Serial Pendekar Hina Kelana Eps 11 : Sepasang Iblis Bermata Dewa

 
Eps 11 : Sepasang Iblis Bermata Dewa


Bila pemuda itu duduk di tepian pantai itu, dan manakala sepasang matanya yang selalu mencorong setajam mata elang, memandang ke samudra nan luas. Rasanya dia ingin menyatu di dalamnya, bergulung bersama deburan ombak, berayun di atas alun dalam semilir hembusan angin yang hangat. Ah. Betapa saat itu rasarasanya sang waktu berlalu begitu cepat, padahal saat itu begitu indah.

Kini dia berada di salah sebuah tanjung juga, Tanjung. Kait namanya. Dan semua itu mengingatkan dia akan sebuah masa lalu. Saat di mana dia dalam asuhan si Kakek Super Sakti Gurunya yang tua, bahkan orang yang paling sangat mencintai dirinya. Siapa lagi kalau bukan Si Bangkotan Koreng Seribu, Tanjung Api di sana dia terbuang dan dibesarkan, di tempat itu pula gurunya pernah dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Mendidik dirinya dengan berbagai jurus-jurus silat dan ilmu sakti yang tiada landing. Tanjung Api, yang terletak di pantai sebelah Barat Nusantara, dengan batu-batu karangnya yang tajam, di sela-sela deburan ombaknya yang selalu menggila. Di sanalah dia pernah menyatu dengan suasana laut yang maha ganas namun memberinya kehidupan.

Kakek Bangkotan Koreng Seribu, ah. Sudah lebih dari sepuluh tahun pemuda berkuncir dan berwajah sangat tampan itu tak pernah menyambanginya. Bagaimanakah keadaannya, masih hidupkah dia. Pertanyaanpertanyaan itulah yang selama ini membuat galau di hatinya. Di hatinya sering menyesak rindu, bahkan sering timbul pula rasa tak tega untuk meninggalkannya. Tetapi semua itu sudah menjadi kehendak dan merupakan perintah gurunya sendiri, pemuda yang selalu menyandang sebuah periuk besar ke mana pun dia pergi. Mana pernah berani kembali ke Tanjung Api. Pula usahanya untuk mencari tempat di mana ayahnya berada belum pernah ketemu sampai saat itu. Raja Ular Piton Utara, itulah ayahandanya, sungguh pun hanya seekor ular dan berasal dari alam kedua. Tetapi itulah ayahnya. Orang yang membuat dirinya terlahir ke dunia ini. Ayahanda nya yang berasal dari sebuah negeri yang tak dapat dilihat oleh kasat mata, kini mengasingkan diri di sebuah lautan yang maha luas lagi dalam. Samudra begitu luas, ke mana dia harus mencari?

Dia merasakan betapa hidup ini sunyi, dalam sepanjang petualangan yang dia lalui. Hanya kekerasan dan kekejaman yang dia temui. Satu pihak ingin menguasai pihak lain. Golongan besar berkuasa di atas sekelompok kecil. Benar dan salah hanyalah merupakan sebuah batasan setebal kulit ari. Nilai kemanusiaan merupakan sebuah keberadaban yang tersamar. Ah mengapa dia memikirkan sampai sejauh itu? Tolol betul. Bukankah dia sendiri baru saja kehilangan, dan selamanya pernah kehilangan orang-orang yang dia cintai seperti Sri Pamuja. Gadis yang untuk pertama kalinya pernah dia cinta. Dia juga telah meninggalkannya. Tewas di tangan si Jubah Hitam. (Untuk lebih jelasnya siapa Sri Pamuja yang sangat cantik itu, anda dipersilahkan mengikuti judul Neraka Gunung Dieng). Dalam pada itu, tiba-tiba si pemuda tampan yang tak lain Buang Sengketa atau si Pendekar Hina Kelana adanya, nampak tepuk-tepuk keningnya.

Untuk yang kesekian kalinya, dipandanginya hamparan laut yang begitu luas. Tetapi sesaat kemudian perhatiannya menjadi terpecah manakala pendengarannya yang tajam itu mendengar langkah-langkah tapak kaki mendekat ke arahnya. Sekejap pemuda itu menoleh, maka tampaklah olehnya seorang laki-laki berbadan tinggi kekar, berpakaian rompi warna merah. Tegak bagaikan area berjarak beberapa meter saja di belakangnya. Laki-laki berompi merah itu memandang pada Buang Sengketa tiada berkedip sedikitpun juga. Dari sepasang matanya yang memerah saga. Terasa ada yang sesuatu, yang membuat dada pendekar itu berdebar. keras. Pembuluh darah meremang, kenyataan ini benar-benar mengejutkan hati Pendekar Hina Kelana. Tiada kata yang terucap dari bibirnya yang tertutup. kumis kecoklatan. Hanya jenggotnya saja yang nampak bergerak-gerak manakala mulutnya berkomat kamit. Ada beberapa keadaan yang mengundang tanda tanya di hati si pemuda. Karena pada kenyataannya laki-laki berompi merah ini tidak memiliki kedua tangan, sementara itu rambutnya yang sudah memutih nampak dibiarkan tumbuh memanjang. Tentang siapa adanya tokoh ini, kalangan persilatan mengenalnya sebagai salah, seorang dari Sepasang Iblis Bermata Malaikat. Selama puluhan tahun pekerjaan laki-laki berompi merah ini hanya mengembara mengikuti kehendak kaki ke mana pun ingin melangkah. Konon setelah dia berpisah dengan istrinya yang juga merupakan lawan yang membuat dirinya sengsara. Dia sudah cuci tangan dari segala macam urusan dunia persilatan. Apalagi kini dia sudah kehilangan kedua tangannya, yang semua itu dilakukan oleh bekas istrinya. Dia merasa sangat kehilangan muka di depan tokoh persilatan dari semua golongan, pada saat itu. Pihak istri atau yang dikenal sebagai Pri Kumala Dewi itu, kini benarbenar sebagai tokoh sesat kelas satu. Sungguh pun begitu, tiada sedikit pun berkurang semangatnya untuk menyadarkan bekas istrinya tersebut. Tiada rasa jera, sungguh pun kedua tangannya pernah dibuntungi oleh Pri Kumala Dewi. 

Pada saat itu, laki-laki berompi merah atau yang lebih dikenal sebagai Mambang Sadewa. Lama setelah memandang pada si pemuda beberapa saat kemudian segera berkata:

"Pemuda aneh! Pembawa periuk dan berpakaian sepertiku...! Ah, agaknya engkau keturunan orang sinting...!" Kemudian setelah tak ada tanggapan dari si pemuda, maka laki-laki yang terkutung kedua tangannya ini pun kembali bergumam, seperti pada dirinya sendiri.

"Di mana-mana, mataku yang sudah lamur ini miring melihat orang-orang yang aneh. Perempuanperempuan berdandan laki-laki, bayi merah terbuang tanpa tahu siapa bapaknya. Orang tua itu terlunta-lunta merana. Apa arti nya hidup kalau cuma menumpuk dosa? Apakah aku masih pantas untuk hidup?"

"Sambil berkata begitu, si laki-laki bertangan buntung itu menoleh pada Buang .Sengketa. Sudah barang tentu pemuda itu nampak sangat terkejut, apalagi katakata yang sesungguhnya membutuhkan perenungan itu seolah-olah ditujukan buat dirinya. "Apakah aku masih pantas untuk hidup, hai orang tuli...?" ulangnya setelah Buang Sengketa hanya terdiam saja.

"Maaf, orang tua, aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya!" kata si pemuda berusaha jujur.

"Mengapa engkau sampai tak tahu!" bentak si lakilaki berompi, tiba-tiba menjadi marah.

"Aku tak tahu karena aku sendiri pun tak bisa menilai apakah diriku ini pantas hidup atau tidak? Tetapi menurut aku yang bodoh ini sesuatu yang dihidupkan pasti memiliki arti, jangankan manusia, semut pun keberadaannya di atas dunia pasti mempunyai arti. Setidaktidaknya untuk dirinya sendiri!” kata Pendekar. Hina Kelana seadanya.

Nampaknya si laki-laki bertangan buntung atau Mambang Sadewa itu tiada terpengaruh dengan ucapannya. Masih dengan penasaran dia bertanya lagi.

"Mengapa segala semut kau bawa-bawa. Aku tanya padamu, apakah aku yang sudah kehilangan segalagalanya ini masih pantas hidup atau tidak...?" bentaknya sangat jengkel sekali. Memerah wajah Buang Sengketa begitu mendengar pertanyaan yang sesungguhnya sangat konyol itu. Tetapi sungguh pun hatinya sangat dongkol sekali, namun dia masih berusaha untuk bersabar.

"Orang tua, sekali lagi maafkan aku! Aku bukan seorang dewa, dan bukan pula seorang ahli agama. Untuk semua pertanyaanmu itu, ada baiknya kalau engkau menanyakannya pada seorang ahlinya!" "Aku tak pernah bilang kalau bocah gembel sepertimu ahli agama. Tampangmu yang dekil membuatmu lebih pantas menjadi seorang ketua partai gembel!"

Mendengar kata-kata yang begitu menghina, hilanglah kesabaran yang dimiliki oleh si pendekar ini. Dia berusaha bangkit, dengan bermaksud untuk memaki Mambang Sadewa. Namun alangkah terkejutnya pemuda ini, karena dia merasakan ada kekuatan raksasa yang menekan tubuhnya sehingga merasakan tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.

Buang Sengketa menoleh pada si Mambang Sadewa. Pendekar Dari Negeri Bunian itu nampak geram bukan main. Merasa dipermainkan seperti itu, sebaliknya Mambang Sadewa malah tertawa tergelak-gelak.

"Bocah, kalau kau mau bangun dari tempat dudukmu silahkan saja. Mengapa harus sungkan-sungkan?" kata si laki-laki berompi setengah mengejek.

Si pemuda panas hatinya, sedapatnya dia berusaha bangkit. Tetapi sia-sia belaka. Semakin dia mencoba, maka semakin besar tenaga raksasa itu menekan tubuhnya. Tak lama kemudian secara perlahan tubuh pemuda itu pun sedikit demi sedikit mulai amblas ke dalam pasir di pinggiran pantai itu. Sedapat mungkin pendekar ini berusaha mempertahankan diri dengan mengerahkan sepertiga dari tenaga dalam yang dimilikinya. Alangkah terkejutnya pemuda ini, karena sungguh pun dia sudah mengerahkan sebagian besar kekuatannya, namun tetap saja tubuhnya secara perlahan-lahan terus amblas ke bumi.

"Kakek tua bertangan buntung ini memiliki kesaktian yang tidak terukur kehebatannya. Apa maksudnya memperlakukan diriku seperti ini, juga masih belum kuketahui. Tetapi siapa pun, adanya orang tua aneh ini, masakan aku harus tinggal diam mendapat perlakuan seperti ini?" batin pemuda itu. "Tidak. Aku tidak ingin bersikap lemah dalam menghadapi kekasaran orang lain." Mengingat sampai sebegitu jauh, tiba-tiba Pendekar Hina Kelana kerahkan tenaga dalamnya, dia bermaksud bersiap-siap dengan Ajian Pemenggal Roh untuk membubarkan konsentrasi lawan. Sesaat badan Buang nampak menggigil bagai orang yang terserang demam malaria. Kedua mata terpejam, sementara keringat mulai menetes membasahi pakaiannya. Hanya sedetik setelahnya, tanpa disangkasangka oleh Mambang Sadewa. Satu lengkingan keras dari jeritan Ilmu Pemenggal Roh pun menggelegar bagai hendak meruntuhkan gendang-gendang, telinga. Sungguh besar sekali pengaruhnya pada keadaan di sekelilingnya. Beberapa ekor bangau laut yang kebetulan berada tak begitu jauh dari tempat itu nampak menggelepar mati. Bumi serasa bagai dilanda badai topan prahara. Laki-laki cacat tangan itu nampak terkejut sekali demi menyaksikan kejadian yang sama sekali tiada pernah dia duga itu. Tubuhnya nampak tergetar sesaat saja, sementara pembuluh darahnya pun hanya meremang pula. Andai saja dia bukanlah seorang tokoh yang sangat sakti, pada saat itu sudah barang tentu jiwanya pasti melayang. Sebab seperti diketahui, selama ini belum ada seorang pun di empat penjuru mata angin yang mampu bertahan hidup menghadapi pekikan menggeledek dari ilmu langka yang dimiliki oleh Pendekar Hina Kelana. Kalau kini ada seorang laki-laki memiliki mata semerah saga dapat bertahan hidup dari serangan yang ampuh itu, Sudah barang tentu membuat pemuda ini menjadi terkagum-kagum.

Hanya dalam waktu seketika saja si kakek bertampang angker ini nampak terperangah, sejurus kemudian dia sudah tergelak-gelak.

"Bocah pentil! Ilmu lengkingan monyet hutan saja kau pamerkan padaku, sekali pun kau menjerit bagai orang gila mana ada pengaruhnya padaku...!" kata Mambang Sadewa di sela-sela tawanya.

Si pemuda kesal bukan main, terlebih-lebih dalam keadaan bicara seperti itu, laki-laki bertangan buntung tersebut tidak juga melepaskan tekanan jarak jauhnya. Sehingga membuat tubuh Buang Sengketa semakin lama semakin terbenam bertambah dalam.

"Orang tua, sejauh ini aku masih bisa mengalah padamu. Tetapi engkau telah memperlakukan aku seperti ini, apakah salahku?”

Mambang Sadewa mendengus seketika sepasang matanya yang selalu memerah ini melirik pada Pendekar Hina Kelana. Agaknya dia merasa kurang begitu yakin kalau pemuda itu bukan salah seorang dari yang dia curigai.

"Bocah, sungguh pun engkau orang yang memiliki ilmu sakti tiada tanding. Namun kalau engkau utusan dari Kayu Agung, aku tak kan berpangku tangan...!"

Mendengar kata-kata si kakek bertangan buntung maka tahulah Buang Sengketa kiranya kakek cacat itu sedang menaruh dendam pada seseorang. Atau mungkinkah orang itu bekas istrinya, keluarganya atau...! Buang Sengketa belum habis mereka-reka, Mambang Sadewa sudah bicara lagi:

"Cepat kau katakan apakah kau murid-muridnya Pri Kumala Hijau, atau bahkan muridnya si Iblis Joma?" bentak Mambang Sadewa. Pendekar Hina Kelana gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Aku tak kenal dengan orang-orang yang anda sebutkan tadi...!" bentaknya tegas. Tetapi nampaknya Mambang Sadewa masih belum juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh si pemuda.

"Bohong...!" tukas laki-laki cacat itu geram.

* * *

2

"Aku tidak berbohong, orang tua...!" bantah Pendekar Hina Kelana merasa sangat tersinggung sekali,

"Kurang ajar, jangan kau kelabuhi aku lagi! Dulu mereka juga berkata begitu. Tetapi setelah mereka mendapat apa yang mereka inginkan dariku. Bangsat itu mencampakkan aku bagaikan sampah, bahkan iblis dan setansetan itu telah membuntungi kedua tanganku pula." jeritnya histeris. Dalam pada itu dia kembali memandang pada Pendekar Hina Kelana. Sesaat setelahnya dia pun sudah membentak,

"Bocah, kalau kau tidak mau mengaku, maka aku akan membunuhmu...!" tukasnya penuh ancaman. "Aku tak mengerti apa yang engkau katakan itu, untuk apa aku berbohong!" bantahnya kesal sekali.

Kerut merut di wajah si Mambang Sadewa semakin bertambah banyak manakala dia mendengar jawaban Pendekar Hina Kelana. Sesungguhnya sepintas lalu dia dapat melihat kejujuran hati pemuda itu, tetapi sikapnya yang selalu menaruh curiga terhadap orang lain membuat dia. merasa kurang percaya dengan pengakuan pemuda itu. Mungkin hanya ada satu cara untuk membuktikan bahwa pemuda itu murid seorang musuhnya. Adapun cara tersebut adalah dengan mengenali jurus-jurus yang. dimainkannya.

Teringat sampai ke situ, laki-laki bertangan buntung itu kembali menyela dengan ucapan sedikit lunak.

"Bocah! Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja, aku baru percaya dengan pengakuanmu andai kita sudah melakukan pertarungan yang sangat menyenangkan" kata laki-laki berjenggot dan berkumis kelabu itu dengan sesungging senyum penuh arti.

"Maaf orang tua. Aku tak memiliki kepandaian apaapa, Pula aku bukanlah tukang jago berkelahi”.

"Jadi kau tak mau menuruti keinginanku?” tanya si Mambang Sadewa tampak sangat gusar sekali. Buang Sengketa kembali gelengkan kepalanya.

"Sial! Engkau benar-benar menolak bertarung denganku...?" katanya sambil pelototkan mukanya.

"Betul, karena aku merasa tak pernah mempunyai persoalan denganmu, bertemu pun kita baru kali ini...!" Semakin bertambah beranglah kakek bertangan buntung itu dibuatnya. Tak ampun lagi dalam kemarahannya yang berkobar-kobar itu dia pun berteriak:

"Bocah... mau tidak mau. Suka tidak suka... engkau harus bertarung denganku. Jika tidak, jangan salahkan aku kalau dengan sangat terpaksa aku harus membunuhmu...!"

Terkesiaplah darah pendekar dari Negeri Bunian ini demi mendengar keputusan Mambang Sadewa. Sebab seandainya hal itu benar-benar terjadi dia tak habis mengerti bagaimana caranya laki-laki tua berbadan kekar itu menghindari serangan-serangannya. Kalau pun mungkin sudah barang tentu pendekar ini tak berani bahkan tak tega untuk melakukannya. Akhirnya dia pun telah tetap dengan pendiriannya.

"Orang tua yang mulia. Sungguh pun engkau memisahkan kepala dari badanku tidak nantinya. aku melayani keinginanmu yang gila-gilaan itu...!"

"Hemm… Agaknya aku harus membongkar ketololanmu itu...!"

Setelah. berkata begitu, tanpa diduga-duga Mambang Sadewa atau yang dulunya dikenal sebagai Sepasang Iblis Bermata Dewa, langsung menjejakkan kakinya. Dalam sekejap itu, Buang Sengketa merasa dirinya telah terbebas dari pengaruh tenaga dalam lawan yang menghimpit pundaknya. Dan pada saat yang bersamaan tubuh Mambang Sadewa sudah bergerak dengan sangat cepat sekali.

Buang sempat dibuat terbelalak tak percaya, manakala dia melihat bahwa kakek berjenggot kecoklatan yang tiada memiliki kedua tangan, nampak melakukan serangan-serangan gencar dengan kedua kakinya. Sungguh pun begitu, andai Pendekar Hina Kelana tidak cepatcepat berkelit dan menghindari terjangan-terjangan dari sepasang kakinya, sudah barang tentu pendekar ini mendapat nasib yang sangat mengenaskan. Bukan sampai di situ saja, beberapa saat berikutnya manakala rambut Mambang Sadewa secara tiba-tiba melecut kearah pendekar itu! Anehnya lagi rambut Mambang Sadewa yang tergerai panjang itu sewaktu-waktu dapat melentur sebagaimana lazimnya dapat melentur. Namun di saat yang lain rambutnya yang panjang itu dapat berubah menjadi sangat kaku tak ubahnya bagaikan kawat baja.

Hal itu jelas-jelas di luar perhitungan Pendekar Hina Kelana, dan yang pasti serangan rambut yang sekeras kawat baja dan datang secara tiba-tiba itu membuat si pemuda berperiuk semakin bertambah kerepotan. Berulang-ulang libasan-libasan rambut Mambang Sadewa yang dapat melemas dan mengejang hampir saja menusuk bahkan melibat tangan dan tubuhnya. Buang Sengketa cepatcepat menghindar, lalu dengan mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, maka tubuhnya sekejap saja telah berkelebat lenyap. Tangan berputar bagai sebuah baling-baling. Semakin lama semakin bertambah cepat hingga pada kenyataannya hanya merupakan bayang-bayang saja.

Sungguh pun Mambang Sadewa sudah mengetahui bahwa pemuda yang dihadapinya itu jelas-jelas bukan murid musuhnya. Tetapi dia «masih merasa sangat penasaran sekali, mengingat jurus silat yang dimainkan oleh si pemuda benar-benar masih terasa sangat asing dimata Mambang Sadewa. Bahkan dia pun merasakan sendiri, sebab pertarungan yang telah berlangsung puluhan jurus itu masih belum juga memberi tanda-tanda bahwa dirinya dapat mendesak atau pun memukul pemuda berkuncir yang menjadi lawannya.

Padahal menurutnya jurus-jurus silat yang dimainkan oleh si pemuda sangat sederhana .sekali, tidak ada yang sangat istimewa. Tetapi yang membuat dia melakukan serangan-serangan gencar. Baik kedua kaki yang dia pergunakan untuk menyerang maupun kibasan-kibasan rambutnya, terasa selalu saja bagai membentur batu karang.

Rasa penasaran berbaur menjadi satu, sehingga tanpa terbendung lagi beberapa jurus di depan dia pun mulai mengumbar serangan-serangan yang sangat gencar sekali. Bahkan ternyata kemudian tanpa sungkansungkan lagi,. dia pun melancarkan pukulan-pukulan jarak jauhnya. Satu hal yang membuat Buang Sengketa nampak terbelalak tak percaya. Adalah karena pukulan yang berupa lesatan cahaya maut itu bersumber pada kedua matanya Hal ini bagi Pendekar Hina Kelana merupakan sebuah pengalaman yang sangat langka. Mungkin cahaya maut yang bersumber dari kedua matanya itulah yang membuat dirinya selalu disebut-sebut sebagai salah seorang dari Sepasang Iblis Bermata Dewa. Hemm.. sangat mengagumkan..Batin si pemuda!

Pada gebrakan selanjutnya maka dia pun sudah keluarkan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Tak terbayangkan ketika selarik gelombang ultra violet itu menderu dari kedua tangan pendekar ini. Sinar maut berhawa sangat panas itu terus melesat sedemikian cepat mengarah pada laki-laki tua berambut coklat. Saat yang sama pula satu gelombang berwarna merah kebiru-biruan tak kalah cepatnya memapaki datangnya sinar panas yang telah begitu dekat sekali dengan laki-laki bekas penghuni pagar dewa.

Sinar merah kebiruan yang keluar dari sepasang mata laki-laki itu bagaikan tiada terputus-putus, datang saling sambung menyambung, Tak terelakkan lagi benturan keras pun terjadi.

"Bumm...!"

Buang Sengketa terpental, tubuhnya terus berguling-guling di atas pasir putih. Dia merasakan pukulan yang dilepaskannya membalik, bukan hawa panas saja yang menyerang dirinya, tetapi juga hawa dingin yang dilepaskan oleh si laki-laki bertangan buntung. Yaitu sebuah pukulan yang diberi nama Dewa Kayangan Membasmi Durjana, juga turut menyertainya. Hawa dingin yang bercampur dengan hawa panas membuat tubuh Buang Sengketa menggigil bagai terserang penyakit malaria. Pemuda itu merasakan dada sesak luar biasa, sesaat dia terbatuk, kemudian menggelogoklah darah merah kehitam-hitaman yang sudah sangat kental. Dengan sorot mata nanar pemuda itu memandang pada Mambang Sadewa. Laki-laki yang tidak mempunyai kedua tangan itu, masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Tetapi kini sorot matanya yang tadi nampak merah membara itu meredup. Seolah cahaya semerah bara yang tadinya memancar dari padanya sudah padam. Buang Sengketa tiada memperdulikan laki-laki itu lagi. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya, terasa ada hawa hangat yang mengalir dari pusat perutnya. Hawa hangat itu secara perlahan menyerap ke seluruh tubuhnya. Sekejap kemudian dadanya yang terasa sesak luar. biasa itu pun mulai terasa agak berkurang. Lalu wajahnya yang pucat bagaikan kain kafan kini sudah kembali berubah kemerah-merahan,

Tak lama kemudian dia pun telah tegak berdiri kembali, maka semakin bertambah heran manakala dia melihat wajah Mambang, Sadewa kini malah, tertunduk. Tanpa menghiraukan sikap laki-laki tersebut, Buang membentak.

"Orang tua! Mengapa anda membatalkan serangan?

Bukankah engkau menghendaki nyawaku...?"

Mambang Sadewa tersenyum tetapi hatinya menjerit sedih.

"Urusan nyawa, bukan wewenangku“ ujarnya sambil memandang hampa.

“Tetapi bukankah engkau tadi sudah turunkan pukulan maut yang hampir saja merenggut nyawaku...?"

"Maafkan aku. Terkadang hidupku yang sudah hancur lebur karena ulahnya, membuatku selalu mencurigai setiap orang. Akh, aku memang orang yang paling tolol di kolong langit ini. Aku hampir saja membuatmu celaka. Sering pula orang-orang yang tiada berdosa sepertimu, hampir saja mati di tanganku. Orang muda... katakanlah padaku apa. yang harus kuperbuat agar aku tidak terus., terseret dalam api dendam.,.!"

Dasar orang tolol, mana aku tahu apa yang harus kau perbuat. Kenal pun baru hari ini, Batin si pemuda. Sungguh pun begitu, dia hanya mampu garukgaruk kepala saja.

"Orang tua, siapakah. anda ini yang sesungguhnya? Siapa pula yang menjadi musuhmu itu...?” tanya Pendekar Hina Kelana kemudian.

"Namaku Mambang Sadewa. Dulu pada jaman yang memuakkan itu kaum persilatan mengenal kami sebagai Sepasang Iblis Bermata Dewa” Ucapnya lirih, lalu dengan wajah tertunduk dia menyambung, “Semua itu cuma tinggal cerita lama yang akhirnya menyeretku kedalam kesengsaraan”

Pendekar Hina Kelana angguk-anggukkan, kepala sungguh pun dia tidak mengerti secara keseluruhan apa yang dikatakan oleh Mambang Sadewa.

"Dan engkau siapakah?"

"Aku cuma seorang pengelana. Namaku Buang Sengketa!" ujar pemuda itu seadanya. Mambang Sadewa kerutkan alisnya yang kecoklatan itu, sungguh baru kali ini dia mendengar nama yang seaneh itu. Tetapi dari pertarungan yang memang sengaja diperbuatnya tadi dia tahu kalau pemuda berwajah tampan itu memiliki kepandaian tinggi, atau bahkan lebih tinggi dari yang diduganya.

"Buang Sengketa! Sebuah nama yang sangat asing bagiku, tetapi aku tahu engkau merupakan seorang pemuda yang berilmu sangat tinggi. Siapakah gurumu?" selanya nampak sangat penasaran sekali.

"Anda terlalu berlebihan, ilmu silatku yang hanya picisan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesaktian yang kau miliki...!" " Sudah barang tentu Mambang Sadewa mengerti kalau ucapan si pemuda hanyalah karena maksud merendah saja. Semakin tahulah dia bahwa pemuda yang Berdiri tegak di hadapannya itu sesungguhnya seorang pemuda yang rendah hati. "

"Buang! Janganlah engkau berkata seperti itu. Aku tahu telah berbuat salah padamu, Tapi percayalah aku tidak bermaksud untuk mencelakakanmu!" kata Mambang Sadewa setengah memohon.

Pendekar Hina Kelana kembali garuk-garuk kepalanya yang tak gatal! Dari sorot mata Mambang Sadewa yang redup dan sayu, dia menyadari ada sesuatu yang bakal diharapkan oleh laki-laki itu darinya.

"Kakek Mambang!" ucapnya dengan nada bersahabat. "Sesungguhnya aku paling segan membawa-bawa nama guruku, selain itu dia sangat marah bila sampai namanya disebut-sebut dalam pengembaraanku."

"Orang muda. Dari jurus-jurus silat yang engkau mainkan, rasanya aku pernah melihat jurus-jurus itu pernah pula dimainkan oleh bekas sahabatku. Tetapi kini otakku yang sudah tumpul dan bebal ini sudah lupa siapa dia...!"

"Baiklah dengan tidak mengagungkan nama besarnya, sesungguhnya guruku bernama si Bangkotan Koreng Seribu...!" jawab si pemuda hampir-hampir tak terdengar.

* * * 3

Maka tak ayal lagi begitu Buang Sengketa. menyebut nama si Bangkotan Koreng Seribu, maka tubuh Mambang Sadewa yang tiada memiliki kedua tangan nampak terlonjak bagai disengat puluhan ekor lebah. Kedua matanya yang meredup kini terbelalak bagai hendak meloncat keluar.

Serta merta laki-laki tua berbadan kekar ini berteriak-teriak kegirangan. Bahkan dalam luapan kegembiraannya dia sampai menari-nari. Pendekar Hina Kelana hanya tersenyum dikulum. Sambil berkata dalam hati: "Dasar kakek edan berotak sinting!"

Sesaat setelah luapan kegembiraannya itu, Mambang. Sadewa nampak menjeplak di atas tanah. Kemudian bagai anak kecil dia meratap bahkan menangis. Dengan suara memelas sekali,

"Orang tua yang mulia Si Bangkotan Koreng Seribu! Oh, kaum persilatan yang mana yang tak kenal dengan cambuk Gelap Sayuto, Empat Anasir Kehidupan. Hh, betapa aku tadi telah melihat. Mataku buta, mengapa aku seperti ini, melihat tapi tak tampak apa-apa!" Mambang Sadewa menggerang.

"Kakek Mambang Sadewa, mengapa kau bertingkah seperti itu...?" tanya Buang Sengketa dalam kebimbangan.

"Mengapa aku seperti ini, oh, angger betapa engkau tak mengerti bahwa kakek yang menjadi gurumu itu sebenarnya orang yang. paling aku hormati, tujuh puluh tahun yang lalu ketika aku masih berumur lima belas tahun, betapa aku ingin menjadi muridnya. Tetapi kakek sakti itu tak pernah mengangkat seorang murid pun, mungkin semua itu karena kebengalan sikapku...!"

"Kebengalan bagaimana, kakek?"

Sambil menengadahkan wajahnya Mambang Sadewa berucap!

"Masih kecil aku menjadi raja maling. Keonaran kubuat di mana aku suka, ku sakiti orang-orang yang tak suka padaku... tetapi... tetapi setelah bertemu dengan kakek itu, aku menjadi insyaf, jalan hidup sudah berubah sama sekali. Kemudian kuperistri seorang gadis jelita. Semua kepandaian silat yang kami miliki kami abdikan untuk orang banyak, saat itu..!"

Ucapan Mambang Sadewa, mendadak bagaikan tercekat di tenggorokan. Tanpa tahu apa sebabnya sesaat kemudian air matanya pun runtuh. Di sela-sela isak tangisnya laki-laki bertangan buntung itu pun menyambung:

"Saat itu kehidupan kami sangat bahagia sekali. Tapi hal itu hanya berlangsung hanya beberapa tahun. Tetapi tak lama setelah aku pergi memenuhi panggilan bekas guruku, kemudian ketika aku pulang kembali ke Pagar Dewa, rumahku hanya tinggal puing-puing belaka. Beberapa orang muridku menjadi bangkai yang sudah sangat sulit untuk kukenali. Sedangkan istriku Pri Kumala Hijau raib entah ke mana. Oh Dewata.,. semuanya telah hancur. Bertahun-tahun aku mengembara untuk mencari tahu kabar istriku. Tetapi setelah kujumpai, aku sangat kecewa sekali! Dia telah menjadi raja dari seluruh kaum sesat. Gurunya, yaitu orang yang telah merenggut istriku, sesungguhnya merupakan musuh keluargaku selama tujuh turunan. Dialah yang telah membius istriku sehingga bersedia menjadi muridnya, istrinya, bahkan seorang suruhan yang paling setia. Aku tak pernah mampu mengajak dan menyadarkan istriku. Manusia setengah gila itu telah membuat kesadaran istriku menjadi hilang sama sekali. Dia kini telah menjadi manusia yang paling sesat di kolong jagat ini, Buang. Lihatlah tanganku ini...!" ucap Mambang Sadewa, seraya menunjukkan kedua tangannya yang buntung sebatas pangkal lengan. Sesaat Buang Sengketa melirik pada tangan yang terkutung itu. Memperhatikan tangan Mambang Sadewa yang buntung, tiba-tiba si pemuda merasa sangat iba sekali.

"Tahukah kau siapa yang telah membuntunginya...?" tanya laki-laki bermata redup itu seolah menghendaki agar Buang Sengketa menjawabnya.

"Apakah Pri Kumala Hijau yang telah melakukan perbuatan biadab ini?" Mendapat jawaban yang seolaholah merupakan pertanyaan, Mambang Sadewa nampak berubah parasnya, Mendadak rahangnya yang bertonjolan nampak menegang, gigi-giginya memperdengarkan bunyi bergemeletukkan. Sorot matanya yang meredup tiba-tiba berubah memerah dan nampak liar. Dalam keadaan seperti itu, kiranya dendam yang mengendap di hati Mambang Sadewa mendadak telah berkobar-kobar kembali.

"Dugaanmu benar, Dialah yang telah melakukannya, tetapi aku tak mampu membalasnya, sungguh keterlaluan...!" Laki-laki itu mengeluh, kepalanya semakin tertunduk.

Kasihan sekali keadaan orang ini. Padahal Mambang Sadewa merupakan orang yang berilmu tinggi. Pukulan-pukulan mautnya yang sewaktu-waktu dapat terlepas melalui sepasang matanya yang dapat berubah-ubah itu merupakan sebuah pukulan sakti yang belum pernah dimiliki oleh golongan mana pun. Bahkan Buang Sengketa sendiri dapat merasakan betapa hebatnya pukulan tersebut. Tetapi laki-laki itu masih juga dapat dipecundangi oleh Pri Kumala Hijau. Laki-laki bertangan buntung itu saja sudah sedemikian saktinya, lalu bagaimana pula kesaktian yang dimiliki oleh Pri Kumala Hijau, belum lagi gurunya?

"Orang tua! Setelah engkau tak mampu mengalahkan bekas istrimu itu, lalu apa lagi yang akan kau perbuat untuk selanjutnya...?"" Mata Mambang Sadewa nampak berkeriapan begitu mendengar pertanyaan yang sangat dinanti-nantinya itu. Dia tersenyum, walau sesungguhnya senyum itu hanyalah membiaskan sebuah keputusasaan.

"Hampir tiga tahun aku selalu berdoa untuk dapat bertemu dengan kakek sakti yang kini kuketahui sebagai gurumu. Tetapi setelah kini bertemu denganmu, harapanku untuk dapat menghentikan sepak terjang murid dan guru keparat itu kuletakkan di pundakmu. Mereka harus dihentikan, andai tidak...!"

"Jika tidak mengapa orang tua?" desak Pendekar Hina Kelana, ketika secara tiba-tiba Mambang Sadewa menghentikan ucapannya.

Yang ditanya nampak tercenung, sepasang matanya yang redup memandang hampa pada hamparan pasir yang memutih di pantai.

"Jika tidak, dalam waktu lima tahun di muka, kaum persilatan golongan lurus akan musnah dari tanah leluhur ini. Lebih dari itu teror berkepanjangan tak akan ada akhirnya...!;;"

"Menghadapi anda saja aku sudah hampir kojor! Bagaimana mungkin kau menaruh harapan itu padaku...?" "Engkau tak perlu merendah dan merasa sungkan, seratus tahun yang lalu gurumu si Bangkotan Koreng Seribu pernah membuat gempar di mana-mana. Aku berharap engkau pun mampu mengikuti jejak gurumu...!" katanya penuh pengharapan. Sungguh pun Buang Sengketa merasa kurang senang dengan sanjungan sanjungan yang terasa sangat berlebihan. Tetapi untuk menolak dia tiada berani. Apalagi  Mambang Sadewa pernah kenal  dengan

gurunya. Maka kemudian pemuda itu pun memutuskan! "Baiklah kalau hal itu memang kehendakmu, tetapi

jangan kau berharap terlalu banyak andai nanti aku mengecewakanmu...!"

Mendengar keputusan Pendekar Hina Kelana, legalah hati Mambang Sadewa, cepat-cepat laki-laki bertangan buntung itu menjura beberapa kali.

"Aku merasa sangat bahagia sekali, andai mati pun aku hari ini, aku sudah tidak penasaran lagi." Ucapnya tersenyum puas.

"Apa-apaan kau orang tua! Seharusnya akulah yang menghormat padamu,..!" berkata begitu Buang Sengketa melakukan hal yang sama. Tetapi begitu dia kembali pada keadaannya, Mambang Sadewa telah lenyap dari hadapannya.

"Sialan! Aku sampai lupa menanyakan Kayu Agung itu adanya di mana." gerutunya dalam hati. Tak lama kemudian tanpa menoleh-noleh lagi dia pun cepat-cepat berlalu dari pantai Tanjung Kait.

Dusun Embacang adalah merupakan sebuah desa yang tanahnya sangat subur, karena dusun tersebut terletak di dataran rendah dan hampir tak pernah mengalami musim kemarau. Maka hampir semua penduduk yang berdiam di sekitar dusun itu hidup dari hasil bercocok tanam.

Sungguh pun daerah itu termasuk berpenduduk sangat pandai, namun sebetulnya yang memimpin desa tersebut sesungguhnya adalah seorang perempuan yang bernama Dwi Sumirah. Hampir sepuluh tahun lebih perempuan itu mengatur kehidupan masyarakat dusunnya. Selama itu Dusun Embacang terkenal sangat aman tentram. Tak seorang pun mereka-mereka yang berasal dari luar daerah berani mengusik kehidupan penduduk, sebab kepala dusun mereka, yaitu Dwi Sumirah adalah bekas seorang tokoh persilatan yang dulunya sangat disegani baik oleh pihak kawan maupun lawan. Padahal saat itu Dwi Sumirah yang sangat cantik itu, sesungguhnya sudah berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Dalam umur yang sudah lebih dari setengah perjalanan hidup itu, dia masih tetap sendiri, belum pernah menikah apalagi punya anak. Konon semua itu ada pengaruhnya dengan ilmu sakti yang sangat diyakininya. Sungguh pun karena demi sebuah keyakinan dia harus mengorbankan masa depannya tetapi tampaknya dia. tidak pernah menyesali hal-hal yang telah dan akan terjadi Selama ini perhatian hidupnya selalu tercurah untuk? kepentingan masyarakat banyak. Tak heran kalau semua penduduk menaruh hormat dan sayang padanya. Demikianlah kehidupan di nusa damai itu terus berlanjut tahun berganti tahun. Tetapi kini suasana kehidupan di Dusun Embacang sudah agak berubah. Setiap orang bisa saja saling curiga mencurigai. Setiap malam penjagaan harus selalu diperketat. Tetapi saat-saat seperti itu pula, anak-anak perempuan penduduk tersebut hilang raib tak tentu rimbanya.

Hal ini sudah barang tentu membuat kecut hati penduduk, dan yang paling pusing memikirkan kejadian yang sangat aneh namun menyeramkan adalah Dwi Sumirah. Yaitu orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan penduduk Dusun Embacang. Sudah berhari-hari dia secara langsung ikut melakukan pengintaian, namun sampai sejauh itu masih belum ada tanda-tanda ditemukan siapa adanya para pelaku penculikan perempuanperempuan tersebut.

Geram bercampur rasa penasaran berbaur menjadi satu, hingga Dwi Sumirah akhirnya memutuskan untuk melakukan pencarian. Dengan dibantu oleh beberapa penduduk desa, pergilah Dwi Sumirah dan orang-orangnya menuju ke suatu tempat yang bernama Kayu Agung. Hutan tersebut terletak sangat jauh dari Dusun Embacang, tetapi dengan menunggang kuda. Paling mereka akan sampai ke sana sekitar dua atau tiga hari lagi.

Demikianlah setelah melakukan perjalanan seperti yang di rencanakan, tiga hari kemudian kelima orang anggota rombongan kepala Dusun Embacang yang dipimpin langsung oleh Dwi Sumirah, sudah mulai memasuki wilayah Kayu Agung. Suasana di sekitar hutan bakau itu terasa sunyi sepi, begitupun Dwi Sumirah menyadari bahwa sesungguhnya daerah itu merupakan sebuah tempat angker dan tidak aman. Tak ayal lagi perempuan cantik pemimpin dusun itupun segera memberi tanda-tanda pada anak buahnya.

"Tampaknya apa yang saudara-saudara laporkan padaku beberapa hari yang lalu, sudah mendekati kebenaran. Ada jejak-jejak manusia di sini!" ujar Dwi Sumirah, seraya memperhatikan bekas tapak-tapak kaki yang menghampar di atas tanah setengah berlumpur. Melihat bekas jejak-jejak tersebut, Dwi Sumirah dapat menyimpulkan bahwa mereka itu terdiri dari laki-laki perempuan. Mungkinkah di hutan yang sunyi itu ada penduduk yang bermukim di sana. Tetapi menurut keterangan, orangorang kepercayaan Dwi Sumirah, dalam melacak hilangnya gadis-gadis Dusun Embacang orang-orang kepercayaannya melihat beberapa orang yang melakukan penculikan itu lenyap di sekitar tempat ini. Dalam suasana seperti itu tiba-tiba salah seorang diantara orang suruhan Dwi Sumirah berseru. Hal itu sudah barang tentu membuat yang lainnya menjadi terkejut. Lalu tanpa buang-buang waktu lagi langsung memburu ke arah laki-laki yang sedang berteriak-teriak itu.

"Ada apa Atmojo...?" tanya Dwi Sumirah terheran-

heran.

"Lihatlah Ketua Dwi... bukankah pakaian ini milik

adikku, Canting...!" ucapnya dengan harap-harap cemas, "Tidak salahkah apa yang kau lihat...?" tanya Dwi

Sumirah sambil meneliti pakaian yang sudah dipenuhi dengan noda darah itu. "Tidak, Ketua Dwi...! Beberapa hari yang lalu, aku melihat adikku berpakaian seperti ini, bahkan sebelum tidur aku sempat melihatnya!" seru Atmojo merasa begitu yakin.

"Berarti telah terjadi sesuatu dengan adikmu!" ucap Dwi Sumirah merasa tak enak saja.

"Apa maksudmu Ketua Dwi?! Apakah adikku Canting sudah tak dapat diselamatkan lagi?" tanya Atmojo gusar. Ditanya seperti itu Dwi Sumirah nampak menarik napas pendek.

* * *

4

Berdoalah kita untuk keselamatannya. Semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja!"

"Tetapi pakaiannya ini, Ketua Dwi... pasti telah terjadi sesuatu dengannya...!" ujar Atmojo nampak semakin bertambah gusar.

"Adikmu tidak sendirian, Atmojo...? Masih banyak penduduk dan gadis-gadis lain yang mengalami nasib sama seperti Canting adikmu. Atau mungkin bukan perempuan-perempuan di dusun kita saja yang mereka culik, desa lain mungkin pula menjadi korban. Sekarang kita sudah mendekati sarang mereka. Kalian tahu bahwa kita harus bertindak hati-hati. "Mungkin kita hendak meluruk ke sarang mereka"?" tanya seorang lainnya yang bernama Samino.

"Nampaknya sangat berbahaya sekali, Ketua Dwi...?" Anak buah Dwi Sumirah ikut menimpali.

Perempuan kepala dusun itu angguk-anggukkan kepalanya, dalam hatinya dia menduga bahwa siapapun adanya para penculik itu, yang pasti memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Tetapi sesaat kemudian dia telah memutuskan.

"Baiknya kita tinggalkan kuda kita di sini, hutan bakau yang sangat rapat ini tak mungkin dapat dilalui kuda-kuda kita...!"

Kemudian tanpa banyak membantah keempat orang anak buah Dwi Sumirah segera menambatkan kuda mereka.

Perjalanan dilanjutkan mereka lalui dengan hanya berjalan kaki saja, tetapi tak semudah apa yang dibayangkan oleh para anak buah Dwi Sumirah. Hutan bakau yang mereka lalui itu ternyata sangat rapat sekali, bahkan hampir-hampir tak bersela. Belum lagi menghadapi ancaman ular-ular bakau yang berwarna hijau. Mana lagi jumlah mereka sangat banyak sekali.

Keadaan itu membuat perjalanan yang mereka tempuh menjadi terasap sangat lambat. Melewati satu parit di depan, perjalanan yang mereka tempuh semakin bertambah sulit saja. Apalagi sepanjang jalan yang mereka lalui, semuanya hanyalah terdiri dari tanah becek dan berlumpur. Ini benar-benar membuat anak buah Dwi Sumirah merasa sangat Capai. Masih untung keempat orang anak buahnya di samping memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, juga punya daya tahan yang sangat tinggi.

Masih dengan sikapnya, mereka terus melangkahkan kaki. Sementara di tangan mereka tergenggam senjatanya masing-masing. Kewaspadaan itu benar-benar harus mereka perhatikan, demi menghindari terpatuknya ular bakau yang ganas dan mematikan.

Namun baru tombak di depan mereka mengayunkan langkah, mendadak Atmojo. Yang berada di bagian paling depan nampak terpekik.

"Astaga naga belekan! Eeeeh, Ketua.... lihatlah ularular itu!" pekiknya.

Lalu Atmojo menunjuk satu tempat tidak begitu jauh di depan mereka. Maka tampaklah pemandangan yang sangat menjijikkan ratusan bahkan ribuan ular hijau melilit-lilit dan bergelantungan di sebuah dahan yang. sangat rendah. Tak dapat dibayangkan betapa ular yang saling melilit sesamanya, tak ubahnya. bagai sekumpulan cacing merah, yang sangat banyak.

"Hati-hatilah.... nampaknya ular-ular bakau itu tidak menyukai kehadiran kita...!"

Kepala dusun Embacang itu mencoba mengingatkan keempat anak buahnya.

"Ketua! Ular itu bubar dari kawannya... mereka bergerak ke arah kita! Bagaimana ini Ketua...?"

Mengetahui ular-ular bakau itu bergerak dari kawanannya dan nampak meluruk ke arah mereka, Samino nampak lebih kecut lagi. Bahkan dia sampai tersurut beberapa tindak. Ular-ular bakau yang berwarna hijau itu terus mendesis-desis merangsek dan langsung menyerang kelima orang itu.

"Putar senjata kalian dan babat saja kepalanya...!" teriak Dwi Sumirah memberi perintah pada seluruh anggotanya. Maka begitu mendengar aba-aba dari ketua mereka, keempat orang itu secara serentak menerjang maju. Lalu dalam sekejap saja tempat itu mendadak berubah menjadi gegap gempita. Darah ular-ular yang hanya sebesar jempol kaki itu mulai nampak tercecer di mana-mana. Masingmasing orang sibuk berhadapan dengan ratusan kawanan ular, Sungguh pun kawanan ular bakau itu tidak seberapa besarnya, namun karena jumlahnya terlalu banyak dan bagai tak pernah habis-habisnya. Maka gebrakangebrakan selanjutnya, anak buah Dwi Sumirah mulai kehilangan banyak tenaga. Padahal kawanan ular bakau itu terus memburu mereka bagai tak pernah mengenal rasa jera.

"Ular-ular keparat...!" maki salah seorang di antara mereka sambil membabatkan pedangnya. Darah bersimbah di tanah becek berlumpur. Nampaknya seranganserangan ular bakau itu semakin bertambah ganas. Bau amis dan langu segera memenuhi sekitar tempat itu. Ketika sesaat kemudian dua orang anak buah Dwi Sumirah menjerit dalam waktu hampir bersamaan. Pemimpin Dusun Embacang nampak sangat terkejut sekali, apalagi hanya dalam sekejap kemudian tubuh kedua kawan mereka sudah berubah membiru dan langsung ambruk karena gigitan ular yang sangat berbisa itu.

Sambil terus berusaha mengelak dan menghindar Samono dan Atmojo berusaha mendekati kawannya yang sudah menjadi jadi mayat.. Tetapi usahanya itu nampaknya tidak membawa hasil. Satu ketika dari kerimbunan pohon nampak melesat tiga buah benda berwarna hijau. Saat itu Dwi Sumirah yang baru, saja membantai ular bakau yang menyerangnya masih sempat melihat berkelebatnya benda tersebut. Maka sambil berusaha menghindar, Dwi Sumirah berusaha memberi peringatan pada dua orang sisa anak buahnya.

"Samino... Atmojo... awaaaaas...!" teriak Dwi Sumirah pada kedua orang bawahannya. Tetapi nampaknya serangan senjata rahasia yang mempergunakan ular bakau itu datangnya malah lebih cepat dari pada peringatan itu sendiri. Tak ayal walaupun Samono dan Atmojo berusaha menghindari terjangan senjata tersebut, hasilnya tetap saja ular itu melekat tepat di leher kedua anak buah Dwi Sumirah.

Kedua orang itu nampak terbelalak kedua matanya sebentar, mereka masih tetap berusaha membebaskan diri dari ular yang sangat berbisa tersebut. Namun apa yang mereka usahakan nampaknya kalah cepat dengan reaksi bisa ular yang sangat cepat menjalar kemana-mana. Tubuh Samino dan Atmojo nampak gemetaran seketika lamanya. Lalu manakala tubuh itu secara cepat berubah membiru secara keseluruhan maka tak dapat dicegah lagi kedua orang itu pun ambruk keatas tanah berlumpur tanpa mampu bangun-bangun lagi.

Demi melihat semua kejadian itu mendidihlah darah Dwi Sumirah, dia nampak gusar sekali. Tak dapat dibayangkan Salam waktu hanya-sekejap saja para anggotanya tewas menjadi korban racun ular hijau. Dia menyadari bahwa sesungguhnya di tempat itu ada orang yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Tetapi yang membuatnya heran, mengapa orang itu tidak mau keluar dari tempat persembunyiannya.

"Setan bersembunyi, manusia pengecut yang telah membunuh orang-orangku, keluarlah! Aku kepala dusun Embacang selamanya paling benci pada orang-orang pengecut semacammu...!"  ,

Tiada terduga, kiranya tak begitu lama setelahnya terdengar sahutan!

"Hemmm, cuma kepala dusun apa hebatnya! Pula mau apa kau kelayapan sampai ke daerah Kayu Agung ini..?"

"Manusia pembunuh, tunjukkan tampangmu! Baru kita bicara...!" Dalam kemarahannya itu Dwi Sumirah membentak. Tetapi orang yang berada di balik kerimbunan pohon bakau itu sebaliknya malah tergelak-gelak.

"Tanpa menunjukkan tampang, engkau pun sudah dapat kulihat dari sini?" sahut orang yang berada di balik kerimbunan pohon seenak perutnya. Hal kiranya membuat Dwi Sumirah bertambah marah. Sesaat dia nampak termenung. Kemudian sambil mengerahkan hawa murninya, maka dia pun berkata.

“Manusia Setan, Kalau engkau tetap tidak mau keluar dari tempatmu, maka aku akan membongkar kedokmu...!" Tanpa basa basi lagi setelah ucapannya itu, maka Dwi Sumirah segera gerakkan tangan kanannya mengarah ke bagian yang rimbun dari pohon-pohon bakau yang terdapat tidak begitu jauh di samping kirinya.

"Wuuuus!" Satu kekuatan sinar berwarna pelangi nampak menderu sedemikian cepatnya meluruk ke arah tempat persembunyian orang itu.

"Krosaaak!"

Orang yang bersembunyi di balik pohon. tersebut nampak berkelebat menghindari pukulan yang dilepaskan oleh Dwi Sumirah. Pukulan yang dilepaskan oleh kepala dusun Embacang itu terus bergerak sedemikian cepatnya. Lalu tanpa ampun lagi melabrak kerimbunan pohon tadi. Ranting dan daun-daun hijau hancur berkeping-keping dilanda pukulan milik Dwi Sumirah yang bernama Pelangi Mengusir Bidadari.

Kini jelaslah sudah bahwa orang yang bersembunyi di balik pohon tak lain hanyalah merupakan seorang wanita berpakaian kulit beruang hitam. Sedangkan tangannya nampak menggenggam sebuah kipas berwarna kuning gading. Yang membuat heran dan ngeri Dwi Sumirah adalah sepasang mata perempuan itu. Setiap kali memandang sorot mata yang memancarkan cahaya yang aneh, bahkan Dwi Sumirah merasakan pandangan mata si perempuan berjubah kulit beruang hitam itu seolah bagai menggerayangi seluruh tubuhnya. Sesaat setelah puas memandang pada Dwi Sumirah, perempuan cantik namun punya wajah bengis itu nampak tersenyum penuh arti. Lalu di luar dugaan Dwi Sumirah dia pun mulai berkata kurang ajar.

"Ah...! Sungguh pun engkau sudah cukup berumur, tetapi kau benar-benar masih perawan tulen. Hmmm, sungguh hal ini satu keberuntungan bagiku. Dan guruku pasti sangat berterima kasih dengan apa yang kubawa...!" Memerah wajah Dwi Sumirah seketika itu juga, agaknya dia mulai tahu orang yang bagaimana kiranya perempuan yang sedang dia hadapi itu. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi dia pun membentak.

"Manusia iblis, kau bunuh orang-orangku tanpa sebab yang jelas. Agaknya engkaulah orang yang telah melakukan penculikan terhadap para gadis-gadis Desa Embacang.."

"Hi..., hi... hi...! Kalau Betul kau bisa apa, Ni Lurah. Pula orang-orangmu itu memang sudah selayaknya mampus. Asal kau tahu saja, bahwa ular-ular yang telah kalian bunuh itu merupakan ular hijau milikku”

"Sialan! Jadi benar apa yang mereka katakan padaku bahwa kiranya engkaulah yang telah menculik warga kami. Di mana mereka kau sekap, cepat kembalikan...!" perintah Dwi Sumirah.

Perempuan berkipas hanya tersenyum begitu mendengar perintah Dwi Sumirah. Lalu dengan nada mencemooh dia pun berucap:

"Seumur hidup, baru kali ini ada perempuan tengil berani memberi perintah pada salah seorang dari Sepasang Iblis Bermata Dewa. Kebisaan apakah yang engkau andalkan...?"

Sungguh pun Dwi Sumirah merupakan seorang kepala desa biasa, namun dulunya juga dia bekas seorang tokoh persilatan. Dan sudah barang tentu dia sangat mengenal nama yang sangat menggemparkan itu. Tak urung dia sempat dibuat terbelalak tak percaya. Tapi sungguh pun begitu dia masih berusaha menutupi rasa kagetnya. Sesaat setelah itu dia sudah membentak. "Huh, kiranya engkau salah seorang iblis bermata itu. Sayangnya kini semakin bertambah sesat saja! Bahkan kudengar Pri Kumala Hijau yang mempunyai julukan menakutkan Itu kini malah menjadi gundik guru sendiri. Bukan tak mungkin, gadis-gadis desa yang kau culik malah kau persembahkan pada manusia sesat bernama Setan Joma itu”

Pri Kumala Hijau tergelak-gelak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Dwi Sumirah! Dengan pandangan liar seperti sorot mata setan, perempuan itu kemudian menyela.

"Sungguh tajam matamu, semuanya tak ku pungkiri! Setelah. engkau mengetahui nama besarku, mengapa kau tak segera merangkak minta ampuh?" bentaknya.

Semakin bertambah gusar saja Dwi Sumirah melihat tingkah Pri Kumala Hijau. Sungguh pun dia menyadari bahwa dirinya tak mungkin bakal menang berhadapan dengan bekas pasangan Iblis Bermata Dewa. Namun untuk menyerah dan minta ampun, siapa yang sudi? Baginya mati malah lebih terhormat daripada harus bersekutu dengan sebangsa manusia sesat.

"Perempuan sundal manusia paling durhaka! Jangan kira aku sudi bertekuk lutut dibawah kakimu yang celaka itu. Siapa sih yang tak kenal pada manusia setan yang telah begitu tega membuntungi kedua tangan suami sendiri! “ Dwi Sumirah mencemooh.

* * * 5

Bukan main gusar, Pri Kumala Hijau demi mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan hatinya. Dia sangat geram sekali, membunuh kepala dusun yang telah menghina dirinya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit. Tetapi bila teringat gurunya yang sangat membutuhkan perempuan seperti Dwi Sumirah dia jadi ragu-ragu. Dwi Sumirah sungguh pun seorang perempuan yang sudah berusia lebih dari seperempat abad, namun masih perawan tulen. Perempuan seperti itu benar-benar sangat dibutuhkan oleh si Setan Joma. Dia jadi serba salah, sungguh pun di batinnya ada sedikit rasa cemburu. Tetapi akhirnya dia memutuskan untuk meringkus Dwi Sumirah dalam keadaan hidup-hidup.

"Hemm! Sungguh banyak kiranya yang kau ketahui tentang diriku. Tapi jangan kira aku akan membiarkanmu begitu saja.

“Aku harus membekukmu..:!" teriak Pri Kumala Hi-

jau.

"Bagus! Daripada engkau mendahuluiku, lebih baik

kupotes kepalamu!"

Seiring dengan ucapannya itu, Dwi Sumirah melolos senjatanya yang berupa sebilah pedang biru bermata ganda. Tanpa banyak cincong lagi orang itu pun segera menyerang Pri Kumala Hijau dengan jurus-jurus pedangnya yang sangat cepat laksana kilat.

Sambil berkelit menghindar, Pri Kumala Hijau be-

rucap: "Bagus sekali tindakanmu itu! Tapi jangan sebut aku Iblis Bermata Dewa, kalau sepuluh jurus di muka aku tak dapat meringkusmu...!"

"Haiiiiitt!"

Pri Kumala Hijau dengan teriakan tinggi melengking mulai membuka jurus-jurus permainan silatnya yang terkenal sangat aneh dan banyak variasi. Dalam waktu sekejap saja, terjadilah pertarungan sengit di hutan bakau yang sangat rapat itu. Masing-masing lawan nampak mengeluarkan jurus-jurus silat yang sangat tinggi. Tetapi sungguh pun Dwi Sumirah mempergunakan pedang bermata ganda bahkan dengan jurus pedang Cakaran Wallet Putih dia menyerang musuhnya. Namun sejauh itu dia masih belum mampu berbuat banyak.

Sementara itu Pri Kumala Hijau sudah tidak lagi hanya mengelak dan menangkis. Dengan mempergunakan jurus-jurus silat tangan kosong yang diberi nama Sepasang Iblis Menggila, dia mulai melancarkan seranganserangan balasan, ilmu silat tangan kosong yang dipergunakannya sangat tangguh sekali. Sepasang tangannya yang terkembang bagaikan cakar burung elang menghantam bagian sisi pertahanan lawan yang nampak lemah. Pada saat itu sepasang kakinya pun tidak tinggal diam. Berulang kali kaki kanannya melakukan sapuan ke arah kaki Dwi Sumirah yang agak terpentang.

Bukan main gusarnya kepala Dusun Embacang itu demi melihat kelihaian lawan. Lalu dengan diawali satu teriakan keras, tubuh Dwi Sumirah nampak melentik ke udara bagaikan seekor udang yang sedang berusaha menghindari sergapan-sergapan lawannya. Lalu ketika tubuhnya kembali menukik ke bawah jurus-jurus pedangnya sudah berubah sama sekali. Pedang bermata ganda di tangannya menderu bahkan membabat tangan musuhnya yang bergerak bagaikan cakar-cakar yang siap mencabikcabik wajahnya. Sementara gerakan kaki Pri Kumala Hijau tetap seperti semula, menyapu pinggang Dwi Sumirah di bagian bawah. Kepala dusun Embacang semakin lama semakin bertambah beringas. Lagi-lagi dia kirimkan satu tusukan satu babatan. Semua itu mengarah pada bagian leher dan dada lawannya. Pedang bermata ganda itu menderu cepat sehingga nampak hanya merupakan kilauan warna biru saja, Tetapi di luar dugaan, Pri Kumala Hijau yang tetap mempergunakan ilmu silat tangan kosong. Dengan nekad malah memapaki datangnya sambaran mata pedang yang sangat tajam. Begitu pedang di tangan Dwi Sumirah hampir mencapai sasarannya, maka dua jari Pri Kumala Hijau malah menyongsong.

"Traaak! Creep!"

Pedang itu bagai membentur batu cadas saja layaknya, bahkan yang lebih celaka lagi, pedang bermata ganda itu kini malah terjepit di sela-sela kedua jemari Pri Kumala Hijau. Perempuan bermata dewa itu nampak tersenyum sinis. Tangan tetap tidak berubah dari posisinya. Tinggallah Dwi Sumirah yang nampak sedang berusaha mati-matian unjuk membebaskan senjatanya dari jepitan kedua jemarinya. Tapi sungguh pun Dwi Sumirah telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, namun tetap saja pedang itu tidak bergerak dari jepitan jemari Pri kumala Hijau yang semakin bertambah mengeras. Begitu pun Dwi Sumirah tidak putus asa, dengan mempergunakan Pukulan Dewi Matahari, dipukulnya dada Pri Kumala Hijau berulang-ulang. Tapi tetap saja perempuan Iblis Bermata Dewa itu tiada bergeming. Sebaliknya perempuan itu malah tertawa panjang.

"Pukulan dari neraka sekalipun yang kau pergunakan untuk memukulku Tak satu pun yang mampu merobohkan aku...!" ejeknya. Lalu dengan satu gerakan yang tiada terduga-duga, tangan kiri Dwi Sumirah kena dipegangnya.

"Kepala dusun yang cantik, lihatlah mataku...!" perintah Pri Kumala Hijau. Bagai ada kekuatan gaib yang menuntun batin Dwi Sumirah, tanpa kuasa kepala dusun Embacang itu menurut. Kemudian ketika bola matanya beradu pandang dengan Pri Kumala Hijau, mendadak dia merasakan ada kekuatan magis yang memancar dari sepasang mata Pri Kumala Hijau. Sorot matanya yang memancarkan sinar kemerahan itu benar-benar membuat Dwi Sumirah tak mampu berbuat banyak. Tak lama kemudian, dengan kekuatan batinnya Pri Kumala Hijau memerintah:

"Pedang ini tiada guna! Sebaiknya dibuang saja!" "Ya dibuang saja!" Bersamaan dengan ucapannya

itu, maka Dwi Sumirah melepaskan pedang yang sejak tadi berusaha ditariknya.

"Katakanlah, engkau sudah mengantuk sekali! Lebih baik engkau tidur...!" Begitu Pri Kumala Hijau selesai dengan ucapannya, tiba-tiba Dwi Sumirah merasa sangat mengantuk luar biasa, Maka tanpa dapat dicegah lagi, mata kepala dusun Embacang .Secara perlahan mulai terpejam. Sampai pada akhirnya Dwi Sumirah terkulai di dalam dekapan Pri Kumala Hijau. Perempuan Iblis Bermata Dewa nampak tergelak-gelak. Lalu dipanggulnya tubuh Dwi Sumirah yang sudah tertidur pulas.

"Ajian Sirep Sukma! Mana ada duanya di dunia ini....!" kata perempuan itu. Lalu sambil memanggul tubuh Dwi Sumirah, maka dia pun cepat-cepat berlalu dari tempat itu.

* * *

Pagar Dewa kini hanya merupakan sebuah daerah angker tiada berpenghuni. Tak seorang pun ada orang yang berani melintasi daerah itu. Bekas sisa kehidupan memang pernah ada di sana. Di sebuah dataran tinggi, di situlah Sepasang Iblis Bermata Dewa pernah menetap di sana bersama dengan puluhan murid-muridnya. Tetapi kini, semua itu hanya tinggal merupakan puing-puing sebuah rumah yang nampak berserakan tiada berketentuan.

Dua tombak dari bekas rumah tersebut, nampaklah deretan beberapa puluh makam para murid Sepasang Iblis Bermata Dewa. Seperti diketahui, mereka tewas di tangan istri gurunya sendiri.

Sewaktu-waktu daerah itu nampak dikunjungi oleh seorang laki-laki bertangan buntung dan bermata redup. Terkadang berhari-hari laki-laki setengah sinting itu berada di sana, duduk berlama-lama di tengah-tengah kubur murid-muridnya. Seperti diketahui laki-laki bertangan buntung dan berompi merah ini, sesungguhnya bekas suami Pri Kumala Hijau. Setelah menjadi pecundang oleh istrinya sendiri perjalanan hidup selanjutnya menjadi tiada berketentuan. Sekali waktu dia bisa tergelak-gelak bagai orang gila, di lain saat dia menangis, melolong bagai anak kecil.

Mungkin karena dia merasa putus asa tidak berhasil mengajak istri yang sangat dicintainya itu kembali ke jalan yang lurus, atau mungkin pula dia merasa kecewa, karena istrinya kini telah menjadi budak iblis akibat ulah gurunya yang bernama si Setan Joma.

Pagi itu setelah pertemuannya dengan Buang Sengketa di Tanjung Kait, Laki-laki yang bernama Mambang Sadewa ini nampak kembali berada didaerah itu. Tetapi tidak terlihat sorot putus asa dimatanya. Sungguh pun matanya yang redup itu sewaktu-waktu dapat memancarkan sinar maut. Mungkin dia merasa begitu yakin bahwa Pendekar Hina Kelana mampu menggusur sepak terjang Pri Kumala Hijau dan gurunya. Begitupun kegairahan hidup nampak sudah sirna sama sekali dari jiwanya yang merasa amat terpukul.

Matahari di pagi itu nampak bersinar cerah, embun pun masih terasa segar menyesaki rongga dadanya. Sementara semilir angin yang berhembus demikian lembut sekali menyibakkan anak-anak rambutnya yang diikat dengan selembar kain berwarna kelabu, Laki-laki itu bersiul-siul kecil dengan irama yang tak beraturan, saat dia berlaku seperti itu, sepasang kakinya terus bergerak-gerak mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh menyemak di atas makam murid-muridnya. Sesaat dalam kesendiriannya itu, tiba-tiba dia bergumam:

"Murid-muridku! Sungguh pun kalian telah tiada, namun aku yakin kalau kalian masih mendengar apa yang kukatakan ini. Walaupun kematian kalian tiada mampu aku membalasnya. Tetapi kalian tak perlu gelisah. Setan Joma, ataupun bekas istriku Pri Kumala Hijau, dia takkan berumur panjang. Sepak terjangnya akan segera terhenti. Murid orang tua yang mulia yaitu Pendekar Hina Kelana, aku yakin Sanggup membasmi keangkara murkaan. Kalian tak usah bersedih melihat nasibku, karena jika kalian bersedih, maka aku akan menangis. Kalian pun tak usah menangis, sebab jika kalian menangis aku lebih baik mati saja. Sisa-sisa hidupku hanya terbuang sia-sia!" Dalam berkata seperti itu, Mambang Sadewa terus menggerakgerakkan kakinya mencabuti rumput-rumput liar itu. Sepintas lalu keadaan laki-laki itu sangat terasa menyedihkan. Saat itu tanpa sepengetahuan Mambang Sadewa, nampak seorang gadis berselendang merah dan berusia sekitar delapan belas tahun, nampak melintas tidak begitu jauh dari tempat Mambang Sadewa. Mulanya gadis berwajah cantik dan berkulit kuning langsat itu hendak menanyakan sesuatu pada laki-laki berambut kelabu ini. Namun begitu dia mendengar suara siulan yang tak karuan juntrungannya, kemudian ditambah lagi dengan ucapanucapan si laki-laki si tangan buntung yang menyebutnyebut nama Pendekar Hina Kelana. Maka dia pun mencoba mencuri dengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, Sambil menunggu saat-saat yang baik gadis berselendang merah jitu menyelinap di balik sebuah batu besar. Dia dengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua aneh tersebut. Kemudian manakala Mambang Sadewa tidak lagi melanjutkan kata-katanya, maka gadis berselendang merah itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dan tanpa canggung-canggung lagi, gadis belia yang berotak cerdik ini melangkah menghampiri Mambang Sadewa yang sedang termangu-mangu dalam kesendiriannya.

Laki-laki bertangan buntung begitu menyadari ada langkah-langkah kaki mendekat ke arahnya nampak balikkan badan. Lalu dia pun bengong sendiri begitu melihat ada seorang gadis berselendang merah tahu-tahu sudah berada di depannya. Belum lagi ia angkat bicara, gadis berselendang merah dengan beraninya terus menyela:

"Kakek! Siapakah dan bagaimanakah rupanya Pendekar Hina Kelana yang baru saja kau sebut-sebut tadi...?" tanya gadis itu setelah sebelumnya menjura beberapa kali.

Mendapat pertanyaan yang tiada terduga bahkan dari seorang gadis yang belum pernah dikenal, membuat si Mambang Sadewa kerutkan kening. Kecurigaan pun kembali menyelimuti hatinya. Sesaat dipandanginya gadis berselendang merah ini dari ujung rambut sampai keujung kaki.

Dan tatapan si gadis yang bening dan lembut dari sikapnya yang sopan. Mambang Sadewa pun dapat menarik kesimpulan bahwa gadis itu sesungguhnya merupakan seorang-gadis yang jujur dan baik hati. Tapi di balik kelembutan itu, nampaknya seorang gadis itu juga mengalami penderitaan hidup yang mungkin tidak begitu beda dengan yang dialaminya.

"'Cah ayu! Siapakah engkau ini? Apa perlumu kau tanyakan Pendekar Hina Kelana?" tanya Mambang Sadewa menyelidik. Tanpa memperdulikan pertanyaan laki-laki bertangan buntung, gadis berselendang merah itu terus dalam pertanyaannya sendiri.

“Kek...katakanlah! Apakah orang itu menyandang sebuah periuk besar, wajahnya sangat tampan dan rambutnya dikuncir?" desak si gadis nampak tidak sabaran lagi.

Mambang Sadewa belalakkan kedua matanya. Seolah dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin gadis yang masih sangat muda itu bisa mengenali Pendekar Hina Kelana, atau mungkinkah gadis ini merupakan salah seorang kerabat pendekar itu? Tetapi hal itu sangat mustahil sekali mengingat Buang Sengketa sejak kecil sudah berada dalam asuhan si Bangkotan Koreng Seribu,

"Bocah, dari mana dan siapa engkau ini?'' tanya Mambang Sadewa merasa enggan dan sangsi untuk menjawab pertanyaan gadis berselendang merah.

* * *

6

" Jawablah dulu? pertanyaanku, Kek...!" ucap si gadis dengan nada memelas. Mambang Sadewa cepatcepat gelengkan kepalanya. “Tidak bisa, bukan aku yang memerlukanmu, tetapi engkau yang perlu aku." tukas Mambang Sadewa tegastegas.

Gadis berselendang merah nampak menarik napas. pendek. Ada rasa kesal di dalam hatinya, tetapi untuk membantah perintah orang yang sangat dibutuhkan keterangannya, rasanya tidak mungkin sekali. Keterangan itu baginya sangat perlu. Sembilan tahun dia sangat merindukan orang yang disebut-sebut oleh Mambang Sadewa. Dalam kerinduan itu dan demi orang yang sangat menarik simpatinya, dia selalu berusaha dengan tekun mempelajari jurus-jurus aneh peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat. Di lereng Kerinci, bahkan hanya dengan ditemani oleh bibinya.

Jurus-jurus tersebut dengan sangat sempurna berhasil dia kuasai, semua itu dia lakukan demi orang yang sangat dia kagumi. Buang Sengketa atau Pendekar Hina Kelana. Lalu siapakah gadis berselendang merah itu? Dialah Wanti Sarati, yang saat bertemu dengan Pendekar Hina Kelana baru berumur sembilan tahun. (Untuk lebih jelasnya silahkan anda ikuti judul Air Mata Di Sindang Darah). Demikianlah setelah berfikir-fikir sejenak, pada akhirnya gadis berselendang merah itupun menjawab:

"Kakek! Namaku Wanti Sarat, sengaja datang dari tempat yang jauh hanya ingin untuk bertemu dengan orang yang bernama Buang Sengketa…!”

Mambang Sadewa lebih terkejut begitu Wanti Sarati menyebut nama Pendekar Hina Kelana. Maka dia pun akhirnya menjadi maklum bahwa jelas-jelas gadis berselendang merah itu benar-benar mengenal Pendekar Hina Kelana.

Maka tanpa ragu-ragu lagi, Mambang Sadewa pun berucap,

"Aku yang tua dan buntung tangan ini bernama Mambang Sadewa! Kurasa orang yang kau tanyakan itu memang benar Pendekar Hina Kelana yang pernah kujumpa. Tapi ada hubungan apakah engkau dengan pendekar itu...?"

Kalau saja tidak merasa sungkan sudah barang tentu Wanti Sarati melonjak-lonjak kegirangan. Sebab dia merasa usahanya selama dua tahun mencari pendekar yang sangat dia kagumi itu kini telah membuahkan hasil.

Sesaat kemudian dengan pandangan matanya yang berbinar-binar dia pun berkata;

"Paman Buang Sengketa adalah orang yang pernah menyelamatkan aku, kepadanya aku berhutang nyawa. Setiap saat aku selalu merindukannya, dia pendekar sakti yang banyak membasmi kaum golongan sesat”.

Mambang Sadewa mengangguk-anggukkan kepa-

lanya.

“Benar, dia memang pendekar yang sangat meng-

gemparkan dunia persilatan. Apakah engkau ingin bertemu dengannya?" tanya laki berkumis dan berjanggut panjang itu pada Wanti Sarati.

"Dua tahun aku melakukan pengembaraan, semua itu adalah karena rasa rinduku ingin bertemu dengannya!" "Wanti... seperti yang kau lihat! Saat ini pendekar

itu tidak ada bersamaku!" ujar Mambang Sadewa. Wanti Sarati nampak sangat kecewa mendengar kata-kata kakek tua tersebut. Kiranya hal itu tidak luput dari perhatian Mambang Sadewa. Dengan diiringi sesungging senyum maka dia pun berkata:

"Tapi kau tak perlu berkecil hati, sebab setelah nanti menyelesaikan tugasnya, pendekar itu akan datang menemuiku!"

"Tugas? Tugas apa Kek...?" tanya Wanti Sarati he-

ran.

Kemudian secara singkat Mambang Sadewa mence-

ritakan apa yang sedang dikerjakan oleh Buang Sengketa, Wanti Sarati nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Nampaklah dia semakin bertambah kagum pada pendekar yang dirindukannya.

"Apakah kita tidak lebih baik menyongsongnya saja

Kek?”

Mambang Sadewa nampak mengerutkan alisnya,

sungguhpun dia setuju dengan yang dikatakan gadis berselendang merah ini, namun hatinya masih diliputi keragu-raguan, Sebab walau bagaimanapun jika mereka berdua bermaksud menemui Buang Sengketa, maka mau tak mau keduanya harus pergi ke daerah Kayu Agung, yaitu tempat bermukimnya Setan Joma dan bekas istrinya, Pri Kumala Hijau. Tetapi kalau hal itu dia lakukan, setidaktidaknya dia pasti bertemu dengan perempuan yang telah turun tangan jahat itu.

Padahal dia sudah berjanji untuk tidak berjumpa dengan Pri Kumala Hijau untuk selama-lamanya. Atau kalaupun terpaksa harus bertemu, setidak-tidaknya dia harus mampu membunuh orang yang telah membuatnya cacat seumur hidup. Tetapi dengan keadaannya yang seperti itu, mampukah dia berbuat banyak? Walaupun pada kenyataannya memang dia akui bahwa setelah peristiwa yang sangat memalukan itu kini dia berlatih bahkan menciptakan jurus-jurus silat si Tangan Buntung. Namun agaknya untuk dipergunakan menghadapi dua orang yang berkepandaian sangat luar biasa, hal itu terasa masih belum cukup.

Saat dia sedang berfikir begitu, Wanti Sarati yang sejak tadi memandangi Mambang Sadewa kembali membuyarkan lamunan manusia berambut kelabu itu.

“Kakek, kenapa diam? Apakah kau tidak setuju dengan yang aku usulkan tadi?” Tanya si gadis.

“Eee…anu… tentu aku setuju saja. Tetapi untuk bertemu dengan Pendekar Hina Kelana mau tak mau kita harus ke Kayu Agung!".

"Mengapa harus ke Kayu Agung...?"

Andai saja Mambang Sadewa memiliki tangan yang utuh. Tentu dia sudah garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Wanti Sarati yang. Kekanak-kanakan membutnya menjadi salah tingkah karena pertanyaan-pertanyaannya. Tapi dia pun maklum sesungguhnya Wanti Sarati merupakan gadis yang berpikiran cerdas.

"Kalau tidak mau ke Kayu Agung, lebih baik kita menunggu di sini saja sampai tua!" kata laki-laki bertangan buntung itu kemudian.

"Jangan, Kek...!"

"Kalau tak mau, bukankah ada baiknya kalau kita datangi sarangnya iblis itu!" "Aku kan bagaimana kakek saja, Kalau kakek putuskan kita pergi, maka aku akan ikut. Tetapi kalau kakek tidak ada niat pergi, maka aku pergi sendiri”.

"Weiii...bocah gendeng seenak perutmu saja kau ngomong” tukas laki-laki berambut kelabu itu. Sesaat setelahnya, maka tanpa banyak kata lagi Mambang Sadewa sudah berkelebat pergi dari tempat itu. Begitupun Wanti Sarati segera menyusulnya.

* * *

Dikelilingi dengan hutan bakau yang sangat luas, rumah bertonggak yang sangat besar dan berdiri di atas tanah berlumpur becek itu memberi kesan jorok dan angker. Dari dalamnya hampir setiap saat selalu terdengar rintihan dan erangan suara perempuan. Sedangkan bau yang menyebar dari rumah bertonggak itu, tak lebih merupakan bau amis dan bau tak sedap lainnya. Andai dilihat sepintas lalu, rumah hanya berpenghuni perempuanperempuan saja. Mereka ini terdiri dari gadis-gadis yang masih muda belia. Cantik dan menggiurkan. Puluhan gadis yang berada di dalam rumah besar tersebut, hampir keseluruhannya merupakan bekas korban nafsu si Setan Joma. Yaitu guru Pri Kumala Hijau. Raja dari segala raja ilmu sesat. Gadis-gadis itu hampir kesemuanya telah hilang mahkota nya. Milik mereka satu-satunya yang paling berharga karena direnggut oleh Setan Joma untuk memperkuat ilmu hitam yang sangat diyakininya.

Sungguh malang sekali nasib mereka, Karena mereka tak ubahnya bagai orang tolol. Sungguhpun tangan dan kaki mereka tidak dibelenggu. Namun mereka tidak mempunyai hasrat sama sekali untuk melarikan diri. Bahkan lebih dari itu gadis-gadis bertelanjang dada itu sudah tak dapat mengingat siapa diri mereka.

Agaknya ilmu Sirep Peteng Dedet yang telah dipergunakan oleh Setan Joma untuk inenguasai gadis-gadis itu, benar-benar telah mendarah daging. Sehingga bagai seekor kerbau dicucuk hidung gadis-gadis cantik yang berasal dari berbagai desa itu hanya mengikuti saja segala apa yang diperintahkan oleh si Setan Joma.

Sementara itu masih dalam rumah yang sama, nampaklah Pri Kumala Hijau dan gurunya sedang bercakap-cakap. Di dalam kamar itu pula Dwi Sumirah nampak terbaring di atas sebuah ranjang kayu yang berlapiskan jerami. Kepala dusun Embacang yang malang itu nampaknya masih pulas dari pengaruh sirep milik Pri Kumala Hijau.

"Purnama penuh beberapa jam lagi baru tiba, Guru... 1" ucap perempuan itu pada laki-laki gemuk berwajah menyeramkan dan hanya mengenakan cawat saja. Nampaklah mata guru setan itu berkeriap setelah mendengar perkataan murid tunggalnya.

Degup dada laki-laki gemuk yang bagian dadanya selalu menyebarkan bau amis itu pun semakin bertambah kencang. Sesekali matanya yang liar dan selalu belingsatan seperti setan itu pun memandangi ranjang kayu yang berukir tengkorak tempat dimana tubuh Dwi Sumirah diletakkan.

“Purnama penuh...!" sahut laki-laki bercawat itu seolah-olah bergumam pada dirinya sendiri. "Purnama penuh, adalah hidup yang paling berharga bagiku! Ilmu saktiku semakin bertambah menggunung. Sementara surga dunia juga aku reguk...!" kata Setan Joma tanpa malu-malu. Saat dia berkata begitu sorot matanya memandang pada Pri Kumala Hijau. Seolah-olah pandangan mata itu menggerayangi tubuh murid yang duduk bersila di depannya. Lalu setelah basahi bibirnya dengan lidahnya sendiri, maka dia pun menyambung:

"Engkau benar-benar murid yang sangat berbakti dan sangat. cerdik, Apa yang kau usahakan selama ini untukku dan untukku, belum ada yang mengecewakan hatiku, Mudah-mudahan kehadiran perempuan yang kau bawa itu benar-benar dapat menjadikan diriku semakin sempurna!" kata Setan Joma, sementara sepasang matanya tetap berputar-putar liar.

"Semua itu kulakukan hanya demi rasa terima kasihku padamu guru”.

"Betul, Lebih dari semua itu apapun yang kumiliki toh pada akhirnya akan kuturunkan padamu. Engkau akan menjadi pewaris tunggal dari ilmu sakti yang kumiliki...!" kata Guru manusia iblis itu pasti.

Pri Kumala Hijau nampak sangat gembira sekali begitu mendengar keputusan Setan Joma. Agaknya dia merasa bahwa usaha kerasnya selama ini demi membantu gurunya tidak sia-sia. Dan dia pun merasa bahwa pemberian itu rasanya sangat pantas dan wajar. Mengingat dia sendiri telah berkorban cukup banyak. Segala yang dia miliki telah dia berikan pada laki-laki gemuk bercawat itu. Rasa-rasanya sudah tiada yang tersisa. Dan sebagai hasil dari pengorbanannya itu dia telah mendapatkan ilmu sakti yang tiada ternilai harganya. Bahkan antara sadar dan tidak dia telah berhasil pula mengalahkan Mambang Sadewa suaminya sendiri. Dasar manusia yang sudah terlanjur sesat., apapun yang dia lakukan tetap saja merasa diri telah benar.

Sang waktu terus berjalan dengan cepat, tanpa terasa senja pun telah berganti malam, Suasana nampak samar dan remang-remang. Pintu besar yang terbuat dari anyaman daun rumbia telah ditutupkan. Nun diufuk Timur nampak semburat merah pertanda bulan purnama penuh akan segera tiba.

"Sebagaimana kebiasaannya tampaknya Pri Kumala Hijau telah begitu hafal dengan apa yang akan dikerjakan oleh gurunya.

Sesaat kemudian tanpa menunggu diperintah oleh gurunya, Pri Kumala Hijau segera berlalu dari kamar itu. Setelah menutupkan pintu kamar pribadi tersebut, maka perempuan murid manusia sesat itu segera bergegas ke luar dari rumah itu.

Sementara itu, di dalam kamarnya Setan Joma nampak sedang menghadap sebuah dupa. Di dalam dupa tersebut nampak setumpukan bara yang masih menyala. Sedangkan di tangan kanan Setan Joma, nampak tergenggam serpihan-serpihan kemenyan yang sudah siap untuk ditaburkan di atas bara itu.

Mulut laki-laki berwajah menyeramkan itu terus berkomat kamit, sesekali tangannya menaburkan serpihan kemenyan yang ada di dalam genggaman tangannya. Kini asap tipis mulai menyelimuti tubuh Setan Joma. Asap itu terus bergelung-gelung, meliuk kemudian berputar-putar disekitar Guru Iblis, yang hanya mengenakan cawat saja. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahi dan pipi laki-laki itu. Setelah beberapa saat kemudian maka terdengarlah mantra-mantra yang dibacanya.

“Hong Wiluheng”

“Aku   tahu asal usulmu, aku lihat kepulanganmu, roh adalah kehidupan,. Sedangkan jasad adalah rumah dari kehidupan itu sendiri. Aku tahu asal usulmu. Menurutlah apa yang aku perintahkan. Engkau kini menjadi budakku, seorang budak harus menurut keinginan majikan. Demi kesempurnaan ilmuku, demi tujuh penjuru mata angin. Hai roh pulan binti pulan. Aku meminta kehormatanmu dengan rela”

* * *

7

Selesai membaca mantra-mantra tersebut tubuh Guru Iblis tergetar-getar sesaat lamanya. Lalu sepasang matanya yang terpejam rapat-rapat itu secara perlahan membuka kembali. Namun kini sepasang mata Guru Iblis itu merona merah. Semakin lama bertambah semakin merah, kemudian manakala dia memandang suasana di sekitarnya. Mata itu memancarkan cahaya aneh menggidikkan. Sungguh posisi tubuh Guru Iblis masih tetap seperti semula. Namun pandangan matanya yang nanar dan memancarkan cahaya merah itu liar bagaikan orang yang sedang mencari-cari sesuatu yang sangat dibutuhkannya. Hanya dalam penerangan lampu minyak yang samarsamar, mata Guru Iblis itu menjelajah kesekeliling ruangan itu.

Dan manakala pandangan matanya membentur pada sesosok tubuh yang terbaring dengan posisi terlentang di atas ranjang kayu, maka pandangan matanya berhenti di sana. Mulut Guru Iblis berkomat kamit, lagi-lagi tangannya kembali menaburkan serbuk kemenyan pada tungku yang baranya sudah hampir mati. Keanehan kembali terjadi, bara yang tadinya hampir padam kini marak kembali. Tubuh Guru Iblis kembali tergetar, keringat semakin banyak bercucuran sehingga sekilas lalu tubuhnya nampak berkilat-kilat bagaikan patung lilin. Tak lama setelah itu, Guru Iblis alias si Setan Joma, segera berucap. Sungguh pun pelan, namun cukup membangkitkan kekuatan magis.

"Hei, pulan binti pulan, bangkitlah, Sesungguhnya engkau tidak mengantuk Cepat bangkit...!" Suara Guru Iblis bergemetaran dilanda gemuruh darahnya sendiri. Anehnya tubuh Dwi Sumirah yang tadinya tertidur pulas akibat pengaruh ilmu sirep milik Pri Kumala Hijau, kini secara perlahan mulai bangkit dari pembaringan. Kedua matanya pun sudah membuka kembali. Sesaat perempuan kepala dusun Embacang itu nampak celingukan bagai orang yang sedang kebingungan. Manakala pandangan matanya membentur sosok tubuh gemuk yang hanya mengenakan cawat saja. Tiba-tiba terasa ada hawa hangat yang turut serta mengalir dalam pembuluh darahnya. Lalu pandangan matanya berbinar-binar. Lalu desahandesahan kecil meluncur dari bibir Dwi Sumirah. Melihat usahanya yang telah nampak mendatangkan hasil sesungging senyum tipis segera menghiasi wajahnya. Maka perintah-perintah pun berlanjut.

"Turunlah kau dari atas ranjang itu...!!" perintah Guru Iblis masih dalam kekuatan gaibnya. Dwi Sumirah nampak turun dari atas ranjang kayu yang penuh berukiran tengkorak manusia.

“Mendekat ke mari...!" lanjut si Guru Iblis, seraya memandang pada Dwi Sumirah. Yang kini bergerak mendekat ke arahnya. Hanya dalam jarak setengah meter, Dwi Sumirah menghentikan langkahnya. Guru Iblis memandangi tubuh Dwi Sumirah untuk beberapa saat lamanya. Mulutnya kemudian berdecap-decap, lalu basahi bibirnya, Hanya dalam waktu tak sampai sepemakan sirih Guru Iblis kembali berkata seolah-olah seperti pada dirinya sendiri,

“Wilayah Kayu Agung ini sudah harus dipenuhi oleh budak-budak perempuan, aku berkuasa di atas mereka. Sementara kesaktianku tak seorang pun ada yang mampu menandinginya”. Bersamaan dengan ucapannya itu, tak lama kemudian Guru Iblis kembali menoleh pada Dwi Sumirah kemudian diapun melanjutkan ucapanucapannya kembali.

"Hei, manusia yang bernama Dwi Sumirah! Kini engkau sudah menjadi budakku, Mengertikah engkau?"

"Aku mengerti!" jawab Dwi Sumirah dengan tatapan mata hampa.

"Aku pangeranmu yang punya hak memperlakukanmu sesuka hatiku.."

"Ya...!" sahut kepala dusun Embacang itu. "Dan engkau wajib menuruti semua kehendakku, karena aku ini pangeranmu. Kau dengarkah apa yang kukatakan ini...?”

"Aku dengar, dan aku akan melakukannya...!" Dwi Sumirah yang sudah lupa pada diri sendiri itu menyahuti. Guru Iblis tergelak-gelak, selanjutnya dia kembali memerintah.

"Sekarang buka semua pakaianmu!" perintah lakilaki keparat itu dengan semangat yang menggebu-gebu. Sungguh luar biasa pengaruh gaib yang dimiliki oleh Guru Iblis itu. Karena sesuai dengan perintahnya, maka tak lama kemudian Dwi Sumirah segera menanggalkan pakaiannya.

"Tanggalkan semuanya...! perintah Guru Iblis sambil memperhatikan pemandangan yang terpampang setengah meter didepan hidungnya. Tak lama kemudian wanita Kepala Dusun Embacang itu menanggalkan pakaian terakhir miliknya. Tubuh Dwi Sumirah menebarkan bau harum yang  membuat Guru Iblis blingsatan.

"Ke marilah engkau dan duduk di pangkuanku.."? perintah laki-laki gemuk bercawat itu. Kemudian begitu tubuh Dwi Sumirah mendekati. dia langsung saja menyentakkan tangan Dwi Sumirah. Tak ayal lagi perempuan yang sudah berada dalam kekuasaan ilmu sirep milik Guru Iblis itu pun terjerembab di pangkuan laki-laki gemuk itu. Tangan manusia bangsat itu lalu meranjah ke segenap tubuh Dwi Sumirah yang tiada berpakaian. Perempuan itu hanya mampu merintih begitu tangan si Guru Iblis menggerayangi bagian-bagian tertentu. Tak lama setelah itu Guru Iblis segera membaringkan tubuh Dwi Sumirah di atas lantai yang beralas tikar pandan. Lampu minyak kelapa di dalam ruangan kamar pribadi itu mendadak menjadi padam. Guru Iblis sudah berada dalam posisinya, selanjutnya hanya erangan dan desahan-desahan kecil saja yang terdengar. Di dalam kamar suasana gelap gulita tubuh orang itu sudah bermandikan keringat. Sementara di luar langit menjadi redup, awan putih sesekali menutupi cahaya bulan sehingga suasana di atas bumi menjadi gelap seketika. Nun di kejauhan sana terdengar dengus babi hutan saling memperebutkan makanan. Sementara lolongan srigala hutan pun saling bersahutsahutan tiada henti-hentinya.

Setelah lebih kurang dua jam kemudian, tampaklah guru setan keluar meninggalkan kamar pribadinya. Di bibirnya. menyunggingkan senyum puas dan licik. Sementara di dalam kamar yang gelap gulita tubuh Dwi Sumirah nampak terbaring lemah tiada daya. Sepanjang malam perempuan kepala dusun Embacang itu tidak pernah istirahat karena harus melayani Guru Iblis yang bertenaga gila.

* * *

Tanjung Lubuk di pagi hari selalu menampakkan kesibukan yang luar biasa. Apalagi daerah itu merupakan tempat memasarkan hasil bumi bagi penduduk yang bermukim di sekitar tempat itu.

Tak heran kalau sepanjang hari Tanjung Lubuk merupakan sebuah tempat yang tak pernah sepi dari orang-orang yang berbelanja keperluan bahan pokok sehari-hari. Tidak jauh dari keramaian pasar itu, seorang kakek bertangan buntung dan mengenakan topi capil pelindung matahari, nampak sedang berjalan bersama seorang gadis cantik berkulit kuning langsat.

Kakek dan gadis itu nampak dengan tenang melangkahkan kakinya menuju sebuah warung yang terdekat dari tempat itu. Mereka tiada perduli pada orang-orang di sekitar pasar yang sejak tadi nampak memperhatikan si kakek buntung yang berjalan di sisi gadis itu.. Di mata mereka ada yang memandang iba pada kakek tersebut, ada yang mencemooh, bahkan ada pula yang merasa jijik.

Tak lama kemudian kedua orang itu pun sudah memasuki sebuah warung penjual makanan. Nampak ada beberapa pasang mata memandang pada mereka dengan perasaan tak senang ketika mereka memasuki warung tersebut. Namun sejauh itu kakek dan gadis yang tak lain merupakan Mambang Sadewa dan Wanti Sarati adanya, nampak masih dapat menahan diri.

Kedua orang itu akhirnya duduk saling berhadapan di salah sebuah bangku yang terletak di sudut ruangan warung itu.

Tak lama kemudian seorang pelayan warung tersebut nampak menghampiri mereka dengan perasaan enggan. Dan sudah barang tentu hal ini didalam perhatian Mambang Sadewa, yang nampak mulai tersinggung.

"Anda pesan apa, Ki...?" tanya pelayan itu ayalayalan.

Di luar dugaan kiranya Mambang Sadewa yang sesungguhnya berhati lembut kini nampak sudah tak sabaran. Lalu diinjaknya kaki pelayan yang berada di seberang mejanya. Laki-laki pelayan itu menjerit, namun ketakutan luar biasa. Masih dengan perasaan geram Mambang Sadewa berkata ketus.

"Pelayan sialan! Yang kubutuhkan sopan santun yang baik, di sini kami bukan mengemis di warungmu ini. Kalau aku mau. aku mampu beli seisi warungmu berikut kepalamu dan kepala majikanmu!" bentak Mambang Sadewa. Lalu tanpa terduga-duga dia merogoh sebuah kantong yang menggelantung di lehernya. Pemandangan ini sudah tentu membuat terbelalak kaget semua yang hadir di warung itu. Sebab Mambang Sadewa yang buntung kedua tangannya itu, ternyata dapat mengambil kantung yang berisi uang emas itu dengan mulutnya. Bahkan dengan gerakan sangat cepat dia sekaligus membuka kantung yang terikat tali tersebut. Dengan giginya pula dikeluarkannya beberapa keping uang emas. Setelah itu dia pun berseru pada pelayan itu.

"Kau lihatlah pelayan goblok, bukankah uangku lebih dari cukup kalau hanya untuk membeli warung milik majikanmu ini?" bentaknya, seraya melepaskan injakan kakinya di atas kaki si pelayan yang sudah meringis-ringis ketakutan.

"Ampun…ampun tuan! Maafkan kesalahanku, sekarang katakanlah apa yang ingin tuan pesan dari warungku ini...?" tanya si pelayan dengan sikap berubah sama sekali.

"Sialan! Kau suruh dulu aku marah, baru kemudian kau layani. Kalau tak ingat perutku sudah sangat lapar sekali. Warung ini pasti sudah kubakar...!" tukas Mambang Sadewa merasa sangat kesal sekali. "Sekali lagi maafkanlah kami, Tuan...!" "Sudahlah, cepat sana kau sediakan apa yang kami ingini...!" kata Mambang Sadewa. Lalu tanpa banyak kata lagi pelayan setengah baya itu pun segera meninggalkan mereka untuk menyediakan apa yang dipesan oleh kedua orang itu.

"Sedari tadi orang-orang itu memperhatikan kita melulu sih...!" Dalam suasana keramaian pengunjung. Tiba-tiba Wanti Sarati yang sejak tadi hanya diam saja kini ikut menyela.

Mambang Sadewa tersenyum saja mendengar ucapan gadis lugu dari lereng Kerinci itu

"Agaknya tikus-tikus karung itu begitu kagum melihat kecantikanmu, Wanti. Atau mungkin pula mereka merasa iba bahkan benci melihat keadaanku yang cacat ini...!"

"Ah, kakek mengapa, berkata begitu! Kalau berani macam-macam kita sikat saja mereka!" kata Wanti Sarati. Karena kata-kata itu diucapkan dengan suara keras, maka hal itu cukup menarik perhatian para pengunjung warung itu. Beberapa orang laki-laki yang duduk di sudut lainnya nampak memperhatikan Wanti Sarati dan Mambang Sadewa silih berganti. Dari pandangan mata mereka, nampak sekali kalau orang-orang itu tidak bersahabat sama sekali. Bahkan salah seorang di antara laki-laki itu, nampak mengedip-kedipkan matanya pada Wanti Sarati. Sehingga membuat wajah gadis itu berubah merah. Masih untung gadis itu merupakan seorang gadis yang sangat penyabar. Kalau tidak sudah barang tentu si laki-laki sudah kena didamprat oleh Wanti Sarati. Namun kiranya saat itu Mambang Sadewa juga sempat melihat ulah si laki-laki itu, sungguh pun setengah kesal melihat ulah laki-laki itu, namun dia nyeletuk juga.

"Agaknya laki-laki muka tikus itu suka padamu, Wanti...!"

Wanti Sarati nampak cemberut tanpa sadar dia pun berucap,

"Muka tikus itu. Heh, mana ada apa-apanya bila dibandingkan. dengan Paman Kelana...!"

"Agaknya engkau lebih kepincut pada pendekar yang telah menolongmu itu!" sindir Mambang Sadewa.

Wajah Wanti Sarati memerah seketika itu juga.

Kemudian buru-buru dia membantah.

"Kakek bisa-bisa saja, mana mungkin aku bisa menganggap lain Paman Kelana! Aku tahu bagaimana sifatnya terhadap wanita...!"

Tahulah Mambang Sadewa, bahwa gadis yang masih sangat belia itu sesungguhnya selain memendam rasa rindu kiranya juga menaruh perasaan pada pendekar yang sangat tampan itu. Untuk mendesak dan mencari tahu lebih lanjut rasanya dia kurang enak. Apalagi pada saat itu pelayan tadi sudah datang kembali dengan membawa pesanan mereka.

Untuk sesaat mereka saling terdiam. Sementara pelayan setengah tua Itu dengan rasa sungkan meletakkan makanan yang dipesan oleh Mambang Sadewa. Lalu setelah meletakkan makanan tersebut berucap:

"Silahkan, Tuan... kata laki-laki itu seraya cepatcepat menyingkir dari tempat itu.

* * * 8

Seperginya pelayan itu, Mambang Sadewa tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya terus menyantap hidangan yang mereka pesan, Wanti Sarati merasa iba melihat cara Mambang Sadewa menyantap makanan yang terletak di hadapannya. Sebab cara Mambang Sadewa memakan makanan tersebut tak ubahnya bagai seekor itik saja. Mula-mula dengan mempergunakan dagunya dia mendekatkan mangkuk yang berisi makanan berikut lauk pauknya. Setelah itu, wajahnya menunduk sehingga keberadaannya persis benar dengan mangkuk yang terletak didepannya! Lalu mulut dan bibirnya segera dia benamkan persis di dalam mangkuk tersebut. Namun sungguh pun begitu cepat sekali menghabiskan makanannya. Yang pasti semua tingkah dan keadaannya mengundang tawa semua yang hadir disitu. Terkecuali Wanti Sarati yang sejak tadi memandangi Mambang Sadewa dengan tatapan iba.

Bahkan tiga orang laki-laki muka tikus yang sejak tadi memperhatikan mereka, kini malah tergelak-gelak. Salah seorang di antara mereka lalu mencemooh.

"Ah rakus sekali kawan kita yang satu itu. Bagai satu bulan tak ketemu nasi. Lihatlah bagaimana dia. menyantap hidangan yang sesungguhnya sangat layak untuk dimakan oleh seekor anjing budukan...!"

"Engkau betul. Aku pun merasa kasihan, agaknya kita perlu menyuapinya dengan makanan bekas...!" menyela salah seorang laki-laki hitam berewokan sambil mengetuk-ngetukkan toyanya di atas meja. Meja itu nampak tergetar lalu amblas sebatas siku manakala laki-laki berewokan itu menekan meja tersebut.

Di lain pihak, baik Mambang Sadewa maupun Wanti Sarati nampak gusar sekali begitu mendengar ucapan tiga orang yang belum dikenalnya.

"Kakek tak usah turun, biarkan aku yang akan kasih pelajaran pada tiga ekor tikus cacingan itu!" kata Wanti Sarati, lalu dia pun segera menghampiri tiga laki-laki yang bertampang sangar tersebut. Laki-laki itu tergelak-gelak begitu melihat si gadis menghampiri mereka. Sesaat setelah berada di depan meja orang-orang itu Wanti Sarati berucap:

"Tiga ekor monyet. sialan! Kalian bilang apa tadi pada kakekku...?"

"Kawan! Perawan tingting ini berani sekali jual lagak di depan Tiga Begal Dari Tulung Seluang. Hemm, hukuman apa yang paling pantas untuk manusia secantik dia..,?' kata si Tinggi Kurus Muka Tikus Curut. Dua orang kawannya tergelak-gelak.

"Itu gampang. Kita potes dulu kakeknya yang bertangan buntung itu, setelah itu kita ringkus dia. Bukankah di pondok kita sangat dingin?"

"Nah, kita bisa bergilir menidurinya!" kata yang lainnya. Semakin bertambah gusar saja Wanti Sarati mendengar kata-kata yang bermaksud kurang ajar itu. Saat yang sama si kakek bertangan buntung nampak tenangtenang saja. Sebab sesungguhnya dia ingin mengetahui sampai di mana kehebatan gadis yang selalu merindukan kehadiran Pendekar Hina Kelana itu. Sementara itu, Wanti Sarati yang sudah tidak dapat menahan kesabarannya segera berseru

"Begal sialan manusia jadah! Agaknya mulut kalian perlu dihajar terlebih dulu!" bentak Wanti Sarati.

Belum lagi gadis itu selesai dengan ucapannya, dengan tangan terkepal dia langsung kirimkan satu serangan kilat.

Nampaknya ketiga orang itu memang belum pernah menduga sebelumnya, bahwa si gadis sesungguhnya memiliki kepandaian juga. Maka dengan sikap ayal-ayalan dia mencoba untuk menangkap tangan Wanti Sarati.

"Plaaak”

Laki-laki berwajah tikus curut itu menjerit tertahan begitu merasakan bagaikan remuk ketika berusaha memapaki sekaligus menangkap tinju si gadis. Orang itu terus merintih-rintih sambil memegangi tangannya yang membengkak dan berwarna kemerah-merahan.

Sementara dua orang lainnya, di samping terkejut juga sangat marah. Apalagi mengingat orang yang mempermalukan mereka hanyalah seorang gadis tanggung yang mereka sangka tiada apa-apanya.

Dalam waktu sekejap saja orang-orang yang berada di dalam warung itu segera menyingkir dari tempatnya.

Saat itu si Kulit Hitam Berewokan sudah berdiri dan langsung membentak si gadis!

“Bocah! Berani betul kau menyakiti kawan kami, tahukah kau bahwa si Tiga Begal Dari Tulung Seluang tak pernah bertindak setengah-setengah?"

Bagaimanapun Wanti Sarati adalah seorang gadis yang berpikiran cerdik, dia pun sudah tahu sampai dimana kemampuan ketiga orang itu. Maka tanpa banyak cingcong lagi dia pun kembali kirimkan satu pukulan keras. Pukulan yang dilancarkan oleh si gadis, terus menderu mengarah pada bagian dada laki-laki berewokan. Masih untung laki-laki itu kiranya sudah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan. Maka sambil berkelit dia pun kirimkan satu pukulan satu totokan.

"Plaaak! Deeeesss!"

Laki-laki berewokan itu terhuyung-huyung, kalau saja tidak ada meja di belakang yang menahan tubuhnya, sudah barang tentu dia terjengkang.

Sadarlah-laki-laki berewokan ini, bahwa gadis itu sesungguhnya memiliki ilmu silat dan pukulan tenaga dalam yang tangguh.

Kini tanpa sungkan-sungkan lagi, laki-laki berewokan dan dua orang lainnya segera mencabut senjata mereka yang berupa toya dan clurit.

Melihat gelagat yang tak baik, maka pelayan warung itu dengan suara gemetar nampak berucap;

"Tuan-tuan dan nona, janganlah berkelahi di dalam warungku. Modal kami kecil. Itu pun setelah menjual kambing yang cuma satu-satunya...." kata pemilik dan pelayan warung itu mengiba.

Dalam pada itu Mambang Sadewa sudah menyela. "Pelayan goblok, biarkan mereka pada bertarung di

dalam warung ini. Kau jangan takut! Kalau tiga begal tikus itu pada bokek, nanti biar aku yang mengganti segala kerusakan yang terjadi."

“Saat itu juga Mambang Sadewa dengan mulutnya segera melemparkan tiga kepingan emas. Uang tersebut langsung masuk ke dalam saku si pelayan. Bukan main girangnya pelayan itu begitu melihat tiga keping uang emas pemberian Mambang Sadewa.

"Apakah tiga keping emas itu sudah cukup?" tanya Mambang Sadewa, sambil melirik pada si pelayan dan Wanti Sarati.

"Oh Cukup sekali, andai tuan-tuan bakar sekalipun warungku ini kami bisa membangun dua buah yang lebih baik dari warung yang ada...." kata pelayan itu, seraya segera berlalu dari dalam warungnya.

Setelah pelayan itu menghilang di balik pintu belakang maka Mambang Sadewa kembali pada tiga begal dan Wanti Sarati.

"Tunggu apa lagi? Warung ini sudah kubayar, sudah lama aku tak pernah melihat pertempuran. Cepatcepatlah kalian bertarung!" perintah Mambang Sadewa. Tiga begal kertakkan rahang, orang-orang itu langsung mengurung Wanti Sarati. Maka sesaat kemudian ketiga orang langsung menyerang Wanti Sarati dengan senjata terhunus.

Dalam waktu sekejap saja pertarungan sengit pun segera terjadi. Si muka tikus dengan toya di tangannya cepat-cepat kirimkan serangan-serangan ganas. Toya di tangannya menderu laksana baling-baling. Mencecar ke bagian-bagian tubuh Wanti Sarati yang nampak lemah pertahanannya. Sementara dua orang lainnya dengan pedang tajam berkilat-kilat mencecar Wanti Sarati dari bagian belakang.

Sungguhpun mereka itu hanyalah sekawanan begal, namun nampaknya mereka memang sudah sangat berpengalaman dalam hal pertarungan seperti itu. Sungguh pun Wanti Sarati hanyalah merupakan seorang gadis yang sangat muda belia dan belum punya pengalaman banyak dalam hal pertarungan, tetapi dia merupakan pewaris tunggal dari Dua Belas Jurus Aneh peninggalan bekas-seorang tokoh sakti Padri Agung Sindang Darah. Gerakangerakan silatnya yang bervariasi dan menggambarkan sebagai orang yang putus asa dalam penyesalan. Tetapi selama itu belum satu pun senjata lawannya yang sampai menyentuh kulitnya. Jangankan lagi sampai melukainya,

Suatu saat bagai seekor udang yang menghindari sergapan seekor ikan buas, dengan begitu indahnya. Tubuh si gadis melentik ke atas, kemudian gadis itu berkelebat cepat, tangan kiri kanan kirimkan pukulan-pukulan maut saling susul menyusul, sementara kaki kiri menendang bagian selangkangan lawan-lawannya. Pada saat itu serangan toya dari laki-laki bermuka tikus menderu mengarah pada bagian punggungnya. Dan pada saat yang bersamaan pula, pedang di tangan si berewok membabat ke bagian tangan si gadis yang sudah terjulur melakukan satu pukulan.

Baik Mambang Sadewa dan para pengeroyok Wanti Sarati sudah menduga bahwa kali ini gadis itu pasti sudah tak mungkin lagi mengelakkan serangan ganas yang datangnya secara bersamaan itu.

Toya dan pedang di tangan lawan-lawannya terus menderu dan timbulkan suara bercuitan. Wanti Sarati sendiri sempat merasakan betapa sambaran angin senjata lawannya saja sudah membuat dadanya menjadi sesak luar biasa. Sungguh pun begitu dia tidak nampak menjadi gugup, dengan, cepat begitu senjata-senjata di tangan lawannya hampir mencapai sasarannya. Di luar dugaan lawan-lawannya, Wanti Sarati jatuhkan diri, lalu bergulingguling. Sementara kakinya menggunting kaki si berewok yang hampir saja bertubrukan sesamanya.

Jepitan kaki Wanti Sarati bukan main kuatnya, sehingga memaksa si berewok terbanting di atas lantai warung. Secepat kilat Wanti Sarati menarik kakinya. Kemudian tangan kanannya kirimkan satu sodokan yang sangat telak ke bagian kiri rusuk lawannya. Si berewok yang bersenjatakan pedang itu menjerit keras manakala tulang iganya patah dan timbulkan suara berderak.

Tanpa menghiraukan si berewok yang terus menggeliat-geliat, cepat-cepat si gadis bangkit. Sekali lagi tubuhnya berkelebat menyongsong serangan dua senjata lainnya yang berupa toya dan sebilah pedang.

"Pletok! Duuuk!"

Si Tinggi Muka Tikus berseru kaget, manakala putaran toyanya membentur tangan si gadis. Tangannya tergetar hebat. Saat itu pula senjata lain menderu kearah bagian bahu si gadis. Wanti Sarati menggeser tubuhnya sedikit kesamping. Dengan cepat dorongkan sebuah kursi kayu yang berada didepannya.

"Wuuus” "Braaak!"

Kursi dipergunakan oleh Wanti Sarati sebagai tameng pelindung hancur berkeping-keping dilanda ketajaman pedang di tangan lawannya. Dalam pada itu Mambang Sadewa yang sejak tadi memperhatikan pertarungan itu dengan terkagum-kagum, kini sudah berseru tidak sabar lagi;

"Wanti! Jangan kau beri hati begal-begal cacingan itu"! Cepat mampusi mereka...!" perintah Mambang Sadewa.

Begitu Wanti Sarati mendengar aba-aba dari Mambang Sadewa, saat itu juga dia cepat-cepat melolos Selendang Merah yang melilit pinggangnya.

Sesaat kemudian selendang di tangan si gadis melesat ke arah lawannya. Selendang itu berkelebat-kelebat. Menderu dan keluarkan suara mendesis bagai ribuan ekor ular.

Bertarung dengan tangan kosong saja membuat tiga begal itu kalang kabut, bahkan salah seorang di antara mereka telah kena dipatahkan tulang rusuknya. Apalagi kini si gadis sudah mempergunakan selendangnya, Yang juga merupakan kelanjutan dari dua belas jurus silat aneh peninggalan Padri Agung Sindang Darah.

Tak dapat dihindari lagi pertarungan menjadi semakin sengit. Perabotan di dalam warung itu porak poranda dilanda lecutan-lecutan selendang di tangan Wanti Sarati.

Si tiga begal menjadi semakin kerepotan, matimatian mereka mempertahankan diri dari gempurangempuran selendang yang sangat mematikan itu.

Satu ketika salah seorang dari mereka yang bersenjatakan pedang berteriak keras, tubuhnya melesat sedemikian cepatnya. Dia bermaksud menerkam si gadis. Untuk kemudian kirimkan satu tusukan ke bagian leher lawannya. Namun baru tiga meter tubuhnya melayang, Selendang Merah di tangan Wanti Sarati sudah memapakinya.

* * *

9

Ujung selendang itu melecut tepat di wajah si tinggi berewokan, laki-laki bertampang sadis ini pun menjerit, wajahnya hancur. Tidak kepalang tanggung lagi. Si gadis kirimkan satu pukulan lagi. Pedang di tangan orang itu terpental. Suara raungan kembali terdengar. Bersamaan dengan itu tubuh laki-laki itu terlempar. Tubuhnya menabrak dinding warung yang terbuat dari anyaman lepas. Dinding tersebut hancur berantakan manakala tubuh si laki-laki berewokan menabraknya. Begitu tubuh si berewok terjengkang di luar warung. Sekejap salah seorang dari tiga begal itu menggeliat-geliat. Wajahnya yang hancur, dan dadanya yang remuk dilanda senjata lawannya terus mengalirkan darah kental. Kemudian setelah berkejatkejat. Laki-laki berewokan itu pun meregang ajal, selanjutnya dia diam untuk selamanya.

Kini tinggallah laki-laki muka tikus bersenjata toya, dan si laki-laki berewokan lainnya yang sudah patah tulang rusuknya.

Mengetahui kawan mereka tewas di tangan si gadis, dengan kemarahan yang meluap-luap dan tanpa basa basi lagi, dua orang ini dengan sangat nekat sekali kembali menggempur si gadis dengan serangan-serangan yang lebih dahsyat. Dengan mempergunakan jurus-jurus Pedang Menyebar Maut. Nampaknya kini serangan-serangan senjata mereka berubah sama sekali.

Gerakan mereka dalam menempur lawannya nampak semakin cepat, pedang maupun toya di tangan menderu dan mencecar tubuh Wanti Sarati tanpa putusputusnya.

Dalam menghadapi serangan-serangan yang sedemikian cepatnya, Wanti Sarati terpaksa harus mempergunakan jurus silat aneh tingkat kedelapan. Sesaat si gadis bergerak lamban, bagai orang pikun yang sudah tidak tahu lagi mana kawan mana lawan, di lain waktu bagaikan orang kesurupan tubuhnya melabrak apa saja yang ada di sekitarnya. Kemudian berlanjut lagi? Si gadis berteriakteriak bagai orang yang kurang waras, sungguh nya inilah yang merupakan salah satu unsur pengembangan jurusjurus aneh warisan Padri Agung Sindang Darah. Sebab tak lama setelah teriakanteriakan itu. Tubuh Wanti Sarati sudah berkelebat lenyap, hal ini benar-benar membuat bingung lawan-lawannya.

Bahkan salah seorang di antara lawannya sampai keluarkan seruan tertahan!

"Ilmu iblissss!" "Bet. Wuuut!"

Secara ayal-ayalan, salah seorang di antara mereka membabatkan senjatanya. Namun pada saat itulah Selendang Merah di tangan Wanti Sarati melecut!

"Breeessss!" Bagai seekor anjing yang kena gebuk laki-laki berewokan yang sudah patah tulang rusuknya itu melolong.

Bagian punggung laki-laki itu terobek sejengkal. Darah mengucur dari luka akibat sambaran selendang yang sangat ganas. Laki-laki itu nampak terhuyunghuyung. Namun sebelum kawannya sempat berbuat banyak, laksana kilat selendang di tangan Wanti Sarati kembali melecut ke bagian perutnya.

"Breeeet!"

Si begal yang bersenjatakan pedang itu nampak terlolong kedua tangannya! menekap pada bagian perutnya yang terburai. Darah menyembur dari sela-sela ususnya yang berserabutan keluar.

Laki-laki itu nampak pucat pasi. Begitu dia berusaha menindakkan langkahnya. Laki-laki itu terhuyung, kemudian tanpa ampun tubuhnya tersungkur. Tiada erangan maut yang terdengar, tanpa dapat dicegah lagi orang itu pun tewas secara menyedihkan.

Kini tinggallah laki-laki bertoya muka tikus. Mengetahui kembrat-kembratnya tewas secara mengerikan, nyalinya menjadi ciut. Dia mulai menoleh kanan kiri. Tetapi agaknya Wanti Sarati sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh sisa si tiga begal. Maka cepat-cepat dia pun membentak;

"Tiga begal tiada guna! Engkau hendak coba-coba kabur dari maut? Hemm! Enak betul, setelah menghina kakekku, setelah kawan-kawanmu pada mampus. Hi... hi... hi....! Kau boleh pergi, asalkan kau tinggalkan kepalamu di warung ini!" tukas Wanti Sarati dengan sesungging senyum mengejek. "Perempuan bangsat! Aku akan mengadu jiwa denganmu...!" Wanti Sarati kembali tergelak-gelak.

"Bukankah tadi kau bermaksud untuk meniduriku? Hmm. Setelah kau tinggal sendirian, aku mau kau bawa ke mana pun engkau suka. Asalkan engkau bisa mengalahkan aku!" menyela gadis itu. Walau sesungguhnya hatinya memaki dan menanam rasa benci pada si muka tikus.

"Wanti! Sikat saja. Bicara dengan tikus begal cacingan hanya menambah umurnya beberapa saat!" Mambang Sadewa merasa kurang sabar melihat kekonyolan gadis yang sangat baik hati itu. Tanpa berpaling dari lawannya, Wanti Sarati kembali membentak;

"Kakekku bilang supaya aku cepat-cepat membunuhmu. Cepat-cepatlah kau bela dirimu. Kalau sudah masuk ke liang kubur menyesal pun tiada guna!"

"Perempuan iblis, makanlah toyaku. Hiaaat...!" Agaknya setelah kematian kawan-kawannya, laki-laki muka tikus itu sudah tak punya pilihan lain. Maka akhirnya dia pun menjadi nekad. Tak ayal lagi, akhirnya dengan segenap kemampuannya laki-laki bertoya itu segera mengerahkan segenap kemampuannya. Toya di tangan kembali menderu, sebisa-bisanya dia berusaha mencecar lawan. Dalam amarah yang meledak-ledak, tidak lagi terpikirkan akan keselamatan diri sendiri. Namun betapa pun hebatnya serangan gencar yang dia lakukan sejauh itu Wanti Sarati nampak tenang-tenang saja.

Maju bareng bertiga, si muka tikus tidak dapat berbuat banyak. Apalagi kini hanya sendirian. Tanpa membuang-buang waktu lagi si gadis kembali lecutkan selendangnya. Begitu selendang maut meliuk-liuk ke arah si muka tikus, dia cepat-cepat pukulkan toyanya. Tak pelak lagi, selendang dan toya itu pun bertemu. Tetapi sungguh pun lecutan selendang itu dapat dipatahkan oleh toya lawannya. Di luar dugaan Selendang Merah itu melibat toya tersebut. Tarik menarik pun segera menjadi. Dengan sepenuh tenaga, si muka tikus berusaha mempertahankan senjatanya. Tetapi kiranya tenaga dalam di muka tikus tertaut jauh di bawah tenaga dalam milik Wanti Sarati.

"Breeet!"

Toya di tangan laki-laki muka tikus terenggut. Kalau saja laki-laki itu tidak cepat-cepat melepaskan cekalannya. Sudah barang pasti tubuhnya pun akan terbetot. Wanti Sarati tergelak-gelak, tangan kirinya menimangnimang toya lawan yang kini telah berada dalam genggamannya.

"Hemmm! Toya butut begini apa bagusnya? kukembalikan saja pada pemiliknya!" Berkata begitu, Wanti Sarati langsung menyambitkan toya tersebut kearah lakilaki muka tikus. Sisa tiga begal itu terkejut sekali, karena toya yang disambitkan oleh lawannya meluncur sedemikian cepat kepadanya. Buru-buru dia mengelak, begitupun sambaran angin dari luncuran senjata itu membuat pakaiannya berkibar-kibar.

"Wuuusss!"

Serangan selendang lawan menyusul luncuran toya yang dapat dielakkan oleh lawannya. Si muka tikus menjadi gugup mendapat serangan yang beruntun itu. Dia langsung membuang tubuhnya, lalu berguling-guling menabrak apa saja yang ada di ruangan itu. Namun selendang di tangan Wanti Sarati terus mengejarnya. Agaknya laki-laki itu mulai putus asa. Secepatnya dia bangkit, tetapi malang tak bisa ditolak. Selendang maut itu menghantam keras pada bagian lehernya.

"Argggkh...!" Hanya suara itu yang terdengar, leher laki-laki muka tikus terobek sampai ke bagian pangkalnya. Bagai mata air darah memancar mengikuti irama dengan denyut jantung. Nanar pandangan mata laki-laki itu. Pandangan matanya semakin lama semakin meredup. Tubuh laki-laki itu kemudian berputar-putar, lalu limbung karena kehilangan keseimbangan. Tak lama setelahnya, dia pun terbanting roboh. Pakaiannya berubah memerah karena dibasahi darah. Hanya sesaat saja setelah itu, tubuhnya pun tiada bergerak-gerak lagi.

Dengan tewasnya si tiga begal, maka Wanti Sarati kembali melilitkan selendang miliknya. Nampak Mambang Sadewa memuji-muji dirinya dengan penuh kekaguman. Kemudian tanpa sadar dia pun bergumam seolah pada dirinya sendiri.

"Hebat. Jurus-jurus silat aneh bahkan belum pernah kukenal, selendang bagus, Selendang Merah, yang kiranya merupakan senjata ampuh. Aha... gadis... cah ayu! Siapakah gurumu...?" tanya Mambang Sadewa.

Yang ditanya nampak tersipu malu, wajahnya merona merah. Kemudian setelah kembali duduk di sisi Mambang Sadewa, setelah dia memandangi seisi warung yang sudah berantakan. Maka dengan suara merendah dia berucap; "Kakek terlalu berlebihan, aku tidak ada apaapanya bila dibandingkan dengan kakek, apalagi dengan Paman Kelana….!" ucapnya pelan.

"Ah.... ah...! Cah bagus. Selain kepandaianmu tinggi, kiranya sifatmu sangat jujur dan mulia. Sungguh beruntung sekali orang yang dapat memperistrimu. Di jaman ini sangat jarang sekali gadis yang memiliki keluhuran budi sepertimu...!" kata Mambang Sadewa polos.

Maka semakin bertambah memerah saja wajah Wanti Sarati dibuatnya. Sungguh pun dia seorang gadis yang selalu bicara apa adanya. Namun sebagaimana gadisgadis pada umumnya berbicara mengenai masalah yang sangat pribadi sifatnya sudah barang tentu membuatnya jadi salah tingkah.

"Kakek, janganlah kakek memujiku setinggi langit.

Nanti cucumu ini bisa besar kepala...!"

Mambang Sadewa tergelak-gelak. Apalagi Wanti Sarati berkata dengan penuh keakraban. Keakraban seorang cucu dengan kakeknya. Sungguh pun jelas bahwa Wanti Sarati memang bukan cucunya. Tetapi disebut-sebut seperti itu, dia merasa sangat terharu di samping bahagia sekali. Tanpa sadar dia menitikkan air mata, lalu dengan lembut dielusnya kepala Wanti Sarati, sebagaimana layaknya membelai seorang cucu sendiri.

"Wanti! Puji syukur karena sang Dewata, hampir di akhir hayatku telah berkenan mempertemukanku denganmu seorang gadis yang lembut. Semua itu telah menghapuskan kebencianku pada kaum perempuan di atas dunia ini. Engkau gadis yang sangat baik, hatimu lembut. Andai nanti aku masih sempat bertemu dengan Pendekar Hina Kelana. Akan kukatakan padanya bahwa sesungguhnya dia pantas menyayangimu, sebagaimana rasa sayangmu kepadanya...!" aku Mambang Sadewa dengan kata berkaca-kaca.

"Kakek...." Wanti Sarati tersentak.

"Jangan bantah ucapanku Wanti, aku berkata sesungguhnya. Aku yang sudah tua bangka ini sayang dan kasihan padamu. Seandainya pun aku mati, aku. tak ingin melihatmu hidup penuh bergelimang kesedihan. Mungkin gadis semacamulah yang telah ditakdirkan oleh Sang Hyang Widi untuk mendampingi pendekar yang dalam hidupnya selalu dalam penderitaan itu." desah Mambang Sadewa.

"Apakah dia pernah mengatakannya padamu...?" Mambang Sadewa gelengkan kepalanya berulang-

ulang.

"Tidak! Tetapi aku dapat melihat dari sorot ma-

tanya...!"

"Ah, sudahlah. Kakek jangan bicarakan dia terus...!" kata Wanti Sarati menjadi jengah. Laki-laki bertangan buntung itu tersenyum tipis.

"Wanti. Engkau tak bisa memungkiri hatimu. Aku melihat, matamu selalu memendam rindu padanya."

Wajah Wanti Sarati kian tertunduk, kelopak matanya merembang merah. Mambang Sadewa jadi iba karenanya. Kemudian sekali , lagi dibelainya kepala gadis berkulit kuning langsat itu. Seraya berucap;

"Sudahlah, jangan pula engkau turut larut dalam kesedihan. Mari kita tinggalkan tempat ini!" kata Mambang Sadewa. "Kita hendak ke mana kek...?" tanya Wanti bagai orang linglung. Sambil bergerak melangkah, Mambang Sadewa nyeletuk.

"Ke mana lagi! Kayu Agung tujuan kita. Semoga pendekar yang selalu kau rindukan itu sudah pula berada di sana."

Wanti Sarati hanya diam saja, entah apa yang dipikirkannya. Namun kedua kakinya terus melangkah mengiringi langkah Mambang Sadewa. Semakin lama kedua orang itu pun telah jauh meninggalkan Tanjung Lubuk.

* * *

10

Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, dengan mempergunakan Ajian Sepi Angin. Tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat cepat, di antara hutan bakau yang tumbuh subur di daerah Kayu Agung.

Dalam waktu yang singkat dia sudah sampai di tengah-tengah hutan tersebut. Sesaat kemudian pemuda itu menghentikan langkahnya ketika penciumannya membaui hawa tak sedap, di sekitar tempat itu. Kemudian ketika dia melangkahkan kakinya beberapa tindak ke depannya. Maka terlihatlah beberapa sosok mayat laki-laki yang sudah membusuk. Buang Sengketa kernyitkan alisnya. Menurut perhitungannya, tentu mayat-mayat itu sudah menggeletak di situ lebih kurang tujuh hari yang lalu. Pemuda ini mengitarkan pandangannya. Tak  ada sesuatu pun yang mencurigakan di sana. Hanya ribuan lalat-lalat hijau saja yang beterbangan silih berganti. Nampak dari badan yang telah membusuk itu ribuan belatung sebesar jari kelingking. Ulat-ulat itu melentik menggeliat tumpang tindih di antara sesama kawannya. Buang Sengketa cepatcepat palingkan muka. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Kemudian pemuda dari Negeri Bunian itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Mungkin orang-orang itu merupakan korban Pri Kumala Hijau! Batinnya merasa sangat geram sekali.

Kini dia kembali mengerahkan Ajian Sepi Angin, sekejap saja tubuhnya berkelebat laksana terbang. Lewat sepeminum teh sampailah pemuda itu dekat sebuah rumah bertonggak yang sangat besar sekali. Buang Sengketa mulai meneliti keadaan sekitar. Beberapa orang perempuan yang masih sangat muda, nampak hilir mudik menuruni anak tangga dari rumah panggung tersebut. Perempuan-perempuan berwajah cantik-cantik itu nampak berpakaian sangat menyolok sekali. Dada mereka yang padat berisi nampak' terbuka begitu saja tanpa selembar kain penutup pun. Sedangkan di bagian pusar hanya mengenakan sebuah cawat ala kadarnya. Wajah Pendekar Hina Kelana berubah memerah. Cepat-cepat. dia palingkan muka sambil menunggu perkembangan selanjutnya.

Dalam pada itu sempat terlintas dalam pikiran pemuda ini. Mungkin sesuatu telah terjadi pada perempuanperempuan itu. Cara mereka berpandangan, sorot mata mereka nampak kosong, bahkan mereka seperti tak bermalu berjalan begitu saja dengan keadaannya yang setengah telanjang. Mungkin kali ini dia sudah sampai di tempat yang dituju. Batin pemuda itu.

Ketika Buang Sengketa sedang berpikir-pikir tentang perempuan-perempuan itu, tiba-tiba dari dalam rumah tersebut muncul seorang laki-laki gemuk yang juga hanya bercawat di depan pintu. Sesaat laki-laki itu nampak memandang ke arah jurusan lain. Tetapi anehnya sesaat setelah itu dia pun membentak;

"Manusia gembel yang bersembunyi di balik pohon... Cepat-cepat tunjukkan diri!" tukasnya dengan nada tidak senang. Pendekar Hina Kelana garuk-garuk kepalanya. Sialan! Agaknya si muka sadis inilah yang dimaksud oleh Mambang Sadewa. Makinya pula.

Bagaikan orang tolol dia menyeruak diantara timbunan daun bakau. Diatas tanah becek dan berbau tak sedap itu dia mengayunkan langkahnya. Laki-laki bercawat yang tak lain Guru Iblis adanya, nampaknya tak beranjak dari depan pintu tersebut.

Dengan suara serak serasa bagai menghentikan denyut darah. Laki-laki bercawat itu kemudian menyambung kembali!

"Gembel berperiuk. Sungguh berani mati kau memasuki Kayu Agung, agaknya kau tak mengerti. Bahwa siapa pun yang telah begitu berani memasuki wilayah kekuasaanku ini. Tidak pernah keluar dalam keadaan hidup?"

Buang Sengketa terkesiap, dia bukan merasa gentar dengan bentakan yang bernada mengancam itu. Tetapi adalah karena dalam suara pelan yang mengandung tenaga dalam tersebut, Buang Sengketa merasakan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya serasa berhenti berdenyut. Pendekar ini menyadari bahwa laki-laki itu sesungguhnya sedang menyerang dirinya melalui suara tersebut, cepat-cepat pemuda itu mengerahkan kekuatan batinnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan susulan. Tetapi kiranya serangan melalui suara itu hanya terhenti sampai di situ saja. Maka sesaat kemudian Buang Sengketa segera menyela;

"Laki-laki bercawat. Hutan bukan milik nenek moyangmu, siapa pun punya hak untuk memasuki hutan ini...!"

Tanpa merasa tersinggung, Guru Iblis itu memandang pada si pemuda untuk sesaat lamanya. Buang Sengketa lebih terkejut lagi, manakala selintasan dia melihat bahwa sepasang mata laki-laki-bercawat itu memancarkan sinar aneh. Mata itu memang merah sebagaimana mata Mambang Sadewa. Tetapi mata laki-laki bercawat itu nampak menyebarkan kekejian dan hawa pembunuhan yang terpendam.

"Bocah besar sekali nyalimu. Padahal sekali saja engkau menampak di depan hidungku, Setan Joma takkan pernah membiarkanmu hidup walau hanya sesaat Saja." kata Guru Iblis dengan suara serak namun berwibawa.

Sungguh pun kemampuan laki-laki bercawat itu sangat sulit untuk diduga. Namun, begitu mendengar pengakuannya Pendekar Hina Kelana nampak senang sekali. Tetapi dalam kegembiraan itu, hatinya masih diliputi tanda tanya. Sebab dia tidak melihat adanya Pri Kumala Hijau bersama dengan laki-laki itu. "Hemmm, kiranya engkaulah kunyuk yang telah bikin onar di mana-mana, muridmu yang durhaka itu kau suruh menculik anak gadis orang. Kau perkosa mereka, kau buat pula mereka menjadi dungu. Kau tak lebih dari seekor binatang yang paling menjijikkan...!" maki Buang Sengketa tanpa merasa sungkan-sungkan lagi.

Guru Iblis nampak tenang-tenang saja, walaupun sesungguhnya hati dan pikirannya dipenuhi dengan rasa geram luar biasa. Lalu dengan sepasang matanya yang mencorong, kembali dipandanginya Buang Sengketa. Sesaat setelahnya dia pun telah melompat dari atas rumah bertonggak itu.

Sekejap kemudian dia sudah berdiri tiga tombak di hadapan Pendekar Hina Kelana. Dari gerakannya, dan cara dia menginjakkan kakinya diatas tanah becek itu. Buang Sengketa menyadari bahwa laki-laki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

"Kreeek... kreeek.... kreeeek...!" Laki-laki Guru Iblis tergelak-gelak..

"Semuanya tidak ku pungkiri bocah. Kalau pun memang benar kau bisa apa? Tak seorang pun di kolong langit ini yang mampu bertahan hidup menghadapi pukulan-pukulan maut si Guru Iblis...!"

"Kejahatan, bagaimana pun hebatnya tak akan pernah dapat bertahan lama. Sungguh pun hari ini aku tak menang menghadapimu. Tetapi kebenaran selalu dapat mengalahkannya!" kata pemuda itu pasti.

"Kentut busuk! Aku muak melihat bualanmu...!" berkata begitu Guru Iblis mulai mengawali serangannya. Pendekar Hina Kelana menyadari betapa berbahayanya serangan-serangan yang dilancarkan oleh lakilaki bercawat, Dia pun sudah memutuskan untuk tidak mengambil resiko yang ada akhirnya dapat membahayakan keselamatan jiwanya. Maka tak ayal lagi begitu tubuhnya bergerak untuk menghindari terjangan tangan Guru Iblis yang sudah berubah membiru. Untuk selanjutnya dia segera pergunakan jurus si Gila Mengamuk yaitu jurus di atas tingkatan Membendung Gelombang Menimba Samudra yang dia miliki. Maka bertempurlah tokoh golongan hitam tingkat tinggi ini dengan Pendekar Hina Kelana. Sekejap saja halaman berlumpur itu sudah berubah menjadi arena pertarungan yang sangat mendebarkan.

Sedapat mungkin Buang Sengketa menghindari bentrokan dengan tangan lawannya. Dia menyadari bahwa sungguh pun tubuhnya kebal terhadap serangan berbagai jenis pukulan beracun. Namun pukulan beracun yang dimiliki oleh Guru Iblis itu nampaknya lain dari yang lain. Pukulan-beracun milik Guru Iblis nyata-nyata bersumber dari inti tenaga murni yang bukan tak mustahil di dalamnya mengandung unsur-unsur mistik pula.

Serangan gencar yang dilancarkan si Guru Iblis menderu bahkan manakala jemari tangan itu berkelebat di bagian samping tubuh si pemuda. Dia merasakan ada hawa aneh yang turut, menyertainya. Bau tak sedap mulai menebar disekitar tempat itu. Dada Buang Sengketa berdenyut-denyut sakit. Tetapi jurus si Gila Mengamuk bukanlah jurus silat sembarangan. Sungguh pun saat itu Guru Iblis telah kerahkan jurus Tangan Kematian, namun dengan jurus silat si Gila Mengamuk, Buang Sengketa masih dapat menghindar sergapan-sergapan tangan beracun tersebut.

Setelah pertarungan mencapai lima belas jurus. Sesaat ketika jurus si Gila Mengamuk sudah mencapai tingkatan kesepuluh, maka tubuh Buang Sengketa nampak meliuk-liuk bagai orang yang kurang waras. Sepasang kakinya bergerak cepat mencecar ke arah pertahanan bagian bawah lawannya. Sementara itu kedua tangannya dengan gerakan-gerakan yang tiada beraturan. Menderu dan berusaha mematahkan serangan-serangan gencar lawannya.

Menghadapi kenyataan seperti itu sadarlah Guru Iblis bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang lawan yang sangat tangguh.

Secara cepat tubuhnya meletik ke udara, bersamaan dengan itu terdengar pula satu lengkingan yang sangat tinggi. Semua itu membuat tubuh Buang Sengketa tergetar hebat. Anehnya lagi gerakan-gerakan silatnya secara total menjadi kacau tak menentu. Dia tahu bahwa saat itu Guru Iblis sedang mengerahkan kekuatan mistiknya untuk menghancurkan pertahanan lawan. Maka sambil menekan dadanya yang berdenyut sakit. Tak lama setelahnya dia pun mengeluarkan jeritan serupa. Tak ayal pada saat itu dia telah mengerahkan ilmu lengkingan Pemenggal Roh yang sangat ampuh itu.

"Haiiikkkk!"

Jeritan yang serasa merobek gendang-gendang telinga itu, membuat Guru Iblis nampak terkesima untuk beberapa saat lamanya. Sementara dari dalam rumah besar itu terdengar lolongan menjelang ajal dari mulut gadisgadis yang tiada berdosa itu. Nampaknya mereka tak kuat menahan getaran yang sangat hebat dari lengkingan ilmu Pemenggal Roh yang telah dilancarkan Buang Sengketa untuk menyerang musuhnya.

Perempuan-perempuan malang itu pun menggelepar meregang ajal, darah kental meleleh dari hidung dan kuping mereka. Sungguh pun Guru Iblis tidak melihat keadaan didalam rumahnya tetapi agaknya dia tahu bahwa semua orang-orang yang berada di dalam rumah itu telah binasa semuanya. Sambil melompat mundur dia pun berseru dengan kemarahan yang tiada terperikan.

"Bangsat! Engkau telah membunuh gadis-gadis yang tiada berdosa. Engkau harus membayar dengan nyawamu...!"

Buang Sengketa meludah ke tanah.

"Puiiih! Mereka hanyalah perempuan-perempuan sisa, hidup pun malah lebih menyakitkan bagi mereka. Seharusnya engkaulah yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi di sini...!"

"Bangsat! Kau harus cepat-cepat mampus!" "Heeaaaa...!"

Dengan merubah jurus-jurus silatnya, Guru Iblis kembali menerjang. Kali ini gerakannya semakin bertambah sebat, setiap serangan yang dilancarkan selalu timbulkan angin kencang hingga membuat hutan bakau di sekitarnya seperti dilanda badai topan. Menyadari lawannya mempergunakan jurus Iblis Perenggut Sukma, maka Buang Sengketa bermaksud merubah jurus silatnya. Namun sebelum niat itu kesampaian dia merasakan ada angin pukulan menyambar bagian bahunya. Cepat-cepat dia berkelit. Tetapi begitu pun pukulan Iblis Perenggut Sukma masih juga menyerempet bagian itu. Tubuh Pendekar Hina Kelana terpental dan tergulung-gulung di atas tanah berlumpur. Bahkan tanpa henti tubuhnya terus menabrak pohon-pohon kecil yang berada di dekatnya. Tubuh si pemuda baru terhenti manakala menabrak sebatang pohon yang lumayan besarnya. Dia mengeluh, tubuhnya serasa remuk, dari sela-sela bibirnya mulai meneteskan darah. Cepat-cepat dia himpun tenaga dalamnya. Begitu rasa sesak berkurang. Pemuda itu pun segera berdiri, tetapi dilihatnya Guru Iblis masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Di luar dugaan si pemuda, laki-laki bercawat itu menyela:

"Sungguh pun aku manusia sesat. Aku paling pantang membunuh lawan yang belum siapa pada posisinya Sekarang bersiap-siaplah engkau untuk kubunuh...!"

"Haiiiiit!"

Lagi-lagi Guru Iblis telah meluruknya, satu sambaran angin yang terasa sejuk namun menyimpan hawa maut kembali menyambar ke arah si pemuda. Dia cepatcepat mengelak. Sesaat setelahnya dia pun telah mempergunakan jurus Si Jadah Terbuang.

Pendekar Hina Kelana yang tadinya terdesak hebat, setelah merubah jurus silatnya nampak mulai dapat mengimbangi permainan silat lawannya. Pertarungan kembali menjadi seru. Masing-masing lawan nampak berusaha saling gempur dengan kemampuan yang dimilikinya. Sementara itu tangan Guru Iblis dari warna biru kini telah berubah menjadi merah bagaikan bara. Isyarat maut menyebar dari kedua tangan yang mengandung racun yang sangat ganas. Buang Sengketa menyadari bahwa seranganserangan gencar yang dilakukan oleh lawannya semakin lama semakin berbahaya. Bahunya yang tadi hanya tersambar cakaran tangan Guru Iblis saja masih berdenyut sakit. Tepat seperti dugaannya, bahwa pukulan itu bersumber dari inti tenaga murni. Mustahil Buang Sengketa dapat menawarkan racun itu.

***

11

Baginya kalau ingin selamat, hanya ada satu jalan. Yaitu dengan jalan menempur Guru Iblis dengan pukulanpukulan jarak jauh.

Itu sebabnya sesaat kemudian ketika laki-laki bercawat itu mencoba memancingnya dalam pertarungan jarak dekat, dia sedapat-dapatnya menghindar. Tubuhnya berjumpalitan menjauh. Setelah kini mereka benar-benar memiliki jarak yang dirasa telah cukup. Maka sesaat setelah itu, Pendekar Hina Kelana segera mengerahkan tenaga saktinya ke arah kedua tangannya. Setelah tenaga sakti itu terpusat di sana, sekejap kemudian dengan disertai satu teriakan menggelegar tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat cepat. Dalam kesempatan itu, tak ayal lagi pukulan si Hina Kelana Merana pun dia lepaskan. Dalam urutan pukulan sakti, pukulan si Hina Kelana Merana ini merupakan pukulan tertinggi dan bahkan kekuatannya di atas pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dia miliki. Kini pukulan yang dilepas oleh pemuda itu menderu bagai kilatan cahaya petir dan berwarna merah menyala. Sinar itu melesat sedemikian cepatnya, hingga dalam waktu sekedipan mata cahaya yang menimbulkan suara laksana badai topan prahara itu satu tombak berada di depan hidung Guru Iblis. Laki-laki bercawat itu mengeluarkan seruan kaget manakala merasakan adanya sambaran panas yang hampir melanda tubuhnya. Pada saat-saat yang kritis itu, dengan mempergunakan pukulan Iblis Menempur Maut, serangkum sinar melesat pula dari jemarinya yang kini telah berubah menjadi menghitam.

"Wuuuus!"

Serangkum sinar maut yang berhawa dingin luar biasa dan menebarkan bau busuk beracun juga tak kalah cepatnya menderu memapaki datangnya pukulan si Hina Kelana Merana. Satu keadaan yang benar-benar sangat sulit untuk dihindari, dua pukulan sakti yang berprabawa saling bertolak belakang itu akhirnya bertubrukan di udara.

"Buuum!"

Pertemuan dua tenaga sakti itu membuat bumi seakan runtuh, lumpur di atas tanah becek itu memuncrat ke udara. Sementara rumah panggung yang berukuran sangat besar itu pun ambruk begitu menerima getaran dan goncangan yang sangat dahsyat, Masing-masing lawan terlempar tubuhnya hingga puluhan tombak. Keadaan di sekitarnya menjadi berkabut, dengan kepulan-kepulan asap tebal menyelimutinya. Sesaat baik Buang Sengketa maupun Guru Iblis nampak roboh, diam, tak berkutik di tempatnya masing-masing. Mereka tak pernah menyadari bagaimana rasanya ketika pukulan sakti yang mereka lepaskan saling berbenturan. Dalam ketidak sadarannya, dari mulut masingmasing lawan telah memuntahkan darah kental berwarna hitam pekat. Darah yang membeku itu bergumpal-gumpal. Nyatalah kalau kedua orang itu sudah terluka dalam dengan keadaan cukup parah.

Secara perlahan namun pasti, beberapa saat berikutnya tubuh Pendekar Hina Kelana nampak bergerak, menggeliat, kemudian merintih-rintih. Begitu dia, tersadar dilihatnya sekitar pertarungan nampak porak poranda, Buang merasakan dadanya bagai remuk, badannya,, sangat dingin luar biasa, Maka dengan sangat dipaksakan dia berusaha bangkit dari tanah berlumpur itu, secara perlahan dia mulai menghimpun hawa murninya. Tetapi begitu rasa hangat yang berpusat dari pusarnya itu mulai menjalar ke bagian-bagian yang terluka mendadak hawa dingin sebagai akibat pukulan Iblis Menempur Maut menyerang hawa panas yang berpusat dari perutnya. Hal ini benarbenar sangat menyiksa bagi si pemuda, kegagalan untuk memulihkan keadaan tubuhnya yang terluka, ini menandakan bahwa dirinya benar-benar terserang pukulan beracun. Celakalah aku kali ini kalau racun itu tak mampu kusembuhkan sendiri! Batin pemuda itu.

Pada saat yang sama keanehan pun segera terjadi pada diri Guru Iblis. Secara perlahan tubuhnya yang tadi nampak terdiam tiada bergerak-gerak, sampai pada akhirnya seperti tak pernah terjadi sesuatu dengannya, dia pun terduduk. Sungguh pun wajahnya pucat pasi, tetapi seperti tidak pernah terjadi sesuatu dengannya dia segera bangkit. Begitu dia memandang pada Pendekar Hina Kelana, matanya yang merah saga, itu, memancarkan sinar yang sangat aneh dan menyilaukan mata pendekar ini. Dia tahu sesungguhnya itulah kekuatan terakhir yang dimiliki oleh Guru Iblis. Maka tak ayal lagi pendekar ini membuang pandangannya jauh-jauh.

Guru Iblis atau yang lebih dikenal dengan sebagai Iblis Joma nampak tergelak-gelak. Setelah menghentikan tawanya, maka tanpa malu-malu lagi dia berkata;

"Bocah, di antara sekian banyak musuh-musuhku, kuakui engkaulah lawan satu-satunya yang paling tangguh. Tetapi jangan kira aku tak tahu, bahwa sesungguhnya kita sama-sama terluka. Di tubuhmu kini mengendap racun yang secara perlahan dapat membunuhmu, sungguh pun itu kematian bagimu tinggal hanya menunggu satu purnama di depan!"

Buang Sengketa hanya terdiam begitu mendengar ucapan si Guru Iblis. Dia memang tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh laki-laki bercawat ini. Tetapi sungguh pun dia terluka dalam cukup parah namun dia sudah bertekad untuk membinasakan gurunya Pri Kumala Hijau itu.

"Guru segala dari raja manusia sesat. Kalaupun nantinya aku mati, aku sudah merasa puas bila aku telah memenggal kepalamu...!" kata Buang Sengketa dengan suara parau.

"Krek.... krek.... kreeek...!" Guru Iblis tergelak-gelak lagi. "Bocah, suaramu yang parau itu menandakan bahwa pukulan Iblis Menempur Maut yang telah mengendap ditubuhmu sudah bekerja dengan baik. Bocah gembel, sungguh pun engkau mampu mengalahkan aku, tetapi apa bedanya? Sebab engkau pun segera menyusulku sebulan di depan. Kau tahanlah sinar mataku ini. Seandainya nasibmu baik?. engkau masih dapat melihat dunia ini sampai satu purnama di depan...!" teriak si Guru Iblis.

Begitu laki-laki bercawat itu telah bersiap-siap dengan pukulan pamungkas melalui sinar matanya. Maka Buang Sengketa segera meraba Cambuk Gelap Sayuto dan Pusaka Golok Buntung yang berada di pinggangnya. Terasa ada hawa hangat yang mengaliri tangannya, manakala tangannya meraba gagang Golok Buntung, hawa hangat tersebut terus mengalir ke bagian dadanya. Sedikit demi sedikit rongga dadanya yang serasa remuk itu pun mulai berkurang. Walau memang tidak bisa dikatakan hilang sama sekali.

Pada saat itu Guru Iblis sudah mulai menyerangnya kembali. Dari sepasang matanya yang merah membara melesat selarik sinar merah menyilaukan. Sinar maut yang telah memakan banyak korban itu meluruk ke arah lawannya. Dan pada waktu yang sama pula, nampak sinar merah memancar dari golok yang berada dalam genggaman si pemuda.

Wajah pemuda itu nampak menegang, sepasang matanya mengisyaratkan hawa membunuh yang meledakledak. Sementara dari kedua bibirnya keluarkan bunyi mendesis bagai kan suara ular piton yang sedang marah. Tetapi agaknya masing-masing lawan sudah sama-sama tidak perduli dengan perubahan-perubahan yang terjadi, sementara sinar maut yang keluar dari mata Guru Iblis telah sampai pada lawannya. Buang Sengketa kiblatkan goloknya untuk memapaki datangnya sinar maut tersebut.

"Wuuut! Praaang!"

Kembali terdengar suara bergemuruh manakala sinar merah itu melabrak pusaka Golok Buntung yang berada dalam genggaman pendekar itu. Tubuh Guru Iblis terguling-guling, namun cepat bangkit kembali. Wajahnya semakin memucat bagai kain kafan. Tersiraplah darah laki-laki bercawat ini, dia merasakan hawa yang sangat dingin mulai menyelimuti alam sekitarnya. Merasa penasaran, lagi-lagi dia kirimkan sinar maut dengan kekuatan berlipat ganda. Tetapi kali ini Cambuk Gelap Sayutolah yang datang menyambut dan memecut.

"Ctarrr ctarrr...! Blaaammm...!"

Sinar maut yang sudah melesat itu berantakan di udara diterpa lecutan cambuk Gelap Sayuto.

Suasana pun kemudian berubah, langit yang terang resik tiada berawan, mendadak menjadi gelap gulita. Sementara bunyi petir saling sambung menyambung. Keadaan tak ubahnya bagai malam hari. Kejadian ini sudah barang tentu membuat Guru Iblis jadi kaget luar biasa.

Dalam kegelapan itu hanya kilatan sinar merah yang terpancar dari Pusaka Golok Buntung saja yang terlihat. Guru Iblis kerjab-kerjabkan matanya.

Tetapi belum lagi hilang keterkejutan di hati lakilaki ini, tubuh Pendekar Hina Kelana sudah berkelebat. Golok di tangannya menderu dan keluarkan suara bagai sejuta geledek. Golok itu terus menyambar-nyambar ke segala penjuru. Kemarahan yang melanda diri pendekar keturunan seekor raja ular itu menyebabkan segalanya menjadi berlalu begitu cepat. Cambuk Gelap Sayuto terus dia lecutkan. Suasana semakin bertambah gelap saja.

Sedapatnya Guru Iblis. berusaha menghindari sergapan-sergapan golok si pemuda Namun dengan golok dan cambuk berada di tangan pemuda itu, keadaannya kini benar-benar telah berubah sama sekali.

"Haiiit...!"

Buang Sengketa keluarkan teriakan keras, saat itu tubuhnya benar-benar telah begitu dekat dengan lawannya. Maka tak ayal lagi golok di tangannya pun menyambar dua kali ke bagian leher laki-laki itu.

"Creees! Creees!"

Guru Iblis keluarkan lolongan bagai seekor kerbau disembelih, tubuhnya limbung namun anehnya tiada darah yang menyembur ke luar. Laki-laki itu terjerembab jatuh. Dia melolong-lolong untuk sesaat lamanya, kemudian diam tidak berkutik-kutik lagi.

Buang Sengketa merasa lega hatinya, namun dadanya masih berdenyut-denyut sakit. Lalu sambil memegangi dadanya, pemuda berwajah tampan itu pun segera pergi dengan membawa sebuah luka.

* * *

Kayu Agung pagi itu nampak sunyi sepi menyimpan misteri, dari kejauhan nampak Mambang Sadewa dan Wanti Sarati menuju ke tempat itu. Wajah mereka membayangkan rasa lelah yang teramat sangat. Hampir siang dan malam !mereka terus melakukan perjalanan, maka  tak heran kalau dua kemudian dia telah sampai di tempat itu. Setelah memasuki Kayu Agung, mendadak Wanti Sarati menghentikan langkahnya, hal ini sudah barang tentu membuat heran Mambang Sadewa yang bertangan buntung. Dia pun terpaksa menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Nduk...? Sejak semalam kulihat wajah murung begitu...?" tanya Mambang Sadewa sambil memandang pada gadis itu. Wanti Sarati menarik napas dalam-dalam.

"Sejak semalam pikiranku tidak enak, Kek...!" jawabnya polos.

"Apakah engkau memikirkan Pendekar Hina Kelana?" tanya kakek bertangan buntung itu asal-asalan.

"Ya, entah mengapa aku menjadi teringat padanya...!" Mambang Sadewa nampak tersenyum tipis, begitu mendengar jawaban Wanti Sarati yang polos.

"Bukankah selama ini kau juga sering memikirkan-

nya?"

"Benar, tetapi aku tak pernah segelisah ini. Aku ta-

kut kalau-kalau terjadi sesuatu dengannya. Aku-aku takut kehilangan dia, Kakek...!" ucap gadis itu tertunduk sedih.

"Mudah-mudahan saja dugaanmu itu tidak beralasan!" kata si kakek coba menghibur, walau sesungguhnya hatinya sendiri diliputi rasa was-was. Wanti Sarati nampak terdiam, tetapi setelah membuang pandangan matanya jauh-jauh. Kemudian dia bertanya:

"Sekarang sampai di manakah kita?"

"Inilah tempat yang kita tuju itu. Mudah-mudahan Pendekar Hina Kelana telah sampai pula di tempat ini!" ujar Mambang Sadewa berharap. "Kalau begitu sebentar lagi kita segera sampai ke sarang iblis itu, ya, Kek?" "Mudah-mudahan saja begitu...!"

"Tapi, Kek...!"

Wanti Sarati tidak sempat melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba dia melihat berkelebatnya tubuh seorang wanita.

"Kakek, orang itu...!" serunya cepat-cepat. Mambang Sadewa memandang pada Wanti Sarati. Laki-laki itu nampak terkejut sekali, sebab prang yang dilihat oleh Wanti Sarati tak lain adalah Pri Kumala Hijau adanya.

"Berhenti,.!" bentak Mambang Sadewa, tiba-tiba yang dibentak menghentikan langkahnya, tubuh Wanti Sarati dan Mambang Sadewa berkelebat menyongsong Pri Kumala Hijau.

Nampaknya perempuan itu pun sangat terkejutbegitu melihat kehadiran bekas suaminya dengan seorang gadis yang belum dikenalnya.

"Oh, kiranya engkau bekas suamiku. Ada keperluan apakah hingga kau datang jauh-jauh ke Kayu Agung ini...?" tanya Pri Kumala Hijau dengan sikap acuh.

"Kudengar engkau semakin tersesat saja...! Bahkan, akhir-akhir ini kau mulai menculik anak gadis orang untuk kau persembahkan pada gurumu. Apakah itu benar adanya...?"

Pri Kumala Hijau hanya tersenyum saja begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Mambang Sadewa.

"Kalau benar engkau mau apa?! Bukankah diantara kita sudah tidak ada ikatan apa-apa...?" tukas Pri Kumala Hijau mencibir. "Sungguh pun sudah tidak ada ikatan apa-apa. Sampai akhir hidupku, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu sadar...!"

"Hemmmm, agaknya kau perlu kubuntungi dulu kakimu itu, baru kau tidak lagi mengurusi kepentinganku !"

Mambang Sadewa tersenyum getir begitu mendengar ucapan bekas istrinya itu.

"Kumala! Sungguh pun kau penggal kepalaku, aku tetap berusaha menghalangi segala sepak terjangmu yang memalukan itu...!" Gusarlah Pri Kumala Hijau dibuatnya.

"Bangsat buntung! Cepat minggat dari hadapanku, kalau tidak aku benar-benar akan membuntungi kedua kakimu...!" bentak bekas pasangan Iblis Bermata Dewa itu sangat marahnya.

"Lakukanlah kalau engkau mampu, Tapi jangan harap selama aku masih bernapas aku akan selalu membayangi sepak terjangmu...!" kata Mambang Sadewa dengan suara tertekan. Dalam pada itu Wanti Sarati yang sejak dari tadi hanya diam saja, kini ikut pula menyela.

"Kakek! Inikah bangsatnya yang telah membuntungi tanganmu? Sikat saja, Kek!"

Sudah barang tentu ucapan Wanti Sarati membuat Pri Kumala Hijau semakin bertambah gusar. Maka dengan pandangan penuh kebencian perempuan iblis itu pun membentak:

"Bocah pentil. Berani lancang engkau mencampuri urusanku! Cepat-cepatlah engkau menyingkir dari hadapanku. Kalau tidak aku benar-benar akan membunuhmu...!" teriak Pri Kumala Hijau marah sekali. "Nduk, minggirlah biar kakek bereskan iblis yang satu ini...!"

"Bagus. Majulah kau peot bertangan buntung, hari ini aku benar-benar akan membunuhmu...!" teriak Pri Kumala Hijau.

Kemudian seiring dengan ucapannya itu, dengan gerakan sangat cepat tiada terduga, maka saat itu juga dia segera lancarkan serangan-serangan ganas kepada Mambang Sadewa.

Tak ayal lagi Mambang Sadewa yang sudah mengetahui kehebatan bekas istrinya itu secara cepat pula membalas serangan-serangan tersebut.

Hanya sesaat saja setelahnya, terjadilah pertarungan maut di semak-semak hutan bakau itu. Jurus-jurus yang sangat mereka andalkan pun menyertai seranganserangan gencar. Sungguh pun Mambang Sadewa tidak memiliki kedua belah tangan, tetapi dengan jurus-jurus baru hasil ciptaannya sendiri. Dia selalu dapat mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Pri Kumala Hijau.

Tubuh kedua orang itu kini berkelebat sedemikian cepat. Sehingga sangat sulit untuk diikuti oleh pandangan mata biasa. Dengan rambutnya yang panjang yang sewaktu-waktu dapat berubah melemas dan di lain saat berubah kaku laksana kawat baja.

Kakek itu terus berusaha meningkatkan gempurangempurannya. Nampaknya masing-masing lawan berusaha keras untuk cepat-cepat merobohkan lawannya.

* * * 12

Sesaat kemudian rambut Mambang Sadewa melecut keras ke arah Pri Kumala Hijau. Rambut yang berubah mengejang itu menderu mengarah bagian muka lawannya, perempuan itu keluarkan suara mengekeh. Lalu tanpa ragu-ragu lagi langsung memapaki datangnya serangan itu.

"Beees!"

Terdengar seruan tertahan dari masing-masing lawan. Tangan Pri Kumala Hijau serasa dicucuki ribuan batang jarum. Sumpah serapah berhamburan dari mulut perempuan iblis ini. Manakala dia melihat darah mulai menetes dari luka-luka kecil yang disebabkan. tercucuknya rambut Mambang Sadewa. Pri Kumala Hijau bersurut tiga langkah. Mulutnya menyeringai mengisyaratkan maut yang tak bisa diduga-duga. Dalam kesempatan itu, dia pun sudah membentak.

"Hebat! Kiranya engkau ada kemajuan juga. Pantas saja kau berani jual lagak di depanku...!"

Mambang Sadewa tersenyum tipis!

"Selamanya aku tak pernah jual lagak pada siapa pun. Hanya karena hatimu saja , yang sudah tersesat jauh sehingga kau punyai anggapan seperti itu...!"

“Beh! Engkau jangan berbesar hati dulu. Sobat buntung! Banyak ilmu simpananku yang belum kukeluarkan semuanya!"

"Bagus...! Lebih baik keluarkan Semuanya agar kau bisa mati dalam keadaan puas...!" "

"Bangsat....! Lihat serangan...!" Berkata begitu kali ini Pri Kumala Hijau keluarkan jurus Pri Hitam Memukul Setan. Serentak dengan berubahnya jurus-jurus silat perempuan iblis itu, maka sebentar kemudian tubuhnya sudah melesat, tangan kanannya kirimkan satu pukulan mengarah pada . bagian kepala, sedangkan kaki kirinya menendang pada bagian perut Mambang Sadewa.

Detik itu juga begitu mengetahui serangan yang mengisyaratkan maut itu, Mambang Sadewa pun segera merubah jurus silatnya.

Dengan mempergunakan jurus silat hasil ciptaannya sendiri yang diberi nama jurus Si Buntung Merana, rambutnya yang panjang itu kembali mengejang, kemudian sepasang kakinya bergerak-gerak begitu indahnya.

Sekali dia menjerit maka tubuhnya yang tiada bertangan itu melentik bagaikan belalang congcongkrang.

Begitu tubuh Mambang Sadewa kembali meluncur ke bawah. Bagai gerakan kepala ular yang menari-nari rambut dan kaki kirinya mengirimkan satu sapuan ke arah tubuh lawannya yang saat itu juga nampak pula kirimkan dua pukulan bertubi-tubi.

"Wuuus!" "Plaaaak!" "Duuukkk!"

Dua orang Bekas pasangan, Iblis Bermata Dewa itu jatuh terguling-guling. Karena masing-masing pukulan disertai dengan tenaga dalam yang besar. Tak ayal lagi kedua orang ini pun muntahkan darah segar.

Saat itu Wanti Sarati yang sedikit banyaknya mengetahui kehebatan masing-masing mereka yang sedang bertarung. Diamdiam dia mulai mencemaskan keadaan Mambang Sadewa. Dia tahu bahwa sesungguhnya dalam adu tenaga dalam tadi Pri Kumala Hijau nampak lebih unggul. Apalagi mengingat bahwa Mambang Sadewa pernah dikalahkan oleh bekas isterinya itu.

Dia mulai berpikir-pikir untuk membantu Mambang Sadewa, tetapi untuk turun tangan secara terangterangan, dia takut kalau kakek bertangan buntung itu menjadi marah. Tak dapat yang dilakukannya, dia tak berani mengambil keputusan sendiri. Baru saja dia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, pada saat itu terdengar pula bentak-bentakan keras dari masing-masing mereka yang sedang bertarung. Begitu Wanti Sarati memandang ke arah pertempuran. Dilihatnya Mambang Sadewa dan Pri Kumala Hijau kini telah melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh melalui pandangan mata mereka masing-masing. Dari kedua mata orang itu nampak melesat sinar merah, sinar itu kemudian saling bertemu di udara. Masing-masing lawan saling mengerahkan segenap kemampuannya. Dalam keadaan seperti itu mereka benarbenar tak berani gegabah. Lengah sedikit saja sudah tentu jiwa akan melayang.

Adu tenaga dalam itu terus berlanjut, tubuh mereka sudah bermandi peluh. Bahkan kini sudah mulai tergetar hebat. Wanti Sarati merasa tak tega melihat keadaan Mambang Sadewa yang nampak sudah bermandi keringat itu kelihatan mulai jatuh di bawah angin.

Selanjutnya apa yang dirisaukan oleh Wanti Sarati pun terjadi. Sepasang mata Mambang Sadewa nampak semakin bertambah merah, tak lama kemudian mata tersebut mulai keluarkan cairan merah pula. Darah!

Semakin lama darah yang berada di kelopak mata Mambang Sadewa pun mulai menetes menuruni pipinya yang cekung. Wanti Sarati dalam saat-saat yang kritis itu nampak berpikir cepat. Kalau keadaan itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin sebentar lagi kakek bertangan buntung itu bakal mengalami nasib celaka.

Tak ada pilihan lain, demi menyelamatkan Mambang Sadewa, Wanti Sarati segera melepaskan Selendang Merah yang melilit pinggangnya.

Kemudian tanpa basa basi lagi, tubuhnya melesat. Dengan cepat dia lecutkan selendangnya persis di tengahtengah beradunya sinar itu.

"Blaaaar!"

Kedua orang itu tiada bergeming, tubuh Wanti Sarati malah terpental jatuh. Dia segera bangkit kembali, lalu tanpa memperdulikan rasa nyeri di dadanya, Wanti Sarati melecutkan selendangnya kembali. Kali ini. dengan disertai tenaga dalam yang penuh.

"Breeesss!" "Blaaaam!"

Terpentalah tubuh ketiga orang itu tunggang langgang. Dari mulut Wanti Sarati meleleh darah segar. Sementara baik Mambang Sadewa maupun Pri Kumala Hijau mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Wanti Sarati. Tetapi dari ketiganya, Mambang Sadewalah yang mengalami luka dalam yang teramat parah. Dalam keadaan masing-masing yang serba tidak menguntungkan itu, tiba-tiba Pri Kumala Hijau cepat bangkit kembali. Dia keluarkan suara tawa menyeramkan. Kedua matanya yang tetap memerah itu mengisyaratkan maut yang tiada terperikan. Lalu kedua tangannya pun terpentang tinggi-tinggi, bibirnya berkomat kamit. Tak salah lagi perempuan itu kini telah merapal Mantra Iblis Menempur Maut. Asap tipis menyelimuti kedua tangan tersebut. Sekejap mata kedua tangannya telah berubah menjadi kehitam-hitaman.

Kejut di hati Mambang Sadewa dan Wanti Sarati bukan alang kepalang. Ingin cepat-cepat menghindar mereka serasa tiada memiliki kemampuan. Sebab mereka merasakan tubuhnya terasa sangat sakit untuk digerak kan.

Pada saat itu Pri Kumala Hijau sebelum melakukan serangan-serangan terakhir sempat berkata:

"Kalian berdua benar-benar telah membuatku gelap mata. Mati bagi kalian justru lebih baik daripada harus menjadi perintang dalam. segala sepak terjangku. Mampuslah kalian. Hiaaat...!"

Sinar berwarna hitam kelam melesat sedemikian cepatnya, terbagi menjadi dua bagian. Yang satu mengarah kepada Wanti Sarati sedangkan bagian lainnya mengarah pada Mambang Sadewa.

Kedua orang itu hanya terbelalak saja begitu melihat datangnya sinar pengantar maut tersebut. Bahkan mereka sudah pasrah untuk menerima kematian.

Namun dalam saat-saat yang sangat kritis itu, seberkas sinar merah yang datang dari lain arah. Menderu lebih cepat lagi memapaki pukulan yang dilepaskan oleh Pri Kumala Hijau.

Karena sinar hitam pekat itu terbagi menjadi dua, maka sinar merah itu hanya mampu menjangkau pukulan yang lebih dekat dari padanya. Secara kebetulan Wanti Sarati lah yang lebih dekat dalam jangkauan tersebut. Tak ayal lagi.

"Buumm!"

Sinar merah yang meluruk ke arah Wanti Sarati, kandas sampai di tengah jalan. Sementara sinar lainnya terus meluncur dan baru terhenti ketika sudah menghantam tubuh Mambang Sadewa.

Laki-laki itu nampak menggeliat sekejap, terdengar suara rintihan kecil dari mulutnya yang tertutup kumis berwarna kelabu. Wanti Sarati dengan susah payah merangkak mendekati tubuh Mambang Sadewa yang sudah sekarat.

Pada saat yang sama dari kerimbunan daun pohon bakau muncullah Pendekar Hina Kelana. Pemuda itu nampak masih memegangi dadanya, wajahnya semakin pucat. Sementara; dalam tangannya tergenggam Pusaka Golok Buntung yang sangat menghebohkan itu.

Dengan terhuyung-huyung dia sudah mendekati Pri Kumala Hijau yang masih nampak terkejut.

Dengan pandangan penuh kebencian pula diliriknya perempuan iblis itu mulai dari ujung rambut sampai keujung kaki.

"Hemmm. Kiranya engkaulah bangsatnya yang telah bikin sengsara orang banyak. Engkau memang pantas mampus seperti gurumu si raja sesat itu....!" geramnya.

Pri Kumala Hijau nampak sangat terkejut sekali begitu pemuda tampan berkuncir itu menyebut-nyebut gurunya. Apalagi pemuda itu sampai bilang bahwa gurunya telah pula tewas. Di lain pihak begitu mendengar suara orang yang sangat dikenalnya, Wanti Sarati langsung menoleh. Bukan main girangnya dia begitu melihat kehadiran orang yang sangat dirindukannya itu. Tetapi dia agak merasa heran melihat wajah pemuda itu yang nampak pucat. Apakah yang telah terjadi dengannya? Batin gadis itu penuh tanda tanya.

Tetapi dia sudah tak dapat berpikir panjang karena, tak lama kemudian terdengar pula suara erangan Mambang Sadewa. Maka perhatiannya pun beralih pada kakek bertangan buntung.

Sementara itu perdebatan pun terjadi, antara Pendekar Hina Kelana dengan Pri Kumala Hijau.

"Setan! Berani benar engkau mencampuri urusanku” Maki perempuan iblis ini.

"Aku si Hina Kelana selamanya akan menumpas segala bentuk kejahatan. Maka bersiap-siaplah engkau untuk mampus." teriak Buang Sengketa. Kemudian seketika itu juga golok di tangan pendekar itu menderu.

Mendengar nama Pendekar yang membuat gempar dunia persilatan saja Pri Kumala Hijau sudah tercengang luar biasa. Apalagi kini dengan golok itu ditangannya. Pri Kumala Hijau segera berkelit berusaha mencari kesempatan untuk melepaskan sinar maut melalui matanya.

Tetapi nampaknya Buang Sengketa sudah tiada memberinya kesempatan lagi. Golok di tangannya terus memburu lawan ke f mana pun perempuan itu menyingkir. Dalam keadaan terdesak seperti itu dia masih berusaha kirimkan serangan-serangan balasan. Namun semua itu sudah tak berarti banyak buat pendekar yang sudah sampai pada puncak kemarahannya itu.

Pertarungan jarak dekat seperti yang dikehendaki oleh Buang Sengketa akhirnya terjadi. Tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat. Lalu bersamaan berkelebatnya tubuh pendekar itu maka golok buntung di tangannya pun menyambar.

"Breeess! Creeees!"

Pri Kumala Hijau melolong setinggi langit, darah mengucur dari luka di perutnya yang terkoyak besar. Tak lama kemudian tubuh wanita iblis itu pun limbung. Berputar-putar kemudian terjerembab ke bumi.

Maka tewaslah Pri Kumala Hijau dengan luka yang sangat mengerikan. Pada saat itu dengan langkah terhuyung-huyung, Buang Sengketa menghampiri gadis yang bersimpuh di depan tubuh Mambang Sadewa yang sudah meregang ajal. f

Begitu mengetahui keadaan Mambang Sadewa, sambil memegangi dadanya yang terus berdenyut pemuda itu pun ikut duduk bersimpuh.

"Orang tua. Oh... maafkan aku! Aku telah terlambat datang...!" kata pemuda itu menyesali diri. Mambang Sadewa memandang pada pendekar itu dengan sorot mata yang sudah meredup.

"Akhirnya engkau.... dat... datang juga...!" ucapnya lirih, kemudian sambungnya.

"Bagaimana dengan Guru Iblis itu...?"

"Semuanya telah tewas, Orang tua.!" sahut si pe-

muda. "Oh, syukurlah.... akhirnya aku dapat pergi dengan tenang.... tap.... tapi.... kau jagalah gadis yang berada di sampingmu itu. Begitu lama dia mencarimu. Namanya Wanti Sarati. Sayangilah dia...!"

"Wanti Sarati...?" gumamnya seolah tak percaya. "Paman, apakah kau tidak mengingat orang yang

pernah kau tolong di Sindang Da-rah dulu...?" tanya Wanti Sarati sambil memandangi pemuda itu dengan rasa haru bercampur kagum.

Tentu... tentu aku mengingatmu, tetapi aku tiada pernah menyangka kalau engkau sudah sebesar ini...!" kata pemuda itu seraya merangkul gadis itu sambil mencium rambutnya dengan lembut. Sesaat lamanya mereka saling berpelukan melepas rindu. Dalam hati Wanti Sarati merasa sangat bersyukur karena pemuda yang selalu dirindukannya itu masih tetap mengingatnya.

Tetapi begitu teringat kepada Mambang Sadewa, kedua orang itu sama-sama saling melepas rangkulannya. Begitu mereka menoleh, Mambang Sadewa sudah nampak diam tiada berkutik.

"Dia telah pergi, Paman...!" kata Wanti Sarati sedih. "Kita relakan kepergiannya, mungkin satu purnama mendatang aku pun akan pergi meninggalkan dunia ini...!"

kata Buang Sengketa sambil menyeringai menahan sakit.

Bukan main terkejutnya di hati Wanti Sarati. "Mengapa paman berkata begitu...?"

"Manusia iblis. itu telah memukulku dengan pukulan beracun yang sangat ganas dan sangat sulit pula dicari obatnya !" "Paman jangan pergi aku selalu merindukanmu!" kata Wanti Sarati kembali memeluk pendekar itu.

"Jangan bersedih, Nduk, satu purnama masih sangat panjang. Ada baiknya kalau kita urus mayat Mambang Sadewa.

"Baiklah, Paman" kata Wanti Sarati sambil memandang sendu pada Pendekar Hina Kelana.

Tanpa buang-buang waktu lagi dengan dibantu oleh Wanti Sarati maka pekerjaan menguburkan mayat Mambang Sadewa cepat selesai.

Setelah segala sesuatunya dirasa beres, kedua orang itu nampak saling pandang. Lalu dengan memapah tubuh pendekar yang selalu dirindukannya itu. Mereka bergerak meninggalkan Kayu Agung, Saat itu pun hari sudah menjelang senja.

TAMAT