Serial Pendekar Hina Kelana Eps 29 : Iblis Pemburu Perawan

 
Eps 29 : Iblis Pemburu Perawan


Kau telah tersesat jauh adikku! Kembalilah padaku, aku merasa yakin segala sesuatunya masih dapat kita selesaikan dengan baik!" yang berkata adalah laki-laki berwajah kasar serta memiliki tinggi badan tidak sebagaimana lazimnya manusia normal.

"Aku tidak mau kembali pada siapapun, kakang...! Jangan terlalu memaksa...!" menyahut laki-laki kerdil yang berada di depan si tinggi besar tanpa mau mengurangi kecepatan larinya. Jangankan berhenti, bahkan menolehpun tidak. Sepintas lalu, kejar-kejaran yang sedang berlangsung itu nampak lucu. Bagaimana tidak. Yang dikejar adalah seorang laki-laki kerdil berusia dua puluh tahun, dengan langkahnya yang pendek namun cepat luar biasa. Sedangkan pengejar yang berada tidak begitu jauh di belakangnya adalah laki-laki yang memiliki tinggi hampir dua meter, dengan jangkauan langkah yang demikian lebar. Bahkan dapat dikatakan, sepuluh kali si kerdil mengayunkan kakinya. Mungkin si tinggi besar hanya empat kali. Anehnya walaupun si tinggi besar memiliki jangkauan langkah yang lebar, namun sampai sebegitu jauh dia masih belum mampu menangkap tubuh pemuda kerdil yang berlari cepat di depannya.

"Adi Cindek! Kuperingatkan padamu untuk, tidak meneruskan segala niatmu yang sesat itu...!" teriak pemuda tinggi besar yang terus mengejar di belakangnya. Sebagai jawabannya, pemuda berbadan kerdil itu hanya mendengus tanpa menoleh sedikitpun.

"Adi... guru pasti murka atas segala sepak terjangmu yang di luar batas!"

"Persetan...!" sentak laki-laki berbadan kerdil itu terus mempercepat larinya.

"Susah payah mereka mengajar kita! Apakah engkau hendak mengecewakan harapannya...!"

"Masa bodoh...!"

Panas hati pemuda berbadan tinggi besar mendengar jawaban yang sangat menyakitkan ini. Sungguhpun begitu ia masih berusaha mengingatkan adik seperguruannya.

"Niatmu yang keji bisa membuat sengsara banyak orang adi Cindek! Kembalilah padaku! Bukankah semuanya masih dapat kita bicarakan...?"

"Jangan kau paksa aku untuk mengikuti kemauanmu, kakang...! Salah-salah aku malah akan membunuhmu...!" dengus pemuda berbadan kerdil. Mengancam. Semakin bertambah memerah paras pemuda berbadan tinggi bagai raksasa ini demi mendengar kata-kata yang diucapkan oleh adik seperguruannya. Tanpa putus asa ia masih tetap mengejar, berulang kali langkah pemuda kerdil yang berlari di depannya hampir tersusul, bahkan tangannyapun hampir dapat menangkap bagian pundak pemuda kerdil itu. Namun selalu saja setiap pemuda itu hampir dapat menyaingi langkah pemuda kerdil di hadapannya. Cepat laksana lesatan anak panah, si kerdil telah berlari menjauh.

"Berhenti adikku...!" perintah si tinggi besar dengan nafas memburu.

"Percuma engkau mengejarku, kakang Duwur...! Sampai tua kau tak mungkin mampu menandingi ilmu lariku! He...he...he...! Coba kau bayangkan betapa guru kita selalu berada dipihakku. Segala kepandaiannya yang tak pernah diberikannya padamu, namun dengan sangat senang hati dia turunkan kepadaku...! Bukankah itu merupakan pertanda bahwa aku merupakan seorang murid yang paling beruntung. Nah sekali lagi kuperingatkan padamu, jangan coba mengejarku. Apalagi dengan niat menghalang-halangi maksudku. Kalau hal itu tetap kau lakukan, dengan sangat menyesal aku pasti membunuhmu...!" ancam si pemuda kerdil masih dalam keadaan berlari kencang. Nampaknya pemuda berbadan tinggi besar yang di panggil Si Duwur ini merupakan orang yang keras hati dan berpantang menyerah. Walaupun dia menyadari kepandaian yang dimiliki oleh adik seperguruannya tiga tingkat lebih tinggi bila dibandingkan kepandaiannya sendiri. Hal ini bukan menjadi dasar pertimbangannya. Terkadang memang pernah terlintas penyesalan di dalam hatinya tentang tabiat gurunya yang suka pilih kasih dalam mendidik muridnya yang cuma dua orang itu. Tetapi ia tak berani protes secara langsung di depan gurunya. Sikap sang guru yang terlalu memberi kebebasan pada si kerdil dan menuruti segala kemauannya. Akhirnya menimbulkan bencana yang sangat buruk bagi dirinya sendiri, terlebih-lebih buat orang banyak. Bahkan dalam keadaan terus berlari mengejar pemuda kerdil yang berlari semakin jauh dengan dirinya itu, dia malah teringat saat-saat mereka pertama kali dihanyutkan oleh Banjir Bandang. Dengan susah payah dia berusaha menyelamatkan diri si Cindek yang terus terseret arus deras. Mati-matian Duwur mempertahankan keselamatan sahabatnya si Cindek. Bahkan dengan rela dia mendudukkan tubuh si Cindek di atas pundaknya. Dia tak pernah perduli dengan keselamatan dirinya sendiri, walau terkadang ia harus meneguk air bah yang meluapluap.

Banjir Bandang telah menyeret tubuh mereka dari Sungai Buluh hingga ke hutan Kayangan. Andai saja seorang kakek tua berpakaian serta berambut serba putih tidak cepat-cepat menolongnya. Pastilah dua jiwa menemui ajal. Kejadian itu sepuluh tahun telah berlalu, sedangkan saat itu dua orang bersahabat itu berumur sekitar dua belas tahun. Dalam waktu sekian lama, kiranya kakek yang berpenampilan serba putih serta memiliki watak aneh itu telah berkenan mengangkat Cindek dan Duwur menjadi muridnya. Namun dalam menurunkan pelajaran ilmu silat dan pukulan-pukulan sakti, kiranya kakek tua yang memiliki nama Alot Rose nampak sering bersikap tidak adil. Bahkan beberapa tahun setelah berada dalam asuhan kakek aneh ini, si Duwur merasakan kepandaian yang dimilikinya jauh tertinggal di bawah si Cindek. Pemuda yang memiliki badan melebihi manusia normal ini sebenarnya merasa iri melihat kemajuan yang didapat oleh si Cindek. Tapi tetap saja dia tak dapat berbuat banyak. Sekarang semuanya sudah jelas, si Cindek yang memang sejak kecil memiliki tabiat kurang menyenangkan ini, rupanya selain memiliki perangai yang sangat buruk juga mempunyai tujuan yang menyesatkan. "Dunia bisa kacau andai aku membiarkan dia berkeliaran seenak perutnya." batinnya. Pabila pemuda bertubuh tinggi seperti raksasa ini teringat sampai ke situ. Maka kekhawatirannya telah mendorong semangatnya untuk berlari lebih cepat lagi.

Namun pabila dia memandang ke depan sana, maka orang yang dikejarnya sudah tak terlihat lagi. Merasa kesal karena usahanya tidak mendatangkan hasil, maka pemuda bertubuh raksasa ini berteriak keras-keras.

"Adi Cindeeek...!"

Suara teriakan si Duwur membahana sampai ke sudut-sudut hutan rimba kemudian menjadi sayup-sayup dan hilang sama sekali. Pemuda ini kemudian berbalik langkah dan menelusuri jalan semula. Wajahnya menunduk, sedangkan sorot matanya menyimpan kehawatiran yang mendalam. Malam dingin di angkasa sana bulan berselimut awan hitam. Suasana di sekitar tempat itu adalah kesunyian belaka. Hanya sesekali terdengar suara jangkerik dan lolong anjing hutan saling bersahutan sesamanya. Lalu keadaan men-jadi sunyi sebagaimana sediakala. Dalam kegelapan di dalam sebuah gubuk kecil yang terletak jauh di pinggiran desa. Seorang gadis dan seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun nampak baru saja selesai melewatkan makan malam. Saat itu gadis berkulit hitam manis sedang memberesi alat-alat bekas makan. Sedangkan pemuda setelah selesai melewatkan makan malam langsung merebahkan diri di atas ranjang bamboo

“Masih sore begini kok sudah tidur, kakang…!” tegur gadis berambut panjang sambil membawa peralatan makan yang sudah kotor ke dapur. Sekejap gadis itu menghilang di balik pintu, tapi beberapa menit kemudian telah kembali lagi. Tanpa diminta si gadis segera duduk di atas ranjang bambu dekat si pemuda berbaring.

“Badanku rasanya hendak sakit! Pula besok pagi aku harus cepat-cepat ke sawah. Padi hampir menguning itu perlu mendapat perawatan khusus. Kau tahu mengapa aku melakukannya…!” tanya si pemuda tanpa mengalihkan perhatiannya dari atas wuwungan rumah. Gadis berkulit hitam manis gelengkan kepalanya.

“Pesta perkawinan kita hanya tinggal beberapa bulan lagi. Kita membutuhkan biaya yang tidak sedikit…!” desah si pemuda. Si gadis hanya menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang dikatakan oleh calon suaminya.

“Tidurlah! Akupun sudah mengantuk sekali!” ujar si gadis, lalu menguap beberapa kali. Tak lama setelahnya gadis berkulit hitam manis itu melangkah ke kamarnya.

Malam terus berlalu tanpa terasa, orangorang yang berada di dalam rumah itu telah pula terlelap. Tanpa sepengetahuan siapapun, di luar sana nampak sesosok tubuh mengendap-endap mendekati gubuk itu. Gerakan kakinya yang ringan dan lincah dan tidak menimbulkan suara sedikitpun menandakan bahwa sosok gelap yang kian dekat dengan gubuk itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna. Setelah sampai di bagian pintu depan, orang itu mengintip suasana di dalam gubuk itu. Tiba-tiba bibirnya menyeringai!

“Mereka berdua pasti sudah pada tidur! Huh… kasihan si calon pengantin laki-lakinya. Dia pasti tak dapat lagi merasakan bagaimana indahnya malam pertama. Puuuh!” sosok tubuh berpakaian serba hitam itu menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

Lampu minyak yang terletak di atas lantai tanah padam. Di luar gubuk, suasana tetap gelap, namun di dalam gubuk itu lebih gelap lagi.

Teeek!

Dengan gerakan perlahan orang itu menyentakkan palang pintu yang terbuat dari batang kayu kopi. Pintu terbuka, namun begitu didorong menimbulkan suara berderit. Tidak begitu keras memang, tapi suara perlahan itu cukup didengar oleh si pemuda yang terbaring di atas ranjang bambu yang sejak tadi gelisah tak mampu memejamkan matanya.

“Selasih! Engkaukah itu…?” tanya si pemuda dalam keingin tahuannya. Namun tiada jawaban seperti yang diinginkannya. Dari sikap berbaring, pemuda itu kini duduk di atas ranjang bambu. Sepasang matanya yang kemerahan mengerjab, hanya kegelapan saja yang terlihat.

“Creeep…!” “Aghk…!”

Pemuda itu tercekat manakala dia merasakan bagian lehernya dicekik oleh sepasang tangan yang kokoh. Semakin lama cekikan itu semakin kuat, bahkan tidak hanya sampai di situ saja. Dia merasakan ujung-ujung jemari yang begitu panas itu menghunjam ke bagian kulit lehernya, lalu menembus sampai ke tulang. Pemuda itu menggelinjang dan berusaha meronta-ronta. Usahanya nampaknya menjadi semakin sia-sia, karena semakin ia meronta, jemari berkuku runcing itu semakin dalam menembus daging. Si pemuda merasakan panas yang tiada tertahankan di bagian lehernya. Kemudian dari bagian leher terus menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menjadi terbelalak kaget ketika merasakan tubuhnya terasa kaku dan tak mampu digerak-gerakannya lagi.

Bluuukk…!

Tubuh pemuda itu jatuh di atas ranjang tanpa mampu bangkit lagi. Selanjutnya sosok misterius itu menyelinap memasuki kamar Selasih. Langkahnya perlahan saja, seolah dia sudah terbiasa berada di dalam gubuk itu. Sesampainya di dalam ruangan kamar Selasih yang begitu gelap. Pandangannya mencari-cari ke sekeliling ruangan, ketika dia melihat sesosok tubuh wanita terbaring di atas dipan kayu. Lagi-lagi senyum iblis membias. Orang itu merogoh sesuatu dari balik pakaiannya yang berwarna gelap. Lalu membukanya sebentar. Setelah itu bungkusan tadi dia dekatkan ke depan hidung.

“Puuuh…!”

Sekali hembus, berterbanganlah bubuk halus memenuhi seluruh ruangan kamar si gadis. Orang berpakaian serba hitam itupun menanti dengan sikap sabar.

“Kalau malam ini aku berhasil meniduri seorang gadis perawan! Menurut petunjuk tubuhku akan berubah menjadi seekor monyet hitam yang sangat besar. Siapapun tak bakal mengenaliku. Dan tak seorangpun yang akan mengetahui segala sepak terjangku. He…he…he…!”. Setelah menanti beberapa saat lamanya, maka apa yang dinanti-nantikannya mulai menampakkan hasil. Gadis yang bernama Selasih itu menggeliat seperti hendak terjaga, tetapi matanya tetap terpejam. Lalu erangan-erangan lirih yang membangkitkan gairah terdengar.

“Sekaranglah saatnya” gumam orang itu dalam hati.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, orang inipun menghampiri dipan yang ditempati oleh Selasih. Harum semerbak yang keluar dari tubuh sang dara membuat tubuhnya bergetar menahan gejolak nafsu yang mulai membakar. Dengan sangat lembut dibelainya wajah gadis berkulit hitam manis ini. Kemudian terus meluncur ke bagian leher, lalu menyelinap ke balik pakaian si gadis. Sampai di sana jemari tangannya bermain-main sebentar sambil menunggu reaksi. Gadis itu kembali mengerang lirih. Tangannya menggapai dengan maksud merangkul.

“Kakang Mirja! Mengapa kau matikan lampu…! Dan kau begitu berani memasuki kamarku…!” desis si gadis. Menyangka bahwa orang yang memasuki kamarnya merupakan kekasihnya. “Diluar sana dingin…!” sahut sebuah suara

yang begitu mirip dengan suara Mirja.

“Bukankah tadi kau mengatakan badanmu tidak enak? Pula selama ini kau begitu menjagaku! Mengapa tiba-tiba menjadi nakal seperti ini…?” tanya si gadis, sungguhpun saat itu dia mulai terpengaruh pada rabaan jemari-jemari nakal yang dia anggap kekasihnya. Namun dia masih berusaha mengingatkan. Orang itu nampaknya tidak perduli. Bahkan tangannya secara lebih berani lagi meluncur lebih ke bawah lagi. Si gadis menggelinjang, suara erangan semakin jelas terdengar.

“Kak… kakang…! Kita belum waktunya berbuat seperti itu…!” rintih Selasih. Lalu menangkap pergelangan tangan yang dia dianggap milik kekasihnya.

“Apakah kau mau mengecewakan aku…?” tanya orang itu setengah kecewa.

“Aku tidak bermaksud begitu! Aku takut, Sang Hyang Widi mengutuk kita berdua…!” desah si gadis. Sementara tubuhnya menggeliat-geliat dibakar api asmara.

“Kalau kau tak mau, biarlah aku pergi selama-lamanya…!” ancam suara itu. Ancaman itu ternyata cukup berpengaruh pada si gadis. Sesungguhnya dia tak begitu merasa kuatir atas kata-kata si pendatang yang dianggap kekasihnya itu. Sebab dia tahu betul Mirja begitu sangat mencintainya. Tak mungkin pemuda itu tega meninggalkan dirinya. Tetapi karena ada sesuatu kekuatan aneh yang telah menguasai jiwa dan hatinya. Maka diapun merasa tak kuasa membendung keinginannya sendiri.

“Aku benar-benar segera meninggalkanmu!” ulang orang itu.

“Jangan kakang…! Lakukanlah…!” desisnya setengah merintih.

Mata orang itu nampak berbinar-binar begitu mendengar ucapan si gadis. Tak ayal lagi dengan sangat leluasa orang itu segera melampiaskan hasratnya. Selanjutnya hanya erangan dan rintihan yang terdengar. Dua insan itu kini sudah saling menyatu. Sementara itu di luar sana, bulan maupun bintang sudah tak kelihatan sama sekali. Seolah merasa enggan menjadi saksi atas perbuatan terkutuk itu.

Tatkala semuanya sudah berakhir, Selasih menangis. Dia merasakan nyeri yang luar biasa di bagian bawah perutnya. Tubuhnya lemah lunglai tiada bertenaga. Di luar kesadarannya, perlahanlahan perubahanpun terjadilah. Tubuh tanpa pakaian dan dalam keadaan terlentang itu menghitam. Mula-mula dari bagian wajahnya. Tak lama kemudian seluruh tubuhnya. Gadis itu menjadi terkejut saat mana secara tak sengaja dia meraba ke bagian dada dan perutnya. Kasar dan berbulu lebat.

“Akgh… kakang Mirja…!” teriak Selasih begitu merasakan perobahan ujud dirinya sendiri. Yang menyahuti bukanlah pemuda yang diharapkannya. Melainkan sebuah suara serak menyeramkan.

“Ha…ha…ha…! Mirja-mu sudah mampus beberapa jam yang lalu. Yang berbaring di sisimu ini adalah iblis, ya…iblis…! Ha…ha…ha…!”

Dengan gerakan reflek, gadis yang telah berubah ujud itu melompat dari atas dipan. Matanya melotot bagai mau melompat keluar. Namun karena suasana di ruangan itu gelap gulita maka yang terlihat hanyalah sosok tubuh hitam legam.

“Ja… jadi yang meng…oh…kakang Mirja…! Setan alas…! Kau telah menghancurkan harga diriku…!” jerit gadis itu histeris. Laki-laki yang terlentang di atas ranjang dengan sesungging senyum puas segera bangkit dari atas dipan. Dengan suara menggeledak dia berkata pada gadis yang telah berubah ujud menjadi seekor monyet hitam berbulu lebat.

“Kalaupun Mirja kekasihmu itu masih hidup! Diapun tak mungkin sudi menikah dengan seekor monyet sepertimu…!”

“Apa yang telah terjadi pada diriku…?” tanya si gadis merasa kecut bukan kepalang.

“Ha…ha…ha…! Kau telah menjadi sosok makhluk yang sama sepertiku. Kau atau siapapun yang pernah berhubungan denganku, akan menjadi pembantu-pembantuku yang paling setia sampai akhir hidup ini…!” kata orang yang telah berubah menjadi seekor monyet hitam terus tergelak-gelak. Semakin bertambah terperangahlah gadis yang bernama Selasih itu dibuatnya. Kemudian dia berlari-lari menyeruak keluar. Dihampirinya ranjang yang ditempati oleh Mirja calon suaminya. Di atas ranjang itu Mirja ternyata masih terbaring di sana. Hanya tubuhnya telah berubah dingin membeku, tanda orang yang sangat dicintainya telah tewas beberapa waktu lamanya.

“Kakang Mirja…! Kakang… maafkanlah aku…!” teriak Selasih tanpa henti-hentinya menangisi mayat Mirja. Pada saat itu orang yang telah berubah menjadi monyet hitam jantan nampak menyeruak dari dalam kamar Selasih. Gadis yang telah berubah menjadi seekor monyet inipun tersentak. Saat itu berbagai perasaan sedang berkecamuk di dalam hatinya.

“Kau…kau… iblis pengecut…! Kau telah menghancurkan hidupku…!” bentaknya. Lalu melangkah mundur dan menjauh, tetapi monyet hitam penjelmaan si penyusup terus melangkah mendekati

“Siapa yang menghancurkan hidupmu? Jalan nasibmu memang sudah menentukan kau harus menjadi pembantuku…!”

“Aku tidak mau…!” bantah gadis itu. “Engkau pasti mau! Lihatlah…lihatlah ke-

mari…!” kata si monyet hitam pada monyet penjelmaan Selasih. Mula-mula monyet penjelmaan Selasih bersikeras tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh orang itu. Tetapi lama kelamaan seperti ada satu kekuatan gaib yang telah memaksanya untuk menoleh dan memandang pada monyet hitam. Diapun menjadi kaget, mata orang itu menyorot tajam, yang membuat merinding bulu kuduk gadis itu karena sepasang mata yang memandang tiada berkedip itu berwarna merah menyala.

“Sampai kapanpun kau harus menghormat dan menuruti segala perintahku. Karena aku ini merupakan majikanmu…junjunganmu…! Mengertikah kau…!” kata orang itu berpengaruh.

“Saya mengerti majikan…!” jawab Selasih, secara tiba-tiba mengikuti segala apa yang dikatakan oleh orang itu.

“Nah! Gubuk ini bukan tempat tinggalmu, kita mempunyai tempat tinggal yang jauh lebih menyenangkan di hutan sana! Sekarang juga kita pergi ke sana…!” kata si pendatang. Kemudian dengan diikuti oleh monyet hitam penjelmaan Selasih. Keduanya lenyap dalam kegelapan malam.

***

2

Kalangan persilatan menjadi gempar dengan kemunculan tokoh yang mengaku dirinya sebagai Iblis Pemburu Perawan. Sepak terjangnya yang membuat heboh dan telah pula menimbulkan banyak korban jiwa. Meresahkan para pemimpin desa, sesepuh bahkan sampai pada orang tua yang memiliki anak gadis berwajah cantik jelita. Hampir setiap malam penculikan terjadi, dan yang menjadi sasarannya terutama sekali gadis-gadis dari berbagai desa. Sayangnya mereka yang menjadi sasaran penculikan itu, tak seorangpun yang pernah kembali ke daerahnya. Para gadis-gadis itu lenyap begitu saja. Tiada meninggalkan tanda-tanda dalam bentuk apapun. Seolah mereka lenyap ditelan bumi. Dengan tidak ditemukannya mayat maupun bukti lain hal ini malah membuat cemas para orang tua yang merasa kehilangan anaknya.

Hampir setiap malam secara bergantian para penduduk melakukan ronda. Bahkan tak ketinggalan kepala desa dan para guru silat secara teratur melakukan pengintaian. Namun sejauh itu mereka masih belum berhasil menemukan jejak siapakah sesungguhnya orang yang telah mengaku sebagai Iblis Pemburu Perawan itu. Adakah dia merupakan seorang manusia biasa, hantu bergentayangan, atau sosok lain yang tiada kelihatan. Sejak terjadinya peristiwa penculikan demi penculikan itu. Berada di daerah manapun apalagi berkeliaran malam hari. Pasti akan menjadi orang yang dicurigai, ditangkap bahkan dibunuh tanpa menunggu pengadilan dari orang yang berwenang. Pembunuhan yang dilakukan oleh penduduk yang merasa desanya diganggu oleh Iblis Pemburu Perawan ini sudah kerap kali terjadi. Tak jarang orang-orang yang tiada memiliki kesalahan apaapa menjadi sasaran mereka.

Malam itu Desa Mekar Sari sebagaimana desa-desa tetangganya terlihat sunyi sepi. Hampir setiap pintu rumah penduduk tertutup rapat, padahal malam baru saja menunjukkan jam sembilan malam. Walaupun desa itu bagai mati tiada berpenghuni, namun di setiap sudut jalan atau tempat-tempat tertentu, beberapa penduduk desa yang terdiri dari laki-laki berumur tiga puluhan tetap saja melakukan penjagaan sebagaimana biasanya. Tidak terdapat tanda-tanda Iblis Pemburu Perawan bergentayangan malam ini.

"Sudah hampir delapan hari desa kita ini aman. Aku terkadang berpikir sendiri, mungkin orang atau makhluk apapun yang menamakan dirinya sebagai Iblis Pemburu Perawan tak bakal berani muncul menyantroni daerah kita...!" di salah satu sudut jalan seorang laki-laki berkata pada kawannya.

"Mulutmu jangan bicara sembarangan, Karso Broco...!" ujar salah seorang yang duduk di atas batu dalam kegelapan itu. "Dia bisa datang seperti setan! Kapan saja dia mau." sambungnya marah.

"Aku membicarakan kenyataan, siapapun tahu sudah beberapa malam ini si Iblis itu tak muncul...!"

"Sore tadi aku dapat kabar, malam tadi desa sebelah menjadi sasaran orang itu. Bahkan dua orang gadis cantik dilarikannya sekaligus...!" kata lainnya menimpali.

"Kau tahu anak siapa yang diculik oleh orang itu...?" tanya Karso Broco.

"Yang satunya murid perguruan Lintang Kembar, sedang lainnya anak kepada desa...!" jawab orang itu, lalu menarik nafas berat. Masingmasing mereka yang berada di situ sama-sama terdiam.

"Ketua Perguruan Lintang Kembar aku kenal sebagai sahabat baiknya Ki Bayan. Bahkan Kepala Desa Jati Mulya seperti sama-sama kita ketahui merupakan adik kandung Kepala Desa kita, Ki Pragawa." komentar Karso Broco yang mengetahui lebih banyak tentang desa sebelah.

"Seingatku, murid kakang Giri Wisa yang bernama Nawang Wulan itu merupakan seorang gadis yang sangat cantik. Bahkan banyak pemuda di daerah itu yang tergila-gila padanya...!"

"Selain cantik, juga memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi. Bahkan kepandaiannya melebihi gurunya sendiri...!" komentar lainnya membenarkan.

"Semua itu karena dia belajar dari berbagai perguruan. Tapi bagaimana mungkin gadis yang memiliki kepandaian tinggi seperti Nawang Wulan bisa dilarikan oleh Iblis Pemburu Perawan...?"

Suasana hening sejenak, hanya terdengar bunyi jengkerik yang memperdengarkan suara merdu.

"Kenyataan itu menandakan bahwa orang yang berjuluk Iblis Pemburu Perawan, pastilah seorang manusia yang memiliki kepandaian yang luar biasa...!" Karso Broco coba-coba menarik kesimpulan.

"Ah, mudah-mudahan kampung kita amanaman saja untuk hari-hari selanjutnya..." kata yang seorang lagi merasa ngeri sendiri.

"Tooo...tolooong...!"

Belum lagi hilang perasaan was-was di hati mereka, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita. Lalu disusul dengan suara bunyi kentongan. Karso Broco dan tiga orang kawannya bagai tersentak dari sebuah mimpi buruk menakutkan. Dengan senjata terhunus mereka segera berlarilari ke arah datangnya suara.

"Nampaknya suara tadi berasal dari rumahnya Ki Pragawa Kepala Desa kita...!" kata mereka lalu mempercepat larinya. Setelah melewati beberapa tikungan, sampailah mereka di rumah kepala desa. Rumah itu penuh sesak oleh penduduk desa. Empat orang peronda malam yang dipimpin oleh Karso Broco segera bergabung dengan penjaga lainnya. Setelah terjadi pembicaraan singkat, maka Karso Broco segera menyeruak di tengah-tengah orang banyak dan langsung menemui Ki Pragawa yang sedang berusaha membujuk istrinya di ruangan tengah.

"Apa yang telah terjadi, Ki...!" tanya Karso Broco setelah membungkuk hormat pada kepala desanya. Hanya sesaat saja Ki Pragawa memandang kehadiran Karso Broco, Musang Leman dan sepuluh orang kawannya, selebihnya kembali pada istrinya yang terus saja terisak tiada henti.

"Aku mau anakku selamat! Suryaningsih... dia harus kembali padaku...!'

"Aku juga menghendaki begitu, tapi coba bawa bertenang dulu. Kita membutuhkan waktu untuk menemukannya...!" jawab si Kepala Desa pelan, namun menyimpan kesedihan yang dalam.

"Apa masihkah kakang tunggu waktu! Iblis itu pasti tak mungkin membiarkan Suryaningsih hidup. Atau setidak-tidaknya... oh... dia bisa menjadi orang yang kehilangan harga diri...!" "Kita akan mencarinya, Nyai... tapi biarkan aku bicara dulu dengan Musang Leman...!" kata Ki Pragawa. Kemudian laki-laki itu melambaikan tangannya pada Musang Leman dan Karso Broco. Yang dipanggil segera menghadap.

"Apa sebenarnya yang telah terjadi, Ki...?" tanya Karso Broco beberapa saat setelah mereka sama-sama duduk di atas sebuah tikar permadani. Ki Pragawa nampak menarik nafas panjang, wajahnya tengadah memandang lepas pada langitlangit ruangan itu. Sekejap kemudian dipandanginya belasan penjaga malam yang kini duduk berkeliling membentuk sebuah lingkaran.

"Anakku Suryaningsih telah diculik oleh Iblis itu di dalam kamarnya...!" ujar Ki Pragawa tersendat. Semua mata yang hadir di ruangan itu nampak terbelalak seakan tak percaya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Sedangkan penjagaan dilakukan sedemikian ketatnya. Tapi pada kenyataannya Suryaningsih puteri Ki Pragawa masih juga dapat dilarikan oleh Iblis Pemburu Perawan. Hal ini lebih membuktikan lagi, bahwa Iblis itu terlebih nekad lagi dalam melakukan aksinya. Untuk apa dan dibawa ke mana gadis-gadis yang diculiknya itulah yang menjadi pertanyaan dalam hati setiap orang.

"Apakah Bapak Kepala Desa melihat bagaimana rupa orang yang telah membawa lari Suryaningsih...?" tanya Musang Leman diliputi rasa keingintahuan. Ki Pragawa gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Sama sekali aku tak melihatnya! Tapi mungkin istriku yang melihatnya...!" katanya, lalu memandang istrinya. Yang ditanya usap-usap matanya yang basah dan bengkak, nampak sekali dari raut wajahnya kalau perempuan berusia empat puluh lima tahun itu berusaha tabah.

"Ak... aku hanya melihat setelah mendengar suara Suryaningsih. Itupun hanya bagian belakangnya saja...!" ucapnya dengan suara tersendatsendat.

"Bagaimanakah rupanya orang itu, Nyai...!" desak Karso Broco.

"Orang yang melarikan anakku bertubuh pendek. Seluruh tubuhnya berwarna hitam. Mungkin juga berbulu mirip monyet yang besar. Dia hanya menoleh sebentar, dan aku melihat sepasang matanya merah menyala bagai bara...!" tutur istri Kepala Desa. Seraya langsung menutupi matanya dengan kedua belah tangannya.

"Kalau begitu Iblis Pemburu Perawan merupakan seekor binatang yang menjijikkan! Kita tidak bisa tinggal diam... kalau perlu sekarang juga kita cari Suryaningsih...!" kata mereka beramairamai.

"Ke mana kita akan mencari orang itu dan anakmu malam-malam begini. Jangan-jangan kita malah menjadi korbannya yang kesekian...!" tukas Karso Broco merasa gentar.

"Percuma saja kau pernah menjadi muridku, kalau hanya untuk berkorban sedikit saja engkau enggan...!"

"Bukan begitu...!"

"Sudah! Aku tak mau mendengar  semua alasanmu! Kalau kau tak mau ikut pergi dengan kami. Cepatlah engkau menyingkir dari hadapanku, sebelum aku berobah pendirian!" bentak Ki Pragawa, dalam kepanikan itu emosinyapun sudah tak terbendung lagi.

"Janganlah bersikap begitu, bapak yang saya hormati! Walau bagaimanapun saya tetap membantu bapak...!"

"Bagus, kalau kau memang masih mempunyai nyali dan memandang muka padaku...!" kata Ki Pragawa lalu tersenyum kecut. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya dan pamitan pada sang istri, berangkatlah serombongan berkuda yang dipimpin langsung oleh Ki Pragawa.

***

3

Guruku dulu pernah bilang! Jadikanlah alam di sekelilingmu bagai seorang sahabat sejati. Karena sesungguhnya ia merupakan hidup dan kehidupan bagi dirimu!" terdengar satu suara dari dalam sebuah gua yang berukuran tidak begitu besar.

"Paman pasti akan mengatakan bahwa kakek Bangkotan Koreng Seribu yang telah memberi petuah seperti itu...!" sambut satu suara merdu.

"Yah... kuanggap apa yang pernah dikatakannya merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri...! Karena hidup walau bagaimanapun ujudnya mempunyai saling ketergantungan antara yang satu dengan lainnya...!"

"Sampai kapan paman mempertahankan prinsip seperti itu...?" tanya si gadis yang memiliki sifat keibuan ini sambil menambahkan kayu bakar di atas unggun yang berada tidak begitu jauh di depan mereka.

"Seharusnya bukan aku saja, tetapi juga kau, juga kalangan persilatan dari berbagai golongan...!"

"Kalau semua orang yang ada di kolong langit ini memiliki satu prinsip dan satu hati. Tentu tak ada peperangan, saling bunuh, fitnah memfitnah dan sebagainya!" pemuda berpakaian merah berambut di kuncir ini nampak tersenyumsenyum. Lama sekali di pandanginya wajah jelita yang berada tidak begitu jauh darinya. Semakin lama ia memandangi wajah polos tanpa dosa ini, maka getar-getar di hatinyapun kian membuncah. "Wanty... kau seorang gadis yang sangat cantik, keibuan, berpikiran cerdas bahkan penuh pengertian. Pantasnya kau merupakan anak seorang raja, ataupun keluarga terhormat. Kemudian sebagai pendampingmu seorang pangeran yang gagah. Sayang kepadamu, dan memberimu cinta dengan segenap jiwa raganya. Tapi apa yang kau hadapi merupakan kenyataan yang sebaliknya. Hidupmu dipenuhi dengan berbagai penderitaan. Bahkan sebagaimana halnya dengan diriku, engkaupun tak memiliki orang tua. Tapi mengapa justru kau perpanjang penderitaan hidupmu dengan kau tanam harapan cinta dariku. Apa yang dapat kau harapkan dari manusia gembel sepertiku. Sungguhpun engkau mencintai aku dan akupun mencitaimu, tetapi aku malah lebih senang pabila engkau hidup dengan orang yang dapat memberimu segala-galanya." batin si pemuda. Diam-diam Buang Sengketa mulai dicekam rasa keraguan.

"Paman...!" desah Wanti Sarati setelah beberapa saat mereka saling beradu pandang.

"Hmm...!"

Wanti Sarati geser duduknya mendekat ke sisi Pendekar Hina Kelana.

"Apakah paman masih menganggapku sebagai seorang bocah...?" tanya si gadis dengan tatapan sendu.

"Apakah hatimu sendiri pernah berkata demikian...?" Buang Sengketa malah balik bertanya. Wajah gadis berlesung pipit itu memerah, saat mendengar kata-kata si pemuda.

"Terkadang aku merasa begitu. Aku sering teringat apa yang paman katakan ketika paman hendak menitipkan aku pada kakek Satria Penggali Kubur. Padahal usiaku saat itu sudah hampir delapan belas tahun...!"

"Aku bukan menitipkanmu padanya, aku hanya ingin agar kau menimba semua kepandaian yang dia miliki. Wanti... dunia persilatan selalu tak ramah terhadap kaum wanita. Apalagi terhadap gadis cantik sepertimu, aku takut sesuatu yang tak baik bakal menimpamu, andai kau tak memiliki kepandaian yang sangat tinggi...!" ujar si pemuda begitu polos.

"Apakah semua itu bukan dalih paman, agar aku tak mengikutimu ke manapun paman pergi…?"

"Wanti, engkau tak boleh mempunyai prasangka buruk seperti itu terhadapku! Engkau tak pernah tahu apa yang sedang kupikirkan...!"

"Paman hanya ingin mengatakan bahwa saat ini di bagian timur nusantara sedang terjadi malapetaka besar dengan munculnya seorang tokoh yang mengaku sebagai Iblis Pemburu Perawan...?" sergah Wanti Sarati seolah sudah mengetahui duduk persoalannya.

"Hidup ini tanpa terasa sebenarnya begitu singkat. Dan kita baru dapat merasakan betapa berartinya hidup kita andai kita bisa berbuat banyak untuk orang lain!" kata si pemuda tanpa menghiraukan ucapan gadis berambut panjang di sisinya.

"Benarkan seperti yang kukatakan, paman ingin mengatakan padaku tentang para orang tua yang kehilangan anak gadisnya. Dan pembunuhan-pembunuhan itu! Lalu paman segera ingin ke sana...!" desak Wanti Sarati dengan wajah memerah menahan gundah. "Wanti...!"

"Paman...! sergah Wanti Sarati. "Aku tahu bagi paman kehadiranku tidak memiliki arti apaapa. Semestinya sejak dulu aku menyadari hal ini, yah... terkadang aku terlalu mengikuti perasaanku. Ah... betapa bodohnya gadis yang bernama Wanti Sarati itu. Mengapa aku begitu besar menaruh harapan pada seseorang. Padahal kehadiranku mungkin hanya menjadi beban buat paman...!" tiada tertahankan lagi gadis cantik berlesung pipit itupun terisak-isak.

"Wanti...! Kau terlalu berprasangka buruk kepadaku...! Kau tak pernah mau mengerti betapa akupun sering memikirkan dirimu. Bahkan akupun begitu sayang padamu. Tetapi untuk cinta dan hidup bersamamu, itu belum dapat kulaksanakan sebelum aku berjumpa dengan ayahku Raja Piton Utara. Aku bisa mati penasaran, seandainya seumur hidup aku tak pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka yang telah menyebabkanku terlahir ke dunia ini...!" ujar Buang Sengketa, sementara sepasang matanya memandang sendu pada si gadis yang sangat dicintainya. Wajah cantik polos seolah tanpa dosa ini nampak memerah, lalu dibuangnya pandangan matanya jauh-jauh ke luar gua yang pekat berselimut malam. Hatinya menjadi resah. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tapi ia tak kuasa untuk melakukannya.

"Maafkan paman, Wanti...! Semestinya tidak kukatakan itu padamu...!" kata si pemuda dengan wajah tertunduk. Sekali lagi, Wanti Sarati dengan berani menggeser punggungnya. Sehingga kini keduanya sudah saling berdekatan sekali.

"Paman tidak bersalah-apa-apa! Bahkan selayaknya aku membantu paman dalam mengatasi semua persoalan yang paman hadapi. Terkadang aku menyadari bahwa diriku ini egois dan mau menang sendiri...!" tukas si gadis menyesali diri.

"Sudahlah jangan kita sesali diri masingmasing. Malam begitu larut, ada baiknya kalau kita istirahat...!" Buang Sengketa lalu membelai rambut Wanti Sarati yang panjang, dan Wanti Sarati-pun merebahkan kepalanya di dada si pemuda yang bidang.

"Aku takut, paman meninggalkan aku lagi...!" kata gadis itu sambil memperhatikan wajah si pemuda tampan.

"Aku tak akan meninggalkanmu lagi..." "Betulkah, paman...?" tanya si gadis mera-

gu.

"Hmmm... yaaa...!"

Sekali lagi dibelainya rambut si gadis yang

panjang mengurai. Gadis itu bergelayut manja. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Buang Sengketa melihat sepasang mata si gadis yang begitu indah nampak meredup. Sementara pemuda itu dapat merasakan dada Wanti Sarati berdegup kencang. Perlahan pemuda keturunan Raja Bunian ini menundukkan wajahnya. Ketika wajah kedua orang itu saling mendekat, Wanti dapat merasakan hangatnya hembusan nafas si pemuda menyapu wajahnya. Entah bagaimana mulanya, sekarang bibir mereka saling menyatu. Ciuman hangat yang begitu mesrapun berlangsung. Wanti Sairati merintih, sebuah rintihan manja, dari sebuah hati yang kering akan kasih sayang. Ketika gadis berlesung pipit itu semakin mempererat pelukannya, pemuda berwajah tampan itupun berbisik.

"Jangan turuti kehendak nafsu hewani, karena kita bisa terjerumus ke lembah paling hina...!" "Aku tahu, bahkan aku yakin paman pasti tak akan melakukannya...!" desah si gadis, kemudian melepaskan pelukannya.

"Kau marah...?" tanya si pemuda bimbang.

Wanti Sarati gelengkan kepalanya.

"Aku tak pernah marah, paman...! Justru aku merasa bangga, ternyata paman tetap seperti dulu. Begitu menghargai ketulusan cinta seorang wanita…!" jawab si gadis terharu.

"Nah sekarang tidurlah...! Besok kita sudah harus meneruskan perjalanan lagi" kata si pemuda.

Dengan berbantal tangannya sendiri, pemuda itupun akhirnya terlelap dalam waktu yang tidak begitu lama. Lain halnya dengan gadis yang berbaring di sebelahnya. Walaupun dia sudah berusaha untuk memejamkan matanya, namun sulit sekali baginya untuk terlelap. Entah mengapa hatinya gelisah. Padahal api unggun yang ia pasang sejak sore telah padam sama sekali. Sebentarsebentar diliriknya Pendekar Hina Kelana yang sudah pulas sejak tadi.

"Heran sekali, mengapa hatiku menjadi segelisah ini, padahal waktu-waktu sebelumnya sejak aku bertemu dengan dia aku tak lagi mengalami hal seperti ini. Tapi naluriku mengatakan ada sesuatu yang tidak terlihat bergentayangan di luar sana...!" gumam si gadis berlesung pipit. Diamdiam ia bangkit dari tidurnya. Memperhatikan keadaan di luar gua, suasananya tidak jauh beda dengan tempat mereka berada saat itu. Tapi Wanti Sarati mencoba terus mengawasi keadaan di luar sana.

"Tidak terdengar sesuatu yang mencuriga-

kan di dalam sana, namun mengapa sekarang ini bulu kudukku malah meremang...?"

"Sreeeek...!"

Terdengar suara semak-semak terinjak. Tapi ketika Wanti Sarati mempertajam pendengarannya. Suara mencurigakan itu sudah tak terdengar lagi.

"Aku harus tahu siapa sesungguhnya yang berada di luar sana! Tapi ada baiknya kalau kutinggalkan pesan pada paman Kelana...!" batin si gadis. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, dalam suasana yang begitu gelap, gadis berlesung pipit ini mengguratkan jari-jari tangannya pada dinding gua. Karena ruangan gua yang tidak begitu besar ini dalam keadaan gelap gulita, maka diapun hanya mengandalkan perasaan belaka. Selesai menuliskan pesan di dinding gua, Wanti Sarati menghampiri Buang Sengketa yang masih terlelap, dengan tubuh gemetaran dan memendam perasaan malu, sekali lagi diciumnya kening si pemuda.

"Aku tak ingin mengusik ketenangan tidurmu, kekasih...! Tapi aku harus tahu apa yang terjadi di luar sana...!" bisik gadis berlesung pipit. Setelah memandangi Buang Sengketa sejenak lamanya, Wanti Sarati membalikkan langkahnya. Dengan cara berjingkat-jingkat si gadis melangkah mendekati pintu gua. Sesampainya di depan sana gadis itu mengitarkan pandangannya ke segenap penjuru. "Ah... pohon itu bergerak-gerak! Siapapun adanya orang itu, pastilah memiliki tujuan yang tidak baik...!" gumam si gadis. Selanjutnya dengan gerakan yang sangat ringan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, gadis inipun melesat ke sana. Dugaannya ternyata memang tepat, belum lagi dia sampai di tempat itu. Nampak sosok bayangan tubuh berkelebat menjauh.

"Heii... tunggu...! Pengintai sialan... tunggu...!" teriak Wanti Sarati, bergerak melakukan pengejaran. Orang yang dikejar oleh si gadis berpakaian putih berbadan tinggi melebihi ukuran normal, tapi gerakan ilmu larinya tidak begitu cepat. Lebih tepatnya lamban. Lain lagi halnya dengan Wanti Sarati yang telah belajar dari beberapa tokoh sakti, yang tidak perlu lagi diragukan kemampuannya. Maka tak sampai sepemakan sirih dalam melakukan pengejaran. Pemuda berbadan raksasa inipun telah tersusul.

"Berhenti, kataku...!" teriak si gadis merasa kesal. Namun orang yang berada tak begitu jauh di depannya tiada memperdulikan orang yang mengejarnya. "Brengsek! Orang itu perlu diberi pelajaran...!" batin si gadis. Sambil berlari-lari, Wanti Sarati memungut ranting kering sebesar lengan bayi.

"Hihh...!"

Dengan kesal disambitkannya ranting itu mengarah ke bagian kaki laki-laki berbadan raksasa itu.

Weeeer...!

Terdengar suara mendengung, manakala ranting kayu itu meluncur deras ke arah sasarannya. Bletaak...!

Guusruuuk...!

Tubuh laki-laki berbadan luar biasa itu terbanting roboh, saat mana kayu yang disambitkan dengan mengerahkan sepertiga tenaga dalam melabrak kakinya.

Jliiikgh...!

Dengan sekali lompatan, tubuh gadis berlesung pipit ini telah pula berada satu tombak di depan pemuda itu.

"Banguun...!" perintah si gadis dengan sikap waspada.

"Arrrrgkh...!" terdengar satu erangan kesakitan dari bibir si raksasa.

Duuuk...!

Satu tendangan yang cukup keras menghantam bagian rusuk kanan si raksasa. Orang itu kembali merintih. Tapi tubuhnya tiada bergeming sedikitpun.

"Sekarang kau harus katakan, mengapa kau bersembunyi di depan gua yang kami tempati...!" sentak Wanti Sarati mengancam.

"Aku... aku hanya...!" pemuda bertubuh raksasa itu tergagap.

Deees...!

Arrggkh...!

Lagi-lagi pemuda berbadan raksasa itu menjerit, sambil mendekap perutnya yang terasa mual bagai diaduk-aduk.

"Ak... aku hanya ingin mencari seseorang...!" kata pemuda itu. Kedua tangannya menggapai dan berusaha bangkit berdiri.

"Cepat katakan! Siapa kau ini, apa yang kau cari di depan gua sana? Sebelum kesabaranku benar-benar habis...!"

"Dan kau sendiri siapa...?" pemuda bertubuh raksasa itu malah badik bertanya.

"Eeh... kurang ajar! Ditanya malah balas bertanya! Jawab dulu pertanyaanku...!" pemuda itu garuk-garuk kepalanya. Mulutnya menyeringai, tetapi sorot matanya seperti menyimpan duka yang dalam.

"Ak... aku sedang mencari saudaraku...!" "Saudaramu...!" sergah Wanti Sarati tak

percaya. "Jangan coba-coba membohongiku dengan alasan-alasan yang tak benar. Aku bisa membunuhmu...!" sentak gadis berlesung pipit ini mengancam.

"Sumpah kelenger, aku tak pernah berbohong pada siapapun...!" jawab si pemuda begitu serius.

"Hem. Aku percaya! Nah sekarang katakan semuanya...!" perintah Wanti Sarati. Sementara di langit timur nampak sang lazuardi merona merah.

"Namaku Duwur...!"

"Sebuah nama yang sangat jelek sekali..." komentar Wanti Sarati dengan sikap acuh. Tetapi pemuda raksasa yang memiliki nama Duwur ini tidak memberikan reaksi apapun. Sebaliknya dia melanjutkan ucapannya:

"Aku sedang mencari saudaraku yang bernama Cindek! Dan berusaha menyelamatkan nyawa dari kejaran guru sendiri...!" Membelalak sepasang mata si gadis demi mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda bertubuh tinggi bernama Duwur itu. Apa yang dikatakan oleh si pemuda benar-benar satu kejutan yang tiada disangka-sangka.

"Mencari saudara, sementara nyawamu sendiri dalam keadaan terancam oleh guru sendiri...? Satu lelucon yang tidak lucu. Atau engkau ini jenisnya manusia yang berotak miring rupanya...?" sentak Wanti Sarati tersenyum mencibir. Begitu nampaknya si pemuda tiada merasa tersinggung oleh kata-kata si gadis yang begitu menusuk perasaannya.

"Apapun yang Nisanak katakan tentang aku, itu bukan soal. Yang jelas saat sekarang ini dunia persilatan bakal ditimpa malapetaka yang sangat besar karena ulah adik seperguruanku...!"

"Apa...? Bicaramu semakin ngaco belo tak karuan...!" kata Wanti Sarati sambil tergelak-gelak. "Nisanak! Kalau anda tidak percaya dengan

apa yang kukatakan, lebih baik aku pergi saja...!" pemuda bertubuh tinggi mirip raksasa ini merajuk. Kemudian tanpa basa-basi lagi diapun berbalik langkah.

"Eiiit, tunggu...! Rupanya walaupun badanmu lebih besar dari gentong, tetapi engkau masih punya kebiasaan merajuk seperti anak kecil, heh...!" cibir si gadis.

"Aku hanya merasa tak seorangpun yang sudi mendengar keluhanku. Banyak orang di jalan-jalan sana menganggapku telah gila, ketika mendengar apa yang kukatakan...!" kata si Duwur putus asa.

"Oh begitu! Baiklah, sekarang aku ingin mendengar tentang segala apa yang ingin kau katakan. Nah teruskanlah...!" kata Wanti Sarati.

"Guruku bernama Alot Roso, selama ini tinggal di Bukit Gagu bersama dua orang muridnya, yaitu aku dan adi Cindek...! Namun selama menjadi muridnya aku tak pernah mendapat pelajaran apa-apa. Terkecuali melakukan tugas-tugas berat yang tidak ada hubungannya dengan ilmu silat, sebagai guru kakek Alot Roso memang tidak pernah mengajari aku ilmu silat seperti yang diajarkan kepada adik seperguruanku si Cindek. Mereka memang mempunyai watak yang sangat aneh, semua ilmu yang dimiliki oleh guruku diberikannya pada adi Cindek. Tapi aku tak pernah merasa iri! Bahkan selama sepuluh tahun aku diangkat menjadi murid, aku tidak memiliki kepandaian apa-apa! Sementara adi Cindek telah berhasil mempelajari berbagai ilmu aneh dari kakek Alot Roso. Di luar sepengetahuanku, kiranya adi Cindek belajar ilmu sesat pula dari kakek Alot Roso. Ilmu sakti itu benar-benar dapat membahayakan keselamatan orang banyak...! Bahkan sekarang ini gejalanya sudah mulai nampak...!"

"Apa maksudmu...?" tanya Wanti Sarati semakin tidak mengerti.

Yang ditanya nampak menarik nafas panjang-panjang. Selanjutnya secara singkat ia menceritakan tentang sepak terjang adik seperguruannya.

"Jadi orang yang menamakan dirinya sebagai Iblis Pemburu Perawan, sesungguhnya merupakan adik seperguruanmu...?"

Si Duwur anggukkan kepalanya beberapa

kali.

"Benarkah dia berburu perawan-

perawan...?" tanya Wanti Sarati merasa ngeri. "Ya... begitulah kenyataannya seperti apa

yang kulihat dalam buku sesat yang tersimpan di salah satu tempat tidak begitu jauh dari Bukit Gagu...!"

"Lalu untuk apa adik seperguruanmu mengumpulkan perawan-perawan itu...?" tanya si gadis polos. Sementara demi mendengar pertanyaan Wanti Sarati, wajah si Duwur terasa panas bagai terbakar.

"Aku sungkan mengatakannya padamu, Nisanak...! Tingkah adik seperguruanku itu sungguh memalukan dan pantas mendapat kutukan dari Sang Hyang Widi...!" gumam si Duwur dengan wajah tertunduk lesu. Nampaknya Wanti Sarati yang berpikiran cerdas ini sudah dapat mulai meraba apa maksud dari kata-kata yang dikatakan oleh lawan bicaranya.

"Perbuatan yang sangat keji! Tapi...!" sesaat si gadis terdiam dan membuang pandangan matanya jauh-jauh. "Apakah selamanya adik seperguruanmu yang sesat itu akan melakukan penculikan?" lanjut si gadis harap-harap cemas.

"Tentu saja! Sebab semakin banyak dia dengan hasil culikannya. Maka dia akan menjadi tokoh sakti yang tak dapat dikalahkan oleh pihak manapun...!" jawab si Duwur merasa semakin tak enak.

"Gila... ini merupakan sebuah kenyataan

yang sangat gila...! Segala sepak terjangnya harus segera dihentikan...!"

"Siapa yang mampu menghentikannya, Nisanak...?"

"Kok kau malah bertanya padaku...! Gurumu yang telah mewariskan ilmu sesat itu pada adik seperguruanmu. Maka gurumu pula yang harus mencabutnya kembali...!" sentak Wanti Sarati gusar.

"Tak mungkin, nisanak...! Saat aku memberi kabar tentang adi Cindek saja ia malah tergelakgelak. Bahkan katanya dia telah berhasil mewariskan sebuah ilmu langka yang tiada tanding. Nampaknya dia merasa bangga dengan keberhasilannya yang didapat oleh adik Cindek. Ketika aku protes tentang kekeliruan yang telah diperbuatnya, dia malah berbalik dan ingin membunuhku...!" kata si pemuda dengan mimik ketakutan.

"Guru gila... muridnya sinting...! Untung engkau tidak terseret-seret menjadi murid yang kurang waras...! Kau harus bersyukur pada Sang Hyang Widi...!" gumam si gadis hampir tak terdengar sama sekali.

"Apakah nisanak bersedia menolongku dalam mencari Iblis Pemburu Perawan?" tanya si Duwur dengan niat sungguh-sungguh.

"Menurutmu setiap bergaul dengan perawan, adik seperguruanmu menjadi semakin sakti...!" ucap si gadis tanpa merasa sungkan lagi. "Memang betul...!"

"Nah apakah kau pikir aku mampu menandingi kesaktiannya...?"

"Kita belum mencobanya...!" jawab si Duwur begitu tenang.

"Baiklah, tapi aku harus membicarakan persoalan ini pada pamanku...!" komentar Wanti Sarati menyanggupi.

"Dimanakah paman nisanak...?"

"Jangan cerewet! Mari ikut aku, mudahmudahan saja dia masih berada di dalam gua itu...!"

Wanti Sarati dan si Duwur berbalik langkah menuju goa yang mereka huni selama beberapa hari ini.

***

4

Rombongan berkuda yang dipimpin oleh Giri Wisa Ketua Perguruan Lintang Kembar dan Kepala Desa Jati Mulya, Ki Laksono. Saat itu mereka sudah sampai di pinggiran hutan sungai Buluh. Namun sejauh perjalanan yang mereka tempuh, masih belum ada tanda-tanda ditemukannya Nawang Wulan muridnya dan juga putri Ki Laksono. Giri Wisa memperlambat lari kudanya, sebentarsebentar Ketua Perguruan Lintang Kembar ini memandang lurus ke arah jalan di depannya. Dilain saat dia menoleh ke belakang. Lima orang murid dengan setia terus mengikuti beberapa tombak di belakangnya. Sementara Ki Laksono dan empat orang pembantunya telah berada jauh di depannya.

"Traaat... Glegeeer...!"

Langit yang sejak tadi mendung kini telah berubah menjadi gumpalan awan hitam yang bergulung-gulung. Angin bertiup kencang, lalu semuanya berubah menjadi gelap gulita. Gelegar petir sambung menyambung tiada henti.

"Traaat...! Dweeerr...! "Argggkh...!"

Empat orang pembantu Ki Laksono yang berada di bagian paling depan terjungkal roboh bersama kuda tunggangan mereka. Sementara Ki Laksono sendiri andai tidak menyadari datangnya bahaya alam itu sejak lebih awal, tentu tubuhnya sudah hangus saat itu seperti apa yang dialami oleh empat orang pembantunya.

"Daerah ini rawan petir, ki...! Kalau dapat kita harus segera menyingkir dari tempat ini...!" teriak Giri Wisa di sela-sela air hujan. Kepala Desa Jati Mulya, kini telah bersisian dengan Ketua Perguruan Lintang Kembar gelengkan kepalanya keras-keras.

"Tidak mungkin kakang Giri! Menurut petunjuk yang kita dapat. Di sekitar hutan inilah manusia iblis ini bermukim..."

"Kita bisa celaka, ki...! Kita semua bisa celaka...!" kata Giri Wisa.

"Anakku, muridmu berada dalam cengkeraman iblis itu! Aku tak bisa tinggal diam begitu saja..,!" bantah Ki Laksono tetap pada pendiriannya. "Traaak... Glegeeer...!"

Gelegar petir yang membuat gendanggendang telinga bagai terobek kembali membahana dan menyambar ke arah mereka.

"Hujan deras dan petir yang begitu tiba-tiba, bahkan telah membuat mati empat orang pembantumu, bukan kejadian alam biasa ki...!" Giri Wisa kembali memberi peringatan. Sementara sepasang matanya terus memperhatikan setiap jengkal tanah yang berada di sekitarnya. Tiba-tiba sepasang matanya terbelalak lebar-lebar. "Mengapa tanah di sekitar tempat ini berobah bagai kawah gunung. Meleleh seperti bubur. Ah ini bisa mencelakakan semua orang-orangku. Tapi Ki Laksono yang keras kepala, mana mungkin mau meninggalkan tempat ini. Dia begitu menyayangi putri tunggalnya. Aku takut jangan-jangan malah bukan mampu menolong, tetapi jiwa sendiri yang tak dapat ditolong" batin Giri Wisa.

Broool...!

Mendadak tanah di bagian bukit sebelah kiri mereka longsor.

"Awaas...!" teriak Giri Wisa pada kawankawannya.

Dengan cepat mereka bergerak menghindar, namun tanah tempat kuda-kuda mereka berpijakpun berubah lembut bagai lumpur sawah

"Bleees...!"

"Hieeeh...!"

Kuda-kuda yang mereka tunggangi meringkik keras. Agaknya naluri binatang itu mengisyaratkan adanya bahaya yang mengancam jiwa mereka.

"Kita semua bakal celaka...!" teriak Giri Wisa, lalu melompat dari punggung kudanya yang telah tenggelam di atas jalan yang telah berubah menjadi lumpur sampai sebatas perutnya. Melihat gelagat tak baik, lima orang muridnya mengikuti jejak Giri Wisa. Tak ketinggalan Ki Laksono pun segera melakukan apa yang telah diperbuat oleh Giri Wisa dan murid-muridnya. Celakanya saat mereka menjejakkan kakinya di atas tanah yang terdapat tidak begitu jauh dari tempat kuda tunggangan mereka terbenam dan lenyap. Tanah itu kini benar-benar telah berubah menjadi lautan lumpur yang menyentakkan tubuh mereka lebih ke dalam lagi.

"Usahakanlah kalian dekati pohon itu. Cepat naik ke sana...!" dalam kepanikan itu kembali terdengar suara Giri Wisa memberi aba-aba. Dengan bersusah payah orang-orang yang terjebak lumpur penghisap itu bergerak mendekati sebatang pohon yang ditunjuk oleh Giri Wisa. Tapi perjuangan untuk mencapai pohon yang mereka tuju, tidaklah mudah. Padahal jarak antara pohon itu dengan mereka mungkin tak lebih dari tiga tombak. Tapi daya hisap tanah yang telah berubah menjadi lumpur itu memang terasa kuat luar biasa. Di antara mereka yang terperangkap lumpur penghisap itu, hanya Giri Wisa dan Ki Laksono yang memiliki ilmu meringankan tubuh mencapai taraf sempurna saja yang masih dapat bergerak mendekati pohon agak lebih cepat. Sedangkan lima orang muridnya, dua orang di antaranya telah raib tenggelam. Sedangkan tiga orang yang masih tersisa sudah terbenam sampai sebatas leher.

Segera setelah Giri Wisa dan Ki Laksono berada di atas pohon yang tumbuh kokoh di atas tanah yang keras, secara bahu membahu mereka berusaha keras menyelamatkan tiga orang muridnya. Dengan mempergunakan tali yang berukuran panjang dalam waktu yang singkat murid-murid Lintang Kembar itupun terbebas dari bahaya maut. Sementara itu bunyi petir sudah tidak terdengar lagi, namun hujan deras masih belum juga reda. Di atas pohon besar tubuh lima anak manusia menggigil kedinginan.

"Aku tak mengerti mengapa jalan yang kita lalui secara tiba-tiba bisa berubah menjadi lautan lumpur. Kuda-kuda tunggangan lenyap, dua orang muridmu. Juga mayat empat orang pembantuku yang tersambar petir raib ditelan lumpur itu.!"

"Sudah kukatakan! Kita tidak bisa bertindak gegabah, ki...! Aku yakin apa yang kita alami bukan hanya merupakan satu peristiwa yang terjadi hanya karena secara kebetulan belaka. Kalau tempat dan daerah ini merupakan sarangnya Iblis Pemburu Perawan. Aku merasa yakin, hal ini hanyalah merupakan sebuah jebakan yang dirancang sedemikian rupa oleh bangsat itu...!" Giri Wisa coba-coba menarik kesimpulan. Tapi Ki Laksono yang diajak bicara malah geleng-gelengkan kepalanya.

"Sebuah dugaan yang tidak beralasan sama sekali. Hujan, petir, dan angin ribut semuanya adalah peristiwa alam yang sudah biasa. Apa yang kusebutkan tadi sudah ada yang mengaturnya. Yang Maha Kuasa. Dan itu bukan ulah manusia, jin, setan, iblis ataupun bantu yang bergentayangan...!"

"Ki Laksono...!" ujar Giri Wisa di sela-sela tarikan nafasnya yang terasa menyesak. "Aku telah begitu banyak mengetahui bagaimana rawannya kalangan persilatan dari sejak aku masih muda. Mereka dengan segala keanehannya bisa berbuat apa saja untuk menjatuhkan musuh-musuhnya. Seingatku tanah keras disiram hujan selebat apapun tidak nantinya tanah itu lumer menjadi lumpur. Hemm. Apa yang kita alami dulu rasanya pernah dialami oleh guruku. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh tokoh sesat yang dulu pernah membuat guruku menderita seumur hidup. Tapi seperti yang kuketahui tokoh sesat yang bernama Ki Alot Roso itu telah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu...!" kata Giri Wisa pada dirinya sendiri. Namun sungguhpun ucapannya seperti ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Tapi Ki Laksono sempat mendengarnya. Nampaknya dia merasa sangat terkejut sekali begitu mendengar kata-kata sahabatnya.

"Kakang Giri! Kalau tokoh yang kakang sebutkan itu telah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi mengapa hal yang sama bisa terjadi lagi. Atau mungkinkah iblis itu memiliki seorang murid yang mewarisi ilmu sesatnya...?" tanya Ki Laksono mulai merasa tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Giri Wisa. Ada perasaan jera menyelimuti hati Giri Wisa saat mendengar pertanyaan Ki Laksono sahabatnya. Sepertinya laki-laki berumur lima puluh lima tahun itu merasa enggan untuk menceritakan tentang tokoh sesat itu.

"Cobalah katakan padaku, kakang Giri...! Siapa tahu kita secara bersama-sama dapat mencari jalan keluarnya...!" desak Ki Laksono dengan nada berapi-api. Giri Wisa gelengkan kepalanya berulang-ulang. Sementara hujan yang tercurah dari langit semakin menggila.

"Kalau benar apa yang menjadi dugaanku. Maka tokoh persilatan golongan manapun tak akan ada yang mampu mengalahkamnya. Manusia iblis itu akan semakin bertambah sakti, pabila dia berhasil meniduri gadis-gadis perawan. Semakin banyak dia melakukannya maka semakin bertambah sulitlah untuk dapat mengalahkannya...!"

"Bangsat! Ilmu yang sangat keji. Oh... anakku pasti tak dapat diselamatkan lagi" keluh Ki Laksono, sedih.

"Semua itu hanya berupa dugaanku belaka, ki...! Secara pasti aku tak berani menarik kesimpulan ...!" ujar Giri Wisa berusaha membesarkan hati Ki Laksono.

"Kalau dugaanmu ternyata benar...!"

"Kalau dugaanku memang benar...! Di kolong langit ini hanya ada seorang yang mampu dan ditakuti oleh Si Alot Roso yaitu seorang tokoh sakti, yang juga memiliki sifat aneh, yaitu Si Bangkotan Koreng Seribu...!"

"Kalau begitu kita harus menghubunginya...!" sentak Ki Laksono begitu bersemangat. Giri Wisa kembali geleng-gelengkan kepalanya. "Menurut berita yang kudengar dari salah

seorang sahabatku. Orang tua itu telah lama meninggal dunia. Mungkin sekitar setahun yang lalu, tetapi kudengar beliau mempunyai seorang murid. Yang beberapa tahun belakangan namanya menggemparkan kalangan persilatan golongan hitam...!" "Siapa...?" tanya Ki Laksono dengan tubuh menggigil karena secara terus menerus diguyur air

hujan.

"Pemuda itu menamakan dirinya sebagai Pendekar Hina Kelana. Tetapi dunia persilatan lebih mengenalnya dengan gelar Pendekar Golok Buntung...!"

"Kemungkinan-kemungkinan yang membuat pusing kepalaku, kakang Giri! Sekarang ini yang ada dalam benakku adalah bagaimana menemukan kembali putriku dan juga muridmu Nawang Wulan...!" ada nada putus asa ketika Ki Laksono mengunggkapkan isi hatinya. Tetapi Giri Wisa sebagai orang yang punya pengalaman banyak dalam dunia persilatan cepat-cepat menyambut: "Bukan putrimu atau muridku saja yang akan menjadi korban kebiadaban iblis itu, ki...! Mungkin banyak lagi korban yang akan berjatuhan jika kita tidak melakukan upaya untuk mengatasinya...!"

"Persetan! Aku tak mau perduli dengan semua itu. Bagiku yang terpenting adalah mencari jalan untuk menyelamatkan anakku...!" kata Ki Laksono dibakar amarah.

"Kau tak akan pernah berhasil, ki...!" Glueeerrr...! Seiring dengan terdengarnya suara bagai gempa. Lalu angin yang sangat kencang pun berhembus dari bagian hutan yang paling lebat di sisi kiri mereka. Kemudian terdengar gelak tawa serak menggidikkan.

"Kuperhatikan sejak tadi, kalian bagai kunyuk yang kehabisan akal untuk menghindari kematian. Jangan kalian pikirkan anak-anak kalian yang telah menjadi istri-istriku yang paling setia...! Ho...ho...ho...! Pikirkanlah keselamatan kalian sendiri." bentak sebuah suara.

"Mungkin orang itulah yang kita cari-cari, kakang Giri...!" kata Ki Laksono berbisik.

"Siapapun orang itu, yang jelas dari suaranya saja aku sudah dapat memastikan bahwa orang itu memiliki kesaktian yang sangat tinggi...!" jawab Giri Wisa dengan suara berbisik pula.

"Manusia iblis...! Tunjukkan dirimu...! Aku jadi ingin melihat apa yang kau andalkan sehingga begitu berani menculik anakku...!" maki Ki Laksono tanpa mampu membendung emosi yang sejak tadi berusaha ditahan-tahannya.

"Kulihat diantara kawan-kawanmu, nampaknya hanya mulutmu saja yang begitu sombong. Mungkin engkaulah manusia pertama yang akan kubuat mampus...!" geram satu suara dari kerimbunan hutan lebat.

"Engkaukah orangnya yang menamakan diri sebagai Iblis Pemburu Perawan?" tanya Giri Wisa dengan jantung berdebar.

"Tak salah...!"

"Kalau begitu tunjukkanlah tampangmu. Atau kami harus menyeretmu untuk menerima hukuman...!"

Kembali terdengar suara tawa menyeram-

kan.

"Kalian hanyalah manusia-manusia kroco

dan bangsanya tikus cecurut yang bukan tandinganku...!"

"Bangsat...!" maki Ki Laksono begitu gusar. "Bicaralah sesuka hatimu selagi nyawa ma-

sih melekat di tubuhmu. Karena setelah itu, aku kan segera mengirimmu ke neraka...!"

"Kurang ajar! Jangan kira aku takut menghadapimu...!" teriak Ki Laksono. Tiba-tiba tubuhnya meluncur menuruni pohon, tetapi Giri Wisa buru-buru menyentakkan krah pakaiannya hingga gerakan tubuhnya terhenti. Ki Laksono meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Giri Wisa yang begitu kokoh.

"Lepaskan aku, kakang Giri!"

"Kau bisa berbuat apa, ki...?" bentak lakilaki bertubuh pendek itu dengan mata melotot.

"Jangan gegabah! Orang itu bukan tandinganku, juga bukan lawanmu...!"

"Kalau kakang takut kepadanya, biarkan aku yang menghadapi seorang diri...!" sentak Ki Laksono. Dengan satu hentakan keras tubuh Ki Laksono terus meluncur kebawah.

"Ki Laksono! Jangan kau lakukan itu...?" teriak Giri Wisa ketika melihat Kepala Desa Jati Mulya itu berlari-lari menuju hutan tempat berkumandangnya suara Iblis Pemburu Perawan.

Dengan di dahului suara tawa bergelak-gelak, dari arah hutan nampak melesat dua larik sinar merah bagai bara menyambut kedatangan Ki Laksono. Menyadari datangnya bahaya yang begitu tiba-tiba. Ki Laksono bagai melihat setan menjijikkan di siang bolong nampak hentikan larinya. Tak ayal lagi diapun menyambut pukulan si penyerang dengan pukulan jarak jauh yang dimilikinya.

"Weeerr...!"

Segelombang angin pukulan yang dilancarkan oleh Ki Laksono menderu menyongsong pukulan yang dilepaskan oleh Iblis Pemburu Perawan. Namun baru saja pukulan gencar yang dilepaskan oleh Ki Laksono mencapai kira-kira tiga tombak. Pukulannya seolah bagai melabrak sebuah dinding baja yang tiada terlihat. Pukulan Genderang Membahana milik Ki Laksono tertahan, bahkan sedetik kemudian dia merasakan pukulannya sendiri terasa membalik terdorong oleh sebuah tenaga raksasa yang bersumber dari sinar merah yang dilepaskan oleh lawannya.

"Gila! Bukan pukulanku saja yang bakal membalik, tetapi juga aku merasakan ada sebuah kekuatan yang tiada terlihat telah mendesakku sedemikian hebatnya!" rutuk Ki Laksono. Dalam pada itu masih tetap berada di tempatnya Giri Wisa membantu Ki Laksono dengan pukulan jarak jauhnya pula.

"Weeer...!"

Satu tenaga dorongan yang juga tak kalah hebatnya memaksa tubuh Ki Laksono selangkah maju ke depan. Keadaan seperti itu nampaknya semakin bertambah menyulitkan posisi Ki Laksono. Sebab secara tak langsung dua kekuatan yang datangnya dari depan dan belakang Ki Laksono tak ubahnya bagai menggencet tubuhnya.

"Ho...ho...ho...! Lihatlah betapa kawanmu sendiri ingin membunuhmu orang tua edan. Nah kupercepat kematianmu...!" geram si pemilik suara. Kemudian Ki Laksono merasakan satu sambaran hawa yang sangat panas menghajar dirinya dari depan.

"Blaaamm...!"

"Arrggkh...!"

Terdengar suara lolongan maut manakala tubuh Ki Laksono terhantam dua larik sinar merah bara yang datangnya begitu cepat. Giri Wisa terperangah. Tubuh Ki Laksono terbanting keras membentur batang pohon lainnya yang berada tidak begitu jauh dari tempat Giri Wisa berada. Tubuh Ki Laksono yang sudah hangus bagai terbakar nampak berkelojotan beberapa saat lamanya. Lalu terdiam untuk selama-lamanya.

"Ki Laksono...!" jerit Giri Wisa histeris.

Tiada jawaban apapun, terkecuali suara gelak tawa Iblis Pemburu Perawan yang masih tetap bersembunyi di kerimbunan hutan.

"Kawanmu itu memang sudah selayaknya mampus! Sebagaimana halnya orang-orang yang mencariku beberapa hari yang lalu. Begitu juga dengan dirimu, sebentar lagi segera menyusul kawanmu. Jangan merasa iri atas kematian kawanmu! Kau dan tiga orang muridmu segera mendapat giliran...! Ho...ho...ho...!"

"Iblis terkutuk! Melihat semua yang terjadi di depan mataku! Kini aku merasa begitu yakin, kau pastilah muridnya si terkutuk Ki Alot Roso...!" geram Giri Wisa.

"Bagus! Matamu memang awas, nah untuk tidak memperpanjang hidup kalian. Rasakanlah...!"

"Traaat! Gldeeer...!"

Tanah yang terletak di sekitar tempat itu terguncang hebat manakala serangkaian pukulan jarak jauh yang menimbulkan suara bagai gemuruh petir menderu ke arah Giri Wisa dan ketiga orang muridnya yang masih tetap bertahan di atas pohon.

Ketua Perguruan Lintang Kembar terkesima dibuatnya. Tetapi dia juga tidak tinggal diam. Dengan mempergunakan pukulan Seribu Perisai Dewa, laki-laki berbadan pendek inipun hantamkan kedua tangannya ke depan, sementara ke dua kakinya menjepit keras dahan pohon yang didudukinya.

Wuuuuss...!"

Blaaamm...!"

Satu ledakan yang sangat keras terdengar manakala dua pukulan sakti saling bertemu. Tubuh Giri Wisa hampir saja terjungkal, andai jepitan kakinya pada dahan pohon tidak begitu kuat. Begitupun kepalanya sampai membalik ke bawah sedangkan bagian kaki berada di atas. Dalam keadaan bergelantungan seperti itu, dari sela-sela bibir Giri Wisa mengalir darah kental. Menandakan bahwa laki-laki berusia setengah baya ini mendapat luka dalam yang cukup serius. Tetapi tangannya terus menggapai, berusaha kembali pada posisinya. Dengan bersusah payah akhirnya dia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya, sekejap ia melirik pada tiga orang muridnya yang sudah mencabut senjata. Siap membantu guru mereka yang sudah terluka.

"Kalian mau berbuat apa...?" sentak Giri Wisa merasa terharu melihat murid-muridnya sudah berada dalam posisi siap tempur.

"Guru...! Kami akan memburu manusia iblis ke sarangnya! Melihat guru dalam keadaan terluka, rasanya kami tidak bisa tinggal diam begitu saja...!" ujar murid-muridnya serentak.

Giri Wisa menggelengkan kepala, lemah. "Jangan kalian lakukan itu! Dia bukanlah

tandingan kalian...!"

"Tapi kami siap berkorban nyawa demi bakti kami kepada guru...!"

"Kuhargai pendirian kalian. Tetapi ada yang tidak kalian ketahui, dalam keadaan terdesak bagaimanapun, Iblis itu tak mungkin mampu berbuat banyak pada kita. Selama kita masih tetap berada di atas pohon ini. Dalam arti tiada menyentuh tanah...!"

"Bagaimana guru bisa mengetahui hal itu?" tanya salah seorang dari mereka. Sebelum menjawab pertanyaan salah seorang muridnya. Giri Wisa membuang pandang matanya ke arah hutan.

"Dulu gurukupun pernah bentrok dengan orang yang memiliki ilmu yang sama." jelas Giri Wisa tegang.

"Jdeeer...!" Tiada disangka-sangka Iblis Pemburu Perawan yang masih tetap bersembunyi pada tempatnya kembali kirimkan pukulan jarak jauhnya. Hawa panas bergulung-gulung di sertai dengan berhembusnya angin yang sangat kencang. Kenyataan ini kiranya membuat gusar tiga orang murid Giri Wisa. Dengan senjata terhunus yang mereka putar laksana titiran. Ketiganya langsung melompat menghadang pukulan yang menderu ke arah gurunya.

"Wuaaaahk...!"

Terdengar tiga jeritan berturut-turut, manakala pukulan yang berhawa panas dengan disertai sambaran angin yang sangat kencang menghantam tubuh mereka. Giri Wisa memekik kaget demi melihat kenekatan yang dilakukan oleh muridmuridnya. Tubuh tiga orang muridnya melayang jatuh dari atas pohon tak ubahnya bagai daun tua yang tertiup angin kencang.

"Ahk... demi menyelamatkan guru sendiri kalian telah mengorbankan diri. Betapa besar pengorbanan kalian. Padahal untuk keselamatan kalian aku lebih rela mengorbankan diri sendiri." batin Giri Wisa begitu sedih.

"Mengapa engkau hanya diam saja manusia tolol. Murid-muridmu sudah mampus, apakah kau tidak punya keinginan untuk menuntut balas...?" ejek Iblis Pemburu Perawan memanasi. Merah padam wajah Giri Wisa demi mendengar kata-kata lawannya yang terasa menusuk perasaannya itu. Tiada tertahankan amarahnyapun memuncak, laki-laki itu nampaknya sudah tiada perduli lagi dengan pantangan yang sebenarnya dia ketahui, walau sedikit.

Dengan gerakan yang begitu ringan Giri Wisa melompat dari atas pohon yang memiliki ketinggian lebih dari delapan tombak. Sasaran yang ditujunya adalah tamah keras yang terletak di sisi kirinya.

"Jliik...!

Begitu Giri Wisa menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah, maka suara tawa penuh kemenanganpun menyambut.

"Bagus! Kau benar-benar manusia pemberani, yang mengetahui sedikit kelemahan pukulan saktiku, tetapi rela pula untuk mampus...!"

"Kurang ajar! Aku akan mengadu jiwa denganmu...!" teriak Ketua Perguruan Lintang Kembar. Kemudian berlari memburu ke arah hutan. Dengan masih tergelak-gelak, Iblis Pemburu Perawan lagi-lagi hantamkan pukulannya. Giri Wisa terkesiap, namun kelihatannya sudah tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk menghindari datangnya pukulan yang mengandung hawa panas luar biasa itu. Saat-saat seperti itu Giri Wisa nampaknya hanya bersikap pasrah menanti saat ajal tiba. Dalam keadaan yang sangat kritis, nampak sosok bayangan merah dari kerimbunan pohon sebelah utara.

"Breebeet...!"

Bayangan itu menyambar tubuh Giri Wisa langsung melesat lagi, dan kemudian lenyap hanya dalam waktu sekedipan mata saja. Praktis pukulan yang dilancarkan oleh Iblis Pemburu Perawan menghantam sasaran kosong.

"Keparaat...! Orang itu telah menyelamatkan musuhku. Tapi biarlah aku tak akan mengejarnya. Suatu saat dia pasti akan kemari lagi." desis Iblis Pemburu Perawan, lalu segera pergi menuju ke rumah kediamannya.

***

5

Ketika Wanti Sarati tidak menjumpai Buang Sengketa di dalam gua yang ditinggalkannya. Maka dengan perasaan kecewa, Wanti Sarati dan Duwur memutuskan untuk segera pergi menuju ke Hutan Sungai Buluh. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam. Siang itu Gadis berlesung pipit dan Duwur sampai di rumah kediaman Alot Roso yang selama ini juga merupakan tempat tinggal Duwur dan Cindek. Suasana lengang mewarnai rumah dan daerah sekelilingnya. Dengan sikap penuh waspada, kedua orang itu melangkah mendekati rumah yang hampir keseluruhan bangunan itu terbuat dari tulang belulang gajah dan harimau. Sepintas lalu rumah milik Ki Alot Roso berkesan angker dan menyeramkan. Namun sebagai seorang gadis pemberani yang selama hidupnya ditempa dengan berbagai pengalaman pahit. Sedikitpun perasaan gentar tak terlihat di wajah Wanti Sarati.

"Hemmm. Rumah ini sepertinya telah ditinggalkan oleh Ki Alot Roso! Tapi kemana perginya orang tua yang menurut kakek Tapak Dewa, Guruku, telah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu...! Ah... tidak...! Aku tak pernah yakin Ki Alot Roso mau meninggalkan tempat pengasingannya ini. Kakek Tapak Dewa pernah cerita bahwa Ki Alot Roso sejak dikalahkan oleh gurunya Paman Kelana, tidak pernah lagi berkeliaran ke mana-mana. Bahkan dia pernah mengumumkan bahwa dirinya telah mati." gumam Wanti Sarati. Teringat sampai ke situ dan teringat pula tentang kelicikan tokoh sesat Ki Alot Roso seperti yang pernah didengarnya dari Kakek Tapak Dewa gurunya. Tiba-tiba si gadis menyentakkan tangan si Duwur.

"Ayo kita tinggalkan rumah ini. Cepaaat...!" teriak Wanti Sarati sambil menarik si tubuh raksasa.

"Ada apa nisanak...?" dalam ketidak mengertiannya, Duwur bertanya sambil ikut berlari meninggalkan rumah itu. Akan tetapi belum lagi mereka mencapai mulut pintu. Secara tiba-tiba pintu mengunci sendiri.

Traaak...!

Bersamaan dengan terkuncinya daun pintu yang dilalui oleh kedua orang itu, beberapa detik kemudian terdengar pula suara gelak tawa yang begitu berat dan serak. Duwur segera dapat mengenali siapa adanya orang yang mengeluarkan suara tawa yang disertai pengerahan tenaga dalam itu. Tak lain Ki Alot Roso lah orangnya.

"Ha...ha...ha...! Kau kembali, muridku Duwur...! Kembali dengan membawa seorang gadis yang cantik, membuat jiwamu yang tidak memiliki arti bagiku, kuampuni...!"

Wanti Sarati dan Duwur saling berhadapan, laki-laki bertubuh raksasa itu nampak semakin pucat wajahnya. Tetapi lain halnya dengan Wanti Sarati. Gadis ini kelihatan masih tenang-tenang saja, meskipun hatinya mulai diliputi perasaan tegang.

"Guru...! Perbuatan yang mana lagi akan kau tempuh untuk menyengsarakan semua orang. Kedatanganku kemari bukanlah untuk mempertaruhkan kehormatan orang lain sebagai jaminan keselamatanku. Tak pernah terbayang dalam anganku untuk bertindak sepengecut itu. Hidupku tidak ada artinya bila dibandingkan dengan sekian banyak jiwa yang tercabik-cabik kehormatannya oleh ulah murid kesayanganmu itu...! Aku rela mati demi membantu nisanak ini, daripada aku harus menuruti keinginanmu yang keji...!" tukas Duwur merasa tidak mempunyai pilihan lain.

"Wuaaa... ha... ha...! Sebuah keputusan yang dapat membuatmu merana seumur hidup. Pasti kau akan menyesal...!" geram Ka Alot Roso. Tanpa diketahui oleh mereka yang sedang terkurung di dalam rumah itu, Ki Alot Roso melambaikan tangannya. Tak pelak satu percikan lidah api menyambar ke arah sudut-sudut rumahnya sendiri. Benar-benar hebat luar biasa kesaktian yang dimiliki oleh laki-laki renta berusia delapan puluh tahun ini. Karena sekejap kemudian lidah api yang bersumber dari kekuatan yang dimiliki oleh laki-laki renta itu telah menyambar rumahnya sendiri. Begitu cepat api menjalar ke mana-mana, sekeliling rumah itu benar-benar telah di kelilingi api. Udara di dalam rumah berselimut asap tebal dan menjadi panas tiada tertahankan.

"Saudara Duwur! Beranikah engkau menerobos dinding yang belum tersentuh api itu?" tanya Wanti Sarati, sementara sepasang matanya berputar liar mencari kemungkinan jalan keluar.

"Dalam keadaan terjepit seperti ini, aku tak pernah memikirkan keselamatanku sendiri, nisanak...! Cara apapun akan kutempuh untuk membebaskan diri dari kobaran api ini...!" tukas Duwur tanpa ragu.

"Tapi manusia dajal itu mungkin telah menunggu di luar sana dan siap menghabisi kita, Andai kita sampai lolos dari kepungan api ini...!" gumam si gadis meragu.

"Aku tak perduli!" komentar pemuda bertubuh raksasa itu tiada berobah dari niatnya semula.

"Hemm. Baik... nampaknya kita memang tak punya kemungkinan lain untuk dapat selamat dari amukan api ini..,! Sekarang lakukanlah... aku berada di belakangmu...!"

"Baiklah…!" sahut si Duwur. Kemudian pemuda ini melangkah ke tengah-tengah ruangan untuk mengambil jarak. Setelah itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dengan mengandalkan tiga perempat tenaganya diapun bergerak menerjang. Wanti Sarati segera mengekor di belakangnya,

"Bruaaaak…!" "Brooool…!"

Dinding berantakan diterjang oleh si Duwur. Tubuhnya bagai banteng marah yang tiada terkendali terus melesat ke depan. Dalam pada itu sebuah pukulan dari arah depan yang dilepaskan oleh gurunya sendiri datang menyambut. Hal ini dapat dilihat oleh Wanti Sarati yang sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Tak ayal lagi diapun hantamkan tangan kanannya menyongsong pukulan yang mengancam diri si pemuda raksasa.

Dhaaas...!

Terdengar satu ledakan yang tidak begitu keras namun membawa akibat yang cukup lumayan. Menghindari datangnya pukulan yang saling bertemu, si Duwur menjatuhkan diri dengan cara berguling-guling. Tak jauh di depannya, tubuh Ki Alot Roso yang begitu kurus nampak tergetar. Mata terpejam dengan bibir menyeringai. Menandakan bahwa lawan yang dihadapinya ternyata memiliki kepandaian yang tinggi. Sementara di pihak Wanti Sarati sendiri tampak terhuyung dua tindak, gadis itu merasakan dadanya begitu sesak dan sulit untuk bernafas. Barulah setelah menelan sebuah pil berwarna kuning rasa nyeri di bagian dadanya mulai berkurang.

"Saudara Duwur! Menyingkirlah...! Kudengar kakek keropos ini memiliki kepandaian segudang. Bahkan tak memiliki tanding, beberapa puluh tahun yang lalu hingga sekarang. Tapi tak usah khawatir, sungguhpun kakek Bangkotan Koreng Seribu telah tiada, kurasa aku mampu mengetahui kelemahan yang tersembunyi dari ilmu sakti yang dimilikinya. Nah sekarang tunggu apalagi, Ki Alot Roso? Apakah kau menunggu muridmu yang menjadi biang iblis itu, atau tenaga saktimu telah kau pindahkan kepada manusia kerdil yang sekarang ini benar-benar telah menjadi seekor monyet hitam menjijikkan...?" ejek Wanti Sarati yang telah mengetahui begitu banyak tentang sejarah hidup tokoh sesat tersebut. Bukan main terkejutnya hati Ki Alot Roso demi mengetahui sang lawan telah begitu banyak berbicara tentang kehidupan masa lalunya. Padahal selama ini selain si Bangkotan Koreng Seribu sendiri, tak banyak orang yang tahu tentang kehidupannya. Tetapi gadis yang berdiri tidak begitu jauh di depannya itu begitu gamblang menceritakan segala-galanya. Mungkinkah gadis berwajah cantik itu merupakan murid musuh besarnya? Rasanya kemungkinan itu kecil sekali, sepanjang sejarahnya tokoh sakti yang berdiam di pantai barat itu tak pernah mengambil seorang muridpun. Dia tahu benar hal itu. Lalu murid siapakah gadis berlesung pipit ini? Dalam kepenasarannya itu, diapun bertanya dengan suara membentak:

"Bocah! Siapakah engkau ini? Kau mengetahui begitu banyak tentang kehidupanku. Apakah engkau muridnya si Bangkotan Koreng Seribu yang telah mampus itu?"

"Bicaramu lantang mengandalkan kepandaianmu setinggi langit! Ah... betapa sombongnya manusia keropos sepertimu Alot Roso. Padahal sekarang ini kau tak memiliki kekuatan apa-apa lagi. Aku tahu itu...!" kata Wanti Sarati, menunggu reaksi.

"Jangan bergurau bocah cantik, kesaktian

yang kumiliki tidak pernah berkurang walau barang sedikitpun...!"

"Omong kosong, aku tahu dengan kemunculan muridmu yang hebat luar biasa. Itu sama saja artinya bahwa engkau telah menyalurkan tenaga sakti yang kau miliki kepada muridmu...!"

"Ho...ho...ho...! Dugaanmu keliru, bocah...! Aku tak pernah kekurangan sesuatu apapun." kata Ki Alot Roso berusaha menutupi kegelisahannya.

"Baik! Kalau memang benar apa yang kau katakan. Aku jadi ingin menjajal sampai di mana kehebatan bekas gembongnya manusia iblis yang pernah kesohor berpuluh-puluh tahun yang lalu...!"

"Haees...!"

Dengan dibarengi satu bentakan melengking, kaki Wanti Sarati langsung membentuk kudakuda pertahanan yang kokoh. Kedua tangannya bergerak cepat merentang ke udara membentuk cakar burung Elang Putih. Beberapa saat tubuh gadis itu menggelatar hebat. Merupakan sebuah tanda bahwa ketika itu gadis berlesung pipit ini sedang mengerahkan jurus andalan yang pernah dipelajarinya dari Kakek Tapak Dewa gurunya. Ki Alot Roso terperangah kagum, sebagai tokoh sesat yang pernah malang melintang di dunia persilatan, agaknya dia cukup menyadari bahwa saat itu lawannya benar-benar menghendaki nyawanya. Tak ayal lagi, laki-laki renta inipun membuka serangannya dengan jurus 'Badai Topan Penyapu Dewa'. Tak terelakan lagi dalam waktu sekejap saja pertarunganpun berlangsung sengit. Masing-masing lawan berusaha melakukan serangan dengan sasaran-sasaran yang mematikan. Sementara itu Duwur yang tidak mengetahui begitu banyak tentang ilmu silat nampak berdiri menonton tidak begitu jauh dari tempat terjadinya pertempuran.

"Haaaaait...!"

Dengan gerakan seringan kapas, tubuh Wanti Sarati melakukan satu lompatan. Sementara tangannya yang terkembang membentuk cakar itu, menyambar ke arah bagian wajah dan perut lawannya. Gerakan itu terlihat cepat bukan main. Sehingga Duwur yang tidak mengerti banyak tentang ilmu silat itu memastikan gurunya segera menjadi sasaran empuk jemari tangan lawannya yang mengandung sebagian tenaga sakti itu. Tapi yang menjadi lawan Wanti Sarati kali ini adalah seorang tokoh yang sudah banyak makan asam garam dunia persilatan.

Ketika Ki Alot Roso merasakan adanya sambaran angin yang sangat kencang mengancam bagian wajah dan perutnya. Laksana kilat melompat mundur dua tindak, serangan Wanti Sarati luput. Begitu terhindar dari serangan lawannya, Ki Alot Roso balas kirim dua tendangan kaki. Sementara tangan kanannya terkepal, lalu menderu mengancam bagian dada si gadis.

"Kurang ajar!" Maki Wanti Sarati berusaha menggeser tubuhnya ke samping kiri. Satu sodokan yang mengancam bagian dada si gadis luput. Tetapi tendangan kaki yang membentuk satu sapuan ke bagian betis tak dapat dihindarinya.

"Deees...!"

"Gusraaak...!"

Wanti Sarati jatuh terjengkang. Tubuhnya terus bergulung-gulung menghindari tendangan susulan. Tetapi Ki Alot Roso terus memburunya dan berusaha mendesak lawan tanpa memberi kesempatan walau sedikitpun.

"Aku bisa mampus kalau hanya cuma menghindar seperti ini...!" batin Wanti Sarati. "Baiknya aku harus mempergunakan pukulan 'Siluman Kembar' seperti yang pernah diajarkan oleh Kakek Tapak Dewa ketika aku berguru dengan beliau tempo hari.

"Heeuup...!"

Dalam posisi berguling-guling seperti itu, Wanti Sarati rangkapkan ke dua tangannya. Tenaga dalam dia kerahkan ke bagian tangannya. Sontak tangan yang telah teraliri tenaga dalam itu berobah putih mengkilat laksana perak.

"Wuuut...!"

Sinar putih menyilaukan nampak melesat ke arah Ki Alot Roso, begitu gadis berlesung pipit itu menghantamkan tangannya.

"Kurang ajar...!" maki Ki Alot Roso, lain mengibaskan jubahnya yang berwarna putih bersih.

"Breees...!"

"Keparaat...!" desis si gadis ketika melihat tubuh kakek renta itu hanya terhuyung-huyung saja begitu serangan 'Siluman Kembar' yang dilepaskannya menghantam tubuh lawan. "Hek... kek... kek...! Kalau kau memang benar muridnya Bangkotan Koreng Seribu mana pukulan Empat Anasir Kehidupan, mana pula jurus si Gila Mengamuk. Dan pecut celaka itu mengapa pula tak segera kau keluarkan...!" ejek Ki Alot Roso, setengah jera.

"Aku bukan muridnya kakek Bangkotan Koreng Seribu, bandot tua. Kalau kau ingin melihat Cambuk Gelap Sayuto, senjata itu ada pada pamanku Kelana...!"

"Oho, rupanya kau bukan muridnya Bangkotan Koreng Seribu. Lha dalah... engkau bakal mati sia-sia...!" hardik Ki Alot Roso sambil menarik nafas lega.

"Kau kelewat takabur, tua renta...! Rasakanlah ini...!"

Setelah melepaskan satu pukulan maut, Wanti Sarati segera melolos selendang yang melilit di bagian pinggangnya. Begitu selendang berwarna biru ini telah berada di dalam genggaman tangannya, maka diapun mengalirkan sebagian tenaga dalamnya ke bagian selendang itu. Tak lama kemudian selendang di tangannya telah melecut di udara. Begitu sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki oleh Wanti Sarati, sehingga selendang di tangannya dapat berubah melemas dan mengejang, di lain saat meliuk-liuk bagai seekor ular yang terus mengejar ke arah sasarannya.

Dalam menghadapi serangan ganas yang datangnya bertubi-tubi nampaknya Ki Alot Roso masih mampu menghindarinya. Tapi manakala Wanti Sarati mulai mencabut pedang tipis yang dia pergunakan sebagai sabuk. Maka tiga puluh jurus di depan Ki Alot Roso sudah mulai keteter. Bahkan dalam waktu tiga jurus di depan, pedang mustika di tangan Wanti Sarati berhasil merobek pakaian dan kulit Ki Alot Roso.

Breebeet...!

"Agkh... keparat...!" maki kakek renta ini sambil menyeka darah yang meleleh dari bekas luka itu. Selesai memandangi darah yang membasahi jemari tangannya. Dengan geram Ki Alot Roso membentak marah: "Betina terkutuk! Kau benarbenar telah membangkitkan amarahku. Tak ada jalan bagiku, terkecuali mampus...!"

"Sraaak...!"

Entah dari mama datangnya, tiba-tiba di tangan Ki Alot Roso telah tergenggam sebuah tongkat yang pada bagian gagangnya terbuat dari tulang kepala binatang serigala. Dengan adanya tongkat di dalam genggaman Ki Alot Roso. Penampilan kakek renta itu mendadak berubah angker. Sepasang matanya mencorong memandang tajam pada lawannya.

"Nisanak kerahkanlah tenaga dalammu, di dalam tongkat itu terdapat sebilah pedang yang mengandung racun ganas. Nisanak jangan terpengaruh dengan segala ucapannya, walau dia berkata apapun...!" dalam suasana tegang seperti itu si Duwur memberi peringatan pada Wanti Sarati.

"Tenanglah sobat! Aku telah mengetahui semua tipu muslihatnya...!" kata Wanti Sarati berusaha bersikap tenang.

"Keparaat, kau Duwur...! Begitu beraninya kau mengkhianati gurumu sendiri...!" maki Ki Alot Roso dengan wajah merah padam.

"Sepuluh tahun aku hidup bersamamu, tua renta! Tiada ilmu apapun yang kau turunkan padaku. Terkecuali kau suruh aku menimba air dari bawah lereng yang curam itu. Kemudian kau buru aku sebagai seekor babi hutan yang menjijikkan. Masihkah engkau mengakui diriku sebagai muridmu...?" tanya Duwur penuh ejekan.

"Hemm. Bagus sekali perbuatanmu itu, bocah bertubuh raksasa, namun berpikiran tumpul. Kalian berdua memang pantas untuk kubunuh."

Traaang...!

Sriiing...!

Pedang yang berada di dalam tongkat itu, telah tercabut kini. Senjata itu nampak putih berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. Wanti Sarati hanya bergumam saja manakala pedang di tangan Ki Alot Roso berikut sarungnya yang berupa tongkat diputar cepat laksana baling-baling. Sinar putih yang ditimbulkan oleh senjata di tangan Ki Alot Roso nampak bergulung-gulung seolah membungkus tubuh kakek renta.

Sebelum Ki Alot Roso melancarkan serangan pamungkas. Gadis berlesung pipit ini telah bergerak mendahului dengan lecutan selendang dan sambaran pedang tipis di tangannya. Kenyataannya tidak mudah bagi Wanti Sarati untuk mendesak lawan sebagaimana pertama tadi.

Nguuung...!

Senjata di tangan si kakek menyambar ke arah bagian kepala lawannya. Duwur yang kebetulan terus memperhatikan jalannya pertempuran sampai berseru kaget.

"Nisanak, awas...!" Jtaaar...! Jtaar... Jtaaar...!"

"Taak...! Crees...!"

Begitu pedang di tangan Ki Alot Roso membentur selendang di tangan Wanti Sarati. Tak ayal lagi selendang yang terbuat dari sutera pilihan itupun terobek pada bagian ujungnya. Hal ini menandakan bahwa senjata di tangan lawannya memang merupakan senjata pusaka yang sangat tinggi pamornya. Tubuh gadis berlesung pipit ini melompat mundur, tangan berdenyut dan kesemutan. Bahkan selendang di tangannyapun hampir saja terlepas. Pucat wajah gadis itu untuk sesaat lamanya. Tapi diapun sudah tak dapat berpikir panjang, karena pada saat itu Ki Alot Roso kembali mendesaknya. Menghadapi situasi seperti itu, Wanti Sarati nampaknya harus mengandalkan kelincahan gerak dan ilmu meringankan tubuh yang benar-benar sudah mencapai taraf sempurna.

"Nampaknya kini kau hanya mampu menghindar kayak monyet pesakitan saja, bocah...! Mana kesaktian yang kau miliki...!" teriak si kakek renta. Dengan sikap ayal-ayalan, sekali lagi Ki Alot Roso membabatkan pedangnya. Angin dingin menerpa wajah si gadis saat mana senjata itu menderu ke arahnya.

"Jheee...!"

Wanti membanting tubuhnya ke samping, namun lawan terus memburunya. Sekali lagi gadis ini lecutkan selendang di tangannya. Kalau saja Ki Alot Roso tidak cepat-cepat menarik seranganya, pastilah wajah kakek renta ini hancur tersambar selendang di tangan si gadis.

"Hebat...!" gumam Ki Alot Roso tanpa kehilangan semangat.

"Jletar... Nguuung...!"

Begitu bangkit berdiri Wanti Sarati melakukan satu tipuan dengan mempergunakan lecutan selendangnya. Lagi-lagi kakek renta ini bersurut mundur. Kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya untuk melakukan satu tusukan kilat.

Jrooos... Jrooot...!

"Wuaaarghk...!"

Dua kali tusukan pedang lawan menembus bagian tubuh kakek renta tersebut membuat tubuhnya terhuyung. Sambil mendekap bagian lukanya yang telah mengucurkan banyak darah. Tokoh sesat yang sudah kehilangan kekuatannya itu berusaha menghindari terjangan senjata berikutnya. Tetapi tubuhnya terasa begitu sulit untuk digerakkan.

Croook...!

Tak ayal lagi, tubuh Ki Alot Roso ambruk ke bumi. Darah semakin banyak yang keluar dari bagian perut, dada dan juga lehernya. Laki-laki sesat itu mengerang lemah, sepasang matanya meredup memandang sinis pada si Duwur bekas muridnya.

"Sampai menjelang kematianmu, apakah engkau masih juga tak mau mengakui segala dosadosa yang pernah kau lakukan, kakek lapuk...?" tanya Wanti Sarati sambil menendang pedang si kakek jauh-jauh. Pedang melayang jauh dan jatuh di tengah-tengah rumput lebat. Bekas gembong tokoh sesat itu nampak sunggingkan seulas senyum menggidikkan. Dengan kalimat terputus-putus diapun berkata:

"Hi... dup... dan mati sudah ada ketentuannya. Sejak aku mempelajari ilmu kepandaian yang menakjubkan itu, aku sudah tahu kematianku memang berada di ujung pedangmu. Tapi ak... aku tak pernah menyesal. Sebab kematianku pasti ada yang akan membalaskannya. Yaitu muridku Cindek! Tak seorangpun yang mampu menghentikannya, tidak juga engkau bocah manis...!"

"Dasar manusia sesat...!" desis Duwur. Kemudian tanpa basa-basi lagi, dengan mempergunakan seluruh kekuatannya. Ditendangnya tubuh sekarat gurunya sendiri. Terdengar suara tulang berderak patah saat mana tubuh Ki Alot Roso, melambung dan melayang tinggi ke udara. Kemudian jatuh lagi menimpa sebongkah batu yang sangat besar. Kepala maupun bagian tubuh Ki Alot Roso remuk dan tewas seketika.

"Anda benar-benar hebat, nisanak! Kalau boleh, aku bersedia menjadi muridmu...!" kata pemuda bertubuh raksasa memandang kagum pada Wanti Sarati.

"Huus. Apa-apaan. Aku tak becus apa-apa, pula usaha kita dalam menumpas Iblis Pemburu Perawan masih belum usai...! Mari kita pergi...!" perintah si gadis. Kemudian langsung melangkah mendahului.

*** 6

Paman Giri Wisa hanya akan mengorbankan nyawa yang sia-sia andai tetap nekad juga datang ke Sungai Buluh. Iblis Pemburu Perawan, sebagaimana yang tergambar dalam mimpiku berujud seekor Monyet Hitam yang memiliki kesaktian tiada terukur. Selain itu dia juga kebal terhadap berbagai senjata. Aku tak ingin melihat korban lebih banyak lagi. Percuma paman membawa seluruh murid paman untuk menggempur makhluk bejat itu...!" kata Buang Sengketa setelah beberapa hari berada di rumah kediaman Ketua Perguruan Lintang Kembar.

"Anak muda, walaupun engkau telah menyelamatkan aku dari cengkeraman maut Iblis itu, tapi kumohon engkau jangan coba-coba mempengaruhi aku...!" kata Giri Wisa dengan wajah sedikit memerah. Pendekar Hina Kelana meskipun hatinya kesal atas ucapan Ketua Perguruan Lintang Kembar, namun ia tetap menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Aku bukan ingin mempengaruhi paman, karena pertolongan yang tidak seberapa itu. Aku hanya menginginkan agar paman mau memikirkan sekali lagi untuk melaksanakan keputusan yang telah paman ambil...!"

"Heh! Iblis Pemburu Perawan kalau dibiarkan terus dengan sepak terjangnya, lama kelamaan akan menjadi manusia paling sakti yang tidak mungkin terkalahkan oleh tokoh manapun...!" "Ucapan paman Giri mungkin memang betul! Tetapi sehebat manapun kesaktian yang di miliki oleh setiap manusia di kolong langit ini, pastilah memiliki kelemahan. Bahkan tadipun paman berkata begitu padaku...!"

Semakin berkerut alis mata Giri Wisa begitu mendengar kata-kata si pemuda. Agak lama dia hanya berdiam diri. Nampaknya seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

"Bagaimana, paman Giri? Apakah paman malah marah karena ucapan saya tadi?" tanya Buang Sengketa seolah menyesali diri. Giri Wisa gelengkan kepalanya pelan.

"Seperti sudah kukatakan beberapa hari yang lalu, gurunya Iblis Pemburu Perawan dulu juga pernah bentrok dengan guruku. Tokoh sesat itu sebagaimana kuketahui memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Begitu banyak tokoh golongan lurus maupun golongan sesat yang tewas di tangannya. Bahkan guruku sendiri sampai tidak berdaya menghadapi orang itu. Di delapan penjuru persilatan saat ini tidak mungkin ada yang mampu menghadapi orang itu. Kita tidak bisa meremehkannya begitu saja. Hemm. Andai saja tokoh sakti yang sangat ditakuti oleh guru manusia sesat itu masih hidup hingga sampai kini. Mungkin kita dapat meminta bantuannya." desah Giri Wisa seperti pada dirinya sendiri.

"Siapakah tokoh yang paman maksudkan itu...?" tanya Buang Sengketa diliputi rasa ingin tahu yang menggebu.

"Kau pasti tak mengenalnya. Karena tokoh sakti itu merupakan orang aneh yang memiliki pribadi misterius...!"

"Walau tokoh sehebat manapun. Pastilah dia memiliki sebuah nama atau julukan." tukas si pemuda kesal

"Ya... ya... engkau betul...! Orang itu bernama si Bangkotan Koreng Seribu...!"

Hampir meledak tawa si pemuda mendengar Giri Wisa menyebutkan nama yang bagi si pemuda sudah tidak asing lagi.

"Kakek Bangkotan Koreng Seribu...!" ulang si pemuda dengan sikap seolah-olah belum mengenal orang yang diceritakan oleh Giri Wisa. Padahal dalam hati:

"Kalau hanya orang itu, akupun lebih sekedar mengenalnya. Tolol...!"

Sambil tersenyum getir, Giri Wisa mengganggukkan kepala seolah merasa takjub dengan kehebatan yang dimiliki oleh Bangkotan Koreng Seribu. Sebentar kemudian dia telah kembali pada Buang Sengketa.

"Bagaimana orang muda, apakah kau mengenalnya...?"

"Tit... tidak...! Aku tak mengenalnya...!" jawab si pemuda tersendat.

"Mungkin saat itu kau belum lahir, atau engkau memang jauh dari dunia ramai. Tapi aku yakin orang tua ataupun kakekmu pastilah kenal dengan nama yang baru kusebutkan tadi...!"

"Mu... mungkin juga...! Tapi aku belum menanyakannya pada mereka...!" ujar Buang Sengketa semakin berlagak tolol. "Eee...! Seingatku engkau sudah beberapa hari di rumahku. Tetapi aku masih belum mengenal siapa adanya engkau ini!" kata Giri Wisa pilon.

"Ah, aku yang tolol ini mana memiliki nama apalagi julukan seperti paman...! Aku hanya pengembara biasa...!" jawab si pemuda merendah.

"Tidak mungkin manusia tidak memiliki nama, sedangkan binatang saja punya nama! Ayolah orang muda, katakan saja mengapa harus malu-malu?"

"Kalau paman mendesak juga, maka aku akan mengatakannya...!"

"Itulah yang paling kuharapkan...!" kata Giri Wisa dengan wajah berseri-seri.

"Aku yang hina papa, oleh seseorang diberi nama Buang Sengketa...!"

Ketua Perguruan Lintang Kembar, langsung tergelak-gelak begitu Buang Sengketa menyebutkan namanya.

"Mengapa paman tertawa...? Apakah nama seperti itu merupakan sebuah nama yang lucu...?"

"Tentu saja tidak! Cuma bagiku nama Buang Sengketa merupakan sesuatu yang sangat asing dan baru kali ini aku mendengarnya. Oh ya... siapakah gurumu...? Atau pernahkah kau belajar ilmu silat dengan seorang tokoh yang sangat sakti...?" pancing Giri Wisa lebih lanjut.

Buang Sengketa gelengkan kepala. Hatinya semakin mendongkol saja.

"Jangan coba-coba berdusta! Kau tak mungkin mampu menolongku andai tidak memiliki kepandaian silat tinggi dan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna?"

"Aku hanya belajar silat pasaran. Sedangkan guruku, merupakan sebuah pantangan bagiku untuk menyebutkan namanya kepada siapapun...!"

"Benarkah begitu...?"

"Paman Giri! Mengenai siapa aku dan siapa guruku, itu bukan menjadi persoalan. Yang perlu kita bicarakan saat ini adalah, bagaimana caranya menumpas Iblis Pemburu Perawan dalam waktu secepatnya...!" tukas si pemuda merasa tak enak hatinya.

"Hemm. Ya, aku sampai lupa...!' "Bagaimana, apakah paman masih ingin

membawa murid-murid paman menyerbu ke sarang macan...?" sindir Pendekar Hina Kelana.

Giri Wisa menjadi malu hati mendengar kata-kata si pemuda.

"Kalau menurutmu bagaimana...?" tanya laki-laki bertumbuh pendek ini minta pendapat. Buang menarik nafas panjang-panjang. Baginya untuk memasuki sarang iblis bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah. Diperlukan perhitungan yang matang dan saat-saat yang tepat.

"Kalau menurut hematku, kita tak perlu mengorbankan sekian banyak murid-murid perguruan Lintang Kembar. Jadi sebelum kita melakukan penyerangan, ada baiknya kalau kita melakukan penyelidikan terlebih dahulu...!" kata si pemuda menyatakan pendapatnya.

"Sebuah ide yang bagus! Aku merasa setuju dengan gagasanmu itu...!"

"Kalau paman sudah merasa setuju, dua hari lagi kita sudah bisa berangkat ke sana...!"

"Hanya berdua...?" tanya Giri Wisa sesaat kemudian.

"Ya... hanya kita berdua saja...! Sebab kurasa kita tak perlu mengerahkan sekian banyak murid-murid paman!"

"Baiklah, akupun setuju...!" ujar Giri Wisa.

***

Matahari tepat berada di atas kepala ketika, Musang Leman, Karso Broco dan Ki Pragawa serta empat belas orang pemuda desa sampai di pinggiran hutan Sungai Buluh yang sunyi menyeramkan. Tak seorangpun nampak lalu lalang di sepanjang jalan yang mereka lalui, terkecuali mayatmayat yang masih baru ataupun yang sudah lama bergelimpangan. Bau busuk menyengat hidung membuat perut rombongan itu mual dan beberapa orang diantaranya ada yang muntah-muntah. Sungguhpun hati mereka diliputi perasaan jerih, namun mereka tetap terus melanjutkan perjalanan. Tiada mereka hiraukan ribuan lalat berterbangan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tidak juga mereka perduli ketika melihat beberapa ekor anjing hutan sibuk menggerogoti bangkai manusia yang berserak tiada berketentuan. Apa yang ada di dalam benak mereka saat itu adalah menemukan putri Kepala Desa dan membunuh Iblis Pemburu Perawan. "Berhenti...!" perintah Kepada Desa yang berada di bagian paling belakang. Begitu mendengar aba-aba Kepala Desa. Maka Karso Broco dan yang lain-lainnya langsung menghentikan langkah mereka.

"Ada apa, Ki Pragawa...?" tanya Musang Leman setelah menunggu beberapa saat lamanya.

"Kita tak mungkin menemukan apa-apa kalau hanya bergerombol seperti ini...!" kata Ki Pragawa merasa kesal.

"Maksud Bapak Kepala Desa bagaimana...?" sentak Karso Broco.

"Mayat-mayat berserakan, anjing menjijikkan dan lalat-lalat itu. Hanya itu saja yang kita temui di sepanjang jalan yang kita lalui...! Tapi kita masih belum juga berhasil menemukan di mana letaknya sarang iblis itu...!"

"Jadi harusnya bagaimana...!" tanya Karso

Broco.

Ki Pragawa terdiam, keningnya mengkerut

seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

"Kalau tidak begini saja. Kita bagi rombongan ini menjadi dua, sebentar lagi kita mulai memasuki hutan itu...!" jelas Ki Pragawa.

"Apakah cara seperti itu tidak membahayakan keselamatan kita...?" tanya Musang Leman.

"Kalau engkau merasa takut menghadapi resiko, lebih baik kau tinggal di rumah saja...!" komentar Kepala Desa Mekar Sari.

"Maksudku bukan begitu, ki...! Kitapun harus memperhitungkan kekuatan di pihak kita. Iblis Pemburu Perawan bukan manusia yang bisa di anggap enteng. Terbukti di sepanjang jalan yang kita lalui sudah begitu banyak korban yang berjatuhan. Padahal mereka memiliki kepandaian yang mungkin saja lebih tinggi dari kepandaian yang kita miliki…!" kata Musang Leman.

"Tak usah berpikir sampai sejauh itu. Yang penting sekarang anggota kita bagi dua. Musang Leman dan tujuh orang lainnya bergabung denganku, dan masuk dari arah timur ini. Sedangkan Karso Broco dan tujuh orang lainnya masuk dari sebelah utara! Nah kupikir hanya itu yang perlu kalian ketahui. Andai kita berhasil menemukan putriku maka kuharap kita bisa berkumpul lagi di sini...! Eeee... apakah ada pertanyaan dari saudara-saudara...?" tanya Ki Pragawa.

"Kami kira sudah tidak ada yang perlu kami tanyakan. Semuanya sudah jelas." kata Karso Broco.

"Kalau begitu sekarang kita berangkat...!" perintah Ki Pragawa.

Rombongan itu kemudian terbagi dua bergerak menuju jalan yang sudah ditentukan. Sekarang kita ikuti rombongan yang dipimpin oleh Karso Broco. Ketika mereka berpisah dengan Ki Pragawa dan Musang Leman, jalan yang mereka tempuh untuk selanjutnya merupakan jalan berbukit cadas yang sangat licin. Sementara di sisi kiri mereka merupakan tebing batu berlumut yang tiada henti-hentinya meneteskan air. Dengan bersusah payah dan tiada mengenal lelah orang-orang ini terkadang harus merangkak. Tiada mereka hiraukan terik matahari yang begitu menyengat, padahal rasa harus mulai memanggang tenggorokan setiap anggota rombongan yang cuma terdiri dari tujuh orang.

"Kakang, udara terasa panas sekali. Aku haus...!" keluh salah seorang yang berada di bagian paling belakang.

"Tak ada membawa makanan, bekal airpun sudah habis. Bagaimana kalau kau minum air kencing saja...!" kata Karso Broco merasa kesal.

"Air kencing... kencing siapa...?"

"Kebetulan semalam aku habis makan jengkol, nah air kencingku pasti berkhasiat mengobati rasa dahagamu...!"

"Kurang ajar! Kalau begitu lebih baik kakang minum air kencing sendiri. Aku tak sudi...!" maki orang itu. Geram bukan main.

"Makanya jangan banyak rewel! Kau pikir hanya kau sendiri yang merasa kehausan, semua orang di sini merasakan hal yang sama. Tetapi kau lihat mereka tak rewel sepertimu...!"

"Tapi jangan takut, kulihat di bawah sana terdengar gemuruh suara air. Mungkin sekejap lagi kita segera menemukan sebuah sungai.,.!" lanjut Karso Broco memberi semangat pada kawankawannya. Bagai saling berlomba, rombongan yang dipimpin oleh Karso Broco sambil terus mendekati sungai yang sudah tidak begitu jauh dari tempat mereka berada. Tak sampai se-pemakan sirih, merekapun telah sampai di pinggiran sungai.

"Breeeng...!"

Lalat-lalat beterbangan menyambut kedatangan mereka. Tak lama kemudian tercium pula bau busuk yang menyengat hidung. Semua mereka yang sudah bersiap-siap hendak terjun ke dalam sungai yang kelihatan dasarnya itupun urung, lalu saling pandang sesamanya.

"Apa yang telah terjadi di tempat ini...?" tanya mereka pada Karso Broco.

"Sebentar kuperiksa...!" kata laki-laki berusia tiga puluh tahun itu, selanjutnya dengan diikuti oleh kawan-kawannya mereka menuruni sungai yang menebarkan bau busuk. Baru saja tiga langkah mereka menginjakkan kakinya di dalam sungai yang memiliki kedalaman tidak sampai setinggi lutut. Mata mereka melihat mayat-mayat bergeletakkan tumpang tindih. Tubuh mereka ada yang mengambang di atas air karena perutnya telah menggembung, ada pula yang tenggelam. Tetapi banyak diantara mereka yang tergeletak begitu saja di atas batu-batu sungai yang berukuran besar.

"Gila... dimana-mana kulihat pemandangan mengerikan. Melihat keadaan mayat-mayat ini sepertinya mereka tewas dibantai kuku-kuku binatang buas. Ahk... mungkinkah di sekitar tempat ini terdapat binatang mengerikan yang tak dapat terlawan oleh mereka. Padahal aku yakin orang-orang ini pasti memiliki kepandaian yang tinggi...!" kata Karso Broco dengan wajah tegang.

"Sraak...!" terdengar suara bergemuruh dari atas pohon, kemudian di susul dengan melayangnya beberapa sosok tubuh di atas sulur-sulur tumbuhan merambat.

"Uoooh...!"

Rombongan itu keluarkan suara pekikkan tertahan. Bahkan beberapa orang diantaranya sampai ada yang menutup mata dengan kedua tangannya.

"Monyet hitam berambut panjang seperti manusia. Mereka hanya mengenakan koteka. Apa yang telah terjadi dengan diri mereka? Mungkinkah mereka kelompok siluman kera?" gumam Karso Broco sambil terus memperhatikan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu. "Mereka semuanya berjumlah tujuh orang. Tap... tapi yang satunya seperti aku kenal, ya... aku kenal meskipun sekarang wajahnya telah berubah hitam penuh ditumbuhi bulu-bulu yang begitu lebat. Mereka benarbenar telah berubah menjadi seekor siluman monyet. Pastilah semua ini hasil perbuatan manusia iblis. Kalau begitu mereka pernah tidur dengan manusia keparat itu...!" geram Karso Broco.

"Suryaningsih! Apa yang telah terjadi denganmu...?" tanya laki-laki ini tanpa mengalihkan perhatiannya dari sulur-sulur yang dipergunakan oleh mereka untuk bergelantungan.

Tiada jawaban sebagaimana yang diharapkan oleh Karso Broco, terkecuali erangan marah.

"Kau telah menjadi istrinya manusia iblis itu, heh...!" bentak salah seorang dari anggota rombongan. Gadis-gadis yang telah berubah menjadi siluman monyet hitam itupun kembali menggeram marah. Berpasang-pasang mata merah membara memandang pada rombongan itu dengan penuh kebencian.

"Hoaaar... hoaaar...!"

"Wuut...! Beeet...!" Dengan mempergunakan sulur tumbuhan merambat, mereka pun berayun-ayun tak ubahnya bagai seekor monyet hutan. Selanjutnya menyerang rombongan yang di pimpin Karso Broco. Menyadari adanya bahaya yang mengancam, maka Karso Broco dan enam orang kawannya langsung mencabut senjatanya masing-masing. Dalam waktu sekejap terjadilah pertempuran yang sengit antara Karso Broco dan kawan-kawannya melawan gadis-gadis yang kini telah berubah menjadi siluman monyet hitam. Jurus demi jurus berlangsung, Karso Broco dalam waktu singkat telah terdesak dalam menghadapi serangan monyet-monyet hitam yang sesungguhnya merupakan gadis-gadis yang berhasil diculik, dinodai sekaligus dipengaruhi oleh ilmu yang di miliki oleh Iblis Pemburu Perawan. Yang membuat Karso Broco merasa hampir putus asa adalah karena tubuh lawan-lawannya kebal terhadap berbagai senjata. Sementara kuku dan tangan lawannya menyambar ganas ke arah Karso Broco.

***

7

Dalam gebrakan-gebrakan selanjutnya, rombongan yang dipimpin oleh Karso Broco semakin terdesak hebat. Bahkan tiga jurus di depan mulai terdengar pula jeritan-jeritan histeris dari mulut rombongan Karso Broco, ketika kuku-kuku yang tajam milik lawannya menyambar pada bagian wajah, dan bagian tubuh lainnya.

"Argggkh...!"

Dua orang kawan Karso Broco terjungkal roboh, manakala kuku-kuku monyet hitam jejadian itu merobek putus tenggorokan mereka. Air sungai berobah menjadi merah darah. Keadaan Karso Broco dan kawan-kawannya semakin kacau tiada menentu. Mengetahui kawan-kawannya mulai berguguran, Karso Broco dan sisa-sisa kawannya mengamuk membabi buta. Golok besar yang berada dalam genggaman tangannya berkelebatkelebat menyambar.

"Hiihh...!"

Karso Broco hantamkan senjatanya ke arah salah seorang musuh yang berada paling dekat dengan posisinya.

"Craaaak...!"

Bagai karet saja tubuh monyet-monyet jejadian ini, bacokan yang dilakukan oleh Karso Broco dan tiga orang kawannya tidak membawa akibat apa-apa.

"Hoaar...! Nguuk...nguuuk...!"

Monyet-monyet jejadian itu kembali mendesak lawannya secara bersamaan.

"Ngoeeekkk...!"

"Breet...!"

Terdengar tiga kali suara robekan, tiga orang kawan Karso Broco kembali terjungkal ke dalam air sungai. Sungai yang mengalir tidak begitu deras berubah warna seketika, merah darah.

Melihat kematian yang dialami oleh kawankawannya. Karso Broco menjadi gelap mata. Golok besar di tangannya dia putar membentuk sebuah perisai pertahanan yang begitu kokoh, sekarang laki-laki berusia tiga puluhan itu mendapat keroyokan dari tujuh ekor monyet jejadian. Sekali dua senjatanya menghantam bagian tubuh lawannya. Tapi tetap seperti keadaan semula. Lawanlawannya begitu kebal terhadap berbagai bacokan yang dilakukan oleh Karso Broco.

"Hoaaar...!"

Monyet jejadian menggerung keras, lalu sabetkan tangannya yang berkuku panjang dan runcing. Karso Broco saat itu memang benarbenar dalam keadaan kepepet sekali. Jiwanya terancam. Namun pada saat-saat yang sangat kritis itu, mendadak selarik gelombang Ultra Violet melesat cepat dan melabrak tubuh monyet-monyet hitam jejadian itu. Terdengar jerit dan pekik kesakitan dari mulut binatang-binatang itu.

"Karso Broco, cepat menyingkir...!" perintah sebuah suara yang begitu sangat di kenal olehnya.

"Kakang Giri Wisa! Beruntung sekali engkau datang...! Andai tidak aku pasti hanya tinggal nama saja...!" kata Karso Broco sambil berusaha menyingkir.

"Saudara, Karso awas di belakangmu...!" teriak Pendekar Hina Kelana yang saat itu nampak sudah berdiri di atas batu tak jauh dari Wisa.

"Wuuut...!"

Kiranya pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilepaskan oleh Buang Sengketa, tidak membuat monyet jejadian itu mati. Bahkan setelah jatuh berkerengkangan, mereka cepat bangkit dan langsung menyerang Karso Broco kembali. Namun serangan mereka luput, karena nampaknya serangan itu hanya bersifat ayal-ayalan belaka. Ternyata hampir semua mata makhluk itu memandang beringas pada si pemuda berkuncir.

"Monyet-monyet jejadian itu adalah penjelmaan dari gadis-gadis yang berhasil diculik oleh manusia iblis!" kata Buang Sengketa setelah Karso Broco bergabung dengan mereka.

"Ah menyedihkan sekali. Jadi apakah muridku Nawang Wulan sudah tak dapat diselamatkan lagi...?" tanya Giri Wisa nampak benarbenar putus asa.

"Secara pasti aku tak dapat mengatakannya, paman! Tapi menurutku gadis-gadis yang sudah tidak perawan itu masih dapat kembali ke asalnya, jika kita mampu membunuh si manusia iblis itu...!"

"Bagaimana mungkin engkau dapat mengetahui kalau mereka sudah tidak utuh lagi...?" tanya Giri Wisa seakan tak percaya.

"Mereka hanya bisa berubah seperti itu, andai Iblis Pemburu Perawan pernah tidur bersama mereka, bisa mengertikah paman...?"

"Hmm. Benar-benar keparat terkutuk." maki Giri Wisa dengan geramnya. "Ehh... monyetmonyet itu menyerang kemari, Buang...!"

"Aku tak bisa bertindak kasar pada mereka, karena sesungguhnya mereka hanya terpengaruh oleh ilmu iblis yang di miliki oleh bangsat itu...! Tutuplah indera pendengaran kalian, aku akan melakukan sesuatu...!" kata Buang Sengketa pada Giri Wisa dan Karso Broco.

"Heeeikgh...!"

Terdengar suara bergemuruh saat mana si pemuda mengerahkan ilmu Lengkingan Pemenggal Roh yang sangat dahsyat itu. Bumi tergetar daundaun berguguran. Monyet-monyet hitam jejadian itu nampak panik dan berbalik ke satu arah, kemudian berlari sekencang-kencangnya.

"Mari kita kejar mereka...!" seru Ketua Perguruan Lintang Kembar.

"Jangan paman, di depan sana bahaya pasti sedang menunggu kita. Kalau paman mau mengikuti saranku, lebih baik paman tetap saja berada di sini bersama saudara Karso Broco, biar aku yang akan melakukan penyelidikan...!"

"Kau yakin dengan kemampuanmu...?" tanya Giri Wisa merasa kurang enak.

"Berdoa saja untuk keselamatanku, paman...! Biarkan aku akan mengejar mereka sekarang juga...!"

Tanpa menunggu jawaban Giri Wisa, tubuh Buang Sengketa tiba-tiba telah lenyap dari hadapan Giri Wisa dan Karso Broco. Orang itu hanya mampu geleng-gelengkan kepala penuh kekaguman.

***

Jalan yang ditempuh rombongan yang dipimpin oleh Ki Pragawa dan Musang Leman merupakan jalan setapak yang tidak memiliki banyak rintangan. Setelah melakukan perjalanan lebih kurang empat jam, mereka sudah sampai di tengahtengah hutan Sungai Buluh yang angker. Saat itu Ki Pragawa baru saja ingin memutuskan untuk istirahat, ketika dari arah sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan mereka terlihat puluhan batu seukuran kerbau meluncur deras ke arah mereka. Masih untung Musang Leman cepat tanggap dengan datangnya bahaya yang secara tiba-tiba ini. Andai tidak mungkin mereka yang sedang duduk di bawah sebatang pohon rindang, remuk tergilas batu tersebut. Rombongan yang sedang dudukduduk di bawah pohon rindang itu kontan bubar. Diantaranya ada yang berlarian mencari selamat dengan caranya masing-masing.

"Apa yang telah terjadi, saudara Musang Leman...?" tanya Ki Pragawa, lalu memandang ke puncak bukit yang tidak seberapa tinggi.

"Tidak ada hujan tidak ada angin! Batu sebesar kerbau bunting runtuh begitu saja. Pastilah ada sesuatu yang telah menyebabkannya...!" kata Musang Leman.

"Apakah kau begitu yakin dengan apa yang kau katakan itu...?" bertanya Ki Pragawa dengan hati diliputi kebimbangan.

"Mengapa tidak! Malah aku mulai merasa yakin, mungkin iblis itu telah mengetahui kedatangan kita...!"

"Persetan! Aku malah senang andai manusia iblis itu telah mengetahui kedatangan kita. Jadi tak usah susah-susah kita mencarinya ke manamana...!" katanya begitu jumawa. Weeer...!

Terasa adanya sambaran angin dingin yang begitu keras menerpa diri mereka. Beberapa orang kawan Musang Leman hampir saja terjungkal roboh. Sementara Musang Leman dan Ki Pragawa segera mengerahkan tenaga dalamnya agar dapat terus bertahan pada posisinya. 

"Apa kubilang! Iblis itu benar-benar telah mengetahui kedatangan...!" komentar Musang Leman dengan wajah sedikit memucat.

"Tapi mengapa si terkutuk itu masih belum juga menampakkan diri...?" tanya Ki Pragawa masih kurang begitu yakin.

"Mungkin juga dia sengaja membiarkan kita memasuki sarangnya. Atau barangkali dia sengaja ingin menghabisi kita di sini...!"

"Kurang ajar! Kau malah berusaha menakut-nakuti aku, Musang Leman...! Salah-salah aku malah membunuhmu...!" bentak Ki Pragawa marah.

"Jangan berprasangka yang bukan-bukan, Ki...! Bukankah aku sudah pernah mengatakan apapun yang bakal terjadi. Kita akan menghadapinya secara bersama-sama...!" tukas Musang Leman kesal.

"Ahaaa...ha...ha... groaaar...! Lebih baik kalian saling bunuh dengan sesama kawan sendiri. Kurasa kematian dengan cara seperti itu lebih menyenangkan dari pada harus mati di tanganku secara menyedihkan...!" bentak sebuah suara dari atas bukit. Semua orang yang berada di bawah bukit tersentak kaget begitu mendengar kata-kata yang disertai dengan tenaga dalam dan ditujukan pada mereka.

"Engkaukah kunyuknya yang berjuluk Iblis Pemburu Perawan?" tanya Musang Leman dan Ki Pragawa hampir bersamaan. Dalam pada itu merekapun telah mencabut senjata mereka yang berupa sebilah pedang berukuran panjang. Senjata itu nampak berkilat-kilat diterpa sengatan matahari.

"Groaaar... ha... ha... ha... ha...! Benar akulah orangnya yang berjuluk Iblis Pemburu Perawan. Asal kalian tahu saja, sesuai dengan julukanku. Saat ini aku menjadi suami tunggal dari berpuluh-puluh perawan yang dengan sukarela menjadi istriku, menjadi budakku dan juga menjadi pembantu setia seumur hidup...!"

Merah padam wajah mereka yang hadir di situ, terutama sekali Ki Pragawa yang merasa kehilangan putri tunggalnya.

"Dengan sukarela kau kata! Apakah bukan malah sebaliknya? Keparaat...! Hampir setiap malam engkau bergentayangan menculik anak perawan orang, kemudian kau kumpulkan di sarang iblis milikmu. Itukah yang kau sebut-sebut dengan sukarela...?" sentak Musang Leman dengan geraham bergemeletuk menahan marah.

"Hemmm..." Iblis Pemburu Perawan mendengus. "Itu bukan urusan kalian, apapun yang kukerjakan tak seorangpun yang mampu menghalang-halanginya."

"Keparaat! Engkau telah melarikan putriku satu-satunya, masih jugakah kau mau mungkir...?" maki Ki Pragawa hampir lenyap kesabarannya. Andai saja tidak sejak tadi Musang Leman menghalang-halanginya, ingin sekali dia naik ke atas bukit dan mencincang tubuh lawannya.

Kembali terdengar suara tergelak-gelak, angin kencang menderu dan menyapu habis lima orang pembantu Ki Pragawa. Tapi hembusan angin tersebut kiranya satu kejutan yang bersifat memberi peringatan belaka tanpa melukai. Sekejap kemudian mereka yang terpelanting dihembus angin yang ditimbulkan oleh kesaktian manusia Iblis, sudah bangkit kembali. Wajah mereka semakin bertambah memucat.

"Orang yang kuculik begitu banyak! Aku tak tahu anakmu yang mana. Tapi kau tak perlu khawatir, aku menjadi seorang suami yang adil. Anakmu telah kuurus dengan sangat baik. Bahkan sekarang ini mereka menjadi orang-orang yang begitu menuruti segala kehendakku...! Groaaar... ha... ha... ha...!"

Bumi bagai diguncang selaksa gempa ketika manusia iblis itu tertawa panjang. Suara tawa itu begitu berpengaruh, bahkan membuat sakit telinga bagi siapapun yang mendengarnya.

"Hentikan suara tawamu, manusia gila! Hentikan...!" teriak Musang Leman dengan disertai tenaga dalam. Tetapi suara teriakan laki-laki itu seolah lenyap begitu saja ditingkahi suara tawa lawannya.

"Apa yang kau miliki, tak ada setahi kukuku, anak manusia! Kepandaian yang kau miliki tidak mempunyai arti apa-apa bila di bandingkan kekuatan yang ada padaku. Tokoh-tokoh persilatan saja sudah begitu banyak yang mampus di tanganku. Kalian datang hanya mengantar nyawa dengan sia-sia...!" hardik si manusia iblis.

"Keparaat! Tunjukkanlah tampangmu, kami akan mencincang tubuhmu...!"

Tiada terdengar jawaban dari si manusia iblis, suasana sepi mencekam mewarnai diri mereka yang berada di bawah bukit. Namun hal itu tidak berlangsung lama, detik selanjutnya terdengar langkah-langkah berat bagai palu raksasa yang diketukkan di atas tanah. Menyertai terdengarnya suara langkah-langkah kaki itu, berhembus kembali angin yang sedemikian kerasnya. Mereka yang berada di bawah bukit itu, terkecuali Musang Leman dan Ki Pragawa nampak berusaha matimatian mempertahankan diri dari serangan angin kencang yang menimbulkan udara panas itu.

"Aku datang memenuhi keinginan kalian...!" terdengar satu suara yang begitu serak dan berat. Mendadak suara langkah kaki sudah tiada terdengar lagi, bahkan angin kencang kini telah berhenti berhembus.

"Jliik...!"

Seringan kapas sosok makhluk yang menamakan dirinya sebagai Iblis Pemburu Perawan menjejakkan kakinya persis dua tombak di belakang mereka.

Secara serentak, Musang Leman, Ki Pragawa dan lima orang pembantunya menoleh. Betapa terperanjatnya hati mereka begitu melihat kehadiran sesosok tubuh berbulu hitam lebat, sementara sepasang matanya yang memerah bagai bara nampak memandang bengis pada mereka.

"Akulah Iblis Pemburu Perawan yang kalian cari-cari...!" kata Monyet Hitam yang dulunya merupakan murid Ki Alot Roso.

"Kawan-kawan, tunggu apalagi! Cincang...!" perintah Ki Pragawa memberi aba-aba pada Musang Leman dan para pembantunya. Sungguhpun hati mereka diliputi keraguan, namun nampaknya mereka begitu patuh pada Ki Pragawa. Akhirnya tanpa membuang-buang waktu lagi merekapun langsung menyerang Iblis Pemburu Perawan. Pada dasarnya lima orang pembantu Kepala Desa Mekar Sari ini hanyalah orang biasa yang tiada mengerti ilmu silat, hanya Musang Leman dan Ki Pragawa saja yang pernah belajar ilmu silat dengan Giri Wisa, seperti diketahui Giri Wisa merupakan tetangga sebelah desanya.

Di mata si manusia iblis, mereka ini tidak memiliki arti apa-apa bila dibandingkam dengan lawan-lawannya terdahulu. Sekali saja lawan bergebrak dengan di sertai gelak suara tawa, lima orang pembantu Ki Pragawa menggerung roboh dengan luka mengangga dibagian dada dan leher. Kejut hati Musang Leman dan Ki Pragawa demi melihat kejadian yang berlangsung cepat di depan mereka. Dengan kemarahan menggebu-gebu, keduanya kembali menyerang lawannya dengan sabetan pedang di tangannya. Nampaknya pihak lawan tidak berusaha menghindar serangan ganas Musang Leman dan Ki Pragawa. Dengan telah senjata keduanya mencapai sasaran. Jroook...!

Craak...!

Tubuh lawan ternyata kebal senjata, penasaran mereka kembali melakukan berulang-ulang. Namun tetap saja tubuh lawannya tiada bergeming, apalagi terluka.

"Cukup...!" teriak Iblis Pemburu Perawan, lalu dorongkan kedua tangannya ke depan. Serangkum gelombang pukulan berhawa dingin luar biasa dan mengandung racun jahat melabrak tubuh orang itu. Dengan gugup keduanya membanting tubuhnya. Tetapi pukulan yang dilepaskan lawannya seolah bagai bermata saja.

Terus memburu kemanapun Musang Leman dan Ki Pragawa menghindar.

"Blaak...! Dess... dess...!"

Tiada terhindari lagi dua sosok tubuh terlempar menghantam sebongkah batu yang lumayan besar. Kepala mereka remuk dan tiada mampu bangkit untuk selama-lamanya. Iblis Pemburu Perawan keluarkan suara tawa tergelakgelak. Kemudian dengan sekali melompat maka tubuhnya lenyap diantara kerimbunan pohon.

***

8

Iblis Pemburu Perawan terus berlari-lari menuju singgasananya yang sengaja dia bangun di dalam relung-relung gua. Di sanalah dia mengumpulkan gadis-gadis yang diculiknya dari berbagai daerah. Di sanalah pula dia dengan leluasa berbuat segala kemaksiatan, tanpa mengalami rintangan dari siapapun. Apa yang dilakukannya sudah barang tentu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu sesat yang diyakininya.

Demikianlah tanpa menghiraukan suasana di sekelilingnya, murid sesat Ki Alot Roso, yang bernama Cindek ini terus berlari. Tanpa disadarinya dua pasang mata dari sebuah tempat yang tidak begitu jauh terus membuntuti. Sebelum manusia sesat itu membelok pada sebuah tikungan yang menuju ke arah gua yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Terdengar satu bentakan yang membuat lemas persendian orang yang tiada memiliki kepandaian dan tenaga dalam tinggi.

"Berhenti...!" perintah sebuah suara. Menilik suaranya yang begitu halus, pemilik suara itu pastilah seorang perempuan. Dengan sikap tenang, si manusia iblis hentikan larinya, kemudian menoleh ke beberapa jurusan.

"Sudah sekian banyak kau menumpuk dosa, tapi pembunuhan tetap kau lakukan di manamana. Benar-benar iblis bertopeng monyet...!"

"Kurang ajar, begitu datang kau memakimaki sedemikian rupa. Agaknya engkau merupakan perempuan yang pantas menjadi istriku...! Tunjukkan muka...!" berkata begitu Iblis Pemburu Perawan hantamkan tangan kanannya ke arah rerimbunan pohon. Selarik sinar berwarna biru menyambar ke arah si pemilik suara.

"Brees...!" Dua sosok tubuh melesat dari kerimbunan semak, pukulan sakti yang dilepas oleh lawannya menghantam sasaran kosong.

Jliigkh...!

Begitu kaki mereka menginjak permukaan tanah, salah seorang di antaranya yang memiliki tubuh tinggi macam raksasa, langsung membentak marah:

"Kau benar-benar telah tersesat jauh, adi Cindek...! Dewata pasti mengutuk perbuatan sesatmu...!" kata si tinggi besar. Tanpa menghiraukan ucapan pemuda yang berada di sebelah gadis berlesung pipit, si manusia iblis yang disebutsebut sebagai si Cindek nampak tergelak-gelak.

"Hebat! Gadis yang sangat cantik luar biasa, bahkan lebih cantik dari para gadis yang telah menjadi istriku. Ah, sungguh beruntung sekali aku hari ini...!"

Wajah Wanti Sarati berubah kelam membesi, dalam menghadapi manusia iblis yang satu ini, nampaknya dia tak ingin basa basi lagi. Dengan gerakan yang sangat cepat dirangkapkannya kedua tangannya. Sebentar kemudian ke dua tangan yang terangkat di atas kepala itu berubah warna menjadi putih berkilauan.

"Kakang Duwur! Kiranya engkau telah mengupah bocah cantik ini supaya sudi tidur denganku. Lihatlah nampaknya dia mau melepaskan pukulan yang membuat hangat tubuhku. Ah, mestinya kau segera menyingkir kakang Duwur, tahukah engkau bahwa bocah ini menginginkan agar aku segera memeluknya...!" Yang diajak bicara palingkan muka dan meludah tiga kali, tanda bahwa pemuda berbadan raksasa itu begitu membenci si manusia iblis.

"Saudara Duwur! Menyingkirlah...!" dalam puncak tenaga sakti yang ingin dilepaskannya. Wanti Sarati masih sempat memberi peringatan pada si pemuda bertubuh raksasa yang tiada memiliki kepandaian apa-apa.

"Hiaaaat...!"

Di awali dengan jeritan tinggi melengking, tubuh si gadis melompat ke udara setinggi dua tombak. Pada ketinggian itu diapun lepaskan pukulan 'Siluman Kembar' yang menimbulkan hawa panas tiada tertahankan. Iblis Pemburu Perawan kembali tertawa panjang, kemudian tangannya laksana kilat dia silangkan ke depan dada. Saat itu kiranya diapun menyadari bahwa gadis cantik itu melepaskan pukulan andalan, hal ini merupakan satu tanda bahwa lawan memang benar-benar menghendaki jiwanya. Tak ayal lagi diapun membentuk sebuah pertahanan dengan mempergunakan 'Seribu Perisai Iblis'.

Begitu cepatnya pukulan itu melabrak ke bagian tubuh si iblis.

"Blaaak...!"

Wanti Sarati sampai terhuyung akibat pengaruh pukulannya sendiri, debu dan pasir berterbangan. Begitu debu yang menyelimuti suasana sekitarnya lenyap sama sekali. Maka terlihatlah tubuh lawannya masih tetap tegak di tempatnya tanpa kekurangan sedikit apapun. Kecut hati si gadis, tetapi tekadnya tetap membaja. "Pukulanmu tak ubahnya bagai sebuah pelukan yang begitu hangat dan membangkitkan gairahku...!"

Sepasang mata manusia iblis itu tiada henti-hentinya memandangi wajah si gadis. Rona merah yang terpancar, seolah menjilati seluruh permukaan tubuh si gadis. Dalam pada itu kiranya secara diam-diam Duwur memungut sebuah balok besar. Setelah mengendap-endap dari arah belakang Duwur memukul kepala si Cindek yang telah berubah menjadi seekor monyet hitam menakutkan.

"Thaaak...!"

Sekali pemuda bertubuh raksasa itu mengayunkan kayu di tangannya, dengan tepat balok kayu itu menghantam tubuh si Cindek. Anehnya sedikitpun tubuh monyet hitam tiada bergeming. Apalagi sampai pecah. Padahal Duwur saat memukul tadi telah mengerahkan segenap tenaga ototnya. Hal ini merupakan satu bukti bahwa pihak lawan ternyata memang memiliki kekebalan luar biasa.

"Kau memukulku, kakang Duwur! Tapi aku tak marah, aku hanya menginginkan gadis cantik yang telah kakang bawa kemari...!" kata si iblis kembali tergelak-gelak.

"Terkutuk! Mampuslah kau sekali ini...!" maki Wanti Sarati, kali ini dengan mengandalkan tiga perempat tenaga dalamnya. Wanti Sarati kembali hantamkan pukulan 'Siluman Kembar', serangkum gelombang sinar laksana perak datang menggebu. Iblis Pemburu Perawan kibaskan tangannya dengan maksud memapaki serangan itu. Tetapi karena dia bersikap ayal-ayalan. Akhirnya tubuhnya terjungkal roboh.

Wanti Sarati hampir saja menarik nafas lega saat mana lawannya dapat dijatuhkannya. Namun perasaan lega itu, kemudian berganti dengan perasaan cemas. Saat itu, si manusia iblis sudah bangkit kembali, tubuhnya tiada kekurangan sesuatu apapun. Sementara kemarahan membersit di wajahnya yang dipenuhi bulu-bulu lebat.

"Kau memang hebat, gadis...! Tapi dengan caraku, kau pasti bakal menjadi milikku! Ya... kau tetap akan menjadi milikku, selama-lamanya...!" geram Iblis Pemburu Perawan. Selanjutnya orang itu membuka jurus-jurus serangan yang tak ubahnya bagai gerakkan seekor monyet. Mulamula tubuhnya berjingkrak-jingkrak. Kemudian garuk-garuk kepala dan punggungnya. Lalu laksana kilat dia menyerang lawannya dengan cakarancakaran ganas mematikan.

Wanti Sarati juga tidak tinggal diam, dengan cepat dia cabut pedang dan selendang yang melilit di bagian pinggangnya.

"Jtaar... Jtarr...!"

Iblis Pemburu Perawan hanya keluarkan erangan aneh, tanpa ragu-ragu lagi dia berusaha menangkis lecutan selendang di tangan lawannya.

"Grrrrt...!" "Jtaaar... Jtaaar...!" "Kreeep...!"

Selendang di tangan Wanti Sarati tertangkap sudah, tarik menarikpun segera terjadi. Namun dalam hal tenaga dalam nampaknya Wanti Sarati berada tiga tingkat di bawah lawannya, hingga lama-kelamaan tubuhnya sedikit demi sedikit mulai terseret. Si gadis tidak merasa putus asa, dua kali dia babatkan senjatanya ke bagian lengan lawan. Tetapi bacokan yang keras tidak menimbulkan akibat apa-apa. Diam-diam Wanti Sarati yang sudah terseret mendekati jurang melepaskan selendangnya.

"Btaaak...!"

Tubuh Iblis Pemburu Perawan terbanting jatuh terbawa kekuatannya sendiri. Tubuhnya nyaris terjerumus ke dalam jurang yang tiada terukur kedalamannya. Laksana kilat dia bangkit kembali dan lepaskan satu pukulan dahsyat. Sinar biru langsung melabrak tubuh Wanti Sarati, gadis itu sedapatnya berusaha menghindari datangnya pukulan itu. Namun tetap saja tubuhnya terserempet pukulan yang mengandung hawa dingin yang begitu menggigit.

"Brees...!" "Gusraaak!"

Wanti Sarati terbanting keras, lawannya tertawa mengekeh. Kemudian kembali memburu dengan maksud menyudahi pertempuran. Dalam keadaan seperti itu Duwur dengan gerakan yang tiada terduga melakukan tendangan telak ke arah bagian perut bekas adik seperguruannya.

"Buuk...!"

Dihantam tendangan yang bertenaga raksasa, tak urung tubuh si manusia iblis terbanting roboh. Tetapi tendangan itu nampaknya tidak berakibat apa-apa. Dengan cepat dia kembali berdiri, tanpa menghiraukan Duwur, dia kembali memburu Wanti Sarati yang sudah mengalami luka dalam cukup parah. Saat itu Wanti Sarati benar-benar dalam keadaan terancam, tiada terduga-duga dalam detik-detik yang menegangkan itu, serangkum gelombang berwarna merah menyala melabrak tubuh Cindek. Sekali lagi manusia sesat itu terjengkang ke tanah. Dada terasa berdenyut sakit. Dengan langkah sempoyongan dia bangkit berdiri, di hadapannya kini telah berdiri seorang pemuda berpakaian kumuh berwarna merah dengan sebuah periuk besar menggelantung di bagian pinggangnya.

"Paman Kelana...!" seru Wanti Sarati. Pendekar Hina Kelana menghampiri si gadis dengan sikap penuh waspada.

"Bangunlah Wanti...! Manusia Iblis ini bukan tandinganmu...!" kata si pemuda, kemudian tangannya merapat ke bagian punggung si gadis. Diam-diam dia menyalurkan tenaga saktinya untuk mengobati luka dalam yang diderita oleh kekasihnya.

Melihat adegan yang begitu mesra, Iblis Pemburu Perawan merasa panas hatinya. Meskipun dia menyadari bahwa lawan yang telah melakukan pertolongan atas diri lawannya itu memiliki kesaktian yang tinggi. Namun tanpa merasa sungkan diapun segera membentak: "Kunyuk berperiuk! Berani sekali kau mencampuri urusanku...!"

"Telah begitu banyak nyawa yang kau hutang, tidak terhitung pula perempuan kau rusak kehormatannya. Kedatanganku kemari adalah dengan tujuan untuk mengambil jiwamu. Apalagi kau telah berani melukai kekasihku...!" desis Huang Sengketa dengan wajah kelam membesi.

"Jahanam terkutuk, kiranya kalian merupakan sepasang kekasih. Kalau begitu kalian berdua harus segera mampus di tanganku...!" teriak si manusia iblis.

"Mampuslah...!" desis Pendekar Hina Kelana. Dengan gerakan yang sangat cepat pemuda inipun kembali hantamkan pukulan Si Hina Kelana, nampaknya lawannya pun tak mau kalah. Diapun lepaskan pukulan Iblis Pembasmi Dewa. Kejab kemudian terjadi dua ledakan yang terasa menggetarkan seluruh tebing dan hutan yang terdapat di sekitar tempat itu manakala dua pukulan sakti saling bertubrukan di udara. Masing-masing lawan sama-sama terbanting roboh dengan luka dalam yang cukup lumayan. Darah nampak berlelehan dari kedua belah pihak yang sedang terlibat pertarungan. Namun mereka sama-sama mengerang marah, sekali lagi mereka sama-sama melepaskan pukulan andalan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Sinar merah menyala dengan sinar biru seolah saling berkejaran. Benturan keras kembali terjadi. Membuat Buang Sengketa maupun Iblis Pemburu Perawan sama-sama terlempar dua tombak. Di pihak Buang Sengketa nampaknya mengalami luka dalam yang lebih serius kali ini bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh lawannya. Darah kental semakin banyak menetes dari celah-celah hidung dan bibirnya.

Saat itu sambil menyeringai menahan sakit, Iblis Pemburu Perawan telah kembali menerjang si pemuda yang masih dalam posisi terduduk.

"Awaaas... pamaaan...!" teriak Wanti Sarati sambil memburu ke arah Buang Sengketa. Saat itu pukulan yang seharusnya menghantam tubuh si pemuda malah menyambar tubuh si gadis yang berusaha melindungi Pendekar Hina Kelana.

"Brees...!"

Tiada tercegah lagi, tubuh Wanti Sarati yang terhantam pukulan si manusia iblis, terperosok ke dalam jurang yang tiada terukur dalamnya. Lolongan panjang menyertai meluncurnya tubuh gadis cantik ke bawah sana.

"Wanti...! Kau telah terlempar ke dalam jurang? Oh, Wantiiiiiii...!" jerit si pemuda, begitu histeris suaranya. Si Duwur terpana, namun si manusia iblis tanpa mau perduli lagi kembali kirimkan satu pukulan telak.

"Wuuus...!" "Bruaakkk!"

Tubuh Buang Sengketa terpental mendekati bibir jurang, pada saat-saat yang kritis itu Duwur cepat-cepat mengangkat tubuh Buang Sengketa menjauhi bibir jurang.

"Kakang Duwur, lepaskan kunyuk gembel yang kau gendong itu, jika tidak kau benar-benar akan tewas bersamanya." teriak si manusia iblis.

"Wuut...!"

Secara tiada terduga Pendekar Hina Kelana yang sudah terluka dalam dan mengalami pukulan batin ini melompat dari gendongan si Duwur.

Dengan langkah-langkah terhuyung-huyung pemuda yang telah dirasuki kemarahan ini mengeram marah. Pelan namun cukup pasti tangannya mencabut senjata andalannya yang berupa Pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto. Begitu senjata yang memancarkan sinar merah menyala itu tercabut dari sarungnya. Mendadak udara di sekitar tempat itu menjadi dingin luar biasa. Sementara bibir si pemuda memperdengarkan bunyi mendesis bagai ular piton yang sedang dilanda kemarahan.

"Kau... telah menggoreskan sebuah luka teramat dalam di hatiku. Kau telah menghancurkan satu-satunya orang yang paling kuharapkan di dunia ini. Hatiku tak kan pernah puas sebelum mencincang lumat tubuhmu...!" dingin suara Pendekar Hina Kelana sedingin tatapan matanya yang memandang tajam pada lawan.

"Kau jangan membual kunyuk gembel. Kau telah terluka dalam, sebentar lagi engkau pun bakal menyusul kekasihmu ke dasar jurang sana...!" kata si manusia iblis.

"Huaaaat...!"

"Nguuung...!"

Senjata di tangan Buang Sengketa menderu, sementara cambuk di tangannya terus melecut. Suasana di sekitarnya mendadak berubah gelap gulita. Iblis Pemburu Perawan jadi terke-sima, begitu juga halnya dengan si Duwur. Tetapi tiada waktu bagi si iblis untuk berpikir panjang. Tubuhnya menghindar, sekali dua dia lancarkan pukulan mautnya. Tak jarang pukulan itu menghantam tubuh lawannya. Tetapi dengan adanya senjata di tangan si pemuda pukulan itu tidak memiliki arti sama sekali.

Gleger...!

Bunyi petir sambung menyambung tiada henti saat mana senjata di tangan si pemuda melecut ke udara.

"Kau harus mampus di tanganku, manusia iblis...!"

"Caaat...!"

"Craas…! Craaas...!"

Tubuh Iblis Pemburu Perawan berputarputar, saat senjata di tangan Buang Sengketa menghantam tubuhnya. Darah menyembur dari dua buah lubang luka yang sangat dalam. Tetapi Buang Sengketa tidak berhenti sampai di situ saja. Dia kembali hantamkan senjatanya ke seluruh bagian tubuh lawannya yang sudah tiada bernyawa. Hingga tubuh manusia iblis itu sudah tiada berbentuk lagi. Suasana kemudian adalah hening sepi. Secara perlahan kabut yang menyelimuti daerah pertempuran sirna sama sekali. Di sebuah tempat mayat Iblis Pemburu Perawan terbujur dalam keadaan tiada berbentuk.

"Pendekar Golok Buntung! Hari ini aku mengaku kalah. Tetapi satu saat kelak aku akan menitis pada keturunanku, dan kau merasakan betapa pedihnya pembalasan yang kulakukan...!" kata sebuah suara lamat-lamat.

"Keparat! Manusia Iblis itu kiranya hanya jasadnya saja yang mampus. Tapi aku tak perduli." batin si pemuda, kemudian kembali dia memandang ke arah jurang. Hatinya tiba-tiba menjadi sedih. Wajahnya menunduk lesu.

"Dua kali kau menyelamatkan jiwaku. Sebelum aku sempat membalas kebaikan dan cinta yang kau berikan. Kini kau pergi dengan cara yang menggenaskan. Belum pernah kebahagiaan singgah dalam hidupmu... kiranya manusia iblis itu telah menghancurkan segala impian mu...!" rintih si pemuda. Tiba-tiba kelopak matanya menghangat. Namun manakala sebuah suara yang sangat dikenalnya menegur, maka Pendekar Hina Kelana cepat-cepat menoleh.

"Pendekar Golok Buntung! Monyet-monyet jejadian telah kembali ke asalnya. Tetapi maaf aku tak bisa membawa serta menemuimu, karena... karena sebagian di antara mereka tak memiliki pakaian yang memadai. Aku terpaksa pulang dulu untuk mengambil pakaian buat mereka...!"

"Pergilah paman! Ajak saudara Duwur menemani mu, aku tetap akan berada di sini. Hingga aku benar-benar mendapatkan sebuah kedamaian." kata si pemuda dengan hati pedih.

T a m a t