Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 01

 
Jilid 01  

Bum! Bum! Bum! Itulah suara gelombang yang amat dahsyat. Gelombang yang amat dahsyat itu menghantam dinding tebing, menimbulkan buih-buih yang menyerupai bunga. Di bawah sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, tampak  cahaya bergemerlapan di permukaan laut. Bukan main indahnya panorama itu! Kalau seorang pelukis ada di sana, pasti akan melukisnya. Itu adalah tebing Giok Li Hong.

Tergeletak tujuh delapan sosok mayat di atas tebing

tersebut. Darah membanjiri tebing itu. Mayat-mayat itu sudah tidak utuh. Terlihat beberapa kepala berserakan di sana. Begitu pula anggota badan.

Perut tersobek oleh senjata tajam. Bahkan sebuah kepala tampak terbelah dua. Dan. Sungguh mengerikan

pemandangan itu! Tiada sesosok mayat pun yang utuh. Di antara mayat-mayat itu, tampak seorang wanita sedang memeluk erat-erat seorang anak berusiatiga tahunan. Hanya badan wanita itu yang masih utuh, namun sekujur badannya berlumuran darah. Menyeramkan. Di bawah sinar rembulan, sungguh mengerikan pemandangan itu!

Serangkum demi serangkum bau dapatir menyebar terhembus angin. Mendadak wanita itu mendongakkan

kepala, lalu menengok ke sekelilingnya. Dia bangkit berdiri, sambil memeluk anak itu erat-erat. Ternyata wanita itu belum mati. Disaat bersamaan terdengar pula suara tawa yang menyeramkan. Suara tawa seram itu berasal dari balik sebuah batu. Kemudian muncul seorang suseng (Pelajar) berusia pertengahan, dengan wajah bengis berjalan mendekati wanita tersebut. Begitu melihat suseng itu, wanita tersebut langsung menyingkir ke samping. Suseng itu berhenti, kemudian berkata dengan suara yang amat lembut sekali, "Cen Soat Ngo, kau tidak akan bisa kabur!"

"Chiu Tiong Thau, aku bersumpah akan melawanmu!" sahut wanita itu gusar. Chiu Tiong Thau tertawa terkekeh-kekeh.

"Sudah dua puluh tahun lebih, aku terus menunggumu. Hari ini " Dia tertawa terkekeh-kekeh lagi, lalu melesat ke arah

wanita itu.

Dalam waktu bersamaan itu tampak sosok bayangan berkelebat dan lenyap seketika. Di atas tebing itu kembali sunyi, menyeramkan dan menakutkan! Di bawah tebing, masih terdengar suara gelombang bergemuruh, seakan turut berduka cita atas kematian orang-orang yang berada di atas tebing itu.

Sang waktu terus berlalu. Mayat-mayat di atas tebing Giok Li Hong semuanya telah membusuk. Kini yang ada hanya tinggal tulang-belulang. Tiada seorang pun menguburkannya. Juga tiada seorang pun yang datang ke tempat itu. Karena tempat itu amat menyeramkan, lagi pula amat berbahaya, siapa yang akan datang ke tempat itu? Dan siapa pula yang akan berziarah ke sana? Sebab itu, tulang belulang tersebut tetap berserakan di atas tebing itu, selamanya berserakan.

Di sini Juga merupakan tempat yang menyeramkan

selama-lamanya. Bunga-bunga salju beterbangan. Angin terus berhembus kencang. Terdengar suara 'Huuh! Huuuh!' Membuat merinding sekujur badan orang yang mendengarnya. Malam semakin larut. Angin terus berhembus kencang dan dingin sangat mencekam. Bunga-bunga salju beterbangan tak henti- hentinya. Alam semesta amat hening seperti berkabung.

Di sekitar Gunung Tay Pah San, berdiri sebuah rumah yang amat besar. Karena hawa udara amat dingin, para penghuni rumah telah tidur lelap. Karena itu, suasana di sekitar rumah besar itu terasa sepi menyeramkan. Di atas pintu rumah besar tersebut, tergantung sebuah papan bertulisan Tong Keh Cuang (Rumah perkampungan Tong). Tampak kamar yang berderet, dibangun dengan bahan kayu mahal, sungguh merupakan bangunan mewah.

Di belakang rumah itu terdapat sebuah taman. Banyak tanaman hias bunga-bungaan di dalam taman itu. Namun karena saat itu musim salju, maka dedaunan dan bunga-bunga di taman itu semuanya rontok. Akan tetapi, di sekitar sebuah bangsal istana, terdapat belasan bunga bwee yang memekar segar, sebagian tertutup bunga-bunga salju, sehingga kelihatan indah sekali. Saat itu sudah lewat tengah malam, mendadak sosok bayangan hitam berkelebat memasuki bangsal, lalu menaruh barang yang dibawanya di atas meja batu.

Sungguh di luar dugaan, barang yang dibawa orang itu ternyata seorang gadis cantik berusia lima belasan. Orang yang membawa gadis itu adalah seorang pemuda berusia tujuh belasan. Wajah pemuda itu tampan, hanya saja sepasang matanya menyorotkan sinar kelicikan, bibirnya menyungging senyuman puas. Sedangkan gadis yang dibaringkan di atas meja batu itu sepasang matanya menyorotkan sinar yang diliputi ketakutan. Pemuda itu menatapnya.

"Adik Ping, kau tidak usah takut, toako (Kakak) tidak akan mencelakaimu," katanya dengan ringan, sambil menjulurkan tangannya ingin menanggalkan baju gadis itu. Sepasang tangan dan kaki gadis itu tidak bisa bergerak, namun mulutnya dapat mengeluarkan suara 'Aah!'

"Aku Bwee Han Ping memang menumpang di rumahmu. Tapi kau tidak bisa berbuat semaumu terhadapku...", kata gadis itu.

Akan tetapi pemuda tersebut tetap menanggalkan baju gadis itu.

"Adik Ping, kalau kau mengabulkan permintaanku, kita akan baik selama-lamanya," katanya. Baju bagian atas gadis itu telah terbuka, sehingga tampak sepasang payudara yang amat montok dan indah. Sepasang mata pemuda itu membara penuh nafsu birahi, seakan ingin menelannya bulat-bulat. Sedangkan Bwee Han Ping saking gugup dan panik, akhirnya mengucurkan air mata. Dia menggigit bibir.

"Tong Eng Kang, kau adalah binatang...!" teriaknya memilukan

Pemuda itu tidak membiarkannya terus berteriak. Maka ditotoknya jalan darah gagu gadis itu. Setelah itu, dia tertawa dingin.

"Bween Han Ping, kau kira teriakanmu akan mengundang orang kemari menyelamatkanmu? Terus terang. kalaupun ada orang kemari, orang itu tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap siauw ya (Tuan Muda)!" Sepasang mata Tong Eng Kang semakin membara, kelihatan nafsu birahinya telah memuncak. Bwee Han Ping tidak bisa bergerak, bahkan juga tidak bisa bersuara. hanya air mata yang bercucuran, menunggu badai menerpa dirinya....

Tong Eng Kang mulai menanggalkan baju bagian bawah gadis itu. Kelihatannya dia sudah siap memangsa anak domba yang berada di hadapannya. Akan tetapi, tiba-tiba di luar bangsal itu tampak sesosok bayangan kecil. Lantaran agak berat langkahnya, maka terdengar suara. "Serrt! Serrrt!" Setelah diperhatikan, ternyata seorang anak lelaki berusia tiga belasan. Ketika menyaksikan pemandangan di dalam bangsal, sepasang matanya langsung terbelalak.

"Tong Eng Kang, bagus sekali perbuatanmu!" bentaknya keras.

Anak lelaki itu segera menerjang ke dalam bangsal. Mendengar bentakan itu, Tong Eng Kang cepat-cepat membalikkan badannya. Sepasang matanya tampak bersinar bengis, kemudian tersenyum licik.

"Anak jahanam, kau makan, pakaian dan tidur dariku! Justru sekarang kau berani mencampuri urusanku! Kau memang ingin cari mampus!" Tangan Tong Eng Kang bergerak cepat mencengkeram lengan anak itu, sekaligus mengayunkan kakinya menendang, membuat anak itu terpental keluar. Terdengar suara jeritan anak itu. Ternyata dia roboh pingsan seperti mati seketika. Bayangkan! Anak itu berusia lima belasan sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Kalaupun mengerti, dia tidak akan tahan terkena tendangan

tersebut. Tong Eng Kang berjalan ke luar mendekati anak yang pingsan itu, kemudian menambah sebuah tendangan lagi. Anak yang pingsan itu terpental. Sedangkan Tong Eng Kang berkertak gigi.

"Siauw ya akan menghabiskanmu dulu!" katanya. Selangkah demi selangkah Tong Eng Kang menghampirinya,

lalu menyambar anak itu seperti menyambar seekor anak

ayam.

Badannya melesat ke luar melalui tembok, ternyata Tong Eng Kang membawa anak itu ke atas gunung. Bukan main cepatnya gerakan Tong Eng Kang! Hanya sekejap dia sudah berada di puncak gunung. Terdengar suara tawa puas, menyusul terdengar pula Tong Eng Kang berkata dengan sinis.

"Anak jahanam, pergilah mengurusi urusanmu!" Tangan Tong Eng Kang bergerak, ternyata dia melemparkan anak itu ke dalam sebuah lembah. Terdengar suara hembusan angin yang menderu, kedengarannya seperti meratapi nasib anak yang malang itu. Tong Eng Kang memandang ke bawah lembah itu sejenak, setelah itu barulah dia melesat pergi menuju kaki gunung. Pemuda tersebut kembali ke halaman belakang rumahnya.

Namun tak disangka, di dalam bangsal itu tidak tampak seorang pun. Kening Tong Eng Kang berkerut, lalu dia melesat ke arah sebuah loteng. Dalam sekejap bayangannya sudah tidak kelihatan.

Ternyata ketika Tong Eng Kang melesat turun dari gunung, terlihat pula sosok bayangan kecil, melesat ringan menuju ke atas gunung melalui sebuah rimba yang lebat dengan pohon besar. Sosok bayangan kecil itu, tidak lain adalah seorang gadis berusia tiga belasan. Begitu sampai di puncak gunung, sepasang matanya mencari kesana kemari, lalu dia melesat ke bawah lembah. Samar-samar dia melihat ada sedikit bekas di sana. Gadis itu segera meloncat ke atas sebuah batu, lalu memandang ke arah bekas itu dengan hati berdebar-

debar. Batu besar itu lebih tinggi maka gadis itu dapat melihat tempat yang terdapat suatu bekas. Mendadak dia melihat ada sesuatu di tempat itu. Karena agak jauh, dia hanya dapat melihat samar-samar. Gadis itu langsung melesat ke arah tempat itu. Gerakannya laksana kilat. Sampai di tempat itu, tanpa sadar dia mengeluarkan seruan.

"Haah...!"

Tanpa ayal lagi gadis itu cepat-cepat membungkukkan badannya, lalu berseru dengan suara ringan.

"Adik Yin! Adik Yin!"

Ternyata di atas permukaan salju, terdapat seorang anak laki- laki, tidak lain adalah anak laki-laki yang dilempar ke bawah lembah oleh Tong Eng Kang. Walaupun gadis itu berseru berulang kali, namun anak itu tidak menyahut sama

sekali. Gadis itu cepat-cepat meraba dadanya, masih terasa hangat dan jantung anak laki-laki itu masih berdetak. Oleh karena itu, gadis tersebut menarik nafas lega, lalu berseru lagi memanggil anak itu. Anak gadis itu, kelihatan amat memperhatikan anak laki-laki tersebut. Di saat berseru, air matanya pun terus berderai. Berselang beberapa saat kemudian, anak laki-laki itu siuman perlahan-lahan. Mulutnya mengeluarkan suara rintihan. Betapa girangnya gadis itu!

"Adik Yin, bagaimana keadaan dan rasmau sekarang?" serunya.

Anak laki-laki itu menatapnya dengan mata sayu, kemudian meledaklah isak tangisnya.

"Adik Yin, bangunlah! Kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini," kata anak gadis itu, lalu memapahnya bangun dan memeluknya erat-erat. Anak laki-laki itu menahan rasa sedih dalam hatinya. Dia menatap anak gadis itu dengan penuh rasa terimakasih. "Banyak-banyak terimakasih, Kakak Wen!" ucapnya.

Mendadak terdengar suara bentakan bengis dari kejauhan, sepertinya terjadi di Tong Keh Cuang. Air muka anak gadis itu langsung berubah dan dia cepat-cepat mengambil tusuk rambutnya.

"Adik Yin, kau tidak bisa lagi tinggal di rumah kami, lebih baik cepat pergi! Bawalah tusuk rambutku ini! Tusuk rambut ini bisa ditukarkan dengan uang perak, di saat kau membutuhkannya," katanya sambil memberikan tusuk rambutnya kepada anak

laki-laki itu.

Saat itu di tempat nan jauh masih terdengar suara-suara bentakan bengis, bahkan tampak pula cahaya api. Anak gadis itu kelihatan amat gugup dan gelisah. Dia menatap anak lelaki itu sejenak, lalu melesat pergi. Ketika sampai di Tong Keh Cuang, tampak perkampungan itu telah berubah menjadi lautan api. Bayangan-bayangan orang berkelebatan. Terdengar pula suara-suara bentakan dan suara yang hiruk pikuk memekakkan telinga. Bukan main terkejutnya anak gadis itu! Dia langsung melesat ke halaman rumah Tong Keh Cuang itu....

Sementara anak laki-laki itu memandang kepergian anak gadis tersebut dengan air mata bercucuran.

"Aku harus pergi ke mana?" gumamnya. Dia melihat tangannya, ternyata tangannya menggenggam sebuah tusuk rambut pemberian anak gadis tadi.

"Kenapa Kakak Wen memberiku benda ini?" katanya seorang diri dengan air mata berderai. Dia kelihatan agak membenci. Tangannya diangkat sepertinya ingin membuang tusuk rambut itu.

Akan tetapi, tangannya diturunkan lagi, kemudian disimpannya tusuk rambut itu di dalam bajunya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi keras. "Setahun lebih, sudah cukup aku menerima siksaan, aku harus pergi mencari kakek tua berjenggot putih!" katanya sambil menyusut air matanya. Kemudian dengan menahan rasa sakit dia berjalan perlahan-lahan ke dalam lembah itu. Di dalam benaknya, teringat kembali kejadian yang lalu. Dia pernah mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa namanya adalah Ciok Giok Yin. Dia ikut kakek tua tersebut belajar membaca, menulis dan ilmu pengobatan. Tiga tahun yang lalu, dia dibawa oleh kakek tua berjenggot putih itu ke perkampungan Tong Keh Cuang.

Setelah berada di perkampungan itu, dia berkenalan dengan Bwee Han Ping. Sejak kecil Bwee Han Ping tidak punya orang tua, maka keluarga Tong memeliharanya. Dia pernah mendengar dari Bwee Han Ping, bahwa gadis itu masih punya hubungan famili dengan keluarga Tong. Tapi bagaimana hubungan famili itu, dia sama sekali tidak bertanya. Majikan Tong Keh Cuang di dunia persilatan amat terkenal. Dia bernama Tong Lip Ceng, julukannya adalah Pah San Hui Pa (Macan Tutul Terbang Gunung Pahsan), mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, bernama Tong Eng Kang dan Tong Wen Wen.

Mereka berdua telah mewarisi kepandaian ayahnya, namun Tong Eng Kang amat licik terhadap orang, bahkan juga selalu berlaku sewenang-wenang. Sudah lama dia berniat jahat terhadap Bwee Han Ping. Akan tetapi, Bwee Han Ping tinggal bersama Tong Wen Wen, maka membuat Tong Eng Kang belum berhasil menodai gadis tersebut. Lagi pula Tong Eng Kang takut pada ayahnya, karena itu niat jahatnya tersebut belum tercapai. Selain itu, Tong Eng Kang pun amat segan terhadap kakek tua berjenggot putih.

Setahun yang lalu, kakek tua berjenggot putih berpesan pada Ciok Giok Yin harus rajin belajar membaca dan menulis, karena kakek tua itu akan pergi jalan-jalan ke dunia persilatan, dan entah kapan baru akan kembali. Sejak kakek tua berjenggot putih pergi, Tong Eng Kang mulai berlaku semena-mena terhadap Ciok Giok Yin, bahkan mengancamnya apabila berani memberitahukan kepada orang lain, maka Ciok Giok Yin akan dibunuhnya. Mengenai Tong Wen Wen, juga pernah menghinanya, mengatainya sebagai anak yang tidak mempunyai orang tua.

Memang kebetulan sekali segala urusan itu. Tiga hari yang lalu, Pah San Hui Pa Tong Lip Ceng diajak pergi oleh teman akrabnya, maka tidak heran Tong Eng Kang semakin jadi bertindak sewenang-wenang. Malam ini, Tong Eng Kang memanfaatkan kesempatan ketika adiknya tidak berada di dalam kamar. Dia menculik Bwee Han Ping ke halaman belakang, maksudnya ingin menodai gadis itu. Justru sungguh di luar dugaan! Di saat bersamaan Ciok Giok Yin tidak bisa tidur, maka dia jalan-jalan ke halaman belakang itu. Tanpa sengaja, dia mendengar suara orang di dalam bangsal.

Dia kenal benar akan suara itu, tidak lain adalah suara Kakak Ping. Segeralah dia ke sana dan menyaksikan. Akan tetapi,

Tong Eng Kang memang sangat kejam. Dia langsung menendangnya tanpa ampun, lalu membawanya ke atas gunung dan melemparnya ke bawah lembah. Yang tak terduga sama sekali yakni kemunculan Tong Wen Wen. Padahal anak gadis itu pernah menghinanya, namun kini sebaliknya malah menolongnya. Ciok Giok Yin teringat lagi pada kakek tua berjenggot putih. Sebetulnya siapa kakek tua itu dan pergi ke mana dia? Masih ada Kakak Ping, apakah dia akan ternoda oleh Tong Eng Kang? Selanjutnya dia akan bagaimana? Kini dia tidak boleh kembali ke perkampungan Tong Keh Cuang. Lagi pula dia tidak bisa ilmu silat, maka pasti tidak mampu melawan Tong Eng Kang. Bagaimana mungkin membantu Kakak Ping?

Mengenai Tong Lip Ceng adalah orang macam apa? Dia orang baik atau orang jahat? Kelihatannya dia tidak terkesan baik terhadap Ciok Giok Yin, namun memandang muka kakek tua berjenggot putih, dia masih tidak berbuat apa-apa. Akan tetapi, sejak kakek tua berjenggot putih pergi, setiap kali melihat Ciok Giok Yin, maka Tong Lip Ceng pasti tampak dingin, tak pernah berseri sama sekali.

Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, yaitu apabila ada kesempatan, harus belajar ilmu silat, paling rendah harus setingkat dengan Tong Eng Kang, agar mampu melawannya, maka bisa melindungi Kakak Ping. Kecuali begitu, sama sekali tiada akal lain. Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam benak Ciok Giok Yin, akhirnya dia bergumam.

"Aku harus belajar ilmu silat! Aku harus belajar ilmu silat!" Karena pikiran Ciok Giok Yin sedang menerawang,

membuatnya kurang berhati-hati. Kakinya kesandung sebuah batu kecil, menyebabkannya jatuh terguling-guling. Mendadak dia merasa dirinya berada di udara, sepertinya terangkat oleh sebuah jala besar. Dia terangkat ke atas hampir empat

depa. Secara reflek dia meronta, justrudia meronta, justru terdengar suara Ting! Ting! Ting! yang amat nyaring.

"Berhasil menangkap satu! Cepat!" terdengar orang berkata. Terdengar pula suara langkah yang tergesa-gesa.

Saat itu hari sudah mulai terang. Ciok Giok Yin yang berada di dalam jala. Dia memandang ke bawah, tampak tiga lelaki bergegas-gegas menuju ke arahnya. Tangan mereka membawa senjata bercagak tiga, yaitu senjata berburu. Setelah mendekat, salah seorang dari mereka langsung mengangkat senjatanya, lalu ditusukkan ke arah jala. Ciok Giok Yin melihat itu, segera berteriak sekeras-kerasnya.

"Aduuuh! Ibu...!" Lelaki itu cepat-cepat menarik kembali senjatanya, sekaligus meloncat ke belakang. Dua orang temannya pun meloncat ke belakang, bahkan air muka mereka tampak ketakutan. Setelah saling memandang, mereka bertiga lalu memandang ke arah jala. Karena hari baru mulai terang, maka mereka bertiga tidak dapat melihat dengan jelas apa yang berada di dalam jala besar itu.

"Apakah... adalah orang?" kata salah seorang diantara ketiga lelaki itu. Sedangkan Ciok Giok Yin yang berada di dalam jala besar itu amat terkejut dan ketakutan. Sekujur badannya menggigil.

"Paman! Tolong turunkan aku!" sahutnya ketika mendengar perkataan orang itu. "Kau adalah orang?" "Ya!"

"Siapa namamu?" "Ciok Giok Yin!"

Lelaki yang berbicara itu mendekati seutas tali, kemudian ditariknya tali itu. Buuk! Jala besar itu jatuh ke bawah.

Terdengar pula suara jeritan Ciok Giok Yin yang amat keras.

"Aduuuuh!" Dia merasa semua tulangnya seakan patah. Bukan main sakitnya sehingga membuatnya nyaris pingsan.

Ketiga lelaki itu maju serentak, melihat seorang anak kecil berusia sekitar tiga belasan. Salah seorang dari mereka melotot. Dia membungkukkan badannya dan mendadak mengayunkan tangannya menampar Ciok Giok Yin seraya mencaci.

"Anak sundel! Kami menahan haus, lapar dan dingin menjaga semalaman di sini untuk menangkap hewan! Tidak pergi bermain ke tempat lain, justru malah kemari! Dasar anak nakal!" Saking gusarnya, dua kali lagi lelaki itu menampar muka Ciok Giok Yin.

Tamparan-tamparan itu membuat mata Ciok Giok Yin berkunang-kunang dan dari bibirnya keluar darah.

"Paman, aku tidak sengaja, aku..." katanya dengan suara lemah dan gemetar.

Plak! Lelaki itu menampar lagi.

"Apakah aku yang menghalangi jalanmu?" ben- taknya kemudian mengayunkan kakinya menendang Ciok Giok

Yin. Sungguh kasihan anak kecil itu! Semalam dia ditendang dan dilempar ke dalam lembah. Kalau tidak diselamatkan Tong Wen Wen, mungkin nyawanya telah melayang. Kali ini dirinya terperangkap ke dalam jala besar, kemudian ditampar beberapa kali dan ditendang lagi. Itu membuatnya menderita sekali, sehingga men- jerit-jerit.

"Aduuuh! Sakit sekali!" Mata Ciok Giok Yin jadi gelap, akhirnya dia jatuh pingsan. Di saat bersamaan, lelaki itu mengangkat sebelah kaki, lalu membentak sengit.

"Dasar anak sundel! Kami terganggu olehmu, sehingga kami tidak mendapat hasil apa-apa! Sebaliknya harus mengalami kedinginan di sini! Kau memang harus mampus!" Lelaki itu menendang lagi, menyebabkan Ciok Giok Yin terguling-guling dan membentur batu, sehingga mukanya lecet-lecet dan berdarah.

Ketiga lelaki itu melototi Ciok Giok Yin. Mereka tidak perduli anak itu mati atau masih hidup, segera memasang jala besar itu lagi, siap menangkap hewan yang melalui tempat

itu. Mendadak salah seorang lelaki itu melihat di permukaan salju terdapat suatu benda yang bergemerlapan. Dia cepat- cepat memungut benda itu, tidak lain adalah sebuah tusuk rambut. Betapa girangnya lelaki itu!

"Ini tusuk rambut emas!" serunya dengan wajah

berseri. Kedua temannya tidak menghiraukannya. "Omong kosong! Bagaimana mungkin di tempat ini terdapat tusuk rambut emas?"

"Lihatlah kalian!" kata lelaki itu. Kedua temannya menoleh ke arahnya. Mereka melihat tangan lelaki itu memegang sebuah benda kekuning-kuningan.

"Tusuk rambut emas!" seru mereka berdua serentak. "Tidak salah kan?"

Bukan main girangnya ketiga lelaki itu! Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha. " Berselang sesaat, salah seorang lelaki itu

berkata. "Apakah milik anak sundel itu jatuh?" "Geledah!" sahut yang lain. Mereka bertiga segera menggeledah badan Ciok Giok Yin, akan tetapi, mereka tidak menemukan apa-apa. Salah seorang lelaki itu menendangnya saking gusar, membuat Ciok Giok Yin terguling-guling.

"Jangan-jangan anak sundel ini yang mencurinya?" kata lelaki itu sengit.

"Dilihat dari pakaiannya, pasti dia bukan berasal dari keluarga kaya. Tentunya dia boleh mencuri," sahut temannya. Di saat mereka bertiga sedang bercakap-cakap, haripun semakin terang. Mereka bertiga sependapat, bahwa kalau anak itu yang mencuri tusuk rambut emas tersebut, pasti ada orang mengejarnya. Apabila tidak cepat-cepat pergi,

mungkin Mereka bertiga saling memberi isyarat, lalu segera

memberesi jala besar itu. Kemudian mereka bertiga bergegas meninggalkan tempat itu.

Kini di dalam lembah itu hanya tinggal Ciok Giok Yin seorang diri. Dia dalam keadaan tergeletak. Sudah mati atau masih hidupkah dia? Tiada seorang pun yang tahu. Lagi pula hawa udara amat dingin menusuk tulang. Siapa yang begitu iseng datang di tempat itu? Sudah pasti tidak!

Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah mulai sore. Hembusan angin menerbangkan bunga-bunga salju, sehingga terdengar suara menderu-deru. Bunga-bunga salju itu kemudian berjatuhan di muka Ciok Giok Yin, membuatnya merinding.

Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih, namun pandangannya masih agak kabur.

"Paman, aku bukan sengaja. " gumamnya dengan suara

rendah.

Gumaman berikutnya, tidak terdengar begitu jelas. Berselang beberapa saat kemudian dia menghela nafas panjang, barulah betul-betul siuman. Dia merasa tulang-tulangnya seakan telah remuk. Matanya terbuka perlahan-lahan. Kemudian dia menengok kesana kemari, tapi tidak tampak seorang pun berada di sekitarnya.

Dasar, dia masih kecil, setelah mengalami berbagai macam kejadian yang menyiksa dirinya, tak tertahan lagi akhirnya dia menangis tersedu-sedu. Lalu di tempat yang amat sepi itu, siapa yang akan menghiburnya? Dia tidak punya orang tua, yatim piatu. Tiada seorang pun yang dekat padanya.

Sedangkan kakek tua berjenggot putih, justru tidak ketahuan jejaknya. Saat ini, yang bisa menghiburnya hanyalah hembusan angin dingin dan bunga-bunga salju yang beterbangan. Akan tetapi, hembusan angin dingin dan bunga- bunga salju itu sama sekali tidak mempunyai perasaan, menyebabkan Ciok Giok Yin amat menderita.

"Huuuh! Huuuh. "

Hembusan angin terus menderu-deru. Itu membuat Ciok Giok Yin merasa kedinginan, terutama bagian dadanya. Dia mengangkat sebelah tangannya perlahan- lahan, meraba bagian dadanya. Ternyata baju bagian dadanya terbuka. Ciok Giok Yin berkertak gigi, bangun duduk lalu menutup bajunya. Sesudah itu, barulah terasa agak hangat.

Bagi manusia, baik masih kecil atau sudah besar, tentu memiliki daya untuk terus hidup. Begitu pula Ciok Giok Yin yang masih kecil itu. Dia tidak mau duduk di situ menunggu kematiannya. Asal masih terdapat setitik kehidupan, pasti harus ditempuhnya.

Sejak kecil dia telah terbiasa hidup menderita dan tersiksa, maka terciptalah sifat keras pada pribadinya. Oleh karena itu, dia segera menyusut menghapus air matanya, kemudian bangkit berdiri. Namun sekujur badannya telah terluka, maka ketika dia bangkit berdiri, sekujur badannya terasa sakit sekali. Disebabkan itu, akhirnya dia terkulai lagi. Kendatipun demikian, dia terus berupaya bangkit berdiri.

"Aku harus meninggalkan tempat ini, dan harus berhasil menemukan kakek tua berjenggot putih! Kalau aku berhasil mencarinya siapa pun tidak akan berani menghinaku lagi!" gumamnya. Ciok Giok Yin berusaha bangkit berdiri, akhirnya dia berhasil, barulah berjalan terseok-seok meninggalkan lembah itu.

Dia terus berjalan …… Tak terasa haripun sudah malam. Dia beristirahat di bawah sebuah pohon, mengisi perutnya dengan daun-daun muda. Setelah hari mulai terang, dia mulai melanjutkan perjalanan lagi. Ketika hari mulai petang, dia sudah sampai di sebuah kota kecil. Sepasang kakinya terasa ngilu tak bertenaga, nyaris tak kuat berjalan lagi. Sampai di sebuah jalan, dari sebuah rumah makan kecil, tercium aroma arak dan masakan, membuat air liurnya nyaris mengalir. Ciok Giok Yin berdiri termenung di depan rumah makan itu. Rasa haus dan lapar membuatnya tak tahan. Teringat olehnya di dalam bajunya terdapat sebuah tusuk rambut emas, maka dia melangkah memasuki rumah makan itu. Seorang pelayan membawanya ke sebuah meja di dekat jendela.

Dia tidak tahu harus memesan masakan apa, cuma berpesan semangkok nasi dan semangkok sup sampi. Tak seberapa lama, pelayan rumah makan sudah rnenyajikan apa yang dipesannya.

Tanpa membuang waktu, dia langsung bersantap dengan lahap sekali. Sedangkan pelayan itu terus berdiri di dekat meja, mengawasi gerak geriknya.

Usai bersantap, Ciok Giok Yin sudah siap mengeluarkan tusuk rambut emas dari dalam bajunya, agar bisa ditukar dengan uang perak. Namun tak disangka ketika tangannya merogoh ke dalam bajunya, justru tidak dapat dikeluarkannya lagi.

Ternyata tusuk rambut emas tersebut telah hilang entah dimana. Bukan main terkejutnya! Seketika keringat dinginnya mengucur deras membasahi sekujur badannya. Dia bertanya dalam hati. 'Kemana tusuk rambut emas pemberian Kakak Wen? Ini harus bagaimana?'

Gugup dan panik hati Ciok Giok Yin. Dia melirik pelayan itu. Tampak pelayan itu menatapnya dengan sinis dan sambil tersenyum menghina. Keringat dingin sudah mulai merembes keluar dari kening Ciok Giok Yin. Dia tidak berani bangkit berdiri, cuma duduk termenung di tempat duduknya. Dia tahu, apabila tidak dapat mengeluarkan uang, pasti akan digebuk bagaikan seekor anjing, bahkan mungkin juga dirinya akan dibawa ke pengadilan. Semakin dipikirkan, hatinya semakin takut, sehingga wajahnya yang semula merah padam, kini telah berubah menjadi pucat pias.

Pelayan itu memang berpengalaman. Begitu melihat sikap Ciok Giok Yin, dia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Oleh karena itu, dia terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.

Sementara hampir separuh tamu yang bersantap di rumah makan itu sudah pergi. Tiba-tiba pelayan itu tertawa sinis sambil mendekati Ciok Giok Yin.

"Apakah perlu tambah sedikit makanan lagi?" Ciok Giok Yin segera bangkit berdiri.

"Ti... tidak usah," sahutnya tersendat-sendat.

"Semuanya berjumlah dua keping perak," kata pelayan itu lalu melotot.

Ciok Giok Yin menelan ludah, kemudian memberanikan diri berkata, "Paman! Aku... aku tidak membawa. "

Pelayan itu langsung mencaci. "Anak sundel! masih kecil tapi sudah bernyali besar! Cepat keluarkan perakmu, tidak boleh kurang sama sekali!" Saat itu para tamu yang sedang bersantap semuanya memandang ke arah Ciok Giok Yin.

"Masih berbau susu, sudah belajar makan gratis!" kata salah seorang tamu.

"Harus diberi sedikit pelajaran, agar dia tahu diri!" sambung seorang tamu yang lain. Para tamu itu terus memanasi suasana, dan itu mmembuat pelayan tersebut bertambah berani. Dia langsung menyambak leher baju Ciok Giok Yin, sekaligus mengayunkan tangannya. Plak! Pelayan itu menamparnya seraya membentak sengit. "Anak sundel! Kalau kau tidak bayar, jangan harap bisa pergi dengan badan utuh!" Pelayan itu menjinjing Ciok Giok Yin, kemudian membantinya ke bawah.

"Aduuuh! Paman, aku... aku akan cari akal!" jerit Ciok Giok Yin kesakitan.

"Cepat bayar!" bentak pelayan.

"Paman, aku... aku sungguh tidak punya uang!" kata Ciok Giok Yin terputus-putus.

Mendadak seorang pelayan lain berseru, "Tanggalkan pakaiannya!"

Udara di musim rontoh amat dingin. Kalau pakaiannya ditanggalkan, tentu Ciok Giok Yin akan mati kedinginan. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin memeluk erat-erat dadanya sendiri seraya bermohon, "Paman! Jangan. "

Belum lenyap suaranya, sudah tampak dua pelayan menyambaruya. Salah seorang menamparnya, yang satu lagi mulai menanggalkan pakaiannya. Justru di saat ini, mendadak dari luar masuk seorang wanita berusia pertengahan.

"Pelayan, berapa banyak anak itu makan, hitung ke dalam rekeningku saja! Kalian harus melepaskannya!" katanya dengan lantang. Kedua pelayan itu menoleh samba menaruh Ciok Giok Yin ke bawah.

"Tidak begitu banyak, terimakasih!" sahutnya dengan wajah berseri-seri. Akan tetapi pelayan yang satu lagi masih mengayunkan kakinya, menendang Ciok Giok Yin hingga anak itu terpental sampai di luar rumah makan.

"Aaaaakh. !" jeritnya memilukan. Di saat Ciok Giok Yin

terpental ke luar, wanita berusia pertengahan itu sampai di dalam sekaligus mengayunkan tangannya. Plak! Ternyata wanita berusia pertengahan itu menampar pelayan yang menendang Ciok Giok Yin. "Dasar budak buta! berapa banyak yang dimakannya, pasti kubayar, tapi kau justru masih menendangnya!" bentaknya.

Pelayan yang kena tampar itu, mulutnya mengeluarkan darah. Jelas keras sekali tamparan itu. Pelayan yang satu lagi segera menggeram.

"Wanita busuk, kau berani pukul orang!" Pelayan itu langsung mengayunkan tinjunya ke arah wanita tersebut, justru mengarah pada bagian dadanya. Wanita itu tertawa dingin.

"Mau cari mampus?" katanya. Wanita berusia pertengahan itu berkelit ke samping kiri, sekaligus menepuk bahu pelayan itu, sehingga membuat pelayan itu terpental jatuh.

“Aduh! Mak!” teriaknya Ternyata hidung pelayan itu telah mencium lantai. Darah segar langsung mengucur, bahkan dua buah giginya juga rontok. Pelayan yang satunya ketika menyaksikan rekannya terpental, cepat-cepat menendang wanita itu, tepatnya di bagian terlarangnya. Dalam dunia persilatan jika lelaki bertarung dengan wanita, justru pantang menyerang bagian dada dan tempat terlarang. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa gusarnya wanita berusia pertengahan itu. Wanita tersebut tidak bergerak, melainkan menjulurkan tangannya menangkap kaki pelayan itu.

"Kaupun harus tahu bagaimana rasanya terlempar keluar!" katanya. Disaat bersamaan, badan pelayan itu tampak melayang ke luar, kemudian jatuh gedebuk di tanah.

"Aduuuh!" jeritnya. Ternyata muka pelayan itu membentur tanah, sehingga memar. Sementara para tamu yang berada di dalam rumah makan itu mulai bangkit berdiri. Mereka menatap wanita berusia pertengahan itu dengan mata berapi-api, kelihatannya mereka gusar sekali. Menyaksikan itu, wajah wanita tersebut langsung berubah dingin.

"Kalian mau apa?" tanya sepatah-sepatah.

"Pukul mati wanita busuk itu!" Terdengar sahutan serentak. Kemudian dengan tiba-tiba salah seorang tamu menerjang ke arah wanita tersebut. Berdasarkan gerakan tamu itu, wanita tersebut tahu bahwa dia tidak mahir ilmu silat. Wanita itu tidak bergerak sama sekali, hanya mengerahkan tenaga murninya, lalu berisul panjang. Suara siulannya bagaikan hallilintar menggelegar memekakkan telinga para tamu. Sedangkan tamu yang menerjang itu, sekujur badannya sudah bergemetar, bahkan sudah terkencing-kencing. Di saat suara siulan wanita itu mulai lenyap, mendadak terdengar pula suara bentakan- bentakan sengit di tempat jauh. Air muka wanita itu langsung berubah. Dia segera mengeluarkan setael uang perak lalu dilemparkannya ke atas meja.

"Uang ini untuk membayar makanan anak kecil itu. Kalau kalian masih berani menghinanya, hati-hati batok kepala kalian!" katanya. Badan wanita itu bergerak, tahu-tahu sudah berkelebat pergi bagaikan sosok arwah!

Saat itu Ciok Giok Yin menahan rasa sakit sambil bangkit berdiri. Dia ingin pergi mengucapkan terimakasih pada wanita itu. Namun, dia justru melihat wanita itu berkelebat pergi laksana kilat. Dalam waktu sekejap, wanita berusia pertengahan itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Walaupun cuma memandang sekilas, namun wajah wanita itu sudah terukur dalam benak Ciok Giok Yin. Dia pernah mengikuti kakek tua berjenggot putih belajar membaca dan menulis.

Bahkan dia juga pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tahu dalam hal tata krama, dan bagaimana cara jadi orang.

Dia pun masih ingat akan perkataan kakek tua, bahwa budi seseorang harus dibalas dengan budi. Oleh sebab itu, Ciok Giok Yin mengambil keputusan, bahwa kelak dirinya harus membalas budi kebaikan wanita itu. Ciok Giok Yin tidak berani lama-lama berada di tempat itu. Maka dengan menahan rasa sakit, dia segera beranjak pergi. Akan tetapi dunia sedemikian luas. Kemanakah dia harus pergi mencari kakek tua berjenggot putih itu? Seandainya kakek tua itu mempunyai nama, tentu dia akan bertanya pada orang. Namun dia justru tidak tahu nama kakek tua tersebut, bagaimana bertanya pada orang? Itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin. Sudah barang tentu pikirannya pun jadi kacau balau. Tapi kalau dia tidak mencari kakek tua berjenggot putih, lalu harus pergi mencari siapa? Sebab di dunia ini, selain kakek tua yang dekat

dengannya, sudah tiada orang lain lagi. Sedangkan mengenai perkampungan Tong Keh Cuang, kini dia sudah tidak bisa kembali ke sana.

Ciok Giok Yin berjalan terseok-seok, menimbulkan suara 'Sert! Sert!' Dia mendongakkan kepala memandang ke depan, yang dilihatnya hanya salju putih menutupi alam

semesta. Tiada jejak manusia, juga tidak tampak hewan lain, semuanya berada di dalam sarang masing-masing. Ciok Giok Yin kedinginan, maka wajahnya berubah menjadi kebiru- biruan.

Sementara haripun mulai gelap. Hembusan angin dingin yang tak berperasaan, terus menerus menderu-deru. Bunga-bunga salju, tak henti-hentinya beterbangan terhembus angin. Angin dan bunga-bunga salju itu sepertinya sengaja menyiksa anak yatim piatu yang tak punya tempat tinggal itu. Ciok Giok Yin menghentikan langkahnya, memandang ke depan lalu memandang ke belakang.

Di depan hanya tampak salju putih bagaikan

kapas. Sedangkan di belakang, samar-samar masih terlihat kota kecil itu, hanya tertutup oleh bunga-bunga salju. Dia berdiri bimbang tidak tahu harus kembali ke kota kecil itu, ataukah terus berjalan ke depan. Namun Ciok Giok Yin masih ingin hidup. Kalau dia terus berjalan ke depan, pasti akan mati kedinginan.

Jalan satu-satunya yang harus ditempuhnya, tidak lain harus kembali ke kota kecil itu mencari tempat berteduh. Sebab itu, dia mengambil keputusan untuk kembali ke kota kecil tersebut.

Ketika tiba di kota itu, semua penduduk sudah menutup pintu, karena tidak tahan akan udara dingin di luar. Mereka duduk menghadap parapian untuk menghangatkan badan. Ciok Giok Yin menghampiri sebuah rumah, lalu mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk pintu. Akan tetapi, mendadak tangannya ditariknya kembali. Karena sehari semalam itu dia telah mengalami tiga kali siksaan, bagaimana mungkin masih berani....

Oleh sebab itu, dia melangkah pergi dengan mata bersimbah air, tidak berani mengetuk pintu rumah itu Di saat itulah dia melihat tumpukan-tumpukan rumput. Setelah menyusut air matanya, barulah dia mendekati tumpukan-tumpukan rumput itu. Udara memang dingin sekali, membuat sepasang tangan Ciok Giok Yin berkesemutan dan terasa kaku. Rasa dingin yang menusuk tulang itu membuatnya merasa tidak tahan, akhirnya dia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya untuk mengusir rasa dingin. Akan tetapi, lama kelamaan dia merasa lelah, maka terpaksa meringkuk di tumpukan rumput itu.

Sedangkan malam semakin larut. Udara pun bertambah dingin. Ciok Giok Yin sama sekali tidak tidur. Bukan karena matanya tidak mengantuk, melainkan karena kedinginan, sehingga membuatnya tidak dapat memejamkan mata. Dia harus membuka mulut menghembuskan hawa hangatnya ke arah tangannya, star tidak terlampau dingin. Mendadak tampak sepercik cahaya muncul di lat yang tak begitu jauh, ternyata di sana ada seseorang membakar kertas.

Ciok Giok Yin tercengang. Dia tak habis pikir mengapa di tengah malam ada orang membakar kerta? Dia berharap orang itu cepat-cepat pergi, agar dia bisa mendekati api itu untuk menghangatkan badan. Kalau sudah melewati malam yang amat dingin ini, setelah siang dia sudah tidak merasa takut lagi. Apa yang diharapkan Ciok Giok Yin tercapai, karena sebelum kertas-kertas itu habis terbakar, orang itu sudah bangkit berdiri lalu kembali ke dalam rumahnya.

Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi, segera bangkit berdiri sekaligus menyambar segenggam rumput, cepat-cepat berlari ke arah api. Namun tak disangka, sebelum dia sampai di tempat itu, tiba-tiba berhembus angin yang amat kencang, rnenerbangkan kertas-kertas yang belum terbakar. Sungguh keterlaluan, kertas-kertas yang masih menyala itu terbang ke arah tumpukan-tumpukan rumput dan seketika menyala pula rumput itu.

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia khawatir api itu akan membesar, maka segera mengambil sebatang kayu, kemudian dipukulkannya pada rumput yang terbakar itu. Akan tetapi, malah membuat api itu semakin membesar. Ciok Giok Yin amat gugup dan panik.

"Tolong! Tolong padamkan api!" teriaknya sambil terus memukul rumput-rumput yang terbakar itu. Saat itu di dalam kota kecil tersebut sudah terdengar suara kentungan yang amat nyaring.

"Tong! Tong! Tong!" Disusul pula suara teriakan-teriakan orang.

"Tolong! Tolong! Ada kebakaran!"

Seketika muncul belasan orang membawa tong yang berisi air, mereka menyiram ke arah api itu. Akhirnya berhasil juga mereka memadamkan api itu. Namun tumpukan-tumpukan rumput itu telah terbakar separuh. Salah seorang berkata dengan heran, "Aneh! Mengapa tumpukan-tumpukan rumput ini bisa terbakar? Padahal udara sedemikian dingin! Apakah ada orang sengaja membakarnya? Sebetulnya perbuatan siapa itu?" Yang lain manggut-manggut. Belasan mata langsung menengok ke sana kemari. Salah seorang di antara mereka, tentunya orang membakar kertas tadi.

Ciok Giok Yin berdiri di samping. Dia ingin tahu bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah itu. Apabila perlu, dia akan tampil sebagai saksi menceritakan hal yang sebenarnya. Tanpa sengaja dia justru melihat salah seorang pelayan rumah makan. Pelayan itu mencaci maki.

"Siapa orang yang sialan itu, berani membakar tumpukan- tumpukan rumputku! Kalau aku tahu, pasti kubeset kulit orang itu!" Usai mencaci, wajahnya tampak gusar sekali. Sepasang matanya yang berbentuk segi tiga mengerling kian kemari memandang orang-orang di sekitarnya. Sedangkan yang lain juga saling memandang, seakan tidak tahu siapa yang membakar rumput itu.

Tiba-tiba, pelayan rumah makan itu menggeram, 'Sudah ketemu!" Dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Ditatapnya anak itu dengan gusar, 'Anak sundel! Ternyata kau yang membakar tumpukan rumput itu!" bentaknya. Tangan pelayan itu bergerak, dia mencengkeram Ciok Giok Yin. Begitu melihat wajah pelayan itu sedemikian Ciok Giok Yin ketakutan setengah mati, sehingga tak mampu bersuara. Sementara orang-orang itu pun menatap Ciok Giok Yin.

“Mampusi dia! Mampusi dia!" serunya serentak. Pelayan rumah makan itu amat sakit hati, karena siang tadi dia ditampar oleh wanita berusia pertengahan dan rasa sakit hatinya itu belum hilang. Kini setelah mencengkeram Ciok Giok Yin, langsung saja membantingnya ke tanah, disusul pula dengan tendangan keras, membuat anak kecil itu terpental.

"Aduuuh...!" jeritnya kesakitan.

Sedangkan pelayan rumah makan itu masih terus mencaci, sekaligus menudingnya dengan sengit.

"Kau memang anak sundel! Tadi siang kau makan tak punya uang, aku menamparmu beberapa kali, tak disangka malam ini kau malah membakar rumputku!" Pelayan rumah makan itu mulai menendang Ciok Giok Yin lagi, sehingga anak kecil itu menjerit-jerit.

"Bukan aku! Melainkan. " Belum usai berkata, Ciok Giok Yin

sudah jatuh pingsan. Coba bayangkan! Bagaimana mungkin anak kecil yang lemah itu dapat menahan tendangan- tendangan yang amat keras? Lagi pula dia dalam keadaan kedinginan.

Sekonyong-konyong salah seorang berkata, "Jangan pukul dia lagi, kita akan celaka kalau anak kecil itu mati!"

Pelayan rumah makan itu telah mengangkat tangannya, siap memukul Ciok Giok Yin. Tapi ketika dia mendengar perkataan itu, tangannya langsung diturunkan. Memang benar apa yang dikatakan orang itu, apabila anak kecil itu mati di tangannya, bukankah pihak pengadilan akan menghukumnya? Oleh karena itu, dengan sengit dia menendang pantat Ciok Giok Yin. Setelah menendang, barulah dia tahu bahwa anak kecil itu telah pingsan.

Hati pelayan rumah makan itu tersentak. Wajahnya yang penuh kegusaran pun langsung sirna.

"Aku ampuni anak sundel ini!" katanya. Sesungguhnya dia takut ada orang melapor pada pejabat setempat. Maka dia sengaja berkata begitu, agar mengurangi dosa perbuatannya, sebab banyak saksi mata bahwa dia tidak memukul anak kecil itu hingga mati.

Setelah berkata demikian, pelayan rumah makan itu berjalan pergi sambil menjinjing teng air. Sudah barang tentu yang lain pun tidak mau banyak urusan, karena mereka takut urusan akan menimpanya, oleh karena itu, mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut. Di atas tanah yang penuh bunga-bunga salju, anak kecil yang nafasnya amat lemah itu terus terhembus oleh angin dingin. Saat itu dia telah kehilangan rasa, tidak tahu sakit maupun dingin, karena dalam keadaan setengah mati.

Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin mulai siuman. Perlahan-lahan anak kecil itu membuka sepasang matanya. Dia mendapatkan dirinya berada di atas bunga-bunga

salju. Semula dia sama sekali tidak ingat lagi apa yang telah menimpa dirinya.

“Bagaimana aku berada di atas bunga-bunga salju?" gumamnya perlahan-lahan. Dia ingin bangkit berdiri, namun sekujur badannya terasa sakit sekali, seakan semua tulangnya telah patah. Mendadak dia teringat akan apa yang telah menimpa dirinya. Sungguh penasaran, dirinya difitnah melepaskan api! Sedangkan pelayan rumah makan itu, tidak bertanya lagi langsung memukulnya tanpa ampun. Karena sekujur badannya terasa amat sakit, akhirnya Ciok Giok Yin menangis tersedu-sedu.

Mendadak api kebencian menerjang ke rongga dadanya. Seketika dia berhenti menangis, lalu berkertak gigi menahan sakit sambil duduk. Dalam hati kecilnya penuh diliputi dendam dan kebencian.

Asal masih bisa hidup, dia pasti akan mencari orang-orang yang pernah menghina dirinya. Namun persoalan di depan matanya, justru harus berusaha cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Kalau esok hari sudah terang, pelayan rumah makan itu kemari lagi, bukankah dirinya....

Berpikir sampai di situ, dia teringat bahwa kakek tua berjenggot putih pernah menghadiahkan sebutir pil Ciak Kim Tan (Pil Emas Ungu) kepadanya, juga berpesan agar baik-baik menyinipan pil tersebut, kelak dapat dipergunakan untuk menolong orang. Teringat akan itu, Ciok Giok Yin segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam bajunya.

Kemudian dibukanya kotak kecil itu. Tampak sebutir pil berwarna ungu di dalamnya. Diambilnya pil tersebut lalu dimasukkan ke mulutnya. Setelah menelan pil itu, tak lama rasa sakit di sekujur badannya mulai sirna. Bukan main girangnya! Dia tidak berani membuang waktu lagi, maka cepat- cepat bangkit berdiri.

Selangkah demi selangkah dia berjalan meninggalkan tempat itu. Walau jalan yang dilaluinya penuh batu-batu runcing, dia tetap terus berjalan, tidak berani berhenti sama sekali. Ciok Giok Yin menuju sebuah lembah. Sementara itu hari sudah mulai terang, tapi udara masih tetap terasa dingin menusuk tulang. Karena kedinginan, wajah Ciok Giok Yin telah berubah menjadi kebiru-biruan. Nafasnya tersengal- sengal karena terlampau lelah. Akhirnya dia beristirahat di bawah sebuah pohon.

Dia mengedarkan pandangannya. Tampak berderet pegunungan, puncak-puncak gunung menjulang tinggi, diselimuti kabut yang amat tebal. Ciok Giok Yin menundukkan kepala memandang pakaiannya. Ternyata pakaiannya telah tersobek sana sini tidak karuan. Dalam keadaan seperti itu, entah harus bagaimana hidupnya. Bukan hanya itu persoalan yang dihadapinya. Ternyata dalam benaknya masih terdapat persoalan lain, yaitu dia harus ke mana? Di mana kakek tua berjenggot putih berada? Persoalan itu merupakan persoalan yang amat berat dan penting bagi Ciok Giok Yin. Justru karena persoalan tersebut, dia pun jadi berkeluh dalam hati, cemas tidak akan berhasil mencari kakek tua itu. Kalau tidak berhasil, selanjutnya dia harus bagaimana? Oleh karena itu, tanpa terasa air matanya bercucuran lagi.

Hembusan angin menerpa wajahnya, sehingga wajahnya yang sudah murung itu bertambah murung. Di saat bersamaan terdengar suara helaan nafas panjang tak jauh dari

tempatnya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, menyebabkan sekujur badannya gemetar. Dalam suasana yang begitu sepi dan udara yang amat dingin, justru ada orang di dalam lembah? Apakah orang itu juga patut dikasihani seperti dirinya? Namun dia berpikir sejenak, rasanya tidak benar.

Bagaimana mungkin ada orang bernasib malang seperti dirinya? Mungkin seekor binatang liar, karena tidak memperoleh makanan, maka mengeluarkan suara helaan nafas.

Berpikir sampai di situ, rasa takutnya semakin

mencekam. Dia cepat-cepat bangkit berdiri. Namun ketika baru siap. Karena terlalu terburu-buru, dia malah terjatuh. Di saat

itulah terdengar suara yang amat dingin. "Siapa?"

Ciok Giok Yin memandang ke arah suara itu. Ternyata di balik sebuah batu besar, duduk seorang pengemis tua. Setelah melihat pengemis tua itu, legalah hati Ciok Giok Yin.

"Paman pengemis, aku!" katanya sambil memberi hormat.

Pengemis tua itu menatap Ciok Giok Yin dengan mata melotot.

"Bocah, mau apa kau kemari?" katanya sejenak kemudian. "Aku mau mencari kakek tua berjenggot putih!" sahut Ciok

Giok Yin sungguh-sungguh. Pengemis tua itu tercengang. "Siapa kakek tua berjenggot putih itu?" katanya.

Mulut Ciok Giok Yin ternganga lebar, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

Mendadak pengemis tua itu membuka mulutnya, terdengar suara....

"Uaaakh !" Ternyata pengemis tua itu memuntahkan darah segar.

Ciok Giok Yin terperanjat.

"Paman pengemis sakit ya?" katanya cepat. Pengemis tua itu mengangguk sambil memejamkan matanya.

"Ya! Aku terluka parah!" sahutnya perlahan-lahan. Ciok Giok Yin terbelalak.

"Terluka parah?" katanya dengan suara rendah. "Ng!"

"Terluka karena dipukul orang?" Hati Ciok Giok Yin berdebar- debar. Ternyata dia teringat akan apa yang telah menimpa dirinya. Bukankah kemarin malam dan malam ini dia juga dipukul orang hingga terluka? Justru tidak menyangka, pengemis tua itu pun terluka dipukul orang. Oleh karena itu, di dalam hati kecil timbul suatu kebencian. Dia berharap dirinya punya kesempatan untuk belajar ilmu silat, agar kelak dapat menuntut balas pada orang jahat, jadi orang baik bisa melewati hari yang tenang. Berselang sesaat, barulah pengemis tua itu menyahut.

"Tidak salah. Aku dilukai oleh Iblis Sang Yen Hwee (Perkumpulan Sepasang Walet)."

Ciok Giok Yin tercengang. "Sang Yen Hwee?"

Pengemis tua itu manggut-manggut, tapi tidak bersuara sama sekali.

"Paman pengemis, apakah Sang Yen Hwee itu jahat?" tanya Ciok Giok Yin lagi.

"Untuk apa kau menanyakan itu?"

Mendadak mata Ciok Giok Yin melotot. "Kelak setelah aku dewasa, harus memiliki kepandaian tinggi, aku ingin membunuh mereka semua!" sahutnya sambil membusungkan dada. Usai berkata begitu, dia berdiri dengan gagah, seakan ada orang Sang Yen Hwee berada di hadapannya. Sikapnya bukan main, begitu pula air mukanya, tampak seperti telah menguasai kungfu yang amat tinggi.

Mendadak pengemis tua itu menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin menembus ke dalam hatinya. Itu membuat Ciok Giok Yin merasa merinding, kemudian berkata dalam hati. 'Sepasang matanya seperti mata kakek tua berjenggot putih, amat tajam dan lihay.' Setelah menatap Ciok Giok Yin sejenak, pengemis tua itu memuntahkan darah segar lagi.

"Uaaakh!" Badan pengemis tua itu bergoyang-goyang seakan mau jatuh. Ciok Giok Yin cepat-cepat memijit-mijit punggungnya.

"Paman pengemis, lukamu amat parah dipukul penjahat!" katanya. Di saat bersamaan, terdengar suara langkah menuju lembah itu. Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang, namun sekujur badannya merasa sakit sekali, membuatnya tidak mampu bangkit berdiri.

Berselang beberapa saat, tampak empat lelaki memasuki lembah. Begitu melihat Ciok Giok Yin, seketika mereka mengeluarkan suara ‘Ih!’ Salah seorang dari mereka segera melesat ke hadapan Ciok Giok Yin, kemudian membentak sengit,

"Dasar anak sialan! Kau telah menyusahkan kami!" Ternyata keempat lelaki itu adalah orang-orang Tong Keh Cuang. Ciok Giok Yin menyurut mundur dua langkah.

"Paman... cari aku?" katanya gemetar. "Kalau tidak cari kau, cari siapa?"

Tanpa sadar Ciok Giok Yin mundur selangkah lagi.

"Ada urusan apa Paman cari aku?" katanya lagi dengan takut- takut. Saat ini ketiga lelaki itu juga telah mendekati Ciok Giok Yin, mengambil posisi mengepungnya. Lelaki yang pertama kali mendengus dingin, lalu berkata.

"Anak sialan! Kau masih kecil tapi hatimu tidak kecil lho! Kalau aku tidak mengulitimu, tentu kau tidak tahu kelihaianku!" Usai berkata, dia pun melangkah maju. Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar.

"Paman.... Paman...," katanya terputus-putus. Lelaki itu membentak keras.

"Siapa pamanmu? Dasar anak tak tahu diri! Keluarga Tong amat baik terhadapmu, budi kebaikan mereka boleh dikatakan setinggi gunung! Tapi kau malah melepaskan api di halaman belakang, lalu kabur! Apa maksudmu itu?"

"Buat apa banyak bicara dengan anak sialan itu? Cepat habisi dia saja!" selak lelaki lain. Lelaki itu menjulurkan tangannya, wajahnya tampak penuh hawa membunuh. Ciok Giok Yin tidak bisa berbuat apa-apa, sama sekali tidak mampu melawan, cuma bisa bermohon sambil terisak-isak.

"Paman, aku... aku tidak melepaskan api. Yang melepaskan api adalah. " Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, tangan kiri

lelaki itu telah mencengkeram lengannya, sedangkan tangan kanannya telah diayunkan ke arah Thian Ling Hiat anak kecil itu. Apabila pukulan itu mendarat di jalan darah tersebut, jangankan Ciok Giok Yin yang tidak mahir kungfu, sedangkan yang mahir kungfu pun pasti akan mati seketika.

"Haaah. !" jerit Ciok Giok Yin ketakutan.

Ketika telapak tangan lelaki itu hampir berhasil memukul Thian Ling Hiat Ciok Giok Yin, mendadak terdengar suara bentakan keras, "Kau berani!" Ternyata yang membentak itu pengemis tua.

Dia mengibaskan sebelah tangannya ke arah dada lelaki

itu. Terdengar suara menderu-deru, bahkan terasa amat dingin pula. Demi keselamatan dirinya, lelaki itu terpaksa harus berkelit. Sudah barang tentu tidak jadi memukul Ciok Giok Yin.

"Pengemis, siapa kau?" bentaknya.

"Kau masih tidak berderajat menanyakan namaku!"

Bukan main gusarnya lelaki itu! Dia memberi isyarat pada ketiga temannya. Setelah itu, mereka berempat langsung menerjang pengemis tua. Pengemis tua telah terluka dalam. Dia menarik nafas panjang untuk menghadapi mereka. Namun salah seorang di antara mereka berempat, mendadak mendekati Ciok Giok Yin. Ternyata dia menggunakan kesempatan ketiga temannya menerjang pengemis tua, dia ingin menghabisi anak kecil itu. Dia mengerahkan lweekangnya, lalu mengangkat tangannya perlahan-lahan siap memukul Ciok Giok Yin.

Perbuatan lelaki itu tidak terlepas dari mata pengemis tua. Dia menggeram, mengelak terjangan ketiga lelaki itu, kemudian mendadak melancarkan sebuah pukulan ke arah lelaki yang siap memukul Ciok Giok Yin. Plak! Lelaki itu terpental ke udara, kemudian terdengar lagi suara.

Duuuuk!" Ternyata lelaki itu jatuh menimpa sebuah batu, hingga kepalanya pecah dan mati seketika. Menyaksikan kejadian itu, ketiga lelaki lainnya gusar bukan main.

"Pengemis tua! Kau berani membunuh orang?" bentaknya dengan mata berapi-api. Sesungguhnya pengemis tua itu masih merasa amat gusar terhadap orang-orang Sang Yen Hwee yang telah melukainya, maka rasa kegusarannya dilampiaskan pada lelaki itu, lantaran lelaki itu ingin membunuh Ciok Giok Yin yang amat lugu.

Oleh karena itu, kemarahan pengemis tua menjadi semakin memuncak. Sepasang tangannya terus bergerak, melancarkan pukulan-pukulan yang amat dahsyat. Sebab itu, terdengar lagi tiga kali suara jeritan yang amat menyayat hati, kemudian ketiga lelaki itu roboh tak berkutik lagi. Pengemis tua menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk kembali.

Tadi Ciok Giok Yin pingsan saking takutnya. Maka apa yang terjadi barusan, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Kini dia telah siuman. Ketika melihat darah berceceran, dan kematian keempat lelaki yang amat mengenaskan, dia terbelalak dengan wajah pucat pias. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah menyaksikan orang mati. Maka ketika melihat di hadapannya ada empat sosok mayat, dia sangat ketakutan. Dia tidak berani lama-lama di situ, segera bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Namun ketika dia baru mau mengayunkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara nafas memburu, ternyata suara nafas pengemis tua. Wajahnya pengemis itu pucat pias bagaikan kertas, kelihatannya sudah sulit untuk ditolong. Ciok Giok Yin tahu jelas bahwa keadaan pengemis tua menjadi seperti itu karena demi menyelamatkan dirinya, sehingga harus menguras tenaga untuk membunuh keempat tukang pukul keluarga Tong.

Kini pengemis itu sudah sekarat, tapi anak kecil itu justru ingin pergi. Bukankah itu merupakan sikap orang tak berbudi? Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin tak jadi pergi. Dia cepat-cepat meraba dada pengemis tua, ternyata

nafas pengemis itu sudah semakin lemah. Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan dari kakek tua berjenggot putih.

Walau dia belum berpengalaman, namun sudah cukup mahir, maka dia tahu bahwa keadaan pengemis itu sudah payah sekali.

Karena itu dia segera memeriksa nadi pengemis tua. Justru mendadak nadi pengemis itu berdenyut normal. Namun itu bukan pertanda kesembuhan, melainkan pertanda ajalnya telah dekat. Kecuali terjadi suatu kemujizatan! Kalau tidak, nyawa pengemis tua itu sudah sulit ditolong. Akan tetapi, Ciok Giok Yin belum berani memastikan, bahwa pengemis itu akan

mati. Lagipula dia tidak bisa melihat pengemis tua mati begitu saja, sebab pengemis itulah yang telah menyelamatkan nyawanya. Bahkan dia pun tahu bahwa pengemis itu berkepandaian amat tinggi. Apabila bisa menyelamatkan nyawanya, bukankah boleh berguru padanya?

Ciok Giok Yin terus berpikir, akhirnya dia mengeluarkan sebutir pil Ciak Kim Tan (Pil Emas Ungu) pemberian kakek tua berjenggot putih, lalu dimasukkan ke mulut pengemis tua.

"Paman pengemis boleh mengerahkan lwee kang untuk melumerkan obat Ciak Kim Tan. "

Belum usai Ciok Giok Yin berkata, mendadak sepasang mata pengemis tua terbuka lebar-lebar, dan tampak berbinar-binar.

"Ciak Kim Tan? Kau peroleh dari mana?" katanya heran. "Kakek tua berjenggot putih yang berikan padaku" sahut Ciok

Giok Yin. Pengemis tua tampak tercengang. "Kakek tua berjenggot putih?"

"Ng!"

"Kau tahu namanya?"

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala. "Orang tua itu tidak pernah memberitahukan namanya padaku."

Pengemis tua menghela nafas panjang, kemudian duduk bersamedi untuk menghimpun hawa murninya.

"Kalau dugaanku tidak keliru, yang kau maksudkan kakek tua berjenggot putih itu adalah Tiong Cu Sin Ie (Tabib Sakti Tiong Ciu) yang amat terkenal di dunia persilatan!" katanya setelah bersemedi. Ciok Giok Yin memandang pengemis tua dengan bodoh, karena kurang mengerti akan perkataan pengemis tua itu.

Mendadak pengemis itu menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata, "Aku dikeroyok oleh beberapa iblis dari perkumpulan Sang Yen Hwee, terkena ilmu pukulan beracun mereka. Kalau obat Ciak Kim Tan ini milik Tiong Ciu Sin le, pasti bisa memperpanjang nyawaku beberapa hari, itu pun sudah cukup bagiku." Usai berkata, pengemis itu berusaha bangkit

berdiri. Ciok Giok Yin cepat-cepat memapahnya.

"Bocah! Papah aku ke tempat yang sepi!" kata pengemis tua.

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu memapah pengemis itu memasuki lembah tersebut. Tak lama kemudian, bukan cuma Ciok Giok Yin yang berkeringatan, bahkan pengemis tua itu pun mulai memburu nafasnya. Dapat diketahui betapa beratnya luka yang diderita pengemis itu. Setelah melewati jalan berliku- liku, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah goa batu alami, dan mereka berdua segera memasuki goa itu. Pengemis tua duduk, memandang Ciok Giok Yin.

"Bocah, kita beristirahat di sini. Aku ingin bicara denganmu."

Dia memejamkan matanya, kelihatannya ingin beristirahat sejenak. Dua kali Ciok Giok Yin dipanggil 'Bocah', membuat hatinya merasa kurang enak. Namun melihat keadaan pengemis tua, dia tidak mempermasalahkannya. Beberapa saat kemudian barulah pengemis tua membuka matanya, memandang Ciok Giok Yin dengan lembut sekali.

"Anak ini...," gumamnya terputus. Kelihatannya pengemis itu sedang memikirkan sesuatu.

"Bocah, itu tergantung pada peruntunganmu! Menurutku Ciak Kim Tan memang berasal dari Tiong Ciu Sin le. Ilmu pengobatan orang itu amat luar biasa. Apabila kau berhasil mencarinya, kau pasti akan berhasil mempelajari ilmu tinggi," katanya sesaat kemudian.

"Maksud Paman pengemis adalah kakek tua berjenggot putih?"

"Tidak salah." "Betulkah beliau adalah Tiong Ciu Sin Ie?" "Menurut dugaanku pasti dia."

"Aku justru ingin pergi mencarinya, namun tidak tahu, beliau berada dimana."

"Kau boleh mencarinya ke Tionggoan," kata pengemis tua. Mendengar saran pengemis itu, bukan main girangnya Ciok

Giok Yin, itu berarti dia punya harapan lagi. Seandainya dia berhasil mencari kakek tua berjenggot putih, dia pasti akan belajar kungfu tinggi, agar dapat menuntut balas pada orang- orang yang pernah menghinanya. Badan pengemis tua menggigil sejenak.

"Bocah, kalau nyawaku dapat dipertahankan, aku pasti membantumu mencarinya. Kini, berkat khasiat obat Ciak Kim Tan, aku akan pergi menemui seseorang untuk mengobati lukaku," katanya perlahan-lahan. Usai berkata, pengemis tua itu bangkit berdiri. Begitu melihat pengemis tua itu akan pergi, guguplah hati Ciok Giok Yin.

"Paman pengemis mau pergi?" katanya. Pengemis itu mengangguk.

"Ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Sebab kalau aku tidak bisa menemukan orang itu, diriku pasti celaka."

Dia menatap Ciok Giok Yin, "Kalau aku tidak mati, sebulan kemudian, kita akan bertemu di sebelah timur kota Lok Yang, di Kuil Kwan Kong." Badan pengemis itu bergerak, ternyata dia telah melesat pergi.

Kini di tempat itu tinggal Ciok Giok Yin seorang diri. Dia berdiri termangu-mangu di tempat. Lama sekali barulah Ciok Giok Yin mendongakkan kepala memandang langit, ternyata hari sudah menjelang sore.

Lembah itu amat sunyi, hawa udaranya pun amat dingin. Ciok Giok Yin cuma mengenakan pakaian tipis, maka rasa dingin itu betul-betul menusuk ke dalam tulangnya. Dia harus segera meninggalkan lembah itu, kalau tidak, pasti akan mati kelaparan.

Di saat bersamaan, perutnya pun mulai berbunyi keroncongan, pertanda minta segera diisi. Akan tetapi di depan matanya cuma ada salju putih, bagaimana mungkin mencari makanan di tempat tersebut? Karena sudah lapar, maka dia berjalan tertatih-tatih meninggalkan lembah itu. Setelah berjalan beberapa saat, sekujur badan Ciok Giok Yin terasa semakin lemah, bahkan pandangannya pun mulai kabur. Perlu diketahui, perutnya cuma diisi satu kali, lalu melakukan perjalanan malam, bahkan juga dipukul orang, sehingga membuat perutnya semakin kosong.

Langkahnya makin lamban, namun lembah itu sepertinya tiada ujungnya, sulit sekali melewatinya.

Di depan matanya cuma tampak batu curam, dan harus melewati batu-batu itu, sebab tiada jalan lain. Demi perutnya yang harus segera diisi, dia terus berjalan meskipun badannya sudah semakin lemah, tidak menghiraukan bahaya yang ada di tempat itu. Namun berselang sesaat, sepasang kakinya sudah tak bertenaga, akhirnya dia terkulai tak mampu bangkit berdiri lagi. Sungguh kasihan sekali anak kecil itu! Dia masih kecil sudah mengalami penderitaan yang tiada tara.

Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah mulai senja. Bunga-bunga salju mulai turun dari

langit. Sedangkan Ciok Giok Yin tergeletak di tanah, tak mampu bergerak. Tampak sepasang matanya mengucurkan air mata, mengucur dan terus mengucur. Namun dia masih

teringat ketika bersama si Kakek berjenggot putih, kemudian teringat pula ketika berada di keluarga Tong. Semua itu terus

terbayang di depan matanya. Saat ini dia tidak mengharapkan apa-apa, cuma berharap ada sedikit makanan untuk mengisi perutnya. Oleh karena itu, justru membuat perutnya semakin terasa lapar.... Dia menengok kesana kemari, yang tampak hanya bunga- bunga salju beterbangan dihembus angin. Betapa takutnya anak kecil itu, sehingga sulit diuraikan dengan kata-

kata. Apabila malam ini dia tidak berhasil meninggalkan lembah itu, tentunya dia akan terkubur di sana, atau mungkin juga akan menjadi mangsa binatang buas. Ciok Giok Yin berkertak gigi, memaksa diri untuk bangkit berdiri. Dia berhasil, tapi baru berjalan beberapa langkah, dia sudah terkulai dan matanya gelap, akhirnya pingsan.

Sesungguhnya kalau cuma satu hari tidak makan, Ciok Giok Yin tidak akan merasa lapar hingga seperti itu. Namun dia dipukul orang beberapa kali, bahkan juga harus melakukan perjalanan dalam keadaan cuaca buruk dan dingin, itulah yang membuat kondisi badannya semakin lemah dan tak dapat bertahan lagi. Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman. Dia membuka matanya lalu menengok ke sekeliling, ternyata hari sudah gelap. Air matanya berderai-derai lagi membasahi pipinya, bahkan sekujur badannya menggigil.

Di saat itulah dia berpikir, sebetulnya dia orang dari mana? Di mana kedua orang tuanya? Kakek tua berjenggot putih pernah memberitahukannya, bahwa beliau menemukannya di sebuah lembah.

Pada waktu itu usianya baru tiga tahun. Di bajunya bersulam tiga huruf yaitu Ciok Giok Yin. Itu pasti namanya, tidak akan salah. Kalau begitu, siapa ayahnya dan mengapa dia dibuang di dalam lembah itu? Apakah kedua orang tuanya dibunuh oleh penjahat?

Akan tetapi, kalau kedua orang tuanya dibunuh oleh penjahat, mengapa dirinya tidak turut dibunuh? Bukankah membabat rumput harus pula mencabut akarnya? Bagaimana mungkin dirinya dibiarkan hidup? Dia berpikir lagi, seandainya kedua orang tuanya dibunuh penjahat, bagaimana mungkin sempat membuangnya ke lembah itu? Sesungguhnya Ciok Giok Yin berharap akan berhasil mencari kakek tua berjenggot putih, lalu bermohon padanya diajarkan ilmu silat. Kalau sudah memiliki ilmu silat tinggi, dia bukan cuma bisa membalas dendam, bahkan juga bisa pergi mencari kedua orang

tuanya. Namun kini segalanya telah kandas. Semuanya itu hanya merupakan suatu mimpi belaka, karena dia akan mati kelaparan di tempat ini.

Kini Ciok Giok Yin sudah tidak merasa takut lagi. Di saat orang sedang menunggu ajalnya, justru akan berubah tenang. Usia Ciok Giok Yin masih kecil, namun dia sering

mengalami berbagai macam penderitaan, maka pikirannya jauh melebihi anak-anak seusia itu. Sementara bunga-bunga salju terus menari-nari di angkasa. Angin terus berhembus tanpa mengenal belas kasihan, menimbulkan suara menderu-

deru. Mendadak angin dingin berhembus, membawa suatu aroma yang amat harum menerobos ke dalam hidung Ciok Giok Yin.

Seketika semangatnya terbangkit. Sedangkan aroma harum itu, makin lama makin menebal. Ciok Giok Yin pernah mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa di rimba liar kadang-kadang terdapat semacam buah langka.

Seandainya nyawanya tidak akan berakhir di sana, kemungkinan besar dia akan memperoleh buah langka yang dimaksud Memang menakjubkan, setelah mencium aroma harum itu, tanpa sadar sekujur badannya terasa agak bertenaga. Dia langsung bangkit berdiri, memandang ke arah datangnya aroma harum itu. Akan tetapi hari amat gelap, maka dia tidak melihat apapun.

Namun berdasarkan aroma harum itu, dia berjalan perlahan- lahan menuju ke sana. Kira-kira dua depa kemudian, tiba-tiba aroma harum itu hilang. Dia terpaksa membalikkan badannya untuk berendus-endus lagi.

Tak lama terendus lagi aroma harum itu. Dia cepat-cepat berjalan ke sana. Tampak sebuah tumbuhan melekat di dinding tebing. Tumbuhan itu cuma berdaun empat helai agak bergemerlapan. Di pucuk tumbuhan itu terlihat dua biji

buah. Ketika melihat buah itu, Ciok Giok Yin nyaris bersorak, kemudian sekujur badannya tergetar.

“Ginseng Daging! Ginseng Daging!” gumamnya perlahan.

Ginseng Daging merupakan buah yang amat langka dan berkhasiat luar biasa sekali. Bagi orang mahir kungfu, apabila makan buah Ginseng Daging itu, bukan cuma akan menambah tiga puluh tahun latihan lwee kang, bahkan juga akan membuatnya awet muda. Bagaimana Ciok Giok Yin tahu tentang hal itu? Ternyata kakek tua berjenggot putih pernah memberitahukannya mengenai berbagai macam buah langka berikut khasiatnya. Dia pun ingat akan pesan kakek tua berjenggot putih, bahwa siapa yang dapat menemukan buah Ginseng Daging, dia betul-betul beruntung sekali. Sebab khasiat Ginseng Daging dapat menghidupkan orang yang baru mati. Teringat akan pesan itu, maka Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya perlahan lahan dan berhatihati sekali memetik kedua biji buah Ginseng Daging itu. Namun tumbuhan itu malah tercabut semua berikut akarnya.

Saking laparnya, Ciok Giok Yin menyantap satu biji buah Ginseng Daging itu, bahkan berikut daun, batang dan

akarnya. Ketika dia baru mau menyantap buah Ginseng Daging yang satu lagi, mendadak teringat akan kakek tua berjenggot putih. Orang tua itu telah banyak berbudi padanya, mengapa Ginseng Daging yang satu ini tidak disimpan untuk

beliau? Karena berpikir begitu, dia segera menyimpan Ginseng Daging itu ke dalam kotak Ciak Kim Tan. Setelah makan Ginseng Daging itu, Ciok Giok Yin sudah tidak merasa lapar maupun dingin lagi. Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Ciok Giok Yin! Dia langsung berjalan pergi meninggalkan lembah itu.