Seruling Haus Darah Jilid 10

 
Jilid 10

YA ..... mari silahkan duduk untuk meminum arak bersamaku menghangatkan diri dari serangan hawa udara yang tak menggembirakan dan dingin ini!" menyahuti Han Han.

Si pengemis menghampiri dengan ragu. Waktu Han Han menyuruhnya duduk, dia duduk dengan sikapnya ragu-ragu. Matanya mencilak menatap anak muda she Han tersebut.

"Kemari kau !" panggil Han Han pada si peiayan.

Pelayan yang galak itu telah berubah jadi hormat dan tampaknya takut-takut.

Dia menghampiri dengan membungkukkan tubuhnya.

"Ada apakah, Sian-kong?" tanyanya dengan suara menghormat.

"Layani paman ini sebaik-baiknya ! " perintah Han Han. "Setiap makanan yang diingininya, berikan ! Nanti perhitungannya padaku ?!"

Si pelayan mengiyakan, dia cepat-cepat mengundurkan diri, dia juga heran, mengapa ada anak muda yang begitu tolol mengundang seorang pengemis untuk menjadi teman mengobrol ? Bukankah masih banyak orang lain yang kedudukan dirinya tidak seperti si pengemis ? Bukankah lebih baik dan lebih terhormat diriku untuk diajak minum bersama? pikir pelayan itu.

Sedangkan si pengemis seperti juga menghadapi suatu keajaiban, dia jadi duduk bengong seperti orang tolol memandangi terus wajah anak muda she Han itu.

"Siapakah nama Loo-pek ?"tanya Han Han waktu melihat orang hanya menatapi dirinya terus, dia juga bertanya sambil tersenyum, manis senyumannya itu.

"Namaku ?" tanya si-pengemis seperti baru tersadar: Han Han mengangguk.

Si pengemis menghela napas. Katanya :

"Aku orang susah, yang hidup sengsara, sampai nama sendiri telah kulupakan. Namun, biasanya orang memanggilku dengan sebutan Ho Kay, si pengemis rase !"

"Ho Kay ?" tanya Han Han heran. "Mengapa orang memanggil Loo pek dengan sebutan itu ?"

Si pengemis menghela napas lagi. "Sebetulnya kalau diceritakan hanya akan menjadi bahan tertawaan Siang- kong belaka ..... tetapi mengingat kebaikan dan budi Siang-kong yang tak terhingga, biarlah aku menceritakannya ! Sejak beberapa tahun yang lalu, aku dikenal sebagai pengemis bertangan panjang, alias suka mencopet barang milik orang, juga gerakan tanganku sangat cepat, hampir sama sekali aku belum pernah kepergok oleh korbanku ! Maka dari itu, kawan-kawanku menggelari aku sebagai Ho Kay, si pengemis rase."

Han Han mengangguk mengerti.

"Jadi Lo-pek mempunyai suatu keakhlian untuk mengambil barang orang lain?" tanya Han Han.

Wajah si kakek pengemis jadi berubah merah, rupanya dia likat sendirinya.

Tetapi, dia toh mengangguk.

"Ya     semua itu terpaksa kulakukan mengingat penghidupan yang semakin

sulit!" menyahuti si kakek.

Han Han tersenyum, sedangkan si pelayan telah datang membawakan beberapa macam makanan, serta dua kati arak.

Han Han mempersilahkan si pengemis melahap semua makanan itu. Dan, dengan penuh kebaikan hati, Han Han memberikan juga empat tail perak kepada si pengemis dikala si pengemis telah selesai menyantap semua makanan itu.

Dengan berulang kali menyatakan terima kasihnya, si pengemis pamitan meminta diri. Han Han menahannya, mengingat salju masih terus deras sekali, tetapi rupanya si pengemis telah pulih semangatnya, dia tetap berkeras ingin berangkat.

Akhirnya Han Han melepaskan juga, dia mengantarkan sampai di depan rumah penginapan tersebut.

Kemudian Han Han kembali ke dalam kamarnya.

Waktu dia merebahkan diri di pembaringan, otaknya kembali bekerja, teringat akan nasib si kakek yang tertawan di dalam gedung Sam Tiauw Boe Koan. Juga Han Han teringat akan ketujuh jurus yang diturunkan kakek itu. Seingatnya dia pernah mendengar kakek itu mengakui pernah menurunkan satu jurus pada Khoe Sin Ho, dan juga kepada Tok Sian Sia atau Gauw Lap. Namun, mengapa sekarang dia menerima sampai tujuh jurus dari kakek itu, ketujuh jurus ilmu silat itu seperti tak ada gunanya pada Sam Coa Tin ? Mengapi dia tak bisa memukul pecah berantakan tin itu ? Sedangkan dia bisa meloloskan diri dari kepungan Sam Coa Tin tadi disebabkan itulah kepandaian Han Han yang memang tinggi lihai, sehingga dia dapat memecahkan Sam Coa Tin untuk sementara waktu, tetapi bukan untuk dihancurkan. Apakah si kakek telah bicara besar dan berdusta mengenai diri Khoe Sin Hoo dan lain-lainnya ? !

Sedang Han Han termenung seorang diri di pembaringannya, tiba-tiba di atas penglarian dikamarnya itu, dilihatnya dua ekor cicak sedang saling kejar mengejar. Han Han tak tertarik, sampai suatu saat dilihatnya kedua cicak itu saling menggigit dan berkelahi dengan mengeluarkan suara Cheettttt..... yang berisik sekali. Tiba-tiba di kepala Han Han berkelebat suatu ingatan, dia jadi girang. Bukankah ketujuh jurus yang diturunkan oleh si kakek luar biasa itu pernah dikatakan bahwa dia menciptakannya setelah menyaksikan dua ekor cicak yang saling berkelahi? Maka Han Han jadi mementang matanya lebar-lebar dan memusatkan pemikiran dan perhatiannya pada kedua cicak itu. Dilihatnya kedua cicak itu masih terus berkelahi dengan suara yang berisik sekali. Sampai akhirnya, di kala salah seekor di antara kedua binatang itu berlari kalah, tiba-tiba, Han Han melompat dari pembaringannya sambil berseru dengan suara yang mengguntur dan menepuk kepalan ya : "Benar ! Benar! Mengapa tadi-tadinya aku tak bisa menyelaminya ?!" dan dia ketawa keras dengan suara yang mengguntur menggema menggetarkan ruangan kamarnya itu.

Dengan terdengarnya suara ketawa Han Han yang nyaring sekali itu, di atas dunia ini, di dalam kalangan Kang-ouw, telah lahir seorang tokoh dan pendiri dari aliran silat yang baru ! Karena, tadi waktu menyaksikan kedua cicak itu berkelahi, Han Han telah memusatkan perhatiannya dan dia dapat menangkap setiap gerakan cicak itu yang mirip-mirip jurus yang pernah diturunkan oleh si kakek yang tertawan oleh SamTiauw Boe Koan. Tetapi, karena Han Han telah menjadi seorang jago yang kosen, yang menerima bermacam-ragam ilmu silat dari berbagai jago- jago yang luar biasa, maka seketika itu juga dia seperti tersadar dan dia baru mengetahui bahwa ketujah jurus yang diturunkan oleh si kakek kurang matang, maka dengan beberapa perobahan berdasarkan pandangannya pada perkelahian kedua cicak itu, terciptalah ilmu silat aliran baru !

Suara ketawa Han Han yang menggema keras itu mengejutkan seisi rumah penginapan tersebut. Termasuk Thio In In yang terperanjat dan terbangun dari tidurnya dan cepat-cepat melompat turun dari pembaringannya. Dia berlari-lari menuju kekamar Han Han.

Waktu sampai di muka kamar anak muda itu, dia berdiam sesaat, karena pintu kamar tertutup rapat. Didengarnya anak muda itu sedang ketawa terus. Akhirnya, karena heran dan bingung, In In mengetuk pintu kamar si-anak muda itu. Dia duga, Han Han mungkin mendapat pukulan pada jiwanya disebabkan kejadian di gedung Sam Tiauw Boe Koan, maka hal itulah yang membikin si gadis jadi berkuatir.

Waktu pintu kamarnya terketuk, pada saat itu Han Han tengah berdiri menghadapi jendeia dengan hati yang bungah, dia sedang mengingat-ingat jurus yang dilihatnya dari perkelahian dua cicak tadi.

"Siapa ? " tanya Han Han sambil menghampiri pintu kamarnya. "Buka pintu, Lao-tee !" teriak In In dengan hati diliputi kekuatiran.

"Oh kau Cie-cie?" kata Han Han sambil membuka pintu kamarnya dan dilihatnya In In berdiri dengas wajah yang agak pucat. "Apa yang terjadi, cie-cie ?" "In In langsung masuk ke dalam kamar anak muda itu, sedangkan Han Han

telah menutup kembali pintu kamarnya.

"Lao-tee ..... kenapa kau tertawa begifu keras ?" tanya In In kemudian sambil menatap adik angkataya itu. "Apakah kau menemukan sesuatu yang membuatku gembira ?"

Han Han mengangguk sambil tersenyum, dengan muka ber-seri2 dia maju mence-kal tangan kakak cmgkatnya itu.

"Mari2 kuterangkan !" kata Han Han sambil menarik tangan ln In. "Kau pasti ikut gembira !"

Thio In In menarik tangannya dari cekalan anak muda itu dengan wajah yang berubah merah, tatapi dia tidak marah. Sedangkan Han Han tersadar dengan cepat atas kesembronoannya yang telah mencekal tangan si gadis yang menjadi kakak angkatnya itu. Dia jadi likat sendirinya.

Mereka duduk dikursi yang ada di situ. Han Han segera menuturkan apa yang telah diketemukannya.

In In memandang Han Han dengan wajah memperlihatkan ketidak kepercayaannya. Walaupun dia tak mengutarakannya, tetapi Han Han dapat melihat perasaan si gadis melalui wajahnya itu.

"Kau tak mempercayai keteranganku itu?" tanya Han Han.

"Aku percaya ..... tetapi apa benar jurus-jurus yang kau ketemukan dan digabung dengan jurus-jurus yang diturunkan oleh si kakek dapat menggempur Sam Coa Tin ?!"

Han Han mengangguk pasti, dia melompat dari duduknya, kemudian bersilat. "Lihat!" katanya sambil menggerakkan kaki dan tangannya menuruti gerakan-gerakan yang diilhami oleh perkelahian kedua cecak tadi.

Gerakan kaki dan tangan.Han Han sangat perlahan sekali, hal ini membingungkan In In.

"Apa keluar biasaan dari ilmu silat yang diciptakan oleh Han Lao-tee ?" pikirnya dan disebabkan berpikir begitu, mata si no-na Thio juga jadi memancarkau sinar ketidak kepercayaannya.

Han Han masih terus bersilat, sampai akhirnya dia melihat pancaran mata si gadis Dia berseru "Coba cie-cie menyerangku ..... seranglah secara sungguh- sungguh dan tak usah sungkan-sungkan kalau sampai dapat menyentuh ujung bajuku, hmm, biarlah aku mengaku bahwa ilmu silat yang baru kuciptakan ini tak ada gunanya sama sekali ! '

Semula Thio In In ingin menolak, karena sekali lihat saja, In In sudah mengetahui banyak terdapat kelemahan-kelemahan di diri Han Han, ilmu silat yang diciptalcannya itu tak luar biasa, malah biasa saja. Maka dari itu, kalau sampai nanti si anak muda terhajar roboh, bukankah berarti semangatnya jadi patah dan membikin Han Han bersedih. Namun, setelah berpikir sesaat lamanya dan Han Han masih mendesak terus, akhirnya In In mengambil keputusan untuk menguji ilmu silat yang diciptakan oleh adik angkatnya itu. Maka dari itu dia berdiri dari duduknya. Di hampirinya Han Han yang masih bersilat dengan ilmu silat barunya itu.

"Seranglah !" seru Han Han waktu dilihatnya In In berdiri ragu-ragu. "Baiklah !" seru In In akhirnya, dia menekuk kaki kirinya, kemudian dengan

kecepatan yang luar biasa, dia menyerang menggunakan jurus 'Hong Kie In Yong' atau 'Angin bergerak, mega melayang-layang', tangannya itu mengincer dada si anak muda she Han itu.

Pada saat itu Han Han sedang bersilat dengan tangan terpentang lebar, sehingga penjagaan dibagian dadanya terbuka. In In yakin, sekali gebrak ini, dia pasti akan dapat memukul dada Han Han atau setidak-tidaknya mencengkeram dada Han Han. Tetapi untuk kagetnya, tahu-tahu tubuh Han Han seperti melejit, pundaknya ditepuk oleh anak muda she Han itu.

Hati In In jadi mencelos, dia melihat gerakan Han Han sangat lambat, tetapi setiap gerakannya bertenaga dan tak terduga. Juga tadi waktu In In menyerang dengan 'Hong Kie In Yong' kearah dada Han Han dia merasakan tangannya itu jadi terhalang oleh sesuatu kekuatan yang tak tampak. Dan, yang mengejutkan sekali, walaupun gerakannya sangat lambat toh Han Han dapat bergerak begitu lincah.

Hal ini membikin In In jadi penasaran. Dia berseru sambil menyerang lagi dengan tipu silat 'Tat-mo Sip Sana Kiam' atau 'Tiga belas jurus ilmu pedang warisan Buddhidarma, dan sebagai pengganti pedang, In In menggunakan sumpit yang disambarnya dari atas meja. Sebetulnya di dalam duma Kang-ouw telah tersiar dan diketahui oleh orang-orang gagah, semakin pendek satu dim senjata yang digunakan, bahaya yang mengancam semakin tambah satu dim lagi, maka sumpit nona Thio yang pendek itu, jadi lebih berbahaya dari pedang, dan In In percaya, dalam waktu yang singkat, dia dapat merobohkan Han Han.

Tetapi, untuk kagetnya, sumpitnya itu tidak bisa menerobos garis penjagaan anak muda she Han itu. Yaug luar biasa lagi, pundak In In sering ditepuk oleh Han Han. Coba kalau memang Han Han pada saat itu berkedudukan sebagai musuh, bukankah siang-siang In In telah menggeletak tak bernyawa dicelakai oleh Han Han. Maka dari itu ln ln cepat-cepat melompat mundur sambil tertawa.

"Selamat Lao-tee ! Selamat !" serunya gembira. "Kau telah berhasil menciptakan ilmu silat yang luar biasa sekali !" dan In In menghampiri Han Han.

Han Han juga sudah berhenti bersilat, dia tertawa gembira.

"Bagaimana cie-cie menurut pendapatmu, apakah adikmu ini sanggup mengalahkan dan menggempur Sam Coa Tin ketiga paman guru Wie Tiong Ham

?" tanyanya,

"Sam Coa Tin pasti akan tergempur habis dan kita akan dapat membalas penasaran hati kita !" menyahuti si nona Thio dan dia juga mengulurkan tangannya memberi selamat kepada adik angkatnya.

Han Han menjabat tangan si nona sambil mengucapkan terima kasih. Waktu tangannya mencekal tangan In In, anak muda she Han ini merasakan betapa lembut dan halus telapak tangan si-noaa Thio, sehingga hatinya jadi tergoncang dan dia mencekal terus seakan-akan tak mgin melepaskan cekalan tangannya itu.

In In berubah mukanya jadi merah, di menarik pulang tangannya. Han Han jadi likat sendirinya, cepat-cepat dia menghaturkan maaf.

Tetapi In In seperti tak mengambil di hati perbuatan Han Han tadi, dia malah tersenyum dan bertanya ; "Kau beri nama apa pada ilmu silat barumu itu ?"

Han Han ketawa.

"Nama apa yang bagus menurutmu ? " anak muda she Han ini balik bertanya sambil tetap tersenyum, dia gembira sekali. "Begini saja, bagaimana kalau Ciang-boenjin memberikan nama Chit-cie- kuu ?" goda si nona Thio. Yang dimaksud dengan perkataan Ciang-boenjin ialah ketua suatu partai persilatan, sedangkan dengan Chit-cie-kun ialah pukulan tujuh jari.

Han Han melengak.

"Haa,     siapa Ciang-boenjin ?" tanya anak muda she Han tak mengerti.

"Bukankah kau yang telah menciptakan ilmu barumu itu ? " tanya si nona ketawa. "Aha, dengan terciptanya ilnau silat itu, kau harus mengakui bahwa kau adalah pendiri dari ilmu silat itu dan dengan sendirinya kau menjadi Ciang-boen jin dari Chit cie-kun ?." dan setelah berkata begitu, nona Thio menjura sambil tertawa, katanya : "Terimalah hormatku, Ciang-boenjin !"

Han Han jadi repot dan gugup, cepat dia itu mau menyingkir, tetapi karena orang sudah menjura, maka dia terpaksa membalas penghormatan si nona Thio.

In In ketawa kemudian dengan suara yang keras, karena dengan begitu, telah lahir seorang Ciang-boenjin baru di dalam rimba persilatan. Dan, memang harus diakui, Han Han sekarang telah menjadi seorang Ciang-boenjin, walaupun hanya diketahui oleh In In belaka. (Dan, memang kenyataanya nanti Han Han adalah Ciang boenjin sebuah perguruan yang ternama, yaitu Kun-lun-pay, yang terkenal sekali, dengan Kun-lun Chit-cie-kun, itu ilmu silat yang diketemukannya dari perkelahian dua cicak. Ilmu silat itu kemudian terkenal dan kosen sekali, sampai saat ini, ilmu silat Kun-lun-pay tetap merupakan ilmu silat yang lihai, di samping ilmu pedangnya yang diciptakan Han Han setelah dia menjabat Ciang-boenjin Kun Lun Pay. pen.)

Han Han ketawa likat sambil menundukkan kepalanya. Tanyanya: "Terima kasih Cie-cie ..... dan nama yang kau berikan pada ilmu silat baruku itu, akan kuterima dengan senang hati. Hanya mengapa kau bisa memilih nama Chit-cie-kun untuk ilmu silat itu?"

Nona Thio ketawa.

"Bukankah kau menciptakan ilmu itu berdasarkan apa yang pernah diajarkan oleh kakek itu, yaitu ketujuh jurus yang juga diperolehnya dari gerakan-gerakan perkelahian dua ekor cicak ?" noca Thio balik bertanya.

Han Han segera mengerti, dia mengangguk.

"Betul! Dan aku juga harus mengucapkan terima kasih pada kakek luar biasa itu. Walaupun ilmu Chit cie-kun ini terciptakan olehku bukan menurut sumber dari ketujuh jurus ilmu si kakek, tetapi sedikit banyak kakek itulah yang telah memberikan ilham padaku !"

Nona Thio ketawa lagi, dia menepuk bahu Han Han.

"Dan, besok malam kita satroni gedung Sam Tiauw Boe Koan lagi, mudah- mudahan Ciang-boenjin dapat merobohkan orang-orang itu untuk membalaskan sakit hatiku !"

Wajah Han Han jadi berubah merah, dia jadi likat ln In memanggilnya selalu dengan sebutan Ciang-boenjin.

"Mengapa kau selalu memanggilku dengan sebutan Ciang-boenjin, bukankah aku belum mengumumkan bahwa aku ingin mendirikan partai persilatan? Dan, seandainya aku bermaksud untuk mendirikan sebuah partai persilatan baru, toh aku belum mempunyai nama untuk cabang persilatan itu ?" kata anak muda she Han agak kikuk.

Thio In In ketawa agak keras, tubuhnya jadi tergoncang.

"Anggap saja kau menjadi Ciang-boenjin dari sebuah partai persilatan angin yang belum bisa terlihat .....! Toh nantinya kalau memang kau sudah mengumumkan kau tetap akan jadi seorang Ciang-boenjin, maka apa salahnya kalau sekarangpun aku memanggilmu dengan sebutan Ciang-boenjin itu ?!"

Han Han memang tak bisa melawan kepintaran mengadu lidah dengan nona Thio itu, maka acairnya dia hanya bisa tertawa.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 28

MALAM itu salju masih turun deras sekali, sehingga udara sangat dingin. Dalam cuaca yang begitu buruk, tak ada orang yang berani keluar keluyuran, apa lagi pada saat itu sudah menjelang kentongan ketiga.

Tetapi, di antara kesunyian malam dan derasnya hujan salju itu, tampak dua sosok tubuh yang sedang berlari dengan pesat sekali. Tubuh kedua orang yang sedang berlari dengan kecepatan yaug tak terhingga itu seperti juga melayang di atas permukaan bumi yang ditaburi oleh salju putih ..... dan, mereka tak lain tak bukan adalah Han Han dan sinona Thio ! Dalam waktu yang singkat, mereka telah berada di muka gedung Sam Tiauw Boe Koan.

Mereka berhenti dan memandang keadaan sekitar gedung itu. Dan, mereka memperoleh kenyataan gedung itu sangat sepi.

"Cie-cie " kata Han Han perlahan sekali. "Tipu muslihat apa yang sedang

mereka gunakan untuk menjebak kita?" In In mendengus.

"Kukira sebagai seorang Ciang-boenjin yang telah memperoleh ilmu silat yang luar biasa, kau tentunya tak jeri pada tipu muslihat mereka, bukan?"

Wajah Han Han jadi merah, dia likat.

"Jangan berkata begitu, cie-cie!" katanya cepat. "Memang ilmu silat yang kuciptakan itu cukup hebat, tetapi tokh belum tentu dapat menggempur orang- orang Sam Tiauw Boe Koan ini. Lagi pula, aku jeri mereka menggunakan tipu seperti dua hari yang lalu, di mana mereka menggunakan pipa minyak dan menyemprot kita dengan kilauan api ! Walaupun lihai dan kosen, tak mungkin orang melawan semburan minyak berapi itu!"

"Maka dari itu, kita harus lebih hati-hati!" kata Thio In In. "Kita harus mencari tempat yang terlindung dari semprotan minyak berapi itu. Kalau bisa kita berdekatan selalu dengan ketiga paman gurunya Wie Tiong Ham, sehingga tak mungkin bagi mereka menyemprot kita dengan minyak berapi itu ..... atau kalau memang mungkin apakah Ciang-boenjin tak bermaksud untuk menawan ketiga paman guru WieTiong Ham?"

Wajah Han Han berubah merah lagi.

"Cie-cie ..... kuminta, kau jangan selalu menggodaku!" katanya. "Bukankah aku ini adikmu ? Mengapa kau selalu memanggilku dengan sebutan Ciang-bunjin? Apakah memang sengaja cie-cie ingin mengejekku?"

Nona Thio tertawa.

"Baiklah Lao-tee ..... kuharap saja kali ini kita berhasil membalaskan rasa penasaran kita!" kata si nona Thio ketawa. "Juga kita harus menolong si kakek luar biasa itu dari tawanan orang-orang Sam Tiauw Boe Koan!"

Han Han mengangguk, dia menjejakkan kakinya sambil berkata :

"Mari kita menyelidiki ke dalam !" dan tubuh anak muda itu telah melayang ketembok, lalu mencelat lagi masuk ke daiam taman gedung tersebut.

Nona Thio juga mengikuti perbuatan kawannya itu, dia pun menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan ringan melesat melewati tembok. Dengan berindap- indap In In, Han Han menghampiri kearah kamar di mana kakek luar biasa itu tertawan. Mereka melihat, sekeliling pekarangan gedung tersebut sangat sepi, sehingga mendatangkan kecurigaan mereka lagi. Mustahil orang-orang Sam Tiauw Boe Koan tak mengadakan penjagaan yang ketat.

Dengan cepat mereka telah sampai di muka kamar di mana kakek luar basa itu ditahan. Dengan cepat Han Han melompat mendekati pintu yang kala itu tampak tertutup dari dalam, In In juga melompat menyusul kawannya. Waktu dia sampai di sisi Han Han, mereka berdua jadi bersangsi apakah di dalam telah ada orang-orangnya Sam Tiauw Boe Koan yang menjaga tawanan mereka itu, si kakek luar biasa itu ?!

Tetapi akhirnya dengan berani Han Han mengulurkan tangannya mendorong pintu itu perlahan sekali. In In bersiap-siap berjaga-jaga kalau nanti dari dalam menyerbu orang-orangnya Sam Tiauw Boe Koan.

Pintu ternyata tak terkunci, Han Han mendorong, pintu itu terbuka perlahan-

lahan.

Han Han dan In In jadi tambah curiga, waktu pintu sudah menjeblak

terbuka, mereka tidak berani lantas masuk kedalam kamar itu. In In mengangsurkan pedangnya untuk memancing keadaan. Namun tak ada reaksi dari dalam kamar itu.

Han Han telah nekad, lagi pula anak muda she Han ini memang sangat berani, maka dari itu, dia telah melompat menerjang masuk.

In In meniru perbuatan kawannya, dia melompat masuk juga.

Tetapi, begitu kedua muda mudi ini berada dalam kamar itu, mereka jadi berteriak tertahan, malah In In sendiri telah menggigil murka menyaksikan apa yang ada di dalam kamar itu.

Ada apa ?!

Ternyata di sudut ruangan tampak si kakek luar biasa itu masih tergantung di rantai besi, sebab masih tergantung dan terjepit tulang pie-peenya, menyebabkan tubuhnya itu terkulai. Namun yang luar biasa adalah kepala si kakek telah lunglai dan matanya mendelik. Sebilah golok yang besar tampak menancap di dada sebelah kiri si kakek. Darah merah yang telah mengering membasahi baju si kakek. Dengan murka, Han Han melompat dan memeriksa keadaan si kakek. Dan,

apa yang dilihatnya membikin darah anak muda ini dan In In jadi meluap.

Ternyata si kakek itu telah dibunuh dengan cara yang kejam sekali, kulitnya teriris-iris, yang menandakan sebelum dibunuh, kakek itu telah disiksanya dengan hukuman yang kejam sekali, yaitu kulitnya diiris-iris, tersayat dengan pisau. Tentu si kakek binasa dalam keadaan yang menyedihkan sekali dan menderita bukan main.

"Terkutuk!" mendengus In In dengan suara gemetar, hampir saja dia mengamuk di dalam ruangan kosong itu. Tetapi dia masih dapat menguasai dirinya.

Tiba-tiba di luar terdengar suara tertawa yang menggema. In In dan Han Han menduga itulah suara ketawa Wie Tiong Ham dan orang-orangnya, di saat mereka mau menerjang keluar dengan murka, tiba-tiba terdengar bentakan : "Hantam .....

!" dan muncratkan minyak panas berikut kilatan api.!

Han Han dan In In jadi terkejut, mereka melompat ke samping, kesudut ruangan itu. Tetapi minyak itu telah menyemprot ke dalam kamar dan api mulai berkobar. Hati Han Han dan In In jadi kecil, karena segera juga mereka menyadari bahwa mereka telah terkurung dan akan di bakar hidup-hidup.

"Bangsat ? Akan kuremukkan kepala orang she Wie itu ..... " mendesis Han Han dengan murka, tetapi belum lagi suaranya itu habis, telah menyambar minyak berapi dari jendela,, sehingga terpaksa si anak muda dan In In menyingkir ke lain sudut.

Api sudsh berkobar di dalam ruangan itu. Han Han dan In In memutar otak biar bagaimana mereka tak boleh berdiam di dalam kamar tersebut terlalu lama, karena dengan sendirinya mereka akan terbakar oleh api yang disiramkan oleh orang-orang Wie Tiong Ham.

Sedang Han Han dan In In kebingungan, tampak mayat si kakek mulai termakan api pakaiannya telah termakan api, menyala dan berkobar semakin besar. Han Han dan In In melihat itu, mereka jadi tambah gugup. Tetapi Han Han sangat berani, dia dalam keadaan murka sekali, maka dengan kemarahan yang meluap-luap, dia menerjang kearah mayat kakek itu untuk memadamkan api yang

sedang berkobar membakar mayat si kakek.

Namun, karena Han Han melompat ke mayat si kakek, maka minyak berapi itu telah menyambar lagi dengan cepat mengenai bajunya, yang seketika itu juga terbakar, api berkobar di pakaiannya.

In In yang melihat keadaan Han Han jadi mengeluarkan seruan kaget, dia melompat dengan cepat dan akan menolong Han Han memadamkan api itu. Tetapi, api telah berkobar semakin besar, Han Han bergulingan di lantai berusaha memadamkan api yang membakar bajunya itu sedangkan api yang membakar mayat si kakek telah berkobar semakin besar, juga lantai kamar itu telah di jalari oleh kilatan api.

Sedangkan In In dan Han Han gugup bukan main, di luar malah terdengar suara ketawa Cioe Kat, Lioe Kat dan Can Kat beserta Wie Tiong Ham dan anak buahnya. Dan, minyak beserta kobaran api masih terus menerobos masuk ke dalam kamar, sehingga dalam waktu yang singkat, kamar itu telah dipenuhi oleh kobaran api. Malah asap yang membubung, yang keluar dari mayat si kakek yang terbakar dan jendela yang termakan api menyebabkan napas Han Han dan In In sesak sekali, mereka batuk-batuk dan butir-butir keringat membanjiri tubuh mereka. Dengan nekad Han Han berusaha untuk melompat keluar dari pintu itu, tetapi kilatan api yang dibarengi semburan minyak telah menyambar lagi, menyebabkan baju si anak muda she Han itu jadi terbakar kembali. Hawa panas yang bukan main seakan-akan menyengat kulit mereka.

Malah kulit mereka telah luka terbakar di sana sini ..... dengan murka Han Han mengerang, dia bermaksud akan menerjang lagi. Tetapi In In telah menahannya, ditariknya tangan anak muda she Han itu.

"Tunggu dulu Lao-tee    !" cegahnya.

"Kita ..... kita akan terbakar oleh api laknat ini !" teriak Han Han kalap dari repot memadamkan api yang membakar bajunya, sedangkan In In juga berusaha memadamkan api yang membakar sepatunya. "Kalau kita bisa menerobos keluar, api ini tak begitu berfaedah bagi mereka, karena di iuar masih turun salju deras sekali !

"Tetapi kita tak bisa menerjang samharan minyak dan api itu, kalau sampai tubuh kita kena percikan minyak itu, pasti api akan menyambar lebih bebat lagi-

..... dan kita benar-benar tak mungkin meloloskan diri, malah akan terbakar hidup- hidup ! Oh, sungguh celaka orang-orang Sam Tiauw Boe Koan itu      !" dan wajah

nona Thio pucat sekali, mereka seperti putus asa.

Api yang berkobar di dalam ruangan itu jadi semakin besar, hawa panas meliputi kamar dan menyengat kulit kedua muda-mudi ini. Dalam waktu yang singkat, api telah membakar habis mayat si kakek yang malang, bau sangit yang merangsang penciuman Han Han dan In In menerjang menerobos masuk kehidung mereka, sehingga Han Han dan nona Thio itu jadi batuk-batuk dan hampir pingsan disebabkan tak bisa bernapas, terhalang oleh tebalnya asap yang membikin kepala mereka jadi berat. Api masih terus berkobar, malah semakin besar, sebab minyak masih terus menyembur masuk, membikin lantai kamar itu seperti dibanjiri oleh minyak, menyebabkan api juga berkobar di lantai tersebut. Han Han dan In In jadi. tambah gugup, lantai yang belum terkena siraman minyak sangat sedikit sekali, dan kalau mereka masih tidak dapat menerobos keluar dalam waktu yang singkat, maka lantai itu akan dipenuhi oleh genangan minyak dan dengan sendirinya api juga akan memenuhi lantai itu, yang berarti juga mereka benar-benar akan terbakar hidup-hidup !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

SEDANG Han Han dan nona Thio itu terancam bahaya kematian, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mengenaskan sekali di luar kamar itu.

Beruntun sekali suara jeritan itu, dibarengi juga seruan kaget dan minyak yang menyemprot ke dalam kamar jadi terhenti. Juga, di antara suara jeritan itu, terdengar suara tertawa yang menyeramkan, yang bercampur aduk dengan suara gaduh di luar kamar..

Sebetulnya Han Han dan In In hampir roboh pingsan, tetapi karena Lwee- kang mereka kuat sekali, maka sampai saat itu mereka masih dapat mempertahankan diri. Dan, di kala melihat minyak yang menyemprot ke dalam kamar telah terhenti dengan mendadak, walaupun api masih berkobar. Han Han menarik tangan Thio In In dan melompat menerjang kepintu, kemudian menerobos keluar. Waktu sampai di luar, Han Han dan In In tak memperdulikan orang-orang yang ada di luar kamar dalam keadaan kalut, dan juga mereka tak mau mengambil tahu dulu sebab apa orang-orang itu jadi kalut begitu, hanya Han Han dan nona Thio telah menjatuhkan diri digundukan salju dan bergulingan di salju itu, sehingga seketika itu juga api yang membakar pakaian mereka jadi padam. Setelah itu barulah Han Han dan In In melompat bangun dan menyapu dengan mata berkilat seluruh tempat itu dan bersiap-siap menantikan serangan yang tiba-tiba dari orang-orang Sam Tiauw Boe Koan. Namun, mereka jadi heran, waktu mereka melihat orang-orang Sam Tiauw Boe Koan bukanya mengepung mereka, melainkan telah mengepung beberapa orang yang sedang mengamuk. Waktu melihat orang-orang yang dikurung oleh Cioe Kat, Can Kat dan l.ioe Kat beserta anak buahnya, Han Han jadi berseru kaget karena orang-orang yang sedang dikepung itu tak lain adalah Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim, ayahnya, beserta keempat muridnya dan juga Han Hoe-jin, ibunya si pemuda she Han ini! Dengan mengeluarkan seruan murka, Han Han melompat menerjang dan mengamuk dengan hebat. Cioe Kat telah melihat Han Han menerjang maju, dia meneriaki kedua saudaranya dan mereka bertiga mengepung Han Han dan In In.

Pada pertama kali, karena sangat murka. Han Han telah mengamuk dengan hebat, begitu juga In In, tetapi mereka tetap saja tak bisa menerobos barisan tin dari Sam Coa Tinnya ketiga paman gurunya Wie Tiong Ham tersebut.

Tetapi, pada suatu ketika, di kala mereka sedang terdesak hebat dan Han Han mendengar ayah-ibunya beserta keempat murid ayahnya itu tertawa keras sekali. In In teringat sesuatu.

"Lao-tee ..... keluarkan Chit-cie-kun !" teriak si nona Thio dengan bersemangat.

Han Han seperti baru disadarkan dari tidurnya. Dengan cepat dia merubah cara berkelahinya, maka tampak gerakannya jadi agak lambat.

Lioe Kat, Cioe Kat dan Can Kat yang melihat perobahan gerakan anak muda itu yang jadi lambat, mereka jadi girang karena mereka duga Han Han tentu telah letih. Tetapi untuk kagetnya ketiga orang itu sagera juga mereka merasakan tekanan tenaga Han Han yang luar biasa kuatnya,  mereka mulai bingung dan memikirkan ilmu apa yang seding digunakan oleh Han Han. Mereka cepat-cepat memperketat kepungan mereka. Tetapi kembali mereka jadi terkejut, setiap mereka mengepung dan menyerang anak muda she Han itu, maka bayangan tubuh anak muda itu seperti lenyap dan hati mereka jadi mencelos waktu merasakan angin samberan pada punggung mereka masing-masing. Belum lagi mereka mengetahui apa yang terjadi, telah terdengar suara 'duuukk-duuukk-duuukk !' yang nyaring sekali, juga ketika paman guru Wie Tiong Ham segera merasakan punggung mereka sakit sekali, pandangan mereka berkunang-kunang, dengan bersuara -- uaaah --, mereka memuntahkan darah merah ! Kemudian disusul lagi dengan rubuhnya tubuh ketiga paman gurunya Wie Tiong Ham, dan tak berkutik lagi, mereka telah berangkat ke 'dunia barat', alias binasa di tangan Han Han tanpa mengetahui dengan cara apa mereka dibinasakan !

Itulah kehebatan ilmu yang baru diciptakan oleh Han Han. Dalam satu jurus dari Chit-cie-kun, dia sudah dapat membinasakan ketiga paman guru Wie Tiong Ham !

In In yang melihat itu jadi melompat berjingkrak saking girangnya, dia bertepuk tangan.

"Hebat! Hebat kau Ciang-boenjin !"teriaknya. Han Han sendiri yang tak menduga hebatnya ilmu silat yang baru diciptakannya itu, jadi berdiri bengong sesaat, dia menjublek di situ seperti juga tak mendengar pujian dari In In. Begitu juga dia tak mendengar suara ketawa ayah- ibunya, murid- murid ayahnya dan seruan kaget dari orang-orang Sam Tiauw Boe Koan yang melihat kematian Cioe Kat, Lioe Kat dan Can Kat.

Wie Tiong Ham sendiri waktu melihat kematian ketiga paman gurunya, dia jadi murka, tetapi di samping itu dia juga jadi jeri dan dengan cepat dia memutar tubuhnya dan melarikan diri.

Thio ln In yang sejak tadi melihat kelakuan orang she Wie itu, cepat-cepat menjejakkan kakinya sambil membentak : "Mau lari kemana kau ?" dan tubuhnya melesat oengan cepat mengejar Wie Tiong Ham, dalam -waktu yang singkat, dia telah berada di belakang orang she Wie itu.

Wie Tiong Ham jadi tambah takut, dia jeri nanti Han Han juga ikut mengejar. Maka dari itu, tanpa menunggu si nona Thio keburu menyerang padanya, dia telah membalikkan tubuhnya dan menyerang dengan menggunakan kedua tangannya secara berbareng, yang diincer ialah dada dan lambung si-nona Thio yang ingin dihajar remuk.

In In jeli matanya, dia melibat gerakan orang, maka di saat tubuhnya sedang melayang turun, dia telah mengayunkan tangannya saubil membentak nyaring"Awas senjata !"

Wie Tiong Ham terkesiap, dia sampai membatalkan serangannya, dan melompat mundur. Dia duga orang menyerang dirinya dengan menggunakan senjata rahasia. Maka dari itu, di kala Tiong Ham sedang melompat mundur, In In telah tiba di tanah kcmbali dengan selamat, Dan di saat itulah In In menyerang dengan menggunakan tangan kanannya, dia menyerang dengan menggunakan jurus 'Pek Hauw Ciang' atau 'tangan harimau putih', maka hebat angin serangan itu.

Wie Tiong Ham sendiri sedang mendongkol karena dirinya kena digertak oleh In In. Tadi In In tak melepaskan senjata rahasia, hanya karena Tiong Ham menyerang dirinya dalam dua jurusan yang sulit untuk dielakkan, maka In In telah menggunakan tipu itu. Maka waktu melihat In In telah menyeraag dtrinya, Tiong Ham cepat-cepat menggerakkan tangannya menangkis, kemudian kakinya menyapu, dengan 'Leng-coa Coan-sie-ciang' atau 'gerakan tangan sang ular’ tangan kirinya membarengi menyerang lagi kearah lambung In In. In In gesit sekali, dia dapat mengelakkan serangan orang. Tetapi karena Tiong Ham menyerang dengan kalap, maka si gadis she Thio tersebut jadi kewalahan juga.

Sedangkan Han Swie Lim dan yang lainnya repot menghadapi anak buah Sam Tiauw Boe Koan, Han Han pada saat itu sudah tersadar dan di saat itulah dia melihat In In sedang kewalahan menghadapi Tiong Ham, maka dengan cepat dia menggerakkan kakinya, menjejak tanah, tubuhnya melesat, kemudian dengan cepat sekali tubuhnya telah berada di dekat Tiong Ham. Tanpa sungkan-sungkan, Han Han mengeluarkan satu jurus dari ilmu silat yang baru diciptakannya itu, yaitu Chit-cie-kun, dan tangannya dengan telak menghantam punggung Tiong Ham.

Hebat jurus yang dikeluarkan oleh Han Han, karena Tiong Ham sendiri karena diserang tanpa dia mengetahui kapan dirinya terhajar, sebab seketika itu juga tubuhnya ambruk dan jiwanya melayang menghadap Giam-lo-ong !

Setelah melihat Tiong Ham roboh binasa, Han Han dan In In melompat melabrak anak buah Tiong Ham, membantu Han Swie Lim, ayah Han Han,

Sebetulnya pada saat itu Han Swie Lim, Han Hoe-jin, dan keempat murid Han Swie Lim tengah terdesak hebat, karena anak buah Sam Tiauw Boe Koan sangat banyak sekali. Tetapi keenam orang tersebut bertempur sambil tertawa- tawa, pakaian mereka juga sudah tak keruan.

Begitu Han Han dan In In menceburkan diri di gelanggang pertempuran tersebut, dan juga Han Han mengeluarkan jurus-jurus dari Chit-cie-kun, maka beruntun roboh beberapa orang Sam Tiauw Boe Koan. Dalam dua jurus saja, Han Han telah berhasil merobohkan tigapuluh orang anak buah Sam Tiauw Boe Koan

..... ! Dalam waktu yang singkat, hampir semua anak buah Tiong Ham kena dirobohkan, tetapi sisanya yang ingin melarikan diri dengan ketakutan, telah dicengkeram dan dibanting oleh Han Swie Lim sambil tertawa-tawa, begitu juga Han Hoe-jin dan ke-empat murid orang she Han, yaitu Tang Siu Cauw, Hie Beng, Hie Lay dan Soe Niang, telah ketawa-ketawa menyerang sisa orang Sam Tiauw Boe Koan tersebut.

Dan, dalam waktu yang singkat, semua orang Sam Tiang Boe Koan telah dapat disapu bersih

Baru saja Han Han ingin menubruk ibunya untuk memeluknya dengan penuh perasaan rindu, tiba-tiba Han Swie Lim telah melompat dan menyerang Han Han, sehingga mengejutkan anak muda she Han tersebut. "Ayah ..... ini putramu .....! Ini Han Han !" teriak Han Han seperti orang kalap, dan dia mau memeluk ayahnya.

Tetapi Han Swie Lim telah mengayunkan iangannya, karena Han Han tak menangkis, maka dadanya terhajar telak.

"Duukkk! " tubuh Han Han terpental jatuh, In In cepat-cepat mencelat akan menyerang Han Swie Lim, biarpun dia mengetahui, dengan kedatangan keenam orang itu jiwa mereka berdua telah tertolong, telapi karena Han Swie Lim menyerang Han Han, mau tak mau In In harus menyerang Han Swie Lim untuk menghambat orang she Han itu menyerang Han Han lagi. Walaupun di hati si gadis masih heran si anak muda memanggil Han Swie Lim sebagai ayahnya, toh In In tidak mau memperdulikan hal itu yang penting dia menyelamatkan Han Han dulu.

Tetapi Han Swie Lim waktu berhasil memukul Han Han, dia jadi berdiri menjublek sambil mengoceh tak keruan.

"Dia anakku ? Dia Han Han ?" gumamnya dengan suara yang perlahan, matanya jadi meredup.

Akan tetapi, di saat Han Hoe-jin dan keempat muridnya menghampiri dia sambil menari-nari, Han Swie Lim jadi tertawa lagi dengan tubuh tergoncang.

"Aha, Thian ingin bertamasya .....! Thian mau bertamasya ! Hayo, siapa yang mau turut ?" dan Han Swie Lim menari-nari sambil tertawa-tawa.

Seketika itu juga In In segera memahami bahwa keenam orang yang tertawa- tawa dan menari-nari itu ternyata gila ! Malah, Han Swie Lim telah mengakui dirinya sebagai Thian !

Dengan menimbulkan suara yang berisik sekali, keenam orang itu telah menari-nari sambil tertawa, sampai akhirnya, di kala In In sedang memandang menjublek kearah keenam orang itu, Han Swie Lim telah  melompat mencelat pergi, diikuti oleh Han Hoe-jin dan lain-lainnya.

Han Han yang kala itu sedang merangkak bangun, di kala melihat ayah ibunya akan pergi, dia menjerit menyayatkan sambil melompat akan naengejar.

"Thia    ! Ibu! Ibu ini Han Han!" teriak anak muda she Han itu.

Tetapi Han Swie Lim dan yang lain-lainnya telah pergi jaub, hanya terdengar suara tertawa mereka yang samar-samar, menandakan mereka telah pergi jauh.

Han Han membanting-banting kakinya, lalu setelah mengeluarkan keluhan perlahan, dia roboh terjungkel, pingsan ! Si nona Thio yang melihat keadaan Han Han jadi terperanjat, dia melompat menghampiri dan memeriksa keadaan Han Han. Luka terbakar pada tubuh anak mada she Han tak membahayakan, dia pingsan disebabkan goncangan jiwanya yang hebat.

Thio In In mengawasi wajah Han Han yang pucat pasi, dia menghela napas

..... Salju masih terus turun dengan deras dan hawa udara sangat dingin sekali    !

Setelah menghela napas berulang kali, In In akhirnya menggendong tubuh anak muda she Han itu, yang akan dibawanya pulang ke rumah penginepan mereka. Di dalam udara yang begitu dingin, di mana salju turun dengan deras, juga sudah menjelang kentongan yang keempat, jalanan sangat sepi sekali, tak ada seorang manusiapun. Hal ini membuat Thio In In leluasa menggotong tubuh anak muda she Han yang pingsan itu ...... Dengan mengerahkan Ginkangnya, nona Thio berlari-lari menuju ke hotelnya.  !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 29

WAKTU Han Han membuka matanya didapati dirinya telah berada di pembaringan, tubuhnya ditutupi oleh selimut yang tebal. Dia berada di sebuah kamar yang hangat. Pertama-tama yang dipanggil oleh Han Han adalah ayah- ibunya, dia seperti juga orang yang sedang mengigau.

Tiba-tiba Han Han merasakan sebuah tangan yang halus-lembut mengusap keningnya.

"Tenanglah Lau-tee     !" didengarnya suara In In yang halus dan lembut,

Si anak muda jadi kaget, dia jadi tersadar sepenuhnya.

"Eh, tempat apa ini? Mengapa aku berada di sini ? Apakah aku mengimpi ?" tanya Han Han bingung.

Thio In In yang memang duduk di tepi pembaringan, jadi tersenyum. "Tenanglah..... ini kamarmu di rumah penginapan kita!" kata In In

menerangkan."Tenanglah     nanti seluruhnya akan kuceritakan padamu !"

Han Han mau melompat turun, tetapi In In telah menekan pundaknya. "Rebahlah dulu kau jangan terlalu banyak bergerak. Han Han baru merasakan sesuatu keanehan di dirinya waktu dia menggerakkan tubuhnya itu. Rasa nyeri meliputi seluruh tubuhnya. Cepat-cepat dia menunduk melihat keadaan tangan dan pundaknya, yang dipenuhi oleh obat- obatan.

Seketika itu juga dia baru teringat bahwa dia telah menggempur gedung Sam Tiauw Boe Koan dan karena diserang oleh minyak api, maka dirinya telah luka terbakar di makan oleh kobaran api. Dia juga teringat kepada ayah-ibunya dan keempat murid ayahnya.

"Ma      mana ayah-ibuku ?" tanya Han Han bingung. Suaranya tergetar dan

matanya juga mencilak menjalari seluruh ruangan tersebut.

In In jadi bingung.

"Ayah-ibumu T' tanyanya heran. "Yang mana ayah ibumu ?"

"Yang telah datang menolongi kita dari kepungan api orang-orang Sam Tiauw Boe Koan!" menerangkan Han Han sambil berusaha duduk.

"Oh ..... keenam     keenam orang gila itu ? " tanya In In bingung.

Tiba-tiba wajah Han Han jadi berubah bengis merah padam, dia mencengkeram bahu nona Thio.

"Apa ..... apa kau bilang ? " tanyanya dengan suara yany bengis. "Kau .....

kau mengatakan mereka orang-orang gila ?"

Thio In In jadi terkejut, wajahnya sampai pucat, dia merasakan pundakaya sakit sekali, sampai mengeluh perlahan.

Han Han tersadar dengan cepat waktu melihat wajah Thio In In dan dia jadi terkejut waktu menyadari apa yang telah dilakukannya. Cepat-cepat dia meminta maaf.

Thio In In tak marah, dia malah menghibur anak muda she Han itu. Dan, berkat hiburan Thio In In, walaupun masih bersedih mengingat keadaan ayah dan ibunya beserta keempat murid ayahnya yang telah gila semua, toh Han Han terhibur juga.

Setelah menghibur sesaat lamanya, In Ia kembali ke dalam kamarnya untuk mengaso.

Seperginya nona Thio, Han Han jadi rebah dengan otak berputar. Selama beberapa tahun dia telah mengembara terkatung-katung dan dididik oleh ketujuh jago silat yang luar biasa, yang masing-masing telah menurunkan ilmu silat mereka

.....! Tetapi, biarpun begitu Han Han masih belum puas, karena belum dapat berkumpul dengan ayah-ibunya dan keempat murid ayahnya itu. Anak muda she Han ini jadi mengambil keputusan, nanti setelah menghadiri pesta ulang tahun yang keenam-puluh tujuh dari jago Wong Tie Hian, yang menjagoi daerah Kang-lam menurut perintah Khu Sin Hoo, kemudian nanti menghadapi Po Po Siat seperti apa yang telah dijanjikan oleh Khu Sin Hoo pada lima tahun yang lalu dengan. Po Po Siat itu ..... maka setelah semuanya itu beres, Han Han bermaksud untuk mencari keluarganya dan berkumpul dengan ayah- ibunya itu, walaupun mereka telah gila ...... Nanti secara perlahan-lahan baru dia mencari balas pada Thio See Ciang itu Kauw-coe Pek Bwee Kauw yang telah membikin hancur rumah tangganya ......

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

KALAU sedang musim dingin, maka hujan salju turun terus menerus, dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi, salju tetap turun dengan hawa yang dingin luar biasa. Dalam cuaca yang begitu buruk, jarang orang melakukan perjalanan. Pedagangpun jarang keliar kota, karena dalam musim denikian, mereka beristirahat di rumah bersama anak isterinya.

Tetapi, Han Han dan Thio In In telah melakukan perjalanan di dalam turunnya hujan salju. Hal ini disebabkan pesta ulang tahun dari jago Kanglam Wong Tie Hian telah hamp tiba. Maka, atas desakan Han Han, Thio In In jadi mau melakukan perjalanan. Mereka melakukan perjalanan dengan memakai baju mantel yang tebal juga menggunakan dua ekor kuda sebagai binatang tunggangan masing- masing.

Berhari-hari mereka melakukan perjalanannya akhirnya mereka tiba di kampung Tiang-siang-chung, sebuah kampung yang terpisah lima lie dari tempat tinggal Wong Tie Hian.

Dan, di jalan yang menuju ketempat tinggal Wong Tie Hian, Han Han dan In In sering menjumpai orang yang berpakaian seperti jago-jago di rimba persilatan. Dan mungkin orang-orang itu ingin mengunjungi pesta ulang tahun jago she Wong itu.

Di kampung Tiang-siang-chung, Han Han dan In In beristirahat dulu, mereka bermaksud bermalam satu malam di kampung ini karena pesta ulang tahun Wong Tie Hian masih tertinggal empat hari lagi.

Mereka memilih sebuah rumah penginapan yang cukup besar dan bersih di kampung tersebut. Waktu mereka memasuki rumah penginapan itu, di dalamnya telah berkumpul banyak orang-orang dari rimba persilatan. Kedatangan kedua muda-mudi ini tak banyak menarik perhatian orang-orang yang sudah ada di dalam rumah penginapan tersebut, karena In In juga menyamar sebagai seorang "pemuda."

Seorang pelayan menyambut kedatangan Han Han dan In In.

"Berikan kami dua buah kamar yang bersih !" pinta Han Han pada pelayan

itu.

Si pelayan mengiyakan, kemudian mengajak mereka keloteng, di mana

masing-masing diberikan sebuah kamar. Waktu menaiki tangga loteng itu, tiba-tiba sikap Thio In In jadi gugup sekali, wajahnya berubah aneh sekali dan cepat-cepat menyelinap ke belakang si pelayan, lalu cepat-cepat menaiki undakan tangga loteng tersebut.

Semua kelakuan si gadis tak bisa terlepas dari mata Han Han. Anak muda she Han jadi heran berbareng bingung.

"Mengapa Cie-cie bersikap begitu?" pikirnya. Apakah dia melihat ada musuhnya di dalam ruangan ini ?" Dan, Han Han menatap seluruh ruangan itu sekilas, dia melihat orang-orang yang terdiri dari bermacam ragam dan pakaian mereka juga ber-macam-macam tetapi semuanya menunjukkan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang dari rimba persilatan, dari kalangan Kangouw. Han Han mengikuti si pelayan menaiki undakan tangga dan tak memperdulikan orang-orang yang berada di ruangan bawah loteng.

Ketika telah berada di dalam kamar. Han Han masih memikirkan sikap Thio In In yang aneh dan luar biasa itu, dia jadi tak habis mengerti. Maka dari itu, saking tak bisa menahan perasaannya, dia jadi keluar dari dalam kamarnya dan menuju kekamar si gadis she Thio itu.

Waktu sampai di muka kamar si nona Thio, Han Han jadi berdiri ragu. Dia tak lantas mengetuk pintu tersebut. Didengarnya samar sekali didalam kamar itu si nona Thio menarik napas.

Han Han jadi tambah heran, rasa ingin tahunya jadi semakin besar dan mandesak dirinya. Maka, diketuknya pintu itu.

Tak lantas terdengar penyahutan dari nona Thio itu, keadaan hening sekali, hanya terdengar suara yang berisik dari orang-orang yang berada di bawah loteng.

Han Han mengetuk lagi daun pintu itu. "Siapa ?" terdengar nona Thio bertanya dengan suara yang tergetar. "Cie-cie ..... bukalah pintumu ini, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu !" menyahuti Han Han cepat.

Terdengar Thio In In menghembuskan napasnya dalam-dalam, kemudian Han Han mendengar suara langkah kaki nona Thio itu. Waktu pintu terbuka, Han Han masih sempat melihat wajah si gadis yang agak pucat. Tetapi Han Han tak menanyakan hal itu, dia masuk ke dalam kamar si gadis dengan pura-pura tak melihat wajah nona Thio yang agak luar biasa itu.

Thio In In telah menutup pintu karnarnya lagi, dia memutar tubuhnya sambil memandang Han Han yang kala itu sudah duduk dikursi.

"Ada apa Lao-tee ?" tanya si gadis waktu dilihatnya Han Han masih berdiam diri saja.

Han Han agak sulit untuk memulai pertanyaannya, dia menatap si gadis Thio itu dan kemudian menundukkan kepalanya.

"Cie-cie ..... aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tetapi aku takut nanti kau marah dan tersinggung .....!" kata anak muda she Han dengan suara yang perlahan.

Thio In In mengerutkan alisnya. "Kenapa kau Lao-tee ?" tanyanya heran.

"Sebetulnya apa yang terjadi di dirimu ? " Han Han menghela napas, "Sebetulnya ini hanya soal kecil saja, tetapi aku kuatir Cie-cie sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan pertolonganku !" kata Han Han sambil menatap In In dalam.

Si nona Thio berubah wajahnya, dia menundukan kepalanya dan wajahnya itu guram sekali.

"Tadi waktu memasuki rumah penginapan ini kulihat sikapmu agak aneh, apakah kau menemui salah seorang musuhmu, cie-cie ?" tanya Han Han ketika dihhamya orang berdiam diri.

Thio In In mengangkat kepalanya, dia menghela napas. Tetapi dia tidak lantas menyahuti, kemudian dia menghampiri kursi yang lainnya dan duduk di situ. "Katakanlah cie-cie kesulilanmu ..... mungkin adikmu bisa menolongmu !"

desak Han Han.

Tiba-tiba Ia In mengangkat kepalanya, dia tertawa. Wajahnya telah berubah cerah berseri-seri.

"Kau aneh Lao-tee ! " katanya kemudian. "Mengapa kau bisa mempunyai dugaan begitu ? Padahal aku membawa sikap yang biasa, tak ada perobahan pada diriku, atau mungkin juga kau terlalu was-was dan terlalu memperhatikan diriku, sehingga kau menduga aku mengalami sesuatu kesulitan ? "

Han Han jadi mengerutkan alisnya, dia tahu bahwa si gadis sedang berdusta. Rupanya In In keberatan untuk menceritakan kesulitannya itu. Maka ketawa untuk melenyapkan kekakuan di antara mereka.

"Ya, ya, mungkin aku yang terlalu menguatirkan keadaaamu, cie-cie!" katauya mengalah. "Atau mungkin juga aku yang salah lihat tadi !"

Nona Thio juga tertawa, dia tak mengatakan apa-apa.

Han Han jadi tak enak hati berdiam lama-lama di kamar si gadis. Maka dari itu, setelah bercakap-cajap sesaat lamanya, dia meminta diri untuk kembali ke kamarnya.

Waktu telah berada di dalam kamarnya kembali, Han Han jadi memutar otak. Terang-terangan tadi dia melihat perobahan wajah In In waktu dia sedang mau menaiki undakan tangga dan sikapnya tampak agak gugup, malah jelas Han Han melihat wajah si gadis yang berubah muram, mengapa In In malah mengatakan tak ada sesuatu yang tak terjadi ? Tadinya Han Han mau menduga In In menemui salah seorang musuhnya di dalam rumah penginapan ini, tetapi dugaan itu jadi lenyap. Kalau memang In In betul menghadapi musuhnya, pasti dia akan memberitahukan pada Han Han dan mereka dapat bekerja sama. Tetapi anehnya sekarang nona Thio itu malah merahasiakannya, maka hal itu benar-benar aneh dan tak dimengerti oleh Han Han. Semakin lama bergaul dengan Thio In In, dia jadi merasakan banyak keanehan terdapat di diri gadis itu. Suatu keanehan yang sukar untuk dipecahkan ...... Malam itu Han Han tak dapat tidur, dia guIak-gulik di pembaringannya dengan pikiran bercabang-cabang       Dan yang membikinnya tak

mengerti, mengapa dia selalu jadi memikirkan diri Thio In In, itu cie-cie angkatnya

? Mengapa ? Apakah dia telah jatuh cinta pada In In ?

Memikir begitu, muka Han Han dirasakan sangat panas dan berubah merah padam. Dia bersytikur di dalam kamar itu hanya ada dia seorang diri, coba kalau ada yang melihat perobahan wajahnya dan mengetahui isi hatinya, betapa likatnya dia. Malah dalam hati Han Han telah menggumam: "Akh, mengapa aku sampai mempunyai pikiran begitu ? Bukankah Cie-cie menyayangiku dengan setulus hati? Kebaikan cie-cie yang sudah mau mengangkat saudara dengan diriku benar-benar suatu budi yang tak bisa dilupakan, mengapa sekarang aku mempunyai pikiran yang yang menyeleweng ? Malah ..... urusan besar yang dibebankan oleh guru- guruku masih belum selesai dan keluargaku masih kacau tak keruan rimbanya, mana boleh aku memikirkan soal cinta?!" dan disebabkan dia berpikir demikian, maka si penuda tersebut jadi agak tenang, dan akhirnya dia dapat tertidur jaga .....

walaupun di dalam tidurnya itu dia bermimpi mencium pipi Thio In In, itu cie-cie angkatnya !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

HAN HAN jadi terbangun dengan terkejut waktu pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara yang luar biasa di atas kamarnya.

Dengan cepat Han Han melompat turun dari pembaringannya dan berdiri di dekat jendela, dari mana dia dapat melihat keluar melalui lobang-lobang yang banyak terdapat di jendela itu. Dilihatnya sesosok bayangan melompat turun dari atas genting, kemudian menghampiri ke arah kamar Han Han.

Hal itu membikin anak muda she Han tersebut jadi heran, siapakah orang asing itu yang rupanya ingin menyatroni dirinya ? Han Han mementang matanya lebar-lebar tetapi dia tak bisa melihat wajah orang itu, karena orang itu memakai topeng yang berwarna merah, sehingga wajahnya tertutup. Hanya yang menambah keheranan anak muda she Han itu, gerakan orang tersebut gesit sekail, sehingga dapat diduga kepandaian oraug itu cukup tinggi.

Han Han cepat-cepat menyelinap kesamping jendela waktu orang itu sudah lebih mendekati jendelanya, tetapi Han Han masih tetap memasang mata.

Dilihatnya orang itu mengintip ke dalam kamarnya. Terdengar orang tersebut menghela napas. Han Han tahu, orang itu tentu kecewa, karena pada saat itu kamar Han Han sangat gelap tak ada penerangan, sehingga orasg itu tak mungkin dapat melihat keadaan dalam kamarnya.

Han Han memperhatikan terus gerak-gerik orang itu, dia jadi ingin mengetahui apa maksud orang itu mengintip dan mengintai kamarnya. Sebetulnya Han Han memergoki orang itu dan mencekuknya, tetapi ditahan maksud hatinya itu. Hanya, Han Han mengawasi terus kelakuan orang. Yang mengherankan hati Han Han, pada saat itu salju masih turun dengan derasnya, tetapi orang itu masih berdiri menjublek dibawah hujan salju.

Terdengar orang bertopeng itu telah menghela napas lagi. Kemudian setelah menundukkan kepalanya mengintip di lobang jendela, orang itu lalu memutar tubuhnya berlalu. Han Han tambah tertarik, dia cepat-cepat meringkaskan pakaiannya, kemudian melompat keluar dari jendela dan mengejar orang itu untuK membuntutinya.

Orang itu bukan keluar dari rumah penginapan, hanya melompati pekarangan yang sebelah kanan, kemudian menuju ke sebuah kamar. Di mana orang tersebut menghampiri kamar itu dengan langkah kaki berindap-indap.

Han Han menguntit terus orang itu, dia telah bersembunyi di atas pohon yang terdapat di dekat tempat itu, sehingga dia leluasa mengawasi tindak-tanduk orang itu. Gin-kang Han Han telah mencapai puncak kesempurnaan, sehingga dia dapat bergerak dengan ringan tanpa diketahui oleh orang yang dikuntitnya.

Orang bertopeng itu telah menurdukkan kepalanya dan agak membungkukkan tubuhnya untuk mengintip ke dalam kamar itu. Tetapi, begitu dia mengintai kedalam, begitu terdengar suara bentakan "Siapa ?!"

Dari gerakan tubuh orang itu yang melompat keluar seorang anak muda yang berpakaian serba putih, bajunya ringkas sekali, hawa dingin dari hujan salju seperti tak dirasakannya.

"Berhenti !" teriak anak muda yang baru keluar dari kamarnya. Dan, dia bukan hanya membentak, tapi tangannya telah bergerak melemparkan senjata rahasia.

Senjata rahasia itu menyambar dengan cepat ke arah orang bertopeng, yang berusaha melarikan diri, dan terpaksa orang bertopeng itu mengelakkan senjata rahasia yang menyamber kearahnya. Disebabkan dia berkelit, gerakkan tubuhnya jadi terhambat dan dengan sendirinya dia jadi kena dicandak oleh anak muda yang baru keluar dari kamar itu.

"Siapa kau?" bentak anak muda itu waktu orang bertopeng tersebut tak bisa melarikan diri lagi. "Mau apa kau mengintai kamarku?"

Orang bertopeng itu mendengus, matanya yang tak tertutup oleh topengnya itu berkilat tajam.

"Ada hak apa kau melarang aku pergi kemana kusukai?" balas tegur orang itu. Anak muda berpakaian serba putih jadi melengak, wajahnya jadi berubah. "Eh kau?" tergetar suaranya.

Tetapi orang bertopeng itu telah menggunakan kesempatan memutar tubuhnya dan melarikan diri. Han Han yang menyaksikan dari atas pohon, jadi tambah heran. Bukan kamar pemuda berbaju putih itu saja yang diintai oleh orang bertopeng, tetapi kamar Han Han juga tadi diintainya. Apakah orang bertopeng itu sedang mencari seseorang?

Sedangkan anak muda berpakaian serba putih, jadi terkejut waktu melihat orang bertopeng itu akan melarikan diri. Dia menjejakkan kakinya mencelat mengejar. Kepandaian kedua orang itu berimbang, tetapi pada suatu waktu, anak muda itu menggertak dengan sambitan senjata rahasia, sehingga terpaksa orang bertopeng itu menghentikan larinya dan berkelit dari sambaran senjata rahasia. Dan, disebabkan itulah maka dia kena dicandak kembali oleh anak muda berbaju putih. Selama itu Han Han tetap menguntit.

"Kau ..... kau     apakah kau In-moy?" tegur anak muda berbaju putih itu.

"Hmmm ..... !" orang bertopeng itu mendengus, matanya mencilak, kemudian tanpa berkata, dia memutar tubuhnya dan akan melarikan diri lagi.

Anak muda berbaju putih itu terkejut, dia menjejakkan kakinya, dia menjambret lengan orang bertopeng itu.

"In-moy .....! Bukankah kau?" tegurnya sambil berusaha menjambret topeng orang dengan menggunakan tangan kirinya.

Tetapi orang bertopeng itu cukup gesit, dia mengelakkan jambretan tangan anak muda berbaju putih, kemudian dia membalikkan tubuhnya akan berlari lagi.

Anak muda berbaju putih itu jadi semakin yakin, bahwa orang bertopeng itu pasti In-moynya ....., maka dari itu cepat-cepat dia mengejarnya lagi, sehingga mereka jadi main kejar-kejaran dan tanpa mereka sadari, mereka telah berlari keluar dari rumah penginapan cukup jauh juga udara dingin dari hujan salju itu

seperti tak dirasakan oleh orang bertopeng dan anak muda berpakaian serba putih.

Sebetulnya Han Han sudah ingin kembali kekamarnya dan tak bermaksud menguntit terus, tetapi waktu menyaksikan bagaimana orang bertopeng itu mengelakkan jambretan anak muda berbaju putih itu dengan gerakkan yang mudah, Han Han merasakan pernah melihat gerakkan semacam itu, sehingga bayangan seseorang jadi membayang dikelopak matanya dan waktu dilihatnya orang bertopeng dan anak muda berpakaian serba putih itu saling kejar mengejar lagi, Han Han jadi menguntit terus.

"Apakah dia ?!" pikir Han Han waktu dia mengejar untuk menguntit. "Tetapi

..... kalau dia mengapa dia harus mengintai kekamar-kamar orang lain? Apa maksudnya?" dan Han Han benar-benar heran dan tak mengerti, dia jadi bingung. Untuk sesaat dia masih menguntit terus.

Tiba-tiba suatu ingatan kembali menyelinap ke dalam kepalanya, maka dengan cepat dia membalikkan tubuhnya dan kembali ke rumah penginapan. Dia langsung menuju ke kamar Thio In In, Diketuknya pintu kamar.

Tak ada penyahutan.

Hati Han Han jadi berdebar.

"Akh ..... dia tak ada dikamarnya ?" gumam Han Han dengan hati yang bertambah bingung. "Apakah dia itu, adalah Cie-cie ?" dan yang dimaksud oleh Han Hai dengan 'dia', adalah orang bertopeng itu. Han Han penasaran sekali, diketuknya lagi pintu kamar Thio In ln, tetapi tak terdengar sahutan dari dalam.

Dengan kesal Han Han memutar tubuhnya, dia bermaksud kembali ke kamarnya. Tetapi, mata Han Han yang jeli dapat melihat sesosok bayangan berkelebat didekat kamar itu, gesit sekali bayangan itu. Maka dengan cepat Han Han melompat mengejar. Waktu sudah dekat, ternyata bayangan itu orang bertopeng tadi. Di belakangnya masih mengejar anak muda berbaju putih.

"Dugaanku mengenai orang bertopeng itu mungkin benar mungkin juga tidak. Tetapi ..... kalau memang ternyata orang bertopeng itu memang 'dia', bukankah aku memandangi saja 'dia' mengalami kecelakaan di tangan anak muda berbaju putih itu? Ach, lebih baiK aku turun tangan untuk menghalang-halangi anak muda berbaju putih itu menurunkan tangan jahat .....!" dan karena berpikir begitu, Han Han mengempos semangatnya dan dengan tiga kali menjejakan kakinya, dia telah melambung tinggi dan tahu-tahu telah berada di belakang anak muda berbaju putih.

Tetapi Han Han tak lantas berhenti menghadang, dia menjejakan kakinya lagi, tubuhnya mencelat lagi dengan kegesitan yang luar biasa melampaui orang bertopeng dan anak muda berbaju putih itu. Hanya sebelum berlari menghilang, di saat dia sedang melewati anak muda berbaju putih itu, dia mengulurkan tangannya dan menepuk punggung anak muda berbaju putih itu agak keras, sehingga menimbulkan suara 'dukkk' yang nyaring, kemudian tampak tubuh si-anak muda berbaju putih terjungkal. Orang bertopeng terus juga berlari dan dihatinya dia berterima kasih pada sesosok bayangan yang sukar dilihat wajahnya, karena sesosok bayangan itulah yang telah menolongnya. Karena anak muda berbaju putih itu terjungkal dan terguling disalju maka dengan mudah orang bertopeng itu terlolos dari kejaran, anak muda berbaju putih itu. Malah waktu anak muda berbaju putih itu telah bangun, di sekelilingnya sangat sepi. Dia jadi mendongkol berbareng heran karena dia mengetahui benar bahwa ada orang yang menolong si pemakai topeng itu, hanya disebabkan gerakan orang yang memberikan pertolongan pada orang bertopeng itu maka anak muda berbaju putih itu tak bisa melihat wajahnya.

Pada saat itu salju masih turun, udara dingin sekali. Tubuh anak muda berbaju putih agak menggigil, dan dia memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam kamarnya. Di dalam hatinya, dia memaki kalang kabut-an, tetapi untuk mencari dan mengejar bayangan yang telah menoloagi dan membantu orang bertopeng itu, maka si-anak muda berbaju putih jeri dan dia mengetahui benar, kalau tadi orang asing itu bermaksud mencelakai dirinya atau memaui jiwanya, niscaya padi saat ini anak muda berbaju putih itu telah tak bernapas dan terbujur disalju      ! Mengingat

itu, mengingat kepandaian orang lihai luar biasa dan sukar diukur, anak muda berbaju putih tadi jadi menggigil     dan waktu sampai di kamarnya, dia memeriksa

seluruh kamarnya dan anak muda berbaju putih itu memperoleh kenyataan tak ada satupun barangnya yang lenyap. Maka setelah mengunci jendela dan daun pintu rapat-rapat, anak muda berbaju putih itu merebahkan dirinya di pembaringan dengan hati gelisah ...... 

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

HAN HAN sendiri waktu telah lari melewati anak muda berbaju putih, dia memutar tubuhnya dan berlari kearah jurusan utara, dia menpambil jalan yang menikung begitu disebabkan anak muda she Han tersebut ingin menghadang orang bertopeng yang diketahui oleh Han Han melarikan diri dengan mengambil jalan itu,

Dan, benar saja, baru saja Han Han berlari sesaat lamanya, tampak di kejauhan orang bertopeng sedang berlari menuju ke arahnya. Cepat-cepat Han Han menghadang di hadapan orang bertopeng itu.

Orang bertopeng itu waktu melihat Han Han yang muncul dengan tiba-tiba di depannya, dia jadi mengeluarkan seruan kaget dan memutar tubuhnya untuk melarikan diri lagi. Tampaknya dia ketakutan untuk bertemu dengan Han Han.

Melihat kelakuan orang, Han Han mendengus, dia ketawa tawar. Kemudian dengan menjejakkan kakinya, Han Han mencelat mengejar, dia mengerahkan Gin- kangnya, sehingga tubuhnya mencelat bagaikan terbang. Orang bertopeng itu jadi mengeluarkan seruan kaget waktu mengetahui Han Han, telah berada dekat di belakangnya, dia mengerahkan tenaganya untuk melarikan diri secepat mungkin, tetapi toh akhirnya ia merasakan siliran angin yang melalui sisi dirinya, orang bertopeng itu jadi mengeluh, karena segera juga dia mengetahui Han Han telah menghadang di hadapannya.

"Ciecie .....!" kata Han Han dengan suara yang nyaring dan anak muda she Han ini ketawa lebar. "Mengapa kau harus menyamar begitu macam dan tampaknya takut sekali bertemu denganku ?"

Orang bertopeng itu mendengus, matanya yang tak tertutup oleh topengnya mencilak.

"Siapa cie-ciemu ?" tegurnya dengan suara yang dingin. Han Han ketawa lagi.

"Jangan begitu Cie cie ..... apakah di hadapan adikmu ini kau masih mau pura-pura sebagai orang lain ?" kata Han Han cepat.

"Hmmm     siapa yang mau pura-pura terhadapmu ?" tanya orang bertopeng

itu dingin. "Lebih baik kau cepat-cepat menggelinding dari hadapanku !" Han Han jadi melengak.

"Heh ..... kau benar-benar bukan Cie-cie ku ?" tanyanya sambil mengawasi dengan tajam, seakan-akan ingin menembusi topeng orang dengan sorot matanya itu. "Apakah kau benar-benar bukan Cie-cie Thio In In?"

Orang bertopeng itu kembali mendengus.

"Kenapa kau seperti orang gila datang-datang memaksa diriku agar mengakui aku ini sebagai enciemu itu ?!" tanya orang itu dingin, nyata dia tak senang. "Cepat enyah dari hadapanku !"

"Tetapi ..... " dan Han Han mengawasi potongan tubuh orang bertopeng itu, dihhatnya tubuh orang itu mempunyai potongan yang sama dengan potongan tubuh Thio In in, maka Han Han tambah yakin, orang bertopeng ini pasti Thio In In. Apa lagi kalau di dengar suaranya, yang cara-cara berkatanya sama dengan Thio In In. Hanya .....yang membikin Han Han tak mengerti, mengapa gadis she Thio itu seperti ingin menghindarkan diri dan padanya padahal kalau memang Han Han

mengingini untuk menjambret topeng orang, hal itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangannya sendiri, tetapi Han Han takut kalau orang itu benar-benar Thio In In dan disebabkan terbuka topengnya itu, si nona Thio jadi tersinggung. Maka dari itu, Han Han jadi tambah bingung.

"Kau mau menyingkir tidak ?" bentak orang bertopeng itu lagi. Han Han menghela napas, dia menatap sekali pada orang bertopeng itu, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia memutar tubuhnya dan berlalu

..... orang bertopeng itu jadi berdiri menjublek ditempatnya mengawasi orang berlalu, sampai akhirnya bayangan Han Han lenyap. Orang bertopeng itu menghela napas, dia melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan itu       seakan-akan ada yang

mengganggu pikirannya dan sedang dipikirkannya. Malah waktu dia menarik napas lagi, tarikan napasnya itu sangat menyedihkan, dan akhirnya orang bertopeng itu menyenderkan tubuhnya di sebuah batang pohon yang terdapat di dekat situ, kemudian matanya memandang jauh dengan sorot mata yang hampa .....

mengandung kesedihan yang sangat.

Lama juga orang bertopeng itu berdiri menyender di pongkot pohon, sampai di suatu ketika dengan tiba-tiba, orang bertopeng itu menjerit dengan suara menyayatkan dan tubuhnya menceiat tinggi, kemudian berlari-lari dengan cspat .....

seakan-akan ingin melampiaskan perasaan yang mengganjel di hatinya. Bayangan orang bertopeng itu lenyap di tikungan, dan hujan salju masih terus turun dengan deras .....

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 30

SAMPAI menjelang pagi, Han Han masih tak dapat tertidur, dia golak-golik di pembaringannya mendengarkan salju yang turun menimpa genting kamarnya.

Yang membuatnya tak mengerti, mengapa orang bertopeng itu tampaknya takut sekali terhadapnya, takut kalau sampai topengnya itu terbuka dan terlihat wajahnya. Dan, menurut dugaan Han Han orang bertopeng itu adalah Thio In In, tetapi mengapa dia malah menyangkalaya ? Mengapa? Bukankah kalau memang orang bertopeng itu benar Thio ln In dan menemui kesulitan menghadapi anak muda berbaju putih itu, bukankah Han Han dapat membaniunya ?! Mengapa malah orang bertopeng itu sungkan mengakui dirinya yang sebenarnya ? Dan kalau orang bertopeng itu benar-benar bukan Thio In In, lalu kemana nona Thio itu ? Mengapa dia tak berada di dalam kamarnya?

Kepala Han Han benar-benar pusing, dia tak mengerti dan tak habis pikir menghadapi peristiwa semacam ini. Di kala menjelang fajar, anak muda she Han ini melompat turun dari pembaringannya, dia mencuci muka, lalu bersalin pakaian, kemudian keluar dari kamarnya, menuju kekamar Thio In In.

Pintu kamar nona Thio itu masih tertutup rapat, juga tamu-tamu di rumah penginapan tersebut masih mengeram di dalam kamar masing-masing, karena hawa udara begitu buruk dan dingin sekali.

Han Han mengetuk pintu kamar nona Thio pertama kali tak ada penyahutan, tetapi waktu Han Han mengetuk untuk kedua kalinya terdengar nona Thio In In menanya : "Siapa ?!"

"Aku Cie-cie    !" menyahuti Han Han cepat.

Lama juga Han Han menanti dimuka kamar itu, sampai akhirnya didengar langkah kaki nona Thio itu dan pintu terbuka.

"Ada apa, Lao-tee ?" tanya In In sambil mengawasi Han Han dengan mata yang agak sipit, karena rupanya gadis she Thio tersebut baru terbangun dari tidurnya.

"Aku ingin mengganggumu sebentar Cie-cie !" kata Han Han cepat. "Boleh aku masuk ?"

Wajah nona Thio jadi berubah merah.

"Tunggu sebentar !" katanya sambil menutup pintu itu kembali. "Aku ingin menyalin pakaian dulu !"

Han Han menunggu sesaat di depan kamar In In, didengarnya gadis itu sedang memakai bajunya. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali.

"Masuklah Lao-tee ..... rupanya ada urusan yang penting sampai pagi-pagi begini kau telah membangunkan aku !" kata In In sambil tersenyum, rambutnya telah tergulung rapi h dan wajahnya juga bersih sekali, rupanya dia sudah mencuci muka.

Han Han mengangguk.

"Semalam ada peristiwa yang aneh, Cie-cie !" menerangkan Han Han sambil melangkah masuk ke dalam kamar si nona Thio.

"Heh ..... peristiwa aneh ?" tanya In In sambil menutup pintu kamarnya, wajahnya menunjukkan keheranan yang sangat. "Mengapa pada waktu itu kau tak membangunkan aku, Lao-tee ? "

Han Han tersenyum.

"Dengarlah Cie-cie      semalam ada seseorang yang mencurigakan dan telah

mengintip kamarku, maka aku telah menguntitnya dan ternyata orang itu bukan hanya mengintai kamarku, malah dia telah mengintai kamar seseorang lainnya, yaitu anak muda yang menempati kamar di hotel ini di-bagian timur !" setelah berkata begitu, Han Han mengawasi wajah si gadis, dia ingin melihat perobahan di wajah In In. Tetapi, wajah si gadis tak berobah sedikitpun, dia malah menunjukkan wajah yang keheranan.

"Apakah ada kejadian yang begitu aneh?" tanya In In kemudian. "Mengapa kau tak menangkap saja orang itu ? "

Han Han jadi heran juga melihat ketenangan si gadis she Thio itu. Tadinya dia menduga sedikit banyak dia akan melihat perobahan wajah In In, tetapi ternyata gadis itu tenang sekali.

Han Han jadi menceritakan pengalamannya semalam. Tetapi dia tak menyinggung-nyinggung ketika dia mengetuk kamar si gadis dan si gadis tak ada.

"Mengapa kau tak membangunkan aku, Lao-tee ?" tanya Thio In In setelah Han Han selesai dengan ceritanya.

"Aku tak ingin mengganggumu, cie-cie!" menyahuti Han Han cepat. "Dan, kurasa soal itu soal kecil yang tak ada artinya. mungkin juga orang bertopeng itu sedang menyelidiki seseorang, sehingga dia mengintai setiap kamar !"

In In mengangguk.

"Mungkin juga begitu !" katanya sambil tersenyum. "Ob, ya, pagi ini juga kita mengunjungi Wong Loo-cianpwee ?"

Han Han mengangguk.

"Ya ..... kita mengunjungi hari ini dan mungkin selama menunggu tibanya hari perayaan ulang tahun Wong Loo-cianpwee itu, kita akan tinggal di rumahnya selama beberapa hari !"

Setelah bercakap-cakap sesaat lamanya, Han Han kembali ke dalam kamarnya untuk membereskan barang-barangnya, karena mereka telah memutuskan hari ini juga mengunjungi gedung Wong Tie Hian, itu jago kawakan dari Kang-lam !

Setelah sarapan pagi, Han Han dan In In melakukan perjalanan, waktu mereka meninggalkan rumah penginapan, hujan salju masih turun cukup deras dan untuk menghindarkan hawa dingin mereka memakai mantel yang tebal .....

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya WAKTU Han Han dan ln In sampai di gedung Wong Tie Hian, temyata gedung jago she Wong yang besar itu telah banyak kedatangan tamu-tamu undangan. Kedua muda-mudi ini disambut oleh beberapa orang pelayan, yang membawa mereka menemui jago she Wong itu.

Waktu bertemu dengan Wong Tie Hian, Han Han dan nona Thio memperoleh kesan jago tua she Wong itu sangat ramah sekali, juga memperlakukan mereka baik sekali. In In dan Han Han masing-masing diberi sebuah kamar, karena pada saat itu Thio In ln telah berpakaian seorang gadis dan tidak menyamar lagi,

Sorenya, Han Han menemui In In, mereka menuju ketaman belakang gedung itu, karena di ruangan tengah sedang berkumpul jago-jago silat dari berbagai golongan.

"Cie-cie ..... aku kagum pada sikap yang diberikan oleh Wong Loo cian- pwee!" kata Han Han waktu mereka duduk di bawah pohon yang tumbuh di dekat empang. "Walaupun dia dari tingkatan yang lebih tua dan lebih tiggi, toh dia tak angkuh dan melayani kita dengan ramah-tamah." In In mengangguk.

"Tetapi Lao-tee ..... aku melihat ada sesuatu yang mengganggu ketenangan Wong Loo-cianpwee !" kata si gadis. "Perasaanku mengatakan bahwa Wong Loo- cianpwee sedang menghadapi kesulitan."

"Eh ...... akupun melihatnya begitu, Cie-cie !" menyahuti Han Han, membenarkan perkataan encie-angkatnya itu. "Kulihat di samping tertawanya yang manis, wajahnya diliputi oleh kabut gelap. Kesulitan apakah yang kiranya sedang dihadapi oleh Wong Loo-cianpwee?"

Si gadis she Thio mengangkat bahunya. Dia juga tertawa.

"Entahlah ..... tak sopan kalau kita menanyakan langsung pada Wong Loo- cianpwee." Menyahuti gadis she Thio ini. Pertama kita di sini hanyalah tamu, kedua kita dari tingkatan muda, sehingga Wong Loo-cianpwee akan tersinggung kalau kita menanyakan kesulitan yang sedang di hadapinya itu langsung padanya

..... !"

Han Han mengangguk membenarkan, baru saja dia ingin berkata lagi, tampak mendatangi dua orang pelayan. Begitu sampai di depan Han Han dan In In, kedua pelayan rumah tangga Wong Tie Hian, membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada muda-mudi ini.

. "Jie-wie Siauw-hiap " kata salah seorang pelayan setelah itu. " Worg Loo- ya mengundang kalian ke ruangan tengah untuk menghadiri pesta makan !" Han Han mengiyakan, dia juga mengucapkan terima kasihnya pada kedua pelayan itu. Lalu In In dan anak muda she Han mengikuti kedua pelayan itu menuju ke ruangan tengah.

Di ruangan tengah yang lebar itu telah berkumpul banyak sekali orang-orang dari rimba persilatan. Han Han dan In In diantar oleh salah seorang di antara kedua pelayan itu ke kursi yang masih kosong. Suara berisik memenuhi ruangan tersebut. Tamu-tamunya Wong Tie Hian terdiri dari berbagai golongan, dan kalau dilihat cara berpakaian mereka, Han Han dan nona Thio dapat menentukan, bahwa mereka adalah golongan Pek-to dan Hek-io, juga ada golongan dari Boe soe, para pengawal, juga orang-orang dari Piauw-kiok semuanya mempunyai wajah yang

bermacam ragam juga.

Tak lama duduk di ruangan itu, Han Han dan Thio In In melihat Wong Tie Hian keluar dari balik tirai memasuki ruang tengah itu. Dia memilih kursi di- tengah-tengah yang khusus memang disediakan untuk tuan rumah. Sebelum duduk, Wong Tie Hian menjura kepada orang banyak sambil berkata : "Terima kasih atas kesediaan dan kecintaan dari saudara-saudara sekalian padaku orang she Wong ini! Sebetulnya Lohu tak ingin mengganggu saudara-saudara sekalian dengan persoalan yang sedang Lohu hadapi, tetapi karena urusan itu di luar dari batas kepantasan dan peraturan wajar yang berlaku di dalam kalangan rimba persilatan, maka Lohu ingin meminta pertimbangan saudara-saudara dan juga sebagai saksi dari persoalan yang sedang Lohu hadapi ini !"

Setelah berkata begitu, Wong Tie Hian menyapu seisi ruangan dengan kilatan mata yang tajam sekali, kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi: "Dan sebelum Lohu menceritakan persoalan yang sedang Lohu hadapi itu, maka mari kita sama-sama makan dulu mencicipi ala kadarnya makanan yang dapat kami sajikan untuk para saudara sekalian!" setelah berkata begitu, Wong Tie Hian mengulapkan tangannya, maka bermunculanlah para pelayau dengan di tangan membawa santapan.

Semua orang-orang gagah yang berada di dalam ruangan itu sudah lantas bersantap dengan suara yang berisik, ada yang menceritakan pengalamannya pada kawan mereka, ada yang tertawa-tawa, ada pula yang meributi persoalan ilmu silat-

.....!

Han Han dan Thio In In juga bersantap tetapi mereka bersantap sedikit sekali, karena mereka tak bernafsu, mereka lebih banyak mendengarkan cerita- cerita dari para jago rimba persilatan yang duduk berdekatan dengan mereka. Malah, salah seorang jago yang berpakaian seperti seorang sastrawan telah berkata sambil tertawa; "Kau tahu Sam-ko .....pada malam itu disebabkan wajah si budak cukup caatik; maka aku tak sampai hati membunuhnya ..... !" terdengar yang lainnya tertawa, sedangkan In In menunduk malu. "Dan ..... " menyambungi orang itu lagi. "Disebabkan tindakanku yang lemah dipengaruhi oleh paras cantik, hal itu menyebabkan diriku hampir celaka ! "

"Kenapa?" tanya seorang yang berpakaian baju Ka-she, baju Hwee-shio, kepalanya licin kelimis, dia bertanya sambit tertawa, "Kau dihajarnya sampai mengulun memanggil-manggil ibumu ?"

Si sasterawan tertawa keras, wajahnya berubah merah, rupanya dia malu. "Kau salah duga. Tay-soe .....!" katanya cepat, "Jangankan dia dapat

menghajarnya, sedangkan untuk menyentuh bajuku saja ia tak bisa ! Malah yang membikin hatiku jadi panik pada saat itu, ialah budak itu menangis sambil bergulingan coba kalian pikir, pusing tidak ?"

Si pelajar bertanya, sambil tertawa wajahnya menunjukan keseriusan, orang- orang yang mendengarnya jadi berdiam diri sambil mengawasi kelanjutan perkataan si sasterawan. Tetapi pelajar itu berdiam diri saja, sehingga salah seorang yang tak bisa menguasai perasaannya, jadi bertanya : "Lalu bagaimana ?!"

Ditanya begitu si sasterawan tertawa.

"Ya sudah     budak itu digendong ibunya !" menyahuti kemudian.

Orang itu jadi melengak begitupun yang lainnya.

"Heh, digendong ibunya ?" tanya orang tadi bertanya dengan heran. Si pelajar mengangguk.

"Ya ..... karena budak itu baru berumur empat tahun !' menyahuti si pelajar sambil tetap tertawa.

"Setan !" memaki orang yang tadi bertanya dengan mendongkol. Sedangkan yang lainnya telah tertawa gelak-gelak, begitu juga Han Han dan In In, merekapun tertawa. Suasana di dalam pesta makan itu sangat ramai dan meriah sekali.

Dan, setelah semuanya selesai makan minum sepuasnya, ruangan itu dirapihkan kembali oleh pelayan-pelayan keluarga Wong, kemudian jago she Wong yang menjagoi daerah Kang-lam tersebut berdiri dari duduknya berkata lagi dengan suara yang cukup jelas : "Para Eng-hiong yang berkumpul di sini untuk menghadiri pesta ulang tahun Lo-hu tiga hari yang akan datang, Lohu ucapkan dan doakan agar Thian membalas budi kebaikan kalian ! Dan, saat ini Lohu akan menjelaskan sesuatu'dalam ulang tahun Lohu yang keenam puluh tujuh, dan agar saudara-saudara para orang gagah memberikan penilaian atas peristiwa yang telah menimpa keluarga Lohu !" Setelah berkata begitu Wong Tie Hian membungkukkan tubuhnya menjura pada orang ramai untuk menyatakan terima kasihnya, kemudian baru menyambung perkataannya lagi : "Dan, Lohu kira, para orang gagah yang hadir pada saat ini akan memberikan pertimbangan yang benar- benar adil bagi Lohu dan bagi orang yang telah mengirimkan surat ancaman pada Lohu !" kemudian Wong Tie Hian bertepuk tangan, tampak seorang pelayannya menghampiri dengan cepat, di tangan pelayan itu membawa sebuah kotak, di kala tutup kotak itu dibuka, jago she Wong telah mengambil sepucuk surat yang dikeluarkan dan dibukanya.

"Lihatlah saudara-saudara, inilah surat ancaman dari Pek Bwee Kauw, yang meminta agar Lohu bertekuk lutut dan bekerja sama di bawah perintah Kauw-coe perkumpulan itu yaitu Thio See Ciang !" teriak Wong Tie Hian dengan muka merah padam, rupanya dia gusar sekali. Juga sambil berkata, Tie Hian menggoyang-goyangkan surat yang ada di tangannya.

Terdengar beberapa orang berseru murka, juga tadi pelajar yang duduk di dekat Han Han suka berguyon, telah menghajar meja di depannya dengan gusar.

"Orang she Thio itu benar-benar tak tahu tinggi langit dan dalamnya bumi !" teriak pelajar itu. "Mari kita beramai-ramai menghajarnya !"

Wong Tie Hian sendiri telah berseru menenangkan keadaan, kemudian berkata lagi "Dan, seperti saudara-saudara ketahui, aku orang she Wong telah hampir sepuluh tahun mengundurkan diri dari rimba persilatan dan menyimpan pedang ..... dan juga tak ingin mencampuri pergolakan-pergolakan di dunia persilatan itu ..... tetapi surat ancaman orang she Thio ini keterlaluan, diapun mengancam, kalau aku tak mau menuruti permintaannya untuk memasuki perkumpulannya itu, yaitu Pek Bwee Kauw, maka keluarga Lohu seluruhnya akan dibasmi, dari yang kecil sampai yang besar, dari binatang ayam sampai keanjing, tak ada satupun yang diberi hidup !" dan waktu mengucapkan kata-katanya itu, kumis jenggot Wong Tie Hian bergerak-gerak memperlihatkan kemarahan dan kegusaran yang bergolak di dalam hatinya.

Han Han sendiri yang mendengar bahwa yang mengancam Wong Tie Hian agar bertekuk lutut dan memasuki perkumpulan Pek Bwee Kauw itu adalah Thio See Ciang, itu musuh besarnya, maka hati Han Han pun tergoncang, darahnya bergolak hebat, tanpa disadarinya ia menggebrak meja. "Orang she Thio berikut Pek Bwee Kauwnya itu memang harus dihancurkan

!" teriak Han Han sengit. "Tak guna kita membiarkan mereka hidup terus .....

terlampau banyak kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan !"

Thio In In terkejut waktu Han Han menggebrak meja, dan lebih kaget lagi si nona Thio waktu anak muda she Han itu berteriak dengan suara yang kuat. Ditariknya ujung baju Han Han dan waktu anak muda she Han tersebut menoleh, si gadis menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan alisnya.

"Kenapa, cie-cie ?" tanya Han Han heran, sedangkan tamu-tamu undangan Wong Tie Hian lainnya masih berteriak-teriak dengan suara yang berisik.

"Mengapa kau ikut-ikutanan berteriak begitu macam ?" tanya Thio In In dengan roman tak senang. "Bukankah kita datang kemari hanya sebagai tamu undangan belaka? Untuk apa kita ikut mencampuri urusan mereka ?!"

"Tetapi perbuatan Thio See Ciang melampaui batas !" menyahuti Han Han cepat, tetapi segera dia seperti menyadari sesuatu, dia merasakan ada kejanggalan dan keganjilan di diri In In, katanya kemudian :

"Dan     mengapa cie-cie tak ingin mencampuri urusan ini ?"

In In menghela napas. "Bukan aku tak ingin mencampuri urusan ini, Lao-tee

!" menyahuti si nona Thio. "Tetapi kau harus ingat, persoalan Wong Loo-cian- pwee adalah persoalannya sendiri sedangkan orang-orang Pek Bwee Kauw belum mengganggunya, untuk apa kita menambah suasana bertambah keruh dengan memanas-manaskan Wong Loo-cian-pwee ? Bukankah lebih baik kita memberikan pandangan-pandangan agar Wong Loo-cian-pwee bisa mengambil jalan keluar yang damai dan tak manimbulkan pertumpahan darah?!"

Han Han jadi melengak sesaat, tetapi kemudian dia membenarkan perkataan si gadis dengan menganggukkan kepalanya.

"Kau betul Cie-cie !" katanya dan dia jadi tak ikut berteriak-teriak lagi.

Sedangkan Wong Tie Hian pada saat itu telah berkata lagi: "Dan, di saat para Eng-hiong sedang berkumpul. Maka Lohu ingin minta pertimbangan para Eng-hiong untuk menghadapi Thio See Ciang dan anak buahnya, yaitu orang- orang Pek Bwee Kauw !"

"Kita gempur saja beramai-ramai, Wong Loo-cian-pwee !" teriak salah seorang.

"Kita hajar mampus orang she Thio itu !" teriak salah seorang lagi.

"Terima kasih !" teriak Wong Tie Hian sambil membungkukkan tubuhnya menjura pada orang-orang ramai. "Lohu merasa terharu melihat kecintaan dari saudara-saudara sekalian .....terima kasih !" dan berulang kali orang tua sheWong itu membungkukkan tubuhnya menyatakan terima kasihnya. "Tetapi Lohu masih memikirkan, apakah terhadap Thio See Ciang kita perlu menghadapinya dengan cara berunding untuk memberi pengertian padanya ?!"

"Kalau memang dapat diberi pengertian, kita tak perlu mengganggu pihak Pek Bwee Kauw, tetapi kalau Thio See Ciang berkeras mengancam Wong Loo- cianpwee, maka mau atau tidak kita harus menggempur orang she Thio itu berikut perkumpulan Pek Bwee Kauwnya !" dan yang berkata begitu adalah si pelajar yang dudak di dekat Han Han.

"Benar'" gemuruh suara orang ramai yang membenarkan perkataan si- sasterawan.

Baru saja Wong Tie Hian ingia membuka mulut lagi tiba-tiba datang seorang pelayan yang membisikkan sesuatu di tepi telinga Wong Tie Hian. Semua orang melihat wajah tua she Wong itu berulang kali berubah, sampai akhirnya, tampak Wong Tie Hian menggebrak meja sambil bertanya pada pelayannya; "Di mana orang itu sekarang ?!"

"Dia menunggu di luar, kalau memang Wong Loo-ya ingin menemuinya, maka Siauwjin akan segera membawanya menghadap !"

"Suruh dia masuk !" perintah Wong Tie Hian dengan suara yang dingin. "Aku ingin melihat orang-orangnya Pek Bwee Kauw itu sebetulnya terdiri dari jago-jago yang bagaimana sih sampai mau mementang sayap begitu lebar ?"

Si pelayan mengiyakan, kemudian dia keluar lagi. Waktu pelayan itu sedang pergi keluar, orang-orang yang hadir di ruangan tersebut melihat wajah Wong Tie Hian merah padam, seperti sedang murka benar.

Tak lama kemudian, pelayan itu memasuki ruangan lagi mengiringi dua orang, dan begitu dua orang tersebut memasuki ruangan, Han Han jadi mengeluarkan seruara tertahan, matanya menatap bengong kepada kedua orang itu-

......

Kenapa ?

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

TERNYATA kedua orang yang diiringi oleh pelayan keluarga Wong adalah Thian-san Sian-eng, yaitu Auw-yang Boen dan Sung Ming. Kedua orang im melangkah memasuki ruangan itu dengan langkah kaki yang angkuh dan langsung menuju ke tempat di mana Wong Tie Hian sedang berdiri dengan mata mencilak. Waktu melewati deretan orang banyak yang menjadi tamu undangan Wong Tie Han, Auw-yang Boen dan Sang Ming memandang mereka dengan tatapan mata yang meremehkan,

Kedatangan kedua orang inilah yang mengejutkan Han Han, berbareng juga menggembirakan sekali. Karena, Auw-yang Boen dan Sung Minglah yang telah memerintahkan anak buahnya untuk menyamar sebagai seorang tabib dan memperdayakan Khu Sin Hoo untuk memburuh Han Han. Maka sekarang, dengan kedatangan Thian-san Sian seng kepesta Wong Tie Hian, Han Han mempunyai kesempatan untuk menghajar kedua jago dari Thian-san itu !

Karena perasaannya itu, mata Han Han jadi mencilak luar biasa, dia juga mendengus berulang kali, sehingga In In yang melihat kelakuan anak muda she Han itu jadi heran.

"Kenapa kau, Lao-tee ?" tegur si gadis.

Han Han jadi tersadar dengan cepat dia menoleh sambil tertawa pada In In. "Kedua orang itu adalah musuhku, maka dengan kedatangan mereka kemari,

berarti aku tak usah bersusah payah mencarinya ! Bukankah hal itu harus dibuat gembira ?" menyahuti si anak muda.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)