menutur jelas tentang itu, juga mengenai Bok Tiong Jin. Setelah itu dia menambahkan.

"Aku tidak akan melepaskan Bok Tiong Jin itu!"

"Aku percaya orang itu berpura-pura," kata Lok Ceh. "Benar."

"Kau tidak pernah melihatnya?" "Memang tidak pernah."

"Kalau begitu kepandaian orang itu pasti tinggi sekali."

"Tidak salah. Dia adalah wanita juga, mengapa tega mencelakai seorang gadis?" Mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di tempat itu.

"Saudara Ciok, ada sosok roh halus menyebut dirinya Bok Tiong Jin. Dia menyerahkan seorang nona padaku. Sebetulnya dia ingin mengantarnya ke Thay Kek Bun, namun ada urusan lain, maka dia menyerahkan nona itu padaku. Kini nona itu berada di tempat yang aman."

Siapa yang baru muncul itu? Tidak lain adalah Ku Tian. Pemuda itu memang tampan, dibandingkan dengan Ciok Giok Yin, masing-masing memiliki kelebihan. Begitu mendengar itu timbullah rasa asem di dalam hati Ciok Giok Yin, sebab Seh Yong Yong amat cantik, dan Ku Tian amat tampan, Kalau mereka berdua berkumpul, tentunya akan menimbulkan rasa cinta. Akan tetapi Ku Tian pernah menaruh budi padanya, karena itu walau Ciok Giok Yin merasa cemburu, tetap berlaku hormat pada Ku Tian.

"Terimakasih atas kebaikan Saudara Ku, takkan kulupakan selamanya."

Tertegun Ku Tian,

"Mengapa Saudara Ciok berkata demikian?" Ciok Giok Yin tersenyum getir.

"Tidak ada apa-apa. Karena Seh Yong Yong melakukan perjalanan seorang diri, memang harus ada orang menjaganya, maka aku berterimakasih padamu." Dia memandang Lok Ceh. "Nona Lok ingin ke mana?"

"Aku ingin ke tempat suhuku."

Ciok Giok Yin menjura pada mereka berdua seraya berkata. "Sampai jumpa!"

Kemudian dia melesat pergi laksana kilat dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan mereka berdua. Lok Ceh menatap Ku Tian sejenak, lalu pergi mencari suhunya. Sedangkan wajah Ku Tian tampak berseri. Kemudian dia melesat ke arah yang ditempuh Ciok Giok Yin. Sementara Ciok Giok Yin yang ingin ke Gunung Kee Jiau San markas Thay Kek Bun menengok Seh Yong Yong, kini Thay Kek Bun telah musnah, sedangkan Seh Yong Yong sudah ada orang yang menjaganya, lalu ada urusan apa lagi dengan dirinya? Ciok Giok Yin terus berpikir. Kemudian timbul suatu ganjalan di dalam hatinya.

Karena Ku Tian terhadap Seh Yong Yong, tentunya ada pikiran yang bukan-bukan! Kalau tidak, bagaimana mungkin di saat Ciok Giok Yin ingin pergi menengok Seh Yong Yong, justru muncul Ku Tian. Jangan-jangan mereka berdua. Mendadak

Ciok Giok Yin membanting kaki seraya berkata sengit. "Dasar lelaki dan wanita anjing!"

Sekonyong-konyong terdengar suara sahutan di belakangnya. "Siau Kun bilang apa?"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Ternyata yang menyahut itu adalah si Bongkok Arak.

Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata. "Lo cianpwee. "

Si Bongkok Arak cepat-cepat memutuskan perkataannya. "Sian Kun, jangan memanggilku demikian!"

"Sebelum jelas hubungan di antara kita berdua, aku tetap akan memanggil demikian."

Si Bongkok Arak mengerutkan kening.

"Kalau sementara, justru akan membuatku bertambah serba salah."

"Apabila lo cianpwee tidak mau merasa serba salah, alangkah baiknya memberitahukan asal-usulku." "Sementara ini belum waktunya." "Kira-kira kapan baru tiba waktunya?"

"Tidak lama lagi." Kemudian si Bongkok Arak mengalihkan pembicaraan. "Siau Kun, bagaimana hasilnya kau pergi mencari Thian Thong Lojin?"

"Katanya harus memperoleh Bu Keng Sui." "Bu Keng Sui?"

"Ya."

Si Bongkok Arak bergumam. "Bu Keng Sui! Bu Keng Sui!"

Seketika dia kelihatan seperti disulitkan oleh Air Tanpa Akar tersebut. Memang merupakan suatu nama aneh, membuat orang sulit menerkanya. Karena semua air berasal dari dalam bumi, boleh dikatakan berakar atau bersumber. Bagaimana mungkin tidak berakar atau bersumber? Mendadak si Bongkok Arak mendongakkan kepala.

"Siau Kun, aku akan menemanimu ke 'Lembah Tiang Ciang Kok."

"Lembah Tiang Ciang Kok?" "Ng!"

"Untuk apa ke sana lagi?"

"Kita harus bertanya tentang Bu Keng Sui, ke mana mencarinya?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala. "Tidak."

Si Bongkok Arak tahu jelas akan sifat Ciok Giok Yin, maka dia manggut-manggut.

"Siau Kun, kau harus bermohon dengan cara sopan dan ramah!"

"Aku tahu itu."

Ciok Giok Yin memberi hormat, lalu melesat pergi menuju Gunung Liok Pan San. Demi mengungkap rahasia tentang Bu Keng Sui, dia harus ke Lembah Tiang Ciang Kok lagi. Karena itu dia melakukan perjalanan siang malam. Mendadak dalam perjalanan Ciok Giok Yin teringat akan suatu hal. Yakni pesan dari Bun It Coan sebelum mati, harus berangkat ke Liok Bun menuntut balas dendam Bun It Coan. Akan tetapi selama ini Ciok Giok Yin sama sekali tidak memenuhi pesan saudara angkatnya itu. Bun It Coan yang berada di alam baka, pasti mencacinya sebagai adik angkat yang tidak menepati janji.

Teringat akan hal tersebut, tanpa sadar air matanya meleleh. Seketika dia berhenti, kemudian mempertimbangkan hal tersebut. Tiba-tiba dia menghempas kakinya seraya berkata.

"Aku harus memenuhi pesanannya, urusan sendiri ditunda dulu."

Setelah mengambil keputusan tersebut Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah Gunung Lu Liang San. Dia masih ingat akan apa yang dikatakan si Bongkok Arak, bahwa Liok Bun berada di Lembah Sia Hui Kok di Gunung Lu Liang San. Di puncak gunung seberang akan terlihat sebuah batu besar....

Ciok Giok Yin berjalan menuju Gunung Lu Liang San dengan hati-hati. Karena itu dalam perjalanan dia tidak menemui hal- hal yang tak diinginkan. Pada hari ketiga, ketika hari mulai senja Ciok Giok Yin sudah memasuki Gunung Lu Liang San. Di sana banyak batu curam, namun Ciok Giok Yin mengerahkan ginkang melewatinya. Saat ini sudah musim panas, tapi Gunung Lu Liang San, masih terasa sejuk. Setiap kali tiba di sebuah puncak, dia pasti memandang ke seberang. Hari itu juga dia tiba di sebuah puncak yang amat tinggi. Dia memandang ke seberang dan seketika hatinya terasa terang. Ternyata di seberang sana terdapat sebuah lembah dan tampak awan yang berwarna-warni membubung ke atas. Berhubung dia pernah makan Ginseng Daging dan Pil Api Ribuan Tahun, maka sepasang matanya amat tajam, dapat melihat jelas apa yang terdapat di balik awan yang warna

warni itu. Memang benar ada sebuah batu besar berdiri tegar di sana. Karena itu Ciok Giok Yin segera melesat ke seberang sana. Dari puncak gunung ke lembah itu kelihatannya dekat, namun ketika Ciok Giok Yin melesat ke sana, justru membutuhkan waktu yang cukup lama barulah tiba di depan batu besar itu.

Batu besar itu beratnya hampir mencapai ribuan kati. Namun Ciok Giok Yin yakin dapat menggeserkannya. Oleh karena itu dia pasang kuda-kuda sambil mengerahkan lwee kangnya, kemudian sepasang telapak tangannya mendorong batu besar itu. Ternyata batu besar itu tergeser, lalu tampak sebuah pintu kecil di baliknya. Ciok Giok Yin tidak membuang waktu, segera melesat ke dalam. Di saat bersamaan pintu besar itu tertutup kembali. Setelah berada di dalam, dia segera mengeluarkan cincin giok pemberian Bun It Coan, lalu dipakainya di jari kelingkingnya. Dia memandang ke depan, dan seketika hatinya tersentak. Ternyata dia melihat cahaya kehijau-hijauan.

Akan tetapi dia percaya bahwa Bun It Coan tidak akan mencelakai dirinya. Maka dia memberanikan diri mengayunkan kakinya melangkah ke depan. Dia tidak berani menggunakan ginkang, melainkan berjalan selangkah demi selangkah dengan hati-hati sekali. Ternyata dia khawatir di tempat itu, terdapat perangkap yang membahayakan dirinya. Ciok Giok Yin terus berjalan. Sedangkan cahaya kehijau-hijauan itu tampak semakin jelas. Dia memandang dengan penuh perhatian, justru tidak tahu dari mana asalnya cahaya kehijau-hijauan itu. Di saat dia sedang berjalan, mendadak berseru kaget.

"Hah?"

Seketika sekujur badannya mengucurkan keringat dingin, bahkan hatinya berdebar-debar tegang. Dia cepat-cepat menghentikan langkahnya. Ternyata dalam lorong itu terdapat tumpukan tulang-belulang putih, kelihatannya lorong itu tidak pernah dilalui orang. Itu membuat Ciok Giok Yin tidak berani melangkah maju dan hatinya terus deg-degan. Memang dalam keadaan seperti itu orang yang bernyali besarpun akan merasa takut dan seram. Ciok Giok Yin berdiri diam di tempat, sama sekali tidak berani melangkah maju.

Tiba-tiba tanpa sadar dia memandang cincin giok itu memancarkan cahaya lembut, mengelilingi seluruh badannya. Ciok Giok Yin bertanya dalam hati, 'Apakah cincin

giok pemberian kakak angkatku ini khususnya untuk melewati lorong bercahaya kehijau-hijauan ini?' Kemudian tanpa sadar kakinya mulai melangkah maju lagi dan hatinya bebas dari perasaan apa pun. Namun ketika dia melihat tumpukan- tumpukan tulang-belulang putih, sekujur badannya merinding lagi. Sudah barang tentu langkahnya terhenti lagi. Namun kemudian dia mengeraskan hati dan berkata,

"Demi memenuhi pesan kakak angkat, aku memang harus menempuh bahaya. Kalau pun aku harus mati, tidak jadi masalah."

Setelah berkata demikian, timbullah keberaniannya lalu melangkah maju tanpa merasa takut sedikitpun. Mendadak terdengar suara jeritan menyayat hati tiga kali di belakangnya. Ciok Giok Yin, segera menoleh ke belakang. Tampak tiga  sosok bayangan, yang lain adalah Bu Lim Sam Siu. Ketiga orang itu telah roboh dan dalam sekejap sudah berubah menjadi tiga sosok tengkorak. Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin. Seketika keringat dinginnya pun mengucur. 'Sungguh bahaya!' katanya dalam hati. Kini barulah dia tahu akan kegunaan cincin giok di jari kelingkingnya. Di saat itu pula timbullah rasa iba terhadap Bu Lim Sam Siau. Sebab mereka bertiga tidak pernah melakukan kejahatan di dunia persilatan, hanya saja hati mereka bertiga amat tamak. Dengan siasat busuk mereka mencuri peta Si Kauw Hap Liok Tounya.

Kini mereka bertiga binasa di dalam Liok Bun secara mengenaskan, justru Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bagaimana mereka bertiga bisa menguntitnya sampai di tempat itu. Dia pun tidak habis pikir apa sesungguhnya cahaya kehijau-hijauan itu? Bagaimana hegitu lihai? Apabila dia tidak memiliki cincin giok tersebut, bukankah saat ini dirinya juga telah berubah menjadi tulang belulang putih? Ciok Giok Yin memandang Bu Lim Sam Siu yang telah berubah menjadi tengkorak, tanpa sadar air matanya meleleh. Dalam hatinya berpikir, setelah berhasil mencari Seruling Perak dan berhasil menuntut balas semua dendam kesumat, dia ingin mencari suatu tempat sepi yang indah untuk hidup tenang dan damai selama-lamanya di tempat tersebut.

Cukup lama Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu, kemudian menghapus air matanya dan menghela nafas panjang. Setelah itu dia melangkah maju ke depan lagi. Tak seberapa lama setelah dia melewati cahaya kehijau-hijauan, tampak sebuah batu bertulisan 'Tok Coa Kang' (Selokan Ular Berbisa). Begitu membaca tulisan itu, bulu kuduk Ciok Giok Yin pada bangun semua. Ternyata di belakang batu itu terdapat sebuah selokan luasnya tiga depaan, bahkan amat dalam. Di dalamnya berisi entah berapa banyak ular berbisa, yang semuanya mendongakkan kepala sambil menjulurkan lidah dan mendesis mengeluarkan uap berbisa. Ular-ular berbisa itu merayap ke hadapan Ciok Giok Yin, namun mendadak merayap mundur.

Kelihatannya ular-ular berbisa itu takut akan cahaya hijau yang terpancar dari cincin giok itu.

Akan tetapi di belakangnya justru merangkak maju kalajengking berbisa. Tentunya amat mengejutkan Ciok Giok Yin. Tapi dia yakin dapat meloncat ke seberang. Namun di balik batu itu terdapat tulisan lain berbunyi 'Apabila ular berbisa menyingkir, orang berani meloncat ke seberang, pasti mati keracunan. Sungguh sayang sekali!' Tulisan tersebut menyebabkan Ciok Giok Yin tidak berani meloncat ke seberang.

Berselang sesaat dia mengeraskan hati berjalan melalui selokan itu. Justru tak terduga sama sekali semua ular berbisa yang berada di dalam selokan itu cepat-cepat menyingkir ke samping sehingga terdapat sebuah jalan di tengah-

tengah. Ciok Giok Yin menarik nafas lega. Akhirnya dia berhasil melewati selokan tersebut dan terlihat cahaya hijau di depan. Di dalam lorong itu pun terdapat tumpukan-tumpukan tulang belulang, pertanda memang ada orang telah melewati selokan itu, tapi tidak berhasil. Saat ini Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Kalau Liok Bun adalah tempat yang lurus, mengapa harus mengatur semua ini?'

Setelah berpikir demikian Ciok Giok Yin ingin kembali. Akan tetapi dia teringat akan pesan Bun It Coan dan teringat akan ceritanya yang terjerumus ke dalam perkumpulan Sang Yen Hwee serta dicelakai istrinya. Hal itu membuat Ciok Giok Yin membatalkan niatnya, sebab tidak diragukan lagi saudara angkatnya itu pasti orang baik. Oleh karena itu Ciok Giok Yin terus melangkah maju.

Mendadak dia melihat sebuah batu lagi yang ada tulisannya 'Toan Hun Kio' (Jembatan Pemutus Sukma). Tampak sebuah jembatan yang panjangnya hampir sepuluh depa melintas di tempat yang amat dalam. Dari tempat yang amat dalam itu menyorot pula, cahaya hijau. Sesungguhnya yang di sebut jembatan itu cuma merupakan seutas tali hingga ke seberang.

Menyaksikan itu Ciok Giok Yin tertegun. Beberapa saat kemudian barulah dia mengambil keputusan untuk melewati jembatan tali itu. Dengan hati-hati sekali Ciok Giok Yin berjalan di atas jembatan tali tersebut, akhirnya dia berhasil melewatinya. Sampai di seberang, dia melihat sebuah batu lagi yang terdapat tulisan 'Cang Po Sek' (Ruang Penyimpan Pusaka). Di sisi batu itu memang terdapat sebuah ruang batu yang sepasang daun pintunya terbuka lebar. Ciok Giok Yin melongkok ke dalam. Tampak cahaya bergemerlapan. Ternyata cahaya itu terpancar dari benda-benda yang terbuat dari emas dan mutiara yang tak terhitung banyaknya. Ciok Giok Yin terbelalak dan berkata dalam hati, 'Sungguh kaya raya benda- benda berharga itu.'

Ciok Giok Yin memandang ke depan, terlihat cahaya hijau di sana, namun tidak jelas itu lorong atau sebuah ruangan. Dia terus melangkah maju, mendadak cahaya hijau itu amat menyilaukan matanya, sehingga membuatnya tidak dapat membedakan arah timur, berat, utara dan selatan. Akan tidak dia merasa dirinya berada di tempat yang tidak begitu luas dan berputar-putar di situ. Ciok Giok Yin mencoba melangkah lagi, namun tetap berputar-putar di tempat itu. Justru di saat bersamaan mendadak terdengar suara sapaan yang amat dingin.

"Siapa kau?"

Itu adalah suara wanita, tapi tidak kelihatan orangnya. Ciok Giok Yin tertegun bertanya dalam hati. 'Bagaimana ada wanita di sini?' Walau tertegun tapi dia tetap menyahut.

"Aku bernama Ciok Giok Yin." "Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Bagaimana kau memperoleh Cui In Hoan (Cincin Giok), benda kepercayaan Liok Bun?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin menjadi tertegun lagi. Dia tidak menyangka bahwa cincin giok pemberian Bun It Coan merupakan benda kepercayaan Liok Bun yang dinamai Cui In Hoan. Namun kedatangannya memang ingin ke rumah kakak angkatnya itu. Karena itu dia tidak boleh berlaku kasar terhadap siapa pun yang berada di situ.

"Cincin giok ini pemberian dari kakak angkatku." Terdengar suara gemetar.

"Kakak angkat?" "Ng!"

"Siapa kakak angkatmu itu?" "Bun It Coan."

"Bun It Coan?" "Dia berada di mana sekarang? Bagaimana dia memberimu cincin giok itu padamu?"

Terlintas dalam benak Ciok Giok Yin akan pesan Bun It Coan, jangan memberitahukan tentang kematiannya pada ayahnya. Karena Ciok Giok Yin diam saja, maka terdengar lagi suara yang amat dingin itu.

"Mengapa kau tidak bicara?"

Ciok Giok Yin khawatir wanita itu akan mencurigainya, maka dia segera menyahut,

"Hubunganku dengan kakak angkat amat dalam. Karena ada urusan penting ke Kwan Gwa (Luar Perbatasan), maka dia memberiku cincin giok, agar aku ke mari bermohon pada ayahnya menurunkan ilmu silat tinggi untuk menjaga diri."

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Sungguh!" kemudian Ciok Giok Yin bertanya. "Mohon tanya kau adalah. "

Terdengar suara sahutan dingin.

"Bu Eng Jin (Orang Tanpa Bayangan)."

Mendengar itu seketika juga Ciok Giok Yin merinding. Tanpa Bayangan bukankah berarti roh halus? Sebetulnya tempat apa ini? Di saat dia sedang berpikir, mendadak merasa adanya tenaga yang amat dahsyat menerjang dirinya dari empat penjuru. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Ketika dia baru mau membuka mulut, tak disangka dia malah roboh pingsan tak sadarkan diri. Entah berapa lama kemudian barulah Ciok Giok. Yin siuman perlahan-lahan. Dia segera bangun, lalu menghimpun hawa murninya. Ternyata dia tidak menderita luka apa pun. Sesungguhnya apa gerangan yang telah terjadi? Dia betul-betul tidak habis pikir.

Ciok Giok Yin menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya berada di dalam sebuah ruang batu. Dia menundukkan kepala memandang jari kelingkingnya, cincin giok masih melingkar di situ. Di ruang batu itu terdapat beberapa perabotan yang tersusun amat rapi. Ciok Giok Yin terbatuk beberapa kali, ingin tahu apakah ada orang menyahut? Sekonyong-konyong terdengar suara parau tapi lirih di telinganya.

"Kau bernama Ciok Giok Yin'?" "Ya."

"Kau dan Bun It Coan adalah kakak adik angkat?"

Itu adalah suara orang tua. Tapi Ciok Giok Yin tidak dapat membedakan itu suara lelaki atau suara wanita, sebab tidak kelihatan orangnya. Ciok Giok Yin segera menyahut.

"Ya, Paman!"

Dia menduga orang yang berbicara itu adalah ayah kakak angkatnya, maka memanggilnya paman.

"Aku sudah tahu tujuanmu ke mari." "Mohon petunjuk Paman."

Hening sejenak, tidak terdengar suara apa pun. Beberapa saat kemudian barulah terdengar lagi orang itu berkata,.

"Ilmu silat aliran kami tidak pernah diturunkan kepada orang luar."

Mendengar itu hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Namun kemudian terdengar lagi orang itu melanjutkan ucapannya.

"Tapi, kau dan Bun It Coan adalah kakak adik angkat, maka dikecualikan."

Bukan main leganya hati Ciok Giok Yin! "Terimakasih, Paman!"

Seusai mengucapkan terimakasih, Ciok Giok Yin pun melanjutkan.

"Bolehkah Paman memperlihatkan diri agar aku bisa memberi hormat pada Paman?"

Terdengar helaan nafas panjang, berkata.

"Nak, aku terima ketulusan hatimu. Jangankan kau, sejak kakak angkatmu itu mengerti urusan, juga tidak pernah bertemu aku."

Ciok Giok Yin berseru kaget tak tertahan.

"Hah? Kalau begitu Paman..." seru Ciok Giok Yin kaget. "Nak, jangan berprasangka yang bukan-bukan! Kau sudah

lapar, makanlah dulu barulah bicara lagi!"

Suara itu berhenti dan suasana pun berubah menjadi hening.

Ciok Giok Yin menoleh. Entah sejak kapan di atas meja sudah tersedia semangkok nasi putih dan beberapa macam hidangan. Dia tidak melihat orang masuk, tahu-tahu sudah ada makanan di atas meja. Saat ini hati Ciok Giok Yin amat berduka dan dia kecewa pada dirinya sendiri, karena kepandaiannya belum dapat menyamai kepandaian orang lain. Buktinya ada orang masuk ke dalam ruang batu itu, tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya. Itu pertanda kepandaiannya masih rendah.

Kalau orang itu adalah musuhnya, bukankah saat ini dia sudah tergeletak menjadi mayat? Mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Cepat makan, jangan memikirkan yang bukan-bukan!"

Ciok Giok Yin merasa merinding ketika mendengar suara itu. Sebab suara itu adalah suara wanita.

"Kau. "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya sebab tidak tahu harus bertanya apa. Terdengar lagi suara dingin itu. "Jangan banyak bertanya!"

Ciok Giok Yin mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Bu Eng Jin, namun kali ini agak lembut dan penuh

perhatian. Karena itu Ciok Giok Yin segera bertanya, "Kau yang mengantar makanan ke mari?"

"Ng!"

"Kalau begitu kau berada di mana sekarang?" "Berada di sampingmu."

Ciok Giok Yin cepat-cepat menengok ke sekelilingnya, tapi tidak tampak bayangan orang. Sudah barang tentu membuat bulu kuduknya berdiri dan keringat merembes ke luar dari keningnya. Terdengar suara Bu Eng Jin lagi.

"Cepatlah makan, jangan banyak bertanya!"

Setelah berpikir sejenak, Ciok Giok Yin mendekati meja itu lalu duduk dan mulailah bersantap bagaikan harimau kelaparan. Tak seberapa lama, nasi dan semua hidangan itu telah habis disantapnya. Justru di saat bersamaan terdengar suara parau di telinganya.

"Nak, geserlah kursi di bawah jendela itu, pindahlah kau ke ruang lain untuk belajar ilmu silat!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat mendekati kursi itu kemudian memutarnya. Seketika terdengar suara 'Kreeek'. Dinding batu sebelah kiri terbuka. Ciok Giok Yin segera masuk. Kemudian dinding batu itu tertutup kembali seperti semula. Ruang batu itu kosong melompong, tidak terdapat perabotan apa pun.

Akan tetapi pada dinding ruang batu itu terdapat lukisan orang dalam posisi duduk, berdiri, jongkok dan lain sebagainya.

Ciok Giok Yin memperhatikan semua lukisan itu. Ternyata di bawah lukisan-lukisan tersebut terdapat tulisan. Mendadak suara parau itu mendengung lagi di telinganya.

"Itu Kanyen Sin Kang. Ikutilah gaya orang dalam lukisan itu dan turutilah penjelasan di bawahnya! Kau boleh mulai berlatih!"

Ciok Giok Yin amat berterimakasih dan merasa terharu. "Paman..."

Suara parau itu sudah memutuskan perkataannya. "Baik-baiklah berlatih!"

"Ya. Paman."

Ciok Giok Yin mulai belajar dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal waktu. Kapan saja dia merasa lapar, selalu ada makanan di sampingnya. Padahal selama ini dia sama sekali tidak melihat ada orang masuk. Namun karena sudah biasa, maka dia tidak merasa heran lagi. Sebab dia tahu bahwa yang mengantar makanan itu adalah Bu Eng Jin. Mengenai buang air kecil dan air besar, tentunya dia mendapat petunjuk dari Bu Eng Jin. Sementara sang waktu terus berlalu. Namun Ciok Giok Yin tidak tahu sudah berapa hari dirinya berada di dalam ruang batu itu. Ilmu Kan Yen Sin Kang yang dipelajarinya telah dikuasai dengan baik. Hari ini ketika Ciok Giok Yin sedang berlatih, tiba-tiba terdengar lagi suara parau itu di telinganya.

"Nak, sudah cukup. Kalau titik hitam di dinding sebelah kanan itu ditekan, maka kau bisa keluar."

Ciok Giok Yin segera menengok ke arah dinding sebelah kanan. Di sana memang terdapat sebuah titik hitam. Dia mendekati dinding itu lalu menekan titik hitam tersebut.

Kreek!

Dinding itu terbuka. Ciok Giok Yin cepat-cepat melangkah keluar. Di saat bersamaan terdengar lagi suara parau itu. "Nak, aku ingin bertanya padamu." "Silakan, Paman!"

"Ketika kau ke mari, aku melihat wajahmu seperti terkena racun."

"Terkena racun?"

"Apakah kau pernah makan semacam obat?"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak. Kemudian terlintas satu hal dalam pikirannya, yaitu obat pemberian orang aneh menyeramkan.

"Pernah," sahutnya. "Obat apa itu?"

"Aku bertemu seorang aneh menyeramkan, dia memberikan sebutir obat Cih Kang Tan padaku."

"Kau makan obat itu?" "Ya."

"Bagaimana rasanya waktu itu?"

"Aku merasa lwee kangku bertambah tinggi." "Itu sebabnya."

"Maksud Paman?"

"Obat apa pun yang dapat memperdalam lwee kang, kalau sudah tiba saatnya akan membuat semua aliran darah menjadi terbalik dan mati secara mengenaskan."

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin mendengar itu! Dia cepat-cepat berkata, "Paman, aku masih memikul dendam perguruan, apakah Paman. "

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, suara parau itu telah memutuskan perkataannya.

"Racun yang mengendap di dalam tubuhmu itu telah lenyap oleh cahaya hijau alami yang kau lewati itu. Kau tidak usah cemas lagi. Sekarang kau boleh pergi."

Menyusul terdengar suara Bu Eng Jin. "Aku akan mengantarmu ke luar."

"Tidak berani merepotkanmu." Ciok Giok Yin diam sejenak. "Bolehkah kau memperlihatkan dirimu sebentar?"

Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara sahutan. "Baiklah."

Tampak sesosok bayangan langsing muncul di hadapan Ciok Giok Yin. Ternyata adalah seorang gadis yang amat cantik bagaikan bidadari.

"Nona. !" seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

Bu Eng Jin tersenyum-senyum. Bukan main manisnya senyuman itu, membuat Ciok Giok Yin terkesima dan terpukau.

"Aku antar kau ke luar sekarang," kata gadis itu.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa pusing, tahu-tahu sudah tak sadarkan diri. Ketika siuman, Ciok Giok Yin sudah berada di lorong terdepan di mana terdapat cahaya hijau. Terdengar suara Bu Eng Jin.

"Di mana kakakku sekarang?" Ciok Giok Yin tertegun. "Siapa?"

"Bun It Coan."

"Dia adalah kakakmu?" "Ya."

Ciok Giok Yin tidak berani memberitahukan hal sebenarnya. "Aku tidak begitu jelas," sahutnya berdusta.

"Apakah dia dalam bahaya?" "Tidak."

Seusai menyahut Ciok Giok Yin merasa amat berduka dalam hati, sebab dia telah membohongi mereka berdua ayah dan anak. Mendadak Bu Eng Jin bergumam.

"Mudah-mudahan begitu!"

Usai bergumam, gadis itu berkata. "Kau pergilah!"

"Nona, bolehkan aku bertanya?"

Ternyata Ciok Giok Yin ingin tahu sedikit tentang Liok Bun, dan mengapa Bun It Coan meninggalkan Liok Bun. Akan tetapi walau dia bertanya berulang kali, tetap tiada sahutan. Itu membuktikan bahwa Bu Eng Jin sudah meninggalkan tempat itu. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Berselang sesaat barulah dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ketika melewati tulang belulang Bu Lim Sam Siu, Ciok Giok Yin berhenti lalu memberi hormat. Setelah itu barulah dia melangkah ke depan lagi. Tak lama kemudian dia sudah berada di mulut lorong yang disumbat dengan batu besar. Dia menggeser batu besar itu sekaligus melesat ke luar. Di saat bersamaan batu besar itu pun tertutup kembali. Sedangkan Ciok Giok Yin terus melesat pergi. Ketika dia menikung di sebuah tebing mendadak melihat beberapa sosok mayat tergeletak di tanah. Di pungung mayat-mayat itu tertancap sebuah panji kecil bergambar seekor naga putih. Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Perkumpulan apa pula itu?

Tanyanya dalam hati. Dia memperhatikan semua mayat itu tiada satupun yang dikenalnya. Setelah berdiri termangu- mangu sejenak, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi. Kini tujuannya adalah Tiang Cing Kok di Gunung Liok Pan San. Dia ingin menemui Thian Thong Lojin lagi untuk menanyakan ke mana dia harus mencari Bu Keng Sui.

Setelah meninggalkan Gunung Lu Liang San, dia mengambil arah barat. Mendadak tampak beberapa sosok bayangan melesat ke arahnya. Ciok Giok Yin segera berhenti. Ternyata yang melesat itu adalah Sin Ciang-Yo Sian, Kang Sun Fang ketua partai Heng San Pay dan beberapa orang lainnya. Mereka berbareng menghadang di depan Ciok Giok Yin. Kang Sun Fang menjura pada Ciok Giok Yin sambil berkata.

"Siauhiap telah menyelamatkan para ketua delapan partai besar, termasuk lohu sendiri. Di sini kami mengucapkan terimakasih pada siauhiap."

Ciok Giok Yin melihat mereka tidak berniat buruk, maka segera balas memberi hormat seraya menyahut.

"Cianpwee jangan berkata begitu! Mohon tanya mengapa Li Mong Pai dan lainnya berada di sini?"

Sepasang bola mata Sin Ciang-Yo Sian berputar sejenak, kemudian dia menyahut dengan suara dalam.

"Ciok siauhiap, kami ingin tahu tentang tiga orang." "Siapa ketiga orang itu?"

"Kau pasti kenal." "Silakan katakan!" "Bu Lim Sam Siu." "Bu Lim Sam Siu?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak hingga berdebar-debar dan seketika wajahnya berubah menjadi murung. Namun apakah dia harus memberitahukan tentang kematian Bu Lim Sam Siu atau tidak, masih belum ada keputusan. Sebab dia belum tahu jelas, maksud tujuan kedatangan mereka. Sedangkan Sin Ciang-Yo Sian menyahut,

"Tidak salah."

"Bagaimana Bu Lim Sam Siu?" "Kau tahu jejak mereka bertiga." Ciok Giok Yin tertegun.

"Bagaimana aku tahu jejak mereka bertiga?" "Harap kau bersedia mengatakannya!"

Ciok Giok Yin mulai gusar. "Apa maksud Anda?"

"Sederhana saja. Kami sedang mencari Bu Lim Sam Siu."

"Kalian mencari Bu Lim Sam Siu adalah urusan kalian, tiada hubungannya dengan diriku! Maaf, aku mau pergi!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi, mendadak belasan orang itu membentak dengan serentak.

"Berhenti!"

Di saat bersamaan merekapun mendorong Ciok Giok Yin dengan lwee kang, otomatis membuatnya terdorong ke belakang selangkah. Tentunya Ciok Giok Yin amat murka. "Kalian ingin mengeroyokku?" katanya dengan dingin. Sin Ciang-Yo Sian maju selangkah seraya menyahut. "Tiada maksud demikian."

Ciok Giok Yin menatap Kang Sun Fang, lalu menatap Sin Ciang-Yo Sian seraya membentak.

"Kalian tidak usah menyembunyikan ekor, mau bicara apa bicaralah!"

"Tetap pertanyaan tadi, jejak Bu Lim Sam Siu!" "Tidak dapat kukatakan!"

"Kau tidak mau mengatakannya?" "Betul!"

Mendadak Kang Sun Fang, ketua Heng San Pay maju tiga langkah seraya berkata dengan rasa tidak enak.

"Ciok Siauhiap, agar tidak menimbulkan kerepotan, lebih baik katakanlah!"

"Sesungguhnya ada apa gerangan dengan kalian?"

"Tiga bulan yang lalu mereka bertiga menguntitmu ke arah utara. Selanjutnya mereka tidak tampak lagi. Mungkin Ciok siauhiap tahu jejak mereka."

"Tidak salah!"

Sin Ciang-Yo Sian segera bertanya. "Berada di mana mereka sekarang?" "Maaf! Tidak dapat kukatakan!"

"Kau yang mencelakai mereka bertiga?" Ciok Giok Yin mendengus dingin. "Hmmm! Melainkan kau!"

Saat ini wajah Ciok Giok Yin sudah penuh diliputi hawa membunuh.

"Bocah, hari ini kau harus meninggalkan nyawamu!" bentak Sin Ciang-Yo Sian.

Dia langsung menyerang. Ciok Giok Yin berkelit sambil membentak.

"Kalian ingin bertarung?" "Terpaksa harus!"

Seketika terasa angin pukulan menerjang ke arah Ciok Giok Yin, namun Kang Sun Fang justru tidak turun tangan. Ciok Giok Yin sungguh-sungguh murka,

"Kalian semua tergolong orang gagah, tapi malah tidak tahu aturan!" bentaknya sengit.

Dia langsung melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus pertama. Terdengar suara jeritan dan tampak seseorang terpental tiga langkah jauhnya lalu roboh. Untung Ciok Giok Yin tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya, maka orang itu tidak binasa. Setelah melancarkan pukulan itu, Ciok Giok Yin pun berseru.

"Sampai jumpa!"

Tampak badannya berkelebat beberapa kali, tahu-tahu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Di saat Ciok Giok Yin melesat pergi, dia pun berpikir. Mengapa Bu Lim Sam Siu menguntitnya? Apakah mereka semua saling memberi kabar secara diam-diam? Ciok Giok Yin tidak menemukan jawabannya, membuat hatinya seperti terganjal sesuatu.

Sebetulnya dia boleh memberitahukan, namun itu menyangkut rahasia Liok Bun. Lagi pula nada pembicaraan Sin Ciang-Yo Sian amat menekannya, sehingga menimbulkan kemurkaannya. Oleh karena itu dia boleh bersalah terhadap mereka, tapi tidak boleh mengatakannya. Ciok Giok Yin terus melesat pergi. Mendadak dilihatnya delapan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang menggotong sebuah peti mati. Seketika darahnya langsung naik.

"Berhenti!" bentaknya gusar.

Ciok Giok Yin lalu menghadang di hadapan mereka.

Para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu langsung berseru kaget.

"Ciok Giok Yin!"

Mereka segera menaruh peti mati itu, kemudian menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian. Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Tidak salah!" sahutnya lalu bertanya, "Peti mati siapa itu?" "Peduli amat kau peti mati siapa itu?" sahut salah seorang

anggota perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Aku harus bertanya!" "Kau mau cari mampus?"

Usai berkata mereka berdelapan berpencar mengepung Ciok Giok Yin, bahkan kelihatan siap menyerangnya.

"Kalian katakan tidak?" bentak Ciok Giok Yin lagi. "Tidak!"

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia langsung maju sambil mencengkeram orang yang berbicara itu. Menyaksikan itu yang lain segera membentak sambil melancarkan pukulan ke arah Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin menangkis. Seketika terdengar suara jeritan dan tampak dua orang roboh binasa. Di saat bersamaan terdengar suara dengusan dingin di belakang Ciok Giok Yin.

"Hmmm! Sungguh kejam kau!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Tampak seorang wanita memakai pakaian berkabung berdiri sejauh dua depa, sepasang matanya yang indah mengandung

kebencian. Mendadak salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee membungkukkan badannya seraya berkata.

"Nona, bocah itu. "

"Aku tahu," potong wanita itu. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin. "Mengapa kau menghadang kami?"

"Aku ingin tahu siapa yang di dalam peti mati!" sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Tidak ada urusan denganmu!" "Aku cuma ingin tahu!"

"Kalau aku tidak mau beritahukan?"

"Jangan harap bisa meninggalkan tempat ini!"

Wajah wanita berpakaian berkabung langsung berubah menjadi dingin.

"Aku ingin mencoba berapa tinggi kepandaianmu, berani menentang perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Ketika wanita berpakaian berkabung baru ingin melancarkan serangan, mendadak tampak sesosok bayangan hitam melayang turun dan langsung berseru.

"Nona, biar lohu saja!"

Mendengar seruan itu, wanita berpakaian berkabung segera mundur. Sedangkan Ciok Giok Yin menoleh memandang bayangan hitam itu, ternyata adalah seorang lelaki berusia lima puluhan, bajunya bersulam sepasang burung walet

putih. Setelah memperhatikan orang tua itu. Ciok Giok Yin teringat siapa orang tua tersebut, tidak lain adalah orang yang membawa pergi mayat Bun It Coan. Bersamaan itu dia pun sudah dapat menduga identitas wanita berpakaian

berkabung. Seketika hawa amarahnya bergejolak di rongga dadanya, kemudian dia membentak wanita berpakaian berkabung.

"Siapa kau?"

"Kuberitahukan agar kau tidak mati penasaran. Aku adalah putri angkat ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, bernama Lan Lan!" sahut wanita berpakaian berkabung dingin.

Ternyata Lan Lan dan Hui Hui adalah putri angkat ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Wajah Ciok Giok Yin langsung menyiratkan hawa membunuh.

"Tak kusangka kita akan bertemu di sini. Aku akan menuntut balas kakak angkatku itu!" katanya sambil tertawa getir.

Dengan sepasang mata berapi-api dia berjalan maju selangkah demi selangkah. Dia sudah mengerahkan tenaga sakti Kan Yen Sin Kang yang diperolehnya dari Liok Bun, ingin membunuh wanita jalang itu. Menyaksikan itu sekujur badan Lan Lan menjadi merinding, sehingga tanpa sadar dia mundur selangkah.

"Kau bilang apa?" tanyanya.

Justru di saat bersamaan orang tua berpakaian hitam yang baru muncul itu segera berdiri di samping Lan Lan. Ciok Giok Yin berhenti lalu menyahut sengit.

"Wanita jalang, aku mau membunuhmu!" "Berdasarkan apa?" "Kau telah mencelakai kakak angkatku!" "Siapa kakak angkatmu itu?"

"Bun It Coan!" "Bun it Coan?"

Air muka Lan Lan langsung berubah, kemudian dia tertawa sedih dan air mata berderai-derai. Kemudian dia bertanya dengan suara gemetar.

"Ciok Giok Yin, kau boleh turun tangan!"

Mendengar itu Ciok Giok Yin malah menjadi tertegun di tempat.

"Nona, kau..." kata orang tua berpakaian hitam dengan kepala tertunduk.

"Kau tidak usah pedulikan ini, harus tetap melaksanakan rencana semula," kata Lan Lan dengan mata terpejam.

Mendadak dalam benak Ciok Giok Yin terlintas suatu pikiran, apakah dia sedang menggunakan siasat menyiksa diri, karena tahu dirinya tidak dapat melawanku? Setelah berpikir demikian, dia langsung membentak.

"Aku tidak akan melepaskanmu!"

Ciok Giok Yin melangkah maju lagi sambil mengerahkan lwee kangnya, sehingga jarak mereka berdua semakin dekat. Akan tetapi Lan Lan tetap berdiri di tempat, sama sekali tidak bergeming. Itu membuat Ciok Giok Yin berhenti. Biar bagaimana pun dia tidak akan turun tangan terhadap wanita yang tidak mau melawan. Sebab kalau tersiar di dunia persilatan, namanya pasti rusak dan kakak angkatnya juga tidak akan merasa senang di alam baka. Oleh karena itu dia menuding Lan Lan seraya membentak.

"Kalau kau tidak menyerang, jangan menyalahkanku!" Mendadak orang tua berpakaian hitam yang berdiri di samping Lan Lan bertanya dengan suara dalam.

"Kau mau balas dendam?" "Tidak salah!"

"Kau tahu siapa yang di dalam peti mati?" "Siapa?"

"Dia adalah musuh besar Bun It Coan kakak angkatmu itu!"

"Hah?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan. Setelah itu dia termundur-mundur tiga langkah.

Justru di saat bersamaan Lan Lan menangis tersedu-sedu, lalu melesat pergi laksana kilat. Dalam waktu sekejap gadis itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Ciok Giok Yin ingin melesat pergi mengejarnya, tapi orang tua berpakaian hitam itu segera menghadang, di hadapannya

"Tunggu!" katanya.

"Ada apa?" tanya Ciok Giok Yin dingin.

"Kuberitahukan, Nona kami sudah meninggalkan perkumpulan Sang Yen Hwee secara diam-diam karena tidak puas akan perbuatan ayah angkatnya. Begitu pula lohu, sudah meninggalkan perkumpulan itu."

"Benarkah begitu?" "Tidak salah."

"Apa maksudmu tadi mengatakan di dalam peti mati adalah musuh besar kakak angkatku?"

"Tentunya kau telah menyaksikan wajah nona kami, karena ada Khong Khong Hu (Wisma Kosong). " "Khong Khong Hu?" tanya Ciok Giok Yin tak tertahan.

Ternyata Ciok Giok Yin pernah mendengar 'Khong Khong Hu' dari Fang Jauw Cang. Namun sudah setengah tahun lebih tidak mendengar orang lain mengatakan. Tak terduga sekarang mendengar dari mulut orang tua berpakaian hitam. Orang tua berpakaian hitam melanjutkan.

"Khong Khong Hu dan perkumpulan Sang Yen Hwee punya hubungan erat, bahkan juga saling memberi informasi secara diam-diam. Majikan Khong Khong Hu punya dua putra, yang sulung kau pernah bertemu setengah tahun yang lalu, pemuda itu bernama Sun Bu. "

"Hah? Ternyata dia?" seru Ciok Giok Yin kaget. "Kenapa dia?"

"Sun Bu amat tertarik pada paras nona yang cantik itu, sudah barang tentu menaruh cemburu pada kakak angkatmu. Maka dia menggunakan berbagai macam rencana busuk untuk mencelakainya. Nona tahu itu, maka ingin membasmi Sun Bu, tapi tidak tahu harus bagaimana membasminya. Kebetulan Sun Bun suka minum arak dan hidangan lezat. Karena itu timbul suatu ide dalam benak nona, maka menyiapkan arak dan beberapa macam hidangan di dalam kamarnya. Karena setiap kali Sun Bu pergi mencarinya, pasti makan minum di dalam kamar nona. "

Orang tua berpakaian hitam menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan penuturannya.

"Tak disangka hari itu Sun Bu tidak pergi mencari nona, sebaliknya malah kakak angkatmu yang pulang dan langsung makan dan minum. Ketika merasa adanya gelagat tidak beres kakak angkatmu langsung kabur dan kebetulan bertemu denganmu."

Orang tua berpakaian hitam menggeleng-gelengkan kepala, setelah itu melanjutkan lagi penuturannya. "Betapa hancurnya hati nona, karena telah meracuni suaminya sendiri! Ketika itu dia ingin membunuh diri, namun untung lohu berhasil menasihatinya, agar menuntut balas dendam suaminya."

Setelah mendengar penuturan itu , barulah Ciok Giok Yin paham, kemudian bertanya.

"Apakah nonamu yang membunuh Sun Bu?" "Yang ada di dalam peti mati adalah Sun Bu." "Lalu kalian mau ke mana sekarang?"

"Mengantar jenazah Sun Bu ke Khong Khong Hu secara diam- diam agar hubungan Khong Khong Hu dan Sang Yen Hwee terpecah belah."

Mendadak tampak air muka orang tua berpakaian hitam itu berubah.

"Celaka!" serunya.

"Ada apa?" tanya Ciok Giok Yin. "Nona kami entah ke mana?"

Orang tua berpakaian hitam langsung membantu yang lain menggotong peti mati itu, lalu melesat pergi. Ciok Giok Yin merasa menyesal, mengapa tidak membuka peti mati itu untuk memeriksanya? Siapa tahu mereka menipunya? Namun setelah berpikir sejenak, dia masih ingat akan kesedihan Lan Lan, tidak mungkin dibuat-buat. Beberapa saat dia berpikir, akhirnya mengambil keputusan untuk menyelidikinya kelak. Di saat dia baru mau melesat pergi, mendadak sesosok bayangan melesat laksana kilat ke hadapannya. Seketika Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Ternyata orang itu berdandan seperti sastrawan, yang mana pernah bertaruh dengannya di perkumpulan Pah Ong Cuang. "Kau..." seru Ciok Giok Yin kaget.

Ternyata dia tidak tahu nama sastrawan itu maka cuma memanggilnya 'Kau' saja. Sastrawan berusia pertengahan itu juga sudah melihat jelas Ciok Giok Yin.

"Akhirnya aku berhasil mencarimu," katanya. "Mencariku?"

"Ya."

"Ada urusan apa Anda mencariku?"

Sastrawan berusia pertengahan itu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam kemudian berkata,

"Kau telah membuat kekacauan, kini semakin besar!" Ciok Giok Yin terbelalak.

"Aku telah membuat kekacauan?" tanya Ciok Giok Yin terbelalak.

"Tidak salah."

"Harap Anda menjelaskannya! " "Kau sudah lupa?"

Ciok Giok Yin sungguh tidak tahu maksud tujuan orang itu. Dia segera berkata.

"Aku dan Anda cuma bertemu satu kali di perkumpulan Pah Ong Cuang, aku percaya. "

"Justru adalah urusan Pah Ong Cuang!" sela sastrawan berusia pertengahan.

Ciok Giok Yin mendengus dingin. "Hmm! Gara-gara perbedaan satu huruf. Aku memang menyesali itu! Lalu apa maksud Anda? Lebih baik Anda jelaskan!"

"Terkalah siapa aku!" "Aku tidak perlu tahu."

Walau Ciok Giok Yin berkata begitu, namun sastrawan berusia pertengahan itu tetap memberitahukan.

"Aku adalah pamannya Yu Ling Ling, namaku Yu Tong Keng." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Mengapa kau tidak ke rumah keluarga Yu?" lanjutnya.

"Aku tiada keperluan untuk ke sana!" "Kau ingin lepas tangan?"

"Karena Nona Yu bukan gadis yang kucari." "Sekarang kau harus ke sana!"

"Itukah alasan Anda mencariku?"

"Gara-gara kau menyelamatkan Ling Ling, membuat tiga puluh enam orangnya dibunuh oleh Pah Ong Cuang, kini tinggal Ling Ling seorang diri."

Setelah mendengar itu, air muka Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi hebat dan dia segera bertanya,

"Betulkah kejadian itu?"

"Buat apa aku membohongimu!"

Terbunuhnya tiga puluh enam keluarga Yu, secara tidak langsung memang akibat dari ulah Ciok Giok Yin. Sebab kalau Ciok Giok Yin tidak melakukan hal itu, tentunya keluarga Yu tidak akan dibantai oleh Pah Ong Cuang. Terdengar sastrawan berusia pertengahan itu berkata lagi. "Biar bagaimana pun kau harus pergi ke rumah keluarga Yu, karena tiada seorang pun yang dapat menghibur Ling Ling, maka kau harus ke sana menghiburnya.

Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar dan sepasang matanya membara. Dia kelihatan amat gusar.

"Di mana rumah keluarga Yu?" tanyanya sambil berkertak gigi.

Yo Tong Keng memberitahukan, setelah itu menambahkan.

"Ciok siauhiap, kau harus memberesi urusan itu, sebab kini Ling Ling sudah yatim piatu, tinggal sebatang kara, harap kau bisa baik-baik memperlakukannya!"

Apa yang dikatakan Yo Tong Keng itu sudah tidak masuk ke dalam. telinga Ciok Giok Yin, sebab dia sudah melesat ke arah rumah keluarga Yu. Sejak berhasil menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang, kepandaian Ciok Giok Yin menjadi maju pesat. Maka begitu mengerahkan ginkang, cepatnya bukan main! Sudah barang tentu membuat semua orang yang sedang terbelalak karena cuma melihat bayangan berkelebat lalu

hilang. Perjalanan sepanjang delapan puluh mil itu cuma ditempuhnya hampir dua jam. Kini rumah keluarga Yu sudah berada di depan matanya. Hati Ciok Giok Yin terus meledak sebab dari jauh dia sudah mendengar suara tangisan seorang gadis. Mungkin saking lamanya menangis, sehingga suara tangis itu kedengaran serak dan lemah. Hati Ciok Giok Yin berdebar-debar dan langkah kakinya menjadi lamban.

Dia sama sekali tidak tahu, harus bagaimana menghibur gadis itu. Juga tidak tahu harus bagaimana memperlakukannya, dan mengurusinya dikemudian hari. Tangis yang memilukan itu sungguh membuat hati Ciok Giok Yin bagaikan tersayat-

sayat. Lagi pula masih tampak mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, begitu pula noda darah. Memang pemandangan itu sungguh memilukan hati! Tampak sosok tubuh langsing merangkul sesosok mayat sambil menangis sedih. Ciok Giok Yin mendekatinya seraya berkata, "Nona Yu, jagalah kesehatanmu!"

Yu Ling Ling mendongakkan kepala. Ketika melihat Ciok Giok Yin, dia langsung membentak sengit.

"Gara-gara kau! Cepat enyah! Cepat!"

Suara bentakan itu membuat Ciok Giok Yin termundur beberapa langkah. Setelah itu dia manggut-manggut sambil berkata.

"Memang gara-gara aku tapi aku akan menuntut balas demi keluarga Yu yang berjumlah tiga puluh enam orang, bahkan harus berlipat ganda. Harap Nona baik-baik menjaga diri!"

Usai berkata Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah perkumpulan Pah Ong Cuang. Dalam hatinya cuma terdapat dendam. Saat ini kalau ada orang melihat wajahnya, pasti akan merasa seram dan bulu kuduknya pun berdiri. Sementara rembulan mulai bersinar remang-remang. Sedangkan di tempat-tempat tertentu mulai kelihatan menakutkan. Sesosok bayangan melesat laksana kilat ke perkumpulan Pah Ong Cuang. Siapa orang itu? Tidak lain adalah Ciok Giok Yin.

Kemunculannya di perkumpulan tersebut membawa dendam yang amat dalam.

Begitu tiba di pintu masuk Pah Ong Cuang, Ciok Giok Yin langsung menghantam pintu itu.

Blam!

Pintu itu hancur berkeping-keping. Di saat bersamaan muncullah belasan penjaga yang bertampang seram. Akan tetapi seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati dan darah muncrat ke mana-mana. Mayat pun mulai bergelimpang di tanah. Ciok Giok Yin menerobos masuk ke dalam. Sepasang matanya masih membara dan wajahnya tampak kehijau- hijauan. Dia langsung mencaci maki dengan suara lantang.

"Tua bangka, kau membunuh keluarga Yu berjumlah tiga puluh enam orang! Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa! Malam ini aku akan membuat perhitungan denganmu, bahkan kau harus membayar berlipat kali!"

Sementara para penjaga perkumpulan Pah Ong Cuang mulai bermunculan dan terdengar pula suara bentakan.

"Tangkap bocah haram itu!"

Namun di saat bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Ternyata Ciok Giok Yin sudah turun tangan membunuh mereka dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat. Mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Siapa berani cari gara-gara di perkumpulan Pah Ong Cuang?"

Tampak sosok bayangan tinggi besar melesat ke luar dari dalam rumah yang megah itu. Siapa orang itu? Ternyata adalah majikan Pah Ong Cuang. Begitu melihat orang itu, Ciok Giok Yin langsung berkertak gigi.

"Tua bangka, ganti nyawa keluarga Yu yang berjumlah tiga puluh enam orang, tapi harus berlipat ganda!" bentaknya sengit.

Dia maju selangkah demi selangkah. Sedangkan majikan Pah Ong Cuang sudah menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di tanah itu. Maka tidak heran kegusarannya menjadi memuncak. Dia mendengus dingin lalu berkata.

"Bocah, kau merebut menantuku! Hari ini kau harus mampus!"

Ketika majikannya baru mau menyerang, mendadak Ciok Giok Yin menerjang ke arahnya. Ternyata dia telah mengerahkan ilmu Kan Yen Sin Kang. Tampak telapak tangannya berkelebat dan terdengar suara jeritan yang mendirikan bulu kuduk.

"Aaaakh!" Majikan Pah Ong Cuang yang mau melancarkan serangan, sebaliknya malah terserang. Seluruh tulangnya remuk dan dagingnya pun hancur tidak karuan, kemudian roboh binasa seketika. Ciok Giok Yin tertawa seperti orang gila Kemudian dia melancarkan pukulan lagi ke arah para anak buah majikan Pah Ong Cuang. Terdengar lagi suara jeritan di sana-sini. Walau Ciok Giok Yin telah membunuh majikan Pah Ong Cuang dan dua puluh orang lebih, namun belum merasa puas. Dia ingin membunuh seluruh penghuni perkumpulan itu. Terdengar lagi suara jeritan. Setelah itu suasana di perkumpulan Pah Ong Cuang mulai hening. Namun tercium bau anyir yang amat menusuk hidung.

Di dalam perkumpulan Pah Ong Cuang sudah tergeletak empat puluh dua sosok mayat, yang semuanya binasa di tangan Ciok Giok Yin. Sesungguhnya dia bukan seorang pembunuh berdarah dingin. Dia melakukan pembantaian lantaran terpaksa, sebab urusan berawal dari dirinya yang merebut mempelai wanita. Seandainya dia tidak salah dengar satu huruf, tentunya tidak akan terjadi pertistiwa berdarah ini. Apakah ini merupakan suatu pembalasan? Memang sulit dikatakan. Lagi pula orang-orang perkumpulan Pah Ong Cuang selalu menindas penduduk setempat. Walau para penduduk setempat amat gusar, tapi tidak berani berbuat apa-apa.

Kini perkumpulan Pah Ong Cuang telah musnah. Sudah barang tentu para penduduk setempat bersorak girang dan merasa bersyukur. Sementara Ciok Giok Yin masih berdiri di dalam perkumpulan Pah Ong Cuang. Dia tertawa gelak lalu bergumam.

"Nona Yu, aku telah menuntut balas dendam keluarga kalian "

Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya. "Sungguh keji hatimu!"

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sebab ada orang berada di belakangnya, namun dia tidak tahu sama sekali. Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya. Kira-kira dua depa berdiri seorang berpakaian abu-abu, dan memakai kain penutup muka warna putih. Tentunya orang itu tidak dapat dilihat wajahnya, tapi tampak sepasang matanya menyorot tajam sekali. Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan peristiwa pembantaian di partai Thay Kek Bun. Dia masih ingat akan penuturan Lok Ceh, bahwa mereka dibunuh oleh orang berpakaian abu-abu dan memakai kain penutup muka warna putih. Bukankah orang yang berdiri di hadapannya berdandan demikian? Oleh karena itu Ciok Giok Yin membentak.

"Bagaimana?"

"Aku bilang hatimu amat keji!" sahut orang berpakaian abu- abu memakai kain putih penutup muka dengan dingin sekali.

"Kau peduli itu?"

"Aku memang ingin coba mempedulikannya!" "Sebutkan namamu!" bentak Ciok Giok Yin sengit.

Ternyata Ciok Giok Yin ingin tahu identitas orang itu melalui namanya, namun orang berpakaian abu-abu itu mendengus dingin.

"Hmm! Kau pantas mengetahui namaku?" Wajah Ciok Giok Yin langsung berubah. "Lihat aku pantas atau tidak?" bentaknya.

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melancarkan serangan, sekonyong-konyong orang berpakaian abu-abu berseru dingin.

"Tunggu!"

"Kau mau tinggalkan pesan apa?" tanya Ciok Giok Yin sengit. "Yang harus tinggalkan pesan adalah kau, bukan aku!"

Ciok Giok Yin tertawa dingin. "Aku memang menghendakimu tahu rasa!" "Punya kepandaian sebutkanlah namamu"

"Tentu saja boleh! aku adalah Hek Hong Sucia (Duta Angin Hitam)!"

"Hek Hong Sucia?" "Tidak salah!"

"Kau dari aliran mana?"

"Tentang itu kau tidak perlu tahu!" Berhenti sejenak, kemudian orang berpakaian abu-abu itu melanjutkan. "Mengapa kau membantai mereka?"

"Tentunya aku punya alasan!" "Katakan!"

"Aku tidak mau mengatakan!" "Kau berani tidak mengatakan?"

Ketika berkata, Hek Hong Sucia mengeluarkan sebatang panji hitam kecil bergambar seekor naga putih. Begitu melihat panji hitam kecil itu, Ciok Giok Yin teringat ketika baru meninggalkan Liok Bun. Di suatu tempat dia melihat beberapa sosok mayat yang punggungnya tertancap panji hitam tersebut. Tidak ragu lagi, pelaku itu pasti sehaluan dengan orang yang di hadapannya. Akan tetapi panji hitam yang tertancap di punggung mayat dibuat dari besi biasa. Sedangkan panji hitam kecil yang di tangan orang ini tampak bergemerlapan tertimpa sinar rembulan, berarti berbeda dengan panji hitam kecil lain.

Setelah menyaksikan panji hitam kecil yang di tangan Hek Hong Sucia, kegusaran Ciok Giok Yin langsung memuncak.

"Apakah mayat-mayat di luar Gunung Lu Liang San adalah hasil perbuatanmu?" "Tidak salah!"

"Ada dendam apa kau dengan mereka, sehingga kau membunuh mereka?"

"Kau tidak perlu menanyakan itu, cepat katakan urusanmu!" "Tidak akan kukatakan!"

"Sungguhkah kau tidak mau mengatakan?" "Sungguh!"

"Baik!"

Heng Hong Sucia segera bergerak bagaikan roh halus, menyerang dada Ciok Giok Yin dengan panji hitam kecil

itu. Ciok Giok Yin cepat-cepat mengerahkan tenaga sakti Kan Yen Sin Kang untuk melindungi sekujur badannya, sekaligus mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Tampak badan Hek Hong Sucia berkelebat. Dia berhasil menghindari serangan Ciok Giok Yin, tapi ujung panji hitam kecil itu tetap mengarah di dada Ciok Giok Yin. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Dia bergerak cepat mencelat ke belakang.

"Roboh!" bentak Hek Hong Sucia.

Kelihatannya Ciok Giok Yin akan terhantam serangan itu, namun mendadak seorang wanita berambut putih terurai menutup mukanya, meluncur laksana kilat ke tempat itu.