Serial Pendekar Hina Kelana Eps 26 : Iblis Pulau Hantu

 
Eps 26 : Iblis Pulau Hantu


Dengan ilmu mengentengi tubuh yang sangat sempurna, mereka mulai mengepung rumah besar itu dari segala penjuru. Di dalam terlihat terang benderang, tanda bahwa semua penghuninya belum tidur semua. Seseorang dari pengintai itu, yang bertubuh agak besar, mendekati seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun. Tubuhnya sedang dan wajahnya selalu berkerut.

"Ketua, apakah akan kita masuki saat ini juga?" tanyanya menunggu perintah. Orang itu diam sejenak dan kembali memperhatikan rumah itu. Beberapa saat kemudian dia mengangguk pasti. Orang bertubuh besar itu cepat bergerak memberi komando pada beberapa orang kawannya. Tak berapa lama terlihat beberapa orang yang memakai baju hitam dengan lambing tengkorak di punggungnya, meloncat dari cabang-cabang pohon serta dari balik semak-semak. Dengan mengendap-endap mereka melompati pagar. Lima penjaga tersentak kaget. Seseorang membentak sambil membawa obor menerangi tempat yang dicurigainya.

"Siapa itu?!"

Tak ada sahutan. Dia coba menegaskan sambil mendekati tepi pagar. Keempat kawannya memperhatikan dari gardu mereka dengan seksama.

"Aaaaaakh...!" Orang yang membawa obor itu tiba-tiba keluarkan jerit kematian. Tubuhnya limbung, dan kemudian ambruk dengan leher hampir putus. Melihat itu, tentu saja keempat kawannya cepat bergerak dan menghunus golok masing-masing dan bersiaga menghadapi kemungkinan. Salah seorang diantara mereka yang bertubuh besar dan bercambang bawuk, keluarkan suara mengancam.

"Anjing-anjing geladak! Perlihatkan cecongor kalian ke sini biar bisa kuhadiahkan kepalamu untuk Kanjeng Raden Nugraha Wisesa, karena kalian begitu lancang memasuki rumah kediamannya!"

"Hi… hi… hi… hi...!" Terdengar ketawa mengikik tanpa ujud, dari kegelapan cabang pohon yang tak jauh dari rumah ini. "Berani betul kau mengatai kami sebagai anjing. Julukan itu lebih tepat buatmu. Bukankah kalian yang menjaga di sini gunanya seperti anjing-anjing kelaparan yang bisanya cuma menangkap seekor maling kelas teri?! He., he., he...! Lebih baik kalian gorok leher sendiri sebelum aku yang akan menggoroknya!"

"Buangsaaaat...! Apa kamu pikir si Alap-Alap Golok Terbang keder menghadapimu!" bentak orang yang bercambang bawuk itu. "Keluarlah kau dan tunjukkan cecongormu!"

"Ha... ha... ha... ha....! Jadi engkau orang yang punya nama Alap-Alap Golok Terbang?"

"Kalau sudah tahu, kenapa tak cepatcepat kabur?!"

"Ha... ha... ha... ha....!" Suara itu perdengarkan suara halus yang lebih panjang. Selesai ketawanya, tiba melesat beberapa bayangan yang langsung menyerang keempat penjaga itu. Masih untung keempat orang itu telah siap, jadi mereka bisa langsung berkelit atau menangkis. Seorang diantara mereka malah langsung balas menyerang.

"Ingin kulihat kemampuan si Alap-alap Golok Terbang menghadapi murid-murid Perguruan Tengkorak Hitam tingkat ketiga!" lanjut suara itu lagi dengan suara yang memandang rendah pada orang bercambang bawuk itu. Direndahkan begitu, bukan main marahnya si Alap-Alap Golok Terbang yang bernama Gondo Suramangun. Dengan cepat dicabutnya senjata yang berupa golok se-panjang dua depa. Bagian atasnya nampak melebar dan tajam mengkilat. Sepasang matanya liar dan menatap bengis pada dua orang lawan yang mengurungnya. Dengan teriakan keras, dia mulai mainkan jurus Membelah Kayu Mencongkel Akar, yang merupakan jurus terdahsyat yang dimilikinya. Agaknya orang ini ingin membuktikan bahwa dirinya tak bisa dipandang enteng begitu saja, dengan niat menjatuhkan dua orang penyerang yang mengaku sebagai murid-murid Perguruan Tengkorak Hitam.

"Ciaaaat!" "Trang! Trang!" "Wuaaaaa. !" Dengan sebat, golok di tangan Gondo Suramangun memapaki ayunan pedang lawan. Terlihat bunga api di malam yang kelam ini.

Namun alangkah kagetnya orang bercambang bawuk ini saat dia baru saja jejakkan kaki, terdengar jerit kematian. Ketika melihat, ternyata dua orang kawannya tewas dengan leher hampir putus. Seorang lagi nampak sedang terdesak hebat menghadapi tiga orang pengeroyoknya. Dengan geram dan gigi bergemeletuk, dia babatkan golok pada lawan. Tapi dua orang pengeroyoknya itu bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar ilmu silat. Meski mereka hanya murid-murid tingkat tiga, tapi siapa yang tak kenal dengan Perguruan Tengkorak Hitam? Selain ganas dan kejam, mereka juga terkenal dengan ilmu pedangnya yang lihai dan jarang ketemu bandingnya. Sudah barang tentu hal ini sangat menyulitkan Gondo Suramangun. Meski telah kerahkan segenap kemampuan untuk cepatcepat membereskan lawan, tapi akhirnya malah dia sendiri yang pelan-pelan terdesak hebat.

"Kurang ajar!" makinya saat ujung pedang salah seorang lawan nyaris memotes lehernya. Masih untung dia cepat memapaki. Tapi tangannya kesemutan saat senjata mereka beradu. Dari situ saja sebenarnya dia telah mengetahui bahwa tenaga dalam lawan setingkat lebih tinggi. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan kedua orang ini? Diamdiam orang bertubuh besar itu mengeluh di hati. Serangan lawan dirasa semakin berat. Satu serangan yang menusuk ke jantung berhasil dielakkannya. Namun yang seorang lagi dengan cepat membabat pinggang.

"Trang!"

"Cras! Cras!" "Wuaaaa...!!"

Gondo Suramangun coba memapaki, namun alangkah kagetnya orang itu saat lawan yang seorang lagi sabetkan pedang ke leher. Dengan mati-matian dia berusaha mengelak. Namun tak urung, ujung pedang lawan berhasil merobek lehernya sedalam tiga senti. Kontan saja orang bercambang bawuk itu menjerit kesakitan sambil pegangi lehernya. Belum lagi sempat menguasai diri, lawan telah kembali ayunkan pedang, dan... cras! Dalam sekali tebas, kedua pergelangan tangan dan batang lehernya putus seketika. Orang itu tak sempat lagi keluarkan suara. Tubuhnya limbung sesaat, kemudian ambruk tanpa bergerak lagi. Tanpa membuang waktu, orang-orang dari Perguruan Tengkorak Hitam itu menyerbu ke dalam setelah bersamaan dengan itu salah seorang kawannya si Alap-Alap Golok Terbang yang tinggal seorang, dibuat mampus dengan leher putus.

"Berhenti...!" teriak seseorang yang berdiri di ambang pintu depan yang terkuak pelan-pelan. Nampak seraut wajah berwibawa dengan pakaian bagus layaknya seorang bangsawan di jaman ini. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Sorot matanya tajam menatap pada beberapa orang yang membawa-bawa pedang di hadapannya pada jarak dua tembok. Orang-orang itu tertegun untuk beberapa saat. Bangsawan yang tak lain dari tuan rumah yang bernama Nugraha Wisesa, lanjutkan ucapannya.

"Hemm, ternyata kalian orang-orang Tengkorak Hitam. Ada keperluan apa malammalam begini menyambangi kediamanku dan membuat onar?"

Salah seorang diantara mereka maju dua langkah sambil hunuskan pedang. "Engkaukah yang bernama Nugraha Wisesa?!" tanyanya sinis.

"Betul!"

"Bagus! Serahkan Sepasang Pedang Setan itu pada kami!"

"Pedang Setan?" Laki-laki berpakaian mewah itu kernyitkan dahi begitu mendengar permintaan mereka. "Maaf, kisanak. Mungkin kalian salah alamat. Aku sama sekali tak tahu menahu tentang pedang yang kau sebut itu."

"Jangan berpura-pura! Kau tahu betul tentang benda itu. Kakekmu, Tumenggung Gandasena pernah menyimpan sepasang senjata itu. Masakan kau sebagai keturunannya tak tahu menahu... Mustahil!"

"Kisanak, aku berkata yang sesungguhnya. Aku sama sekali tak tahu menahu tentang senjata yang kau sebutkan tadi," sahut Raden Nugraha Wisesa masih menahan sabar.

"Ha... ha... ha... ha...! Apa yang kau ka-

takan tak salah!" sahut satu suara diiringi tawa yang menyeramkan. Saat itu juga melayang seorang bertubuh sedang dari atas sebuah cabang pohon. Dia berdiri persis di hadapan pemilik rumah itu pada jarak satu tombak. Wajahnya menyeramkan dengan sorot mata tajam. Meskipun sudah tertawa, tak terlihat sedikitpun keramahan di wajahnya itu.

"Mungkin kau tak tahu menahu tentang sepasang senjata itu," lanjut orang itu, "Tapi di sinilah letak muslihat yang dijalankan kakekmu itu. Dia sengaja memilih engkau yang menyembunyikan Pedang Setan agar orang-orang persilatan tak mencurigainya. Siapa yang tak mengenal Raden Nugraha Wisesa sebagai orang yang lemah lembut dan selalu menggeluti kesusteraan? Berbeda betul dengan kakek atau ayahmu si Arya Sena itu. Mereka adalah orang-orang kerajaan yang kasar dan perkasa. Setelah mereka tewas dalam peperangan, siapa lagi yang akan mewarisi pedang itu kalau bukan engkau!"

"Kisanak, siapakah engkau ini? Kenapa engkau begitu mengenal kakek dan ayahku?" tanya Raden Nugraha Wisesa heran. Orang itu tergelak sambil bertolak pinggang.

"Masakan engkau tak mengenal pamanmu sendiri? Bisa jadi si Arya Sena malu menceritakannya. Tapi baiklah akan kuterangkan siapa aku sebenarnya! Namaku Suryudana? Dan ibuku adalah selir kakekmu yang paling muda. Jadi antara aku dan ayahmu ada pertalian saudara meski cuma saudara tiri. Dengan begitu engkau masih terhitung keponakanku."

"Ah, maafkanlah atas kelancanganku, paman," sahut Raden Nugraha Wisesa sambil menjura hormat. "Memang benar. Ayah tak pernah menceritakan tentang paman sedikitpun."

"Sudahlah. Aku tahu betul tentang watak ayahmu. Dia sangat membenciku. Tapi aku tak bisa berlama-lama, Nugraha. Kau sudah tahu apa yang kuinginkan, bukan?"

"Apakah tentang Pedang Setan itu, paman?" "Betul!"

"Ah, sayang sekali. Aku sungguhsungguh tak mengetahuinya sedikitpun. Mengapa tak percaya juga?" sahut. Raden Nugraha Wisesa dengan suara lunak. Tapi Duryudana agaknya brangasan dan mulai hilang kesabarannya. Dengan suara yang agak keras, dia kembali berkata.

"Nugraha, jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu padaku. Katakan di mana pedang itu berada dan aku akan segera pergi dan tak akan mengganggu di sini lagi!"

Mendengar ucapan orang itu, tentu saja Nugraha Wisesa jadi merasa kurang senang. Kalaupun tadi dia mengakui begitu saja orang ini sebagai paman tanpa selidik lebih dulu, itu karena dia tak mau membuat masalah yang lebih panjang. Dengan diakuinya orang ini sebagai paman, siapa tahu dia mau urungkan niat jahatnya. Namun diperlakukan begitu, tentu saja dia tak bisa terima. Masih dengan suara lunak, namun mengandung ketegasan, dia menjawab.

"Paman, sekali lagi kutekankan pula padamu, bahwa aku sama sekali tak tahu menahu tentang pedang yang kau cari itu! Maaf, aku tak bisa membantumu. Kalau kau datang untuk bersilaturahmi, tentu aku akan senang sekali. Tapi kalau kau datang untuk mencari keributan, aku tak punya waktu meladeninya. Lagipula hari telah terlalu malam," sahut Raden Nugraha.

Tentu saja diperlakukan begitu amarah Duryudana semakin memuncak. Lebih-lebih saat dilihatnya tuan rumah bersiap-siap putar tubuh dan akan menutup pintu. Dengan berang dan sekali tendang, daun pintu rumah itu hancur ditendangnya. Dengus nafasnya semakin kencang. Rahangnya bergemeletukan menahan geram. Sepasang matanya menatap tajam pada tuan rumah yang tersentak kaget karena perbuatannya. Beberapa orang anak buahnya telah siap dengan pedang terhunus sambil mendekat pelan.

"Aku masih berlaku sabar padamu, Nugraha. Katakan di mana pedang itu berada, nyawa keluargamu pasti kuampuni. Tapi kalau kau membandel dan pura-pura tak tahu, kau tahu sendiri akibatnya!" kata Suryudana sambil menjambak rambut Raden Nugraha dan menyorongkannya ke salah satu pilar. Dengan keras dihantamkannya batok kepala itu hingga laki-laki bangsawan itu menjerit kesakitan manakala darah mulai mengucur dari batok kepalanya.

Pada saat itu, sekonyong-konyong keluar seorang perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun dari salah sebuah kamar. Wajahnya cantik jelita, rambutnya ikal mayang. Dalam pangkuannya terdapat seorang bayi berusia sekitar enam bulan. Wajahnya terlihat pias dan jeritnya tak terbendung manakala dilihatnya Raden Nugraha menjeritjerit kesakitan.

"Kangmas !!"

Raden Nugraha menatap lesu saat perempuan itu berlari mendekatinya. Tapi dia berusaha memperingati dengan sekuat tenaga yang dimilikinya.

"Ratiiiih, cepat selamatkan dirimu! Jangan dekat-dekat ke sini! Ayo, selamatkan dirimu! Jangan hiraukan aku!!"

Belum lagi sempat perempuan itu berpikir lebih lanjut, salah seorang murid Tengkorak Hitam telah melesat dan menyambar tubuhnya sambil terkekeh pelan. Suryudana hanya mendengus sambil memberi isyarat pada anak buahnya itu.

"Jaga dia baik-baik dan yang lain, geledah seluruh isi rumah ini!"

"Baik, ketua!" sahut mereka. Suryudana kembali mendengus sinis pada Raden Nugraha. "Nah, kau lihat bukan? Aku bisa berbuat apa saja kalau kau tak menurut. Kau masih punya istri yang cantik dan seorang bayi. Kalau kau sayang jiwamu dan jiwa keluargamu, katakan di mana pedang itu berada. Kalau tidak, kau akan melihat mereka mati satu persatu di hadapanmu!"

"Cuih! Bedebah! Meskipun aku tahu di mana benda itu berada, tak nanti kau akan kuberitahu!" meludah Raden Nugraha dan tepat mengenai Suryudana. Bukan main kalapnya orang itu. Lutut kanannya segera terayun ke perut Raden Nugraha dengan keras. Lakilaki bangsawan itu menjerit setinggi langit. Dari mulutnya muncrat darah segar.

Perempuan yang tak lain dari istrinya itu kembali menjerit ketakutan dengan wajah panik. Namun seorang murid Tengkorak Hitam yang memegangnya, memperkuat cekalan ketika perempuan itu berusaha berontak.

"Jahanam keparat! Lepaskan istriku!" maki Raden Nugraha. Suryudana tersenyum sinis sambil melirik perempuan itu.

"Istrimu cantik juga, Nugraha..." katanya tersenyum sinis sambil mendekat dan melepas jenggutannya di rambut laki-laki itu. "Alangkah manisnya kalau dia ikut denganku..."

"Keparat! Hentikan niat busukmu itu!" maki Raden Nugraha sambil menerjang ketua Perguruan Tengkorak Hitam dengan kalap. Tapi apalah dayanya. Laki-laki itu sama sekali tak mengerti ilmu silat. Sekali Suryudana mendengar desir angin serangan, dia berkelit dengan mudah. Kaki kanannya menggaet kaki lawan. Tak ampun lagi, Raden Nugraha tersungkur dengan dagu menghantam lantai rumahnya yang terbuat dari marmer keras. Darah mengucur deras dari dagunya yang robek. Dia berusaha bangkit, namun kaki kanan Suryudana lebih cepat lagi menginjak punggungnya.

"Yang aku inginkan hanya sepasang pedang itu, Nugraha. Tapi karena kau menutup-nutupinya, terpaksa aku menginginkan segalanya. Termasuk istrimu yang cantik ini!" kata Suryudana dengan senyum sinis. Sekali dia memberi isyarat, anak buahnya itu mendorong tubuh perempuan itu setelah terlebih dulu merenggut bayi dalam momongannya. Karuan saja, bocah yang belum lagi berusia setahun itu menjerit keras. Istri Raden Nugraha berusaha menyambarnya. Tapi Suryudana lebih cepat lagi bergerak memeluk perempuan itu dan mencumbuinya di depan mata Raden Nugraha. Laki-laki itu memaki garang. Teriakan-teriakan bayi serta istrinya yang ketakutan, seolah memberi semangat untuknya. Dengan menggeram buas, dia berusaha bangkit.

"Bukk!" "Aaaaakh...!"

Seorang anak buah Tengkorak Hitam langsung menghajar dadanya dengan ujung kaki. Laki-laki itu terjerembab sejauh satu tombak. Ubun-ubun kepalanya membentur tembok. Untuk sesaat Raden Nugraha tak bisa berbuat apa-apa. Kepalanya terasa berat dan darah menetes dari luka akibat benturan yang dilakukan Suryudana tadi sebelumnya. Samar-samar dia melihat istrinya diseret dengan paksa ke kamar yang pintunya sengaja dibuka hingga mampu dilihatnya. Darah lakilaki itu semakin mendidih menahan amarah. Dia berusaha bangkit saat pandangannya melihat istrinya sedang digeluti oleh ketua Perguruan Tengkorak Hitam itu. Namun baru saja dia mendongakkan kepala, satu tendangan kembali menghajar wajahnya. Laki-laki bangsawan itu menjerit keras menahan sakit. Tapi lebih sakit lagi hatinya mendengar istrinya berteriak-teriak ketakutan tanpa daya.

Tapi bagai tak merasakan sakit yang dideritanya, Raden Nugraha terus mencoba melawan. Akibatnya sungguh sangat parah. Beberapa orang anggota Tengkorak Hitam yang telah melaporkan bahwa mereka tak menemukan apa-apa di rumah ini, bertindak beringas kepadanya akibat kemarahan Suryudana yang merasa niatnya mencari sepasang Pedang Setan itu tak ketemu. Ketua Tengkorak Hitam itu memaki-maki habishabisan pada anak buahnya.

"Pergi cari lagi dan biarkan laki-laki itu merangkak-rangkak ke sini untuk menolong istrinya!"

"Baik, ketua!" sahut mereka serentak. Anak buahnya segera mengerti maksud ketua mereka. Dengan sadis mereka membuat Raden Nugraha tak berdaya. Kedua kakinya dibuntungi, punggung ditendang berkali-kali hingga beberapa tulangnya hancur. Wajahnya dipermak habis-habisan. Setelah puas dan merasa bahwa laki-laki bangsawan itu tak mempunyai daya lagi, mereka meninggalkannya begitu saja. Raden Nugraha berusaha bangkit sambil merangkak-rangkak mendekati Suryudana yang masih saja menggeluti istrinya yang telah dibuatnya tak berdaya setelah ditotok urat geraknya.

"Sekarang kau bisa merasakan akibat kebandelanmu sendiri, Nugraha. Mestinya aku tak memperlakukan kau begini rupa asal kau sudi menunjukkan padaku, di mana Pedang Setan itu berada. Tapi tak apalah. Hitung-hitung dendamku terhadap keluarga kalian akan terbalas hari ini. Betapa ayahmu sangat menghina padaku karena ibuku hanya seorang selir dari kakekmu. Ayahmu memandang dan memperlakukanku bagai seekor anjing. Kau dapat rasakan hal itu. Saat itu aku tak berdaya, persis keadaanmu sekarang ini. Kurasa kaupun tahu hal itu sebab usia kita tak jauh berbeda. Nah, sekarang rasakanlah bagaimana aku merasakannya tempo hari!" kata Suryudana sambil tergelak-gelak dan mencumbu perempuan itu dengan seringai buas. Perempuan itu berteriak-teriak ketakutan sambil memaki-maki. Tapi mana mau Suryudana melepaskan begitu saja. Apalagi saat nafsu iblisnya mulai memuncak tatkala pakaian perempuan itu mulai tak karuan diacak-acaknya. Tersingkaplah daerah-daerah terlarang di bagian dadanya yang halus dan montok. Darah Suryudana seolah mengalir kencang dan tak beraturan. Dengan menggeram hebat, dia melucuti seluruh pakaian perempuan itu tanpa sisa. Setelah itu, dia sendiri membuka pakaiannya dengan terburuburu.

Raden Nugraha tak kuat melihat pemandangan yang berada di depan matanya itu. Dia berusaha bangkit, tapi untuk bergerak pun terasa sakit luar biasa. Kepalanya tertunduk lesu manakala telinganya mendengar teriakan-teriakan istrinya yang akhirnya mulai hilang dan berganti dengan dengus nafas Suryudana yang memburu bagai orang berlari. Pandangannya pun mulai mengabur. Ingatannya melayang entah ke mana. Suarasuara itu semakin samar di telinga, dan tibatiba terasa rumahnya panas bagai dikelilingi api yang berkobar-kobar dengan hebat.

Apa yang dirasakan oleh laki-laki itu ternyata tak salah. Setelah puas melampiaskan nafsu iblisnya, rupanya dendam kesumat Suryudana belum tuntas. Setelah pedang yang dicarinya tak diperoleh, dia memerintahkan anak buahnya untuk membakar seluruh gedung ini berikut penghuninya. Termasuk di dalamnya bayi yang belum berusia setahun itu. Raden Nughraha tak mampu berbuat apa-apa. Selain tubuhnya yang terluka parah, diapun pingsan saat itu. Apalagi istrinya yang menderita tekanan batin akibat perbuatan Suryudana. Saat itu juga tak sadarkan diri. Tinggallah bayi itu yang terus menjerit ketakutan melihat kobaran api dan kepanasan yang amat sangat.

Suryudana tergelak puas dan tinggalkan tempat itu seketika sambil berkelebat cepat. Tanpa sepengetahuannya, seseorang berkelebat ke dalam rumah yang sedang diamuk api tadi dan menyambar tubuh bayi yang tergeletak di ranjang dan membawanya kabur entah ke mana. Tepat saat itu, terdengar derak kayu dan genteng-genteng rumah yang jatuh. Rumah itu roboh beberapa saat kemudian dan mengubur dua orang penghuninya saat itu juga.

2

Sesosok tubuh itu terus berlari dan berlari dengan lincahnya sambil mengerahkan ilmu mengentengi tubuh yang telah mencapai tingkat sempurna. Kedua tangannya tampak memomong seorang bocah yang berusia kurang dari setahun. Kalau melihat raut wajahnya di kegelapan itu, agak kurang jelas. Yang pasti dia memiliki tubuh ramping agak tinggi dan berambut panjang dengan pengikat kepala.

Tubuh itu terus berlari hingga mendekati kaki Gunung Sumbing. Dia berhenti sejenak sambil mengatur nafas. Wajahnya mendongak ke atas pada tebing-tebing terjal. Lalu dengan sekali genjotkan tubuh, dia telah melesat seringan kapas dan berloncat-loncatan melalui batu-batu yang menonjol di tebingtebing itu. Kira-kira sepeminuman teh sampailah sesosok tubuh itu pada sebuah dataran yang agak luas. Bertepatan dengan fajar yang mulai tiba. Dia berlari-lari kecil mendekati sebuah pondok yang tak jauh dari situ sambil berteriak-teriak memanggil seseorang dari dalamnya.

"Eyang...! Eyang...! Cepatlah keluar dan lihat apa yang kubawa ini!"

"Ulah apa lagi yang kau buat saat ini? Apakah kau telah memenggal kepala penjahat ternama?" Terdengar sahutan dari dalam pondok tanpa orangnya keluar.

"Ayolah, Eyang...! Apakah kau tak berminat melihatnya?" sahut suara itu manja.

"Ya, ya! Aku mendengar tangis bayi.

Tapi dari mana kau dapatkan anak itu?" "Bukan mendapatkannya, malah aku

menyelamatkannya!" Tubuh itu masuk dengan cepat ke dalam pondok. Di dalamnya tak terlalu luas. Dua buah kamar tidur dan ruangan yang menembus ke dapur. Dindingnya terbuat dari tepas dan beratap daun nira. Di ruang depan terlihat seorang berusia sekitar delapan puluh tahun sedang duduk bersila di atas bale-bale. Kepalanya yang botak ditutupi oleh sorban putih. Janggutnya panjang sedada dan telah memutih. Wajahnya masih kelihatan bersih meski kerut merut telah nyata di sana sini. Wajahnya membiaskan kekerasan, namun ada wibawa yang dipancarkan. Sesosok tubuh itu yang kini mulai nyata ditimpa cahaya obor di ruangan itu ternyata seorang gadis jelita berusia sekitar duapuluh enam tahun. Dia segera memberi hormat setelah meletakkan bayi itu di dekat si orang tua.

"Roro Ningrum, dari mana saja kau sejak subuh dan kembali subuh pula?!" tanya orang tua itu pelan namun mengandung ketegasan dan ancaman

"Ti... tidak dari mana-mana, Eyang," sahut gadis itu kecut. "Aku... aku hanya merasa kesepian di sini terus. Apakah salah sesekali turun gunung untuk berbaur dengan dunia ramai?"

Mendengar jawaban itu, si orang tua terdiam sejenak. Suaranya berubah lunak dengan nada membujuk.

"Roro, sudah berapa kali Eyang katakan. Dunia ramai itu tak cocok untuk mu. Di sana banyak kekejaman yang se-waktu-waktu dapat merenggut jiwamu..."

"Eyang, duapuluh enam tahun aku berada di sini, apakah itu bukan suatu bukti bahwa aku cukup bersabar diri dalam kesepian? Terkadang aku butuh kawan untuk bercerita dan bercanda. Tapi hanya dengan burung dan angin saja aku bisa bicara dan mengadu. Salahkah bila aku bertemu dengan orang-orang ramai, lalu bergaul dan berbuat sesuatu yang bisa membantu mereka? Aku sudah cukup besar untuk menjaga diri. Semua petuah Eyang rasanya tak pernah lupa di benakku. Lalu apa lagi yang Eyang khawatirkan?"

Orang tua itu hela nafas. Untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Apa yang diucapkan gadis itu tak salah. Selama ini dia terlalu khawatir bila gadis itu turun gunung dan berbaur di dunia ramai. Menurutnya dunia ramai itu penuh dengan tipu muslihat dan kecurangan. Dia tak mau cicit satu-satunya itu menjadi korban dari kelicikan orang-orang. Lebih-lebih saat kedua orang tua gadis ini meninggal juga akibat dari kelicikan, semakin membuatnya bertambah was-was.

Karena tak mau lagi menyinggung tentang hal itu, si orang tua mengalihkan pembicaraan pada persoalan bayi itu. Roro Ningrum pun menceritakan persoalan yang diketahuinya. Orang tua itu manggut-manggut.

"Maaf, Eyang. Aku patuh pada nasehat Eyang, tapi kadang-kadang juga ada niat untuk berontak. Maka Eyang angkatlah bayi ini kelak menjadi murid agar aku memiliki kawan hingga aku tak merasa kesepian lagi," kata Roro Ningrum mengajukan alasan.

"Hemm, aku paham maksudmu, Roro. Tapi mengangkat seorang murid, buatku bukanlah persoalan mudah..."

"Kalau Eyang tak mau, biarlah aku pergi saja dari tempat yang membosankan ini!" potong gadis itu cepat sambil merajuk dan palingkan wajah. Orang tua itu tak tahu harus berkata apa lagi. Dia cuma bisa hela nafas pendek.

"Baiklah! Baiklah! Aku akan turuti permintaanmu, tapi dengan satu syarat, bahwa kau harus yakin bahwa bocah ini berasal dari keluarga baik-baik, dan kau bersedia menanggung akibat dari perbuatannya kelak di kemudian hari!?"

"Sanggup!" sahut gadis itu cepat tanpa pikir panjang lagi. "Bukankah aku telah katakan pada Eyang bahwa bayi ini anak seorang bangsawan?"

"Orang bangsawan tak sama dengan orang baik-baik! Siapa nama bangsawan itu?" "Mana kutahu!" sahut Roro sambil

angkat bahu.

"Kalau kau katakan bahwa orang tua anak ini dibantai oleh mereka yang menjuluki diri sebagai orang-orang Tengkorak Hitam. Kenapa kau tak menolong kedua orang tuanya?"

"Mana aku tahu. Pada saat itu kawanan itu telah pergi jauh dan lagi pula Eyang berpesan bahwa aku tak boleh banyak ikut campur dalam urusan orang-orang persilatan. Aku turuti nasehat Eyang itu. Tapi menyelamatkan bayi ini, tentu tak melanggar pesan Eyang, bukan?"

"Kau memang pandai sekali bicara!" sahut orang tua itu sambil gelengkan kepala. Gadis itu ketawa renyah.

"Jadi bagaimana, Eyang? Apakah Eyang mengijinkan bayi ini tinggal di sini dan kelak Eyang angkat menjadi murid pula?!" "Kalau kau telah berjanji begitu, buat apa pula aku ragu?"

"Oh, terima kasih, Eyang!" jawab gadis itu girang bukan main. "Kini aku punya teman dan tak kesepian lagi. Biarlah kurawat dia bagai anakku sendiri," lanjutnya sambil mencarikan baju-baju yang tak pantas untuk bayi itu.

Siapakah sebenarnya orang tua yang menghuni puncak Gunung Sumbing ini sebenarnya? Puluhan tahun yang lalu rimba persilatan pernah digemparkan oleh kemunculan seorang pemuda perkasa yang ilmu silatnya tinggi luar biasa. Tak seorang pun yang mampu mengalahkannya. Banyak sekali tokohtokoh sesat yang dibantainya dengan sepasang senjatanya yang berupa dua bilah pedang. Meski dia sendiri termasuk orang persilatan kaum lurus, namun tindakannya kejam sekali dalam membantai musuh-musuhnya. Semua itu tak lain karena pengaruh senjata mustikanya itu. Lama kelamaan pemuda itu akhirnya mulai menyadari kekeliruannya dan melepaskan senjata itu dengan menitipkannya pada seorang kawannya yang bisa dipercaya. Dia sendiri akhirnya mengasingkan diri di puncak Gunung Sumbing ini dan perlahanlahan namanya mulai dilupakan orang yang menyangkanya telah tiada. Orang itu mempunyai gelar Malaikat Pedang Bertangan Seribu! 3

Waktu berjalan tanpa terasa dari hari berganti hari dan bulan berganti tahun. Kehidupan terus berlangsung sebagaimana mestinya. Roda jaman seakan menggilas dan menggelar berbagai peristiwa. Tak terasa, tujuh belas tahun telah berlalu sejak peristiwa itu. Di puncak Gunung Sumbing seakan tak lewat dari hukum alam itu. Bayi perempuan yang diselamatkan Roro Ningrum telah berkembang menjadi dewasa. Seorang gadis rupawan yang cantik jelita. Perempuan itu telah menganggapnya sebagai anak sendiri. Kasih sayangnya tercurah bagai seorang ibu pada anak kandungnya.

Pagi ini nampak orang tua yang bergelar Malaikat Pedang Bertangan Seribu gelisah sekali seperti ada yang dipikirkannya. Belakangan ini bukan ulah Roro Ningrum yang masih saja kelayapan di dunia ramai yang dikhawatirkannya, melainkan ada sesuatu yang lebih penting dari cerita yang dibawa cicitnya itu.

Sementara itu sepasang matanya tak berkedip melihat dua orang perempuan yang sedang berlatih ilmu silat tak jauh dari pondok. Kemajuan gadis itu pesat sekali. Roro Ningrum seolah tak jemu melatih dan menunjukkan kesalahannya. Lagipula tutur bahasa gadis itu lemah lembut dan tak terlihat kesan sebagai gadis binal. Hal ini semakin membuat orang tua itu bertambah suka padanya. "Eyang tak memperhatikan kami berla-

tih?" sapa Roro Ningrum yang tiba-tiba telah berada di depan orang tua itu. Perempuan yang kini berusia lebih empat puluh tahun itu duduk di sebelahnya dan memperhatikan dengan seksama. Meski usianya telah mendekati setengah abad, namun tak terlihat kesankesan tua di wajahnya. Bahkan sepintas orang akan melihatnya seperti gadis usia duapuluh tahun saja layaknya.

"Ada sesuatu yang Eyang pikirkan?" tanya gadis yang bersama cicitnya itu dengan lemah lembut. "Katakanlah, Eyang. Barangkali kami bisa membantu."

Orang tua itu menatapnya sejenak dan tersenyum kecil. "Dewi Ambarwati, tahukah sudah berapa lama kau bersama kami?"

"Kalau tak salah tujuh belas tahun Eyang."

"Betul. Kurasa inilah saatnya aku harus berterus terang padamu..."

"Eyang, apakah itu perlu!" potong Roro Ningrum dengan wajah terkejut. Dia mulai menduga-duga bahwa Eyangnya ini akan membeberkan rahasia gadis itu, sebab selama ini Roro Ningrum selalu mengatakan bahwa dia adalah ibunya dan orang tua itu adalah kakek buyutnya. Kalaupun gadis yang bernama Dewi Ambarwati itu menanyakan tentang ayahnya, Roro Ningrum selalu mengatakan bahwa ayahnya telah tewas sejak dia masih dalam kandungan. Semua itu dilakukannya karena saking sayangnya dia pada gadis itu dan tak ingin dia mendapat beban pikiran jika mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.

"Tentang apakah gerangan, Eyang?" tanya Dewi Ambarwati penasaran melihat orang tua itu yang ragu sesaat.

"Eyang, kurasa hal itu tak perlu. Dewi Ambarwati telah senang dan bahagia hidup bersama kita. Kalau Eyang bermaksud menceritakan hal itu, sama artinya merusak kebahagiaannya," kata Roro Ningrum lebih lanjut.

"Eyang hanya ingin mengatakan sesuatu tentang berita yang kau peroleh tempo hari di luaran sana..."

"Berita apa, Eyang?"

"Tentang Sepasang Pedang Setan!"

"Oh, apakah Eyang tertarik juga untuk merebutnya?!"

"Tidak. Ada hal yang perlu kalian ketahui. Dahulu sekali saat aku masih muda, nama Malaikat Pedang Bertangan Seribu sangat ditakuti orang-orang persilatan di delapan penjuru mata angin. Dia memiliki sepasang pedang pusaka yang sangat ampuh. Kalau tenaga batin kita tidak kuat, maka jiwa akan rusak dibuatnya. Sepasang pedang itu seakan mendorong hati nurani kita untuk berbuat kejam. Waktu itu si Malaikat Pedang Bertangan Seribu belum memiliki batin yang kuat hingga sepak terjangnya begitu meresahkan semua orang. Masih untung karena dia berpijak pada jalan lurus hingga dari sekian banyak tokoh persilatan yang menjadi korban selalu tokoh-tokoh sesat. Tapi bukan berarti bahwa tokoh-tokoh golongan lurus tak ada yang menjadi korban. Semua itu karena dorongan dari sepasang pedang yang dimilikinya yang sangat haus darah. Untunglah akhirnya dia sadar dan melepaskan sepasang pedang itu dengan menitipkannya pada seorang kawan yang bisa dipercaya "

"Lalu apa hubungannya dengan Sepasang Pedang Setang itu, Eyang?!"

"Aku ingin kalian mendapatkannya dan membawanya kemari!"

"Eyang, itu sama artinya Eyang menyuruh kami untuk terjun dalam dunia ramai dan berhadapan dengan tokoh-tokoh persilatan?!"

Orang tua itu mengangguk lesu. "Dulu mungkin orang tak percaya padamu, namun setelah sekian lama kau membuktikan bahwa dirimu sanggup menjaga diri, aku semakin yakin bahwa kau bisa dipercaya. Lagipula dengan ilmu silat yang kau miliki saat ini, tak sembarangan orang mampu menjatuhkanmu."

"Eyang, apakah sepasang pedang itu begitu berarti buat Eyang?"

"Roro, sekaranglah aku berterus terang padamu, dan juga kau Dewi Ambarwati," Sahut orang tua itu pelan setelah menghela nafas pendek. "Kalau aku menyuruh kalian untuk mengambil kembali sepasang pedang itu, bukan berarti aku serakah. Tapi pedang itu adalah milikku!"

"Jadi... jadi Eyangkah yang bergelar Malaikat Pedang Bertangan Seribu?!" sahut Roro Ningrum seolah tak percaya. Orang tua itu mengangguk pelan.

"Kenapa Eyang merahasiakannya pada kami?" tanya Dewi Ambarwati.

"Karena aku tahu kelakuan ibumu. Dia sering pergi ke dunia ramai dan aku tak mau dia mendapat celaka karena orang mengetahui bahwa dia murid si Malaikat Pedang Bertangan Seribu!"

Untuk sesaat ketiganya membisu, namun cepat dipecahkan kembali saat orang tua itu berkata, "Roro, sahabat yang kutitipkan pedang itu bernama Ki Wicaksana. Tapi orang-orang persilatan mengenalnya sebagai Pendekar Hati Suci. Sesuai dengan gelarnya itu, dia memang memiliki hati yang bersih dan selalu berbuat kebenaran dengan jalan sebaik-baiknya. Disamping itu, dia memiliki tenaga batin yang kuat saat itu. Namun akhirnya aku mendengar bahwa dia dibunuh oleh muridnya yang bernama Parinka. Orang itu banyak membuat keonaran dengan sepasang pedang yang dimilikinya, dan orangorang menjulukinya sebagai si Pedang Setan. Mendengar berita itu, aku berniat merampas kembali dari tangannya. Namun belum sampai niat itu kulaksanakan, kembali kudengar berita bahwa si Pedang Setan berhasil dikalahkan dan tewas di tangan prang yang menamakan diri sebagai Raja Pedang Utara. Orang itu adalah seorang pendekar asing dari negri seberang. Entah bagaimana caranya, saat kerajaan Puring Kencana menyerang negri itu, salah seorang tumenggung Kerajaan bernama Gandasena berhasil membawanya pulang. Orang itu berhati lurus dan cepat mengetahui bahwa pedang itu selalu menuntut si pemegang untuk membunuh orang serta menghirup darahnya. Karena batinnya belum kuat, akhirnya dia menitipkan pedang itu pada kawan dekatnya, seorang pembuat senjata-senjata tajam bernama Empu Pupulaka. Namun sayang, orang tua itu akhirnya tewas di tangan anaknya sendiri yang ingin menguasai kedua pedang itu. Sampai saat itu, Sepasang Pedang Setan itu raib entah ke mana. Dan kini nampaknya mulai hangat kembali beritanya. Untuk itulah kalian kutugaskan merebutnya kembali!"

"Baiklah, Eyang. Aku mengerti sekarang kenapa Eyang selalu ingin menyendiri di tempat ini. Pedang Setan itu telah membawa bencana yang amat besar dan Eyang merasa bersalah, bukan?"

"Itulah sebagian yang membuat hatiku merasa tersiksa. Selama pedang itu berada di tangan orang sesat, maka selama itu pula kekacauan akan kembali timbul. Pedang itu selalu berpasangan. Bila salah satu dimiliki, cukup sudah membuat si pemiliknya menjadi kejam dan hatinya penuh dengan niat-niat jahat. Kalau batinnya tak kuat, maka dia akan dikuasai pedang itu. Lalu bayangkan pula bagaimana seandainya sepasang pedang itu berada di tangan orang yang batinnya tak kuat? Tentulah dunia ini akan kacau dibuatnya. Lebih-lebih bila orang itu sakti dan berilmu tinggi."

"Lalu bagaimana kami bisa membawanya jika pedang itu telah kami peroleh? Bukankah nantinya pedang itu akan merasuki batin kita yang belum kuat?" tanya Roro Ningrum.

"Roro, kekuatan batinmu untuk saat ini rasanya cukup. Tapi aku perlu menggodokmu lebih lanjut. Untuk itulah selama seminggu ini kau dan Dewi Ambarwati akan kuberikan pelajaran untuk menguatkan tenaga batin yang kalian miliki," sahut orang tua itu.

"Terima kasih, Eyang. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh pedang itu kembali," sahut Roro Ningrum dan Dewi Ambarwati hampir berbarengan. Setelah menjura hormat, mereka mulai mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan untuk latihan yang dimulai nanti malam. Orang tua itu kembali menghela nafas agak panjang. Di batinnya bergelora keyakinan bahwa kedua cicitnya itu pasti mampu mengemban tugas yang diberikannya. 4

Seorang pemuda berbaju merah terlihat asyik duduk di bawah sebuah pohon besar sambil menyandarkan diri dan menikmati dendeng ikan lumba-lumba dengan lahap, yang selalu disimpannya dalam periuk besar yang dibawanya ke mana saja. Pakaiannya terlihat dekil dan kumal, namun begitu wajahnya sungguh sangat tampan, meski sedikit agak lucu sebab dengan rambut yang dikuncir dan periuk besar yang selalu menyertainya dia nampak aneh. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Buang Sengketa, atau si Pendekar Hina Kelana.

Sambil mengunyah makanannya dengan lahap, sesekali pemuda itu termenung sambil memandang jauh ke depan pada hamparan rumput luas membentang. Pemandangan ini sama sekali tak mirip dengan tempat di mana dulu dia dibesarkan oleh orang tua super sakti bergelar Bangkotan Koreng Seribu. Orang tua yang telah membesarkan dan mendidiknya, dan telah dianggapnya sebagai orang tua sendiri. Ada kenang-kenangan indah yang tiada terlupakan tentang ombakombak dan debur laut serta burung-burung camar di Pantai Karang Tanjung Api.

Dan manakala dia teringat tentang orang tua kandungnya yang tiada pernah dijumpai, hatinya seolah terluka. Entah kenapa hidup seperti ini harus menimpanya. Sejak bayi tak mengetahui, siapa ayah ibunya, dan setelah dewasa, barulah tahu bahwa ayahnya adalah raja di Negri Bunian yang saat ini sedang menjalani hukuman karena menikahi ibunya yang merupakan manusia biasa. Untuk bertemu pun tak mudah. Ayahnya yang sedang bertapa dalam ujud seekor Ular Piton raksasa, entah di dasar laut mana bisa ditemuinya.

"Ah, sungguh malang benar nasibku lahir di dunia ini..." desah pemuda itu tanpa sadar. "Sejak kecil tak berayah dan beribu. Kini guruku pun entah bagaimana nasibnya "

Agak lama dia termenung begitu sampai telinganya yang sangat terlatih mendengar derap langkah kuda yang sangat cepat mendekat ke arahnya. Cepat-cepat pemuda itu bersembunyi di atas cabang sebuah pohon dan mengintai para pendatang itu. Apa yang didengarnya ternyata tak salah. Serombongan orang berkuda memacu kudanya dengan cepat. Diantara mereka terdengar jeritan-jeritan seorang gadis yang terus mencaci-maki. Pemuda itu tak cepat turun tangan. Dia ingin mengetahui lebih dulu, apa persoalan yang sebenarnya.

"Keparat! Lepaskan aku! Lepaskaaaan...!" teriak gadis itu. "Kalau bapakku sampai tahu, kalian bisa berbuat apa padanya. Dia pasti membantai kalian semua!"

"Siapa yang perduli pada bapakmu itu!? Dia boleh datang ke sini kalau punya keberanian," salah seorang yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Paras wajahnya gagah dan tampan.

"Cuih! Orang-orang seperti kalian tiada harganya di mata bapakku!" Maki si gadis yang sedang dalam keadaan tertotok dan ikut di atas kuda pemuda itu.

"Nona, orang-orang Tengkorak Hitam pantang dihina. Tapi karena urusanmu menyangkut perintah ketua, aku masih berbaik hati tak turun tangan kasar padamu. Tapi kalau engkau terus memaki-maki, maka terpaksa aku harus menyumpal mulutmu itu!" kata si pemuda dengan nada mengancam.

"Kau kira bisa berbuat apa padaku?! Ayo, lepaskan totokan ini dan kita bertarung sampai seribu jurus!" tantang si gadis. "Kalau aku kalah, kau boleh pentang bacot sesukamu!"

"He... he... he....! Kalau engkau bisa mengalahkanku, tak mungkin tadi engkau bisa kena totok."

"Kalau kau tak main keroyokan, mana mungkin kau bisa mengalahkan aku!"

"Nona, engkau memang pandai bersilat lidah. Tapi hari ini aku sedang tak bersemangat untuk meladenimu. Biarlah nanti bagaimana ketua yang akan menentukan. Apakah engkau pantas dihukum, ataukah engkau perlu diberi pelajaran karena mulutmu yang terus memaki-maki itu!"

"Puih! Kau pikir aku takut!?"

"Tentu saja tidak. Tapi kalau engkau kutelanjangi dan kusekap tiap hari di kamarku, apakah engkau berani?"

Mendengar itu si gadis langsung terdiam dan bergidik ngeri. Dia bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pemuda ini nantinya. Apalagi karena dia tahu bahwa orang-orang Tengkorak Hitam terkenal kejamkejam dan suka bertindak semaunya.

"Nah, bagaimana, nona? Apakah engkau masih berani juga?" Ledek pemuda itu sambil cengengesan.

"Sebenarnya untuk apa kalian menculikku?" tanya si gadis mengalihkan perhatian dengan suara yang lebih lunak. Pemuda itu terkekeh pelan dan bukannya tak mengerti maksud si gadis yang mulai ketakutan dengan ancamannya tadi. Tapi melihat parasnya yang jelita dan kulitnya yang halus mulus, serta tubuhnya yang montok, diam-diam pemuda ini suka pula padanya. Maka dengan nada yang ramah pula dia menyahut.

"Apakah engkau mau membantu kalau kuberitahu?"

"Kenapa tidak?"

"Baiklah. Sekarang atau nanti, toh sama saja. Ketuaku ingin tahu apakah keluargamu masih menyimpan Pedang Setan..."

"Pedang Setan....?" Suara gadis itu terdengar bingung dan tak mengerti. "Pedang apa itu? Rasanya baru sekarang aku mendengar namanya!"

"Ah, sudahlah, nona. Ternyata engkau sama sekali tak bisa membantu. Tapi tentu saja kami tak bisa melepaskan engkau begitu saja."

Mendengar jawaban itu, lunglailah si gadis Rasanya tiada harapan lagi dirinya untuk lepas dari cengkraman mereka. Lebihlebih saat pemuda itu memerintahkan kawankawannya untuk memacu kuda lebih kencang lagi. Namun pada itu tiba-tiba berkelebat satu bayangan yang membuat kuda tunggangan mereka meringkik panjang sambil berjingkat tinggi. Beberapa orang malah terpelanting dari kudanya. Masih untung pemuda itu bisa menguasai kuda dan merangkul gadis itu dengan cepat. Dengan mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, dia mampu menjinakkan kudanya yang tiba-tiba menjadi liar. Sepasang matanya menyipit dan menyorot tajam manakala melihat seorang pemuda berbaju merah kumal di depan mereka pada jarak dua tombak. Pemuda yang rambutnya dikuncir itu membawa-bawa periuk besar yang membuat penampilannya terasa aneh di mata orang.

"Kisanak, siapakah engkau? Kenapa tiba-tiba menghalangi perjalanan kami?" Tanya pemuda itu dengan nada pelan namun menusuk dan mengandung ancaman. Beberapa orang kawannya nampak bergemeletukkan rahangnya menahan amarah. Tapi karena pemuda itu yang saat ini memegang komando, mereka cuma bisa menunggu perintah saja. Padahal pada pemimpin-pemimpin rombongan lain tak ada yang selemah pemuda ini dalam bertindak pada orang yang menghalangi niat mereka dalam bentuk apapun. "Tentang aku, barangkali tak ada gu-

nanya diketahui," jawab pemuda berpakaian kumal yang tak lain dari Buang Sengketa. "Aku cuma seorang pengembara hina dina dan tak berarti apa-apa. Tapi aku sama sekali tak suka melihat orang berlaku seenaknya pada kaum yang lemah. Dan apa yang kalian lakukan terhadap gadis itu adalah salah satu contoh yang kukatakan itu."

"Sobat, maaf!" sahut pemuda penunggang kuda yang bernama Danu Umbara, "Meski aku mengerti apa yang engkau katakan, tapi aku tak bisa menuruti kesukaanmu. Aku hanya melaksanakan tugas dari ketuaku."

"Kalau engkau punya otak, tentulah bisa engkau pakai dan dapat menilai, tugas mana yang baik yang harus dikerjakan dan mana yang buruk yang harus kau tinggalkan. Dan apakah menurutmu menculik gadis itu merupakan tugas yang baik?"

"Sobat, aku tak perduli apakah tugas itu baik atau tidak, yang jelas aku hanya menjalankan perintah. Dan engkau sebagai orang luar, harap jangan turut campur urusan kami!"

"Umbara, kenapa engkau malah banyak omong segala!" teriak seseorang yang sudah tak sabaran dan mencabut pedangnya. "Sudah tahu bahwa dia menghalangi kita, buat apa diperdebatkan segala?! Sudah, ayo cincang saja orang gila ini!" Beberapa orang kawannya segera cabut pedang dan turun dari kudanya masingmasing. Dan Umbara panas bukan main melihat itu. Dengan garang dia membentak, "Birawa! Apakah engkau pikir engkau yang memimpin rombongan ini!?"

Orang yang dipanggil Birawa itu tak kalah garang menjawab, "Danu Umbara, engkau terlalu lemah dalam bertindak, dan sama sekali tak pantas memimpin rombongan!"

"Kurang ajar! Setelah urusan ini selesai, engkau akan mempertanggung jawabkan hal ini di depan ketua!"

"Apa engkau pikir aku takut?"

"Diam kau jangan banyak bacot!" bentak Danu Umbara dengan suara menggelegar yang aliri tenaga dalam tinggi. Beberapa orang anak buahnya yang lain termasuk Birawa, tersentak kaget. Sesungguhnya mereka tahu, meski Danu Umbara berusia sangat muda dibanding mereka, namun ilmu silatnya hampir menyamai ketua. Dan dia sangat dipercaya sebagai tangan kanan ketua mereka yang memimpin rombongan untuk menghadapi tugas-tugas sulit dan berbahaya. Tapi melihat sikapnya yang agak lemah dan terlalu mengasihani lawan, sama sekali bertentangan dengan mereka yang biasa kasar dan bertindak semaunya.

Setelah melihat bahwa semua anak buahnya tundukkan kepala, Danu Umbara palingkan wajah dan pada pemuda di hadapannya itu. "Nah, sobat. Maafkan. Engkau sudah tahu bagaimana jawabanku, maka biarkan kami pergi tanpa menimbulkan perselisihan denganmu," katanya.

"Mungkin saja engkau tak apa-apakan gadis itu, tapi tetap saja jiwanya terancam berada di lingkungan orang-orang seperti kawan-kawanmu itu."

"Kisanak..." sahut Danu Umbara dengan suara tegas, "Jangan paksa aku berlaku kasar padamu. Sesungguhnya aku sudah terlalu bersikap lunak. Tapi kalau engkau terus memaksakan keinginan dan terlalu ikut campur dalam urusan kami, aku tak bisa menjamin anak buahku akan bersabar terus."

Mendengar itu Buang Sengketa ketawa kecil. "Bajingan-bajingan seperti kalian memang pandai sekali bersandiwara," kata pemuda itu. "Segala apa yang kalian katakan dan perbuat pun penuh dengan tipu muslihat. Aku sudah muak sekali melihat orangorang seperti kalian. Lepaskan gadis itu atau aku musti mengambilnya dengan kekerasan!?"

"Huh, agaknya engkau pun berminat pada pedang itu, atau barangkali engkau ini sebangsa laki-laki hidung belang! Tapi selagi aku masih bernafas, jangan coba-coba mengambilnya dari tanganku," sahut Danu Umbara mulai marah. Dengan satu isyarat, dia telah perintahkan anak buahnya untuk mengurung pemuda itu. Mereka yang sejak tadi tangannya sudah gatal melihat kelakuan pemuda berpakaian seperti gembel itu, dengan cepat mengurung dan kirim satu serangan kilat yang cepat dan kuat serta mematikan.

"Cecunguk-cecunguk busuk ingin mampus, terimalah ini!" Dengus Buang Sengketa sambil berkelit cepat dan mainkan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra sambil balas menyerang.

"Ciaaat!"

Tubuh pemuda berkuncir itu melentik ke udara dan menukik sambil kibaskan sebelah tangan ke batok kepala pengeroyoknya yang terdekat. Keruan saja, orang itu ayunkan pedang. Buang Sengketa tarik mundur tangannya dan kirim satu tendangan kilat ke dagu lawan.

"Takk!"

Orang itu tersungkur setelah terhuyung-huyung beberapa tombak. Beberapa buah giginya tanggal. Buang Sengketa tak membuang-buang kesempatan. Tubuhnya berputar cepat dan kibaskan tangan kiri menghantam dada lawan yang terdekat dengannya. Tapi orang itupun ternyata telah bersiap dengan ayunan pedangnya. Seperti tadi, kembali pemuda berkuncir itu tarik pulang tangannya dan sorongkan kaki kiri ke ulu hati lawan.

"Bukk!"

Orang itu menjerit kesakitan sambil mendekap ulu hatinya yang terasa pecah kena tendangan pemuda itu. Dua orang kawannya kalap bukan main dan ayunkan pedang menebas pinggang murid si Bangkotan Koreng Seribu itu, tapi Buang Sengketa bersalto dua putaran ke atas sambil ayunkan kedua tangannya ke batok kepala lawan.

"Plak! Plak!" "Wuaaayyaaa. !"

Meski kelihatannya lemah, namun pukulan itu mengandung tenaga dalam yang cukup membuat pandangan kedua lawannya berkunang-kunang dan berdiri sempoyongan.

"Bangsaaat! Gembel keparat! Kau hadapi aku. Ciaaaat!" maki Birawa dengan amarah yang meluap. Pedang di tangannya berkelebat ke sana sini menimbulkan suara bercuitan. Buang Sengketa merasakan bahwa lawan yang seorang ini memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dari kawan-kawannya yang tadi. Tapi dalam tiga jurus berselang, dia mulai dapat membaca gerakan lawan dan berbalik mendesak dengan hebat. Meskipun Birawa menyerang dengan menggunakan jurus andalannya, tetap saja dia tak mampu bertahan lebih lama menghadapi pemuda yang melawannya dengan tangan kosong itu.

"Hiaaaaat !"

"Plak! Plak!" "Wuaaaaa. !"

Dengan satu teriakan nyaring, dia kiblatkan pedang dengan ayunkan pedang dengan cepat ketika pemuda itu melesat ke arahnya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba pedang di tangannya terpental dan dua pukulan lawan menghantam dada dan pergelangan lawan. Tak pelak lagi. Tubuhnya yang tinggi besar itu terpental sejauh dua tombak sambil muntahkan darah segar.

"Cukup...!" teriak Danu Umbara menghentikan beberapa anak buahnya yang penasaran dan kembali menyerang pemuda itu dengan kalap.

"Kisanak, siapakah engkau ini sebenarnya? Ilmu silatmu sangat tinggi dan lihai sekali. Pastilah engkau bukan orang sembarangan. Sudilah engkau memberitahu dirimu," lanjut Danu Umbara dengan sikap sebagai seorang sahabat. Mendengar itu Buang Sengketa tersenyum kecil sambil berkata.

"Kisanak, namaku tiada berguna bagimu. Tapi karena engkau terus mendesak, baiklah kuberitahu. Aku yang hina ini bernama Buang Sengketa, tapi orang-orang menamaiku sebagai si Hina Kelana "

"Ah, ternyata engkaulah pendekar muda yang akhir-akhir ini menggegerkan dunia persilatan di delapan penjuru mata angin. Sungguh beruntung aku bisa berhadapan dengan pendekar terkenal sepertimu," kata Danu Umbara kagum. "Ilmu silatmu dikhabarkan sangat tinggi dan lihai sekali, dan ternyata apa yang kusaksikan hari ini tidaklah berlebihan. Engkau memang pantas menyandang gelar itu. Tentulah engkau tak keberatan kalau barang sejurus atau dua menunjukkannya padaku."

Buang Sengketa sungkan sekali dipujipuji begitu. Tadinya dia tak mau berlamalama dan tak mau meladeni ucapan pemuda itu yang tak lain ingin menjajalnya. Tapi ketika dilihatnya pemuda itu langsung meloncat dari pelana kuda dan kirim satu serangan kilat ke arahnya, mau tak mau Buang Sengketa merasa urusan akan lebih panjang. Tanpa buang waktu lagi, dia me-lompat memapaki sambil keluarkan lengkingan ilmu Pemenggal Roh dengan seperempat tenaga dalam yang dimilikinya.

"Heiiiiigggkkk !"

Meski dikeluarkan dengan seperempat tenaga dalamnya, tak urung Danu Umbara tersentak kaget. Terasa lengkingan suara itu mempengaruhi jalan darahnya untuk beberapa saat. Tapi itu sudah cukup bagi Buang Sengketa untuk kabur setelah menyambar tubuh gadis yang masih berada di atas pelana kuda. Dengan menggunakan ajian Sepi Angin, tubuhnya melesat cepat meninggalkan mereka. Tinggal Danu Umbara yang gelenggelengkan kepala dengan hati mangkel. Birawa malah menyumpah-nyumpah tak karuan ketika akhirnya mereka meneruskan perjalanan sebab tiada gunanya mengejar pemuda itu yang tak kelihatan lagi bayangannya.

5

Perempuan berusia kira-kira enam puluh tahun itu, marah bukan main saat mendengar laporan dari beberapa orang murid perihal hilangnya cucu kesayangannya diculik oleh segerombolan orang. Tubuhnya yang agak gemuk seolah bergetar hebat menahan geram. Rambutnya yang hampir memutih digulung ke atas dengan beberapa tusuk konde menghiasinya, ikut bergoyang-goyang manakala dia bangkit dari kursi. Sepasang matanya yang kecil, membelalak lebar. Di tangan kanannya terdapat sebuah tongkat yang terbuat dari kayu besi. Pada pangkalnya terdapat patung seekor ular naga sebesar kepala manusia dewasa. Siapakah so benarnya nenek ini? Rimba persilatan mengenalnya sebagai Peri Kuning Tongkat Maut. Padahal nama sebenarnya adalah Nyai Larasati

Perempuan tua ini termasuk tokoh kosen yang jarang ketemu tandingan. Sepak terjangnya di dunia persilatan tak pernah mengenal kompromi dalam membantai lawanlawannya. Tak jarang orang memasukkannya ke dalam jajaran tokoh-tokoh sesat tingkat tinggi. 

Sebenarnya dia tak memiliki perguruan yang tersendiri. Perempuan tua ini hanya memungut sebelas orang murid yang semuanya terdiri dari perempuan, yang saat ini terlihat menundukkan kepala mendengarkan amarah orang tua itu. Mereka menyadari, bahwa ini kesalahan mereka sendiri yang tak waspada hingga cucu kesayangan guru mereka sendiri mampu diculik tanpa mendapat perlawanan yang berarti.

"Goblok! Tolol! Walau aku tak pernah menyuruh kalian untuk menjaga Endang Purwasih secara khusus, tapi setidaknya kalian punya perhatian terhadapnya. Bukankah kalian mengetahui bahwa belakangan ini banyak pihak-pihak tertentu yang mengincar Pedang Setan itu?! Dengan adanya berita yang menyebar bahwa salah satu pedang itu berada di tanganku, tentu mereka berusaha mendapatkannya dengan cara apapun! Salah satunya adalah Endang Purwasih yang pasti akan dijadikan sandera!"

"Ampun, guru!" sahut salah seorang murid tertua bernama Kusumawati. Usianya sekitar duapuluh tahun. "Kami akan berusaha mencari Adik Endang Purwasih sampai dapat walaupun itu harus dengan tebusan nyawa kami sendiri."

"Huh, apa kalian kira mudah menyatroni orang-orang dari Perguruan Tengkorak Hitam?! Tidakkah kalian mengetahui bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi. Apa yang bisa kalian perbuat?!" dengus perempuan tua itu sinis.

"Ibu, bukankah engkau mengenal ketuanya yang bernama Suryudana itu?" tanya seorang perempuan berusia empat puluh tahun yang duduk di sebelahnya. "Kalau ibu mendatanginya, siapa tahu dia mau berbaik hati dan melepaskan anakku."

"Jangan berpikiran bodoh, Banonwati! Apa kau pikir si Suryudana itu menculik anakmu untuk kesenangannya belaka? Dia pun termasuk salah seorang diantara mereka yang mengincar pedang itu. Sudah pasti dia menggunakan anakmu untuk dijadikan sandera karena tak berani terus terang mendatangi tempat kita."

"Ibu, kalau dia tak berani berarti dia takut pada ibu. Kenapa tidak ibu saja yang ke sana?"

"Banonwati, ada hal yang perlu kau ketahui. Bila si Suryudana telah berani menculik anakmu, berarti dia telah siap menyambut kedatangan kita. Baik dengan tipu muslihatnya, ataupun dengan cara apapun. Dan bila kita tiba-tiba datang, maka pancingannya akan mengena. Kita belum lagi mengetahui apa yang direncanakan orang itu," sahut Nyai Larasati. "Tapi yang jelas sekali, setiap muridku yang lalai, pasti akan kena hukuman!" lanjutnya dengan suara tegas berwibawa.

"Guru, aku bersedia menerima hukuman," sahut salah seorang murid yang bernama Parwati. "Aku yang bersalah tak mampu menahan mereka saat menculik Adik Endang Purwasih."

"Bagus! Karena engkau telah mengaku dan bersedia dihukum, aku akan meringankan hukumanmu. Engkau akan dicambuk seratus kali!"

Mendengar itu, jantung Parwati seolah berhenti berdenyut. Hukuman cambuk sebanyak seratus kali, bukanlah main-main. Dulu saja ada seorang murid yang melakukan kesalahan kecil dan dihukum cambuk sebanyak duapuluh kali, tubuhnya di bagian punggung tersayat sayat bagai diiris pisau tajam. Sakit dan pedihnya bukan main. Sebulan penuh murid itu tak bisa bangun. Bagaimana mungkin dia mampu bertahan dengan hukuman cambuk sebanyak seratus kali?

"Kau telah siap, Parwati?!" "Eh..., ng... siap, guru !"

"Bagus!" sahut Nyai Larasati. Dia memandang pada Kusumawati, dan berkata. "Siapkan tonggak di depan beserta cambuk!"

Tanpa berani membantah, perempuan itu menjura hormat dan dengan cepat meninggalkan ruangan.

"Urusan Endang Purwasih, biar nanti aku yang menyelesaikan dengan caraku sendiri. Pertemuan ini selesai dan kalian harus melihat Parwati dihukum agar menjadi pelajaran untuk kalian semua, bahwa barang siapa yang lengah, aku tak segan-segan menghukum kalian," kata Nyai Larasati selanjutnya. Dengan langkah pelan dia beranjak dari ruangan itu diikuti Banonwati dan muridmurid yang lain.

Parwati telah siap di halaman depan itu. Kedua tangannya diikat dan digantungkan pada bambu di atasnya. Kedua kakinya dibuka agak lebar, dan masing-masing diikat pada tonggak kanan dan kiri. Gadis itu menatap sekilas pada Kusumawati, kemudian perlahan-lahan tundukkan kepala dengan wajah lesu.

Nyai Larasati telah siap dengan cambuk di tangan. Pandangannya menyapu semua murid yang berada tak jauh dari situ. Beberapa orang palingkan wajah dan merasa ngeri membayangkan apa yang bakal menimpa Parwati. Selain murid termuda, gadis itupun paling rendah ilmunya diantara mereka semua. Pastilah dia tak akan sanggup bertahan sampai sepuluh kali cambukan. Apalagi seratus kali. Tapi mereka semua tahu, bahwa guru mereka tak pernah menarik kembali kata-katanya, dan sepertinya tak punya belas kasihan barang sedikit pun. Meski nantinya Parwati telah pingsan pada cambukan kesepuluh, pasti orang tua itu tak perduli dan terus melecutkan cambuknya hingga hitungannya genap seratus. Entah apa jadinya tubuh gadis itu nantinya.

Beberapa orang murid yang lain malah tenang-tenang saja. Seolah kejadian itu bagi mereka hal yang biasa. Lagipula mereka beranggapan bahwa itu salah gadis itu sendiri. Kenapa dia sok jago menghadapi keroyokan orang banyak sewaktu ingin menyelamatkan Endang Purwasih. Padahal kalau dia berteriak memanggil, sudah pasti semua murid akan keluar dan membantunya.

"Ctaaaaaar !"

Nyai Larasati melecutkan cambuknya ke udara, seakan memberi isyarat pada Parwati untuk bersiap. Gadis itu tarik nafas dalam-dalam dan pejamkan mata. Namun baru saja orang tua itu akan lecutkan cambuk ke tubuhnya, sekonyong-konyong terdengar satu jeritan panjang.

"Jangaaaaan !"" Seorang gadis berusia tujuh belas tahun tergopoh-gopoh menghampiri tempat itu. Di belakangnya terlihat seorang pemuda berbaju merah dan dekil. Wajahnya sangat tampan. Dengan rambut dikuncir dan periuk besar yang selalu dibawa-bawanya, pemuda itu nampak aneh sekali. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Buang Sengketa, atau lebih dikenal dengan nama Pendekar Hina Kelana.

"Endang, engkau tak apa-apa, nak?!" teriak Banonwati sambil mengejar anak itu dan memeluknya erat-erat. Nyai Larasati terpaksa undurkan hukuman itu untuk beberapa saat.

"Nenek, sedang ada apakah di sini? Kenapa kakak Parwati digantung? Apakah nenek hendak mencambuknya?" tanya Endang Purwasih heran setelah melepaskan pelukan dari ibunya.

"Parwati pantas mendapat hukuman karena lalai menjagamu!"

"Nenek, kakak Parwati membelaku mati-matian, kenapa malah nenek hendak menghukumnya? Bukankah itu tidak adil? Sekarang juga aku mohon nenek, agar melepaskannya."

Perempuan tua itu terpaku sejenak sambil menghela nafas panjang. Lebih-lebih saat cucunya itu mulai merajuk. Dia memang teramat menyayangi cucu satu-satunya ini. Bukankah karena kehilangannya tadi yang membuatnya marah dan jatuhkan hukuman pada Parwati? Dan sekarang cucunya telah kembali dan meminta agar muridnya itu diampuni.

"Ayolah, nek. Nenek tentu mau mengampuni kakak Parwati, bukan?"

"Baiklah, baiklah..." sahut orang tua itu pelan. Secepat itu pula Endang Purwasih jejingkrakan dan mencium pipi orang tua itu. Dia segera menyuruh beberapa orang murid untuk melepaskan ikatan Parwati. Gadis itu menatap cucu gurunya untuk beberapa saat dengan pandangan berterima kasih, sebelum akhirnya dia masuk untuk melaksanakan tugasnya masing-masing sebagaimana biasa.

"Siapa pemuda itu? Apakah dia salah satu murid Perguruan Tengkorak hitam?" lanjut Nyai Larasati dengan pandangan curiga.

"Oh, iya sampai lupa!" seru gadis itu. Dia memberi isyarat pada pemuda itu untuk mendekat. "Nek, perkenalkanlah. Pemuda itu yang menyelamatkanku dari orang-orang Tengkorak Hitam. Namanya Buang Sengketa. Dialah si Pendekar Hina Kelana yang sangat terkenal itu"

Begitu mendengar ucapan cucunya, perempuan tua itu agak terkejut. "Oh, engkaukah yang bergelar Pendekar Hina Kelana itu, anak muda? Sungguh beruntung hari ini aku dapat berkenalan denganmu. Atas semua keluarga di sini, aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan cucuku," kata Nyai Larasati dengan sikap hormat. "Kalau tak keberatan, sudilah engkau mampir sejenak di gubuk kami, karena kami mengundangmu dengan segala kehormatan."

Melihat sikap yang berlebih-lebihan itu, Buang Sengketa agak sungkan juga. Dia sudah menolak dengan halus dan berbagai macam alasan, namun mereka nampaknya agak memaksa. Lebih-lebih Endang Purwasih yang dengan sikap kekanak-kanakannya, menariknarik tangan pemuda itu ke dalam. Mau tak mau Buang Sengketa tak punya alasan lain buat menolak. Pemuda itu dijamu sebagaimana layaknya tamu terhormat saja. Lebihlebih saat keluarga itu memintanya menginap barang sehari dua. Pemuda itu lebih sungkan lagi. Selain sejak tadi diperhatikannya penghuni keluarga ini perempuan semua, dia juga tak betah berlama-lama di satu tempat seperti ini. Namun mereka kembali memaksa. Dia pun akhirnya merasa tak enak untuk menolak. Apalagi alasan mereka sangat tepat, sebab sebentar lagi malam akan tiba. Dengan terpaksa Buang Sengketa menerima permintaan mereka untuk menginap di rumah itu.

6

Malam telah semakin larut. Rumah besar itu mulai terlihat sepi. Beberapa buah kamar terlihat gelap, namun di ruangan utama Nyai Larasati beserta anaknya, Banonwati dan cucunya, Endang Purwasih, masih terlihat obrolan-obrolan dengan tamu mereka, yaitu Buang Sengketa. Lama kelamaan pemuda itu makin jengah saja berlama-lama di sini. Sikap mereka terlalu berlebih-lebihan dan penuh dengan basa basi yang memuakkan. Entah beberapa kali dia menguap untuk memberi isyarat pada tuan rumah bahwa dia agak jemu mendengar ocehan mereka. Agaknya tak dimengerti oleh mereka. Lebihlebih Endang Purwasih yang sejak tadi terus berada di dekatnya dengan sikap genit dan kekanak-kanakkan.

"Kalau engkau suka, engkau boleh tinggal di sini selamanya, Kelana," kata Nyai Larasati. "Kami semua akan menerimamu dengan lapang dada."

"Betul, Kelana!" sahut Endang Purwasih bersemangat. "Kami akan suka sekali menerimamu. Bukankah begitu, bu?"

Banonwati tersenyum kecil sambil anggukan kepala. Buang Sengketa jadi risih.

"Ah, kalian terlalu baik padaku..." sahut pemuda itu lirih. "Adalah suatu kehormatan buatku menerima tawaran kalian ini. Tapi aku hanyalah seorang pengembara biasa. Aku telah terbiasa hidup beratapkan langit dan berselimut angin. Rasanya tak pantas mendapat penghormatan ini."

"Engkau terlalu merendah, Kelana. Dengan ilmu silat yang engkau miliki seperti saat ini, siapa yang mampu menandingimu? Engkau bisa hidup lebih layak sebenarnya. Punya rumah, dan.... keluarga..." kata Banonwati sambil mengerling putrinya. "Eh, maaf. Barangkali engkau memang telah berkeluarga."

"Tidak! Siapa gadis yang sudi dengan orang gembel sepertiku ini."

"Kenapa musti jauh-jauh? Di sinipun pasti banyak yang suka padamu. Bukan begitu, Endang?"

"Ah, ibu bisa saja..." sahut gadis itu tersipu malu. "Siapalah pemuda yang suka pada wajah buruk sepertiku?"

"Siapa bilang engkau punya wajah buruk?" tanya Buang Sengketa. "Kalau iya, barangkali murid si Tengkorak Hitam itu tak akan tergila-gila padamu," lanjutnya sambil tersenyum kecil.

"Huh, siapa sudi pada orang seperti itu!" dengus Endang Purwasih dengan ketus. Ibu dan neneknya hanya tersenyum mendengar ocehannya. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sikap si orang tua yang berubah serius.

"Seseorang sedang mengintai dari atas genting. Sebaiknya bersikap biasa saja. Barangkali utusan dari Tengkorak Hitam," kata Nyai Larasati berbisik sambil bangkit.

Tanpa menimbulkan suara, tubuh perempuan tua itu melayang ke atas rumah sambil kirim satu serangan kilat. Buang Sengketa mendesah kagum. Ilmu mengentengi tubuh yang dimiliki orang tua itu sudah sangat sempurna betul.

"Biarlah aku membantu nenekmu meringkus pengintai itu," kata Buang Sengketa. Tanpa perduli jawaban kedua perempuan itu, tubuhnya melesat ke atas wuwungan, persis di lobang yang dibuat Nyai Larasati. Untuk sesaat dia celingukan. Namun manakala sepasang matanya yang tajam menangkap dua sosok tubuh di kejauhan, dengan cepat dia memburu ke arah itu sambil mengerahkan ajian Sepi Angin.

Tapi alangkah kagetnya pemuda itu manakala melihat bahwa kedua bayangan itu melesat dengan cepat. Padahal dia telah kerahkan separuh ilmu lari cepatnya, tapi kedua bayangan itu tak juga terkejar. Dengan geram dia mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengempos ajian Sepi Angin. Tubuhnya melesat cepat bagai sliweran angin yang berhembus kencang. Dengan mengambil jalan memutar, dia bermaksud menjebak pengintai itu. Setelah dirasa bahwa kedua bayangan itu tertinggal jauh, Buang Sengketa menunggu dari sebuah cabang pohon yang menurut perkiraannya pastilah dilalui kedua orang itu.

Perkiraan pemuda itu tak salah. Meski saat itu suasana terasa gelap, namun dia dapat melihat seseorang berlari dengan kecepatan penuh ke tempatnya berada. Begitu orang tersebut hampir mencapai tempatnya bersembunyi, dengan gerakan ringan Buang Sengketa melayang turun.

"Berhenti, sobat!" katanya dengan suara yang agak keras. Orang itu terkejut setengah mati dan hentikan langkah. Untuk sesaat dia palingkan wajah ke belakang. Tak terlihat pengejarnya tadi. Buang Sengketa dapat melihat jelas pada jarak tiga tombak ini, bahwa orang ini adalah seorang pemuda yang berusia sekitar duapuluh tahun. Wajahnya tak terlalu tampan. Tubuhnya pun kelihatan agak kurus dan mengesankan seorang yang lemah. "Ada urusan apa engkau mengintai di

rumah Nyai Larasati?"

"Apakah engkau tamunya itu yang bergelar Pendekar Hina Kelana?"

"Dari mana engkau mengetahuinya?" tanya Buang Sengketa heran.

"Aku mencuri dengar pembicaraan kalian agak lama. Syukurlah orang tua itu tak mampu mengejarku sampai ke sini "

"Hei, jangan coba-coba mengalihkan perhatianku. Seseorang yang mengintai di rumah orang, pastilah bermaksud buruk. Apa yang engkau inginkan di rumah itu?!" bentak Buang Sengketa kesal.

"Apakah engkau juga menuduhku bermaksud buruk? Sobat ketahuilah, bahwa mereka bermaksud memasang jeratnya padamu."

"Jerat? Jerat apa?!"

"Bukankah mereka membujukmu untuk menetap di rumahnya?"

"Ya."

"Sesungguhnya mereka coba membujukmu untuk berpihak pada mereka. Akhirakhir ini rahasia mereka terbongkar. Pedang Setan yang sedang dicari-cari oleh orangorang persilatan dari berbagai penjuru salah satunya berada di tangan Nyai Larasati. Karena mengetahui bahwa engkau berilmu tinggi, mereka coba menahanmu untuk tetap tinggal di situ. Baru saja tadi aku mencuri dengar bahwa seorang murid akan membawakan arak yang telah dicampur obat pembius. Semua itu tak lain dari suruhan orang tua itu sendiri."

"Bagaimana mungkin aku bisa percaya pada kata-katamu?" tanya Buang Sengketa curiga.

"Sebaiknya tidak kita bicarakan di sini tapi di tempat lain. Kalau engkau curiga padaku, biarlah aku berjalan lebih dulu, dan engkau mengikuti dari belakang," sahut orang itu. Mulanya Buang Sengketa enggan juga. Tapi karena hatinya mulai tergelitik oleh cerita orang itu, maka diikutinya juga tanpa mengurangi kewaspadaan. Kalaupun ada hal lain yang membuatnya mau ikut, palingpaling karena dia mulai jengah melihat sikap keluarga Nyai Larasati yang terlalu berlebihlebihan. Dengan adanya urusan ini, bukankah peluang baik baginya untuk menghindar dari mereka?

Berpikir begitu, pemuda dari Negri Bunian itu cepat genjot tubuh menyusul pemuda yang baru dikenalnya itu yang telah melesat lebih dulu. 7

Buang Sengketa anggukan kepala saat orang tua berusia lanjut itu selesai menerangkan segala sesuatunya. Tadinya dia agak ragu dan mulai curiga saat pemuda ini mengajaknya ke suatu tempat yang sangat tersembunyi di sebuah lereng gunung. Apalagi ketika melihat sebuah pondok di dalamnya. Namun setelah bertemu dengan guru pemuda itu dan orang tua itu menjelaskan segala sesuatunya, barulah dia sedikit lega. Kelegaannya bisa jadi karena berpendapat, seorang ahli ibadah seperti Resi Abirawa ini, mana mungkin berkata dusta. Pula wajahnya sangat mengesankan bahwa dia seorang yang arif bijaksana serta luas pandangannya. Sungguh beruntung pemuda yang bernama Tuta Rimba ini berguru padanya. Namun manakala pemuda itu menceritakan riwayat hidupnya, Buang Sengketa seolah merasakan kepedihan yang dirasakannya.

"Masih untung pada saat itu Eyang menyelamatkanku. Kalau tidak, aku tak tahu apa jadinya "

"Jadi kedua orang tuamu tewas  saat

itu?"

"Aku tak pasti. Menurut Eyang, bapak-

ku masih hidup dan ditawan oleh mereka di ruang bawah tanah. Itulah sebabnya aku terus mengintai tempat kediaman mereka."

"Engkau bermaksud membebaskan bapakmu?"

"Itu salah satu tugasku selain mengambil kembali Pedang Setan di tangan mereka dan menyerahkannya pada yang berhak. Karena jejak pemiliknya sampai saat ini tak tentu rimbanya, maka Eyang bermaksud menyimpan pedang itu dan mencari si Malaikat Pedang Bertangan Seribu sampai ketemu."

"Ya. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengembalikannya pada pemiliknya yang sah. Setelah kakak seperguruanku, yaitu Ki Wicaksana atau lebih dikenal sebagai Pendekar Hati Suci, yang dititipi kedua pedang itu tewas di tangan muridnya, mau tak mau aku merasa bertanggung jawab," kata Resi Abirawa menimpali. "Buang Sengketa, namamu sangat terkenal di segala penjuru mata angin sebagai pendekar muda yang berilmu tinggi tiada bandingan. Gurumu pun sangat terkenal sebagai tokoh pembela kebenaran yang tiada tandingan. Maukah engkau menolong kami untuk mendapatkan pedang itu kembali?"

"Selama itu untuk kebaikan, aku akan selalu bersedia melakukannya sekuat daya kemampuanku," sahut murid si Bangkotan Koreng Seribu. "Tapi, maaf, Ki. Dengan ilmu yang engkau miliki sekarang ini, engkau tentu dengan gampang mendapatkan kedua senjata itu?"

Orang tua itu tersenyum kecil. "Siapa bilang aku mempunyai ilmu yang tinggi? Yang kupunyai hanya ilmu agama. Kalaupun ada, sangat tak berarti dibanding dengan yang engkau miliki."

"Ah, Ki Birawa terlalu memuji. Aku cuma manusia biasa saja. Begitu pula dengan guruku."

"Dan engkau pun ternyata pandai sekali merendahkan diri..." timpal Tuta Rimba tertawa kecil. "Aku sudah lihat sendiri, Eyang. Ilmu larinya hebat luar biasa!"

"Sudahlah, Tuta! Lama kelamaan aku jengah juga mendengar pujian-pujian itu. Sebaiknya kita kembali pada persoalan semula," sahut Buang Sengketa. "Maaf, Ki. Ada sesuatu yang barangkali kurang jelas buatku. Dari mana engkau mengetahui bahwa salah satu Pedang Setan itu berada di tangan Nyai Larasati? Dan kalau benar, kenapa dia tak memiliki kedua pedang itu?"

"Hal inilah barangkali yang tak ku mengerti," jawab orang tua itu sambil kerutkan dahi. "Empu Pupulaka tewas di tangan anaknya sendiri yaitu Cakrangga, yang merupakan ayah kandung Tuta Rimba. Sebenarnya dia orang baik. Punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu. Tapi karena Nyai Larasati seorang yang tamak, dia menyuruh anak gadisnya yaitu Banonwati untuk menggoda, guna mendapatkan Sepasang Pedang Setan itu. Cakrangga akhirnya mabuk kepayang oleh rayuan Banonwati. Hingga bagai kerbau dicocok hidungnya, dia menurut saja saat perempuan itu menyuruhnya untuk mengambil pedang tersebut. Tapi Cakrangga hanya menemukan sebuah saja. Dia mencaricari yang sebuah lagi, namun tak ketemu. Empu Pupulaka sendiri mana mau memberi tahu. Dengan kalap akhirnya dia membunuh orang tua yang tak berdaya itu. Namun ketika tiba di rumahnya ternyata mereka telah membunuh istrinya. Bukan main kalapnya dia. Tapi tak berdaya menghadapi dua orang yang berilmu tinggi itu. Aku sebenarnya tak pasti, apakah Cakrangga masih hidup atau tidak. Cerita ini, hanya kudengar dari para tetangganya pada saat aku menyelamatkan Tuta Rimba yang berada dalam puing-puing rumah yang akan menimpanya akibat perbuatan Nyai Larasati itu"

"Jadi Endang Purwasih itu masih termasuk saudara tiri Tuta Rimba?"

"Bukan! Menurut apa yang kudengar, Banonwati telah bersuami saat dia merayu Cakrangga. Tapi suaminya kemudian diketahui tewas. Banyak orang yang mengatakan bahwa suaminya itu pun bermaksud mendapatkan Pedang Setan yang saat itu sedang diincar Nyai Larasati. Tentu saja perempuan tua itu tak suka dan barangkali dialah yang membunuhnya," jelas Resi Abirawa.

"Lalu kira-kira ke mana Pedang Setan yang satu lagi, Ki?"

"Entahlah. Menurut penyelidikan yang dilakukan Tuta Rimba, bisa jadi Suryudana atau lebih dikenal sebagai Raja Tengkorak Bermuka Masam, yang menjadi ketua Perguruan Tengkorak Hitam, menyimpan yang satu lagi."

"Ya," sahut pemuda itu. "Kalau tak ada

api, mana mungkin ada asap. Dari mana Suryudana mengetahui bahwa Nyai Larasati memiliki pedang itu. Dan karena keampuhan Pedang Setan harus berpasangan, bisa jadi dia pun bernafsu untuk mendapatkan pedang itu."

"Ada satu hal lagi yang ingin kuketahui, Ki," kata Buang Sengketa setelah dia anggukkan kepala mendengar penjelasan Tuta Rimba. "Apa kehebatan Sepasang Pedang Setan itu hingga banyak diperebutkan orang?" "Menurut apa yang kudengar, pedang

itu mampu mempengaruhi pemiliknya untuk bertindak kejam dan melipat gandakan tenaga dalam si pemegangnya. Kalau seseorang tak mempunyai tenaga batin yang kuat, dia pasti akan terpengaruh oleh daya sihir pedang itu. Dan di samping itu, ada sesuatu yang amat didambakan oleh orang-orang persilatan. Pada kedua gagang itu, terdapat pelajaran ilmu silat kelas tinggi yang bernama jurus-jurus Pedang Setan. Tapi tak sembarangan orang bisa menafsirkan karena terdapat banyak sandi-sandi yang agak membingungkan."

Pemuda dari Negri Bunian itu anggukanggukkan kepala mendengar penjelasan itu. "Pedang itu benar-benar membuat banyak malapetaka..." kata pemuda itu bergumam.

"Ya, akan banyak lagi darah yang tumpah kalau tak cepat diselesaikan. Maukah engkau membantu kami, Kelana?" "Aku akan berusaha sekuat tenaga, Ki," sahut Buang Sengketa.

Karena hari telah larut malam dan sesaat lagi fajar menyingsing, akhirnya mereka kembali bercakap-cakap mengenai pengalaman masing-masing. Tak lupa orang tua itu memberi petuah-petuah yang sangat berguna bagi murid si Bangkotan Koreng Seribu. Kemudian saat pagi tiba, Buang Sengketa dan Tuta Rimba telah meninggalkan tempat itu untuk mencari jejak Sepasang Pedang Setan tersebut.

8

Kedua perempuan itu berlari-lari kecil meninggalkan Lembah Batu Ampar. Yang seorang berusia sekitar empat puluh tahun, namun wajahnya masih sangat cantik dan jarang terlihat kerut merut. Seorang lagi gadis belia berusia sekitar tujuh belas tahun berparas sangat jelita. Keduanya membawa-bawa sebilah pedang di punggung masing-masing. Dari situ saja bisa membuktikan bahwa mereka bukan perempuan sembarangan. Paling tidak mereka memiliki ilmu silat yang cukup lumayan meski rimba persilatan belum mengenal mereka. Tapi yang dilakukan kedua perempuan itu sangat mencurigakan. Seperti banyak diketahui orang, lembah tersebut adalah tempat kediaman seorang pandai besi yang sering membuat pesanan senjatasenjata. Baik dari pihak kerajaan maupun dan mereka orang-orang persilatan. Seorang tua renta bernama Empu Pupulaka. Siapakah kedua perempuan itu sebenarnya? Mereka tak lain dari Roro Ningrum dan anak angkatnya Dewi Ambarwati. Setelah mereka turun gunung guna mencari Sepasang Pedang Setan, jejak pertama yang mereka cari adalah tempat kediaman pandai besi tersebut. Namun di situ mereka tak menemukan siapapun. Meski tempat itu merupakan sebuah lembah, namun di situ juga terdapat perkampungan penduduk. Dari beberapa orang yang mereka tanya, didapatlah keterangan, bahwa orang tua itu telah tewas di tangan anaknya sendiri yang bernama Cakrangga. Setelah mendapat kabar itu, mereka segera mencari jejak Cakrangga yang menurut beberapa orang itu mungkin berada di kediaman Nyai Larasati atau Peri Kuning Tongkat Maut.

"Ibu, siapakah orang itu sebenarnya?" tanya Dewi Ambarwati. "Kenapa si Cakrangga itu bisa terlibat dengan anak perempuannya? Bukankah orang itu sudah punya istri dan anak?"

"Itulah kehidupan di dunia ramai, Dewi. Terkadang godaan terlalu banyak datang hingga melemahkan iman mereka yang tak kuat. Hanya karena kecantikan dan bujuk rayu, seseorang tega meninggalkan istri dan anaknya, bahkan membunuh orang tua sendiri," sahut Roro Ningrum.

"Apakah ibu bermaksud mendatangi tempat mereka?"

"Tentu saja!"

"Menurut orang-orang itu, Nyai Larasati adalah tokoh sesat yang sangat kejam "

"Apakah engkau takut?"

"Tidak. Aku hanya tak ingin kehilangan ibu, setelah ayah tewas, aku hanya memiliki satu orang tua. Dan aku tak mau ibu tewas pula "

"Dewi, umur seseorang itu bukan ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh Yang Maha Kuasa. Lagipula kalau kita tewas dalam menegakkan keadilan, akan sangat mulia di mata siapapun ketimbang kita mati secara tak berguna. Semua orang kelak akan mati juga. Hanya tinggal menunggu waktu saja, dan waktu itu sangat singkat. Kita harus mempergunakannya sebaik mungkin," jelas Roro Ningrum.

"Tapi kenapa orang-orang yang sering berbuat kebaikan harus lebih cepat mati ketimbang mereka yang berbuat jahat. Apakah ini adil, bu? Bukankah seharusnya orang yang berbuat baik diberi ganjaran yang baik pula?"

"Kita tak bisa menentukan ukuran adil, Dewi. Adil buat kita, belum tentu adil menurut orang lain. Begitu juga di mata Yang Maha Kuasa. Kita tiada mengetahui, apa yang direncanakannya. Tapi yang pasti, bukanlah sesuatu yang buruk," jelas Roro Ningrum kembali. Sepanjang perjalanan, memang tak henti-hentinya perempuan itu memberi penjelasan-penjelasan tentang kehidupan pada anak angkat yang sangat disayanginya itu. Bukan hanya saat ini saja, namun sejak gadis itu bisa bicara pun dia telah banyak memberikan gambaran-gambaran kehidupan dunia ramai padanya. Hal inilah yang membuat gadis itu cepat matang dari usia yang sebenarnya. Dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas, santun, dan luas pandangan hidupnya.

Sementara itu dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, sebentar saja mereka telah tiba di kediaman Nyai Larasati.

"Maaf, katakan kalian punya tujuan, baru bisa kutentukan apakah guru berhak menemui kalian atau tidak," sahut seorang murid ketika dua orang itu menanyakan tentang Nyai Larasati.

"Nisanak, apakah engkau punya kuasa berkata begitu? Engkau pasti dihukum berat karena berlaku begitu pada sahabat gurumu!" bentak Roro Ningrum kesal sambil menjalankan muslihatnya. Gadis penjaga gerbang itu terpaku sesaat. Dipandanginya kedua orang itu dengan seksama.

"Siapa nama kalian?"

"Untuk apa engkau tanya-tanya? Ayo, lekas katakan pada Nyai Larasati bahwa kawan lamanya akan berkunjung!"

Dibentak begitu, si gadis agak gugup. "Ba... baiklah....!" katanya sambil berlalu ke dalam. Saat itu juga Roro Ningrum dan Dewi Ambarwati mengikuti dari belakang. Mereka menunggu di beranda depan. Tak lama kemudian Nyai Larasati atau Peri Kuning Tongkat Maut keluar bersama Banonwati dan beberapa orang muridnya. Mereka berbasa basi sesaat, setelah itu barulah Roro Ningrum mengemukakan maksudnya dengan baikbaik. Sepasang alis perempuan itu berkerut.

"Maaf, nisanak. Aku sama sekali tak pernah mendengar nama pedang yang kalian sebutkan itu?"

"Nyai Larasati, pedang itu adalah warisan perguruan kami, jadi kami harus mengambilnya kembali. Kalaupun pada akhirnya kami ke sini, tiada lain karena petunjuk beberapa orang yang mengatakan bahwa engkau memiliki salah satu Pedang Setan itu. Kalau satu atau dua orang yang berkata begitu, mungkin aku bisa ragu. Tapi semua orang merasa yakin bahwa engkau memiliki salah satunya!" sahut Roro Ningrum dengan suara pelan namun mengandung nada dakwaan.

Mendengar jawaban tamunya yang dirasanya sedikit memaksa, Nyai Larasati merasa kurang senang. Dengan tegas dia kembali berkata, "Nisanak, aku telah berkata yang sebenarnya. Urusan kalian mau percaya atau tidak, itu terserah kalian! Dan lagipula dengan niat kalian yang berpura-pura itu, mana bisa kupercaya bahwa kalian bermaksud baik-baik!"

"Nisanak, bagaimanapun kami telah menunjukkan itikad baik. Bagaimana mungkin engkau menuduh kami sedemikian rupa?" "Dengan cara kalian membohongi muridku untuk bisa bertemu denganku, apakah itu maksud yang baik?!"

"Kalau kami tak membohongi muridmu, bagaimana mungkin engkau mau bertemu dengan kami secara baik-baik? Belum apa-apa muridmu telah menaruh curiga. Seseorang yang berbuat salah pasti selalu waswas dan berjaga-jaga akan segala kemungkinan yang terjadi. Kalau memang kalian tiada menyimpan pedang yang kini direbutkan orang itu, mana mungkin engkau menyuruh setiap muridmu untuk waspada!" sahut Roro Ningrum dengan kata-kata yang mulai sinis. Mendengar itu amarah Nyai Larasati tak terbendung lagi. Perempuan itu segera bangkit dari kursinya dengan wajah dingin.

"Sebaiknya kalian berdua cepat tinggalkan tempat ini sebelum kemarahanku memuncak!"

"Terbukti bahwa salah satu pedang itu berada di tanganmu. Kalau tidak, tak mungkin engkau bersikap begini rupa!"

"Nisanak, rupanya engkau ingin diperlakukan kasar. Karena engkau berani menyatroni tempatku, pastilah engkau punya sedikit nyali dan kepintaran. Ingin kulihat, sampai di mana kemampuanmu itu!" sahut Nyai Larasati sambil melompat ke halaman depan. Tubuhnya melayang dengan ringan. Roro Ningrum sudah menganggap bahwa itu tantangan. Maka tanpa pikir panjang lagi, tubuhnya pun ikut melesat mengikuti perempuan tua itu dan jejakkan kaki pada jarak tiga tombak di hadapannya. Dewi Ambarwati menyusul diikuti oleh semua murid yang dengan cepat mengurung tempat itu.

"Nisanak, aku tak pernah membiarkan musuhku keluar hidup-hidup dari tempatku ini. Bersiaplah engkau!" kata Nyai Larasati dingin sambil gedor ujung tongkatnya ke tanah sekali. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja tubuhnya yang agak gemuk itu melesat sambil kirim satu serangan kilat. Roro Ningrum pun tak kalah sigap. Sekali tangan kanannya terayun, sebilah pedang telah berkiblat di tangannya memapaki serangan tongkat lawan.

"Trang!"

"Wuuuk!"

Nyai Larasati sedikit terkejut. Bukan saja tangannya yang agak kesemutan saat senjata mereka beradu, namun dia tak menyangka bahwa lawan mampu bergerak cepat. Nyaris tenggorokannya terkena ujung pedang lawan yang berkelebat bagai kilat.

Sambil kertakkan rahang menahan geram, dia keluarkan jurus handalnya yang diberi nama Serangga Malam Menipu Pandang. Agaknya perempuan tua yang punya gelar Peri Kuning Tongkat Maut, ingin secepatnya menyudahi pertarungan. Dalam gebrakan tadi siapa pun dapat melihat bahwa dia agak keteter. Sudah barang tentu hal ini membuatnya merasa malu di hadapan murid-muridnya sendiri. Untuk itulah dia ingin menunjukkan pada mereka, juga pada lawannya, bahwa dia masih patut diperhitungkan dan tak bisa dipandang enteng.

Roro Ningrum bukannya tak merasakan serangan lawan yang mulai mendesaknya dengan hebat, tapi perempuan tua itu juga menggunakan serangan-serangan yang keji. Tongkat di tangan yang pangkalnya terdapat patung ular naga sebesar kepala manusia dewasa itu, berputar-putar bagai baling-baling dan tiba-tiba mengeluarkan asap yang berwarna kekuning-kuningan. Belum lagi ujungnya yang runcing me-nyambar-nyambar bagian tenggorokan, jantung, dan di bawah perut. Roro Ningrum yang pandangannya agak samar karena terhalang asap kuning itu, mulai kepayahan. Bukan hanya itu saja, namun agaknya asap kuning itu mengandung obat pembius yang bisa melumpuhkan urat syaraf. Meski dia telah mainkan jurus terhebatnya yang diberi nama Kilat Pedang Membelah Angkara, namun kelebatan pedangnya yang sangat menyilaukan mata siapapun yang melihat, tak mampu menyentuh tubuh lawan.

"Dewi, cepat engkau lari dari sini! Ayo, cepaaaat...!" teriak perempuan itu memberi isyarat pada anak angkatnya itu ketika melihat keadaannya yang tak menguntungkan. Tubuhnya mulai kelihatan agak limbung dan terhuyung-huyung sambil terbatuk-batuk. Pandangannya pun mulai samar dan berkunang-kunang.

"Tidaaaak! Manusia-manusia   curang ini harus diberi pelajaran!" sahut gadis itu tak perduli dan mulai ayunkan pedang untuk membantu Roro Ningrum. Namun bersamaan dengan itu, sebelas murid Nyai Larasati telah mengurungnya dengan ketat dan kirim serangan secara tiba-tiba. Mau tak mau Dewi Ambarwati terpaksa membereskan mereka terlebih dahulu. Namun itu bukanlah pekerjaan mudah. Kesebelas murid-murid Nyai Larasati bukanlah orang sembarangan. Masing-masing mereka memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi pada saat ini mereka menyerang dengan serentak. Tapi tak percuma Dewi Ambarwati sebagai murid Malaikat Pedang Bertangan Seribu kalau musti keder menghadapi keroyokan. Dengan semangat yang berapi-api dia melayani mereka sambil putar pedang dan mainkan jurus Kilat Pedang Membelah Angkara. 

Jurus pedang itu sebenarnya sangat handal. Selain mengandung serangan yang cepat dan kuat, dia juga memiliki jurus-jurus tipuan yang mampu mengecoh lawan. Kalau saja asap kuning yang disebar Nyai Larasati tak mempengaruhi Roro Ningrum, rasanya perempuan tua itu tak mungkin sanggup menghadapinya.

Kehebatan jurus itu terlihat saat Dewi Ambarwati berhasil mematahkan senjata tongkat pada dua orang lawan, dan membuat luka yang cukup parah pada keduanya. Tapi karena gadis itu kurang pengalaman dalam menghadapi pertarungan, dan lagipula lawan yang dihadapinya bukan orang sembarangan, sebentar saja dia kembali didesak oleh lawanlawannya.

"Dewi, cepat lari dari sini! Ayo, cepat...!" teriak Roro Ningrum kembali memperingati. Tubuhnya melesat mendekati tempat pertarungan gadis itu dan menghajar dua orang lawan yang mendesak putri angkatnya itu dengan hebat.

"Trang! Trang!" "Craaas!"

Perempuan separuh baya murid si Malaikat Pedang Bertangan Seribu itu mengeluh pendek saat lengan kirinya berhasil disabet ujung tongkat Nyai Larasati yang tak membiarkannya kabur begitu saja. Darah mulai mengucur dari tempat itu. Kepalanya lebih terasa nyeri, dan pandangannya semakin mengabur. Agaknya ujung tongkat lawan itu mengandung racun yang hebat. Meski begitu dia masih sempat berteriak pada anak angkatnya itu untuk menyelamatkan diri.

Dewi Ambarwati bingung setengah mati. Batinnya tak tega untuk menuruti perintah ibunya itu. Apalagi saat ini dia sedang terluka. Namun akal sehatnya cepat bekerja. Kalau mereka berdua tertangkap atau tewas, siapa yang akan memberitahukan hal ini pada guru? Maka setelah ibu angkatnya itu berteriak sekali lagi sebelum tubuhnya ambruk, gadis itu kertakkan rahang menahan geram. Pedangnya berkiblat. Dengan suara melengking nyaring, tubuhnya melesat ke atas sambil membuat putaran beberapa kali. Tiga orang murid Nyai Larasati cepat mengejar sambil putar tongkat bagai baling-baling dan siap menggebuk tubuh lawan. Tapi tentu saja Dewi Ambarwati telah memperhitungkan hal itu sebelumnya.

"Trang! Trang! Trang!" "Tras! Tras! Crab!"

Dengan menggunakan jurus Kilat Pedang Membelah Angkara pada tingkatan tertinggi, pedang di tangannya memapas ketiga tongkat lawan dan cepat kirim dua sabetan dan satu tusukan. Ketiga murid Nyai Larasati atau Peri Kuning Tongkat Maut keluarkan jerit kesakitan. Dua orang memegang bagian pinggang yang robek sepanjang satu jengkal, dan seorang lagi mendekap dada kanan yang terus mengucurkan darah. Secepat itu pula Nyai Larasati menggeram hebat dan kirim satu pukulan jarak jauh yang mengeluarkan selarik sinar kuning. Namun tubuh Dewi Ambarwati telah melesat bagai seekor walet terbang dan secepatnya meninggalkan tempat itu. Pukulan orang tua itu hanya mengenai tempat kosong saja. Sambil menyumpahnyumpah, dia memerintahkan muridmuridnya mengejar lawan yang telah kabur itu. 9

Tubuh gadis itu terus berkelebat dengan cepat. Sesekali dia menoleh ke belakang manakala melihat beberapa orang pengejarnya masih tertinggal pada jarak duapuluh tombak. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan ilmu lari cepatnya, tubuhnya melesat meninggalkan para pengejarnya hingga tak terjangkau lagi jarak-nya. Gadis yang bernama Dewi Ambarwati itu agak bernafas lega saat melihat kenyataan itu. Perlahan dia hentikan langkah dan mengatur nafasnya yang semakin memburu sambil bersandar pada sebuah batang pohon. Wajahnya mendongak ke atas dengan pandangan sayu. Sesekali dia memicingkan mata menahan kepiluan, namun kali lain wajahnya terlihat geram.

"Ibu, tak kusangka apa yang ku cemaskan ternyata kini terbukti. Entah bagaimana nasibmu kini..." keluhnya lirih. "Mudah-mudahan engkau bisa selamat. Aku pasti akan datang kembali dan mengadukan hal ini pada Eyang. Bisa berbuat apa mereka terhadap beliau "

Tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh suara tawa panjang yang mengejeknya. Dengan cepat .dia bersiaga dan putar pandang ke sekeliling tempat. Namun alangkah kagetnya dia manakala melihat bahwa tempat itu telah dikepung rapat oleh orang-orang yang berwa-  jah seram dengan gambar tengkorak di punggung baju mereka. Reflek gadis itu mencabut pedang dan bersiap mempertahankan diri.

"Sungguh kebetulan sekali ada seorang gadis cantik berkeliaran di tempat ini. Bisa menjadi hiburan buat kita semua!" kata seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun. Wajahnya bengis. Meski pun dia ketawa, namun tak terlihat keramahan. Sebaliknya menyiratkan hawa kesadisan dan kekejaman. Perlahan-lahan dia mendekati gadis itu.

"Siapa kalian?!" bentak gadis itu sambil mundur dua langkah.

"Siapa kami, engkau tak perlu tahu, tapi keheradaanmu di tempat ini justru sangat membahagiakan kami, dan itu engkau perlu tahu!" sahut laki-laki itu sambil menyeringai buas. Dewi Ambarwati bergidik ngeri melihat senyum bengis laki-laki itu.

"Jangan coba-coba mendekat kalau tak ingin merasakan ujung pedangku!" ancamnya.

"Ha... ha... ha... ha....!" Seumur hidup baru kali ini si Suryudana diancam orang, bahkan oleh seorang gadis cantik pula!" Orang itu bergelak agak keras sambil putar pandang pada orang-orang di sekeliling tempat itu yang ikut-ikutan tergelak-gelak seolah menimpalinya.

"Manis..." lanjutnya dengan suara yang direndah-rendahkan, "Seharusnya engkau berterima kasih padaku bahwa orang-orang yang mengejarmu itu kini sedang diringkus oleh sebagian anak buahku."

"Siapa sudi menerima kebaikanmu! Tanpa campur tanganmu pun aku mampu menghajar mereka!"

"Ha... ha... ha... ha ! Engkau sungguh

membuatku senang dan bersemangat. Nah, lebih baik menurut baik-baik. Setelah urusanku selesai, engkau tentu akan kubawa ke tempatku dan kujadikan istriku yang tercinta!"

"Maaf, kisanak. Agaknya kalau tak sinting, pastilah engkau seorang penghayal. Aku bukan benda mati yang dengan gampang engkau bawa dan perlakukan sesukamu. Maafkan, aku tak bisa memenuhi keinginanmu itu. Lagipula saat ini aku ada urusan yang harus diselesaikan," sahut Dewi Ambarwati dan coba berlalu dari tempat itu. Tapi baru saja dia berjalan tiga langkah, dua orang diantara pengepungnya telah loloskan pedang dan membuat gerakan menyilang yang menghalangi langkahnya. Terpaksa gadis itu hentikan langkah dan berpaling dengan wajah kesal pada orang yang bernama Suryudana itu.

"Kisanak, jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan pada kalian dengan caramu ini!" katanya dengan suara mengancam. Sebaliknya Suryudana hanya tergelak-gelak kecil mendengar kata-kata si gadis.

"Kalau engkau enggan dengan cara kekerasan sebaiknya aku setuju sekali dengan cara baik-baik. Ikutlah denganku, maka engkau akan memperoleh perlakuan yang baik pula."

Mendengar jawaban itu, mengertilah si

gadis bahwa tak ada jalan lain untuk keluar dari kepungan ini selain mengadakan perlawanan. Sesungguhnya dia tak mengetahui bahwa orang-orang ini adalah murid-murid Perguruan Tengkorak Hitam. Niat mereka yang sesungguhnya adalah memancing beberapa orang murid-murid Nyai Larasati untuk keluar dari tempatnya dan menyerang dengan tiba-tiba. Namun baru saja mereka memikirkan cara itu, kebetulan sekali beberapa orang diantaranya keluar untuk mengejar gadis yang kini mereka kepung. Maka Suryudana yang turun langsung dalam penyerbuan ke tempat kediaman Nyai Larasati itu, memecah rombongan menjadi dua bagian. Sebagian yang dipimpin oleh tangan kanannya, yaitu pemuda yang bernama Danu Umbara untuk menyergap beberapa orang murid Nyai Larasati, dan dia sendiri mengepung gadis yang dikejar-kejar itu. Adapun niat Suryudana atau lebih dikenal sebagai Raja Tengkorak Bermuka Masam berbuat begitu adalah untuk mematahkan perlawanan Nyai Larasati pada saat penyerbuan yang akan mereka lakukan nanti. Karena walau bagaimanapun dia tak mau anggap remeh kemampuan perempuan tua itu beserta murid-muridnya.

Sementara itu Dewi Ambarwati telah keluarkan suara bentakan nyaring sambil putar pedang dan coba menembus barisan pertahanan para pengepungnya itu. Namun alangkah kecewanya dia manakala menemukan kenyataan bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan lawan lawannya ternyata sangat kompak dan teratur sekali. Berkali-kali mereka berhasil menghindar dari sabetan pedangnya dan dengan tiba-tiba balas menyerang dengan tiba-tiba. Sudah barang tentu hal ini membuat gadis itu gusar bukan main.

"Ciaaaat !"

Dengan berteriak nyaring, tubuhnya mencelat ke atas sambil membuat beberapa kali putaran, kemudian dengan tiba-tiba menukik tajam dengan pedang di tangan bergulung-gulung hingga tiada terlihat lagi bentuknya.

"Cras! Cras!"

Dua orang pengeroyoknya memekik nyaring manakala ujung pedang gadis itu merobek dadanya. Gadis itu terus mengamuk, tiada henti bagai serigala betina yang terluka. Beberapa orang lagi terkena sabetan pedangnya. Dengan menggunakan jurus andalannya yaitu, Kilat Pedang Membelah Angkara, lawan-lawan itu bukanlah tandingannya. Meski mereka mampu berkelit, namun ujung pedang gadis itu terus mengejar bagai memiliki mata. Melihat keadaan itu, tentu saja Suryudana geram bukan main. Dengan satu bentakan keras, para pengeroyok itu yang tak lain dari anak buahnya sendiri, segera hentikan penyerangan. Sepasang matanya menyipit dan menyiratkan amarah luar biasa terhadap gadis itu. Perlahan-lahan dia melangkah mendekati si gadis yang telah bersiap-siap jika orang itu tiba-tiba menyerangnya.

"Ilmu silatmu boleh juga, anak manis. Tapi jangan dulu berbangga diri. Kalau dalam lima jurus di muka engkau bisa bertahan dari serangan ku, bolehlah berarti engkau menang dan kuijinkan pergi sesukamu. Tapi kalau tidak, maka engkau tak akan pergi ke manamana!" kata Suryudana dingin. Sekali tangannya bergerak, tiba-tiba sebatang pedang telah tergenggam. Tanpa banyak membuang waktu lagi, laki-laki bertampang bengis ini telah kiblatkan pedang. Lalu dengan satu bentakan nyaring, tubuhnya yang sedikit ramping, telah melesat ke arah gadis itu sambil kirim satu serangan yang bertenaga sangat kuat. Suryudana atau Raja Tengkorak Bermuka Masam mengetahui bahwa gadis itu mempunyai ilmu yang cukup lumayan, tak mau menganggap enteng. Itulah sebabnya pada awal serangan ini dia telah keluarkan jurus-jurus dahsyatnya yang diberi nama Tengkorak Menakuti Angin Ribut.

Dewi Ambarwati mulai merasakan permainan pedang lawan sungguh hebat sekali. Meski dia telah keluarkan seluruh kemampuannya dan balas menyerang dengan menggunakan jurus Kilat Pedang Membelah Angkara, namun lawan tak sedikit pun terdesak, bahkan mampu berkelit dengan sangat lincahnya. Sudah barang tentu hal ini membuatnya sangat putus asa. Segala daya upaya telah dikerahkannya, namun lawan seolah tak memberikan ruang gerak padanya untuk berbuat sesuatu. Walhasil gadis itu hanya bisa pasrah dan bertahan sebisanya. Kalau benar apa yang dikatakan lawan bahwa bila dia dapat bertahan lima jurus dari serangannya, maka dia akan membebaskannya. Semoga saja janjinya itu bisa dipegang. Namun ternyata gadis itu tak banyak berharap. Meski pertarungan itu telah memasuki jurus ketujuh dan dia hanya menunggu waktu saja untuk dijatuhkan, tapi lawan tak bermaksud menyudahi. Malah semakin bernafsu untuk mengalahkannya secara terang-terangan.

Sebenarnya kalau saja diperhatikan secara sungguh-sungguh, ilmu pedang yang dimainkan gadis itu tak bisa dianggap ringan, dan tidak juga berada di bawah permainan lawan. Hanya saja gadis itu memang kalah dalam hal tenaga dalam dan pengalaman bertanding. Barangkali hanya kegesitan saja yang membuatnya mampu bertahan sampai tujuh jurus.

Sementara itu melihat lawan semakin terdesak, Suryudana seolah telah melupakan kata-katanya. Dia terus ayunkan pedang dan menghantam manakala gadis itu sudah terdesak hebat. Mau tak mau Dewi Ambarwati harus mempertahankan diri dan kiblatkan pedang untuk memapaki serangan lawan.

"Tang!"

Pedang di tangan gadis itu mental lima tombak. Ujung pedang Suryudana telah terhunus di tenggorokannya. Laki-laki itu tersenyum sambil perlihatkan seringai yang berkesan sadis. Dewi Ambarwati bergidik ngeri melihat wajah itu. Masih untung pada saat itu tiba-tiba muncul beberapa orang kawan mereka yang lain. Seorang pemuda berusia sekitar duapuluh tahun bersama beberapa orang anak buahnya yang masih terhitung muridmurid Perguruan Tengkorak Hitam. Bersama mereka nampak beberapa orang gadis dalam keadaan tertotok dan dibopong oleh beberapa orang diantara murid murid Tengkorak Hitam itu.

"Guru, tugas telah kami jalankan dengan baik!" kata si pemuda yang agaknya memimpin rombongan itu. Suryudana anggukan kepala puas.

"Engkau lihat hasil tangkapan kami

ini?"

Pemuda itu melirik sekilas. Hatinya

terpana saat melihat wajah Dewi Ambarwati yang cantik jelita. Untuk sesaat dia terpaku di tempatnya.

"Danu Umbara, kalau engkau suka, engkau akan mendapat giliran setelah aku nanti. Tapi sekarang ini lebih baik kita urus dulu perempuan tua bangka itu!" kata Suryudana seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Tiba-tiba tangan kiri ketua Perguruan Tengkorak Hitam itu bergerak ke tubuh si gadis. Sebentar saja Dewi Ambarwati merasa tubuhnya kaku akibat totokan lawan. Dia menyumpah habis-habisan. Suryudana hanya tergelak-gelak saja. Tapi secara tak terduga, saat itu juga terdengar tawa panjang yang mengiringi suaranya tanpa menampakkan ujud.

"Ha... ha.., ha....! Tua bangka keparat! Engkau masih suka juga pada daun muda. Apakah engkau tak merasa malu?!"

"Siapa engkau?!"

"Engkau tiada punya derajat mengetahuiku!"

"Huh, sungguh sombong sekali engkau ini!" dengus Suryudana sambil mengamati tempat itu dengan tajam. Tiba-tiba dilihatnya ada sesuatu yang bergerak pelan dari cabang sebuah pohon bagai ditiup angin. Dengan cepat tubuhnya melesat ke arah itu sambil kirim satu serangan.

"Krosak! Pras! Pras!"

Pedangnya terayun dengan cepat. Tapi alangkah kecewanya laki-laki itu menemukan kenyataan bahwa dia terkecoh. Di situ tiada siapa-siapa. Jelas tadi bukan akibat angin daun-daun itu bergerak. Saat itu angin bertiup dari arah kanan ke kiri, tapi daun-daun di cabang itu bergoyang tak beraturan meskipun hanya pelan saja. Sudah barang tentu dalam pikirannya, orang yang mengeluarkan suara tawa tadi bersembunyi di tempat itu. Semua murid-muridnya yang melihat kejadian itu bertambah heran saja. Bagaimana mungkin guru mereka yang berilmu tinggi itu dapat terkecoh oleh lawan. Lalu siapakah orang tadi sebenarnya? Mungkinkah seorang tokoh berilmu tinggi yang hanya ingin menggoda mereka saja?

Tapi Suryudana segera mendapat jawaban manakala dia kembali turun dan melihat gadis yang dikalahkannya tadi telah lenyap entah ke mana. Empat orang muridnya yang berada di dekat gadis itu roboh dalam keadaan tertotok. Dia menyumpah-nyumpah tak karuan melihat keadaan itu sambil berpikir keras, siapa orang yang mampu berbuat begitu hebat pastilah ilmunya sangat tinggi. Bisa jadi guru si gadis itu, pikirnya. Kalau saja dia tadi turun tangan, belum tentu mereka semua bisa selamat. Masih untung dia tak mempersoalkannya. Berpikir begitu, cepatcepat Suryudana memerintahkan anak buahnya untuk lanjutkan perjalanan menuju tempat kediaman Nyai Larasati.

10

Dewi Ambarwati tersentak kaget melihat seorang pemuda berwajah tampan dengan pakaian kumal berwarna merah. Belum lagi dia sempat berpikir melihat cara berdandan pemuda itu yang rambutnya dikuncir dan membawa-bawa periuk besar, tiba-tiba saja tubuhnya telah berada dalam bopongannya dan bersamaan dengan itu empat orang murid Tengkorak Hidup ambruk tak berdaya tanpa menimbulkan suara. Pemuda itu terus berlari dengan sangat cepat sambil membopongnya. Dia sama sekali tak merasa seperti membawa beban. Dari situ saja si gadis sudah dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan. Setidaknya dari cara dia merobohkan empat orang tadi dan kini membawanya berlari dengan kecepatan tinggi. Tapi bukan berarti dia tak curiga. Dia sama sekali tak mengenal siapa pemuda ini sebenarnya, dan punya maksud apa menolongnva. Lebih-lebih tak lama kemudian seorang pemuda yang sebaya dengannya, berlari dengan kecepatan tinggi mendekati. Dan akhirnya mereka berdampingan sambil tertawatawa kecil. Sudah barang tentu hal ini membuatnya bertambah curiga saja.

"Kisanak, siapakah kalian ini sebenarnya? Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya gadis itu was-was.

"Tenanglah, nona. Kami tak bermaksud jahat padamu," sahut pemuda berkuncir yang tak lain dari Buang Sengketa, atau si Pendekar Hina Kelana.

"Kalau kalian tak bermaksud jahat, tolong lepaskan totokanku ini dan biarkan aku pergi dari sini."

"Ah, betul! Hampir saja aku lupa!" Pemuda itu tepuk jidat dan hentikan larinya. Begitu juga dengan pemuda yang berada di sampingnya.

"Nah, nona engkau sekarang bebas!" lanjut Buang Sengketa setelah melepas totokan gadis itu. Sebaliknya Dewi Ambarwati bingung sendiri. Kedua pemuda ini sama sekali tak mengesankan sebagai seorang yang berwatak jahat. Lagi pula mereka tak menuntut imbalan apa-apa setelah menolongnya. Sudah barang tentu hal ini membuatnya malu hati dan merasa tak enak telah punya perasaan curiga sebelumnya. Sebagai seorang gadis yang tahu sopan santun, dia tak malu untuk meminta maaf.

"Maafkanlah aku, kisanak. Tadi aku telah berperasangka buruk pada kalian berdua. Kusangka kalian adalah sebangsa laki-laki hidung belang yang punya niat sama seperti mereka. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan kalian. Kalau boleh kutahu, siapakah kalian ini sebenarnya?"

"Ah, tak perlu merasa begitu, nona. Menolong sesama manusia adalah sudah menjadi kewajiban kita bersama. Aku bernama Buang Sengketa dan kawanku ini bernama Tuta Rimba," jawab Buang Sengketa. Gadis itu anggukkan kepala mendengar itu. Meskipun Buang Sengketa menerangkan julukannya, barangkali pun gadis itu tak merasa terkejut, karena sebagai gadis yang baru turun gunung, dia sama sekali tak pernah mengenalnya.

"Nona, siapakah engkau sebenarnya, dan kenapa bisa berurusan dengan orangorang Tengkorak Hitam?" tanya Tuta Rimba. Si gadis yang merasa percaya bahwa kedua pemuda itu orang baik-baik, segera menceritakan pengalaman yang dialaminya tadi. Bahkan diapun menceritakan segala sesuatunya sejak mereka turun gunung guna mencari Sepasang Pedang Setan yang dipesan gurunya. Gadis itu sedemikian polosnya hingga tak sedikitpun dia punya perasaan curiga terhadap kedua pemuda itu. Sebaliknya Tuta Rimba terperanjat kaget mengetahui, siapa guru gadis itu sebenarnya.

"Astaga! Ternyata kita adalah orang sendiri. Nona, guruku mengutusku untuk mencari Pedang Setan itu guna mengembalikannya pada orang yang berhak, yaitu gurumu. Beliau adalah adik seperguruan Ki Wicaksana, sahabat gurumu yang diamanatkan untuk menyimpan sepasang pedang itu."

"Oh, benarkah itu?!"

Tuta Rimba mengangguk pasti. Buang Sengketa pun membenarkan hal itu.

"Sebaiknya engkau tak perlu kembali menemui gurumu. Kalau engkau bersedia ikut, kami bermaksud menemui Nyai Larasati dan meminta pedang itu secara baik-baik" kata Buang Sengketa.

"Perempuan itu sangat licik. Kalian harus berhati-hati padanya!" kata Dewi Ambarwati memperingatkan.

"Dengan cara apapun kami akan berusaha mengambilnya dan sekaligus membebaskan gurumu."

"Baiklah. Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian!"

Tak lama kemudian ketiganya segera melesat dari tempat itu menuju kediaman Nyai Larasati atau Peri Kuning Tongkat Maut.

Sebenarnya apa yang mereka lakukan hingga dengan gampang bisa membawa gadis itu dari kepungan orang-orang Tengkorak Hitam? Mulanya mereka melihat keadaan gadis itu yang terdesak hebat dan kena dijatuhkan oleh Suryudana. Tuta Rimba ingin turun tangan untuk membantu. Tapi Buang Sengketa mempunyai rencana yang lebih baik. Menurutnya kalau mereka turun tangan secara langsung, tentu akan memakan waktu lama. Maka dia menyuruh Tuta Rimba untuk mengecoh lawan pada posisi tertentu untuk memancing perhatian mereka. Dengan menggunakan pukulan jarak jauh, pemuda itu menghantam cabang pohon yang berdaun lebat dan agak tertutup, lalu secepatnya kabur dari tempat itu. Pada waktu yang bersamaan, Buang Sengketa bergerak menolong gadis itu karena semuanya sedang memusatkan perhatian ke arah ketua mereka yang menerjang ke arah dedaunan yang bergoyang-goyang akibat dihantam pukulan Tuta Rimba tadi. Tanpa banyak mengalami kesulitan, dia menotok keempat orang murid Tengkorak Hitam dan dengan cepat menyambar gadis itu dan membawanya kabur sambil mengerahkan ajian Sepi Angin.

11

Nyai Larasati atau si Peri Kuning Tongkat Maut sungguh tak menyangka bahwa kedatangan tokoh-tokoh sakti ke tempatnya karena mendapat kabar bahwa dia memiliki salah satu Pedang Setan, sungguh cepat beredar. Kini mereka telah berkumpul. Ada yang meminta secara baik-baik dengan alasan tertentu, namun ada juga yang memaksa hingga menimbulkan perkelahian yang tak dapat dielakkan lagi. Kedudukan mereka memang sangat tidak menguntungkan. Lima orang murid-muridnya yang mengejar gadis yang lolos dari tempat mereka, belum juga kembali. Jumlah tokoh-tokoh yang hadir di situ bahkan melebihi jumlah mereka sendiri. Dia sendiri tak yakin, apakah mampu mengalahkan mereka secara jujur. Maka dengan akal bulusnya dia menantang mereka beramai-ramai dan menjanjikan akan memberikan pedang itu bagi siapa yang bisa mengalahkannya. Tentu saja hal ini menarik perhatian mereka yang akalnya pendek. Namun bagi tokohtokoh tertentu yang mengetahui bahwa perempuan tua itu banyak memiliki akal bulus, tak cepat percaya. Mereka berdiam diri dan menunggu saat yang tepat. Dugaan itu ternyata tak salah. Dua orang tokoh persilatan yang bernama Dandaka Pura dan Permana, serta lima orang yang lebih dikenal sebagai Lima Iblis Lembah Duka, kena diperdaya oleh orang tua itu dan tergeletak pingsan saat Nyai Larasati putarkan tongkat yang mengeluarkan asap kuning yang merupakan obat pembius.

"Siapa lagi yang coba-coba menginginkan pedang itu, boleh berhadapan denganku!" kata orang tua itu dengan wajah garang. Matanya menyapu pandang pada tiga orang yang masih tegak sambil senyum mencibir. Yang satu seorang perempuan berusia enam puluh tahun. Wajahnya lebar dan rambutnya yang panjang telah memutih semua. Dia mengenakan pakaian yang sangat ketat di seluruh tubuhnya. Pada kesepuluh jari-jarinya terlihat kuku-kuku yang sangat tajam dan panjang. Rimba persilatan mengenalnya sebagai Betina Penyebar Maut. Nama aslinya adalah Nyai Tonggeng. Seorang lagi bertubuh pendek dan gempal. Kepalanya pada bagian ubun-ubun telah botak. Memakai baju kembang-kembang merah dan biru dengan dasar putih. Dia dikenal sebagai Banteng Liar Peremuk Raga. Dijuluki demikian karena tenaganya yang besar dan kuat luar biasa. Namanya adalah Lembu Sura. Dan yang ketiga bernama Puro Sekati. Tubuhnya kurus jangkung. Rambutnya yang telah memutih, digulung ke atas. Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Meski wajahnya tak menyeramkan, namun dia adalah tokoh yang sangat ditakuti karena kekejamannya yang tak kepalang tanggung. Jarang orang yang mau berurusan dengan kakek, yang punya gelar Setan Bertangan Delapan ini.

Sesungguhnya Nyai Larasati lebih mengkhawatirkan mereka bertiga ini daripada yang lain. Ilmu mereka tinggi dan sulit dijajaki. Lagipula mereka cerdik dan tak mudah terpancing oleh tipu dayanya.

"Nyai Larasati, sebaiknya engkau jangan banyak pentang bacot. Lebih baik serahkan saja Pedang Setan itu padaku, dan kujamin aku tak akan mengganggumu!" kata Nyai Tonggeng atau Betina Penyebar Maut dengan suara dingin mengancam.

"Siapa bilang begitu?" timpal Lembu Sura. "Apa engkau pikir hanya engkau saja yang ingin memiliki pedang itu?"

"Ya. Engkaupun harus ingat bahwa aku telah berada di sini," sahut Puro Sekati tersenyum sinis. "Aku tak akan kembali sebelum apa yang kuinginkan tercapai."

"Kalian sama sekali tak berhak akan Pedang Setan itu!" sahut satu suara tiba-tiba. Semua orang menoleh dan terlihat di tempat itu telah terdapat sekitar tiga puluh orang murid-murid Perguruan Tengkorak Hitam yang dipimpin langsung oleh ketuannya, yaitu Suryudana atau lebih dikenal sebagai Raja Tengkorak Bermuka Masam. "Pedang itu adalah kepunyaan pamanku yaitu si Pedang Setan. Oleh sebab itu, akulah yang berhak memilikinya," lanjut suara itu yang tak lain dari Suryudana.

"Ha... ha... ha... ha....!" Sungguh lucu. Orang-orang memperebutkan benda yang bukan miliknya dan merasa seolah-olah benda itu adalah miliknya yang harus didapatkan dengan cara apapun," timpal satu suara. Semua orang yang berada di situ kembali dibuat terkejut

Tiga orang berusia muda telah muncul di situ. Dua orang pemuda dan seorang lagi perempuan jelita berusia sekitar tujuh belas tahun. Salah seorang pemuda yang mengeluarkan ucapan tadi sungguh sangat menarik perhatian mereka. Meski wajahnya tampan, namun dia berpakaian kumal. Rambutnya dikuncir serta membawa-bawa periuk besar. Demi melihat kedatangan pemuda itu, Endang Purwasih yang berada di situ, dengan tiba-tiba menyerbu ke arahnya dengan wajah girang.

"Kelana...!" panggilnya. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti manakala neneknya hadangkan tongkat. Gadis itu bingung tak mengerti. Tapi perempuan tua itu seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu, segera memberitahukan alasannya.

"Tidakkah engkau lihat dia bersama siapa? Dia bersama gadis yang lolos itu, Pastilah gadis itu telah bercerita banyak padanya. Engkau jangan berharap bahwa dia berada di pihak kita."

"Tapi, nek "

"Diam kataku dan tetap di tempatmu!" bentak Nyai Larasati sambil pelototkan mata. Gadis itu terpaksa menurut meski sorot matanya masih bertanya-tanya sambil melirik ke arah pemuda berwajah tampan yang membawa-bawa periuk besar itu.

Sementara itu Suryudana mengenali betul siapa gadis yang bersama kedua pemuda itu. Hatinya penuh dengan tanda tanya. Siapa kedua pemuda itu? Apakah mereka yang menyelamatkan gadis itu dari tangannya? "Kelana, apa maksud perkataanmu itu!?" tanya Nyai Larasati dengan wajah sinis. Pemuda itu tersenyum kecil dan maju dua langkah.

"Nyai Larasati, Pedang Setan adalah milik si Malaikat Pedang Bertangan Seribu. Di sini ada muridnya yang mewakili orang tua itu untuk mengambil hak miliknya. Kenapa malah engkau menyerakahi benda yang bukan milikmu

"Siapa bilang pedang itu ada di tanganku?!"

"Nyai Larasati, jangan engkau bersilat lidah. Aku tahu betul bahwa engkau memiliki salah satu dari Pedang Setan itu. Kalau tidak, tak mungkin engkau kasak kusuk untuk mencari pedang yang satunya lagi hingga perlu menahan si Cakrangga untuk mengorek keterangan darinya," sahut Suryudana. "Keadaanmu sungguh sangat terjepit. Kalau engkau mau menyerahkan pedang itu padaku, sudah barang tentu aku akan bersekutu dan membelamu terhadap niat-niat jahat mereka." "Cuih! Suryudana, apa engkau pikir

aku tak mengerti akal bulusmu itu? Untuk apa engkau sibuk-sibuk menginginkan pedang yang hanya sebuah itu. Pastilah engkau memiliki yang sebuah lagi. Aku ingat betul saat engkau mengobrak abrik rumah kediaman cucu Tumenggung Gandasena yang bernama Nugraha Wisesa tujuh belas tahun lalu. Engkau pasti telah mendapatkan pedang itu, dan kini menginginkan sebuah lagi yang engkau sangka berada di tanganku!" sahut Nyai Larasati sengit.

"Hei! Hei! Kenapa malah kalian saling menyalahkan? Pasti ini akal bulus lagi agar kalian tak dicurigai memiliki pedang itu?!" sentak Tuta Rimba tak sabaran. Kedua orang itu palingkan wajah dan sipitkan mata menahan geram.

"Anak muda, punya kebisaan apa engkau berani berkata lancang begitu terhadapku?" tegur Nyai Larasati dengan nada mengancam.

"Nenek peot, tak usah banyak bacot! Serahkan pedang itu pada yang berhak dan kami tak akan mengganggumu!"

"Bedebah! Kau pikir engkau ini siapa seenaknya memerintahku?"

Tanpa dikomando lagi, beberapa orang muridnya telah menyerang pemuda itu dengan ganas. Perkelahian pun tak dapat dihindari lagi. Dewi Ambarwati yang sejak tadi hatinya penuh dendam terhadap perempuan tua itu, tiba-tiba saja telah cabut pedang. Tubuhnya melesat dengan cepat sambil kirim satu serangan.

"Nyai Larasati, apakah engkau benarbenar tak mau bersekutu padaku?!" teriak Suryudana sambil ketawa mengejek. "Lima orang muridmu berada dalam tanganku. Asal engkau berjanji akan menyerahkan pedang itu padaku, tentu saja aku akan melepaskan mereka, bahkan anak muridku pun akan membantumu menyingkirkan mereka." Perempuan tua itu ternyata tak bodoh. Melihat posisinya yang sedang tak menguntungkan, dia segera putar otak dan dengan cepat menyetujui usul Suryudana. Soal nanti barangkali akan dipikirnya belakangan.

Demi mendengar jawaban itu, dengan cepat Suryudana memerintahkan muridmuridnya untuk meringkus tiga orang muda yang baru datang itu. Dia sendiri telah melesat membantu perempuan tua itu untuk menjatuhkan gadis yang menjadi lawan Nyai Larasati. Tapi saat itu juga tentu saja Buang Sengketa tak mau tinggal diam. Tubuhnya segera berkelebat memapaki serangan ketua Perguruan Tengkorak Hitam.

"Ciaaaat !"

Suryudana agak terkejut melihat serangan lawan yang cepat itu. Beberapa orang murid-muridnya yang pernah berhadapan dengan pemuda itu sempat membisikkan tentang siapa sebenarnya pemuda yang selalu membawa-bawa periuk besar itu.

"Hemm, jadi engkaulah yang bernama Pendekar Hina Kelana itu? Sungguh menyesal bahwa engkau harus mati di tanganku," ejeknya sambil memandang rendah.

"Mati itu bukan urusanmu. Salahsalah malah engkau sendiri yang akan mengalaminya nanti," balas Buang Sengketa. Tapi pemuda itu tak bisa berlama-lama berhadapan dengan lawannya. Puluhan murid-murid Tengkorak Hitam telah terbagi dua. Sebagian mengeroyok Tuta Rimba, dan sebagian lagi membantu Nyai Larasati. Sedangkan tangan kanan Suryudana yang bernama Danu Umbara, telah melesat membantu gurunya itu. Tentu saja hal itu tak bisa didiamkan saja. Buang Sengketa merasa perlu untuk menolong kedua sahabatnya itu.

Tapi untuk lolos dari dua lawannya ini bukanlah soal mudah. Keduanya berilmu tinggi dan memiliki serangan-serangan yang mematikan. Karena tak ada jalan lain, terpaksa pemuda itu mengeluarkan jurus Si Gila Mengamuk. Suatu jurus yang tiada beraturan namun sangat ganas sekali menyerang lawan. Dalam pada itu dari telapak tangannya melesat selarik sinar ultra violet menghantam para murid-murid Tengkorak Hitam. Maka tak ayal lagi. Sebentar saja terdengar pekik kematian akibat pukulan Empat Anasir Kehidupan yang berhawa panas itu. Beberapa orang murid Tengkorak Hitam langsung tumbang dan tewas seketika terkena pukulan itu. Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan sekali. Kalau dibiarkan terus, sudah pasti muridmuridnya akan tewas tiada bersisa. Berpikir begitu, Suryudana putar otak. Pemuda yang menjadi lawannya ini berilmu tinggi. Meski dia telah keluarkan jurus-jurus andalannya dan mengeroyoknya berdua, belum kelihatan tanda-tanda dia akan terdesak. Bahkan kalau dibiarkan terus, salah-salah bisa dia sendiri yang celaka. Tiba-tiba dia menemukan akal saat matanya melihat tiga orang tokoh sesat yang masih mematung tak ambil bagian dalam pertarungan itu

"Hei, kalian bertiga?!" teriaknya memanggil. "Ketahuilah, bahwa pemuda ini yang bergelar Pendekar Hina Kelana. Kalau dia berhasil menguasai pedang itu, kalian akan rugi sendiri. Sedang bila pedang itu kita dapatkan, bisa dirundingkan baik-baik cara penyelesaiannya nanti. Kenapa kalian malah diam saja?!"

Mendengar nama si pemuda itu, tanpa pikir panjang lagi, ketiganya segera melesat dan langsung menyerang Buang Sengketa. Siapa yang tak mengenal Pendekar Hina Kelana? Nama itu belakangan ini menjadi momok yang membuat gemas tokoh-tokoh sesat sehubungan dengan sepak terjangnya yang sangat memusuhi golongan mereka.

"Ah, engkau rupanya yang punya gelar Pendekar Hina Kelana itu?" ujar Nyai Tonggeng sinis. "Ingin sekali kulihat permainan Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayutomu yang sangat menghebohkan itu."

"Kedua senjata itu bukan untuk dipamerkan, tapi kalau kalian memaksa, apa boleh buat. Nantipun kalian akan merasakannya juga," sahut pemuda itu merendah. Tapi apa yang dikatakannya sungguh beralasan. Dikeroyok lima orang yang berilmu tinggi itu, mau tak mau membuat Buang Sengketa agak repot. Dia tak bisa lagi hantamkan pukulan Empat Anasir Kehidupan untuk membantu kedua kawannya karena selalu dihalanghalangi oleh gerakan-gerakan lawan yang mengurungnya dengan ketat. Pemuda itu kini semakin terdesak saja. Hatinya cemas bukan main memikirkan keadaan kedua sahabatnya itu. Dikeroyok oleh begitu banyak orang, pastilah mereka tak akan bertahan lama. Sedang dia sendiri kalau tak cepat bertindak, juga akan dapat dijatuhkan oleh lawan-lawannya.

"Aaaakh !"

Buang Sengketa tersentak kaget mendengar teriak kesakitan Dewi Ambarwati. Bahu kirinya kena diserempet ujung tongkat lawan, dan bersamaan dengan itu ujung pedang lawan yang lain menggores pahanya. Beberapa saat kemudian, Tuta Rimba mendapat bagian. Kepalanya terkena tendangan lawan dengan telak, dan pinggangnya dengan cepat disabet ujung pedang lawan yang lain.

"Wuaaaa !!"

Pemuda dari negeri Bunian itu tersentak kaget dan menjerit kecil saat kepalan Lembu Sura yang bertenaga dalam kuat, menghantam dadanya. Tak ampun lagi, tubuhnya mental beberapa tombak sambil muntahkan darah segar. Belum lagi memperbaiki posisi, satu sambaran kuku-kuku Nyai Tonggeng, menghajar lehernya.

"Breet!"

Kasihan sekali pemuda itu. Hanya karena kelengahan akibat memperhatikan keselamatan dua kawannya, akhirnya dia menjadi bulan-bulanan kelima lawannya itu. Tubuh Buang Sengketa ngusruk dengan nafas megap-megap. Bukan saja luka dalam yang diperolehnya akibat pukulan lawan yang terus menghantam berturut-turut, namun juga luka-luka akibat cakaran Nyai Tonggeng dan sabetan pedang Suryudana dan Danu Umbara. Kejadian itu begitu cepat dan singkat sekali. Kelimanya memandang pemuda itu sambil tersenyum mengejek.

"Hi... hi... hi... hi....! Hanya sebeginikah kemampuan pendekar yang namanya menggetarkan rimba persilatan itu?" ledek Nyai Tonggeng.

"Sebaiknya coba engkau keluarkan saja Golok Buntung-mu. Siapa tahu kami bermurah hati menyambungnya kembali!" timpal Suryudana.

"Kalian akan menyesal nantinya kalau golok itu telah tercabut dari tempatnya...!" sahut Buang Sengketa pelan namun mengandung ancaman. Tiba-tiba saja tanpa membuang waktu lagi, dengan sekali berkelebat, tangan kanannya telah memegang suatu benda yang berwarna merah menyala. Apalagi kalau bukan Pusaka Golok Buntung! Hawa hangat segera mengalir ke tubuhnya akibat pengaruh golok pusaka itu, dan segera melancarkan jalan darahnya yang kacau. Meski tak seluruhnya bisa disembuhkan namun keadaannya agak lebih baik.

"Hi... hi... hi....! Meskipun engkau keluarkan Golok Buntung-mu itu, mana mungkin engkau bisa bertahan lama. Racun yang berada dalam kuku ini sangat kejam dan tiada bandingannya," kata Nyai Tonggeng menjelaskan sambil terkekeh-kekeh. Namun buat Buang Sengketa hal itu sama sekali tiada dirasakannya. Seperti diketahui, pemuda dari Negri Bunian itu kebal terhadap segala macam jenis racun.

Nyai Tonggeng atau Betina Penyebar Maut serta yang lainnya tak sempat lagi pentang bacot manakala tubuh si pemuda penyandang periuk besar itu telah berkelebat ke arah mereka diiringi sebuah benda berwarna merah menyala di tangannya dan menimbulkan suara bagai puluhan harimau terluka. Sementara itu dari mulut pemuda itu sendiri, tak henti-hentinya terdengar suara mendesis bagai seekor ular Piton yang terluka. Dengan menggunakan jurus Si Jadah Terbuang, gerakan pemuda itu cepat sekali dan sulit diikuti oleh mata. Golok Buntung di tangannya menyambar-nyambar ke arah lawan.

"Cras! Cras!"

Danu Umbara dan Lembu Sura tak sempat memekik saat golok di tangan Pendekar Hina Kelana menyambar lehernya. Kedua batok kepala itu menggelinding, sedang tubuh mereka sendiri terhuyung-huyung sejenak sambil mengucurkan darah dari pangkal leher sebelum akhirnya ambruk tak berkutik lagi. Bukan main marahnya Suryudana melihat murid kesayangannya tewas. Dari mulutnya terdengar suitan nyaring. Saat itu juga sebagian anak buahnya mengalihkan perhatiannya dan ikut mengerubuti Buang Sengketa. Namun hal itu percuma saja. Sekali pemuda itu bergerak, tiga orang memekik nyaring sambil roboh terguling-guling dan nyawanya lepas saat itu juga terkena sabetan Pusaka Golok Buntung. Suryudana semakin ketakutan saat serangan pemuda itu lebih ditujukan padanya.

"Cras! Wuuuuut! Craaas!"

Suryudana memekik nyaring saat tangannya kutung disabet golok Buang Sengketa. Namun ketika itu juga pemuda itu merasakan satu serangan menyambarnya. Dengan cepat dia berkelit tanpa menoleh dan sabetkan Golok Buntung. Terdengar pekikan nyaring Nyai Tonggeng yang seketika roboh dengan pinggang hampir putus

Murid si Bangkotan Koreng Seribu itu ternyata tak kepalang tanggung. Kembali pedang di tangannya berkelebat ke arah Suryudana. Orang itu memekik nyaring saat dadanya kena disabet golok lawan. Belum lagi dia sempat kuasai diri, tiba-tiba saja senjata lawan telah menyambar lehernya.

"Cras!"

Tak ampun lagi. Kepala Suryudana terpisah dan menggelinding ke tanah... Mengetahui itu, murid-muridnya segera melarikan diri karena mengadakan perlawanan pun percuma saja. Lagipula toh untuk siapa lagi mereka menempur pemuda itu. Melihat sepak terjang Pendekar Hina Kelana yang sangat dahsyat, tanpa malu-malu Puro Sekati ikutikutan kabur setelah nyalinya ciut sejak tadi. Buang Sengketa hanya mendiamkannya saja dan tubuhnya melesat dengan cepat ke arah Nyai Larasati yang pada saat itu sedang mendesak Dewi Ambarwati.

Mengetahui serangan lawan, dengan cepat dia berbalik dan memapaki dengan tongkatnya.

"Tes! Crak!" "Wuaaaaa. !"

Perempuan tua itu memekik nyaring. Tongkat di tangannya putus menjadi dua, dan golok di tangan Buang Sengketa terus meluncur ke arah batok kepalanya. Tak ayal lagi, batok kepala perempuan tua itu terbelah. Tubuhnya terhuyung-huyung untuk beberapa saat. Namun pada saat itu secara tak terduga, satu sabetan pedang menebas lehernya. Tak ayal lagi, batok kepala perempuan itu putus dalam keadaan terbelah dua. Tubuhnya meregang sesaat sebelum akhirnya nyawanya lepas. Beberapa orang muridnya yang melihat itu, bergidik ngeri.

Endang Purwasih pingsan seketika melihat keadaan neneknya. Banonwati tak bisa lagi bisa berbuat apa-apa selain menyerah. Pada saat itu tiba-tiba Dewi Ambarwati memekik nyaring dengan wajah gembira dan menubruk sesosok tubuh yang tadi tiba-tiba muncul. "Ibuuuuu. !"

Orang yang memotes leher Nyai Larasati tadi tak lain dari Roro Ningrum. Wajahnya begitu gembira dapat berkumpul dengan anak angkatnya yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri itu. "Syukurlah ibu selamat. Aku telah khawatir sejak tadi. Ibu tak apa-apa, bukan?"

Perempuan separuh baya itu gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. "Tidak, nak..." sahutnya pelan. "Mereka hanya memenjarakan ibu saja di ruang-bawah tanah. Di sana ibu bertemu dengan Cakrangga, anak Empu Pupulaka. Setelah ibu menceritakan siapa sebenarnya ibu, akhirnya dia minta maaf. Dia menyesal telah membunuh ayahnya sendiri. Syukurlah pedang yang berada di tangan Nyai Larasati berhasil ibu peroleh setelah ibu berusaha membebaskan diri. Dan juga mengatakan bahwa pedang yang satu lagi memang sengaja disembunyikan di Lembah Batu Ampar."

Mendengar pembicaraan itu, tiba-tiba Tuta Rimba menyela. "Apa? Engkau katakan ayahku berada di ruang bawah tanah mereka?!"

"Apakah engkau putranya Cakrangga?!" tanya Roro Ningrum. Pemuda itu mengangguk cepat. "Sayang sekali, keadaan beliau sangat menyedihkan. Dia tewas setelah memberitahukan di mana pedang satu lagi yang disembunyikannya..." lanjut perempuan setengah baya itu dengan wajah lesu. Mendengar jawaban itu, Tuta Rimba terkejut sekali. Tanpa membuang-buang waktu dia segera menerobos ke dalam rumah itu guna mencari ayahnya.

Sementara itu, Dewi Ambarwati baru saja akan memperkenalkan pemuda tampan dengan rambut dikuncir pada ibunya, tapi pemuda itu telah pergi entah ke mana. Lenyap bagai disapu angin. Dia celingukan ke sana sini mencari-cari, namun tak juga ditemui. Sementara itu Buang Sengketa yang merasa bahwa apa yang sedang dicari anak beranak itu telah ditemui, diapun merasa bahwa tugasnya membantu mereka telah selesai. Maka tanpa sepengetahuan mereka, dia segera menghilang dari tempat itu sambil kerahkan ilmu lari cepat, yaitu ajian Sepi Angin.

TAMAT