Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 16

 
Jilid 16

"Lo cianpwee...!" serunya tak tertahan.

Orang yang baru datang itu tertawa terbahak-bahak lalu berkata,

"Maaf, siauhiap! Aku pengemis tua renta muncul tidak tepat pada waktunya, maaf!"

Ternyata orang itu adalah pengemis berusia lanjut yang diselamatkan Ciok Giok Yin. Tadi dia pergi, tapi kemudian kembali lagi. Untung Heng Thian Ceng memakai kedok kulit, maka orang lain tidak dapat melihat bagaimana perubahan wajahnya.

Dengan rasa jengah Ciok Giok Yin bertanya, "Lo cianpwee kok belum pergi?"

Pengemis berusia lanjut melirik Heng Thian Ceng sejenak, kemudian menyahut.

"Aku telah menerima budi pertolongan siauhiap, bagaimana mungkin pergi begitu saja? Aku menunggumu di depan, tapi tidak melihat kau muncul. Aku khawatir kau bertemu musuh, maka aku segera ke mari. Siapa sangka. Ha ha ha!"

Suara tertawanya menyebabkan mereka berdua merasa tidak enak.

Mendadak Heng Thian Ceng berkata, "Adik, aku tunggu kau di jalan depan itu."

Badannya bergerak, langsung melesat pergi. Begitu dia pergi, Ciok Giok Yin merasa kehilangan. Diam-diam Ciok Giok Yin mencaci pengemis berusia lanjut dalam hati. 'Dasar tua pikun, tidak tahu urusan sama sekali!' Akan tetapi wajahya tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Berselang sesaat, dia berkata kepada pengemis berusia lanjut dengan nada halus.

"Terimakasih lo cianpwee."

Pengemis berusia lanjut tersenyum lalu menyahut, "Aku telah menerima budi pertolongan siauhiap, namun masih belum tahu nama siauhiap."

"Namaku Ciok Giok Yin. Siapa sebutan lo cianpwee?" "Sudah lama aku melupakan namaku, namun teman-teman

rimba persilatan memberikan julukan Tek Cang Sin Kay

(Pengemis Sakti Tongkat Hijau)."

Ciok Giok Yin tidak pernah mendengar tentang para tokoh rimba persilatan yang terkenal, maka terhadap julukan Tek Cang Sin Kay ini, terasa asing baginya.

Namun dia tetap berkata, "Sudah lama kudengar nama besar lo cianpwee."

Tak disangka Tek Cang Sin Kay malah menghela nafas panjang, sambil berkata,

"Aku menyendiri 'di tempat sepi selama dua puluh tahun lebih. Lantaran urusan kecil aku terpaksa muncul lagi di dunia persilatan. Justru terkena serangan gelap, bahkan sama sekali tidak tampak bayangan penyerang gelap itu. Sungguh... memalukan sekali!"

Usai berkata, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang lagi.

"Itu adalah perbuatan orang rendahan lo cianpwee tidak usah berduka karena itu," kata Ciok Giok Yin menghiburnya.

Tek Cang Sin Kay menggelengkan kepala lalu menyahut, "Itu pertanda aku pengemis tua renta sudah tak berguna

lagi." Sepasang matanya memancarkan sinar. "Saudara Kecil!" serunya perlahan.

"Ada urusan apa, katakan saja lo cianpwee!"

"Kalau Saudara Kecil tidak merasa keberatan, harap panggil aku saudara tua saja."

"Itu mana boleh!" sahut Ciok Giok Yin dengan terbelalak. "Kalau Saudara Kecil terus-menerus memanggilku lo

cianpwee, akan membuatku tiada tempat berpijak lagi," kata pengemis itu sambil tersenyum.

Ciok Giok Yin tahu, apabila berkeras menolak, pasti akan membuat pengemis itu serba salah, bahkan juga perasaannya akan tersinggung. Oleh karena itu, dia berkata.

"Baik, siaute (Adik) menurut pada lo koko (Saudara Tua) saja. Lo koko ingin mengatakan sesuatu, katakan saja!"

Wajah Tek Cang Sin Kay berseri-seri.

"Saudara Kecil, yang kau lihat itu adalah Sam Yang Hui Kang?"

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

"Suhumu adalah "

"Suhuku bernama Cu Wei To." "Julukannya adalah Sang Ting It Koay?" "Ya."

"Aku pernah mendengar nama besar suhumu, namun sayang tidak pernah berjumpa. Entah sekarang tinggal di mana suhumu?"

Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi murung. "Suhuku telah meninggal."

"Sudah meninggal." "Ya."

"Walau aku tidak pernah berjumpa suhumu, tapi aku tahu jelas dia berjiwa satria. Tak disangka dia telah meninggal. Rupanya aku tidak harus muncul di dunia persilatan lagi."

"Mengapa lo koko menjadi tak bersemangat?"

Tek Cang Sin Kay menghela nafas panjang lalu berkata, "Saudara Kecil, gelombang belakang mendorong gelombang

depan. Karena itu, sudah waktunya aku mengundurkan diri, tidak boleh berkecimpung di dunia persilatan lagi." Dia menatap Ciok Giok Yin. "Kau berbakat luar biasa, maka harus bisa menjaga diri. Mengenai murid murtad suhumu itu, harus dibasmi agar suhumu bisa tenang di alam baka." Usai berkata, dia merogohkan sebelah tangannya ke dalam bajunya.

Sedangkan sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin, kemudian berkata,

"Aku tidak akan melepaskan murid murtad suhuku itu!"

Tek Cang Sin Kay tidak menyahut apa-apa. Dia mengeluarkan sepotong belahan bambu berukuran sejengkal lalu berkata,

"Saudara Kecil, ini adalah tanda perintah Tianglo (Tetua) Kay Pang. Melihat tanda perintah ini seperti melihat orangnya. Kau berkelana di dunia persilatan, amat membutuhkan benda ini, Lo koko menghadiahkan padamu. Apabila kau membutuhkan bantuan Kay Pang, perlihatkan saja tanda perintah ini, para anggota Kay Pang pasti menuruti perintahmu."

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.

"Lo koko, mana berani siaute menerima?"

"Saudara Kecil, terimalah dulu dengarkan perkataanku! Mungkin Kay Pang juga akan minta bantuanmu. Saat itu, harap kau bersedia memberi bantuan pada Kay Pang!"

Ciok Giok Yin melihat wajah Tek Cang Sin Kay amat serius, maka diterimanya tanpa perintah itu seraya berkata,

"Seandainya Kay Pang membutuhkan bantuanku, walau harus menerjang lautan api, pasti kulakukan!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin memperhatikan tanda perintah itu yang merupakan sepotong belahan bambu. Ternyata tanda perintah itu berukura seekor naga dan di bagian dalamnya terukir beberapa huruf yang menyerupai huruf-huruf bervariasi. Maka Ciok Giok Yin tidak mengenal huruf-huruf tersebut.

"Terimakasih, Saudara Kecil," kata Tek Cang Sin Kay. Pengemis berusia lanjut tahu bahwa Ciok Giok Yin sedang memperhatikan tanda perintah itu, maka dia segera berkata lagi,

"Tanda perintah itu berukiran huruf-huruf Chu. Turun- temurun tiada seorang pun tahu apa arti huruf-huruf itu. Kalau Saudara kecil punya kesempatan mengenal huruf-huruf itu kelak, boleh diterjemahkan untuk mengungkap teka tekinya."

Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Siaute akan berusaha."

Tek Cang Sin Kay tersenyum, lalu merogoh kedalam bajunya mengeluarkan dua botol kecil.

"Saudara Kecil berkelana dalam rimba persilatan, pasti punya musuh dari golongan hitam. Kebetulan dulu lo koko memperoleh dua botol obar rias wajah, lo koko hadiahkan padamu."

Tek Cang Sin Kay juga memberitahukan cara menggunakannya. Bukan main girangnya Ciok Giok Yin, karena obat rias wajah tersebut memang amat berguna bagi dirinya.

Maka, disimpannya baik-baik tanda perintah dan dua botol obat rias wajah itu ke dalam bajunya. Setelah itu dia berkata,

"Lo koko sedemikian menyayangi siaute, entah harus bagaimana siaute membalasnya?"

"Saudara kecil berkata demikian, lo koko merasa berat sekali."

"Memangnya kenapa?"

"Mengenai urusan lo koko dengan Saudara Kecil tentunya akan lo koko memberitahukan pada ketua Kay Pang. Setelah itu, lo koko akan hidup tenang di tempat sepi dan selamanya tidak akan muncul lagi. Saudara Kecil, jaga dirimu baik-baik! Sampai jumpa!" Usai berkata Tek Cang Sin Kay melesat pergi dan tak lama sudah tidak tampak bayangannya. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu di tempat. Berselang sesaat barulah dia melesat pergi menuju Gunung Liok Pan San. Kini Ciok Giok Yin harus cepat-cepat menemui Thian Thong Lojin untuk mengungkap rahasia potongan kain tersebut, sebab potongan kain itu menyangkut asal-usulnya dan jejak Seruling Perak.

Oleh karena itu, dia melesat bagaikan kilat. Sementara saat waktu terus berlalu, senja berganti malam dan malam berganti pagi. Sedangkan jalan yang dilalui Ciok Giok Yin penuh batu curam yang amat berbahaya. Setelah seharian dia menempuh perjalanan itu, badannya terasa agak lelah. Ingin rasanya mencari suatu tempat untuk beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Akan tetapi mendadak sesosok bayangan melesat bagaikan meteor lewat di sampingnya. Tentunya membuat Ciok Giok Yin tersentak, Berdasakan gerakannya dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang itu. Sudah pasti membuat Ciok Giok Yin tercengang karena kagum. Maka dia pun mengerahkan ginkangnya, melesat di belakang orang itu. Dia ingin melihat, sebetulnya siapa orang itu. Oleh karena itu, dia pun berusaha mengejarnya. Orang itu, sepertinya tidak tahu kalau dirinya diikuti orang. Berselang beberapa saat, sudah tiba di sebuah bukit yang penuh tanah kuning. Orang itu masih terus melesat. Sesaat kemudian, mendadak dia berhenti di tepi dinding tebing tanah kuning, lalu menengok ke sana ke mari, seakan ingin tahu apakah ada orang lain berada di sana. Ciok Giok Yin khawatir kalau-kalau orang itu akan melihatnya, maka buru-buru bersembunyi.

Orang itu mendongakkan kepala, memandang ke arah dinding tebing tanah kuning itu. Ciok Giok Yin yang bersembunyi juga ikut memandang ke sana. Dia nyaris berseru tak

tertahan. Ternyata pada dinding tebing tanah kuning itu, terukir tiga huruf warna putih 'Wang Tou Po' (Bukit Tanah Kuning)! Karena huruf-huruf itu amat besar, lagi pula berwana putih, maka tampak jelas walau di malam hari. Mengapa Ciok Giok Yin tampak terkejut? Tidak lain karena teringat akan ucapan Bok Tiong Jin, bahwa dengar-dengar kemungkinan besar Seruling Perak berada di luar Kota Lok Yang di Wang Tou Po. Justru tak terduga sama sekali, dia sampai di tempat

tersebut.

Seandainya dia berhasil memperoleh Seruling Perak dan disatukan dengan kitab Cu Cian, pasti bisa mempelajari ilmu silat yang tertinggi dan terhebat di kolong langit, tentunya bisa pula menuntut balas semua dendam itu. Di saat dia berpikir sementara, mendadak orang itu bertepuk tangan tiga kali.

Pok! Pok! Pok!

Menyusul terdengar pula suara tepukan tangan tiga kali di tempat jauh. Suara tepukan tangan itu berasal dari tebing tanah kuning yang melekuk ke dalam. Orang itu segera mencelat ke atas dan bertanya dengan suara ringan,

"Apakah bisa buka malam ini?"

Orang yang bersembunyi di tempat lekukan tebing itu menyahut,

"Mungkin belum bisa, namun. ketua utama dan kedua akan

kemari."

Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar percakapan mereka. 'Apakah mereka adalah para anggota perkumpulan Sang Yen Hwee? Siapa ketua utama itu?' Tanyanya dalam hati. Kemudian dia merayap ke atas dari tempat persembunyiannya. Sungguh di luar dugaan, dia melihat sebuah pintu batu di bawah tebing tanah kuning itu, sehingga membuatnya melangkah perlahan- lahan ke tempat tersebut. Ketika berjarak lima enam depa dari tempat itu, sekonyong-konyong Ciok Giok Yin merasa ada angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arahnya. Pada saat bersamaan terdengar pula suara bentakan,

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin hendak kembali bersembunyi, namun sudah terlambat.

"Hm! Mengapa aku harus berhenti?" dengusnya sambil berkelit.

Kemudian dia segera mengerahkan lwee kangnya, siap menghadapi pertarungan. Terdengar suara desiran angin.

Seer! Seer! Seer!

Muncul tiga sosok bayangan orang, yang kemudian mengepung Ciok Giok Yin.

"Eh! Ternyata kau bocah keparat!" bentak mereka.

Ciok Giok Yin memandang mereka bertiga, ternyata orang- orang perkumputan Sang Yen Hwee. Seketika api kebenciannya berkobar.

"Aku memang sedang mencari kalian!" sahutnya dengan dingin.

"Kau mencari kami untuk mengantar kematian?" kata salah seorang dari mereka.

Menyusul seorang lagi membentak sengit. "Bocah keparat, malam ini kau harus mampus!" Mereka bertiga mulai melangkah maju.

Lantaran Ciok Giok Yin belum tahu asal-usul dirinya, begitu mendengar mereka mencacinya 'Bocah keparat', otomatis membut kegusarannya memuncak.

"Aku akan membunuh kalian semua!" bentaknya mengguntur.

Dia langsung mengeluarkan jurus pertama dari kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Tampak badannya bergerak laksana kilat, dan telapak tangannya berkelebatan menimbulkan suara menderu-deru yang mengandung hawa panas. Terdengar suara jeritan.

"Aaaakh!" Salah seorang dari mereka tersambar pukulan. Tentunya membuat terkejut kedua temannya. Mereka langsung menghunus golok sekaligus menyerang Ciok Giok Yin dari arah kiri dan kanan. Terdengar lagi suara jeritan.

"Aaaakh!"

Seorang lagi terpental. Mendadak terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, yang disusul oleh seruan.

"He he he! Kami akan membuat perhitungan!"

Tampak empat sosok bayangan orang melesat ke tempat itu, lalu terdengar suara seruan lagi.

"Berhenti! Berhenti!"

Tinggal seorang itu, segera meloncat mundur dan memberi hormat kepada mereka berempat.

"Hamba menyambut kedatangan Empat Pelindung," katanya. Keempat orang yang baru muncul itu, ternyata Si Sing Kui. Si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata,

"Ini adalah urusan besar, kalian mundur saja!" Dia menoleh memandang Ciok Giok Yin. "Bocah, urusan kita belum selesai. Namun malam ini akan kami bereskan di depan Bukit Tanah Kuning!"

Senjata Sui Poa yang di tangannya terus berbunyi. Plak! Plak! Praaak!

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, karena tahu jelas dirinya bukan lawan mereka berempat, tapi juga tidak bisa tidak bersuara. Karena itu, dia menatap Si Sing Kui seraya membentak. "Suatu hari nanti, aku pasti membeset kulit kalian! Malam ini aku punya urusan lain, kita akan berjumpa lagi kelak!"

Ketika Ciok Giok Yin baru mau melesat pergi. Sekonyong- konyong si Setan Tinggi membentak.

"Berhenti!"

Dia langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat. Angin pukulannya menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Si Setan Gemuk tertawa gelak lalu berkata,

"Hei, Pendek! Kau lihat dia mau pergi, kok belum ke sana bercakap-cakap dengannya?"

Tanpa menyahut, si Setan Pendek segera mencelat ke atas tiga depa. Setelah badannya berada di angkasa, dia bersalto hingga kepalanya ke bawah, meluncur ke arah Ciok Giok Yin dengan terkaman. Ketika Ciok Giok Yin berada di luar markas perkumpulan Sang Yen Hwee, pernah menyaksikan jurus yang dikeluarkan si Setan Pendek ini. Sebab itu, Ciok Giok Yin bergerak cepat mencelat ke belakang. Justru tanpa sengaja menuju pintu batu. Sedangkan si Setan Pendek bergerak cepat pula mengikutinya.

Saat ini agar tidak diserang secara gelap si Setan Pendek Ciok Giok Yin langsung melindungi dirinya dengan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, yaitu jurus pertama dan jurus kedua. Si Setan Pendek tahu akan kehebatan ilmu pukulan itu, maka segera meloncat ke belakang. Medadak si Setan Gemuk tertawa gelak.

"Dasar pendek tak berguna! Jurus Ie Tiong Sung Ca (Dalam Hujan Mengantar Payung)mu itu sudah tiada artinya!"

Bukan main marahnya si Setan Pendek mendengar sindiran itu.

"Dasar babi gemuk, lihatlah!" bentaknya keras sambil melesat ke depan. "Cepat maju! Jangan membiarkan bocah haram itu mendekati pintu batu!" seru ketiga setan lainnya dengan serentak.

Di saat bersamaan mereka bertiga pun melancarkan serangan ke arah Ciok Giok Yin. Bukan main dahsyatnya serangan mereka! Terdengar suara menderu-deru bagaikan gelombang mengarah sekujur badan Ciok Giok Yin. Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk menangkis, mengeluarkan jurus pertama dan jurus kedua ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Terdengar suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga.

Bum! Bum!

Tampak badan Ciok Giok Yin tergoncang keras, sedangkan keempat setan itu mulai maju lagi. Kelihatanya Ciok Giok Yin akan... Sekonyong-konyong dia merasa sebelah kakinya menginjak tempat kosong, sehingga membuat dirinya terjengkang. Tapi dia bergerak cepat meloncat ke depan, barulah bisa berdiri tegak. Justru di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan berkelebat bagaikan arwah, lewat di sampingnya memasuki pintu batu. Pada saat bersamaan terdengar suara deruan angin pukulan menerjang ke luar dari dalam pintu batu itu.Ciok Giok Yin sama sekali tidak bersiap- siap, maka dadanya terserang angin pukulan itu. Sementara menyembur darah segar dari mulutnya, dan pandangannya menjadi gelap lalu pingsan.

Di saat dia roboh si Setan Gemuk menerobos ke dalam pintu batu. Namun pintu batu itu amat sempit, sedangkan badannya begitu gemuk, maka dia tidak bisa masuk, malah terjepit, maju tidak bisa mundur tidak bisa. Dia mencoba mengerahkan tenaganya, tapi tak di sangka malah terdengar suara gemuruh. Ternyata pintu batu itu tiba-tiba menutup. Seketika terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak darah muncrat ke mana-mana. Sungguh mengerikan! Si Setan Gemuk terhimpit sehingga semua tulangnya remuk dan dagingnya pun hancur tidak karuan. Memang merupakan suatu kejadian kebetulan.

Ketika Ciok Giok Yin roboh, justru tersambar oleh angin yang ditimbulkan si Setan Gemuk ketika menerobos ke dalam pintu batu itu. Ciok Giok Yin tersambar angin itu hingga melayang ke dalam pintu batu. Sebaliknya si Setan Gemuk malah terhimpit di pintu batu itu. Setelah pintu batu itu tertutup rapat, Ciok Giok Yin dan bayangan orang yang masuk ke dalam itu menjadi terkurung di dalam pintu batu. Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin mulai siuman perlahan-lahan. Dia merasa dirinya dipapah seseorang ke dalam. Justru dia mengira dirinya telah ditangkap oleh Si Sing Kui. Maka, tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung mengarahkan sisa lwee kangnya menyerang orang yang memapahnya. Serangan itu amat dahsyat, sehingga terdengar suara rintihan orang tersebut. Tampak orang itu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, kemudian roboh. Kelihatannya luka yang diderita orang itu cukup parah. Ciok Giok Yin segera maju. Ketika baru mau melancarkan serangan lagi, mendadak dia berseru tak tertahan.

"Hah? Ternyata kau!"

Ternyata orang itu adalah seorang wanita, yang tidak lain Teng Hiang Kun, wanita berkedudukan sebagai Pelindung di perkumpulan Sang Yen Hwee. Teng Hiang Kun duduk bersila di tanah dengar kening berkerut-kerut. Kelihatannya dia sedang menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya. Begitu melihat wanita tersebut, hawa amarah Ciok Giok Yin lansung memuncak. Dia mengangkat sebelah tangannya ingin melancarkan pukulan ke arah wanita itu. Namun mendadak perutnya terasa mual.

Uaakh!

Dia memuntahkan darah segar dan merasa matanya gelap, akhirnya roboh. Ternyata Ciok Giok Yin juga menderita luka parah. Kini dirinya berhadapan dengan Teng Hiang Kun yang cabul itu. Entah harus bagaimana cara meloloskan diri? Oleh karena itu, setelah roboh, dia segera duduk seraya berpikir. Akan tetapi, sama sekali tidak menemukan akal untuk meloloskan diri. Dia menegok ke sekelilingnya. Seketika dia terbelalak, karena dirinya berada di sebuah goa. Dapat diterka, untuk apa Teng Hiang Kun membawanya ke dalam goa tersebut? Di saat bersamaan terbayang kembali apa yang terjadi di dalam kuil Thay San Si. Teng Hiang Kun yang cabul itu bermaksud berbuat yang bukan-bukan atas dirinya. Kalau dia terlambat meloloskan diri, kemungkinan besar hari itu....

Terbayang sampai kesitu, hati Ciok. Giok Yin langsung berdebar-debar. Akan tetapi dirinya terluka parah, bagaimana mungkin dapat meloloskan diri dari cengkeraman wanita cabul itu? Pikirannya sungguh panik. Tanpa sadar dia menoleh ke arah Teng Hiang Kun yang sedang menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya. Ingin rasanya mendekati Teng Hiang Kun untuk membunuhnya, namun sepasang kakinya tak kuat berdiri. Akhirnya dia memejamkan mata, mulai menghimpun hawa murninya untuk mengobati lukanya.

Berselang beberapa saat, Teng Hiang Kun sudah pulih. Dia bangkit berdiri sambil tertawa cekikikan lalu berkata,

"Ciok Giok Yin, saat ini kau tak ubahnya seekor ikan yang telah terjaring. Hari ini kau tidak akan bisa meloloskan diri!"

Ciok Giok Yin membuka matanya, menatap Teng Hiang Kun dengan penuh kebencian.

"Kau mau apa?" bentaknya.

"Tidak mau apa-apa, cuma ingin menangkapmu!" sahut Teng Hiang Kun.

"Kini aku sudah jatuh ke tanganmu. Kau mau membunuhku, silakan! Jangan harap kau bisa menghina diriku!"

Teng Hiang Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"Wah! Bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku merasa tidak sampai hati lho!"

Wanita itu mendekatinya, kemudian mengecup keningnya dan bertanya.

"Kau sudah tidak galak lagi 'kan?" "Wanita cabul tak tabu malu! Suatu hari nanti aku pasti membunuhmu!"

Teng Hiang Kun tersenyum.

"Aku memang berharap pada hari itu, bisa mati di tangan pujaan hatiku, tentunya amat menyenangkan."

Teng Hiang Kun lalu duduk di samping Ciok Giok Yin, dan menaruh kepalanya di bahu pemuda itu, kelihatannya bagaikan sepasang suami istri saling mengasihi. Wajah .wanita itu tampak kemerah-merahan. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin, tapi sekujur badannya sudah tak bertenaga, sama sekali tidak bisa melancarkan pukulan. Mendadak Teng Hiang Kun berkata dengan lembut sekali.

"Ciok Giok Yin, cobalah kau terka tempat apa ini?" "Tempat apa ini?"

"Kita berada di dalam Goa Ku Ciau Cung." "Di dalann Goa Ku Ciau Cung?"

"Tidak salah."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian mencacinya dan bertanya.

"Dasar wanita cabul, tak tahu malu! Kau yang membawaku ke mari?"

Teng Hiang Kun mengangguk.

"Sedikit pun tidak salah." Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, kuberitahukan! Ketika kau tersambar masuk, pintu batu tersebut. Kini pintu batu telah tertutup. Kalau kau tidak mendengar perkataanku, kau akan terkurung di sini selamanya. Namun apabila kau mau mendengar perkataanku, tentu aku bersedia membawamu meninggalkan tempat ini." "Kentut! Aku pasti punya akal keluar dari tempat ini!" Wanita itu tersenyum.

"Kau jangan berkeras kepala. Kalau percaya silakan coba! Di luar aku memang bukan lawanmu, namun di sini kau justru bukan tandinganku!" Dia mengecup kening Ciok Giok Yin lagi, kemudian bangkit berdiri. "Aku pergi sebentar dan segera kembali menemanimu. Baik-baiklah beristirahat, sebab kita akan melakukan hal yang cukup melelahkan, tapi terasa nikmat sekali!"

Badan Teng Hiang Kun bergerak menuju sebuah terowongan. Tentunya dia pergi mencari Seruling Perak. Sedangkan Ciok Giok Yin tahu jelas bahwa kini dirinya berada di dalam Goa Ku Ciau Cuang, tempat penyimpanan Seruling Perak. Karena itu, dia segera memejamkan matanya sekaligus menghimpun hawa murninya. Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara bernada tua.

"Goa Ku Ciau Cuang ini penuh perangkap dimana-mana, tapi telah kututup semua. Bocah, aku percaya kau juga mendengar desas-desus, bahwa di tempat ini tersimpan Seruling Perak."

Ciok Giok Yin membuka matanya lebar-lebar, namun tidak melihat seorang pun di situ.

"Siapa kau?" tanyanya.

"Kita boleh dikatakan kenalan lama, sebab pernah bertemu dua kali."

"Bolehkah Anda memperlihatkan diri?" "Tidak usah."

"Bagaimana Anda masuk ke mari?"

"Tentunya aku punya akal. Tentang ini kau tidak perlu bertanya."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Anda menutup semua terowongan di sini, sebetulnya mengandung maksud apa?"

"Aku tidak menghendaki orang lain masuk." Berhenti sejenak, setelah itu melanjutkan. "Kelihatannya kau terluka?"

"Betul."

"Baik, aku akan mengobatimu."

Ketika Ciok Giok Yin membuka mulutnya ingin berkata, justru di saat bersamaan, sebuah benda kecil meluncur ke dalam mulutnya. Dia ingin memuntahkan benda kecil itu, tapi sudah masuk ke dalam tenggorokannya. Terasa amat harum, bahkan juga terasa amat nyaman. Terdengar lagi orang itu berkata,

"Kau baik-baik beristirahat, tidak akan ada orang ke mari mengganggumu lagi. Namun, kau harus ingat! Kalau kau berhasil keluar dari goa ini, akan ada seorang gadis mencarimu untuk bertanding."

Usai orang itu berkata, suasana di tempat itu berubah menjadi hening. Ciok Giok Yin segera bertanya,

"Mohon tanya siapa gadis itu'?"

Tiada sahutan. Ciok Giok Yin bertanya lagi berulang kali, tapi tetap tiada sahutan. Dia tahu bahwa orang itu telah pergi, tidak akan menyahut lagi, barulah dia mulai memejamkan matanya menghimpun hawa murninya. Sembari menghimpun hawa murninya, dia pun berpikir sesungguhnya siapa orang itu?

Katanya pernah bertemu dua kali, bertemu di mana? Walau Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi tetap tidak ingat siapa orang tersebut. Karena itu dia tidak mau berpikir lagi, melainkan memusatkan perhatiannya untuk menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat kemudian, luka dalamnya telah sembuh. Dia bangkit berdiri sambil menengok ke sana ke mari. Tampak beberapa terowongan di situ. Terowongan yang mana yang dilaluinya tadi? Dia sama sekali tidak ingat lagi. Dia berdiri termangu-mangu. Apabila terus berdiri di situ, sudah pasti tiada gunanya. Karena itu dia beranjak menuju sebuah terowongan yang berada di sebelah kiri. Dia pikir kalau tiada jalan keluarnya, masih bisa kembali ke tempat semula. Siapa sangka setelah dia berjalan sejenak dan ketika menoleh ke belakang, justru sudah tidak menemukan jalan yang semula itu. Apa boleh buat, dia terpaksa menerobos ke sana ke mari tanpa arah tujuan sama sekali.

Entah berapa lama kemudian, barulah dia berhenti. Tiba-tiba dia merasa agak tidak beres. Sebab sepertinya tadi dia pernah melalui terowongan ini. Karena itu, dia segera memikirkan suatu cara untuk mengatasi hal ini. Timbul suatu ide, dia mulai melangkah, beberapa langkah dia pasti memberi tanda pada dinding. Justru sungguh mengherankan, hampir setengah harian berputar, tetap kembali ke tempat semula. Kini barulah Ciok Giok Yin mengerti, ternyata dirinya terjebak di dalam sebuah formasi. Dia menyesal sekali, sebab sama sekali tidak paham tentang formasi. Saat ini Teng Hiang Kun juga entah ke mana. Dia masih ingat akan ucapan wanita cabul itu, kalau tidak mendengar perkataannya, maka akan terkurung di tempat ini selamanya. Kelihatannya wanita cabul itu mengerti akan formasi tersebut. Tapi ke mana dia? Kini tenaga Ciok Giok Yin telah pulih. Otomatis tidak takut padanya. Kalau tidak berhasil mencarinya, apakah dirinya akan terkubur hidup-hidup di sini?

Menyusul dia teringat pada suara orang tua itu yang bersedia menyembuhkannya, namun mengapa tidak membantunya meninggalkan tempat ini? Karena berpikir begitu, Ciok Giok Yin segera berseru-seru.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee!"

Suaranya bergema di tempat itu. Akan tetapi tiada sahutan sama sekali. Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dalam benaknya terlintas sesosok bayangan hitam, yang memancingnya hingga sampai di bukit Tanah Kuning ini. Kejadian ini apakah merupakan rencana perkumpulan Sang Yen Hwee? Kalau tidak, bagaimana begitu kebetulan orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee bersembunyi di sana? Semakin dipikirkan membuat Ciok Giok Yin semakin yakin, dan itu membuatnya amat gusar, sehingga sekujur badannya menjadi gemetar. Dendamnya terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee otomatis semakin menjadi.

Kalau tiada suatu kemukjizatan, dia pasti akan mati kelaparan di dalam goa tersebut. Ini sungguh merupakan goa misteri!

Entah siapa yang membuat goa ini? Mengapa harus dilengkapi dengan formasi aneh? Apakah di dalam goa ini terdapat makam raja jaman dulu, maka khawatir makam itu akan digali orang? Kalau benar, raja yang telah mati itu, tentunya seorang raja lalim. Seandainya tidak, bagaimana mungkin

meninggalkan formasi ini untuk mencelakai orang lain? Manusia di saat merasa putus asa, tentu akan teringat masa lalunya.

Begitu pula Ciok Giok Yin. Semua kejadian yang dialaminya mulai muncul di dalam benaknya. Beberapa saat kemudian terdengar suara helaan nafas panjang. Setelah itu Ciok Giok Yin bergumam,

"Nasibku memang demikian, apa yang harus di katakan?"

Akhirnya Ciok Giok Yin duduk, kelihatannya ingin menunggu ajal datang menjemputnya. Kini hatinya malah menjadi tenang. Sepasang matanya dipejamkan, tidak mau memikirkan urusan apa-apa lagi. Dia berharap bisa segera mati, agar rohnya dapat pergi ke dunia persilatan, setelah itu barulah menuju ke alam baka. Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan kata-kata yang terdapat di dalam kitab suci. 'Sebelum lahir siapa aku? Setelah lahir aku siapa? Setelah tumbuh dewasa adalah diriku, mata dipejamkan justru siapa. ' Walau Ciok Giok Yin tahu namanya,

tapi justru tidak jelas dirinya keturunan siapa? Berdasarkan apa yang dikatakan Sin Ciang-Yo Sian, tak ragu lagi dirinya pasti bukan keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan. Karena alat kelaminnya terluka ketika berlatih silat, maka tidak dapat melakukan hubungan intim dengan istrinya. Sudah pasti istrinya tidak bisa hamil.

Kalau begitu, sesungguhnya Ciok Giok Yin keturunan siapa? Cuma beberapa orang yang mengetahuinya. Sebab itu Ciok Giok Yin duduk seakan telah tiada dirinya. Akan tetapi tak disangka, tiba-tiba aliran tenaga yang amat kuat di dalam Tantiannya menerjang ke seluruh jalan darahnya. Secara reflek dan tanpa banyak dia berpikir, dia langsung menghimpun hawa murninya. Berselang beberapa saat, dia merasa badannya terapung ke atas. Dia tetap memejamkan matanya, berkata seorang diri, "Apa gunanya lagi?" Dia tidak bangkit berdiri, cuma menggeserkan badannya menyandar pada dinding batu dan matanya tetap terpejam rapat. Akan tetapi dalam benaknya timbul berbagai macam kejadian yang pernah dialaminya. Dendam, kebencian dan budi, semuanya terlintas dalam benaknya. Mulutnya mulai bergumam.

"Adik Yong, tahukah kau bahwa aku akan mati kelaparan di tempat ini? Aaah! Kitab Im Yang Cin Koy itu tak perlu kau baca lagi, lebih baik kau bakar agar tidak jatuh ke tangan orang jahat, sehingga akan mencelakai orang lain."

Seketika dia pun teringat pada Heng Thian Ceng dan pikirannya pun menerawang. Sejak dia tahu urusan, otomatis banyak melihat kaum wanita pula. Namun yang paling cantik adalah Heng Thian Ceng. Kecantikannya dapat membuat orang terpukau dan mabuk kepayang. Oleh karena itu, tanpa sadar Ciok Giok Yin berseru-seru.

"Kakak! Kakak! Aku amat menyukaimu!"

Sepasang tangannya merangkul ke depan, tapi cuma merangkul tempat kosong. Dia membuka sepasang matanya, lalu tersenyum sedih seraya berkata,

"Ini bukan dalam mimpi?"

Di saat bersamaan mendadak terdengar suara alunan harpa. Ciok Giok Yin. langsung mendengarkan dengan penuh perhatian. Kedengarannya suara itu tidak seberapa jauh dari tempatnya. Alunan suara harpa itu bernada sedih, siapa yang

mendengarnya pasti mengucurkan air mata. Saat ini Ciok Giok Yin dalam keadaan putus asa, bahkan juga belum jelas tentang asal-usulnya. Sudah barang tentu gampang terpengaruh oleh suara harpa itu, menyebabkan air matanya meleleh dan menangis terisak-isak. Berselang beberapa saat, sekonyong- konyong nada suara harpa itu meninggi, kedengarannya seperti suara pembunuhan, juga bagaikan derap ribuan kuda yang gemuruh.

Ciok Giok Yin langsung bangkit berdiri. Sepasang matanya menyorot tajam dan sekujur badannya dipenuhi tenaga. Dia mengangkat sebelah tangannya. Tanpa sadar dia melancarkan jurus ketiga ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.

Bum!

Terdengar suara ledakan dahsyat. Tampak debu dan hancuran batu beterbangan, bahkan goa itu goncang. Bersekang sesaat, barulah suara gemuruh di dalam goa itu berhenti dan suara harpa pun tak terdengar lagi. Ciok Giok Yin berdiri tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa dirinya telah mampu melancarkan jurus ketiga ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang, tidak membuat darahnya bergolak lagi seperti tempo hari. Padahal sesungguhnya dia harus kegirangan hingga meloncat-loncat. Akan tetapi dia malah menghela nafas panjang.

"Kepandaian bertambah tinggi, tapi apa gunanya?"

Dia memandang ke arah dinding batu, ternyata dinding batu itu telah hancur oleh pukulannya tadi, bahkan muncul sebuah terowongan. Ciok Giok Yin terbelalak lalu berjalan ke dalam terowongan itu. Setelah berjalan beberapa langkah, dia melihat lagi beberapa terowongan. Dia tidak berani berjalan lagi, cuma berdiri termangu-mangu di situ. Justru di saat bersamaan terdengar lagi suara harpa itu dan nadanya bertambah sedih.

Ciok Giok Yin segera pasang kuping mendengarkan dengan seksama. Setelah itu dia berani memastikan bahwa suara harpa itu berada di dalam goa. Hatinya tergerak, dan dia segera berjalan ke arah suara harpa itu. Asal berhasil menemukan pemain harpa itu, tentu akan membantu Ciok Giok Yin meninggalkan goa kecuali pemain harpa itu seorang musuhnya. . Karena kini sudah timbul harapan baru, maka Ciok Giok Yin melangkah cepat dan pasti. Namun siapa sangka, meskipun dia telah melewati beberapa terowongan, tapi tetap belum menemukan jejak pemain harpa itu. Otomatis membuat langkahnya terhenti.

Begitu dia terhenti, hatinya tersentak. Karena suara harpa itu justru terdengar di belakangnya, bukan di hadapannya

lagi. Sebab itu, dia segera membalikkan badan sekaligus mengayunkan kaki. Sungguh diluar dugaan, suara harpa itu sepertinya sengaja mempermainkannya karena kedengarannya berada di belakangnya. Ciok Giok Yin betul-betul kewalahan, namun rasa penasaran. Dia cepat-cepat membalikkan badannya lagi, melangkah ke arah suara harpa itu. Begitulah berkali-kali, suara harpa itu kedengaran di depan, di belakang, di kiri dan di kanan. Itu membuat Ciok Giok Yin sungguh tak mengerti, gugup dan panik, tidak tahu harus berbuat apa.

Ciok Giok Yin terus berpikir. Akhirnya dia berkesimpulan, bahwa pemain harpa itu bukan sengaja mempermainkan dirinya, melainkan dirinya masih terkurung di dalam formasi aneh. Dia percaya, telinganya dapat mendengar suara harpa itu, membuktikan bahwa pemain harpa itu tidak terpisah jauh dari dirinya. Mungkin juga formasi aneh ini, justru pemain harpa yang membentuknya.

Tak diragukan lagi pemain harpa itu pasti orang aneh yang hidup menyendiri. Dan dia memiliki lwee kang yang amat tinggi sekali. Sebab kalau tidak, bagaimana mungkin suara harpa itu menggetarkan hati dan mempengaruhi orang yang mendengarnya? Namun berdasarkan nada suaranya yang sedih dan memilukan itu, pemainnya pasti seorang wanita. Otomatis membuat Ciok Giok Yin merasa simpati padanya dan berharap dapat bertemu, agar dapat mencurahkan semua kedukaannya.

Ciok Giok Yin berdiri tercenung. Dia tahu, apabila tiada seorang pun membawanya keluar, pasti terkurung selamanya di tempat ini. Pepatah mengatakan 'Orang tidak harus mati, pasti selamat'. Seketika Ciok Giok Yin berseru sekeras- kerasnya, "Lo cianpwee mana yang hidup tenang di sini, mohon bertemu!" Suara harpa itu berhenti, dan suasana berubah menjadi hening. Beberapa saat kemudian mendadak terdengar suara yang amat nyaring. "Siapa kau?"

Tak terduga sama sekali, ternyata seorang

wanita. Berdasarkan suaranya, membuktikannya masih muda, mungkin masih merupakan seorang gadis. Ciok Giok Yin segera menyahut dengan lantang.

"Aku bernama Ciok Giok Yin!" "Kau lelaki atau wanita?"

Ciok Giok Yin tertegun, sebab pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan anak kecil. Suara lelaki dan suara wanita berbeda, mengapa dia tidak dapat membedakannya? Apakah dia adalah orang dungu? Seandainya dia orang dungu, kalau pun bertemu juga tidak ada gunanya. Itu menyebabkan Ciok Giok Yin kembali putus harapan. Lantaran berpikir demikian, maka dia lupa menyahut. Mendadak wanita pemain harpa bertanya lagi.

"Kau lelaki atau wanita? Beritahukanlah padaku!"

Kedengarannya dia tidak sabar lagi. Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku adalah lelaki!"

Terdengar suara seruan tak tertahan. "Hah? Kau sungguh lelaki?"

"Ya!" Kemudian Ciok Giok Yin balik bertanya.

"Kau tidak dapat membedakan suara lelaki dan suara wanita?"

"Aku tidak pernah bertemu lelaki, juga tidak pernah mendengar suara lelaki, maka aku tidak dapat membedakannya." Ciok Giok Yin terperangah mendengar ucapan itu. Di kolong langit ini memang terdapat banyak hal aneh. Justru ada wanita yang tak pernah bertemu lelaki. Bukankah itu aneh sekali?

Pikirnya. Kemudian dia bertanya,

"Apakah kau tidak pernah berkelana di dunia persilatan?" "Tidak pernah!"

"Kau tidak pernah meninggalkan goa ini?" "Ya."

"Kalau begitu, bagaimana kau datang di tempat ini dan hidup bersama orang mati?"

"Di sini sama sekali tiada orang mati!"

"Tiada orang mati?" seru Ciok Giok Yin kaget.

"Aku tidak pernah bohong, karena juga tidak pernah ada orang bercakap-cakap denganku. Kini kau ke mari, pertama kali aku bicara sama orang!"

Ciok Giok Yin berpikir, mungkin usia wanita itu sudah tua. "Lo cianpwee. "

"Aku bukan lo cianpwee, sebab aku masih kecil!" Ciok Giok Yin tertegun.

"Hah? Apa?"

"Tahun ini usiaku baru tujuh belas, jadi aku bukan lo cianpwee."

"Usiamu baru tujuh belas?" "Ya." Ini sungguh membingungkan Ciok Giok Yin, bahkan juga tidak habis berpikir. Bagaimana seorang gadis berusia tujuh belasan hidup seorang diri di dalam goa? Karena itu sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Apakah dia hantu? Dia teringat pula pada Bok Tiong Jin, yang ingin memperoleh hatinya. Kini jangan-jangan... telah bertemu seorang hantu lagi? Saking terkejut dia menjadi lupa bersuara. Berselang sesaat, gadis berusia tujuh belas itu bertanya,

"Kak? Mengapa kau tidak bicara?"

Ciok Giok Yin balik bertanya dengan suara agak bergemetar. "Nona adalah orang atau hantu?"

"Tentunya aku orang. Berapa usiamu sekarang?" "Usiaku delapan belas."

"Delapan belas tahun?" "Ya."

"Usiamu lebih besar satu tahun dariku. Aku amat gembira sekali dapat bertemu kau. Kalau ibuku bertemu kau, aku yakin ibuku juga amat gembira."

Ciok Giok Yin tercengang. "Kau punya ibu?"

"Setiap orang pasti punya ibu. Aku dilahirkan ibu, tentunya punya ibu."

Mendengar ucapan itu, barulah Ciok Giok Yin berlega hati. Mungkin ibunya yang membawa gadis tersebut kemari, lalu tidak pernah membawanya keluar, maka tidak pernah bertemu lelaki.

"Aku punya kesempatan melihat matahari," kata gadis itu. "Apa maksudmku Nona?"

"Ibu pernah berpesan padaku, kalau kelak aku punya kesempatan bertemu lelaki di sini, dia harus membawaku pergi. Nah, bukankah aku bisa melihat matahari? Aku... aku sungguh gembira sekali!"

Hati Ciok Giok Yin tergerak. "Ibumu juga berada di dalam?" "Ibuku sudah terbang jauh."

Mendengar ucapan itu Ciok Giok Yin menjadi melongo. "Ibumu sudah terbang jauh?"

"Ya. Ibuku memperoleh sebuah kitab pusaka. Setelah berhasil menguasai semua ilmu yang ada di dalam kitab pusaka itu, ibuku menjadi dewa, terbang pergi meninggalkanku seorang diri."

Seketika timbullah rasa simpati dalam hati Ciok Giok Yin. Gadis ini sungguh patut dikasihani! Dia dan dirinya sama-sama bernasib malang dan hidup merana. Mendadak Ciok Giok Yin teringat sesuatu,

"Ayahmu?"

"Ibu tak pernah memberitahukan padaku."

Ciok Giok Yin menjadi termangu. Ternyata nasib gadis itu lebih beruntung. Walau dia tidak tahu siapa ayahnya, namun masih punya ibu. Sebaliknya Ciok Giok Yin sama sekali tidak tahu siapa kedua orang tuanya. Meskipun ada orang yang tahu, tapi tidak bersedia memberitahukannya. Karena itu, apabila kembali berkecimpung di dunia persilatan, selain menuntut balas dendam, juga harus menyelidiki asal-usul dirinya. Akan tetapi dalam setengah tahun lebih ini Ciok Giok Yin hanya menerima berbagai macam penderitaan, belum berhasil membasmi murid murtad suhunya, bahkan juga belum berhasil mengungkap asal usul dirinya. Ciok Giok Yin terus berpikir, sehingga lupa akan dirinya masih berada di dalam formasi aneh.

Terdengar gadis itu berkata,

"Maukah kau datang ke tempatku ini?"

Bukan main girangnya Ciok Giok Yin mendengar pertanyaan gadis itu.

"Nona, aku terkurung di dalam formasi, tidak dapat keluar." "Terkurung di dalam formasi?"

"Ya."

"Kau boleh ke luar 'kan?"

"Tidak bisa, karena aku tidak mengerti tentang formasi." "Mengapa kau tidak bilang dari tadi?"

"Nona mengerti?"

"Itu adalah Ngo Heng Tin (Formasi Lima Elemen)."

"Nona, tolong keluarkan aku dari formasi ini! Aku tidak akan melupakan budiman selama-lamanya."

"Karena kau akan membawaku melihat matahari, tentunya aku harus menolongmu ke luar dari formasi itu. Beritahukan padaku, saat ini kau berdiri di mana?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Nona, aku tidak paham formasi ini, bagaimana aku memberitahukanmu di mana aku berdiri?"

"Asal kau memberitahukan keadaan di sekitarmu, itu sudah cukup." Ciok Giok Yin menengok ke sekelilingnya, lalu memberitahukan.

"Kau tunggu sebentar!" kata gadis itu. Beberapa saat kemudian barulah gadis itu berkata lagi,

"Saat ini kau berada di sebelah kiri dalam formasi itu." "Apakah aku bisa keluar?"

"Bisa. Sekarang kau dengar petunjukku!" Berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Berjalanlah kau menuju terowongan sebelah kiri itu terus sampai ke ujung!"

Ciok Giok Yin berjalan menuju terowongan kiri, terus sampai ke ujung.

"Nona, aku harus ke mana lagi?" "Ke terowongan sebelah kiri."

Ciok Giok Yin berjalan menuju terowongan sebelah kiri, terus ke dalam. Berselang sesat di depan matanya tampak sebuah terowongan yang amat luas, tapi tiada ujungnya.

"Kau sudah keluar dari formasi," kata gadis itu. Ciok Giok Yin tertegun.

"Nona, sekarang aku harus melangkah ke mana?" Gadis itu balik bertanya.

"Kau mengerti ilmu silat?" "Mengerti."

"Bagus. Sekarang kau harus mengerahkan lwee kangmu menghantam dinding batu yang di hadapanmu. Setelah itu kau akan melihat diriku." Ciok Giok Yin justru berpikir, gadis itu berada di batik dinding batu itu. Apakah dia mengerti ilmu silat? Kalau dinding itu hancur, apakah tidak akan melukainya? Karena itu dia berkata,

"Harap Nona mundur dua tiga langkah!" "Mengapa?" tanya gadis itu.

"Aku akan menghancurkan dinding batu ini, khawatir hancuran batu akan melukaimu "

"Jangan khawatir. Dinding batu ini tak dapat dihancurkan, cuma akan terbuka kalau terhantam pukulanmu."

"Kalau begitu, Nona harus hati-hati!" "Baik, aku menurut perkataanmu."

Suara gadis itu amat lembut. Ciok Giok Yin mulai mengerahkan lwee kangnya pada kedua lengannya, lalu menghantam ke arah dinding batu itu. Terdengar suara ledakan dahsyat disertai hancuran batu dan debu beterbangan.

Namun sungguh diluar dugaan dinding batu itu cuma berlubang tapi lubang itu tidak menembus ke

dalam. Kelihatannya dinding batu itu amat tebal. Ciok Giok Yin mulai mengerahkan lwee kangnya lagi. Tapi ketika baru mau menghantam lubang-lubang yang tak tembus ke dalam itu, mendadak terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga. Ternyata dinding batu itu merosot ke bawah. Seketika tampak cahaya menyorot ke luar, akan tetapi mendadak dinding batu itu terhenti.

\

Jadi tinggi dinding batu itu masih mencapai satu depa lebih. Ciok Giok Yin tidak dapat melihat ke dalam karena terhalang oleh dinding batu itu. Terdengar suara gadis itu,

"Kau bisa meloncat tinggi?" "Bisa."

"Kalau begitu, cepatlah kau lompati dinding batu itu! Karena sebentar lagi dinding batu itu akan naik lagi."

Mendengar itu, Ciok Giok Yin tidak berani menunggu. Dia langsung mencelat ke dalam melalui dinding batu itu. Ketika sepasang kakinya menginjak tanah, terdengar suara gemuruh di belakangnya dan terdengar pula suara yang amat dahsyat.

Bummm!

Tempat Ciok Giok Yin berpijak terasa tergoncang. Dia segera menoleh ke belakang, ternyata dinding batu itu sudah tertutup seperti semula. Bukan main terkejutnya! Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara yang amat merdu.

"Beginikah lelaki?"

Ciok Giok Yin menolehkan kepalanya. Di depannya tampak seorang gadis yang cantik jelita. Namun wajah gadis itu pucat pias. Mungkin selama ini dia tidak pernah kena sinar matahari. Sepasang mata gadis itu terbeliak lebar, terus menatap Ciok Giok Yin. Rupanya dia merasa heran karena dandanan Ciok Giok Yin berbeda dengan gadis itu. Ciok Giok Yin memakai topi kain, dan berjubah panjang. Sepasang matanya bersinar terang, menimbulkan rasa suka pada orang yang melihatnya. Karena gadis itu tidak pernah melihat kaum lelaki, maka tanpa sadar menundukkan kepala melihat dirinya sendiri.

Dia merasa dadanya lebih menonjol, daripada dada Ciok Giok Yin. Maka dirabanya dadanya sendiri. Dia terheran-heran karena merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Itu merupakan hal alami, karena timbul rasa suka dalam hatinya terhadap lelaki yang tidak seperti dirinya. Dia tersenyum simpul, sebab merasa terhibur. Sedangkan Ciok Giok Yin sudah melihat jelas gadis itu, berikut keadaan di sekitarnya. Ternyata dirinya berdiri di sebuah ruang batu. Sepasang matanya terbelalak, karena semua perkakas yang ada di tempat itu terbuat dari emas yang bergemerlapan, begitu pula cangkir dari emas dan teko dari giok hijau. Sejak lahir hingga kini, baru saat ini Ciok Giok Yin menyaksikan semua itu. Maka tidak mengherankan kalau sepasang matanya terbeliak

lebar. Tampak sebuah pedupaan di atas meja. Pedupaan itu mengepulkan asap harum dan di samping kirinya terdapat sebuah harpa. Tak diragukan lagi, yang memainkan harpa tadi pasti gadis tersebut. Sungguh tak terduga, usia gadis itu masih begitu muda, namun sudah mahir memainkan harpa. Berselang sesaat, barulah Ciok Giok Yin bertanya, sebab dari tadi gadis itu terus menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Sungguhkah Nona tidak pernah melihat kaum lelaki?" Pertanyaan tersebut membuat gadis itu tampak tertegun.

Namun kemudian wajahnya berubah menjadi berseri. "Memang pertama kali aku melihatnya," sahutnya.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Kelihatannya dia agak curiga sehingga bertanya tak tertahan.

"Nona...?"

"Namaku Soat Cak, bukan Nona," sahut gadis itu.

Ciok Giok Yin terperangah oleh sahutan gadis itu, kemudian tertawa geli.

"Nona Soat, selama kau berada di sini, biasanya makan apa?" Soat Cak tertawa cekikikan.

"Ibuku meninggalkan banyak makanan kering untukku. Lagi pula ibuku sudah memperhitungkan akan ada lelaki ke mari membawaku pergi, maka aku tidak mencemaskan soal makanan."

"Tapi aku justru tidak mampu membawamu pergi," kata Ciok Giok Yin.

"Mengapa?" "Sebab aku seorang pengembara, tiada tempat tinggal yang tetap, lalu harus membawamu ke mana?"

"Kemana kau pergi aku akan mengikutimu," kata Soat Cak setelah berpikir sejenak.

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala. "Ini mana boleh?"

Wajah Soat Cak berubah menjadi murung. "Kau tidak bersedia?"

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang,

"Musuhku ada di mana-mana, kalau aku terhalang tidak dapat melindungimu, bagaimana tanggung jawabku?"

Wajah Soat Cek tampak ceria,

"Itu tidak jadi masalah. Kalau ada orang jahat, aku akan membantumu memukulnya," katanya sungguh-sungguh.

Ketika Ciok Giok Yin baru membuka mulut, Soat Cak sudah mendahuluinya melanjutkan.

"Ibuku berpesan, kalau yang datang adalah lelaki tua, aku harus mengangkatnya sebagai ayah. Setelah itu, membawaku pergi berkelana di dunia persilatan."

"Bagaimana kalau lelaki yang masih berusia muda?" tanya Ciok Giok Yin.

Ternyata Ciok Giok Yin khawatir kalau Soat Cak mengemukakan permintaan yang tak sanggup dilakukannya. Soat Cak memandang sejenak Ciok Giok Yin, kemudian menyahut,

"Ibuku bilang, diriku akan menjadi miliknya." Ciok Giok Yin tersentak mendengar ucapan itu. "Bagaimana mungkin?"

"Aku sudah menjadi milikmu, seumur hidup tidak akan berubah."

Ciok Giok Yin termundur dua langkah. "Tidak bisa begini," katanya.

Soat Cak melotot, kelihatannya kesal sekali.

"Ibuku yang berpesan begitu. Lagi pula setelah aku melihatmu, aku telah bersungguh-sungguh menyukaimu. Kanda Ciok, kau harus membawaku ke luar melihat-lihat. Aku tidak mau seumur hidup di tempat ini."

Usai berkata, dia tampak penuh harapan. Gadis yang polos ini tanpa sadar telah menaburkan benih cintanya. Sebab pemuda yang berdiri di hadapannya, telah menyusup ke dalam hatinya. Lagi pula ibunya telah berpesan demikian padanya. Gadis yang polos tentunya cintanya juga polos dan suci murni. Namun Ciok Giok Yin justru tidak bisa memenuhi hasrat hatinya. Sebab Ciok Giok Yin sudah punya tunangan. Kalau membawa gadis itu di sampingnya merupakan hal yang amat bahaya. Karena itu, biar bagaimana pun dia harus melepaskan diri dari gadis tersebut.

Berpikir sampai di situ lalu timbul ide dalam hatinya. "Nona Soat, maksudku kau tetap tinggal di sini," katanya.

Soat Cak mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. "Kanda Ciok, di sini aku amat kesepian," sahutnya.

"Banyak orang jahat di dunia persilatan. Di sini kau lebih aman, tenang dan damai. Bahkan tidak akan bermusuhan dengan siapa pun. Bukankah lebih baik kau tinggal di sini? Untuk apa berkelana di luar?" "Aku suka bersama Kanda Ciok, aku tidak takut."

Ciok Giok Yin betul-betul serba salah. Bersamaan itu Soat Cak terus memanggilnya 'Kanda Ciok', membuat Ciok Giok Yin merasa tidak enak. Sebutan itu memang tidak pantas untuk mereka berdua. Mendadak Ciok Giok Yin menemukan suatu cara untuk melepaskan diri dari gadis tersebut.

"Nona Soat, biar bagaimana pun aku tidak bisa membawamu pergi," katanya lembut.

Mendengar kata-kata itu sepasang mata Soat Cak yang indah mulai berkaca-kaca.

"Memangnya kenapa Kanda Ciok?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Sebab aku sudah punya tunangan."

"Sudah punya tunangan? Maksud Kanda Ciok?" "Maksudku. "

"Jelaskanlah! Sebab ibuku tidak pernah memberitahukan padaku."

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Soak Cak tidak mengerti tentang pertunangan, maka dia menjelaskan.

"Maksudku sudah ada seorang wanita yang kelak akan menjadi istriku."

Namun siapa sangka setelah mendengar penjelasan itu, wajah Soat Cak malah berseri,

"Itu bagus sekali! Aku dan dia akan terus mendampingimu. Jadi kau tidak akan kesepian lagi." Dia melangkah maju mendekati Ciok Giok Yin, kemudian menggengam tangannya seraya berkata lagi, "Kanda Ciok, kau harus segera membawaku pergi."

Mimpi pun Ciok Giok Yin tidak menduga bahwa gadis itu malah girang setelah mendengar penjelasannya. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin sudah tidak punya alasan untuk menolaknya lagi. Dia berdiri termangu-mangu. Mendadak Soat Cak berkata,

"Kanda Ciok, kau duduk di sini dulu!"

Dia menarik Ciok Giok Yin ke sebuah kursi, kemudian mengambil secangkir teh untuk disuguhkan ke hadapan Ciok Giok Yin.

"Kanda Ciok, minumlah! Aku pergi sebentar, segera balik ke mari."

Usai berkata, tampak badannya bergerak, melesat ke arah sebuah pintu di sudut ruangan. Setelah gadis itu pergi, Ciok Giok Yin menikmati keindahan semua perabotan di ruangan itu. Dia berkata dalam hati, 'Dari mana ibu Soat Cak memperoleh semua perabotan ini? Benarkah apa yang dikatakan Soat Cak? Sungguhkah dia seorang diri tinggal di tempat ini? Ciok Giok Yin terus berpikir, tapi sama sekali tidak menemukan jawabnya. Namun, dia tahu jelas satu hal, yaitu Soat Cak berkepandaian tinggi, bahkan juga paham akan berbagai macam formasi. Berpikir sampai di situ, tiba-tiba dia teringat akan formasi yang ada di luar markas perkumpulan Sang Yen Hwee. Tentunya dia harus mohon petunjuk pada Soat Cak, agar bila kelak datang di markas tersebut tidak akan terkurung lagi.

Namun dia pun teringat akan tubuhnya. Kalau dia melakukan perjalanan bersama Soat Cak, sewaktu-waktu tak dapat mengendalikan diri, bukankah akan mencelakai gadis itu?

Masalah tersebut sungguh membuatnya serba salah, tidak menemukan suatu cara yang cocok. Di saat bersamaan terlintas suatu ide dalam benaknya. Kemudian dia berkata dalam hati. 'Kalau dia terus berkeras mau pergi bersamaku, setelah kembali dari Gunung Liok Pan San, jalan satu-satunya aku harus mengantarnya ke Gunung Kee Jiau San, markas partai Thay Kek Bun, kemudian. " Mendadak sayup-sayup terdengar suara percakapan, namun amat lirih. Timbullah kecurigaan Ciok Giok Yin. Dia bangkit berdiri lalu berjalan ke pintu kecil itu.

Tampak sebuah terowongan yang amat panjang. Pada dinding terowongan itu terdapat entah berapa banyak mutiara yang memancarkan cahaya menerangi terowongan tersebut. Ciok Giok Yin melangkah memasuki terowongan itu. Setelah melangkah hampir sepuluh depa, suara percakaan itu semakin terdengar jelas. Dia tidak berani melangkah lagi, berhenti di situ sambil memusatkan pendengarannya ke arah suara itu.

Terdengar suara seorang wanita.

"... dengar, kau harus ikut dia pergi!" Terdengar suara Soat Cak yang terisak-isak. "Ibu, aku pasti ingat pada Ibu."

Ciok Giok Yin tertegun. Ternyata apa yang dikatakan Soat Cak, semuanya bohong belaka. Ibunya masih hidup, namun dia mengatakan sudah terbang jauh alias sudah mati. Seketika hawa amarah bergejolak di rongga dadanya, karena merasa dirinya tertipu. Dia ingin membuka suara, tapi mendadak ibu Soat Cak berkata.

"Nak, kau harus baik-baik mendengar perkataannya. Seorang wanita harus menuruti kemauan suami, agar dia gembira, barulah merupakan seorang istri yang baik, juga harus membantunya mewujudkan cita-citanya. Pergilah Anakku!"

"Ibu, perbolehkan anak Cak menemuimu satu kali lagi!" "Tidak usah, ibu sudah menutup ruangan batu ini, tidak mau

bertemu siapa pun."

"Ibu. "

Soat Cak terisak-isak, sehingga tidak mampu melanjutkan ucapannya. "Nak, pergilah!"

Terdengar suara langkah yang amat ringan, pertanda Soat Cak sedang berjalan ke luar. Namun Ciok Giok Yin sama sekali tidak bergeming, tetap berdiri tegak di tempatnya. Dalam hatinya entah gusar, simpati atau..., pokoknya orang lain tidak mengetahuinya. Soat Cak sudah berjalan di terowongan itu.

"Hah! Kanda Ciok, kau sudah mendengar semua itu?" serunya kaget. Karena Soat Cak telah membohonginya, sehingga menyebabkan hatinya amat gusar, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan dingin.

"Tidak salah, aku sudah mendengar semuanya." Dia berhenti sejenak. "Ibumu telah terbang pergi, namun Nona masih bisa bercakap-cakap dengan ibumu itu. Sungguh mengagumkan!" lanjutnya menyindir. Wajah Soat Cak tampak kemerah- merahan, berkata dengan perasaan malu.

"Kanda Ciok, mengenai ini... aku memang telah membohongimu. Tapi ini atas kemauan ibuku, mohon kau sudi memaafkanku. Ibuku berharap aku bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ini, maka berpesan begitu padaku."

Seusai Soat Cak berkata, mendadak terdengar suara ibu Soat Cak berseru,

"Nak, kalian berdua boleh kemari! Aku ingin bicara!"

Soat Cak ingin menarik tangan Ciok Giok Yin, tapi Ciok Giok Yin langsung menepiskannya, kemudian berjalan ke ruang batu itu. Soat Cak tidak marah, bahkan mengikutinya dari belakang. Begitu memasuki ruang batu itu, Ciok Giok Yin terbelalak, karena di sana tidak terdapat seorang pun.

"Ibu, Kanda Ciok sudah datang," kata Soat Cak.

Terdengar suara sahutan yang jelas sekali dari balik dinding batu.

"Nak, kau jangan menyalahkan Anak Cak. Itu memang kemauanku dia berbicara begitu. Sebetulnya aku boleh lebih awal meninggalkan dunia ini, namun hatiku tidak bisa lega terhadap anakku ini. Kini kau sudah datang, maka kuserahkan padamu. Biar bagaimana pun, harap kau membawanya pergi dari sini, agar dia tidak hidup merana seumur hidup di sini."

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Ternyata dia mencurigai suatu hal.

"Bagaimana lo cianpwee dan Soat Cak bisa tinggal di tempat ini?"

Ibu Soat Cak menghela nafas panjang. "Aku akan menutur sesingkatnya. "

Berselang sesaat barulah melanjutkan,

"Aku bernama Khouw Pei Ing. Sejak kecil aku bersama ibuku tinggal di Gunung Tiang Pek San. Ibuku adalah Coat Ceng Hujin (Nyonya Tanpa Cinta). "

Mendadak Ciok Giok Yin memutuskan penuturannya. "Coat Ceng Hujin?"

"Kau pernah mendengar nama itu?" "Tidak pernah."

"Kalau begitu, kau jangan memutuskan penuturanku, dengarkan saja."

Ternyata ibu Khouw Pei Ing, walau julukannya adalah Coat Ceng Hujin, namun orang-orang yang dibunuhnya semuanya merupakan para penjahat rimba persilatan. Ayahnya adalah Thian Lui Sianseng (Tuan Geledek Langit). Lantaran melihat istrinya berhati keji sering membunuh orang, dia menasehatinya, namun malah menimbulkan salah paham, sehingga terjadi keributan besar, akhirnya Thian Lui Sianseng pergi tanpa pesan. Sedangkan Coat Ceng Hujin, melihat sang suami tidak tahu jelas persoalannya, langsung menuduh sembarangan dia amat gusar. Kemudian dia meninggalkan Gunung Tiang Pek San tanpa membawa Khouw Pei Ing. Setelah itu, terjadilah pembunuhan besar-besaran di dunia persilatan. Siapa yang melakukan itu? Tidak lain adalah Coat Ceng Hujin. Maka baik golongan putih maupun golongan hitam, begitu mendengar nama Coat Ceng Hujin, mereka langsung lari terbirit-birit.

Terakhir kali Coat Ceng Hujin muncul di Gunung Thian San dekat sebuah telaga. Wanita itu dikeroyok oleh tiga tokoh persilatan tangguh, sehingga terdesak jatuh ke dalam telaga itu, namun mayatnya tidak pernah timbul. Sejak saat itu, Coat Ceng Hujin menghilang dari rimba persilatan. Ketika itu, begitu mendengar tentang kematian Coat Ceng Hujin, Khouw Pei Ing amat sedih. Dia membawa kitab peninggalan ibunya, yaitu Hong Lui Ngo Im Keng (Kitab Lima Suara Angin Dan Geledek), menuju Gunung Thian San mencari mayat ibunya. Akan tetapi air telaga itu amat dingin, maka Khouw Pei Ing tidak bisa masuk ke dalam telaga itu. Sudah barang tentu hati Khouw Pei Ing menjadi bertambah sedih. Wanita itu berdiri termangu- mangu beberapa hari di tepi telaga, namun tetap tidak menemukan jalan untuk turun ke dalam telaga itu. Akhirnya dia membatalkan niatnya mencari mayat ibunya di dalam telaga tersebut.

Tapi justru timbul niat lain, yaitu membalaskan dendam ibunya. Namun dunia persilatan begitu luas, bagaimana mencari orang yang tak tahu namanya? Tentunya amat sulit sekali! Namun Khouw Pei Ing sama sekali tidak putus asa. Dia terus menyelidik. Tapi tetap tidak berhasil memperoleh informasi tentang nama musuh itu. Begitu beberapa tahun, akhirnya dia menjadi putus asa dan tidak berniat lagi mencari musuh itu. Sebab itu, dia mencari suatu tempat untuk hidup menyendiri. Justru pada sutu hari, ketika tengah malam, tanpa sengaja dia menerobos ke dalam istana. Banyak pesilat tangguh rimba persilatan berada di dalam istana itu maka dia ditangkap. Kebetulan malam itu kaisar belum tidur. Karena tidak menyangka akan muncul pembunuh, maka sang kaisar amat gusar sehingga turun tangan sendiri untuk mengadili Khouw Pei Ing.

Sedangkan Khouw Pei Ing yakin bahwa dirinya akan dijatuhi hukuman penggal kepala. Tapi tak disangka, ketika melihat Khouw Pei Ing, sang kaisar malah tertegun. Ternyata sang kaisar sering menyamar sebagai orang biasa untuk mengetahui kehidupan rakyat, sekaligus menyelidiki apakah ada pembesar yang korupsi. Pada suatu hari ketika sang kaisar tiba di sebuah rimba, mendadak muncul beberapa perampok, yang kemudian mengikatnya dan memukulnya, bahkan juga merampok semua uang emas yang dibawanya. Kebetulan Khouw Pei Ing melewati rimba itu dan langsung menghajar para perampok hingga mereka kabur terbirit-birit. Kemudian Khouw Pei Ing mengantar sang kaisar yang menyamar itu ke kota, setelah itu dia pergi tanpa pamit.

Khouw Pei Ing merupakan wanita yang amat cantik. Ketika tiba di kota tersebut, sang kaisar baru ingin memberitahukan tentang identitasnya, tapi Khouw Pei Ing sudah tidak kelihatan bayangannya. Oleh karena itu, sang kaisar amat rindu pada wanita penolongnya itu. Tapi sang kaisar tidak berani mengutus orang mencarinya, hanya mengutus beberapa Thay Kam kepercayaannya, mencari Khouw Pei Ing di sekitar kota itu. Akhirnya sang kaisar menjadi putus asa, sebab beberapa Thay Kam itu, sama sekali tidak menemukan jejak Khouw Pei Ing. Akan tetapi sang kaisar masih merasa penasaran. Secara diam-diam dia mengutus beberapa pengawal kepercayaannya pergi mencari Khouw Pei Ing. Dia pun selalu tidur sampai larut malam, menunggu beberapa pengawal kepercayaannya pulang untuk melapor.

Begitulah setiap malam, namun sang kaisar tetap kecewa dan putus asa, karena tiada jejak wanita penolongnya. Memang sungguh kebetulan! Tanpa sengaja Khouw Pei Ing menerobos memasuki istana lalu tertangkap dan dihadapkan pada sang kaisar. Benarkah Khouw Pei Ing tanpa sengaja menerobos ke dalam istana? Ternyata tidak. Melainkan dia melihat seseorang berpakaian malam, sehingga menguntitnya sampai di dalam istana. Tidak mengherankan, begitu melihat Khouw Pei Ing, sang kaisar menjadi tertegun. Sebab wanita yang ada di hadapannya, justru wanita cantik yang amat dirindukannya. Namun sang kaisar tetap mengadilinya dengan cara membentak. Khouw Pei Ing menjawab sejujurnya, bahwa dia tidak bermaksud membunuh kaisar.

Setelah itu sang kaisar mendongakkan kepala, agar wanita itu mengenalinya. Mata Khouw Pei Ing memang tajam. Begitu melihat sang kaisar, dia langsung mengenali bahwa kaisar itu adalah orang yang pernah diselamatkannya. Seketika sang kaisar pun menjelaskan dan mencurahkan isi hatinya pada Khouw Pei Ing. Semula wanita cantik itu menolak, namun setelah melihat sang kaisar bersungguh hati, maka Khouw Pei Ing mau tinggal di istana. Setelah melewati hari-hari yang indah, Khouw Pei Ing pun hamil. Ketika itu permaisuri dan para selir merasa iri terhadap Khouw Pei Ing, karena sang kaisar amat menyayanginya. Justru karena itu permaisuri dan para selir berupaya mencelakainya. Akhirnya Khouw Pei Ing tahu akan hal itu, maka lalu memberitahukan pada sang kaisar sambil menangis. Oleh karena itu, sang kaisar bersedia mengangkat Khouw Pei Ing menjadi selir.

Namun Khouw Pei Ing malah menolak dan mengusulkan pada sang kaisar, bahwa dia ingin hidup di suatu tempat yang sepi, yang tidak diketahui siapa pun. Sang kaisar berpikir, setelah itu menyuruh Khouw Pei Ing tinggal di istana belakang. Akan tetapi walau dia sudah tinggal di istana belakang, permaisuri dan para selir masih tetap berupaya

mencelakainya. Sesungguhnya Khouw Pei Ing tidak takut terhadap mereka. Namun kalau dia tidak waspada, suatu hari nanti pasti akan dicelakai. Oleh karena itu, sesudah berpikir dia mengambil keputusan untuk meninggalkan istana. Sang kaisar terus menahannya, tapi Khouw Pei Ing tetap berkeras mau pergi. Sang kaisar tidak bisa berbuat apa-apa, tapi justru terpikirkan suatu ide yang amat bagus.

Secara diam-diam sang kaisar menyuruh beberapa pengawal kepercayaannya untuk membangun sebuah tempat tinggal yang menyerupai istana di Bukit Tanah Kuning. Seusai tempat itu dibangun, Khouw Pei Ing pun tinggal di sana.

Sesungguhnya tujuan sang kaisar, akan mengunjungi Khouw Pei Ing, tetapi setelah Khouw Pei Ing pergi, sang kaisar jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Tentang ini Khouw Pei Ing pun datang di istana untuk menyelidiki. Memang benar sang kaisar meninggal karena sakit, dan itu membuat Khouw Pei Ing amat berduka. Kemudian dia kembali ke tempat tinggalnya di Bukit Tanah Kuning. Sembilan bulan kemudian Khouw Pei Ing melahirkan seorang bayi perempuan, yang tidak lain adalah Soat Cak.

Sebetulnya Soat Cak adalah putri almarhum kaisar, namun hasil dari hubungan gelap. Maka Khouw Pei Ing tidak mau mengantar Soat Cak ke istana, melainkan menggemblengnya dengan ilmu silat di Bukit Tanah Kuning. Selama tinggal di dalam goa itu, tanpa sengaja Khouw Pei Ing berhasil menciptakan suatu ilmu, namun masih harus diperdalam.

Berhubung dia tidak bisa berlega hati terhadap Soat Cak, maka hingga saat ini, dia belum memperdalam ilmu ciptaannya itu.

Khouw Pei Ing juga mengerti ilmu meramal. Karena itu dia pergi menyebarkan isyu, bahwa Seruling Perak tersimpan di dalam goa Bukit Tanah Kuning. Seusai menutur semua itu, Khouw Pei Ing juga menambahkan,

"Nak, kau harus membawa anak Cak pergi. Kini aku menjodohkannya padamu, agar lebih leluasa kalian melakukan perjalanan."

"Lo cianpwee, aku sudah punya tunangan, maka tidak berani. "

Ucapan Ciok Giok Yin terputus karena mendadak terdengar suara yang amat dahsyat dari bawah.

Bum! Bum!