Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 11

 
Jilid 11

Setelah berada di hadapan gadis baju hijau, barulah Ciok Giok Yin memandang ke depan. Ternyata yang melesat ke dalam goa itu adalah seorang nenek tua. Dia berdiri sambil menatap gadis baju hijau dengan mata berbinar-binar. Akan tetapi nenek tua itu tidak memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin, seakan tidak melihatnya. Berselang sesaat, nenek tua melangkah maju. Ciok Giok Yin tidak tahu siapa nenek itu. Dia langsung menghadang di depannya seraya membentak.

"Berhenti!"

Namun nenek tua itu seperti tidak mendengar, tetap melangkah maju. Ciok Giok Yin melotot.

"Kalau kau masih maju, jangan menyalahkanku kalau aku berlaku tidak sungkan padamu!" bentaknya lagi.

Nenek tua itu mendengus, kemudian bertanya. "Siapa dia?"

"Mau apa kau bertanya?" "Aku cuma ingin tahu!" "Kau tidak perlu tahu!"

"Kau tidak mau memberitahukan?" "Tepat dugaanmu!"

"Kalau begitu, tentunya aku boleh bertanya padamu!"

Sepasang mata nenek tua menyorot tajam. Ketika dia mau melangkah maju lagi, bukan main gugupnya Ciok Giok Yin. Dia langsung menyerangnya dengan totokan, ke arah jalan darah Sian Kie Hiat, Hwa Kay Hiat dan Ling Sim Hiat nenek

tua. Apabila nenek tua tidak cepat-cepat mencelat ke belakang pasti tertotok. Karena itu, si nenek tua terpaksa meloncat ke belakang. Setelah itu, dia tertawa terkekeh-kekeh. Justru sungguh mengherankan, suara tawa si nenek tua amat sedap di dengar, mirip suara tawa seorang gadis berusia tujuh belas, lagi pula tampak dua deret giginya yang amat putih

bersih. Akan tetapi wajahnya sudah keriput, membuat orang merasa muak menyaksikannya. Ciok Giok Yin tertegun.

"Mengapa kau tertawa?" tanyanya.

Si Nenek tua berhenti tertawa, lalu menyahut. "Hubungan kalian berdua tentu sudah akrab sekali." Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Omong kosong!" "Nyatanya memang begitu!"

"Mana buktinya? Harap dijelaskan!"

Si Nenek tua menyahut dengan wajah tak berperasaan. "Sederhana sekali! Kalau hubungan kalian tidak akrab,

bagaimana mungkin kau mati-matian membela dan melindunginya?"

"Itu karena dia terluka?" kata Ciok Giok Yin dengan sengit. "Dia terluka apa?"

Ciok Giok Yin tertegun. Gadis baju hijau memang terluka di dalam Goa Sesat, namun siapa yang melukainya, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu. Karena itu, dia menyahut dengan tersendat-sendat. "Ini... ini "

"Bagaimana? Cepat katakan!" Ciok Giok Yin melototi nenek tua, kemudian menyahut,.

"Tanpa sengaja aku bertemu dia di Goa Sesat! Aku merasa heran ketika melihat dia masuk ke dalam goa itu, maka kemudian aku menyusul masuk! Tak kusangka aku menemukan nona ini di dalam goa dalam keadaan terluka!"

"Begitu sederhana?" "Memang begitu!"

"Setahuku, Goa Sesat itu tidak sedemikian sederhana! Sayang sekali aku belum menyelidikinya, sebetulnya siapa yang membuat Goa Sesat itu!"

"Apakah di dalam Goa Sesat itu terdapat suatu racun jahat?" "Sulit dikatakan! Kau sudah masuk ke dalam, sudah pasti

jelas mengenai keadaan di dalamnya!"

"Tidak salah, aku memang sudah masuk ke dalam!" "Bagaimana keadaan di dalam Goa Sesat itu?"

Ciok Giok Yin melihat si nenek tua tidak berniat jahat, maka segera menutur tentang apa yang dialaminya di dalam goa tersebut, kemudian menambahkan.

"Ketika aku ke luar, di dalam goa itu masih ada Thian It Ceng dan seorang tosu tua."

"Mereka berdua sudah keluar!" "Sudah keluar?"

"Tidak salah!"

"Kau yang menyelamatkan mereka berdua?" "Bukan aku." "Siapa?"

"Aku tidak melihatnya."

Usai berkata, nenek tua itu duduk bersila. Ciok Giok Yin berharap dia cepat-cepat pergi, agar tidak banyak bertanya ini dan itu. Tidak tahunya si nenek tua malah duduk di situ, kelihatannya tidak ingin cepat-cepat pergi. Nenek tua diam, maka Ciok Giok Yin memandang gadis baju hijau. Wajah gadis itu sudah seperti biasa, begitu pula nafasnya dan kelihatan tidur pulas. Nenek tua menatap gadis baju hijau sambil bergumam perlahan-lahan.

"Sungguh cantik gadis ini!" Dia manggut-manggut. "Gadis yang sedemikian cantik, siapa yang tidak menyukainya?" Nenek tua itu melanjutkan lagi. "Aku nenek tua pun amat gembira melihatnya."

Tiba-tiba nenek tua itu menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala dan berkata.

"Namun sayang sekali, sepasang mata gadis ini tidak bisa melihat lebih jauh. Kalau tidak dapat melihat jelas lelaki, kelak pasti menderita. Contohnya diriku."

Ciok Giok Yin yang berada di sampingnya nyaris tertawa geli mendengarnya. Hatinya tergerak dan membatin, 'Mungkinkah ketika masih muda, nenek tua ini salah memilih lelaki sehingga saat ini bergumam demikian?' Karena itu, Ciok Giok Yin merasa simpati padanya dan tanpa sadar berkata dengan suara rendah.

"Apakah lo cianpwee menderita dalam hal perjodohan?" Nenek tua itu mengangguk.

"Tidak salah."

"Kini lo cianpwee sudah tua, mengapa tidak hidup tenang di rumah, malah berkeliaran di dunia persilatan?" "Tentunya aku punya alasan." "Alasan apa?"

"Mencari orang."

"Lo cianpwee mencari siapa?"

"Hu Sim Jin (Orang Yang Tak Setia)." "Hu Sim Jin?"

"Tidak salah." "Siapa dia?"

"Dia adalah orang yang kuanggap sebagai jantung hatiku."

Ciok Giok Yin tertawa dalam hati, sebab si nenek tua kelihatan sudah berusia di atas tujuh puluh, namun masih berkeliaran di dunia persilatan mencari kakek tua.

"Lo cianpwee sudah menderita lantaran perjodohan, mengapa masih tidak bisa melupakan Hu Sim Jin? Bukankah akan membuat lo cianpwee bertambah menderita?"

Nenek tua itu melototinya.

"Hm! Sungguh sederhana omonganmu!" "Apakah aku salah omong?"

"Tentu tidak benar."

"Maaf, lo cianpwee, aku tidak pahan akan maksud lo cianpwee."

Nenek tua melototinya lagi, kemudian menyahut.

"Kalian orang muda, semuanya ingin mencari yang cantik jelita, agar bisa tetap bersama. Apakah kami orang yang sudah tua harus terus hidup merana?"

Mendengar itu, Ciok Giok Yin sudah tak tertahan, langsung tertawa gelak.

"Ha ha ha...!"

Sepasang maata nenek tua itu mendelik. "Kau tertawa apa?" bentaknya guar.

Ciok Giok Yin berhenti tertawa, lalu menyahut, "Menurutku, lebih baik lo cianpwee tidak usah pergi mencarinya."

"Mengapa?"

"Dia meninggalkanmu, pertanda dia sengaja menjauhimu, jadi tidak usah. "

"Tapi, aku justru terus-menerus mengikuti di belakangnya," sergah nenek tua.

"Kalau begitu, mengapa lo cianpwee tidak menghentikannya?" "Suatu hari nanti, aku pasti mematahkan sepasang kakinya!" Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Lo cianpwee begitu sadis terhadapnya?"

"Tentu! Tapi hingga saat ini aku belum melihatnya melakukan suatu kejahatan, maka aku diam saja."

"Apakah orang itu adalah iblis seks?" tanya Ciok Giok Yin. Nenek tua itu melotot lalu membentak keras.

"Tidak boleh memfitnahnya sembarangan! Namun. memang

ada beberapa gadis amat menyukainya, bahkan terus-menerus mencarinya!" Ciok Giok Yin terperangah matanya terbeliak. "Beberapa gadis?"

"Apakah aku membohongimu?"

"Kalau begitu, berapa usia Hu Sim Jin itu?"

Nenek tua tertegun, lalu mendadak bangkit berdiri sambil menyahut dengan dingin sekali.

"Sudah pasti usianya tidak begitu besar, maka begitu banyak gadis berusia tujuh belasan jatuh cinta padanya! Bukankah pertanyaanmu itu agak berlebihan?"

Semula Ciok Giok Yin melongo, namun ketika tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Kalau begitu, bukankah usia lo cianpwee terpaut jauh dengan orang itu? lalu bagaimana saling memanggil?"

"Dasar kentut bau! Bagaimana kau tahu berapa usiaku?" bentak nenek tua.

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata dalam hati, 'Saking memikirkan lelaki, nenek tua ini jadi pikun'

Dia diam, setelah itu memandang gadis berbaju hijau. Mendadak nenek tua itu bergumam,

"Hu Sim Jin, setelah kau berhasil mempelajari ilmu silat tinggi, jangan lupa akan gadis di dalam Goa Toan Teng Tong itu! Aku sudah tidak mau. "

Air matanya bercucuran, suaranya juga berubah terisak-isak. Usai bergumam, dia langsung melesat pergi. Begitu mendengar Goa Toan Teng Tong, hati Ciok Giok Yin tergerak. 'Apakah nenek tua itu adalah ibunya kakak Siu?'

Setelah berpikir demikian, dia pun melesat ke luar seraya berseru, "Lo cianpwee, harap tunggu sebentar!"

Akan tetapi, Nenek tua itu sudah tidak kelihatan. Ciok Giok Yin terus berseru hingga tenggorokannya terasa kering, namun tetap tiada sahutan.

"Lo cianpwee! Harap tunggu! Lo cianpwee...!" Tetap tiada sahutan.

Akhirnya Ciok Giok Yin kembali ke dalam goa. Namun tak disangka di dalam goa itu telah kosong, tidak tampak bayangan gadis baju hijau. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia segera melesat ke luar dan mencari ke mana-mana, tapi sama sekali tidak menemukan jejak gadis itu. Dia membanting kaki seraya menghela nafas panjang dan bergumam.

"Lukanya belum pulih, apakah. "

Mendadak terdengar suara yang amat dingin. "Temanmu itu, dibawa pergi oleh seorang nona."

Suara itu amat dikenal Ciok Giok Yin, membuat sekujur badannya menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!" serunya tak tertahan.

Ciok Giok Yin tidak berani menoleh, sebab takut melihat wajah hantu wanita yang amat menyeramkan itu.

"Ciok Giok Yin, tahukah kau siapa gadis berbaju hijau itu?" tanya Bok Tiong Jin.

"Tidak tahu."

"Dia adalah putri ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, namanya Hui Hui."

Ciok Giok Yin terentak kaget. "Hui Hui?"

"Ng!"

"Bagaimana kau bisa tahu?" "Hantu pasti tahu segalanya."

Hening sejenak, kemudian terdengar suara Bok Tiong Jin lagi.

"Kau harus hati-hati, karena orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menangkapmu."

"Menangkapku?"

"Kelihatannya kau amat penting bagi mereka." Ciok Giok Yin yang bersifat angkuh itu, langsung menyahut.

"Aku tidak takut."

"Musuh di tempat gelap, kau di tempat terang. Yang rugi tentu dirimu."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, memang tidak salah amat banyak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Walau kepandaiannya tinggi, namun tetap cuma seorang diri.

"Aku cuma mengingatkanmu saja," kata Bok Tiong Jin lagi. "Mengapa kau mengingkatkanku?" tanya Ciok Giok Yin.

Hening sejenak. Ciok Giok Yin mengira bahwa Bok Tiong Jin telah pergi. Ketika dia mau menolehkan kepalanya ke belakang, mendadak terdengar suara Bok Tiong Jin lagi.

"Karena hatimu sudah menjadi milikku." "Aku tahu."

"Bagus! Justru karena itu, maka aku terus mengikutimu. Apabila kau tertangkap oleh mereka dan dicincang, bukankah harapanku akan jadi kosong?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut.

"Namun hatimu sudah tidak utuh lagi." "Maksudmu?"

"Kau mengerti dalam hati."

"Aku sama sekali tidak tahu di mana ketidak utuhan hatiku." "Sekarang kita tak usah berbicara soal ini."

"Kalau begitu, apa yang harus kita bicarakan sekarang?"

"Aku dengar kau sedang mencari sebatang Seruling Perak. Benarkah?"

"Tidak salah, aku harus memperolehnya." Bok Tiong Jin tidak bersuara.

"Tahukah kau di mana adanya benda pusaka itu?" tanya Ciok Giok Yin.

"Beberapa bulan yang lalu, aku dengar kau pernah ke Goa Toan Teng Tong. Ya, kan?"

"Ya. Aku menemukan tulisan di dinding goa. "

"Tulisan apa?"

"Yang tertulis di situ ialah Seruling Perak Lak Hap Kun." "Berdasarkan tulisan itu, sepertinya orang bernama Lak Hap

Kun telah mengambil Seruling Perak itu. Ya, kan?"

"Dugaanku juga begitu." "Tapi belum lama ini aku memperoleh suatu informasi, bahwa benda itu tersimpan di Ling Cuang. Kau boleh ke sana melihat- lihat."

"Di mana  letak Ling Cuang?" "Di luar kota Lokyang." "Terimakasih atas petunjukmu." "Tidak usah berterimakasih."

Mendadak Ciok Giok Yin bertanya,

"Mohon tanya sesunggahnya kau membutuhkan bantuan apa dariku?"

Bok Tiong Jin sepertinya tertegun, tidak menyangka Ciok Giok Yin akan bertanya demikian padanya.

Beberapa saat kemudian dia baru menyahut, "Aku tidak butuh bantuanmu, hanya menginginkan hatimu."

Coba bayangkan, kalau hati seseorang dikorek ke luar, apakah mungkin orang itu masih bisa hidup? Namun setiap kali Bok Tiong Jin berbicara dengan Ciok Giok Yin, pasti menyinggung soal hatinya. Itu membuktikan bahwa hati Ciok Giok Yin amat penting bagi Bok Tiong Jin. Ciok Giok Yin merinding mendengarnya.

"Aku memang tidak mau berhutang budi pada siapa pun. Tapi kalau hatiku dikorek ke luar, nyawaku pasti melayang.

Mengenai semua urusanku tentu terbengkalai."

"Sudah kukatakan dari tempo hari, sekarang aku belum mau."

"Setelah semua urusanku beres?" "Tentu." "Janji ya?"

"Siapa akan membohongimu?"

Ketika berkata demikian, suara Bok Tiong Jin amat merdu, sungguh sedap di dengar! Tiba-tiba Bok Tiong Jin berkata,

"Ada orang kemari, sampai jumpa!"

Suasana di tempat itu berubah menjadi hening. Namun kemudian mendadak terdengar suara seruan kaget.

"Ih, Saudara Ciok, kau sedang berbicara dengan siapa?"

Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya. Ternyata seorang gadis berdiri di situ, yang tidak lain adalah Yap Ti Hui.

Wajah gadis itu pucat pias, tanpa sedikit perasaan pun. Ciok Giok Yin langsung memanggilnya.

"Nona Yap. "

Yap Ti Hui bertanya cepat.

"Barusan kau berbicara dengan siapa?"

Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin memberitahukan, bahwa tadi dia berbicara dengan hantu wanita. Tapi belum tentu Yap Ti Hui akan mempercayainya. Karena itu dia tersenyum getir lalu berkata,

"Tadi aku tidak bicara dengan siapa-siapa, harap Nona jangan banyak bercuriga!"

Sepasang mata Yap Ti Hui yang bening itu menatap dengan tidak berkedip. Kemudian sepasang bola matanya berputar sejenak dan dia berkata, "Kalau begitu, aku yang banyak curiga."

Ciok Giok Yin pernah menerima budi pertolongannya, namun wajahnya yang dingin tak berperasaan itu membuat Ciok Giok Yin merasa tidak enak.

Karena itu dia menjura seraya berkata, "Nona Yap, sampai jumpa!"

Namun ketika Ciok Giok Yin mau meninggalkan tempat itu mendadak Yap Ti Hui membentak nyaring.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin terpaksa menolehkan kepalanya memandang gadis itu.

"Nona ada petunjuk apa?" tanyanya. "Kau tidak sopan!" sahut Yap Ti Hui ketus. "Ucapanmu, aku tidak mengerti!"

Yap Ti Hui menatapnya dingin sambil berkata, "Di hadapan seorang gadis, kau bilang mau pergi lantas pergi, apakah itu sopan?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin menjadi melongo, sehingga mulutnya ternganga lebar.

"Ciok Giok Yin, apakah aku tidak pernah berbudi padamu?" kata Yap Ti Hui.

"Memang ada."

"Kalau begitu, kau harus bagaimana membalas budiku?"

Ciok Giok Yin tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kaum gadis rimba persilatan sungguh macam-macam. Di hadapan orang yang pernah ditolongnya justru bertanya bagaimana cara membalas budi pertolongannya. Maka tidak mengherankan kalau pertanyaan itu membuat Ciok Giok Yin tertegun beberapa saat. "Nona menghendakiku harus bagaimana membalasnya?" "Cobalah kau katakan, bisa memberikan balasan apa padaku?"

"Aku seorang pengembara miskin, tidak memiliki benda berharga untuk dihadiahkan pada Nona. Namun kalau Nona membutuhkan diriku, walau harus menerjang lautan api, aku pun tidak akan menolak."

"Tapi sementara ini, masih belum terpikirkan. "

"Kalau begitu, kalau pun boleh. Pokoknya aku akan membalas budi pertolonganmu."

Yap Ti Hui diam kelihatannya sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia baru berkata.

"Aku ingin minta sesuatu darimu." "Kau mau minta apa dariku?" "Hati."

"Hati?"

Muncul lagi seorang yang menginginkan hatinya. Bok Tiong Jin baru pergi, lalu muncul Yap Ti Hui yang juga minta hatinya. Itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin! Apa gunanya mereka minta hatinya? Kalau untuk dimakan, tentunya tidak masuk akal. Kalau begitu, apa gunanya 'hati' bagi mereka?

Ciok Giok Yin tertawa gelak, kemudian berkata. "Sayang sekali kau terlambat!"

Sepasang bola mata Yap Ti Hui tampak berputar, setelah itu dia bertanya.

"Maksudmu?"

"Sudah kuberikan pada orang lain." "Siapa?"

"Bok Tiong Jin." "Omong kosong!" "Sungguh!"

Yap Ti Hui tertawa cekikikan lalu berkata.

"Bukankah Bok Tiong Jin itu hantu? Mau apa dia menginginkan hatimu?"

"Aku tidak membohongimu."

"Aku tidak perduli, pokoknya sautu hari nanti, kau harus menyerahkan hatimu padaku. Kalau tidak, aku pasti tidak akan mengampunimu."

Ciok Giok Yin terbelalak mendengar ucapan gadis itu. "Itu... itu...," katanya terputus-putus.

"Tidak perlu ini itu, sekarang aku mau pergi!"

Yap Ti Hui langsung melesat pergi, namun sayup-sayup masih terdengar suaranya.

"Ciok Giok Yin, kelak kau akan mengerti!"

Bukan main kesalnya Ciok Giok Yin! Dia membanting kaki seraya mengomel.

"Dasar sial, ketemu hantu!"

Mendadak suara desiran di belakangnya, menyusul terdengar pula suara yang amat merdu.

"Di mana ada hantu?" Ciok Giok Yin cepat-cepat membalikkan badannya. Tampak dua gadis amat cantik berbaju hijau berdiri di

belakangnya. Hati Ciok Giok Yin tersentak, karena ginkang ke dua gadis berbaju hijau itu sunggung tinggi! Mereka berdua sudah berdiri di belakang Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin tidak tahu sama sekali. Sudah barang tentu membuat air muka Ciok Giok Yin berubah.

"Mau apa Nona ke mari?" tanyanya. "Kau adalah Ciok Giok Yin?"

"Tidak salah."

"Suhuku mengundangmu ke sana." "Siapa suhumu?"

"Sampai di sana kau akan mengetahuinya." "Kau tidak mau bilang?"

"Maaf! Sementara ini aku memang tidak bisa bilang."

"Aku tidak kenal suhu kalian, maaf aku tidak bisa ikut kalian ke sana," kata Ciok Giok Yin dengan dingin.

Kedua gadis baju hijau saling memandang.

"Maaf, aku masih ada urusan lain, harus segera pergi," kata Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Namun ketika dia mau melesat pergi tiba-tiba kedua gadis baju hijau tertawa dingin seraya membentak dengan serentak.

"Kau tidak bisa pergi!"

Tampak badan mereka berdua berkelebat, tahu-tahu sudah berada di samping kanan kiri Ciok Giok Yin, bahkan sekaligus mencengkeram lengannya. Ciok Giok Yin tidak berhasil berkelit, sehingga kedua lengannya tercengkram oleh kedua gadis itu dan seketika sekujur badannya terasa tak bertenaga. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!

"Sebetulnya siapa kalian berdua?" bentaknya sengit. "Sampai di sana kau akan mengatahuinya."

Usai menyahut, kedua gadis itu turun tangan serentak menotok jalan darah Ciok Giok Yin. Setelah jalan darah Cian Mo Hiatnya tertotok, sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi lemas tak bertenaga, boleh dikatakan seperti orang biasa.

Namun kepandaiannya tidak musnah. Kalau totokan itu dibebaskan, maka akan pulih seperti biasa. Kedua gadis baju hijau tertawa cekikikan, kemudian berkata.

"Jalan!"

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ciok Giok Yin, tapi tidak dapat dilampiaskannya. Kini dirinya telah dikendalikan orang, terpaksa harus menurut. Dia menatap kedua gadis baju hijau dengan penuh kebencian, lalu berjalan dengan kepala tertunduk. Sedangkan kedua gadis baju hijau mengikutinya dari belakang, kelihatan ketat sekali. Ciok Giok Yin berjalan seperti orang biasa, sudah tentu lamban sekali. Maka tidak mengherankan, walau hari sudah sore, namun mereka baru berjalan empat puluhan mil. Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin menoleh ke belakang seraya bertanya,

"Sebetulnya kalian ingin membawaku ke mana?" "Kau akan tahu nanti."

Tak seberapa lama kemudian mereka sudah tiba di sebuah kota kecil. Mereka bertiga langsung memasuki sebuah penginapan. Seusai makan malam, kedua gadis baju hijau membawa Ciok Giok Yin ke dalam kamar. Ciok Giok Yin duduk, sambil menatap kedua gadis itu dengan dingin.

"Kalian keluar saja!" katanya. "Tidak apa-apa. Kau boleh tidur sekarang."

Kedua gadis itu duduk, kelihatannya mereka berdua tidak mau meninggalkan kamar itu. Ciok Giok Yin naik ke tempat tidur lalu duduk bersila dengan mata terpejam. Ternyata dia ingin mencuri pembicaraan mereka, agar tahu identitas mereka. Akan tetapi kedua gadis itu justru tidak bersuara sama sekali, mereka berdua duduk seperti orang bisu. Akhirnya Ciok Giok Yin yang membuka mulut.

"Nona, kini aku sudah kalian kendalikan, pasti tidak bisa meloloskan diri. Aku amat lelah, maka ingin beristirahat sejenak. Harap kalian berdua meninggalkan kamar ini!"

Kedua gadis baju hijau saling memandang, kemudian salah seorang yang berwajah bulat berkata,

"Kau memang tidak bisa meloloskan diri."

Kedua gadis baju hijau berjalan ke luar, sekaligus menutup daun pintu kamar, lalu duduk di depan pintu itu. Ciok Giok Yin tidak memperdulikan kedua gadis itu. Dia langsung membaringkan dirinya di atas ranjang. Namun dia juga tidak habis pikir, sebetulnya siapa kedua gadis itu? Lagi pula, kepandaian mereka amat tinggi sekali. Kelihatannya kepandaiannya masih jauh dibandingkan dengan

mereka. Mungkin kelelahan dalam perjalanan membuatnya cepat tertidur pulas. Akan tetapi mendadak samar-samar dia mendengar suara orang.

"Kau memang makan kenyang dan tidur pulas."

Ciok Giok Yin tersentak, sehingga terjaga dari tidurnya. Dia membuka matanya lebar-lebar. Tampak di depan ranjang berdiri seorang tua bongokok, sebuah guci arak besar bergantung di punggungnya. Ciok Giok Yin segera bangun.

"Lo cianpwee, jalan darah Cian Mo Hiatku ditotok kedua gadis baju hijau itu," katanya.

Orang tua bongkok itu tidak menyahut, cuma menjulurkan tangannya membebaskan totokan itu. Ciok Giok Yin cepat- cepat menghimpun hawa murninya, dan seketika tenaganya pulih kembali.

"Cepat pergi, sebentar lagi kedua gadis itu akan sadar!" kata orang tua bongkok dengan saura rendah.

Kemudian dia melesat ke luar melalui jendela. Ciok Giok Yin tidak tahu bagaimana keadaan kedua gadis baju hijau. Dia segera melesat ke luar melalui jendela mengikuti orang tua bongkok. Dalam sekejap mereka berdua sudah tiba di luar kota. Orang tua bongkok melesat ke dalam rimba. Ciok Giok Yin terus mengikutinya dari belakang. Pemuda ini merasa heran, sebab orang tua bongkok itu sering menyelamatkannya. Oleh karena itu, tanpa curiga dia terus mengikuti orang tua bongkok itu dari belakang. Berselang sesaat, orang tua bongkok itu berhenti lalu membalikkan badannya menatap Ciok Giok Yin dengan tajam. Tatapan tajamnya membuat Ciok Giok Yin merinding dan tanpa sadar kakinya menyurut mundur selangkah. Kemudian dia memberi hormat seraya berkata,

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee. Bolehkah aku tahu gelar lo cianpwee?"

Orang tua bongkok tidak menyahut, melainkan berkata seperti bergumam.

"Aku selalu merasa kau mirip seseorang." "Aku mirip siapa?" tanya Ciok Giok Yin. "Mirip...,"

Orang tua bongkok tidak melanjutkan ucapannya. Ciok Giok Yin segera bertanya.

"Mirip siapa?"

"Kalau benar kau adalah keturunannya. Namun lebih baik sementara ini jangan dibicarakan." "Mengapa?"

"Tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakaimu."

Orang tua bongkok menatapnya, lalu bertanya.

"Bagaimana kau ditangkap oleh kedua gadis itu?"

Ciok Giok Yin menutur tentang kejadian itu, kemudian bertanya.

"Pengetahuan lo cianpwee amat luas, apakah tahu asal-usul kedua gadis berbaju hijau itu?"

Orang tua bongkok tidak langsung menjawab, melainkan memutar guci araknya ke depan, setelah meneguk beberapa kali, barulah menyahut,

"Menurut dugaanku, kedua gadis itu mungkin dari Goa Ban Hoa Tong."

"Goa Ban Hoa Tong?" "Ng!"

"Aku pernah ke Goa Ban Hoa Tong, tidak mungkin mereka berdua dari goa tersebut," kata Ciok Giok Yin.

"Kau kenal semua penghuni Goa Ban Hoa Tong?" Ciok Giok Yin menggelengkan kepala,

"Tidak, setahuku di dalam Goa Ban Hoa Tong hanya terdapat Ban Hoa Tongcu dan kaum pemuda ganteng."

Orang tua bongkok meneguk araknya lagi, lalu berkata, "Kau keliru."

"Bagaimana keliru?" "Kaum wanita penghuni Goa Hoa Tong, semuanya menyamar sebagai pemuda."

Ciok Giok Yin terbelalak.

"Hah? Mereka menyamar sebagai pemuda?" Orang tua bongkok manggut-manggut.

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat akan Fang Jauw Cang. Apakah dia juga menyamar sebagai pemuda? Kalau dia menyamar, tentunya Ciok Giok Yin tahu akan hal itu, sebab entah sudah berapa kali Ciok Giok Yin memeluknya. Hanya saja... di saat berbicara, Fang Jauw Cang kelihatan malu-malu dan wajahnya sering memerah.

"Itu tidak akan salah," kata orang tua bongkok.

Ciok Giok Yin segera memberitahukan, "Aku kenal seseorang dari Goa Ban Hoa Tong."

"Lelaki atau wanita?"

Ciok Giok Yin tidak menyahut, melainkan menutur tentang itu. Orang tua bongkok manggut-manggut ketika mendengar penuturan Ciok Giok Yin, setelah itu berkata,

"Kalau kau tidak percaya, kapan bertemu kau boleh bertanya padanya."

Ciok Giok Yin mengangguk. "Aku pasti tanya."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan segera berkata. "Lo cianpwee, aku ingin menanyakan suatu tempat." "Tempat apa?" "Di mana letak Liok Bun (Pintu Hijau)?"

Ternyata Ciok Giok Yin merasa kepandaiannya masih rendah, kalau begitu terus, tentunya tidak dapat memenuhi harapan gurunya untuk membasmi murid murtad itu, juga tidak bisa menuntut balas dendam Bun It Coan, kakak agkatnya. Oleh karena itu dia harus pergi ke Liok Bun, bermohon pada ayah Bun It Coan agar menurunkan padanya beberapa macam ilmu silat. Orang tua bongkok terbeliak.

"Liok Bun?" "Ng!"

"Mau apa kau menanyakan Liok Bun?" "Aku ingin pergi ke sana."

Orang tua bongkok terbeliak. "Nyalimu sungguh tidak kecil!" "Maksud lo cianpwee?"

"Setahuku siapa yang datang di Liok Bun tidak pernah kembali lagi. Mengapa kau harus pergi menempuh bahaya?"

"Biar bagaimanapun aku harus ke sana." "Penting sekali?"

"Mendapat titipan pesan dari seseorang, maka aku harus melaksanakannya."

"Siapa yang menitip pesan itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Ciok Giok Yin menjadi merasa serba salah, sebab sebelum menghembuskan nafas penghabisan, Bun It Coan pernah berpesan padanya, jangan sampai membocorkan tentang kematiannya pada ayahnya.

Karena itu, Ciok Giok Yin berkata, "Mohon maaf lo cianpwee, aku tidak boleh menceritakannya." "Kalau begitu, kau tidak punya hubungan apa-apa dengan

Liok Bun?"

"Memang tidak ada hubungan apa-apa."

"Aku boleh memberitahukan padamu, dari mereka yang pernah ke Liok Bun, cuma satu orang yang berhasil ke luar dengan selamat."

"Siapa orang itu?" tanya Ciok Giok Yin.

Orang tua bongkok menunjuk hidungnya sendiri sambil menyahut,

"Aku!"

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Dia menatap orang tua bongkok dengan mata terbelalak. Padahal orang tua bongkok itu tampak tidak karuan, namun justru pernah ke Liok Bun yang amat misterius itu. Kalau begitu, sudah pasti kepandaiannya setingkat dengan majikan Liok Bun tersebut.

"Mohon lo cianpwee sudi memberi petunjuk agar aku bisa sampai di sana!"

Orang tua bongkok meliriknya beberapa kali, kemudian berkata.

"Liok Bun berada di Lembah Sia Hui Kok Gunung Lu Liang San."

"Lembah Sia Hui Kok?"

"Tidak salah, namun sulit sekali mencari lembah itu." "Lo cianpwee, aku mohon petunjuk tentang itu." Orang tua bongkok manggut-manggut.

"Kau harus ke puncak Mo Sia Hong, di sana kau akan melihat kabut berwarna-warni, yang berasal dari Lembah Sia Kok. Kau harus menuju ke sana. Di tempat itu terdapat sebuah batu besar. Asal kau dapat menggeserkan batu besar itu, maka kau bisa masuk ke dalam."

"Terima kasih atas petunjuk lo cianpwee," kata Ciok Giok Yin. "Tentang gelar lo cianpwee, bolehkah diberitahukan padaku?"

Orang tua bongkok berpikir sejenak, kemudian menyahut. "Kau boleh panggil aku si Bongkok Arak."

Orang tua bongkok tetap tak memberitahukan namanya. Sudah barang tentu membuat Ciok Giok Yin menjadi serba salah. Karena orangtua itu merupakan penolongnya, bagaimana mungkin dia memanggilnya si Bongkok Arak?

Namun Ciok Giok Yin yakin bahwa dengan julukan itu dia tentu akan tahu namanya kelak.

Dia memberi hormat dan berkata, "Entah sudah berapa kali lo cianpwee menyelamatkan diriku. Aku tidak akan melupakan budi pertolongan to cianpwee selama-lamanya."

"Tidak perlu. Karena kau mirip seseorang. Kalau benar kau adalah keturunannya, maka aku memang harus menyelamatkanmu, bahkan juga harus melin- dungi."

"Lo cianpwee tidak bisa menjelaskan?"

"Sementara ini tidak bisa, namun cepat atau lambat kau akan tahu sendiri." Orang tua bongkok menatapnya.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang. Aku pun masih ada urusan lain, sampai jumpa!"

Orang tua bongkok melesat pergi dan sekejap sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin. Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin langsung berangkat ke Lembah Sia Hui Kok menemui ayah Bun It Coan, untuk bermohon diajarkan beberapa macam ilmu silat tinggi agar dapat menuntut balas kematian Bu It Coan. Namun disaat bersamaan justru muncul bayangan Fang Jauw Cang di pelupuk matanya. Karena dia telah berjanji pada Fang Jauw Cang, dua bulan kemudian akan bertemu kembali di kuil Thay San Si.

Kini racun yang mengidap di tubuhnya telah punah, maka dia harus memberitahukan padanya. Dan juga kali ini dia harus menyelidiki secara seksama, apakah benar Fang Jauw Cang adalah seorang gadis yang menyamar sebagai pemuda. Dia harus menasehatinya agar pulang ke rumah, jangan berkecimpung di dunia persilatan yang penuh marabahaya.

Lagi pula dirinya tidak seperti orang biasa. Seandainya dia tidak dapat mengendalikan diri, tentu akan mencelakakannya. Walau dia memiliki kitab Im Yang Cin Koy, namun kitab itu khusus untuk dibaca istrinya, agar tahu harus bagaimana melayaninya di saat berhubungan intim, tidak boleh dikeluarkan sembarangan. Dan juga nyawa Tiat Yu Kie Su telah melayang lantaran mencuri kitab itu, dan budi kebaikan itu belum dibalasnya....

Selanjutnya dia teringat pula akan calon istrinya, yaitu Ie Ling Ling, yang belum pernah ditemuinya. Berada di mana Ie Ling Ling? Cak Hun Cian mati demi dirinya. Karena itu dia harus membalas budi tersebut dengan memperistri Ie Ling Ling, maka harus berhasil mencari gadis itu. Ciok Giok Yin menarik nafas panjang, setelah itu barulah melesat pergi. Tujuannya, yakni Kuil Thay San Si. Sementara itu hari sudah mulai terang, sudah tampak beberapa orang berlalu lalang di jalan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang, Ciok Giok Yin terpaksa harus berjalan lamban seperti orang biasa. Ciok Giok Yin sudah menghitung, kira-kira satu hari lagi baru tiba di tempat

tujuan. Dia mengambil keputusan untuk menempuh perjalanan malam. Sebab kalau tidak tiba tepat pada waktunya, khawatir Fang Jauw Cang akan mencemaskannya.

Lagi pula dia ingin tahu, sebetulnya Fang Jauw Cang lelaki atau wanita. Sore harinya, dia mengisi perutnya di sebuah rumah makan. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan lagi. Pada hari kedua, disaat hari mulai gelap, dia sudah tiba di Kuil Thay San Si. Begitu memasuki kuil tersebut, dia langsung berseru.

"Adik Cang! Adik Cang...!"

Mendadak terdengar suara sahutan nyaring, "Siapa Adik Cangmu?"

Di saat bersamaan, dari tempat gelap muncul seorang wanita. Usianya sekitar dua puluh sembilan, sepasang matanya amat indah, namun kelihatan genit sekali. Ketika berjalan, badannya meliuk-liuk dan sepasang payudaranya bergoyang-goyang menantang. Begitu melihat, Ciok Giok Yin sudah tahu bahwa wanita itu bukan dari golongan lurus. Wajahnya langsung berubah dingin dan dia membentak sengit.

"Siapa kau?"

Wanita genit itu berdiri satu depa di hadapan Ciok Giok Yin. Sepasang matanya terus menatap wajah Ciok Giok Yin yang tampan itu dan bibirnya menyunggingkan senyuman

genit. Bahkan kadang-kadang dia mengeluarkan air liur, kelihatannya ingin menelan Ciok Giok Yin bulat-bulat. Beberapa saat kemudian wanita itu berkata dengan nafas mendesah,

"Adik Kecil, sikapmu amat galak sekali. Sungguh menakutkan!"

"Sebetulnya siapa kau? Mengapa berada di sini?" tanya Ciok Giok Yin sengit.

"Bicaralah baik-baik, tidak usah begitu galak! Boleh kan?" Wanita itu mulai maju, sehingga jaraknya dengan Ciok Giok

Yin semakin dekat. Sepasang mata wanita itu terus menatapnya, membuat hati Ciok Giok Yin terasa tergetar. Karena itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat mengerahkan lwee kangnya dan kemudian membentak dengan keras.

"Kalau kau berani maju lagi, aku pasti melancarkan pukulan!" Wanita genit itu segera berhenti, lalu tertawa cekikikan dan berkata,

"Kau amat tampan, tapi kok begitu galak dan bengis. Kau ingin melancarkan pukulan, padahal diantara kita tidak ada permusuhan apa-apa."

Memang benar antara Ciok Giok Yin dengan wanita genit itu tiada permusuhan apa-apa. Ciok Giok Yin datang di tempat itu lantaran sudah berjanji pada Fang Jauw Cang. Lagi pula setelah Mo Hwe Hud kabur, kuil itu menjadi kosong dan siapa pun boleh datang ke sana. Setelah berpikir demikian, kegusaran Ciok Giok Yin pun menjadi reda. Namun dia tetap waspada terhadap wanita genit itu, sebab wanita genit itu berani tinggal di kuil itu seorang diri, otomatis membuatnya merasa agak seram. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin bertanya dengan nada ramah.

"Apakah kau melihat seorang pemuda ke mari?"

"Itu sih tidak," sahut wanita genit itu dengan merdu. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Wanita genit itu terbeliak.

"Eh? Kau boleh ke mari, apakah aku tidak?"

Ciok Giok Yin terdiam. Sesungguhnya dia mau pergi, tapi khawatir Fang Jauw Cang akan muncul. Oleh karena itu, dia menjadi seba salah. Wanita genit itu tertawa terkekeh lalu berkata.

"Adik Kecil, siapa namamu?" "Perduli apa kau siapa namaku!"

"Tanpa sengaja kita bertemu di sini, boleh dikatakan berjodoh. Nah, apakah aku tidak boleh tahu namamu? Beritahukanlah agar kita tidak terlampau canggung!" wanita genit itu tersenym manis. "Biar kuperkenalkan diri, namaku Teng Kun Hiang."

Wanita genit itu langsung maju tiga langkah, kini dia sudah berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.

Sepasang mata Ciok GiOk Yin menyorot dingin. "Beritahukan perguruanmu!" bentaknya.

Wanita genit itu mengerlingnya dengan mata berbinar-binar, lalu menyahut dengan perlahan-lahan.

"Perguruanku. "

Mendadak jari tangannya bergerak cepat, ternyata menotok jalan darah Khi Bun Hiat di pinggang Ciok Giok Yin. Akan tetapi Ciok Giok Yin sudah siap sebelumnya. Dia cepat-cepat berkelit sekaligus melancarkan sebuah pukulan seraya membentak.

"Dasar tak tahu malu, aku. "

Ternyata Ciok Giok Yin melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Clang. Dia curiga kemungkinan Fang Jauw Cang sudah jatuh ke tangan wanita genit itu. Kalau tidak, bagaimana wanita genit itu turun tangan mendadak terhadapnya. Perlu diketahui, ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu amat lihay dan dahsyat.

Setelah Ciok Giok Yin melancarkan jurus pertama itu, seketika juga terdengar suara jeritan. Tampak sosok bayangan terpental beberapa depa, namun kemudian masih dapat mencelat ke atas atap kuil dan terdengar pula suaranya.

"Meskipun kau tidak beritahukan namamu, aku sudah tahu siapa kau! Lihat saja nanti, perkumpulan Sang Yen Hwee tidak akan mengampunimu!"

Tampak wanita genit itu melesat pergi dan tak lama kemudian menghilang di kegelapan malam. Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga, bahwa dengan jurus itu berhasil membuat wanita genit itu terpental. Karena merasa tiada dendam apa pun dengan wanita genit itu, maka dia tidak mengejarnya. Setelah mendengar suara seruannya barulah Ciok Giok Yin tahu akan asal-usul wanita genit itu.

"Mau kabur ke mana?" bentaknya.

Dia melesat ke atap kuil, namun terlambat, sebab wanita genit itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Ciok Giok Yin tidak mau mengejarnya, melainkan meloncat turun, kembali ke dalam kuil. Dia mencari ke sana ke mari, tapi tidak menemukan Fang Jauw Cang. Namun tak disangka dia malah melihat seorang pengemis tua sedang duduk di ruang dalam:..

Pengemis tua itu tidak lain adalah Te Hang Kay, yang pernah menyelamatkan Ciok Giok Yin dari kejaran orang-orang keluarga Tong Keh Cuang. Namun Ciok Giok Yin juga pernah memberikan sebutir pil Ciak Tan pada pengemis itu, untuk mengobati lukanya. Setelah itu mereka pun pernah bertemu kembali di luar Goa Toan Teng Tong. Ketika itu Te hang Kay bertanya pada Ciok Giok Yin, ada hubungan apa dirinya dengan Heng Thian Ceng. Justru tak terduga sama sekali, kini mereka bertemu di dalam kuil ini.

Maka mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara 'Ih!' Ciok Giok Yin segera maju, lalu memberi hormat seraya berkata.

"Lo cianpwee pernah menyelamatkan nyawaku, maka aku amat berterima-kasih. Entah bagaimana lo cianpwee berada di tempat ini?"

Sepasang bola mata Te Hang Kay berputar sejenak, kemudian balik bertanya sambil menatapnya.

"Bocah, bagaimana kau ke mari?"

"Aku telah berjanji dengan seorang teman," sahut Ciok Giok Yin jujur. "Siapa?"

"Adik angkatku."

Te Hang Kay manggut-manggut, lalu menatap Ciok Giok Yin dengan tajam seraya berkata.

"Bocah, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan padamu?" "Tentu boleh, silakan!"

"Kau harus jawab dengan jujur lho!"

Ciok Giok Yin tertegun, sebab wajah Te Hang Kay tampak amat serius, sehingga bertanya dalam hati, 'Apakah dia ingin menanyakan tentang Seruling Perak itu?'

Kemudian dia menyahut, "Asal aku tahu, pasti kujawab dengan jujur."

"Apakah di bagian dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah berbentuk bulat?" tanya Te Hang Kay.

Mendengar pertanyaan itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi gemetar, dan dia langsung balik bertanya.

"Bagaimana lo cianpwee tahu itu?" "Aku bertanya, kau harus jawab." "Tidak salah."

Seketika sepasang mata Te Hang Kay menyorot tajam dan jenggotnya tampak bergerak-gerak, pertanda hatinya amat tergetar.

"Kalau begitu, ternyata benar kau adalah. " katanya

terhenti.

"Lo cianpwee, harap lanjutkan," kata Ciok Giok Yin. Te Hang Kay menghela nafas panjang, lalu menggeleng- gelengkan kepala seraya berkata, "Sementara ini tidak dapat kukatakan, kelak kau akan tahu sendiri."

"Lo cianpwee kok tidak mau berlaku jujur?" "Bukan tidak mau berlaku jujur. "

"Kalau begitu, lantaran apa?"

"Apabila kukatakan sekarang, jelas tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakai dirimu sendiri."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Mengenai asal-usulku, bolehkah lo cianpwee menceritakan sesingkatnya?"

Te Hang Kay tertawa gelak,

"Justru karena asal-usulmu. Namun, kalau belum waktunya, kau tahu juga tiada gunanya."

Ciok Giok Yin ingin mendesaknya, tapi Te Hang Kay sudah bertanya.

"Kau pernah ke Gunung Cong Lam San?" Tertegun Ciok Giok Yin.

"Bagaimana lo cianpwee tahu itu?"

"Aku pengemis tua pernah pergi mencari Can Hai It Kiam." "Mencari Can Hai It Kiam?"

"Ng!"

"Tapi dia sudah mati."

"Bukankah kau yang membunuhnya? Ciok Giok Yin tersentak. "Aku sama sekali belum pernah melihat wajahnya. "Mereka yang mengatakan demikian."

"Lo cianpwee percaya?"

"Ini cuma merupakan suatu kesalah pahaman. Kini di dunia persilatan memang ada seseorang merias seperti wajahmu. Orang itu melakukan kejahatan di mana-mana, termasuk membunuh Can Hai It Kiam."

"Lo cianpwee tahu siapa orang itu?"

"Gerak-gerik orang itu amat misterius, kini belum berhasil kuselidiki."

Usai menyahut, Te Hang Kay terus memadang wajah Ciok Giok Yin. Berselang sesaat dia bertanya.

"Sebetulnya kau punya hubungan apa dengan Heng Thian Ceng?"

"Tiada hubungan apa-apa." "Kau harus menjauhinya." "Mengapa?"

"Pokoknya kau harus menjauhinya."

"Bolehkah lo cianpwee menjelaskan sebab musababnya?"

Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan budi pertolongan wanita iblis itu, maka terkesan baik padanya.

"Tidak bisa," sahutnya.

Mendadak Ciok Giok Yin tertawa gelak, kemudian berkata. "Lo cianpwee, di kolong langit tiada suatu urusan yang tidak

bisa diberitahukan pada orang lain. Lo cianpwee menyimpan urusan itu dalam hati, maka kukatakan tegas, aku tidak mau menjauhinya."

Sekujur badan Te Hang Kay tergetar. "Kau dan dia. "

"Dia penolongku, bagaimana aku menjauhinya?"

Te Hang Kay menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam, kemudian bertanya dengan serius.

"Kau sungguh-sungguh mau tahu?" Ciok Giok Yin mengangguk.

"Ya."

"Heng Thian Ceng. "

Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat dingin menyela.

"Bagaimana Heng Thian Ceng?"

Menyusul tampak sosok bayangan merah melayang turun di tempat itu. Tidak lain adalah Heng Thian Ceng. Begitu melihat kemunculannya, sepasang mata Te Hang Kay langsung menyorot dingin.

"Heng Thian Ceng, mau apa kau ke mari?" bentaknya. "Apakah Kuil Khay San Si ini sudah menjadi tempat

tinggalmu, pengemis bau?" sahut Heng Thian Ceng dingin.

"Jaga sedikit mulutmu!" "Kau mau apa?"

"Kau harus segera enyah dari sini!" "Ini bukan tempat tinggalmu! Kau boleh ke mari, kenapa aku tidak?"

Heng Thian Ceng lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya.

"Adik kecil, kau sudah bertemu adik angkatmu?"

Wajah Heng Thian Ceng yang buruk itu, membuat Ciok Giok Yin merasa muak, namun mengingat sudah beberapa kali menerima budi pertolongannya, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan ramah.

"Belum, aku berjanji padanya bertemu di sini!" "Kau mau menunggunya?" tanya Heng Thian Ceng. "Tentu."

"Baik, aku masih ada sedikit urusan. Sebelum hari terang, aku akan balik ke mari menemanimu."

Usai berkata, tanpa mempedulikan Te Hang Kay, Heng Thian Ceng langsung melesat pergi. Ketika melihat Heng Thian Ceng melesat pergi, Te Hang Kay juga tidak mau ketinggalan, langsung mengikutinya dari belakang. Sedangkan Ciok Giok Yin tetap berdiri di tempat. Dia termangu-mangu memikirkan apa yang Te Hang Kay katakan tadi, sepertinya tahu jelas akan asal- usulnya. Kalau tidak, bagaimana pengemis tua itu tahu di bagian dadanya terdapat sebuah tahi lalat merah? Berdasarkan ini, sudah dapat membuktikannya.

Akan kenapa Ciok Giok Yin justru tidak mengerti, mengapa Te Hang Kay tidak mau memberitahukannya, malah bersikap misterius? Dan juga, mengapa Te Hang Kay melarangnya berhubungan dengan Heng Thian Ceng? Wajahnya yang amat buruk itu, apakah. Ciok Giok Yin tidak mau berpikir lagi,

hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam.

"Urusan di dunia persilatan, memang sungguh amat misterius dan tidak bisa diduga!" Sang waktu terus berlalu tanpa terasa malam sudah larut. Sedangkan Fang Jauw Cang, tetap tidak tampak bayangannya. Semakin menunggu, hati Ciok Giok Yin semakin gelisah,  namun dia tidak berani pergi. Tak terasa hari sudah subuh.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng. Wanita buruk rupa itu pernah bersamanya pergi mencari Pek Jau Lojin, namun di atas tebing itu, dia terpukul jatuh ke bawah. Lalu bagaimana dia bisa selamat? Mengenai kejadian itu Ciok Giok Yin malah lupa bertanya pada Heng Thian Ceng. Sebab dia terpukul jatuh ke bawah, justru ingin menolong Ciok Giok Yin.

Nanti bertemu, harus baik-baik berterimakasih padanya. Ciok Giok Yin berjanji dalam hati. Disaat bersamaan, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara siulan bergema di angkasa.

Ciok Giok Yin langsung melesat ke luar, menuju arah suara siulan itu. Mendadak tampak empat sosok bayangan menghadang di depannya, maka dia lang- sung berhenti.

Setelah melihat tegas siapa keempat orang itu, sekujur badannya terasa menggigil kemudian dia menyurut mundur beberapa langkah. Ternyata ke empat orang itu adalah Si Peng Khek, Si Tay Hu Hoat (Empat Pelindung Besar) Perkumpulan Sang Yeng Hwee, yaitu Hiang Peng Khek, Tan Peng Khek, Liak Peng Khek dan Hui Peng Khek.

Bagaimana tingginya kepandaian keempat orang itu, Ciok Giok Yin sudah merasakannya. Karena itu, dia sudah bersiap untuk bertarung mati-matian. Hiang Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Ciok Giok Yin, tak disangka kita bertemu di sini." "Bagaimana?"

"Ingin mengundangmu ke markas perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Di mana markas kalian? Kelak kalau aku sempat pasti berkunjung ke sana." "Pokoknya hari ini kau harus ikut kami ke sana." sahut Hian Peng Khek dengan dingin.

"Kalau aku bilang tidak?"

"Lebih baik kau ikut saja agar kami tidak susah."

Ciok Giok Yin tertawa gelak lalu berkata, "Gampang sekali kau mengatakannya. Aku masih ada urusan lain, maaf!"

Ciok Giok Yin ingin melesat pergi, namun mendadak tangan Si Peng Khek bergerak melancarkan pukulan yang mengandung hawa dingin ke arah Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya tak mampu melesat pergi. Dia merasa sekujur badannya amat dingin, bahkan merinding pula. Namun sifat angkuhnya tetap menunjang dirinya.

"Si Peng Khek, aku tidak akan mengampuni kalian!" bentaknya sengit.

Ciok Giok Yin langsung melancarkan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui San Ciang, ke arah dada Hian Peng Khek. Melihat pukulan itu, Hian Peng Khek tidak berkelit, melainkan malah menyambutnya. Sedangkan Tam Peng Khek, Liak Peng Khek dan Hui Peng Khek, juga melancarkan pukulan berhawa dingin ke arah Ciok Giok Yin. Walau Ciok Giok Yin memiliki lwee kang tinggi, namun tetap tidak dapat menahan hawa dingin itu. Maka sekujur badannya menggigil, sehingga terpaksa berkelit ke arah samping. Akan tetapi gerakan Hian Peng Khek jauh lebih cepat dari gerakannya.

Di saat Ciok Giok Yin berkelit, Hian Peng Khek juga melancarkan pukulan secepat kilat ke arahnya. Seketika Ciok Giok Yin merasa sepasang kakinya kesemutan, kemudian roboh gedebuk di tanah. Liak Peng Khek segera menotok jalan darahnya. Setelah itu Si Peng Khek tertawa gelak, dan kemudian Hiang Peng Khek berkata,

"Ciok Giok Yin, mulai sekarang dan selanjutnya, namamu akan dicoret dari rimba persilatan!" Usai berkata, dia segera bersiul panjang. Tak lama kemudian, terdengarlah suara kereta kuda menuju tempat itu. Setelah kereta kuda itu tiba, Hui Peng Khek menyambar Ciok Giok Yin dan langsung dilemparkan ke dalam kereta kuda itu, yang kemudian meluncur pergi. Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat laksana kilat, sekaligus mengitari Si Peng Khek. Setelah itu, dia berdiri di tempat yang agak tinggi, lalu membentak keras,

"Cepat suruh kereta kuda itu berhenti!" "Siapa kau?" tanya Hian Peng Khek. "Bu Tok Sianseng!"

"Bu Tok Siangseng?"

"Tidak salah! Cepat suruh kereta kuda itu berhenti!" "Apa maksudmu?"

"Terus terang! Kalau kereta kuda itu tidak segera berhenti, kalian tidak akan bisa berjalan ke luar dalam jarak satu mill!"

Mendengar itu, bukan main terkejutnya Hian Peng Khek. Dia langsung bersiul panjang menyuruh kereta kuda itu berhenti, kemudian berkata.

"Bu Tok Sianseng, julukanmu adalah Bu Tok (Tiada Racun), mengapa turun tangan justru menggunakan racun? Sungguh tidak sesuai dengan julukanmu!"

Bu Tok Sianseng menyahut dengan wajah tidak berekspresi apapun.

"Kau tidak perlu bertanya, sekarang cepat suruh kusir itu membawa Ciok Giok Yin ke luar!"

"Jangan bermimpi! Ternyata kau ingin menyelamatkannya!" "Tidak salah dugaanmu!" Hui Peng Khek menggeram. "Termasuk kau juga harus. "

Hui Peng Khek mau melancarkan serangan, namun tidak dapat mengerahkan lwee kangnya. Bukan main terkejutnya. Sedangkan Bu Tok Sianseng tetap berdiri di tempat, seakan tiada urusan apa-apa.

"Bagaimana? Bukankah ada sedikit ketidakberesan?" katanya sambil tersenyum.

Hui Peng Khiak diam, tidak menyahut. Bu Tok Sianseng memandang yang lain, seraya melanjutkan ucapannya.

"Badan kalian sudah terkena racun! Dalam waktu setengah jam, badan kalian akan berubah menjadi cairan darah!

Seandainya kalian tidak mau melepaskan Ciok Giok Yin, kalian berempat pasti mati!"

Ketika mendengar itu, Hian Peng Khek, Tam Peng Khek dan Liak Peng Khek segera menghimpun hawa murni. Mereka merasa ada suatu yang tidak beres di dalam tubuh masing masing.

"Sebetulnya kau mau apa?" tanya Hian Peng Khek pada Bu Tok Sianseng.

"Lepaskan Ciok Giok Yin!" "Tidak!"

"Kalau begitu, tunggu kematian kalian! Aku punya cara menyelamatkan Ciok Giok Yin!"

Sepasang bola mata Hian Leng Khek berputar sejenak, setelah itu dia menyuruh kusir membawa Ciok Giok Yin ke luar, lalu ditaruh di atas tanah. Bu Tok Sianseng langsung melesat ke samping Ciok Giok Yin, sekaligus membebaskan jalan darahnya. Kemudian dia menoleh memandang Si Peng Khek seraya berkata,

"Obat pemunah racun, ambil!"

Bu Tok Sianseng mengibaskan tangannya. Tampak empat butir pil melayang ke arah Si Peng Khek. Si Peng Khek segera menyambut pil tersebut dan langsung dimasukkan ke dalam mulut, kemudian duduk bersila menghimpun hawa

murni. Sedangkan Bu Tok Sianseng menarik tangan Ciok Giok Yin, lalu melesat ke dalam rimba. Berselang beberapa saat, barulah Bu Tok Sianseng berhenti.

"Terimakasih atas pertolongan Anda," ucap Ciok Giok Yin sambil menjura.

"Tidak usah berterimakasih."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan sesuatu. "Bukankah Anda yang memperoleh kitab Cu Cian?" tanyanya.

Bu Tok Sianseng mengangguk. "Ya."

"Bolehkah aku membacanya sejenak?"

"Boleh, tapi kitab itu tidak kubawa." Bu Tok Sianseng menatapnya. "Mau membaca kitab Cu Cian, harus menemukan Seruling Perak. Kalau tidak, sama juga seperti benda tak berguna."

"Anda tahu seruling perak itu berada di mana?" Bu Tok Sianseng tidak menjawab pertanyaan itu.

"Aku bersedia pinjamkan kitab Cu Cian padamu, namun kau harus berhasil mencari Seruling Perak," katanya.

Ini sungguh di luar dugaan Ciok Giok Yin, sehingga membuatnya tertegun. "Kau tidak usah curiga. Aku berkata sesungguhnya. Yang penting sekarang kau harus berusaha mencari Seruling perak itu. Kapan saja aku pasti menghadiahkan kitab Cu Cian padamu."

Bagaimana di kolong langit ada urusan begini, setelah memperoleh benda pusaka rimba persilatan, lalu akan dihadiahkan kepada orang? Bukankah merupakan urusan yang amat aneh sekali?

"Apa syaratnya?" "Tidak ada."

Ciok Giok Yin terbelalak,

"Kalau begitu, mengapa Anda menempuh bahaya merebut kitab Cu Cian itu?"

"Kau tidak usah bertanya, sudah pasti ada sebabnya." Bu Tok Sianseng kelihatan berpikir. "Sekarang tujuanmu mau ke mana?"

"Aku punya janji dengan seorang adik angkat di kuil Thay San Si, aku harus menunggunya disana." Bu Tok Sianseng manggut-manggut.

"Baik, sampai jumpa!"

Dia menjura pada Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi. Ciok Giok Yin terus memandang ke tempat Bu Tok Sianseng hilang dari pandangannya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud tujuan Bu Tok Sianseng, mengapa akan

menghadiahkan kitab Cu Cian padanya tanpa syarat apa pun? Akan tetapi Ciok Giok Yin dan Bu Tok Sianseng tidak saling kenal sebelumnya, tentunya tiada permusuhan apa pun, maka tidak mungkin dia punya suatu rencana jahat untuk mencelakai Ciok Giok Yin. Walau Ciok Giok Yin berpikir bolak-balik dan cukup lama, namun tetap tidak menemukan jawabannya.

Oleh karena itu, akhirnya dia tidak mau memikirkan tentang itu, dan langsung melesat kembali ke Kuil Thay San Si.

Sementara Thay San Si tetap sunyi senyap, sehingga Ciok Giok Yin yakin pada waktu mau berpisah, mereka berdua sudah berjanji, dua bulan kemudian akan berjumpa lagi di tempat tersebut. Kini Fang Jauw Cang tidak menepati janji, pertanda telah terjadi sesuatu atas dirinya. Meskipun Ciok Giok Yin berpikir demikian, tapi tetap menunggu. Akan tetapi berselang beberapa saat, dia langsung melesat pergi memasuki sebuah rimba. Ketika dia memasuki rimba itu, tiba-tiba terdengar suara percakapan. Hati Ciok Giok Yin tergerak, dan dia segera melesat ke belakang sebuah pohon besar. Sementara percakapan itu semakin jelas, justru membuat sekujur badannya menjadi dingin. Ternyata dia mengenali suara itu, yang tidak lain adalah suara Si Peng Khek.

"... asal ketemu lagi!" kata Tam Peng Khek sengit. "Tidak gampang," sahut Hian Peng Khek.

Ciok Giok Yin yang berbunyi di balik pohon, langsung pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa sat kemudian terdengar suara Hui Peng Khek.

"Apakah kita menyudahi begini saja?"

"Bagaimana kalau kita pulang dengan tangan kosong? Lagi pula nama kita bukankah akan tercoreng?" sahut Liak Peng Khek.

Ciok Giok Yin tidak mendengar percakapan mereka, namun dia tetap pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Berselang beberapa saat, terdengar suara Hian Peng Khek.

"Nama memang penting, tapi nyawa tidak boleh dibuat main- main."

Liak Peng Khek bertanya.

"Toako punya ide apa?" tanya Liak Peng Khek. "Kalau ada, lebih baik katakan agar kita bisa berunding bersama!" sambung Tam Peng Khek.

Hian Peng Khek manggut-manggut, lalu berkata,

"Dia punya deking Bu Tok Sianseng. Walau kepandaian kita amat tinggi, tapi tidak dapat melawan racunnya, maka maksudku. "

Tam Peng Khek, Lian Peng Khek dan Hi Peng Khek segera bertanya dengan serentak, "Bagaimana?"

Hian Peng Khek menjawab dengan meninggikan suaranya.

"Kita pulang menemui ketua, katakan kita akan berusaha menangkapnya kelak. Mungkin ketua tidak akan menyalahkan kita."

Setelah itu, suasana kembali hening lagi. Namun hati Ciok Giok Yin tersentak kaget, karena ternyata Si Peng Khek masih terus mencarinya. Kemudian dia berkata dalam hati, 'Saat ini kepandaianku masih jauh di bawah mereka. Kalau tidak Bu Tok Sianseng campur tangan, pasti diriku dibawa pergi oleh Si Peng Khek.' Karena itu, meskipun saat ini hatinya amat gusar, namun dia tidak berani muncul dari tempat persembunyiannya. Biar bagaimana dia harus bersabar menahan kegusarannya.

Mendadak terdengar Hiang Peng Khek berkata, "Mari kita pulang!"

Kemudian terdengar suara desiran, ternyata Si Peng Khek melesat pergi. Di saat bersamaan, timbullah suatu ide dalam hati Ciok Giok Yin. 'Keempat iblis itu akan pulang ke markas mereka, mengapa aku tidak mengungkit secara diam-diam? Kalau sudah tahu markas mereka, bukankah boleh ke sana kelak?" Setelah timbul ide tersebut, maka dia pun melesat pergi. Ciok Giok Yin melihat bayangan Si Peng Khek berkelebatan jauh di depan. Dia terus mengikuti mereka, tapi tidak berani terlampau dekat karena khawatir akan diketahui Si Peng Khek, sehingga sulit meloloskan diri. Karena itu dia menguntit mereka berempat dari jarak seratus

depa. Sementara Si Peng Khek terus melesat sama sekali tidak tahu ada orang menguntitnya. Walau tempat yang dilalui terdapat banyak batu racun, tapi mereka memiliki ilmu ginkang tinggi, maka seperti melesat di jalan datar. Tak seberapa lama kemudian mereka tiba di sebuah lembah.

Tampak badan Si Peng Khek berkelebat, langsung melesat ke dalam mulut lembah itu. Ciok Giok Yin berhenti di depan mulut lembah, lalu mendongakkan kepala. Tampak dinding tebing terdapat beberapa huruf 'Siapa Yang Masuk Pasti Mati'. Di samping tulisan itu terdapat lukisan sepasang burung

walet. Tidak salah lagi, markas perkumpulan Sang Yen Hwee pasti berada di dalam lembah ini. Seketika dia lupa akan bahaya dan terbangkit kegagahannya. Di saat bersamaan, dia pun teringat akan semua dendamnya, baik dendam lama maupun dendam baru. Oleh karena itu badannya langsung bergerak. Dia ingin membasmi kejahatan demi dunia persilatan.

Pokoknya perkumpulan Sang Yen Hwee harus dibasmi. Kalau tidak, dunia persilatan tidak akan tenang dan damai. Ciok Giok Yin segera melesat ke dalam lembah. Setelah dia berada di dalam lembah, tampak sebuah sungai kecil melintang di hadapannya. Air sungai itu amat jernih dan mengalir perlahan- lahan. Di seberang sana tampak pohon-pohon Yang Liu yang rantingnya bergoyang-goyang lemas terhembus

angin. Sungguh merupakan tempat yang amat tenang dan damai. Pandangan Ciok Giok Yin terhalang oleh pohon-pohon Yang Liu, sehingga tidak melihat yang lain di belakang pohon- pohon Yang Liu tersebut. Ternyata di belakang pohon-pohon itu terdapat pegunungan yang tidak begitu tinggi dan pemandangannya amat indah. Begitu melihat, Ciok Giok Yin tertarik akan tempat itu.

Sejak dia memasuki lembah tersebut, sama sekali tidak bertemu seorang pun. Berdasarkan ini dapat diketahui bahwa perkumpulan Sang Yen Hwee tidak memandang kaum rimba persilatan ke dalam matanya. Sebab tiada seorang penjaga pun berada di sana seakan tempat tersebut tidak perlu dijaga.

Mendadak Ciok Giok Yin melihat sebuah panji besar berwarna merah berkibar-kibar di balik rimba pohon Yang Liu. Panji itu bertulisan 'Menyatukan Rimba Persilatan'. Melihat tulisan itu Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm! Sungguh bermulut besar, tidak takut gigi akan rontok diterpa angin!"

Ciok Giok Yin mengeras hati melangkah ke tepi

sungai. Sungai itu tidak begitu lebar, cuma satu depa lebih. Orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat pun pasti dapat meloncat ke seberang. Apalagi Ciok Giok Yin yang berkepandaian tinggi. Dia langsung meloncat ke

seberang. Akan tetapi tak disangka ketika sepasang kakinya mau menginjak tanah, Ciok Giok Yin terkejut bukan kepalang! Ternyata dia melihat sungai kecil itu berubah menjadi tak terbatas dan tiada daratannya. Rimba Yang Liu yang ada di hadapannya juga telah lenyap entah ke mana.

Maka terdengar suara 'Plum'.

Ciok Giok Yin terjatuh ke dalam sungai, bahkan mulutnya kemasukan beberapa teguk air sungai itu. Walau air sungai itu cuma sebatas leher, namun dinginnya sungguh tak

tertahan. Dia segera menoleh ke belakang. Sungguh tak disangka, ternyata lebar sungai itu mencapai belasan

depa. Tapi amat mengherankan, di depan justru tidak tampak tepian sungai itu. Ketika Ciok Giok Yin ingin kembali ke tempat semula, mendadak terjadi hujan deras, seperti dicurahkan dari langit.

Angin pun berhembus kencang, membuat air sungai itu bergelombang-gelombang menerjang ke arah Ciok Giok

Yin. Sudah barang tentu menyebabkannya meneguk air sungai itu lagi, karena dia tidak begitu bisa berenang. Dia berkertak gigi, berusaha berenang ke tepi yang di belakangnya. Akan tetapi hujan badai masih berlangsung, membuatnya tak dapat melawan gelombang sungai yang amat dahsyat itu. Sebab itu, matanya menjadi berkunang-kunang dan dia kehilangan arah tujuan.

Sekonyong-konyong Ciok Giok Yin merasa dirinya terperosok ke dalam sebuah formasi yang amat aneh. Mengenai ilmu formasi, dia memang tidak mengerti sama sekali, maka pasrah saja. Pada waktu bersamaan, hujan badai semakin menghebat, bahkan gelombang sungai pun semakin tinggi, menindih Ciok Giok Yin, sehingga nyaris tenggelam ke dasar sungai. Justru di saat itulah sayup-sayup dia mendengar suara tawa dingin.

"He he! Bocah, kau sendiri yang cari mati di sini. "

Sedangkan Ciok Giok Yin sudah mulai tak sadarkan diri, sebab terlampau banyak meneguk air, dan juga terterjang oleh gelombang sungai. Memang malang nasibnya. Lantaran timbul kegagahannya ingin membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee, akhirnya malah dirinya yang diintai maut. Kini dia telah jatuh ke tangan perkumpulan Sang Yen Hwee. Bagaimana nyawanya bisa selamat? Akan tetapi seandainya nyawa Ciok Giok Yin melayang di perkumpulan Sang Yen Hwee, berarti sudah tiada orang yang dapat menyelamatkan dunia persilatan.

Sebaliknya bagi Ciok Giok Yin, meloloskan diri dari maut juga bukan merupakan hal yang gampang.