Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 18

 
Jilid 18

Siapa yang muncul di halaman depan itu? Ternyata Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Dia tertawa gelak seraya berkata,

"Biasanya lohu amat cermat, justru malah dapat dikelabui!"

Bukan main gugup dan paniknya Soat Cak, sebab kedua tangannya mengempit Ciok Giok Yin dan Sai Pian Sih-Gouw Ling, tentunya tidak bisa bergebrak. Dalam keadaan mendesak itu dia membentak, "Maling tua! Lihat serangan!"

Mendadak dari dalam mulutnya meluncur keluar sebuah benda kecil. Benda itu gemerlapan di bawah sinar rembulan dan luncurannya cepat laksana kilat. Meskipun Siau Bin Sanjin- Li Mong Pai berkepandaian tinggi dan berpengalaman luas, namun tidak tahu senjata apa yang meluncur keluar dari mulut wanita desa itu. Badannya langsung bergerak, ternyata telah mencelat ke belakang kira-kira enam langkah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Soat Cak, secepatnya mencelat ke atas melewati tembok kuil. Namun Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai bergerak jauh lebih cepat. Tampak bayangannya berkelebat, tahu-tahu sudah berada di hadapan Soat Cak. Dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau masih bisa lobos? Cepat lepaskan orang itu!" sepasang matanya menyorot bengis. "Ilmu rias kalian cukup hebat, hampir saja aku tertipu!"

Selangkah demi selangkah dia maju mendekati Soat Cak. Gadis itu sudah putus asa, mundur selangkah-selangkah. Seandainya dia cuma mengepit satu orang, berdasarkan kepandaiannya, tidak sulit baginya untuk kabur. Tapi kini kedua belah tangannya mengempit dua orang, maka membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua orang tersebut tidak ada yang bisa dilepaskannya. Mendadak Soat Cak tampak gemetar, ternyata pahanya terkena benda yang meluncur dari kuku jari tangan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai.

Dia maju lagi dan mengangkat sebelah tangannya, siap melancarkan pukulan. Kelihatannya Soat Cak akan terhantam, tapi mendadak terdengar suara orang tertawa gelak dan berkata,

"Li Mong Pai! Kau berlaku sewenang-wenang lagi di tempat ini!"

Tampak sesosok bayangan melayang turun secepat kilat, langsung menyerang Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai. Siapa orang itu? Tidak lain adalah si Bongkok Arak. "Bocah perempuan, cepat bawa mereka pergi!" serunya.

Soat Cak segera melesat pergi. Akan tetapi tak disangka terasa ada serangkum angin pukulan dari arah samping. Soat Cak menengok, ternyata adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan itu. Soat Cak cepat-cepat membuka mulutnya, menyemburkan butiran-butiran air ludah, lalu menatap orang itu.

"Karena kau yang mengantar makanan untuk kami, maka kuampuni nyawamu!"

Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu menutup mukanya dengan sepasang tangannya sambil menyurut

mundur. Sedangkan Soat Cak tidak membuang-buang waktu, langsung melesat pergi. Tak lama dia sudah mencapai jarak beberapa mil. Ketika sampai di sebuah rimba yang lebat dia menaruh Ciok Giok Yin dan Sai Pian Sih-Gouw Ling. Wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling kehijau-hijauan dan nafasnya sudah lemah sekali.

"Lo cianpwee? Lo cianpwee!" seru Ciok Giok Yin memanggilnya.

Beberapa saat kemudian barulah Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka matanya.

"Kalian berdua mati-matian menolongku, entah apa maksud kalian?" tanyanya dengan lemah.

"Lo cianpwee, aku terpukul hingga luka parah, bahkan kepandaianku juga punah. Mohon lo cianpwee sudi memulihkan kepandaianku!" sahut Ciok Giok Yin.

"Lohu sudah tidak mampu lagi."

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin dan Soat Cak. "Apakah lo cianpwee tidak sudi?" tanyanya hampir serak. "Tadi lohu terkena sebutir Cap Tok Tan (Pil Sepuluh Racun). Kini racun itu telah menyerang jantungku. Maka lohu tiada waktu untuk memulihkan kepandaianmu."

"Lo cianpwee ahli dalam hal pengobatan, juga tidak dapat memunahkan racun itu?" tanya Ciok Giok Yin.

Sai Pian Sih-Gouw Ling menghela nafas panjang.

"Tiada obat penawarnya sama sekali. Pil racun itu mengikuti aliran darah menerjang ke dalam. Kalau pun punya obat yang dapat menghidupkan orang, tidak akan bisa memunahkan racun itu." Mendadak sepasang matanya bersinar terang. "Kalau kau ingin pulih kepandaianmu, harus pergi mencari Thian Lui Sian Seng (Tuan Geledek Langit)."

"Thian Lui Sianseng?" "Ya."

"Beliau berada di mana?" tanya Ciok Giok Yin dan Soat Cak dengan serentak.

"Sebelum lohu ditangkap oleh perkumpulan Sang Yen Hwee, lohu pernah dengar, dia tinggal di Gunung Thian San. Kau boleh ke sana, mohon Kim Kong Tan (Pil Arahat) padanya, sebab pil itu dapat memulihkan kepandaiannya."

"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee,", kata Ciok Giok Yin.

Mereka berdua memandang wajah orang tua itu semakin menghijau dan nafasnya juga bertambah lemah, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Mendadak Sai Pian Sih-Gouw Ling bertanya dengan suara lemah,

"Kalian berdua merias wajah?" "Ya."

"Ke Gunung Thian San mencari Thian Lui Sian-seng, harus dengan wajah asli, jangan merias wajah. Sifat Thian Lui Sianseng bagaikan geledek. Kalian harus tahu itu!" Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Kanda Ciok, lebih baik kembali pada wajah asli saja," kata Soat Cak.

Ciok Giok Yin segera mengeluarkan obat penghapus. Setelah itu, mereka berdua segera menghapus wajah masing-masing. Maka kini sudah tampak wajah asli mereka. Sedangkan Sai Pian Sih-Gouw Ling memejamkan matanya beristirahat, namun nafasnya sudah lemah sekali. Ciok Giok Yin menatapnya. Tanpa terasa air matanya telah meleleh membasahi pipi. Soat Cak yang berdiri di sampingnya, ketika melihat keadaan Sai Pian Sih-Gouw Ling sudah sekarat, hatinya berduka

sekali. Mendadak Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka matanya perlahan-lahan, menatap Ciok Giok Yin sekilas. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak mampu mengeluarkan suara. Ciok Giok Yin tidak tahu dia ingin berkata apa, maka langsung berkata,

"Lo cianpwee mau pesan apa? Pesan saja! Aku pasti melaksanakannya."

"Kami berdua pasti memenuhi pesan lo cianpwee," sambung Soat Cak.

Tiba-tiba wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling tampak kemerah- merahan, bahkan juga bersemangat. Melihat itu, Ciok Giok Yin tahu, itu merupakan saat terakhir bagi Sai Pian Sih-Gouw Ling. Sai Pian Sih-Gouw Ling membuka mulut, berkata lemah sekali.

"Saudara Kecil, siapa namamu?" "Ciok Giok Yin."

Sai Pian Sih-Gouw Ling menatap wajahnya lagi.

"Saudara Kecil, kau mirip seseorang," katanya perlahan- lahan. Hati Ciok Giok Yin tergerak. "Lo cianpwee, aku mirip siapa?" "Dia bukan marga Ciok."

Suaranya amat lemah, tidak terdengar jelas. Soat Cak yang cerdas itu tahu, Ciok Giok Yin bertanya begitu pasti ada sebabnya, maka dia segera bertanya.

"Orang tua itu bermarga apa?"

Wajah Sai Pian Sih-Gouw Ling sudah berubah pucat pias. Bibirnya bergerak berkata lirih hampir tak kedengaran.

"Marganya... marganya. "

Perlahan-lahan mulut Sai Pian Sih-Gouw Ling menutup rapat, ternyata nafasnya sudah putus. Ciok Giok Yin ingin tahu sedikit asal-usulnya, cepat-cepat menggoyang-goyangkan bahunya seraya berseru,

"Lo cianpwee bilang apa? Lo cianpwee bilang apa?"

Karena Sai Pian Sih-Gouw Ling diam saja, barulah Ciok Giok Yin tahu bahwa orang tua itu telah meninggal. Tak terbendung lagi, seketika juga air matanya bercucuran.

"Aku tidak membunuhnya, namun dia meninggal justru karena aku," gumamnya. Sesungguhnya apabila kepandaian Ciok Giok Yin tidak punah, tentunya Sai Pian Sih-Gouw Ling juga tidak akan mati. Sedangkan Soat Cak juga mengucurkan air mata. Gadis yang polos itu baru pertama kali melihat orang mati, maka hatinya amat duka sekali. Mereka berdua berdiri diam dengan air mata berderai-derai.

"Adik Cak, orang mati harus dikubur. Mari kita kuburkan mayatnya!"

Soat Cak menghapus air matanya sambil mengangguk. "Ya." Mereka berdua menggali sebuah lubang, setelah itu mengubur mayat Sai Pian Sih-Gouw Ling di lubang itu. Setelah beres, matahari pun sudah merayap ke atas dari ufuk timur.

"Adik Cak, sekarang aku harus berangkat ke Gunung Thian San," kata Ciok Giok Yin.

Tanpa berpikir lagi Soat Cak langsung menyahut, "Kita berangkat bersama."

Ciok Giok Yin memandangnya.

"Perjalanan ke Gunung Thian San amat jauh, lagi pula penuh bahaya. Karena itu aku ingin berangkat seorang diri.

Sedangkan kau berangkat ke Gunung Kee Jiau San markas partai Thay Kek Bun, Setelah aku berhasil menemukan Thian Lui Sianseng dan kepandaianku pulih, aku pasti pergi ke sana menengokmu."

Soat Cak tampak gugup.

"Kanda Ciok, kepandaianmu telah punah. Aku sama sekali tidak tega melihatmu melakukan perjalanan seorang diri. Lebih baik aku mendampingimu ke Gunung Thian San. Ayo berangkat!"

Gadis itu tidak menunggu Ciok Giok Yin berkata, segera memegang lengannya lalu berangkat menuju ke Gunung Thian San. Ciok Giok Yin sudah tidak bisa omong apa-apa, cuma menurut saja. Berhubung kepandaiannya telah punah, dia tidak bisa menggunakan ilmu ginkang. Ketika melihat Ciok Giok Yin begitu susah berjalan, hati Soat Cak terasa amat sedih, sehingga matanya tampak berkaca-kaca. Di saat melakukan perjalanan, Soat Cak melihat ada orang menunggang kuda, namun tidak tahu kuda itu dari mana. Dia memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Kanda Ciok, kita harus cari seekor kuda, jadi Kanda Ciok tidak usah berjalan kaki."

Ciok Giok Yin tersenyum getir. "Adik Cak, kuda itu harus dibeli." "Beli?"

"Ng!"

"Kanda Ciok, kalau begitu kita harus membeli seekor kuda." Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Cak, uangku tidak cukup untuk membeli seekor kuda. Lagi pula dalam perjalanan, kita masih perlu makan dan menginap, itu perlu pakai uang. "

Soat Cak tersenyum. "Kanda Ciok, aku punya."

"Mana boleh pakai uangmu?"

"Kanda Ciok, aku adalah calon istrimu. Mengapa Kanda Ciok masih berkata begitu? Ayo, kita ke kota membeli seekor kuda!"

Ciok Giok Yin mengangguk. Mereka berdua terus melakukan perjalanan, tak lama sudah sampai di sebuah kota kecil. Di kota kecil itu Ciok Giok Yin dan Soat Cak membeli seekor kuda, juga makanan kering untuk bekal di perjalanan. Mereka berdua menunggang kuda, langsung menuju arah barat. Dalam perjalanan ini mereka berdua menempuh jalan kecil yang sepi untuk menghindari musuh. Soat Cak amat memperhatikan Ciok Giok Yin, membuat Ciok Giok Yin terharu dan berterimakasih padanya. Sudah barang tentu cinta kasih mereka pun tumbuh lebih mendalam. Ciok Giok Yin tahu akan tubuhnya yang tidak seperti orang biasa, maka selalu mengendalikan diri, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Di samping itu Ciok Giok Yin juga memberitahukan pada Soat Cak mengenai dirinya, yang mana tanpa sengaja telah makan Pil Api Ribuan tahun dan juga....

Soat Cak tahu bahwa Ciok Giok Yin sudah mempunyai tunangan, namun dia sama sekali tidak merasa cemburu, sebaliknya malah bertambah gembira, karena masih ada gadis lain mendampingi Ciok Giok Yin, jadi sama-sama tidak akan kesepian. Hari ini mereka berdua telah tiba di Gunung Thian San. Tapi gunung itu amat luas, lagi pula puncaknya menjulang tinggi dan tertutup salju. Ingin mencari seseorang di gunung itu bukanlah merupakan hal yang gampang. Kuda yang mereka tunggangi, berjalan perlahan- lahan. Soat Cak sama sekali tidak merasa lelah, tapi justru membuat Ciok Giok Yin amat menderita, lantaran udara di gunung itu dingin sekali. Tak seberapa lama kemudian kuda itu sudah tidak sanggup mendaki lagi, maka terpaksa ditinggal begitu saja, sehingga mereka berdua harus berjalan kaki menuju puncak.

Kini pakaian Ciok Giok Yin sudah tidak karuan, tersobek sana sini. Sedangkan telapak tangannya sudah berdarah, sebab ketika mendaki dia harus memegang batu-batu yang tajam.

Akan tetapi demi pulihnya ilmu kepandaiannya, dia berkertak gigi dan menahan rasa sakit serta dingin, terus

mendaki. Hingga beberapa hari lamanya, jangankan berjumpa orang, melihat burung pun tidak pernah. Ketika melihat keadaan Ciok Giok Yin yang mengenaskan, bukan main dukanya hati Soat Cak.

"Kanda Ciok, lebih baik kita beristirahat sejenak," katanya dengan lembut.

Ciok Giok Yin menengadahkan kepala, ternyata hari sudah senja. Saat ini angin berhembus menderu-deru. Suara deruan itu kedengaran amat menyeramkan, bahkan terasa amat dingin menusuk tulang.

"Adik Cak, kau ikut aku menderita...," katanya perlahan. Soat Cak segera memutuskan perkataannya.

"Kanda Ciok, asal aku bisa berada di sisimu, mengalami penderitaan apa pun aku tetap merasa gembira. Kanda Ciok, di sana ada sebuah goa kecil. Mari kupapah kau ke sana Kita bermalam di situ, esok kita cari lagi." Ciok Giok Yin memandang ke arah yang ditunjuk Soat Cak, di sana memang terdapat sebuah goa kecil. Dia mengangguk, maka Soat Cak segera memapahnya ke dalam goa kecil itu.

Mereka duduk berhadapan. Soat Cak mengeluarkan sedikit makanan kering, kemudian mereka berdua makan bersama.

"Adik Cak, Gunung ini amat luas. Sebetulnya Thian Lui Sianseng berada di mana? Kita mencarinya secara membabi buta, mungkin seumur hidup tidak akan dapat menemukannya," kata Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, bersabarlah sedikit! Asal Thian Lui Sianseng tinggal di gunung ini, aku percaya pasti dapat menemukannya."

Ciok Giok Yin manggut-manggut lalu memeluknya erat-erat. Sebelah tangannya terus membelai rambut gadis itu, dengan penuh cinta kasih dan kemesraan. Soat Cak yang berada dalam pelukan Ciok Giok Yin merasa hangat dan nyaman. Kehangatan dan kenyamanan ini tidak pernah diperolehnya dari ibunya.

Karena cinta kasih ibunya merupakan cinta kasih seorang ibu terhadap anak, sedangkan cinta kasih yang diberikan Ciok Giok Yin kepadanya adalah cinta kasih suami istri. Soat Cak memejamkan matanya, menikmati cinta kasih tersebut.

Sementara malam pun sudah tiba. Di sekitar tempat itu gelap gulita, tidak tampak apa pun. Mereka berdua tetap berpeluk- pelukan.

Mendadak sepasang mata Soat Cak terbelalak lebar, kelihatannya dia sedang mendengar suatu suara. Suara yang didengarnya ternyata adalah suara lonceng. Soat Cak segera duduk.

"Kanda Ciok, kau mendengar suara?" "Suara lonceng?"

"Ya."

"Tempat yang amat dingin dan tiada jejak manusia justru ada kuil, bukankah aneh sekali?"

"Kanda Ciok, kita bertanya pada mereka, pasti dapat menemukan Thian Lui Sianseng."

Di malam nan sunyi itu suara percakapan mereka bergema keluar cukup jauh. Karena amat girang, maka tidak mengherankan suara percakapan mereka menjadi begitu kencang. Mendadak terdengar suara desiran. Tampak sesosok bayangan bagaikan roh, muncul di hadapan goa kecil itu. Soat Cak langsung bangkit berdiri, menghadang di depan Ciok Giok Yin. Gadis itu memandang ke luar, ternyata yang muncul itu adalah seorang hweesio tua. Sepasang matanya memancarkan sinar tajam, menatap Soat Cak dan Ciok Giok Yin.

"Ada urusan apa kalian berdua ke mari?" tanyanya dengan dingin.

"Taysu, kami ingin mencari seseorang," sahut Soat Cak. "Cari siapa?"

"Thian Lui Sianseng." "Thian Lui Sianseng?" "Ya."

"Ada urusan apa mau cari dia?"

Saat ini Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri.

"Aku ingin memohon sesuatu pada beliau, mohon Taysu memberi petunjuk!" sahut Ciok Giok Yin.

Air muka hweeshio tua tampak tenggelam.

"Belum pernah dengar ada Thian Lui Sianseng tinggal di Gunung Thian San. Cepatlah kalian pergi, jangan mengantar nyawa di tempat ini." katanya. "Apakah ada bahaya?" tanya Ciok Giok Yin.

"Gunung Thian San diselimuti salju, lagi pula banyak binatang buas. Orang yang kalian cari itu sama sekali tidak tinggal di sini, maka alangkah baiknya kalian cepat-cepat meninggalkan tempat ini."

"Bolehkah kami tahu gelar Taysu?" "Gelarku Sih Ceng."

"Taysu berada di sini, tidak takut terhadap binatang buas?" sela Soat Cak.

Si Ceng Taysu tidak menyangka gadis itu akan bertanya demikian, sehingga membuatnya tertegun.

"Lolap (Aku Hweeshio Tua) punya cara melawan binatang buas."

"Bagaimana cara Taysu melawan binatang buas. Bolehkah Taysu memberitahukan? Sebab biar bagaimana pun kami harus menemukan Thian Lui Sian- seng," kata Soat Cak.

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara siulan panjang di dalam lembah. Suara siulan itu bagaikan pekikan sang naga, amat nyaring dan bergema menembus angkasa. Seketika sepasang mata Sih Ceng Taysu berputar, lalu dia berkata,

"Kalau kalian tidak mau mendengar nasehat lohap, terserah kalian mau pergi mencari!"

Badannya bergerak, langsung melesat menuruni gunung. "Tunggu Taysu!" seru Soat Cak gugup.

Begitu mendengar seruan gadis itu Sih Ceng Taysu langsung berhenti.

"Ada urusan apa?" tanyanya. "Taysu tinggal di sini, tentunya tahu Thian Lui Siangseng berada di mana. Mohon Taysu sudi memberitahukan, selamanya kami tidak akan melupakan budi kebaikan Taysu!" sahut Soat Cak dengan nada bermohon.

"Sebetulnya ada urusan apa kalian mencari dia?"

"Aku ingin mohon sebutir pil Kim Kong Tan," sahut Ciok Giok Yin.

"Kim Kong Tan?" "Ya."

"Untuk apa pil Kim Kong Tan itu?"

Ciok Giok Yin diam. Soat Cak memandangnya sambil berkata dengan lembut.

"Kanda Ciok, katakan!"

Ciok Giok Yin mengangguk lalu menutur tentang dirinya dan bagaimana kepandaiannya punah. Setelah itu dia pun menambahkan.

"Mohon petunjuk Taysu!"

"Lebih bagus kepandaian itu punah. Mengapa harus dipulihkan lagi?" kata Sih Ceng Taysu dingin.

Mendengar itu, gusarlah Ciok Giok Yin.

"Dasar keledai gundul, sama sekali tidak tahu aturan!" bentaknya.

Justru sungguh mengherankan. Sih Ceng Taysu tidak marah dicaci demikian. Sebaliknya dia malah tertawa gelak lalu berkata,

"Lohap tahu pun tidak akan memberitahukan pada kalian! Ha ha ha!" Dia langsung melesat ke arah lembah itu. Di saat bersamaan terdengar lagi suara siulan di dalam lembah itu, pertanda ada seorang tokoh berkepandaian amat tinggi di dalam lembah tersebut. Lantaran Sih Ceng Taysu berkata begitu, membuat kegusaran Ciok Giok Yin memuncak dan dia langsung mencaci.

"Keledai gundul, suatu hari nanti aku pasti melubangi kepalamu yang gundul itu!"

"Dia adalah orang yang telah menyucikan din, namun hatinya begitu kejam, sampai hati tidak memberitahu kita," kata Soat Cak.

Dia pun tampak gusar. Ingin rasanya menyusul hweeshio tua itu untuk memberi pelajaran padanya. Namun dia tidak berani meninggalkan Ciok Giok Yin, khawatir Ciok Giok Yin akan terjadi sesuatu. Sementara Ciok Giok Yin masih terus mencaci Sih Ceng Taysu. Mendadak suara bentakan sengit dari dalam lembah.

"Bocah, kalian cari Thian Lui Sianseng, apakah kalian kenal dia?"

"Beliau adalah kakek dari ibuku!" sahut Soat Cak.

"Tapi dia tidak kenal kalian!" kata orang yang ada di dalam lembah.

"Kenal tidak kenal tidak jadi masalah, yang penting kami memperoleh sebutir Pil Kim Kong Tan, agar Kanda Ciok pulih kepandaiannya!" seru Soat Cak.

Terdengar suara seruan di dalam lembah.

"Itu omong kosong! Cepatlah kalian enyah! Ha ha ha!" Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Apakah gunung ini milikmu? Aku tidak mau pergi, kalian bisa berbuat apa terhadap diriku?" sahutnya. "Bocah, kau memang cari mati!"

Terdengar suara itu semakin dekat. Tampak sosok bayangan berkelebat bagaikan roh masuk ke dalam goa, sekaligus menyambar Ciok Giok Yin dan dibawa pergi. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Soat Cak!

"Lepaskan dia!" bentaknya nyaring lalu melesat ke dalam lembah.

Ketika sampai di dalam lembah dia melihat tiga buah gubuk. Di samping salah satu gubuk itu terdapat sebuah telaga kecil, yang airnya agak kehitam-hitaman. Karena amat mencemaskan Ciok Giok Yin, Soat Cak langsung menerobos ke dalam gubuk itu. Tampak Sih Ceng Taysu sedang duduk bersila di sebuah ranjang. Saking gusarnya Soat Cak langsung membentak.

"Keledai gundul, cepat kembalikan Kanda Ciok-ku!"

Dia langsung menyerang Sih Ceng Taysu. Hweeshio tua itu tersenyum dan mendadak ujung jubahnya bergerak. Seketika Soat Cak merasa ada serangkum angin keras menerjang ke arah Cian Mo Hiatnya. Gadis itu ingin berkelit, tapi sudah terlambat, karena jalan darahnya itu telah tertotok, sehingga membuat sekujur badannya tak dapat bergerak.

"Bocah perempuan, kau tenang-tenanglah sebentar di sini!" kata Sih Ceng Taysu dingin, kemudian melesat ke luar.

Gugup, panik dan gusar membaur dalam hati Soat Cak. Tapi dia sama sekali tidak bisa bergerak, membuatnya amat cemas, karena tidak tahu Ciok Giok Yin berada di mana. Kalau terjatuh ke tangan musuh, nyawanya pasti melayang. Soat Cak cepat- cepat menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darahnya yang tertotok. Sementara Ciok Giok Yin yang dibawa pergi ternyata sudah dibawa sampai di pinggir telaga. Orang itu melempar Ciok Giok Yin ke bawah, kemudian menamparnya dua kali. Plak! Plak!

"Bocah, sungguh besar nyalimu! Berani datang di Gunung Thian san!" bentaknya.

Usai membentak, orang itu memukul dan menendang Ciok Giok Yin, sehingga badannya terguling-guling di tanah. Di saat berhenti, barulah Ciok Giok Yin melihat jelas orang itu ternyata adalah seorang tua. Ciok Giok Yin ingin membuka mulut mencacinya, tapi orang tua itu sudah menendangnya lagi, maka Ciok Giok Yin tidak sempat mencacinya. Perbuatan orang tua itu membuat Ciok Giok Yin yakin dia adalah seorang tokoh dari golongan hitam. Sayang sekali Ciok Giok Yin belum menemukan Thian Lui Sianseng. Seandainya dia telah bertemu Thian Lui Sianseng dan kepandaiannya bisa pulih, dia pasti akan membunuh orang tua itu. Memang sadis juga orang tua itu. Dia terus menerus menendang dan memukul Ciok Giok Yin. Mendadak orang tua itu menyambar Ciok Giok Yin dan membentak.

"Bocah, kau harus minum beberapa teguk air telaga dingin itu, agar kau tahu diri, tidak berkeliaran di tempat ini!"

Plum!

Ternyata orang tua itu telah melempar Ciok Giok Yin ke dalam telaga dingin itu. Sedangkan dia duduk di pinggir telaga, kelihatannya santai sekali, bahkan menggoyang-goyangkan sebelah kakinya. Walau Ciok Giok Yin dipukul dan ditendang, tapi dia tidak pingsan. Ketika badannya tenggelam ke dalam telaga dingin itu, dia cepat-cepat menahan nafas, lalu timbul ke atas. Namun tak disangka ketika Ciok Giok Yin timbul, orang tua itu menggunakan ilmu Sih Khong Ciap Yu (Ilmu Menyambut Jarak Jauh), maka Ciok Giok Yin jatuh di pinggir telaga.

"Bocah, nyawamu sungguh panjang!" bentak orang tua itu. Usai membentak dia pun mengayunkan tangannya.

Plak! Plak! Ternyata dia menampar Ciok Giok Yin. Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin sungguh-sungguh memuncak.

"Orang tua sialan! Aku tidak bermusuhan denganmu, mengapa..." cacinya.

"Agar kau tahu kelihayanku!" sergah orang tua itu.

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

"Tua bangka, kau berani!"

Ternyata yang membentak itu adalah Soat Cak. Dia melesat cepat ke tempat itu. Badannya masih berada di udara, sekonyong-konyong terdengar suara pujian pada sang Buddha.

"Omitohud! Bocah perempuan! Hebat juga kau dapat membebaskan totokanku!"

Tampak sebuah tasbih meluncur ke arah Soat Cak dan kemudian berkelebatan mengurungnya. Siapa hweeshio itu, tidak lain adalah Sih Ceng Taysu. Walau kepandaian Soat Cak cukup tinggi, namun tetap tidak dapat menandingi hweeshio tua itu. Oleh karena itu dia terdesak ke belakang. Kelihatannya hweeshio tua dan orang tua itu mempunyai maksud memisahkan Soat Cak dengan Ciok Giok Yin. Sebab hweeshio tua itu terus mendesak Soat Cak, sedangkan orang tua itu terus menyiksa Ciok Giok Yin yang telah punah kepandaiannya. 

Dia menampar Ciok Giok Yin kemudian menendang lagi hingga terpental ke dalam telaga. Kali ini Ciok Giok Yin merasakan dinginnya air telaga itu sampai menusuk ke dalam tulang. Kesadaran Ciok Giok Yin masih jernih, maka dia dapat timbul lagi di permukaan telaga lalu berenang ke tepi. Namun tak disangka orang tua itu telah menduga akan hal tersebut. Dia telah menunggu di tempat yang akan dituju oleh Ciok Giok Yin.

"Bocah, kau harus tenggelam ke dasar telaga dingin ini!" bentaknya sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya ke arah Ciok Giok Yin.

Angin yang ditimbulkan oleh dorongan sepasang telapak tangan orang tua itu amat dahsyat, berhasil menekan tubuh Ciok Giok Yin hingga tenggelam. Begitu berturut-turut beberapa kali, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak dapat mencapai pinggir telaga. Saat ini Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyadari satu hal, yakni dia mampu meloncat ke atas permukaan telaga hingga satu depa. Dalam hatinya hanya terdapat dendam terhadap orang tua itu. Akan tetapi dia tidak bisa naik ke atas. Lagi pula dia pun tidak tahan terhadap dinginnya air telaga. Oleh sebab itu tanpa sadar dia mengerahkan hawa murni di Tantiannya.

Buuuyar!

Ternyata dia telah mencelat ke atas tiga depa. Namun setelah badan Ciok Giok Yin berada di udara, orang tua itu sudah tidak tampak lagi. Ciok Giok Yin segera melesat ke tepi telaga.

Setelah sampai di tepi telaga dia tercengang. Ternyata rasa sakit di sekujur badannya telah hilang, bahkan sebaliknya kepandaiannya malah telah pulih kembali. Dapat dibayangakan, betapa girang hatinya! Orang tua itu menampar, memukul dan menendangnya, tujuannya adalah memulihkan kepandaiannya. Pantas ketika terpukul, sekujur badannya terasa panas. Di saat itulah dia teringat sesuatu dan langsung berseru tak tertahan.

"Thian Lui lo cianpwee! Thian Lui lo cianpwee... !"

Ketika dia baru mau melesat perti, mendadak terdengar suara yang amat menderu di belakangnya.

"Tunggu, Saudara!"

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya. Tampak berdiri seorang gadis berusia tujuh belasan. Di belakang gadis itu, di permukaan telaga terapung selembar daun teratai yang amat lebar. Kelihatannya gadis itu tidak berniat jahat, lagi pula parasnya cukup cantik. Ciok Giok Yin segera menjura. "Mohon tanya, Nona ada petunjuk apa?" Gadis itu menatap Ciok Giok Yin sejenak. "Siapa nama Saudara?"

"Namaku Ciok Giok Yin."

"Nyonya kami mengundang Saudara ke rumah." "Nyonya?"

"Ya."

"Siapa nyonya itu?"

"Saudara ke sana pasti tahu."

Ciok Giok Yin tertegun, karena dia baru pertama kali ini datang di Gunung Thian San, bagaimana mungkin ada orang mengenalnya? Sungguh aneh sekali! Namun Ciok Giok Yin teringat kepada Soat Cak, maka dia berkata,

"Aku harus memberi tahu temanku dulu, setelah itu barulah pergi bersama Nona."

"Tidak perlu memberi tahu dia, sebab cuma pergi sebentar saja."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Aku khawatir dia akan jatuh ke tangan penjahat." "Legakan hatimu, itu tidak akan terjadi."

Berhenti sejenak, kemudian gadis itu melanjutkan. "Silakan, Saudara!" Jari tangan gadis itu menunjuk daun teratai lebar yang terapung di permukaan telaga. Ciok Giok Yin tidak langsung melesat ke sana, melainkan wajahnya kelihatan serba salah.

Gadis itu menatapnya.

"Apakah Saudara bercuriga aku berbohong?"

Usai berkata, gadis itu melesat ke atas daun teratai tersebut.

Seketika Ciok Giok Yin berpikir. Nyawaku boleh dikatakan terpungut kembali dan kini kepandaianku telah pulih. Kalaupun telaga naga atau goa macan, aku harus menerjang ke sana!

Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, gadis itu berkata, "Silakan, Saudara!"

Ciok Giok Yin mengeraskan hati, lalu melesat ke atas daun teratai tersebut. Begitu sepasang kaki Ciok Giok Yin baru menginjaknya, daun teratai tersebut mulai bergerak ke tengah telaga. Hati Ciok Giok Yin tersentak, gadis itu masih begitu muda, namun ginkangnya sudah sedemikian tinggi. Sungguh mengagumkan! Ketika Ciok Giok Yin berpikir demikian, mendadak daun teratai itu mulai tenggelam.

Ciok Giok Yin terkejut. "Nona..." katanya.

Gadis itu sudah tahu apa yang akan diucapkan Ciok Giok Yin. Dia langsung senyum seraya berkata.

"Jangan takut, Saudara. Aku keluar masuk memang menggunakan daun teratai ini. Di dalam ada pintu rahasia, juga terdapat Pik Sui Cu (Mutiara Penangkal Air), jadi pakaian kita tidak akan basah."

Ciok Giok Yin cepat-cepat menengok ke sekelilingnya, tampak air telaga terbelah jadi dua. Melihat kejadian itu, wajah Ciok Giok Yin menjadi kemerah-merahan. Gadis itu tertawa geli. "Hi hi! Kau takut ya?"

Hati Ciok Giok Yin menjadi kesal mendengar itu.

"Aku berkelana dalam rimba persilatan, masih belum tahu apa yang disebut takut. Sebetulnya siapa nyonya itu?"

"Sabar! Sebentar lagi Saudara akan mengetahuinya."

Sementara daun teratai itu terus merosot ke bawah. Namun walau sudah belasan depa, belum mencapai dasar telaga.

Mendadak di depan mata Ciok Giok Yin tampak terang benderang. Sebuah goa muncul di hadapannya. Sungguh mengherankan! Kira-kira dua depa di depan goa itu sama sekali tidak tampak air setetes pun. Gadis itu langsung meloncat, sudah sampai di depan pintu goa. Sedangkan Ciok Giok Yin mendongakkan kepala. Dia melihat di atas pintu goa terukir beberapa huruf 'Coat Ceng Tong Thian (Goa Langit Tanpa Perasaan)'. Setelah membaca keempat huruf itu, dia meloncat ke depan pintu goa lalu bertanya kepada gadis itu dengan suara rendah.

"Nona, mengapa di sini tidak ada air?"

"Di dinding goa terdapat Mutiara Penangkal Air, maka di dalam goa tidak ada air. Silakan masuk!"

Ciok Giok Yin mengikuti gadis itu ke dalam goa. Lorong goa itu amat panjang. Setiap berapa langkah pasti terdapat sebutir mutiara yang memancarkan cahaya, sehingga lorong goa itu menjadi agak terang. Tentunya membuat Ciok Giok Yin terheran-heran. Di kolong langit ini memang banyak hal aneh. Mimpipun tak dapat menduga, bahwa di dasar telaga dingin ini terdapat sebuah goa. Penghuni goa ini pasti seorang tokoh tua yang tidak tertarik akan duniawi. Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, gadis itu berkata dengan suara rendah.

"Tunggu sebentar ya, aku ke dalam melapor!"

Usai berkata, dia langsung berjalan ke dalam. Ciok Giok Yin berjalan ke dalam menuju ruang batu. Sampai di dalam, dia melihat seorang wanita berusia lima puluhan duduk di atas ranjang batu, sedangkan gadis yang membawa Ciok Giok Yin berdiri di sampingnya. Sepasang mata wanita itu amat tajam, sepertinya akan menembus ke dalam hati orang. Sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding, tidak berani beradu pandang dengannya. Setelah berada di hadapan wanita itu, Ciok Giok Yin memberi hormat seraya berkata,

"Boanpwee (Aku Yang Rendah) Ciok Giok Yin memberi hormat pada lo cianpwee!"

"Kau bernama Ciok Giok Yin?" tanya wanita itu dengan dingin. "Ya."

"Bagaimana kau bisa datang di telaga dingin Gunung Thian San ini?"

"Aku ke mari mencari seorang lo cianpwee." "Siapa? Bolehkah aku tahu?"

"Thian Lui Sianseng." "Thian Lui Sianseng?" "Ya."

"Ada urusan apa kau mencarinya?"

Ciok Giok Yin tahu bahwa wanita itu tidak berniat jahat terhadapnya, maka dia menyahut dengan jujur.

"Karena kepandaianku masih rendah, sehingga terluka parah di tangan seorang gadis yang memakai kain penutup muka, membuat kepandaianku punah. Seorang cianpwee memberi petunjuk padaku, harus ke mari mencari Thian Lui Sianseng."

"Kau sudah menemukannya?" tanya wanita itu. "Belum."

"Bagaimana cara kepandaianmu bisa pulih kembali?"

Ciok Giok Yin tidak tahu orang tua tadi, karena itu dia menutur tentang kejadian tersebut. Setelah mendengar penuturan Ciok Giok Yin wanita yang duduk di atas ranjang batu, mendengus dingin.

"Hmmm! Tak disangka setan tua itu masih punya kehebatan!"Dia memandang Ciok Giok Yin. "Dia sudah memberimu pil Kim Kong Tan?"

"Belum," sahut Ciok Giok Yin dengan tertegun.

"Untuk apa setan tua itu menyimpan pil Kim Kong Tan?"

Mendadak hati Ciok Giok Yin tergerak, kemudian dia berkata dalam hati, 'Wanita ini menyebut Thian Lui Sianseng setan tua. Apakah mereka berdua telah lama kenal?' Karena itu dia bertanya.

"Mohon tanya siapa cianpwee?"

Sepasang mata wanita yang duduk di atas ranjang batu itu langsung menyorot dingin dan kemudian dia balik bertanya,

"Kau melihat empat huruf yang terukir di atas pintu goa?" Ciok Giok Yin terbelalak.

"Coat Ceng Hujin?" serunya tak tertahan. "Ya."

Seketika Ciok Giok Yin berseru lagi. "Hah? Kalau begitu, cianpwee...!"

"Maksudmu aku belum mati?" kata Coat Ceng Hujin. Ciok Giok Yin tertegun tidak berani menyahut.

"Jangan takut, kau dengar dari siapa?" tanya Coat Ceng Hujin lagi.

Di saat bersamaan Ciok Giok Yin teringat akan penuturan Khouw Pei Ing, serta Soat Cak yang dijodohkan padanya. Oleh karena itu dia langsung menutur tentang itu, kemudian menambahkan,

"Cianpwee, kini Adik Cak masih berada di tepi telaga." "Kalau begitu dia adalah cucuku."

"Ya."

Ciok Giok Yin cepat-cepat melanjutkan.

"Dia berada di sana, apakah dalam bahaya?"

"Legalah hatimu, setan tua itu adalah Thian Lui Sianseng yang kau cari itu."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Jadi orang tua itu benar Thian Lui Sianseng?" "Tidak salah."

"Kalau begitu aku tidak mau menemui orang tua itu lagi." "Mengapa?"

"Orang tua itu... telah menyiksaku, sehingga aku pun mencacinya."

"Itu tidak jadi masalah, sifatnya memang begitu." Coat Ceng Hujin berpikir sejenak. "Tahukah kau apa sebabnya aku memanggilmu ke mari?"

"Tidak tahu." Coat Ceng Hujin berkata dengan dingin.

"Urusanku masa lalu tentunya kau sudah dengar dari ibunya Soat Cak. Itu menghancurkan diriku atau bukan, aku sendiri pun tidak dapat membedakannya. Biarlah kaum rimba persilatan yang menilainya."

Mendadak terlintas suatu hal dalam benak Ciok Giok Yin, maka dia segera bertanya.

"Lo cianpwee, bolehkah lo cianpwee menjelaskan tentang urusan masa lalu itu?"

"Urusan itu telah berlalu, untuk apa diungkit kembali? Aku terpukul jatuh ke dalam telaga dingin ini oleh tiga tokoh persilatan yang berhati kerdil. Kemudian aku hidup menyendiri dua puluh tahun di sini. Namun hatiku masih amat penasaran terhadap ketiga tokoh persilatan itu."

"Siapa ketiga tokoh persilatan itu?"

"Yang pertama adalah Mok Pak Tiau (Rajawali Gurun Utara). Dia adalah hweeshio tua yang di atas itu."

"Hah? Ternyata dia!" seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Dia berada di telaga itu sesungguhnya sedang mengawasiku, apakah aku sudah mati atau belum. Justru tak disangka setan tua itu malah jadi kawannya."

"Bagaimana sikap Mok Pak Tiau terhadap orang?"

"Dari segi luarnya kelihatan memang welas asih, namun hatinya licik dan banyak akal busuknya. Dia manusia rendah."

"Mohon tanya, bagaimana Thian Lui lo cianpwee bisa menjadi kawan baiknya?"

"Kini dia adalah Sib Ceng Taysu, menutupi wajah aslinya yang dulu." "Dia berada di atas sana, mengapa lo cianpwee tidak mau membasminya demi keselamatan dunia persilatan?"

"Kaum rimba persilatan semuanya tahu aku telah tenggelam ke dalam telaga dingin. Lagi pula sepasang kakiku telah lumpuh, tidak leluasa berjalan, maka aku bersabar hingga saat ini. Kini kau sudah ke mari, maka aku ingin mohon bantuanmu."

"Mohon bantuanku?"

"Ya. Namun aku tidak memakaimu secara cuma-cuma." "Bantuan apa yang dapat kuberikan, lo cianpwee katakan

saja!"

"Sekarang jangan bicarakan soal ini, terlebih dahulu kau kuwarisi Coat Ceng Ciang (Ilmu Pukulan Tanpa Cinta)."

"Coat Ceng Ciang?"

Coat Ceng Hujin mengangguk. "Benar. Sekarang perhatikan!"

Mendadak badan Coat Ceng Hujin mengapung ke atas dengan posisi tidak berubah. Tampak telapak tangannya berkelebat ke sana ke mari, namun tidak mengeluarkan suara. Ketika menyaksikan ilmu pukulan itu Ciok Giok Yin berpikir, ilmu pukulan itu tidak menimbulkan suara maupun angin pukulan, bagaimana mungkin dapat melukai orang? Lagi pula dalam keadaan posisi duduk. Kelihatannya Coat Ceng Hujin tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.

"Cobalah kau berlatih sebentar!"

Walau Ciok Giok Yin tidak begitu yakin akan ilmu pukulan tersebut, namun dia tidak berani membantah. Tak disangka begitu dia mulai berlatih, ternyata ilmu pukulan itu amat luar biasa. Meskipun cuma satu jurus, tapi banyak mengandung perubahan yang tak dapat diduga sama sekali.

Coat Geng Hujin manggut-manggut kemudian berkata,

"Kau harus membunuh ketiga orang itu dengan ilmu pukulan ini."

Hati Ciok Giok Yin tersentak. "Membunuh tiga orang?" "Tidak salah."

"Siapa ketiga orang itu?"

"Orang yang pertama adalah hweeshio tua yang di atas itu."

Ketika mendengar itu, Ciok Giok Yin termundur selangkah dan membatin. 'Walau dulu orang itu amat licik dan berakal busuk, tapi kini dia telah menyucikan diri bergelar Sih Ceng Taysu.

Buddha bersabda, 'Letakkan golok pembunuh dan segeralah menjadi Buddha.' Lalu apakah aku harus turun tangan terhadap murid Sang Buddha?'

Karena melihat Ciok Giok Yin diam, maka Coat Ceng Hujin segera bertanya,

"Kau tidak bersedia?"

"Kini dia telah menyucikan diri menjadi hweeshio," sahut Ciok Giok Yin.

Coat Ceng Hujin mendengus dingin.

"Hmm! Aku beritahukan, dia berada di sini selain mengawasiku, juga mempunyai suatu tujuan.

Ciok Giok Yin tercengang. "Masih ada tujuan lain?" "Betul."

"Apa tujuannya?"

"Dia ingin memiliki kitab Hong Lui Ngo Im Keng." "Hong Lui Ngo Im Keng?"

"Ya."

"Lo cianpwee, Hong Lui Im Keng ada di tangan Adik Cak." Coat Ceng Hujin terbelalak dan langsung bertanya,

"Kini berada di tangan Anak Cak?" "Ya."

"Kalau begitu, kau harus segera keluar, jangan sampai kitab itu direbut hweeshio keparat itu!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau pergi, mendadak Coat Ceng Hujin memanggilnya.

Ciok Giok Yin berhenti, maka Coat Ceng Hujin lalu berkata, "Dua orang lagi adalah Pek Hap Hui Su dari Siauw Lim Si, tapi

sudah dikeluarkan dari pintu perguruan Siauw Lim Si. Yang

satu lagi adalah Tong Hai Kui Mo (Setan Iblis Laut Timur). Dia menatap Ciok Giok Yin. "Kau harus mewakiliku membasmi ketiga orang itu dengan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang."

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

Namun dia berkata dalam hati. 'Seandainya ketiga orang itu sudah bertobat, apakah tetap harus kubunuh?' Karena itu Ciok Giok Yin bertanya,

"Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan?" "Pertanyaan apa?"

"Seandainya ketiga orang itu sudah bertobat, lalu aku harus bagaimana?"

Coat Ceng Hujin tertegun, karena tidak menyangka Ciok Giok Yin akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Sifat manusia sulit diubah, itu tidak akan salah. Kalau memang mereka sudah bertobat, terserah kau saja," katanya kemudian.

"Terimakasih, lo cianpwee."

Coat Ceng Hujin menengok gadis yang berdiri di sampingnya. "Antar dia keluar!"

"Ya."

Gadis itu segera mengantar Ciok Giok Yin meninggalkan goa tersebut, tetap melalui daun teratai itu meluncur ke atas.

Setelah sampai di permukaan telaga gadis itu berkata,

"Saudara Ciok, silakan ke darat, aku tidak mengantar lagi." "Terimakasih, Nona!" ucap Ciok Giok Yin sambil memandang

gadis itu. Kemudian dia melesat ke tepi. Ketika dia membalikkan badannya, gadis itu sudah tidak

kelihatan. Beberapa saat kemudian, ketika Ciok Giok Yin mau mencari Soat Cak, mendadak terdengar suara desiran ujung baju. Ciok Giok Yin bergerak cepat membalikkan badannya, tampak orang tua itu berdiri di situ. Sepasang matanya menyorot tajam menatap wajah Ciok Giok Yin, bahkan tak berkedip sama sekali.

"Bocah, kau ke mana?" tanya orang tua itu dingin. Ciok Giok Yin balik bertanya. "Apakah lo cianpwee adalah Thian Lui Sian-seng?" "Tidak salah."

"Terimakasih atas kebaikan lo cianpwee telah memulihkan kepandaianku."

"Jangan omong kosong! Tadi kau ke mana?" "Aku pergi menemui Coat Ceng Lo cianpwee. "

Mendadak Thian Lui Sianseng bergerak cepat laksana kilat, mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.

"Kau bilang apa?" bentaknya.

Ciok Giok Yin yang tidak menduga bahwa Thian Lui Sianseng akan mencengkeramnya, maka dia tidak sempat berkelit.

Begitu lengannya tercengkeram, sekujur badannya menjadi ngilu tak dapat bergerak. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Thian Lui lo cianpwee, kini aku sudah berada di tanganmu! Kalau lo cianpwee mau membunuhku, silakan! Tapi kalau lo cianpwee menginginkan aku menjawab, jangan harap!"

Thian Lui Sianseng tersadar, bahwa tindakannya memang kelewat batas. Maka dia segera melepaskan tangannya dan mundur tiga langkah.

"Katakan!" desaknya.

"Tadi aku pergi menemui Coat Ceng lo cianpwee." "Dia berada di mana?"

"Di dasar telaga dingin itu." "Benarkah itu?"

"Aku tidak perlu bohong, tapi apakah lo cianpwee pernah

salah paham terhadapnya?" Mendadak Thian Lui Sianseng tertawa gelak. Suara tawanya bergema ke mana-mana. Beberapa saat kemudian dia berkata,

"Lohu menyesal dua puluh tahun lebih, karena telah salah paham terhadapnya, kini memang sudah waktunya." Dia merogohkan tangan ke dalam sakunya untuk mengeluarkan sebuah botol kecil. "Bocah, pil Kim Kong Tan!" serunya.

Thian Lui Sianseng melempar pil tersebut ke arah Ciok Giok Yin. Di saat bersamaan, mendadak tampak sosok bayangan melesat ke sana laksana kilat. Ketika Ciok Giok Yin baru menjulurkan tangannya mau menerima pil itu, bayangan tersebut mendahului bahkan langsung menelannya.

Setelah itu terdengar suara tawa terkekeh "Terimakasih, sobat lama!"

Thian Lui Sianseng dan Ciok Giok Yin memandang orang itu, ternyata adalah Sih Ceng Taysu. Bayangkan betapa gusarnya Thian Lui Sianseng!

"Sih Ceng, lohu cuma punya sebutir, kau..." bentaknya dengan suara dalam.

Saat ini wajah Sih Ceng Taysu tampak bengis dan jahat. Mendadak Ciok Giok Yin menggeserkan badannya mendekati Sih Ceng Taysu lalu membentak sengit.

"Maling tua, kau memang sungguh jahat! Hari ini aku akan mewakili Coat Ceng Hujin lo cianpwee membasmimu!"

Sembari berkata Ciok Giok Yin menyerang Sih Ceng Taysu dengan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang. Terdengar suara jeritan. Mulut Sih Ceng Taysu menyemburkan darah segar. Dia langsung melesat pergi lalu hilang di tikungan sebuah batu besar. Ciok Giok Yin ingin mengejar, namun Thian Lui Sianseng berseru,

"Siapa dia?" "Apakah lo cianpwee tidak kenal?" sahut Ciok Giok Yin. "Lohu cuma tahu dia dipanggil Sih Ceng Taysu."

"Dia adalah salah seorang dari tiga pengeroyok Coat Ceng lo cianpwee, hingga terpukul jatuh ke dalam telaga dingin. Mok Pak Tiau adalah dirinya."

"Hah? dia... dia adalah Mok Pak Tiau?" seru Thian Lui Sianseng.

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

"Kau dengar dari siapa?" "Coat Ceng lo cianpwee."

"Dua puluh tahun lohu tertipu olehnya." Mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Soat Cak.

"Thian Lui lo cianpwee, di mana gadis yang bersamaku itu?" Air muka Thian Lui Sianseng langsung berubah.

"Celaka!"

Ketika Thian Lui Sianseng baru mau pergi mengejar Sih Ceng Taysu, mendadak terdengar suara seruan dari tengah-tengah telaga. Thian Lui Sianseng dan Ciok Giok Yin menoleh, tampak dua gadis berdiri di atas daun teratai. Salah satu gadis itu adalah Soat Cak. Bukan main girangnya Ciok Giok Yin! seketika itu juga hatinya menjadi lega. Soat Cak berkata dengan nada duka.

"Kanda Ciok, untung tadi kakak ini menyelamatkanku? Kalau tidak, mungkin aku akan dibawa pergi oleh keledai gundul itu. Sementara ini aku akan tinggal di sini untuk belajar kungfu pada nenekku. Kanda Ciok, jaga diri baik-baik, aku pasti mencarimu kelak!"

Usai gadis itu berkata, daun teratai mulai merosot ke bawah.

Tiba-tiba Thian Lui Sianseng menengadahkan kepalanya memandang langit seraya berseru dengan penuh kedukaan.

"Sudahlah! Sudahlah! Lohu mana masih punya muka menemuinya?"

Usai berkata, dia meloncat ke dalam telaga dingin itu. Di saat bersamaan kedua gadis yang berdiri di atas daun teratai sudah tidak kelihatan lagi. Sedangkan Ciok Giok Yin ingin mencegah perbuatan Thian Lui Sianseng, tapi sudah terlambat. Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Thian Lui Sianseng akan mengambil jalan pendek, membunuh diri meloncat ke dalam telaga dingin itu. Dia menghela nafas panjang. Kini hatinya terasa agak hampa, sebab Soat Cak tinggal di tempat Coat Ceng Hujin maka dalam perjalanan nanti dia akan kehilangan pendamping, itu membuat hatinya terasa agak duka. Beberapa saat dia berdiri termangu-mangu, setelah itu barulah berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.

Kini bertambah satu beban lagi di atas bahunya, yakni harus mewakili Coat Ceng Hujin membasmi tiga orang, Salah seorang di antaranya adalah Sih Ceng Taysu. Ternyata dia belum bertobat. Sedangkan dua orang lagi, mungkin juga belum bertobat. Ketika Ciok Giok Yin baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara seruan nyaring.

"Kanda Ciok, tunggu sebentar!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Tampak sosok bayangan langsing melayang turun di hadapannya, lalu mendekap di dadanya. Ciok Giok Yin segera memeluknya seraya berkata dengan lembut,

"Adik Cak, kau tidak mau tinggal di sini?" Soat Cak menyahut sedih. "Kanda Ciok, sementara ini aku memang harus tinggal di sini. Kau harus baik-baik menjaga diri. Setelah melewati beberapa waktu, aku akan mohon pada nenekku agar melepaskanku untuk kembali ke sisimu."

Ciok Giok Yin membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Adik Cak, kau juga harus baik-baik menjaga diri!" "Aku tahu."

"Baiklah. Kau harus kembali ke sana."

"Kanda Ciok, nenekku menyuruhku menyampaikan satu masalah, harus dilaksanakan."

"Urusan apa?"

"Cari kembali kitab Hong Lui Ngo Im Keng!"

Tertegun Ciok Giok Yin, menatap Soat Cak terbelalak. "Eh? Bukankah kitab Hong Lui Ngo Im Keng ada padamu?" "Telah hilang," sahut Soat Cak dengan wajah muram. "Kok bisa hilang?"

Soat Cak tidak segera menyahut, sebab khawatir akan membuat hati Ciok Giok Yin berduka. Ciok Giok Yin merasa heran mengapa Soat Cak diam tidak mau memberitahukan.

"Adik Cak, beritahukanlah!"

Soat Cak menundukkan kepala, kemudian menutur tentang kejadian itu dan menambahkan,

"Kanda Ciok, kalau kau berhasil mencari kitab Hong Lui Ngo Im Keng, kakek dan nenek pasti bisa rujuk kembali. Kalau tidak, nenek tidak akan memperdulikan kakek."

Ciok Giok Yin manggut-manggut. Hatinya amat terharu akan kesetiaan Soat Cak padanya. Kemudian dia membelai gadis itu sambil berkata dengan lembut.

"Adik Cak, aku telah membuatmu menderita," Ciok Giok Yin menatapnya lembut. "Adik Cak, tadi Thian Lui lo cianpwee terjun ke dalam telaga dingin, apakah tidak terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Sudah diselamatkan oleh nenek, namun sementara ini mereka berdua belum berjumpa. Maka Kanda Ciok harus berhasil mencari kitab itu, barulah mereka berdua akan bertemu dan rujuk kembali."

Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Oooooh!"

Kemudian dia mendekati Soat Cak. Namun ketika baru ingin menciumnya, mendadak terdengar suara seruan nyaring.

"Kakak Cak, kita sudah harus kembali!" Soat Cak mengangguk.

"Ya."

Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin dengan mata berkaca- kaca, namun penuh diliputi cinta kasih yang amat dalam.

"Kanda Ciok, jaga dirimu baik-baik..." katanya dengan suara rendah.

Soat Cak langsung melesat pergi dan tak lama sudah berada di atas daun teratai. Dalam waktu sekejap kedua gadis itu sudah tidak kelihatan. Ciok Giok Yin termangu-mangu memandang permukaan telaga dingin itu. Berselang beberapa saat barulah dia pergi dengan perasaan hampa. Ketika datang di Gunung Thian San dia membawa perasaan perih dalam hati, karena kepandaiannya telah punah. Berhasil dipulihkan atau tidak, itu masih merupakan tanda tanya besar. Akan tetapi hatinya masih terhibur karena Soat Cak berada di sampingnya.

Kini walau kepandaiannya telah pulih, tapi Coat Ceng Hujin justru menahan Soat Cak tinggal di dalam dasar telaga dingin, sehingga membuatnya merasa merana dan kesepian. Ciok Giok Yin terus melesat dengan pikiran kacau. Namun dia telah mengambil keputusan menuju ke Gunung Liok Pan San, mencari Thian Thong Lojin untuk memecahkan rahasia kain potongan itu. Sesudah itu dia harus berusaha mencari Seruling Perak agar berhasil menguasai ilmu silat tertinggi, demi membasmi murid murtad suhunya dan membasmi para penjahat rimba persilatan. Pikiran ini membuatnya melesat lebih cepat menuju Gunung Liok Pan San. Walaupun harus melewati batu-batu curam, namun dia tetap melesat cepat, karena ginkangnya memang sudah cukup tinggi.

Berselang beberapa saat, ketika dia sedang melesat di sebuah puncak, mendadak dia melihat sosok bayangan yang diselimuti kabut hijau. Ciok Giok Yin segera berhenti lalu memperhatikan bayangan itu, ternyata adalah seorang wanita. Karena wanita itu diselimuti kabut hijau, maka Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jelas wajahnya. Menyaksikan itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Di tempat yang amat sepi ini bagaimana mungkin ada wanita yang duduk diselimuti kabut hijau? Kemungkinan besar adalah siluman penguasa gunung itu. Dia ingin meninggalkan tempat itu perlahan-lahan, namun mendadak bayangan itu menghela nafas panjang dan kemudian berkata, seakan bergumam.

"Hua, sungguhkah kau tidak datang?" Dia menghela napas panjang lagi, "Langit dan bumi takkan tua dan berubah, namun cinta, budi dan dendam sulit dilarang."

Mendengar itu hati Ciok Giok Yin tersentak. Kemudian dia berkata dalam hati. 'Wanita itu pasti bukan siluman penguasa gunung ini. Mungkin dia telah berhasil melatih semacam ilmu silat tingkat tinggi, maka sekujur badannya mengeluarkan kabut hijau, dan kelihatannya dia sedang menunggu seseorang." Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, wanita tersebut sepertinya telah mengetahui akan kehadiran Ciok Giok Yin. Badannya bergerak sedikit, kemudian bertanya pada Ciok Giok Yin dengan dingin sekali.

"Mau apa kau ke mari?"

"Kebetulan aku lewat di sini, tanpa sengaja telah mengganggu lo cianpwee, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku!" sahut Ciok Giok Yin.

"Kau juga kaum rimba persilatan?"

"Aku baru berkecimpung di rimba persilatan, namaku tidak terkenal."

"Itu berarti kau memang kaum rimba persilatan. Aku ingin bertanya padamu tentang seseorang!"

"Siapa?"

"Pernahkah kau mendengar Bu Tek Thay Cu (Pangeran Tanpa Tanding) Siangkoan Hua?"

Ciok Giok Yin tertegun.

"Aku tidak pernah mendengarnya," sahutnya lalu berpikir sejenak. "Kalau cianpwee membutuhkan tenagaku untuk mencarinya, aku pasti melaksanakannya. Bagaimana menurut cianpwee?"

Lama sekali barulah wanita itu menyahut.

"Tidak usah. Aku yakin cepat atau lambat dia pasti ke mari."

Usai menyahut, mendadak wanita yang diselimuti kabut hijau melesat pergi, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Ciok Giok Yin terbelalak, kemudian berkata dalam hati, 'Bukan main cepatnya gerakkan wanita itu!' Dia maju beberapa langkah lalu memandang ke arah wanita itu menghilang. Sekujur badannya menjadi bergemetaran, ternyata di situ merupakan jurang yang amat dalam. Kalau ginkang wanita itu belum mencapai tingkat tertinggi, tentunya tidak berani melesat ke bawah jurang itu. Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam.

"Sungguh di luar orang masih ada orang, di luar langit masih ada langit!"

Dia mengela nafas panjang, setelah itu barulah melesat pergi. Ketika baru melesat dua puluh depa, mendadak terdengar suara percakapan. Dia tercengang dan langsung berhenti serta pasang kuping mendengar dengan seksama. Terdengar suara yang amat lirih, namun kemudian tidak terdengar lagi. Itu membuat Ciok Giok Yin ragu, mungkin salah dengar, pada hal cuma suara desiran angin. Ketika dia baru mau pergi, tiba-tiba suara lirih itu terdengar lagi, tapi kali ini terdengar agak jelas.

"Kakak Yin, beberapa waktu ini kau ke mana?"

Ciok Giok Yin tertegun, karena mengenal suara itu. Kemudian bertanya dalam hati, 'Siapa dia?' Di saat bersamaan terdengar pula suara lelaki.

"Berkelana ke mana-mana."

"Kakak Yin, aku sungguh bersalah padamu," kata wanita itu. "Maksudmu?"

"Tempo hari setelah aku mencuri peta si Kauw Hap Liok Touw, aku pergi secara diam-diam, aku... sungguh bersalah! Tapi aku melakukan itu karena terpaksa."

Mendengar sampai di sini, barulah Ciok Giok Yin ingat. Ternyata wanita itu adalah murid Bu Lim Sam Siu, yang diperintahkan untuk mencari petanya, tidak lain adalah Cen Siauw Yun. Seketika juga amarah Ciok Giok Yin meluap, baru mau. Tapi setelah berpikir sejenak, dia batal keluar karena

ingin tahu siapa orang yang dipanggil Kakak Yin itu. Terdengar lagi suara lelaki itu, "Adik Yun, urusan itu telah berlalu, jangan diungkit kembali."

"Tidak, kau harus dengar dulu perkataanku," kata Cen Siauw Yun.

"Baik, katakanlah!"

"Ketika itu aku memang ingin pergi begitu saja, namun merasa tidak tega. Maka aku cepat-cepat meninggalkan tulisan di kertas itu, agar kau berangkat duluan. Apakah kau memperoleh itu?"

"Memperoleh apa?"

"Benda pusaka di dalam Goa Cian Hud Tong." "Sama sekali tidak."

Cen Siauw Yun berseru kaget. "Hah? Sungguh?"

"Untuk apa aku membohongimu?"

"Kalau begitu, mengapa suhuku mengambil kembali kepandaianku?"

"Bagaimana mengambil kembali kepandaianmu?" "Suhuku Bu Lim Sam Siu, ketika pulang wajah mereka

tampak gusar sekali. Mereka mencaciku telah berkhianat

karena memberitahu kau secara diamdiam, maka benda pusaka yang di dalam Goa Cian Hud Tong itu telah kau peroleh."

Cen Siauw Yun berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Karena itu ketiga suhuku langsung memusnahkan

kepandaianku. Seandainya aku tidak bertemu seorang lo cianpwee, tentu kepandaianku tidak akan pulih kembali." "Bu Lim Sam Siu begitu kejam?" kata lelaki itu.

"Karena tidak memperoleh benda pusaka yang mereka inginkan, maka jadi amat gusar."

Hening sejenak, kemudian Cen Siauw Yun bertanya, "Kakak Yin, sungguhkah kau belum memperolehnya?" "Sungguh!"

"Mengapa begitu banyak orang mengatakan, bahwa kau yang memperolehnya?"

"Yah! Mereka cuma menyebarkan isyu saja."

Ketika Ciok Giok Yin mendengar sampai di situ, barulah teringat olehnya orang itu yang menyamar dirinya. Dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin! Di saat dia baru mau.....

Justru mendadak dia mendengar lelaki itu berkata, "Adik yun, langit dan bumi menjadi saksi kita! Setelah kita seranjang, barulah. "

Cen Siauw Yun segera memutuskan perkataannya. "Kakak Yin, aku. "

Belum juga Cen Siauw Yun usai berkata, Ciok Giok Yin sudah membentak sengit.

"Sungguh tak tahu malu kalian, aku Ciok Giok Yin berada di sini!"

Suara bentakannya belum lenyap, terdengar suara jeritan yang menyayat hati, kedengarannya seperti merosot ke bawah.

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan mencelat ke atas bagaikan kilat. Setelah diperhatikan, ternyata wajahnya mirip sekali dengan Ciok Giok Yin, seperti pinang dibelah dua atau saudara kembar.

Bagaimana Ciok Giok Yin akan membiarkannya kabur? Dia mendorongkan sepasangan telapak tangannya ke depan seraya membentak.

"Berhenti!"

Dorongan telapak tangan Ciok Giok Yin menimbulkan angin yang amat kuat, bahkan mengandung hawa panas. Orang itu terpaksa berhenti lalu berdiri tegak di hadapan Ciok Giok  Yin. Jarak mereka cuma dua depa. Ciok Giok Yin maju dua langkah sambil berkata dengan dingin sekali.

"Maling jahat! Kau menyamar diriku dan melakukan  kejahatan di mana-mana! Tempo hari kau dapat melarikan diri, hari ini kau jangan harap dapat kabur dalam keadaan selamat!"

Ciok Giok Yin palsu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bocah! Siapa mati di tangan siapa masih belum tahu!" Ciok Giok Yin maju dua langkah lagi.

"Mengapa kau menyamar sebagai diriku?" bentaknya sambil mencelat ke atas, kelihatannya ingin menyerang orang itu.

"Tentu ada sebabnya!" sahut orang itu sambil mencelat ke belakang.

Mendengar itu Ciok Giok Yin batal menyerangnya. "Katakan!" bentaknya.

"Aku tidak mau mengatakan! Kau mau apa?" "Lihat kau mau mengatakan atau tidak?"

Sembari berkata badan Ciok Giok Yin sudah maju, sekaligus menyerangnya dengan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Pukulan tersebut membuat orang itu termundur-mundur, namun akhirnya berhasil mengelak serangan yang bertubi-tubi itu.

Orang itu tertawa dingin lalu berkata,

"Bocah haram! Hari ini aku pun tidak akan melepaskanmu! Asal kau sudah mati, aku pun kembali pada wajah asliku!"

Mendadak dia melancarkan pukulan dahsyat ke arah Ciok Giok Yin. Amarah Ciok Giok Yin sudah memuncak. Dia berkertak gigi seraya membentak seperti guntur.

"Hari ini aku akan membuatmu kembali pada wajah aslimu!" Ciok Giok Yin mengeluarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong

Lui Sam Ciang. Akan tetapi tak disangka gerakan orang itu

amat gesit, bagaikan roh halus. Dia berhasil berkelit menghindari pukulan yang dilancarkan Ciok Giok

Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa gerakan orang itu begitu aneh. Mendadak tampak telapak tangan Ciok Giok Yin berkelebat cepat, ternyata dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Coat Ceng Ciang. Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh !"

Krek! Krek! Krek!

Ternyata tulang rusak orang itu telah patah, badannya terpental beberapa depa. Ciok Giok Yin melesat ke arahnya, sepasang matanya tampak membara. Orang itu roboh tertelentang. Ciok Giok Yin mengangkat sebelah kakinya lalu dihentakkan di dada orang itu.

"Sebetulnya siapa kau?" bentaknya sengit.

Wajah orang itu kini kelihatan amat menyeramkan, sebab penuh noda darah. Bahkan mulutnya masih mengeluarkan darah. Dia dalam keadaan pingsan. Ciok Giok Yin menatapnya dengan bengis. Berselang sesaat orang itu mulai siuman.

Sepasang matanya tampak suram. "Aku sudah jatuh ke tanganmu. Kau mau membunuhku silakan!"

"Mau tidak mau kau harus bilang, mengapa kau menyamar sebagai diriku? Mengapa?" bentak Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin mengerahkan tangan untuk menginjak dada orang itu. Orang itu menjerit kemudian pingsan lagi. Beberapa saat kemudian barulah dia siuman.

"Ciok Giok Yin, jangan harap aku mau buka mulut. Kalau kau mau membunuhku silakan! Tapi kalau hari ini kau membunuhku, tidak sampai tiga bulan kau pun tak akan selamat!"

Usai berkata, dia memejamkan matanya dan mulutnya ditutup rapat-rapat. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia mengerahkan tenaga untuk menginjak dada orang itu lagi. Seketika terdengar suara jeritan. Mulut orang itu menyemburkan darah segar dan badannya kelonjotan sejenak, lalu diam. Ternyata nafasnya telah berhenti. Ciok Giok Yin belum merasa puas. Dia mengayunkan kakinya menendang mayat orang itu ke dalam jurang. Dia teringat pada Cen Siauw Yun, maka segera melesat ke belakang batu besar. Di sana dia melihat selembar kain yang bernoda sedikit darah. Itu membuktikan bahwa laki-laki itu telah mengadakan hubungan intim dengan Cen Siauw Yun. Namun setelah tadi terdengar suara jeritannya, gadis itu tidak kelihatan lagi.

Mungkinkah orang itu mendengar suara bentakan Ciok Giok Yin, lalu menendang Cen Siauw Yun ke dalam jurang? Ciok Giok Yin memandang ke dasar jurang, tapi tidak tampak apa pun. Maka dia membalikkan badannya lalu melesat pergi. Saat ini hati Ciok Giok Yin terasa lega, karena telah membasmi orang yang menyamar dirinya. Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu siapa orang itu dan mengapa menyamar dirinya.

Apakah di antara mereka berdua terdapat dendam kesumat, sehingga orang itu menyamar sebagai Ciok Giok Yin untuk melakukan kejahatan, demi merusak namanya? Sesungguhnya apa maksud tujuan orang itu? Ciok Giok Yin terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan jawabannya. Di saat dia terus berpikir, tanpa terasa sudah tiba di sebuah tebing.

Setelah menikung di tebing itu, ternyata dirinya berada di mulut sebuah lembah. Ciok Giok Yin terbelalak, karena tadi dia melihat wanita yang diselimuti kabut hijau melayang turun ke lembah tersebut. Ketika dia baru ingin meninggalkan lembah itu, mendadak tampak lima sosok bayangan melesat ke arahnya lalu mengepung Ciok Giok Yin. Setelah melihat tegas, seketika juga sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi dingin dan tanpa sadar dia menyurut mundur beberapa langkah.