-->

Seruling Haus Darah Jilid 01

 
Jilid 01

BUNGA SALJU menyelimuti bumi, Telaga Tay-ouw bagaikan singgasana, Sang pahlawan mengangkat pedang,

Angin Liang-san dan rembulan lembut bagaikan sutera, Sang pahlawan berseru menyerang,

Menentang, menyerbu, menyerang, Semuanya berjalan penuh kegagahan, In Lam dan In Cui dua kerajaan,

Gadis Kang-lam berkain merah memetik bunga, Menyoren pedang untuk menyerang lawan,

In Lam dan In Cui memang dua kerajaan jaya, Tiada lawan yang berani menentang,

Namun akhirnya Pek Kiang - Yang Liu Telah kuncup tak melambai,

Menyebabkan Huang - ho dan Yang -tze - kiang tak mengalir, Karena akan berakhirnya sebuah jaman ......

PENGANTAR

SYAIR YANG - LIU PIAUW - PIAUW atau Lambaian Pohon Yang - liu adalah hasil buah kalam penyair besar pada dinasti Song bernama Coa Tauw. Di dalam syair itu, Coa Tauw ingin melukiskan berachirnya suatu

ahala, berakhirnya dinasti-Song. sendin. Pohon 'pek-kiang' dan pohon 'yang-Iiu' yang terdapat di daIam syair itu diumpamakan Hong-tse Sun Tie dan Hong hauw, si permaisuri, yang disebabkan ketidak becusan Hong-tee, kaisar itu, yang memegang tampuk pemerintahan, maka sampai terjadi suatu pembunuhan terhadap dua orang menteri setia, yang di-ungkapkan di dalam syair Coa Tauw itu sebagai 'hoang-ho' dan 'yang-tze-kiang'. Kedua menteri kerajaan yang setia itu masing- masing bernama Siu Lek dan Him Pak-Siang. Mereka telah membela negara penuh pengabdian, tapi disebabkan hasutan Hong-hauw, si permaisuri, maka Hong-tee Sun-tie telah membinasakan kedua keluarga mentri setia itu, besar kecil, laki-laki- wanita, ayam dan anjing, sejumlah tiga ratus empat puluh tujuh djiwa. Hal itu telah membangkitkan kemurkaan rakyat. sehingga timbul pemberontakan dibeberapa kota. Coa Tauw yang melihat keadaan itu, telah mengenalkan akan runtuhnya suatu dinasti.

Dan, walaupun syair itu syair kuno, sudah menjelang ribuan tahun, namun banyak yang mengagumi dan mengenangkan keperwiraan kedua menteri setia dari ahala Song tersebut, sehingga orang besar kecil sering menyanyikan syair itu. Sampai anak-anak-pun senang membawakan syair itu, terbukti ketika itu di tepi sungai Sui-ho, di mana tampak beberapa gadis cilik yang memakai koen berkembang sedang menyanyikan syair itu memetik bunga. Pada saat itu menjelang musim semi, sehingga keindahan daerah selatan di tepi sungai Sui-ho sangat indah, bunga-bunga mulai mekar dengan warna warni yang cemerlang.

Sungai Sui-ho termasuk sungai yang cukup besar, walaupun tak dapat dibandingkan dengan Yang-tze-kiang, namun sungai Sui-ho masih lebih luas dan lebar kalau dibandingkan dengan sungai Hoa-hoa-ho, sungai bunga, yang terdapat di daerah Kang-lam. Sui-ho mengaliri perbatasan desa Sian-lie-chung, desa bidadari, dengari desa-desa lainnya, juga merupakan sungai yang hidup dalam bidang perdagangan, sebab di tepi sungai tersebut merupakan pusat perdagangan dari desa Sian-lie-chung.

Sebagai pusat keramaian, maka ditepi sungai tersebut terdapat banyak pedagang dan rumah-makan. Juga banyak yang mencari hidup dengan menyewakan perahu kepada orang yang mau melalui jalan air untuk pergi dari desa yang satu ke desa yang lainnya.

Pagi itu matahari mulai muncul dari perut bumi, gadis-gadis cilik yang telah berpakaian rapih, sedang memetik bunga sambil menyanyikan syair Yang-liu Piauw-piauw. Mereka gembira sekali tampaknya.

Di tepi sungai Sui-ho sebelah barat, tampak Coa Wie Sie sedang repot membersihkan perahunya. Di bagian buritan perahunya itu terdapat kerusakan, kemarin terbentur dengan karang yang banyak terdapat dt tengah sungai Sui-ho. Entah sudah berapa puluh kali Coa Wie Sie menggerutu seorang diri, sambil menambal perahunya yang bocor itu.

"Coa-heng      hari ini kau sedang repot sekali rupanya ?!" tegur Tiang Hok,

seorang tukang perahu juga, yang baru sampai di tepi sungai akan pergi keperahunya.

Coa Wie Sie menoleh, dilihat kawannya itu. "O, kau Tiang-heng ?!" katanya sambil terus mendempul perahunya. "Beberapa hari ini badanku sedang sial, Tiang-heng ! Tidak karuan juntrung perahuku nubruk karang sampai bocor ! Haii, sial benar beberapa hari ini, mana yang menyewa perahu agak sepi !"

Tiang Hok tertawa, menertawakan kawannya.

"Tak apa-apa Coa-heng, anggap saja sebagai pelajaran !" kata Tiang Kok kemudian. "Aku sudah berapa kali menasehatimu agar hati-hati kalau mengendarai perahu, tapi kau tak pernah mau mendengar kata-kataku itu !!"

Coa Wie Sie menarik napas kesal.

"Tiang-heng, bukannya kau membantuku, eh-eh malahan kau hanya meributi saja, mengganggu ! !" kata Wie Sie mendongkol.

Tiang Hok tertawa lagi ketika melihat kemendongkolan kawannya itu.

"Kau kira aku tak mempunyai pekerjaan ?!" tanyanya sambil tetap tertawa. "Aku juga harus bekerja mencari sesuap nasi ! !"

Coa Wie Sie tak meayahuti perkataan kawannya, dia repot menutupi perahunya yang bocor itu. Sedangkan Tiang Hok telah melangkah pergi.

Namun ..... baru saja Tiang Hok berjalan beberapa langkah, terdengar suara menggelindingnya roda kereta yang ramai sekali disertai oleh seruan-seruan yang panjang dan bengis. Tiang Hok membatalkan maksudnya untuk pergi ke perahunya, dia kembali ke tempat Coa Wie Sie yang pada saat itu sedang memandang ke arah kereta yang sedang mendatangi ditarik oieh dua ekor kuda yang sehat. .

"Coa-heng ...." kata Tiang Hok sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tak mengerti, mengapa kalau tentara-tentara Boan itu selalu menimbulkan kericuhan saja?!"

Wie Sie mengangguk sambil berdiri dan mengawasi kereta yang masih tetap larat ke arah mereka. Di atas kereta itu tampak dua tentara Boan, mereka mengayun-ayunkan cambuknya sambil membentak-bentak dengan suara yang bengis. Wajah mereka angker sekali. Di belakang kereta itu, tampak dua orang tentara Boan lainnya mengikuti dengan kuda. Penduduk yang berada di jalan cepat-cepat menyingkir kepinggir, takut ditabrak oleh kereta itu. Sikap mereka ketakutan sekali.

"Mau kemana lagi tentara itu, Coa-heng?" tanya Tiang Hok seperti kepada dirinya sendiri. "Kemana lagi kalau bukan ke rumahnya Ong Wang-gwee !" sahut Wie Sie tanpa menoleh. "Biasa ..... hartawan itu selalu berhubungan dengan orang- orangnya pemerintah! !"

Tiang Hok menarik napas, sepasang alisnya berkerut.

"Hu, kalau aku bisa silat, pasti Wang-gwee. terkutuk itu kubunuh !" katanya mendongkol. "Coba kau pikir saja Coa-heng, apakah pantas Ong Wang-gwee memerintahkan tentara-tentara Boan itu menindas bangsa kita sendiri, bangsa Han?!" Semakin bicara, Tiang Hok jadi semakin sengit, sehingga suaranya semakin keras.

Wie Sie tertawa mendengar perkataan kawannya.

"Hati-hati dengan mulutmu, Tiang-heng !" dia memperingati. "Kau jangan asal pentang mulutmu saja, nanti kalau ada yang dengar dan menyampaikan pada Oag wang-gwee, keluargamu bisa repot ..... lehermu bisa dipenggal putus !"

Tiang Hok tak menyahuti perkataan kawannya, dia hanya menatap ke arah kereta tentara Boan yang kala itu sudah melalui tempat mereka sesjauh beberapa tombak. Tapi, tiba-tiba Tiang Hok dan Coa Wie Sie jadi heran waktu melihat kereta itu berhenti dan tentara-tentara itu membentak-bentak dengan suara yang bengis, tampaknya mereka sedang murka. Malah salah seorang di antara mereka, yang berada di atas kereta, dan kedua tentara yang menunggang kuda di belakang kereta itu, telah lompat turun. Terdengar suara ribut-ribut di antara mereka.

Coa Wie Sie dan Tiang Hok jadi ingin' mengetahui, mereka menghampiri agak mendekat bersama-sama dengan penduduk lainnya.

Ternyata ketiga tentara itu sedang mengurung seorang laki-laki kurus kering yang sudah agak lanjut usianya. Pakaiannya sangat kumal dan dekil, dia memakai baju panjaug yang berwarna hijau dan topi segi lima yang sudah lapuk. Rambutuya panjang sekali, Wajahnya tak dapat terlihat tegas, karena agak tertutup oleh tepi segi limanya itu.

"Bangsat! Kau benar-benar cari mampus?!" terdengar salah seorang tentara itu membentak bengis. "Mau apa kau melintang di jalan ini?!"

Laki-laki tua itu masih menudukkan kepalanya, dia melirik dengan matanya yang memancar tajam, menjalari muka tentara itu. Sikapnya dingin sekali. Sangat tenang.

"He, jembel !" bentak tentara yang satunya waktu melihat lelaki asing itu masih berdiam diri. "Apakah kau gagu ?! Hu, kau benar-benar mencari mampus !" dan tentara itu mengayun cambuknya ke arah lelaki tua tersebut dengan niat ingin menghajar muka si kakek. Cambuk si tentara terayun cepat sekali, meluncur menyambar kearah muka orang itu. Hati Tiang Hok dan Coa Wie Sie jadi kebat- kebit menyaksikan peristiwa itu, juga dengan penduduk lainnya, mereka menduga lelaki yang sudah tua itu akan menderita siksaan hebat dari ketiga tentara yang ganas itu.

Tapi ..... kejadian itu sebetulnya di luar dugaan. Ketika cambuk itu hampir mengenai mukanya, lelaki tua tersebut memiringkan sedikit kepalanya kekanan, lalu mengulurkan tangannya, membetot perlahan sekali sambil membentak, dan

..... loch ! Tubuh tentara itu seperti terbang melewati kepala lelaki tua tersebut dan ambruk di bumi sambil mengeluarkan jerit kesakitan !

Dari mulut dan hidungnya lantas saja mengucurkan darah segar, ketika tentara itu merangkak bangun, dia meludah, membuang dua giginya yang telah rontok.

Dua tentara lainnya dan tentara yang seorangnya lagi, yang masih tetap duduk di atas kereta, jadi kesima, mereka memandang terpaku pada kawan mereka yang bor-boran darah. Penduduk Sian-lie-chung. Tian Hok dan Coa Wie Sie, jadi kesima juga sesaat, lalu tanpa mereka sadari, mereka telah bersorak secara serentak.

Mendengar suara sorakan itu, tiga orang tentara lainnya tersadar dengan murka. Sambil mengeluarkan bentakan keras dan bengis, mereka mencabut golok yang tersoren di pinggang mereka dan menyerang lelaki tua itu. Tentara yang duduk di kereta masih belum turun, dia anggap kedua kawannya itu dapat menyelesaikan situasi. Dia hanya mencekal goloknya erat-erat, untuk menjaga sesuatu.

"Jembel, rupanya kau pemberontak, heh ?!" bentak salah seorang dari kedua tentara itu ''Kau pemberontak yang mau melawan kerajaan Boan, heh ?!" dan dia menyerang. Goloknya yang berkilat tertimpah cahaya sang surya pagi berkelebat cepat sekali menyambar ke arah leher lelaki tua itu.

Namun lelaki bertopi segi lima itu tetap berlaku tenang. Ketika kedua golok itu turun dengan cepat ke arah lehernya, dia mengulurkan tangannya dan kedua tentara itu jadi berdiri terpaku mematung, sebab mata pedang mereka terjepit di antara jari tangan lelaki tua tersebut, tak dapat bergerak, seperti dijepit oleh jepit besi. Kedua tentara itu menarik sekuat tenaga mereka, lapi golok mereka tetap tak bergerak. Butir-butir keringat telah memenuhi wajah mereka, di kening dan di tubuh mereka. Wajah kedua tentara itu pucat sekali, tubuhnya menggigil. Sedangkan lelaki tua itu masih berdiri tenang dengan jari-jari tangannya menjepit terus kedua golok kedua tentara yang menyerangnya.

Pada saat itu, tentara yang seorangnya lagi, yang tadi terlempar, telah dapat bangun berdiri. Dia murka sekali dan dengan geram dicabutnya golok yang tergantung di pinggangnya. Ketika melihat keadaan kedua kawannya, dia menyerang punggung lelaki tua itu secara membokong.

Tapi tentara yang seorang ini apes nasibnya, ketika mata golok hampir menusuk punggung lelaki itu, dengan tak terduga kaki lelaki tua itu menyapu dan menendang goloknya, sampai terpental, lalu kakinya membarengi menjurus terus dengan tendangan lurus mengenai dada tentara yang menyerang dengan main bokong itu.

Tampaknya tendangan si kakek perlahan sekali, tapi hebat kesudahannya dan sangat mengerikan. Tentara itu terlempar sambil mengeluarkan jeritan ngeri, tubuhnya menggelepar-gelepar menggeletak melintang di-jalan dan napasnya seketika itu juga berhenti. Tentara itu telah terbang ke langit ketujuh menghadap Giam-lo-ong!

Sedangkan kedua tentara Boan lainnya yang masih belum berhasil menarik golok mereka, yang masih terjepit ketat oleh jari-jari tangan lelaki berkopiah segi lima itu, jadi gemetar mendengar suara jeritan kawannya. Dan hati mereka jadi mencelos waktu golok mereka patah di tangan kakek itu.

"Mampus kalian, anjing-anjing Boan!" bentak si kakek sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan dan tepat sekali kedua telapak tangannya itu menghajar dada kedua tentara Boan tersebut.

Kedua tentara Boan yang diserang si kakek tak menjerit, hanya mata mereka yang mendelik seakan mau melompat keluar. Wajah mereka membayangkan kesakitan yang sangat. Waktu lelaki berkopiah segi lima yang telah butut itu menarik kembali tangannya, tubuh kedua tentara Boan tersebut rubuh ke bumi, menggeletak melintang dan setelah menggelepar beberapa kali, lalu ..... mati ! Di dada mereka tertinggal bekas telapak tangan si kakek, bekas telapak tangan itu biru, hangus kehitam-hitaman, seperti terbakar.

Sambil tertawa tawar dan memandang dengan sudut matanya pada tentara Boan yang masih hidup dan berada di atas kereta dengan wajah yang pucat, si lelaki kurus bertopi segi lima yang telah butut, menarik pecahan kain-kain baju dari kedua tentara Boan yang telah mati, yang telah hangus dan menempel mencetak sebesar telapak tangannya. "Kau belum angkat kaki, apakah kau mau mampus seperti ketiga kawanmu itu?" bentak lelaki tua bertopi segi lima itu. Dingin suaranya.

Tentara Boan yang seorang ini pucat sekali wajahnya, dia tak berani menunjukkan sikap garangnya seperti tadi sebelumnya. Dengan sekali menarik tali les kuda, dia melarikan kereta itu.

Tapi ketika kereta tersebut melewati lelaki tua bertopi segi lima yang telah membunuh ketiga tentara Boan, si kakek dapat melihat dengan matanya bahwa di dalam kereta itu duduk seorang gadis yang berusia di antara empat Iima belas tahun. Melihat wajah gadis cilik ini wajah lelaki tua aneh tersebut jadi berobah hebat. Dengan mengeluarkan seruan lirih, dia melompat ke kereta itu, terapung dengan kecepatan yang tak dapat dilihat dengan jelas, lalu terdengar jeritan tentara Boan yang di kereta itu.

Mengerikan sekati. Tubuh tentara Boan itu rubuh terdampar di tanah dengan kepalanya telah remuk dihajar oleh lelaki aneh itu. Sedangkan kereta telah berhenti, karena kuda-kuda dari kereta tersebut telah ditahan oleh kekuatan tangan lelaki aneh itu,' Tenaga yang tak dapat diukur kalau melihat cara bagaimana si- kakek menarik les kuda dan menahan larinya si binatang tunggangan itu.

Wajah si kakek.menyeramkan sekali, dia menghampiri pintu kereta, membukanya dan memandang gadis yang duduk di dalam kereta.

Sedangkan gadis yang berada di dalam kereta jadi ketakutan, wajahnya pucat dan tubuhuya menggigil. Memang sejak tadi dia telah menyaksikan kekejaman si kakek yaug dapat membunuh keempat tentara Boan yang mengawalnya dengan mudah, maka begitu melihat wajah kakek yang menyeramkan, si gadis hampir saja tak dapat menahan mengucurnya air mata.

"Siapa namamu ?" bentak lelaki tua aneh itu dengan suara yang bengis, dia tak memperhatikan seruan kaget dari penduduk desa Sian-lie-chung.

"O,      kau mau apa Lopek?" tanya si gadis ketakutan.

"Siapa namamu ?!!" bentak lelaki aneh itu lebih keras dan bengis. "Namaku ..... namaku Siu Lan !" sahut si-gadis dengan suara tergetar.

Lelaki tua itu mendengus, wajahnya tetap bengis dan menyeramkan. "Apa she mu ?!" bentak si kakek lagi.

"She she Ong !" hampir saja ia menangis saking ketakutan melihat wajah

si kakek yang menyeramkan itu,

"Hmmm, ..... kulihat kau bukan bangsa Boanl'' katanya dingin. "Kau adalah bangsa Han, tapi mengapa kau mau dikawal oleh anjing Boan itu ?!" "Aku ..... aku tak tahu Lo-pek ...... " sahut si gadis ketakutan." Loo-pek berarti paman. "Tadi aku baru pulang dari kota Tong-sia Kwan dan mereka mendesak untuk mengawalku !?"

"Siapa nama ayahmu ?" bentak lelaki kurus bertopi segi lima itu. "Ong Ong Liat !" sahut si gadis tergugu.

"Ong Liat ?!"

"Ya ...... biasanya orang-orang memanggil Ong Wang-gwee ! " sahut si gadis cepat.

Lelaki aneh itu mengawasi si gadis dengan mata agak disipitkan, menekan topi segi limanya agak melesek ke dalam kepalanya, terbenam hampir menutupi matanya. Si gadis jadi lebih ketakutan lagi.

"Turun kau dari kereta ini .....!" perintah lelaki aneh itu sambil menendang kereta yang ditumpangi si gadis. "Turun !"

Si gadis turun dari kereta dengan kaki gemetar, wajahnya pucat sekali, bibirnya tergetar.

"Kau pulang jalan kaki ..... !" kata si kakek lagi. "Jangan kau pakai lagi kereta anjing-anjing Boan itu!! Juga sampaikan pada ayahmu, aku ingin bertemu dengannya nanti  "

Si gadis hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, hampir saja dia tak dapat membendung air matanya yang belum sempat melelehi pipinya yang merah seperti buah tho itu. Nyafa si gadis ketakutan sekali.

Setelah mengawasi dengan tatapan yang bengis sesaat lamanya, si lelaki aneh itu membalikkan tubuhnya dan menuju ke tepi sungai, dia duduk di bawah sebuah pohon yang lebat, memandang mengaiirnya air sungai Sui-ho. Kereta yang tadi dipergunakan oleh tentara Boan ditinggalkan begiti saja di tengah jalan.

Sedangkan gadisnya Ong Wang-gwee telah berlari-lari meninggalkan tempat itu diikuti oleh pandangan penduduk.

Kejadian luar biasa itu menggemparkan sekali. Penduduk desa Sian-lie- chung bisik bisik satu dengan yang lainnya, sedangkan mayat keempat tentara Boan itu tetap kaku terbujur di jalan. Lelaki tua aneh yang masih duduk di tepi sungai Sui-ho jadi perhatian orang, tapi tak ada seorangpun yang berani mendekatinya. Tiang Hok dan Coa Wie Sie serta tukang-tukang perahu lainnya juga tak berani mendekatinya, mereka hanya sering melirik mencuri pandang dengan sudut mata mereka melihat kelakuan aneh si lelaki tua bertopi segi lima itu, yang sedang melempari sungai Sui-ho dengan batu-batu krikil kecil mulutnya komat kamit menyebut nama Ong Wang-gwee ...... Sampai sore, lelaki tua yang aneh itu masih duduk di tepi sungai Sui-ho. Dan mulai dari hari itulah, di saat mana lelaki tua bertopi segi lima itu membunuh keempat tentara Boan, maka desa Sian-lie-chung yang tadinya tenang, akan bergolak hebat. Malah yang lebih hebat lagi dunia persilatan. Kang-ouw, akan menghadapi taufan dan badai yang mengerikan ! Dalam kancah kekalutan yang akan terjadi, maka terjalinlah kisah

dahsyat ini     !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 1

WAJAH Ong Wang-gwee jadi muram waktu mendengar penuturan putrinya, Ong Siu Lan, mengenai kematian empat orang tentara Ceng anak buahnya Tie- kwan Lie Khu Siang dari Yamui, yaitu kantor pembesar negeri setempat. Sambil menceritakan peristiwa yang mengerikan dan telah mengejutkannya itu, Siu Lan menangis terisak.

"Jadi keempat gentong nasi Lie Tay-jin tak berdaya menghadapi seorang gelandangan yang tak keruan juntrungannya?" tanya Ong Liat, Ong Wang-gwee, dengan wajah tetap muram, ia putar otak untuk mengetahui sebab latar belakang peristiwa itu.

Sambil menyusut air matanya, Siu Lan mengangguk.

"Ya Thia ..... malah dengan mudah sekali orang itu membunuhi keempat orangnya Lie Tay-jin itu!" sahut Siu Lan dengan suara agak gemetar, karena kagetnya itu belum lenyap seluruhnya. "Tadinya malah anakmu ini menduga akan mati bersama keempat orangnya Lie Tay-jin itu."

"Tie-kwan tolol!" kata Ong Wang-gwee mendongkol, "Punya anak buah semuanya gentong nasi yang cuma bisa habisi uang negara."

Ong Wang-gwee, Ong Liat, adalah seorang Tie-coe, tuan tanah, yang biasanya menghadapi segala persoalan dengan tenang. Tapi sekarang, ketika mendengar berita anak gadisnya mengenai kematian keempat tentara Boan Ceng yang dapat dibunuh dengan mudah oleh orang tak dikenal di dalam wilayahnya, wajahnya jadi muram sekali. "Apakah orang itu tak menyebut nama memperkenalkan dirinya?" tanya Ong Wang-gwee setelah selang sesaat sambil melirik Thio In Ciang dan Ma Giok, dua orang boe-soe yarig menjadi tukang pukulnya, yang kala itu sedang berdiri di dekat sebuah kursi yang biasanya diduduki Ong Wang-gwee dengan kepala tertunduk.

"Tidak Thia, orang itu tak memperkenalkan diriuya!" kata Siu Lan cepat, lalu dia mengangkat kepalanya mengawasi ayahnya dan berkata lagi : "Thia, mungkin kau tak mau mempercayai cerita puterimu ini, tapi orang itu memang bengis dan mengerikan sekali ...... Boe-gee-nya luar biasa ...... sangat menakutkan, kepala salah seorang anak buah Lie Tay-jin telah dipukul olehnya sampai pecah berantakan!", dan gadis itu terisak lagi, dia memang habis mengalami kekagetan yang luar biasa, yang belum pernah dialaminya.

"Sudah, kau jangan menangis lagi. Lan-jie." kata Ong Wang-gwee setelah mendengus sekali. "Pergi kau masuk ke dalam!"

Ong Siu Lan menyusut air matanya lagi, lalu bangun berdiri dan akan masuk ke dalam, di mana para pelayan dari keluarga Ong ini telah menantikannya, ingin mendengar cerita yang mengerikan dari si-nona majikan.

Setelah putrinya masuk kedalam, Ong-Liat berjalan mundar mandir di dalam ruangan itu. Wajahnya murung sekali. Berulang kali dia memperdengarkan suara mendecih yang tegas, keningnya berkerut. Dia mengetahui, bahwa orang asing yang telah membunuh keempat anak buahnya Lie Tay-jin, Tie-kwan Lie Khu Siang itu, mungkin memang sedang mencari setori untuk memancing dirinya untuk keluar.

"Siapakah orang yang telah begitu berkepala besar berani berlaku kurang ajar di wilayahku ?!" kata hartawan Ong Liat dengan suara yang perlahan, seperti berkata pada dirinya sendiri. "Kurus tinggi, berambut panjang, pakai topi buluk persegi lima ..... wajahnya kurus pucat. Siapakah dia .....?" dan tiba-tiba Ong Wang-gwee melirik kedua anak buahnya yang kala itu sedang melihati kelakuan majikanya dengan hati yang geli ingin tertawa. "Hai ...... kalian mengapa berdiam diri saja?!" bentaknya keras penuh kemarahan.

"Ya Loo-ya ?!" menyahut kedua anak buahnya itu, Thio In Ciang dan Ma

Giok.

"Apakah kalian tuli dan bisu ?" bentak Ong Wang-gwee jadi uring-urungan.

"Apakah kalian tak mendengar cerita puteriku itu?" "Ya Loo-ya ..... " menyahuti Thio In Ciang dan Ma Giok hampir berbareng, mereka menundukkan kepala melihat kemarahan junjungan mereka itu.

Ong Wang-gwee mendengus, matanya mencilak kedua Boe-soenya itu, kedua jago silat yang menjadi pengawalnya.

"Cepat kalian pergi lihat orang itu ...... kalau kalian merasa unggulan melawaanya, kalian boleh main-main sebentar dengannya, lalu beri laporan padaku

!!" perintah hartawan she Ong itu.

"Ya Loo-ya .....!!" sahut In Ciang dan Ma Giok hampir berbareng. "Kami pasti menghajar orang itu sampai mati tidak hiduppun tak dapat !"

"Kalian jangan buka mulut seenak perut kalian dulu !" bentak Ong Liat mendongkol. "Kalian tokh sudah mendengar sendiri cerita puteriku, betapa lihainya Boe-gee orang itu yang dapat membinasakan keempat anak buahnya Lie Tay-jin dalam segebrakan saja ! !"

Ma Giok tertawa menyeringai.

"Tapi kami jangan dipersamakan dengan keempat gentong nasi yang tak punya guna itu, Ong Looya ,. " katanya.

"Mereka banyak tentara yang tak mempunyai   Boe-gee, sehingga gelandangan itu dapat membinasakan mereka, tapi kami Hu, jangan kata untuk

bernapas, mungkin untuk minggat saja dari tangan kami, gelandangan itu tak mudah melakukasnya!"

"Aku percaya akan kepandaian kalian, pergilah kalian temui orang itu !"

kata Ong Wang-gwee, lalu merogoh sakunya, melemparkan beberapa tail perak ke atas meja. "Kalian bagi dua !" katanya lagi.

"Terima kasih Ong Loo-ya-coe!" kata Ma Giok dan In Ciang cepat. "Loo-ya tenang-tenang saja di sini, nanti kami akan kembali kemari dengan menawan gelandangan yang tak keruan Cauw-congnya !!" Cauw-cong artinya kakek moyang.

Ong Wang-gwee hanya mendengus, dia tak menyahuti perkataan kedua Boe-soenya.

"Kami berangkat dulu. Ong Loo-ya     !," kata Ma Giok dan In Ceng sambil

membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada junjungan mereka. Setelah itu mereka membalikkan tubuh akan berlalu.

"Kalau Boe-gee orang itu lihai sekali, kalian kepung saja berdua !" kata Ong Wang-gwee di saat kedua anak buahnya itu sedang keluar dari pintu ruangan tengah. "Kami jamin orang itu tak bisa menginjakkan kakinya diwilayah Ong-ya !" kata Ma Giok sambil menoleh dan tertawa lalu mereka menghilang dari pandangan Ong Wang-gwee. Mereka berdua berani mengatakan begitu, karena Ma Giok dan In Ciang adalah murid Khong Tong Pay dan See Gak Pay. Sebagai seorang murid Khong Tong, maka Ma Giok mempunyai kepandaian yang tak rendah, dia kersenjatakan sepasang pedaag, siang-kiam, dengan itu dia telah mengembara dan jarang menemui tanding. Namanya cukup dikenal dikalangan Kang-ouw dan disegani karena kekosenannya dan permaiuannya Siang-kiamnya yang selalu menyerupai senjata maut bagi lawan. Sedangkan Thio In Ciang merupakan murid See Gak Pay dari tingkatan yang ketiga belas dan murid ketujuh dari Ciu Min Kiong. Ilmu silat See Gak Pay tak dapat dipandang remeh, karena permainan Poan koan Pit dari Thio In Ciang merupakan senjata yang ampuh dan sukar dicari tandingannya. Sejak turun gunung, belum pernah Thio In Ciang menemui lawan, dia cukup kosen dan disegani oleh pihak lawan maupun kawan. Dari kalangan Hek-to, jalan hitam, menyeganinya, sedangkan dari kalangan Pek-to, dia dihormati. Hanya sayangnya orang she Tbio itu kemaruk harta sehingga dia mau bekerja pada Ong Wang-gwee sebagai kaki targannya, menindas rakyat. Hal itulah yang harus disayangkan dan disesalkan oleh orang-orang gagah dari kalangan Kang-ouw. Juga disebabkan jarang tandingan, Ma Giok dan Thio In Ciang jadi sering besar kepala dan angkuh menyebabkan kedua orang she Ma dan she Thio itu sering meremehksn orang.

Sedangkan Ong Liat, Ong Wang-gwee, seperginya Thio ln Ciang dan Ma Giok jadi duduk terpekur seorang diri dikursinya. Dia berusaha mengingat-ingat orang gagah dari Boe-lim, mengingatnya siapakah orang yang berambut panjang bermuka kurus memakai topi buluk persegi lima. Namun biarpun dia telah putar otak dan memeras ingatannya, tetap saja hartawan she Ong itu tak dapat mengingatnya siapa orang yang telah membunuh keempat tentara Ceng itu.

"Huu .....! Kepalaku jadi pusing !" gerutunya seorang diri. "Gelandangan itu memang patut diberi ganjaran yang setimpal atas kekurang ajarannya itu .....! Dia berani main-gila diwilayah kekuasaanku, maka pasti dia bukan orang yang berkepandaian tak berarti, namun kurasa Thio In Ciang dan Ma Giok telah cukup untuk menghadapi mereka." Dan Ong Wang-gwee mengurut-urut jenggotnya yang telah putih, kepalanya jadi agak pening, dicampur baurkan dengan perasaan takut dan ragu ! *Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

"AKU jadi ingin melihat bagaimana wajah orang yang telah membunuh keempat tentara Ceng itu, yang menjadi anak buahnya Lie Tay-jin!" kata Thio In Ceng sambil memperdengarkan suara ketawa yang tawar, dia sangat meremehkan orang, karena dalam dugaannya Ong Siu Lan terlalu melebih-lebihkan waktu menceritakan orang itu.

Ma Giok ketawa.

"Paling-paling juga Siauw-coet yang tak ada artinya ! " katanya kemudian. "Kukira hanya dua tiga gebrak saja, Siauw-coet itu telah dapat kita robohkan!"

In Ciang mendengus.

"Coba saja kita lihat nanti !" katanya. "Oya, apa Giok-heng masih terus memperdalamkan latihan tendangan maut yang baru kau ciptakan itu ?!'"

Ma Giok tertawa. Dia mengeluarkan kata-kata merendah.

"Itu hanya ilmu tendangan yang tak ada artinya kalau dibandingkan dengan Poan-koan-pit Ciang-heng." katanya.

In Ciang juga mengeluarkan kata-kata merendah, lalu keduanya tertawa. Memang, semakin lama Thio In Ciang dan Ma Giok semakin angkuh dan tak anggap pada jago-jago silat lainnya yang berada di desa Sian-lie-chung.

Kedua orang itu berjalan terus dan tanpa mereka sadari telah sampai ditepi sungai Sui-ho. Dilihatnya orang ramai seperti biasa, anak-anak kecil berlari-lari gembira sambil main petak, sedangkan gadis-gadis cilik sedang memetik bunga- bunga yang berwarna-warni. Thio In Ciang dan Ma Giok menghampiri sebuah Ciulauw atau rumah minum yang terdapat di tepi sungai Sui-ho itu. Pemilik Ciulauw itu seorang laki-laki bertubuh gemuk pendek she Wang bernama Ki Cun, orangnya ramah dan seialu melayani langganannya dengan ramah tamah. Waktu melihat Thio In Ciang dan Ma Giok, dia telah menyambut keluar sambil ketawa.

"Ehh .....Thio Loo-ya dan kau Ma Loo-ya ..... !" sambutnya ramah. "Angin apa nih yang telah meniup kalian sehingga mau berkunjung kewarungku ?!" dia sudah lantas mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam warung-minumnya.

Thio In Ciang dan Ma Giok memilih sebuah meja yang mereka senangi, menyapu seisi ruangan dengan sudut mata mereka, Di dalam Ciulauw itu terdapat beberapa orang tamu yang sedang menikmati arak Hang-cioe.

Ma Giok menoleh kepada Ki Cun, pemilik warung minuman itu, yang telah datang menghampiri. "Wang-ma !" panggilnya.

"Tentu Ma Loo-ya mau mencicipi wanginya arak Hang-cioe yang telah disimpan sepuluh tahun, bukan ?!" tanya si pemiiik warung cepat sambil tertawa. "Aku baru terima dari seorang kawanku beberapa kati, chusus kusediakan untuk Loo-ya berdua !" Pintar pemilik warung itu, dia pintar mengambil hati orang, sehingga Ma Giok dan Thio In Ciang senang datang kewarungnya itu. Begitu juga terhadap tetamu langganannya yang lain, Wang Ki Cun selalu memperlakukan mereka dengan cara yang sama.

"Duduk dulu Wang-ma !" kata In Ciang ketawa. "Kami sedaug ada urusan, tak sempat untuk menenggak arak Hang-cioemu itu ! Nanti kalau urusan kami sudah selesai, maka kami akan pesta pora menghabiskan tujuh gentong arak- arakmu ! Duduklah kami ingin menanyakan sesuatu padamu !"

Pemilik warung minuman itu jadi serius wajahnya, dia menghampiri lebih

dekat.

"Oh, ada apakah Loo-ya-coe ?! " tanyanya perlahan sekali. '

"Kami mau tanya padamu Wang-ma tentang orang gelandangan yang telah

membunuh keempat opsir tentara tadi pagi !" Ma Giok menerangkan sambil ketawa. "Di mana orang itu sekarang ?!"

"Oh ..... lelaki tua itu Loo-ya ?!" tanya Ki Cun berobah wajahnya dan suaranya lebih perlahan lagi.

Ma Giok mengangguk dan Thio In Ciang juga mengangguk hampir berbareng dengan kawannya.

"Ya ..... kalau urusan kami telah selesai, maka kami akan minum sampai mabok di warungmu ini!" janji orang she Thio itu.

"Oho !" Ki Cun melirik sekeliling ruang warungnya, matanya mencilak, rupanya dia ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Katakanlah Wang-ma !" desak Thio In Ciang waktu melihat kelakuan pemilik warung minuman itu.

Wang Ki Cun monyongkan malutnya ke arah tepi sungai.

"Tuh yang sedang duduk di tepi sungai di bawah pohon sedang melamun!!" katanya perlahan sekali sambil matanya menatap lelaki tua berkopiah segi lima yang sedang duduk di tepi sungai sambil tetap melempari sungai dengan batu-batu kerikil.

Thio In Ciang dan Ma Giok mengikuti pandangan pemilik warung minuman itu, lalu mereka mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Oh itu Siauw-coetnya ?" kata Ma Giok sambil menyeringai. "Mari kita bekuk batang lehernya, Thio-heng !"

Thio In Ciang mengangguk, mereka lalu meninggalkan warung minumannya Wang Ki Cun, mereka menghampiri lelaki asing yang masih duduk di bawah sebuah pohon di tepi sungai Sui-ho. Langkah mereka diperlahankan, agak ringan, agar kedatangan mereka itu tak diketahui oleh lelaki aneh berambut panjang tersebut, karena biar bagaimana, dihati mereka tersembul sedikit perasaan keder. Setelah jaiak mereka terpisah tiga tombak lebih, mereka menghentikan langkah mereka dan Thio In Ciang dan Ma Giok jadi saling pandang, lalu dengan berbareng mereka mengangguk, Ma Giok: membungkukkan tubuhnya, mengamoil sebuah batu kerikil yang agak besar, ditimang-timangnya batu itu sambil tersenyum menyeringai.

"Ma-heng, kau tunggu apa lagi ?" tegur Thio In Ciang ketika melihat kelakuan kawannya.

Ma Giok menyeringai lagi, dia mengayun tangannya dan batu yang berada di tangannya meluncur dengan cepat dan bertenaga, karena Ma Giok telah menggunakan batu itu sebagai penggantinya Siauw-cian atau panah kecil. Hebat sambitan orang she Ma itu, batu meluncur lurus kearah batok kepala lelaki asing yang masih tenang-tenang duduk di bawah pohon ditepi sungai Sui-ho itu.

Tapi, di saat batu itu hampir mengenai punggung lelaki asing yang berambut panjang itu, batu tersebut melejit dan beralih arah, menjurus lurus ke sisinya, membentur pohon dan amblas di batang pohon itu.

Ma Giok dan Thio In Ciang jadi berobah muka mereka, sedangkan lelaki bertopi segi lima itu sudah berdiri dan sekali menjejakkan kakinya ketanah, tubuhnya telah melayang ringan dan berada di hadapan Ma Giok serta Thio In Ciang. Sebat sekali gerakan itu, enteng dan ringan, sehingga Ma Giok dan Thio In Ciang yang menyaksikannya, jadi memuji di dalam hati mereka.

"Siapakah Jie-wie ?" tegur lelaki itu waktu melihat orang yang telah membokongnya itu hanya berdiri kesima memandanginya. Jie-wie adalah saudara berdua.

Ma Giok yang lebih dulu dapat menguasai dirinya telah tertawa menyeringai. Dia membawa lagak yang angkuh sekali.

"Oh, kau tak mengenal Toa-yamu ?" tegurnya tawar. "Pergilah kau tanya pada penduduk di Sian-lie-chung ini siapa sebetulnya kami .....!" Jumawa sekali orang she Ma itu, juga dengan menyebut dirinya sebagai Toa-ya, si tuan besar, dia menunjukkan kesombongannya, yang menganggap laki-laki berambut panjang itu sebelah mata.

Mendengar perkataan orang she Ma yang ugal-ugalan, serta melihat lagak kedua orang yang berada di hadapannya yang begitu tengik dan angkuh, wajah laki-laki aneh itu jadi berobah. Dia tertawa tawar. "Apa maksud Jie-wie membokongku dari belakang ?" tegornya, wajahnya berubah bengis.

Ma Giok dan Thio In Ciang ketawa menyeringai.

"Untuk apa Toa-yamu membokong bangsa tikus seperti dirimu ini ?!" katanya angkuh. "Toa-yamu cuman mau melihat dan menguji kelihaianmu !!"

Lelaki itu jadi ketawa mendengar perkataan Ma Giok. Suara ketawanya semakin lama semakin keras, mendirikan bulu tengkuk dan menyeramkam sekali. Ma Giok dan Thio In Ciang juga tanpa mereka sadari telah mundur satu langkah ke belakang sambil mementang mata lebar-lebar.

"Siapa kau yang telah berani membunuh pembesar negeri dan mengacau kampung ini heh?" tegur Thio In Ciang untuk menenangkan hatinya yang tergoncang. "Sebutkanlah agar Toa-yamu bisa tahu kalau-kalau kau merupakan cucu atau murid dari pecundangku !!"

Lelaki itu mendengus, wajahnya bengis. "Hu ! Rupanya kalian juga kuku- garuda pemerintah Boan !" katanya tawar. "Baiklah ! Loo-hu tak pernah mengganti nama atau menyembunyikan muka. Orang-orang Kang-ouw memberikan gelaran yang jelek sekali padaku, mereka menyebutku Gu Kim Ciang !'

Gu Kim Ciang artinya Si kerbau dengkul emas. Nama laki-laki bertopi segi lima itu sudah hebat, namun lebih hebat lagi bagi Thio In Ciang dan Ma Giok. Wajah mereka berobah hebat.

"Kau     kau Gu Kim Ciang !?" tegur mereka hampir berbareng.

Lelaki itu, Gu Kim Ciang, tertawa tawar.

"Rupanya kalian telah mendengar nama burukku itu !" katanya sambil mendengus. "Bagus ! Kulihat kau bangsa Han, tapi rupanya kalian telah kemaruk harta, sehingga mau menjadi anjing-anjing Boan ! !"

Tajam kata-kata Gu Kim Ciang, sehingga membuat wajah Thio In Ciang dan Ma Giok jadi salin rupa.

"Sobat! Mulutmu terlalu kotor!" teriak Ma Giok yang tak dapat menguasai diri. "Walaupun Toa-yamu ini rakyat biasa, namun tak kekurangan harta!" dan sehabis berkata begitu, Ma Giok mencabut sepasang Siang-kiamnya, diikuti oleh kawannya, Thio In Ciang, yang sudah lantas mencabut Poan-koan-pitnya. "Hmm .....jadi kalian ternyata bukan kuku garuda ?" kata Gu Kim Ciang sambil mendengus. "Bagus ! Hari ini jiwa kalian kuampuni!" Yang dimaksud dengan kuku garuda, ialah orang-orang yang bertekuk lutut pada pemerintah Boan dan bekerja untuk kepentingan bangsa penjajah itu.

Mendengar perkataan Gu Kim Ciang, wajah Ma Giok dan Thio In Ciang jadi berobah merah padam saking gusarnya.

"Bangsat! Cabut senjatamu!" bentak In Ciang. "Rupanya kau kira di Sian- lie-chung ini tak ada jago yang kosen, sehingga kau mau menjagoi dengan bertindak sewenang-wenang main bunuh saja?!"

dia bersiap dengan Poan koan-pitnya.

Gu Kim Ciang tertawa ewa, sikapnya memandang enteng Ma Giok dan Thio In Ciang, sehingga kedua orang itu jadi tambah mendongkol.

"Maaf ..... Loo-hu bukan mau menjagoi daerah Sian-lie-chung yang tak ada artinya ini !" kata Gu Kim Ciang kemudian. "Loo-hu sedang mencari seseorang

.....!"

"Hmm ...... kalau kau memang sedang mencari seseorang kawan, mengapa begitu tiba di sini kau main bunuh pada orang-orang yang tak berdosa seperti memotong kepala babi saja ?!" tegur Ma Giok sengit. Dia duga orang agak. jeri pada mereka.

"Loo-hu paling tak senang pada orang yang suka menyerang secara menggelap ! " kata Gu Kim Ciang sabar. "Dan, seharusnya kalian juga musti kubunuh ..... tapi karena mengingat kau bukan anjing-anjingnya Boan Ceng, maka mau aku ampuni jiwa kalian yang tak ada harganya itu pergilah !!"

"Anjing !!" teriak Ma Giok kalap, dia memang paling cepat naik darah, seketika itu juga darahnya meluap waktu mendengar perkataan Gu Kim Ciang. "Kau tahu Ma Giok Loo-ya dan Thio In Ciang Toa-yamu ini tak pernah mengemis belas kasihan dari orang ..... cepat cabut senjatamu, Toa-yamu ingin melihat apa kebisaanmu !"

Muka Gu Kiam Ciang jadi berubah mendengar perkataan Ma Giok. matanya berkilat sesaat, namun kemudian wajahnya berobah sabar kembali.

"Apa kalian tak menyesal ?" tegurnya tenang sekali.

Ma Giok dan Thio In Ceng bertambah murka, mereka duga orang jeri. karena orang yang bernama she Gu itu tak mencabut senjatanya. Hati mereka jadi tambah besar. Walaupun nama Gu Kim Ciang telah menggemparkan dunia Kang- ouw, sungai telaga, dengan kekosenannya, namun Ma-Giok dan Thio In Ciang belum pernah menyaksikan kekosenan orang she Gu itu. Maka mereka menduga nama besarnya Gu Kim Ciang itu hanyalah karena terlalu dibesar-besarkan oleh orang lain.

"Menyesal ?" tanya In Ciang tambah mendongkol. "Apa yang Toa-yamu harus sesalkan ? Lekas cabut senjatamu !!"

Gu Kim Ciang tertawa tawar, lalu membalikkan tubuhnya kembali kebawah pohon itu, berdiri menghadapi sungai. Sedangkan tangannya kembali melempari sungai dengan batu-batu kerikil kecil yang berada ditangannya itu.

Ma Giok dan Tbio In Ciang jadi meluap darah mereka.

"Hei anjing buduk, kau anggap apa Toa-yamu ini ?" bentak Ma Giok sengit. "Kalau memang kau tak berani bertempur dengan Toa-yamu ini, cepat kau berlutut dan menyembah tiga kali sambil memanggilku 'engkong', maka mau Toa-yamu memberikan pengampunan padamu. Tapi kalau kau membangkang, hmmm, akan kudodet perut anjingmu itu !"

Tapi Gu Kim Ciang tetap berdiam diri dia masih menghadapi sungai. Sikapnya tetap tenang sekali dan tak memperdulikan kedua orangnya Ong Wang- gwee yang sedang mencak-mencak itu.

Melihat Gu Kim Ciang seperti menganggap sepi pada mereka, darah Thio In Ciang dan Ma Giok jadi meluap. Sambil mengeluarkan teriakan yang nyaring, Ma Giok dan Thio In Ciang menyerang dengan senjata mereka. Telengas serangan, mereka berdua, karena sekali turun tangan, mereka tak mengenal kasihan dan yang diarah adalah leher dan perut Gu Kim Ciang. Senjata kedua orang itu meluncur dengan kecepatan luar biasa kearah orang she Gu itu.

Namun, di waktu Poan-koan-pit dan Siang kiam dari Thio In Ciang dan Ma Giok hampir mengenai dirinya. Gu Kim Ciang membalikkan diri dan dengan menggunakan topi segi limanya, dia menyampok muka orang she Thio dan she Ma itu pulang pergi dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Terdengar suara plaakkk, plookkk, plaakkk, plookkk beberapa kali, karena muka Thio In Ciang dan Ma Giok telah dapat dihajar dengan tepat olen Gu Kim Ciang sehingga membikin kedua orang itu jadi kelabakan, cepat-cepat mereka menarik pulang senjata mereka dan melompat mu n dur. Namun, belum lagi mereka dapat berdiri tetap, tiba-tiba Thio In Ciang dan Ma Giok merasakan tubuh mereka seperti terdorong oleh arus tenaga yang kuat sekali dan tanpa berbuat apa-apa, senjata mereka telah terlepas dari cekalan mereka, sedangkan tubuh mereka ambruk di tanah. Kejadian itu berlangsung hanya dalam satu detik. "Kalau aku tak ingat bahwa kalian orang Han juga, tentu telah kukirim jiwa kalian ke-Giam-lo ong !" kata Gu Kim Ciang dengan wajah bengis.

Thio In Ciang yang lebih cepat berdiri kembali, dia mengeluarkan suara erangan sambil menyerbu menyerang dengan jurus Thong Jiok Gay Ping atau Burung Gereja Pentang Sayap, dia menyerang lambung Gu Kim Ciang. Niatnya, sedang orang berkata-kata begitu dan tak bersiap-siap, dia ingin menghantam perut orang. Ini merupakan serangan gelap, merupakan bokongan juga.

Tapi Gu Kim Ciang gesit luar biasa, dia hanya memindahkan dan menggeser kakinya sedikit, lalu dengan memutar tangannya dia menghantam punggung In Ciang.

Karena serangannya menemui tempat kosong, maka tubuh In Ciang jadi nyeruduk kemuka, dan disaat tubuhnya sedang hilang keseimbangannya itu, Gu Kim Ciang telah menyerang punggungnya. Tapi orang she Thio itu jadi nekad. Dia mengangkat tangannya, yang kanan menyapu keatas, sedang kari tangan kirinya menyodok. Itulah jurus Tan Hong Tiauw Yang', atau, Burung Hong Menghadap matahari. Tangan Kim Ciang meluncur terus, sedangkan tangan In Ciang juga meluncur dengan seluruh tenaganya. Kalau sampai terbentur, maka keduanya akan terluka.

Melihat orang nekad, Kim Ciang mendengus, dia tak mau melayani kenekadan lawannya, maka dia menarik pulang tangannya. Namun- semua itu bukan berarti dia membatalkan serangannya, karena setelah menarik tangannya, dia menggeser tubuh menghindarkan serangan In Ciang, lalu membarengi dengan keceparan yang luar biasa menyerang In Ciang lagi dengan jurus Lee-hie Bak Thing atau Ikan Lee-hie Menggoyangkan Ingsang, tangannya meluncur dengan samberan angin yang keras.

Ma Giok yang telah merangkak bangun ketika itu melihat In Ciang tengah menghadapi serangan berbahaya dari Kim Ciang maka dia berseru dan menyerang punggung Kim Ciang dengan jurus Jie Liong Tam Sam atau Sepasang Naga Menyelidiki Gunung, yang diarah jalan darah Tie-ia-hiat suatu jalan darah yang berbahaya sekali.

Gu Kim Ciang merasakan samberan angin serangan Ma Giok, tapi dia tak membatalkan serangannya terhadap In Ciang, Serangannya itu diteruskan, daa dengan kaki kirinya yang ditendangkan ke belakang, dia mengeluarkan tipu Pat- kwa Yu Sim Ciang atau Menyerang Empat Penjuru Sambil Berputar dan serangan Ma Giok dapat dihalaunya, sedangkan tangannya meluncur terus membentur tangan In Ciang.

Hebat kesudahannya bagi In Ciang dan Ma Giok. Dengan mengeluarkan seruan tertahan, tubuh mereka terpental setombak lebih. Untung mereka kosen, sehingga dengan cepat keduanya dapat mengimbangi diri dapat berdiri tetap kembali.

Sedangkan Gu Kim Ciang telah berdiri dengan senyum mengejek.

"Pergilah kalian dari tempat ini ! " katanya tawar. "Jangan kalian memaksaku untuk menurunkan tangan-besi seperti halnya terhadap keempat tentara Ceng itu ! "

Tapi In Ciang dan Ma Giok telah nekad. Orang she Thio itu memberi tanda kepada kawannya, lalu dengan berbareng mereka mengeluarkan suara teriakan sambil menyerbu menyerang lagi, Ma Giok menyerang dengan jurus Ouw Liong Cak-kwa atau Naga Hitam Menyambar Semangka, dan In Ciang menyerang dengan jurus Tiang Cian Jong Kun atau Busur Terbentur Kepalan Tangan. Mereka menyerang sambil mengerahkan tenaga dalam mereka.

Gu Kim Ciang mendengus melihat kenekatan orang, dia mengayun tangannya. Belum lagi serangan Ma Giok dan In Ciang sampai pada sasarannya, tiba-tiba orang she Thio dan she Ma itu jadi menjerit sambil melompat mundur dan memegangi mata kiri mereka. Darah segar telah memenuhi tangan mereka berdua.

Ternyata Gu Kim Ciang telah menyerang dengan menggunakan batu-batu kerikil kecil yang berada di tangannya dan timpukannya itu mengenai tepat mata kiri Thio In Ciang dan Ma Giok, sehingga kedua orang itu jadi menjerit kesakitan.

"Kalian apa mau cari mati?" tegur Kim Ciang sambil berdiri tenang membelakangi Ma Giok dan In Ciang, menghadap ke sungai sambil melempari sungai itu dengan batu krikil yang masih berada di tangannya.

"Kau      kau tunggu pembalasan dari kami!" teriak Ma Giok penasaran, lalu

memutar tubuhnya dan berlari secepatnya sambil memegangi matanya yang terluka. In Ciang juga mengikuti kelakuan kawannya.

Ga Kim Ciang seperti tak memperhatikan kepergian kedua orang itu, dia masih tetap berdiri tenang-tenang menyender pada pohon itu, menghadap sungai sambil tetap melempari sungai itu dengan batu-batu kerikil.

"Ong Liat ......Ong Wang-gwee !" bibirnya kemak-kemik. "Apa benar dia ?! Apa dia sekarang jadi seorang hartawan yang kaya raya ?! " terus juga Kim Ciang menggumam seorang diri, seperti berbicara pada dirinya sendiri, sedangkan tangannya masih terus diuga melempari sungai dengan batu-batu kerikil kecil, sehingga air sungai yang tertimpuk oleh krikil itu beriak dan membentuk lingkaran yarg semakin lama semakin lebar, lalu ienyap .......

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

"KALIAN benar-benar gentong nasi ! " bentak Ong Wang-gwee sambil mencak-mencak ketika menerima laporan dua orang pengawalnya yang dapat dijatuhkan oleh Gu Kim Ciang. "Apa saja yang dapat kalian kerjakan .....? Ha, melawan orang gelandangan yang tak keruan juntrungannya saja kalian tak mampu"

"Bakau begitu Ong Loo-ya-coe ..... dia kosen sekali, setiap gsrakannya sulit diikuti oleh penglihatan!" Ma Giok berusaha membela diri.

Ong Wang-gwee mendengus.

"Apa yang kosen.....?!" bentaknya. "Orang itu ?! Hu, untuk apa aku menggajimu kalau seorang saja tak bisa hadapi? Kalian saja yang memang dasarnya gentong nasi ! " setelah mendengus sekali lagi, Ong Wang-gwee jalan mundar-mandir di-ruang itu dengan kedua tangannya tertumpang di belakang.

"Ong Loo-ya-coe ....." panggil Thio In Ciang waktu melihat junjungan mereka itu berdiam diri saja.

Ong Wang-gwee membalikkan tubuhnya. wajah hartawan she Ong itu masih merah padam.

"Siapa nama orang itu ?" bentak Ong Wang-gwee dengan suara yang agak

keras,

"Dia mengaku sebagai Gu Kim Ciang, si Kerbau Dengkul Emas " Thio In

Ciang cepat- menyahuti.

Wajah Ong Wang-gwee jadi berobah waktu mendengar nama ini.

"Gu Kim Ciang?!" tanyanya seperti tak percaya pada pendengarannya. Ma Giok dan Thio In Ciang mengangguk hampir berbareng.

"Ya, Ong Loo ya ! " sahut Ma Giok. "Kepandaiannya benar-benar kosen, walaupun tubuhnya kurus kering seperti tulang dibungkus kulit, tapi gerakannya gesit dan tenaga lwee kangnya sulit dijajaki !!"

Wajah Ong Wang-gwee jadi kian muram, dia jalan mundar-mandir di dalam ruang itu. Sikapnya jadi tambah gelisah kelihatannya. Butir-butir keringat telah memenuhi keningnya yang berkerut oleh ketuaannya. "Gu Kim Ciang .....? Gu Kim Ciang .....!" katanya seperti pada dirinya sendiri. "Apa dia masih hidup?! Akh, tak mungkin? Gu Kim Ciang telah mati sebelas tahun yang lalu ..... apa mungkin dia hidup kembali ..... ?" dan langkah- langkah kaki Ong Wang-gwee jadi semakin cepat, menyatakan dirinya sedang dilanda kegelisahan yang sangat.

Ma Giok dan Thio In Ciang masih duduk di dalam ruang itu, sambil sebentar-sebentar mengeluh menahan perasaan sakit pada matanya yang terluka dan untuk seterusnya mereka akan menjadi manusia bercacad, manusia bermata tunggal.

Ong Wang-gwee masih mundar-mandir di ruang itu dengan kedua tangan tertumpang di belakang tubuhnya. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya memandang Thio In Ciang dan Ma Giok.

"Mau apa kalian masih belum keluar ?!" bentaknya dengan suara menggeledek, "Pergi dari kamar ini Aku sebal melihat muka kalian !"

Sambil menahan sakit dan perasaan sedih karena telah cacad, Thio In Ciang dan Ma Giok berdiri akan berlalu dari kamar itu. Tapi sebelum keluar dari ruang itu, Ma Giok menoleh memandang Ong Wang-gwee yang masih mundar-mandir penuh kegelisahan. .

"Ong Loo-ya    " panggilnya takut-takut.

"Apa lagi ?" bentak Ong Liat marah-marah.

"Senjata kami ketinggalan disana Ong Loo-ya .....pasti hilang, karena si kucing gelandangan itu pasti menjualnya !" kata Ma Giok lagi.

"Habis kalian mau apa?" bentak Ong Wang-gwee.

"Senjata kami seharga lima tail perak, Loo-ya    " kata Ma Giok ragu.

"Jadi kalian minta diganti ?" bentak Ong Wang-gwee lagi dengan sengit. "I iya, Looya !" sahut orang she Ma itu ragu.

Ong Wang-gwee tiba-tiba mengambil sebuah pot bunga yang terdapat di meja, lalu melemparkan itu kearah Ma Giok.

"Nih kuganti senjatamu itu !" bentaknya dengan suara menggeledek.

Ma Giok dan Thio In Ciang melompat keluar dari pintu ruangan tersebut, sehingga terhindar dari sambitan Ong Wang-gwee. Pot bunga itu membentur pintu keras sekali, lalu pecah berantakan. Ma Giok dan Thio In Ciang menggerutu, karena bukan saja senjata mereka berdua yang seharga lima tail perak itu telah lenyap, malah mata mereka terluka, sehingga untuk seterusnya mereka akan menjadi orang bercacad. Sedangkan Ong Liat, si hartawan she Ong itu, masih juga mundar-mandir di dalam ruang itu penuh kegelisahan. Balik lagi ..... jalan lagi, memutar badan lagi, jalan lagi, sedakep, lalu berobah menaruh kedua tangannya di belakang tubuhnya dekat pinggul, jalan lagi. Putar badan lagi, jalan lagi ..... Begitulah seterusnya dan dari wajahnya yang muram itu, menyatakan kegelisahan yang sedang melanda dirinya .....

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 2

UDARA malam di depan Sian-lie-chung cukup dingin menggigilkan. Rembulan telah mengambang menampakkan diri, angin bertiup santer, sedangkan daun-daun pohon yang bertumbuhan di desa bidadari itu berkeresekan tertiup angin. Suara binatang malam terdengar nyata sekali, mereka sedang berdendang. Udara gelap pekat.

Tapi, di antara kegelapan yang menyelimuti desa Sian-lie-chung itu, tampak Ma Giok dan Thio In Ciang sedang duduk di beranda gedungnya Ong Wang-gwee. Mereka sedang duduk di situ sambil menikmati arak Hang-cioe untuk menghilangkan hawa dingin. Mata kiri mereka telah dibalut oleh kain dan lukanya itu telah diobati oleh sinshe Yo, kawan Ong Wang-gwee.

"Hari ini kita benar-benar sial, Ma-heng!" kata In Ciang sambil mendecih dingin, lalu mengangkat cawannya dan meneguk araknya. Wajah orang she Thio ini muram sekali.

Ma Giok mengangguk, dia mengangkat cawan araknya juga sambil mengerutkan sepasang alisnya.

"Ya, Thio-heng ..... aku juga menyesal telah pandang remeh pada si kerbau emas itu." sahutnya kemudian. Yang dimaksud dengan si-kerbau emas itu ialah Gu-Kim Ciang. "Coba kalau kita tak menempurnya, mungkin mata kita tak picek begini nih!"

Thio In Ciang menarik napas, dia tertawa sinis.

"Tapi seorang Ho-han tak akan menyesalkan apa yang telah terjadi!" kata In Ciang dengan suara yang keras, untuk memperlihatkan kegagahannya di depan kawannya itu. "Kita tak akan melupakan sakit hati kita ini kepada si kerbau tembaga itu ! Budi dibalas ! sakit hati dibayar .....! Suatu hari pasti akan kucingcang si orang she Gu itu!"

"Betul ! Kita harus mencari balas sakit hati kita ini!" Ma Giok menimpali. "Ma-heng ..... yang membuatku jadi mendongkol, Ong Wang-gwee tak mau

mengganti senjata kita itu!" kata Thio In Ciang lagi. "Kita telah berkorban sampai bercacad begini, tapi Ong Wang-gwee masih mencak-mencak menyalahkan kita ! Hu ! Semua ini juga gara-gara si kerbau tembaga itu!" sengit sekali suara orang she Thio itu, tangannya agak tergetar menahan kemendongkolannya.

Ma Giok hanya mendengus, lalu menuang arak kembali ke dalam cawannya. "Malah yang lebih sial lagi, kita disambit dengan pot bunga itu!" Kata Thio

In Ciang lagi.

Keduanya berdiam diri, keheningan menguasai mereka. Suara binatang malam yang sedang berdendang jadi semakin nyata terdengar di antara kesunyian yang mencengkam desa tersebut.

Ma Giok menoleh pada Thio In Ciang dilihat kawannya sudah mengantuk. "Kau sudah mengantuk Thio-heng?" tegurnya.

"Ya .....!" In Ciang mengangguk. "Hu, mana udara demikian dingin.   !"

Ma Giok batuk-batuk beberapa kali, mengambil cawannya, lalu meneguk arak yang terdapat di dalam cawan itu. Setelah menaruh cawan itu lagi, dia batuk- batuk kembali.

"Sampai jam berapa kita menjaga, Thio-heng ?!" tanyanya kemudian. "Entahlah !"

"Kenapa memangnya ?" tanya Ma Giok heran.

"Habis hari ini aku benar-benar kesal !" kata In Ciang. "Tak keruan juntrungannya kita jadi orang bercacad ! !"

"Sudahlah Thio-heng ..... nanti juga kita dapat membalas sakit hati kita ini!" hibur Ma Giok, In Ciang menarik napas jengkel.

"Mauku kalau kita sudah gagal dalam melakukan tugas, Ong Wang-gwee hendaknya mau mengerti. Tapi ini sih .....e-eh, malah menyambit dengan pot bunga !" kata In Ciang mendongkol. "Kalau-kalau sih dia menggantikan senjata kita !"

"Sudahlah Thio-heng nanti kalau terdengar Ong Loo-ya jadi tak enak lagi

....." hibur Ma Giok. "Biarlah, mungkin sudah nasib kita jadi orang bercacad. !"

Thio In Ciang menarik napas lagi, tapi tiba-tiba mukanya jadi berobah pucat dan dia melompat berdiri seperti tersengat oleh ular berbisa. "Kenapa kau Thio-heng ?" tegur Ma Giok heran.

Thio In Ciang tak menyahuti, matanya tetap diarahkan pada suatu tempat.

Ma Giok mengikuti pandangan kawannya, dan dia juga, wajahnya jadi berubah pucat serta melompat bangun dari dudunya.

"Gu ..... Gu Kim Ciang    !" dari bibirnya yang gemetar terlontar nama itu.

Memang !

Dari balik sebuah pohon yang besar dan lebat, keluar Gu Kim Ciang dengan langkah kaki yang ringan. Wajahnya dingin dan rambutnya yang panjang itu menutupi sebagian wajahnya, sehingga agak_menyeramkan.

"Mana Ong Liat !?" tegur Gu Kim Ciang dengan suara yang dingin menyeramkan.

'"Mau ..... mau apa kau datang kemari ?" tegur Thio In Ciang sambil berusaha menenangkan getaran hatinya.

"Mana Ong Liat ! " tegur Gu Kim Ciang dengan suara yang lebih keras. Melihat mata dan sikap Gu Kim Ciang yang menyeramkan itu, tangan Thio

In Ciang dan Ma Giok meraba pinggangnya tanpa mereka sadari, maksud mereka ingin mencabut senjata mereka. Namun mereka jadi kecewa, karena pinggang mereka kosong dan mereka baru ingat bahwa senjata mereka telah direbut oleh Kim Ciang.

"Mana si Ong Liat?!" bentak Gu Kim Ciang dengaa suara yang lebih keras. "Ada ada di dalam ! Mau apa kau menanyakan Ong Loo-ya ?!" tanya Ma

Giok dengan suara agak tergetar, dia jeri, karena dia telah merasakan kelihaian orang she Gu itu.

"Katakan padanya, ada seorang kawan lama yang ingin bertemu dengannya!" kata Gu Kim Ciang, suaranya berubah agak sabar.

"Kau tunggu sebentar, aku akan memberitahukan pada Ong Loo-ya !"

kata Ma Giok sambil membalikkan tubuhnya dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah Ong-Wang-gwee, lalu mengetuk pintu kamar hartawan she Ong itu.

Ong Liat keluar sambil menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk. "Ada apa kau malam-malam datang seperti dikejar setan?'' bentak Ong

Wang-gwee mendongkol waktu melihat Ma Giok.

"Itu .....itu  Ong Loo-ya .....orang she Gu ingin bertemu dengan Loo-ya, katanya dia kawan lama Loo-ya!" kata Ma Giok tak lampias.

Mendengar disebutnya orang she Gu itu, seketika juga rasa kantuk Ong Wang-gwee jadi lenyap. "Apa .....? Gu Kim Ciang mau bertemu denganku?" tanyanya seperti tak mempercayai pendengarannya.

"Ya, Loo-ya!" Ma Giok mengangguk. "Dia sedang menantikan Loo-ya di

luar."

Seketika itu juga keraguan menguasai Ong Wang-gwee, dia menatap Ma

Giok tajam sekali. Tapi akhirnya dia keluar juga.

"Kau harus hati-hati terhadap orang she Gu itu, Ma Giok!" pesannya waktu sedang menuju keluar.

"Ya, Loo-ya !!"

Ketika sampai diluar, dilihatnya Gu Kim Ciang sedang berdiri di muka gedung sambil bertolak pinggang. Rambutnya yang panjang itu menutupi sebagian mukanya, sehingga tampaknya agak menyeramkan.

"Siapa yang ingin bertemu denganku?" Ong Wang-gwee sengaja bertanya begitu.

"Aku!" Gu Kim Ciang menyahuti dengan suara yang nyaring. "Aku yang mencarimu! Kemari kau !!"

"Oh, ..... siapakah Jin-heng ? Ada urusan apa mencari chay-hee ?!" tanya Oag Wang-gwee sambil menghampiri. Jin heng berarti tuan, sedangkan chay-hee di artikan aku yang rendah.

"Siapa namamu ?!" bentak Gu Kim Ciang kasar dengan kilatan mata yang tajam, seperti mata pedang yang akan menembus hati Ong Wang-gwee.

Ong Liat agak jeri melihat cahaya mata Gu Kim Ciang, tapi dia berusaha ketawa.

"Oh ya, jin-heng belum mengenal chay-hee bukan?" katanya sambil tetap tertawa, lalu Ong Wang-gwee memberi hormat. "Chay-hee kira seluruh orang desa Sian-lie-chung telah mengenalku  "

"Siapa namamu?!" Bentak Gu Kim Ciang memotong perkataan Ong Wang-

gwee.

Ong Liat jadi mundur mendengar bentakan Gu Kim Ciang yang keras itu. "Chay-hee she Ong bernama Liat !" katanya kemudian dengan suara yang

tergetar. "Dan boleh chay-hee tahu nama jin-heng ?!"

"Dusta !!" bentak Kim Ciang keras. "Kau jangan asal pentang mulutmu ! Kau orang she Tan dan namamu Su Lok, putera dari Tan Wang-gwee di Kwie-coe

!!" Mendengar perkataan Gu Kim Ciang, wajah Ong Liat jadi berobah, tapi kemudian dia dapat menguasai getaran hatinya, ketawa.

"Siapa orang yang bernama Tan Su Lok itu, jin-heng ?" tegurnya. "Aku tak mengenalnya ! Oya, malam-malam begini jin-heng membanguniku hanya untuk bicara ngaco tak keruan?!"

Gu Kim Ciang ketawa tawar, wajahnya tetap bengis menakutkan sekali. "Kau kira dengan mengganti nama dan pindah tempat, kau dapat

melepaskan diri dariku ?!" bentaknya. ''Biar kau mengganti nama jadi si Ong setan atau si Ma kuda, tapi aku tetap mengenalimu sebagai si Su Lok ! "

"Chay-hee she Ong dan bernama Liat ! " kata Ong Wang-gwee cepat. "Aku bukan orang she Tan yang seperti kau sebutkan itu. Jin-heng jangan mengaco tak keruan !!"

"Mana Ciang Ban Lie ?!" tegur Gu Kim Ciang lagi. Kembali muka Ong Liat berobah.

"Siapa Ciang Ban Lie?" tanyanya, setelah dapat menguasai getaran hatinya. "Isteriku yang telah kau perdayakan !!" bentak Gu Kim Ciang lagi.

Ong Wang-gwee berusaha menguasai getaran hatinya, dia tertawa tawar. "Jin-heng, bicaramu seperti orang yang sedang mabok !" tegurnya kurang

senang. "Chay-hee belum pernah bertemu denganmu dan tak mengenalmu, sekarang kau mengatakan chay-hee bukan she Ong tapi she Tan, lalu sekarang kau mengatakan aku memperdayakan isterimu yang bernama Ciang Ban Lie itu! Uh sebetulnya apa maumu ?!"

"Aku mengingini jiwamu !!" kata Gu Kim Ciang tegas.

"Eh-eh .....kau maui jiwaku ?!" tanya Ong Liat sambil mundur setindak ke belakang. "Apa salahku ?! Apa kau tak takut wet negara ?!"

Gu Kim Ciang tertawa dingin.

"Kau jangan pura-pura bodoh Su Lok! " kata orang she Gu tawar. "Walaupun kita telah berpisah selama lima belas tahun, tapi aku masih mengingatnya wajahmu !!"

"Tapi chay-hee she Ong dan bernama Liat!" kata Ong Wang-gwee cepat. "Chay-hee tak mengenal orang yang kau sebutkan namanya tadi !!"

Mata Gu Kim Ciang jadi berkilat tajam, menyeramkao sekali. "Jadi kau bukan si Su Lok ! " tegurnya bengis.

Cepat-cepat Ong Wang-gwee menganggukkan kepalanya. "Ya..... ! Ya, chay-hee memang bukan orang yang jin-heng cari itu !!" katanya cepat. "Chay-hee Ong Wang-gwee, Tie-coe dari daerah Sian-lie-chung ini!!"

"Hu sial ! " Gerutu Kim Ciang. "Setelah bertemu, masih pura-pura jadi kucing kecil! Apa kau bukan Hohan seperti dulu lagi?!" Hohan ialah orang gagah.

Muka Ong Wang-gwee jadi berobah lagi.

"Apa maksud jin-heng ?" tanyanya sambil mengerutkan sepasang alisnya. "Maksudku ? " tanya Kim Ciang gusar. "Sudah kukatakan, aku mengingini

jiwa anjingmu !!" dan dia mendengus. "Kau dengar tidak?! Aku maui jiwamu !" "Tapi ..... tapi chay-hee tak mengenalmu, jin-heng !" kata Ong Wang-gwee

cepat. "Mungkin jin-heng salah mengenali orang !" Kim Ciang mendengus.

"Siapa nama jin-heng ?!" tegur Ong Wang-gwee lagi.

"Namaku tentu sudah kau ukir di hatimu pada lima belas tahun yang lalu !! Cepat ambil golokmu mari kita bertempur, siapa di antara kita yang mampus!!"

"Tapi ..... tapi chay-hee tak bisa bersilat, jangan kata pegang senjata, sedangkan untuk memegang kayu saja chay-hee tak kuat..... ! " kata Ong Liat ketakutan sambil menoleh pada Thio in Ciang dan Ma Giok.

Melihat kelakuan orang, Kim Ciang mendengus.

"Kau jangan menyuruh kedua orangmu itu, mereka berdua gentong nasi yang tak berguna ! Cepat ambil golokmu !!" bentak Kim Ciang lagi.

"Tapi    "

Namun, belum lagi Ong Wang-gwee menyelesaikan perkataannya itu, Kim Ciang telah melompat menyerang jurusan iga Ong Liat dengan gerakan yang gesit sekali. Dia menyerang dengan jurus yang mematikan dan ganas sekali, yaitu 'To Poat Sui Yang' atau 'Merobohkan Pohon Yang-liu. Hebat serangannya itu, karena belum lagi tangannya sampai, angin serangannya telah sampai. Kalau Ong Wang- gwee sampai terserang, maka paling sedikit tiga atau empat tulang iganya pasti bobol patah.

Thio In Ciang dan Ma Giok yang menyaksikan itu jadi menjerit kaget, tapi mereka tak keburu untuk menolong Ong-Liat, sebab gerakan Kim Ciang gesit luar biasa. Tinju orang she Gu itu meluncur terus ke iga Ong Liat dan. hartawan she Ong itu tak mempanyai harapan untuk meloloskan diri, karena tangan kiri Kim- Ciang sudah membarengi menyerang lagi lambung Ong Liat dengan jurus 'Giok Tay Wie Yao’ atau 'Sabuk Kumala Melibat Pinggang'. Dengan begitu Ong Liat diserang dari dua jurusan, dia jadi terkacip dan sukar untuk mengelakkan. Apalagi dia tak mengerti ilmu silat.

Namun, di saat tangan Gu Kim Ciang hampir mengenai tubuhnya, Ong Wang-gwes mengeluarkan jerit ketakutan, lalu tubuhnya terhuyung dan tangan Gu Kiai Ciang jatuh di tempat kosong.

Thio In Cang dan Ma Giok yang melihat junjungan mereka itu selamat, jadi menyeka keringat dingin dan menghembuskan napas dalam-dalam.

Pada saat itu Gu Kim Ciang telah menyerang lagi dengan tangan kiriuya menjepit silang, lalu menyapu lurus kearah dada Ong Wang-gwee. Tiga kali Ong Liat dapat mengelakan serangan itu, seperti tidak sengaja dia mengeluarkan jeritan tertahan.

Dalam waktu yang singkat, entah sudah berapa puluh jurus Gu Kim Ciang melancarkan serangannya, namun Ong Wang-gwee selalu dapat mengelakkannya, Thio In Ciang dan Ma Giok yang menyaksikan perkelahian yang pincang itu jadi heran. Mereka juga tak mengerti, mengapa Ong Liat dapat bertahan begitu lama dari serangan-serangan Gu Kim Ciang, karena mereka telah merasakan kekosenan orang she Gu itu yang telah dapat merubuhkan mereka dalam beberapa jurus saja ! Aneh. Memang aneh bagi Thio In Ciang dan Ma Giok, tapi tak aneh bagi Gu Kim Ciang karena dia memang mengetahui Ong Wang-gwee berkepandaian tinggi.

Pada saat itu Gu Kim Ciang tampak menyerang dengan ‘Lan Jiok Wie’ atau ‘Burung gereja pentang sayap', dibarengi lagi dendai tangaa kirinya menyerang dengan «'Beng Hauw Hok T yeng', atau 'Harimau buas menerkam mangsa', tangan kaisannya menyapu dari atas kebawah, kearah kepala Ong Wang-gwee, sedangkan tangan kirinya menyapu silang mengarah dada Ong Liat. Serangannya itu dilakukan saling susul beruntun. Dan Ong Liat sendiri seperti yang ketakutan, tangannya bergerak serabutan, se hingga tangan mereka saling membentur keras dan kedua-duanya melompat mundur. Hal itu terjadi hanya dalam satu atau dua detik. Cepat sekali.

"Nah ..... sekarang kau masih tak mau memperkenalkan dirimu ?!" bentak Gu Kim Ciang sambil menatap tajam muka Ong Liat.

Wang-gwee she Ong itu menyusut keringatnya.

"Kau benar-benar tolol !" kata hartawan she Ong itu. "Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku bukan orang she Tan yang sedang kau cari itu. tapi

sekarang kau mengatakan aku tetap orang she Tan itu ! Hei ..... sebetulnya ada urusan apa sih antara kau dengan orang she Tan itu ?!" Gu Kim Ciang mendengus tawar, wajahnya tetap bengis.

"Kau jangan pura-pura terus!" bentaknya kemudian. "Tadi kau telat menggunakan jurus 'Hing Kang Hui Toh’ atau 'menyerang sungai berterbangan' yang paling kau andalkan! Ayo, di mana Ban Lie ?"

Ong Wang-gwee menarik napas dalam-dalam, matanya berkilat.

"Baiklah orang she Gu!" katanya kemudian, suaranya berubah keren. "Rupanya memang sulit aku menyingkir darimu! Jadi sekarang kau mau apa?"

"Kau menanyakan, aku mau apa?" tanya Gu Kim Ciang sambil tertawa dingin. "Aku mau jiwamu!" dan berbareng dengan perkataannya itu, Kim Ciang meloncat lagi dengan kegesitan yang luar biasa, lalu mengibas dengan ujung jubahnya, menyampok kearah kepala Ong Wang-gwee, sehingga repot juga bagi hartawan Ong itu untuk mengelakkan yang menjepit dirinya itu, Tapi dengan kegesitan yang luar biasa dan sulit untuk diikuti dengan pandangan mata, Ong Wang-gwee memiringkan badan ke muka, membungkuk dalam-dalam, menaruh kedua telapak tangannya ke tanah, lalu menyepak ke atas menendang kedua tangan Gu Kim Ciang, sehingga dia jadi terhindar dari serangan orang she Gu itu. Sedangkan Gu-Kim Ciang telah hinggap turun di tanah lagi.

Kedua-duanya bersiap-siap seperti dua ekor macan yang buas sekali, mata mereka berkilat-kilat tajam, sehingga mengerikan. Lebih-lebih Gu Kim Ciang dengan mukanya yang kurus panjang dan rambutnya yang panjang riap-riapan menutupi sebagian mukanya, cukup menyeramkan bagi yang memandangnya. Thio In Ciang dan Ma Giok jadi kesima menyaksikan pertempuran itu.

Gu Kim Ciang belum mau berhenti sebelum serangannya berhasil, dengan mengeluarkan seruan panjang, dengan kaki kiri dimajukan sedikit ke muka, maka dia kembali menyerang dengan jurus 'Sian-jiu Kie-lo' atau 'Sang Dewa Menginjak Jalan' dia menghantam dengan disertai tenaga lwee-kang. Tangannya menyapu ke kiri dan ke kanan bulak-balik, untuk menutup jalan mundurnya Ong Wang-gwee.

Hartawan she Ong itu mengerang, menggunakan tangan kanannya menangkis tangan Gu Kim Ciang. Dia menggunakan kekerasan untuk melawan Gu Kim Ciang. Keras lawas keras, sehingga waktu kedua tangan mereka terbentur di udara, maka tubuh mereka tergetar, Tapi herannya tangan mereka jadi saling menempel, karena keduanya sedang mengadu kekuatan tenaga dalam mereka. Lwee-kang mereka telah mencapai taraf yang sempurna, sehingga tubuh mereka seperti juga dua menara yang kokoh sekali. Mata mereka saling mengawasi dengan tajam. Lama kelamaan tampak tubuh kedua orang  yang sedang  bertempur itu tergetar, butir keringat memenuhi wajah dan tubuh mereka. Ini adalah suatu pertempuran yang luar biasa sekali, satu kali saja mereka terpecahkan perhatiannya dan terbagi tenaganya yang sedang dicurahkan itu, maka jiwa mereka akan melayang menghadap Giam-lo ong, si raja akherat.

Thio In Ceng dan Ma Giok yang melihat itu jadi serba salah, mereka mengetahui bahwa kedua orang itu yang sedang bertempur itu sedang mengadu jiwa. Thio-In Ciang mengedipkan matanya pada Ma Giok, memberi isyarat agar kawannya menyerang dengan car a membokong kepada Gu Kim Ciang. Ma Giok mengerti isyarat kawannya itu, perlahan-lahan mereka maju menghampiri Gu Kim Ciang. Semakin dekat, semakin dekat, dan hati kedua orang itu jadi berdebar, tapi mereka juga terus maju. Biar bagaimana mereka harus membantu majikan mereka. Kedua orang itu, Gu Kim Ciang dan Ong Wang-gwee masih terus mengerahkan tenaga mereka dan memusatkan perhatian mereka pada lawan. Tangan kedua orang itu masih menempel erat sekali. Keringat telah memenuhi tubuh mereka yang menggigil keras. Tiba-tiba Gu Kim Ciang merasakan samberan angin serangan kedua orang yang membokongnya itu, sebab kalau saja dia mengelakkan serangan gelap itu, maka jiwanya pasti melayang di tangan Ong Wang-gwee. Maka dari itu dibiarkan saja pukulan Thio In Ciang dan Ma Giok mengenai punggungnya. Keras sekali pukulan itu, karena Thio In Ciang dan Ma

Giok mengingini sekali pukul mematikan orang she Gu itu.

Dengan mengeluarkan suara gedebukan yang keras, tangan Thio In Ciang dan Ma-Giok mengenai punggung Gu Kim Ciang. Namun tubuh Gu Kim Ciang tak bergerak, kokoh seperti menara. Thio In Ciang dan Ma Giok menghantam lagi dengan sekuat tenaga mereka.

Tapi, setiap kali Thio In Ciang dan Ma Giok memukul punggung Gu Kim Ciang, maka setiap kali juga Ong Wang-gwee mendelik matanya menahan perasaan yang begitu menyakitkan. Setiap kali, setiap kali, setiap kali, setiap kali juga pukulan Thio In Ciang dan Ma Giok menimpah punggung Gu Kim Ciang keras sekali, dan setiap kali juga Ong Wang-gwee menderita kesakitan yang sangat. Dia ingin mencegah kedua orangnya itu memukul Gu Kim Ciang tapi dia tak dapat, karena dia tak dapat bersuara. Sekali saja dia bersuara, habislah jiwanya. Sampai achirnya mengeluarkan jeritan yang lirih, tubuh Ong Wang-gwee terlempar keras sekali, dari mulutnya muntah darah merah yang segar.

Berbareng dengan terlemparnya tubuh Ong Wang-gwee, Thio In Ciang dan Ma-Giok sedang menyerang lagi sekuat tenaga pada punggung Gu Kim Ciang. Namun, bukannya Gu Kim Ciang yang kesakitan, malah kedua orang itu yang terlempar sambil menjerit kesakitan, karena tangan mereka telah teklok patah.

Gu Kim Ciang berdiri tegap sambil menyusut keringat, lalu menghampiri Thio In Ciang dan Ma Giok yang masih menggeletak di tanah menahan perasaan sakit yang luar biasa di tangan kanannya yang telah patah. Melihat Gu Kim Ciang menghampiri mereka, tubuh mereka gemetar, karena mereka duga, hari inilah riwayat mereka akan tamat.

"Am ..... ampunilah Gu Kie-hiap ! Ampun Gu Kie-hiap!" keluh mereka hampir berbareng. "Kami tak mengetahui persoalan Gu Kie-hiap. ampunilah

kami .....!" dan wajah mereka meringis menahan perasaan sakit pada tangan mereka.

"Kalian anjing-anjing buduk bentak Gu Kim Ciang mendongkol. "Sebetulnya walaupun kalian memanggilku Ya-ya atau Couw-cong, kalian tetap harus dibunuh, namun berhubung kalian telah membantuku merubuhkan Su Lok keparat itu, maka kali ini aku memberi ampun !" Couw-cong ialah kakek-moyang.

Thio In Ciang dan Ma Giok mengucapkan terima kasih, dengan menahan sakit mereka berdiri. Sebetulnya tidak tahu bantuan apa yang telah mereka berikan kepada orang she Gu itu.

Setelah mendengus, Gu Kim Ciang membalikkan tubuhnya menghampiri Ong Wang-gwee. Kata-katanya tadi memang benar. Thio In Ciang dan Ma Giok memang telah membantunya. Tadi diwaktu Thio In Ciang dan Ma Giok menyerang secara membokong, maka Gu Kim Ciang telah meminjam tenaga pukulan kedua orang itu, digabung menjadi satu dengan tenaganya yang disalurkan kepada Ong Wang-gwee, sehingga hartawan she Ong itu tak tahan membendung serangan ketiga arus tenaga yang begitu mendadak. Secara tak langsung Thio ln Ciang dan Ma Giok telah membantu Gu Kim Ciang. Namuu apes bagi mereka, ke dua orang itu masih menyerang dikala Ong Wang-gwee telah terlepas dari tempelan tangan Gu Kim Ciang, sehingga tenaga pukulan Thio In Ciang dan Ma Giok terpental balik memakan tuan, sehingga tangan kedua orang itu patah dan tubuhnya terpental......

"Mana Ciang Ban Lie !" bentak Gu Kim Ciang setelah menghampiri Ong Wang-gwee

Hartawan she Ong itu meringis menahan sakit, mulutnya telah berobah merah, karena darah segar masih mengalir keluar dari mulutnya. Dia terluka cukup parah, luka di dalam dan isi perutnya seperti terjungkir-balik, "Mana Ciang Ban Lie?!" bentak Gu Kim Ciang lebih keras waktu melihat orang berdiam diri saja.

Ong Wang-gwee tetap tak menyahuti, dia hanya meringis menahan sakit menatap Gu Kim Ciang dengan sorot mata membenci, seakan ingin menerkam dan menelan orang she Gu itu bulat-bulat.

Melihat itu Gu Kim Ciang tertawa hambar.

"Rupa-rupanya kau tak mau bicara. Kalau tak mau bicara, harus dipaksa ya

?!" katanya sambil membarengi dengan mengayun tangannya menotok kening Ong Wang-gwee sehingga seketika itu juga tubuh Ong Wang-gwee jadi tergetar, sebab dia merasakan seperti ada beribu-ribu semut yang menggigiti seluruh tubuhnya, sehingga mukanya yang dipenuhi oleh keriput-keriput ketuaan itu jadi berkerut menahan perasaan sakit yang menyiksa diri. Butir-butir keringat juga membasahi tubuhnya. Ternyata Gu Kim Ciang menotok jalan darah Jwan-ma-hiat.

Melihat kebandelan orang, Gu Kim Ciang tertawa mengejek lagi. "Kau mau bicara apa tidak ?!" bentaknya nyaring.

Ong Waag-gwsa mendelik padanya:

''Kalau kau mau bunuh, bunuhlah !" teriak Ong Wang-gwee sambil menahan perasaan sakitnya. "Bunuhlah jangan kau hina aku demikian macam!!'' Lalu dia

meng gigit bibirnya sampai bibir bawahnya itu berdarah.

Gu Kim Ciang mendengus.

"Kalau kau tak mau bicara, maka akan kusiksa kau mati tidak hiduppun tidak ," katanya menyeramkan sekali, sehingga Thio In Ciang dan Ma Giok jadi menggidik. "Kau mau bicara atau tidak?"

Akhirnya Ong Wang-gwee tak kuat menahan perasaan sakit yang menyiksa itu dia mengangguk

"Baiklah ..... be .....bebaskan dulu totokanmu ini ! " kata Ong Wang-gwee akhirnya.

Gu Kim Ciang tertawa tawar, dia mengurut beberapa saat dan terbebaslah Ong Wang-gwee dari siksaan yang menyiksa itu.

"Di mana Ban Lie ?" tegur Gu Kim Ciang kemudian.

"Dia     dia sudah meninggal!" sahut Ong Wang-gwee dengan susah payah,

"Bao Lie sudah mati ?! Dia mati ?" tanya Gu Kim Ciang dengan muka berobah hebat, tangannya menjambret baju Ong Wang-gwee keras sekali, wajahnya bengis luar bi!asa. "Ban Lie sud«h mati ?!" "Ya ..... Ban Lie sudah mati lima tahun yang lalu ! Dia .....terserang sakit yang keras!" sahut Ong Wang-gwee.

Gu Kim Ciang menatap Ong Wang-gwee ganas sekali, bengis tatapan matanya sehingga siapa yang melihatnya tentu akan menggigil ketakutan. Dicengkeramnya leher Ong Wang-gwee keras-keras sehingga mata Ong Wang gwee jadi mendelik dan napasnya jadi macet sukar sekali bernapas.

Tapi dalam keadaan yang begitu kritis, di mana nyawa Ong Wang-gwee berada di atas sehelai benang, dari dalam gedung Oag Wang-gwee terdengar jeritan perempuan.

Gu Kim Ciang menoleh terkejut, dilihatnya anak gadisnya Ong Wang-gwee berlari-lari menghampiri sambil menangis. Dari bibir Oag Wang-gwee terdengar, suara perlahan sekali memanggil nama puterinya itu suara ditenggorokan.

Ong Siu Lan menubruk tubuh ayahnya, menangis di situ. Tapi dia seperti teringat sesuatu, dia membalikkan tubuhnya, memandang Gu Kim Ciang dengan mata yang bengis, sedangkan Gu Kim Ciang pada saat itu sedang memandang si- gadis dengan tatapan mata yang tak berkedip aneh sekali.

"Kau .....kau sudah membunuh orang, sekarang melukai ayahku !" bentak Siu Lan, di antara isak tangisnya. "Kubunuh kau !" dan si gadis tanpa memperdulikan keselamatan dirinya lagi, sudah lantas menerjang dan mencakar wajah Gu Kim Ciang.

Sebetulnya kalau Gu Kim Ciang mau, dengan sekali mengebutkan ujung jubahnya, maka jiwa Siu Lan sukar untuk melindungi lagi. Tapi entah kenapa, Gu Kim Ciang tak melakukan itu, dia malah membalikkan tubuhnya sambil menjerit menyayatkan hati dan melarikan diri menghilang dibalik semak belukar yang gelap sekali.

Ong Siu Lan berdiri terpaku sesaat, lalu membalikkan tubuhnya menubruk Ong Wang gwee sambil memanggil-manggil ayahnya yang kala itu telah pingsan tak sadarkan diri.

Thio In Ciang dan Ma Giok menghampiri lalu dengan bantuan beberapa orangnya Ong Wang-gwee yang baru berani keluar setelah kepergian Gu Kim Ciang, mereka membawa hartawan she Ong itu ke dalam.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya Bab 3

MENJELANG fajar desa Sian-lie-chung ramai sekali, ibu-ibu repot mengurusi putera-puteri mereka, sedangkan Sang Suami telah keluar rumah untuk mencari nafkah. Coa Wie Sie dan Tiang Hok juga telah pergi ketepi sungai desa Sian-lie-chung untuk mulai menyewakan perahunya kepada orang-orang yang ingin menyeberangi sungai itu. Entah mengapa, pada pagi itu banyak sekali yang menyewa perahu Coa Wie Sie dan Tiang Hok, lebih-lebih dari orang-orang pendatang yang ingin menuju ke desa Sian lie-chung. Walaupun heran melihat bauyaknya orang yang menyeberang ke desa Sian-lie-chung itu, namun Coa Wie Sie dan Tiang Hok tak mau pusing-pusing memikirkannya, mereka hanya mengucapkan doa syukur dalam hati mereka, bahwa Thian yang maha pemurah telah memberkahi mereka pada pagi ini .....

Muka maupun pakaian orang-orang asing yang menyewa perahu Coa Wie Sie dan Tiang Hok bermacam ragam. Ada yang mukanya kurus petot, tapi menyeramkan, ada yang gemuk lucu, tapi matanya tajam menyeramkan sekali dan hampir semuanya berpakaian seperti orang sungai telaga, dari kalangan Kang-ouw. Hanya yang sama di antara mereka itu, ialah setangkai bunga Bwee putih yang terselip di dekat dada. Rupanya orang-orang asing itu datang kedesa Sian-lie-chung ini dengan mengandung sesuatu maksud.

Kedatangan orang-orang asing yang berjumlah sekitar dua ratus orang itu mengherankan penduduk desa Sian-lie-chung. Lebih-lebih ketika mereka berkumpul di Ciulauwnya Wang Ki Cun. Orang-orang itu berbicara dengan suara yang kasar dan keras, berisik sekali, sedang Wang Ki Cun dan pembantu- pembantunya sibuk melayani pesanan mereka dan repot menyediakan makanan- makanan untuk kawan arak bagi orang-orang asing itu.

"Apa benar si setan itu bakal melalui desa ini ?!" terdengar salah seorang berpakaian baju warna kuning bertanya pada kawannya yang berpakaian warna biru. Mukanya hitam seperti bekas terbakar.

"Entahlah      aku dengar sih begitu !" sahut si hitam. "Aku hanya menerima

perintah dari pemimpin."

Si baju kuning menarik napas, meneguk araknya. "Aku heran sekali " kata si baju kuning lagi. "Apa yang kau herankan, Huang-ma ?!" tegur orang yang berpakaian warna biru dan bermuka hitam.

Si baju kuning, Huang-ma, kembali menarik napas.

"Kau bayangkan saja ..... kita diperintahkan menghadang seorang tikus buduk, masakan dikerahi demikian banyak saudara-saudara kita ! " katanya.

Si hitam ketawa.

"Kau tak tahu ..... di belakang tikus buduk itu ada tikus raksasanya       !"

katanya. "Kita hanya melaksanakan perintah, sedangkan kauw-coe lebih mengetahui keadaan lawan kita itu !"

"Tapi Hek Lo-sam," kata Huang-ma memotong perkataan kawannya. "Kukira dengan mengerahkan sepuluh atau dua puluh orang saudara-saudara perkumpulan kita, tentu tikus-tikus buduk itu akan dapat kita bekuk !"

Hek Lo-sam, si-hitam, tak menyahuti perkataan kawannya itu. Dia mengangkat cawannya dan meneguk arak yang ada di dalamnya.

Keadaan di warung Waug Ki Cun masih ramai saja. Banyak di antara orang- orang asing itu yang membicarakan maksud kedatangan mereka. Namun, seorangpun tak ada yang mengetahui pasti, untuk apa mereka datang ke daerah Sian-lie-chung ini. Mereka hanya diperintahkan oleh Kauw-coe, ketua perkumpulan mereka, untuk berkumpul di kampung bidadari tersebut. Mereka berkumpul diwarungnya orang she Wang itu sampai menjelang lohor. Dan, di saat itulah dari luar terdengar suara seruling yang tertiup nyaring sekali, terdengar menyakitkan anak telinga. Wajah semua orang-orang yang berada di warungnya Wang Ki Cun berubah. Dari luar tampak bertindak memasuki warungnya Wang Ki Cun lima orang berpakaian aneh sekali, lain dan kebiasaan dengan pakaian orang disitu. Mereka mengenakan baju panjang berlengan panjang, tampaknya kebesaran, ditengah-tengah, di dekat dada tampak lukisan sebatang golok dengan gagangnya terukir kepala naga. Sikap mereka agung sekali. Yang berjalan paling muka, seorang laki-laki setengah tua, berusia di antara empat puluh tahun, sikapnya ramah dan lembut, sedangkan yang keempat orang lainnya, yang barjalan di belakang laki-laki setengah tua itu, rupanya meajadi pengawal laki-laki yang pertama. Wajah keempat orang yang belakangan itu sangat menyeramkan dan bengis. Tubuh mereka tinggi besar, kokoh sekali.

Ketika kelima orang ini memasuki Ciuw-lauwnya Wang Ki Cun, maka semua orang-orang asing yang berada di dalam warung minuman tersebut semuanya berdiri dan membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam, seperti sedang memberikan penghormatan.

"Hauw Lo-tangkeh !" seru semua orang-asing yang berada di w arung arak

itu.

Lelaki setengah tua  berpakaian serba merah yang aneh itu, mengangkat

tangannya, menggoyang-goyangkan.

"Duduklah .....!" katanya sambil mengibaskan sedikit ujung lengan jubahnya. "Duduklah Liat-wie !!"

Semua orang-orang asing yang berkumpul di warung Wang Ki Cun kembali duduk di kursi mereka masing-masing. Kelima orang berbaju merah aneh itu memperoleh meja yang di sudut warung itu, mereka menerima perlakuan yang menghormat sekali dari orang-orang yang sedang berkumpul di warung arak Wang Ki Cun.

Sejak kedatangan kelima orang itu, yang dipanggil sebagai Hauw Loo- tangkeh, si Macan, oleh orang-orang di warung Wang Ki Cun, maka keadaan di warung tersebut jadi sunyi, tak ada yang bersuara.

Tiba-tiba lelaki setengah tua berpakaian baju serba merah itu, Hauw Loo- tangkeh, menoleh pada salah seorang yang duduk di dekat mejanya.

"Kemari kau !" dia melambaikan tangannya.

Orang-orang itu cepat-cepat menghampiri dengan sikap yang menghormat. "Ada perintah apa, Hauw Loo-tangkeh?" tanyanya.

"Kini Soe Loo-tangkeh sudah datang belum ?" tanya Hauw Loo-tangkeh. "Belum !"

"Tapi kini sudah mendekali lohor ..... apa Kim Soe Loo-tangkeh menemui halangan di jalan ?" kata si Macan sambil mengerutkan alisnya.

"Entahlah Hauw Loo-tangkeh ..... Siauw-jin akan memerintahkan beberapa orang saudara untuk menyelidiki !" sahut orang itu cepat.

"Bagus !" kata Hauw Loo-tangkeh, lalu mengibaskan tangan jubahnya memerintahkan orang itu berlalu. Selelah itu Hauw Loo-tangkeh itu mengawasi keempat orang pengawalnya yang berpakaian sama dengannya berbaju panjang serba merah, yang sejak tadi berdiam diri saja. Wajah keempat orang pengawalnya itu rata-rata bengis dan mirip satu dengan yang lainnya.

"Kim-coa Kui-jin !" panggil Hauw Loo tangkeh, pemimpin macan itu.

"Ya, Hauw Loo-ya?" menyahuti salah seorang di antara keempat pengawalnya. "Pergilah kalian keluar, awasi kalau tiga orang yang sedang kita nantikan itu sudah memasuki daerah ini ! " perintah si Macan.

"Ya, Hauw Loo-ya !" sahut keempat orang itu hampir berbareng, lalu dengan gesit sekali mereka keluar dari warung arak itu. Mereka adalah pengawal Hauw Loo-tangkeh yang paling diandalkan sekali, karena selain tubuh mereka yang tinggi besar dan bertenaga kuat, mereka juga kosen sekali dalam soal ilmu silat. Keempat orang itu menguasai ilmu silat Khong-tong Pay.

Sedangkan Hauw Loo-tangkeh duduk seorang diri sambil menikmati araknya yang telah disediadan oleh Wang Ki Cun. Walaupun sikapnya tenang luar biasa, namun wajahnya tak dapat menyembunyikan kegelisahan yang sedang merangkuh dirinya.

Sejak kedatangan Hauw Loo-tangkeh itu berikut keempat pengawalnya yang berpakaian serba merah, orang asing yang berada di dalam warung arak Wang Kie Cun jadi bungkam tak bersuara, sehingga kesunyian menguasai mereka. Tak ada yang ribut-ribut membicarakan suatu apapun, mereka hanya berbisik jika membicarakan sesuatu. Keadaan begitu berlangsung terus sampai mendekati malam.

Tetapi, di saat orang-orang di dalam warung itu sedang dalam kegeiisan, tiba-tiba salah seorang di antara keempat pengawal Hauw Loo-tangkeh, menerobos masuk ke warung arak itu, berlari-lari menghampiri Houw Loo-tangkeh.

"Hauw. Loo-ya     orang-orang itu sudah sampai di tepi sungai !" katanya.

Hauw Loo-tangkeh mengangguk, dia berdiri. "Siap semuanya ," dia memberikan perintahnya.

Orang-orang yang berada di dalam warung itu dengan serentak berdiri, lalu mengikuti Hauw Loo-tangkeh mereka menuju keluar.

Dengan langkah yang tenang Hauw Loo-tangkeh itu keluar dari warung arak, berdiri tegak dekat pintu mengawasi kearah sungai tepi desa Sian-lie-chung. Tampak ketiga pengawalnya yang lain telah menghampiri dan berdiri di sampingnya.

Dari kejauhan tampak empat sosok tubuh sedang mendatangi kearah warung arak Wang Ki Cun. Setelah mendekat, ternyata mereka bangsa Han. Tiga lelaki bertopi bulat lebar, sehingga wajahnya kurang begitu jelas dan seorang gadis, baru berusia tujuh atau delapan belas tahun. Sikap keempat orang itu tenang sekali, mereka terus juga maju kearah warung Tanpa memperdulikan orang-orang Hauw Loo-tangkeh yang menghadang di depan warung, mereka maju terus.

Hauw Loo-tangkeh mengedipkan matanya memberi tanda pada beberapa orang-orangnya dan orang-orang itu tahu apa yang harus mereka kerjakan. Mereka maju menghadang di depan pintu warung arak.

"Berhenti .....! Kalian berdiri disitu, kalau mau selamat kalian jangan bergerak!" bentak salah seorang di antara beberapa orang anak buahnya Hauw Loo-tangkeh.

Tapi keempat orang itu maju terus, mereka seperti tak mendengar suara anak buahnya Hauw Loo-tangkeh. Salah seorang yang berkumis lebat di antara keempat pendatang itu mengulurkan tangannya ke muka, lalu mengebaskannya.

"Minggir kau !!" bentaknya. Dingin suaranya. Hebat kesudahannya !

Tujuh anak buan Hauw Loo-tangkeh terpental seperti tertiup angin puyuh. Dengan mengeluarkan jerit kesakitan, tubuh mereka ambruk ke tanah. Dua orang di antara mereka patah tangannya, yang seorang lagi kakinya terkilir. Mereka mengaduh-aduh.

Di antara seruan marah dari orang-orangnya Hauw Loo-tangkeh, keempat pendatang itu maju terus memasuki warung.

Wang Ki Cun yang melihat gelagat kurang baik, sudah cepat-cepat menuju ke belakang warungnya. Dia tahu keributan besar akan terjadi, Tubuhnya jadi agak menggigil ketakutan dan bersembunyi di bawah meja kasir.

Waktu keempat orang itu akan melangkah masuk ke dalam warumg arak, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan yang gesit sekali. Hauw Loo-tangkeh tahu- tahu telah berdiri melintang di depan mereka.

Laki-laki tua berkumis itu mengulurkan tangannya lagi, mengibaskan ujung jubahnya kembali dengan maksud membikin Hauw Loo-tangkeh terpelanting. Tapi si Macan menyambut serangan laki-laki berkumis itu, sehingga tangan mereka terbentur satu dengan yang lainnya, menimbulkan suara yang keras sekali. Tubuh si Macan dan laki-laki berkumis itu tergetar sesaat, lalu mereka masing-masing berdiri tegak sambil menarik tangan mereka masing-masing.

"Selamat bertemu, Tang Kie-hiap!" kata Hauw Loo-tangkeh sambil membungkukkan tubuhuya dan tersenyum lembut, sikapnya tetap sabar, tapi matanya berkilat tajam. Sedangkan lelaki berkumis itu juga terkesiap hatinya waktu tangannya terbentur dengan si penghadangnya itu. Karena tadinya dia menduga, dengan sekali menghantam, dia akan berhasil, dan akan dapat menggulingkan orang itu. Tapi nyatanya, orang itu dapat bertahan dia merasakan getaran yang hebat dalam tangkisan orang yang ada di hadapannya itu.

"Siapa kau?" tegurnya.

"Sebetulnya nama chay-hee tak berharga untuk Tang Kie-hiap," kata Hauw Loo-tangkeh. "Tapi biasanya orang-orangnya memanggilku dengan sebutan Cin Sia Ong "

"Oh .....jin-heng tentu Cap-sie Hauw Loo-tangkeh, bukan ? " tanya laki-laki berkumis itu.

"Tak salah!" sahut Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong. "Siauwtee memang menduduki kursi keempat belas dari Pek Bwee Kauw."

"Aku orang she Tang belum pernah berhubungan dengan Pek Bwee Kauw, hubungan kita seumpama air sumur dengan air sungai yang tak pernah saling bercampur maka ada urusan apa Liat-wie menghadang perjalanan kami?"

Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong tetap berlaku sabar, dia tersenyum.

"Tepat perkataan Tang Tay-hiap !" kata Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong kemudian. "Hubungan kita, walaupun belum saling kenal satu dengan yang lainnya, tapi kita sama mengagumi nama Tang Tay-hiap yang harum di Soe-coan barat ..... ! Dan kemarin Siauw-tee menerima perintah dari Kauw-coe kami, agar menanyakan pada Tang Tay-hiap, apakah Tang Tay-hiap yang bertugas membawa peti pusaka itu ?!"

"Apa maksud jin-heng menanyakan soal itu ?" tanya laki-laki berkumis yang dipanggil Tang Tay-hiap itu, sikapnya tak senang. "Maaf, kami tak mengetahui persoalan peti pusaka dan kuminta Liat-wie memberi kami jalan !!"

Si Macan ketawa lagi, sikapnya tenang sekali. Ketika itu anak-anak buahnya telah bersiap-siap dengan senjata mereka, karena tampaknya Tang Tay-hiap itu akan bersikap keras.

"Tang Siu Cauw !" kata si Macan lagi. "Sebetulnya Siauw-tee juga tak enak hati untuk mengganggu Tang Tay-hiap sesaat. Tapi, berhubung Siauw-tee menerima perintah dari Kauw-coe, maka mau atau tidak Siauw-tee harus memberanikan diri mengganggu Tang Tay-hiap." dia batuk beberapa kali dan menatap wajah Tang Siu Cauw laki-laki berkumis itu. "Jadi Siauw-tee hanya ingin menanyakan kepada Tang Tay-hiap, apakah peti pusaka itu memang Tang Tay- hiap yang membawanya ?!"

Wajah Tang Siu Cauw jadi salin rupa.

"Kalau memang aku yang membawanya jin-heng mau apa ?" tegurnya keras, dia memang sifatnya agak berangasan dan cepat naik darah, maka melihat sikap orang, darahnya sudah lantas meluap.

Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong tetap berlaku sabar dan tenang, dia malah mengisyaratkan kepada anak buahnya agar menyimpan senjata mereka. Namun suasana mulai panas.

"Tang Tay-hiap      sebetulnya Siauw-tee juga tak berani untuk mengganggu

waktu Tang Tay-hiap, tapi maafkanlah, Siauw-tee terpaksa harus melakukan perintah Kauw-coe kami !!" Hebat kata-kata itu, karena Hauw Loo-tangkeh juga menyatakan secara tak langsung, bahwa kalau Tang Siu Cauw berkeras, mereka akan mengambil jalan kekerasan.

"Terserah pada kalian!!" teriak Tang Siu Cauw, dia maju selangkah. "Ming- gir ! "

Hauw Loo-tangkeh yang bermata tajam melihat Tang Siu Cauw mengulurkan tangannya untuk mendorong, dia tak mau menangkis, tapi mengegos ke samping dengan miringkan sedikit tubuhnya, sehingga tangan Tang Siu Cauw lewat di sisi tubuhnya.

"Sabar Tang Tay-hiap ..... " kata si Macan masih sabar, walaupun hatinya sudah agak mendongkol melihat sikap orang kasar.

Tang Siu Cauw jadi lebih mendongkol waktu tangannya jatuh di tempat kosong, dia akan menyerang lagi, Tapi si gadis yang bersamanya telah mencegah, malah si gadis telah maju ke depan Hauw Loo-tangkeh. Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"Hauw Loo-pek .....!" katanya sambil senyum. "Sebetulnya siauw-moy telah mendengar nama Loo-pek yang besar ..... Siauw-moy juga kagum mendengar kekosenan Loo-pek yang telah dapat merubuhkan sebelas orang murid Siauw-lim Sie."

Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong mengawasi anak gadis itu. Dia memperoleh kenyataan orang cantik sekali.

"Lie-hiap tentu Sian-lie Pek-ie Wie Soe Niang, bukan ?" tanya Cin Sia Ong kemudian. "Tak salah. !" sahut si gadis cepat. "Dan Siauw-moy kira di antara pihak kita tak pernah ada keributan, bukan ?!"

Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong tersenyum mendengar perkataan si gadis. "Ya ya, Loo-hu kira juga begitu!" sahutnya cepat. "Tapi tadi pagi Loo-hu

menerima perintah dari Kauw-coe kami yang memerintahkan agar Loo-hu menanyakan kepada Tang Tay-hiap, apakah kotak pusaka itu dibawa oiehnya.

"Tapi kami tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Loo-pek itu dengan kotak pusaka .....!" kata Sian-lie Pek-ie Wie Soe Niang, yaitu bidadari baju putih Wie Soe Niang. "Kami sebagai orang perantauan, mana mempunyai segala benda pusaka ?!"

Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong hanya tersenyum, dia menatap Tang Siu Cauw.

Sedangkan Tang Siu Cauw jadi tambah mendongkol, dia maju selangkah

lagi.

"Mundur kau soe-moy !" katanya pada si-gadis.

Wie Soe Niang mengangguk, dia mengundurkan diri ke belakang, kedekat

kedua kawannya yang lain. Sedangkan Tang Siu Cauw sudah maju mendekat pada Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong.

"Kami Kwan-tong Sie-hiap memang sudah mendengar kebesaran Pek Bwee Kauw," kata Tang Siu Cauw dan yang dimaksud dengan Kwan-tong Sie-hiap, yaitu empat pendekar dari tembok besar. "Kami belum pernah bentrok dengan orangmu, juga belum pernah mengganggu orang-orangnya Pek Bwee Kauw !"

Mendengar perkataan Tang Siu Cauw, Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong tertawa.

"Mana berani Siauw-tee menepuk lalat di mulut harimau ?" katanya cepat. "Sudah terang Siauw-tee tidak berani berlaku kurang ajar terhadap Tang Tay-hiap-

..... tapi, Siauw-tee telah terima perintah dari Kauw-coe kami untuk menanyakan tentang kotak pusaka itu kepada Tang Tay-hiap!!"

"Hmm     bukankah sudah kukatakan tadi ?" bentak Tang Siu Cauw. "Kalau

memang kotak pusaka itu kami yang bawa kalian dari pihak Pek Bwee Kauw mau apa?!" nyata Tang Siu Cauw sangat mendongkol.

"Siauw-te mana berani berbuat apa-apa terhadap Tang Tay-hiap ?        tapi

Kauw-coe kami perintahkan agar Tang Tay-hiap rela meminjami kotak pusaka itu kepada Pek Bwee Kauw untuk beberapa saat, nanti setelah beberapa bulan, kami pasti akan manghantarkannya kembali pada Tang Tay-hiap . Budi yang besar itu tentu takkan dilupakan oleh Pak Bwee Kauw !!"

Muka Tang Siu Cauw jadi berubah hebat, alisnya mencuat ke atas semakin tinggi.

"Bagaimana Tang Tay-hiap ?" tegur Hauw Loo-tangkeh lagi sambil tertawa. "Tang Tay-hiap tentu mau berlaku murah pada perkumpulan kami, bukan ?"

Serasa mau meledak dada Siu Cauw. "Setuju Cauw congmu !" bentak Siu Cauw sengit. "Kalian anggap apa kami ini ?" Cauw-cong ialah kakek moyang.

Si-Macan tetap dapat berlaku tenang, dia malah ketawa lagi.

"Begini Tang Tay-hiap ..... kau tentu mengerti, kalau kita mengambil jalan kekerasan, tentu tak ada gunanya, bukan ? Malah akan merusak hubungan kita .....

Maka itu, lebih baik kita mengambil jalan tengah saja ..... Kauw-coe kami malah bersedia memberikan seribu tail emas pada pihak Tang Tay-hiap !"

Wajah Tang Siu Cauw jadi berubah merah matang.

"Kami tak butuh dengan harta kalian !" katanya dengan suara menggeledek. "Lekas minggir !"

Wajah Hauw Loo-tangkeh jadi berubah, tapi dia masih dapat menguasai dirinya dan ketawa.

"Sulit memang Tang Tay-hiap .....Siauw-tee sendiri tak bisa mengatakan apa-apa .....hanya Siauw-tee ingin menasehati agar Tang Tay-hiap untuk memikirkan dulu apa yang akan Tang Tay-hiap lakukan .....dan menurut Siauw- tee, bukankah lebih baik kita menjadi sahabat saja ..... ? Tak ada ruginya Tang Tay-hiap ..... Malah di sembarang waktu kalau memang Tang Tay-hiap membutuhkan bantuan dari pihak Pek Bwee Kauw, maka kami akan membantu Tang Tay-hiap dengan tangan terbuka.

Tang Siu Cauw mendengus dengan wajah memperlihatkan kemendongkolannya.

"Kau bicara seenak isi perutmu saja, Hauw Lo-mo !!" bentaknya. "Apa kau kira kami mau bercampur baur dengan orang-orang kotor semacam kalian ?"

Hauw Lo-mo artinya harimau iblis.

Mendengar perkataan Tang Siu Cauw yang terachir itu, muka Hauw Loo- tangkeh jadi berubah hebat, sedangkan anak buahnya telah mengeluarkan seruan marah.

"Jadi Tang Tay-hiap mau juga mengartikan kau tak mau mengambil jalan damai ?" tegur si Harimau mendongkol. Siu Cauw ketawa mengejek.

"Biar bagaimana kami tak mau bercampur baur bergaul dengan kalian !" katanya dingin. "Dengarlah hei Cin Sia Ong ! Kunasehati padamu, sebelum terlambat lebih baik kau bertobat dan keluar dari duniamu yang sesat itu !!"

Muka Cin Sia Ong jadi berubah hebat.

"Baiklah !" katanya tawar. "Kalau begitu Tang Tay-hiap mau mengambil jalan kekerasan, bukan ?"

"Benar! Sedikitpun tak salah !" sahut Tang Siu Cauw aseran.

Wajah Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong berobah merah padam, tapi dia masih berusaha mengendalikan gejolak hatinya.

"Sekarang Siauw-tee hanya ingin menanyakan kepadamu, Tang Tay-hiap !" katanya lagi. "Apakah kotak pusaka itu benar-benar berada di tanganmu ?!"

"Mengapa kau begitu cerewet seperti nenek yang sudah bongkok ?!" tegur Tang Siu Cauw sambil mendengus mengejek

Hauw Loo-tangkeh tertawa sinis sekali.

"Baiklah Tang Tay-hiap ..... sebetulnya sih Siauw-tee hanya memenuhi perintah dari Kauw-coe kami untuk mengambil kotak pusaka itu, maafkan saja ya

.....!" dan berbareng dengan habisnya perkataan Hauw Loo-tangkeh itu, tubuhnya berkelebat menggeser kedudukan, dengan tak terduga si Harimau melompat seperti menerkamnya seekor macan, mulutnya mengeluarkan siulan yang panjang. Dia bermaksud untuk menjambret pauw-hok. buntalan, yang ada di punggung Tang Siu Cauw.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)