Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 06

 
Jilid 06

Ternyata tulisan itu berbunyi demikian. Mohon maaf, aku harus menceritakan hal yang sebenarnya. Orang tua yang mati itu, sesungguhnya bukan ayahku dan aku tidak saling mengenal. Aku amat berterima kasih atas bantuanmu.

Sesungguhnya aku mendapat perintah untuk mencuri peta Si Kauw Hap Liok Touw yang ada di dalam bajumu. Namun amat sulit bagiku untuk turun tangan mencuri peta itu. Kebetulan aku melihat mayat orang tua itu, maka aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengelabuhimu. Aku langsung menangis meraung-raung, dan kemudian memukulmu. Akhirnya aku berhasil memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Touw itu. Kumohon kau jangan membenciku, sebab aku melakukan itu karena terpaksa. Aku tahu, meskipun kau menyimpan peta pusaka itu, namun tidak tahu benda pusaka itu tersimpan di mana. Biar kuberitahukan, agar kau dapat memperolehnya selekasnya. Esok subuh kau harus segera berangkat ke Gunung anya San. Di sana terdapat Goa Cian Hud Tong (Goa Seribu Buddha). Cari benda pusaka itu, jangan sampai terlambat!

Asal kau berhasil memperoleh benda pusaka itu, peta Si Kauw Hap Liok Touw pun sudah tiada gunanya. Harap kau jaga diri baik-baik! Dari Cen Siauw Yun. Usai membaca, Ciok Giok Yin merogoh ke dalam bajunya, memang benar peta tersebut telah hilang. Namun cincin pemberian But It Coan masih ada. Ciok Giok Yin berkertak gigi.

“Kelak kalau bertemu, aku pasti tidak akan melepaskanmu!” katanya dengan penuh kegusaran. Saking gusarnya dia mengerahkan Sam Yang Hui Kang menghancurkan kertas tersebut, sehingga kertas itu menjadi hangus, kemudian hancur bagaikan daun kering. Dia tahu Cen Siauw Yun sudah pergi jauh, tidak mungkin akan berhasil mengejarnya

lagi. Ketika dia baru mau duduk kembali, tiba-tiba hatinya tergerak. Ternyata dia teringtat akan kata-kata di dalam kertas itu ‘Gunung anya San, Goa Cian Hud Tong’. Dia harus berangkat subuh untuk mencari benda pusaka itu. Cen Siauw Yun berpesan demikian, mengapa tidak ke sanam melihat- lihat? Pikir Ciok Giok Yin. Apabila dia berhasil memperoleh benda puska itu, berarti dia tidak akan menyia-nyiakan maksud baik Ho Siu Kouw. Kelak kalau berjumpa, harus berterima kasih padanya. Begitu teringat pada Ho Siu Kouw, hatinya menjadi kebat-kebit, karena tidak tahu bagaimana keadaannya. Apakah dia telah berhasil memutuskan rantai yang membelenggu dirinya? Sembari berpikir, tanpa sadar dia pun bergumam perlahan.

“Kakak Siu, cepat atau lambat aku pasti ke Goa Toan Teng Tong mencarimu.”

Di saat bersamanan, jendela berdiri sosok bayangan putih, menyambitkan ke dalam segulung kertas kecil. Namun dalam sekejap bayangan putih itu telah lenyap. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin ketika melihat ada suatu benda meluncur ke arahnya! Tanpa banyak anya lagi dia langsung menyambut gulungan kertas itu sekaligus melesat ke luar melalui jendela, namun tidak melihat apa pun. Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam kota kecil ini terdapat begitu banyak pesilat tinggi.

Padahal gingkang yang dimilikinya sudah tinggi sekali, namun orang yang menyembitkan kertas itu ginkangnya jauh lebih tinggi darinya. Dia berdiri di atas rumah, lalu membuka kertas itu, namun di dalamnya tidak terdapat huruf apapun. Karena merasa dipermainkan, dia langsung mencaci.

“Kalau kau punya kepandaian, cepat perlihatkan dirimu! Kau jangan seperti kura-kura menyembunyikan kepala, itu bukan orang gagah!”

Namun tiada suara sahutan, hanya terdengar suara desirannya.

Ciok Giok Yin meloncat turun, lalu kembali ke kamarnya. Dia melempar setael perak ke atas meja. Ketika dia baru mau…. Ternyata di atas meja terdapat secarik kertas. Padahal di saat melesat ke luar, dia sama sekali tidak melihat kertas itu. Ciok Giok Yin cepat-cepat memperhatikan kertas yang di atas meja.

Ternyata pada kertas itu terdapat tulisan berbunyi

demikian. Kakak Siumu telah berhasil melepaskan diri. Kalau berjodoh dia pasti akan mencarimu. Namun, kalian pernah bertemu beberapa kali, hanya kau tidak mengenalinya. Pada surat itu tiada nama penulisnya. Yang jelas dia memancing Ciok Giok Yin keluar, kemudian masuk ke dalam. Ciok Giok Yin masih memegang kertas itu, tapi dia tidak ingat kapan bertemu Ho Siu Kouw.

Lagi pula dia tidak tahu siapa sesungguhnya penulis surat itu. Namun sepertinya penulis surat itu tahu jelas akan urusan Ciok Giok Yin. Kalau begitu berarti dia sudah kenal, dengan Ciok Giok Yin. Tapi mengapa orang itu justru bertindak sedemikian misterius? Ciok Giok Yin terus berpikir. Tiba-tiba dia teringat akan si penulis surat. Itu membuat matanya terbelalak lebar, dan muncul sosok bayangan di depan matanya, apakah Cen Siauw Yun adalah kakak Siu? Tapi kemudian Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala, tidak setuju akan kesimpulannya. Sebab Cen Siauw Yun menerima perintah untuk mencuri peta Si Kauw Hap Liok Touw, bagaimana mungkin dia kakak Siu? Itu tidak masuk akal sama sekali. Akan Tetapi, dia justru tidak ingat lagi akan orang

lain. Dia terus berpikir, lalu teringat akan Yap Ti Hui. Itu membuatnya nyaris tertawa geli.

“Bagaimana mungkin dia dibandingkan dengan kakak Siu?” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia berpikir lagi, namun tetap tidak menemukan

jawabnya. Ciok Giok Yin menyambar kertas itu, kemudian melesat pergi melalui jendela, langsung menuju gunung anya San di tengah malam.

Agar tiada halangan dalam perjalanan, dia menempuh jalan kecil yang sepi. Namun Gunung anya San amat luas, bagaimana mencari Goa Cian Hud Tong? Sebetulnya dimana letak goa itu?

Di gunung yang begitu luas, mencari sebuah goa dalam waktu sehari sungguh tidak gampang! Kelihatannya Cen Siauw Yun berniat mempermainkan Ciok Giok Yin. Kalau gadis itu bermaksud baik, mengapa tidak menjelaskan letak goa

itu? Apabila mencari secara membabibuta, bukankah…. Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak tampak beberapa sosok bayangan berkelebat di puncak seberang memasuki sebuah lembah. Seketika hati Ciok Giok Yin tergerak, dan cepat-cepat melesat ke sana. 

Di saat dia melesat ke tempat itu, juga melihat tiga kaum rimba persilatan menuju tampat yang sama. Oleh karena itu, dia berkata dalam hati. ‘Harus percaya goa itu ada, tidak boleh tidak percaya!

Maka dia segera mengerahkan ginkang, mengikuti para kaum rimba persilatan itu. Orang-orang itu tampak berebut untuk tiba duluan. Mereka terdiri dari padri, pendeta taoisme, lelaki, wanita, tua dan muda. Mata mereka kelihatan serakah, seakan ingin memilki suatu benda. Sekonyong-konyong terlihat lagi beberapa orang, ternyata orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee. Karena memilki ilmu ginkang yang amat tinggi, tampak badan mereka berkelebatan. Sementara Ciok Giok Yin harus melesat cepat, di samping itu, dia pun harus terus mengamati

mereka. Mendadak terdengar dua kali jeritan yang menyayat hati bergema menembus angkasa, membuat orang

merinding. Ciok Giok Yin memandang ke sana. Ternyata orang- orang perkumpulan Sang Yen Hwee sedang membunuh beberapa orang. Menyaksikan kejadian itu timbullah kegusarannya. Dia memang amat membenci orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee. Namun di saat dia baru mau melesat ke sana, tiba-tiba terdengar suara seruan di depan sana.

“Goa Cian Hud Tong!” “Goa Cian Hud Tong!”

Seketika tampak begitu banyak bayangan melesat ke sana. Orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee juga cepat-cepat melesat ke tempat itu. Ketika mendengar suara seruan itu, hati Ciok Giok Yin menjadi tegang. Tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung melesat ke sana. Akan tetapi, justru tiada tempat baginya untuk menaruh kakinya. Apa boleh buat! Dia tidak memikirkan peraturan apa pun lagi, menginjak bahu seseorang lalu melesat lagi. Dengan cara demikian, akhirnya dia sampai juga di tempat itu. Kini dia melihat begitu banyak orang berebut untuk memasuki sebuah goa. Karena mereka semua ingin lebih dulu masuk, maka terjadilah pertarungan mati- matian. Terdengar suara bentakan-bentakan keras, jeritan menyayat hati, serta tampak berkelebatan cahaya padang, golok dan senjata lainnya.

Mereka bertarung mati-matian hanya demi satu tujuan, yaitu ingin memperoleh benda pusaka yang tersimpan di dalam goa Cian Hud Tong itu. Oleh karena itu, mereka saling membunuh tanpa memberi ampun pada pihak lain. Tentunya yang berkepandaian rendah mati duluan, yang menang langsung menerjang ke dalam goa. Tapi, muncul pula orang lain menghadang, dan terjadilah lagi pertarungan. Karena itu, banyak mayat bergelimpangan di depan goa, sedangkan pertarungan masih terus berlangsung. Suara jeritan, bentakan dan suara rintihan membaur menjadi satu. Justru karena itu tiada seorang pun yang mundur, juga tiada seorang pun yang berhasil memasuki goa tersebut. Sementara mereka masih terus bertarung, mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

“Saat ini siapa pun tidak boleh memasuki goa ini! Kita bertanding di sini, siapa yang menang boleh masuk!”

“Masuk hitungan tidak perkataanmu itu?” sahut seseorang. “Kenapa tidak?”

“Baik, mari kita bertarung!”

Kedua orang itu mulai bertarung mati-matian. Terdengar suara pukulan beradu.

Plak!

Blam!

Tempat itu benar-benar menjadi tempat pembantaian. Entah berapa banyak mayat bergelimpangan di tempat itu. Darah berceceran, tampak pula mayat yang tiada kepala. Tangan dan kakipun berserakan di manamana. Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengenaskan dan mengerikan! Saat ini Ciok Giok Yin telah tiba di tempat itu. Akan Tetapi, dia tidak berniat ikut membaurkan diri untuk ikut bertarung. Dia mengerahkan ginkang melesat melewati orang-orang yang sedang bertarung. Kalau dikatakan, memang sulit dipercaya.

Sebab semakin banyak kaum rimba persilatan berada di tempat itu, apakah tiada seorang pun yang dapat menyamai limu ginkangnya?

Tentu ada! Boleh dikatakan banyak sekali! Hanya saja tergantung dari keberuntungan masing-masing. Bisa memperoleh benda pusaka itu atau tidak, memang tergantung dari jodoh. Kini Ciok Giok Yin sudah berada di mulut goa, namun tiada berani langsung menerobos ke dalam. Justru di saat bersamaan, terdengar suara seruan yang gemuruh.

“Sudah masuk ke dalam seorang bocah!” “Cepat bunuh dia!”

“Dia berani memanfaatkan kesempatan di saat kita sedang bertanding, menerobos ke dalam goa!”

“Bunuh dia!”

Orang-orang yang sedang bertarung juga langsung berhenti, dan serentak menerjang menuju goa. Bukan main! Sebab mereka seling menginjak lantaran ingin cepat-cepat memasuki goa. Sudah barang tentu timbul pertarungan lagi di mulut doa. Cahaya pedang, golok dan senjata lainnya berkelebatan dan mulai terdengar suara bentakan dan jeritan lagi…. Sementara Ciok Giok Yin yang telah sampai di dalam goa, melihat begitu banyak gambar Budhha. Semua gambar Buddha terukir di dinding goa, kelihatannya seperti hidup. Pada gambar Buddha itu terdapat tulisan ‘Sembilan’ dan tulisan ‘Enam’ Ciok Giok Yin berdiri sambil berpikir. Saat ini sudah tampak belasan orang sampai di dalam, dan mereka juga sedang memperhatikan gambar-gambar Buddha. Mendadak salah seorang menerjang kearah sebuah gambar Buddha.

Orang yang berdiri di belakang juga mengikutinya, begitu pula yang lain, termasuk beberapa padri dan pendeta

To. Sebetulnya para padri dan pendeta To, telah menyucikan diri, tidak boleh terpengaruh oleh urusan duniawi. Akan tetapi benda pusaka itu memang luar biasa, dapat membuat mereka lupa daratan, bahkan juga melupakan ajaran-ajaran Buddha dan Taosme. Kini di dalam Goa Cian Hud Tong telah dipenuhi kaum rimba persilatan, namun benda pusaka yang tercantum di dalam peta Si Kauw Hap Liok Touw, sesungguhnya berada di mana? Ciok Giok Yin terus berpikir, kalau begitu terus, mungkin benda pusaka tersebut akan jatuh ke tangan

mereka. Tiba-tiba dia teringat akan tulisan ‘Sembilan’ dan ‘Enam’ itu mengandung makna apa? Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih. “Kau memang bodoh. Kalau peta pusaka itu hilang, menimbulkan begitu banyak kaum rimba persilatan berdatangan kemari! Peta pusaka telah hilang, hanya dapat mencari benda pusaka lain, namun harus menaruh peta pusaka di atas tanah, barulah akan berhasil menemukannya!”

Ciok Giok Yin tersentak, lalu menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat orang yang berkata lirih. Ketika dia tertegun, suara lirih itu terdengar lagi.

“Cepat hitung dari gambar Buddha yang paling besar di tengah itu…”

Suara itu amat lirih, namun kedengaran jelas memberi petunjuk.

Ciok Giok Yin tidak mencari tahu siapa orang itu, langsung mengikuti petunjuknya. Di saat semua orang sedang lengah, dia cepat-cepat menekan sebuah gambar Buddha yang di hadapannya, kemudian nenekan lagi gambar Buddha yang lain sesuai petunjuk dari suara lirih. Setelah itu, dia kembali ke gambar Buddha yang paling besar. Tiada seorang pun memperhatikan perbuatannya. Sebab mereka bertarung mati- matian, sedangkan di luar juga sudah terdengar suara Heng Thian Ceng. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Kalau wanita iblis itu turun tangan merebut, entah harus bagaimana baiknya? Dia tidak mau berpikir tentang itu lagi. Jari tangannya bergerak menekan huruf ‘Sembilan’ yang tertera pada bagian dada gambar Buddha yang paling besar.

Serrrt!

Perut gambar Buddha itu terbuka, ternyata di dalamnya terdapat sebuah botol giok. Akan tetapi, perbuatannya itu terlihat oleh tiga orang, yaitu Bu Lim Sam Siu, yang pernah menyebabkannya jatuh ke dalam jurang. Ketika Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya, tiba-tiba terasa ada anya pukulan menerjang ke arahnya. Apa boleh buat! Ciok Giok Yin terpaksa menggeser sedikit lalu membalikkan badannya. Ternyata Bu Lim Sam Siu sudah berdiri di belakangnya. Begitu melihat kehadiran ketiga orang itu, mata Ciok Giok Yin langsung membara. Siangkoan Yun San tertawa terkekeh.

“Bocah, nyawamu sungguh besar!”

Pada saat bersamaan tampak begitu banyak orang menerjang ke arahnya.

“Nah, di situ!” seru salah seorang dari mereka. Mendadak telinga Ciok Giok Yin mendengar suara yang amat lirih.

“Dasar bodoh! Cepat ambil dan kabur!”

Di saat bersamaan, dia melihat orang-orang yang menerjang ke arahnya, di antaranya ada yang menjerit dan beberapa orang terpental ke belakang dengan mulut menyemburkan darah segar.

Sedangkan Bu Lim Sam Siu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan wajah pucat pias. Kesempatan itu dipergunakan Ciok Giok Yin untuk menyabar botol giok tersebut, sekaligus dimasukkan ke dalam bajunya. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara-suara bentakan.

“Cepat keluarkan!”

“Bocah, kau tidak dapat meninggalkan goa ini!”

Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung menyorot dingin. Dia mendorongkan sepasang tangannya ke depan penuh mengandung hawa panas. Seketika terdengar suara seruan kaget dan bentakan yang susul-menyusul.

“Soan Hong Ciang!”

“Dia murid Sang Ting It Koay, jangan dibiarkan lolos!” “Bunuh dia!”

“Cincang dia!”

“Pokoknya dia harus mampus!” Menyaksikan keadaan di depan mata, mau tidak mau Ciok Giok Yin mengucurkan keringat dingin. Namun dia tidak mau membuang benda tersebut. Oleh karena itu, dia melancarkan dua pukulan ke depan dengan sepenuh tenaga. Terdengar suara menderu-deru, bahkan terasa amat panas. Siapa yang tidak menyayangi nyawa? Maka orang-orang yang ada di depan langsung menggeser badannya ke samping. Sudah barang tentu terbuka sebuah jalan untuk Ciok Giok Yin. Di saat itulah terdengar lagi suara yang amat lirih.

“Bloon! Cepat terjang ke luar aku akan membantumu!”

Ciok Giok Yin sudah tidak mau mempedulikan siapa yang berkata lirih, langsung menerjang ke luar sambil melancarkan pukulan Soan Hong Ciang. Tak lama dia telah berhasil menerjang ke luar. Sampai di luar goa, tampak sosok bayangan merah berkelebatan dan terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Selain itu tampak pula seorang yang memakai kain penutup muka, yaitu Lu Jin, yang pernah berjumpa dengan Ciok Giok Yin sedang berpikir, terdengar lagi suara lirih itu.

“Dasar bloon! Ayo, cepat pergi!”

Sudah beberapa kali dikatai ‘Bodoh’ dan ‘Bloon’ itu menimbulkan sifat anehnya yang bertular Sang Ting It Koay. Maka, kali ini dia sama sekali tidak mau pergi, malah menerjang kearah orang-orang itu. Akan tetapi, orang-orang itu melancarkan pukulan ke arahnya meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun diserang sedemikian banyak orang, tentu membuatnya kewalahan. Dia terdesak mundur beberapa langkah dan nafasnya terasa sesak,.

“Uaaaakh…!”

Darah segar tersembur dari mulutnya, dan badannya bergoyang-goyang seakan mau roboh. Seketika terdengar suara-suara bentakan.

“Jangan biarkan bocah itu kabur!” “Cepat ambil benda pusaka itu!” “Cepat bunuh dia!”

“Dia yang membunuh Khiam Sim Hweshio!”

“Dia juga telah membunuh seorang anggota perkumpulan San Yen Hwee! Perkumpulan San Yen Hwee harus membunuhnya!”

Mendengar bentakan-bentakan itu, hati Ciok Giok Yin merasa dingin. Akan tetapi, dia sudah ketularan sifat anehnya Sang Ting It Koay. Dia tidak berniat melarikan diri, malah sepasang matanya menyorot penuh dendam kebencian. Darahnya mulai begolak, ternyata dia sudah siap mengeluarkan ilmu Hong Lui Sam Ciang, yaitu jurus pertama Terbang! Namun dia telah terluka parah, maka sebelulm melancarkan pukulan itu, dia merasa matanya berkunang-kunang, akhirnya roboh. Melihat Ciok Giok Yin roboh, Heng Thian Ceng langsung mengeras dan sekaligus menerjang ke arahnya. Tapi jaraknya agak jauh, lagipula begitu banyak orang menghadapnya, sehingga membuatnya tidak dapat mendekat Ciok Giok Yin.

Sementara begitu Ciok Giok Yin roboh, orang-orangpun menerjang ke arahnya dengan tujuan yang sama, yaitu ingin merebut benda pusaka. Justru di saat bersamaan, tampak sosok bayangan putih dan sosok bayangan hitam melayang turun. Bayangan hitam lebih cepat dan langsung menyambar Ciok Giok Yin, lalu melesat pergi laksana kilat. Sosok bayangan putih, langsung mengejar bayangan hitam yang membawa pergi Ciok Giok Yin. Bagi yang penglihatannya tajam, pasti melihat bayangan hitam itu adalah seorang tua bongkok, di punggungnya bergantung sebuah guci besar. Sedangkan bayangan putih itu, adalah seorang wanita berambut panjang, namun wajahnya amat buruk. Siapa kedua orang itu? Tiada seorang pun tahu. Apakah mereka berdua sehaluan, juga tiada seorang pun berani memastikannya. Heng Thian Ceng dan Lu Jin begitu melihat Ciok Giok Yin dibawa pergi, mereka berdua pun langsung mengejar. Menyusul adalah Bu Lim Sam Siu yang berhati licik. Mereka bertiga juga menerjang ke tempat itu. Setahun yang lalu, mereka bertiga terus berpikir ingin memiliki peta si Kauw Hap Liok Touw, maka terpikir oleh mereka suatu ide, yaitu menerima seorang murid wanita yang cantik jelita. Mereka bertiga tahu Ciok Giok Yin belum mati, maka terus mencari jejaknya, lalu menyuruh murid wanita yang bernama Cen Siauw Yun mendekati Ciok Giok Yin untuk mencuri peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw itu. Semula Cen Siauw Yun amat tertarik, sebab apabila berhasil mencuri peta pusaka itu, pasti ketiga gurunya akan menurunkan ilmu silat yang tertera di dalam peta pusaka tersebut. Karena itu, dia berupaya dengan bersungguh hati agar memperoleh peta pusaka itu. Setelah tahu akan jejak Ciok Giok Yin, Cen Siauw Yun memikirkan suatu cara untuk mendekatinya. Memang kebetulan sekali, dia melihat Ciok Giok Yin mendekati mayat orang tua itu. Akan tetapi ketika melihat Ciok Giok Yin begitu tampan dan gagah, bayangan pemuda itu langsung terukir di dalam hatinya.

Maka setelah berhasil mencuri peta pusaka tersebut, Cen Siauw Yun meninggalkan pesan agar Ciok Giok Yin segera berangkat kegunung anya San. Mengenai ini, sudah diceritakan pada bagian atas. Sementara itu, orang tua bongkok yang mengempit Ciok Giok Yin terus melesat pergi laksana

kilat. Berselang beberapa saat, barulah melambankan langkahnya. Sampai di tempat sepi, dia menaruh Ciok Giok Yin ke bawah. Orang tua bongkok itu duduk di samping Ciok Giok Yin. Sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin lekat- lekat, dan kadang-kadang meneguk arak. Sembali menatap dan minum, orang tua bongkok itu pun bergumam.

“Ini hal yang tak mungkin.” Dia meneguk lagi, “Mengapa aku orang tua harus banyak berpikir? Peduli amat dengan dia!” Dia bangkit berdiri, lalu menggeleng-geleng kepala.

“Bocah, hitung-hitung aku lagi sial!” lanjutnya.

Mendadak orang tua bongkok itu melesat pergi, dan sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin siuman. Dia membuka matanya perlahan-lahan, lalu duduk dan menengok ke sana kemari. “Ih! Tempat apa ini?” gumamnya.

Dia masih ingat, ketika berada di luar goa Cian Hud Tong, dia ingin melancarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang jurus pertama Terbang. Namun mendadak merasa matanya berkunang-kunang dan gelap, akhirnya tak tahu apa-apa. Kini dirinya berada di tempat ini, tentunya ada yang menyelamatkannya. Siapa yang menyelamatkannya? Mengapa setelah menyelamatkannya, penolong itu malah tidak kelihatan? Bukankan sungguh aneh sekali?

Tiba-tiba dia teringat akan orang yang membantunya secara diam-diam, apakah dia yang membawanya kemari? Akan tetapi, siapa orang itu? Bagaimana orang itu begitu tahu jelas tentang peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw? Lagipula kelihatan orang itu tahu jelas tentang benda pusaka yang berada di dalam goa Cian Hud Tong, mengapa dia tidak mengambilnya duluan? Di dunia persilatan, masih cukup banyak orang baik, seperti halnya dengan Heng Thian Ceng. Padahal dia dicap sebagai wanita iblis yang sepasang tangannya berlumuran darah, karena banyak membunuh orang. Namun sungguh di luar dugaan, dia malah mau membantu Ciok Giok Yin, itu betul-betul di luar dugaan sama sekali.

Akan tetapi, ketika berada di luar goa Ciang Hud Tong, jarak Heng Thian Ceng dengan dirinya cukup jauh, tentunya tidak mungkin dia yang membawanya kemari. Lagipula kalau dia, tentunya tidak akan pergi begitu saja. Mendadak wajah Ciok Giok Yin tampak berubah, ternyata dia teringat akan satu hal, apakah dia telah membawa pergi benda pusaka itu? Ciok Giok Yin segera merogoh ke dalam bajunya, dan seketika dia berlega hati. Ternyata botol giok kecil itu masih berada di dalam bajunya. Kenapa itu, dia menyesali dirinya sendiri karena terlampau banyak bercuriga, dan diapun merasa tidak pantas mencaci orang yang memanggilnya ‘Si Bodoh’ atau ‘Si Bloon’, sebab orang tersebut pun telah membantunya. Setelah berpikir bolak-balik, Ciok Giok Yin berkesimpulan bahwa bukan Heng Thian Ceng yang berkata lirih menggunakan ilmu Coan Im Jip Kip (Ilmu Mengirim Suara Jarak Jauh)? Lelaki atau wanita dia sama sekali tidak tahu. Kalau ingin membantu, mengapa harus dengan cara bersembunyi-sembunyi? Ciok Giok Yin tidak habis anya, juga tidak menemukan jawabannya. Karena itu, dia tidak mau berpikir lagi, lalu duduk memejamkan mata untuk beristirahat. Padahal sesungguhnya, Ciok Giok Yin tidak menderita luka parah, melainkan waktu itu dia terlampau emosi, dan ingin mengerahkan lwee kang sepenuhnya untuk melancarkan jurus pertama Hong Lui Sam Ciang, sehingga membuat aliran darah dan hawa murninya bergolak, maka membuatnya pingsan. Setelah beristirahat beberapa saat,

diapun sudah pulih seperti semula. Dia bangkit berdiri, ternyata hari sudah gelap.

Saat ini dia sudah tampak segar, harus mencari penginapan untuk bermalam. Oleh karena itu, dia langsung melesat  pergi. Tak seberapa lama, dia melihat lampu gemerlapan, ternyata jauh di depan terdapat sebuah desa kecil. Dia segera

berjalan ke sana, memasuki desa kecil tersebut. Namun samua rumah di desa itu telah tertutup rapat. Ciok Giok Yin menengok kesana kemari, kebetulan melihat seorang nenek tua sedang merapatkan pintu rumahnya. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyapa nenek tua itu dan memberi hormat.

“Nenek Tua, aku sedang melakukan perjalanan. Karena hari sudah malam, bolehkan aku bermalam di sini?”

Nenek tua langsung memperhatikan Ciok Giok Yin dari atas ke bawah.

“Di rumahku tiada kamar, lebih baik kau ke tempat lain.”

Usai menyahut, nenek tua langsung menutup pintu rumahnya.

Namun Ciok Giok Yin segera menjulurkan tangannya untuk mencegah.

“Nenek Tua, rumah orang lain sudah tutup pintu semua, tidak baik aku mengetuk pintu mereka. Esok pagi aku akan bangun pagi dan melanjutkan perjalanan, mohon Nenek Tua sudi menerimaku bermalam di sini!” Nenek tua mengerutkan kening.

“Kami orang desa amat miskin, tidak ada makanan untukmu. Kelihatannya kau juga orang desa, tentunya tahu tentang ini.”

Ciok Giok Yin tertawa dalam hati, sebab nenek tua mengiranya orang desa, tentunya tidak mampu memberi sedikit imbalan padanya. Dia tersenyum, kemudian mengeluarkan dua tael perak.

“Nenek Tua, dua tael perak ini untuk biayaku bermalam di sini.”

Ketika melihat uang perak, nenek tua langsung terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

“Nak, tidak usah begitu banyak, masuklah!”

Dia menjulurkan tangganya mengambil uang perak itu, sedangkan Ciok Giok Yin melangkah ke dalam. Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, tampak rumah itu tidak karuan. Keadaan itu membuat Ciok Giok Yin teringat akan pengalamannya setahun yang lalu. Setiap hari Cuma minum susu bumi, tidak pernah menikmati makanan lain. Oleh karena itu, dia merasa iba pada nenek tua. Dia mengeluarkan dua tael perak lagi dan dibagikan kepada nenek tua. Tentu saya nenek tua itu terbelalak, tidak berani mengambil uang perak itu.

Lagipula dia tidak menyangka Ciok Giok Yin begitu royal. Ciok Giok Yin tersenyum.

“Nenek Tua, ambillah!”

Dengan tangan gemetar nenek tua mengambil uang perak itu. “Nak, duduklah, aku akan menanak nasi dulu!”

“Nenek Tua, cukup berikan aku air minum. Aku membawa makanan kering!”

Nenek tua cepat-cepat mengambil air minum. “Nak, kau tidur saja di kamar anakku yang tak berguna itu!”

Kemudian nenek tua membawa Ciok Giok Yin ke dalam. Setelah Ciok Giok Yin masuk ke kamar itu, barulah nenek tua pergi. Ciok Giok Yin mengeluarkan makanan kering yang didbawanya. Setelah makan dan minun, dia naik ke tempat tidur, namun setelah dia baru mau duduk bersemadi, tiba-tiba teringat akan benda pusaka yang disambilnya dari Goa Cian Hud Tong. Dia langsung mengeluarkan botol giok kecil itu dari dalam bajunya rela berkorban nyawa demi benda pusaka tersebut?

Dia membuka tutup botol giok kecil itu, dan seketika tercium aroma yang amat harus sekali. Hati Ciok Giok Yin bergerak dan terheran-heran. Dia menuang botol giok kecil itu dan tertuanglah sebutir pil dan segulung kertas kecil, tidak terdapat benda lain.

Ternyata pit itu dibuat dari lilin. Ciok Giok Yin memecahkan lilin itu, ternyata di dalamnya terdapat sebutir obat yang gemerlapan bagaikan mutiara. Ciok Giok Yin segera membuka gulungan kertas itu dan dibacanya. Pada kertas itu tertera beberapa huruf yang berbunyi ‘Pil Api Ribuan Tahun’ Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, sehingga nyaris tertawa terbahak-bahak, Pit itu diperhatikan sejenak, lalu

ditelannya. Begitu Ciok Giok Yin menelan pil tersebut tenggorokannya terasa nyaman sekali. Dia tahu siapa yang makan pit itu. Lwee kangnya pasti bertambah tinggi. Karena itu, dia cepat-cepat duduk bersemedi menghimpun hawa murninya. Berselang beberapa saat, dia merasa sekujur badannya amat panas, sehingga keningnya mengucurkan keringat.

Dia cepat-cepat menghimpun hawa murninya untuk mendorong hawa panas itu ke dalam aliran darahnya. Tak seberapa lama kemudian, rasa panas itu mulai sirna. Dia membuka matanya. Badannya terasa segar dan nyaman, bahkan merasa jalan darah Lang Tay Hiatnya bercahaya- cahaya. Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, karena ada tanda-tanda lwee kangnya sudah bertambah tinggi. Kini dia membaca lagi tulisan di kertas itu. Ternyata di balik kertas itu masih terdapat beberapa baris kelimat berbunyi demikian. Pil Api Ribuan Tahun ini berasal dari seekor kura-kura api ribuan tahun yang hidup di sumber susu bumi. Setiap hari kura-kura itu Cuma minum susu bumi.

Setiap seratus tahun kura-kura itu muncul satu kali, pada waktu tertentu untuk mengisap energi matahari, lalu kembali ke sumber susu bumi. Pil Api Ribuan Tahun ini, dibuat dari mutiara kura-kura api. Sebelum memperoleh ikan mas dari telaga dingin, lebih baik disimpan, agar dapat dimakan bersama ikan mas dari telaga dingin. Apalagi tidak dimakan bersama ikan mas dari telaga dingin, maka orang yang makan pil tersebut akan mati terserang hawa panas. Seandainya tidak mati, juga akan merusak hawa Yang yang dimiliki lelaki….

Membaca sampai di situ, Ciok Giok Yin langsung mengucurkan keringat dingin, sebab dia mengerti ilmu pengobatan, maka tahu apa akibatnya kalau hawa Yang lelaki rusak, itu berarti tidak dapat berhubungan intim dengan kaum wanita. Apabila dapat, juga akan menghisap hawa Im wanita hingga wanita itu mati.

Kalau begitu, gadis mana yang akan menikah dengannya? Keringat dingin terus merembes ke luar dari keningnya.

Kemudian dia membaca lagi. Setelah makan pil ini harus

mencari kitab Im Yang Ceng Koy (kitab Penjelasan Im Yang), barulah dapat melaksanakan hubungan suami isteri, dan tidak cukup satu dua wanita. Ingat, ingat baik-baik! Di bawah tertulis nama Ciak Hui Sianjin. Usai membaca, pakaian Ciok Giok Yin basah oleh keringat. Ternyata tadi dia belum membaca habis semua tulisan yang terdapat di kertas itu, langsung menelan Pil Api Ribuan Tahun itu, maka jadi begini. Saking menyesalnya Ciok Giok Yin berkertak gigi, kemudian menghela nafas panjang.

“Bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?” gumamnya.

Dia tidak dapat seumur hidup tidak menikah, sebab dia harus punya isteri, namun juga tidak boleh mencelakai anak gadis orang. Mendadak dia teringat akan kitab Im Yang Ceng Koy, tapi harus ke mana mencari kitab tersebut? Lagi pula kitab tersebut dapat akan dipelajari oleh kaum golongan hitam, sedangkan kaum golongan putihan, tentu tidak akan menyimpan kitab

itu. Semakin berpikir, hatinya menjadi semakin kacau. Akhirnya dia turun dari tempat tidur, lalu berjalan mondar- mandir di dalam kamar itu.

“Bagaimana mungkin diriku akan dicelakai oleh Pil Api Ribuan Tahun ini? Sungguh tak masuk akal!” gumamnya.

Seandainya Ciok Giok Yin tidak pernah berlatih Sam Yang Hui Kang, dan juga tidak pernah berlatih di dalam sumur Susu Bumi serta di atas Batu Api, mungkin saat ini dia sudah membujur menjadi mayat. Ternyata di dalam tubuhnya sudah terdapat hawa panas yang berasal dari Sam Yang Hui Kang, Sumur Susu Bumi dan Batu Api, maka tubuhnya masih dapat menahan hawa panas dari Pil Api Ribuan Tahun tersebut. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu akan hal itu maka tidak mengherankan kalau hatinya menjadi kacau dan

berduka. Berselang sesaat, kelihatannya hatinya bertambah kacau. Akhirnya dia memasukkan botol giok kecil dan kertas itu ke dalam bajunya. Tiba-tiba dia mendengar suara desiran di luar rumah sepertinya suara desiran pakaian yang terhembus.

Hatinya tersentak dan dia langsung mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian sambil mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa di desa kecil ini akan muncul pesilat tinggi. Tak seberapa lama kemudian terdengar suara seruan kasar di luar rumah.

“Buka pintu! Buka pintu! Buka pintu!”

Terdengar suara seruan itu tiga kali, dan itu menimbulkan rasa kesal dalam hati Ciok Giok Yin. Apabila mereka ternyata orang jahat, aku pasti membunuh mereka untuk melampiaskan kekesalan dalam hatiku! Kata Ciok Giok Yin dalam

hatinya. Berselang beberapa saat, terdengar suara nenek tua.

“Nak, mengapa kau pulang larut malam? Sebetulnya kau pergi ke mana setiap hari? Tidak pedulikan soal makan ibu….! Kemudian terdengar suara pintu dibuka, yang disusul oleh suara kasar.

“Kau memang harus mati kelaparan!”

Mendengar kata-kata itu wajah Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi dingin. Tak disengaja ada anak begitu kurang ajar dan tak berbakti kepada orang tua.

“Nak, jangan berisik!” kata nenek tua.

“Lho? Kenapa? Memang aku tidak boleh bicara? Apakah kau sudah begitu tua masih punya lelaki simpanan? Biar kulihat siapa dia!”

“Binatang! Kau berani bicara sembarangan!” “Kalau begitu, kenapa?”

“Tadi ada seorang pemuda anya kemari untuk bermalam, dia tidur di dalam kamarmu, jangan membuatnya terbangun!” kata nenek tua.

“Pemuda?”

“Ng!”

“Bagaimana rupanya?”

“Pakaiannya sederhana, kelihatannya seperti pemuda desa, namun amat tampan sekali. Dia bermalam di sini, tadi dia memberi ibu lima tael perak, lihatlah!”

Mendadak lelaki itu merendahkan suaranya. “Aku lihat sebentar.”

Lelaki itu menerobos ke dalam, Ciok Giok Yin langsung meloncat ke tempat tidur, lalu berbaring. Dia ingin melihat siapa lelaki itu, dan mempunyai maksud apa. Pintu kamar itu terdorong perlahan-lahan, kemudian tampak seorang lelaki berwajah kasar melangkah ke dalam, dan langsung mendekat tampak tidur. Ciok Giok Yin yang pura-pura tidur itu mengerutkan kening, ternyata dia tahu lelaki itu memiliki ilmu ginkang yang cukup lumayan.

Dia tetap tidak bergerak terus berbaring di tempat tidur. Tiba- tiba sepasang mata lelaki itu menyorot aneh, dan dia langsung menerjang kearah Ciok Giok Yin.

“Bocah! Ternyata kau berada di sini! Cepat serahkan benda pusaka yang kau ambil dari Goa Cian Hud Tong!” bentaknya.

Gerakan lelaki itu cukup cepat. Namun Ciok Giok Yin cepat- cepat membalikkan badannya sambil mencelat ke atas, sekaligus menjulurkannya mencengkeram lengan lelaki itu.

“Siapa kau?” bentaknya.

Sekujur badan lelaki itu terasa semutan, sama sekali tidak mampu bergerak lagi.

Karena lelaki itu diam saja, maka Ciok Giok Yin mengerahkan tangannya seraya membentak.

“Cepat katakan!”

Bukan main sakitnya lengan lelaki itu! Keringat dinginnya mulai merembes ke luar dari keningnya dan dia menjerit-jerit.

“Aduh! Aduuuh…!”

Saat ini nenek tua telah mendengar suara anaknya, maka segera menghambur ke kamar itu.

Begitu melihat keadaan di dalam kamar, bukan main terkejutnya nenek itu..

“Kenapa? Cepat lepaskan tanganmu!” serunya gugup. Nenek tua sama sekali tidak menyangka, bahwa pemuda tampan itu mempunyai kemampuan begitu hebat, dapat menundukkan anaknya, maka tidak mengherankan kalau nenek tua tampak begitu gugup dan kaget.

Lelaki itu berkertak gigi menahan sakit. “Tidak ada urusanmu….”

Tidak menunggu dia usai berkata, Ciok Giok Yin sudah menambah tenaganya hingga enam bagian.

Setelah itu, barulah melepaskan tangannya. Lelaki itu langsung roboh dengan wajah pucat pias.

Ketika melihat anaknya roboh tak berkutik di lantai nenek tua berteriak histeris. Namun ketika dia mau mendekati anaknya Ciok Giok Yin bergerak cepat menarik tangannya.

“Nenek Tua, tidak usah cemas! Tidak lama lagi dia akan siuman.”

Berselang beberapa saat, lelaki itu membuka matanya perlahan-lahan, lalu berlutut di hadapan Ciok Giok Yin.

“Namaku Kwee Liok!”

Ciok Giok Yin menatapnya gusar.

“Dari mana kau tahu tentang urusan Goa Cian Hud Tong?” bentaknya.

Kwee Liok mengusap lengannya yang masih terasa sakit, lalu menyahut.

“Aku dengar dari orang-orang Uah Hoa Po (Wisma Harimau).” “Uah Hoa Po?’

“Ya!” “Dimana wisma itu?’

Ternyata di dalam kitab tipis peninggalan Sang Ting It Koay juga mencantum nama wisma tersebut.

Majikan Uah Hoa Po adalah Hui Pian (Cambuk Terbang) Ma Khie Ou. Dia termasuk salah satu Kang Ouw Pat Kiat yang sedang dicari Ciok Giok Yin. Kini dia mendengar dari mulut Kwee Liok berpikir sejenak, kemudian baru menyahut.

“Dari sini seratus mil kearah barat, “ Ciok Giok Yin membentak lagi.

“Dari tingkah lakumu, sudah dapat dipastikan kau seorang penjahat! Kalau aku tidak memandang muka ibumu, kau sudah kubunuh! Mulai sekarang kau harus baik-baik, dan berbakti pada ibumu! Kalau tidak, kelak bertemu berarti tamat riwayatmu!”

Kwee Liok manggut-manggut. “Ya! Ya! Ya….”

Mendadak badan Ciok Giok Yin bergerak, tahu-tahu dia telah melesat pergi meninggalkan rumah itu. Nenek tua dan Kwee Liok terbelalak, dan lelaki itu merasa bersyukur karena Ciok Giok Yin tidak turun tangan jahat padanya Sementara Ciok Giok Yin terus melesat, bagaikan panah terlepas dari

busur. Hati Ciok Giok Yin, terasa amat duka dan tersiksa karena dia telah menelan Pil Api Ribuan Tahun. Yang membuatnya menyesal lantaran tidak membaca kertas itu terlebih dahulu. Berselang sesaat Ciok Giok Yin menghentikan langkahnya berdiri di atas sebuat batu besar dan menengok ke sana kemari.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring di tempat jauh. Ciok Giok Yin dapat memastikan, suara bentakan itu berjarak kira-kira beberapa mil. Hatinya sedang kacau.

Sebetulnya dia tidak mau mencampuri urusan orang lain. Namun timbul rasa heran dalam hatinya, sehingga tak kuasa menahan sepasang kakinya yang ingin melangkah ke tempat itu. Karena itulah, dia langsung melesat ke sana. Tak seberapa lama, dia telah tiba di tempat itu. Tampak enam orang tosu tua, sedang mengeroyok seorang gadis. Mereka bertarung dengan seru sekali. Pakaian gadis itu, sudah berlumuran darah. Kelihatannya keenam tosu tua itu ingin membunuh gadis tersebut.

Mereka berenam menggunakan pedang, mengeluarkan jurus- jurus pedang yang mematikan. Gadis itu berkepandaian cukup tinggi, namun dikeroyok begitu banyak orang, membuatnya kewalahan juga, pukulan-pukulan yang dilancarkannya mulai tidak karuan. Sekonyong-konyong gadis itu menjerit, mulutnya menyembur darah segar, dan badanya sempoyongan.

Menyusul ialah seorang tosu tua melancarkan sebuah pukulan kearah gadis itu, membuat gadis itu terpental beberapa depa lalu roboh di tanah. Lima tosu lainnya langsung menyerangnya dengan pedang, kelihatannya gadis itu akan mati di ujung pedang mereka.

Mendadak terdengar suara bentakan mengguntur.

“Kalian tosu-tosu bau, berani berbuat sewenang-wenang!”

Ternyata yang membentak itu adalah Ciok Giok Yin. Dia amat gusar melihat keenam tosu itu mengeroyok seorang gadis, bahkan ingin membunuhnya. Kemunculan Ciok Giok Yin yang tak terduga itu, amat mengejutkan keenam tosu itu.

“Siapa kau?” bentak mereka dengan serentak. “Ciok Giok Yin!”

Mendadak Ciok Giok Yin melancarkan beberapa pukulan kearah mereka. Ternyata dia amat gusar terhadap keenam tosu tersebut.

Keenam tosu itu langsung menangkis, lalu balas menyerang dengan pedang. Kegusaran Ciok Giok Yin mulai memuncak, maka dia melancarkan pukulan dengan sekuat tenaga. Salah seorang tosu menjerit dan langsung roboh tak berkutik. Di saat bersamaan, Ciok Giok Yin terkejut karena melihat gadis itu masih mengeluarkan darah. Dia langsung melancarkan beberapa pukulan dahsyat, untuk mendesak mundur mereka. Kemudian dia melesat kearah gadis tersebut. Wajahnya memang cantik, namun karena telah terluka, maka tampak pucat pias. Nafasnya sudah lemah sekali, kelihatannya sedang sekarat.

Karena itu, Ciok Giok Yin segera mencari tempat sepi, untuk mengobati luka gadis itu. Mendadak dia melihat sebuah papan di hadapannya. Pada papan itu terdapat tulisan berbunyi ‘siapa masuk pasti mati!’ Tempat apa ini? Mengapa terdapat tulisan yang amat tak masuk akal di situ? Ciok Giok Yin berpikir sambil mendengus dingin. “Hm! Aku justru ingin masuk, ingin tahu mati atau tidak!”

Sifat aneh Sang Ting It Koay memang telah menular pada dirinya. Dia mengempit gadis itu dengan sepasang mata menyorot tajam, kemudian berjalan ke dalam. Baru berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara bentakan di depan.

“Bocah! Kalau kau berani maju lagi, pasti mati tanpa kuburan!”

Ciok Giok Yin tidak menghiraukan bentakan itu, melainkan terus melangkah maju. Di saat bersamaan, terasa serangan bagaikan gelombang laut menerjang kearah dirinya. Ciok Giok Yin segera berkelit sambil membentak keras.

“Tunggu!”

Dia memandang ke depan, tampak seorang tua berambut putih menghadang di sana. Di sisi orang tua itu berdiri seorang pemuda berusia tujuh belasan, sepasang matanya menyorot penuh kegusaran. Orang tua itu berkata dengan suara dalam.

“Kau melihat tulisan di papan itu?” kata orang tua itu dengan suara dalam.

“Lihat!” “Kalau sudah lihat, mengapa kau masuk masuk?” “Tidak salah!”

“Tahukah kau tempat apa ini?” “Tempat apa ini?”

“Ini tempat Bwee Cuang (Perkampungan Bwee) yang tersembunyi!”

“Apakah Bwee Cuang ini terlarang untuk orang luar?’ “Betul!” Sepasang mata orang tua itu menyorot bengis. “Kau

harus segera mundur! Mengingat usiamu masih muda, aku mengampuni nyawamu!” bentaknya keras.

“Kau melihat orang akan mati, tidak mau tolong sama sekali?’ sahut Ciok Giok Yin gusar.

“Aku tidak peduli kalian akan mati atau tidak!” “Adikku terluka oleh para penjahat, aku harus segera

mengobatinya! Maka aku memberanikan diri memasuki daerah

ini, Cuma bermohon berteduh beberapa saat!” “Sesaat pun tidak boleh!” kata orang tua itu ketus.

Kegusaran Ciok Giok Yin memuncak, akan wajahnya berubah dingin.

“Aku sudah memutuskan itu!” “Aku akan menyuruhmu mampus!” “Tidak begitu gampang!”

Ciok Giok Yin yang mengempit gadis itu, mulai mengayunkan kakinya. Akan tetapi, orang tua itu sudah menyerang dengan sebuah pukulan. Ciok Giok Yin berkelit, sambil berkata membentak. “Mohon katakan siapa Anda!”

“Pak Hoat (Si Rambut Putih) Ong Tan Hiatt!” sahut orang tua itu kemudian membentak keras. “Bocah, kalau kau mampu menyambut sebuah pukulan, aku akan mengizinkanmu tinggal setengah hari di sini!”

Dia langsung melancarkan sebuah pukulan kearah Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya, sekaligus mengerahkan hawa murninya untuk melindungi badannya.

“Bum!”

Ciok Giok Yin betul-betul menyambut pukulan yang dilancarkan orang tua itu.

Tampak badannya terhuyung-huyung delapan langkah, kemudian kembali berdiri tegak.

“Uaaaakh!”

Namun dia memuntahkan darah segar.

“Perkataanmu tadi masuk hitungan tidak?” bentaknya. “Tentu! Setengah hari kemudian, kalian harus meninggalkan

tempat ini! Kalau tidak, lohu pasti membunuh kalian berdua!” sahut Ong Tan Hian.

Orang tua berambut putih itu menoleh memandang pemuda yang berdiri di sisinya.

“Bawa dia ke dalam!”

Setelah berkata, Pek Hoat-Ong Tan Hian langsung melesat ke dalam.

Sedangkan pemuda berbaju hijau itu langsung membawa Ciok Giok Yin yang mengempit gadis itu ke dalam. Tak seberapa lama, tampak sebidang taman yang penuh dengan bunga Bwee. Bukan main harumnya tempat itu!

Setelah melewati taman bunga Bwee, terlihat pula beberapa rumah gubuk.

Sementara pemuda berbaju hijau itu tetap tidak bersuara. Begitu pula Ciok Giok Yin, Cuma mengikuti pemuda berbaju hijau ke dalam salah sebuah gubuk.

Ciok Giok Yin menaruh gadis itu ke atas ranjang, kemudian mengeluarkan sebutir pil Giok Ju, dan dimasukkan ke mulutnya.

Setelah itu, dia pun memoleskan obat Ciak Kim Tan pada luka-luka bekas pedang di badan gadis itu, lalu menotok beberapa jalan darahnya.

Berselang beberasa saat, wajah gadis itu mulai tampak kemerah-merahan, dan nafasnya pun mulai normal.

Ciok Giok Yin tahu, bahwa gadis itu sudah mulai siuman. “Nona, aku akan membantumu dengan lwee kang,” katanya

dengan suara ringan.

Dia duduk di belakang gadis itu, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung gadis tersebut. Setelah itu dia mulai menyalurkan lwee kang untuk mengobati luka yang diderita gadis tersebut.

Sedangkan gadis itupun mulai menghimpun hawa murninya. Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin berkata.

“Nona boleh turun menghimpun hawa murni, agar lukamu cepat sembuh!”

Mendadak terdengar suara percakapan di luar gubuk. “Dia telah melukai tiga orang Go Bi Pay, bagaimana aku melepaskannya? Lagipula dia membawa pergi gadis busuk perkumpulan Sang Yen Hwee itu!”

“Tidak dapat. Aku telah mengabulkannya tinggal di sini setengah hari.”

Itu adalah suara Pek Hoat-Ong Tan Hian. Menyusul terdengar suara yang bernada gusar. “Apakah kau tidak tahu aturan sama sekali?” “Lalu kau mau apa?”

“Perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menguasai rimba persilatan. Sedangkan gadis busuk itu adalah perintis perkumpulan Sang Yen Hwee, menyelidiki, kesana kemari, lagi pula pemuda itupun bukan orang baik!”

Hening sejenak, setelah itu terdengar lagi suara orang itu melanjutkan. “Kau menyembunyikan orang perkumpulan Sang Yen Hwee, pasti mereka tidak akan melepaskanmu!”

“Jangan banyak bicara di sini! Kalau kalian masih tidak mau pergi, lohu akan mencabut nyawa kalian!”

Suasana di luar gubuk itu berubah menjadi hening sekali. Rupanya orang-orang itu telah pergi.

Sedangkan Ciok Giok Yin menoleh, memandang gadis itu dengan bengis dan wajahnyapun penuh diliputi hawa membunuh.

Mendadak suara Tiong Ciu Sin Ie mengiang lagi di telinganya. “Nak, ilmu pengobatan tidak membedakan orang jahat maupun orang baik. Menolong orang adalah perbuatan bajik. Lain urusan dengan masalah dendam, jangan dicampur adukkan….”

Walau suara itu masih mengiang di telinganya, namun orang yang berkata itu telah tiada. Saat ini, kegusaran Ciok Giok Yin menjadi reda.

Kebetulan gadis itu mulai membuka matanya, lalu segera meloncat turun dari ranjang, dam memberi hormat kepada Ciok Giok Yin.

“Terimakasih atas pertolongan Anda!” ucapnya.

Ciok Giok Yin amat membenci orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee, baik lelaki maupun wanita, maka dia Cuma mendengus dingin.

“Hmm!”

Setelah itu, dia berkata.

“Nona, aku menolong karena ingin mengobatimu! Kelak kita berjumpa kembali, aku tidak akan mengampuni kalian orang- orang perkumpulan Sang Yen Hwee!”

Usai berkata, Ciok Giok Yin lalu melesat keluar.

Gadis itu tertegun. Kemudian dia jug melesat ke luar mengejarnya, namun Ciok Giok Yin telah melesat jauh.

Ternyata ginkang gadis itu juga tidak lemah, dia terus melesat mengejar Ciok Giok Yin, dan tak seberapa lama kemudian jarak mereka hanya sepuluh depaan.

Mendadak gadis itu membentak. “Berhenti!”

Suara bentakan gadis itu seakan memiliki suatu kekuatan, membuat Ciok Giok Yin langsung berhenti, tapi tidak membalikkan badannya.

“Ada urusan apa?” katanya dengan dingin. Gadis itu melangkah maju sambil menyahut. “Memang tidak salah aku orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, tapi aku tidak ada permusuhan apa-apa denganmu!

Kenapa kau bersikap demikian terhadap seorang anak gadis? Apakah itu termasuk perbuatan orang gagah?”

“Aku punya dendam dengan perkumpulan Sang Yen Hwee!” kata Ciok Giok Yin dengan sengit.

Usai berkata, barulah Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Seketika hatinya berdebar-debar tidak karuan, ternyata gadis itu amat cantik sekali.

“Tapi aku tidak punya dendam denganmu!” bentak gadis itu. “Benar!”

“Kalau begitu, mengapa sikapmu sedemikian kasar terhadapku?”

Ciok Giok Yin terdiam.

Padahal sesungguhnya tidak semua orang perkumpulan Sang Yen Hwee itu jahat. Lagipula dia memang tidak punya dendam dengan gadis tersebut. Lalu mengapa harus bersikap sedemikian kasar terhadapnya? Ini sungguh tidak pantas!

Tiba-tiba gadis itu mengucurkan air mata, dan berkata perlahan-lahan.

“Tuan, kau punya dendam dengan perkumpulan Sang Yen Hwee, itu adalah urusanmu. Namun kau menyelamatkan nyawaku, itu merupakan budi yang amat besar. Bolehkah kau memberitahukan namamu?”

Akan tetapi, mendadak tampak sesosok bayangan merah berkelebat lalu menghilang.

Air muka gadis itu langsung berubah, dan dia segera melesat ke dalam rimba, Ciok Giok Yin tertegun. Dia tidak habis anya, mengapa gadis itu melesat pergi mendadak? Apakah dia melihat sesuatu di sana?

Tiba-tiba Ciok Giok Yin teringat sesuatu. “Apakah dia?” serunya tanpa sadar.

Ketika dia baru mau melesat ke sana, sekonyong-konyong tampak sosok bayangan putih, yang disusul oleh suara bentakan.

“Siapa?”

Ciok Giok Yin membelalakkan matanyaa. Sosok bayangan putih itu ternyata Yap Ti Hui.

Wajahnya yang buruk itu tampak dingin sekali, terus menatap Ciok Giok Yin dengan tanpa perasaan. Ciok Giok Yin segera menjura.

“Terimakasih Nona telah menolongku beberapa kali,” ucapnya. “Gadis itu cantik sekali, siapa dia?” anya Yap Ti Hui.

Pernyataan itu membuat Ciok Giok Yin menjadi serba salah dan merasa jengah.

“Dia… dia adalah orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee,” sahutnya gagap.

Yap Ti Hui tertawa terkekeh.

“Gadis yang begitu cantik, dengan perkataannya, tentunya kau akan tertarik bergabung dengan perkumpulan Sang Yen Hwee, tak disangka kau akan punya tulang punggung itu!”

“Harap Nona bicara sopan sedikit!” “Apakah salah perkataanku?”

Ciok Giok Yin mulai gusar. “Sungguh keterlaluan!” sahutnya dingin. Yap Ti Hui tertawa cekikikan lagi.

“Mengapa harus gusar? Kalau kesehatanmu terganggu, tiada yang akan merawatmu lho! Menurutku, kau memang serasi dengan dia! Sungguh merupakan pasangan yang ideal! Peduli amat dengan permusuhan itu, lebih baik kalian….

Yan Ti Hui tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Ciok Giok Yin sambil tertawa cekikikan lagi.

Itu membuat sepasang mata Ciok Giok Yin menjadi membara. “Kedatangan Nona Cuma untuk mengejek diriku?” bentaknya. “Tidak bermaksud begitu, Cuma….”

“Cuma apa?”

“Kau sudah memperoleh benda pusaka dari Goa Cian Hud Tong itu?”

“Tidak salah!”

Sepasang bola mata Yap Ti Hui berputar. “Serahkan padaku!”

“Apa yang diserahkan?”

“Benda pusaka itu!”

Ternyata kemunculan Yap Ti Hui hanya demi benda pusaka tersebut, oleh karena itu, Ciok Giok Yin tertawa dingin.

“Benda pusaka itu memang ada di tanganku! Kalau Nona punya kepandaian, silakan ambil!” “Kau kira aku tidak mampu?” “Aku tidak bilang begitu!” Yap Ti Hui mendengus.

“Hmm!” dia menatap Ciok Giok Yin. “Kini aku ada sedikit urusan penting, lain hari aku pasti kemari mengambilnya!”

Badan Yap Ti Hui bergerak, dia sudah melesat beberapa depa, lalu masuk ke dalam rimba.

Ciok Giok Yin menggeleng-geleng kan kepala. Ketika dia baru mau melesat pergi, mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.

“Tunggu!”

Begitu mendengar suara tersebut, merindinglah sekujur badan Ciok Giok Yin.

“Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)!” serunya tanpa sadar. “Betul.”

“Mohon anya ada petunjuk apa?”

Ternyata hingga kini, Ciok Giok Yin tetap menganggap Orang Dalam Kuburan adalah sesosok arwah.

Walau dia tahu Bok Tiong Jin berada di belakangnya, namun dia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.

Sebab dia telah dihantui oleh cerita kakek tua berjenggot putih, bahwa hantu wanita amat menyeramkan. Rambut panjang, kukunya panjang dan lidahnya pun panjang berdarah. Maka, dia tidak berani menoleh ke belakang untuk melihat hantu wanita tersebut.

“Aku Cuma mengingatkan janjimu,” kata Bok Tiong Jin. “Aku tidak akan lupa.”

“Syukurlah begitu! Namun hatimu sudah mulai menerawang.” “Maksudmu?”

“Kau berjumpa satu, menyukai satu.” “Siapa?”

“Gadis berbaju hijau yang kau tolong itu.”

Ciok Giok Yin memang terkesan baik terhadap gadis tersebut, walaupun dia orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, karena dia terhadap Ciok Giok Yin, sama sekali tidak berniat jahat.

Akan tetapi, mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Bun It Coan yang dicelakai oleh ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, bernama Lan-Lan. Seketika itu juga hatinya tersentak.

“Aku punya dendam terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee. Meskipun gadis itu secantik bidadari, tetap tidak dapat menggerakkan hatiku. Aku berjumpa satu, pasti membunuh satu. Berjumpa dua, pasti membunuh dua.”

“Sungguh enak didengar!” “Pasti kubuktikan kelak!”

“Urusan kelak tidak dapat dipastikan sekarang, namun yang jelas, aku pasti mengambil hatimu itu kelak.”

Seketika Ciok Giok Yin merinding. “Sungguhkah kau ingin mencabut nyawaku?” “Aku memang bermaksud demikian.”

“Saat ini masih bermaksud demikian.” “Saat ini masih banyak urusan yang harus kuselesaikan. Setelah semua urusan beres, kalau kau menghendakiku menemanimu di alam baka, aku pasti tidak akan menyayangi nyawaku ini. Tentunya aku akan ke kuburan itu untuk menyerahkan nyawaku padamu.”

“Tahukah kau di mana kuburanku?”

“Tempat kau memusnahkan racun ular emas itu.” “Jangan ingkar janji!”

“Tentu.”

Terdengar desiran anya, lalu suasana tempat di tempat itu berubah menjadi hening. Kini Ciok Giok Yin baru berani membalikkan badannya perlahan-lahan. Ternyata Bok Tiong Jin telah pergi, tidak tampak seorangpun di tempat itu. Kini dia bertambah yakin, bahwa Bok Tiong Jin itu adalah arwah, sebab desiran anya tadi telah membuktikan itu. Bagaimana mungkin Ciok Giok Yin berani lama-lama di tempat itu? Dia langsung melesat pergi. Tak seberapa lama, dia sudah sampai di sebuah kota kecil.

Karena sudah mendekati tahun baru imlek, maka tidak mengherankan kalau kota itu ramai sekali, penuh sesak dengan orang berbelanja untuk merayakan tahun baru Imlek. Agar tidak mengagetkan orang, Ciok Giok Yin berjalan perlahan- lahan memasuki kota itu. Tanpa sengaja dia melihat pakaiannya sudah lusuh. Seketika dia berpikir. Mengapa aku tidak membeli satu stel pakaian baru? Karena itu, dia masuk ke sebuah dapat pakaian, membeli satu stel pakaian baru warna biru laut dan sebuah topi bulu. Setelah mengenakan pakaian baru dan memakai topi baru, kini dia tidak mirip pemuda desa lagi, melainkan menyerupai seorang sastrawan muda yang amat tampan.

Sudah barang tentu dia amat menarik perhatian para gadis kota itu. Mereka mengerlingnya sambil tersenyum-senyum. Bahkan di antara gadis-gadis itu ada juga yang berani mengedipkan matanya kearah Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin Cuma mengangkat bahunya. Ciok Giok Yin memasuki sebuah rumah makan, kebetulan dia melihat seorang tua bersama seorang gadis sedang memasuki rumah makan itu juga. Kelihatannya mereka berdua adalah tamu yang sedang dalam perjalanan. Gadis berbaju ungu itu melirik Ciok Giok Yin, dan wajahnya langsung tampak kemerah-merahan. Beberapa langkah kemudian, gadis berbaju ungu itu melirik Ciok Giok Yin lagi, air mukanya agak serius, namun Cuma sekilas. Orang tua itu Cuma membeli seguci arak, lalu meninggalkan rumah makan tersebut. Gadis berbaju ungu terpaksa segera mengikutinya pergi namun sempat melirik lagi kearah Ciok Giok Yin. Apa yang sedang dipikirkan gadis berbaju ungu itu, tiada seorangpun tahu, kecuali dirinya sendiri.

Sedangkan Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis berbaju ungu itu memperhatikannya. Memang harus diakui, gadis itu sungguh cantik dan tampak kalem dan alim Dari sikap dan gerak geriknya, Ciok Giok Yin tahu bahwa gadis berbaju ungu itu berkepandaian tinggi, begitu pula lwee kangnya. Secara tidak langsung, wajah gadis berbaju ungu itu telah terukir dalam hati Ciok Giok Yin. Namun mereka berdua Cuma kebetulan bertemu, maka terkesan baik juga tiada artinya. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, kemudian duduk sekaligus memesan beberapa macam hidangan. Seusai makan dan membayar makanan pesanannya barulah Ciok Giok Yin berkata dalam hati. ‘Suhu, tenanglah hatimu! Murid akan pergi membunuh musuh suhu itu. Mereka harus membayar dengan nyawa!”

Setelah berkata dalam hati, sepasang matanya memancarkan sinar yang berapi-api. Mendadak tampak dua sosok bayangan melesat cepat dari arah depan, Ciok Giok Yin menyingkir ke samping, agar kedua orang itu lewat. Akan tetapi, kedua orang itu malah berhenti di hadapan Ciok Giok Yin dengan nafas tersengal-sengal. Mereka bedua terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.

Kedua orang itu masih muda dan cukup tampan. Namun wajah mereka berdua tampak agak gugup.

Itu membuat Ciok Giok Yin agak tercengang.

“Mohon tanya pada Anda berdua, ada urusan apa?” katanya sambil menjura.

“Maaf, bolehkan kami tahu nama Anda?” salah seorang dari mereka balik bertanya.

“Namaku Ciok Giok Yin.” “Ciok Giok Yin?”

“Ya.”

“Bagus sekali!” “Maksud Anda?”

Pemuda itu maju dua langkah.

“Kami dengar Anda berkepandaian tinggi sekali, Cuma seorang diri, Anda menyerbu ke kuil Put Toa Si, sehingga amat mengejutkan Kang Ouw Pat Kiat. Aku amat kagum sekali dan ingin berkenalan.”

Mendengar ucapan pemuda itu, wajah Ciok Giok Yin pun jadi agak kemerah-merahan. “Saudara terlampau memuji. Aku belum tahu nama Saudara berdua”

“Namaku Khouw Yun Yong,” sahut pemuda itu lalu menunjukkan pemuda yang berdiri di sampingnya. “Dia adik angkatku bernama Feng Jauw Cang.”

Selama ini, Ciok Giok Yin tidak pernah bergaul dengan pemuda seusia mereka. Ketika berkelana dalam rimba persilatan, dia berjumpa Bun It Coan, dan mereka berdua menjadi teman. Akan tetapi, baru berbicara sejenak, Bun It Coan sudah mati, membuat Ciok Giok Yin amat sedih. Kini dia berjumpa dua pemuda yang cukup tampan, maka hatinya amat girang.

“Ooooh, ternyata saudara Khouw dan saudara Fang.” Dia memandang kedua pemuda itu. “Mengapa kalian begitu terburu-buru melakukan perjalanan?” Khouw Yun Yong menghela nafas panjang.

“Aaaaah! Saudara Ciok, tadi kami berdua berjumpa tiga penjahat. Mereka bertiga menghadang kami dan melontarkan kata-kata kasar…” wajah pemuda itu tampak kemerah- merahan.

“Lalu bagaimana?” anya Ciok Giok Yin.

Khouw Yun Yong menggeleng-gelengkan kepala. “Sulit kukatakan.”

“Tidak jadi masalah.”

Khouw Yun Yong manggut-manggut.

“Ketika penjahat itu kelihatannya ingin menghina kami. Mereka bertiga langsung menyerang kami dengan maksud menangkap kami berdua….”

Mendengar penuturan Ciok Giok Yin amat gusar. “Sungguh keterlaluan ketiga penjahat itu, kemudian

bagaimana?”

Khouw Yun Yong melirik Feng Jauw Cang sejenak, setelah itu baru menyahut perlahan.

“Tentunya kami berdua tidak rela dihina. Maka kamipun menangkis serangan-serangan mereka bertiga. Namun kepandaian ketiga penjahat itu amat tinggi….”

“Apakah kalian berdua berhasil menghajar ketika penjahat itu?”

“Bagimana segampang itu? Kelihatannya mereka bertiga tidak tega melukai kami. Rupanya mereka hanya ingin membuat kami kelelahan, lalu menangkap kami.” Ciok Giok Yin mengerutkan kening, bertanya. “Setelah itu, bagaimana?”

“Kami cepat-cepat melarikan diri, tak disangka bertemu Saudara Ciok di sini.”

Ciok Giok Yin memang berhati ksatria. Lagi pula dia amat membenci para penjahat. Maka mendengar itu, dia langsung berkata.

“Saudara Khouw, mari kita ke sana! Aku akan membasmi mereka, agar tidak mencelakai orang lagi.”

Pang Juaw Cang yang diam itu, terus mengerutkan kening. Namun sepasang matanya yang bening, juga terus menyapu kearah Ciok Giok Yin.

“Baik, kita perlahan-lahan,” sahut Khouw Yun Yong.

Mendadak jari tangannya bergerak cepat, menotok jalan darah Ciok Giok Yin. Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi, namun sama sekali tidak siap, dia tidak menduga pemuda itu akan menyerangnya. Maka dia tidak dapat berkelit, dan seketika roboh pingsan. Khouw Yun Yong tertawa, dan cepat-cepat menahan badan Ciok Giok Yin agar tidak roboh ke tanah. Setelah itu dia memandang Fang Jauw Gang seraya berkata.

“Ikat dia, bawa pulang!”

Fang Jauw Cang tetap tidak bersuara, hanya segera mengikat Ciok Giok Yin lalu mengempitnya.

Mereka berdua melesat, dan sekejap sudah hilang dari tempat itu.

Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin siuman perlahan- lahan. Dia membuka matanya, ternyata dirinya berada di sebuah kamar batu, yang amat gelap. Namun kini lwee kangnya sudah tinggi, maka sepasang matanya dapat melihat di tempat gelap. Sekeliling kamar baru itu tidak terdapat pintu, maka tidak salah lagi, kamar itu adalah sebuah penjara. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin. Dia membalikkan badannya, Namun tidak dapat bergerak sama sekali. Ternyata tangan dan kakinya telah terikat.

Dia tertawa dingin, lalu berkata dalam hati. ‘Hanya dengan seutas tali, dapat mengikatku?’ Dia mulai mengerahkan lwee kangnya untuk memutuskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Siapa sangka sekujur badannya tak bertenaga sama sekali, seperti orang yang tidak pernah belajar kungfu. Itu amat mengejutkan. Lebih terkejut lagi, ternyata dia tidak berpakaian sama sekali, alias telanjang bulat.

Selain itu, dia pun merasa ada hawa yang amat panas pada bagian Tantiannya, terus menerjang ke bawah. Dia mengerutkan kening, ternyata sedang berpikir. ‘Sebetulnya siapa Khouw Yun Yong dan Fang Jauw Cang?’ Mengapa kedua orang itu menangkapnya? Ciok Giok Yin tidak pernah berjumpa dengan mereka, tentunya di antara mereka tidak terdapat permusuhan apa-apa. Namun mengapa mereka menangkapnya? Dia terus berpikir, akhirnya berkertak

gigi. Padahal ketika berjumpa dengan mereka berdua, dengan setulus hati dia ingin bersahabat dengan mereka berdua, tapi tak disangka mereka berdua malah berhati iblis.

Dia mencoba menghimpun hawa murninya, tapi tetap seperti tadi, hawa murninya tak dapat dihimpun sama

sekali. Sementara hawa panas di Tantiannya masih terus menerjang ke bawah. Mendadak air mukanya berubah hebat, ternyata dia teringat akan sesuatu, ‘celaka’ serunya dalam  hati. Dia teringat akan perkataan Khouw Yun Yong, bahwa ada tiga penjahat ingin menghina mereka berdua. Apakah mereka berdua justru yang ingin menghina dirinya? Di sini kata menghina berarti memperkosa, maka Ciok Giok Yin tidak berani memikirkan itu. Seandainya dirinya ternoda, selanjutnya bagaimana menjejakkan kaki lagi di dunia persilatan? Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ciok Giok Yin!

Seketika ingin rasanya mencincang kedua pemuda itu, untuk melampiaskan kegusarannya. Namun kini dia telah terjatuh ke tangan orang. Kecuali terjadi suatu kemujizatan, kalau tidak, dirinya pasti ternoda. Setelah rasa emosinya berlalu, barulah dan teringat akan beban-beban yang dibahunya, tiada satu bebanpun yang diselesaikannya. Kematian Tiong Ciu Sin Ie, dan kematian Cak Hun Ciu…. Juga mengenai asal-usulnya…. semua itu terbayang di depan matanya. Akhirnya hatinya terasa berduka sekali, sehingga air matanya mulai

meleleh. Dalam keadaan seperti itu, Ciok Giok Yin Cuma pasrah. Sementara sang waktu terus berlalu, sedangkan di dalam kamar batu itu, sama sekali tidak terdengar suara apa pun. Sebetulnya tempat apa ini? Dan siapa sesungguhnya Khouw Yun Yong dan Fang Jauw Cang itu?

Di saat Ciok Giok Yin tercekam rasa duka, mendadak terdengar suara ‘serrr’. Tampak sesosok bayangan berkelebat ke dalam. Ciok Giok Yin yang bermata tajam, begitu melihat sudah tahu orang itu adalah Fang Jauw Cang. Ketika Ciok Giok Yin baru mau membuka mulut mencacinya, Fang Jauw Cang justru memberi isyarat agar Ciok Giok Yin tidak bersuara.

Disaat bersamaan, wajahnya juga kelihatan tegang sekali. “Harap jangan bersuara!” katanya dengan suara rendah.

Ciok Giok Yin tidak tahu akan maksud kemunculannya, maka menatapnya dengan mata membara.

“Bagaimana rasamu?” tanya Fang Jauw Cang.

Ciok Giok Yin berkertak gigi, menekan kegusarannya yang bergolak di rongga dada.

“Aku…,” sahutnya dingin.

Pang Jauw Cang cepat-cepat menutup mulut Ciok Giok Yin. “Jangan keras-keras!”katanya.

Wajahnya tetap tampak tegang, dia menoleh ke balakang. Dilihatnya diselangkangan Ciok Giok Yin, sesuatu yang cukup panjang mendongak-dongakkan kepala, bagaikan seekor ular yang sedang mencari mangsanya! Melihat itu, wajah Fang Jauw Cang langsung berubah menjadi merah, kemudian mengarah ke tempat lain, dan hatinya terus berdebar-debar tidak karuan.

Dia tahu apa yang telah terjadi, maka dia cepat-cepat mengeluarkan sebutir pil warna merah.

“Cepat makan obat ini!” katanya lirih.

Dia menaruh obat itu ke mulut Ciok Giok Yin, namun Ciok Giok Yin tidak tahu dia berniat jahat atau baik, maka dia menutup mulutnya rapat-rapat. Apa boleh buat! Fang Jauw Cang terpaksa membuka mulutnya, lalu memasukkan obat itu. Setelah itu dia berkata dengan suara rendah.

“Cepat himpun hawa murnimu! Jangan salah paham, aku kemari untuk menyelamatkanmu!”

Wajah Fang Jauw Cang tampak serius dan bersungguh- sungguh.

Kini obat itu telah berada di mulut Ciok Giok Yin, namun dia masih ragu untuk menelannya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ditelannya juga obat itu. Setelah menelan obat itu, rasa panas di Tantiannya hilang seketika. Sedangkan Fang Jauw Cang cepat-cepat melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Ciok Giok Yin, kemudian melempar sebuah buntalan ke hadapannya seraya berkata.

“Ini pakaianmu, cepat pakai!”

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara melangkah di luar.