Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 22

 
Jilid 22

Begitu melihat kemunculan wanita berambut putih, Hek Hong Sucia langsung berseru tak tertahan. "Haah?"

Dia langsung mundur lalu melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Betapa cepatnya gerakan Hek Hong Sucia sungguh mengejutkan! Hati Ciok Giok Yin masih berdebar-debar tidak karuan. Dia tidak menyangka kepandaian orang berpakaian abu-abu itu sedemikian tinggi.

Walau Ciok Giok Yin telah menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang, tapi bukan lawannya. Sebenarnya siapa Hek Hong Sucia itu dan berasal dari aliran mana? Ciok Giok Yin tidak habis pikir. Dia menyeka keringat yang merembes dari keningnya, setelah itu barulah memandang wanita berambut putih. Karena kekagetan yang dialaminya tadi belum hilang, maka ketika melihat wanita berambut putih, dia langsung termundur tiga langkah. Ternyata Ciok Giok Yin tidak melihat wajahnya. Yang dilihatnya cuma rambutnya yang putih terurai sampai di bawah lutut.

Di larut malam, muncul orang yang begitu aneh, tentunya membuat Ciok Giok Yin merasa agak takut. Lagi pula di sekitarnya bergelimpang mayat-mayat yang

mengerikan. Wajah orang itu tertutup oleh rambutnya yang putih, maka Ciok Giok Yin tidak melihat jelas wajahnya. Cantik atau buruk, tua atau masih muda, lawan atau kawan, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu. Yang jelas kemunculannya telah membuat Hek Hong Sucia kabur terbirit-birit.

"Anda adalah manusia atau hantu?" tanya Ciok Giok Yin sambil memberi hormat.

"Manusia dan hantu apa bedanya?" sahut wanita berambut putih panjang dengan lembut.

Mendengar itu, keberanian Ciok Giok Yin mulai timbul. "Mahon tanya apa maksud ucapan itu?" tanyanya.

"Dunia persilatan masa kini amat banyak hantu, setan dan iblis. Padahal mereka adalah manusia. Lalu apa bedanya dengan hantu, setan dan iblis?" wanita berambut putih panjang diam sejenak. "Apa kesalahan mereka sehingga kau bantai?" lanjutnya.

"Tentu ada sebabnya," sahut Ciok Giok Yin.

Diam-diam Ciok Giok Yin merasa cemas. Kalau wanita berambut putih ini punya hubungan dengan perkumpulan Pah Ong Cuang, bukankah dirinya akan celaka?

"Katakan!" bentak wanita berambut putih panjang.

Suara bentakan itu membuat sekujur badan Ciok Giok Yin merinding. Diam-diam dia mengerahkan ilmu Kan Yen Sin Kang untuk melindungi diri. Setelah itu barulah dia berkata.

"Mereka membunuh tiga puluh enam orang keluarga Yu." "Mengapa?"

"Mereka memaksa putri keluarga Yu untuk menikah." "Cuma itu sebabnya?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan membatin, 'Biar kuceritakan, lihat wanita aneh ini mau berbuat apa terhadap diriku?' Oleh karena itu dia menceritakan tentang semua itu.

Setelah mendengar cerita itu, wanita berambut putih panjang berkata.

"Kejadian itu adalah gara-gara dirimu!" "Ya. "

"Mengapa kau begitu ceroboh?"

Wajah Ciok Giok Yin memerah, lalu dia menundukkan kepala seraya menyahut.

"Aku memang ceroboh. Huruf Yu kudengar seperti Ie. Karena itu menimbulkan malapetaka besar. Aku menyesal, tapi sudah terlambat." "Itu sebagai pelajaran bagimu. Lain kali kau harus hati-hati, jangan berlaku ceroboh lagi." Wanita berambut putih panjang itu diam sejenak. "Tapi orang-orang perkumpulan Pah Ong Cuang memang amat jahat, dan selalu menindas penduduk di sini. Kau memusnahkan perkumpulan Pah Ong Cuang ini tentunya tidak keterlaluan."

Ciok Giok Yin tidak berkata apa-apa, hanya berdiri diam di tempat. Apa yang dikatakan wanita berambut putih panjang itu membuktikan dia tidak berniat jahat. Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan seseorang. Maka, tanpa sadar dia berseru tak tertahan.

"Pek Hoat Hujin!" "Ya!"

Ciok Giok Yin segera maju tiga langkah dan memberi hormat seraya berkata.

"Lo cianpwee menyelamatkan diriku lagi, selama-lamanya takkan kulupakan."

"Tidak usah disimpan dalam hati." "Boanpwee (Aku Yang Rendah). "

"Aku ingin bertanya satu hal padamu," sela Pek Hoat Hujin. "Silakan, lo cianpwee!"

"Aku dengar kau memperoleh sepotong kain, benarkah itu?"

Ciok Giok Yin tertegun, namun tidak akan berdusta terhadap orang yang telah menyelamatkannya.

"Benar," jawabnya jujur.

"Apa yang tercantum dikain potongan itu?" "Boanpwee sudah mohon pada Thian Thong Lojin untuk mengungkapkan rahasia tersebut."

"Apa katanya?"

"Masih membutuhkan Bu Keng Sui." "Bu Keng Sui?"

"Ya"

"Itu sangat mudah diperoleh." "Maksud lo cianpwee?"

"Bu Keng Sui tentunya air hujan!"

Ciok Giok Yin terbelalak. Bagaimana dia tidak berpikir sampai di situ? Air Tanpa Akar bukankah air hujan?

Pek Hoat Hujin berkata lagi.

"Di waktu hujan turun, taruhlah potongan kain itu di bawah hujan, pasti kau akan tahu rahasianya."

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin!

"Terimakasih atas petunjuk to cianpwee!" ucapnya. "Kau harus baik-baik membawa diri!"

Tampak badan Pek Hoat Hujin berkelebat, tahu-tahu sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin. Kini Ciok Giok Yin masih harus datang di rumah keluarga Yu sebab harus mengatur Yu Ling Ling. Tapi timbul pula kesulitan Ciok Giok Yin, sebab tahu bisa atau tidak menerima gadis itu. Jawaban dalam hatinya adalah 'Tidak Bisa' karena timbulnya kejadian itu lantaran salah paham, lagi pula dia sudah punya tunangan dan juga masih ada Cou Ing Ing. Setelah berpikir sejenak barulah Ciok Giok

Yin melesat ke rumah keluarga Yu. Tak lama kemudian dia sudah berada di depan rumah tersebut. Akan tetapi tidak tampak bayangan Yu Ling Ling, sedangkan mayat-mayat masih bergelimpangan di sana. Hati Ciok Giok Yin tersentak, sehingga berdebar-debar tidak karuan. Apakah gadis itu telah bunuh diri? Ciok Giok Yin bertanya dalam hati, lalu memeriksa mayatmayat itu, namun tidak melihat Yu Ling Ling. Barulah hatinya lega, kemudian dia melesat pergi meninggalkan rumah itu. Ciok Giok Yin menengadahkan kepala memandang langit, namun tidak tampak awan hitam. Ternyata dia mengharap turun hujan, agar bisa mengungkap rahasia potongan kain itu. Akan tetapi justru tiada awan hitam, pertanda belum waktunya hujan.

Mendadak telinganya menangkap suara tangis. Hatinya tergerak, kemudian dia melesat ke arah suara tangisan itu. Di dalam sebuah rimba terdengar suara yang amat dingin.

"Apakah toaya tidak setimpal denganmu?"

Terdengar suara bentakan yang mengandung isak tangis. "Orang jahat! Aku tidak akan mengampunimu!"

Terdengar lagi suara tawa terkekeh, lalu berkata, "Tapi sementara ini aku belum bisa membawamu, sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin telah mendengar pembicaraan itu segera membentak.

"Berhenti!"

Dia melesat ke tempat itu dan kemudian melihat sosok bayangan yang dikenalnya.

"Bu Tok Sianseng! Ternyata kau seorang penjahat cabul!" serunya tak tertahan.

Tanpa menoleh, Bu Tok Sianseng mengibaskan tangannya. Seketika tampak butiran-butiran hitam meluncur ke arah Ciok Giok Yin. Serrr! Serrr!

Ciok Giok Yin tahu jelas Bu Tok Sianseng mahir tentang racun, maka dia bergerak cepat memukul jatuh senjata-senjata rahasia itu. Di saat bersamaan Bu Tok Sianseng sudah tidak kelihatan bayangannya. Ciok Giok Yin tabu dirinya tidak akan berhasil mengejar Bu Tok Sianseng, maka segera mendekati gadis yang duduk di bawah pohon. Gadis itu masih menangis tersedu-sedu.

"Nona!" panggil Ciok Giok Yin.

Gadis itu mendongakkan kepala. Tampak air matanya masih berderai-derai.

"Kau. "

"Aku kenal Bu Tok Sianseng." "Dia adalah Bu Tok Sianseng?"

Gadis itu berhenti menangis, menatap Ciok Giok Yin dengan penuh rasa heran. Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ya!"

"Namanya bukan Bu Tok Sianseng." Ciok Giok Yin tertegun.

"Kau tahu namanya?"

"Dia bernama Ho Tiong Kan?" "Ho Tiong Kan?"

"Ya."

Ciok Giok Yin kebingungan. Dia percaya akan penglihatannya. Tadi dia melihat jelas, bagaimana mungkin berubah menjadi Ho Tiong Kan? Beberapa saat Ciok Giok Yin berpikir, setelah itu baru mengerti. Kemudian dia manggut-manggut seraya berkata,

"Mungkin dia sengaja mengganti namanya."

"Kau tahu nama Bu Tok Sianseng?" tanya gadis itu. Ciok Giok Yin menggeleng kepala.

"Aku tidak begitu jelas."

"Aku juga pernah mendengar tentang Bu Tok Sianseng, tapi bukan dia."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian bertanya. "Mohon tanya, bagaimana Nona bisa berada di tempat ini?"

Gadis itu mulai menangis terisak-isak lagi. Kemudian dia menutur tentang kejadian yang menimpa dirinya. Ternyata gadis itu bernama Kiang Cui Loan. Tanpa sengaja dia berkenalan dengan Ho Tiong Kan, lalu mereka berdua melakukan hubungan gelap. Setelah melewati hari-hari yang indah penuh kemesraan, akhirnya Kiang Cui Loan hamil. Akan tetapi, Ho Tiong Kan justru tidak kelihatan batang hidungnya.

Dua bulan kemudian dia meninggalkan rumah secara diam- diam untuk mencari Ho Tiong Kan. Beberapa bulan lamanya Kiang Cu Loan berkelana dalam rimba persilatan mencari Ho Tiong Kan, namun tiada hasilnya. Sedangkan perut Kiang Cu Loan kian hari kian bertambah besar. Dia tahu bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi pulang ke rumah. Maka pada siang hari dia tinggal di dalam goa, pada malam hari keluar untuk mencari makanan, sekaligus mencari informasi tentang Ho Tiong Kan. Justru sungguh di luar dugaan, dia bertemu Ho Tiong Kan di tempat itu, tapi lelaki itu tetap meninggalkannya. Seusai mendengar penuturan itu, gusarlah Ciok Giok Yin.

"Nona, aku tidak peduli dia Bu Tok Sianseng atau bukan, kelak kalau bertemu aku pasti bertanya padanya. Kalau memang dia, aku pasti membawanya ke mari agar berkumpul dengan Nona. Kalau tidak, aku pasti membunuhnya!" Ciok Giok Yin menatapnya. "Sekarang Nona mau ke mana?"

Kiang Cu Loan menunjuk ke arah sebuah puncak gunung, dan menyahut.

"Aku tinggal di lembah itu. Di situ terdapat sebuah goa," sahut Kiang Cu Loan sambil menunjuk ke arah sebuah puncak.

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Baik, Nona boleh kembali, aku akan membantumu mencari Ho Tiong Kan."

Usai berkata, Ciok Giok Yin melesat pergi. Pikirannya agak kacau, sebab dia yakin orang itu adalah Bu Tok Sianseng.

Apakah dia bernama Ho Tiong Kan? Akan tetapi entah sudah berapa kali Bu Tok sianseng menyelamatkan dirinya.

Berdasarkan itu seharusnya Ciok Giok Yin menasehatinya agar dia mau bertanggung jawab terhadap Kiang Cu

Loan. Seandainya Bu Tok sianseng tidak menuruti nasihatnya, apakah Ciok Giok Yin harus membunuhnya? Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tidak tahu keputusan apa yang harus

diambil. Disaat dia sedang melesat, mendadak tampak awan hitam mulai menyelimut langit dan angin pun mulai berhembus kencang. Bukan main girangnya hati Ciok Giok Yin, sebab tidak lama lagi pasti akan turun hujan. Memang ini yang diharapkannya.

Dia harus mencari sebuah goa untuk berteduh, lalu mengungkap rahasia potongan kain itu. Ketika melewati sebuah kota kecil, dia membeli sebuah baskom dan sedikit makanan kering. Setelah itu dia segera melesat ke dalam sebuah lembah. Di saat bersamaan hujan pun mulai turun dengan deras. Dia melihat sebuah batu curam yang cekung ke dalam. Dia cepat-cepat masuk ke cekungan batu itu lalu menaruh baskom di luar untuk menampung air

hujan. Berselang beberapa saat hujan sudah mulai reda dan matahari mulai bersinar. Ciok Giok Yin mengambil baskom yang berisi air hujan dan segera mengeluarkan potongan kain itu. Kemudian direndamnya ke dalam air hujan yang ada di dalam baskom. Perasaannya amat tegang hingga sekujur badannya gemetar.

Potongan kain tersebut menyangkut asal-usulnya, bahkan juga menyangkut jejak Seruling Perak. Oleh karena itu dia terus menatap potongan kain itu dengan mata tak berkedip. Sungguh mengherankan! Ternyata potongan kain itu tidak basah meskipun direndam dalam air. Itu membuat Ciok Giok Yin sedikit curiga. Namun sepasang matanya tidak tergeser dari potongan kain tersebut. Biar bagaimana pun harus tahu jelas tentang rahasia potongan kain ini. Pikirnya. Di saat bersamaan terdengar suara desiran angin yang amat lirih dan tampak sosok bayangan orang berkelebat lalu hilang. Ciok Giok Yin cepat-cepat meraihkan tangannya ke dalam baskom, tapi ternyata baskom itu telah kosong.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia langsung mencelat ke atas, tapi tiada seorang pun berada di tempat itu. Dia bersiul nyaring sekaligus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar. Sekonyong-konyong tampak sosok bayangan merah melesat ke arahnya dari arah depan dan terdengar seruannya yang merdu.

"Adik, kau terlepas dari bahaya?"

Ternyata orang yang melesat ke arah Ciok Giok Yin itu adalah Heng Thian Ceng. Kebetulan saat ini hati Ciok Giok Yin sedang tercekam rasa duka, maka dia bertanya dengan dingin.

"Kau melihat orang melesat pergi?"

Heng Thian Ceng yang berdiri di hadapan Ciok Giok Yin balik bertanya.

"Siapa orang itu?" "Lho? Bagaimana itu?"

"Kau sama sekali tidak melihat?"

"Adik, apakah ada urusan yang penting sekali?" Sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api.

"Potongan kain itu telah hilang," sahutnya samba berkertak gigi.

Hati Heng Thian Ceng tersentak, kemudian dia bertanya. "Siapa yang berkepandaian begitu tinggi mengambil potongan

kain itu?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut, karena air matanya sudah berderai-derai. Hatinya amat berduka lantaran potongan kain itu telah hilang. Sedangkan potongan kain itu menyangkut

asal-usulnya dan jejak Seruling Perak. Heng Thian Ceng segera mendekati Ciok Giok Yin, kemudian memegang bahunya seraya berkata.

"Adik, kau jangan terlampau berduka. Biar kakak menemanimu mencari orang itu."

Ciok Giok Yin menghela nafas pajang, kemudian bertanya. "Kakak, selama ini kau baik-baik saja?"

Heng Thian Ceng menghapus air matanya sambil menyahut dengan suara rendah.

"Adik, Kakak nyaris tidak mau hidup." Ciok Giok Yin tertegun mendengar itu. "Mengapa Kakak berkata begitu?"

Heng Thian Ceng menyahut dengan suara bergemetar.

"Adik, kau terpukul jatuh ke dalam jurang. " sahut Heng

Thian Ceng dengan suara gemetar.

"Hah? Kakak melihat kejadian itu?" seru Ciok Giok Yin kaget. "Ya."

"Bagaimana Kakak bisa sampai di tempat itu?"

"Kakak ingat kepandaianmu telah punah, bahkan kau harus menuju ke Gunung Thian San. Kalau bertemu panjahat di tengah jalan, tentunya kau akan celaka. Maka aku terus mengikutimu dari belakang. Tak disangka kepandaianmu telah pulih. Di saat kau terpukul jatuh ke jurang, aku pun tiba di tempat itu. "

"Hah? Kakak pernah berseru memanggilku?" seru Ciok Giok Yin tak terhatan.

Heng Thian Ceng manggut-manggut seraya berkata. "Aku berada di atas tebing itu tiga hari tiga malam."

Mendengar itu bukan main terharunya hati Ciok Giok Yin. Dia langsung memeluk Heng Thian Ceng erat-erat seraya memanggilnya dengan suara rendah.

"Kakak! Kakak!"

Mereka berdua saling berpelukan, sepertinya ingin menyatukan diri. Walau Heng Thian Ceng mamakai kedok kulit, namun bibirnya yang indah kemerah-merahan membuat hati Ciok Giok Yin deg-degan. Heng Thian Ceng memejamkan matanya, kelihatannya sedang menunggu. Wanita iblis yang telah menggemparkan dunia persilatan itu kini di hadapan Ciok Giok Yin justru telah berubah menjadi jinak sekali.

Nafasnya terus mendesah, menunggu dan menunggu. Sedangkan Ciok Giok Yin adalah pemuda berdarah hangat. Dia menundukkan kepala, lalu bibirnya mulai menyentuh bibir Heng Thian Ceng, akhirnya bibir mereka melekat menjadi satu.

Terdengar pula suara 'Cup! Cup! Cup!'

Mereka berdua tenggelam dalam mimpi yang amat indah, bahkan terus saling mencium dan sepasang payudara Heng Thian Ceng ditempelkan pada dada Ciok Giok Yin. Itu membuat Ciok Giok Yin merasa nyaman sekali, sehingga tanpa sadar dia menjulurkan tangannya mengusap-ngusap benda lunak

itu. Seketika Ciok Giok Yin telah lupa segala-galanya. Dalam benaknya hanya terdapat bayangan Heng Thian Ceng. Mungkin saking tak tahan, akhirnya Ciok Giok Yin membawa Heng Thian Ceng ke batu curam yang melengkung ke dalam itu. Ciok Giok Yin menaruh Heng Thian Ceng ke bawah, kemudian melepaskan pakaiannya. Namun disaat Ciok Giok Yin baru mau. mendadak Heng Thian Ceng menarik pakaiannya dan

berkata dengan suara gemetar. "Adik, kau. "

"Kakak, aku mau."

"Adik, apakah kau sudah lupa akan tubuhmu itu?"

Ucapan Heng Thian Ceng bagaikan air dingin menyiram diri Ciok Giok Yin, membuat sekujur badan Ciok Giok Yin merinding seketika.  Dia bangkit berdiri lalu tanpa sadar mundur beberapa langkah dan wajahnya tampak kemerah-merahan.

Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin itu Heng Thian Ceng segera mendekatinya lalu memegang tangannya seraya bertanya.

"Adik, kau berduka?"

"Kakak, aku bukan manusia. Aku bukan manusia," sahut Ciok Giok Yin dengan rasa malu.

Heng Thian Ceng cepat-cepat menghiburnya.

"Adik, kau jangan berkata begitu. Kau membutuhkan, Kakak pun membutuhkan, namun tubuhmu tidak seperti biasa, maka kakak tidak bisa melayanimu."

"Aku memang harus mampus!" "Adik, cari akal kelak!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng mengecup kening Ciok Giok Yin dengan penuh kelembutan. Itu membuat hati Ciok Giok Yin menjadi tenang.

"Adik, sungguhkah kau menyukaiku?" tanya Heng Thian Ceng dengan suara rendah.

"Sungguh!"

"Apakah kelak kau akan melupakanku?"

"Tentu tidak, asal Kakak jangan melupakanku." "Bagaimana kalau ada orang berusaha menghalangi

hubungan kita?"

Ciok Giok Yin tertegun. Seketika dia teringat pada si Bongkok Arak dan Pengemis Tua Te Hang Kay. Kedua orang itu kelihatannya tahu jelas akan identitas Heng Thian Ceng, maka melarangnya bergaul dengan Heng Thian Ceng. Heng Thian Ceng terns menatapnya, kemudian mengusap kening Ciok Giok Yin dengan lembut.

"Ini adalah urusanku, tiada hubungannya dengan orang lain," kata Ciok Giok Yin.

Heng Thian Ceng menghela nafas panjang, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Adik, mungkin mereka punya alasan tertentu. Namun kalau ada orang menghalangi demi kau aku akan bersabar. Begitu mereka pergi, kita pasti berkumpul kembali. Ciok Giok Yin menatap wajah Heng Thian Ceng yang memakai kedok kulit.

"Kakak, kau. "

"Kenapa aku?"

"Bolehkah kau melepaskan kedok kulitmu itu?"

"Di hadapanmu boleh, namun meninggalkan tempat ini harus kupakai lagi." Usai berkata Heng Thian Ceng segera melepaskan kedok kulitnya. Seketika mata Ciok Giok Yin berbinar-binar. Ini kedua kalinya Ciok Giok Yin menyaksikan wajah asli Heng Thian Ceng. Kecantikannya membuat Ciok Giok Yin rela mati demi dirinya, bahkan juga bersedia melakukan apa saja demi dirinya. Ciok Giok Yin terus menatap Heng Thian Ceng. Mendadak dalam benaknya muncul sesosok bayangan. Oleh karena itu Ciok Giok Yin terus menatap Heng Thian Ceng dengan mata tak berkedip.

"Adik, cantikkah aku?" tanya Heng Thian Ceng lirih. "Kakak, kau sungguh cantik!"

"Sungguhkah?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Coba katakan bagaimana kecantikanku?"

"Kakak, kecantikan Kakak memang sulit dilukiskan maupun diuraikan dengan kata-kata. Aku pun teringat akan sebuah pepatah 'Kecantikan merupakan suatu santapan' kini aku telah memahami pepatah itu."

"Adik, Kakak tak menyangka kau begitu jahat."

Ciok Giok Yin tertawa, kemudian memeluk Heng Thian Ceng erat-erat seraya berbisik.

"Aku memang jahat. Aku memang jahat."

Heng Thian Ceng yang berada dalam pelukan Ciok Giok Yin, kelihatannya amat jinak sekali, bahkan juga tampak seperti kembali ke masa remajanya, menikmati cinta kasih. Mendadak Heng Thian Ceng meronta perlahan-lahan dari pelukan Ciok Giok Yin dan berkata.

"Adik, ada satu hal ingin kutanyakan padamu." "Bagaimana pandanganmu terhadap usia seseorang?" "Usia?"

"Ya."

"Apa maksud Kakak?"

"Misalnya seorang wanita berusia lebih besar dari lelaki, namun mereka berdua berkumpul bersama, apakah kau akan menyalahkan mereka?"

Ciok Giok Yin pernah mendengar dari si Bongkok Arak, bahwa usia Heng Thian Ceng boleh jadi ibunya. Maka dia tahu akan maksud pertanyaan itu dan segera menyahut tanpa berpikir lagi.

"Kakak, menurut pandanganku, asal kedua belah pihak saling mencinta, tentunya usia tidak menjadi masalah."

Heng Thian Ceng manggut-manggut. "Benar, aku mempercayaimu."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan langsung bertanya.

"Kakak, sebetulnya siapa suhu Kakak?"

Heng Thian Ceng tidak menyangka kalau Ciok Giok Yin akan mengajukan pertanyaan tersebut, maka membuatnya tertegun.

"Adik, kelak kau akan tahu." Dia diam sejenak. "Adik, potongan kain itu telah hilang, mari segera kita cari!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng memakai lagi kedok kulitnya. Apa yang dikatakan Heng Thian Ceng barusan membuat Ciok Giok Yin tersentak sadar. Wajahnya langsung berubah, kemudian dia berkata sengit.

"Kakak, mari kita kejar orang itu!" Dia menarik tangan Heng Thian Ceng, lalu melesat ke luar dari lembah itu. Potongan kain itu harus ditemukan kembali, sebab menyangkut aal-usulnya dan jejak Seruling Perak. Di saat sedang melesat laksana kilat, Heng Thian Ceng bertanya.

"Adik, bagaimana lwee kangmu dapat maju pesat?" "Aku telah ke Liok Bun."

"Hah? Liok Bun?" "Ya."

"Bagaimana kau bisa masuk?"

Ciok Giok Yin segera menuturkan tentang pertemuannya dengan Bu It Coan. Heng Thian Ceng manggut-manggut seraya berkata.

"Liok Bun di dunia persilatan boleh dikatakan cuma merupakan kabar burung saja. Tak disangka kau begitu beruntung bisa masuk ke dalam, kelihatannya asal-usulmu amat luar biasa." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Adik, biar bagaimana pun kau tidak boleh melupakan Kakak!"

"Tentu tidak."

"Aku tidak ingin memilikimu, hanya berharap memperoleh sedikit cinta kasihmu, aku sudah merasa puas sekali."

Usai berkata, Heng Thian Ceng menatapnya lembut. "Kakak, aku akan menyerahkan semua cinta kasihku

padamu," kata Ciok Giok Yin.

"Itu tidak bisa." "Mengapa?"

"Sebab tubuhmu harus dilayani beberapa wanita." Ciok Giok Yin tidak menyangka Heng Thian Ceng begitu berpengertian.

"Kakak! Kakak!" panggilnya dengan rasa terharu.

Di saat bersamaan, mendadak tampak tiga sosok bayangan melayang turun di tempat mereka. Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng langsung menoleh. Ternyata tiga orang itu adalah si Bongkok Arak, Te Heng Kay dan Cou Ing Ing. Cou Ing Ing melihat mereka saling menggenggam tangan, wajahnya langsung berubah menjadi dingin, bahkan mendengus dingin pula.

"Hmm!"

Setelah itu dia membuang muka. Sedangkan sepasang mata si Bongkok Arak menyorot tajam menatap Heng Thian Ceng.

"Khui Fang Fang, apa maksudmu terus bersamanya?" tanyanya dengan suara dalam.

"Karena aku suka dia," sahut Heng Thian Ceng dingin. Cou Ing Ing segera menoleh.

"Lebih baik mengaca dulu!" katanya sinis.

Heng Thian Ceng tidak marah, sebaliknya malah tertawa cekikkan.

"Tidak mengaca juga tidak akan kalah dibanding gadis yang mana pun!"

Arti perkataannya bahwa wajahnya tidak akan kalah dibandingkan dengan wajah Cou Ing Ing. Tentunya membuat Cou Ing Ing gusar bukan main. Badannya bergerak sedikit mau melancarkan serangan, namun mendadak si Bongkok Arak menjulurkan lengannya seraya berkata.

"Tungguh, Nona!" kemudian dia memandang Heng Thian Ceng. "Khui Fang Fang! Aku suruh kau segera meninggalkannya!" bentaknya.

"Tetap kukatakan seperti tempo hari, tidak!" sahut Heng Thian Ceng ketus.

Si Bongkok Arak, Te Hang Kay dan Cou Ing Ing langsung mendengus dingin.

"Hmm !"

Wajah mereka bertiga tampak bengis sekali, kelihatannya ingin menghabisi nyawa wanita itu.

"Kau sungguh?" bentak si Bongkok Arak lagi. "Apakah kau berhak mengekang kebebasanku?"

"Ini bukan mengekang kebebasanmu, melainkan kau tidak boleh bersamanya!"

"Mengapa tidak?" "Tentu ada alasannya!"

"Kau boleh katakan, aku sudah siap dengar! Kalau alasanmu itu tetap, aku segera meninggalkannya!"

"Sekarang belum bisa kukatakan." Heng Thian Ceng tersenyum menghina.

"Kau pasti tidak dapat mengatakan alasan itu!"

"Khui Fang Fang, ini peringatan terakhir kali! Kalau kau masih berani mengatakan tidak mau meninggalkannya, aku akan segera menghabisimu!"

Usai berkata, si Bongkok Arak mulai melangkah maju.

Sedangkan Te Hang Kay juga sudah mengerahkan lwee kangnya, siap menghantam Heng Thian Ceng. Situasi itu sungguh membuat Ciok Giok Yin serba salah. Sebab Heng Thian Ceng adalah wanita yang disukainya, juga telah menyelamatkannya berulang kali. Begitu pula si Bongkok Arak, entah sudah berapa kali menyelamatkannya, bahkan menyebutnya 'Siau Kun'. Terdengar Heng Thian Ceng membentak.

"Tidak!"

Mendadak si Bongkok Arak menggeram. "Akan kuhabisi kau!"

Orang tua bongkok itu langsung melancakan pukulan ke arah Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin tahu jelas bagaimana kepandaian si Bongkok Arak. Kalau pun ditambah satu Heng Thian Ceng lagi, tetap bukan lawannya. Oleh karena itu dia terpaksa melesat ke tengah-tengah seraya berseru.

"Berhenti!"

Si Bongkok Arak khawatir akan mencelakai Siau Kunnya, maka segera menarik kembali serangannya seraya berkata.

"Siau Kun, sungguhkah kau menyukainya?"

Saat ini Ciok Giok Yin memang sedang dalam keadaan gusar, maka begitu ditanya langsung menjawab tanpa berpikir lagi.

"Tidak salah, aku memang menyukainya!"

Heng Thian Ceng tertawa cekikikan lalu berkata,

"Adik, sementara ini kita berpisah dulu. Sampai jumpa!"

Tampak bayangan merah berkelebat dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Di saat bersamaan wajah Cou Ing Ing sudah berubah menjadi kehijau-hijauan saking gusarnya. Dia mendengus dingin 'Hmm' lalu melesat

pergi. Kedua wanita itu pergi di saat hampir bersamaan. Yang satu pergi dengan penuh kegembiraan menunggu di depan sana. Sedangkan yang satu lagi justru pergi dengan membawa rasa duka. Kaum wanita memang peka dalam hal cinta. Heng Thian Ceng mencintai Ciok Giok Yin, begitu pula Cou Ing Ing. Lagi pula Cou Ing Ing adalah teman sejak kecil.

Walau ayahnya mati bunuh diri terdesak oleh Ciok Giok Yin, namun Cou Ing Ing telah melancaran tiga pukulan terhadap Ciok Giok Yin, maka dendam kebenciannya telah sirna, yang tinggal adalah cinta kasih. Kini gadis itu telah pergi dengan membawa kegusaran dan kekecewaan. Seketika si Bongkok Arak menghela nafas panjang, lalu berkata perlahan-lahan.

"Siau Kun, biar bagaimana pun kau tidak boleh bersamanya." "Dia merupakan segumpal api, tidak dapat disentuh. Kelak

akan menjadi penyesalan," sambung Te Heng Kay.

Sekonyong-konyong si Bongkok Arak memberi isyarat pada Te Hang Kay, kemudian menepuk keningnya sendiri seraya berkata.

"Siau Kun, aku akan rnenutur sebuah cerita singkat." Ciok Giok Yin tertegun.

"Sebuah cerita?" "Ya."

"Silakan!" Kemudian Ciok Giok Yin menatap si Bongkok Arak. "Apakah ada hubungannya dengan Heng Thian Ceng?"

"Urusan lain." "Urusan apa?"

Si Bongkok Arak berdehem, kemudian mulai menutur.

"Dua ratus tahun yang lampau, dunia persilatan amat tenang dan damai, tiada badai apa pun melanda. Setiap pintu perguruan memperdalam ilmu silat perguruan masing-masing, agar dapat mengangkat nama di dunia persilatan. Pada waktu itu muncul seseorang yang menyebut dirinya Thian Huang It Siu (Orang Dari Langit). Dia bertanding dengan semua perguruan, akhirnya diakui sebagai Jago Nomor Wahid Di Kolong Langit " Si Bongkok Arak berhenti ketika menutur

sampai di situ.

"Setelah itu, bagaimana dia?" tanya Ciok Giok Yin.

"Walau Thian Huang It Sui telah diakui sebagai jago nomor wahid di kolong langit, namun belum merasa puas, karena masih ada satu orang belum bertanding dengannya. "

"Siapa orang itu?"

"Tatmo Cousu, pendiri partai Siauw Lim Pay." "Mereka berdua bertanding?"

"Bertanding." "Bagaimana akhirnya?"

"Mereka berdua bertanding di puncak Sin Li Hong Gunung Mud San selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya seri dan saling mengagumi. Sudah barang tentu mereka berdua menjadi kawan baik. Setelah itu mereka berdua menulis sebuah kitab yang dinamai Thay Ek Khie Su, tercantum ilmu silat kedua orang itu."

"Siapa yang memperoleh kitab itu?"

"Siapapun tidak akan percaya. Berdasarkan kepandaian kedua orang itu, justru kitab itu masih di curi orang secara diam- diam."

"Dicuri orang?" "Ya."

"Kalau begitu kepandaian orang itu pasti di atas kedua orang tersebut?" "Nyatanya tidak begitu." "Maksud lo cianpwee?"

"Konon kitab itu dicuri oleh seorang Pencuri Sakti, namun kemudian diketahui kaum rimba persilatan, sehingga Pencuri Sakti itu dikepung. Saking gugup dan panik, dia langsung terjun ke dalam sebuah telaga. Sejak itulah tiada kabar beritanya lagi."

"Apakah setelah itu tiada seorang pun yang tahu?" "Ada."

"Siapa?"

"Kiu Sia Cih Cun. Dia yang memperoleh kitab tersebut. Diam- diam dia berhasil menguasai semua ilmu silat yang tercantum di dalam kitab itu, kemudian mendirikan sebuah Sin Kiong (Istana Dewa) "

"Sin Kiong?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan. "Ya.

"Di mana Sin Kiong itu?"

Si Bongkok Arak tampak tertegun, kemudian balik bertanya. "Sian Kun pernah mendengar tentang Sin Kiong?"

"Tidak salah." "Dengar dari mana?"

Ciok Giok Yin teringat akan janji pada orang yang memberitahukannya, tidak boleh membocorkannya. Maka dia menyahut,

"Aku telah berjanji pada orang itu, tidak boleh membocorkannya."

"Orang itu bilang apa padamu?"

"Dia cuma bilang Sin Kiong Te Kun Bu Tek Thay Cu-Siangkoan Hua, berkepandaian amat luar biasa, tiada seorang pun yang dapat menandinginya."

Si Bongkok Arak manggut-manggut.

"Itu memang tidak salah. Orang itu bilang apa lagi?" Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Tidak bilang apa-apa lagi."

Si Bongkok Arak minum beberapa teguk araknya, lalu melanjutkan penuturannya.

"Kiu Sia Cih Cun entah ke mana, kedudukan sebagai majikan Sin Kiong jatuh ke tangan Siangkoan Hua. Selama itu Sin Kiong dalam rimba persilatan tidak mengganggu orang lain juga tidak mau diganggu. Akan tetapi tak disangka Siangkoan Hua dan istrinya yang hidup tenang di dalam Istana Dewa mendadak mati terbunuh, bahkan anak mereka yang berusia dua tahun juga hilang tanpa meninggalkan jejak."

"Dicelakai penjahat?" tanya Ciok Giok Yin "Tidak salah."

"Siapa penjahat itu?" "Chiu Tiong Thau." "Chiu Tiong Thau?"

Seketika sepasang mata Ciok Giok Yin berapi-api, bahkan dia berkertak gigi. Ternyata dia teringat akan suhunya yang hidup menderita di Lembah Ular Beracun selama belasan tahun, juga karena perbuatan Chiu Tiong Thau, murid murtad suhunya. Selama ini dia terus mencari orang tersebut, namun sama sekali tidak berhasil menemukan jejaknya.

"Memang penjahat itu," sahut si Bongkok Arak.

Kini wajah Ciok Giok Yin telah diliputi hawa membunuh. "Bagaimana Chiu Tiong Thau bisa berada di dalam Istana

Dewa?" tanyanya.

"Dia bergabung dengan Istana Dewa, tujuannya adalah menyelidiki kitab Thay Ek Khie Su. Namun kitab tersebut disimpan oleh Sun Ciangbun Te Kun, maka istri Te Kun pun tidak tahu. "

Si Bongkok Arak meneguk kembali araknya. Kemudian melanjutkan penuturannya.

"Tapi Chiu Tiong Thau memang pandai mengambil hati Te Kun, sehingga Te Kun bersedia mengajarnya beberapa macam ilmu silat tinggi. Dia memang jahat sekali. Secara diam-diam dia meracuni Te Kun dan istrinya."

"Apakah anak Te Kun itu juga dicelakai Chiu Tong Thau?" "Tidak."

"Tidak?"

"Karena Te Kun dan istrinya sedang menyelami inti ilmu silat kitab Thay Ek Khie Su, maka anak mereka dititipkan pada Hai Thian Tayhiap suami istri. "

"Bukankah Hai Thian Tayhiap tidak bisa punya anak?" "Benar. Karena ketika sedang berlatih, tanpa sengaja Hai

Thian Tayhiap melukai bagian bawah tubuhnya, maka tidak bisa punya anak. Sebab itu mereka suami istri memperlakukan anak Te Kun bagaikan anak Te Kun bagaikan anak sendiri. "

"Berada di mana orang tersebut?" Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay sama-sama memandangnya sejenak, setelah itu si Bongkok Arak menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata,

"Tidak begitu jelas."

"Setelah Chiu Tiong Thau meracuni Te Kun dan istrinya, bukankah dia boleh mengangkat dirinya sebagai Te Kun mengurusi Istana Dewa?"

Mendadak wajah si Bongkok Arak berubah menjadi penuh emosi.

"Dia tidak berbuat begitu. Tapi entah dari mana dia mengundang begitu banyak kaum golongan hitam. Dalam waktu satu malam para anggota Istana Dewa dibantai habis. Namun ada beberapa diantara mereka berhasil meloloskan diri. Dia lalu menyalakan api membakar musnah Sin Kiong itu!"

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Kalau aku tidak membunuh penjahat itu, aku bersumpah tidak mau jadi orang!"

Si Bongkok Arak melanjutkan penuturannya.

"Kejadian itu justru diketahui oleh Sang Ting It Koay. Tapi tak disangka Chiu Tiong Thau tidak memperdulikan suhunya itu.

Bahkan dia menghasut para pendekar mengeroyoknya, hingga terluka parah di puncak Gunung Muh San. Bahkan dia pun mencelakai Hai Thian Tayhiap suami istri."

Mendengar itu Ciok Giok Yin menengadahkan kepalanya sambil berseru lantang.

"Suhu harus memberi petunjuk pada murid, agar murid berhasil mencari Chiu Tiong Thau dan membasminya!" Kemudian dia menatap si Bongkok Arak dan Te Hang Kay. "Apakah lo cianpwee berdua pernah mendengar penjahat itu ada di mana?" Si Bongkok Arak menggelengkan kepala. "Tiada jejaknya."

Mendadak pengemis Tua Te Hang Kay menyela.

"Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan mati di puncak Gunung Muh San, tapi… "

Dia tidak melanjutkan ucapannya, lalu melirik si Bongkok Arak sejenak. Ciok Giok Yin tidak memperhatikannya, maka segera bertanya.

"Bagaimana?"

"Nyonya Ciok tidak mati." "Tidak mati?"

"Ya."

"Dia berada di mana sekarang?"

"Ini juga merupakan suatu teka-teki. Sebab selama belasan tahun ini, dia sama sekali tidak pernah muncul."

"Bagaimana lo cianpwee tahu dia tidak mati?"

"Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika dia jatuh ke dalam jurang. Aku segera turun ke bawah jurang, namun tidak menemukan mayatnya, pertanda dia tidak mati."

Ciok Giok Yin tidak paham akan satu hal, maka segera bertanya,

"Ada hubungan apa Chiu Tiong Thau dengan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan? Mengapa Chiu Tiong Thau mencelakainya?"

Te Hang Kay menyahut. "Nyonya Ciok Khie Goan adalah pendekar wanita yang amat cantik, julukannya adalah Cah Hoa Siancu, bernama Cen Soat Ngo. Sebelum Chiu Tiong Thau bergabung dengan Istana Dewa, dia sudah jatuh hati pada Cen Soat Ngo, namun tahu kepandaiannya masih rendah, maka tidak berani berbuat apa- apa. Setelah belajar dari Sang Ting It Koay, dan kemudian ditambah beberapa macam ilmu silat dari Istana Dewa, barulah dia turun tangan."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Apabila tidak menemukan anak itu, maka kelak tidak dapat menyerahkan Seruling Perak dan kitab Cu Cian Padanya."

"Siau Kun sendiri harus berhasil menguasai ilmu silat tinggi. Mengenai anak itu akan dibicarakan kelak."

"Tapi aku tidak berhak memiliki barang pusaka itu." "Kau tidak perlu memperdulikan itu."

"Aku harus tahu diri."

"Sian Kun harus belajar, kaum rimba persilatan tidak berani bilang apa-apa terhadap Siau Kun."

Mendadak Ciok Giok Yin merasa heran akan sebutan 'Sian Kun' terhadap dirinya. Maka dia segera berkata, "Mengapa lo cianpwee selalu memanggilku Siau Kun? Bolehkah lo cianpwee menjelaskannya?"

"Tidak lama lagi kau akan mengetahuinya." "Masih membutuhkan waktu berapa lama?"

"Tidak lama lagi." Si Bongkok Arak menatap Ciok Giok Yin. "Siau Kun, bagaimana mengenai rahasia potongan kain itu?" Wajah Ciok Giok Yin langsung barubah menjadi murung. "Telah dicuri orang," sahutnya. "Dicuri?"

"Ya."

"Siapa pencurinya?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang hilangnya potongan kain itu. Si Bongkok Arak dan Te Hang Kay berkata serentak,

"Siau Kun, kita harus segera menyelidikinya. Biar bagaimana pun potongan kain itu tidak boleh hilang, karena menyangkut jejak Seruling Perak."

Air muka mereka berdua tampak tegang sekali. "Harus cari ke mana?"

Memang dia sama sekali tidak melihat orang yang mencuri potongan kain tersebut, lalu harus ke mana mencarinya?

"Sekarang kita harus berpencar mencari, ayo!" kata si Bongkok Arak.

Dia memberi isyarat pada Te Hang Kay, lalu bersama-sama melesat pergi. Di saat melesat Ciok Giok Yin teringat kembali akan cerita si Bongkok Arak dan Te Hang Kay. Setelah berpikir secara cermat, Ciok Giok Yin berkesimpulan bahwa mereka berdua menyimpan suatu rahasia. Sebab setiap kali berkata hingga pada pokoknya, mereka berdua pasti bilang tidak tahu. Bukankah itu amat mengherankan sekali? Lagi pula mengapa mereka berdua menuturkan cerita itu padanya? Apakah Sin Kiong Te Kun Su Tek Thay Cu-Siangkoan Hua punya hubungan dengan dirinya? Mendadak sebutan 'Siau Kun'? Tidak meragukan lagi mereka berdua itu pasti orang Istana Dewa yang berhasil meloloskan diri, kini sedang mencari Chiu Tiong Thau penjahat itu.

Ketika teringat akan penuturan tentang Ciok Khie Goan suami isteri, Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setelah itu dia berpikir lagi. Ciok Khie Goan suami isteri yang merawat anak itu.

Seharusnya anak tersebut berada di sisi mereka. Namun Te Hang Kay justru mengatakan tidak melihatnya. Dulu ketika Tiong Ciu Sin Ie menyelamatkan Ciok Giok Yin, juga di sebuah lembah di gunung Muh San. Mungkinkah Ciok Khie Goan suami isteri menyembunyikan dirinya di lembah itu? Kalau begitu dirinya adalah keturunan Siangkoan Hua?

Seandainya demikian, Chiu Tiong Thau memang merupakan musuh besar perguruan juga adalah musuh besar keluarganya. Betapa dalamnya dendam itu! Berpikir sampai di situ, sepasang mata Ciok Giok Yin tampak berapi-api. Rasanya ingin sekali cepat-cepat membunuh Chiu Tiong Thau, barulah bisa reda dendamnya itu. Mendadak terdengar suara bentakan gusar dan menyusul suara 'Plak'. Ciok Giok Yin segera melesat ke arah suara itu, lalu bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Tampak seorang wanita berusia pertengahan, parasnya masih tampak cantik, membuktikan ketika masih muda, dia pasti cantik sekali. Di hadapannya berdiri seorang aneh. Begitu melihat orang aneh itu, hawa amarah Ciok Giok Yin langsung memuncak. Ternyata orang aneh itu yang memberinya obat Cin Kang Ten. Tak disangka kini dia berada di sini menghadang wanita berusia pertengahan tersebut. Ciok Giok Yin sudah mau menyerang orang aneh itu, namun mendadak dibatalkannya.

Dia berkata dalam hati, 'Mengapa aku tidak melihat dulu apa yang akan dilakukannya?' Oleh karena itu, Ciok Giok Yin tetap bersembunyi di balik batu, tanpa bergerak sedikit pun.

Sepasang matanya terus menatap ke sana tanpa berkedip. Tampak nafas wanita berusia pertengahan itu agak memburu, pertanda mereka telah bergebrak tadi. Sedangkan orang aneh itu kelihatan amat tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Sekonyong-konyong orang aneh itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian berkata.

"Pek Koan Im, lohu menunggumu dua puluh tahun lebih apakah hari ini kau masih ingin meloloskan diri?" Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bahwa wanita berusia pertengahan itu adalah Pek Koan Im, orang yang dicari oleh orang aneh itu, seketika Pek Koan Im melotot sambil membentak.

"Pek Hoa Tiap (Kupu-kupu Seratus Bunga)! Kau telah mencelakai adikku! Kalau aku tidak mencungkil keluar jantungmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang!"

Perkataan itu membuktikan bahwa Pek Hoa Tiap itu adalah seorang penjahat cabul.

Namun Pek Hoa Tiap malah tertawa terkekeh, setelah itu baru menyahut.

"Omong kosong! Apabila kau mengabulkan permintaanku, aku akan mencungkil keluar jantungku untuk dipersembahkan padamu!"

"Kentut!"

"Kau jangan berpura-pura jadi wanita alim! Orang yang kau rindukan itu sudah jadi tulang belulang, mengapa kau masih merindukannya?"

Wajah Pek Koan Im tampak kehijau-hijauan dan sekujur badannya gemetar saking gusarnya. Terdengar Pek Hoa Tiap berkata lagi.

"Pek Koan Im, aku. "

"Jaga mulutmu, jangan omong sembarangan!" bentak Pek Koan Im.

Akan tetapi Pek Hoa Tiap tetap melanjutkan ucapannya. "Aku ingin tahu informasi tentang suatu urusan, boleh kan?" "Tentang urusan apa?"

"Aku dengan Hek Koan Im adikmu itu melahirkan seorang anak perempuan, benarkah itu?" "Tidak salah!"

"Itu adalah putriku!"

"Kau adalah penjahat cabul, aku tidak akan mengampunimu!"

Pek Koan Im langsung melancarkan serangan, kelihatannya sudah amat gusar sekali. Akan tetapi tampak badan Pek Hoa Tiap berkelebat, dia telah berhasil mengelak serangan itu. Pek Hoa Tiap menggoyang-goyangkan sepasang tangannya sambil berseru,

"Tunggu! Tunggu dulu!"

Namun Pek Koan Im tidak berhenti, terus menyerangnya sengit dan bertubi-tubi. Pek Koan Im tahu bahwa kepandaian Pek Hoa Tiap amat tinggi, biar bagaimana pun dia bukan lawannya. Oleh karena itu dia mencelat mundur dua depa.

"Kau mau bicara apa, bicaralah cepat!" bentaknya.

Sembari membentak, Pek Koan Im pun melirik ke sana ke mari, bagaimana cara meloloskan diri. Namun gerak-geriknya itu tidak terlepas dari mata Pek Hoa Tiap. Maka Pek Hoa Tiap tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Kau tidak bisa meloloskan diri! Kalau tidak percaya, kau boleh berjalan pergi sejauh sepuluh depa, coba lihat apakah dapat lobos dari tanganku?"

Wajah Pek Koan Im kemerah-merahan karena Pek Hoa Tiap tahu akan apa yang dipikirkannya.

"Penjahat cabul, hari ini aku tidak akan mengampunimu!" bentaknya.

Pek Koan Im tahu jelas bahwa kalau hari ini tidak terjadi suatu kemujizatan pada dirinya, jangan harap bisa meloloskan diri dari hadapan Pek Hoa Tiap. Di saat bersamaan Pek Koan Im pun teringat akan satu urusan, yaitu dia dan adiknya sama-sama jatuh hati pada Siangkoang Hua, bahkan rela menjadi budaknya. Namun Siangkoan Hua tidak tergerak hatinya sama sekali. Pada suatu hari, tanpa sengaja Pek Koan Im dan adiknya berjumpa dengan Siangkoan Hua. Akan tetapi di malam harinya Siangkoan Hua justru menotok jalan darah mereka lalu pergi. Kebetulan Pek Hoa Tiap melihat hal itu, dia juga kenal Pek Koan Im dan adiknya, bahkan sudah lama ingin menodai Pek Koan Im, namun tidak pernah berhasil: Kali ini merupakan kesempatan baginya bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan itu?

Setelah melihat Siangkoan Hua meninggalkan penginapan, Pek Hoa Tiap ingin segera menodai Pek Koan Im. Tapi sesudah berpikir sejenak, dia menjadi ragu karena amat takut terhadap Bu Tek Thau Cu-Siangkoan Hua. Seandainya dia kembali lagi, bukankah nyawa Pek Hoa Tiap akan melayang? Oleh karena itu Pek Hoa Tiap terus menunggu dengan sabar. Berselang beberapa saat kemudian, tetap tidak tampak Siangkoan Hua kembali ke penginapan, barulah Pek Hoa Tiap berlega hati.

Perlahan-lahan dia mendorong pintu kamar, lalu masuk ke dalam. Namun tak disangka, begitu dia melangkah ke dalam langsung tadi dipeluk dan dicium orang dengan mesra. Dapat dibayangkan betapa girangnya Pek Hoa Tiap. Dia langsung melepaskan pakaiannya, kemudian terjadilah hubungan intim dengan gadis yang memeluknya.

Ternyata Siangkoan Hua menggunakan ilmu menotok dari kitab Thay Ek Khie Su, maka berselang beberapa saat, totokan itu akan terbuka dengan sendirinya. Begitu totokan terbuka, Hek Koan Im amat membenci Siangkoan Hua, karena menganggapnya tak berperasaan sama sekali. Di saat hatinya amat kesal, telinganya mendengar suara pintu kamar terdorong perlahan-lahan. Dia amat girang karena mengira Siangkoan Hua sudah kembali ke situ. Maka dia bergegas meloncat turun dari ranjang lalu bersembunyi di balik daun pintu. Oleh karena itu, begitu penjahat cabul tersebut melangkah ke dalam, dia langsung memeluknya erat-erat sekaligus menciumnya dengan mesra. Saat itu Pek Koan Im berada di dalam kamar sebelah. Dia mendengar suara itu, diam-diam mencaci adiknya yang mendahuluinya. Tak disangka ketika dia amat kesal terhadap adiknya, mendadak terdengar suara bentakan sengit.

"Penjahat cabul, ternyata kau!"

Menyusul terdengar suara jeritan yang makin lama makin jauh. Pek Koan Im tahu bahwa dirinya telah keliru menyalahkan adiknya. Dia segera ke kamar itu. Dilihatnya noda darah dan separuh kulit muka di atas ranjang, yang tidak lain adalah kulit muka penjahat cabul. Ternyata Hek Koan Im yang menyabut muka penjahat cabul tersebut. Kalau penjahat cabul itu tidak segera melarikan diri, pasti tewas di bawah belati Hek Koan Im. Sementara Hek Koan Im menangis sedih di pinggir ranjang. Diapaun ingin bunuh diri, namun Pek Koan Im sudah berjanji akan membunuh penjahat cabul itu dengan tangannya sendiri. Sedangkan Hek Koan Im yang telah berhubungan intim dengan Pek Hoa Tiap justru membuatnya hamil, akhirnya melahirkan seorang anak perempuan.

Ketika bayi perempuan itu lahir, Hek Koan Im ingin membunuhnya. Namun seorang ibu pasti memiliki perasaan sayang terhadap anak kandung sendiri, maka membuatnya tidak tega turun tangan. Akan tetapi seorang gadis yang belum menikah, bagaimana mungkin menjadi seorang ibu? Oleh karena itu Hek Koan Im menulis sepucuk surat, lalu diselipkan di pakaian bayinya, setelah itu secara diam-diam dia membawa bayinya ke rumah keluarga Tong. Bayi perempuan itu tidak lain adalah Bwee Han Ping. Sesudah itu Hek Koan Im pun kehilangan jejaknya, tiada seorang pun tahu tentang kabar beritanya. Sedangkan Pek Koan Im terus mencari adiknya itu sampai di luar perbatasan, namun tiada hasilnya sama sekali.

Karena tidak berhasil mencari adiknya, maka Pek Koan Im teringat akan Bu Tek Thay Cu-Siangkoan Hua. Dia ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan orang tersebut. Tetapi dia sama sekali tidak tahu tentang Istana Dewa. Semua

kejadian lampau itu terlintas dalam benak Pek Koan

Im. Mendadak terdengar Pek Hoa Tiap tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Dia taruh ke mana putriku itu?" "Tidak tahu."

"Kau kira aku tidak tahu? Kau keliru!" "Penjahat cabul, kau tahu?"

"Tidak salah!" "Di mana?"

"Di perkampungan Tong!" "Di perkampungan Tong?"

"Kuberitahukan, bocah jadah perkampungan Tong itu berniat jahat terhadap putriku. Untung muncul seorang anak kecil menggagalkan niat jahatnya itu! Tapi anak kecil itu malah tertendang oleh bocah jadah keluarga Tong, kemudian entah menghilang ke mana. Di saat itu pula putriku pun kehilangan jejak. Itu membangkitkan kegusaranku, maka kumusnahkan perkampungan Tong. Bahkan majikan perkampungan itu pun tidak terlepas dari tanganku! Ha ha ha…..!"

Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik batu besar mendengar jelas semua pembicaraan Pek Hoa Tiap. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Bwee Han Ping adalah putri Hek Koan Im. Lebih-lebih tak menduga bahwa yang memusnahkan perkampungan keluarga Tong justru Pek Hoa Tiap penjahat cabul itu. Di saat Pek Hoa Tiap usai berbicara, mendadak terdengar suara tangis yang memilukan bergema menembus angkasa. Itu membuat Pek Hoa Tiap tertegun. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Pek Koan Im. Gadis itu langsung melesat pergi laksana kilat, dan dalam sekejap sudah menghilang di sebuah tikungan. Ciok Giok Yin yang bersembunyi di balik batu besar juga mendengar suara tangis yang memilukan itu dan dia mengenalinya. Dalam benaknya langsung muncul sosok bayangan, yang tidak lain adalah Bwee Han ping. Saat ini Ciok Giok Yin sudah tidak menghiraukan Pek Hoa Tiap. Dia segera melesat ke luar seraya berseru-seru.

"Kakak Ping! Kakak Ping! Kakak Ping!"

Dia terus berseru-seru, tetapi tidak mendengar sahutan. Oleh karena itu Ciok Giok Yin segera mengerahkan ginkang, melesat laksana kilat pergi mengejar gadis itu. Namun walau sudah melesat beberapa mil, tetap tidak berhasil

menemukannya. Jangan-jangan Bwee Han Ping bersembunyi di suatu tempat. Dia juga mendengar pembicaraan Pek Hoa Tiap, maka membenci dirinya sendiri punya ayah seperti itu. Hatinya pun menjadi hancur, sebab merasa dirinya sebagai anak haram. Sedangkan Ciok Giok Yin dan Bwee Han Ping adalah teman sejak kecil. Ciok Giok Yin tidak berpikir begitu. Dia berharap dapat menyusul Bwee Han Ping, agar bisa berkumpul kembali dengan gadis itu. Sementara hari sudah mulai gelap.

Tapi Ciok Giok Yin sama sekali tidak berhenti terus melesat mengejar Bwee Han Ping.

Mendadak sayup-sayup terdengar suara jeritan yang memilukan. Ciok Giok Yin tersentak, lalu berseru dalam hati, 'Celaka!'

Dia khawatir Bwee Han Ping bertemu penjahat. Karena itu dia mempercepat langkahnya. Setelah melesat beberapa mil, mendadak dia melihat sosok bayangan tergeletak di tanah.

Ciok Giok Yin langsung berhenti, sepasang matanya diarahkan pada bayangan itu. Seketika hatinya berdebar-debar tegang. Sebab sosok yang tergeletak di tanah itu ternyata adalah seorang gadis, namun wajahnya telah hancur dan kelihatannya telah binasa. Ciok Giok Yin membungkukkan badannya memegang tangan gadis itu. Ternyata tangan gadis itu sudah dingin. Perbuatan siapa itu? Begitu tega turun tangan terhadap seorang gadis?

Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Di saat itu terdengar suara jeritan lagi, kegusaran Ciok Giok Yin langsung memuncak. Dia harus menemukan orang yang berhati keji itu dan membunuhnya demi membalas dendam gadis yang telah binasa itu. Oleh karena itu dia segera melesat ke arah suara jeritan itu. Di sebuah rimba terlihat lagi seorang gadis binasa secara mengenaskan. Wajahnya hancur berlumuran darah.

Ciok Giok Yin cepat-cepat memeriksa gadis itu. Ternyata telapak tangan gadis itu masih terasa sedikit hangat. Karena itu Ciok Giok Yin segera menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh gadis tersebut. Ternyata dia ingin tahu siapa penjahat itu melalui mulut gadis tersebut. Berselang beberapa saat kemudian dada gadis itu mulai turun naik, ternyata sudah bernafas. Gadis itu mengeluarkan suara rintihan. Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis itu tidak bisa bertahan lama, maka segera berkata dengan suara ringan.

"Nona, siapa yang turun tangan jahat terhadapmu? Katakanlah agar aku dapat menuntut balas dendammu!"

Wajah gadis itu telah rusak sehingga tampak amat menyeramkan. Akan tetapi gadis itu diam saja, tidak menyahut. Beberapa saat kemudian barulah gadis itu mengeluarkan suara lemah dan terputus-putus.

"Wanita berkerudung muka. "

Ucapannya terhenti, karena nafasnya telah putus. Ciok Giok Yin berkertak gigi, kemudian berkata sengit.

"Aku bersumpah akan membalas dendam!"

Wanita berkerudung muka begitu tega membunuh kedua gadis itu sekaligus merusak wajah mereka. Tentunya dia adalah seorang wanita iblis yang harus dibunuh! Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi, namun sekonyong-konyong bergerak cepat membalikkan badannya. Tampak sebuah tandu meluncur ke arahnya. Di sisi tandu terlihat sosok bayangan hijau.

Tentunya adalah Thian Thay Sian Ceng bersama Lok Ceh.

"Lok… !" seru Ciok Giok Yin tak tertahan. Belum juga dia

menyebut Ceh, tandu itu sudah melayang turun. Terdengar suara dingin dari dalam tandu. "Bocah, kau sungguh berjodoh denganku! Tak disangka kita berjumpa di sini!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu apa sebabnya Thian Thay Sian Ceng selalu ingin turun tangan terhadap dirinya.

"Bagaimana?" bentaknya.

Kening Lok Ceh tampak berkerut. Kelihatannya perasaannya tegang dan wajahnya telah berubah menjadi murung. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana mengatakan situasi di depan matanya. Terdengar sahutan dari dalam tandu.

"Membunuhmu!"

Ciok Giok Yin mendengus dingin. "Hmm! Berdasarkan apa?"

"Cuma tidak menghendakimu hidup!"

Mendadak terdengar suara Lok Ceh yang bergematar. "Suhu!"

"Ada apa?"

"Suhu ampunilah dia!" "Mengapa?"

"Dia... dia. "

"Kenapa diam?" bentak Thian Thay Sian Ceng yang berada di dalam tandu.

Wajah Lok Ceh bertambah murung, sekujur badannya menggigil seperti kedinginan, tak mampu menyahut sama sekali.

"Nona Lok, kau tidak usah turut campur. Aku ingin lihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku."

Di saat bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak badan Lok Ceh terpental tiga depa lalu jatuh gedebuk di tanah dengan mulutnya menyemburkan darah segar. Pada saat itu juga terdengar suara Thian Thay Sian Ceng.

"Bocah perempuan! Tak kusangka kau berani membantu orang luar!"

"Cepat bawa dia ke mari!"

Salah seorang wanita penggotong tandu segera melesat ke arah Lok Ceh. Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin telah memuncak. Maka tanpa sadar dia menggunakan ilmu Hui Keng Pou melesat ke arah wanita penggotong tandu itu. Namun wanita penggotong tandu itu langsung menggeram seraya melancarkan serangan. Seketika terdengar suara yang menderu-deru. Sedangkan Ciok Giok Yin telah mengerahkan Kan Yen Sin Keng sepenuhnya, kemudian mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus ketiga. Ternyata Ciok Giok Yin tidak mau membuang waktu. Dia ingin menghabisi nyawa wanita penggotong tandu itu dengan satu pukulan.

Seketika terdengar jeritan menyayat hati dan darah segar mucrat ke mana-mana. Tampak sosok tubuh terpental ke atas dalam keadan tidak utuh. Sebelah kaki terbang ke atas lalu jatuh di tanah.

Blam!

Sungguh kebetulan, sebelah kaki itu justru jatuh di atas tandu. Thian Thay Sian Ceng yang berada di dalam tandu, langsung membentak gusar.

"Bocah! Kalau malam ini aku tidak bisa membeset kulitmu lebih baik, tidak jadi orang!"

Mendadak tandu itu melambung ke atas. Sedangkan salah satu wanita penggotong tandu, begitu melihat kawannya telah mati di tangan Ciok Giok Yin, dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Kini Ciok Giok Yin diserang dari atas dan bawah. Betapa dahsyatnya kedua serangan itu! Terdengar suara menderu-deru. Ternyata tandu yang berada di angkasa itu meluncur laksana kilat ke arah Ciok Giok Yin. Sedangkan wanita penggotong tandu menerjang dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin menyelamatkan Lok Ceh. Namun dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin dapat menyelamatkannya. Sepasang matanya melotot dia siap menyambut kedua serangan itu. Perlu diketahui, setelah berhasil menguasai ilmu Kan Yen Sin Kang dari Liok Bun, diapun berhasil menyatukan sari Ginseng Daging dengan hawa mujizat Pil Api Ribuan Tahun. Sudah barang tentu membuat lwee kangnya menjadi bertambah tinggi. Mendadak Ciok Giok Yin berkertak gigi, lalu bersiul panjang. Setelah itu barulah dia mengerahkan ilmu Hui Keng Pou. Tampak badannya mencelat ke atas, tiga depa lebih tinggi dari tandu yang sedang meluncur ke arahnya. Begitu badannya berada di angkasa, Ciok Giok Yin berjungkir balik sekaligus meluncur ke arahnya.

Begitu badannya berada di angkasa, Ciok Giok Yin berjungkir balik sekaligus melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Terdengar suara jeritan yang menyayat hati, disusul oleh suara 'Bum'. Wanita penggotong tandu itu terpental. Tubuhnya sudah tak berbentuk lagi. Dia binasa secara mengenaskan.

Sedangkan tandu itu telah hancur berantakan berserakan di tanah. Begitu kakinya menginjak tanah, Ciok Giok Yin langsung memandang ke arah tandu.

"Sungguh wanita yang tak tahu malu!" serunya tak tertahan.

Ternyata Thian Thay Sian Ceng merupakan wanita yang amat cantik, kelihatan seperti gadis berusia dua puluhan. Akan tetapi dia justru tidak mengenakan pakaian, alias telanjang

bulat. Keindahan bentuk tubuhnya amat menggiurkan dan memukau. Terutama sepasang payudaranya, menonjol seperti payudara gadis berusia tujuh belasan. Otomatis membuat orang yang menyaksikannya, menjadi memikirkan yang bukan- bukan. Thian Thay Sian Ceng tersenyum-senyum, berdiri sejauh dua depa di hadapan Ciok Giok Yin. Benarkah wanita itu adalah Thian Thay Sian Ceng? Ternyata seorang wanita cantik yang tak berpakaian sama sekali.

"Siluman! Malam ini aku akan membeset kulit mu!"

Di saat Ciok Giok Yin baru mau melancarkan serangan, mendadak Thian Thay Sian Ceng tertawa cekikikan lalu berseru,

"Tunggu!"

Ciok Giok Yin batal melancarkan serangan.

"Kau ingin meninggalkan pesan?" tanyanya gusar.

"Kau telah membunuh kedua muridku!" katanya beberapa saat kemudian.

"Aku pun ingin membunuhmu!"

"Ciok Giok Yin, kau suka aku? Lihatlah!"

Usai berkata, Thian Thay Sian Ceng lalu mengangkat sebelah kakinya. Melihat itu pikiran Ciok Giok Yin langsung menerawang. Mendadak Thian Thay Sian Ceng tertawa cekikikan. Di saat bersamaan tubuhnya bergerak, tahu-tahu kepalanya menyentuh tanah, sedangkan kedua belah kakinya berada di atas. Setelah itu sepasang kakinya dibuka perlahan- lahan. Entah apa sebabnya, seketika Ciok Giok Yin berdiri seperti linglung di tempat. Sepasang matanya terus menatap Thian Thay Sian Ceng, terutama di bagian selangkangan itu.

Perlahan-lahan kesadarannya di pelupuk matanya muncul beberapa sosok bayangan orang yang amat dikenalnya, yaitu Seh Yong Yong, Ho Siu Kouw, Heng Thian Ceng, Bwee Han Ping dan Tong Wen Wen. Semua bayangan itu hilang dan muncul kembali di pelupuk matanya. Mengapa gadis-gadis itu begitu tak tahu malu, satu persatu bertelanjang bulat di depan matanya? Bukankah merupakan hal yang amat aneh sekali?

Entah sejak kapan Thian Thay Sian Ceng sudah berdiri tegak kembali seperti biasa. Sepasang kakinya dirapatkan, kemudian pinggul dan tubuhnya bergoyang-goyang dan meliuk-

liuk. Ternyata gerakan itu yang menciptakan khayalan di depan mata Ciok Giok Yin, sehingga membuat pikirannya menjadi kacau balau dan kesadarannyapun mulai kabur. Dia telah melupakan dirinya berada di mana. Namun mulutnya terus bergumam perlahan.

"Kakak! Kakak! Ke marilah!"

Terdengar suara tawa di empat penjuru, bahkan terdengar pula suara seruan.

"Adik! Adik!"

Perlahan-lahan Ciok Giok Yin mengayunkan kakinya ke  depan. Mendadak terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga.

"Bocah... !"