Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 15

 
Jilid 15

Siapa yang baru muncul itu? Ternyata Ku Tian yang pernah bertemu Ciok Giok Yin di luar lembah markas perkumpulan Sang Yen Hwee. Ciok Giok Yin segera menyapanya seraya memberi hormat. "Saudara Ku!"

Ku Tian menatap Seh Yong Yong sejenak, kemudian menyahut sambil tersenyum.

"Saudara Ciok! Nona ini adalah. "

Setelah itu sepasang bola mata Ku Tian berputar lagi ke arah Seh Yong Yong.

"Dia adalah. " kata Ciok Giok Yin dengan wajah agak

kemerah-merahan.

"Dia adalah isterimu?" selak Ku Tian.

"Kami sudah bertunangan sejak masih kecil."

Sekilas wajah Ku Tian tampah berubah aneh, namun cepat sekali kembali seperti biasa! Kalau tidak memperhatikannya, pasti tidak akan mengetahuinya. Dia tidak bertanya tentang itu lagi, melainkan mengalihkan pertanyaan lagi.

"Saudara Ciok bertujuan ke mana?" "Aku ingin pergi Gunung Liok Pan San." "Ke Gunung Liok Pan San?"

"Ya."

"Ada urusan apa?"

"Mencari Thian Thong Lojin, untuk mohon penjelasan mengenai suatu persoalan rumit."

Ku Tian menggeleng-gelengkan kepala.

"Dengar-dengar orang tua itu bersifat amat aneh. Tempat tinggalnya juga dilengkapi dengan formasi aneh pula. Bagi orang yang tidak paham akan formasi itu sulit untuk masuk ke dalam."

"Biar bagaimana pun, aku harus ke sana," kata Ciok Giok Yin tegas. "Karena persoalan itu hanya beliau yang dapat memecahkannya."

Kening Ku Tian tampak berkerut. "Aku akan menemanimu ke sana."

"Atas perhatian Saudara Ku aku amat berteri-makasih sekali. Namun dari sini ke sana kira-kira ribuan mil, lagi pula penuh bahaya, aku sungguh "

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Ku Tian sudah tahu akan maksudnya. Sengaja atau tidak dia melirik Seh Yong Yong sejenak, kemudian berkata,

"Rupanya dengan keikutsertaanku, akan membuat Saudara Ciok merasa kurang leluasa. Kalau begitu, Saudara Ciok harus menjaga diri baik-baik, semoga kelian berdua selamat sampai di tempat, sampai jumpa!"

Dia menjura pada Ciok Giok Yin, kemudian melesat pergi. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu memandang punggung Ku Tian. Dia tidak menyangka Ku Tian begitu

menaruh perhatian padanya. Sesungguhnya Ciok Giok Yin amat senang Ku Tian menyertainya, namun merasa tidak enak merepotkannya, maka terpaksa menolak. Saat ini Seh Yong Yong mendekatinya sambil berkata dengan lembut,

"Kakak Yin, lebih baik aku yang menemanimu ke sana."

"Adik Yong, di dunia persilatan penuh mara bahaya dan kelicikan. Maksudku lebih baik kau pulang saja, setelah aku pulang dari sana, pasti pergi menengokmu."

Air muka Seh Yong Yong tampak berubah. Dia melihat Ciok Giok Yin terus menolak, mengira dia tidak suka padanya.

Karena itu air matanya langsung meleleh. "Kau bisa pergi ke tempat itu mengapa aku tidak? Aku Seh Yong Yong juga tidak takut mati," katanya terisak-isak.

Mendadak di dalam benak Ciok Giok Yin terlintas satu hal penting. Yaitu dia telah makan Pil Api Ribuan Tahun, sehingga membuat tubuhnya tidak seperti orang biasa. Apabila dia tidak dapat mengendalikan diri, bukankah akan Ketika

memikirkan hal itu, wajahnya tampak kemerah-merahan, kemudian dia berkata dengan terputus-putus,

"Adik Yong, aku... aku "

Walau Seh Yong Yong adalah calon isterinya, namun Ciok Giok Yin tetap merasa sulit untuk membuka mulut memberitahukan hal itu. Justru membuat Seh Yong Yong salah paham. Dia mengira Ciok Giok Yin sudah punya kekasih, dan itu membuatnya merasa cemburu.

"Apakah kau sudah punya kekasih ?" tanyanya dengan dingin. Ciok Giok Yin tertegun ketika mendengar pertanyaan Seh

Yong Yong itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Seh Yong Yong akan salah paham padanya. Karena itu dia tertawa getir.

"Adik Yong, kau telah salah mengerti akan maksudku!" Seh Yong Yong mendengus.

"Hm! Salah mengerti?" Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

"Itu cuma alasan!"

Ciok Giok Yin menggenggam tangannya sambil berkata dengan lembut.

"Adik Yong, perjodohan kita berdua justru ditentukan oleh kedua orang tua kita. Sudah pasti aku setuju, hanya saja aku tidak mau bepergian denganmu, karena... karena. "

Ciok Giok Yin tidak dapat melanjutkan ucapannya. "Dikarenakan apa?" tanya Seh Yong Yong sambil menatapnya

dengan tajam.

"Aku. aku merasa sulit memberitahukan padamu."

"Kita adalah calon suami isteri, mengapa kau masih harus merasa sulit memberitahukan padaku?"

Mendengar itu Ciok Giok Yin manggut-manggut. Memang benar apa yang dikatakan Seh Yong Yong. Ciok Giok Yin menggenggam tangannya erat-erat, setelah itu barulah berkata dengan suara rendah,

"Adik Yong, tahukah kau ada bagian tubuhku yang tak beres?"

Air muka Seh Yong Yong langsung berubah ketika mendengar pertanyaan itu. Dalam benaknya terlintas suatu hal, 'Apakah dia mengidap penyakit dalam? Kalau begitu, aku memang bernasib malang!' Di saat bersamaan dia teringat akan pesan ibunya sebelum mati. 'Nak, kau harus berusaha mencari anak Yin! Setelah kalian berdua menikah, barulah ibu merasa tenang di alam baka. Ingat, kau adalah anak satu-satunya keluarga Seh, maka kau harus punya anak, agar keluarga Ciok dan keluarga Seh tidak putus turunan!' Teringat akan pesan tersebut, seketika air mata Seh Yong Yong mengucur deras.

Dia paham akan maksud perkataan Ciok Giok Yin, yaitu tidak mampu melakukan hubungan intim antara suami isteri. Kalau tidak, bagaimana mungkin perkataannya terputus-

putus? Mereka berdua sudah dijodohkan sejak kecil, itu sudah merupakan takdir yang tak dapat diubah. Oleh karena itu Seh Yong Yong harus menerima nasibnya itu. Karena berpikir kemudian, wajah Seh Yong Yong menjadi tampak serius.

"Kakak Yin, maksudmu kau tidak bisa melakukan hubungan intim antara suami isteri?" tanyanya dengan suara rendah.

Ciok Giok Yin tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Yong, kau salah paham lagi."

Seh Yong Yong tertegun. Gadis itu sama sekali tidak paham, apanya yang tidak beres pada tubuh Ciok Giok Yin. Dia menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbelalak.

"Lalu kenapa?" tanyanya heran.

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Adik Yong, aku keliru menelan Pil Api Ribuan Tahun." Walau Seh Yong Yong tergolong gadis rimba persilatan,

pengetahuannya cukup luas, namun justru tidak tahu tentang pil tersebut.

"Pil Api Ribuan Tahun?" "Ya."

"Apa hubungan Pil Api Ribuan tahun dengan tubuhmu?" "Apakah Adik Yong tidak pernah mendengar tentang pil itu?" "Tidak pernah."

Ciok Giok Yin memandangnya.

"Mari kita duduk, aku akan memberitahukan padamu!"

Mereka berdua duduk di atas sebuah batu. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam, lalu menuturkan tanpa membaca tulisan yang tercantum di kertas itu. Usai menutur dia pun menambahkan,

"Adik Yong, aku cuma khawatir sewaktu-waktu tak dapat mengendalikan diri, maka akan mencelakai dirimu."

Mendengar itu wajah Seh Yong Yong menjadi kemerah- merahan, kemudian dia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sedangkan hatinya terus berdebar-debar tidak karuan. Itu memang merupakan persoalan yang amat penting. Tidak mengherankan Ciok Giok Yin melarangnya berpergian bersama, ternyata disebabkan persoalan tersebut. Dalam pandangan Seh Yong Yong, terus berpikir, akhirnya menatap Ciok Giok Yin seraya bertanya,

"Kakak Yin, apakah tiada suatu cara untuk memecahkan persoalan itu?"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ada."

Wajah Seh Yong Yong langsung berseri. "Cara apa?"

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang kitab Im Yang Cin Koy, kemudian melanjutkan, "Adik Yong, aku sungguh sulit membuka mulut memberitahukan padamu."

"Bukankah sudah kukatakan tadi, kita sudah merupakan calon suami isteri, tiada sesuatu yang harus dirahasiakan di antara kita berdua?"

Ciok Giok Yin memandangnya.

"Adik Yong, meskipun kau paham akan kitab Im Yang Cin Koy, tapi tetap sulit melayani itu."

Seh Yong Yong mengerutkan kening. "Lalu harus bagaimana?"

"Berdasarkan tulisan di kertas itu, aku harus punya beberapa isteri. Tentunya aku tidak bermaksud begitu. Setelah kubereskan semua urusanku, mungkin aku akan bunuh diri." Mendengar itu bukan main terkejut Seh Yong Yong!

"Kakak Yin, aku bukanlah gadis yang berpikiran sempit. Kalau ada gadis lain yang kurasa cocok, aku bersedia bersamanya mendampingimu."

"Adik Yong, sungguh besar jiwa!" "Nyatanya memang harus demikian."

Ketika pembicaraan mereka berdua sampai di situ, mendadak Ciok Giok Yin teringat akan tujuannya ke gunung Liok Pan San,

"Adik Yong, kalau kau tidak mau pulang sekarang, aku pikir lebih baik kau pergi ke Gunung Kee Jiau San, markas partai Thay Kek Bun dan kau tinggal di sana untuk sementara waktu. Bagaimana?"

Seh Yong Yong mengerutkan kening. "Tapi aku tidak kenal mereka."

Sekonyong-konyong terdengar suara yang amat dingin di belakang mereka,

"Aku bersedia mengantar dia ke sana."

Mendengar suara itu, seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.

"Bok Tiong Jin!" serunya tak tertahan.

"Tidak salah, kalian jangan membalikkan badan!"

Padahal Seh Yong Yong ingin membalikkan badannya, namun Ciok Giok Yin cepat mencegahnya. Seh Yong Yong tidak berani membalikkan badannya, sebab mendengar seruan Ciok Giok Yin 'Bok Tiong Jin'. Itu membuat sekujur badannya menjadi dingin. "Bok Tiong Jin?" tanyanya dengan suara rendah. Ciok Giok Yin mengangguk.

"Manusia dan hantu tidak boleh bertatap muka, maka kau jangan membalikkan badanmu."

Badan Seh Yong Yong menggigil ketika mendengar kata- katanya itu.

"Adik Yong, dia adalah penolongku. Kelak kalau ada waktu, akan kuceritakan padamu."

Seh Yong Yong mengangguk. Di saat bersamaan terdengar lagi suara Bok Tiong Jin.

"Kau tidak usah mencemaskan itu, aku akan memberitahukan padanya. Kau mau berangkat ke Gunung Liok Pan San, berangkatlah! Mengenai nona ini aku yang akan mengantarnya ke sana, dan kujamin dia tidak akan kehilangan sehelai rambut pun."

"Kalau begitu aku berhutang budi padamu lagi," kata Ciok Giok Yin.

"Semakin banyak hutangmu padaku semakin baik, asal kau ingat akan janjimu itu, sudah cukup bagiku."

Seh Yong Yong tercengang ketika mendengar ucapan Bok Tiong Jin itu.

"Janji apa?" tanyanya kepada Ciok Giok Yin.

Ketika Ciok Giok Yin baru mau memberitahukan, Bok Tiong Jin sudah mendahulinya.

"Nona tidak usah bertanya, mungkin akan kuberitahukan padamu."

Hening sejenak, kemudian terdengar Bok Tiong Jin melanjutkan ucapannya.

"Hai! Manusia! Aku dengar kau telah peroleh kitab Im Yang Cin Koy! Benarkan itu?"

Ciok Giok Yin tertegun. "Kau sudah tahu itu?"

"Bagi hantu, tiada sesuatu yang tak tahu. Kau harus berikan pada tunanganmu itu, agar dia bisa membaca kitab tersebut. Buat apa kau simpan dalam bajumu, bagaimana kalau hilang?"

Ciok Giok Yin berpikir sejenak, lalu mengeluarkan kitab itu. "Aku mohon kau sudi melindunginya sampai di tempat!" "Tentang itu kau boleh berlega hati."

Ciok Giok Yin menyerahkan kitab itu pada Seh Yong Yong seraya berpesan.

"Adik Yong, kalau ada waktu kau boleh membacanya!"

Wajah Seh Yong Yong langsung memerah. Dia tahu kitab tersebut amat penting bagi mereka, terutama dalam hal berhubungan intim. Karena itu dia harus baik-baik menyimpannya. Kalau tidak, sulit baginya berhubungan intim dengan Ciok Giok Yin kelak.

Terdengar Bok Tiong Jin berkata lagi. "Nona, silakan berjalan ke arah timur!" Ciok Giok Yin langsung berkata,

"Adik Yong, baik-baik menjaga dirimu!" "Kakak Yin, kau pun harus hati-hati!"

Mereka berdua saling menatap. Manusia merasa paling berduka di saat berpisah, terutama berpisah dengan kekasih. Tidak mengherankan mata mereka berdua berkaca-kaca, kemudian meleleh. Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi, tujuannya adalah Gunung Liok Pan San.

Sedangkan Seh Yong Yong juga sudah berangkat ke Gunung Kee Jiau San, dengan hati amat berduka lantaran berpisah dengan Ciok Giok Yin. Sementara Ciok Giok Yin terus melesat ke arah utara, hari pun sudah mulai gelap.

Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gunung- gunung yang menjulang tinggi ke langit. Saat itu adalah musim semi, maka hembusan angin senja sungguh membuat hati orang terasa nyaman. Panorama pun amat indah, namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak menikmati keindahan alam, sebab dia ingin lekas-lekas tiba di Gunung Liok Pan San. Berselang beberapa saat, perutnya mulai terasa lapar. Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu dan mengeluarkan sedikit makanan kering yang dibawanya. Dia mulai makan sambil menikmati keindahan panorama. Usai makan dia ingin melanjutkan perjalanan agar bisa tiba di tempat tujuan selekasnya. Namun ketika dia baru bangkit berdiri, mendadak terdengar suara rintihan yang amat lemah.

Hati Ciok Giok Yin tersentak dan berpikir. 'Apakah ada orang terluka?'

Karena merasa heran, membuat sepasang kakinya melangkah ke tempat suara rintihan itu. Kira-kira lima puluh depa lebih, tampak seorang pengemis berusia lanjut berguling-guling di tanah, bahkan tangannya tak henti-hentinya menarik baju bagian dadanya. Terlihat pula sebatang tongkat bambu hijau tergeletak di sampingnya. Melihat keadaannya, dapat diketahui bahwa pengemis itu amat menderita. Timbullah rasa iba dalam hati Ciok, Giok Yin. Dia menghampiri pengemis itu, lalu membungkukkan badannya sedikit seraya bertanya,

"Lo cianpwee sakit?"

Pengemis berusia lanjut tidak menyahut, hanya terus menarik-narik bajunya yang telah sobek itu. Akhirnya tampak dadanya yang bernoda darah bekas cakaran kukunya. Hati Ciok Giok Yin tergetar. Dia yakin bahwa pengemis itu pasti tokoh rimba persilatan. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia menderita sakit di tempat yang amat sepi ini? Lagi pula kelihatannya pengemis itu mengindap penyakit aneh. Ciok Giok Yin mengerti ilmu pengobatan, tentunya harus turun tangan memeriksa penyakitnya, tanpa peduli pengemis itu orang baik atau penjahat. Karena itu jari tangan Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok jalan darah bagian dada pengemis itu. Seketika pengemis berusia lanjut tidak bergerak.

Perlahan-lahan sepasang matanya mengarah kepada Ciok Giok Yin, kemudian menyorotkan sinar aneh. Berdasarkan sorot matanya Ciok Giok Yin bertambah yakin bahwa pengemis itu merupakan seorang tokoh rimba persilatan, bahkan memiliki lwee kang yang amat tinggi. Namun Ciok Giok Yin justru tidak tahu jelas pengemis itu mengidap penyakit atau terluka. Sebab itu dia bertanya,

"Lo cianpwee merasa tidak enak di mana?"

Pengemis berusia lanjut menyahut dengan suara lemah. "Akhirnya kau harus kembali ke asal."

Ciok Giok Yin tertegun mendengar sahutan itu. "Maksud lo cianpwee?"

Pengemis berusia lanjut menatapnya sejenak kemudian berkata perlahan-lahan.

"Ketika aku sedang duduk beristirahat, mendadak serangkum angin pukulan menerjang dari belakang, terasa pula hawa yang amat panas menyerang jantung."

"Selanjutnya bagaimana?"

"Terdengar suara siulan panjang, kemudian lenyap."

Ciok Giok Yin segera memeriksa nadi pengemis berusia lanjur, lalu air mukanya tampak berubah.

"Lo cianpwee terkena racun pukulan Soan Hong Ciang." "Soan Hong Ciang?"

"Ya."

Pengemis berusia lanjut mengeluarkan suara. "Hah?"

Wajahnya yang keriput itu tampak tegang dan serius. Itu pertanda dia tahu akan kelihayan ilmu pukulan Soan Hong Ciang. Mendadak sepasang matanya menyorotkan sinar yang penuh dendam.

"Ternyata adalah pewaris Sang Ting It Koay!" katanya sengit. "Sang Ting It Koay memang punya seorang murid murtad,"

sahut Ciok Giok Yin.

"Namanya Chiu Tiong Thau. Aku pengemis tua pernah dengar, dia adalah jago nomor wahid di dunia persilatan."

Ciok Giok Yin berpikir sejenak.

"Lo cianpwee, aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Untung luka lo cianpwee tidak begitu parah, maka tidak sulit untuk pulih."

Dia cepat-cepat mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat cair Giok Ju. Kemudian dituangnya dua tetes obat itu ke dalam mulut pengemis berusia lanjut seraya berkata,

"Lo cianpwee harus menahan derita. Aku akan menggunakan lwee kang perguruanku untuk mendesak ke luar racun itu agar lo cianpwee segera pulih."

Setelah berkata demikian, Ciok Giok Yin cepat-cepat menempelkan telapak tangannya di punggung pengemis berusia lanjut kemudian mengarahkan Sam Yang Hui Kang untuk mendesak ke luar racun yang bersarang di dada pengemis itu. Terdengar suara rintihan dari mulut pengemis berusia lanjut. Berselang beberapa saat, sekujur badan pengemis berusia lanjut telah basah oleh keringat. Wajahnya meringis-ringis, tampaknya dia amat menderita.

Tak lama, kening Ciok Giok Yin juga mengucur keringat. Saat ini mereka berdua dalam keadaan genting. Apabila terganggu, pasti kedua-duanya akan cacat seumur hidup, bahkan mungkin akan mati sekarang. Justru di saat genting itu sekonyong- konyong muncul empat sosok bayangan orang mendekati mereka berdua. Keempat orang itu adalah Setan Tinggi, Setan Pendek, Setan Gemuk dan Setan Kurus dari perkumpulan Sang Yen Hwee. Keempat setan itu saling memandang, kemudian tersenyum licik. Setelah itu mereka berempat melangkah maju perlahan-lahan mendekati Ciok Giok Yin yang sedang mengobati pengemis berusia lanjut dengan menggunakan lwee kangnya.

Keempat setan itu merupakan pesilat tinggi di dunia persilatan, tentunya tahu keadaan Ciok Giok Yin dan pengemis tersebut. Saat ini apabila mereka berdua terganggu, pasti akan membuat mereka berdua menderita cacat seumur hidup, bahkan kemungkinan besar kedua-duanya akan mati seketika.

Sementara Ciok Giok Yin sudah melihat kemunculan keempat setan itu. Akan tetapi di saat genting seperti itu dia tidak bisa menarik kembali lwee kangnya. Kalau dia menarik kembali  lwee kangnya, pasti akan membuat pengemis berusia lanjut mati seketika dan dirinya sendiri juga akan menderita luka parah. Pengemis berusia lanjut juga sudah tahu akan kehadiran keempat setan tersebut, dan itu membuatnya berpikir. 'Yang menolongku adalah pemuda berusia puluhan, sedangkan diriku sudah berusia lanjut. Anak muda ini akan mati bersamaku.

Sungguh. Pengemis berusia lanjut tidak pikir lagi. Namun dia

tidak berani bergerak sedikitpun, sebab kalau salah bertindak, bukan cuma dia yang akan mati, bahkan juga akan mencelakai pemuda tersebut. Dapat dibayangkan betapa dukanya hati pengemis itu! Sudah barang tentu menyebabkan badannya tergoncang sedikit. Di saat bersamaan terdengar suara Ciok Giok Yin yang amat perlahan.

"Lo cianpwee, saat ini hati lo cianpwee tidak boleh tergoncang, kita pasrah saja!"

Ciok Giok Yin segera menambah lwee kangnya sehingga hawa panas terus mengalir ke dalam tubuh pengemis berusia lanjut melalui telapak tangannya. Sementara keempat setan itu sudah semakin mendekat. Terdengar jelas pula senjata si Setan Gemuk yang berupa Sui Poa terus berbunyi.

Plak! Plaak!

Wajahnya tampak berseri licik, menengok ke kiri dan ke kanan seraya berkata dengan gembira.

"Kita empat bersaudara, hari ini akan memperoleh keuntungan besar!"

"Memang seharusnya bocah itu jatuh ke tangan kita! He he he..." sahut Setan Pendek.

Dia tertawa gelak sambil melangkah maju, begitu pula ketiga setan lainnya. Kini jarak mereka berempat dengan Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut cuma tiga depa. Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut betul-betul berada di

ambang Akan tetapi saat ini Ciok Giok Yin sedang menyalurkan lwee kangnya, maka tidak bisa berbuat apa-apa. Kalaupun usai mengobati pengemis berusia lanjut, dia tetap tidak mampu mengadakan perlawanan, sebab dia sudah kelelahan.

Perlahan-lahan si Setan Tinggi dan Si Setan Kurus mengangkat tangannya, yang satu mengarah pada Ciok Giok Yin dan yang satu lagi mengarah pada pengemis berusia lanjut. elihatannya kedua setan itu sudah siap melancarkan pukulan ke arah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Mendadak si Setan Gemuk tertawa terkekeh dan berkata.

"Bagaimana kalau kita menyiksa bocah itu dulu biar dia merasakan. "

"Hati-hati dengan lidahmu itu!" sahut si Setan Pendek.

Si Setan Gemuk langsung diam. Sedangkan si Setan Tinggi dan si Setan Kurus saling memandang, lalu menarik kembali tangan masing-masing. Ternyata mereka berdua sudah mendengar perkataan si Setan Gemuk, mau menyiksa Ciok Giok Yin dulu. Karena itu si Setan Tinggi menjulurkan jari tangannya, menotok jalan darah Siau Yan Hiat Ciok Giok Yin.

Di saat bersamaan mendadak dari arah samping menerjang dua rangkum angin pukulan yang amat dahsyat. Boleh dikatakan bagaikan tindihan gunung dan terjang ombak, membuat Setan Tinggi cepat-cepat menarik kembali tangannya, tidak berani melanjutkan serangannya terhadap Ciok Giok Yin. Sebab apabila dia melanjutkan serangannya, nyawanya pasti akan melayang. Dia langsung mencelat ke belakang, diikuti ketiga setan lainnya.

"Ada apa?" tanya si Setan Gemuk. "Ada hantu," sahut si Setan Tinggi.

Mendengar itu si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata.

"Kita berempat adalah Si Sing Kui! Hantu yang mana pun melihat kita pasti kabur terbirit-birit! Kau memang tak berguna sama sekali!"

Si Setan Tinggi tidak menghiraukan perkataan si Setan Gemuk. Sepasang matanya yang sipit menengok ke sana ke mari. Sikap si Setan Tinggi itu membuat Si Setan Kurus tertawa terkekeh-kekeh, kemudian dia berkata menyindir.

"Hai! Jangan-jangan kau belajar ilmu pada sunio (Istri Guru)mu!"

"Suhunya adalah seorang penjual obat keliling!" sambung si Setan Gemuk. "Wah! Aku sama sekali tidak tahu itu, beritahukanlah!" sela si Setan Pendek.

Si Setan Kurus tertawa terkekeh lagi lalu menyahut. "Dia punya dua suhu, kedua-duanya adalah tukang obat

keliling dunia persilatan!"

"Dua suhu yang mana?" tanya si Setan Gemuk dan Setan Pendek dengan seretak.

Setan Kurus melirik Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut sejenak lalu menyahut.

"Salah satu suhunya adalah penjual obat kuat, maka dia cuma bisa duduk bersemedi saja!"

"Suhunya yang satu lagi penjual obat apa?" tanya si Setan Gemuk.

"Wah! Suhunya yang satu lagi adalah penjual obat istimewa!" sahut si Setan Kurus dengan serius.

"Obat istimewa apa?" tanya si Setan Pendek. "Obat anti senjata tajam. "

Di saat si Setan Kurus menyahut, si Setan Tinggi melancarkan serangan lagi ke arah jalan darah Siau Yun Hiat Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Apabila jalan darah tersebut tertotok, maka Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut akan tertawa terbahak-bahak hingga mati. Ketika jari tangan si Setan Tinggi hampir berhasil menotok jalan darah Sian Yun Hiat Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut, mendadak terdengar suara bentakan nyaring.

"Kau berani!"

Tampak sosok bayangan melesat ke luar laksana kilat dari balik sebuah batu besar, sekaligus melancarkan pukulan ke arah si Setan Tinggi. "Gadis sialan, ternyata kau lagi!" bentak ketiga setan lainnya. Ketiga setan itu menerjang ke arah gadis yang baru muncul.

Siapa gadis itu? Tidak lain adalah Cou Ing Ing. Demi menyelamatkan diri, si Setan Tinggi terpaksa mencelat ke belakang. Setelah itu dia maju lagi untuk menotok jalan darah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Sesungguhnya keempat setan itu berasal dari satu guru. Tadi ketiga setan itu berbicara menyindir, tidak lain hanya untuk memecahkan perhatian pendatang gelap itu, agar si Setan Tinggi dapat turun tangan terhadap Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Di saat mereka berhasil, karena Cou Ing Ing terpancing keluar, maka ketiga Setan itu langsung menyerangnya.

Sedangkan si Setan Tinggi punya peluang untuk menyiksa Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Akan tetapi di saat si Setan Tinggi baru mau turun tangan, mendadak melayang turun sesosok bayangan merah dan terdengar pula suara bentakan.

"Setan Tinggi, kau berani melukai adikku?"

Tampak bayangan telapak tangan berkelebat ke arah si Setan Tinggi, sehingga membuat si Setan Tinggi terdesak ke belakang.

"Heng Thian Ceng!" serunya kaget.

Ternyata yang baru muncul itu adalah Heng Thian Ceng. Wanita iblis itu terus menyerang si Setan Tinggi dengan bertubi-tubi. Di saat bersamaan terdengar suara siulan yang amat memekakkan telinga. Siapa yang mengeluarkan suara siulan dahsyat itu? Tidak lain adalah Ciok Giok Yin dan pengemis berusia lanjut. Seusai Ciok Giok Yin mengobati pengemis berusia lanjut, mereka berdua beristirahat sejenak, kemudian mengeluarkan suara siulan, sekaligus menerjang ke arah ketiga setan yang mengeroyok Cou Ing Ing. Mendadak si Setan Tinggi menjerit, kemudian lari terbirit-birit ke dalam lembah. Ketiga Setan lainnya pun cepat-cepat melesat pergi. Kini suasana di tempat itu berubah menjadi hening. Ciok Giok Yin memandang Cou Ing Ing sambil berkata dengan penuh rasa haru.

"Adik. " Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin memanggilnya

'Adik Ing', namun langsung berubah. "Terimakasih atas bantuan Nona!"

"Kau merasa malu tidak? Aku ingin membunuhmu, bukan menyelamatkanmu!" sahut Cou Ing Ing dingin sambil melotot.

Sekonyong konyong Heng Thian Ceng mendekatinya sambil membentak sengit.

"Gadis tak tahu diri! Kalau kau berani mengganggu seujung rambut adikku, aku pasti mencincangmu!"

Lantaran Heng Thian Ceng turut campur, justru membuat Cou Ing Ing semakin gusar.

"Aku mau memukulnya hingga mati, lihat kau bisa berbuat apa! Dasar tak tahu malu!" katanya.

Dia langsung melancarkan serangan menggunakan tujuh bagian tenaganya ke arah dada Ciok Giok Yin. Pukulan yang dilancarkannya sungguh cepat melebihi kilat, bahkan amat dahsyat.

"Gadis sialan, nyalimu sungguh besar!" bentak Heng Thian Ceng.

Dia pun langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah Cou Ing Ing. Sedangkan Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga bahwa Cou Ing Ing akan menyerangnya sedemikian cepat dan dahsyat. Sementara pukulan yang dilancarkan Heng Thian Ceng juga amat cepat dan dahsyat, meluncur ke arah lengan Cou lug Ing. Apabila lengan Cou Ing Ing terpukul, pasti akan remuk dan cacat seumur hidup.

Cou Ing Ing merupakan teman Ciok Giok Yin dari kecil. Kalaupun gadis itu memukul Ciok Giok Yin tetap akan mengalah. Namun Heng Thian Ceng justru adalah penolongnya. Mereka berdua punya hubungan erat dengan Ciok Giok Yin. Sudah jelas Ciok Giok Yin tidak menghendaki mereka berdua bertarung. Oleh karena itu Ciok Giok Yin pun jadi nekad. Dia langsung melesat ke tengah-tengah mereka agar mereka berdua menarik kembali pukulan masing-masing.

Namun tak disangka kedua pukulan itu menghantam Ciok Giok Yin.

Plaaak!"

Pukulan yang dilancarkan Cou Ing Ing mengenai bahunya, sedangkan pukulan yang dilancarkan Heng Thian Ceng mengenai rusuk kirinya. Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh...!"

Ciok Giok Yin terhuyung-huyung ke belakang lima langkah lalu roboh.

"Uaaakh ! "

Dari mulutnya menyembur darah segar dan pandangannya berkunang-kunang, pertanda lukanya cukup parah. Cou Ing Ing tertegun kemudian melototi Heng Thian Ceng dengan mata berapi-api. Setelah itu mendadak dia melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Heng Thian Ceng tidak menghiraukan kepergian Cou Ing Ing. Dia segera mendekati Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian.

"Adik, bagaimana keadaanmu?" tanyanya menepiskan tangan Heng Thian Ceng. Dia bangkit berdiri sendiri dengan sempoyongan.

Pengemis berusia lanjut juga mendekati Ciok Giok Yin. "Saudara Kecil, bagaimana rasamu?" tanyanya dengan penuh

perhatian. "Tidak apa-apa," sahut Ciok Giok Yin sambil tersenyum getir.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat cair Giok Ju kemudian dituangnya dua tetes obat itu ke dalam mulutnya.

Di saat bersamaan Heng Thian Ceng berkata sengit. "Adik, suatu hari nanti aku pasti membunuhnya demi

membalas dendammu!"

Sedangkan pengemis berusia lanjut tampak terbengong- bengong. Ternyata dia tidak paham akan hubungan kedua orang itu. 'Bagaimana kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik?' tanyanya dalam hati. Ciok Giok Yin memandang Heng Thian Ceng, kemudian berkata.

"Cianpwee tidak usah mencemaskan urusanku dengan Nona Cou. Di antara kami tidak terdapat dendam apa pun. Cuma terdapat sedikit salah paham, bukan merupakan urusan besar."

Heng Thian Ceng mendengus.

"Hm! Adik, dia telah memukulmu, mengapa kau masih membelanya?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Aku berhutang banyak padanya." Keningnya tampak berkerut. "Cianpwee, tidak baik bagi kita saling memanggil kakak dan adik."

"Adik, apakah... kau merasa sebal, karena wajahku buruk?"

Pengemis berusia lanjut bertambah tercengang. Dia merasa keberadaannya di tempat itu mungkin akan membuat mereka kurang leluasa berbicara. Maka dari itu dia berkata pada Ciok Giok Yin.

"Silakan kalian berdua bercakap-cakap! Saudara Kecil, aku pengemis tua menunggumu di depan sana." Dia menyambar tongkat bambu hijaunya yang tergeletak di tanah, lalu melesat pergi dan tak lama sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.

"Siapa dia?" tanya Heng Thian Ceng. "Akupun tidak jelas."

"Kalau begitu, kalian berdua tidak bersama?" "Memang tidak."

"Bagaimana dia akan menunggumu di depan?" "Itu pun aku kurang jelas!"

"Kalian berdua bertemu di mana?" "Di tempat ini."

Heng Thian Ceng mengerutkan kening lalu memandang Ciok Giok Yin seraya bertanya lagi, "Di tempat ini?"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ng!"

"Lalu bagaimana kau bertemu Si Sing Kui?"

Ciok Giok Yin segera menceritakan tentang dirinya mengobati pengemis berusia lanjut. Setelah mendengar cerita itu, Heng Thian Ceng manggut-rnanggut.

"Ooooh! Kalau begitu, kau telah diselamatkan oleh gadis itu." Dia menggenggam tangan Ciok Giok Yin erat-erat. "Masih beruntung kau selamat!" tambahnya.

Hati Ciok Giok Yin tersentak. Ternyata tangan Heng Thian Ceng amat halus. Itu sungguh di luar dugaannya! Sehingga tanpa segaja Ciok Giok Yin meliriknya. Dan di saat bersamaan, secara reflek dia pun menggenggam tangan halus itu. Setiap orang kalau suka pada suatu benda, pasti akan membuat hatinya tergerak dan membelainya. Lantaran tangan Heng Thian Ceng amat halus, boleh dikatakan lebih halus dari tangan Cou Ing Ing atau tangan Seng Seh Yong Yong, menyebabkan Ciok Giok Yin balas menggenggam tangannya tanpa sadar.

Bersamaan itu sepasang mata Ciok Giok Yin menatap wajahnya, dan itu membuatnya cepat-cepat melepaskan tangannya. Diam-diam Ciok Giok Yin menghela nafas panjang dan berkata dalam hati. 'Wajahnya begitu buruk, namun sepasang tangannya amat halus dan indah. Sungguh sayang sekali!' Untuk menutupi sikapnya tadi, Ciok Giok Yin berkata,

"Kalau dia tidak muncul tepat pada waktunya, aku dan lo cianpwee itu pasti sudah mati di tangan Si Sing Kui."

Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin justru tidak masuk ke dalam telinga Heng Thian Ceng. Ternyata ketika tadi Ciok Giok Yin balas menggenggam tangannya, hati Heng Thian Ceng terus berdebar-debar dan dia pun merasa nyaman sekali.

Seketika Heng Thian Ceng berkata dalam hati. 'Ternyata dia suka padaku!'

Di saat dia berkata dalam hati, Ciok Giok Yin justru melepaskan tangannya, bahkan tampak keningnya berkerut.

Mendadak Heng Thian Ceng menggenggam tangannya lagi sambil berkata perlahan-lahan.

"Adik, apakah kau begitu keras tidak mau memanggilku kakak?"

"Cianpwee, bukan aku tidak mau, melainkan tidak pantas. Sebab usia kita terpaut jauh, maka aku tidak boleh memanggil cianpwee kakak," sahut Ciok Giok Yin.

"Jadi kau mengikuti adat istiadat itu?"

"Ini bukan adat istiadat, melainkan tata krama." "Di dunia persilatan, bagaimana ada tata krama ini?" Ciok Giok Yin tetap berkeras.

"Cianpwee, maafkan aku! Biar bagaimana pun aku tidak bisa memanggil Cianpwee kakak!"

Heng Thian Ceng tetap menggenggam tangannya. "Adik, kau berkata apa pun, kakak tidak akan marah

padamu."

"Cianpwee, hidup tidak terlepas dari tata karma, orang yang tidak tahu tata krama berarti orang itu tak berguna. Aku percaya cianpwee mengerti, maka aku tidak bisa memanggil cianpwee kakak."

Tak disangka Heng Thian Ceng malam tertawa cekikikan. "Adik, memang benar katamu. Tapi agak berlebihan." "Bagaimana agak berlebihan?"

"Memang agak berlebihan." "Mohon petunjuk cianpwee."

"Apa yang kau katakan tadi memang benar dan masuk akal, namun apabila disepakati kedua belah pihak, itu pun termasuk tata krama." Heng Thian Ceng menatapnya. "Seandainya kita saling memanggil kakak dan adik, orang lain pun tidak akan mengatakan kita tidak benar."

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng akan mengemukakan begitu banyak alasan, membuatnya nyaris tertawa geli. Sedangkan Heng Thian Ceng mengira Ciok Giok Yin sudah setuju memanggilnya kakak.

"Adik, betul kan apa yang Kakak Katakan?" "Cianpwee. " Heng Thian Ceng langsung memutuskan perkataannya. "Kok kau masih memanggilku cianpwee?"

"Biar bagaimana pun aku tidak berani memanggil cianpwee kakak," sahut Ciok Giok Yin dengan tegas.

Heng Thian Ceng mengerutkan kening hingga wajahnya tampak serius.

"Apakah kau anggap wajah kakak amat buruk?" Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Cianpwee tidak usah banyak curiga. Pepatah mengatakan 'Menilai orang jangan berdasarkan wajahnya, haruslah berdasarkan hatinya'. Karena itu, aku tidak mempermasalahkan wajah cianpwee yang buruk."

Mendadak terdengar suara desiran angin di belakang mereka.

Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng segera menoleh, sekaligus mengerahkan lwee kang. Terdengar suara tawa gelak.

"Ha ha ha! Tak disangka Heng Thian Ceng juga berada di sini!"

Orang yang baru muncul itu, ternyata Te Hang Kay. "Lalu kenapa?" sahutnya.

Ciok Giok Yin khawatir mereka berdua akan bertarung, maka segera menjura seraya berkata,

"Lo cianpwee, tadi aku bertemu beberapa musuh tangguh, untung muncul Heng Thian Ceng cianpwee menyelamatkanku, maka kami bercakap-cakap di sini."

Te Hang Key pengemis tua itu menatap Heng Thian Ceng dengan sorot mata dingin. "Khui Fang Fang, apakah kau sudah lupa katakata si Bongkok Arak?"

"Apa katanya?" "Melarangmu bersamanya." "Kau perduli amat?"

"Aku pengemis tua memang memperdulikan ini." "Apa alasanmu?"

"Berdasarkan usiamu, sudah tidak pantas kau bersamanya." Sepasang mata Te Hang Kay menyorot dingin lagi. "Sekarang kau harus meninggalkan tempat ini!"

"Kalau aku tidak mau meninggalkan tempat ini?" "Kau akan kumampusi!"

Heng Thian Ceng mendengus dingin. "Hm! Kau mampu itu?"

"Lihat saja aku mampu atau tidak?"

Ketika Te Hang Kay baru mau melancarkan serangan, mendadak Ciok Giok Yin melangkah maju ke tengah-tengah mereka berdua seraya berkata,

"Lo cianpwee, kalau ada persoalan harap bicara baik-baik saja!"

Te Hang Kay yang sudah pasang kuda-kuda untuk menyerang Heng Thian Ceng berkata dengan suara dalam.

"Khui Fang Fang, kau boleh jadi ibunya! Tapi malah mendesaknya untuk memanggilmu kakak, sesungguhnya apa maksudmu itu? Apakah dua puluh tahun lalu. " Dia memandang Ciok Giok Yin sejenak, tidak melanjutkan perkataannya.

"Siapa kau?"

"Aku pengemis tua Te Hang Kay!" "Te Hang Kay?"

"Tidak salah! Mungkin kau belum mendengar! Tapi cepat atau lambat kau akan jelas!"

"Kau menyembunyikan kepala dan ekor, tidak berani menyebut nama aslimu, justru masih punya muka mencampuri urusan orang!"

"Urusan ini aku pengemis tua pasti mencampurinya!"

Sepasang mata Heng Thian Ceng membelalak lebar kemudian sepasang bola matanya berputar ke arah Ciok Giok Yin.

"Adik, katakanlah! Sebetulnya kau mengaku aku sebagai kakakmu atau tidak?"

Ciok Giok Yin jadi serba salah. Di hadapan kedua orang itu, yang satu melarang Heng Thian Ceng bergaul dengannya, sedangkan yang satu lagi justru mendesaknya harus memanggil kakak. Apa maksud kedua orang itu, sungguh membuatnya tidak hasib berpikir.

"Adik, katakanlah!" desak Heng Thian Ceng. Ciok Giok Yin tersenyum getir.

"Tentang urusan ini bagaimana kalau kita bicarakan kelak?" Heng Thian Ceng manggut-manggut.

"Baik, kapan pun aku akan mencarimu." Kemudian dia menatap Te Hang Kay dengan penuh kebencian, setelah itu barulah melesat pergi. Sesudah Heng Thian Ceng melesat pergi, Ciok Giok Yin bertanya pada Te Hang Kay.

"Lo cianpwee, apa sebabnya aku tidak boleh bergaul dengan Heng Thian Ceng? Bolehkah lo cianpwee menjelaskan?"

"Dia. "

Te Hang Kay cuma mengucapkan itu, lalu berhenti. Itu membuat Ciok Giok Yin bercuriga.

"Sebetulnya dia kenapa?"

"Pokoknya kau tidak boleh bergaul dengannya." "Apakah lo cianpwee punya alasan?"

Te Hang Kay mengangguk.

"Tentu. Bagaimana mungkin aku pengemis tua akan membohongimu?" ucapannya. "Berdasarkan usianya, dia boleh jadi ibumu. Kau bergaul dengannya, bukankah akan ditertawakan orang?"

"Sesungguhnya itu tidak jadi masalah," sahut Ciok Giok Yin. Te Hang Kay mengerutkan kening.

"Kau tahu siapa dia?"

"Bukankah lo cianpwee memanggilnya Khui Fang Fang?" "Tidak salah, namanya memang Khui Fang Fang. Dua puluh

tahun yang lalu dia telah menggemparkan dunia persilatan, entah berapa banyak pendekar muda tergila-gila padanya."

Ciok Giok Yin terbelalak. "Berdasarkan wajahnya itu?" serunya tak tertahan.

"Kau anggap dia tak sedap dipandang?" sahut Te Hang Kay. "Wajahnya memang tak sedap dipandang."

"Keliru." "Bagaimana keliru?"

"Dia memakai semacam kedok kulit. Kau tidak tahu itu?"

Ciok Giok Yin tertegun, sehingga sepasang matanya terbeliak lebar.

"Dia memakai semacam kedok kulit?" "Tidak salah."

"Aku memang tidak tahu itu."

"Sesungguhnya dia amat cantik bagaikan bidadari. Mengenai usianya memang sudah ada, tapi aku percaya kecantikannya masih seperti berusia dua puluhan."

"Hah? Betulkah itu?" seru Ciok Giok Yin tak tertahan lagi. "Tentunya tidak salah."

"Bagaimana dia merawat dirinya sampai bisa begitu?"

"Tidak bisa dikatakan merawat diri. Kemungkinan besar dia pernah makan semacam buah langka, maka dia tetap awet muda. Kalau tidak, bagaimana mungkin lwee kangnya begitu tinggi dan wajahnya tetap begitu cantik?"

"Bagaimana lo cianpwee tahu begitu jelas?" "Ini. "

Te Hang Kay diam, tidak melanjutkan ucapannya. Ciok Giok Yin ingin agar teka-teki itu terungkap. "Bagaimana?"

"Mengenai dirinya, kelak kau akan tahu perlahan-lahan."

Ciok Giok Yin tahu Te Hang Kay tidak bersedia menceritakan tentang itu, maka tidak mau mendesaknya. Namun dia mengambil keputusan dalam hati, apabila bertemu Heng Thian Ceng lagi, dia akan berupaya membuka kedok yang dipakainya, agar tahu bagaimana parasnya.

"Sekarang aku tidak boleh tahu?" "Tidak boleh."

"Mengapa?"

"Kalau kuberitahukan, tiada manfaatnya bagimu, bahkan sebaliknya malah akan mencelakaimu!"

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan satu hal, yaitu mengenai sebuah tahi lalat merah di dadanya. Orang yang pertama menanyakan tentang itu adalah Te Hang Kay. Karena itu pengemis tua itu pasti tahu akan asal-usulnya, maka Ciok Giok Yin bertanya.

"Lo cianpwee, sebetulnya siapa kedua orang tuaku? Bolehkah lo cianpwee memberitahukan?"

Te Hang Kay menggeleng-gelengkan kepala. "Tetap seperti yang kukatakan dulu, kini tidak bisa

diberitahukan."

"Mengapa tidak bisa diberitahukan?" wajah Ciok Giok Yin tempak murung. "Tentunya lo cianpwee tahu jelas asal-usulku. Coba pikir, seorang hidup di dunia tidak tahu asal-usulnya dan tidak tahu kedua orang tuanya, bukankah amat menderita sekali? Apakah lo cianpwee tidak merasa iba padaku?" Te Hang Kay menghela nafas panjang.

"Aku memang tahu sedikit, namun masih belum waktunya aku memberitahuan " Mendadak sepasang matanya

menyorot aneh, lalu dia mengalihkan perkataannya. "Sekarang kau mau ke mana?"

Ciok Giok Yin tahu percuma mendesaknya, maka dia menyahut.

"Ke Gunung Liok Pan San!" "Gunung Liok Pan San?" "Ya."

"Mau apa kau ke sana?"

Ciok Giok Yin memberitahukan tentang sepotong kain baju yang diperoleh dari Cou Kiong. Mendengar itu sepasang mata Te Hang Kay berbinar, lalu dia bertanya,

"Betulkah ada urusan itu?" "Tidak salah."

Ciok Giok Yin segera memperlihatkan kain potongan itu. Cukup lama Te Hang Kay memperhatikan kain potongan tersebut, namun sama sekali tidak menemukan rahasianya. Akan tetapi Ciok Giok Yin yakin, kain potongan itu pasti ada hubungannya dengan asal-usulanya, mungkin juga berkaitan dengan jejak Seruling Perak. Mendadak Te Hang Kay berkata,

"Dengar-dengar Thian Thong Lojin bersifat amat aneh, maka kau harus hati-hati dan berlaku sungkan padanya!"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Tentang itu aku sudah tahu." Te Hang Kay mengembalikan potongan kain itu pada Ciok Giok Yin, dan berpesan.

"Kau harus baik-baik menyimpan kain potongan ini." Ciok Giok Yin mengangguk lagi dan bertanya.

"Lo cianpwee mau ke mana?"

"Aku juga ingin mencari seseorang, sampai jumpa!"

Te Hang Kay langsung melesat pergi. Sedangkan Ciok Giok Yin masih berdiri termangu-mangu. Perasaannya agak tercekam karena Te Hang Kay, Si Bongkok Arak dan juga Seng Ciu Suseng, mertuanya itu, mengapa sikap mereka begitu misterius? Padahal mereka bertiga tahu akan asal-usulnya, namun mengapa tidak bersedia memberitahukan padanya?

Mendadak tampak beberapa sosok bayangan melayang turun di hadapan Ciok Giok Yin, membuatnya langsung mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi segala mungkinan. Ciok Giok Yin menatap mereka, ternyata pernah bertemu mereka di luar Goa Toan Teng Tong. Mereka adalah Sin Ciang Yo Sian, Kang Sun Fang, ketua partai Heng San Pay dan tiga orang yang tidak dikenalnya. Sin Ciang-Yo Sian adalah pemimpin mereka. Dia maju selangkah seraya berkata dengan wajah dingin.

"Ciok Giok Yin, lohu ingin mengajukan satu pertanyaan." "Silakan!"

Sin Ciang Yo Sian menegaskan. "Kau harus menjawab sejujurnya."

Ciok Giok Yin tertegun. Dalam benaknya langsung teringat pada Heng Thian Ceng dan Seruling Perak. Sebab setengah tahun yang lalu mereka menghadang Ciok Giok Yin lantaran Heng Thian Ceng berjalan bersamanya, sehingga mereka bercuriga Seruling Perak telah berada di tangan Ciok Giok Yin. Kini mereka muncul di hadapan Ciok Giok Yin, tentunya adalah dikarenakan urusan tersebut. Namun Ciok Giok Yin belum memperoleh Seruling Perak, juga tidak bersama Heng Thian Ceng mencelakai dunia persilatan, maka dia menyahut tanpa merasa takut sedikitpun.

"Namun harus mendengar dulu pertanyaannya apa yang dilakukan itu!"

Sin Ciang-Yo Sian menatapnya tajam, kemudian bertanya. "Apakah kau adalah keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie

Goan?"

Ciok Giok Yin tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka Sin Ciang-Yo Sian akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Padahal tadi dia baru membicarskan tentang asal-usulnya dengan pengemis tua Te Hang Kay. Setengah tahun yang lalu, Sin Ciang-Yo Sian pernah bersama Te Hang Kay, apakah pengemis tua itu tidak pernah memberitahukan pada mereka? Kelihatannya mereka berlima tidak begitu jelas akan asal-usul Ciok Giok Yin. Karena itu setelah tertegun sejenak, barulah Ciok Giok Yin menyahut,

"Maaf! Urusan ini tidak dapat kujawab."

"Lohu menginginkan jawabanmu yang jujur. Kau mau mengatakannya atau tidak, itu terserah," kata Sin Ciang-Yo Sian.

"Aku mohon maaf, sebab aku sendiri pun kurang jelas." "Kalau begitu, mengapa begitu banyak orang bilang kau

adalah keturunannya?"

"Aku sama sekali tidak bilang begitu. Sebelum aku jelas akan asal-usulku, aku tidak mau omong sembarangan diriku keturunan siapa, harap kalian maklum!"

Wajah Sin Ciang-Yo Sian tampak kemerah-merahan. Ternyata dia tersindir oleh perkataan Ciok Giok Yin. Mendadak Kang Sun Fang, ketua Heng San Pay menyela.

"Saudara Yo, aku pernah mendengar seorang misterius menceritakan tentang Ciok Khie Goan setelah kawin. Suatu hari ketika sedang berlatih silat, tanpa sengaja dia merusak badan bawahnya sendiri, sehingga membuatnya tidak bisa berhubungan intim dengan istrinya. Apakah benar kejadian itu?"

"Itu memang benar, namun tidak begitu banyak orang tahu tentang itu. Kau tahu dari siapa?"

"Orang itu tidak mau menyebut namanya," sahut Kang Sun Fang.

Ciok Giok Yin yang berdiri di situ tentunya mendengar semua percakapan mereka. Ternyata dalam hatinya sedikit percaya dirinya adalah keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan.

Namun kini setelah mendengar percakapan mereka, timbullah keraguan dalam hatinya. Mendadak Sin Ciang Yo Sian bertanya pada Ciok Giok Yin.

"Sungguhkah kau tidak jelas?" "Sungguh!"

"Ciok Giok Yin, kau adalah keturunannya atau bukan, itu tidak jadi masalah bagiku. Tapi aku dengar kau telah memperoleh sebatang Seruling Perak, bolehkah kami melihatnya?" kata Kang Sun Fang.

Mendengar itu Ciok Giok Yin langsung tertawa dingin. "Kalian Tayhiap berdua, dari tadi bicara panjang lebar cuma

karena Seruling Perak. Namun sayang sekali, sebab hingga

saat ini aku masih belum tahu Seruling Perak itu berada di mana."

"Benarkah kau belum memperoleh Seruling Perak itu?" "Percaya atau tidak terserah Anda." "Kau tahu di mana jejak Heng Thian Ceng?"

Di saat bersamaan mendadak melayang turun sosok bayangan merah dan terdengar pula suaranya.

"Bukankah Heng Thian Ceng sudah datang?" Setelah itu terdengar lagi suara bentakan.

"Ada urusan apa kalian mencari Heng Thian Ceng?"

Kelima orang itu langsung menoleh. Sekujur badan mereka langsung merinding.

"Heng Thian Ceng!" seru mereka serentak.

Mereka berlima melihat sepasang mata Heng Thian Ceng menyorot tajam dan dingin.

Tiba-tiba Heng Thian Ceng menoleh memandang Ciok Giok Yin, lalu bertanya dengan lembut sekali. "Adik, mereka menghinamu?"

Sesunggunya Ciok Giok Yin memang merasa tidak puas terhadap Sin Ciang-Yo Sian, Kang Sun Fang dan lainnya. Namun setelah dipikirkan sejenak, dia pun menyadari bahwa semua kaum rimba persilatan memang ingin memperoleh Seruling Perak tersebut, lalu mengapa harus merasa tidak puas terhadap mereka? Lagi pula dia tahu jelas, Heng Thian Ceng merupakan wanita ibilis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata. Apabila dia salah bicara, tentunya Heng Thian Ceng akan membunuh kelima orang itu.

"Tidak, kami berada di sini cuma bercakap-cakap saja," sahutnya.

Heng Thian Ceng bertanya lagi.

"Mau diapakan mereka itu?" tanya Heng Thian Ceng lagi. "Biarkanlah mereka pergi."

Heng Thian Ceng segera menoleh memandang kelima orang itu.

"Aku masih memandang muka adikku, cepatlah kalian enyah dari sini!" bentaknya.

Sin Ciang Yo Sian dan Kang Sun Fang adalah orang orang rimba persilatan yang sudah terkenal. Bagaimana mereka dapat merima perlakuan Heng Thian Ceng? Namun mereka tidak berani melawannya, cuma melototinya, kemudian Sin Ciang-Yo Sian menjura. Setelah itu mereka berlima segera meninggalkan tempat itu. Heng Thian Ceng memutar badannya mendekati Ciok Giok Yin.

"Adik, kakak tidak bisa meninggalkanmu!" katanya dengan lembut sekali.

Seketika terlintas dalam benak Ciok Giok Yin, mengenai apa yang dikatakan pengemis tua Te Hang Kay.

"Kau secantik bidadari. "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya, melainkan memperhatikan wajah Heng Thian Ceng yang amat buruk itu, namun tidak melihat kedok yang dipakainya. Cuma kelihatan wajah buruk itu sama sekali tidak ada perasaan apa pun.

Kemudian Ciok Giok Yin memandang lehernya yang amat putih dan halus, sehalus dan seputih tangannya. Karena itu ingin sekali rasanya Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya melepaskan kedok yang dipakai Heng Thian Ceng. Namun dia berkata pula dalam hati, 'Kau tidak boleh berbuat begitu, sebab orang semacam ini kalau sudah marah pasti tak berperasaan.

Mengapa harus melakukan kesalahan terhadapnya, yang akhirnya akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan! Lebih baik dia sendiri yang melepaskannya.' Kemudian dia bertanya.

"Cianpwee tadi sudah pergi jauh?"

"Tidak begitu jauh. Setelah aku melihat pengemis tua yang menyebalkan itu pergi, barulah aku balik ke mari," sahut Heng Thian Ceng. Dia menatap Ciok Giok Yin seperti ingin menelannya bulat-bulat. "Adik maukah kau memanggilku kakak?" tambahnya dengan membalas sambil menjulurkan tangannya menggenggam tangan Ciok Giok Yin. Sudah barang tentu jarak mereka menjadi bertambah dekat. Sepasang daging menojol di dada wanita itu, sudah menekan dada Ciok Giok Yin. Di saat bersamaan mulut Heng Thian Ceng juga menyemburkan aroma yang amat harum sekali. Sedangkan Ciok Giok Yin sudah bergejolak darahnya, ditambah aroma harum dari mulut Heng Thian Ceng, membuat pikirannya menerawang, sehingga tanpa sadar dia langsung memeluknya erat-erat.

"Kakak! Kakak!" gumamnya.

Badan Heng Thian Ceng tampak gemetar. Dia tampak seperti mabuk, sepasang mata merem melek dan mendesah.

"Adik! Adik!"

Setelah itu bibir mereka saling mendekat dan kemudian melekat menjadi satu. Mereka melakukan ciuman mesra, bahkan saling memeluk seerat-eratnya. Tentunya menimbulkan hawa nafsu birahi Ciok Giok Yin. Barang yang ada di selangkangannya sudah berontak ingin menerobos ke dalam suatu tempat. Akan tetapi mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu dan langsung mendorong Heng Thian Ceng.

"Cianpwee, kita tidak boleh berbuat begini," katanya dengan mata terbelalak.

Dorongan yang tak terduga itu membuat Heng Thian Ceng terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah lalu berdiri tertegun.

Sesaat kemudian barulah dia berkata, "Adik, mengapa tidak boleh?"

Ciok Giok Yin tidak berani menatapnya. "Cianpwee adalah penolongku, bagaimana aku boleh berlaku kurang ajar terhadap cianpwee?" sahutnya dengan kepala tertunduk.

Heng Thian Ceng maju dua langkah seraya berkata, "Adik, jangan berkata demikian lagi. Sejak pertama kali

melihatmu di Goa Toan Teng Tong, aku sudah merasa suka padamu. Asal Adik membutuhkan, Kakak pasti menyerahkan."

Pikiran Ciok Giok Yin mulai menerawang lagi, namun jawabnya berlawanan.

"Tidak boleh."

"Mengapa? Kau kira aku akan membohongimu?" "Tidak sih."

"Kalau begitu, apa alasanmu?"

Tercium lagi aroma yang amat harum dari mulut wanita bertubuh sintal itu. Ciok Giok Yin segera menutup pernafasannya, tidak berani mencium aroma harum tersebut, khawatir tidak dapat mengendalikan hawa nafsu birahinya, yang akhirnya akan mencelakai Heng Thian Ceng dan mencelakai diri sendiri. Karena itu Ciok Giok Yin segera mengarahkan pandangannya ke tempat lain, tidak berani beradu pandang dengannya. Mendadak Heng Thian Ceng menjulurkan tangannya lalu ditaruh di atas bahu Ciok Giok Yin.

"Adik, aku mengerti," katanya.

Tanpa sadar Ciok Giok Yin membalikkan kepalanya. "Mengerti apa?" tanyanya sambil menatapnya. "Apakah kau anggap paras Kakak amat buruk?" Hati Ciok Giok Yin tergerak. "Cianpwee...!" serunya tertahan.

Namun Heng Thian Ceng tidak membiarkan Ciok Giok Yin melanjutkan ucapannya langsung memutuskannya.

"Berdasarkan wajah seseorang, tidak dapat menilai baik buruk orangnya. Kalau buruk di luar indah di dalam, justru tidak bisa dikatakan buruk. Apabila indah di luar, namun hatinya bagaikan ular beracun, tidak dapat dikatakan indah. Adik, aku akan menutur sebuah cerita."

"Sebuah cerita?" "Ya."

"Cerita apa?"

Heng Thian Ceng menatap Ciok Giok Yin dengan mata berbinar-binar.

"Adik, kau pernah membaca cerita tentang Cuang Cu?" "Pernah."

"Dalam cerita Cuang Cu, terdapat seorang bernama Yo Cu Sianseng yang amat kikir. Sampai di Negeri Song, dia tinggal di sebuah penginapan. Majikan penginapan punya dua istri, yang satu cantik dan satu lagi buruk. ".

Heng Thian Ceng tersenyum.

"Justru amat mengherankan, karena majikan penginapan itu amat menyayangi istri yang buruk rupa, sebaliknya malah tidak memperdulikan istri yang cantik. Tentunya mencengangkan Yo Cu Sianseng, maka dia bertanya pada majikan penginapan apa sebabnya? Majikan penginapan menjawab, yang cantik itu amat angkuh dan bertingkah, maka dia tidak tahu di mana letak kecantikannya. Sedangkan yang berparas buruk, amat tahu diri dan penurut. Karena itu majikan penginapan itu jadi lupa parasnya yang buruk itu. Setelah mendengar jawaban majikan penginapan, Yo Cu Sianseng manggut-manggut. Sesudah itu Yo Cu Sianseng berkata. 'Aku kikir lantaran ingin hemat untuk diri sendiri, bukan berarti tidak mau membantu orang lain. Kelakuan yang baik dan berhati bijak, justru tidak dapat dinilai dari wajah!' Nah, Adik! Kau bilang betul tidak?"

Ciok. Giok Yin tertegun. Dia tidak menyangka Heng Thian Ceng yang kedua tangannya penuh noda darah, malah tahu akan cerita tersebut. Sebab itu Ciok Giok Yin manggut- manggut.

"Memang benar, tapi. "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya. Sepasang matanya turus menatap wajah Heng Thian Ceng.

Heng Thian Ceng tercengang dan segera bertanya. "Kenapa? Katakanlah! Kakak tidak akan marah."

"Cianpwee selalu membantuku, aku amat berterimakasih "

Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, Heng Thian Ceng sudah memutuskannya.

"Panggil Kakak, aku tidak mau dengar kamu memanggilku cianpwee lagi! Ayo! Panggil, panggil. "

Ciok Giok Yin betul-betul terdesak, akhirnya terpaksa memanggilnya.

"Kakak!"

Heng Thian Ceng tertawa gembira. Suara tawanya amat merdu bagikan kicau burung di pagi hari.

"Ini baru adikku yang baik," katanya. "Tapi Kakak tidak jujur padaku."

Ucapan ini membuat Heng Thian Ceng tertegun. "Bagaimana Kakak tidak jujur padamu?" tanyanya heran. Ciok Giok Yin menuding wajah wanita itu seraya menyahut,

"Kau memakai kedok kulit, maka aku tidak bisa melihat wajah aslimu."

Heng Thian Ceng mundur selangkah, kemudian bertanya dengan suara bergetar,

"Adik, kau dengar dari siapa?" "Aku bisa melihat."

Heng Thian Ceng menggelengkan kepala.

"Tidak benar. Kau pasti tidak dapat melihat. Sebetulnya siapa yang memberitahu?"

"Sudah kukatakan, aku yang melihat sendiri." Sepasang bola mata Heng Thian Ceng berputar.

"Aku tidak percaya. Mungkin pengemis bau itu. Sebetulnya siapa pengemis bau itu?"

Hati Ciok Giok Yin tergerak dan membatin. 'Te Hang Kay tahu masa lalunya, tentunya Heng Thian Ceng juga tahu tentang Te Hang Kay. Tentang siapa kedua orang tuaku, tidak sulit kupancing dari mulutnya."

Karena itu, dia menyahut, "Te Hang Kay."

"Te Hang Kay?"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya." "Siapa nama aslinya?"

"Apakah kau tidak tahu siapa dia?"

Heng Thian Ceng menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah dengar. Apakah kau juga tidak jelas?" "Ya."

"Aku percaya dia memakai nama palsu," kata Heng Thian Ceng setelah berpikir sejenak. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin. "Adik, karena urusan inikah tadi kau menolakku?"

"Setengah memang ya." "Setengah? Maksudmu?"

"Karena tubuhku tidak seperti orang biasa." "Adik, jangan membuatku bingung. Jelaskanlah!"

"Tentunya kau masih ingat akan kejadian perebutan benda pusaka di dalam Coa Cian Hud Tong, bukan?"

"Tidak salah. Ketika itu kakak tahu kau berada di dalam, maka kakak menghalangi orang-orang yang ingin menerobos ke dalam. Kemudian kau ke luar, dan diselamatkan oleh orang tua bongkok."

"Coba terka aku memperoleh benda pusaka apa?" "Katakanlah!"

"Sebutir Pil Api Ribuan Tahun."

Ciok Giok Yin tidak memberitahukan tentang kertas yang berisi ilmu Jari Darah itu. Heng Thian Ceng sudah lama berkecimpung di duna persilatan, tentunya pengetahuannya amat luas dan tahu pula mengenai Pil Api Ribuan Tahun. Maka dia tertegun tak bersuara sama sekali. Namun hatinya terus berdebar-debar tidak karuan. Ciok Giok Yin nyaris tertawa menyaksikan sikap Heng Thian Ceng.

Mendadak wanita itu berseru, "Hah? Pil Api Ribuan Tahun?" Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

Heng Thian Ceng termangu-mangu, beberapa saat kemudian barulah bertanya.

"Adik, apakah kau tidak akan kawin seumur hidup?" Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Terpaksa harus begitu."

Ciok Giok Yin khawatir Heng Thian Ceng akan mendesak dengan pertanyaan lain, maka cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.

"Bolehkah Kakak melepaskan kedok itu?"

Heng Thian Ceng mengangkat sebelah tangannya. Namun ketika baru mau melepas kedoknya, tiba-tiba dia menurunkan tangannya lagi, lalu bertanya kepada Ciok Giok Yin.

"Adik, betulkah kau menilai orang berdasarkan wajah?" "Yang jelas, aku harus melihat wajahmu."

Heng Thian Ceng  manggut-manggut. "Adik, Kakak mengabulkan permintaanmu."

Usai berkata, Heng Thian Ceng langsung melepaskan kedok kulit yang pakainya. Seketika sepasang mata Ciok Giok Yin bersinar terang, namun sekujur badannya tergetar. Ternyata di hadapannya muncul seorang wanita muda berusia dua puluhan, parasnya sungguh amat cantik sekali, boleh dikatakan bagaikan bidadari yang baru turun dari khayangan. Lelaki mana yang melihatnya, pasti terpukul dengan pikiran menerawang. Begitu pula Ciok Giok Yin. Dia menatap Heng Thian Ceng dengan mata terbelalak dan mulut ternganga lebar. Berselang sesaat, dia berseru memanggilnya.

"Kakak!"

Dia langsung memeluk Heng Thian Ceng erat-erat. Di saat bersamaan, Heng Thian Ceng mengenakan kedoknya lagi, sehingga wajahnya tampak buruk kembali. Heng Thian Ceng bagaikan seekor domba, mendekap di dada Ciok Giok Yin, kelihatan lembut sekali. Dia seorang wanita iblis yang sering membunuh orang, namun saat ini justru berubah menjadi amat lembut dan jinak. Sepasang matanya terpejam merasakan kenikmatan ini. Hatinya juga merasa amat nyaman. Dia telah kehilangan gairah untuk berkecimpung di dunia persilatan lagi, ingin bersama 'Adik Yin' ini, hidup di suatu tempat sepi untuk melewati hari-hari yang indah hingga tua.

Puluhan tahun dia berkecimpung di dunia persilatan, tidak pernah bersungguh-sungguh menyukai lelaki. Namun kini dia justru rela menyerahkan dirinya pada Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin memang telah tergiur oleh kecantikannya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik wajah yang buruk itu, terpadat paras yang amat cantik bagaikan bidadari. Dia terus memeluk Heng Thian Ceng erat-erat, seakan ingin menyatukan diri. Dia telah melupakan usia Heng Thian Ceng, yang boleh dikata seusia ibunya. Dan juga lupa akan pesan Te Hang Kay dan Si Bongok Arak, melarangnya bergaul dengan Heng Thian Ceng. Dia lupa pula akan tunangannya, Seh Yong Yong dan pesan terakhir Cak Hun Ciu, yang telah menjodohkan putrinya padanya.

Bahkan dia juga melupakan janjinya pada Bok Tiong Jin, bahwa hatinya harus diserahkan padanya. Pokoknya di saat ini dia telah lupa segala-galanya, termasuk dendam yang harus dibalasnya. Papatah mengatakan bahwa Kecantikan Tidak Memikat Orang, Justru Orang Terpikat Sendiri Oleh Kecantikan. Ciok Giok Yin terpikat oleh kecantikan Heng Thian Ceng, hingga lupa diri, lupa daratan dan lupa segala-galanya. Dalam hatinya cuma terdapat satu bayangan, yaitu Heng Thian Ceng. Kini walau pun Heng Thian Ceng telah memakai kedok kulit yang amat buruk, namun di depan mata Ciok Giok Yin tetap muncul wajah yang amat cantik.

Mendadak terdengar suara lirih yang tergetar-getar. "Adik, sungguhkah kau menyukaiku?"

"Kakak, aku rela jadi budakmu, rela demi dirimu. "

Heng Thian Ceng sudah tahu apa yang akan dikatakan Ciok Giok Yin, maka dia segera menutup mulutnya dengan jari tangan yang amat halus dan indah itu, kemudian berkata dengan lembut.

"Adik, untuk apa kau harus bersumpah?" Setelah itu dia melanjutkan,

"Dunia persilatan penuh bahaya dan kelicikan. Alangkah baiknya kita pergi ke suatu tempat yang sepi, hidup bersama selamanya di sana. Bagaimana?"

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin!

"Sungguhkah itu, Kakak?" tanyanya dengan mesra.

"Tentu sungguh! Bahkan aku pun akan melahirkan beberapa anak untukmu."

Saat ini Heng Thian Ceng telah lupa akan tubuh Ciok Giok Yin yang tidak seperti orang biasa. Sebab di dalam tubuhnya terdapat daya hisap yang amat kuat apabila berhubungan intim dengan kaum wanita. Karena itu, wanita yang berhubungan intim dengannya harus mengerti Im Yang Cin Koy, barulah dapat melayaninya. Namun itu pun tidak cukup satu wanita, harus beberapa wanita barulah mampu melayani Ciok Giok Yin dalam hal hubungan intim. Di saat ini Ciok Giok Yin telah menudukkan kepalanya. Dengan mesra diciumnya bibir Heng Thian Ceng. Sedangkan bibir Heng Thian Ceng juga menyambut bibir Ciok Giok Yin dengan penuh kemesraan dan kehangatan, sehingga mengeluarkan suara.

Cup! Cuuup!

Ciuman itu membuat sekujur badan mereka tergetar, kemudian perlahan-lahan api nafsu birahi mulai berkobar-kobar pada diri mereka, sehingga membuat mereka merasa tidak tahan. Di saat Ciok Giok Yin ingin melepaskan pakaiannya, mendadak terdengar suara desiran baju di belakang mereka.

Meskipun mereka telah terbakar oleh kobaran api birahi, namun pendengaran mereka tetap tajam. Mereka segera memisahkan diri, sekaligus menoleh ke belakang. Seketika, wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi merah ke telinganya, saking merasa malu.