Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 11 : Durjana Pemenggal Kepala

 
Eps 11 : Durjana Pemenggal Kepala


Bangunan yang satu-satunya berdiri di atas bukit itu nampak menyeramkan. Apalagi dalam suasana malam seperti ini. Bulan yang bulat penuh mengembang di balik bukit membuat bangunan itu makin angker.

Suara-suara binatang malam pun mengelilingi penuh suasana bukit. Diselingi dengan  suara  mengerikan belasan burung  hantu  yang  bertengger  pada  pohon kering yang ada di samping bangunan.  Belasan pasang mata mereka menyala bagai bara yang  menerangi tiap-tiap cabang pohon kering.

Bangunan itu sendiri rupanya sudah tidak keruan. Meskipun besar sepertinya sudah tidak terurus lagi. Sekelilingnya semrawut bekas puing-puing. Tatkala angin berdesir, maka bau busuk menyengat memenuhi bukit itu.

Di depan pintu bangunan berderet tangga batu yang memanjang menurun ke bawah. Di sepanjang kedua sisi tangga batu banyak berdiri tonggak-tonggak kayu. Sinar bulan dapat menerangi dengan jelas apa yang tertancap pada tiap-tiap kayu tonggak itu.

Mengerikan sekali. Kutungan bukit tersebut menyebar bau busuk.

Dari kejauhan semuanya nampak dingin dan menyeramkan. Terdengar juga daun jendela yang berderak-derak tertiup angin, juga kepak-kepak sayap kelelawar yang berterbangan keluar dari bangunan itu.

Namun semua pemandangan yang cukup membangunkan  bulu roma itu tidaklah membuat takut bagi kedua orang yang nampak menjajaki tangga batu. Keduanya berjalan saling susul tanpa menoleh. Langkah-langkah mereka sempoyongan. Orang yang berjalan di belakang entah sudah berapa kali jatuh bangun. Terkadang pula ia harus memanggil-manggil orang yang berjalan mendahului.

"Kang... Aduuuuh,  tunggu  dulu,  Kang. Hoeeeek!" rintihnya sambil mengeluarkan muntah. Pasti karena bau busuk itu.

"Rasanya aku hampir tidak sanggup berjalan lagi. Aku tidak tahan dengan bau busuk begini." katanya lagi. Orang yang berjalan di depan tidak menyahut.

Mereka adalah kakak beradik yang akan menuju bangunan itu. Entah  ada maksud apa mereka sampai berani mendatangi tempat semacam itu. Sebelumnya mereka sama sekali tidak mengetahui adanya sebuah bangunan di atas bukit. Meskipun mereka sekarang tahu betapa seramnya. Tidak kepalang mereka nekad mendatangi juga.

"Itukah tempatnya, Kang?... Rasanya aku tidak berani masuk. Kau sajalah yang menemui Eyang Tumbal Segara. Biar aku tunggu di luar." kata sang adik sambil menutup kedua lobang hidungnya dengan jari. Ketika mereka tiba di depan pintu bangunan, mereka berdiri berdampingan. Di tempat setinggi itu rupa mereka kelihatan jelas.

"Kita harus masuk bersama, Ambali Songka. Jelas tujuan kita sama. Jadi kita tidak perlu takut apa pun yang harus kita hadapi." jawab lelaki itu menatap adiknya. Nampak wajah penuh berlumuran darah. Sebelah kelopak matanya pecah. Untunglah tidak menembus sampai ke bola mata.

Keadaan Ambali Songka lebih parah lagi. Selain tubuhnya bersimbah darah. Telinga serta mulutnya sapat seperti kena babatan pedang. Tentu saja sakit kalau ia bicara.

"Tapi aku tidak tahan dengan suasana yang begini, Kakang Basu Dewa. Keadaan di sini benar-benar menjijikkan." kata Ambali Songka bergidik. Basu Dewa memandang geram.

"Kita sudah sampai pada tempat tujuan.  Mau apa lagi? Mau coba-coba balik? Itu sama saja kita bunuh diri. Bagi Eyang Tumbal Segara pantang gagal kedatangan tamu! Ayo masuk!" Basu Dewa menarik lengan Ambali Songka yang menutupi lobang hidungnya.

Keduanya serentak masuk melalui pintu. Sekali dorong daun pintu itu berderak menguak. Tanpa raguragu Basu Dewa menuntun adiknya. Cukup terang ruangan itu. Karena sinar bulan dapat  langsung  masuk dari pintu dan jendela yang terbuka lebar.

Dan di dalam ruangan bangunan itu tidak ada apa-apa. Dalam bangunan begitu lapang bagai sebuah gudang. Lantainya dari susunan batu marmer. Di tengah-tengah ruangan itu pula terdapat sebuah kolam dengan airnya yang hitam keruh.

Hati-hati sekali kakak beradik itu masuk semakin ke dalam. Mereka berhenti sampai terhalang oleh kolam. Keduanya celingukan seperti mencari-cari seseorang.

"Eyang... Eyang Tumbal Segara? Di mana kau? Kami datang untuk memohon petunjukmu." kata Basu Dewa. Suaranya bergema dalam ruangan itu. Ambali Songka berpegangan erat ketakutan.

"Tidak ada siapa pun di sini. Pasti kita telah salah alamat." ujar Ambali Songka.

"Di sini tidak lebih seperti tempat pejagalan." katanya lagi. Basu Dewa tidak perduli dengan ucapan Ambali Songka. Ia terus memanggil-manggil. Matanya memandang berkeliling. "Eyang Tumbal Segara    "

Mendadak saja air kolam yang hitam keruh itu menggelegak. Buih-buih muncul bergelombang di hadapan mereka. Ambali Songka hampir loncat karena terkejut. Tapi Basu Dewa cukup tenang. Air kolam makin bergelombang. Dari buih-buih muncul asap kebiruan mengepul, lalu terdengar juga suara parau berbicara....

"Selamat datang, Cucuku... Selamat datang...

Tempat ini memang selalu terbuka untuk siapa saja." Tidak ada siapa pun di situ selain mereka berdua. Tapi jelas mereka dapat mendengar suara itu. Dan yang lebih yakin lagi kalau sumber suara itu berasal dari dasar kolam.

"E-E-Eyang... Kaukah itu?" Mata Basu Dewa membelalak menatap yang tidak nampak ke arah kolam.

"Ha ha ha ha...!" Terdengar suara tawa yang menggelegar menggetarkan  jantung  mereka.  Bersamaan dengan itu pula air kolam muncrat ke atas bagai air mancur, kemudian...

"Siapa lagi yang mendiami tempat  ini  selain aku, si Tumbal Segara... Hak hak  hak  hak..."  Suara parau menggema nyaring.

"Eyang..." Basu Dewa hampir-hampir tidak percaya mendengar suara parau itu dari dasar kolam.

"Kakang Basu Dewa... Aku takut." bisik Ambali Songka.

"Hak hak hak hak hak... Kalau merasa takut kenapa jauh-jauh nekad datang ke sini? Heh? Kalian tahu bukan, aku selalu memenuhi apa pun permintaan kalian."

"Be-Benar, Eyang... Kami memang ingin meminta sesuatu pada Eyang..." jawab Basu Dewa memberanikan diri. Kedua matanya tidak berkedip menatap air hitam yang mancur ke atas.

"Tidak usah kau sebutkan pun aku sudah tahu maksud tujuanmu, Cucuku. Bagus-bagus... Tidakkah kalian menyesal bersekutu denganku?" Suara Eyang Tumbal Segara terdengar lebih menyeramkan.

"Ti-Tid-tidak, Eyang. Kami sudah berpikir panjang lebar. Bagaimana pun kami harus membalas sakit hati ini terhadap Amarsa Rawut. Dia pula yang membuat aku terluka parah begini." tutur Basu Dewa.

"Hal itu mudah. Kau bisa melakukannya nanti.

Tapi sudahkah kalian tahu apa syarat-syaratnya.

"Apa pun yang Eyang minta pasti aku penuhi." jawab Basu Dewa.

"Betul, Eyang Tumbal Segara harus membantu kami. Tidakkah Eyang lihat sendiri rupa kami?  Aku yang tolol harus kehilangan telinga dan mulutku pun hampir tidak ada bibirnya. Sedangkan Kakang Basu Dewa nyaris kehilangan sebelah matanya." Ambali Songka mulai berani buka suara. Air kolam itu bergolak lagi....

"Setelah kalian bersekutu denganku, ka rupa kalian akan kembali seperti semula. Juga tidak segansegan aku menurunkan ilmu paling dahsyat pada kalian. Bukankah itu yang kalian pinta?"

"Be-Betul, Eyang. Kami memang berniat balas dendam terhadap si keparat Amarsa Rawut!" jawab Basu Dewa penuh semangat.

"Itu mudah saja. Asalkan kalian menyetujui persyaratannya."

Dua kakak beradik ini diam. Mereka saling pandang mendengar penuturan Eyang Tumbal Segara yang berdiam di dasar kolam.

"Kalian harus mengirim kepala orang-orang berilmu tinggi setiap tujuh hari sekali. Sanggup?" "Sanggup!" jawab Basu Dewa cepat. "Sebenarnya masih ada kesempatan untuk ka-

lian berubah pikiran. Sebab dalam jangka waktu tujuh hari tanpa menyerahkan sebuah kepala, maka kepala kalian yang akan menjadi gantinya."

"Apapun resikonya akan  kami  sanggupi, Eyang." jawab mereka bareng. Bersamaan dengan itu pula air kolam membuih hebat. Asap kebiruan berbau busuk mengepul lebih banyak. Terdengar juga suara tawa parau yang menggelak-gelak...

"Hak hak hak hak hak hak hak hak hak hak... Kalau begitu mulai sekarang kalian telah menjadi sekutu ku. Nah bukalah semua pakaian kalian, lalu bersila di hadapan kolam ini. Kalian akan menerima penyucian diri." Mendengar perintah Eyang Tumbal Segara, Basu Dewa dan Ambali Songka langsung menuruti. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah duduk bersila telanjang bulat menghadap ke kolam.

Keduanya tidak berani membuka mata selama bersila. Yang mereka rasakan hanyalah bau busuk menyengat hidung. Mereka tak tahu kalau asap kebiruan itu mulai menyelubungi tubuh mereka berdua. Terasa pula air kolam begitu dingin  begitu menyiprat ke arah mereka. Air kolam seakan menyiram mereka berkali-kali.

Tanpa sepengetahuan mereka pula sesuatu muncul dari permukaan kolam yang menggolak. Sosok tubuh berjubah hitam. Wajahnya tidak begitu jelas, karena jubah itu langsung menutupinya. Ketika sosok itu menyembul dan berdiri di atas permukaan air. Maka terlihatlah sosok menyeramkan. Kedua belah tangannya erat menggenggam dua buah kapak berkilat. Kedua lengan itu terangkat ke atas saat ia tertawa menggelegak.

"Hak hak hak hak..." Suara tawa itu mengusir asap kebiruan dan masuk kembali ke dasar kolam. Tempat itu menjadi terang dengan seketika. Sinar menyilaukan memancar memenuhi seluruh ruangan. Dua sosok telanjang bulat menggigil. Ketika mereka membuka mata. Terlihatlah sosok tubuh berjubah hitam berdiri di atas permukaan air.

"Beginilah rupa Eyang Tumbal Segara, cucuku... Dan kalian tidak perlu takut."

Sosok itu masih mengangkat kedua lengannya.

Terlihat dua buah kapak berkilat sangat tajam.

"Kalian telah ku sempurnakan sebagaimana seutuhnya manusia." Mendengar ucapan itu,  keduanya langsung memperhatikan tubuh mereka sendiri. Di tubuh mereka tidak nampak lagi bekas-bekas lumuran darah maupun luka. Ambali Songka tidak percaya saat ia memegang luka-lukanya. Mulut serta daun telinganya yang semula sipat, kini telah utuh kembali. Begitu juga dengan Basu Dewa. Kelopak matanya yang pecah telah sembuh tanpa bekas. Mereka tidak lebih seperti bayi yang baru lahir. "Terima kasih, Eyang... Terima kasih." "Hak hak hak hak hak... Mana pernah Eyang Tumbal Segara kepalang tanggung dalam menolong orang!" kata sosok berjubah hitam. Lalu tawanya membahana lagi....

"Hak hak hak hak hak..." Suara  tawa  itu  sampai terdengar keluar bangunan. Burung-burung hantu yang banyak bertengger di atas cabang pohon kering beterbangan menyingkir. Juga kutungan-kutungan kepala yang menancap pada tiap-tiap tonggak yang berderet di sepanjang tangga batu bergetar hebat. Angin menderu-deru menimbulkan suara yang menakutkan. Bercampur aduk dengan suara tawa yang menggelegak lantang. Sedangkan di kejauhan bangunan itu tetap tegar berdiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Entah apa yang akan dilakukan Eyang  Tumbal Segara terhadap dua kakak beradik di dalam bangunan itu. Yang jelas setelah suara tawa maupun angin berhenti, tempat itu kembali sunyi dan menyeramkan begitu dingin.

*

* *

2

Dua kakak beradik itu sebenarnya murid-murid dari Perguruan 'Bukit Sampar'. Mereka telah diusir mentah-mentah dalam keadaan luka parah begitu oleh guru besarnya sendiri. Liung Sanca guru besarnya merasa dipermalukan oleh perbuatan  kedua  muridnya itu.

Bagaimana tidak. Mereka kedapatan menganiaya dan memperkosa salah seorang murid perempuan dari Perguruan 'Guci Perak'. Untung saja kedua perguruan itu berhubungan sangat baik. Kalau tidak, sudah pasti orang-orang 'Guci Perak' tidak memberi ampun terhadap dua pendekar cabul itu. Bagus pula Nalantili belum terlanjur diperkosa. Meskipun begitu, Amarsa Rawut sebagai murid tertua perguruan 'Guci Perak' tidak kepalang tanggung memberi hajaran terhadap mereka.

Liung Sanca  sendiri  tidak  bisa  bertindak  apaapa melihat  dua  orang  muridnya  menerima  hukuman itu di depan mata. Terlebih lebih Amarsa Rawut menghajarnya dalam lingkungan Perguruan 'Bukit Sampar'. Hal itu Liung Sanca sendiri yang meminta, karena sudah banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Basu Dewa dan Ambili Songka. Tentunya perbuatan mereka telah mencoreng nama besar Perguruan 'Bukit Sampar'. Itulah sebabnya Liung Sanca mengusir mereka mentah-mentah. Dan juga tetap merahasiakan keaiban itu.

Tiap hari Liung Sanca mendatangi Perguruan 'Guci Perak' untuk sekedar meminta maaf dan memberi pengobatan terhadap gadis Nalantili. Atas dasar hubungan mereka yang sangat erat, Ki Raka Banjaran serta putranya Amarsa Rawut masih mau memandang muka. Dan menganggapnya seolah-olah peristiwa itu hanyalah kejadian kecil. Bagaimana pun Liung Sanca merasa kikuk bila menghadapi para pentolan 'Guci Perak'.

"Luka-luka Nalantili tidak begitu parah, Liung Sanca. Jangan terlalu dipikirkan. Biar saja ini menjadi urusan kami." ujar Raka Banjaran  setelah  melihat Liung Sanca memeriksa sekaligus mengobati gadis Nalantili.

"Mana bisa begitu... Kalau tidak ulah  dua  murid cabul itu. Nalantili tidak mungkin begini. Sudah sewajarnya kalau aku sebagai guru mereka bertanggungjawab," tukas

Liung Sanca. Mereka  berjalan  beriringan  menuju ruang tamu. Amarsa Rawut putra tunggal majikan Perguruan 'Guci Perak' berada di situ.

"Sebenarnya aku merasa malu. Khususnya dihadapanmu, Ki... Sudah sewajarnya kalau Amarsa Rawut anakmu menghajar mereka. Aku pun telah mengusirnya." kata Liung Sanca lagi. Ki Raka Banjaran tersenyum. "Kenapa harus demikian, seharusnya mereka tidak perlu kau usir... Aku rasa sikap buruk mereka masih bisa diatasi..." kata Ki Raka Banjaran. Ia mempersilahkan Liung Sanca duduk. Beberapa bantalan empuk berlapis kain sutra sudah tersedia di ruangan itu.

"Paman Liung Sanca, maafkan atas kekasaran yang telah kuperbuat terhadap Basu Dewa dan Ambali Songka. Aku betul-betul sudah lupa daratan  waktu itu..." sapa Amarsa Rawut.

"Tidak! Tidak ada yang perlu disesalkan untuk kedua murid cabul itu, Amarsa. Tindakanmu sangat tepat. Kenapa tidak sekalian kau habisi saja keduanya. Aku pun sudah merasa sangat dipermalukan oleh ulah mereka " jawab Liung Sanca.

"Ah, mana boleh bertindak sampai sejauh itu." tukas Amarsa Rawut. "Aku pun harus menjaga hubungan erat perguruan kita. Kalau pada hari itu sampai ada korban nyawa, apa kata  rekan-rekan  yang lain?" sambung Amarsa Rawut lagi.

Liung Sanca terdiam mendengar ucapan putra tunggal Ki Raka Banjaran. Pendapat itu memang  benar. Peristiwa aib yang hampir menghancurkan kedua perguruan itu tidak ada satu pun yang tahu. Dari kedua belah pihak sengaja merahasiakannya.

"Aku cukup bangga dengan  putra  tunggalmu ini, Ki Raka Banjaran. Kau telah berhasil mendidiknya jadi manusia yang berguna. Menyesal aku tidak memiliki anak seorang pun. Sekalinya punya dua murid andalan, malah melumuri mukaku dengan tahi." tutur Liung Sanca. Ucapan itu membuat Ki Raka Banjaran ngakak.

"Ha ha ha ha... Itu salahmu sendiri, kenapa sejak kematian istrimu kau tidak cepat-cepat kawin lagi. Sekarang baru menyesalinya. Tapi jangan kau pikir mengurus anak itu gampang. Satu orang  macam Amarsa Rawut saja aku sudah kewalahan." gurau Ki Raka Banjaran menimpali.

Merasa disinggung-singgung. Amarsa Rawut menjadi salah tingkah. Ingin sebenarnya ia meninggalkan ruangan itu. Tapi ia tidak punya satu alasan pun. Malah ia ikut terlibat dalam pembicaraan itu.

"Tentunya Perguruan 'Guci Perak' sudah punya satu andalan. Dan bila terjadi sesuatu kau tidak perlu turun tangan, ki Raka Banjaran." Liung Sanca memuji.

"Tidak juga, Paman." sela Amarsa Rawut.

"Ayah selalu merasa khawatir dan menganggap aku masih bau kencur." Amarsa Rawut menggerutu.

"Masa anak sebesar ini masih belum dipercaya untuk berdiri sendiri. Bukankah ayahmu sudah melihat bagaimana hebatnya kau sewaktu menghajar dua muridku itu. Padahal ayahmu sendiri tahu, Basu Dewa dan Ambali Songka cukup menguasai ilmu perguruan 'Bukit Sampar'. Aku sendiri pun hampir tidak percaya akan kehebatanmu." Kata-kata Liung Sanca ditujukan pada Amarsa Rawut. Ki Raka Banjaran mencibir.

"Jangan  terlalu  dipuji.  Nanti  tambah  besar  kepala. Baru memiliki ilmu seujung kuku sudah mau berontak dari pengawasan ku,"

"Tuh, Paman dengar sendirikan?" ujar Amarsa Rawut seraya bangkit dari bantalan empuk. Ayahnya membiarkan anaknya melangkah meninggalkan ruangan. Tapi langkah-langkah Amarsa Rawut maupun pembicaraan dua orang tua ini jadi terhenti mendadak. Nalantili sudah keluar dari kamarnya dan san-

gat kebetulan sekali menemui mereka. Semuanya nampak diam menatap gadis itu. Sebenarnya Nalantili gadis yang cantik, namun dalam keadaan babak belur begitu kecantikannya seakan hilang. Sudah lama pula secara diam-diam Amarsa Rawut memperhatikannya. Saat itu pun ia tidak lepas memandangi Nalantili.  Gadis itu sendiri memandang penuh rasa dendam.

"Bagaimana perasaanmu, Nalantili. Aku tidak bisa membayangkan betapa besar maluku." ucapan itu tulus keluar dari mulut Liung Sanca. Ia lebih terpukul lagi karena Nalantili tidak menjawab. Ki Raka Banjaran cepat mengatasi situasi bisu itu...

"Duduklah, Nalantili... Kau tidak boleh menyalahkan Liung Sanca. Jelas itu perbuatan Basu Dewa dan Ambali Songka. Mereka sudah dihajar habis oleh Amarsa Rawut. Dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup." tegas Ki Raka Banjaran.

Setelah memberi hormat pada sang guru, gadis itu duduk menggantikan posisi Amarsa Rawut. Putra tunggal Ki Raka Banjaran tidak jadi keluar ruangan. Ia menatap terus sosok gadis yang babak belur.

"Guru serta Paman Liung Sanca harus mengerti. Tidak mungkin bisa melupakan kejadian itu begitu saja. Ingin rasanya aku sendiri turun tangan untuk menghajar kekurangajaran mereka." ucap Nalantili menunduk. Ki Raka Banjaran menghela nafas.

"Tidak perlu lagi diperpanjang. Liung Sanca sudah menyadari akan kesalahannya. Dan juga ia sudah banyak membantu dalam mengobati luka-lukamu."

"Aku tidak memikirkan diriku, Guru. Semuanya sudah terlanjur... Hanya aku khawatir kalau-kalau perbuatannya akan terulang lagi terhadap gadis-gadis lain, atau mungkin juga sudah ada yang menjadi korban nafsu binatang mereka." kata Nalantili hampir menangis. Ucapan itu cukup menggedor jantung Liung Sanca sebagai gurunya selalu menutupi tindak tanduk mereka. Tapi kali ini.... "Terserah pada pendirianmu, Nalantili. Aku sebagai gurunya telah menghapus nama mereka di perguruan. Setelah kau sembuh betul, kau boleh  membuat perhitungan dengan mereka. Aku sudah lepas tangan. Mereka bukan tanggung jawab perguruan lagi." jawab Liung Sanca.

"Kalau begitu mereka akan kuhabisi!" Tiba-tiba saja Nalantili menggeram. Ki Raka Banjaran sampai terkejut.

"Nalantili, keadaanmu masih belum pulih. Sebaiknya kembalilah ke kamar atau keluar menghirup udara segar. Jangan memperuncing suasana.  Aku  tidak ingin pembicaraanku dengan Liung Sanca terganggu." Ki Raka Banjaran berkata tegas. Dengan lemah pula Nalantili bangkit. Melihat itu pun Amarsa Rawut mendapat kesempatan membantu gadis itu melangkah. Jalan yang ditujunya ke luar.

Di luar pekarangan itu pula banyak berkumpul murid-murid Perguruan 'Guci Perak'. Mereka semua memperhatikan langkah-langkah Amarsa Rawut begitu hati-hati menuntun Nalantili menyusuri teras gedung. Sampai menghadap ke arah kebun, Amarsa Rawut menarik kursi kayu untuk Nalantili. Dengan hati-hati pula laki-laki itu menuntun duduk. Dirasakan kesabaran Amarsa Rawut terhadap Nalantili. Gadis itu bukannya tidak tahu kalau putra tunggal gurunya ini sudah lama diam-diam memperhatikannya. Dan ia seperti bergetar setiap pandangan mereka bertemu. Apalagi dalam keadaan seperti ini, sudah dua hari Amarsa Rawut mendampinginya. Pantas saja kalau putra tunggal majikan Perguruan 'Guci Perak' itu sampai kalap turun tangan menghajar dua laki-laki hidung belang yang menganiaya Nalantili. Sementara itu di dalam ruangan, Ki Raka Banjaran masih duduk menghadap Liung Sanca.

"Maafkan kami,  Liung  Sanca.  Semua  murid-

muridku memang keras kepala.. ujar Ki Raka Banjaran mengusik kebisuaan mereka.

"Ah. Itu hak mereka. Aku pikir itu bukan keras kepala namanya. Sudah sewajarnya kalau ia mengeluarkan isi hati di luar kesadarannya sendiri. Meskipun dengan kata-kata itu aku sebenarnya terpukul. Mau dibilang apa? Toh, aku  hanya  mengangkat  bahu." Liung Sanca mengeluarkan pendapat. Ki Raka Banjaran manggut-manggut.

"Untuk itulah kau jangan mengambil hati." Liung Sanca tidak menjawab kecuali mengge-

leng mengumbar senyum. Pembicaraan mereka makin hangat dan akrab. Memang begitulah sikap kedua pentolan perguruan itu. Baik Ki Raka Banjaran maupun Liung Sanca selalu  menjaga  nama  baik  perguruan yang mereka pimpin.

Hubungan erat dua perguruan itu sudah menjadi buah bibir dari perguruan-perguruan lain. Sudah tentu hal ini membuat perguruan lain semakin iri. Tidak sedikit perguruan lain yang masuk untuk mempererat hubungan. Untuk itu pun Ki Raka  Banjaran selalu menyambut dengan tangan terbuka. Dengan demikian persatuan rimba persilatan semakin kuat terjalin.

Dalam hal ini pun Perguruan 'Bukit Sampar' ternyata lebih cocok berhubungan baik dengan orangorang 'Guci Perak'. Mereka saling bahu membahu menangani tugas. Antara murid-murid mereka pun semula berlangsung sangat baik. Seperti gadis Nalantili, sebelumnya memang akrab dengan Basu Dewa dan Ambali Songka. Dua  andalan  Perguruan  'Bukit  Sampar' ini selain berilmu tinggi juga memiliki wajah yang sangat tampan. Itulah sebabnya kalau dulu Nalantili selalu menghindar dari Amarsa Rawut putra tunggal gurunya.

Tidak jarang Amarsa Rawut merasa cemburu setiap Nalantili kedatangan dua orang murid dari Perguruan 'Bukit Sampai Tapi sekarang Amarsa Rawut seperti mendapat kesempatan untuk lebih. dekat menggiring Nalantili.

Gadis itu sendiri seperti sudah kehilangan pegangan. Ia tidak menyangka kalau  dua kakak beradik itu sampai tega menganiaya bahkan nekad bermaksud memperkosanya. Keakraban itu seolah-olah sirna termakan api dendam.

"Aku telah salah menilai mu, Kakang Amarsa Rawut. Tapi secepat ini pula bisa dirobah. Dua bajingan itu tidak akan lepas dari tanganku..." Nalantili memandang ke arah kebun. Pandangannya kosong. Amarsa Rawut tetap berdiri di sampingnya.

"Dua cecunguk itu bukan apa-apa  dibanding kita, Nalantili. Kau bisa melepaskan dendammu. Tapi ayah menghendaki lain. Kalau mau bertindak, bertindaklah tanpa sepengetahuan ayahku... Percayalah aku akan membantu." kata Amarsa Rawut memberi semangat.

"Kakang lihat saja nanti. Hukuman yang pantas untuk mereka adalah dikebiri!" Mata Nalantili berapiapi.

*

* *

3

Bulan bersinar penuh menerangi pelataran Perguruan 'Guci Perak'. Murid-murid perguruan itu berkelompok-kelompok pada tiap-tiap ruang tidur mereka yang menghadap halaman. Ada juga  yang  dudukduduk di depan teras membicarakan sesuatu. Tiga orang nampak sedang membakar sampah di sudut pagar.

Ketiga orang ini tidak henti-henti melirik ke samping teras. Terkadang pula mereka saling bisik. Seorang lagi nampak tertawa cekikikkan. Bagaimana tidak? Sejak tadi mereka mengintip dua muda mudi yang duduk berdampingan menghadap kebun. Mereka tidak lain Amarsa Rawut bersama Nalantili. Hari itu luka-luka memar di tubuh gadis itu mulai hilang... Itu berkat pengobatan rutin dari Liung Sanca. Guru besar dari Perguruan 'Bukit Sampar' ini hampir tiap hari berkunjung.

Kalau tidak untuk sekedar membicarakan soal pendapat, paling-paling mereka mengisi kekosongan dengan bermain catur jawa. Tidak ada yang berani mengusik ketenangan mereka berdua. Apalagi keduanya berdiam pada tempat pribadi Ki Raka Banjaran. Amarsa Rawut sendiri putra tunggalnya tidak berani mengusik kalau tidak terpaksa betul.

"Ah, salah...! Salah besar. Tidak semestinya aku menjalankan mentri." pekik Liung Sanca menghadapi papan catur. Ia mengepal tinjunya sendiri.

"Salah sendiri. Kenapa kurang hati-hati dalam melangkah. Kalau begini rajamu terpaksa mati oleh seorang prajurit." tukas Ki Raka Banjaran sambil meletakkan buah catur. Liung Sanca menarik nafas.

"Cukup saja sampai di sini permainan kita, Ki. Aku merasa bukan tandinganmu  lagi.  Beberapa  hari ini kau selalu unggul." Liung Sanca memberesi semua buah catur yang berantakan. "Itu karena kau kurang teliti. Sebenarnya langkah-langkahmu sudah bagus." jawab Ki Raka  Banjaran.

"Tapi nyatanya kau selalu unggul, bukan?" Liung Sanca tertawa mengekeh. Ia cepat bangkit. Lalu....

"Tidak terasa hari telah larut. Mengurusi permainan catur sampai lupa pada urusan perguruan."

"Ah, kenapa mesti terburu-buru. Kita bisa main sekali lagi."

"Percuma. Aku tidak bakal mampu menandingi mu." jawab Liung Sanca. Terpaksa pula Ki Raka Banjaran mengantar sampai ke pintu ruangan. Sampai di situ Liung Sanca berjalan sendiri menerobos pekarangan. Setelah Liung Sanca betul-betul lenyap dari pandangan mata, barulah Ki Raka Banjaran kembali masuk ke dalam kamar pribadinya. Maka tempat itu kembali sunyi. Para murid yang tadi nampak dudukduduk di teras maupun  di  pekarangan  sudah  tidak ada sama sekali. Begitu juga dengan Amarsa Rawut serta Nalantili. Mereka sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Yang terdengar hanyalah letup-letup api bakaran sampah.

Saat itu dalam keremangan sinar bulan, dua sosok tubuh gesit melompati pagar halaman yang setinggi hampir tiga meter. Dua sosok itu langsung menyelinap pada bagian-bagian, paling gelap. Kedua mata mereka memandang mengitari tiap-tiap kamar yang di terangi dengan sebuah pelita. Suara merik binatang malam tidak diperdulikannya. Keduanya menyusup mengendap-endap semakin berani.

Tubuh mereka merapat ke tembok, tujuannya sebuah kamar yang nampak lebih bagus dan  terang dari kamar lainnya. Dengan langkah-langkah yang halus mereka terus menyusuri teras mencapai ruangan terang itu. Di pinggang mereka terselip masing-masing sebilah kapak berkilat. Jelaslah kalau mereka berdua tidak lain Basu Dewa dan Ambali Songka.

"Biar aku yang memenggal kepala si keparat Amarsa Rawut, Kakang." bisik Ambali Songka. Seperti biasa Basu Dewa jarang sekali bicara. Namun begitu ia selalu memenuhi permintaan adiknya.

"Yang mana kamarnya? Di sini terlalu banyak kamar. Sukar sekali kita menentukan adanya Amarsa Rawut." Ambali Songka selalu banyak bicara.  Basu Dewa memperhatikan ruangan terang yang sudah berada depannya.

"Pasti ini kamarnya. Aku yakin betul." Sambil berkata demikian, Basu Dewa melesat ke atas. Sebentar saja ia sudah berada di atas genting. Saat itu pun Ambali Songka mengikuti. Ketika Ambali Songka berada di dekat kakaknya, Basu Dewa sudah membuka beberapa genting. Maka dengan mudah pula ia dapat masuk melalui atap. Tanpa mengeluarkan suara keduanya tahu-tahu sudah berada dalam ruangan itu.

Ki Raka Banjaran terkejut bukan main. Belum sempat ia memejamkan mata. Dia sudah melihat dua orang tamu tak diundang. Apalagi kedatangannya itu dengan cara yang tidak masuk diakal. Dua kakak beradik ini sendiri seperti tersentak. Mereka tidak mengira kalau di ruangan itu ada Ki Raka Banjaran. Sudah tentu mereka telah salah masuk.  Dan Ki Raka Banjaran sudah terlanjur memergokinya.

"Tidak kusangka dua cecunguk keparat berani datang ke sini. Apakah kalian sudah bosan hidup?" hardik Ki Raka Banjaran. Basu Dewa maupun Ambali Songka menyeringai. Dalam kesempatan itu majikan Perguruan 'Guci Perak' menggertak pura-pura meraih pedangnya.

"Tua bangka keparat. Mulai detik ini umurmu sudah tamat. Dan bakal menyusul  pula  anakmu Amarsa Rawut." Kedua anak muda ini malah menarik gagang kapak. Keduanya bersikap mulai menyerang.

Darah dalam dada Ki Raka Banjaran tersirat. Ia seperti mengernyitkan alls. Ada sesuatu yang lain terhadap dua anak muda kakak beradik ini. Ki Raka Banjaran masih ingat betul bagaimana Amarsa Rawut menghajar mereka. Dalam ingatannya masih jelas saat pedang anaknya menghantam putus telinga serta merobek mulut Ambali Songka. Basu Dewa pun demikian, kelopak matanya sebelah hampir pecah nyaris buta.

Tapi sekarang yang dilihatnya seperti mimpi. Tidak ada tanda-tanda bekas luka di bagian muka mereka. Ambali Songka tetap memiliki sepasang telinga serta bibir yang masih mulus. Basu Dewa tetap dengan sorot mata yang tajam tanpa cacat, mustahil sekali. Bagaimana ini bisa terjadi? Ki Raka Banjaran melihat sendiri Liung Sanca yang mengamuk menghajar mereka.

"Tidak usah heran, Ki. Kami berdua memang arwah-arwah gentayangan." kata Ambali Songka tidak kalah gertak.

"Kalau begitu kalian akan kukirim kembali ke Akherat. Karena di sanalah tempat manusia-manusia terkutuk macam kalian!" bentak Ki Raka Banjaran. Lengannya cepat menyambar pedang. Maka sambaran pedangnya langsung diarahkan pada posisi berdiri mereka...

"Bweeet!" Desiran anginnya menderu nyaring. Kedua kakak beradik ini cepat melompat ke atas menghindari sambaran pedang laksana kilat.

Lalu secara berbarengan pula mereka menyambut dengan hantaman kapaknya Gerakan itu sangat cepat. Sukar sekali bagi Ki Raka Banjaran untuk menghindar, maka... "Craaas!" Sebelah lengannya tersambar kapak Basu Dewa. Untung hanya tergores. Tapi ia cepat-cepat berbalik untuk menghadapi serangan berikutnya.

Ketika sambaran kapak Ambali Songka meluncur deras dari arah belakang. Ki Raka Banjaran memutar pedangnya ke belakang. Namun tangkisan dengan pedang itu percuma. Saat senjata mereka beradu di belakang Ki Raka Banjaran. Benturan itu terdengar nyaring... "Traak!" Ki Raka Banjaran memekik, karena pedang dalam genggamannya patah dua, bahkan kutungan pedangnya melukai punggungnya sendiri.

"Ha ha ha ha...! Sudah kubilang  malam  ini nyawa rentamu akan berakhir!" kata Basu Dewa menyeringai. Kapaknya berkelebat lagi.

Ki Raka Banjaran cepat merunduk... "Weees!" Hampir saja kepalanya putus. Hanya dalam beberapa gebrakan saja majikan Perguruan 'Guci Perak' sudah kewalahan. Ki Raka Banjaran sendiri benar-benar tidak mengerti. Kenapa mereka berdua tiba-tiba saja mendadak hebat. Tiap serangan mereka selalu nyaris merenggut nyawanya. Padahal Ki Raka Banjaran tahu kepandaian Basu Dewa dan Ambali Songka jauh dibandingkan dengan anaknya. Kenapa malam ini justru Ki Raka Banjaran yang bakal terpojok oleh babatanbabatan sepasang kapak maut.

Tentu saja dalam menghadapi dua kakak beradik yang sudah nekad ini, Ki Raka Banjaran harus mengerahkan tenaganya. Tiap kali ia membalas serangan seakan sangat mudah dapat dielakkan. Ilmu pedang 'Guci Perak' seakan-akan tidak ada artinya sama sekali. Basu Dewa makin gigih menyambarkan kapaknya ke arah kepala. Apalagi Ambali Songka. Serangannya menggebu-gebu berputar di sekitar tubuh Ki Raka Banjaran.

Meskipun pedang dalam genggaman Ki Raka Banjaran telah buntung, ia tetap mempertahankan selembar nyawanya. Serangan-serangan mereka tidak main-main lagi. Tiap babatan kapak mereka hampir menyerupai sinar biru. Berkali-kali Ki Raka Banjaran menyambut babatan-babatan kapak. Maka detik  itu juga pedangnya habis termakan.

Gerakan-gerakan Ki Raka Banjaran sendiri sudah bagaikan sebuah bola yang bergerak ke sana ke mari berkelit menghindar setiap sambaran kapak. Dan ia betul-betul sukar untuk membalas serangan. Manakala serangan kakak beradik ini tidak pernah ada habisnya.

Sampai pada akhirnya tubuh Ki Raka Banjaran terbanting keras membentur meja hingga berantakan. Tubuh tua itu langsung kelojotan tanpa menjerit. Entah kapan kepala Ki Raka Banjaran menggelinding di lantai. Tahu-tahu saja kedua kapak di tangan  Basu Dewa maupun Ambali Songka sudah bersimbah darah. Begitu pun lantai di mana tubuh tanpa kepala Ki Raka Banjaran berkelojotan. Lantai batu itu memerah banjir dengan darah.

Sebentar saja tubuh tanpa kepala itu kaku tak berkutik. Dua kakak beradik yang masih menggenggam kapak seperti tertawa menyeringai. Basu Dewa cepat menyambar kutungan kepala. Tanpa dibungkus dengan kain atau apa mereka membawa pergi kutungan kepala Ki Raka Banjaran. Tentunya mereka melewati atap yang telah berlubang.

*

* * 4

Masih pada malam yang sama, Liung Sanca belum juga dapat memejamkan mata. Mungkin karena terlalu pusing akibat bermain Catur  sambil  minum arak bersama Ki Raka Banjaran tadi.  Sebentarsebentar ia mengeluh. Tenggorokannya pun terasa kering. Maka ia segera melangkah pada meja air yang ada di sebelah pembaringannya.

Begitu jernih air yang jatuh ke dalam gelas, ia sudah membayangkan akan begitu nikmat tenggorokannya yang kering tersiram air. Namun ketika ia mengangkat gelas, tanpa sengaja pegangannya terlepas... "Trraaang!" Liung Sanca sendiri terkejut. Keluhnya semakin panjang. Tanpa memberesi pecahan beling ia mengganti dengan gelas yang lain.

Sementara itu pekarangan Perguruan 'Bukit Sampar' betul-betul telah sepi. Semua penghuninya sudah terlelap tidur. Pintu gerbang terkunci rapat. Bangunan yang semuanya didirikan dengan kayu itu dikelilingi dengan pagar bambu setinggi dua meteran. Hanya beberapa lampu pelita yang menerangi pekarangan perguruan.

Bulan yang tadi bersinar penuh mendadak gelap tertutup awan tebal. Sekalipun dalam keadaan gelap, masih kelihatan dua sosok melompati pagar. Lesatan tubuh mereka begitu halus. Dan hampir-hampir tidak mengeluarkan suara saat kaki mereka menyentuh tanah. Dengan sekali lesatan lagi pembicaraannya itu. Siapa lagi orang yang berdiri dibalik pintu kalau bukan Basu Dewa dan Ambali Songka. Bagaimana pun Liung Sanca masih dapat mengenali suara itu.

"Kalian bukan lagi muridku. Untuk apa datang di tengah malam buta begini. Pergi saja kalian. Orangorang 'Guci Perak' tidak akan memberi ampun lagi bila menemukan mu." bentak Liung Sanca sengit.

"Kataku buka pintu! Ada yang ingin ku persembahkan padamu!" jelas itu suara Ambali Songka.

"Keparat! Berani bicara sekasar itu padaku? Lebih baik kalian kubikin mampus saja!" Liung Sanca makin geram. Sebelum membuka pintu langkahnya menuju pada senjata trisula yang tergantung di dinding.

Namun sebelum Liung Sanca meraih senjatanya. Pintu kamar hancur berderak. Basu Dewa tidak kepalang tanggung mendobrak pintu kamar dengan kampaknya.

Setelah menyambar trisulanya, Liung Sanca cepat berbalik. Saat itu pun Basu Dewa melemparkan sesuatu ke arah mantan gurunya. Diperlakukan demikian Liung Sanca cepat menyambut. Trisulanya menjurus ke depan. Sesuatu yang dilemparkan Basu Dewa menembus tepat di ujung Trisula. Tapi setelah ia dapat melihat ujung trisulanya, Liung Sanca memekik nyaring. Setengah jijik dan setengah tidak percaya kalau kutungan kepala Ki Raka Banjaran telah berada  di ujung senjatanya masih bersimbah darah.

"Dasar terkutuk. Kalian apakan Ki Raka Banjaran ini!" Liung Sanca menghardik. Ia sendiri tidak berani menyentuh kutungan kepala itu. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Basu Dewa dan Ambali Songka hanya tertawa melihat sikap Liung Sanca.

"Dia meminta agar mampus bersama denganmu, Liung Sanca! Hanya itu pesannya." Suara Ambali Songka datar. Kapaknya yang berkilat tajam siap mengarah.

"Bagaimana pun  ini  bukan  perbuatan  kalian. Kalian tidak mungkin dapat melakukan ini. Majulah manusia-manusia terkutuk! Rupanya kalian harus mampus oleh tanganku sendiri!" Liung Sanca menarik Trisulanya, maka kutungan kepala menjijikkan itu jatuh dengan sendirinya.

"Sebenarnya aku hanya membutuhkan kepalamu, Liung Sanca! Lain dari itu tidak!" kata Basu Dewa. Tubuhnya bergeser ke samping. Begitu juga dengan Ambali Songka. Keduanya sama-sama menyingkir menghindari terjangan Liung Sanca yang bagaikan banteng.

Senjata trisula berputar terus mengarah bergantian pada Basu Dewa  dan  Ambali  Songka.  Dua anak muda itu dengan mudah dapat menghindar walau serangan Liung Sanca segencar apa pun. Hal itu membuat mantan guru mereka jadi tercengang. Diamdiam Liung Sanca mengakui akan keganjilan kedua bekas muridnya ini.

Setan apa gerangan yang menyanding di dalam tubuh mereka. Sampai-sampai serangan Liung Sanca yang paling dahsyat sekalipun dapat dihindari. Malah kedua kakak beradik ini dengan tenang menyambut setiap serangan. Terkejut pula pada satu kesempatan Liung Sanca melihat sebelah telinga Ambali Songka masih tetap utuh.

Sambil menyerang Liung Sanca masih teringat di mana ia menguburkan kutungan sebelah telinga Ambali Songka. Bagaimana mungkin sekarang  bisa utuh kembali. Masih dalam keterheranannya, mendadak sebuah hantaman bersarang telak di punggung Liung Sanca. Ia dapat melihat siapa yang baru saja melepaskan hantaman dahsyat itu. Basu Dewa.

Cepat Liung Sanca membalas serangan Trisulanya menyambar. "Traang!"

Ambali Songka menyambut dengan sabetan kapak. Terasa benturan senjata  itu sampai  berdenyut di lengan Liung Sanca. Belum hilang getaran itu menyusul lagi sambaran kapak mengarah pada batang leher... "Bweeet!" Sambaran itu luput karena Liung Sanca cepat merunduk. Namun ia tidak dapat mengelakkan tendangan dari Basu Dewa. Tak pelak lagi tubuh Liung Sanca berguling.

"Cepat, Kakang! Kita sudah tidak punya waktu lagi!" teriak Ambali Songka. Maka dalam keadaan terguling itu Liung Sanca mendapat serangan lagi. Leretan sinar biru yang berasal dari kapak Basu Dewa mengarah deras. Liung Sanca dapat melihat betapa cepat kapak itu tanpa berkedip. Tanpa merasakan apaapa pula saat kapak itu menyambar putus leher Liung Sanca.

Kepala kutung Liung Sanca langsung berdegum di lantai. Hanya dengan sekali hentakkan kaki Basu Dewa, kutungan kepala itu mencelat lagi ke atas. Maka dengan mudah Ambali Songka menyambut dengan tangkapan lengan kirinya.

Pada akhirnya mereka berdua bergegas ke luar membawa dua kutungan kepala sekaligus. Satu kepala Ki Raka Banjaran satu lagi kepala Liung  Sanca.  Namun langkah-langkah mereka mendadak terhenti. Mereka terhalang oleh belasan murid Liung Sanca yang berdatangan setelah mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar sang guru.

Kedapatan pula Basu Dewa dan Ambali Sangka yang bermaksud meninggalkan ruangan itu. Sudah tentu semua murid-murid Liung Sanca dapat melihat apa yang di bawa oleh kedua kakak beradik ini.  Karuan saja mereka langsung mengurung. "Sungguh keterlaluan tindakan kalian.  Mana bisa kami membiarkan kejadian ini.

Kami semua murid atas nama Perguruan 'Bukit Sampar', terpaksa akan membuat perhitungan." bentak salah seorang murid Liung Sanca.

"Heh! Tidak lihatkah kalau kepala  guru  mu yang sombong ini sudah berada di tanganku?" jawab Basu Dewa sambil menunjukkan kutungan  kepala Liung Sanca ke arah mereka. Semuanya bergidik menatap kutungan kepala dengan mata melotot.

"Itu tandanya kalian tidak ada artinya sama sekali bagi kami. Ayo majulah, sudah semestinya kalian berbakti pada Liung Sanca." sambut Ambali Songka.

"Keparat! Kalian bukan lagi orang-orang 'Bukit Sampar' apa yang perlu ditakuti? Serang!"

Maka tidak kepalang orang-orang itu langsung mengepung. Malah sudah ada yang menyerang membabatkan pedang. Namun nasib mereka begitu buruk. Mereka terlalu memandang remeh dan bernafsu. Tidak menyangka kalau sambaran kapak Basu Dewa membawa maut. Sekali sabet menyilang. Tiga orang terguling kelojotan dengan isi perut menghambur ke luar.

Ambali Songka tidak tinggal diam. Tanpa ragu ia maju menghadapi kepungan yang sebenarnya bekas saudara-saudara seperguruannya. Sambaransambaran kapaknya bergerak mengeluarkan sinar biru mencabut nyawa tanpa ampun. Setiap sambaran kapaknya itu selalu dibarengi dengan jerit kesakitan yang menyayat. Bagai srigala-srigala lapar dua kakak beradik ini buas mencabik-cabik setiap tubuh para pengepung.

"Kepala-kepala kalian tidak cukup berharga bagi kami. Tapi bukan berarti kami segan untuk mengirim kalian ke akherat menyusul Liung Sanca. Hreaaaaaaat!" teriak Basu Dewa, tindakannya lebih sadis. Setiap sambaran kapaknya mampu menggulingkan lima orang sekaligus. Korbannya rata-rata tewas dengan tenggorokan yang menyemburkan darah.

Melihat itu pun Ambali Songka makin bersemangat. Ia melancarkan serangan  lebih  gencar.  Hasilnya membuat para murid Liung Sanca merasa kewalahan. Hanya dalam tempo yang sangat singkat mereka tinggal empat orang, Tentu saja keempat orang  ini menjadi gentar. Apalagi melihat semua saudara seperguruannya telah tewas bergelimpangan bersimbah darah.

"Mulai besok tidak ada lagi nama besar Perguruan 'Bukit Sampar'. Sebab..." Basu Dewa tidak melanjutkan kata-katanya. Ia sengaja melemparkan kapaknya. Seperti bumerang kapak itu melayang. Menyambari kepala empat orang yang masih berusaha menyerang.

"Guru dan semua murid-muridnya sudah habis tanpa sisa!" Basu Dewa melanjutkan  ucapannya. Saat itu kapaknya telah kembali dalam genggaman. Bersamaan dengan itu pula empat orang tanpa kepala jatuh kelojotan. Ambali Songka sudah berdiri tenang memegangi kapaknya yang berlumuran darah.

"Dua pentolan rimba persilatan sudah kita singkirkan, Kakang. Kita bakal merajai dunia. Seluruh orang-orang persilatan dari empat penjuru akan bertekuk lutut." kata Ambali Songka.

"Hm... Mereka semua akan menyerahkan kepalanya!" sahut Basu Dewa. Ia memungut kembali kutungan kepala Ki Raka Banjaran. Ambali Songka mengambil kepala Liung Sanca. Tanpa bicara lagi  keduanya pergi. *

* *

Ketika matahari mulai nampak dari balik bukit, orang-orang Perguruan 'Guci Perak' pating serabut menuju ke sebuah ruangan. Mereka semua terkejut mendengar teriakan Nalantili yang bermaksud akan mengantarkan teh hangat untuk Ki Raka Banjaran.

Mendengar itu pun Amarsa Rawut langsung berlari. Dilihatnya ruangan pribadi sang ayah telah penuh. Di pintu kamar telah penuh sesak. Ketika Amarsa Rawut muncul orang-orang itu sengaja memberi jalan. Anak muda itu pun langsung mendapatkan Nalantili duduk menangisi tubuh Ki Raka Banjaran. Amarsa Rawut hampir berteriak menatap tubuh sang ayah terbujur bersimbah darah kering tanpa kepala.

"Ayah...." pekik Amarsa Rawut tertahan. Seluruh ruangan itu telah berantakan, papan serta buah catur berserakan.

"Pastilah ini perbuatan Liung Sanca. Bukankah semalam ia berada di sini, perginya pun tidak ketahuan lagi." kata Nalantili.

"Betul, Tuan Muda. Selama ini Liung Sanca lah yang sering menjumpai guru. Siapa lagi kalau  bukan dia. Kita harus menuntut balas!" Orang-orang  itu mulai masuk memenuhi ruangan.

"Ini pasti menyangkut  persoalan  Nalantili. Liung Sanca sengaja balas dendam  atas  perlakuan Tuan muda Amarsa Rawut terhadap kedua muridnya." Yang lain menimpali. Seketika itu juga Amarsa Rawut menggeram. Dengan penuh amarah ia bangkit.

"Sebagian orang mengurus di sini. Sebagian lagi ikut aku. Kita akan menagih hutang darah  ini  sekarang juga." Nada suara Amarsa Rawut datar menguasai dirinya.

"Apa maksudnya ia membawa kepala Ayahku. Betul-betul suatu penghinaan!" Langkahnya cepat keluar. Nalantili ikut menyusul. Sedangkan di belakangnya hampir semua murid Perguruan 'Guci Perak' mengikuti mereka.

Pedang Amarsa Rawut sudah terselip di pinggang. Nalantili malah sudah bersiap-siap dengan pedang terhunus di tangan. Orang-orang yang mengiringi juga begitu. Masing-masing terselip senjata di pinggang mereka. Dari golok sampai pedang bahkan tombak.

Keberangkatan mereka menuju Perguruan 'Bukit Sampar' sangat menyolok. Sudah tentu menjadi bahan perhatian orang-orang sedesanya. Tanpa berani pula orang-orang kampung berani menegur atau menghalangi langkah-langkah mereka.

Orang-orang Perguruan 'Guci Perak' sangatlah disegani di desa itu. Sepak terjangnya selalu melindungi rakyat. Membela keadilan sampai tuntas. Kalau hari ini orang-orang kampung melihat mereka terburuburu dengan senjata di tangan, mereka sudah mengira pastilah ada persoalan yang teramat besar. Belum pernah orang-orang kampung melihat semua orang Perguruan 'Guci Perak' sebanyak itu dalam menghadapi satu urusan.

Dari kejauhan mereka sudah melihat Perguruan 'Bukit Sampar' berdiri tenang. Pintu gerbangnya masih tertutup rapat. Langkah-langkah mereka dipercepat.

*

* * 5

"Dar...! Dar...! Dar...! Amarsa Rawut menggedor pintu gerbang kuat-kuat. Pintu tidak mau  terbuka. Kesal sekali ia menendangi pintu. Nalantili yang sudah terlanjur dendam mendapat jalan pintas. Tubuh rampingnya melesat ke atas melompati pagar. Melihat cara Nalantili yang lain mengikuti. Saat itu pun Amarsa Rawut sudah dapat mendobrak pintu.

Sampai di pekarangan mereka langsung menyerbu ke arah bangunan. Mereka tidak berani menyerang sebelum mendapat perintah dari Amarsa Rawut. Nalantili dan Amarsa Rawut berjalan ke depan menatap bangunan yang nampak begitu sunyi. Mereka menatap pintu seperti dirusak orang. Kedua daun pintunya sudah menggeletak di tanah topang tindih. Mereka jadi penasaran.

Amarsa Rawut memberanikan diri masuk ke dalam. Pedangnya siap dilancarkan pada siapa  saja yang ditemuinya. Namun nyatanya ruangan itu betulbetul sepi. Tidak satupun orang-orang 'Bukit Sampar' yang mereka dapati. Nalantili langsung mengobrakabrik seluruh ruangan itu.

Yang lain mengikuti langkah-langkah Amarsa Rawut. Ketika mereka sampai pada ruangan paling dalam. Mereka menghentikan langkah. Semua mata memandang ke arah pada belasan mayat yang bergelimpangan mengerikan. Karuan saja mereka semua meluruk ke arah itu.

Kemarahan mereka tiba-tiba saja sirna saat melihat sosok tubuh tanpa kepala. Meskipun tubuh itu tanpa kepala, mereka masih bisa mengenalinya. Siapa lagi selain Liung Sanca. "Astaga... Paman Liung Sanca." Amarsa Rawut mendekati sosok itu. "Paman pun mengalami  nasib yang sama seperti ayah."

"Tuan muda... Kepalanya pun hilang.  Siapa orang yang tega berbuat seperti ini. Dan yang lebih mengerikan lagi semua anak buah Liung Sanca tewas semua. Beberapa orang kehilangan kepala. Tapi masih utuh berada di sini, kecuali kepala Liung Sanca. Pembunuh itu sengaja membawanya."

Nalantili memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. Ia melangkah pelan mendekati kerumunan itu.

"Mungkinkah ini perbuatan dua murid terkutuk itu?" sela Nalantili. Sorot mata Amarsa Rawut mengatakan tidak.

"Pembunuhan ini seperti sengaja telah di rencanakan. Dalam satu malam ia bisa mengalahkan ayah serta Liung Sanca. Pastilah pembunuh itu memiliki ilmu yang sangat tangguh." kata Nalantili lagi.

"Setangguh apapun dia, kita harus dapat mencarinya. Ini satu pukulan berat bagi orang-orang rimba persilatan. Sebaiknya kita beri kabar seluruh penjuru. Biar kita mengurusi mayat-mayat ini."

Orang-orang Perguruan 'Guci Perak' mulai memberesi tempat itu. Satu demi satu mayat-mayat itu dikeluarkan. Amarsa Rawut melangkah ke luar dengan lemas. Dendamnya semakin bertumpuk.

"Nalantili... Untuk sementara perguruan kita tutup dulu. Sebelum kita tahu di mana adanya si Pemenggal kepala itu berada aku tak akan kembali."

"Kau mau pergi, Kakang? Di mana tanggung jawabmu terhadap perguruan?" balas Nalantili.

"Tetap diam di perguruan bukan berarti melepaskan tanggung jawab, Nalantili. Justru kalau aku bertanggung jawab atas kematian ayah dan perguruan harus pergi mencari pembunuh ayahku."

"Kalau begitu aku ikut." tukas Nalantili. "Jangan. Bukankah kau sendiri punya urusan dengan Basu Dewa dan Ambali Soka?"

"Tapi soal perguruan lebih penting."

"Saat ini pikiranku sedang kalut, Nalantili. Jangan membantah perintahku. Kau harus tetap mengurus perguruan."

"Kakang, kau..." Amarsa Rawut tidak perduli. Ia terus melangkah meninggalkan Nalantili berdiri sendirian. Dipandanginya Amarsa Rawut  pergi  semakin jauh.

*

* *

Di puncak bukit, reruntuhan bangunan batu menyeramkan itu bergetar. Juga pohon kering yang tumbuh di samping bangunan seakan berderak-derak. Terdengar suara tawa yang menggema dari dalam bangunan tua itu. Bau busuk masih menyengat.  Tangga batu yang berliku memanjang ke bawah tetap diiringi dengan tonggak-tonggak kayu. Di mana setiap tonggaknya menancap sebuah kutungan kepala.

"Hak hak hak hak    " Gema suara tawa itu sea-

kan menggetarkan jantung. Namun bagi  Basu  Dewa dan Ambali Songka tidaklah membuat takut atau pun ngeri. Ia tetap berdiri di dalam ruangan gelap menghadap sebuah kolam. Di bawah kaki mereka menggeletak kutungan kepala masih meneteskan darah.

"Hak hak hak hak...! Bagus, Cucuku... bagus   !

Kalian telah menepati janji. Baru saja enam hari kalian sudah mengantarkan dua kepala sekaligus.     Hak hak hak...!" Suara itu bersumber dari dasar kolam. Saat itu pun permukaan air kolam menggolak. Dua kakak beradik ini tetap diam memandangi permukaan air membuih. Dari situ pula muncul sosok berjubah hitam.

"Maaf, Eyang Tumbal Segara.... Harap  Eyang sudi menerima persembahan ini." Basu Dewa menghaturkan sembah. Ambali Songka mengikuti gerakan kakaknya.

"Saat ini kami belum bisa membawa kepala Amarsa Rawut. Tapi kami cukup puas dengan  ilmu serta kapak yang eyang titipkan pada kami. Kedahsyatannya melebihi tanpa batas. Kami tidak menyangka kalau kami dapat membawa kepala mereka ini." kata Basu Dewa menunjuk ke bawah kakinya.

"Hak hak hak hak...! Setelah kau memiliki ilmu dariku, Amarsa Rawut tidak berarti  lagi  bagi  kalian. Dia tidak lebih penting. Masih  banyak  orang-orang yang berilmu tinggi di seluruh penjuru angin. Justru kepala mereka yang ku inginkan." Suara Eyang Tumbal Segara menggema.

"Memang demikian tujuan kami, Eyang. Kami berdua bermaksud akan merajai dunia persilatan. Tindakan kami tidak akan kepalang tanggung." jawab Basu Dewa.

"Bagus...! Bagus...! Orang-orang seperti kalianlah yang pantas bersekutu dengan ku!! tapi ingat... perjanjiannya setiap tujuh hari sekali kalian harus menyerahkan sebuah kepala padaku. Kalau sampai gagal "

"Kami paham, Eyang... Eyang Tumbal Segara tidak perlu khawatir. Kami pasti akan menepati janji." Basu Dewa memotong pembicaraan Eyang Tumbal Segara. Seketika itu juga tawa Eyang Tumbal Segara menggelegak lagi. Permukaan air kolam membuih lebih deras.

"Tancapkan dua kepala itu pada tonggak yang

sudah kusediakan, Cucuku.... Di sana masih banyak tonggak-tonggak yang kosong menunggu." Sosok hitam itu menunjuk ke luar. Pandangan Basu Dewa dan Ambali Songka mengikuti. Mereka menatap puluhan tonggak berderet mengikuti liku-liku tangga batu yang menurun ke bawah.

"Sebentar lagi tonggak-tonggak itu akan penuh dengan kepala-kepala manusia Eyang.... Kami telah berjanji akan bersekutu denganmu sungguh-sungguh." Basu Dewa menatap tajam ke arah Eyang Tumbal Segara.

Ambali Songka melangkah ke luar membawa kutungan kepala. Ia menuruni anak tangga batu. Dilewatinya tonggak-tonggak

kayu yang telah menancap kutungan-kutungan kepala membusuk. Bahkan ada juga yang telah tinggal tulang tengkorak. Sampai pada tonggak-tonggak yang kosong, Ambali Songka menancapkan kepala-kepala yang dibawanya.

"Huak hak hak hak...! Aku merestui kalian merajai dunia persilatan, Cucuku.... Asal kalian pun menepati janji.... Hak hak hak hak...!"

*

* *

Pemuda yang mengenakan baju kulit binatang ini sejak tadi duduk di bawah pohon rindang. Ia menggeleng-gelengkan kepala mengumbar senyum. Sudah dua hari ini ia melihat para penduduk Desa Babalengka mengemasi barang-barangnya. Hari ini lebih ramai lagi. Hampir semua penduduk mengumpulkan barangbarang di atas pedati.

Pemuda yang tidak lain Pendekar Kelana Sakti ini jadi tidak habis pikir. Dan sudah menduga kalau penduduk itu hendak mengungsi. Kenapa mereka semua harus meninggalkan desa yang subur ini? Dipandanginya semua kesibukan para penduduk. Juga sekeliling desa. Di sebelah sana memang ada sebuah gunung berapi, tapi tidak ada tanda-tanda mau meletus. Apa yang menyebabkan mereka begitu ketakutan? Tanya Wintara dalam hati.

Beberapa pedati sudah pergi meninggalkan desa. Wintara merasakan kalau kepergian mereka sangatlah buru-buru. Ia tersenyum pula saat  beberapa anak kecil melambai-lambaikan tangannya di atas tumpukan barang. Pedati-pedati itu bergerak berbaris menuju ke satu arah.

Paling terakhir Wintara melihat satu keluarga kaya yang mengemasi barang-barangnya. Di depan rumahnya yang cukup bagus telah menunggu empat buah pedati yang lebih besar dari pedati-pedati tetangganya. Tergerak pula hati Wintara untuk mendekati orang kaya itu.

Anak istrinya telah duduk memegang barangbarang di atas pedati. Dua orang pelayannya membantu majikannya memuat barang. Orang kaya itu langsung menoleh saat Wintara sudah berdiri di sampingnya. Wintara sendiri mendadak terkejut, orang kaya itu pucat pasi seketika. Dua orang pelayannya langsung berdiri bersikap melindungi majikannya.

"Paman, apa sebenarnya yang terjadi pada kampung ini? Kenapa semua penduduknya pergi mengungsi?" tanya Wintara seramah mungkin. Melihat sikap baik Wintara,  orang  kaya itu mengernyitkan  alis. Ia memberi aba-aba pada dua pelayannya agar meneruskan memuati barang-barangnya.

"Anak muda.... Sebaiknya kau pun harus cepat-cepat menyingkir dari sini. Desa ini sudah terancam oleh perampok yang menamakan dirinya Durjana Pemenggal Kepala." Keterangan orang kaya ini membuat Wintara tercengang.

"Durjana Pemenggal Kepala?" desah Wintara seakan tak percaya.

"Hm... Durjana-durjana itu buas bagai serigala yang selalu memenggali kepala korban-korbannya." kata orang kaya itu lagi. Dua pelayannya menghampirinya.

"Tuan, semua sudah beres. Kita bisa berangkat sekarang." Orang kaya itu tidak menyahut, ia malah meneruskan pembicaraannya dengan Wintara.

"Kau lihat  sendiri.  Kampung  ini  telah  kosong.

Kami tidak ingin tinggal di sini sendirian!"

Wintara mengawasi sekeliling kampung. Memang telah sunyi. Kecuali pedati-pedati milik orang kaya ini yang penuh dengan barang-barang. Anak istrinya sudah menunggu di atas tumpukan barang. Sepertinya mereka sudah tidak sabaran untuk segera meninggalkan desa.

"Maaf anak muda, kami harus pergi sekarang. Kalau pun kau mau ikut, silahkan. Pedati-pedati milikku masih bisa kau tumpangi." ujar orang kaya itu seraya melangkah menuju ke arah pedati paling depan, di mana anak istrinya menunggu. Wintara baru saja mau melangkah, tapi tiba-tiba sajak kuda-kuda penarik pedati itu meringkik-ringkik seakan berontak. Susah payah orang kaya itu membujuk.

Ternyata di hadapan mereka telah menghadang tiga orang bertampang menyeramkan. Tiga orang itu menunggangi kuda dan mengatur langkah-langkah kudanya menghampiri mereka. Wintara memandang tanpa berkedip.

"Bagus, kami belum datang  terlambat,  Raden. Di kampung ini cuma kau satu-satunya orang terkaya. Sasaran kami cuma kau." kata salah seorang yang mulai turun dari kuda. Nampaklah sebilah golok selebar telapak tangan terselip di pinggang. Orang kaya itu mendadak mundur, anak istrinya ketakutan di atas pedati.

"Kami menginginkan barang-barangmu,  Dan kau boleh berbaris di sana untuk ku penggal satu demi satu." Dua orang menyeramkan turun mengikuti sahabatnya. Mereka sudah mencabut golok. Dua pelayan orang kaya itu berdiri gemetar melihat majikannya terancam.

"Sabar, Tuan-tuan...." sela Wintara, tapi  ia  tidak meneruskan kata-katanya, karena dua orang itu langsung memberi tatapan yang sangar.

"Rupamu  lebih  buruk  daripada  pelayan  itu, Anak muda. Bahkan nyawamu lebih murah. Kami utusan-utusan  Durjana  Pemenggal  Kepala  tidak   sampai hati menghirup  darah  segarmu,  menyingkirlah!"  Sambil berkata begitu, ia mendorong Wintara.

*

* *

6

Wintara hanya mundur selangkah saat orang yang mengaku utusan Durjana Pemenggal Kepala mendorong. Pendekar Kelana Sakti ini malah nyengir.

"Masih ada juga seorang durjana yang bermurah hati. Mujur benar nasibku hari ini." kata Wintara yang sebenarnya mengejek.

"Kau terlalu banyak mulut, Anak muda! Rupanya kau ingin mampus lebih dulu!" Goloknya berkelebat cepat menghantam tenggorokan. Namun sebelum golok itu menyentuh, Wintara menepis dengan sebelah tangannya. Orang itu memekik hebat, goloknya terlepas dari pergelangan tangan. Lalu Wintara menambahkan dengan tendangan memutar... "Des!" Kontan terpental menimbun kedua temannya yang masih berdiri keheranan.

Wintara menarik orang kaya itu ke belakangnya. Tiga orang utusan Durjana

Pemenggal Kepala siap menyerang serempak. Wintara tenang menghadapi mereka. Ketiganya langsung melancarkan babatan golok. Tanpa bergeser Wintara memutar kedua lengannya.... "Splak...!  Bug...! Bug...!" Dua orang terjungkal sambil memeganggi dada, seorang lagi seloyongan menjerit-jerit dengan lengan yang patah.

"Aku jadi heran, kemampuan kalian sebenarnya cuma untuk menakut-nakuti anjing. Kenapa orang sekampung ini pada takut terhadap kalian?" Wintara bertolak pinggang memandangi mereka bangkit.

"Kau boleh tertawa, Anak  muda.  Kelak  kau akan tahu rasa akibatnya Durjana Pemenggal Kepala tidak akan mengampuni mu!" Mereka mengancam. Ketiganya menaiki kudanya lagi.

"Begitu bodohkah majikan kalian? Mana pantas kalian jadi utusan-utusannya." ejek Wintara lagi.

"Kau akan lari terbirit-birit bila berhadapan dengan majikan kami, Anak muda! Kepalamu bakal menggelinding ke tanah!" Seseorang menggertak. Wintara nyengir.... "Mendengar namanya jantungku memang hampir copot, tapi justru aku makin penasaran untuk melihat rupa si durjana." Wintara menantang.  Ketiga orang itu tidak menyahut, mereka sudah menghela kuda-kudanya.

Sebentar saja kuda-kuda itu telah menggelinding meninggalkan mulut desa. Yang nampak hanyalah kepulan-kepulan asap debu di bawah derap kaki-kaki kuda mereka. Orang kaya ini memandang kagum pada Wintara yang berdiri di hadapannya. Ia tidak menyangka akan kehebatan serta keberanian  pemuda yang baru ditemuinya ini. "Anak muda, menyingkirlah dari sini! Durjana Pemenggal Kepala pasti akan datang ke sini untuk menemuimu. Kau tak bakal mampu mengalahkannya. Menurut kabar sudah banyak orangorang persilatan macam kau yang tewas di tangannya." Wintara menghargai kekhawatiran orang kaya itu...

"Sebaiknya kau ikut kami, mungkin itu akan lebih baik daripada bakal berhadapan dengan si Durjana Pemenggal Kepala. Orang kaya itu mulai naik ke atas pedati di samping anak istrinya. Dua pelayannya menaiki pedati dengan gemetar.

"Terima kasih, Paman. Aku sudah terlanjur untuk menemui si Durjana Pemenggal Kepala. Kalaupun nanti aku tewas di tangannya, mungkin sudah menjadi takdir ku." jawab Wintara.

"Aku sudah cukup menasehati mu. Aku tidak akan memaksa atau menunggu lagi Karena  kami  harus pergi mengungsi secepatnya."

"Selamat jalan, Paman. Aku doakan selamat dalam perjalanan."

Tanpa berkata apa-apa lagi ke empat pedati terisi penuh dengan muatan barang-barang melaju. Pedati-pedati itu menyusul iring-iringan pedati lainnya yang sudah pergi menjauh. Nampak  seperti  kereta yang berderet menyusuri sepanjang jalan.

Wintara belum beranjak dari tempatnya. Kedua matanya terus memandangi  kesibukan-kesibukan orang kampung mengendalikan pedati-pedati. Hanya dalam beberapa saat kampung itu menjadi sepi, kosong melompong. Wintara berdiri bagai patung di tengah-tengah pelataran desa.

Sampai sejauh mana kekejaman Durjana Pemenggal Kepala itu, sehingga seluruh penduduk kampung ini rela meninggalkan tanah kelahirannya. Kalau cuma nama kosong belaka tidak mungkin semua penduduk mengungsi. Yang jelas ini suatu cengkraman kekejaman di luar batas. Seperti apa kehebatan Durjana Pemenggal Kepala sehingga orang-orang dari rimba persilatan tidak ada yang sanggup mengatasinya?

Mustahil pula kalau orang-orang persilatan tetap berpangku tangan. Toh dengan munculnya tokoh sesat ini sudah barang tentu menjadi persoalan yang tidak sepele. Wintara jadi kalut sendiri.

Ia melangkah menuju pada sebuah balai di depan teras gubug. Santai pula ia duduk bersandar. Dirasakannya kampung itu seperti mati. Tidak ada segelintir manusia pun yang nampak selain dirinya. Sungguh beda dengan beberapa hari yang lalu. Ketika pertama kali ia menginjakkan kakinya di sini. Meski  dalam suasana ketakutan, ia masih bisa melihat keramaian kampung itu yang subur.

Setengah harian penuh ia berada di kampung yang sunyi. Belum juga ada tanda tanda pasukan Durjana Pemenggal Kepala menampakkan diri. Kalau mereka sekelompok durjana yang disegani, pastilah mereka akan datang memenuhi tantangan Wintara

Mata Wintara sendiri sebentar-sebentar menelusuri jalan-jalan kecil yang menghubungkan ke desa itu. Cukup berdebar juga ia menunggu  tokoh  sesat yang menamakan dirinya Durjana Pemenggal Kepala. Mendadak saja ia bangkit berdiri. Ketika dari kejauhan ia melihat sosok tegap menuju kampung itu. Tanpa menunggangi kuda, juga tanpa pengawal. Sebilah pedang berkilat menyilaukan tertimpa sinar matahari.

Langkah-langkah lelaki itu sangat cepat. Wintara kembali duduk berusaha tetap tenang. Ia sudah yakin Durjana Pemenggal Kepala telah datang memenuhi tantangannya. Kali ini ia datang sendiri.

Ketika laki-laki itu memasuki kampung, ia sudah melihat Wintara duduk sambil balas menatap. Lelaki yang baru  datang  itu  sesungguhnya  tidak  lain dari Amarsa Rawut. Sebelum ia mendekati Wintara, di pandangi suasana kampung yang sepi bagai mati. Lalu ia melangkah lagi. Wintara berdiri menanti kedatangan Amarsa Rawut.

"Sobat, cuma kaukah satu-satunya penduduk kampung ini?" tanya Amarsa Rawut. Pandangannya berkeliling mengawasi sekitar tempat itu. Wintara cepat menjawab....

"Aku bukan penduduk kampung, aku sendiri tidak mengerti kenapa semua penduduk lari ketakutan dengan seorang tokoh bernama Durjana Pemenggal Kepala?"

"Pemenggal Kepala?" Amarsa Rawut balik bertanya. Ia seperti tersentak mendengar ucapan Wintara. "Kenapa? Bukankah kau sendiri yang menyan-

dang gelar itu?" kata Wintara lagi sambil memalingkan muka. Lalu meneruskan kata-katanya lagi...

"Aku merasa terpanggil untuk menumpas tokoh sesat itu. Kalau kau benar adanya si Durjana Pemenggal Kepala, sebaiknya jangan sungkan-sungkan untuk memenuhi tantanganku." Nada suara Wintara tenang. "Ngawur! Justru aku datang sampai ke sini un-

tuk mencari tahu di mana adanya si durjana itu. Beberapa perguruan telah hancur oleh perbuatannya. Termasuk ayahku. Kalau kau tahu di mana dia berada katakanlah...." Perkataan Amarsa Rawut seperti menuntut.

"Mana aku tahu. Aku sendiri belum pernah melihat batang hidungnya. Tapi aku yakin dia pasti datang untuk memenuhi tantanganku." Wintara membela diri.

"Namaku Amarsa Rawut dari Perguruan 'Guci Perak'. Mati hidup si durjana itu harus berada di tanganku."

"Ah, sobat Amarsa Rawut.... Aku yang hina ini hanya seorang pengelana biasa bernama Wintara. Durjana Pemenggal Kepala adalah seorang tokoh sesat. Siapa pun berhak menumpasnya. Di tanganku  maupun tanganmu sama saja. Yang jelas tujuan kita sama. Alangkah baiknya kalau kita saling bahu-membahu."

"Terima kasih    Tentunya anda seorang penge-

lana yang sangat hebat, Saudara Wintara. Menerima bantuan seorang hebat seperti anda, tentunya aku tidak akan menolak."

"Belum apa-apa sudah  memuji....  Siapa  tahu kita berdua hanya mengantarkan nyawa di sini." Wintara bergumam.

Keduanya duduk di balai. Wintara tidak kesepian lagi setelah kedatangan seorang pendekar dari Perguruan 'Guci Perak' ini, Pembicaraan mereka tidak lepas dari Durjana Pemenggal Kepala. Namun demikian keduanya sama-sama menaruh rasa  curiga. Amarsa Rawut sengaja membeberkan peristiwa yang melanda Perguruan 'Guci Perak' maupun 'Bukit Sampar'. Dari cerita itu Wintara sudah menafsirkan betapa besar rasa dendam terhadap Durjana, Pemenggal Kepala. Dari situ pula Wintara bisa mengukur kehebatan durjana itu.

Tapi kenyataan yang ia hadapi tadi ketika menolong seorang kaya di kampung ini, sepertinya ada yang lain. Tidak mungkin tokoh sesat itu  mengutus anak buahnya yang begitu mudah dilumpuhkan oleh Wintara. Dan juga ada rasa menyesal membiarkan ketiga utusan Durjana Pemenggal Kepala melarikan diri.

"Keparat itu rupanya sudah menguasai seluruh wilayah ini. Sungguh hebat. Sepak terjangnya sama sekali tidak memperdulikan orang-orang rimba persilatan." selak Wintara.

"Itu karena dua guru besar  dari  Perguruan "Guci Perak" dan "Bukit Sampar" telah tewas. Orangorang rimba persilatan seperti telah kehilangan pegangan. Mereka pun semakin merajalela melancarkan tangan jahatnya." Amarsa Rawut menimpali.

"Dan juga...." ucapan Amarsa Rawut terhenti. Keduanya mendadak bangkit dari balai. Mereka mendengar derap kaki kuda yang begitu banyak. Mata mereka langsung mengarah pada kepulan asap debu yang bergulung-gulung memasuki kampung. Dari situ mereka bisa melihat belasan ekor kuda berikut penunggangnya yang mengacung-ngacungkan senjata.

"Mereka datang!" bisik Wintara.

"Siapa?" tanya Amarsa Rawut tidak lepas memandang kuda-kuda itu. Seluruh penunggangnya berwajah garang. Wintara masih mengenali ketiga orang yang tadi di biarkannya melarikan diri.

"Siapa lagi kalau bukan kelompok Durjana Pemenggal Kepala."

Darah Amarsa  Rawut  langsung  tersirap  mendengar penjelasan Wintara. Dia langsung melompat menyambut pasukan berkuda itu. Wintara menghentakkan kakinya, tahu-tahu saja dia sudah beriring dan dengan Amarsa Rawut. Pasukan berkuda itu berhenti. Para penunggangnya yang seram-seram menyeringai menakutkan. Semuanya serempak turun dari kuda.

Kecuali seseorang yang berperawakan gemuk dan berkepala botak. Wajahnya yang tanpa alis namun membawa kesan menyeramkan itu tetap duduk di atas kudanya memandang remeh terhadap Wintara  mau pun Amarsa Rawut. Dua bilah golok besar terserong di punggungnya. Ia mengatur langkah kudanya mendekati dua pemuda itu.

"Cuih! Segala dua cecoro sawah berani menantang. Kalian tidak lebih bagai dua orang jembel yang tidak pantas kurampok dan kupenggal. Menghadapi kalian sama saja membuang tenaga."

"Kaukah Durjana Pemenggal Kepala?" tanya Amarsa Rawut sekaligus membentak.

"Hua ha ha ha     " Si Botak gemuk itu tertawa.

Dadanya sampai naik turun. Lalu...

"Sudah tahu begitu kenapa masih berani berdiri di hadapanku? Ayo cepat berlutut dan jangan cobacoba menantang!"

"Chis, siapa yang sudi menyembah segala macam babi kurapan! Turun dari kuda mu, Babi  Gembrot! Kau harus menebus kematian Ki Raka Banjaran dengan kepala mu!" Amarsa Rawut menarik gagang pedang.

"Apa? Ki Raka Banjaran?... Oh, ya ya.   nasib-

nya memang  malang harus mampus di tanganku." Dari atas pelana manusia gemuk botak  itu  melesat  ke atas berjumpalitan di udara. Kemudian hinggap tepat berhadapan   dengan   Amarsa   Rawut.   Belasan   anak buahnya sudah mengurung. Wintara sejak tadi sudah bersiap-siap. Paling tidak ia akan bertindak duluan kalau belasan orang itu menyerang.

"Hari ini kita akan berhitungan atas hutang darah Ki Raka Banjaran...!" Pedang Amarsa Rawut berkelebat menyambar.

*

* *

7

Serta merta manusia gemuk botak menarik dua gagang goloknya sekaligus dari punggung...

"Ztraaaang!"

Sambaran pedang Amarsa Rawut bergetar. Sudah barang tentu belasan anak buahnya tidak tinggal diam Serentak mereka menerjang menyerang Amarsa Rawut. Namun tiba-tiba saja tiga orang bergulingan. Wintara berlari setengah memutar. Kedua lengannya sibuk melancarkan serangan.  Jatuh  lagi  dua  orang. Kali ini mereka kena tendangan. Kelima orang itu masih dapat bangkit, bahkan maju menyerang dengan gigih.

Amarsa Rawut kertakan rahang saat ia merunduk menghindari sambaran golok yang datang berturut-turut menghantam kepala. Pedangnya bergerak ke atas menangkis menimbulkan suara yang mengilukan. Sesekali pula ia harus melepaskan pukulan ke  samping mengarah pada dua orang yang bermaksud membokong.

Sementara itu tubuh Wintara berlompatan kian ke mari menghindari babatan-babatan senjata. Lenturan-lenturan tubuhnya gesit berkelit. Seranganserangan itu tidak pernah putus berdatangan.  Dalam hal ini terpaksa pula Wintara harus mengeluarkan hantaman 'Bayu Menghempas Gelombang'... "Deeer!" Kontan lima orang penyerangnya ambruk dengan menyemburkan darah.

Putra tunggal Ki Raka Banjaran ini sempat melirik saat Wintara melancarkan pukulan aneh. Diamdiam ia merasa kagum akan kehebatan sahabat barunya itu. Bagaimana tidak, tanpa menggunakan senjata ia dapat mengecoh lawan yang berjumlah belasan.

"Kedua golok bututmu cocok untuk mencincang babi! Tidak cukup tajam untuk tenggorokanku!" ejek Amarsa Rawut seraya membersitkan  pedangnya  ke muka. Serangan itu membuat manusia botak  ini  menarik tubuhnya ke belakang.

"Pantas kalian berani menghadapi aku si Durjana Pemenggal Kepala. Rupanya dua anjing kesrek ini cukup tinggi juga ilmunya!" balas Durjana Pemenggal Kepala tak kurang membabatkan kedua golok besarnya. Setelah ia melancarkan serangan, ia sangat terkejut. Karena dua orang anak buahnya jatuh hampir menimpa tubuhnya.

Saking kesalnya ia malah menginjak salah seorang sampai menyemburkan darah. Bagai air mancur darah itu muncrat ke mukanya sendiri.

"Kalian benar-benar cari mampus!" hardik Durjana Pemenggal Kepala. Kemarahannya meledak. Serangan dua golok besarnya lebih cepat membersit. Amarsa Rawut menangkis dengan menggenggamkan kedua telapak tangan pada gagang pedang. Benturan senjata mereka beradu keras. Amarsa Rawut sampai terhuyung.

"Otak  bebal!   Keluarkan   semua   tenaga   mu! Hayo!" bentak Amarsa Rawut, padahal dia sendiri sudah mundur-mundur menghadapi setiap babatan dua golok besar yang datang berturut-turut.

"Manusia yang mau mampus biasanya banyak mulut! Aku sudah tidak heran lagi! Hreaaaaa...!" Babatan kali ini disertai tenaga penuh. Amarsa Rawut menangkis dengan sekuat tenaga. Tak  urung  malah  ia ikut terlempar bersama pedangnya.

Terpaksa pula Amarsa Rawut bergulingan menghindari serangan-serangan Durjana Pemenggal Kepala yang berusaha mencecar dan tidak memberi kesempatan lawannya bangkit.

Wintara menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan... "Hreaaa!" Menghantam telak dua orang penghadang sampai mencelat beberapa meter ke belakang.

Entah sudah berapa orang yang ambruk tak berkutik oleh amukan Wintara. Sebenarnya pula ia tidak sampai hati membunuh mereka. Setiap hantaman Wintara cukup membuat mereka semaput.

Dalam keadaan bergulingan Amarsa Rawut terus mementang mata. Pandangannya tidak lepas dari dua golok besar yang mengarah ke tubuhnya. Namun hanya dengan sekali sentakan, tubuh Amarsa Rawut sudah melesat ke atas. Sambaran golok Durjana Pemenggal Kepala luput, kecuali mengenai batang pohon besar.

Wintara merasa lega melihat Amarsa Rawut dapat mengatasi serangan lawannya. Dia sendiri sudah tidak perlu repot menghadapi lawannya yang tinggal empat orang.

Dan nampaknya pula Wintara tidak memberi hati. Dengan gerakan yang sukar diikuti pandangan mata, Pendekar Kelana Sakti ini menerjang kedua lengannya berputar menimbulkan suara angin yang bergemuruh. Babatan-babatan senjata lawannya sama sekali tidak ada yang masuk. Saat itu Wintara melepaskan tendangan serta pukulan bagai geledek.

"Splaaak...! Des...! Des...!" Dua orang langsung ambruk celentang, dua orang lagi mencelat menabrak masuk ke dalam gubug. Setelah itu dipandanginya belasan orang bergelimpangan tak sadarkan diri. Di sudut sana Amarsa Rawut masih sibuk menghadapi serangan-serangan Durjana Pemenggal Kepala.

"Sobat Amarsa Rawut! Boleh aku datang membantu?" teriak Wintara, tangannya sudah gatal ingin menguji kebolehan manusia berjuluk Durjana Pemenggal Kepala.

"Tidak perlu, Sobat Wintara. Kerbau dungu ini bukan apa-apa bagiku! Kau boleh berdiri di situ bagaimana aku mencabut nyawa babi gembrot ini!" jawab Amarsa Rawut.

"Kau boleh dapat menghabiskan semua anak buahku. Tapi terhadap Durjana Pemenggal kepala jangan harap bisa!" tukas manusia gemuk botak beringas. Babatan" dua golok besarnya gencar mematikan. Amarsa Rawut cepat melompat mundur.

"Setan keparat yang membunuh ayahku kukira berilmu tinggi, ternyata sepak terjangnya melebihi bencong! Bagaimana mungkin ia bisa membunuh Ki Raka Banjaran?" Sambil berkata begitu Amarsa Rawut melepaskan tendangan. Begitu terkejut manusia botak melihat sebelah senjatanya mental terkena sambaran tendangan. Durjana Pemenggal Kepala mendengus sengit.

"Kalau tahu kematian Ki Raka Banjaran, maka akan terulang lagi terhadap diri kalian." Dengan sebelah goloknya lagi ia lancarkan ke bagian muka. "Bweeet...!" Amarsa Rawut keburu nunduk. Dalam keadaan merunduk itu ia melepaskan dua tinjunya sekaligus.... "Deeeer! Tepat menghantam tenggorokan. Durjana Pemenggal Kepala memekik.

Mendapat hantaman seperti itu, manusia gemuk hanya terdorong dua langkah ke belakang. Amarsa Rawut sendiri merasakan kedua tinjunya menghantam benda yang sangat keras. Nampak manusia  gemuk itu menyusun kekuatannya lagi dengan mengatur nafas.

Amarsa Rawut yang sudah kepalang tanggung melancarkan serangan, tidak memberi kesempatan lagi. Saat Durjana Pemenggal Kepala menyilangkan kedua lengannya di atas dada. Amarsa Rawut menerjang dengan sebuah tendangan dahsyat.... "Hraaaat....

Deeeer!" Tubuh Durjana Pemenggal Kepala jatuh berdegum menyemburkan darah. Begitu juga dengan Amarsa Rawut.

Tubuh gemuk itu menggapai-gapai seperti ingin menyampaikan sesuatu lewat mulutnya. Tapi suaranya tidak keluar. Kecuali darah terus menyembur. Dalam pada itu Amarsa Rawut meraih  golok  besar yang tergeletak di tanah.

Wintara yang menyaksikan pertarungan itu sudah dapat menduga apa yang akan dilakukan Amarsa Rawut. Maka saat Amarsa Rawut mengangkat golok itu ke atas mengarah ke batang leher manusia gemuk, Wintara memejamkan matanya.

"Craaak...!" Terdengar suara golok besar itu menghantam sesuatu dengan keras. Wintara membuka matanya lagi. Ia melihat tubuh gemuk tanpa kepala kelojotan. Dari tenggorokannya yang kutung menyembur darah bagai air mancur. Kutungan kepala itu sudah berada di bawah kaki Amarsa Rawut. Laki-laki itu tersenyum memandang Wintara.

"Hutang darah ini sudah lunas, Sobat Wintara. Aku puas pembunuh ayahku dapat tewas oleh tanganku...." Suara Amarsa Rawut parau penuh semangat. Wintara balas tersenyum.

"Dengan tewasnya setan Durjana Pemenggal Kepala,  baik setiap  perguruan maupun para penduduk kampung tidak akan resah lagi. Kau hebat, Sobat Amarsa Rawut." Wintara memuji. Ia bergidik saat melihat Amarsa Rawut memungut kutungan kepala itu, kemudian membungkusnya dengan  selembar  kain yang diperoleh dari seorang anak buah Durjana Pemenggal Kepala.

"Kutungan kepala ini untuk kujadikan peringatan bagi setiap tokoh sesat yang merecoki dunia persilatan." kata Amarsa Rawut selesai membungkus.

"Ada baiknya juga!" jawab Wintara.

*

* *

Hujan deras bukan halangan bagi Basu Dewa maupun Ambali Songka yang menelusuri jalan berbatu. Tubuhnya sudah basah kuyub. Sorot mata mereka jalang memandang lurus ke arah sebuah  bangunan yang dikelilingi pagar bambu setinggi tiga meter.

Saat mereka mendekati bangunan itu, mereka menarik kapak dari pinggangnya. Langkahnya dipercepat. Maka dengan sebentar saja mereka sudah  berdiri di depan pintu gerbang. Di atas pintu itu tergantung selembar papan yang bertuliskan "Perguruan Penjuru Angin'. Setelah membaca tulisan itu Basu Dewa membuang ludah.

Seperti biasa Basu Dewa selalu membuka pintu dengan hantaman kapak mautnya. Sekali sabet pintu gerbang terbelah dua menjadi lebar. Maka keduanya dapat masuk dengan langkah-langkah yang menapak pada tanah becek. Hujan bertambah deras saat mereka mendekati bangunan yang nampak sunyi.

Ambali Songka maupun Basu Dewa membelalakkan mata. Di depan teras bangunan telah bergelimpangan mayat-mayat hampir membusuk. Keadaan sekitar situ tidak ubahnya seperti medan pertempuran. Jendela serta pintu telah hancur berserakan.

Keduanya melangkah masuk. Kapak mereka bergerak menyibakkan puing-puing berserakan yang menghalangi langkah mereka. Ruangan itu pun telah penuh dengan mayat-mayat bergelimpangan. Bau busuk sangat santer di sekitar tempat itu. Namun mereka seakan tidak perduli. Langkah-langkah mereka semakin masuk ke dalam.

Di sudut ruangan yang agak rapi mereka menemukan sosok tubuh tanpa kepala menggeletak terlentang. Kira-kira jarak dua meter kutungan kepala yang telah membiru tergeletak pula. Pada dinding ruangan itu tertera tulisan berwarna merah darah... "Durjana Pemenggal Kepala...." Seketika itu juga Basu Dewa mengamuk. Ia menendangi apa saja yang ada di ruangan itu. Kapaknya juga berkelebat menghancurkan perabotan hingga hancur berkeping-keping. Ambali Songka repot mengatasi amukan kakaknya ini.

"Siapa yang berani mengaku dirinya Durjana Pemenggal Kepala! Siapa...!" Kapak Basu Dewa terus menghancurkan.

"Kakang... tahan.  Tidak guna mengamuk seperti itu...!" Ambali Songka menghantamkan kapaknya. Benturan itu sangat dahsyat. Sampai menimbulkan suara yang membledar. Ketika itu pula Basu Dewa tersadar dengan nafas yang kian memburu....

"Kita telah kehilangan sasaran, Ambali Songka! Seseorang sudah mendahului kita!" kata Basu Dewa setengah membentak.

"Perjanjian kita tinggal dua hari lagi terhadap Eyang Tumbal Segara. Kau pun

tahu akibatnya bila kita sampai terlambat menyerahkan sebuah kepala untuknya." kata Basu Dewa lagi.

"Kenapa mesti grabak grubuk begini. Kita bisa mencari korban lainnya. Kita cari saja si Amarsa Rawut keparat!" Ambali Songka mengeluarkan pendapat.

"Soal korban mudah kita cari. Siapa pun kita dapat mencarinya hari ini. Yang tak habis pikir adanya seseorang menggunakan nama Durjana Pemenggal Kepala. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia juga orang persekutuan Eyang Tumbal Segara." jawab Basu Dewa. Matanya tetap jalang penuh kekesalan.

"Hal itu mudah kita tanyakan nanti pada Eyang Tumbal Segara. Mengingat waktu perjanjian kita yang sudah mendesak ini, sebaiknya kita datangi Perguruan "Guci Perak". Serahkan saja kepala Amarsa Rawut pada Eyang Tumbal Segara. Maka semuanya akan berjalan lancar." Ambali Songka menenangkan hati Basu Dewa.

*

* *

8

Sejak kepergian Amarsa Rawut, gadis Nalantili jadi kelimpungan sendiri di perguruan. Ia merasa khawatir sekali akan sesuatu yang terjadi pada diri Amarsa Rawut. Murid-murid yang lain jarang melakukan kegiatan latihan. Mereka hanya berjaga-jaga melindungi perguruan dari tangan jahil. Kalau saja Amarsa Rawut tidak berpesan agar Nalantili mengurus perguruan, mungkin gadis itu sudah nekad menyusul.

Selama peristiwa itu pula banyak guru-guru besar dari perguruan lain menyambangi. Juga untuk mendengar berita terjadinya peristiwa yang melanda Perguruan 'Guci Perak'. Seperti halnya dari Partai 'Gunung Kembar' dan Pendekar 'Gelugut Sutra'. Mereka sengaja menetap di situ guna menyelidiki kejadian tersebut.

Dalam hal ini Nalantili mendapat dampratan yang tidak dapat dielakkan. Mereka menyalahkan gadis itu membiarkan Amarsa Rawut pergi sendiri.

"Amarsa Rawut adalah pewaris tunggal Perguruan 'Guci Perak'. Dia hanya mengantarkan nyawa bila nekad bertemu dengan si Durjana itu. Ki Raka Banjaran dan Liung Sanca saja tidak mampu mempertahankan selembar nyawanya. Seharusnya kau menahannya waktu anak tolol itu pergi." kata Pendekar Gelugut Sutra. Nalantili yang duduk di hadapan dua pendekar itu tidak menjawab.

"Tidak tahukah kau, selain Guci Perak dan Bukit Sampar, Perguruan 'Pedang Penjuru Angin' di Selatan sana sudah hancur pula. Entah  siapa  lagi  yang akan dihancurkannya." sambut Pendekar dari Gunung Kembar.

"Kalau sudah begini, ke mana harus kita cari anak tolol itu? Menunggunya pulang? Paling-paling kita akan menemuinya nanti setelah berada di neraka." kata Pendekar Gelugut Sutra sengit.

"Paman... aku  sudah  berusaha  menahannya. Tapi Kakang Amarsa Rawut sukar dibendung. Mati hidupnya untuk mencari Durjana Pemenggal Kepala." Nalantili membela diri.

Jawaban Nalantili tepat. Dia hanya seorang murid seperti yang lainnya. Mana berani ia membantah keinginan Amarsa Rawut. Apalagi dalam keadaan seperti pada waktu itu. Pendekar dari Gunung Kembar dan Pendekar Gelugut Sutra tidak bisa menyalahkannya terus.

"Dengan adanya paman berdua di sini, tidak akan menyelesaikan persoalan. Kenapa paman berdua tidak mencari durjana itu saja. Toh dia pula yang sebenarnya yang menjadi masalah."

"Dengar, Nalantili. Kami berdua tidak memiliki perguruan apa pun. Tidak ada yang perlu kami jaga selain diri kami. Kalau kami berdua berada di sini, bukan berarti kami bersembunyi dari ancaman Durjana Pemenggal Kepala. Tapi justru akan menjaga keutuhan perguruan ini."

"Terima kasih atas budi baik paman selama ini. Menurut hematku, kita memang tidak perlu berdiam diri. Sekarang kita sudah bergabung. Alangkah  baiknya jika kita bersama-sama mencari Amarsa Rawut. Mustahil jika mati hidupnya tidak kita temukan."

"Kau benar, Nalantili. Kita-kita memang sudah sepantasnya memikul tugas ini, Amarsa Rawut perlu kita cari. Sukur-sukur kalau dalam pencarian kita bertemu dengan Durjana Pemenggal Kepala. Kita bisa membuat perhitungan." kata Pendekar Gunung Kembar penuh semangat.

"Suruh semua murid-murid Perguruan 'Guci Perak' bersiap-siap. Kita akan berangkat hari ini juga, karena. " ucapan Pendekar Gelugut Sutra terputus.

"Duaaar...!" Mendadak pintu gerbang di dobrak orang. Ketiga orang ini segera menoleh ke arah suara keributan itu. Mereka melihat orang-orang Perguruan Guci Perak' berlarian menuju pintu gerbang yang sudah terbuka lebar.

Mata Nalantili membelalak lebar. Sosok Basu Dewa dan Ambali Songka berdiri angkuh di tengahtengah pintu. Murid-murid Perguruan  'Guci  Perak' yang berjumlah kurang lebih dua puluh orang itu menghadang. Lebih terkejut lagi saat dua kakak beradik itu langsung mengamuk menggunakan kapakkapaknya.

Leretan-leretan sinar biru membersit menghantami setiap  tubuh  orang-orang  'Guci  Perak'.  Saat  itu pula Nalantili berlari ke luar disusul oleh Pendekar 'Gunung Kembar' dan Pendekar Gelugut Sutra. Ketika mereka sudah berada di luar. Murid-murid  Perguruan Guci Perak banyak yang bergelimpangan  bersimbah darah.

"Suruh keluar tuan muda kalian si Amarsa Rawut! Jangan bersembunyi macam anjing tumang!" teriak Ambali Songka, sabetan kapaknya tidak pernah berhenti.

Melihat kemunculan Basu Dewa dan Ambali Songka di depan mata Nalantili, gadis itu merasa terbakar oleh api yang paling panas. Serta merta ia menarik gagang pedangnya. Dua pendekar yang berdiri di sampingnya tidak bisa menahan.

Hanya dengan sekali lesatan ia sudah berhadapan dengan kedua orang yang pernah menyakitinya. Bahkan tanpa banyak bicara lagi pedangnya berkelebat menyambar tanpa ampun.

"Kalian minggir semua. Keparat-keparat ini biar mampus menembus di pedang ku!" perintah itu ditujukan para orang-orang Guci Perak. Sambaran pedang Nalantili ditepis dengan hantaman kapak Basu Dewa... "Traanng...!" Tubuh Nalantili terhuyung, seperti ada getaran tenaga dalam mendorongnya.

"Perempuan laknat! Kami sudah tidak tertarik lagi dengan tubuh molekmu, Nalantili. Aku hanya tertarik dengan kepalamu! bentak Basu Dewa melepaskan babatan kapak tanpa ampun ke arah Nalantili. Kalau ia tidak cepat berguling di tanah, kepalanya sudah copot.

"Tapi kami ke mari hanya untuk memenggal kepala Amarsa Rawut!" Babatan kapaknya kali ini lebih dahsyat, sampai menimbulkan suara angin yang menderu. Nalantili jatuh bangun menghindarinya.

Melihat itu pun pendekar dari Gunung Kembar dan Pendekar Gelugut Sutra tidak tinggal diam. Keduanya serempak menerjang menghalangi serangan Basu Dewa. Mendapat bantuan dari dua pendekar ini, Nalantili mendapat kesempatan untuk segera bangkit kembali.

Hantaman kedua pendekar itu bergulunggulung mematahkan serangan Basu Dewa. Manusia persekutuan Eyang Tumbal Segara ini tidak kalah gesit. Basu Dewa menyambut serangan-serangan mereka dengan babatan kapak... "Bweet!" Maka sinar kebiruan membersit. Dua pendekar sakti ini sampai blingsatan melompat mundur. Nalantili menerjang lagi dengan pedangnya.

"Kalau Kakang Amarsa Rawut tahu, kalian takkan diberi ampun!" bentak Nalantili mendorong pedangnya ke depan.

"Suruh dia ke luar!" jawab Basu Dewa, kapaknya menangkis tusukan pedang. Kembali Nalantili terhuyung.

Sementara  itu   Ambali   Songka   gencar   melepaskan serangan. Orang-orang Perguruan 'Guci Perak' tidak ada yang sanggup menahan, apalagi membalas serangan. Sebagian mereka sudah bergelimpangan tanpa nyawa. Keadaan mereka sangat mengerikan. Perut dan tenggorokan mereka robek mengucurkan darah. Ada juga yang kepalanya terbelah dua.

Nalantili dan dua pendekar ini menjadi serba salah. Mereka bertiga saja hampir tidak sanggup menghadapi Basu Dewa. Niat mereka malah ingin membantu murid-murid "Guci Perak". Sudah tentu murid-murid dari Perguruan 'Guci Perak' tidak akan mampu menghadapi amukan Ambali Songka. Akhirnya ketiga jago ini serempak melesat meninggalkan Basu Dewa.

Mereka langsung menggempur Ambali Songka. Tanpa gentar pula Ambali Songka menghadap mereka.

"Kalian menyingkir dari sini. Biar dua cecunguk ini menjadi urusan kami!" perintah Pendekar Gunung Kembar. Maka murid-murid 'Guci Perak' segera menyingkir dari pertempuran. Terjadi pertarungan dua lawan tiga.

Pukulan Pendekar Gelugut Sutra bergulunggulung mencecar. Dari hantaman-hantaman itu seperti keluar serat-serat keputihan menjerat. Namun menghadapi babatan-babatan kapak Ambali Songka, seratserat itu sama sekali tiada artinya. Malah... "Craas! Wuuaaaa...!" Pendekar Gelugut Sutra menjerit keras. Babatan kapak Ambali Songka menyambar putus kedua lengannya. Tubuh Pendekar Gelugut Sutra menggelepar-gelepar di tanah.

Pendekar Gunung Kembar dan Nalantili masih mempertahankan serangannya. Basu Dewa tertawa menggelak-gelak melihat mereka keteter. Entah sudah berapa jurus yang dikeluarkan Nalantili maupun Pendekar Gunung Kembar. Hal itu membuat gadis Nalantili menjadi bingung. Kemampuan Basu Dewa dan Ambali Songka sungguh berbeda dengan dulu.

Pendekar Gunung Kembar yang terkenal tangguh merasa tak berkutik. Serangan-

serangan kapak Basu Dewa gencar bagaikan kitiran angin. Nalantili sendiri repot menghadapi Ambali Songka. Gadis itu merasa di permainkan.

Yang lebih celaka lagi, Pendekar Gunung Kembar mulai jatuh bangun menghindari serangan Basu Dewa. Lelaki cukup umur itu tidak menyangka akan kehebatan pemuda-pemuda itu. Sampai-sampai ia sendiri tidak berdaya menghindari sambaran kapak menghantam perutnya... "Bresss!" Pendekar Gunung Kembar tewas seketika. Isi perutnya menghambur ke luar.

Nalantili memekik, ia terjatuh kena sambaran angin kapak Ambali Songka.

"Hua ha ha ha.... Apakah si Amarsa Rawut telah menjadi seorang pengecut? Mana dia? Kenapa hanya gundiknya dan orang-orang tolol ini yang harus menghadapi kami si Durjana Pemenggal  Kepala!  Hua ha ha ha...!" Ambali Songka berdiri mengangkang. Nalantili terlentang pasrah. Tulang-tulangnya terasa remuk.

"Kalau si keparat Amarsa Rawut tidak muncul, penggal saja kepala perempuan sialan itu!" perintah Basu Dewa.

Baru tahulah sekarang Nalantili. Siapa sebenarnya Durjana Pemenggal Kepala. Kehebatan Basu Dewa dan Ambali Songka tidak diragukan lagi. Terbukti mereka dapat mengalahkan Pendekar Gunung Kembar dan Pendekar Gelugut Sutra. Dari mana dua cecunguk itu mendapat ilmu yang demikian dahsyat. Dan lagi kapak-kapaknya itu yang  membuat  mereka tak berdaya sama sekali.

Basu Dewa mengangkat kapaknya, Nalantili memejamkan mata. Ia tak bisa berbuat apa-apa.  Kapak putih berkilat itu mengarah menyilaukan pada tenggorokan gadis yang terlentang di bawah kangkangan Ambali Songka. Basu Dewa menyeringai menatap dengan kedua sorot mata yang jalang.

"Basu Dewa...!" Terdengar bentakan yang menggema. Suasana hening. Basu Dewa menghentikan niatnya. Mereka serentak menoleh ke arah suara. Di tengah-tengah pintu gerbang berdiri Amarsa Rawut bersama Wintara. Lengan kekar Amarsa Rawut menjinjing bungkusan kain berlendir.

"Bagus akhirnya kau muncul juga, Amarsa Rawut! Memang kaulah yang kami cari!" ujar Basu Dewa.

"Sudah memiliki kepandaian tinggi rupanya kalian, sehingga berani datang mengusik ketenangan Perguruan 'Guci Perak'." jawab Amarsa Rawut tak kalah lantangnya la dapat melihat bagaimana Pendekar Gunung Kembar tewas mengerikan dan Pendekar Gelugut Sutra masih kelojotan kehilangan dua belah tangannya.

"Kepandaian kami sebenarnya tidak berubah, Amarsa Rawut. Cuma bedanya sekarang kami telah mendapat gelar dari kalangan rimba persilatan. Mereka sudah menyebut kami sebagai Durjana Pemenggal Kepala!" jawab Basu Dewa. Mendengar itu Amarsa Rawut melotot.

"Kenapa? Takut mendengar julukan kami?" ujar Ambali Songka.

"Segala kutu busuk macam kalian apanya yang perlu ditakuti? Juga berani-beranian kalian pasang nama Durjana Pemenggal Kepala. Durjana itu sudah pindah ke akherat! Kalian lihat ini!" Amarsa Rawut melemparkan bungkusan kain berlendir ke hadapan Basu Dewa dan Ambali Songka. Tanpa menyambutnya bungkusan itu berhenti dan terbuka di hadapan kakak beradik ini. Terlihatlah kutungan kepala botak mengerikan.

"Hua ha ha ha...!" Basu Dewa malah tertawa ngakak, lalu...

"Kalau tikus botak ini mengaku Durjana Pemenggal Kepala, kalian boleh menyebut kami biang Durjana Pemenggal Kepala." Basu Dewa menggedorgedor dadanya sendiri dengan kapak.

*

* *

9

"Si botak ini hanya perampok picisan! Kepandaiannya hanya mampu untuk menakut-nakuti orang-orang kampung. Mana mungkin dia bisa menewaskan Ki Raka Banjaran maupun Liung Sanca?" sumbar Ambali Songka.

"Kalau begitu...." Amarsa Rawut menarik gagang pedang. Wintara yang berdiri di sebelahnya menahan.

"Sobat Amarsa Rawut, kendalikan emosi mu. Mereka bukan orang-orang sembarangan." bisik Wintara. Pendekar Kelana Sakti ini sudah dapat melihat gelagat. Amarsa Rawut sendiri menatap kedua kakak beradik ini penuh rasa keheranan. Bagaimana tidak? Ia masih ingat betul ketika ia menghajar Basu Dewa dan Ambali Songka di hadapan Liung Sanca dan ayahnya. Ambali Songka telah kehilangan sebelah telinga dan bibir yang hampir sapat. Juga

Basu Dewa. Sebelah kelopak matanya hampir pecah. Tapi yang dilihatnya sekarang, benar-benar mustahil. Tiada bekas-bekas mereka cacad.

"Sekarang sudah jelas persoalannya. Aku memang telah terkecoh dengan si botak ini. Tapi paling tidak aku sudah menumpas seorang tokoh sesat yang merugikan masyarakat. Sekarang giliran kalian yang mesti dibumihanguskan!" gertak Amarsa Rawut. Ia tidak perduli lagi dengan Wintara. Gerakannya cepat maju ke depan dengan babatan pedangnya.

"Tolol. Justru kami datang ke sini untuk mengambil kepalamu!" tukas Basu Dewa. Serta merta ia melemparkan kapaknya. Kapak itu menyambari  ke arah Amarsa Rawut juga Wintara. Dua pendekar ini blingsatan menghadapi sambaran kapak.

Dapat kembali pula kapak itu ke dalam genggaman Basu Dewa. Hal itu bagaikan pertunjukan yang sangat luar biasa bagi Wintara. Amarsa Rawut tidak tahu kapan datangnya kapak Basu Dewa datang. Tahu-tahu saja kapak Basu Dewa  menyambar  lagi  ke arah mukanya.

Gesit Amarsa Rawut menangkis dengan babatan pedang... "Traaang...! Pletaaak!" Benturan itu membuat Amarsa Rawut terhuyung ke belakang dengan pedang yang patah. Saat itu datang pula Ambali Songka melepaskan sambaran kapak yang tidak kepalang "Breeet!" Dalam keadaan yang terhuyung begitu

lengan Amarsa Rawut tergores.

Melihat itu pun Wintara langsung melompat menyambar tubuh Amarsa Rawut. Gerakannya bagaikan rajawali menyambar mangsa. Dua babatan kapak menyusul deras. Namun tetap nihil. Wintara dapat membawa jauh tubuh Amarsa Rawut. Pada kesempatan itu Nalantili dapat berlari menghindar. Basu Dewa dan Ambali Songka menatap sengit. M

"Pendekar Gembel! Rupanya kau ingin cepatcepat mampus berani menghalangi kami!" Dua kakak beradik ini menyerang serempak. Babatan-babatan kapak bergulung-gulung menghantam. Sinar-sinar  biru membersit kian ke mari. Sebelum Wintara menghadapi serangan-serangan itu. Terlebih dahulu ia melancarkan pukulan ringan. Dan sengaja  pula  diarahkan pada Amarsa Rawut. Hal itu bertujuan agar Amarsa Rawut dan Nalantili segera menjauh.

Menghadapi sendirian begitu, Wintara agak tersentak. Dua sambaran kapak hampir saja menebas kepala serta merobek perutnya. Selama mundur  itu pula Basu Dewa gencar melepaskan babatan kapak. Sinar kebiruan terus bergulung mencecar. Ambali Songka lebih sengit lagi, terkadang ia harus melompatlompat menyambar kepala. Wintara baru menyadari kedahsyatan serangan-serangan mereka.

Melihat Wintara keteter macam itu, Amarsa Rawut datang membantu. Terjangannya bagai orang yang kesetanan. Ia tidak memikirkan resiko yang sangat besar.

"Sobat Wintara...! Cecunguk-cecunguk ini bagianku!" Nekad pula Amarsa Rawut menyerang tanpa senjata.

"Akulah lawanmu, Amarsa Rawut! Kau memang harus menyusul ayahmu!" bentak Ambali Songka. Ia bergeser menghadapi Amarsa Rawut. Belum apa-apa Amarsa Rawut sudah jatuh ke banting.

Wintara cepat menepis sambaran kapak Basu Dewa. Pemuda itu bergetar tatkala hantaman Wintara mengenai pergelangan tangannya. Wintara mundur tiga langkah lalu menggabung kedua telapak tangannya. Dengan teriakan yang lantang ia melancarkan pukulan 'Tinju Bayu Delapan Penjuru'. Hantaman itu diarahkan pada Ambali Songka yang gencar mengarah tenggorokan Amarsa Rawut..... "Daarr...!" Mendadak tubuh Ambali Songka terbanting ambruk. Namun hanya dengan sekali sentakan ia dapat bangkit lagi. Dengan geram ia membalas serangan itu pada Wintara.

Kembali Wintara menghadapi dua kakak beradik. Keduanya beringas mencecar. Leretan-leretan sinar biru yang berasal dari kapak-kapak mereka menyelubungi tubuh Wintara. Amarsa Rawut sudah membayangkan perasaan ngeri. Wintara terus berkelit. Sungguh dahsyat! Babatan-babatan kapak yang mengganas sama sekali tidak dapat mengenai saat Wintara berkelit.

Malah dalam kesempatan itu Wintara sempat melepaskan hantaman 'Bayu Menghempas Gelombang'. Tak urung kedua kakak beradik itu terhuyung oleh suatu tenaga dalam paling dahsyat.

Belum pernah dua kakak beradik ini mendapatkan lawan yang dapat menggoyang diri mereka. Maka dengan kemurkaan yang tak terbendung, keduanya serempak melemparkan kapak-kapak mereka. Senjata-senjata yang berputar bagai bumerang. Wintara melesat ke atas.

Namun kedua kapak yang masih mencari mangsa itu terus meluncur menyilang. Tak terduga pula oleh Amarsa Rawut. Tiba-tiba senjata-senjata itu mengarah padanya. Maka ia pun mundur sambil melompat, tapi... "Aaaaaargt!" Salah satu kapak itu menghantam putus kedua kaki Amarsa Rawut. Wintara membelalak. Saat kapak-kapak itu mengarah lagi menghantam tenggorokan Amarsa Rawut. Pendekar Kelana Sakti ini bergerak bagai angin. Kakinya menendang keras salah satu kapak itu.

"Bweeett...!" Amarsa Rawut selamat. Kapak itu berbalik sangat cepat pada Ambali Songka....

"Jbreeeet!"  Saking  cepatnya  Ambali  Songka  tidak  dapat menangkap

Kapak miliknya terus meluncur menghantam putus kepalanya sendiri. Tubuh itu pun langsung kelojotan bagai ayam disembelih.

Kutungan kepalanya menggelinding  di  bawah kaki Basu Dewa.  Laki-laki  ini  menatap  dengan  mata yang membelalak. Ia tidak percaya melihat kutungan kepala adiknya berada di bawah kakinya....

"Kakang Basu Dewa.... Toloooong...." Kutungan kepala Ambali Songka masih bisa mengeluarkan suara meskipun pelan.

Saat itu Wintara memapah tubuh Amarsa Rawut. Putra tunggal majikan Perguruan 'Guci Perak' itu mengerang-erang menahan sakit. Tubuhnya banjir dengan keringat. Selama Pendekar Kelana Sakti ini melangkah, kedua matanya tidak lepas mengawasi Basu Dewa yang seperti bergetar menahan marah.

"Kakang... aduuuuh sakitnya...." kutungan kepala Ambali Songka merintih-rintih.

"Hraaaaa  !" Tiba-tiba saja Basu Dewa berteriak

melengking. Tangannya menyambar kapak bersimbah darah. Dengan kedua kapak itu Basu Dewa menerjang. Tahu gelagat begitu Wintara menghentakkan kedua kakinya melesat mundur.

"Pemuda hebat! Kau boleh menebus nyawa adikku dengan kepalamu!" Dua kapak Basu Dewa bergerak menyilang. Sambil memapah tubuh Amarsa Rawut, Wintara sedikit kewalahan menghadapi serangan itu. Ia tidak bisa membalas kecuali bergeser ke sana ke mari.

"Craasss...!" Sambaran kapak Basu Dewa me-

rontokkan beberapa lembar rambut Wintara yang merunduk. Saat itu pun sebelah kaki  Wintara  melepaskan tendangan..... "Deeer!" Telak menghantam perut Basu Dewa mencelat ke belakang. Menyemburkan darah. Namun ia masih tetap berdiri  menggenggam erat kedua kapak.

Merasa akan mendapat serangan lagi, terpaksa Wintara membaringkan tubuh Amarsa Rawut di teras bangunan. Ketika ia membalik. Basu Dewa sudah menerjang lagi. Kali ini disertai teriakan yang menggelegar.

Wintara sudah bersiap menyambut dengan hantaman 'Tinju Bayu Delapan Penjuru'.

"Blaaarr...!" Tak ampun tubuh Basu Dewa mencelat ambruk. Tubuhnya bergulingan menyemburkan darah. Berhenti tepat menghadap kutungan kepala Ambali Songka.

"Kakang.....Aduuuuh.... Aduuuuuh....

"Bruuush..... Mendadak dari kutungan kepala Ambali Songka mengepul asap hitam. Asap itu bergulung-gulung bagai kabut. Terlintas dalam benak Basu Dewa untuk melarikan diri.

Wintara dan yang lainnya tidak dapat melihat dengan jelas. Asap hitam demikian tebal menutupi pandangan mereka. Namun mereka tetap berhati-hati. Nalantili menjaga

Amarsa Rawut. Wintara pentang mata. Di sebelah sana Pendekar Gelugut Sutra sudah  tidak  sadarkan diri.

Perlahan-lahan asap hitam kian menipis. Pandangan mereka berangsur-angsur mulai jelas. Wintara mengernyitkan alisnya. Pandangannya dipertajam. Ketika asap hitam benar-benar lenyap. Sosok Basu Dewa sudah tidak ada lagi di situ. Begitu juga dengan kutungan kepala Ambali Songka. Keduanya raib menghilang entah ke mana. Kecuali tubuh tanpa kepala Ambali Songka.

"Basu Dewa melarikan diri...! Keparat, aku  tidak tahu ke mana perginya!" sergah Wintara. Dia sendiri kurang yakin. Makanya ia segera berlari ke luar. Basu Dewa benar-benar telah lenyap.

"Bangsat itu hampir saja membantai kita. Hebat. Baru kali ini aku melihat anak muda yang memiliki ilmu setinggi gunung. Sepak terjangnya bagai iblis haus membunuh!" Wintara masuk lagi ke dalam. Ia melihat Nalantili memapah tubuh Amarsa Rawut. Orang-orang Guci Perak sudah membawa masuk Pendekar Gelugut Sutra yang tidak sadarkan diri.

Pendekar Kelana Sakti ini melangkah lesu memasuki perguruan. Nalantili repot menyediakan obatobatan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Wintara. Amarsa Rawut kehilangan kedua kakinya sampai sebatas lutut. Juga Pendekar Gelugut Sutra, entah bagaimana kalau ia sudah sembuh dalam keadaan tanpa kedua lengan.

Kalau cuma luka-luka dalam Wintara bisa membantu. Itulah sebabnya Amarsa Rawut bisa bertahan dari rasa sakitnya. Dan sekarang Wintara berusaha menyadarkan Pendekar Gelugut Sutra.

*

* *

Langkah Basu Dewa semakin cepat tatkala ia hampir mencapai puncak bukit. Tujuannya sebuah bangunan rusak. Kedua tangannya erat menggenggam dua buah kapak. Matanya memandang beringas. Tidak bisa dibayangkan kemarahannya itu. Ilmu yang didapati dari Eyang Tumbal Segara  ternyata  masih  juga ada yang mengalahkannya. Bahkan Ambali Songka kini telah tewas.

Masih membayangkan pula saat kutungan kepala adiknya mengepul mengeluarkan asap hitam. Ia tidak percaya saat asap mengepul, kepala adiknya hilang. Merasa tidak akan sanggup mengatasi Pendekar Kelana Sakti, Basu Dewa sengaja melarikan diri. Tujuannya langsung menemukan Eyang Tumbal Segara.

Sekarang Basu Dewa tengah menjajaki anak tangga batu yang menyusur ke atas sampai pada bangunan. Di kedua sisi tangga batu itu masih banyak tonggak-tonggak kayu tanpa kutungan kepala. Namun lebih banyak kutungan-kutungan kepala mengisi pada tonggak-tonggak yang berderet memanjang sampai ke pintu bangunan.

Bau busuk menyengat hidung. Basu Dewa  tidak perduli. Ia sudah terbiasa dengan aroma yang demikian. Maka langkahnya terus menuju ke atas. Dilaluinya kutungan-kutungan kepala menjijikkan. Pintu bangunan menganga lebar. Di sekitarnya tetap berserakan puing-puing. Beberapa meter lagi Basu Dewa mencapai bangunan tersebut, mendadak saja....

"Kakang Basu Dewa.... Kakang....." Basu Dewa mendengar suara rintihan. Jelas sekali kalau itu suara Ambali Songka, adiknya. Maka sebelum ia memasuki bangunan, pandangannya berputar mencari-cari sumber rintihan adiknya.

"Ambali Songka.... Di mana kau!" Basu Dewa tidak menemukan siapa-siapa. Matanya terus berkeliling.

"Kakang.... Aku di sini...." Rintihan itu bercampur dengan desiran angin. Basu Dewa makin panik mencari.

*

* *

10

Mata Basu Dewa membelalak. Yang menjadi perhatiannya sebuah kutungan kepala yang menancap pada tonggak paling ujung. Setengah berlari ia kembali turun. Kutungan kepala itu bergerak-gerak seperti menyambut kedatangan Basu Dewa.

"Ambali Songka.... Astaga!" Basu Dewa memekik. Ia tidak percaya kutungan kepala adiknya sudah menancap mengisi tonggak yang kosong.

"Siapa yang membawamu ke mari, Ambali Songka! Siapa...!"

"Eyang Tumbal Segara.... Beliau yang membawaku,... Aduh kakang.... Aku tidak tahan sakitnya "

Melihat itu Basu Dewa melangkah mundur. Kedua matanya tertuju pada bangunan lagi.

"Kakang...." Kutungan kepala Ambali Songka menatap kepergian Basu Dewa memasuki bangunan.

Ruangan dalam bangunan itu tidak pernah berubah. Air kolam dalam bangunan itu tetap hitam keruh. Saat Basu Dewa memasuki bangunan itu  air kolam langsung bergolak membuih. Itu bertanda Eyang Tumbal Segara sudah mengetahui kedatangan Basu Dewa.

"Eyang, ternyata selama kami bersekutu denganmu hanya sia-sia belaka. Ilmu yang eyang  turunkan hanya mencelakakan diri sendiri...." kata Basu Dewa ia seperti menatap geram pada air kolam yang bergolak.

"Huak hak hak hak...." Terdengar suara yang parau. Air kolam menyembur ke atas bagai air mancur. "Kenapa musti aku yang kau salahkan? Justru

kau yang mengulur-ulur waktu. Niatmu selama ini ingin membunuh Amarsa Rawut selalu kalian tunda. Padahal kalau kalian melaksanakan niat itu, tentunya kalian sudah sempurna mewarisi ilmu dariku." Suara Eyang Tumbal Segara menggema.

"Apa maksud eyang...?" tanya Basu Dewa.

"Hak hak hak hak hak.... Ilmu yang kau miliki sekarang baru separuh dari ilmu yang kumiliki. Pantas saja kalian masih bisa di kalahkan oleh seorang pendekar muda itu. Kepadanyalah kalau kau ingin mengumbar kemarahan. Bukankah adikmu tewas di tangannya?"

“Kenapa Eyang Tumbal Segara setengahsetengah menurunkan ilmu  pada  kami.  Bukankah kami sudah bertekad akan mengantarkan sebuah kepala setiap tujuh hari sekali?" tukas Basu Dewa.

"Sudah kukatakan! Seharusnya kau memberesi Amarsa Rawut dahulu!" jawab Eyang Tumbal Segara cepat. Kali ini ia menampakkan diri. Sedikit demi sedikit sosok Eyang Tumbal Segara yang mengenakan jubah hitam muncul dari permukaan air.

"Ada lagi yang akan kutanyakan, Eyang Tumbal Segara."

"Silahkan, Cucuku    " Sosok Eyang Tumbal Se-

gara berdiri mengambang di permukaan air. "

"Adakah orang lain yang bersekutu dengan Eyang selain diriku? Sebab aku menemukan orang lain yang mengaku sebagai Durjana Pemenggal Kepala."

"Hak hak hak hak    " Eyang Tumbal Segara tertawa ngakak. Lalu....

"Saat sekarang ini hanya kalian berdua yang setia bersekutu denganku. Kalaupun ada orang lain yang mengaku dirinya sebagai Durjana Pemenggal Kepala. Orang itu, hanya  menggunakan  kesempatan. Tapi tak mengapa. Toh, dia sudah mendapat ganjaran!"

Basu Dewa terdiam. Basu Dewa terdiam. Teringat akan kutungan  kepala  botak  yang  ditunjukkan oleh Amarsa Rawut. Mungkin si botak itu pula yang menghabisi seluruh Perguruan 'Pedang Penjuru Angin'. Sehingga ia telah  kedahuluan.  Pastilah  itu  perbuatan si botak dengan mengambinghitamkan nama angker Durjana Pemenggal Kepala.

"Jangan   khawatir,   Cucuku.   Untuk   mencapai kesuksesan sudah semestinya memerlukan pengorbanan. Bagiku pengorbanan Ambali Songka sudah lebih dari cukup. Aku akan menggenapi seluruh ilmu yang kumiliki. Dengan demikian kau bisa membalaskan dendam terhadap pendekar muda itu. Namun hanya satu pesanku yang selalu kau ingat!"

"Aku   akan   selalu   patuh,   Eyang       Tonggak-

tonggak kayu itu akan kupenuhi dengan kutungankutungan kepala!" jawab Basu Dewa mantap.

"Nah bersiaplah untuk menerima ilmu ku. Selain kau menguasai penuh, kau juga dapat memanggilku bila menemui kesulitan. Bukalah bajumu dan bersila menghadap kolam." Wajah Eyang Tumbal Segara yang gelap tertutup jubah seolah-olah menatap pemuda yang menuruti  perintahnya.  Kembali  ruangan itu jadi hening. Asap kebiruan keluar dari permukaan kolam. Peristiwa itu terjadi lagi sama seperti ketika ia bersama adiknya Ambali Songka datang pertama kali. Bedanya pikiran Basu Dewa sekarang kalut bercampur dendam. "Kakang.... Akhiri saja persekutuan dengan Eyang Tumbal Segara. Kau pun akan mengalami na-

sib yang sama dengan ku...." Sayup-sayup terdengar suara rintihan Ambali Songka. Basu Dewa sebenarnya dapat mendengar. Tapi ia tetap acuh.

"Kakang, kau, kau akan menyesal!" Suara itu seakan membisik di telinga Basu Dewa. Saat itu sinar kebiruan seperti kabut telah menyelubungi tubuh telanjang bersila. Tawa Eyang Tumbal Segara terus mengumandang menggetarkan mengoyak seluruh isi ruangan.

*

* *

"Aaaaaarrrght.... Aaaah.... Aah... Hhh...!" Pendekar Gelugut Sutra menjerit-jerit saat melihat dua lengannya sebatas sikut  buntung  terbalut.  Wintara dan gadis Nalantili berusaha menenangkannya. Dari rontaan-rontaan itu, lukanya mengeluarkan darah lagi. "Paman Gelugut Sutra tenanglah Jangan ter-

lalu banyak bergerak." Amarsa Rawut juga ikut menyadarkan. Meskipun  kini tubuhnya hanya bersandar di atas pembaringan. Sakit di kedua kakinya yang buntung agak berkurang. Namun masih tetap nampak membengkak.

"Tanganku...! Tanganku...!" Pendekar Gelugut Sutra menjerit-jerit. Ia menatap kedua tangannya sendiri. Darah merembes ke luar.

"Paman lihatlah aku. Kedua kakiku pun buntung. Berterima kasihlah pada sobat Wintara yang telah menyelamatkan kita. Entah bagaimana kalau tidak ada dia di sini." ujar Amarsa Rawut.

Pendekar Gelugut  Sutra  memandang  ke  arah dua muda mudi yang memegangi tubuhnya. Nalantili tersenyum, Wintara juga. Pastilah pemuda ini yang dimaksud Amarsa Rawut, pikir Pendekar Gelugut Sutra.

"Lebih baik mati daripada terhina macam ini!" tukas Pendekar Gelugut Sutra.

"Pikiran paman terlalu pendek. Tidak pernahkah terpikir oleh paman, bahwa kita semua dituntut agar melenyapkan Durjana Pemenggal Kepala?" Nalantili memberikan nasehat.

"Benar, Paman. Ini semua sudah takdir. Tanpa kedua telapak tangan pun, paman bisa melatih ilmu Gelugut Sutra." Wintara memberikan semangat. Pendekar Kelana Sakti ini seolah-olah mengetahui kehebatan Pendekar Gelugut Sutra.

"Jangan putus  asa.  Aku  pun  akan  belajar  berjalan setelah kedua kakiku sembuh. Seorang pendekar pantang berkecil hati dan putus harapan!" Amarsa Rawut mengeluarkan pendapat.

Pendekar Gelugut Sutra nampak dapat tenang setelah mendengar ucapan-ucapan mereka. Sebentar kemudian ia nyengir.

"Sebelum luka-luka kita sembuh, Durjana Pemenggal Kepala sudah membantai kita. Dia pasti akan datang lagi." Pendekar Gelugut Sutra menatap Wintara.

"Soal Durjana Pemenggal Kepala, kita serahkan saja pada sobat Wintara. Aku dapat melihatnya sendiri bagaimana pendekar muda ini menghadapi Basu Dewa. Aku yakin hanya sobat Wintara yang dapat mengatasinya. Bukankah begitu Kakang Amarsa Rawut?" kata Nalantili.

"Hm, aku sudah menduga sebelumnya, kalau sobat Wintara adalah seorang pendekar sakti." Amarsa Rawut memuji.

"Sayang aku keburu pingsan waktu itu, sehingga tidak dapat menyaksikan bagaimana hebatnya dirimu, Wintara." sela Pendekar Gelugut Sutra. Ia mulai hanyut dalam pembicaraan.

"Ah, kalian terlalu berlebihan." tukas Wintara, lalu dia melanjutkan ucapannya.

"Sepertinya kalian sudah mengenal dua durjana itu sebelumnya."

"Memang. Bukankah aku sudah menceritakannya ketika kita pertama kali bertemu? Pasti kau masih ingat." jawab Amarsa Rawut.

"Tapi kau tidak menceritakan akan kehebatan dua kakak beradik itu. Aku sendiri hampir tewas. Ilmu mereka sangat tinggi. Juga kedua senjata kapak mereka sangat dahsyat."

"Sebelumnya tidak demikian, Sobat Wintara. Mereka bukan apa-apa dibanding dengan Kakang Amarsa Rawut. Mereka pernah dihajar habis-habisan." Wintara dan Pendekar Gelugut Sutra mendengar penuturan gadis Nalantili.

"Aku sendiri tidak habis pikir. Bagaimana mungkin telinga serta mulut Ambali Songka bisa utuh kembali. Dan juga masih terlihat jelas olehku, Basu Dewa menghilang bersama kutungan kepala saat asap hitam bergulung-gulung menyelubungi mereka." Amarsa Rawut meneruskan kata-kata Nalantili. Pendekar Gelugut Sutra seperti tersentak.

"Benarkah apa yang kalian ceritakan ini?" Pendekar Gelugut Sutra balik bertanya. Amarsa Rawut tenang menjawab....

"Semua orang pun mengetahuinya. Keadaan kita berdua yang telah begini merupakan suatu bukti akan kehebatan mereka. Bagaimana pendapat paman." "Mereka telah bersekutu dengan penganut setan!" Cepat pula Pendekar Gelugut Sutra menjawab. Ketiganya jadi diam. Kata-kata yang diucapkan pendekar itu sangat mengejutkan.

"Tentu saja kalian tidak  mengerti.  Banyak orang mencapai keberhasilan dengan jalan sesat. Begitu juga dengan dua durjana itu. Untuk melampiaskan dendamnya, mereka menjerumuskan diri pada aliran ilmu setan."

"Maksud paman, mereka memuja ilmu kedigjayaan?" tanya Wintara.

"Tepat. Mana mungkin telinga serta mulut Ambali Songka dapat utuh kembali, kalau bukan mereka bersekutu dengan setan! Dalam waktu yang sangat singkat mereka memiliki ilmu yang  sangat  dahsyat. Dan mereka membayar dengan kepala-kepala korbannya. Kepala-kepala itu diserahkan pada yang  dipujanya seperti kita membayar upeti." tutur Pendekar Gelugut Sutra.

"Tapi nyatanya mereka masih dapat di kalahkan oleh sobat Wintara. Mereka belum bisa dikatakan tak terkalahkan." kata Nalantili.

"Mungkin ada yang kurang beres di antara mereka." jawab Pendekar Gelugut Sutra.

"Dalam hal ini, kita semua berharap agar sobat Wintara bersedia membantu kami." tukas Amarsa Rawut.

"Apakah paman tahu di mana tempat pemujaan itu?" tanya Wintara. Pendekar* Gelugut Sutra nampak mengkerutkan alis.

"Sayang sekali aku tidak tahu. Jelasnya kita semua harus tetap waspada. Juga untuk Wintara, aku berharap seperti Amarsa Rawut. Tinggallah di sini sampai kami sembuh betul." Wintara tidak menjawab. Ia hanya mengumbar senyum. Setelah menatap Pendekar Gelugut Sutra, pandangannya beralih ke luar. Orang-orang Perguruan 'Guci Perak' sibuk membetulkan pintu gerbang yang rusak. Ceceran-ceceran darah di sekitar halaman telah bersih. Tempat itu tetap rapi seperti semula.

Nalantili segera mengganti balutan pada pergelangan tangan Pendekar  Gelugut  Sutra.  Setelah  itu pun ia melayani Amarsa Rawut menuangkan ramuan obat. Hati-hati sekali gadis itu merawat  putra tunggal Ki Raka Banjaran. Nalantili merasa berkewajiban mengurusi Amarsa Rawut. Mungkin dikarenakan ia pernah diperhatikan oleh Amarsa Rawut saat ia terluka.

Tapi saat ini ketulusan gadis ini benar-benar terasa oleh Amarsa Rawut. Lewat sentuhan tangannya yang lentik, juga bagaimana Nalantili merawatnya penuh kasih. Hal itu dapat terlihat pula oleh Wintara maupun Pendekar Gelugut Sutra.

Untuk menutupi perasaannya. Ia menyamaratakan dalam merawat dua orang yang terluka itu. Nalantili selalu berada di antara mereka.

*

* *

11

Ketika hari merambat gelap seluruh muridmurid Perguruan 'Guci Perak' berjaga-jaga. Dari pintu gerbang sampai ke depan teras selalu dijaga ketat. Tidak seperti biasanya halaman perguruan malam itu terang benderang. Hampir sekeliling pelataran di terangi dengan lampu pelita. Di teras yang menghadap kebun,  beberapa orang nampak terlibat dengan pembicaraan yang serius. Mereka adalah Wintara dan Nalantili yang menemani Amarsa Rawut serta Pendekar Gelugut Sutra. Mereka sengaja membawa kedua orang yang  terluka itu ke luar. Selama beberapa hari ini mereka selalu mendekam di dalam kamar. Tentu saja mereka tidak akan kerasan.

Tapi setelah berada di teras itu mereka betulbetul merasa nyaman. Apalagi Amarsa Rawut. Gadis Nalantili selalu berada di sampingnya. Setia merawatnya.

"Kakang Amarsa Rawut, apakah tidak sebaiknya kalau hal ini kita bicarakan pada perguruanperguruan lain? Mereka belum mendapat kabar dari kita." kata Nalantili, kata-kata itu sebenarnya ditujukan pada siapa saja yang berada di situ, maka Pendekar Gelugut Sutra langsung menjawab....

"Sebaiknya jangan dulu, sebelum persoalan menjadi jernih kita tidak perlu mengabarkan pada mereka. Aku khawatir mereka akan bertambah resah!"

"Apa yang dikatakan Pendekar Gelugut Sutra adalah benar. Kalau semua perguruan tahu kemunculan durjana itu mereka pasti akan berdatangan ke sini. Dan durjana itu tentunya tidak menampakkan diri. Kita tidak bisa lagi membuat perhitungan." ujar Wintara. 

"Dalam keadaan seperti ini, mudah-mudahan saja Durjana Pemenggal Kepala tidak datang ke sini. Pasti Basu Dewa tengah terluka juga setelah terkena hantaman-hantaman sobat Wintara." Amarsa Rawut ikut bicara.

"Aku rasa tidak. Hantaman-hantaman ku tidak ada artinya bagi Basu Dewa. Kalau waktu itu  Basu Dewa melarikan diri, itu karena ia telah kehilangan adiknya." jawab Wintara.

"Paman     minumlah, teh ini telah menjadi din-

gin." Nalantili menyulangi gelas berisi air hangat pada Pendekar Gelugut Sutra.

"Bukan melarikan diri, tapi Basu Dewa merasa terpanggil untuk kembali ke tempat pemujaannya." kata Pendekar Gelugut Sutra sambil menerima gelas dari gadis Nalantili.

"Mungkin juga ia akan datang kembali dengan ilmu yang lebih dahsyat. Yaaah Pokoknya kita harus

tetap waspada saja." kata pendekar itu lagi.

"Semoga saja sobat Wintara mampu menghadapi bila durjana itu datang... Nalantili, kau pun rupanya harus istirahat. Tidakkah kau merasa lelah setiap hari mengurusi kami. Biarlah  kami di sini bersama Wintara. Dan juga suruh murid-murid jaga bergantian. Tidak perlu mereka semua pentang mata. Situasi sekarang ini cukup aman." kata  Amarsa Rawut. Gadis itu pun tidak membantah. Ia segera meninggalkan mereka. Menemui murid-murid Perguruan 'Guci Perak' untuk menyampaikan perintah.

"Kalian pun mestinya sudah beristirahat. Angin di luar kurang baik." Wintara menyelimuti Pendekar Gelugut Sutra. Amarsa Rawut dapat menyelimuti tubuhnya sendiri.

"Aku belum bisa tidur, Wintara. Malam ini perasaanku agak lain. Biarlah aku di sini sendirian, mungkin Amarsa Rawut yang semestinya beristirahat." tukas Pendekar Gelugut Sutra.

"Ah, Paman hanya terbawa perasaan saja. Bagaimana dengan Amarsa Rawut? Apakah sudah lelah betul?" tanya Wintara.

"Ngantuk sih belum. Tapi aku ingin berbaring." Wintara tidak menunggu lagi. Ia langsung memapah tubuh Amarsa Rawut. Membawanya masuk ke dalam perguruan. Kaki Amarsa Rawut belum kering betul. Makanya saat Wintara mengangkat tubuhnya ia hampir menjerit.

Ruang kamar Amarsa Rawut telah rapi. Juga tercium aroma yang sedap. Pastilah Nalantili yang memberesi semua ini. Wintara melangkah menuju pembaringan. Diletakkannya hati-hati tubuh Amarsa Rawut. Tubuh tanpa kaki itu terhenyak di atas kasur empuk.

Wintara menutupi semua jendela kamar yang terbuka. Dari situ dapat terlihat Pendekar Gelugut Sutra duduk menyendiri. Sebagian murid-murid Perguruan 'Guci Perak' siap berjaga-jaga. Wintara menghela nafas saat semua jendela tertutup rapat.

Tapi melalui jendela itu pula Wintara mendadak tersentak kaget. Dari situ dapat terlihat dua buah  sinar kebiruan melayang-layang di udara. Jelas sekali kedua sinar itu menuju ke arah perguruan.

"Astaga!" Wintara memekik. "Ada apa, Sobat Wintara?" tanya Amarsa Rawut keheranan.

"Entahlah.... kau diam saja di sini." tukas Wintara seraya ia berlari ke luar. Kedua sinar itu masih melayang-layang di udara. Bukan hanya Wintara saja yang dapat melihat. Pendekar Gelugut Sutra pun  sudah berdiri di pelataran menyaksikan benda-benda terbang itu.

Saat kedua sinar kebiruan itu mendekati perguruan, semua murid-murid Perguruan 'Guci Perak' berlari mundur. Wintara menemui Pendekar Gelugut Sutra berdiri keheranan.

"Paman, benda apa itu yang menjurus ke mari? Nampaknya seperti Braja." Pandangannya terus mengawasi kedua benda bersinar menjurus turun. , "Ini pasti perbuatan Basu Dewa. Sudah kukatakan dia pasti datang ke mari lagi. Caranya saja seperti cara iblis." jawab Pendekar Gelugut Sutra. Lalu keduanya diam. Kedua benda bersinar itu lenyap.

"Hati-hati, Paman. Dia sudah menyelinap ke mari." Mendadak "Bruaaak!" Pintu gerbang yang ter-

tutup rapat berderak hancur berkeping-keping. Dari situ muncul lagi dua  buah  sinar  kebiruan.  Sinar-sinar itu langsung menjurus ke arah Wintara dan Pendekar Gelugut Sutra. Wintara yang tetap waspada segera melindungi Pendekar Gelugut Sutra. Gerakannya yang sangat cepat melesat jauh menghindari serangan itu. Kedua sinar itu menghantam tanah. Menimbulkan suara ledakan yang nyaring.

Barulah kedua pendekar itu tahu. Dua buah sinar itu sebenarnya dua buah kapak yang tajam berkilat. Melihat itu pun Wintara terus membawa tubuh Pendekar Gelugut Sutra menjauh dari tempat ledakan.

"Paman berlindung saja. Akan ku coba  sekali lagi menghadapi Basu Dewa." sergah Wintara.

"Tidak Wintara. Aku masih bisa menggunakan kedua kakiku." jawab pendekar tua itu. Wintara tidak bisa menolak.

Tanpa terduga pula kedua kapak itu bagai terkendali menerjang deras. Berdesing nyaring mengarah. Wintara  sudah  menyadari  kalau   dirinya   kini menjadi sasaran. Maka saat kapak-kapak itu mendera Wintara melesat mundur. Dalam pada itu pun ia mele-

paskan hantaman. 'Bayu Menghantam Gelombang'....

"Hreaaaaa...! Bledaaar!" Hantaman itu tepat mengenai kedua kapak hingga mencelat. Kapak-kapak itu terus berputar-putar di udara. Wintara bersiap-siap lagi dengan hantaman seperti tadi. Namun  kapakkapak itu seakan mundur teratur. Kedua senjata itu menjauh.

Di atas pintu gerbang Basu Dewa sudah menanti kedua kapaknya kembali. Tangkas pula ia menangkapi satu demi satu kedua senjata itu. Lalu ia turun dengan berjumpalitan.

"Kau boleh unjuk gigi di hadapanku, Pendekar! Nah sambutlah ini.... "Hiaaaa...!" Basu Dewa melemparkan kapaknya lagi. Sedangkan ia sendiri menerjang ke arah Wintara. Melihat itu pun Pendekar Gelugut Sutra langsung mundur.

Menghadapi sambaran kapak yang terbang sendiri saja Wintara merasa kewalahan. Apalagi Basu Dewa menyerang dengan babatan-babatan kapak. Pendekar Kelana Sakti ini betul-betul harus berkelit mati-matian. Tidak jarang ia melancarkan pukulan 'Bayu Menghempas Gelombang', namun ternyata hantaman-hantaman itu seperti tidak berarti bagi Basu Dewa. Ia malah makin gencar melancarkan babatan kapak.

Yang lebih dahsyat lagi kapak yang terbang dengan sendirinya. Wintara lebih sulit menghadapinya daripada menghindari serangan-serangan Basu Dewa, sekarang Wintara merasa betul-betul hampir tidak mampu menghadapi serangan-serangan itu.

"Kali ini semua orang-orang persilatan akan bergelimpangan tanpa kepala!" Basu Dewa sengit melancarkan babatan kapak. Saat itu sebelah kapaknya yang terbang sendiri telah kembali.

"Boleh saja. Asalkan kau memenggal kepalaku lebih dulu." jawab Wintara. Ia cepat menunduk. Kedua tangannya siap menghantam. Namun saat Wintara melancarkan hantamannya lagi, gagal. Dengan gesit Basu Dewa bisa menghindarinya. Malah sekarang

kedua  kapaknya  bergulung-gulung  mengeluarkan  sinar kebiruan. Berkelebat ke sana ke mari.

Amarsa Rawut bisa melihat dari atas pembaringan melalui jendela. Betapa ia merasa ngeri melihat sambaran-sambaran kapak nyaris menghantam putus leher Wintara. Kalau saja kakinya masih utuh seperti dulu, mungkin ia sudah datang membantu.

Mendengar suara-suara ribut Nalantili bergegas ke luar. Dia pun tidak tinggal diam melihat Wintara digempur macam itu. Maka tubuh ramping itu melesat dengan pedang terhunus.

Wintara sendiri terkejut tahu-tahu gadis Nalantili sudah berada di situ melancarkan serangan. Babatan-babatan pedangnya dapat mengurangi serangan Basu Dewa. Bukan main marahnya Basu Dewa ini. Sekali ia menghentakkan kapaknya sinar kebiruan membersit berdesing. Nalantili gesit menangkis. Namun sambaran angin yang keluar dari kapak itu membuat gadis Nalantili terhuyung ke belakang.

"Perempuan sial! Kau pun bakal mampus!" Basu Dewa melemparkan kapaknya. Kembali kapak Basu Dewa terbang menyambar. Tentu saja Wintara tidak membiarkan kapak itu menghantam Nalantili. Kecepatan larinya melebihi kecepatan angin. Tangkas pula Wintara menghantamkan kapak itu dengan pukulan 'Tinju Bayu Delapan Penjuru' "Bledaar!" Benturan itu

sangat nyaring menghantam kapak  Basu  Dewa.  Saat itu pun Nalantili menyampok dengan pedangnya.

Kapak tajam berkilat berbalik menyerang Basu Dewa. Durjana Pemenggal Kepala ini tidak sempat menghindar. Tapi ia masih tetap waspada. Dengan segala kekuatannya ia menangkis dengan sebelah kapaknya lagi. Maka....

"Jledaaar!"  Terjadi  ledakan  yang  paling  dahsyat. Dari ledakan itu mengeluarkan sinar yang amat terang. Lengan Basu Dewa, berdenyut hebat. Ia betulbetul terperanjat saat melihat kedua kapaknya hancur menjadi kepingan-kepingan logam di tangannya.

"Kalian keparat semua! Kalian telah menghancurkan dua senjata mautku! Kalian akan rasakan akibatnya "Hraaaat!"

Basu Dewa murka. Ia menerjang Wintara dengan telapak tangan yang membara.

"Nalantili, munduuuur...!" bentak Wintara. Ia sudah mengira kalau serangan Basu Dewa sekarang bakal repot untuk dihadapi. Maka Wintara tidak segan-segan melancarkan pukulan 'Bayu Menghempas Gelombang'. "Duaaar!" Saat itu pun Basu Dewa melancarkan hantamannya. Bahkan tepat mengenai dada. Maka Wintara jatuh bergulingan dengan mulut menyembur darah. Basu Dewa tetap berdiri meskipun sudah terkena hantaman dari Wintara.

Pendekar Kelana Sakti ini cepat bangkit,  namun baru saja ia dapat berdiri Basu Dewa sudah melancarkan sebuah hantaman mengenai kepala....

"Deeer!" Kembali tubuh Wintara bergulingan. Basu Dewa menatap menyeringai, Kedua lengannya siap menghantam lagi.

Gadis Nalantili menghalangi dengan babatan pedang. Basu Dewa menyambut dengan kibasan tangannya.... "Bweeeet! Plaaaak!" Tak ampun Nalantili mencelat dan hampir menimpa tubuh Pendekar Gelugut Sutra, dengan gesit pula pendekar setengah umur ini dapat menangkap tubuh ramping Nalantili. Ia dapat menjaganya meskipun tanpa kedua telapak tangan.

Di luar dugaan tubuh Basu Dewa membara. Sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Saat itu Wintara duduk bersila menghimpun tenaga inti bayu. *

* *

12

"Kau memang lawanku, Sobat Pendekar. Hadapilah jurus terakhir dariku ini. Mati pun aku merasa puas bila kau benar-benar sanggup menahannya." Basu Dewa pentang jurus. Kedua tangannya yang membara bergerak-gerak sangat cepat. Bahkan berputarbagai kitiran angin sampai mengeluarkan percikanpercikan api.

Wintara tidak punya pilihan. Ia harus terpaksa pula mengeluarkan jurus yang paling dahsyat. Jurus 'Selaksa Bayu Penjerat Nadi'. Sebenarnya pantang sekali bagi Wintara menggunakan jurus tersebut. Kalau tidak terpaksa sekali. Karena untuk melepaskan hantaman itu ia harus menguras habis tenaga intinya. Kalau saja lawannya masih  bisa bertahan, maka ia sendiri akan celaka.

"Kita memang harus mati bersama, Basu Dewa. Biarlah aku mengorbankan nyawa demi kebenaran." kata Wintara tenang yang diam-diam siap menyambut. Maka pada detik itu juga...

"Hreaaaa...!"

"Hraaaaat...!"

Keduanya sama-sama melesat ke atas. Sama-

sama melancarkan hantaman terakhir.

"Bledaaar.  !" Baik Wintara maupun Basu Dewa

mencelat bergulingan. Sesaat kemudian Wintara masih bisa duduk bersila kembali. Basu Dewa bangkit berdiri, tapi ketika ia hendak melangkah. Sekujur tubuhnya mendadak   kaku.   Tubuhnya   yang   merah   membara lambat laun berubah hitam. Bersamaan dengan itu pula Basu Dewa menjerit-jerit...

"Waaaarght! .... Waaaaarght...!" Tubuh hitam kaku Basu Dewa berderak retak. Pembuluh-pembuluh darah menonjol ke luar seakan hendak copot dari dagingnya. Mendadak saja kepala Basu Dewa menggelinding ke tanah. Darah mengucur deras bagai air mancur dari kutungan kepala di lehernya.

Nalantili bersama Pendekar Gelugut Sutra dapat melihat kengerian itu. Wintara nampak duduk bersila kehabisan tenaga. Ia juga  menyaksikan  kejadian itu. Amarsa Rawut yang berada di kamarnya ingin berteriak kegirangan melihat menggelinding hangus di tanah.

Pendekar Gelugut Sutra berlari mendekati Wintara, Nalantili mengikuti dari belakang. Ketika mereka berada di samping Wintara. Semuanya terbelalak. Mereka hampir tidak percaya menyaksikan tubuh Basu Dewa yang tetap berdiri mengeluarkan asap hitam bergulung-gulung.

Asap itu keluar melalui kutungan leher yang masih mengucurkan darah. Mereka tidak percaya pula saat asap hitam itu mulai membentuk sosok tubuh. Setelah sosok itu benar-benar tampak. Barulah tubuh Basu Dewa ambruk ke tanah.

Sosok berjubah hitam itu makin jelas terlihat. Wajahnya yang gelap tertutup jubah seakan menatap mereka penuh kemarahan.

"Manusia-manusia hebat! Kalian boleh bangga atas kemenangan terhadap orang-orang persekutuan ku. Akulah Eyang Tumbal Segara yang tidak bakal mengampuni kalian! Huak hak hak hak hak...!"  Jelmaan asap hitam yang tak lain sosok Eyang Tumbal Segara tertawa mengakak. Tawanya yang mengerikan dapat mengguncang sekitar tempat itu. Suara tawa yang parau menggema. Nalantili dan Pendekar Gelugut Sutra tidak sabaran melihat kemunculan Eyang Tumbal Segara yang banyak tingkah itu, maka keduanya serempak menerjang.

Nalantili sigap membabatkan pedangnya berkali-kali. Pendekar Gelugut Sutra nekad mengeluarkan jurus mautnya. Ia lupa kalau kedua telapak tangannya telah buntung. Namun tanpa disadarinya pula dari kutungan pergelangan tangannya masih dapat mengeluarkan serat-serat sutra yang bergulung-gulung merejam ke arah Eyang Tumbal Segara.

Pendekar Gelugut Sutra ini semakin yakin kalau dirinya masih mampu mengeluarkan jurus-jurus ampuhnya. Nalantili gencar membabati setiap bagian tubuh Eyang Tumbal Segara, namun....

"Huak hak hak hak hak  ! Ayo kerahkan semua

tenaga kalian sampai ludes! Hayo keluarkan  jurusjurus ampuh kalian!" Dengan lapang Eyang Tumbal Segara menerima serangan-serangan itu. Setiap babatan pedang Nalantili dan hantaman Pendekar Gelugut Sutra seperti menembus di tubuh Eyang Tumbal Segara. Sosok hitam itu sukar untuk disentuh. Tubuhnya bagaikan sebuah bayangan.

Namun saat Eyang Tumbal Segara membalas serangan mereka dengan  hempasan  kedua  tangan. Dua orang ini mencelat tidak kepalang tanggung. Keduanya menyemburkan darah dan tidak dapat bangkit lagi.

"Huak hak hak hak hak...! Kalian cuma cacingcacing busuk penghuni tanah! Mampus saja kalian!" Eyang Tumbal Segara berniat melancarkan serangan lagi terhadap mereka yang tergeletak pingsan. Saat itu pun Wintara berusaha sekuat tenaga menghalangi. Serangannya lemah bagai tak bertenaga. Ia terkejut sekali saat tinjunya menembus mengenai angin. Padahal jelas-jelas hantamannya itu masuk mengenai dada Eyang Tumbal Segara.

"Huak hak hak hak hak...! Sebenarnya kaulah yang mesti kulumatkan, Pendekar ingusan! Kau yang selalu merintangi dua orang persekutuanku....

Hreaaat!" Dengan telengas Eyang Tumbal Segara melepaskan hantaman. Maka akibatnya sangat fatal. Keadaan Wintara yang sangat lemas tak bertenaga itu mencelat membentur pagar. Hantaman Eyang Tumbal Segara membuat nafasnya sesak. Ia baru menyadari kalau lawannya itu hanyalah sebuah mahkluk halus. Dalam keadaan seperti itu tidak mungkin Wintara bisa melepaskan hantaman-hantaman yang merupakan andalan dari Eyang Buana Penangsang, gurunya.

Maka terlintas ingatannya ketika ia pernah berjumpa dengan seorang perempuan sakti yang menamakan dirinya: Nyi Dayang Kunti Naga. (baca: Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti). Perempuan itu tergolong makhluk halus pula. Dia pernah berjanji akan membantu bila Wintara dalam keadaan kesulitan.    Mungkin sekaranglah saatnya Wintara meminta pertolongan pada Nyi Dayang Kunti Naga.

Pandangan Wintara nanar menatap Eyang Tumbal Segara yang datang perlahan tanpa melangkah. Sosok berjubah hitam itu seakan terbang di atas permukaan tanah mendekati Wintara.

"Nyi Dayang Kunti Naga.... Kalau kau memang selalu menyertai dalam pengembaraanku, datanglah ke sini.  Aku  butuh  pertolonganmu...  Nyi  Dayang  Kunti...

Nyi Dayang Kunti Naga.... Nyi Dayang  Kunti Naga     "

Wintara seperti berbisik. Pikirannya terpusat pada satu titik. Serta kedua matanya terpejam.

Eyang Tumbal Segara tidak jadi melepaskan hantaman. Karena dengan tiba-tiba saja angin bertiup kencang. Di langit yang gelap itu muncul sinar terang berwarna kekuningan menyilaukan mata.

Sinar kuning itu turun langsung yang ternyata seorang perempuan cantik bertubuh molek. Namun masih jelas kelihatan buah dada serta auratnya yang merangsang. Perempuan itu langsung turun menginjakkan kakinya ke tanah...

"Siapa yang berani mengusik cucuku ini, hah? Sampai-sampai aku harus turun tangan!" Suara parau Nyi Dayang Kunti Naga meraung bagai serentetan halilintar. Pandangannya menatap tajam ke arah Eyang Tumbal Segara.

"Perempuan jalang apa hakmu mencampuri urusanku!" bentak Eyang Tumbal Segara.

"Kau tidak berhak untuk melukai cucuku, Apalagi sampai membunuhnya. Maka sebelum kau menuruni tangan jahatmu, hadapi dulu aku!" sahut Nyi Dayang Kunti Naga.

"Kalau begitu kita boleh bertarung. Siapa yang kalah akan menempati neraka paling dasar!" jawab Eyang Tumbal Segara.

"Huh. Apa susahnya menghadapi setan yang haus akan kepala! Biarlah cucuku sendiri yang akan menghadapimu!" Setelah berkata begitu tubuh molek Nyi Dayang Kunti Naga raib. Ia menjelma menjadi sinar kuning lagi. Sinar itu terbang berputar-putar di udara.

Wintara dapat melihat meski dengan pandangan yang suram. Ia tetap diam saat sinar kuning itu menjurus ke arahnya. Tidak dapat dielakkan lagi saat sinar kuning itu masuk ke dalam mulut Wintara. Saat itu pun Wintara tersentak bangun. Kedua matanya tetap terpejam. Tubuh Pendekar Kelana Sakti ini berdiri tegap seperti telah mendapatkan tenaga baru.

"Mari tua bangka! Aku ingin tahu siapa yang bakal mendekam dalam kerak neraka." Jelas suara itu keluar dari mulut Wintara, tapi yang terdengar suara perempuan.

"Perempuan jalang sok alim! Aku tidak segansegan lagi padamu!" Eyang Tumbal Segara menyapu dengan kedua tangannya.... "Wuuuus!" Wintara cepat menyilangkan kedua lengannya di dada. Jelas sekali hembusan angin menghempas. Tubuh pingsan

Nalantili dan Pendekar Gelugut Sutra beterbangan bagai segumpal kapas yang terhembus angin.

Kecuali Wintara yang masih bertahan. Dengan mata yang tetap terpejam Wintara menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan, maka...

"Wuuuus.... Bledaaar!" Eyang Tumbal Segara terjerembab ke belakang. Wintara terseret mundur oleh hantaman yang sangat dahsyat itu.

Tapak kaki Wintara sampai menggores pada permukaan tanah. Dalam pada itu pun Wintara tidak berhenti melepaskan serangan. Kali ini pukulan jarak jauhnya, "Weesss...! Deeeeerrr...!" Dua kali berturutturut Eyang Tumbal Segara mendapat hantaman. Dua kali pula tubuh berjubah hitam itu jumpalitan.

"Hi hi hi hi hi.... Terhadap cucuku  saja  kau tidak mampu menghadapinya. Bagaimana bisa menguasai alam fana ini?" ejek Nyi Dayang Kunti Naga. Eyang Tumbal Segara menggeram....

"Keluar kau dari raga anak muda itu, Perempuan jalang!" Serta merta ia melepaskan hantaman. Entah pukulan apa. Dari hantaman-hantaman itu membersit dua buah sinar menjurus ke arah Wintara.

Tenang Nyi Dayang Kunti Naga mengendalikan tubuh Wintara bergeser ke samping. Di luar dugaan tubuh Wintara melesat ke atas. Eyang Tumbal Segara menyambuti dengan lesatan tubuhnya pula. Keduanya saling mendera melepaskan hantaman-hantaman. Berkali-kali hantaman Eyang Tumbal Segara melanda tubuh Wintara. Pendekar Kelana Sakti ini seperti tidak merasakannya. Padahal darah menyembur ke luar dari mulutnya.

"Tua bangka keparat! Kau hampir membuat cucuku mati! Rasakan ini.... Hreaaa!" Saat itu tubuh Wintara melintir bagai gasing. Tendangannya mencuat berturut-turut.

"Des...! Des...! Des...!" Eyang Tumbal Segara memekik. Tubuhnya jatuh terbanting. Saat itu pun Wintara menukik ke bawah.... mengarah pada Eyang Tumbal Segara.

"Hadapi    pukulan    'Tujuh    Warna'    ku    ini....

Hiaaaa...!" Selama Wintara menukik ke bawah membias sinar sebanyak tujuh warna bagai pelangi. Eyang Tumbal Segara sangat terperangah. Ia tidak dapat melihat serangan itu. Karena tujuh warna telah melapisi tubuh Wintara. Tahu-tahu saja hantaman itu sudah mendera      di      tubuh      Eyang      Tumbal      Segara....

"Waaaarrght!" Tak pelak lagi Eyang Tumbal Segara bergelintingan menjerit-jerit.

"Tobaaatt...! Tobaaaat...!" Tubuh Eyang| Tumbal Segara mengkerut bagai lilin. Menyebarkan bau yang sangat busuk. Jeritannya makin lama makin hilang bersamaan dengan mencairnya tubuh Eyang Tumbal Segara.

Wintara berdiri mementang jurus yang sangat aneh. Kedua matanya tertutup rapat. Saat itu pun tubuhnya tergetar hebat. Keringat sebesar-besar butir jagung mengalir di sekujur tubuh.

Tiba-tiba saja mulutnya menganga lebar. Dari situ keluar lagi seberkas sinar kuning. Sinar itu mengapung di atas cairan berbau busuk.

"Iblis yang tidak pernah tobat, beginilah akhir hidupmu! Rasakan! Tinggallah bersama kerak neraka!" Sinar kuning itu menjelma lagi menjadi sosok  molek Nyi Dayang Kunti Naga. Perempuan itu mengibaskan tangannya.... "Weeees...!" Maka cairan busuk itu seperti lenyap tanpa bekas. Perempuan itu melangkah tersenyum ke arah Wintara.

"Wintara     Sekali lagi aku ikut bersamamu da-

lam menumpas kesesatan iblis. Lain kali jika kau memerlukan bantuanku, aku tidak segan-segan datang membantu."

Wintara perlahan membuka matanya. Tubuhnya mulai terhuyung. Lalu jatuh lagi dalam keadaan berlutut.

"Terima kasih, Nyi... Tanpa bantuanmu, entah apa jadinya." Suara asli Wintara bergetar.

"Justru  melalui  tanganmu  itu  aku  bisa  bertindak. Tanpa kau semua ilmu yang ku miliki tiada artinya." sahut Nyi Dayang Kunti Naga.

Wintara sudah tidak mendengar lagi. Ia betulbetul telah menguras tenaganya. Ia hanya dapat melihat bagaimana tubuh Nyi Dayang Kunti Naga perlahan sirna meninggalkannya.

"Selamat jalan, Wintara. Semoga kita akan bersatu lagi " Sosok itu berubah lagi menjadi sinar kun-

ing, lalu terbang menembus langit gelap.

Angin berdesir semilir menerpa permukaan tanah pelataran Perguruan 'Guci Perak'. Wintara duduk seakan tidak dapat bangkit. Matanya memandang berkeliling menatapi tubuh-tubuh bergelimpangan.

Nalantili bersama Pendekar Gelugut Sutra belum juga sadarkan diri. Di sebelah sana terlentang tubuh hangus tanpa kepala Basu Dewa. Amarsa Rawut yang sejak tadi menyaksikan peristiwa itu di balik jendela berteriak-teriak....

"Sobat Wintara...! Kau tidak apa-apa  ?"

"Aku tidak kurang satu apa pun, Amarsa  Rawut. Hanya saja sekarang kedua kakiku seperti lumpuh. Tapi tak mengapa sebentar lagi juga membaik!" jawab Wintara sambil tidak kalah berteriak.

Ketika suasana telah tenang kembali, barulah orang-orang 'Guci Perak' berdatangan. Mereka saling berbicara kagum akan peristiwa yang mereka lihat tadi.

Mereka memapah tubuh pingsan Nalantili dan Pendekar Gelugut Sutra. Wintara pun harus dibantu untuk berdiri. Tapi ia masih bisa melangkah masuk ke dalam perguruan sambil melemparkan senyum ke arah orang yang berdiri di balik jendela.

TAMAT