-->

Serial Pendekar Hina Kelana Eps 02 : Misteri Neraka Lembah Halilintar

 
Eps 02 : Misteri Neraka Lembah Halilintar


Temaram mentari senja yang berwarna kuning kemerah-merahan mulai membayangi di ufuk Barat. Udara kemarau yang terasa kering, berhembus enggan melintasi sebuah kota kecil Mentoak yang kian hari kian sepi.

Mentoak yang kecil dan gersang itu kini tak ubahnya bagai sebuah kota yang mati. Hanya kadang-kadang saja kelihatan beberapa gelintir manusia melintasi kota yang selalu memberi kesan angker. Semua dari mereka menuju ke satu arah, namun seperti para pendahulunya mereka ini pun tak pernah kembali, hilang raib tak tentu rimbanya.

Sore itu serombongan pejalan kaki kembali hadir di Mentoak. Mereka terdiri dari lima lakilaki dan dua orang perempuan yang masih sangat muda belia. Melihat kondisi fisik mereka, agaknya rombongan ini yang terdiri dari tujuh orang baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh. Dari penampilan mereka sudah dapat di-duga kalau mereka ini bukanlah orang-orang sembarangan. Setidak-tidaknya mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi. Atau mungkin juga mereka berasal dari beberapa perguruan yang ingin menuju ke suatu tempat.

Demikianlah begitu mereka berada di tengah-tengah kota kecil Mentoak, hati mereka diliputi tanda tanya. Mengapa kota kecil itu terasa sepi, ke manakah perginya penduduk setempat? Mereka dengan hati masih diliputi tanda tanya segera mencari kedai penjual makanan dan juga mencari sekedar keterangan yang mereka butuhkan. Setelah berputar melalui beberapa lorong akhirnya mereka menemukan sebuah kedai penjual makanan seperti yang mereka inginkan.

Tanpa mengenal rasa ragu mereka segera memasuki kedai itu. Begitu sampai di dalamnya mereka segera mengambil tempat di pojok ruangan, lalu segera duduk. Mereka nampak saling diam, namun dua orang di antaranya yang mungkin juga merupakan pemimpin rombongan. Segera saja mengedarkan pandangan ke segenap penjuru ruangan. Di salah satu sudut ruangan pimpinan rombongan itu melihat ada seorang kakek berpakaian rombeng, rambutnya yang putih kecoklat-coklatan serta kerut merut di wajahnya menandakan bahwa kakek ini selain sudah sangat tua tapi juga sedang menderita beban batin yang sangat berat. Begitu ketua rombongan ini mengitarkan pandangannya lagi, di sudut yang lain dia melihat dua orang lakilaki berwajah angker nampak dengan sikap yang acuh sedang melahap makanan pesanannya dengan sangat rakus sekali. Mungkin juga dua orang laki-laki ini mempunyai maksud yang sama dengan rombongan itu. Menuju ke suatu tempat. Laki-laki yang menjadi ketua rombongan itu tidak tahu.

Kini laki-laki yang menjadi kepala rombongan itu kembali pada si kakek tua yang sedang duduk menekuri meja, apa yang menarik dari kakek tua itu adalah alat musik yang berupa kecapi yang diletakkan di atas meja. Sesekali tangannya yang sudah keriputan itu nampak gemetaran menyentuh senar-senar kecapi yang sudah tua pula. Sama seperti dua orang berwajah angker yang berada di sebuah sudut yang lainnya, si kakek tua berpakaian rombeng ini pun nampak acuh dengan kehadiran mereka. Pada saat pimpinan rombongan itu sedang berpikir tentang kakek tua ini, tiba-tiba saja pemilik kedai makanan itu menghampiri mereka. Pimpinan rombongan itu agak terkejut begitu dilihatnya bahwa pemilik warung itu adalah seorang gadis jelita berkulit kuning langsat dengan wajah bulat telur. Gadis itu tersenyum ramah pada mereka.

"Bapak-bapak dan Nona-nona ini mau pesan apa?" tanyanya masih dengan senyumnya yang ramah.

"Eee... tolong sediakan kami makanan berikut beberapa guci nira...!"

Si pemimpin mengemukakan keinginan mereka. Si gadis manggut-manggut. Kemudian sambil melangkah pergi: "Tunggulah sebentar! Pesanan akan kami siapkan!" Gadis itu kemudian menghilang di balik pintu dapur. Seperginya gadis itu salah seorang dari anggota rombongan berbisik pada sesamanya:

"Tempat ini begini sunyi! Mungkin kita bisa dapatkan keterangan dari pemilik warung ini, sekalian mencari tahu di mana sebenarnya letak lembah itu adanya...!" ujar salah seorang yang berbaju biru terung.

"Tapi, kita juga butuh istirahat dan juga butuh penginapan...." sela salah seorang gadis yang ikut dalam rombongan itu.

'Itu gampang! Nanti juga kita bisa tanyakan pada orang itu...!" ujar yang jadi pimpinan menengahi. Sedang mereka saling berbisik seperti itu, pemilik kedai kembali dengan membawakan pesanan mereka. Lalu seolah mengerti dengan apa yang barusan dibicarakan rombongan itu. Sambil meletakkan pesanan mereka, gadis jelita berpakaian abu-abu itu menyela: "Daerah itu memang menyeramkan, Tuan dan Nona! Penduduk banyak bepergian memburu yang berlimpah ruah! Kalau Tuan-tuan butuh penginapan, Tuan dan Nona bisa bermalam di penginapan milik kami yang berada di sebelah kedai ini! Dan kalau Tuan dan Nona bermaksud ambil bagian dalam memperoleh harta karun itu, Tuan dapat pergi ke arah matahari terbit! Jaraknya pun tidak jauh lagi dari Mentoak ini!"

Kata-kata si gadis walau hanya diucapkan dengan suara lirih saja, akan tetapi cukup membuat rombongan ini sangat terkejut. Mereka berfikir dari mana gadis jelita ini bisa tahu maksud dan tujuan mereka? Bukankah tadi mereka bicara berbisik-bisik, bahkan suara mereka lebih lirih dari ucapan gadis barusan, dan lagipula mereka tidak pernah menyinggung tentang keinginan dan tujuan mereka. Dengan hati masih bertanya-tanya seperti itu tiba-tiba gadis itu bagai mengerti apa yang sedang mereka fikirkan, menyela kembali: "Tuan-tuan dan Nona-nona tentu heran mengapa saya bisa berkata begitu!" ujarnya. Kemudian tanpa peduli dengan rombongan itu dia menyambung kembali.

"Biasanya orang yang melewati Mentoak ini, hanya mempunyai satu tujuan! Yaitu ingin mengeruk emas permata yang tersimpan di dasar lembah itu." ujarnya masih dengan suara lirih.

Mendengar penjelasan gadis itu, tiba-tiba saja yang jadi pimpinan rombongan menyela: "Kami hanya ingin tahu saja! Bukan kemaruk untuk memiliki harta itu!" bantah laki-laki yang jadi pimpinan rombongan. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. Sebuah senyum ramah yang masih penuh dengan tanda tanya.

"Setiap orang yang singgah di kedai ini selalu berkata begitu! Tapi maaf hal itu memang hak semua orang, dan saya cuma berharap semoga anda sekalian bisa cepat berhasil...!"

Setelah berkata begitu, gadis berpakaian abu-abu itu berlalu meninggalkan mereka. Sepeninggalan si gadis, mereka nampak saling berpandangan. Akan tetapi tiada satu pun kata yang terucap. Dengan masih diliputi penasaran tak lama kemudian mereka segera melahap makanan yang tersedia. Baru saja mereka sedang enak-enaknya menikmati hidangan, tiba-tiba terdengar petikan suara kecapi yang disertai syair-syair lagu:

Dunia sudah semakin tua

Bayi-bayi tercecer dan dibuang bagaikan sampah

Ada bapak memakan anaknya Orang tua terlunta-lunta merana Nyawa tiada harga

Oh... nasib

Apa yang kau cari di atas dunia Harta benda yang tertinggal Hanya membuat malapetaka

Hei, mahluk yang disebut Manusia Kehadiranmu di atas dunia pana Membuat malapetaka di mana-mana Dan aku si tua papa

Tiada harga

Penjaga harta tiada guna

Orang menjerit dalam penyesalan Akan tetapi....

Aku hanya diam Tiada daya

Demikianlah seiring dengan berakhirnya bait-bait syair lagunya, si kakek tua itu menghentikan petikan-petikan kecapinya. Akan tetapi sungguh membuat heran orangorang yang berada di dalam kedai itu, sebab tak lama kemudian si kakek pakaian rombeng nampak menangis bagai anak kecil. Bahkan suara tangisnya semakin lama semakin keras. Agaknya si kakek bukanlah orang sembarangan sebab begitu suara tangis itu meninggi, semua orang yang hadir di situ merasakan adanya satu tenaga gaib yang terasa menggetarkan jantung dan pembuluh darah mereka. Dengan segera rombongan yang terdiri dari tujuh orang itu yang ternyata juga memiliki kepandaian sangat tinggi mengerahkan kemampuan mereka intuk melindungi diri. Pada saat itu pula terdengar suara bentakan menggelegar di ruangan jitu. Begitu rombongan itu menoleh tahulah mereka bahwa bentakan tadi berasal dari dua orang berwajah angker berpakaian hitam-hitam. Sambil membentak dua berwajah pucat itu menghampiri si kakek. Kemudian setelah benar-benar berada di hadapan si kakek, lagi-lagi salah seorang berwajah pucat ini membentak: "Kakek tua berpakaian rombeng tiada guna! Kami Si Kembar Dari Bukit Sumplung, selamanya tidak pernah usil dengan orang lain. Akan tetapi selalu muntah melihat ilmu picisan di pamerkan di hadapan kami?" tukas salah seorang dari si Kembar sambil bertolak pinggang. Tanpa menghiraukan ocehan si Kembar sebaliknya si kakek berpakaian rombeng malah terkekeh.

"Huahaha...! Sungguh kalian pintar menebak namaku. Aku memang Si Tua Rombeng Tiada Guna. Tapi apa pedulimu aku mau tertawa, menyanyi, menangis atau bahkan merobek mulut kalian...!"

"Orang tua sombong! Sungguh lancang sekali mulutmu...." Sambil berkata begitu si Kembar Dari Bukit Sumplung itu kirimkan satu jotosan mengarah ke wajah Si Kakek Rombeng. Serangan kilat itu demikian cepatnya hingga orang-orang dapat memastikan jotosan yang dilakukan oleh Si Kembar Muka Pucat pasti tepat pada sasarannya. Lalu dengan sekali, "Prook!" Remuklah batok kepala Si Tua Rombeng ini. Akan tetapi di luar dugaan Si Kakek Rombeng dengan cepat berkelit. Jotosan Si Kembar Muka Pucat menemui tempat yang kosong, sebaliknya si kakek tanpa terdugaduga mengirimkan satu serangan balasan. Dengan ujung-ujung jemarinya yang bergemetaran dia menotok si Kembar dari Bukit Sumplung ini. Pada saat itu juga tubuh orang berwajah angker ini menjadi kaku bagaikan arca. Gerakan kakek yang begitu cepat ini sudah barang tentu mengejutkan rombongan yang turut menyaksikan kejadian itu. Lain lagi halnya dengan si Kembar yang satunya lagi. Begitu mengetahui saudara Kembarnya kena dikerjai oleh si kakek berpakaian rombeng ini dia menjadi marah luar biasa. Wajahnya yang pucat itu tiba-tiba saja berubah kelam membesi. Sebaliknya Si Kakek Rombeng begitu mengetahui kemarahan si Kembar yang satunya ia malah tertawa terkekeh: "Huahaha-ha... hahaha... kau mau apa bocah! Ingin membela Kembaranmu?" ucapnya sambil mempermainkan senar kecapi. Lalu si kakek menyambung lagi, "Kepandaianmu baru seusia jagung! Sudah berani berlagak di depan Juru Kunci Lembah Halilintar...!" Ucapan si kakek barusan sudah barang tentu sangat mengejutkan rombongan itu. Sebab seperti yang mereka rencanakan. Sesungguhnya mereka sedang melakukan perjalanan menuju Lembah Halilintar. Dan kalau kini mereka ber-temu dengan juru kuncinya bukankah merupakan satu kesempatan yang sangat baik. Untuk itu mereka t idak akan turut campur pada urusan dua orang pucat dari Bukit Sumplung ini.

Sementara itu Si Kembar Muka Pucat yang satunya karena dalam keadaan marah, mana mau perduli dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Si Kakek Rombeng. Sebaliknya dia malah balas membentak: "Selamanya kami Si Kembar Dari Bukit Sumplung tidak pernah usil dengan urusan orang, tapi karena kau telah memulainya, sekarang aku akan meremukkan batok kepala mu…!”

Kembali si kakek terkekeh.

"Orang goblok... perjalananmu ke Lembah Halilintar saja nantinya akan membuat urusan yang berbuntut panjang denganku... kau masih mau berdalih pada juru kuncinya...?" si kakek membentak.

* * * * * 2

Semakin bertambah merahlah wajah Si Kembar Dari Bukit Sumplung ini. Dengan gertakkan rahang: "Kalaupun kau seorang juru kuncinya setan iblis sekalipun, jangan dikira aku jadi gentar...!" Seusai berkata begitu dia kirimkan satu serangan kilat yang lebih hebat dari serangan si Kembar pertama. Si kakek kembali terkekeh dan hanya dengan bergeser sekali saja, lagi-lagi serangan si Kembar kedua pun luput. Dengan gerakan yang sangat sulit untuk dilihat kasat mata. Kembali si kakek melakukan tindakan yang sama. Si Kembar kedua ini pun mengalami nasib seperti saudaranya. Kemudian tanpa peduli si kakek angkat kecapinya, tak lama kemudian dia melangkah pergi. Akan tetapi begitu dia sampai di depan pintu kedai sejenak dia hentikan langkah. Lalu tanpa berpaling si kakek rombeng bergumam: "Manusia semakin lupa segala! Harta dunia malah dipuja-puja." Lalu lanjutnya: "Kalau air nira berubah menjadi darah! Itu adalah sebuah alamat celaka...!" Usai berkata begitu tanpa menoleh-noleh lagi si kakek berkelebat pergi. Suasana yang menjadi malam membuat tubuhnya lenyap ditelan kegelapan. Sepeninggalannya si kakek nampak rombongan itu saling berpandangan sesamanya. Mereka menduga ucapan si kakek barusan mungkin saja dialamatkan kepada rombongan itu. Begitulah ketika pimpinan rombongan itu bermaksud menenggak habis nira yang tersisa di dalam bumbung, alangkah terperanjatnya orang yang bernama Sudiro ini, melalui cahaya lampu minyak dengan jelas dia dapat melihat bahwa air nira di dalam bumbung itu benarbenar telah berubah menjadi darah. Begitu anggota yang lainnya memperhatikan bumbung-nya masing-masing. Mereka ini pun tak kalah kagetnya dengan Sudiro

"Kakang... nira di dalam bumbungku pun telah menjadi darah...!"

Lakilaki yang berpakaian biru terung ini pun tersentak kaget.

"Punyaku juga... Kakang...?" sentak dua gadis yang menyertai rombongan itu secara berbareng. Pimpinan rombongan yang bernama Sudiro ini pun kerutkan kening. Dia merasa sangat heran dengan kejadian itu. Kalau ucapan si kakek rombeng itu saja merupakan suatu kenyataan. Apakah nasib celaka itu bakal menimpa diri mereka? Membayangkan ucapan si kakek, tiba-tiba saja bulu roma Sudiro meremang berdiri. Bahkan perasaan ngeri menyelimuti hati anggota rombongan yang lainnya. Akan tetapi bagi Sudiro untuk bersurut langkah, paling pantang baginya. Mereka sudah melakukan perjalanan yang teramat jauh, hanya demi ingin membuktikan kebenaran kabar burung tentang harta terpendam yang tidak akan habis dimakan selama lima puluh turunan itu. Pada saat-saat hatinya diliputi kebimbangan seperti itulah tiba-tiba saja si pemilik kedai datang menghampiri mereka. Akan tetapi begitu si gadis jelita ini melewati si Kembar dari Bukit Sumplung ini. Anggota rombongan itu sempat melihat tangan si gadis menyenggol tubuh si Kembar, dan sangat mengherankan tiba-tiba saja si Kembar dari Bukit Sumplung itu segera terbebas dari pengaruh totokan yang telah dilakukan oleh si kakek rombeng. Merasa diri mereka telah ditolong, si Kembar menjura hormat. Kemudian setelah membayar pesanannya, dua orang Kembar ini saling berpandangan.

"Bagaimana, Kakang...!" tanya salah seorang di antaranya.

Si Kembar satunya ditanya begitu gertakkan rahang. "Kita harus kejar si kakek gombal amoh itu! Kemudian kita balas sakit hati ini!"

"Baik, aku setuju! Nanti tubuhnya kita cincang sampai rombeng! Biar mayatnya berganti nama si Rombeng-Rombeng...!"

Berkata begitu tanpa menoleh-noleh lagi mereka segera melesat pergi. Begitu kedua orang Kembar itu berlalu, si gadis jelita seperti bergumam pada dirinya sendiri nyeletuk: "Jangankan untuk mencincang tubuhnya! Kalau niatnya mau mencari si juru kunci seratus tahun lagi pun t idak akan berjumpa...!" Berkata begitu si gadis terus melangkah ke arah rombongan itu. Menyaksikan cara si gadis membebaskan totokan saja mereka ini sudah tahu kalau gadis cantik jelita pemilik warung itu berilmu tinggi. Itulah makanya begitu gadis itu benar-benar sampai di depan mereka. Rombongan itu mulai bersikap sangat hatihati.

Sejenak gadis jelita itu memperhatikan anggota rombongan satu persatu. Kemudian seolah mengerti apa yang sedang mereka fikirkan, si gadis ini pun berkata,.masih dengan suara yang lirih: "Kalian jangan percaya dengan omongan si kakek rombeng itu! Dia memang orang yang kuras waras! Minuman yang ada di dalam bumbung tuan itu sesungguhnya tetap merupakan air nira akan tetapi karena pengaruh ilmu sihir-nya, dia dapat saja membuktikan bahwa yang dia katakan itu benar adanya! Sekarang lihatlah bahwa minuman itu benar-benar tak berubah sama sekali...!" ucap si gadis sambil tersenyum-senyum. Begitu mendengar ucapan si gadis jelita, sudah barang tentu orang-orang ini segera memperhatikan bumbung yang berada di hadapan mereka. Dan benar saja, ternyata air nira yang berada di dalam bumbung itu tidak pernah berubah. Kembali mereka dibuat kaget. Dalam keadaan begitu, tiba-tiba saja Sudiro menyela: "Ma... maaf, Nona. Benarkah si kakek rombeng tadi merupakan juru kunci dari Lembah Halilintar...?"

"Namaku Jelita... panggil saja begitu...!" jelasnya memperkenalkan diri. Tak lama kemudian dia menyambung. "Apa yang dikatakannya itu tidak benar! Tapi mungkin juga dia merupakan Juru Kunci Setan Kuburan...!" ucap gadis itu tampak memendam sesuatu.

"Kalau begitu walau sesungguhnya kurang waras, tetapi kakek itu seorang ahli sihir yang sangat handal...!" sela lakilaki berpakaian biru terung yang bernama Soma. "Huh... ilmu sihir picisan mengapa terlalu Tuan pikirkan! Aku tahu Tuan mempunyai tujuan. Tempat itu tiada bertuan! Siapa pun punya kesempatan yang sama untuk dapat memiliki harta itu...!" tukas si gadis seolah menuduh.

'Tapi kami tak bermaksud untuk mem...!" Belum lagi kata-kata Sudiro selesai sudah dipotong oleh si gadis.

'Tuan tidak usah berbohong, aku tahu apa yang terkandung dalam niat anda semuanya...!"

Mendengar pernyataan gadis yang bernama Jelita ini memerahlah wajah Sudiro, akan tetapi untuk marah itu jelas tidak mungkin. Sebab apa yang dikatakan oleh si gadis sesungguhnya benar adanya. Sudiro dan yang lain-lainnya terdiam tanpa mampu membantah.

Tuan dan Nona! Hari sudah larut malam, kalau anda semua bermaksud menginap di tempat ini, mari aku tunjukkan kamarkamarnya...!"

Lagi lagi rombongan itu bagai kerbau dicucuk hidung hanya mampu menurut.

Setelah menunjukkan kamar-kamar untuk bermalam para tamunya, gadis itu segera meninggalkan mereka menuju sebuah lorong kecil. Kemudian menghilang di sebuah pintu lainnya.

Malam terasa semakin larut, rombongan itu pun sudah berada di kamarnya masingmasing. Seiring dengan perjalanan waktu di sebuah kamar yang misterius dan menyeramkan, tubuh gadis cantik pemilik kedai makanan dan rumah penginapan itu secara perlahan namun cukup pasti mulai berubah menjadi sosok burung Hantu. Burung hantu itu mengepak-ngepakkan sayapnya.

Begitu matanya yang liar memandang ke arah jendela seberkas cahaya aneh memancar dari sepasang matanya yang liar. Tak lama kemudian jendela itu pun terbuka. "Aku harus segera melaporkan kejadian ini secepatnya pada Sang Guru!" batin Burung hantu jelmaan Jelita dalam hati. Beberapa saat kemudian dengan sekali kepak burung jelmaan itu telah meluncur ke arah jendela, kemudian setelah berputar-putar di atas penginapan, secepat kilat burung itu meluncur menuju Lembah Halilintar.

Sementara itu di dalam penginapan, tujuh orang anggota rombongan yang tengah terbaring di kamarnya masing-masing kelihatan sangat gelisah. Penginapan yang mereka tempati itu tak ubahnya bagai sebuah rumah hantu, dengan kamar di sana sini yang senantiasa terasa menyebarkan bau tak sedap. Dalam hati mereka pun bertanya-tanya, mengapa penginapan sebesar itu tak memiliki seorang pelayan pun? Pada malam hari itu mereka baru menyadari, bahwa Mentoak yang kecil tak berpenghuni kiranya lebih menakutkan lagi bila dibandingkan pada saat siangnya. Demikianlah dalam keadaan resah seperti itu tiba-tiba saja terdengar sayup-sayup Burung Hantu dari kejauhan. Orang-orang ini menajamkan pendengarannya.

"Guk... guk-guk... guk!"

Demikian suara burung itu saling bersahutan, makin lama makin bertambah ramai. Hingga pada akhirnya burung-burung yang sama berdatangan mengitari penginapan itu. Suara-suara yang sama pun terdengar di mana-mana. Perasaan gentar mulai menyelimuti hati para rombongan. Tujuh orang yang tinggal di penginapan itu menjadi resah. Lalu secara hampir bersamaan membuka dan keluar dari kamarnya masing-masing. Dengan langkah terburu-buru mereka menghampiri kamar pimpinan mereka. Setelah mengetuk tiga kali, pintu kamar itu pun terbuka. Begitu mereka berada di dalam ruangan untuk beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan.

"Kakang... apakah kakang mendengar suara-suara itu...?" tanya salah seorang di antara mereka yang bernama Sekar Sari.

"Burung-burung keparat itu bikin kita susah tidur, kakang...!" sela yang lainnya pula.

Sudiro mengerutkan kening. Dalam hati dia bertanya-tanya mengapa burung-burung itu jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor, mungkinkah telah terjadi sesuatu yang tidak beres di kota kecil yang serasa bagai kota mati itu? Dalam hati laki-laki itu mulai merasa curiga dan was-was. Akan tetapi demi membesarkan hati kawan-kawannya, Sudiro segera saja berkata:

"Apa yang kalian takutkan! Burungburung sialan itu toh tidak mengganggu kita...!"

"Tapi kakang, mengapa jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor seperti itu...?" ujar yang berpakaian Biru Terong yang bernama Permana itu curiga. Lalu tanpa menunggu jawaban Sudiro, Permana segera membuka jendela yang menghadap ke arah halaman penginapan. Begitu pintu jendela itu terbuka, Permana terbelalak bagai melihat setan sadis. Tubuhnya kelihatan menggigil. Tentu saja hal ini membuat heran yang lainlainnya. Tanpa bertanya lagi mereka pun segera memburu ke arah Permana. Seperti apa yang terjadi pada diri Permana, orangorang ini pun bukan main kagetnya, tidak terkecuali Sudiro.

Tidak begitu jauh jaraknya dari penginapan itu, di beberapa batang pohon dalam kegelapan malam mereka melihat sinar kebiru-biruan dari beratus-ratus pasang mata Burung Hantu, berkedap-kedip memandang kepada mereka. Sepintas lalu ratusan pasang mata yang berkedap kedip bagai kunang-kunang itu, bagai pelita milik seorang dewa. Akan tetapi ada satu hal yang membuat jantung mereka semakin berdetak keras adalah karena ratusan pasang mata burung itu memancarkan sinar aneh yang mengisyaratkan sebuah kepedihan hati dan rasa putus asa. Tentu saja hanya Sudiro yang berilmu kebatinan sangat tinggi yang mengetahui pesan lewat tatapan mata burung-burung itu. Dengan cepat lakilaki berperawakan tinggi itu menutup jendela kembali. Begitu jendela itu tertutup burungburung malam itu menimbulkan suara riuh. Seakan-akan ingin memprotes. Suara-suara itu terasa semakin menyeramkan. Akan tetapi Sudiro tanpa memperdulikan suara-suara burung yang menggidikkan bulu roma segera berkata pada kawan-kawannya yang lain.

"Semua ini merupakan teka-teki! Akan tetapi peduli apa? Besok kita sudah harus melanjutkan perjalanan "

"Kakang...! Tentu malam ini kami tidak bisa tidur! Penginapan ini bagai rumah hantu...!" sela Sekar Sari.

"Sudahlah lupakan masalah yang hanya setahi kuku ini! Yang menjadi tujuan kita adalah bahwa usaha ini harus berhasil! Walau nyawa sekalipun sebagai taruhannya...!" kata Sudiro tegas.

"Kalau memang sudah begitu menjadi kehendak Kakang, tentu kami tidak bisa membantah...." kata Permana pula.

Demikianlah tekad dan keputusan sang ketua. Tak berapa lama kemudian suasana menjadi sunyi sepi. Suara-suara burung hantu sudah tak terdengar sejak beberapa saat yang lalu. Malam itu mereka melewatkan malam dengan tidur berdesakan dalam satu kamar.

* * * * * 3

Rambutnya yang selalu dikuncir dan tergerai sebatas bahu itu berkibar-kibar ditiup angin. Dengan pakaian merah-merah disertai sebuah periuk besar yang selalu tergantung di pun daknya. Keanehan tingkah lakunya sedikit pun tidak berpengaruh pada ketampanan wajahnya. Siapa lagi pemuda berperangai aneh itu, kalau bukan Buang Sengketa Si Pendekar Hina Kelana.

Siang itu Buang Sengketa yang berjuluk Pendekar Hina Kelana, nampak menginjakkan kakinya di seberang tanah Jawa. Memang demikianlah adanya, sesuai janji yang pernah dia ucapkan pada gurunya, si Bangkotan Koreng Seribu. Pemuda itu telah bertekad untuk menimba pengalaman di dunia ramai, sambil berpetualang dia ingin mencoba mencari tahu di manakah sebenarnya ayahandanya mengasingkan diri. Walau pun dia sadari bahwa ujud ayahnya bukanlah seperti manusia biasa, tetapi dia telah bertekad untuk mencari jejak ayahnya walau berada di ujung dunia sekalipun. Dia berfikir, meski pun ayahandanya si Piton Utara berujud seekor ular raksasa. Setidaktidaknya karena ayahnya itulah maka dia terlahir di atas dunia pana ini. Buang Sengketa menyadari walau pun kelahirannya di atas dunia ini telah ditandai dengan berbagai peristiwa mengerikan, termasuk juga hujan petir yang meluluh lantakkan desanya. Tak terkecuali dengan usaha penduduk untuk membunuhnya. Karena memang menurut ramalan banyak orang kelak di kemudian hari kehadirannya hanya akan menimbulkan malapetaka di manamana. Akan tetapi untuk membuktikan bahwa cerita itu sesungguhnya tidak benar. Dia telah bertekad untuk berbuat kebajikan di mana pun dia berada. Apa lagi apabila Buang teringat bahwa ibunya binasa di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hanya demi membela keselamatan dirinya. Tentu begitu masgul hati pemuda ini. Buang Sengketa sesuai dengan namanya adalah orang yang dibuang hanya demi menegakkan sebuah kasih sayang dan kebenaran. Di hatinya memang tiada dendam, karena memang sifat-sifat seperti itu tiada terwaris dari orang tuanya. Akan tetapi demi sebuah kebenaran dia sangat berani mempertaruhkan nyawanya.

Demikianlah, siang itu di tempat yang baginya masih sangat asing, pemuda itu nampak sedang berjalan melenggang. Kadang-kadang tangannya merogoh bekal makanan apa saja yang diletakkannya di dalam periuk besar berjelaga itu dan di saat yang lain sambil terus berjalan pemuda itu terlihat sedang berdecak-decak mengunyah makanan. Sepintas lalu pendekar ini walau berwajah tampan akan tetapi sepertinya tidak dapat merawat diri, ini terbukti dari caranya berpakaian dan juga wajahnya yang selalu nampak kumal bagai tak pernah mandi. Mungkin semua ini ada kaitannya dengan watak yang dimilikinya, selalu acuh walau pada dirinya sendiri.

Kini setelah melewati sebuah hutan cemara sampailah Buang Sengketa di sebuah dusun yang agak padat dengan rumahrumah penduduk. Pemuda itu mulai celingakcelinguk mencari sebuah kedai makanan demi untuk menambah perbekalannya yang sudah semakin menipis. Sangat mengherankan pemuda ini karena hampir keseluruhan penduduk yang dia lihat, semuanya terdiri dari kaum wanita dan anakanak. Ke manakah perginya kaum lakilaki atau bahkan suami mereka? Tak mungkin perempuan-perempuan itu dapat melahirkan tanpa adanya kehadiran kaum lakilaki. Pikirnya diiringi senyum lucu. Kira-kira langkahnya sudah sampai di pertengahan dusun, barulah dia melihat adanya sebuah kedai penjual makanan yang agak sepi pengunjung. Dengan langkah mantap Pendekar Si Hina Kelana memasuki kedai tersebut. Begitu dia duduk menghadap meja yang terbuat dari anyaman bambu, seorang laki-laki pemilik kedai datang menghampiri. Lakilaki setengah tua itu langsung saja bertanya: "Kisanak mau pesan apa...?" ucapnya ramah.

Sejenak Buang Sengketa nampak berpikir.

"Bapak tua... tolong sediakan sop daging menjangan, satu kendi arak dan beberapa bungkus makanan kering...!" kata Buang Sengketa sopan.

Begitu mendengar apa yang dipesan oleh si Hina Kelana. Laki-laki pemilik warung itu geleng-gelengkan kepala.

"Ada apa pak, Tua! Apakah bapak mengira bahwa aku tak sanggup bayar...?" tegur pemuda itu agak tersinggung.

Pemilik kedai itu buru-buru meralat ucapannya.

"Maaf, Ki sanak. Sama sekali aku tak punya dugaan seperti itu. Maaf saja penyadap tuak langganan kami sudah tak pernah datang mengantar tuak lagi ke sini! Sedangkan sop daging manjangan juga tidak ada. Orang-orang yang biasa berburu ke hutan kini sudah tidak ada lagi...!" ucap lakilaki pemilik kedai itu dengan sangat berhatihati.

"Jadi yang kau jual apa...?" tanya si Hina Kelana kesal.

Dengan gugup dan setengah takut-takut. "Yang ada cuma sate kucing dan sup daging tikus...!"

Mendengar penjelasan pemilik kedai alangkah terperanjatnya Pendekar dari Negeri Bunian ini.

"Haaaa... apa..,?!" tukas Buang Sengketa tak percaya. Kemudian sambungnya lagi: "Kucing kau bikin sate dan tikus kau buat sop...! Mengapa tak sekalian kau potong saja dagingmu untuk kau jadikan dendeng...?" bentak pendekar ini marah.

Menggigillah tubuh pemilik kedai itu begitu melihat kemarahan pemuda ini. Kemudian dengan suara terbata-bata, lakilaki ini mencoba menjelaskan.

"Maafkan aku yang bodoh ini, Kisanak...! Sesungguhnya sejak dulu aku berjualan belum pernah walau sekalipun menyembelih kucing apa-lagi memotong tikus. Akan tetapi karena ini adalah karena perintah seseorang dan di bawah ancaman pula. Maka demi keselamatan keluargaku, aku terpaksa melakukannya...!"

Mendengar penjelasan pemilik kedai tentu saja hal ini sangat mengejutkan Buang sekaligus merasa tertarik. Sesungguhnya tadi dia ingin marah pada laki-laki di hadapannya itu. Karena dia merasa bahwa pemilik kedai itu menghina dirinya. Akan tetapi karena pemilik warung itu segera memberi penjelasan padanya, akhirnya dia menjadi sangat maklum. Lalu dengan sangat penasaran Buang langsung bertanya: "Pak tua... siapakah sesungguhnya orang yang mengancammu itu! Dan apakah yang sesungguhnya telah terjadi di daerah ini...?"

Mendengar pertanyaan yang tak pernah terduga seperti ini, mendadak wajah pak tua berubah pucat. Setelah celingak-celinguk kian ke mari, seolah takut apa yang akan dia katakan didengar oleh setan kuburan. Dengan suara agak berbisik dia mulai bicara.

"Kisanak... kalau Kisanak ingin selamat, cepat-cepat tinggalkanlah tempat ini. Sebab sebentar lagi mereka akan segera muncul! Dan jika mereka sempat melihat kehadiran Kisanak, saya takut Kisanak akan mengalami nasib seperti penduduk dusun ini...!" ujar pemilik kedai itu was-was. "Hemmm... jangankan hanya pada sesama manusia! Terhadap Setan Belang dari sumur hantu pun aku tak akan gentar...!" kata Buang Sengketa dengan suara keras.

"Kisanak bicara jangan keras-keras! Mereka berilmu sangat tinggi. Pergilah sebelum mereka datang...!" Pemilik kedai nampak semakin khawatir.

"Jadi kau mengusirku...!" sela si Hina Kelana.

"Oh... maaf, sama sekali aku tak mempunyai maksud demikian! Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Kisanak...!"

Buang Sengketa manggut-manggut. "Terima kasih atas perhatianmu, Orang

tua... tapi aku tak akan pergi. Aku jadi ingin lihat bagaimana rupanya anjing-anjing yang menakutkan kalian itu!"

"Kisanak tak mengerti apa yang aku maksudkan! Ketahuilah mengapa perempuan-perempuan itu harus kehilangan suaminya...!" Agak ragu si laki-laki tua menghentikan kata-katanya.

”Teruskan ucapanmu tadi, Orang tua! Kalau ada apa-apa aku akan membelamu...!" kata Buang Sengketa tegas.

"Orang-orang si Tiga Angkara itu datang dan pergi bagaikan hantu menakutkan. Dan setiap kedatangannya, mereka membawa semua lakilaki di dusun ini untuk membantu usaha mereka dalam menggali harta benda yang tak ternilai harganya di sebuah tempat yang bernama Lembah Halilintar. Akan tetapi setiap mereka membawa laki-laki di dusun ini sampai kini tak seorang pun ada yang kembali... itulah sebabnya seperti yang Ki sanak lihat di setiap rumah penduduk tak seorang laki-laki pun tersisa, kecuali aku! Itupun atas kehendak mereka "

"Lembah       Halilintar...!       Hemmm...

sungguh sebuah nama yang sangat menarik. Pak tua, dapatkah kau sedikit ceritakan tentang lembah itu...?" tanya Buang Sengketa sedikit memaksa.

Lakilaki pemilik kedai dengan tubuh semakin gemetaran kembali berkata: "Keadaan yang terjadi sesungguhnya aku belum tahu pasti! Akan tetapi menurut kabar angin, sesuai dengan namanya lembah itu merupakan sebuah daerah lintasan petir. Hanya pohon-pohon tertentu saja yang dapat tumbuh dan hidup dengan baik di sana. Sudah dua tahun ini daerah itu menjadi tumpuan bagi mereka yang kemaruk harta. Sebab daerah itu merupakan sebuah lembah emas yang jumlahnya t idak ternilai    konon

di lembah itu hidup ribuan burung hantu bahkan setiap tahun-nya terus bertambah. Dan manusia-manusia yang berjuluk Tiga Angkara itu kiranya memaksa penduduk untuk mereka kerahkan ke sana. Kami yang tersisa ini tidak tahu bagaimana dengan nasib mereka...." ujar pemilik kedai dan tanpa sadar sempat menitikkan air mata.

"Pak tua... kau tak perlu bersedih! Aku ingin menghentikan sepak terjang manusiamanusia serakah itu. Setelah itu aku baru melacak para penduduk yang hilang...!" ujar Pendekar si Hina Kelana tegas.

"Tapi, Kisanak. Jumlah mereka cukup banyak di samping memiliki ilmu silat yang sangat tinggi pula...!" sela laki-laki itu ketakutan.

Buang Sengketa tersenyum maklum. "Kau tak perlu cemas, Orang tua! Kita

lihat saja bagaimana nanti...!"

Demikianlah pada saat mereka sedang bercakap-cakap seperti itu, tanpa mereka sadari akan kedatangannya. Tiba-tiba di halaman kedai terdengar derap dan suara ringkik kuda. Begitu Buang menoleh, tampaklah olehnya lebih dari tiga belas orang penunggang kuda yang hadir di depan kedai itu. Agaknya lakilaki pemilik kedai itu hapal benar siapa adanya yang datang. Dengan langkah tergopoh-gopoh laki-laki tua itu segera menyongsong kedatangan orangorang itu. Tak lama kemudian rombongan berkuda itu sudah memasuki ruangan kedai. Lagi-lagi pak tua dengan agak tergesa-gesa segera bergegas ke belakang untuk menyediakan pesanan mereka.

Seperginya pak tua, rombongan berkuda yang menamakan dirinya si Tiga Angkara segera duduk mengelilingi sebuah meja besar yang terbuat dari anyaman bambu. Buang Sengketa yang sejak tadi hanya menghadapi segelas kopi pahit terus memperhatikan tingkah orang ini dengan sudut matanya. Pada saat seperti itu tibatiba saja salah seorang di antaranya yang berbibir sumbing membentak pada pemilik kedai sambil memperhatikan kehadiran Buang Sengketa pula.

"Pak tua... mana sate kucing dan sop tikus-nya! Kerja mu sangat lambat sekali apakah kau ingin segera di kirim ke Lembah Halilintar...?" tukas laki-laki yang berbibir sumbing ketus.

Terdengar sahutan dari dalam suara bergemetaran: "Maafkan, Tuan-tuan. Kami sedang mempersiapkannya...!"

"Mana anak gadismu... suruh dia menemani kami!" sela laki-laki yang seorang lagi dengan suara yang sengau dan berhidung besar.

Lagi-lagi suara pak tua dari dalam dapur menyahut: "Maaf, Tuan... anak saya itu dalam keadaan sakit kini dia tinggal di rumah neneknya...!

* * * * * 4

Mendengar jawaban pak tua, salah seorang dari Tiga Angkara yang berkepala botak plontos menyambut dengan rasa tak senang.

“Tua bangka! Kau jangan berbohong pada kami, tadi aku melihat anakmu berlari ke belakang... masihkah kau bilang dia sakit...?"

Lakilaki pemilik kedai yang saat itu sudah melangkah membawakan pesanan orang-orang berkuda itu, tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat. Dengan langkah gemetaran pemilik kedai itu terus melangkah ke arah meja rombongan Tiga Angkara. Dengan gemetaran pula dia meletakkan makanan itu di hadapan mereka. Belum lagi lakilaki itu menghidangkan makanan, lagilagi si botak membentak: "Cepat kau suruh anakmu menemani kami! Kalau tidak kubakar kedaimu ini...!" ancamnya.

"Jangan.... Tuan! Baiklah saya akan memanggilnya...!" kata laki-laki itu ketakutan. Kemudian dengan tergopohgopoh dia bergegas ke belakang. Tak lama kemudian seorang gadis yang berparas lumayan dengan langkah ketakutan nampak menghampiri mereka.

Demi melihat kehadiran gadis itu, si Tiga Angkara   serentak   tertawa    tergelakgelak. "Hahaha... hahaha... mendekat kemarilah, Cah ayu! Mengapa harus takut! Kita dapat bersenang-senang di sini...!" kata hidung besar suara sangau diiringi tawa yang lainnya. Demikianlah, begitu gadis itu hampir di hadapan mereka segera saja salah seorang di antara mereka memeluk gadis itu, kemudian menjatuhkan tubuh si gadis di atas pangkuannya. Jemari si hidung besar nampak membelai-belai pipi si gadis. Kemudian hidungnya yang besar dan jelek itu menciumi wajah si gadis. Diperlakukan seperti itu sudah jelas membuat gadis ini meronta-ronta dengan wajah ketakutan. Sementara orang tua si gadis yang merasa tak mampu berbuat banyak itu hanya memandang geram pada tingkah orangorang Tiga Angkara. Terus diiringi suara tawa yang lainnya si hidung besar terus bertingkah. Dalam hatinya mungkin dia sengaja membuat gadis itu menjerit ketakutan, dengan tujuan untuk memancing pemuda pendatang yang berpenampilan aneh tak jauh dari mereka. Sementara itu Pendekar Hina Kelana yang sejak tadi hanya menahan kemarahannya, akhirnya habis juga batas kesabarannya. Dengan tatapan dingin, dia memandang penuh kebencian, dia berkata lirih namun sangat mengejutkan. "Anjinganjing geladak! Berhentilah bertingkah... sebelum aku, si Hina Kelana lupa, bahwa kalian masih seorang manusia...!"

Tangan si hidung besar suara sengau yang sejak tadi nampak membelai-belai pipi si gadis mendadak terhenti, begitu pula pelukannya pada si gadis mengendor. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan si gadis berlari menjauh meninggalkan Tiga Angkara. Kini perhatian rombongan berkuda itu praktis tertuju pada si pemuda. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki mereka meneliti. Melihat dari caranya berpakaian dan juga caranya bicara mereka ini dapat memastikan bahwa pemuda yang berada tak begitu jauh dari tempat mereka duduk bukanlah penduduk dusun itu, atau pun daerah lain yang mereka kenal. Akan tetapi siapa pun pemuda ini, begitu mereka melihat sebuah periuk besar tergantung di pundak Buang Sengketa maka meledaklah tawa mereka.

"Huahahaha... hahaha...! Gembel hina dari mana yang berani mencampuri urusan si Tiga Angkara...!" si Bibir Sumbing membentak.

"Iblis dari neraka sekalipun, tidak akan kubiarkan hidup! Jika berani bertingkah di hadapanku...!" tukas Buang Sengketa menghardik.

"Kucing kurap! Haram jadah, mulutmu yang busuk itu perlu dirobek-robek!" maki si kepaia botak marah sekali. Bersamaan dengan itu pula, si kepala botak melompat, kemudian kirim satu serangan gencar, ke arah Buang Sengketa. Kembrat-kembratnya yang lain sudah dapat memastikan hanya satu gebrakan saja, tentu remuklah dada pemuda ini. Sebab seperti yang mereka ketahui bahwa kawan mereka ini dalam menyerang mempergunakan satu jurus yang sangat mereka andalkan, yaitu jurus "Godam Menggempur Karang"." Jangankan hanya tubuh manusia, batu gunung sekalipun menjadi berantakan terpukul jurus ini. Begitulah, mereka begitu yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh kawan seperguruannya. Akan tetapi Buang Sengketa meskipun merupakan orang baru dalam rimba persilatan akan tetapi karena memang sejak kecil dia sudah mengenal ilmu silat dan berbagai ilmu kanuragan. Ditambah lagi dalam gemblengan-gemblengan seorang kakek yang sangat sakti, dan merupakan seorang tokoh yang namanya saja sangat melegenda dalam dunia persilatan. Sudah barang tentu serangan yang dilancarkan oleh si Kepala Botak tidak berarti banyak untuk dirinya.

Dengan sekali berkelit saja, luputlah serangan yang dilancarkan oleh si Kepala Botak. Pukulan yang berisi tenaga dalam itu terus meluncur untuk kemudian langsung menabrak kursi, tempat di mana pemuda itu duduk. Buang Sengketa kini telah berdiri sambil berkacak pinggang. Sementara begitu serangannya dapat dielakkan oleh si pemuda berkuncir, si Botak menjadi sangat penasaran sekali. Kini dia meluruk kembali ke arah Buang. Dia melancarkan serangkaian serangan yang lebih dahsyat Disertai lengkingan dahsyat si Botak menerjang kembali. Pendekar Hina Kelana yang sudah merasa muak melihat orang-orang ini segera saja menadahkan periuknya. Tanpa dapat dihindari lagi.

"Prengg... blaaar...!"

Si Botak terpental beberapa tombak, tubuhnya menabrak meja yang berada di ruangan itu. Meja jadi berantakan. Si Botak berusaha bangun dan merintih. Begitu dia sudah tegak kembali, terbelalaklah mata kawan-kawannya, begitu melihat kedua tangan si Botak menjadi patah dan mengucurkan darah segar. Melihat nasib yang dialami kawannya, yang lainnya menjadi sangat murka.

Kemudian dengan pandangan penuh kebencian si Bibir Sumbing meludah dan membentak: "Bocah... besar sekali nyalimu! Telah berani benar melukai kawan kami. Kau harus menebus luka kawanku itu dengan nyawamu yang tiada harga."

Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh si Bibir Sumbing, pendekar dari negeri Bunian ini terkekeh. "Hua, hahha... keg... keg...!" Seusai tawanya mendadak wajah pemuda itu berubah dingin, naluri membunuh mulai menyentak-nyentak memenuhi rongga dadanya. Kemudian dengan suara lantang: "Hei... sampahsampah dunia! Cepat cabutlah senjata kalian, sebelum segalanya terlambat...!"

"Puih...! Kalau cuma menghadapi gembel busuk sepertimu, jangankan cuma satu, seratus sekali maju pun aku si Tiga Angkara tak kan gentar...!" Usai berkata begitu, diiringi suara lengkingan yang tinggi si Bibir Sumbing dengan masih di tempatnya kirimkan satu pukulan, seberkas cahaya dengan bau tikus warok, menderu dan menimbulkan suara bercuitan. Cahaya maut itu terus meluncur ke arah Buang Sengketa. Pemuda itu yang memang sudah memperhitungkan segala sesuatunya nampak berkelebat, kemudian melesat ke luar halaman kedai. Pukulan yang dilancarkan oleh si Bibir Sumbing segera saja melabrak dinding tepas kedai. Mengetahui lawannya mencelat ke luar, mereka segera mem-burunya. Sementara itu pemilik kedai dan putrinya nampak bersembunyi di balik pintu dengan tubuh menggigil ketakutan.

Si Tiga Angkara begitu sampai di halaman kedai, nampak terkekeh. Dengan penuh kesadisan dia membentak Pendekar Hina Kelana yang saat itu berdiri menanti.

"Bocah hina... katakanlah namamu! Jika tidak, kuburmu tak akan dikenal orang...!"

Buang Sengketa kembali terkekeh: "Hahaha-ha... hahaha... sebaiknya cepat berangkatlah ke neraka...!" Buang yang sudah tidak sabaran ini gebrakkan tangan, begitu pemuda ini mendorong tangannya ke depan, laksana badai topan yang berhawa sangat panas angin kencang menderu dan melabrak mereka. Kecuali Bibir Sumbing, Hidung Besar dan juga si Kepala Botak. Kawan-kawan mereka yang lainnya berpelantingan roboh. Tak ayal lagi jerit kesakitan dan suara lolongan maut bergema di tempat itu. Mengetahui lebih kurang sembilan orang kawan-kawannya seketika dalam keadaan tubuh hangus mengerikan. Si Tiga Angkara walaupun mulai diliputi perasaan was-was akan tetapi segera membentak.

"Bocah... sebelumnya kami tak pernah berurusan denganmu! Akan tetapi karena kau telah membunuh kawan-kawan kami! Hari ini kami si Tiga Angkara tidak akan mengampuni jiwamu...!" ujar si Bibir Sumbing sambil mencabut senjatanya yang berupa sebuah Gada berwarna putih keperak-perakkan. Sekali gada di tangan si Bibir Sumbing terayun terdengar suara bercuitan. Dengan sebat senjata andalannya melabrak Buang Sengketa tanpa ampun. Tentu saja pemuda ini tidak tinggal diam, dia segera membentengi diri dengan jurus "Si Hina Mengusir Lalat." Tubuh Buang Sengketa berkelebat bagai bayang-bayang. Tangannya yang berputar tak ubahnya dengan sebuah baling-baling itu semakin ketat melindungi dirinya.

Si Bibir Sumbing semakin membabi buta, berkali-kali senjata mautnya itu bergerak cepat mencari sasaran akan tetapi berkalikali pula serangan-serangannya dapat dikandaskan oleh Pendekar Hina Kelana. Mengetahui kawannya selalu gagal membangun serangan. Si Hidung Besar dan si Kepala Botak yang sudah terluka ikut membantu. Pertempuran sengit pun segera berlangsung. Dengan masih mempergunakan jurus Si Hina Mengusir Lalat, Buang Sengketa berseru lantang.

"Bagus... kalian sudah maju semua! Kalau perlu bapak moyang kalian pun suruh maju! Biar hari ini aku, si Hina Dina dapat kirim kalian semua ke liang kubur!"

"Gembel sombong! Jangan ngebacot, sebentar lagi kepalamu akan kubikin remuk!" Si Tiga Angkara berhidung besar ikut membentak dan mulai meningkatkan serangannya. Lalu dengan menggerung, dia lancarkan satu pukulan yang diberi nama ‘Hantu Gila Berkabung’. Dengan tangan terjulur ke depan si Hidung Besar menghantam ke arah bagian dada Buang Sengketa, pemuda itu berkelit. Akan tetapi walaupun serangan yang dilancarkan oleh si Hidung Besar dapat dielakkannya, tak urung dia berseru kaget.

"Ihh... ilmu iblis!" gumam pemuda itu terus bergerak cepat. Dan belum lagi pemuda itu sempat menarik napas, datang pula serangan dari arah lain. Hanya dengan sekali berpaling tahulah pemuda itu bahwa si Bibir Sumbing dan si Kepala Botak sedang berusaha merubuhkannya dari arah belakang. Kalau hanya bertahan seperti itu sudah jelas hanya akan membuang-buang waktu saja, dia tak ingin pekerjaan yang bertele-tele. Batin pemuda itu. Kemudian di luar dugaan si Tiga Angkara, dengan sekali genjot, melesatlah tubuhnya ke udara. Begitu tubuhnya menukik ke bawah sebuah pukulan yang diberi nama ‘Empat Anasir Kehidupan’ dia lepaskan. Tak ayal selarik sinar Ultra Violet melesat ke arah Tiga Angkara. Mata mereka hanya sempat terbelalak sebentar, sebelum mereka sadar apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu, sinar tadi telah melabrak tubuh mereka. Meskipun mereka nampak berusaha memapaki serangan itu, akan tetapi sudah tak banyak berarti.

"Blaaar...." Tubuh mereka berpentalan ke segala arah. Jerit kematian pun terdengar kembali. Dari ketiga manusia itu hanya si Kepala Botak saja yang luput dari kematian, itu pun karena dia sempat ke luar dari arena pertempuran. Begitu mengetahui kembratkembratnya terkapar mati dengan keadaan yang sangat sulit untuk dilukiskan. Lumerlah nyali si Kepala Botak. * * * * *

5

Setelah memandangi mayat-mayat saudaranya, kini si Kepala Botak berpaling pada Buang Sengketa dengan perasaan jera. Namun begitu pun dia berusaha membesarkan hatinya. Melihat keadaan si Botak, Pendekar Hina Kelana pun tertawa sinis.

"Botak... kini tinggal hanya kau seorang diri, masihkah ada nyalimu untuk membunuhku?" kata Buang Sengketa mengejek.

"Hari ini aku memang kalah, tapi ingat aku akan membalas sakit hati ini...!" Selesai berkata begitu, si Kepala Botak bermaksud meningalkan tempat itu. Akan tetapi tanpa terduga, Buang kirimkan satu pukulan maut. Sekali lagi sinar Ultra Violet itu memakan korban, tubuh si Botak bagai dilemparkan tangan-tangan raksasa tersambar "Empat Anasir Kehidupan". Beberapa saat lamanya tubuh si Botak berkelojotan untuk kemudian diam selama-lamanya. Tanpa menghiraukan mayat-mayat itu, Buang Sengketa berkelebat pergi menuju Lembah Halilintar. Pemilik kedai yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, nampak bernafas lega. Apalagi bila melihat Si Tiga Angkara yang selama ini bikin sengsara penduduk dusun itu terkapar tanpa nyawa. Dia dan siapa pun adanya mereka, merasa sangat berterima kasih pada pendekar yang berilmu sangat tinggi dan belum sempat mereka kenali namanya. Demikianlah dengan dibantu oleh putrinya dan juga penduduk dusun yang semuanya terdiri dari kaum perempuan sore itu juga mereka segera menguburkan mayatmayat anggota si Tiga Angkara.

* * * * *

Siang itu si Kembar Muka Pucat dari Bukit Sumplung nampak sedang duduk di bawah sebuah pohon yang sangat rindang. Wajah mereka membayangkan kelesuan yang teramat sangat. Perasaan kesal masih menyelimuti hati mereka. Apalagi bila teringat pada si Kakek Rombeng yang menyebalkan itu. Mereka menjadi geram, bagaimana t idak, mereka telah gagal membalaskan sakit hati, dan orang tua bau tanah itu bagai hantu malam lenyap begitu saja dalam pandangan mereka. Sementara itu tujuan mereka untuk dapat secepatnya sampai di Lembah Halilintar sampai saat ini masih menemui jalan buntu.

Sebagai pelampiasan kekesalannya, salah seorang dari Bukit Sumplung itu menjejakkan kakinya pada batang pohon di mana tempat mereka berteduh. Tentu saja tendangan kakinya ini bukan sembarangan saja. Sebab sebelumnya telah disaluri tenaga dalam. Begitu kakinya menggedor batang pohon, suara bergemuruh bagai durian hutan runtuh pun terdengar. Beberapa benda dari pucuk pohon itu pun berjatuhan ke bumi. Benda-benda yang berjatuhan itu di antaranya menimpa salah seorang dari Bukit Sumplung. Begitu si Kembar Muka Pucat ini meneliti. Mendadak wajahnya menjadi merah padam.

"Kurang ajar, monyet iblis dari mana yang berani lancang menghina si Kembar dari Bukit Sumplung! Tunjukkanlah tampangmu..!" makinya, lalu mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat tingkah saudaranya tentu si Kembar yang lainnya jadi tertawa. "Hehehe... hehehe...! Ada apa tadi? Seperti monyet belepotan tahi ayam saja!" selanya masih dengan terkekeh.

Namun tanpa terduga-duga dari atas pohon benda yang berupa kotoran itu kembali berjatuhan dan tepat menimpa kepala si Kembar yang sedang mentertawai saudaranya. Begitu dia meraba-raba kepalanya. Tangannya tersentuh benda yang lembek tadi. Tak ayal lagi dia mencium tangannya, si Kembar ini terbatuk beberapa kali, bau kotoran manusia yang terasa menyengat memenuhi rongga hidungnya. Tentu saja tak jauh beda dengan saudaranya, sumpah serapahpun berhamburan dari mulut si Kembar ini. Sedangkan saudaranya yang lain, yang tadinya menjadi bahan tertawaan, kini meskipun masih dalam keadaan marah, mau tak mau jadi ikut tertawa. Si Kembar ini segera membentak, matanya menatap tajam ke atas pohon.

"Monyet gila yang di atas pohon! Cepatcepatlah tunjukkan diri! Kalau tidak jangan salahkan si Kembar dari Bukit Sumplung...!" Begitu si Kembar Muka Pucat ini selesai dengan ucapannya, t iba-tiba dari atas pohon terdengar tawa suara serak seorang laki-laki. "Hehehe... apakah telingaku yang sudah budek ini tidak salah dengar? Bukankah jauh-jauh kalian dari Bukit Sumplung, hanya ingin memburu harta yang menggiurkan itu?" kata suara di atas pohon mengejek. Kini tahulah mereka bahwa orang yang di atas pohon itu tak lain adalah si Kakek Rombeng yang mereka buru. Dengan geram salah seorang si Kembar membentak: "Rombeng keparat... kau telah menghina kami di kedai itu dan kini kau telah menghina lagi dengan memberaki kepala kami, dosamu sudah bertumpuk. Kau harus membayar dengan nyawa busukmu!" Lagi-lagi si Kakek Rombeng di atas pohon terkekeh.

"Kakusku ada di mana-mana... siapa suruh kau duduk di bawah kakusku...?" Merahlah wajah si Kembar muka pucat ini, begitu mendengar kata-kata si Kakek. Dengan sekali hentak, tangan si Kembar secara bersamaan melepaskan sebuah pukulan. "Mampuslah kau monyet busuk...!"

Pukulan yang dilancarkan si Kembar terus melesat ke atas. Namun bersamaan dengan itu si Kakek Rombeng juga melepaskan sebuah pukulan pula. Akibatnya,

"Blaaar...!"

Dua tenaga dalam bertemu, seruan tertahan keluar dari mulut si muka pucat. Dari beradunya dua tangan itu, sadarlah si Kembar dari Bukit Sumplung ini bahwa tenaga dalam mereka terpaut jauh di bawah si Kakek Rombeng. Kini mereka harus mengakui bahwa mereka berdua tak mungkin unggul melawan si kakek. Untuk itu secara jujur mereka berterus terang. Namun begitu mereka ingin mengatakan sesuatu, si kakek telah mendahului.

"Hehehe...! Bagaimana, apakah kalian masih bermaksud untuk membinasakan si monyet busuk ini...!" kata si kakek sambil tertawa tergelak-gelak. Dengan menjura hormat ke atas pohon, hampir bersamaan si Kembar dari Bukit Sumplung ini berkata: "Orang tua terhormat, maafkan mata kami yang lamur ini. Hingga kami benar-benar tak mengetahui betapa tingginya gunung di hadapan kami!"

Si kakek masih tetap di atas pohon mendengus, "Huh... kau fikir dengan menyanjung diriku seperti itu lantas aku akan mengampunimu...!" Mendengar jawaban si Kakek Rombeng terkesiaplah si Kembar ini, akan tetapi mereka telah pasrah untuk menerima nasib. Dengan merendah mereka berkata: "Orang tua, kalau pun kau bermaksud untuk membunuh kami semua, kami tidak akan melawan...!" Si kakek masih dengan terkekeh segera melayang turun, tubuhnya nampak begitu ringannya mendarat persis di depan si Kembar. Sementara Si Kembar dari Bukit Sumplung ini yang sudah merasa takluk di bawah si kakek sudah siap menanti nasib. Beberapa saat kemudian si kakek nampak bergumam.

"Apakah kalian sudah siap untuk mati...!" bentak si Kakek Rombeng, wajahnya yang sudah keriputan itu mendadak berubah bengis. Si Kembar yang tiada mengenal rasa takut, dengan tenang menyahut: "Kalau itu memang sudah merupakan keputusanmu, kami sudah siap...!" jawab si Kembar Muka Pucat serentak.

"Hahaha... wee, enak saja! Kalian fikir aku akan membunuh kalian begitu saja? Dengan jujur kalian harus menjawab pertanyaanku dulu...!" kata si kakek, kemudian masih dengan tertawa-tawa dia menyambung kembali: "Selama malang melintang dalam dunia persilatan, sudah berapa banyak dosa yang telah kalian perbuat, berapa banyak orang yang kalian bunuh...?" tanya si kakek yang sudah barang tentu membuat heran kedua orang ini.

"Apakah maksudmu orang tua...?" tanya

si Kembar Muka Pucat tak mengerti. Ditanya malah balik bertanya, membuat si kakek nampak semakin kesal. Dengan membentak: "Orang-orang goblok... kalian dengar baikbaik! Yang menentukan hidup matinya kalian hanyalah hasil perbuatan kalian sendiri, kalau selama hidup kalian banyak melakukan kejahatan, maka hari ini kalian harus menggorok leher kalian sendiri! Sekarang jawab pertanyaanku tadi, ingat jangan cobacoba berbohong. Aku tahu perjalanan masa lalu siapa pun...!" si kakek berkata tegas. Sesungguhnya si Kembar begitu mendengar pertanyaan si Kakek Rombeng yang berteletele itu sudah merasa kesal. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Bukankah mereka sudah menyerah kalah. Begitu mereka berfikir. Bagaimana pun kesalnya hati mereka tak urung mereka juga menjawab: "Orang tua rombeng... meskipun kami golongan hitam, rasa-rasanya selama ini kami tak pernah membunuh orang tanpa alasan tertentu, akan tetapi kalau mencuri itu sering, bahkan sudah tak terhitung lagi...!" si Kembar muka pucat mengakui. Mendengar jawaban si Kembar dari Bukit Sumplung yang terdengar begitu polos, si kakek nampak anggukanggukkan kepalanya. "Ohhh... jadi kalian ini sebangsanya maling. Kalau dosa maling aku masih bisa mempertimbangkan...!"

"Orang tua, setelah kami mengakui apa adanya! Masihkah kau berniat untuk membunuh kami? Kalau bisa jangan orang tua, istriku di rumah sedang bunting besar, bukan aku takut mati, tapi aku kasihan pada istriku...!" ujar salah seorang si Kembar memohon. Bersamaan dengan itu si Kembar lainnya pun menyahut: "Aku mohon kau pun jangan membunuhku orang tua, anakku lima belas orang dan masih kecil-kecil, kalau aku mati siapa yang akan memberi makan mereka...!" si Kembar ini pun menghiba. Untuk yang kesekian kalinya si kakek ini kembali tertawa.

"Hohoho... hohoho, rupanya beban kalian berat juga, hee...?" tanya si Kakek Rombeng.

"Benar, Orang tua...!"

Si Kembar cepat menyahut. Laki-lagi si Kakek Rombeng manggut-manggut. Lalu katanya lagi: "Apakah dengan penjelasan kalian, lalu kalian berfikir bahwa aku akan mengampuni kalian...?" tanya si  kakek sambil tersenyum-senyum. Si Kembar dari Bukit Sumplung ini yang sudah begitu jengkel dan sangat putus asa segera menjawab: "Kami sudah katakan semua orang tua! Kini tinggal pengertianmu saja...!"

Mendengar ucapan si Kembar, beberapa saat lamanya si Kakek Rombeng terdiam, lalu.

"Hemmm.... Nasib kalian tinggal tergantung pada dua pertanyaanku lagi. Kalau kalian dapat menjawab seperti yang kuinginkan berarti kalian akan selamat dan tentu saja masih dapat bertemu dengan anak bini, tapi kalau tidak jangan kalian harap dapat ke luar dari daerah ini dengan selamat...!" ancam si kakek.

"Apakah dua persyaratan itu, Orang tua...?"

Si Kakek Rombeng terbatuk beberapa kali, kemudian di pandanginya si Kembar muka pucat dari Bukit Sumplung ini dalamdalam. Tak lama kemudian seperti berkata pada diri sendiri:

"Masih adakah keinginan untuk sampai ke Lembah Halilintar?" ujar si kakek.

Dengan serentak si Kembar menjawab

pasti: "Kami lebih baik pulang daripada harus pergi ke neraka mempertaruhkan nyawa...!" Jawaban si Kembar tentu saja mengejutkan hati si Kakek Rombeng, akan tetapi ia berusaha menutupinya di depan orang dari Bukit Sumplung ini. "Dari manakah kalian tahu, tentang semua itu...!" tanya si kakek penuh selidik.

"Kami sudah menyelidikinya di sekitar lembah! Sangat menakutkan, ribuan burung hantu terdapat di sana! Ketika kami datang mereka menyerang...!" ujar si Kembar masih diliputi rasa ngeri.

"Apakah kau sangka mereka itu burung sungguhan...?" tanya si kakek.

"Mengenai itu kami tidak tahu, Orang tua...!" jawab si Kembar polos.

Saat itu si kakek nampak tertunduk, mendadak wajahnya berubah sedih dan putus asa, saat-saat seperti itu hilanglah keangkeran si kakek. Tak lama kemudian dia mulai berkata lirih: "Mereka itu dulunya manusia pemburu harta, kian tahun jumlah mereka kian bertambah banyak. Aku sebagai juru kunci di lembah itu tidak mampu berbuat banyak. Karena tempat itu sekarang telah dikuasai oleh seorang ahli sihir yang bernama, Nukman Jaya Tiga Momba. Orangorang itu di sihirnya, sedang harta yang terpendam dikuasai nya. Kalau kalian tidak keberatan, kalian bergabunglah denganku untuk mencari kekuatan agar aku dapat memusnahkan Lembah Halilintar yang kini telah berubah jadi neraka buat orang-orang yang telah berubah menjadi ribuan burung hantu itu. Kita bisa menunggu saat-saat baik untuk memusnahkan ahli sihir itu, agar burung-burung jadi-jadian itu bisa kembali ke asalnya...!"

Mendengar penjelasan si kakek mengerti lah si Kembar dari Bukit Sumplung ini, kemudian dengan senang hati mereka berkata: "Orang tua, kalau kau memang memerlukan tenaga kami dengan sukarela kami akan membantu!" kata si Kembar. Mendengar keputusan si Kembar tentu saja si Kakek Rombeng sangat gembira. Untuk itu si kakek mengajak si Kembar berkunjung ke pondoknya yang terletak di pucuk kayu.

* * * * * 6

Hari itu merupakan saat pertama kali pemuda berpakaian merah-merah itu menginjakkan kakinya di kota kecil Mentoak. Keadaan kota yang sunyi sepi membuat setengah bertanya-tanya dalam hati. Apa yang telah terjadi di kota ini? Tanda tanya itulah yang mengawali langkahnya. Begitupun pemuda yang selalu membawa sebuah periuk besar ke mana-mana ini, tanpa ada perasaan ragu tetap melangkahkan kakinya, mencari sebuah kedai demi menambah perbekalannya yang sudah hampir habis. Sepanjang jalanan yang sepi matanya yang setajam mata elang itu terus memperhatikan ke sekelilingnya. Pintupintu rumah penduduk tak satu pun yang terbuka. Begitu pun dengan kedai-kedai yang ada. Semuanya nampak tutup. Hal ini tentu saja semakin membuat tanda tanya besar di dalam hati Pendekar Hina Kelana. Agaknya di Mentoak yang kecil ini sedang terjadi sesuatu yang sangat misterius hingga para penduduknya pindah ke tempat yang lebih aman, atau bahkan.... Buang Sengketa tidak punya keberanian untuk mereka-reka lebih lanjut. Dari lorong ke lorong pemuda itu keluar masuk, namun sejauh itu, dia belum mendapatkan apa yang diharapkannya. Ketika dia sudah mulai bosan berkeliling, tidak begitu jauh di sudut jalan, pemuda itu melihat berkelebatnya t iga sosok bayangan di hadapannya. Dengan penasaran pemuda itu memburunya, begitu dia sampai di tempat itu barulah dia dapat bernafas lega. Sebuah kedai makanan dengan bau masakan yang sedap menyengat, membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi. Lalu tanpa canggung-canggung lagi pemuda itu masuk ke dalam kedai, lalu segera duduk di tengahtengah ruangan. Sekilas matanya menyapu ke segenap ruangan. Kecuali tiga orang yang tadi sempat dilihatnya. Tak ada lagi orang lain di tempat itu. Kelihatannya ketiga orang ini pun sangat acuh dengan kehadiran Buang Sengketa.

Begitu pemuda ini sedang menekuri meja, seorang gadis berwajah sangat jelita menghampirinya. Diiringi senyum yang ramah, si gadis ini langsung menegurnya: "Tuan muda mau pesan apa...!" tanya si gadis sambil mengagumi keta-panan pemuda itu. Buang Sengketa melirik sekilas, lalu dengan tersenyum pula dia mengatakan keinginannya. "Tolong bawakan aku sop manjangan juga beberapa bendul tuak...!" kata Buang Sengketa antusias.

"Tuan yang tampan... kalau tuak tidak ada! Akan tetapi kalau nira kelapa ada. Apakah kau mau...?" tanya si gadis menawarkan.

"Aku sedang lapar, apa pun yang kau bawa pasti kumakan! Dan yang penting enak!" kata Buang Sengketa polos.

Kembali si gadis tersenyum, kemudian tambahnya: "Jangan takut, Tuan. Makanan yang kami sediakan selalu yang enakenak...!" ujar si gadis setengah bangga.

"Cepatlah sediakan... tok aku tak kan kenyang kalau cuma mendengar saja...!" tukas Pendekar Hina Kelana tak sabaran. Setelah membungkuk sopan gadis itu berlalu meninggalkan si pemuda. Lagi-lagi Buang melirik ke tempat tiga orang tadi. Melihat penampilan mereka ini, tentu bukanlah orang sembarangan. Terlebih-lebih si kakek tua yang berpakaian rombeng dengan sebuah kecapi selalu berada di pundaknya. Pastilah seorang tokoh persilatan yang berilmu sangat tinggi. Begitu pun dengan dua orang bermuka pucat yang duduk di samping si kakek, meskipun ilmu kepandaiannya masih di bawah si kakek akan tetapi Buang Sengketa merasa sangat yakin bahwa orang itu berilmu tinggi juga. Pemuda itu juga tahu meskipun sikap mereka selalu acuh akan tetapi sesungguhnya sejak tadi mereka mengawasi tingkah pemuda itu. Apa pun yang akan dilakukan orang itu, Pendekar Hina Kelana t idak perduli. Begitu tak lama kemudian menghidangkan pesanan Buang di atas meja, tanpa ragu pemuda itu segera melahapnya. Sigadis jelita yang sejak tadi memperhatikan tingkah si pemuda kembali tersenyum-senyum. Tanpa dipersilahkan gadis itu duduk di hadapan Buang. Sebagaimana kebiasaannya, gadis itu bertanya lirih pada Pendekar Hina Kelana.

"Agaknya tuan muda baru melakukan perjalanan yang sangat jauh...!"

Tanpa menjawab, sekilas Buang memperhatikan gadis itu, gadis ini begitu cantik akan tetapi Buang merasakan adanya sesuatu yang tak baik tersimpan di mata gadis itu. Bahkan nalurinya mengatakan bahwa ada hawa siluman terpancar dari tubuh gadis itu. Diam-diam Buang mulai menaruh rasa curiga. Agaknya gadis itu mengerti apa yang sedang difikirkan oleh pemuda itu, beberapa saat kemudian kembali dia berkata lirih: "Tuan tak perlu menaruh rasa curiga...! Bahkan kalau tuan mau saya dapat membantu tuan untuk menemukan tempat yang bernama Lembah Halilintar itu.”

Mendengar keterusterangan si gadis, bukan main terkejutnya hati pemuda itu. Sebab seingatnya dia tak pernah membicarakan maksud dan tujuannya pada siapa pun. Tapi mengapa gadis itu bisa mengetahuinya? Melihat kenyataan ini semakin bertambah besarlah rasa curiga di hati Buang Sengketa.

"Mengapa tempat ini begini sepi...?!" tanya Buang dengan pandangan menyelidik.

"Mengapa tuan bertanya seperti itu...?" si gadis malah balik bertanya.

Buang Sengketa tersenyum getir. "Aku hanya ingin tahu saja...!" kilah pemuda itu. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba si kakek yang berada di sudut ruangan nampak terbatuk beberapa kali. Dengan sekali lirik saja tahulah pendekar dari negeri Bunian ini bahwa batuk kakek itu hanya dibuat-buat.

Beberapa saat berikutnya terdengar denting-denting kecapi, si Kakek Rombeng kembali alun-kan bait-bait syair lagunya:

Hidup di dunia sengsara

Setan-setan pergi berburu harta Meninggalkan sarangnya Kemudian hilang entah ke mana Kalau demikian adanya Benar kata emak

Hantu yang paling menakutkan Adanya di dalam diri

Peperangan yang tiada berkesudahan Adalah melawan hawa nafsu

Angin, api, air dan tanah adalah kehidupan

Untuk apa menyesal dan bertanya-tanya Kalau nanti terjawab juga

Hidup sebuah teka-teki Untuk apa sedih

Bila esok kita berpulang jua Oh....

Aku cuma juru kunci Yang tiada guna

Tak berdaya....

Begitu syair-syair yang dinyanyikan si Kakek Rombeng usai, wajahnya yang keriput itu tertunduk sedih. Ada sebersit sesal membayang di pelupuk matanya. Tingkah si kakek sudah barang tentu sangat menarik perhatian si pemuda. Tanpa tertahankan lagi akhirnya dia bertanya pada si gadis.

"Siapakah kakek itu ?"

Si gadis melirik sebentar pada si kakek, kemudian kembali lagi pada Buang Sengketa. "Dia orang sinting! Jangan tuan layani...!" jawab si gadis.

“Tapi nampaknya dari syair-syair lagunya rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi...!"

Gadis itu lagi-lagi tersenyum, sebuah senyum yang membuat kecurigaan si pemuda semakin bertambah-tambah. Saatsaat begitu, tiba-tiba saja si gadis mengalihkan pembicaraan.

"Apakah tuan butuh penginapan...?" tanya si gadis menawarkan.

"Hemm, cara gadis ini berbicara sangat menarik sekali, agaknya aku perlu menyelidiki gadis ini dulu." batin pemuda itu. "Tentu aku sangat membutuhkannya...!" jawab si pemuda dengan wajah berseri-seri.

Kemudian dia menyambung lagi: "Apakah penginapan masih jauh lagi dari kedai ini...!"

"Di sini tidak ada penginapan, Tuan....

kalau pun ada sudah sangat lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Biasa mereka merasa lebih beruntung berburu harta dari pada mengharapkan hasil dari penginapannya !"

Pendekar Hina Kelana manggutmanggut. "Kalau begitu malam ini aku kembali t idur di kolong rumah...!" ujar Buang Sengketa berpura-pura menyesalkan. "Mengapa harus di kolong...? Kalau tuan mau, di sebelah kedai ini sesungguhnya ada penginapan yang masih milikku! Kalau tuan mau tuan boleh melewatkan malam di situ...!" ujar si gadis.

"Kalau begitu aku merasa sangat beruntung sekali...!" sela Buang Sengketa.

Pada saat mereka terlibat pembicaraan seperti itu, mendadak ketiga orang itu beranjak meninggalkan tempat duduknya. Kemudian sebelum melangkah pergi mereka menghampiri meja Buang Sengketa, lalu seolah-olah tanpa sengaja salah seorang muka pucat menjegal kaki si Kakek Rombeng. Kakek itu terjerembab persis di pangkuan Pendekar Hina Kelana. Kejadian yang hanya beberapa detik itu dengan tanpa sepengetahuan siapa pun, si kakek memasukkan sesuatu ke dalam saku Buang Sengketa. Buang Sengketa yang mengetahui kejadian ini, walaupun sesungguhnya dia masih merasa heran tapi dia berpura-pura membentak: "Kakek goblok... kau telah menumpahkan makananku! Aku tak terima...!"

Si kakek yang memang sudah merasa bersalah, segera, menjura hormat: "Maafkan aku yang lamur dan tiada guna ini. Aku akan mengganti makananmu yang tertumpah...!" ujar si kakek sambil merogoh sakunya. Namun tiba-tiba saja

Buang Sengketa  menampik: "Eee... sudahlah jangan...!" sergah Buang Sengketa. "Kalau begitu terima kasih atas segala kemurahan hatimu...!" kata si kakek sambil membungkuk hormat. Setelah berkata begitu tanpa menoleh lagi ketiga orang itu serentak melangkah pergi. Buang memperhatikan ketiga orang aneh  itu  sampai kemudian

menghilang dari pandangan matanya.

Seperginya orang-orang tadi, Buang kembali memperhatikan gadis jelita yang kini masih tetap duduk di hadapannya. Kemudian seperti berkata pada dirinya sendiri: "Orangorang aneh, sebuah tempat yang menyeramkan...! Aku tak tahu apa yang akan terjadi di depan sana...!" desah pemuda itu dengan suara pelan. Namun t ibatiba saja si gadis jelita itu menimpali.

"Maaf, Tuan yang tampan! Jangan hiraukan dia. Dia itu memang orang sinting bertabiat aneh dan suka meratap sendirian." kilah si gadis diiringi seulas senyum yang mendebarkan.

"Tapi benarkah si kakek tua itu merupakan juru kunci Lembah Halilintar seperti yang dia katakan...?" tukas pemuda itu dengan pandangan penuh selidik. "'Hihihik.... Mengapa tuan harus percaya pada orang tua edan!" kata si gadis diiringi tawa.

"Gadis itu meskipun punya wajah secantik bidadari, agaknya mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Baiknya aku akan mencobanya." batin si pemuda. Bersamaan dengan itu secepat kilat Pendekar Hina Kelana gerakan tangannya mengarah ke dada si gadis. Namun begitu tangan itu hampir mencapai sasarannya tiba-tiba si gadis menangkis.

"Thaak... plaak... plaaak!" Buang Sengketa berseru kaget. Benar seperti apa yang dia duga bahwa memang ternyata gadis jelita ini berilmu sangat tinggi. Sementara itu masih dengan senyumnya yang ramah si gadis ini menegur: "Ihh... ternyata tuan muda orang yang genit dan nakal...!"

Buang Sengketa nampak tersipu malu, akan tetapi katanya kemudian: "Maafkan aku, Nona...!"

* * * * * 7

"Nona Jelita." kata si gadis menyambung. "Hemm, Nona Jelita, namamu secantik wajahmu! Oh, ya maafkan aku, kau membuatku geregetan saja...!" ujar Buang Sengketa berpura-pura.

"Aku pun suka pada orang setampan tuan...!" kata gadis itu mengakui.

Tanpa menanggapi ucapan si gadis, pendekar dari negeri Bunian ini mengalihkan pembicaraan.

"Oh ya, bagaimana dengan kakek tua tadi...?" tanya Buang Sengketa kembali pada persoalan semula.

"Maksud tuan...! Apakah orang tua gendeng itu merupakan juru kunci Lembah Halilintar, begitu...?"

Tanpa menjawab, Buang Sengketa mengangguk.

Lagi-lagi gadis yang bernama Jelita ini tersenyum manis.

"Kalau pun orang sinting itu seorang juru kunci, paling tidak merupakan juru kuncinya kuburan setan...!" ujar gadis itu. Dengan cermat Buang memperhatikan wajah si Jelita, dari beradunya pandangan mata mereka yang sesaat itu, Buang Sengketa dapat mengetahui bahwa sesungguhnya bahwa si gadis ada menyimpan rasa tak senang pada si kakek. Apa pula ini! Hal ini harus dia selidiki. Batinnya lagi. Mungkin juga telah terjadi sesuatu antara si Kakek Rombeng dengan si Jelita. Hal ini sangat mungkin saja terjadi. Ketika Buang Sengketa sedang berfikir seperti itu, tiba-tiba si gadis kembali berkata: "Apakah tuan jadi menginap di tempatku...?" Pertanyaan yang mendadak ini sudah barang tentu membuat Pendekar Hina Kelana jadi gelagapan. Akan tetapi ia segera menjawab.

"Ee... ten... tentu saja!" kata Buang Sengketa terbata.

"Sebaiknya memang begitu, Tuan. Banyak orang yang akan meneruskan perjalanan selalu menginap di sini...!"

"Maksudmu...?" tanya pemuda itu tak mengerti.

"Maksudku, mereka yang datang dari tempat yang jauh, untuk memburu harta yang menghebohkan itu! Biasanya sebelum melanjutkan perjalanan mereka akan menginap di sini...!" jelas si gadis.

Buang Sengketa menjadi semakin tertarik. "Benarkah Lembah Halilintar merupakan sebuah gudang penyimpanan harta karun?" pancing Pendekar Hina Kelana.

Gadis yang bernama Jelita itu tersenyum penuh arti.

"Apakah tuan juga bermaksud untuk mengadu untung di Lembah Halilintar...?" tanya Jelita.

Mendengar pertanyaan si gadis, Buang Sengketa tersenyum getir.

"Mungkin juga aku akan ke sana! Siapa tahu aku termasuk orang yang beruntung untuk mendapatkan harta itu...!" pancing Buang Sengketa.

Begitu mendengar kata-kata Buang Sengketa, wajah si gadis nampak berubah cerah lalu dengan sesungging senyum yang sangat menawan gadis itu menyambung: "Saya berharap tuan bisa cepat berhasil...!"

Mendengar ucapan si gadis, Buang Sengketa nampak terdiam beberapa saat lamanya. Akan tetapi begitu dia teringat sesuatu, dia menoleh pada si gadis, kemudian bertanya: "Tapi bukankah untuk dapat masuk ke sana aku harus menemui juru kuncinya...?"

"Hihihi... hihihi...!" gadis itu kembali tertawa, sederetan giginya yang putih bersih tersembul di antara kedua bibirnya yang nampak malu-malu.

"Barangkali tuan terpengaruh ucapan si kakek edan itu! Ketahuilah, Tuan. Bahwa Lembah Halilintar itu merupakan sebuah daerah bebas, tidak memakai juru kunci sebagaimana layaknya sebuah kuburan. Tuan dapat ke sana kapan saja tuan mau."

"Oh... begitu!" gumam si pemuda ketololan.

Demikianlah mereka nampak terlibat pembicaraan sampai larut malam, ketika pendekar ini ingin melepaskan lelah. Si gadis segera mengantarkannya ke arah kamar yang sudah tersedia. Setelah berbasa basi, tak begitu lama kemudian gadis itu segera bergegas ke beiakang. Kemudian memasuki sebuah kamar yang sangat menyeramkan.

Sepeninggalnya gadis pemilik kedai dan juga penginapan itu. Buang Sengketa yang memang sudah merasa sangat lelah segera membaringkan tubuhnya di sebuah balai bambu yang tersedia di kamar itu. Tubuhnya terlentang, matanya memandang ke langitlangit kamar. Akan tetapi begitu dia teringat pada si kakek, teringat pula dia akan sesuatu yang dimasukkan si Kakek Rombeng ke dalam saku celananya, tangannya segera bergerak merogoh, sejenak Pendekar Hina Kelana ini memperhatikan sebuah benda berlipat yang berasal dari kulit kayu. Dengan hati berdebar dia membuka kulit kayu yang terlipat rapi itu. Isinya sangat mengejutkan hati pemuda ini, hanya tiga baris kalimat. Akan tetapi isinya sangat mendebarkan hatinya.

"KI SANAK! AKU TAHU KAU MEMPUNYAI KEPANDAIAN YANG SANGAT TINGGI. AKU BUTUH BANTUANMU. BERHATI-HATILAH DENGAN PEREMPUAN ITU. SEWAKTU-WAKTU DIA DAPAT MENGGOROK LEHERMU. TERIMA KASIH, TERTANDA: JURU KUNCI LEMBAH HALILINTAR."

Usai membaca surat yang diberikan oleh si Kakek Rombeng, pemuda itu nampaknya tercenung, tak begitu lama kemudian dia sudah bangkit dari pcmbaringan dan lagi-lagi ia merenung. Lalu dia mulai membandingbandingkan isi surat dengan apa yang dikatakan oleh si Jelita. Mungkin dua orang ini merupakan musuh bebuyutan? Akan tetapi mengapa si kakek begitu bebasnya keluar masuk di kedai milik si gadis. Kalau begitu aku harus menyelidiki gadis itu. Batin si pemuda, kemudian dengan sangat berhatihati pemuda itu menyelinap pergi.

Sementara itu, di kamar si gadis yang berkesan menyeramkan nampak gadis Jelita itu sedang duduk bersila di atas sebuah meja, sedangkan wajahnya menghadap ke arah sebuah jendela yang sudah terbuka. Pada saat yang bersamaan kiranya Buang Sengketa sudah berada di depan pintu, dengan penasaran dia mencari-cari lubang untuk mengintip, akan tetapi setelah bergerak kian ke mari dia tak menemukan apa yang dicari-carinya. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk melubangi salah satu sisi dinding yang terbuat dari papan kayu. Tanpa menimbulkan suara dan dengan sedikit mengerahkan tenaga dalam dinding papan itu pun berlubang. Pendekar Hina Kelana ini segera melakukan pengintaian. Pada saat itu di dalam kamar yang menyeramkan. Gadis yang bernama Jelita itu nampak begitu khusuknya sedang membacakan mantera-mantera. Kedua tangannya nampak disilangkan ke depan dada. Tak lama kemudian dari tubuh gadis itu memancarkan seberkas cahaya aneh lalu secara perlahan namun cukup pasti tubuh si Jelita tiba-tiba saja lenyap hanya beberapa saat saja tubuh gadis cantik itu telah berubah menjadi seekor burung hantu. Burung hantu celingak-celinguk ke sekelilingnya, seolah mengetahui kehadiran Buang Sengketa namun membiarkannya. Kembali perhatian burung itu tertuju pada jendela yang sudah terbuka lebar. Setelah mengeluarkan suara aneh dengan sekali mengepakkan sayapnya, burung itu melesat menembus kepekatan malam.

Sementara itu Buang Sengketa yang sejak tadi memperhatikan peristiwa yang mendebarkan itu, kini nampak bersandar pada dinding kamar. Kejadian itu benarbenar sangat sulit untuk dipercaya. Siapa sangka gadis cantik jelita itu sesungguhnya seekor siluman yang sewaktu-waktu dapat berubah. Kalau begitu benar apa yang dituliskan si kakek dalam suratnya, bahwa dia harus bersikap hati-hati terhadap perempuan itu. Kalau gadis itu dapat berubah-ubah sesuai dengan keinginannya, sudah barang pasti mungkin ada sesuatu yang ingin ditujunya. Diam-diam Buang Sengketa mulai menghubung-hubungkan kejadian itu dengan keadaan di Lembah Halilintar. Sungguh menyedihkan nasib pemburu harta itu, entah apa sesungguhnya yang telah terjadi di sana. Tanpa terasa bulu kuduk Pendekar Hina Kelana ini pun merinding.

Suasana sepi telah menyelimuti kota mati Mentoak, saat itu Buang Sengketa sudah berada kembali di kamarnya. Berbagai kemelut berkecamuk di dalam benaknya. Hingga tak lama kemudian matanya mulai terasa ngantuk. Buang kembali merebahkan tubuhnya di atas dipan. Namun ketika matanya hampir terpejam, pada saat angannya mulai melayang jauh. Sayupsayup dari kejauhan dia mendengar suara burung hantu. Semakin lama semakin banyak, lalu terdengar semakin dekat. Hingga akhirnya benar-benar seperti berada di sekeliling penginapan. Buang Sengketa segera terjaga, lalu mengusap-usap matanya. Begitu suara-suara burung malam itu semakin bertambah ramai terdengar, dengan hati diliputi tanda tanya pemuda itu segera membuka daun jendela. Begitu matanya yang setajam mata elang itu memandang ke arah kegelapan malam, tubuh pemuda itu bagai tersengat ribuan kalajengking tersentak kaget. Kedua bola matanya terbelalak tak percaya. Sebab sama seperti apa yang dilihat oleh orang-orang yang menempati kamar-kamar itu sebelumnya. Pendekar Hina Kelana ini juga melihat, di beberapa pohon yang terdapat di sekeliling penginapan, nampak ribuan pasang mata, dari sosok hewan yang sangat dia kenal memandang padanya dengan tatapan menghiba. Burung itu mengeluarkan suara dan saling bersahutan sesamanya. Seumur hidup belum pernah pendekar dari negeri Bunian ini melihat burung hantu sampai sebanyak itu. Ketika pemuda itu ingin mengetahui lebih lanjut apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Dengan cepat pemuda ini mengerahkan segenap perhatiannya pada burung-burung yang beterbangan ke manamana ini. Tak berapa lama kemudian setelah segala kekuatannya terfokus menjadi satu, maka tahulah pendekar bernaluri tajam ini, bahwa sesungguhnya burung-burung itu adalah jelmaan manusia biasa. Mungkin saja burung-burung itu adalah para pencari harta yang dikutuk oleh pemiliknya. Kalaulah benar memang demikian adanya, tentu penghuni Lembah Halilintar adalah seorang tokoh sakti yang memiliki berbagai ilmu kepandaian yang tidak sembarangan dan tidak bisa dianggap enteng. Demikianlah tak lama setelah itu Buang Sengketa kembali menutup jendela kamarnya. Begitu jendela tertutup bunyi burung hantu itu kembali memecah keheningan. Buang Sengketa sudah tak mau ambil perduli. Dengan menutup kedua telinganya pendekar dari negeri Bunian itu pun akhirnya tertidur.

* * * * * Sementara itu pada saat yang sama, burung hantu jelmaan Jelita sudah sampai di Lembah Halilintar, tempat di mana harta yang sangat menghebohkan itu tersimpan. Burung hantu jelmaan Jelita nampak hinggap di atas permukaan tanah, sementara di sekelilingnya burung-burung yang sama kelihatan bersuara riuh menyambut kehadirannya. Mungkin juga burung-burung ini merupakan jelmaan tokoh-tokoh persilatan tingkat atas yang sengaja dijadikan pengawal untuk menjaga Lembah Halilintar oleh ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba.

Kembali pada burung hantu jelmaan si Jelita yang saat itu telah kembali ke ujud semula. Setelah kembali dalam keadaan yang sesungguhnya, gadis ini segera menghampiri sebuah bangunan tua yang sangat mirip dengan sebuah istana tak begitu jauh di depannya. Bangunan tua itu meskipun tampak megah akan tetapi terasa sangat angker. Di samping hanya terlihat secara samar, tidak mengherankan karena bangunan itu selalu diselimuti kabut tebal yang abadi. Dengan di jaga dengan ribuan burung hantu, bangunan itu sepintas lalu mempunyai kesan tak jauh beda dengan istana hantu. Gadis itu terus melangkah dengan mantap, sementara ratusan pasang mata yang berujud burung hantu nampak memandang kepadanya dengan tatapan penuh takluk. Kini gadis itu telah tiba di depan sebuah pintu yang hampir keseluruhannya terbuat dari emas permata. Beberapa saat mulut si gadis nampak berkomat-kamit. Begitu dia selesai dengan mantera-manteranya dari dalam istana itu terdengar suara lirih namun terasa berat.

"Anakku... mengapa hanya berdiri saja di situ? Masuklah...!" perintah si suara begitu berwibawa.

"Terima kasih, Ayahanda! Nanda segera menghadap...!"

Bersamaan dengan itu, pintu yang berlapis emas itu pun terbuka, dengan segera si gadis jelita melangkah masuk, dia terus melangkah ke arah sebuah ruangan yang berlantai marmer biru yang sangat luas sekali. Di  tengah-tengah ruangan itulah seorang laki-laki bertampang bengis dengan segala kemegahan nampak duduk di sebuah singgasana yang hampir keseluruhannya terbuat dari emas. Gadis itu segera bersimpuh di hadapan laki-laki itu, untuk kemudian menghaturkan sembah beberapa kali. Melihat bakti si gadis, lakilaki yang bernama Nukman Jaya Tiga Momba itu pun berseru.

"Sudahlah, Nanda. Dengan ayah kandungmu sendiri mengapa memakai segala peradatan! Toh di sini cuma kita berdua...!" tegurnya.

"Terima kasih, Ayanda...." ujar si gadis takjub.

* * * * * 8

Berbeda dengan anaknya yang kerap kali tersenyum, laki-laki bertampang bengis menyeramkan ini sepanjang hidupnya tak pernah tersenyum. Hal ini mungkin erat kaitannya dengan ilmu sihir yang sangat diyakininya. Begitu pun saat dia sedang bertemu dengan anak kandungnya. Sekali pun keramahan tidak terlihat dari wajah lakilaki yang menjadi penguasa Lembah Halilintar itu. Akan tetapi sebagai orang tua tentu dia sangat sayang pada putrinya yang cuma satu-satunya ini. Tak begitu lama kemudian dia berkata: "Anakku... tentu kedatanganmu ke mari ini bukanlah hanya sekedar melihat ayahmu saja bukan? Nah sekarang coba katakan padaku berita apa yang kau bawa!"

"Ayanda, sebelum nanda memberi kabar lebih lanjut, nanda ingin tahu dan ayanda apakah tujuh orang rombongan yang datang ke mari beberapa hari yang lalu itu...?!" tanya si Jelita sambil membungkuk hormat.

Ditanya seperti itu oleh anak kandungnya, ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba nampak terdiam beberapa saat lamanya. Wajahnya yang bengis itu nampak mengkerut, tak berapa lama kemudian ditatapnya wajah si gadis, kemudian dengan suara petan dia berkata: "Sesungguhnya apa yang kau maui dari orang-orang yang tiada berguna itu...?"

"Ayahanda, kalau nanda boleh memohon, ananda ingin agar orang itu jangan disihir menjadi burung hantu...." ujar si gadis takut-takut.

"Maksudmu...?" tanya laki-laki itu tak mengerti.

"Maksud nanda, supaya orang-orang itu disihir  menjadi   kuda tunggangan  saja. Lagipula bukankah orang-orang sakti yang ayanda sihir menjadi burung-burung yang sedemikian banyak itu telah cukup untuk menjadi pengawal di Lembah Halilintar ini...!" Mendengar kata-kata anaknya tiba-tiba saja laki-laki bertampang bengis itu menyela. "Kau ingin  ayandamu  ini   menyihir mereka  menjadi   beberapa    ekor  kuda tunggangan?   Hemmm...   t idak   bisa! Ayandamu   ini  tak   ingin kau  nantinya mendapat   kesulitan. Untuk itu  aku telah menyihir  mereka  menjadi tujuh  burung

hantu raksasa!"

"Bukankah orang-orang yang kau sihir menjadi burung hantu jumlahnya telah mencapai ratusan bahkan ribuan...?" protes anaknya.

"Orang-orang tiada guna itu walaupun jumlahnya mencapai ribuan, tapi apa gunanya. Mereka tidak memiliki kepandaian apa-apa! Mereka hanya sampah yang memuakkan...." ujar laki-laki itu geram.

"Kalau begitu mengapa ayahanda tidak membebaskan mereka saja...?" tanya si gadis.

"Apa? Membebaskan mereka? Huh... selamanya itu tak akan aku lakukan, lebih baik mereka itu menjadi burung hantu sampai beranak pinak...!" kata laki-laki itu tegas. Dan sudah barang tentu membuat si anak terkejut luar biasa. Namun begitu pun si gadis tidak berani memprotes keputusan orang tuanya ini. Sebab biar bagaimana pun dia cukup tahu bagaimana tabiat orang tuanya.

"Kalau hal itu memang sudah menjadi keputusan ayanda tentu ananda hanya menurut saja...!" ujar si anak pasrah.

"Hemm... bagus! Kau benar-benar seorang anak yang sangat berbakti pada orang tua. Mudah-mudahan saja kau dapat mewarisi segala kesaktian yang kumiliki!" ujar si orang tua. Dan kemudian dia menyambung lagi: "Sekarang ayahanda ingin tahu berita apa yang sesungguhnya nanda bawa...!"

Ditanya seperti itu, Jelita nampak tercenung, dia berfikir. Haruskah dia memberi tahu tentang kedatangan seorang pemuda tampan yang nantinya akan segera sampai di lembah itu. Ayahandanya terlalu kejam, bagaimana pula jika nanti pemuda yang telah meluluhkan hatinya itu mengalami nasib seperti yang lainnya. Disihir menjadi burung hantu. Oh, sungguh menyakitkan sekali, dia telah jatuh cinta pada pemuda yang sangat tampan itu. Haruskah dia mencegah atau bahkan melindungi pemuda yang sangat dicintainya itu. Bagaimana pula kalau ayahnya nanti menjadi murka. Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja laki-laki bertampang bengis itu menegurnya.

"Anakku, mengapa kau diam! Adakah sesuatu yang mengganjal hatimu...?"

Ditanya seperti itu oleh orang tuanya, gadis jelita itu nampak gugup.

"Mengapa nanda menjadi segugup itu...?" tanya si orang tua nampak tak sabar.

"Tidak biasanya kau seperti ini. Katakanlah siapa tahu aku bisa membantumu!" sambungnya lagi. "Ayahanda... sesungguhnya nanda ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi nanda takut nanti ayanda akan menjadikan dia seekor burung hantu di Lembah Halilintar ini...!" jawab Jelita pelan. mendengar jawaban anaknya sudah barang tentu si orang tua ini merasa sangat heran. Sebab tak biasanya putri satu-satunya ini menyampaikan sesuatu dalam keadaan raguragu. Meskipun laki-laki ini merupakan seorang tukang sihir yang sangat kejam, akan tetapi terhadap anaknya sendiri sudah barang tentu dia sangat menyayanginya. 

"Apakah si tua Rombeng tiada guna itu yang telah membuat hatimu sedih...?"

Jelita menggeleng pelan.

"Lalu apa...?" tanya si orang tua semakin tak sabaran.

"Maukah ayanda berjanji untuk tidak menyihir dan menyakiti orang itu...!"

Mendengar permohonan anaknya si ahli sihir ini semakin bertambah heran.

"Maksudmu...?"

"Begini ayanda! Mungkin tak lama lagi ada seorang pemuda yang sangat tampan datang ke tempat kita ini. Mungkin juga dia bermaksud ingin menggali harta yang tersimpan di Lembah Halilintar. Kalau hal itu benar terjadi, nanda ingin agar ayanda bermurah hati untuk mengampuninya...!" ujar si gadis malu-malu. mendengar keterangan anaknya, maka tahulah orang tua itu bahwa sesungguhnya putrinya yang cuma satu-satunya itu sedang jatuh cinta. Kemudian dengan suara lunak, lakilaki bertampang bengis itu berkata: "Kalau orang itu mampu mengalahkan aku. Baru aku akan mengampuninya, akan tetapi jika tidak, aku akan menyihirnya menjadi sosok  yang sangat mengerikan...!"

Terkesiaplah gadis jelita itu begitu mendengar keputusan orang tuanya, kemudian dengan perasaan kecewa, dia bergumam seperti pada diri sendiri.

"Kalau dia mati di tangan ayanda! Di depan ayanda pula nanda akan bunuh diri...!" tukas gadis itu memutuskan.

Keputusan yang baru saja diucapkan oleh si gadis tentu saja sangat mengejutkan orang tuanya.

"Anakku, mengapa kau berkata seperti itu...!" serunya dengan kemarahan yang tertahan.

"Untuk apa hidup lebih lama, kalau permintaan nanda tak satu pun yang pernah ayanda turuti...!" ujar si gadis. Mendengar kata-kata anaknya, laki-laki itu kembali terdiam. Tiba-tiba saja dia kembali teringat pada almarhum istrinya. Betapa pada saat melahirkan yang akhirnya mempertaruhkan nyawa, istrinya sempat berpesan agar dia dapat menjaga dan merawat anaknya dengan baik. Istrinya juga menginginkan agar anaknya yang cuma satu-satunya itu dapat hidup bahagia kelak di kemudian hari. Kenyataannya selama ini dia hanya memperalat anaknya sendiri hanya demi kepentingannya pula. Teringat akan hal itu, tiba-tiba saja ia berkata dengan suara lunak.

"Baiklah.. baiklah aku akan memenuhi keinginamu. Akan tetapi dengan syarat bahwa laki-laki yang kau cintai itu, harus bersedia membantuku...!"

Mendengar keputusan ayahnya, tentu si gadis sangat gembira sekali, bahkan beberapa kali dia membungkuk hormat pada orang tuanya. Walau sesungguhnya dia sendiri belum merasa yakin apakah pemuda yang menginap di rumahnya itu menaruh hati padanya atau tidak, akan tetapi tanpa berfikir panjang dia menyanggupi syarat yang diajukan oleh orang tuanya. Beberapa saat kemudian laki-laki bertampang beringas itu kembali berpesan pada anaknya.

"Aku berharap kau tidak mengecewakan

harapan orang tuamu yang sudah tua ini, akan tetapi walau aku memberi sebuah kepercayaan padamu! Kau selalu berhatihatilah pada setiap orang...!"

"Terima kasih, Ayanda...!" jawab Jelita tersenyum.

"Kukira hanya itu kan yang perlu kau sampaikan padaku...?" tanya ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba pada si gadis.

"Benar, Ayanda    "

"Nah kalau begitu kembalilah ke kedaimu, jangan lupa beri laporan padaku setiap ada orang yang mempunyai maksud untuk datang ke sini...!" pesan lakilaki itu. Si Jelita hanya mengangguk-kan kepala. Setelah memberi hormat pada ayahnya, gadis yang sangat menawan itu melangkah pergi. Sesampainya di halaman bangunan yang megah itu, si gadis nampak berdiri mematung. Sementara mulutnya nampak berkomat-kamit membaca mantera, tak lama kemudian dari tubuh si gadis kembali mengepulkan asap tipis, asap itu bergulunggulung menyelimuti tubuh si gadis. Beberapa saat berikutnya tubuh si gadis sudah berubah menjadi seekor burung hatu kembali. Setelah mengeluarkan suara aneh beberapa kali.

Dengan hanya sekali kepak saja burung hantu jelmaan si gadis sudah melesat menembus kegelapan malam. * * * * *

Pagi-pagi sekali Pendekar dari Negeri Bunian itu telah terjaga dari tidurnya yang menggelisahkan. Dengan terburu-buru pemuda itu segera memeriksa kamar si gadis jelita yang terletak di sebuah lorong kecil di ujung bangunan penginapan. Melalui lubang yang dibuatnya tadi malam. Pendekar Hina Kelana mengintai ke dalam kamar. Dia melihat gadis itu tengah tertidur pulas. Saat itu tiada niat si pemuda untuk membangunkan si gadis. Baginya sebuah pertanyaan sudah tidak memerlukan jawaban lagi. Dia sudah bertekad untuk menembus rahasia Lembah Halilintar, walau apa pun yang akan terjadi. Dia berpikir kalaulah memang gadis yang sangat cantik itu mempunyai hubungan dengan penghuni Lembah Halilintar, toh pada akhirnya akan ketahuan juga. Kalau hal itu nantinya memang benar-benar terbukti, maka pemuda ini sudah berniat untuk tidak pandang bulu dalam menumpas mereka. Didasari dengan alasan-alasan itu dengan cepat pula Buang Sengketa segera meninggalkan kamar si gadis sekaligus merupakan tempat dia menginap. Dengan mempergunakan ajian Sapu Angin sebentar saja Pendekar Hina Kelana mi sudah berada jauh meninggalkan kota kecil Mentoak. Begitu menjelang matahari terbit pemuda itu sudah sampai di tengah-tengah rimba belantara. Kini pemuda itu sudah kembali berjalan seperti biasa. Buang terus melangkah dan melangkah, hingga beberapa saat kemudian nalurinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang mengintainya. Ternyata benar dugaannya karena tak begitu lama puluhan batu kerikil menderu dan melesat ke arahnya, dalam keadaan seperti itu tiada pilihan lain bagi Buang Sengketa tiada memiliki kesempatan yang terkecuali memapasinya. Begitu tangannya terputar dan bergerak ke atas maka benturan dua tenaga besar tidak dapat dihindari lagi.

"Blaamm...!"

Senjata rahasia berupa kerikil-kerikil tadi terpental ke mana-mana. Baru saja pemuda itu akan berkata, tiba-tiba saja kembali senjata rahasia yang berupa tusuk kayu Nibung yang ujung-ujung-nya runcing bagaikan sembilu kembali meluruk ke arah dirinya. Sumpah serapah berhamburan dari mulut Pendekar dari Negeri Bunian. Dengan mempergunakan jurus si Hina Mengusir Lalat. Tangannya diputar bagai sebuah baling-baling. Begitu senjata-senjata beracun itu melabrak tubuhnya.

"Praat.... plaar...!"

Kembali senjata-senjata itu berpentalan ke mana-mana, bahkan dua di antaranya berbalik dan menyerang pemiliknya. Bersamaan dengan desah tertahan orangorang yang menyerang Buang Sengketa dengan senjata rahasia itu melompat ke luar dari tempat persembunyiannya. Begitu melihat siapa adanya orang yang menyerang dirinya, dengan dingin pemuda itu menegur.

"Kakek tua! Kau telah membuatku repot, apakah arti perbuatanmu ini...?" tanya Pendekar Hina Kelana heran.

Ditanya seperti itu, bukannya menjawab, si kakek malah terkekeh.

"Hahaha... hehehe... huhuhu...!"

"Orang tua, aku tak butuh tawamu yang jelek itu. Katakan sebelum habis kesabaranku...." bentak Buang Sengketa merasa muak melihat tawa si kakek. Namun di luar dugaannya si kakek malam membentak.

"Apa pedulimu! Aku mau tertawa, menangis atau bahkan kencing di mukamu...?" Melihat si kakek malah menghina dirinya, mendadak telinganya jadi gatal-gatal panas.

"Hanya Orang gila saja yang bertingkah seperti itu! Atau barangkali kau memang orang yang tidak waras? Minggirlah sebelum kau kubuat lebih gila lagi...!"

Diejek seperti itu si kakek menjadi sangat marah: "Bocah sombong! Lancang sekali mulutmu terhadap si tua Juru Kunci Lembah Halilintar...!"

Kemarahan si Kakek Rombeng sebaliknya malah membuat Pendekar dari Negeri Bunian ini malah balik tertawa.

"Sekali pun kau merupakan juru kuncinya bapak moyangmu lembah iblis sekali pun siapa takut...!" tukas si pemuda diiringi senyum getir.

Melihat si kakek tua yang sangat dihormati itu dihina sedemikian rupa sudah barang tentu si Kembar dari Bukit Sumplung ini menjadi naik darah.

"Kakek! Potes saja kepalanya. Bukankah bocah edan ini juga bermaksud menuju Lembah Halilintar...?" sela salah seorang di antaranya.

"Benar, Kek. Remukkan saja batok kepalanya, supaya jangan bertingkah lagi di depan kita...!" kata yang satunya pula.

Si kakek tersenyum penuh maksud. "Sabar dulu! Aku jadi ingin tahu apakah nyawanya cukup berharga untuk ditukar dengan harta yang sangat menghebohkan itu...!"

Mendengar ocehan si kakek tentu saja membuat pemuda ini, menjadi berubah sinis. "Orang-orang sinting! Kalian kira  aku sangat tergiur dengan kilauan permata?

Jangan menyangka bahwa aku ingin ikut berburu harta itu...!"

"Jadi apa tujuanmu pergi ke Lembah Halilintar kalau tidak ingin mengangkangi harta itu...!" pancing si Kakek Rombeng.

Tiba-tiba Buang Sengketa mendengus, kedua matanya berubah bagai mata seekor ular Piton yang sedang marah.

"Puih.... Kakek Rombeng, dan kalian orang Kembar kurang darah. Catat dalam otak kalian bahwa kedatanganku ke mari hanyalah ingin mengetahui mengapa orangorang dusun yang gila harta itu tak pernah kembali ke kampung halamannya. Aku ingin mengetahui bagaimana nasib mereka. Seandainya mereka mengalami nasib seperti yang tak kuingini. Maka Lembah Halilintar yang menghebohkan itu akan kuobrakabrik...!" tukas pemuda itu sangat marah. Mendengar kata-kata Buang Sengketa, seketika itu juga ketiga orang itu tergelakgelak.

"Huahahaha... hahaha....! Bocah pentil, besar sekali nyalimu untuk dapat sampai ke sana, dengan keinginan yang besar pula. Kau tak tahu betapa tingginya sebuah gunung. Apakah yang kau andalkan?" ejek si kakek.

"Untuk memberantas kejahatan, sebuah keyakinan dan dua tanganku ini sudah cukup untuk melakukannya...!"

"Hemmmm... hebat! Sungguh hebat...!" si kakek mencemooh.

Melihat tingkah si kakek Buang Sengketa semakin bertambah jengkel.

"Kalian bertiga... aku tak punya urusan dengan kalian! Minggiriah...!" bentaknya.

"Wee... enak saja! Begitu mudahnya kau mau berlalu dari hadapan kami...!" kata si Kembar Muka Pucat menghadang.

"Heemmm... agaknya kalian merupakan kaki tangan penghuni Lembah Halilintar, kepalang basah. Menebang pohon harus sampai ke akar-akarnya supaya t idak jadi bumerang di kemudian hari!" gumam Pendekar Hina Kelana.

"Hahaha... bagus! Aku orang tua, betapa ingin mengetahui kehebatan di balik nyalimu yang besar itu...." Setelah berkata begitu, Kakek Rombeng segera memberi isyarat pada si Kembar dari Bukit Sumplung ini. Tanpa menunggu diperintah dua kali, dua orang Kembar ini pun serentak maju dan mulai melakukan serangan-serangan gencar. Demikianlah pertarungan sengit pun tak dapat dihindari lagi si Kembar Muka Pucat ini melakukan serangan dari dua arah, pukulanpukulan mematikan pun mencecar ke arah bagian-bagian yang mematikan. Sementara itu Buang Sengketa yang digempur dari dua arah masih kelihatan tenang-tenang saja. Setiap pukulan yang dilancarkan oleh si Kembar selalu dapat dia elakkan dengan mudah. Hal ini sudah barang tentu membuat dua orang Kembar ini semakin bertambah penasaran. Lalu keduanya pun segera meningkatkan serangannya. Tenaga dalam mereka lipat gandakan. Setelah setiap serangan-serangan dapat dikandaskan oleh Pendekar Hina Kelana. Keduanya pun bersurut beberapa langkah. Mereka saling pandang sesamanya. Kemudian salah seorang di antaranya berseru lantang: "Adi...! Sebaiknya kita pukul remuk batok kepala bocah hina ini...!"

"Kalau begitu, kita pergunakan jurus Sepasang Dewa Kembar Menangis...!" sela yang seorang lagi sambil melompat mendekat ke arah saudaranya. Lalu dengan cepat tangan kanan mereka saling bertautan dan bersatu. Hanya beberapa saat berselang kedua tangan yang saling melekat itu mengepulkan uap panas berwarna kuning kebiru-biruan. Mengetahui lawannya bermaksud mengadu jiwa dengannya, maka dengan cepat pula dia mengerahkan seperempat tenaganya ke seluruh dua tangannya.

Diiringi dengan sebuah lengkingan menggelegar secara berbareng kedua Kembar ini melancarkan serangan. Tangan keduanya terus meluncur ke arah Buang Sengketa. Namun begitu tangan-tangan beracun itu hanya tinggal beberapa senti saja sampai pada sasarannya. Pemuda itu tanpa mengelak segera menyambut.

"Thaatk.... Thaatk...!"

Ditambah dengan satu pukulan susulan. Tubuh kedua orang Kembar itu terlempar beberapa tombak. Darah segar meleleh dari celah hidung dan bibir keduanya. Kenyataan ini tentu saja membuat si kakek yang sejak tadi mengawasi jalannya pertarungan menjadi terbelalak tak percaya. Melihat kemampuan pemuda ini tahulah si Kakek Rombeng bahwa pemuda berperiuk ini mempunyai kepandaian di atas si Kembar, Apa-lagi tadi dia sempat melihat kedua kawannya itu bagai memukul gunung batu, ditambah dengan begitu cepatnya pemuda itu menyerang. Hal ini semakin membuat si Kakek Rombeng menjadi penasaran sekali.

Di lain pihak, si Kembar yang sempat dibuat tunggang langgang oleh si pemuda nampak sangat marah dan berubah menjadi beringas. Kini keduanya telah bersiap-siap membangun serangan kembali. Hal ini sudah barang tentu tak lepas dari perhatian si kakek yang punya penilaian, kalau si Kembar kembali melakukan serangan dalam dua gebrakan di depan sudah barang tentu akan berakibat fatal buat kawannya ini. Begitu si Kembar Muka Pucat ini kembali menerjang, si kakek mencegah.

"Sahabat Kembar hentikanlah! Pemuda itu bukan tandinganmu...!"

Bagai dihipnotis, dua orang Kembar dari Bukit Sumplung mendadak hentikan langkah kemudian berpaling pada si kakek. Dengan perasaan kurang senang mereka menegur: "Mengapa engkau melarang kami, Orang tua...?"

Si Kakek Rombeng terkekeh: "Kalau kalian tidak menuruti perintah! Dua jurus di depan kalian segera mampus...!" Mendengar peringatan si kakek yang mereka ketahui sebagai orang tua yang berilmu sangat tinggi maklumlah kedua orang ini, dengan perasaan kesal. Mereka menepi Si kakek maju beberapa tindak menghadapi pemuda itu. Kemudian setelah memperhatikan Buang Sengketa dengan teliti, orang tua itu berkata lirih.

"Orang muda! Kukira aku cukup pantas menjadi lawanmu...!"

Buang Sengketa mendengus. "Orang tua, masih ada kesempatan bagi kalian untuk segera minggat dari hadapanku. Aku tak punya persoalan denganmu...!" kata pemuda itu mengingatkan.

"Kentut busuk! Kalau kau bisa mengalahkan aku. Aku baru bisa mengatakan bahwa kau pantas untuk mengobrak-abrik Lembah Halilintar...!" si kakek rombeng nampak marah sekali.

"Orang tua, Siapakah kau...!" tanya Buang Sengketa penasaran. Belum lagi pemuda ini menyelesaikan kata-katanya, si kakek berpakaian compang camping sudah menerjang. "Mampuslah kau "

Berkata begitu, si kakek langsung pukulkan senjatanya yang berupa sebuah kecapi ke arah kepala si pemuda. Buang Sengketa dengan cepat berkelit. Serangan si kakek menemui sasaran kosong. Mengetahui serangannya gagal dengan cepat pula dia babatkan senjatanya ke arah kaki si pemuda. Senjata di tangan si kakek mengeluarkan bunyi irama tak karuan. Buang Sengketa masih dengan mempergunakan si Hina Mengusir Lalat herkelebat kian ke mari. Lagilagi senjata yang berupa kecapi itu mencapai tempat yang kosong pula. Si Kakek Rombeng itu tercenung beberapa saat lamanya, akan tetapi tidak berapa lama kemudian lakilaki itu tersenyum Kemudian dia memainkan alat musik yang berupa kecapi itu, kakek tua bukannya malah bertempur akan tetapi kini dia mulai menyanyi-nyanyi sambil menangis. Buang Sengketa demi melihat ulah si kakek nampak terdiam, akan tetapi bagai dirasuki kekuatan raksasa, pemuda itu tiba-tiba saja merasakan kesedihan yang teramat sangat. Tak pelak lagi kini pemuda itu jadi ikutikutan menyanyi sambil menggerung. Begitu pun dengan dua orang kawan si kakek. Mereka jadi ikut-ikutan menyanyi-nyanyi dan di saat yang lain mereka menangis tersedusedu. Nampaknya ilmu kepandaian si kakek tua itu sedang menguasai jiwa mereka. Kini keadaan mereka bagai orang gila saja layaknya. Lama-kelamaan Buang menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Dengan sebisa-bisanya ia mencoba memusatkan konsentrasinya. Tidak begitu lama kemudian pemuda itu mengeluarkan jeritan melengking yang berkepanjangan. Daun-daun berguguran, dua orang kawan si kakek terpental puluhan tombak. Bahkan si Kakek Rombeng sempat surut beberapa langkah. Menyaksikan kejadian ini sudah barang tentu si kakek berseru kaget. Bahkan senjata kecapi yang sangat diandalkannya pun hancur berkeping-keping. Andai saja kakek rombeng itu tidak memiliki tenaga dalam yang sudah sangat sempurna sudah barang pasti kakek tua itu tewas seketika itu juga. Sebab apa yang baru saja dilakukan oleh si pemuda tak lain adalah sebuah kekuatan dahsyat dari sebuah ilmu Pemenggal Roh. Kini sadarlah kakek rombeng bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya itu merupakan lawan yang sangat tangguh akan tetapi biarpun begitu dia masih ingin menguji sampai di mana kekuatan si pemuda. Setelah memandang beberapa saat lamanya pada pemuda itu, tak begitu lama kemudian dia berkata: "Bocah, kiranya kau berisi juga! Tapi jangan kau kira aku telah kalah. Sekarang sebutkan namamu, sebelum segala-galanya terlambat bagimu...!" Pendekar dari Negeri Bunian itu mendengus: "Kakek tua... apa artinya sebuah nama! Aku hanyalah manusia Hina Kelana yang mengembara kemana saja aku mau! Sekali lagi kuperingatkan padamu, kalau kau memang bukan merupakan antekantek penguasa Lembah Halilintar, minggirlah! Sebab aku tak pernah bertindak setengah-setengah...!" tukas si pemuda sambil menatap tajam pada si kakek. Dipandang seperti itu sebaliknya si kakek malah tertawa

"Ohh... rupanya julukanmu si Hina Kelana... hehehe. . tapi walau kau menyandang gelar dedemit sekalipun jangan kau kira aku takut...!"

Melihat ulah si kakek ini lama-kelamaan Buang Sengketa menjadi jengkel. Kemudian dia Membentak: "Kakek gila! Aku tak punya banyak waktu untuk melayanimu, kalau kau punya senjata yang kau andalkan cepat cabutlah...!"

Usai berkata begitu, tanpa memberi kesempatan pada si kakek untuk berkatakata lagi Buang Sengketa langsung menerjang si Kakek Rombeng. Si kakek berhasil berkelit dan lancarkan serangan balasan. Pertempuran berlangsung semakin seru. Apalagi mengingat si Kakek Rombeng ini juga termasuk salah seorang tokoh kosen di bagian tanah Jawa Wetan. Yang tentunya sudah banyak makan asam garam dunia persilatan selama belasan tahun. Tentu dia telah mengenal seluk beluk dan liku-liku dunia persilatan. Akan halnya Buang Sengketa yang benar-benar masih hijau dalam sepak terjang dunia persilatan. Menghadapi serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh si kakek tentu dia merasa agak kerepotan juga. Masih untung dulunya pemuda ini mendapat gemblengan yang cukup matang dari gurunya si Bangkotan Koreng Seribu. Di samping itu dengan berbekal berbagai ilmu silat yang diciptakan oleh si kakek sakti itu secara sempurna. Sedikit banyaknya dalam menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh si kakek, pemuda itu tidak menjadi gugup. Demikianlah pertarungan telah mencapai puluhan jurus, namun tak satu pun serangan si Kakek Rombeng mengenai sasarannya. Sementara itu Buang Sengketa untuk melindungi dirinya, kini telah mempergunakan jurus "Si Gila Mengamuk". Sebuah jurus tingkat kedua yang pernah diturunkan oleh gurunya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek perpakaian compang camping itu adalah merupakan seorang lawan yang sangat tangguh.

Mungkin karena setiap pukulanpukulan yang dia lancarkan selalu dapat dipatahkan oleh Buang Sengketa atau karena si kakek sudah merasa sangat jengkel. Beberapa saat kemudian kakek ini nampak melompat ke belakang beberapa langkah. Kemudian dia berseru lantang: "Bocah... kau sungguh luar biasa. Tiga puluh jurus andalan telah kupergunakan! Selama aku malang melintang di dunia persilatan belum pernah hal itu sampai terjadi. Akan tetapi kau jangan bangga dulu! Aku masih mempunyai dua pukulan andalan, yang kuberi nama Dua Jalan Neraka Lembah Halilintar. Mengapa aku memberi nama pukulan itu begitu. Nanti akan kuceritakan padamu jika kau mampu menahan dua pukulanku itu. Akan tetapi jika kau tak mampu, aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan ke neraka padamu...!"

* * * * * 10

Mendengar keputusan si Kakek Rombeng, Buang Sengketa tiba-tiba saja mendengus:

"Huhh... enak di kau tapi tak enak di aku...!"

”Tunggu dulu penjelasanku... begini kalau kau bisa keluar sebagai pemenang dalam adu jiwa nanti, maka aku si Tua Rombeng dari Lembah Halilintar yang terbuang, dengan rela hati akan merelakan sisa-sisa hidupku untuk menjadi seorang abdimu yang paling setia...!"

Lagi-lagi pemuda itu mendengus dengan perasaan tak senang.

"Heh... aku bukan seorang raja, bukan seorang majikan dan bukan pula seorang kesepuhan. Manusia Hina Kelana sepertiku ini, tentu tak akan sanggup memberimu makan, apalagi memberimu pakaian rombeng...!" ejek Buang Sengketa tersenyum kecut.

"Bocah edan, pokoknya, mau tidak mau, rela tidak rela! Aku akan menepati janjiku. Sekarang bersiap-siaplah engkau...!" Usai dengan kata-katanya, si kakek segera merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Dengan cepat dia mengerahkan segenap kemampuannya, tak lama kemudian kedua telapak tangan yang menyatu itu mulai mengepulkan uap panas, udara di sekitar si kakek mulai diliputi kabut. Sementara itu kedua tangan si kakek semakin lama nampak berubah menjadi merah bara. Si kakek menyeringai puas, keringat terus bercucuran membasahi pakaiannya. Hanya sekilas saja Buang Sengketa menyaksikan perubahan yang dialami oleh Kakek Rombeng, saat-saat berikutnya dia mulai menyiapkan sebuah pukulan pula. Dengan tangan terpentang di atas kepala, dia telah mempersiapkan sebuah pukulan andalan, yaitu salah satu dari Empat Anasir Kehidupan. Berbeda dengan keadaan si Kakek yang saat itu tubuhnya akibat pengaruh ilmu Dua Jalan Neraka Lembah Halilintar, merasakan panas yang teramat sangat, sedangkan si pemuda merasakan tubuhnya kedinginan yang luar biasa.

Segalanya berlalu cepat, sampai-sampai si Kembar yang dalam keadaan terluka parah terbeliak seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Disertai dengan lengkingan keras, tubuh si Kakek melesat bagai sebuah busur ke arah Buang Sengketa. Saat tangan yang bagaikan bara itu tinggal beberapa senti saja menerpa wajah Pendekar dari Negeri Bunian, saat itu pula tangan si pemuda berkiblat. Benturan tangan maha dahsyat pun tak dapat dihindari lagi.

"Plaaak... blaam...!"

Tubuh si Kakek Rombeng terpental berpuluh-puluh tombak, darah berlelehan dari celah bibirnya, bahkan dia sempat merasakan hawa dingin menjalari sekujur tubuhnya. Setelah mengerahkan hawa murni barulah dia merasakan tubuhnya normal kembali. Kakek ini segera maklum bahwa pemuda itu tidaklah bernama kosong. Begitu pun dengan cepat dia bangkit kembali. lalu kembali menghampiri Buang Sengketa yang sedang menarik kedua kaki yang sempat terbenam sebatas tumit.

Dengan tatapan iba dipandanginya Kakek Rombeng. Wajah kakek ini nampak sedikit memucat, akan tetapi agaknya si kakek t idak perduli dengan keadaannya.

"Kau memang hebat, bocah! Tapi masih ada satu pukulanku lagi yang harus kau tahan...!" tukasnya dengan nafas terengahengah. "Orang tua, luka dalammu saja sudah parah! Masihkah kau ingin menyerangku kembali...!" kata pemuda itu sedih.

Si Kakek Rombeng ini agaknya sangat keras kepala, terbukti di beri peringatan seperti itu dia malah ngotot.

"Perduli apa...! Aku harus memenuhi janjiku, kalaupun aku mati, aku merasa sangat puas...." sela si kakek. Kemudian dia mulai mempersiapkan pukulan terakhir.

"Bersiap-siaplah, bocah...!" Buang Sengketa meskipun sesungguhnya sudah tidak sampai hati untuk melayani si Kakek, akhirnya dengan sangat terpaksa bersiapsiap juga. Kemudian segera mempersiapkan pukulan berikutnya. Sebuah pukulan yang masih merupakan rangkaian dari "Empat Anasir Kehidupan". Sementara itu si Kakek Rombeng sudah nampak siap dengan sebuah pukulan pamungkas. Kini kedua tangannya terpentang bagaikan cakar burung hantu, dengan sorot mata menggidikkan. Kedua tangannya kembali mengepulkan asap, lama kelamaan asap itu semakin menebal, berputar-putar di sekitar tubuh si kakek dan hanya beberapa saat setelah itu, tubuh si Kakek Rombeng ini pun lenyap terbungkus kabut. Diiringi dengan jeritan melengking, kabut yang membungkus tubuh si kakek bergelung-gelung dengan cepat ke arah Buang Sengketa. Kabut tebal itu terus melesat dan melabrak apa saja yang berada di sekitarnya. Hingga tak begitu lama, ketika kabut tebal itu hanya tinggal beberapa depa saja sampai pada sasarannya, dengan perasaan setengah tega, Pendekar Hina Kelana itu segera kiblatkan tangan kanannya ke arah kabut yang menggulung tubuh si kakek. Seberkas sinar Ultra Violet melesat cepat ke arah tubuh si kakek. Kembali benturan tenaga sakti pun tak dapat dihindari lagi.

"Bress... blaaarr...!"

Si Kakek Rombeng kembali terpental jauh lalu muntahkan darah segar. Sementara Buang Sengketa sendiri nampak bersurut beberapa langkah, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.

Pemuda itu tersenyum getir begitu dilihatnya si Kakek berjalan sempoyongan menuju ke arahnya. Si kakek Rombeng terbatuk beberapa kali, darah berlelehan dari celah-celah bibirnya. Buang Sengketa semakin merasa iba saja begitu melihat keadaan si kakek yang agaknya terluka cukup parah. "Orang tua... lukamu cukup parah! Kau harus segera mendapat pertolongan...!" ujar Buang Sengketa merasa sangat prihatin.

Si kakek geleng kepala lalu terkekeh. "Aku tak apa-apa, orang muda, aku

mengaku kalah! Untuk itu aku akan memenuhi janjku yang pertama...!"

"Janji...!" sela pemuda itu. "Aku lupa apa janjimu...." sambungnya pula.

"Bocah bukankah aku telah berjanji andai aku kalah, aku akan cerita tentang Lembah Halilintar? Dan karena ternyata aku kalah aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan juga telah siap untuk mengabdi padamu. Akan tetapi sebelumnya, bolehkah aku yang tua ini tahu, siapa namamu, dari mana asal usulmu dan siapa pula gurumu...!" kata si kakek rombeng. Mendapat pertanyaan beruntun Buang Sengketa jadi tergelak.

"Kakek Rombeng, dengan pertanyaan seabrek-abrek seperti itu yang mana lebih dulu yang harus kujawab...?"

"Hehehe... terserah saja. Toh aku hanya seorang abdimu...!" ujar si kakek kini berubah ramah. Begitu si kakek menyebutnyebut abdi, Buang Sengketa menggelengkan kepala: 'Tidak! Kau bukan seorang abdi, kalau kau masih tetap menyebut-nyebut dirimu sebagai seorang abdiku maka aku tak akan sudi mendengar ceritamu dan akan segera pergi dari tempat ini...!"

"Baiklah... baiklah! Kalau engkau tak ingin aku mengabdi padamu. Tapi jawab dulu pertanyaanku...!" sela si Kakek Rombeng. Sementara si Kembar dari Bukit Sumplung pun kini sudah berkumpul dan bergabung dengan mereka,

"Aku paling tidak suka bicara mutermuter! Untuk itu kalian dengarlah apa yang akan kukatakan ini." kata Buang Sengketa, lalu menarik nafas sejenak. Lalu dipandanginya ketiga orang itu masih dengan tatapan curiga.

"Orang tua, sesungguhnya aku bukanlah orang yang suka mengagung-agungkan nama akan tetapi agar kalian tidak merasa penasaran dengan terpaksa aku harus mengatakannya juga. Namaku Buang Sengketa, asalku dari seberang, sedangkan guruku... aku tak bisa mengatakan siapa guruku...!"

Agaknya si kakek menjadi sangat maklum, untuk itu dia pun menyela: "Siapa pun adanya gurumu itu aku sangat yakin bahwa dia berilmu sangat tinggi, bahkan secara sepintas rasa-rasanya jurus-jurus yang kau pergunakan tadi aku pernah mengenalnya. Tapi tak mungkin... sebab tokoh yang sangat menggegerkan itu sudah ratusan tahun yang lalu adanya...!"

"Kau terlalu memuji setinggi langit, orang tua...." sela Buang Sengketa.

Tanpa menjawab protes si pemuda. Si Kakek Rombeng langsung bicara pada persoalan yang sebenarnya.

"Buang Sengketa... maafkan aku karena telah menguji segala kemampuanmu! Akan tetapi hanya dengan cara itulah aku bisa mengetahui. Apa yang kau inginkan dengan maksud apa kau datang ke Neraka Lembah Halilintar...?"

Masih belum selesai si kakek berbicara, tiba-tiba saja Buang Sengketa memotong.

"Tunggu dulu, orang tua! Sedari tadi kau menyebut-nyebut Neraka Lembah Halilintar, apakah maksudmu...!"

"Aku mengatakan demikian karena memang benar adanya, bahwa lembah itu kini benar-benar berubah menjadi sebuah neraka bagi mereka pemburu-pemburu harta karun itu...!" ujar si kakek lebih lanjut.

Tentu saja keterangan si kakek sangat menarik perhatian Buang Sengketa, untuk itu dia kembali menyela: "Sesungguhnya apakah yang telah terjadi di Lembah Halilintar, orang tua...?" Ditanya seperti itu, kakek berpakaian compang camping ini nampak terdiam t ibatiba saja wajahnya tertunduk sedih. Lalu tanpa terasa beberapa butir air matanya menggelinding menuruni kedua pipinya yang keriput. Kemudian dengan suara tersendat, dia berkata: "Semuanya ini adalah karena salahku, dulu lembah itu merupakan sebuah daerah yang sangat damai. Secara turun temurun keluargaku t inggal di sana. Kami hidup dari hasil bercocok tanam. Akan tetapi sejak kedatangan laki-laki keparat itu, semuanya menjadi berubah. Dia yang pada mulanya hanya hidup menumpang pada kami, akhirnya merampas segala yang kami miliki. Mulanya kami tak tahu mengapa dia begitu berhasrat untuk memiliki lembah itu. Akan tetapi akhirnya kami tahu juga, kiranya di luar sepengetahuan kami. Lembah itu merupakan yang besar...!"

Dalam keadaan begitu, tiba-tiba saja Buang Sengketa menyela: "Mengapa orang tua tidak melawannya atau sekaligus mengusir orang itu dari tanah leluhurmu?" tanya Buang Sengketa dengan penasaran sekali.

Mendapat pertanyaan seperti itu si Kakek Rombeng tersenyum getir, Buang melihat ada sesuatu yang nampak menekan perasaan si kakek.

"Bukan kami tak mengadakan perlawanan, bahkan keluargaku pun hanya tinggal aku yang tersisa. Orang itu di samping memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tetapi juga seorang ahli sihir yang tiada duanya. Bahkan dua orang anakku telah disihir menjadi burung hantu...!"

Terkejutlah pendekar dari negeri Bunian itu begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh si kakek. Dengan cepat dia memotong.

"Orang tua, jadi tepat seperti apa yang kuduga, bahwa sesungguhnya burungburung itu merupakan manusia yang telah disihir olehnya...?"

"Benar, Buang. Mereka berasal dari tokoh-tokoh sakti, yang ditugaskan menjadi pengawal Lembah Halilintar, sedangkan kebanyakan dari padanya adalah penduduk desa biasa yang sebelumnya merupakan pemburu harta. Jadi burung-burung itu terbagi antara yang biasa dan yang buas...!"

Tahulah Buang Sengketa dengan makna yang baru dikatakan si kakek rombeng. Kalau begitu dia segera harus turun tangan. Dengan menggertakan rahangnya dia kembali bertanya pada si kakek: "Orang tua, siapakah si keparat ahli sihir itu...?"

"Namanya Nukman Jaya Tiga Momba...!" Buang Sengketa mengangguk-

anggukkan kepala, namun begitu dia teringat akan sesuatu. Kembali matanya melirik pada ketiga orang itu dengan tatapan menyelidik.

"Orang tua... apakah gadis cantik yang menjadi pemilik waning dan penginapan itu anakmu...!" tanya si pemuda.

Mendadak si Kakek Rombeng terkekeh. "Anakku...? Sungguh beruntung aku mempunyai anak secantik dia, agaknya kau kepincut pada gadis itu...!" si Kakek Rombeng menyindir. Diejek seperti itu, seketika wajah pendekar tampan ini tampak memerah. Dengan dia menegur: "Siapa sudi pada perempuan siluman yang setiap waktu dapat berubah menjadi burung hantu yang menakutkan!"

Si kakek tersenyum lega, "Syukurlah kalau kau sudah mengetahuinya! Dan perlu kau ingat bahwa dia adalah anak musuhku...!"

Tentu saja jawaban si kakek membuat Buang Sengketa merasa heran, kalau gadis itu merupakan anak musuhnya, tapi mengapa si kakek t idak menculiknya atau bahkan membunuhnya? Bahkan dia sendiri sempat melihat bahwa si kakek berkunjung di kedai itu. Apakah artinya semua ini? Batin pemuda itu.

* * * * * 11

Agaknya Kakek Rombeng ini mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh si pemuda. Sebab tak begitu lama kemudian dia menyela: "Kau jangan salah paham dan mungkin dalam hatimu bertanya-tanya, mengapa aku tak melakukan seperti apa yang ada di dalam fikiranmu? Perlu kau ketahui, bahwa gadis itu memiliki tingkat kepandaian jauh di atasku. Aku tak mampu menandingi segala ilmu yang dimilikinya...!"

Lagi-lagi Buang Sengketa memotong: "Kalau memang benar apa yang kau katakan itu, akan tetapi mengapa justru kau kulihat malah datang ke kedai itu?"

Melihat kecurigaan Buang Sengketa, si Kakek Rombeng tertawa tergelak-geiak. Setelah itu sambil tetap terkekeh dia menyela: "Buang Sengketa! Kau tak perlu curiga. Ketahuilah, aku tak pernah bermusuhan dengannya, dan sesungguhnya dia seorang gadis yang baik, jauh berbeda dengan sikap ayahnya. Akan tetapi karena dia hanya ingin berbakti pada orang tuanya, mau tak mau dia harus patuh dengan segala apa yang diperintahkan oleh orang tuanya...!"

"Hemm... hebat! Sungguh kau orang tua yang bijaksana, walau menderita sekali pun...!" Buang Sengketa tersenyum mengejek.

"Aku memang tolol, bocah... akan tetapi semua itu karena aku tidak sanggup mengatasi kesaktian yang dimilikinya. Akan tetapi aku yakin kau mampu mewakili aku...!" ujar si Kakek Rombeng. Seketika itu Buang Sengketa memelototkan matanya pada si kakek.

"Kalau aku tak mau melakukannya, kau mau apa...?"

"Kalau pendekar tidak merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh para pemburu harta itu. Tentu kami juga tidak bisa memaksakan kehendak kami pada pendekar."

Tiba-tiba si Kembar ini memberanikan diri ikut bicara. Tidak lagi melotot, kali ini sepasang mata Buang Sengketa bagai mau meloncat ke luar, begitu mendengar ucapan si Kembar muka pucat ini.

"Hei... Kembar kurang darah! Aku tak perlu nasehatmu...!" tukasnya sambil menuding pada si Kembar dari Bukit Sumplung ini. Dibentak seperti itu dua orang kembar ini langsung tutup mulut. Kini pendekar Hina Kelana itu kembali menoleh pada si kakek, dipandanginya wajah lelaki tua yang banyak menanggung derita. Tibatiba saja dia merasa sangat iba pada si kakek, kemudian Buang Sengketa berucap: "Kakek Rombeng, aku telah memutuskan agar secepatnya aku sampai di Lembah Halilintar, untuk itu bagaimana saranmu...?"

Sudah barang tentu keputusan pemuda itu sangat melegakan hati si kakek, sebab setelah mengetahui kehebatan si pemuda. Kakek Rombeng itu merasa, mungkin hanya Buang Sengketa seoranglah yang mampu melawan ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba. Itu makanya dengan senang hati dia segera berujar: "Untuk sampai di lembah itu kau harus dapat mengalahkan burung-burung jejadian yang telah dipengaruhi oleh si keparat itu terlebih dulu! Jumlahnya yang ribuan ekor itu mengharuskan kau agar selalu bersikap waspada. Kita harus terpisah, dan menyerbu dari dua arah. Mungkin aku dan kawanku ini hanya dapat membantumu sebatas membasmi burung-burung buas itu. Sedangkan untuk menghadapi Nukman Jaya Tiga Momba, sepenuhnya kuserahkan padamu...!" kata si kakek berterus terang. Namun tiba-tiba Buang Sengketa menyela: "Bukankah tadi kau bilang bahwa burung-burung itu merupakan jelmaan manusia, begitu tegakah kau membunuhnya...?" tanya Buang Sengketa.

Si kakek tertunduk sedih, beberapa saat lamanya dia hanya terdiam. Akan tetapi kemudian dia berkata tegas: "Walaupun mereka itu manusia kau tak mungkin mengalah pada mereka! Sebab mereka itu di bawah pengaruh Nukman Jaya Tiga Momba. Burung-burung itu sedemikian buas dan sangat berbisa sekali. Kalau dagingmu tak ingin hancur dicabik-cabiknya, sudah seharusnya kau mengambil keputusan yang bijaksana...!" jelas si kakek rombeng. Buang Sengketa kembali manggut-manggut.

"Baiklah, aku sangat setuju dengan saranmu! Dan kuharap saja kita masih dapat berjumpa lagi dalam keadaan hidup...!" kata pemuda itu dengan diiringi seulas senyum getir.

"Aku juga berharap begitu...!" sela si kakek.

Demikianlah, setelah segalanya menjadi jelas, mereka segera berpisah. Akan tetapi dengan satu tujuan. Neraka Lembah Halilintar tentunya. Cuaca berkabut di siang hari itu, mengiringi langkah-langkah Pendekar Hina Kelana. Namun sedikit pun keadaan ini t iada mengurangi semangat Buang Sengketa untuk dapat secepatnya sampai di Lembah Halilintar. Ketika tak begitu lama kemudian murid si Bangkotan Koreng Seribu ini segera berkelebat. Dengan mempergunakan ajian Sapu Angin, sebentar saja tubuhnya telah lenyap ditelan bayang-bayangnya sendiri. Hanya dalam waktu sekejap saja, Buang Sengketa telah jauh meninggalkan hutan belantara Mentoak dan Lembah Halilintar. Untuk sesaat dia menghentikan langkahnya. Sepasang matanya nanar memandang pada keadaan di sekelilingnya.

Pemuda itu menyadari beratus-ratus pasang mata memandang padanya dengan nafsu membunuh yang berkobar-kobar. Pendekar dari Negeri Bunian ini segera tingkatkan kewaspadaannya. Dengan sikap tenang dia terus melangkah, namun begitu langkahnya baru beberapa tindak. Dengan tiba-tiba diawali dengan suara riuh, bermunculanlah ratusan burung hantu meluruk ke arahnya. Dengan ganas burungburung itu menyambar dan menyerang si pemuda tanpa ampun. Buang Sengketa segera bertindak. Dengan mempergunakan sebuah jurus andalan si Hina Mengusir Lalat dia segera bertindak cepat. Bagai sebuah baling-baling, tangan berputar melindungi tubuhnya. Akan tetapi jumlah burung-burung mengerikan itu jumlahnya semakin bertambah banyak saja. Buang Sengketa melompat kian ke mari. Laksana seekor monyet yang kebakaran ekor, dia berjingkrak, melompat, menendang bahkan mencaci maki. Meskipun begitu, burungburung itu semakin bertambah gencar menyerangnya.

Hingga kemudian kesabarannya pun habislah sudah. Diawali dengan jeritah dahsyat melengking. Tidak pelak lagi kiranya kini pemuda itu sudah mempergunakan sebuah ilmu sakti yang diberi nama ilmu Pemenggal Roh. Demikianlah setelah berjumpalitan beberapa kali, pemuda itu nampak berdiri tenang. Burung-burung hantu itu terus menyambar tanpa ampun. Akan tetapi ketika tidak berapa lama kemudian, terdengar kembali jerit menggelegar. Tak pelak lagi, bagai daun-daun kering, ratusan burung-burung itu, diawali dengan pekik kematian, nampak rontok ke bumi. Tubuh burung-burung hantu itu bertebaran di mana-mana, akan tetapi, keanehan segera terjadi. Secara perlahan namun pasti ujud burung-burung yang sudah menjadi bangkai itu segera berubah dan kembali pada asalnya. Buang Sengketa meskipun sebelumnya sudah diberi tahu oleh si kakek rombeng tak urung merasa sangat menyesal dengan kenyataan yang dialaminya. Dia tidak dapat memikirkan kenyataan ini lebih jauh lagi, karena tak begitu lama kemudian bagai tak ada habis-habisnya terdengar kembali jerit suara burung yang sama dalam kemarahan. Begitu pemuda itu menoleh ke arah datangnya suara, kiranya burungburung itu telah begitu dekat dan langsung menyambar-nyambar menyerang si pemuda. Buang Sengketa tidak dapat berfikir panjang. Burung hantu yang jumlahnya menjadi berlipat ganda itu terus mencecamya tanpa ampun. Pendekar dari Negeri Bunian ini menjadi kalang kabut Akan tetapi tanpa membuang-buang waktu lagi Buang Sengketa segera lipat gandakan tenaganya, hingga hanya dalam waktu yang singkat dia telah bersiap-siap kembali dengan ajian Pemenggal Rohnya yang sangat ampuh itu. Lagi-lagi terdengar suara teriakan yang menggelegar.

"Heig... heaaaat...!"

Jerit dan pekikan Buang Sengketa terdengar sambung menyambung. Bagai rentetan gemuruh halilintar tiada terhenti. Jerit kepanikan dan pekik kematian berbaur menjadi satu. Puluhan burung-burung hantu dan bahkan ratusan, berjatuhan dan menggelepar mati. Berserakan bagai puing puing bangunan yang runtuh.

Begitu pemuda ini baru saja akan menarik nafas, terlihat kembali burungburung yang sama meluruk ke arah pemuda ini. Meski pun jumlahnya hanya mencapai puluhan ekor akan tetapi burung-burung ini lebih ganas dan bahkan lebih buas dari para pendahulunya. Menghadapi kenyataan seperti ini pendekar dari negeri Bunian ini tak ingin berlamalama.

"Burung-burung keparat... sungguh malang sekali nasibmu! Kau datang dari jauh ingin mencari penghidupan baru... siapa sangka begini jadinya. Enyahlah dari hadapanku, sebelum cahaya maut kejam merenggutmu...!"

Usai dengan bentakannya itu, dengan diiringi pekik menggelegar, Buang Sengketa segera kiblatkan kedua tangannya ke segala penjuru. Seberkas sinar Ultra Violet melesat dan menderu ke segala arah dengan begitu cepatnya. Tak ayal lagi, jerit kematian kembali membahana meningkahi sunyi. Dengan tubuh hangus disertai lelehan darah yang keluar dari telinga maupun hidung burung-burung itu secara bersamaan mereka pun rontok ke bumi. Apa yang terjadi sesudahnya, tidak jauh beda dengan burungburung lainnya. Secara perlahan tubuh burung-burung ini kembali pada ujud semula. Melihat kenyataan ini, pendekar Hina Kelana ini semakin tertunduk sedih. Dia merasa sangat menyesal dengan kejadian itu, kini ditatapnya mayat-mayat yang bergelimpangan itu dengan hampa. Puluhan bahkan ratusan nyawa telah melayang karena tangannya. Akan tetapi begitu dia ingat bahwa untuk mewujudkan sesuatu itu harus rela mengorbankan yang lain. Maka sedikit banyaknya hatinya merasa lega.

"Semoga pengorbanan kalian tidak siasia...!" kata pemuda itu seorang diri.

Pada saat itu sesungguhnya pemuda itu tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi segala sepak terjangnya. Bahkan pemilik sepasang mata itu sempat dibuat terbelalak tak percaya. Kini semakin bertambah kagumlah dia pada kehebatan si pemuda. Tak berapa lama kemudian ketika dia melihat bahwa pemuda itu bermaksud meninggalkan tempat itu, maka melompatlah dia dari tempat persembunyiannya. Buang Sengketa yang merasa dikejutkan oleh kehadiarannya serta merta berbalik ke arah datangnya suara. Begitu melihat kehadiran orang itu, maka terkesiaplah darah Buang Sengketa. Dengan sikap sangat hati-hati dan waspada, Buang Sengketa menegur: "Hemmm... rupanya kau menguntitku. Apa yang kau inginkan...?" tanya pemuda itu tiada berkedip.

Gadis yang bernama Jelita itu dengan pandangan penuh arti, menjawab lirih:

"Tuan benar-benar seorang laki-laki yang hebat! Hanya dalam beberapa gebrakan saja burung-burung menakutkan itu telah binasa di tangan Tuan...!"

Mendengar jawaban si gadis Buang Sengketa tersenyum mencibir: "Bukan burung-burung itu yang mati! Akan tetapi manusia-manusia yang malang itu yang kojor!" ujar Buang Sengketa acuh tak acuh.

Lagi-lagi si gadis nampak tersenyum walau dia tahu si pemuda memandang sinis padanya.

"Apa pun kenyataannya, Tuan merupakan orang yang pantas mendapat pujian... aku kagum pada Tuan...!"

"Oh begitu. Sayangnya aku bukanlah orang yang gila sanjungan!" ujar Buang Sengketa, tak lama kemudian ia menyambung lagi: "Orang secantik kau, apakah t idak takut keluyuran di hutan ini seorang diri...!" pancing pemuda itu.

Kali ini gadis itu tertawa: "Hihihi... Tuan lucu. Aku sudah biasa pergi di hutan sendirian "

"Kau tidak takut kalau burung-burung itu menyerangmu...!" sindirnya.

Agaknya, gadis yang bemama Jelita itu merupakan seorang gadis yang cukup cerdik. Terbukti dia masih saja dapat berkilah: "Burung itu hanya mau menyerang pada orang yang belum dikenalnya tuan, sedangkan aku sudah sangat sering bertemu dengan burung-burung itu. Selama ini dan sampai sekarang mereka tak pernah menyerangku !"

"Hemm... gadis ini sungguh licin untuk dijebak." batin Buang Sengketa mulai kesal.

"Agaknya kau merupakan pemilik dari burung-burung itu...!" kata Pendekar dari Negeri Bunian ketus. Terbelalaklah mata gadis ini begitu mendengar tuduhan Buang Sengketa. Akan tetapi dengan berpura-pura marah si gadis menegur: "Kejam sekali tuduhan Tuan... Tuan tak berperasaan! Ketahuilah, Tuan. Sengaja aku meninggalkan kedaiku, semata-mata hanya karena aku mengkhawatirkan keselamatan Tuan !" Mendengar jawaban si gadis mendadak Buang Sengketa tertawa tergelak-gelak: "Hehahaha... hahaha... tidak salahkah apa yang aku dengar? Kalau tiba-tiba saja ada seorang gadis yang sangat cantik mengkhawatirkan keselamatan gembel Hina Kelana seperti aku ini! Tetangga bukan saudara bukan... mengapa justru kau mengkhawatirkan keselamatanku...?" tanya Buang Sengketa.

Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja si gadis menjadi kalang kabut. Wajahnya mendadak berubah memerah. Sebagai seorang gadis walaupun dia merupakan anak seorang sesat sudah barang tentu dia tidak bisa melupakan kodratnya sebaga wanita. Baginya terasa sangat mustahil untuk menyatakan perasaan isi hatinya pada si pemuda, terlebih-lebih Buang Sengketa baginya merupakan sosok yang masih sangat asing dalam hidupnya. Akan tetapi dia t idak dapat membohongi perasaannya sendiri. 12

Haruskah dia mengatakan keadaan yang sebenarnya, bagaimana pula andai nantinya pemuda itu menjadi salah mengerti? Dalam keadaan resah seperti itu, tiba-tiba saja Buang Sengketa nyeletuk: "Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku!"

"Apa yang perlu kujawab, pertanyaan Tuan yang aneh-aneh saja...!" ujar si gadis dengan wajah kemerah-merahan.

"Agaknya kau telah jatuh cinta padaku, bukan...!" kata Buang Sengketa sekenanya. Jelita semakin tesipu malu, kemudian dengan lirik-lirik mesra dia menjawab.

"Mana ada orang mau pada gadis semacamku ini...!"

Pendekar Hina Kelana terbatuk beberapa kali begitu mendengar jawaban si gadis. Akan tetapi agaknya sedikit pun dia t idak terpengaruh dengan gadis itu, karena beberapa saat kemudian dia berkata tegas: "Sayang... sungguh sayang...!"

"Apa maksudmu, Tuan...?" sela Jelita harap-harap cemas.

Sebelum menjawab, Pendekar dari Negeri Bunian itu menatap tajam pada si gadis. Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan oleh si Kakek Rombeng. Gadis ini sesungguhnya merupakan seorang gadis yang jujur dan lugu, siapa pun tak akan menyangka kalau dia anak seorang ahli sihir yang sangat kejam. Akan tetapi walau bagaimana pun baiknya hati gadis itu sedikit pun Buang Sengketa tetap tidak ingin terpengaruh padanya. Untuk itu dia segera berkata tegas: "Aku paling tidak suka pada orang yang selalu bersikap pura-pura. Maaf... lebih dari itu, aku tak akan bersekutu dengan anak seorang tukang sihir...!"

Terkesiaplah darah gadis jelita ini, wajahnya berubah pucat. Rasanya dia ingin menangis. Merah bercampur malu berbaur menjadi satu, akan tetapi karena perasaan cintanya itulah membuatnya berusaha bersabar. Lalu dengan bibir gemetar dia pun bertanya: "Tuan... dari mana Tuan mengetahui semuanya ini? Apakah Kakek Rombeng orang tua edan itu yang mengatakannya padamu...?"

Lagi-lagi   Buang   Sengketa   tersenyum

mengejek: "Darimana pun aku memperoleh keterangan ini. Apa peduliku... kau tidak mungkin mungkir bahwa malam itu kau telah berubah menjadi seekor burung hantu    "

tukas    pemuda   itu    dengan   sesungging senyum kemenangan. Akan tetapi betapa sabarnya gadis yang bernama Jelita ini, sebab sedikit pun dia t idak terpengaruh dengan penghinaan yang sengaja dilakukan Buang Sengketa demi memancing kemarahannya.

“Tuan... mengapa tuan berkata sekejam itu. Tidak bisakah tuan membedakan yang mana musuh dan yang mana kawan. Ketahuilah Tuan bahwa aku bersedia ikut dengan Tuan ke mana pun Tuan mau, asal saja Tuan mau mengerti bagaimana perasaanku ini!" sela Jelita dengan wajah tertunduk sedih.

"Maaf, Nona yang baik. Aku menghargai akan maksud baikmu! Untuk itu minggirlah aku mau pergi ke Lembah Halilintar...!" kata Buang Sengketa.

"Jangan, Tuan! Hal itu sangat berbahaya bagi Tuan, ayahku sangat kejam, sekali Tuan bisa mendapat celaka...!" tukas Jelita berusaha mencegah.

Pendekar Hina Kelana mendengus kesal: "Kalau orang tuamu itu sangat kejam, sangat kebetulan sekali. Biar aku tidak bertindak setengah-setengah...!"

"Jadi tuan tetap berniat ke sana? Untuk kemudian membunuh ayahku...." Jelita nampak khawatir sekali. "Ya... sekalian mengobrak-abrik Lembah Neraka itu...!" jawab Buang Sengketa. Demi mendengar keputusan si pemuda, wajah gadis jelita ini nampak berubah merah padam. Jelita memang benar-benar marah, walau sesungguhnya dia telah jatuh cinta pada si pemuda, akan tetapi sebesar apa pun cintanya pada pemuda itu siapa rela orang tua kandungnya diperlakukan tidak baik. Walau sesungguhnya gadis itu pun tahu bahwa ayandanya merupakan orang yang sangat kejam. Dia telah membujuk, memohon bahkan telah mengutarakan perasaannya. Kalau semua itu tak membawa hasil bahkan orang yang berdiri di hadapannya itu malah berniat mencelakakan orang tuanya. Sebagai seorang anak yang ber-akti tentu dia tak akan membiarkan pemuda itu berbuat semau-maunya.

Demikianlah yang ada dalam fikiran si gadis. Ketika setelah beberapa saat lamanya mereka saling terdiam, kini gadis itu segera bertanya kembali: "Jadi Tuan tetap bermaksud meneruskan niat Tuan...?"

"Keputusanku tidak bisa ditawar-tawar lagi...!" kata Buang Sengketa tegas.

Mendengar jawaban Buang Sengketa, dengan perasaan kecewa gadis itu pun berubahlah pendiriannya. "Kalau Tuan memang sudah tidak dapat di cegah lagi, kalau begitu akulah orang pertama yang akan merintangi niatmu itu...!" sela Jelita dengan tatapan berapi-api. Mendengar keputusan si gadis, Buang Sengketa nampak tergelak-gelak.

"Huahahaha... bagus, membabat rumput kalau bisa memang harus sampai ke akarakar-nya...!"

Buang Sengketa yang sudah mengetahui kehebatan gadis jelita ini dari si Kakek Rombeng sudah sejak awal sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

"Tuan, sungguhpun Tuan dapat memusnahkan ratusan ribu ekor burung hantu, hal itu tidak akan berarti banyak bagiku! Hati-hatilah...!" kata si gadis mengingatkan. Selesai dengan ucapannya, tanpa banyak berkata lagi Jelita mulai melancarkan serangan-serangannya. Setiap pukulan yang dilancarkannya selalu mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Baru beberapa jurus saja si gadis melakukan serangan, sudah cukup bagi Buang Sengketa untuk mengetahui bahwa gadis cantik ini benar-benar patut diperhitungkan. Kini dengan permainan silat tangan kosong Jelita menggempur dari segala arah, dengan jurus-jurus andalan tangan-tangan si gadis bergerak demikian cepat. Bahkan dalam pandangan si pemuda, tangan-tangan itu jumlahnya seperti bertambah banyak. Tak ayal lagi Buang Sengketa segera membentengi diri dengan jurus si Gila Mengamuk. Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya berkelebat kian ke mari. Terkadang memukul membalas serangan si gadis di lain saat dia mengelak, menendang dan di lain kesempatan dia menggaruk pantatnya sendiri. Pertarungan nampak semakin seru, masing-masing dari mereka punya ambisi yang sama yaitu menjatuhkan lawan secepat mungkin. Sementara itu si gadis dengan mempergunakan jurus Burung Hantu Mengintai Mangsa nampak sangat lincah. Dengan ilmu mengentengi tubuh yang sangat sempurna dia terus mencecar bahkan berkelebat kian ke mari. Menghadapi lawan yang sangat tangguh. Buang Sengketa terus kerahkan segala kemampuan yang ada. Suara pukulan saling bercuitan, debu dan batu kecil beterbangan di sekitar tempat itu. Agaknya kekuatan mereka sangat berimbang. Hingga pada satu kesempatan, si gadis berhasil menyarangkan sebuah pukulannya dengan telak ke dada Pendekar dari Negeri Bunian ini. Si pemuda terjengkang dua tombak. Namun dengan cepat dia bangkit kembali. Beberapa saat dia pegangi dadanya yang terasa sesak. Namun begitu dia menarik nafas rasa sakit itu pun hilang. Melihat kenyataan itu gadis jelita itu tersenyum penuh arti.

"Sudan kubilang, berhati-hatilah, Tuan...!" ulangnya memperingatkan. Buang Sengketa mendengus.

"Huh... aku masih belum apa-apa. Haait...!" Buang Sengketa menerjang kembali. Pertarungan semakin seru pun terjadi lagi. Buang Sengketa kembali lipat gandakan serangannya. Jelita terus mendesaknya tanpa ampun, dalam waktu sekejap saja pemuda itu menjadi kalang kabut. Hingga tak lama kemudian Buang Sengketa berjumpalitan menjauhi pertarungan. Gadis itu terus memburu ke mana pun Buang mengelak, secepat kilat Buang mengerahkan setengah dari tenaganya ke arah kedua tangannya, kini dia telah bersiap-siap dengan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sudah tidak diragukan akan kemampuannya.

Saat itu Jelita sudah datang kembali dengan sebuah pukulan Burung Hantu Melempar Mangsa, tak ayal lagi pemuda itu mendahului. Seberkas sinar Ultra Violet meluncur cepat dengan disertai suara menderu-deru. Sementara itu dari pihak si gadis, selarik sinar ungu juga meluruk ke arah Buang Sengketa. Tak dapat dihindari lagi. Dua tenaga sakti itu pun bertemu.

"Blaammm...!"

Bumi seakan amblas, seketika udara di sekitarnya terasa sangat panas. Tujuh Jelita terpelanting berpuluh-puluh tombak, sementara Buang Sengketa sendiri tunggang langgang. Dengan cepat Buang Sengketa segera bangkit kembali, begitu pun halnya dengan Jelita, meskipun tubuhnya nampak limbung, akan tetapi seulas senyum getir menghias di bibirnya yang menawan.

Sambil mencabut senjatanya yang berupa sebuah kipas yang berwarna kuning keemasan dia berucap: "Tuan, kau memang benar-benar hebat! Kalau kau punya senjata cabutlah... sebab aku juga tidak pernah bertindak setengah-setengah."

Kemudian sambil memandang sinis pada si gadis dia menyela: "Bila t iba saatnya tanpa kau perintah pun tentu aku akan mencabut senjata-ku...r

Belum lagi Buang Sengketa selesai dengan kata-katanya, gadis ini dengan geram telah meluruk kembali. Buang Sengketa menyadari, meskipun senjata si gadis hanya sebuah Kipas, namun dia dapat merasakan bahwa senjata itu merupakan senjata yang sangat ampuh. Di tangan si gadis senjata itu berkelebat kian ke mari, mengintai setiap pertahanan yang lemah untuk kemudian bagai malaikat maut, mencabut nyawa dengan paksa. Buang terus menghindar sambil melakukan seranganserangan balasan. Sesekali dia berjumpalitan ke udara, di lain saat tubuhnya berkelit menghindari kipas ampuh yang datangnya bertubi-tubi. Hingga pada suatu saat pendekar Hina Kelana ini nampak terdesak dengan hebat, senjata di tangan si gadis terus meluncur mengarah ke lehernya. Buang sudah tidak mempunyai pilihan lain. Dengan mempergunakan pukulan Empat Anasir Kehidupan tingkat kedua pemuda ini pun kembali kiblatkan tangannya. Lagi-lagi selarik sinar Ultra Violet melesat begitu cepat. Agaknya Jelita tidak menduga akan datangnya serangan yang begitu cepat itu. Dengan gugup, senjata kipas yang tadinya meluncur untuk menebas leher lawannya, dengan sangat cepat dia merubah kipas itu untuk melindungi diri, tak pelak lagi.

"Braak... Plaaar...!"

Senjata di tangan Jelita hancur berkeping-keping dilanda pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilepaskan oleh pendekar Hina Kelana. Tubuh Jelita terjengkang beberapa tombak. Sementara dari mulutnya menyembur darah segar. Meskipun keadaannya sudah begitu gadis ini masih menyunggingkan seulas senyum penuh arti. Buang Sengketa nampak diam tiada bergeming. Tak lama setelah gadis itu berhasil menghimpun hawa murni, dengan tegar dia kembali bangkit, kemudian dengan langkah mantap kini dia kembali berhadapan dengan Pendekar dari Negeri Bunian yang tampan namun bersikap dingin. Lalu dengan tatapan sendu gadis itu memandang pada Buang Sengketa beberapa saat lamanya.

"Tuan... sesungguhnya aku tak menghendaki hal ini terjadi, akan tetapi kalau pun aku mati di tanganmu. Bagiku hal itu tidak menjadi soal...!"

"Kau sudah terluka, Nona, kau tak mungkin mampu membendung seranganku..!" ujar Buang Sengketa dengan tatapan iba. Lagi-lagi si gadis tersenyum getir, ada perasaan sedih bergelayut di dadanya.

"Tuan jangan berbangga diri! Aku masih mempunyai beberapa ilmu yang belum pernah Tuan lihat...!" Setelah berkata begitu, gadis ini tanpa banyak cakap lagi kembali meluruk dan mendesak Buang Sengketa, kali ini dengan pukulan-pukulan yang sangat ampuh yang juga dipenuhi dengan berbagai tipuan sihir dipergelarkan di depan pendekar Hina Kelana. Di lain waktu tubuh berubah menjadi kembar, dua, t iga dan empat dan sudah barang pasti Buang Sengketa sering terkecoh. "Hemm... ilmu sihir." batin pemuda itu dalam hati. Dengan disertai jeritan melengking Buang segera merubah variasi jurus-jurus silatnya. Keadaan segera berubah, tanpa ampun pemuda itu sudah tak memberi kesempatan pada si gadis untuk mempergunakan ilmu sihirnya.

Kiranya jurus pamungkas yang diberi nama Si Jadah Terbuang inilah yang kini dipergunakan oleh pemuda itu. Saat-saat berikutnya si gadis jelita semakin bertambah-tambah terdesak. Hingga kemudian tubuhnya nampak melesat ke udara. Keanehan pun segera terjadi. Sebab hanya dalam waktu beberapa detik saja tubuh si gadis telah berubah menjadi ribuan burung hantu dan menyerang Buang Sengketa tanpa ampun. Meskipun tubuh si gadis telah berubah menjadi ribuan burung hantu namun dia masih dapat mengenali yang mana sebenarnya gadis berada. Dalam keadaan seperti itu sudah barang tentu Buang Sengketa tidak ingin mati konyol. Dengan cepat dia meraba pinggangnya. Begitu pusaka Golok Buntung itu berada di tangan sinar berwarna merah darah itu pun memancar dari golok yang berada dalam genggamannya. Burung hantu jelmaan Jelita kembali menyambar tanpa mengenal rasa jera. Pada saat itulah dengan diiringi satu pekikan dahsyat, golok di tangannya pun berkelebat.

"Craaas...!"

Pekik kesakitan dari mulut seorang gadis, menyertai ambruknya tubuh si gadis dengan bersimbah darah. Buang segera memburunya, gadis cantik itu merintih-rintih sambil memandang penuh arti, sementara darah terus mengucur dari perutnya yang terobek. Begitu pun dia masih tetap tersenyum, Buang Sengketa nampak tertunduk sedih.

"Tuan... biarkanlah aku mati di pangkuan ayahku! Tuan benar-benar hebat. Aku semakin kagum padamu, kalau kau ingin membunuh ayahku. Kelemahannya ada pada lehernya. Selain itu, dia kebal terhadap senjata apa pun. Sampai hari matiku aku tetap mencintaimu, Tuan. Selamat tinggal...!" Setelah berkata begitu, tubuh Jelita kembali berubah ujud.

Burung hantu yang terluka itu setelah begitu lama menatap pada Buang Sengketa nampak menitikkan air mata. Pendekar Hina Kelana ini jadi iba karenanya. Lalu dengan perasaan sedih dia menghampiri burung jelmaan Jelita. Dengan penuh penyesalan pula dia mengelus kepala burung itu. Lalu tanpa sadar dia berucap: "Maafkan aku! Aku tahu sesungguhnya kau merupakan gadis yang baik, aku berharap kau bisa sembuh kembali...!" kata Buang Sengketa lirih. Burung itu nampak menggelengkan kepala. Agaknya dia sadar bahwa lukanya tak mungkin tersembuhkan.

Kemudian dengan diiringi suara lirih, setelah kembali memandang pada Buang Sengketa beberapa saat lamanya. Lalu dengan gerakan yang sangat dipaksakan burung itu pun segera terbang meninggalkan Buang Sengketa seorang diri.

* * * * * 13

Ahli sihir Nukman Tiga Momba begitu mengetahui putri satu-satunya datang ke tempat kediamannya dalam keadaan luka parah, nampak menjadi sangat murka. Dengan segenap kemampuan yang dia miliki dia berusaha menyelamatkan anak gadisnya yang cuma satu-satunya itu. Namun karena luka yang diderita anaknya memang cukup parah, pada akhirnya gadis itu menghembuskan nafasnya di pangkuan sang ayah. Sampai menjelang kematiannya kiranya gadis itu tetap tidak mau menyebutkan siapa yang telah melukainya. Hal inilah yang menjadi penyesalan orang tua itu. Kini si ahli sihir itu menangis menggerung-gerung bagai anak kecil. Dipeluknya tubuh anaknya yang telah kaku menjadi mayat. Kemarahan yang meluapluap membuat tubuhnya yang jangkung itu nampak meng-gigil. Dia segera menutupi tubuh anaknya yang sudah membeku itu. Lalu dengan menggertakkan rahang dia berdiri, dan menatap nanar pada ruangan sekitarnya. "Siapa pun yang telah melakukan semua ini, aku akan mencari dan membalasnya dengan setimpal...!" geramnya.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba saja terdengar suara tantangan dari luar.

"Ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba... kau tak perlu repot-repot mencari siapa pembunuh anakmu! Keluarlah kau, kalau ingin tau siapa yang telah melakukannya...!"

Nukman Jaya Tiga Momba menggerendeng: "Keparat... belum tahu siapa aku rupanya...!" Sambil berkata begitu tubuhnya berkelebat ke luar dari istananya. Setelah berada di luar, tahulah laki-laki itu bahwa orang yang telah membunuh anaknya itu ternyata hanya seorang pemuda berpakaian lusuh warna merah. Dengan rambut di kuncir serta menyandang sebuah priuk penuh jelaga di pundaknya. Dengan kemarahan yang sudah mencapai ubunubun, laki-laki itu langsung mendamprat: "Gembel busuk... kau telah membunuh anakku! Dosa apakah yang telah dia perbuat sehingga kau begitu telengas membunuhnya.. ?"

Pemuda yang memang tak lain Buang Sengketa adanya, tertawa sinis. "Nyawanya saja tidak cukup untuk menebus dosa-dosamu, masihkah kau ingin berhitung soal hutang...!"

Lakilaki itu mendengus, kemudian menoleh ke salah satu pintu yang terbuka. Selanjutnya dia memberi perintah: 'Tujuh burung hantu pilihan, hadapi dan kunyah tubuh di gembel ini, cepaat...!"

Sesuai dengan kata-katanya dari dalam pintu itu berserabutanlah burung-burung itu keluar, pada saat yang sama terdengar pula bentakan dari arah lain.

"Buang Sengketa, burung-burung keparat itu bagian kami...!"

Bersamaan dengan suaranya, tiba-tiba saja kakek Rombeng telah hadir di antara mereka disertai dengan si Kembar dari Bukit Sumplung. Nukman Jaya Tiga Momba agak terkejut melihat kehadiran kakek ini. Akan tetapi meskipun begitu, tak begitu lama kemudian dia membentak.

"Oh... rupanya setelah merasa punya kawan yang dapat diandalkan kau baru berani datang ke mari! Bagus hari ini aku tidak segan-segan lagi mengirim kalian ke liang kubur...!"

Berkata begitu, laki-laki bertampang bengis itu langsung lancarkan satu serangan pada Buang Sengketa. Masih untung sudah sejak semula pemuda ini telah bersiap siaga. Kalau tidak tentu saja dia sudah mati konyol. Dalam waktu sebentar saja pertarungan pun segera terjadi. Si Kakek Rombeng dan si Kembar dari Bukit Sumplung melawan kawanan burung hantu. Sedangkan Buang Sengketa melawan ahli sihir Nukman Jaya Tiga Momba. Pertarungan baru saja berlangsung beberapa jurus akan tetapi segera terlihat bahwa Buang Sengketa nampak sangat keteter, bahkan sekali pun dia tak diberi kesempatan untuk melancarkan serangan-serangan balasan. Maklumlah pemuda ini, bahwa kini dia benarbenar meng-hadapi lawan yang benar-benar tangguh. Dengan satu teriakan memekakkan telinga kembali Nukman Jaya mendesaknya tanpa ampun. Hingga pada satu kesempatan pemuda ini sudah tidak dapat mengelak lagi, maka dengan nekad dia memapasi.

"Blarrr...!"

Lakilaki itu tersurut beberapa langkah, akan halnya dengan Buang Sengketa yang nampak terjengkang beberapa tombak. Nampaknya Nukman Jaya Tiga Momba sudah tak memberinya ampun. Belum lagi Buang Sengketa sempat bangkit, lakilaki itu telah memburunya, pukulan-pukulan sakti pun dia lancarkan dengan gencar. Buang mengelak kian ke mari. Ketika serangan itu kembali datang bertubi-tubi, salah satu darinya sempat luput dari perhatian pemuda itu. Tak pelak lagi, pukulan yang diberi nama Gendewa Halilintar itu kembali melabrak tubuh Buang Sengketa. Tubuh pemuda itu terlempar beberapa tombak. Darah meleleh dari celah-celah bibirnya. Dalam keadaan seperti itu teringatlah Buang pada pesan si gadis bahwa kelemahan orang tuanya terletak pada bagian lehernya. Buang Sengketa sudah tak ingin mengulur-ulur waktu lagi. Dan dia pun tak ingin laki-laki itu sempat mempergunakan ilmu sihirnya yang terkenal jahat. Dengan cepat pemuda itu segera bangkit. Sementara itu Nukman Jaya Tiga Momba telah meluruknya kembali dengan satu serangan yang mematikan. Dengan cepat Buang Sengketa segera mencabut golok serta melolos cambuknya. Sinar kemerahan serta warna pelangi nampak terpencar dari golok dan cambuk yang tergenggam di tangannya itu.

Begitu tangan laki-laki itu terulur ke arah perut Buang Sengketa, dia segera kiblatkan Golok Buntungnya. Disertai suara menjerit golok itu menyambar ke arah tangan si lakilaki. Nukman Jaya menarik balik tangannya. Sambil berseru kaget. Tak lama kemudian  lakilaki itu telah merubah jurus-jurus silatnya. Tapi sebaliknya Buang Sengketa pun sudah tidak memberinya ampun. Segera pula Buang memainkan Cambuk Gelap Sayuto yang berada di tangannya.

"Ctar! Ctarr! Ctar!"

Begitu cambuk itu terayun ke atas dan mengeluarkan bunyi yang merontokkan gendang-gendang telinga, seketika itu juga langit berubah hitam pekat. Mendadak alam di sekeliling mereka menjadi gelap gulita. Tak lama kemudian suara petir pun sambung menyambung. Sementara cambuk di tangan pemuda itu bagai mempunyai mata saja terus bergerak mengejar si ahli sihir yang masih diliputi keheranan.

Nukman Jaya yang tadinya sudah bersiap-siap dengan ilmu sihirnya, jadi mengurungkan niatnya demi menyaksikan keanehan yang terjadi, dan sudah barang tentu hal itu sangat menguntungkan Buang Sengketa. Dengan cepat dia bertindak, sekali saja golok di tangan pemuda itu berkelebat, maka jerit lolong kematian pun membahana memecah kesunyian lembah. Tubuh Nukman Jaya Tiga Momba ambruk ke bumi dengan nyawa melayang. Tamatlah riwayat Penguasa Lembah Halilintar ini dengan keadaan sangat menyedihkan. Buang Sengketa segera menyimpan golok dan cambuk pusakanya. Begitu cambuk itu tersimpan kembali di pinggangnya. Keanehan pun terjadi kembali. Alam sekitar yang tadinya gelap gulita secara perlahan kembali kepada keadaan semula. Begitu Buang Sengketa menoleh dilihatnya Kakek Rombeng dan dua orang dari Bukit Sumplung itu pun telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan kematian Nukman Jaya Tiga Momba, maka secara pasti pengaruh ilmu sihirnya pun lenyap. Dan burung-burung hantu itu pun kembali pula menjadi manusia biasa. Dengan segera Pemuda dari Negeri Bunian itu pun berkelebat pergi.

TAMAT