Serial Pendekar Bloon Eps 20 : Perintah Dari Alam Gaib

 
Eps 20 : Perintah Dari Alam Gaib


Di dalam Pura kosong Ratu Leak baru saja menutupkan pintu kamar darurat yang baru saja selesai dibuatnya. Saat itu suasana dalam keadaan hujan lebat. Udara di luar Pura terasa dingin menggigit. Melirik ke tengah-tengah ruangan terlihat sesosok tubuh terbaring menelentang di atas Batu putih seperti marmar. Wanita cantik yang telah berumur kurang lebih enam puluh tahun itu memperhatikan gadis cantik berkerudung putih dengan sorot mata yang terasa aneh. Sekejap kemudian ia mendekati gadis yang dalam keadaan tidak sadarkan diri tersebut. Tangannya bergerak hendak menjangkau bagian dada Dewi Kerudung Putih yang padat membusung. Namun kemudian ia urungkan niatnya. Sebagai gantinya ia menelan ludah. Sesungging senyum menghias dibibirnya.

"Kau sudah berada di tanganku. Jika kau punya hubungan asmara dengan Pendekar bodoh itu. Lebih baik kau buang jauh-jauh mimpi indah mu! Kau menjadi milikku, kau akan menjadi bagian dari malam-malam yang dingin ini! Hik hik hik!" Ratu Leak membungkukkan tubuhnya. Seraya mencium lembut pipi Dewi Kerudung Putih. Ciuman itu kemudian beralih ke bibir. Tetapi tibatiba saja ia jauhkan wajahnya dari wajah si gadis. Gemuruh suara hujan mengalahkan segalagalanya, namun tidak kuasa melenyapkan keresahan hati Ratu Leak yang muncul dengan tiba-tiba.

Perempuan itu kemudian menghampiri batu bulat pipih yang terletak tidak begitu jauh dari bagian kepala si gadis. Ia duduk disana dengan posisi bersila. Lalu kedua matanya terpejam. Sambil memejamkan matanya Ratu Leak keluarkan tengkorak kepala bayi. Bagian kedua rongga mata tersebut terdapat dua buah benda bulat sebesar telur. Sedangkan pada bagian ubun-ubun tengkorak bayi itu ditancapi dua buah bambu berwarna kuning. Di bagian telinga yang bolong terdapat manikmanik berwarna hitam merah dan menimbulkan suara bergemerincing menyeramkan bila tertiup angin.

Tidak lama setelah tengkorak kepala bayi berumur ratusan tahun itu berada di atas kedua belah tangan dalam pangkuannya. Maka bibir yang kemerahan itupun berkemak-kemik.

"Bssst! Suwe...! Hulll! Ngun... bangun. Kit... bangkit! Aku Ratu Leak ratu dari segala ratu-ratu yang dihormati dalam kegelapan, dalam angan, dalam tidur. Dalam diri manusia yang lalai, yang sedang melamun, yang putus asa dan dalam setiap jiwa yang kosong. Ratu adalah aku, penguasamu adalah aku. Wahai jiwa yang mati penasaran, wahai arwah yang mati sesat, duhai roh yang berpaling dari Tuhan dan dekat pada setan. Dan kubur yang ada di seluruh jagad. Terbukalah, pintupintumu, bangkitkan semua penghuni yang penasaran. Semuanya patuh padaku, semuanya...!!!" desis Ratu Leak.

Gelegar petir kembali menggema di udara, hembusan angin semakin menggila. Lalu sayupsayup di kejauhan terdengar suara aneh seperti suara orang melolong dalam sakit yang amat sangat. Ada pula seperti suara tenggorokan yang terpotong. Bahkan terdengar lolongan anjing yang menyeramkan sekali. Bersama dengan hembusan angin itu muncul satu demi satu kabut putih menyerupai sosok manusia. Sosok-sosok bergentayangan ini bergerak lambat mengelilingi Ratu Leak.

"Berkumpullah? Pendekar bodoh itu menjadi patuh padaku bukan karena pengaruh sihirku atau mantra-mantra sakti yang biasa. Tapi karena ia telah meminum dari cangkir tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa. Sekarang aku ingin mengetahui bagaimana hasil kerja pemuda itu? Apakah dia telah berhasil membereskan kedua gurunya?" desis Ratu Leak. Sosok-sosok mengerikan yang berasal dari kabut tersebut tiba-tiba acungkan kedua tangannya ke arah tengkorak bayi yang berada dalam pangkuan Ratu Leak. Terlihat sinar merah melesat dari setiap ujung jemari yang tidak terbungkus daging itu.

Ratu Leak sempat tergetar menahan cahaya yang menghujani ke bagian mata tengkorak bayi tersebut. Sekejap kemudian ia membuka matanya. Memandang lurus ke arah mata tengkorak yang terisi benda bulat seperti telur itu sesuatu yang aneh terlihat di sana.

Kedua mata itu tidak ubahnya seperti cermin yang menggambarkan sebuah daerah sunyi tidak berpenghuni.

"Aku ingin melihat dimana Pendekar Blo'on berada, bukan pemandangan alam seperti yang kau tunjukkan!" dengus perempuan itu. Seraya menggerakkan kedua tangannya.

Blap!

Perubahan pada bagian mata tengkorak terjadi. Kini pada kedua bagian benda tersebut terlihat pemandangan lain di mana seorang pemuda berbaju biru sedang dipanggul oleh seorang lakilaki berpakaian hitam. Ratu Leak kerutkan keningnya.

"Celaka mengapa begini?!" kata Ratu Leak. "Rasanya aku pernah melihat orang yang satu itu? Ia berlari seperti dikejar-kejar setan, siapa yang mengejarnya?" Ratu Leak kembali menggerakkan tangannya di atas rongga mata tengkorak tersebut. Sekarang ia melihat ada dua sosok bayangan mengejar laki-laki yang telah melarikan Pendekar Blo'on tersebut. "Bangsat-bangsat itu mengapa sekarang malah masih segar bugar! Ini menyimpang dari semua rencanaku! Aku harus mencari cara lain. Bukannya aku Ratu Leak jika aku tidak sanggup mengatasi persoalan ini sampai tuntas!" dengus perempuan cantik itu. Seraya kemudian menganggukkan kepala. Tatapan matanya beralih pada sosok-sosok yang berada di sekelilingnya. Lalu....

"Kalian semuanya dengar!" Suara Ratu Leak terdengar lantang dan jelas. "Aku perintahkan pada semua makhluk penghuni kegelapan yang mendengar seruanku agar menyerang semua musuh-musuhku! Bunuh mereka semua jangan ada tersisa seorang pun!!" kata si cantik. Suaranya menggaung jauh hingga ke pedalaman tanah Sange. Lalu makhluk-makhluk yang tercipta dari kabut itu rangkapkan kedua tangan di atas kepala. Tubuhnya membungkuk, seketika itu juga mereka yang jumlahnya mencapai ratusan itu bergerak meninggalkan ruangan. Beberapa saat setelahnya, suasana di dalam ruangan berubah sunyi. Kini hanya tinggal Ratu Leak dan Dewi Kerudung Putih saja yang berada di ruangan itu.

"Murid keponananku hingga sekarang belum kembali, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya yang seharusnya sudah menyusul ke sini pun tidak muncul." dengus Ratu Leak. Seraya kembali menggerakkan kedua tangannya diatas rongga mata tengkorak bayi. Sesuai dengan keinginan hatinya, apa yang ingin dilihat oleh Ratu Leak perlahan muncul di permukaan benda putih seperti telur itu. Ia jadi tercekat ketika melihat sosok tubuh tergeletak. Sosok hitam besar itu jelas dikenalinya. Dia tidak lain adalah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.

"Bangsat! Siapa yang dapat melakukannya? Lalu kemana Mustika Jajar murid keponakanku itu?" desis Ratu Leak gusar juga bercampur rasa kaget. "Tidak mengapa. Walau pun orang-orang yang membantuku tewas di tangan mereka, niatku untuk membunuh Dewana dan Barata Surya masih belum luntur. Mereka harus mati. Karena selain dengan kekuatan sihir dan ilmu Leakku, aku juga masih memiliki Batu Lahat Bakutuk rajanya batu-batu! Hik hik hik!!" Wanita itu tertawa terkikik-kikik. Seraya menyimpan tengkorak bayi di dalam kantung berwarna hitam. Kemudian ia keluarkan kantung kulit ular yang terdapat di pinggangnya. Dari dalam kantung kulit tersebut ia mengambil sebuah benda berbentuk nisan dengan panjang tidak lebih satu jengkal, lebar lima jari dan tebal dua jari. Benda berbentuk nisan itu memiliki empat warna yaitu, merah kuning putih dan hitam. Ratu Leak mengecup batu tersebut tidak ubahnya seperti ciuman pada kekasihnya.

"Batu Lahat Bakutuk, raja dari segala rajaraja batu. Kita memang berjodoh! Kita adalah dua kekuatan besar yang tidak mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun. Bersama-sama kita akan menghancurkan mereka!" Serentak dengan terdengarnya kata-kata itu maka terdengar suara mendengung yang sangat panjang sekali. Tiba-tiba empat larik sinar memancar dari batu sakti tersebut. Serentak dengan itu pula Dewi Kerudung Putih tersadar dari pingsannya.

Sinar yang memancar dari Batu Lahat Bakutuk semakin lama semakin membesar dan membubung tinggi. Dari dalamnya menebar bau harum bercampur hawa dingin menusuk penciuman. Bukan hanya itu saja, baik Ratu Leak yang telah memiliki tenaga dalam tinggi maupun Dewi Kerudung Putih merasakan ada sesuatu yang terasa begitu lain menyentuh jiwa mereka yang paling dalam. Tegasnya mereka menderita rangsangan hebat. Rangsangan yang bukan saja membangkitkan gairah nafsu mereka seperti layaknya seorang wanita merindukan kekasihnya. Tapi juga gairah itu menuntut penyaluran nafsu hewani. Merah padam wajah Dewi Kerudung Putih. Sekujur tubuhnya meremang berdiri. Ratu Leak pun hampir dalam keadaan yang sama. Ia mandi keringat menahan gejolak hasrat jiwanya. Di lain waktu seiring dengan perubahan udara yang mulai memanas. Maka gejolak birahi dalam diri masingmasing melenyap, kini berganti pula dengan amarah tanpa sebab, dendam kesumat dan keinginan untuk membunuh sesama tanpa alasan-alasan yang jelas. Hal seperti itu terjadi lebih besar lagi dalam diri Dewi Kerudung Putih mengingat tenaga dalam yang dimilikinya tidak setinggi yang dimiliki oleh Ratu Leak. Namun selagi mereka didera oleh perasaan-perasaan seperti itu tiba-tiba saja terjadi letupan-letupan keras di atas Batu Lahat Bakutuk yang seakan dikobari api itu. Keinginan untuk membunuh lenyap seketika setelah letupan yang terdengar tadi.

Empat sinar yang tadi sempat mengobarkan api tampak mulai mengecil. Ratu Leak berdecak kagum. Ia masukkan kembali batu sakti itu ke dalam kantong kulit. Dewi Kerudung Putih yang melihat batu penyebab malapetaka itu hendak mengatakan sesuatu. Sayang tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ternyata Ratu Leak telah menotok urat bicaranya.

***

Gemuruh suara hujan masih terus mendera tiada henti. Namun hal ini agaknya tidak membawa pengaruh apa-apa bagi laki-laki baju putih berselempang putih ini. Ia terus memacu kuda tersebut mendekati Pura. Kira-kira seratus tombak lagi ia sampai di depan Pura. Tiba-tiba ia melihat sebuah pemandangan yang ganjil tapi menyeramkan. Bahkan Si Putih Kaki Langit angkat kedua kaki depan setinggi-tingginya. Jika penunggang kuda putih yang tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Paluih bukan orang yang berpengalaman dalam hal menunggang kuda. Dapat dipastikan ia terpelanting dari atas kudanya.

"Hieeeikh...!"

Kuda meringkik keras, sekujur bulu ditubuhnya tegak berdiri. Datuk Nan Gadang Paluih mengelus tengkuk Putih Kaki Langit.

"Tenanglah, aku dapat merasakan keresahanmu karena mereka kukira bukan manusia sepertiku! Mari kita lihat apa yang mereka inginkan!" berkata laki-laki itu, sedangkan tatapan matanya memandang lurus ke arah sosok-sosok bergentayangan yang sekarang sudah mengepung Datuk Nan Gadang Paluih.

Sosok-sosok yang terbangkitkan dari kubur itu memperhatikan Datuk dan kudanya dengan tatapan redup penuh penderitaan. Salah seorang diantaranya yang pada bagian dadanya tercabikcabik melangkah mendekat. Kemudian ia bicara dengan suara serak dan berat.

"Kami mencium kau memusuhi Ratu Leak! Kami telah berjanji untuk patuh pada Ratu. Untuk itu kau harus mati di tangan kami!"

"Kalian hanya penghalang percuma! Apa yang kalian lakukan akan sia-sia! Menyingkir atau aku akan mengembalikan kalian ke alam kubur!" dengus Datuk Nan Gadang Paluih tajam.

"Groakh! Bunuh!" teriak sosok yang bicara tadi. "Bunuh!" sahut yang lain-lainnya.

Melihat mereka bergerak hendak mengeroyok Datuk Nan Gadang Paluih tidak tinggal diam. Ia langsung lepaskan Angkin Pelebur Petaka. Angkin diputarnya, setiap senjata sakti itu menghantam sosok-sosok yang berjalan dengan kaki mengambang di atas tanah itu. Maka terdengar suara ledakan disertai jeritan kesakitan dari lawan-lawannya.

Datuk Nan Gadang Paluih terus memutarmutar senjata di tangan. Tetapi tampaknya makhluk-makhluk alam kubur ini tidak mengenal rasa jera. Bila mereka terjatuh dan terluka secepatnya mereka bangkit berdiri. Lalu lakukan serangan lagi tiada henti-hentinya.

"Kalau begini, naga-naganya aku hanya menguras tenaga percuma! Arwah-arwah gentayangan ini perlu diberi pelajaran!" batin Datuk Nan Gadang Paluih. Sementara itu lawanlawannya telah berlompatan mundur. Datuk Nan Gadang segera menyadari bahwa makhlukmakhluk alam kubur ini hendak melakukan sesuatu yang tidak wajar.

Diawali dengan jeritan di sana-sini, maka kepala mereka bergerak-gerak. Lalu terlihat bagian leher mereka terputus. Kepala mereka terus bergoyang-goyang bagaikan seekor ular berusaha mencari jalan keluar karena terjepit batu. Dan...

Brool! "Ilmu Leak...??" desis Datuk Nan Gadang saat melihat kepala orang-orang itu tercabut. Bukan hanya bagian kepala dan sebatas leher saja. Melainkan seluruh isi perut, termasuk lambung dan usus-ususnya ikut tercabut dan melayang di udara.

Datuk Nan Gadang segera merasakan adanya bau busuk yang menyengat. Perutnya mual dan ingin muntah. Ia tutup pernafasannya, sedangkan diwaktu itu kepala tanpa badan itu sudah bergentayangan menyerang Datuk Nan Gadang Paluih dengan mulut terbuka. Puluhan kepala yang menukik tajam itu secara tiba-tiba meluncur ke bawah. Datuk Nan Gadang putar Angkin Pelebur Petaka secepat kilat. Angin disertai hawa panas menderu. Beberapa potongan kepala dengan lambung dan usus menjuntai itu sempat terpelanting. Tapi mereka tidak sampai jatuh ke tanah.

Namun dari bagian lain tidak kalah hebatnya datang serangan dari kawan-kawan makhluk alam kubur tersebut. Dua diantaranya bahkan berhasil menyusup ke bagian ketiak dan dada Datuk Nan Gadang dan menggigitnya.

Crap! "Uhk!"

Laki-laki itu mengeluh panjang. Tapi cepat kibaskan tangannya dan menghantam secara beruntun.

Des!

Prak! Praak!

Potongan kepala berikut usus-ususnya bertaburan di atas tanah. Sayang kawan-kawan yang lain begitu melihat kawannya tercampak dan kemudian menghilang menjadi asap semakin bertambah beringas. Kini mereka melancarkan serangan secara bersamaan.

Wuut!

Melihat kenyataan ini Datuk dari Andalas cepat putar tangannya untuk melindungi diri dari ancaman potongan-potongan kepala yang siap menghunjam dengan taring-taringnya yang mematikan.

Sekejap saja kedua tangan sang Datuk telah berwarna putih memancarkan cahaya berkilaukilauan. Ternyata laki-laki setengah baya ini hendak melepaskan pukulan 'Cahaya', salah satu pukulan dahsyat yang sulit dicari tandingannya.

Wus! Wuus!

Tidak menunggu lebih lama lagi Datuk Nan Gadang hentakkan tangannya ke delapan penjuru arah. Sinar putih kemilau memancarkan hawa panas luar biasa menderu dahsyat dan ganas. Kepala-kepala yang menyerang sang Datuk segera merasakan adanya hawa panas menghanguskan ini. Mereka yang masih sempat selamatkan diri segera menghindar. Sedangkan yang tidak sempat langsung menjerit ketika sinar putih itu menghantam usus dan kepala mereka.

Buuum! Buuum! "Akh...!"

Terdengar suara jeritan di sana sini. Potongan-potongan kepala lenyap dan berubah menjadi asap. Sisa-sisanya langsung kembali menghampiri badannya. Dan mereka ini pun melarikan diri di tengah-tengah derasnya curah hujan. Datuk Nan Gadang menarik nafas lega. Seraya menepuk kudanya sambil berkata....

"Putih Kaki Langit! Sebentar lagi kita sampai, ayo hampiri Pura itu!"

Kuda putih tersebut meringkik lirih. Kemudian segera berlari menuju Pura yang sudah tidak seberapa jauh di depan mereka.

DUA

Dewi Kerudung Putih belalakkan mata lebar-lebar ketika Ratu Leak menyusupkan tangan kiri ke belahan dadanya. Ia menjerit, meronta dan memaki. Namun suara dan gerakannya hanya siasia saja karena dirinya dalam keadaan tertotok. Sementara tangan-tangan Ratu Leak semakin bertambah kurang ajar saja, meremas dan membelaibelai dada si gadis yang membusung liat dan kenyal.

"Hik! Hik! Hik!" Ratu Leak tertawa terkikikkikik. "Ternyata kau masih perawan. Beruntung orang sepertiku! Pendekar bodoh itu telah mengecewakanku. Tetapi kurasa kau tidak akan mengecewakan aku lagi! Aku ingin melihat kebagusan tubuhmu!" Baru selesai ia bicara, Ratu Leak tibatiba saja mengeluarkan sebilah pisau tipis, pisau itu kemudian diletakkannya di balik pakaian dalam bagian dada.

Crek! Rek! Rek!

Dewi Kerudung Putih tersentak kaget, wajahnya memerah menahan amarah dan malu. Sebaliknya Ratu Leak begitu melihat pakaian si gadis tercabik-cabik leletkan lidah.

"Ah, terus-terang aku belum pernah melihat tubuh yang sebagus ini! Tubuhmu benar-benar lambang kesempurnaan seorang perempuan! Aku menyukainya... hik hik hik! Tapi aku akan membuatmu benar-benar dalam keadaan seperti bayi!" desis Ratu Leak. Sebelum hal itu dilakukannya ia mengusap bagian leher Dewi Kerudung Putih sehingga urat bicara di gadis terbebas dari pengaruh totokan.

"Bangsat! Perempuan rendah lepaskan aku!" teriak Dewi Kerudung Putih begitu dirinya terbebas dari pengaruh totokan Ratu Leak. Orang yang dimakinya hanya tertawa ganda. "Kau manusia yang menyalahi kodrat, kau terkutuk di bumi dan di langit!"

"Kau belum tahu siapa aku, gadis cantik. Aku bisa berbuat atas dirimu sebagaimana lakilaki memperlakukan dan bersenang-senang dengan wanita!" dengus Ratu Leak. Seraya kemudian langsung meninggalkan pakaian bawah Dewi Kerudung Putih. Sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus dan kencang. Melihat ke bagian pinggul si gadis, Ratu Leak telan ludah. Matanya melotot seperti hendak melompat keluar.

"Betina jahanam yang berjuluk Ratu Leak! Jika kau mempermalukan aku lebih jauh lagi, aku bersumpah akan membunuhmu!" maki Dewi Kerudung Putih gusar.

"Hal itu tidak akan terjadi. Nanti setelah aku dalam keadaan sepertimu, kau baru mengerti bahwa di dunia ini benar-benar penuh dengan keanehan-keanehan!" sahut Ratu Leak. Seraya kemudian menghampiri Dewi Kerudung Putih, Sehingga jarak diantara mereka kini hanya tinggal dua jengkal saja. Sambil tertawa-tawa seperti orang yang kurang waras Ratu Leak membuka pakaiannya. Sayang baru saja pakaian luarnya yang terbuka. Terdengar suara bentakan disertai hancurnya pintu ruangan. Jika Ratu Leak tidak cepat berguling ke samping selamatkan diri. Niscaya tubuhnya hancur terkena sisa-sisa pukulan yang kemudian terus melabrak dinding di belakangnya. Tentu pula serangan itu adalah pukulan dahsyat yang tidak dapat dianggap enteng. Setelah hilang rasa kaget di hati Ratu Leak, secepatnya ia bangkit berdiri.

"Bangsat betul! Setan mana di Sange ini yang berani coba-coba melawanku!" maki Ratu Leak. Seraya cepat memandang ke arah pintu yang porak poranda di bantam pukulan gelap. Mata perempuan itu menyipit ketika melihat sosok aneh yang seperti dikenalnya telah berdiri di sana dengan tatapan dingin penuh dendam. Satu hal yang terasa ganjil bahkan boleh dibilang langka. Sekujur tubuh laki-laki itu hingga sebatas leher terbalut akar-akaran berwarna hitam. Bahkan kedua tangannya dalam keadaan terbungkus akar pula. Meskipun Ratu Leak sempat dibuat keder juga. Namun pada akhirnya ia membentak.

"Melihat tampangmu rasanya seperti pernah aku kenali! Tapi setelah melihat keadaanmu yang terbungkus akar aneh. Aku teringat dengan orangorang gila yang bertaburan di kolong langit ini! Siapa kau...?" tanya Ratu Leak, suaranya melengking pertanda ia mencoba menahan kemarahannya. Yang ditanya tidak segera menyahut, melainkan memandang pada Dewi Kerudung Putih dengan wajah merah. Kemudian berpaling pada

Ratu Leak dengan mata menyiratkan kemarahan. "Kau perempuan, tetapi tindakanmu sung-

guh memalukan, keji dan dikutuk Sang Hyang Widi. Mengingat kejahatanmu, rasanya sudah sepantasnya hari ini aku mengakhiri segala petualanganmu!" dengus si laki-laki yang tidak lain adalah kepala negeri Sange, Wayan Tandira.

"Perempuan atau bukan, semuanya adalah urusanku. Hei kunyuk, kau belum menjawab pertanyaanku!" bentak Ratu Leak.

Wayan Tandira menggeram, inilah manusia yang telah menyengsarakannya selama hampir tiga puluh tahun. Bukan hanya dirinya saja yang tersiksa, hampir seluruh rakyatnya juga sengsara karena dikutuk menjadi batu oleh Ratu Leak.

"Urusanmu adalah kesengsaraan bagi kami, Ratu Leak keparat! Jika kau ingin tahu siapa aku! Cobalah kau ingat siapa orang-orangnya yang kau kubur hidup-hidup tiga puluh tahun yang lalu di tengah-tengah ruang bukit Kembar Tiga Terlaknat?" teriak Wayan Tandira tidak kalah kerasnya.

Ratu Leak sempat terkesiap, keningnya berkerut dalam. Kejadian tiga puluh tahun yang silam di Bukit Kembar Tiga terlaknat (untuk lebih jelasnya dalam episode Batu Lahat Bakutuk) itu sudah hampir terlupakan olehnya. Jika hari ini tidak ada manusia akar itu yang mengingatkannya, tentu ia melupakan kejadian tersebut.

"Hmm... rasanya aku pernah melakukan kesenangan di Bukit Kembar Tiga Terlaknat. Kesenangan itu berupa pemendaman diri seorang pemimpin negeri yang tidak mempunyai kebecusan apa-apa berikut anak buahnya! Lalu kau ini apanya orang-orang yang kutanam itu? Saudaranya, atau arwahnya yang gentayangan?" tanya Ratu Leak dengan sikap meremehkan sekali.

Wayan berjalan lebih mendekat lagi. "Aku bukan saudara orang-orang itu, bukan juga arwah yang penasaran!" sahut Wayan. Seraya jentikkan tangannya, dari luar terdengar suara burung gagak. Mengertilah Ratu Leak siapa laki-laki itu dan mengapa pula arwah-arwah yang telah dibangkitkannya tidak menyerang Wayan Tandira.

"Oho, rupanya kau pemimpin negeri Sange! Sungguh mengagumkan jika kau dapat bertahan hidup hingga saat ini dan juga kelebihan baru berupa akar-akar yang mungkin tidak berguna! Sekarang apa maumu?" tantang Ratu Leak sinis. Wayan Tandira tersenyum mencibir. "Mauku tidak lain hanyalah memenggal kepala busukmu. Karena hanya dengan itu masyarakatku bisa terbebas dari kutukanmu!" dengus Wayan Tandira.

"Hik hik hik! Dengan apa kau hendak menghadapi aku?" ejek Ratu Leak sengit.

"Tentu saja dengan kedua tanganku ini!" "Percuma! Percayalah usahamu itu hanya

akan sia-sia saja!" kata Ratu Leak penuh keyakinan diri. Tiba-tiba orang ini angkat tangannya, lalu tangan yang lain memegang tengkorak. Tengkorak itu diguncang-guncangkannya. Angin berdesir. Wayan merasa ada sebuah kekuatan menerpa wajahnya. "Kutukku... kutukku. Terkutuklah manusia akar yang berdiri di hadapanku itu menjadi batu!" teriak Ratu Leak.

"Pemimpin negeri!" Dewi Kerudung Putih tiba-tiba berteriak memperingatkan. "Hati-hati, kutuknya mulai berjalan!"

Peringatan itu memang cukup beralasan. Wayan Tandira langsung dapat merasakan ada udara dingin menembus batok kepalanya. Tetapi pemuda ini malah tertawa ganda sambil usap akar-akaran yang ada di dadanya. Sinar hitam seperti lintasan kilat melesat dan melabrak Ratu Leak. Kutuk yang tengah berjalan itu langsung musnah. Malah Ratu Leak sendiri sempat terjajar. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ratu Leak kembali gerakkan tengkorak di tangan kanannya dengan satu sentakan kuat. Wayan tentu tidak tinggal diam, ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Lagi-lagi terjadi satu keanehan. Seluruh akar-akar yang melibat tubuhnya mulai ujung kaki hingga sebatas leher juga bagian tangannya memancarkan sinar hitam hingga seluruh tubuhnya lenyap tertelan sinar hitam tersebut. Ratu Leak keluarkan seruan tertahan. Terlebih-lebih ketika melihat gelombang sinar hitam melesat ke arahnya. Sambil melompat mundur Ratu Leak hantamkan tangan kiri dan coba selamatkan tengkorak bayi sumber kutukan di tangan kanannya.

Wuut!

Seleret sinar merah melesat ke arah gelombang sinar hitam tersebut. Terjadi letupan kecil. Dan ternyata pukulan yang dilepaskan Ratu Leak musnah dilanda gelombang sinar yang memancar dari akar-akar di tubuh Wayan. Sinar hitam itu terus melabrak tengkorak ditangan Ratu Leak. Ia sekuat tenaga hendak menyelamatkannya. Tetapi sebagian sinar tersebut masih menyerempet bagian pelipis tengkorak tersebut.

Krak!

Tengkorak itu retak. Perempuan cantik tersebut berseru kaget. Ia memandang ke arah Wayan Tandira dengan sorot mata tajam dan penuh rasa tidak percaya. Secepatnya Ratu Leak masukkan kembali tengkorak itu.

"Percuma kau gunakan kutukmu, Ratu Leak. Sekarang sedang musim hujan, dan kutukmu tidak berlaku! Berikan Batu Lahat Bakutuk, batu yang menjadi penyebab sumber bencana itu!" perintah Wayan Tandira.

Sebagai jawaban Ratu Leak mendengus sinis sambil hantamkan pukulan 'Tusukan Jari Penghantar Maut'. Angin kencang disertai hawa dingin beracun bergulung-gulung. Menyadari bahaya serangan ini Wayan Tandira tutup pernafasannya dan segera mengusap akar-akar yang berada di bagian perut serta dadanya.

Wuust!

Kembali sinar hitam meluncur kemudian membentur sinar merah di tengah jalan. Terjadi ledakan keras, Wayan terhempas ke dinding di belakangnya. Ratu Leak sempat tergontai-gontai. Ternyata benturan itu tidak menimbulkan luka barang sedikit pun bagi Wayan Tandira. Hal ini berkat akar-akar sakti yang melindungi dirinya. Tetapi Ratu Leak yang cerdik mulai berpikir untuk menghajar bagian kepala lawan yang tidak berpelindung apa-apa. Untuk itu tanpa membuangbuang waktu lagi, Ratu Leak segera pergunakan jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' yang ampuh itu.

"Hiyaa...!"

Orang ini berteriak keras. Tubuhnya tibatiba melesat ke depan. Wayan langsung menangkis dengan siku kanannya. Tetapi Ratu Leak sudah melambung lebih ke atas lagi. Lalu secepat kilat tangannya melesat menghantam leher.

Wuuss!

Wayan terkesiap, untung ia masih sempat merundukkan kepala. Walau pun begitu kulitnya yang terserempet kuku Ratu Leak serta rambut Wayan sempat terbabat putus.

Dapat dibayangkan betapa berbahayanya andai kuku lawan tadi menghantam tenggorokannya yang tidak terlindung akar-akar sakti tersebut. Pemimpin negeri Sange segera melompat mundur ke belakang dengan perasaan geram.

"Setan satu ini pandai menipu, dulu juga aku bisa dicelakainya karena tipu muslihatnya! Kali ini jangan harap hal itu terjadi lagi!" desis Wayan Tandira di dalam hati.

Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam ke bagian tangan dan kakinya. Lalu sebelah kakinya diangkat. Kedua tangannya direntangkan, sedangkan seluruh jemarinya yang terbalut akar-akar halus menguncup. Melihat ini Ratu Leak mengguman pelan.

"Hmm, jurus 'Kepakan Burung Gagak Membelah Malam' memang jurus baru yang boleh kau banggakan. Tapi sebelum itu kau rasakanlah pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'!" teriak Ratu Leak. Tiba-tiba secepat kilat ia hantamkan kedua tangannya tegak lurus ke arah Wayan. Tetapi lawan ternyata sudah sampai di depan hidungnya. Gerakan memukul yang dilakukan Ratu Leak berubah jadi gerakan menangkis.

Dukkk! Splak!

Keduanya sempat terhuyung, Ratu Leak maju lagi ke depan sambil lepaskan tendangan menggeledek. Merasakan adanya sambaran angin yang cukup keras. Maka Wayan Tandira tekuk lututnya. Ratu Leak sudah tidak sempat menarik pulang tendangannya.

Bletak!

"Aukh...! Akh...!"

Ratu Leak menjerit keras sambil melompat terpincang-pincang. Kakinya yang membentur akar-akaran di bagian lutut Wayan langsung membiru, bengkak dan rasa seperti putus. Hal ini benar-benar diluar dugaannya sama sekali. Sebab ia telah mengaliri kakinya dengan tenaga dalam. Tapi ternyata akar-akar aneh itu sungguh menyimpan suatu kekuatan yang luar biasa. "Ratu Leak manusia paling jahanam! Kuperingatkan sekali lagi padamu untuk menyerahkan tengkorak sarana kutukan dan Batu Lahat Bakutuk padaku!" teriak Wayan. Peringatan ini hanya membuat Ratu Leak menjadi murka. Ia meludah.

"Ilmu sedikit sering membuat orang besar kepala! Wayan Tandira manusia keparat! Jika kau terbungkus akar-akar keparat itu sekujur tubuhmu! Aku Ratu Leak tidak kehabisan akal dan cara untuk membuatmu mampus! Jangan kau besar kepala!? Karena aku yakin mulai dari bagian leher hingga sampai ke ujung rambut di kepalamu tidak kebal apa-apa! Hea...!" Sambil berteriak keras. Ratu Leak tiba-tiba saja lepaskan pukulan 'Liang Hantu Penebus Kutuk'. Angin api menyambar ganas ke arah Wayan Tandira. Laki-laki gondrong ini kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk membangkitkan kekuatan yang terkandung dalam akar-akar sakti itu.

"Huuuuu...!"

Tiba-tiba saja terdengar suara gaung panjang. Angin api yang dikirim Ratu Leak bagaikan air bah melindas apa saja yang terdapat di depannya. Dari pihak Wayan Tandira yang siap menyabung nyawa melesat sinar hitam disertai hawa dingin bukan alang kepalang. Dua kekuatan yang memiliki dua sifat beda ini saling tindih menindih. Dalam hal ini yang tersiksa justru Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan nyaris telanjang bulat. Ia sama sekali tidak kuasa mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi diri dari pengaruh dua kekuatan antara panas dan dingin tersebut. Akibatnya tubuhnya seperti terpanggang, atau dilain waktu terasa sangat dingin menusuk. Dewi mengerang kesakitan. Demikian hebatnya siksaan yang harus diterimanya ini, hingga membuat gadis ini terkulai tidak sadarkan diri.

Sementara itu Angin Api dan Angin Es yang bersumber dari masing-masing lawan terus saling himpit dan saling dorong. Wayan Tandira terus menerus lipat gandakan tenaga dalamnya. Hingga akar-akar sakti itu tiada henti memancarkan sinar bergulung-gulung saling tumpang tindih. Ratu Leak mulai terdorong, tapi sebentar kemudian bibir Ratu Leak yang merah merekah keluarkan siulan panjang yang tidak menentu. Di kejauhan terdengar suara sayup-sayup yang seakan datang dari dalam kubur dan juga jurang neraka.

"Kami akan membantu!!"

Bersamaan dengan terdengarnya suara tadi. Tiba-tiba Wayan merasa ada sesuatu yang menyambar dan turut mendorong dari arah lawan. Akibatnya....

Breees! "Wuuukh!"

Tidak ampun lagi Wayan Tandira terlempar dan terhantam sebagian angin api milik lawannya. Bagian rambut dan juga sebagian wajah pemimpin Sange ini sempat terjilat api. Bagian badan malah sempat terbakar. Tapi bagian-bagian yang terbalut akar sakti itu tidak mengalami luka sedikitpun. Sebenarnya keadaannya tidaklah begitu parah andai bukan bagian kepalanya terlebih dulu yang membentur dinding. Wayan Tandira sang pemimpin Sange mengerang. Ia ingin bangkit, akan tetapi pandangan matanya berkunang-kunang, kepalanya yang benjut sakit mendenyut dan seperti dikemplangi palu. Kini suara tawa kemenangan Ratu Leak pun baginya sudah tidak beda dengan suara jeritan hantu di neraka.

"Kau tidak dapat membuktikan ucapanmu! Malah kini kau harus mampus di tanganku! Sungguh menggenaskan jalan hidupmu. Sudah sengsara seumur-umur, kini harus mati secara tersiksa!" dengus Ratu Leak. Perempuan itu kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Matanya sama sekali tidak berkesip, sedangkan kedua tangan Ratu Leak mula-mula memancarkan sinar merah, sinar merah lalu berubah memutih, setelah itu berubah pula menjadi hitam legam. Tidak salah lagi, betina jahat ini sudah siap melepaskan pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutukan'.

Tampaknya nyawa pemimpin negeri Sange itu benar-benar seperti telur di ujung tanduk. Dalam keadaan setengah kelenger begitu mana mungkin Wayan dapat menjaga keselamatan dirinya. Apalagi ketika itu Ratu Leak mengincar bagian kepala Wayan.

"Mampuslah kau hari ini, pemimpin konyol! Hiyaaa...!" Ratu Leak dorongkan kedua tangannya ke bagian kepala Wayan Tandira. Agaknya kepala itu sekejap lagi langsung hancur. Namun ternyata dalam keadaan yang sangat kritis itu melesat sosok serba putih menyambar tubuh Wayan dan membuangnya ke tempat yang aman. Pukulan 'Sabda Orang-Orang Dalam Kutukan' menghantam dinding Pura hingga hancur menjadi serpihan debu yang berterbangan. Ada seruan kaget di samping kanan Ratu Leak. Lalu terdengar pula suara tawa, suara tawa lenyap dan berganti dengan caci maki seseorang.

TIGA

Pabila Ratu Leak memandang ke arah sosok yang telah menyelamatkan Wayan Tandira. Maka di sana telah berdiri seorang laki-laki jangkung berpakaian putih selempang putih. Kejut hati Ratu Leak bukan alang kepalang.

Sementara itu Datuk Nan Gadang Paluih memandang pada Wayan sambil membatin. "Sepanjang jalan ia menumpang di kudaku. Turun sebentar meninggalkan aku dengan alasan ingin kencing, tidak tahunya ia minggat ke sini sendiri untuk menghadapi musuh bebuyutannya. Dasar serakah!"

"Berani lancang kau mengganggu urusan orang lain! Tampangmu rasanya sudah pernah kukenal!" bentak Ratu Leak.

"Memang, kau tentu saja mengenalku. Karena kau bangsat pencurinya! Sekarang cepat kau kembalikan Batu Lahat Bakutuk padaku! Atau aku akan mencincang tubuhmu hingga tidak berbentuk lagi??" teriak Datuk Nan Gadang Paluih tidak kalah kerasnya.

Ratu Leak tertawa-tertawa terkikik-kikik. "Dengan apa kau akan membunuhku! Aku sama sekali tidak melihat kemungkinan jalan hidup bagimu selama Batu Lahat Bakutuk ada di tanganku!" ejek Ratu Leak.

"Benda itu hanya menimbulkan malapetaka bila berada di tangan orang-orang sepertimu! Cepat serahkan budak ketek!"

Rasanya percuma saja Datuk Nan Gadang Paluih memberi peringatan. Orang seperti Ratu Leak mana kena digertak.

"Datuk Nan Gadang Paluih! Jika dulu aku mencuri Batu Lahat Bakutuk yang mengandung berbagai keanehan dan kesaktian ini. Apa salahnya jika hari ini aku mencuri nyawamu?! Hi hi hi...!"

"Kesalahanmu sudah bertumpuk. Malaikat sudah bosan menghitung dosamu. Tidak ada pilihan dan jalan lain bagiku terkecuali menempurmu demi Batu Lahat Bakutuk!" teriak Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki ini tampaknya memang sudah hilang kesabarannya.

Tanpa menghiraukan Wayan Tandira yang mulai sadar dari pingsannya. Tanpa memperdulikan Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan setengah telanjang. Datuk Nan Gadang Paluih langsung rangkapkan kedua tangannya. Detik itu juga terlihat ada selarik sinar melesat ke arah Ratu Leak. Perempuan itu langsung melompat menghindar ketika merasakan sapuan angin panas melanda dirinya.

"Wuus! Buuuum! Serangan Datuk Nan Gadang menghantam dinding belakang Pura. Dinding itu hancur. Batubatunya menjadi serpihan debu. Itulah salah satu pukulan dahsyat yang oleh pemiliknya diberi nama 'Mengungkit Gunung Membalik Bukit'. Ratu Leak leletkan lidah. Wajah perempuan itu sempat memucat. Ia pernah mendengar kehebatan salah satu tokoh dari Andalas ini. Dulu sama sekali ia belum pernah berhadapan dengannya mengingat setelah mencuri Batu Lahat Bakutuk ia langsung melarikan diri. Namun Ratu Leak adalah manusia yang penuh dengan rasa percaya diri. Apa lagi mengingat kini Batu Lahat Bakutuk ada di tangannya.

"Pukulanmu boleh juga, rambut putih!" ejek Ratu Leak. Sekejap kemudian Ratu Leak sudah melesat ke depan dan lepaskan tendangan beruntun sementara kedua tangannya yang berkuku panjang itu mencengkeram wajah Datuk Nan Gadang. Kedua serangan yang dilancarkan oleh Ratu Leak sama berbahaya. Datuk Nan Gadang tidak mundur ke belakang atau melompat ke samping, melainkan melesat ke udara sedangkan tinjunya menghantam bahu.

Wuut!

Melihat dirinya terancam, Ratu Leak gerakkan tangannya yang mencengkeram menjadi gerakan menangkis. Benturan, tidak dapat dihindari lagi. Ratu Leak sempat terhuyung-huyung. Sedangkan lawannya hanya tergetar saja, walau patut diakui tangan yang membentur tangan lawan tadi terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. Ini merupakan pertanda bahwa tenaga dalam Datuk Nan Gadang Paluih berada beberapa tingkat di atas lawannya.

Melihat kenyataan ini Ratu Leak tidak tinggal diam. Ia menyerang lawannya dengan jarak yang cukup dekat sekali. Tubuhnya berkelebat laksana walet menyambar-nyambar di atas air. Lalu serangkaian jotosan dilancarkannya. Angin menderu. Lawan cepat menundukkan kepala, sehingga serangan itu lolos di atas kepala. Begitu serangan Ratu Leak luput, tangan lawan menyambar ke arah pinggang dimana Batu Lahat Bakutuk diperkirakan berada disitu. Ratu Leak tidak bodoh, ia liukkan pinggulnya. Lalu dengan jurus 'Tusukan Jari Penghantar Maut' ia menyodok tenggorokan lawan.

Jika penglihatan Datuk Nan Gadang tidak jeli, dapat dipastikan tenggorokan laki-laki itu bolong. Datuk Nan Gadang berguling-guling. Dalam kesempatan itu ia lepaskan pukulan 'Di Balik Kubur Mayat-Mayat Merintih'. Sesaat setelah Datuk Nan

Gadang dorongkan kedua tangannya. Maka menderu hawa panas luar biasa ke arah lawan. Jarak di antara mereka sangat dekat sekali. Sehingga Ratu Leak tidak sempat lagi selamatkan diri.

Blaar!

Ratu Leak menjerit keras, tubuhnya terpelanting dan menghantam dinding di belakangnya. Tampak jelas ia menderita luka dalam, walau tidak parah tapi cukup mengganggu kosentrasinya.

Sementara itu Wayan Tandira sudah melangkah mendekati Dewi Kerudung Putih untuk membebaskan totokan di tubuhnya. Sebelumnya laki-laki gondrong ini membetulkan pakaian si gadis yang anak-acakan. Begitu dirinya terbebas Dewi langsung menjerit.

"Aku harus membunuhnya!"

Wayan menahan bahu di gadis sambil seraya berkata. "Jangan kau usik Datuk Nan Gadang. Urusannya dengan Ratu Leak adalah persoalan besar yang tidak dapat dianggap mainmain!"

"Aku juga telah dibuatnya malu! Aku bahkan meragukan ia seorang perempuan sejati!" teriak Dewi Kerudung Putih marah.

"Maksudmu?" desis Wayan Tandira tidak mengerti.

"Kita baru saja mengetahui kelaminnya perempuan atau laki-laki jika aku telah berhasil membunuhnya!" sahut si gadis sengit.

"Hal itu sudah kulakukan. Hasilnya seperti yang kau lihat. Aku hampir mampus ditangannya. Kau atau aku bukan tandingannya! Lagipula apa nanti kata orang-orang aliran sesat jika kita mengeroyok Ratu Leak?"

Sadar akan kebenaran kata-kata yang diucapkan Wayan Tandira. Dewi Kerudung Putih terpaksa telan kembali kemarahannya bulat-bulat. Mereka segera menyingkir ke tempat yang aman.

Sementara itu pertempuran sengit antara Datuk Nan Gadang Paluih dan Ratu Leak sudah mencapai puncaknya. Datuk Nan Gadang beberapa kali sempat dihajar oleh Ratu Leak dengan mempergunakan tengkorak bayinya. Tetapi lawan juga berhasil mencidrai Ratu Leak dengan Angkin Sakti Pelebur Petaka.

Dalam pertempuran yang telah berlangsung hampir enam puluh lima jurus itu. Ratu Leak tibatiba bersuit keras.

"Hang...!"

Terdengar suara sahutan di kejauhan! Lalu Datuk Nan Gadang Paluih tiba-tiba merasakan ada hawa dingin mendorongnya dengan keras hingga membuat pernafasannya jadi sesak dan jalan darah di tubuhnya jadi kacau.

"Dasar iblis! Kau mengerahkan pembantupembantumu dari alam gaib!" teriak tokoh dari Andalas ini sambil terhuyung-huyung. Kemudian laki-laki itu berteriak keras entah ditujukan pada siapa. "Jangan cuma menonton, sesuatu yang tidak terlihat adalah bagianmu!"

Dari luar terdengar ringkikan keras. Dinding-dinding ruangan bergetar, terguncang, lalu hancur di sana sini. Dari balik kegelapan hujan muncul kuda putih dengan tinggi tidak terkirakan. Kuda itu berputar-putar mengelilingi Datuk Nan Gadang. Sementara moncongnya membuka, bila moncong kuda mengatup kembali maka terdengar jerit kesakitan. Ternyata Si Putih Kaki Langit kuda alam gaib itu sedang bertarung dengan makhlukmakhluk dari alam lelembut yang mencoba membantu Ratu Leak.

Tentu saja dengan kehadiran Si Putih Kaki Langit yang dapat membesar dan meninggi diluar kelaziman kuda-kuda pada umumnya membuat pertempuran antara Ratu Leak dan lawannya terhenti.

Satu demi satu makhluk-makhluk alam

gaib itu dibantai oleh Si Putih Kaki Langit. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ratu Leak untuk melarikan diri.

"Lihat!" seru Dewi Kerudung Putih.

Sebaliknya Wayan Tandira tanpa bicara langsung lepaskan pukulan 'Cambuk Neraka' saat melihat lawan melesat meninggalkan kalangan pertempuran. Ratu Leak tertawa mengikik dan kibaskan tangannya ke belakang.

Buuum!

Terjadi ledakan, Wayan sempat terdorong mundur dan nyaris terhantam pukulannya sendiri yang membalik. Serentak dengan perginya Ratu Leak, maka sisa-sisa makhluk alam gaib pun ikut melarikan diri pula.

"Cukup Putih Kaki Langit! Percuma saja, bangsat itu sudah pergi!" seru Datuk Nan Gadang Paluih.

Putih Kaki Langit meringkik keras, seakanakan ia menjadi marah pula melihat musuh tuannya melarikan diri.

"Bagaimana Datuk!" tanya Wayan yang datang dengan tergopoh-gopoh.

"Hmm, seberapa luas Tanah Sange ini?" tanya Datuk Nan Gadang Paluih pula dengan jengkel.

"Tidak seberapa luas, Datuk!" jawab si gon-

drong.

"Kalau pun Sange seluas laut dan seluas

daratan. Ratu Leak tidak akan pernah lolos untuk yang ketiga kalinya dari tanganku!"

"Aku berharap penderitaan rakyatku segera berakhir. Apa saranmu?" tanya si gondrong.

"Ratu Leak tidak akan keluar dari Sange ini dalam keadaan hidup! Sekarang kita kejar dia!" perintah Datuk Nan Gadang Paluih. Seraya menoleh ke arah Si Putih Kaki Langit yang kini sudah kembali ke dalam ujud kuda biasa. Bila Datuk berpaling pada Dewi Kerudung Putih. Maka gadis itu sudah tidak ada lagi ditempatkan. "Kemana dia?"

"Mungkin dia malu bersama kita! Sebaiknya tidak terjadi sesuatu yang lebih memalukan lagi padanya!" sahut Wayan.

"Anak dara memang begitu! Tapi bila ia sudah menjadi seorang etek (bibik). Mengeluarkan kedua teteknya di depan umum pun dia tidak akan malu-malu lagi!" ucap Datuk Nan Gadang Paluih.

"Manusia akar, kuharap jangan bertindak bodoh lagi. Dengan berpura-pura kencing tidak tahunya kau hampir mampus di tangan si keparat Ratu Leak!"

"Tidak-tidak lagi, Datuk!" jawab Wayan sambil tersenyum. Keduanya kemudian melompat ke atas punggung Putih Kaki Langit. Dengan sekali hela, kuda pun melesat laksana kilat.

***

Lembah itu ditumbuhi dengan bunga-bunga liar yang menebarkan bau harum semerbak. Walau pun hanya bunga-bunga liar yang tumbuh subur di sana. Akan tetapi cukup indah dipandang mata. Pada musim-musim dingin seperti sekarang ini banyak kumbang dan kupu-kupu bersayap indah hadir disana untuk menghirup sari dan madunya.

Begitu indah dan harumnya tempat itu hingga banyak orang yang menamakannya dengan Lembah Nirwana. Nirwana itu sendiri bisa bermakna surga atau keindahan. Tidak jelas siapa yang mendiami lembah itu, namun pada saat bulan purnama penuh selalu terdengar suara orang bersenandung. Suaranya terdengar begitu merdu diselingi suara kecapi yang mendayu-dayu. Puluhan tahun silam ada juga beberapa orang dari rimba persilatan yang tergolong punya keberanian tinggi menyelidiki lembah tersebut. Namun tidak seorang pun di antara mereka ada yang kembali ke dunia ramai.

Padahal menurut seorang pengembala, ia pernah melihat puteri-puteri cantik berpakaian kuning sedang berjalan-jalan memetik bunga. Pengembala tersebut entah karena sebab apa tidak lama kemudian menderita sakit gila. Itulah sebabnya Lembah Nirwana menjadi daerah terlarang dan konon dihuni oleh para Peri dan bidadari siluman.

Tidak seorang pun yang dapat membuktikannya. Yang jelas ketika itu dalam jarak yang agak jauh dari Lembah tampak seorang laki-laki sedang memanggul sosok tubuh berpakaian serba biru. Kakek berwajah hitam ini tampaknya baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh. Orang ini sambil terus memanggul pemuda baju biru tampak menyeka keringat yang meleleh membasahi wajahnya. Sampai di bawah sebatang pohon yang besar ia letakkan bawaannya. Seraya menelentangkan Suro Blondo yang dalam keadaan tertotok di atas rumput liar. Untuk lebih jelasnya apa yang terjadi pada Pendekar Blo'on sebelumnya (dalam episode Nagari Batas Ajal). Suro yang dalam keadaan tertotok itu cuma dapat melotot menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kakek berambut riap-riapan ini. Hanya itu yang dapat dilakukannya, karena jalan suara Pendekar Blo'on pun dalam keadaan tertotok. Untuk diketahui waktu itu Suro yang berhasil ditundukkan oleh Ratu Leak dengan cangkir Tengkorak Pelumpuh akal Pelemah Jiwa. Telah diperalat oleh perempuan itu untuk membunuh kedua gurunya sendiri. Dalam perkelahian yang sengit, Suro yang telah memperoleh bekal ilmu kesaktian dari Ratu Leak ternyata dapat dikalahkan oleh Malaikat Berambut Api dan tertotok pula, meskipun kakeknya dapat dilukai. Dalam keadaan seperti itulah muncul kakek baju hitam berambut awut-awutan ini dan langsung melarikannya.

"Aku ingin melihat tiga tanda-tanda di tubuhnya! Bersusah payah aku melarikan bocah ini dari kedua gurunya. Aku tidak ingin gagal!" batin tokoh aneh ini. Seraya segera melepaskan pakaian Suro, hingga pemuda itu nyaris telanjang. Hawa kemarahan membuncah di dalam dada Pendekar Blo'on. Karena pemuda itu dalam keadaan tertotok, maka si kakek tidak menghiraukannya. "Hmm, rambutnya berwarna kemerahmerahan. Satu pertanda bila ia sampai pada puncak pengerahan tenaga dalam rambut ini akan berwarna merah seperti bara. Kulitnya juga berwarna putih. Tapi aku harus tahu apakah di tubuhnya terdapat tompel?" batin si kakek. Seraya membalikkan tubuh Suro, melihat ke bagian punggung. Maka terkejutlah kakek berambut awut-awutan ini. Di punggung Suro terdapat sebuah tompel besar berwarna hitam. "Dia benarbenar pemuda ajaib itu? Tetapi di mana letak keajaibannya? Tompel ini adalah bawaan sejak lahir, ia merupakan kekuatan alami yang dapat menolak sihir, teluh dan racun. Tapi mengapa ia dalam keadaan begini?" desis si kakek. Ia segera memeriksa bagian pelupuk mata Pendekar Blo'on. Memandang ke bagian bola mata yang hitam sekejap, lalu tubuhnya tergetar hebat.

"Pantasan! Sungguh aku baru mengerti. Kekuatan alami yang dimilikinya mustahil mampu melenyapkan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa! Inilah sebabnya ia bermaksud membunuh gurunya sendiri. Pastilah ini perbuatan si terkutuk Ratu Leak! Racun itu belum ada pemunahnya di kolong langit ini! Ratu Leak sendiri aku yakin tidak punya obat penawar racun itu. Sungguh perbuatan yang keji, dia punya dua pilihan licik. Pertama jika rencana pertama gagal, berarti rencana kedua berjalan dengan mulus. Bagaimana menghilangkan racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang mengeram di tubuhnya? Kurasa sulit juga mengembalikan kesadaran dan ingatan-ingatannya yang dulu! Aku harus membawa pemuda ini ke tempat tinggalku Lembah Nirwana...!" kakek berbaju hitam itu akhirnya memutuskan. Ia segera memanggul Pendekar Mandau Jantan kembali. Kemudian secepat angin ia bergerak menuju Lembah Nirwana yang terletak tidak begitu jauh darinya.

***

Hanya beberapa menit saja kakek aneh yang melarikan Pendekar Blo'on itu berlalu. Muncullah dua sosok bayangan. Yang satu berpakaian serba putih sedangkan yang satunya lagi berpakaian merah berambut merah. Mereka tidak lain adalah Malaikat Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih. Kedua kakek tua ini tiba-tiba hentikan langkahnya.

"Tadi aku sempat melihat ia berhenti di sini!" seru Barata Surya alias Penghulu Siluman Kera Putih.

Dewana atau yang lebih dikenal dengan gelar Malaikat Berambut Api tidak segera menjawab. Ia berjalan mondar-mandir di depan Penghulu Siluman Kera Putih, sementara cuping hidungnya kembang kempis seakan mengendus sesuatu.

"Kau tahu siapa orang yang telah melarikan murid kita tadi?" tanya kakek Dewana. Sorot mata kakek rambut merah ini tampak tajam berwibawa juga menyimpan kedongkolan yang sangat.

"Jarang sekali ada tokoh yang memiliki ilmu lari lebih cepat dariku. Aku tidak dapat menduga siapa dia!" jawab Penghulu Siluman Kera Putih tanpa ragu-ragu.

"Kita berdiri tidak jauh dari Lembah Nirwana. Kau ciumlah bau harum yang semerbak ini. Lembah itu konon tidak bertuan. Tapi kira-kiranya aku sudah tahu. Siapa orangnya yang dapat berlari melebihi kecepatan suara dan berjalan di atas kecepatan angin!" ujar Malaikat Berambut Api. Wajah si kakek langsung berubah muram.

"Si Bayang Bayang! Itukah yang saudara maksudkan!" seru Barata Surya dengan mata mendelik.

EMPAT

Wajah di depan Barata Surya semakin bertambah muram bahkan terkesan sedih. Seraya gelengkan kepala berulang-ulang.

"Nama itu tidak ubahnya sebuah legenda yang dipercayai oleh masyarakat banyak. Apakah Si Bayang Bayang alias si Tangan Biru memang ada?" tanya Barata Surya.

"Sudah tua begini aku sesungguhnya malu... aku malu...! Segala yang kumiliki tidak bertambah, berkurang malah. Orang tua hanya amarah dan pikunnya saja yang bertambah. Si Bayang Bayang memiliki ilmu yang tidak dapat dijajaki. Dia setengah manusia dan setengah gaib! Satu yang merisaukan hatiku, apa maksud dan tujuannya menculik murid kita? Padahal anak itu sekarang telah kehilangan segala-galanya? Yang lebih menyedihkan lagi ada kekuatan lain yang mengeram dalam dirinya. Kita seharusnya mengenyahkan kekuatan asing itu! Tapi bagaimana hal itu dapat kita lakukan? Suro tidak berada bersama kita!" keluh Malaikat Berambut Api.

"Ya... ini memang merisaukan aku juga. Bertemu dengan Si Bayang Bayang aku sendiri belum pernah. Apakah manusia setengah gaib itu benar-benar ada, atau hanya kabar angin saja. Alangkah memalukan jika kita cuma berpangku tangan. Menurutmu, saudara. Apakah tidak lebih baik kita mencari bocah konyol itu di lembah tersebut??"

"Aku dengar batas lembah dijaga ketat oleh murid-murid Si Bayang Bayang. Selain itu Lembah Nirwana terlindung tabir gaib berlapis-lapis. Terkecuali sebangsanya Siluman, manusia seperti aku tidak mungkin menembusnya!" jelas Malaikat Berambut Api. Yang dalam hal kesaktian memiliki derajat tiga atau empat tingkat di atas Penghulu Siluman Kera Putih.

"Lalu...!" tanya Barata Surya sambil ketukketuk keningnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Bodoh! Mengapa menunda-nunda waktu

lagi. Bukankah lebih baik jika kau menyelidik ke dalam lembah itu?!" dengus Malaikat Berambut Api. Si kakek rambut putih tertawa geli dalam hati. Dewana menurutnya adalah orang yang mahal senyum. Sikapnya selalu serius, tatapan matanya berwibawa. Itu mungkin yang membuat tokohtokoh lain baik dari aliran hitam maupun putih menjadi segan kepadanya. Lain lagi dengan dirinya yang ugal-ugalan.

"Baiklah, aku mohon saudara mau melindungiku bila sesuatu yang tidak diingini terjadi!" pesan Penghulu Siluman Kera Putih setengah bergurau.

"Buat apa?" sahut Dewana. "Aku muak melihat tampangmu, aku tidak akan sedih bila kau mampus di lembah itu!" dengus Malaikat Rambut Api.

Barata Surya hanya termonyong-monyong sebentar. Tiba-tiba ia pejamkan matanya. Sedangkan bibir kakek berpakaian putih itu tampak berkemak-kemik.

Pyaaar!

Sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi pada kakek siluman kera itu. Tubuhnya tiba-tiba raib dan berubah menjadi cahaya putih berpedarpedar. Cahaya itu kemudian melesat ke arah lembah. Sampai di perbatasan lembah, cahaya putih itu seakan membentur sebuah tembok hingga membuatnya membalik. Melesat ke depan lagi, kemudian membalik lagi. Malaikat Berambut Api kerutkan keningnya. Sekarang ia baru percaya bahwa Lembah Nirwana memang dilindungi oleh tabir gaib sebagaimana pernah diceritakan oleh tokoh-tokoh rimba persilatan di masa lampau. Cahaya putih itu kemudian bergerak mundur dalam jarak sejauh dua batang tombak. Tidak lama cahaya itu bergerak melesat ke depan dengan kecepatan yang sungguh luar biasa.

Brang! Prak! Prak! Terjadi ledakan disertai dengan terdengarnya sesuatu yang pecah. Sinar putih lenyap. Malaikat Berambut Api merasa yakin Barata Surya sudah mampu menembus tabir gaib yang pertama. Tapi apa yang terjadi kemudian di tengah-tengah alam lembah yang terbungkus tabir gaib itu?

Cahaya putih yang merupakan penjelmaan Penghulu Siluman Kera Putih menjumpai kesulitan lain. Di tengah-tengah alam lembah itu ternyata ia mendapati tabir lain yang lebih kuat dan kokoh. Penghulu Siluman Kera Putih mencoba menghancurkan tabir gaib kedua. Tetapi walau pun ia telah mengerahkan lebih dari setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya. Ia tidak kuasa memporak-porandakan tabir gaib kedua.

Ini merupakan suatu pertanda bahwa siapapun yang menciptakan tabir gaib yang berlapislapis itu pastilah memiliki ilmu sakti lain yang tidak dimiliki oleh Penghulu Siluman Kera Putih. Cahaya putih itu pun akhirnya hanya berputarputar di luar tabir gaib kedua.

"Aku harus mempergunakan ilmu 'Menyusup Cahaya'!" pikir Penghulu Siluman Kera Putih yang dalam keadaan terbungkus sinar tersebut. Dengan cepat sekali ia memusatkan kosentrasi pada bagian matanya.

Tweeeeng!

Walau ia terhalang oleh tabir gaib, tapi tatapan matanya mampu menembus ke dasar lembah. Ternyata selain tabir kedua, masih ada lagi tabir ketiga, keempat dan ke tujuh. Bukan main, jika Si Bayang Bayang memang benar ada. Beliau pasti merupakan tokoh sakti yang memiliki kepandaian di atas sempurna.

"Ini benar-benar sangat luar biasa. Di atas langit masih ada langit! Padahal di atas atap rumahku sudah tidak ada lagi atap yang lain." desis Barata Surya. "Apa kata Malaikat Berambut Api jika ia melihat kejadian yang aneh ini? Aku melihat sebuah bangunan sederhana di tengah-tengah lembah itu. Dan yang di sebelah sana itu, eh... ada gadis-gadis cantik yang sedang mandi telanjang!" Sosok yang terbungkus cahaya putih itu kedipkedipkan matanya. "Bukan itu yang kumaksudkan. Aku harus tahu apakah bocah konyol itu ada di lembah ini!" Penghulu Siluman Kera Putih kembali memusatkan perhatiannya dalam pengerahan ilmu 'Menyusup Cahaya'. "Oho... itu dia! Suro terbaring di atas ranjang bodol! Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat. Siapa yang mengikatnya?" Barata Surya mencari-cari. "Hhh... aku melihat orang tua, tapi tubuhnya tidak begitu jelas! Ia seperti bayang-bayang. Inikah orangnya yang berjuluk Si Bayang Bayang? Apa yang akan dilakukannya terhadap Suro? Eeeh... ia memegang pedang! Gila...! Awas jika dia sampai berani membunuh Suro! Aku akan mengerahkan seluruh siluman untuk mencincang tubuhnya!" geram Barata Surya bimbang. Cahaya putih itu kemudian mondarmandir di luar dinding tabir kedua. Karena merasa penasaran sekali. Ia kembali mengerahkan ilmu 'Menyusup Cahaya' untuk melihat kejadian selanjutnya. Kakek tua berambut putih tiba-tiba saja belalakkan matanya lebar-lebar. Ia usap wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ketika bicara getaran suaranya jelas tidak kuasa menutupi rasa kejut di hatinya.

"Mengapa di bawah lapisan-lapisan tabir ini tiba-tiba saja diselimuti kabut tebal? Ilmu 'Menembus Cahaya' yang kumiliki seakan tidak berguna dan tidak dapat lagi menembus rumah di tengah lembah. Apa yang akan dilakukan oleh kakek tua yang ujudnya seperti bayang-bayang itu?" desis Barata Surya. "Aku harus menghajar tabir celaka ini dengan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar!" Dan cahaya putih itu melesat mundur. Ada pijaran-pijaran aneh memancar dari cahaya itu hingga sinarnya menjadi terang benderang.

Namun sebelum kakek sakti itu sempat melepaskan pukulan dahsyat yang dimilikinya tibatiba terdengar suara bisikan gaib sayup-sayup di kejauhan.

"Sudah berani kau menghancurkan tabir gaib pertama. Sekarang kau hendak beraniberanian menghancurkan tabir gaib yang kedua! Cobalah jika kau ingin celaka!"

"Setan!" maki Barata Surya dengan bibir cemberut. "Jangan berani-berani menakuti aku. Aku datang ke sini hendak menjemput murid kami yang telah kau culik!" tegas si kakek.

"Jangan banyak bicara! Aku bukan menculiknya, cuma meminjam untuk beberapa waktu lamanya. Ada oleh-oleh yang akan kuhadiahkan padanya! Cuma sayang...!" Suara dalam gaib itu tidak melanjutkan ucapannya. Penghulu Siluman Kera Putih jadi gelisah.

"Ada apa rupanya? Yang aku tahu muridku itu sekarang sedang dikuasai pengaruh Ratu Leak, ia juga kehilangan kesaktiannya! Kami akan berusaha membuatnya sadar. Untuk itu berikan Suro padaku secepatnya!" perintah Barata Surya setengah memaksa.

"Ha ha ha...! Penghulu Siluman Kera Putih! Tidak kuragukan kehebatanmu dan ketinggian ilmu Malaikat Berambut Api. Tapi perlu kau tahu, Racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang ada dalam tubuh muridmu sukar dicari obatnya! Aku sekarang sedang memerintahkan kedua muridku untuk mencari Bunga Arum Dalu...!"

"Bunga Arum Dalu??" seru Barata Surya kaget. "Bukankah bunga itu dijaga oleh Ular Kepala Empat? Dan letaknya pun sulit dijangkau manusia."

"Memang! Bahkan akan selalu ada korban bila bunga itu diambil. Biasanya orang yang berani mengambil itulah yang akan jadi korban sebagai salah satu isyarat penebusan!" jelas suara bisikan tersebut.

"Siapa yang merelakan nyawanya demi menolong muridku?" tanya Barata Surya.

"Salah seorang muridku setelah melihat keadaan pemuda ajaib ini!"

"Seseorang bersedia merelakan nyawanya demi kesembuhan orang lain yang baru dikenalnya?" desis Penghulu Siluman Kera Putih seakan tidak percaya.

"Berjuang demi keselamatan orang lain sementara orang yang harus ditolong itu baktinya dibutuhkan oleh manusia banyak, bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka rela, karena kebaikan itu sangat disukai Tuhan!"

"Biarkan aku yang mencari bunga itu!" pinta Barata Surya merasa terharu.

"Tidak! Muridku akan menjadi kecewa karena pengalihan tugas. Lagipula kau harus mencari Tanduk Sakti yang sekarang berada di tangan Mata Iblis!"

"Tanduk sakti apa?" tanya Barata Surya. "Manusia setengah makhluk bertanduk di

dunia ini hanya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Sekarang apakah kau bisa mengerti siapa kira-kira yang telah mencelakai dan melucuti ilmu muridmu?" tanya suara gaib itu. Penghulu Siluman Kera Putih menggeram marah. "Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Tapi kudengar ia berada di kawah perut bumi. Siapa yang membangkitkannya?" tanya kakek rambut putih terheran-heran.

"Seseorang yang menamakan dirinya Ratu

Leak!"

"Dia lagi! Aku sama sekali tidak mengenal-

nya, entah mengapa ia begitu memusuhi kami. Bahkan dia bermaksud membunuh kami melalui tangan Suro. Bukan itu saja, tega-teganya membuat ling-lung muridku!" dengus Barata Surya.

"Kukira diantara kalian ada persoalan tertentu yang membuatnya sakit hati. Sudahlah itu adalah persoalan nanti. Sekarang yang terpenting pergilah ke arah tenggara. Tanduk itu ada disana!" jelas suara dalam gaib itu. "Tunggu dulu!" serga si kakek sambil garukgaruk kepala.

"Apa lagi?"

"Aku tidak kenal Ratu Leak. Tapi mengapa ia begitu sangat membenciku?"

"Tidak mungkin ia memusuhimu tanpa sebab! Sudahlah, jangan tunda-tunda lagi. Pergilah sekarang atau aku tidak akan pernah mengembalikan muridmu?"

"Jangan macam-macam, aku bisa mengobrak-abrik tempat ini dengan bantuan seluruh siluman. Tidak perduli siapa pun kau orangnya!" ancam Penghulu Siluman Kera Putih.

"Ha ha ha! Dalam keadaan seperti ini kau masih mau bercanda juga? Benar-benar kau manusia sinting!" desis suara dari balik tabir gaib tersebut disertai tawa.

Barata Surya merasa harus mengabari Malaikat Berambut Api. Untuk itu ia segera bergerak keluar melalui pecahan tabir yang telah dihancurkan pertama tadi. Sampai di luar Dewana ternyata masih menunggu di tempat semula.

"Bagaimana Penghulu para siluman? Apakah kau sudah menemukan murid kita? Mengapa terlalu lama sekali?" tanya penghuni pulau Seribu Satu Malam ini bertubi-tubi.

Cahaya putih yang berpedar-pedar itu kemudian tampak mengembang. Lalu terjadi kehancuran di sana-sini sekaligus memercikkan bunga api di udara. Hanya sekali kakek Dewana berkedip. Kini Penghulu Siluman Kera Putih sudah berada di depannya. "Murid kita dalam keadaan gaswat... eh, gawat maksudku! Aku tidak berjumpa langsung dengannya. "

Kakek Dewana langsung membentak. "Bagaimana kau tahu keadaan Suro dalam bahaya sedangkan kau tidak menjumpainya. Apakah kau sudah gila, Barata Surya?"

"Begini, aku tidak dapat menembus tabir gaib yang dibuat oleh penghuni lembah itu. Terlalu atos dan terlalu kuat, kesaktian yang kumiliki tidak mampu menembusnya!"

"Itu menandakan ketidak becusanmu sebagai tua bangka yang mau mampus!" sahut Malaikat Berambut Api.

"Bukan begitu. Kalau aku mau berfikir pasti ada jalan. Tapi apa gunanya? Lagipula kulihat Si Bayang Bayang punya tujuan baik terhadap murid kita. Terbukti ia mengerahkan dua muridnya untuk mencari Bunga Arum Dalu demi mengembalikan kesadaran Suro!" jelas Penghulu Siluman Kera Putih.

"Itu sama artinya dengan penghinaan. Apa yang terjadi menunjukkan ketidak becusan kita sebagai gurunya. Apakah ini menurutmu tidak memalukan?" dengus Malaikat Berambut Api.

"Biarkanlah memalukan sedikit asalkan tidak malu-maluin. Ha ha ha...!"

"Dasar tua bangka sinting!" maki kakek Dewana.

Penghulu Siluman Kera Putih terkesan kurang begitu perduli. Ia juga tidak merasa sakit hati mendengar makian Malaikat Berambut Api. Lagipula siapa yang berani terhadap kakek yang satu ini? Barata Surya sendiri merasa sungkan padanya. kan?" "Lalu sekarang apa yang hendak kau laku-

"Aku disuruh mengambil tanduk sakti milik Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya." sahut Barata Surya.

Malaikat Berambut Api tidak usah dijelaskan pun sudah mengerti. Pastilah ilmu serta kesaktian yang dimiliki oleh Pendekar Blo'on sudah berhasil dirampas oleh makhluk itu. Dan sekarang kesaktian itu tersimpan dalam tanduk.

"Jadi kau akan berhadapan dengan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya itu?" tanya kakek Dewana dengan mata mendelik.

"Tidak!" jawab Barata Surya. "Menurut Si Bayang-Bayang, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah mati. Mungkin tewas di tangan Mata Iblis aku tidak menanyakannya. Yang jelas tanduk makhluk itu sekarang berada di tangan Mata Iblis!"

"Mata Iblis!?" seru Malaikat Berambut Api seakan kaget. "Dia manusia bodoh tapi punya ketinggian ilmu yang sukar dijajaki. Kekuatan matanya bisa menghancurkan batu karang, membuat hancur tubuh manusia, membuat pecah pembuluh darah yang membuat berantakan otakmu! Untuk apa ia mengambil tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya?"

"Aku tidak tahu!"

"Manusia yang satu itu tidak dapat dianggap main-main. Sesuatu yang telah berada di tangannya mustahil bisa pindah ke tangan orang lain. Terkecuali kau mampu membujuknya atau menempurnya hingga mati!"

"Aku tidak perduli! Jika murid-murid Si Bayang-Bayang saja rela mengorbankan nyawa demi menolong Suro yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Mengapa aku harus takut?"

"Keberanianmu patut kupuji. Tapi ingat, kau musti berhati-hati Barata Surya! Dia manusia sakti yang ilmunya hampir setara denganmu!"

"Apakah saudara tidak ikut denganku?" Malaikat Berambut Api untuk pertama ka-

linya tersenyum. Ketika senyumnya lenyap. Terdengar suaranya yang penuh wibawa. "Adalah sesuatu yang memalukan jika aku menyertaimu! Aku tidak ingin ada korban di pihak murid Si Bayang Bayang. Walau pun manusia setengah gaib itu saat ini tidak mau menjumpai aku. Tidak ada salahnya jika aku membantu murid-muridnya untuk menghadapi Ular Berkepala Empat. Aku tidak ingin dua diantara muridnya menjadi korban demi memenuhi persyaratan mendapatkan Bunga Arum Dalu!"

Maka legalah hati Penghulu Siluman Kera Putih mendengar jawaban kakek Suro Blondo itu. Ia kemudian menjura hormat dengan merangkapkan kedua tangannya dan sedikit membungkukkan kepala.

"Sekarang aku mohon diri!" kata Barata Surya. Kakek Dewana anggukkan kepala. Sekejap kemudian Penghulu Siluman Kera Putih sudah lenyap dari pandangan Malaikat Berambut Api.

"Aku pun tidak perlu berlama-lama di sini. Mudah-mudahan aku masih bisa menyusul murid-murid Si Bayang Bayang!" batin si kakek berambut merah. Seraya kemudian dengan mengerahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan segera meninggalkan tepian lembah Nirwana.

LIMA

Sekitar dua puluh tahun yang lalu di bukit Pembantaian atau yang lebih dikenal dengan nama Bukit Kegelapan Abadi hampir setiap hari terdengar suara tangis yang memilukan. Suara tangis itu hanya malam hari saja tidak terdengar. Keesokan harinya apabila matahari telah menampakkan diri di upuk-upuk timur, maka suara tangis kembali terdengar. Begitulah yang terjadi hampir sepanjang waktu. Bukit ini hampir tertutup kabut seutuhnya, baik di musim kemarau atau pun di musim hujan. Bila dilihat dari dekat ternyata orang yang selalu menangis itu tidak lain adalah laki-laki berpakaian merah. Di depan laki-laki itu terbaring kaku sosok perempuan tua yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri. Ternyata perempuan tua itu sudah lama meninggal, bahkan mungkin sudah sekitar lima belas tahun yang silam. Bertahun-tahun ia menangis jenazah orang yang dikasihinya. Sehingga kebutaan matanya pun semakin menjadi-jadi.

"Aku tidak pernah lagi merasakan lapar setelah kematianmu, Elang Maut! Tapi mengapa maut tetap tidak pernah mengembalikan nyawamu! Aku tidak pernah mengenal rupa dunia sejak aku terlahir ke dunia ini. Pertemuanku denganmu dulu adalah sebuah karunia Tuhan yang teramat besar bagiku. Walau pun pertemuan kita sudah cukup umur. Namun kita sama-sama saling mengasihi. Aku tidak mau melihatmu menjadi tulang belulang seperti di luar sana. Mengapa sekarang kau tidak mau menjawab pertanyaanku, Elang Maut? Apakah engkau malu pada arwah-arwah Pendekar Salindra yang tewas terbantai di sini! Maut Satu Kaki Seribu itukah yang menyebabkan kematianmu? Kurasakan tubuhmu tidak mengalami luka. Aku pun tidak mencium adanya luka beracun. Jika pembantai para Pendekar Salindra itulah yang menyebabkan kematianmu, mengapa ia tidak muncul ke sini lagi? Padahal akulah yang telah menemukan Sarung Tangan Sutra Kencana!" kata kakek baju merah yang apabila malam hari suka memakai baju warna hitam itu dengan sedih.

Demikianlah kejadian dan kebiasaannya itu terus berlanjut. Sampai pada suatu saat muncul Ratu Leak. Perempuan cantik itu memperkenalkan diri dan berusaha menghibur Satya Gama alias Mata Iblis. Setabah-tabahnya laki-laki walau pada mulanya tetap teguh memegang pendiriannya. Tokh luluh juga, Mata Iblis bahkan mulai tertarik mendengar tutur kata Ratu Leak yang lembut dan mirip dengan mendiang istrinya.

Ternyata kehadiran Ratu Leak menyimpan maksud-maksud tertentu. Ia mengincar sarung tangan Sutra Kencana yang konon memiliki kesaktian serta kebal terhadap berbagai jenis racun, tahan api dan tahan senjata tajam manapun.

Untuk membujuk Mata Iblis, Ratu Leak sengaja berpura-pura menyerahkan tubuhnya yang mulus itu pada Mata Iblis. Sebagai imbalan atas semua itu Ratu Leak secara halus meminta pada Satya Gama agar memberikan sarung tangan Sutra Kencana. Ternyata Satya Gama menolaknya. Di luar dugaan Ratu Leak yang sudah merasa dikecewakan itu membetot putus kejantanan Mata Iblis. Dalam keadaan terluka seperti itulah terjadi pertempuran sengit antara Ratu Leak dan Satya Gama. Waktu itu Ratu Leak sempat terluka, walau Mata Iblis menderita luka dalam yang cukup parah.

Sebelum Ratu Leak pergi, ia masih sempat bicara dengan suaranya yang lantang namun merdu.

"Satya Gama manusia ceroboh! Barangmu ini tidak akan kukembalikan, malah akan kujemur untuk dijadikan pajangan. Kau tidak akan memiliki barang lagi terkecuali nanti di suatu saat kelak kau bisa mendapatkan tanduk sakti yang tumbuh di atas kepala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya!" dengus perempuan itu.

Sebenarnya apa yang dikatakan Ratu Leak hanya bahan olok-olok saja. Namun oleh Satya Gama ditanggapi secara serius.

"Kkk... kau... kau manusia bangsat pulang pergi! Kembalikan anuku!!" teriak Satya Gama. Ia berusaha mengejar Ratu Leak. Tetapi karena luka yang dideritanya cukup parah akhirnya ia jatuh lagi. Sayup-sayup ia mendengar....

"Anumu tidak akan pernah kembali. Jika kau menemukan tanduk sakti itu dan mengoleskannya dibekas bagian anumu. Ada kemungkinan barang yang baru akan tumbuh lagi!" Setelah berkata begitu Ratu Leak akhirnya meninggalkan bukit Pembantaian.

Berhari-hari Satya Gama berusaha memulihkan kesehatannya. Setelah luka dalam yang dideritanya benar-benar sembuh. Mulai saat itu ia semakin rajin melatih kedua matanya. Lama kelamaan kedua matanya itu dapat mengeluarkan cahaya menyala bahkan melepaskan sinar maut bagi lawan-lawannya. Jika pada malam hari ia melatih matanya, maka pada siang hari ia menangis di depan jenazah isterinya.

"Isteriku, maafkanlah aku. Rohmu pasti melihat, jenazahmu pasti menyaksikan. Gara-gara aku menghianatimu, aku kehilangan anuku wahai isteriku. Lebih celaka dan memalukan lagi katanya anuku hendak dijemur dan dijadikan pajangan oleh Ratu Leak. Aku maluuuu... jika anuku yang ada tutupnya itu sampai ditunjukkan ke orang lain. Dunia bisa mentertawaiku!" desah Satya Gama di tengah-tengah isak tangisnya. Tiba-tiba saja wajahnya menegang. Matanya yang memutih berputar-putar. "Isteriku, aku harus membalas rasa malu ini pada Ratu Leak. Tapi sebelum itu aku harus mencari tanduk sakti yang tumbuh di atas kepala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya! Tanduk itu katanya bisa menumbuhkan anuku yang telah dibetotnya!" tegas Mata Iblis. Dan apa yang dilakukan oleh Mata Iblis untuk hari-hari selanjutnya adalah melatih matanya yang buta itu hingga menjadi sebuah senjata yang dahsyat dan berbahaya.

Suatu ketika Mata Iblis mendengar kabar terjadi keanehan-keanehan di tanah Sange dari seorang pelaut yang konon melihat seekor kuda menyeberang laut. Bagi Mata Iblis apa yang didengarnya itu merupakan sebuah kejadian yang sangat langka dan jarang sekali terjadi. Mana mungkin ada kuda yang tingginya sampai menjulang tinggi ke langit? Apalagi dapat menyeberangi lautan. Merasa penasaran akhirnya Mata Iblis berangkat ke Sange juga. Sampai di sana ia menjadi kaget karena tidak ada satupun manusia yang dijumpainya. Barulah setelah dua hari, ia bertemu dengan Manusia Topeng.

Kini Mata Iblis tokoh yang tidak punya pendirian tetap itu berhenti di antara dua bukit batu.

Tanduk sakti di tangan diperhatikannya dengan seksama. Seperti telah sama kita ketahui tanduk sakti itu dirampasnya dari tangan Manusia Topeng yang telah mengalahkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Untuk lebih jelasnya (dalam episode Nagari Batas Ajal).

"Aku buta mana mungkin kuketahui bagaimana rupa dan warna tanduk sakti ini!" gerutu Mata Iblis. "Aku harus mencari tempat terlindung untuk menumbuhkan kembali anuku yang dirampas Ratu Leak! Mudah-mudahan Ratu keparat itu tidak membobongiku! Tidak punya anu rasanya kurang srek. Jalanku jadi tidak seimbang dan kepala mau nyungsep saja. Kurasa karena tidak ada pemberat di bagian bawah. Ahk, celaka sekali jadi laki-laki! Apalagi jika anuku tidak bisa tumbuh lagi selama-lamanya!" Mata Iblis menggumam lirih. Ia kemudian pasang pendengaran baik-baik. Setelah memastikan tidak ada orang lain disekitar tempat itu akhirnya ia pun melompat di balik batu setinggi dirinya. Celana hitamnya langsung ia tarik ke bawah. Ia raba-raba bagian bawah perutnya yang ditumbuhi hutan lebat. Matanya yang buta berkedip-kedip.

"Keadaannya subur sekali, cuma bagian agak lebih ke bawah licin. Untung tidak ada lumutnya, padahal aku sudah tidak pernah mandi lagi sejak kematian isteriku." batin Mata Iblis sambil senyum. "Tapi tanduk sakti ini panas bukan main, Manusia Topeng saja tidak sanggup memegangnya. Tangan orang jelek itu hangus malah. Kalau bagian pangkalnya kuoleskan ke bekas anuku apa tidak gosong?" Mata iblis jadi ragu-ragu sejenak. Ia lalu raba bagian pangkal tanduk. Ternyata bagian ujung pangkal tidak panas. Dengan hati-hati Mata Iblis mengoleskan pangkal tanduk sakti tersebut ke bagian bekas anunya.

Sret! Sret!

Setelah diolesi dengan pangkal tanduk yang agak licin bercampur sumsum, Mata Iblis menunggu sejenak. Kira-kira dua menit kemudian ia mengolesi lagi bagian anunya. Ia menunggu sambil merasakan adanya perubahan. Setelah itu ia raba bagian bekas anunya.

"Celaka!? Mengapa tidak mau tumbuh juga?" desis si kakek setengah pikun ini dengan heran. Seraya kemudian menggosokkan pangkal tanduk sakti berulang-ulang. Namun sampai begitu lama tidak ada perubahan yang terjadi. "Ratu Leak telah membohongiku! Apa aku harus memasang tanduk ini di bekas bagian anuku? Hu hu hu! Sungguh memalukan sekali. Aku maluuuu... bagaimana kata orang-orang! Anunya manusia mana ada yang runcing seperti tanduk!" Saking gelisahnya Mata Iblis kembali mengoles-oleskan pangkal tanduk ke bagian anunya. Karena perubahan yang diharap tidak kunjung datang juga. Maka rasa putus asa dan malu membuatnya marah.

"Ini adalah pemborosan waktu yang sia-sia!" maki Mata Iblis setengah berteriak. Ia mondarmandir dalam bingungnya, hingga ia pun lupa bahwa celananya belum ditariknya ke atas. Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang.

"Kucari kemana-mana, tidak tahunya kau ngumpet (sembunyi) di sini! Ha ha ha!"

"Kau...!" desis Mata Iblis. Saking kagetnya ia semakin lupa untuk menutup auratnya yang tidak beranu lagi.

"Ya... aku, Mata Iblis! Ha ha ha! Keadaanmu sungguh menggelikan sekali. Lucu... lucu...! Ternyata kau tidak memiliki barang, Mata Iblis! Terbang kemana kau punya burung? Sekarang kau masih mau akal-akalan dengan memasang tanduk itu di bekas anumu? Kalau kau bukan orang gila, tentu kau orang sinting! Tanduk mana bisa disamakan dengan anu! Ah, apakah kau hendak kawin lagi? Eling, umurmu sudah bau kubur, tulang belulangmu sudah mau hancur. Lagipula kalau kau kawin binimu bisa mampus diseruduk tanduk. Mata Iblis, pergunakan akal sehat jika kau masih punya akal! Tanduk sakti itu menyimpan kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora! Tega-teganya kau memasangnya di tempat bekas anumu! Apa kau kira tanduk itu anunya isterimu?" bentak orang yang baru datang yang tidak lain adalah Manusia Topeng.

Hanya sekejap saja Mata iblis tampak terkejut. Beberapa saat kemudian ia menggeram sinis.

"Bangsat! Tidak henti-hentinya kau menggangguku. Untuk apa kau menyusul kemari, apakah ingin mempermalukan aku?" bentak Mata Iblis marah.

"Kau sudah malu karena kehilangan anumu, mana aku tega mempermalukanmu dua kali! Coba kau katakan padaku siapa yang telah membuat kau kehilangan barangmu?" tanya Manusia Topeng. Dan wajah di balik topeng tampak berusaha menahan senyumnya.

Mata Iblis terdiam cukup lama. Ia kelihatan raguragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Hingga Manusia Topeng menengadahkan wajahnya yang tertutup topeng itu ke langit. Lalu ia bicara seperti orang yang sedang bersyair.

Manusia adalah tempatnya salah

Banyak orang berlagak lurus walau pun tahu dirinya bersalah Manusia bersandiwara dengan sesamanya Orang-orang menutupi kekurangannya den-

gan topeng

Mengapa topeng tidak ditanggalkan

Apa yang terjadi pada manusia terkadang karena salahnya sendiri

Baik dan buruk datangnya dari Sang Takdir Lalu takdir punya siapa?

Alam adalah tempat berguru tempat ber-

tanya

Apa yang menjadi keresahan hati karena ter-

lalu banyak bicara menduga-duga

Keinginan terkadang selalu tidak sesuai dengan kenyataan

Itu tandanya manusia adalah makhluk yang lemah! Mata Iblis!

Sesuatu yang pergi tidak mungkin kembali Sesuatu yang hilang jangan cari pengganti Salahnya langkahmu tidak perlu disesali Apalagi sampai membunuh diri!

Mata Iblis sempat tertegun mendengar katakata yang diucapkan Manusia Topeng. Tiba-tiba saja Mata Iblis menangis tersedu-sedu.

"Diriku ini memang bodoh! Sudah hampir tua bangka masih kena dikadali! Apakah manusia sepertiku ini masih layak hidup?"

"Tentu saja kau masih sangat layak untuk hidup. Orang sudah pikun yang giginya sudah habis semua, yang jalannya bungkuk seperti udang kering saja masih boleh hidup. Kehidupan ini terus berjalan sampai takdir dan kematian datang menjemput. Tapi jika kau mau tahu hidup ini sebenarnya ada dua!"

"Apa maksudmu?" tanya Mata Iblis. "Maksudku tidak berguna dan hidup tidak

punya guna sama sekali! Seperti kau, kupikir hidupmu tidak berguna!"

"Apa? Kau berani mengatakan hidup tidak berguna? Apakah karena aku telah kehilangan anuku!" tanya Mata Iblis marah.

"Bukan, bukan karena kau kehilangan anumu! Yang kumaksud dengan hidup berguna adalah bila hidup seseorang itu dipenuhi dengan kebajikan, sering menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan yang tidak perlu. Suka menolong orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan dan penuh rasa cinta terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan...!"

"Kalau hidup yang tidak berguna bagaimana menurutmu?" potong Mata Iblis kelihatan mulai tertarik.

"Hidup yang tidak berguna bila seseorang terlalu mementingkan diri sendiri, tamak, sombong, pelit dan besar kepala. Di dalam hatinya tidak terdapat jiwa kasih sayang, ia cenderung membuat kerusakan dimana-mana. Orang seperti ini benar-benar tidak disukai Tuhan!"

"Berarti hidupku memang tidak berguna." ucap Mata Iblis seakan putus asa. "Aku terlalu mementingkan diri sendiri, pelit dan terkadang ada rasa sombong sedikit terhadap apa yang kumiliki! Sekarang aku tidak punya anu, harapanku untuk hidup kecil sekali! Rasanya hari ini kau akan menjadi saksi atas kematian yang kuperbuat sendiri!" kata laki-laki berambut gondrong ini.

"Mata Iblis! Sebelum kau mati dengarkanlah kata-kataku!" cegah Manusia Topeng. "Jika kebaikanmu masih sedikit, mengapa kau tidak menanam kebaikan di usiamu yang senja. Kau bisa menolong orang lain, kau bisa membantu orangorang yang lemah. Lagipula membunuh diri termasuk perbuatan yang dibenci Tuhan!" Mata Iblis melotot.

"Mengapa dibenci? Aku membunuh diriku sendiri, bukan orang lain!" seru kakek buta ini sambil melotot.

"Kalau kau kutanya siapa yang menciptakan dirimu?" tanya Manusia Topeng. Ia hampir tidak dapat menahan tawa melihat kebodohan kakek sakti itu.

"Yang menciptakan aku? Kalau tidak salah bapak sama emakku yang sudah almarhum!" jawab Mata Iblis.

"Yang menciptakan kau adalah Tuhan yang telah menciptakan alam ini! Almarhum ayah dan ibumu itu hanya main kapal-kapalan saja. Tidak lebih! Demikian juga yang menciptakan roh adalah Tuhan. Kalau semuanya merupakan pemberian Tuhan, manusia mana yang berhak menyakiti diri sendiri?"

"Oh, jadi membunuh diri pun tidak boleh?!

Lalu apa yang dapat kukerjakan?"

"Bukankah kau telah kehilangan anumu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis anggukkan kepala.

"Sesuatu tidak akan hilang terkecuali ada

seseorang yang mengambilnya. Sesuatu yang hilang berarti berpindah tempat! Kau tentu saja masih dapat menuntut balas pada orang yang telah mengambil anumu itu?"

Wajah mata Iblis nampak menegang. "Orang yang membuatku sengsara adalah Ratu Leak. Benar katamu aku harus menuntut balas!" dengus Mata Iblis. "Kau begini baik padaku, siapakah kau yang sebenarnya Manusia Topeng?" tanya Mata Iblis penuh rasa terima kasih.

"Ha ha ha...! Aku masih manusia juga." "Aku ingin menjadi muridmu!" kata Mata Ib-

lis, tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berlutut. "Weit, jangan!" Manusia Topeng buru-buru

mencegah dan menarik Mata Iblis hingga berdiri kembali.

"Mengapa kau menolak? Apakah karena aku manusia hina?"

"Jangan suka berburuk sangka! Aku tidak mau menjadi gurumu karena kulihat ilmumu sudah tinggi, kita sudah sama-sama tua. Yang diatas dan di bawah sudah sama-sama beruban! Lagipula tidak ada ilmu yang harus kau korek dariku!"

Mendengar ucapan Manusia Topeng, untuk pertama kalinya Mata Iblis tertawa terbahakbahak.

"Bagaimana kalau kita bersahabat? Sahabat yang baik tentunya!"

"Aku setuju!" sahut Manusia Topeng. "Kalau kau sudah berikrar aku ini sahabatmu tentu kau setuju membantuku bukan?" pancing Manusia Topeng cerdik.

"Membantu sahabat yang kesusahan tentu tidak ada salahnya! Katakanlah, jika aku mampu tentu akan kubantu!" sahut Mata Iblis masih dengan tertawa-tawa.

ENAM

"Seperti kukatakan dalam tanduk sakti itu tersimpan kesaktian Pendekar Blo'on, Dewi Kerudung Putih dan juga Si Buta Mata Kejora! Aku sendiri tidak mampu memegang tanduk itu karena aku tidak memiliki sarung 'Sutra Kencana'. Untuk mempererat persahabatan kita, kuharap kau mau membawakan Tanduk itu menjumpai Pendekar Blo'on."

"Aku sering mendengar kau menyebut Pendekar Blo'on. Siapakah orang yang kau maksudkan itu?" tanya Mata Iblis ingin tahu.

"Pendekar Blo'on adalah seorang pemuda gagah, rambutnya merah seperti rambut jagung. Orangnya kocak dan konyol, agak telat mikir sedikit, mendekati goblok tapi cerdik. Kalau sedang bertarung tingkahnya seperti monyet bunting yang hendak melahirkan!"

"Ha ha ha! Kau ini ada-ada saja sahabatku! Tapi kurasa aku menyukai pemuda seperti itu! Kasihan sekali dia. Siapa yang telah membuatnya begitu menderita?" tanya Mata Iblis.

"Yang membuatnya menderita adalah orang yang telah mencopoti perabotanmu juga!" jelas Manusia Topeng.

"Ratu Leak!" desis Mata Iblis dengan mata mendelik. Selalu saja timbul kemarahannya bila seseorang menyebut nama yang sangat dibencinya itu. "Lagi-lagi perempuan keparat itu bikin susah orang lain. Rasanya Pendekar Blo'on hampir memiliki penderitaan yang sama denganku. Kami senasib, aku tidak ragu menyerahkan tanduk ini padanya!" tegas kakek tua itu mantap. Lega rasanya hati Manusia Topeng mendengar ucapan Mata Iblis. Tapi di sudut hatinya ia pun merasa ragu, karena ia tidak tahu dimana Pendekar Malang itu saat ini berada.

"Tunggu apa lagi, mari kita berangkat!" desak Mata Iblis terkesan tidak sabaran.

Belum sempat Manusia Topeng menyahut. Tiba-tiba terasa ada sambaran angin yang cukup keras. Lalu terdengar seruan seseorang....

"Tunggu!"

Manusia Topeng dan Mata Iblis langsung menoleh ke arah datangnya suara. Tidak jauh di hadapan mereka tampak berdiri seorang kakek tua berbadan tegap berpakaian putih, berjambang serta berambut serta putih. Kumisnya yang menutup kedua bibir orang ini pun berwarna putih.

Manusia Topeng memperhatikan kakek di depannya dengan kening berkerut dan mata setengah terpejam. Mata Iblis yang berdiri di samping Manusia Topeng langsung maju beberapa langkah ke depan.

"Kau siapa lagi, orang tua! Apakah anak buah Ratu Leak atau kaki tangannya? Percayalah padaku lekas kau menyingkir atau aku dan sahabatku ini akan membunuhmu!!" ancam Mata Iblis serius. Yang dibentak sunggingkan seulas senyum. Melihat mata hitam yang putih seluruhnya. Ia merasa yakin inilah orangnya yang berjuluk Mata Iblis. Orang itu memegang tanduk. Jadi sudah jelas tanduk sakti itu yang dimaksudkan oleh Si Bayang Bayang.

"Mata Iblis dan sahabatnya yang memakai topeng seperti orang gila! Dan yang gila cuma Manusia Topeng saja! Kalian hendak kemana?" tanya si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.

"Sahabat Manusia Topeng, setan ini sudah mengataimu seperti orang gila sekarang malah bertanya kita hendak ke mana? Apakah menurutmu kita pantas menjawab pertanyaan tua bangka bertampang kunyuk ini?" teriak Mata Iblis dengan perasaan tidak senang. Mata Iblis melangkah maju, ia hendak lepaskan pukulan maut, tapi Manusia Topeng sudah mencegahnya.

"Sabar, tunggu dulu!" seru kakek yang tidak pernah meninggalkan ketapel dan kompeng itu. "Naga-naganya aku seperti mengenalnya. Yieaaah... tidak salah! Di dunia ini tua bangka yang mempunyai tampang seperti kunyuk cuma dia seorang. Penghulu Siluman Kera Putih, benarkah dugaanku ini?" tanya Manusia Topeng.

Yang ditanya tersenyum masam. "Memang aku orangnya. Ah... Manusia Topeng! Setelah sekian lama kau tidak menampakkan diri sekarang kau muncul masih dengan memakai topeng pula. Sungguh kau manusia palsu yang pemalu!" cibir Penghulu Siluman Kera Putih sambil tertawa.

"Apakah kau mengenalnya, sahabat Manusia Topeng? Katakan terus terang, mataku sudah gatal untuk menghajarnya!"

"Ha ha ha! Aku kenal padanya, jangan kau hajar! Jika dia mati sulit dicari pengganti. Lebih baik kita tanya apa keperluannya menjumpai kita!" Tanpa menunggu lebih lama Barata Surya segera menjawab: "Aku sedang bingung memikirkan nasib muridku yang seperti harimau kehilangan taringnya. Kulihat Mata Iblis memegang tanduk sakti! Perlu kalian ketahui di dalam tanduk itu tersimpan kesaktian muridku Pendekar Blo'on. Sekarang aku meminta pada kalian agar ikut den-

ganku ke Lembah Nirwana!" jelas Barata Surya.

Mata Iblis dan Manusia Topeng saling pandang. "Untuk apa?" tanya Mata Iblis curiga. "Tanduk ini akan kami bawa untuk seseorang yang bergelar Pendekar Blo'on juga! Kau jangan cobacoba menipu kami!" bentak si kakek buta.

"Di dunia ini orang yang bergelar Pendekar Blo'on cuma muridku saja. Mengapa kau masih meragukannya, Mata Iblis?"

"Aku tergantung bagaimana pendapat Manusia Topeng. Jika di kolong langit ini Pendekar Blo'on memang cuma itu, tentu aku bersedia ikut denganmu. Karena tujuan kami pun ingin mengembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang kena dikadali oleh Ratu Leak!"

Mata Iblis memandang pada Manusia Topeng seakan menunggu pendapat orang itu.

"Aku ingin bertanya bagaimana muridmu bisa sampai ke Lembah Nirwana? Bukankah tempat itu diselimuti tabir gaib berlapis-lapis...?"

Barata Surya sempat kaget juga melihat kenyataan Manusia Topeng ternyata mengetahui seluk beluk daerah itu.

"Yang membawa muridku kesana adalah Si Bayang Bayang!"

"Si Bayang Bayang? Benarkah manusia setengah gaib itu masih ada?" tanya Manusia Topeng kaget.

"Begitulah kenyataannya!"

"Maksudmu Si Bayang Bayang menculik muridmu?"

"Bukan menculik cuma di pinjam sebentar!" "Dan manusia seperti Si Bayang Bayang ti-

dak sanggup menyembuhkan muridmu? Padahal nama besarnya sudah sangat lama aku dengar!"

"Kurasa ia mampu mengembalikan kesadaran dan memunahkan racun yang mengeram di tubuh muridku, persoalannya cuma tinggal waktu saja!". tegas Penghulu Siluman Kera Putih.

"Hmm...!" Mata Iblis mengguman tidak jelas. "Ayolah sebaiknya sekarang juga kita berangkat!" perintah Manusia Topeng. Mata Iblis dan Barata Surya sama anggukkan kepala. Sekejap saja tubuh mereka berkelebat lenyap dari pandangan mata. Mereka kelihatannya sama-sama mengerahkan ilmu lari cepat yang mereka miliki. Hingga gerakan mereka sekilas bagai gerakan setan bergentayangan. ***

"Masih jauh lagikah tempat itu dari sini, kakak!" tanya gadis berpakaian ungu itu sambil menyeka keningnya yang basah karena keringat. Gadis baju putih yang berlari cepat di depannya menoleh ke belakang sebentar tanpa mengurangi kecepatan larinya.

"Ada apa adik kecil?" sahut gadis baju putih yang pada sangkul rambutnya berhiaskan anggrek kala putih.

"Aku sudah mulai letih!"

"Apakah kau ingin istirahat? Tebing Akherat tidak begitu jauh lagi dari sini. Menurut Guru, kita mesti mencapai tempat itu sebelum matahari terbenam. Ular Kepala Empat akan lebih ganas bila malam hari!"

"Tapi aku sudah sangat letih sekali, kakak!" keluh gadis berkulit putih bermata sipit ini dengan rengekan manja. Gadis di depannya dan tampak lebih dewasa dan tidak kalah cantiknya terpaksa hentikan langkah. Ia melihat adik seperguruannya sudah terduduk sambil memegangi lututnya.

"Adikku Bunga Seloka! Untuk pertama kalinya kita meninggalkan Lembah Nirwana. Sebenarnya belum waktunya kau meninggalkan Lembah. Tapi kau tetap ngotot hendak ikut juga! Tidak biasanya kau bertindak seperti ini!"

"Kakak, bukankah pemuda itu patut kita selamatkan?" jawab gadis bermata sipit yang bernama Bunga Seloka itu merdu.

"Memang! Menolong orang lain yang dalam kesusahan sudah menjadi kewajiban semua penghuni Lembah Nirwana. Tapi benarkah karena alasan itu kau ikut melakukan perjalanan bersama aku?"

Bunga Seloka tundukkan wajahnya yang kemerahan. "Kakak, engkau jahat sekali. Menuduh orang yang bukan-bukan...!" Bunga Seloka jadi cemberut.

"Hi hi hi! Kukira engkau sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pemuda itu. Ingat adik, umurmu belum pun genap delapan belas tahun!" kata gadis baju putih yang lebih akrab dengan panggilan Bunga Bidadari. Dialah gadis paling cantik diantara gadis-gadis yang berada di Lembah Nirwana. Seraya berpura-pura memandang ke jurusan lain. Sedangkan wajah Bunga Seloka semakin bertambah merah seperti tomat matang.

"Kau jahat! Aih, kakak! Tidak bolehkah seseorang jatuh cinta?"

"Tentu saja boleh. Tapi kau belum waktunya!"

"Aku mengerti. Yang tidak dapat kumengerti bagaimanakah rasanya jatuh cinta itu?"

"Hi hi hi! Kau bertanya terlalu jauh. Lebih baik kita teruskan perjalanan kita!!" ajak Bunga Bidadari. Bunga Seloka gelengkan kepala. Adik seperguruannya yang satu ini memang teramat manja. Walau terkadang ia tegas dalam pendirian. Sikapnya lemah lembut dan penyabar, tidak heran jika saudara-saudara seperguruan yang lain menyukainya. "Aku tidak akan ikut kakak jika kakak tidak mau menerangkan padaku bagaimana rasanya jatuh cinta!" kata Bunga Seloka sambil bersungutsungut. Bunga Bidadari tersenyum-senyum. Ia sendiri merasa belum pernah jatuh cinta dengan laki-laki mana pun. Jika Bunga Seloka bertanya tentang yang satu itu tentu sulit bagi gadis ini untuk menjawabnya. Sehingga jawaban Bunga Bidadari itu pun jadi ngawur.

"Rasanya jatuh cinta itu, hmmm...! Kepala sakit berdenyut, hati gatal-gatal gitu. Lalu kalau perasaan cinta semakin menjadi-jadi, mulailah rasanya ingin berak-berak dan kencing melulu! Hi hi hi...!"

"Ihh... kakak jahat sekali. Masa' rasanya jatuh cinta seperti itu?!" Bunga Seloka mendelik sambil cemberut.

"Akh... aku tidak tahu yang sebenarnya. Sudahlah, sekarang lebih baik kita teruskan perjalanan ini!" ajak Bunga Bidadari.

Tanpa berkata apa-apa, Bunga Seloka segera mengikuti kakak seperguruannya yang telah berlari mendahuluinya.

Kira-kira sepemakan sirih, maka sampailah kedua gadis yang cantik-cantik ini di tebing Bukit Petir. Tebing itu sebenarnya lebih dikenal dengan nama Tebing Akherat. Suatu tempat yang memiliki kedalaman lebih dari dua ratus batang tombak. Sulitnya di tebing itulah Bunga Arum Dalu tumbuh. Sementara di samping tumbuhnya bunga terdapat sebuah lubang gelap yang besar. Di dalam lubang gelap itu terdapat dua bintik sinar kuning menyala. Dan penghuninya adalah Ular Berkepala Empat.

"Tempat ini mengerikan sekali, aku mencium bau amis yang begitu menusuk! Dan jurang itu... hmmm... rasanya gemuruh angin tiada hentihentinya menampar bibir tebing!" desis Bunga Seloka dan matanya yang sipit itu semakin menyipit. Sedikit pun Bunga Bidadari tidak menjawab. Dengan hati-hati ia mendekati bibir tebing. Tengkuknya tiba-tiba meremang berdiri.

"Ini adalah tantangan pertama yang cukup berat bagi kita! Kita tidak mungkin dapat menuruni tebing maut itu!" kata Bunga Bidadari.

"Bukankah kita ada membawa Tali Alas Pitu?" tanya Bunga Seloka. Tali alas pitu panjangnya tidak lebih dari tiga tombak. Tapi ia dapat mulur (memanjang) dan punya kelenturan yang luar biasa.

"Dua ratus tombak ke bawah mungkin bisa kita jangkau dengan tali ini. Tapi tali Alas Pitu tidak dapat menahan pagutan gigi Ular Berkepala Empat!" jelas si cantik Bidadari.

"Nggiiiiingkh...!"

"Suara apa itu, kakak?" tanya Bunga Seloka saking kagetnya.

Bunga Bidadari memandang tegang. "Itulah suara Ular Berkepala Empat! Tampaknya ia sudah mengendus kehadiran manusia di sini!"

Baru saja Bunga Bidadari selesai bicara, tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak bergetar hebat seperti dilanda gempa.

"Celaka!" Bunga Seloka belalakkan mata dan wajahnya jelas-jelas tidak dapat menyembunyikan perasaan paniknya. Dalam suasana seperti itu justru Bunga Bidadari terkesan lebih tenang dan dewasa. "Tebing bukit ini rasanya mau runtuh. Bagaimana, kakak?!" tanya Bunga Seloka bingung.

"Tenang saja, Ular Kepala Empat tidak mungkin meninggalkan sarangnya. Getaran yang terjadi ini akibat gerakan ular itu!"

"Apakah kita turun ke bawah sekarang?" tanya Bunga Seloka.

"Tidak ada yang harus ditunggu! Kematian demi tugas bagiku lebih mulia daripada kembali ke Lembah Nirwana dengan membawa malu besar!" tegas gadis bersanggul itu mantap. Melihat kesungguhan kakak seperguruannya, Bunga Seloka jadi lebih serius.

"Aku siap membantumu, kakak!" Bunga Bidadari anggukkan kepala. Ia melepas tali Alas Pitu sepanjang tiga tombak. Tali itu kemudian diikatkannya pada sebatang pohon jambu batu yang terdapat tidak begitu jauh dari bibir tebing.

"Bunga Seloka, kau berjaga-jaga di dekat tali ini. Aku khawatir jika ada sesuatu yang tidak dingin mengganggu pekerjaan kita!" pesan Bunga Bidadari.

"Kakak, mana mungkin aku hanya berdiam diri di sini, sementara kakak di bawah sana berjuang menempuh bahaya! Bukankah lebih baik aku menyertaimu?"

"Jangan jadi orang bodoh! Jika kita berdua berada di bawah, bagaimana nanti kalau muncul orang jahat dan memutuskan tali ini. Kita berdua bisa celaka!"

"Betul juga! Baiklah aku akan menjaga disini. Aku akan menarikmu ke atas bila ada bahaya yang mengancammu!"

Bunga Bidadari acungkan jempolnya. Lalu ia memegang ujung Tali Alas Pitu. Setelah itu ia keluarkan senjata aneh yang berbentuk gaitan tetapi memiliki ketajaman pada kedua sisinya.

"Kau siap?"

"Yaaa...!" jawab Bunga Seloka mantap. Wuuut!

Wiiiing!

Dan melayanglah tubuh Bunga Bidadari melampaui bibir tebing. Ketika Bunga Bidadari hampir mencapai Bunga Arum Dalu yang melekat erat di pertengahan tebing. Dari dalam lubang setinggi orang dewasa menggerung suara Ular Kepala Empat. Dari dalam lubang itu sekonyong-konyong menyembur uap putih berbau amis. Bunga Bidadari sadar betul uap yang menyembur keluar dari dalam lubang tidak lain adalah racun yang disemburkan oleh ular pemangsa manusia ini. Sehingga ia tutup pernafasannya, lalu senjata gaitan di tangan langsung ia putar hingga menimbulkan suara deru yang membuat bising telinga.

Racun yang menyatu dalam uap beracun itu bubar. Di atas tebing terjadi gerakan seperti gempa. Ternyata ular itu sekarang sudah mengeluarkan kepalanya ke depan mulut lubang. Lidahnya yang bercabang tiga dan berwarna biru terung bergerak-gerak liar seakan hendak melibat. Bunga Bidadari langsung hantamkan gaitan panjang di tangannya. Seperti manusia saja, Ular Kepala Empat mengelak dengan menarik kepalanya ke atas.

"Hmm, aku hanya melihat satu kepala, Tiga kepala ular ini entah dimana?" desis Bunga Bidadari. Ia merasa kecut juga melihat betapa besarnya ular yang harus dihadapinya. Tetapi, dia bukanlah gadis lemah yang mudah menyerah dalam menghadapi situasi berbahaya seperti sekarang. Melihat serangan pertamanya luput, Bunga Bidadari tibatiba saja berayun-ayun di atas tali, kemudian jungkir balik dengan gerakan yang manis. Ular Kepala Empat menyambar punggungnya.

Wuuut!

Dengan meminjam kelenturan tali yang dipegangnya, tubuh gadis ini melesat lebih ke atas. Sehingga serangan itu luput dan Bunga Bidadari menghantam mata makhluk melata itu dengan mempergunakan gaitannya. Serangan kilat ini benar-benar tidak pernah disangka oleh Ular Kepala Empat. Mata kirinya kena ditambus gaitan Bunga. Tidak terkirakan betapa marahnya makhluk melata itu. Sekejap tubuh serta kepalanya masuk ke dalam lubang. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bunga. Ia meluncur deras dengan mempergunakan ayunan tali dan....

"Haaap !!"

Breellh!

"Tarik!" pekik Bunga Bidadari ditujukan pada adik seperguruannya. Dengan cepat dan cemas sekali Bunga Seloka menarik Tali Alas Pitu. Ternyata Bunga Arum Dalu telah berhasil diambil oleh gadis rupawan ini.

"Kau berhasil kakak?" seru Bunga Seloka kelihatan gembira sekali.

"Bunga Putih inilah yang dibutuhkannya!" sahut Bunga Bidadari. Dalam hati gadis ini ia menjadi bimbang. "Semudah itukah aku menaklukkan Ular Kepala Empat? Padahal sudah sekian banyak nyawa yang melayang begitu saja di mulut ular itu? Apakah dia sebangsa siluman??" batinnya.

Sambil berpikir Bunga Bidadari menggulung Tali Alas Pitu yang dapat melentur tidak bedanya dengan karet itu. Ia tidak tahu kalau sejak tadi secara diam-diam Bunga Seloka memperhatikannya.

"Kakak, mengapa sejak kau berhasil mengambil Bunga Arum Dalu itu kelihatannya kau tidak gembira?"

"Seloka!" tegasnya serius. "Tidakkah menurutmu aneh, Bunga Arum Dalu adalah bunga langka yang hanya berbunga seratus tahun sekali. Menurut guru kita, Bunga ini dijaga oleh Ular Kepala Empat. Dibawah sana aku melihat ular kepala tunggal. Bagaimana aku tidak heran jika aku merasa mudah mengalahkan Ular itu. Ini sulit kumengerti!"

"Mengapa hal itu merisaukan hatimu! Kita sudah mendapatkannya! Mengapa sekarang kita tidak membawa bunga ini ke Lembah Nirwana secepatnya?" usul Bunga Seloka.

"Penunggu bunga ini konon kudengar meminta korban bila ada seseorang mengambilnya. Aku yang telah mengambil, aku harus bertanggung jawab!"

"Bertanggung jawab pada siapa?" tanya Bunga Seloka.

"Aku merasakan ada perubahan di bawah kita! Mustahil aku dapat melarikan diri daripadanya!"

"Jangan bodoh! Ayo lari!!" Bunga Seloka tanpa perduli lagi langsung menarik lengan Bunga Bidadari. Di saat mereka sedang sibuk begitu rupa. Tiba-tiba terjadi ledakan-ledakan keras di sisi Tebing Akherat. Tanah pun runtuh di sana sini. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan Bunga Bidadari segera berlari bersama Bunga Seloka menjauhi bibir tebing. Dan hanya beberapa saat saja setelah kepergian mereka, bibir tebing runtuh. "Kakak...!" pekik Bunga Seloka di saat tubuhnya terhempas kian kemari. Bidadari berusaha bersikap tabah. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya ia melompat kian kemari,

hingga tubuhnya tidak sampai terhempas. "Kiamat, kakak!" seru Bunga Seloka dengan

wajah pucat dan tubuh dibasahi keringat dingin. "Ini bukan kiamat! Sesuatu yang sangat he-

bat sedang terjadi!" jawab Bunga Bidadari. Untuk membesarkan hati adik seperguruannya, gadis ini tersenyum.

"Ha ha ha...! Hemm, kelancangan biasanya membawa malapetaka! Anak-anak kurcaci yang cantik! Kalian benar-benar berani mati mengusik satu-satunya bunga langka di sini!" kata sebuah suara di tengah-tengah gemuruhnya suara tebing yang runtuh.

TUJUH

Bunga Bidadari hentikan langkah. Melihat kakak seperguruannya berhenti mau tidak mau Bunga Seloka berhenti pula. Bidadari cepat mengitarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Saat itu ia tidak melihat apa-apa. Gemuruh suara tebing yang runtuh semakin menggila. Hingga suasana menjadi hingar bingar menyeramkan.

"Sebaiknya tinggalkan tempat ini, Seloka!" seru Bunga Bidadari dengan teriakan keras. Tampak Bunga Seloka jadi bingung.

"Kakak sendiri bagaimana? Bukankah sebaiknya kita tinggalkan tempat ini bersamasama?"

"Kuakui betapa besarnya rasa sayangmu padaku! Tapi kuharap kau mau menyelamatkan bunga itu demi kepentingan Pendekar rambut merah! Cepatlah sebelum terlambat!" perintah Bunga Bidadari setengah membentak.

"Tidak! Kita datang kesini bersama-sama, apa-pun resikonya harus kita tanggung bersama!" bantah Bunga Seloka tetap bersikeras.

"Kau terlalu keras kepala atau memang ingin mengingkari perintah guru!" teriak Bunga Bidadari. Melihat cara saudara seperguruannya bicara, sadarlah Bunga Seloka bahwa Bunga Bidadari tidak suka dibantah. Dengan berat hati gadis berkulit putih bermata sipit ini terpaksa meninggalkan Bunga Bidadari. Ia berlari secepat terbang, dan memang patut diakui semua murid-murid Lembah Nirwana memang memiliki ilmu lari yang sulit dicari tandingannya.

Namun sebelum Bunga Seloka benar-benar lenyap dari pandangan mata. Dari arah samping kiri menderu angin kencang disertai hawa dingin luar biasa. Angin itu menghantam si gadis. Hingga sambarannya saja membuat Bunga Seloka terhuyung-huyung. Melihat hal ini Bunga Bidadari tidak tinggal diam. Ia dorongkan kedua tangannya ke arah serangan gelap yang hampir mencelakai adiknya.

Wuut! Wuut! Buuum! "Aikh...!"

Murid tertua Lembah Nirwana ini sempat terhuyung ke belakang dua langkah. Ia pegangi dadanya yang mendenyut sakit. Bunga Bidadari merasa ada sesuatu yang sangat dingin dan gatal sekali menusuk-nusuk tenggorokannya. Bunga Seloka memang terbebas dari ancaman maut. Akan tetapi sekarang di depan gadis itu berdiri sesosok tubuh yang panjang luar biasa. Apa yang dilihat Bunga Bidadari tidak lain adalah seekor ular hitam. Yang mengerikan dari makhluk ini, badannya berbentuk ular, tiga kepalanya juga kepala ular. Hanya satu kepala yang lain saja yang berbentuk kepala manusia biasa.

Tiga kepala yang berbentuk ular mulutnya terbuka lebar dengan lidah bercabang. Taringtaringnya meranggas buas siap mencabik-cabik tubuh yang halus itu. Satu kepala pada bagian matanya tampak terluka dan meneteskan darah. Bunga Bidadari ingat betul, mata itu terluka karena senjata gaitannya. Sedangkan bagian kepala yang tegak lurus sejajar dengan badannya merupakan manusia, tetapi tampangnya angker, kulit hitam. Diam menatap Bunga Bidadari dalam gelora buas ingin cepat melahapnya.

"Kau lihat hasil perbuatanmu?" dengus Ular Kepala Empat. Suaranya dingin menusuk membuat sekujur tubuh si gadis meremang berdiri.

"Rasanya tidak kau katakan pun aku sudah mengerti!" sahut Bunga Bidadari dengan suara bergetar.

"Hemm, Tebing Akherat yang menjadi tempat tinggalku porak poranda. Bunga Arum Dalu tidak mungkin pernah tumbuh lagi setelah bunga berikut pohonnya kau cabut! Sekarang kau harus kujadikan tumbal untuk penangkal perutku! Aku harus membuat rumah baru, untuk itu dibutuhkan tenaga berganda. Jika ternyata dirimu masih perawan suci, berarti aku juga mendapat kesaktian baru. Dan mungkin setahun lagi aku baru membutuhkan korban baru!"

"Hi hi hi! Ha ha ha...!" Bunga Bidadari tertawa nyaring. Kini wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun juga.

"Kau tertawa. Apakah berarti kau sudah siap menjadi tumbalku?!" tanya bagian kepala ular yang berbentuk wajah mengerikan sosok manusia. "Aku datang jauh dari Lembah Nirwana. Mencari bunga demi menolong orang lain. Adalah perbuatan bodoh jika aku rela mati tanpa ada usaha menyelamatkan diri! Jawabku sudah jelas, mungkin aku baru bisa masuk ke perutmu bila diriku sudah menjadi bangkai!" sahut Bunga Bidadari tegas. Jawaban ini hanya membuat Ular Kepala Empat menjadi marah.

"Kau gadis lancang, tidak tahu betapa tingginya Mahameru! Kesalahan sudah begitu nyata, tapi kau tetap mencari dalih dan keras kepala! Hiiing...!" Ular Kepala Empat menjerit. Suaranya menyempitkan pembulu darah dan menulikan telinga. Sekali ia meliukkan tubuhnya, maka tiga buah lidahnya yang berjabang menyambar laksana mata pedang yang begitu ganas serta mengeluarkan suara angin bersiut.

"Binatang menjijikkan!" dengus Bunga Bidadari sambil melompat menghindar. Cepat bukan main gerakan gadis ini, namun sebelum kedua kakinya menginjak tanah. Binatang sebesar dua kali pohon kelapa ini sudah menghantam kembali dengan kepalanya yang lain. Bunga terpaksa melompat lagi, ia putar gaitan panjang di tangan. Makhluk ini terus bergerak memburu dan kelihatannya sudah tidak lagi menghiraukan ketajaman senjata lawan.

"Kau tidak mungkin lolos!" geram Ular Kepala Empat. Sekonyong-konyong lidahnya terjulur memanjang dengan gerakan melipat. Jika tidak cepat membantingkan tubuhnya dan diteruskan dengan berguling-guling. Niscaya Bunga Bidadari sudah tersambar jilatan makhluk mengerikan itu. Lidah bercabang itu terus terjulur, melihat bahaya ini Bunga Bidadari kibaskan gaitannya.

Claang!

"Heh, lidah ular dibacok kok bunyinya, clang?!" batin si gadis. Secepatnya ia jungkir balik. Kemudian ia memainkan jurus-jurus Lembah Nirwana yang dikenal mempunyai banyak keanehan ini.

"Hiiiing! Hiiigkh!"

Ular Kepala Empat tiba-tiba dorongkan tiga kepalanya ke depan sekaligus. Dalam pada itu Bunga Bidadari demi melihat lawan kebal senjata langsung buang gaitannya. Sebagai gantinya ia lepaskan pukulan 'Badai Langit'.

Wuuuut!

Ada semacam kabut melesat dari pori-pori Bunga Bidadari. Kabut itu langsung bergulunggulung menghantam habis sosok besar di depan Bunga Bidadari. Gadis itu merasa yakin benar serangan ini mampu paling tidak melukai lawannya. Tetapi kenyataannya setelah badai kabut itu lenyap, Ular Kepala Empat masih tegak kokoh setegar karang.

"Ha ha ha! Dengan apa kau hendak mengakaliku? Aku adalah makhluk yang kebal senjata kebal pukulan. Jika kau punya seribu senjata seribu pukulan, cepat kau keluarkan sebelum keburu kasib!" teriak Ular Kepala Empat dengan suara lantang menggeledek.

Bunga Bidadari tidak menyahut. Kedua tangannya lurus di bentang persis di bagian atas kepalanya. Tubuh si gadis bergetar, bibirnya yang mungil kemerahan tanpa polesan berkemakkemik. Ketika kedua tangannya merangkap sejajar dengan ubun-ubun. Maka tubuh Bunga Bidadari berubah mengembar menjadi banyak. Rupanya Bunga Bidadari telah mempergunakan ilmu langka "Barisan Bidadari Berangkat Ke Bumi'. Ular Kepala Empat sekejap tampak terkesiap juga. Tapi beberapa saat setelah itu, tiga kepalanya sudah kembali menyerang dengan patukan-patukan ganas bukan main.

Dalam hal ini ternyata Ular Kepala Empat tidak dapat lagi membedakan mana Bunga Bidadari yang asli dengan yang palsu. Bila Bunga Bidadari yang palsu kena dipatuknya, maka serangan Ular Kepala Empat langsung nyeplos menghantam angin. Sedangkan pukulan-pukulan dahsyat terus menghujani sekujur tubuhnya. Betapapun kerasnya tubuh Ular Kepala Empat. Tetapi serangan yang bertubi-tubi itu membuat bagian dalamnya terluka juga. Ia pun menggeliat, kini seluruh tubuhnya meninggalkan sarang. Sehingga bekas yang ditinggalkannya membentuk sebuah lubang besar yang tidak diketahui dalamnya.

"Hiiiing!"

Ular Kepala Empat lagi-lagi memekik keras. Empat kepala sama tertegak. Sebagian tubuhnya berdiri. Lalu diluar dugaan Bunga Bidadari Ular itu menyemburkan bisanya yang ganas.

"Pruuskh...!"

Kalang kabut si gadis berusaha selamatkan diri dari hujan bisa. Memang ia selamat dari hantaman cairan bisa yang berwarna putih itu. Tetapi sayang dalam keadaan yang terdesak itu ia lupa menutup jalan nafasnya. Sehingga sebagian kecil kabut bisa terhirup olehnya.

"Hukh! Celaka!!" pekik Bunga Bidadari. Mula-mula ia merasakan kepalanya jadi sakit mendenyut. Langkahnya limbung dan tidak teratur, perut dirasakannya sangat mual sekali. Bunga Bidadari tidak dapat bertahan. Ia jatuh tidak sadarkan diri.

"Hemm, sudah kubilang. Tidak ada manusia mana pun yang mampu menentangku! Kau sangat cantik, kukira sebelum kujadikan tumbal alangkah baiknya jika aku mencicipi kehangatan tubuhmu!" desis Ular Kepala Empat. Kepalanya yang tegak itu kemudian merendah. Lidahnya terjulur dengan maksud merengkuh. Sedangkan ekornya tampak dikibas-kibaskan.

Bunga Bidadari benar-benar berada dalam bahaya besar. Sesaat lagi lidah Ular Kepala Empat menggapai pinggang Bunga. Saat itu pula tampak melesat sinar kuning yang disertai berkelebatnya bayangan merah. Sinar kuning itu langsung menghunjam ke bagian ujung lidah. Lidah tersebut putus hingga terdengarlah suara jeritan panjang mengerikan. Kepala Ular Kepala Empat tertegak, darah menetes-netes dari bagian lidah yang terputus itu. Ketika ia memandang lurus ke depan dengan kemarahan berkobar-kobar. Maka tidak jauh dari sisi si gadis yang nyaris menjadi mangsanya berdiri tegak sosok kakek tua berpakaian dan berambut serba merah. Tatapan kakek ini penuh wibawa. Ditangan kirinya tergenggam sepotong bambu runcing berwarna kuning. Ular Kepala Empat langsung dapat menduga bambu itu tadilah yang telah melukainya. Melihat bambu tersebut nyali Ular Kepala Empat langsung menciut. Akan tetapi rasa penasarannya membuat kemarahan makhluk melata ini tidak dapat dipadamkan.

"Kau ada hubungan apa dengan gadis ini, orang tua? Sehingga kau begitu lancang mencampuri urusan orang lain?!" bentak Ular Kepala Empat.

Suaranya tidak lagi segarang tadi. Namun jelas menyimpan dendam.

"Hubunganku dengannya adalah rasa kemanusiaan antar sesama manusia. Tindakanmu sudah melampaui batas. Aku Malaikat Berambut Api akan membunuhmu jika kau tetap bersikeras hendak menjadikannya sebagai tumbal!" tegas kakek Dewana penuh ancaman.

"Huh, kau lihatlah! Tebing Akherat! Tempat ini merupakan tempat tinggalku selama puluhan tahun. Bunga Arum Dalu akar-akarnya merupakan kunci sekaligus benteng keruntuhan Tebing Akherat. Bunga Arum Dalu sekarang telah dilarikan oleh adik seperguruannya. Adalah suatu tradisi, siapa yang berani memetik Bunga Arum Dalu, sebagai tebusannya ia harus mengorbankan nyawa dan raganya sebagai ganti!" kata Ular Kepala Empat.

"Ha ha ha! Jika kau menginginkan tumbal, silakan kau ambil tubuhku yang tua dan lapuk ini. Tapi sebelum itu kita harus bertarung sampai salah seorang diantara kita ada yang mampus!" kata kakek Dewana. Ular Kepala Empat kembali melirik ke arah bambu kuning yang dipegang lawannya. Malaikat Berambut Api bukan tidak menyadari benda yang dipegangnya itu merupakan sumber kelemahannya. Bambu itu terbukti dapat memutus lidahnya. Kekebalan yang ia miliki menjadi tidak berarti karena bambu celaka itu.

"Aku pantang dihina! Apapun keinginanmu akan kulayani. Huuuk!" Ular Kepala Empat tibatiba julurkan kepalanya ke depan. Kepala yang lain menyerang dari samping kiri dan kanan. Serangan itu termasuk cepat di samping sangat berbahaya sekali. Kakek Dewana tampak tenang-tenang saja, namun hanya sepersekian detik lagi salah satu moncong binatang melata ini menelan dirinya. Bambu kuning ditangan langsung dikibaskan dengan posisi mendatar.

Wuuut! Bet! Bet! Ssssst!

Ular Kepala Empat terpaksa tarik ketiga kepalanya secara serentak. Terdengar desisan panjang. Kemudian kepala itu terhuyung-huyung. Diluar dugaan bagian ekor Ular Kepala Empat mengibas.

Buuung! "Haiiit...!"

Kibasan itu membuat tumbang sepuluh batang pohon. Malaikat Berambut Api melompat tinggi, setelah itu tubuhnya menukik ke bawah. Bambu kuning di tangan langsung dihantamkannya ke bagian ekor yang melecut bagaikan cambuk raksasa itu. Wuuut!

Cepat sekali Ular Kepala Empat menarik balik ekornya, bagian kepala kemudian menyambar ganas ke dada si kakek, sementara kepala yang lain mematuk bagian leher dan perutnya. Malaikat Berambut Api putar tongkat bambu di tangan dengan kecepatan bagai titiran. Pada waktu itu juga ia pergunakan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan yang tidak teratur dan terkesan asal-asalan segera terlihat. Ular Kepala Empat yang semula mengira kakek tua itu tidak becus ilmu silat sekarang dibuat terperangah. Tidak satu pun dari sekian banyak serangan-serangannya yang ganas itu mengenai sasaran yang diharapkan. Malah kini lawan tampak berusaha terus mendesaknya. Gempuran hebat segera dilakukan oleh masing-masing lawannya. Suara pekik dan jerit menggeledek mewarnai pertempuran sengit itu. Berulangkali Ular Kepala Empat hampir berhasil mencelakai lawan. Sayang gerakannya selalu terhalang bambu kuning yang sangat ditakutinya itu.

DELAPAN

"Aku harus punya satu cara, agar bambu celaka itu tidak sampai mengenai tubuhku!" batin Ular Kepala Empat sinis. Kini ia berdiri dengan bertumpu pada pertengahan tubuhnya. Setelah itu ia berputar, praktis kepala dan bagian ekornya sekarang mengibas kian kemari. Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasakan tubuhnya terdorong ke belakang. Ia memperkuat kuda-kudanya. Sedangkan tangan kiri lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.

Wuuuk!

Mula-mula terdengar suara gaung disertai jeritan di sana-sini. Sinar merah hitam melesat menyertai suara-suara aneh tersebut. Udara di sekelilingnya berubah panas bukan kepalang. Untuk pertama kalinya Ular Kepala Empat merasa ada tenaga dorong yang hampir memusnahkan serangannya. Ia lipat gandakan tenaga dalam. Udara panas dan dingin saling dorong tumpang tindih. Wajah kakek Dewana menegang dan benturan tidak dapat dihindari lagi.

Duuum!

Ledakan keras itu membuat Malaikat Rambut Api terpental, tubuhnya jungkir balik namun dapat berdiri lagi dengan kedua kakinya. Si kakek memijit dadanya yang mendenyut. Bila ia memandang ke depan, dilihatnya Ular Kepala Empat masih tertegak sedangkan salah satu moncongnya meluncur deras mengincar bagian ubun-ubun si kakek.

"Hem...!"" Malaikat Rambut Api mengguman pendek. Ia berpura-pura terkejut. Di luar dugaan ujung bambu di tangan menerobos persis di bagian bawah moncong ular tersebut.

Crook! "Haiiiing!"

Ular Kepala Empat menguik keras. Darah mengucur dari bagian luka yang tertusuk bambu. Tiga kepala lainnya meronta memperlihatkan kemarahannya. Lalu sekonyong-konyong dari mulutnya menyembur bisa. Malaikat Berambut Api langsung bergerak menjauh sambil selamatkan Bunga Bidadari dari semburan bisa. Bila bisa Ular Kepala Empat jatuh di atas rerumputan yang menghijau. Maka rumput-rumput itu langsung layu lalu kemudian hangus.

"Dia benar-benar sangat berbahaya sekali!" batin Malaikat Berambut Api. "Aku harus bertindak lebih cepat!"

Selesai ia bicara dengan diri sendiri, disertai dengan jeritan melengking tinggi. Kakek Dewana tampak melesat ke udara. Tongkat bambu kuning segera ditusukkannya ke bagian kepala lawan secara beruntun sambil melompat kian kemari.

Jrooos! "Hiiiikng!"

Ular Kepala Empat meraung keras. Dua kepalanya dapat ditembus senjata lawan hingga jebol sampai ke otak-otaknya. Makhluk mengerikan ini tampak membabi buta karena didera kemarahan dan rasa sakit yang bukan kepalang. Sementara darah semakin banyak yang mengucur keluar, menjadikan Ular Kepala Empat kehilangan banyak tenaga.

"Ular Kepala Empat! Akui kekalahanmu biar aku sudahi serangan!" teriak Malaikat Berambut Api merasa iba.

"Belum pernah makhluk sebangsa kami menyerah pada manusia. Perlawanan sampai titik darah penghabisan jauh lebih baik daripada pergi berkalang malu!" sahut Ular Kepala Empat. Dua kepalanya yang tertusuk bambu tampak terkulai. Yang satunya lagi sudah tidak dapat melihat karena matanya kena dicelakai oleh Bunga Bidadari. Hanya kepala yang berbentuk kepala manusia saja yang masih utuh. Secepat kilat ekornya yang besar bagaikan pecut raksasa melibaskan Malaikat Berambut Api.

Dess! "Hukh!"

Orang tua dari Pulau Seribu Satu Malam itu sempat tersentak ke belakang. Malaikat Berambut Api tarik nafas dalam-dalam. Tanpa diduga-duga ia bersalto, kedua tangannya memegang erat bambu kuning tersebut. Satu loncatan tinggi dilakukannya. Dengan tenaga penuh ia tusukkan senjata itu. Ular Kepala Empat tidak sempat lagi menghindar untuk selamatkan diri. Akibatnya bambu kuning itu menembus punggung hingga ke bagian sisi perutnya.

Ia menggelepar disertai raungan menukik telinga. Ekornya dikibas-kibaskan. Gerakan ular besar itu kemudian melemah.

"Kkk... kau...!" Hanya itu kata-kata yang terucap dari mulut Ular Kepala Empat. Matanya meredup lalu kepala terkulai mengikuti ambruknya badan binatang itu.

Malaikat Berambut Api langsung menghampiri Bunga Bidadari. Setelah meneliti keadaan gadis itu tahulah ia bahwa racun yang mengidap di tubuh si gadis belum sampai menjalar ke bagian jantung.

Kakek itu segera mengeluarkan dua buah obat pemunah racun kemudian memasukkan obat itu ke mulut Bunga Bidadari. Setelah melakukan pemijatan di beberapa tempat, kira-kira sepenanakan nasi lamanya Bunga Bidadari mulai sadarkan diri.

"Di manakah aku?" Bunga Bidadari menggeram lirih. Ia kedip-kedipkan matanya yang indah itu.

"Kau berada di tempat yang aman!" "Siapakah anda?" tanya si gadis. Rupanya ia

kaget juga melihat ada orang lain berdiri tidak jauh darinya.

"Aku Dewana, gurunya pemuda yang hendak ditolong oleh Si Bayang Bayang!" jelas Malaikat Berambut Api.

"Oh...!" Gadis cantik jelita itu menarik napas lega. "Ular itu menyerangku!" kata si gadis mengadukan perihal yang dialaminya.

"Ular itukah yang kau maksud??" Kakek Dewana menunjuk ke arah bangkai ular yang tergeletak tidak jauh dari mereka.

"Siapa yang melakukannya?" "Aku!"

"Kalau begitu aku sedang berhadapan dengan tokoh berkepandaian tinggi?" puji Bunga Bidadari penuh rasa takjub.

"Tidak juga. Menghadapi sesuatu bila kita tahu titik kelemahannya akan mempermudah pekerjaan kita!" tegas si kakek. "Sebaiknya kita ke Lembah Nirwana secepatnya! Tapi kalau kau masih merasa belum kuat berjalan aku akan mendukungmu!" "Kukira aku sudah sanggup berjalan sendiri!" Bunga Bidadari kemudian bangkit berdiri. "Ayolah, kita tidak perlu membuang-buang waktu!" Bunga Bidadari melangkah mendahului Malaikat Berambut Api. Sementara kakek berambut merah itu mengikuti tidak jauh di belakangnya.

***

Tubuh kaku Suro Blondo dibaringkan di atas dipan kayu yang telah berumur ratusan tahun. Karena urat bicaranya telah terbebas dari totokan, maka ia bebas bicara apa saja.

"Ratu Leak! Ternyata aku tidak sanggup melenyapkan musuh besarmu. Utusan macam apa diriku ini. Huk huk huk! Aku terpaksa menangis, sedih bukan karena tubuhku dalam keadaan tertotok. Aku menangis karena merasa percuma menjalani hidup dan percuma juga sebagai laki-laki! Apakah orang sepertiku ini masih pantas hidup! Uhk... hidup yang menyedihkan!!" kata Pendekar Blo'on yang masih berada di bawah pengaruh Ratu Leak sedih.

Sosok tua renta yang terlihat hanya seperti baying-bayang sama sekali tidak menanggapi. Ia malah menghampiri pintu saat didengarnya suara ketukan pada pintu depan.

Ketika pintu terbuka muncul seorang gadis bermata sipit yang tidak lain adalah Bunga Seloka. Gadis ini langsung membungkukkan badannya. "Guru, aku datang dengan membawa kabar baik dan kabar buruk!" lapor Bunga Seloka. Si tua angguk-anggukkan kepala. "Kabar apa yang kau bawa wahai muridku yang bungsu? Katakanlah segera!"

"Bunga Arum Dalu berhasil diambil oleh kakak Bunga Bidadari. Aku diperintahkannya membawa bunga ini pada guru. Tetapi...!" katakata Bunga Seloka tiba-tiba terhenti. Air mata berlinangan dan isak tangisnya pun terdengar.

"Katakanlah, segala sesuatu yang menimpa manusia harus selalu kau ingat adalah merupakan kehendak yang Maha Kuasa!" desak Si BayangBayang alias Tangan Biru.

"Kakak... kakak Bunga Bidadari terpaksa menghadapi Ular Kepala Empat seorang diri!" lapor Bunga Seloka. "Untuk kesalahan ini aku bersedia dihukum berat guru!"

Sosok yang berdiri tegak dan merupakan bayangan yang samar-samar ini elus jenggot panjangnya. "Kau pulang dengan membawa Bunga Arum Dalu karena menuruti perintah kakak seperguruan. Itu adalah tindakan yang cukup terpuji. Tidak ada hukuman apapun yang patut kujatuhkan padamu!"

Bukan merasa senang, Bunga Seloka malah menangis tersedu-sedu. Si Bayang-Bayang kerutkan keningnya. Seraya memegang bahu muridnya, sentuhan itu tidak terasakan oleh si gadis, karena tangan-tangan gurunya seakan-akan terbuat dari angin.

"Mengapa kau menangis?"

"Guru, aku menangis karena tidak dapat membantu kakak seperguruan!" sahut Bunga Seloka.

"Sudahlah, jangan kau pikirkan. Berdoa

semoga Tuhan selalu melindunginya! Sekarang lebih baik kau tunggui pemuda itu, jangan kau sentuh atau kabulkan apapun permintaannya!"

"Baik, guru!"

Si Bayang Bayang berjalan meninggalkan Bunga Seloka, gerakannya ringan dan kedua kaki hampir tidak menyentuh lantai. Bunga Seloka memeriksa Bunga Arum Dalu yang terdapat di sakunya. Ternyata bunga tersebut sudah tidak ada di tempatnya.

"Dia telah mengambilnya!" desis Bunga Seloka. Ia kemudian menghampiri Pendekar Blo'on yang dalam keadaan telentang diam tidak berkutik. Diperhatikannya pemuda itu dengan malumalu.

Sementara itu di dalam ruangan pribadinya Si Bayang Bayang sedang berusaha mencampur beberapa ramuan untuk memunahkan Racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa yang telah mengeram lama di tubuh Pendekar Blo'on. Ia memasukkan ramuan tersebut ke dalam kendi. Terakhir kali diambilnya Kuntum Bunga Arum Dalu yang berwarna putih itu. Sekejap ia mengerahkan tenaga murni ke bagian bunga. Kuncup bunga tidak lama kemudian mengembang. Dari setiap sudutnya mengepul kabut putih yang menebarkan bau wangi semerbak.

"Bunga Arum Dalu, keharumanmu yang semerbak hanya terasa bila malam telah larut. Atas kuasa Tuhan, moga khasiatmu yang besar pemunah dari raja-raja racun berguna untuk menyembuhkan ingatan yang pernah hilang! Semoga... semoga...!" desis Si Bayang Bayang. Hanya dengan sekali remas, bunga mukjizat itupun hancur menjadi serbuk putih. Tangan Biru menaburkan serbuk bunga tersebut ke dalam campuran ramuan. Ketika serbuk bunga tercampur dengan ramuan lain yang sudah mendidih. Maka terdengar suara letupan-letupan kecil disana sini. Air pun bergolak.

Gluk! Glebuk! Buuk!

Setelah campuran ramuan menyatu dengan serbuk bunga Arum Dalu. Maka Si Bayang Bayang mengangkat kendi tersebut. Kendi panas diletakkan di atas tangannya. Aneh, kedua telapak tangan Si Bayang Bayang alias Si Tangan Biru tidak melepuh. Kakek aneh yang sosoknya seperti Bayang-Bayangan ini selanjutnya menghampiri Pendekar Blo'on.

"Pendekar Bodoh! Kini saatnya kau kembali dari mimpi-mimpimu yang teramat buruk. Aku Tangan Biru akan membantumu!"

"Kau siapa manusia jelek?!" sahut Suro Blondo. "Aku adalah anak buah sekaligus utusan Ratu Leak! Bebaskan aku dan aku akan menempurmu hingga tubuhmu jadi lumat!" maki Suro.

"Guru, mulut pemuda ini keterlaluan sekali biarkan aku yang akan mengajarinya adat!" sergah Bunga Seloka. Ia bangkit berdiri dan hendak menampar pemuda itu.

Si Bayang Bayang memberi isyarat pada muridnya agar tetap diam di tempatnya. "Biarkan saja, dia sekarang sedang sakit dan linglung. Kau bukalah mulutnya biar ramuan dalam kendi ini dapat masuk semua ke dalam mulutnya!" perintah Manusia Tangan Biru.

"Orang-orang celaka, aku hendak kalian apakan?" teriak Suro Blondo yang masih berada dalam pengaruh racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa dengan suara lantang.

"Kau mau dimampusin biar hilang kebodohanmu!" Bunga Seloka menyahuti. Seraya langsung membuka mulut si pemuda. Pemuda itu tentu tidak dapat berontak karena tubuhnya dalam keadaan tertotok. Tidak ayal lagi seluruh cairan yang terdapat dalam kendi itupun masuk ke dalam mulut Suro seluruhnya. Mula-mula yang dirasakan oleh Suro adalah rasa panas yang menjalari tenggorokannya, lalu kebagian perut. Dan beberapa waktu berikutnya ia menjerit-jerit dengan mata melotot ketika hawa panas menyerang sekujur tubuhnya. Bagian yang paling parah mendapat deraan hawa panas itu adalah bagian kepala dan otaknya.

"Kaarrrhk!"

Jeritan Pendekar Blo'on melengking tinggi. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Kulitkulitnya menjadi merah. Ada sesuatu yang mendesak-desak mencari jalan keluar di sekujur tubuh pemuda ini.

"Arhk... waduh.... arrrkh... bagaimana aku ini, bagaimana diriku ini??" pekik pemuda rambut merah ini bagaikan orang yang meregang ajal. Ia terus menjerit dan menjerit. Hingga pemuda konyol ini pada akhirnya tidak sadarkan diri.

"Dia mati, guru!!" desis Bunga Seloka ketika dilihatnya Pendekar Blo'on sudah tidak bergerakgerak lagi.

"Tidak mati, dia hanya pingsan saja!" sahut Si Bayang Bayang. Kakek renta ini tetap berdiri di tempatnya sambil tetap mengawasi perkembangan yang terjadi pada Suro selanjutnya.

Ketika itu Suro memang sudah tidak bergerak-gerak lagi, tubuhnya panas bukan main. Mungkin ini terjadi akibat perlawanan racun yang mengeram di tubuhnya dengan obat yang bercambur bunga Arum Dalu yang baru saja diberikan oleh Si Bayang Bayang. Tidak berselang lama, terlihatlah darah berwarna hitam keluar dari seluruh pori-pori di sekujur tubuh pemuda itu. Darah kehitam-hitaman ini berbau busuk bukan main. Tidak bedanya seperti bau bangkai orang yang telah meninggal tujuh hari.

Bunga Seloka tutup hidungnya, ia terhuyung mundur satu langkah dengan wajah tidak kuasa menyembunyikan perasaan ngerinya. Setelah darah kehitam-hitaman tersebut tidak menetes lagi, maka Si Bayang Bayang melangkah mendekati. Kedua tangannya ditekankan ke dada si pemuda. Seraya lalu memejamkan matanya. Bunga Seloka sadar betul kalau gurunya sedang mengerahkan tenaga dalam ke tubuh Pendekar Mandau Jantan.

Tubuh yang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu tampak bergetar hebat. Kemudian menyusul dari seluruh pori-pori si pemuda keluar darah berwarna agak hitam kemerahan. Jelaslah sudah bahwa Si Bayang Bayang sengaja membuat sisasisa racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa hilang seluruhnya dari tubuh Suro.

Si Bayang Bayang setelah melihat darah berwarna merah segera angkat kedua tangannya. Tangan itu selanjutnya dipindahkan ke bagian kepala. Untuk yang kedua kalinya Si Bayang Bayang mengerahkan tenaga dalam. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk memperbaiki sel-sel otak Suro yang sempat dikacaukan oleh Racun Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa. Tubuh Pendekar Mandau Jantan itu tidak lagi terasa panas, tetapi terjadi perubahan dingin yang begitu mendadak. Di saat itu Suro Blondo sudah sadarkan diri. Karena ia memang tidak punya kekuatan untuk membangkitkan tenaga dalamnya. Praktis perubahan udara dingin yang terjadi pada dirinya membuat tubuh pemuda itu tampak membiru keseluruhannya.

"Oh... hhooo... dingiiin... aaaah...!" Pemuda konyol ini menjerit-jerit seperti orang gila. Suaranya bergetar pertanda ia hampir-hampir tidak kuasa menahan hawa dingin yang menderanya bertubi-tubi.

Si Bayang Bayang tampak tenang-tenang saja. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada diri pemuda itu. Apa yang dirasakan oleh Suro tidak lain karena hawa murni yang disalurkan oleh Si Bayang Bayang mulai menyapu habis sisa-sisa racun yang mengalir dalam darah pemuda ini. Untuk yang kedua kalinya Suro jatuh pingsan lagi. SEMBILAN

Pendekar Blo'on dibiarkan dalam keadaan pingsan cukup lama juga. Pada waktu yang bersamaan tiba-tiba terdengar suara panggilan dari luar tabir gaib yang mengelilingi seluruh lembah. Untuk diketahui selain murid-murid Lembah Nirwana tidak ada yang tahu bagaimana caranya dapat ke luar masuk lembah dengan aman.

"Kepada pengusaha lembah, harap sudi memberi jalan masuk! Kami datang dengan tanduk-tanduk yang komplit termasuk tanduk milik Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya...!"

"Jika kau Penghulu Siluman Kera Putih! Sebaiknya masuk dari pintu utara. Saat ini hanya pintu itu saja yang terbuka!" jawab Manusia Tangan Biru.

Sementara itu di pinggir lembah, tepatnya di luar tabir lingkaran gaib yang menjadi pelindung lembah, Mata Iblis kelihatan sudah tidak sabar.

"Mengapa kita berdiri di sini terus? Tadi kau bicara dengan suara perut. Bicara dengan siapa?" tanya Mata Iblis.

"Dengan penghuni lembah ini!" jawab Barata Surya.

"Penghuni lembah sejenis hantu kepompong barangkali. Hingga tempat tinggalnya saja diselimuti tabir!" Laki-laki pendek yang tidak lain adalah Manusia Topeng menimpali.

"Entahlah, kalian ribut melulu. Daripada ribut-ribut sebaiknya kita pergi ke sebelah utara lembah ini! Aku ingin cepat-cepat melihat bagaimana keadaan muridku hingga saat ini!" ujar Barata Surya.

"Mataku yang buta ini memang tidak melihat. Tetapi kukira yang namanya sebelah utara lembah cukup jauh dari sini. Aku tidak mau mengikuti peraturan gila penghuni lembah. Sebaiknya kuterabas saja dari sini!" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut. Dengan cepat ia melesat ke arah lembah.

Wuuk! Duuuk! "Aduh...!"

Seakan ada sebuah tenaga besar yang tidak terlihat yang mendorongnya. Mata Iblis terjengkang. Ulah kakek sakti namun mempunyai kepintaran tidak lebih tinggi dari keledai ini membuat Manusia Topeng dan Barata Surya tertawa terbahak-bahak.

Dengan muka merah padam Mata Iblis bangkit kembali. Ia mengerahkan tenaga dalam ke bagian tangannya. Tapi tindakan yang akan dilakukan oleh Mata Iblis segera dicegah oleh Manusia Topeng.

"Sahabatku! Mengapa hendak merusak dinding rumah orang? Pintu sudah tersedia, tuan rumah sudah mempersilahkan masuk! Bercapaicapai sedikit tidak mengapa. Siapa tahu di dalam sana gadis-gadis cantik sudah menunggu kita?!"

"Betul. Kalau peruntungan lebih baik bukan mustahil seorang gadis telanjang menyambut kehadiran kita di luar pintu!" Barata Surya menimpali. Manusia Topeng tertawa mendengar gurauan Barata Surya yang ngawur tidak keruan itu.

"Aku tidak ikut. Sampai di sini aku malah teringat pada Ratu Leak. Hatiku rasanya belum tenteram sebelum membalaskan rasa sakit hati yang sudah lama berkarat!" dengus Mata Iblis tibatiba.

Manusia Topeng dan Penghulu Siluman Kera Putih saling pandang. Lalu Barata Surya berkata. "Kurasa hanya Manusia Topeng saja yang tidak punya kepentingan langsung dengan Ratu Leak. Aku sendiri seperti yang kau lihat, jelas punya kepentingan dengan Ratu Leak. Karena perbuatannya muridku jadi linglung dan bermaksud membunuh guru sendiri. Rasa penasaranku adalah siapa sesungguhnya iblis yang menamakan dirinya Ratu Leak itu. Hingga ia begitu bernafsu ingin membunuhku. Sialnya lagi ia memperalat muridku...!"

"Kalau pun kau punya kepentingan dengan Ratu Leak. Kau tidak boleh turun tangan membunuhnya. Terkecuali aku sudah mengambil anunya. Ini terpaksa kulakukan karena ia telah mengambil barangku, bukan itu saja barangku konon dijemurnya untuk dijadikan pajangan!" dengus Mata Iblis sambil bersungut-sungut.

"Mengenai siapa nanti yang berhak membunuh Ratu Leak tidak usah kita persoalkan. Yang penting sekarang kita harus masuk ke lembah!" ujar Barata Surya.

"Bagaimana pendapatmu, sahabatku?" tanya Mata Iblis. Seraya memandang tajam pada Manusia Topeng.

"Aku memutuskan untuk menunggu di sini!" tegas Manusia Topeng.

"Kalau sahabatku ini menunggu di sini. Aku juga ikut menunggu disini!"

"Jadi siapa yang akan membawa tanduk sakti itu?" tanya Barata Surya.

"Kau saja.!"

"Tanpa sarung Sutra Kencana?" Mata Penghulu Siluman Kera Putih melotot.

"Bagaimana sahabatku, apakah sarung Sutra Kencana ini harus kupinjamkan padanya? Apakah manusia muka kunyuk ini bisa dipercaya?!"

"Kau sudah kehilangan barangmu, manusia terlahir punya bakat mencuri. Kalau sarungmu ditukarnya. Atau dia melarikan sarung sakti itu apa bukan kau yang repot. Kau bisa kehilangan barang untuk yang kedua kalinya. Untuk itu sebaiknya kau ikut dia dulu. Antarkan tanduk celaka kepada penghuni lembah. Aku bisa menunggumu disini!"

"Kau jangan bicara sembarangan dan berperasangka yang bukan-bukan Manusia Topeng. Jika aku marah, nanti kurobek-robek topengmu baru kau rasa!" maki Penghulu Siluman Kera Putih.

Manusia Topeng hanya tertawa bergelak. Barata Surya kemudian menarik tangan Mata Iblis menuju pintu utara.

Ternyata benar di sebelah utara terdapat sebuah pintu yang samar-samar dan tembus pandang. Kedua orang ini segera masuk melalui pintu yang berwarna seputih salju itu. Semua pintu terdiri dari tujuh buah. Ketika mereka melewati pintu terakhir, maka tercium bau harum semerbak yang khas. Kedua tokoh tua ini sekarang melewati tanaman bunga yang terdapat di lembah. Tidak lama sampailah mereka di depan sebuah bangunan sederhana terbuat dari bahan kayu jati. Pintu bangunan di depan mereka tiba-tiba terbuka. Dua orang murid Lembah Nirwana yang lain menyambut kedatangan orang-orang ini.

Barata Surya mengisiki. "Wah rugi kau jadi orang buta. Gadis-gadis yang menyambut kita cantiknya bukan main...!" puji si kakek konyol sambil senyum-senyum.

"Sial kau! Kalau pun aku dapat melihat rasanya percuma saja, barangku sudah tidak ada. Paling jempolku yang tegang!" dengus Mata Iblis.

"Kepada tetamu Lembah Nirwana harap sabar menunggu! Guru kami sekejap lagi berkenan menjumpai anda berdua!" kata salah seorang dari kedua gadis itu dengan ramah dan senyum manisnya tetap menghias di bibir. Mereka baru saja hendak meninggalkan ruangan tamu. Namun Penghulu Siluman Kera Putih menahannya saat ia mendengar suara bak bik buk di ruangan sebelah.

"Ada apa kakek tua?" tanya gadis kedua. "Eeh... aku mendengar suara seperti anjing

dipukuli, sesungguhnya siapakah yang sedang menjalani penyiksaan itu?" tanya Barata Surya.

"Bukan apa-apa. Guru kami sedang berusaha membuat sadar seekor anak kelinci yang pingsan." sahut kedua gadis itu hampir serentak. Mereka pun akhirnya berlalu meninggalkan ruangan tamu. Baru saja murid-murid Lembah Nirwana meninggalkan mereka. Mata Iblis berbisik pada Barata Surya.

"Mengapa tolol amat? Bagaimana kalau yang digebuki itu muridmu?"

"Heii... apa betul. Kalau dia berani-berani menggebuk muridku, akan kubalas muridmuridnya yang cantik itu akan kugebuk pula!" geram Barata Surya sewot. Mata Iblis hanya tersenyum.

"Bicara seenak perutmu! Padahal kau tidak bedanya dengan harimau ompong yang cuma pandai berkaor saja!"

"Kita lihat saja nanti!" kata Barata Surya semakin tidak senang melihat sikap Mata Iblis yang terlalu meremehkannya.

"Ah... maaf aku telah membiarkan kalian menunggu terlalu lama!" Sebuah suara tiba-tiba terdengar di samping mereka membuat kedua orang tua ini tersentak kaget. Adalah sesuatu yang sangat mengherankan jika Barata Surya dan Mata Iblis tokoh berkepandaian tinggi ini sampai tidak mendengar suara langkah orang yang baru saja bicara tadi.

Penghulu Siluman Kera Putih cepat menoleh. Seorang laki-laki tua renta berpakaian putih tipis tampak tersenyum. Tubuh orang ini begitu kurusnya, kulitnya yang keriput tidak beda dengan lembaran kain tipis pembalut tulang. Satu kenyataan lain yang membuat Barata Surya terkejut setengah mati. Orang ini kedua kakinya sama sekali tidak menyentuh tanah. Tubuhnya tipis seperti bayang-bayang.

"Andakah yang bergelar Si Bayang Bayang alias Manusia Tangan Biru?" tanya Barata Surya. Sambil bertanya ia melirik ke bagian kedua tangan si kakek renta. Ternyata kedua tangan yang kurus kering itu berwarna biru sepenuhnya.

"Seperti yang kau lihat, saudara Barata Surya!"

"Tapi bagaimana dengan aku yang tidak bisa melihat!" Mata Iblis langsung protes.

"Aku memang Manusia Tangan Biru. Dan saudara yang buta ini tentu Mata Iblis!" desah Si Bayang Bayang. Keistimewaan orang ini setiap bicara membuat terkesima orang yang mendengarnya.

"Sekarang aku ingin bertanya bagaimana keadaan muridku!" kata si kakek baju putih langsung pada pokok persoalan.

Orang yang ditanya tidak langsung menjawab. Tangannya malah menggapai, dan tiba-tiba saja tanduk sakti yang berada di tangan Mata Iblis telah berpindah ke tangan Manusia Tangan Biru. Yang mengejutkan kedua tangan orang ini tidak melepuh.

"Muridmu dalam keadaan aman-aman saja. Ingatannya kembali pulih. Barusan aku memukulinya hingga babak belur untuk memperlancar peredaran darahnya. Tapi sampai sekarang ia belum sadar. Kesempatan ini dapat kita pergunakan untuk mengembalikan kesaktiannya yang tertahan dalam tanduk ini!" jelas Si Bayang Bayang. Selanjutnya ia bicara ditujukan pada Mata Iblis. "Saudara yang tidak bisa melihat. Tanduk telah kuambil, terima kasih atas bantuanmu. Jika kau berkenan mari silahkan mengikuti aku untuk melihat pengembalian kesaktian serta tenaga dalam Pendekar Blo'on!"

Satya Gama alias Mata Iblis gelengkan kepala. "Mataku tidak melihat, apa guna menyaksikan pengembalian kesaktian Pendekar Bodoh. Kawanku di luar sana sudah menunggu. Aku takut dia meninggalkan aku! Sebaiknya aku permisi saja!" Kakek berambut panjang itu bangkit berdiri.

"Apakah kau perlu diantar ke pintu depan Mata Iblis? Jika perlu muridku Bunga Seloka dapat mengantarkanmu!"

"Perlu... he he he... perlu sekali...!" sahut Mata Iblis sambil tertawa-tawa.

"Jangan!" cegah Barata Surya. "Mata Iblis walau pun buta tapi dapat menentukan jalan keluar sendiri. Tidak perlu pakai penuntun, ia tua bangka genit yang suka menggatal. Sayang dia tidak punya pedang! Ha ha ha...!"

"Penghulu Siluman keparat! Jangan kau berani membongkar barang orang lain... eeh, maksudku rahasia orang lain! Aku bisa lupa diri dan membunuhmu!" Sambil mengomel tidak jelas, Mata Iblis berkelebat pergi melewati pintu demi pintu tabir pelindung yang ada.

Sementara itu Barata Surya dan Manusia Tangan Biru telah sampai di dalam ruangan dimana Pendekar Blo'on dirawat. Melihat keadaan Suro, Barata Surya langsung mendekat dan berbisik di dekat telinga si pemuda yang masih belum sadarkan diri.

"Murid gendeng, tolol bego. Sudah mengurus diri sendiri tidak becus. Guru yang tidak tahu apa-apa malah mau dibikin celaka! Pemuda macam kau ini pantasnya dibikin mampus saja. Tapi...!" Penghulu Siluman garuk-garuk kepala. "Mana aku berani dengan kakek rambut merah itu. Jangan-jangan ia membantai seluruh penghuni gunung Mahameru. Lagipula mustahil aku bunuh pemuda konyol ini. Lah wong kadang-kadang aku yang sudah tua bangka ini tidak betul dalam bicara kok...!"

"Apa yang kau pikirkan saudara? Sekarang saatnya untuk mengembalikan kesaktian muridmu!" suara Manusia Tangan Biru menyadarkan si kakek dari lamunannya. Bila Barata Surya memandang ke depan. Maka dilihatnya Si Bayang Bayang yang telah duduk bersila tampak menggenggam tanduk sakti yang mengandung hawa panas luar biasa itu sambil mengerahkan tenaga dalamnya.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Yang harus saudara lakukan adalah dudukkan Suro. Saudara duduk di belakangnya dengan posisi kepala tidak lebih tinggi dari kepala pemuda itu. Jika kepalamu lebih tinggi aku takut pengembalian kesaktian malah nyasar melalui ubun-ubunmu! Sudahkah saudara mengerti??"

"Mengerti!" jawab Barata Surya. Dalam hati ia jadi jengkel juga melihat cara Si Bayang Bayang yang memperlakukannya seperti anak kecil. Penghulu Siluman Kera Putih melakukan apa yang diperintahkan Manusia Tangan Biru. Sebelum manusia setengah gaib di depannya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Barata Surya yang usil bertanya....

"Ee... tunggu dulu. Apakah Bunga Arum Dalu sudah didapat dan dimakan oleh muridku?"

"Jangan bawel! Bunga Seloka membawakan bunga itu ke sini. Barang sudah didapat dan dimakan muridmu. Kesadarannya pulih seperti semula, dan kekuatan sekaligus kesaktian titipan Ratu Leak telah musnah! Ada lagi yang ingin kau tanyakan kakek bawel!"

"Ya sudah! Cuma itu saja kok!" sahut Barata Surya sambil senyum-senyum.

"Pusatkan kosentrasimu, jangan lengah jika tidak ingin pekerjaan kita ini mengalami kegagalan!" pesan Si Bayang Bayang. Suaranya pelan namun tegas.

Tidak lama kemudian. kedua tokoh sakti ini sudah mulai tenggelam dalam kosentrasi penuh. Sosok tubuh Manusia Tangan biru yang samarsamar itu kelihatan menggeletar. Tanduk sakti yang tergenggam di kedua tangannya yang semula hanya memancarkan sinar merah redup sekarang mulai menyala dan berpijar-pijar. Bagian ujung tanduk diarahkan kebagian ubun-ubun Pendekar Blo'on. Barata Surya yang berada di belakang Suro dapat merasakan adanya hawa hangat yang begitu kuat mengalir ke tubuh Suro. Wajah Si Bayang Bayang semakin lama semakin menegang. Lalu....

"Huuup!" Diawali dengan terdengarnya pekikan tertahan. Dari ujung tanduk terdengar desiran halus. Terlihat empat sinar, merah putih kuning dan jingga melesat bagaikan lompatan bunga api ke arah bagian ubun-ubun Suro Blondo.

Jsssssst!

Sampai di atas kepala Suro sinar itu berubah jadi kabut. Kabut warna warni selanjutnya tersedot sepenuhnya ke dalam ubun-ubun Suro. Seakan ada sebuah kekuatan dari dalam tubuh Suro yang menariknya. Pemuda itu menggelepar. Dengan kuat Barata Surya tetap memegangi muridnya agar tetap pada posisi semula.

Untuk sekian saat lamanya tanduk tetap memancarkan empat sinar sakti ke bagian ubunubun Suro. Sampai sinar itu akhirnya semakin melemah, lama kelamaan bertambah lemah dan hilang tidak berbekas.

Si Bayang Bayang menyimpan tanduk di balik pakaiannya. Suro terus menggeliat. Setelah itu terdengar suara jeritannya yang panjang menyakitkan telinga.

"Kau dengar suaranya, kesaktian muridmu sudah pulih sebagaimana sediakala!" kata Manusia Tangan Biru.

Mata Pendekar Blo'on yang semula terpejam rapat, kini secara perlahan mulai terbuka. Ia lalu celingak celinguk seperti orang bingung. Ketika melihat Penghulu Siluman Kera Putih berada di belakangnya, pemuda ini jadi kaget.

"Guru? Mengapa kau dan aku sama-sama berada di sini? Tempat apakah ini?" seru pemuda itu. Seraya meraih tangan Barata Surya lalu menciumnya. Kakek berambut putih itu malah cemberut. Suro semakin heran, ia memandang ke depannya. Melihat Manusia Tangan Biru pemuda ini langsung nyerocos. "Guru... siapa orang tua keriputan macam jerangkong ini??"

Plang!

"Waduuuh...!" Suro menjerit, ia jatuh terjengkang. Secepatnya pemuda itu bangkit berdiri. Barata Surya memandang dengan mata melotot kepadanya.

"Mengapa kau memukulku, guru! Apakah kau sudah gila?" kata pemuda itu sambil cengengesan.

"Pemuda sontoloyo! Yang gila itu kau. Cepat kau beri penghormatan pada kakek yang telah menolongmu itu, cepaat...!" perintah Penghulu Siluman. Karena Pendekar Blo'on masih bengong saja. Si Kakek hantamkan kakinya ke betis Suro hingga membuat pemuda itu jatuh terduduk seperti orang yang menghaturkan hormat.

"Maafkan aku orang tua! Aku bingung apa yang telah terjadi dengan diriku. Mengapa tiba-tiba aku sudah berada di sini!"

Manusia Tangan Biru tersenyum. "Kau hampir dapat diperalat Ratu Leak. Kami baru saja berhasil mengobatimu juga mengembalikan kesadaran serta kesaktianmu!" jelas Si Bayang Bayang. Suro langsung terdiam. Ia mencoba men-

gingat-ingat kejadian terakhir kali selama ia tersadar. Mula-mula bayangan seorang gadis yang tidak lain adalah Dewi Kerudung Putih. Lalu Si Buta Mata Kejora. Waktu itu Ratu Leak mengancam akan membunuh gadis misterius itu jika ia tidak mau meminum cairan merah pekat yang diberikan oleh Ratu Leak. Demi menyelamatkan Dewi Kerudung Putih akhirnya ia meminum cairan yang terdapat di dalam cangkir tengkorak itu. Sebelum itu ia juga ingat bahwa Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah memupus habis seluruh tenaga sakti yang dimilikinya. Apa yang terjadi pada dirinya selanjutnya Suro benar-benar tidak tahu.

"Kau sudah mengingatnya, Suro?" tanya Manusia Tangan Biru.

"Ya...! Coba tolong ceritakan apa yang aku lakukan selama dalam keadaan tidak dapat mengingat apa-apa?" pinta Suro ditujukah pada gurunya.

Secara gamblang Barata Surya lalu menceritakan segala sesuatu yang terjadi atas diri pemuda itu. Wajah Pendekar Mandau Jantan sebentar memerah sebentar memucat mendengar penuturan gurunya.

"Ratu Leak benar-benar perempuan iblis! Segala tindakannya patut dihentikan. Aku harus mencarinya, guru!" Suro tiba-tiba meraba pinggangnya. Ia terheran-heran ketika mendapati kenyataan senjata andalannya sudah tidak ada lagi di situ.

"Kakekmu yang membawa senjata itu!" jelas Barata Surya.

Suro garuk-garuk kepala lagi. "Sungguh memalukan jika aku benar-benar hampir membunuh guru sendiri." desis Suro Blondo geram. "Bukan kau yang memalukan. Ratu Leaklah yang sengaja hendak mempermalukan kami!" ujar Barata Surya.

"Sebenarnya ada persoalan apa antara guru dengan Ratu Leak hingga ia begitu bernafsu ingin membunuh guru?" Pendekar Blo'on bertanya dengan tatapan mata menyelidik.

"Mana aku tahu. Mendengar namanya saja baru kali ini!" jawab si kakek.

"Lalu sekarang aku berhutang nyawa dengan kakek ini? Bagaimana aku harus membalas semua kebaikan ini?!" tanya si konyol sambil garuk-garuk kepala.

"Untuk sementara waktu kau harus tinggal di Lembah Nirwana ini! Aku akan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya pada kedua gurumu!" tegas Manusia Tangan Biru. Tidak lama kakek renta ini mendekati Barata Surya. Seraya berbisik-bisik di telinga kakek berpakaian putih itu. Barata Surya angguk-anggukkan kepala. Entah apa yang dikatakan oleh Manusia Tangan Biru, Suro tidak dapat mendengarnya. Yang jelas Penghulu Siluman Kera Putih setelah itu bangkit berdiri dan bersiap-siap hendak pergi.

"Guru? Hendak kemana?" tanya Suro terheran-heran.

"Kau diam saja disini. Urusan di luar tampaknya bertambah gawat! Kau tidak usah banyak cing-cong, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh kakek ini?" pesan Barata Surya.

"Mana bisa begitu! Aku...!" terlambat bagi pemuda ini, karena Penghulu Siluman Kera Putih sudah melesat meninggalkan pintu depan. "Diamlah kau di sini! Hari ini hari istirahat

untukmu. Nanti setelah itu ada rahasia besar yang akan kusampaikan padamu!" kata Manusia Tangan Biru. Suro jadi ragu-ragu. Urusannya dengan Ratu Leak membuatnya tidak dapat tenang. Tetapi ketika melihat seorang gadis cantik luar biasa menyediakan makanan untuknya. Pendekar Blo'on jadi terperangah.

"Bagaimana, tidakkah kau terima tawaranku ini?" suara Si Bayang Bayang membuyarkan lamunan pemuda itu.

"Baiklah, mengingat budi baikmu rasanya aku malu membantah!" sahut Pendekar Blo'on. Dalam hatinya berkata lain. "Siapa sih orangnya yang tidak sudi dilayani oleh gadis-gadis secantik bidadari?"

"Sekarang istirahatlah! Nanti malam kau akan melihat rahasia besar yang telah kukatakan padamu itu!" janji Si Bayang Bayang. Kakek renta itu kemudian meninggalkan Pendekar Blo'on seorang diri. Nah rahasia besar apakah yang akan disampaikan oleh Manusia Tangan Biru? Siapakah kakek setengah manusia setengah gaib ini? Apa yang akan terjadi dengan Malaikat Berambut Api, Mata Iblis, Manusia Topeng dan Datuk Nan Gadang Paluih? Bagaimana pula dengan Ratu Leak? Siapa yang dapat merampas Batu Lahat Bakutuk pangkal dari segala bencana itu?

TAMAT