Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 17

 
Jilid 17

Soat Cak yang berdiri di samping Ciok Giok Yin, segera menariknya seraya berkata,

"Kanda Ciok, kita harus cepat-cepat ke luar!" Dia tidak menunggu sahutan Ciok Giok Yin, langsung menariknya ke luar. Setelah ke luar dari ruang batu itu, terdengar lagi suara yang amat dahsyat memekakkan telinga.

"Blammm!

Ciok Giok Yin terbelalak, karena ruang batu itu telah tertutup sebuah batu besar. Kini Khouw Pei Ing telah menutup diri, sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Akan tetapi, berselang sesaat wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi merah padam. Ternyata hawa kegusarannya mulai bergejolak lagi, karena merasa dirinya tertipu. Ketika melihat wajah Ciok Giok Yin hati Soat Cak menjadi berdebar-debar.

"Kanda Ciok, kenapa kau?" tanyanya dengan lembut.

Ciok Giok Yin mengibaskan tangannya, kemudian menyahut dengan gusar.

"Kalian ibu dan anak sungguh pandai membohongi orang!" Usai menyahut, dia langsung berjalan pergi. Soat Cak cepat-

cepat mengikutinya dari belakang dan berseru.

"Kanda Ciok, aku mohon maaf! ibuku berbuat begitu karena demi diriku, memancingmu ke mari. Tapi... aku pasti membantumu mencari Seruling Perak itu."

Kegusaran Ciok Giok Yin belum reda.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku akan mencarinya sendiri!" bentaknya.

Sepasang mata Soat Cak yang indah itu mulai mengucurkan air mata.

"Kanda Ciok, diriku sudah jadi milikmu. Kalaupun kau tidak membutuhkan bantuanku, aku tetap harus berlaku sebagai seorang istri, berbagi rasa dan lainnya denganmu," katanya terisak-isak. "Siapa mau berbagi rasa dan lainnya darimu?" sahut Ciok Giok Yin ketus. Sesungguhnya dia bukan tidak bersimpati pada Soat Cak, melainkan teringat akan isyu yang disebarkan ibu Soat Cak, sehingga dia terpancing sampai ke tempat itu dan nyaris terbunuh oleh Si Sing Kui dari perkumpulan Sang Yen Hwee. Karena itu hawa kegusarannya masih tetap berkobar dalam rongga hatinya. Bahkan juga telah menyita waktunya yang seharusnya tiba di gunung Liok Pan San selekasnya, akhirnya menjadi tertunda! Meskipun sikap Ciok Giok Yin amat kasar dan perkataannya juga ketus, namun Soat Cak tetap berkata dengan lembut.

"Kanda Ciok, beristirahatlah sejenak, agar hawa kegusaranmu reda!" Dia mengambil secangkir the untuk Ciok Giok Yin, "Kanda Ciok, minumlah! Aku akan berkemas sebentar, setelah itu kita berangkat."

Ciok Giok Yin tidak mengambil minuman itu. "Terimakasih!" sahutnya dingin.

Soat Cak, menaruh minuman itu ke atas meja.

"Kanda Ciok, duduklah sebentar!" katanya dengan lembut.

Soat Cak mendekati dinding batu lalu menekan sebuah tombol kecil. Tak lama muncullah sebuah pintu kecil dan seketika tampak pula cahaya menyorot ke luar. Ciok Giok Yin menolah memandang ke dalam ruangan itu. Ternyata di dalamnya terdapat tempat tidur dan perabotan lainnya, yang juga terbuat dari emas. Dia yakin kamar itu adalah kamar Soat Cak. Usai berkemas, Soat Cak juga membawa perhiasan- perhiasan yang amat berharga untuk bekal di perjalanan. Dia tidak pernah pergi ke mana-mana, namun bisa berpikir panjang seperti itu. Sungguh luar biasa!

Tak seberapa lama kemudian Soat Cak sudah keluar. Dia menekan tombol kecil itu lagi dan pintu itu pun tertutup kembali seperti semula. Soat Cak menatap Ciok Giok Yin, kemudian tersenyum lembut dan berkata, "Kanda Ciok, ibu memberiku kitab Hong Lui Ngo Im Keng, kalau sempat, kau boleh melatihnya agar kepandaianmu bertambah tinggi."

"Aku tidak perlu itu, tolong antar aku keluar!" sahut Ciok Giok Yin dingin.

Wajah Soat Cak yang semula berseri, seketika berubah menjadi murung dan sedih. Namun itu pun hanya sekilas. Kini wajah gadis itu telah berubah menjadi berseri kembali.

"Kanda Ciok, kusimpan juga sama. Kalau kau berniat berlatih, aku pasti serahkan padamu..." katanya lembut. Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Kita boleh ke luar sekarang."

Gadis itu tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati dinding batu yang di sebelah kanannya. Dia menekan sebuah tombol kecil dan seketika muncul sebuah terowongan.

Soat Cak menoleh memandang Ciok Giok Yin. "Ikut aku!" ajaknya.

Gadis itu langsung mengayunkan kakinya. Ciok Giok Yin mengikutinya dari belakang, tanpa mengeluarkan suara. Ternyata Ciok Giok Yin sedang berpikir, setelah keluar dari tempat ini, biar bagaimanapun tidak boleh membiarkan Soat Cak tetap berada di sisinya, sebab amat

merepotkan. Sebetulnya Ciok Giok Yin juga merasa simpati pada Soat Cak, hanya karena mereka berdua ibu dan anak telah berbohong, maka membuat Ciok Giok Yin amat kesal dan jengkel. Di saat berjalan, Soat Cak melihat Ciok Giok Yin diam saja, membuat hatinya berduka sekali.

"Kanda Ciok, ada urusan apa yang terganjal di hatimu? Utarakanlah! Kalau tidak, kau akan sakit," katanya dengan suara rendah. "Tidak ada," sahut Ciok Giok Yin dingin. "Kanda Ciok, aku dapat melihat itu."

"Aku bilang tidak ada ya tidak ada. Mengapa kau begitu cerewet?"

"Syukurlah kalau tidak ada."

Di saat bersamaan, mereka berdua sudah melewati beberapa terowongan. Berselang sesaat, sudah tiba di ujung terowongan. Soat Cak memandang Ciok Giok Yin, kemudian memberitahukan.

"Kanda Ciok, sebentar lagi kita akan melihat matahari. Aku... aku sungguh gembira sekali!"

Wajah gadis itu tampak cerah ceria. Namun sebaliknya Ciok Giok Yin mendengus dalam hati dan berkata, 'Tidak lama lagi adalah waktunya kau menangis.'

Mendadak Soat Cak mengajak Ciok Giok Yin ke dinding batu yang ada di sebelah kiri, lalu menekan sebuah tombol kecil.

Kreeek!

Dinding batu itu terbuka dan seketika cahaya matahari menyorot ke dalam. Soat Cak dan Ciok Giok Yin segera melesat ke luar. Begitu sampai di luar, dinding batu itu tertutup kembali. Ciok Giok Yin menengok ke sekelilingnya, ternyata dirinya berada di sebelah lain bukit Tanah Kuning. Sedangkan Soat Cak menengadahkan kepala memandang ke langit.

Wajahnya berseri dan bersorak penuh kegirangan.

"Horeee! Sugguh indah sekali! Aku... aku amat gembira sekali!"

Saking gembira, dia bersandar di dada Ciok Giok Yin. "Kanda Ciok, sekarang kita mau ke mana?" tanyanya

perlahan-lahan. "Terserah kau saja," sahut Ciok Giok Yin.

Soat Cak tertegun dan air mukanya langsung berubah menjadi murung.

"Kanda Ciok, kau mau ke mana, aku pasti mengikutimu." "Aku mau pergi mati! Apakah kau juga mau ikut?" kata Ciok

Giok Yin sengit.

Padahal dalam hati Soat Cak merasa bahagia sekali, sebab bertemu Ciok Giok Yin, yang kemudian menjadi pujaan hatinya. Lagi pula kini dirinya sudah berada di luar Goa Tanah Kuning, sehingga hatinya bertambah bahagia dan gembira. Akan tetapi ketika Ciok Giok Yin berkata begitu, membuat semuanya sirna seketika. Namun Soat Cak tetap bersabar, karena tahu Ciok Giok Yin masih kesal.

"Kanda Ciok, kalau memang ada hari yang begitu naas, aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri, karena seorang diri amat merana. Lagi pula aku harus melayanimu, maka aku harus ikut," katanya lembut.

Mendengar perkataan itu, timbullah rasa haru dalam hati Ciok Giok Yin. Akan tetapi dia tetap berkata dengan dingin.

"Mengapa kau harus terus-menerus ikut aku?" Soat Cak meliriknya mesra.

"Karena aku adalah orangmu." "Aku tidak bisa mengakuinya."

"Tapi ibuku bilang, aku justru harus melayanimu."

"Itu adalah urusanmu, tiada hubungannya dengan diriku. Sebab perjodohan harus disetujui kedua belah pihak, karena itu, lebih baik kau kembali pada ibumu." "Ibuku telah menutup diri, tidak akan menerimaku lagi, kini cuma ada kau."

"Tapi, aku pun tidak bisa menerimamu."

Usai berkata, Ciok Giok Yin langsung melesat pergi.

Betapa gugupnya hati Soat Cak. Gadis itu segera melesat pergi mengikutinya.

"Kanda Ciok, kau tidak boleh tinggalkan aku!" serunya memilukan. Gadis itu melesat cepat menyusul Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin telah mengerahkan ginkangnya sepenuh tenaga, tapi tetap tidak dapat meninggalkan Soat Cak. Jarak mereka cuma selisih dua tiga depa. Sebaliknya Soat Cak kelihatan belum mengerahkan tenaga sepenuhnya. Di saat melesat, tanpa sengaja Ciok Giok Yin justru menuju ke depan Bukit Tanah Kuning. Tampak empat puluh orang lebih berdiri serius di sana. Mereka adalah para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Mengenai si Setan Gemuk yang terjepit mati di pintu goa, Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu.

Yang duduk di tengah-tengah adalah Siau Bin Sanjin-li Mong Pai, kepala pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee. Masih terdapat beberapa orang yang tidak dikenal Ciok Giok Yin. Saat ini Soat Cak sudah berada di samping Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, orang-orang itu sedang berbuat apa?" tanyanya dengan suara rendah.

Ketika Ciok Giok Yin melihat Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek, timbullah rasa dendam dalam hatinya. Maka dia menyahut ketus.

"Tanya saja pada mereka!"

Tentunya dia juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Dia berkertak gigi, sepasang matanya membara, kemudian menggeram mengguntur.

"Kalian para iblis, serahkan nyawa kalian!" Ciok Giok Yin amat mendendam pada Si Peng Khek, maka tidak mengherankan kalau dia langsung menerjang ke arah empat orang itu. Akan tetapi Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai dan Si Peng Khek, sama sekali tidak bangkit. Mereka cuma menatap Ciok Giok Yin sambil tersenyum dingin. Sedangkan sepasang telapak tangan Ciok Giok Yin mengarah pada Tam Peng Khek.

Namun siapa sangka di saat bersamaan terasa hawa yang amat dingin menghadang badan Ciok Giok Yin. Sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi tak bertenaga dan sepasang telapak tangannya pun tak mampu diturunkan. Tam Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Bocah haram, kau boleh turun tangan!"

Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Si Peng Khek mampu mengerahkan hawa dingin menghadangnya. Pada saat bersamaan terdengar suara Hian Peng Khek, berkata lantang.

"Mohon petunjuk Tay Hu Hoat (Kepala Pelindung), apakah nyawa bocah haram ini harus dihabisi?"

Terdengar suara sahutan nyaring, namun tidak tampak orangnya.

"Ketua utama belum ada perintah, tidak boleh bertindak sembarangan!"

Saat ini Soat Cak sudah berada di samping Ciok Giok Yin. "Kanda Ciok, apakah mereka orang-orang jahat?" tanyanya

dengan lembut. "Tidak salah."

"Perlukah aku turun tangan terhadap mereka?" "Terserah kau."

Soat Cak menduga, orang-orang itu pasti musuh Ciok Giok Yin, maka secara tidak langsung mereka juga musuhnya. Karena itu dia langsung melancarkan serangan terhadap para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu. Terdengar suara jeritan. Tampak beberapa anggota perkumpulan Sang Yen Hwee telah terluka oleh serangan Soat Cak. Setelah itu Soat Cak malah berdiri tertegun di tempat, sebab selama ini dia tidak pernah bertarung. Ketika melihat beberapa orang yang terluka itu merintih-rintih, hatinya yang masih polos itu justru merasa tidak tega. Maka dia tidak berani melancarkan serangan lagi. Mendadak terdengar suara jeritan di belakangnya.

Soat Cak segera menolah ke belakang, ternyata Ciok Giok Yin terpental oleh serangan salah seorang Si Peng Khek. Di saat Soat Cak menyerang para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee, Ciok Giok Yin juga melancarkan serangan ke arah Si Peng Khek, namun malah terpental oleh tangkisan Si Peng Khek.

Phuuuh!

Mulut Ciok Giok Yin menyemburkan darah segar.

Betapa terkejutnya Soat Cak! Dia cepat-cepat mendekatinya. Namun ketika dia baru mau memapahnya bangun, Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri lalu menerjang lagi.

Justru di saat bersamaan terdengar suara, "Hussh! Husssh. "

Ternyata suara itu keluar dari mulut Si Peng Khek. Tampak badan Ciok Giok Yin menggigil dan mulutnya menyemburkan darah segar lagi.

"Kanda Ciok, bagaimana kau?" tanya Soat Cak dengan rasa cemas.

Pada waktu bersamaan dia mendengar suara seperti tadi, membuat sekujur tubuhnya menggigil seketika. Namun lwee kang Soat Cak amat tinggi. Dia segera mengerahkan hawa murninya untuk melawan. Sementara wajah Ciok Giok Yin tampak kekuning-kuningan dan badannya sempoyongan mau roboh. Itu membuktikan bahwa dia telah menderita luka dalam yang amat parah. Soat Cak ingin memapahnya, tapi mendadak Ciok Giok Yin mengeluarkan siulan pilu dan kemudian badannya melesat pergi. Soat Cak berotak cerdas, maka tahu bahwa Ciok Giok Yin dilukai oleh keempat orang itu. Wajahnya langsung berubah dingin dan dia segera menerjang ke arah Si Peng Khek. Sedangkan Si Peng Khek masih tetap duduk di tempat sambil tersenyum dingin. Setelah berdiri tegak, barulah Soat Cak tahu bahwa Ciok Giok Yin sudah tidak berada di situ. Gadis itu gugup dan langsung melesat pergi menyusulnya.

"Kanda Ciok! Kanda Ciok!" serunya. Namun tiada sahutan.

"Kanda Ciok! Jangan tinggalkan aku, kau pergi ke mana?" serunya lagi.

Dia terus berseru-seru memanggil 'Kanda Ciok'. Suara seruannya, amat memilukan. Saat ini Soat Cak seperti bayi kehilangan ibu, sedang lapar ingin menyusu. Suara seruan Soat Cak serak, akhirnya dia menangis dengan air mata bercucuran.

Namun dia masih berseru,

"Kanda Ciok, kau telah terluka! Jangan lari sembarangan, lukamu akan bertambah parah !"

Seruannya itu amat lembut, bahkan juga penuh perhatian.

Dia adalah gadis baik hati dan masih polos. Tapi justru tidak tepat waktunya bertemu Ciok Giok Yin. Apabila tepat waktunya, tentunya Ciok Giok Yin akan memberikannya suatu kelembutan. Sementara Ciok Giok Yin terus melesat. Dia merasa darahnya terus bergolak tidak karuan.

Phuuuh!

Mulutnya menyemburkan darah segar lagi, akhirnya dia roboh di tanah. Namun telinganya masih mendengar suara seruan Soat Cak yang memilukan. Dia ingin menyahut agar gadis itu menghampirinya, namun mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara, sedangkan suara seruan Soat Cak makin lama makin jauh. Ciok Giok Yin bangkit perlahan-lahan, lalu melanjutkan perjalanan. Kini dia tahu jelas akan kepandaiannya sendiri.

Melawan Si Peng Khek saja dia tidak mampu, apa lagi melawan Chin Tiong Thau untuk membasmi murid murtad suhunya itu?

Mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, dan perkataan seseorang,

"Adik kecil, tak disangka kita bertemu di sini lagi!"

Ciok Giok Yin langsung berhenti. Ternyata yang berkata itu adalah Teng Hiang Kun, salah seorang pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee, yang juga merupakan wanita cabul.

"Wanita jalang, aku tidak akan melepaskanmu!" bentak Ciok Giok Yin.

Dia langsung menyerang dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Badannya mencelat ke atas. Namun karena dia dalam keadaan terluka parah, maka tidak dapat mengerahkan lwee kangnya. Ketika badannya berada di udara, pandangannya justru berkunang-kunang dan akhirnya jatuh gedebuk di tanah. Pada waktu bersamaan Teng Hiang Kun segera mengeluarkan seutas tali lalu cepat-cepat mengikatnya. Setelah itu dia tertawa terkekeh dan berkata,

"Apakah kau masih bisa kabur?"

Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! Dia coba mengerahkan lwee kangnya untuk memutuskan tali itu, tapi sedikit pun tidak mampu.

"Mari pergi, kita cari tempat sepi untuk bercakap-cakap!" kata Teng Hiang Kun. Tali itu ditariknya, sehingga Ciok Giok Yin terpaksa mengikutinya seperti seekor hewan yang

terikat. Mendadak tampak sosok bayangan melayang turun. Ternyata adalah Ouw Cih, penasihat perkumpulan Sang Yen Hwee. Sepasang matanya menyorot dingin, terus menatap Teng Hiang Kun, kemudian dia berkata. "Teng Hiang Kun, ada perintah dari ketua utama, sementara ini harus melepaskannya."

Kelihatannya Teng Hiang Kun amat takut pada Ouw suya itu. Dia langsung melepaskan tali yang mengikat Ciok Giok Yin, namun masih mengerlingnya, lalu melesat pergi. Begitu melihat Teng Hiang Kun telah pergi, Ouw Cih segera berkata pada Ciok Giok Yin dengan suara rendah.

"Kau harus berusaha meninggalkan tempat ini secepatnya, jangan lama-lama di sini."

Usai berkata, dia pun segera melesat pergi. Ciok Giok Yin tidak habis pikir, mengapa Ouw ih sering membantunya? Apa maksud tujuan sebenarnya? Namun dia tahu, orang itu tidak berniat jahat terhadap dirinya. Oleh karena itu dia tidak berani membuang waktu lagi, langsung melesat pergi. Tak berapa lama kemudian, mendadak terdengar suara tua di dalam rimba di hadapannya.

"Ciok Giok Yin, sudah lama ada orang menunggumu."

Ciok Giok Yin tersentak, sebab dia pernah mendengar suara itu di dalam Goa Bukit Tanah Kuning.

"Anda siapa?" tanyanya.

"Sementara ini kau tidak perlu tahu namaku. Kau terluka ya?" "Tidak salah."

"Kau harus segera beristirahat. Aku pernah berkata padamu, setelah kau keluar dari goa itu, akan ada seorang gadis mencarimu untuk mengajak bertanding. Sekarang aku akan menghadiahkan sebutir obat untukmu, sambutlah!"

Tampak sebuah benda kecil meluncur ke arah Ciok Giok Yin. Dia segera menjulurkan tangannya menyambut obat tersebut. Namun kemudian dia merasa ragu menelannya. "Aku tidak akan mencelakaimu, kau harus cepat-cepat pulih," kata orang itu.

"Sebetulnya Anda punya maksud apa?"

"Karena ada seorang gadis ingin bergebrak denganmu." "Siapa dia?"

"Cepat atau lambat kau akan tahu, namun. "

Orang itu sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu, harus dikatakan atau tidak?

"Tapi kenapa?"

"Sulit dikatakan. Apabila kau masih bisa hidup, kelak kau pasti tahu."

"Dia punya dendam denganku?" "Tentang itu, kau pun tidak perlu takut."

Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya dan bergumam,

"Musibah atau bukan kalau musibah pasti tak terhindarkan."

Dia menelan obat itu lalu duduk bersila menghimpun hawa murninya. Berselang beberapa saat kemudian, luka dalamnya telah sembuh. Bukan main mujarabnya obat itu. Dia membuka matanya lalu bangkit berdiri. Dia melihat seorang berpakaian serba hitam, memakai kain penutup muka. Dari bentuk tubuhnya, dapat diketahui bahwa dia seorang gadis. Sepasang matanya menyorot tajam.

"Ciok Giok Yin, kau sudah boleh turun tangan!" katanya dingin.

Jarak antara Ciok Giok Yin dengan gadis itu cuma kira-kira enam depa. Memang banyak kejadian aneh dalam rimba persilatan, tiada alasan apapun menyuruh orang turun tangan. Karena itu, siapa pun tidak akan turun tangan. Akan tetapi gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu begitu membuka mulut menyuruh Ciok Giok Yin turun tangan. Itu membuat Ciok Giok Yin tertegun, tak bergerak sama sekali.  Dia tidak dapat melihat jelas wajah gadis itu, juga tidak tahu dia sedang gusar atau amat membencinya. Ciok Giok Yin terus berpikir, sebetulnya siapa gadis yang berada di hadapannya ini? Namun dia yakin, berdasarkan bentuk tubuhnya, dulu tidak pernah bertemu dengannya.

"Bolehkah aku tahu identitas Nona?" tanyanya. "Tidak perlu," sahut gadis itu.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. "Apakah Nona punya dendam denganku?" "Tidak."

"Punya kebencian terhadapku?" "Tidak."

Ciok Giok Yin jadi curiga,

"Kalau begitu, mengapa Nona ingin mencariku untuk bertanding?"

"Tentu ada sebabnya."

"Aku harap Nona sudi menjelaskan sebabnya. Karena kalau sudah terjadi pertandingan, sehingga terjadi sesuatu, bukankah akan menyesal seumur hidup?"

"Hm! Apakah kau yakin akan menang?" dengus gadis itu. "Aku tidak bermaksud demikian. Tapi di antara kita tiada

permusuhan apa-apa, lalu mengapa harus bertanding?"

"Kalau kau takut mati, berlututlah di hadapanku dan memanggilku nona besar, aku pasti mengampunimu," bentak gadis itu.

Dapat dibayangkan, betapa murkanya Ciok Giok Yin mendengar itu! Semula dia masih bersabar dan berusaha menekan hawa amarahnya. Namun kini timbullah sifat anehnya.

"Bukannya aku takut mati, melainkan ingin penjelasan!" bentaknya.

"Setelah kau berada di alam baka, baru akan memperoleh penjelasan!"

"Kau terlampau mendesakku!" bentaknya sengit.

Namun dia tetap tidak bergerak, sebab yang dihadapinya adalah seorang gadis. Seandainya yang di hadapannya bukan seorang gadis, dari tadi dia sudah turun tangan menyerangnya.

"Aku memang sengaja mendesakmu. Kau boleh turun tangan sekarang!" kata gadis itu.

"Aku tidak pernah turun tangan duluan!" sahut Ciok Giok Yin. "Hm! Sombong juga kau! Sambut seranganku!"

Gadis baju hitam memakai kain penutup muka langsung menyerang Ciok Giok Yin. Bukan main cepatnya gerakan gadis itu tampak telapak tangannya berkelebat, tahu-tahu enam jurus sudah dilancarkannya. Setiap jurus mengarah pada jalan darah Ciok Giok Yin yang mematikan, ganas, lihay dan dahsyat. Setengah mati Ciok Giok Yin berkelit ke sana ke mari. Terlambat sedikit pun pasti terluka oleh serangan-serangan itu. Ciok Giok Yin mengucurkan keringat dingin. Setelah berhasil berkelit, dia mulai menyerang dengan Soan Hong Ciang.

Terdengar suara menderu-deru dan angin pukulannya mengandung hawa yang amat panas.

Akan tetapi Ciok Giok Yin tahu bahwa kepandaian gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu lebih tinggi setingkat darinya. Maka dia segera mencelat ke belakang beberapa langkah.

Kini Ciok Giok Yin ingin mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Namun serangan gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka yang bertubi-tubi itu membuatnya tiada berkesempatan untuk mengeluarkan ilmu pukulan tersebut.

Lagi pula dia pun pikir, dirinya tiada permusuhan apa-apa dengan gadis itu lalu mengapa harus turun tangan jahat terhadapnya? Mungkin gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu hanya ingin menguji kepandaiannya. Oleh karena itu Ciok Giok Yin sama sekali tidak mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Sesungguhnya, seandainya Ciok Giok Yin ingin mengeluarkan ilmu pukulan tersebut, itu pun sudah tidak memungkinkan lagi. Sebab gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka terus-menerus menyerangnya, sehingga membuat Ciok Giok Yin tak mampu balas menyerang, cuma berkelit ke sana ke mari saja. Mendadak gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu berseru,

"Roboh!"

Seketika terdengar suara jeritan. Tampak sosok tubuh terpental dua tiga langkah kemudian jatuh di atas tanah.

Bum!

Gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka, melesat maju sambil melancarkan sebuah pukulan.

Plak!

Pukulan itu mendarat telak di dada Ciok Giok Yin. Gadis itu tertawa puas lalu berkata,

"Kini tentunya kau sudah tahu siapa aku bukan?"

Kemudian ditendangnya Ciok Giok Yin hingga terpental beberapa depa. Saat ini terdengar suara tua di dalam rimba,

"Nak, pergilah, dia tidak akan hidup lagi." Akan tetapi, gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka, malah mencelat ke atas, kelihatannya ingin menghatam kepala Ciok Giok Yin

Di saat bersamaan dari dalam rimba melesat sosok bayangan hitam, yang langsung menahannya seraya berkata,

"Biar utuh mayatnya!"

Bukan main cepatnya gerakan bayangan hitam itu! Dalam sekejap mata dia pergi ke dalam rimba sambil menarik gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu lalu menghilang. Tak seberapa lama kemudian tampak beberapa ekor burung elang terbang berputar-putar di angkasa, yang kemudian meluncur ke bawah dengan perlahan-lahan. Ternyata burung-burung elang itu melihat sosok mayat di tanah. Namun burung-burung elang itu tampaknya merasa takut, tidak berani meluncur terlampau ke bawah. Sedangkan Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah tak bergerak sama sekali, kelihatannya sudah mati. Walau dia memiliki lwee kang tinggi, namun tidak akan tahan. Karena dia terpukul beberapa kali oleh gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu, bahkan setelah itu, sebuah tendangan lagi membuatnya terpental beberapa depa.

Semua itu memang kesalahan Ciok Giok Yin. Sebab dalam bertanding dia terlalu memikirkan banyak hal. Lantaran ingin tahu mengapa gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu berkeras ingin bertanding dengannya, maka dia tidak berani mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Karena itu, dirinya malah yang terpukul. Lagi pula begitu mulai bergebrak, gadis berbaju hitam memakai kain penutup muka itu langsung menyerangnya bertubi-tubi, sehingga membuat Ciok Giok Yin terdesak. Oleh karena itu dia terkena beberapa pukulan yang dilancarkan gadis baju hitam memakai kain penutup muka, ditambah sebuah tendangan keras.

Ciok Giok Yin terpental beberapa depa, kemudian tergeletak tak bergerak sama sekali. Akan tetapi benarkah dia telah mati? Dia sendiri tidak tahu. Tentunya para pembaca yang budiman juga tidak tahu. Namun burung-burung elang yang terbang berputar-putar di angkasa pasti dapat melihat. Kalau tidak, burung-burung elang itu pasti sudah dari tadi berebut mematuk daging Ciok Giok Yin, bahkan kini mereka malah terbang lebih tinggi. Saat ini suasana di sekitar tempat itu berubah menjadi amat sunyi. Ternyata hari sudah mulai senja.

Sementara Ciok Giok Yin tetap tidak bergerak sama sekali. Wajahnya pucat pias bagaikan kertas, dari mulutnya masih mengalir darah segar, yang perlahan-lahan berubah menjadi hitam. Sungguh kasihan Ciok Giok Yin! Semua budi, dendam dan kebenciannya belum terbalaskan, tapi sudah menjadi mayat. Dia tidak bisa mati dengan mata terpejam. Dia tidak bisa mati begitu saja. Seandainya dia benar mati begitu saja, murid murtad suhunya semua dendam, orang-orang yang menyayanginya, pasti tidak terbalas. Dan juga beberapa gadis yang mencintainya, bukankah akan hidup hampa dan merana selama- lamanya? Yang jelas Ciok Giok Yin memang sudah tidak bergerak lagi. Sementara itu Soat Cak masih terus berseru-seru memanggil Ciok Giok Yin. Suara seruannya amat memilukan.

"Kanda Ciok, kau tidak boleh meninggalkanku, kau pergi ke mana?"

Soat Cak terus melesat pergi sambil berseru-seru. Suara seruannya membuat orang yang berhati baja pun akan merasa iba padanya. Soat Cak adalah gadis yang suci murni dan polos, sama sekali tidak pernah berkelana di dunia persilatan. Kini begitu Ciok Giok Yin pergi, dia tidak tahu harus ke mana mencarinya. Sedangkan di dunia persilatan penuh bahaya dan berbagai kelicikan serta kejahatan. Bagaimana dia bisa hidup dikelilingi semua itu? Tentunya membuatnya amat gugup dan panik. Dia cuma tahu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar Ciok Giok Yin. Dia pun tahu jelas bahwa Ciok Giok Yin dalam keadaan terluka, tidak akan pergi jauh. Oleh karena itu dia terus-menerus berseru-seru memanggil Ciok Giok Yin.

Soat Cak yakin dan percaya bahwa Ciok Giok Yin tidak akan meninggalkannya, sebab dia sudah menjadi milik Ciok Giok Yin. Bagaimana mungkin Ciok Giok Yin tega meninggalkan istrinya sendiri? Akan tetapi sementara ini Ciok Giok Yin memang merasa kurang senang. Itu disebabkan ibunya telah berbohong. Namun kebohongan itu tidak akan mencelakai Ciok Giok Yin. Asal berlalu beberapa waktu, Ciok Giok Yin pasti akan memaafkannya. Sesungguhnya Soat Cak juga terluka oleh Si Peng Khek. Namun dia terus melesat pergi mencari Ciok Giok Yin, karena nyawa Ciok Giok Yin lebih penting dari pada nyawanya sendiri. Berhubung berpikir demikian, maka dia tidak mempedulikan lukanya yang dideritanya.

Akan tetapi walau dia berseru hingga suaranya berubah  serak, tidak mendengar suara sahutan Ciok Giok Yin. Kini nafasnya sudah tersengal-sengal dan keringatnya pun mengucur deras. Akhirnya dia duduk di atas sebuah batu dan kemudian menangis terisakisak. Suara isak tangisnya amat memilukan. Sesungguhnya ada hubungan apa Soat Cak dengan Ciok Giok Yin? Mereka boleh dikatakan sebagai suami istri! Kini Ciok Giok Yin hilang entah ke mana, bagaimana hati Soat Cak tidak berduka? Dia sama sekali tidak tahu bahwa Ciok Giok Yin sedang menghadapi maut. Kalau dia tahu, mungkin akan bunuh diri demi mendampingi Ciok Giok Yin.

Soat Cak terus menangis, tapi mulutnya masih terus memanggil Ciok Giok Yin. Oleh karena itu pendengarannya menjadi tidak begitu tajam. Di saat bersamaan tampak sosok bayangan melayang turun di belakangnya. Yang muncul itu justru adalah Teng Hiang Kun, salah seorang pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee. Wanita jalang itu tersenyum licik dan wajahnya tampak bengis sekali. Dia langsung menotok jalan darah Soat Cak, yakni jalan darah Hong Bwee Hiat.

Soat Cak mengeluarkan suara rintihan, lalu roboh dan tidak bergerak lagi. Suara isak tangisnya pun berhenti seketika. Dia memandang ke samping melihat seorang wanita berdiri di situ, memperlihatkan senyuman licik dan bengis. Soat Cak tidak kenal wanita itu, cuma memandangnya dengan mata terbelalak lebar. Walau jalan darah Hong Bwee Hiatnya sudah tertotok, namun dia masih bisa berbicara.

"Kakak, mengapa kau berbuat begitu?" tanyanya. "Aku masih ingin membunuhmu!" sahut Teng Hiang Kun sengit.

Hati Soat Cak tersentak ketika mendengar jawaban itu. "Kakak, aku dan kau tiada dendam apa pun, mengapa Kakak

ingin membunuhku?"

Teng Hiang Kun tertawa sinis lalu menyahut. "Karena aku merasa tidak senang padamu!"

"Apakah di dunia persilatan, kalau seorang tidak senang terhadap orang lain lalu harus membunuhnya?"

"Kira-kira begitulah!"

Hati Soat Cak bertambah berduka. Dengan air mata meleleh deras dia bergumam perlahan-lahan.

"Ibu, mengapa kau menghendakiku berkelana di dunia persilatan? Kalau aku tahu dunia persilatan begini macam, biar bagaimana pun aku tidak akan keluar." Dia memandang Teng Hiang Kun. "Kakak, kalau kau memang ingin membunuhku, silakan turun tangan!" katanya.

Gadis itu memejamkan mata, namun air matanya masih berderai-derai membasahi kedua pipinya.

"Aku ingin membunuhmu karena ada suatu sebab!" Soat Cak membuka matanya hingga terbeliak lebar. "Apa sebabnya?"

Teng Hiang Kun menatapnya dingin "Dalam hatimu kau pasti mengerti!" Soat Cak tertegun. "Aku mengerti?" "Ng!"

"Maukah Kakak menjelaskannya?" "Menjelaskannya?"

"Ya. Agar aku tidak mati penasaran." "Sungguhkah kau ingin tahu?"

Soat Cak mengangguk. "Ya."

"Siluman kecil, kau telah memikat seseorang. Maka begitu dia melihatku, menganggapku sebagai musuhnya!"

"Kakak, aku memikat siapa?"

"Siluman kecil, kau tahu tapi sengaja bertanya! Aku akan membunuhmu agar kalian tidak dapat bertemu lagi!"

Teng Hiang Kun mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya sudah siap turun tangan membunuh Soat Cak.

Mendadak Soat Cak berseru. "Tunggu, Kakak!"

Teng Hiang Kun menurunkan tangannya, lalu bertanya dengan dingin sekali.

"Kau masih ingin pesan apa?"

Saat ini Soat Cak justru tidak menangis lagi, sebab tahu dirinya akan dibunuh.

"Kakak, sebelum aku mati, aku ingin mengajukan sebuah permintaan." "Sebuah permintaan?" "Ya."

"Permintaan apa? Katakanlah!"

"Aku mohon Kakak sudi mencari seseorang!" "Siapa?"

"Dia adalah tunanganku."

"Untuk apa mencari tunanganmu?" tanya Teng Hiang Kun. Tiba-tiba dia tertawa. "Aku mengerti. Kau ingin suruh dia mengubur mayatmu?"

Soat Cak menggelengkan kepala. "Bukan."

"Lalu mengapa?"

"Aku menginginkan Kakak menyerahkan sebuah kitab padanya."

"Sebuah kitab?" "Ya."

Terlintas suatu pikiran dalam benak Teng Hiang Kun. Dia yakin bahwa kitab itu merupakan kitab pusaka. Maka, dia segera bertanya.

"Di mana?"

Soat Cak memberitahukan. "Di dalam bajuku!"

Tanpa menunggu lagi Teng Hiang Kun segera menarik baju bagian dada Soat Cak sehingga robek. Kemudian diambilnya sebuah kitab dari dalam baju gadis itu, yang tidak lain adalah kitab Hong Lui Ngo Im Keng. Begitu meliat kitab tersebut, seketika mata Teng Hiang Kun terbelalak lebar. Ternyata pengetahuannya cukup luas, tahu bahwa itu merupakan ilmu andalan Coat Ceng Hujin, tentunya membuatnya girang bukan kepalang. Dia menengok ke sana ke mari, lalu dimasukkan ke dalam bajunya.

"Kakak harus menyerahkan padanya," kata Soat Cak dengan rasa duka.

Teng Hiang Kun manggut-manggut. "Tentu, aku pasti serahkan padanya."

Di kolong langit ini terdapat begitu banyak lelaki, yang mana tunangan Soat Cak? Teng Hiang Kun tidak bertanya, sedangkan Soat Cak juga tidak memberitahukan. Seandainya Soat Cak punya sedikit pengetahuan mengenai dunia persilatan, pasti bisa melihat, bahwa Teng Hiang Kun sesungguhnya cuma membohonginya. Akan tetapi dia tidak berpengalaman dalam dunia persilatan, maka tidak tahu Teng Hiang Kun membohonginya. Oleh karena itu dia telah menghilangkan kitab pusaka keluarganya itu. Berselang sesaat Soat Cak berkata lagi,

"Kakak, kau boleh turun tangan!"

Teng Hiang Kun mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya sudah mau turun tangan membunuhnya. Namun tiba-tiba dia menarik kembali tangannya, dan berkata,

"Pikiranku berubah!"

Soat Cak menatapnya heran, "Kakak tidak jadi membunuhku?" "Tidak begitu gampang." "Maksud Kakak?"

"Aku telah menotok jalan darah Hong Bwee Hiatmu." "Aku tahu itu."

Perlu diketahui, siapa yang tertotok jalan darahnya itu maka enam jam kemudian, darah di dalam tubuhnya akan membeku hingga mati. Teng Hiang Kun yang berhati keji itu justru ingin menyiksa Soat Cak perlahan-lahan. Sebab dia amat membenci Soat Cak, yang telah merebut jantung merebut jantung hatinya. Siapa jantung hati itu? Dia tidak memberitahukan.

Sedangkan Soat Cak juga tidak bertanya. Kemudian Teng Hiang Kun tertawa terkekeh-kekeh dan berkata,

"Syukurlah kau jelas..." Dia tertawa lagi. "Kini aku masih memandang kitab ini maka membiarkanmu hidup beberapa jam. Kau mengerti maksudku?"

Soat Cak tampak girang sekali. Tapi gadis itu malah berpura- pura sedih, karena khawatir pikiran Teng Hiang Kun akan berubah lagi.

"Kakak yang baik, bunuhlah aku agar aku tidak menderita!" katanya lagi.

"Kau memang harus bertahan!" sahut Teng Hiang Kun.

Wanita jalang itu membalikkan badannya, langsung melesat pergi. Dalam sekejap mata sudah tidak kelihatan bayangannya.

Saat ini Soat Cak mulai tersadar akan kedustaan Teng Hiang Kun. Dia amat menyesal karena telah kehilangan kitab pusaka keluarganya. Akan tetapi dia pun merasa bersyukur sebab secara tidak langsung kitab pusaka tersebut telah menyelamatkan nyawanya. Dia masih merasa khawatir Teng Hiang Kun akan kembali membunuhnya. Maka, dia segera menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darah Hong Bwee Hiatnya. Ternyata dia pernah belajar pada ibunya mengenai cara membebaskan totokan, tak disangka sangat bermanfaat baginya saat ini. Di saat mengerahkan hawa murninya, dia pun memikirkan Ciok Giok Yin.

Berada dimana sekarang 'Kanda Ciok'nya itu? Biar bagaimana pun harus pergi mencari Ciok Giok Yin sebab Ciok Giok Yin dalam keadaan terluka. Namun bagaimana kalau bertemu musuh? Bukankah dirinya akan celaka Semakin dipikirkan, hatinya menjadi semakin gugup. Soat Cak ingin cepat-cepat membebaskan jalan darahnya yang tertotok. Oleh karena itu dia segera mengosongkan pikirannya, menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darah yang tertotok tersebut.

Sementara sang waktu terus berlalu. Entah berapa lama kemudian akhirnya Soat Cak berhasil membebaskan totokan pada jalan darahnya. Namun sekujur badannya telah basah oleh keringat. Padahal dia masih harus beristirahat sejenak, namun sudah tidak memungkinkan, sebab hatinya sudah terbang ke arah Ciok Giok Yin. Karena itu, dia langsung melesat ke arah semula. Dia pikir Ciok Giok Yin tidak akan pergi jauh, sebab terluka parah, mungkin bersembunyi di suatu tempat untuk mengobati lukanya. Maka ketika dia berseru-seru memanggilnya tiada sahutan sama sekali.

"Kanda Ciok, kau berada di mana?" Dia mulai berseru-seru lagi.

Sepasang matanya yang indah menengok ke sana ke mari mencari Ciok Giok Yin. Terutama di tempat yang agak gelap, dia memandang dengan penuh perhatian. Semak belukar dan di balik batu besar, tidak terlepas dari sorotan matanya. Kini suara seruannya berubah menjadi rendah. Ternyata dia khawatir suara seruannya akan memancing kedatangan  musuh, itu pasti akan mencelakai Ciok Giok Yin. Tak seberapa lama kemudian dia sampai di depan sebuah rimba. Di saat itulah dia memusatkan pendengarannya. Mendadak dia mendengar suara pekikan burung elang di tempat yang tak begitu jauh. Sebenarnya dia tidak begitu mempedulikan suara pekikan burung-burung elang itu. Akan tetapi... setelah berpikir sejenak, dia segera melesat ke tempat suara burung-burung elang tersebut.

Tampak beberapa ekor burung elang menukik ke bawah. Karena itu Soat Cak memandang ke sana, dan dilihatnya sesosok mayat tergeletak di sana. Hatinya tersentak dan dia langsung melesat ke arah mayat tersebut. Seketika juga dia menangis meraung-raung.

"Kanda Ciok! Kanda Ciok! Siapa yang mencelakaimu?" Soat Cak terus menangis meratap.

"Kanda Ciok, kau akan kesepian, aku harus mendampingimu," gumamnya.

Soat Cak masih terus menangis hingga suaranya menjadi serak. Dari sepasang matanya yang indah juga telah mengalir air mata bercampur darah. Berselang sesaat dia berhenti menangis, duduk termangu-mangu di samping mayat Ciok Giok Yin. Dalam hati dia telah mengambil keputusan untuk ikut mati bersama Ciok Giok Yin. Dia menghapus air matanya, kemudian mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menghapus noda darah yang di badan Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, tunggulah sebentar, istrimu ini pasti menyusul!" gumamnya lagi.

Usai bergumam, dia memandang jauh ke depan sambil berkata,

"Ibu pernah berkata, jadi istri harus setia selamanya. Suami ke mana, istri harus ikut. Kini Kanda Ciok telah pergi, anak Cak harus ikut dia. "

Setelah berkata begitu, air matanya mulai meleleh lagi. Kemudian dia mengangkat tangannya perlahan-lahan, siap menghantam kepalanya sendiri. Namun mendadak tangannya yang telah terangkat itu diam, tak dapat menghantam kepalanya.

Di saat bersamaan terdengar pula suara dengusan dingin. "Hmm! Dia belum mati, mengapa kau mau bunuh diri?" Soat Cak tersentak segera mendongakkan kepala, dilihatnya seorang wanita anggun berpakaian mewah berdiri di situ, namun wajahnya kelihatan dingin sekali.

"Dia... dia belum mati?" tanya Soat Cak.

Wanita anggun berpakaian mewah mengangguk perlahan. "Dia pernah makan buah Ginseng Daging dan Pil Api Ribuan

Tahun. Karena khasiat kedua benda mustika itu melindungi

nadi di jantungnya, maka dia tidak mati." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Di dalam bajunya terdapat sebuah botol kecil berisi obat cairan Giok Ju. Beri dia beberapa tetes, kemudian salurkan hawa murnimu ke dalam tubuhnya! Dia pasti sembuh! Tapi. "

"Tapi kenapa Cianpwee?"

"Mungkin kepandaiannya. akan punah."

"Asal dia bisa hidup, tidak memiliki kepandaian pun tidak apa- apa."

Soat Cak merogoh ke dalam baju Ciok Giok Yin untuk mengeluarkan sebuah botol kecil. Kemudian dibukanya tutup botol itu dan dituangnya beberapa tetes isinya ke dalam mulut Ciok Giok Yin.

"Cukup!" kata wanita anggun berpakaian mewah.

Namun Soat Cak melihat cairan Giok Ju itu masih berada di dalam mulut Ciok Giok Yin belum tertelan.

"Cianpwee, dia tidak bisa menelan. Bagaimana?" tanyanya dengan wajah murung.

Wanita anggun berpakaian mewah balik bertanya. "Kalian berdua punya hubungan apa?"

"Ibuku menjodohanku padanya." "Kalau begitu, kalian berdua adalah calon suami istri?" "Ya."

"Bagus! Kau boleh menggunakan mulutmu, mengerahkan hawa murni meniup obat itu agar masuk ke dalam tenggorokannya, lalu salurkan hawa murnimu ke dalam tubuhnya!"

Walau mereka berdua adalah calon suami istri, namun Soat Cak merupakan gadis yang suci murni dan polos. Bagaimana mungkin dia dapat melakukan itu? Maka tidak mengherankan kalau dia berdiri tertegun di tempat. Wanita anggun berpakaian mewah tampak tidak sabaran.

"Kau tidak menghendakinya hidup? Kalian berdua adalah calon suami istri, mengapa kau tidak mau berbuat seperti yang kukatakan?"

Soat Cak berpikir sejenak, kemudian melakukan apa yang dikatakan wanita anggun berpakaian mewah obat Giok Ju masuk ke tenggorokan Ciok Giok Yin. Setelah itu Soat Cak cepat-cepat menempelkan telapak tangannya di Tantian Ciok Giok Yin sekaligus mengerahkan hawa murninya, disalur ke dalam tubuh Ciok Giok Yin. Meskipun Soat Cak akan kehilangan banyak hawa murni, tapi demi menyelamatkan 'Kanda Ciok'- nya, dia sama sekali tidak mempedulikan itu. Berselang beberapa saat Ciok Giok Yin mengeluarkan suara rintihan dan nafasnya mulai berjalan. Bukan main girangnya Soat Cak, sehingga dia terus menambah hawa murninya ke dalam tubuh Ciok Giok Yin. Lewat beberapa saat, perlahan-lahan Ciok Giok Yin membuka matanya.

"Apakah aku sedang mimpi?" gumamnya. Usai bergumam, dia segera bangun duduk.

Sedangkan sekujur badan Soat Cak telah basah kuyup oleh keringat. Begitu melihat Ciok Giok Yin bangun duduk, cepat- cepat dia menarik kembali telapak tangannya setelah bertanya. "Kanda Ciok, kau sudah hidup lagi? Ini bukan mimpi kan?" Ciok Giok Yin menatap Soat Cak, sambil balik bertanya. "Kau yang menyelamatkanku?"

Soat Cak mengangguk.

"Ya. Tapi cianpwee itu yang memberi petunjuk padaku bagaimana cara menyelamatkanmu."

Ciok Giok Yin segera mendekati wanita anggun berpakaian mewah lalu memberi hormat seraya berkata.

"Sekian kali cianpwee menolongku, aku sungguh berterima kasih sekali!"

"Seharusnya kau berterimakasih pada istrimu itu." Ciok Giok Yin segera menoleh memandang Soat Cak,

kemudian berkata dengan penuh penyesalan.

"Adik Cak, aku... aku memang bersalah terhadapmu." "Kanda Ciok, aku adalah calon istrimu. Asal kau selamat, aku

sudah merasa girang sekali. Kau jangan berkata begitu."

Mendadak Ciok Giok Yin mengucurkan air mata dan berkata dengan suara gemetar.

"Adik Cak, tidak seharusnya kau menyelamatkanku." Soat Cak tertegun.

"Kanda Ciok, kau. "

Wajah Ciok Giok Yin tampak berduka sekali.

"Ilmu silatku telah punah semua, apa artinya aku hidup?" katanya dengan nada tak bergairah hidup. "Kanda Ciok, kau jangan putus asa. Perlahan-lahan ilmu silatmu akan pulih seperti sedia kala."

Di saat bersamaan tampak sosok bayangan hitam melayang turun, ternyata adalah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, kepala pelindung perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tertawa seraya berkata dengan lantang.

"Bocah, sungguh besar nyawamu!"

Selangkah demi selangkah dia mendekati Ciok Giok Yin.

Sekonyong-konyong wanita anggun berpakaian mewah melesat ke hadapannya lalu berkata dengan dingin sekali.

"Li Mong Pai, hari ini kau pasti mati!"

Li Mong Pai yang masih tersenyum-senyum langsung bertanya,

"Siapa kau?"

"Kau tidak usah tahu!"

"Kalau begitu, kau ingin melindungi bocah itu?" "Tidak salah!"

"Menurut lohu, lebih baik kau kembali ke tempat tinggalmu, dilayani para pelayan saja! Buat apa berkecimpung di dunia persialatan, yang akan merendahkan keanggunanmu?"

Karena wanita anggun itu berpakaian mewah, maka Siau Bin Sanjin menyindirnya demikian.

"Kau memang cari mampus!" bentak wanita anggun berpakaian mewah.

Dia langsung bergerak cepat menyerang Siau Bin Sanjin. Melihat serangan itu Siau Bin Sanjin tertawa gelak. "Bagus...!" serunya.

Namun tak disangka kemudian terdengar suara jeritan dan tampak Siau Bin Sanjin terpental beberapa depa. Wanita anggun berpakaian mewah mendengus dingin.

"Hmm! Sungguh tak berguna! Kukira berkepandaian tinggi! Hari ini kuampuni nyawamu! Tapi kelak kalau kita bertemu lagi jangan harap aku akan mengampuni nyawamu lagi!"

Sambil meringis Siau Bin Sanjin bangkit berdiri perlahan- lahan. Dia melototi wanita anggun berpakaian mewah itu lalu pergi dengan tertatih-tatih. Dia amat terkenal dalam rimba persilatan, jarang menemukan tandingan. Namun tak disangka sama sekali wanita anggun berpakaian wanita itu belum menyerangnya dengan satu jurus pun sudah membuatnya terluka parah, itu sungguh di luar dugaan! Setelah Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai pergi, wanita anggun berpakaian mewah menoleh memandang Ciok Giok Yin lalu berkata.

"Kini jalan satu-satunya bagimu, adalah harus pergi mencari Sa Pian Sih (Si Burung Murai) Gouw Ling. Mungkin dia punya cara memulihkan kepandaianmu."

"Gouw Ling?" tanya Ciok Giok Yin dan Soat Cak hampir serentak.

"Ng!"

"Di mana tempat tinggalnya?"

"Dengar-dengar dia telah ditaklukkan oleh perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Haaaah...?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan,

"Cepat ke sana! Lebih baik kalian menyamar saya," kata wanita anggun berpakaian mewah. Usai berkata, wanita anggun berpakaian mewah langsung melesat pergi. Sedangkan Ciok Giok Yin dan Soat Cak saling memandang. Kemudian Ciok Giok Yin mengeluarkan dua botol kecil dari dalam bajunya, pemberian Tek Cang Sin Kay. Mereka berdua mulai merias wajah dan berganti pakaian. Setelah itu kedua muda-mudi itu berubah menjadi suami istri berusia pertengahan. Mereka saling memandang dan tertawa seketika, lalu pergi dengan bergandengan tangan.

Sementara Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai terus berjalan dengan sempoyongan. Berselang sesaat, mendadak dia merasa seluruh jalan darahnya amat dingin dan peredaran darahnya juga kacau. Itu membuatnya terkejut sekali. Pengetahuannya amat luas, tahu wanita anggun itu telah menggunakan semacam ilmu, menutupi beberapa jalan darahnya. Kalau tidak segera diobati, nyawanya pasti melayang.

Karena itu dia segera duduk bersila, menghimpun hawa murninya untuk menembus jalan darahnya yang tertutup. Siapa duga, begitu dia menghimpun hawa murni, bagian bawah tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali. Dia gugup dan panik, kemudian berkata dalam hati. 'Habislah! Sayang kini aku sudah tidak bisa jalan. Kalau bisa..." Tiba-tiba terdengar suara langkah dan setelah itu terdengar pula suara percakapan.

"Istriku, coba jalan cepat dikit! Kalau tidak, kita tidak dapat makan siang. Bukankah akan membuat orang membuang biaya?"

Terdengar suara sahutan wanita.

"Suamiku, apa boleh buat! Bagaimana mungkin seorang wanita berjalan cepat?"

"Istriku, biar kupapah kau."

Terdengar suara langkah yang amat berat, pertanda mereka bukan kaum rimba persilatan.

Hati Siau Bin Sanjin tergerak, kemudian dia berkata dalam hati. 'Aku harus memanggil mereka ke mari' Terdengar suara lelaki berseru kaget.

"Eh? Isteriku, bagaimana ada orang sakit di sini?" Terdengar suara sahutan wanita.

"Peduli amat! Kita sudah tidak kuat jalan, mengapa harus mempedulikan orang lain?"

"Tapi... kita tidak boleh melihat orang hampir mati tidak menolongnya."

"Suamiku, kalau begitu pergilah kau melihatnya!" Terdengar suara langkah semakin mendekat.

Siau Bin Sanjin segera membuka matanya. Dilihatnya seorang lelaki berusia pertengahan, dandanannya seperti orang desa dan tampak agak kebodoh-bodohan. Lelaki desa itu memandang Siau Bin Sanjin kemudian bertanya,

"Lo siangseng, bagaimana rasamu?"

Siau Bin San Jin-Li Mong Pai terus mengerutkan kening. "Penyakit lohu kambuh mendadak, tidak bisa jalan.

Bersediakah toako memapahku? Aku pasti berterimakasih

padamu."

Lelaki desa itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku harus memapah istriku, jadi harus bagaimana?" "Lohu mohon toako sudi membantuku!"

Saat ini muncul seorang wanita desa. Begitu melihat keadaan orang tua itu, dia segera berkata,

"Suamiku, orang tua ini patut dikasihani. Papahlah dia! Menolong orang adalah perbuatan terpuji." "Lalu bagaimana denganmu?" tanya lelaki desa. "Aku akan jalan sendiri."

Lelaki desa itu mengangguk, kemudian membangunkan Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai, setelah itu memapahnya. Setelah tengah hari, barulah mereka tiba di depan sebuah kuil tua.

Suami istri orang desa itu memandang kuil tua, ternyata di atas pintu kuil itu terdapat beberapa huruf, yakin Kuil Ling Si.

Suami istri orang desa itu terheran-heran, karena walaupun kuil itu di kelilingi gunung, yang tidak terletak di atas tebing, mengapa disebut Kuil Tebing Liar? Dewa apa yang bersemayam di dalam kuil ini?

Mendadak Siau Bin Sanjin-Lin Mong Pai berkata, "Sudah sampai."

Dia bertepuk tangan satu kali, lalu tampak seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee berjalan dari dalam kuil itu.

Siau Bin Sanjin-Li Mong Pai cepat-cepat memberi isyarat kepada orang itu dan berkata,

"Cepat bawa toako dan toaso ini ke dalam untuk beristirahat!"

Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee tersebut menatap suami istri desa itu sejenak kemudian berkata, "Mari ikut aku!"

"Bagaimana dengan lo siangseng ini?" tanya lelaki desa. "Kau tidak usah turut campur lagi."

Suami istri desa saling memandang, setelah itu barulah mengikuti orang-orang itu ke dalam kuil, bahkan sampai di bagian belakang. Tak terduga sama sekali, di bagian belakang kuil itu terdapat tiga kamar yang amat bersih dan teratur.

Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu, mempersilakan suami istri desa masuk ke dalam kamar. "Kalian berdua boleh beristirahat di kamar ini."

Usai berkata, dia langsung membalikkan badannya lalu berjalan pergi. Setelah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu pergi, barulah wanita itu berkata,

"Kanda Ciok, keadaan di kamar ini agak ganjil."

Ternyata suami istri desa itu, adalah penyamaran Ciok Giok Yin dan Soat Cak.

Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Adik Cak, kau harus hati-hati!" Soat Cak tersenyum lembut.

"Kanda Ciok, aku pasti berhati-hati." "Adik Cak, semua ini karena aku. "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya. Walau kepandaiannya telah punah, namun pendengarannya masih cukup tajam. Dia tahu ada orang sedang berjalan menuju kamar itu. Memang benar ada orang muncul, yakin anggota perkumpulan Sang Yen Hwee tadi. Dia membawa beberapa macam hidangan, yang kemudian ditaruhnya di atas meja, dan setelah itu dia pun pergi. Ciok Giok Yin dan Soat Cak tidak berlaku sungkan lagi. Mereka langsung menyantap hidangan itu dengan lahapnya. Tak seberapa lama kemudian, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu muncul lagi, ternyata untuk mengambil piring itu.

"Tuan, kami mau pergi," kata Ciok Giok Yin.

"Kepala pelindung ingin mengucapkan terimakasih pada kalian berdua, bagaimana mungkin kalian boleh pergi."

"Ada urusan, kami harus pergi ke rumah famili." "Tiada perintah dari kepala pelindung, aku tidak bisa membiarkan kalian pergi, maaf!"

Kemudian dia pergi dengan membawa piring mangkok itu.

Ciok Giok Yin dan Soat Cak saling memandang, kemudian tersenyum. Setelah itu mereka berdua duduk berdampingan, persis seperti suami istri. Tanpa terasa saat itu hari mulai sore. Mendadak di halaman depan kuil tua itu sepertinya ada suara orang, namun sudah tidak terdengar lagi. Sementara Soat Cak tetap bersandar pada Ciok Giok Yin. Gadis itu tahu bahwa kepandaian Ciok Giok Yin telah punah, maka tidak mendengar suara itu.

"Kanda Ciok, di halaman depan sepertinya ada orang datang," katanya lembut sambil menatapnya.

Ciok Giok Yin manggut-manggut.

"Kemungkinan besar yang datang itu adalah Sai Pian Sih." "Kanda Ciok, kita harus bagaimana?" tanya Soat Cak.

"Adik Cak, pikiranku sedang kacau, kau saja yang berpikir."

Soat Cak yang lemah lembut itu, segera duduk untuk berpikir, sehingga tampak keningnya berkerut-kerut. Gadis itu adalah calon istri yang baik, penuh pengertian dan mau berpikir demi memecahkan persoalan calon suaminya. Sedangkan Ciok Giok Yin terus menatapnya, kemudian memegang bahunya sambil tersenyum mesra. Soat Cak mendongakkan kepala.

"Kanda Ciok, aku sudah teringat."

Kelihatannya Ciok Giok Yin tidak mendengar apa yang dikatakan Soat Cak.

"Adik Cak, senyumanmu amat manis sekali! Sungguh beruntung aku!" katanya tak tertahan.

Ciok Giok Yin langsung memeluknya erat-erat. Setelah itu, bibirnya mendekati bibir Soat Cak dan mereka saling mencium dengan mesra. Saat ini dalam hati mereka berdua mengeluarkan suara desahan. Di saat mereka berdua tenggelam dalam kemesraan, mendadak terdengar suara langkah ringan di luar kamar. Ciok Giok Yin dan Soat Cak cepat-cepat melepaskan ciuman masing-masing, lalu saling memberi isyarat.

"Suamiku, kelihatannya hari ini kita tidak bisa pergi," kata Soat Cak.

"Istriku, biar bagaimana pun kita harus pergi. Nanti kalau ada orang ke mari, kita titip salam padanya untuk berterimakasih pada orang tua itu."

"Suamiku, hari ini kita pasti tidak bisa sampai di rumah famili itu. Bagaimana baiknya?"

"Apa boleh buat. Kita harus melakukan perjalanan malam." "Kau seorang lelaki, tentunya tidak masalah. Namun aku

seorang wanita, bagaimana mungkin aku bisa melakukan

perjalanan malam? Mungkin aku akan terpeleset jatuh."

Seusai Soat Cak berkata, tampak seorang masuk ke kamar itu, membawa beberapa macam hidangan, yang kemudian ditaruhnya di atas meja.

"Silakan makan malam!" kata orang itu. Ciok Giok Yin berpura-pura terkejut.

"Sungguh merepotkan kalian! Aku... aku merasa tidak enak dalam hati," katanya.

"Hm! Sungguh beruntung kalian berdua orang desa bisa ke mari dan dilayani secara baik!" dengus anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu lalu pergi.

"Tuan, tolong beritahukan pada lo sianseng itu, kami mau pergi!" seru Ciok Giok Yin. Angota perkumpulan Sang Yen Hwee itu menyahut sambil melotot.

"Lo sianseng sedang sibuk, kalian beristrahat saja!"

Usai menyahut, dia langsung pergi, tanpa menghiraukan mereka lagi.

"Adik Cak, mari kita makan!" kata Ciok Giok Yin sambil menatap gadis itu. Kemudian mereka berdua mulai makan.

Seusai Ciok Giok Yin dan Soat Cak makan, anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu membuka pintu kamar, lalu masuk untuk mengambil piring mangkok yang telah kosong.

Setelah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu pergi, Soat Cak berkata dengan suara rendah.

"Kanda Ciok, aku kira San Pian Sih sudah ke mari." "Bagaimana kau mengira itu?"

"Tadi aku mendengar suara Siaun Bin Sanjin, sepertinya sedang menghimpun hawa murninya. Pasti Sai Pian Sih membantu mengobatinya. Ya, kan?"

"Lalu kita harus bagaimana?"

"Aku sudah memikirkan suatu akal."

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku terus berpikir hingga tujuh keliling lho!"

"Tadi sebelum makan aku mau bilang, tapi kau. "

"Kenapa aku?"

"Kau menutupi bibirku. "

Soat Cak tidak melanjutkan ucapannya. Dia tampak tersipu dengan wajah kemerah-merahan. Ciok Giok Yin tertawa seraya berkata,

"Itu pertanda cintaku bagaikan air, lembut seperti kapas," dia menatap Soat Cak.

"Adik Cak, kau punya akal apa?" tanyanya.

Soat Cak berbisik-bisik di telinga Ciok Giok Yin, lalu bertanya. "Kanda Ciok, bagaimana menurutmu?"

"Bagus."

"Cuma agak... merendahkan dirimu."

Ciok Giok Yin menggenggam tangan Soat Cak dengan lembut, lalu menghela nafas panjang seraya berkata,

"Adik Cak, kau ikut aku berkelana sehingga membuatmu menderita, hatiku merasa tidak tenang, maka kau jangan mengatakan merendahkan diriku."

"Kanda Ciok, jangan berkata begitu. Asal kau gembira, aku merasa puas. Karena kau adalah suami, aku adalah istri, maka aku harus menurutmu dan menggembirakan hatimu."

Bukan main terharunya hati Ciok Giok Yin mendengar itu, hingga matanya berkaca-kaca, kemudian air matanya pun meleleh. Soat Cak segera mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus air mata Ciok Giok Yin yang meleleh itu.

"Kanda Ciok, mengapa kau menangis?" tanyanya.

"Adik Cak, kau sungguh baik dan setia!" sahut Ciok Giok Yin lembut.

Soat Cak tersenyum lembut, lalu bersandar di dada Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya, membelai-belai rambut Soat Cak. Sementara hari sudah mulai gelap. Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan itu tidak pernah muncul lagi. Sunyi senyap di sekitar tempat itu. Mendadak di dalam kamar tamu itu, terdengar suara rintihan dan jeritan. Di saat bersamaan terdengar lagi suara seorang wanita.

"Suamiku, penyakit lamamu kambuh, apa yang harus kita lakukan?"

"Aduuuh! Sakit sekali!" terdengar suara lelaki itu. "Suamiku, aku akan memijitmu."

"Percuma. Kau pun tahu itu."

"Kalau begitu apa yang harus kulakukan?"

"Aku tidak mau dengar perkataanmu, mau tinggal di sini."

"Di sini jauh dari desa, juga tiada penginapan. Harus ke mana mencari tabib? Suamiku, kau tidak boleh tinggalkan aku. Oh!

Thian (Tuhan)!"

Justru di saat itulah tampak sosok bayangan menerobos ke dalam kamar tamu itu. Soat Cak melirik. Sosok bayangan itu ternyata adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang mengantar makanan tadi. Sepasang matanya melotot.

"Mengapa kalian merintih dan menjerit jerit?" bentaknya dingin.

"Tuan, penyakit lama suamiku kambuh, kau bilang harus bagaimana?" sahut Soat Cak sambil menangis tersedu-sedu.

Ketika anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu baru mau membuka mulut, Soat Cak cepat-cepat mendahuluinya.

"Kami suami istri telah berbaik hati mengantar lo sianseng itu ke mari, tapi Tuan justru tidak memperbolehkan kami pergi.

Kalau suamiku terjadi sesuatu, aku pun tidak mau hidup lagi."

"Diam! Sebenarnya dia sakit apa?" bentak anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu. "Sakit perut. Setiap kali kambuh, pasti dia setengah mati. Tuan, berbaik hatilah pada kami, tolong carikan seorang tabib!"

"Mampus pun tidak jadi masalah!" sahut anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu.

Soat Cak berkata dengan air mata bercucuran. Sungguh pandai gadis itu bersandiwara!

"Tuan sungguh tak punya hati nurani! Apabila dia mati, aku akan jadi janda, lebih baik aku ikut mati saja."

"Kau boleh menikah lagi dengan lelaki lain." Soat Cak terus menangis.

"Aku sudah ada umur, menikah dengan lelaki mana? Aku mohon pada Tuan, berbaik hatilah pada kami, tolong carikan seorang tabib! Selamanya kami tidak akan melupakan budi baik Tuan."

Mendadak Ciok Giok Yin menjerit-jerit kesakitan. "Aduuh! Aku... aku mau buang air besar!" Terdengar suara kentut yang cukup nyaring.

Tuuut! Praaat! Preeet!

Ciok Giok Yin cepat-cepat merosotkan celananya.

Seketika bau yang amat menusuk hidung memenuhi kamar itu. Anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu cepat-cepat menutup hidungnya dan segera melesat ke luar.

"Sial dangkalan! Dasar binatang, buang air besar di sini!" cacinya.

Sedangkan Ciok Giok Yin terus menjerit-jerit. "Suamiku, bagaimana nih?" tanya Soat Cak.

Mereka berdua, justru saling menatap. Sesungguhnya hati mereka berdua amat cemas, sebab tidak tahu Sai Pian Sih ke mari tidak. Seandainya Sai Pian Sih tidak ke mari, bukankah sia-sia rencana atau siasat mereka? Tak seberapa lama kemudian terdengar suara langkah menuju kamar tersebut.

Soat Cak mendengar suara langkah itu dan segera memberi isyarat kepada Ciok Giok Yin. Seketika juga Ciok Giok Yin menjerit lebih keras, bahkan merintih-rintih tak henti-hentinya. Terdengar pula suara kentut dan suara buang air besar. Itu membuat kamar tersebut menjadi bau sekali. Sementara suara langkah itu telah sampai di depan pintu kamar. Terlihat anggota perkumpulan Sang Yen Hwee itu ingin melangkah ke dalam tapi langsung mundur kembali, karena tidak tahan akan bau busuk. Sepasang matanya melotot, dia mencaci maki di luar pintu.

"Sialan! Dasar binatang! Kamar ini dibikin hingga sedemikian bau! Kalau aku naik darah, satu kali pukul kalian berdua pasti mampus!" Dia menoleh ke belakang. "Kau ke dalam, periksa dia!"

Kemudian terdengar suara langkah yang agak berat, masuk ke kamar itu. Soat Cak mencuri pandang. Dilihatnya seorang tua berwajah pucat pias, sepasang matanya suram, berjalan perlahan-lahan ke dalam. Kening orang tua itu berkerut-kerut, kelihatannya agak tidak tahan akan bau busuk. Namun dia tetap bertahan, berjalan mendekati ranjang. Dia menatap Ciok Giok Yin, kemudian bertanya pada Soat Cak.

"Nyonya, suamimu sakit apa?" Soat Cak berpura-pura sedih.

"Penyakit lamanya kambuh," sahutnya.

Ketika menyahut, Soat Cak sengaja meninggikan suaranya. Sesudah itu dia berkata lagi dengan suara rendah. "Mohon tanya, apakah lo cianpwee adalah Sai Pian Sih-Gouw Ling?"

Orang tua itu tampak tertegun. Dia langsung memandang Soat Cak. Sepasang mata Soat Cak tampak bersinar terang. Itu membuat orang tua tersebut tersadar, bahwa dirinya sedang berhadapan dengan kaum persilatan.

"Tidak salah," sahutnya dengan hati berdebar-debar.

Seketika Ciok Giok Yin berhenti menjerit. Namun baru mau membuka mulut, Soat Cak yang cerdas itu, cepat-cepat menekan bahunya.

"Suamiku, kau harus bertahan! Tabib tua ini pasti dapat menyembuhkan penyakitmu!" katanya lantang.

Ciok Giok Yin tahu akan maksud Soat Cak. Maka dia mulai menjerit-jerit lagi seraya memandang Sai Pian Sih-Gouw Liang.

Soat Cak menghadap orang tua itu.

"Lo cianpwee dikuasai perkumpulan Sang Yen Hwee?" tanyanya dengan suara rendah.

Sai Pian Sih-Gouw Ling manggut-manggut.

"Kami mendapat petunjuk dari seorang tokoh, maka kemari minta pertolongan to cianpwee sudi memulihkan kepandaiannya!" kata Soat Cak lagi.

Usai berkata, Soat Cak menunjuk Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan anggota perkumpulan Sang Yen Hwee yang menunggu di luar itu bertanya.

"Bagaimana?"

Sai Pian Sih-Gouw Ling yang sudah berpengalaman dalam rimba persilatan itu seketika menyahut, "Penyakitnya amat parah, membutuhkan waktu untuk memeriksanya."

Suara langkah di luar, yang kadang-kadang dekat dan kadang-kadang jauh, sepertinya mondar-mandir. Tidak diragukan lagi, mereka pasti sedang mengawasi di luar.

Sementara Soat Cak bertanya lagi dengan suara rendah. "Apakah kepandaian to cianpwee juga telah punah?"

Soat Cak bertanya demikian, karena melihat sepasang matanya amat suram, pertanda orang tua itu telah punah kepandaiannya. Sai Pian Sih-Gouw Ling mengangguk.

"Kepandaian lohu, telah dipunahkan oleh mereka."

Mendengar itu, hati Soat Cak menjadi tenggelam, dan kemudian dia membatin 'Kalau di luar cuma satu orang, pasti dapat menerjang keluar. Tapi kalau banyak, pasti sulit dan membahayakan.' Akan tetapi Soat Cak sudah membulatkan hati dan nekat. Sebelah tangannya mengempit Ciok Giok Yin dan yang sebelah lagi mengempit Sai Pian Sih-Gouw Ling, lalu menerjang ke luar. Namun mendadak muncul seorang tua di hadapannya. Begitu melihat orang tua itu, seketika juga sukma Soat Cak terbang entah ke mana.