-->

Seruling Haus Darah Jilid 14 Tamat

 
Jilid 14 (Tamat)

SEMUA orang yang berada disitu memandang dengan mata tak berkedip kearah pertempuran yang seru luar biasa.

Lebih-lebih Wong Tie Hian dan Kauw-coe Pek Bwee Kauw itu, yaitu Thio See Ciang.

Tampak In In juga memandang dengan penuh kekuatiran, biar bagaimana dia menguatirkan keselamatan diri Han Han.

Pertempuran antara Han Han dengan si kakek Hiat Tiok Sian-jin semakin lama jadi semakin hebat, luar biasa sekali cara bertempur mereka, sehingga setiap jurus yang dikeluarkan oleh kedua orang itu adalah jurus-jurus yang mematikan, angin serangan dari kedua jago yang sedang bertempur itu menderu-deru dengan hebat, angin dari setiap serangan itu menerbangkan debu di sekitar mereka.

Hiat Tiok Sian-jin sedikit juga tidak menduga bahwa hari ini dia bisa menemui seorang jago yang dapat menandingi kepandaiannya.

Malah yang luar biasa sekali, Han Han masih berusia muda sekali. Itulah yang membingungkan Hiat Tiok Sian-jin.

Semakin bertempur Hiat Tiok Sian-jin merasakan bahwa dirinya semakin terdesak, malah Han Han tampak lebih bersemangat dan perlahan-lahan berada di atas angin !

Inilah hebat!

Kalau sampai dirinya kena dirobohkan oleh Han Han, si bocah yang masih ingusan menurut anggapan Hiat Tiok Sian-jin, maka nama besar Hiat Tiok Sian-jin yang telan terkenal dan disegani oleh jago-jago di dalam kalangan Kang-ouw, akan punah hancur berantakan, dan berarti juga bahwa dirinya tidak akan bisa menancapkan kakinya di daratan Tionggoan kembali.

Maka dari itu dengan penuh kemendongkolan Hiat Tiok Sian-jin melancarkan serangan-serangan yang lebih hebat lagi, yang mematikan.

Semakin lama bertempur, Han Han jadi tambah kosen dan bersemangat. Anak muda ini juga semakin bisa mengendalikan kegugupannya, dia jadi lebih tenang, dan bisa melihat dimana kelemahan-kelemahan diri kakek yang bergelar Seruling Haus Darah ini  ! Han Han juga bukan hanya menangkis setiap serangan dari Hiat Tiok Sian- jin, diapun selalu melancarkan serangan-serangan yang membikin Hiat Tiok Sian- jin jadi kewalahan.

Saking sengitnya Hiat Tiok Sian-jin menghadapi setiap serangan Han Han yang membuat jadi terdesak begitu macam, dia jadi mengeluarkan teriakan- teriakan yang keras gemuruh sekali, menyatakan kemendongkolan dan kegusaran hatinya.

Juga Hiat Tiok Sian-jin bukan hanya berteriak-teriak begitu saja, dia melancarkan pula serangan yang nekad, seperti juga akan mengadu jiwa dengan pemuda she Han tersebut.

Han Han terkejut juga melihat kenekadan kakek itu.

Kalau memang dia melayani kenekadan si kakek, maka dia seperti juga akan binasa berdua, dan hal itu tak diingini oleh si pemuda,

Tetapi, disebabkan Han Han masih memikirkan keselamatan untuk mereka berdua, maka dia selalu melancarkan serangan menangkis atau mengelakkan serangan si kakek menyebabkan Han Han jadi bertempur sambil main mundur.

Melihat halnya si pemuda she Han itu, Wong Tie Hian jadi berkuatir benar.

Dan berbeda dengan Thio See Ciang, dia malah tersenyum waktu manyaksikah Han Han agak terdesak lagi.

Han Han sendiri sambil bertempur sambil memutar otak untuk mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya.

Ketika Hiat Tiok Sian-jin sedang melancarkan serangan 'Pat Pie Tiang Wie ' pada dirinya, dengan gerakan kedua tangan seperti akan mencengkeram kepala Han Han, juga kaki kirinya menyepak ke arah selangkangan paha Han Han, anak muda she Han itu cepat-cepat memutar tububnya setengah lingkaran, kemudian menggeser kaki kanannya, sehingga tubuhnya jadi doyong keselatan dan dengan begitu cengkeraman kedua tangan si kakek dari seruling Haus Darah itu dapat dielakkannya.

Tendangan Hiat Tiok Sian-jin juga dielakkan dengan jalan menyampok keras sekali oleh tangan kanannya Han Han, menyebabkan bentrokan yang keras.

"Dukkk!" terdengar kaki Hiat Tiok Sian-jin dan tangan Han Han ierbentur

keras.

Tampak keduanya jadi terhuyung mundur. Rupanya benturan dari kaki dan tangan mereka tadi begitu hebat, sebab kedua-duanya sedang mengerahkan tenaga raksasa yang terbentur itu menimbulkan suara yang keras sekali.

Han Han dengan cepat telah dapat menguasai dirinya dan berdiri tetap kembali.

Tetapi keadaan Hiat Tiok Sian-jin agak berbeda dengan Han Han.

Tadi begitu kakinya kena ditangkis oleh tangan Han Han, dia merasakan kakinya begitu sakit, dan waktu dia terhuyung, hampir saja dia roboh terguling, sebab kakinya dirasakan begitu nyeri dan sakit sekali.

Untung saja dia sebagai seorang jago yang kosen sekali mempunyai kepandaian yang tinggi, sehingga setelah terhuyung-huyung beberapa langkah, dia bisa menguasai dirinya, dan berdiri lagi dengan tubuh yang agak doyong ke belakang.

Dengan meringis menahan rasa sakit di kakinya, kakek itu mendelik ke arah Han Han.

Tadi Hiat Tiok Sian-jin kaget berbareng sakit, sehingga dia jadi seperti kesima sesaat lamanya.

Han Han sendiri telah mendengus.

"Kau kakek tua renta, lebih baik menggelinding dari tempat ini sebelum kukirim ke neraka !" Kata Han Han dengan suara yang dingin sekali;

Kakek Hiat Tiok Sian-jin jadi semakin gusar.

"Bocah busuk ! Ternyata kau terlalu kepala besar!" katanya dengan bengis. "Jangan kau bergirang dulu karena selalu dapat mengelakkan setiap seranganku ! Nah, sekarang kau terimalah kematianmu!" Membarengi dengan habisnya perkataan si kakek, Hiat Tiok Sian-jin telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke arah Han Han, tangannya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, dan selagi tubuhnya melambung begitu, kedua kakinya tertekuk, sehingga sambaran tubuhnia ke arah Han Han menyerupai sambaran seekor rajawali besar yang sedang menerjang mangsanya.

Angin serangan dari si kakek juga dapat dirasakan oleh Han Han, walaupun serangannya itu masih belum sampai pada sasarannya, Angin serangannya Hiat Tiok Sian-jin itu pedas dan kuat sekali.

Cepat-cepat Han Han memasang kuda-kuda yang kuat dengan mengarahkan tenaga Lwee-kang-nya yang murni kepada kedua lengannya dan pada kedua kakinya, sehingga tubuhnya jadi berdiri tegak bagaikan tonggak yang kuat sekali. Kemudian dengan mengeluarkan seruan yang keras, Han Han mengangkat kedua tangannya secara mendadak, disaat itu serangan Hiat Tiok Sian-jin telah tiba.

Kedua pasang tangan itu jadi bentrok dengan hebat.

Tubuh Han Han terpental sampai membentur pohon, dan pohon itu roboh terbentur oleh tubuh si anak muda

Tetapi Han Han tidak mengalami cidera apa-apa, karena sebelumnya dia memang telah bersiap-siap, telah mengerahkan tenaga murninya keseluruh tubuhnya, yang menyebabkan punggungnya kebal waktu menubruk batang pohon.

Namun berbeda sekali keadaan Hiat Tiok Sian-jin.

Tadi begitu kedua tangannya kena ditangkis oleh Han Han, Hiat Tiok Sian- jin me-rasakan kedua, tangannya itu seperti juga menghajar tembok baja yang kuat sekali.

Juga Hiat Tiok Sian-jin merasakan semacam tenaga panas mengalir menerobos ke dalam tangannya, kemudian menjalar dengan kuatnya ke dada, sehingga tanpa disadari oleh Hiat Tiok Sian-jin, dia menjerit tertahan, tubuhnya terpental, ambruk ke tanah dengan wajah yang pucat pias!

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Hiat Tiok Sian-jin adalah seorang jago kawakan yang kosen luar biasa, yang telah, merobohkan beratus-ratus jago lihai di rimba persilatan. Tetapi sekarang dia bisa dirobohkan oleh seorang pemuda yang belum mempunyai nama !

Inilah hebat akibatnya bagi Hiat Tiok Sian-jin

Selain dia menderita malu pada saat itu juga, karena dia dapat dirobohkan oleh Han Han di bawah pandangan beratus-ratus orang Pek Bwee Kauw dan Wong Tie Hian pula Hiat Tiok Sian jin akan runtuh nama besarnya !

Dengan sengit dan wajah yang masih pucat, Hiat Tiok Sian-jin akan melompat berdiri.

Belum lagi dia dapat berdiri dengan tetap dan tubuhnya masih bergoyang- goyang, Han Han telah melompat dan mengulurkan tangannya menotok jalan darah Cie-ma-hiatnya si kakek.

Hebat totokan Han Han itu.

Hiat Tiok Sian-jin tidak sempat untuk mengelakkan, dia hanya kaget waktu jalan darahnya itu kena ditotok oleh si pemuda, dan Hiat Tiok Sian-jin hanya bisa mengeluarkan seruan tertahan, kemudian tubuhnya terguling lagi tubuhnyapun kaku dalam keadaan tertotok! Semua orang yang menyaksikan itu juga mengeluarkan seruan kaget. Hanya Wong Tie Hian yang berjingkrak girang.

Han Han berdiri bengis di sisi si kakek Seruling Haus Darah itu.

"Hmm kakek tua .....tadi sudah kukatakan, lebih baik sebelum mengalami cidera kau cepat-cepat menggelinding dari tempat ini, namun kau benar-benar tidak tahu selatan, kau berkeras ingin menempur dan membinasakan aku! Maka, sekarang jangan harap kau bisa hidup terus ! Kau adaiah seorang kakek jahat yang harus diienyapkan dari permukaan bumi ini !"

Mata Han Han tajam sekali mengawasi Hiat Tiok Sian jin.

Dilihatnya wajah kakek itu pucat sekali, berobah merah, kemudian berobah pucat kembali.

Rupanya si kakek malu berbareng murka, karena dirinya sampai dirobohkan oleh Han Han.

Tetapi untuk memaki dia tidak bisa, mulutnya kejang, dan begitu juga tubuhnya yang kaku tertotok, sehingga dia tidak bisa bergerak,

Hiat Tiok Sian-jin berusaha mengerahkan tenaga Lwee-kangnya untuk membuka jalan darahnya.

Tetapi walaupun dia telah mengerahkan sembilan bagian tenaga Lwee- kangnya untuk membuka totokan Han Han itu, tetap saja dia tidak berhasil.

Han Han melihat lagak orang, dia mendengus dengan suara yang dingin sekali.

"Hmmm .....kakek kepala besar !" bentak pemuda itu. "Bukalah totokanku itu Kalau memang kau mempunyai kemampuan untuk membukanya !" ejek Han Han.

Wajah Hiat Tiok Sian-jin tampak berobah dari pucat menjadi merah, kemudian berobah menjadi hijau. kemudian berobah kembali menjadi pucat.

Matanya juga tampak melotot besar, rupanya dia sangat murka berbareng penasaran sekali.

Melihat keadaan si kakek, kembali Han Han mendengus dengan suara mengejek.

"Hmm ..... dengan robohnya kau ini, sebetulnya aku harus menghajar kau sampai binasa! Tetapi mengingat kau memang seorang jago yang cukup kosen, maka tentunya dengan dirobohkan secara begini, kau penasaran sekali ....." kata Han Han dengan suara yang tawar. "Baiklah ! Aku akan memberikan kepadamu sekali lagi kesempatan kepadamu melawanku ! Aku akan membuka totokan itu ! Mari kita bertempur lagi secara jantan !"

Mendengar perkataan Han Han, Wong Tie Hian jadi kaget sekali, dia sampai berjingkrak menghampiri Han Han.

"Han Lao-tee —---!" suaranya penuh kekuatiran.

Han Han mengetahui bahwa Wong Tie Hian menguatirkan keselamatan dirinya, maka dia jadi berterima kasih kepada jago tua she Wong itu. Han Han juga mengetahui bahwa Wong Tie Hian tidak menyetujui bahwa dirinya akan membebaskan si kakek dan mereka bertempur kembali, dan Han Han mengetahui keinginan Wong Tie Hian, yaitu membunuh si kakek dengan menggunakan saat si kakek sedang tak berdaya itu, karena si kakek benar-benar berbahaya sekali.

Tetapi sebagai seorang pemuda yang berjiwa besar, dan jantan sekali, Han Han tidak mau melakukan perbuatan semacam itu, yang mungkin akan dikatakan sangat rendah sekali oleh jago-jago rimba petsilatan, membunuh orang dalam keadaan tak berdaya seperti Hiat Tiok Sian-jin itu.

Dengan teisenyum Han Han berkata: "Biarlah Wong Loo-cianpwee .....

biarkanlah kakek itu memperoleh kepuasannya dalam menghadapi kematiannya, kalau tidak dia tentu akan menjadi setan penasaran !" dan setelah berkata begitu Han Han tertawa agak keras, tertawa mengejek.

Hiat Tiok Sian-jin jadi tambah gusar, dia murka bukan main.

Tetapi Hiat Tiok Sian-jin murka tanpa daya, karena tubuhnya masih kejang dan totokan Han Han masih belum lagi dibuka oleh anak muda itu.

Wong Tie Hian tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa mengangguk sambil berkata: "Hati-hatilah Lao-tee.....dia seorang kakek yang jahat dan kejam sekali !"

Han Han mengangguk.

"Akan kuhadapi dengan penuh ketabahan, percayalah Wong Loo-cianpwee, dia tidak mungkin bisa menghadapi Chit cie-kun ciptaanku !" kata Han Han tersenyum.

Wong Tie Hian kembali kepinggir gelangHang. Han Han melirik kearah In .In.

Tampak nona Thio itu juga sedang menatap dia dengan pandangan kuatir sekali, mungkin nona Thio menguatirkan keselamatan jiwa anak muda itu.

Waktu mata mereka saling bentrok, maka Han Han menunduk, sedangkan nona Thio telah melengos memandang kearan lainnya, Han Han kemudian menghampiri Hiat Tiok San-jin. Diambilnya sebutir batu, kemudian dengan menyentil menggunakan kedua jari tangannya, Han Han telah menimpukkan batu kecil itu pada jalan darah Hiat Tiok Sian-jin.

Batu itu meluncur dan tepat menghajar jalan darah Hiat Tiok Sian-jin yang tertotok.

Begitu terbuka totokannya, Hiat Tiok Sian-jin melompat bangun dengan murka.

Tetapi, waktu kakinya menginjak tanah, dia roboh lagi ke tanah. Melihat lagak orang, Han Han tertawa.

"Uruti dulu jalan darahmu yang tadi tertotok, karena darah itu belum berjalan lancar !" Han Han memperingatinya.

Tetapi Hiat Tiok Sian-jin menganggap bahwa perkataan anak muda tersebut adalah ejekan.

Namun, kalau memang dia tidak menguruti, jelas dia tidak bisa memperoleh kesegarannya cepat-cepat.

Maka dari itu, biarpun dia gusar sekali, dan juga biar dia merasa malu, toch dia menguruti juga jalan darahnya yang baru terbuka itu.

Sedang si kakek menguruti jalan darahnya itu, agar aliran darahnya lancar kembali, Thio See Ciang jadi memandang dengan penuh kebimbangan.Kalau memang si kakek Hiat Tiok Sian-jin ini yang sudah terkenal akan kekosenan dan kekejamannya dapat dikalahkan oleh Han Han, maka bisa dibayangkan betapa tingginya kepandaian anak muda itu.

Thio See Ciang dengan sendirinya jadi jeri juga melihat kehebatan dari kepandaian Han Han.

Kalau sampai Hiat Tiok Sian-jin kena dirobohkan, jelas sekali Thio See Ciang bukan menjadi tandingan Han Han lagi, dan bisa-bisa nanti pihak Pek Bwee Kauw akan disapu bersih oleh Han Han.

Maka dari itu, biarpun Thio See Ciang hanya berdiam diri mengawasi kakek itu menguruti jalan darahnya itu, tokh hatinya terus tergoncang serta otaknya berputar untuk mencari jalan keluar guna nantinya merobohkan Han Han .serta Wong Tie Hian. Kalau memang bisa, Thio See Ciang malah bermaksud akan membunuh Han Han dan Wong Tie Hian.

Sedangkan Han Han pada saat itu sedang memandang Hiat Tiok Sian-jin dengan mata terpentang lebar dan penuh kewaspadaan, karena dia ingin menjaga segala kemungkinan yang terjadi, sebab Han Han jeri juga pada si kakek, takut Hiat Tiok Sian-jin menggunakan tipudaya liciknya.

Maka dari itu, dia berlaku hati-hati.

Benar saja dugaan Han Han, sedang semua orang memandang dengan tegang kearah mereka, tiba-tiba Hiat Tiok Sian-jin mengeluarkan suara dengusan, kedua tangannya juga bergerak, siap-siap untuk menyerang.

"Kau bocah busuk, biar bagaimana kau harus mampus di tanganku !" bentak Hiat Tiok Sian jin dengan suara yang keras dan mengguntur. "Hmmm. bersiap-

siaplah kau menerima kematianmu ! "

Han Han memang telah bersiap-siap, maka di saat si kakek melancarkan serangannya dengan disertai oleh suara bentakan yang menggelegar memekakkan anak telinga, Han Han cepat-cepat mengelakkan dengan menggunakan jurus Chit- cie-kun.

Hiat Tiok Sian-jin jadi semakin sengit, dia juga tambah mendongkol serta murka sekali.

Dengan penuh kemarahan yang sangat, dan berjingkrak-jingkrak saking murkanya, dia melancarkan serangan yang berantai serta bertubi-tubi.

Untung saja Han Han telah mempelajari sempurna ilmu yang diciptakannya sendiri, yaitu Chit-cie-kun, maka dia dapat mengelakkan dan menangkis setiap setangan dari si kakek.

Semakin lama Hiat Tiok Sian-jin jadi semakin murka, biar bagaimana dia adalah seorang jago yang lihai luar biasa, yang ditakuti oleh banyak jago kosen dirimba persilatan, tetapi sekarang ternyata dia tidak berdaya di tangan Han Han, menyebabkan dia bisa mati berdiri saking gusarnya,

Han Han menghadapi si kakek Seruling Haus Darah itu dengan tenang.

Setiap serangan si kakek selalu dapat dielakkannya dengan gerakan yang indah dipandang oleh mata, dan juga membuat orang-orang yang meayaksikan jadi berdiri tercengang, karena setiap gerakan Han Han gesit sekali, menyerupai gerakan tupai, selalu dapat mengelakkan serangan Hiat Tiok Sian-jin dengan lompatan dan gerakan tubuh yang benar-benar luar biasa sekali, di luar dugaan orang-orang itu semuanya.

Chit cie kun yang diciptakan oleh Han Han ternyata berlainan sekali dengan ilmu silat lainnya yang terdapat di daratan Tionggoan.

Biasanya kalau seorang musuh menyerang dari atas dan di sebelah kanan secara berbareng, pasti seorang jago silat akan mengelakkannya dengan mendoyongkan tubuhnya sedikit sambil menyampok dengan tangannya, atau juga dengan jalan melompat menggeser kedudukan kuda-kudanya.

Tetapi berbeda sekali dengan Han,Han ini !

Gerakan anak muda she Han tersebut berlainan sekali.

Sering kali Hiat Tiok-Sian-jin melancarkan serangan dari arah atas dan samping kanan secara berbareng, tetapi Han Han mengelakkan serangan-serangan itu dengan jalan maju memapaknya !

Semua orang yang menyaksikan benar-benar jadi terkejut, karena dengan maju memapak begitu, Han Han seperti juga mengangsurkan dirinya untuk dihajar oleh Hiat Tiok Sianjin !

Namun kenyataannya sangat berbeda sekali dengan dugaan orang yang menyaksikan pertempuran tersebut.

Di waktu tubuh Han Han maju memapak dia bukan tinggal diam begitu saja, kedua tangannya bergerak secara berbareng, yang kiri mengincar biji mata Hiat Tiok Sian-jin, sedangkan tangan kanannya mencengkeram kearah jalan darah Pie Tian Hiatnya dari si kakek.

Itulah hebat dan luar biasa sekali ! Semua orang jadi tercengang.

Hiat Tiok Sian-jin sendiri sampai membatalkan serangannya dan melompat ke belakang sambil mengeluarkan seruan kaget bercampur heran.

Kenapa bisa begitu ?

Karena kalau memang Hiat Tiok Sian-jin meneruskan serangannya itu, pasti kedua tangan Han Han akan lebin dulu mengenai sasarannya.

Sebab sebagai seorang jago, yang setiap detik sangat berharga sekali bagi mereka maka Han Han telah menggunakan detik-detik yang menentukan itu untuk merebut kemenangannya.

Kalau memang Hiat Tiok Sian-jin meneruskan serangannya itu, maka sebelum serangannya berhasil mengenai sasarannya dengan telak, dia sendiri akan terhajar binasa atau setidak-tidaknya akan terluka berat oleh Han Han, karena pemuda she Han itu telah merebut waktu beberapa detik, dan hal itu menyebabkan Han Han telah memperolek tujuh bagian dari kemenangan yang telah berada di tahgannya.

Betapa gusarnya Hiat Tiok Sian-jin, dia tambah murka, sampai berjingkrak- jingkrak karena marahnya. Dan di saat itu Han Han telah berdiri lagi dengan tenang, dia hanya tersenyum melihat kegusaran yang menimpa diri si kakek Seruling Haus Darah.

"Bagaimana?" tanya Han Han mengejek. "Apakah kau tidak cepat berlutut di hadapanku dan meminta ampun bagi selembar nyawa tuamu itu?"

Hiat Tiok Sian-jin gusar bukan main, matanya sampai mendelik lebar, ini menyatakan bahwa dia benar-benar telah mengumbar hawa amarahnya.

Hampir saja Hiat Tiok Sian-jin pingsan berdiri disebabkan hawa amarahnya yang meluap-luap itu, tetapi dengan sendirinya Hiat Tiok Sian-jin telah melupakan pantangan jago-jago di kalangan Kang-ouw, bahwa seorang jigo tidak boleh mengumbar hawa amarahnya, karena dengan disertai oleh kegusarannya itu, dia telah dirugikan tiga bagian dari apa yang dimiliki, yaitu kewaspadaan dan ketenangannya menghadapi lawan !

Dan hal itu telah dialami oleh Hiat Tiok S;aa jin.

Dengan dia mengumbar kegusaran dan kemurkaannya itu, maka dengan sendirinya Han Han jadi tambah girang, sebab dengan sendirinya Han Han akan bisa merobohkannya dengan mudah.

Hiat Tiok Sian-jin menatap pemuda she Han itu dengan mata yang mencorong merah, dia menjerit dengan suara yang mengguntur, kemudian dia melompat dengan kegesitan yang sangat, dan melancarkan serangan serangan secara beruntun.

Tetapi Han Han memang telah bersiap-siap.

Setiap serangan si kakek selalu dapat dipunahkan dan dielakkannya. Hal itu menyebabkan Hiat Tiok Siam jin jadi tambah murka.

Tetapi Han Han malah sengaja membikin si kakek tambah gusar.

Pemuda sbe Han ini selalu mengeluarkan ejekan-ejekan yang menyakitkan hati si kakek.

Setiap serangan berangkai Hiat Tiok Sian-jin selalu dapat dielakkan oleh Han Han karena pemuda she Han ini bersilat dengari tipu Chit-cie-kun, ilmu silat yang telah diciptakannya sendiri.

Semakin lama Hiat Tiok Sian-jin jadi semakin kalap, dia selalu menyerang bertubi-tubi kepada Han Han dengan kalap dan nekad sekali.

Tetapi, semakin dia kalap dan nekad, semakin jauh kemenangan untuk dirinya.

Suatu kali, di saat Hiat Tiok Sian-jin sedang menyerang Han Han dengan jurus Tiauw Pie JiauwAng, Han Han melihat suatu kesempatan ada padanya untuk merobohkan lawannya ini, karena Hiat Tiok Sian-jin telah membuka lowongan pada bagian dadanya.

" Maka dari itu Han Han tidak mau membuang-buang kesewpatan baik itu.

Dengan mengeluarkan bentakan "Roboh .....!" yang mengguntur, Han Han menghajar dada Hiat Tiok Sian-jin.

Hal ini mengejutkan kakek itu, dia sampai menjerit kaget.

Tetapi tangan Han Han bergerak cepat sekali, sudah tidak mungkin dielakkan oleh Hiat Tiok Sian-jin:

Maka dari itu, saking gugupnya, dan juga untuk berusaha menyelamatkan dirinya, Hiat Tiok Sian-jin mau membuang dirinya ke belakarg.

Tetapi semua itu telah terlambat !

"Duukkkk !" terdengar suara yang nyaring sekali, disusul kemudian dengan suara 'krakkkk !' patahnya tulang, dan disertai oleh suara jeritan Hiat Tiok Sian-jin yang menyayatkan hati.

Tampak tubuh Hiat Tiok Sian-jin roboh terbanting dengan keras di tanah, disertai juga oleh seruan tertahan dan kaget dari Thio See Ciang bersama orang- orangnya.

Wong Tie Hian sangat girang melihat Han Han berhasil merobohkan Hiat Tiok Sian-jin.

Dengan mulut meringis, Hiat Tiok Sian-jin merangkak berusaha untuk bangun.

Tetapi belum lagi dia berdiri, tiba tiba "Uaaahhh ! " kakek ini memuntahkan darah tiitam yang telah menggumpal dan dia roboh terkulai lagi di tanah.

Setelah bernapas dengan tersengal-sengal, akhirnya Kiat Tiok Sian-jin berusaha untuk bangun lagi.

Tetapi, belum lagi dia berhasil dengan usahanya yang kedua kali ini, dia telah memuntahkan gumpalan darah hitam kembali, wajahnya pias sekali, napasnya memburu.

Han Han menghampiri.

"Hmm.....kau adalah seorang kakek yang jahat, sudah seharusnya hari ini kau mampus! "' kata Han Han, "Tetapi hatiku tak tega dan tak mengijinkan untuk membunuh seorang lawan yang telah tidak berdaya.....maka kalau memang kau mau insyaf, akan kuampuni jiwa tuamu !" Setelah berkata begitu Han Han menatap Hiat liok Sian-jin dulu sesaat lamanya, kemudian waktu dia melihat muka si kakek yang pucat pias, dia ketawa dingin.

"Tetapi, sebelum kau pergi, kepandaianmu itu harus dipunahkan dulu, harus dilenyapkan, agar di belakang hari kau tidak membikin sulit orang-orang lemah.....

aku akan memunahkan kepandaian silatmu ! " kata Han Han.

Sehabis berkata begitu, Han Han menghampiri si kakek yang masih rebah lemas tak berdaya.

Sewaktu Han Han semakin mendekat kepada si kakek, muka si kakek dari Seruling Haus Darah ini tambah pucat saja, matanya memain dengan cepat, rupanya dia sangat ketakutan sekali. Namun Hiat Tiok Sian-jm ketakutan tanpa daya sekali, karena tenaganya seperti juga telah lenyap dari raganya.

Han Han menghampiri tambah dekat, sedangkan yang lainnya, yang menyaksikan dari luar gelanggang jadi mengawasi dengan hati yang tegang.

Waktu sampai di sisi Hiat Tiok Sian-jin, Han Han berhenti melangkah, dia mengawasi kakek tua yang telah dalam keadaan lemah dan payah itu.

"Hmm.....kukira dengan kuampuninya jiwa tuamu itu, tentu kau tidak akan penasaran kalau ilmu silatmu dilenyapkan, bukan?'' kata Han Han dergan suara yang tawar.

Mata si kakek Hiat Tiok Sian-jm jelalatan, dan ketakutan sekali.

Sebagai seorang jago yang kosen, yang sebelumnya sangat ditakuti oleh jago-jago dari kalangan Hek-to, hitam, atau Pek-to, jalan putih, terang dia akan menderita malu dan sengsara kalau sampai kepandaian ilmu silatnya dipunahkan oleh Han Han.

Untuk memohon-mohon ampun dengan menyembah-nyembah si pemuda she Han itu, terang dia tidak mau, karena seorang jago yang kosen sekali, biar mati, tidak akan menghiba-hiba kepada pemuda she Han tersebut.

Han Han ketawa dingin melihat orang ketakutan sampai begitu macam. "Apakah kau jeri kepandaianmu itu kupunahkan dengan cara yang kejam ?!

Oh tidak, aku hanya akan menotok beberapa jalan darahmu, yaitu jalan darah Pian Sian Hiat, kemudian menotok dua kali jalan darah Toe Pian Hiat, dan menotok sepuluh kali jalan darah Ciang Kui Hiatmu, dengan begitu selesailah tugasku !"

Kening si kakek Hiat Tiok Sian-jin jadf bermandikan keringat dingin. Dia ketakutan bukan main. Jalan darah yang disebut-sebut oleh Han Han adalah jalan darah terpenting di tubuh setiap manusia. Lebih-lebih jalan darah Toe Pian Hiat, itu adalah jalan darah yang memusnahkan ilmu silat seseorang jago silat kalau memang jalan darah itu sampai terkena tertotok.

Maka dari ilu, hebat rasa takut di diri Hiat Tiok Sian-jin,

Dia lebih baik mati dari pada harus dimusnahkan ilmu silatnya.

Sebab dengan musnahnya ilmu silat yang dimilikinya, berarti juga dia akan menjadi seorang yang lemah, lebih lemah dari orang yang tidak mengarti ilmu silat.

Waktu dulu-dulu dia sering berbuat kejam dan bengis kepada lawannya, sehingga Hiat Tiok Sian-jin walaupun dijerikan oleh semua jago-jago di daratan Tioag-goan, tokh diam-diam dia mempunyai banyak musuh yang dendam kepadanya, ysng sedang menanti-nantikan saat yang baik untuk membalas dendam mereka kepada kakek tua yang bergelar Hiat Tiok Sian-jin atau Seruling Haus Darah tersebut.

Kalan memang sekarang Hiat Tiok Sian-jin kehilangan kepandaian ilmu silatnya, dengan sendirinya musuhnya yang menaruh dendam kepadanya itu akan datang berduyun-duyun untuk melakukan pembalasan.

Dengan punahnya ilmu silatnya, yang telah berubah menjadi manusia biasa, malah lebih lemah lagi, mana mungkin Hiat Tiok Sian-jin bisa menghadapi lawan- lawannya itu ?

Maka dari itu, kalau sampai Han Han membuktikan perkataannya jelas hebat kesudahannya untuk Hiat Tiok Sian-jin.

Maka dari itu, betapa ketakutannya si kakek Seruling Haus Darah, dan di samping ketakutannya itu, yang bernaung dihatinya, timbul juga rasa nekad untuk mengadu jiwa dengan Han Han kalau sampai pemuda she Han itu mendesak terus menerus.

Pada saat itu Han Han telah menggerakkan tangan kanannya sambil berkata: "Bersiaplah untuk kembali menjadi manusia biasa lagi !" dan tangannya itu menotok ke arah jalan darah Pian Tiauw Hiat dari Hiat Tiok Sian jin.

Tetapi dikala tangan pemuda she Han itu sedang melayang akan menotok jalan darahnya si Seruling Haus darah itu, tiba-tiba dengan tak terduga, dengan mengeluarkan jeritan yang keras memekakkan anak telinga, Hiat Tok Sian jin menerjang ke arah Han Han, kedua tangannya terulurkan untuk merangkul dan memeluk Han Han. Han Han jadi terkejut, begitu juga yang lainnya. Lebih-lebih Wong Tie Hian, lelaki tua itu sampai mengeluarkan jeritan tertahan dengan mengeluarkan keringat dingin di keningnya.

Perbuatan yang dilakukan oleh Hiat Tiok Sian-jin memang benar-benar berada diluar dugaannya.

Tetapi bagi Han Han hal itu tak begitu berat dan juga tak membuatnya jadi gugup.

Walaupun penuda she Han ini tadi agak terkejut, tokh dia sangat kosen sekali.

Maka dari itu, dengan mudah sekali dia menggeser tubuhnya kedua kakinya bergerak pindah tempat, maka tubuhnya agak doyong sedikit, dan disaat itulah, di saat kedua tangan Hiat Tiok Sian-jin lewat di sisi tubuhnya, Han Han mengulurkan tangan kirinya, "dukkkk ", dia mendorong tubuh kakek itu, sehingga jago tua itu jadi terjerunuk, lalu terjerembab memeluk batang pohon yang ada di depannya.

Tampak Hiat Tiok Sian-jin memeluk batang pohon itu kuat-kuat.

Terdengar suara yang berisik sekali kemudian disusul dengan robohnya pohon itu.

Semua orang terkejut !

Hebat sekali rangkulan Hiat Tiok Sian-jin, rupanya robon yang kena dipeluknya itu jadi hancur batangnya, dan roboh, sedangkan di bagian bekas dipeluk oleh Hiat Tiok Sian-jin tampak pada hancur berkeping-keping..

Maka dapat dibayangkan, kalau Han Han tadi kena dipeluk oleh Hiat Tiok Sian-jin, biarpun kulit Han Han seumpamanya terdiri dari baja, tetapi tetap saja terbinasakan oleh kakek tersebut.

Mengapa Hiat Tiok Sian-jin begitu nekad, dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya kepada kedua lengannya itu ?

Karena dia memang sudah mengambil keputusan untuk binasa bersama dengan Han Han !

Pada saat itu Han Han telah menghampiri Hiat Tiok Sian-jin perlahan-lahan. Sedangkan Hiat Tiok Sian-jin telah roboh terkulai di tanah dengan napas memburu keras, wajahnya semakin pucat.

Han Han sudah tidak mau memberi waktu lagi kepada Hiat Tiok Sian-jin, karena kakek itu terlalu jahat sekali, Coba kalau tadi dia kena dirangkul oleh kakek itu, pasti dia akan terbinasa di tangan kakek itu. Untung saja dia telah mempelajari Chit-cie-kun, sehingga dia dapat bergerak dengan cepat sekali.

Dengan mengulurkan tangan kanannya yang bekerja cepat menotoki beberapa jalan darah Hiat Tiok Sian-jin, maka musnahlah ilmu silat si kakek yang kejam itu.

Sambil menghela napas, Han Han menghapus butir-butir keringat yang memenuhi keningnya.

Kemudian dia menoleh kepada Thio See Ciang.

"Nah orang she Thio, sekarang marilah kita menyelesaikan urusan kita ! " katanya, ''Hutang piutang akan kita selesaikan hari ini. Biarpun kau melarikan diri ke ujung bumi, aku takkan melepaskannya, karena dendam ayah ibuku tak akan terbalas tanpa binasanya dirimu !"

Wajah Thio See Ciang jadi berobah, dia berusaha untuk tersenyum, sambil mengawasi Hiat Tiok Sian jin yang kala itu menggeletak lemas tak berdaya di tanah, seluruh kepandaian kakek yang tadinya begitu kosen, telah musnah seluruhnya.

"Bocah, rupanya kau kosen sekali !" kata Thio See Ciang sambil tetap tersenyum dengan membawa lagak yang tenang sekali, padahal hatinya agak tergoncang melihat Hiat Tiok Sian-jin tidak berdaya melawan Han Han. "Kuakui memang kepandaianmu sangat tinggi sekali ! Tetapi kau jangau takabur dulu, belum tentu kau bisa menundukkan aku orang she Thio ini !"

Dan setelah berkata begitu, Thio See Ciang mengibaskan tangannya, dan sambil mengibaskan taogannya begitu, kedua kakinya menjejak dengan kuat. sekali, sehingga tubuhmya melambung menjauhi Han Han.

Dan, waktu anak muda she Han itu melihat kelakuan lawannya, yang tampaknya mau melarikan diri itu, dia menjejakkan kakinya juga, tubuhnya melambung akan mengejarnya.

Namun belum lagi pemuda she Han tersebut bergerak untuk mengejar, dirinya telah diserang dan dikepung oleh orang-orang Pek Bwee Kauw, yang meluruk ke arahnya.

Begitu juga Wong Tie Hian, dia dikepung oleh orang-orang Pek Bwee Kauw.

Han Han menjadi gusar bukan main, dia juga mendongkol sekali, maka dari itu dengan mengeluarkan suara siulan yang nyaring, tubuhnya berkelebat-kelebat dengan cepat. Di mana tangan Han Han bergerak, disitu pasti terdengar suara jeritan yang keras dari orang-orang Pek Bwee Kauw.

Gerakan Han Han sangat cepat sekali, sehingga di dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat memukul roboh berpuluh-puluh orang Pek Bwee Kauw, yang kena ditotoknya.

Begitu juga Wong Tie Hian, dia seperti juga singa tua yang mengamuk dengan hebat, sehingga akhirnya orang-orang Pek Bwee Kauw terpecah nyalinya.

Dengan cepat sisa dari orang-orang Pek Bwee Kauw mengambil langkah

.seribu.

Han Han berdiri tegak mengawasi orang-Pek Bwee Kauw yang banyak tertotok olehnya.

Dia mengawasi ke sekitar tempat itu, tidak tampak lagi Thio See Ciang, Siang-jie dan juga nona Thio In In.

Dengan hati yang berduka Han Han menarik napas dalam-dalam.

Biar bagaimana baiknya nona Thio itu, tokh tetap saja dia akan berdiri di belakang Thio See Ciang. Itu pasti, biar bagaimana In In pasti akan membela See Ciang.

Maka dari itu, mengingat semua itu, hati Han Han jadi tambah berduka. Lebih-lebih waktu Wong Tie Hian menghampirinya, menepuk bahunya,

hampir saja butir-butir air mata membanjir keluar dari kelopak matanya.

Tetapi untung saja Han Han masih dapat menahan perasaan dukanya itu.

Akhirnya setelah berunding dengan Wong Tie Hian, mereka kembali ke gedung Wong Tie Hian untuk merencanakan bagaimana menangkap Thio See Ciang.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 39

Maaf, 31 dan 32 hilang DW KZ.

rapa saat, dia menari-nari, sambil tertawa-tawa dengan suara yang keras sekali. Gan Hwee-shio telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada orang itu.

"Sian-chay .....Sian-chay, siapakah Sie-coe?" tanyanya dengan suara yang seramah mungkin, sebab hati Hwee-shio ini agak keder mengawasi muka orang yang menyeramkan itu, dia agak menggidik.

Orang itu jelalatan sehingga menambah seramnya muka orang itu waktu matanya bergerak-gerak.

"Hmm     kau menanyakan namaku, apakah kalau aku menyebutkannya kau

tidak akan ketakutan ?" tanya orang itu dengan suara yang serak menyeramkan.

Gan Hwee-shio tambah terjengkit hatinya.

Sudah wajahnya aneh dan menyeramkan» ternyata adat orang ini juga aneh

pula.

Maka dari itu dia merangkapkan kedua tangannya kembali sambil menyebut

kebesaran nama sang Budba.

"Kita manusia hidup di dunia ini hanyalah sekedar untuk menjalani penghidupaa yang penuh sengsara " kata Gan Hwee-shio dengan cepat. "Untuk apa Lo-lap harus jeri kepada Sie-coe ? "

Sie-coe, ialah tuan.

Orang bermuka aneh dan menyerarnkaa iu tertawa lagi dengan suara yang menyeramkan.

"Bagus! Bagus ! Kau rupanya seorang Hwee-shio yang baik ! Nah, kau dengarlah, namaku Po Po Siat !" dan setelah berkata begitu lagi, orang tersebut yang ternyata memang Po Po Siat, telah tertawa keras lagi, sampai tubuhnya tergoncang.

Mendengar orang menyebut namanya itu, wajah Gan Hwee shio dan Hwee- shio lainnya jadi berubah pucat.

"Oh..... Sian-chay, Sian-chay! Omitohoed !" memuji Gan Hwee-shio. "Rupanya Sie-coe adalah Po Po Siat Loo-cian-pwee yang tak ada tandingannya !"

Po Po Siat ketawa dingin, dia tidak meladeni pujian dari si Hwee-shio.

Dengan wajah yang menyeramkan, dia menoleh ke arah Han Swie Liem dan orang-orang gila lainnya, yang kala itu sedang menari-nari sambil tertawa-tawa dengan keras.

"Hu, orang-orang gila yang membikin kupingku jadi tuli dan sangat memuakkan sekali !" kata Po Po Siat dengan suara yang menyeramkan. "Sungguh membuat kepalaku jadi pusing !" Dan setelah berkata begitu, Po Po Siat menghampiri ke arah Han Swie Liem.

Tetapi baru saja dia melangkah beberapa langkah, tiba-tiba dari kejauhan tampak berlari-lari beberapa sosok tubuh.

Akhirnya sosok-sosok tubuh itu, yang berlari dengan Gin-kang yang cukup tinggi sampai disitu.

Mereka adalah Thio See Ciang, Thio In In dan Siang-jie, putera dari Thio See Ciang.

Po PoSiat jadi menghentikan langkabnya dia mengawasi kearah Thio See Ciang dengan pandangan yang menyeramkan dan menggidikkan bulu tengkuk.

Thio See Ciang juga terkejut waktu dia melihat Po Po Siat, tetapi untuk mundur lagi, terang sudah tidak keburu.

Maka dari itu, Thio See Ciang dan Thio In In serta Siang jie maju terus, Po Po Siat mengerutkan sepasang alisnya.

"Siapa kau?" bentak Po Po Siat waktu Thio See Ciang dan In In serta Siang- jie telah berada di depannya. "Sebutkan nama kalian!"

Thio See Ciang segera mengenali bahwa orang ini adalah Po Po Siat, seorang jago yang bengis dan selalu bertindak kejam kepada lawannya.

Hati jago sheThio yang menjadi Kauw-coe dari Pek Bwee Kauw jadi ciut dengan sendirinya, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

"Oh kau Po Loo-cianpwee?" tegurnya dengan suara yang agak tergetar. Cepat-cepat dia menjura memberi hormat kepada jago tua she Po itu. "Apakah selama ini keadaan kau orang tua selalu baik-baik saja ?"

Wajah Po Po Siat jadi berubah bengis.

"Apakah kau kira aku ini seorang kakek penyakitan ?" tegurnya dengan sengit.

Wajah Thio See Ciang jadi pucat.

Dia sebelumnya telah mendengar bahwa adat si kakek she Po ini sangat aneh sekali. Tadi dia menegur dengan maksud untuk berlaku seramah mungkin, tetapi dengan tidak diduga si kakek malah salah terima.

Maka dari itu cepat2 Thio See Ciang menjura lagi.

"Maafkanlah Loo-cianpwee.....memang Boan-pwee tahu bahwa selama ini keadaan Loo cianpwee baik-baik saja." kata Thio See Ciang sambil memberi hormat berulang kali kepada si kakek yang beradat aneh ini, See Ciang menjura berulang kali.

Mata si kakek Po Po Siat mencilak. "Kau lelaki penjilat ! Bukankah kau seorang Kauw-coe dari sebuah perkumpulan yang bernama Pek Bwee Kauw ?" tegur Po Po Siat bengis!

"Be.....benar Loo-cianpwee!" kata Thio See Ciang tambah gugup lagi. "Ternyata Loo-cianpwee kenal dengan Boan-pwee!"

"Chisss..... ! Siapa yang mau kenal dengan manusia semacam kau ini ?" bentak Po Po Siat dengan suara yang luar biasa kerasnya.

Thio See Ciang jadi ketakutan sekali, dia memang telah mengetahui tentang kepandaian Po Po Siat yang tiada tandingannya di daratan Tionggoan. Maka kalau sampai dirinya kena diserang oleh si kakek ini, kemungkinan besar dia akan berjalan-jalan di neraka !

Maka dari itu, cepat Thio See Cang menekuk lututnya, dengan berlutut begitu See Ciang berkata: "Maafkanlah Loo-cianpwee kalau memang tadi ada.....ada kata-kata Boan-pwee yang salah.  !"

Po Po Siat ketawa dingin lagi, mukanya semakin tidak sedap dipandang. "Kau benar-benar lelaki rendah seperti anjing!" kata si kakek bengis.

"Manusia seperti kau ini tidak seharusnya masih hidup di atas dunia ini!"

Dan membarengi dengan perkataannya itu, Po Po Siat mencelat, kedua tangannya bergerak, dan lengan jubahnya itu meluccur tenaga serangan yang kuat sekali.

Thio See Ciang terkejut waktu dia melihat si kakek menyerang dirinya.

Tanpa memperdulikan rasa malu, dia cepat-cepat melompat berdiri, dan kemudian melarikan diri dengan pentang kedua kakinya selebar-lebarnya.

Tetapi Po Po Siat yang terkenal sangat aneh itu mana mau melepaskan See Ciang begitu saja.

Dalam beberapa kali menjejakkan kakinya dia telah mengejarnya.

See Ciang jadi ketakutan setengah mati dengkulnya dirasakan lemas sekali.

Tetapi kalau memang dia berhenti berlari, maka dia akan dibinasakan oleh kakek aneh itu.

Maka itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dia melarikan diri terus.

Po Po Siat masih mengejarnya terus.

Semakin lama jadi semakin dekat dan See Ciang jadi ketakutan sekali. Lebih-lebih pada saat itu hujan turun menyiram bumi.

Tanpa memperdulikan hujan itu, Thio Shee Ciang terus juga melarikan diri. Tetapi, waktu dia sampai disebuah tikungan jalan yang akan menuju keluar kota, Thio See Ciang jadi berhenti berlari, dia berdiri menjeglek sambil mengawasi dengan mata terpentang kearah depannya.

Apa yang dilihatnya, sehingga tampaknya Thio See Ciang begitu ketakutan ? Ternyata di situ, dibawah sebuah pohon yang besar, di antara rintiknya air hujan, tampak Han Han dan Wong Tie Hian berdiri mengawasi See Ciang dengan

mata yang berapi-api.

Setelah tersadar dari kagetnya, See Ciang mengeluarkan suara jeritan ketakutan, dia menoleh, dilihatnya Po Po Siat sudah dekat sekali.

Dengan cepat dia melompat ke samping, mengambil arah kekanan.

Tetapi dengan kecepatan yang luar biasa Han Han telah menghadang lagi dihadapannya.

Saking ketakutannya, See Ciang telah menerjang dengan kalap.

Tetapi di dalam keadaan kalap seperti begitu, apa lagi disertai oleh rasa ketakutan yang sangat, See Ciang berbuat sembrono sekali, sehingga dengan mudah Han Han mengelakkan serangannya, dan mengulurkan tangannya menotok jalan darah See Ciang.

Kepandaian See Cisng masih berada di bawahnya Hiat Tiok Sian-jin, maka begitu Han Han mengulurkan tangannya untuk menotok dirinya, walaupun See Ciang mengetahui datangnya serangan dari si pemuda she Han itu tokh tetap saja dia tidak bisa mengelakkannya.

Seketika itu juga See Ciang roboh tertotok oleh Han Han. Pada saat itu Po Po Siat telah sampai di tempat itu juga.

Matanya jadi inencilak melihat See Ciang dirobohkan oleh Han Han, dia jadi mendongkol luar biasa.

"Bocah, benar-benar kau berani mampus dengan membentur buruanku !" bentaknya.

Han Han mengangkat kepalanya, dia memandang kearah Po Po Siat, atau seketika juga dia jadi tetperanjat, karena dia mengenali bahwa kakek itu adalah Po Po Siat, yang memang akan bertemu tahun ini untuk bertempur.

"Po Loo-cianpwae, ternyata kita bisa bertemu di sini!" kata Han Han kemudian setelah menenangkan goncangan hatinya, "Aku adalah Han Han, murid dari Khu Sin Hoo dan kawan-kawan ..... yang akan menghadapi Po Loo-cianpwee

!"

Po Po Siat mengawasi Han Han dengan matanya yang juling meletos itu, "Apakah kau benar-benar si bocah yang akan menghadapiku bertempur?" tegurnya dengan suara yang bengis,

Han Han mengangguk-

Tetapi belum lagi dia menyahuti tampak Siang-jie dan nona Thio sedang berlari-lari kearahnya.

Dan untuk girangnya Han Han, dia melihat di belakang In In dan Siang jie juga berlari-lari kearah dia itu adalah ayahnya, ibunya ! Yaitu Han Swie Liem dan Han Hoe-jin ! Dan juga tampak keempat murid ayahnya itu!

Dengan tidak memperdulikan Po Po Siat lagi, Han Han berlari-lari memapak kearah Han Swie Liem sambil berteriak-teriak kegirangan saking meluapnya perasaan gembira si pemuda, she Han itu: "Ayah .....ibu .....oh Thia "

Waktu dia berpapasan dengan In In dan Siang-jie yang berlari ke arah See Ciang,, Han Han hanya melirik saja, dilihatnya In In juga melirik ke arahnya.

Kemudian dengan berteriak-teriak gembira, Han Han memapak kearah Han Swie Liem.

Dipeluk ibunya, tetapi dengan tidak terduga Han Hoe-jin mendorongnya sambil tertawa-tawa dan suara perempuan yang menjadi ibu Han Han menyeramkan sekali.

Seketika itu juga Han Han teringat bahwa ibu dan ayahnya itu masih gila! Juga keempat murid ayahnya, semuanya tampak dalam keadaan yang menyedihkan sekali.

Kegusaran Han Han jadi meluap lagi, rasa dendamuya kepada See Ciang jadi meluap-luap.

Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya akan menghajar binasa See Ciang, Tetapi Po Po Siat telah menghadangnya.

"Eb, bocah, mari kita bertempur !" seru Po Po Siat Han Han menoleh kepadanya.

"Tunggu dulu, aku masih mempunyai urusan dengan orang she Thio itu !" kata Han Han sambil menghampiri terus kearah See Ciang, yang kala itu sedang diuruti oleh In In dan Siang-jie, rupanya kedua muda-mudi itu sedang berusaha membuka totokan Han Han pada jalan darah See Ciang, tetapi mereka tidak berhasil.

Tetapi Po Po Siat tidak mau mengarti, ia tetap menghadang Han Han malah dia telah melancarkan serangan-serangan yang berbahaya. Hal ini membuat Han Han jadi gusar sekali, dia sampai mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, dan menangkis serangan Po Po Siat.

Tetapi si kakek benar-benar luar biasa.

Belum lagi tangannya itu kena ditangkis oleh Han Han, dia telah menarik pulang kembali dan melakukan serangan lagi. Malah serangannya kali ini lebih hebat lagi.

Terpaksa Han Han jadi melayani kakek tua yang galak dan kosen ini.

Tetapi Han Swie Liem berenam, telah menghampiri kearah See Ciang dengan mata yang bengis sekali.

Mereka menari-nari sambil menghampiri kearah In In dan Syang-jie. Sedangkan Hie Beng dan Hie Lay bersama Tang Siu Cauw dan Soe Niang,

telah menghampiri See Ciang yang masih menggeletak, WongTie Hian juga menghampiri kearah See Ciang. In In dan Siang-jie jadi ketakutan, mereka jadi nekad.

Malah Siang-jie akan mengangkat tubuh ayahnya yang kaku tertoiok itu untuk dibawa kabur.

Tetapi punggung Siang-jie sudah kena dijambret olen Han Swie Liem, sehingga dia dan tubuh See Ciang jadi terguling-guling di-tanah.

Di kala Siang-jie menghadapi Han Swie Liem, adalah In ln harus menghadapi Han Hoe jin.

Mereka bertempur dengan seru sekali.

Hie Beng dan ketiga saudara seperguruannya maju mendekati See Ciang.

Hie Beng mencekal tangan kiri See Ciang Sedangkan Hie Lay mencekal lengan kanan See Ciang, Tang Siu Cauw memegang kaki kiri Kauw coe Pek Bwee Kauw ini dan Soe Niang mencekal kaki kanan dari Kauw-coe Pek Bwee Kauw tersebut, mereka menggoyang-goyangkan sambil mengangkat tubuh See Ciang.

Orang she Thio yang menjadi Kauw-coe Pek Bwee Kauw itu ketakutan sekali, dia sampai menjerit-jerit.

Tetapi berhubung tubuhnya kejang kaku tertotok, maka dia tidak berdaya dan tidak bisa bergerak.

"Satu..... dua ..... tiga ....." Tang Siu Cauw menghitung juga yang lainnya menghitung pula.

Dan pada hitungan ketiga itu, dengan tidak terduga keempat murid Han Swie Liem telah menarik tubuh See Ciang secara berbareng. "Breeeettttt!" tubuh See Ciaag terbelah empat tanpa dapat menjerit lagi, tubuh ketua dari perkumpulan Pek Bwee Kauw telah tertarik oleh keempat murid Han Swie Liem, isi peiutnya berhamburan dan darah berceceran menyiram bumi !

In In dan Siang-jie yang menyaksikan hal itu jadi menjerit menyayatkan.

Dan, mereka jadi tidak menyadari bahwa Han Hoe-jin dan Han Swie Liem tengah menyerang mereka lagi.

Maka tanpa ampun, kedua muda-mudi itu terhajar, mereka roboh secara berbareng dan pingsan tak sadarkan diri ......

Wong Tie Hian menghampiri dengan wa-jah yang berduka. Biar bagaimana dia agak ngeri melihat cara kebinasaan dari Thio See Ciang.

Kemudian jago she Wong itu mendekati pertempuran antara Han Han dengan Po Po Siat, dia berpikir, kalau memang Han Han membutuhkan tenaganya, bantuannya, maka dia akan membantunya, walaupun nantinya akan berakibat jelek baginya atau terbinasa di tangan Po Po Siat.

Tetapi dengan tidak terduga, waktu Po Po Siat melihat cara kebinasaan See Ciang yang mengerikan itu, dia jadi melompat ketepian kelanggang.

"Tahan.   !" serunya dengan suara yang bengis.

Han Han juga tidak meneruskan serangannya.

"Siapa mereka ?" bentak Po Po Siat lagi sambil menunjuk Han Swie Liem berenam yang sedang menari-nari mengelilingi mayat Thio See Ciang, tubuh In In dan Siang-jie.

Han Han memandang penuh kewaspadaan kepada Po Po Siat, karena dia takut lelaki tua ini menggunakan siasat jahat.

"Mereka adalah ayah ibuku!" kata Han Han dengan suara yang ragu. "Mereka lelah dibuat gila oleh orang she Thio keparat itu .....maka sudah pantas orang she Thio itu menerima kebinasaannya secara begitu !"

Mendengar keterangan Han Han, Po Po Siat menghela napas.

"Ya, selalu saja, ombak yang di belakang mendorong ombak yang di muka, generasi muda telah muncul dan si tua harus mengundurkan diri! Baiklah bocah, tentang per janjian kita untuk saling bertempur kita habiskan saja sampai di sini, sebab kalau kita teruskan, aku takut kau terbinasa dan itu harus dibuat sayang, karena kau mempunyai bakat yang baik sekali!"

Mendengar perkataan Po Po Siat, Han Han jadi gembira sekali.

Cepat-cepat dia menjnra kepada kakek tua bermuka menyeramkan itu. "Terima kasih Loo-cianpwee..... memang Boarpwee dan guru-guru Boanpwce juga tidak bermaksud sungguh-sungguh dengan pertandingan itu !"

Po Pö Siat hanya mendengus.

Tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke atas Han Swie Liem dan orang gila lainnya.

Han Han terpcranjat melihat gerakan Pö Po Siat, dia duga kakek tua itu akan menggunakan tipu jahat untuk mencelakai orang tuanya itu.

Maka cepat-cepat Han Han juga menjejakkan kakinya untuk menghadang di depan Po Po Siat.

Namun gerafean Po Po Siat benar-benar cepat dan gesit sekali, di dalam waktu yang singkat tampak tubuhnya berkelebatan di antara keenam orang gila itu, tangannya juga bekerja, menotok jalan darah keenam orang gila itu.,

Han Swie Liem jadi berdiri menjublek sesaat, begitu juga orang-orang gila lainnya.

Mereka seperti juga baru terbangun dari tidur.

Han Han cepat-cepat menghampiri, dia berlutut di hadapan ayah dan ibunya "Ayah ..... ibu panggilnya dengan penuh kegembiraan, karena ternyata gerakan

Po Po Siat tadi adalah menotok jalan darah Han Swie Liem dan Iain-lainnya untuk menyembuhkan dari kegilaannya.

Han Swie Lim mengerutkan sepasang alisnya, dia menatap Han Han dan yang lain-lainnya dengan bingung.

"Siapa kau ? " akhirnya dia bertanya juga dengan suara yang serak.

Han Han cepat-cepat menceritakan segala kejadian yang telah menimpa keluarga mereka hal ini membuat Han Swie Liem menghela napas berulang kali.

Kemudian katanya dengan suara yang sabar waktu dia selesai mendengar cerita Han Han; "Puteranya dan nona Thio itu tidak bersalah ampunilah mereka

!" katanya,

Han Han mengangguk, kemudian dengan terharu dia saling berpelukan dengan ke empat murid ayahnya.

Setelah itu barulah Han Han memperkenalkan Wong Tie Hian kepada ayah ibunya dan keempat murid ayahnya. Juga memperkenalkan Po Po Siat.

Han Han merghampiri In In dan Siang-jie yang masih pulas.

Dia menotok salah satu jalan darah kedua muda-mudi itu, sehingga mereka tersadar.

"Cepatlah kau pergi dari tempat ini ! " bentak Han Han kepada Siang-jie, Siang-jie jadi menangis menggerung-gerung waktu melihat cara binasa ayahnya di tangan Han Han sekeluarga, dia menatap Han Han dan yang lainnya penuh dendam, kemudian dibawah hujan rintik-rintil yang masih turun, Siang-jie menuntun tangan In In meninggalkan tempat itu,

Han Han mengantarkan kepergian kedua orang itu dengan hati yang berduka.

Waktu In In menoleh sesaat, pemuda she Han ini malah melambai- lambaikan tangannya, seperti juga menyampaikan selamat berpisah,

Han Han masih berdiri bengong sampai Siang-jie dan Thio In In lenyap dari pandangannya.

Akhirnya dia tersadar waktu Po Po Siat menepuk pundaknya.

"Bocah ..... akupun ingin menjadi gurumu !" kata Po Po Siat. "Dan mulai hari ini aku akan mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw. Mana ketujuh guru- mu ? "

Han Han cepat-cepat menekuk lututnya menyatakan terima kasih, dia juga sudah lantas memanggil Po Po Siat dengan sebutan Soe-hoe guru, kemudian menceritakan bahwa keiujuh gurunya sudah mengasingkan diri dari segala keramaian duniawi !

Dengan gembira Wong Tie Hian menyampaikan kata-kata selamat kepada Han Han karena telah dapat berkumpul dengan ayah ibunya dan ke empat murid ayahnya itu .....

Betapa gembira dan terharunya orang-orang ini .....mereka meninggalkan tempat itu dengan, segenggam harapan bernaung di hati mereka masing-masing

.....sedangkan Gan Hwee-shio yang tiba di tempat itu paling akhir, hanya menemukan mayat Thio See Ciang yang hancur berkeping-keping.

Gan Hwee-shio dan Hweeshio-hweeshio lainnya merangkapkan tangannya memuji nama besar sang Budha ..... mereka menyesalkan ke enam orang gila itu terlalu kejam turun tangan, karena Gan Hwee-shio tidak mengetahui persoalan yang pertamanya  !

Hwee-shio ini juga mengumpulkan orang-orang sekitar tempat itu, untuk mengubur mayat See Ciang, yang telah digabung menjadi satu,

Kemudian setelah selesai mengubur mayat See Ciang, Gan Hwee-shio dan Hweeshio-hweeshio lainnya kembali ke kelenteng mereka dan Gan Hwee-shio akan merantau untuk mencari keenam orang gila yang menurut dugaannya telah membunuh Thio See Ciang secara bengis. Sedangkan kuburan See Ciang yang sederhana masih tersiram oleh rintikaya air hujan. Sekitar tempat itu menjelang malam jadi sangat sepi sekali .....

TAMAT