Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 13

 
Jilid 13

Ciok Giok Yin tergoncang melihat tangkisan orang yang baru muncul itu, sehingga darahnya bergolak. Maka pandangannya menjadi gelap dia roboh. Di saat bersamaan orang itu bergerak cepat, segera memapah Ciok Giok Yin agar tidak roboh, kemudian memanggilnya dengan suara gemetar.

"Adik Yin! Adik Yin...!"

Ciok Giok Yin belum pingsan, maka mendengar suara orang yang amat dikenalnya. Barulah dia tahu bahwa orang itu bukan musuhnya. Dia membuka matanya perlahan-lahan, ternyata dirinya berada dalam pelukan Heng Thian Ceng. Timbul rasa duka dalam hatinya, sebab saat ini dia belum mampu menahan tangkisan Heng Thiang Ceng, membuktikan bahwa kepandaiannya masih rendah. Lalu bagaimana menuntut balas semua dendam itu? Karena itu tidak mengherankan Ciok Giok Yin merasa berduka sekali. Akhirnya bercucuranlah air matanya. Yang membuatnya berduka tidak lain adalah kepandaiannya yang belum dapat menyamai orang

lain. Keadaan Ciok Giok Yin itu membuat Heng Thiang Ceng cemas sekali.

"Bagaimana... kau?"

Ciok Giok Yin berdiri lalu menghapus air matanya seraya menyahut, "Tidak apa-apa."

Heng Thian Ceng juga berdiri.

"Tadi aku dengar ada suara tangisan wanita, maka kukira ada penjahat sedang berbuat yang bukan-bukan, maka aku melesat ke mari. Tidak tahunya. "

Mendadak Ciok Giok Yin membalikkan badannya menengok Fang Jauw Cang. Ternyata mata gadis itu telah terpejam dengan wajah pucat pias seperti kertas tiada warna darah sama sekali. Hati Ciok Giok Yin tersentak dan dia segera memeriksa nadi gadis itu, ternyata... gadis itu telah mati. Seketika juga Ciok Giok Yin menangis meratap.

"Moi Moi! Moi Moi "

Air matanya berderai-derai membasahi pipinya. Heng Thian Ceng yang berdiri di sampingnya, berkata dengan suara ringan.

"Adik Yin, dia sudah mati. Tiada gunanya kau terus menangis. Lebih baik kau segera menguburnya, dan berupaya membalaskan dendamnya."

Ciok Giok Yin merasa masuk akal apa yang dikatakan Heng Thian Ceng. Dia langsung berhenti menangis dan cepat-cepat mengubur mayat Fang Jauw Cang. Setelah itu dia berdiri diam di hadapan makam itu. Dia sama sekali tidak menangis, tapi justru lebih parah dari pada menangis.

Beberapa saat kemudian barulah dia berkata, "Moi Moi, aku pasti membalaskan dendam. Suatu hari nanti, aku akan membunuh Ban Hoa Tong Cu dan mengorek hatinya untuk menyembayangimu." Usai berkata, dia berkertak gigi hingga berbunyi gemertuk.

Heng Thiang Ceng menepuk bahunya seraya berkata lembut. "Jangan terlampau berduka agar tidak merusak kondisi

tubuhmu."

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, menatap Heng Thian Ceng, namun tidak bersuara sama sekali.

"Orang mati tidak bisa hidup kembali. Dia sudah tidak bisa menghiburmu, namun aku bersedia selalu berada di sisimu."

Ciok Giok Yin dalam keadaan duka, maka apa yang dikatakan Heng Thiang Ceng itu tidak masuk ke dalam telinganya sama sekali.

"Lo cianpwee, kau. " Heng Thian Ceng memutuskan perkataannya, berkata dengan lembut sekali.

"Jangan panggil aku lo cianpwee." "Lalu aku harus memanggil apa?" "Panggil aku kakak saja."

"Itu. "

"Kau tidak sudi?"

"Lo cianpwee, tingkat kedudukan di dunia persilatan tidak boleh dilanggar."

"Jangan mempermasalahkan itu, selanjutnya kita memanggil kakak dan adik saja."

Ciok Giok Yin mengangguk. Mendadak dia teringat akan budi pertolongan Heng Thian Ceng, maka dia tetap tidak berani memanggilnya kakak, sebab merasa tidak sopan.

Oleh karena itu, dia berkata, "Tempo hari lo cianpwee terpukul jatuh ke bawah tebing oleh ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, aku ke bawah mencari lo cianpwee, namun tidak menemukan jejak lo cianpwee. "

Heng Thiang Ceng langsung melotot seraya menegur, "Kok masih panggil lo cianpwee? Sungguh tak sedap didengar lho!"

Setelah menegurnya, Heng Thian Ceng melanjutkan. "Ketika aku terpukul jatuh, untung ditolong seorang pandai,

sehingga nyawaku dapat diselamatkan. Adik Yin, mari kita pergi!"

Heng Thian Ceng menarik tangannya, lalu melesat pergi. Agar lebih leluasa, maka Ciok Giok Yin diam, membiarkan Heng Thiang Ceng menarik tangannya, terus melesat pergi mengikuti Heng Thiang Ceng.

Akan tetapi tiba-tiba muncul tiga orang menghadang di depan mereka, masing-masing adalah si Bongkok Arak, Ku Tian dan Cou Ing Ing. Cou Ing Ing menatap mereka berdua dengan penuh kebencian. Sedangkan Ku Tian terus menatap Heng Thiang Ceng. Si Bongkok Arak justru terus meneguk arak, setelah itu barulah menatap Heng Thian Ceng dengan dingin seraya menegurnya dengan lantang.

"Khui Fang Fang, kau memikatnya!"

Ternyata Heng Thian Ceng bernama Khui Fang Fang. Bukan main gusar Heng Thian Ceng!

"Omong kosong!" bentaknya.

"Kalau kau tidak berniat memikatnya, mengapa kau terus bersamanya?"

"Peduli amat denganmu!"

"Urusan ini aku memang harus mempedulikannya!" "Kau pantas?"

Sepasang mata si Bongkok Arak menyorot dingin.

"Kau lihat saja aku pantas atau tidak?" katanya dengan suara dalam.

Mendadak dia menggerakkan tangannya ke arah sebuah pohon.

"Kreeek!"

Pohon itu roboh seperti terpotong senjata tajam. Bukan main terkejutnya Heng Thian Ceng! "Kau harus segera meninggalkannya!" kata si Bongkok Arak.

Heng Thian Ceng mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak kenal orang tua bongkok itu, namun kepandaiannya amat tinggi. Sudah jelas dirinya bukan tandingannya. Tapi dia juga sudah terkenal di rimba persilatan. Bagaimana mungkin dia akan meninggalkan orang yang amat disukainya? Karena itu dia pun menatap si Bongkok Arak dengan tajam.

"Berdasarkan apa, kau menyuruhku meninggalkannya?" sahutnya dengan dingin.

"Kau pasti mengerti!"

"Aku justru tidak mengerti!"

"Kau menginginkanku menjelaskannya?"

Si Bongkok Arak melirik Ciok Giok Yin beberapa kali. Dia ingin membuka mulut namun dibatalkannya, akhirnya membanting kaki seraya berkata,

"Akan kuberitahukan kelak, sekarang kau boleh pergi!" "Tidak!"

"Sungguhkah kau tidak mau pergi?" "Apakah aku bohong?"

"Kalau begitu kau betul-betul menyukainya?" "Tentu!"

Mendadak Cou Ing Ing mendengus dingin, "Hmm! Dasar tidak tahu diri!"

Heng Thian Ceng langsung maju tiga langkah dengan sepasang mata menyorot bengis.

"Kau mencaci siapa?" tanyanya gusar. "Mencacimu!"

"Kau masih berbau susu, berani bertingkah di hadapanku?" Heng Thian Ceng mengangkat sebelah tangannya,

kelihatannya ingin menyerang Cou Ing Ing. Namun Si Bongkok

Arak segera menggerakkan tangannya. "Berhenti!" bentaknya.

Heng Thian Ceng merasa ada serangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah dadanya, membuatnya harus mundur beberapa langkah.

Di saat bersamaan Cou Ing Ing ingin. Namun si Bongkok

Arak cepat-cepat mencegahnya. "Nona Cou, tunggu!"

Mendadak dia melesat ke hadapan Heng Thiang Ceng seraya membentak sengit.

"Kalau kau masih belum mau pergi, jangan menyalahkan kalau aku turun tangan terhadapmu!"

Kelihatannya si Bongkok Arak sudah siap menyerang Heng Thiang Ceng.

Ciok Giok Yin yang menyaksikan situasi tegang itu segera berkata, "Sabar lo cianpwee, ada apa-apa bicara baik-baik saja!"

Kedua orang itu penolongnya, maka Ciok Giok Yin tidak boleh memihak siapa pun. Dia segera berdiri di tengah-tengah mereka berdua.

"Saudara kecil, kau tidak boleh bersamanya!" kata si Bongkok Arak.

Ciok Giok Yin merasa heran. "Mengapa?"

"Tidak mengapa, hanya kelak kau akan menyesal." "Bolehkah kau memberikan penjelasan padaku?" "Penjelasan dan alasan memang ada, kau akan tahu

perlahan-lahan."

Mendadak Heng Thian Ceng tertawa terkekeh-kekeh, setelah itu berkata, "Adik Yin, kau tidak usah banyak bicara dengannya, dia punya alasan dan penjelasan apa? Cuma omong kosong belaka. Lebih baik sementara ini kita berpisah, kelak aku akan mencarimu."

Usai berkata, Heng Thian Ceng langsung melesat pergi dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan mereka. Ciok Giok Yin merasa si Bongkok Arak terlampau mencampuri urusan.

Padahal Heng Thian Ceng tidak berniat jahat terhadap Ciok Giok Yin melainkan seperti seorang tingkatan tua memperhatikan sekaligus menyayangi tingkatan muda.

Sedangkan Heng Thian Ceng masih bersedia memanggilnya adik dan menyuruhnya memanggil kakak, sesungguhnya itu tiada masalah apa-apa. Oleh karena itu wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi agak tak sedap dipandang. Si Bongkok Arak adalah orang tua yang telah berpengalaman. Dulu dia kelihatan seperti linglung dan pikun, itu cuma berpura-pura saja. Saat ini begitu melihat sikap Ciok Giok Yin, bagaimana mungkin dia tidak mengerti? Sebab itu dia berkata,

"Adik Kecil, kita tidak usah membicarakan yang lain, cukup membicarakan usianya, lebih tua separuh dari usiamu. Apakah kau akan menyukainya."

"Aku tidak bilang menyukainya." "Syukurlah kalau begitu!"

Mendadak Cou Ing Ing mendengus dingin, "Hm!" Setelah itu dia berkata pada si Bongkok Arak. "Lo cianpwee, mari kita pergi!"

Kelihatannya dia masih amat mendendam pada Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin terhadapnya memang merasa berdosa. Karena itu dia cuma memandang Cou Ing Ing, tidak bersuara sama sekali. Sesungguhnya Cou Ing Ing berharap Ciok Giok Yin menyatakan maaf dan berkata lembut padanya, otomatis rasa dendamnya akan sirna. Justru tak terduga, Ciok Giok Yin malah diam saja, sehingga membangkitkan kegusarannya.

"Ciok Giok Yin, urusan kita belum selesai!" katanya sengit.

Mendengar itu Ciok Giok Yin berkata dalam hati. 'Aku telah menerima tiga pukulanmu, maka boleh dikatakan aku sudah tiada hutang padamu.'

Namun kemudian dia justru berkata demikian, "Ing... itu terserah kau."

Si Bongkok Arak khawatir mereka akan ribut lagi, maka segera menyela, "Adik Kecil, apa rencanamu sekarang?"

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan wanita berbaju hitam yang di depan makam palsu Tiat Yu Kie Su. Wanita berbaju hitam pernah berjanji padanya akan bertemu di Tebing Memandang Suami, di gunung Cong Lam San. Walau Tiat Yu Kie Su telah mati, lagi pula dendam antara Sang Ting It Koay dengan Kang Ouw Pat Kiat telah jernih, namun Ciok Giok Yin tetap harus ke sana, karena tidak boleh ingkar janji. Kalau dihitung memang telah beberapa hari, tapi dia tetap harus ke sana untuk menepati janji. Oleh karena itu Ciok Giok Yin berkata,

"Aku ada janji dengan seorang wanita, harus pergi ke gunung Cong Lam San."

Si Bongkok Arak tercengang. "Kau mau ke Cong Lam Pay?" "Bukan."

"Kalau begitu untuk apa kau ke sana?" "Menepati janji dengan seorang wanita."

Sementara Ku Tian yang berdiri diam dari tadi mendadak menyela,

"Maaf, aku masih ada urusan lain. Kalian mengobrollah aku mau mohon diri."

Dia memberi hormat lalu melesat pergi. Setelah Ku Tian pergi Ciok Giok Yin pun memberi hormat kepada si Bongkok Arak.

"Terimakasih atas campur tangan lo cianpwee. Budi kebaikan lo cianpwee tidak akan kulupakan selamanya. Sampai jumpa"

Usai berkata Ciok Giok Yin menatap Cou Ing Ing sejenak lalu melesat pergi. Si Bongkok Arak memandang punggung Ciok Giok Yin seraya berkata,

"Sifatnya itu... persis seperti ayahnya." Kemudian dia menoleh memandang Cou Ing Ing. "Biar bagaimanapun kita harus membantunya mencari informasi tentang Seruling Perak."

Cou Ing Ing mengangguk kemudian pergi bersama si Bongkok Arak. Sementara Ciok Giok Yin terus melesat pergi menuju Gunung Cong Lam San. Dua hari kemudian dia sudah sampai di gunung tersebut. Akan tetapi gunung Cong Lam San amat luas, sedangkan Ciok Giok Yin tidak tahu di mana letak Tebing Memandang Suami. Tidak gampang mencari tebing tersebut.

Lagi pula tiada seorang pun di sana. Maka Ciok Giok Yin tidak bisa menanyakan tentang tebing tersebut. Sebab itu, Ciok Giok Yin berdiri termenung di sebuah puncak gunung. Namun kemudian dia menyadari bahwa dirinya tidak boleh putus asa. Maka dia segera mencari ke sana ke mari. Tentu saja secara membabi buta. Mendadak samar-samar dia melihat sosok bayangan orang berdiri di atas sebuah batu besar.

Hatinya tergerak dan berkata, 'Jangan-jangan itu adalah tebing Memandang Suami!'

Tanpa membuang waktu lagi dia langsung melesat ke sana. Begitu sampai di tempat tersebut, dia yakin bahwa tempat itu adalah Tebing Memandang Suami, namun bayangan orang itu sudah tidak kelihatan lagi. Di saat dia menengok ke sana ke mari, mendadak terdengar suara helaan nafas panjang dan ucapan.

"Dia tidak akan datang lagi."

Itu adalah suara seorang wanita. Maka Ciok Giok Yin segera bertanya dengan suara lantang,

"Mohon tanya apakah tempat ini adalah Tebing Memandang Suami?"

Hening tak terdengar suara apa pun.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening dan bertanya dalam hati. 'Di sana hutan belantara. Apakah yang bersuara tadi siluman wanita?'

Tiba-tiba terdengar suara yang amat dingin. "Siapa kau?"

"Aku bernama Ciok Giok Yin." "Ciok Giok Yin?"

"Ya."

"Mau apa kau datang di Tebing Memandang Suami ini?" "Tiga bulan yang lalu aku berjanji dengan seorang

cianpwee. " Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, muncul sosok bayangan bagaikan arwah dari balik sebuah batu besar. Setelah saling memandang, justru sama-sama mengeluarkan suara.

"Ih!"

Ternyata seorang wanita berbaju hitam, wanita itu menatap Ciok Giok Yin dengan dingin seraya bertanya,

"Kau baru datang?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya. Karena terjadi sedikit halangan di tengah jalan, maka aku datang terlambat. Mohon cianpwee sudi memaafkanku."

Wanita berbaju hitam menatapnya lagi sambil bertanya, "Ada urusan apa kau mencari Tiat Yu Kie Su?"

"Karena ada sedikit kesalahpahaman." "Kini kesalahpahaman itu telah jernih."

Air muka wanita berbaju hitam berubah, kelihatannya dia agak emosi.

"Kalau begitu, kau sudah berhasil mencarinya?"

"Terus terang aku memang sudah bertemu dengannya," sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

Wanita berbaju hitam segera melangkah maju. "Berada di mana dia sekarang?"

Ciok Giok Yin tidak tahu ada dendam kebencian apa antara wanita itu dengan Tiat Yu Kie Su, maka segera mundur selangkah mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan, kemudian menyahut. "Bolehkah aku tahu siapa cianpwee?" "Katakan di mana dia sekarang?"

"Aku akan mengatakan, namun terlebih dahulu kau harus menyebutkan namamu."

Wanita berbaju hitam menatapnya tajam, setelah itu barulah memberitahukan.

"Cu Sian Ling!"

Ciok Giok Yin terbelalak. "Hah? Cu Sian Ling?"

Wanita berbaju hitam mengangguk.

"Tidak salah. Sekarang kau harus beritahukan tentang jejaknya!"

Mata Ciok Giok Yin mulai bersimbah air. "Dia sudah mati."

Seketika Cu Sian Ling menyambar baju Ciok Giok

Yin. Gerakan wanita itu cepat sekali, laksana kilat menyambar. Maka Ciok Giok Yin tidak mampu berkelit.

Bahkan setelah itu Cu Sian Ling pun menotok jalan darah Hu Keng Hiat di bagian dada Ciok Giok Yin sambil membentak sengit, "Kau yang mencelakainya?"

Begitu jalan darahnya itu tertotok, Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya menjadi lemas, juga terasa seperti tertusuk ribuan jarum. Bukan main sakitnya, sehingga sekujur badannya mengucurkan keringat dingin. Ciok Giok Yin memang bersifat angkuh dan keras hati. Dia berkertak gigi menahan sakit, tidak merintih sama sekali. Akan tetapi sepasang matanya berapi-api, terus menatap Cu Sian Ling. Sedangkan wajah Cu Sian Ling yang bengis itu saat ini bertambah bengis menyeramkan, "Kalau kau tidak mau mengatakan akan kucabut nyawamu!"

Mendadak sekilas timbul suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, apakah Tia Yu Kie Su-Mok Ho menggunakan siasat meminjam tangan membunuh orang? Kalau tidak, bagaimana mungkin Cu Sian Ling bersikap sedemikian bengisnya terhadapnya?

"Apabila benar demikian, dapat dibayangkan betapa kejamnya hati Tiat Yu Kie Su-Mok Ho itu.

Kelihatannya dendam antara gurunya dengan Kang Ouw Pat Kiat bukan karena....

Berpikir sampai di situ Ciok Giok Yin menahan sakit seraya berkata, "Kau dan dia. "

"Kalau kau yang mencelakainya, maka kau harus ganti nyawanya!" sergah Cu Sian Ling.

Mendengar itu Ciok Giok Yin merasa agak lega, "Harap cianpwee lepaskan tangan dulu! Aku tidak akan kabur dan akan memberitahukan."

Cu Sing Ling mengerutkan kening, sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian dia mengendurkan cengkeramannya dan membentak.

"Cepat katakan!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat menghimpun hawa murninya. Setelah itu dia menarik nafas lega karena tubuhnya tidak terasa ada kelainan sedikit pun.

"Dia mati di tangan Ban Hoa Tong Cu." katanya. "Ban Hoa Tong Cu?" "Ya."

Cu Sian Ling mengerutkan kening lalu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.

"Bagaimana kau tahu itu?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang perkenalannya dengan Lu Jin, setelah itu dia menambahkan,

"Dia mati demi diriku, maka aku pasti akan menuntut balas dendamnya." Dia menarik nafas panjang. "Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, dia berpesan padaku agar mencari cianpwee."

Cu Sian Ling mendongakkan kepala memandang langit, lalu tertawa pilu.

Setelah itu, wanita berbaju hitam itu pun bergumam, "Kanda Mok. "

Dia tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ternyata air matanya telah meleleh deras membasahi pipinya. Ketika menyaksikan sikap Cu Sian Ling, Ciok Giok Yin dapat menduga akan hubungan mereka berdua. Namun dia tidak berani membuka mulut menghiburnya, hanya berdiri termangu- mangu di tempat. Sementara air mata Cu Sian Ling terus mengucur dan dia tetap memandang langit. Beberapa saat kemudian barulah Cu Sian Ling bergumam terisak-isak dengan air mata tetap terus berderai-derai.

"Kanda Mok, aku menunggu dua puluh tahun lebih tapi tidak disangka kau sudah tiada. Aku. masih punya harapan apa?

Kanda Mok, kau. " Sekonyong- konyong dia menoleh

memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya dengan serius. "Kau bersedia menuntut balas dendam Kanda Mok?" Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya. Aku tidak akan melepaskan semua orang-orang Goa Ban Hoa Tong."

Ternyata Ciok Giok Yin juga teringat akan kematian Fang Jauw Cang, yang mati juga karena demi dirinya. Ini sungguh merupakan dendam kesumat! Cu Sian Ling sudah berhenti menangis. Justru sungguh mengherankan, wajahnya tampak tenang sekali. Akan tetapi saat ini dia pun tampak jauh lebih tua, mungkin lebih tua sepuluh tahun.

Berselang beberapa saat dia berkata lembut, "Mengenai urusan kami kau tidak usah tahu. Terlebih dahulu aku mengucapkan terimakasih padamu atas kesediaanmu menuntut balas dendam." Tiba-tiba dia menunjuk ke arah kiri. "Lihat ada orang ke mari!"

Ciok Giok Yin langsung menengok ke arah yang ditunjuk wanita berbaju hitam, tapi tidak melihat seorang pun di sana.

Di saat bersamaan terdengar suara seruan pilu, "Ibu! Maafkan ananda yang tidak berbakti, ananda mau ikut. "

Sekonyong-konyong terdengar suara 'Plak!'

Ciok Giok Yin cepat-cepat menoleh. Tampak kening Cu Sian Ling telah pecah dan wanita itu terkulai dengan darah berlumuran di wajahnya. Ternyata wanita berbaju hitam telah membunuh diri dengan cara memukul kepalanya sendiri, tepat di jalan darah Thian Ling Kay. Terbelalak Ciok Giok Yin memandang mayat wanita berbaju hitam itu, namun amat berduka sekali. Dia tidak dapat menduga, mengapa Cu Sian Ling dan Tiat Yu Kie So-Mok Ho tidak bisa hidup bersama?

Mereka saling mencinta, tapi mengapa harus berpisah? Mereka saling merindukan dan akhirnya Tiat Yu Kie Su-Mok Ho mati, Cu Sian Ling pun membunuh diri menyusulnya.

Mendadak Ciok Giok Yin merasa ada serangkum angin menerjang ke jalan darah Cian Mo Hiatnya, membuat sekujur badannya menjadi ngilu. Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin!

Siapa penyerang itu? Ilmu kepandaiannya amat tinggi sekali! Karena orang itu sudah berada di belakangnya, tapi Ciok Giok Yin sama sekali tidak mengetahuinya. Setelah jalan darah Cian Mo Hiatnya tertotok, Ciok Giok Yin menjadi seperti orang biasa. Dia menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak seorang pun berada di sekelilingnya, membuatnya bertambah

terkejut. Di sekelilingnya cuma tampak hutan rimba. Ciok Giok Yin terperangah. Ternyata tempat di sekelilingnya telah berubah, tidak seperti tempat semula yang didatanginya.

Dia cepat-cepat memandang ke samping. Sepasang matanya bertambah terbelalak karena mayat Cu Sian Ling telah

hilang. Apa gerangan yang terjadi? Sekujur badannya menjadi merinding! Mendadak terdengar suara yang amat dingin dan menusuk telinga.

"Bagaimana putriku mati?"

Ciok Giok Yin tersentak, "Siapa kau?" tanyanya. "Aku adalah ibunya!"

"Bolehkah kau memperlihatkan diri untuk bercakap-cakap sebentar?"

"Jawab! Apakah kau yang membunuhnya?" "Bukan."

"Kalau begitu, siapa?" "Dia bunuh diri."

"Mengapa tiada sebab musabab dia bunuh diri? Dua puluh tahun lebih batinnya menderita, tak disangka akhirnya menjadi begini."

"Dia mendengar berita dariku, bahwa Tiat Yu Kie Su sudah mati "

Terdengar seruan kaget memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Tiat Yu Kie Su sudah mati?" "Ya."

Suasana berubah menjadi kening.

Ciok Giok Yin cepat-cepat berkata, "Lo cianpwee, aku bermaksud baik. Jauh-jauh aku kemari menyampaikan berita itu. Kini lo cianpwee menotok jalan darahku, sesungguhnya apa maksud lo cianpwee?"

"Aku akan membebaskan jalan darahmu, namun sementara ini kau tidak boleh pergi!"

Mendadak Ciok Giok Yin merasa sekujur badan menjadi nyaman. Ternyata jalan darahnya yang tertotok itu telah bebas. Tapi pemandangan di sekelilingnya masih tetap seperti tadi. Saat ini tenaganya telah pulih. Dia langsung mencelat ke atas ingin mencari tempat persembunyian orang itu.

Akan tetapi tiba-tiba Ibu Cu Sian Ling berkata dingin, "Kau tidak usah membuang-buang tenaga! Sebab kau berada di dalam Khun Goan Tin (Formasi Yang Menyesatkan)! Dengar baik-baik beberapa pertanyaanku, barulah pergi tidak akan terlambat!"

Ciok Giok Yin tidak percaya. Dia melesat ke sana ke mari. Ketika berhenti dia melihat ke sekelilingnya, ternyata dirinya masih berada di tempat semula. Itu membuatnya amat gusar dan timbul pula sifat angkuhnya.

"Lo cianpwee, aku tidak tahu di mana kesalahanku!" bentaknya.

"Kuberitahukan Tebing Memandang Suami ini belum pernah dijamah kaum lelaki! Kau adalah yang pertama, bahkan juga telah membawa pergi nyawa putriku!"

Ciok Giok Yin tidak menyahut.

"Berhubung aku amat membenci kaum lelaki, maka kubentuk formasi Khun Goan Tin di tempat ini! Ketika kau di sini, formasi itu masih belum bergerak, tapi kini telah berfungsi! Walau kau punya sayap, tidak akan dapat meninggalkan tempat ini!"

"Kalau begitu, lo cianpwee bermaksud mengurungku di sini?" "Aku ingin tahu asal-usulmu!"

"Kalau aku tidak mau beritahukan?"

"Kau akan berada di tempat ini selamanya!"

Mendengar ucapan wanita itu, kegusaran Ciok Giok Yin menjadi memuncak. Dia cukup lama tinggal bersama Sang Ting It Koay, sehingga ketularan sifat anehnya. Sekonyong-konyong dia melancarkan sebuah pukulan ke arah suara itu, yaitu pukulan Soan Hong Ciang yang menggunakan lwee kang Sam Yang Hui Kang. Bukan main dahsyatnya pukulan itu, menderu- deru dan mengeluarkan hawa panas.

"Soan Hong Ciang!" seru wanita itu tak tertahan. "Tidak salah!" sahut Ciok Giok Yin dingin.

"Siapa kau?" "Ciok Giok Yin!"

"Ada hubungan apa kau dengan Sang Ting It Koay?" Mendengar pertanyaan itu, tergerak hati Ciok Giok Yin. "Suhuku!" sahutnya.

Wanita itu tertawa sedih, lalu berkata, "Baiklah! Selamanya kau akan tinggal di dalam formasi itu!"

"Siapa kau? Ada dendam apa dengan suhuku? Perlihatkan dirimu! Mari kita membuat perhitungan!" bentak Ciok Giok Yin.

Akan tetapi tiada sahutan. Tentunya Ciok Giok Yin tidak rela dikurung di dalam formasi itu selamanya. Maka dia menggunakan ginkang melesat pergi. Berselang beberapa saat barulah dia berhenti. Dia menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya masih tetap berada di dalam rimba. Ketika menundukkan kepala dia terbelalak karena dirinya masih tetap berada di tempat semula. Ternyata tadi dia cuma melesat beberapa depa, dan juga hanya berputar-putar di tempat itu.

"Lo cianpwee, apa maksudmu mengurungku di sini? Kalau kau punya dendam dengan suhuku, aku pasti memikul tanggung jawab itu," katanya memelas.

Tapi tetap tiada sahutan. Ciok Giok Yin gusar bukan kepalang. Saking gusarnya dia merasa lelah, akhirnya duduk bersila di tanah dan menghimpun hawa murninya. Entah berapa lama kemudian mendadak dia merasa ada orang menarik lengan bajunya. Dia langsung bangkit sekaligus mengikuti orang yang menarik lengan bajunya. Tak seberapa lama pemandangan di tempat itu berubah semua. Ternyata dia masih tetap berdiri di Tebing Memandang Suami. Setelah itu dia mendongakkan kepala. Tampak di hadapannya berdiri seorang wanita anggun berpakaian indah. Ciok Giok Yin segera memberi hormat seraya berkata.

"Terima kasih atas pertolongan cianpwee. Bolehkah aku tahu nama cianpwee?"

"Kelak kau akan mengetahuinya," sahut wanita anggun. Usai menyahut, sepasang mata wanita itu menyorot tajam,

menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam. Ketika beradu pandang dengan mata wanita anggun itu, Ciok Giok Yin langsung merasa merinding.

"Tahukah kau siapa Cu Sian Ling yang bunuh diri itu?" tanya wanita anggun.

Ciok Giok Yin tertegun lalu menggelengkan kepala. "Mohon cianpwee memberitahukan!" sahutnya.

Wanita anggun tidak menjawab, melainkan balik bertanya, "Suhumu adalah Sang Ting It Koay?" "Ya."

"Tahukah kau namanya?"

Ciok Giok Yin tertegun lagi. Sejak belajar ilmu kungfu pada Sang Ting It Koay, Ciok Giok Yin cuma tahu julukannya tidak tahu namanya. Entah sudah berapa kali Ciok Giok Yin bertanya, tapi Sang Ting It Koay sama sekali tidak mau memberitahukan. Kini wanita itu bertanya, membuat Ciok Giok Yin merasa serba salah sehingga wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan.

"Aku... aku tidak tahu," jawabnya terputus-putus. "Itu bukan kesalahanmu, sebab seharusnya dia yang

memberitahukan."

"Bolehkah cianpwee memberitahukan padaku?" tanya Ciok Giok Yin.

"Dia bernama Cu Hek," sahut wanita anggun. "Cu Hek?"

"Tidak salah."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Apa maksud cianpwee menyinggung nama suhuku?" tanyanya.

"Kau harus tahu, Cu Sian Ling adalah putrinya." Bukan mari terkejutnya Ciok Giok Yin.

"Haaah? Dia... dia adalah suci (Kakak Perempuan Seperguruan)?" serunya tak tertahan.

"Kau memang harus memanggilnya demikian." Kening Ciok Giok Yin berkerut-kerut. Dia memandang wanita itu seraya bertanya, "Bolehkah cianpwee menjelaskan padaku?"

Wanita anggun manggut-manggut.

"Mengenai suhumu itu, sebetulnya aku tidak kenal, cuma mendengar saja." Dengar-dengar ketika masih muda, dia amat tampan, sehingga banyak gadis tertarik padanya. Untung dia bukan pemuda mata keranjang. Pada suatu hari dia terkena racun musuhnya, menyebabkannya kehilangan kesadaran. "

Wanita anggun berhenti sejenak, kemudian menatap wajah Ciok Giok Yin, seraya melanjutkan.

"Waktu itu dia bersama seorang gadis persilatan. Lantaran kehilangan kesadarannya, maka terjadi hubungan intim dengan gadis tersebut. Oleh karena itu dia merasa menyesal dan malu, tiada muka menemui gadis persilatan itu lagi! Akhirnya. dia

pergi secara diam-diam."

Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian. Seusai wanita itu menutur, barulah dia bertanya.

"Siapa gadis persilatan itu?"

"Dia adalah ibu Cu Sian Ling, yaitu orang yang mengurungmu di sini."

"Haaah. ?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

Wanita anggun melanjutkan penuturannya.

"Yang satu pergi lantaran merasa malu dan menyesal, sedangkan yang satu lagi justru hamil. Akhirnya gadis itu hidup menyendiri di tempat ini menunggu kelahiran anaknya."

"Anak itu adalah suciku?" "Ng!" "Lalu bagaimana urusan suciku dengan Tiat Yu Kie Su-Mok Ho?"

"Setelah subo (Isteri Guru)mu tinggal di sini, setiap hari dia berharap suhumu kemari mencarinya. Akan tetapi suhumu sama sekali tidak muncul. Apabila suhumu datang, dia akan mengurung suhumu di dalam formasi ini."

Wanita anggung menghela nafas panjang, setelah itu melanjutkan.

"Subomu juga melarang putrinya berkelana di dunia persilatan. Mereka berdua tinggal di Tebing Memandang Suami ini. Sudah pasti subomu yang menamai tebing ini. Akan tetapi segala urusan di kolong langit memang sulit diduga. Pada suatu hari, Cu Sian Ling bermohon pada ibunya agar memperbolehkannya ke dunia persilatan untuk melihat-

lihat. Mula-mula ibunya melarangnya, namun karena Cu Sian Ling terus mendesak, akhirnya ibunya memberi izin. Tapi ibunya berpesan, dilarang mendekati kaum lelaki."

Wanita anggun menghela nafas panjang lagi, kemudian melanjutkan.

"Beberapa hari setelah Cu Sian Ling berkelana di dunia persilatan, justru berkenalan dengan Tiat Yu Kie Su, kemudian mereka berdua saling jatuh cinta. Namun diketahui oleh ibunya, maka Cu Sian Ling dipaksa pulang ke Tebing Memandang Suami ini!"

Seusai wanita itu menutur, Ciok Giok Yin menghela nafas panjang seraya berkata, "Tidak seharusnya aku menyampaikan berita duka itu, menyebabkan suci bunuh diri."

Wanita anggun itu tersenyum lembut.

"Soal itu kau tidak dapat disalahkan. Kau menerima titipan pesan dari orang, sudah pasti harus menyampaikannya secara jujur."

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi... hatiku merasa tidak tenang." "Urusan sudah jadi begini, mau bilang apa?"

Mendadak Ciok Giok Yin bertanya, "Oh ya! Bolehkah aku menemui subo?"

Wanita anggun itu menggelengkan kepala. "Dia tidak mau menemuimu, kau boleh pergi."

"Tapi... aku harus memberitahukan pada subo, bahwa suhu telah meninggal."

"Aku sudah memberitahukan padanya."

Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam hati Ciok Giok Yin, maka dia segera bertanya, "Bagaimana cianpwee sedemikian jelas tentang urusan ini?"

Ternyata Ciok Giok Yin bercuriga, mungkin wanita anggun yang berdiri di hadapannya justru adalah subonya.

Wanita anggun tersenyum, seakan tahu apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin. Kemudian dia berkata lembut, "Tadi aku bertemu subomu, dia yang memberitahukan padaku,"

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Ooooh! Entah sudah berapa kali cianpwee menyelamatkanku. Aku tidak akan lupa selama-lamanya. Sampai jumpa!"

Ciok Giok Yin memberi hormat, lalu melesat pergi meninggalkan Tebing Memandang Suami itu. Saat ini sudah larut malam. Tampak ribuan bintang bertaburan di langit, bergemerlapan memancarkan cahaya. Angin gunung terus berhembus mengeluarkan suara.

Huuuuuh! Huuuuuu...! Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun dia seorang diri melakukan perjalanan di hutan belantara yang amat sepi itu membuatnya merasa agak merinding. Dalam perjalanan dia pun mencari suatu tempat untuk berteduh. Esok pagi dia baru melanjutkan perjalanan.

Mendadak samar-samar tampak sebuah bangunan tentunya amat menggirangkan hatinya. Dia cepat-cepat melesat ke sana. Setelah dekat, ternyata adalah sebuah kuil tua. Di atas pintu kuil itu bergantung sebuah papan yang agak miring, yang tulisannya hampir tak dapat dibaca 'Gak Ong Bio' (Kuil Raja Gak). Sedangkan kedua daun pintunya sudah roboh ke samping. Dapat diketahui, bahwa kuil itu tak pernah diurus.

Ciok Giok Yin berdiri di hadapan kuil itu. Berselang sesaat barulah dia melangkah ke dalam. Ketika dia melangkah ke dalam, hatinya agak berdebar-debar. Namun merasa lebih enak di dalam kuil tua itu dari pada harus bermalam di hutan.

Ciok Giok Yin duduk di bawah sebuah meja bobrok. Di saat dia baru mau memejamkan matanya untuk beristirahat, mendadak terdengar suara nafas yang amat lirih, membuat bulu kuduknya bangun. Dia cepat-cepat keluar dari kolong meja, sekaligus bangkit berdiri, kemudian menyebarkan pandangan ke sekelilingnya. Tampak sesosok bayangan hitam di sudut dinding. Dia segera mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

"Kau manusia atau hantu?" bentaknya. Bayangan hitam itu bangkit berdiri.

Di saat bersamaan terdengar suara tawa yang amat nyaring dan sahutan, "Terang di langit dan terang di bumi, bagaimana mungkin ada hantu?"

Saat ini Ciok Giok Yin baru melihat jelas. Bayangan itu ternyata seorang wanita berbaju hitam berusia duapuluh limaan. "Siapa kau, mengapa bermalam di sini?" tanya Ciok Giok Yin sambil mengerutkan kening.

"Kuil tua di hutan belantara, apakah..." sahut wanita berbaju hitam.

Ucapan wanita itu terhenti, karena tiba-tiba mulutnya menyemburkan darah segar.

"Phuuuuh!"

Setelah itu badannya terhuyung ke belakang. Ciok Giok Yin tertegun. Dia cepat-cepat menahan tubuh wanita itu agar tidak roboh, kemudian menaruhnya ke bawah.

"Kau terluka?" tanyanya.

Mata wanita berbaju hitam sudah terpejam rapat-rapat. "Memang benar aku terluka," sahutnya.

Ciok Giok Yin merasa iba padanya, lagi pula dia mengerti pengobatan. Maka dia segera mengeluarkan dua butir Ciok Kim Tan, lalu diberikan pada wanita itu.

"Telanlah pil ini, aku akan membantumu!"

Wanita berbaju hitam menatapnya sejenak, setelah itu menjulurkan tangannya mengambil kedua pil Ciak Kim Tan itu, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin segera menempelkan telapak tangannya pada punggung wanita itu seraya berkata.

"Himpun hawa murnimu aku akan membantumu"

Ciok Giok Yin juga menghimpun hawa murninya, untuk membantu wanita berbaju hitam. Berselang beberapa saat luka wanita berbaju hitam sudah pulih.

Dia menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya, "Apakah kau Ciok Giok Yin?" Ciok Giok Yin terperangah, menatapnya seraya berkata dengan heran.

"Tidak salah, mohon tanya. "

Wanita berbaju hitam memutuskan perkataan Ciok Giok Yin. "Jangan bertanya, kelak kita masih punya kesempatan untuk

berjumpa, dan kau pun akan tahu. Mengenai budi

pertolonganmu, cepat atau lambat aku pasti membalaskan, sampai jumpa!"

Badan wanita itu bergerak, ternyata dia sudah melesat pergi. Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri mematung. Dia tidak habis pikir siapa wanita baju hitam itu? Bagaimana dia tahu namanya? Dan siapa yang melukainya? Di dunia persilatan memang terdapat banyak hal aneh, Ciok Giok Yin membantunya dengan hawa murni agar dia segera pulih, namun wanita baju itu malah tidak mau memberitahukan namanya. Sungguh keterlaluan! Ciok Giok Yin terus berpikir.

Tak lama hari pun mulai terang. Saat ini Ciok Giok Yin tidak mau memikirkan tentang wanita lagi, langsung melesat pergi.

Kini dia membulatkan hatinya untuk mencari Seruling Perak. Mengenai kitab Cu Cian, Ciok Giok Yin yakin dan percaya kepada Bu Tok Sianseng. Sudah satu hari satu malam, Ciok Giok Yin sama sekali tidak makan dan tidak minum tentunya merasa amat lapar. Untung tak seberapa lama lagi dia sudah tiba di sebuah kota kecil. Dia melangkah perlahan di sebuah jalan kecil sambil menengok ke sana ke mari. Ketika hampir tiba di ujung jalan, dia melintas sebuah kedai makan. Saat ini hari sudah siang. Kedai makan itu sudah penuh sesak oleh para tamu sehingga boleh dikatakan tiada tempat duduk lagi.

Karena kedai makan itu penuh sesak maka Ciok Giok Yin pikir cukup beli nasi bungkus saja.

Akan tetapi, pemilik kedai makan segera berkata, "Silakan masuk, Tuan! Aku akan menyediakan tempat untuk Tuan."

Ciok Giok Yin manggut-manggut, kemudian memandang ke dalam. Ternyata seorang tamu sudah usai makan, berdiri sambil membayar rekening. Pemilik kedai makan langsung membawa Ciok Giok Yin ke meja itu lalu mempersilakannya duduk. Salah seorang pelayan cepat-cepat menghampirinya, maka Ciok Giok Yin memesan beberapa macam hidangan.

Setelah itu Ciok Giok Yin memperhatikan para tamu. Beberapa orang di antaranya seperti kaum rimba persilatan.

Mendadak terdengar pembicaraan beberapa tamu yang kedengarannya agak serius. Maka Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Pah Ong Cuang Cuangcu (Majikan Perkampungan Raja Jagoan) merayakan perkawinan putra kesayangannya, mengundang kaum rimba persilatan, baik golongan putih maupun golongan hitam, itu pasti ramai dan meriah sekali."

"Aku dengar perjodohan itu merupakan perjodohan paksaan." "Jangan bicara sembarangan!"

Ketika berkata orang itu melirik semua tamu. Begitu melihat Ciok Giok Yin, orang itu menatapnya sejenak, kemudian berkata pada kedua temannya.

"Lebih baik kita minum arak saja. Peduli amat dengan urusan itu. Perjodohan paksa atau tidak, bukan urusan kita. Yang penting, malam ini kita pergi makan minum saja."

"Kau siap ke sana?" "Tentu."

"Punya undangan?"

"Tidak punya, namun juga boleh ke sana karena aku ingin melihat kaum rimba persilatan golongan putih dan golongan hitam. Siapa tahu mereka akan memperlihatkan kepandaian masing-masing. Bukankah asyik sekali?"

Kebetulan saat ini hidangan-hidangan yang dipesan Ciok Giok Yin telah disajikan. Dia mulai makan sambil mendengarkan pembicaraan mereka. Akan tetapi ketiga orang itu sudah mengalihkan pembicaraan.

Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Ini merupakan kesempatan baik, mengapa aku tidak ke sana? Siapa tahu aku akan memperoleh informasi tentang Seruling Perak itu!'

Usai makan dan membayar Ciok Giok Yin mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemilik kedai makan, lalu pergi menuju pinggir kota. Ciok Giok Yin mengikuti petunjuk pemilik kedai makan. Ketika sampai di jalan yang agak kecil, dia melihat begitu banyak kaum rimba persilatan berjalan ke arah yang sama. Dia tahu mereka pasti menuju perkampungan Pah Ong Cuang, untuk minum arak kebahagiaan di sana. Ciok Giok Yin mengikuti mereka dari belakang, ingin mencuri dengar pembicaraan mereka. Hasilnya memang benar Pah Ong Cuang Cuangcu menyelenggarakan pesta perkawinan putra kesayangannya. Berdasarkan pembicaraan mereka, Ciok Giok Yin baru tahu bahwa putra Cuangcu berbadan bongkok dan hanya memiliki sebelah kaki.

Berselang beberapa saat, tampak sebuah rumah yang amat besar dengan beberapa lentera merah dan begitu banyak orang keluar masuk di sana. Terdengar pula suara petasan yang memekakkan telinga, menambah semarak suasana di perkampungan itu. Ciok Giok Yin mengikuti para tamu itu melangkah memasuki perkampungan sambil menengok ke sana ke man. Matanya agak terbelalak karena melihat halaman yang amat luas. Itu membuktikan bahwa majikan perkampungan Pah Ong Cuang tergolong orang yang kaya raya.

Ruang depan pun amat luas, penuh dengan meja kursi dan para tamu, sehingga kedengaran agak berbisik. Di tengah- tengah ruang itu terlihat seorang tua. Wajahnya berseri-seri dan terus menjura kepada para tamu, sekaligus mempersilakan mereka ke tempat duduk masing-masing. Karena Ciok Giok Yin tidak begitu terkenal, maka dia memperoleh tempat duduk di sudut ruangan. Tanpa sengaja dia melihat beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, karena bagian depan baju mereka bersulam sepasang burung walet. Begitu melihat anggota-anggota perkumpulan itu, rongga dadanya menjadi penuh api kegusaran. Namun dia tidak berani bertindak ceroboh, sebab hari ini adalah hari perkawinan putra perkampungan Pah Ong Cuang. Bila ia bertindak ceroboh, akan membangkitkan kemarahan para tamu. Mendadak dia mendengar seorang tamu berkata,

"Mempelai perempuan bernama Ie Ling Ling."

Ciok Giok Yin tersentak mendengar itu. Kemudian dia bertanya dalam hati, 'Apakah dia?'

Ternyata dia teringat akan pesan Cak Hun Ciu. Sebelum mati Cak Hun Ciu menjodohkan putrinya yang bernama Ie Ling Ling dengan Ciok Giok Yin. Apakah mempelai perempuan itu adalah dia? Cak Hun Ciu memberitahukan padanya, bahwa Ie Ling Ling kehilangan jejak, jangan-jangan gadis itu tertangkap orang-orang perkampungan Pah Ong Cuang. Kehadiran beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu membuktikan bahwa majikan perkampungan Pah Ong Cuang bukan tergolong orang baik-baik. Karena itu, Ciok Giok Yin menoleh ke samping lalu bertanya pada seorang tamu berusia pertengahan.

"Mempelai perempuan itu bernama Ie Ling Ling?" Orang itu mengangguk.

"Dengar-dengar ya." "Orang berasal dari mana?"

Orang itu menggelengkan kepala "Tentang itu tidak begitu jelas."

Ciok Giok Yin merasa tidak enak untuk bertanya lagi. Namun diam-diam dia mempertimbangkan dalam hati. Kalau benar mempelai perempuan itu adalah Ie Ling Ling, lalu apa yang harus dilakukannya? Apakah harus turun tangan merebutnya? Ciok Giok Yin tidak dapat mengambil keputusan, sebab dia belum pernah bertemu Ie Ling Ling calon istrinya itu. Apabila salah rebut, pasti fatal akibatnya. Di saat Ciok Giok Yin sedang bimbang mengambil keputusan, mendadak tercium bau arak yang amat keras. Ciok Giok Yin segera menoleh ke samping.

Sungguh di luar dugaan si Bongkok Arak telah duduk di sampingnya dan Ciok Giok Yin langsung memberi hormat sambil bertanya.

"Lo cianpwee juga ke mari?"

Si Bongkok Arak menatapnya dengan mata dipicingkan lalu balik bertanya.

"Apakah kau masih ingat akan pesan Cak Hun Ciu?" Hati Ciok Giok Yin tergerak.

"Ingat."

"Kalau begitu kau terus bagaimana?" "Justru masih dalam pertimbanganku." Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Lo cianpwee pernah dengar apa yang dikatakan Cak Hun Ciu padaku?"

Si Bongkok Arak menggelengkan kepala.

"Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya. Melainkan orang lain yang memberitahukan padaku."

Di saat mereka berdua sedang bercakap-cakap, mendadak salah seorang tamu yang duduk di dekat mereka menghela nafas panjang seraya berkata,

"Sungguh kasihan gadis cantik jelita itu! Dia harus menikah dengan seorang cacat yang menyerupai siluman. Sayang sekali di dunia persilatan sudah tiada keadilan lagi, tiada seorang pendekar pun yang mau mengulurkan tangan menolongnya."

Ciok Giok Yin memandang orang yang berkata itu. Ternyata orang yang berdandan sastrawan berusia empat

puluhan. Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung menyorot dingin. Kemudian bangkit berdiri dan bertanya dengan suara dalam.

"Apa maksud Anda?"

"Aku berkata seorang diri tidak ada urusan denganmu." "Yang kau katakan tadi adalah Ie Ling Ling, mempelai

perempuan itu?"

Sastrawan itu tampak tertegun. "Tentu."

"Dia adalah tunanganku, pasti aku akan menolongnya."

Sastrawan itu tertegun lagi. Sepasang bola matanya berputar sejenak, kemudian dia bertanya dengan suara rendah,

"Saudara Kecil, sungguhkah kau punya nyali sebesar itu?" Ciok Giok Yin mengangguk.

"Tentu."

Kini Ciok Giok Yin sudah yakin bahwa mempelai perempuan itu pasti Ie Ling Ling.

"Baik, akan kupertaruhkan seribu tael perak, lihat kau punya nyali sebesar itu apa tidak untuk menolong mempelai perempuan itu," kata si Sastrawan. Usai berkata, dia lalu membaurkan diri dengan para tamu.

Si Bongkok Arak segera berbisik.

"Kau jangan keliru lho! Nanti akan ditertawakan orang!" "Tidak akan keliru, namanya memang Ie Ling Ling." "Ingat! Banyak yang bernama sama di kolong langit!"

"Tidak peduli dia atau bukan, yang jelas itu adalah perjodohan paksa, maka aku harus turut campur."

Di saat sedang berkata, Ciok Giok Yin melihat ada sepasang mata memandangnya. Ternyata seorang gadis berpakaian putih. Wajah gadis itu pucat pias tak berperasaan, namun sepasang matanya amat indah dan jernih, sungguh memukau. Ketika melihat Ciok Giok Yin memandangnya, gadis itu langsung memandang ke tempat lain. Diam-diam Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Bentuk gadis itu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi tidak ingat di mana.' Mendadak terdengar suara jeritan. Seorang tua yang duduk di meja di tengah- tengah ruangan itu mulutnya menyemburkan darah, lalu dia roboh binasa. Seketika suasana di ruangan itu menjadi kacau balau.

"Lu San Hu Siu (Orang tua Srigala Gunung Lu San)!" seru seseorang.

Menyusul terdengar suara seruan lagi, yang bernada gusar. "Kalau punya kepandaian silakan berdiri."

Sementara wajah Pah Ong Cuang Cuangcu tampak merah padam saking gusarnya, kemudian berubah menjadi kehijau- hijauan. Dia bangkit berdiri, sepasang matanya menyorot tajam dan dingin menyapu para tamu. Setelah itu dia berkata dengan sengit.

"Hari ini adalah hari perkawinan putraku! Kalian para tamu yang terhormat, jauh-jauh kalian ke mari justru masih memandang mukaku! Tapi... tidak seharusnya cari gara-gara di sini! Maka, kuharap orang yang turun tangan bersedia berdiri untuk berbicara denganku!"

Suasana menjadi hening, namun tiada seorangpun yang bangkit berdiri. Sedangkan Ciok Giok Yin dan si Bongkok Arak juga merasa heran, sebetulnya siapa yang turun tangan? Pah Ong Cuang Cuangcu kelihatan semakin gusar,

"Kalau tiada yang mau mengaku, seusai upacara perkawinan putraku, aku akan melakukan penyelidikan!" bentaknya.

Di saat bersamaan salah seorang maju ke hadapan Pang Ong Cuang Cuangcu seraya berkata.

"Cuangcu, sudah waktunya upacara!"

Pang Ong Cuang Cuangcu mengerutkan kening, kemudian berseru.

"Upacara dimulai!"

Saat ini mayat Lu San Hu Siu sudah digotong ke

luar. Sedangkan Ciok Giok Yin ketika mendengar seruan majikan perkampungan Pah Ong Cuang, sekujur badannya menjadi gemetar. Dia bangkit berdiri lalu memandang ke tengah ruangan. Tampak seorang pemuda berpakaian pengantin berjalan ke tempat upacara. Dia memang bongkok, mulutnya agak miring dan hanya memiliki sebelah kaki. Maka tidak heran ketika berjalan dia harus memakai tongkat penyanggah di bawah ketiaknya. Tangannya memegang sehelai kain merah, diikuti mempelai wanita juga memegang ujung kain merah itu. Wajahnya ditutupi kerudung merah dan tampak dua pelayan mendampinginya.

Karena wajahnya tertutup kerudung merah, maka Ciok Giok Yin tidak melihat wajahnya. Pandangan para tamu yang ada di ruangan itu semuanya tertuju pada mempelai lelaki. Dalam hati para tamu semuanya berkata, 'Sekunturn bunga indah justru ditancapkan di atas tahi kerbau.' Memang tidak salah. Sebab mempelai lelaki itu bertampang buruk, bongkok, mulutnya miring, tidak mengerti ilmu silat dan kalau berbicara suaranya sumbang. Akan tetapi majikan perkampungan Pah Ong Cuang amat kaya dan berkuasa, maka dia berupaya menikahkan  putra kesayangannya itu. Saat ini kedua mempelai sudah berdiri berhadapan di tengah-tengah ruangan. Terdengar seruan lantang si pembawa acara.

"Mempelai lelaki dan mempelai perempuan. "

Seruan itu terputus karena mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

"Tunggu!"

Tampak sosok bayangan berkelebat ke tempat upacara. Siapa orang itu, tidak lain adalah Ciok Giok Yin. Dia tidak sabar lagi ketika melihat tunangannya akan resmi menjadi isteri orang lain maka langsung membentak sambil melesat ke tempat upacara. Setelah sampai di sana dia langsung menyambar mempelai wanita sekaligus membawanya pergi. Seketika kacaulah suasana di tempat itu. Sedangkan majikan perkampungan Pah Ong Cuang sama sekali tidak menduga ada orang berani merebut mempelai wanita di hadapannya. Dapat dibayangkan betapa gusarnya majikan perkampungan itu!

"Bocah, siapa kau?" bentaknya sengit.

Ciok Giok Yin berhenti, lalu berkata dalam hati, 'Aku harus datang dengan bersih, pergi secara jelas."

"Dengar baik-baik, mempelai wanita ini adalah tunanganku, namun kalian berani memaksanya menikah! Kalian sudah jelas?"

Usai menyahut, Ciok Giok Yin mengempit mempelai wanita lalu melesat pergi. Majikan perkampungan Pang Ong Cuang segera membentak.

"Cepat halangi dia!"

Tampak beberapa bayangan orang berkelebat lalu melayang turun menghadang di depan Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, kau masih ingin kabur?" bentak salah seorang dari mereka. Di saat bersamaan Ciok Giok Yin merasa ada dua rangkum angin pukulan menerjang ke arahnya. Dia mengerutkan kening sambil menoleh, ternyata dua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Seketika kegusaran Ciok Giok Yin memuncak. Dia mengempit Ie Ling Ling erat-erat, kemudian sebelah tangannya melancarkan pukulan menangkis.

Terdengar suara menderu-deru dan pukulan yang dilancarkannya juga mengandung hawa panas. Kedua anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu kelihatannya tahu akan kelihayan pukulan itu, maka mereka segera berkelit ke arah samping. Justru di saat bersamaan, Ie Ling Ling meronta- ronta, memukul dan menggigit lengan Ciok Giok Yin. Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa menotok jalan darahnya agar diam. Bersamaan itu sudah muncul beberapa orang menghadang di depan Ciok Giok Yin. Majikan perkampungan Pah Ong Cuang juga sudah berdiri di situ dengan sepasang matanya menyorot dingin.

"Bocah jahanam, cepat lepaskan dia!" bentaknya. "Tidak! Sebab dia adalah tunanganku!"

Tindakan Ciok Giok Yin membuat para tamu merasa tidak senang.

"Siapa kau?" tanya salah seorang tamu. "Ciok Giok Yin!"

Begitu mendengar nama tersebut, majikan perkampungan Pah Ong Cuang tertawa gelak.

"Ternyata kau! Belum lama ini kau membuat dunia persilatan menjadi tidak tenang! Serahkan nyawamu!" bentaknya sambil melancarkan pukulan.

Ciok Giok Yin sudah siap menangkis pukulan itu, akan tetapi mendadak telinganya menangkap suara yang amat lirih.

"Kau cepat pergi, buat apa bertarung dengan mereka?"

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan putih meluncur ke tempat itu bagaikan kilat, kemudian menerjang ke sana ke man membuat orang-orang menyingkir ke samping. Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi. Dia memanfaatkan kesempatan itu menerobos ke luar. Terdengar suara-suara seruan di belakangnya.

"Kejar!"

"Jangan sampai bocah itu lobos!"

Makin lama suara seruan itu makin jauh, akhirnya tak terdengar sama sekali. Namun Ciok Giok Yin masih terus melesat. Tak lama tampak sebuah rimba di hadapannya. Dia langsung melesat ke dalam rimba itu, kemudian menaruh Ie Ling Ling ke bawah. Sedangkan Ie Ling Ling menatapnya dengan mata tak berkedip, ternyata kerudung merah yang menutupi mukanya telah terlepas, sehingga tampak wajahnya yang amat cantik. Akan tetapi di balik wajah cantik itu tersirat berbagai macam perasaan. Perasaan benci, gusar atau gembira? Tiada seorang pun tahu.

Sedangkan hati Ciok Giok Yin juga berdebar-debar. Dia berkata dalam hati, 'Benarkah dia adalah Ie Ling Ling? Kalau benar, lalu harus bagaimana menjelaskan padanya?' Ciok Giok Yin merasa serba salah! Tiba-tiba dia teringat sesuatu, maka langsung menjulurkan tangannya membebaskan jalan darah Ie Ling Ling, kemudian berkata terputus-putus.

"Ling... Ling. "

Dia tidak tahu harus bagaimana memanggil gadis itu. Maka dia tidak melanjntkan ucapannya, melainkan berdiri tertegun di tempat. Kini Ie Ling Ling sudah bisa bergerak. Justru mendadak dia mengayunkan tangannya ketika bangkit berdiri. Seketika terdengar suara 'Plak'. Pipi Ciok Giok Yin kena tampar sehingga merah membengkak. Di saat bersamaan, gadis itu pun membentak.

"Mau kau apakan diriku?"

Sepasang matanya yang indah jernih tampak berapi- api. Sedangkan Ciok Giok Yin yang kena tampar tanpa sadar menyurut mundur dua langkah. Ie Ling Ling maju lagi selangkah seraya membentak.

"Cepat katakan!"

Ciok Giok Yin terpaksa memberitahukan.

"Setahun yang lalu ayahmu menjodohkanmu pada. "

"Omong kosong!" sergah Ie Ling Ling.

"Aku berkata sungguh-sungguh," kata Ciok Giok Yin perlahan- lahan.

Ie Ling Ling tertawa dingin,

"Selama belasan tahun ayahku terus berbaring di tempat tidur, tidak pernah meninggalkan rumah! Bagaimana mungkin ayahku menjodohkanku padamu? Kau adalah iblis seks! Aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Mendadak dia memukul Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin bertambah tertegun mendengar itu. Dia segera menangkap Ie Ling Ling.

"Sabar Nona, aku ingin bicara sebentar." "Katakan!"

"Apakah ayahmu di dunia persilatan dijuluki Cak Hun Ciu?" Sepasang mata Ie Ling Ling membara, "Kentut!"

Ciok Giok Yin terbelalak, sebab sikap Ie Ling Ling amat kasar, dan tutur bahasanya juga tidak sopan. Itu membuatnya menjadi bimbang.

"Apakah itu tidak benar?" "Tentu." "Harap Nona sudi menjelaskan!"

"Julukan ayahku di dunia persilatan adalah Tan Ciang Keng Thian (Sebeiah Tangan Mengejutkan Langit) Yu Kang."

"Haah? Kalau begitu, margamu bukan Ie?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan.

"Siapa bilang aku bermarga Ie?" sahut gadis itu ketus. "Kalau begitu. "

"Aku bermarga Yu."

Itu membuat Ciok Giok Yin terbelalak dan mulutnya ternganga lebar, sebab nada Ie dan Yu memang hampir sama. Kini Ciok Giok Yin telah melakukan kesalahan. Lalu harus bagaimana mernperbaikinya? Ciok Giok Yin berdiri termangu- mangu, tidak tahu harus berkata apa. Justru di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan berkelebat ke tempat itu bukan main cepatnya. Begitu melihat kemunculan orang itu, Nona Yu langsung mendekap di dadanya, dan isak tangisnya pun meledak seketika. Ciok Giok Yin segera menoleh, ternyata yang datang itu adalah sastrawan berusia empat puluhan, yang pernah bertemu di perkampungan Pah Ong Cuang. Bahkan sastrawan itu juga mempertaruhkan seribu tael perak, maka tidak heran Ciok Giok Yin menjadi melongo. Sastrawan itu menepuk bahu Nona Yu, seraya berkata lembut.

"Nak, jangan menangis! Untung Ciok siauhiap telah menyelamatkanmu!"

"Paman, selanjutnya Anak Ling tidak punya muka bertemu orang lagi."

"Itu tiada masalah."

Sastrawan itu tersenyum, kemudian menoleh memandang Ciok Giok Yin seraya berkata. "Terimakasih atas pertolongan siauhiap. Kegagahan turun tangan menyelamatkan keponakan ini, tidak akan kami lupakan selamanya."

Saat ini Ciok Giok Yin betul-betul naik darah.

"Ternyata semua ini adalah rencana Anda!" bentaknya sengit. "Maksudmu?"

"Aku mengira Nona Yu ini bermarga Ie, karena Ie Ling Ling adalah putri penolongku, bahkan juga menjodohkan putrinya padaku! Tidak tahunya... jadi kacau balau sekarang!"

Sastrawan itu menghela nafas panjang.

"Siauhiap, walau aku mendengar jelas tentang urusan ini, namun tidak memperhatikan pada suaramu. Akan tetapi aku tetap menganggap tindakanmu itu justru benar."

"Aku tidak mengerti, harap dijelaskan!" "Keponakanku ini bernama Yu Ling Ling, putri kakak

kandungku. Belasan tahun yang lalu, karena keliru melatih ilmu

kungfu, dia menjadi cacat, terus berbaring di tempat tidur. Tak disangka beberapa bulan yang lalu, majikan perkampungan Pah Ong Cuang mengutus orang pergi melamar keponakanku ini. Siapa pun tahu bagaimana putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang. Tentunya kakakku menolak lamaran itu.

Bukan main gusarnya majikan perkampungan Pang Ong Cuang! Beliau segera mengutus beberapa orang ke rumah kakakku. Mereka mengatakan, kalau kakakku tetap tidak setuju, maka akan memusnahkan rumah kakakku, termasuk semua hewan piaraan. Karena ancaman itu, keponakanku terpaksa mengorbankan dirinya, setuju menikah dengan putra majikan perkampungan Pah Ong Cuang. " Sastrawan itu

berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Kini urusan sudah menjadi begini, harap siauhiap sudi berkunjung ke rumah Yu untuk berunding harus bagaimana selanjutnya." Setelah mendengar penuturan itu barulah Ciok Giok Yin paham, namun dia menolak.

"Maaf! Aku masih ada urusan lain, Kini Yu Ling Ling sudah bersamamu. Selanjutnya harus bagaimana, terserah kalian saja. Selamat tinggal!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin langsung melesat pergi. Di saat melesat pergi hatinya juga merasa kesal, sebab lantaran kurang seksama akhirnya bertindak begitu ceroboh. Padahal dia ingin mencari informasi tentang Seruling Perak di perkampungan tersebut, namun sebaliknya malah bertindak ceroboh, sehingga menambah seorang musuh tangguh. Ciok Giok Yin terus melesat, mendadak jauh di depannya tampak api dan asap membubung tinggi dan sayup-sayup terdengar pula suara pertarungan. Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala. 'Lagi-lagi pertumpahan darah, karena dendam kesumat,' gumamnya.

Semula Ciok Giok Yin tidak mau ke sana, namun rasa ingin tahunya membuatnya melesat ke tempat tersebut. Tak seberapa lama Ciok Giok Yin sudah mendekat tempat itu.

Rumah-rumah sedang dilalap api, terlihat pula begitu banyak orang bertarung, juga mayat-mayat bergelimpangan di tanah. Ciok Giok Yin memperhatikan orang-orang yang sedang bertarung itu. Mendadak sepasang matanya membara. Dia membentak lantang, kemudian melesat ke arena pertarungan.

"Kalian memang harus mampus!"

Ternyata dia melihat para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee sedang membantai para pesilat. Begitu sampai di arena pertarungan, dia pun melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Seketika terdengar suara jeritan menyayat hati. Dan tampak darah muncrat ke mana-mana.

Ciok Giok Yin terus menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia mengeluarkan jurus pertama dan jurus kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, namun tidak dapat mengeluarkan jurus ketiga karena merasa ada halangan di saat mengerahkan lwee kangnya. Sekonyong-konyong terdengar suara terompet di tempat jauh. Beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang tersisa segera melarikan diri. Di saat Ciok Giok Yin baru mau mengejar mereka, mendadak terdengar seruan seseorang.

"Harap siauhiap jangan kejar mereka!"

Ciok Giok Yin menoleh, melihat seorang pesilat muda. "Bagaimana kalian bergebrak dengan mereka?" tanyanya. Pesilat muda itu menghela nafas lalu menyahut.

"Di sini adalah gunung Kee Jiau San (Gunung Cakar Ayam), juga adalah markas partai Thay Kek Bun. Beberapa hari yang lalu muncul utusan perkumpulan Sang Yen Hwee menyampaikan sepucuk surat, yang isinya menyuruh ketua kami bernama Lokko Siang tunduk pada perkumpulan Sang Yen Hwee. Kalau tidak, darah pasti banjir di partai kami. "

Ucapan pesilat muda itu belum sesesai, tiba-tiba terdengar suara seruan pilu.

"Ayah! Ayah.  !"

Air muka pesilat muda itu langsung berubah dan dia segera melesat ke arah suara seruan itu. Ciok Giok Yin tidak mau ketinggalan. Dia pun ikut melesat ke sana. Di bawah cahaya api yang masih berkobar-kobar, tampak seorang gadis berjongkok di samping sesosok mayat. Saat ini orang-orang yang bertarung tadi sudah berkumpul di situ.

"Bagaimana keadaan Bun Cu (Ketua)?" seru mereka tak tertahan.

Rupanya sosok mayat itu adalah ketua partai Thay Kek Bun. Sementara pesilat muda yang berbicara dengan Ciok Giok Yin tadi, begitu melihat gadis itu pingsan, dia segera menjulurkan tangannya. Akan tetapi Ciok Giok Yin cepat-cepat berseru.

"Tunggu!" Pesilat muda itu manarik kembali tangan lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Ada apa, siauhiap?" Ciok Giok Yin menyahut.

"Aku mengerti ilmu pengobatan. Dia tidak apa-apa, hanya terlampau sedih, sehingga darahnya bergolak di rongga dadanya. Apabila kau menyentuhnya akan fatal akibatnya."

Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok beberapa jalan darah gadis itu kemudian bertanya.

"Siapa di antara kalian yang memiliki lwee kang tertinggi?"

Pesilat muda itu menengok ke sana ke mari, setelah itu menggeleng-gelengkan kepala seraya menyahut.

"Selain Bun Cu kami, tiada seorang pun memiliki lwee kang tertinggi. Kini ketua kami sudah mati, kami... harus bagaimana?"

Ciok Giok Yin menatap gadis itu sejenak, setelah itu bertanya, "Gadis ini adalah putri ketua kalian?"

Pesilat muda itu mengangguk. "Ya."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening sambil berpikir. Berselang sesaat barulah dia duduk bersilat. Telapak tangannya ditempelkan pada punggung gadis tersebut lalu mengerahkan Sam Yang Hui Kang ke dalam tubuhnya. Tak seberapa lama gadis itu mengeluarkan suara. 

"Uaaaakh...!"

Ternyata mulutnya memuntahkan segumpal darah kental. Namun kemudian dia mulai siuman perlahan-lahan. Setelah itu dia mulai menangis lagi. Saat ini yang lain sudah pergi memadamkan api. Ada juga yang mengobati luka masing- masing, dan mayat-mayat yang bergelimpangan itupun dibereskan. Ciok Giok Yin bangkit berdiri, sekaligus menarik tangan gadis itu seraya berkata,

"Nona, jagalah kesehatanmu! Orang mati tidak akan bisa hidup lagi. "

Mendadak Ciok Giok Yin terbelalak dan ucapannya terhenti. Ternyata dia melihat jelas wajah gadis itu, yang tidak lain adalah gadis yang bersama Thian Thay Sian Ceng, yang dipanggil 'Anak Ceh'

"Nona adalah murid Thian Thay Sian Ceng?" tanyanya. Gadis itu berhenti menangis lalu mendongakkan kepala,

Seketika matanya terbeliak lebar meskipun masih bersimbah air.

"Kau. "

Dia langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin dan isak tangisnya pun meledak. Pesilat muda itu tidak menyangka bahwa putri ketuanya kenal pada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin menepuk bahu gadis itu seraya berkata lembut.

"Nona Lok, ayahmu sudah meninggal, kini kau memikul beban sebagai ketua partai Thay Kek Bun. Kalau kau terus menerus menangis, ayahmu pasti tidak tenang di alam baka."

Walau Ciok Giok Yin berkata demikian, gadis itu tetap menangis sedih. Itu memang wajar. Pesilat muda itu pun ikut menghibur gadis itu, tapi isak tangis gadis tersebut tetap tidak berhenti. Mendadak terdengar suara seruan mengguntur.

"Kami mendukung nona jadi ketua!"

"Kami bersumpah menuntut balas dendam ketua lama!" Ternyata para murid partai Thay Kek Bun yang berseru. Mereka kelihatan sedih tapi amat bersemangat. Lok Ceh mendongakkan kepala memandang mereka, kemudian menatap Ciok Giok Yin. Setelah itu dia memandang lagi para murid Thay Kek Bun itu sambil berkata perlahan-lahan.

"Aku tidak pantas jadi ketua."

"Nona harus menerima beban itu, kau tidak boleh melihat partai Thay Kek Bun jadi bubar! Setelah dendam ayahmu terbalas kau masih bisa memilih ketua baru kan?"

"Kalau begitu kau bersedia tinggal di sini membantu kami?" sahut Lok Ceng terisak-isak.

"Aku masih ada urusan lain, kalau ada kesempatan aku pasti ke mari menengokmu." Ciok Giok Yin menjura. "Harap Nona jaga diri baik-baik, selamat tinggal!" tambahnya lalu melesat pergi.

"Tunggu!" seru Lok Ceh sambil melesat menyusul Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin segera berhenti lalu membalikkan badannya seraya bertanya.

"Nona ada pesan apa?"

Loh Ceh manatapnya sejenak, kemudian menyahut. "Antara suhuku dan kau kelihatannya seperti terdapat

dendam yang amat dalam. Apabila bertemu suhuku, harap kau

berhati-hati!"

"Bolehkah Nona menjelaskannya?" Lok Ceh menggeleng kepala,

"Mengenai itu aku memang tidak begitu jelas, tapi suhuku telah memberi perintah pada kami semua, harus bisa menangkap hidup-hidup atau membunuhmu." Ciok Giok Yin mengerutkan kening lalu menatap gadis itu seraya bertanya!

"Betulkah begitu gawat?"

"Ya. Karena itu kau harus lebih berhati-hati." Ciok Giok Yin menjura.

"Terimakasih atas petunjuk Nona, jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa!" katanya lalu melesat pergi. Lok Ceh terus memandang punggungnya hingga lenyap dari pandangannya. Beberapa saat dia berdiri termangu-mangu. Akhirnya dia mengambil keputusan, harus meneruskan kedudukan almarhum ayahnya sebagai ketua partai Thay Kek Bun, lalu berupaya menuntut balas kematian ayahnya. Sementara itu Ciok Giok Yin terus melesat dengan perasaan tercekam. Dia tidak habis pikir, ada dendam apa antara dirinya dengan Thian Thay Sian Ceng?

Mengapa Thian Thay Sian Ceng sedemikian membencinya? Apakah Thian Sian Ceng punya dendam dengan suhunya?

Ataukah punya dendam dengan kedua orang tuanya? Akan tetapi mengenai kedua orang tuanya, kecuali si Bongkok Arak dan Te Hang Kay, kaum rimba persilatan lain tidak ada yang tahu, bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu jelas. Lalu mengapa Thian Thay Sian Ceng sedemikian membencinya? Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tidak menemukan jawabannya. Di saat dia sedang berpikir, mendadak dua sosok bayangan meluncur bagaikan kilat ke arahnya. Itu membuatnya terkejut sekali.