Seruling Perak Sepasang Walet (Gin Tie Suang Yen) Jilid 12

 
Jilid 12

Entah berapa lama kemudian barulah Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan. Sepasang matanya masih terpejam rapat, namun dapat merasakan bahwa dirinya terikat pada sebuah balok kayu. Tanpa melihat keadaan sekelilingnya, dia langsung mengerahkan lwee kang untuk memutuskan tali yang mengikat dirinya. Namun tak disangka tali itu sama sekali tidak mau putus. Di saat bersamaan, terdengar suara yang amat dingin.

"Ciok Giok Yin, kau cuma membuang-buang tenaga!"

Ciok Giok Yin memandang ke arah datangnya suara. Dilihatnya seorang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka duduk di ruangan itu. Bentuk badan dan suaranya sepertinya pernah dikenal Ciok Giok Yin, namun tidak ingat di mana.

Di samping orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu duduk seorang lelaki berusia tiga puluhan. Lelaki itu tampan, tapi sepasang matanya menyiratkan kelicikan hatinya.

Di dalam ruangan itu tampak pula puluhan orang berdiri, termasuk Si Peng Khek. Kira-kira lima langkah di hadapan Ciok Giok Yin, berdiri seorang sastrawan berusia empat puluhan, sepasang matanya menyorot tajam, terus memandang Ciok Giok Yin dengan penuh perhatian. Setelah mata menyapu semua orang yang berada di ruangan itu, barulah Ciok Giok Yin membentak sengit.

"Si Peng Khek! Suatu hari nanti aku pasti akan membeset kulit kalian!"

"Ciok Giok Yin, kau sudah tiada kesempatan lagi!" sahut Hian Peng Khek. "Kuberitahukan, aku menggunakan siasat di dalam rimba itu, sehingga kau terpancing ke mari! Kini kau sudah tahu kan? He he he!"

Suara tawanya, sungguh menusuk telinga! Saat ini Ciok Giok Yin baru mengerti, ternyata ketika dia mencuri pembicaraan di dalam rimba, sudah diketahui oleh Si Peng Khek, maka mereka berempat sengaja memancing Ciok Giok Yin ke markas perkumpulan Sang Yen Hwee. Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin sehingga mukanya tampak merah padam.

"Si Peng Khek, aku jadi hantu pun tidak akan mengampuni kalian!" bentaknya sambil berkertak gigi.

Hian Peng Khek tertawa dingin lalu menyahut, "Itu urusanmu!"

Orang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka menatap Ciok Giok Yin seraya berkata, "Ciok Giok Yin, aku mau bertanya padamu." "Siapa kau?" tanya Ciok Giok Yin ketus. "Kau akan tahu perlahan-lahan."

"Kau adalah ketua perkumpulan Sang Yeng Hwee?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertawa dingin, lalu menyahut sepatah demi sepatah.

"Ingat baik-baik, ketua berada di sini!"

Dengan mata berapi-api Ciok Giok Yin membentak sengit, "Aku tidak akan mengampunimu...!"

Orang berpakaian hitam dan memakai kain penutup muka memutuskan perkataan Ciok Giok Yin.

"Itu adalah urusanmu kelak, sementara ini kau tidak usah bersikap bengis! Sekarang aku mau bertanya, kau harus menjawab dengan jujur!" sergahnya.

Sepasang mata orang itu menyorot tajam ke arah Ciok Giok Yin, yang juga sedang menatapnya. Ketika beradu pandang dengan orang itu, Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya jadi merinding. Bukan main tingginya lwee kang orang itu, boleh dikatakan telah mencapai tingkat kesempurnaan. Yang jelas kalau bukan keberuntungan, pasti adalah musibah. Seandainya musibah, tentu tidak dapat dihindari. Oleh karena itu Ciok Giok Yin menyahut sengit.

"Orang gagah boleh dibunuh, tapi jangan dihina!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu berkata.

"Aku mau membunuh atau menghinamu, itu urusanku! Tapi aku perlu bertanya jelas dulu padamu, setelah itu barulah aku mengambil tindakan!" dia menatap Ciok Giok Yin dengan dingin.

"Kalau kau bersedia menjawab dengan jujur, mungkin perkumpulan kami akan memakai tenagamu! Karena itu kau jangan berkeras kepala! Kini kau sudah jatuh ke tangan kami, sulit bagimu untuk meloloskan diri!"

Sepasang mata Ciok Giok Yin membara, kemudian dia menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu bertanya.

"Betulkah suhumu adalah Sang Ting It Koay?" "Tidak salah!" sahut Ciok Giok Yin sengit.

"Dia belum mati?"

Ciok Giok Yin menyahut dengan dingin.

"Kalau dia sudah mati, bagaimana mungkin masih bisa menerimaku sebagai muridnya?"

"Kalau begitu, dimana dia sekarang?" "Tidak dapat diberitahukan!"

"Lebih baik kau beritahukan secara jujur!" "Tidak perlu kuberitahukan secara jujur!" "Sungguhkah kau tidak mau beritahukan?"

Ciok Giok Yin menggelengkan kepala, kelihatannya betul-betul berkeras kepala.

"Tidak!"

Sepasang mata orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu menyorot lebih tajam dan dingin.

"Ciok Giok Yin, kalau begini caramu, akan menyusahkan dirimu sendiri!"

Ciok Giok Yin berkertak gigi hingga berbunyi gemertukan. Dia teringat akan Phing Phiauw Phek dan Cak Hun Ciu. Ciok Giok Yin berhutang budi pada kedua orang itu. Mereka berdua justru dibunuh oleh orang orang perkumpulan Sang Yen Hwee, maka dendam mereka berdua di bahunya. Dan juga masih ada Bun It Coan. Ketika kakak angkatnya itu dalam keadaan sekarat, berpesan padanya harus belajar ilmu silat tinggi agar dapat membunuh Lan Lan, putri ketua perkumpulan Sang Yen Hwee,

Pesan itu selama ini tidak pernah dilupakannya. Akan tetapi kini dirinya malah tertangkap oleh mereka. Saking gusarnya Ciok Giok Yin mendengus dingin.

"Hmmm!"

Setelah itu dia membentak sengit, "Aku boleh dibunuh, namun jangan harap aku akan menurutimu!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he! Kau jangan menyesal!"

"Kau mau bertindak apa pun terhadap diriku, silakan!"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu berkata dingin,

"Ouw Suya (Penasihat Ouw)!"

Lelaki yang berdiri di hadapan Ciok Giok Yin, langsung menghadap orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka, lalu memberi hormat seraya berkata, "Di sini Ouw Cih menerima perintah."

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkata, "Suruh dia merasakan Cak Sim Coh Kut Kang (Ilmu pembusuk Hati Dan Tulang)!"

Ouw Cih segera membalikkan badannya. Sepasang matanya menyorot aneh, kemudian dia menyambar pergelangan lengan Ciok Giok Yin. Seketika Ciok Giok Yin merasa ada aliran yang amat panas menerjang ke hati dan seluruh tulang- tulangnya. Dia merasa hatinya dan seluruh tulangnya seperti

tertusuk ribuan jarum. Tak lama kemudian sekujur badan Ciok Giok Yin mulai mengucurkan keringat, sehingga membasahi pakaiannya. Dia menjerit menyayat hati, lalu pingsan seketika.

Orang berpakaian haitam memakai kain penutup muka berseru dingin, "Berhenti!"

Ouw Cih melepaskan tangannya, lalu mundur beberapa langkah. Tersirat berbagai macam perasaan pada wajahnya, menatap Ciok Giok Yin yang telah pingsan.

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkata, "Bikin dia siuman kembali!"

Salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee segera mengambil secangkir teh lalu disiramkan ke wajah Ciok Giok Yin, kemudian dia kembali ke tempatnya. Ciok Giok Yin siuman perlahan-lahan. Dia menatap semua orang-orang itu dengan dingin, lalu tertawa gelak dan bertanya, "Apakah ini merupakan tindakan kalian?"

"Kau tidak mau bilang?" tanya orang berbaju hitam memakai kain penutup muka.

"Tidak!"

"Ouw Suya, siksa lagi dia!"

Ouw Cih mendekati Ciok Giok Yin. Kali ini dia turun tangan jauh lebih hebat. Seketika Ciok Giok Yin merasa hati dan tulang-tulangnya seperti digigit ribuan semut. Ciok Giok Yin menjerit menyayat hati lagi, lalu kembali pingsan. Salah seorang anggota perkumpulan Sang Yen Hwee mengambil secangkir teh, lalu menyiram ke wajahnya. Ciok Giok Yin siuman, Mendadak terlintas suatu hal dalam benaknya. Dia langsung mendongakkan kepala, lalu bertanya dengan lemah.

"Kau mau bertanya padaku, justru terlebih dahulu aku mau bertanya padamu." Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertegun.

"Kau mau bertanya apa?" "Sebetulnya siapa kau?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka menyahut dingin,

"Kelak kau akan tahu."

"Kau takut menyebut namamu?"

Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka tertawa terkekeh,

"Ciok Giok Yin, aku tidak pernah takut terhadap siapapun! Lebih baik kau bilang saja!"

"Tiada yang harus kubilang!"

Mendadak orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu bangkit berdiri. Entah bagaimana cara dia bergerak, tahu-tahu sudah berada di hadapan Ciok Giok Yin.

Dia menatap Ciok Giok Yin dalam-dalam lalu membentak, "Kau sungguh ingin mati?"

Ciok Giok Yin tertawa dingin lalu menyahut.

"Kalau aku takut mati, pasti tidak akan datang kemari!"

Tiba-tiba orang berpakaian hitam memakai kain penutut muka itu menggerakkan jari tangannya. Ternyata dia sudah turun tangan menotok jalan darah kematian Ciok Giok Yin.

Justru disaat bersamaan, mendadak Ouw Cih berseru cepat. "Tunggu!" Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka jadi batal menotok jalan darah kematian Ciok Giok Yin dan segera berpaling memandang Ouw Cih. Bibir Ouw Cih bergerak, namun tidak mengeluarkan suara. Kelihatannya dia menggunakan ilmu Penyampaian Suara kepada orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu. Orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu manggut- manggut, lalu berkata, "Musnahkan kepandaiannya, lalu masukkan ke penjara!"

Tubuh orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka berkelebat, langsung masuk ke dalam pintu

samping. Sedangkan jari tangan Ouw Cih bergerak-gerak, menotok jalan darah Tung Hu bagian dada Ciok Giok Yin.

Seketika Ciok Giok Yin merasa sekujur badannya lemas tak bertenaga dan dia tahu kepandaiannya telah musnah. Coba bayangkan, seorang yang berkepandaian tinggi, mendadak kehilangan kepandaiannya. Bukankah lebih menderita dari pada dibunuh?" Dia menghela nafas panjang, dan air matanya bercucuran. Ouw Cih melepaskan tali yang mengikatnya, lalu membawanya ke belakang. Ketika sedang berjalan ke dalam, telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.

"Adik kecil, harap jangan bersuara dan juga jangan menoleh, aku ingin bicara denganmu."

Hati Ciok Giok Yin tergerak. Dia sama sekali tidak menoleh dan terus membiarkan Ouw Cih membawa dirinya ke belakang.

Sedangkan Ouw Cih melanjutkan bicaranya.

"Tidak peduli kau keturunan teman baikku itu atau bukan, yang jelas aku akan berusaha menyelamatkanmu.

Sesungguhnya ilmu silatmu tidak musnah, namun saat ini, aku tidak boleh membebaskan totokanmu, sebab akan menimbulkan kecurigaan mereka. Maka sementara ini kau harus bersabar. Sebelum kau yakin dapat meloloskan diri janganlah coba-coba menempuh bahaya, karena kepandaian orang itu sudah mencapai tingkat yang amat tinggi." Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin bertanya siapa orang itu. Akan tetapi Ouw Cih telah berpesan tadi, jangan bersuara. Oleh karena itu, dia tidak berani membuka mulut. Tak seberapa lama kemudian Ciok Giok Yin sudah dibawa sampai di depan kamar batu, yang ternyata kamar tahanan. Tampak dua penjaga di sana. Begitu melihat kedatangannya Ouw Cih, kedua penjaga itu segera memberi hormat.

"Menyambut kedatangan Suya (Bapak Penasehat)!" ucapnya. "Buka pintu!" perintah Ouw Cih.

Kedua penjaga itu mengangguk. "Ya."

Tak lama kemudian terdengarlah suara 'Serr Serrrrr!' Pintu kamar tahanan itu terbuka.

Ouw Cih mendorong Ciok Giok Yin ke dalam seraya berkata. "Ciok Giok Yin, baik-baiklah beristirahat di situ!"

Setelah itu terdengar suara 'Bum!' Pintu kamar tahanan itu sudah tertutup kembali. Ciok Giok Yin yang terdorong ke dalam kamar tahanan itu langsung roboh dan matanya berkunang- kunang. Berselang beberapa saat barulah dia dapat bangkit berdiri, namun tidak dapat melihat apapun, sebab di jalan kamar tahanan itu amat gelap. Ciok Giok Yin berkata dalam hati, 'Siapa Ouw Suya itu? Dan sebetulnya aku ini keturunan siapa? Dia berniat menyelamatkanku, tapi mengapa tidak mau segera membebaskan jalan darahku?' Kemudian dia berpikir.

Ternyata yang dipikirkannya adalah orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka. Kelihatannya kepandaian orang itu tinggi sekali. Kalau tidak, bagaimana mungkin Si Peng Khek tiada tempat duduk di ruang itu?

Ciok Giok Yin terus berpikir, namun tidak menemukan jawabannya. Yang jelas dia merasa kepandaiannya masih rendah. Melawan Si Peng Khek saja sudah terjungkal, bagaimana mungkin melawan orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka itu? Kecuali... berhasil menemukan Seruling Perak dan kitab Cu Cian. Kesimpulannya harus berhasil mencari Seruling Perak dan kitab Cu Cian, barulah bisa membalas dendam. Akan tetapi, apabila berhasil mencari Seruling Perak, harus pula diserahkan kepada keturunan Ciok. Walau dirinya juga bermarga Ciok, tapi bukan keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan. Kalau begitu dia keturunan siapa? Banyak orang mengatakan, bahwa dirinya mirip seseorang. Mungkin dirinya keturunan Ciok Khie Goan. Kalau benar, maka....

Dia tidak mau berpikir lagi. Sebab dirinya tidak mungkin begitu tinggi. Akan tetapi berdasarkan semua itu, kelihatannya dirinya bukan keturunan orang biasa. Dia masih ingat akan apa yang dikatakan si Bongkok Arak, pengemis tua Te Hang Kay dan Ouw Suya dari perkumpulan Sang Yen Hwee, itu telah membuktikan sesuatu. Wajah seseorang memang bisa mirip orang lain, tapi tidak mungkin ada tiga orang mengatakan bahwa dirinya mirip seorang kawan baik mereka. Memang sayang sekali, Can Hai It Kiam telah dibunuh oleh orang yang menyamar sebagai Ciok Giok Yin. Kalau tidak, berdasarkan surat itu pasti telah terungkap asal-usulnya.

Mendadak dia berkertak gigi sambil mengambil keputusan. Apabila dia berhasil meloloskan diri, dia pasti akan memusnahkan perkumpulan Sang Yen Hwee. Namun kini kepandaiannya telah musnah, maka ketajaman matanya pun berkurang, tidak dapat melihat apa pun yang ada di dalam kamar tahanan itu. Dia menjulurkan tangannya meraba ke sana ke mari, hanya dinding batu. Kalau ingin meloloskan diri, harus memiliki pedang pusaka untuk membelah dinding batu itu. Tentunya tidak mungkin, sebab kini dirinya sudah terkurung di dalam kamar batu, juga telah kehilangan kepandaian. Kini dia cuma berharap Ouw Cih menepati janjinya, memunculkan diri untuk menyelamatkannya. Kalau tidak, tentunya sulit baginya untuk meloloskan diri dari kamar tahanan tersebut. Ini membuat Ciok Giok Yin berduka sekali.

"Aku tidak boleh mati, karena masih banyak beban dendam yang harus kubalas. Seandainya aku mati sekarang, aku pasti merasa penasaran sekali," gumamnya.

Tanpa terasa air matanya pun bercucuran, namun dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sedangkan di luar kamar tahanan juga tidak terdengar suara apapun. Ciok Giok Yin duduk kembali. Setelah itu dia merogoh ke dalam bajunya, ternyata tiada sesuatu yang hilang. Itu membuatnya berlega hati, karena di dalam bajunya terdapat kitab Im Yang Cin Koy, yang diperoleh Tiat Yu Kie Su dengan pengorbanan nyawanya, lagi pula menyangkut kebahagiaan hidupnya. Juga mengenai cincin giok pemberian Bun It Coan, itu pun tidak boleh hilang, karena cincin itu merupakan benda kepercayaan Liok Bun.

Benda lain adalah berupa beberapa macam obat peninggalan Tiong Ciu Ie, yang harus dipergunakannya saat berkelana di dunia persilatan. Semua obat itupun tidak boleh hilang. Semua kenangan masa lampau mulai terbayang di depan matanya.

Begitu juga orang-orang yang dikenalnya, satu persatu mulai muncul di lepas matanya pula. Mendadak terdengar suara helaan nafas lirih. Ciok Giok Yin tertegun, dan segera mendengarkan dengan penuh perhatian.

Terdengar lagi suara helaan nafas lirih. Ciok Giok Yin berpikir. Apakah di dalam kamar tahanan ini terdapat orang lain? Dia cepat-cepat bangkit berdiri, lalu meraba kian kemari. Namun sungguh di luar dugaan, tiada seorangpun berada di dalam kamar itu. Sekonyong-konyong terdengar suara 'Krek!' Sebuah pintu kecil terbuka dan terdengar pula suara orang di luar kamar.

"Nasimu, ambillah!"

Ciok Giok Yin cuma mendengus dingin, "Hmm!" Dia sama sakali tidak mempedulikannya.

"Hei! Kau dengar tidak?" bentak orang yang di luar kamar. Sesungguhnya Ciok Giok Yin tidak mau mengambil nasi itu.

Tapi karena perutnya memang sudah lapar, maka terpaksa nasi

itu diambilnya. Ternyata nasi itu berada di sebuah nampan dilengkapi dengan dua macam hidangan. Di saat bersamaan, terdengar lagi suara. 'Krak!' Pintu kecil itu tertutup kembali, dan kamar tahanan itu berubah menjadi gelap lagi.

Ciok Giok Yin duduk, lalu mulai makan. Seusai makan, ketika dia mau beristirahat, sekonyong-konyong terdengar lagi suara helaan nafas panjang. Kali ini suara helaan nafas itu kedengarannya agak dekat. Ciok Giok Yin mendengarkan dengan penuh perhatian, agar tahu arah suara helaan nafas itu.

Beberapa saat kemudian terdengar ucapan yang amat lirih, "Lagi-lagi seorang yang bernasib sama."

Hati Ciok Giok Yin, tergerak dan dia cepat-cepat mendekati dinding batu. Kemudian dia menjulurkan tangannya mengetuk dinding batu tersebut.

"Siapa kau?" terdengar suara dari luar.

Ciok Giok Yin menyahut dengan suara rendah, karena kuatir terdengar oleh penjaga.

"Namaku Ciok Giok Yin." "Ciok Giok Yin?"

"Ng!"

Hening sejenak. Tiba-tiba terdengar lagi suara orang tersebut. "Bagaimana kau jatuh ke tangan mereka?"

"Aku menguntit Si Peng Khek, terjebak ke dalam suatu formasi aneh sehingga tertangkap oleh mereka," jawab Ciok Giok Yin dengan jujur.

"Kalau begitu mereka telah memusnahkan kepandaianmu?" "Ya. Mohon tanya siapa Anda?"

"Aku adalah. " Orang itu tidak melanjutkan jawabannya. "Aku ingin mengundangmu."

"Kamar tahanan ini terbuat dari dinding batu, bagaimana mungkin aku akan ke tempatmu?" sahut Ciok Giok Yin.

"Aku punya akal."

Kemudian suasana menjadi hening. Ciok Giok Yin tidak habis pikir, orang yang ada di kamar sebelah itu punya akal apa?

Bukankah itu cuma bermimpi? Jangan-jangan orang itu sudah lama terkurung di sini sehingga menyebabkan pikirannya menjadi kurang waras. Di saat bersamaan mendadak terdengar suara 'krek!' Dinding batu itu terbuka dan muncul sebuah lubang. Terdengar lagi suara orang itu.

"Kau boleh ke mari."

Ciok Giok Yin terperangah, kemudian merangkak ke kamar batu sebelahnya. Karena terlampau gelap, Ciok Giok Yin tidak dapat melihat wajah? orang tersebut. Orang itu memegang lengan Ciok Giok Yin sambil bertanya.

"Mereka menotok jalan darah apa di tubuhmu?"

Ternyata orang itu masih bertenaga. Pertanda kepandaiannya belum musnah. Maka tidak mengherankan kalau lengan Ciok Giok Yin yang dipegangnya terasa sakit sekali.

"Aduuuuh!" jeritnya kesakitan.

Orang itu segera melepaskan tangannya. "Maaf, aku lupa bahwa kepandaianmu telah musnah," katanya.

"Tidak apa-apa," sahut Ciok Giok Yin lemah.

"Jalan darah apa yang mereka totok? Mungkin aku dapat memulihkan kepandaianmu, tanya orang itu lagi. "Jalan darah Tung Hu Hiat." "Tung Hu Hiat?"

"Ya."

Hening sejenak. Setelah itu barulah terdengar suara orang tersebut.

"Heran? Mengapa mereka tidak menotok jalan darah Khie Hai Hiatmu?"

"Entahlah. Akupun tidak jelas."

Apabila orang yang berkepandaian tinggi, jalan darah Khie Hai Hiatnya tertotok, sudah sulit untuk memulihkan kepandaiannya. Ciok Giok Yin juga paham akan hal tersebut.

"Siapa yang menotok jalan darahmu?" tanya orang itu. "Ouw Suya perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Sungguh mengherankan! Orang itu berhati kejam. Bagaimana dia berbelas kasihan padamu? Sungguh membuat orang tidak mengerti!"

"Anda kenal orang itu?" tanya Ciok Giok Yin. "Tidak kenal."

"Kalau begitu, bagaimana Anda tahu dia berhati kejam?"

"Ketika aku tertangkap oleh mereka, melihatnya turun tangan terhadap bawahannya tanpa memberi ampun. Boleh dikatakan dia tak berperasaan sama sekali."

Ciok Giok Yin merasa dingin sekujur badannya. Tidak disangka Ouw Cih itu berhati begitu kejam! Namun terhadap dirinya orang itu justru tidak berniat jahat, cuma menotok jalan darah Tung Hu Hiatnya. Kalau dia menotok jalan darah Khie Hai Hiat, habislah Ciok Giok Yin, jangan harap dapat menuntut balas semua dendam itu.

Berselang sesaat, Ciok Giok Yin berkata, "Maaf, ketajaman mataku berkurang, sehingga tidak dapat melihat jelas. "

Orang itu langsung memutuskan perkataan Ciok Giok Yin. "Sekarang aku akan membantumu membebaskan totokan itu

agar pulih kepandaianmu, barulah kita bercakap-cakap." Dia

mulai menotok beberapa jalan darah Ciok Giok Yin. "Ikuti hawa murniku untuk menerjang ke jalan darah Tung Hu Hiat!"

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menghimpun hawa murninya untuk disatukan dengan hawa murni orang itu menerjang ke arah jalan darah Tung Hu Hiat. Berselang beberapa saat kedua hawa murni itu berhasil menembus jalan darah Ciok Giok Yin tersebut. Maka kepandaian Ciok Giok Yin pun pulih seketika.

Kini dia sudah dapat melihat jelas wajah orang itu, sehingga mengeluarkan suara.

"Ih!"

Setelah itu berkata, "Lo cianpwee, rasanya kita pernah bertemu, tapi entah dimana."

Ternyata orang itu berdandan seperti sastrawan, berusia lima puluhan.

"Tidak salah, kita memang pernah bertemu satu kali," sahutnya sambil tersenyum.

Mendadak Ciok Giok Yin teringat.

"Kita pernah bertemu di sebuah rumah makan. Ketika itu lo cianpwee bersama seorang gadis berpakaian ungu ya, kan?"

Sastrawan tua itu manggut-manggut. "Tidak salah."

"Bagaimana lo cianpwee ditangkap oleh mereka?" "Panjang sekali ceritanya."

"Bolehkah aku tahu bagaimana ceritanya?"

Sepasang mata sastrawan tua menyorot tajam. Namun badannya agak gemetar, pertanda hatinya tidak tenang.

Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin segera berkata, "Kalau lo cianpwee merasa tidak leluasa, lebih baik tidak usah diceritakan."

Sastrawan tua menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata, "Kau jangan salah paham." Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Saudara kecil, tahukah kau siapa aku?" "Mohon lo cianpwee sudi memberitahukan!" Sastrawan tua menghela nafas panjang.

"Aku adalah Seng Ciu Suseng (Sastrawan Bertangan Mujizat)," katanya dengan suara rendah.

Mendengar itu, Ciok Giok Yin langsung meloncat bangun dan manatap sastrawan tua dengan penuh dendam.

"Seng Ciu Suseng-Seh Ing?" bentaknya.

"Tidak salah, aku adalah orang yang sedang kau cari."

Saat ini Ciok Giok Yin menjadi serba salah. Sebab orang tersebut adalah musuh besar suhunya, tapi juga merupakan penolongnya. Karena itu dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri termangu-mangu dan menatap Seng Ciu Suseng dengan penuh kebencian. Mendadak muncul bayangan Sang Ting It Koay di depan matanya. Keadaan Sang Ting It Koay amat mengenaskan, hidup menderita dan tersiksa belasan tahun di lembah ular. Oleh karena itu Ciok Giok Yin berkata dengan dingin sekali, "Seh Ing, tentunya kau tidak melupakan kejadian lampau itu! Ya, kan?"

Seng Ciu Suseng mengangguk. "Tentunya aku masih ingat dengan jelas."

Sepasang mata Ciok Giok Yin menyorot tajam.

"Bagus! Kau telah memulihkan kepandaianku. Namun dendam suhuku denganmu tidak dapat dikaitkan dengan urusan ini! Maka kuharap kau sudi memaafkan!"

"Aku boleh. "

Ciok Giok Yin langsung memutuskan perkataannya.

"Suatu hari nanti, setelah semua urusanku beres, aku akan bunuh diri di makammu untuk membalas budi pertolonganmu yang telah memulihkan kepandaian!"

Ciok Giok Yin mulai mengangkat sebelah tangannya, siap menghantam Seng Ciu Suseng. Sedangkan Seng Ciu Suseng sama sekali tidak bergerak. Dia mendongakkan kepala memandangnya sambil berkata perlahan-lahan.

"Saudara kecil, bolehkah aku bicara sebentar?"

Ciok Giok Yin segera menurunkan tangannya dan menyahut, "Bicaralah!"

"Saudara kecil, duduklah dulu!" kata Seng Ciu Suseng.

Ciok Giok Yin mengerutkan kening, kemudian duduk di hadapan sastrawan tua itu. Seng Ciu Suseng berpikir sejenak, setelah itu barulah berkata.

"Urusan Kang Ouw Pat Kiat dengan suhumu merupakan suatu kesalahan pahaman. "

Ciok Giok Yin mengeluarkan suara 'Oh' Lalu bertanya, "Chiu Tiong Thau?"

Seng Ciu Suseng mengangguk.

"Tidak salah, dialah yang menghasut kami."

"Tiat Yu Kie Su pernah memberitahukan padaku," katanya Ciok Giok Yin.

"Setelah kejadian itu, barulah kami tahu telah dihasut olehnya, tapi sudah terlambat."

Kini Ciok Giok Yin lebih mengerti, bahwa semua penderitaan Sang Ting It Koay itu, dikarenakan hasutan Chiu Tiong Thau. Sebab itu, sepasang matanya tampak berapi-api, "Aku bersumpah harus membunuhnya!" katanya dengan sengit.

Ciok Giok Yin memandang Seng Ciu Suseng.

"Lo cianpwee tahu Chiu Tiong Thau berada di mana?" tanyanya.

"Semula aku mencurigai ketua perkumpulan Sang Yen Hwee adalah dia," sahut Seng Ciu Suseng Sei Ing.

"Bukan dia?"

"Aku tetap bercuriga dia berada di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Mengapa lo cianpwee bercuriga begitu."

"Justru karena aku bercuriga, maka aku ke mari," sahut Seng Ciu Suseng Seh' Ing.

Hati Ciok Giok Yin tersentak.

"Lo cianpwee sengaja ke mari?" tanyanya. "Ya." "Mohon petunjuk lo cianpwee!"

"Saudara kecil, pernahkah kau bertemu seorang yang memakai kain penutup muka?" tanya Sing Ciu Suseng Seh Ing sambil menatapnya.

"Orang yang memakai kain penutup muka?"

"Dia adalah orang misterius berpakaian hitam memakai kain penutup muka di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee."

"Pernah bertemu, memangnya kenapa?"

"Kepandaian orang itu amat tinggi. Aku curiga dia adalah Chiu Tiong Thau. Tapi aku tidak dapat membuktikannya. Ketika aku tertangkap oleh mereka, aku pernah memancingnya dengan perkataan, namun dia tidak memperlihatkan reaksi apa pun."

"Ada urusan apa lo cianpwee mencarinya?" Tanya Ciok Giok Yin.

"Sederhana sekali. Aku ingin mengumpulkan kaum persilatan yang sehaluan menangkapnya, agar dapat menuntut balas dendam suhumu, juga membersihkan nama baik kami Kang Ouw Pat Kiat."

Bukan main terharunya Ciok Giok Yin!

"Lo cianpwee, itu telah menyusahkanmu," katanya. "Kalau tidak begitu, hatiku tak dapat tenang selamanya."

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang sambil berkata, "Lo cianpwee, dulu aku amat mendendam pada Kang Ouw Pat Kiat. Tapi setelah mendengar penuturan Tiat Yu Kie Su lo cianpwee, aku sudah percaya delapan bagian."

"Bagaimana sekarang?"

Ciok Giok Yin menjawab dengan jujur, "Sekarang aku sudah percaya seluruhnya. Mulai saat ini aku tidak akan mendendam terhadap Kang Ouw Pat Kiat lagi. Aku pun percaya bahwa almarhum suhuku pasti memakluminya di alam baka."

Sepasang mata Seng Ciu Suseng berbinar. "Terimakasih atas pengertian Saudara Kecil," ucapnya.

"Jangan berkata demikian, itu memang merupakan suatu kesalahpahaman. Tadi aku terlampau emosi, mohon lo cianpwee sudi memaafkanku."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing tersenyum.

"Kau tidak bersalah. Namun terhadap Chiu Tiong Thau. Saudara Kecil harus menaruh perhatian khusus. Sebab kemungkinan besar orang berpakaian hitam memakai kain penutup muka adalah Chiu Tiong Thau."

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya "

Seng Ciu Suseng-Seh Ing menatap wajah Ciok Giok Yin lekat- lekat, kemudian bertanya,

"Siapa nama ayahmu?"

Mendengar pertanyaan Sastrawan tua itu, air muka Ciok Giok Yin agak berubah.

"Lo cianpwee jangan mentertawakanku. Terus terang hingga saat ini aku belum tahu akan asal-usulku," jawahnya dengan jujur.

Seng Ciu Suseng-Seh Ing manggut-manggut. "Tapi aku lihat kau mirip seseorang."

Hati Ciok Giok Yin, tergetar dan dia langsung bertanya. "Mirip siapa?"

"Apakah tiada seorang pun memberitahukan padamu?" Ciok Giok Yin menghela nafas panjang,

"Beberapa lo cianpwee pernah bilang, tapi cuma setengah- setengah. Maka aku mohon petunjuk lo cianpwee."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing berpikir sejenak.

"Aku percaya pasti benar. Mereka tidak mau bilang pasti ada sebabnya. Karena itu, aku pun merasa tidak leluasa memberitahukan padamu. Tapi, ada satu hal perlu kuberitahukan padamu."

"Hal apa?"

"Dulu aku dan ayahmu pernah ada janji, yakni putriku bernama Yang Yong Yong dijodohkan padamu.

"Lo cianpwee. "

Seng Ciu Suseng menggoyangkan tangannya agar Ciok Giok Yin diam. Kemudian dia melanjutkan penuturannya.

"Justru karena ini, maka aku menempuh bahaya ke mari, agar dapat menjernihkan kesalahpahaman antara Kang Ouw Pat Kiat dengan Sang Ting It Koay padamu. Kini kesalahpahaman itu telah jernih, aku. "

Ucapan sastrawan tua itu terhenti mendadak. Tampak keringat sebesar-besar kacang hijau merembes keluar dari keningnya.

"Lo cianpwee. kenapa?" tanya Ciok Giok Yin.

"Orang memakai kain penutup muka itu menotok jalan darah Ciau Bwe Hiatku, maka setiap enam jam, pasti kambuh satu kali." Seng Ciu Suseng Seh Ing menghela nafas panjang, lalu melanjutkan penuturannya.

"Tiada seorang pun yang dapat membebaskan totokan itu. Kalaupun aku keluar, nyawaku tetap tidak dapat bertahan lama. Lagi pula... akan menambah penderitaan Yong Yong, maka aku mengambil keputusan tinggal di sini untuk menyelidiki, setelah itu barulah aku pergi mencarimu."

Seng Ciu Seseng berhenti sejenak, kemudian melanjutkan lagi.

"Kini kau sudah ke mari, ini merupakan kesempatanku untuk menjelaskan padamu. Baik-baiklah terhadap Yong Yong, barulah hatiku bisa tenang."

"Urusan ini, aku... tidak bisa mengabulkannya," sahut Ciok Giok Yin.

Seng Ciu Suseng mengerutkan kening, kelihatannya amat menderita sekali.

"Kau tidak setuju?" tanyanya. "Bukan, melainkan karena dua hal." "Katakanlah!"

"Pertama, aku belum tahu jelas apakah diriku keturunan orang itu atau bukan, maka aku tidak bisa sembarangan memperisteri seorang gadis."

Seng Ciu Suseng-Seh Ing manggut-manggut. Mendadak wajahnya tampak berseri.

"Ada."

Ciok Giok Yin tercengang. "Ada apa?" "Apakah di bagian dadamu terdapat sebuah tahi lalat merah?" Hati Ciok Giok Yin tersentak.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa sastrawan tua itu pun akan bertanya demikian padanya.

"Tahi lalat marah?"

"Ya. Apakah ada tahi lalat merah di bagian dadamu?" "Ada."

"Kalau begitu, tidak akan salah lagi, kau calon menantuku!" Wajah Seng Ciu Suseng-Seh Ing berubah amat lembut. "Nak, katakan hal kedua itu!"

Wajah Ciok Giok Yin langsung memerah.

"Hal kedua, secara tanpa sengaja aku makan Pil Api Ribuan Tahun, sehingga badanku berubah menjadi tidak seperti orang biasa," katanya dengan suara rendah.

"Pil Api Ribuan Tahun?" "Ya."

Seng ciu Suseng-Seh Ing menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata, "Ini memang merupakan hal yang sulit diputuskan."

Ciok Giok Yin cepat-cepat memberitahukan.

"Lo cianpwee, aku punya kitab Im Yang Cin Koy." "Kitab Im Yang Cin Koy?"

"Ya."

"Kitab itu diperebutkan oleh golongan hitam. Bagaimana kau memperolehnya?"

Ciok Giok Yin segera menutur tentang Lu Jin memasuki Goa Ban Hoa Tong mencuri kitab tersebut. Setelah itu menambahkan,

"Mok lo cianpwee yang menghadiahkan kitab itu padaku." "Lalu bagaimana dia?"

Air mata Ciok Giok Yin mulai meleleh.

"Apa yang terjadi atas dirinya?" tanya Seng Ciu Suseng-Seh Ing.

"Dia sudah mati," sahut Ciok Giok Yin sambil menghapus air matanya.

"Mati?"

Ciok Giok Yin mengangguk.

Justru di saat bersamaan, mendadak terdengar suara langkah di luar kamar.

"Nak, cepat kembali ke tempatmu, aku akan cari akal untuk menyelamatkanmu!" kata sastrawan berusia lima puluhan itu dengan suara rendah.

Ciok Giok Yin mengangguk, lalu cepat-cepat merangkak ke dalam kamar tahanannya. Sedangkan Seng Ciu Suseng juga bergerak cepat menutup kembali dinding batu itu, kemudian pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian. Ciok Giok Yin sudah kembali ke kamar tahanannya. Dia duduk sambil memperhatikan pintu kamar. Pintu kamar itu terbuka perlahan-lahan, menyusul tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam.

"Eh? Kau!" seru Ciok Giok Yin.

Ternyata yang berkelebat ke dalam itu adalah gadis berbaju hijau, yang pernah dua kali ditolongnya. Wajah gadis itu kelihatan tegang sekali, memberi isyarat pada Ciok Giok Yin agar tidak bersuara. Dia mendekati Ciok Giok Yin, lalu berkata dengan suara rendah.

"Cepat pergi, jangan membuang waktu!" desak gadis berbaju hijau.

"Mohon tanya, sebetulnya siapa Nona?" tanya Ciok Giok Yin. "Sekarang tiada waktu untuk menjelaskan, namaku Hui Hui." "Hui Hui."

Seketika Ciok Giok Yin teringat akan Lan Lan. Dia adalah musuh besar Bung It Coan, kakak angkatnya, juga merupakan mantan istri kakak angkatnya itu maka Ciok Giok Yin harus membunuhnya demi membalaskan dendamnya. Namun Hui Hui adalah gadis yang lemah lembut. Tak diduga dia akan menempuh bahaya menolong Ciok Giok Yin. Tentu, sebab sudah dua kali Ciok Giok Yin menyelamatkannya. Maka gadis berbaju hijau tersebut ingin membalas budinya.

"Berhubung Nona berniat menolongku, bolehkah sekaligus menolong seorang lagi?" tanya Ciok Giok Yin.

"Siapa?" tanya gadis berbaju hijau.

"Seorang lo cianpwee yang ditahan di kamar sebelah."

Justru di saat bersamaan, dinding batu terbuka sedikit, lalu tampak Seng Ciu Suseng-Seh Ing merangkak ke kamar tahanan Ciok Giok Yin.

"Nak, kau sudah boleh pergi," katanya.

"Bapak mertua, mari kita pergi bersama!" sahut Ciok Giok Yin.

Hui Hui tertegun, karena tidak menyangka mereka berdua adalah menantu dan mertua. Seng Ciu Suseng-Seh Ing berkata,

"Bukankah aku telah memberitahukanmu, diriku telah tertotok oleh semacam ilmu totokan beracun sehingga nyawaku sulit dipertahankan lagi? Lagi pula Tiat Yu Kie Su telah mati, berarti Kang Ouw Pat Kiat sudah tiada. Untuk apa aku masih hidup? Yang penting kau harus baik-baik memperlakukan Yong Yong, mati pun aku tidak akan penasaran."

Dia menatap Ciok Giok Yin.

"Melihat tubuhmu, tentu Yong Yong tidak mampu melayanimu. Maka, kau harus punya isteri lebih dari dua, dan juga harus menyuruh mereka memahami kitab Im Yang Cin Koy."

Ciok Giok Yin mengangguk. "Ya."

"Baik, cepatlah pergi!"

Mendadak jari tangan Seng Ciu Suseng-Seh Ing bergerak, Cess!

Ternyata Seng Ciu Suseng bunuh diri dengan cara menotok jalan darah Thay Yang Hiatnya sendiri, roboh dan binasa seketika. Ciok Giok Yin langsung menangis. Namun gadis baju hijau segera menutup mulutnya seraya berkata,

"Jangan menangis, cepat pergi! Mengenai mayat ini, aku akan berusaha menguburnya."

Setelah itu dia berbisik sejenak di telinga Ciok Giok Yin, lalu membawa ke luar. Ketika mereka berdua melalui sebuah lorong, tampak beberapa mayat tergeletak di lorong itu, jelas adalah perbuatan Hui Hui. Mereka berdua berjalan tergesa- gesa, tak lama kemudian tiba di mulut lembah. "Saudara Ciok, aku cuma bisa mengantarmu sampai di sini. Cepatlah pergi," kata Hui Hui.

Usai berkata, gadis berbaju hijau itu segera melesat

pergi. Ciok Giok Yin juga tidak berani berlaku ayal, langsung melesat melalui mulut lembah itu. Di saat sedang melesat pergi, justru Ciok Giok Yin tidak habis pikir dan terheran-heran, karena tidak menyangka Seng Ciu Suseng-Seh Ing adalah calon mertuanya. Bahkan tentang perjodohan itu, malah kedua orang tuanya yang menjodohkannya. Kalau begitu, sebetulnya siapa kedua orang tuanya? Mengapa calon mertuanya itu tidak mau memberitahukannya? Apakah setelah memberitahukannya, akan terjadi sesuatu yang fatal?

Kelihatannya kedua orang tuanya merupakan tokoh persilatan yang amat terkenal. Lalu dia masih ingat akan perkataan Seng Ciu Suseng Seh Ing, bahwa dia mencurigai orang memakai kain penutup muka dari perkumpulan Sang Yen Hwee itu adalah Chiu Tiong Thau. Maka mulai sekarang dan selanjutnya dia harus menyelidiki orang itu.

"Aku pasti akan kemari lagi," gumamnya.

Sementara Ciok Giok Yin terus melesat, ternyata dia telah meninggalkan lembah itu. Mendadak dia merasa ada angin pukulan dari empat penjuru mengarahnya. Di saat bersamaan terdengar pula suara yang amat dingin,

"Bocah, sungguh tidak kecil kepandaianmu!" Ciok Giok Yin segera memandang ke sekelilingnya.

Tampak empat orang aneh berdiri mengepungnya. Masing- masing bertubuh tinggi, pendek, gemuk dan kurus. Tampang orang yang bertubuh tinggi itu amat menyeramkan. Sepasang bahunya naik dan sepasang biji matanya melotot ke luar, persis seperti setan gantung diri. Yang bertubuh pendek hidungnya kecil, begitu pula mulutnya. Kelihatannya seperti anak kecil berusia dua belasan namun keningnya sudah keriput. Sedangkan yang gemuk perutnya gendut, wajahnya memerah dan sepasang matanya memancarkan sinar tajam. Tangannya gendut, wajahnya merah dan sepasang matanya memancarkan sinar tajam. Tangannya membawa sebuah Suipoa (Alat Hitung Cina) yang gemerlapan dan terus berbunyi 'Praaaak!'

Yang kurus bagaikan sosok Jailangkung. Tulang-tulangnya menonjol boleh dikatakan tiada dagingnya sama

sekali. Keempat orang aneh itu berkedudukan apa di perkumpulan Sang Yeng Hwee, Ciok Giok Yin tidak tahu sama sekali.

"Siapa kalian cepat beritahukan!" bentaknya. Orang yang bertubuh tinggi balik bertanya dengan dingin,

"Bocah, pernahkah kau dengar Si Sing Kui (Empat Bentuk Setan)?"

"Si Sing Kui?" "Tidak salah!"

Ciok Giok Yin melengos, "Hmm! Kalian berempat memang berbentuk seperti setan, aku akan menghabiskan kalian!"

Ciok Giok Yin belum pernah mendengar tentang Si Sing Kui, tentunya tidak tahu bagaimana kepandaian mereka. Oleh karena itu, dia langsung menyerang Si Sing Kui, dengan jurus pertama ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang. Si Sing Kui tidak tahu Ciok Giok Yin berkepandaian begitu tinggi, maka mereka berempat tidak berkelit, sedangkan serangan Ciok Giok Yin ditujukan kepada si Pendek. Seketika terdengar suara jeritan dan tampak badan si Pendek terpental beberapa depa. Akan tetapi, mendadak Si Pendek bersalto di udara, kemudian meluncur ke arah Ciok Giok Yin disertai dengan serangan dahsyat.

"Bocah, hari ini kau tidak bisa lolos!" bentaknya.

Ternyata si Pendek telah mengeluarkan sebuah cambuk panjang, menyerang Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin mencelat ke samping. Akan tetapi ujung cambuk itu tetap mengikutinya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Dia tidak menyangka si Pendek yang bertampang tidak karuan itu memiliki kepandaian begitu tinggi. Lagi pula si Pendek berhasil mengelak ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang yang dilancarkannya.

Kelihatannya di dalam perkumpulan Sang Yen Hwee, memang terdapat banyak pesilat tangguh. Di saat bersamaan ujung cambuk itu sudah menyambar kepala Ciok Giok Yin. Meskipun Ciok Giok Yin berkepandaian tinggi tapi juga sulit baginya untuk mengelak serangan itu. Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring.

"Setan pendek, jangan berlagak di sini!"

Tampak sosok bayangan meluncur ke tempat itu sekaligus menjulurkan tangannya menangkap cambuk si Pendek dan membentak sengit.

"Pergi kau!"

Tahu-tahu si Pendek telah terpental beberapa depa. Di saat bersamaan Ciok Giok Yin memandang ke arah orang yang baru muncul. Ternyata seorang wanita bercadar. Ciok Giok Yin merasa kenal akan bentuk tubuh wanita bercadar itu namun lupa pernah bertemu di mana. Sementara si Pendek yang terpental itu sudah bangkit berdiri sambil melototi wanita bercadar.

Sedangkan ketiga setan lain bertanya serentak, "Siapa kau?" "Te Cang Ong Pousat. Aku kemari khusus untuk menangkap

kalian berempat setan kelaparan!" sahut wanita bercadar. Setan Gemuk tertawa gelak.

"Ha ha ha! Bagus sekali kedatanganmu, karena kebetulan kami sedang kehabisan uang, maka harus menangkapmu untuk dijual ke tempat pelesiran! Ha ha ha...!"

Suara tawanya melengking-lengking seperti suara burung gagak malam, amat menusuk telinga dan membuat darah bergolak.

"Setan Gemuk, ilmu Sian Im Kang (llmu Suara Tawa) mu tidak dapat mempengaruhiku!" bentak wanita bercadar.

Mendadak dia bergerak cepat menerjang ke arah Si Sing Kui dan seketika tampak sepasang telapak tangannya berkelebat. Kelihatannya Si Sing Kui tahu akan kelihaian wanita itu, maka mereka berempat segera berkelit ke arah samping. Sementara Ciok Giok Yin yang menyaksikan pertarungan itu merasa khawatir pada wanita bercadar.

"Si Sing Kui, serahkan nyawa kalian!" bentaknya mengguntur. Akan tetapi pada waktu bersamaan wanita itu sudah menerobos ke luar seraya berkata nyaring.

"Siapa butuh bantuanmu?"

Ciok Giok Yin tertegun lalu berdiri termangu-mangu. Namun wanita bercadar tidak diam. Dia membentak nyaring sambil menerjang Si Sing Kui. Bukan main cepatnya gerakan wanita itu! Mata Ciok Giok Yin menjadi kabur dibuatnya. Dia justru tidak ingat sebetulnya siapa wanita itu. Berdasarkan sorotan matanya, wanita itu kelihatan seperti mempunyai dendam kebencian padanya. Sesungguhnya Ciok Giok Yin bisa meninggalkan tempat itu, namun dia ingin tahu bagaimana akhir pertarungan mereka dan juga ingin tahu siapa wanita bercadar tersebut. Mendadak terdengar suara jeritan Si Sing Kui. Ternyata mereka berempat telah terluka. Seketika Si Sing Kui lari terbirit-birit ke dalam lembah, rupanya mereka berempat ingin minta bantuan.

"Hmmm!" dengus wanita bercadar.

Dia membalikkan badannya berjalan mendekati Ciok Giok Yin, lalu berdiri di hadapannya.

Ketika Ciok Giok Yin beradu pandang dengan wanita itu, tersentaklah hatinya Kemudian dia berkata dalam hati, 'Sungguh tinggi lwee kangnya!'

"Ciok Giok Yin, tak disangka kita akan bertemu di sini!" kata wanita itu dengan dingin. Ciok Giok Yin tertegun, sebab wanita itu tahu namanya. Sebaiknya dia tidak tahu siapa wanita itu. "Mohon tanya siapa Nona?" tanyanya. "Kau ingin tahu?"

"Tidak salah."

"Sebelum kau tahu siapa diriku, lebih dahulu kau harus tahu akan satu hal!"

"Hal apa?"

"Jangan kau kira pertarunganku dengan Si Sing Kui tadi demi menyelamatkanmu

Ciok Giok Yin tercengang. "Bukan menyelamatkanku?" "Tentu."

"Bolehkah kau menjelaskan padaku" "Hmmm!" Dengus wanita bercadar.

"Aku tidak menghendaki kau mati di tangan mereka!" "Maksudmu?"

"Kau harus mati di tanganku!"  Ciok Giok Yin mengerutkan kening.

"Aku dan kau tiada dendam apa-apa." "Tidak ada? Enak saja kau bicara!"

Air muka Ciok Giok Yin langsung berubah menjadi dingin.

"Sebetulnya siapa kau? Lebih baik buka saja cadarmu agar aku tahu siapa kau. Aku ingat selalu akan budi dan dendam. Apabila diantara kita terdapat dendam, aku bersedia kau tindak," katanya dengan suara dalam.

"Tentunya ada dendam!" sahut wanita bercadar. Ciok Giok Yin tertawa dingin.

"Ada dendam?" "Tidak akan salah!"

"Kalau begitu, bukalah cadarmu!"

Wanita itu mengangkat sebelah tangannya perlahan-lahan, kemudian melepaskan cadarnya. Begitu melihat wajah wanita itu Ciok Giok Yin terbelalak dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Adik Ing Ing!" serunya tak tertahan.

Ternyata wanita itu adalah Cou Ing Ing, putri almarhum Cou Yung Liong. Mereka berdua itu baru berpisah beberapa bulan, namun Cou Ing Ing telah memiliki kepandaian tinggi, berhasil mengalahkan Si Sing Kui dari perkumpulan Sang Yen Hwee. Itu membuat Ciok Giok Yin, entah harus bergirang atau cemas? Di saat Ciok Giok Yin ingin melangkah maju, mendadak Cou Ing Ing membentak sengit.

"Ciok Giok Yin, kalau kau masih berani maju selangkah lagi, aku pasti membunuhmu!"

Hati Ciok Giok Yin langsung menjadi dingin, dan dia segera menghentikan langkahnya.

"Adik Ing Ing, kau..." katanya dengan suara gemetar. "Siapa adik Ing Ingmu?"

"Adik Ing Ing, apakah kau sudah lupa ketika aku tinggal di rumah melewati hari-hari yang penuh penderitaan?"

Sepasang mata Cou Ing Ing membara. "Aku tidak akan lupa, bahkan terus ingat selalu!" katanya sengit. "Ciok Giok Yin, mengenai kematian ayahku, tentunya kau belum lupa!"

Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar, kemudian dan menghela nafas panjang seraya berkata,

"Adik Ing Ing. Paman Cou bunuh diri, aku. "

"Kau yang mendesak ayahku hingga bunuh diri! Sekarang aku bertanya, harus atau tidak aku menuntut balas dendam ayahku?" sergah Cau Ing lug.

Ciok Giok Yin menghela nafas panjang. "Memang harus," sahutnya sedih.

Namun kemudian dia memanggil gadis itu. "Adik Ing Ing. "

Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, Cou Ing Ing sudah membentak.

"Aku bukan adik Ing Ingmu, harap tahu diri!"

Wajah gadis itu tampak bengis sekali, kelihatannya dia memang ingin mencabut nyawa Ciok Giok Yin.

"Kalau kau merasa akan lega apabila membunuhku, silakan turun tangan, tapi "

Ciok Giok Yin tidak melanjutkan ucapannya. "Tapi kenapa?" tanya Cou Ing Ing.

"Aku sama sekali tidak berniat mencelakai ayahmu, melainkan ayahmu yang mengambil jalan pendek. Lagi pula waktu itu, Tui Beng Thian Cun berada di sana, sehingga membuatku teringat akan dendam Tiong Ciu Sin Ie, maka perkataanku menjadi agak kasar terhadap ayahmu." "Inikah alasanmu?"

"Dan juga. " Ciok Giok Yin menghela nafas panjang.

"Semua kenangan masa kecil kita, sepertinya muncul di depan mataku."

Ternyata Ciok Giok Yin ingin mengingatkannya mengenai kenangan masa kecil mereka, agar rasa bencinya berkurang.

Akan tetapi, Cou Ing Ing malah tertawa dingin lalu membentak,

"Ciok Giok Yin, serahkan nyawamu!"

Sekonyong-konyong dia menyerang Ciok Giok Yin dengan dahsyat sekali. Terdengar suara jeritan. Ciok Giok Yin terpental beberapa depa, kemudian roboh dan mulutnya menyemburkan darah segar. Namun kemudian dia bangkit berdiri perlahan- lahan. Wajahnya pucat pias dan tampak menderita sekali. Dia melangkah perlahan-lahan ke hadapan Cou Ing Ing seraya berkata dengan lemah.

"Demi menebus dosaku, silakan turun tangan!"

Cou Ing Ing tidak menyangka bahwa Ciok Giok Yin tidak menangkis dan tidak berkelit. Itu membuatnya amat berduka, namun kematian ayahnya muncul kembali di pelupuk matanya. Cou Ing Ing mulai mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ingin menyerang Ciok Giok Yin lagi. Namun mendadak sesosok bayangan putih melayang turun di tempat itu. Cou Ing Ing dan Ciok Giok Yin menoleh ke arah orang yang baru muncul itu, ternyata seorang pemuda tampan. Cou Ing Ing tidak menghiraukannya, langsung menyerang Ciok Giok Yin.

Blum!

Ciok Giok Yin terpental lagi beberapa depa. Pemuda baju putih itu melirik Cou Ing Ing sejenak, kemudian melesat ke arah Ciok Giok Yin. Ketika pemuda itu memapahnya bangun, Ciok Giok Yin sudah bangkit berdiri, tapi masih sempoyongan.

"Saudara, di antara kalian berdua ada urusan apa?" tanya pemuda berbaju putih.

Ciok Giok Yin tersenyum getir lalu menyahut, "Harap Anda mundur! Di antara kami terdapat sedikit kesalahpahaman." Dia mendekati Cou Ing Ing. "Nona Cou, silakan turun tangan lagi!"

Bagimana bengisnya Cou Ing Ing, jelas saat ini sudah tidak mampu turun tangan lagi terhadap Ciok Giok Yin. Ketika melancarkan kedua pukulan tadi Cou Ing Ing tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Apabila dia menggunakan tenaga sepenuhnya, niscaya saat ini Ciok Giok Yin sudah tergeletak menjadi mayat. Akan tetapi kebencian Cou Ing Ing belum sirna. Ketika Ciok Giok Yin berkata begitu, dia langsung melancarkan sebuah pukulan lagi.

Bum!

Kali ini Ciok Giok Yin terpental lebih jauh. Pemuda berbaju putih cepat-cepat mendekatinya, lalu membungkukkan badannya mengobati luka Ciok Giok Yin. Cou Ing Ing tidak menghalanginya, cuma berdiri termangu-mangu di tempat. Di saat bersamaan mendadak terdengar beberapa kali suara siulan yang menembus angkasa dan tak lama kemudian tampak beberapa sosok bayangan melesat ke luar dari mulut lembah. Cou Ing Ing segera memandang ke sana, terlihat Si Sing Kui kembali ke tempat itu. Tampak seorang menyertai mereka. Dia berdandan seperti sastrawan, tidak lain adalah Ouw Suya-Ouw Cih dari perkumpulan Sang Yen Hwee.

Saat ini luka yang diderita Ciok Giok Yin telah sembuh. Dia langsung menanyakan nama pemuda baju putih itu. Pemuda baju putih mengaku bernama 'Ku Tian'. Ciok Giok Yin menoleh dan kegusarannya langsung memuncak ketika melihat Si Sing Kui. Ketika dia baru mau. Ouw Cih justru mendekatinya

seraya membentak. "Ciok Giok Yin, tak disangka kau berhasil meloloskan diri! Masih berani cari gara-gara di sini, mungkin kau sudah tidak mau hidup lagi!"

Maksud Ouw Cih, Ciok Giok Yin sudah berhasil meloloskan diri, tapi tidak segera pergi, malah mencari gara-gara di tempat ini. Ciok Giok Yin amat cerdas, tentunya tahu akan maksud Ouw Cih. Akan tetapi dia justru terdesak oleh keadaan, sehingga tidak bisa pergi selekasnya. Oleh karena itu dia menyahut dingin.

"Bagaimana? Apakah di sini adalah daerah kekuasaan perkumpulan Sang Yen Hwee?"

Ouw Cing tertawa gelak.

"Betul, dalam jarak lima puluh mil, merupakan daerah kekuasaan perkumpulan Sang Yen Hwee. Siapa pun dilarang menuntut balas maupun mencari gara-gara di tempat ini! Ciok Giok Yin, kelihatannya aku harus membawamu kembali!"

Terhadap Ouw Cih, Ciok Giok Yin memang tidak mendendam. Walau Ouw Cih tidak langsung melepaskannya, namun pernah memberi isyarat padanya, itu merupakan budi besar bagi Ciok Giok Yin. Akan tetapi apabila dia tidak menyahut dingin, tentu akan menimbulkan kecurigaan Si Sing Kui. Karena itu, dia terpaksa harus menyahut dingin.

"Tidak begitu gampang!"

Ouw Cih mengerutkan kening. Sepasang bola matanya berputar sejenak, kemudian dia berkata, "Kau tidak percaya, lihat saja sendiri!"

Usai berkata, Ouw Cih langsung menyerangnya. Ciok Giok Yin belum tahu bagaimana kepandaian Ouw Cih. Maka dia ingin menjajalnya, langsung berkelebat ke arah tubuh Ouw

Cih. Sejak Ciok Giok Yin berhasil menguasai ketiga jurus ilmu pukulan tersebut, boleh dikatakan jarang ada orang yang dapat mengelak. Namun Ouw Cih justru dengan gampang sekali mengelak jurus pukulan itu. Dapat diketahui betapa tingginya kepandaian yang dimiliki Ouw Cih. Oleh karena itu Ciok Giok Yin langsung menyerangnya dengan jurus kedua.

Sungguh di luar dugaan, Ouw Cih tetap berhasil berkelit dengan gampang sekali. Ketika Ciok Giok Yin baru mau melancarkan jurus ketiga, mendadak jari tangan Ouw Cih bergerak cepat laksana kilat, menyambar bagian dadanya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga keringat dinginnya langsung mengucur karena biar bagaimanapun Ciok Giok Yin tidak akan berhasil berkelit. Kelihatannya Ciok Giok Yin akan tercengkeram dadanya. Namun di saat bersamaan tampak sosok bayangan meluncur ke tempat itu bagaikan meteor. Tercium pula bau arak yang amat keras. Sebelum badannya melayang turun, sudah terdengar suara bentakan.

"Kau berani menyentuhnya!"

Tampak gerakan yang amat aneh menerjang ke arah Ouw Cih, membuat Ouw Cih terdesak mundur beberapa langkah.

"Kau...!" serunya tertegun.

Pendatang itu langsung memutuskan perkataan Ouw Cih, "Jangan banyak bicara, akan kuhabisi kau!" sergah pendatang itu. Kemudian dia mulai menyerang Ouw Cih.

Ciok Giok Yin sudah melihat jelas siapa oang itu, ternyata Si Bongkok Arak.

"Lo cianpwee...!" serunya.

"Kau cepat pergi, di sini tiada urusanmu!" sahut Si Bongkok Arak sambil terus menyerang Ouw Cih.

Mendadak Ouw Cih berseru kaget, "Sungguh hebat ilmu Liak Ci Ciang (Ilmu Pukulan Penyobek Daging)mu ini!"

Si Bongkok Arak tertawa dingin.

"Hebat juga ilmu Ban Hwi Ie Yong Sut (Ilmu Merias Wajah)mu!" Ouw Cih segera berkelit, sekaligus melirik ke arah Si Sing Kui. Melihat Si Sing Kui sedang bertarung dengan Cou Ing Ing, barulah dia berlega hati. Justru di saat bersamaan, mendadak tampak sebuah tandu kecil digotong dua wanita meluncur ke tempat itu, diikuti empat pemuda tampan di belakangnya. Tak seberapa lama kemudian sudah sampai di tempat itu. Ciok Giok Yin tidak tahu siapa pendatang itu. Dia memandang dengan penuh perhatian. Tiba-tiba Ciok Giok Yin melihat seorang gadis rambutnya panjang terurai, badannya terikat tali, berjalan terseret-seret di belakang mereka. Ketika melihat gadis itu, hati Ciok Giok Yin terasa remuk.

"Adik Cang...!" serunya tak tertahan.

Ternyata gadis itu adalah Fang Jauw Cang, yang pernah berjanji akan bertemu di kuil Thay San Si. Justru tak disangka, dia malah ditangkap mereka. Tidak salah lagi yang muncul itu adalah orang-orang Goa Hoa Tong. Kalau begitu orang yang duduk di dalam tandu pasti Ban Hoa Tong Cu (Majikan Goa Selaksa Bunga). Ciok Giok Yin langsung melesat ke arah Fang Jauw Cang, sekaligus memutuskan tali yang mengikatnya, lalu memeluknya erat-erat. Setelah itu, dia mencelat beberapa depa. Empat pemuda yang di belakang tandu langsung membentak dengan serantak.

"Lepaskan dia!"

Mereka berempat langsung menerima ke arah Ciok Giok Yin. Sementara pemuda berbaju putih bernama Ku Tian yang berdiri diam dari tadi langsung melesat ke hadapan Ciok Giok Yin, menghadang empat pemuda itu. Di saat bersamaan, seorang wanita berusia empat puluhan melengok ke luar dari dalam tandu, sepasang matanya menyorotkan sinar aneh.

"Tugas kalian harus membekuk bocah itu!" bentaknya. Maksudnya menyuruh keempat pemuda itu menangkap Ciok

Giok Yin. Akan tetapi ketika melihat keempat pemuda itu

dihalangi oleh seorang pemuda tampan dia segera turun dan langsung berjalan ke arah Ciok Giok Yin. Langkahnya kelihatan lamban, namun ternyata amat cepat. Si Bongkok Arak telah menyaksikan Bah Hoa Tong Cu mendekati Ciok Giok Yin, maka segera mengeluarkan beberapa pukulan aneh mendesak Ouw Cih, lalu melesat ke arah wanita itu. Sambil berseru pada Ciok Giok Yin.

"Ciok Giok Yin, cepatlah kau pergi!"

Sembari berseru dia mulai bertarung dengan Ban Hoa Tong Cu.

Mendadak Ouw Cih membentak lantang, "Kau mau lari kemana?"

Dia menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Sedangkan Ciok Giok Yin menggendong Fang Jauw Cang, maka tidak leluasa bergerak. Kelihatannya Ouw Cih akan berhasil Tiba-tiba

terdengar suara bentakan nyaring bergema menembus angkasa. Setelah itu tampak sosok bayangan merah meluncur ke tempat itu teryata adalah Heng Thian Ceng.

"Adik kecil, kau pergi saja!" serunya sambil menangkis serangan Ouw Cih.

Sementara Ciok Giok Yin menundukkan kepala memandang Fang Jauw Cang. Wajah Fang Jauw Cang tampak pucat pias dan nafasnya amat lemah. Demi menyelamatkan Fang Jauw Cang, maka Ciok Giok Yin segera membawanya dengan mengerahkan ginkangnya. Tak seberapa lama kemudian dia sudah melesat belasan mil. Karena khawatir diikuti musuh, Ciok Giok Yin cepat-cepat melesat ke rumput alang-alang yang lebat dan tinggi. Dia menaruh Fang Jauw Cang, kemudian memanggilnya dengan suara gemetar.

"Adik Cang! Adik Cang. "

Fang Jauw Cang membuka matanya perlahan-lahan, memandang Ciok Giok Yin seraya tersenyum,

"Seharusnya kau memanggilku 'Moi Moi' (Adik Perempuan)," katanya. Ciok Giok Yin mengangguk dan segera memanggilnya. "Moi Moi!"

Fang Jauw Cang tampak puas sekali.

"Kakak Yin, akhirnya aku melihatmu," katanya sambil tersenyum. "Kakak Yin, kau terkena Mo Hwe Tok Kang, apakah sudah sembuh? Aku... aku selalu ingat padamu."

Usai berkata, air matanya langsung meleleh. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyeka air matanya.

"Moi Moi, setelah aku berpisah denganmu, aku bertemu Heng Thiang Ceng lo cianpwee. Dia yang membawaku pergi menemui Pak Jau Lojin yang telah minta buah Toan Teng Ko."

"Buah Toan Teng Ko?" "Ya."

"Apakah buah Toan Teng Ko dapat memusnahkan racun Mo Hwe Tok?"

"Tidak cuma itu, bahkan selanjutnya diriku tidak mempan berbagai macam racun lagi."

"Syukurlah!"

Sepasang mata Fang Jauw Cang berbinar-binar, kelihatannya girang sekali. Mendadak Ciok Giok Yin teringat, bagaimana Fang Jauw Cang bisa jatuh ke tangan Ban Hoa Tong Cu.

"Moi Moi, bagaimana kau jatuh ke tangan mereka?"

Fang Jauw Cang tidak segera menutur, melainkan air matanya saja yang mengucur deras. Kelihatannya, dia amat berduka sekali.

"Moi Moi, sebetulnya apa yang terjadi?" desak Ciok Giok Yin. "Kakak Yin. "

Fang Jauw Cang terisak-isak kemudian mendekap di dada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin membelainya sambil berkata dengan suara ringan.

"Moi Moi, beritahukanlah agar hatimu jadi lega!" Akan tetapi Fang Jauw Cang tetap menangis.

"Baiklah. Kau boleh terus menangis agar hatimu merasa lega," kata Ciok Giok Yin lembut.

Beberapa saat kemudian Fang Jauw Cang berhenti menangis. Ciok Giok Yin segera menyeka air matanya. Sedangkan Fang Jauw Cang memandang wajahnya, berselang sesaat barulah berkata terisak-isak.

"Kakak Yin, setelah kita berpisah. "

Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Rupanya dia sedang berpikir dari mana mulai menutur.

"Bagaimana?" tanya Ciok Giok Yin.

Air mata Fang Jauw Cang meleleh lagi.

"Aku terus mencari Seng Ciu Suseng, namun tiada seorang pun tahu jejaknya."

"Moi Moi, aku sudah bertemu Seng Ciu Suseng." "Oh? Kau sudah bertemu dia?"

"Ya."

Ciok Giok Yin menutur bagaimana bertemu Seng Ciu Suseng, setelah itu menambahkan,

"Moi Moi, lanjutkan penuturanmu!" Fang Jauw Cang melanjutkan.

"Karena tidak berhasil mencari jejak Seng Ciu Suseng, maka aku ke tempat ayahku, sebab ayahku sudah lama berkelana dalam rimba persilatan, mungkin tahu jejak Seng Ciu Suseng."

Menutur sampai disitu, Fang Jauw Cang menangis lagi, bahkan sekujur badannya tampak gemetar.

"Lalu bagaimana?" tanya Ciok Giok Yin lembut.

"Ayahku dan lainnya... terbunuh semua oleh Ban Tong Cu." sahut Fang Jauw Cang.

Gadis itu mulai menangis sedih dengan air mata berderai- derai. Sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara.

"Aku bersumpah akan membasmi Ban Hoa Tong Cu dan para anak buahnya!" katanya sambil berkertak gigi.

Fang Jauw Cang mendongakkan kepala memandangnya, sambil berkata dengan perlahan-lahan.

"Kakak Yin, kepandaian Ban Hoa Tong Cu amat lihay, aneh dan tinggi! Kau jangan bertindak ceroboh, aku... aku mungkin tidak dapat bertahan lama lagi."

"Kenapa kau?"

"Setelah aku tertangkap oleh Hoa Tong Cu, aku dipaksa minum racun Ban Hoa Tok Hun (Racun Bubuk Selaksa Bunga)."

"Ban Hoa Tok Hun?" "Ya."

"Aku akan berusaha memusnahkan racun itu." Fang Jauw Cang menggelengkan kepala. "Racun Ban Hoa Tok Hun merupakan racun rahasia Ban Hoa Ton Cu, tiada obat pemusnahnya. Para anggota yang berkhianat, apabila tertangkap, pasti tidak akan lolos dari kematian."

Mendadak Ciok Giok Yin teringat akan suatu hal, maka segera bertanya.

"Di dalam Goa Ban Hoa Tong, bagaimana semuanya kaum pemuda?"

"Itu cuma penyamaran saja." "Kau pun dirias sebagai pemuda?" Fang Jauw Cang mengangguk.

"Dengan cara demikian, maka lebih gampang mendekati kaum pemuda, dan tidak sulit menangkap mereka untuk Ban Hoa Tong Cu melatih ilmu sesatnya. Karena itu, kelak kalau kau bertemu pemuda tampan, harus berhati-hati!"

Ciok Giok Yin manggut-manggut,

"Moi Moi, aku akan membantumu melancarkan pernafasanmu."

Usai berkata dan ketika Ciok Giok Yin mau....

Mendadak terdengar suara desiran. Ciok Giok Yin segera mengerahkan lwee kangnya, siap melancarkan pukulan pada orang yang baru datang itu. Tampak sosok bayangan hitam melesat ke rumput alang-alang itu. Ciok Giok Yin belum melihat jelas siapa orang itu, namun yakin bukan orang baik. Oleh karena itu, dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah orang tersebut.

Bum!

Ciok Giok Yin merasa matanya gelap, lalu roboh seketika.