Seruling Haus Darah Jilid 08

 
Jilid 08

SIAN LIE LlE, berhenti memutar tongkatnya, dia memandang Heng Ciauw Liong dengan mata mencilak.

"Tua bangka yang sudah mau mampus!" makinya sengit. "Mengapa kau mengatakan aku berbuat curang ?!"

"Hmmm ..... sebetulnya kau mau bertempur denganku atau hanya ingin memperlihatkan kepada mereka itu bahwa kau adalah seorang pemain akrobat pemutar tongkat?"

Sian Lie Lie jadi mendongkol, sekali, dia murka mendengar ejekan Heng Ciauw Liong, wanita tua ini sampai berjingkrak. Malah, tongkatnya telah bekerja untuk menyerang Heng Ciauw Liong dengan jurus 'Pek Wan Tung Hoat' atau 'Ilmu tongkat pengemplang monyet putih', hebat serangannya itu, menimbulkan deru angin yang keras sekai !.

Heng Ciauw Liong juga akan merangsek maju, dia mendengus mengejek.

Tapi di saat kedua orang tersebut akan bergebrak, tiba-tiba dari ceiah batu gunung mencelat keluar sesosok bayangan, juga terdengar bentakannya yang sangat nyaring : "Tahan !"

Semua orang jadi menoleh untuk melihat sosok tubuh yang keluar dari belakang batu gunungku, tapi begitu mereka melihat orang yang datang, semua orang gagah itu jadi mengeluarkan seruan kaget, wajah mereka berubah hebat......

Apa yang mereka lihat ?!

Ternyata, sosok tubuh yang baru muncul itu merupakan seorang manusia yang aneh sekali, wajahnya jelek menyeramkan, giginya tonggos keluar, rambutnya berjibrak berdiri, dengan di tengah kepalanya botak sebagian, matanya yang sebelah kanan meletos keluar, sehingga menyeramkan sekali, Orang itu juga hanya mempunyai satu tangan saja, tangan kiri, sebab tampak tangan kanannya buntung. Benar-benar menyeramkaa keadaan orang yang baru datang ini.

Khu Sin Hoo yang lebih cepat menguasai goncangan hatinya, dia maju menghampiri agak mendekat.

"Siapakah tuan .....?!" tanyanya sambil menjura. "Bolehkah kami mengetahui she tuan yang besar dan nama tuan yang harum?!''

Orang bermuka menyeramkan ilu mendengus. "Hmmm....., aku Po Po Siat, si tua kejam sebetulnya tak tertarik untuk mencampuri urusan kalian !" kata orang yang mengaku sebagai Po Po Siat dengan suara yang dingin, matanya yang meletos keiuar itu bergerak-gerak, sehingga lebih menyeramkan keadaan orang tersebut "Tapi kulihat di antara kalian terdapat barang bagus, maka aku ingin memintanya !"

Mendengar disebutnya nama Po Po Siat, wajah orang-orang gagah yang ada di situ jadi berobah hebat. Orang yang mengaku Po Po Siat itu memang mempunyai kepandaian tinggi, limapuluh tahun yang lalu telah menggemparkan dunia persilatan, malah pernah mengacau di dalam kalangan Kang-ouw tanpa memperoleh tandingan. Semua orang jeri padanya, sampai akhirnya empat puluh tahun lebih dia telah menyembunyikan diri dari Boe Lim. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba dia muncul lagi disini, dan akan meminta sesuatu barang yang menurut katanya telah menarik hatinya. Inilah hebat, kepandaian kakek tua bermuka menyeramkan tersebut, Po Po Siat sukar sekali diukur.  !

Khu Sin Hoo sendiri telah cepat-cepat membungkukan tubuhnya memberi hormat kepada Po Po Siat. Kalau dihitung dari tingkatan, Po Po Siat lebih tua satu tingkat dari generasi Khu Sin Hoo.

"Kiranya Po Loo-cian-pwee!" ka a Khu Sin Hoo dengari suara menghormat. "Barasg apakah yang telah menarik perhatian Loo-cian pwee ?!"

Po Po Siat tertawa menyeringai, sehingga giginya yang tonggos kian keluar dan tampak jelas sekali. Wajahnya tambah menyeramkan dan menakutkan.

"Ha-ha-ha-ha .....! Barang yang kuminta itu tidak berharga bagi kalian!" dia menyahuti dengan suara yang parau.

"Apakah itu Loo-cian-pwee ?" tanya Khu Sin Hoo sambil menduga-duga barang apa yang akan diminta oleh jago tua yang aneh dan luar biasa itu.

Po Po Siat tiba-tiba menoleh kepada Han Han sambil menunjuk bocah itu katanya, "Yang kuingini adalah dia !"

"Hah ! " Khu Sin Hoo melengak, begitu juga dengan yang lainnya, semuanya heran berbareng bingung tak mengerti.

"Kenapa kau kaget?" tegur Po Po Siat kaget sambil ketawa dengan suara yang menyeramkan, matanya yang meletos mencilak. "Bukankah bocah itu tak ada artinya bagi kalian?"

Wajah Khu Sin Hoo jadi berobah.

"Tapi .....tapi Loo-cian-pwee .....ini.....ini. " Khu Sin Hoo jadi gugup benar.

"Kenapa?" ketika bertanya, bengis suara Po To Siat. "Kami berenam telah berjanji akan mendidik bocah itu bersama, maka .....

walaupun tak resmi, tapi bocah itu telah menjadi murid kami berenam.    kamiakan

menurunkan ilmu kami masing-masing padanya.....! " menerangkan Khu Sin Hoo dengan hati yang bimbang.

"Hmmm..... apakah kepandaian kalian berenam dapat menyamai kepandaianku ? " kata Po Po Siat dengan suara yang mengejek memandang rendah kepada Khu Sin Hoo berenam.

Wajah Khu Sin Hoo dan kelima kawannya jadi berubah. Biar bagaimana mereka adalah jago-jago yang luar biasa di daratan Tiong-goan, walaupun Po Po Siat mempunyai kepandaian yang tinggi sekali dan sukar diukur, tokh mereka tak mau terlalu mengalah.

"Memang kami mengakui bahwa kepandaian kami tak berarti bagi Loo-cian- pwee, tapi hal itu belum dapat dipastikan bahwa bocah yang akan kami didik ini dapat dikalahkan olehmu!" tajam sekali kata-kata Khu Sin Hoo, sengaja dia menggunakan kata-kata begitu untuk memancing kemarahan Po Po Siat.

Benar saja, wajah Po Po Siat jadi berobah bengis sekali, dia murka benar, sampai berjingkrak. Matanya yang meletos keluar itu jadi tambah menyeramkan. "Kepala gundul kau !" bentaknya dengan suara yang keras luar biasa. "Hmmm......

kau berani mengatakan bahwa aku masih dapat dikalahkan oleh kalian ?"

"Mana berani aku mengatakan begitu?" menyahuti Khu Sin Hoo. "Hanya ingin kukatakan, kalau memang kami berenam mendidik si bocah itu, belum nanti Loo-cian-pwee dapat merobohkan bocah itu !"

"Setan alas kau !" bentak Po Po Siat bengis. "Suruh kemari bocah itu, biar kuhajar mampus sekarang juga !

Wajah Khu Sin Hoo jadi berubah pucat, dia kaget sendirinya.

"Heh     ! mengapa ingin dibunuh ? Apakah Loo-cianpwee takut kalau nanti

kami berhasil mendidik bocah itu, maka Loo-cianpwee dapat dikalahkannya ?!" kata Khu Sin Hoo lagi.

Wajah Po Po Siat berubah pucat saking murkanya, tahu-tahu tangannya bergerak akan menampar Khu Sin Hoo.

"Mulutmu terlalu lancang, kepala gundul !" bentaknya.

Khu Sin Hoo melihat orang menyerang, dia cepat-cepat mengelakkannya ke samping, sehingga tangan Po Po Siat menghajar tempat kosong. Biar bagaimana Khu Sin Hoo seorang jago yang kosen, walaupun tak bisa menandingi kepandaian Po Po Siat, namun dia juga tak bisa diperlakukan semau hati oleh si tua kejam itu. "Tahan dulu. !" teriak Khu Sin Hoo cepat.

"Apa yang kau mau katakan lagi T' bentak Po Po Siat dengan suara yang bengis, dia sudah bersiap-siap akan menyerang lagi.

"Kalau memang Loo-cianpwee mempunyai keberanian, tunggulah beberapa saat sampai nanti kami selesai mendidik bocah itu, dan pada saat itulah Loo- cianpwee boleh mencoba kepandaian bocah tersebut. Kalau memang dalam kenyataan bocah itu roboh di tanganmu, hmmm, kami akan membunuh diri !"

Po Po Siat jadi mengerutkan sepasang alisnya. Rupanya dia ragu.

"Baiklah !" akhirnya dia mengangguk juga. "Begitupun boleh ! Aku memberi kau waktu selama enam tahun untuk kalian mendidik bocah itu, dan kaiau memang kalian telah selesai mendidik bocah itu, enam tahun kemudian kita bertemu lagi di-gunung ini dalam waktu yang sama seperti sekarang. !"

"Boleh.....!" menyahuti Khu Sin Hoo sambil ketawa dingin. "Jadi kita bertemu di sini enam tahun lagi !"

Po Po Siat tak menyahuti, dia hanya mendengus, kemudian menggerendeng dengan suara yang samar-samar tak terdengar jelas. Setelah mengawasi orang- orang yang berada di lapangan tersebut, tampak dia memutar tubuhnya dan berlalu dengan pesat, sebentar saja telah lenyap dari pandangan jago-jago yang berada disitu.

Setelah Po Po Siat berlalu, Khu Sin Hoo menarik napas. Dia menoleh kepada kelima kawannya. Dia menatap Su Tie Kong, lalu setelah menghela napas lagi, dia menceritakan pada jago she Su itu, bagaimana Han Han telah menderita semacam penyakit disebabkan pusat jalan darahnya dibuka. Su Tie Kong terkejut mendengar cerita Khu Sin Hoo, cepat-cepat dia memeriksa keadaan Han Han. Dipegang nadinya si bocah, lalu kemudian dia mengangguk-angguk.

"Masih dapat ditolong!" katanya kemudian.

Semua orang yang tadinya menyaksikan dengan penuh kekuatiran, jadi girang. Khu Sin Hoo sendiri telah berkata : "Pertandingan kali ini lebih baik kita batalkan, dan dengan tekun kita harus mendidik bocah ini agar enam tahun lagi nanti dia dapat menghadapi Po Po Siat, kemudian kita juga dapat melihat ilmu siapa yang dapat diterima si bocah paling banyak !"

Semua jago-jago yang berada di situ menyetujui, mereka juga mencari suatu tempat yang baik dan terhindar dari keramaian untuk bersama-sama mendidik bocah she Han tersebut. Dan, dengan sendirinya Han Han akan menjadi seorang jago yang luar biasa, sebab dalam tahun-tahun berikutnya, dia akan dididik dan digembleng oleh jago- jago luar biasa itu, agar bocah she Han tersebut dapat menghadapi Po Po Siat nantinya jika pada enam tahun lagi mereka mengadakan pertemuan di situ. !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 21

PAGI itu udara disekitar gunung Ciong Lam San sangat dingin sekali, karena sejak semalam bunga salju terus juga turun dengan deras, sehingga permukaan bumi seperti dibungkus oleh lapisan kapas.

Gunung Ciong Lam San terkenal akan keindahannya, tapi di dalam musim dingin ini, pohon-pohon di sekitar gunung tersebut jadi terbungkus oleh salju, maka itu, yang tampak hanyalah warna putih saja yang terhampar di sekeliling gunung Ciong Lam San tersebut. 

Titik-titik bunga salju masih terus turun......

Di antara sunyinya suasana digunung Ciong Lam San, terdengar suara kelenengan yang berbunyi : 'kleng, klang, kleng, klang berirama. Juga diiringi oleh suara roda kereta yang maju perlahan-lahan dijalan gunung yang sempit dan tertutup salju itu. Ternyata dari arah barat, sebuah kereta dengan ditarik oleh dua ekor keledai yang kurus tengah menaiki gunung Ciong Lam San. Jalan kuda itu perlahan sekali, seakan-akan telah letih, sehingga kereta itu beringsut perlahan sekali.

Suara kelenengan yang berasal dari kelenengan yang tergantung di leher kedua keledai itu, terdengar terus, berirama mengikuti setiap langkah kaki sang keledai.....

Belum lama kereta yang ditarik oleh kedua keledai kurus itu memasuki jalan gunung Ciong Lam San, dari belakang kereta terdengar suara derap kuda. Kemudian tampak dua orang penunggang kuda yang muncul di tikungan di belakang kereta keledai itu, dua orang penunggang kuda tadi rata-rata beroman bengis dan menyeramkan, mata kedua orang itu berkilat tajam sekali. Mereka memakai baju dingin yang tebal, yang telah dipenuhi oleh salju, namun wajah mereka merah segar. Kedua orang penunggang kuda itu ternyata sedang mengejar kereta yang ada di muka.

Kusir yang berada di dalam kereta, kelihatannya gugup sekali, walaupun si kusir terlindung di dalam kereta, tapi dilihat dari cara dia mengedut tali kekang, menandakan si kusir kereta gugup dan ketakutan, berusaha melarikan keledainya secepat mungkin untuk menjauhi kedua pengejarnya:

Tapi lari keledai mana menang kalau dibandingkan dengan larinya kuda pengejar dibelakangnya itu? Maka dalam waktu yang singkat, kedua pengejar itu telah berada dekat sekali, lalu ketika sampai di tikungan salah seorang memacu kudanya mendahului kereta keledai, kemudian menghadang, sedangkan yang seorang lagi tetap di belakang kereta, jadi tegasnya, jalan kaburnya kereta keledai itu tertutup.

"Sam Nio Nio !" teriak penunggang kuda yang telah menghadang dimuka kereta. "Lebih baik kau menyerah secara baik-baik ! Kami tak akan menyiksamu

....., tapi kalau kau masih bermaksud melawan, hmmm, kami orang-orang Sam Tiauw Boe Koan, tak akan segan-segan menurunkan tangan jahat !"

Terdengar suara dengusan dari dalam kereta.

"Hmmm.....! Apakah begini sifat orang-orang gagah dari Sam Tiauw Boe Koan?" terdengar suara wanita dari dalam kereta. "Kami sedang terluka, mengapa kalian ingin mengambil keuntungan untuk menang di atas angin? Hmmm.     kalau

kami tidak cidera, apakah kalian masih mengharapkan kemenangan dari kami?" Penunggang kuda itu mendengus. Wajahnya berubah jadi tak enak dilihat. "Hmmm. Sam Nio Nio !" katanya dengan suara yang dingin. "Apakah kau

benar-benar mau mencari mati ?"

"Mati bagi kami bukan soal!" menyahuti orang yang berada di dalam kereta itu. "Tapi, apakah kalian yakin dapat membunuh kami'?"

Wajah penunggang kuda itu jadi berubah tambah tak enak dilihat, merah padam. Rupanya dia mendongkol sekali.

"Sam Nio Nio !" bentakBya dengan suara mengguntur, "Keluarlah !" "Hmmm jangan kau membawa lapak seperti tuan besar !" terdengar suara

dari dalam kereta menyahuti, dingin sekali suara penyahutan itu. ''Walaupun kami sedang terluka, tapi jangan harap kau dapat memerintahkan kami semau hatimu ! Jangan kata kamu, sedangkan Hong-tee sendiri tak dapat memerintahkan kami ! " Hong-tee ialah kaisar. Wajah penunggang kuda itu jadi berubah, saking gusarnya, dia melompat dari kuda tunggangannya. Perbuatannya itu diikuti oleh kawannya yang berada dibelakang kereta. Dengan langkah lebar kedua orang tersebut menghampiri kereta, lalu mengulurkan tangan akan menyingkap kain penutup kereta tersebut.

"Sretttt!" terdengar suara yang halus sekali waktu tangan orang itu msnyentuh kain penutup kereta, disusul oleh suara jerit kesakitannya, yang di susul lagi dengaa tubuhnya melompat ke belakang. Wajahnya pucat sekali, dengan menggunakan tangan kiri, dia memegangi tangan kanannya yang terluka, dan mengucurkan darah sehingga salju yang berada di bawah kakinyi seketika itu juga berobah jadi merah.  !

Kawannya yang seorang itu jadi terkejut melihat keadaan kawannya. Cepat- cepat dia menghampiri.

"Sam-tee, kenapa kau ! " tegurnya dengari kuatir, matanya memandang bengis ke arah kereta.

Orang yang terluka, yang dipanggil sebagai Sam-tee, adik ketiga, meringis dengan wajah yang menyeramkan.

"Hmmm, sundal betina itu mau mampus !" katanya menyeramkan. "Biarlah, hari ini kita harus membunuhnya, Jie-ko !" Jie-ko ialah kakak kedua.

Si Jie-ko mengangguk.

"Baik !" dia menyahuti, dan membarengi dengan penyahutannya itu, mereka mencelat ke arah kereta dengan cepat, sedangkan tangannya berbareng mencabut pedang sehingga waktu mereka sampai di dekat kereta, ditangan masing-masing telah tergenggam sebatang pedang pendek.

Rupanya tadi waktu si Sam-tee, adik ketiga mau menyingkap tirai yang menutupi jendela kereta tersebut, dari dalam telah melesat keluar sebatang jarum, bwee-hoa-ciam, sehingga tangan si Sam-tee terluka.

Si Sam-tee mengayunkan pedangnya menusuk keledai kereta itu, sehingga keledai itu melompat kesakitan, kemudian larat dengan cepat.

Orang yang berada dalam kereta jadi gugup, karena takut kereta itu terjungkel kedalam jurang yang ada di dekat situ. Tali kekang ditarik sekuat- kuatnya, sehingga dua keledai itu tertahan mendadak, sampai dua kaki depannya terangkat. Namun celakanya mungkin terlalu keras tali kekang ditarik oleh orang di dalam kareta, tali itu putus sehingga kedua keledai itu bebas kembali dan lari menuju kejurang. Orang yang ada di dalam kereta semakin panik, sampai terdengar seruan kaget. Juga terdengar suara Iainnya, suara rintih kesakitan, rupanya di dalam kareta terdapat orang Iainnya yang terluka.

Si Sam-tee dan Jie-ko berdiri sambil tertawa menyaksikan kereta itu akan terjungkal ke dalam jurang.

Waktu kereta itu hampir masuk ke dalam jurang, dari dalam kereta tampak melesat keluar sesosok bayangan merah, yang menarik kedua keledai itu. Hebat tenaga tahan dari sosok bayangan itu, maka dengan mendadak kedua keledai itu tertahan dan tak dapat bergerak.

Ternyata sosok bayangan merah itu seorang wanita berusia tiga puluh tahun dan mengenakan baju serba merah,

"Bagus !" seru si Jie-ko, dia sudah melompat dan dengan pedang pendeknya itu dia menyerang kearah si wanita.

Wanita itu sedang menahan kedua keledai keretanya itu, sulit baginya untuk menangkis serangan si Jie-ko. Kalau dia melepaskan kedua keledai itu, maka binatarg itu pasti akan larat lagi. Sedangkan untuk berdiam diri saja tak mungkin, sebab pedang si Jie-ko telah menyambar dekat sekali.

Dengan mengeluarkan seruan panjang tahu-tahu kakinya bergerak akan menyepak lambung si Jie-ko.

Si Jie-ko terpaksa menarik pulang pedangnya, karena kalau dia meneruskan serangannya itu, lambungnya akan kena disepak oleh kaki wanita itu. Dengan mengeluarkan seruan kaget, si Jie ko melompat ke belakang. Pada saat itu si Sam- tee telah datang mendekat, sehingga mereka jadi berdiri berendeng.

Wanita berbaju serba merah itu telah ketawa dingin, matanya mencilak penuh kebencian. Wajahnya yang cukup cantik sangat pucat, karena rupanya dia sedang terluka di dalam.

"Hmm. kalian tikus-tikus pengecut!" ejek si wanita. "Kami sedang terluka,

tapi kalian telah menggunakan kesempatan semacam ini untuk merebut kemenangan !"

"Di dalam waktu ini, tak ada kata-kata pengecut atau Eng-hiong !" menyahuti si Sam-tee sambil tertawa tawar. Yang dimaksudkan dengan Eng-hiong ialah orang gagah. "Yang penting, kalian suami isteri harus kami bekuk dan menyerah kepada Too-coe kami !"

"Hmm.....kalian orang-orang Sam Tiauw Boe Koan benar-benar bangsa Siauw-coet yang tak kenal malu !" menyahuti wanita itu dengan suara gusar. "Baiklah ! Majulah, kami juga tak takut pada orang-orang semacam kalian ini !" dan dia melepaskan kekang keledainya, karena kedua keledai itu sudah jinak kembali. Dicabutnya pedang yang tergemblok di punggungnya.

Si Jie-ko dan si Sam-tee ketawa dingin.

"Suamimu sedang terluka, jadi sekarang kami hanya menghadapi kau seorang!" kata si Sam-tee sambil tertawa. "Baiklah kau menjaga diri dari serangan kami, sebab kau lengah sedikit saja, ehemm, kulitmu yang halus akan bercacad !"

"Sam Nio Nio.....!" si Jie-ko juga berkata dengan suara yang tawar. "Lebih baik kau menyerah secara baik-baik, kami akan memperlakukan kau baik-baik juga kalau memang Too-coe kami menyatakan kau dan suamimu tak bersalah, kalian akan dibebaskan kembali !"

Wanita yang memakai baju serba merah, yang dipanggil sebagai Sam Nio Nio, ketawa dingin. Pedangnya dilintangkan di depan dadanya.

"Majulah ! Kami bukan sebangsa orang yang jeri menghadapi kematian !" katanya gagah sekali. "'Walaupun harus binasa, jangan kalian harap kami akan menyerah begitu saja !'

Si Sam-tee ketawa dingin.

"Aku Oey Pok Say dan Jie-koku itu, Sam Tiang Hin, sebetulnya tak tega untuk mencelakai wanita secantikmu !" katanya. "Tapi .....kau terlalu keras kepala

! Baiklah ....., kami akan menyerangmu, tapi nanti kalau memang kau tak tahan menerima serangan-serangan kami, kau bisa berteriak untuk menyerah, kami masih mau berlaku murah hati.  !"

Sam Nio Nio sangat murka, wajahnya berubah merah padam. Baru saja dia mau mendamprat kedua lelaki itu, yang mengaku bernama Oey Pok Say dan Sam Tiam Hin dari arah kereta terdengar suara rintihan yang perlahan. Mendengar suara rintihan itu, wajah Sam Nio Nio jadi berubah. Cepat-cepat dia menghampiri kereta itu untuk

Maaf, halaman 19 dan 20 hilang.

tampak mereka bertiga saling melompat memisahkan diri.

"Apakah kau masih mau berkeras terus, Sam Nio Nio?" tegur Pok Say dengan suara menyeramkan, dia mulai tak sabar daa ingin menyelesaikan pertempuran tersebut secepat mungkin. Sam Nio Nio ketawa dingin, wajahnya berubah merah-padam. "Sudah kukatakan beberapa kali, bahwa kami tak mungkin menyerah kepada orang-orang sebangsa kalian! Jagalah serangan ?" dan tubuh Sam Nio Nio mencelat cepat sekali merangsek kearah Pok Say dan Tiang Hin dengan jurus "Tiang Hong Keng Thtan" atau "Pelangi melintas keangkasa", pedangnya menyambar hebat sekali.

Pok Say menangkisnya, sedangkan Tiang Hin telah melompat ke atas kereta. "Hadapi dia terus Sam tee.....!" teriak Tiang Hin dengan suara yang nyaring.

"Aku akan membereskan suaminya itu!"

"Baik Jie-ko!" menyahuti Pok Say dengan memutar pedangnya untuk merangsek Sam Nio Nio.

Sam Nio Nio sendiri waktu melihat Tiang Hin melompat ke atas keretanya, jadi terkejut, wajahnya berubah pucat.

"Kalian .....oh kalian pengecut sekali !" teriaknya seperti orang kalap, dia merangsek Pok Say untuk dapat meloloskan diri, dia bermaksud untuk menghalangi maksud Tiang Hin.

Tapi Pok Say tak mau melepaskan Sam-Nio Nio, dengan pedang pendeknya, dia menyerang Sam Nio Nio berulang kali.

Hal ini benar-benar menggugupkan Sam Nio-Nio, apa lagi waktu dilihatnya Tiang Hiu telah sampai di dekat kereta. Seperti orang kalap dia menyerang berulang kali ke arah Pok Say. sikap nekadnya ini membikin Pok-Say jadi agak terdesak.

Tapi hal itu tetap saja tak membawa keuntungan bagi Sam Nio Nio sebab dirinya masih terlibat dalam pertempuran dengan Pok Say, sehingga dia tak bisa menghalangi Sam Tiang Hin.

Pada saat itu Tiang Hin telah sampai di dekat kereta, disingkapnya tirai kereta, dilihatnya seorang laki-laki setengah tua, berusia di antara enpatpulub lima tahun, sedang rebah di dalam kereta dengan wajah yang pucat! Sedangkan laki-laki di dalam kereta ituwaktu tirai kereta tersingkap hanya dapat melirik memandang ke arah Tiang Hin tanpa dapat bergerak, sebab tubuhnya kejang dan dia sedang terluka berat. Hanya matanya yang mencilak nenuh kebencian inenatap ke arah Tiang Hin.

Sam Tiang Hin telah ketawa gelak-gelak, tubuhnya tergoncang, pedang pendeknya dibolang balingkan. "Aha Sam Nio Nio !" bentak Tiang Hin. dengan suara yang keras, "Kalau kau tetap tak mau menyerah, hmmm, tua bangka she Kiu ini akan terbinasa di tanganku!"

Wajah Sam Nio Nio jadi pucat, dia jadi gagap sekali, apa lagi dirinya tak dapat lolos dari libatan pedang Pok Say, sehingga membikin wanita tersebut tambah gugup saja, dia merangsek terus menerus dengan pedangnya menyerang Pok Say, tapi orang she Oey itu licik sekali, dia main mundur dan kalau Sam Nio Nio mau memisahkan diri untuk mencelat kearah kereta menolongi suaminya, Pok Say selalu menyerang kembali, sehingga wanita itu tak berdaya untuk menolongi suaminya.

Pada saat itu Sam Tiang Hin telah ketawa gelak lagi, dia masih membolang baiingkan pedangnya, kemudian setelah ketawa sesaat lamanya, pedangnya itu di angkat dengan wajah yang bengis.

"Sam Nio Nio !" bentaknya. "Kalau kau masih membandel terus, maka suamimu ini akan kukirim keneraka !" dan dia mengayunkan pedangnya.

Sam Nio Nio yang melihat hal itu jadi mengeluarkan jeritan kalap, dia merangsek Pok Say dengan nekad.

Tapi Pok Say licik sekali, dia selalu mengurung Sam Nio Nio dengan pedang pendeknya, tak mau memberi kesempatan pada Sam Nio Nio untuk memisahkan diri.

Pedang Tiang Hin meluncur terus kearah dada laki-laki yang ada di dalam kereta itu. Dan laki setengah tua itu tak dapat mengelakkannya, karena tubuhnya kejang tak dapat digerakkan, dia hanya menunggu maut yang akan merenggut dirinya......

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

WAKTU pedang Tiang Hin meluncur akan menusuk dada laki-laki yang rebah di dalam kereta dalam keadaan terluka, terdengar suara jerit kesakitan, tampak Tiang Hin melompat mundur sambil berjingkrak marah, kemudian disusul oleh caciannya yang kalang kabut.

"Siapa yang telah berlaku begitu pengecut menyerang Toa-yamu ?' teriak Tiang Hin dengan murka, matanya mencilak bengis memandang ke arah sekelilingnya, sedangkan pedangnya telah jatuh dan terlepas dari tangannya, menancap di salju, dan gagang pedang itu bergoyang-goyang. Dari balik pohon di sebelah timur muncul seorang anak muda, wajahnya cakap, pakaiannya menyerupai pakaian seorang Sioe-chay, sastrawan. Sikapnya tenang sekali.

"Mengapa ingin membunuh orang di tengah hari bolong ?" tegur sasterawan itu sambil melangkah perlahan-lahan menghampiri.

Melihat pelajar itu, wajah Tiang Hin berubah bengis.

"Bocah .....mau apa kau membokong tuan besarmu ? " bentaknya bengis. "Apakah kau tak mengetahui sedang berhadapan dengan siapa ! "

Anak muda itu tersenyum manis.

"Siauwtee tahu, aku sedang berhadapan dengan manusia juga ! Masakan di tengah hari bolong ini ada setan memedi berkeliaran ?!"

Tiang Hin jadi berjingkrak saking murkanya, dia juga mengeluarkan suara seruan marah.

"Siapa kau ?" bentaknya. "Apakah kau sudah bosan hidup dengan berani mati mencampuri urusan kami ?!"

Sasterawan itu merangkapkan tangannya, dia menjura.

"Siauw-tee she Han dan bernama tunggal Han !" menyahuti anak muda itu. "Hmmm .....!" mendengus Tiang Hin dengan bengis. "Cepat kau

menggelinding dari sini sebelum aku turunkan tangan bengis membunuhmu !" "Siauw-tee mau datang kemari, tak mungkin ada yang menghalangi."

Menyahuti anak muda itu, yang memang ternyata Han Han, dengan tenang. "Kalau memang Siauw-tee mau berlalu, juga tak mungkin ada yang dapat menghalanginya

.....!"

"Bocah! Kau terlalu kurang ajar sekali !" teriak Tiang Hin dengan suara mengguntur, dia mencabut pedangnya yang menancap di salju, lalu menyerang dengan hebat ke arah Han Han.

Han Han yang sekarang bukan Han Han pada enam tahun yang lalu. Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda yang gesit sekali, juga kosen luar biasa, karena selama enam tahun telah menerima didikan dari keenam jago luar biasa, seperti Khu Sin Hoo dan yang lain-lainnya. Maka dikala melihat dirinya diserang, dia menggerakkan tangannya, entah dia menggunakan jurus apa, tahu- tahu tubuh Tiang Hin melayang terpental seperti layangan putus tali, kemudian ambruk di atas salju dengan mengeluarkan suara jeritan. "Cepat kau menggelinding dari sini ." bentak Han Han dengan suara yang bengis. "Tuan kecilmu selalu mau berlaku murah hati, tapi kalau kau membandel, hmm, jiwamu akan kukirim ke neraka !"

Wajah Tiang Hin jadi berubah pucat, dia juga heran dirinya dapat dirobohkan begitu mudah oleh anak muda yang paling-paling juga baru berusia di antara enam belas tahun itu. Dia berdiri dan mengambil pedangnya, tapi orang she Sam tersebut tak berani menyerang dan berlaku ceroboh seperti tadi.

Oey Pok Say dan Sam Nio Nio juga telah menghentikan pertarungan, mereka memandang kesima kepada Han Han. Sam Nio N;o girang luar biasa, sebab dia memperoleh bintang penolong. Sedangkan Oey Pok Say telah menghampiri Tiang Hin.

"Siapa dia, Jieko?" tanya Pok Say sambil menatap anak muda she Han itu dengan mata mencilak bengis.

"Entah.....dia kosen sekali!" menyahuti Tiang Hin dengan suara yang perlahan, rupanya nyalinya telah terpukul pecah oleh kelihayan Han Han, yang sekali kebut saja telah dapat merobohkannya.

"Hmmm.....bocah masih bau pupuk seperti dia mengapa harus dibuat jeri?" kata Oey Pok Say." Mari kita beri hajaran padanya." Dan berbareng dengan habisnya perkataan Oey Pok Say, orang she Oey tersebut telah melompat menyerang Han Han dengan pedang pendeknya.

"Hmm.....kalian tak kenal selatan !" kata Han Han waktu melihat Pok Say menyerang. Dia menggerakkan tangannya, dan lokh ! Tubuh Pok Say terpental

dan ambruk di salju sambil mengerang kesakitan.

Sam Tiang Hin yang melihat itu jadi terkejut, dia menghampiri dan memeriksa keadaan Pok Say.

"Kenapa kau Sam-tee?!" tegurnya kuatir.

"Aduh..... aduh, dadaku sakit sekali!" mengerang Pok Say, dia tak bisa berdiri dan masih meringkuk dengan wajah yang pucat.

Nyali Sam Tiang Hin jadi pecah, hilang kesombongannya, dengan cepat dia mengangkat tubuh Sam-teenya itu, dibawanya kabur. Dalam waktu yang singkat, dia telah lenyap dari pandangan orang-orang yang ada di situ. Han Han hanya mengawasi sambil tersenyum.

Sam Nio Nio menghampiri tuan penolongnya dan menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Han Han. "Terima kasih In-kong.....!" kata wanita she Sam tersebut dengan suara tergetar. Untung ada In-kong, kalau tidak tentu suamiku akan mengalami ke matian

!"

Han Han cepat-cepat memimpin Sam Nio Nio bangun. Dia menanyakan sebab musababnya Sam Nio Nio bentrok dengan Sam Tiang Hin dan Pok Say.

Sam Nio Nio jadi menghela napas, kemudian mengajak Han Han untuk menemui laki-laki yang terluka yang di dalam kereta. Ternyata laki-laki itu adalah suami Sam Nio Nio dan bernama Kiu Leng Coen, seorang guru silat di kota Leng- an.

Sam Nio Nio sendiri sudah lantas menceritakan pangkal sebab dan pertikaiannya dengan Oey Pok Say serta Sam Tiang Hin kedua orang dari Sam Tiauw Boe Koan.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 22

KIU LENG COEN ternyata seorang guru silat dikota Leng-an, dia telah membuka perguruan selama dua puluh tahun lebih. Tapi, pada suatu hari di kota Leng-an telah datang seorang guru silat lainnya sehingga sering terjadi perselisihan yang diakibatkan oleh perkelahian di antara murid-murid kedua perguruan ini. Sampai akhirnya karena tak dapat menahan emosi dan kemarahannya, Kiu Leng Coen telah menantang perguruan silat Sam Tiauw Boe Koan, yang bernama Wie Tiong Ham. Mereka bertempur dan diakhiri dengan kekalahan Leng Coen. Wie Tiong Ham ingin membikin Leng Coen malu, maka itu, dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk membekuk Leng Coen, sehingga membuat orang she Kiu tersebut harus mengungsi keluar kota. Semua itu disebabkan Leng Coen sedang terluka parah, sehingga biar bagaimana dia tak akan kuat menghadapi murid- muridnya Wie Tiong Ham, yang selalu mengganggunya.

Begitulah untuk menghindarkan diri dari orang-orang Sam Tiauw Boe Koan, Leng Coen mengajak isterinya, Sam Nio Nio, untuk menyingkir dari kota Leng-an, yang diakhiri pertemuan dengan Han Han yang telah menolongnya dari tangan Oey Pok Say dan Sam Tiang Hin. 

"Hmm, sebetulnya itu hanya soal kecil saja, Loo-pek!" kata Han Han setelah mendengar cerita Sam Nio Nio. Leng Coen mengangguk lesu.

"Ya    sebetulnya persoalan itu memang tak ada artinya ! " menyahuti orang

she Kiu ini. "Tapi     tahukah kau latar belakang dari pertengkaran kami itu ?!"

Han Han menggeleng, dia menatap Kiu Leng Coen dalam-dalam. Kembali orang she Kiu itu menghela napas.

"Wie Tiong Ham sebetulnya menaruh hati pada isteriku ini, tapi karena maksudnya tak berhasil untuk membujuk isteriku, maka dia jadi menaruh dendam dan berusaha menghancurkan keluargaku ! Malah orang she Wie itu sangat jahat, dia bermaksud untuk membunuh kami suami-isteri !"

Mendengar cerita orang, Han Han menghela napas.

"Sudahlah..... Loo-pek tak usah melayani orang she Wie itu !" hiburnya. "Pergilah Loo-pek menyingkir kekota lain dan untuk sementara waktu menyembunyikan diri dari orang ramai."

Kiu Leng Coen mengangguk.

"Ya..... aku memang bermaksud untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk menyembuhkan lukaku ini, Lao-tee !" katanya. Dia memanggil Han Han dengan sebutan Lao-tee, yang artinya adik. "Nanti setelah lukaku ini sembuh, hmm, aku akan menantang orang she Wie itu untuk pie-boe lagi !"

"Sudahlah Loo-pek, biarlah nanti Siauw-tee mengunjungi orang she Wie itu untuk menasehatinya! Kalau memang Wie Tiong Ham tak bisa diberi pengertian secara baik-baik, nanti Siauw-tee akan turun tangan menghajarnya !"

Mendengar perkataan Han Han, berulang kali Kiu Leng Coen, suami-istri telah menyatakan terima kasihnya dan berlutut,

Han Han telah memimpin nyonya itu bangun.

Setelah pasang omong beberapa saat lagi, Kiu Leng Coen bersama istrinya melanjutkan perjalanannya.

Han Han memandang kepergian suami-isteri itu dengan menghela napas. Dia memandang lenyapnya kereta keledai itu, sampai akhirnya Han Han menjatuhkan diri duduk di sebuah pohon. Udara sangat dingin, salju masih lurun dan memenuhi baju Han Han, tapi anak muda she Han tersebut tak merasakan siraman salju itu, dia menatap jauh dengan pandangan mendelong.....

Han Han teringat pada masa yang lalu, di mana dirinya selalu hidup di dalam penderitaan.  '

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya TERNYATA dengan penuh kesungguhan Khu Sin Hoo, Sian Lie Lie dan yang lain-lainnya, telah mendidik Han Han ilmu silat yang luar biasa. Keenam jago luar biasa itu telah menurunkan ilmu mereka dan dengan dikombinir sedemikian macam, maka kepandaian ilmu silat Han Han jadi luar biasa sekali. Apa lagi otak bocah ini sangat jenius. Waktu jalan darah Tay-yang-hiatnya terbuka dan hawa dingin dan hawa panas hampir menerobos ke jalan darah It-hiatnya, si bocah dengan tak di sengaja telah mempunyai tenaga Lwee-kang yang luar biasa. Sekarang, setelah disembuhkan oleh Su Tie Kong, kepandaian dan Lwee-kang bocah she Han itu jadi bertambah luar biasa lagi.

Maka dari itu, dari tahun ketahun Han Han berlatih dengan tekun, dia telah mencurahkan seluruh waktunya untuk berlatih. Dalam waktu hanya empat tahun, seluruh kepandaian keenam gurunya telah diwariskan kepada bocah she Han ini, dan dua tahun selanjutnya, digunakan oleh Han Han untuk berlatih ilmu silat yang dimilikinya.

Pada suatu hari, Khu Sin Hoo telah memerintahkan Han Han untuk mewakili gurunya ini menghadiri pesta ulang tahunnya yang keenampuluh tujuh dari Wong Tie Hian, seorang jago tua yang menjagoi daerah KangTam. Khu Sin Hoo sengaja mengutus Han Han untuk menghadiri pesta ulang tahun Wong Tie Hian, agar Han Han yang belum berpengalaman bisa mendapat banyak pengalaman dengan menghadiri pesta Wong Tie Hian tersebut. Lagi pula daerah Kang-lam sangat indah, maka Han Han bermaksud untuk pesiar juga.

Waktu enam tahun telah dilewatkan dalam daerah yang sepi dan terpencil bersama keenam gurunya, maka dari itu, betapa gembiranya anak muda she Han ini memperoleh perintah dari gurunya.

Dengan mengambil jalan ke arah selatan, Han Han menuju ke Kang-lam dengan berjalan kaki. Pesta ulang tahun Wong Tie Hian masih lama, masih sebulan lagi. Maka dari itu, Han Han mengambil keputusan menggunakan kesempatan itu untuk pesiar ke beberapa daerah dulu.

Begitulah, sampai akhirnya dia bertemu dengan Sam Nio Nio beserta suaminya, Kiu Leng Coen, yang sedang terluka dan terkepung oleh Oey Pok Say dan Sam Ting Hin.

Han Han yang sekarang bukan Han Han pada enam tahun yang lalu, sekarang dia telah menjadi seorang jago yang kosen sekali, jarang ada yang dapat menandingi kepandaian bocah she Han ini ...... *Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

SETELAH beristirahat sesaat lamanya di situ, akhirnya Han Han melanjutkan perjalanannya. Menjelang malam, anak muda she Han ini sampai di kampung Kuo-lie-chung, sebuah kampung yang terpisah seratus lie lebih dari kota Leng-san.

Han Han menuju ke sebuah rumah penginapan, dia memesan sebuah kamar. Karena waktu itu sedang turun salju cukup deras, maka pengunjung rumah penginapan tersebut agak sepi.

Untuk menghangatkan tubuhnya, Han Han memesan dua kati arak. Kemudian, anak muda she Han tersebut meminum araknya perlahan-lahan sambil mengawasi turunnya salju.

Sedang anak muda she Han ini asyik dengan pikirannya yang melayang- layang mengenangkan jalan hidupnya yang dipenuhi oleh liku-liku penderitaan, tiba-tiba dari luar bertindak masuk tiga orang tentara yang kalau dilihat dari cara berpakaiannya mereka itu adalah tiga orang perwira.

Waktu ketiga perwira itu bertindak masuk, suara mereka sangat ribut sekali.

Han Han hanya melirik sebentar, kemudian dia meneruskan minumnya.

Ketiga tentara itu duduk di meja dekat Han Han, rupanya ketiga orang perwira tersebut sangat asik membicarakan persoalan mereka sebab suara mereka sangat berisik sekai, diselingi oleh suara gelak tawa yang nyaring. Mereka memesan sepuluh kati arak, kemudian makan minum dengan gembira tanpa memperdulikan keadaan sekeliling mereka.

Han Han merasa terganggu ketenangannya dengan datangnya ketiga tentara itu, dia meneguk araknya yang terakhir, kemudian bangkit berdiri untuk masuk ke dalam kamarnya. Tapi belum lagi dia melangkah, dari luar telah melangkah masuk seorang anak muda, yang dandanannya luar biasa sekali. Dia memakai baju dingin yang tebal, memakai kopiah yang terbuat dari bulu musang dan wajahnya sangat tampan sekali, menyerupai muka seorang wanita. Waktu masuk ke dalam ruangan muka dari rumah penginapan tersebut, anak muda itu hanya melirik kepada ketiga tentara yang sedang minum-minum, kemudian dia memilih meja agak dekat denyan jendela dan memesan satu kati arak. Han Han jadi tertarik melihat kelakuan anak muda itu, dia jadi membatalkan maksudnya untuk masuk kedalam kamarnya. Anak muda she Han tersebut duduk kembali, dan memesan dua kati arak lagi.

Sedangkan ketiga tentara yang berpakaian seperti perwira itu jadi merandek ketika melihat si anak muda yang baru datang itu, wajah mereka berubah dan ketawa mereka juga lenyap. Kemudian tampak ketiga tentara itu saling kasak- kusuk.

Han Han sangat heran melihat kelakuan ketiga tentara itu, dia berusaha mendengar apa yang dibicarakan mereka, tapi dia hanya dapat mendengar samar- samar perkataan 'Emas itu harus didapat..... dia .....merupakan bandit nomor tujuh

.....kita harus waspada! '

Ha Han jadi heran, dia menoleh memandang anak muda yang memakai kopiah kulit musang, dan kebetulan pada saat itu anak muda berkopiah kulit musang itu sedang menatap Han Han juga, sehingga mata mereka jadi bentrok. Tapi anak muda yang memakai kopiah kulit musang telah cepat-cepat menunduk dengan wajah yang merah dan meneruskan minumannya. Melihat kelakuan orang, Han Han jadi heran, dia sampai melengak.

"Hah..... mengapa kelakuannya seperti seorang Sio-cia ?" pikir Han Han. "Wajahnya juga cakap luar biasa, mungkin tak ada seorang manusiapun di bumi ini yang dapat menandingi kegantengannya itu !"

Sedang Han Han terbenam dalam keheranannya itu, anak muda berwajah tampan tersebut telah melirik lagi kepada Han Han, kemudian setelah meneguk isi cawannya yang terakhir, dia lantas memanggil pelayan dan meminta sebuah kamar.

Han Han jadi tertarik melihat kelakuan dan sikap anak muda yang aneh itu, sampai ketika berada di kamarnya dia masih juga memikirkan kelakuan anak muda yang aneh itu.

Tapi, karena lelah dan mengantuk, akhirnya Han Han tertidur juga.

Ketika menjelang kentongan keempat, tiba-tiba Han Han terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Dia memang mempunyai pendengaran yang tajam sekali, maka dari itu dia telah terbangun dari tidurnya waktu mendengar suara langkah kaki yang ringan di atas kamarnya. Cepat-cepat Han Han melompat dari pembaringannya dan memasang pendengaran.

Didengarnya suara langkah kaki itu semakin menjauhi. Han Han jadi tertarik dan berbareng heran, cepat-cepat dia mempererat ikat pinggangnya. Kemudian dengan ringan dia melompat keluar dari jendeia dan bersembunyi di balik semak-semak. Dilihatnya tiga sosok tubuh yang sedang melompat turun dari atas genting dan menuju kearah jendeia dari kamar sebelah timur.

Hati Han Han jadi semakin tertarik, dengan menggunakan ilmu entengi tubuh Han Han mendekati ketiga orang itu yang sedang mengintai di luar jendeia. Dengan menjejakkan kakinya, tubuh Han Han hinggap di dekat payon rumah penginapan tersebut dengan enteng, dia bergelantungan di situ untuk mengintai kelakuan ketiga orang yang berpakaian Yan-heng-ie, pakaian untuk jalan malam. Pada saat itu salju turun tak sederas sore tadi, tapi udara sangat dingin sekali.

Ketiga sosok tubuh yang sedang mengintai di jendela kamar sebelah timur itu tak mengetahui bahwa mereka juga sedang dikuntit oleh Han Han. Salah seorang dari ketiga sosok tubuh tadi melobangi kertas jendela dengan lidahnya, kemudian mengintai ke dalam kamar. Tapi, baru saja kepalanya mendekati jendeia, tiba-tiba dia berseru kaget, sambil melompat ke belakang menjauhi jendela dengan cepat. Disusul kemudian dengan serangkum jarum Bwee-hoa-ciam yang meluncur keluar jendeia. Rupanya penghuni kamar itu telah mengetahui bahwa ada tiga orang yang telah datang mengunjunginya tanpa diundang dan telah menyambutnya dengan serangkum jarum Bwee-hoa-ciam.

Kedua orang temannya juga terkejut, mereka menghampiri kawannya. "Kenapa kau Hong-heng ?" tegur salah seorang di antara mereka.

"Kunyuk itu cukup lihai !" menyahuti orang yang tadi memecahkan kertas jendela. "Dia telah mengetahui kedatangan kita."

Salah seorang di antara kedua orang lainnya ketawa dingin, dia mendengus mengejek.

"Hmm.....walaupun dia lihai, tapi hari ini dia tak bisa meloloskan diri dari tangan kita! Biar bagaimana kita harus menangkapnya dan menyerahkan kepada Siang Tay-jin agar kunyuk itu dapat diadili menurut kesalahannya !"

Dua orang kawannya mengangguk. "Benar!" mereka menyahuti.

Sedangkan orang yang dipanggil Hong-heng, saudara Hong, telah menghampiri kedekat jendela lagi.

"Bocah lebih baik kau menyerahkan dirimu secara baik-baik !" teriaknya

dengan suara yang bengis. "Mungkin Siang Tay-jin akan mengampuni kesalahanmu dan kami juga berjanji akan membantu membujuk Siang Tay-jin agar hukumanmu diperingan."

Dari dalam kamar itu terdengar suara dengusan. Tapi tak terdengar suara sahutan.

"Bagaimana ? Apakah kau tak mau menyerahkan diri?" tanya Ho-heng dengan suara yang nyaring.

"Hmm .....apa kesalahanku, mau ditangkap oleh tuan-tuan sekalian?!" terdengar suara dari dalam kamar, dingin dan tawar sekali suara orang itu, tapi terdengar nyaring sekali.

"Kau tak mempunyai kesalahan ?" balik tanya salah seorang di antara ketiga orang tamu tak diundang itu dengan suara yang mengandung ejekan. "Hmm.....apakah dengan mengambil harta Siang Tay-jin itu bukan termasuk kedosaan yang tak berampun ?"

"Siapa yang telah mengambil harta majikanmu '!" terdengar sahutan dari dalam kamar, "Hmm ..... dengan seenak isi perutmu kalian telah menuduhku yang bukan-bukan! Apakah kalau hal ini kulaporkan kepada pihak yang berwajib kalian tak takut akan dihukum ?"

Hong-heng, salah seorang diantara ketiga orang itu, ketawa keras sekali. "Baik ! Baik!" katanya dengan suara yang keras, "Kalau memang kau yakin

tak mempunyai kesalahan, keluarlah ! Mau apa kau bersembunyi terus di dalam kamar seperti tikus yang takut pada kucing ?"

"Hmmm..... bagiku kalian hanyalah tiga ekor kucing buduk yang tak ada artinya!" terdengar sahutan dari dalam kamar.

"Setan alas "!" si Hong-heng, saudara Hong, berjingkrak saking murkanya, dia juga memandang mendelik kearah jendela. Begitu juga keadaan kedua kawannya, malah mereka telah meraba senjata mereka masing-masing. "Keluarlah kau kunyuk buta ! Hari ini tuan-tuanmu ingin memberi hajaran yang setimpal padamu !"

"Hmm..... kalau memang kalian mempunyai nyali, mari silahkan masuk saja kekamarku!" terdengar suara tantangan dari dalam kamar.

"Srettt !" terdengar beruntun ketiga orang berpakaian Yan-heng-ie, pakaian jalan malam itu, mencabut senjata mereka masing masing.

Baru saja salah seorang di antara ketiga orang berpakaian Yan-heng-ie itu akan menerobos masuk ke dalam kamar, Hong heng telah menahannya. "Jangan sembrono !" katanya dengan suara yang perlahan. "Kita tak boleh gegabah memasuki kamarnya. entah tipu apa yang sedang dijalani oleh bocah ini

!"

Kawannya menganguk, dia jadi membatalkan maksudnya untuk menerobos kedalam kamar itu.

"Keluarlah bocah !" teriaknya. "Marilah kita bicara baik-baik di sini !"

"Aku tak mempunyai waktu, kalau memang kau mempunyai keperluan denganku, masuklah ! Aku menunggumu dan bersedia melayaui apa maumu !"

Si Hong-heng jadi mendengus gusar, dia murka sekali.

"Baiklah !" serunya murka, kemudian. disusul dengan tubuhnya yang mencelat ke arah jendela, pedangnya diputar rapat menutupi tubuhnya, untuk melindungi segala kemungkinan kalau memang nanti orang yang di dalam kamar itu menyerang dengan jarum Bwee-hoa-ciamnya.

Begitu sampai dekat jendela, dengan menggunakan tangan kirinya si Hong- heng mendobrak daun jendela yang sudah lantas menjeblak terbuka, disusul oleh tubuhnya yang menerobos masuk kedalam kamar.

Begitu melihat keadaan di dalam kamar itu, si Hong-heng jadi mengeluarkan seruan tertahan, sedangkan kedua kawannya yang ikut masuk, pun mengeluarkan seruan yang sama.

Apa yang tampak oleh mereka ?!

Ternyata kamar itu kosong tak berpenghuni, pembaringan masih rapi, nyata tak pernah ditiduri, sedangkan sekeliling kamar itu tak terdapat barang-barang yang bisa dipakai untuk bersembunyi. Kemana orang yang tadi menyahuti setiap perkataan Hong-heng dan kawan-kawannya ?

Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek yang berasal dari luar. "Hmmm mau cari apa kau di kamarku ?" terdengar suara ejekan.

Hong-heng dan kawan-kawannya jadi tersadar dengan cepat, mereka sangat murka sekali, karena merasa dipermainkan oleh orang itu. Dengan cepat mereka melompat keluar dari kamar itu, tapi waktu tubuh orang yang dipanggil saudara Hong itu melesat keluar jendela, serangkum jarum bunga Bwee telah menyambar kearahnya. Dia cepat-cepat memutar pedangnya, terdengar suara pedangnya 'tring, treng, tring,' yang beruntun karena jarum-jarum bunga Bwee itu telah terhajar runtuh ke tanah, keatas saju. Tubuh Hong-heng dan kedua kawannya meluncur terus, dan setelah dapat, berdiri tetap, mereka melihat seorang anak muda berkopiah bulu musang sedang berdiri menatap mereka dengan wajah mengejek.

"Bocah kunyuk ! Ternyata kau cukup lihai !" kata si Hong-beng. ''Hmm

.....malam ini, biar bagaimana kami harus berhasil membekukmu !"

Anak muda berkopiah bulu musang itu ketawa dingin. "Hmmm. kalian

serdadu bengek, apakah kalian yakin dapat membekukku ?" ejeknya.

Wajah Hong-heng dan kedua kawannya jadi berubah hebat.

"Bocah setan kau !" bentaknya. "Jaga serangan !" dan Hong-heng menyerang dengan pedangnya, dia menggunakan jurus 'Mo I n Cap Pwee Cio' atau Mencakar awan dengan delapan belas jurus', sedangkan kedua kawannya juga telah menyerang dengan masing-masing menggunakan jurus 'Lui Ko Ciang Thiau' atau 'Suara tambur menggetarkan jagad' dan 'Thian Ma Heng Khong atau 'Kuda terbang di tengah udara', pedang ketiga orang ini menyerang hebat sekali kearah anak muda itu.

Pemuda yang memakai topi berbulu musang itu ketawa dingin, dia menggerakkan kakinya, tahu-tahu tubuhnya telah lenyap dari pandangannya ketiga lawannya, dan disusul kemudian bahu Hong-heng dan kedua kawannya, kena ditepuk seketika itu juga tangan mereka jadi linu tak bertenaga dan pedang mereka terlepas jatuh keatas salju.

"Hmmm ..... dengan hanya mempunyai kepandaian untuk mempermainkan pedang kayu saja, kalian telah berani bertingkah di hadapanku !" bentak anak muda bertopi kulit musang itu. "Cepat menggelinding dari sini !"

Wajah si Hong-heng dan kedua kawannya jadi pucat, mereka cepat-cepat memungut pedang mereka dan memutar tubuh menghadapi anak muda itu dengan wajah yang pucat.

"Apakah kalian tak mau cepat-cepat berlalu?" bentak anak muda berkopiah kulit musang itu. "Apakah kalian mengingini aku membunuh jiwa kotor kalian ?"

Nyali ketiga orang itu jadi pecah melihat wajah anak muda itu yang telah berubah bengis, mereka juga telah merasakan kekosenan anak muda tersebut. Kalau tadi anak muda itu memang mau mengambil jiwa mereka, niscaya mereka bertiga telah menghadap Giam-loo-ong, alias binasa !

Baiklah !" kata si Hong-heng dengan mengerutkan alisnya. "Kali ini kami jatuh di tanganmu, tapi tunggulah ! Dalam waktu yang singkat kami akan datang kemari ! Kau jangan kabur sebagai seorang Siauw-coet!" Anak muda itu ketawa dingin.

"Bawalah seribu kawanmu !" katanya dingin. "Hmmm, dengan begitu kalian bermaksud untuk mengeroyokku bukan ! Kalau kau sampai berani menunjukkan muka padaku lagi, maka jiwa kalian akan kukirim keneraka ! Ingat, aku tak bicara main-main ! Enyahlah !" dan anak muda itu mengibaskan lengan bajunya, sehingga ketiga orang itu terdorong oleh angin yang kuat sekali, yang menyebabkan mereka jadi terhuyung mundur beberapa langkah dengan wajah yang pucat. Dengan cepat ketiga orang itu memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Anak muda bertopi kulit musang tertawa. melihat ketiga lawannya melarikan diri dengan ketakutan begitu, tapi tak lama kemudian dia berhenti ketawa dan menoleh kearah tempat persembunyian Han Han.

"Sahabat.....turunlah !" katanya ramah. "Mari kita minum arak untuk menghangatkan tubuh di kamarku ! Bukankah udara di luar ini dingin sekali ?!"

Han Han sendiri waktu menyaksikan kelihaian anak muda itu merobohkan ketiga lawannya, dia telah heran. Padahal, Han Han memang mengetahui, kepandaian ketiga orang itu tak berarti banyak dan sangat rendah sekali, namun dengan tubuh yang begitu kurus seperti tak bertenaga, anak muda bertopi bulu musang tersebut telah dapat menjatuhkan ketiga orang itu, itulah agak luar biasa. Lebih-lebih dia mengetahui adanya Han Han yang bersembunyi di situ, menandakan kelihaian anak muda tersebut.

Han Han melompat keluar dari tempat persembunyiannya di atas payon itu, tubuhnya turun dengan ringan,

"Maaf.....!" begitu kakinya menyentuh tanah, dia berkata begitu. "Karena tadi Siauw-tee mencurigai ketiga orang tersebut maka Siauw-tee telah menguntitnya sampai disini.  !"

"Ya.....ketiga 'kuku garuda' itu memang sejak tadi selalu membawa sikap yang menyebalkan !" kata anak muda yang memakai topi bulu musang? Yang dimaksud dengan tiga orang kuku garuda ialah tiga orang tentara kerajaan. "Oh ya, perkenalkan Siauw-tee she Chiu dan bernama Liat Wie."

"Tiga kuku garuda ?" tanya Han Han heran. Chiu Liat Wie mengangguk.

"Ya ..... mereka adalah ketiga tentara yang tadi sore makan di ruang depan rumah penginapan ini!" menyahuti Chiu Liat Wie. "Bolehkah Siauw-tee mengetahui namamu yang harum dan shemu yang besar ? " Tiba-tiba Han Han menepuk kepalanya, keningnya.

"Ya, ya, maaf ..... aku sampai lupa !" katanya cepat "Siauw-tee she Han dan bernama tunggul Han."

Chiu Liat Wie tersenyum, manis sekali senyumnya itu, sehingga untuk kesekiah kalinya Han Han jadi menatap heran pada kegantengan paras orang. Dia sampai memandang dengan tatapan mata kesima.

Melihat orang memandangi dirinya begitu tajam, Chiu Liat Wie jadi kikuk, dia menunduk dengan wajah berubah merah, sehingga wajahnya kian cakap di bawah pantulan salju.

"Mari kita minum arak untuk menghangat tubuh !" akhirnya Ciu Liat Wie mengundang.

Han Han mengangguk, dia menerima tawaran orang, karena dia senang untuk bersahabat dengan orang she Ciu, yang sikapnya agak luar biasa itu.

Mereka segera masuk ke dalam kamar Chiu Liat Wie, sedangkan anak muda she Chiu itu telah menyediakan arak dan mereka minum sambil pasang omong. Chiu Liat Wie ternyata ramah sekali.

"Tahun ini Chiu-heng berusia berapa ?" tanya Han Han pada suatu ketika.

Chiu Liat Wie agak kaget ditanya begitu wajahnya juga berobah merah. Tapi sesaat kemudian, ia telah tersenyum lagi.

"Chit-gwee Cap-sha nanti Siauw-tee berusia sembilan belas tahun !" menyahuti anak muda she Chiu kemudian dengan suara yang perlahan.

"Kalau begitu aku harus memanggil kau Toa-ko, sebab usia Siauw-tee baru enambelas tahun !" kata Han Han sambil tertawa.

Chiu Liat Wie juga mengiringi tawa orang.

Tapi, tiba-tiba Han Han berseru perlahan sambil menatap wajah Chiu Liat Wie, sehingga membikin Chiu Liat Wie jadi kikuk dan heran, wajahnya berobah dari merah, kepucat, kemerah lagi.

"Ada ..... ada apa Lao tee?" tanya Liat Wie kemudian, dia sudah lantas memanggil Han Han dengan sebutan Lao-tee, adik

"Kau     " Han Han mengerutkan alisnya. "Kau sedang terluka, Toa-ko !"

Chiu Liat Wie ketawa lagi, wajahnya berobah jadi berseri kembali.

"Kau membikin kaget aku saja. Lao-tee !" kata anak muda she Chiu ini. "Kukira ada sesuatu yang aneh pada diriku !"

"Tapi Toa-ko ..... lihatlah disudut ujung alismu agak bersemu gelap, menandakan kau sedang keracnan !" kata Han Han lagi. Chiu Liat Wie mengangguk.

"Ya ..... aku memang sedang keracunan !" menyahutinya. "Ini disebabkan oleh orang-orang Sam Tiauw Boe Koan di Leng-an."

"Heh?" Han Han melengak. "Kau bentrok dengan orang-orang Sam Tiauw Boe Koan?"

Wajah Chiu Liat Wie berubah,

"Kau kenal dengan mereka Lao-tee ?" tanyanya cepat dan memandang Han Han dengan tatapan curiga.

Han Han cepat menggeleng, dia menghela napas.

"Hmm ..... orang-orang Sam Tiauw Boe Koan ternyata telah menyebar kejahatan .....!" katanya perlahan sambil mengerutkan sepasang alisnya. Dia lalu menuturkan pertemuannya dengan Kiu Leng Coen dan istrinya, yaitu Sam Nio Nio.

Mendengar cerita Han Han, Chiu Liat Wie menggebrak meja.

"Hmm ..... orang-orang Sam Tiauw Boe Koan memang jahat !" kata Chiu Liat Wi, sengit. "Biar bagaimana aku bersumpah akan melabrak orang Sam Tiauw Boe Koan.

"Apakah mereka lihai-lihai. Toa-ko ?" tanya Han Han.

"Ya !" Chiu Liat mengangguk. "Sebetulnya Sam Tiauw Boe Koan tak berarti apa-apa, tapi belum lama ini mereka telah mengundang tiga orang paman guru mereka, yang terkenal akan kelihaian Sam-coa-tinnya, yang dapat meloloskan diri! Aku roboh di tangan ketiga paman guru dari Sam Tiauw Boe Koan !"

Han Han mengerutkan alisnya.

"Coba kulihat lukamu, Toako!" kata Han Han kemudian.

Wajah Chiu Liat Wie jadi berubah merah, dengan gugup dia mengulapkan ta-ngannya.

"Tak usah     tak usah!" katanya cepat.

"Heh ?" Han Han melengak. "Kenapa tak usah?"

"Kukira luka yang kuderita ini tak seberapa, tak lama lagi tentu aku dapat menyembuhkannya sendiri!" menyahuti Chiu Liat Wie.

"Tapi Toako ..... lihatlah di sudut alismu telah timbul warna gelap, menandakan racun mulai bergerak kearah jantungmu!" kata Han Han.

Chiu Liat Wie tersenyum, dia menggeleng.

"Tak usah     terima kasih Lao-tee!" katanya cepat. Han Han jadi bingung melihat sikap orang, juga merasa heran melihat Chiu- Liat Wie begitu gugup waktu dia mengatakan ingin melihat luka yang diderita oleh anak muda she Chiu itu.

"Begini saja Toako!" kata Han Han kemudian. "Aku akan menyalurkan racun yang mengeram di tubuhmu itu dengan menggunakan tenaga Lwee-kang .....

kemarikan tanganmu!"

Chiu Liat Wie tetap saja menggeleng. "Tak usah !" katanya gugup.

Han Han jadi tambah heran.

"Bagaimana kalau sampai nanti racun naik kejantungmu, bukankah kau akan binasa sia-sia belaka?" katanya.

Chiu Liat Wie menghela napas, dia tak menyahuti, wajahnya guram sekali.

Han Han memegang tangan orang, sambil berkata "Sudah, kau jangan menolak bantuanku, Toako!"

Tapi Chiu Liat Wie telah menarik pulang tangannya dengan wajah yang berubah merah kemaluan, sipat yang aneh ini benar-benar membingungkan Han Han.

"Toako apakah kau tidak memandang kepandaian adikmu ini?" tanyanya

kurang senang. "Walaupun tak dapat disebut sempurna, tapi untuk mengeluarkan racun yang mengendap di tubuh kukira aku masih sanggup "

Wajah Chiu Liat Wie jadi berubah merah. Dia menunduk dengan sikapnya yang aneh itu.

"Sudahlah Han Lao-tee biarlah !

Nanti juga aku dapat menyembuhkannya sendiri!" kata anak muda she Chiu

itu.

Tapi Han Han tak mau mengerti, dia mengerti, dia mengulurkan tangannya

mencekal tangan Chiu Liat Wie.

"Biarlah kubantu kau menyalurksn racun yang mengendap itu mengalir keluar dari tubuhmu!" kata Han Han.

Chiu Liat Wie masih mau menarik pulang tangannya, tapi Han Han telah mencekal tangannya erat-erat.

"Lemaskan urat-uratmu, Chiu Toako!'' kata Han Han kemudian.

Terpaksa Chiu Liat Wie berdiam diri, dia menatap Han Han dengan pandangan yang luar biasa, tatapan yang luar biasa, tatapan yang memancarkan rasa terima kasih, Han Han sendiri, begitu mencekal tangan orang, dia jadi kaget bercampur heran, karena tangan Chiu Liat Wie sangat halus seperti tangan seorang gadis. Tapi, karena ingin menolong jiwa orang, tak dapat Han Han memikirkan keanehan itu ..... dia mengerahkan tenaga Lwee-kangnya. Wajah Chiu Liat Wie jadi berubah pucat pias waktu tenaga Lwee-kang Han Han menerobos melalui telapak tangannya, butir-butir keringat dingin membasahi keningnya, dia menderita kesakitan yang hebat dan seluruh tubuhnya dirasakan linu sekali. Dia memejamkan matanya sambil menggigit bibir untuk menahan perasaan sakit yang dideritanya

.....

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 23

HAN HAN masih terus mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, keringat dingin telah membasahi tubuhnya juga. Dengan cara bergelombang, dia mengirimkan tenaga dalamnya itu melalui telapak tangannya Chiu Liat Wie.

Sedangkan anak muda she Chiu itu sendiri seperti juga tersiksa, dia memejamkan matanya dengan tubuh menggigil hebat, keringat membanjiri kening dan tubuhnya, sampai akhirnya ..... 'Uaaaaaa' segumpal darah hitam dimuntahkan oleh Chiu Liat Wie. Seketika itu juga, Liat Wie merasakan tubuhnya segar kembali.

Melihat Chiu Liat Wie telah memuntahkan gumpalan darah mati, Han Han menarik pulang tangannya, disekanya keringat yang membasahi keningnya.

"Aha ..... dengan begini, jiwamu tak mengalami ancaman bahaya maut lagi, Chiu Toa-ko !" kata Han Han kemudian sambil tertawa. "Hanya kau membutuhkan beberapa hari untuk memulihkan tenagamu !"

Chiu Liat Wie mengangguk, dia juga menyeka keringatnya sambil tersenyum.

"Benar Lao-tee .....!" dia menyahuti. "Ternyata kau hebat sekali, Lwee- kangmu telah sempurna benar !"

Han Han cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah. Setelah pasang omong beberapa saat lagi, akhirnya Han Han mohon diri untuk kembali kekamarnya. Chiu Liat Wie mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar.

Han Han tertidur nyenyak sekali malam itu, karena dia juga sangat letih sekali. Maka dari itu, di saat matahari sudah naik tinggi, barulah anak muda she Han ini mendusin dari tidurnya.

Setelah cuci muka dan sarapan pagi, Han Han menuju kekamar Chiu Liat Wie. Tapi begitu dia sampai dikamar orang, dilihatnya pintu kamar tersebut terkunci rapat. Dia menanyakan kepada seorang pelayan.

"Kong-coe yang memakai kulit musang?" tanya si-pelayan. "Ya!' menyahuti Han Han. "Kemana dia?"

"Tadi pagi-pagi sekali Kong-coe itu telah keluar penginapan, sebelum pergi dikatakan kalau memang ada yang mencarinya, datang saja kembali pada sorenya

....."

"Oh ..... !" dan Han Han memberikan hadiah beberapa chie kepada pelayan kemudian tanpa memperdulikan si pelayan yang berulang kali menyatakan terima kasih padanya, Han Han menuju ke luar dari rumah penginapan tersebut.

Siang itu Han Han mengelilingi kampung tersebut, dia menuju ke sebuah Sungai, menatap air sungai yang sudah membeku disebabkan musim salju. Udara cukup dingin tapi seperti tak dirasakan oleh Han Han. Dia menatap jauh sekali ssjauh mata memandang, hanyalah warna putih belaka yang terhampar di hadapannya.

Berada seorang diri di tempat yang demikian sepi dan sunyi dikelilingi oleh salju yang dingin, menyebabkan pikiran Han Han jadi melayang-layang mengenangkan masa lalunya yang penuh oleh penderitaan pahit, Dan, tanpa disadarinya, entah berapa kali Han Han menarik napas.

Di kala menjelang senja, barulah dia kembali kerumah penginapannya. Dia mendekati tungku tempat peranti menghangatkan.tubuh dari serangan hawa dingin. Disitu hanya ada beberapa orang pelayan yang duduk dekat tungku untuk menghangatkan tubuh mereka yang menggigil kedinginan, waktu melihat Han Han menghampiri, mereka cepat-cepat menyingkir memberi tempat kepada tamu mereka itu.

Han Han duduk di sebuah bangku rotan, dia menghangati tubuh sesaat lamanya, kemudian memesan dua kati arak, yang lalu diteguknya perlahan-lahan seorang diri. Hawa udara yang dingin diiringi oleh bunga-bunga salju yang turun cukup deras di luar rumah penginapan, benar-benar tak begitu menggembirakan. Han Han jadi jengkel berdiam seorang diri di dalam rumah penginapan itu, apa lagi waktu dia melirik, dilihatnya para pelayan sedang menatapnya dengan sudut mata mereka, Han Han jadi tambah mendongkol. Tanpa terasa, dua kati arak telah diteguk habis. Malah dia memesan lagi dua kati arak yang diperintahkan kepada pelayan untuk dibawa ke dalam kamarnya, sedangken Han Han sendiri telah mendahului menujn ke kamarnya. Dibukanya baju dinginnya, kemudian dia duduk menghadapi jendela sambil memikirkan rencana selanjutnya dari perjalanannya.

Tadi waktu dia akan memasuki kamarnya, dia melewati kamar Chiu Liat Wie, dilihatnya pintu orang she Chiu itu masih terkunci rapat.

Menjelang malam, di saat Han Han menyuruh seorang pelayan untuk menengok apakah Chiu Liat Wie telah kembali atau belum, ternyaia pintu orang she Chiu itu masih tertutup rapat.

Han Han jadi heran, mengapa Chiu Liat Wie pergi memakan waktu yang begitu lama? Kemanakah anak muda she Chiu itu?

Akhirnya, karena kesal berada seorang diri di dalam kamar Han Han menyambar mantel dinginnya, dipakai kembali dan dia pergi keluar dari rumah penginapan.

"Tanpa mengetahui tujuan dia keliling-keliling di dalam kampung itu. Salju masih turun malah lebih deras dari tadi, sehingga di jalan jarang sekali tampak orang berlalu-lalang. Keadaan sangat sepi. Apa lagi pada saat itu udara menjelang malam dan dingin sekali, sehingga hampir sama sekali tak ada orang di jalan yang dilalui oleh Han Han.

Lama juga anak muda she Han tersebut berjalan seorang diri di antara derai hujan salju yang menyiram tubuhnya, sehingga hawa dingin benar-benar terasa.

Tapi, waktu Han Han sampai di dekat jalan Tiang-koei-moei di antara kesunyian yang mencekam jalan tersebut, tampak berkelebat sesosok tubuh dengan gerakan yang gesit luar biasa. Bayangan itu berlari ke arah selatan.

Han Han sebetuliya tak begitu menaruh perhatian pada sosok bayangan itu, dia menduga hanya orang yang kebetulan lewat. Namun melihat gerakan orang itu hanya gesit luar biasa, hati Han Han jadi tergerak. Dengan cepat dia telah merobah pendiriannya dan menguntit orang itu.

Ternyata sosok tubuh yang dikuntitnya itu sangat gesit dan lincah, di antara licinnya jalan yang tertutup oleh salju, gerakan orang itu tak kurang gesitnya.

Han Han menguntit dalam jarak yang tertentu, karena dia tak ingin orang yang dikuntitnya itu mengetahui. Dalam waktu yang singkat, Han Han telah menguntit sampai di luar kampung. Orang itu masih berlari terus, sampai akhirnya, ketika sampai di dekat muka hutan yang sudah tertutup oleh salju, orang itu menghentikan larinya, malah telah membalikkan dirinya dan tertawa dengan suara yang nyaring.

"Lao-tee .....!" terdengar dia berkata."Pemandangan disini cukup indah .....

kukira tak kecewa kau menguntitku dalam saat seperti ini    !"

Waktu orang itu membalikkan tubuhnya dan berkata, Han Han jadi merandek, dia melengak, karena segera juga dia dapat mengenali bahwa orang itu adalah Ciu Liat Wie, Toa-ko, kakak, angkatnya !

"O ..... kau Chiu Toa-ko !" kata Han Han sambil menghampiri. "Kau jail sekali Toa-ko yang telah menggodaku !"

Chiu Liat Wie tertawa.

"Tadi waktu akan kembali ke penginapan, kulihat kau sedang berjalan sambil termenung. Sengaja aku ingin mempermainkanmu, Lao-tee !'" menyahuti anak muda she Chiu itu.

Han Han tertawa.

"Rupanya urusan luar biasa yang telah kau hadapi itu, Toa-ko !" kata Han Han kemudian. "Apakah sudah selesai ? Kalau belum ..... hmmm, Lao-teemu bersedia untuk menyumbangkan tenaganya."

Chiu Liat Wie tertawa lagi, dia menghampiri Han Han dan mencekal tangan anak muda itu.

"Terima kasih Lao-tee    !" kata Chiu Liat Wie. "Aku memang tahu Lao-tee

sangat baik    ! Nah, mari aku ingin menunjukkan sesuatu padamu !"

"Memmjukan apa Toa-ko ! " tanya Han Han heran. Chiu Liat Wie telah ketawa lagi.

"Mari kau ikut aku ..... nanti kau akan mengetahui juga!" katanya dan dia sendiri telah berlari meninggalkan tempat itu dengan gesit.

Han Han terpaksa mengikuti di belakangnya.

Dalam waktu yang singkat, mereka telah tiba di suatu tempat yang indah. Di situ, di suatu tempat di luar kampung, terdapat sebuah danau yang airnya telah membeku menjadi es, sedangkan di sekelilingnya tampak pohon-pohon yang besar dan tertimbun oleh salju. Pemandangan itu benar-benar indah daa menarik.

"Indah bukan ?" tanya Chiu Liat Wie waktu melihat orang menatap sekeliling tempat itu dengan pandangan mata yang memancarkan perasaan kagum.

Han Han mengangguk. Wie. "Ya ..... tempat ini sangat indah Toa-ko!" katanya menyahuti perkataan Liat

Anak muda she Chiu tersenyum, dia menunjuk kesuatu tempat. "Lihatlah !" katanya. .

Han Han menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Liat Wie, tapi dia tak bisa melihat apa-apa, melainkan batu-batu yang besar dan tertutup oleh salju.

"Apakah kau telah melihatnya ?" tanya Liat Wie waktu melihat orang memandang kesima pada batu-batu yang ada di tempat itu.

Han Han menggeleng.

"Apa yang dimaksudkan oleh Toa-ko ?" tanyanya tak mengerti. "Kau masih tak melihat?" Han Han menggeleng lagi.

"Aku tak mengerti maksud Toako !" dia menyahuti, "Barang apakah yang kau maksud? " Liat Wie telah ketawa lagi.

"Kau telah melihat batu yang agak menjorok keluar di samping kanan itu bukan?" tanya anak muda she Chiu ini kemudian.

Han Han mengangguk.

"Nah ..... Lihatlah, disamping batu itu terdapat pohon bunga yang tak mati disebabkan musim dingin!" menerangkan Chiu Liat Wie.

"Heh ?" dan Han Han mempertajamkan penglihatannya. Benar saja, di antara celah batu itu, dilihatnya sebuah pohon bunga yang daunnya tak gugur disebabkan hawa dingin musim salju ini, malah telah berbunga, bunganya itu berwarna merah darah dan indah sekali. "Ya, aku telah melihatnya Toa-ko, tampaknya indah sekali !"

"Tampaknya indah ..... !" Liat Wie seperti mengulangi perkataan Han Han, kemudian ketawa gelak-gelak sehingga Han Han jadi heran memandangnya.

"Kenapa kau Toa-ko !" tanyanya.

Liat Wie menghentikan suara tawanya, dia menatap Han Han dengan tatapan yang luar biasa.

"Kau tahu Lao-tee bahwa bunga itu adalah Swat-hoa, bunga es, sehingga di kala musim Choen, dingin, dia malah berbunga! Itulah keistimewaannya ! Malah yang hebat, chasiat dari bunga Swat-hoa itu, kalau ada seorang manusia yang beruntung bisa memperolehnya dan memakannya, maka manusia itu akan menjadi seorang jago yang kosen luar biasa sekali, sebab tenaga Lwee-kangnya akan berlipat ganda menjadi seratus kali dari yang dimilikinya !" "Kalau begitu di dalam rimba persilatan terdapat banyak orang-orang gagah Toa-ko, sebab siapa saja bisa memakan bunga es itu, bukan ?" tanya Han Han.

"Aha, apakah kau kira bunga itu akan mudah diperoleh ?" tanya Liat Wie. "Swat-hoa merupakan bunga langka, yang jarang sekali terdapat dan ditemui orang. Kalau memang tak mempunyai rejeki yang luar biasa besarnya, tak mungkin orang akan dapat menemui bunga es tersebut. Banga itu baru tumbuh dan berbunga setelah berselang tiga ratus tahun! Lagi pula, jarang sekali ditemukan orang bunga itu !"

Oh ..... pohon yang ajaib dan luar biasa!" kata Han Han. "Tiga ratus tahun, baru berbunga ! Itulah suatu hal yang tak bisa masuk diakal !" ,

"Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau tak mempercayai perkataanku, Lao- tee !" tanya Liat Wie sambil tersenyum. Wajah Han Han jadi berubah merah. "Mana berani aku mempunyai dugaan begitu, Toa-ko ?!" kata Han Han cepat.

"Aku hanya mengatakan bahwa Swathoa adalah bunga yang benar-benar ajaib dan luar biasa sekali ! Hmmm. ..... kalau memang kau memperolehnya, tentu kau akan menjadi seorang jago yang tiada taranya Toa ko !"

"Ya, kalau memang aku ingin memakan bunga itu, sebab dengan di makannya bunga Swat-hoa, barulah kita akan memperoleh kemujijatannya." menyahati Liat Wie. "Tapi aku malah sebaliknya tak ingin memakan bunga itu !"

"Heh ? Mengapa begitu Toa-ko ? " tanya Han Han kaget. Liat Wie tersenyum lagi.

"Aku ingin menghadiahkan bunga es itu kepadamu Lao-tee !" kata Liat Wie sambil tersenyum dan menatap Han Han dengan kilatan mata yang luar biasa sekali.

'"Heh? Apa katamu ?" tanya Han Han terkejut. "Kau jangan main-main Toa-

ko !.'"

"Siapa yang bergurau denganmu, Lao-tee?" balik tanya anak muda she Chiu

itu sambil tetap tersenyum.

Han Han jadi gugup tak keruan.

"Mana boleh jadi begitu ! Mana bisa begitu !" kata anak muda she Han tersebut dengan suara tergetar. "Terima kasih atas maksud baik Toako, tapi Lao-tee tak bisa menerimanya ! Budi itu terlampau besar bagiku!"

Liat Wie telah ketawa lagi melihat orang begitu gugup.

"Tenang dulu Lao-tee!" kata Liat Wie lagi. "Aku mengatakan bahwa bunga Swat-hoa itu akan kuhadiahkan kepadamu, tapi entah kita berbasil memperolehkannya atau tidak .....! Hal itu belum pasti, karena tak lama lagi akan datang beberapa jago kosen yang juga ingin memperebutkan bunga tersebut."

Han Han bara dapat menarik napas lega.

"Toako ..... kau keterlaluan "!" kata Han Han. "Sedangkan kau sendiri akan berjuang mati-matian untuk memperebutkan bunga itu, masakan kau ingin menghadiahkan kepadaku ! Sudahlah Toako, bunga Swat-hoa tetap akan menjadi milikmu, biar bagaimana aku akan membantu sekuat tenagaku !"

Wajah Chiu Liat Wie jadi berseri-seri mendengar janji yang diberikan Han

Han.

"Terima kasih Lao-tee!" katanya. "Aku yakin kalau memang kau mau

membantuku dan turun tangan menempur orang-orang yang akan memperebutkan bunga Swat-hoa tersebut, niscaya bunga itu akan menjadi milik kita!"

Han Han mengangguk.

"Tapi Toa-ko !" katanya sesaat kemudian.

"Kenapa ? " tanya Chiu Liat Wie sambil menatap wajah adik angkatnya. "Mengapa kita tak mengambilnya saja bunga itu di saat orang-orang yang

lainnya belum datang ?" tanya Han Han yang mengemukakan usulnya.

Liat Wie tertawa gelak-gelak.

"Kami telah mengadakan suatu perjanjian untuk mengadakan pertemuan dan bertempur memperebutkan bunga es itu. Mana dapat kami berbuat begitu rendah ?"

Wajah Han Han jadi berubah merah.

"Ya ..... adikmu tadi telah salah bicara !" katanya cepat. "Tadinya kukira yang ingin memperebutkan bunga es ini adalah bangsa orang-orang kasar "

"Hmmm ..... apakah kalau yang akan datang memperebutkan bunga es itu adalah orang-orang kasar, apakah mereka itu cukup berharga untuk bertempur dengan Toako-mu ini?"

Kembali wajah Han Han jadi berubah merah.

"Sudahlah Lao-tee ..... mari kita duduk di situ untuk melenyapkan lelah!" kata Liat Wie waktu melihat sikap orang yang kikuk. Dia sendiri telah menuju ke balik sebuah batu yang ada di situ, lalu duduk, duduk bersila.

Han Han mengikutinya, dia duduk di dekat Chiu Liat Wie, Mereka menatap salju yang turun halus sekali, semakin menebal menutupi bumi.

"Kau tak dingin, Lao-tee?" tanya Chiu Liat Wie tiba-tiba sambil menoleh dan menatap wajah Han Han,

Han Han menggeleng. "Kau ?" dia balik bertanya.

Liat Wie juga menggeleng.

"Hanya hatiku agak berdebar !" menyahuti sang Toa-ko angkat ini.

"Mengapa ?" tanya Han Han heran.

Liat Wie tersenyum, senyumnya itu agak luar biasa, juga matanya memancarkan cahaya yang berkilat aneh sekali.

"Mungkin aku terpengaruh oleh keadaan dan situasi sekarang ini, aku takut nanti jangan-jangan bunga es itu akan jatuh ketangan jago lainnya, sehingga aku tak bisa menghadiahkannya untukmu, Lao-tee !" kata Liat Wie.

"Jangan Toa-ko memikirkan hal itu ! " kata Han Han cepat. "Bagiku bunga es tak begitu kuharapkan, asalkan Toako selamat dan memperoleh kemenangan ! "

Liat Wie mengangguk. Baru saja dia ingin berkata tiba-tiba terdengar suara lengkingan yang tinggi sekali, dibarengi oleh sosok tubuh yang melayang pesat dari atas pohon.

"Aha, ternyata kau bisa dipercaya, orang she Chiu ! " kata orang itu dengan suara yang nyaring. "Sebetuinya aku sudah menunggumu dan jago-jago lain- lainnya sejak tadi. Aku ingin lihat apakah kau mempunyai maksud yang rendah dan mengambil bunga Swat-hoa itu sebelum yang lainnya datang kemari! Ah, rupanya kau seorang Eng-hiong juga yang berusaha menjauhi perbuatan rendah !"

Waktu melihat orang itu wajah Chiu Liat Wie berubah-.

"Apakah kau duga aku ini manusia rendah, Kong Cong ?" tanyanya dengan suara yang tawar.

"Mana berani aku mempunyai pandangan begitu?!" kata orang yang dipanggil Kong Cong itu dengan cepat. "Hanya aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, apakah Chiu Siauw-hiap yang terkenal itu tetap tak akan mengambil Swat-hoa sebelum jago-jago lainnya datang kemari !"

Mata Chiu Liat Wie mencilak, sedangkan Han Han heran menatap orang yang dipanggil Kong Cong oleh Liat Wie, dia juga terkejut, kerena sebagai seorang yang kosen, seharusnya Han Han mesti mengetahui bahwa di atas pohon di dekatnya itu terdapat seorang yang bersembunyi. Tapi nyatanya dia dan Liat Wie tetap saja tak mengetahui. Itulah agak luar biasa, karena dengan begitu menunjukkan bahwa orang yang dipanggil Kong Cong itu lihai sekali.

"Bagaimana ? " tanya orang yang dipanggil Kong Cong itu sambil tetap tertawa. "Apakah yang lainnya pasti akan memenuhi janji kita ?!" "Mereka pasti akan datang, mustahil mereka tak mengiler untuk memperoleh Swat-hoa ?" menyahuti Chiu Liat Wie.

Kong Cong telah ketawa lagi, dia sebetulnya she Wu dan bernama Kong Cong. Wajahnya tirus, seperti potongan tikus, lebih-lebih dengan adanya kumis panjang yang melintang, dan matanya berkilat jelalatan kekiri dan kekanan, sehingga wajahnya itu lebih mirip muka tikus. Usianya telah lima puluh tahun lebih.

"Kalau begitu kita tunggu saja sampai mereka datang !" kata Wu Kong Cong kemudian.

Liat Wie mengangguk.

Baru saja Wu Kong Cong ingin berkata lagi, tiba-tiba dari atas pohon lainnya telah melompat turun dua sosok tubuh lainnya.

"Kami juga sudah sejak tadi datang kemari!" kata kedua orang itu hampir berbareng.

Wajah Liat Wie dan Kong Cong jadi berubah. Han Han sendiri heran, karena dengan sendirinya, kedua orang yang baru datang itupun lihai sekali.

"Aku Gu Kim Ciang hanya ingin menyaksikan keramaian saja!" kata orang yang satunya.

"Akupun hanya ingin mencicipi gurihnya bunga es itu !" kata yang seorangnya lagi.

"Aha, rupanya kau Gu Kim Ciang dan Ma Liang telah datang pula !" kata Liat Wie cepat. "Terimalah hormatku!"

Dan, benar-benar Liat Wie memberi hormat dengan membungkukkan tubuh kearah Gu Kim Ciang dan Ma Liang.

Kedua orang yang baru datang itu jadi repot menerima penghormatan anak muda she Chiu. Malah Gu Kim Ciang telan mengulap-ulapkan tangannya.

"Sudahlah! Jangan pakai banyak peradatan ! " kata orang she Gu itu. "Mari kita mulai saja pertandingan untuk menentukan siapa yang berhak untuk memiliki bunga Swat-hoa itu ! " Tiba-tiba mata Gu Kim Ciang mencilak waktu melihat Han Han. "Eh, siapa dia ? Rasanya aku pernah melihat bocah itu !"

Tadi melihat Chiu Liat Wie memberi hormat kepada Gu Kim Ciang dan Ma Liang, maka waktu ditanya begitu oleh orang she Gu tersebut, cepat-cepat Han Han membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada kedua orang itu.

"Boan-pwee she Han dan bernama tunggal Han." kata Han Han. "Terimalah hormat Boan-pwee ini.  !" Ma Liang membalas hormat Han Han dengan membungkukkan tubuhnya sedikit, tapi berbeda dengan Ma Liang, Gu Kim Ciang malah telah menghampiri dan mencekal tangan Han Han.

"Kau she Han ?" tanyanya.

"Ya !" Han Han mengangguk membenarkan. Gu Kim Ciang mengerutkan alisnya.

"Aku seperti pernah bertemu denganmu !" kata Gu Kim Ciang lagi. "Entah di mana  aku sudah tak ingat lagi!"

Han Han juga jadi ikut heran.

"Loo-cianpwee pernah bertemu denganku ?" tanyanya. Gu Kim Ciang mengangguk.

"Heh tapi entah di mana !" sahut Kim Ciang. Tapi, tiba-tiba dia menepuk

kepalanya, wajahnya berseri-seri. "Aha, aku ingat! Wajahmu mirip dengan Han Loo-kui !"

"Han Loo-kui ?" tanya Han Han tambah heran, karena nama itu baru pertama kali di dengarnya.

"Ya, kau mirip sekali dengan Han Swie Lim." kata Gu Kim Ciang.

"Han ..... Han Swie Lim ? " Han Han terhenyak seperti mendengar suara petir di tengah hari. "Loo cian-pwee kenal dengan ayahku ?!"

"Ya ! Malam itu keluarga Han Loo-kui telah mengalami bencana yang hebat

! " menyahuti Gu Kim Ciang. "Sebetulnya aku datang kesana untuk menengoki kesehatannya, tapi tak diduga orang-Pak Bwee Kauw, dengan dipimpin langsung oleh Kauw-coe-nya, yaitu Thio See Ciang, mereka menggempur rumah tangga Han Swie Lim !. Aha, jadi kau puteranya ?! Bagus ! Pada malam itu, aku berhasil merebut sejilid kitab pusaka keluargamu !" dan setelah berkata begitu, Ga Kim Cian merogoh sakunya mengeluarkan sejilid kitab, yang diserahkan kepada Han Han.

Han Han menerima dengan air mata menitik.

"Terima kasih Loo-cian-pwee ! " Kata anak muda she Han ini. "Dia juga jadi teringat, hancurnya keluarga Han disebabkan oleh kitab yang diberikan Gu Kim Ciang ini, yang menjadi rebutan di antara orang-orang gagah.

"Waktu itu, sebetulnya kitab ini telah jatuh ke tangan Thio See Ciang, tapi aku masih keburu merebutnya !" menerangkan Gu Kim Ciang. "Dan setelah berhasil merebut kitab ini, aku melarikan diri ke Hoe-lam, dengan dikejar kejar oleh orang-Pek Bwee Kauw." "Tapi Loo-cian-pwee    " kata Han Han agak ragu.

"Kenapa ?"

"Bolehkah Boan-pwee mengetahui siapa sebetulnya yang telah mencelakai orang tua Boan-pwee ?" tanya Han Han lagi sambil menatap Gu Kim Ciang dengan kilatan mata yang tajam.,

"Hmm ..... siapa lagi kalau bukan Thio See Ciang !" menyahuti Gu Kim Ciang.

Seketika itu juga hati Han Han bergolak, di saat itu dia berjanji, biar bagaimana dia akan mencari Thio See Ciang untuk membalas sakit hati keluarganya.

"Sekarang di mana kedua orang tuamu ?" tanya Gu Kim Ciang waktu anak muda she Han tersebut berdiam diri.

Tanpa dapat dibendung lagi, Han Han jadi menangis terguguk-guguk, dia menceritakan segalanya, menceritakan bagaimana kedua orang tuanya telah gila akibat getaran otak.

"Kasihan..... !" kata Gu Kim Ciang dan baru saja dia bermaksud untuk menghibur anak muda she Han itu, Ma Liang yang sudah tak sabar telah berteriak: "Ayo kita mulai bertanding ! Di sini bukan tempat bertangis-tangisan !"

Gu Kim Ciang mendengus ketawa dingin.

"Baik ! Belum tentu kau dapat mengalahkan kami ! " katanya. "Hmmm .....

kau akan menjadi seorang pecundang yang mengenaskan sekali. " Ma Liang juga ketawa dingin.

"Kita lihat saja nanti !"

Wu Kong Cong juga telah menghampiri. "Ayo kita mulai !" katanya.

Chiu Liat Wie menghampiri Han Han, dia membujuk si-anak muda she Han tersebut, untuk mengurangi perasaan duka yang sedang bergolak di hati Han Han.

Pada saat itu Gu Kim Ciang telah bertanya lagi: "Siapa yang akan maju bertanding dulu ?!"

"Aku dan kau !" menyahuti Ma Liang dengan suara yang keras.

"Begitu juga boleh !" kata Kong Cong yang sudah lantas melompat kesamping, sehingga Ma Liang dan Gu Kim Ciang jadi saling berhadapan.

"Mulai !" kata Ma Liang dengan suara yang keras dan nyaring sekali.

Gu Kim Ciang sudah tak berlaku sungkan-sungkan lagi, dia melompat tinggi, di saat tubuhnya sedang meluncur turun, kedua tangannya bergerak, menyerang Ma Liang dengan jurus 'Sin Ciang Pat Ta' atau 'Delapan pukulan tangan malaikat'.

Ma Liang ketawa dingin, dia mendengus sambil merobah kedudukan kakinya, yang digeser ke samping, kemudian dibarengi dengan tangannya yang bergerak menangkis dengan jurus 'Liat Si m Ciang' atau 'Pukulan membelah hati'. Hebat tangkisan Ma Liang ini, karena selain dia menangkis, pun orangyshe-Ma tersebut telah balas menyerang kearah dada Gu Kim Ciang, maka seperti namanya, kalau pukulan tersebut mampir, tepat di dada Kim Ciang, hati orang she Gu tersebut akan terhajar hancur terbelah "

Tapi Kim Ciang kosen, melihat,serangannya ditangkis oleh Ma Liang, malah orang she Ma itu telah balas menyerang, dia cepat-cepat menarik pulang tangannya, lalu dikibaskan ke samping, diputar setengah lingkaran dan membarengi dengan itu dia menyerang lagi dengan jurus 'Pheng Tee Teng In' atau 'Awan hujan ditanab datar', tangan kiri dan tangan kanannya bergerak sebat sekali, di samping menangkis, dia juga melancarkan serangan.

Begitulah, kedua orang tersebut jadi bertempur dengan hebat, angin serangan mereka menderu-deru, mendatangkan angin yang kuat dan hebat, karena diiringi oleh tenaga Lwee-kang, desiran tenaga dalam !

Han Han, Chiu Liat Wie dan Wu Kong Cong menyaksikan dari samping, selama pertempuran antara Ma Liang dan Gu Kim Ciang berlangsung, ketiga orang tersebut tak mengeluarkan sepatah katapun, perhatian mereka tercurahkan seluruhnya pada jalannya pertempuran.

Pada saat itu tampak Ma Liang telah menyerang lagi dengan hebat, menyerang dengan menggunakan jurus 'Lui Ho Ceng Thian' atau 'Suara tambur menggetarkan jagad', disusul kemudian dengan jurus 'Sin Hong Teng Kong' atau 'Burung Hong terbang kelangit’, dan kedua serangan itu merupakan serangan yang berbahaya sekali, yang mendatangkan angin serangan yang kuat luar biasa.

Tapi, karena Gu Kim Ciang kosen sekali, maka dia tak menjadi gugup, malah dengan tenang orang she Gu itu telah menangkis dan balas menyerang dengan menggunakan jurus 'Tee In Ciong' atau 'lompatan awan tangga', tubuhnya bergelombang berlompatan tinggi, waktu turun, dia balas menyerang. Setiap ssrangannya, juga mengandung tenaga dalam yang luar biasa kekuatannya.

Kedua tangan mereka, tangan kiri Gu Kim Ciang dan tangan kanannya Ma Liang saling bentur, tubuh mereka tergetar, tampak keduanya saling mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian mereka saling serang lagi, dan bertempur dengan hebatnya.

"Hmm..... Gu Loo-cian-pwee akan memperoleh kemenangan !" kata Han Han sesaat kemudian setelah sekian lama menyaksikan jalannya pertempuran.

"Mengapa kau bisa menduga begitu ?" tanya Liat Wie sambil menoleh dan menatap Han Han.

"Kepandaian Gu Loo-cian-pwe; lebih ting gi satu tingkat dari Ma Loo- cianpwee !" menyahuti Han Han.

"Belum tentu!" kata Chiu Liat Wie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kita lihat saja!" kata Han Han mengalah, dia tak mau berdebat dengan To- ako angkatnya ini.

Chiu Liat Wie tersenyum dan melirik Han Han dengan tatapan mata yang luar biasa sekali.

Pertempuran masih berjalan terus dengan seru. Dan dengan mengeluarkan suara teriakan yang nyaring sekali, tampak Gu Kim Ciang menyerang Ma Liang dengan jurus 'Mo In Cap Pwes' atau 'Mencakar awan dengan delapan belas jurus', tangannya bergerak-gerak akan mencengkeram pundak, dada, lambung, leher dan kepala Ma Liang. Hebat sekali serangan Gu Kim Ciang itu, sehingga angin serangannya juga menderu-deru menyambar kearah Han Han serta Chiu Liat Wie.

Ma Liang terkejut waktu melihat Gu Kim Ciang merobah cara menyerangnya, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan. Tapi waktu itu, tubuhnya sedang terapung, sehingga dia tak bisa mengelakannya seketika itu juga, dengan mengeluarkan seruan dia berusaha untuk menyampok tangan Kim Ciang yang sedang menyambar perutnya, kemudian, di saat tubuhnya dapat menginjak salju, dia membalik telapak tangannya akan menghajar kepala Gu Kim Ciang.

Ma Liang lihai sekali, walaupun keadaan dirinya terdesak, tokh dia masih dapat mengelakkan dan malah balas menyerang.

Kim Ciang cepat-cepat menarik pulang tangannya, dia mengibaskan dengan lengan jubahnya yang kebesaran, disusul oleh dua seangan lainnya, yaitu dengan jurus 'Tin San Ciang ' atau 'Pukulan menggetarkan gunung ', kemudian disusul dengan ' Boen Sie Ciam Ciang’ atau ' Pukulan jarum kumis nyamuk ', dan pukulan yang terachit ini digunakan dengan mempergunakan jeriji telunjuknya, yang bermaksud menotok jalan darah Ma Liang, Ma Liang mana mau dihajar kegitu, apa lagi dia cukup kosen, maka dari itu, dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melambung tinggi sekali untuk mengelakkan serangan jeriji mautnya Gu Kim Ciang. Namun, Kim Ciang tak mau memberi hati, di saat orang melesat tinggi, dia juga mejejakkan kakinya, maka tubuhunya mengikuti Ma Liang melesat keatas juga, tahu-tahu jari telunjuknya itu telah dapat menotok jalan darah Kie-ma-hiatnya orang she Ma itu, sehingga tanpa ampun lagi, tubuh Ma Liang terjungkel roboh keatas tumpukan salju, sehingga bunga salju berterbangan ke sekelilingnya

Yang lainnya ketika melihat hai itu, jadi mengeluarkan seruan tertahan, lapi, Ma Liang sendiri di kala tubuhnya ambruk menimpa salju, dia sudah lantas mencelat bangun kembali, wajah orang she Ma tersebut jadi berubah merah padam. "Kepandaianmu memang lebih tinggi satu tingkat dariku, orang she Gu !" karanya dengan suara penasaran. "Hmmm..... aku memaug tak mempunyai rejeki untuk memiliki bunga Swat-hoa itu ! Sudahlah !" dan setelah berkata begitu, dia memutar tubuhnya, kemudian sekali menjejakkan kakinya, tubuhnya telah

mencelat akan berlalu.

Gu Kim Ciang sendiri jadi tak enak hati, dia ingin menahannya. Tapi, belum lagi dia berteriak untuk mencegah kepergian Ma Liang, orang she Ma itu telah mencelat jauh dan dalam waktu yang sekejapan saja, telah jauh sekali.

Chiu Liat Wie sendiri telah menepuk paha Han Han.

"Kau benar Lao-tee!" katanya dengan suara yang nyaring. "Aku yang kalah

!"

Han Han hanya ketawa. Baru saja dia ingin berkata, anak muda she Chiu

tersebut telah melompat mendekati Gu Kim Ciang.

"Gu Loo-cianpwee.....!" kata Liat Wie sambil membungkukkan tubuhnya menjura pada Kim Ciang. "Sekarang Boan-pwee yang ingin minta pengajaran dari Loo-cianpwee, Boan-pwee harap Lo-cian-pwee tak menurunkan tangan keras kepadaku !"

Gu Kim Ciang tertawa.

"Aha      aku yang jadi segan untuk bertempur denganmu, anak muda!" kata

Kim Ciang sambil tertawa.

"Mengapa harus segan ?" tanya Chiu Liat Wie sambil mengiringi tertawanya orang she Gu itu. "Bukankah kalau memang Boan-pwee mempunyai rejeki, maka Boan-pwee dapat memperoleh bunga Swat-hoa itu!"

Mendengar perkataan Chiu Liat Wie, Gu Kim Ciang jadi tertawa lagi. "Benar! Benar!" katanya sambil tertawa. "Siapa tahu aku si-tua dapat dirobohkan oleh si muda ?"

"Mana berani Boan-pwee mempunyai pikiran begitu ?!" kata Liat Wie cepat. "Pa-ling-paling juga Boan-pwee mengharapkan Loo-cianpwee mengalah sedikit!"

"Baik! Majulah !" kata Kim Ciang sambil mengibaskan lengan bajunya,

Chiu Liat Wie tak berlaku sungkan lagi, dia telah bersiap-siap dengan bheshi yang kuat sekali. Kemudian sambil mengeluarkan teriak : "Jaga.....!" tangannya meluncur menyerang ke arah dada Gu Kim Ciang.

Kim Ciang yang melihat tenaga serangan anak muda she Chiu tersebut tak kuat, seketika itu juga dia mengetahui bahwa orang menyerang dengan serangan pancingan. Maka dari itu, Kim Ciang hanya tertawa, tapi tak berusaha untuk mengelakkannya.

Benar saja, waktu melihat orang tak mengelakkan diri dari serangaunya, Liat Wie telah menarik pulang tangannya, sekali putar, tangannya itu telah terbalik dengan telapak tangan di sebelah atas dan meluncur dengan tenaga penuh kearah dada Gu Kim Ciang.

Gu Kim Ciang miringkan tubuhnya sedikit, tangan anak muda she Chiu itu lewat di sisi tubuhnya, kemudian dengan tangan kirinya Kim Ciang mengetuk jalan darah Tay-hu-hiatnya anak muda itu yang terletak di pergelangan tangan.

Liat Wie ketawa panjang, nyaring sekali suara tertawanya itu, sehingga sampai menggema. Sambil tertawa, dia telah menarik pulang serangannya, disusul oleh tangan lainnya yang bermaksud mencengkeram pundak Kim Ciang.

Hebat anak muda she Chiu ini ! Dia mengetahui kalau mereka mengadu tenaga dalam, belum tentu dia dapat memperoleh kemenangan, maka dari itu Liat Wie bertempur dengan mengandalkan kelincahan dan kegesitannya. Dari itu, dia dapat memperoleh keuntungan yang tak kecil. Lagi pula Gu Kim Ciang turun tangan setengah hati sehingga Liat Wie dapat bertempur dengan leluasa.

Gu Kim Ciang sendiri, waktu melihat pundaknya akan dicengkeram oleh anak muda she Chiu tersebut, dia tertawa sambil menjejakkan kakinya, sehingga tubuhnya mencelat menjauhi Liat Wie,

"Licik kau anak muda! " kata Kim Ciang sambil tersenyum, Chiu Liat Wie tercengang, dia sampai merandek.

"Heh? Mengapa Gu Loo-cianpwee mengatakan Boan-pwee licik?" tanyanya. "Aha, .....kau bertempur dengan mengandalkan kelincahanmu, apakah kalau memang aku mau menurunkan tangan sungguh-sungguh, kau kira kau dapat meloloskan diri dari tanganku ? "

Wajah Liat Wie berubah merah, dia tertawa.

"Mengapa Cian-pwee tak mau menurunkan tangan yang cukup keras agar Boan-pwee tak mempunyai rejeki memiliki bunga Swat-hoa itu ?"

""Baik ! Baik !" kata Gu Kim Ciang. "Sekarang aku malah ingin memperlihatkan padamu, dalam dua jurus, kau akan kurobohkan !"

"Kalau memang dalam dua jurus, Loo-cianpwee tak bisa merobohkan boan- pwee janji apa yang akan diberikan oleh Gu Loo-cianpwee ?"

"Hmmm..... aku akan memberikan bunga Swat-hoa menjadi-milikmu !" menyahuti Kim Ciang.

"Bagus! Seranglah Boan-pwee !" tentang Liat Wie sambil tertawa, dia gembira, karena dia yakin, dia akan dapat mempertahankan diri selama dua jurus.

Gu Kim Ciang sendiri telah melompat akan menyerang, tangannya diulurkan kemuka, kemudian dengan mengeluarkan seruan panjang dia menyambar ke arah kopiah anak muda itu.

Liat Wie mengelakkan sambi tertawa-tawa, dia juga berseru : "Ini boleh dibilang jurus pertama !" katanya.

"Benar ! " menyahuti Kim Ciang. "Dan ini jurus yang kedua !" dan tangan orang she Gu tersebut telah meluncur cepat sekali, dia menggunakan tangan kiri untuk menyerang dada anak muda she Chiu, sedangkan tangan kanannya akan mencengkeram kepala Chiu Liat Wie.

Hebat serangan itu, karena Gu Kim Ciang merggunakan jurus 'Leng Kun Liu Sah' fitau 'Arus ombak mendorong pasir', dan serangan dengan jurus itu terbagi beberapa gerakan yarg berbahaya dan sangat sebat sekali, kalau memang Chiu Liat Wie kurang kosen dan kurang gesit tak nantinya dia dapat mengelakkan serangan itu. Apa lagi Gu Kim Ciang sendiri mengetahui, kalau dalam jurus ini dia tak bisa merobohkan anak muda she Chiu, berarti dia telah roboh, maka dia menyerang dengan sesungguh hati.

Yang kasihan adalah Liat Wie. Dia tak menduga orang akan menyerang dirinya dengan cara begitu, maka untuk kagetnya, tahu-tahu tangan kiri Gu Kim Ciang telah berada di dekat dadanya dan tangan kanan orang she Gu telah berada di atas kepalanya. Kalau dia mengelakkan serangan tangan kanan Gu Kim Ciang dan melindungi kepalanya, maka dadanya akan terserang dan menjadi sasaran tangan Gu Kim Ciang, tapi kalau sebaliknya dia melindungi dadanya, maka kepalanya yang akan kena dicengkeram oleh orang she Gu itu. Maka itu, Liat Wie berada dalam posisi yang sulit sekali. Dia tak bisa berpikir terlalu lama, karena tangan orang she Gu telah berada dekat sekali dengan sasarannya.

Tapi dasarnya otak Chiu Liat Wie cerdas, dalam keadaan kepepet begitu, dia telah menggerakkan tangan kirinya akan menjotos mata Gu Kim Ciang, sedangkan tangan kanannya menangkis tangan kiri Gu Kim Ciang yang akan mencengkeram dadanya,

Kim Ciang terkejut waktu tangan Chiu Liat Wie tahu-tahu berada di dekat matanya, dia jadi mengeluarkan seruan tertahan dan berusaha menangkis dengan tangan kirinya, tapi tangan kanannya terus juga meluncur akan mencengkeram kepala Chiu Liat Wie.

Tangan kiri Chiu Liat Wie benlrok dengan tangan kiri Gu Kim Ciang, dia kaget sendiri, karena dia tak menduga bahwa Gu Kim Ciang akan meneruskan serangannya itu, padahal tadi dia menduga bahwa Gu Kim Ciang malah akan mengelakkan diri dan melompat menjauhkan diri. Untuk kagetnya, begitu tangannya bentrok dengan tangan kiri Gu Kim Ciang, Chiu Liat Wie merasakan kepalanya dingin, ternyata tangan kanan Gu Kim Ciang telah berhasil menjambret kopiah sasterawan. Itupun Chiu Liat Wie telah menundukkan kepalanya, coba kalau tidak, tentu kepalanya kena dicengkeram oleh tangan Gu Kim Ciang.-

Dengan hati mencelos, Chiu Liat Wie melompat ke belakang menjauhi Gu Kim Ciang, tapi semua orang yang melihat keadaan Chiu Liat Wie jadi berseru kaget, begitu juga Gu Kim Ciang, saking kagetnya, dia jadi berjingkrak .....

Kenapa ?!

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)