Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 02

 
Jilid 02

Ketika Ciok Giok Yin berjalan beberapa langkah, tiba dia merasa Tantian (Bagian Pusar)nya mengalir hawa panas, kemudian menjalar keseluruh tubuhnya. Itu membuatnya merasa tidak tahan, akhirnya dia roboh berguling-guling di tanah. Saking panasnya hawa itu di dalam tubuhnya, menyebabkannya menjadi pingsan.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah dia siuman. Dia merasa badannya kembali segar, tidak merasa lapar dan bersemangat. Tapi masih terasa hawa panas di bagian Tantiannya, hanya tidak mengganggu dirinya. Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tidak begitu memperdulikan itu. Dia girang bukan main lantaran badannya telah regar, maka langsung meloncat bangun. Namun tiba-tiba dia terbelalak, ternyata badannya berubah menjadi agak tinggi. Itu sungguh mengherankannya! Dia tidak menyangka bahwa Ginseng Daging itu berkhasiat begitu luar biasa.

Kini pakaiannya berubah agak pendek, sepatunya juga agak sempit, sehingga membuatnya tertawa geli. Saat ini, dia kelihatan seperti telah berusia sembilan belas tahun, padahal usianya baru menginjak enam belas. Ciok Giok Yin terus berjalan meninggalkan lembah itu. Justru sungguh di luar dugaan, langkah kakinya terasa amat ringan. Walau berjalan perlahan, tapi seperti terbang. Betapa girangnya Ciok Giok Yin, sungguh sulit dilukiskan! Oleh karena itu, dia berjalan sambil bersenandung dengan riang gembira.

Dalam rimba tampak asap tipis, gunung dingin menyimpan kedukaan orang, senja hari memasuki loteng, ada orang bermuram durja di loteng. Suara nydapatiannya amat merdu, bergema-gema dan berkumandang ke mana-mana. Dia terus berjalan, sesekali kakinya menendang bunga salju, bahkan juga berloncat-loncatan.

Ciok Giok Yin terus berjalan. Mendadak dia melihat di depan ada sosok bayangan hitam duduk di atas sebuah batu

besar. Ciok Giok Yin tersentak, langsung berhenti, tidak berani berjalan lagi. Dia tidak dapat melihat dengan jelas, sosok bayangan itu sebenarnya orang hidup atau mayat. Kalau itu orang hidup, mengapa dia duduk di situ di malam hari yang amat dingin? Bagaimana orang itu tahan duduk diam di

situ? Apakah dia tidak merasa dingin?

Karena itu, Ciok Giok Yin tidak berani maju lagi. Sampai lama sekali Ciok Giok Yin tidak melihat orang itu bergerak, maka timbullah rasa keberani- annya dan dia mulai maju perlahan- lahan.

Setelah dekat, barulah Ciok Giok Yin melihat jetas, orang itu sudah tua, duduk dengan mata terpejam kelihatannya sedang bersemadi menghimpun hawa murninya. Ciok Giok Yin cepat- cepat memberi hormat. Justru di saat itulah dia melihat jenggot orang tua itu bernonda darah, dan nafasnya agak

memburu. Ciok Giok Yin memperhatikannya. Kelihatannya orang tua itu seperti terluka parah. Dia merasa iba dan simpati pada orang tua itu. Maka, setelah memberi hormat, diapun bertanya.

"Mohon tanya pada lo cianpwee, apakah lo cianpwee terluka?"

Orang tua itu membuka matanya, menatap Ciok Giok Yin sejenak, lalu dipejamkan lagi tanpa menghiraukannya. Ciok Giok Yin bertanya lagi, tapi orang tua itu tetap tidak menyahut. Karena itu, dia menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan pergi.

Ketika dia baru berjalan belasan depa, mendadak terdengar suara bentakan di belakangnya.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin segera menoleh ke belakang. Seketika juga wajahnya berubah menjadi pucat pias, dan sekujur badannya tampak gemetar. Ternyata Tong Eng Kang dan tiga lelaki berdiri di belakangnya, Ciok Giok Yin berkertak gigi, dan sepasang matanya membara. Namun dia tahu dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka terpaksa menekan hawa kegusarannya. Sedangkan Tong Eng Kang, begitu melihat Ciok Giok Yin, seketika juga tertegun, karena dalam waktu satu malam, Ciok Giok Yin telah bertambah besar, dan kelihatan seperti berusia sembilan belas tahun. Tong Eng Kang tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa tumbuh besar dalam waktu satu malam? Ketiga lelaki itu juga tampak tertegun.

Mereka menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbelalak. Begitulah. Mereka saling menatap. Berselang sesaat, Tong Eng Kang berusaha tersenyum ramah dan lembut.

"Adik Ciok, beberapa malam yang lalu aku telah bersalah padamu, mohon dimaafkan! Untung adik Ciok tidak terjadi apa- apa. Kemarin pagi ayah tidak melihatmu, maka aku dipukul oleh ayah! Adik Ciok, silakan ikut aku pulang, jangan berkeliaran di luar lagi!" Begitu mendengar perkataan Tong Eng Kang, kemarahan Ciok Giok Yin semakin memuncak.

"Terimakasih atas kebaikanmu. Namun kalaupun aku harus mati kelaparan di luar, aku tetap tidak mau pulang ke sana, tiada hubungan apa-apa dengan kalian!" sahutnya dengan ketus. Usai menyahut, Ciok Giok Yin lalu membalikkan badannya berjalan pergi. Wajah Tong Eng Kang tampak tersenyum.

"Adik Ciok, dengarlah dulu! Kau mau pulang atau tidak itu terserah." Dia memandang ketiga lelaki itu, dan seketika ketiga lelaki itu meloncat ke arah Ciok Giok Yin, mengurungnya di tengah-tengah. Sedangkan Tong Eng Kang juga maju beberapa langkah.

"Adik Ciok, pakaianmu sudah begitu pendek, tidak bisa dipakai lagi. Untung ketika aku mau kemari, tidak lupa membawa dua stel pakaian untukmu." Dia mengambil sebuah bungkusan yang tergantung di punggungnya, kemudian dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi dua stel pakaian dan sepatu. "Cepatlah pakai, lalu ikut aku pulang!" Dia menyerahkan pakaian dan sepatu itu pada Ciok Giok Yin.

Sesungguhnya itu adalah pakaian Tong Eng Kang. Semula Ciok Giok Yin tidak mau menerimanya, namun mengingat pakaian dan sepatunya yang dipakainya sudah tidak karuan, maka terpaksa diterimanya pakaian itu, lalu dipakainya.

"Terimakasih!" ucapnya sambil memandang Tong Eng Kang.

Pakaian dan sepatu itu memang amat pas dengan badannya. Ketika Ciok Giok Yin sedang mengenakan pakaian itu, Tong Eng Kang maju dua langkah lagi, sehingga amat dekat dengan Ciok Giok Yin. Tong Eng Kang adalah pemuda yang licik dan banyak akal busuk. Dia tersenyum-senyum seraya berkata.

"Adik Ciok, sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi atas dirimu? Bagaimana dalam waktu satu malam, kau bisa tumbuh lebih tinggi dan besar?" Berhubung Tong Eng Kang belum tahu jelas apa yang telah terjadi atas diri Ciok Giok Yin, maka tidak berani sembarangan turun tangan. Karena Tong Eng Kang bersikap begitu baik, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan jujur. "Aku telah makan Ginseng Daging." "Ginseng Daging?"

"Ng"

Wajah Tong Eng Kang langsung berubah, sepasang biji matanya berputar dan kemudian berkata.

"Adik Ciok, dalam waktu satu malam kau sudah tumbuh besar. Kalau kau hidup sampai lima enam puluh tahun kemudian, bukankah kau akan tinggi sekali? Aku pernah dengar dari orang, setelah makan Ginseng Daging, harus pula menggunakan Ping Ko (Buah Es) untuk mencairkan Ginseng Daging itu. Kalau tidak. "

Hati Ciok Giok Yin berdebar-debar mendengar ucapan Tong Eng Kang itu.

"Bagaimana?"

Tong Eng Kang tertawa licik.

"Setiap hari kau akan bertambah tinggi, cobalah bayangkan!"

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia langsung bertanya dengan suara bergemetar.

"Kakak Tong, aku harus bagaimana?"

"Asal kau ikut aku pulang, ayah pasti dapat membantumu," sahut Tong Eng Kang sungguh-sungguh. Walau Ciok Giok Yin pernah ikut kakek tua berjenggot putih belajar ilmu pengobatan, namun tidak pernah mendengar Ginseng Daging masih mengandung khasiat seperti itu. Maka tidak mengherankan kalau dia jadi ragu.

Tong Eng Kang terus menatapnya. Dalam hatinya dia merasa girang, karena merasa telah berhasil mendustai anak itu. Maka dia maju setengah langkah lagi dan langsung mencengkeram lengan Ciok Giok Yin. Sementara itu, orang tua yang duduk di atas batu, mendengar jelas pembicaraan mereka, tapi dia tetap diam. Sedangkan Tong Eng Kang, setelah berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, wajahnya berubah menjadi bengis. Ciok Giok Yin ingin meronta, tapi sebelah tangan Tong Eng Kang bergerak cepat mencengkeram lengannya lagi.

"Ciok Giok Yin! Apa yang kutanyakan harus kau jawab dengan jujur!"

"Mau bertanya apa?"

"Siapa yang membunuh keempat orangku di dalam lembah itu?"

Ciok Giok Yin teringat pada keempat lelaki yang ingin membunuhnya, untung pengemis tua menyelamatkannya. Kini Tong Eng Kang muncul di tempat ini, tentunya akan membuat perhitungan dengannya.

Oleh karena itu dia menyahut, "Aku tidak tahu," Tong Eng Kang tertawa dingin.

"Tidak tahu?" katanya. Dia mengeraskan cengkeramannya. Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin meronta, namun merasa tak bertenaga sama sekali, lagipula lengannya terasa mau patah sehingga keringat dinginnya mulai mengucur. Saat ini Ciok Giok Yin baru sadar, ternyata tadi Tong Eng Kang cuma berkata bohong belaka.

"Cepat katakan! Siapa yang membunuh mereka?" desak Tong Eng Kang.

Ciok Giok Yin tidak menyahut, cuma mendengus.

"Hmmm!" Walau merasa amat sakit, tapi dia tidak mengeluh sama sekali, sebab sudah terbiasa menderita dan disiksa. Oleh karena itu, dia menutup mulutnya rapat-rapat sambil berkertak gigi. Dengan cara kekerasan tidak memperoleh hasil, maka Tong Eng Kang ingin menggunakan cara lunak Dia mengendurkan cengkeramannya, lalu berkata dengan lembut.

"Adik Ciok, maafkan aku karena terlampau emosi sehingga menyakitkan lenganmu. Adik Ciok, beritahukanlah, siapa yang membunuh mereka! Apakah kau tega membiarkan mereka mati penasaran?"

Ciok Giok Yin tetap diam. Namun dalam hatinya berkata. 'Aku yakin Tong Eng Kang juga tidak akan melepaskan diriku. Aku telah makan Ginseng Daging, langkah kakiku amat ringan, mengapa aku tidak kabur?' Ketika dia baru mau membalikkan badan ingin kabur, mendadak ketiga lelaki itu telah melancarkan tiga buah pukulan ke arahnya. Di saat bersamaan, Tong Eng Kang tertawa dingin seraya berkata.

"Anak jahanam, kau masih ingin melarikan diri? Kalau kau tidak mau mengatakan secara jujur, aku pasti menyiksamu sampai menderita sekali, tidak bisa hidup dan tidak bisa mati!"

Wajahnya berubah menjadi bengis, penuh hawa membunuh. Sedangkan Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya

sudah tidak bisa lolos dari maut. Maka, dari pada mati konyol, lebih baik melawan. Karena itu, mendadak dia menerjang ke arah Tong Eng Kang sambil berkertak gigi. Dia tidak mengerti ilmu silat, maka pukulannya agak ngawur tidak karuan.

Akan tetapi, Tong Eng Kang langsung mengayunkan kakinya menendang Ciok Giok Yin, sehingga anak itu terpental beberapa depa lalu roboh. Tong Eng Kang tidak berhenti sampai di situ. Dia meloncat ke arah Ciok Giok Yin yang masih terlentang di tanah, lalu menginjak dadanya.

"Aaaakh...!" jerit anak itu. Mulutnya menyemburkan darah segar.

Akan tetapi, entah muncul dari mana Ciok Giok Yin memperoleh kekuatan. Dia menyambar sebuah batu. lalu disambitkan ke arah kepala Tong Eng Kang. Jaraknya amat dekat, lagipula Tong Eng Kang tidak menduga kalau Ciok Giok Yin akan menyambitnya. Maka tidak ampun lagi batu itu mendarat di keningnya. Bukan main gusarnya Tong Eng Kang! "Anak sundel! Aku akan menghabisimu!" bentaknya sengit.

Tong Eng Kang mengeluarkan sebilah belati yang bergemerlapan, tampak tajam sekali. Dia menatap Ciok Giok Yin dengan bengis, lalu menusuk dadanya dengan belati itu. Kelihatannya anak yang yatim piatu yang selalu hidup menderita itu akan mati tertusuk. Namun mendadak terdengar suara bentakan keras.

"Berhenti!" Tampak sosok bayangan bagaikan setan gentayangan berkelebat, dan terdengar pula suara menderu- deru. Seketika terdengar suara jeritan.

"Aaaakh...!" Tampak seseorang terpental tiga depa, dan kemudian jatuh gedebuk di tanah. Ternyata Tong Eng

Kang. Begitu melihat tuan mudanya terpental, ketiga lelaki itu cepat-cepat mendekatinya, kemudian salah seorang dari mereka memapahnya bangun. Sedangkan dua orang lainnya membentak keras.

"Tua bangka! Cari mampus!" Mendadak mereka menyerang orang tua tersebut. Sepasang mata orang tua itu menyorot tajam. Begitu tangannya bergerak, terdengar lagi dua kali jeritan. Ternyata kedua lelaki itu pun terpental lalu jatuh di tanah. Tong Eng Kang yang telah dipapah bangun, menyaksikan kepandaian orang tua tersebut. Dia tahu dirinya bukan lawan orang tua itu, maka tanpa bicara lagi dia langsung mengajak ketiga lelaki itu Ciok Giok Yin yang telah memejamkan matanya menunggu mati, tidak menyangka bahwa orang tua yang duduk diam di atas batu itu, melesat cepat menyelamatkan nyawanya. Dia segera memberi hormat kepadanya.

"Terimakasih atas kebaikan to cianpwee telah menyelamatkan nyawaku!" ucapnya. Orang tua itu menatapnya dengan penuh perhatian.

"Bocah, siapa namamu?" "Ciok Giok Yin."

"Kau telah makan buah Ginseng Daging?" "Ya."

"Pernahkah kau belajar kungfu?" "Tidak pernah."

Orang tua itu manggut-manggut.

"Sungguh merupakan sebuah mustika yang belum digosok!" gumamnya. Ciok Giok Yin tidak mengerti apa yang dikatakan orang tua itu.

"Lo cianpwee bilang apa?"

Orang tua itu tidak menyahut, melainkan malah balik bertanya.

"Bocah, berapa usiamu sekarang?" "Enam belas."

Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, orang tua itu berkepandaian tinggi, mengapa aku tidak berguru padanya untuk belajar kungfu tinggi? Setelah aku berhasil menguasai kungfu tinggi, bukankah aku bisa balas dendam kelak?

Karena berpikir begitu, Ciok Giok Yin segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua itu.

"Lo cianpwee, mohon lo cianpwee sudi menerimaku..." katanya.

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, orang tua itu sudah tertawa terbahak-bahak dan menyergahnya.

"Aku Phing Phiaw Khek, seumur hidup bagaikan daun yang terapung kesana kemari, tiada tempat tinggal yang tetap. Lagipula kini aku menderita luka parah, nyawa pun tidak akan panjang. Bukan aku tidak mau menjadi suhumu, melainkan tidak pantas. Ayo, bangunlah! Aku akan menyempurnakanmu." Ciok Giok Yin segera bangkit

berdiri. Phing Phiauw Khek terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian memuntah darah segar, dan badannya pun menjadi sempoyongan seakan mau roboh. Ciok Giok Yin segera menahannya agar tidak roboh.

"Lo cianpwee terluka parah ya?"

Mendadak sepasang mata Phing Phiauw Khek menyorot dingin.

"Tidak salah. Aku dilukai oleh para iblis Sang Yen Hwee." "Sang Yen Hwee?"

"Eh? Bagaimana kau tahu?"

Ciok Giok Yin segera menceritakan tentang pengemis tua, kemudian menambahkan,

"Paman pengemis itu pergi mencari seseorang untuk mengobati lukanya."

Phing Phiauw Khek duduk, menatap Ciok Giok Yin seraya berkata.

"Lukamu juga tidak ringan, duduklah!" Ciok Giok Yin duduk di hadapannya.

"Bocah. Sungguhkah kau ingin belajar kungfu?" "Ya!"

"Aku pasti mengabulkannya, namun setelah kau berhasil menguasai semua ilmu silatku, kau harus membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee, dan juga harus mencari sebuah Gin Tie (Seruling Perak) untukku!" "Seruling Perak?" "Ng!"

"Setelah berhasil mencari Seruling Perak, lalu bagaimana?"

"Setelah kau berhasil mencari Seruling Perak itu, kau pun masih harus mencari keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan. Serahkan Seruling Perak itu padanya!"

"Siapa keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan itu?" "Tentang itu, kau boleh selidiki sendiri, sebab aku pun tidak

begitu jelas."

"Lo cianpwee, di mana tempat tinggalnya?" "Itu pun harus kau yang menyelidikinya."

Mencari seseorang yang tiada nama dan tiada alamat jelas, sungguh merupakan suatu urusan yang amat sulit. Tapi orang tua itu bilang, mengenai Seruling Perak, tentunya amat penting terhadap keluarga Ciok itu. Sedangkan Ciok Giok Yin memang ingin sekali belajar kungfu, maka dia langsung menyanggupinya.

"Aku pasti melaksanakan tugas itu dengan baik." Phing Phiauw Khek manggut-manggut.

"Baik. Dalam waktu tiga hari, kau harus tiba di tebing Tong Eng Kang. Di sana terdapat goa Toan Teng Tong. Carilah seorang wanita bernama Ho Hong Hoa di sana, dia pasti akan mewariskan kungfu yang amat tinggi padamu!"

Mendengar itu, Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Jarak dari sini ke gunung Tong Pek San ribuan mil, mungkin dalam waktu sepuluh hari pun sulit untuk tiba di sana. Itu bagaimana?" "Biar bagaimanapun, dalam waktu tiga hari kau harus sampai di sana. Kalau terlambat, bukan cuma akan mempengaruhi rimba persilatan, bahkan juga akan menimbulkan hal lain.”

"Apakah wanita itu amat penting bagi rimba persilatan?" "Sesungguhnya bukan orangnya, melainkan dia memiliki

suatu benda pusaka." Ciok Giok Yin tertegun.

"Apakah ada orang ingin merebut benda pusakanya

"Berdasarkan. informasi yang kuterima, Bu Lim Sam Siu (Tiga Manusia Aneh Rimba Persilatan) telah berangkat ke sana."

Tiba-tiba, Phing Phiauw Khek membentak keras bagaikan suara geledek menggelegar, memekakkan telinga Ciok Giok Yin dan badannya pun gemetar. Di saat bersamaan, orang tua itu menotok jalan darah Ciok Giok Yin agar anak itu pingsan, setelah itu, menotok lagi jalan darah Pek Hwee Hiatnya.

Entah berapa lama kemudian. Satu jam, dua jam. Satu

hari, dua hari. Ciok Giok Yin mulai siuman. Dia membuka

matanya, melihat bintang-bintang bertaburan di langit. Dia mendapatkan dirinya berada di malam yang amat dingin, sedangkan di sisinya tergeletak Phing Phiauw Khek, tak bergerak dan tak bernafas.

Hati Ciok Giok Yin tersentak. Dia masih ingat ketika Phing Phiauw Khek membentak, lalu dia pun pingsan tak tahu apa- apa lagi. Ciok Giok Yin segera memeriksa pernafasan Phing Phiauw Khek, ternyata nafas orang tua itu telah putus. Dia tidak habis pikir, sebenarnya apa gerangan yang telah terjadi? Melihat mayat orang tua itu, hati Ciok Giok Yin amat berduka. Kini di tempat itu hanya Ciok Giok Yin seorang diri, maka dia mencari suatu tempat untuk mengubur mayat Phing Phiauw Khek.

Di saat mengubur mayat orang tua itu, dia merasa heran, mengapa tenaganya begitu kuat? Dia mudah mengangkat mayat itu, dan juga mudah mengangkat batu-batu. Mayat orang tua dan batu-batu itu amat berat, namun dengan mudah dia mengangkatnya. Dia tidak mengerti sama sekali, kemudian tidak mau memikirkannya.

Seusai mengubur mayat orang tua itu, barulah Ciok Giok Yin teringat akan pesannya, bahwa dalam waktu tiga hari, dia harus tiba di Goa Toan Teng Tong, di gunung Tong Pek

San. Bagaimana mungkin? Kalaupun melakukan perjalanan siang malam tanpa beristirahat, juga tidak akan tiba di sana dalam waktu tiga hari.

Namun dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan, terus mendorongnya, agar bisa tiba di sana tepat pada waktunya, sehingga tidak mengecewakan apa yang dipesankan orang tua itu.

Oleh karena itu, mulailah dia melakukan perjalanan dengan langkah lebar. Justru sungguh di luar dugaannya, begitu dia melangkah, badannya terasa amat ringan. Satu kali melangkah dapat mencapai satu depa lebih. Itu membuatnya segera berlari. Bukan main! Dia berlari bagaikan terbang. Anehnya dia tidak meninggalkan bekas kaki di permukaan salju.

Kini barulah Ciok Giok Yin tersadar, bahwa Phing Phiauw Khek telah menyalurkan hawa murninya ke dalarn tubuhnya, tapi membuat orang tua itu kehilangan nyawanya sendiri. Budi kebaikan yang begitu tinggi, harus bagaimana membalasnya? Ciok Giok Yin bersumpah dalam hati, harus berhasil memenuhi harapan orang tua tersebut. Saking terharunya, tanpa sadar air matanya berderai-derai membasahi pipinya.

Pada hari ketiga, Ciok Giok Yin sudah tiba di Gunung Tong Pek San. Akan tetapi, Gunung Tong Pek San begitu luas, harus ke mana mencari Goa Toan Teng Tong? Dia menyesal karena tidak bertanya pada Phing Phiauw Khek. Dan kalau terus mencari, bukankah akan menyita waktunya? Sejak Ciok Giok Yin makan buah Ginseng Daging, kecerdasannya pun bertambah. Dia berpikir sejenak, kemudian mengambil keputusan untuk naik ke puncak gunung itu. Oleh karena itu dia langsung melesat ke puncak gunung tersebut. Namun ketika sedang melesat ke atas, mendadak terdengar suara pembicaraan di belakangnya. Ciok Giok Yin langsung berhenti. Di saat bersamaan, dia merasa pandangannya kabur, ternyata ada tiga sosok bayangan berkelebat di

depannya. Walau cuma sekelebatan, namun Ciok Giok Yin dapat melihat jelas ketiga orang itu. Mereka bertiga berdandan seperti sastrawan, berusia sekitar lima puluhan. Mereka bertiga melesat ke depan bagaikan terbang, membuktikan ginkang mereka bertiga amat tinggi.

Ketika melewati Ciok Giok Yin, ketiga orang itu masih sempat melirik ke arahnya, namun tetap melesat ke depan. Begitu melihat ketiga orang tua itu, hati Ciok Giok Yin tergerak, kemudian melesati mengikuti mereka. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin bertanya dalam hati.

"Apakah mereka bertiga itu Bu Lim Sam Siu?" Ciok Giok Yin mulai mengerahkan tenaganya untuk mengejar mereka bertiga. Dia tidak boleh membiarkan ketiga orang itu tiba lebih dulu di Goa Toan Teng Tong. Maka dia harus berusaha mendahului mereka tiba di sana, lalu memberitahukan pada Ho Hong Hoa agar bersiap-siap terhadap datangnya tiga orang

itu. Bu Lim Sam Siu amat terkenal di dunia persilatan, bagaimana mungkin mereka bertiga membiarkan Ciok Giok Yin mendahului mereka? Meskipun Ciok Giok Yin telah berusaha sekuat tenaga, tapi tetap berada jauh di belakang mereka.

Sementara nafas Ciok Giok Yin mulai tersengal-sengal, tapi demi pesan Phing Phiauw Khek, dia tetap terus mengejar Bu Lim Sam Siu. Berselang beberapa saat kemudian, mendadak Bu Lim Sam Siu berhenti, dan salah satu di antara mereka menoleh ke belakang.

"Bocah! Ada urusan apa kau terus mengejar kami?" katanya dengan dingin. Ciok Giok Yin juga berhenti, lalu menarik nafas dalam-dalam agar nafasnya tidak tersengal-sengal.

"Apakah hanya kalian yang boleh lewat di gunung ini?" sahut seorang. Orang tua yang bertanya itu tertegun. "Kalau begitu, kau mau ke mana?" "Toan Teng Tong."

"Toan Teng Tong?" "Tidak salah!"

"Mau apa kau ke sana?" "Tidak dapat kukatakan!" Orang tua itu terbelalak.

"Aku lihat usiamu masih muda, lebih baik kau pulang saja. Toan Teng Tong bukan merupakan tempat pesiar. Tempat itu amat bahaya, jangan dibuat main nyawamu," katanya lembut.

"Terimakasih atas maksud baik Paman, tapi ini adalah urusanku, harap Paman tidak usah mencemaskan diriku!" sahut Ciok Giok Yin. Bu Lim Sam Siu sating memandang, kemudian tertawa gelak.

"Bocah! Kau tahu di mana Goa Toan Teng Tong?" tanya salah seorang dari mereka. Ciok Giok Yin tertegun ditanya demikian.

"Di tebing Toan Teng," sahutnya hambar. "Di mana tebing Toan Teng?"

"Aku akan mencari perlahan-lahan." Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Ternyata kau belum tahu letak tebing Toan Teng." Dia menunjuk ke depan. "Tempat itulah yang disebut tebing Toan Teng."

Ciok Giok Yin memandang ke arah yang ditunjuk orang tua itu. Di sana tampak sebuah pelataran batu, namun di sekitar pelataran batu itu terdapat batu-batu terjal yang amat dalam. Orang tua itu tertawa sinis, tidak menghiraukan Ciok Giok Yin. Mereka bertiga melesat ke arah pelataran batu itu, Ciok Giok Yin tidak mau ketinggalan, dia pun ikut melesat ke sana. Tak seberapa lama, mereka berempat sudah tiba di pelataran batu tersebut. Bu Lim Sam Siu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin. Mereka bertiga berjalan mendekati dinding tebing.

Ternyata pada dinding tebing itu terdapat sebuah goa. Ciok Giok Yin juga telah melihat goa tersebut. Di atas goa itu terukir beberapa huruf 'Goa Toan Teng Tong' Bu Lim Sam Siu segera melangkah ke dalam. Ciok Giok Yin amat gugup.

"Berhenti!" bentaknya.

Bu Lim Sam Siu berhenti, lalu serentak menoleh ke belakang. "Bocah! Kau tidak usah main gelap-gelapan lagi, sebetulnya

mau apa kau kemari? Kalau kedatanganmu beralasan, aku tidak akan menyulitkanmu, dan membiarkanmu masuk ke dalam," kata salah seorang dari mereka.

"Kalau begitu, untuk apa kalian kemari?" "Berdasarkan nadamu, kedengarannya kita sehaluan." "Tidak salah."

"Baik, apabila kau punya kepandaian, silakan masuk!" Orang tua itu segera menyingkir ke samping, seakan mempersiapkan Ciok Giok Yin masuk Ciok Giok Yin memang pemberani.

Tampak badannya bergerak, dia sudah melesat ke dalam goa itu. Di dalam goa itu terdapat lorong yang amat panjang. Ciok Giok Yin berjalan ke dalam dengan bergegas-gegas. Dia berharap segera bertemu Ho Hong Hoa untuk memberitahukan semua itu, agar wanita itu berjaga-jaga terhadap Bu Lim Sam Siu yang ingin merebut benda pusaka.

Setelah melewati beberapa tikungan, Ciok Giok Yin berhenti termangu-mangu. Ternyata tiada seorang pun berada di dalam goa itu. Lagi pula di sana banyak sarang laba-laba, kelihatannya sudah lama tiada penghuninya. Di saat bersamaan, Bu Lim Sam Siu juga sudah sampai di dalam.

"Bocah! Kalau kau merasa tertarik, ikutlah kami ke dalam!" kata mereka serentak. Salah seorang dari mereka mendorong sebuah kursi, dan setelah kursi itu tergeser, tampaklah sebuah lubang. Bu Lim Sam Siu langsung meloncat ke dalam lobang itu. Ciok Giok Yin tertegun, tidak menyangka akan mengetahui rahasia itu. Sudah barang tentu pengalaman anak itu menjadi bertambah. Kemudian dia ikut meloncat ke dalam lubang tersebut. Sungguh di luar dugaan, ternyata di dalam lubang itu terdapat undakan tangga.

Berselang beberapa saat kemudian, di depan mata tampak sebuah ruang batu yang cukup besar. Namun ruang batu itu kosong melompong, tidak terdapat satu barangpun di sana. Hanya di dekat dinding ruangan, terdapat sebuah peti mati berwarna merah. Hati Ciok Giok Yin, tersentak, kemudian dia berkata dalam hati. 'Apakah wanita itu. '

Sebelum usai Ciok Giok Yin berkata dalam hati, mendadak peti mati itu berputar tak henti-hentinya. Seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Sedangkan Bu Lim Sam Siu malah tertawa nyaring.

"Berlakulah sebagaimana mestinya, tidak usah berbuat yang macam-macam! Kami adalah Bu Lim Sam Siu, Cu Cing Khuang, Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun! Selama ini tidak pernah dipermainkan orang!" kata salah seorang dari mereka. Mata Bu Lim Sam Siu menyorot dingin, terus menatap peti mati merah.

Salah seorang dari mereka bertiga yang paling tidak sabaran adalah Siangkoan Yu San. Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah peti mati tersebut. Bum! Peti mati itu langsung berhenti berputar. Di saat bersamaan, terdengar pula suara yang amat dingin dari dalam peti mati itu.

"Kalian tidak usah menyebutkan julukan kalian, nona sudah tahu kalian bertiga adalah Bu Lim Sam Siu! Kini aku beri kalian waktu, cepat enyah dari sini!" Siangkoan Yun San tertawa gelak.

"Gampang sekali kami enyah dari sini, namun kau harus menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw pada kami, maka kami akan segera meninggalkan goa ini!"

Ketika Ciok Giok Yin mendengar ada suara di dalam peti mati itu, bahkan suara seorang nona, hatinya menjadi lega, dan keberaniannya pun bertambah. Dia langsung maju beberapa langkah mendekati peti mati itu. Di saat bersamaan terdengar sahutan dari dalam peti merah.

"Nona tidak akan menyerahkan pada kalian!" "Kalau begitu, kau tidak boleh dibiarkan!" "Mau bagaimana?"

"Aku akan menghabisimu!" sahut Siangkoan Yun San dingin.

Dia maju beberapa langkah, sepasang matanya menyorot dingin, siap melancarkan pukulannya ke arah peti merah. Cu Cing Khuang adalah saudara tertua Bu Lim Sam Siu, tentunya jauh lebih berwibawa dari yang lain. Cepat-cepat dia mencegah Siangkoan Yu San sambil memberi isyarat.

"Lo Ji (Saudara Kedua), jangan terburu-buru!" Sepasang matanya langsung diarahkan pada peti mati merah. "Ho Hong Hoa, kau harus mengerti. Berdasarkan sedikit kepandaianmu itu, apakah kau ingin. " Belum juga selesai dia berkata, tiba-

tiba terdengar suara tawa cekikikan di dalam peti mati merah, kemudian berkata.

"Nona bilang kalian bertiga tak ubahnya seperti tiga ekor anjing, hidung kalian masih kurang tajam. Kalian tidak tahu siapa nona, tapi masih berani membicarakan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Cu Cing Khuang! Sepasang matanya tampak berapi-api, lalu membentak keras. "Siapa kau?"

"Siapa aku, perduli amat kau siapa aku?"

"Cepat katakan! Ada hubungan apa kau dengan Ho Hong Hoa?"

Tiada sahutan dari dalam peti mati merah, sepertinya sedang mempertimbangkan, apakah harus menjawab atau

tidak! Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara yang amat dingin dari dalam peti mati tersebut.

"Ho Hong Hoa adalah ibuku, nona adalah putrinya bernama Ho Siu Kouw! Anjing tua, kalian mau apa, cepat

lakukan!" Bersamaan itu, peti mati merah mulai berputar lagi. Kali ini peti mati itu berputar jauh lebih cepat, sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru. Sementara itu walaupun Ciok Giok Yin berdiri dua tiga depa dari peti mati merah, namun angin yang menderu-deru itu membuatnya

merasa tak tahan. Maka, dia terpaksa harus mundur beberapa langkah dengan hati berdebar-debar tegang.

"Bocah cepat mundur! Apakah kau sudah tidak mau nyawamu lagi?" seru Cu Cing Kuang. Ciok Giok Yin tidak memperdulikan peringatannya, karena Phing Phiauw Khek telah berpesan padanya, harus menemui wanita ini, maka dia tidak mau mendengar perkataan orang tua itu. Siangkoan Yun San paling tidak sabaran. Dia langsung menerjang ke arah peti mati merah sambil melancarkan sebuah pukulan. Dia memiliki lwee kang yang tinggi, maka tidak heran kalau pukulannya itu amat dahsyat! Jangankan cuma sebuah peti mati, kalaupun sebuah batu juga akan hancur terkena pukulannya. Bum!

Terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga, tampak badan Siangkoan Yun San terdorong ke belakang dengan wajah pucat pias, pertanda dia telah terluka dalam. Di saat orang itu terdorong ke belakang, terlihat pula asap tipis mengepul menutupi peti mati merah, yang makin lama makin

tebal. Terdengar pula suara tawa cekikikan dari dalam kepulan asap itu, yang kemudian disusul oleh suara bentakan yang amat nyaring. "Anjing tua Siangkoan! Bagaimana rasanya? Enak sekali kan?"

Sepasang mata Siangkoan Yun San melotot, dan dia menggeram.

"Aku akan menghabisimu!" Mendadak dia menjulurkan kelima jari tangannya, menyerang ke arah kepulan asap. Seketika terdengar suara jeritan di dalam kepulan asap tebal itu. Pada waktu bersamaan, Siangkoan Yun San juga mengeluarkan suara jeritan, dan terhuyung-huyung tiga langkah ke

belakang. Pada waktu bersamaan pula, dia menggunakan tangan kirinya untuk memutuskan tangan kanannya, maka, darah segarnya pun langsung mengucur menodai pakaiannya.

Ciok Giok Yin yang berdiri tak jauh, ketika menyaksikan kejadian tersebut, wajahnya langsung berubah menjadi pucat pias, matanya terbeliak dan mulutnya juga ternganga

lebar. Sedangkan Kwee Sih Cun yang diam dari tadi, kini tampak marah besar. Dia menggeram, lalu menerjang ke arah kepulan asap sambil melancarkan pukulan. Angin pukulannya menderu-deru, membuat kepulan asap itu agak buyar.

Kebetulan Ciok Giok Yin memandang ke sana, maka dia melihat seorang gadis yang amat cantik duduk di dalam peti mati merah. Ternyata tutup peti mati itu telah dihancurkan oleh Siangkoan Yun San tadi. Gadis cantik itu, pasti Ho Siu Kouw. Ketika melihat Bu Lim Sam Siu yang berusia lima puluhan menyerang seorang anak gadis, Ciok Giok Yin menjadi gusar sekali. Dia mendekati Kwee Sih Cun sambil mengepalkan tinjunya.

"Kalian orang tua menghina yang muda, apakah masih terhitung orang gagah dalam rimba persilatan'?" bentaknya keras. Jangan dilihat Ciok Giok Yin tidak mengerti kungfu. Karena dia telah makan buah Ginseng Daging, dan ditambah Phing Phiauw Khek menyalurkan lwee kangnya yang telah dilatih puluhan tahun ke dalam tubuhnya, maka Ciok Giok Yin telah memiliki lweekang yang amat tinggi. Tidak heran kalau pukulannya yang di arahkan pada Kwee Sih Cun itu kelihatan amat dahsyat.

Akan tetapi, dia tidak pernah belajar kungfu, maka dia melancarkan pukulannya tidak karuan. Meskipun begitu, pukulannya cukup mengejutkan Kwee Sih Cun. Bagaimana pukulan anak muda itu begitu kuat bertenaga? Hanya saja cara memukulkannya tampak tidak karuan, jelas anak muda itu tidak pernah belajar kungfu. Kwee Sih Cun mendengus dingin.

"Hmm! Masih berbau susu, sudah sok ingin membela orang lain!" Dia mengibaskan tangannya ke arah Ciok Giok Yin, maka terasa serangkum angin yang amat kuat menerjang ke arah anak muda itu. Ciok Giok Yin yang tersambar angin kibasan itu, seketika terhuyung-huyung ke belakang delapan langkah.

Kebetulan dia terhuyung-huyung ke arah peti mati merah. Kalau tidak tertahan oleh peti mati itu, mungkin dia akan roboh. Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.

"Adik kecil, kau bukan lawan mereka, tetaplah kau berdiri di sampingku, jangan menimbulkan sifat liar mereka, sebab kita berdua dalam bahaya!"

Sejak makan buah Ginseng Daging, pikiran Ciok Giok Yin bertambah cerdas, bahkan badannya pun bertambah agak tinggi dan besar. Ketika mendengar suara lirih itu, dia tahu suara tersebut berasal dari nona yang duduk di dalam peti mati merah. Jarak mereka hampir setengah depa, tapi suara yang amat lirih itu dapat didengarnya dengan jelas. Sungguh aneh sekali! Berdasarkan itu, dapat dipastikan bahwa nona itu berkepandaian amat tinggi. Namun wanita yang harus dicari oleh Ciok Giok Yin, apakah gadis ini? Dia berharap Bu Lim Sam Siu cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar dia dapat bertanya pada gadis tersebut. Ho Siu Kouw melirik Ciok Giok Yin sejenak. Seketika wajahnya berubah menjadi kemerah- merahan. Kemudian dia memandang Bu Lim Sam Siu seraya membentak. "Kalian bertiga harus segera enyah! Kalau tidak, nona. "

Ucapan Ho Siu Kouw terputus karena Cu Cing Khuang telah memotongnya.

"Kami bertiga memang gampang enyah dari sini! Asal kau menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw, kami bertiga pasti meninggalkan tempat ini, tidak akan menyusahkanmu!" Kemudian, Bu Lim Sam Siu mengepung peti mati merah, kelihatannya akan menyerang Ho Siu Kouw dengan serentak.

Saat ini Siangkoan Yu San telah menotok jalan datang di lengannya, maka lengannya yang putus itu tidak mengucurkan darah lagi. Dia menatap Ho Siu Kouw dengan bengis, lalu berkata dengan dingin sekali.

“Walau aku sudah terkena Hong Bwe Tok Mang (Racun Ekor Tawon)mu, tapi tidak apa-apa! Sedangkan kau sulit untuk hidup tiga bulan lagi!"

Ho Siu Kouw tertawa cekikikan.

"Kau tidak usah mencemaskan diriku! Mati atau hidup tiada masalah sama sekali! Namun, sejak ini kau akan menjadi orang cacat!"

Cu Cing Khuang melotot, dan sepasang matanya menyorot tajam.

"Cepat serahkan! Kalau tidak, jangan bilang aku berhati keji!" "Kalian ingin merebut?" tanya Ho Siu Kouw.

"Apabila kau tetap membangkang, kami bertiga terpaksa harus mengantarmu ke alam baka!" sahut Cu Cing Khuang.

"Kalau begitu, kalian Bu Lim Sam Siu selama berada di dunia persilatan cuma berpura-pura jadi orang baik? Kaum golongan hitam sama sekali tidak pernah datang di Goa Toan Teng Tong ini, tapi justru tidak diduga kalian dari golongan putih, dan juga termasuk pendekar besar berhati bajik, malah lebih dulu kemari!"

"Justru karena khawatir, peta itu jatuh ke tangan para penjahat, maka kami bertiga kemari!" kata Cu Cing Khuang.

"Untuk apa kalian menginginkan peta pusaka itu?" "Melindungi kedamaian rimba persilatan!" "Apakah aku tidak dapat melindungi itu?"

"Bocah perempuan! Kau jangan banyak bicara, cepat serahkan!"

"Aku tidak mau serahkan!" "Cari mati !"

"Tidak percaya boleh kalian coba!"

Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun menggeserkan badannya, kemudian menerjang ke depan.

"Kalian cari mati!" bentak Ho Siu Kouw sambil menatap mereka dengan tajam. Di saat bersamaan, tampak cahaya gemerlapan meluncur laksana kilat ke arah mereka berdua. Bu Lim Sam Siu tahu akan kelihayan jarum beracun Hong Bwe Tok Mang, maka mereka cepat-cepat meloncat ke

belakang. Bahkan Siangkoan Yun San yang telah terluka malah mencelat ke belakang lebih jauh.

Setelah mencelat ke belakang, Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun kembali mencelat ke depan lagi sambil melancarkan pukulan serentak ke arah Ho Siu Kouw. Mereka berdua amat mendendam pada gadis itu, maka serangan mereka tampak sengit sekali. Akan tetapi, mereka berdua cuma dapat melancarkan pukulan jarak jauh, karena tidak berani terlampau dekat, lantaran takut akan jarum beracun Hong Bwe Tok

Mang. Oleh karena itu, Ho Siu Kouw terus menyerang mereka dengan jarum beracunnya, namun gadis itu masih belum bangkit berdiri. Ciok Giok Yin yang berdiri di sampingnya, menyaksikan dengan hati berdebar debar tegang, namun tidak bisa membantu apa-apa. Bahkan kini dia harus mundur beberapa langkah, sebab merasa tertekan oleh angin pukulan yangdilancarkan Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun.

Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.

"Adik kecil, cepat tiarap!"

Ciok Giok Yin tahu bahwa itu suara Ho Siu Kouw, tapi dia tidak tahu apa sebabnya gadis itu menyuruhnya tiarap. Walau dalam keadaan tiarap, Ciok Giok Yin tetap mendongakkan kepala. Ternyata di tempat dia berdiri tadi, tampak cahaya kebiru-biruan berkelebatan. Kini, barulah dia paham mengapa tadi gadis itu menyuruhnya tiarap. Apabila dia tidak tiarap, mungkin saat ini telah mati terserang oleh jarum-jarum beracun itu. Di saat bersamaan, terdengar suara menderu-deru bagaikan badai mengamuk. Cu Cing Khuang tertawa gelak.

"Jarum beracun Hong Bwe Tok Mangmu telah habis kan? Kini sudah saatnya kau menyerahkan peta pusaka itu!"

Sepasang mata Ho Siu Kouw yang bening menyorotkan sinar kebencian. Dia berkertak gigi seraya berkata,

"Kalau aku masih bisa hidup, kelak pasti akan membeset kulit kalian bertiga!"

Cu Cing Khuang tertawa terbahak-bahak.

"Mungkin kau sudah tiada kesempatan untuk itu! Cepat serahkan! Kami akan berbelas kasihan padamu, mengampuni nyawamu, agar kau bisa hidup beberapa hari lagi!"

Justru di saat ini, mendadak terdengar suara "Uaaakh...!" Ternyata Ho Siu Kouw memuntahkan darah segar, dan badannya pun bergoyang-goyang seakan mau roboh. Begitu melihat situasi di depan matanya, dia berkertak gigi lalu tangannya merogoh ke dalam bajunya. Ternyata dia mengeluarkan selembar kulit kambing kumal. Namun ketika dia baru mau melempar kulit kambing itu, Ciok Giok Yin yang tiarap itu, langsung meloncat bangun seraya berteriak sekeras- kerasnya.

"Nona, jangan!" Ciok Giok Yin memang cerdas. Dia tahu bahwa kulit kambing yang ada di tangan gadis itu justru peta Si Kauw Hap Liok Touw. Apabila peta itu diserahkan kepada Bu Lim Sam Siu, berarti sia-sia dia kemari. Bahkan Phing Phiauw Khek yang telah mati pun pasti tidak akan tenang di alam baka. Usai berteriak, Ciok Giok Yin melesat ke arah Ho Siu Kouw. Akan tetapi, bagaimana mungkin Bu Lim Sam Siu membiarkannya? Cu Cing Khuang langsung mengibaskan tangannya ke arah Ciok Giok Yin, membuatnya terhuyung- huyung ke belakang beberapa langkah.

"Bocah! Lebih baik kau diam di tempat!" kata Cu Cing Khuang dengan suara dalam. Namun, bagaimana Ciok Giok Yin akan membiarkan peta pusaka itu terjatuh ke tangan Bu Lim Sam Siu? Maka dia segera maju lagi. Namun sebelum dia sampai di hadapan Ho Siu Kouw, gadis itu sudah melotot sambil mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok Yin ke samping.

"Kau kemari, tentunya juga demi peta Si Kauw Hap Liok Touw! Kalau kau berkepandaian, boleh berebut dengan mereka!" bentaknya keras. Mendadak Ho Siu Kouw mengibaskan tangannya ke atas, maka peta kulit kambing itu langsung terbang ke atas pula.

Bu Lim Sam Siu tidak membiarkan Ciok Giok Yin mendekat. Maka salah seorang Bu Lim Sam Siu yang bernama Kwee Sin Cun langsung melancarkan beberapa pukulan untuk mendesak mundur Ciok Giok Yin. Sedangkan Cu Cing Khuang cepat-cepat mencelat ke atas menangkap peta pusaka kulit kambing

itu. Dia berhasil menangkap peta pusaka tersebut, lalu melayang turun dengan ringan. Kemudian peta pusaka itu dibukanya, dan dilihatnya dengan penuh perhatian.

"Ha... ha... haaa! Nona memang tahu diri!" katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Cu Cing Khuang memandang Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun.

"Mari kita pergi!" Mereka bertiga langsung melesat keluar, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan lagi. Tiba-tiba Ciok Giok Yin menggeram, kelihatannya ingin mengejar Bu Lim Sam Siu. Ciok Giok Yin telah menyaksikan tingkah laku mereka, yang membuktikan mereka bertiga bukan orang baik. Kalau mereka itu orang balk, tentunya tidak akan menghina seorang gadis. Ketika dia baru mau melesat keluar, tiba-tiba terdengar suara bentakan Ho Siu Kouw.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin langsung berhenti, lalu menoleh ke belakang. "Apakah Nona tidak ingin merebut kembali peta pusaka itu?" "Kau mampu melawan mereka?"

Ciok Giok Yin tertegun, dan berkata dalam hati. 'Bu Lim Sam Siu rata-rata berkepandaian amat tinggi, sedangkan aku sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Berdasarkan kebisaan apa aku ingin merebut kembali peta pusaka itu?' Akhirnya Ciok Giok Yin menundukkan kepalanya.

"Kemari!" seru Ho Siu Kouw. Singkat sekali seruan itu, tapi mengandung suatu kekuatan, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak berani membantah. Ciok Giok Yin berdiri di samping peti mati merah, matanya menatap Ho Siu Kouw.

"Nona ada pesan?"

Ho Siu Kouw menatapnya sejenak, lalu balik bertanya. "Apa tujuanmu kemari?"

"Aku mendapat petunjuk dari seorang cianpwee untuk kemari," sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Siapa?" "Phing Phiauw Khek." "Phing Phiauw Khek?" "Ng!"

"Apa maksudnya dia memberi petunjuk agar kau kemari?"

"Orang tua itu bilang, di dalam goa ini tinggal seorang wanita bernama Ho Hong Hoa. Wanita itu akan mengajarku ilmu silat tingkat tinggi, maka aku bisa membalas dendam."

Ho Siu Kouw mengerutkan kening. "Kau punya dendam apa?"

"Banyak orang menghinaku, mereka semua ingin membunuhku."

Ho Siu Kouw tertawa cekikikan. "Ohya! Siapa namamu?"

"Ciok Giok Yin."

"Kau datang dari mana?"

Pertanyaan tersebut membuat Ciok Giok Yin tertegun, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Dia diam, sebab dia memang tidak tahu di mana tempat kelahirannya, juga tidak tahu siapa kedua orang tuanya. Mengenai asal usulnya, dia sama sekali tidak jelas, sehingga membuatnya menjadi salah tingkah. Ho Siu Kouw manggut-manggut. Ternyata gadis itu tahu akan kesulitan Ciok Giok Yin.

"Kau tidak jelas akan asal usulmu?"

Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw menatapnya dalam- dalam.

"Lalu siapa yang membesarkanmu?" Ciok Giok Yin memberitahukan dengan jujur tentang kakek tua berjenggot putih. Mendengar penuturan Ciok Giok Yin itu, Ho Siu Kouw berkesimpulan, bahwa kakek tua berjenggot putih itu adalah seorang tokoh dunia persilatan. Namun gadis itu sama sekali tidak mengerti, mengapa kakek tua berjenggot putih itu tidak mau mengajarnya kungfu? Berselang sesaat, Ho Siu Kouw mengalihkan pembicaraan.

"Kau tahu siapa aku?"

"Bukankah tadi Nona sudah beritahukan, bernama Ho Siu Kouw?" sahut Ciok Giok Yin. Ho Siu Kouw manggut-manggut.

Ciok Giok Yin segera melanjutkan.

"Mohon tanya pada Nona, ibumu pergi ke mana?" Tiba-tiba wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi murung.

"Sudah setengah tahun lebih ibuku pergi, mungkin telah mengalami kecelakaan," katanya perlahan-lahan. Usai berkata, gadis itu tampak berduka sekali. Sesungguhnya Ciok Giok Yin amat heran, karena Ho Siu Kouw terus duduk di dalam peti mati itu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.

"Mengapa Nona tidak pergi mencarinya?"

Ho Siu Kouw mulai mengucurkan air mata, lalu mengangkat sepasang kakinya. Terdengar hiruk pikuk suara rantai besi.

Ternyata sepasang kaki Ho Siu Kouw terikat rantai besi, pantas dia tidak bisa meninggalkan peti mati itu. Ho Siu Kouw menghela nafas panjang.

"Ibu takut aku akan pergi menimbulkan gara-gara, maka merantai aku di dalam peti mati ini."

"Apakah Nona tidak dapat memutuskan rantai itu?" "Ini rantai besi murni. Kalau bukan pedang atau golok

pusaka, tidak akan mampu memotong rantai ini." Ciok Giok Yin termangu-mangu.

"Kalau begitu bagaimana baiknya? Perlukah aku mencari sebilah pedang pusaka?"

Ho Siu Kouw menggelengkan kepala, sambil menghela nafas panjang.

"Kau tidak akan berhasil mencari pedang pusaka. Kalaupun berhasil dan dapat memotong rantai ini, aku tetap tidak terluput dari kematian."

Ciok Giok Yin tercengang.

"Maksudmu kau akan mati?" katanya dengan mata terbelalak. Ho Siu Kouw mengangguk.

"Ya."

Ciok Giok Yin menatap Ho Siu Kouw dengan mata tak berkedip.

"Nona tampak baik-baik saja. Bagaimana mungkin akan mati?"

Wajah Ho Siu Kouw tampak muram.

"Tadi Siangkoan Yun San berhasil menotok jalan darahku dengan ilmu Sam Im Coat Hoat, maka aku sulit hidup sampai tiga bulan."

Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Gadis yang sedemikian cantik, namun cuma akan hidup tiga bulan lagi. Sungguh tragis sekali!

"Nona! Aku bersumpah pasti membalas dendam Nona!" katanya dengan lantang. Mendadak Ciok Giok Yin membalikkan badannya, ingin pergi menyusul Bu Lim Sam Siu, bertarung mengadu nyawa dengan mereka bertiga. Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin, Ho Siu Kouw terharu sekali, dan matanya tampak bersimbah air.

"Cepat kemarilah!" panggilnya lembut. Ciok Giok Yin berhenti, lalu membalikkan badannya.

"Nona masih ada pesan lain?" "Kau mau kemana?"

"Mau pergi mencari Siangkoan Yun San untuk membalas dendammu."

"Kau yakin dapat melawan mereka bertiga?"

"Aku akan berusaha sekuat tenaga, karena aku tidak tega melihat Nona mati penasaran." Ciok Giok Yin tampan begitu berani dan gagah, membuat Ho Siu Kouw amat kagum dan terharu, sehingga tak terasa air matanya langsung meleleh.

"Ketahuilah, Bu Lim Sam Siu sudah berusia setengah abad lebih, lagipula mereka bertiga amat terkenal di dunia persilatan. Kalau ibuku seorang diri melawan mereka bertiga, mungkin amat sulit memperoleh kemenangan. Sedangkan kau sama sekali tidak mengerti ilmu silat, pergi cari mereka bertiga sama juga pergi cari mati."

"Kalau begitu, apakah harus menyudahi saja?" "Seandainya kelak kau berhasil menguasai kungfu tingkat

tinggi, tidak akan terlambat menuntut balas dendamku ini. Aku di alam baka, pasti amat berterimakasih padamu." Badan Ho Siu Kouw tampak menggigil. "Kau kemarilah!"

Ciok Giok Yin segera mendekatinya. Mengenai apa yang menimpa diri Ho Siu Kouw, Ciok Giok Yin merasa iba dan amat simpati padanya. Di saat bersamaan, dia teringat akan penderitaannya beberapa hari yang lalu, maka wajahnya tampak diliputi selapis hawa dingin. Ho Siu Kouw terus menatapnya. Sudah barang tentu bayangan Ciok Giok Yin telah terukir dalam benaknya. Akan tetapi, teringat akan nyawanya tinggal tiga bulan, lalu masih ada harapan apa? Saking berdukanya membuat air matanya terus berderai- derai. Beberapa saat kemudian, gadis itu mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dengan sapu tangan.

"Ini adalah Si Kauw Hap Liok Touw, simpanlah baik-baik!" katanya sambil menjulurkan tangannya memberikan bungkusan itu kepada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin terbelalak. Dia menatap Ho Siu Kouw dengan tidak mengerti dan tertegun.

"Bukankah Nona telah menyerahkan pada mereka?" Ho Siu Kouw menghapus air matanya.

"Itu palsu." "Palsu?"

"Ya. Cepat ambillah dan simpanlah baik-baik!" "Mereka. "

Ho Siu Kouw segera memotongnya.

"Cuma dapat mengelabui mereka beberapa waktu saja. Tidak bisa mengelabui mereka selama-lamanya. Mungkin mereka bertiga akan segera kembali."

Ciok Giok Yin belum juga menjulurkan tangannya untuk menerima bungkusan tersebut.

"Nona, tiada gunanya aku memiliki barang ini, lebih baik Nona simpan."

Ho Siu Kouw mengerutkan kening.

"Terimalah dulu, aku masih ingin bicara padamu!"

Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa menerimanya, lalu disimpan ke dalam bajunya. Justru hatinya terus berdebar- debar tidak karuan. "Peta itu menunjukkan suatu tempat rahasia. Di tempat itu tersimpan semacam ilmu yang tiada taranya di kolong langit. Akan tetapi, ilmu itu tidak cocok untuk dipelajari oleh kaum wanita, maka ibu dan aku, tidak pernah ke tempat rahasia itu untuk mengambilnya. Kalau kau berhasil memperolehnya, tidak sulit bagimu untuk menjagoi dunia persilatan. Saat itu, kau boleh pergi mencari orang-orang yang pernah menghinamu."

"Ini... ini..." kata Ciok Giok Yin tersendat-sendat.

"Ada satu urusan, aku ingin bermohon padamu. Kelak kalau kau berkecimpung di dunia persilatan, tolong cari informasi tentang ibuku! Kalau ibuku dibunuh oleh penjahat, maka dendam kami berdua, kaulah yang harus membalasnya."

Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw mengibaskan tangannya.

"Kau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku khawatir Bu Lim Sam Siu akan kemari."

Namun, Ciok Giok Yin malah tidak bergeming. Sepasang matanya telah basah, teringat nyawa gadis cantik itu cuma tinggal tiga bulan. Mendadak dia menggenggam tangan Ho Siu Kouw, dan menangis tersedu-sedu.

"Kakak Siu, aku... aku tidak mau pergi. Aku tidak mau pergi."

Bukan main harunya Ho Siu Kouw! Gadis cantik itu pun terisak-isak. Akan tetapi, mendadak Ho Siu Kouw membentak sengit.

"Ciok Giok Yin! Apakah kau tidak tahu lelaki wanita tidak boleh demikian dekat? Kau harus segera meninggalkan tempat ini!" wajahnya tampak bengis sekali. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga tanpa sadar dia menyurut mundur tiga langkah. Wajahnya yang tampan itu tampak kemerahmerahan.

Ciok Giok Yin merasa bersalah, sebab tidak pantas baginya menggenggam tangan Ho Siu Kouw. "Harap.... Nona.... Nona sudi... memaafkanku..." katanya gagap.

Sesungguhnya hati Ho Siu Kouw amat sedih. Gadis cantik itu berbuat demikian, tidak lain hanya menghendaki Ciok Giok Yin cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar tidak bertemu Bu Lim Sam Siu.

"Aku tidak akan menyalahkanmu, pergilah!" katanya perlahan-lahan sambil memejamkan matanya. Gadis cantik itu lalu diam, kelihatannya seperti tidak menghiraukan Ciok Giok Yin lagi.

Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri tertegun, berselang sesaat barulah berkata.

"Nona, aku mohon pamit! Harap jaga dirimu baik-baik!"

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, lalu berjalan pergi dengan langkah yang amat berat. Di saat bersamaan air mata Ho Siu Kouw terus mengucur membasahi pipinya. Dia membuka matanya sedikit, mencuri memandang punggung Ciok Giok Yin. Bibirnya bergerak, tapi tidak mampu mengeluarkan suara. Ciok Giok Yin terus berjalan. Namun ketika hampir menikung, mendadak dia membalikkan badannya, lalu berlari laksana terbang mendekati peti mati merah.

"Kakak Siu! Kakak Siu! Kau pasti tertolong!" serunya dengan wajah berseri-seri dan penuh harapan.

Ho Siu Kouw cepat-cepat memejamkan matanya, sejenak. "Bagaimana kau katakan aku pasti tertolong?"

Ciok Giok Yin menyahut memberitahukan dengan wajah berseri-seri.

"Kakek tua berjenggot putih menghadiahkan padaku sekotak pil Ciak Kim Tan. Aku pikir pil itu dapat menyembuhkan luka kakak," sahut Ciok Giok Yin dengan wajah berseri. Dia mengeluarkan kotak kecil, kemudian mengambil beberapa butir pil Ciak Kim Tan. Akan tetapi, Ho Siu Kouw malah menggeleng- gelengkan kepala.

"Aku pernah dengar tentang Ciak Kim Tan ini, yang membuat obat ini adalah Tiong Ciu Sin Te. Walau amat berkhasiat, namun tetap tidak bisa menyembuhkan lukaku yang terkena ilmu Sam Im Coat Hoat. Lebih baik simpanlah!"

Seketika hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Suasana di dalam goa itu, berubah menjadi hening. Mendadak Ciok Giok Yin memecahkan keheningan itu.

"Kakak, silakan coba makan sebutir!" Usai berkata, Ciok Giok Yin membuka kotak kecil itu. Begitu kotak kecil itu terbuka, seketika tercium aroma yang amat harum menerobos ke dalam hidung: Ho Siu Kouw terbelalak dengan hati tergetar, sehingga tanpa sadar dia berseru.

"Adik Yin, bawa kemari coba kulihat!"

Ciok Giok Yin cepat-cepat menyodorkan kotak kecil itu ke hadapan Ho Siu Kouw. Gadis cantik itu menatap ke dalam kotak kecil itu, namun bukan menatap obat Ciak Kim Tan, melainkan menatap buah Ginseng Daging yang bergemerlapan.

"Aku tertolong! Aku tertolong!" serunya dengan suara gemetar.

Dia menjulurkan tangannya. Namun belum sampai dia mengambil ginseng itu, tangannya ditarik kembali, lalu dia memandang Ciok Giok Yin yang berdiri di hadapannya. Ciok Giok Yin mengira bahwa Ho Siu Kouw merasa tidak enak mengambil obat itu, maka segera berkata.

"Kakak Siu, asal dapat menyembuhkan lukamu, kau boleh ambil obat itu. Kelak kalau aku bertemu kakek tua berjenggot putih, akan minta padanya lagi."

Ciok Giok Yin menyodorkan lagi kotak kecil itu ke hadapan Ho Siu Kouw. Akan tetapi, Ho Siu Kouw tidak mengambil obat tersebut.

"Adik Yin, dari mana kau memperoleh buah ini?" katanya dengan suara gemetar. Begitu Ho Siu Kouw mengatakan itu, tersadarlah Ciok Giok Yin, lalu membanting kaki.

"Sungguh mati! Bagaimana aku melupakan buah Ginseng Daging ini? Kakak, cepatlah kau makan! Nanti akan kuberitahukan padamu." Padahal cukup lama Ciok Giok Yin ikut kakek tua berjenggot putih belajar ilmu pengobatan.

Seharusnya dia tahu akan khasiat buah Ginseng Daging

itu. Namun gara-gara perbuatan Bu Lim Sam Siu yang amat keji itu, kemudian ditambah Ho Siu Kouw menutur masa lalunya, maka dia telah melupakan buah Ginseng Daging tersebut!

Ho Siu Kouw menjulurkan tangannya yang masih gemetar mengambil buah Ginseng Daging itu.

"Adik Yin, dengan adanya buah Ginseng Daging ini, lukaku pasti segera sembuh. Dari mana kau peroleh buah Ginseng Daging ini? Maukah kau memberitahukan padaku?"

Ciok Giok Yin menyimpan kotak kecil itu ke dalam bajunya, lalu menutur tentang kejadian itu.

"Kalau aku tidak memperoleh buah Ginseng Daging ini, mungkin aku sudah mati kelaparan," tambahnya.

Mendadak air muka Ho Siu Kouw tampak berubah menjadi hebat.

"Adik Yin, kau harus segera meninggalkan tempat ini." Ciok Giok Yin tertegun.

"Kakak Siu, apa ada yang tak beres?" "Mungkin Bu Lim Sam Siu telah kembali."

"Apakah mereka bertiga sudah tahu akan kepalsuan peta pusaka itu?" "Itu memang mungkin. Aku tidak menyangka mereka bertiga akan begitu cepat kembali. Kau harus segera pergi, jangan sampai peta itu jatuh ke tangan mereka. Kakak tidak mampu melindungimu."

"Lalu bagaimana dengan Kakak?"

Wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi bengis.

"Kau tidak usah perdulikan aku, cepat pergi! Apabila kita berjodoh, kelak pasti berjumpa kembali!" bentaknya. Ho Siu Kouw langsung mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok Yin hingga terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Setelah itu, Ho Siu Kouw cepat-cepat makan buah Ginseng Daging itu. Kemudian peti mati tanpa tutup itu mulai berputar- putar seperti gangsingan. Itu membuat Ciok Giok Yin termundur-mundur lagi. Walau dia masih kecil, tapi pikirannya telah dewasa.

"Kakak, aku tidak bisa meninggalkanmu!" serunya. Tiba-tiba dia mendengar suara yang amat lirih.

"Adik Yin, dengarlah kata-kataku, cepatlah kau pergi!"

Akan tetapi, Ciok Giok Yin memang berhati keras. Dia tidak mau membiarkan Ho Siu Kouw mati di tangan Bu Lim Sam Siu. Oleh karena itu, dia tetap tidak mau pergi.

"Pokoknya aku tidak mau pergi!" katanya dengan tegas. Peti mati itu berhenti berputar, Ciok Giok Yin mendekatinya seraya berkata.

"Aku mau tetap di sini menemani kakak. Kalau Bu Lim Sam Siu kembali, aku akan menghadapi salah satu di antara mereka, yang dua biar kakak yang hadapi."

Ho Siu Kouw menatapnya, sambil menghela nafas panjang. "Kalau kau tidak mau dengar kata-kata kakak, selanjutnya kita tidak usah berjumpa lagi!" katanya perlahan. Hati Ciok Giok Yin tersentak.

"Kakak, aku... aku pasti dengar kata-katamu!" "Kalau begitu, cepatlah tinggalkan tempat ini!"

"Tidak. Aku harus membantumu menghadapi Bu Lim Sam Siu."

Tiba-tiba wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi dingin sekali. "Apakah kau telah melupakan tata krama lelaki dengan

wanita?" katanya sengit.

"Kita sudah menjadi kakak adik," sahut Ciok Giok Yin.

"Tapi Bu Lim Sam Siu tidak akan mengatakan demikian, lagi pula kita bukan kakak adik kandung. Kalau tersiar kedunia persilatan, bagaimana kakak jadi orang kelak?"

Ciok Giok Yin tertegun dan langsung membungkam. Ho Siu Kouw segera melanjutkan ucapannya.

"Kau kira setelah makan buah Ginseng Daging dan memperoleh hawa murni dari Phing Phiauw Khek, lalu bisa melawan pesilat tinggi rimba persilatan? Kau telah keliru, sebab kau belum mengerti ilmu silat, juga tidak tahu harus bagaimana mengerahkan lwee kang. Karena itu, meskipun kau memiliki lwee kang tinggi itu, boleh dikatakan tetap tiada gunanya."

Ciok Giok Yin tetap diam.

"Kalau kau berkeras ingin tetap berada di sini, aku sama sekali tidak bisa melindungimu, maka akan merepotkanku. Apabila kau tertangkap oleh mereka, bukankah kau akan kehilangan peta pusaka itu?"

Apa yang dikatakan Ho Siu Kouw memang masuk akal, juga demi kepentingan Ciok Giok Yin. Akan tetapi, Ho Siu Kouw justru terbentur Ciok Giok Yin yang berhati amat keras, sama sekali tidak berniat pergi. Ho Siu Kouw mengerutkan kening, kemudian berkata sepatah demi sepatah.

"Baiklah! Kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi."

Bersamaan itu, peti mati tersebut mulai berputar

lagi. Berselang sesaat, terdengar suara yang memekakkan telinga.

Bum! Bum!

Setelah suara itu hilang, peti mati dan Ho Siu Kouw pun sudah tidak kelihatan lagi. Ciok Giok Yin terperangah. Dia mengucek matanya. Setelah itu, dia melihat dinding goa di hadapannya telah merosot ke bawah. Dia cepat-cepat berlari ke sana seraya berseru-seru.

"Kakak! Kakak...!"

Namun dinding goa itu tidak bergerak lagi, dan meskipun Ciok Giok Yin terus berteriak, tetap tiada sahutan.

"Kakak! Kakak! Kakak...!" Ciok Giok Yin berdiri termangu- mangu. Berselang beberapa saat, barulah dia meninggalkan goa itu. Sampai di luar, tampak bintang-bintang bergemerlapan di langit, ternyata hari sudah tengah malam.

Angin dingin terus berhembus. Salju tak henti-hentinya beterbangan. Tempat itu gelap gulita kelihatan amat menyeramkan. Suasana yang begitu, sungguh membuat orang merasa merinding. Selama ini, Ciok Giok Yin belum pernah mengalami suasana seperti itu, maka bulu kuduknya menjadi bangun. Ciok Giok Yin berpikir, apabila di saat ini muncul binatang buas, mungkin dirinya. Dia tidak berani memikirkan

itu, dan segera mengambil langkah seribu tanpa arah tujuan.

Walau sedang berlari kencang, tapi Ciok Giok Yin juga berpikir, Ho Siu Kouw mengatakan bahwa Bu Lim Sam Siu akan segera kembali, tapi kenapa tidak melihat jejak mereka bertiga? Tentunya Ho Siu Kouw punya tujuan lain. Itu membuat Ciok Giok Yin merasa malu hati, karena dia bersungguh-sungguh ingin membela gadis cantik itu, namun sebaliknya gadis cantik itu malah tidak mengubrisnya. Apakah peta pusaka yang diberikannya juga palsu? Ciok Giok Yin terus berpikir, Ho Siu Kouw sengaja mendesaknya pergi, lalu menyimpan peta pusaka yang asli. Ini memang mungkin!

Sebab kakek tua berjenggot putih pernah mengatakan padanya, bahwa 'Hati Wanita Merupakan Jarum Didasar Laut' sulit sekali diraba maupun dirasakan. Hari ini berjumpa Ho Siu Kouw, membuktikan memang benar apa yang pernah dikatakan kakek tua berjenggot putih.

Berpikir sampai di situ, Ciok Giok Yin merasa amat gusar. Ketika dia baru mau merogoh ke dalam bajunya mengambil bungkusan pemberian Ho Siu Kouw untuk dibuang, mendadak terdengar suara bentakan dingin di belakangnya.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin langsung berhenti sekaligus membalikkan badannya, dan seketika juga hatinya tersentak. Ternyata Bu Lim Sam Siu telah berdiri di belakangnya. Lengan Singkoan Yun San telah dibalut, sepasang matanya menyorot bengis, terus menatap Ciok Giok Yin dengan tajam. Begitu pula Kwee Sih Cun, kelihatan berjaga-jaga agar Ciok Giok Yin tidak melarikan diri.

Cu Cing Khuang berdiri agak mendekati Ciok Giok Yin, wajahnya tampak dingin sekali.

"Bocah, siapa namamu?" "Ciok Giok Yin."

"Ciok Giok Yin?"

"Tidak salah! Apakah ada yang palsu?"

Tiba-tiba Cu Cing Khuang berkata dengan lembut.

"Aku lihat kau bertulang bagus dan berbakat, maka aku ingin menerimamu jadi muridku." "Terimakasih atas maksud baikmu." "Apakah kau tidak bersedia?" "Betul."

Cu Cing Khuang tidak gusar atau tersinggung oleh sahutan Ciok Giok Yin yang amat ketus itu.

"Kalau kau berguru padaku, dalam waktu tiga lima tahun, kau pasti menjadi seorang pendekar muda yang terkenal," katanya lembut. Ciok Giok Yin telah menyaksikan perbuatan Bu Lim Sam Siu di dalam Goa Toan Teng Tong, sehingga timbul kesan buruk terhadap mereka bertiga. Seandainya Ciok Giok Yin tidak menyaksikan itu, pasti dia akan mengangkat Bu Lim Sam Siu sebagai suhunya. Akan tetapi, lantaran kejadian di dalam Goa itu, maka Ciok Giok Yin menganggap mereka bertiga sebagai penjahat, maka tidak heran kalau Ciok Giok Yin amat membenci mereka.

"Terus terang, aku sama sekali tidak tertarik pada kalian bertiga," sahutnya. Air mukaa Cu Cing Khuang langsung berubah.

"Hmm! Dasar tak tahu diri!"

"Buat apa banyak bicara padanya?" selak Siang- koan Yun. Cu Cing Khuang menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian maju dua langkah. Saat ini Ciok Giok Yin berdiri tak jauh dari pinggir mulut jurang yang amat dalam. Jurang itu tidak tampak dasarnya, karena tertutup kabut tebal, dan Ciok Giok Yin tidak tahu tentang itu. Apa sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin mengangkatnya sebagai murid? Apa tujuan mereka bertiga?

Hanya itu yang dipikirkannya.

Dia ingin melarikan diri, namun situasi di depan matanya tidak memungkinkannya untuk melarikan diri, maka membuatnya menjadi gugup dan agak panik. Apabila dia tidak dapat melarikan diri, tentu akan celaka di tangan Bu Lim Sam Siu. Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, justru Cu Cing Khuang membuka mulut. "Bocah! Kau datang dari Goa Toan Teng Tong?" "Tidak salah."

"Kau sudah memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Touw?"

Hati Ciok Giok Yin tersentak. Kini dia baru tersadar apa sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin mengangkatnya sebagai murid, ternyata karena peta pusaka tersebut. Sungguh licik sikap mereka!

Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin.

"Bagaimana kalau aku sudah memperoleh, dan bagaimana kalau belum?" sahutnya seperti bertanya.

Wajah Cu Cing Khuang tampak berseri-seri.

"Bocah! Kami bertiga tidak berniat jahat terhadapmu. Kalaupun kau memperoleh peta itu juga percuma. Lebih baik kau serahkan padaku. Peta itu akan kusimpan, kelak setelah kau berkepandaian tinggi, barulah kami kembalikan padamu."

Mendengar ucapan itu Ciok Giok Yin langsung tertawa gelak.

"Bu Lim Sam Siu, kalian bertiga terhitung Bu Lim Cianpwee. Tapi kalian telah menganiaya seorang gadis demi mendapatkan peta itu. Kini kalian malah memfitnahku memperoleh peta tersebut, sebetulnya apa tujuan kalian?"

Cu Cing Khuang tertawa licik.

"Bocah! Yang kudapatkan adalah peta palsu, sedangkan kau memperoleh aslinya. Maka kalau kau ingin menjaga peta itu, terlebih dahulu harus belajar kungfu yang tinggi. Kalau tidak, kemungkinan besar nyawamu juga akan melayang."

"Bocah! Kau sudah peroleh peta itu?" sambung Kwee Sih Cun. "Kentut! Siapa bocah?" Kwee Sih Cun mengerutkan kening, lalu menjulurkan kelima jarinya, kelihatannya dia ingin. Akan tetapi, Cu Cing Khuang

segera membentak mencegahnya.

"Tunggu, Lo Sam!" Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin. "Bocah, lebih baik serahkan peta itu!" katanya.

"Tidak bisa!"

"Tentunya kau tahu, dirimu tidak bisa melarikan diri!" "Kalian mau apa?"

Siangkoan Yun San mendengus.

"Hmm! Apabila perlu, kami pasti membunuhmu!" Mendengar itu, Ciok Giok Yin bukannya gemetar atau takut,

tapi sebaliknya malah menjadi lebih berani.

"Kalau kelak aku tidak membunuh kalian bertiga, aku bersumpah tidak mau jadi orang!" bentaknya sengit sambil melotot. Ciok Giok Yin mengepalkan tinjunya, siap untuk berkelahi. Menyaksikan sikapnya, Cu Cing Khuang tertawa gelak.

"Sayang sekali, kau sudah tidak punya kesempatan lagi!"

"Hari masih panjang, kesempatanpun masih banyak!" "Tapi hari ini kau tidak dapat lolos dari tangan kami, maka

hari amat pendek bagimu."

"Kalaupun aku jadi hantu, tidak akan mengampuni kalian bertiga!"

Ciok Giok Yin berkata dengan gusar sekali, tampaknya ingin sekali membunuh Bu Lim Sam Siu. Akan tetapi, dia tahu jelas bahwa dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka tidak berani melancarkan serangan. "Itu urusan lain, sekarang kau serahkan tidak?" kata Cu Cing Khuang.

"Tidak!"

"Kau jangan menyesal!"

"Apa yang harus kusesalkan?"

"Kau masih muda, kenapa harus menyia-nyiakan nyawamu? Kau masih punya masa depan, mengapa harus berkorban demi peta itu?"

"Kalau begitu, mengapa kalian menginginkan peta itu?" "Karena kami memiliki kepandaian tinggi, tentunya dapat

melindungi peta tersebut!"

Berdasarkan apa yang dikatakan Bu Lim Sam Siu, tentunya yakin peta pusaka itu berada pada Ciok Giok Yin. Karena itu, mereka bertiga terns mendesaknya. Peta pusaka itu memang menjadi impian setiap kaum rimba persilatan. Kini peta pusaka tersebut berada di depan mata mereka, bagaimana mungkin mereka melepaskannya?

"Apakah kalian yakin aku tidak mampu menjaga peta itu?" kata Ciok Giok Yin dengan gusar.

"Tentu yakin! Sebab kami telah menyaksikan kepandaianmu!" sahut Cu Cing Khuang. Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm! Aku dapat menjaga atau tidak, itu urusanku! Tidak perlu kalian berbaik hati men- cemaskannya!"

"Kau sungguh keras hati dan keras kepala!"

"Kalian ingin rebut, sungguh tebal muka kalian bertiga!" kata Ciok Giok Yin menyindir. Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin, sungguh menyinggung perasaan Bu Lim Sam Siu. Mendadak Kwee Sih Cun menjulurkan kelima jarinya, sepasang matanya menyorotkan sinar kebengisan sambil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.

Namun di saat kelima jari itu hampir berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang amat nyaring, yang disusul oleh serangkum angin yang amat kuat menerjang ke jalan darah Siauw Yauw Hiat Kwee Sih Cun.

Bukan main terkejutnya Kwee Sih Cun! Kalau pun seandainya dia berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, namun nyawanya juga akan melayang. Kwee Sih Cun pasti lebih mementingkan nyawanya, maka dia bergerak cepat meloncat ke belakang, justru tepat berada di pinggir mulut jurang, menyebabkannya mengucurkan keringat dingin. Kwee Sih Cun memandang ke depan, ternyata seorang wanita buruk rupa berpakaian merah berdiri di sana, menatap bengis pada Bu Lim Sam Siu. Begitu melihat wanita itu, Bu Lim Sam Siu berseru kaget serentak.

"Heng Thian Ceng (Wanita Pendendam Langit)!"

Mereka menyurut mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias, kelihatannya takut pada wanita itu. Heng Thian Ceng tertawa dingin, kemudian membentak sengit.

"Mata kalian masih belum buta, cepat enyah kalian!" "Bocah ini... aku... ingin mengangkatnya menjadi murid...,"

kata Cu Cing Khuang gagap. Heng Thian Ceng langsung membentak keras, memutuskan perkataan Cu Cing Khuang.

"Kalian masih tidak pantas, cepat enyah!"

Mendadak Hang Thian Ceng mengibaskan tangannya, dan seketika tampak salju meluncur secepat kilat ke arah Bu Lim Sam Siu. Bukan main terkejutnya Bu Lim Sam Siu. Mereka bertiga cepat-cepat berkelit, lalu kabur terbirit-birit. Ciok Giok Yin yang menyaksikan itu, juga amat terkejut. Entah siapa wanita buruk rupa ini, hingga Bu Lim Sam Siu yang amat terkenal itu kelihatan amat takut padanya. Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, dia ingin meninggalkan tempat itu, tapi ketika dia baru mau melangkah, mendadak terdengar suara bentakan yang amat dingin di belakangnya.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin langsung membalikkan badannya perlahan- lahan, kemudian memandang wanita buruk muka itu dengan rasa takut.

"Siapa namamu?" tanya Hong Thian Ceng sambil menatapnya dengan tajam sekali.

"Ciok Giok Yin."

"Mengapa Bu Lim Sam Siu berada di sini menyusahkanmu?" "Lo cianpwee, aku dan mereka bertiga sama-sama memasuki

Goa Toan Teng Tong. Mereka bertiga melukai seorang nona di dalam goa itu, lalu mencari suatu barang yaitu sebuah peta. Mereka bertiga cepat-cepat pergi, namun kemudian kembali lagi, ingin menerimaku jadi murid."

Heng Thian Ceng mengerutkan kening.

"Benarkah urusan itu? Kau melihat mereka mengambil peta pusaka itu?"

"Aku melihat dengan mata kepala sendiri." "Baik. Kau tunggu aku di sini, tidak boleh pergi!"

Heng Thian Ceng langsung melesat pergi, dan sekejap sudah tidak tampak bayangannya. Ternyata Ciok Giok Yin menggunakan siasat harimau menelan srigala, agar Heng Thian Ceng membunuh Bu Lim Sam Siu. Siasatnya itu berhasil, namun dia justru tidak memikirkan akibatnya. Ketika dia baru mau meninggalkan tempat itu, mendadak di hadapannya muncul tiga orang, yang tidak lain adalah Bu Lim Sam Siu.

"Bocah! Tak disangka kau pandai menggunakan siasat! Tapi malam ini kau tidak bisa hidup lagi!" kata Cu Cing Khuan dingin sambil menatapnya dengan bengis. Mendadak Bu Lim Sam Siu melangkah maju, lalu menjulurkan jari tangan mencengkeramnya.

Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya dalam keadaan bahaya. Maka, dia cepat-cepat mencelat ke belakang. Tetapi tiba-tiba badannya merosot ke bawah, ternyata kakinya menginjak tempat yang kosong, yaitu jurang yang amat dalam. Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin.

"Haaah...?" teriaknya.

Suara teriakannya mengandung ketakutan, sedih dan putus asa.

Cu Cing Khuang menghempas kaki seraya bergerutu. "Peta pusaka itu, akan lenyap selama-lamanya." Kwee Sih

Cun dan Siangkoan Yun San menggeleng-gelengkan kepala. Mereka bertiga melongok ke dalam jurang, setelah itu barulah melesat pergi. Suasana di tempat itu kembali menjadi hening, sedangkan Ciok Giok Yin yang terjatuh ke dalam jurang pun sama sekali tiada suaranya....