Seruling Haus Darah Jilid 05

 
Jilid 05

SEBAGAI seorang bocah yang mempunyai keberanian dan sangat tabah, maka Han Han maju menghampiri dan mengawasinya.   Tapi   dia   jadi menjerit waktu melihat bahwa di antara tubuh-tubuh yang menggeletak menyerupai mayat itu terdapat ibu, ayah dan keempat Soe-heng Soe-cienya !

Ditubruknya Han Hoe-jin sambil menangis.

"Ma. ! Kenapa kau Ma !?" dia menggoyang-goyangkan tubuh ibunya, Han

Han melupakan rasa sakit di lengannya.

Tapi Han Hoe-jin tetap tak bergerak hanya napasnya tampak satu-satu, agak tersengal dan tak lancar.

Si bocah jadi bingung, dia berlari ke-arah Pat-kwa Hiat-kui. Digoyang- goyangkan tubuh ayahnya, tapi sang ayah tetap seperti keadaan ibunya. Si bocah jadi menangis sedih, dia menduga kedua orang tuanya ini telah meninggal. Cepat- cepat dia menghampiri Tang Siu Cauw, menggoyang-goyangkannya sambil memanggil-manggil nama Soe-hengnya, dan tampak Tang Siu Cauw menggerakkan tubuhnya, lalu matanya terbuka. Begitu tersadar dari pingsannya, Tang Siu Cauw memandang keadaan sekelilingnya dengan pandangan yang aneh.

Han Han ketika melihat Soe-hengnya belum "mati", dia jadi agak terhibur.

Dipeluknya sang Soe-heng dan dia menangis sedih sekali.

Namun, dengan tak terduga, Tang Siu Cauw mendorong tubuh si-bocah. "Siapa kau ?" bentaknya dengan suara yang keras, menyeramkan.

Pandangan matanya juga luar biasa sekali, berkilat sangat menakutkan.

Han Han terkejut melihat keadaan Tang Siu Cauw.

"Tang Soe-heng .....kau ....." katanya terbata-bata. "Lihatlah     ayah dan ibu

telah     telah meninggal !!"

Tang Siu Cauw mengerutkan sepasang alisnya, dia memandang ke sekeliling ruangan itu dengan pandangan yang sangat asing sekali. Dia juga melihat Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim yang menggeletak, melihat Han Hoe-jin, melihat Hi Lay dan Hi Beng, juga melihat Wie Soe Niang, tapi bukannya dia melompat untuk melihat keadaan mereka malah dia mengerutkan sepasang alisnya.

"Mengapa begini banyak mayat orang ?" dia menggumam kepada dirinya sendiri. "Tang Soe-heng     !" panggil Han Han tetap menangis.

Tang Siu Cauw menoleh pada si bocah, mata orang she Tang itu liar sekali.

Tiba-tiba dia tertawa keras.

"Bocah !" katanya dengan suara yang keras. "Mengapa kau menangis ?

Apakah kau tak sebagai laki-laki menangis seperti seorang Sio-cia !" Han Han jadi melengak, tapi kemudian dia menangis lagi.

"Tang Soe-heng, kau lihatlah.....! " katanya sambil menunjuk. "Penjahat- penjahat itu telah membunuh ayah dan ibu, juga telah membunuh Soe-heng dan Soe-cie. !!"

Tang Siu Cauw ketawa lagi ha-ha-he-he.

"Mereka membunuh orang-orang ini ?" tanyanya. "Siapa mereka ? Aku tak mengenal mereka ?!"

"Tang Soe-heng .....?" si bocah jadi mencelos waktu melihat keadaan Tang Siu Cauw. "Kenapa kau, Tang Soe-heng?"

Perlahan-lahan Tang Siu Cauw bangun berdiri, dia menatap sekeliling ruangan itu dengan pandangan mata yang liar.

"Bocah .....! Kita berada di mana ? " tegurnya kemudian sambil menoleh kepada Han Han dan menatap Han Han dengan mata yang jelalatan liar.

Han Han jadi takut melihat mata Tang Siu Cauw, dia sampai mundur. Dia heran melihat keadaan Tang Soe-heng . .....

"Kenapa kau?" tergetar suara si-bocah.

Siu Cauw ketawa lagi, matanya lebih berkilat aneh, rupanya keadaan di sekelilingnya sangat asing.

"Kau selalu memanggilku dengan sebutan Soe-heng! Soe-heng ! Sebetulnya namaku siapa sih ?! Oya, siapa namamu bocah?"

Han Han sampai mengeluarkan seruhan tertahan, dia mengawasi Tang Soe- hengnya itu dengan mata terbentang lebar, dengan air mata mengucur deras mengaliri pipinya.

Ternyata Tang Siu Cauw telah gila!

Harus diketahui karena kepandaian Tang Siu Cauw dan ketiga Soe-teenya itu masih lemah, maka disebabkan pengaruh suara ketawa Thio See Ciang yang disertai tenaga Lwee-kang mereka jadi gila. Namun mereka jadi tersadar lebih dulu, sebab mereka memberikan perlawanan yang tak berarti. Berbeda dengan Pat- kwa Hiat-kui Han Swie Lim dan Han Hoe-jin, karena mereka mempunyai kepandaian yang tinggi, maka di diri mereka terjadi golakan yang hebat dan mereka mengalami serangan dari suara ketawa dari Thio See Ciang yang disertai tenaga Lwee-kang itu lebih hebat lagi, sehingga sampai saat itu mereka belum sadarkan diri. Juga pelayan rumah tangga keluarga Han itu, karena tak mempunyai kepandaian apa-apa waktu mendengar suara ketawa Kauw-coe Pek Bwee Kauw yang disertai oleh tenaga Lwee-kangnya, syaraf mereka pecah dan dari hidung maupun telinga dan mulut mereka mengeluarkan darah! Jiwa mereka seketika itu juga putus dan menghadap Giam-lo-ong.

Sedang Han Han tak mengalami cidera apa-apa, sebab waktu Thio See Ciang mengerahkan tenaga Lwee-kangnya itu, si bocah sedang dalam keadaan pingsan dan menggeletak di lantai tak sadarkan diri, sehingga dia tak mengalami goncangan apa-apa. Dan disebabkan itulah Han Han terhindar dan akibat suara tertawa Thio See Ciang yang sangat luar biasa itu.

Pada saat itu, dengan tak terduga Tang Siu Camw telah melompat kearah Han Han, mencekam di bagian dada si bocah, sehingga si-bocah yang melihat mata Tang Soe-hengnya itu, dia jadi ketakutan sekali.

"Bocah..... katakanlah!" bentak Tang Siu Cauw. "Siapa namaku? Ha-ha-ha- ha-ha ! Katakanlah bocah, siapa namaku ?!" dan Tang Siu Cauw ketawa keras sekali, menarik baju Han Han erat sekali, sehingga si-bocah merasakan tangannya sakit sekali, luka di tulang tangannya terasa lagi.

"Tang Soe-heng..... kau..... kau....." tergetar suara Han Han, dia ketakutan sekali. Kasihan bocah ini, hari ini dia mengalami pukulan bathin yang luar biasa hebatnya. Dia melihat 'mayat' ibu dan ayahnya yang menggeletak di hadapannya, juga melihat mayat-mayat yang lainnya.....dan sekarang melihat keadaan Tang Soa-hengnya begitu menakutkan sekali.....sehingga pecahlah ketabahan si bocah dia menangis tersedu-sedu.

Melihat bocah itu menangis, Tang Siu Cauw tertawa lebih keras sambil menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Tapi, sesaat kemudian wajahnya jadi berubah bengis, dengan tak terduga dia mengayunkan tangannya dan. 'Plaaakkk'!

pipi Han Han telah digaplok, sehingga muka si bocah jadi merah bertapak lima jari orang she Tang itu.

Han Han kaget berbareng sakit, dia sampai mengeluarkan seruhan kaget, dan 'si bocah menangis.

Melihat Han Han menangis lagi, Tang Siu Cauw mengayunkan tangannya lagi akan menggaplok pipi si bocah, tapi ketika sampai di tengah udara, dia bimbang, sehingga tangannya tetap diudara, tak diturunkan. Dia merasa kenal pada bocah itu, tapi entah di mana, dia memutar otak untuk mengingatnya, tapi tetap saja dia tak dapat mengingatnya. Disebabkan itu, dia jadi uring-uringan dan dia jadi murka lagi, tangannya diayunkan menggaplok pipi si bocah.

Dengan mengeluarkan suara yang nyaring, pipi Han Han kena dihajar dan si bocah tak dapat mengindarkannya. Dia hanya menjerit kesakitan.

"Siapa kau, bocah ?" bentak Tang Siu Cauw. Wajahnya bengis sekali. "Tang Soe-heng ..... aku Han-jie !" teriak Han Han ketakutan. "Apa

Maaf halaman 9 s/d 18 hilang

kutkan serta mengerikan sekali, si bocah jadi tak berani menghampiri. Han Han berdiri mematung mengawasi mereka yang sedang menari-nari itu dengan linangan air mata.

Tiba-tiba Pat-kwa Hiat-kui menghentikan tariannya, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berseru : "Tahan Thian ingin bicara !!"

Semuanya menghentikan tarian mereka dan memandang Pat-kwa Hiat-kui sambil ketawa ha-ha-he-he.

"Aku adalah Thian dan kalian harus mendengar setiap perintah dan kata- kataku !!" teriak Pat-kwa Hiat-kui lagi.

"Ya .....!" semua orang-orang gila itu menyahuti sambil tetap tertawa ha-ha-

he-he.

"Sekarang Thian mau bertamasya ! Apakah kalian mau turut serta ?" tanya

Pat-kwa Hiat-kui lagi.

Tampak Hi Beng, Hi Lay, Tang Siu Cauw dan yang lain-lainnya kasak- kusuk sambil ketawa cengar-cengir, lalu mereka berseru secara berbareng : "Setuju. kami memang ingin ikut Thian untuk bertamasya!!"

"Bagus '" seru Pat-kwa Hiat-kui lagi. "Mari kita berangkat !" dan berbareng dengan habisnya suara Han Swie Lim, jago she Han yang telah miring pikirannya itu menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat keluar dengan pesat, diikuti dengan yang lainnya sambil ketawa haha-hehe.

Hati Han Han mencelos melihat keenam orang itu akan pergi. Dia mengejarnya sambil berteriak: "Thia ! Ma ! Tunggu     , Oh, kalian mau kemana ?"

dan dia mengejar terus. Tapi dia hanya seorang bocah yang tak mempunyai kepandaian apa-apa, maka ketika dia sampai di luar ruangan itu, dia hanya mendapatkan kegelapan dan dinginnya udara malam. Sedangkan ayahnya, ibunya, Tang Siu Cauw, Wie Soe Niang dan Hi Beng serta Hi Lay telah lenyap. Hanya samar-samar terdengar suara tertawa mereka yang kian menjauh dan akhirnya lenyap ditelan oleh siliran angin.

Si bocah she Han jadi berdiri menjublek dengan linangan air mata membasahi pipinya. Dia memandang kegelapan yang ada disekelilingnya, laiu setelah menyadari apa yang terjadi, si bocah mengeluarkan suara jeritan dan menjatuhkan dirinya di tanah sambil menangis menggerung-gerung.

Ayahnya telah gila ! Ibunya juga telah gila ! Begitu juga keempat murid ayahnya, mereka semua telah gila ! Ach,. walaupun ayah dan ibunya masih hidup, namun mereka telah gila dan Han Han merasakan dirinya seperti juga anak yatim piatu !! Mengingat begitu, dia jadi menangis sedih sekali, sampai tubuhnya menggigil tergetar, disebabkan kesedihan yang menguasai dirinya dan juga akibat dinginnya angin malam menjelang fajar.

Si-bocah menangis terus sampai menjelang fajar, dia meratapi nasibnya.

Berulang kali dia memanggil-manggil nama ayah dan ibunya.

Kasihan bocah itu !

Dalam usia sepuluh tahun, dia telah mengalami pukulan batin yang cukup hebat. Dia jadi tak tahu harus berbuat bagaimana dan juga dia tak tahu apa yang harus dilakukannya ! Lagi pula, ke mana dia harus mencari ayah dan ibunya yang telah gila itu ? Seandainya mereka dapat ditemuinya apa yang harus diperbuatnya ? Karena mereka tentu tak dapat mengenalinya lagi sebagai putera mereka.

Dan, saking sedihnya, juga karena letih menangis terus menerus, dan disebabkan pukulan bathin yang begitu menggoncangkan jiwa bocah itu, maka setelah mengeluarkan suara keluhan yang panjang, Han Han jatuh pingsan lagi, dia tak sadarkan diri  !

Angin yang sejuk, angin pagi menjelang fajar, menghembus mempermainkan lembar-lembat rambut si bocah.....suasana di gedung Han Swie Lim tetap menyeramkan, karena disamping mayat-mayat pelayan-pelayan keluarga Han itu, juga terdapat mayat Jie Su-ok Ang Bian, Giok Hok-shia Cioe Ie dan mayatnya orang-orang Pek Bwee Kauw! Bau anyir darah yang memuakkan masih terus terbawa oleh hembusan angin pagi.  !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya Bab 12

DI SAAT Han Han tersadar, hari telah gelap gulita lagi, telah menjelang malam lagi. Rupanya bocah ini jatuh pingsan seharian penuh. Pertama-tama yang diingat oleh si bocah ialah ayah dan ibunya yang telah gila, yang tak waras pikirannya, terganggu syarafnya. Dia jadi menangis lagi. Ketika dia menoleh ke sampingnya, dilihatnya mayat Ang Bian, si Jie Su-ok. si jahat nomor dua itu. Han Han jadi menggigil ngeri, lebih-legih suasana malam itu sangat menakutkan dan menyeramkan sekali. Siliran angin malam membawa kepenciuman si bocah akan anyir darah yang memualkan. Si bocah jadi ketakutan, apa lagi waktu dilihatnya di sekelilingnya tak ada orang lainnya, melainkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tanpa memikirkan apapun lagi, cepat-cepat si bocah keluar. Namun waktu dia sampai di muka rumah itu, dia jadi berdiri terpaku dengan air mata berlinang. Dia tak tahu harus pergi kemana guna berlindung,

"Oh ayah.....ibu !" keluhnya dengan suara tergetar tanpa disadari olehnya, matanya memandang kegelapan malam. Perlahan-lahan dia menyusuri jalan yang terbentang di hadapannya, tapi sepanjang jalan dia tak menjumpai rumah penduduk lainnya, karena daerah itu termasuk daerah terpencil. Hanya suara binatang malam yang sedang berdendang menemani bocah itu.

Han Han benar-benar putus asa, dia masih berusia saugat muda, sehingga dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia hanya menuruti kakinya saja yang melangkah tanpa tujuan.

Udara malam sangat dingin menusuk tulang, apa lagi pada saat itu mendekati menjelang musim dingin, maka angin utara bertiup agak santer menggigilkan tubuh. Han Han sendiri merasakan hawa dingin itu, tapi bocah itu menguatkan hatinya, dia melangkah terus. Semua ini disebabkan dia jeri dan ngeri melihat mayat-mayat yang bergelimpangan di dalarn rumahuya itu seorang diri

.....!

Akhirnya, ketika mendekati fajar, di saat matahari muncui di ufuk timur, maka sibocah tiba di muka sebuah hutan. Dia duduk di bawah pohon untuk istirahat. Matanya agak berkunang-kunang ketika terkena sinar matahari, lebih- lebih perutnya juga berbunyi keruyukan karena sejak dua hari yang lalu belum diisi. Si bocah baru teringat akan perutnya yang lapar itu, dia merogoh sakunya dan terdapat beberapa tahil uang emas, namun di daerah terpenctl dan tak ada rumah penduduk, di mana dia bisa membeli makanan?!

Han Han jadi bingung. Kalau kembali ke rumahnya, terang memakan waktu satu hari lebih lagi, juga si bocah sangat ngeri melihat mayat-mayat bergelimpangan. Dia tak berani kembali pulang ke rumahnya yang telah berubah seperti kuburan yang menyeramkan itu. Maka, akhirnya Han Han memejamkan matanya sambil berusaha menahan perasaan laparnya.

Lama juga si bocah duduk seorang diri di bawah pohon itu, sedangkan matahari mulai naik semakin tinggi, sinarnya semakin terik. Tapi, di antara hembusan angin pagi yang segar itu, han Han dapat mengendus wanginya semacam daging terbakar. Cepat-cepat Han han berdiri dan pandangannya mengelilingi tempat itu untuk mencari-cari, kalau saja ada orang yang kebetulan mempunyai makanan. Dia bisa membelinya dengan uang yang ada padanya.

Tapi Han Han tak melihat orang lain di sekeliling tempat itu, dia jadi penasaran dan mengendus-endus dengan hidungnya. Bau yang wangi sekali dari daging bakar semakin merangsang hidungnya, dia berusaha mengikuti asal sumber dari bau wangi itu.

Kiranya, di belakang sebuah pohon tak jauh dari tempat itu, tampak seorang kakek-kakek tua sedang membakar daging burung. Kakek itu memutar-mutar kayu pembakar, di mana terdapat seekor burung yang terbakar dan menimbulkan bau wangi yang luar biasa. Mata si kakek berjanggut putih itu tak berkedip, mengawasi denan air liur yang menitik membasahi bajunya, rupanya kakek itu sudah tak dapat menahan seleranya untuk memakan burung bakar itu. Pakaian kakek itu terdiri dari tambalan-tambalan dan banyak yang sobek di sana-sini, maka orang dapat menerka, orang itu tentu seorang pengemis.

Cepat-cepat Han Han menghampiri kakek itu, dia berdiri beberapa tombak dari kakek tersebut dan memandang ke arah si kakek berpakaian seperti pengemis itu. Entah berapa kali Han Han menelan air liurnya, karena burung yang sedang dibakar oleh si kakek sangat wangi sekali.

Kakek pengemis itu mengetahui kedatangan Han Han, dia hanya melirik sedikit saja, seterusnya dia tak memperdulikan si bocah lagi, karena dia repot dengan burungnya yang menimbulkan bau wangi luar biasa. !

Han Han jadi serba salah, dia bermaksud untuk meminta burung bakar sebagian dari di kakek, namun sejak kecil dia belum pernah meminta sesuatu barang pada orang lain, disebabkan itu, si bocah jadi berdiri ragu dan hanya menatap ke arah burung bakar si kakek dengan mengiler.

Tak lama kemudian burung itu telah matang, si kakek pengemis telah mencabut burung bakar itu dari kayu pembakarnya, lalu tanpa memperdulikan bahwa burung bakar itu masih panas, dia telah menggeragotnya dengan lahap.

Han Han jadi tambah mengiler, lebih-lebih ketika dia menyaksikan cara makan si-kakek, seperti juga nikmat sekali. Perut si bocah berbunyi beberapa kali dan dia terpaksa harus menelan air liurnya yang sering menerjang keluar.

Kakek berpakaian pengemis itu seperti juga tak mengacuhkan adanya Han Han di situ. Dia makan terus seorang diri dengan nikmat burung bakarnya itu, tak pernah dia menoleh lagi pada Han Han.

Karena wangi burung bakar itu terus-menerus merangsang hidungnya, lagi pula perasaan lapar mengganggu perutnya dan juga melihat cara makan si-kakek yang menyebabkan bertambah laparnya si bocah, akhirnya Han Han tak dapat mengendalikan dirinya. Dia menghampiri kakek berpakaian penuh tambalan itu.

"Loo-pek     " panggil si-bocah dengan suara ragu, dia memanggil kakek itu

Loo-pek yang artinya paman.

Kakek itu menoleh, dia melihat Han Han dan menunda makannya serta menyusut bibirnya.

"Oh kau pengemis cilik ?" tegur si-kakek itu. "Mau apa kau kemari ? Apakah kau mau minta tulang-tulang burung ini ?" dan si-kakek terus mengunyah lagi.

Han Han jadi menelan air liurnya, perkataan untuk meminta burung bakar itu jadi batal diucapkannya, karena si-kakek menduganya bahwa dia adalah seorang pengemis kecil yang akan mengemis-ngemis tulang burung itu! Si bocah memutar tubuhnya untuk berlalu.

"Biarlah aku lapar ....." pikir si bocah. "Kakek itu terlalu serakah dan rakus dia menduga aku akan mengemis-ngemis tulang sisa burung itu ! Hu ! Itupun belum tentu diberikannya ! Lebih baik aku tak membuka mulut. !!"

Tapi, baru saja Han Han memutar tubuh, kakek itu telah berkata: "Aduh enaknya !! Hu, wangi sekali ! !" seru si kakek. "Eh pengemis cilik, kau tak mau mencobai burung bakarku ini ?!"

Penawaran itu membuat perut Han Han jadi berbunyi lagi. Si bocah jadi berdiri ragu. Di dirinya terjadi semacam kontradiksi yang sulit dipecahkan oleh bocah seusia dia. Antara harga diri dan perasaan lapar, perutnya yang selalu minta diisi itu, karena sudah dua hari tak makan !!

Melihat Han Han berdiri membelakangi dan berdiam diri saja, kakek itu memperdengarkan mulutnya yang mendeci, mengunyah burung itu.

"Pengemis cilik!" panggilnya lagi. "Bagaimana hari ini? Apakah kau berhasil memungut sedekah orang ? Kalau memang kau mempunyai beberapa Chie dari pecahan uang perak, aku akan membagi burung bakar ini kepadamu !!"

Mendengar itu Han Han jadi gembira, dia cepat-cepat membalikkan badannya.

"Benarkah Loo-pek ?" tanyanya sambil menghampiri. Si-kakek terus juga mengunyah, sikapnya dingin sekali.

"Hu! Aku belum pernah mendustai orang!" katanya tawar. "Kay-san Jie- sian-cie belum pernah menipu orang, apalagi orang semacammu, pengemis dekil yang tak mempunyai harta !!" dia menggeragoti burung panggangnya itu. "Kay-san Jie-sian-cie ialah, Dua jari sakti pengemis gunung.

Han Han cepat-cepat mengeluarkan setahil uang emasnya.

"Loo-pek ..... marilah kita saling tukar menukar !" kata si-bocah. "Kau berikan burung bakarmu itu kepadaku dan aku akan memberikanmu setahil uang emas ini !!"

Mata si kakek berpakaian penuh tambalan itu jadi melirik ke tangan Han Han. Waktu melihat uang emas yang ada di tangan si bocah, mata si kakek jadi mendelik, lalu burung panggangnya itu bukannya diberikan kepada Han Han, malah dilemparkan ke sampingnya, mata si pengemis mendelik.

"Pengemis bau !" gerutunya. "Kau curi dari mana uang sebanyak itu ?!" "Heh ?" Han Han jadi melengak melihat sikap orang. "Kau mengatakan aku

mencuri, Loo-pek ? Barang apa yang pernah kucuri dari orang lain ?" Kakek itu meaunjuk kearah uang mas yang ada di tangan si bocah.

"Kalau bukan dari mencuri, lalu dari mana uang sebanyak itu kau peroleh

?!" tegur si kakek dengan muka yang keren.

"Aku tak mencuri Loo-pek ..... ini uangku sendiri ..... !" suara si-bocah jadi tak lancar.

"Dusta teriak Kay-san Jie-sian-cie. "Jangan kau main-main denganku! Kalau aku tahu dan terbukti telah melakukan suatu pencurian, maka kau akan kuhukum berat! Hu ! Kau telah berani melanggar larangan Pang kita !!" Si bocah jadi bingung, dia jadi tak bisa menyahuti, hanya mengawasi pengemis itu dengan mata mendelong,

"Siapa namamu ?" bentak kakek itu lagi.

"Haa Han !" si-bocah menyebutkan ├▒amanya.

"Han Han ?" tegai si kakek heran. "Yah ! " bocah itu mengangguk.

"Hmmm .....!" Kay-san Jie-sian-cie menggerutu. "Aku belum pernah mendengar nama itu dan tak pernah mengenal kau" dan dia mengawasi bengis. "Kau di bawah perintah Cung Tiang-loo atau Sah Tiang-ioo ?"

Si bocah jadi tambah bingung dan heran.

"Apa yang Loo-pek maksudkan ?'" tanyanya ragu,

Si kakek mengerutkan alisnya, dia menatap lebih bengis lagi.

"Aku baru pernah melihat seorang bocah bau, pengemis cilik semacam kau berani kurang ajar terhadap Kay.san Jie-sian-cie ! Tak pernah ada pengemis yang begitu bertemu denganku tak memberi hormat! Cung Tiang-loo atau Sah Tiang-loo sendiri kalau bertemu denganku, tentu mereka juga akan memberi hormat padaku dan jeri padaku ! Heran ! Kau seorang pengemis bau tak mengenal peraturan di dalam Pang kita !! " dan dia mengawasi si-bocah lagi,

Han Han jadi tambah bingung,

"Tapi aku bukan pengemis, Loo-pek      !" bantahnya. "Kalau memang Loo-

pek hanya ingin dihormati dan diberi hormat, aku bersedia, asalkan burung, bakarmu itu diberikan padaku !!"

Kay-san Jie-sian-cie mendengus.

"Hu ! Kau bukan pengemis ?" tegur Kay san Jie-sian-cie lagi. Lalu kalau memang kau benar-benar bukan bocah pengemis, mengapa kau mengenakan pakaian pengemis ?. Apakah kau mau menyelundup ke dalam Pang kami ?"

Han Han jadi lebih bingung lagi, dia menundukkan kepalanya memandang bajunya. Ternyata memang benar perkataan si kakek, terang saja kakek itu menduga dirinya adalah pengemis, karena pakaiannya telah robek di sana-sini dan dekil sekali, sebab sudah lima hari tak pernah dicuci.

"Kau berada di bawah pengaruh Tiang-loo mana ?" bentak Kay-san Jie-sian- cie dengan muka yang bengis. "Kau jangan coba-coba mempermainkan aku !!"

"Aku tak paham apa yang Loo-pek maksudkan ! " kata Han Han cepat. "Aku benar-benar bukan pengemis, kalau memang Loo-pek tak mau mempercayai, ya sudah .....! Untuk apa ngotot-ngotot begitu ! Kalau memang kau tak mau memberikan burung bakarmu itu dan tak rela membagi padaku, untuk apa kau pakai cari-cari alasan lainnya?! Sudahlah ! Aku juga tak maui burung bakarmu

lagi ! " dan si bocah benar-benar jadi mendongkol, dia memutar tubuhnya untuk berlalu, Diduganya kakek itu tentunya seorang yang rakus dan tak mau membagikan burung bakarnya itu pada dirinya.

Tapi, baru saja dia memutar tubuh, tiba-tiba si bocah merasakan punggunngnya dicengkeram orang, lalu tubuhnya terapung dan ambruk di tanah menimbulkan perasaan sakit luar biasa sekali.

Si-bocah cepat-cepat merangkak bangun sambil berteriak marah, dia gusar sekali, karena dia menduga tentunya si kakek yang telah membantingnya. Dan memang benar, Kay-san Jie-sian-cie-lah yang telah membanting bocah itu. Kala itu si kakek tengah bertolak pinggang.

"Kau mau mengatakannya atau tidak kau dari Tiang-loo mana ?" bentak si pengemis dengan suara mengejek, "Kalau kau tak mau menyebutkannya, aku akan patahkan sepasang kakimu itu, agar seumur hidupmu kau jadi orang bercacad, jadi pengemis dengan kaki semper! "

Han Han jadi murka, dia melotot pada pengemis itu,

"Pengemis busuk !" bentaknya, "Apa salahku maka kau siksa begini macam?"

"Hmm ..... !" seru Kay-san Jie-sian-cie, "Kau tak mau menyebutkan asalmu, juga kau tak mau menyebutkan kau di bawah pimpinan Tiang-loo yang mana, serta uang yang kau miliki itu sudah pasti diperoleh dengan jalan mencuri ! Hu ! Hari ini Kay-san Jie-sian-cie harus menghukum pengemis kurcaci berkepala batu ! " dia menghampiri lagi.

Han Han gusar sekali, tak hujan tak angin orang telah menghinanya begitu macam. Tubuh si bocah jadi menggigil. Dia memang tabah dan keras hati, semakin orang menindasnya dengan kekerasan, dia malah jadi semakin berani. Melihat kakek berpakaian yang menyerupai pengemis dan mengaku sebagai "Dua jari sakti pengemis gunung' itu menghampirinya, si bocah bukannya takut malah mendelikkan matanya memandang kakek itu.

"Pengemis busuk !" makinya. "Kau sendiri sebagai pengemis, mengapa kau memaksa aku supaya mengaku juga sebagai pengemis ! Kau ambil aturan dari mana orang harus tunduk padamu, pengemis bau?!"

Melihat keberanian si bocah, pengemis tua itu jadi melengak, tapi dengan cepat dia telah tersadar kembali. Dia jadi tertawa gelak-gelak saking murkanya. Dia memang benar dari Kay-pang, perkumpulan pengemis dan bergelar Kay-san Jie-sian-cie. Sebetulnya kakek itu she Ang dan bernama Cioe, si-arak merah. Jangankan Han Han, yang diduganya sebagai pengemis cilik, sedangkan para Tiang-Ioo, pemimpin-cabang yang telah menggemblok beberapa-karung, semuanya menghormati dia, malah Pang-coe, pimpinan Kay-pang, juga mengindahkan dirinya si Ang Cioe ini. Maka itu, dia jadi murka sekali melihat Han Han malah berani menentang dan pulang balik menggunakan perkataan 'pengemis bau' atau 'pengemis busuk' untuk dirinya.

"Bocah .....! Kau benar-benar mencari kematian !" bentaknya. "Apakah kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa ?!"

"Hmm !" Han Han meagejek, dia jadi muak pada pengemis tua ini. Karena dia sudah diperlakukan tak baik oleh Kay-sian Jie-sian-cie, maka si-bocah sudah tak mau menghormati kakek itu lagi, dia jadi nekad. "Siapa yang mengatakan bahwa aku tak tahu kau adalah si pengemis bau yang busuk dan tak tahu diri ?!"

"Derrrr !!" darah si-pengemis gunung itu naik ke kepala, dia murka sekali mendengar perkataan Han Han. Dengan mengeluarkan seruan panjang, dia mendorongkan tangannya kemuka sambil mengerahkan satu bagian tenaga dalamnya. Tapi hebat kesudahannya bagi Han Han, tubuhaya seperti terdorong oleh tenaga yang kuat sekali yang tak kelihatan, tubuhaya terpental dan punggungnya jadi membentur sebuah batang pohon, lalu si bocah ambruk ke tanah kembali. Han Han jadi menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan pening di kepalanya dan menggigit bibirnya untuk menahan perasaan sakit pada punggungnya. Sebetulnya dia mau menangis, tapi mengingat si pengemis ada di depannya, walaupun matanya masih berkunang-kunang, dia melompat berdiri.

"Eh pengemis bau ..... pengemis tua bangka yang sudah mau mampus .....

aku akan adu jiwa denganmu !" dan tanpa menunggu habis ucapan itu, dia sudah menyeruduk ke depan.

Kay-sian Jie-sian-cie melihat si bocah menyeruduk ke arahnya, dia ketawa mengejek dan memasang perutnya, di mana dia telah mengerahkan tenaga Lwee- kangnya, sehingga waktu kepala Han Han menubruk perutnya itu ..... "Dukkk !" Masyaallah!!

Pandangan Han Han berkunang-kunang, kakinya jadi lemas tak bertenaga, hampir saja dia jatuh pingsan. Karena tadi waktu dia menyeruduk perut pengemis tua itu, tarnyata perut orang keras seperti baja, menyebabkan kepala bocah itu jadi benjol bertelur.

Sambil memegangi benjol di kepalanya itu Han Han berdiri lagi, matanya masih berkunang-kunang, namun dasarnya si bocah memang keras hati dan tabah, lagi pula dia mengingat keadaan dirinya yang seperti sudah sebatang kara, kedua orang tuanya telah gila dan entah kemana, maka dia menjadi nekad dan bermaksud mengadu jiwa dengan pengemis tua itu.

"Bagaimana ? Enak tidak perutku itu ?" ejek Kay-sian Jie-sian-cie sambil mendeci menghina.

Han Han mendelik pada si pengerais gunung itu.

"Hmmm ..... kalau kau tak mau mengatakan kau di bawah pimpinan Cung Tiang-loo atau Sah Tiang loo, maka aku akan menghukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Pang kita !" ancam si pengeinis waktu melihat Han Han berdiam diri saja dengan mata melotot. "Bagaimana ..... ? Apakah kau tetap tak mau mengakui Pang kita itu sebagai wadah perkumpulanmu?"

Han Han benar-benar mendongkol.

"Hu ! Walaupun aku tak makan, tak nanti aku memasuki perkumpulan pengemis kalian !" sahut si bocah. "Aturan dari mana kau pakai, maka kau berani memaksa orang begini macam ? Apakah kau tak takut pada wet negara ?!"

Mendengar perkataan Han Han, Kay-san Jie-sian-cie ketawa gelak-gelak, sampai tubuhnya tergoncang.

"Bagus ! Rupanya kau benar-benar kepala batu !" katanya kemudian dengan suara yang tawar. "Kalau tak diberi hajaran, mungkin kau masih akan bandel terus menerus! Nah, terimalah ini !" tahu-tahu Han Han melihat jari telunjuk pengemis itu ada di depan mukanya, dan keningnya telah kena ditotok oleh pengemis itu. Si bocah merasakan seluruh tubuhnya kesemutan, lalu semacam hawa panas yang membakar dirinya menerjang di dadanya, sehingga dia jadi bergulingan di tanah dengan butir keringat dingin membanjiri kening serta tubuhnya. Namun, biarpun dia tersiksa oleh totokan pengemis itu, tokh dia tak mengeluarkan suara rintihan, hanya matanya tetap mendelik pada pengemis itu, bibirnya digigit keras-keras untuk menahan perasaan yang menyiksa itu.

Melihat kebandelan si-bocah, pengemis gunung itu ketawa dingin, namun hatinya mengakui juga kekerasan hati si bocan. Dia jadi kagum. Tadi dia telah menotok jalan darah Ma Kie-hiatnya Han Han, suatu jalan darah yang menyebabkan golakan hawa Yang, hawa panas, ditubuh si bocah.

"Bagaimana ? Apakah kau tetap tak mau membuka,mulut ?" bentak si- pengemis.

Han Han mendongkol sekali pada pengemis ini, lebih-lebih dia menyiksa begitu macam. Dia jadi mempunyai perasaan, bahwa pengemis ini jahat sekali. Maka itu, saking mendokolnya, juga saking menahan sakit, dia jadi memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya, sampai bibir bawahnya itu berdarah! Butir- butir keringat mengucur di kening dan di tubuhnya.

Si pengemis ketawa dingin, dia mengulurkan tangannya lagi, menotok jalan darah Yang-lohiatnya si bocah. Inilah hebat, dengan tertotoknya jalan darah itu, maka jalan darah Thay-yang-hiatnya si bocah terbuka, sehingga hawa panas itu jadi menerjang menerobos masuk menjalari tubuhnya, si bocah jadi tersiksa benar, dia seperti dibakar oleh perapian, butir-butir keringat sebesar biji kacang mengalir keluar. Dari muiutnya terdengar suara 'aaah', 'uhh' yang perlahan sekali, dia bukannya merintih, tapi saking menahan perasaan yang menyiksa dirinya itu, si- bocah tak menyadarinya telah mengeluarkaa suara kesakitan. Akhirnya, ketika hawa panas itu bergolak lebih hebat, menerjang kearah jalan darah Su Tie-hiatnya, dia jadi tak dapat menahannya lagi, biar bagaimana dia hanya seorang bocah biasa, yang tak pernah mempelajari ilmu silat maupun Lwee-kang, maka dengan dibukanya jalan darah Yang-lo-hiatnya itu, semua hawa kotor itu seperti juga dilepaskan bebas menerobos kearah jantungnya. Si bocah jadi jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Kay-san Jie-sian-cie ketawa mengekeh, dia mengambil buli-buli araknya yang ada di dekat pohon, lalu dituangkan menyiram muka si bocah.

Karena siraman arak itu, maka Han Hati jadi tersadar. Waktu dia membuka matanya, perasaan panas yang menerjang di dirinya masih bergolak menyiksa sekali. Dia mengeluarkan keluhan.

"Bu      bunuhlah aku ! Janganlah kau menyiksa aku begini macam !" teriak

si bocah dengan suara tergetar menahan perasaan sakit.

Pengemis gunung itu ketawa rnengejek.

"Kau mau mampus !" tanyanya mengejek, "Enak benar kau bicara !! Hu ! Hu ! Kay-san Jie-sian-cie tak pernah membiarkan orang hukunannya mati dengan enak ..... "kalau kau masih tetap membandel dan berkepala batu, aku akan menghadiahkan kau hukuman yang lebih enak lagi."

Si bocah she Han itu sudah tak tahan akibat totokan si pengemis pada Yang- lo-hiatnya, yang menyebabkan terbukanya jalan darah Thay-yang-hiatnya, dia jadi melompat dan berjingkrak-jingkrak untuk mengurangi hawa panas yang menggolak di dadanya itu. Muiutnya tak hentinya mengeluarkan suara ha, ha, hu, hu, dan keadaan si bocah harus dikasihani,

Kay-san Jie-sian-cie mendengus melihat kebandelan si bocah,

"Nih kuhadiahkan lagi kau perasaan yang enak menyegarkan ! " dan dia menotok So-lay-hiatnya Han Han.

Begitu jalan darah So-Iay-hiatnya kena ditotok oleh si pengemis lagi, perasaan panas itu bercampur baur dengan hawa dingin yang merangsek ke jalan darah Thay-yang-hiatnya juga. Inilah hebat, dia hanya seorang bocah, mana kuat dia menahan serangan dua hawa Im dan Yang, dingin dan panas, secara berbareng, yang menerobos ke jalan darah Thay-yang-hiatnya? Sedangkan seorang jago silat yang kosan, kalau jalan. darah Thay-yang-hiatnya dibuka dan ditotok kedua jalan darah Yang-lo-hiat dan So-lay hiat yang dapat menimbulkan golakan hawa dingin dan panas, tentu akan semaput dan mati. Maka si bocah sambil berjingkrak- jingkrak dengan mata melotot dan mulut bersuara haha, huhu, akhirnya dia rubuh setelah berteriak;

"Pergemis edan ..... pengemis siluman    !" seterusnya dia tak sadarkan diri.

Si pengemis mendengus, dia murka karena bukannya si bocah menyerah oleh siksaan itu, malah sebelum pingsan dia masih sempat memaki dirinya dengan sebutan pengemis edan dan pengemis siluman. Kay-san Jie-sian-cie jadi mengawasi si bocah yang pingsan tak bergerak, muka Han Han telah berubah kehijau-hijauan, karena, kedua hawa murni Im dan Yang yang berarti di dalam dirinya bergolak menerjang-nerjang ke jalan darah Thay-yang-hiatnya. Sekali saja jalan darah itu kena ditembusi dan menerobos kejalan It-hiatnya, maka biarpun dia berteman dewa dan memakan obat dewa, jiwa si bocah tak mungkin dapat ditolong lagi,

Kay-san Jie-sian-cie sendiri memahami itu, dia juga telah melihat bahwa Han Han tak mengerti ilmu silat. Tapi melihat kebandelan si bocah, dia jadi mendongkol, sebab selama dia berada di-Kay-pang, belum pernah ada orang yang berani menentangnya, biarpun Pang-coe dari Kay-pang sendiri, dia juga mengindahkannya. Tapi bocah ini, biarpun telah disiksa setengah mati, dia malah memakinya, inilah hebat. Pengemis gunung itu jadi ingin melihat sampai di mana kebandelan bocah itu. Maka itu, dibiarkannya tubuh Han Han menggeletak pingsan, tak ditolongnya.

Lama juga si-pengemis menunggu sadarnya si bocah she Han itu sambil sebentar-sebentar meneguk arak didalam buli-bulinya. Sekali-sekali dia melirik ke arah Han Han yang masih menggeletak pingsan di sampingnya.

Sesaat lamanya, perlahan-lahan tampak si bocah menggerak-gerakkan tangannya, lalu dengan mengeluarkan jeritan yang menyayatkan. dia melompat, bergerak kesana-kemari sambil menjerit-jerit menahan hawa panas dan dingin yang bergabung bergolak didirinya, kemudian dia rubuh lagi dan jatuh pingsan pula, Mukanya kehitam-hitaman semu hijau, nyata jiwa si bocah telah sekarat kalau tak cepat ditolong, maka jiwanya itu akan sulit untuk dilindungi lagi dari tangan Giam-lo-ong.

Kay-san Jie-siau-cie mendengus, dia duduk dan memandang wajah si-bocah yang telah kehitam-hitaman itu,

Sebetulnya dia juga iba melihat keadaan si bocah, hatinya tergerak, sebab biar bagaimana, biarpun adatnya aneh, namun dia sebetulnya seorang pendekar yang. berbudi, yang sering menolong yang lemah dan menghajar si kuat tapi penindas. Namun disebabkan kejelusan dan kepenasarannya melihat kebandelan dan ketabahan si bocah, pengemis gunung ini malah jadi mendongkol dan mau mencoba sampai di mana kebandelan bocah itu. Diangkatnya tangannya, dituangkan arak dari dalam buli-buli itu kemuka Han Han, sehingga ketika tersiram oleh cairan yang menyiarkan bau keras memabokkan itu, si bocah jadi tersadar. Namun, begitu dia membuka matanya, bocah itu merasakan tubuhnya sangat dingin sekali, seperti juga dirinya direndam dilautan es. Tubuhnya menggigil dan giginya bercatrukan. Namun, dia tetap tak mengeluarkan suara rintihan, dia hanya menggigit bibirnya keras-keras, matanya mendelik pada si pengemis penuh dendam. Dia sudah tak bisa bersuara untuk memaki pengemis itu lagi.

Kay-sao Jie-san-cie mendengus.

"Bagaimana? Apakah kau tetap membandel terus?" tanyanya si-pengemis agak lunak. "Asal kau mau membuka mulut meminta ampun kepadaku, maka kau akan kubebaskan dari siksaan itu !"

Namun, bukannya si bocah meminta ampun, dia malah memejamkan matanya dan membuang muka ke arah lain. Giginya masih bercatrukan karena menahan hawa dingin yang bukan main, yang bergolak di dirinya, tubuhnya juga menggigil.

Melihat kebandelan si bocah, si-pengemis Kay san Jie-sian-cie sebetulnya tadi ingin menolongnya, namun dia jadi membatalkan maksudnya.

"Baiklah ! Rupanya kau benar-benar berkepala batu!" katanya sengit. "Aku ingin lihat, kau dapat bertahan sampai di mana!" maka si pengemis lalu duduk di tempatnya semula, meneguk araknya dan tak memperdulikan si bocah lagi.

Yang kasihan adalah Han Han. Dia jadi menggigil terus menerus kedinginan, karena hawa Im bergolak hebat menerjang ke jalan darah Ie-hiatnya. Kalau saja serangan hawa Im itu telah dapat menerobos Thay-yang-hiat dan dapat masuk ke Ie-hiatnya, jangan harap bocah itu dapat hidup terus. Lebih-lebih sekarang hawa Yang juga bergolak berbareng dengan hawa Im itu, maka siksaan yang diderita oleh si bocah benar-benar hebat.

Kay-san Jie-sian-cie sendiri heran melihat kekuatan hati dan kebandelan si bocah. Dia jadi tak mengerti dan sering-sering mengawasi Han Han. Di dalam hatinya! mau tak mau dia harus mengakui ketabahan bocah itu.

"Tulang yang baik .....!" bisik hati kccilnya. "Bocah semacam inilah kalau mendapat bimbingan yang hebat, dia tentu akan menjadi seorang jago yang tiada taranya di bumi ! Akh, sebetulnya dia di bawah pengawasan Tiang-loo mana ? Cung Tiang-loo selalu berlaku keras pada anak buahnya, tentu si bocah kalau menjadi anak buah Cung Tiang-loo, dia tak mungkin berani berlaku kurang ajar padaku, sedangkan Sah Tiang-loo juga selalu mendidik anak buahnya dengan penuh kesabaran dan budi pekerti, sehingga tak mungkin kalau bocah ini menjadi anak buah Sah-Tiang-loo tak mengenal kesopanan kepada tingkatan yang lebih tinggi ! Lalu, kalau bukan Cung atau Sah Tiang loo, jadi si-bocah ini anak buah

siapa?"

Kay-san Jie-sian-cie benar-benar bingung, memikirkan asal usul si bocah yang luar biasa ini, dia jadi tak habis pikir. Berulang kali dia melirik pada si bocah yang masih menggigil kedinginan menderita disebabkan serangan hawa Im. Achirnya Kay-san Jie-sian-cie tak tega, dia bangkit berdiri menghampiri si bocah akan membebaskan dari totokannya yang tadi.

Namun, baru saja dia melangkah satu langkah, di sampingnya, dari balik semak-semak, terdengar kata-kata : "Omitohoed ! Omitohoed! Bermurah hatilah pada seorang bocah yang tak berdaya apa-apa!" Cepat-cepat Kay-san Jie-sian-cie menoleh dengan terkejut, karena ssbagai orang berkepandaian tinggi, dia tak mengetahui kehadiran orang itu. Dilihatnya yang mengucapkan nama Buddha itu seorang laki-laki tua berjanggut putih, dia berpakaian seperti seorang pendeta, kepalanya juga gundul.

Hanya, baju kebesarannya. itu digambar dengan bermacam-macam bunga, sehingga walaupun dia berpakaian seorang Hwe-sio, tokh orang akan tahu bahwa dia hanya seorang Hwe-sio gadungan yang luar biasa.

Tampaknya orang itu telah menghampiri mendekati Han Han, dia menggeleng-gelengkan kepalanya waktu melihat keadaan si bocah dan menyebut nama sang Buddha, diulurkan tangannya untuk menotok jalan darah Thay-yang- hiat si bocah untuk membendung hawa Im dan Yang yang sedang berusaha menerobos jaian darah itu, kemudian setelah si bocah terhindar dari kematian, dia memutar tubuhnya menghadapi si pengemis gunung.

Tadi waktu melihat si Hwee-shio yang berpakaian luar biasa itu, muka si pengemis gunung telah berubah pucat, dia teringat pada seseorang waktu melihat lukisan-lukisan bunga yang terdapat di baju si pendeta.

"Kay-sian Jie-sian-cie!" tegur pendeta itu sabar. "Sie-coe terlalu kejam menyiksa bocah ini melampaui batas ! Apakah Sioe-coe tak dapat turun tangan agak ringan sedikit kepada bocah yang tak berdosa itu ?!"

Muka Kay-sian Jie-sian-cie jadi bero-bah lagi, dia membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada si-pendeta.

"Apakah aku sedang berhadapan dengan Jiauw Pie Jielay Khu Sin Hoo Loo- cian-pwee ?!" tanya si pengemis dengan suara menghormat.

Pendeta itu menyebut nama sang Buddha lagi, dia mengangguk sabar wajahnya welas asih.

"Ya ..... Pin-ceng memang she Khu dan bernama Sin Hoo !" sahutnya dengan suara yang sabar. "Apakah kesalahan bocah itu sehingga dia harus menjalani hukuman yang begitu berat ?"

Kembali Kay-sian Jie-sian-cie membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Jiauw Pie Jielay atau si Buddha berlengan seribu.

"Siauw-kay memang telah terlalu menuruti dan mengumbar kemendongkolan hati!" sahut si pengemis cepat. Siauw-kay ialah si pengemis kecil. "Siauw-kay memang menyesal telah menyiksa bocah itu melampaui batas

..... tapi Loo-cianpwee ..... dia terlalu kurang ajar sekali, karena walaupun dalam satu Pang, tokh kepada orang yang tingkatannya lebih tinggi, dia tak mau berlaku hormat sedikitpun !!"

"Sian-chay ! Sian-chay !" memuji si pendeta yang mempunyai julukan Buddha berlengan seribu itu. "Tapi walaupun dia mempunyai kesalahan yang bagaimana besarpun, Pin-ceng kira tak sepantasnya Sioe-coe membuka jalan darah Yang-lo-hiat dan So-lay-hiatnya, karena jangankan bocah itu yang tak mempunyai kepadaian apa-apa seandainya Sie-coe sendiri kalau dibuka kedua jalan darah itu pada diri Sie-coe, kau tentu akan menemui kematianmu !!"

Muka Kay-sian Jie-sian-cie jadi berubah pucat. Dia takut pendeta itu nanti menotok kedua jalan darahnya itu.

"Ya, ya Siauw-kay memang bersalah !" sahutnya cepat. ''Hmm !" mendengus Hwee-shio itu.

"Pergilah Sie-coe, biarlah tinggalkan bocah itu kepada Pineceng, agar aku dapat memberikan pengobatan dan rawatan padanya ! Mudah-mudahan jiwanya masih dapat tertolong!"

Cepat-cepat Kay-san Jie-sian-cie menjura.

"Terima kasih Loo-cian-pwee ..... untuk seterusnya Siauw-kay tak berani sembarangan menyiksa orang ! katanya cepat, kemudian setelah menjura sekali lagi, dia memutar tubuh untuk berlalu.

Kay san Jie-sian-cie begitu jeri pada si Hwee-shio, karena dia mengenali bahwa pendeta itu sebetulnya memang bernama she Khu dan bernama Sin Hoo. Dia bergelar Jiauw Pie Jielay, si Buddha berlengan seribu. Dialah salah satu di antara ketujuh jago yang menguasai daratan Tiong-goan, kepandaiannya hanya sukar diukur. Maka itu, karena mengenal kelihaian orang, Kay-san Jie sian-cie jadi jeri sekali pada Hwee-shio itu.

Satelah melihat Kay-san Jie-sian-cie berlalu, Khu Sin Hoo membalikkan tubuhnya, berjongkok di dekat si bocah. Tadi waktu pendeta she Khu itu menotok jalan darahnya menutup peredaran hawa Im dan Yang, si bocah jatuh pingsan lagi.

Khu Sin Hoo Jauw Pie Jielay mengawasi wajah si bocah, dilihatnya semua hijau masih belum lenyap dari wajah Han Han, dia jadi menarik napas dan meraba nadi si bocah. Sesaat kemudian, tampak, dia menggeleng-gelengkaa kepalanya. Hatinya mencelos.

"Aeh ..... Kay san Jie-sian-cie sangat kejam !" gumamnya. "Walaupun tadi aku keburu menghentikan peredaran jalan darah yang membawa arus Im dan Yang namun jiwa bocah ini sulit untuk diselamatkan. Kemungkinan kecil dia dapat hidup terus ..... barang kali dia hanya dapat hidup selama tiga bulan lagi, nanti setelah pergolakan hawa Im dan Yang mengaduk isi perutnya, dia akan menemui kematiannya ..... !" Akhh, kasihan bocah ini ....." dan Khu Sin Hoo menarik napas lagi. Dia mengurut jalan darah Jwan-sie-hiatnya si bocah, sehingga perlahan-lahan Han Han tersadar. Waktu dia membuka matanya, dirasakan tubuhnya lemas sekali, dia memandang sekelilingnya dengan pandangan mata heran.

"Too-tiang ..... kemana pengemis siluman itu ! " tanya si-bocah ketika tak didapatkan Kay-san Jie-sian-cie di situ. Dia menatap si Hwee-shio.

Si Hwee-shio tersenyum sabar, wajahnya welas asih, dia mengusap kepala si bocah.

"Pengemis siluman itu telah Pin-ceng usir ..... kau tak usah takut lagi nak!" hiburnya ramah. "Siapakah namamu ?"

Mendengar si Hwee-shio yang menjadi penolongnya, cepat-cepat Han Han bangkit berdiri, tapi dia telah rubuh lagi, karena dirasakan kedua kakinya lemas sekali. Untung saja Khu Sin Hoo cepat-cepat menyanggahnya, sehingga dia tak sampai terbanting.

"Jangan bergerak dulu nak ..... istirahatlah, kau masih lemah      " hibur Khu

Sin Hoo dengan suara yang sabar.

Han Han jadi terharu. Dia memang seorang anak yang perasa, kalau orang berlaku keras dan kasar padanya, dia akan lebih keras lagi. Bila mati, dia takkan menyerah. Tapi kalau orang memperlakukan dirinya dengan lemah lembut, maka walaupun dia harus mengorbankan jiwanya. pasti dia akan mendengar kata-kata orang itu. Apa lagi sekarang ayah. dan ibunya telah gila dan entah berada di mana, mendengar suara si Hwee-shio yang penuh kasih-sayang, hati si bocah jadi sedih, tanpa disadari, dari pelupuk matanya menitik air mata.

Khu Sin Hoo jadi terkejut melihat si bocah menangis, dia meugusap-usap kepala si bocah, hati orang tua itu jadi terharu, karena dia tahu, kalau si bocah tak menemui pengobatan yang tepat, paling lama jiwanya hanya dapat bertahan tiga bulan lagi.

"Jangan menangis nak ..... !" katanya dengan penuh kasih-sayang. "Jangan menangis ..... tak ada orang yang berani menghina dirimu lagi ! Pinceng akan membelamu!!"

Hwee-shio itu sebetulnya bermaksud untuk menghibur Han Han, namun tak tahunya Han Han jadi menangis lebih keras lagi. Hati si bocah jadi terharu berterima kasih pada pendeta ini. "Entah bagaimana aku harus membalas budi Too-tiang. ..... " kata si-bocah sesambatan di antara isak tangisnya. "Too-tiang begitu baik padaku .....!! Biarlah, kalau nanti aku sudah dewasa, aku akan membalas budi Too-tiang itu !!"

"Ya, ya, ya ..... pasti kau akan mempunyai kepandaian yang tinggi dan tak mungkin ada yang berani menghinamu lagi!" hibur si Hwee-shio, pada hal hati Khu Sin Hoo jadi seperti tersayat, sebab dia tabu, asal si bocah tak memperoleh pengobatan yang jitu, dia paling lama hidup hanya tiga bulan lagi. Tak lebih dari itu. Hampir saja orang tua she Khu itu menitikan air mata, tapi dia berusaha untuk membendungnya. Khu Sin Hoo sendiri heran, merupakan seorang jago yang luar biasa, itu yang pantang menyerah pada kesengsaraan yang selalu dihadapi penuh keriangan, juga lawan maupun kawan jeri padanya. Namun sekarang, menghadapi Han Han, timbul rasa kasih sayangnya pada bocah ini !

Han Han berusaha untuk bangun lagi, dia lalu berlutut di hadapan Khu Sin Hoo. Hal ini membikin,si Hwee-shio jadi repot untuk membangunkannya.

"Jangan banyak peradatan! Jangan banyak peradatan!" seru Khu Sin Hoo. "Bangunlah !!"

Han Han duduk kembali setelah memanggutkan kepalanya tiga kali.

"Siapa namamu nak ?" taaya Khu Sin Hoo setelah melihat goncangan hati si bocah agak tenang.

"Aku she Han dan bernama tunggal Han menerangkan si bocah. "Siapakah nama Too-tiang yang mulia, agar aku dapat mengingatnya budi Too-tiang itu?"

Jangan berkata begitu Han-jie     !" kata Khu Sin Hoo cepat. "Pertolonganku

itu tak berarti apa-apa     ! Oya, mengapa kau bisa sampai mengalami hal demikian

macam ?"

Ditanya begitu, Han Han jadi menundukkan kepalanya, wajahnya jadi muram. Dia lalu menuturkan apa yang telah dialami oleh keluarganya.

"Akh ..... rupanya Gin Tiok Su-seng dan yang lain-lainnya telah datang ke daerah ini juga !" gumam Hwee-shio itu setelah mendengar cerita Han Han. Dia

menarik napas lagi. "Kasihan nasibmu, nak ..... jadi sekarang kau mau menuju ke mana ?"

Hen Han menggelengkan kepalanya.

"Sementara ini aku belum mempunyai tujuan Too-tiang !" jawabnya. "Entahlah aku juga tak tahu harus pergi kemana !"

Khu Sin Hoo memandang hiba pada si bocah. "Kalau begitu kau ikut bersamaku saja!" katanya menawarkan. "Kau setuju bukan?"

Cepat-cepat Han Han menekuk lutut berlutut di hadapan Khu Sin Hoo lagi dengan gembira.

Terima kasih Too-tiang      entah bagaimana membalas budi Too-tiang yang

maha besar ini    !!" katanya.

Khu Sin Hoo cepat-cepat membanguni si bocah, kemudian dengan bergandengan tangan seorang bocah cilik yang baru berusia sepuluh tahun dengan Hwee-shio yang sudah lanjut usianya, seorang tokoh silat yang luar biasa, meninggalkan tempat itu !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 13

KHU SIN HOO Jiauw Pie Jilay mengajak Han Han bermalam di Sian-lie- chung, kampung bidadari, yang terletak di tepi sungai Sui-ho. Mereka menginap di sebuah penginapan kecil yang terdapat di kampung itu, juga Khu Sin Hoo membelikan Han Han beberapa perangkat pakaian.

Telah dua hari mereka melakukan perjalanan, dan selama itu Khu Sin Hoo tak melihat adanya tanda-tanda serangan hawa Im-yang di tubuh bocah itu kumat kembali, walaupun wajahnya masih bersemu kehijau-hijauan.

Tapi menjelang tengah malam, di saat Kho Sin Hoo mau tidur setelah bersemedi, hatinya jadi mencelos waktu melihat tubuh si bocah mengigil seperti orang kedinginan. Han Han tidur di pembaringan di seberang, sehingga dia dapat melihat getaran tubuh bocah itu, walaupun dia tak mendengar suara rintihan si bocah.

Cepat-cepat Khu Sin Ho menghampiri, dia memegang tubuh si bocah dan dia jadi terkejut, semangatnya terbang. Tubuh si bocah panas seperti api, tapi dia menggigil seperti orang kedinginan, Khu Sin Hoo telah tahu, inilah gelagat jelek, hawa Im dan Yang sedang mengamuk di dalam diri si bocah itu, Hwee-shio itu jadi terharu melihat kekuatan hati si bocah yang tak merintih waktu mengalami penderitaan semacam itu. "Han-jie .....!" terluncur dari bibir Khu Sin Hoo nama Han Han, dia mengawasi muka Han Han yarg bersemu hitam.

Han Han membalikkan tubuhnya, bibirnya tergetar menahan serangan hawa Im yang dingin, padahal dirinya panas seperti serangan api, dibakar oleh api neraka, karena hawa Yang juga sedang mengamuk dirinya. Namun, walaupun begitu, walaupun sedang mengalami penderitaan yang hebat, si-bocah berusaha untuk tersenyum dengan bibir yang tergetar.

"Too-tiang ..... aku tak apa-apa, Too-tiang .....!" katanya dengan suara yang tergetar menggigil dan agak susah. "Pergilah Too-tiang tidur, besok juga hawa dingin akan lenyap  !!"

Hati Khu Sin Hoo jadi terharu, dia jadi menitikan butir-butir air mata. Orang tua she Khu itu tak dapat menahan gejolak hatinya. Dipeluknya si bocah sambil mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, untuk mengurangi serangan hawa dingin diperutnya, "Apa yang kau rasakan, Han-jie?" tegurnya penuh kekuatiran,

"Perutku ..... perutku seperti kejang dingin sekali, Too-tiang .....!" sahut si- bocah dengan suara yang susah, matanya sayu sekali dan bibirnya tergetar seperti orang kedinginan,

Khu Sin Hoo tak banyak bertanya lagi, dia duduk bersila di pembaringan si bocah kemudian tangannya ditempelkan pada perut Han Han, dikerahkan tenaga Lwee-kang Cit Ciat Tie Mo Tin Lwee-keh', suatu ilmu tenaga dalam yang paling lihai, paling nomor satu .di dalam dunia persilatan, sehingga berangsur-angsur Han Han merasakan semacam hawa hangat murni menerobos masuk keperutnya dan perlahan hawa-hawa dingin yang menyiksa itu buyar dari perutnya,

"Bagaimana perasaanmu Han-jie ?" tanya Khu Sin Ho setelah berselang satu jam lebih,

"Agak lebih baik, Too-tiang     !" sahut si bocah sambil menatap Hwee-shio

itu dengan tatapan mata berterima kasih, '"Ach, aku hanya merepotkan Too-tiang saja !"

Khu Sin Hoo mengulap-ulapkan tangannya memerintahkan supaya Han Han tak bicara dan dia mengerahkan tenaga 'Cit Ciat Tie Mo Tin Lwee-keh', lalu setelah berselang satu jam lagi, barulah Han Han dapat tertidur.

Khu Sin Hoo kembali kepembaringannya, dia jadi kasihan pada nasib si bocah. Juga dia jadi mendongkol pada Kay-san Jie-sian-cie yang telah begitu kejam menurunkan tangan telengas pada si bocah. Menurut mustinya, kalau orang terluka di dalam, sebagai seorang jago nomor wahid, Khu Sin Hoo seharusnya dapat menyembuhkannya. Lebih-lebih dengan menggunakan 'Cit Ciat Tie Mo Tin Lwee-keh', walaupun orang terluka parah, dia pasti akan dapat menyembuhkannya. Namun bedanya, Han Han telah terbuka kedua jalan darahnya yang terpenting, maka sulit bagi orang she Khu itu untuk mengirimkan tenaga murni pada si bocah. Karena kalau dia memaksa terus mengirimkan tenaga murni, pintu dari Thay-yang- hiat si bocah yang memang sudah terbuka itu akan kebanjiran hawa murni ini dan akan menerobos masuk ke It-hiatnya, akibatnya akan hebat, bocah itu akan meninggal. Maka dari itu, Khu Sin hoo tak berdaya untuk mengobati si bocah.

Sampai kentongan ketiga, dia tak dapat tertidur nyenyak, karena orang tua she Khu itu telah memutar otak untuk mencari jalan keluar bagi penyembuhan si- bocah. Terlambat saja pengobatan untuk bocah itu, maka jiwa si-bocah sulit untuk ditarik pulang dari genggaman tangan Giam-lo ong, si raja akherat. Dia jadi sering melirik Han Han yang sedang tertidur dan berulang kali Khu Sin Hoo menarik napas. Sampai mendekati fajar, dia masih tak dapat menemukan jalan untuk mengobati luka si bocah.

Namun, ketika dia mendengar suara kokok ayam yang pertama, tiba-tiba di kepalanya berkelebat suatu ingatan. Dia ingat seseorang, sehingga dia melompat duduk sambil menepuk pahanya.

"Ha, benar !" serunya kegirangan. "Dia pasti akan dapat mengobati Han-jie

!!" tapi, sesaat kemudian wajahnya jadi berubah murung kembali. "Tapi      apakah

dia mau menolong Han-jie ? Sifatnya begitu aneh, selalu angin-anginan, sehingga sulit untuk diminta pertolongannya, lagi pula kalau memang dia sedang gembira, baru dia mau mengobati orang, sedangkan kalau dia sedang mendongko1, biarpun orang itu mati di depannya, tak nanti dia akan menolongnya ! Akh       bagaimana

ini harus kupecahkan ?!" dan Khu Sin Hoo jadi memutar otak lagi.

Ternyata orang yang diingatnya itu adalah Yan Hoa Piek, salah seorang tokoh jago silat di antara ketujuh jago luar biasa itu. Karena, selain mempunyai gelaran Tok Sian Sia atau si-katak berbisa, orang-orang juga memberikan gelaran Tok-beng-lan-sin-she pada Yan Hoa Piek, karena dia mengerti obat-obatan dan sangat lihai sekali dalam pengobatannya. Setiap penyakit tak ada yang tak sembuh di bawah pengobatannya itu. Maka dari itu dia sampai mendapat gelaran Tok- beng-lan-shian-she atau tabib pemulih jiwa. Dan memang kenyataannya, kalau sedang gembira, Yan Hoa Piek memang sering merolong orang, sering mengobati laki-laki orang, tapi kalau dia tak mau, walaupun orang menangis darah di depan mukanya, dia tak nantinya turun tangan menolongnya.' Itulah suatu keanehan sifat Yan Hoa Piek. Malah yang meragukan Kbu Sin Hoo ialah, mereka sebagai jago- jago dari ketujuh jago luar biasa yang selalu memperebutkan gelar untuk jago nomor satu, maka kalau dia sampai memohon-mohon pertolongan Yan Hoa Piek, pamor Khu Sin Hoo akan merosot. Lagi pula itupun kalau memang orang she Yan itu bersedia untuk menolongnya, tapi kalau seandainya dia tak mau menolongnya. Khu Sin Hoo terang tak dapat memaksanya, karena kepandaian mereka berimbang, sama-sama kosen.

Sampai terang tanah Khu Sin Hoo masih tak menemukan jalan keluar untuk menolong Han Han, Akhirnya, orang tua she Khu itu jadi tak tidur semalaman, dia jadi mengambil keputusan untuk melihat gelagat saja. Kalau memang masih dilindungi Thian, maka si bocah pasti tertolong dan walaupun nantiuya tak bisa tertolong juga ..... itu memang; sudah nasibnya Han Han !

Berpikir begitu, Khu Sin Hoo jadi menarik napas dalam-dalam, hatinya sangat iba memikirkan keselamatan Han Han. Walaupun mereka baru bertemu, namun Khu Sin Hoo sangat menyayangi si bocah, seperti juga rasa cinta seorang ayah terhadap puteranya ..... ! Entah mengapa, dia menyukai bocah itu. Cuman sayangnya, dia telah bersumpah tak akan mengambil murid, maka tak mungkin dia akan mengangkat si bocah menjadi muridnya. Dia tak bisa melanggar sumpahnya itu.

Siang harinya, Khu Sin Hoo mengajak Han Han menyeberangi sungai Sui- ho, menyewa perahu Coa Wie Sie. Waktu menyewa perahu orang she Coa itu, di dalam perahu sudah ada dua orang lainnya yang bermaksud menyeberangi sungai Sui-ho itu juga. Mereka duduk membelakangi, sehingga Khu Sin Hoo tak dapat melihat wajah kedua orang itu.

Tapi karena sedang berduka memikirkan luka Han Han, maka Khu Sin Hoo tak mau memperdulikan kedua orang itu, dia duduk di dekat buritan.

Waktu perahu meluncur perlahan-lahan menyusuri sungai Sui-ho itu, Khu Sin Hoo menatap air sungai dengan tatapan mata yang bingung, dia melihat buih- buih air yang banyak ditimbulkan oleh geseran badan perahu, dia jadi teringat pada penghidupan manusia yang menyerupai buih-buih air sungai itu. Lahir, dewasa, lalu tua dan mati, seperti juga air buih itu yaag akhiraya pecah dan leayap .....

manusia juga akhiraya akan mati, dikubur dan menjadi tanah kembali       lenyap

seperti buih-buih air sungai itu!

Mengingat semua itu, Khu Sin Hoo jadi menarik napas, perasaan yang mengganjel dihatinya agak lenyap sedikit. Dia mulai dapat menguasai dirinya ! Perahu Coa Wie Sie masih meluncur terus menyusuri sungai Sui-ho, tapi di saat sampai di tengah sungai, dari arah timur tampak mendatangi dua buah perahu yang bentuknya, berukuran kecil dengan di ujung buritannya menyerupai kepala naga. Perahu itu meluacur dengan kecepatan penuh, sehingga dalam waktu yang singkat telah mendatangi kearah perahu Coa Wie Sie.

Melihat cepatnya perahu itu yang meluncur ke arahnya, Coa Wie Sie jadi gugup, cepat-cepat dia menuju kearah kepala perahunya dan berteriak. "Hei .....

hati-hati !! Jangan jalan secara berendeng begitu, kita akan saling bertubrukan !!" gugup sekali tampaknya juragan perahu ini.

Tapi tak ada penyahutan dari kedua perahu itu dan tampaknya orang-orang di kedua perahu berkepala naga itu seperti tak melayani peringatan Coa Wie Sie, karena kedua perahu itu masih meluncur dengan kecepatan penuh !!

Itulah hebat, kalau sampai terjadi tabrakan, maka kedua kendaraan air itu akan mengalami kerusakan dan bisa karam. Hal itu menggugupkan sekali Coa Wie Sie, dia sampai berteriak-teriak sekuat tenaganya.

Tampak di perahu sebelah kanan dari perahu itu muncul seorang laki-laki dengan muka dipenuhi cabang berewok yang kasar, di pinggangnya tersoren sebatang golok yang besar. Wajahnya bengis menyeramkan. Dia tertawa keras.

"Thian-san Sian-eng .....!" teriaknya nyaring. "Mengapa kalian seperti nona- nona Kang-lam saja ? Mengapa sekarang kalian tak mempunyai nyali untuk menemui kami?" dan kedua perahu itu masih meluncur semakin mendekat. "Kalau kau tetap tak mau mengunjukkan diri, maka terpaksa kami akan menabrak perahu kamu itu agar karam  !!"

Mendengar ancaman itu, kedua orang yang selalu duduk membelakangi buritan, terdengar mendengus. Dan disebabkan dengusannya itu, Khu Sin Hoo jadi melirik, tapi tetap saja dia tak bisa melihat wajah orang.

Coa Wie Sie yang jadi lebih gugup, dia sampai berjingkrak ketakutan. Lebih-lebih ketika kedua perahu itu sudah mendekati, terlihat di ujung dari kepala perahu itu diperlengkapi dengan tiga ujung besi yang menyerupai besi jangkar, maka kalau sampai perahu itu bertabrakan, yang akan menderita kerugian adalah pihak Coa Wie Sie, karena perahunya akan ketabrak karam. Yang lebih hebat lagi, tepian sungai Sui-ho terpisah cukup jauh, sehingga kalau sampai terjadi tabrakan itu, mereka akan kelelap di dasar sungai ! 

Khu Sin Hoo jadi melirik kedua orang duduk membelakangi buritan. Tentu kedua orang itu yang sedang dicari oleh kedua perahu itu. Khu Sin Hoo jadi ingin mengetahui, siapa sebetulnya kedua orang itu yang dipanggil sebagai Thian Sian- seng.

Sedangkan kedua perahu itu telah meluncur semakin dekat keperahu Coa Wie Sie, dengan tiba-tiba kedua orang yang duduk membelakangi buritan itu berdiri, mereka melompat kekepala perahu.

"Kalian dari pihak Mo-in-shia terlalu mendesak kami!" teriak salah seorang di antara mereka. "Baiklah ! Biarlah hari ini kami adu jiwa dengan kalian !"

Lelaki yang ada di kepala perahu yang baru mendatangi itu kembali tertawa. "Hmm rupanya kalian memang Enghiong-enghiong yang gagah berani !"

ejeknya. "Bagus ..... ! kami pihak Mo-in-shia memang tak ingin menyeret-nyeret orang yang tak bersalah. Hai juragan perahu, dekatkan perahu kemari, kau dan penumpangmu yang lain tak akan kami ganggu seujung rambutpun!"

Kedua orang itu, Thian-san Sian-seng, jadi mendengus lagi. Dia mengibaskan tangannya kepada Coa Wie Sie.

"Dekatkanlah perahumu pada perahunya     kami tak ingin disebabkan kami

kalian mengalami celaka !" setelah berkata begitu, dia menoleh kearah Khu Sin Hoo, sehingga Khu Sin Hoo dapat melihat wajahnya. Ternyata dia seorang anak muda yang baru berusia di antara duapuluh empat tahun, potongan mukanya bersegi empat, tampan sekali, tubuhnya juga gagah, ketika melihat Khu Sin Hoo hanya seorang tua yang kurus kering itu, dan juga Han Han seorang bocah yang tampaknya ketolol-tololan, dia jadi tak memperhatikannya lagi.

Coa Wie Sie juga tak berani membantah perintah dari anak muda itu, dia mendekatkan perahunya kearah mana perahu yang tadi dipanggil oleh anak muda itu sebagai Mo-in-shia itu. Perlahan-lahan perahu saling merapat dan di kala badan perahu terpisah tiga tombak, dari kedua perahu berkepala naga itu berlompatan lima sosok tubuh keperahu Coa Wie Sie. Gerakaan mereka ringan sekali, karena waktu mereka

hinggap di perahu orang she Coa itu, perahu tak tergoncang. Semua ini menunjukkan kelihaian Gin-kang mereka, ilmu entengkan tubuh mereka.

Kelima orang yang baru mendatangi itu ternyata berpakaian sama, berwarna serba kuning dan celana hijau. Wajah mereka semuanya ditumbuhi janggut yang kasar sekali. Orang yang tadi pertama muncul di ujung perahu, yang ikut melompat ke-perahu Coa Wie Sie, telah majukan dirinya menghadapi kedua penumpang perahu Coa Wie Sie, lalu matanya menyapu seisi perahu, mereka memandang sambil lalu pada Khu Sin Hoo, lalu tak memperhatikannya lagi. Dia telah ketawa dingin pada si anak muda yang dipanggilnya Thian-san Sian-eng itu.

"Bagaimana ..... apakah kau tetap tak mau menemui ketua kami? " tegur orang bermuka berewok kasar itu.

Kawannya anak muda itu, yang ternyata seorang anak muda juga, mungkin usianya lebih tua satu-dua tahun dari kawannya, telah ketawa dingin.

"Bukankah telah berulang kali kami katakan, bahwa kami masih mempunyai sedikit urusan, maka dengan sangat menyesal kami tak dapat memenuhi panggilan ketua kalian ! " dia menyahuti, "Lain waktu kalau memang kami melalui daerah kamu ini, kami pasti akan mengunjuk hormat pada ketua kalian ! "

Lelaki berewok itu tersenyum dingin, sedangkan keempat kawannya yang lain, yang rata-rata mempunyai muka bengis juga, jadi tak enak dilihat.

"Thian-san Sian-eng.....! " bentak laki-laki berewok kasar tersebut.."Apakah kau benar-benar tak mau memberi muka pada ketua kami?"

Salah seorang di antara kedua anak muda itu, yang lebih mada usianya, telah mendengus dia berkata dingin "Kami dari pihak Pek Bwee Kauw belum pernah mengganggu pihak kalian, mengapa hari ini kalian mau mempersulit diri kami ? " tegurnya, nyata dia tak senang akan sikap orang.

Laki-laki berewok kasar itu ketawa dingin, "Pek Bwee Kauw boleh menjagoi daratan,, tapi di air, jangan harap kalian dapat meloloskan diri dari kami!" katanya tawar.

"Jadi kalian pihak Mo-in-shia benar-benar mau membentur Pek Bwee Kauw?" tegur salah seorang Thian-san Sian-eng, suaranya sudah.mulai panas dan suasana mulai tegang.

"Mana berani kami melanggar pihak Pek Bwee Kauw ?" katanya dengan suara mengejek. "Tapi kalau pihak Pek Bwee Kauw juga bermaksud untuk mengembangkan saya p dan menguasai pihak kami, maka kalian jangan harap bisa melakukannya Hu ! Kalian boleh lihai di daratan, tapi di atas air ini, kami ingin

melihat kekosenan orang-orangnya Pek Bwee Kauw!"

Muka Thian-san Sian-eng jadi berubah, mereka mengerutkan sepasang alis mereka.

"Cioe Wie ! " bentak salah seorang di antara mereka. "Walaupun pihak kalian dari Mo-in-shia menguasai perairan di sini, kami dari pihak Pek Bwee Kauw belum tentu jeri pada kalian ! Hmm.....jangan kalian coba-coba menyentuh pihak Pek Bwee Kauw, karena sekali saja kau berbuat kesalahan, Hu ! Hu ! Biarpun kalian lari ke-ujung lautan, tetap saja jiwa kamu akan kami kejar.....Pek Bwee Kauw belum pernah mau menyelesaikan persoalan habis begitu saja !"

Laki-laki berewok .yang dipanggil Cioe Wie atu mendengus, mukanya berubah jadi tambah bengis,

"Baik !" serunya "Jadi kalian benar-benar tak mau memberi muka pada ketua kami ! Aku, orang she Cioe, belum pernah memaksa atau melakukan kejahatan pada masyarakat, Mo-in-shia selalu berbuat kebaikan, tapi kalau menang kau memaksa juga, maka terpaksa kami harus menyeret kalian menghadap ketua kami !!"

"Boleh saja kalau memang kalian mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu !!" menyahuti salah seorang Thian-san Sian-eng tawar. "Kami tak bentrok dengan Mo-in-shia, tapi kalau terpaksa, hmm, hmm, walaupun kaisar, akan kami tentang juga !!"

Muka Cioe Wie jadi berubah hebat, dia berseru nyaring menggeledek, lalu mencabut golok yang tersoren di pinggangnya.

"Bagus l" serunya murka. "Jadi kau benar-benar tak melihat gelagat !! Lihatlah!" dan dia menunjuk kearah kedua perahunya, di mana tampak- berpuluh- puluh anak buahnya sebagian tak berpakaian sedangkan yang sebagian lagi mementang panah, siap untuk dilepaskan. "Begitu aku memberikan perintah, maka orang-orang kami itu akan terjun ke dalam air dan membor perahu ini, seumpama kalian pandai berenang, tokh, kalian tak mungkin lolos dari panah-panah kami itu!" Wajah Thian-san Sian-eng jadi berubah. Mereka juga harus mengakui, betapa hebat kesudahannya kalau sampai perahu yang ditumpangi mereka itu dibor oleh orang-orang Mo-in-shia. Mereka memang dapat berenang, namun biar bagaimana kalau dihujani oleh panah-panah, mereka tentu tak mungkin dapat menghindari anak-anak panah itu. Lebih-lebih mereka mengetahui bahwa panah-

panah dari orang-orangnya Mo-in-shia itu semuanyai beracun.

"Bagaimana ? Apakah kau tetap tak mau memberi muka kepada ketua kami?" tegur Cioe Wie waktu melihat orang bersangsi.. "Bukankah lebih baik kalau kalian mengikuti kami menghadap pada ketua kami ? "

Salah seorang Thian-san Sian-eng ketawa dingin, walaupun hati mereka agak jeri, namun mereka mendongkol orang memperlakukan mereka demikian macam. Makas seketika itu juga mereka mengambil keputusan untuk mengadu jiwa, untuk bertempur mati-matian melawan orang-orangnya Mo-in-shia. itu. Maka dari itu, di kala melihat orang mencabut goloknya, salah seorang Thian-san Sian- eng tersenyum mengejek.

"Apakah kalian menduga orang-orang Pek Bwee Kauw takut mati ?" serunya. "Lihatlah .....! " dan tahu-tahu 'Sreett !'. dia mencabut pedang, yang dilintangkan di depan dadanya. Perbuatannya itu diikuti oleh kawannya yang seorang lagi. Mereka jadi saling pandang dengan tatapan yang bermusuhan, memancarkan cahaya mata membunuh.

Khu Sin Hoo yang melihat itu jadi menarik napas.

"Akh..... dari tahun ketahun semakin banyak jago-jago muda yang bermunculan namun umumnya mereka sangat ceroboh serta berangasan sekali!"

pikir Khu Sin Hoo Jiauw Pie Jielay. Dia jadi mengawasi, dilihatnya Cioe Wie membolang-balingkan goloknya. Keempat kawannya juga telah mencabut golok mereka masing-masing.

"Hari ini, karena terpaksa Mo-in-shia harus membinasakan orang l" seru si berewok itu. "Nah, jagalah seranganku !!" dia bukan hanya memperingatkan, karena tangannya telah bergerak dengan cepat, goloknya berkelebat menyambar ke arah Thian-san Sian-eng yang lebih tua itu. Cioe Wie menyerang dengan tipu 'Kan- tee Poat-cong" atau 'mencabut bawang ditanah kering!' Serangannya itu cukup hebat, karena goloknya itu mengarah keleher anak muda itu.

Kedua anak muda ita memisahkan diri yang seorang yang mudaan, telah melompat untuk melayani keempat kawannya Cioe Wie. Thian-san Sian-eng menggunakan ilmu pedang Tee Coan Liok Kiam-hoat atau enam ilmu pedang lingkaran bumi. Hebat gerakan kedua anak muda itu, karena setiap pedangnya berkelebat, maka jiwa salah seorang itu pasti terancam, sehingga kelima orang yang mengurungnya itu jadi agak terdesak.

Cioe Wie sendiri di saat goloknya kena ditangkis oleh Thian-san Sian-eng yang tuaan itu, dia menarik pulang goloknya, lalu dengan mengeluarkan bentakan, dia menyerang lagi dengan menggunakan jurus 'Seng Heng Touw Coan' atau Bintang- melintang dan berputar, goloknya menyambar ke dada anak muda itu.

Melihat datangnya serangan itu, si pemuda menangkis, lalu dia berteriak kepada kawannya yang lebih muda itu: "Sung Ming Soe-tee ..... kalau memang perlu, marilah kita membuka jalan darah !!"

Anak muda yang dipanggil Sung Ming mengangguk sambil mengayunkan pedangnya. "Begitupun baik, Auw-yang Soe-heng !!" teriaknya. Dan dengan mengeluarkan seruan, dia menggerakkan pedangnya dengan jurus 'Pay-san-to-hay' atau 'merubuhkan gunung untuk menguruk lautan', pedangnya seperti juga runtuhnya gunung, yang berkelebat-kelebat dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata, berkelebat kearah keempat kawannya Coe Wie, terdengar berulang kali benturan senjata tajam mereka, lalu tampak mereka saling berlompatan menjauhkan diri, kemudian setelah masing-masing melihat senjata mereka, kembali mereka menerjang maju dan saling tempur lagi.

Anak muda yang satunya lagi, Auw-yang, juga menggerakkan pedangnya dengan cepat. Dia tak mau kalah dengan Soe-teenya itu, dengan cepat, dia serang Cioe Wie dengan tiga serangan berantai, masing-masing bernama 'Hwa Liong Tiam Ceng' atau melukis Naga menitik matanya', lalu disusul oleh 'Loan Yauw Ca- lioe' atau 'membungkukan pinggang menancap Yang-liu, dan yang terakhir dia menyerang dengan Lian-hoan-toat-beng-kiam' atau Berantai merampas jiwa. Serangannya yang ketiga inilah yang paling hebat, karena pedangnya itu seperti juga telah berubah menjadi puluhan batang pedang dan mengincar setiap bagian penting dan berbahaya di tubuh Cioe Wie.

Cioe Wie sendiri jadi terkesiap melihat hebatnya anak muda itu. Dia memang sudah mendengar kehebatan Auw-yang tapi dia tak menduganya bahwa anak muda itu dapat menyerang berantai semacam itu. Maka itu, dia tak tak berani berayal, dengan cepat dia memutar goloknya, sehingga dia dapat menangkis serangan-serangan anak muda itu, kemudian, melompat mundur.

"Thian-san Sian-eng     !" serunya.

"Apakah kau benar-benar memilih jalan kematian?" tegurnya dengan suara mengguntur. "Apakah kau benar-benar mau mengambil jalan damai dengan pihak Mo-in-shia.

Anak muda itu sebetulnya bernama Auw-yang Boen, dia ketawa dingin mendengar pertanyaan orang.

"Hmmm ..... walaupun orang-orang Pek Bwee Kauw terkurung oleh lautan pedang dan golok, tapi mereka tentu tak akan menyerah pada manusia-manusia semacam kau !!" katanya dengan suara menghina. "Majulah, aku juga tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi! Jiwamu pasti akan kukirim keakherat !!"

"Jangan kau bicara terkebur, Thian-san Sian-eng ..... !" bentak Cioe Wie. "Hari ini adalah hari kematianmu, walaupun kau dapat lolos dari tangan kami, tapi apakah kau dapat lolos dari panah beracun kami ?" "Tak guna kita banyak bicara." seru Auw-yang Boen dengan suara yang keras. "Majulah !!" dan dia sendiri telah menerjang Cioe Wie. Pedangnya ditusukkan keperut orang, sehingga Cioe Wie terpaksa harus menangkisnya. Suara dua senjaa itu bentrok terdengar nyaring. Kemudian Auw yang Boen telah membarengi menyerang lagi dengan jurus 'To Say Kim-chee' atau 'Menyawer uang emas' pedangnya bergerak cepat sekali.

Berulang kali Cioe Wie terpaksa harus menangkis serangan orang. Dia tahu Thian-san Sian-eng lihai, tak boleh dibuat main, maka itu, tanpa berayal lagi dia mengangkat goloknya tinggi-tinggi untuk menangkis, kemudian tangan kirinya diulap-ulapkan dua kali. Terlihat beberapa orang terjun ke dalam air, itulah anak buah Cioe Wie yang telah bersiap-siap. Mereka menyelam ke dalam air dan menuju keperahu dengan maksud membor bagian perahu itu. Inilah hebat, kalau sampai perahu itu kena dibor tentu mereka yang ada di perahu ini akan ikut karam. Sedangkan kalau mereka pandai berenang, mereka tak mungkin lolos dari panah beracun orang-orang Mo-in-shia itu. Disebabkan itu, Auw-yang Boen dan Sung Ming jadi nekad, mereka bermaksud untuk menawan Cioe Wie, karena dalam anggapan mereka, memenangkan perang harus merubuhkan panglimanya terlebih dulu. Maka itu, dengan seruan yang panjang, Auw-yang Boen dan Sun Ming mengerahkan ilmu pedang Liau Hoan Toat Beng Kiam mereka, menyerang sscara berantai pada orang-orang Cioe Wie, sehingga mereka jadi terdesak hebat. Yang benar-benar kewalahan adalah Cioe Wie, sebab dia bertempur seorang diri melawan Auw-yang Boen, maka itu, di kala orang menyerang dia secara berantai, maka dia jadi kelabakan juga.

"Sung Ming Soe-tee---!" seru Auw-yang Boen pada adiknya pada suatu ketika. "Mari kita tangkap orang she Cioe ini !!" dan pedangnya lebih gencar lagi menyerang Cioe Wie, sehingga benar-benar Cioe Wie keripuhan.

Tapi, biar bagaimana Cioe Wie tetap seorang jago yang cukup kosen, dia tak menjadi gugup disebabkan keadaannya itu. Dia memutar goloknya untuk melindungi tubuhnya dari serangan pedang Auw-yang Boen, sehingga terdengar berulang kali suara benturan senjata tajam mereka. Kemudian dia melompat keburitan sambil berteriak; "Angin kencang .....!" itulah kata-kata sandi untuk mereka, yang artinya kabur.

Auw-yang Boen dan Sung Ming jadi gugup melihat orang akan kabur. Kalau sampai Cioe Wie dan kawan-kawannya terlepas dari tangan mereka, maka akibatnya akan hebat bagi mereka. Maka dari itu, dengan menjejakkan kaki, mereka melesat kearah buritan, namun mereka agak terlambat, karena Cioe Wie dengan kawan-kawannya telah mengenjotkan tubuh mereka, melompat keperahu mereka.

Auw-yang Boen dan Sung Ming jadi mengeluh, kalau sampai orang-orang Mo-in-shia itu terlepas, mereka bisa celaka.

Khu Sin Hoo yang menyaksikan sejak tadi jalannya pertempuran antara Thian-san Sian-seng dan Cioe Wie serta kawan-kawannya itu, jadi menggeleng- gelengkan kepala. Walaupun kalau dilihat sepintas lalu orang-orang itu mempunyai kepandaian ilmu silat yang cukup lumayan, tapi tak ada sarinya, mereka hanya baru mempelajari kulitnya saja .....! Waktu melihat Cioe Wie mau melarikan diri, Khu Sin Hoo juga jadi berkuatir. Karena biar bagaima, kalau sampai orang she Cioe itu terlepas, mereka bisa celaka. Perahu yang mereka tumpangi ini akan tenggelam karam dibor oleh orang-orangnya Cioe Wie. Maka itu, cepat-cepat Kho-Sin Hoo melompat ke arah buritan, gerakannya gesit sekali, sehingga orang-orang yang ada di situ tak dapat melihat tegas. Lalu dengan mengeluarkan bentakan "Tahan !" dia mengulurkan tangannya menjambret punggung Cioe Wie.

Cioe Wie mengetahui datangnya serangan itu dari samberan angin, namun ketika dia belum tahu apa-apa, tak terduga punggungnya sudah kena dicengkeram oleh Kho Sin Hoo sampai orang she Cioe itu mengeluarkan seruan tertahan. Lebih- lebih ketika dia merasakan dua jalan darahnya tertotok, yaitu Jwan-ma-hiat serta Khie-keng-hiatnya, seketika itn juga semangatnya lenyap dan tubuhnya jadi lemas di dalam cengkeraman Khu Sin Hoo.

Pada saat itu Khu Sin Hoo sendiri telah turun di buritan lagi dengan di tangannya menenteng Cioe Wie.

''Perintahkan orang-orangmu untuk 'menyingkir!" perintah Khu Sin Hoo dengan suara yang berwibawa. "Nanti Pin-ceng melepaskan kau dalam keadaan selamat !"

Cioe Wie mendelikkan matanya pada orang yang telah menawannya, dilihatnya bahwa orang itu adalah Hwee-shio yang menjadi penumpang kapal Coa Wie Sie itu juga. Dia jadi mendongkol dan matanya mendelik bertambah lebar.

Anak buah Cioe Wie jadi terkejut melihat pimpinan mereka kena ditawan musuh, mereka jadi berseru-seru murka dan akan meluruk ke kapal Coa Wie Sie, sehingga jurangan kapal itu jadi ketakutan sekali dan bersembunyi di belakang tiang layar. Apa lagi waktu dilihatnya anak buah Cioe Wie telah mementang gendewa dengan anak panah ditujukan kearah kapalnya, tubuh orang she Coa yang menjadi juragan perahu itu jadi menggigil saking ketakutannya.

Khu Sin Hoo telah meletakkan Cioe Wie di lantai perahu, tapi Cioe Wie tetap tak dapat bergerak, karena dua jalan darah penting yang berada di tubuhnya telah ditotok oleh Hwee-shio itu. Itulah yang membikin hati Cioe Wie jadi mendongkol dan murka, sahingga dia jadi mengawasi Hwee-shio itu dengan mata mendelik lebar.

Khu Sin Hoo telah merangkapkan tangannya sambil menyebut nama sang Buddha.

"Perintahkantah anak buah Sie-coe mundur menjauhi perahu kami !" kata Khu Sin Hoo sabar. "Nanti Sie-coe pasti kami lepaskan dalam keadaan selamatl"

Cioe Wie tak menyahuti, dia melotot kepada si Hwee-shio. Sedangkan Thian San Sian-eng telah menghampiri mereka dan memberi hormat pada Khu Sin Hoo.

"Terima kasih atas bantuan Loo-cianpwec .....!" kata mereka hampir berbareng dan memberi hormat kepada Khu Sin Hoo.

Khu Sin Hoo merangkapkan tangannya membalas pemberian hormat orang.

Dan ketawa sabar.

"Tak ada yang perlu diucapkan terima kasih !" kata si Hwee-shio. "Semua ini kulakukan hanyalah untuk keselamatanku juga ..... tak ada sangkut pautnya dengan kalian !"

Muka Thian-san Siang-eng jadi berubah merah, tapi mereka tak marah dan tak berani berlaku ceroboh, karena tadi mereka telah melihat kegesitan orang, yang diduganya tentunya berkepandain tinggi sekali. Mereka menyingkir ketepi perahu.

Khu Sin Hoo telah menuju ke buritan perahu, dia mengnadapi kawannya Cioe Wie.

"Dengarlah!!" teriakuya dengan suara yang n yaring. "Kawan kalian berada di tangan kami, maka jika kalian melakukan suatu tindakan yang merugikan kami, jiwa kawanmu itu tak terjamin lagi jiwanya !! Menyingkirlah, berilah kami jalan!!"

Kawan-kawan Cioe Wie yang berada di kedua perahu berkepala naga itu jadi gaduh, mereka ada yang memaki-maki si Hwee-shio, ada juga yang kasak- kusuk merundingkan sesuatu. Tapi nyatanya, kedua perahu itu kemudian menyingkir ke tengah, memberi jalan kepada perahu Coa Wie Sie. Jiauw Pie Jielay Khu Sin Hoo melambaikan tangannya memanggil juragan perahu she Coa itu, yang menghampiri dengan tubuh menggigil, Khu Sin Hoo memerintahkan padanya untuk menjalankan perahunya. Coa Wie Sie mengiyakan, dia lalu mengemudikan perahunya lewat di samping kedua perahu lawan yang telah menghadang perjalaaan mereka. Tubuh Coa Wie Sie jadi lebih gemetar waktu dia melirik dan kebetulan melihat pandangan orang-orang yang ada di atas kedua perahu itu yang garang luar biasa. Dia sampai menundukkan kepala tak berani menatap lagi.

Khu Sin Hoo sendiri telah kembali duduk di samping Han Han. Dia tak memperdulikan Thian-san Sian-eng, itu sepasang pendekar dari gunung Thian-san. Auw-yang Boen dan Sung Ming kakak beradik seperguruan itu juga salah tingkah. Sebetulnya mereka ingin menyatakan terima kasih mereka sekali lagi pada Khu Sin Hoo karena secara tak langsung Hwee-shio tua itu telah menyelamatkan jiwa mereka. Tapi melihat sikap Hwee-shio itu yang dingin dan wajahnya yang murung, mereka jadi tak berani menghampiri. Akhirnya mereka duduk di dalam

tenda.

Perahu meluncur terus, sedangkan kedua perahu Mo-in-shia mengikuti dari belakang dalam jarak tertentu. Khu Sin Hoo melihat itu, dia memerintahkan Coa Wie Sie untuk mempercepat jalannya perahu. Dengan kegugupan menguasai dirinya, Coa Wie Sie mengiyakan, lalu menambah kecepatan jalannya kendaraan air ini !

Setelah berjalan agak jauh juga, akhirnya Khu Sin Hoo menggapekan tangannya pada Thian-san Sian-eng.

"Kemari kalian !!" pauggilnya.

Cepat-cepat Thian-san Sian-eng menghampiri, mereka menjura pada Hwee- shio itu.

"Ada perintah apakah To-tiang ?" tanya mereka hampir berbareng.

Khu Sin Hoo memang paling aneh sifatnya, kalau dia tak senang dengan seseorang walaupun orang itu menegurnya dengan cara yang sopan dan manis, tokh dia tetap tak menyenangi orang itu. Maka itu, waktu mendengar pertanyaan Thian-san Sian-eng, dia hanya mendengus. Orang tua she Khu ini tadi telah mendengar kedua anak muda itu bicara terlalu takabur, padahal kenyataannya kepandaian mereka tak seberapa.

"Tadi kalian menyebut-nyebut tentang Pek Bwee Kauw !" katanya dengan suara yang dingin. "Kalian pernah apa dengan Thio See Ciang, itu Kauw-coe dari Pek Bwee Kauw ?!"

Mendengar ditanyakannya Thio See Ciang cepat-cepat Auw-yang Boen dan Sung Ming memberi hormat. "Kami adalah bawahan Thio Kauw-coe .....!" mereka menyahuti. "Apakah Loo-cianpwee sahabat dari Thio Kauw-coe ?" mereka tetap memanggil Loo- cianpwee, sebab mereka melihat, selain usia Hwee-shio itu sudah lanjut benar, juga kepandaiannya sangat tinggi sekali. Mereka menyaksikan kepandaian Hwee-shio itu tadi waktu mencekuk Cioe Wie.

Khu Sin Hoo telah mendengus.

"Hu! Hu! Apakah Thio See Ciang pantas menjadi sahabatku ?" si Hwee-shio menggumam seorang diri, suaranya tawar.

Auw-yang Boen dan Su Ming jadi melengak. Tadi orang telah membela mereka, karena itu mereka menduga paling sedikit Hwee-shio ini tentu sahabat Kauw-coe mereka. Tapi nyatanya sekarang kalau didengar dari nada suaranya, si Hwee-shio sangat meremehkan Kauw-coe mereka itu. Mereka benar-benar jadi bingung.

"Too-tiang     " panggil mereka.

Tapi belum lagi perkataan mereka itu selesai diucapkan, Khu Sin Hoo telah memotongnya : "Sebetulnya mengapa di antara kalian dengan orang-orang Mo-in- shia itu sampai tcrjadi bentrokan?"

"Semua ini disebabkan orang-orang Mo-in-shia gila hormat!" menerangkan Auw-yang Boen. "Kami kebetulan lewat di daerah mereka, dan mereka telah meminta agar kami mengunjuk hormat pada ketuanya namun disebabkan cara mereka kasar, Boan-pwee berdua telah menolaknya. Mereka jadi marah dan memusuhi Boan-pwee berdua."

Khu Sin Hoo ketawa dingin.

"Mo-in-shia memang bukan suatu perkumpulan yang baik!" katanya perlahan. "Tapi Pek Bwee Kauw juga tak dapat disebut sebuah perkumpulan yang baik, karena aku sendiri sering mendengar tentang kekejaman orang-orang Pek Bwee Kauw yang sering mengganggu ketenangan masyarakar. Di sini, kebetulan kita berjumpa, aku si-Hwee-shio miskin ingin menasehati, agar setibanya di daratan, kuminta kalian kembali ke jalan yang benar, tinggalkanlah perkumpulan Pek Bwee Kauw yang kotor itu. Kulihat dari wajah kalian, kamu berdua masih muda sekali. Maka dari itu, kalau sampai kalian terjatuh ke dalam tangan Pek Bwee Kauw dan menjadi anak buahnya, maka hal itu bukanlah akan meajadi bahan tertawaan orang-orang Kang-ouw !"

Auw-yang Boen dan Su Ming jadi tak tenang, karena si Hwes-shio sangat cerewet dan memberi nasehat-nasehat yang dirasakan tak perlu oleh orang she Auw-yang dan Su Ming. Yang membikin hati mereka mendongkol ialah tentang peaghinaan kepada Kauw-coe mereka sendiri. Maka dari itu, Auw-yang Boen telah membungkukan tubuhnya memberi hormat kepada Khu Sin Hoo.

"Too-tiang telah menolong kami, hal itu tentu takkan kami lupakan      tapi

sekarang, kalau memang Loocian-pwee mengeluarkan sekali lagi kata-kata menghina terhadap Kauw-coe kami, dengan sangat menyesal kami harus mengatakan kepada Too-tiang, walaupun kaisar dan lautan golok, kami takkan mundur, biarlah kami menebus segalanya dengan jiwa kami !!"

"Jadi apa maksud kalian ?" tegur Khu Sin Hoo dingin, sambil melirik pada Cioe Wie yang masih menggeletak tak berdaya, karena jalan darahnya tetap membeku akibat totokan dari Khu Sin Hoo. Perahu Coa Wie Sie juga masih meluncur terus, diikuti oleh Mo-in-shia dalam jarak tertentu.

Auw-yang Boen ketawa dingin.

"Bagi kami mati adalah biasa .....!" katanya agak berani. "Maka dari itu, kalau ada orang yang berani menghina perkumpulan kami atau Kauw-coe kami, biarpun mati, kami akan mernbelanya sampai titik darah kami yang penghabisan!!''

Mendengar perkataan Auw-yang Boen yang bersemangat itu, Khu Sin Hoo tersenyum tawar.

"Hebat! Hebat !!" katanya dengan suara mengejek ..... "Kalian baru merupakan dua orang bocah bau pupuk, untuk apa bicara begitu sombong di hadapanku ?! "

Wajah Thian-san Siang-eng jadi berubah hebat, dari pucat lalu berubah menjadi merah padam lagi,

"'Siapakah Sian-soe sebenarnya ? " tegur Sang-Ming mendongkol.

"Apakah kau benar-benar ingin mengetahui namaku ? " tanya si Hwee-shio sambil ketawa. Sung-Ming mengangguk..

"Yar ..... katakanlah, mungkin kalau memang Sian-soe keberatan, memang tak menjadi soal, tapi semua ini pasti akan kami laporkan kepada Kauw-coe kami!" "Bagus!" seru Khu Sin Hoo keras. "Aku, memang ingin sekali-sekali dapat bertemu dengan Thio See Ciang, agar aku bisa menghajarnya, agar lain kali kalau dia memilih anak buah lebih hati-hati dan memilih orang yang sopan, tahu etiket

..... ! "

Auw-yang Boen jadi menegerutkan sepasang alisnya.

''Bolehkah Boan-pwee mengetahui namai Sian-soe yang besar ?" tanyanya, "Hmmm ..... nama besar ! Nama besar !! Apa gunanya nama besar kalau dalam kenyataannya kita tak mempunyai kepandaian yang tinggi ? Untuk apa semua itu ?!"

Auw-yang Boen dan Sung Ming jadi tambah mendongkol. Biar bagaimana mereka adalah anggota Pek Bwee Kauw, maka biar Hwee-shio itu telah menolong mereka secata lak langsung, tapi kalau Hwee-shio ini berani menghina Kauw- coenya, mereka tentu akan bertempur menerjang Hwee-shio itu.

Melihat kelakuan kedua anak muda itu, kembali Khu Sin Hoo ketawa ewa. "Orang-orang di dunia persilatan memanggilku dengan sebutan si Khu tua

..... sedangkan namaku Sin Hoo ..... !" menerangkan Sin Hoo dengan suara yang perlahan. Sikapnya tenang luar biasa.

"Khu ..... Khu Sin Hoo?" tanya Auw-yang Boen dan Sung Ming terkejut. Walaupun mereka belum pernah bertemu dengan Khu Sin Hoo, tapi mengandalkan cerita-cerita yang didengar dari orang-orang angkatan yang lebih tinggi dari mereka, mereka mengetahui kepandaian Khu Sin Hoo sukar diukur. Mereka jadi menatap bengong pada Hwee-shio tua itu, lalu beralih pada Han Han yang juga sedang mengawasi mereka, kemudian mereka memandang Khu Sin Hoo lagi,

Jiauw Pie Jie Lay Khu Sin Hoo telah ketawa tawar.

"Pergilah kalian mengasoh ..... aku tak mau diganggu lagi!" katanya dingin, dia mengibaskan lengan bajunya yang kebesaran, sehingga serangkum angin serangan menerjang Auw-yang Boen dan Sung Ming, membuat kedua anak muda yang bergelar Thian-san Sian-eng jadi terhuyung ke belakang beberapa tindak. Mereka jadi kagum cara mengirim angin serangan, .meminjam tenaga luar hal itu jarang sekali dapat dilakukan oleh jago-jago silat, kafan ssumpa-manya mereka belum mengetahui dan bisa mengendalikan hawa murni yang berpusat di Tan-tian-

..... Thian-san Sian-eng jadi tak berani berayal lagi, mereka mengundurkan diri dan duduk di tempat asalnya yang membelakangi buritan.

Ssbetulnyi nasib kedua orang Pek Bwee Kauw itu masih baik, karena kalau saja Han Han mengetahui bahwa Kauw-coe dan Pek Bwee Kauw itulah yang menyebabkan ayah dan ibunya menjadi gila, maka siang-siang jiwa mereka pasti akan terbunuh di situ juga oleh Khu Sin Hoo. Untung saja si bocah hanya mengetahui bahwa orang yang mendatangi rumahnya adalah Kim-see Hui Hong, Bo Tho, Jie Su-ok dan Giok Hok-shia. Sebab itulah, walaupun Khu Sin Hoo mengetahui jeleknya perkumpulan Pek Bwee Kauw yang sering main hakim sendiri dan sangat telengas sekali, namun dia tak membunuh orang Pek Bwee Kauw itu, dalam anggapannya mereka tentu tak mengetahui segala apa yang dilakukan oleh Kouw-coe mereka sendiri !! Itulah nasib baik dari Thian-san Sian- eng !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)