Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 05

 
Jilid 05

Cara menyalurkan darah ini tidak boleh dibuat main-main, sebab kalau kurang hati-hati, mereka berdua pasti celaka, bahkan mungkin akan mati. Akan tetapi, di saat bersamaan, terdengar suara siulan yang menyeramkan bergema menembus angkasa, dan tak seberapa lama kemudian, tampak sosok bayangan melayang turun di depan goa itu. Orang itu tertawa seram,

"Bocah jahanam, kau sungguh berani membohongiku Tui Beng Thian Cun! Aku akan mencincang kalian berdua!" bentaknya.

Sepasang matanya menyorot bengis ke dalam goa, kemudian dia berjalan ke dalam selangkah demi selangkah. Kini maut mulai mendekati Tiong Ciu Sin Ie dan Ciok Giok Yin. Saat ini sepasang mata Tiong Ciu Sin Ie berputar.

"Nak, kau cuma beristirahat saja! Segalanya ada aku," katanya rendah. Ciok Giok Yin tidak bisa bergerak dan bersuara, namun hatinya amat berduka sekali. Sementara Tui Beng Thian Cun tertawa seram lagi.

"Kalian berdua pasti mati!" katanya dengan suara parau.  Kini jarak mereka cuma satu depa lebih, sedangkan Tui Beng

Thian Cun sudah mengangkat sebelah tangannya.

"Kau bisa menyembuhkan satu orang, aku justru bisa membunuhmu!"

Di saat Tui Beng Thian Cun baru mau melancarkan pukulan, mendadak Tiong Ciu Sin Ie membentak keras. "Iblis! Terimaalh pukulanku!"

Ternyata Tiong Ciu Sin Ie melancarkan sebuah pukulan ke arah Tui Beng Thian Cun.

Plak!

Tui Beng Thian Cun sama sekali tidak menyangka, bahwa dalam keadaan seperti itu Tiong Ciu Sin Ie masih mampu melancarkan pukulan yang begitu dahsyat, otomatis membuatnya termundur dua langkah. Sedangkan Tiong Ciu Sin Ie juga mengucurkan keringat dingin, sebab kedua ujung pipa kecil itu nyaris tercabut.

Tui Beng Thian Cun tertawa seram, dan mulai melangkah maju, namun ketika dia baru mengangkat sebelah tangannya, mendadak serangkum angin yang amat kuat dan tajam, menerjang ke arah punggungnya. Apabila dia melancarkan pukulannya ke arah Tiong Ciu Sin Ie, tentu dia juga akan binasa oleh terjangan angin serangan itu. Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, maka dia terpaksa harus berkelit ke samping, sehingga batal melancarkan pukulan

itu. Tui Beng Thian Cun membalikkan badannya, sepasang matanya menyorot bengis menatap ke luar, namun tidak tampak seorang pun di sana.

"Kalau punya kepandaian, cepat muncullah!"

Namun tiada tersahut. Di luar hanya terdengar suara desiran angin. Karena itu, dia segera rnenghadap ke arah Tiong Ciu Sin Ie, siap melancarkan pukulan. Namun ketika dia mengangkat sebelah tangannya, mendadak terasa lagi ada serangkum angin menerjang ke arah punggungnya. Bukan main terkejutnya Tui Beng Thian Cun! Dia langsung melesat ke luar. Namun di luar goa, dia tetap tidak melihat siapapun di sana. Tentunya saja dia amat gusar, sehingga wajahnya yang seram itu bertambah menyeramkan.

"Dasar kunyuk tak tahu diri!"

Mendadak tampak sosok bayangan merah melayang turun di hadapan Tui Beng Thian Cun, dan terdengar pula suara bentakan kasar.

"Dasar anjing kurap buta!"

Begitu melihat bayangan merah, seketika Tui Beng Thian Cun berseru kaget.

"Heng Thian Ceng!" "Tidak salah!"

"Kau berani turut campur urusanku?" "Memang itu maksudku!"

"Siluman wanita, kau ingin cari daun muda?"

Ucapan itu sungguh menggusarkan Heng Thian Ceng, sehingga wajahnya yang buruk itu bertambah buruk.

"Kau cari mati!" bentaknya.

Heng Tian Ceng melancarkan tiga pukulan. Bukan main cepatnya! Tui Beng Thian Cun menangkis sekaligus balas menyerang, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit. Mereka berdua merupakan tokoh dunia persilatan yang berkepandaian amat tinggi. Angin pukulan mereka membuat saju beterbangan bagaikan terhembus angin topan. Sementara itu di dalam goa, wajah Tiong Ciu Sin Ie tampak semakin kuning, nafasnya memburu dan kesadarannya mulai

kabur. Sedangkan wajah Ciok Giok Yin, makin lama makin memerah.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa pusing. Dia tahu bahwa penyaluran darah itu telah cukup, maka cepat-cepat mencabut pipa kecil itu, sekaligus menempelkan koyok pada bekas tancapan pipa di lengannya. Namun ujung pipa kecil itu justru masih mengucurkan darah. Hati Ciok Giok Yin tersentak. Dia cepat-cepat mencabut ujung pipa yang menancap di lengan Tiong Ciu Sin Ie, lalu menempelkan koyok pada bekas itu. Di saat bersamaan, Tiong Ciu Sin Ie roboh. Seketika CiokGiok Yin menangis meraung-raung, terus memanggil Tiong Ciu Sin Ie.

"Kakek Tua! Kakek Tua..." Suaranya amat memilukan. Beberapa saat kemudian Tiong Ciu Sin Ie membuka matanya,

namun tampak suram sekali. Perlahan-lahan kakek tua itu

mengangkat sebelah tangannya, lalu membelainya sambil tersenyum.

"Nak, tidak sia-sia aku membesarkanmu, akhirnya kau akan berhasil menguasai ilmu silat tinggi keluarga Ciok kalian..."

"Kakek Tua, kenapa keluarga Ciok?" tanya Ciok Giok Yin terisak-isak.

"Setelah kau berjumpa Can Hai It Kiam, pasti tahu!" "Bolehkah Kakek Tua memberitahukan padaku?" "Tidak boleh."

"Mengapa?"

"Tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakai dirimu. Kau... kau..."

Bibir Tiong Ciu Sin Ie mulai kaku. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin sudah tahu apa yang akan terjadi. Maka dia langsung menangis dengan air mata bercucuran.

"Kakek Tua! Kakek Tua tidak boleh pergi. "

Mendadak wajah Tiong Ciu Sin Ie tampak bercahaya, pertanda ajalnya telah tiba.

"Nak, aku telah menyalurkan kecerdasanku melalui darahku padamu. Kini kau memiliki dua kecerdasan, maka gampang sekali bagimu belajar kungfu apapun."

Ketika Ciok Giok Yin ingin membuka mulut, Tiong Ciu Sin Ie menggelengkan kepala agar dia diam.

"Kini aku cuma bisa memberitahukamu satu urusan," lanjutnya.

"Urusan apa?"

"Carilah Seruling Perak!" "Seruling Perak?"

"Biar bagaimanapun, benda itu harus kau peroleh."

Untuk keempat kalinya Ciok Giok Yin mendengar tentang Seruling Perak. Tentunya Seruling Perak tersebut bukan merupakan benda biasa.

Karena hatinya terlampu berduka, maka Ciok Giok Yin lupa bertanya, harus diserahkan kepada siapa kalau sudah memperoleh Seruling Perak itu. Seandainya dia bertanya demikian, tentu akan tahu asal usulnya. Tubuh Tiong Ciu Sin Ie menggigil sebentar.

"Nak, di dalam bajuku terdapat beberapa obat, keluarkanlah!"

Dengan air mata bercucuran, Ciok Giok Yin mengeluarkan obat-obat tersebut dari dalam baju Tiong Ciu Sin Ie.

"Semua itu merupakan obat mujarab, kau harus baik-baik menyimpannya, agar dapat menolong orang lain. Terutama obat Giok Ju (Susu Perak), itu merupakan obat yang paling mujarab, kau harus simpan baik-baik!" kata kakek tua itu.

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu memasukkan semua obat itu ke dalam bajunya. Dia tahu bahwa Tiong Ciu Sin Ie sudah tiada harapan lagi.

"Di daalm saku baju dalamku, terdapat secarik kertas. Pada kertas ini tercantum Hong Lui Sam Ciang (Tiga Jurus Ilmu Pukulan Angin Geledek), anggaplah hadiah dari kakek!" kata kakek tua itu. Suaranya bertambah lemah. "Hong Lui Sam Ciang?"

"Tidak salah, cepatlah kau ambil!"

Ciok Giok Yin menurut, dan segera merogoh ke dalam saku baju dalam Tiong Ciu Sin Ie, mengeluarkan secarik kertas kumal.

Di kertas kumal itu memang tercantum ketiga jurus ilmu pukulan tersebut. Dia terus membaca karena hatinya amat tertarik. Mendadak terdegar suara Tiong Ciu Sin Ie.

"Nak, kertas kumal itu kuperoleh dari orang yang tak kukenal. Aku menyembuhkan lukanya, lalu dia menghadiahkan kertas kumal itu padaku. Aku pernah mencoba mempelajarinya, namun tidak berhasil, maka kusimpan baik-baik hingga saat ini. Kau pernah makan buah Ginseng Daging, mungkin kau akan berhasil menguasai Hong Lui Sam Ciang itu." Nafasnya semakin memburu, maka dia beristirahat sejenak.

"Nak, Hong Lui Sam Ciang amat lihay dan dahsyat. Cobalah kau berlatih sekarang, siapa tahu berguna bagimu!" lanjurnya.

Saat ini, luka dalam yang diderita Ciok Giok Yin telah sembuh, begitu pula luka di bahunya. Bahkan lwee kangnya telah bertambah tinggi. Itu karena dia memperoleh darah dari Tiong Ciu Sin Ie, maka membuat lwee kangnya bertambah

tinggi. Ciok Giok Yin menurut, lalu bangkit berdiri dan mulai berlatih Hong Lui Sam Ciang itu.

Jurus pertama Terbang! Jurus kedua Terjang!

Jurus ketiga Menggelegar!

Kini kecerdasan Ciok Giok Yin melebihi orang biasa, namun masih sulit baginya menyelami ketiga jurus itu. Sementara Tiong Ciu Sin Ie memandang Ciok Giok Yin dengan penuh harapan. Itu membuat hati Ciok Giok Yin tersentak, karena itu, dia mulai berlatih jurus pertama. Begitu mulai berlatih, dia merasa lwee kangnya terus mengalir. Demi menghibur Tiong Ciu Sin Ie, Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya. Mendadak badannya mencelat ke atas lalu tampak bayangan berkelebatan dan terdengar suara menderu-deru bagaikan suara angin geledek.

Bum!

Daar!

Dinding goa itu hancur berantakan, sehingga menimbulkan debu beterbangan. Selanjutnya Ciok Giok Yin mulai berlatih jurus kedua. Itu membuat darahnya seakan terbalik dan matanya menjadi berkunang-kunang. Di saat itulah mendadak Tiong Ciu Sin Ie tertawa terbahak-bahak, namun suara tawanya makin lama makin lemah, kemudian berkata terputus- putus.

"Nak... aku... aku... sudah... lega. "

Bibinya masih bergerak, tapi sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Akhirnya bibirnya tidak bergerak sama sekali, ternyata nafasnya telah putus. Tiong Ciu Sin Ie yang hidupnya cuma mengobati orang, akhirnya justru harus mati begitu mengenaskan. Namun dia merasa puas, karena terakhir masih dapat menolong Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin Iangsung menangis meraung-raung, dan tak lama air matanya mulai berubah menjadi kemerah-merahan. untuk kedua kalinya dia menangis hingga mengeluarkan air mata darah. Sesungguhnya Tiong Ciu Sin Ie masih ingin menyaksikan jurus kedua yang dilatih Ciok Giok Yin, tapi kondisi badannya sudah tak mengijinkannya. Meskipun begitu, dia tetap merasa puas karena Ciok Giok Yin telah menguasai jurus pertama.

"Kakek Tua! Kakek Tua. "

Ciok Giok Yin terus menangis sambil meratap memanggil Tiong Ciu Sin Ie. Akan tetapi, Tiong Ciu Sin Ie sudah tidak mendengar lagi, karena dia sudah meninggal. Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara desiran angin, dan berkelebat sosok bayangan wanita ke dalam goa. Wanita itu berambut panjang, namun wajahnya sangat buruk. Siapa wanita berambut panjang buruk rupa itu? Tidak lain adalah Yap Ti Hui. Berselang sesaat, barulah dia berkata dengan dingin.

"Kalaupun kau menangis hingga mati tetap tiada gunanya! Kini musuh besar berada di depan mata, lebih baik kau cepat- cepat menguburnya, kemudian membalas dendamnya!"

Ciok Giok Yin langsung berhenti menangis. "Terima kasih atas petunjuk Nona," katanya.

Ciok Giok Yin segera menggali sebuah lubang, lalu mengubur mayat Tiong Ciu Sin Ie. Setelah itu dia bersujud di hadapan kuburan itu dengan air mata bercucuran.

"Kakek Tua, Anak Yin pasti membalas dendammu."

Sepasang mata Ciok Giok Yin membara. Tiba-tiba dia bersiul panjang, kemudian melesat ke luar. Sedangkan Yap Ti Hui sudah tidak kelihatan. Namun dia melihat Heng Thian Ceng dan Tui Beng Thian Cun berada di tempat puluhan depa. Kedua orang itu berdiri berhadapan dengan tangan dijulurkan ke depan. Ciok Giok Yin tahu, mereka berdua sedang mengadu lwee kang. Cara bertarung seperti itu, sungguh amat bahaya sekali. Sebab siapa yang mengendurkan lwee kangnya, pasti akan mati seketika. Ciok Giok Yin memang telah berjumpa Heng Thian Ceng beberapa kali, tapi dia tidak menghendaki Heng Thian Ceng yang membunuh Tui Beng Thaln Cun. Biar bagaimanapun, Tui Beng Thian Cun harus mati di tangannya, agar Tiong Ciu Sin Ie dapat tenang di alam baka. Oleh karena itu, dia menggeram sambil melesat ke tempat itu. Tanpa menghiraukan Heng Thian Ceng dia akan menerjang ke arah Tui Beng Thian Cun.

"Iblis Tua! Serahkan nyawamu!" bentaknya.

Ciok Giok Yin menyerang Tui Beng Thian Cun dengan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Sementara Tui Beng Thian Cun masih mengadu lwee kang dengan Heng Thian Ceng. Apabila ditambah Ciok Giok Yin, bukankah. Akan tetapi, Tui Beng

Thian Cun yang sudah berpengalaman, masih sempat berkelit ke samping.

"Song Hong Ciang!" serunya.

"Tidak salah! Ternyata matamu belum buta!"

Kehadiran Ciok Giok Yin yang mendadak, membuat Tui Beng Thian Cun dan Heng Thian Ceng berhenti mengadu lwee kang.

Wajah Tui Beng Thian Cun penuh diliputi hawa membunuh. "Apa hubunganmu dengan Sang Ting It Koay?" bentaknya. "Beliau adalah suhuku!"

"Bagus! Lohu akan menghabisimu!"

Dia langsung menerjang ke depan. Tentunya Tui Beng Thian Cun punya dendam terhadap Sang Ting It Koay. Kalau tidak, bagaimana mungkin iblis tua itu melancarkan pukulan yang begitu dahsyat terhadap Ciok Giok Yin? Serangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Di saat bersamaan, terdengar pual suara bentakan.

"Berhenti!"

Ternyata Heng Thian Ceng yang membentak. Dengan wajah penuh kegusaran dia menatap Ciok Giok Yin.

"Bocah! Kau mau cari mampus?"

Bentakan itu membuat sifat aneh Ciok Giok Yin timbul. "Apa maksud lo cianpwee?" sahutnya dingin.

"Kau tidak tahu peraturan rimba persilatan?" "Peraturan apa?"

"Aku sedang bertarung dengannya, ada hubungan apa denganmu?" "Aku harus menuntut balas dendam Tiong Ciu Sin Ie, apakah aku tidak boleh turun tangan?"

"Kau mau menuntut balas juga harus beritahukan!" "Mengapa?"

"Kau tahu kok masih bertanya?"

Ciok Giok Yin kebingungan, sama sekali tidak tahu akan maksud Heng Thian Ceng. Begitu pula Tui Beng Thian Cun, maka dia berdiri termangu-mangu sambil menatap Heng Thian Ceng. Namun dalam hatinya, justru berharap mereka berdua bertarung. Tentunya yang akan memperoleh keuntungan adalah dirinya. Maka tidak mengherankan kalau hatinya terasa girang. Sedangkan Heng Thian Ceng membentak algi.

"Bocah, aku sedang bertarung dengan iblis tua itu, tapi secara mendadak kau turut campur! Bukankah iblis tua itu akan mengatakan kita berdua mengeroyoknya?" Dia berhenti sejenak, namun sepasang mataya menyorot bengis sekali.

"Kalau begitu, menangpun akan menanggung rasa malu! Cepatlah kau enyah dari sini!" lanjutnya.

Kini musuh besar berada di depan mata, bagaimana mungkin Ciok Giok Yin membiarkan Heng Thian Ceng turun tangan terhadap musuh besarnya itu? Dia segera memberi hormat pada Heng Thian Ceng seraya berkata angkuh.

"Harap lo cianpwee mundur dulu! Biar aku seorang diri menghadapi iblis tua itu."

Hong Thian Ceng tertegun.

Dia boleh dikatakan seorang wanita iblis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata. Selama ini belum pernah mendengar perkataan orang, dan juga belum pernah ada orang berbicara demikian padanya. Akan tetapi, sejak melihat Ciok Giok Yin, justru membuatnya tidak tahu harus bagaimana. Karena itu, setelah tertegun sejeak, dia mangguk- mangguk sambil melangkah ke belakang. Bukan main kesalnya Tui Beng Thian Cun! Sebab perhitungannya telah keliru, lagi pual dia tidak menyangka Heng Thaln Ceng akan menurut perkataan Ciok Giok Yin, itu sungguh diluar dugaan! Namun, diapun berlega hati, karena tidak usah bertarung dengan Heng Thian Ceng.

Sedangkan Ciok Giok Yin masih begitu muda. Seandainya berkepandaian tinggi, juga tidak akan menyamai kepandaiannya. Yakni, hanya dengan satu pukulan, pemuda itu pasti tergeletak tak bernyawa. Setelah itu, barulah menghadapi Heng Thian Ceng. Demikian pikir Tui Beng Thian Cun. Karena itu, dia tertawa terkekeh-kekeh sambil menatap Ciok Giok

Yin. Sementara wajah Ciok Giok Yin sudah diliputi hawa membunuh, sepasang matanya menyorot tajam penuh dendam.

"Iblis Tua, serahkan nyawamu!" bentaknya.

Ciok Giok Yin langsung bergerak. Angin pukulannya menderu- deru menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Dia harus membalas dendam Tiong Ciu Sin Ie, dan kegusaran otomatis membuat pukulannya bertambah dahsyat. Tui Beng Thian Cun berkelit dan dalam waktu sekejap, dia sudah balas menyerang dengan tiga pukulan. Bukan main dahsyatnya ketiga pukulannya!

Pesilat tinggi manapun tidak akan mampu menyambut ketiga pukulan itu.

Namun Ciok Giok Yin telah menerima saluran hawa murni dari Phing Phiauw Khek, dan menerima darah dari Tiong Ciu Sin Ie. Maka membuat lwee kangnya bertambah tinggi dan kecerdasannya berlipat ganda. Karena itu, dia berhasil mengelak ketiga pukulan yang dilancarkan Tui Beng Thian

Cun. Setelah itu, dia menyerang dengan dahsyat sekali, bahkan hawa pukulan semakin panas, sehingga membuat salju yang ada di sekitarnya langsung mencair.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Tui Beng Thian Cun, dan timbul pula rasa gentarnya. Dia sama sekali tidak menyangka, Ciok Giok Yin yang belum berusia dua puluh justru memiliki lwee kang dan kungfu yang begitu tinggi. Mulailah Tui Beng Thian Cun bertarung dengan hati-hati sekali, tidak berani meremehkan Ciok Giok Yin lagi.

Ciok Giok Yin yang ingin membalas dendam Tiong Ciu Sin Ie, semakin dahsyat melancarkan serangan-

serangannya. Mendadak pukulan yang dilancarkannya berubah seketika. Badannya mencelat ke atas dan tampak bayangannya berkelebatan, begitu pula pukulannya, menderu-deru tak henti- hentinya. Ternyata dia mengeluarkan jurus pertama Terbang dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak badan Tui Beng Thian Cun terpental ke atas, kemudian meluncur ke dalam rimba. Setelah mengeluarkan jurus itu, Ciok Giok Yin merasa hawa darahnya bergolak. Ketika melihat Tui Beng Thian Cun kabur, dia langsung membentak.

"Iblis tua, mau kabur ke mana?"

Badannya bergerak melesat ke dalam rimba mengejar Tui Beng Thian Cun. Akan tetapi, mendadak dua rangkum angin yang amat kuat menerjang ke arahnya, dan di saat bersamaan, terdengar pula suara yang amat dingin.

"Bocah, kali ini kau pasti mampus!"

Ciok Giok Yin segera berkelit, sekaligus membalikkan badannya. Ternyata Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah.

Begitu melihat kedua orang itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara, dan berkertak gigi hingga berbunyi gemeletuk.

Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menyorot bengis dan dingin, tertawa terkekeh-kekeh seraya berkata.

"Ciok Giok Yin, sebelum kau mati, kuberitahukan dulu bahwa aku adalah Tok Tiong Tong Cu dari perkumpulan Sang Yen Hwee, agar kau dapat melapor pada raja akhirat!"

Usai berkata, Tok Tiong Cu maju beberapa langkah. Namun, Ciu Kah segera menjura seraya berkata. "Tong Cu, biar aku yang membereskan bocah ini!"

Tok Tiong Tong Cu mengangguk, lalu menggeser ke samping. Ciu Kah segera maju ke hadapan Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, cepat serahkan Seruling Perak, aku akan bermohon pada Tong Cu agar mengampuni nyawamu!" bentaknya.

Ciok Giok Yin amat mendendam pada Sang Yen Hwee. Maka ketika mendengar bentakan Ciu Kah itu, kegusarannya makin memuncak.

"Siapa akan mengampuni nyawa anjingmu itu?" bentaknya.

Dia langsung menyerang Ciu Kah dengan sengit. Ciu Kah mendengus.

"Hmm! Cari mati!"

Dia juga melancarkan sebuah pukulan. Plak!

Terdengar suara benturan pukulan, masing-masing terpental ke belakang satu langkah. Kemudian kedua-duanya maju lagi, maka terjadi pertarungan yang amat seru. Ciok Giok Yin yang amat dendam pada Sang Yen Hwee, mendadak mengeluarkan jurus pertama ‘Terbang’ dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Terdengar suara jeritan, dan darah pun tampak

muncrat. Ternyata kepala Ciu Kah telah hancur, dan nyawanya pun melayang.

Ciok Giok Yin tertegun. Dia tidak menyangka jurus itu begitu dahsyat. Lalu bagaimana kedahsyatan jurus kedua dan jurus ketiga? Tentunya jauh lebih dahsyat dari jurus pertama itu. Di saat Ciok Giok Yin tertegun, tiba-tiba di depan dan di belakangnya terdengar suara seruan kaget. "Hong Lui Sam Ciang!"

Tampak bayangan Heng Thian Ceng berkelebat ke hadapan Ciok Giok Yin. Wajahnya yang buruk kelihatan amat menakutkan.

"Kau murid Kui Mo (Setan Iblis)?" bentaknya.

"Ada hubungan apa kau dengan Kui Mo?" sambung Tok Tiong Tong Cu. Seketika suasana di tempat itu berubah menjadi tenang mencekam. Kelihatannya apabila Ciok Giok Yin salah menjawab, Heng Thian Ceng dan Tok Tiong Tong Cu pasti akan menghadapinya. Namun tiba-tiba hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Mohon lo cianpwee bersabar sebentar, aku pasti memberitahukan!" sahut Ciok Giok Yin.

"Bocah! Kau jangan macam-macam!" bentak Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee harap berlega hati, aku tidak akan macam- macam!"

Heng Thian Ceng mendengus.

"Hmm! Bagaimana kau berani macam-macam terhadapku?" Dia mundur beberapa langkah, lalu berdiri di situ.

"Kau dan Kui Mo ada hubungan apa?" bentak Tok Tiong Tong Cu.

"Hubungan akan amat dalam." "Katakan!"

"Kalau aku tidak mau mengatakannya, kau berani berbuat apa?"

Tok Tiong Tong Cu mendengus dingin. "Hm! aku akan membuatmu mampus!" "Mampukah kau?"

Ciok Giok Yin telah membunuh Ciu Kah dengan jurus pertama itu, maka kini dia bertambah percaya diri. Apabila dia mengeluarkan jurus kedua dan jurus ketiga, Tok Tiong Tong Cu pasti mati! Dia amat membenci Tok Tiong Tong Cu, karena orang itu pernah memanahnya hingga membuat nyawanya nyaris melayang. Kalau tidak secara kebetulan bertemu Tiong Ciu Sin Ie, mungkin dia tiada harapan untuk hidup

terus. Sementara kegusaran Tok Tiong Tong Cu sudah memuncak.

"Dalam tiga jurus, aku akan suruh kau mampus secara mengenaskan!" katanya sepatah demi sepatah. Dia langsung menyerang Ciok Ciok Yin.

Ciok Giok Yin pernah merasakan kelihayan pukulan Tok Tiong Tong Cu, maka cepat-cepat berkelit. Akan tetapi, walau dia bergerak cepat, pihak lawan bergerak lebih cepat. Ketika dia berkelit, Tong Cu itu melancarkan beberapa pukulan dahsyat lagi ke arahnya. Justru di saat bersamaan, Ciok Giok Yin mengeluarkan jurus pertama Terbang dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Tok Tiong Tong Cu tahu akan kelihayan ilmu pukulan itu, maka dia tidak berani menyambutnya, melainkan berkelit. Tapi angin pukulan itu masih berhasil menyambar ular kecil yang melingkar di lengannya. Bukan main terkejutnya Tok Tiong Tong Cu, sehingga membuatnya mengucurkan keringat dingin. Mendadak Tok Tiong Tong Cu bersiul pendek. Ular kecil itu, langsung meluncur. Ciok Giok Yin yang belum berpengalaman, sama sekali tidak menyangka Tok Tiong Tong Cu akan menyerangnya dengan ular kecil. Dia ingin berkelit, tapi terlambat, karena ular kecil itu telah berhasil menggigit pahanya.

Seketika dia merasa separuh badannya kesemutan, akhirnya roboh di tanah. Tok Tiong Tong Cu tertawa terkekeh-kekeh. Dia mengangkat sebelah tangannya siap menghantam Ciok Giok Yin.

Namun mendadak terdengar suara bentakan gusar. "Kau berani?"

Ternyata Heng Thian Ceng telah melancarkan sebuah pukulan ke arah Tok Tiong Tong Cu, sedangkan sebelah tangan lagi melancarkan sebuah pukulan ke arah ular kecil yang menggigit paha Ciok Giok Yin.

Plak!

Terdengar suara benturan, dan seketika itu juga tampak Heng Thian Ceng terhuyung-huyung ke belakang. Sedangkan tangan Tok Tiong Tong Cu tetap di arahkan pada Ciok Giok Yin, kelihatannya Ciok Giok Yin akan mati di bawah tangan Tok Tiong Tong Cu, namun mendadak terdengar suara cacian yang amat dingin.

"Jadah! Sialan! Jahanam! Siapa yang sedang berkelahi?"

Dalam waktu bersamaan, muncul pula seseorang berpakaian compang-camping tidak karuan, ternyata seorang tua bongkok yang amat aneh. Di punggung orang tua itu bergantung sebuah guci arak yang amat besar, namun gerakannya amat cepat sekali, tahu-tahu sudah sampai di tempat itu. Tidak terlihat orang tua bongkok itu turun tangan, tapi terdengar Tok Tiong Tong Cu menjerit dan terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Bukan main gusarnya Tok Tiong Tong Cu! "Siapa kau?" bentaknya.

Orang tua bongkok menoleh memandang Heng Thian Ceng.

"Dia berkata pada siapa?" katanya dengan mata setengah terpejam.

"Kau!" sahut Heng Thian Ceng. "Berkata padaku?"

"Tidak salah!" Orang tua bongok itu seperti baru terdengar, lalu berpaling memandang Tok Tiong Tong Cu.

"Kau bertanya siapa aku?"

Tok Tiong Tong Cu adalah pesilat tinggi di perkumpulan Sang Yen Hwee, namun tidak dapat melihat jelas bagaimana cara orang tua bongkok turun tangan terhadap dirinya, itu membuatnya amat gusar sekali.

"Tidak salah!" sahutnya dengan dingin.

"Tapi aku tidak mau memberitahukan padamu!" "Kalau begitu, aku akan mencabut nyawamu!" Sepasang mata orang tua bongkok berkedip-kedip.

"Kau telah mengagetkan mimpi indahku, aku masih belum membuat perhitungan denganmu, sebaliknya kau malah ingin mencabut nyawa tuaku ini! Baik, aku akan menghajarmu!"

Entah bagaimana cara namun tua bongkok itu bergerak, tahu-tahu sudah terdengar suara.

Plak! Plak!

Ternyata pipi Tok Tiong Tong Cu telah ditampar dua kali, membuatnya berkunang-kunang, bahkan mulutnya menyemburkan darah segar. Sedangkan orang tua bongkok tetap berdiri di tempat semula.

"Hari ini aku orang tua tidak mau membunuh orang, cepatlah kau enyah!" katanya.

Sepasang mata Tok Tiong Tong Cu menyorot bengis dan penuh dendam.

"Sampai jumpa!" ucapnya. Kemudian dia bersiul pendek, dan ular kecil itu langsung meluncur ke arah lengannya. Setelah itu, barulah Tok Tiong Tong Cu melesat pergi. Orang tua bongkok sama sekali tidak menghiraukannya, melainkan mendekati Ciok Giok Yin yang duduk di tanah, kemudian mengambil guci arak di punggungnya, sekaligus meneguk beberapa kali.

"Kruk! Kruk! Kruk. "

Setelah itu, dia memandang Ciok Giok Yin, seketika mengeluarkan suara 'Ih' dan berkata.

"Kau seperti. " Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak

mungkin." lanjutnya.

Orang tua bongkok menatap Ciok Giok Yin sejenak, lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi. Sebetulnya Heng Thian Ceng ingin menghadangnya, tapi begitu melihat wajah Ciok Giok Yin sudah berubah menjadi kuning, dia segera mendekati pemuda itu seraya berkata.

"Bocah, kau telah digigit .oleh ular emas, maka harus cepat- cepat diobati."

Tentunya Ciok Giok Yin tahu bahwa ular emas itu amat beracun. Akan tetapi bagaimana. mungkin dalam waktu singkat dia bisa memperoleh bahan obat? Sebab dia hanya membawa obat Ciak Kim Tan, sama sekali tidak membawa obat pemunah racun. Namun apabila dalam waktu singkat tidak memperoleh bahan-bahan obat tersebut, maka Ciok Giok Yin pasti mati keracunan.

"Lo cianpwee, sekarang aku tidak bisa bergerak," kata Ciok Giok Yin.

"Maksudmu?" - •

"Kalau badanku bergerak, racun akan lebih cepat menjalar ke jantung, dan berarti tiada obat lagi."

"Lalu harus bagaimana?" "Harus... harus. "

Ciok Giok Yin berkata terputus-putus, membuat Heng Thian Ceng menjadi gusar sekali.

"Harus bagaimana? Cepat katakan!" bentaknya.

"Kalau lo cianpwee sudi membantu, tolong kempit diriku! Dalam waktu satu jam harus berhasil mencari bahan obat pemunah racun!" sahut Ciok Giok Yin.

Tanpa banyak berpikir, Heng Thian Ceng langsung mengangguk.

"Baiklah."

Ketika Heng Thian Ceng baru ingin mengempit badan Ciok Giok Yin, tiba-tiba berkelebat sosok bayangan putih ke tempat itu dan, terdengar pula suara yang amat dingin.

"Tunggu!"

Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng mendongakkan kepala. Ternyata pendatang itu adalah Yap Ti Hui.

"Nona ada pesan apa?" tanya Ciok Giok Yin. "Di mana peta Si Kauw Hap Liok Touwmu itu?" "Nona ingin memiliki peta itu?"

"Memang ada maksud demikian!"

Ciok Giok Yin merogoh ke dalam bajunya untuk mengeluarkan peta tersebut.

"Kuberikan padamu!" katanya sambil menyodorkan peta itu kepada Yap Ti Hui. Sesungguhnya Ciok Giok Yin tidak bermaksud memberikan peta tersebut pada Yap Ti Hui, sebab peta itu pemberian Ho Siu Kouw. Lalu mengapa dia menyodorkan peta itu? Ternyata dia akan menggunakan Sam Yang Hui Kang menghancurkan peta itu di saat Yap Ti Hui mengambilnya.

Akan tetapi Yap Ti Hui malah tertegun, sama sekali tidak menjulurkan tangannya mengambil peta tersebut.

"Kau simpan saja! Padahal aku cuma ingin mencobamu, sampai jumpa!" katanya lalu melesat pergi.

Sedangkan Heng Thian Ceng memandang Ciok Giok Yin dengan heran.

"Bocah, kau kenal dia?" katanya dengan suara rendah. "Pernah berjumpa dua kali."

"Kenapa dia tidak mau mengambil peta itu?" "Entahlah. Aku tidak jelas."

Tiba-tiba wajah Heng Thian Ceng yang buruk itu tampak aneh, sepertinya tersadar akan satu hal.

"Bocah, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu." "Silakan, locianpwe!"

"Pernahkah kau mencintai seorang anak gadis?" Wajah Ciok Giok Yin tampak kemerah-merahan. "Ti... tidak pernah," sahutnya tersendat-sendat. "Tidak benar!"

Ciok Giok Yin tercengang.

"Maksud lo cianpwee?" katanya sambil menatap Heng Thian Ceng. "Aku lihat gadis buruk rupa itu di wajahnya tidak tampak perasaan apapun. Mungkin karena wajahnya telah dirias. Tapi... dari sepasang matanya terlihat ada sedikit api cemburu."

Saat ini maut sedang mengancam diri Ciok Giok Yin, maka mana dia punya waktu untuk membicarakan hal tersebut?

"Lo cianpwee, tentang ini kita bicarakan kelak saja. Boleh kan?"

Heng Thian Ceng tampak tersentak.

"Ah! Aku justru telah melupakan urusan penting."

Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakang mereka.

"Dalam waktu satu jam, apakah kalian akan berhasil menemukan bahan obat itu?"

Heng Thian Ceng ingin membalikkan badannya, tetapi terdengar lagi suara yang amat dingin di belakangnya.

"Harap kau jangan membalikkan badan! Kalau tidak, begitu tanganku bergerak, nyawamu pasti melayang!"

Bukan main terkejutnya Heng Thian Ceng, sebab terasa sebuah tangan menekan jalan darah Leng Tay Hiatnya.

Sementara Ciok Giok Yin sudah tergeletak di tanah, sepertinya telah ditotok jalan darahnya hingga pingsan.

Hal itu amat memalukan, sebab Heng Thian Ceng berkecimpung di dunia persilatan sudah puluhan tahun, entah sudah beberapa banyak orang yang dibunuhnya. Namun kali ini, ada orang mendekatinya, dia justru tidak tahu sama sekali.

Dapat dibayangkan, betapa gusar dan penasarannya. "Siapa kau?" katanya. "Kau tidak perlu tahu!"

"Sebetulnya apa maksudmu berbuat begitu?"

"Hanya bermaksud baik, memberitahukan pada kalian bahwa dalam jarak lima puluh mil tidak ada bahan obat untuk memunahkan racun ular emas itu! Maka apabila ingin memunahkan racun ular emas itu, hanya merupakan mimpi belaka! Lagi pula dalam waktu satu jam kau tidak akan mampu melesat sejauh lima puluh mil!"

"Kau terus nyerocos, bukankah secara tidak langsung telah menyita waktu kami?" bentak Heng Thian Ceng.

"Tiada maksud demikian'!" "Lalu kau mau apa?"

"Aku bisa memunahkan racun ular emas itu!" "Tanpa pamrih atau punya maksud tertentu?"

Terdengar suara tawa cekikikan yang amat merdu dan sedap di dengar, kemudian terdengar suara yang dingin.

"Kau berhati sempit, tidak tahu maksud baik orang!" "Tapi, aku tidak percaya kata-katamu!"

"Bagaimana agar kau percaya?"

"Kalau kau bersedia memunahkan racun itu, tentunya dapat dimulai dari sekarang! Kenapa kau harus bertindak bersembunyi-sembunyi seakan takut terlihat orang?"

"Tentunya aku punya alasan." "Apa alasanmu?"

"Tak dapat kukatakan!" Suasana hening sejenak. Berselang sesaat, terdengar lagi suara yang dingin.

"Dia terkena racun ular emas, aku pasti menyembuhkannya!"

Mendadak Heng Thian Ceng merasa punggungnya ringan. Dia cepat-cepat membalikkan badannya. Dilihatnya sosok bayangan mengempit Ciok Giok Yin melesat pergi laksana kilat memasuki rimba, dan sekejap sudah hilang dari pandangan Heng Thian Ceng.

"Mau lari kemana!" bentak Heng Thian Ceng.

Dia juga melesat ke dalam rimba mengejar bayangan itu, namun bayangan itu sudah tidak kelihatan, itu membuat Heng Thian Ceng penasaran sekali. Perlu diketahui, Heng Thian Ceng malang melintang di dunia persilatan sudah puluhan tahun dan amat ditakuti golongan putih maupun golongan hitam. Namun kali ini dia betul-betul dipermalukan orang, sebab dia sama sekali tidak dapat melihat wajah orang itu, bahkan orang itu berhasil membawa pergi Ciok Giok Yin di depan hidungnya. Itu sungguh membuatnya merasa malu! Saking kesal dan penasarannya dia menghempaskan kakinya sehingga tanah menjadi berlubang.

Wajahnya yang buruk saat ini tampak bertambah

buruk. Berselang sesaat, barulah dia melesat pergi. Sementara itu, entah berapa lama kemudian, barulah Ciok Giok Yin siuman dari pingsannya. Terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.

"Kini racun ular emas itu telah punah."

Ciok Giok Yin terbelalak ketika mendengar ucapan itu. "Telah punah?"

"Tidak salah." "Siapa kau?" "Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)."

Seketika Ciok Giok Yin merinding, dan hatinya berdebar-debar tegang. Dia menengok ke kiri ke kanan. Akan tetapi karena keadaan di tempat itu gelap gulita, pandangannya cuma terbatas dalam satu depa.

Ketika dia ingin bangkit, mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Duduk!"

Bukan main terkujurnya Ciok Giok Yin! Bulu kuduknya bangun dan keringat dinginnya mengucur.

"Apakah aku sudah mati?" "Kau tidak mati."

"Kalau begitu, bagaimana aku berada di dalam kuburan?"

"Ini malam hari, saatnya roh-roh berkeliaran. Aku melihat kau tergigit oleh ular emas, maka aku menolongmu."

Seketika Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng. Di saat mereka berdua sedang membicarakan bahan obat tiba-tiba dia merasa pusing lalu pingsan.

Tidak disangka dia telah dibawa pergi oleh roh. Itu membuatnya merinding.

"Aku berterima kasih atas pertolonganmu, yang telah menyelamatkan nyawaku. Sekali lagi kuucapkan terima kasih."

Akan tetapi, terdengar sahutan dingin. "Tidak usah berterima kasih."

"Kau punya suatu permintaan?" Hening sejenak. Berselang sesaat, terdengar helaan nafas panjang.

"Aaah! Aku ingin hatimu." "Apa? Hati?"

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Ciok Giok Yin. Bahkan dia merasa takut dan seram, sebab roh wanita itu menghendaki hatinya. Coba pikir, kalau hati orang dicukil ke luar, apakah masih bisa hidup? Kalau begitu, roh wanita itu suka makan hati orang.... 

Terdengar suara yang amat dingin itu. "Kau berikan tidak?"

"Ini... itu... ini "

"Apa ini dan itu?"

"Kalau begitu, kau menyelamatkan dengan maksud tertentu?" "Betul."

"Maksudmu menginginkan hatiku?" "Tidak salah dugaanmu."

Menghadapi maut, Ciok Giok Yin malah menjadi tenang.

"Kalau kau menginginkan hatiku, mengapa tidak kau ambil ketika aku dalam keadaan pingsan?" tanya dengan dingin.

Terdengar sahutan dingin.

"Sebab aku menghendakimu menyerahkan padaku secara rela."

Sekali timbul suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin. "Bolehkah kau perlihatkan dirimu?" "Tidak bisa."

"Mengapa?"

"Karena kau orang hidup."

"Kalau hatiku dikeluarkan, bukankah akan sama sepertimu? Tentunya sudah tidak terdapat perbedaan antara orang dengan hantu lagi. Karena itu, sebelum aku mati, ingin berkenalan denganmu."

"Tidak usah."

"Kalau begitu, kau betul-betul menginginkan hatiku?" "Siapa bergurau denganmu?"

Ciok Giok Yin menghela napas panjang. "Baiklah. Silakan ambil sendiri."

Dia memejamkan matanya, namun air matanya sudah meleleh.

Ternyata dia teringat akan asal-usulnya yang belum jelas, dendam gurunya dan lain sebagainya. Kalau kini harus mati, bukankah segala-galanya ikut berakhir?

"Kau tidak rela?"

"Aku tidak bilang tidak rela."

"Kalau kau rela, mengapa kau menangis?"

"Ini adalah urusanku, sekarang kau boleh ambil hatiku." "Sudah kubilang tadi, harus kau yang serahkan padaku." "Aku tidak dapat melakukannya." "Apa?"

"Kau jangan salah paham. Kalau aku mengambil hatiku sendiri, pasti nyawaku akan hilang. Bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan hatiku? Maka kau yang harus mengambil sendiri."

"Kau tidak usah memusingkan itu. Asal kau bersedia membedah dadamu, aku bisa ambil sendiri. Tapi... harus kau berikan dengan rela."

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Baiklah! Kalau begitu, harap kau bersiap-siap!"

Ciok Giok Yin menggunakan kedua jarinya, menusuk ke arah dadanya sendiri. Namun ketika kedua jarinya hampir menyentuh dadanya, tiba-tiba tangannya terasa semutan, sehingga tak kuat diangkat. Di saat bersamaan, terdengar helaan nafas panjang.

"Aaah! Sungguhkah kau ingin berikan padaku?"

"Kau menyelamatkan nyawaku, aku serahkan hatiku padamu. Itu berarti di antara kita sudah tiada hutang piutang lagi."

"Terus terang, hati yang kuinginkan itu, tiada bentuknya sama sekali."

"Aku tidak mengerti."

"Aku adalah roh, seandainya hatimu kauserahkan padaku, aku pun tidak dapat menjaganya."

Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam. "Kalau begitu, harus bagaimana?"

"Apabila kau bersungguh-sungguh, selamanya memberikan hatimu padaku Bok Tiong Jin, itu sudah cukup." "Ohya, bolehkah aku melihatmu?" "Boleh, tapi sekarang belum waktunya." "Kapan waktunya?"

"Sulit dikatakan."

"Kalau sekarang kau tidak perlihatkan dirimu, bagaimana kalau kelak aku bertemu denganmu? Bukankah aku akan sulit.

"Tentang ini akan kuberitahukan padamu. Dia berhenti sejenak. "Sekarang. kau boleh pergi!" lanjutnya.

"Terima kasih!"

Ciok Giok Yin bangkit berdiri. Namun ketika baru mau melangkah, mendadak Bok Tiong Jin berkata dengan dingin.

"Berhenti!"

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang amat menyeramkan ini, tapi ketika Bok Tiong Jin menyuruhkan berhenti, dia pun langsung berhenti. Dia tahu Bok Tiong Jin berada di belakangnya, tapi dia tidak berani membalikkan badannya. Ternyata ketika Ciok Giok Yin masih kecil, kakek tua berjenggot putih pernah bercerita padanya, bahwa hantu wanita amat menyeramkan, berambut panjang, lidahnya panjang terjulur keluar dan sepasang matanya melotot. Karena itu, dia tidak berani menoleh ke

belakang. Teringat akan cerita itu, bulu kuduknya menjadi bangun. Memang menggelikan, dia berkepandaian tinggi, namun masih merasa takut terhadap hantu wanita.

"Kau harus ingat, hatimu telah diserahkan padaku!" kata Bok Tiong Jin.

"Aku... aku tidak akan lupa," sahut Ciok Jin dengan suara

agak gemetar. Di saat bersamaan, dia melihat sosok bayangan berambut putih berkelebat, tapi dalam sekejap sudah menghilang.

"Hantu wanita!" serunya tanpa sadar sambil melesat ke luar.

Setelah itu dia memandang ke depan, ternyata di hadapannya terdapat sebuah kuburan.

Bukan main takutnya Ciok Giok Yin. Dia segera melesat pergi laksana terbang. Berselang beberapa saat kemudian, barulah berhenti. Dia menoleh ke belakang, lalu menarik nafas lega karena dia telah meninggalkan tempat yang

menyeramkan. Kini dia berjalan agak santai, justru mendadak jauh di depan terdengar suara rintihan. Ciok Giok Yin tersentak. Bersamaan itu, terngiang pula di telinganya suara yang tak dapat dilupakannya.

"Anak Yin, belajar ilmu pengobatan, harus didasari sikap gemar menolong. Meskipun orang jahat, kalau memerlukan pertolongan, harus kau tolong. Kalau kau berpegang teguh pada dasar itu, citra ilmu pengobatan tidak akan rusak."

Ini adalah pesan dari Tiong Ciu Sin Ie. Teringat akan pesan tersebut, maka Ciok Giok Yin segera melesat ke arah suara rintihan itu. Dalam sekejap dia sudah sampai di tempat suara rintihan itu. Dilihatnya seorang pemuda tergeletak di bawah pohon dengan tubuh berlumuran darah. Pemuda itu amat tampan, namun wajahnya pucat pias lantaran terluka dalam yang amat parah. Nafasnya sudah lemah, namun masih mengeluarkan suara rintihan.

Ciok Giok Yin membungkukkan badannya untuk memeriksa bagian dada pemuda itu, lalu memanggilnya.

"Saudara! Saudara!"

Walau sudah memanggil dua kali. Namun pemuda itu tetap tidak membuka matanya. Ciok Giok Yin cepat-cepat memeriksa nadinya. Setelah itu dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Jantungnya telah hancur, dewapun sulit menolongnya," gumamnya. Ciok Giok Yin menatapnya dengan iba, sambil berkata dalam hati. 'Aku memang tidak sanggup menyelamatkan nyawanya, namun paling tidak aku harus membuatnya siuman, agar tahu asal-usulnya. Kalau tidak, dia pasti mati penasaran.' Karena itu, Ciok Giok Yin terus memanggil pemuda tersebut.

"Saudara! Saudara!"

Beberapa saat kemudian pemuda itu membuka sepasang matanya, namun sudah suram sekali. Bibirnya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun ia segera mencegahnya.

"Kau harus menghimpun hawa murni sejenak, setelah itu barulah bicara!"

Ciok Giok Yin menatapnya, kemudian melanjutkan. "Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, akan berusaha

mengobatimu."

Ciok Giok Yin adalah penerus ilmu pengobatan Tiong Ciu Sin Ie, tentu tahu bagaimana menghadapi orang sakit yang sudah sekarat. Maka, dia menghibur pemuda itu agar bisa

tenang. Akan tetapi, pemuda itu malah tersenyum getir.

"Te..., terima kasih... atas maksud baikmu, jantungku... telah... hancur... tiada obatnya lagi..." katanya sangat lemah.

"Aku akan mencobanya." Pemuda itu tersenyum getir lagi. "Nama Anda?"

"Namaku Ciok Giok Yin."

"Kaukah orangnya yang telah menggemparkan rimba persilatan belum lama ini, bersama Heng Thian Ceng memperoleh Seruling Perak itu?"

"Aku memang Ciok Giok Yin. Namun mengenai kabar berita tentang diriku dan Heng Thian Ceng telah memperoleh Seruling Perak, sesungguhnya itu tidak benar. Aku dan Heng Thian Ceng sama sekali tidak pernah melihat Seruling Perak tersebut."

Pemuda itu manggut-manggut. "Aku percaya."

"Ohya, siapa nama Saudara?"

Pemuda itu menarik nafasnya dalam-dalam.

"Namaku But It Coan, tahun ini berusia dua puluh lima." "Saudara Bun, perlukah bantuanku?"

Bun It Coan berpikir sejenak.

"Aku lebih besar, harus memanggilmu adik."

"Kakak Bun, kau ingin mengatakan apa, katakan saja!"

Bun It Coan menghela nafas panjang. Beberapa saat kemudian barulah dia berkata perlahan-lahan.

"Tiga tahun yang lalu, aku mulai berkelana di dunia persilatan. Karena kurang berpengalaman, maka aku bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee. Setelah aku tahu latar belakang perkumpulan itu, aku ingin melepaskan diri, tapi sudah terlambat."

"Maksudmu?"

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee punya anak perempuan kembar, yang tua bernama Lan Lan dan adiknya bernama Hui Hui. Lan Lan menikah denganku, sedangkan Hui Hui belum menikah. Lan Lan bersifat jalang dan amat licik. "

Bun It Coan batuk-batuk beberapa kali, setelah itu baru lanjutkan penuturannya. "Dia melihatku selalu menentang ayahnya, dan tahu bahwa aku berniat kabur. Maka dia menaruh racun pada makanan. Karena kurang waspada, aku menyantap makanan tersebut. Ketika aku tahu, racun telah menjalar ke jantungku. Meskipun begitu, aku tetap mencari tabib terkenal untuk mengobatiku. Karena itu, aku melarikan diri. Tapi aku dikejar oleh seorang yang memakai kain penutup muka, dan aku terkena pukulannya. Kalau ginkangku tidak tinggi, mungkin aku sulit kabur."

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara, berkertak gigi seraya berkata.

"Kakak Bun, aku bersumpah akan menuntut balas dendammu! Ohya, siapa nama ketua perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Adik..." Bun It Coan menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sungguh tak berguna! Dalam tiga tahun itu, aku tidak pernah melihat ketua perkumpulan itu, bahkan tidak tahu mereka bermarga apa."

"Apakah Lan Lan tidak pernah memberitahukan padamu?" "Wanita jalang itu, hatinya amat jahat. Bagaimana mungkin

dia akan memberitahukan padaku? Yang baik hati adalah Hui Hui. Entah sudah berapa kali dia menyuruhku pergi, tapi dia takut, maka tidak berani banyak bicara padaku." Bun It Coan menatap Ciok Giok Yin dengan mata suram. "Adik, kau... kau harus menuntut balas dendamku!" lanjutnya dengan perlahan- lahan.

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Legakanlah hatimu, aku pasti tidak akan melepaskan semua orang perkumpulan Sang Yen Hwee, aku pasti membasmi mereka semua!" katanya berjanji.

Bun It Coan tersenyum tenang.

"Sebelum aku mati, bisa mendapatkan seorang teman sejati, aku... aku pasti mati dengan mata terpejam. "

Usai berkata begitu, Bun It Coan memejamkan matanya. Ciok Giok Yin mulai menangis sedih.

"Toako! Toako!" teriaknya memanggil Bun It Coan. Bun It Coan membuka matanya perlahan-lahan. "Adik, tolong ambilkan cincinku di dalam baju."

Ciok Giok Yin mengangguk dengan air mata bercucuran, lalu merogoh ke dalam baju Bun It Coan, mengeluarkan sebuah cincin.

"Toako, cincin ini?"

Bun It Coan manggut-manggut, kemudian menatap cincin yang gemerlapan itu.

Tak lama, air matanya pun meleleh.

"Adik, simpanlah baik-baik cincin ini! Bawalah cincin ini ke Liok Bun (Pintu Hijau), temui ayahku dan mohon padanya ajarkan kungfu tinggi padamu, agar kau dapat menuntut balas dendamku!"

"Toako, aku pasti ke sana memberitahukan pada orang tuamu."

Bun It Coan menggelengkan kepala.

"Adik, ayahku pernah mengalami pukulan batin yang amat berat. Kau... kau jangan... memberitahukan. " katanya

terputus-putus kemudian berhenti di tengah kalimat. Sepasang matanya mendelik, ternyata nafasnya telah putus. Seketika Ciok Giok Yin menjerit.

"Toako! Toako. " Kemudian dia menangis sedih. Sejak Ciok Giok Yin menjejakkan kakinya di dunia persilatan, tidak pernah mempunyai teman yang sehati. Kini tanpa sengaja dia bertemu Bun It Coan, tapi baru berkata beberapa patah, Bun It Coan sudah mati. Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin berhenti menangis. Dia menghapus air matanya, lalu bangkit perlahan- lahan.

"Toako, kau tenanglah! Aku pasti membalas dendammu..." gumamnya sambil berkerak gigi. Mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Kau punya kepandaian itu?"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya.

Dilihatnya seorang pemuda bertampang licik terus menatapnya dengan tajam, tapi Ciok Giok Yin tidak tahu siapa pemuda itu.

"Siapa kau?" katanya.

"Kalau aku sebut namaku, mungkin nyalimu akan pecah. Lebih baik tidak kuberitahukan, agar kau mati penasaran!" sahut pemuda itu dengan angkuh. Usai menyahut, tangan kanan pemuda itu menunjuk mayat Bun It Coan, sedangkan tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan ke arah dada Ciok Giok Yin. Agin pukulannya menderu-deru. Hati Ciok Giok Yin tersentak.

"Apakah kematian toakoku ada hubungan denganmu?" bentaknya sambil berkelit.

Pemuda itu mendengus dingin.

"Hmm! Kepandaianmu cukup lumayan!"

Dia maju dua langkah, wajahnya penuh hawa membunuh, lalu menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat. Ciok Giok Yin berkertak gigi, lalu menangkis sekaligus balas menyerang. Akan tetapi, Ciok Giok Yin terdesak muncur, dan agak kewalahan menghadapi pemuda itu. Kalau begini, tidak sampai tiga jurus, Ciok Giok Yin pasti mati oleh serangan- serangan yang dilcarkan pemuda itu. Mendadak terdengar suara bentakan.

"Berhennti!"

Tampak sosok bayangan hitam melayang turun, langsung menyambar mayat Bun It Coan. Begitu melihat kemunculan orang itu, pemuda bertampang licik langsung melesat pergi.

"Mau lari ke mana?" bentak orang berpakaian hitam. Dia langsung melesat mengejar pemuda itu. Kedua sosok bayangan itu, dalam sekejap sudah melesat puluhan

depa. Kejadian yang mendadak itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya termangu-mangu. Namun tiba-tiba dia teringat akan mayat Bun It Coan yang dibawa pergi oleh orang berpakaian hitam, maka seketika hatinya tersentak.

"Celaka!" serunya.

Dia ingin mengejar, tapi kedua bayangan itu sudah tidak kelihatan lagi. Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka, akan muncul seseorang menyambar mayat Bun It Coan. Dia belum sempat mengubur mayat itu, pasti akan membuat Bun It Coan amat penasaran di alam baka. Dia meninggalkan tempat itu dengan wajah sedih. Dalam perjalanan, dia terus memikirkan langkah-langkah selanjutnya. Mendadak Ciok Giok Yin melihat sesosok mayat orang tua terbujur di bawah pohon. Dia mendekati mayat itu dan memperhatikannya dengan seksama. Mayat orang tua itu tiada noda darah, namun wajahnya tampak kehijau-hijauan, pertanda orang tua itu mati keracunana.

Begitu melihat mayat orang tua itu, Ciok Giok Yin teringat akan mayat Bun It Coan yang dibawa pergi oleh orang berpakaian hitam. Dia berkata dalam hati. 'Orang berpakaian hitam membawa pergi mayat toako, apakah juga akan dibuang di tempat sepi seperti mayat orang tua ini?' Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, mendadak merasa ada serangkum angin pukulan mengarah punggungnya, dan dalam waktu bersamaan terdengar pula bentakan sengit.

"Bayar nyawa ayahku!"

Suara bentakan itu diiringi dengan tangisan yang penuh duka dan dendam. Ciok Giok Yin cepat-cepat berkelit, sekaligus membalikkan badannya. Tampak seorang gadis yang amat cantik berdiri di situ, namun kedua pipinya telah basah oleh air mata. Sekonyong konyong gadis itu menyerang Ciok Giok Yin dengan sengit dan bertubi-tubi.

"Bayar nyawa ayahku!" bentaknya penuh kebencian. Serangan-serangan itu membuat Ciok Giok Yin naik darah. "Berhenti!" bentaknya mengguntur.

Akan tetapi, gadis itu tetap menyerangnya, bahkan serangannya bertambah sengit dan dahsyat. Ciok Giok Yin terpaksa terus mundur, kemudian mengerahkan enam bagian lwee kangnya, sekaligus mendorong ke depan seraya membentak.

"Kalau kau masih tidak berhenti...!"

Bukan main dahsyatnya tenaga dorongan Ciok Giok Yin, membuat gadis itu terdorong ke belakang beberapa langkah, mulutnya menyembutkan darah segar, badannya sempoyongan dan roboh terjeremab jatuh. Namun sepasang mata gadis itu terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam dan kebencian.

"Kalau aku tidak bisa membunuhmu tidak mau jadi orang lagi!"

Ciok Giok Yin maju dua langkah dengan sepasang matanya menyorot dingin.

"Dia ada hubungan apa denganmu?" "Ayahku!"

"Tahukah kau bagaimana kematiannya?"

"Bangsat! Ayahku punya dendam apa denganmu? Mengapa kau turun tangan jahat padanya? Hari ini aku harus membunuhmu, lalu mencincangmu!"

Dia langsung berguling ke arah mayat itu, ingin memeluknya sambil menangis. Akan tetapi mendadak terdengar suara

bentakan yang memekakkan telinga. "Nona, tidak boleh!"

"Ternyata yang membentak itu adalah Ciok Giok Yin, yang dikira oleh gadis itu sebagai pembunuh ayahnya. Ciok Giok Yin bergerak cepat mencengkeram lengan gadis itu, kemudian berkata.

"Nona, ayahmu mati keracunan. Kalau kau menyentuh pakaiannya, akibatnya sulit dibayangkan."

Ketika Ciok Giok Yin mencengkeram lengannya justru membuat hati gadis itu berdebar-debar. Akan tetapi, begitu teringat akan kematian ayahnya, dan mengira Ciok Giok Yin akan berbuat tidak senonoh terhadap dirinya, dia langsung melancarkan pukulan ke dada Ciok Giok Yin.

Duuuk! "Aaaakh. !"

Ciok Giok Yin menjerit, dan mulutnya langsung menyemburkan darah segar. Tangannya yang mencengkeram lengan gadis itu terlepas, dan dia terhuyung-huyung ke belakang dua langkah. Setelah melukai Ciok Giok Yin, gadis itu ingin menubruk mayat ayahnya. Namun sekonyong-konyong terdengar suara seruan.

"Nona, jangan!" Muncul seorang berpakaian hijau dengan kepala tertutup. Orang itu langsung menarik lengan gadis tersebut ke belakang.

"Benar perkataan saudara kecil itu, mayat ini tidak boleh disentuh!" katanya.

"Bagaimana kau tahu itu?" tanya gadis itu dengan sedih. "Dari wajah mayat itu dapat diketahui."

"Kau yang meracuni ayahku?" bentak gadis itu.

"Bukan aku dan bukan saudara kecil itu, yang meracuninya," sahut orang berpakaian hijau dengan suara dalam.

"Siapa?"

"Aku tidak melihatnya, namun harap Nona tenang! Coba ingat, apakah kalian ayah dan anak pernah bertemu orang yang mencurigakan?"

Orang berpakaian hijau itu melepaskan tangannya dan kemudian berdiri diam. Sedangkan gadis itu menatap mayat ayahnya dengan air mata bercucuran.

"Tadi aku ada sedikit urusan, maka membiarkan ayahku jalan duluan. tak disangka sampai disini, aku melihatnya berdiri di situ, sama sekali tidak melihat orang lain," katanya terisak- isak.

Usai berkata, gadis itu menunjuk Ciok Giok Yin. Sepasang matanya yang indah bening, menyorotkan sinar yang penuh kebencian. Sementara Ciok Giok Yin yang terkena pukulannya, pasti hatinya amat gusar. Namun begitu teringat ayah gadis itu mati diracuni orang, seketika lenyaplah kegusarannya.

"Nona telah salah paham padaku. Aku baru sampai di sini, Nona muncul," katanya sambil maju selangkah. Gadis itu melotot. "Kalau begitu, kau berdiri di situ mengatakan apa?"

"Aku mengatakan apa, tidak perlu kuberitahukan padamu." "Kau pasti pembunuh ayahku!"

"Nona tidak boleh menuduh orang secara sembarangan," sela orang berpakaian hijau.

"Nona tidak boleh memfitnah orang," Ciok Giok Yin memandang orang itu. "Mohon tanya siapa nama Anda?"

Orang itu tampak tertegun, karena tidak menyangka Ciok Giok Yin akan menanyakan namanya.

"Sudah sekian tahun aku tidak pernah ingat lagi namaku sendiri, harap dimaklumi!" sahutnya.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Seseorang pasti punya nama. Kelak kalau berjumpa lagi, aku harus bagaimana memanggilmu? Lebih baik Anda jangan bersikap sedemikian misterius."

Orang itu tertawa gelak.

"Masuk akal apa yang kau katakan. Kita kebetulan berjumpa di sini. Kelak mungkin juga kita akan berjumpa kembali di suatu tempat, maka kau boleh panggil aku Lu Jin (Orang Jalanan)."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Saudara kecil, bolehkah aku tahu namamu?" tanya Lu Jin. "Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?" "Ng!"

Seketika sepasang mata Lu Jin menyorot bersinar-sinar. Dia menatap Ciok Giok Yin dari atas ke bawah, kemudian tertawa gelak.

"Wajah Saudara kecil cerah dan tampan, masa depan pasti cemerlang! Ohya, bolehkah aku tahu nama suhumu?"

"Suhuku adalah Sang Ting It Koay, namun aku tidak tahu nama beliau," sahut Ciok Giok Yin dengan jujur. Badan Lu Jin tampak tergetar.

"Suhumu adalah tokoh aneh. Dengar-dengar empat belas tahun yang lampau, dia meningal di puncak gunung Muh San. Sedangkan usiamu belum begitu besar, bagaimana bisa berguru padanya?"

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin. "Tapi suhuku belum mati..." Dia menutur tentang kejadian

itu. "Aku bersumpah akan membalaskan dendam suhuku!" tambahnya.

Tanpa sadar Lu Jin mundur selangkah.

"Aku dengar Saudara Kecil telah membunuh Khiam Sin Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si, benarkah itu?"

"Tidak salah."

"Setelah itu, kaupun pergi ke Hong Yun Cuang mencari Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun. Ya, kan?"

Mendengar itu, timbullah kecurigaan dalam hati Ciok Giok Yin. "Kok Anda tahu begitu jelas?" katanya.

"Tentang itu telah tersebar luas di dunia persilatan, aku cuma mendengar dari orang," sahut Lu Jin. Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Ooooh!"

Lu Jin tidak berkata apa-apa lagi.

"Saudara kecil, sampai jumpa!" katanya sambil menjura.

Badannya bergerak melesat, tahu-tahu sudah masuk ke dalam rimba. Bukan main cepatnya gerakan Lu Jin! Ciok Giok Yin merasa kagum melihatnya. Ciok Giok Yin membalikkan badannya memandang gadis itu, yang kebetulan juga sedang memandangnya. Ciok Giok Yin tidak menghiraukannya. Namun ketika dia baru mau pergi, mendadak sesosok bayangan menghadang di hadapannya, ternyata gadis itu.

"Tunggu sebentar!" katanya. "Apa maksud Nona?"

Gadis itu mendengus dingin.

"Lelaki jantan harus gagah! Setelah menyaksikan kejadian yang mengenaskan ini, kau malah mau pergi! Bukankah kau amat tidak berperasaan?"

"Nona mau menyuruhku berbuat apa?"

"Bantu aku mengubur mayat ayahku! Oh ya, namaku Cen Siauw Yun. Tadi aku sembarangan menyalahkanmu, mohon jangan disimpan dalam hati!"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah!"

Ciok Giok Yin segera menggali sebuah lubang. Sesudah itu, dia menggunakan dua batang dahan pohon mengangkat mayat itu ke dalam lubang. Tak lama, setelah selesai mayat itu dikuburkan, barulah Ciok Giok Yin bertanya.

"Nona mau ke mana?"

Saat itu Cen Siauw Yun sudah berhenti menangis. Namun ketika Ciok Giok Yin bertanya, gadis itu mulai menangis lagi.

"Ayahku telah dibunuh penjahat, kini tinggal aku seorang diri, entah mau ke mana?" sahutnya terisak-isak. Cen Siauw Yun terus menangis sedih.

Ciok Giok Yin menatapnya dengan iba, lalu berkata. "Tentunya Nona punya suatu tujuan, ya kan?" tanya Ciok

Giok Yin sambil menatapnya dengan iba.

"Aku harus ke mana?" sahut Cen Siauw Yun seperti bertanya. "Apakah kau tidak punya sanak famili?"

"Aku dan ayahku tinggal di desa, jarang berhubungan dengan orang, suruh aku ke mana?"

Cen Siauw Yun mulai menangis lagi. Kali ini dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya. Ciok Giok Yin tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan suara tangisan Cen Siauw Yun semakin sedih memilukan. Sudah barang tentu membuat Ciok Giok Yin berpikir. 'Bagaimana baiknya nih? Diriku juga sebatang kara dan tiada tempat berteduh. Lalu aku harus mengantarnya ke mana?' Yang satu terus menangis sedih dengan air mata berderai-derai, sedangkan yang satu malah berdiri termangu-mangu. Bukan main kacaunya hati Ciok Giok Yin! Dia maju ke hadapan Cen Siauw Yun lalu menariknya bangun.

"Tiada gunanya Nona terus menangis. Sekarang hari sudah mulai gelap, lebih baik kita mencari penginapan dulu. Setelah itu, barulah memikirkan jalan keluarnya."

Cen Siauw Yun menghapus air matanya. "Seharusnya kau memikirkan jalan keluar untukku," katanya terisak-isak. Ciok Giok Yin memang berhati luhur. Mendengar itu dia langsung manggut-manggut.

"Akan kupikirkan nanti."

Dia langsung menarik Cen Siauw Yun meninggalkan tempat itu. Namun gadis itu masih menoleh melihat kuburan ayahnya.

Kelihatannya dia merasa enggan meninggalkan tempat

itu. Saat ini hari sudah gelap. Salju dan angin dingin menderu- deru mendirikar bulu roma. Cen Siauw Yun merasa agak takut, sudah barang tentu dia berjalan melekat di badan Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin mengira gadis itu merasa dingin, maka langsung merangkulnya erat-erat.

"Nona takut dingin?" katanya dengan suara ringan. Cen Siauw Yun mengangguk.

"Ng!"

Mendadak terdengar suara burung gagak yang menyeramkan, mengejutkan Cen Siauw Yun, sehingga langkahnya terhenti dan gadis itu segera mendekap di dada Ciok Giok Yin.

"Ka... kakak Yin, aku... aku takut sekali," katanya dengan suara gemetar.

"Takut apa!"

"Kau tidak mendengar suara tadi?" Ciok Giok Yin tertawa.

"Itu suara burung gagak, apa yang kau takutkan?" Dia tertawa lagi, menepuk bahu Cen Siauw Yun. "Legakan hatimu, ada aku!" Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Berdasarkan kepandaianmu dapat menjaga keselamatannya?"

Begitu mendengar suara itu, sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!" serunya kaget. "Tidak salah!"

Sekonyong-konyong angin berhembus kencang, menerbangkan salju-salju yang di sekitarnya. Di saat bersamaan, tampak bayangan-bayangan hantu bergerak- gerak. Namun setelah ditegasi, ternyata bayangan-bayangan pohon, dahan dan ranting pohon bergerakgerak terhembus angin. Di saat ini Cen Siauw Yun mendongakkan kepala, lalu menengok ke sekeliling. Sedangkan keringat dingin Ciok Giok Yin sudah mengucur.

"Bok Tiong Jin, aku sering menerima budi pertolonganmu. Suatu hari nanti, aku pasti akan membangun kuburanmu," katanya dengan suara gemetar.

Terdengar suara sahutan yang amat dingin. "Terima kasih!"

Suara itu berhenti sejenak, setelah itu terdengar lagi. "Jangan lupa akan janjimu!"

"Aku tidak akan lupa."

"Kalau kau lupa, aku akan membunuhmu, lalu mayatmu akan kubuang di hutan, biar disantap binatang buas!"

Mendengar itu, Ciok Giok Yin menjadi merinding. "Legakan hatimu, aku tidak akan lupa!" "Bagus begitu!"

Seketika suasana di tempat itu kembali menjadi hening. Cen Siauw Yun menatap Ciok Giok Yin dengan heran.

"Kakak Yin, kau sedang bicara dengan siapa?" katanya dengan suara rendah.

Ketika melontarkan 'Kakak Yin' wajah Cen Siauw Yun tampak kemerah-merahan. Ciok Giok Yin tidak memperhatikan hal itu.

"Aku sedang berbicara dengan Bok Tiong Jin," sahutnya. "Bok Tiong Jin?"

"Ng!"

"Apakah Bok Tiong Jin itu roh?" "Mungkin ya."

"Kau pernah melihatnya?" "Tidak."

"Aku tidak percaya orang itu sudah mati, rohnya akan gentayangan. Itu cuma ingin menakuti orang saja."

Mendadak salju-salju di sekitarnya beterbangan, dan dalam waktu bersamaan terdengar suara 'Serr! Serrr!' Cen Siauw Yun cepat-cepat mencelat ke atas, kelihatannya ingin melancarkan pukulan. Namun dia mengeluarkan suara 'Hah' lalu melayang turun. Wajahnya diliputi rasa takut, sepasang matanya melirik ke sana ke mari ingin melihat apakah di sekitarnya terdapat orang atau tidak. Akan tetapi, selain salju yang masih beterbangan, tidak tampak apa pun. Kini barulah hatinya mulai berdebar-debar tegang, dan dia langsung bersandar di badan Ciok Giok Yin. Tiba-tiba telinga Cen Siauw Yun menangkap suara amat lirih. "Harap kau jangan memikirkan yang bukan-bukan, aku akan mengawasimu!"

Walaupun suara itu amat lirih, namun Cen Siauw Yun dapat mendengarnya dengan jelas sekali, sepertinya suara itu amat dekat.

Cen Siauw Yun segera menyebarkan pandangannya kian kemari, tapi tidak melihat apa pun. Itu membuatnya merinding, dan tidak berani memastikan roh itu asli atau palsu.

"Nona merasakan apa?" tanya Ciok Giok Yin dengan suara ringan. Cen Siauw Yun menggelengkan kepala.

"Tidak."

Jelas dia tercekam oleh rasa takut, namun tidak mau berterus terang. Ciok Giok Yin tidak mau mengungkap itu, cuma merangkul pinggangnya erat-erat, lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu, agar tidak terus diikuti Bok Tiong Jin. Berlangsung beberapa saat, mereka berdua tiba di sebuah kota kecil, Ciok Giok Yin dan Cen Siauw Yun berjalan perlahan memasuki kota kecil itu. Mereka langsung menuju sebuah penginapan, dan memesan dua buah kamar. Setelah itu, mereka makan malam di penginapan tersebut.

Kini mereka berdua duduk di dalam sebuah kamar sambil mengobrol. Mendadak Cen Siauw Yun menangis, kemudian mendekap di dada Ciok Giok Yin. Badan gadis itu bergerak- gerak, kelihatannya hatinya amat sedih sekali. Jelas dia teringat akan ayahnya yang sudah tiada. Ciok Giok Yin segera menghiburnya.

"Nona, kau tidak boleh terus menangis. Ayahmu sudah tiada, tiada gunanya kau terus menangis. Jaga kesehatanmu dan cari jalan menuntut balas dendam ayahmu, itu baru benar."

"Semalam ayahku masih baik-baik, tapi malam ini sudah tiada. Bagaimana aku tidak sedih?"

Cen Siauw Yun menangis lagi dengan air mata berderai-derai. Sebelah tangannya menggenggam baju Ciok Giok Yin erat- erat. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, sambil berkata dalam hati. 'Biarlah dia terus menangis, agar mengeluarkan semua kesedihan dalam hatinya.' Beberapa saat kemudian Cen Siauw Yun berhenti menangis. Dia mendongakkan kepala memandangg Ciok Giok Yin seraya tersenyum. Ciok Giok Yin mengira pikiran gadis itu telah terbuka, maka dia merasa girang. Di tengah malam, berhadapan dengan gadis cantik, tentunya pikiran akan menerawang. Akan tetapi, cepat sekali pikiran Ciok Giok Yin kembali tenang, bahkan menegur dirinya sendiri. 'Semua dendam masih belum terbalas,

bagaimana sedemikian tidak tahu diri, memikirkan yang bukan- bukan? Sungguh tak pantas!'

"Nona, sudah larut malam! Harap kembali ke kamar beristirahat, esok pagi harus melanjutkan perjalanan!" katanya kepada Cen Siauw Yun. Cen Siauw Yun mengangguk, lalu berjalan ke luar meninggalkan kamar Ciok Giok Yin. Setelah Cen Siauw Yun kembali ke kamarnya, Ciok Giok Yin duduk menghimpun hawa murninya. Mendadak terdengar suara 'Serr' yang amat halus. Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka matanya. Dilihatnya sebuah bola kecil putih melucur ke arahnya. Dia segera menjulurkan tangannya untuk menyambut bola kecil itu, yang teryata segumpal kertas. Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu lalu membacanya. Seketika wajahnya berubah menjadi hebat.