Serial Pendekar Hina Kelana Eps 20 : Banjir Darah Di Bukit Siluman

 
Eps 20 : Banjir Darah Di Bukit Siluman


Mudah-mudahan Ratih dan keempat kawannya dapat meloloskan diri dari kepungan ini. Aku tak tahu seberapa banyak jumlah mereka? Tapi aku tak mau perduli dengan semua yang bakal akan terjadi, apapun dan siapa pun mereka itu, yang pasti kedatangan mereka dengan membawa maksud-maksud yang tak baik. Setidak-tidaknya aku harus bertahan di sini selama mungkin, kalau pun mereka mengetahui keberadaanku aku hanya berharap perhatian mereka hanya tertuju padaku, sehingga Ratih punya kesempatan untuk meloloskan diri. Batin pemuda berkuncir itu sembari memandang ke sekeliling bukit yang saat itu telah di penuhi dengan cahaya obor para pengepungnya

Setindak demi setindak pemuda keturunan Baja negeri Bunian ini melangkah undur mendekati padepokan. Sepasang matanya menatap liar menjaga setiap kemungkinan. Semakin lama tubuhnya pun semakin dekat dengan pondok yang sudah tidak berpenghuni itu. Dia terus merapat ke dinding, dengan maksud bergerak ke bagian belakang. Tapi akhirnya dia menghentikan langkah saat mana kaki kirinya menyentuh sesuatu di depannya. Sejenak pemuda berwajah tampan itu memperhatikan sosok yang tergeletak di depannya. Begitu dia memeriksa, betapa terperanjatnya pemuda itu setelah memeriksa sosok tubuh yang tergeletak tadi.

"Celaka... orang-orang ini ternyata murid-murid padepokan? Mereka tewas di depan hidungku, bahkan di luar sepengetahuanku pula! Lalu siapa keempat orang yang pergi bersama Dewi Ratih tadi? Tololnya lagi Ratih pun pasti tidak tahu dengan siapa dia pergi.  Kalau begitu dia benar-benar berada dalam keadaan bahaya...!" Katanya pula seorang diri. Dalam pada itu orang-orang yang mengepung padepokan itu semakin dekat jaraknya dengan posisi si pemuda berkuncir atau yang lebih di kenal dengan Pendekar Hina Kelana. Bahkan suara-suara teriakan mulai pula berkumandang. Satu-satunya suara pengepung itu yang sampai begitu jelas di telinga Buang Sengketa adalah suara yang datangnya dari bagian Utara bukit itu. Suara orang itu parau dan bahkan mendekati sengau. Dari suaranya yang begitu keras, Buang Sengketa dapat memperhitungkan bahwa pemiliknya pastilah seorang tinggi besar dan memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.

"Kepada orang-orang yang berada di dalam padepokan, menyerahlah kalian secara baik-baik. Padepokan ini sudah terkepung...!" Begitu teriakan keras itu merobek keheningan malam, maka suasana di sekelilingnya mendadak saja berobah menjadi sunyi sepi. Tiada sahutan apa pun dari Buang, sebaliknya para pengepung yang jumlahnya tak kurang dari empat puluh orang ini, si pemuda dapat memastikan mereka kiranya terdiri dari berbagai golongan rimba persilatan.

"Orang-orang yang ada di padepokan, kalian tidak memiliki waktu banyak untuk berpikir, lebih baik menyerah untuk menerima hukuman setimpal atas ulah Sepasang Walet Merah yang kami tahu masih merupakan orang-orangmu...!" Teriak suara perempuan yang berada di bagian sebelah Barat.

"Hemmm. Kiranya mereka mencari Sepasang Walet Merah berarti kedatangan mereka hanyalah ingin meminta pertanggung jawaban...!" Pendekar Hina Kelana lagi-lagi bergumam di dalam hati. "Aku tak tahu sudah berapa banyak korban jatuh di tangan Dewi Ratih Juwita dan Bagas Salaya. Apa pun yang menjadi sasaran dari pembunuhan-pembunuhan mereka yang jelas ke dua murid terkutuk itu benar-benar telah mencemarkan nama baik padepokan bukit berkabung yang hampir tiada memiliki kekuatan apa-apa...!" Sejenak lamanya pemuda berwajah tampan itu memperhitungkan segala sesuatunya untuk mengambil langkah lebih lanjut. "Jumlah mereka cukup banyak tak mungkin aku menghadapi mereka tanpa menimbulkan korban yang sebenarnya tak perlu ada. Tapi kalau tidak dari sekarang aku berusaha menjelaskan duduk persoalan yang sesungguhnya. Semuanya tidak dapat dianggap selesai begitu saja...!" Ketika Buang sedang mempertimbangkan segala sesuatunya itu, tiba-tiba kembali terdengar bentakan menggeledek, "Manusiamanusia keparat! Kalau kalian tidak mematuhi seruan kami, jangan salahkan andai sekejap lagi padepokan yang sudah tiada guna itu kami bakar menjadi debu...!" Teriak suara yang berada di posisi bagian Barat. Tiga tindak pemuda negeri bunian itu melangkahkan kaki. Setelah memandang ke sekelilingnya, maka tanpa mengerahkan tenaga dalam dia pun menjawab.

"Tuan-tuan terhormat! Datang malam-malam begini ada keperluan apakah?" Tanya si pemuda. Dengan adanya jawaban Buang Sengketa, tanpa di sangkasangka orang-orang yang mengepung padepokan, itupun berlarian mendekati si pemuda dengan posisi tetap mengurung. Semakin mereka mendekat ke padepokan maka semakin bertambah jelaslah sosok tubuh berpakaian merah kumal ini. Buang angkat sebelah tangan menutupi sebagian wajah untuk menghindari silau cahaya obor yang sangat banyak itu. Selain orang kebanyakan yang rata-rata membawa berbagai jenis senjata, pertama-tama yang dia lihat datang mendekat adalah seorang perempuan setengah baya berpakaian kelabu, berambut kelabu dengan ikat kepala, berwarna kelabu pula. Sedangkan di tangan nenek ini tergenggam sebuah tongkat berwarna kuning, dan dibagian ujung tongkat itu terdapat sebuah ukiran bergambar kepala burung Rangko. Kemudian dari bagian lain muncul pula seorang kakek tinggi besar berhidung bengkok mirip paruh burung kakak tua. Walau pun kakek ini sudah berusia lanjut, namun tubuhnya masih kelihatan kekar berotot, tak terdapat senjata lainnya di bagian tubuhnya terkecuali sebuah gada berukuran tak lebih besar dari ibu jari. Kemudian dari samping kanan Pendekar Hina Kelana menyeruak pula sosok tubuh yang tingginya tak lebih satu meter, berpakaian warna hitam dengan kumis dan jenggot yang dibiarkan tumbuh memanjang sampai sebatas pusar. Dibandingkan dengan dua orang tokoh lainnya maka penampilan kakek berkumis panjang ini selintas memberi kesan lucu, apalagi dengan dua buah senjatanya yang sangat mirip dengan pemukul gong. Penampilannya lebih cenderung berkesan seorang badut ketimbang seorang tokoh persilatan. Walau pun begitu kalangan persilatan tak berani bertindak sembarangan dengan kakek berpenampilan lucu ini. Sebab selain memiliki senjata andalan yang mirip dengan pemukul gong tadi kakek berkumis panjang itu juga memiliki pukulan sakti yang mampu membuat roboh puluhan orang pihak lawan dengan sekali gebrak saja. Kalangan persilatan mengenalnya sebagai 'Si Kumis Panjang Gong Akherat'. Sedangkan perempuan berambut serta berpakaian kelabu dengan tongkatnya berkepala burung Rangko itu di kalangan persilatan lebih di kenal dengan julukan "Si Tongkat Maut Dari Lembah Panggang". Sesuai dengan julukannya selama ini perempuan berpakaian kelabu ini tinggal di lembah Panggang bersama dengan beberapa orang muridnya

Sedangkan kakek tinggi besar berhidung bengkok dalam rimba persilatan lebih di kenal dengan julukan si 'Gada Wisa', tak jauh menyimpang dari julukannya. Maka senjatanya yang berupa gada sebesar ibu jari itu memiliki racun yang sangat ganas, belum pernah dalam sejarahnya selama malang melintang di rimba persilatan pihak lawan mampu bertahan hidup apabila sampai tersentuh gada beracun itu, jangankan lagi sampai terpukul. Selama ini Gada Wisa atau Gusti Durjana berkuasa di Belantara Maliau dan Taruak. Dia juga merupakan pemimpin tertinggi dalam Gerombolan Sinar Kayangan (Untuk lebih jelasnya dalam episode Kisah Sepasang Walet Merah). Yang jelas hanya rombongan yang di pimpin oleh si tinggi hidung bengkok sajalah yang merupakan rombongan beraliran sesat, sedangkan rombongan yang dipimpin oleh si rambut kelabu atau Sumirah dan si Kumis Panjang Gong Akherat merupakan dua rombongan yang beraliran putih. Hanya secara kebetulan sajalah mereka bertemu dalam perjalanan, dan entah mengapa dua golongan yang saling bertentangan itu secara sepakat sama mendaki bukit berkabung. Mungkin karena secara kebetulan mereka memiliki tujuan yang sama saja.

Saat itu Buang Sengketa dengan sangat teliti memperhatikan ketiga orang ini satu demi satu. Tapi sekejap kemudian sebelum dia berkomentar apa-apa kembali terdengar bentakan si tinggi besar.

"Hemm! Kurasa kuping mu belum tuli untuk mendengar apa yang kukatakan di bawah sana tadi!" Dalam keadaan terkepung seperti itu, Buang Sengketa masih juga sempat cengar cengir kayak seekor monyet yang baru saja habis pacaran. Tapi itu pun hanya berlangsung sekejap saja, karena kemudian dia sudah berucap: "Maaf, aku memang tidak tuli! Tapi sama sekali aku tak tahu apa yang anda katakan itu!" Katanya dengan nada bersungguh-sungguh. Si tinggi besar hidung bengkok kepalkan tangannya. Dia tampaknya merasa sangat tersinggung sekali dengan jawaban si pemuda.

"Bicaramu seperti monyet cacingan, cepat serahkan kawanmu, atau engkau menghendaki supaya aku berbuat kasar?" makinya dengan geraham bergemeletukan.

"Aku tak tahu apa yang kau maksudkan orang

tua...!"

"Kalau kau tak tahu, suruh si Girinda mene-

muiku...!" perintahnya dengan mata melotot.

"Maaf orang yang kau maksudkan telah pulang menutup mata beberapa hari yang lalu." kata si pemuda dengan wajah menunduk sedih (Mengenai sebabsebab kematian Eyang Girinda terdapat dalam Episode Kisah Sepasang Walet Merah). Bukan si kakek tinggi besar saja yang merasa terkejut demi mendengar kematian Girinda, namun perempuan rambut kelabu pun keli-hatannya sama-sama terperanjat.

"Menyesal kami tak dapat melihatmu pada saat hari terakhirmu, sobat...!" Kata kedua tokoh itu secara hampir bersamaan. Dari nada ucapan dua tokoh itu tampaknya Buang dapat menyimpulkan bahwa si Rambut kelabu dan si Kakek Panjang Kumis masih mempunyai hubungan persahabatan dengan Eyang Girinda. Lain lagi halnya dengan si Gada Wisa, begitu dia mendengar tentang kematian sesepuh Padepokan Bukit Berkabung langsung saja meledak tawanya.

"Haha... huaahaha... ha...! Akhirnya kau mampus juga Girinda! Heh... dulu kau boleh tertawa atas kekalahanku melawan ayahmu, tapi seandainya kau masih hidup sampai kini kaupun tak luput dari hukumanku karena muridmu telah membunuh Sudiro dan kawan-kawannya," katanya. Mendadak pandangan matanya berubah liar, si Gada Wisa sejenak lamanya memperhatikan ke arah bagian rumah padepokan yang gelap gulita, kemudian kembali berpaling pada Buang. "Huh, sekarang kau mau mengatakan bahwa muridnya yang berjuluk Sepasang Walet Merah juga sedang tak berada di rumah...?" tukas si tinggi besar mengejek. 

Pendekar Hina Kelana sejak dari tadi memang berusaha menahan diri untuk tidak larut dalam emosi, namun lama-kelamaan dia muak juga melihat tampang dan lagu ketua gerombolan Sinar Kayangan yang sangat angkuh itu, apalagi ketika dia teringat saat mana dia melintasi hutan Maliau dan Taruak beberapa pekan yang lalu. Mau tak mau kini dia harus bersikap tegas juga.

"Orang yang memiliki julukan Sepasang Walet Merah bukanlah murid Padepokan Bukit Berkabung. Kalau pun ada dua orang murid terkutuk itu sekarang bukan lagi merupakan murid padepokan ini. Mereka telah terusir sejak lama, nah kalau orang-orangmu terbunuh di tangan mereka, bukan di tempat ini kalian harus mencari...!"

"Kurang ajar, gembel amoh! Aku tau kau bukanlah murid Girinda, kuperintahkan jangan ikut campur urusan kami. Menyingkir! Kami mau geledah rumah itu...!" Teriakan yang di sertai dengan pengerahan tenaga dalam itu dengan maksud untuk membuka mata bagi si pemuda yang belum di kenalnya. Si tinggi besar berharap agar orang yang berdiri di hadapannya itu tau siapa sesungguhnya manusia yang memiliki julukan 'si Gada Wisa'.

Kenyataannya Buang memang merasa-kan betapa tubuhnya tergetar ketika mendengar ucapan orang ini, namun dengan sedikit mengerahkan tenaga saktinya, maka pengaruh bentakan itu pun lenyap seketika. Kejut di hati Gada Wisa bukan alang kepalang, sedikit pun dia tiada menyangka, bahwa pemuda gembel yang berdiri di hadapannya itu memiliki kepandaian yang belum dia ketahui betapa tingginya.

"Menyingkir kataku...!" Bentak si kakek berhidung bengkok mengulangi perintahnya.

"Baiknya kau menyingkir orang muda! Kami memang ingin memeriksa kediaman Girinda untuk mencari kepastian apakah orang yang telah membunuh murid-murid kami berdua ada di tempat atau tidak...!" Menimpali si Kakek Panjang Kumis dan si perempuan rambut kelabu.

"Sudah kukatakan bahwa orang yang kalian cari, yaitu si murid terkutuk itu tak ada di tempat, kalau pun kalian memaksa juga, maka aku tak akan membiarkannya begitu saja. Sebab keutuhan padepokan ini merupakan amanah yang perlu kukerjakan dari Eyang Girinda...!" kata si pemuda begitu tegas. Si rambut kelabu dan si panjang kumis tampaknya tidak bereaksi apa-apa atas pernyataan yang diucapkan oleh Buang Sengketa. Dan yang sebenarnya mereka sudah dapat mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Sepenuh hati mereka percaya dengan kejujuran ucapan pemuda itu. Bagi mereka tak ada jalan lain selain meninggalkan tempat itu. Mengingat persahabatan mereka dengan sesepuh padepokan yang kini telah mereka sama ketahui meninggal pula. Lalu mereka memutuskan untuk mencarinya di tempat lain. Itu sebabnya beberapa saat kemudian si rambut kelabu dan si Kakek Panjang Kumis beserta murid-muridnya segera beranjak menuruni puncak padepokan.

Lain lagi halnya dengan pemimpin gerombolan Sinar Kayangan, kata-kata Buang yang bernada menantang ini merupakan sebuah pengalaman baru yang selama malang melintang dalam dunia persilatan belum pernah terjadi. Dia beranggapan kalau pun tadi pemuda ini mampu mengatasi serangan tenaga dalamnya, itu bukan berarti dia harus mengurungkan niatnya untuk mengobrak abrik padepokan bukit Berkabung. Mengingat selain murid-muridnya sempat tewas di tangan Sepasang Walet Merah, terlebih-lebih pabila terkenang pada kekalahannya dulu. Maka siapa pun adanya pemuda berperiuk ini dia sudah tidak perduli lagi.

"Bocah! Masih jugakah kau pada pendirianmu...?" Bertanya si Gada Wisa dengan sikap sangat penasaran.

"Selamanya aku tak pernah merobah segala apa yang pernah kuucapkan...!" jawab Buang Sengketa dengan sikap waspada. Semakin bertambah panas hati ketua gerombolan Sinar Kayangan ini, kemudian dia memberi tanda pada murid-muridnya untuk menyerbu ke dalam padepokan. Sementara dia sendiri ingin menjajal sampai di mana kehebatan pemuda yang belum di kenalnya itu.

"Anak-anak! Cari bangsat pembunuh itu di padepokan, biar aku meremukkan batok kepala bocah konyol ini...!" teriaknya tak sabaran lagi.

"Beet!"

Buang melompat lima tindak ke belakang, sorot matanya liar mengawasi setiap gerakan yang akan terjadi. Lalu sebelum gerombolan Sinar Kayangan bertindak lebih jauh. Dia pun mengerahkan tenaga dalam untuk melepas ilmu 'Lengkingan Pemenggal Roh'.

"Tak akan kubiarkan setan manapun memasuki padepokan...!"

"Jangan hiraukan ocehannya! Cepat bertindak...!" bentak kakek tinggi besar demi melihat keraguraguan membayang di wajah murid-muridnya. Akhirnya orang-orang berangasan itu mulai bertindak.

"Heeiiikgh...!" Laksana merobek keheningan malam lengkingan Ilmu Pemenggal Roh terlepas dari mulut si pemuda, tujuh dari duapuluh orang murid Gada Wisa terjengkang menemui ajal dengan telinga mengalirkan banyak darah. Tanah di sekitar tempat mereka terasa bagai di guncang tangan-tangan raksasa. Mereka yang masih sempat menutup indera pendengarnya tampak tergetar tubuhnya. Begitupun rasa sakit di bagian dada masih begitu menggigit. Sedangkan si kakek berhidung bengkok sendiri meskipun tidak menerima akibat yang sangat patal karena dia pun melindungi diri dengan pengerahan tenaga sakti. Namun tetap harus mengakui bahwa selama ini dia belum pernah melihat seorang pemuda bertampang gembel seperti orang yang berpakaian merah di hadapannya memiliki ilmu aneh yang mampu membunuh lawan-lawannya hanya dengan sekali jeritan melengking itu.

Saat itu Pendekar Hina Kelana sedikit demi sedikit mulai membuka matanya yang terpejam. Melalui cahaya obor yang berserakan di atas tanah, dia dapat melihat wajah Gada Wisa, sebentar memerah dan di lain saat berubah pucat. Hal itu tidak begitu lama berlangsung, sebab detik selanjutnya wajah itu telah kembali pada keadaannya yang asli. Dingin menyeramkan.

"Hebat! Baru kali ini aku melihat dengan mata kepala sendiri ada ilmu segila itu. Hemm. Pantasan kau berani bertingkah di depan mataku! Bagus, kalau kau tak menghendaki aku mendobrak padepokan milik Girinda, maka pertama-tama yang akan kulakukan adalah mendobrak nyawamu hingga terbang ke neraka...!" Kakek tinggi besar ini kemudian mengerang bagai harimau terluka, dengan di sertai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna dia melakukan satu tubrukan di depan. ***

2

Buang Sengketa nampaknya sudah memperhitungkan apa yang bakal di lakukan oleh pihak lawannya. Sekali ini dia ingin menjajaki sejauh mana tenaga dalam yang dimiliki oleh pihak lawannya. Dengan sedikit menggeser tubuhnya, maka dengan mempergunakan jurus 'Membendung Gelombang Menimba Samudra' kedua tangannya dia putar sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah perisai yang sangat kokoh. Pakaian yang menempel di tubuh si tinggi besar tampak berkibar-kibar di terpa angin yang ditimbulkan akibat putaran kedua tangan si pemuda. 'Gada Wisa' hanya sesaat saja tersentak. Satu tenaga dorongan dengan mengandalkan setengah dari tenaga dalamnya membuat tubuh kakek tinggi besar ini melesat ke depan dengan sangat sebat sekali.

"Weees! Duuuk!"

"Ahh...!" Satu benturan telak terjadi, Buang Sengketa tergetar tubuhnya. Telapak tangan yang saling berbenturan itu terasa sakit. Sukur dia kebal dengan segala bentuk racun, andai tidak sejak benturan tadi sudah barang tentu jiwanya melayang. Sebab selain pada senjatanya, tangan kakek ini juga mengandung racun yang jahat.

Di pihak Gada Wisa hanya terhuyung saja satu tindak, namun dia tidak merasakan apapun akibat benturan tenaga dalam tadi. Merasa dirinya berada di atas angin, maka tiada tertahankan lagi, laki-laki berusia enam puluhan ini pun tergelak-gelak.

"Sekejap lagi, kau benar-benar mampus sobat kecil...!" geramnya sembari menyerang Buang dengan jurus-jurus silat tangan kosong yang dimilikinya. Pendekar Hina Kelana tidak mau mengalah begitu saja, apalagi bila dia mengingat akan keselamatan Dewi Ratih yang masih berada dalam tanggung jawabnya. Bahkan kini dia merasa tak perlu berlama-lama berhadapan dengan gerombolan Sinar Kayangan. Apa yang dia sadari belakangan adalah menyelamatkan Ratih terlebih dahulu. Toh kalau pun terjadi sesuatu dengan padepokan belakang hari masih dapat diperbaiki. Mengingat sampai sejauh itu tiba-tiba mengutuki dirinya sendiri yang terlalu tolol.

Pada gebrakan selanjutnya Buang merasa tak perlu melayani si Gada Wisa dengan jurus silat tangan kosong. Cepat sekali dia mempersiapkan pukulan 'Si Hina Kelana Merana' yaitu satu pukulan puncak yang dimilikinya.

"Heaaat...!"

Setengah berputar tubuh Pendekar Hina Kelana meletik ke udara. Tampaknya si Kakek Tinggi Besar menyadari kalau si pemuda tidak melayaninya dengan jurus silat tangan kosong. Tidak membuang waktu sedetik setelah pukulan Si Hina Kelana Merana dilepaskan oleh Buang. Maka diapun melepas pukulan 'Topan Gunung' yang sudah barang tentu mengandung unsur racun ganas. Serangkum gelombang sinar merah yang mengandung hawa panas datang menggebu, tak kalah rendah pukulan Topan Gunung berwarna dingin datang menyambut.

"Blaaar!"

Terdengar satu ledakan keras saat kedua pukulan sakti itu saling bertemu di tengah-tengah perjalanan. Kakek tinggi besar terjengkang tubuhnya, sebaliknya Buang sendiri dengan sangat bersusah payah cepat-cepat merangkak bangun, lalu tanpa menghiraukan darah yang meleleh, pemuda ini sudah mengerahkan ilmu lari cepatnya 'Ajian Sepi Angin'. Kejab kemudian pemuda itu telah lenyap dalam kegelapan malam, satu tujuan yang ada dalam benak si pemuda bahwa dia harus mencari jejak ke arah di mana lenyapnya Dewi Ratih beserta keempat orang yang semula dianggapnya sebagai sisa-sisa murid padepokan.

Dalam pada itu si Gada Wisa demi mengetahui musuhnya telah lenyap dari depan mata, menjadi sangat marah sekali. Dia menyadari pukulan yang mendatangkan hawa panas yang telah di lancarkan oleh si pemuda memang sempat menggoyahkan pertahanannya. Bahkan akibat benturan tenaga sakti tadi dia merasakan dadanya masih terus berdenyut-denyut, darah meleleh dari celah bibir dan lubang hidung. Ini menandakan pihak lawan tidak berada di bawahnya, tapi yang membuat dia heran adalah justru pada saat kedua tangan mereka berbenturan, si pemuda tampaknya tidak menerima akibat apa-apa. Padahal pada bagian tangannya juga memiliki racun ganas yang sangat cepat reaksinya. Mungkinkah gembel berperiuk itu kebal ter-hadap racun miliknya? Kakek tinggi besar itu tampaknya merasa sangat penasaran sekali. Lalu dia menoleh pada murid-murid yang kini hanya tinggal sembilan orang itu.

"Cepat kalian geledah seisi padepokan...!" bentaknya berang.

"Baik, guruuu...!"

Serentak kesembilan orang muridnya bergerak cepat, sebentar saja mereka sudah mendobrak pintu padepokan lalu menyeruak masuk. Setelah menggeledah setiap kamar yang ada dan tak mendapati sesuatu apa pun. Maka kesembilan orang itu kembali keluar dari dalamnya. Seorang di antara mereka memberi laporan. "Padepokan kosong! Tak seorang pun ada di dalamnya...!"

"Sialan! Kalau begitu bocah gembel itu tidak berbohong. Tak ada jalan lain, bakar sarang kutu kupret itu...!" perintahnya. Tanpa menunggu lebih lama beberapa orang murid kakek tinggi besar langsung melemparkan beberapa obor di tangan mereka. Sekejap kemudian api pun berkobar. Semakin lama bertambah membesar dan membubung tinggi. Lalu keadaan di sekelilingnya berobah menjadi terang benderang. Dalam keadaan terang seperti itu, pandangan mata si Gada Wisa yang jeli melihat adanya sosok mayat tergeletak tidak begitu jauh dari tempat dia berada. Cepat-cepat dia melakukan pemeriksaan, setelah meneliti beberapa saat lamanya tahulah dia bahwa keempat mayat itu merupakan murid-murid Padepokan Bukit Berkabung. Merasa kesal di tendangnya keempat mayat itu hingga melayang ke bagian bawah kaki bukit. Namun begitu dia menoleh ke jurusan lain, dia melihat adanya sosok lainnya yang juga dalam keadaan tergeletak kaku.

"Melihat pakaiannya, rasa-rasanya mayat yang satu itu tidak asing bagiku! Ada baiknya kalau aku memeriksanya...!" menggumam Gada Wisa seorang diri. Dengan langkah lambat-lambat, dia hampiri sosok tubuh yang terbujur kaku di depannya. Mendadak langkahnya terhenti, hatinya terasa tercekat.

"Gajah Mungkur!" desisnya tanpa sadar. "Aku tak tahu apakah pemuda yang memiliki ilmu aneh itu telah membunuhmu! Oh... Gajah Mungkur sahabatku...! Tak pernah kusangka kau bisa tewas di tangan bocah gembel itu, padahal ilmu kepandaianmu tidak begitu beda dengan kepandaian yang ku miliki. Sahabat... sahabatku telah pergi!" katanya lirih.

"Keparaaat...! Siapa pun adanya bocah gembel itu, aku bersumpah, selain membunuh Sepasang Walet Merah, pemuda itu juga tak akan luput dari tanganku...!" geramnya marah.

"Anak-anak!" Sembilan Orang muridnya begitu dipanggil langsung datang menghampiri.

"Ada apa, Guru...?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Cepat kalian kuburkan kawanku ini sekarang juga!" perintahnya sambil berusaha memendam kemarahannya.

"Baik, Guru...!"

Dengan cepat mereka mengerjakan apa yang diperintahkan oleh gurunya, sementara Gada Wisa sendiri tampak sedang memperhatikan kobaran api yang terus melahap padepokan. Tak lama setelah pekerjaan murid-muridnya selesai, maka bergeraklah Gada Wisa beserta murid-muridnya menuruni lereng bukit Berkabung. Di belakang mereka tampak padepokan yang pernah mencapai jaman keemasan itu kini hanya tinggal bara api menganga berselimutkan abu yang masih hangat.

***

Sekarang marilah kita lihat dulu perjalanan Dewi Ratih beserta empat orang lainnya yang turut serta dalam pelarian itu. Setelah berlari-lari kencang dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, tak sampai seperempat jam kemudian mereka sudah berada jauh dari Padepokan Bukit Berkabung. Suasana di sekitarnya dalam keadaan gelap gulita sehingga Ratih tiada melihat dengan jelas keempat orang yang menyertainya. Bahkan dia pun sampai tak ingat mengapa keempat orang itu kalaulah memang benar murid-murid padepokan dapat mengikuti lari cepatnya. Padahal dia tahu bahwa keempat murid itu berada jauh di bawahnya dalam berbagai kepandaian ilmu yang di milikinya. Saat itu apa yang ada dalam pikirannya adalah mengenai keselamatan Buang Sengketa, yang pasti akan menghadapi keroyokan sekian banyak orang yang berada di lereng bukit. Entah mengapa dia lebih mencemaskan keselamatan pemuda tampan berpakaian kumuh itu ketimbang keselamatan dirinya sendiri. Bahkan dia merasa sangat menyesal membiarkan pemuda itu seorang diri menghadapi keroyokan yang mungkin saja akan terjadi. Seandainya dia tidak menuruti segala apa yang diperintahkan pemuda itu kepadanya. Setidak-tidaknya dia dapat membantu si pemuda, seandainya harus mati sekalipun dia merasa rela untuk mati bersama-sama. Ingin rasanya dia berbalik langkah mendaki Bukit Berkabung yang telah dia tinggalkan itu, dia merasa tak perlu cemas dengan segala apa yang bakal terjadi.

Namun apabila akal sehatnya telah bicara, maka dia menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh si pemuda semua itu semata-mata hanyalah demi keselamatan Batu Walet Merah yang ada pada dirinya. "Tak mengapa, moga-moga saja Kakang Kelana selalu dalam lindungan Sang Hyang Widi!" batinnya mencoba menghibur diri. Dalam kegelapan tanpa cahaya rembulan itu, mendadak dia berpaling pada keempat orang yang berada begitu dekat dengan dirinya. Dalam kekerasannya dia pun bertanya:

"Ehh... kalian bagaimana mungkin bisa begitu cepat menyusulku...!?"

"Kami mengerahkan segenap kemampuan yang kami miliki, Kak Ratih...!" jawab salah seorang diantara mereka.

"Kak Ratih...?" Membatin Dewi Ratih sembari mengingat-ingat sesuatu. Rasa-rasanya suara itu tak pernah di kenalnya. Suara berat dan parau, keempat orang murid padepokan tak ada yang memiliki suara seperti itu. Lalu pabila dia mencoba meneliti orang yang baru saja menjawab pertanyaannya tadi. Dia tak dapat melihat dengan jelas, hanya samar-samar saja. Tapi ada bayangan menyeramkan dari sosok manusianya. Satu demi satu si gadis berusaha meneliti wajah ke empat orang yang menyertainya. Dua orang di antaranya seperti dia kenal, namun pabila dia mengajukan pertanyaan pada orang itu, tak satu pun ada yang menjawabnya. Mendadak pucatlah wajah Dewi Ratih, kemudian dengan suara bergetar dia menyela; "Ka... kalian bukan empat murid Padepokan Bukit Berkabung...!" bentaknya. Yang di bentak pun tiada mengeluarkan suara apa-apa. Hanya orang pertama yang buka suara tadilah yang bicara:

"Hemmm... membuang-buang waktu saja. Ringkusss...!" perintah si suara serak sembari memberi aba-aba pada seorang kawannya. Dua orang ini cepat bergerak dan keluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sedangkan dua orang lainnya hanya diam menonton, kemungkinan juga mereka merupakan pimpinan. Dewi Ratih demi melihat gelagat yang tak baik ini nampaknya berusaha menghindari sergapan yang dilakukan oleh lawannya. Tapi di luar dugaan si gadis sama sekali kedua orang ini melemparkan sesuatu yang diambil dari balik bajunya tadi dari delapan penjuru.

"Buuumm!"

Terdengar delapan kali ledakan, asap mengepul dan menyelimuti tubuh Dewi Ratih. "Asap pembius...!"

Menyadari adanya bahaya seperti itu secepatnya dia berusaha membebaskan diri dari kungkungan asap pembius tadi. Malangnya dia sempat menghirup asap yang menyelimuti dirinya. Nafas terasa sesak, kepala berdenyut-denyut di sertai pandangan matanya yang langsung mengabur. gi. "Bruuuk...!"

Ratih jatuh terduduk dan tak ingat apa-apa la-

"Cepat ambil cincin batu yang ada di jarinya...!" kata salah seorang yang dari tadi hanya menonton saja.

"Cincinnya tak ada di bagian tangannya...!" desis si pemeriksa memberi laporan pada si pemberi perintah.

"Kalau begitu periksa seluruh tubuhnya...!" perintahnya lagi.

"Jangan dia yang memeriksa! Biar aku yang melakukannya...!" sergah yang berada di sebelah pemberi perintah. Dengan cepat orang itu bertindak menggerayangi tubuh Ratih. Dan ternyata Batu Walet Merah dia dapatkan di bagian belahan dada si gadis yang halus mulus. Tapi si pemeriksa tidak menampakkan reaksi apa-apa terkecuali mengambil cincin itu. Sementara dua orang yang merobohkan Dewi Ratih dengan asap pembius tampak leletkan lidah.

"Kalian tak punya hak berbuat kurang ajar pada seorang gadis yang tidak sadarkan diri, ini perintahku...!" kata orang itu sembari menimang-nimang cincin Batu Walet Merah di tangannya.

"Kami mengerti juragan! Kalau juragan sudah beri perintah begitu, seujung rambut pun kami tak akan mengganggunya...!" janji kedua orang bertampang seram pada orang di depannya.

"Sekarang kita tinggalkan tempat ini secepatnya...!" kata orang itu.

"Lalu bocah pemalas ini bagaimana...?" "Tinggalkan saja, dia akan siuman dengan sen-

dirinya...!" perintah si pemegang cincin Batu Walet Merah. Tanpa berani membantah lagi, dengan sekelebatan saja keempat orang itu pun telah lenyap dari tempat itu. Tinggallah Ratih seorang diri yang masih tetap tidak sadarkan diri.

***

3

Ketika matahari mulai menampakkan diri di ufuk Timur, Pendekar Hina Kelana yang merasa kehilangan jejak Dewi Ratih tampak masih berputar dan mengelilingi seputar hutan pinus. Dia merasakan tubuhnya sangat lelah, mata perih karena memang hampir semalaman dia tidak tidur walau barang sepicing pun. Tanpa menghiraukan rasa letih bercampur ngantuk yang mendera dirinya, dia terus berputar-putar mencari. Sampai pada akhirnya dia merasa hampir putus asa dan merencanakan untuk mencari di tempat lain. Satu dua tindak dia melangkah, sampai pada akhirnya dia melihat rumput-rumput berserakan seperti bekas terinjak-injak sosok yang berat. Tak lama setelahnya pandangannya yang awas itu melihat adanya sosok menggeletak berpakaian hijau merah dan berikat kepala merah pula.

"Ratih...!" gumamnya lalu memburu ke arah tempat Dewi Ratih berada. Di balikkannya tubuh yang tertelungkup itu, dengan seksama dia memeriksa. Tidak terdapat bekas luka atau sejenisnya. Cepat-cepat dia memeriksa denyut nadi di bagian pergelangan tangan.

"Dia hanya pingsan! Mungkin juga sedang terkena sejenis obat pembius yang dapat melenyapkan kesadaran untuk beberapa waktu lamanya." ucapnya berusaha menarik kesimpulan. Lalu tanpa komentar lagi dia memeriksa pada bagian mata. "Hemm... tepat seperti apa yang kuduga, dia terkena asap pembius yang keras daya kerjanya. Kalau kubiarkan menunggu dia sadar, barangkali sampai sore nanti belum tentu dia sudah sadar. Cara satu-satunya adalah dengan menyalurkan hawa hangat lewat bagian dadanya. Tapi...!" Pemuda itu meragu, apa nanti kata Ratih andai sampai dia mengetahui cara pertolongan yang dia lakukan itu. Tentu si gadis akan mengatakannya sebagai pemuda yang sangat kurang ajar, atau bahkan dia malah akan membenci dirinya untuk selama-lamanya. Lama sekali dia memutar pikiran untuk menentukan jalan terbaik dalam menentukan pertolongan yang akan dia berikan.

"Kalau kusalurkan hawa murni melalui bagian perutnya, mungkin dia tak akan begitu marah. Kalau pun harus marah, tokh akhirnya harus di sadarinya juga bahwa cara apapun yang kulakukan semata-mata hanya untuk membantunya untuk memulihkan keadaan!" batinnya lagi. Selanjutnya dengan wajah merona merah dan tangan gemetaran dia menyingkap pakaian Ratih pada bagian perut, kemudian sembari memalingkan muka, tangan yang gemetaran itu menyelinap di balik pakaian si gadis. Secara perlahan dia mulai mengerahkan hawa murni. Hawa hangat mulai menjalar dari bagian perut, terus merata ke seluruh bagian tubuh lainnya. Gadis itu mulai menggeliat, secara perlahan mengerjabkan matanya yang terasa berat. Secepatnya ketika melihat si gadis mulai sadar, Buang Sengketa menarik balik tangannya. Tapi terlambat, Dewi Ratih sempat melihatnya.

"Splaaak...!"

Dua tamparan bertubi-tubi mendarat di pipi kiri Pendekar Hina Kelana. Si pemuda yang pada saat itu dalam posisi berjongkok, langsung saja jatuh terduduk. Tamparan Dewi Ratih sungguh pun tidak disertai dengan pengerahan tenaga dalam, namun karena dalam keadaan marah sudah jelas begitu keras. Bahkan bekas tamparan itu sendiri meninggalkan bekas telapak tangan Ratih yang memerah di pipi si pemuda.

"Kurang ajar... begitu tingkah seorang pendekar terhadapku, Kakang...!" bentak si gadis sambil berusaha menahan air mata yang hampir saja menggelinding.

"Maaf! Kau salah pengertian Ratih... aku !"

"Aku apa! Kau hanya bermaksud berbuat kurang ajar padaku, bukan...?" teriak Dewi Ratih semakin bertambah memuncak emosinya. Sementara wajah si pemuda semakin bertambah memerah karena menanggung rasa malu.

"Ratih! Memang kau justru berpikir yang bukan-bukan, aku tadi hanya bermaksud membantumu agar cepat sadar, tak ada maksud-maksud yang lain...!" bantah si pemuda setengah kesal. Dewi Ratih terdiam, dia akhirnya memang menyadari selama beberapa jam terakhir ini dia tak dapat mengingat apaapa. Hanya satu yang masih samar, di dalam ingatannya adalah tentang keempat orang yang telah melakukan penyergapan secara curang atas dirinya. Lalu pabila dia teringat pada Batu Walet Merah yang tersembunyi, di bagian dadanya, secara cepat dia membalikkan badan dan melihat kenyataan bahwa batu itu sudah tak ada lagi di tempat

"Kakang...! pekiknya setengah menyesali atas perbuatannya. "Kakang maafkan atas kesalahanku."

"Tak mengapa, sudah selayaknya engkau marah. Tapi mengapa tiba-tiba saja wajahmu berubah seperti itu ?"

"Batu itu Kakang...! Batu Walet Merah telah dilarikan oleh orang-orang yang tak kukenal !" ucapnya

sedih.

"Sudah kuduga...!" "Bagaimana kakang dapat mengetahuinya...?!" tukas si gadis berusaha mencari jalan lewat tatapan sepasang mata Buang Sengketa.

"Sebelum para pengepung itu benar-benar sampai di padepokan, aku melihat mayat keempat murid menggeletak tidak begitu jauh dari depan pintu. Di situ baru kusadari kalau empat orang yang pergi bersamamu itu bukanlah murid padepokan yang sesungguhnya!"

"Lalu bagaimana keadaan di padepokan dan bagaimana pula kau bisa sampai ke sini Kakang...?" tanya Dewi Ratih keheranan.

"Dua partai di antaranya ternyata masih merupakan sahabat baik eyangmu, begitu mereka selesai mendengar penjelasanku langsung meninggalkan padepokan untuk mencari si Walet Merah di tempat yang lain. Sedangkan partai lainnya adalah Gerombolan Sinar Kayangan yang ternyata selain murid-muridnya terbunuh oleh Sepasang Walet Merah, juga punya dendam pribadi dengan Padepokan Bukit Berkabung. Hanya sekejap saja aku terlibat bentrok dengan mereka, setelah itu aku berusaha menyusulmu menelusuri jalan yang sama. Menurutku Padepokan Bukit Berkabung mungkin sudah mereka bakar! Maaf aku tak bisa mencegah karena aku justru menghkawatirkan keselamatanmu dan Batu Walet Merah...!" desah si pemuda dengan wajah tertunduk. Sedih! Dewi Ratih semakin kalut hatinya bila mengenang semua kejadian yang, berlalu begitu cepat. Dengan suara tersendat kemudian dia berkata.

"Kakang, ternyata Batu Walet Merah tidak dapat kupertahankan. Padepokan berantakan menjadi debu, rasa-rasanya sudah habis segala apa yang kumiliki, Kakang...!" kata si gadis disertai derai air mata. Pendekar Hina Kelapa menarik nafas pendek. "Tidak! Segalanya tidak berakhir sampai di situ saja. Masih ada yang kau miliki dan tak pernah hilang dalam hidupmu...!"

"Apakah yang Kakang maksudkan?"

"Sebuah semangat untuk memulai segalagalanya dengan cara baru...!" jawab si pemuda pasti.

"Tapi kita tak memiliki kekuatan untuk mencari Batu Walet Merah yang berada di tangan saudarasaudaraku...!" ujar Ratih dengan wajah membayangkan rasa putus asa yang dalam. Buang hanya tersenyum tawar, entah mengapa dia merasa begitu iba pada gadis berambut panjang dan berikat kepala merah itu.

"Ratih!" panggilnya lirih. "Masih banyak cara untuk mendapatkan Batu Walet Merah yang telah membuat susah bagi banyak orang. Sedangkan batu yang ada padamu itu cepat atau lambat kita pasti dapat mengetahui siapa sesungguhnya yang menjadi pencurinya...!" 

"Kalau batu yang satunya saja tidak mampu kita menjaga keamanannya, bagaimana mungkin kita memiliki kemampuan untuk merebut yang satunya lagi! Keadaan kita sekarang ini benar-benar dalam situasi yang sangat sulit, Kakang...!"

"He... he...he...! Untuk melaksanakan amanah gurumu, aku rela berkorban apa saja demi memperolehnya kembali...!" kata si pemuda seperti sedang berjanji pada dirinya sendiri.

"Benarkah itu Kakang!?" tanya si gadis seolah tak percaya dengan apa yang di katakana oleh pemuda itu.

"Aku telah mengatakannya padamu, itu berarti aku akan melaksanakan segala apa yang kukatakan tadi!"

"Terima kasih, Kakang...!" Buang Sengketa hanya mengangguk-angguk, namun kemudian dia melanjutkan ucapannya

"Ada baiknya kalau sekarang juga kita mulai melakukan perjalanan. Kalau nasib kita memang baik, tentu kita akan mendapatkan dan menghancurkan Sepasang Walet Merah yang telah begitu berani membobol pintu makam leluhurnya sendiri!" rutuknya dalam kemarahan yang terpendam. (Untuk lebih jelasnya dalam Episode Kisah Sepasang Walet Merah). Kemudian melangkahlah kedua muda mudi ini dengan perasaan mantap dan dalam satu tujuan yang pasti mencari Batu Walet Merah yang telah dilarikan orang dan membunuh Sepasang Walet Merah yang masih merupakan saudaranya sendiri.

***

4

Satu purnama setelah kepergiannya ke Bukit Berkabung si Tongkat Maut dari lembah Panggang yang bernama Sumirah itu kembali memutuskan untuk mencari Sepasang Walet Merah yang pernah terlibat kasus pembunuhan beberapa orang muridnya yang saat itu sedang melakukan perjalanan untuk menemui sesepuh Padepokan Bukit Berkabung yang masih merupakan sahabat baiknya selama ini. Tak lama setelah pembunuhan keji itu terjadi si Rambut Kelabu memutuskan untuk menuntut balas dan meminta pertanggungjawaban Eyang Girinda. Seperti yang dia ketahui selama puluhan tahun, bahwa siapa pun manusianya yang menamakan dirinya sebagai Walet Merah jelas memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keturunan Bukit Berkabung. Tapi ketika secara kebetulan si rambut kelabu ini bertemu dengan sahabat lamanya yaitu si Panjang Kumis dari lembah Putus Nyawa, dan Gerombolan Sinar Kayangan yang dipimpin langsung oleh kakek hidung bengkok Gada Wisa. Dia menjadi prihatin dan kecewa, karena sahabatnya Eyang Girinda telah pula menutup mata. Sekembalinya dari Bukit Berkabung dia mulai memikirkan jalan terbaik untuk menghentikan sepak terjang Sepasang Walet Merah yang kononnya mulai menyusun kekuatan yang terdiri dari golongan sesat untuk membangun sebuah perserikatan yang sangat besar dalam rimba persilatan. Rencana gila-gilaan itu sudah barang tentu membuat kalangan persilatan golongan putih menjadi gempar. Sebab seperti yang mereka ketahui Sepasang Walet Merah merupakan keturunan tokoh persilatan golongan putih, mendapat didikan dengan cara-cara golongan putih pula. Kalau mereka menyimpang dari per-aturan kehidupan golongannya, itu sama artinya Sepasang Walet Merah benar-benar membuat malu golongan sendiri. Hal itu tak boleh terjadi! Batin penguasa Lembah Panggang.

Demikianlah pagi itu dengan disertai tiga orang murid pilihan Si Tongkat Maut dari Lembah Pangrongo ini tampak meninggalkan lembah, kembali menuju ke dunia bebas untuk mencari Sepasang Walet Merah yang dia anggap telah murtad dari golongannya sendiri. Seiring dengan perjalanan yang mereka tempuh, sang waktu pun bergulir tanpa terasa. Menjelang tengah hari perempuan berpenampilan serba kelabu ini telah pula melalui beberapa desa yang sangat padat penduduk. Dari keterangan-keterangan yang didapat dari penduduk desa, ternyata sepak terjang Sepasang Walet Merah semakin merajalela sampai ke berbagai pelosok rimba persilatan. Korban kebiadaban Walet Merah berge-limpangan di mana-mana. Pengejaran dan berburu Walet Merah pun dilakukan oleh berbagai kalangan dari pihak-pihak yang merasa telah dirugikan oleh Sepasang Walet Merah. Namun sejauh ini mereka hanya menemui kematian secara sia-sia. Sepasang Walet Merah yang mencuat namanya dengan Batu Walet Merah yang menyimpan kekuatan sangat dahsyat itu, untuk yang kedua kalinya dalam sejarahnya telah meminta korban yang tidak sedikit.

Kini bukan pihak si Tongkat Maut dari Lembah Panggang saja yang memburu Walet Merah, tetapi juga si Panjang Kumis dan berbagai partai lainnya ikut pula mengambil bagian dalam melacak keberadaan 'Sepasang Walet Merah' yang sangat ganas akan sepak terjangnya itu. Namun di luar sepengetahuan siapa pun, sesungguhnya dari pihak golongan hitam banyak yang mensyukuri tentang kehadiran sepasang pendekar yang berasal dari golongan putih namun segala tindak tanduknya lebih cenderung mengarah, pada kaum sesat ini.

Di antara mereka itu adalah kakak beradik berasal dari puncak Gunung si Beruk, yang menamakan dirinya sebagai 'Dua Bersaudara Monyet Hitam'. Mereka ini sudah hampir lebih dari empat purnama menggabungkan diri dengan Walet Merah. Mereka juga merupakan tokoh persilatan golongan sesat yang paling pertama menggabungkan diri. Kelihaian maupun jurus-jurus sakti Monyet Hitam yang tinggi dan keahliannya dalam mempergunakan segala macam jenis racun penghilang kesadaran membuat mereka dalam waktu sekejap saja telah mendapat kepercayaan sebagai tangan kanan si Walet Merah. Kemudian tokohpersilatan yang menggabungkan diri dengan Walet Merah adalah Sepasang suami istri Maling Durjana. Mereka ini masih merupakan saudara seperguruan dengan Kakek Hidung Bengkok yang berkuasa di Rimba Belantara Maliau dan Taruak. Sungguh pun mereka ini sama-sama segolongan dan berasal dari satu perguruan. Tetapi sepasang suami istri Maling Durjana tidak pernah mengalami kecocokan dengan saudaranya 'si Gada Wisa' yang mereka kenal sebagai orang yang sangat angkuh dan bahkan pernah membunuh gurunya sendiri, hanya karena demi senjata beracun yang diberi nama 'Gada Wisa' itu. Selain tidak pernah memiliki keinginan untuk bergabung dengan "si Gada Wisa", Maling Durjana juga mempunyai niat untuk membalas dendam atas kematian guru mereka. Tetapi niat itu masih belum kesampaian karena selain si Hidung Bengkok memiliki senjata rampasan 'Gada Wisa' yang sangat berbahaya itu juga ilmu mereka masih berada satu tingkat di bawah saudaranya yang paling tua. Itulah sebabnya ketika mereka mendengar adanya sepasang pendekar muda yang menamakan dirinya dengan julukan 'Sepasang Walet Merah' suami istri Maling Durjana kemudian menyatakan diri untuk bergabung dengan kedua tokoh muda yang memiliki senjata sangat istimewa itu, yaitu berupa sebuah batu cincin Walet Merah yang memiliki daya kekuatan tidak meragukan.

Di pihak Walet Merah sendiri bukanlah manusia bodoh, setiap kalangan persilatan yang menyatakan diri untuk bergabung dengan mereka harus melalui syarat-syarat tertentu. Adapun salah satu syarat yang harus mereka kerjakan adalah menemukan atau setidak tidaknya merampas Batu Walet Merah yang jantannya dari tangan murid Padepokan Bukit Berkabung yang bernama Dewi Ratih. Mengapa berita tentang keberadaan Batu Walet Merah yang jantannya sampai di ketahui oleh Sepasang Walet Merah? Ketika Dewi Ratih Juwita dan Bagas Salaya yang kemudian muncul di kalangan persilatan dengan julukan Sepasang Walet Merah, baru saja meninggalkan Bukit Siluman setelah berhasil mencuri Batu Walet Merah betina yang tersimpan di antara peti-peti mayat leluhurnya, dalam perjalanannya untuk memulai sepak terjang bersama-sama kekasihnya, yang juga masih merupakan saudara tirinya sendiri. Secara kebetulan mereka melintasi bukit Begal Sewu. Dalam pada itu mereka melihat adanya beberapa puluh orang perampok sedang melakukan pengeroyokan terhadap sebuah kereta kuda yang saisnya merupakan seorang pemuda tampan berpakaian gembel dan belum pernah mereka kenal.

Tetapi mereka kenal dengan seorang gadis yang bernama Dewi Ratih, yang tak lain masih adik kandung Bagas Salaya dan merupakan adik tiri Dewi Ratna Juwita. Kemunculan mereka dengan maksud menuju Bukit Siluman sudah barang tentu merupakan perhatian sepasang kekasih terkutuk itu. Sebab seperti mereka ketahui, Bukit Siluman pantang dijarah oleh siapa pun terkecuali dengan satu keperluan. Yaitu mengubur atau mengantarkan salah seorang jenazah kerabatnya. Selidik punya selidik tahulah mereka, bahwa saat itu adik mereka sedang mengantarkan Eyang Girinda untuk, dikuburkan di Bukit Siluman yang semasa hidupnya dulu pernah mengusir mereka berdua dari padepokan Bukit Berkabung, karena mengetahui hubungan percintaan antara sesama saudara tirinya. Sudah jelas akibat pencegatan yang dilakukan oleh para perampok, kejadian lebih lanjut mereka ingin mengetahuinya. Bahkan diapun ingin mengetahui siapa sesungguhnya pemuda aneh berperiuk yang menjadi kusir kereta kuda yang membawa peti mati kakek mereka itu. Tetapi pada akhirnya pertarungan si pemuda melawan keroyokan begal-begal itu menjadi tidak menarik perhatian mereka, ketika kedua orang itu melihat Dewi Ratih mengeluarkan Batu Walet Merah lainnya, yang selama ini mereka ketahui berada di Sungai Banyu Urip. (Untuk lebih jelasnya dalam episode Kisah Sepasang Walet Merah)

Setelah kematian kepala begal yang tewas seketika akibat terhantam sinar merah yang berasal dari batu cincin Walet Merah di tangan Ratih, secara diamdiam mereka meninggalkan tempat itu, sambil berpikir-pikir mencari cara terbaik untuk merampas Batu Walet Merah yang berada di tangan adiknya. Satu purnama setelah melakukan pengembaraan dengan membuat teror di mana-mana, mereka kemudian bertemu dengan 'Dua Bersaudara Monyet Hitam' berasal dari Gunung Beruk yang menyatakan diri ingin bergabung dengan mereka. Akhirnya mereka menerima kehadiran dua bersaudara itu setelah sebelumnya menunjukkan segala kebolehannya di depan 'Sepasang Walet Merah'. Satu purnama kemudian datang pula suami istri Maling Durjana, yang juga menyatakan diri untuk bergabung dibawah perintah Sepasang Walet Merah. Nah, melalui tangan-tangan mereka inilah akhirnya pasangan Walet Merah menyerahkan tugas untuk mendaki di Bukit Berkabung dalam usaha merampas Batu Walet Merah yang jantannya, dan semua itu sudah barang tentu dalam pengawasan Dewi Ratna Juwita dan Bagas Salaya. Kebetulan saat itu dari berbagai arah muncul berpuluh-puluh obor menuju Padepokan Bukit Berkabung yang hanya memiliki sisa murid empat orang itu. Mempergunakan kesempatan yang sangat singkat. Di luar padepokan keempat orang utusan ini membunuh keempat orang murid padepokan. Dalam keadaan terkepung seperti itu, mujur dan merupakan kemudahan bagi mereka, pemuda berkuncir yang mengemban tugas dari almarhum Eyang Girinda memberi perintah pada Dewi Ratih untuk meninggalkan padepokan bersama empat murid lainnya. Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan oleh keempat orang suruhan Walet Merah. Hingga akhirnya di sebuah tempat yang sunyi, mereka berhasil merampas Batu Walet Merah yang jantannya dari tangan Ratih setelah terlebih dahulu melumpuhkan si gadis dengan asap pembius.

Kini kedua Batu Walet Merah benar-benar telah berada di tangan Bagas Salaya dan Dewi Ratna Juwita. Dengan kedua batu tangan mereka teror demi teror mereka lakukan. Sementara tugas demi tugas yang dibebankan pada keempat orang pembantunya tidak kunjung henti. Saat itu Sepasang Walet Merah yang memiliki markas berpindah-pindah ini memberi perintah pada dua Bersaudara Monyet Hitam dan suami istri Maling Durjana untuk mengobrak abrik kekuasaan Rambut Kelabu di lembah Panggang. Menerima tugastugas rutin seperti itu, sudah barang tentu keempat orang ini sedikit pun tiada pernah merasa keberatan. Sungguh pun orang yang memberi perintah pada keempatnya berusia jauh lebih muda dari mereka. Karena selain dijanjikan akan mendapat kedudukan yang layak seandainya rencana mereka berhasil kelak, tetapi juga dalam setiap melakukan tugas mereka di beri upah uang emas yang sangat cukup. Demikianlah ketika menjelang tengah hari, dua Monyet Hitam Bersaudara beserta suami istri Maling Durjana telah sampai di sebuah perbukitan berbatu cadas dan sangat langka dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan itu. Tapi mereka tiada menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Terus saja melangkah, dan sekali-kali mengerahkan ilmu lari cepat mereka. Begitulah keadaan keempat orang kepercayaan itu, tampaknya saling menunjukkan kebolehannya masing-masing. Namun sejauh itu mereka kelihatan akur-akur saja. Tak sampai setengah jam kemudian mereka sudah melewati sebuah tikungan tajam yang lebih dikenal dengan nama Tikungan Seribu Jalan Kematian. Pada saat itu dari arah yang berlawanan, muncul pula si Rambut Kelabu dengan tiga orang muridnya. Kehadiran empat orang golongan sesat itu tentu tidak asing lagi bagi si Tongkat Maut dari Lembah Panggang ini. Tapi selama ini mereka tak pernah terlibat permusuhan apa pun, karena pada dasarnya mereka saling tak mau usil dengan segala macam urusan orang lain. Tapi kini begitu mereka saling berpapasan, Dua Bersaudara Monyet Hitam langsung menyelak: "Tunggu dulu sobat...! Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu!" Berkata salah seorang si Monyet Hitam berbadan pendek sambil menyunggingkan seulas senyum. Si Tongkat Maut dari Lembah Panggang hentikan langkah dan putar badan, hingga kini benar-benar telah berhadapan dengan manusia berkulit hitam legam yang di sekujur tubuhnya ditumbuhi dengan bulu-bulu lebat kayak lutung.

"Ada perlu apakah engkau menghentikan perjalanan orang lain yang tak punya urusan denganmu, Ki Sanak?" tukas Sumirah merasa kurang sreg berlamalama bertanya jawab dengan manusia golongan sesat itu.

"Sungguh pun kita dari golongan yang berbeda, berbincang bersama-sama rasanya tak ada salahnya, Nyi Sumirah...!" kata istri Maling Durjana ikut menimpali.

"Dua tokoh sesat yang satu dari Selatan yang lainnya dari Tenggara, bisa bersatu dan melakukan perjalanan bersama-sama. Tentu ada apa-apanya!" membatin Nyi Sumirah.

Lalu dia berpikir-pikir apa sebabnya keempat orang itu sampai berada di tempat itu, sedangkan kalau jalan lurus yang telah dilaluinya ditelusuri oleh orang-orang sesat itu, sudah pasti tiada tempat lain yang mereka tuju terkecuali Lembah Panggang.

"Eeh... kalau tak salah, bukankah anda berdua sepasang suami istri Maling Durjana...?" tanya si Tongkat Maut tampak mengernyitkan alisnya.

"Ahh. Tak kusangka kiranya anda memiliki penglihatan yang tajam, Tongkat Maut...!" ujar si Maling Durjana tersenyum tipis. Tapi dalam pandangan Nyi Sumirah senyum itu tak jauh beda dengan orang yang hendak menangis. Diam-diam perempuan berambut kelabu ini geli hatinya.

"Bukan penglihatanku yang tajam, tapi keberadaan anda dan kelihatan anda di bagian Selatan sana sudah sangat sering aku mendengarnya...!"

"Anda terlalu berlebih-lebihan Ni Sanak...!" sergah salah seorang Monyet Hitam bersaudara. Sekejap si Tongkat Maut menoleh dan memandang penuh rasa jijik pada manusia hitam berbulu itu.

"Hemm... melihat tampangmu, rasa-rasanya seumur hidup baru kali ini aku bertemu. Perduli apa...?" tukas Nyi Sumirah. Entah mengapa sejak berselisih jalan tadi dia merasa begitu muak melihat kehadiran Dua Monyet Hitam Bersaudara. Itu makanya begitu Monyet Hitam ikut bicara dia langsung mengejek.

***

5

Hemm...! Begitukah caranya orang golongan putih bertegur sapa dengan orang lain...?" tanya si Monyet Tinggi kurus macam Cerangkong, nampak sangat tersinggung. Si Rambut Kelabu kembali nyeletuk dengan kata-kata ketus.

"Oh maaf! Kiranya keturunan para monyet selain mampu bicara dengan baik, juga mengerti segala macam peradatan!"

"Jahanam! Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya. He... he... he...!" Dua Bersaudara Monyet Hitam terkekeh-kekeh. "Tak salah kalau ketua kami menyuruh kami untuk membunuh manusia yang tak tahu peradatan sepertimu...!"

"Oh... ketua mengatakan supaya membunuhku! Huh... siapa sih ketuamu itu? Mungkin Bapak moyangnya para monyet menjijikkan sepertimu ya...?" pancing si Rambut Kelabu. Nampaknya apa yang diinginkan oleh si Tongkat Maut itu mendatangkan hasil. Sebab tak begitu lama kemudian setelah saling berpandangan sesamanya.

"Kalau kau ingin kenal siapa yang menjadi ketua kami... hhoaa... ha... ha...! Kenalkah kau dengan Sepasang Walet Merah?" tanya si Monyet Hitam Bersaudara hampir bersamaan. Sungguh pun si Rambut Kelabu merasa sangat terkejut begitu mendengar ucapan mereka tapi sedapatnya dia berusaha menutupinya. Bahkan kini dia menyadari apa sesungguhnya maksud kedatangan mereka di lembah Panggang. Tak lain dengan membawa maksud-maksud tak baik.

"Oh jadi kalian inilah para begundalnya muridmurid terkutuk itu? Pantasan saja kalian begitu patuh pada iblis berkedok manusia itu!"

"Bangsat! Mulutmu terlalu cerewet manusia tengik!" makinya, kemudian setelah memandang pada kawan-kawannya beberapa saat lamanya dia pun membentak garang. "Bersiap-siaplah kalian untuk mampus...!" teriak si Monyet Hitam Bersaudara sengit.

Selanjutnya dengan diawali teriakan melengking tak ubahnya bagai teriakan monyet hutan yang sedang dilanda kemarahan besar.

Kedua orang berbadan hitam legam itu langsung menerkam si Tongkat Maut. Gerakan kedua orang itu sungguh cepat luar biasa, hingga tahu-tahu kedua tangan mereka yang berkuku runcing itu hampir saja mencakar bagian muka si Rambut Kelabu andai dia tak secepatnya menggeser tubuhnya dua langkah ke samping kiri.

"Hajar terus saudara Monyet Hitam...!" seru si Maling Durjana yang saat itu sudah mulai terlibat pertarungan dengan tiga orang murid si Rambut Kelabu. Pada dasarnya mereka adalah merupakan dua golongan persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Itulah sebabnya begitu mereka terlibat pertarungan, maka masing-masing lawan telah pula mengeluarkan jurusjurus silat tangan kosong yang paling hebat. Jurus demi jurus terus berlangsung. Dalam sekejapan saja pakaian mereka telah basah oleh keringat.

"Caat... ciaat... hiaaa...!"

Suara jeritan menggeledek itu disertai dengan berkelebatnya tubuh Monyet Hitam Bersaudara. Satu pukulan dan satu tendangan kaki dengan telak dilakukan oleh Monyet Hitam Bersaudara. Si Rambut Kelabu sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan tampaknya sudah dapat menduga kemana sasaran yang dituju oleh serangan beruntun yang dilakukan oleh dua orang bersaudara ini. Maka dengan gesit dan tanpa terduga-duga dia putar tongkatnya.

"Tak! Duk! Duk...!"

"Ah... kampret...!" maki Monyet Hitam Bersaudara begitu merasakan sakit yang sangat luar biasa saat mana kaki dan tangannya, membentur tongkat berwarna kuning di tangan si Rambut Kelabu. Serangan pertama mereka yang berhasil digagalkan oleh si Rambut Kelabu membuat kedua orang ini menjadi sangat marah. Kemudian mereka menerjang kembali dengan serangan-serangan yang lebih gencar.

Sementara itu pertarungan antara sepasang suami istri Maling Durjana dengan tiga orang murid si Rambut Kelabu ini sudah mencapai puncaknya. Tampaknya menghadapi sepasang suami istri ini, tiga murid pilihan si Rambut Kelabu tidak mampu berbuat banyak. Terbukti dalam pertarungan mencapai sepuluh jurus ketiga orang itu sudah tampak mulai keteter. Bahkan menjelang lima jurus selanjutnya mereka hanya mampu mengelak dan menangkis seranganserangan yang datang. Mau tak mau, ketiga orang itu langsung mencabut senjatanya yang berupa sebuah tongkat yang panjangnya tidak lebih dari satu meter. Mengetahui semua apa yang dilakukan oleh tiga orang murid si Rambut Kelabu, suami istri Maling Durjana tertawa terbahak-bahak

"Ha... he... he...! Segala tongkat pemukul anjing seperti itu, bagusnya memang untuk menggebuk diri sendiri...!" teriak suami istri Maling Durjana dengan maksud mengejek.

"Jangan banyak mulut, majulah kalian! Sekejap lagi kepalamu pasti berhasil kuremukkan...!" selak salah seorang di antara mereka. Lalu dengan cepat sekali mereka putar tongkatnya. Tongkat di tangan mereka menderu-deru hingga menimbulkan angin bersiuran. Sambil memutar tongkat untuk melindungi diri dari serangan lawan, sekali dua mereka juga kirimkan serangan yang sangat cepat mengarah pada bagian tubuh lawan yang agak melemah pertahanannya.

"Saaaa...!"

Sekali suami istri Maling Durjana bergebrak dari arah yang berlawanan, maka satu pukulan maut yang diberi nama 'Maling Celaka Menguntit Pengemis Hina' mereka lepaskan. Tak pelak lagi, selarik sinar berwarna pelangi menderu laksana kilat mengarah pada ketiga orang lawannya. Di luar dugaan si Maling Durjana kiranya semua pertarungan yang terjadi antara sesama mereka masih sempat diperhatikan oleh si Rambut Kelabu yang saat itu terlibat pertarungan dengan 'Dua Bersaudara Monyet Hitam'. Sekali si Rambut Kelabu mengebutkan tongkatnya dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Maka menderulah satu gelombang angin topan begitu kuat laksana prahara memapaki pukulan yang dilakukan oleh sepasang suami istri Maling Durjana saling berbenturan di tengahtengah jalan.

"Blaaaaam...!"

Dua kali ledakan keras terdengar, si Rambut Kelabu tampak terbanting tubuhnya, namun cepat bangkit kembali. Penguasa Lembah Panggang itu kini tak ingin bersikap tanggung-tanggung lagi. Beberapa detik kemudian dia mulai membuka jurus-jurus tongkat mautnya.

Sementara itu suami istri Maling Durjana yang tampak terpelanting roboh akibat beradunya dua pukulan sakti tadi, tampak kerengkangan berusaha bangkit. Dua-duanya terbatuk-batuk sekejap, dada mereka terasa sesak. Namun setelah menyeka darah yang meleleh di bagian sudut bibirnya kini dengan sangat beringas sekali kembali melancarkan pukulan 'Maling Celaka Menguntit Pengemis' tingkatan kesepuluh. Tiga orang murid si Rambut Kelabu menyadari betapa berbahayanya pukulan yang dilepaskan oleh suami istri maling itu. Tadi saja andai tidak dibantu oleh gurunya, mungkin mereka sudah menemui ajal atau setidak-tidaknya sudah terluka parah. Dan kini dalam keadaan gurunya sibuk seperti itu Maling Durjana mengirimkan pukulan maut yang berkekuatan sangat besar, sudah tentu mereka putar tongkatnya dengan segenap kemampuan yang ada untuk menyelamatkan diri dari pukulan yang di lepas oleh lawannya. Lagi-lagi selarik sinar warna pelangi melabrak cepat ke arah mereka.

"Wuuus! Deeer...!"

"Wuaaaah...!"

Tongkat di tangan mereka hancur berantakan dihantam pukulan yang dilepaskan oleh Maling Durjana. Tubuh mereka terpelanting tujuh tombak. Sekejap murid-murid si Rambut Kelabu ini berusaha bangkit, namun begitu mereka menggerakkan badan dan mencoba merangkak. Pukulan susulan pun dilepaskan oleh suami istri Maling Durjana. Tubuh mereka yang sudah menderita luka dalam cukup parah ini kembali terbanting roboh tanpa mampu bangkit lagi. Suami istri Maling Durjana tertawa tergelak-gelak.

"He... he... he...! Akhirnya mampus juga kau bocah-bocah tolol...!" desisnya puas sendiri memandang mayat-mayat murid si Rambut Kelabu.

Saat itu si Rambut Kelabu demi melihat kematian murid-muridnya yang sangat mengenaskan ini tampak gusar dan marah

"Monyet Hitam dan maling terkutuk! Kalian benar-benar harus membayar mahal atas kematian murid-muridku!" teriaknya sambil terus memperhebat serangan dan melakukan tekanan-tekanan gencar terhadap dua bersaudara Monyet Hitam.

"Jangan besar mulut. Sekejap lagi, kau pun akan menyusul murid-muridmu ke neraka sana...!" selak dua bersaudara Monyet Hitam.

"Buktikanlah...!" teriak si Tongkat Maut dari lembah Panggang ini sambil mengayunkan tongkatnya mengarah pada bagian kaki dan lambung Monyet Hitam bersaudara. Dalam pada itu si Maling Durjana hanya menyaksikan pertarungan itu dari jarak yang tidak begitu jauh. Sebab mereka merasa saat itu rasanya mereka masih belum perlu untuk turun membantu.

"Shaaaa...! Bet! Bet...!"

Tongkat di tangan si Rambut Kelabu nyaris menghajar badan dada, Monyet Hitam kurus kerempeng, tapi karena begitu gesit manusia kulit pembalut tulang ini mengelakkannya, maka dia luput dari sabetan tongkat maut berwarna kuning itu. Sebaliknya tongkat itu terus menderu mencecar monyet gemuk yang berada di sebelah kirinya.

"Haes...!"

Monyet Gemuk membuang tubuhnya ke samping, saat mana merasakan adanya sambaran angin pada bagian kepalanya. Tapi kiranya gerakan memukul ke arah kepala itu sesungguhnya hanyalah merupakan tipuan belaka. Karena begitu Monyet Gemuk membuang tubuhnya ke samping, tongkat di tangan si Rambut Kelabu datang menyambar.

"Brebeeet...!"

"Angk...!"

Monyet Gemuk keluarkan seruan tertahan, bagian bahunya yang tersambar tongkat milik si Rambut Kelabu terasa nyeri dan banyak mengeluarkan darah. Tapi begitu tak merasakan rasa sakit yang menggigit, si Monyet Gemuk sudah bangkit dan bersiap-siap membangun serangan. Saat itu si Monyet kurus telah pula bersiap-siap mempergunakan asap pembius yang selama ini merupakan senjata yang sangat mereka andalkan. Namun sebelum niat itu kesampaian, tiba-tiba terdengar seruan dari si Maling Durjana yang sejak tadi hanya menonton pertarungan itu,

"Jangan lakukan itu saudara Monyet Hitam! Terlalu enak baginya untuk mampus begitu saja!"

"Aku tak menginginkan pekerjaan yang berteletele...!" dengus Monyet Hitam tampak tersinggung.

"Mari kita keroyok mereka beramai-ramai...!" teriak suami istri Maling Durjana laksana kilat dia langsung menerjang dengan jurus-jurus andalan. Maka beberapa jurus setelah pengeroyokan itu. Tampaklah kalau si Tongkat Maut sudah mulai keteter. Dengan sebat dia kembali kerahkan ilmu tongkat yang dimilikinya, namun serangan keempat orang itu juga tidak kalah gencarnya. Terlebih-lebih setelah suami istri Maling Durjana keluarkan senjata mereka yang berupa kipas berwarna hitam legam. Maka pada jurus-jurus selanjutnya tampaklah kalau si Rambut Kelabu semakin terdesak hebat. Dari keempat lawan-lawannya itu, nyatalah sudah bahwa yang memiliki serangan sangat berbahaya adalah suami istri Maling Durjana yang bersenjatakan kipas. Sedangkan dua bersaudara Monyet Hitam sungguh pun melakukan serangan dengan kuku-kukunya yang sangat panjang dan mengandalkan tenaga dalam, namun tidaklah sehebat Maling Durjana. Hanya keunggulan yang dimiliki oleh dua bersaudara Monyet Hitam terletak pada asap pembiusnya yang telah merenggut banyak korban itu.

"Ciaaat...!"

Kipas di tangan suami istri Maling Durjana menderu dari bagian depan. Sedangkan dari bagian belakang dan samping dua bersaudara Monyet Hitam menyerang dengan sambaran-sambaran kukukukunya yang tajam dan mengandung racun ganas. Menghadapi serangan yang begitu tiba-tiba dan datang dari berbagai penjuru ini, pikiran si Rambut Kelabu bekerja cepat.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang hanya beberapa detik itu, si Rambut Kelabu putar tongkatnya ke segala penjuru untuk melindungi diri. "Traak...! Traaak...!"

"Buuuk...!"

Dua kali benturan keras terjadi saat mana senjata mereka saling bertemu, tubuh masing-masing lawan sama-sama tergetar. Celakanya mempergunakan kesempatan itu, secara curang si Monyet Kurus hantamkan tinjunya dengan kekuatan hampir tiga perempat tenaga dalamnya. Tanpa ampun tubuh si Rambut Kelabu terbanting keras menghajar batu cadas yang terdapat di tikungan itu. Belum lagi tubuh yang sudah dalam keadaan terluka parah itu mampu bangkit kembali, satu pukulan jarak jauh dilepaskan oleh suami istri Maling Durjana. Satu kali pukulan yang memancarkan cahaya sinar pelangi itu menghantam tubuh si Rambut Kelabu tanpa mampu tertangkis atau pun terhindari. Maka tak ayal lagi pukulan itu menghantam tubuhnya yang sudah dalam keadaan terluka parah. Sekejap saja tubuh si Rambut Kelabu telah berubah menghitam, dengan nyawa terlepas dari badannya.

"Kita telah berhasil...!" teriak keempat orang itu bersorak kegirangan.

"Belum, si Panjang Kumis belum tewas di tangan kita...!" sergah si Monyet Kurus. Seraya ngeloyor pergi dengan diikuti oleh yang lain-lainnya.

***

6

Pagi yang cerah, burung-burung pun bernyanyi merdu menyambut kehidupan baru dalam suasana kedamaian yang abadi. Dari Barat daya, angin berhembus sepoi-sepoi membisikkan suasana romantis bagi sepasang muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Nun di bawah pohon besar yang memiliki akarakar rambat berjuntai, di celah-celah sebuah gua kecil dan sempit. Di sanalah kedua pasangan terkutuk itu memadu asmara hampir semalaman suntuk. Si pemuda berwajah lumayan tampan, si gadis bertubuh sintal dengan tinggi semampai dan memiliki wajah ayu menawan, namun memiliki keganasan tersembunyi.

Dialah Sepasang Walet Merah yang akhir-akhir ini mencuat namanya di kalangan persilatan karena sepak terjangnya yang membuat setiap orang menjadi ciut nyalinya karena kesadisan setiap tindak tanduknya. Mereka kini memang boleh berpuas hati dengan adanya sepasang Batu Walet Merah di tangannya. Mereka memang pantas memiliki ambisi untuk membentuk sebuah partai besar dalam rimba persilatan di wilayah Selatan. Tidak ada satu hambatan apa pun terkecuali mereka masih merasa bingung untuk menentukan markas mereka untuk hari-hari selanjutnya. Saat itu, Sepasang Walet Merah sedang berkasak masyuk dengan kekasihnya. Tampak Dewi Ratna Juwita sedang duduk dalam pelukan Bagas Salaya. Tangan pemuda itu tak henti-hentinya merambat kian ke mari pada bagian tubuh si gadis yang sesungguhnya masih merupakan kakak tirinya sendiri. Sesekali si gadis merintih manja, dan di lain saat membalas pelukan itu dengan hangat, (Maklum selain terkutuk mereka juga merupakan orang yang paling sesat). Lalu di saat lain mereka terlibat percakapan serius.

"Adik Bagas! Kamu nakal sekali, masakan sudah hampir semalaman kau tidak bosan-bosan...!" ucapnya sambil bersungut-sungut manja.

"He... he... he...! Habisnya kamu cantik sih, membuat aku semakin penasaran!" jawab Bagas Salaya. "Uuh... mestinya kau tidak memanggilku kakak lagi, tapi cukup dengan panggilan adik, sedangkan aku akan memanggilmu kakang! Bagaimana...?" tanya Dewi Ratna Juwita. Bagas Salaya tampak terdiam beberapa saat lamanya, kemudian mengangguk setuju.

"Kita ini merupakan suami istri, masakan kita harus mempergunakan peradatan seperti dulu-dulu juga...!" ujar Bagas Salaya, lalu memeluk Dewi Ratna Juwita lebih erat lagi. "Coba sekarang kau mulai memanggilku, Kakang...!" Tanpa merasa malu-malu lagi.

"Kakang Bagas...!"

"Woii... mesranya...!" seru Bagas Salaya setengah melonjak kegirangan. Sambil bersungut-sungut Dewi Ratna Juwita berkata:

"Sekarang kakang harus mengatakan yang sama seperti apa yang kukatakan tadi!" pintanya.

"Adik Dewi, istriku...!" ucapnya tersipu malu. Sesaat setelahnya meledaklah tawa mereka sebagai rasa peluapan rasa kegembiraannya.

"Sekarang engkau menjadi istriku, Adik De-

wi...!"

"Kau pun kini telah menjadi suamiku, Kakang

Bagas...!"

"Dengan begitu tercapailah sudah apa yang menjadi tujuan kita selama ini...!" Berkata Bagas Salaya, seraya langsung beranjak berdiri. Tapi dilihatnya Dewi Ratna Juwita geleng-geleng kepalanya. Hal ini tentu mengundang tanda tanya di hati Bagas Salaya. "Mengapa...?"

Si gadis tampak menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali dengan kuat.

"Cita-cita kita belum sepenuhnya terpenuhi, masih ada satu lagi, yaitu membentuk sebuah partai besar yang memiliki anggota sangat banyak...!"

"Hemm. Betul sekali, kita harus menunjukkan pada dunia bahwa kita juga mampu menjadi penguasa di kolong jagad ini. Bukan eyang buyut saja yang mampu mendirikan sebuah padepokan yang termashur, tapi kita juga akan mendirikan sebuah partai besar yang pasti lebih hebat dari pada hanya sekedar Padepokan Bukit Berkabung beberapa puluh tahun yang lalu. Ya... kita pasti mampu mewujudkan cita-cita yang suci itu dengan adanya sepasang Batu Walet Merah di tangan kita," kata Dewi Ratna Juwita penuh percaya diri.

"Tentu, selain nama kita menjadi sangat terkenal juga akan di segani oleh kalangan persilatan manapun juga, ya Adik Dewi...!"

"Benar Kakang!" ucapnya bersemangat.

Setelah melampiaskan uneg-unegnya kemudian mereka saling diam, tapi suasana seperti itu tidak berlangsung lama, karena sesaat setelahnya Dewi Ratna Juwita nyeletuk: "Tapi kita mulai sekarang harus mempunyai markas yang tetap, Kakang! Kita masih harus menentukan markas itu!" Sebelum menjawab Bagas Salaya nampak memperhatikan istrinya lekatlekat.

"Hemm, bagaimana kalau kita membangun markas di Bukit Berkabung...!" tanya Bagas Salaya memberikan satu usul.

"Bukit Berkabung? Rasa-rasanya Bukit Berkabung bukanlah tempat yang pantas untuk sebuah markas besar. Pula bagaimana halnya dengan Adik Dewi Ratih, aku merasa tak tega untuk mengusir dia dari tempat itu! Selama ini dia sudah terlalu mengalah pada kita. Maksudku biarlah Bukit Berkabung merupakan tempat tinggalnya selama-lamanya. Tokh selama ini dia tak pernah mengganggu kita!"

"Bagaimana nanti seandainya dia mengetahui kita sudah menjadi suami istri lalu apa tindakanmu jika nanti dia memusuhi kita...?" tanya Bagas Salaya merasa was-was.

"Kalau dia berani mencampuri urusan kita! Tak perduli siapa pun adanya dia, maka sudah selayaknya kalau kita membunuhnya!" jawab Dewi Ratna Juwita tegas.

"Sebuah usul yang bagus!" gumam Bagas Salaya setengah bimbang. Mendadak Dewi Ratna Juwita kernyitkan alisnya, pandangan matanya jauh menatap ke depan sana, Bagas Salaya juga ikut memperhatikan apa yang sedang menjadi pusat perhatian istrinya. Sebuah titik hitam bergerak cepat ke arah mereka, semakin lama titik hitam itu semakin mendekat dan bertambah dekat.

"Hhh... seorang kakek tua dengan kumis dibiarkan memanjang sampai hampir melebihi perut. Dan dua pemukul yang mirip dengan alat untuk memukul gong itu. Aku belum pernah melihat orang seaneh itu...!" gumam Dewi Ratna Juwita hampir tak terdengar.

"Orang aneh itu menuju ke mari, Adik Dewi!" Sekejap Dewi Ratna Juwita mengerling pada

Bagas Salaya: "Mengapa harus cemas! Kita masingmasing memiliki Batu Walet Merah. Mungkin kedatangan badut pendek itu ingin minta di gebuk! Tenang sajalah...!"

"Jleeegkh!"

Hanya sekelebatan saja, tahu-tahu kakek tua berbadan pendek dengan jenggot dan kumis sangat panjang itu sudah berada di depan mereka berdua. Begitu sampai langsung cengar cengir bagai monyet sinting.

"Sepasang pemuda yang gagah! Sungguh merupakan pasangan yang sangat cocok sekali." gumam si kakek aneh ini yang tak lain adalah si Panjang Kumis Gong Akherat dari Lembah Putus Nyawa. "Tapi bila ku lihat wajah-wajah kalian, aku jadi teringat pada anak Girinda yang telah tewas di Sungai Banyu Urip. Sayangnya sahabatku itu telah tewas pula...! He... he... he... siapakah kalian ini...!" lanjut kakek itu. Sepasang Walet Merah pandang sesamanya. Bagas Salaya kemudian menyahut:

"Sayangnya kami tak begitu kenal dengan orang yang anda maksudkan, kakek aneh?!"

"Wee... kau bilang aku orang aneh, kau tidak kenal pula dengan sesepuh Padepokan Bukit Berkabung? Mustahil, semua orang tahu bagaimana hebat Padepokan Bukit Berkabung pada beberapa waktu yang lampau, sedangkan aku ini hanyalah jenis manusia yang di kenal sebagai 'si Kumis Panjang Gong Akherat'. He... he... he...!" kata si kakek tanpa terlepas dari tawanya.

"Kelayapan sampai ke mari ada keperluan apakah?" tanya Dewi Ratna Juwita setelah mengetahui segala sesuatunya tentang kakek itu.

"Siapakah kalian...?" tanya si Panjang Kumis tiba-tiba, tanpa menghiraukan pertanyaan Dewi Ratna Juwita.

"Orang-orang persilatan mengenal kami sebagai Sepasang Walet Merah...!" Bagas Salaya mengakui. Terbelalaklah kakek tua ini demi mendengar pengakuan laki-laki muda yang berdiri tegak di hadapannya. Tiba-tiba saja wajahnya berobah memerah, kemarahannya pun meluap tanpa terbendung lagi.

"Manusia terkutuk! Jadi kalianlah orangnya yang telah berani membongkar pintu Gua Bukit Siluman dan bercinta dengan saudaranya sendiri? Kalian benar-benar manusia terkutuk...!" teriak si Panjang Kumis Gong Akherat dengan tubuh menggigil dibakar amarah. "Kakek kumis ijuk. Persetan denganmu, aku tak pernah menyuruhmu datang ke mari. Apa pun yang kulakukan itu adalah hak kami...!" tukas Dewi Ratna Juwita tak kalah sengitnya.

"Sumpah dunia, biarkan para dewa membakar kalian di neraka kelak. Puih... aku memang sengaja datang dari tempat yang jauh hanya ingin mencari biangnya iblis yang telah membunuh beberapa orang muridku, lebih dari itu aku juga punya kewajiban untuk menghukum kalian yang telah begitu berani mencuri kunci pintu Gua Siluman tempat penyimpanan peti jenazah para leluhurmu. Hemm... dengan barang hasil curian yang berupa Batu Walet Merah itulah engkau coba-coba meneruskan jalan sesat yang sangat terkutuk itu...?" maki si Panjang Kumis Gong Akherat. Mendapat makian dan kata-kata pedas seperti itu tentu saja Sepasang Walet Merah menjadi sangat tersinggung.

"Keparat...!" balas Dewi Ratna Juwita tak kalah sengitnya. "Mulutmu benar-benar sangat lancang sekali kakek peot! Tidak tahukah kau bahwa sesungguhnya Sepasang Walet Merah tak pernah memandang bulu terhadap siapa saja yang coba-coba berani menghalangi sepak terjangnya?"

Sepasang mata Gong Akherat menggerimit bahkan semakin bertambah menyipit, sekilas dia melirik pada bagian jemari tangan kedua muda mudi itu. Kemudian tahulah dia bahwa sepasang Batu Walet Merah berada di tangan mereka. "Hemm. Satu kesulitan besar tampaknya bakal kuhadapi. Senjata maut yang mengandung kesaktian gaib itu tidak bisa di buat main-main. Benda celaka itu telah merenggut banyak jiwa dari berbagai golongan. Bahkan tokoh sakti dari bukit hampar yang memiliki kepandaian sangat luar biasa saja sampai tewas ketika berhadapan dengan Eyang Buyut Resi Mamba. Sialnya kalau aku sampai tak dapat menjatuhkan mereka berdua maka semakin banyaklah nantinya korban yang berjatuhan, satu kesempatan baik andai aku dalam keberuntungan adalah dengan cara menghancurkan tangan mereka sampai ke tulang belulangnya. Andai itu dapat kulakukan, cepat atau lambat aku pasti dapat merampas benda terkutuk yang ada pada mereka itu!" batin si Panjang Kumis Gong Akherat, coba-coba mencari jalan terbaik untuk menghadapi lawannya.

"Anak muda.... Sebagai keturunan tokoh persilatan golongan lurus, tak kusangka langkahmu malah kesasar jauh dalam kesesatan. Betapa arwah para leluhurmu akan menjerit dan merintih-rintih di alam kuburnya sana...!" kata si Panjang Kumis menyesalkan "Cukuuup...!" teriak Bagas Salaya. "Kau, benar-

benar tak akan kami ampuni, manusia kropos. Asal kau ingat saja sekali kau berhadapan dengan Sepasang Walet Merah selamanya kau tak mungkin dapat kembali ke Lembah Putus Nyawa. Maafkanlah atas segala keputusan yang telah menjadi ketetapan kami!" lanjut pemuda itu, dengan wajah memerah. Si Panjang Kumis Gong Akherat dari Lembah Putus Nyawa tertawa-tawa begitu mendengar ucapan Bagas Salaya yang mengeluarkan ancaman itu. Kemudian dengan arif, dia pun berucap pelan namun mantap!

"Bocah! Mengingat usiaku yang sudah sangat lanjut, aku sudah sangat letih hidup dalam dunia pana ini. Kematian bagiku adalah sesuatu yang sangat kurindukan. Tapi apakah dengan kematianku di tanganmu engkau menjadi puas...?"

Marah bercampur heran Bagas Salaya dan Dewi Ratna Juwita mendengar kata-kata kakek tua yang berdiri tegak di hadapannya itu. Tapi sedikit pun mereka tidak berusaha mencari makna dalam kata-kata yang telah diucapkan oleh si Panjang Kumis. Sebaliknya dia malah membentak:

"Kakek renta, seribu nyawa tiada harga sepertimu masih belum membuatku puas terkecuali kami telah mencapai ambisi kami membentuk sebuah partai persilatan yang sangat besar dan tiada duanya!"

"Cekk... cekk... cek...!" Si Panjang Kumis geleng-gelengkan kepalanya. "Cita-cita kalian memang sungguh besar orang muda, sayang... semuanya itu dikendalikan oleh hawa nafsu, sehingga membuat kalian selain tersesat juga merupakan orang yang paling sesat di dunia ini!"

"Tua celaka! Kamu benar-benar telah menghina kami...!" selak Bagas Salaya, seraya lalu bersiap-siap membangun sebuah serangan.

"Kakang, padanya kita tak perlu basa basi! Kita bunuh dia...!" teriak Dewi Ratna Juwita tidak sabaran.

***

7

Memang benar, berkomentar terhadap manusia semacam ini memang tidak banyak guna, baiknya kita hancurkan dia!" kata Bagas Salaya. Kejab kemudian kedua muda mudi ini telah menggempur si Panjang Kumis dengan jurus-jurus silat tangan kosong warisan Padepokan Bukit Berkabung. Kakek tua dari Lembah Putus Nyawa ini tidak ingin bertindak gegabah, sekali saja tubuhnya berkelebat maka senjata andalannya yang berupa dua alat mirip pemukul gong berkelebat menyambar mengarah pada bagian tangan masingmasing lawannya.

"Wuuut! Beet!" "Ihhh...!" Dewi Ratna Juwita dan Bagas Salaya keluarkan seruan tertahan saat mana kedua senjata yang sesungguhnya remeh namun sangat berbahaya ini nyaris menghantam pergelangan tangannya. Menyadari akan adanya bahaya yang sangat mengancam diri mereka, maka secara serentak mereka mencabut pedangnya

"Sring! Sriiing...!"

Pedang di tangan Sepasang Walet Merah yang mengkilat tajam itu terus berkelebat menyambar dengan ganas. Pada dasarnya permainan pedang yang mereka miliki juga bersumber dari empat kitab jurus Pedang Dewa Berkabung, karena jumlah kitab jurus pedang maupun jurus silat milik Padepokan Bukit Berkabung jumlah sesungguhnya ada lima kitab, sudah jelas, sehebat manapun mereka memainkan pedang di tangan, tetap saja kunci penutupnya tidak mereka miliki. Apalagi si Panjang Kumis sedikit banyaknya sudah banyak mengetahui perkembangan jurus pedang yang mereka mainkan. Maka dengan sangat mudah saja, setiap gerakan pedang di tangan lawan-lawannya sudah terbaca oleh si Panjang Kumis. Tak heran pada setiap gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Sepasang Walet Merah selalu saja kandas di tengah jalan.

"Haiiit...!"

"Hieee... he... he...! Cuma segitu saja permainan pedang Sepasang Walet Merah yang bikin onar di mana-mana itu...!"

"Jangan ngebacot dulu, Kakek sial...!" maki Dewi Ratna Juwita sambil berloncatan menghindari sergapan-sergapan senjata pemukul gong di tangan Kakek Panjang Kumis.

"Kampret...!" si Panjang Kumis balas memaki, dalam keadaan seperti itu terlintas pula dalam benaknya bahwa sesungguhnya dia tidak mungkin mengulur waktu lebih lama lagi menghadapi Sepasang Walet Merah yang memiliki senjata yang tidak bisa dianggap main-main. Melalui pertarungan itu saja si Kakek Panjang Kumis sudah dapat menarik kesimpulan, bahwa kehebatan Sepasang Walet Merah mungkin terletak Batu Permata Walet Merah itu sendiri, dia berpikir andai tidak cepat-cepat dia bertindak mungkin tak lama lagi dia akan celaka. Maka tanpa pikir panjang lagi si Panjang Kumis Gong Akherat mulai bersiap-siap mempergunakan pukulan saktinya yang diberi nama 'Tiga Nyanyian Penghantar Kematian'. Sekejap saja begitu si Panjang Kumis kerahkan tenaga dalamnya, maka tangan kakek tua itu segera berubah warna menjadi merah bara. Karena saat itu tubuh si kakek terus saja berkelebat tiada henti. Maka otomatis perubahan yang sangat mendadak itu luput dari perhatian Sepasang Walet Merah.

"Hiyaaaa...!"

Mempergunakan jurus mengentengi tubuh yang sudah mencapai tahap sempurna, tubuh Kakek Panjang Kumis meletik ke udara. Saat mana dia memiliki kesempatan yang sangat baik untuk melepaskan pukulan 'Tiga Nyanyian Penghantar Kematian', maka sambil bersalto beberapa kali. Kakek Panjang Kumis hantamkan tangan kanannya menghadap pada Bagas Salaya, sedangkan tangan kiri kirimkan satu pukulan ke arah Dewi Ratna Juwita.

"Wuuus! Wuuus!"

Serangkum gelombang sinar yang menebarkan hawa panas, melesat sedemikian cepatnya memburu ke arah lawan-lawannya. Sepasang Walet Merah tampak terkesima untuk beberapa kejab lamanya. Namun detik kemudian mereka sudah memutar pedangnya sambil berloncatan menghindari terjangan tenaga sakti yang telah dilepas oleh si Kakek Panjang Kumis dari Lembah Putus Nyawa ini. Yang lebih celakanya lagi kemana pun mereka berusaha menghindar, maka kesitulah pukulan itu memburunya. Melihat kenyataan seperti itu selain Sepasang Walet Merah dibuat panik, juga kehabisan akal untuk mencari jalan keluar melepaskan diri dari kejaran pukulan maut yang terus mengejar bagai memiliki mata itu.

"Batu Walet Merah, Adik Dewi...!" teriak Bagas Salaya, dan dalam keadaan kepepet seperti itu mendadak dia teringat tentang Batu Walet Merah yang menjadi senjata pusaka andalannya. Tanpa banyak membuang-buang waktu lagi, Dewi Ratna Juwita dan Bagas Salaya mengerahkan tenaga dalamnya ke arah bagian tangan kanan yang terdapat Batu Walet Merah di bagian jari manisnya. Beberapa saat berlangsung, begitu tenaga dalam yang tersalurkan lewat tangan itu sampai pada batu, maka perubahan pun terjadilah. Mulamula tubuh Sepasang Walet Merah tampak gemetaran bagai orang yang sedang dilanda birahi. Kejab kemudian setelah wajah mereka bersemu merah, maka secara perlahan Batu Walet Merah yang melingkar di bagian jari manis mereka mulai memancarkan sinar merah menyala. Beberapa saat kemudian, kedua orang ini mengarahkan batu itu pada gelombang pukulan yang mengejar diri mereka. Tak ayal lagi selarik sinar berwarna merah kebiru-biruan yang berbentuk pipih melesat dari batu di tangan mereka.

"Buuuuum! Buuuuuum!"

Dua kali dentuman keras terdengar berturutturut. Pukulan Tiga Nyanyian Kematian buyar seketika itu juga di sapu lesatan sinar yang bersumber dari Batu Walet Merah di tangan lawan-lawannya. Tanpa ampun tubuh si Panjang Kumis terjengkang tiga tombak, sebaliknya tubuh kedua lawannya hanya tergetar saja dengan merasakan akibat yang tiada berarti. Sebaliknya begitu terbanting di atas tanah keras, dari bibir kakek Lembah Putus Nyawa ini meleleh darah kental. Dadanya terasa sesak luar biasa, jantung berdenyutdenyut sakit dan nyeri. Sementara kepalanya pusing bukan alang kepalang. Tanpa menghiraukan keadaannya sendiri, secara cepat dia sudah bangkit. Saat itu lawan-lawannya sudah berdiri tegar sambil berkacak pinggang.

"Kau benar-benar akan menemui kematian di tangan kami, Kakek malang...!" desis Dewi Ratna Juwita sambil menyunggingkan seulas senyum sinis.

"Sudah kukatakan bagiku kematian bukanlah hal yang menakutkan. Kupasrahkan nyawaku di tangan Sang Hyang Widi...!" kata Kakek Panjang Kumis tersenyum lembut.

"Kampret tua! Bukan di tangan Sang Hyang Widi nyawamu di serahkan, tetapi di tangan kamilah nyawamu tercabut secara paksa...!" selak Bagas Salaya. Lagi-lagi dia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian yang sama. Menyadari ancaman yang sangat membahayakan keselamatan jiwanya, maka si Panjang Kumis lipat gandakan tenaga dalamnya. Masih mempergunakan Tiga Nyanyian Kematian tingkat kedua kakek ini untuk yang kedua kalinya hantamkan kedua tangannya mendahului lawan-lawannya. Kembali selarik gelombang pukulan yang menebarkan udara lebih panas dari yang pertama tadi menderu-deru hingga timbulkan angin berciutan. Pada saat itu Sepasang Walet Merah juga sudah mengarahkan Batu Walet Merah ke arah lawannya.

"Hweeee! Hweeee...!"

Sinar pipih berwarna merah kebiru-biruan kembali melesat memapak pukulan yang dilepaskan oleh si Panjang Kumis. Terdengar suara menggemuruh saat mana tiga sinar sakti itu saling memburu. "Dweeeer! Dwweeeer...!"

"Wuaaa...!"

Sekali lagi tubuh si Panjang Kumis dari Lembah Putus Nyawa itu terpelanting lima tombak. Darah semakin banyak yang menyembur dari dalam mulutnya. Sementara dari lubang hidungnya juga mulai mengalirkan darah kental berwarna kehitam-hitaman. Di pihak lawannya, baik Dewi Ratna Juwita maupun Bagas Salaya, sungguh pun tidak sampai tersungkur jatuh, namun tetap saja terhuyung-huyung. Selama malang melintang beberapa purnama ini, baru kali inilah mereka menjumpai tanding yang seimbang. Begitupun mereka masih sempat tergelak-gelak demi melihat keadaan si Panjang Kumis yang sudah menderita luka dalam cukup serius.

"Nyawa tuamu benar-benar alot sekali, orang tua! Tapi kau jangan berpuas dulu betapa pun hebatnya pukulan sakti yang kau miliki, cepat atau lambat engkau pasti harus mengakui, bahwa kau bukanlah lawan tandingan Sepasang Walet Merah. Siapa pun manusianya tak kan pernah mampu mengalahkannya...!" selak Dewi Ratna Juwita sambil memandang sinis pada lawannya yang saat itu sudah berdiri kembali. Meskipun dengan kuda-kuda yang sangat goyah.

"Hek... kalian memang sepasang manusia terkutuk yang hebat. Sayangnya dan entah mengapa nyawa lapuk ini masih begitu lekat dengan jasad renta yang sudah tak banyak guna. He... he... he...! Tiada mengapa, tapi sedikit banyaknya kau juga harus ingat, bahwa di atas langit masih ada langit...!"

"Apa maksudmu, orang tua...?" tanya Bagas Salaya tiada mengerti.

Si Panjang Kumis terdiam sejenak lamanya sembari mengurut-urut dadanya yang terasa panas bagai terbakar. Setelah memandang lawannya dengan tatapan iba, maka dia pun berkata:

"Saat ini, esok atau lusa, kalian memang boleh berbangga diri dengan Batu Walet Merah yang berada dalam kekuasaan kalian itu. Tapi ingatlah suatu saat kelak pirasatku mengatakan bahwa akan datang padamu seorang lawan yang sangat tangguh yang tak dapat kau jatuhkan begitu saja. Hek... hek... hek...!"

"Keparat! Kau jangan coba-coba menggertak kami orang tua celaka!" maki Dewi Ratna Juwita merasa sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi

"Memakilah sepuas hati kalian! Apa yang kukatakan itu kelak akan terbukti juga...!"

Sepasang Walet Merah agak meremang tengkuknya demi mendengar ucapan yang se-akan-akan merupakan sebuah kutuk ini. Namun untuk membesarkan hati suaminya, Dewi Ratna Juwita berucap tegas.

"Kakang Bagas! Jangan kau hiraukan ucapan manusia sinting itu, mari kita gempur! Sebentar lagi dia pasti binasa di tangan kita...!"

"Mari, Adik Dewi!" jawab Bagas Salaya. Sekali ini tanpa banyak cakap lagi kedua orang itu langsung mengerahkan Batu Walet Merah pada si Panjang Kumis Gong Akherat.

"Weeer! Weeer!"

Dua lesatan sinar merah kebiru-biruan kembali meluruk si Panjang Kumis, kakek tua ini langsung menyambutnya dengan pukulan 'Tiga Nyanyian Kematian' tingkat yang paling tinggi.

"Blaam...!"

Kali ini bukan tubuh si Panjang Kumis saja yang terpelanting sampai tujuh tombak, tetapi kedua lawannya juga terjengkang ke belakang. Namun secepat mereka terbanting maka secepat itu pula mereka bangkit berdiri tanpa kekurangan sesuatu apa pun terkecuali merasakan nyeri di bagian dada. Si Panjang Kumislah yang menerima akibat yang paling fatal dalam peristiwa itu, tubuhnya yang sudah menderita luka dalam sejak mulai pukulan pertama dan kedua kini semakin bertambah parah. Wajah kakek tua itu tampak pucat pasi. Dari bibir dan hidungnya darah tiada henti-hentinya mengalir. Sepasang Walet Merah bukan tak menyadari kalau saat itu lawannya sudah tiada memiliki daya apa-apa, tapi mereka tampaknya sudah tiada perduli lagi. Sekali lagi mereka mengarahkan cincin Batu Walet Merah. Lesatan-lesatan sinar merah kebiru-biruan kembali meluruk si Panjang Kumis. Dalam keadaan sekarat seperti itu, kakek tua ini kiranya masih menyadari adanya ancaman bahaya. Dua pemukul gong yang selama ini dia pergunakan sebagai senjata andalan dia lontarkan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.

"Beees!"

Senjata sakti itu hancur berkeping-keping di landa pukulan lawannya. Sinar tadi terus melabrak tubuh si Panjang Kumis yang sudah tiada memiliki daya apa-apa.

"Bruaaak!"

Tiada terdengar lolongan atau pun rintihan. Tubuh yang sudah tiada bernyawa itu terhempas begitu saja, dengan keadaan yang sangat menggenaskan. Sepasang Walet Merah saling pandang, dan samasama tersenyum puas.

"Baiknya mulai saat sekarang kita menuju Bukit Siluman sekalian membuat markas di sana...!"

"Ayolah...!" Dewi Ratna Juwita langsung mengangguk setuju, lalu keduanya segera melangkah pergi menuju Bukit siluman. 8

Mengandalkan ajian Sepi Angin Pendekar Hina Kelana terus berlari-lari tanpa pernah perduli dengan suasana di sekelilingnya. Sementara di belakangnya Dewi Ratih merasa kewalahan mengikuti cara lari pemuda berwajah tampan ini yang begitu cepat laksana terbang. Walaupun saat itu Ratih telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengimbangi ilmu lari yang dimiliki oleh Buang Sengketa, tapi tetap saja gadis itu tertinggal jauh. Napas si gadis terasa memburu tidak beraturan. Dia merasakan tubuhnya sangat letih sekali.

"Kakang...!" panggilnya di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu. Buang Sengketa sejenak lamanya menoleh ke belakang.

"Ada apa Ratih...?" tanyanya serta merta dia mengurangi kecepatan larinya.

"Berhentilah, Kakang! Kau lari bagaikan hembusan angin, kalau terus menerus begitu sebentar lagi nafasku bisa putus!" keluh si gadis.

"Bukankah tadi kau yang mengajakku berlari-

lari?"

"Ya... ya... tapi aku tak menyangka kau memili-

ki kemampuan lari yang segila itu...!" dengus Dewi Ratih, saat itu dia sudah berhenti berlari dan mulai berjalan sebagaimana biasa. Buang menjadi tak tega untuk membiarkan gadis itu berjalan di belakangnya. Maka pemuda ini pun ikut-ikutan berjalan.

"Kita telah mencari Kakang Bagas Salaya dan Kak Dewi Ratna Juwita ke mana-mana, Kakang! Tapi tampaknya mereka berpindah-pindah!!" desah Dewi Ratih sembari melirik pada Buang yang secara diamdiam dikaguminya itu. "Semakin lama aku bertahan di daerahmu ini aku merasa semakin perihatin! Ketika kita pergi menuju Lembah Panggang untuk menjumpai sahabat almarhum eyangmu bukan keterangan yang kita dapat, sebaliknya berita duka tentang kematian si Rambut Kelabu yang kita peroleh. Demikian juga ketika kita menuju Lembah Selaksa Mayat, kita tak menjumpai si Panjang Kumis, ketika dalam perjalanan, kita justru menjumpai mayat Si Panjang Kumis yang sudah hampir membusuk...!" desahnya seperti tak bersemangat.

"Apakah kakang yakin, Sepasang Walet Merahlah pelaku pembunuhan itu?" tanya si gadis was-was. Buang Sengketa tampak kerutkan alisnya begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Dewi Ratih. Jika melihat luka-luka yang di derita oleh si Panjang Kumis, memang tak dapat disangkal bahwa semua itu akibat perbuatan Sepasang Walet Merah, luka-luka itu benarbenar sangat jauh berbeda dengan luka yang dialami oleh Nyi Sumirah dan ketiga orang muridnya. Itu berarti pembunuhan yang terjadi atas diri tokoh golongan putih itu dilakukan oleh orang yang berbeda. Mungkinkah pembunuhan atas diri si Rambut Kelabu ada hubungannya dengan Sepasang Walet Merah? Kalau memang ternyata benar, itu sama artinya bahwa Sepasang Walet Merah kini sudah memiliki sekutu. Siapa pun adanya orang itu, Buang merasa yakin mereka pasti berasal dari golongan sesat.

"Kakang! Mengapa engkau malah diam saja?" selak si gadis menyadarkan si pemuda dari lamunannya.

"Ee...! Tidak, aku hanya merasa sedih atas kematian si Rambut Kelabu dan si Panjang Kumis!"

"Dan kau merasa yakin bahwa Sepasang Walet Merahlah pelakunya?" desak Dewi Ratih merasa tidak sabaran lagi. "Kemungkinan itu ada, tapi tidak keseluruhannya benar."

Dewi Ratih merasa tidak mengerti dengan katakata si pemuda, bahkan selama beberapa hari ini Buang Sengketa sering banyak berdiam diri bila dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Juga dia tidak mengerti apa yang menyebabkannya.

"Apakah maksudmu, Kakang...?"

"Sebelum Nyi Sumirah dikuburkan beberapa hari yang lalu, tidakkah kau melihat luka-luka bekas cakaran seperti binatang buas ataupun monyet hutan?"

"Ya... aku melihatnya...!"

"Aku merasa si Rambut Kelabu tewas di tangan orang yang memiliki semacam ilmu binatang, walau memang tak kupungkiri bekas luka akibat pukulan tenaga dalam memang tak bisa dianggap enteng! Nah sedangkan mengenai kematian si Panjang Kumis Gong Akherat, aku merasa yakin Sepasang Walet Merahlah pelakunya!"

"Apa alasan kakang bisa mengatakan demi-

kian?"

Pendekar Hina Kelana tersenyum pias, dalam

hati dia mengakui bahwa sesungguhnya Dewi Ratih merupakan gadis yang lugu dan masih hijau pengalaman.

"Masih ingatkah kau tentang kematian ketua begal yang tewas di tanganmu?" tanya si pemuda seolah-olah mengingatkan.

"Ya, masih...!"

"Tubuh orang itu melepuh dan membiru, sedangkan waktu itu kau mempergunakan Batu Walet Merah. Keadaannya sama seperti apa yang dialami oleh penguasa Lembah Putus Nyawa!"

Dewi Ratih mengangguk-anggukkan kepalanya: "Benar juga pendapatmu itu kakang...!" "Lalu apa yang kita lakukan...?"

Setelah mencari ke sana kemari kita tidak bisa mendapatkan jejak Sepasang Walet Merah, mungkin ada baiknya kalau kita pergi ke Bukit Siluman!"

"Mengapa harus ke sana? Tempat itu tak lebih hanya merupakan makam para leluhur kami!"

"Justru tempat itu merupakan kuburan para leluhurmulah maka ada kemungkinan mereka mulai membangun markas di sana!"

"Baiklah aku selalu percaya padamu, mogamoga saja dugaan kakang tidak meleset!" kata Dewi Ratih mengalah.

Beberapa saat kemudian tanpa banyak basa basi lagi Buang Sengketa dan Dewi Ratih sudah beranjak meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa saat saja mereka meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara bentakan-bentakan di belakang mereka. Belum lagi suara bentakan-bentakan tadi lenyap sama sekali. Tampak berkelebat beberapa sosok tubuh yang langsung menghadang jalan di depan mereka.

Sejenak Buang Sengketa dan Dewi Ratih terpaku di tempatnya. Sorot mata si pemuda yang begitu tajam menusuk, dalam waktu se bentar saja sudah dapat menduga bahwa para penghadang itu mempunyai maksud-maksud yang tak baik.

"Ha... ha... ha...! Seorang pemuda gembel berjalan dengan seorang nona cantik! Hendak kemanakah...?"

"Muka Monyet, atau tepatnya monyet yang mampu berkata-kata. Sedangkan laki-laki dan perempuan itu juga sebelumnya aku tak pernah melihat tampang mereka. Sedikit banyaknya aku harus tau siapa mereka ini!" membatin Pendekar Hina Kelana.

"Kampret! Mungkin kedua orang ini merupakan jenis manusia tuli, kawan-kawan?" kata si Monyet Hitam yang memiliki badan paling gemuk dibandingkan ketiga orang kawannya.

"Kisanak! Sungguh sopan sekali bicaramu, begitu datang langsung bicara tak karuan...?" selak si pemuda merasa kurang senang melihat tingkah si Monyet Hitam.

"Ah... ah... sopan santun! Rupanya sopan santun saja aku tak pernah tau. Pula masihkah manusia hina sepertimu memerlukan segala macam peradatan...?" tanya si Monyet gemuk dengan sunggingkan senyum mengejek.

"Kakang Kelana, mendengar suaranya tak salah! Dialah yang telah merampas Batu Walet Merah malam itu...!" teriak Dewi Ratih tiba-tiba. Selain Buang Sengketa, keempat orang itu juga tak kalah terkejutnya. Wajah mereka mendadak pucat pias bagai tak memiliki darah lagi. Untuk menutupi rasa malu mereka, mendadak suami istri Maling Durjana membentak:

"Bocah! Mulutmu lancang sekali, bertemu muka dengan kalian saja baru kali ini, bagaimana mungkin kau bisa menuduh kami telah merampas sesuatu yang tidak kami ketahui sama sekali...!"

"Dia benar-benar ingin mencari penyakit kawan-kawan..." tukas si Monyet kurus ikut menimpali.

"Benarkah mereka ini? Apakah kau tak salah duga Ratih?" tanya Buang Sengketa tampak berubah paras mukanya.

"Tidak salah! Aku cukup tanda dengan suara manusia Monyet Hitam ini...!" kata Dewi Ratih bersungguh-sungguh.

"Hei... siapakah engkau ini, sejak tadi bicaramu ngelantur tiada menentu. Kami benar-benar tak mengerti apa yang kau maksudkan!" sergah si Monyet kurus. "Di dunia ini mana ada maling yang mau mengakui perbuatannya...!" sentak Pendekar Hina Kelana tampak sudah tidak sabaran lagi.

"Keparat! Kau benar-benar sangat keterlaluan sekali!" Sejenak dia memandang pada ketiga orang kawannya. Lalu

"Anak-anak! Ringkus bajingan dan gadis itu!" teriak si Monyet Hitam yang memiliki badan gemuk.

"Tak perlu beramai-ramai, biarkan kami berdua yang menangkapnya hidup-hidup." Tukas istri Maling Durjana! Seraya melangkah satu tindak dan mulai bersiap-siap membangun serangan.

"Ho'oh! Biar kita berdua saja yang meringkusnya! Kau yang pemuda gembel itu, dan aku meringkus yang perempuan!" kata suami si Maling Durjana menimpali. Tapi sebelum mereka bertindak, istri Maling Durjana membentak garang pada suaminya, agaknya dia merasa cemburu.

"Kurang ajar, kau suamiku! Tidak bisa seenak perutmu saja, biar aku yang meringkus gadis itu, sedangkan kau yang membekuk pemuda gembel di depanmu!"

"Baiklah... baik... aku menurut saja...!"

"Kalian harus bisa meringkusnya tidak lebih dari sepuluh jurus, kalau tidak terpaksa si Monyet Hitam bersaudara ikut turun tangan...!" kata si Monyet kurus langsung menonton pertarungan itu dengan jarak yang tidak begitu jauh.

Tampaknya Dewi Ratih dan Buang Sengketa merasa sudah tak sabaran lagi untuk melakukan gebrakan-gebrakan serangannya. Terbukti begitu tubuhnya melompat ke depan lawannya dia langsung mengerahkan jurus silat tangan kosong ‘Membendung Gelombang Menimba Samudra’. Sebaliknya Dewi Ratih lebih awal lagi telah menyerang istri si Maling Durjana dengan jurus silat yang terdapat pada lima kitab milik Padepokan Bukit Berkabung. Di bandingkan dengan Dewi Ratna Juwita dan Bagas Salaya, maka tingkat kepandaian Dewi Ratih lebih tinggi lagi, justru karena dia berhasil mempelajari kelima kitab itu sampai pada tingkatannya yang terakhir yaitu tingkat yang ketujuh. Sebaliknya istri Maling Durjana bukanlah bocah kemarin sore yang baru terjun di dalam rimba persilatan. Selama sepuluh tahun mereka malang melintang di dunia persilatan dengan senjata andalannya yang berupa kipas warna hitam telah begitu banyak korbankorban berjatuhan, di tangannya, selama ini hanya si Kakek Tinggi Besar yang berkuasa di Maliau dan Taruak saja yang tak pernah mampu mereka hadapi berdua.

Seperti diketahui Gada Wisa masih merupakan saudara seperguruan mereka yang paling tua. Yang pasti memiliki ilmu silat yang tinggi, di samping senjatanya yang berupa gada itu sangat berbahaya sekali bagi lawan-lawannya. Sebelum gurunya meninggal, suami istri Maling Durjana mendapat tugas untuk mengambil gada pusaka itu dari tangan si Gada Wisa yang telah melarikannya selama hampir lebih dari lima belas tahun. Dengan senjata berupa gada yang besarnya tak lebih dari ibu jari itu dia berhasil membentuk sebuah gerombolan yang menamakan dirinya sebagai Gerombolan Sinar Kayangan. Kalau pun mereka yang sebenarnya memiliki ilmu tangguh tapi kemudian memilih bergabung dengan Sepasang Walet Merah hal itu bukan berarti ilmu mereka di bawah ilmu Sepasang Walet Merah. Sama sekali tidak. Mereka melakukan itu adalah karena Sepasang Walet Merah meskipun tidak berilmu tinggi, namun memiliki senjata andalan yaitu berupa sepasang Batu Walet Merah yang mereka perkirakan dapat menandingi Gada Wisa. Dengan cara bergabung seperti itu cepat atau lambat mereka berharap dapat mempengaruhi Sepasang Walet Merah untuk melakukan penyerangan terhadap gerombolan Sinar Kayangan yang berkuasa di Daerah Maliau dan Taruak. Wajar saja kalau kemudian mereka bersikap patuh dan tunduk di bawah perintah Sepasang Walet Merah, termasuk juga menjalankan tugas-tugas penting, yaitu mencuri atau lebih tepatnya merampas Batu Walet Merah yang satunya lagi dari tangan Dewi Ratih, melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh golongan putih termasuk juga dalam membinasakan si Rambut Kelabu penguasa lembah Panggang.

Tapi mereka sama sekali tiada menyangka kalau dalam perjalanannya menuju Bukit Siluman guna menemui pemimpin mereka di tengah jalan mereka bertemu dengan Pendekar Hina Kelana dan seorang gadis yang pernah mereka tinggalkan di tengah-tengah hutan pinus beberapa waktu yang lalu. Siapa pun adanya gadis itu, keempat orang itu sudah merasa yakin bahwa sebenarnya dia masih merupakan keturunan Padepokan Bukit Berkabung. Sedangkan si pemuda menurut anggapan mereka tentu juga memiliki kepandaian yang tiada seberapa. Dengan keyakinan seperti itu mereka merasa cukup untuk dihadapi satu lawan satu. Tetapi setelah menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung, jurus demi jurus baik dua bersaudara Monyet Hitam dari Gunung Beruk, maupun suami istri si Maling Durjana mau tak mau harus membuka mata demi melihat kenyataannya bahwa si pemuda berpakaian kumuh dekil dengan sebuah periuk besar menggelantung di pinggangnya itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi. Terbukti walau pun sejauh itu si pemuda belum pernah membalas setiap serangan yang dilakukan oleh suami Maling Durjana, namun tak satu pun pukulan manusia maling itu yang mengenai.

***

9

Walaupun mereka menyadari bahwa si pemuda tak mungkin mampu dirobohkan oleh kawannya tetapi Monyet Hitam bersaudara tak ingin mempermalukan kawannya dengan cara melakukan pengeroyokan. Pula Maling Durjana masih kelihatan belum keteter. Demikian sambil menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung, Monyet Hitam bersaudara mempelajari dan mencari titik kelemahan jurus-jurus yang dimainkan oleh Buang Sengketa. Tapi mereka akhirnya menjadi puyeng sendiri, karena pada dasarnya jurus-jurus silat yang dimainkan oleh si pemuda senantiasa berubah-ubah.

"Heaat...! Haiiiit... Shaaaa...!"

Saat itu Buang Sengketa yang telah banyak memberi kesempatan pada suami Maling Durjana tampaknya sudah tidak sabaran lagi. Setelah mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra. Kini dia merobah jurus silatnya dengan jurus 'Si Gila Mengamuk'. Mempergunakan jurus ini, permainan silat Pendekar Hina Kelana berobah secara total. Kalau tadinya dia mengandalkan kecepatan gerak dengan memutar kedua tangannya membentuk sebuah benteng pertahanan, maka kini tubuhnya tampak seperti limbung dan hendak tersungkur. Gerakan silatnya kacau tak beraturan, terkadang terhuyunghuyung bagai orang yang mabuk berat. Sempoyongan ke depan dan ke belakang, miring kiri dan ke kanan. Justru dengan begitu tak satu pun serangan-serangan yang dibangun oleh suami Maling Durjana yang mengenai sasarannya. Laki-laki berpakaian hitam dan kuning ini tampaknya sangat gusar sekali, padahal saat itu dia telah mempergunakan jurus 'Maling Tidur di Rumah Janda Kesiangan'. Selama ini tak seorang pun lawan-lawannya mampu mengelakkan seranganserangannya yang terkenal cepat dan ganas. Namun sekarang jurus andalan itu dipergunakan untuk menyerang si pemuda, rasa-rasanya dia kena batunya dan mati kutu. Bagaimana tidak, secepat mana pun gerakan tangan dan kakinya melancarkan tendangan dan pukulan, namun tetap saja dia tak mampu memukul lawannya, jangankan memukul menyentuh rambutnya saja dia tidak mampu. Hingga pada satu kesempatan tubuhnya melompat bagai orang yang hendak terjatuh. Kirimkan satu tendangan mengarah pada bagian selangkangan, sedangkan tangan kanannya mengancam pada bagian dada. Menyadari adanya ancaman bahaya seperti itu, suami Maling Durjana membanting tubuhnya sambil memaki. Satu sapuan telak yang mendatangkan angin bersiuran mampu dielakkan oleh pemuda itu malangnya satu jotosan tak mampu dia elakkan dengan baik.

"Buuuk!" "Aghhk...!"

Suami Maling Durjana keluarkan jeritan tertahan. Dadanya yang terserempet tinju lawannya terasa berdenyut-denyut sakit. Bahkan di bagian itu terasa sesak dan nyeri. Kiranya Maling Durjana ini memiliki daya tahan yang lumayan. Terbukti seperti tak merasakan pukulan yang menghantam tubuhnya, secepat dia jatuh secepat itu pula dia telah bangkit kembali.

"Sreet!"

Kipas berwarna hitam yang terselip di pinggangnya tercabut sudah. Sejenak di pandanginya pemuda yang menjadi lawannya itu dengan tatapan seolah tak percaya, kemudian dengan suara menggeledek dia membentak.

"Bocah! Mungkin kau manusia yang hebat, tapi berhadapan dengan Maling Durjana jangan kau berharap bakal menang! Sebelum kematianmu, katakanlah siapa kau ini agar kami mudah menuliskannya di batu nisanmu nanti...!" selak si Maling Durjana berapi-api!

Pendekar Hina Kelana hanya senyum-senyum di kulum menanggapi kata-kata Maling Durjana. Tingkah si pemuda itu sudah barang tentu membuat suami Maling Durjana menjadi berang.

"Kuperingatkan padamu sekali lagi, katakanlah siapa namamu agar kau tak mati penasaran...!" bentak Maling Durjana sambil katupkan rahang rapat-rapat.

"Ha... ha... ha...! Segala maling comberan saja coba-coba menggertakku. Hemm! Kalau! kalian ingin tahu siapa aku, inilah orangnya si Hina Kelana...!" ucap Buang Sengketa tanpa ada memiliki maksud untuk membanggakan diri. Bukan suami istri Maling Durjana saja yang tampak terkejut, sebaliknya dua Bersaudara Monyet Hitam juga menunjukkan hal yang sama. Sungguh pun selama ini mereka hanya mendengar sepak terjang pendekar yang namanya kesohor sampai di pelosok-pelosok rimba persilatan yang sangat jauh. Tapi menurut cerita yang mereka dengar, pendekar yang memiliki banyak keanehan dengan ilmu-ilmu saktinya itu tak pernah mengenal kompromi dalam membasmi golongan sesat. Bahkan pendekar itu akan menjadi sangat berbahaya sekali dengan pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto di tangannya.

Namun mereka juga menjadi sedikit ragu, benarkah Pendekar Hina Kelana berpenampilan mirip seorang gembel hina dengan segala periuk yang menggelantung di pinggangnya itu. Kalau memang benar, itu sama saja artinya mereka hari ini benar-benar telah berhadapan dengan hantu rimba persilatan.

"Kawan-kawan! Jangan percaya dengan segala bualannya, bocah gemblung anaknya gembel ini hanya mengaku-ngaku. Percayakah kalian tampangnya pendekar Golok Buntung seperti ini? Dia kira kalau mengaku sebagai Pendekar Hina Kelana kita akan percaya...!", kata Dua Bersaudara Monyet Hitam untuk memberikan semangat pada suami istri Maling Durjana yang hampir lenyap keberaniannya.

"Aha... hak... hak...!" Buang tertawa lepas. "Kupertaruhkan nyawa untuk menyeberangi laut, merambah belantara dan mendaki gunung. Apa artinya aku mengaku sebagai Pendekar Hina Kelana, kalau bukan kejahatan yang harus sirna!" bentak pemuda keturunan Raja Bunian itu sembari memandang tajam pada keempat lawan yang kini juga sudah menghentikan pertarungan.

"Hemm... siapa mau percaya dengan omonganmu, budak gembel! Terkecuali kau mampu menunjukkan pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto di hadapan kami!" ujar istri Maling Durjana meragu.

"Permintaan yang sama juga pernah mereka ajukan padaku! Sayang... mereka tak pernah melihat kehebatan golok itu terkecuali merasakan ketajamannya...!" tukas Buang Sengketa dingin.

"Kau hanya seorang pembual besar! Mana mungkin kami percaya begitu saja terhadap segala macam omonganmu!" bantah si Monyet Gemuk, sambil berkata dia langsung maju dua tindak

"Bagus! Aku memang tak pernah mengharap segala kepercayaan dari orang-orang sebangsa monyet seperti kalian. Nah sekarang tunggu apa lagi, kalian bertiga, maling keparat dan dua ekor Monyet Hitam majulah secara bersama-sama...!" tantangnya merasa tidak sabar lagi. Sebaliknya ketiga orang itu menjadi panas juga hatinya mendapat tantangan seperti itu.

"Kau terlalu jumawa bocah gombal amoh! Jangan salahkan kami andai dalam tiga gebrakan di muka kau terkapar menjadi bangkai...!" selak si Monyet Kurus.

"Wei... malah bagus, aku pun jadi ingin melihat siapa di antara kalian yang mempergunakan kuku panjang dalam bertarung nanti. Dengan begitu tak susah-susah bagiku untuk menentukan hukuman bagi pembunuh si Rambut Kelabu...!"

"Tak perlu melihat nanti, kalau kau ingin tahu, kamilah orangnya...!" jawab si Monyet Gemuk. Selanjutnya tanpa memberi kesempatan lagi pada Buang Sengketa untuk berbicara, dia langsung membuka jurus-jurus mautnya. Pertarungan kini menjadi semakin seru dengan turunnya Monyet Hitam Bersaudara.

Sementara itu pertarungan antara Dewi Ratih dengan istri Maling Durjana juga berlanjut kembali. Kalau tadinya masing-masing lawan bertarung dengan mempergunakan jurus silat tangan kosong, maka kini mereka mengeluarkan senjata masing-masing. Di tengah-tengah berdentingnya senjata itu, sekali dua pukulan-pukulan maut pun mereka lepaskan.

"Ciaaat...!" "Wuuus!"

Senjata kipas di tangan istri Maling Durjana menderu mengincar bagian kepala dan perut Ratih, sebaliknya dengan mempergunakan pedangnya Ratih berusaha mematahkan serangan kipas di tangan lawannya. Satu tendangan mempergunakan kaki kanan dilakukan oleh gadis itu menyertai sabetan pedang di tangannya. "Preeet! Traaang!" "Duuuk!"

Ketika dua senjata itu saling berbenturan, satu tendangan kaki yang datangnya laksana kilat terlepas dari perhatian istri Maling Durjana. Tubuh perempuan berusia lima puluhan itu terbanting dan tergulingguling di atas tanah. Sementara Ratih sendiri dapat merasakan betapa akibat beradunya dua senjata tadi tangannya menjadi sakit dan terasa kesemutan. Tubuhnya juga tergetar dengan wajah sedikit memucat. Lain lagi halnya yang dirasakan oleh istri Maling Durjana. Dia hanya merasa perutnya yang tertendang kaki lawannya terasa mules, mual dan mau muntah. Sedangkan pada bagian tangannya hanya terasa kesemutan, dan itu pun kejab kemudian telah lenyap sama sekali. Istri Maling Durjana secepatnya bangkit kembali. Lalu disalurkannya tenaga dalam ke arah bagian tangan kirinya. Saat itu dia sudah bersiap-siap untuk melepaskan pukulan 'Maling Bangsawan Menggebuk Pengemis Kelaparan'.

"Wuuus!"

Serangkum gelombang berwarna kuning menderu, menghadapi pukulan yang mengandung setengah dari tenaga dalam yang dimiliki oleh istri maling durjana sebagai gadis yang masih hijau dalam dunia persilatan tak banyak yang dapat dilakukannya terkecuali memutar pedangnya untuk melindungi diri. Hal ini benar-benar dapat membahayakan keselamatan Dewi Ratih. Sebab selain pukulan itu mengandung hawa dingin juga di dalamnya terkandung racun yang sangat ganas. Masih untung, Buang Sengketa yang sejak tadi sembari bertempur melawan Monyet Hitam Bersaudara dan suami maling durjana masih sempat mengawasi jalannya pertarungan antara Ratih dan istri Maling Durjana. Pemuda itu sambil berkelit menghindar cakaran dan sabetan kipas yang datang, dia lepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan untuk membantu Dewi Ratih.

Semua yang sedang melakukan pengeroyokan atas diri si pemuda nampak sangat terkejut sekali. Sedikit pun mereka tiada menyangka kalau sedang dalam keadaan bertempur menghadapi lawan yang ratarata memiliki ilmu tinggi, si pemuda masih mampu melepaskan pukulan demi untuk membela Dewi Ratih yang sedang menghadapi bahaya yang sangat besar itu. Serangkum gelombang berwarna Ultra Violet tak pelak lagi menyongsong pukulan yang dilepaskan oleh istri Maling Durjana. Perempuan berusia lima puluhan itu mengeluarkan seruan tertahan saat mana sambaran angin pukulan menerpa bagian bahunya.

"Blaam...!"

Satu letupan keras terdengar ketika dua pukulan maut itu saling bertemu di udara. Bumi tempat mereka berpijak terasa bergetar, tubuh istri Maling Durjana terpelanting roboh. Saat itu dari hidung dan bibirnya meleleh darah segar, dengan susah payah dia berusaha bangkit, namun sebelum perempuan itu dapat berdiri tegak pada posisinya, Dewi Ratih telah memburunya dengan pedang terhunus, satu jurus pedang tingkatan ketujuh yang terdapat pada kitab kelima dia mainkan. Istri Maling Durjana yang saat itu sudah dalam keadaan terluka parah hanya sempat membuang tubuhnya ke samping. Namun pedang di tangan Ratih bagai bermata saja layaknya terus memburu dirinya.

"Haiiiiit!" "Jrooos! Aggrhk!"

Istri Maling Durjana langsung terkulai tewas sesaat setelah mata pedang di tangan Dewi Ratih menghunjam dadanya. Kematian sang istri sudah barang tentu membuat suami Maling Durjana menjadi kalap. Begitu tubuh Buang tersungkur saat bentrok dengan pukulan yang dilepaskan oleh istrinya, maka dengan senjata mautnya yang berupa sebuah kipas warna hitam dia langsung melakukan satu lompatan sembari hantamkan kipasnya ke arah bagian punggung lawannya.

"Craaak...!"

Buang Sengketa menyeringai menahan sakit ketika merasakan sambaran kipas itu merobek kulit punggungnya. Tapi dia sudah tak menghiraukan rasa nyeri itu, sambil terus berguling-guling dia berusaha menghindari sergapan-sergapan yang dilakukan oleh ketiga lawannya. Lagi-lagi sambaran kipas di tangan suami Maling Durjana mengancam pada bagian kepalanya.

Dalam keadaan kritis seperti itu, Dewi Ratih datang membantu.

"Traaang...!"

"Jahanam...!" maki suami Maling Durjana mengetahui serangannya dapat dipatahkan oleh Dewi Ratih. Pertarungan dua lawan satu pun langsung terjadi, tiba-tiba tubuh Buang Sengketa tanpa terduga-duga nampak meletik ke udaranya.

"Adik Ratih! menyingkirlah jauh-jauh!" berteriak Pendekar Hina Kelana masih dalam keadaan berjumpalitan. Dewi Ratih cepat-cepat menyingkir. Saat itu dengan disertai satu raungan keras, pendekar dari negeri Bunian itu hantamkan tangan kanannya. Satu gelombang pukulan yang memancarkan sinar merah menyala melesat dengan disertai suara bergemuruh bagai badai angin ribut. Tak salah lagi saat itu Buang sedang melepaskan pukulan Si Hina Kelana Merana.

*** 10

Tampaknya ketiga orang itu menyadari dengan akibat yang mungkin ditimbulkan akibat pukulan yang dilepaskan oleh pihak lawannya. Yang membuat ketiga orang ini menjadi terkejut adalah karena sesaat setelah pukulan maut itu terlepas, mendadak pukulan 'Si Hina Kelana Merana' membelah menjadi tiga bagian. Dan masing-masing bagian yang terbelah itu menghajar ke arah lawannya. Berbuatlah masing-masing lawan dengan segenap kemampuan yang ada demi menyelamatkan jiwa masing-masing. Suami Maling Durjana cepat-cepat memutar kipas mautnya, sementara Monyet Hitam Bersaudara melepaskan satu pukulan yang diberi nama 'Sepuluh Menuju Jalan Kematian'. Begitu kedua tangan bergerak melambai, tak ampun lagi menderulah satu gelombang angin topan yang sangat kencang sekali. Pakaian maupun rambut si pemuda tampak melambai-lambai di terpa gelombang pukulan yang dilakukan oleh Dua Monyet Hitam Bersaudara.

"Dweeer! Dweer...!"

Empat tubuh dari mereka yang sedang bertarung itu tampak berpentalan ke berbagai tempat. Bertemunya tiga tenaga sakti yang telah dilepaskan oleh masing-masing lawan, membuat Dua Bersaudara Monyet Hitam merasakan tubuhnya bagai remuk, sekali saja dia terbatuk, maka menggelogoklah darah kental dari mulut mereka. Sementara suami Maling Durjana yang mempergunakan senjata kipas hitam nya sebagai perisai tampak merangkak berusaha bangkit, sedangkan kipas di tangannya hancur berkeping-keping. Tidak terkecuali Pendekar Hina Kelana.

"Celaka...! Mereka benar-benar tiga orang lawan yang cukup berarti bagiku! Tampaknya aku tak punya pilihan lain untuk menandingi mereka terkecuali mempergunakan pusaka Golok Buntung...!" batin pendekar ini seraya seka darahnya yang mengalir membasahi bibir dan pakaiannya.

"Kampreeeet... ternyata kau merupakan seorang pendekar yang memiliki kemampuan yang sangat hebat. Tapi rasakan ini...!" kata si Monyet Hitam. Lalu cepat-cepat rogoh saku bajunya dan melemparkan sebuah benda berbentuk bulat. Benda itu langsung meledak begitu menyentuh tubuh Pendekar Hina Kelana.

"Buuum...!"

Asap tebal sekejap saja menyelimuti diri si pemuda, lalu dalam gumpalan asap itu terdengar suara terbatuk-batuk.

"Kakang...!" pekik Dewi Ratih demi melihat bahaya yang sedang mengancam diri pemuda itu. Ratih menyadari apa yang akan terjadi andai sampai si pemuda tak sadarkan diri. Tapi para lawannya yang tadinya sempat menarik nafas lega, akhirnya menjadi sangat terkejut begitu mendengar suara gelak tawa yang berasal dari gumpalan kabut tadi.

"Ahaa... ha... ha...! Sialan ini bau asap pembius apa kentut kuda... wah kalian kira aku bisa kelenger dengan segala asap pembius yang tiada berguna ini...!" selak Pendekar Hina Kelana. Sungguh pun dia tertawa tergelak-gelak, tapi sebenarnya kesabaran yang dia miliki telah sampai pada puncaknya. Kedua matanya pun telah berubah memerah saga, sementara dari sela-sela bibirnya memperdengarkan bunyi mendesis bagai ular pi-ton yang sedang dilanda kemarahan.

"Sriiing...!"

Sekali tangannya meraba pada bagian pinggangnya, maka senjata Golok Buntung itu pun tercabut dari sarungnya. Kejab itu juga terlihat sinar merah menyala dari senjata andalan di tangan Buang Sengketa. Mereka menjadi lebih terkejut lagi ketika mereka merasakan udara di sekitarnya mendadak berubah dingin luar biasa. Tubuh mereka menggigil, namun setelah mengerahkan tenaga dalam yang mereka miliki, rasa dingin itu sedikit demi sedikit menjadi hilang, walau tidak dapat dikata hilang sama sekali.

"Kalian lihatlah apa yang ingin kalian lihat dari Pendekar Hina Kelana sebelumlah segala-galanya benar-benar terlambat, persiapkan segala apa yang kalian miliki...!" menggeram si pemuda. Sekejap kemudian dengan disertai teriakan tinggi melengking, maka senjata di tangan Pendekar Hina Kelana berkelebat menyambar.

"Nguuung...!"

Terdengar suara menggaung bagai auman suara pukulan harimau terluka saat sinar merah berkelebat menyambar. Kini sadarlah para lawan-lawannya bahwa saat itu mereka sedang berhadapan dengan Pendekar Golok Buntung. Tapi apa mau dikata, semuanya terasa jadi terlambat, senjata itu begitu ganas menyambar-nyambar bagaikan memiliki mata.

Tak ada jalan lain yang lebih baik bagi ketiga lawannya selain hanya bertahan dan berusaha mengelakkan setiap serangan-serangan yang datang.

"Haiiit...!"

Teriak Pendekar Hina Kelana, sembari mempergunakan jurus si Jadah Terbuang laksana kilat dia melompat ganas ke depannya. Yang menjadi sasarannya adalah suami Maling Durjana. Demi menyelamatkan selembar nyawanya, Maling Durjana lepaskan satu pukulan mautnya. Tapi gerakan Golok Buntung di tangan si pemuda datang lebih cepat dari perhitungannya.

"Creeess...!"

"Arggkh...!" Suami Maling Durjana melolong panjang saat mana senjata di tangan Buang Sengketa membabat bagian dadanya. Dengan menderita luka babatan yang sangat dalam tubuh Maling Durjana terpelanting roboh. Tubuhnya bersimbah darah, berkelejetan sebentar, kemudian diam untuk selama-lamanya.

Kini tinggallah Dua Bersaudara Monyet Hitam yang tampak tertegun-tegun memandangi mayat Maling Durjana.

"Monyet Hitam! Bersiap-siaplah untuk segera menyusul kawanmu...!" bentak si pemuda dengan tatapan sinis.

"Kami akan mengadu jiwa denganmu, Hina Kelana...!"

"Bagus! Majulah...!" tantang pemuda itu, seraya kembali bergebrak.

"Heiiik." "Nguuung...!"

Dengan sangat nekad Dua Monyet Hitam Bersaudara memapaki serangan senjata di tangan lawannya. Golok Buntung berkelebat menyambar.

"Crook! Craaas...!"

Tubuh kedua orang itu tampak berputar-putar bagai orang yang sedang bingung. Bagian dada dan kepala mereka hampir saja terbelah di landa ketajaman senjata Golok Buntung. Sebelum tubuh sesat itu ambruk ke bumi, sekali lagi senjata itu berkelebat cepat

Tanpa ampun kedua Monyet Hitam langsung ambruk menggelosoh di atas rerumputan. Berkelojotan sebentar, lalu diam dengan jiwa melayang. Melihat kematian lawan-lawannya, Buang menarik nafas pendek, kemudian dia menoleh dan memandang pada Dewi Ratih yang segera berlari dari mendekat ke arahnya.

"Kakang! Selama ini kiranya kau merahasiakan nama kebesaranmu! Tak, kusangka orang yang memiliki gelar besar Pendekar Hina Kelana engkaulah orangnya. Aku merasa sangat beruntung dapat berjumpa dan bersama-sama denganmu!" ucap gadis itu sambil memandang sendu pada pemuda berwajah tampan itu.

"Sudahlah, tak perlu kau menyanjungku setinggi langit! Tugas kita untuk mendapatkan Batu Walet Merah dari tangan manusia terkutuk itu pun belum tercapai!" sela Buang Sengketa merana tak enak dengan sanjungan dan pujian yang diucapkan oleh Dewi Ratih.

"Jadi sekarang kita hendak kemana, Kakang...?"

Si pemuda tampak berpikir sebentar dan langsung menyahut.

"Sudah kukatakan tak ada tempat yang aman bagi Sepasang Walet Merah, terkecuali di Bukit Siluman."

"Tapi, bagaimana dengan mayat-mayat itu...?" tanya Ratih, sungguh pun mayat-mayat itu sebagai musuhnya, tapi dia merasa tak tega membiarkan mayat-mayat itu bergelimpangan begitu saja.

"Biarkan saja! Tokh di hutan ini masih banyak macan kelaparan yang membutuhkan santapan!"

"Kalau begitu kita secepatnya meninggalkan tempat ini, Kakang?"

"Lebih cepat justru malah lebih baik...!" ujar Buang Sengketa.

*** 11

Ketika ketua Gerombolan Sinar Kayangan merasa sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi untuk bersikap menunggu secara terus-menerus. Maka saat itu dua hal yang selalu datang dalam benak Gada Wisa adalah bagaimana caranya mendapatkan Batu Walet Merah dan juga membalas kematian murid-muridnya di tangan Sepasang Walet Merah. Tunggu punya tunggu tak ada tanda-tanda kalau Sepasang Walet Merah mau datang ke Maliau dan Taruak, yaitu dua daerah yang menjadi kekuasaannya selama beberapa tahun belakangan ini. Akhirnya dia merasa kesal, dia pun memutuskan untuk meluruk Sepasang Walet Merah ke Bukit Siluman sebagai mana dilaporkan oleh murid utamanya si Cacing Kalung dan si Tanduk Maut yang diutus untuk melakukan penyelidikan.

Setelah mengetahui titik lemah dan kekuatan yang dimiliki oleh Sepasang Walet Merah, maka berangkatlah satu rombongan yang sangat besar, berjumlah tak kurang dari empat puluh orang menuju Bukit Siluman. Karena mereka hampir keseluruhannya mempergunakan kendaraan berkuda. Maka menjelang dua hari kemudian sampailah rombongan Gerombolan Sinar Kayangan ini di Bukit Siluman. Kenyataannya Sepasang Walet Merah memang berada di sana.

"Rombongan besar, merupakan orang-orang kasar! Apakah tujuan kalian menyambangi Bukit Siluman...!" tanya Sepasang Walet Merah, sesaat meneliti orang-orang yang hadir di situ.

"Heh...! Inikah kunyuknya yang menamakan dirinya sebagai Sepasang Walet Merah? Kudengar kalianlah yang telah membunuh murid-muridku?" tanya si Kakek Tinggi Semampai, lalu menatap tajam pada Bagas Salaya dan Dewi Ratna Juwita. Walet Merah tersenyum mencibir, betapa pun mereka yakin dengan kemampuan yang mereka miliki, namun keduanya juga memperhitungkan jumlah lawan-lawannya sangat besar. Kakek Tinggi Besar dan dua orang lainnya kemungkinan sekali memiliki kesaktian yang dapat diandalkan

"Tak salah, kamilah Sepasang Walet Merah!"

Si Gada Wisa tergelak-gelak mendengar pengakuan kedua muda mudi itu, lalu dia membuang pandangan matanya jauh-jauh. Ke arah kerangka rumah di atas bukit kapur yang belum jadi. Hatinya saat itu membatin, "Mungkin di sinilah kedua pemuda itu akan membangun sebuah kekuatan baru". Setelah puas memandangi kerangka rumah tadi maka dia kembali memandang pada Sepasang Walet Merah.

"Bagus! Sebaiknya kalian menyerah kepada kami dan serahkan Batu Walet Merah yang ada pada kalian itu...!" perintah si Kakek Tinggi Besar.

"Hi... hi... hi...! Semudah itukah, Kakek tolol! Pantasnya malah kalianlah yang menyerah atau paling tidak bersekutu pada kami...!"

"Hah...! Bocah ingusan macam kalian mengajak bersekutu dengan aku, seorang penguasa di Maliau dan Taruak...?" ejek Gada Wisa

"Tak salah...!"

"Hemm! Kalau itulah yang kalian inginkan!" Kakek Tinggi Besar memandang pada para muridnya, lalu memberi perintah

"Anak-anak! Cincang kedua orang itu!" katanya

tegas.

Begitu melihat aba-aba yang diberikan oleh gu-

runya, maka hampir empat puluh orang murid-murid Gada Wisa secara berlomba-lomba datang menyerbu. Sepasang Walet Merah bukanlah orang yang takut pada keroyokan, namun menghadapi jumlah yang sekian banyaknya, mau tak mau keduanya langsung kerepotan.

***

Saat itu juga mereka sudah mencabut pedangnya masing-masing. Begitu pedang di tangan mereka berkelebat, tiga orang murid Gada Wisa menjerit roboh. Tapi murid-murid dari Maliau dan Taruak ini merupakan murid-murid yang tiada mengenal rasa takut, mengetahui kawannya tersungkur bermandikan darah, mereka menjadi semakin bertambah beringas. Dalam waktu sekejap terjadilah pertarungan sengit di bukit berkapur yang selama ini merupakan sebuah tempat yang sangat dikeramatkan oleh keturunan Padepokan Bukit Berkabung.

Korban di pihak murid kakek Gada Wisa, jurus demi jurus terus berjatuhan, sejauh itu Si Gada Wisa, Caring Kalung dan si Tanduk Maut hanya berdiri menonton. Tapi tak lama kemudian Kakek Tinggi Tegap ini menoleh pada murid andalannya itu.

"Bantu mereka...!" perintahnya. Si Cacing Kalung dan Tanduk Maut tanpa menunggu diperintah dua kali segera menghambur di arena pertempuran. Kemunculan dua orang murid utama itu membuat segala-galanya berobah, kalau pertama tadi Sepasang Walet Merah dengan begitu mudahnya merobohkan lawan-lawannya yang sebenarnya memiliki kepandaian yang tidak seberapa tinggi ini, namun setelah si Cacing Kalung dan Tanduk Maut datang membantu. Maka sekarang terlalu sulit bagi keduanya untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Si Tanduk Maut dan Cacing Kalung dengan senjatanya yang berupa pedang bergerigi mirip gergaji, tampak menyeruak menyongsong datangnya sambaran pedang di tangan Sepasang Walet Merah. Pedang bergerigi di tangan si Cacing Kalung dan Tanduk Maut datang menggebu, memapaki senjata di tangan lawan yang meluncur deras ke arah bagian perut mereka. Satu sapuan kaki pun menyertai berkelebatnya senjata di tangan Walet Merah.

"Traaang! Buuuk!" "Ughk...!"

Terlihat senjata di tangan masing-masing lawan tergetar hebat. Tetapi si Tanduk Maut dan Cacing Kalung tak luput dari sambaran kaki Dewi Ratna Juwita, hingga mengakibatkan tubuh mereka terjengkang.

Sementara itu Bagas Salaya setelah mendapat isyarat dari Dewi Ratna Juwita dengan gerakan yang sangat gesit, segera membagi medan pertarungan menjadi dua bagian. Puluhan murid-murid Gada Wisa terus meluruk ke arahnya dengan babatan senjata di tangan mereka. Sekali dua Bagas Salaya keluarkan tawa mengekeh, dia merasa bahwa lawan yang sedang dihadapinya bukanlah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kemampuan yang dia miliki. Akibatnya sering terlihat kelengahan-kelengahan yang tiada berarti membuat dia menjadi rugi sendiri. Seperti pada satu kesempatan, dengan seenaknya saja dia membabat lawan yang berada di depannya. Lawan itu roboh dengan tubuh bermandi darah, tapi dari belakangnya menyusul satu pukulan telak

"Buuuk!"

"Ahkk... kampreet...!"

Maki Bagas Salaya ketika tubuhnya tersungkur ke depan dengan bagian punggung terasa remuk. Tampaknya dia menjadi kalap atas kelengahannya sendiri. Tanpa ampun Bagas Salaya mengerahkan sebagian tenaga dalamnya ke arah bagian jemari tangannya.

Detik selanjutnya tubuh pemuda itu menggeletar, wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan. Bagas Salaya menyadari apa artinya dia mengerahkan tenaga ke arah bagian jemari tangannya itu. Memang tak dapat disangkal kalau saat itu Bagas Salaya sedang berusaha membangkitkan kekuatan Batu Walet Merah yang melingkar di jari manisnya. Tak lama setelah tenaga dalamnya sampai pada Batu Walet Merah yang melingkar di bagian jarinya itu. Maka kejab kemudian Batu Walet Merah telah pula memancarkan sinar merah kekuning-kuningan. Tanpa membuangbuang waktu lagi Bagas Salaya mulai mengarahkan mata batu itu pada lawan yang datang mengeroyok di sekelilingnya. Dua tiga lesatan tampak meluncur dari batu yang berada di tangan Bagas Salaya. Selarik sinar yang berhawa dingin dan panas dan berbentuk pipih menghantam tubuh lawan-lawannya.

Tak dapat dicegah, berpelantinganlah tubuh murid-murid Gada Wisa bagai batu-batu bertebaran. Kejadian seperti itu dilakukan berulang-ulang oleh Bagas Salaya sehingga dalam waktu tak lebih dari setengah jam, murid-murid Gada Wisa yang jumlahnya mencapai puluhan itu, kini hanya tinggal beberapa gelintir saja. Mengetahui hampir seluruh muridnya tersapu bersih di tangan Bagas Salaya, Kakek tinggi Besar itu menjadi sangat marah sekali. Dengan disertai raungan bagai serigala yang kehilangan anak-anaknya, tubuh Gada Wisa tampak melesat ke depan. Tahutahu telah berdiri empat tombak di depan Bagas Salaya.

"Keparat...! Kau telah membunuh orangorangku...!" geram Gada Wisa sambil mencabut senjata andalannya yang berupa sebuah gada yang berukuran tak lebih dari ibu jari itu. "Aha... ha... ha...! Kalau kau tak ingin melihat murid-muridmu terbunuh, mengapa kau hanya diam saja sedari tadi, Kakek pikun…!" ejek Bagas Salaya.

"Kau harus mampus di tanganku, Bocah keparat...!" rutuk si Tinggi semampai lalu bersiap-siap melakukan serangan dengan senjatanya.

"Bagus! Mari kita tentukan siapa yang paling berhak hidup di kolong langit ini lebih lama lagi...!" dengus Bagas Salaya. Menyadari bahwa lawannya mungkin saja memiliki kepandaian yang sangat tinggi, maka begitu menghadang Bagas Salaya selain memutar pedang di tangan kirinya juga mulai lancarkan pukulan-pukulan yang bersumber dari kekuatan sakti yang ada pada Batu Walet Merah di tangannya.

Sementara itu pertarungan antara Dewi Ratna Juwita dan Cacing Kalung juga Tanduk Maut tampak telah mencapai puncaknya. Lebih dari dua kali tangan dan kaki si Cacing Kalung dan Tanduk Maut berhasil memukul bagian punggung, perut dan juga pada pelipis Dewi Ratna Juwita. Sungguh pun pukulan itu dengan mempergunakan tenaga dalam, namun hanya mengakibatkan tubuh si gadis hanya terpelanting roboh. Untuk kemudian bangkit kembali. Bagi Dewi Ratna Juwita hal itu tak menjadi soal, asal saja dia mampu menghindari terjangan senjata di tangan lawannya. Karena itu justru yang dia nilai sangat berbahaya sekali. Namun ketika satu jotosan yang dilakukan oleh si Cacing Kalung berhasil menghantam bagian dadanya. Maka berubahlah paras Dewi Ratna Juwita seketika. Dia sangat marah sekali, sebaliknya si Cacing Kalung dan Tanduk Maut tergelak-gelak.

"Bagaimana, Cacing Kalung! Empuk ya...!" "Ho'oh...!" Si Cacing Kalung menyahuti, sambil

berusaha menyerang kembali.

"Keparat...! Kalian benar-benar tak akan mendapat pengampunan dari si Walet Merah!" maki Dewi Ratna Juwita, selain merasakan sakit di bagian dadanya juga merasa sangat malu sekali.

"Haiiit...!"

Satu serangan balasan dilakukan oleh Dewi Ratna Juwita, sesungguhnya serangan pedang ini hanyalah merupakan tipuan belaka, karena niat yang terkandung dalam hati gadis itu hanyalah ingin menyalurkan tenaga dalamnya pada bagian jemari tangannya. Kedua lawannya memapaki dengan sabetan senjata di tangan.

"Traak! Traaang...!"

Cacing Kalung dan Tanduk Maut menyurut dua langkah, tangan mereka terasa kesemutan dan nyeri. Dengan wajah sedikit memucat keduanya secara serentak cepat-cepat melakukan serangan kembali. Tetapi betapa wajah mereka semakin bertambah memucat kala melihat sinar merah kuning dan biru menyongsong kedatangan serangan mereka, Cacing Kalung menyadari bahwa tenaga sakti itu bersumber dari Batu Walet Merah yang memancar, secepatnya dia berusaha berkelit dan membuang tubuhnya jauh-jauh ke samping kanan. Lain halnya dengan si Cacing Kalung yang selalu bertindak hati-hati. Lain lagi halnya dengan si Tanduk Maut yang dalam melakukan serangan selalu dibarengi dengan emosi yang meluap-luap. Saat dia menyadari datangnya sinar yang mematikan itu, dia sudah tak dapat berbuat banyak selain menjadi gugup dan hantamkan senjatanya ke depan.

"Traaang! Breeees...!"

"Uaghkkh...!"

Senjata di tangan berantakan berkeping-keping, sementara tubuh si Tanduk Maut terpelanting roboh. Dalam waktu sekejap saja tubuh itu pun telah berubah membiru, tiada erangan mau pun lolongan maut. Bahkan berkelojotan pun tidak, karena sesaat setelah perubahan itu terjadi jiwa si Tanduk Maut pun telah melesat pergi meninggalkan raganya. Tinggallah si Cacing Kalung yang terlongong-longong dengan rasa tak percaya. Se-baliknya si Kakek Berbadan Tinggi yang kala bertarung dengan Bagas Salaya, dan sempat melihat apa yang dialami oleh murid kesayangannya. Tampak menjadi sangat murka sekali. Tapi dia pun hanya mampu mencaci maki dengan kata-kata kotor. Sebab saat itu dia pun sedang kerepotan menghadapi terjangan-terjangan sinar merah yang bersumber dari Batu Walet Merah. Sukur dia memiliki pukulan ampuh dan senjata yang dapat dipergunakan untuk menandingi kehebatan Batu Walet Merah. Andai tidak, mungkin dia sendiri tidak mampu menjaga keselamatannya pribadi.

"Mengapa harus bengong seperti itu, Cacing Kurus! Cepat serahkanlah nyawamu!" bentak Dewi Ratna Juwita tiba-tiba. Dan lebih cepat lagi gadis itu mengarahkan Batu Walet Merah pada si Cacing Kalung.

"Keparat...!" makinya sambil hantamkan satu pukulan ‘Bara Sakti’ yang merupakan pukulan andalannya.

"Buuuum!" "Gusraak...!"

Dewi Ratna Juwita hanya tergetar saja tubuhnya, walau tidak dapat disangkal bagian rongga dadanya terasa sakit sekali. Sebaliknya tubuh si Cacing Kalung selain terpelanting dan jatuh nyungsep. Juga menderita luka dalam yang cukup fatal. Dengan bersusah payah dia berusaha bangkit, namun sebelum niatnya kesampaian. Lagi-lagi Dewi Ratna Juwita yang sudah menjadi kalap ini mengarahkan Batu Walet Merah di tangannya. "Wuuus!"

Si Cacing Kalung sedapatnya berusaha melepaskan satu pukulan dengan mempergunakan sisasisa tenaganya. Celakanya jangankan untuk mengerahkan tenaga, sedangkan untuk menggerakkan tangannya saja dia sudah tiada mampu. Dengan mata membelalak lebar dia menyongsong pukulan itu dengan sikap pasrah.

"Bruues..!"

"Arrghk...!"

Si Cacing Kalung berkelejat-kelejat tubuhnya, secara perlahan namun pasti tubuh itu kemudian terdiam tak berkutik-kutik lagi.

"Jahanam...!" Murid-muridku tewas semuanya di tangan kalian, aku tak akan tinggal diam...!" pekik si Gada Wisa.

"Kakang Bagas! Jangan hiraukan mulutnya! Mari kita kroyok kakek goblok ini beramai-ramai...!" teriak Dewi Ratna Juwita. Sebentar kemudian kedua orang itu sudah menghujani si Gada Wisa dengan kekuatan Batu Walet Merah di tangan masing-masing. Menghadapi Bagas Salaya saja Gada Wisa tak mampu berbuat banyak, bahkan pukulan mautnya sudah tak banyak berarti, jangankan kini menghadapi dua orang lawan yang mempergunakan Batu Walet Merah yang dia tahu sangat berbahaya itu. Mau tak mau Gada Wisa harus berjuang mati-matian untuk menyelamatkan dirinya.

"Kakek tolol! Lebih baik menyerah saja...!" perintah Dewi Ratna Juwita.

"Lebih baik aku mati berkalang tanah, daripada harus menyerah pada kroco-kroco seperti kalian...!" bantah Gada Wisa sembari mengayunkan gadanya.

Lalu selarik sinar melesat dari gada di tangan si Kakek Ketua Gerombolan Sinar Kayangan ini. Bagas Salaya dan Dewi Ratna Juwita tak mau ambil resiko, maka dengan mengarahkan Batu Walet Merah di tangan masing-masing, selarik gelombang merah, kuning dan biru yang berbentuk pipih sekali menderu ke arah si Kakek Tinggi Besar. Tak terelakkan lagi dua kekuatan dahsyat yang bergulung-gulung itu pun bertabrakan di tengah jalan.

"Blaaam!"

Masing-masing lawan tergetar hebat tubuhnya, tapi mereka tetap berada pada posisinya masingmasing. Dan sebelum kakek ini dapat bertindak lebih jauh, Sepasang Walet Merah kembali mengarahkan batu yang melingkar di bagian jarinya.

"Wuuuss!"

Lebih cepat lagi Gada Wisa mempergunakan gada andalannya untuk memapaki datangnya sinar tadi.

"Buuummm...!"

Gada di tangan kakek besar tinggi meleleh, bahkan dia terpaksa mencampakkannya saat mana hawa panas menjalari tubuhnya.

"Brees!" "Auughk...!"

Gada Wisa melolong panjang, tubuhnya tercampak jauh setelah dua sinar maut dengan telak menghantam tubuhnya. Saat tubuhnya rubuh menghantam pohon, selembar nyawa melayang dari raganya. Sepasang Walet Merah tersenyum penuh kemenangan.

*** 12

Ketika Pendekar Hina Kelana dan Dewi Ratih sampai di Bukit Siluman, mereka melihat mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Melihat keadaan mayat-mayat itu, tampaknya kejadiannya berlangsung satu hari sebelum kedatangan mereka. Buang Sengketa menarik napas pendek, sebelum kata-katanya kemudian lepas:

"Tampaknya telah terjadi pertarungan besarbesaran di sini, Adik Ratih...!" ucapnya sambil menoleh pada Dewi Ratih yang tak begitu jauh berdiri di sisinya. Dewi Ratih hanya mengangguk pelan.

"Melihat bekas luka-luka yang dialami oleh mereka! Rasa-rasanya tak salah kalau aku menarik kesimpulan bahwa mereka tewas di tangan Sepasang Walet Merah!"

"Jelas mereka ada di sekitar tempat ini, Ratih...!" kata si pemuda kemudian. Sesaat mereka saling berpandangan, lalu hampir bersamaan mereka memandang ke sekelilingnya. Tak ada tanda-tanda Sepasang Walet Merah berada di sekitar perbukitan itu.

"Bagaimana kalau kita menuju ke Gua Siluman?" tanya si pemuda mengajukan satu usul pada gadis yang berada di sampingnya.

"Sebuah ide yang sangat baik...!" berkata Dewi Ratih. Kemudian keduanya segera bergerak menuju Gua Siluman yang terletak tak kurang dari sepuluh tombak di sebuah tikungan di depannya. Sebentar kemudian keduanya pun telah sampai di depan mulut gua, secara tiba-tiba mereka melihat berkelebatnya dua sosok tubuh dari dalam gua yang pintunya sudah tidak terkunci lagi.

Beberapa detik kemudian muncullah dua sosok tubuh yang sangat dikenal oleh Ratih, berdiri tegak di hadapan mereka. Tampaknya di antara mereka samasama menunjukkan rasa saling terkejut.

"Kakang Bagas! Kakak Dewi...! Kalian benarbenar telah mencemarkan nama baik Padepokan Bukit Berkabung. Lebih dari hanya sekedar pencuri tengik, kalian juga telah menodai kesucian diri kalian sendiri! Hemm. Pantas kalau Eyang Girinda almarhum mengusir kalian dari padepokan. Kalian memang benar manusia terkutuk menjalin cinta dengan saudara sendiri!" dengus Ratih dengan pandangan sinis.

"Hei Adik Ratih! Begitu datang kau langsung marah-marah, bersama gembel itu apakah yang kau inginkan...?" tanya Bagas Salaya marah.

"Tak banyak yang kuminta dari kalian, orangorang terkutuk! Serahkan sepasang Batu Walet Merah, setelah itu kalian tinggalkan tempat keramat ini...!"

"Keparat! Sukur aku tak membunuhmu mengingat kita masih ada hubungan saudara, andai tidak kau pasti mampus di tangan kami...!" maki Dewi Ratna Juwita gusar.

"Jangan kau mengaku-ngaku sebagai saudara. Aku tak memiliki saudara sepertimu!" bantah Dewi Ratih.

"Bagus! Kalau kau tak mengakui kami sebagai saudaramu lagi, tidak ada terkecualinya lagi bahwa kau dan manusia gembel itu barus mampus di tangan kami...!"

"Lakukanlah kalau kalian mampu kunyuk hina...!" maki si pemuda yang sedari hanya memperhatikan perdebatan antara sesama saudara itu.

"Adik Dewi! Mari kita remukkan batok kepala bocah gembel ini beramai-ramai...!"

"Adik Dewi?!" seru Ratih. "Kalian berdua benarbenar telah menjadi gila...!" "Kakak di panggil adik, adik di panggil kakang... memang benar-benar sudah nggak waras kunyuk jantan dan kunyuk betina ini, Ratih...!" kata Buang Sengketa menimpali.

"Keparat...! Kalian benar-benar ingin mencari mampus...!" teriak Bagas Salaya. Lalu tanpa sungkansungkan lagi, pemuda ini segera menyerang Pendekar Hina Kelana dengan jurus-jurus andalannya. Saat itu Ratih langsung pula berhadapan dengan Dewi Ratna Juwita.

"Menyesal sekali sebagai saudara aku harus membunuhmu, Ratih...!" desis Dewi Ratna Juwita, seraya segera mencabut pedangnya. Dewi Ratih pun tak mau kalah.

"Sriiing! Sriiing!"

Senjata yang mengkilat-kilat karena ketajamannya itu langsung menderu, maka bertarunglah dua bersaudara itu dengan mempergunakan jurusjurus pedang yang berasal dari satu sumber. Sekejap saja denting beradunya senjata tajam terasa merobek kesunyian di pagi hari. Dua gadis yang masih bersaudara itu kelihatan sama-sama gesitnya, berulang kali pedang di tangan mereka beradu. Tapi betapa terkejutnya hati Dewi Ratna Juwita saat mana merasakan tangannya berdenyut-denyut sakit. Mulanya hanya dalam waktu tujuh jurus saja dia merasa segera dapat menjatuhkan lawannya. Tapi siapa sangka dalam mengadu tenaga dalam tadi dia merasakan tenaganya setingkat berada di bawah adiknya sendiri.

"Tak usah heran perempuan sundel! Kalau kau berhasil mempelajari kitab warisan Bukit Berkabung hanya sampai pada yang keempat, tapi aku yang pemalas ini telah menguasai kitab yang kelima...!" kata Ratih dengan sesungging senyum mengejek.

"Keparat! Kalau begitu sekarang juga kau harus merasakan bagaimana dahsyatnya Batu Walet Merah di tanganku ini...!" maki Dewi Ratna Juwita merasa tidak akan unggulan menghadapi Dewi Ratih dengan jurus-jurus pedang yang jelas berada di bawah lawannya. Dengan cepat Dewi Ratna Juwita. mengerahkan tenaga dalamnya ke arah bagian tangannya. Sekejap saja Batu Walet Merah di bagian jemari tangannya memancarkan cahaya merah, kuning dan biru. Ratih terkesiap, wajahnya berubah pucat pasi, dia berpikir tak mungkin Batu Walet Merah dapat dia atasi dengan jurus pedang atau pun pukulan yang hanya berintikan tenaga dalam biasa. Dalam pada itu walaupun dalam keadaan bertarung, tampaknya Pendekar Hina Kelana juga tidak melepaskan perhatiannya pada Ratih. Begitu dia melihat sinar merah di jemari tangan Dewi Ratna Juwita. Maka sebelum gadis itu mengarahkan batu maut itu pada Ratih. Buang Sengketa hantamkan satu pukulan yang paling sangat diandalkannya, Si Hina Kelana Merana. Selanjutnya begitu tangannya dia dorongkan ke depan, maka serangkum gelombang yang memancarkan sinar merah dan berhawa panas luar biasa meluruk ke arah Dewi Ratna Juwita. Saat itu pun dua lesatan sinar menderu di udara, timbulkan hawa dingin dan panas yang tak kalah hebatnya.

"Blaarr...!"

Debu tampak mengepul ke udara, bumi terasa bergetar hebat, tak ayal sungguh pun Ratih dapat terhindar dari ancaman maut, namun tubuh Bang Sengketa tak pelak lagi terjengkang dua tombak. Begitupun halnya yang dialami oleh Dewi Ratna Juwita. Mulut kedua orang itu sama-sama menyemburkan darah kental. Bagas Salaya tampak tercengang dan mengawatirkan keadaan istrinya. Serta merta emosinya meluap-luap. Lalu dengan pedang terhunus dia memburu Pendekar Hina Kelana yang sedang berusaha menghimpun hawa murni untuk menghilangkan rasa nyeri yang sangat luar biasa pada bagian dadanya.

"Kakang Kelana...!" pekik Dewi Ratih histeris demi melihat Bagas Salaya membabatkan pedangnya ke bagian tengkuk si pemuda. Sesungguhnya dia ingin bertindak membantu pendekar itu. Namun karena jaraknya yang begitu jauh membuat dia merasa tak dapat melakukannya. Namun dalam saat-saat menegangkan seperti itu Buang cepat-cepat mempergunakan jurus Koreng Seribu yang memiliki daya hisap yang sangat tinggi.

"Kreeeep...!"

Dengan mempergunakan jemari tangannya, dia sambut sabetan pedang di tangan Bagas Salaya. Pemuda terkutuk itu terkejut bukan main. Apalagi dia merasa tak-mampu untuk melepaskan senjatanya dari jepitan jari Buang Sengketa. Tarik menarik pun berlangsung beberapa saat lamanya. Celakanya semakin kuat Bagas Salaya mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan pedang itu kembali, maka semakin sulitlah bagi pemuda itu untuk membetot senjatanya. Bahkan lama-kelamaan dia menyadari tenaganya terasa terbetot keluar melalui pedang di tangannya

"Keparat! Ilmu Siluman...!" maki Bagas Salaya mulai berusaha mengerahkan bagian tenaganya untuk dipergunakan membangkitkan kesaktian dari Batu Walet Merah. Usahanya itu tampaknya mendatangkan hasil, sebab kejab kemudian Batu Walet Merah di tangannya memancarkan sinar merah kuning dan biru. Secara perlahan dia mengarahkan batu itu pada pihak lawannya yang berjarak tak kurang dari satu meter di hadapannya. Lebih celaka lagi saat itu pun Dewi Ratna Juwita mengarahkan batu di tangannya kepada sasaran yang sama.

"Weer! Weeer...!" Dalam detik-detik yang sangat menentukan antara hidup dan mati itu, serta merta Buang Sengketa mencabut Golok Buntung yang terselip di pinggangnya. Laksana kilat dipergunakannya golok tadi untuk menerima sinar yang bersumber dari Batu Walet Merah.

"Bleeer! Seeet...!"

Kekuatan yang sangat dahsyat itu langsung menghajar golok di tangan si pemuda yang dipergunakannya sebagai tameng.

Sepasang Walet Merah menjadi terkejut luar biasa saat mana sinar yang mereka lepaskan malah lenyap begitu saja dan tampak bagai terserap. Bahkan lama kelamaan mereka merasakan selain tenaga sakti yang ditimbulkan oleh Batu Walet Merah lenyap begitu saja, tapi malah tubuh mereka ikut tersedot. Sungguh pun mereka berusaha mati-matian untuk tetap bertahan pada posisinya, namun tetap saja tubuh mereka tertarik mendekat ke arah Buang Sengketa. Seketika pucat wajah Sepasang Walet Merah, terlebih-lebih Bagas Salaya yang berada paling dekat dengan Buang Sengketa. Tiba-tiba pemuda itu dorongkan Golok Mautnya ke depan dan ke samping disertai dengan satu bentakan:

"Hembus kalian sana...!"

Tenaga dorongan yang dilakukan oleh si pemuda menyebabkan tubuh kedua lawannya terpelanting. Dengan merangkak mereka sudah bangkit kembali, dan berusaha membangun sebuah serangan baru. Tapi begitu melihat pada lawan yang berdiri tegak di depannya lagi-lagi mereka menjadi terbelalak tak percaya.

"Pendekar Hina Kelana...!" serunya tanpa sadar. Buang Sengketa diam tiada bergeming. Di tan-

gan kirinya tergenggam Pecut Gelap Sayuto, sedangkan di tangan kanannya tergenggam pula Pusaka Golok Buntung yang juga memancarkan sinar merah menyala.

Darah Siluman di dalam tubuh pendekar ini saat itu memang telah merasuk dalam emosinya yang tertahan-tahan. Betapa bencinya dia melihat tampang Sepasang Walet Merah yang sesungguhnya masih ada hubungan darah. Namun tetap nekad melakukan percintaan itu.

"Manusia berjiwa hewan seperti kalian memang tak layak untuk hidup lebih lama lagi. Mampuslah...!" Serta merta, sebelum Sepasang Walet Merah sempat menyahut. Cambuk Gelap Sayuto di tangan Buang Sengketa menderu.

"Ctaar.... Ctaaar...! Ctaaar...!"

Mendadak bertiuplah angin yang sangat kencang disertai dengan bunyi petir sambungmenyambung. Awan hitam segera menyelimuti suasana di sekitarnya. Suasana pagi yang cerah berganti dengan suasana kegelapan yang nyata. Terkesiaplah Sepasang Walet Merah demi melihat kejadian seperti itu, dalam kegelapan itu mereka hanya melihat berkelebatnya sinar merah yang bersumber dari Golok Buntung yang berada di tangan lawannya. Sementara cambuk di tangan Buang tidak henti-hentinya melecut, hingga menimbulkan suara hingar bingar memekakkan gendang telinga

Pabila terdengar suara mendesis-desis bagai ular piton yang sedang marah. Maka di situlah Pusaka Golok Buntung menderu. Tapi Sepasang Walet Merah mengimbanginya dengan batu di tangannya. Lesatan sinar merah yang bersumber dari Batu Walet Merah bubar berantakan dilanda lecutan Cambuk Gelap Sayuto. Tiada menyia-nyiakan kesempatan Buang Sengketa dengan Golok di tangannya merangsak maju. "Craaas! Creeees...!"

"Aghhk...!"

Tubuh Sepasang Walet Merah ambruk ke tanah. Darah menyembur dari luka di bagian pangkal leher mereka. Hanya sesaat saja mereka berkelojotan, kemudian tewas dalam keadaan berpelukan.

"Kakang, kau telah membunuhnya?" jerit Dewi Ratih sedih, bagaimana pun mereka tetap saudara

"Dengan sangat terpaksa sekali! Biarlah mereka terus bercinta sampai di akherat sana...!" kata si pemuda sesaat setelah kegelapan itu sirna. Pendekar Hina Kelana segera mencopoti Batu Walet Merah di tangan Bagas Salaya dan Dewi Ratna Juwita, menyerahkannya pada Dewi Ratih.

"Kakang aku tak menyalahkanmu! Kalau kita biarkan mereka hidup, pasti akan jatuh korban lebih banyak lagi. Marilah kita kubur mereka Kakang..,!" ucap si gadis tersendat. Lalu tanpa basa basi lagi mereka mengubur mayat Sepasang Walet Merah. Tak begitu lama pekerjaannya pun selesai

"Kakang aku akan menutup pintu gua itu...!" kata Ratih sembari berjalan menuju ke arah gua. Namun begitu gadis ini kembali untuk menjumpai Pendekar Hina Kelana, pemuda tampan itu telah lenyap dari tempatnya semula. Berdebar dada Ratih. Dia merasakan, sesuatu telah terenggutkan dari hidupnya. Tidak sesedih di tinggalkan oleh saudaranya. Tapi dia lebih sedih justru karena pemuda yang secara diamdiam dicintainya itu telah pergi meninggalkan dirinya tanpa pesan apa pun.

"Kakang Kelana! Tidak tahukah kau kalau selama ini aku sangat mencintaimu!" desah gadis itu di sela-sela isak tangisnya. Lalu gadis berwajah ayu itu pun berlari mengejar ke arah lenyapnya Pendekar Hina Kelana. 

TAMAT