Serial Pendekar Hina Kelana Eps 05 : Neraka Karang Hantu

 
Eps 05 : Neraka Karang Hantu


Rimba belantara Bukit Manoreh masih berselimut kabut tebal di pagi itu. Hujan deras yang turun sejak dua hari yang lalu, membuat tanah di sekitar perbukitan menjadi longsor di sana sini.

Tiada terdengar kicauan burung-burung, tiada pula suara lenguh terompet gajah. Hanya desau angin dan gemuruh suara hujan yang tiada henti. Udara terasa dingin menggigit, tanah dataran di sekitarnya semakin lembab. Hutan Rimba Manoreh memang tampak memberi kesan angker pada siapa pun. Akan tetapi biar pun begitu, agaknya hal itu tidak berlaku bagi kedua orang ini.

Tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya mereka terus berlari menuruni lekuk lengkung tanah-tanah berbukit di bawah pohon-pohon yang telah berumur ratusan tahun

Beberapa saat kemudian tatkala mereka sampai di sebuah bukit paling tinggi kedua orang ini hentikan langkahnya. Sekilas dua orang perempuan berbadan katai ini memandang berkeliling. Suasana sunyi sepi! Sejurus mereka saling berpandangan sesamanya. Ada rasa saling curiga membayang di wajah kedua orang ini. Wajah perempuan katai berjubah kulit macan tibatiba saja memucat. Kemudian tanpa basa basi lagi tubuh yang hanya tujuh puluh senti itu melesat ke atas pohon, kemudian berloncatan bagai seekor tupai dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Dalam waktu sekejab mereka sudah berlalu jauh meninggalkan Bukit Manoreh.

Kini sampailah mereka di sebuah dataran rendah lainnya. Dataran rendah ini banyak di kenal orang sebagai Rawa Kematian. Tanah yang luasnya ribuan tombak ini sesungguhnya merupakan tanah gambut yang apabila satu sisinya tersentuh oleh kaki makhluk apapun mengakibatkan timbulnya getaran di sana sini. Tidak ubahnya sebuah ombak yang saling menyambung tiada henti. Kalau hal itu tentu makhluk buas dan reptil lainnya yang mendiami dasar rawa-rawa itu sudah dapat di pastikan segera bangkit dan menyerang makhluk apa saja yang berada di atasnya. Agaknya mereka ini juga tahu akan bahaya yang mengancam mereka andai keduanya dengan nekad melakukan penyeberangan, terbukti sejak mereka melompat turun dari sebuah pohon terakhir orang ini masih saja tercenung di pinggiran rawa-rawa itu.

"Sampai mampus sekalipun kalau kita cuma termenung di sini tak bakal sampai ke seberang sana Jola...!" rutuk salah seorang dari mereka yang bernama Losi. Perempuan katai yang satunya nampak terdiam, kedua bola matanya yang besar sebelah dan membangkitkan rasa ciut bagi lawanlawannya nampak menatap lurus ketengah-tengah rawa.

"Lagi pula aku tak percaya kalau rawa-rawa ini dapat membahayakan kita!" sambung si Katai Losi mencemooh.

"Mulutmu terlalu sombong, Kakang Mbok. Aku pernah sampai di sini belasan tahun yang lalu. Saat itu murid-murid dari berbagai perguruan mencoba menyeberangi rawa ini. Akan tetapi pemandangan yang terjadi sungguh sangat mengerikan sekali. Ratusan orang lenyap tanpa bekas, mereka terkubur di dalam rawa penghisap di tengah-tengah sana. Atau mungkin juga jasad mereka terkubur di dalam perut makhluk penghuni rawa-rawa ini...!" kata si Katai Jola terkenang masa lalu. Si Katai Losi kerutkan kening, seingatnya saat itu dia memang belum pernah bertemu dengan saudara kandungnya Jola. Karena memang dengan tekunnya dia mempelajari ilmu sakti yang diberi nama Mulih Pati yang terkenal dahsyat. Itulah sebabnya meski pun di dalam perguruan Sangga Langit, dia merupakan murid paling tua, akan tetapi malang melintang di rimba persilatan dia tergolong masih miskin pengalaman, walaupun begitu dalam hal sepak terjangnya menghadapi lawan-lawannya sudah barang tentu Jola masih jauh di bawah tingkatannya. Apalagi kini dengan ilmu baru yang sangat di yakininya itu. Mulih Pati! Sebuah ilmu langka yang hampir lima tahun terakhir menggetarkan kaum persilatan bagian Selatan. Siapa yang tak kenal si Katai Jola dan Losi. Tokoh-tokoh persilatan sering merasa enggan berurusan dengan mereka ini. Dua orang dedengkot persilatan golongan setan tak segansegan membunuh lawan-lawannya hanya dengan sekedipan mata saja. Tak perduli apakah lawan di pihak yang benar apalagi di pihak yang salah. Dengan ilmu Mulih Pati, yang dapat membuat layu pohon kayu sebesar apa pun, beratus-ratus jiwa telah melayang di tangannya hanya dengan sekali sentil.

Kalau hari ini kedua perempuan katai ini sampai di Rawa Kematian yang berada di wilayah Bukit Manoreh. Hal ini adalah semata-mata hanya demi menemukan kembali Pedang Pusaka Belibis Sakti milik perguruan mereka yang telah di curi oleh si maling arif yang bernama Bosa. Kini kembali pada si Katai Jola dan Losi yang sudah mulai mencak-mencak tak sabar melihat tingkah adiknya yang cuma duduk ongkang-ongkang di pinggiran rawa-rawa itu,

"Jola! Kalau begini terus aku sudah tak kanti lagi. Mestinya kau juga harus turut memikirkan bagaimana caranya agar kita dapat sampai ke tempat kediaman maling Bosa...!" bentak Losi kesal.

"Aku harus berbuat apa Kakang Mbok! jalan satu-satunya yang paling tepat dan tidak membahayakan keselamatan kita hanyalah dengan cara menunggu Si Maling Bosa keluar dari rumahnya di tengah rawa ini. Atau setidaktidaknya kita harus mengetahui jalan rahasia yang sering di lewati maling Bosa setiap harinya...!" Losi agaknya kurang setuju dengan keputusan yang diambil oleh adiknya, maka dengan cepat dia menyela:

"Selamanya aku paling tak menyukai pekerjaan yang bertele-tele. Gagasan yang kau katakan itu tak lebih merupakan sebuah kepengecutan dari seorang yang berjiwa rendah. Aku tak menyukainya...!" Si Katai Jola tersenyum getir, dalam hati benar dia mengakui akan keberanian yang dimiliki oleh kakaknya. Akan tetapi keberanian yang gegabah tanpa memperhitungkan untung ruginya, biasanya selalu berakibat fatal.

"Kakang Mbok! Berpikir sebelum bertindak hal itu malah lebih baik daripada sekedar menuruti hawa nafsu...!" Si Katai Losi yang hanya memiliki satu mata ini nampak menjadi berang, kedua rahangnya terkatup rapat dan menimbulkan suara bergemeletukan.

"Huh. Aku tak butuh khotbahmu, sekarang engkau mau ikut denganku atau cuma sekedar ingin menonton dari pinggir rawa-rawa ini?" Si Katai Losi menyela marah. Agaknya saudara seperguruan yang satu ini termasuk orang yang sangat sabar melihat kemarahan kakak seperguruannya dia masih bisa bersikap tenangtenang saja. Dengan suaranya yang selalu terdengar lirih dia pun berucap:

"Aku tidak mengatakan tidak ikut. Kalau aku berniat demikian tentu sudah sejak dari perguruan kita hal itu kulakukan. Tapi sebelum aku dan engkau memutuskan untuk menyeberangi tanah hidup ini, alangkah lebih baik kalau engkau melihat dulu apakah tempat ini benar-benar berbahaya seperti yang pernah kulihat dulu atau tidak...!" Usai berkata begitu, si Katai Jola memungut sebuah batu besar yang terdapat tidak begitu jauh dari tempat dia duduk. Setelah menimang-nimang batu ditangannya itu untuk beberapa saat lamanya. Si Katai Jola langsung melemparkan batu tersebut ke arah rawa.

"Buk!"

"Blung!" Air disekitar tanah gambut itu beriak seketika. Tak terlihat reaksi apapun dari dalamnya. Si Katai Losi hampir saja membuka mulutnya untuk melabrak adiknya, namun akhirnya urung begitu dia melihat air di dalam rawa bergolak, kemudian bermunculan makhlukmakhluk berbisa yang jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Binatang-binatang itu dengan ganas menyerang batu yang sudah tenggelam di dasar rawa berkedalaman hampir lima meter.

"Huh! Benar-benar makhluk keparat yang sangat mejijikan...!" Serunya memandang jijik.

"Nasib kita tidak terbayangkan andai kita nekad melintasi rawa-rawa terkutuk ini, Kakang Mbok...!" Si Katai Jola menyela. Perempuan yang bernama Losi itu mengerutkan alisnya yang sudah mulai tampak memutih di sana-sini. Lalu dia berucap:

"Kita harus mencari jalan keluar! Dan andai saja pedang Pusaka Belibis Sakti itu dapat kurebut kembali dari tangan Maling Bosa, hal itu tidak akan mempengaruhi maksudku untuk membunuhnya..!" ucap si Katai Losi sangat geramnya.

"Untuk itulah aku sedang memikirkan jalan keluarnya!"

"Sedari   tadi   hanya   itu   saja   yang   kau

katakan, tapi mana hasilnya...?!" Si Katai Jola usap-usap rambutnya yang tebal namun sudah memutih keseluruhannya. Sesungguhnya dia sudah sangat kesal dengan ulah saudara seperguruannya itu, akan tetapi dia tidak punya keberanian untuk membantah terkecuali mengurut dadanya yang kerempeng. "Kakang Mbok! Dalam masalah ini kita tak bisa bertindak tergesa-gesa. Maling Bosa bukanlah orang yang bodoh. Mungkin saja dia sengaja memancing kita untuk meluruk ke sarangnya. Kalau kita tak sabar menunggu, bisa mungkin ini merupakan satu kesempatan baginya untuk memusnahkan kita tanpa ambil resiko apa pun...!" jelas si Katai Jola secara panjang lebar. Si Katai Losi terdiam untuk beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara lirih dia menyahut:

"Kau benar juga! Kalau begitu mari kita cari jalan lainnya, Maling Bosa sudah pasti memiliki jalan rahasia untuk sampai ke rumahnya di tengah rawa-rawa itu "

"Kalau begitu mari kita mulai!" Si Katai Jola menyahuti. Selang beberapa saat kemudian kedua perempuan katai itu telah berkelebat pergi mengelilingi pinggiran Rawa Kematian.

* * * 2

Maling Bosa atau yang lebih dikenal dengan julukan si Maling Arif Bosa, siang itu nampak sedang asyik menikmati sebumbung tuak di salah satu kedai makanan yang terletak di sebuah desa yang bernama Hutan Panjang. Sementara itu di kanan kirinya duduk pula beberapa orang laki-laki berpakaian gembel. Mereka ini sesungguhnya Ketua Pengemis Partai Tenggara, yang juga merupakan sahabat Maling Bosa selama hampir belasan tahun terakhir. Belakangan ini ketiga orang itu memang kerap kali mengadakan pertemuan, terlebih-lebih dengan semakin banyaknya tuduhan dari berbagai partai persilatan berkenaan dengan hilangnya senjata pusaka milik perguruan mereka.

Karena rata-rata, ketua dari berbagai perguruan yang merasa kehilangan lebih cenderung menuduh bahwa Maling Bosalah yang telah menjadi biang keladi dalam berbagai aksi pencurian itu. Sudah barang tentu Arya Pasangran yaitu ketua Pengemis Partai Tenggara tidak ingin membiarkan sahabat karibnya mengalami berbagai kesulitan. Arya Pasangran menyadari meski pun sahabatnya si Maling Bosa, sesuai julukannya memang benar merupakan seorang pencuri ulung. Akan tetapi ruang lingkup kegiatannya hanya berkisar mencuri harta benda para saudagar kaya yang teramat pelit dan tidak mau ambil peduli dengan penderitaan rakyat kecil. Lebih dari itu, sebagaimana kebiasaannya setiap hasil pencuriannya selalu di bagi-bagikan pada kaum rakyat jelata. Itulah sebabnya mengapa kaum persilatan memberi julukan si Maling Arif Bosa.

Kalau kini hampir semua ketua berbagai perguruan mengacungkan terunjuk dan menuduh Maling Bosa lah yang telah melakukan berbagai aksi pencurian senjata perguruan, sebagai sahabat terdekat tentu Arya Pasangran akan membelanya mati-matian. Demikianlah sambil menikmati tuak yang enak dan wangi mereka terus bercakapcakap.

"Kakang Bosa! Hari-hari terakhir ini berbagai partai perguruan nampaknya cenderung menuduh bahwa engkaulah yang telah mencuri pusaka perguruan mereka. Meski pun aku percaya bahwa hal itu bukan merupakan pekerjaanmu! Akan tetapi bagaimana mungkin mereka bisa percaya?" Kata ketua pengemis partai Tenggara coba menasihati. Si Maling Bosa yang berbadan gemuk dan berkumis tebal itu, tampak mengerutkan alisnya. Dalam hati dia tak habis bertanya-tanya, mengapa justru lenyapnya senjata-senjata pusaka milik berbagai perguruan di kaitkan dengan dirinya. Padahal selama ini belum pernah sekali pun mencuri pusaka lambang kebesaran perguruan manapun. Kalau mencuri harta benda milik para saudagar pelit memang iya! Akan tetapi hasilnya bukanlah untuk dirinya, harta curian itu selalu dia bagikan pada rakyat yang benar-benar tidak mampu. Jika sekarang ini tokoh-tokoh persilatan menuduh bahkan mencari dirinya untuk di bunuh dengan dasar alasan hilangnya pusaka-pusaka yang bagi dirinya sendiri tak ada guna. Hal ini benar-benar sangat keterlaluan sekali! Dia harus menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya, bahkan kalau perlu dia pun akan turun tangan mencari siapa sebenarnya yang telah melakukan pencurian pusaka-pusaka tersebut!

"Maksudmu aku harus mengakui semua tuduhan mereka walau yang sesungguhnya aku tidak tahu menahu dengan berbagai pusaka yang tiada guna itu...?" Si Maling Bosa menyela setelah beberapa saat lamanya terdiam dalam lamunannya. Arya Pasangran gelengkan kepala, kemudian dengan sangat berhati-hati dia bergumam.

"Maaf Kang! Jangan salah sangka. Bagiku apa pun, yang akan terjadi Perkumpulan Kaum Partai Pengemis Tenggara, tetap berada di pihakmu!" Kata Arya Pesangran. Kemudian dengan lebih berhati-hati lagi dia menyambung:

"Tapi menurut pendapatku, alangkah lebih baik lagi jika Kakang tidak terlalu sering muncul di dunia ramai sehingga perse-lisihan paham dapat di hindari...!" Menden-gar ucapan Arya Pasangran memerah lah wajah si Maling Bosa, di tatapnya wajah Ketua Perkumpulan Partai Pengemis Tenggara lekat-lekat. Seolah dia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Maksudmu aku haru menetap di Rawa Kematian? Huh! Sekali pun nyawaku harus melayang, aku tak akan bertindak sepengecut itu...!" dengus si Maling Bosa dengan mata melotot. Mengetahui sahabat karibnya nampak sangat tersinggung karena salah pengertian, cepat-cepat Arya Pasangran meralat ucapannya: "Ee... maksudku begini Kakang! Semua itu demi menjaga nama baik Kakang Bosa sendiri...!" Belum lagi Arya Pasangran usai dengan katakatanya, tiba-tiba Maling Bosa tergelak-gelak, matanya yang memang sipit itu bertambah menyipit.

"Adi Pasangran! Nama baik apakah yang kau maksud, bukankah aku sendiri seorang maling? Kalau sudah maling, mana ada yang baik!" Si Maling Bosa mencela.

"Kakang tak mengerti maksudku...!" "Tak usah kau jelaskan aku pun sudah tahu Arya Pasangran! Kau fikirlah sendiri. Kalau aku menuruti nasehatmu, pandangan tengik-tengik yang kehilangan pusaka itu sudah barang tentu menjadi lain. Berarti mereka mengganggap bahwa sangkaan mereka itu benar adanya, aku ngumpet mereka lantas menuduhku bahwa memang aku malingnya...!"

"Jadi apa rencana Kakang selanjutnya...?" tanya Arya Pasangran mengalah. Si Maling Bosa terdiam untuk beberapa saat lamanya, dielusnya kumis tebal yang tak pernah terawat itu berulangulang, kemudian: “Cgluuk... cgluuk... cgluu...!" Dengan tiga kali teguk tuak di dalam bumbung bambu yang tinggal setengah itu pun tuntas. Kedua bola mata Maling Bosa kini sudah semakin bertambah merah. Akan tetapi meski pun dia sudah menghabiskan lebih dari em pat bumbung tuak, tapi masih belum ada tanda-tanda dirinya mulai mabuk.

"Untuk diriku sendiri aku telah memikirkan jalan yang terbaik...!" kata si Maling Bosa penuh keyakinan.

"Maksudmu...?" tanya Arya Pasangran penuh keingin tahuan.

"Aku akan menjumpai mereka-mereka yang kehilangan pusakanya, kemudian aku jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya...!" Ketua Partai Pengemis Tenggara itu menyadari tak akan ada gunanya menasihati si Maling Bosa yang keras kepala. Untuk menghindari suasana yang tidak enak, akhirnya dia cuma mampu geleng-geleng kepala.

Sementara itu tanpa mereka sadari sudah sejak tadi ada orang lain yang juga berada di kedai itu ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Mengetahui semuanya sudah jelas, kini orang itu dengan langkah mantap nampak berjalan menghampiri si Maling Bosa dan dua kawannya dari partai pengemis. Begitu sampai di depan ketiga orang ini, langsung saja si gadis membentak:

"Pencuri Bosa berlumur dosa! Didunia ini mana ada seorang maling yang mau mengakui perbuatannya. Baru saja engkau tadi malam menyantroni Perguruan Nganti Mulih dan mencuri Pusaka Keris Kencana, masihkah engkau mau mungkir...!" Gadis itu menyela dengan sikap menuduh! Bagai disengat kala jengking, bukan main terperanjatnya si Maling Bosa dan dua orang Ketua Partai Pengemis Tenggara ini. Meski pun dia seorang pencuri yang sangat lihai, namun di tuduh sedemikian rupa oleh seorang gadis yahg masih sangat muda belia. Di samping tuduhan itu pun tidak beralas-an, maka marahlah si Maling Bosa.

"Bocah! Melihat tampang dan nama perguruanmu saja baru kali ini, datang-datang kau menuduhku dengan kata-kata yang tak patut oleh seorang gadis secantik engkau...!" kata si Maling Bosa berusaha meredam kemarahannya. Sebaliknya si gadis malah bertolak pinggang.

"Maling celaka masih juga kau mungkir! aku tak butuh sanjungan dari mulutmu yang busuk itu. Sekarang kembalikan Keris Pusaka milik perguruan kami setelah itu kau potonglah sebelah tanganmu, mudah-mudahan aku tidak akan memperpanjang persoalan ini...!" Wajah Maling Bosa berubah kelam membesi, kemarahannya memang sudah sampai pada puncaknya. Biar pun dia seorang pencuri ulung, baginya lebih baik diberaki wajahnya dari pada dimaki sedemikian rupa oleh seorang gadis yang masih ingusan.

"Bocah! Lancang sekali mulutmu! Tidakkah kau dengar tadi bahwa aku sendiri merasa di fitnah dengan hilangnya berbagai pusaka dari perguruan Setan Belang?” Bentak si Maling Bosa saking kesalnya.

"Maling terkutuk! Agaknya aku harus memaksamu baru kemudian engkau mau mengakui semua perbuatan busukmu...!" Tukas si gadis kesal, dan tak begitu lama kemudian dia sudah melolos sebilah pedang yang sangat tajam. Arya Pasangran yang sejak tadi diam saja, kini demi mengetahui gelagat yang kurang baik langsung saja beranjak dari tempatnya, kemudian langsung melangkah ke hadapan si gadis. Setelah menjura hormat dia langsung bertanya: "Nona! Siapakah gerangan nona ini, datangdatang langsung marah-marah begini. Bukankah anda sebaiknya bertanya dulu dan menjelaskan persoalan yang sebenarnya...!" ucapnya dengan nada kurang senang!

Si gadis sejenak memandang sinis pada Ketua Perkumpulan Pengemis Tenggara. Begitu mengetahui siapa adanya orang yang sedang dihadapinya, gadis berpakaian kuning gading itu pun tersenyum mencemooh.

"Huh! Engkau rupanya Ketua Perkumpulan Gembel dari Tenggara! Minggir! Engkau tak perlu ikut campur...!" Dengus si gadis sambil memandang remeh. Arya Pasangran seorang lakilaki setengah baya yang terkenal sangat penyabar walaupun begitu di rendahkan oleh seorang gadis yang agaknya memang sedikit sinting sampai saat itu masih dapat menahan kesabarannya. Dengan suara masih merendah dia kembali bertanya:

"Nona, jelaskan dulu siapa dirimu kemudian kita bisa bersama-sama mencari siapa sebenarnya yang telah mencuri senjata pusaka milik perguruanmu itu...!" "Bangsat! Pencurinya saja sudah jelas-jelas berada di pelupuk mata, masih juga kau berpurapura...?"

"Bocah semakin kurang ajar saja mulutmu, gurumu Palingga saja masih menaruh hormat padaku, engkau sebagai muridnya tidak punya peradatan! Sangat disayangkan Perguruan Nganti Mulih yang terkenal itu mempunyai seorang murid berpandangan sepicik engkau...!" Si gadis yang sesungguhnya bernama Dewi Sekar Tanjung ini beberapa saat lamanya sempat di buat terperangah, dia tak pernah menyangka kalau Ketua Perkumpulan Partai Pengemis Tenggara mengenal nama gurunya. Meskipun begitu, si gadis yang memang keras kepala itu mana mau mengalah begitu saja. Meskipun pada akhirnya dia tahu bahwa Ketua Pengemis Partai Tenggara ini sesungguhnya merupakan sahabat baik gurunya sendiri.

"Ketua Partai Pengemis Tenggara!” Kata Dewi Sekar Tanjung dengan sedikit lirih. Arya Pasangran gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Tidak cah ayu! Sebagaimana hubunganku dengan Palingga gurumu, dengan saudara Bosa aku pun bersahabat sudah sangat lama, aku dapat memastikan bahwa Kakang Bosa tak mungkin mau mencuri pusaka milik perguruan Nganti Mulih, sebab Kakang Bosa masih bersahabat dengan gurumu!" Ujar Arya Pasangran menjelaskan.

* * * 3

Demi mendengar keputusan Arya Pasangran, semakin bertambah gusarlah Dewi Sekar Tanjung di buatnya.

"Hmmm... Kalau engkau memang berniat melindungi maling terkutuk itu jangan kau salahkan aku! Hari ini juga segala pengemis hina akan kuenyahkan dari permukaan bumi ini, Sheaat...!" Dengan pedang terhunus Dewi Sekar Tanjung langsung menerjang .Arya Pasangran dan seorang kawannya. Pedang di tangan murid perguruan Nganti Mulih itu menderu dan berkelebat-kelebat menyambar ke berbagai arah dari pertahanan yang rawan. Ruangan di dalam kedai tuak itu sebentar saja menjadi berantakan. Sementara itu mengetahui Arya Pasangran dan kawannya sudah turun tangan, sudah barang tentu si Maling Bosa yang sesungguhnya masih merupakan tokoh persilatan golongan putih tidak mau main keroyokan. Apalagi lawan yang mereka hadapi itu sesungguhnya masih merupakan anak murid sahabatnya sendiri. Pertarungan sengit itu pun dalam waktu Sekejab telah mencapai belasan jurus. Arya Pasangran dan kawannya Luki Denta dalam menghadapi serangan si gadis kini telah mempergunakan jurus Pengemis Meminta Sedekah. Akan tetapi jurus-jurus pedang yang di mainkan si gadis bukanlah jurus-jurus sembarangan. Bidadari Menyergap Pengintip itu adalah sebuah jurus pedang yahg intinya saja terdiri dari sembilan bagian. Jurus ini dulu pernah menggegerkan dunia persilatan ketika pada jaman jayanya Palingga, yaitu ketua perguruan Nganti Mulih yang sekarang. Kini meski pun sepuluh jurus inti "Bidadari Menyergap Pengintip" dimainkan oleh seorang gadis yang terhitung masih sangat muda, akan tetapi Arya Pasangran dan Luki Denta tidak dapat memandang remeh, terlebih Dewi Sekar Tanjung memiliki kesempurnaan dalam hal ilmu mengentengi tubuh. Sudah barang tentu Arya Pasangran dan Luki Denta yang bertahan dengan tangan kosong mulai dibuat kewalahan.

Beberapa jurus di muka Arya Pasangran dan Luki Denta mulai jatuh di bawah angin. Dewi Sekar Tanjung agaknya sudah tidak memberi kesempatan lagi pada ketua pertai pengemis ini, sambil mengirimkan satu tusukan ganas dia berteriak lantang:

"Ketua Partai Pengemis Tenggara, cabutlah senjata kalian! Kalau tidak kalian berdua akan menyesal seumur-umur!"

"Kami tidak mempunyai permusuhan! Untuk

itu kedua tangan kami ini pun sudah dapat kami pergunakan sebagai senjata...!" tukas Arya Pasangran coba berkelit dari tusukan pedang lawannya. Tubuh Arya Pasangran melesat ke udara, sementara itu dengan senjatanya berupa sebuah toya, Luki Denta mencoba memapaki serangan pedang lawannya. Dengan gerakan memutar Kendi Membalikkan Isi. Toya di tangan Luki Denta menderu dan menimbulkan suara bercuit-an. Senjata di tangannya terus berputar ber-ubah laksana puluhan baling-baling. Tatkala pada satu saat, kedua orang itu sudah tidak mungkin lagi dapat menahan senjata masingmasing yang terus meluruk sementara yang lainnya terus berputar.

"Crak!"

"Trang! Trang!"

Percikan bunga api berpijar, Luki Denta terpelanting bebarapa  tombak dengan tubuh menabrak segala perabotan kedai yang ada di sekitarnya. Secepat dia tercengkang maka secepat itu pula dia bangkit kembali. Sementara itu Dewi Sekar Tanjung yang cuma tergetar beberapa saat dengan tangan bagai kesemutan segera memapaki serangan tangan kosong yang dilancarkan oleh Arya Pasangran.

Ketika Arya Pasangran bermaksud lancarkan satu totokan pada bagian leher Dewi Sekar Tanjung, gadis itu nampak tergagap, dia mencoba untuk mengkelit serangan tersebut. Akan tetapi jemari tangan Arya Pasangran bagai bermata saja terus memburunya. Dalam keadaan terjepit seperti itu, Dewi Sekar Tanjung kiblatkan pedangnya. Arya Pasangran yang sudah hampir berhasil dengan usahanya sempat menarik kembali tangannya. Dia nampak gugup, akan tetapi semuanya sudah terlambat.

"Crees!" Ketua perkumpulan Partai Pengemis Tenggara itu menjerit tertahan, jemari tangannya berjatuhan. bagai ranting-ranting kering ke segala arah. Dengan cepat dia totok jalan darah. Sementara itu Luki Denta begitu melihat ketuanya kena di kerjain oleh gadis dari perguruan Nganti Mulih, Dengan kemarahan yang meluap-luap dia bermaksud menyerang Dewi Sekar Tanjung. Mendadak terdengar suara bentakan.

"Mundur kalian semuanya!" Bersamaan dengan suaranya, hanya dengan sekali lompat, Maling Bosa yang sejak tadi hanya memperhatikan pertarungan itu kini benar-sudah berhadapan dengan Dewi Sekar Tanjung. Untuk sesaat lamanya Maling Bosa memperhatikan gadis itu. Dihatinya ada perasaan sesal yang terasa menghimpit, Dia menyayangkan mengapa Palingga yaitu Ketua Perguruan Nganti Mulih secara serampangan saja mengutus muridnya yang tampak kurang dewasa dalam bertindak. Kalau saja dia tak memandang muka pada Palingga sahabatnya itu. Sudah pasti dia tidak akan bertindak setengah-setengah untuk menurunkan tangan jahat. Berfikir sampai kesitu, si Maling Bosa diam-diam menarik nafasnya yang terasa semakin menyesak.

"Bocah! Sungguh keterlaluan sekali kau dalam bertindak! Dia sama sekali tidak punya urusan denganmu. Tapi kau malah bertindak telenggas...!" kata si Maling Bosa dengan nada suaranya tertahan. Memerahlah paras gadis itu, kedua bola matanya mendelik dan memandang penuh kebencian pada Maling Bosa. Kemudian dengan bentakan tinggi melengking dia berkata: "Maling Bosa pengecut-pengecut! Sedari tadi kau hanya nonton kawan-kawanmu. Kini engkau malah menuduhku bertindak telenggas, siapa suruh dia mencampuri urusanku?" Kata Gadis berkulit putih itu dengan sesungging senyum mengejek. Dengan tiada peduli, lagi-lagi dengan sikap sabar si Maling Bosa menyela.

"Kawanku itu hanya ingin kau mengerti tentang persoalan yang sebenarnya! Lagi pula kalau engkau menuduhku bahwa aku yang telah mencuri keris pusaka kebesaran perguruan, hal itu tak beralasan sama sekali...!" Dewi Sekar Tanjung nampak mendengus begitu mendengar pengakuan si Maling Bosa.

"Mengapa harus dia, bukan engkau saja sekalian yang maju...!" bentak Dewi Sekar Tanjung semakin bertambah marah.

"Aku tak punya kesalahan dengan perguruan Nganti Mulih! Untuk apa aku melayani bocah tengik sepertimu...?" kata si Maling Bosa mulai tak dapat menahan kesabarannya.

"Jahanam! Maling busuk, masih juga kau tidak mau mengakui perbuatanmu...!" Kini Dewi Sekar Tanjung kembali menghunus pedangnya. Si Maling Bosa nampak tersenyum sinis. Sesungguhnya dalam gertakan pendahuluan dia memang sudah tahu kalau ilmu pedang si gadis bengal itu tidak dapat dibuat sembarangan, akan tetapi Maling Bosa bukanlah seorang tokoh yang bisa di pandang enteng. Kepandaian silatnya sudah jelas di atas ketua perkumpulan partai Tenggara. Atau mungkin juga setarap dengan kepandaian yang dimiliki oleh Palingga, guru si gadis urakan itu.

"Sudah kubilang, aku tak tahu menahu akan hilangnya berbagai pusaka milik banyak perguruan. lagipula aku tak membutuhkan segala jenis harta kebesaran seperti yang diributkan tikus-tikus comberan...!" bentak Maling Bosa saking kesalnya.

"Kalau begitu mampuslah kau...!"

"Hiaaa...! Ciaaat...!" Dengan pedangnya Dewi Sekar Tanjung melabrak si Maling Bosa, segera saja maling berewokan ini pun berjumplitan menjauh, beberapa saat kemudian tubuhnya tanpa menimbulkan suara sudah nampak berdiri di luar halaman kedai itu. Dewi Sekar Tanjung mengira si Maling Bosa hendak kabur, maka dengan cepat dia pun memburu lawannya.

"Maling keparat, jangan coba-coba mengelabuhi aku...!" Bentak si gadis dengan kemarahan yang meluap-luap. Melihat kenekatan Dewi Sekar Tanjung semakin bertambah gusarlah laki-laki berewokan ini dibuatnya.

"Budak sialan! Mengadulah pada gurumu! Kalau kau tidak segera pergi dari hadapanku. Aku pasti akan memenjarakanmu di Rawa Kematian...!" ancam si Maling Bosa hilang kesabarannya.

"Kentut busuk! Kau penjara di neraka sekalipun siapa takut?" Dewi Sekar Tanjung menggerendek. Sebentar kemudian dia telah melakukan serangan-serangan gencar kembali. Pedang ditangannya bergerak sebat, dengan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai tarap sempurna, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya. Meskipun begitu, Maling Bosa adalah seorang tokoh persilatan yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan. Apalagi sebelum dulu mereka mengikat tali persahabatan dengan Palingga, dia pernah bentrok dengan laki-laki yang merupakan guru si gadis. Sedikit banyaknya tentu dia sudah dapat membaca permainan pedang lawannya. Meskipun tusukan dan sabetan pedang di tangan lawan terkenal cepat dan ganas, akan tetapi si Maling Bosa dengan begitu mudahnya dapat mengelakkan setiap serangan. Menghadapi kenyataan itu mendidihlah darah si gadis. Kini dia semakin meningkatkan permainan pedangnya. Tubuhnya berkelebat laksana kilat, dalam waktu sekejap si Maling Bosa sudah terkurung rapat. Agaknya si gadis yang sangat menggiurkan itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Sejauh itu si Maling Bosa dengan masih mempergunaan jurus Maling Menidurkan Majikan nampak berkelit kian kemari. Hingga sampai pada puncaknya, laki-laki itu balik lancarkan serangan. Dengan mempergunakan ilmu totokan si Jari Maut dia bermaksud segera merobohkan si gadis tanpa melukai tubuhnya. Sekali lagi tubuhnya berkelebat-kelebat, secepat kilat dengan satu sentilan yang sangat pelan saja.

"Tess!"

"Blugk!" Dewi Sekar Tanjung yang mempunya wajah dan bentuk tubuh yang sangat menggiurkan memperdengarkan suara mengeluh untuk kemudian jatuh terguling-gu-ling tanpa daya. Si Maling Bosa tersenyum mengejek, tak berapa lama kemudian dia menoleh pada sahabatnya.

"Adi Arya Pasangran dan adi Luki Denta! Sesuai dengan janjiku, aku akan memenjarakan gadis bengal ini di Rawa Kematian...!" Mendengar ucapan si Maling Bosa, pucatlah wajah Dewi Sekar Tanjung bagaikan kapas. Dalam keadaan tertotok seperti itu sudah jelas dia tak mampu berbuat banyak. Jangankan untuk bergerak, menjerit pun dia sudah tak mampu, Maling Bosa pun kiranya telah menotok jalan darahnya pula. Meskipun dia merupakan seorang gadis pemberani, tak urung tubuhnya menggigil juga membayangkan apa yang akan menimpa dirinya di Rawa Kematian nanti. Belum lagi pupus bayangan kengerian dari benaknya tiba-tiba si Maling Bosa sudah menyambar tubuh tanpa daya itu untuk kemudian segera berkelebat pergi. Sepeninggalnya Maling Bosa, Arya Pasangran dan Luki Denta nampak saling pandang. Beberapa saat berikutnya kedua orang itu pun melangkah pergi meninggalkan warung tuak yang porak peranda. 4

Dengan tubuh basah kuyup pemuda itu kini kembali mengenakan pakaiannya yang dia tinggalkan di tepi pantai utara selama hampir lebih dua belas jam. Usai berpakaian pemuda berpakaian merah dengan rambutnya yang dikuncir sebatas bahu itu segera menyambar sebuah periuk besar yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi. Tak lama kemudian dari dalamnya dia sudah keluarkan beberapa potong dendeng ikan lumba-lumba. Secara perlahan namun rakus, potongan demi potongan dendeng ikan itu pun lenyap tak tersisa. Kini kedua bola matanya memandang ke laut lepas, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba dia teringat akan gurunya si Bangkotan Koreng Seribu yang sudah sekian lama di tinggalkannya. Udara laut yang terasa menusuk dan selalu berherumbus keras, membangkitkan kenangannya pada saat-saat latihan dulu, di Pantai Karang Tanjung Api. Dia berfikir! Andai saja hidup bisa terulang, dan jika boleh memilih. Sudah barang pasti dia tidak akan meninggalkan tempat kediaman gurunya di Pantai Karang Tanjung Api, yang kini telah berjarak lebih dari delapan ratus purnama perjalanan. Di sana akan merawat guru yang sekaligus merupakan orang tua angkatnya, hingga orang tua yang sangat sakti itu menutup mata.

Hatinya semakin kecewa, terlebih-lebih dalam usaha mencari orang tua kandungnya, yaitu si Piton Utara hingga detik itu belum juga membuahkan hasil. Bahkan sejak tadi pagi dia sudah menyelam sampai ke dasar laut demi menemukan letak tapa ayahandanya si Raja Negeri Bunian yang berwujud seekor Ular Piton raksasa. Akan tetapi selama hampir dua belas jam dia hilang timbul di bawah permukaan air, bahkan sampai ke relung yang paling dalam dan gelap di dasar sana, sejauh itu masih belum ada tandatanda di mana ayahandanya berada. Si pemuda yang sesungguhnya pendekar Hina Kelana, nampak tepuk-tapuk jidatnya yang terasa berat. Tiba-tiba saja dia bergumam:

"Mungkin ini sudah merupakan suratan nasibku! Di lahirkan membawa mati emak, bapak demi menebus kesalahannya malah bertapa dan mengasingkan diri di dasar laut. Ayahanda seorang raja, akan tetapi raja yang berbuntut dan bersisik. Laut luas, sungai panjang. Di laut yang mana aku harus mencari seekor ular raksasa yang sesungguhnya merupakan ayahanda kandungku. Di dasar sana tadi aku jumpa banyak ular, ular kecil, bersisik kecil. Mana mungkin ayahanda sebesar itu!" Pendekar Hina Kelana mengomel seorang diri bagai seorang tolol yang sedang menghitung laba rugi. Lagi-lagi dia tepuk-tepuk keningnya..

"Mengapa akau harus secengeng ini! Si Bangkotan Koreng Seribu pasti akan marah bila melihat muridnya mempunyai hati lemah seperti aku. Dasar nasib apek bau terasi...!" Selesai dengan sumpah serapah. Buang Sengketa segera menyambar periuknya. Dengan sekali genjot lenyaplah tubuh pemuda berwajah sangat tampan itu ditelan kegelapan senja yang sudah merembang malam. Dan apabila malam telah datang, maka pemuda itu pun melewatkan kesunyian malam di sembarang tempat. Terkadang bila dia mau maka dia pun tidur di cabang-cabang pohon, di tengah belukar di ladang, atau pun di gubuk reot yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Ketika keesokan paginya Pendekar dari Negeri Bunian itu kembali melanjutkan perjalanannya. Suasana pagi yang cerah, burungburung bernyanyi di ranting nan hijau. Udara yang bertiup sepoi-sepoi sesekali menyibakkan anak rambutnya yang dibiarkan memanjang sampai sebatas alis matanya. Langkah pemuda itu kini sudah semakin bertambah menjauh, hingga pada suatu tempat yang agak berbukit pemuda itu mendadak hentikan langkahnya. Bahkan kini dia berusaha bersembunyi pada rumpun semak-semak yang terdapat tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Dan kini melalui celah-celah dedaunan dengan pandangan curiga di perhatikannya sosok tubuh yang semakin lama semakin mendekat. Tak lama setelah orang itu mendekat maka terkesiaplah darah Pendekar Hina Keiana. Kini jarak mereka hanya sepulu tombak, dengan jeias dia melihat seorang laki-laki berusia berkisar empat puluh tahun nampak sedang memondong satu buntalan besar di bagian punggungnya. Buang Sengketa menduga bahwa mungkin saja orang yang kini nampak sedang duduk berlehaleha itu merupakan seorang pedagang berbagai peralatan dapur, dan sedang melakukan perjalanan yang sangat jauh. Akan tetapi naluri hewannya mengatakan, tidak mungkin laki-laki itu memperjual belikan pisau dapur atau pun golok penjagal babi. Sebab melihat rupa dagang di antara barang-barang yang tersembul itu, sudah jelas merupakan jenis pusaka yang sangat berharga, tidak mungkin barang-barang itu diperjual belikan.

Kini pendekar Hina Kelana lebih terkesiap lagi begitu secara sekilas dia sempat melihat rupa dari laki-laki itu. Sosok wajah yang sangat mengerikan, dengan bekas-bekas luka yang masih belum kering secara keseluruhan. Agaknya wajah orang itu, bekas di cakar-cakar makhluk yang sangat buas, atau mungkin pula bekas terhempas dari atas sebuah jurang yang mengerikan. Wajah laki-laki itu benar-benar sangat rusak dan menjijikkan. Bahkan terlalu buruk dari makhluk apapun. Apakah yang telah terjadi pada laki-laki bertampang sadis dan sangat rusak itu? Buang Sengketa bertanya-tanya, dan tanpa dia sadari bulu kuduknya merinding. Sesaat kemudian dia sudah bermaksud meninggalkan tempat itu ketika secara tiba-tiba laki-laki berwajah rusak itu tertawa tergelak-gelak bagai orang yang sedang kesurupan. Terkesiaplah darah Pendekar Hina Kelana begitu menyadari bahwa suara tawa lakilaki itu sesungguhnya mengandung tenaga dalam yang sangat sempurna. Dari niatnya untuk berlalu meninggalkan tempat itu, kini Buang Sengketa malah bermaksud ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang laki-laki itu. Dengan sangat hati-hati dia mulai mengendap-endap menghampiri sebatang pohon yang hanya berjarak satu tombak dari tempatnya semula. Semakin bertambah jelaslah wajah dari laki-laki itu, sebentar kemudian angin Barat Daya berhembus kencang, segera bau yang tak sedap terasa menusuk hidung si pemuda mendadak perutnya terasa bagai di aduk-aduk, mual dan ingin muntah. Buang Sengketa berusaha agar jangan sampai semua isi perutnya ke luar. Sebab andai saja hal itu sampai terjadi, sudah barang tentu perbuatannya yang kurang terpuji itu sudah jelas segera di ketahui oleh laki-laki yang kini masih terus tertawa-tawa bagai orang gila. Tak lama kemudian laki-laki berwajah buruk itu hentikan tawanya, rupanya yang dipenuhi dengan goresan-goresan luka yang mengerikan nampak tertunduk, mendadak dia menangis menggerung bagai seorang bocah ditinggal mati emak dan bapaknya. Suara tangis itu terasa demikian sedih dan menyayat, bahkan kini dia sudah ngedeprok di atas tanah yang lembab. Kaki berkelojotan, tangan memukul-mukul bagian dadanya, semakin lama suara tangisnya semakin menjadi-jadi. Mungkin saja laki-laki itu sedang mengalami guncangan batin yang hebat, atau pula dia orang yang kurang waras. Demikianlah Buang Sengketa mereka-reka.

Hanya beberapa saat sesudahnya, laki-laki buruk rupa itu pun hentikan tangisnya. Seketika pandangan matanya berubah nanar dan buas, dia langsung berdiri. Kemudian dengan suaranya yang berat dan parau dia berteriak seorang diri. "Kenapa nasib yang tidak pernah berpihak! Engkau telah mencampakkan aku pada jurang yang paling menyakitkan. Lorong-lorong nista dan terkutuk yang pernah digali oleh ayah kandungku sendiri, mengapa aku yang harus terperangkap di dalamnya? Puih! Aku tak terima, aku telah berkorban untuk seluruh hidup ku karena luka yang terkutuk ini. Kini aku sudah bertindak, setiap perguruan pasti akan saling bunuh, karena kehilangan pusaka! Celakalah bagimu hai Maling Bosa. Celaka... karena kau tidak tahu akal muslihatku...!" Usai berkata begitu, laki-laki buruk rupa itu meraba bungkusan yang menggelantung di punggungnya.

"Ha... ha... ha...! Hu... hu... hu...!" Laki-laki berwajah buruk itu kembali tergelak-gelak! Wajahnya membiaskan kelicikan jiwanya.

"Dengan senjata   pusaka   kebesaran dari

berbagai perguruan di tanganku ini secara tidak langsung aku telah merajai dunia persilatan dari berbagai golongan. Tidak percuma... tidak percuma!" Dengus Nyaur Pati dengan kesombongan yang sangat berlebihan. Demi mendengar ucapan laki-laki yang berjuluk Nyaur Pati itu, mendidihlah darah Pendekar Hina Kelana ini. Secara tidak langsung dia sudah mengadu domba satu perguruan dengan perguruan lain. Bahkan dengan tindakannya itu, dunia persilatan akan saling curiga mencurigai, bahkan akan bertarung sesamanya. Hal itu akan sangat mengerikan sekali akibatnya. Akan bagaimana jadinya dengan nasib si Maling Bosa seperti yang disebut-sebut oleh Nyaur Pati si buruk rupa itu? Kalau tidak di cegah tentu Maling Bosa yang belum di kenal oleh Buang Sengketa akan mengalami nasib yang sangat menyedihkan. Semula dia menyangka kalau laki-laki buruk rupa itu adalah pedagang pisau dapur atau golok jagal babi. Tak dinyata kiranya seorang keluarga iblis yang kesasar di daerah itu. Pendekar Hina Kelana nampak gusar sekali. Kedua bibirnya terkatup rapat, rahang bergemeletukan menahan marah. Akhirnya tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya berkelebat seringan kapas. Tahu-tahu dia sudah berdiri dihadapan si Buruk Rupa.

Laki-laki berwajah buruk itu sangat terkejut sekali, begitu melihat kehadiran Pendekar Hina Kelana yang tidak disangka-sangka. Meskipun Nyaur Pati menyadari kalau pemuda yang kini berdiri di hadapannya itu sedikit banyaknya tentu berkepandaian, akan tetapi dengan gusar dia membentak:

"Hem! Rupanya ada juga anjing geladak berkeliaran di tempat yang sesunyi ini...?" ucapnya dingin. Tanpa menjawab Buang Sengketa menatap tajam pada sosok wajah yang menjijikkan dan mengeluarkan bau yang sangat busuk.

"Bocah pentil! Tahukah engkau bahwa siapa pun yang pernah bertemu dengan si Nyaur Pati, jiwanya tak akan terampuni lagi!" Kata laki-laki berwajah sangat buruk itu mengancam. Mendengar ancaman itu Pendekar Hina Kelana leletkan lidah, lalu garuk-garuk pantatnya yang tidak gatal. Dengan cengegesan dia menjawab:

"Tahuku, namamu Nyaur Utang! Hutanghutangmu akan semakin bertumpuk kalau tidak engkau bayar dari saat sekarang...!" kata Buang Sengketa mencemooh. Wajah Nyaur Pati nampak menegang begitu mendengar ucapan Pendekar Hina Kelana. Bersamaan dengan kemarahannya yang meluap-luap, puluhan belatung dari celahcelah lukanya yang membusuk berjatuhan ke tanah. Diam-diam si pemuda mengkirik. Ironisnya lagi, begitu belatung-belatung itu menggeliat-geliat di atas tanah, si buruk rupa segera memungutnya, kemudian satu demi satu belatung-belatung itu di kremusnya. Tanpa menghiraukan Buang Sengkata dia bergumam seorang diri.

"Karena engkau telah memakan dagingku! Maka kini aku harus memakan dagingmu pula!" Seusai dengan ucapannya itu, dengan cepat dia kembali memandang si pemuda, beberapa kali dia meludah, laki-laki buruk rupa itu terus menyambung:

"Bocah! Bicaramu terlalu sombong, tahukah engkau bahwa sebentar lagi engkau akan menjadi budakku di belantara Karang Hantu?" "Hak.. hak... hak...!" Pendekar Hina Kelana tergelak-gelak.

"Manusia iblis budak setan! Jangan banyak tingkah, lebih baik kau tinggal senjata pusaka milik berbagai perguruan itu. Kemudian menggelindinglah dari hadapanku!" Bentak si pemuda.

* * * 5

”Budak hina! Besar sekali nyalimu, ketahuilah biar pun engkau punya sepuluh tangan sepuluh kaki. Engkau tidak bakalan unggul menghadapi Majikan Karang Hantu!"

"Pencuri tengik, jangak banyak cingcong! Tinggalkan pusaka-pusaka itu, atau tubuh busukmu akan berkubang darah...!" bentak Buang Sengketa sudah sangat marah sekali.

"Kalau begitu aku membatalkan niatku untuk mengangkatmu menjadi budak! Dan sebagai gantinya kau harus mampus...!" Bersamaan dengan ucapannya itu, Nyaur Pati melambaikan tangannya. Meskipun gerakan tangan itu seperti hanya bermain-main, akan tetapi akibatnya sungguh sangat luar biasa. Sesaat kemudian badai angin Puting Beliung menderu, laksana kilat meluruk ke arah Pendekar Hina Kelana. Pemuda itu nampak tersentak kaget untuk beberapa saat lamanya. Akan tetapi begitu menyadari akan bahaya besar yang mengancam jiwanya, dengan pergunakan pukulan Empat Anasir Kehidupan tangannya cepat berkiblat memapaki. Selarik gelombang Ultra Violet melesat lebih cepat menyongsong datangnya pukulan Badai Puting Beliung. Benturan tenaga sakti itu pun tak terelakan lagi.

"Blaam!" Bumi tergetar hebat, langit seakan runtuh! Tubuh Pendekar Hina Kelana terlempar dua tombak. Dari hidung dan bibirnya meleleh darah kental. Pemuda itu segera atur nafasnya yang terasa menyesak! Tak begitu lama kemudian dia sudah bangkit kembali. Sementara itu di pihak lawan, tubuh Nyaur Pati hanya bergetar sedikit, kedua kakinya amblas ke bumi sampai sebatas tumit. Meskipun begitu dia masih merasakan hawa panas dari pukulan lawan, masih terasa menyelimuti tubuhnya. Sadarlah dia bahwa pemuda berpakaian lusuh dengan rambut dikuncir ini merupakan seorang lawan yang memiliki kepandaian tinggi. Meskipun begitu masih dengan senyum mencibir dia menyela:

"Bagus! Kiranya kau berkepandaian juga rupanya. Pantas saja engkau berani jual lagak di depan hidungku...!"

Buang Sengketa tersenyum kecut, dalam hati dia sangat menyayangkan si Buruk Rupa kiranya mempunyai perangai lebih buruk dari wajahnya yang memang ancur-ancuran. Manusia berilmu sangat tinggi seperti dirinya menempuh cara hidup yang sangat sesat dan tercela.

"Bangsat Muka Setan, aku masih belum kalah! Majulah... aku tidak akan pernah mundur menghadapi iblis sepertimu...!" Tiba-tiba saja Buang Sengketa menyela. Mendengar tantangan si pemuda, Nyaur Pati tertawa ganda.

"Kau benar-benar mencari penyakit bocah pentil! Keluarkanlah segala ilmu simpananmu, sebelum aku benar-benar mengirimmu ke liang kubur...!"

"Bangsat terkutuk! Mampuslah...!" Diiringi dengan teriakan menggelepar, Pendekar Hina Kelana langsung menerjang. Dan langsung pula pergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra. Maka dalam waktu sekejap tubuh si pemuda sudah berkelebat sedemikian cepatnya. Akan tetapi Nyaur Pati bukanlah manusia berkepandaian rendah, bagi pembunuh berdarah dingin ini, bertarung dengan memainkan jurus-jurus hanyalah merupakan pekerjaan yang bertele-tele dan menyita banyak waktu. Meskipun dia menyadari bahwa apa yang ditampilkan oleh si pemuda sesungguhnya memang permainan silat tingkat yang sangat tinggi. Akan tetapi dia mempunyai pilihan yang sangat tepat untuk menyeret lawannya pada pertarungan tingkat yang paling tinggi. Tiada pilihan terbaik terkecuali mengadu kesaktian dan kelebihan pukulan-pukulan simpanannya.

Buang Sengketa terus memperhebat serangan-serangannya, sebaliknya Nyaur Pati dengan penuh tipu muslihat malah menyurut langkah. Dengan cepat, dia gosok-gosokkan kedua tangannya. Dari tangan yang menyatu rapt itu beberapa saat kemudian telah mengepulkan uap biru yang menyebarkan bau sangat busuk. Buang Sengketa baru menyadari kalau Nyaur Pati sedang bersiap-siap melepaskan pukulan maut kepadanya. Sontak dia langsung hentikan serangannya. Seketika itu juga dia siapkan pukulan Empat Anasir Kehidupan tingkat kedua. Setengah dari tenaganya kini tertumpu pada kedua tangannya. Tubuh Nyaur Pati kini sepenuhnya telah terbungkus kabut biru, bau tak sedap mulai menyebar di mana-mana. Dan sesungguhnya pula saat itu laki-laki buruk rupa itu telah menghimpun tenaga sakti yang diberi nama Selaksa Hantu Menyebar Maut. Yang memang telah banyak memakan korban. Tak begitu lama kemudian, tiba-tiba Nyaur Pati melengking dahsyat. Tubuhnya lenyap seketika itu juga. Bangsat Ilmu Siluman!

Buang Sengketa mengeluh di dalam hati. Dia merasakan desakan angin kencang menyambar berseliweran di atas kepalanya. Semakin lama semakin terasa deras dan bertambah banyak. Buang Sengketa nampak kebingungan. Tubuhnya berputar-putar mencari di mana posisi lawan yang sesungguhnya. Dalam posisi yang mungkin tidak menguntungkan bagi keselamatan dirinya, Pendekar Hina Kelana membagi-bagi pukulan mautnya pada delapan penjuru mata angin.

"Blar! Blar! Blar! Blar...!" Terdengar tawa

mengekeh begitu pukulan Pendekar Hina Kelana terlepas. Tanpa mencapai sasaran. Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilancarkannya menghantam pohon-pohon di sekelilingnya. Bunyi bergemuruh dari rubuhnya pohon-pohon itu membuat binatang-binatang di sekitarnya berlarian tunggang langgang. Sementara itu Nyaur Pati yang pada saat Buang Sengketa lancarkan serangan memang tidakherada di posisi sasaran. Kini semakin tergelak-gelak.   Keadaan itu memang sangat di kehendakinya. Setelah lawan lepaskan pukulan baru kemudian dia memukul. Inilah saat yang sangat tepat. Diiringi dengan tawa kemenangan dia lepaskan pukulannya.

"Mampuslah! Hait...! Hiaa...!"

"Wer! Wer!" Secepat kilat pukulan yang memancarkan cahaya kebiru-biruan itu melesat dan mengisyaratkan hawa kematian. Celakalah bagi Buang Sengketa yang saat itu masih belum siap pada posisinya. Pukulan maut yang dilepaskan oleh Nyaur Pati dan berkelebat demikian cepatnya sudah tak mungkin terelakkan lagi. Secara reflek dia meraba punggungnya, akan tetapi sudah tidak keburu. Pukulan yang di lepaskan oleh nyaur Pati langsung melabrak tubuhnya.

"Blam!" Tanpa ampun lagi tubuh si pemuda

langsung terpelanting dan menabrak pohon yang berada di belakangnya. Andai saja bukan Pendekar Hina Kelana yang terkena pukulan itu sudah dapat di pastikan tewas seketika itu juga dengan keadaan tubuh hangus membiru. Karena sesungguhnya pukulan Selaksa Hantu Menyebar Maut itu merupakan pukulan beracun yang sangat keji. Dan masih merupakan keuntungan pula bagi si pemuda bahwa tubuhnya kebal terhadap segala macam racun. Meskipun begitu darah segar berhamburan dari mulut Buang Sengketa, dada laksana remuk, pandangan matanya nanar. Bahkan kepalanya berdenyut sakit pusing dan mau muntah. Secepatnya dia menyeka darah yang berlelehan di celah-celah bibirnya. Lebih cepat lagi dia himpun hawa murninya. Sebentar kemudian wajahnya yang pucat pasi itu, kini telah kembali kemerah-merahan. Akan tetapi belum lagi dia beringsut dari tempatnya. Nyaur Pati demi mengetahui lawannya tidak mampus oleh pukulan saktinya nampak marah sekali dan kini lancarkan serangan jarak jauh yang lebih besar dan ganas. Kembali seberkas sinar warna biru menyala meluruk si pemuda.

Buang Sengketa yang sudah merasa sangat geram melihat keganasan pukulan yang telah dilancarkan lawannya, sudah jelas tak mau ambil resiko. Secepat sinar maut itu menderu, dua kali lebih cepat pendekar Hina Kelana mencabut pusaka Golok Buntungnya. Laksana auman ratusan Harimau yang sedang kelaparan senjata di tangan si pemuda menderu dahsyat.

"'Tes!" Pukulan Selaksa Hantu Menyebar Maut yang dilancarkan oleh si buruk rupa disambut oleh kedahsyatan pusaka Golok Buntung. Anehnya begitu pukulan maut itu membentur pusaka di tangan Buang Sengketa, Nyaur Pati merasakan tubuhnya terbetot dan bagai sebuah magnet tubuh si buruk rupa bagai disentakkan ribuan tangantangan setan. Nyaur Pati bertahan mati-matian demi membuyarkan daya tarik senjata di tangan lawanya yang begitu hebat. Keringat dingin mulai meleleh membasahi wajahnya yang semakin menimbulkan bau busuk di sekelilingnya. Dalam detik-detik yang sangat menegangkan itu, agaknya Nyaur Pati sudah semakin tak berani mengadu tenaga dalam. Kalau pun hal itu sangat terpaksa harus dia lakukan sudah barang tentu dia akan mengalami nasib yang konyol. Sifat dari pusaka Golok Buntung adalah menyedot tenaga inti sang lawan, andai pun dia berani melakukan tindakan itu. Ini berarti dia hanya menjadi penyumbang tenaga sakti pada pihak lawan. Kiranya Buang Sengketa dapat membaca apa yang sedang di pikirkan oleh pihak lawannya. Untuk menyudahi pertarungan bagi si pemuda terasa sangat mudah! Akan tetapi sudah menjadi pantangannya untuk tidak bermain kotor. Meskipun sesungguhnya dia menyadari bahwa lawannya hanyalah seorang tokoh dari golongan hitam yang sewaktu-waktu dapat bertindak licik. Masih dalam posisi semula, ketika si Hina Kelana lontarkan satu pukulan Empat Anasir Kehidupan terhadap si Buruk Muka. Selarik gelombang yang teramat panas menderu dan langsung menghajar tubuh Nyaur Pati yang masih dalam posisi bertahan. Laki-laki bertampang amburadul itu terpekik keras sewaktu sinar Ultra Violet menabrak tubuhnya, secara praktis Nyaur Pati terlepas dari pengaruh daya tarik Golok Buntung di tangan Buang Sengketa. Laki-laki majikan Karang Hantu itu terbanting keras di atas batu-batu cadas yang berada di sekitar tempat itu. Akan tetapi ternyata Nyaur Pati memiliki daya tahan yang sangat luar biasa hebatnya. Si buruk muka hanya terbatuk beberapa kali. Kemudian dia seka hidungnya yang tampak mengalirkan darah kental. Meskipun begitu tidak sedikit pun wajah yang sangat rusak itu membayangkan rasa takut, apalagi jera. Pendekar Hina Kelana melangkah hampir di depan Nyaur Pati yang kini sudah mulai berdiri, meskipun dengan kaki sedikit gemetaran. Saat itu Buang Sengketa sudah siap-siap dengan pukulan kedua. Dalam pada itu tiba-tiba Nyaur Pati menyela: "Bocah keparat! Siapakah engkau ini...! Ilmu pukulanmu seperti pernah aku kenal!" Ujar Nyaur Pati berusaha mengingatingat. Pendekar Hina Kelana tertawa ganda.

"Manusia edan muka hantu, lebih baik kau serahkan bungkusan pusaka yang telah kau colong dari berbagai perguruan! Sebab aku takut engkau tak keburu mendengar apa yang akan kukatan nanti...!"

"Bangsat sombong! Terimalah...!" Berkata begitu Nyaur Pati lemparkan satu benda ke arah Pendekar Hina Kelana dan begitu tangan si pemuda menyampoknya, benda itu meledak dan menyebarkan asap yang sangat tebal. Tahulah si pemuda bahwa Nyaur Pati berusaha melarikan diri dengan asap penghilang jejak tersebut. Buang Sengketa kebut-kebutkan tangannya, takut kalaukalau asap yang menyebar ke mana-mana itu mengandung racun yang ganas. Dalam pada itu terdengar pula suara Nyaur Pati yang sudah sangat jauh:

"Budak Hina! Kalau kau memang benarbenar seorang kesatria. Kutunggu engkau di Neraka Karang Hantu...!" Demikianlah begitu kabut asap itu lenyap sama sekali, Nyaur Pati benar-benar telah merat dari tempat itu. Pendekar Hina Kelana nampak sangat kesal sekali.

Sial! Aku tak tahu kearah mana larinya si wajah berantakan itu! Rutuknya panjang pendek. Dengan menyimpan kedongkolan yang di dalam hati, tak lama kemudian pemuda itu kembali meneruskan perjalananya. Dengan satu tujuan, mencari si Maling Bosa yang malang itu.

* * * 6

Matahari sudah hampir condong ke ufuk Barat, ketika kedua manusia Katai itu menelusuri jalan setapak menuju kota Paring Katon. Wajah mereka yang nampak lusuh, membayangkan hati yang dalam. Berhari-hari mereka mengitari Rawarawa Kematian, hanya demi menemukan si Maling Bosa yang mereka duga telah melarikan pedang Pusaka Belibis Sakti milik perguruan Sangga Langit yang juga masih merupakan perguruan mereka. Seperti di ceritakan, kedua perempuan Katai itu mengalami kesulitan untuk menjarah tempat kediaman si Maling Bosa yang terletak di tengahtengah Rawa Kematian, dikarenakan Rawa-rawa itu dipenuhi dengan berbagai binatang berbisa yang terkenal sangat ganas. Sementara itu usaha mereka mencari jalan rahasia untuk sampai di tengah Rawa juga mengalami jalan buntu. Tak ada tanda-tanda jalan yang sering dipergunakan si Maling Bosa untuk mencapai tempat tinggalnya.

Tak ada pilihan lain terkecuali kembali atau mencari si Maling Bosa di tempat lain. Tanpa berkata-kata mereka terus menelusuri jalan setapak, sampai pada akhirnya membelok di sebuah tikungan yang sempit. Begitu tiba dijalan yang lurus kedua perempuan Katai itu melihat dua sosok manusia berlari-lari kecil menyongsong kehadiran mereka. Agaknya si Katai ini mengenali dua laki-laki yang dalam suasana tergesa. Tanpa menghiraukan si Katai, kedua laki-laki yang sesungguhnya Arya Pasangra dan Luki Denta, dengan sikap acuh terus melewati mereka. Tentu saja perempuan Katai ini merasa kurang senang, diri mereka di remehkan seperti itu. Tiba-tiba tanpa menoleh tangan kiri si Katai bergerak ringan ke arah belakang.

"Wuut!" Meskipun mereka berlari-lari kecil, agaknya Arya Pasangra menyadari kalau kedua orang Katai itu punya maksud-maksud tertentu terhadap mereka, Itulah sebabnya begitu dia merasakan angin pukulan menyambar ke arah Arya Pasangra, tangan kanannya dengan cepat menangkis:

"Plak!" Bukan main terkejutnya kedua perempuan Katai itu. Mulanya mereka menyangka bahwa dua orang Ketua Partai Perkumpulan Pengemis Tenggara ini akan tersungkur jatuh begitu pukulan gelap yang mereka lancarkan melabrak tubuh Arya Pasangra. Tidak dinyana, ternyata Ketua Partai Pengemis ini cukup berisi juga. Arya Pasangra dan Luki Denta balikkan langkah. Kedua perempuan Katai itu memandang sinis pada mereka.

"Dua kunyuk gembel tak tahu adat! Kalian sungguh-sungguh tidak memandang muka pada kami, berjalan seenaknya bagai dua ekor anjing geladak!" Maki si Katai Losi, menuding dengan jari telunjuknya yang buntek. Mendapat makin sedemikian rupa, sudah barang tentu Arya Pasangra dan Luki Denta menjadi marah. Arya Pasangra maju setindak.

"Manusia kerdil kesasar! Siapa salah. Jalan ini milik orang banyak, untuk apa harus memakai segala peradatan...!" Si katai Jola mendengus, wajahnya berubah merah padam. Begitu sinis dia memandang wajah Ketua Pengemis Partai Tenggara.

"Bagus! Bangsanya pengemis memang tak pernah mengenal peradatan...!"

"Katai sialan, kau bukanlah seorang raja. Bukan pula seorang majikanku, untuk apa harus memakai segala peradatan segala...?!" "Kakang! Mungkin mereka sengaja mencari gara-gara pada kita...!" Luki Denta menyela. Arya Pasangra anggukkan kepala.

"Bagus kalau kalian sudah mengetahui tujuan kami! Untuk itu andai kalian masih sayangkan nyawa. Kami mau kalian menjawab bebarapa pertanyaan kami!" kata si katai Losi.

"Manusia kerdil dari perguruan Sangga Langit! Selamanya kaum pengemis Partai Tenggara tak mempunyai persoalan apa pun dengan perguruan kalian. Akan tetapi jika kalian menghendaki jawaban dari kami, sebelumnya kami harus mengetahui pertanyaan apa yang harus kami jawab...!" kata Arya Pasangra dengan nada sedikit lunak. Kedua orang perempuan kerdil itu tertawa rawan.

"Pertanyaannya tidak terlalu sulit! Akan tetapi jika kalian tidak benar memberikan keterangan, jiwa kalian pasti melayang." Kata si Katai Jola peruh ancaman.

"Bicara saja muter-muter! Katakan saja dengan jelas bangsat busuk...!" Bentak Luki Denta sudah tak sabaran. Lagi-lagi kedua perempuan katai itu tersenyum penuh kelicikan. "Bukankah kalian berdua merupakan sahabatnya si Maling Bosa?" Pancing si Katai Losi. Mendapat pertanyaan seperti itu Arya Pasangra maupun Luki Denta sudah dapat meraba kemana arahnya pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Ketua partai kaum pengemis ini menyadari bahwa malapetaka besar bakal menimpa diri sahabatnya. Tanpa sadar kedua laki-laki itu saling pandang. Si Katai mengekeh kedua orang itu merasa yakin kalau Arya Pasangra dan Luki Denta mengetahui di mana sesungguhnya Maling Bosa berada. Tak lama kemudian si katai Losi menyambung:

"Kalau kalian tak ingin cepat-cepat masuk ke liang kubur, cepat katakan di mana si Maling terkutuk itu bersembunyi...!" Bentaknya dengan sesungging senyum maut. Arya Pasangra terkekeh! Cepat-cepat dia menyahuti:

"Kalian berdua juga pasti menuduh bahwa si Maling Bosalah yang telah mencuri senjata kebesaran milik perguruan kalian...!" Kata laki-laki itu menduga-duga.

"Bagus sekali kalau kalian benar-benar sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya! Kami tidak usah bersusah payah memberi penjelasan pada kalian berdua...." Arya Pasangra gelengkan kepala." Tidak! Maling Bosa bukanlah manusia yang rakus akan senjata pusaka. Tuduhan itu sama sekali   tidak beralasan "

"Jahanam... kalian rupanya sengaja bersekutu dengan maling terkutuk itu. Kalau begitu celakalah bagi kalian berdua...!" Kata si katai Jola sangat marah sekali. Arya Pasangra meskipun merasa tersinggung, akan tetapi dia malah tertawa tergelak-gelak. Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa di kolong langit ini, masih banyak terdapat orang berkepandaian tinggi namun berpandangan sangat picik. Arya Pasangra bertolak pinggang, kemudian beliakkan mata pada si Katai Mata Picak dan juga rekannya yang bermata satu.

"Bangsat kerdil! Sesuai dengan keadaan tubuhmu, kiranya kalian pun berpandangan kerdil dan cetek! Meskipun si Maling Bosa seorang pencuri ulung, kiranya masih lebih baik dari kalian yang mengaku dari golongan bersih. Catatlah dalam otak kalian, andai pun kami sebangsanya pengemis. Tidak nantinya kami bersekutu dengan iblis!" Dihina sedemikian rupa semakin bertambah gusarlah, kedua perempuan katai ini. "Bangsat! Rupanya kalian lebih pantas mampus...!" Belum lagi si Katai Jola usai dengan kata-katanya, tiba-tiba si Katai Losi yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya sudah lambaikan tangannya meng-arah pada Arya Pasangra dan Luki Denta. Ketua Partai Pengemis dari Tenggara yang memang sudah bersikap waspada sejak semula. Begitu melihat si Katai pukulkan tangannya ke arah mereka, dengan cepat pula menghindar. Pukulan maut pertama dapat dielakkan dengan baik oleh kedua laki-laki itu. Si Katai Losi tergelak-gelak. Padahal hatinya sangat mendongkol! Tanpa memberi kesempatan lagi, kembali dia lancarkan pukulan. Arya Pasangra segera mencabut sebilah pedang pendek yang terselip di pinggangnya, sementara Luki Denta dengan cepat pula memutar Toya di tangannya. Meskipun begitu, kedua orang ini nampak tergetar hebat ketika pukulan yang dilancarkan oleh si katai Losi melabrak pertahanan mereka. Luki Denta mengeluh, Arya Pasangra memerah parasnya. Meskipun dia sudah memutar pedang untuk melindungi diri ternyata pukulan yang dilancarkan manusia kerdil itu masih sempat menyambar bahu kirinya. Bajunya sampai robek sebatas dada. Si Katai Losi yang sudah kalap tidak memberinya kesempatan lagi. Kembali dia mengumbar pukulan-pukulan mautnya.

Maklum bahwa tenaga dalam lawan hebat luar biasa, baik Luki Denta maupun Arya Pasangra cepat-cepat menghindar sewaktu angin pukulan kearah mereka. Dengan jurus Pengemis Meminta Sedekah, kedua orang ini kembali menyerbu. Si Katai Losi tidak sempat melihat gerakan kedua orang ini, tahu-tahu tubuhnya sudah berada sangat dekat sekali dengan mata pedang maupun Toya di tangan lawan-lawannya. Hanya tiga seperempat detik si Katai Losi terkesiap melihat pedang yang sudah begiti dekat dengan lehernya. Sementara senjata Toya di tangan Luki Denta dengan gembar menyambar ke arah bagian kaki. Sesaat kemudian tangan kanannya sudah bergerak menangkis serangan Toya, sedangkan bagian badannya mengkelit mata pedang yang hampir saja memapras batang lehernya. Si Katai Losi nampak berjumpalitan ke belakang begitu merasa terbebas dari ancaman senjata di tangan lawanlawannya Sementara itu si Katai Jola yang sedari tadi hanya menonton pertarungan itu nampak tersenyum-senyum. Dia merasa tak perlu turun tangan. Bagaimana pun dia merasa tak perlu turun tangan. Bagaimana dia merasa sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki saudara seperguruan yang seperti diketahui memang lebih tinggi dari dirinya sendiri.

Pertarungan terus berlangsung, Arya Pasangra dan Luki Denta terus memburu lawanlawanya tanpa ampun. Si katai Losi leletkan lidah, dia mencaci maki panjang pendek. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seruan si Katai Jola:

"Kakang Mbok, mengapa begitu bodoh! Bertarung dengan cara seperti itu hanya memperpanjang umur kunyuk-kunyuk sialan itu bertambah beberapa menit. Alangkah baiknya jika kau pergunakan ajian Mulih Pati...!" Kata si Katai Jola menyela. Mendengar teguran adik seperguruannya, sambil melayani lawan-lawannya si Katai Losi terkekeh:

"Hik... hik... hik...! Ajian Mulih Pati, hi... hi... hi... Ajian Mulih Pati! Mengapa tak sedari tadi aku pergunakan ajian itu? Benar-benar aku yang tolol...!" Demi mendengar disebut-sebutnya ajian Mulih Pati, tersiraplah darah Arya Pasangra dan Luki Denta. Sepengetahuan Ketua Partai Pengemis Tenggara, ajian Mulih Pati merupakan sebuah ilmu yang terkenal ganas dan dahsyat. Makhluk apa pun, bila tersentuh ajian yang sangat langka ini, akan tewas seketika itu juga dengan keadaan tubuh mengering dan layu. Dulu ajian ini pernah digunakan malang melintang oleh datuk sesat si Dewa Gila Akan tetapi, pamor tokoh sesat itu kemudian runtuh di tangan tokoh maha sakti yang namanya sudah melegenda di rimba persilatan yaitu Si Bangkotan Koreng Seribu. Bahkan konon begitu geramnya si Bangkotan Koreng Seribu sampai-sampai beliau mencapkakan mayat si Dewa Gila ke dalam Kawah Pitulaya. Bagaimana mungkin perempuan kerdil itu bisa mendapatkan ilmu yang kabarnya sudah sejak ratusan tahun yang lalu lenyap dari permukaan bumi ini. Andai pun mungkin masih ada, bagaimana mungkin bisa secepat itu si kerdil ini menguasainya. Meskipun hatinya masih diliputi keraguan, tak urung dia memperingati Luki Denta:

"Adik Luki Denta, berhati-hati! Jangan sampai tubuhmu tersentuh tangan manusia dajal ini!" ucapnya dengan suara tergetar.

Dalam pada itu, nampaknya si Katai Losi sedang merapal mantra ajian Mulih Pati. bibirnya nampak komat-kamit, sesekali terdengar gerengan suara anjing gila yang terluka. Tak lama kemudian kedua mata yang terkatup itu kini secara perlahan mulai membuka. Nampaknya kedua bola matanya yang memerah saga, api kematian memancar pula dari kedua mata yang setengah picak itu.

* * * 7

Mungkin hanya dengan jurus Pengemis Lontarkan Tongkatlah kedua laki-laki ini mampu mengatasi serangan si Katai Losi. Arya Pasangra langsung memberi isyarat pada Luki Denta untuk mempergunakan jurus-jurus ini. Dengan diiringi teriakan membahana si Katai Losi langsung menyerang Arya Pasangra dan Luki Denta. Tanpa ampun Ketua Pengemis Partai Tenggara dengan sebat putar pedangnya kesegala arah. Begitu pun halnya dengan Luki Denta. Toya di tangannya berputar laksana baling-baling. Sambaran angin yang ditimbulkan oleh senjata di tanganya menimbulkan suara bersiuran. Daun-daun kering beterbangan, dalam waktu sekejab, tubuh ketua pengemis Partai Tenggara ini nampak lenyap tergulung putaran senjata masing-masing. Si Katai Losi yang hampir saja memukul kedua lawannya dengan tangan kiri nampak menarik balik serangan-serangannya. Kemudian dengan gerakan memutar dia bermaksud menyerang lawannya bagian belakang yang nampak rawan pertahanannya, dengan sebat dia memukul pada bagian punggung pihak lawan. Namun pada saat yang kritis bagi Luki Denta, kiranya Arya Pasangra mengetahui maksud licik si Katai Losi. Dengan membentak marah dia babatkan pedangnya ke arah tangan kiri si Katai Losi yang hampir saja berhasil menyentuh punggung Luki Denta. '

"Bet!" Si Katai Losi yang tak menyangka gerakan pedang di tangan Arya Pasangra berkelebat secepat itu nampak berseru tertahan. Andai sepersepuluh detik saja dia terlambat menarik balik tangan kirinya, sudah dapat di pastikan tangan itu sudah putus tersambat ketajaman pedang di tangan lawannya. Cepatcepat si Katai Losi menyurut beberapa tidak. Caci maki berhamburan dari mulutnya yang senantiasa bau jengkol.

"Goblok! Aku tak inginkan uluran tanganmu...!" Si Katai Losi nampak marah sekali, baginya membunuh Ketua Pengemis Partai Tenggara sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Meskipun Arya Pasangran memiliki jurus-jurus pedang yang tinggi, hal itu bukan berarti banyak bagi si Katai ini. Sejauh itu dia sesungguhnya ingin mengetahui lebih banyak lagi sampai di mana sesungguhnya kehebatan pamor yang dimiliki oleh Arya Pasangran mau pun Luki Denta.

"Tapi Kakang Mbok nampaknya memberi angin pada kedua bangsat kunyuk itu. Mereka bisa besar kepala, Kakang Mbok...?" Tukas si Katai Jola memprotes.

"Diam! Ini urusanku...!" Bentak si katai Losi semakin bertambah-tambah kegusarannya. Pertarungan berlangsung sangat cepat, tanpa terasa sudah memakan puluhan jurus. Akan tetapi beberapa saat kemudian setelah mengetahui kelemahan-kelemahan ilmu silat lawan-lawannya, si Katai Losi nampak menyeringai penuh kemenangan. Segalanya tiba-tiba berubah sangat cepat. Si katai Losi kemudian merubah jurus-jurus silatnya. Dan secara diam-diam pula dengan kekuatan yang berlipat ganda, kembali dia mengerahkan ajian Mulih Pati. Beberapa saat setelah itu, dengan menggembor bagai kerbau yang terluka. Tubuh si Katai Losi sedemikian cepatnya dan langsung kirimkan satu pukulan ganas kepada Luki Denta, satu pukulan pancingan dia lepaskan. Luki Denta memutar Toyanya lebih sebat lagi. Agaknya Luki Denta terpengaruh dengan pukulan tipuan yang sesungguhnya merupakan muslihat si Katai Losi untuk melakukan pukulan yang sesungguhnya dengan telak. Luki Denta terpancing jauh. Tatkala tangan kiri si Katai Losi sudah begitu dekat di depan hidungnya, dia menyambut dengan Toyanya. Pada saat itulah tangan kanan manusia kerdil itu berkelebat sedemikian cepatnya ke dada lawannya yang terbuka. Ketika Arya Pasangran menyadari akan bahaya yang mengancam Luki Denta, dia sudah tak dapat berbuat banyaknya. Jarak diantara mereka benar-benar di luar jangkauan kemampuannya.

Luki Denta melolong setinggi langit, begitu pukulan Mulih Pati yang dilancarkan si Katai Losi menghantam dengan telak tubuhnya. Orang kedua dalam perkumpulan Partai Pengemis Tenggara itu terbanting puluhan tombak. Kedua bola matanya terbelalak bagai mau meloncat ke luar, dalam waktu singkat tubuh laki-laki malang itu nampak membiru layu dan kering bagai ikan asin terpanggang terik matahari. Arya Pasangran nampak terbelalak tak percaya, kejadian itu benarbenar terasa sangat meng-guncangkan jiwanya. Diburunya tubuh Luki Denta yang terkapar tiada daya. Namun begitu dia mengguncangkan tubuh kawannya itu, Luki Denta sudah tiada berkutik. Nyawanya telah melayang sesaat setelah si Katai Losi mendaratkan pukulan Mulih Pati. Mendadak Arya Pasangran palingkan muka, lalu memandang pada kedua manusia katai itu silih berganti. Sorot matanya memancarkan api dendam, kedua bibir terkatup rapat. Setindak demi setindak dia melangkah menghampiri si Katai Losi yang nampak menyeringai penuh kemenangan. Kira-kira setengah tombak di depan dia hentikan langkah. Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ketua Perkumpulan Partai Pengemis Tenggara itu pun membentak:

"Anjing cebol! Manusia biadab berhati iblis... kalian harus membayar lunas hutang nyawa kawanku...!" Tukas Arya Pasangran dengan wajah kelam membesi. Baik si Katai Losi maupun si Katai Jola nampak tergelak-gelak begitu mendengar kata-kata Arya Pasangran yang nampak sangat marah. Tak lama kemudian si Katai Jola menyela:

"Gembel pengemis, nyawamu sendiri sebentar lagi segera berangkat ke akhirat bagaimana mungkin engkau dapat menagih hutang nyawa...?" Semakin bertambah mendidihlah darah Arya Pasangran. Tanpa banyak cingcong lagi ketua perkumpulan kaum pengemis ini langsung kirimkan serangan ganas.

"Manusia terkutuk! Mampuslah...!" pekik Arya Pasangran sangat cepatnya membabat dengan pedangnya. Tercekatlah hati si Katai Losi, karena tau-tau pedang di tangan Arya Pasangran sudah menyambar dadanya. Jubah Harimau terobek sejengkal. sehingga nampaklah bukit kembarnya yang sudah keriput dan mengalirkan darah. Si katai Losi menjadi berang, perempuan kerdil itu meraung bagai harimau tua kelaparan. Serta merta dia menunjuk cepat-cepat ke arah Arya Pasangran.

"Bangsat rendah hidung belang! Kau harus membayar mahal atas segala ulahmu ini...!" Bentak si Katai Losi sambil berusaha menutupi sebagian jubahnya yang terobek. Arya Pasangran meskipun hatinya sangat dongkol, tapi masih juga tertawa tergelak-gelak.

"Katai jelek, aku bukanlah laki-laki yang suka iseng! Jangan kau kira aku tertarik dengan apa yang kulihat. Sudah keriputan begitu siapa sudi! Jangan kan aku, kucing kurap sekali pun akan lari terbirit-birit demi melihat kebagusan dadamu yang aduhai itu...!" Kata Arya Pasangran mencemooh. Demi mendengar kata-kata Arya Pasangran yang tak lebih mengejek dirinya semakin bertambah geramlah si Katai Losi di buatnya. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, penghinaan itu benar-benar sangat keterlaluan sekali. Agaknya si Katai Jola pun sudah tak sabar melihat saudara seperguruannya mendapat malu sedemikian rupa. Kini tanpa meminta persetujuan kakak seperguruannya, dia sudah melompat menghampiri Arya Pasangran.

"Kakang Mbok! Mari kita satai saja ketua gembel ini ramai-ramai...!"

"Mungkin inilah yang dia kehendaki adik

Jola!"

Arya Pasangran tertawa berderai, kemudian

memandang pada kedua manusia katai itu silih berganti,

"Mengapa tidak sedari tadi kau turun tangan katai sial!" Maki Arya Pasangaran. Kedua perempuan Katai itu menyeringai: "Mulutmu terlalu sombong gembel cacingan!"

Sebelum Arya Pasangran membuka mulut, dia merasa akan angin pukulan menyambar kebagian tubuhnya. Laki-laki itu menoleh, tahulah dia bahwa yang melakukan pukulan curian tadi kiranya si Katai Jola adanya. Tapi dia sudah tak dapat berfikir panjang karena dua orang kerdil itu kini telah menggempurnya secara berbareng.

Dalam gebrakan pertama saja kedua orang ini langsung kirimkan pukulan-pukulan yang sangat ganas. Arya Pasangran segera memutar pedangnya membentuk tameng pelindungan diri. Sinar pedangnya berkelebat kesegala arah, meskipun begitu nampaknya kedua orang ini tak gentar menghadapi babatan pedang yang nampak sebat dan ganas. Mereka terus berangsak sambil mengirimkan pukulan-pukulan jarak jauhnya. Meskipun Arya Pasangran memiliki ilmu pedang yang tinggi, akan tetapi mendapat keroyokan sedemikian rupa dari dua orang tokoh kelas satu, tak urung tiga puluh jurus kemudian dia sudah kena didesak oleh kedua orang lawannya. Bahkan beberapa saat kemudian mulai jatuh di bawah angin.

Walaupun begitu, Arya Pasangran tak mudah menyerah begitu saja. Dia seorang ketua perkumpulan yang memiliki watak dan pendirian yang keras. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dia terus merangsak lebih nekad lagi. Meskipun Ketua Perkumpulan Pengemis Tenggara telah mengarahkan segenap kemampuannya, masih saja dia terdesak hebat. Bahkan lamakelamaan mulai jatuh di bawah angin. Kini semakin sibuklah Arya Pasangran, sebentar saja keringat nampak berciciran membasahi sekujur tubuhnya. Muka Ketua Pengemis Partai Tenggara nampak pucat pasi, mendadak si Katai Jola berteriak lantang, tubuhnya berkelebat lenyap, begitu pun halnya dengan si Katai Losi. Dengan pukulan-pukulannya yang terkenal ganas dia menyerang Arya Pasangran pada bagian kaki. Nyatalah bahwa kerja sama yang dibina oleh kedua manusia kerdil ini memang terbilang dengan baik. Menghadapi serangan yang sedemikian gencarnya, Arya Pasangran untuk seketika lamanya nampak terkesima, begitu dia menyadari apa sesungguhnya yang akan dilakukan oleh pihak lawan. Tahu-tahu tangan kanan si Katai Jola menyambar kebagian dadanya. Ketua Pengemis Partai Tenggara itu menjerit tertahan begitu merasakan ada sesuatu yang membentur dadanya dan menimbulkan hawa panas yang luar biasa. Arya Pasangran terhuyung-huyung beberapa tindak, dengan cepat dia raba dadanya, begitu dia melirik ke arah dada yang berbulu lebat, dia melihat lima jemari tangan membekas dan dengan cepat berubah menghitam. Sadarlah Ketua Perkumpulan Kaum Pengemis ini bahwa pihak lawan telah lancarkan pukulan beracun yang sangat ganas. Walaupun pukulan itu tak separah Ajian Mulih Pati. Akan tetapi akibatnya tetap sama saja. Reaksi racun di dada Arya Pasangran dengan cepat menjalar kemana-mana. Arya Pasangran merasakan dingin yang luar biasa. Dalam pada itu kedua perempuan kerdil itu telah hentikan serangannya. Mereka merasa begitu yakin bahwa sebentar lagi Arya Pasangran akan segera menemui ajalnya. Dengan sesungging senyum kemenangan kedua orang ini memandangi Arya Pasangran yang sudah mulai nampak kepayahan. Kedua bola mata Ketua Pertai Pengemis nampak terbeliak lebar, pedang di tangannya bergetar hebat. Laki-laki itu merasakan batang lehernya dicekik setan yang menjijikkan. Kedua bibirnya nampak terbuka, namun tiada satu pun kata yang terucap. Beberapa saat kemudian tubuh Arya Pasangran limbung lalu tersungkur di atas tanah untuk selama-lamanya. Kedua manusia katai itu tersenyum puas. "Bangsat ini sampai akhir hayatnya tetap tak mau buka mulut! Kata si Katai Jola pada kakak seperguruannya.

"Ada baiknya kalau kita kembali ke Rawa Kematian...!" Ujar si Latai Losi mengusulkan. Tanpa membantah si katai Jola segera mengikuti langkah kakak seperguruannya.

* * * 8

Satu ekor daging menjangan dipanggang sedemikian rupa membuat jakun si Maling Bosa turun naik menahan selera. Bau aroma yang merangsang penciuman serta rasa lapar yang sejak tadi ditahan-tahannya. Itulah yang menjadi ciri khusus dalam hidup Maling Bosa selama puluhan tahun. Memang benar dia merupakan seorang maling yang lihai. Akan tetapi dalam kehidupannya tidak secuil pun barang hasil curiannya dia manfaatkan untuk kebutuhan seharihari. Kalau pun dia mencuri, hal itu semata-mata dia lakukan karena merasa tak tahan melihat kehidupan orang melarat. Dan hampir semua hasil curiannya dia bagi-bagikan pada rakyat jelata. Bagi mereka kehadiran Maling Bosa tak ubahnya sebagai dewa penyelamat terhadap musim paceklik yang panjang.

Maling Bosa bukanlah seorang yang kaya

karena harta curiannya. Bahkan kehidupannya boleh dikata sangat melarat. Tidak punya sanak keluarga apalagi istri, bahkan seekor kucing pun dia tidak punya. Rumahnya di tengah Rawa Kematian, merupakan sebuah rumah gubuk bertonggak, dinding terbuat dari rumput ilalang beratapkan ilalang pula. Di dalam gubuk itu hanya terdapat sebuah balai kecil yang terbuat dari anyaman kulit rotan. Di atas balai itulah seorang gadis yang sangat cantik terbaring. Mata gadis itu nampak begitu liar memandang seisi gubuk. Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa kehidupan seorang maling yang sangat lihai demikian memperihatinkan. Bahkan berkesan lebih sengsara bila dibandingkan dengan hidup seorang gembel. Mungkin ada benarnya dengan apa yang pernah didengar dari cerita orang. Bahwa sesungguhnya si Maling Bosa bukanlah orang yang begitu kemaruk dengan dunia dan seisinya. Rupanya dalam hidup yang serba singkat ini, laki-laki berkumis sekepel itu ingin berbuat kebajikan sesama umat. Tidak perduli apakah barang yang dia sumbangkan ketengah-tengah orang banyak itu merupakan barang yang sah atau tidak sah. Sejauh itukah Maling Bosa bertindak? Semua itu karena masa lalu hidupnya yang suram dan gelap. Andai saja hidup boleh memilih, bagi si Maling Bosa lebih baik tak usah di lahirkan ke alam dunia yang penuh dengan keserakahan dan hura-hura. Mengapa? Dulu ayahnya merupakan seorang tokoh sesat yang banyak menyebar keonaran di mana-mana. Sedangkan emaknya merupakan nenek moyangnya tokoh sesat yang tewas karena memperebutkan harta warisan. Karena demikian kecewanya dalam hidup ini, akhirnya Maling Bosa mengasingkan diri di Rawa Kematian.

Dalam pada itu si Maling Bosa telah selesai dengan kesibukannya, beberapa saat kemudian laki-laki itu telah mencicipi daging manjangan yang masih mengepulkan uap panas. Sedang enakenaknya menggerogoti daging tersebut. Tiba-tiba dia teringat pada gadis yang berada di dalam gubuk. Kemudian berseru ramah.

"Nona galak! Kalau kau merasa lapar keluarlah...!" Dewi Sekar Tanjung sesungguhnya sudah mengetahui sejak tadi bahwa si Maling Bosa sedang enak-enakkan membakar daging manjangan. Akan tetapi untuk ke luar dan minta bagian dia malu, Sebab dia telah berlaku kasar pada si Maling Arif, lebih dari itu dia telah menuduh yang bukan-bukan. Kini rasa lapar semakin bertambah-tambah sejak terciumnya bau daging panggang yang sedap. "Bocah galak. Kalau engkau terus ngadat, jangan salahkan aku bila daging yang enak ini kuhabiskan sendiri...!" Kembali si Maling Bosa mengingatkan.

Akhirnya dengan malu-malu Dewi Sekar Tanjung keluar dari gubuk itu. Dia terus melangkah menuruni anak tangga kayu. Begitu kedua kakinya menyentuh permukaan tanah. Tanah itu terasa bergoyang-goyang menahan berat tubuhnya. Dewi Sekar Tanjung tergagap, lalu cepat-cepat memandang pada si Maling Bosa yang nampak tergelak-gelak.

"Terus saja ke sini! Kata si Maling Bosa sembari menggerogoti daging manjangan dengan lahap. Dewi Sekar Tanjung tertegun di tempatnya. Tanpa menoleh laki-laki ber-kumis lebat itu menyela:

"Kalau kau masih tetap di situ aku akan menuntunmu kemari...!" Lalu tanpa menunggu jawaban si gadis, si Maling Bosa bergerak ringan menghampiri dirinya. Dewi Sekar Tanjung bengong dibuatnya. Nyata-lah baginya, kalau Si Maling Bosa mempunyai niat buruk terhadap dirinya, sudah barang tentu hal itu sangat mudah dia lakukan. Terbukti selama dua hari di dalam gubuk milik si Maling Bosa, tak secuil pun laki-laki berkumis tebal itu mengganggunya.

Dalam beberapa saat si Maling Bosa telah menyambar pergelangan tangan Dewi Sekar Tanjung. Sebentar kemudian Dewi Sekar Tanjung telah sampai di tempat Maling Bosa membakar manjangan. Cepat-cepat murid dari perguruan Nganti Mulih itu menjura hormat. Orang tua dihadapanya tergelak-gelak lalu menggerogoti sepotong daging bakar berikutnya. Setelah menyeka mulutnya yang berselemotan daging panggang, maka si Maling Bosa berkata: "Untuk apa engkau menjura-jura bagai orang di dalam Kuil! Aku tidak suruh, aku hanya menyuruhmu makan daging ini...!" Bentak Si Maling Bosa. Dewi Sekar Tanjung jadi tersipu malu. Kedua pipinya yang putih bersih seketika berubah kemerahmerahan.

"Maafkan aku paman! Aku telah menuduhmu yang bukan-bukan...!" Kata Dewi Sekar Tanjung merasa bersalah.

"Setiap orang punya kesalahan. Engkau tidak jadi membunuhku saja aku sudah merasa beruntung...!" Ujar Maling Bosa sambil terus tertawa-tawa. "Ah... paman menyindirku! Mana mungkin aku yang tolol ini mampu membunuhmu.”

"Walau engkau tak jadi membunuhku! Apa pun kejadiannya kau tetap merupakan murid sahabat baikku...!"

"Terima kasih paman...!" Si Maling Bosa

anggukkan kepala, kemudian dia berkata lagi. "Duduk sini, daging manjangan muda ini

rasanya enak... enak    "

"Krauk... Krauuk...!" Begitu nikmatnya si Maling Bosa melahap daging manjangan itu, sehingga ketika Dewi Sekar Tanjung menikmati daging tersebut hanya tinggal bersisa setengahnya. Dengan sikap malu-malu Dewi Sekar Tanjung menerima daging panggang pemberian Maling Bosa. Tak lama sesudahnya gadis berwajah rupawan itu menyela.

"Paman Bosa! Tempat macam apakah .

tempat tinggalmu ini!" Mendengar pertanyaan seperti itu, Maling Bosa tertawa ringan. Sekejap dia memandang berkeliling. Kemudian dengan suara datar "Orang bilang tempat ini bernama Rawa Kematian... tetapi aku sendiri sudah menetap di sini selama bertahun-tahun tak pernah mati !" Dewi Sekar Tanjung melonjak kaget begitu si Maling Bosa menyebut nama tempat itu. Kiranya tempat tinggal si Maling Bosa hanya merupakan sebuah daerah berawa-rawa. Pantasan ketika tadi dia menginjakkan kakinya di bawah gubuk, tanah itu bagai menari-nari. Guman si gadis terbengongbengong.

"Mengapa paman memilih tinggal di tempat ini...?"

"Hohoho... hohoho...! Terang saja, tempat ini aman dari gangguan kejahatan lebih dari itu aku punya banyak kawan yang tak pernah menyakiti hatiku...!" Kata si Maling Bosa seenaknya.

"Kawan? Tapi aku tak melihat siapa pun di sini...!" Dewi Sekar Tanjung keheranan, lalu timbul pula anggapan di dalam hatinya. Bahwa di samping laki-laki itu terkenal sebagai orang yang aneh rupanya juga punya gangguan jiwa. Si Maling Bosa kembali tergelak-gelak, tiba-tiba dia hentikan tawanya, lalu berseru lantang: "Hei makhluk yang berada di bawah sana! Ada sobat kita yang ingin melihat kehadiran kalian! Datanglah ke gubukku...!" Beberapa saat kemudian gubuk di tengah-tengah rawa itu terguncang-guncang. Tanah di sekitarnya bergerak hebat diiringi bunyi mendesis yang bersumber dari ribuan makhlukmakhluk berbisa. Pada saat itu si Maling Bosa berkata pelan.

"Lihatlah di bawah sana, kawan-kawanku sudah datang...!" Dengan rasa penasaran Dewi Sekar Tanjung melongokkan kepalanya ke bawah gubuk. Terperangahlah gadis ini begitu melihat kehadiran ribuan binatang berbisa dari berbagai jenis nampak berbaur menjadi satu. Sebuah pemandangan yang seumur hidup belum pernah dia saksikan sebelumnya. Yang anehnya walau pun binatang-binatang menjijikkan itu terdiri dari berbagai jenis, mereka tidak saling berbaku hantam sesamanya. Dewi Sekar Tanjung cepatcepat kembali ke tempatnya semula.

"Paman Bosa! Makhluk-makhluk itukah yang kau bilang sebagai sahabatmu...?" Tanya Dewi Sekar Tanjung masih dihantui bayang-bayang ketakutan. Si Maling Bosa mengangguk pelan, kedua matanya tiba-tiba terpejam. Dia merasakan adanya kehadiran orang yang tidak diundang di pinggiran Rawa tempat tinggalnya. Bahkan melalui ilmu menyusupkan suara dia dapat mendengar ada satu dua orang panggil-panggil namanya dengan penuh ancaman. Tak lama kemudian kedua mata si Maling Bosa kembali terbuka, Dewi Sekar Tanjung yang sejak tadi merasa keheranan, langsung menyela:

"Paman ada apakah gerangan...?" Laki-laki berkumis tebal itu palingkan wajah.

"Engkau diamlah di sini! Kunyuk-kunyuk edan itu pasti menuduhku sebagai pencuri pusaka bapak moyangnya." Kertak si Maling Bosa marah sekali.

"Tidak paman! Aku harus ikut, kalau perlu aku yang akan menjelaskan pada mereka...!" Si Maling Bosa gelengkan kepala, "Kedua Katai itu merupakan manusia dajal, mana mungkin mereka bisa percaya dengan omonganmu..,!"

Dewi Sekar Tanjung kerutkan wajah. Kalau orang itu sudah demikian susahnya untuk diberi pengertian, alamatlah bagi si Maling Bosa untuk mengadu jiwa. Tidak! Hal itu tidak boleh terjadi, si Maling Bosa terlalu baik. Bagaimana pun dia harus membelanya! Batin Dewi Sekar Tanjung di dalam hati.

"Kalau begitu mereka pasti bermaksud mencelakakan paman...!" "Bila memang hal itu sudah merupakan nasibku, siapa yang kuasa menolak...." Jawab si Maling Bosa pasrah. Dewi Sekar Tanjung cepatcepat gelengkan kepala.

"Tidak bisa! Apa pun yang akan terjadi aku harus ikut, paman Bosa pantas untuk dibela "

Dewi Sekar Tanjung bersikeras. Mendengar ucapan Dewi Sekar Tanjung, si Maling Bosa tertawa getir.

"Aku ini hanya seorang maling yang menjijikkan! Sudah selayaknya semua keburukan itu kupikul di pundakku!"

"Maling tidak maling, buruk tidak buruk! Apa

pun yang akan terjadi aku tetap berada di pihakmu...!" Mendadak wajah si Maling Bosa berubah merah padam, baginya terlalu sulit untuk memberi pengertian pada gadis bandel ini. Dengan nada penuh amarah dia berkata tegas: "Bocah! Kuminta jangan fikirkan aku, masa depanmu masih terlalu panjang jangan campuri urusanku. Kalau aku mampus di tangan mereka, aku cuma barang rongsokan yang tiada guna. Dan aku sendiri akan menerima kematian itu dengan senang hati !"

"Maaf paman barangkali aku harus memaksamu terlebih dulu, baru kemudian engkau mengijinkan aku untuk turut serta bersamamu...!" Dewi Sekar Tanjung menyela dan langsung melolos pedangnya. Si Maling Bosa yang punya watak angin-anginan itu mendengus dan langsung berkelebat pergi.

"Aku tak punya waktu untuk bermain-main denganmu...!" Tukas si Maling Bosa seiring dengan lenyapnya bayangan laki-laki itu dari pandangan mata Dewi Sekar Tanjung. Gadis itu bermaksud menyusulnya, akan tetapi baru saja tubuhnya melompat dari dalam gubuk. Kedua kakinya langsung terjeblos ke dalam tanah yang di bawahnya merupakan sebuah genangan air yang dalam. Gadis itu memaki-maki ketakutan, ketika ada makhluk air yang terasa merambati bagian kaki dan selangkangannya. Meskipun tidak menggigit tak urung rasa geli membuat wajahnya merah padam. Dengan sekali lompat tubuhnya yang terbenam sebatas pinggang melesat keatas dan langsung jatuh di pintu pondok.

* * * 9

Tubuh Maling Bosa nampak berkelebat ringan di atas tanah rawa yang dalam airnya. Dalam waktu sekejap saja dia sudah sampai pada pinggiran rawa. Kedua perempuan katai menyambut kehadirannya dengan tawa rawan.

"Bagus sekali! Setelah kau ngumpet seperti seekor tikus selama beberapa hari, akhirnya engkau muncul juga...!" Kata si Katai Losi sinis.

"Inikah   bangsat   yang   kita   cari-cari   itu

Kakang Mbok?" Si Katai Jola menyela, Katai yang satunya manggut-manggut bagai burung pelatuk. Kedua perempuan katai itu memandang dingin pada si Maling Bosa yang berdiri di depannya. Lalu mereka tertawa melengking-lengking.

"Maling Bosa keparat! Aku akan sudahi urusan ini sampai di sini saja, asalkan engkau cepat-cepat kembalikan senjata Pusaka Belibis Sakti milik perguruan kami yang telah kau curi beberapa purnama yang lalu!" Bentak si Katai Losi. Dituduh seperti itu si Maling Bosa tersenyum getir. "Hmm... mengherankan! Akhir-akhir ini berpuluh-puluh perguruan telah kehilangan pusaka kebesarannya! Tetapi anehnya mereka beramairamai menuduhku sebagai biang kerok pencurian itu. Seperti yang lain-lainnya kiranya matamu yang picak itu berpandangan picak pula...!" Kata Maling Bosa mencemooh. Di hina sedemikian rupa oleh seorang maling pula, mendidih darah kedua perempuan katai ini sampai ke ubun-ubun.

"Bedebah! Aku tak suruh kau menjawab yang bukan-bukan. Yang kuinginkan cuma pusaka milik perguruan kami?!" Bentak Si katai Jola.

"Kunyuk tolol! Aku tak tau menahu segala

senjata pusaka setan belang. Aku sendiri dibuat repot oleh ulah pencuri sialan itu...!" Si Maling Bosa balas membentak tak kalah gusarnya.

"Bangsat. Kau malingnya, mengapa masih berteriak maling...!"

"Memang benar aku seorang maling! Tapi belum pernah aku mencuri segala jenis pusaka karatan!" Semakin bertambah gusarlah kedua perempuan katai itu dibuatnya.

"Lekas serahkan pedang pusaka Belibis Sakti milik perguruan kami!" Hardik si Katai Jola. "Orang-orang gila! Apanya yang harus kuserahkan:..!" Si Maling Bosa yang tak tahu menahu tentang senjata pusaka itu mendengus! Si Katai Losi yang sudah merasa kesal itu garukgaruk jidatnya yang mirip penggorengan.

"Keparat betul! Engkau mau kembalikan apa tidak?" Si Maling Bosa mencaci maki habis-habisan di dalam hati.

"Aku tidak ambil segala senjata pusaka milik setan! Kalau pun aku mencurinya barangkali cuma untuk keperluan menggali kakus...!" Tukas Maling Bosa saking geramnya. Melihat si Maling Bosa masih tetap tak mengakui perbuatannya, si Katai Jola sudah tak sabar lagi.

"Kakang mbok! Mengapa harus bertele-tele, kalau dia tidak mau mengaku. Baiknya kita copot saja kepalanya?!" Si Katai Losi tanpa memperdulikan ucapan adik seperguruannya terus saja mendesak si Maling Bosa.

"Maling terkutuk! Agaknya aku harus membelah kepalamu...!" Ancam si Katai Losi kertakkan rahang. Sesungging senyum maut membuat   si   Maling   Bosa    bersiap-siap menjaga setiap kemungkinan. "Kalian penggal pun kepalaku tak ada gunanya... aku memang tak mencuri pusaka perguruan iblis...!"

Si Katai Losi merah mukanya, panas pula hatinya. Kemudian dia membentak gusar: "Aku mau lihat apakah memang benar kepala atos bagai batu...!" Seusai berkata begitu, sekali dia gerakkan tangan kanannya lima jemarinya terpentang bagai cakar burning. Cepat-cepat si Maling Bosa menyingkir kesamping kiri, mengelakkan totokan yang dilancarkan oleh si Katai Losi. Dalam mengelak begitu Maling Bosa tendangkan kakinya mengarah ke bagian selangkangan si Katai Losi. Wanita katai itu yang sebelumnya tiada menduga bahwa si Maling Bosa bisa secepat itu gerakkan kaki kanannya, dia sudah tak dapat berkelit lagi.

"Duk!" Katai Losi menjerit bercampur malu, karena selangkangannya kena ditendang oleh si Maling Bosa. Dia memaki habis-habisan.

 "Jahanam bangsat cabul! Kau benar-benar

akan menyesal sampai ke liang kubur karena

perbuatan busukmu itu...!"

"Pada kunyuk-kunyuk sesaat tak perlu

memakai segala peradatan!" memaki. Maling Bosa balas "Heiit...! Heep...!"

"Jhee... cuma segitu doang...!" Lagi-lagi si Maling Bosa mencibir. Si Katai Losi nampak sangat penasaran begitu serangan yang dilancarkan berikutnya mengalami kegagalan. Dengan satu jeritan keras dia menyerang lagi! Maka terjadilah pertarungan yang dahsyat, dalam waktu sekejap puluhan jurus sudah terlewati. Di lain pihak si Katai Jola yang sudah tidak sabaran melihat pertarungan itu ikut maju mengeroyok si Maling Bosa. Dengan memandang enteng dia langsung kirimkan serangan-serangan dahsyat. Si Katai ini berkeyakinan dengan cara mengeroyok seperti itu sudah barang tentu sebentar lagi si Maling Bosa sudah kena di ringkus. Akan tetapi beberapa saat kemudian dia dibuat terbelalak tak percaya, karena terkaman yang mengarah pada bagian kaki pihak lawannya ternyata masih mampu dielakkan oleh si Maling Bosa dengan baik sekali. Bahkan si Maling Bosa masih sempat tersenyum mengejek:

"Aha, jurus Kura-Kura Mencatok Ikan seperti itu hanya pantas kau pergunakan untuk menangkap tikus cecurut...!" Memerahlah wajah si Katai Jola demi mendengar lawannya dapat menggenali jurus-jurus yang dia mainkan. Meskipun begitu sambil menyerang lawannya dia membentak.

"Maling busuk! Sudah mau mampus banyak tingkah...!" Kali ini kedua manusia kerdil itu rubah jurus-jurus silatnya. Gerakan silatnya sedemikian cepat, sebentar saja Maling Bosa sudah terkurung dari dua jurusan. Meskipun begitu laki-laki berkumis tebal itu masih nampak tenang-tenang saja.

Gerakan kedua orang katai itu cepat sekali, tubuh mereka hanya tinggal bayangan, tahu-tahu secara serentak mereka kirimkan empat totokan mengarah pada bagian-bagian paling mematikan. Meskipun demikian, si Maling Bosa bukanlah orang yang bodoh, ilmu silatnya yang ditempa oleh pengalamannya sendiri selama puluhan tahun ditambah lagi dengan kecerdikan akal yang dimilikinya, membuat dia masih nampak tenang dalam situasi yang sesungguhnya sudah sangat terjepit. Begitu jemari tangan lawan-lawannya hampir mencakar pada bagian leher dan mentotok pada bagian punggung. Maling Bosa segera jatuhkan badan dan berguling-guling. Gulingan tubuhnya sesungguhnya merupakan sebuah jurus yang ampuh dan chberi nama Ular Putih menggulung mangsa. Tubuh yang terguling-guling bergerak sedemkian cepatnya dan langsung menyapu ke arah bagian kaki lawan-lawannya. Kedua perempuan katai yang tiada menyangka akan serangan kaki yang sedemikian cepatnya nampak kalang kabut. Bagai dua ekor monyet yang mabuk tahi ayam mereka ini berlompatan kian ke mari. Si katai Losi mencaci maki habishabisan, kemudian kirimkan satu pukulan jarak jauh. Maling Bosa cepat-cepat menghindar, begitu merasakan hawa panas menyambar tubuhnya. Pukulan itu langsung menerpa ruang yang kosong dan menimbulkan suara yang memekakkan gendang-gendang telinganya. Mengetahui serangan ganas yang dilontarkan oleh si Katai Losi dapat di-elakkan oleh si Maling Bosa dengan baik. Si Katai Jola yang memang sudah sangat geram langsung kirimkan pukulan yang sama. Pada saat itu dengan nekad si Maling Bosa memapaki. Benturan dua tenaga sakti tak dapat dihindari lagi:

"Bumm!" Tubuh si Katai Jola terlempar bebarapa tombak, darah mengucur dari hidung dan celah-celah bibirnya. Sedangkan si Maling Bosa cuma tergetar beberapa saat lamanya. Nyatalah bagi mereka bahwa tenaga dalam si Maling Bosa ternyata dua tingkat di atas si Katai Jola. Demi melihat kejadian ini, si Katai Losi gusarnya bukan, alang kepalang. Beberapa saat berikutnya dia segera merapal ajian Mulih Pati yang terkenal dahsyat. Mengetahui hal itu Maling Bosa bergumam:

"Hmm, Ajian Mulih Pati! Aku jadi ingin melihat kehebatannya...!"

"Kau tak akan sempat melihat maling keparat, karena sebentar lagi engkau segera berangkat keliang kubur...!" Bentak si Katai Jola, tahu-tahu sudah menyerangnya kembali dengan jarak yang begitu dekat. Serangan yang mendadak itu bagi si Maling Bosa sudah tak mungkin untuk dikelit. Dengan sangat penasaran, maling Bosa hantamkan kedua tangannya atas dan bawah. Kedua tangan itu pun beradu! Si Katai Jola berteriak kesakitan, dia menyurut sampai beberapa tombak, mukanya nampak pucat pasi, Sadarlah dia tak mungkin bakal unggul menghadapi si Maling Bosa. Sementara itu si Katai Losi sudah siap-siap dengan ajian Mulih Pati. Kedua belah tangannya telah mengepulkan uap kebiru-biruan, lama-kelamaan kabut biru itu mulai membungkus tubuh si Katai Losi. Hingga kini tubuh itu tak ubahnya bagai bayang-bayang berkabut. Sesungguhnya satu kesalahan telah dilakukan oleh si Maling Bosa. Andai saja tadi dia tidak terpancing oleh serangan Katai Jola. Akan tetapi sebaliknya malah menyerang si Katai Losi yang sedang berkosentrasi merapal mantra. Sudah barang tentu manusia kerdil ini tidak sempat mempergunakan Ajian Mulih Pati. Setidak-tidaknya dia masih punya banyak kemungkinan untuk merobohkan kedua orang ini. Akan tetapi kini keadaannya sudah sangat kasib. Dan Maling Bosa pun sudah menyadari akan makna ilmu iblis yang benar-benar sangat berbahaya itu. Dia sudah tidak mempunyai peluang untuk bertarung dalam jarak rapat. Bahkan tersentuh pun kalau masih mungkin harus dihindari. Tiada pilihan lain bagi si Maling Bosa. Cepat-cepat dia lolos sebilah keris dari pinggangnya.

Begitu si katai Losi memburu ke arahnya, dengan cepat Maling Bosa kiblatkan keris di tangannya, senjata di tangannya menghembuskan bau yang menyesakkan pernafasan lawanlawannya. Sebentar saja keris berlekuk tujuh itu sudah menggulung si Maling Bosa, dan membentuk satu pertahanan yang sangat sulit untuk dicari titik kelemahannya. Kedua Katai itu memaki panjang pendek. Si Katai Losi segera maklum, kalau usaha mereka bakal sia-sia dalam menembus benteng pertahanan lawan yang demikian ketat dalam melindungi diri. Di benaknya cuma ada satu jalan untuk merobohkan lawan dalam waktu secepat mungkin. Cara licik! Cuma itulah yang ada dalam pikiran si kerdil bangsat itu! Si Katai Losi segera member! isyarat pada adik seperguruannya.

Agaknya si Katai Jola .sudah mengetahui makna isyarat tersebut. Maka dengan cepat dia kembali lancarkan serangan-serangan ganas. Sementara itu si Katai Losi nampak memberi kelonggaran pada lawannya.

Keris lekuk tujuh di tangan si Maling Bosa laksana seekor ular cobra yang meliuk-liuk sangat cepat dan begerak kian kemari. Terkadang bergerak sebat menusuk pada bagian lambung, terkadang menderu menusuk ke pangkal leher! Semua itu terjadi berturut-turut cepat bagaikan kilat. Betapapun si Katai Jola percepat garakangerakan silatnya, namun tetap saja si Katai Jola dibikin terdesak dan tak sanggup menembus pertahanan lawannya. Kini si Katai Jola segera rubah permainan silatnya, dia kembali lancarkan serangan-serangan yang lebih dahsyat dan gencar. Bahkan dia telah kerahkan segenap kemampuanya. Semua itu dia lakukan adalah dengan maksud untuk memberi peluang pada si Katai Losi lancarkan pukulannya di tubuh lawannya. Menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi, mau tidak mau Maling Bosa curahkan segenap perhatiannya pada si Katai Jola. Tanpa dia sadari telah bersiap-siap pula si Katai Losi dengan pukulan mautnya.

* * * 10

Si Maling Bosa semakin terseret dalam pertarungan jarak dekat dengan si Katai Jola. Pada saat dia lengah seperti itulah si Katai Losi memukul dari bagian belakang. Tak terelakkan lagi:

"Buk!" Pukulan yang begitu telak dialiri tenaga dalam yang sempurna dengan berlambarkan Ajian Mulih Pati. Membuat tubuh si Maling Bosa tersungkur ke depan. Tiada keluhan yang terdengar dari mulut si Maling Bosa yang menyemburkan darah segar. Napasnya nampak tersendat-sendat, sementara kedua bola matanya memandang pada kedua orang perempuan katai yang kini nampak tergelak-gelak. Begitu pun tiada dendam yang terpancar dari kedua bola matanya yang kian meredup. Di lain pihak agaknya si Katai Losi merasa kurang puas dengan apa yang telah dialami oleh lawannya. Sesaat kemudian dengan lengkingan dahsyat dia bermaksud mengakhiri hidup musuhnya yang sudah nampak sekarat. Pada saat-saat yang sangat keritis itu, mendadak sebuah bayangan merah berkelebat.

"Plak! Plak!" Si Katai Losi terlempar beberapa tombak dengan dada bagai terinjak ribuan gajah. Begitu dia menoleh tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang sangat tampan., Si pemuda memandang padanya dengan sinar mata penuh kebencian. Tanpa menghiraukan kedua orang katai itu, si pemuda segera melangkah menghamphri si Maling Bosa yang sudah nampak sekarat. Si pemuda yang tak lain adalah Buang Sengketa adanya segera berjongkok. Lalu diperiksanya urat darah yang berada di pergelangan si Maling Bosa. Lemah! Agaknya sudah tiada harapan untuk hidup bagi si Maling Bosa. Mata si Maling Bosa yang sudah meredup itu nampak sedikit terbuka dan memandang sayu pada Pendekar Hina Kelana. Dengan bersusah payah dia berkata pelan sekali: "0... rang muda yang baik! Agaknya hidupku sudah tidak lama lagi, di tengah rawa-rawa itu ada seorang gadis murid sahabatku... Selamatkan lah dia! Dan cari tau siapa sesungguhnya yang telah mencuri senjata pusaka milik berbagai perguruan itu...!" ucapnya. hampir-hampir tak terdengar. Pendekar Hina Kelana menjadi sangat iba, lalu cepat-cepat dia bertanya:

"Orang tua! Engkaukah yang bergelar si Maling Bosa?" tanya Pendekar Hina Kelana sangat gugupnya. Laki-laki itu tersenyum ramah, tanpa menjawab dia menggangguk.

"Aku sudah menemukan...!" Buang Sengketa sudah tak sempat meneruskan kata-katanya karena sesaat kemudian kepala si Maling Bosa sudah terkulai, nyawanya melayang saat itu juga. Bukan main menyesalnya Pendekar Hina Kelana. Dia memaki diri sendiri! Mengapa tidak sejak tadi dia turun tangan membantu laki-laki arif itu? Bahkan dia tak menyangka kalau kedua katai itu memiliki ilmu setan yang sangat ganas. Kini tanpa sadar dia beranjak berdiri, kemudian dipandanginya wajah kedua perempuan katai itu silih berganti. Kedua matanya nampak memerah saga. Hawa kesadisan sebentar saja sudah menyatu dalam jiwanya yang agak terguncang.

"Bangsat rendah pengecut! Tiada sedikit pun perasaan iba di dalam hatimu...!" geram Buang Sengketa memendam amarah yang dalam.

Si Katai Losi menyadari kalau pemuda ini memiliki tenaga dalam tidak jauh terpaut darinya, bahkan dalam adu tenaga dalam yang tanpa disengaja tadi dia sempat merasakan tangannya bagai membentur dinding baja. Tangan bagai kesemutan. Lebih dari itu tubuhnya terlempar beberapa tombak dan muntahkan darah segar. Maklum akan kehebatan pihak lawan, akhirnya dia berkata lirih.

"Bocah! Ada sangkut paut apakah engkau dengan si Maling Bosa, sehingga berani sekali engkau mencampuri urusan kami?"

"Kerdil celaka! Tindakanmu yang sangat telenggas saja sudah membuat aku harus menghapus nama Perguruan Sangga Langit hari ini juga! Masihkah kau pura-pura tak tahu...?" Bentaknya marah.

"Budak hina! Si Maling Bosa telah mencuri senjata pusaka milik perguruan kami, haruskan kami tinggal diam!" Si Katai Jola menimpali. Semakin bertambah gusarlah Pendekar Hina Kelana di buatnya.

”Manusia sial mata picak! Sebaiknya ku korek biji matamu yang tinggal satu itu biar kau rasakan betapa gelapnya dunia ini...!" Si Katai Losi tertawa ngakak, cepat-cepat dia menyela: "Bocah edan kiranya engkau belum tahu siapa kami...!" "Jahanam! Kalau begitu harus memenggal kepala kalian saat ini juga!" Tiba-tiba Buang Sengketa menyurut satu langkah, kemudian sekali tangannya berkiblat selarik gelombang berhawa panas luar biasa menderu mengarah pada kedua manusia katai itu. Cepat-cepat kedua perempuan katai itu mengelak kesamping kiri dan kanan. Si Katai Losi terkejut sekali begitu hawa pukulan yang teramat panas menyambar bagian kakinya. Belum lagi hilang keterkejutan perempuan kerdil itu lenyap. Kembali gelombang Sinar Ultra Violet menderu dan melabrak ke arah mereka. Kedua perempuan katai itu di buat kalang kabut, bahkan tak diberi kesempatan sama sekali untuk membalas. Karena datangannya serangan itu bertubi-tubi bagai gelombang samudra. Mau tak mau demi menyelamatkan nyawanya, kedua orang ini memapaki serangan lawannya. Dengan nekad kedua perempuan katai ini lancarkan satu pukulan jarak jauh. Seberkas cahaya berwarna biru keungu-unguan melesat cepat dari telapak tangan kedua lawannya. Satu benturan yang sangat keras sudah tidak dapat dihindari lagi ketika kekuatan sakti itu saling berbenturan. "Blam! Blam!" Tubuh si Katai Jola terlempar sepuluh tombak dan langsung muntah darah, sedangkan Katai Losi nampak terjengkang tujuh tombak dengan posisi tubuh tunggang langgang. Akan tetapi dia cepat-cepat bangkit kembali, wajahnya pucat pasi. Nyalinya bahkan semakin ciut begitu melihat lawannya masih tetap tegar berdiri tanpa kekurangan suatu apapun. Perempuan katai itu kemudian mengerung bagai harimau tua terluka:

"Kunyuk hijau keparat! Sebentar lagi engkau akan merasakan bagaimana hebat ajian Mulih Pati yang telah merenggut nyawa si Maling Bosa! Dan kaupun akan mendapat giliran berikutnya. Mendengar ucapan si Katai Losi, Pendekar Hina Kelana tertawa rawan.

"Menyesal sekali bangsat kerdil! Sebelum niatmu itu kesampaian kepalamu sudah menggelinding terlebih dulu!" Ejek pendekar Hina Kelana.

"Cunguk sombong! Mulutmu kelewat takabur...!" Si Katai Losi membentak.

"Kita lihatlah nanti:..!" Serentak dengan itu perempuan katai sudah alirkan sebagian tenaga dalamnya ke ujung jemari tangannya. Tangan itu tergenggam dengan erat, sementara mulutnya nampak berkemik-kemik membacakan mantra, Ajian Mulih Pati.

Buang Sengketa tidak memberi kesempatan pada si Katai Losi untuk bertindak lebih jauh. Didahului oleh satu bentakan nyaring, Pendekar Hina Kelana pukulkan tangan kirinya ke arah si Katai Losi, sementara tangan kanannya begitu cepat menyambar senjata pusaka yang terselip di pinggangnya. Kedua perempuan katai itu nampak terkejut sekali, begitu mereka melihat sebuah golok Buntung di tangan Buang Sengketa memancarkan sinar kemerah-merahan. Tiba-tiba mereka merasakan hawa dingin yang luar biasa. Sementara mulut Pendekar Hina Kelana telah keluarkan bunyi mendesis-desis bagai suara seekor Ular Piton yang sedang marah. Belum lagi hilang kejut mereka, pemuda itu telah menyerangnya dengan ganas sekali. Pedang di tangannya berkelebat cepat, membentuk gelombang sinar merah menyala yang tiada henti. Tubuh kedua katai itu nampak menggigil merasakan hawa dingin yang keluar dari senjata di tangan lawannya. Cepat-cepat kedua orang ini membentangi diri dengan jurus Kuakkan Tempurung Mencatok Cacing. Kedua orang ini bergerak cepat berusaha menghindari babatan senjata pusaka lawannya. Namun secepat apa pun gerakan si katai ini, golok di tangan Pendekar Hina Kelana bergerak lebih cepat lagi.

Satu sat si katai Losi bermaksud menyarangkan Ajian Mulih Pati itu mengarah pada bagian dada si pemuda. Kiranya hal itu tidak luput dari perhatian Buang Sengketa yang memang sedari tadi lebih cenderung memperhatikan gerakan si Katai Losi yang di kenalnya sebagai sangat berbahaya. Begitu tangan si katai meluncur deras dan hampir-hampir sampai pada sasarannya, secepat kilat golok di tangan Buang Sengketa berkelebat. katai Losi yang tidak mengira bahwa gerakan golok di tangan lawan bisa berkiblat secepat itu, sudah tak dapat menarik tangannya lagi. Tak aval!

"Cras!" si Katai Losi melolong setinggi langit. Tangan kirinya terbabat sebatas siku, kutungan tangan mencelat jauh sampai tiga tombak. Darah memancar deras dari luka yang mengerikan. Cepat-cepat dia menotok urat darah untuk mencegah keluarnya darah lebih banyak lagi. Sementara itu si Katai Jola mengetahui kakak seperguruannya kena dilukai oleh lawannya. Lumerlah nyalinya. Meskipun dia masih menyerang si pemuda akan tetapi hanya setengah hati. Sebab apa yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana caranya untuk bisa kabur secepatnya. Dalam pada itu si Katai Losi yang memang sudah sangat nekad, kembali kirimkan pukulan-pukulan dahsyat dengan sebelah tangannya. Pendekar Hina Kelana putarkan badan, kemudian diiringi dengan bunyi mendesis yang berkepanjangan, tubuhnya berkelebat sedemikian cepatnya, hingga tinggal merupakan bayang-bayang merah saja. Si Katai Losi maupun si Katai Jola benar-benar dibuat kelabakan. Satu saat tubuh Pendekar Hina Kelana melesat ke udara, kemudian dengan disertai jerit melengking tubuhnya lebih cepat lagi menungkik. Satu babatan yang cukup telak dia lancarkan mengarah pada bagian kepala si Katai Losi. Perempuan kerdil itu agaknya tidak menyadari apa yang bakal menimpa dirinya. Namun begitu dia merasakan ada angin yang menyambar mengarah dirinya, cepat-cepat dia coba menghindar. Akan tetapi golok di tangan Buang Sengketa malah dua kali lebih cepat. "Prook!" Kepala si Katai Losi terbelah dua, darah dan otak berhamburan ke mana-mana. Hanya bola matanya saja yang nampak melotot bagai mau meloncat keluar.

Sesaat lamanya si Katai Jola terkesima, seolah dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Buang Sengketa yang sudah kalap itu sudah tidak memberinya kesempatan lagi. Kembali Pendekar Hina Kelana babatkan golok Buntungnya. Si Katai Jola buang tubuhnya ke samping begitu merasakan ada angin dingin menyambar pada bagian tubuhnya. Belum lagi dia sempat bangkit, lagi-lagi golok di tangan Pendekar Hina Kelana menderu dahsyat mengarah pada bagian leher. Dalam keadaan terjepit seperti itu, si Katai Jola sangat gugup dan tangkis sambaran golok dengan kedua tangannya.

"Cras! Cras!" Tangan si Katai Jola terkutung menjadi beberapa bagian, perempuan itu menjeritjerit bagai orang gila karena menahan rasa sakit yang teramat sangat. Wajahnya nampak pucat pasi, tubuh menggigil ketakutan. Pendekar Hina Kelana yang sudah gelap mata, tiada sedikit pun memberinya ampun. Diburunya si Katai Jola dengan senjata menderu-deru! Kemudian diawali dengan teriakan menggelepar senjata di tangan Pendekar Hina Kelana berkelebat kembali!

"Cras!" Kepala si Katai Jola menggelinding ke atas tanah, bagai mata air, darah memancar dari leher si Katai Jola yang terkutung. Beberapa saat tubuh yang sudah tiada berkepala itu nampak menegang, kemudian terhuyung-huyung ke depan. Tak berapa lama setelahnya tubuh si katai itu pun ambruk ke bumi. Sesaat lamanya Pendekar Hina Kelana memandangi tubuh yang berlumuran darah itu. Begitu dia teringat pada pesan si Maling Bosa tentang gadis yang berada dalam gubuk miliknya di tengah rawa, cepat-cepat dia bondong tubuh si Maling Bosa yang sudah kaku itu. Secepat itu pula tubuhnya berkelabat ringan menuju Rawa Kematian.

* * * 11

Setelah mengurus mayat si Maling Bosa dan selesai menguburkannya, pendekar Hina Kelana dan Dewi Sekar Tanjung segera memberi penghormatan yang terakhir pada si Maling Arif yang tewas di tangan si Katai Losi yang dengan cara yang sangat menggenaskan itu. Hari telah menjelang senja ketika mereka meninggalkan Rawa Kematian untuk meneruskan perjalanan menuju Karang Hantu. Sepanjang perjalanan, Dewi Sekar Tanjung bercerita banyak tentang kehidupan si Maling Bosa yang terkenal sebagai seorang yang arif. Bahkan gadis yang sangat cantik itu pun mengaku dengan terus terang bahwa semula dia juga bermaksud membunuh laki-laki itu, hingga kemudian dia membatalkannya.

Tanpa terasa belantara Bukit Manoreh telah jauh terlampaui. Setelah melewati hutan gundul yang cukup luas. Malam sudah menjelang, bulan purnama di atas sana nampak bersinar cerah. Nampaknya kedua orang ini akan melewatkan malam tanpa istirahat. Kedua orang ini terus terlibat percakapan, sesekali terdengar derai tawa mereka meningkahi sunyinya malam. Dan sesekali pula tanpa sepengetahuan Pendekar Hina Kelana, Dewi Sekar Tanjung mencuri pandang pada si pemuda yang berjalan tenang di sisinya. Diamdiam dia mengagumi ketampanan Pendekar Hina Kelana. Cuma ada sesuatu yang membuat hati si gadis kurang suka pada pemuda itu. Yaitu periuk besar yang tergantung di bahunya. Periuk itu hanya mengesankan bahwa si pemuda orang yang sangat rakus dengan makanan, atau pula merupakan seorang kelana yang takut mati kelaparan. Lebih dari itu pakaian merah yang dikenakannya dan sangat lusuh pula, hanya akan memberi kesan pada setiap mata yang memandangnya bahwa pemuda ini orang yang jorok bahkan boleh di kata bagai bapak moyangnya gembel! Tiba-tiba Dewi Sekar Tanjung merutuk dirinya habis-habisan. Guoblook, tolol! Mengapa pula dia harus memikirkan pemuda gembel ini? Bukankah dia sudah di jodohkan dengan Baya Swara yang juga masih merupakan kakang seperguruannya sendiri. Baya Swara merupakan orang yang sangat baik dan penyabar, lebih dari itu kesetiaan pemuda itu tidak perlu diragukan lagi! Lagi-lagi Dewi Sekar Tanjung memakin dirinya sendiri habis-habisan. Dalam pada itu tiba-tiba Pendekar Hina Kelana bertanya:

"Apakah kita masih jauh untuk sampai ke Karang Hantu...?!" Dewi Sekar Tanjung agak tergagap, dan seketika itu juga buyar segala lamunannya.

"Apa katamu Pendekar?"

Buang Sengketa tersenyum getir begitu Dewi Sekar Tanjung menyebut dirinya pendekar. Buru-buru dia menyela: "Aku bukan pendekar! Namaku si Hina Kelana, panggil saja begitu...!"

"Baiklah, kalau hal itu memang sudah maumu...! Oh ya, kau tadi bilang apa?" tanya Dewi Sekar Tanjung bloon. Buang Sengketa tersenyum lagi.

"Itu makanya jangan melamun terus! Kalau

kubawa engkau ke jurang di depan sana apakah bukan kematian bagimu...!"

"Sekarang ini kita sudah sampai di mana...?" sambungnya lagi. Sesaat lamanya Dewi Sekar Tanjung memandangi kanan kiri, tiba-tiba dia tersurut mundur, lalu seperti pada dirinya sendiri: "Celaka! Kita sudah berada di wilayah Sarang Iblis Neraka...!" ucapnya penuh kejut.

"Bukankah tempat ini yang kita tuju...?" kata Buang Sengketa keheranan.

 "Hati-hati Kelana! Malam hari Karang Hantu

bisa berubah menjadi medan yang sangat

mengerikan...!" Dewi Sekar Tanjung coba mengingatkan Pendekar Hina Kelana. Belum lagi Dewi Sekar Tanjung sempat menarik nafas, pada saat itu juga secara mendadak terdengar bunyi bergemuruh di kanan kiri bukit-bukit karang. Gadis itu memekik ketakutan. Tak lama kemudian terdengar pula bunyi bergemerincing yang sangat ramai sekali. Batu-batu berjatuhan, bersamaan dengan itu pula terdengar langkah-langkah kaki yang begitu berat bahkan menggetarkan tempat sekitarnya.

"Kelana! Makhluk-makhluk apakah itu...!" pekik Dewi Sekar Tanjung lalu menunjuk ke arah satu tombak di depannya. Serentak Buang Sengketa palingkan wajah! Pemuda ini berseru tertahan begitu melihat beberapa sosok makhluk raksasa telah berdiri mengepung mereka berdua. Makhluk-makhluk raksasa yang berujud manusia itu memiliki tinggi hampir empat kali lipat dengan tinggi badan kedua orang ini. Dada mereka yang tiada mengenakan pakaian nampak berbulu sangat lebat. Tampang bengis, wajah berewokan. Sementara jemari tangan mereka berkuku panjang-panjang. Makhluk-makhluk raksasa itu menyeringai ganas pada kedua orang ini. Tampaklah taring-taring yang cukup panjang dan mengerikan.

"Tempat ini benar-benar merupakan sebuah neraka tempat tinggalnya para iblis...!" gumam Pendekar Hina Kelana tanpa sadar.

"Siapakah kalian ini! Minggir, kami mau

lewat...!" bentak Pendekar Hina Kelana pada makhluk-makhluk yang sangat mengerikan itu. Mendengar bentakan si pemuda, makhluk-makhluk raksasa itu saling pandang sesamanya. Tak berapa lama kemudian dengan lidahnya yang terjulurjulur. Serentak makhluk-makhluk mengerikan ini tertawa-tawa secara bersamaan. Suara tawa mereka yang besar dan parau telah meruntuhkan batu-batu besar di tebing bukit karang itu. Mau tak mau Dewi Sekar Tanjung maupun Pendekar Hina Kelana demi menghindari tertimpanya tubuh mereka   dari   batu-batu   yang   hampir   sebesar kerbau. Pendekar Hina Kelana memaki habishabisan.

"Jahanam! Makhluk-makhluk raksasa ini bisa mencelakakan kita...!"

"Sebaiknya kita cari kesempatan untuk melarikan diri...!" Dewi Sekar Tanjung menimpali. Pendekar dari Negeri Bunian ini gelengkan kepala. Kemudian dia berkata tegas.

"Apapun kehadiran mereka di tempat ini! Yang jelas makhluk-makhluk ini merupakan suruhan seseorang. Dan yang lebih pasti lagi, mereka ini hanyalah makhluk siluman...!"

"Dari mana engkau tahu...?" tanya Dewi Sekar Tanjung keheranan.

"Bau mereka, itu yang menjadi pedomanku,..!" Dalam pada itu tiba-tiba saja.

"Kelana awas... makhluk-makhluk itu menyerang kita...!" kata Dewi Sekar Tanjung berseru kaget. Memang benar apa yang dikatakan si gadis, makhluk-makhluk mengerikan itu langsung menyerang mereka berdua, meskipun gerakan mereka nampak ringan saja akan tetapi tubuh mereka enam kali lebih besar bila di bandingkan tubuh pendekar Hina Kelana, maka serangan yang nampak asal-asalan itu menimbulkan deru yang sangat memekakkan telinga. Buang Sengketa berkelit, kemudian secara cepat menyambar tubuh Dewi Sekar Tanjung sambil berseru lantang.

"Untuk sementara kau tinggallah di dalam periukku! Makhluk-makhluk jahanam ini kelihatannya sangat buas sekali...!" Tanpa menghiraukan ronta dan jerit si gadis, Buang Sengketa segera masukkan tubuh Dewi Sekar Tanjung ke dalam periuknya. Cepat-cepat pemuda ini tutup kembali periuknya. Anehnya meskipun tubuh Dewi Sekar Tanjung terbilang cukup besar, akan tetapi ruangan dalam periuk itu mampu menampung tubuhnya.

Sementara itu makhluk-makhluk raksasa

telah mengeroyok Pendekar Hina Kelana secara beramai-ramai. Dalam waktu hanya sekejap saja terjadilah pertarungan yang tak seimbang antara makhluk-makhluk raksasa melawan Buang Sengketa. Bagi makhluk-makhluk yang tak dapat berbicara ini, tubuh Pendekar Hina Kelana tak ubahnya bagai seekor anak ayam melawan bapak moyangnya musang. Nampak sangat kecil dan sangat tidak seimbang. Makhluk-makhluk ini sambil   membungkuk   terus   mencecar   Buang Sengketa. Mereka nampak sangat geram begitu lawannya yang kelihatan sangat kerdil ini dengan sangat cepatnya berkelit dan bergerak lincah kian ke mari. Lama-kelamaan mereka menjadi jengkel, kaki-kaki mereka menimbulkan gempa yang sangat hebat. Batu-batu di atas tebing kembali berjatuhan ke segala arah. Sedapat-dapatnya Buang Sengketa berusaha mengelakkan bendabenda tersebut. Biarpun banyak di antara batubatu yang sangat tajam itu menimpa tubuh makhluk-makhluk itu sendiri, akan tetapi sedikitpun tidak berpengaruh pada mereka. Bahkan makhluk-makhluk ini nampak semakin berutal dan genas.

Beberapa saat kemudian Pendekar Hina Kelana nampak terdesak hebat, jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra yang terkenal sangat sempurna inipun nampak menjadi tak layak untuk dipergunakan. Tak ayal lagi, si pemuda segera rubah jurus-jurus silatnya, tubuh pemuda itu berkelebat sedemikian hebatnya. Satu kesempatan yang sangat baik dia menyurut beberapa tombak, makhluk-makhluk itu secara beramai-ramai memburunya. Pada saat itulah Pendekar Hina Kelana melepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Secepat kilat tangannya berkiblat, secepat itu pula menderu selarik gelombang sinar Ultra Violet yang panas luar biasa meluruk ke arah makhluk-makhluk itu. Akan tetapi lebih cepat lagi. Makhluk-makhluk ini kirimkan satu pukulan pula. Delapan gelombang sinar biru menyala melesat pula dari jemari tangan delapan raksasa-raksasa itu. Benturan tenaga sakti tidak dapat dihindari.

"Blang!" Tubuh Pendekar Hina Kelana terpelanting delapan tombak, darah meleleh dari celah-celah bibirnya. Si pemuda segera menyadari, bahwa selain pukulan Empat Anasir Kehidupan tidak berpengaruh apa-apa bagi makhluk-makhluk itu. Bahkan pukulan yang dilepaskannya membalik dan hampir makan dirinya sendiri.

"Tobat!" Pemuda berkuncir ini memaki panjang pendek. Belum lagi dia siap dengan posisinya. Makhluk-makhluk itu tanpa memberi ampun memburunya, kaki-kaki mereka bergerak cepat dan menimbulkan gempa dan suara bergemerincingan. Karena memang di pergelangan kaki itu terdapat benda-benda yang menyerupai mainan anak-anak. Pendekar Hina Kelana kembali berkelit menghindari injakan kaki-kaki mereka, lagi-lagi dia melepas pukulan-pukulan mautnya. Akan tetapi seperti yang sudah-sudah, pukulanpukulan yang dilancarkan oleh Pendekar Hina Kelana tidak berpengaruh apa-apa bagi makhlukmakhluk tersebut. Buang Sengketa yang nampak sudah sangat terdesak, agaknya sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi. Dia cepat raba pinggangnya.

"Makhluk-makhluk terkutuk! Rupanya aku harus mengadu jiwa dengan kalian...!" Raksasaraksasa tiada menjawab, hanya terdengar derai tawa mereka saja yang sangat memekakan gendang-gendang telinga.

Tak lama kemudian, dengan diiringi jerit tinggi melengking. Mengaunglah senjata di tangan Pendekar Hina Kelana bagai suara auman puluhan harimau terluka. Tubuh pemuda itu berkelebat cepat, senjata di tangan menderu berkiblat laksana gelegar petir yang sambung menyambung tiada henti. Secepat gerakannya lebih cepat pula pusaka Golok Buntung memburu mangsa-mangsanya. Tiga kali senjata di tangannya menderu, tiga kali pula senjata itu mencapai sasarannya.

"Crat! Cras! Cras!" Tiga makhluk raksasa nampak roboh bagai ditebang. Terdengar bunyi makhluk-makhluk mengerikan ini nampak berkelojotan untuk kemudian tak berkutik lagi. Beberapa saat berikutnya terjadi keanehan pula. Secara mendadak mayat makhluk-makhluk itu raib tak tentu rimbanya. Bukan main marahnya Pendekar Hina Kelana menyaksikan kejadian ini. Di lain pihak demi mengetahui ketiga orang kawannya dapat dirobohkan oleh si pemuda, Lima raksasa lainnya menjadi sangat murka. Secara beramai-ramai mereka menerjang kembali. Pendekar Hina Kelana sudah nampak kalap keluarkan bunyi mendesis, lalu putar Golok Buntung di tangannya laksana kilat. Makhlukmakhluk itu agaknya menyadari kalau senjata di tangan lawannya sangat berbahaya sekali. Untuk itu meskipun serangan-serangan mereka nampak gencar akan tetapi nampaknya mereka sangat berhati-hati sekali. Pendekar Hina Kelana yang sudah semakin tak sabar ini langsung kerahkan segenap kemampuannya. Begitu makhluk-makhluk ini kembali menyerang dirinya dan kirimkan cakaran-cakaran ganas, dia kembali kiblatkan senjata di tangannya. Tak terelakkan lagi, pusaka Golok Buntung kembali menderu menyambar makhluk-makhluk itu. "Cras!" Makhluk-makhluk itu terhuyunghuyung, darah bercucuran dari luka yang menganga. Akan tetapi sungguh aneh sekali, begitu makhluk-makhluk ini sapu-sapu bagianbagian yang terluka, darah seketika itu juga berhenti sama sekali, bahkan bekas luka yang diderita oleh merekapun lenyap tanpa bekas. Beberapa saat kemudian makhluk-makhluk itu menyerang kembali bagai tiada jera-jeranya. Buang Sengketa kertakkan rahang.

"Benar-benar bangsat siluman!" Gerutu pendekar Hina Kelana. Tiba-tiba si pemuda melengking dahsyat, tubuhnya lenyap sama sekali.

"Nguuung!"

"Ctar! Ctar! Ctar!" Cambuk Gelap Sayuto pemberian si Bangkotan Koreng Seribu ikut berbicara. Seketika itu juga bertiuplah angin topan. Petir menyambar sambung menyambung, sebentar saja bulan purnama yang tadinya bersinar cerah tiba-tiba menjadi redup karena tertutup awan hitam pekat. Tak berapa lama kemudian suasana di sekitarnya menjadi gelap gulita. Tinggallah cahaya kemerah-merahan yang terpancar dari kharisma pusaka Golok Buntung. Dalam pada itu agaknya makhluk-makhluk mengerikan ini sudah mulai kedodoran nyalinya. Mereka nampak saling pandang sesamanya. Mata mereka saling kedip bagai kunang-kunang di malam buta.

Buang Sengketa sudah tak perduli akan semua itu. Golok di kanan cambuk di tangan kiri dan secara bersama-sama terayun dan berkelebat ke segala penjuru.

"Ctar! Ctar! Ctar!" Makhluk-makhluk raksasa itu terpekik ketakutan, kemudian berlarian ke segala arah. Sebentar saja makhluk-makhluk ini hilang tak tentu rimbanya. Buang Sengketa mengerendeng lalu menarik nafas pendek. Cepatcepat dia buka tutup periuknya, kemudian mengerluarkan Dewi Sekar Tanjung dari dalamnya.

"Sudah aman!" ucapnya pendek.

"Sialan...! Aku sampai mau mampus kau sekap di dalam periukmu...!" kata Dewi Sekar Tanjung menggerutu.

"Itu masih lumayan! Toh kulihat dendeng ikan lumba-lumba milikku nampaknya sudah engkau sikat semuanya...!" sindir Pendekar Hina Kelana.

Dewi Sekar Tanjung tersipu malu. "Periukmu ini benar-benar ajaib! Bisa memuat manusia sebesar aku!" Dewi Sekar Tanjung memuji, sedangkan pendekar Hina Kelana hanya diam saja.

* * * 12

Baru saja mereka bermaksud meneruskan perjalanan demi mencari tempat persembunyian Nyaur Pati. Mendadak tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat. Batu-batu besar di kanan kiri tebing kembali berjatuhan, sedapatnya mereka berlari-lari menghindar sambil melindungi diri dari reruntuhan batu-baru tersebut. Pada saat itu pula terdengar gelak tawa sambung-menyambung, Buang Sengketa hentikan langkah kemudian memandang berkeliling.

"Hak...! Hak...! Hak...! Akhirnya engkau

datang juga di daerah kekuasaanku! Engkau benar-benar seorang ksatria sejati. Lebih dari itu, sebagai seorang lawan yang akan kukirim ke neraka rupanya engkau seorang yang baik budi engkau bawakan aku seorang calon istri yang sangat cantik sekali. Sungguh aku sangat beruntung malam ini...!"

Pendekar Hina Kelana yang memang sudah sangat mengenali suara Nyaur Pati lantas menyahut. "Nyaur Pati bangsat terkutuk! Perhatikanlah dirimu, aku paling benci pada seorang laki-laki yang punya watak pengecut...!" bentak Pendekar dari Negeri Bunian ini. Kembali Nyaur Pati yang saat itu hanya terdengar suaranya saja menyahuti. "Aku memang segera hadir di hadapanmu, dengan dua tujuan! Mengambil gadis itu dan

memenggal kepalamu...!"

"Puih! Siapa sudi pada manusia muka setan...!" Dewi Sekar Tanjung menyela dengan wajah merah padam.

"Manusia    buruk     rupa,     cepat-cepatlah

perlihatkan diri! Kalau tidak aku akan hancurkan tempat persembunyianmu itu!"

"Baik... baiklah...!" Seusai dengan katakatanya itu, tahu-tahu Nyaur Pati telah berdiri di depan mereka berdua. Betapa terkejutnya hati Dewi Sekar Tanjung demi melihat wajah Nyaur Pati yang sangat rusak itu, bahkan tanpa sadar dia sampai-sampai menggit bibirnya. Buang Sengketa yang memang sudah mengenali wajah Nyaur Pati pada waktu-waktu sebelumnya nampak tenangtenang saja.

"Engkau tak perlu takut padaku nona manis! Aku calon suami yang dapat membahagiakanmu dan bahkan selalu dapat membawamu terbang ke Surga...!" kata Nyaur Pati tersenyum tipis. Meskipun laki-laki itu tersenyum, akan tetapi senyumnya ini malah membuat wajahnya yang ancur-ancuran itu nampak semakin mengerikan.

"Puh! Setan tua muka rusak! Siapa sudi pada orang sepertimu, sudah wajah tak karuan. Menjadi maling senjata pusaka milik berbagai perguruan pula...!"

"Jangan kau hinakan calon suamimu sendiri! Engkau harus percaya bahwa sekarang ini akulah jagoan rimba persilatan...!"

"Setan alas, bangsat rendah! Malam ini juga

kami akan membikin hancur badanmu yang busuk itu...!" bentak Dewi Sekar Tanjung sangat marah sekali. Sebaliknya Nyaur Pati nampak tergelakgelak.

"He... he... he......! Aku suka pada gadism yang galak! Engkau pasti sangat luar biasa...!" ucap Nyaur Pati dengan maksud-maksud kotor.

"Jahanam bangsat cabul! Malam ini juga aku akan hancurkan semua kesombonganmu...!" tukas Pendekar Hina Kelana sudah tak dapat lagi menahan kesabarannya. Tanpa menghiraukan kata-kata Pendekar Hina Kelana, sebaliknya dia menyela." Engkau tenang-tenang sajalah Nona, aku hendak singkirkan penghalang kebahagiaan kita...!"

"Manusia terkutuk muka setan! Mampuslah...!" Tanpa buka-buka jurus, Pendekar Hina Kelana langsung kirimkan satu pukulan dahsyat. Nyaur Pati terkekeh! Lantas dengan cepat samplokkan tangan kanannya memapaki serangan Empat Anasir Kehidupan. Bagai menerpa dinding saja memakan tubuhnya sendiri. Pemuda ini semakin panjang pendek. Lagi-lagi Nyaur Pati tergelak-gelak.

"Di wilayah kekuasaanku apa yang dapat kau lakukan orang muda...!" kata Nyaur Pati tertawa mengejek. Sebagai jawabannya, Pendekar Hina Kelana kirimkan pukulan si Hina Kelana Merana. Seberkas sinar merah menyala menderu dahsyat meluruk tubuh si Nyaur Pati yang masih memandang rendah pada pukulan yang dilancarkan oleh pihak lawannya. Begitu gulungan sinar merah itu hampir melabrak tubuh Nyaur Pati. Laki-laki berwajah sangat rusak itu menangkis:

"Blaar!" Tubuh Nyaur Pati terbuntang, lalu berserosotan dan terpelanting jauh. Kini balik Buang Sengketa yang tertawa mengekeh. Cepat-cepat Nyaur Pati bangkit, kemudian menghapus darah kental yang berlelehan dari celah ke dua bibirnya. Kedua bola matanya memandang pada si pemuda dengan penuh kebencian.

"Bangsat... kiranya engkau berkepandaian juga, budak...!" geramnya. Bersamaan dengan itu Nyaur Pati langsung menerjang dan kirimkan pukulan-pukulan ganas. Dalam waktu sekejap saja pertarungan sudah mencapai puluhan jurus. Nyaur Pati agaknya menyadari bahwa lawannya tidak dapat dianggap sembarangan. Tak ayal lagi, dia kerahkan segenap kemampuannya. Satu kesempatan yang baik, dia lancarkan satu pukulan Hantu Karang Menyergap Mangsa. Satu gelombang angin topan yang berhawa sangat dingin meluruk ke arah Pendekar Hina Kelana. Pemuda inipun maklum kalau pukulan yang dilancarkan oleh Nyaur Pati merupakan pukulan yang sangat dahsyat dan terkenal ganas. Cepat-cepat dia kiblatkan tangannya, satu gelombang sinar merah menyala melesat dari kedua tangannya. Benturan tenaga sakti dari kedua pihak yang sama-sama, ingin secepatnya mengakhiri lawan. Terjadi! "Blar!" Tubuh Nyaur Pati terhuyung beberapa tindak ke belakang, sementara tubuh Pendekar Hina Kelana terpelanting roboh. Dada terasa remuk, darah menyembur dari mulut dan hidung Pendekar Hina kelana. Dewi Sekar Tanjung demi mengetahui kejadian itu terpekik tertahan dan bermaksud memburu ke arah Nyaur Pati dengan pedang terhunus. Nyaur Pati terkekeh dan langsung menyela: "Engkau tak pantas melayaniku dalam pertarugan ini! Engkau lebih pantas melayaniku di tempat tidur saja...!" kata Nyaur Pati dengan tawa tergelak-gelak.

Dalam pada itu Pendekar Hina Kelana yang baru saja selesai menghimpun hawa murni, sudah bangkit kembali. Setindak demi setindak dia melangkah, kemarahannya benar-benar sudah mencapai puncaknya. Sementara kedua matanya memandang dingin pada Nyaur Pati yang masih terus tergelak-gelak. Kemudian dengan suara tergetar dia membentak: "Manusia dajal yang berjuluk Nyaur Pati! Kalau hari ini aku tak dapat memenggal batang lehermu. Lebih baik aku mengundurkan diri dari dunia persilatan...!" Demi mendengar ucapan Pendekar Hina Kelana, manusia buruk rupa ini mendengus dan tersenyum mengejek.

"Kalaupun engkau mempunyai nyawa rangkap! Tidak nantinya engkau ungul menghadapi aku...!"

"Engkau terlalu sombong manusia muka

ancur-ancuran...!" Bersamaan dengan ucapannya itu, tubuh Buang Sengketa berkelebat lenyap. Kini hanya tinggal bayang-bayang merah yang berseliweran kian ke mari. Nyaur Pati tak kalah hebatnya mengimbangi gerakan-gerakan lawan sambil lancarkan pukulan-pukulan mautnya. Pertarungan berlangsung semakin seru. Agaknya Pendekar Hina Kelana sudah semakin tak sabar lagi menghadapi lawan penyebar malapetaka ini. Tak lama kemudian pemuda ini sudah menyurut beberapa langkah, Nyaur Pati terus memburunya. Pendekar Hina kelana yang memang sudah memperhitungkan segala-galanya, nampak kembali berkelebat dengan keluarkan bunyi mendesis bagai seekor Ular Piton yang sedang marah. Tak lama kemudian dengan diiringi dengan jerit melengking dia sudah cabut senjata Pusaka Golok Buntung yang sangat terkenal kedahsyatannya. Golok di tangan pemuda itu langsung berkelebat cepat dan memancarkan sinar merah menyala. Udara di sekitarnya mendadak berubah dingin. Nyaur Pati terkejut bukan main demi merasakan pengaruh yang ditimbulkan dari pusaka yang tergenggam di tangan lawannya. Akan tetapi dia sudah tidak dapat berpikir panjang lagi sebab golok di tangan Pendekar Hina Kelana dengan sangat cepat telah menyambarnya.

"Cras! Cras! Cras!" Tubuh Nyaur Pati sudah tidak sempat terhuyung atau melolong lagi, sebab tubuh manusia dajal itu telah terkutung menjadi tiga bagian. Bahkan diapun tak sempat menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Tanpa ampun tubuh yang telah terpotong menjadi tiga bagian itu langsung ambruk ke bumi dengan keadaan yang sangat mengerikan.

Mengetahui kenyataan itu, bukan main gembiranya hati Dewi Sekar Tanjung. Dia berlarilari menghampiri Pendekar Hina Kelana dan langsung memeluknya.

"Engkau hebat sekali Pendekar...!" ucapnya jujur sambil memberi satu ciuman hangat pada Pendekar Hina Kelana. Si pemuda tersipu malu, wajahnya berubah kemerah-merahan. Secara halus dia menolakkan tubuh Dewi Sekar Tanjung. Dan cepat-cepat dia mengalihkan perhatian.

"Lihatlah senjata-senjata yang berada di dalam bungkusan itu! Aku yakin senjata-senjata inilah yang menjadi biang keributan selama beberapa purnama ini...!" ujar Pendekar Hina Kelana sambil memeriksa satu bungkusan besar yang terletak tak begitu jauh dari mayat si Nyaur Pati. Setelah bungkusan itu dibuka ternyata memang benar didalamnya terdapat puluhan senjata pusaka milik berbagai perguruan.

"Ini senjata milik perguruan kami, Kelana. Sedangkan yang ini milik si Katai telah engkau bunuh itu! Yang ini... yang itu... aku tak tahu...!" ujar Dewi Sekar Tanjung kebingungan sendiri.

"Kalau begitu kita punya kewajiban untuk mengembalikannya...!"

"Kau     benar!     Kita     memang     wajib

mengembalikannya pada yang berhak...!" Kata Dewi Sekar Tanjung tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian setelah membungkus senjata itu kembali, kedua orang ini pun berlalu dari Neraka Karang Hantu.

TAMAT