Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 09

 
Jilid 09

Sejak kecil Ciok Giok Yin belajar ilmu sastrawan, tata krama dan lain sebagainya. Dia tidak menyangka kalau Tong Eng Kang akan melakukan perbuatan yang amat memalukan seperti itu. Mendadak timbullah kegusarannya.

"Tong Eng Kang, sungguh bagus perbuatanmu!" bentaknya sengit lalu melayang turun. Di saat bersamaan, lampu di dalam ruangan itu padam. Terdengar hweshio gemuk itu membentak.

"Siapa yang begitu bernyali berani cari gara-gara denganku?" "Huuuh!"

Hweshio gemuk itu melesat ke luar melalui jendela. Dia melayang turun lalu berdiri di tempat dalam keadaan telanjang bulat. Bersamaan itu, terdengar suara dari dalam.

"Suhu, anak sialan itu adalah musuhku, jangan dilepaskan!" Akan tetapi begitu hweshio gemuk itu berada di hadapan Ciok

Giok Yin, seketika tubuhnya tampak agak tergetar. Karena dia melihat Ciok Giok Yin jauh lebih tampan dari Tong Eng Kang. Tidak heran hweshio gemuk itu menjadi tertegun. Sedangkan sepasang mata Ciok Giok Yin sudah merah membara. Dia sudah mengambil keputusan untuk membasmi hweshio gemuk itu, yang telah mencemarkan ajaran Buddha. Setelah itu, dia akan menangkap Tong Eng Kang untuk menuntut balas dendamnya.

Oleh karena itu, dia maju selangkah demi selangkah. Diam- diam dia pun mengerahkan lwee kangnya, siap membunuh hweshio gemuk itu dengan satu pukulan. Hweshio gemuk itu tidak tahu bahwa maut telah mengancam dirinya. Maka, dia malah tertawa-tawa.

"Sicu kecil, kalau kau menuruti kemauanku, aku akan membuatmu hidup senang. Kau mau apa, pasti kukabulkan," katanya.

"Aku menginginkan nyawamu," sahut Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Bagus! Pasti kuserahkan nyawaku padamu!" kata hweshio gemuk itu lalu menubruk ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin berkertak gigi seraya membentak, "Roboh kau!"

Dia langsung menyerang hweshio gemuk itu dengan menggunakan tujuh bagian lwee kangnya. Terdengar suara menderu-deru dan terasa pula hawa yang amat panas. Bukan main terkejutnya hweshio gemuk itu! Dia segera berkelit, namun masih tersambar angin pukulan itu, membuat nafasnya menjadi sesak. Kini sekujur badan hweshio gemuk itu agak gemetar, sebab dia tahu bahwa dirinya sedang menghadapi lawan yang tangguh. Di saat bersamaan, terdengar suara dari dalam.

"Suhu, kau harus berhasil menangkapnya, agar aku dapat menghukumnya!"

"Kau memang tak tahu malu, sudah tiada kesempatan bagimu!" bentak Ciok Giok Yin.

Kemudian, dia menyerang hweshio gemuk itu lagi. Hweshio gemuk itu tahu akan kelihayan Ciok Giok Yin maka dia cepat- cepat berkelit.

"Bocah, sambutlah!" bentaknya.

Mendadak dia membuka mulutnnya, dan seketika tersembur ke luar uap putih ke arah Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin tidak tahu akan kelihayan uap putih itu, langsung mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

Plak!

Uap putih itu buyar. Ciok Giok Yin merasakan adanya hawa panas menjalar ke atas dari lengannya, namun dia tidak memperhatikannya. Tiba-tiba hweshio gemuk itu tertawa gelak-gelak.

"Bocah, kau suah terkena Mo Hwe Tok (Racun Api lblis)! Kalau kau tidak menuruti kehendakku dalam waktu enam puluh hari kau pasti mati hangus! Ha ha ha...!"

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa uap putih yang disemburkan hweshio gemuk itu adalah Racun Api Iblis. Walau dia memiliki Sam Yang Hui Kang, namun tidak dapat memunahkan racun tersebut. Tetapi dia juga tidak percaya bahwa Racun Api Iblis begitu lihay. Karena dia tidak merasakan apa-apa, cuma merasa ada hawa panas mengalir ke atas bahunya. Saat ini, kegusaran Ciok Giok Yin semakin memuncak.

"Keledai gundul, kau harus mati!" bentaknya. Dengan mata membara dia melangkah maju perlahan-lahan. Sebetulnya siapa hweshio gemuk itu? Ternyata adalah Mo Hwe Hud (Buddha Api Iblis). Dia merupakan iblis yang amat terkenal di dunia persilatan.

Dulu dia pernah dikeroyok oleh kaum rimba persilatan. Namun ilmu sifatnya amat tinggi, maka dia berhasil meloloskan diri, sehingga puluhan tahun lamanya dia tidak pernah muncul di dunia persilatan. Oleh karena itu, kaum rimba persilatan mengiranya telah mati. Justru tiada seorang pun tahu bahwa dia berada di tempat ini. Ketika melihat Ciok Giok Yin maju selangkah demi selangkah, terkejut juga hati Mo Hwe Hud, tanpa sadar dia mundur dua langkah.

"Bocah, kalau aku mati, tiada yang mengobatimu," katanya dingin sambil tersenyum.

"Sambut pukulanku!" bentak Ciok Giok Yin.

Mendadak telapak tangannya berkelebat. Ternyata dia telah mengeluarkan jurus pertama dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Terdengar suara jeritan, menyusul terdengar Mo Hwe Hud berkata sengit.

"Bocah, akan kubalas kau kelak!"

Mo Hwe Hud memang hebat. Dia berhasil lolos dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Dalam keadaan telanjang bulat dia melesat ke atap kuil, kemudian tampak bayangannya berkelebat lalu lenyap dari padangan Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin cepat-cepat melesat ke atap kuil seraya berseru.

"Mau kabur ke mana?"

Namun ketika dia berada di atap kuil, Mo Hwe Hud sudah tidak kelihatan bayangannya. Seketika Ciok Giok Yin teringat pada Tong Eng Kang, maka segera meloncat turun. Dia tidak akan melepaskannya, sebab Tong Eng Kang adalah musuh besarnya, lagi pula begitu tak tahu malu. Kalau orang itu dibiarkan hidup, pasti akan mencelakai orang lain. Ciok Giok Yin langsung melesat ke dalam ruangan itu. Akan tetapi Tong Eng Kang sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Ternyata ketika melihat Mo Hwe Hud kabur, dia pun cepat-cepat melarikan diri. Tiba-tiba terdengar suara di tempat jauh.

"Apakah kau adalah Kakak Yin? Cepat ke mari tolong aku!"

Ciok Giok Yin terentak, lalu segera melesat ke arah datangnya suara itu. Suara tersebut amat dikenalnya, tidak lain adalah suara Fang Jauw Ceng, yang belum lama ini berpisah dengannya. Ciok Giok Yin memasuki sebuah kamar, melihat Fang Jauw Cang terbujur di tempat tidur. Ciok Giok Yin cepat- cepat mendekatinya seraya memanggilnya.

"Adik. "

Air mata Fang Jauw Cang bercucuran.

"Kakak Yin, cepat bebaskan jalan darah di pinggulku!" katanya gemetar.

Ciok Giok Yin segera membebaskan jalan darah di pinggang Fang Jauw Cang.

"Adik, bagaimana kau bisa terjatuh ke tangan mereka?"

Fang Jauw Cang bangkit berdiri. Sesungguhnya dia ingin langsung mendekap di dada Ciok Giok Yin, namun mendadak timbul rasa keraguannya. Maka dia berdiri diam di hadapan Ciok Giok Yin.

"Kakak Yin, aku sudah pulang memberitahukan pada ayah. Di saat itu juga ayah langsung pergi bersembunyi ke rumah kawannya," katanya dengan air mata bercucuran.

"Mengapa kau tidak ikut ayahmu?"

Fang Jauw Cang menatapnya dengan air mata berderai-derai. "Aku... aku " sahutnya terputus-putus. "Kenapa kau, Adik?"

"Aku ingin bersama Kakak Yin berkelana di dunia persilatan," Fang Jauw Cang terisak-isaak. "Tak disangka ketika semalam berada di penginapan, aku mencium bau aneh, lalu tak sadarkan diri. Setelah siuman, aku mendapatkan diriku berada di dalam sebuah tandu."

"Jadi mereka yang membawamu ke mari?" Fang Jauw Cang mengangguk.

"Ya. Kalau Kakak Yin tidak segera muncul, entah apa yang akan terjadi atas diriku?"

Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot tajam. "Aku terlampau ceroboh, sehingga mereka berhasil

meloloskan diri."

"Kakak Yin, siapa mereka itu?"

"Yang muda adalah musuh besarku. Setahun yang lalu aku nyaris mati di tangannya. Sedangkan hweshio gemuk itu adalah ketua kuil ini, dia adalah Mo Hwe Hud."

Bukan main terkejutnya Fang Jauw Cang! "Mo Hwe Hud?"

"Ng!"

"Bagaimana mereka?"

Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka berdua sama-sama tak tahu malu," sahutnya dengan sengit.

"Maksud Kakak Yin. " "Yang satu hobi homo, yang satu lagi senang melayaninya."

Mendengar itu, wajah Fang Jauw Cang langsung memerah dan hatinya berdebar-debar. 'Untung mereka belum tahu jelas diriku!' Katanya dalam hati. Mendadak dia menggenggam tangan Ciok Giok Yin erat-erat lalu berkata.

"Tadi sepertinya aku dengar ada orang bilang kau terkena racun. Benarkah itu?"

Hati Ciok Giok Yin terharu atas perhatian Fang Jauw Cang yang begitu besar terhadap dirinya, maka dia pun balas menggenggam tangannya lalu menyahut.

"Kita harus mencari sebentar, apakah ada obat pemuhannya?"

Ciok Giok Yin tidak menjelaskan, langsung menarik Fang Jauw Cang ke ruang ketua kuil. Akan tetapi mereka berdua sudah menggeledah seluruh kuil itu, namun tidak menemukan obat penawar racun. Selain itu, juga tidak menemukan hweshio lain di dalam kuil itu. Betul-betul di luar dugaan Ciok Giok Yin, sebab kamar-kamar yang ada di situ semuanya dalam keadaan kosong.

Fang Jauw Cang tampak gugup.

"Kakak Yin, sungguhkah kau terkena racun?" Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Aku memang terkena racun Hwe Mo Kang. Saat itu aku cuma merasa ada hawa panas mengalir ke atas bahuku. Tapi... tidak merasakan lain."

Seketika air mata Fang Jauw Cang mulai bercucuran lagi, kemudian dia berkata dengan suara agak gemetar.

"Kakak Yin, aku pernah dengar bahwa Mo Hwe Hud telah banyak melakukan kejahatan di dunia persilatan dan ilmu Mo Hwe Kangnya amat lihay. Bagaimana baiknya?" "Akan kupikirkan perlahan-lahan." "Kita justru tidak bisa menunggu."

"Apa boleh buat. Karena sudah terlanjur terjadi dicemaskan juga tiada gunanya. Kalau tiada obat penawarnya, paling juga pasrah."

Mendadak Fang Jauw Cang berkata,

"Ada satu orang bisa memunahkan racun itu." "Siapa?"

"Seng Ciu Suseng (Sastrawan Brtangan Mujizat) Seh Ing." "Seng Ciu Suseng-Seh Ing?"

"Ya."

Ciok Giok Yin berkertak gigi.

"Adik, kau kenal orang itu?" katanya dengan suara dalam.

Ketika melihat sikap Ciok Giok Yin, Fang Jauw Cang menjadi merinding, dan tanpa sadar kakinya menyurut mundur dua langkah.

"Kakak Yin, kau..." katanya terputus.

"Apakah kau kenal dia?" tanya Ciok Giok Yin dengan dingin. Dengan menggelengkan kepala lalu menyahut.

"Aku cuma dengar dari ayahku, bahwa dia dapat menyembuhkan berbagai macam racun dan penyakit aneh Kalau bisa bertemu dia, racun Mo Hwe Kang pasti dapat dipunahkan."

Ciok Giok Yin menggenggam tangan Fang Jauw Cang erat- erat seraya bertanya dengan serius. "Kau tahu di mana tempat tinggalnya?" Kini Fang Jauw Cang yang terheran-heran.

"Aku tidak begitu jelas, namun kita bisa mencari informasi tentang dirinya," dia menatap Ciok Giok Yin. "Kakak Yin, kau kenal dia?"

Ciok Giok Yin mengerutkan kening. Ternyata dia teringat akan kitab cacatan peninggalan suhunya, di dalamnya tercantum nama Seng Ciu Suseng, salah seorang Kang Ouw Pat Kiat. Ilmu silatnya tidak begitu tinggi, namun mahir dalam hal racun, sepasang kaki suhunya justru diracuninya. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata, "Tidak kenal, namun aku harus mencari orang itu.

"Kau punya dendam dengannya?" "Boleh dikatakan demikian." "Kalau begitu. "

Ciok Giok Yin segera mengalihkan pembicaraan.

"Adik, di dunia persilatan banyak bahayanya, lebih baik kau kembali ke tempat ayahmu. Mengenai Seng Ciu Suseng, aku pasti dapat mencarinya," katanya.

Fang Jauw Cang menggelengkan kepala. "Tidak, aku harus ikut kau."

Sesungguhnya Ciok Giok Yin bukan tidak mau melakukan perjalanan bersama Fang Jauw Cang. Namun mengingat musuhnya di mana-mana, setiap hari bergumul dengan bahaya, kalau dirinya terjadi sesuatu, tentu Fang Jauw Cang juga akan ikut celaka. Oleh karena itu dia berkata, "Adik terimakasih atas petunjukmu. Tapi biar bagaimanapun kau harus kembali ke tempat ayahmu. Kalau aku masih punya nyawa pasti ke sana menengokmu." Mendengar itu, air mata Fang Jauw Cang mulai mengucur lagi.

"Kau tidak suka bersamaku?" katanya dengan perlahan. "Bukan itu. Adik masih punya ayah, maka tidak boleh

membuat ayahmu cemas. Kau harus kembali ke sana mengurusi ayahmu, barulah merupakan anak yang berbakti."

"Ayahku masih sehat segar. "

"Tidak, aku tidak setuju akan tindakanmu ini."

Kini Fang Jauw Cang sudah yakin bahwa Ciok Giok Yin amat menyayanginya dan penuh perhatian pula. Sesungguhnya dia ingin menutur tentang dirinya, namun justru sulit untuk membuka mulut.

Dia amat membenci topi yang dipakainya. Dua kali dia bertemu Ciok Giok Yin, tapi tidak melepaskan topi itu. Seandainya topi itu dilepaskan. Dia tidak mau berpikir lagi,

langsung berkata.

"Kakak Yin, aku punya satu permintaan." "Katakanlah, Dik!"

"Kini aku mendengar perkataanmu, namun dua bulan kemudian, tidak perduli kau berhasil mencari Seng Ciu Suseng atau tidak, kita harus bertemu di tempat ini. Apabila kau tidak mengabulkan, aku tidak mau menuruti perkataanmu."

Menurut Mo Hwe Hud, racun Mo Hwe Kang akan mengganas dua bulan kemudian, membuatnya mati hangus. Ini baik juga, sebab kalau tidak bias memunahkan racun tersebut, dia akan menitip beberapa pesan pada Fang Jauw Gang.

Oleh karena itu, Ciok Giok Yin manggut-manggut sekarang dan berkata.

"Baik, begini saja!" "Tetapi janji!" "Tentu!"

Air mata Fang Jauw Cang mulai berlinang-linang lagi. Dia terus memandang Ciok Giok Yin. Hening seketika. Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata.

"Adik, jaga dirimu baik-baik dan sampaikan salamku pada ayahmu!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin melesat pergi. Dalam perjalanan, Ciok Giok Yin terus berpikir, kalau dia tidak berhasil mencari Seng Ciu Suseng, dirinya pasti akan mati keracunan. Akan tetapi, Seng Ciu Suseng justru musuh besar suhunya.

Seadainya bertemu, bagaimana mungkin dirinya dapat menekan hawa amarahnya? Dan juga bagaimana mungkin Seng Ciu Suseng akan memunahkan racun Mo Hwe Kang yang mengidap di dalam tubuhnya? Apabila benar Seng Ciu Suseng yang memunahkan racun tersebut, lalu bagaimana turun tangan membunuhnya? Berselang beberapa saat mendadak sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot dingin dan dia bergumam dengan perlahan-lahan.

"Ciok Giok Yin, kau tidak boleh cuma memikirkan diri sendiri. Setahun lalu kalau suhu tidak menyelamatkanmu, apakah hari ini kau masih hidup? Demi membalas budi suhu, kau harus singkirkan urusanmu sendiri, agar dapat menuntut balas dendam suhu. Seandainya mati keracunan, tidak jadi masalah."

Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang amat penting, yaitu sebelum mati, dia harus perbi mencari Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat agar jelas asal-usulnya, jadi tidak akan mati penasaran karena tidak tahu asal-usulnya. Teringat akan hal tersebut, dia langsung berangkat ke Gunung Cong Lam Sam.

Dalam perjalan ini, dia melihat sebuah rimba. Di saat baru mau memasuki rimba itu, dia melihat empat orang berpakaian hitam sedang duduk di situ. Baju hitam mereka bersulam sepasang burung walet. Itu pertanda mereka adalah anggota perkumpulan Sang Yen Hwee. Mulut mereka menyemburkan uap putih menutupi wajah, sehingga Ciok Giok Yin tidak dapat melihat jelas wajah mereka. Ketika Ciok Giok Yin tahu bahwa mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Sang Yen Hwee, darahnya rasanya langsung bergolak. Dia menerogos ke dalam seraya membentak, "Tidak membasmi kalian "

Belum usai membentak, dia sudah berada di hadapan keempat orang itu. Mendadak dia merasa ada hawa yang amat dingin, dan itu membuatnya sulit untuk melangkah maju. Di saat itulah terdengar suara yang bernada sangat dingin.

"Bocah, kami yakin kau akan ke mari!"

Sementara uap putih itu telah buyar, maka wajah mereka berempat tampak dengan jelas. Begitu melihat wajah keempat orang itu Ciok Giok Yin langsung berseru,

"Si Peng Khek (Empat Manusia Es)!"

Salah seorang dari Si Peng Khek tertawa terkekeh-kekeh lalu menyahut,

"Tidak salah!"

Seketika hati Ciok Giok Yin terasa dingin, karena dia tahu kepandaian keempat orang itu amat tinggi. Hari itu di luar lembah Bu Ceng Kok, kalau dia tidak ditolong oleh orang tua bongkok, mungkin. Namun sifat Ciok Giok Yin memang

angkuh. Dia tidak merasa gentar, tapi sebaliknya malah timbul keberaniannya.

"Kalian berempat bisa bergaul dengan para penjahat untuk mencelakai kaum rimba persilatan, maka hari ini kalian harus mampus!" bentaknya sengit.

Salah seorang dari Si Peng Khek menyahut dingin. "Bocah, hari ini adalah hari kematianmu!"

Keempat orang itu segera bangkit berdiri lalu mengepung Ciok Giok Yin agar tidak bisa melarikan diri. Ciok Giok Yin menyurt mundur tiga langkah. Salah seorang dari Si Peng Khek tertawa dingin lalu berkata.

"Bocah, kau takut?"

Ucapan tersebut membangkitkan kegusaran Ciok Giok Yin. "Aku akan membunuh kalian berempat!" bentaknya.

Kemudian dia menyerang keempat orang itu dengan

sengit. Bukan main dahsyatnya serangan yang dilancarkan Ciok Giok Yin. Di saat bersamaan, Si Peng Khek bersiul aneh sekaligus mendorongkan tangannya ke arah Ciok Giok

Yin. Tidak terdengar suara apa pun, namun sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi amat dingin dan terdorong ke belakang lima langkah. Di saat dia baru mau melancarkan pukulan Hong Lui Sam Ciang, mendadak terdengar suara siulan panjang, menyusul tampak sesosok bayangan merah melayang turun di tempat itu. Ciok Giok Yin langsung berseru,

"Lo cianpwee!"

Ternyata yang datang itu Heng Thian Ceng. Ketika menyaksikan keadaan di tempat itu kening Heng Thian Ceng tampak berkerut-kerut. Heng Thian Ceng tahu Si Peng Khek berkepandaian amat tinggi dan merupakan lawan tangguh. Namun dia sendiri adalah wanita iblis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata. Dia tidak menghiraukan Ciok Giok Yin, hanya berkata dengan dingin pada Si Peng Khek.

"Kalian berempat manusia es, juga berani malang melintang?"

Si Peng Khek sudah melihat siapa yang muncul itu. Mereka berempat tertawa terkekeh-kekeh, kemudian salah seorang diantaranya mengejek.

"Parasmu yang tidak karuan itu juga ingin cari daun muda? Kami akan suruh kau mati bersamanya!"

Kemudian Si Peng Khek maju dengan serentak. Heng Thian Ceng menggeram. "Cari mati!"

Sepasang tangannya bergerak dengan cepat menyerang mereka.

Sedangkan Ciok Giok Yin juga tidak tinggal diam, langsung menyerang Si Peng Khek dengan jurus pertama Hong Lui Sam Ciang. Tampak telapak tangannya berkelebat ke arah Si Peng Khek. Akan tetapi, kepandaian Si Peng Khek memang amat tinggi sekali. Mereka bergerak cepat laksana kilat mengelak serangan itu.

Mulut mereka berempat pun mengeluarkan suara 'Huh! Huh! Huh!' membuat Heng Thian Ceng dan Ciok Giok Yin menggigil seperti kedinginan. Mendadak Heng Thian Ceng mencelat ke belakang sambil berkata pada Ciok Giok Yin.

"Bocah, maafkan aku tiada kemampuan membantumu."

Heng Thian Ceng melesat pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan bayangannya. Ciok Giok Yin sama sekali tidak menyangka kalau Heng Thian Ceng akan meninggalkannya. Kini tinggal dia seorang diri, kelihatannya sulit untuk lolos dari tangan Si Peng Khek. Akan tetapi dia sama sekali tidak mundur. Dia berkertak gigi sambil mengerahkan lwee kangnya, siap menyerang dengan jurus kedua Hong Lui Sam Ciang. Di saat bersamaan badan Si Peng Khek bergerak dan mulut mereka terus mengeluarkan suara 'Huh! Huh. ' Suara itu

semakin tinggi, membuat Ciok Giok Yin merasa dingin sekali. Dia ingin mengerahkan Sam Yang Hui Kang, namun tidak bisa, karena sekujur badannya sudah kedinginan hingga

kaku. Kelihatannya Ciok Giok Yin akan celaka di tangan Si Peng Khek, namun mendadak tampak sebuah benda kecil meluncur turun, bukan main cepatnya!

Cess!

Ternyata sebuah panji kecil warna merah, menancap di tanah. Panji merah itu bergambar sekepal rambut

panjang. Begitu melihat panji merah itu wajah Si Peng Khek langsung berubah dan cepat-cepat menyurut mundur. "Pek Hoat Hujin!" seru Si Peng Khek.

Keempat orang itu melototi Ciok Giok Yin, lalu membalikkan badan meninggalkan tempat itu. Di saat bersamaan, tampak sesosok bayangan merah berkelebat ke luar dari rimba, ternyata adalah Heng Thian Ceng.

"Cepat kabur!" serunya gugup.

Kemudian, Heng Thian Ceng mencabut panji merah kecil itu dan menarik Ciok Giok Yin untuk diajak melesat pergi. Sikap dan tindakan Heng Thian Ceng itu sungguh mencengangkan Ciok Giok Yin, namun dia tetap mengikutinya melesat

pergi. Berselang sesaat, barulah mereka memperlambat langkahnya.

"Lo cianpwee, mengapa sedemikian gugup?" tanya Ciok Giok Yin dengan heran. Heng Thian Ceng menyahut,

"Si Peng Khek dari perkumpulan Sang Yen Hwee merupakan tokoh yang amat terkenal dan sulit dilawan. Panji kecilku ini cuma dapat menakutinya sejenak, tidak bisa mengelabuinya terlalu lama, mungkin. "

Mendadak terdengar suara siualn yang amat nyaring di tempat jauh, Heng Thian Ceng langsung menarik Ciok Giok Yin untuk diajak bersembunyi di semak-semak. Tak lama suara siulan itu makin lama makin mendekat, setelah itu kedengaran menjauh. Barulah Heng Thian Ceng menarik nafas lega.

"Selanjutnya kalau kau berjumpa dengan mereka berempat, harus lebih berhati-hati!" katanya kepada Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin menatap panji kecil yang berada di tangan Heng Thian Ceng.

"Terimakasih atas pertolongan lo cianpwee. Panji kecil ini. "

katanya.

Heng Thian Ceng menyahut, "Enam puluh tahun yang lampau, Pek Hoat Hujin amat ditakuti golongan hitam mau pun golongan putih. Asal panji kecil merah ini muncul, berarti jejaknya dan tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak kabur." Dia menarik nafas panjang. "Namun kini dia masih hidup atau sudah mati, tiada seorang pun tahu. Puluhan tahun ini, tidak ada seorang pun melihat wajahnya."

"Kalau begitu, mengapa kaum rimba persilatan begitu takut padanya?"

"Memang begitu, karena namanya telah menciutkan nyali kaum rimba persilatan, maka begitu panji merah kecil ini muncul, siapa pun pasti melarikan diri."

"Kalau begitu, dari mana lo cianpwee memperoleh panji merah kecil ini?"

Wajah Heng Thian Ceng tampak kemerah-merahan. "Kubuat sendiri, agar dapat dipergunakan apabila perlu."

Ciok Giok Yin teringat bahwa belum lama ini panji merah kecil itu muncul beberapa kali, justru di saat dia dalam keadaan bahaya. Maka, dia segera bertanya,

"Belum lama ini aku melihat beberapa kali panji merah kecil ini, apakah juga. "

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Heng Thian Ceng sudah memotongnya.

"Tentang itu aku pun merasa curiga, mungkinkah Pek Hoat Hujin masih hidup? Kalau tidak, pasti muridnya. Namun, aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang itu."

"Bagaimana Pek Hoat Hujin terhadap orang?" tanya Ciok Giok Yin.

"Sulit sekali dikatakan, dan juga tidak bisa diperbincangkan." Heng Thian Ceng memandang Ciok Giok Yin. "Bocah, kau datang dari mana?"

Ciok Giok Yin menutur tentang apa yang terjadi, setelah itu menambahkan.

"Lo cianpwee, aku terkena racun Mo Hwe Tok." "Mo Hwe Tok?"

"Ng!"

"Kau harus cepat-cepat mengobati."

"Aku tahu, tapi... Mo Hwe Hud telah melarikan diri, maka tiada obat penawarnya."

Heng Thian Ceng mengerutkan kening, lama sekali dia berpikir.

Mendadak sepasang matanya menyorot tajam dan dia berkata.

"Kalau begitu, kita harus pergi mencari Pek Jau Lojin." "Pek Jau Lojin?"

"Tidak salah."

"Dia punya obat penawar racun Mo Hwe Tok?"

"Selama ini Pek Jau Lojin selalu mengumpulkan berbagai macam rmput obat. Dengar-dengar dia juga punya Toan Teng Cau (Rumput Pemutus Usus). Rumput obat itu bukan cuma dapat memunahkan berbagai macam racun, bahkan setelah makan rumput obat itu, selanjutnya akan kebal terhadap berbagai macam racun."

Mendengar itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung bersinar-sinar.

"Di mana tempat tinggal Pek Jau Lojin?" "Dia tinggal di Hian Peng Hong (Puncak Es) di Gunung Soat San."

"Aku ingin ke sana mencarinya."

"Kau ingin minta obat penawar racun itu?" "Ng!"

"Sifat Pek Jau Lojin amat aneh. Bagaimana mungkin begitu gampang dia memberikan obat penawar racun itu padamu?"

"Biar bagaimanapun aku harus berangkat ke sana."

Ciok Giok Yin memang telah membulatkan hatinya untuk memperoleh rumput obat Toan Teng Cau. Dia tidak mau menunggu mati tanpa berusaha, sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, dia memberi hormat pada Heng Thian Ceng seraya berkata,

"Terimakasih atas petunjuk lo cianpwee."

Ciok Giok Yin membalikkan badannya, tetapi ketika baru mau melesar pergi mendadak Heng Thian Ceng berseru.

"Tunggu!"

"Apakah lo cianpwee tidak ada urusan lain?" katanya sambil menatap wajah itu.

"Jangan cerewet, mari berangkat!"

Begitu menandaskan, badan Heng Thian Ceng pun bergerak, ternyata dia sudah melesat pegi. Ciok Giok Yin tidak berani berlaku ayal, langsung melesat mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi, maka tidak mengherankan kalau cuma tampak, bayangan mereka berkelebat laksana kilat. Pada hari ketiga, ketika hari mulai sore, mereka berdua sudah tiba di puncak Gunung Soat

San. Bukan main indahnya puncak gunung itu! Sejauh mata memandang, puncak gunung tersebut sepertinya dibikin dari kaca. Wajah Heng Thian Ceng kelihatan serius. Dia membawa Ciok Giok Yin melesat di puncak gunung itu. Tempat tersebut amat bahaya. Maka meskipun mereka berdua memiliki ilmu ginkang tingkat tinggi, namun tidak berani berlaku ceroboh.

Hian Peng Hong (Puncak Es) sungguh merupakan tempat yang amat dingin! Kalau mereka berdua tidak memiliki lwee kang yang tinggi, mungkin sudah mati kedinginan. Di tempat tersebut tidak tampak rerumputan maupun pepohonan, yang tampak hanya es yang gemerlapan. Heng Thian Ceng melihat ke sana ke mari, kemudian berkata,

"Makhluk tua itu entah tinggal di mana?" Ciok Giok Yin terbelalak.

"Lo cianpwee juga tidak tahu tempat tinggalnya?"

"Kalau dia masih hidup, jangan khawatir tidak dapat mencarinya."

Mendadak Heng Thian Ceng menghentikan langkahnya. "Bocah! Kau harus ingat! Menghadapi orang yang bersifat

aneh, kau harus sabar! Jangan bersikap bengis atau angkuh, yang penting harus memperoleh obat itu," katanya dengan serius.

Ciok Giok Yin tidak menyangka bahwa Heng Thian Ceng berpikir sepanjang begitu. Padahal Heng Thian Ceng sendiri juga tergolong orang yang bengis, angkuh dan kejam pula. Dia berpesan seperti itu kepada Ciok Giok Yin, pertanda amat memperhatikannya. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin manggut- manggut.

"Ya. Terimkasih atas petunjuk lo cianpwee."

Mereka berdua mulai melesat, kemudian turun ke

bawah. Tiba-tiba terdengar suara seruan di tempat yang tinggi. "Hati-hati!"

Suara seruan itu belum sirna, sudah terdengar suara hiruk pikuk dan puncak Gunung Soat San itu pun tergoncang- goncang.

Buuummm! Blammm...!

Tampak lapisan es di puncak gunung itu beterbangan, ternyata terjadi longsor. Ciok Giok Yin langsung berseru.

"Lo cianpwee...!"

Namun bagaimana kerasnya suara Ciok Giok Yin, tidak dapat menindih suara gemuruh itu, maka suara seruannya tidak terdengar sama sekali. Ciok Giok Yin tidak berhasil mengelak. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit terhantam sesuatu, lalu pingsan tak sadarkan diri. Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman perlahan-lahan. Dia membuka matanya, ternyata dirinya berada di dalam sebuah lembah. Dia teringat akan kejadian longsor tadi dan seketika sekujur badannya menjadi merinding. Nyawanya boleh dikatakan dipungut kembali, tidak terduga dia masih bisa hidup.

Ciok Giok Yin segera duduk bersila menghimpun hawa murninya. Setelah tidak merasa ada sesuatu dalam tubuhnya barulah dia berlega hati. Dia tahu mengapa dirinya pingsan, tidak lain karena kepalanya terhantam oleh bongkahan es. Dia segera bangkit berdiri dan berseru sekeras-kerasnya.

"Lo cianpwee! Lo cianpwee...!"

Cuma terdengar suaranya yang berkumandang, tidak terdengar suara sahutan sama sekali. Betapa sedihnya hati Ciok Giok Yin.

"Lo cianpwee, aku yang mencelakaimu, bagaimana hatiku bisa tenang?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Usai bergumam, dia mengambil keputusan untuk mencari mayat Heng Thian Ceng, setelah itu baru mencari Pek Jau Lojin untuk minta rumput Toan Teng Cau. Sementara hari sudah mulai gelap, namun matanya yang tajam itu dapat melihat dengan jelas dalam jarak sepuluh depa. Akan tetapi dinginnya malam itu terasa menusuk ke dalam tulang. Meskipun dia memiliki lwee kang tinggi, namun tidak berhasil mengusir rasa dingin di dalam tubuhnya.

Di saat dia baru mau meninggalkan lembah itu, mendadak melihat sebuah goa di dinding tebing. Dia memandang ke dalam goa tersebut. Di dalamnya sunyi senyap, sepertinya goa alam yang tiada penghuninya. Sebetulnya dia tidak ingin memasuki goa itu. Tapi karena merasa heran dan tertarik, akhirnya dia masuk juga.

Baru beberapa langkah, dia berjalan di dalam goa itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat dingin.

"Berhenti!"

Ciok Giok Yin tersentak dan langsung berhenti sambil menengok ke sana ke mari mencari orang yang membentak itu. Akan tetapi, di dalam goa itu tidak tampak seorang pun. Berselang sesaat, terdengar lagi suara dingin itu.

"Kau harus segera mundur! Kalau tidak, aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan terhadapmu!"

Begitu mendengar suara itu, timbullah sifat angkuh Ciok Giok Yin.

"Kau mau apa?" sahutnya dengan dingin pula. "Membunuhmu!"

Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmm! Mengapa kau ingin membunuhku?" "Pokoknya kau tidak boleh masuk!"

Ciok Giok Yin tertawa gelak, lalu bertanya. "Siapa kau?" "Pek Jau Lojin!" "Apa? Pek Jau Lojin?"

"Tidak salah! Cepatlah kau enyah!" "Aku justru sedang mencarimu!" "Cari aku?"

"Ng!"

"Ada urusan apa?"

Ciok Giok Yin menyahut memanasi hati Pek Jau Lojin.

"Aku ke mari ingin menemuimu sebab kudengar kau bersifat baik! Namun sekarang kelihatannya kau tidak seperti apa yang dikatakan orang. Kau merupakan mahluk aneh yang bersifat kasar, maka sia-sialah perjalanan ini!"

Mendadak terdengar suara desiran angin. Tampak sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin langsung memandang ke depan.

Dilihatnya seorang tua berambut putih berdiri di hadapannya. Sepasang matanya menyorot tajam, terus menatap Ciok Giok Yin.

"Bocah! Masih ada seorang wanita, ke mana dia?" Ciok Giok Yin tertegun.

"Kau melihatnya?" "Tentu."

"Kawanku itu mungkin telah mati terhantam longsoran es, namun aku belum menemukan mayatnya.

Pek Jau Lojin menatapnya dengan mata tak berkedip kemudian bertanya, "Sebetulnya mau apa kalian ke mari?"

"Mau minta rumput Toan Teng Cau!" jawab Ciok Giok Yin. Pek Jau Lojin tertawa dingin lalu bertanya.

"Toang Teng Cau?" "Ng!"

"Tahukah kau lohu punya peraturan?" "Peraturan apa?"

"Kalau kau kuat menerima tiga pukulan lohu, maka kau akan mendapatkan rumput itu secara cuma-cuma!"

"Kalau aku tidak kuat menerima tiga pukulan itu?" "Kau pasti mati di tempat ini!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut. "Baik kalau begitu."

Sepasang mata Pek Jau Lojin menyorot tajam dan kemudian dia membentak.

"Bocah, di luar goa saja!" "Mengapa?"

"Lohu tidak menghendakimu mati di dalam goa!"

Pek Jau Lojin langsung melesat ke luar. Bukan main cepatnya gerakan orang tua itu! Ciok Giok Yin juga melesat ke luar mengikuti di belakangnya. Sampai di luar, hatinya agak berdebar-debar tegang. Dia ke mari demi memperoleh rumput Toan Teng Cau, untuk menyelamatkan nyawanya,

maka... Mendadak Pek Jau Lojin membentak keras. "Terimalah pukulanku!"

Pek Jau Lojin telah melancarkan sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin. Pukulan itu dahsyat sekali sehingga menimbulkan suara menderu-deru.

Ciok Giok Yin mengerahkan lwee kangnya lalu berkertak gigi sambil menerima pukulan tersebut.

Bum!

Badan Ciok Giok Yin terpental ke atas lalu jatuh gedebuk dan mulutnya menyemburkan darah segar. Akan tetapi rasa ingin hidup mendukung semangatnya sehingga membuatnya bangkit perlahan-lahan. Sepasang matanya menatap Pek Jau Lojin dengan penuh kebencian lalu dia maju ke hadapan Pek Jau Lojin dengan langkah sempoyongan. Pek Jau Lojin sudah siap melancarkan pukulan kedua, tapi tiba-tiba terdengar suara keras.

"Bocah, jangan!"

Tampak sosok bayangan merah melayang turun. Ciok Giok Yin memandang bayangan merah itu, ternyata Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, harap mundur!" katanya segera.

Saat ini Pek Jau Lojin sudah menurunkan tangannya, menatap mereka berdua dengan dingin sekali. Sedangkan Heng Thian Ceng melototinya, kemudian bertanya.

"Kau adalah Pek Jau Lojin?" "Tidak salah, siapa kau?" "Heng Thian Ceng."

"Mau apa kau ke mari?" "Aku ingin bertanya satu hal padamu." "Tanyalah!"

"Kau memiliki rumput Toan Teng Cau, lalu untuk apa disimpan?"

"Mengobati penyakit."

Heng Thian Ceng tertawa dingin lalu berkata.

"Kalau untuk mengobati penyakit, bocah ini justru terkena racun Mo Hwe Tok. Dia jauh-jauh datang ke mari demi mencari rumput Toan Teng Cau, mengapa kau malah turun tangan jahat terhadapnya?"

"Ini adalah peraturanku!"

"Kalau dia tidak mampu menerima tiga pukulanmu, bukankah dia akan mati penasaran di sini?"

"Dia... mati tiada hubungan apa-apa denganku!"

Kata-kata Pek Jau Lojin itu membuat kegusaran wanita iblis itu memuncak.

"Tua bangka, tak kusangka kau sedemikian tak berperasaan!" bentaknya.

Usai dia membentak, ketika baru mau turun tangan sekonyong-konyong teringat akan pesannya pada Ciok Giok Yin, harus sabar menghadapi Pek Jau Lojin, lalu mengapa dirinya sendiri tidak bisa bersabar? Oleh karena itu, kegusarannya langsung mereda. Setelah itu dia berkata dengan lembut.

"Kau sudah tua, mengapa harus keras kepala? Maaf, aku memberanikan diri menasehatimu. Lebih baik kau berikan Toan Teng Cau itu pada bocah ini!"

"Enak saja kau bicara!" Ucapan Pek Jau Lojin itu menimbulkan kegusaran Heng Thian Ceng. Kini dia betul-betul tidak dapat bersabar lagi. Saat ini Ciok Giok Yin telah usai beristirahat. Dia mau ke hadapan Heng Thian Ceng seraya berkata.

"Harap lo cianpwee mundur! Aku yakin dapat menerima pukulannya."

Sebelumnya Heng Thian Ceng tidak pernah merasa sayang terhadap siapa pun. Namun kini begitu melihat wajah Ciok Giok Yin masih pucat pasi, timbullah rasa sayang dan simpati padanya.

Heng Thian Ceng menoleh memandang Pek Jau Lojin lalu bertanya dengan lantang.

"Bagaimana kalau aku mewakilinya menerima tiga pukulanmu?"

Pek Jau Lojin balik bertanya.

"Sesungguhnya siapa yang menghendaki rumput Toan Teng Cau? Kau atau dia?"

"Aku," sahut Ciok Giok Yin cepat.

"Kalau begitu, kau masih harus menerima dua pukulanku!" Ciok Giok Yin sama sekali tidak memperdulikan Heng Thian

Ceng, langsung maju ke hadapan Pek Jau Lojin dan berdiri dengan sikap gagah. Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin, Heng Thian Ceng merasa kagum sekali. Sedangkan Pek Jau Lojin menatap Ciok Giok Yin dengan bengis, kemudian membentak keras.

"Terimalah pukulanku?" Bum!

Kali ini Ciok Giok Yin terpental hampir dua depa, kemudian jatuh gedebuk telentang di tanah. Heng Thian Ceng cepat- cepat menghampirinya. Namun ketika dia baru mau memapahnya Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Wajahnya yang tampan itu, kini sudah berubah menjadi tak sedap dipandang, menyerupai wajah setan iblis bengis. Dia tidak memperdulikan Heng Thian Ceng, melangkah maju dengan badan sempoyongan. Sepasang matanya terus menatap Pek Jau Lojin dengan bengis dan penuh kebencian. Mendadak dia berkata sepatah demi sepatah.

"Masih ada satu pukulan!"

Pek Jau Lojin betul-betul tidak berperasaan sama sekali. Sepasang matanya menyorot dingin, dia kemudian membentak.

"Aku menghendakimu mati!"

Dia langsung melancarkan pukulan terakhir yang paling dahsyat, menimbulkan suara gemuruh seperti kejadian longsor tadi. Terdengar suara jeritan. Kemudian semburan darah segar!

Tampak badan Ciok Giok Yin terpental ke atas, lalu jatuh ke bawah hampir tiga depa. Sepasang mata Heng Thian Ceng tampak membara saking gusarnya. Ketika dia baru mau turun tangan terhadap Pek Jau Lojin, Ciok Giok Yin bangkit berdiri, namun tak lama roboh lagi. Pek Jau Lojin diam saja, lalu melesat ke dalam goa.

Sedangkan Heng Thian Ceng cepat-cepat mendekati Ciok Giok Yin lalu memeriksa detak jantungnya. Ternyata Ciok Giok Yin menderita luka dalam yang amat parah. Mengetahui keadaan Ciok Giok Yin bukan main gusarnya Heng Thian Ceng. Dia mengambil keputusan untuk membunuh Pek Jau Lojin. Namun ketika dia mau melesat ke dalam goa, tampak sosok bayangan berkelebat ke luar dari dalam goa, terdengar suara bentakan.

"Ambil, cepatlah kalian meninggalkan tempat ini!" Terlihat suatu benda putih meluncur ke arah Heng Thian

Ceng, lalu bayangan itu melesat kembali ke dalam goa. Heng Thian Ceng menjulurkan tangannya menyambut benda putih itu, sekaligus dilihatnya. Ternyata benda putih itu adalah buah yang menyerupai bola kaca, gemerlapan di tangan Heng Thian Ceng. Heng Thian Ceng terbelalak. Dia tahu bahwa itu adalah buah Toan Teng Ko.

Maka tanpa ayal lagi, dia langsung mengempit Ciok Giok Yin dan melesat ke luar meninggalkan lembah itu.

Sedangkan Ciok Giok Yin telah pingsan. Sepasang matanya terpejam rapat, kelihatannya seperti sudah mati. Dalam perjalanan Heng Thian Ceng berkata dalam hati. 'Urusan yang paling penting sekarang harus membiarkannya beristirahat agar kondisi badannya pulih.' Heng Thian Ceng menengok ke sana ke mari mencari goa, akan tetapi sepajang jalan yang dilaluinya hanya tampak salju dan es, tiada suatu tempat yang dapat di pergunakan untuk beristirahat.

Lagi pula ketika berada di tempat itu, nyali Heng Thian Ceng telah ciut lantaran kejadian longsor tadi. Oleh karena itu dia sama sekali tidak berani menghentikan langkahnya. Berselang beberapa saat kemudian, tampak sebuah goa alam. Heng Thian Ceng membawa Ciok Giok Yin memasuki goa itu. Kebetulan di saat itu Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan.

"Budi kebaikan lo cianpwee, aku...," katanya perlahan-lahan. Heng Thian Ceng langsung menyergapnya.

"Bocah, cepat makan buah Toan Teng Ko ini dan himpun hawa murnimu, jangan membicarakan soal budi kebaikan di saat ini!"

Heng Thian Ceng menyodorkan buah itu ke hadapannya. Ciok Giok Yin tertegun. Ternyata ketika Pek Jau Lojin masuk ke dalam goa mengambil buah Toan Teng Ko, dia sudah pingsan, maka tidak tahu akan hal tersebut. Ketika melihat buah tersebut berada di tangan Heng Thian Ceng, dia pun terbelalak seraya berseru.

"Buah Toan Teng Ko?" "Lo cianpwee yang. " Heng Thian Ceng langsung memotong perkataannya.

"Kau kok cerewet amat? Pek Jau Lojin yang mengambil buah ini. Cepat makan!"

Ciok Giok Yin mengambil buah tersebut lalu dimakannya. Kemudian dia memandang Heng Thiar Ceng dengan penuh rasa terimakasih. Setelah itu dia duduk bersila menghimpun hawa murninya. Berselang beberapa saat kemudian, mendadak Ciok Giok Yin roboh. Heng Thian Ceng yang menjaganya, ketika melihatnya roboh, bukan main terkejutnya. Dia segera memeriksa detak jantung Ciok Giok Yin. Sungguh di luar dugaan, detak jantungnya makin lemah. Bahkan kedua tangan dan kakinya juga amat dingin sekali.

Justru di saat bersamaan, terdengar suara siulan panjang beberapa kali di tempat jauh yang makin lama makin dekat, lalu menjauh lagi. Heng Thian Ceng berkertak gigi. Dia tidak menyangka Pek Jau Lojin akan menipunya. Namun dia sudah mengambil keputusan dalam hati, apabila Ciok Giok Yin mati, maka dia pun akan membunuh Pek Jau Lojin. Sementara Ciok Giok Yin tetap dalam keadaan pingsan, tiada tanda-tanda dia akan siuman. Heng Thian Ceng mengerutkan kening dan terus memandang Ciok Giok Yin dengan penuh keheranan, kemudian duduk di sampingnya.

Berselang beberapa saat, tampak uap putih keluar dari sekujur badan Ciok Giok Yin, dan itu membuat Heng Thian Ceng bertambah heran. Beberapa saat setelah itu, uap putih tersebut mulai buyar. Mendadak Ciok Giok Yin bangkit berdiri dan langsung memberi hormat kepada Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, kini aku berhutang budi lagi pada lo cianpwee," katanya.

"Budi apa? Tadi kau kelihatan seperti mati," sahut Heng Thian Ceng.

"Lo cianpwee, buah Toan Teng Ko bukan buah biasa. Setelah makan buah itu, aku merasa ada aliran panas menerjang ke arah bagian hatiku. Sungguh tak tertahankan, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku!"

"Bocah, mengapa tadi badanmu mengeluarkan uap putih?" "Ketika aku siuman, langsung mengerahkan Sam Yang Hui

Kang untuk menekan hawa panas itu."

Mendadak Heng Thian Ceng menjulurkan jari tangannya mencengkeram Ciok Giok Yin dan sepasang matanya menyorot bengis.

"Bocah, kau harus berkata sejujurnya!" katanya dengan suara dalam. Karena urat nadi Ciok Giok Yin tercengkeram, maka separuh badannya terasa semutan. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Heng Thian Ceng berbuat demikian terhadap dirinya.

"Untuk apa aku bohong?" sahutnya sengit. "Aku harus bertanya satu hal padamu!" "Tanyalah!"

"Dari mana kau peroleh ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu?"

Sambil menahan rasa sakit Ciok Giok Yin menyahut dingin. "Karena lo cianpwee bertanya dengan cara demikian, aku

tidak akan memberitahukan!"

"Kau menghendakiku bertanya dengan cara bagaimana?" Seketika sifat angkuh Ciok Giok Yin timbul.

"Walau lo cianpwee sering menolongku, dan aku pun bersedia mati di tangan lo cianpwee, tapi aku tidak akan memberitahukan, kecuali. "

"Kecuali apa?" "Kecuali memberitahukan hubungan lo cianpwee dengan ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang itu!"

Sepasang mata Heng Thian Ceng melotot, lama sekali barulah dia melepaskan tangannya.

"Kau mau memberitahukan atau tidak, terserah! Aku tidak akan bertanya lagi!"

Usai berkata, Heng Thian Ceng membalikkan badannya. Namun ketika dia baru mau melesat pergi, Ciok Giok Yin yang merasa berhutang budi padanya, langsung memanggilnya.

"Lo cianpwee, harap tunggu sebentar!" "Ada urusan apa?"

"Aku akan memberitahukan pada lo cianpwee. Hong Lui Sam Ciang itu diberikan dari Tiong Ciu Sin Ie. Beliau pernah mengobati seseorang, maka orang itu menghadiahkan padanya."

Heng Thian Ceng mengeluarkan suara 'Oh'. Setelah itu berkata,

"Hadiah dari orang yang diobatinya?" "Ng!"

"Apakah dia bilang siapa orang itu?" "Tidak."

Heng Thian Ceng menggeleng-gelengkan kepala lalu bergumam perlahan.

"Apakah dia?"

"Siapa?" tanya Ciok Giok Yin.

Heng Thian Ceng mengerutkan kening. "Sudahlah! Tidak usah dibicarakan!"

Justru pada waktu bersamaan terdengar beberapa kali suara siulan. Mereka berdua langsung melesat ke luar, ke arah suara siulan itu. Wajah Heng Thian Ceng tampak serius.

"Di tempat ini akan terjadi urusan apa?" "Sulit dikatakan."

Ketika mereka berdua sampai di bawah tebing, dari atas meluncur turun benda hitam.

Duuuk!

Benda itu jatuh di hadapan mereka berdua, ternyata sesosok mayat. Di saat bersamaan, terdengar pula suara 'Plak! Plak' di atas tebing, disusul oleh suara bentakan. Tidak salah lagi, di atas tebing itu telah terjadi pertarungan sengit.

"Lo cianpwee, mari kita ke atas melihat-lihat!" ajak Ciok Giok Yin. Heng Thian Ceng mengangguk, kemudian mereka berdua melesat ke atas. Tiba-tiba Heng Thian Ceng menarik lengan baju Ciok Giok Yin seraya berkata dengan serius.

"Bocah, sampai di atas kita jangan perlihatkan diri dulu!"

Ciok Giok Yin mengangguk, mereka berdua terus melesat ke atas tebing. Tak lama kemudian mereka sampai di atas tebing lalu bersembunyi di belakang sebuah batu besar sambil mengintip. Tampak dua orang sedang bertarung mati-matian dan begitu banyak kaum rimba persilatan berdiri di sana. Di antara kaum rimba persilatan itu tampak pula ketua Sang Yen Hwee dan orang-orangnya. Sementara kedua orang yang sedang bertarung itu mendadak mundur dua langkah. Salah seorang tua berwajah bengis tertawa dingin kemudian berkata sepatah demi sepatah.

"Kitab Cu Cian memang berada di tanganku dan siapa punya kepandaian boleh ambil!" Orang tua yang satu lagi menggeram lalu menerjang ke arah orang tua berwajah bengis itu.

Akan tetapi mendadak ketua Sang Yen Hwee membentak keras, lalu melesat ke arah orang tua berwajah bengis sekaligus menangkis serangannya.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat dan menyusul suara jeritan yang menyayat hati. Orang tua berwajah bengis itu telah binasa. Kepalanya pecah sehingga darah dan otaknya berhamburan ke mana-mana. Ketua Sang Yen Hwee maju mendekati mayat itu. Di saat bersamaan orang tua yang tadi bertarung itu pun langsung melesat ke arah mayat tersebut, malah lebih cepat dari ketua Sang Yen Hwee dan segera menggeledah mayat itu.

"Kau berani!" bentak ketua Sang Yen Hwee. Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah kepada orang tua

itu. Orang tua itu berkelit, kemudian balas menyerang. Ketika ketua Sang Yen Hwee baru mau menangkis sekonyong- konyong tampak sosok bayangan melesat ke sana cepatnya laksana kilat dan langsung menjulurkan tangannya. Tahu-tahu sebuah bungkusan merah telah berpindah ke tangannya. Dia tertawa nyaring lalu berkata.

"Maaf! Aku mohon diri!"

"Bangsat Bu Tok, kau sungguh licik, cepat turun kembali!" bentak ketua Sang Yen Hwee mengguntur.

Namun terdengar suara seruan nyaring. "Kalau tidak takut racun boleh kejar!"

Kaum rimba persilatan yang ada di tempat itu langsung berhambur mengejar. Akan tetapi terdengar beberapa kali jeritan, ternyata empat orang di antara mereka telah roboh. Ketua Sang Yen Hwee tersentak dan tidak berani mengejar orang membawa pergi bungkusan merah

itu. Sementara Ciok Giok Yin yang bersembunyi di belakang batu besar, begitu melihat kitab Cu Cian diambil orang, langsung muncul seraya membentak.

"Cepat taruh kitab Cu Cian itu!"

Kemudian dia melesat cepat mengejar Bu Tok

Sianseng. Sementara ketua perkumpulan Sang Yen Hwee yang berdiri termangu-mangu, ketika melihat kemunculan Ciok Giok Yin, walau mukanya ditutupi kain, namun masih tampak sepasang matanya menyorot penuh kebencian. Badannya bergerak laksana kilat menghadang di hadapan Ciok Giok Yin.

"Bocah, hari ini kau harus mampus!" bentaknya sambil melancarkan pukulan. Di saat bersamaan, mendadak tampak sebuah tandu kecil yang digotong dua wanita meluncur cepat ke tempat itu. Gadis berbaju hijau yang mengiring tandu kecil itu, begitu sampai di tempat tersebut segera berseru lantang.

"Sian Ceng perintahkan kalian berhenti!"

Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee langsung mundur, tapi sepasang matanya terus menatap tandu kecil itu. Terdengar suara yang amat nyaring dari dalam tandu kecil itu.

"Apakah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee punya dendam dengannya?"

"Tidak salah," sahut ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. "Apa maksud Sian Ceng?"

Ternyata yang baru muncul itu adalah Thian Thay Siang Ceng. Terdengar suara sahutannya dad dalam tandu kecil.

"Kau menghendaki dia hidup atau mati?" "Hidup! Sian Ceng dan dia. "

Thian Thay Sian Ceng memotong perkataan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berkata. "Juga ada dendam," sergah Thian Thay Sian Ceng.

Berselang sesaat Thian Thay Sian Ceng melanjutkan ucapannya.

"Kalau begitu, kita turun tangan bersama. Siapa yang lebih dulu berhasil menangkapnya, berarti miliknya."

Dapat dibayangkan betapa gusarnya Ciok Giok Yin yang berdiri di tengah-tengah mereka. Tidak menyangka kedua orang itu sama sekali tidak memandangnya sebelah

mata. Mendadak terasa dua rangkum aning yang amat kuat menerjang ke arahnya. Serangkum dari dalam tandu kecil, serangkum lagi dari ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Ciok Giok Yin menggeram, kemudian berkata dengan dingin sekali.

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"

Mendadak dia mencelat ke atas. Kedua rangkum angin pukulan itu terasa berdesir melewati ujung kakinya. Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee sama-sama tertawa dingin dan berkata.

"Ciok Giok Yin, kau pasti mampus!"

Terasa lagi dua rangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Badan Ciok Giok Yin masih berada di udara. Dia terpaksa menarik nafasnya dalam-dalam mengerahkan lwee kangnya, maka badannya melambung ke atas hampir satu depa. Namun di saat bersamaan, ketua perkumpulan Sang Yen Hwee telah menyerangnya dengan tenaga lunak.

Sementara Ciok Giok Yin sudah tidak bertenaga untuk melambungkan badannya ke atas, maka merosotlah dia ke bawah.

Di saat badannya merosot ke bawah, dua rangkum tenaga yang amat dahsyat menyerangnya lagi. Ciok Giok Yin sudah tidak mampu mengerahkan lwee kangnya dan juga tidak mampu berkelit. Terdengar suara jeritan. "Aaaakh... !"

Mulutnya menyembur darah segar. Duuuk!

Dia jatuh gedebuk di tanah.

Gadis berbaju hijau menjerit kaget tanpa sadar 'Haaah! Ketika dia baru mau melesat ke arah Ciok Giok Yin dari dalam tandu kecil itu terdengar bentakan dingin.

"Tunggu, Anak Ceh!"

Gadis berbaju hijau langsung berdiri diam di tempat. Sekujur badannya gemetar, wajahnya pucat pias dan matanya terus melirik Ciok Giok Yin yang tergeletak di tanah. Di saat itulah ketua perkumpulan Sang Yen Hwee menerjang ke arah Ciok Giok Yin.

Tapi sungguh diluar dugaan, ada serangkum angin yang tak menimbulkan suara menghalangi ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, sehingga membuatnya tidak bisa maju. Terdengar suara Thian Thay Sian Ceng.

"Ketua perkumpulan Sang Yen Hwee, kini pikiranku berubah." "Maksud Sian Ceng?"

"Pukul dia sampai mati! Kalau kau menghendaki mayatnya, boleh bawa pergi!"

Sepasang biji mata ketua perkumpulan Sang Yen Hwee berputar sejenak, dia lalu berkata.

"Menurut Sian Ceng, kita harus turun tangan bersama?" "Betul."

Namun sekonyong-konyong terdengar suara bentakan yang mengguntur. "Dasar sepasang iblis tak tahu malu!"

Tampak sosok bayangan merah meluncur ke tempat itu, sepasang tangannya bagaikan sayap burung, siap menangkis serangan-serangan yang akan dilancarkan Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee. Kaum rimba persilatan yang berada di tempat itu berseru serentak.

"Heng Thian Ceng!"

Akan tetapi Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee sudah melancarkan pukulan. Meskipun Heng Thian Ceng berkepandaian amat tinggi, namun sulit juga baginya melawan kedua pukulan tersebut.

Bum!

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga kemudian tampak badan Heng Thian Ceng terpental ke luar dari tebing. Wanita iblis yang sering membunuh orang itu kemungkinan besar nyawanya akan melayang. Sedangkan Ciok Giok Yin masih tergeletak di tanah tak bergerak. Darah segar masih mengalir ke luar dari mulutnya. Sementara setelah membuat Heng Thian Ceng terpental, Thian Thay Sian Ceng dan ketua perkumpulan Sang Yen Hwee melancarkan pukulan lagi ke arah Ciok Giok Yin. Kelihatannya Ciok Giok Yin akan....

Mendadak terdengar suara, "Huuuuuh!"

Sebatang panji merah kecil tertancap di tanah, menyusul terdengar pula suara yang amat dingin.

"Semuanya harus enyah!"

Thian Thay Sian Ceng yang duduk di dalam tandu kecil, tentunya tidak kelihatan bagaimana air mukanya. Yang jelas dia cepat-cepat menarik kembali pukulannya sekaligus berseru kaget. "Pek Hoat Hujin!"

Kemudian terdengar suara seruan kaget lain. "Pek Hoat Hujin!"

Seketika suasana di tempat itu menjadi kacau. Ternyata kaum rimba persilatan yang ada di tempat itu saling mendahului kabur, dan dalam sekejap mereka sudah tidak kelihatan. Sedangkan Thian Thay Sian Ceng dan gadis berbaju hijau juga meninggalkan tempat itu. Tapi gadis berbaju hijau masih sempat melirik Ciok Giok Yin dengan iba. Kini di tempat itu cuma tinggal Ciok Giok Yin.

Tampak seorang wanita berpakaian merah melayang-layang dengan kaki tidak menyentuh tanah mendekatinya. Setelah berada di hadapan Ciok Giok Yin, dia menundukkan kepala memperhatikannya, lalu menyambar sekaligus membawanya pergi dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan  bayangannya. Siapa dia? Tiada seorang pun yang tahu.

Sementara itu Ciok Giok Yin sudah mulai siuman perlahan- lahan dan badannya bergerak sedikit. Mendadak terdengar suara in di belakangnya.

"Cepat himpun hawa murnimu mengikuti hawa murniku!"

Kini Ciok Giok Yin baru merasa ada hawa hangat menerobos ke dalam tubuhnya melalui jalan darah Beng Bun Hiatnya. Dia tidak berani ayal lagi, langsung menghimpun hawa murninya, menyatu dengan hawa hangat itu, kemudian dialihkan ke seluruh tubuhnya.

Berselang beberapa saat kemudian, badannya sudah terasa pulih.

Ketika dia baru mau bangkit berdiri, tiba-tiba melihat sesosok bayangan berkelebat ke hadapannya. Dia mendongakkan kepala. Di lihatnya seorang wanita anggun berpakaian menawan, berusia tiga puluhan dan wajahnya amat cantik sekali. Namun, sepasang mata wanita itu menyorot amat tajam, membuat Ciok Giok Yin merasa merinding dan berkata dalam hati. Sungguh tinggi lwee kangnya, siapa dia?' Ciok Giok Yin segera bangkit berdiri lalu memberi hormat pada wanita itu.

"Terimakasih atas pertolongan cianpweet," ucapannya. "Kau bernama Ciok Giok Yin?" tanya wanita itu.

"Ya."

"Berapa usiamu?" "Delapan belas."

Wanita anggun berpakaian mewah itu diam sejenak, kemudian berkata,

"Aku ingin menanyakan seseorang padamu, entah kau kenal atau tidak?"

Ciok Giok Yin tertegun dan langsung bertanya. "Siapa?"

"Hai Thian Tayhiap Ciok Khie Goan."

Ciok Giok Yin tercengang karena sudah beberapa orang menyinggung nama tersebut, bahkan juga berpesan apabila memperoleh Seruling Perak, harus diserahkan kepada keturunannya.

"Aku memang pernah mendengar nama itu, tapi tidak kenal," jawabnya dengan jujur.

"Kau punya hubungan dengan Ciok Khie Goan?" "Aku tidak pernah mendengar tentang itu." "Siapa kedua orang tuamu?"

Wajah Ciok Giok Yin kemerah-merahan, dan dia tak mampu menjawab. Air muka wanita anggun berpakaian mewah itu berubah dingin. "Kau tidak memberitahukan?" katanya.

"Jangan salah paham, cianpwee," sahut Ciok Giok Yin dengan suara rendah.

"Maksudmu?"

"Aku tidak tahu siapa kedua orang tuaku, juga tidak tahu nama mereka."

Wanita anggun berpakaian mewah mengerutkan kening. "Kau sama sekali tidak tahu nama kedua orang tuamu?"

katanya heran. "Ya."

"Kalau begitu, siapa yang membesarkanmu?" "Tiong Ciu Sin Ie."

"Tiong Ciu Sin Ie?" "Ng!"

"Di mana dia sekarang?"

\

Ditanya demikian, mata Ciok Giok Yin langsung bersimbah air. "Beliau telah meninggal."

Wanita anggun berpakaian mewah itu mengerutkan kening, sama sekali tidak bersuara. Akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu terus-menerus memandang wajah Ciok Giok Yin. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala, tapi tetap tidak bersura. Sikapnya itu membuat Ciok Giok Yin menjadi terheran-heran.

"Bolehkah aku tahu nama cianpwee?" katanya. Wanita anggun berpakain mewah itu menyahut, "Tidak perlu," dia memandang Ciok Giok Yin. "Sampai jumpa."

Kemudian melesat pergi. Suaranya belum sirna, namun orangnya sudah tidak kelihatan lagi. Ciok Giok Yin terbelalak menyaksikan ilmu ginkang wanita anggun berpakain mewah itu. Sebab ilmu ginkangnya amat tinggi, mungkin tiada duanya di dunia persilatan. Sebetulnya siapa dia? Mengapa dia bertanya pada Ciok Giok Yin, ada hubungan apa dengan Hai Thian Tayhiap Ciok Khie Goan?

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun tidak menemukan jawabannya. Memang sayang sekali, tadi Ciok Giok Yin tidak memberitahukan bahwa Tiong Ciu Sin Ie membawanya dari sebuah lembah di Gunung Muh San. Kalau tadi dia memberitahukan, mungkin asal-usulnya akan terungkap. Tiba- tiba Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng, bagaimana dia tidak kelihatan? Oleh karena itu, Ciok Giok Yin segera melesat ke atas tebing itu, namun sudah tidak tampak seorang pun di sana.

Dia pikir, kemungkinan besar Heng Thian Ceng telah meninggalkan tempat tersebut. Ciok Giok Yin lalu mengerahkan ginkang, melesat pergi melalui jalan gunung yang berliku-liku. Kini dia telah membulatkan hatinya pergi ke Gunung Cong

Lam San. Dia harus mencari Can Hai It Kiam untuk mengambil sepucuk surat agar asal-usulnya terungkap. Setelah itu, barulah dia pergi mencari Bu Tok Siangseng untuk merebut kitab Cu Cian, agar dapat mempelajari kungfu tinggi, lalu membersihkan nama perguruan. Karena itu, Ciok Giok Yin ingin selekasnya tiba di Gunung Cong Lam San.

Di saat dia sedang melesat, mendadak tampak sesosok bayangan melesat dari arah depan, kelihatannya agak sempoyongan.

Tak lama bayangan itu sudah mendekat. "Lu Jin'." seru Ciok Giok Yin.

Orang itu ternyata Lu Jin, yang pernah berjanji akan mencari kitab Im Yang Cing Koy untuknya. Akan tetapi di balik kain penutup muka Lu Jin terlihat darah mengalir ke luar. Badan Lu Jin sempoyongan, akhirnya condong ke arah Ciok Giok Yin.

Ciok Giok Yin cepat-cepat menahan badannya agar tidak roboh, kemudian menaruhnya ke bawah seraya berkata.

"Saudara, aku adalah Ciok Giok Yin."

Ciok Giok Yin segera memeriksa denyut nadinya, ternyata sudah lemah sekali. Kelihatanya orang itu sudah sulit ditolong. Oleh karena itu Ciok Giok Yin bergerak cepat menotok beberapa jalan darahnya. Beberapa saat kemudian barulah Lu Jin siuman. Sepasang matanya terbuka perlahan-lahan, lalu dia berkta dengan lemah sekali.

"Adik Kecil, akhirnya... aku... aku bertemu kau juga. "

Ciok Giok Yin telah beberapa kali menerima budi pertolongan Lu Jin, maka telah menganggapnya sebagai saudara sendiri.

Begitu menyaksikan keadaan Lu Jin yang sudah sekarat, air matanya langsung bercucuran.

"Toako, siapa yang melukaimu? Aku pasti menuntut balas dendammu," katanya.

Lu Jin tidak menyahut, hanya mengeluarkan sebuah kitab tipis dari dalam bajunya.

"Adik Kecil, ini... ini adalah... kitab... Im... Yang... Cin...

Koy..., harap... disimpan... baik- baik. "

Ciok Giok Yin terperanjat. "Hah? Im Yang Cin Koy?"

Lu Jin menaruh kitab tipis itu ke tangan Ciok Giok Yin seraya berkata,

"Jangan putuskan perkataanku, biar aku bicara. "Dia

menarik nafas dalam-dalam.

"Ban Hoa Tong Cu memetik hawa Yang demi menambah hawa Im. Dia sudah banyak mencelakai kaum muda. Aku. aku

berupaya memasuki goanya... mencuri kitab ini... tapi... aku...

justru... terluka... di tangannya. Dia... dia menggunakan...

ilmu... Siau Mo Kang (Ilmu Iblis Tertawa)..., untung aku...

bertemu... kau... di sini. "

Ciok Giok Yin terus mendengarkan dengan air mata berlinang- linang.

"Adik kecil, tolong... tolong lepaskan... kain... penutup...

mukaku. ," tambah Lu Jin.

Ciok Giok Yin menurut, lalu segera melepaskan kain penutup muka Lu Jin. Dia tertegun. Tak disangka Lu Jin begitu tampan. Usianya sekitar empat puluhan. Namun lantaran terluka dalam, maka wajahnya menjadi kekuning-kuningan. Lu Jin memandang Ciok Giok Yin dengan mata suram dan berkata dengan perlahan-lahan,

"Adik kecil, kuberitahukan satu kali lagi, mengenai urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan suhumu sungguh merupakan suatu kesalah-pahaman. Sebetulnya musuh besarmu adalah Chiu Tiong Thau. Kini ajalku sudah tiba. Sesungguhnya aku adalah Tiat Yu Kie Su-Mok Ho yang sedang kau cari "

Ciok Giok Yin terbelalak. "Hah? Kau adalah Mok Ho?"

Ini sungguh merupakan pukulan berat baginya!

Sebab Lu Jin boleh dikatakan tuan penolongnya, juga sahabatnya. Lalu harus bagaimana baiknya? Tanpa memperdulikan air muka Ciok Giok Yin yang berubah menjadi tak menentu, Lu Jin berkata lagi. "Kelak... kau akan menemukan jawabannya. Bukan... aku ingin... melepaskan tanggung jawab itu, melainkan memang benar... merupakan... hasutan... Chiu... Tiong... Thau. "

Ciok Giok Yin menarik nafas panjang. Dia merasa iba terhadap Lu Jin yang sedang dalam keadaan sekarat.

"Toako, aku mempercayaimu." Wajah Lu Jin tampak berseri.

"Kini... tenanglah... hatiku... Adik Kecil..., aku... aku ingin...

menitip... satu... urusan... padamu. "

"Toako, katakanlah, aku pasti melaksanakannya!" "Tolong... cari... Cu... Sian... Ling..., beritahukan...

padanya... selamanya... aku... rindu ," kata Lu Jin semakin

melemah.

Berkata sampai di situ, mulutnya lalu tertutup rapat, kemudian kepalanya miring ke bawah, dan nafasnya putus.

"Toako, aku telah salah paham padamu, urusanmu itu pasti kulaksanakan," kata Ciok Giok Yin dengan air mata berlinang- linang. Sesudah menangis sejenak, barulah Ciok Giok Yin mengubur mayat Lu Jin. Dia berdiri di hadapan makam itu, berkata dengan suara bergemetar.

"Toako, aku pasti mencari Ban Hoa Tong Cu untuk menuntut balas dendammu!"

Usai berkata, Ciok Giok Yin lalu melesat pergi. Mengenai urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan Sang Ting It Koay, tentunya tidak salah dengan apa yang dikatakan Tiat Yu Kie Su. Sebab orang yang hampir mati, sudah pasti tidak akan berbohong.

Oleh karena itu, musuh besar Sang Ting It Koay, justru adalah Chiu Tiong Thau. Maka Ciok Giok Yin mengambil keputusan, harus menghabisi nyawa orang tersebut. Kalau tidak, hatinya tidak akan merasa puas. Akan tetapi kini Chiu Tiong Thau berada di mana? Dan juga ilmu silatnya tinggi hingga tingkat bagaimana?

Oleh karena itu Ciok Giok Yin harus mencari jejaknya perlahan-lahan, hingga berhasil membunuhnya. Ciok Giok Yin melakukan perjalanan sambil berpikir. Agar tidak terjadi suatu hambatan, maka dia mengambil jalan kecil. Apabila ingin menuntut balas dendam suhunya, dia harus berhasil mencari kitab Cu Cian. Kini Ciok Giok Yin sudah tahu bahwa kitab itu berada di tangan Bu Tok Sinseng. tapi dia tidak tahu harus ke mana mencari Seruling Perak. Semua urusan tersebut masih terganjal dalam hatinya.

Beberapa hari kemudian, Ciok Giok Yin telah tiba di Gunung Cong Lam San. Karena dia yakin bahwa Cong Lam Pay berada di gunung itu, maka dia langsung melesat ke atas. Mendadak dia merasa adanya angin pukulan dari atas. Di saat bersamaan, terdengar pula suara bentakan.

"Harap berhenti!"

Ciok Giok Yin berhenti lalu memandang ke depan dan seketika timbul sifat angkuhnya.