Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 08

 
Jilid 08

Ternyata orang yang berdiri di situ adalah Lu Jin, sepasang matanya menyorot dingin. Sebelum Ciok Giok Yin membuka mulut, dia sudah berkata lagi.

"Adik Kecil, caramu ini apakah tidak melanggar prikemanusiaan?"

Ciok Giok Yin tahu Lu Jin itu telah salah paham padanya. "Saudara telah salah paham padaku."

"Salah paham? Maksudmu?"

"Aku sampai di sini, keadaan sudah begini."

"Kalau begitu, siapa yang berbuat sedemikian kejam?" "Aku justru sedang menyelidikinya." Ciok Giok Yin diam

sejenak, kemudian melanjutkan. "Saudara sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, tentunya tahu Hui Pian-Ma Khie Ou pernah bermusuhan dengan siapa. Coba pikir siapa musuh-musuhnya?"

Lu Jin mengerutkan kening seraya berpikir. Setelah itu dia mendongakkan kepala.

"lni sulit sekali dikatakan," katanya.

Mendadak terdengar suara tawa yang amat dingin. Kemudian tampak sosok bayangan melayang turun di tempat itu. Orang itu mengenakan jubah warna merah, sedangkan baju dalamnya berwarna hitam, dan memakai kain pengikat kepala warna merah pula. Dandanannya seperti orang perkumpulan Sang Yen Hwee.

Dia menatap Ciok Giok Yin dan Lu Jin.

"Kalian berdua merasa heran?" katanya dengan dingin sekali. "Siapa kau?" bentak Ciok Giok Yin.

"Kau tidak berderajat mengetahui namaku!" "Mayat-mayat ini semua adalah perbuatanmu?" "Tidak salah!"

"Apakah tujuanmu membunuh mereka semua? Hatimu begitu kejam, bahkan hewan pun tidak diberi hidup!"

Orang berjubah merah tertawa terkekeh.

"Anak jahanam! Pernahkah kau dengar membabat rumput harus mencabut akarnya?" Dia maju dua langkah, matanya menyorot tajam bagaikan dua bilah belati. "Kalian berdua ingin menuntut balas dendam mereka?"

Lu Jin menyahut dengan suara dalam.

"Apa maksud Anda membunuh mereka semua?" tanya Lu Jin dengan suara dalam.

"Aku senang."

Mendengar itu, gusarlah Lu Jin. "Inikah alasanmu?" bentaknya. "Kau menghendaki alasan apa?"

"Apakah Anda memikirkan akibatnya?" "Apa akibatnya?"

"Kaum rimba persilatan akan bersatu menuntut balas dendam mereka."

Orang berjubah merah tertawa terkekeh-kekeh. "Anda termasuk salah satu di antaranya?" "Tidak salah."

"Kalau begitu, kau akan seperti mereka, terbujur jadi mayat!" Orang berjubah merah langsung menyerang Lu Jin dengan sebuah totokan yang mematikan. Caranya turun tangan, amat cepat sehingga sulit diikuti dengan pandangan mata.

"Hmm!" dengus Lu Jin.

Dia berkelit, namun dadanya tersambar oleh angin totokan itu, membuat dadanya terasa sakit. Hati Ciok Giok Yin tersentak menyaksikan itu. Dia tidak menyangka gerakan orang itu begitu cepat. Oleh karena itu, dia pun langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah orang berjubah merah. Seketika terdengar suara menderu-deru, dan terasa hawa yang amat panas. Orang berjubah merah tertawa terkekeh.

"Soan Hong Ciang!" "Tidak salah!"

"Ilmu andalan Sang Ting It Koay!"

Kemudian orang berjubah merah itu berkata dingin. "Ciok Giok Yin, kau pasti mati!"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. "Sebetulnya siapa kau?"

"Sudah kukatakan tadi, kau tidak berderajat tahu! Tapi sebelum kau mati, agar kau mengerti, masih ada satu orang yang harus diperkenalkan padamu!"

Dia maju selangkah, sekaligus melancarkan sebuah pukulan dahsyat. Ciok Giok Yin yang dalam keadaan gusar, juga melancarkan pukuian dengan sekuat tenaga. Tampak orang berjubah merah berkelebat, menyusul terdengar suara benturan yang amat memekakkan telinga.

Bummm! Ternyata pukulan mereka saling beradu. Badan Ciok Giok Yin agak sempoyongan. Di saat bersamaan, dia pun merasa ada serangkum tenaga lunak menerjang ke arahnya, membuatnya tak dapat mengerahkan hawa murninya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Tiba-tiba teringat seseorang yang memiliki tenaga tersebut.

"Kau... adalah Tok Tiong Tong Cu?" serunya.

"Bocah jahanam! Dugaanmu meleset! Tok Tiong Tong Cu menghendaki nyawamu, aku pun sama, ingin mencabut nyawamu! Tapi legakanlah hatimu, untuk saat ini aku masih membiarkan kau bernafas!"

Orang berjubah merah melancarkan pukulan lagi ke arah Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin ingin berkelit, namun terlambat. Justru disaat bersamaan Lu Jin membentak keras.

"Kau berani!"

Dia langsung menerjang ke arah orang berjubah merah. Akan tetapi kelihatannya orang berjubah merah sudah menduga akan hal tersebut, maka langsung mengibaskan tangan kirinya ke arah Lu Jin.

"Aaaakh...!" jerit Ciok Giok Yin.

Dia terpental dua depa dan mulutnya menyembur darah segar, lalu roboh di tanah.

Sedangkan Lu Jin yang terkena kibasan itu juga terpental, kemudian roboh gedebuk di tanah.

Ciok Giok Yin tidak pingsan. Dia cepat-cepat bangun, sepasang matanya berapi-api menatap orang berjubah merah lalu maju dengan badan sempoyongan. Dia telah mengerahkan lwee kangnya, siap mengadu nyawa dengan orang itu. Akan tetapi, orang berjubah merah memang berkepandaian tinggi sekali. Dia tidak berkelit, melainkan malah maju selangkah sambil menjulurkan tanganya mencengkeram bahu Ciok Giok Yin.

Apabila bahu Ciok Giok Yin tercengkeram, pasti akan remuk seketika. Justru di saat bersamaan Ciok Giok Yin telah berhasil mengerahkan lwee kangnya. Dia langsung menghantam lengan orang berjubah merah. Orang berjubah merah bergerak cepat menarik kembali tangannya sekaligus melancarkan sebuah pukulan.

Blam!

"Aaaakh...!" jerit Ciok Giok Yin.

Mulutnya menyembur darah segar, kemudian roboh pingsan di tanah.

Buuuk!

Saat ini Lu Jin telah bangkit berdiri. Dia menggeram sambil menyerang orang berjubah merah. Namun orang berjubah merah melancarkan pukulan ke arahnya. Lu Jin cepat-cepat berkelit. Kalau terlambat, dia pasti celaka! Orang berjubah merah tertawa terkekeh, lalu maju ke hadapan Ciok Giok Yin ingin menyambaruya. Tapi pada saat bersamaan, mendadak muncul seorang sastrawan berusia dua puluh limaan, wajahnya pucat kekuning-kuningan, seperti berpenyakitan. Akan tetapi, gerakan sastrawan itu amat cepat sekali.

"Kau berani menyentuhnya!" suaranya lantang.

Sastrawan itu langsung menyerang orang berjubah merah dengan sebuah totokan, mengarah jalan darah

tawanya. Apabila jalan darah tersebut tertotok, maka orang yang tertotok itu akan terus tertawa, hingga nafasnya putus. Apa boleh buat, orang berjubah merah terpaksa berkelit. Sepasang matanya menyorot bengis ke arah sastrawan itu. "Sebutkan namamu!" bentaknya.

"Bu Tok Siangseng (Tuan Yang Tak Beracun)!" sahut sastrawan.

Orang berjubah merah menyurut mundur selangkah. "Bu Tok Siangseng?" serunya tanpa sadar.

"Ng! Siapa kau?"

"Kau tidak berderajat tahu!"

Bu Tok Sianseng tertawa dingin.

"Lihat saja berderajat atau tidak!" bentaknya.

Mendadak dia menjulurkan sepasang tangannya yang berwarna hitam, langsung mencengkeram ke arah orang berjubah merah. Kelihatannya orang berjubah merah agak takut terhadap sepasang tangan sastrawan, maka cepat-cepat mencelat ke belakang. Di saat bersamaan, dia pun melancarkan sebuah pukulan aneh. Bu Tok Sianseng berkelit ringan, seketika juga bertanya.

"Kau orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Orang berjubah merah tampak tertegun, kemudian tertawa terkekeh.

"Tidak salah!" sahutnya.

"Apa keddukanmu dalam perkumpulan Sang Yen Hwee?" "Hwee Cang (Ketua perkumpulan)!"

"Sang Yen Hwee?"

"Tidak salah! Kini kau sudah tahu kan?" Bu Tok Siangseng tertawa gelak. "Sudah lama aku ingin menjumpaimu, tak disangka bertemu di sini!"

Kedua orang itu mulai bergerak. Tampak bayangan mereka berkelebatan bagaikan kilat. Ternyata mereka berdua sudah bertarung dengan seru sekali. Akan tetapi, Sang Yen Hwee tidak berani beradu angin pukulan dengan Bu Tok

Sianseng. Sedangkan Bu Tok Sianseng juga kelihatan agak takut terhadap pukulan aneh yang dilancarkan Sang Yen Hwee itu. Mereka berdua terus bertarung, dan kelihatannya masih seimbang. Sementara Lu Jin sudah mendekati Ciok Giok Yin.

Wajah Ciok Giok Yin yang tampan itu tampak kekuning- kuningan, nafas juga lemah, pertanda dia telah terluka dalam yang amat parah. Karena itu, Lu Jin sudah tidak tertarik akan pertarungan yang sedang berlangsung seru itu. Dia langsung menyambar Ciok Giok Yin dan dibawanya pergi.

Sampai di dalam sebuah rimba, barulah Lu Jin menaruh Ciok Giok Yin ke bawah. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam bajunya dan menuang sebutir pil warna hitam, lalu dimasukkan ke mulut Ciok Biok Yin Setelah itu, dia mengurut beberapa jalan darahnya. Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan. Dia melihat keringat sebesar kacang hijau merembes ke luar dari kening Lu Jin.

Ternyata Lu Jin masih mengurut jalan darahnya. Ciok Giok Yin amat terharu.

"Terimakasih, Saudara," ucapnya.

Setelah mendengar suara Ciok Giok Yin, barulah Lu Jin berhenti mengurut. Dia menghapus keringat di keningnya seraya berkata.

"Bagaimana rasamu sekarang, Saudara Kecil?" "Cukup beristirahat sejenak, aku akan pulih kembali."

Usai berkata, Ciok Giok Yin segera duduk bersila dan memejam mata sambil menghimpun hawa murninya. Lu Jin berdiri di sampingnya, menjaganya dengan penuh perhatian. Berselang beberapa saat, Ciok Giok Yin bangkit berdiri lalu menjura pada Lu Jin.

"Atas pertolongan Saudara, aku... amat berterimakasih sekali." katanya.

"Aku cuma membawamu ke mari, yang menolong kita berdua justru orang lain," sahut Lu Jin. Ciok Giok Yin

tertegun. Ternyata disaat kemunculan Bu Tok Sianseng, dia teleh pingsan, maka tidak tahu akan kehadrian sastrawan tersebut. Oleh karena itu dia bertanya.

"Siapa?"

"Bu Tok Sianseng." "Bu Tok Sianseng?" "Ng!"

"Siapa Bu Tok Sianseng itu?"

"Aku tidak pernah mendengar sebelumnya. "Siapa orang berjubah merah itu?"

"Sang Yen Hwee."

Ciok Giok Yin terperanjat.

"Hah? Dia berkertak gigi. "Aku bersumpah pasti akan membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee!"

Lu Jin diam saja.

"Sekarang Saudara mau ke mana?" tanya Ciok Giok Yin. "Melaksanakan janjiku pada Adik Kecil. Sekarang juga aku

akan pergi mencari."

"Terimakasih, kelak aku pasti membalas budi kebaikan Saudara." "Tidak usah. Sampai jumpa."

Lu Jin melesat pergi, dan sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya, Suasana di dalam rimba itu sunyi sepi. yang terdengar hanya suara hembusan angin. Saat ini, hari sudah mulai pagi. Hembusan angin pagi yang amat dingin itu, terasa menusuk tulang. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu.

Ternyata dia sedang berpikir, apa yang harus dikerjakan selanjutnya. Tiba-tiba dia teringat akan pesan Tiong Ciu Sin Ie sebelum mati, bahwa dirinya harus pergi ke Gunung Cong Lam San menemui Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat. Mengapa tidak berangkat ke sana?

Asal berhasil menemui Can Hai It Kiam, tentunya dia akan mengetahui asal-usulnya. Sejak dia dilahirkan sama sekali tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Karena berpikir demikian, mendadak wajahnya berubah gusar dan sepasang matanya berapi-api. Ternyata dia teringat ketika berusia tujuh delapan tahun, ikut Tiong Ciu Sin Ie tinggal di perkumpulan Cou Keh Cuang. Lantaran kurang hati-hati, dia memecahkan sebuah teko giok milik Cou Yun Liong majikan perkumpulan keluarga Cou, sehingga digebuk oleh Cou Yun Liong, bahkan juga dicacinya 'Anak Sundal!' Ketika itu, Tiong Ciu Sin Ie sedang ke luar. Sejak itu, kalau Tiong Ciu Sin Ie keluar, Cou Yun Liong pasti memukulnya dan mengancamnya tidak boleh mengadu pada Tiong Ciu Sin Ie.

Dan sejak itu pula, keluarga Cou semuanya memanggilnya 'Anak Sundal'. Untung Tiong Ciu Sin Ie tahu gelagat yang tidak baik itu, langsung membawanya pergi. Teringat akan kejadian itu, api kegusarannya pun memuncak. Oleh karena itu dia mengambil keputusan untuk ke perkumpulan keluarga Cou, untuk menghina Cou Yun Liong, agar rasa dongkolnya dalam hati terlampiaskan.

Badan Ciok Giok Yin bergerak, dia sudah melesat ke luar dari rimba itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia berhenti. Di mana letak perkumpulan keluarga Cou? Ternyata dia sudah tidak ingat lagi. Lalu harus ke mana mencari Cou Keh Cuang itu? Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menunda kepergiannya itu. Tiba-tiba dia mendengar suara desiran baju di belakangnya. Dia tersentak dan langsung membalikkan

badannya sambil mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Setelah membalikkan badannya, dia terbelalak. Ternyata di situ berdiri kurang lebih enam belas orang, di antaranya terdapat padri dan tosu, semuanya menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian.

Seorang padri berusia lima puluhan maju ke depan, lalu merangkapkan sepasang tangannya di dada seraya menyebut.

"Omitohud! Apakah sicu adalah Ciok Giok Yin?" Ciok Giok Yin tertegun.

"Benar. Taysu ada petunjuk apa?"

Sepasang mata hweshio itu menyorot tajam.

"Aku adalah Thian It Ceng dari Kuil Siauw Lim Si." "Sudah lama aku mendengar nama besar Taysu." Thian It Ceng maju selangkah lagi.

"Aku memberanikan diri, mengundang sicu ke kuil Siauw Lim Si."

Ciok Giok Yin tercengang, sebab dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Siauw Lim Si, mengapa Thian It Ceng mengundangnya ke sana?

"Ada urusan apa Taysu mengundangku ke Kuil Siauw Lim Si?" "Sicu harus mengerti dalam hati."

Ciok Giok Yin tampak tidak senang.

"Aku tidak mengerti, mohon Taysu menjelaskan!" Mendadak seorang tosu membentak. "Taysu, untuk apa banyak bicara dengannya?"

Tosu itu kelihatan sudah mau turun tangan terhadap Ciok Giok Yin. Tapi Thian It Ceng segera mengibaskan lengan jubahnya.

"Sabar, tosu!"

Thian It Ceng memandang Ciok Giok Yin, kemudian berkata perlahan-lahan.

"Tentunya sicu masih ingat, sicu pernah melukai tiga orang Gobi Pay, demi menyelamatkan seorang gadis, lalu gadis itu sicu bawa ke perkumpulan Bwee Cuang."

"Tidak salah," sahut Ciok Giok Yin dengan dingin. "Sicu punya hubungan apa dengan gadis itu?"

"Taysu adalah orang yang telah menyucikan diri, kalau bicara harus dipikirkan dulu. Berkelana di dunia persilatan menolong seorang gadis, apakah harus punya hubungan?"

Thian It Ceng tidak menyangka Ciok Giok Yin bermulut begitu tajam, maka membuat air mukanya berubah.

"Tahukah sicu siapa gadis itu?"

"Tidak tahu. Aku cuma tahu dia adalah seorang gadis yang dihina orang."

"Dia adalah murid perkumpulan Sang Yen Hwee," kata Thian It Ceng.

"Murid perkumpulan Sang Yen Hwee?" "Tidak salah."

"Bagaimana Taysu tahu tentang itu?"

"Aku dengar perkumpulan Sang Yen Hwee ingin menguasai dunia persilatan, maka menyuruh para murid terjun ke dunia persilatan, untuk menyelidiki semua partai besar, agar dapat memusnahkan semua partai besar tersebut."

"Benarkah urusan itu?"

"Sedikitpun tidak salah." Sepasang mata Thian It Ceng menyorot tajam lagi. "Aku tahu akan sifat sicu yang lembut. Demi membersihkan namamu, maka kuundang sicu ke Kuil Siauw Lim Si, sekaligus bertanggung jawab atas ketiga orang Gobi Pay yang telah mati itu."

Ternyata Thian It Ceng demi kematian tiga orang Gobi Pay itu, sedangkan Ciok Giok Yin yang telah ketularan sifat aneh Sang Ting It Koay, merasa tersinggung.

"Kalau begitu, Taysu juga menganggap diriku murid perkumpulan Sang Yen Hwee?" katanya dengan suara dalam.

"Tidak bisa tidak berpikir demikian." Ciok Giok Yin tertawa gelak.

"Taysu juga tahu aku bermusuhan dengan perkumpulan Sang Yen Hwee?"

"Itu urusan sicu, yang jelas demi membersihkan nama sicu, maka sicu harus ikut aku ke Kuil Siauw Lim Si. Aku berani menjamin keselamatan sicu."

Sesungguhnya di saat ini delapan partai besar di dunia persilatan telah mengakui Siauw Lim Pay sebagai Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan). Maka mengenai urusan besar maupun kecil, pihak Siauw Lim Pay yang akan membereskannya. Berhubung Ciok Giok Yin membunuh tiga tosu Gobi Pay, menyelamatkan gadis itu, sehingga menimbulkan kecurigaan delapan partai besar.

Lagi pula Ciok Giok Yin juga membunuh Khiam Sian Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si. Meskipun Ciok Giok Yin telah menyatakan, itu adalah demi menuntut balas dendam Sang Ting It Koay, namun kaum rimba persilatan tetap menganggap asal-usul Ciok Giok Yin tidak jelas, maka mereka tetap bercuriga. Oleh karena itu, setiap partai besar mengutus beberapa murid handalnya ke Siauw LIm Si untuk berunding. Akhirnya Siauw Lim Pay memutuskan mengundang Ciok Giok Yin ke Kuil Siauw Lim Si untuk di sidang. Sementara Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Kalau aku bilang tidak, Taysu mau bagaimana?" "Tentu tidak boleh membiarkannya."

"Maksud Taysu?"

"Terpaksa menggunakan kekerasan untuk memaksa sicu ke Kuil Siauw Lim Si!"

"Kalau begitu, kalian ingin bertarung?" "Itu apa boleh buat."

Mendadak wajah Ciok Giok Yin menyeratkan hawa membunuh.

"Kuberitahukan! Kini aku masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, maka aku tidak bisa ikut ke Kuil Siauw Lim Si. Kelak kalau urusanku telah beres, aku pasti berkunjung ke sana." Dia menjura pada mereka. "Sampai jumpa...!"

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, sudah terdengar suara bentakan yang mengguntur.

"Kau ingin kabur?"

Tampak bayangan-bayangan berkelebat, tahu-tahu Ciok Giok Yin sudah terkepung. Betapa gusarnya Ciok Giok Yin!

"Kalian ingin bergebrak? Sebetulnya aku tidak takut urusan!" bentaknya.

"Harap sicu pikir baik-baik," kata Thian It Ceng. "Pikir saja sendiri!"

"Sicu berkeras tidak mau ikut ke Kuil Siauw Lim Si?" "Benar!"

Thian It Ceng mengerutkan kening.

"Omitohud! Apa boleh buat, aku terpaksa berlaku kasar!"

Mendadak dia mengibaskan lengan jubahnya. Seketika terasa tenaga yang amat kuat dan lunak menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

"Bagus!" seru Ciok Giok Yin.

Dia mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, dan seketika terasa hawa yang amat panas menerjang ke arah Thian It eng. Ternyata Thian It Ceng tahu kelihaian pukulan itu. Maka dia cepat-cepat berkelit. Mendadak terdengar suara bentakan keras.

"Bayar nyawa suteku!"

Seorang tosu tua sudah menyerang Ciok Giok Yin.

Ternyata tosu tua itu adalah murid Gobi Pay. Dia melancarkan pukulan yang amat dahsyat, ingin membunuh Ciok Giok Yin dengan satu pukulan. Saat ini, walau Ciok Giok Yin memiliki kesabaran, namun tidak dapat bersabar lagi. Dia bergeretak gigi, kemudian berkata dingin.

"Kalian yang mendesak, jangan menyalahkan aku bertindak kasar!"

Tiba-tiba badannya mencelat ke atas, ternyata Ciok Giok Yin telah mengeluarkan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, jurus pertama Terbang. Telapak tangannya berkelebatan dan seketika terdengar suara jeritan. Tampak sosok bayangan terpental beberapa depa, dan ketika roboh kepalanya membentur sebuah batu besar, sehingga pecah dan otaknya berhamburan. Di saat bersamaan terdengar seseorang berseru kaget.

"Hong Lui Sam Ciang!"

"Tidak boleh melepaskan bocah itu, dia pasti murid Kui Mo!" "Maju!"

Mereka semua menerjang ke arah Ciok Giok Yin, termasuk Thian It Ceng dari Kuil Siauw Lim Si. Kini suasana di tempat itu berubah tegang. Sedangkan Ciok Giok Yin terus melancarkan jurus pertama itu. Terndengar suara jeritan yang tak henti- hentinya. Saat ini sudah bertambah tiga sosok mayat. Ciok Giok Yin amat membenci mereka, sebab mereka sudah menyucikan diri, namun sama sekali tidak membicarakan peraturan, bertindak semuanya. Sudah pasti membuatnya amat gusar hingga tak terkendali. Mendadak Thian It Ceng mencelat ke luar. Menyusul tampak seorang hweshio terpental ke luar juga. Mereka berdua berbisik-bisik, kemudian hweshio itu melesat pergi. Akan tetapi, betapa tajamnya mata Ciok Giok Yin! Dia tertawa gelak seraya berseru.

"Kalian mau cari bantuan?"

Kebencian Ciok Giok Yin telah memuncak, maka turun tangan tanpa memberi ampun. Untung dia belum berhasil menguasai jurus kedua dan ketiga. Kalau dia sudah menguasai jurus-jurus tersebut, mungkin mereka semua sudah tergeletak menjadi mayat. Terdengar lagi suara jeritan. Bertambah lagi dua sosok mayat di tanah. Akan tetapi, meskipun dia berkepandaian tinggi, namun menghadapi penyerangan yang begitu banyak, lama kelamaan membuatnya kewalahan juga, mata- nya mulai berkunang-kunang. Sedangkan para penyerang sudah tahu akan kelihayan Hong Lui Sam Ciang, maka mereka bertarung dengan jarak jauh. Ciok Giok Yin kurang berpengalaman. Dia terus menyerang dengan sekuat tenaga, sudah barang tentu membuatnya cepat lelah. Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras.

"Berhenti!" Tampak sosok bayangan melayang turun di tempat. Ternyata seorang tua jenggot dan bewoknya amat panjang. Semua orang langsung mundur. Thian It Ceng maju selangkah lalu memberi hormat.

"Maaf! Tidak tabu kedatangan Ciak sicu, mohon dimaafkan!"

Orang tua berjenggot dan berbewok panjang itu balas memberi hormat, kemudian berkata.

"Taysu dan lainnya mengeroyok saudara kecil ini, bolehkah menjelaskan sebab musababnya?"

Thian It Ceng memandang Ciok Giok Yin sejenak.

"Aku mengundang sicu kecil itu ke Kuil Siauw Lim Si, namun sicu kecil itu tidak mau, sebaliknya malah turun tangan jahat."

Orang tua berjenggot dan berbewok panjang itu memandang Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian, sama sekali tidak mempedulikan Thian It Ceng.

"Saudara kecil, mereka adalah orang-orang yang menyucikan diri, tapi justru memfitnahmu, aku merasa itu tidak adil."

Ciok Giok Yin merasa terharu dan seketika terkesan baik terhadap orang tua itu.

"Bolehkah aku tahu gelar lo cianpwee?" Orang tua itu mendekati Ciok Giok Yin.

"Kawan-kawan dunia persilatan memberi gelar Cang Hu Khek (orang Berbewok Panjang) padaku, namaku Ciak Kun. Aku akan memberesi urusan ini. Kebetulan rumahku tak jauh dari sini. Bagaimana Saudara Kecil mampir ke rumahku sebentar?"

"Aku masih ada urusan penting, lain hari. "

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Ciak Kun sudah tertawa gelak.

"Biar bagaimanapun, aku harap Saudara Kecil sudi mampir ke rumahku untuk minum teh. Setelah itu, barulah Saudara Kecil melanjutkan perjalanan."

Cang Hu Khek memandang semua orang-orang itu. "Urusan kalian semua selesai sampai di sini. Mengenai

kesalah pahaman Saudara Kecil ini, akan kupertanggung-

jawabkan pada ketua kalian."

Dia langsung menarik Ciok Giok Yin meninggalkan tempat itu. Ciok Giok Yin memang sudah terkesan baik terhadap Cang Hu Khek, maka dia menurut. Tak seberapa lama, mereka berdua sudah sampai di rumah Cang Hu Khek-Ciak Kun, kemudian orang tua itu mengajak Ciok Giok Yin masuk. Setelah duduk, orang tua itu langsung menyuruh para pelayan menyajikan arak wangi. Mereka berdua minum sambil bercakap-cakap.

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang kesalah pahaman partai-partai besar itu terhadap dirinya. Ceng Hu Khek-Ciak Kun menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Di dunia persilatan memang sering terjadi kesalah pahaman. Saudara Kecil tidak usah cemas, cepat atau lambat aku akan menjernihkan kesalah pahaman itu."

"Terimakasih, lo cianpwee!"

Berselang sesaat, para pelayan juga sudah menyajikan beberapa macam hidangan. Mereka berdua mulai makan sambil melanjutkan percakapannya. Akan tetapi. Ucapan

Ciok Giok Yin terhenti karena mendadak kepalanya terasa pusing sekali.

"Celaka!" serunya.

Ciok Giok Yin roboh, namun masih sempat mendengar Cang Hu Khek-Ciak Kun berkata. "Akhirnya kau terjebak. " Selanjutnya dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi, ternyata dia sudah pingsan. Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman.

Matanya terbuka perlahan-lahan. Dia menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak apa pun, sebab tempat itu amat gelap. Dia merasa dirinya terikat di sebuah balok kayu.

Teringat dirinya terpedaya oleh Cang Hu Khek-Ciak Kun, seketika kegusaranya bergolak di rongga dadanya.. Dia mengerahkan lwee kangnya, tapi malah merasa tali yang mengikatnya bertambah kencang. Dapat dibayangkan, bagaimana kegusarannya di saat ini! Dia berkerak gigi seraya berkata sengit.

"Dasar tua bangka! Aku pasti akan memusnahkan rumah ini!" Mendadak terdengar suara sahutan di luar.

"Lebih baik kau menunggu dengan diam! Kalau tidak, kau akan tahu rasa!"

Ciok Giok Yin langsung membentak.

"Aku tidak bermusuhan denganmu, mengapa kalian menggunakan cara yang amat rendah ini menjebakku?"

Hening di luar, tidak terdengar suara apa pun. Kegusaran Ciok Giok Yin sungguh memuncak, sehingga rambutnya nyaris berdiri semua. Sementara sang waktu terus berlalu. Di tempat itu amat gelap, tidak dapat membedakan siang atau

malam. Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat ringan, dan tak lama tampak sesosok bayangan berkelebat ke dalam. Akan tetapi, setelah ditegasi, justru tidak tampak apa pun. Itu membuat Ciok Giok Yin merinding. Mendadak dia merasa ada hembusan angin yang amat dingin ke arah lehernya, membuat bulu kuduknya pada bangun semua, sehingga tanpa sadar dia berseru.

"Hantu!"

Menyusul terdengar suara yang amat lirih. "Kau takut hantu?"

Sesunggunya Ciok Giok Yin memang merasa takut, namun dia menyahut.

"Tidak takut!"

"Kau jangan sok berani, aku justru hantu." "Sebetulnya siapa kau?"

"Bok Tiong Jin."

Seketika Ciok Giok Yin mengeluarkan 'Hah' Setelah itu dia bertanya.

"Kau... Bok Tiong Jin?" "Tidak salah."

"Mau apa kau kemari?" "Menolongmu."

Hati Ciok Giok Yin menjadi kebat-kebit tidak karuan. Ternyata Bok Tiong Jin memang merupakan hantu wanita yang selalu mengikutinya. Jelas hantu wanita itu menghendaki

hatinya. Terdengar Bok Tiong Jin berkata.

"Setelah kulepaskan tali yang mengikat dirimu, kau harus segera meninggakan tempat ini, tidak boleh menengok ke belakang!"

Ciok Giok Yin tercengang. "Mengapa?" katanya.

"Kau harus tahu, wajah hantu amat menakutkan. Kau berani melihat wajah hantu?"

Ciok Giok Yin terdiam. Tiba-tiba dia merasa tangan dan kakinya menjadi renggang. Ternyata tali yang mengikat dirinya telah terlepas. Dia segera bangkit berdiri, lalu maju tiga langkah, namun mendadak berhenti. Ternyata hatinya tergerak dan membatin, 'Aku justru ingin melihat wajah hantu itu'. Dia segera membalikkan badannya, tapi seketika dia menjerit.

"Aduuuh!"

Ternyata dia melihat sosok hantu wanita yang amat menyeramkan. Rambutnya panjang terurai ke bawah, lidahnya panjang merah sampai di dada dan sepasang biji matanya melotot ke luar. Pantas tadi dia berseru, kini sekujur badannya pun menjadi merinding. Sepasang kakinya jadi lemas, tak sanggup melarikan diri dari tempat itu. Justru di saat bersamaan terdengar suara langkah menuju tempat

tersebut. Bok Tiong Jin segera mengibaskan rambutnya. Bukan main! Ternyata ujung rambut itu berhasil menotok jalan darahnya membuat Ciok Giok Yin pingsan seketika. Di saat siuman, dia sudah berada di bawah pohon besar.

Dia cepat-cepat meloncat bangun. Namun mendadak terdengar suara di belakangnya.

"Aku pikir perutmu pasti sudah lapar. Di sampingmu ada dua ekor ayam bakar, makanlah!"

Memang tercium aroma ayam bakar yang amat

harum. Sedangkan yang berbicara itu, tidak lain Bok Tiong

Jin. Kini Ciok Giok Yin tidak berani membalikkan badannya lagi, cuma berkata.

"Terima kasih!"

Tapi dia tidak berani menjulurkan tangannya mengambil ayam bakar itu, sebab dia pikir, hantu dapat membuat makanan apa pun dari kotoran hewan. Jangan-jangan kedua ekor ayam bakar itu dibuat dari kotoran hewan pula. Karena itu, dia tidak berani makan. Bok Tiong Jin sepertinya tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin, maka berkata dengan dingin.

"Kau boleh coba dulu." Ciok Giok Yin memang sudah lapar sekali. Dia menjulurkan sebelah tangannya meraba, benar ayam bakar yang masih terasa hangat. Ciok Giok Yin, mencoba satu gigitan, ternyata cukup gurih dan lezat. Mulailah dia makan dengan lahap.

Dalam sekejap kedua ekor ayam bakar telah habis dimakannya. Dia mengusap perutnya yang telah merasa kenyang, lalu berkata perlahan.

"Terimakasih atas pemberian ayam bakar itu!" Bok Tiong Jin menyahut dingin.

"Tidak usah berterima kasih. Ingat, hatimu telah menjadi milikku!"

Seketika Ciok Giok Yin merinding.

"Aku tahu itu, kapan Nona mau ambil, aku pasti tidak menyayangi hatiku." katanya dengan suara agak gemetar.

"Bagus!"

Hening sejenak, kemudian Bok Tiong Jin berkata lagi. "Kau memperoleh apa di dalam Goa Cian Hud Tong itu?" "Sebuah botol giok kecil!"

"Apa isinya?"

"Tiada harganya untuk dibicarakan." "Maksudmu?"

Ciok Giok Yin cuma menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyahut sama sekali.

"Katakan, tidak usah ragu!" desak Bok Tiong Jin. Terpaksa Ciok Giok Yin memberitahukan. "Terdapat secarik kertas yang di dalamnya tertera semacam ilmu silat tinggi. Kalau tidak salah, ilmu Jari!"

"Ilmu jari apa?" "Ilmu Jari Darah." "Ilmu Jari Darah?"

Bok Tiong Jin tampak tercengang.

"Kau sudah mempelajari Ilmu Jari Darah itu?" "Telah kuhafal, namun tidak pernah kupraktekkan."

Bok Tiong Jin diam. Suasana jadi hening. Ciok Giok Yin mengira Bok Tiong Jin telah pergi, maka langsung menarik nafas lega. Dia mencoba membalikkan badannya, justru di saat bersamaan terdengar lagi suara Bok Tiong Jin bertanya.

"Masih terdapat benda apa di dalam botol giok kecil itu?"

Ciok Giok Yin langsung diam, tidak berani membalikkan badannya.

"Sebutir pil Api Ribuan Tahun," sahutnya. "Pil Api Ribuan Tahun?"

"Ng!"

"Kau tahu pil itu dibuat dari apa?"

"Dibuat dari mutiara kura-kura api yang berusia ribun tahun." "Kau sudah makan?"

"Ya."

"Kalau begitu, lwee kangmu pasti bertambah tinggi. Ya, kan?" "Tidak salah, namun... tubuhku menjadi berbeda dengan orang biasa."

"Maksudmu?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang. "Yaah! Kurang leluasa kuberitahukan."

Beberapa saat kemudian berulah Bok Tiong Jin berkata. "Katakan, tidak usah merasa kurang leluasa!"

Karena didesak, Ciok Giok Yin terpaksa memberitahukan tentang apa yang tertulis di kertas itu. Terdengar suara Bok Tiong Jin yang agak gemetar.

"Apakah tiada jalan keluarnya?"

"Aku mengerti ilmu pengobatan, namun tak terpikirkan suatu cara untuk memecahkan masalah itu."

"Kalau begitu, kau akan hidup tanpa menikah?" "Apa boleh buat!"

"Apakah kau mengerti, tidak punya keturunan sama juga seperti anak yang tak berbakti?"

"Tentunya aku tahu."

"Kalau tahu, kau harus mencari jalan keluarnya. Setahuku, ada beberapa anak gadis yang amat baik padamu. Kau tidak boleh mengecewakan mereka."

"Kau cuma mentertawakanku. Aku tidak punya tempat tinggal yang tetap, dan keadaanku amat miskin, bagaimana mungkin ada anak gadis baik padaku? Kalaupun ada, itu hanya kebetulan bertemu saja." "Menurutmu, seandainya ada wanita yang paham tentang Im Yang Ceng Koy, juga tidak bisa dilakukan oleh satu dua wanita! Ya, kan?"

"Ya."

"Kitab Im Yang Ceng Koy hanya dimiliki golongan hitam, sedangkan golongan putih tidak mungkin menyimpan kitab itu. Lalu harus ke mana mencari kitab itu?"

"Lihat bagaimana nanti. Kalau tidak, seumur hidup aku tidak akan punya istri."

"Apakah itu suara hatimu?" "Tentu."

"Kalau memang begitu, kelak pasti ada satu orang menemanimu selama-lamanya."

"Siapa?"

Tiada sahutan. Berselang beberapa saat juga tidak terdengar sahutan. Perlahan-lahann Ciok Giok Yin membalikkan badannya. Ternyata Bok Tiong Jin sudah tidak kelihatan.

Seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Di tengah malam itu, Ciok Giok Yin tidak berani lama-lama di tempat itu harus segera pergi. Akan tetapi, mendadak terdengar suara tangisan yang amat memilukan. Suara tangisan itu terbawa angin hingga terdengar sampai di tempat itu. Suara tangisan yang amat sedih, pilu dan...

Ciok Giok Yin tersentak, lalu bertanya dalam hati. 'Apakah itu juga suara tangisan arwah?' Sebetulnya Ciok Giok Yin tidak mempedulikan suara tangisan itu. Namun dia merasa heran, sehingga sepasang kakinya membawa dirinya ke tempat suara tangisan tersebut. Tak seberapa lama dia sampai di tempat itu. Tampak seorang wanita berpakaian hitam berlutut di hadapan sebuah kuburan yang masih baru, terus menerus menangis dengan sedih sekali. Ciok Giok Yin mendekatinya namun wanita itu kelihatannya tidak tahu akan kehadiran Ciok Giok Yin. Dia masih terus menangis dengan sedih sehingga air matanya jatuh berderai-derai. Tempat ini merupakan hutan belantara yang amat sunyi. Malam semakin larut. Kuburan baru! Di tambah suara tangisan yang amat memilukan, sehingga membuat suasana di tempat itu tambah menyeramkan. Tiba- tiba wanita itu bangkit berdiri, namun tetap di hadapan kuburan baru itu. Dia sama sekali tidak menghiraukan Ciok Giok Yin yang berada di sisinya, sepertinya tidak melihatnya.

"Kanda Mok, aku menunggumu hingga dua puluh tahun, tidak tahunya cuma menemukan kuburanmu ini. Lalu apa artinya aku hidup?" gumamnya.

Usai bergumam, wanita itu mulai menangis lagi. Sementara Ciok Giok Yin cuma melihat wanita itu berambut panjang, namun tidak melihat jelas bagaimana parasnya. Suara tangisannya yang memilukan itu, membuat hati Ciok Giok Yin ikut berduka. Mendadak sepasang mata Ciok Giok Yin terbelalak, ternyata dia melihat pada batu nisan di depan kuburan itu, terdapat tulisan 'Makam Tiat Yu Kie Su (Satria Baju Besi) Mok Ho'

Begitu melihat tulisan itu, seketika juga mata Ciok Giok Yin berapi-api, dia maju selangkah sambil berkertak gigi.

"Kok bisa begitu kebetulan, kuburan baru..." gumamnya.

Wanita baju hitam itu segera menoleh, dan suara tangisannyapun berhenti. Wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang, tapi sepasang matanya menyorot tajam.

"Kau bilang apa barusan?" katanya dengan dingin sekali. "Aku bilang amat aneh, kuburan baru," sahut Ciok Giok Yin

yang dengan dingin pula.

"Kau anggap dia belum mati?" "Dugaanku memang begitu." "Siapa kau?" "Ciok Giok Yin."

"Kau punya dendam dengannya?" "Boleh dikatakan demikian. Kau?"

Wanita berbaju hitam memandang kuburan baru itu, kemudian berkata dengan sengit.

"Aku justru tidak terpikirkan, mungkin kau menghindariku! Kalaupun kau sudah mati, aku juga harus membawa tulang belulangmu!"

Mendadak dia melancarkan sebuah pukulan ke arah kuburan baru itu.

Bum!

Ketika wanita berbaju hitam itu mau melancarkan pukulan lagi, Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya mencegah,

"Kau dan dia punya dendam?" katanya.

"Kau tidak sudah tahu, cepat mundur!" bentak wanita itu dengan gusar.

Dia terus melancarkan pukulan dahsyat ke arah kuburan baru itu, sehingga kuburan baru itu jadi berlubang. Ciok Giok Yin dan wanita berbaju hitam itu memandang ke dalam, tidak tampak apa pun di dalam lubang itu. Tidak salah lagi, kuburan baru itu hanya untuk mengelabuhi orang. Kalau begitu, Tiat Yu Kie Su-Mok Ho pati masih hidup. Lalu mengapa dia membuat kuburan itu? Memang sulit untuk diterka. Ciok Giok Yin berkata dalam hati. 'Apakah dia ingin mengelabuiku? Ini memang mungkin sekali!'

Di saat Ciok Giok Yin sedang berkata dalam hati, wanita berbaju hitam itu berkata.

"Dia belum mati, aku harus mencarinya." Tanpa memperdulikan Ciok Giok Yin, wanita itu langsung pergi. Namun Ciok Giok Yin segera melesat ke hadapannya. "Aku tanya, Tiat Yu Kie Su berada di mana?" katanya.

"Kau memang banyak bertanya! Kalau aku tahu tempat tinggalnya, buat apa aku masih harus mencarinya?" sahut wanita berbaju hitam itu dengan gusar. Dia mantap Ciok Giok Yin. "Namun aku yakin akan berhasil mencarinya. Kalau kau bernyali, tiga bulan kemudian, kau boleh datang di tebing Mong Hu An (Tebing Memandang Suami) di Gunung Cong Lam San, aku akan mewakilinya menyelesaikan urusan kalian." lanjutnya.

Ciok Giok Yin tidak tahu wanita berbaju hitam itu punya hubungan apa dengan Tiat Yu Kie Su-Mok Ho.

"Baik, tiga bulan kemudian aku pasti ke sana."

Wanita berbaju hitam itu langsung melesat pergi. Ciok Giok Yin terbelalak, sebab ginkang wanita itu amat tinggi. Ciok Giok Yin menatap kuburan kosong itu, kemudian dengan sengit membanting kakinya, lalu melesat pergi. Kini tujuannya ke Gunung Cong Lan San menemui Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat, agar tahu asal-usulnya. Dalam perjalanan menuju Gunun Cong Lan Sam, dia pun teringat akan kertas yang diperolehnya dari dalam Goa Cian Hud Tong yang di dalamnya tertera ilmu Jari Darah. Oleh karena itu, dia mulai melatihnya. Dia pun ingat tulisan yang di dalam kertas, bahwa apabila berhasil menguasai ilmu Jari Darah dengan sempurna, maka dapat menembus batu, bahkan dapat melukai orang dalam jarak seratus langkah, namun tidak boleh membunuh orang.

Teringat akan itu, diam-diam Ciok Giok Yin bergirang dalam hati. Sebab apabila berhasil, dia pun akan membasmi para murid perkumpulan Sang Yen Hwee, berikut ketuanya. Setelah itu dia akan berusaha mencari Chiu Tiong Thau, murid murtad gurunya. Dia akan mengorek keluar jantung hatinya untuk menyembahyangi gurunya. Ciok Giok Yin terus berlatih sambil melakukan perjalanan. Kebetulan dia melihat sebuah pohon besar. Seketika juga dia menggerakkan dua jarinya ke arah pohon besar itu.

Tampak cahaya merah dari kedua jarinya meluncur ke arah pohon itu, dan di saat bersamaan, terdengar pula suara ' Srerrrrt' .

Pohon itu telah tumbang. Bukan main dahsyatnya ilmu Jari Darah itu! Padahal Ciok Giok Yin baru mulai berlatih, namun hasilnya sudah begitu luar biasa. Seandainya badan orang terserang ilmu Jari Darah, bukankah akan berlubang?

Keberhasilan itu membuat Ciok Giok Yin girang bukan main. Dia langsung melesat pergi laksana kilat. Mendadak samar- samar dia melihat sebuah perkumpulan di depan.

Pemandangan di perkumpulan itu, membuatnya seperti kenal. Tapi kapan dia pernah ke mari, sama sekali tidak

ingat. Karena itu, dia mendekati perkumpulan tersebut. Setelah dekat, sepasang matanya langsung berapi-api. Ternyata di pintu gerbang perkumpulan terdapat tulisan 'Perkumpulan Keluarga Cou' Seketika dia teringat akan perlakuan Cou Yun Liong terhadap dirinya. Sungguh kebetulan dia tiba di perkumpulan tersebut. Di saat Ciok Giok Yin baru mau melangkah memasuki pintu gerbang itu, tiba-tiba muncul empat penjaga lalu menghadangnya. Salah seorang dari mereka ketika melihat Ciok Giok Yin, langsung terbelalak.

"Saudara Kecil, kau adalah..." serunya. Kelihatannya penjaga itu merasa kesal, namun lupa namanya, maka tidak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya Ciok Giok Yin masih ingat penjaga itu, sebab penjaga itu juga pernah mencacinya sebagai anak sundal, bahkan pernah memukulnya. Pada waktu itu, Ciok Giok Yin masih kecil, cuma berani menangis seorang diri, tanpa berani mengadu pada Tiong Ciu Sin Ie. Saat ini begitu dia melihat penjaga itu, matanya langsung membara.

"A Piau, kau sudah tidak kenal aku lagi?" katanya dengan dingin.

Ternyata panjaga yang berwajah kasar itu bernama An Piau. Dia tampak tertegun, melainkan malah tertawa. "Saudara Kecil, maaf! Entah kita pernah bertemu di mana?"

An Piau memandang sepasang mata Ciok Giok Yin, seketika merasa merinding dan tanpa sadar menyurut mundur satu langkah.

Diam-diam dia berkata dalam hati. 'Sungguh tajam dan dingin sepasang mata bocah ini!' Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hm! Anak sundal yang sepuluh tahun lampau itu, kemari mengunjungi majikan kalian. Tentunya kau tidak akan lupa kan?"

An Piau langsung berseru kaget. "Ciok Giok Yin?"

"Tidak salah. Tentunya kau tidak menduga aku akan ke mari, bukan?"

Seketika An Piau tersenyum licik.

"Sungguh tak terduga kau akan ke mari, cepat. "

Ketika melihat senyum licik itu, Ciok Giok Yin merasa muak dan gusar. Dia segera mencengkeram lengan An Piau seraya berkata dingin.

"An Piau, sepuluh tahun yang lampu, aku nyaris mati di tanganmu! Hari ini kau masih mau bilang apa?"

Mendadak An Piau menjerit-jerit kesakitan, wajahnya berubah pucat pias dan keringatnya pun mengucur deras membasahi pakaiannya. Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin mengendurkan tangannya.

"An Piau! Enak rasanya?" katanya dengan dingin. Setelah itu, dia pun membentak gusar.

"Sepuluh tahun yang lampau, ketika kau memukulku, apakah kau tidak berpikir, badanku tahan atau tidak?"

Usai membentak, Ciok Giok Yin mengerahkan tiga bagian tenaganya. Terdengar suara 'Kraaak'. Ternyata lengah An Piau sudah patah.

"Aaaaakh...!" jeritnya.

Ciok Giok Yin mendengus dingin. "Hm! Dasar tak berguna!"

Setelah itu, dia merogoh ke dalam bajunya, mengambil tiga butir obat Ciak Kim Tan, lalu diberikan kepada penjaga lain.

"Suruh dia makan obat ini, beberapa hari kemudian pasti sembuh!" katanya.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara bentakan keras dari dalam.

"Siapa berani ke mari cari gara-gara?"

Suara bentakan itu belum lenyap, sudah muncul seorang tua berusia enam puluhan, wajahnya pun agak bengis. Sepasang matanya menyorot tajam, terus menatap Ciok Giok Yin dari atas ke bawah. Kemudian sepasang biji matanya berputar.

"Ternyata kau anak sundal!" katanya dengan suara parau.

Begitu melihat orang tua itu, kegusaran Ciok Giok Yin memuncak, lebih-lebih ketika mendengar cacian itu. Dia langsung maju dua langkah seraya membentak.

"Cou Yun Liong! Hari ini kau akan membuat mulutmu tidak bisa mencaci lagi!"

"Anak sundal! Sungguh bagus kedatanganmu!" sahut Cou Yun Liong dengan dingin. Mendadak sesosok bayangan melayang turun di hadapan Cou Yun Liong. "Harap Cuangcu mundur dulu!" katanya.

Ciok Giok Yin memandang orang yang baru muncul itu. Darahnya langsung mendidih dan sepasang matanya berapi-api penuh dendam. Siapa orang yang baru muncul itu? Ternyata Tui Beng Thian Cun.

"Tui Beng Thian Cun!" bentak Ciok Giok Yin mengguntur. "Betul! Kau akan bunuh diri atau aku harus turun tangan?"

Ciok Giok Yin memang sudah membenci Tui Beng Thian Cun hingga ke dalam tulang sumsum, sebab Tiong Ciu Sin Ie mati di tangannya. Hari itu Tui Beng Thian Cun berhasil meloloskan diri, tak disangka hari ini justru bertemu di sini. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin langsung membentak.

"Iblis Tua! Serahkan nyawamu!"

Sembari membentak, Ciok Giok Yin juga melancarkan sebuah pukulan ke arah Tui Beng Thian Cun. Tui Beng Thian Cun cepat-cepat berkelit, sekaligus mencengkeram lengan Ciok Giok Yin. Akan tetapi, mendadak Ciok Giok Yin mencelat ke atas. Ternyata dia akan menggunakan Hong Lui Sam

Ciang. Tampak telapak tangannya berkelebatan, kemudian terdengar suara menderu-deru. Itu adalah jurus pertama Terbang dari Hong Lui Sam Ciang yang amat dahsyat dan lihay. Tui Beng Thian Cun sudah tahu akan kelihayan jurus tersebut. Maka dia tidak berani menangkis, melainkan berusaha berkelit. Walau berhasil berkelit, sekujur badannya telah mengucurkan keringat dingin.

Di saat Tui Beng Thian Cun berhasil mengelakkan jurus itu, Ciok Giok Yin melancarkan jurus kedua dari Hong Lui Sam Ciang. Tempo hari Ciok Giok Yin tidak berani mengeluarkan jurus itu karena lwee kangnya belum mencapai ketingkat seperti sekarang. Setelah makan pil Api Ribuan Tahun, lwee kangnya bertambah tinggi, maka sudah tidak jadi masalah mengeluarkan jurus kedua itu. Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Dan tampak pula darah segar muncrat ke mana-mana. Ternyata kepala Tui Beng Thian Cun telah pecah dan nyawanya melayang seketika. Dia seorang tokoh dari golongan hitam yang amat terkenal, justru mati secara mengenaskan di tangan Ciok Giok Yin. Setelah berhasil membunuh Tui Beng Thian Cun, Ciok Giok Yin berkata dengan suara terisak-isak. "Kakek Tua, tenanglah! Anak Yin telah berhasil menuntut balas dendammu."

Justru Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu, bahwa disaat bersamaan Cou Yun Liong sudah berada di belakangnya, mengangkat sebelah tangannya siap menyerang. Namun mendadak terdengar suara seruan kaget yang amat nyaring.

"Ayah!"

Suara seruan itu membuat Ciok Giok Yin tersentak, barulah dia tahu Cou Yun Liong berada di belakangnya siap menyerang. Kalau bukan karena seruan itu, mungkin kini Ciok Giok Yin sudah binasa di tangan Cou Yun Liong. Itu membuat Ciok Giok Yin bertambah dendam pada Cou Yun Liong.

"Cou Tongcu! Kau pernah mencaciku sebagai anak sundal, bahkan juga pernah memukul dan menyiksaku! Tapi aku masih memandang muka almarhum Tiong Ciu Sin Ie, maka aku mengampuni nyawamu!" katanya dengan sengit.

Kemudian dia menatap Cou Yun Liong dengan penuh kebencian.

"Tapi aku tidak bisa dengan cara begini mengampunimu. Terlebih dahulu aku harus menamparmu dua kali, lalu kau pun harus berlutut di hadapanku sambil menganggukkan kepala tiga kali," tambahnya dengan perlahan-lahan.

Usai dia berkata, terdengar suara Plak! Plak! Ternyata Ciok Giok Yin telah menampar pipi Cou Yun Liong dua

kali. Bersamaan itu, tampak sesosok bayangan langsung melesat ke sana seraya berseru.

"Kakak Yin! Kakak Yin! Kau tidak boleh menghina ayahku!" Ciok Giok Yin menoleh. Ternyata bayangan itu adalah Cou Ing Ing, putri Cou Yun Liong. Seketika Ciok Giok Yin pun teringat akan kejadian sepuluh tahun yang lampau, sesudah dicaci dan dipukuli oleh Cou Yon Liong, Ciok Giok Yin segera bersembunyi di dalam kamar sambil menangis sedih. Justru Cou Ing Ing yang menariknya ke luar, ke halaman belakang dan terus- menerus menghiburnya. Usia Cou Ing Ing lebih muda dua bulan dari Ciok Giok Yin, namun gadis itu lebih mengerti urusan dibandingkan dengan Ciok Giok Yin.

Apabila Ciok Giok Yin tidak berhenti menangis, kadang- kadang Cou Ing Ing berdandan seperti pengantin untuk menghiburnya, agar dia melupakan rasa duka dalam hatinya. Mereka berdua boleh dikatakan teman dari kecil, bahkan sudah saling mengerti dan Cou Ing Ing pun berbagi

rasa derita dengannya. Cou Ing Ing juga pernah berkata pada Ciok Giok Yin, bahwa kelak setelah besar, mereka harus bersama selama-lamanya. Perkataan tersebut masih terngiang- ngiang di dalam telinga Ciok Giok Yin.

Oleh karena itu, begitu melihat Cou Ing Ing, Ciok Giok Yin menjadi terbelalak, sebab kini gadis itu sudah besar dan amat cantik, namun menatapnya dengan wajah muram. Dia terus berdiri di samping Cou Yun Liong. Sepasang matanya yang indah itu menatapnya dengan tak berkedip. Di dalam hati gadis itu, entah merasa girang atau cemas? Karena yang seorang adalah ayahnya, yang harus dibelanya agar tidak dihina oleh Ciok Giok Yin. Sedangkan yang satu lagi, justru adalah temannya dari kecil. Walau telah berpisah sepuluh tahun, namun dalam hati gadis itu telah terukir dalam sekali bayangannya, bahkan masih ingat akan semua kenangan masa lalunya.

Dia mencintai ayahnya juga mencintai Ciok Giok Yin, maka harus berdiri di pihak mana, justru membuatnya serba

salah. Dia terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata sayu dan berharap mereka berdua akan berdamai. Akan tetapi, bisakah begitu? Dia tidak yakin. Kini suasana di tempat itu berubah menjadi hening dan tegang mencekam. Sedangkan Cou Yun Liong yang ditampar dua kali oleh Ciok Giok Yin sama sekali tidak dapat melihat jelas bagaimana cara Ciok Giok Yin turun tangan. Di dunia persilatan, Cou Yun Liong cukup terkenal dan berkedudukan tinggi. Namun kini dia dipermalukan di depan para pelayannya, maka mukanya mau ditaruh ke mana dan bagaimana jadi orang di kemudian hari? Perlahan-lahan sepasang matanya menyorot tajam berapi-api. Setelah itu, terdengar suara bentakannya yang mengguntur.

"Bocah sialan! Hari ini ada kau tiada aku, ada aku tiada kau!"

Dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Cacian itu membuat kegusaran Ciok Giok Yin menjadi semakin memuncak.

Karena sejak kecil dia tidak tahu siapa kedua orang tuanya. Kini orang lain mencacinya sebagai 'Anak Sundal' atau 'Anak Sialan' itu juga mencungkil boroknya. Maka, tidak heran kalau dia merasa sakit hati dan sepasang matanya langsung membara.

Sedangkan Cou Yun Liong telah menerjang ke arahnya. Maka Ciok Giok Yin segera mengerahkan lwee kangnya. Namun ketika dia mau melancarkan pukulannya mendadak Cou Ing Ing berseru.

"Kakak Yin, jangan!"

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar seruan itu, dan kemudian menurunkan tangannya. Di saat bersamaan, pukulan yang dilancarkan Cou Yun Liong mendekati dada Ciok Giok Yin.

Bum!

Tampak Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang delapan langkah dan seketika merasa seluruh jalan darahnya terbalik.

"Uakkkkh...!"

Darah segar menyembur ke luar dari mulutnya. Sedangkan Cou Yun Liong maju lagi.

"Anak Sundal, hari ini lohu akan menghabisimu!" bentaknya sengit. Tangannya bergerak, lalu telapak tangannya berkelebat.

Pukulan tadi telah membuat Ciok Giok Yin bertambah gusar. Saat ini sepasang matanya memerah dan wajahnya dingin penuh diliputi hawa membunuh.

"Cou Yun Liong, serahkan nyawamu!" bentaknya sambil berkertak gigi.

Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya. Namun di saat dia baru mau melancarkan pukulan ke arah Cou Yun Liong. Tiba- tiba terdengar lagi suara seruan Cou Ing Ing yang pilu.

"Kakak Yin, mohon pandang mukaku...!"

Saat ini kegusaran Ciok Giok Yin sungguh memuncak, maka mana mungkin mendengar suara seruan itu? Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Bummmm!

Cou Yun Liong terpental satu depa lebih. Sedangkan Ciok Giok Yin termundur selangkah. Namun kemudian Ciok Giok Yin maju ke hadapan Cou Yun Liong yang tergeletak di lantai, dan menginjak dadanya seraya membentak sengit.

"Cou Yun Liong, tentunya kau tak terpikirkan akan kejadian hari ini!"

Sembari membentak, dia pun mengerahkan tenaganya. "Aduuuuh!" Cou Yun Liong menjerit dan mulutnya

menyemburkan darah segar. Di saat bersamaan Cou Ing Ing

juga berseru sengit.

"Kakak Yin, sungguh kejam hatimu! Dia adalah ayahku!"

Air mata gadis itu bercucuran. Dia menjongkokkan badannya untuk memandang ayahnya, lalu memandang Ciok Giok Yin dengan sayu. Sesungguhnya Ciok Giok Yin bukan orang yang tak berperasaan, sebaliknya dia justru amat

berperasaan. Ketika melihat gadis itu memandangnya dengan sayu, dia cepat-cepat menarik kembali kakinya. Namun begitu dia kembali menatap Cou Yun Liong kegusarannya memuncak lagi.

"Cou Yun Liong! Kalau kau cepat bangun dan berlutut di hadapanku, aku akan mengampuni nyawamu!"

Cou Yun Liong memandang Ciok Giok Yin, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Yah! Sudahlah! Sudahlah!"

Dia mengangkat sebelah tangannya, dan seketika terdengar suara 'Plak!

Kepala Cou Yun Liong pecah dan darah bercampur otaknya berhamburan. Ternyata dia bunuh diri dengan cara memukul jalan darah Thian Ling Kaynya sendiri. Kejadian itu membuat Ciok Giok Yin tertegun. Cou Ing Ing langsung memeluk Cou Yun Liong erat-erat sambil menangis sedih.

"Ayah! Ayah! Aku pasti menuntut balas kematianmu!" Sesungguhnya Ciok Giok Yin cuma ingin menghina Cou Yun

Liong, sama sekali tidak berniat membunuhnya. Namun tidak

diduga Cou Yun Liong malah bunuh diri. Oleh karena itu, dia terus berdiri termangu-mangu. Berselang beberapa saat, barulah dia berkata dengan ringan.

"Adik Ing, itu... itu dilakukannya karena. "

Mendadak Cou Ing Ing bangkit berdiri dan sepasang matanya berapi-api.

"Ciok Giok Yin, cepatlah kau enyah! Cepaaat!" bentaknya penuh kebencian. Ciok Giok Yin memanggilnya perlahan.

"Adik Ing. "

"Siapa Adik Ingmu? Ayo! Cepat enyah!" "Adik. "

Cou Ing Ing membentak dengan mata membara.

"Ciok Giok Yin, aku tahu diriku bukan tandinganmu! Tapi kau harus ingat, kini kau punya seorang musuh besar! Cepat atau lambat aku pasti membunuhmu!"

"Ayahmu bunuh diri, aku. ," sahut Ciok Giok Yin dengan

sedih.

"Kau yang mendesaknya!" "Aku. "

"Tidak usah desak terus aku! Cepatlah kau enyah!"

Ciok Giok Yin tahu tak dapat menjernihkan kesalahan pahaman itu, akhirnya dia berkata.

"Harap Nona jaga diri baik-baik, aku mohon diri!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin membalikkan badannya lalu berjalan pergi perlahan-lahan. Cou Ing Ing yang masih menatapnya, berkata dengan sengit.

"Kapan kita berjumpa kembali, saat itulah kau harus membayar nyawa ayahku!"

Kemudian terdengar suara tangisan yang

memilukan. Sedangkan hati Ciok Giok Yin pun remuk. Diam- diam dia mencaci dirinya sendiri. 'Ciok Giok Yin, hatimu sungguh sempit! Tidak seharusnya kau bertindak begitu! Walau Cou Yun Liong tidak baik terhadapmu, namun tidak seharusnya kau melupakan budi kebaikannya yang pernah menampung dirimu di rumahnya! Cou Yun Liong memang sering menghina dan memukulmu, tapi itu cuma merupakan urusan kecil yang tak berarti! Kenapa kau malah menuntut balas padanya?

Bukankah tindakan itu amat keterlaluan? Bukan perbuatan seorang gagah!' Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil menggeleng- gelengkan kepala dan berkata lagi dalam hati. 'Ciok Giok Yin! Kau salah! Kau salah!' Dia berjalan pergi dengan kepala tertunduk. Langkahnya ke dengaran begitu berat. Sedangkan hatinya amat menderita sekali. Akan tetapi urusan itu telah terjadi, menyesal pun sudah tiada gunanya. Kini, dia malah punya seorang musuh besar, selanjutnya hatinya juga akan dihantui oleh dosa.

Dia merasa wajahnya dingin. Ternyata air matanya telah mengucur dengan deras. Air mata yang mengandung rasa penyesalan.

"Adik Ing! Adik Ing! Kau harus memaafkanku. Ayahmu bukan dibunuh olehku," gumamnya.

Ciok Giok Yin terus berjalan dengan kepala tertunduk. Dia tidak tahu harus pergi ke mana dan tidak tahu sang waktu terus berlalu.

Ternyata malam sudah semakin larut. Sekonyong-konyong dia melihat sebuah tandu kecil meluncur laksana terbang ke dalam rimba dan terdengar suara isak tangis di dalam tandu itu.

Seorang lelaki berwajah seperti macan mengikuti di belakang tandu itu dan dalam sekejap tandu tersebut sudah hilang ditelan rimba. Tergerak hati Ciok Giok Yin menyaksikan itu. Dia segera melesat ke dalam rimba untuk menguntit tandu tersebut. Akan tetapi, ketika dia sampai di dalam rimba, tidak menemukan tandu tersebut.

Itu membuatnya bercuriga dan berkata dalam hati. 'Tidak salah di dalam tandu kecil itu adalah seorang gadis. Kalau dia ingin menikah mengapa harus menangis? Apakah terdapat suatu rahasia pada dirinya?' Karena itu, dia ingin menyelidikinya agar jelas.

Kejadian di rumah Cou Yun Liong langsung dibuang jauh-jauh dulu, kelak baru dijelaskan pada Cou Ing Ing. Ciok Giok Yin segera melesat, kemudian berhenti dengan kening berkerut- kerut.

Ternyata tampak cahaya lampu yang berkerlap-kerlip di depan sana dan terdengar suara orang. Dia tertegun. Apakah benar ada pesta pernikahan di sana? Akan tetapi setelah diperhatikannya dengan seksama, ternyata itu bukan sebuah rumah, melankan sebuah kuil.

Bagaimana mungkin? Di dalam kuil, kalau bukan para hweshio, pasti para biarawati. Bagaimana mungkin ada pesta pernikahan di sana? Timbul kecurigaannya. Dia langsung mengerahkan ginkang untuk mencelat ke atas sebuah pohon di hadapan kuil itu. Ciok Giok Yin mengintip dari pohon. Dilihatnya di atas pintu kuil terdapat sebuah papan bertuliskan 'Kuil Tay San Si'. Pintu kuil itu terbuka. Tampak beberapa orang berjalan mondar-mandir di dalam. Karena jaraknya amat jauh, maka

dia tidak dapat melihat jelas siapa mereka.

Ciok Giok Yin ingin meloncat ke atap kuil, tapi dia melihat sebuah pohon besar dekat tembok kuil itu. Kalau berada di pohon itu, pasti dapat melihat jelas segala apa yang ada di dalam kuil. Ciok Giok Yin bergirang dalam hati. Dia mengerahkan ginkang untuk melesat ke arah pohon besar itu. Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia berbasil mencapai dahan pohon tersebut, lalu memandang ke dalam kuil. Di dalam kuil terdapat tiga hweshio sedang menyalakan dua deret lilin, sehingga ruangan kuil itu menjadi terang benderang. Dia tidak tahu untuk apa tiga hweshio itu menyalakan lilin, cuma terus memperhatikan.

Berselang sesaat, muncul seorang hweshio berusia lima puluhan, sepasang matanya menyorot bengis. Hweshio itu menengok ke kiri dan ke kanan, kemudian bertanya.

"Sudah menyalakan semua lilin yang berjumlah enam puluh empat buah?"

Salah seorang hweshio langsung memberi hormat seraya menyahut.

"Sudah."

Hweshio gemuk itu manggut-manggut. "Kalian boleh mundur."

Ketiga hweshio itu langsung berjalan ke dalam. Hweshio gemuk itu duduk di tengah-tengah ruangan, kemudian sepasang matanya menatap kedua baris lilin itu. Mendadak hweshio gemuk itu membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menyedot. Api lilin itu bergerak ke arah mulut hweshio gemuk itu. Sungguh menakjubkan, ujung-ujung api itu tersedot ke dalam mulutnya!

Hweshio gemuk itu menutup mulutnya, api-api lilin itu kembali normal seperti semula. Hweshio gemuk itu melakukannya berulang kali, membuat Ciok Giok Yin yang bersembunyi di atas pohon tersentak kaget, namun dia tidak tahu hweshio gemuk itu sedang berlatih ilmu kungfu

apa. Berselang beberapa saat, hweshio gemuk itu sudah berkeringatan dan nafasnya agak memburu.

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat dan dalam sekejap sudah berada di sisi hweshio gemuk

itu. Hweshio gemuk itu tertawa lalu berkata. "Bocah, apakah kau sudah tidak bisa bersabar?"

"Suhu, ilmu Mo Hwe Kang (Ilmu Api Iblis) ini, Suhu harus ajarkan padaku."

Hweshio gemuk itu tertawa gelak.

"Demi melayanimu, maka aku harus melatih lwee kang ini. Maka apa gunanya kau mempelajarinya?"

Bayangan itu langsung mendekap di dada hweshio gemuk. "Tidak, pokoknya aku harus belajar. Siapa tahu ada gunanya

kelak," katanya.

"Suhu harus ajarkan padaku."

"Baiklah. Kau ke belakang menungguku, aku berlatih sebentar lagi, baru ke belakang." Hweshio gemuk itu membelainya. "Bocah, kau sama sekali tidak rugi." Dia mencium kening orang itu. "Pasti kuberikan padamu, pergilah! Jangan membuang waktu!" Orang itu bangkit berdiri, kemudian berjalan ke dalam. Ketika orang itu bangkit berdiri, Ciok Giok Yin melihatnya dengan jelas. Hampir saja dia membentak gusar. Untung dia masih dapat menahan diri, sehingga tidak jadi membentak. Siapa orang itu? Tidak lain adalah Tong Eng Kang yang nyaris membunuhnya.

Ciok Giok Yin juga tidak menyangka bahwa Tong Eng Kang begitu tak tahu malu. Kelihatannya guru dan murid sering melakukan hubungan homo seks. Rasanya Ciok Giok Yin ingin turun tangan membunuh Tong Eng Kang, namun kini masih belum saatnya, maka harus bersabar. Berselang sesaat, hweshio gemuk itu bangkit berdiri.

Sungguh di luar dugaan, sebab kini hweshio gemuk itu tampak bersemangat dan segar. Sepasang matanya menyorotkan sinar aneh, dan mulutnya menyunggingkan senyuman. Hweshio gemuk itu membalikkan badannya lalu berjalan ke dalam. Ciok Giok Yin juga tidak berlaku ayal, langsung melesat ke atap kuil, kemudian memandang ke dalam ruangan itu melalui jendela. Pemandangan yang amat tak sedap tampak di ruangan dalam itu. Ternyata mereka berdua melakukan perbuatan yang tak senonoh. Tong Eng Kang mendekap di dada hweshio gemuk itu dalam keadaan telanjang bulat. Hweshio gemuk itu pun tidak berpakaian. Ketika mereka berdua baru mau mulai....