-->

Serial Pendekar Bloon Eps 16 : Rahasia Pedang Berdarah

 
Eps 16 : Rahasia Pedang Berdarah


Suro memeriksa denyut jantung gadis di depannya. Ternyata sangat lemah sekali. Di perhatikannya wajah Gadis yang pucat, ada darah yang masih menetes di sela-sela bibirnya yang terbuka. Maling Jenaka jelas terluka dalam cukup parah. Pukulan sayap Elang Perak pada bagian punggung Gadis memang tidak ringan. Masih beruntung ia memiliki tenaga dalam yang tinggi. Kalau tidak ia pasti sudah menemui ajalnya. Pemuda baju biru garuk-garuk kepala lagi, tubuh Maling Jenaka memang sangat dingin sekali.

"Pakaiannya sangat basah. Aku harus menyalurkan tenaga dalamku padanya. Sebaiknya kucopot saja bajunya, tapi...!" Pendekar Blo'on ragu. "Tidak pantas rasanya aku melihat auratnya. Jika orang lain sempat melihat perbuatanku hanya akan menimbulkan fitnah!"

Sebaliknya jika tidak cepat di tolong, tentu Maling Cerdik bisa mati kedinginan. Suro akhirnya menjadi nekad, ia segera berkonsentrasi untuk menghilangkan fikiran yang berbau sahwat dalam dirinya. Setelah itu kancing baju Gadis itu dibukanya satu-persatu. Terlihatlah kulit yang halus mulus, dada yang membukit, putih tegak menantang.

Pemuda ini pejamkan matanya, kemudian telapak tangan di tempelkan persis, di pertengahan dada Gadis yang penuh daya pesona tersebut.

Tidak lama ada hawa hangat mengalir lewat jemari tangan Suro Blondo. Tubuh pemuda itu menggigil, sebaliknya badan Gadis menggeletar, nafasnya tersengal-sengal. Maling Jenaka merintih, tapi matanya masih terpejam. Suro cepat angkat tangannya. Setelah  itu ia bermaksud mengancingkan pakaian Gadis, celaka! Maling Cerdik sudah terjaga. Melihat sebagian tubuhnya dalam keadaan telanjang dan Suro kelihatannya yang telah menelanjanginya. Maka ditendangnya pemuda itu tanpa bicara.

Suro yang telah kehilangan banyak tenaga langsung terguling-guling. Gadis dengan terhuyunghuyung langsung memburunya, rupanya ia dalam keadaan kalap itu lupa bahwa pakaiannya dalam keadaan terbuka.

Wuus!

Tendangan Maling Jenaka luput karena Suro sudah melompat menjauh sambil menunjuk-nunjuk ke dadanya.

"Kau... mengamuk boleh-boleh saja, tapi rapikan dulu pakaianmu!" teriak Suro.

Merah padam wajah si gadis, ia cepat membalikkan tubuhnya, setelah merapikan pakaiannya ia kembali menyerang Pendekar Blo'on. Suro kalang kabut dan terus main mundur sambil memperingatkan.

"Jangan serang, kau masih terluka. Kau salah paham!"

"Aku harus mencungkil matamu, pemuda mata keranjang. Kau pergunakan kesempatan selagi aku tidak sadarkan diri!" dengus Gadis.

Maling Jenaka rupanya merasa dipermalukan oleh pemuda berambut hitam kemerahan ini, sehingga sama sekali ia tidak menghiraukan peringatan Suro. Tidak lama ia jatuh terduduk, dadanya sesak bukan main. Gadis pegangi dadanya, nafasnya tersendatsendat memburu. Antara marah bercampur sakit. Ia tetap bertahan agar jangan sampai tidak sadarkan diri, agar pemuda sinting itu tidak lagi buka bajunya atau malah menelanjangi dirinya. Begitu sangkanya. Suro yang merasa tidak tega langsung menghampiri. Gadis mendelik namun tidak berbuat apaapa, karena ia merasa yakin setiap gerakan apapun yang dilakukannya hanya membuat lukanya semakin bertambah parah.

"Sudah kukatakan jangan kau bergerak! Kau terluka, hampir mati malah. Jika aku tidak kerahkan tenaga dalamku ke tubuhmu, aku tidak bisa bayangkan bagaimana nasibmu!"

"Aku tahu, tapi mengapa harus membuka bajuku? Kau melihat apa yang tidak pantas kau ketahui!" dengus Gadis masih dalam keadaan marah.

"Bagaimana aku bisa melihatnya, sedangkan mataku kututup, kok! Kalau kau sendiri mau melihat dadaku silakan!" kata Suro. Gadis cemberut. "Siapa sudi?"

"Kalau begitu ya sudah." kata Suro. Lalu ia mengambil dua buah obat berupa butiran bulat, satu berwarna merah darah dan yang satunya lagi berwarna hitam. "Kau makanlah ini, mudah-mudahan Gusti Allah memberikan kesembuhan padamu!"

Maling Jenaka terpaksa menuruti perintah murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini, walau pun di hatinya ada sedikit rasa curiga.

Suro memutar arah, sekarang berada di belakang punggung Gadis. Setelah memberi aba-aba supaya Maling Jenaka tidak melakukan gerakan apapun. Maka pemuda itu langsung menempelkan telapak tangannya ke bagian tubuh si gadis.

Hawa panas kemudian menjalari sekujur tubuh Maling Jenaka. Ia muntahkan darah kental. Sekujur badannya sempat menggigil. Suro mandi keringat, wajahnya sebentar berubah memerah, sebentar tampak memucat.

Tidak lama kemudian Pendekar Mandau Jantan sudah menarik tangannya kembali.

Ia langsung bersila untuk memulihkan tenaga. Gadis kini merasa sakit di dadanya sudah jauh berkurang. Diam-diam ia merasa kagum juga setelah melihat kenyataan bahwa Pendekar bertampang konyol itu ternyata mempunyai tenaga dalam yang sangat sempurna sekali.

Suro buka matanya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya si pemuda sambil garuk-garuk kepala.

"Agak lumayan!" sahut si gadis manja tetap cemberut.

Pendekar Blo'on bangkit berdiri. Setelah itu ia berkata. "Aku harus menjumpai Pangeran Demak Pati dan gurumu. Setelah itu aku ingin menjumpai El Maut. Kurasa Dewa Kubu tidak bisa di anggap mainmain! Sedangkan kau sendiri terserah, mau ikut aku atau tidak itu urusanmu!"

"Huh, siapa mau ikut kau. Lama-lama aku bisa gila, kau manusia sinting yang usil. Pemuda kurang ajar dan lancang lagi!" dengus Gadis. Suro gelenggelengkan kepala,

Tanpa menanggapi ucapan Maling Jenaka pemuda tampan berwajah ketolol-tololan itu melangkah pergi. Ia berlari kencang menuju ke bukit Sembuang. Di kejauhan Gadis masih sempat mendengar nyanyian Suro yang tidak karu-karuan ujung pangkalnya. Hingga suara itu akhirnya lenyap terbawa angin.

"Pemuda sinting! Tapi... akh, mengapa aku jadi memikirkannya?!" Gadis menggerutu. Tanpa di sadari wajahnya berubah merah jengah. Maling Jenaka kemudian juga meninggalkan tepian telaga. Di kala itu matahari sudah semakin condong di ufuk barat. ***

Kakek Rambut Merah dan puteri Saba memasuki gua di puncak bukit Sembuang. Di dalam gua suasana masih tetap tidak berubah, ada beberapa sosok mayat yang mati dalam keadaan tergantung, mayat itu semakin mengering seperti terjemur. padahal suasana di dalam gua itu terasa lembab.

Puteri almarhum raja Jasa Raga ini ketakutan rupanya, sehingga ia tidak berani jauh-jauh dari si kakek yang memanggul tubuh El Maut. Seperti sama kita ketahui, El Maut terluka parah setelah bentrok dengan Dewa Kubu (Dalam Episode Api di bukit Sembuang). 

"Aku tahu ada sebuah ruangan rahasia di ujung gua ini!" berkata kakek rambut merah yang tidak lain adalah Malaikat Berambut Api. "Untuk sampai ke sana tidak mudah. Banyak jebakan yang telah di buat oleh El Maut. Kau harus mengikuti setiap langkahku, jangan sampai keliru jika tidak ingin celaka!" pesan si kakek.

Puteri Saba mengangguk. Ia mengikuti kakek Dewana, setiap lantai gua yang retak-retak di injak oleh si kakek, maka di situ pula kaki sang putri menapak.

Mereka sampai di ujung gua yang semakin menyempit. Malaikat Berambut Api mencari-cari. Ia segera menemukan alat rahasia yang berada di sebelah kiri. Alat itu di putar-putarnya, lalu terdengar suara bergemuruh.

Batu di depan mereka bergeser. Maka terlihatlah sebuah ruangan lain yang serba indah. Ada sebuah ranjang di ruangan itu, kakek Dewana sempat terpukau melihat ruangan yang dihias seperti kamar pengantin ini. Hatinya gelisah dan merasa tidak enak. El Maut yang berada di atas bahunya segera diturunkan. Setelah posisinya dalam keadaan menelungkup, Malaikat Berambut Api segera berdiri. Dua telapak tangan di arahkannya ke punggung El Maut. Dari jarak dua tombak ia mengerahkan tenaga sakti untuk memusnahkan racun yang mengeram di tubuh si nenek. Cara penyembuhan seperti ini memang jarang terjadi di rimba persilatan. Bahkan tokoh-tokoh yang dapat melakukannya bisa dihitung dengan jari.

Semakin tinggi si kakek mengerahkan tenaga dalamnya, maka rambut orang tua ini yang berwarna merah tampak seperti menyala. Puteri Saba satusatunya orang yang menyaksikan kejadian ini tampak kaget di samping merasa takjub juga.

Tubuh El Maut tampak bergetar, terkadang terangkat dan terbanting di lantai gua. Kemudian terdengar suara erangan si nenek. Namun masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Barulah Malaikat Berambut Api menempelkan telapak tangannya di atas ubun-ubun. Lagi-lagi si kakek mengerahkan tenaga dalam. Hari ini Malaikat Berambut Api benar-benar harus menguras tenaga untuk memusnahkan racun yang mengendap di tubuh El Maut. Entah rahasia apa yang terjadi antara mereka, sehingga Malaikat Berambut Api tampaknya sangat mengkhawatirkan keselamatan nenek berwajah rusak seperti tercakar harimau ini.

Setelah hampir satu jam kakek Dewana berusaha keras menyembuhkan El Maut. Hasilnya segera terlihat. Dari hidung dan mulut nenek itu keluar darah berwarna hitam pekat dan menebar bau busuk. Perempuan renta itu membalikkan tubuhnya, matanya yang merah sayu berkedip-kedip. Ia seperti heran melihat keadaannya sendiri. Mula-mula yang terlihat olehnya adalah puteri Saba. Ketika ia memandang ke depan. Kening El Maut berkerenyit, terlihat ada kemarahan sekaligus kebencian disana.

"Kau...!" desisnya.

"Sabarlah Gayatri. Masa yang lalu biarkanlah berlalu, lembaran hitam itu merupakan bagian hidup yang harus di kubur. Jangan kau ingat, karena hal itu hanya menyakitkan hati saja!" Lirih suara kakek Dewana. Wajahnya tertunduk dalam. Ia jadi teringat peristiwa lima puluh tahun yang silam. Peristiwa itu memang memalukan untuk dikenang, tapi itu bukan cuma kesalahannya saja. Gayatri di masa mudanya adalah seorang gadis cantik, ia masih terhitung adik seperguruan Malaikat Berambut Api. Guru mereka tokoh misterius yang bergelar Si Bayang-Bayang. Selain mereka berdua masih ada saudara seperguruan paling tua, dia adalah Angku Muda Pasak Langit berjuluk Singa Gunung.

Di kala itu Dewana yang lebih tampan dari Angku Muda Pasak Langit memang lebih dekat dengan Gayatri. Mereka sangat akrab tidak ubahnya seperti bersaudara kandung. Dewana sendiri memang selalu berperasaan begitu, namun lain rupanya dengan Gayatri. Gadis ini ternyata menyimpan benih-benih cinta dan harapan pada Dewana. Ia bahkan menganggap keakraban Dewana adalah sebuah tanda bahwa sebenarnya kakang seperguruannya itu mencintai dirinya pula. Bukan cinta antara saudara seperguruan dengan adik seperguruan. Melainkan cinta seorang pemuda dengan seorang gadis. Di samping itu pula di luar sepengetahuan mereka berdua, ternyata saudara tua seperguruan mereka yaitu Singa Gunung diam-diam mencintai Gayatri sejak lama. Namun betapa besar pun hasrat cintanya pada Gayatri yang cantik, mengingat dirinya berwajah jelek, Angku Muda Pasak Langit tidak berani berterus terang menyatakan cintanya pada Gayatri. Untuk di ketahui selain berwajah jelek. Angku Muda Pasak Langit juga mempunyai watak dan perangai yang sangat buruk sekali. Ia bahkan pemuda mata keranjang yang gemar mempermainkan perempuan.

Tentu perbuatannya ini tidak diketahui oleh gurunya, karena Angku Muda Pasak Langit melakukan semua itu di luar lingkungan perguruan.

Demikianlah benih-benih cinta antara Gayatri pada Dewana terus tumbuh dengan suburnya. Sebaliknya cinta antara Singa Gunung pada Gayatri demikian pula. Terkadang di luar sepengetahuan Dewana dan Gayatri, Angku Muda selalu mengintai apa yang dilakukan oleh Dewana dengan gadis yang di cintai oleh Singa Gunung. Rasa cemburu semakin besar, ia ingin memfitnah Dewana agar kedua orang ini dapat dipisahkan. Namun tindak tanduk Dewana tidak satu pun yang menyimpang dari kebenaran. Malah sikapnya sangat melindungi, tidak bedanya seperti antara kakak dengan adik kandungnya sendiri.

Dengan begitu tahulah Angku Muda Pasak Langit bahwa Dewana adik seperguruannya itu tidak mencinta Gayatri sebagaimana sepasang kekasih. Suatu saat ia pun nekad menjumpai Dewana. Beginilah pembicaraan yang terjadi di waktu itu.

"Kakang Angku. Sama sekali aku tidak pernah jatuh cinta pada adik Gayatri. Rasa sayang, rasa cinta, keakrabanku selama ini padanya tidak lebih karena aku telah menganggapnya sebagai seorang adik. Kalau kakang suka padanya, memperistri seorang adik seperguruan tidaklah salah. Sebaiknya kakang berterus terang pada orang yang kakang cintai. Tapi ingat jangan terlalu memaksakan kehendak. Jika adik Gayatri ternyata tidak mau, kakang jangan menyakitinya. Seandainya dia setuju, aku yang akan membicarakan hal ini pada guru!" janji Dewana.

"Tapi guru kita sekarang tidak mau diganggu, ia sedang mencipta sebuah pedang ampuh dahsyat luar biasa. Pedang itu konon pantang dipergunakan untuk menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah. Sekali hal itu terjadi, maka pedang itu hanya akan menebarkan bencana!" jelas Angku Muda Pasak Langit.

"Mengenai apa yang diciptakan guru Bayang Bayang tidak usah dipersoalkan. Sekarang selesaikan dulu persoalan kakang, jika semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kakang harapkan. Kita dapat menunggu guru selesai dengan pedang itu."

Gembira bukan main hati Angku Muda Pasak Langit. Pada suatu kesempatan di dalam bulan purnama Singa Gunung menjumpai Gayatri. Saat itu si gadis sedang menunggu kehadiran Dewana. Melihat kehadiran saudara tua seperguruannya, gadis ini terkejut juga.

"Sengaja malam ini aku menjumpaimu, sematamata karena ingin berterus terang mengenai perasaanku padamu selama ini. Adik Yatri, sesungguhnya aku mencintaimu. Aku ingin menjadikan kau sebagai isterimu. Jika cintaku kau terima, aku merasa orang yang paling bahagia di dunia ini. Lalu aku berjanji akan memperbaiki sifat-sifatku yang buruk padamu!" jelas Angku Muda berterus terang. Tidak terkatakan betapa paras Gayatri berubah. Untuk beberapa saat lamanya ia tidak mampu berkata-kata. Sifat hidung belang saudara tua seperguruannya ini sudah banyak ia ketahui. Ia sendiri selama ini tidak pernah menaruh perasaan apa-apa.

Jika ia berterus terang, Gayatri takut saudara tuanya kecewa dan marah. Jika ia diam, tentu hal ini juga membuatnya merasa serba salah. Namun membiarkan orang lain berlarut-larut dalam harap bukanlah sifatnya, cukup lama juga ia terdiam.

***

DUA

Singa Gunung ternyata tidak sabar juga ketika melihat Gayatri cuma tertegun. Ia terus mendesak, hingga gadis itu berterus terang.

"Maaf, kakang. Aku bukan bermaksud mengecewakan perasaanmu. Namun terus terang saja aku tidak mencintaimu. Aku sudah punya seseorang yang nantinya dapat kuharapkan menjadi pendampingku kelak!"

Kecewa. Tentu saja kecewa, begitulah yang di alami oleh Angku Muda Pasak Langit.

"Kau pasti mencintai Dewana. Sedangkan adik Dewana sendiri pernah mengatakan padaku dia tidak mencintaimu! Jadi kau dan aku sama-sama menanam harap. Namun harap itu tidak kesampaian juga." kata Singa Gunung disertai senyum kecut.

Gayatri berusaha menyembunyikan rasa kagetnya. Ia mana mau percaya begitu saja mendengar penjelasan Singa Gunung. Sehingga di lain waktu gadis ini menjumpai Dewana. Jawaban pemuda itu memang sama seperti apa yang dikatakan oleh Singa Gunung.

Betapa kecewanya hati Gayatri tidak terlukiskan. Berbulan-bulan ia mengurung diri di dalam kamarnya. Sebaliknya lain lagi halnya dengan Angku Muda Pasak Langit. Sejak ia menerima kenyataan yang sangat menyakitkan itu tingkahnya semakin menjadijadi. Setiap perempuan yang di jumpainya diperkosa. Ia gentayangan mencari korban, secara diam-diam di suatu saat ia membunuh Si Bayang-Bayang dengan mempergunakan pedang Pemersatu yang baru diciptakan oleh gurunya sendiri.

Pedang itu memang ditinggalkan menancap di dada Si Bayang-Bayang. Kebetulan Gayatri muncul, dengan jelas ia tahu siapa yang telah membunuh gurunya.

Dalam pada itu Singa Gunung mengajaknya bertarung. Dalam pertarungan sengit tanpa mempergunakan senjata. Singa Gunung berhasil merobohkan Gayatri.

"Ha ha ha! Rasa cinta menimbulkan kecewa, aku tidak dapat merebut hatimu, biarkan hari ini kurebut mahkotamu!" teriak Angku Muda Pasak Bumi.

"Kau jahanam! Kau pasti dikutuk oleh Guru!" geram Gayatri.

"Siapapun boleh mengutukku! Aku tidak ambil perduli!" Singa Gunung tersenyum mengejek. Ia kemudian melucuti pakaian gadis cantik itu secara paksa. Sehingga Gayatri dalam keadaan telanjang. Ia tentu tidak dapat berbuat banyak. Karena dirinya dalam keadaan tertotok.

Singa Gunung dengan leluasa menciumi bibir si gadis, dengan bebas pula ia mempermainkan dada si gadis yang membusung kencang. Lidahnya bahkan bermain-main di atas dada itu. Gayatri menjerit panik, hal ini hanya membuat gejolak birahi Singa Gunung berkobar-kobar. Laki-laki buruk rupa ini kemudian menindih gadis yang telah mengecewakannya. Merenggangkan kedua pahanya yang mulus. Hingga terlaksanalah sebuah kejadian terkutuk.

Setelah puas melampiaskan nafsunya, maka Singa Gunung melampiaskan nafsu berikutnya. Sampai ia kelelahan sendiri. Sebelum ia meninggalkan Gayatri yang telah hancur segala-galanya. Ia mencakar wajah cantik itu sehingga rusak mengerikan.

Sampai senja hari barulah apa yang menimpa Gayatri dan guru mereka diketahui oleh Dewana yang baru saja kembali dari suatu perjalanan rahasia. Ia kaget melihat gurunya tertembus Pedang Pemersatu, namun lebih terkejut lagi melihat keadaan Gayatri. Setelah totokan dibebaskan, Gayatri menceritakan segala sesuatu yang terjadi padanya. Mendidih amarah Dewana, keesokan harinya setelah menguburkan si Bayang-Bayang Dewana melakukan pengejaran. Namun kakang perguruan tertua yang bejad moralnya ini tidak ditemukannya.

Ia kembali lagi ke Lembah Akherat dengan tangan hampa. Namun sesampainya disana ia menjadi semakin sedih, karena adik seperguruannya telah pula meninggalkan lembah itu. Ia hanya menjumpai sebuah pesan sebagai berikut yang ditulis di atas daun lontar.

Kakang Dewana,

Di ujung kehancuran itu ada kehancuran lain yang membuatku patah tidak berguna lagi. Kekecewaan berakhir dengan kehancuran, betapa semua ini sangat menyakitkan. Wajahku telah rusak, kehormatan tidak akan pernah kumiliki lagi. Direnggut dengan paksa oleh orang yang kubenci. Kakang dapat membayangkan beratnya penderitaanku, rusak kehormatan rusak pula wajahku. Aku ingin mengasingkan diri sampai tiba waktunya janji Gusti Allah padaku. Yaitu mati!

Pedang Pemersatu yang telah merenggut nyawa penciptanya. Menurut almarhum guru harus disingkirkan dari manusia. Pedang itu mengandung kutuk. Ia akan menghancurkan tubuh setiap raga bernyawa. Betapa mengerikan, tapi aku tidak bisa membiarkan pedang itu tidak berguna sebelum membunuh Angku Muda Pasak Langit dengan pedang ini pula.

Jangan kau cari aku! Gayatri

Begitulah mereka terpisahkan sekian lama. Dewana sendiri kemudian pergi tidak tentu rimbanya. Hingga kemudian ia menetap di Pulau Seribu Satu Malam. (Dalam Episode Neraka Gunung Bromo), disana ia memperdalam ilmu kesaktian dan mengembangkan jurus-jurus baru. Gayatri yang kemudian berjuluk El Maut setelah tidak menemukan Singa Gunung akhirnya menetap di bukit Sembuang. Hingga akhirnya ia mengambil seorang murid yang kemudian menjadi seorang raja. Dia adalah almarhum raja Jasa Raga.

Kini setelah bertemu, tentu kerinduan di hati El Maut tetap ada, namun mengingat peristiwa dulu. Timbul kembali rasa sakit hatinya. Kakek Dewana alias Malaikat Berambut Api sadar betul akan hal itu.

"Aku menyesal mengapa di hari senjaku kita harus bertemu. Aku membencimu bahkan ingin membunuhmu! Hidupku jadi sengsara karena penolakanmu. Mengapa kau tolong aku, mengapa tidak kau biarkan saja diriku ini binasa? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Muridku Jasa Raga pun telah mati...!" kata EI Maut sedih

Sebaliknya puteri Saba jadi terkejut mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh El Maut. Ia tidak menyangka nenek renta berwajah mengerikan itu adalah guru almarhum ayahandanya.

"Putus asa hanya fikiran orang yang berhati picik, Gayatri. Setiap manusia yang hidup pasti punya guna. Kita bukan dihadapkan dengan masa lalu. Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah mencari pedang yang telah dilarikan oleh orang yang tidak dikenal!"

Mata yang kemerahan itu membulat lebar. El Maut kelihatannya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Kau jangan membohongiku!" bentaknya sinis. "Benar, nenek. Aku yang lihat seseorang men-

gambil pedang itu dari tanganmu dikala kau tidak sadarkan diri." jelas puteri Saba.

"Eeh, kau siapa pula?" bertanya El Maut dengan perasaan heran.

"Aku puteri Saba, anak almarhum Jasa Raga muridmu!" jelas si gadis.

Penjelasan gadis itu membuat El Maut teringat pada pemuda lugu yang mengaku sebagai Pangeran Demak Pati. Namun saat ini rasanya tidak ada gunanya ia bercerita tentang Pendekar Kucar Kacir. Pedang harus dicari, siapa pun yang mencurinya pasti punya maksud-maksud yang tidak baik.

"Malaikat Berambut Api, kita sudah sama-sama tahu bahwa pedang itu dulu sudah pernah menghirup darah. Darah guru kita sendiri. Walau pun begitu aku masih punya penangkal senjata itu yaitu Pusaka Pembawa Rahmat. Aku akan mengejar pencuri Pedang Penebar Bencana. Aku tidak memintamu untuk membantuku. Karena aku merasa khawatir senjata itu akan menghancurkan tubuhmu hingga menjadi debu!" "Ha ha ha...! Aku sudah tua bangka Gayatri, aku tidak takut mati! Kita akhiri pertemuan sampai disini. Selamat tinggal!" kata Malaikat Berambut Api. Berkata begitu ia menyambar puteri Saba, gadis ini dibawanya berlari meninggalkan gua.

El Maut sama sekali tidak mencegah, pertemuan yang tidak di duga-duga dengan Dewana hanya membuatnya bersedih hati. Ia kemudian menekan bibir ranjang. Sebuah lubang empat persegi yang terdapat di dinding gua terbuka. Dari dalamnya terlihat ada cahaya putih memancar, El Maut menjulurkan tangannya. Kemudian terlihatlah sebuah pedang tanpa sarung. Rupanya cahaya yang memancar tadi bersumber dari pedang itu. Setelah menyelipkan senjata itu di balik pakaiannya. Sinar putih lenyap. El Maut berjalan meninggalkan ruangan itu. Sampai di luar gua tubuhnya menghilang di kegelapan malam.

Dewa Petir alias Dewa Maling alias Dewa Copet tampak duduk menekur di bawah pohon beringin putih. Tidak jauh disebelahnya tampak Pangeran Demak Pati masih tidur mendengkur. Waktu itu hari masih terlalu pagi, matahari pun bahkan belum lagi menampakkan diri.

"Bangun! Kita harus melanjutkan perjalanan!" kata Dewa petir. Pendekar Kucar Kacir menggeliat sebentar, namun tidur kembali.

"Pangeran geblek ini kalau sudah tidur seperti sapi" Dewa Petir menggerutu. "Hei, bangun! Sudah siang!" Si kakek mengguncangkan tubuh Pangeran Demak. Seketika ia terjaga, tapi kemudian tidur lagi.

Dewa Petir lama-kelamaan jadi kesal, apalagi bila mengingat ia belum tahu apakah muridnya yang dilarikan Elang Perak dalam keadaan selamat atau malah sebaliknya. Tanpa bicara apa-apa lagi, Dewa Petir segera bangkit berdiri. Di tinggalkannya Pangeran Demak Pati seorang diri. Si kakek berbadan tambun ini terus menelusuri sungai. Tidak sampai sepemakan sirih ia melangkah tiba-tiba ia melihat seorang kakek tua berumur sekitar lima belas tahun lebih tua darinya duduk uncang-uncang kaki di atas batu di tepi jalan itu.

Karena Dewa Petir tidak punya urusan dengan orang ini dan tidak merasa kenal pula. Maka bermaksud berlalu begitu saja. Namun tiba-tiba saja Dewa Petir merasa ada desiran halus. Sebagai orang yang telah kenyang makan asam garam dunia persilatan. Ia cepat menghindar, sinar hitam lewat tidak jauh darinya. Kemudian terjadi ledakan dahsyat dua kali berturutturut.

Daun semak-semak belukar disamping jalan hangus dan mengepulkan asap hitam.

Dewa Petir membalikkan tubuhnya. Sehingga kini ia dapat melihat wajah si kakek dengan jelas. Dia seorang laki-laki bermuka hitam dan jelek rupanya.

"Kisanak ini siapa? Mengapa menyerangku? Kalau merasa kurang pekerjaan lebih baik mencangkul di sawah." geram Dewa Petir.

Si kakek angkat topi bambunya, kemudian ia memperhatikan Dewa Petir dengan tatapan dingin.

"Aku Singa Gunung, kurasa namaku pun kau belum pernah mendengarnya. Kau adalah calon pertama dari percobaanku. Aku ingin melihat bagaimana kedahsyatan pedang Penebar Bencana."

Mendengar kakek bermuka hitam ini menyebut pedang Penebar Bencana. Maka Dewa Petir tercekat. Pedang itulah yang tengah dicari-carinya bersama Pendekar Kucar Kacir, sungguh ia tidak menyangka sekarang telah jatuh ke tangan orang yang tidak dikenalnya sama sekali.

"Senjata itu adalah simbol pemersatu, mengapa kau mencurinya? Sekarang serahkan padaku untuk kuberikan pada yang berhak!" Permintaan Dewa Petir sama sekali tidak ditanggapi oleh kakek bertopi bambu. Malah ia tertawa terbahak-bahak.

"Kau tahu apa? Aku tahu pasti asal usul pedang itu. Sebentar lagi aku akan melihat keampuhan yang dijanjikan!"

Maka tercekatlah kakek tambun ini, mengingat Pedang Penebar Bencana merupakan senjata ampuh yang belum ada tandingannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewa Petir segera mendahului melakukan penyerangan. Ternyata kakek yang bergelar Singa Gunung ini bukan manusia berkepandaian rendah. Hal ini terbukti, serangan Dewa Petir yang cukup terarah itu meleset. Pukulannya hanya mengenai angin. Dewa Petir sempat tercekat juga. Namun ia tidak putus asa, ia kembali melancarkan serangan beruntun yang dikenal dengan jurus 'Menyibak Air menangkap Bayangan'. Salah satu kelebihan jurus ini terletak pada gerakan maupun serangan yang tidak dapat ditebak arahnya.

Benar saja, di saat Singa Gunung berkelit menghindari tinju kiri Dewa Petir, maka tangan kanannya menghantam ke bagian iga Singa Gunung. Kakek bertopi bambu mengeluh, tubuhnya terhuyunghuyung. Sungguh hebat orang ini padahal serangan Dewa Petir mengandung tenaga dalam tinggi. Singa gunung mendengus sinis. Tiba-tiba ia menggeser langkahnya ke samping kiri. Setelah itu kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi ke udara.

Tiga kali tangan berkuku runcing itu berputarputar, maka terlihatlah warna hitam pada setiap jarinya. Singa Gunung mengibaskan kedua tangannya ke depan. Sinar hitam bergulung-gulung melabrak Dewa Petir. Si kakek tambun terpaksa bergerak mundur. Lalu rangkapkan kedua tangannya di udara pula, sehingga terjadilah dentuman keras laksana suara petir.

Sinar pelangi bergulung-gulung menahan sinar hitam yang terus meluncur di udara. Hingga akhirnya terjadi benturan keras bukan alang-alang.

Buuumm! Gusraak!

Dewa Petir terhempas ke belakang, tubuhnya menghantam semak-semak. Singa Gunung yang sempat terhuyung-huyung segera perbaiki posisinya. Lalu lepaskan pukulan lagi. Dewa Petir berguling-guling hindari serangan, dari arah samping ia lepaskan pukulan balasan.

Lagi-lagi terjadi ledakan keras laksana merobek empat penjuru angin. Si kakek tambun merasa dadanya sesak luar biasa. Pabila ia menarik nafas, maka ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Hal ini sulit dipercaya. Kejadian ini sulit dipercaya, mengingat Dewa Petir termasuk tokoh yang memiliki kepandaian tinggi.

Secepatnya ia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Sekujur tubuhnya bergetar keras, dari siku hingga ke pergelangan tangannya mencuat sinar pelangi. Pabila Dewa Petir menggoyangkan tangan-tangan itu maka hanya panas menyengat bergerak cepat menyambar Singa Gunung. Kakek tua menggeram lirih, kemudian tubuhnya melesat ke udara. Tidak urung kakinya masih tersambar sinar pelangi yang melesat dari telapak tangan Dewa Petir.

Brees! "Akh...!" Singa Gunung menjerit tertahan, bila ia terjatuh di atas tanah, maka kakinya tampak melepuh. Sumpah serapah berhamburan dari mulut si kakek.

"Kau benar-benar ingin mampus secepatnya di tanganku!" dengusnya dengan tatapan berapi-api.

Tiba-tiba ia mengambil pedang Penebar Bencana berikut warangkanya. Ternyata memang Singa Gunung inilah yang telah mencuri pedang dari tangan El Maut di saat nenek tua itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dewa Petir terkesiap melihat gelagat yang tidak baik itu, ia bermaksud merampas pedang Pemersatu. Sehingga secepat kilat ia melesat ke depan. Namun lawan ternyata tidak bodoh, ia cepat melompat mundur. Serta merta pedang di cabut dari warangkanya. Sinar merah hitam berkiblat begitu pedang tercabut dari sarungnya.

Dewa Petir sudah tidak sempat lagi menghindar karena jarak yang begitu dekat. Ia tutupi wajahnya, namun apa yang terjadi kemudian begitu mengerikan. Inilah bencana yang paling hebat yang tidak ada duanya di rimba persilatan manapun. Sinar merah hitam yang berpedar-pedar itu bukan saja membuat tubuh Dewa Petir hangus menjadi arang, tapi juga pohonpohon disekitarnya ikut hangus dan meranggas gersang. Kakek tambun itu jatuh tergelimpang, daging dan tulang belulangnya yang menjadi arang segera berantakan. Terkecuali bagian wajahnya yang sempat tertutup tangan tadi.

Singa Gunung menggeram pendek, tersenyum dalam kepuasan. Sebagaimana yang telah sama kita ketahui, siapapun yang memegang senjata itu tidak akan terpengaruh kharisma pedang tersebut.

"Guruku Bayang Bayang telah mati di tanganku, ternyata kau menciptakan senjata ini tidaklah percuma, apa yang kau katakan terbukti. Ha ha ha...! Muridku Hantu Liang Lahat pasti sangat gembira mendapat oleh-oleh ini. Tapi aku harus mencari kesenangan dulu di istana Pasundan! Kudengar disana banyak gadis-gadis cantik yang dapat kujadikan pemuas nafsuku! Ha ha ha...!" Singa Gunung tertawa membahak. Setelah sarungkan pedang itu ia kemudian meninggalkan mayat Dewa Petir yang telah menjadi arang.

***

TIGA

Pendekar Kucar Kacir tentu saja sempat mendengar suara ledakan-ledakan yang terjadi tadi. Namun ketika ia mencari-cari, suara yang didengarnya lenyap. Kemudian ia memutuskan untuk menelusuri pinggiran sungai. Ia terkesiap melihat pohon-pohon yang meranggas jadi arang bahkan masih mengepulkan asap hitam.

Dengan perasaan tidak enak ia mendekati daerah terbakar seluas tujuh batang tombak itu. Keningnya berkerut.

"Mustahil ada orang yang membakar hutan. Mengapa tidak terbakar seluruhnya? Eeh... apa itu?" kata si pemuda setelah melihat benda hitam teronggok seperti jasad manusia yang terbakar. "Ini orang yang mati terbakar? Siapa yang telah melakukannya?!"

Pendekar Kucar Kacir memperhatikannya dengan seksama, ia melihat jemari tangan yang hangus menutupi bagian wajahnya. Hanya sedikit saja wajah orang yang hangus itu tersisa. Ketika tangan disingkapkan, Pangeran Demak terhuyung mundur, matanya membelalak, mulutnya terbuka, namun tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sekujur tubuhnya merinding.

"De... Dewa Petir...!" desisnya dengan suara tercekat. "Mengapa begini jadinya?" kata Pangeran Demak. Ia kemudian teringat tentang kehebatan pedang Pemersatu, tanpa sadar ia pun menangis.

Belum juga tangisnya terhenti, tiba-tiba terdengar suara bentakan di belakangnya.

"Pangeran kerajaan Pasundan. Urusanmu masih banyak, mengapa kau jadi secengeng itu? Siapa yang kau tangisi?" tanya suara tadi.

Ketika Pangeran Demak menoleh ke belakang, maka terlihat olehnya seorang gadis berpakaian hitam dan sobek disana sini. Dia tidak lain adalah murid Dewa Petir.

"Kau lihatlah sendiri. Aku telah datang terlambat!" Pemuda baju putih mengakui. Merasa penasaran si gadis mendekati. Keadaan mayat yang hangus sudah sulit dikenali. Namun bila melihat sisa wajahnya yang sedikit utuh maka meraunglah Maling Jenaka.

"Guru... guruku! Apa yang telah terjadi padanya?" teriak Gadis di tengah isak tangisnya.

"Aku tidak tahu, seseorang telah membunuhnya dengan Pedang Penebar Bencana!" sahut Pendekar Kucar Kacir.

"El Maut yang melakukannya?" tanya Gadis.

Tatapan matanya penuh selidik.

"Aku tidak dapat memastikannya. Mungkin pedang di tangan El Maut telah jatuh ke tangan orang lain. Bisa jadi ada pada Dewa Kubu. Lalu ia melakukan pembalasan karena kita telah membunuh muridnya Pangeran Suprana!" jelas si pemuda. "Jahanam! Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku harus menuntut balas merampas senjata celaka itu!" tegas Maling Jenaka.

"Kita tidak dapat melakukannya seorang diri. Jika manusia seperti gurumu saja tidak dapat mengatasi kehebatan pedang itu, bagaimana dengan kita?" Pendekar Kucar Kacir mencoba memberi pengertian.

"Kau takut mati, eh?" kata Maling Jenaka sinis. "Aku sama sekali tidak takut. Tapi perjuangan

akan sia-sia jika tidak punya perhitungan yang matang. Oh ya, bagaimana kau selamat dari Elang Perak celaka itu? Bagaimana dengan kawanku Suro?"

"Panjang ceritanya, sedangkan Pendekar edan itu sekarang sedang pergi ke puncak bukit. Sebaiknya kita kuburkan sisa-sisa jenazah guruku. Setelah itu kita pergi ke bukit itu?" tegas Gadis. Pangeran Demak mengangguk setuju.

Tidak lama lubang kubur sederhana yang tidak seberapa dalam telah siap mereka gali. Gadis memberi penghormatan yang terakhir pada gurunya. Cukup lama juga ia tapakur seperti orang linglung. Hingga kemudian Pangeran Demak membimbingnya untuk diajak mendaki ke bukit Sembuang.

***

Umurnya sekitar kurang lebih tiga puluh lima tahun. Ia bertelanjang dada. Rambut pendek berdiri tegak seperti bola berduri. Wajahnya pucat agak kekuning-kuningan. Dilihat sekilas lalu ia tidak ubahnya seperti hantu yang bergentayangan. Oleh gurunya Angku Muda Pasak Langit ia di beri gelar Hantu Liang Lahat. Dulunya Singa Gunung menemukan seorang pemuda remaja berumur sekitar lima belas tahun di sebuah lubang pemakaman. Pemuda aneh berwajah pucat seperti tidak berdarah itu sedang mengorekngorek kubur dan mencari bangkai. Bangkai yang sudah membusuk sekitar tujuh hari itu dimakannya. Tidak jelas asal usul pemuda ini. Ia berkeliaran dari satu kubur ke kubur lainnya hanya ingin mendapatkan bangkai yang masih baru. Sesungguhnya pemuda itu sudah memiliki tanda-tanda kesaktian alamiah namun sesat. Ia liar seperti singa, itulah sebabnya ketika Angku Muda Pasak Langit berhasil mengalahkannya secara licik, ia langsung mengangkat pemuda aneh berkesaktian tinggi ini menjadi muridnya.

Dalam didikannya, Hantu Liang Lahat semakin bertambah sesat dan ganas. Korbannya tetap mayat manusia yang telah membusuk. Ia sama sekali tidak memiliki nafsu atau gairah terhadap lawan jenisnya. Selama bertahun-tahun Hantu Liang Lahat tinggal di Lembah Berpulang bersama gurunya. Sampai kemudian Singa Gunung mengajaknya keluar untuk satu urusan di bukit Sembuang.

Kini ia terpaksa berjalan sendiri setelah ditinggalkan oleh gurunya. Dalam keadaan panas terik. Ia sibuk mencari kubur-kubur baru. Sayang sampai sejauh itu ia belum mendapatkan bangkai yang menjadi santapannya.

"Sekali ini guru membohongiku lagi. Katanya di bukit Sembuang banyak bangkai berserakan. Mana buktinya? Perutku sudah lapar begini aku belum mendapatkan makanan barang secuil pun." Pemuda berkulit seperti mayat mendengus, matanya berputar-putar liar mencari. Sampai kemudian ia melihat suara berisik tidak jauh di samping semak-semak belukar. Hantu Liang Lahat mendekati. Setelah dekat matanya yang kuning seperti mata mayat berkedip-kedip. "Kaaak!"

Ternyata yang dilihatnya adalah seekor burung Elang raksasa berbulu putih keperak-perakan. Burung itu mengibas-ngibaskan kepalanya, seakan ada sesuatu yang membuatnya kesakitan. Sebagaimana yang telah kita ketahui Elang Perak telah terkecoh oleh ulah Pendekar Blo'on (untuk jelasnya dalam Episode Api Di Puncak Sembuang). Melihat kehadiran Hantu Liang Lahat, Elang Perak berubah beringas. Agaknya ia menjadi curiga pada siapapun, rasa sakit yang dideritanya membuat Elang Perak menjadi liar.

"Hmm, burung besar. Belum pernah aku melihat burung sebesar ini. Kalau aku suka dagingnya, pasti tidak akan habis kumakan. Tapi jika aku mengetahui apa yang dirasakannya, kurasa ia bisa menjadi tunggangan yang bagus untukku!" pikir Hantu Liang Lahat. Ia semakin mendekati burung tersebut. Namun baru beberapa tombak, Elang Perak memperlihatkan reaksi marah.

"Kaaak...!"

Elang Perak mengangkat sayapnya tinggi-tinggi. Bersamaan dengan itu Hantu Liang Lahat membentak. "Jangan serang! aku bermaksud menolongmu!

Lihatlah mataku!"

Seakan mengerti apa yang dikatakan oleh pemuda berwajah mayat ini Elang Perak langsung memandang tajam ke mata si pemuda. Terlihat ada sinar kuning berkiblat. Elang Perak tiba-tiba menggeram lirih, kepala ditundukkan dan sayapnya pun diturunkan. Hantu Liang Lahat tersenyum aneh.

Hanya dengan beberapa kali lompatan Hantu Liang Lahat telah sampai di samping Elang Perak. Namun binatang ini tingginya bukan main, sehingga ia memberi isyarat agar binatang itu menurunkan kepalanya yang terus dikibarkan. "Apa yang membuatmu kesakitan?"

"Hiiii...!" Elang Perak memekik keras sambil menggerak-gerakkan kepalanya.

Hantu Liang Lahat melihat telinga burung raksasa itu meneteskan darah. Maka ia pun segera memeriksa, ternyata di dalam liang telinga burung tersebut terdapat seekor jengkerik hitam.

"Ini pastilah perbuatan usil manusia. Aku akan mengeluarkan jengkerik itu. Jika sudah berhasil bawa aku mencari orang yang menyakitimu, tapi kau juga harus membantuku mencari bangkai untuk kumakan hari ini. Aku sudah sangat lapar, kau dengar?"

"Kaak!"

Hantu Liang Lahat tanpa kesulitan berhasil mengeluarkan jengkerik tersebut. Binatang kecil itu diremasnya hingga hancur. Lalu dielusnya kepala Elang Perak.

"Bawa aku terbang mencari makananku!" kata Hantu Liang Lahat sambil melompat ke atas punggung Elang Perak.

Sekejap saja Elang Perak telah mengudara, ia terbang berputar-putar menuju bukit Sembuang. Elang itu membawa Hantu Liang Lahat ke daerah dimana mayat-mayat prajurit bergelimpangan di sana. Dengan rakus dan sambil tertawa-tawa, Hantu Liang Lahat berpesta pora di atas mayat-mayat prajurit yang telah membusuk.

***

Setelah melihat bekas terjadi pertempuran di sebelah utara Bukit Sembuang, Suro merasa yakin ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi dengan El Maut. Kini ia merasa bingung di saat melihat kenyataan bukit itu dalam keadaan sunyi.

Pendekar Blo'on berlari-lari menuruni bukit, ia terus berlari hingga jauh meninggalkan bukit yang sempat menimbulkan kegegeran tersebut. Karena tetap tidak menjumpai siapapun. Akhirnya si geblek memanjat pohon sampai hampir ke pucuknya. Dari atas ketinggian pohon ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Suro garuk-garuk kepala, kesal, bingung menjadi satu, lalu di aduk-aduk. Hingga membuat Suro semakin bertambah konyol.

"Orang-orang! Kemana kalian semuanya? Apa sudah pada tergusur ke liang kubur! Hoi... jawablah suaraku?" teriak Suro disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, hingga membuat binatang-binatang hutan lari menjauh terbirit-birit. Suro seka keringat di keningnya, Lalu garuk-garuk kepala lagi. Suro bergerak turun lagi, gerakannya cepat seperti tupai. Di pertengahan pohon ia berhenti. Lalu ia duduk di salah satu cabang sambil uncang-uncang kaki membuang kekesalannya.

Ke bukit aku turut,

Ke gunung kau terkentut-kentut Tidak terhitung nyawa melayang Hanya karena berebut pedang

Pendekar Kucar Kacir Pangeran linglung Gurunya mati terbunuh.

Aku lihat roh-roh bergentayangan Tidak diterima bumi, terusir dari langit. Hei... orang-orang....

Orang orang kaya, orang berpangkat

Orang susah, orang tertindas, orang tergusur Orang yang tinggal di kolong jembatan, sampai laler ijo.

Mari kita lihat orang berebut pedang, berebut pangkat, berebut kerakusan, hingga tubuh mereka tersungkur terbungkus kafan

Lalu,

Di sini aku bingung Linglung, ha ha ha...!

Suro tiba-tiba tekap bibirnya. Ia sudah terlanjur bicara sembarangan. Ini karena kebiasaan buruknya yang telat mikir, walau sesungguhnya ia berotak cerdik.

Baru saja si konyol bermaksud turun ke bawah. Tiba-tiba ia melihat dua bayangan berkelebat cepat. Yang berpakaian merah menggandeng tangan gadis berpakaian putih. Melihat cara yang dilakukan orang berbaju merah Suro jadi geli sendiri. Tingkah si kakek seperti meminggit anak saja.

Barulah setelah kedua orang ini semakin bertambah dekat, Pendekar Mandau Jantan kedipkedipkan matanya seakan tidak percaya.

"Lho, itu kan kakekku?! Ngapain dia kemari? Apa puteri Saba pacarnya. Kalau betul, ini keterlaluan namanya, sudah tua bangka masa' masih juga pacaran. Gandeng-gandengan seperti kereta kuda, aku sendiri yang muda belum pernah begitu!" kata Suro dengan mulut terpencong.

Si konyol diam mendekam di atas pohon. Kebetulan Malaikat Berambut Api hentikan larinya. Di atas pohon Suro terpaksa menahan nafas.

"Sialan, mengapa tiba-tiba saja aku jadi ingin kentut?!" gerutu Suro.

Puteri Saba dan Malaikat Berambut Api yang berdiri tidak jauh di bawah pohon tampak terlibat pembicaraan. Setelah itu terdengar sindiran yang membuat kuping si konyol berubah memerah.

"Manusia kurang ajar adalah yang tidak tahu peradatan. Bertingkah seperti monyet kurapan pakai ngumpet (sembunyi) di atas pohon. Di Gunung Mahameru kulihat banyak monyet siluman ingin jadi manusia. Ini ada anak manusia ingin menjadi monyet. Kalau tidak waras, tentu dia sudah gila! Turun monyet berwajah tolol, atau aku akan menyeretmu!"

"Wah, guru edan. Aku dikatai monyet, padahal dia sendiri pelihara berewok. Mungkin mau jadi monyet juga!" gerutu Suro Blondo.

Sambil melorot turun Suro menggerutu dalam hati. Ia langsung cengengesan setelah berhadapan dengan guru sekaligus kakeknya sendiri.

"Bocah gendeng! Begitu rupanya Penghulu Siluman Kera Putih mendidikmu! Bertemu denganku tingkahmu malah seperti orang kurang waras!" bentak kakek Dewana.

Suro langsung sadar bahwa orang tua yang satu ini tidak kena diajak main-main. Jika ia marah Suro bisa celaka.

Suro bersikap serius, sungguh tingkahnya tidak di buat-buat. Ia jatuhkan diri berlutut sambil berkata.

"Terima hormatku, kakek, guruku juga. Sudah lama kita tidak bertemu aku rindu sekali. Sebaiknya kita salaman dulu, setelah itu baru ngobrol tentang puteri yang telah menjadi pacarmu! Salaman, guru. Uhh... aku sudah kangen sekali!" kata Suro. Habis berlutut ia bangkit, lalu menghampiri si kakek dengan mata setengah terpejam. Agaknya Malaikat Berambut Api adalah orang yang paling disegani oleh Suro, sehingga memandangnya pun ia tidak berani. Ia terus berjalan, tapi arahnya salah sehingga yang didatanginya malah puteri Saba. Setelah salaman, karena rindunya ia memeluk puteri Saba yang di anggap gurunya sendiri. Suro tiba-tiba terkesiap dan cepat melangkah mundur.

"Guru...! Sejak kapan dadamu ada benjolannya! Baumu harum, padahal dulu kau bau apek sekali dan...!"

"Diam!" Kakek Dewana membentak marah. Jidat Suro didorong pakai jari telunjuk. Bukan dorongan biasa tentu saja, hingga membuat Suro jatuh terduduk. "Buka matamu anak tolol, sampai kapan kau akan pelihara ketololanmu?"

Pendekar Blo'on buka matanya. Ternyata orang yang disalam dan dipeluknya tadi adalah puteri saba. Herannya gadis cantik pewaris tahta kerajaan Pasundan itu tidak marah, hanya wajahnya saja tampak berubah.

EMPAT

“Hayo jawab sampai kapan kau pelihara ketololanmu?” bentak Malaikat Berambut Api mengulangi pertanyaannya. Suro cengar cengir. “Cengengesan lagi, biar kutampar kau punya mulut!”

Suro langsung dekap mulutnya. “Guru tidak usah marah-marah.” Kata Suro bersikap sungguhsungguh. “Aku tidak pernah memelihara ketololan, Cuma si tolol saja yang selalu ikut kemana aku pergi. Guru, kalau boleh aku bertanya, bagaimana guru yang sudah tua pacaran dengan puteri raja? Aku yakin masa kecil guru tidak bahagia!” “Diam! Anak setan, kuberi kau kebebasan untuk mencari pengalaman di rimba persilatan. Ternyata kau bukan dapat pengalaman, tapi malah gilamu semakin menjadi-jadi. Rupanya kau tidak melihat bahwa urusan semakin bertambah gawat?!” Melihat mata Malaikat Berambut Api yang melotot. Suro tundukkan kepala.

“Lalu apa yang harus kuperbuat, guru. Aku sendiri hampir mampus dihajar Elang Perak pulang pergi. Aku maklum, guru sampai menyusulku kemari dan meninggalkan pulau Seribu Satu Malam, tentu karena menganggap persoalan gawat.” Kata Suro.

“Betul, ternyata otakmu encer juga. Persoalan pedang menjadi runyam karena kau berurusan dengan tokoh-tokoh yang punya kepandaian setingkat denganku. Kini pedang itu tidak lagi di tangan El Maut!” jelas kakek Dewana. Beliau kemudian menceritakan apa yang telah terjadi. Suro mendengar penjelasan gurunya dengan bersungguh-sungguh. Hanya matanya saja yang berkedap-kedip seperti kelilipan. Setelah mendengar penjelasan gurunya Suro ajukan pertanyaan.

“Jadi apakah mungkin saudara guru tertua yang mencuri pedang itu?”

“Kemungkinan itu ada. Sekarang cobalah kalian kembali ke kota raja. Jaga puteri Saba baik-baik. Aku akan menyelidik ke daerah sekitar pesisir pulau Jawa ini. Jika kau bertemu dengan orang tua yang bernama Dewa Kubu. Sebaiknya kau berhati-hati, dia manusia setengah roh yang licik.”

“Guru, perintahmu akan kukerjakan. Aku gembira pergi dengan puteri Saba. Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan padaku!” kata Suro kemudian ia menjura hormat. “Hati-hati Suro, jika sampai puteri raja kau buat bunting! Aku benar-benar akan membunuhmu!” pesan Malaikat Berambut Api.

Suro membungkukkan tubuhnya lagi. Sampai ia merasakan tepukan seseorang di punggungnya. Cepat-cepat ia berdiri. Puteri Saba tersenyum penuh wibawa.

“Kakekmu sudah pergi, kau menungging seperti ayam mau bertelur. Sungguh watakmu seperti bumi dengan langit bila di bandingkan dengan gurumu!” kata sang puteri.

“Aku takut dengan tua bangka berambut merah tadi.” Jelas Suro tanpa malu-malu. Bicaranya yang ceplas-ceplos menyebut gurunya dengan ‘tua bangka’ merupakan suatu tanda, bahwa sikap Suro memang tidak di buat-buat.

“Sebaiknya cepat kita tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi hari sudah semakin gelap.” Ujar puteri Saba.

Suro tidak segera menjawab. Namun kemudian anggukkan kepala. Kedua muda mudi ini kemudian melanjutkan perjalanan ke kota raja.

Hari sebentar saja menjadi malam, langit mendung. Angin bertiup kencang. Kegelapan semakin bertambah pekat. Ada beberapa batang pohon yang bertumbangan di sekitar jalan setapak yang mereka lalui. Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya.

“Kita harus mencari tempat berteduh!” berkata Pendekar Blo’on di tengah-tengah gemuruh suara hujan.

“Di rimba belantara seperti ini. Mana ada pondok, sebaiknya kita berteduh di bawah pohon besar itu?” usul puteri Saba. Sementara itu pakaiannya sudah mulai basah kuyup. Suro terdiam untuk beberapa saat lamanya, di perhatikannya puteri Saba yang sudah mulai menggigil kedinginan. Agaknya gadis ini tidak pernah mengalami kesengsaraan selama ini. Hingga Suro merasa kasihan. Murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api celingukan. Hingga akhirnya ia melihat sebuah pondok buruk yang agaknya telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Suro merasa yakin pondok itu pastilah milik para pemburu untuk tempat tinggal sementara semasa waktu berburu.

“Puteri, kulihat tidak jauh dari sini ada sebuah pondok. Mari kita ke sana, hujan ini cukup lama. Kau bisa sakit!”

Puteri Saba ragu-ragu. Ia percaya dengan kejujuran Suro, mustahil pemuda itu berbuat macammacam. Ia sendiri tidak dapat memungkiri perasaan hatinya yang mulai tertarik pada Suro.

Yang ia khawatirkan bagaimana jika pondok buruk itu adalah jebakan yang di buat oleh seseorang? “Ayolah, puteri. Hujan semakin menggila, lebih

gila jika kita tetap bertahan disini!” desak Pendekar Blo’on. Karena pemuda berambut hitam kemerahmerahan itu terus mendesak. Puteri Saba akhirnya mengalah. Mereka berlari-lari menghampiri pondok. Pintu pondok yang tertutup didorong oleh Suro. Setelah memeriksa keadaan di dalam pondok yang gelap, maka Pendekar Mandau Jantan mempersilakan puteri Saba menaiki tangga

Suro menyalakan pelita kecil yang tergantung di dinding, minyaknya yang berasal dari kelapa memang tinggal sedikit, tetapi cukuplah untuk sementara waktu.

Setelah itu Suro duduk di pinggir pintu. Ia tenggelam dalam lamunannya. Tiba-tiba terlintas, bayangan ketika ia berada di reruntuhan kuil. Di saat itu muncul Dewa Petir, kemudian muncul pula Gadis alias Maling Jenaka. Gadis yang mencemo’ohnya dengan mencuri senjata milik Suro. Meskipun hanya mempermainkan, namun Suro sempat kelabakan juga, (untuk lebih jelasnya dalam Episode Api Di Puncak Sembuang). Suro tiba-tiba usap wajahnya. Udara dingin terasa sangat menggigit. Kemudian ia sandarkan tubuhnya, teringat olehnya sosok wajah yang demikian cantik, gerakannya cepat seperti kilat. Dialah puteri Kilat Bayangan, gadis yang diam-diam di cintainya tapi Suro sepertinya sadar bahwa gadis itu seperti tidak menaruh cinta padanya. Suro memang konyol, namun sebagai manusia bukan berarti ia tidak pernah sedih. Sedih bila cintanya ditolak, atau kecewa bila perasaannya tidak bersambut (Dalam Episode Jodoh Di Gunung Kendeng). Padahal memang banyak juga gadis-gadis yang mencintainya. Seperti Dewi Bulan misalnya, atau Dewi Kerudung Putih yang misterius (dalam Episode Bayang Bayang Kematian). Dan atau Dewi Arimbi yang juga mengharap cintanya (Episode Memburu Manusia Setan). Terlalu banyak nama ‘Dewi’ hingga membuatnya pusing. Wanita adalah sosok yang misterius dan sulit di duga, mereka punya sembilan puluh sembilan kenikmatan namun mempunyai rasa malu yang lebih tinggi dari laki-laki. Walau pun terkadang ada juga yang bikin malu keluarga! Suro garukgaruk kepala. Lalu bengong lagi seperti ayam pikun.

“Suro…!” Sebuah suara yang begitu merdu memanggilnya.

Suro menoleh, serentak lamunannya buyar seketika. Dilihatnya puteri Saba duduk meringkuk di pojok ruangan dengan tubuh menggigil.

“Ada apa, puteri?” tanya Suro, seraya datang menghampiri. Setelah meraba kening sang puteri, ternyata tubuh gadis cantik itu panas. “Kau sakit?”

“Mungkin, tubuhku dingin sekali.” Sang puteri mengeluh.

“Maafkan aku, boleh kupijit tengkukmu, kurasa ada jalan darah yang tidak lancar”

Gadis itu terdiam, ragu-ragu. Namun kemudian anggukkan kepala. Suro memijit bagian-bagian pembuluh darah besar. Ia kemudian melepaskan pakaiannya yang sudah mulai mengering tertiup angin.

Ia menyelimuti tubuh puteri Saba. Tidak lama Suro sudah tidur menelentang di depan pintu. Sesungguhnya ia tidak tidur, karena malam ini ia harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Si gadis merasa terharu atas kebaikan Pendekar Blo’on. Ia membayangkan andai saja ia mendapat pendamping sesabar dan selembut pemuda itu. Betapa hidup ini menjadi lebih indah, lebih menarik dan ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan kerajaan dan rakyatnya.

Keadaan semakin bertambah sunyi, hujan tidak lagi turun sederas tadi. Sekarang hanya tinggal rintikrintik saja. Puteri Saba yang takut akan kegelapan segera merebahkan tubuhnya di samping Suro. Namun ia merasa gelisah. Kini semakin dekat ia dengan Suro hati puteri Saba kian gelisah. Akhirnya ia bangkit duduk melirik ke arah Suro dengan malu-malu. Andai saja mereka berada di istana, pasti puteri telah menyelimuti Suro pula. Atau jika ia tidak merasa malu pada diri sendiri, pemuda itu sudah di ciumnya. Namun mengingat betapa rendahnya bila ia lakukan semua itu. Puteri Saba jadi urung. Ia kemudian tertidur di samping Pendekar Blo’on memeluk mimpi dalam kegelisahan yang panjang. Keesokan paginya kedua muda mudi itu tersentak kaget begitu mendengar suara bentakan di depan pintu pondok. Begitu nyenyaknya tidur mereka, hingga Suro sendiri tidak mengetahui ada seseorang berwajah pucat seperti mayat mendatangi pondok yang mereka tempati.

Suro Blondo julurkan kepala, kemudian melihat keluar. Semakin jelaslah orang yang membentak mereka tadi. Dia adalah seorang pemuda berambut lurus tegak berdiri. Wajahnya sepucat mayat, mata pemuda itu berwarna kuning seperti mata mayat.

Pendekar Blo’on kerutkan keningnya sambil berfikir siapa gerangan pemuda berwajah dingin ini. Suro sekali lompat langsung berada di depan pemuda muka mayat. Ia berkeliling berjalan mengitari orang asing ini seperti layaknya seorang juragan sapi yang sedang menaksir barang yang hendak dibelinya. Sedangkan puteri Saba kelihatan cemas menunggu di dalam pondok. Ia yakin orang yang baru datang itu pastilah bukan orang baik-baik.

“Saudara siapa kira-kira, ya?” tanya Suro berlagak seperti orang pikun.

Hantu Liang Lahat mengguman tidak jelas. “Baunya busuk begini apa dia belum mandi.”

Kata berambut kemerahan sambil menyampirkan baju yang belum sempat dipakai seenaknya di atas bahu.

“Kau dengarkan baik-baik. Aku Hantu Liang Lahat, aku suka memakan daging manusia yang sudah busuk. Aku datang kemari ingin bertanya, apakah Kota Raja masih jauh lagi dari sini? Dan kau siapa?” suara Hantu Liang Lahat satu-satu, suaranya serak seperti ada tulang menyumbat tenggorokannya.

“Hantu Liang Lahat.’” Suro manggut-manggut sambil meneliti kaki si pemuda. Ternyata kaki orang ini menyentuh tanah. Jadi hanya gelarnya saja Hantu Liang Lahat, bukan hantu sungguhan. “Hantu, apakah saudaramu hantu juga? Bagaimana hantu bisa kesasar ke kota? Aku dengar hantu di kota-kota sudah tergusur, bahkan rumahnya sudah dikencingi neneknenek. Mungkin kau keliru!”

“Manusia tidak tahu gelagat! Segera akan kau rasakan apa yang terjadi padamu!” dengus Hantu Liang Lahat. Seraya bersuit keras, kemudian terdengar suara sahutan di angkasa. Angin menderu, yang datang ternyata Elang Perak burung raksasa. “Sahabatku, katakan padaku apakah ini kunyuknya yang telah memasukkan jangkerik ke dalam telingamu?” tanya Hantu Liang Lahat ditujukan pada Elang Perak.

Burung raksasa itu menyahuti dengan pekikan panjang menggeledek.

“Hhh, ternyata burung itu mengatakan kau yang telah menyakiti dirinya. Aku mewakilinya untuk membunuhmu!” Si pemuda muka mayat menggeram pendek. Suro sempat tercengang, tidak menyangka ternyata Elang Perak yang telah ia perdaya masih bertahan hidup.

“Jangan terburu nafsu, kau tidak mengenalku. Lagipula kau tidak mengenal bahasa burung. Apa buktinya aku telah mengganggu binatang itu, Hantu?” tanya Suro. Hantu Liang Lahat mendengus.

Tiada terduga ia kirimkan satu jotosan keras, kemudian ia juga hantamkan kakinya ke bagian perut si pemuda. Suro cepat sekali miringkan tubuhnya lalu tangannya menangkis serangan beruntun tersebut.

Duuk! Duuk!

“Haeh…!” Pendekar Blo’on memekik kaget. Ia seperti membentur batu es saja, dingin dan atos bukan main. Sedangkan kaki Hantu Liang Lahat melesat membeset udara. Suro terpaksa berjingkrak-jingkrak sambil leletkan lidah terdengar suara siulannya yang tidak menentu. Lagi-lagi ia berkelit lalu bersalto seperti monyet melompat ke belakang dengan kaki di atas. Serangan ini juga luput.

Hantu Liang Lahat menggerung, ia menerjang lalu terlihatlah betapa tubuhnya laksana terbang. Berputar-putar di udara dengan indahnya, saat berat tubuhnya meluncur ke bawah, kakinya menyambar dengan dahsyat ke bagian kepala Suro Si konyol lindungi kepalanya, lalu melompat dengan tubuh setengah berjongkok, karena serangan itu terus menggebahnya. Maka pemuda ini terpaksa berguling selamatkan diri.

Secepatnya Pendekar Mandau jantan bangkit berdiri, mulutnya termonyong-monyong tanda keseriusannya menghadapi lawan.

“Pemuda ini benar-benar hantu, gerakannya cepat seperti setan. Rasanya kalau aku dapat menghajarnya, baru puas hatiku jika sudah ku konsentrasidannya yang bau itu!” maki Pendekar Blo’on dalam hati.

Ternyata Hantu Liang Lahat tidak mengenal basa basi. Ia segera membangun serangan kembali dengan kekuatan berlipat-lipat. Sambaran angin serangannya saja sudah membuat kulit Suro seperti ditusuk-tusuk jarum. Tidak ayal, ia lipat gandakan tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Didahului dengan terdengarnya suara teriakan-teriakan seperti suara monyet. Seiring dengan suara teriakannya, Suro mengeluarkan jurus aneh ‘Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor’. Nama jurusnya memang terkesan lucu, sesuai dengan penciptanya yang ugal-ugalan. Namun ketika Suro berkelebat, maka segera terlihat kedahsyatan yang terkandung dalam setiap gerakan yang dilakukannya. Angin mendesir-desir, pasir berterbangan, lalu terdengar suara lolongan di sana sini hingga membuat □konsentrasi Hantu Liang Lahat sempat kacau juga. Namun manakala ia mengeluarkan bentakan keras, tahu-tahu tubuhnya melayang sedangkan tinju menderu mengancam tenggorokan Suro. Pemuda ini selamatkan lehernya agar tidak hancur terkena tinju lawan. Namun kemudian tinju itu membuka, hingga melesatlah lima larik sinar menebar bau busuk dan menghantam dada Pendekar Blo’on.

Tes! Tes! Brak!

Suro terpelanting keras, seakan ada tenaga raksasa yang mendorongnya. Lima sinar menembus kulitnya hingga mengucurkan darah. Melihat darah, Hantu Liang Lahat semakin beringas, sementara Elang Perak terus berputar-putar di atas mereka.

Hantu Liang Lahat kini hantamkan pukulan jarak jauh. Ada sinar biru berkiblat secepat kilat, lalu hawa dingin menghampar. Puteri Saba yang berada di dalam pondok saja sempat menggigil tubuhnya terkena pengaruh pukulan pemuda muka mayat.

Suro sadar betul lawan bermaksud merenggut lepas nyawanya. Ia tentu tidak mau konyol untuk yang kedua kalinya. Siap-siap ia lepaskan pukulan ‘Ratapan Pembangkit Sukma’. Sebelum pukulan lawan yang di kenal dengan nama ‘Mengorek Kubur Menjemur Mayat’ meluluhlantahkan tubuh Pendekar Blo’on. Dengan gerakan asal-asalan ia dorong kedua tangannya ke depan.

Angin kencang putih laksana hamparan salju menderu. Lalu keduanya saling bersambut di udara. Terdengarlah suara dentuman laksana merobek langit menghancurkan gendang-gendang telinga. Pengaruh ledakan itu saja membuat pondok runtuh, dari dalamnya terlihat berkelebat sosok tubuh serba putih yang tidak lain adalah puteri Saba. Melihat ini Elang Perak bermaksud menyerangnya, namun karena si gadis berlindung di bawah beringin putih yang rindang, gerakan Elang Perak jadi terhalang.

***

LIMA

Suro Blondo tergontai-gontai, wajahnya tampak pucat. Nafas pemuda itu menyesak seperti ada bagian jalan darah yang tidak normal. Hantu Liang Lahat yang kepalanya sempat nyungsep ke tanah segera bangkit berdiri. Kepala yang pusing di gelenggelengkan, bibirnya meneteskan darah berwarna agak hitam dan busuknya bukan main. Ia seka darah, memperhatikannya sebentar, lalu terdengar tawanya yang rawan mendirikan bulu roma.

"Iblis ini tidak mengenal rasa sakit sedikitpun, semakin terluka ia malah tertawa seperti orang gila! Weh, kalau aku tidak menggunakan siasat bukan mustahil tujuh hari mendatang aku disantapnya!" batin Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Anak muda bertampang konyol, kau punya mainan boleh juga! Ingin kulihat apa yang bisa kau lakukan setelah ini. Apa mau melompat-lompat terus seperti monyet atau kau memang monyet yang baru menjadi manusia?!" ejek pemuda muka mayat.

Di ejek begitu panas juga hati Suro, namun ia tidak mudah terpancing kemarahan lawan, karena memang begitulah wataknya. Sebaliknya sambil bersikap waspada ia menimpali. "Hantu kesasar bermulut besar, kepandaianmu baru seujung kuku, gelarmu menakutkan. Wajahmu jelek seperti pantat nenek-nenek, buktikan kau punya bicara jangan cuma sesumbar! Atau berlututlah kau pada tuanmu ini, mudah-mudahan juraganmu mengampuni jiwamu yang busuk!"

Hantu Liang Lahat adalah manusia berangasan yang pantang dihina atau diremehkan oleh orang lain. Mendengar kata-kata Suro alisnya bergerak-gerak. Lalu ia mengerahkan jurus dahsyat 'Merobek Bangkai Di Malam Gulita'. Pemuda ini sekali sentakan tangannya ke depan, sekali ditarik ke belakang lalu gerakan selanjutnya seperti mengoyak-ngoyak. Terdengar pula jeritan Hantu Liang Lahat yang menyentak penuh tenaga. Kelanjutannya ia berputar membelakangi lawan lalu bersalto dengan gerakan terbalik.

Hanya sepersekian detik saja tangannya telah merobek perut Suro. Beruntung pemuda ini lindungi perutnya dengan tenaga dalam, hingga pakaiannya saja yang tercabik. Serangan susulan lebih dahsyat lagi. Sebelum serangan itu merobek dadanya, ia sudah pergunakan jurus khusus menghindar yang dikenal dengan nama 'Kacau Balau'. Jurus ciptaan Malaikat Berambut Api ini benar-benar ampuh. Meskipun gerakan dan langkah-langkah kaki Suro terkesan kacau dan asal-asalan. Namun tidak satupun serangan Hantu Liang Lahat yang mengenai sasaran.

Rupanya pemuda muka mayat jadi penasaran, ia kembali berbalik. Di kala itu Suro sudah cabut senjata andalannya. Ketika senjata itu berkiblat di udara, mula-mula terdengar suara mendengung, Suro memiringkan Mandau di tangan, lalu terdengar suara ringkik kuda. Ketika senjata itu diputar dan diputar lagi dengan gerakan berubah-ubah, maka terdengarlah suara rintihan tangis dan tawa. Suara rintihan dan tawa terus terdengar tiada henti. Hantu Liang Lahat bersurut langkah, memandang pada Suro dengan perasaan heran bercampur marah.

Namun ia kemudian menerobos pertahanan lawan dengan cara berguling-guling dan tendangkan kakinya. Suro melompat tinggi, lalu berjumpalitan. Namun sekarang datang pula jotosan lawan yang mengeluarkan deru angin panas berpijar. Serangan itu tidak dihindari oleh Pendekar Blo'on, ia malah hantamkan Mandau di tangannya. Kaget Hantu Liang Lahat bukan alang-alang. Ia menarik balik tangannya, sayang gerakan yang dilakukan Hantu Liang Lahat kalah cepat. Sehingga mata Mandau yang tajam itu menebas putus tangan pemuda muka mayat.

"Akhhh...!"

Untuk pertama kalinya Hantu Liang Lahat menjerit kesakitan. Buntungan tangan menggelepar di atas tanah, lalu diam. Setelah menotok jalan darah. Pemuda muka mayat bangkit berdiri. Dalam keadaan marah seperti itu tampangnya berubah mengerikan. Suro berteriak dengan mulut terpencong.

"Hantu buntung sebaiknya kau menyerah!" "Bangsat! Tidak ada kata menyerah dalam hi-

dupku!" maki Hantu Liang Lahat. Tiba-tiba ia pukulkan tangan kirinya ke depan, Suro sadar betul lawan bermaksud mengadu jiwa dengannya. Sehingga ia pun terpaksa melepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.

Wuut! Wuut!

Sinar merah hitam berkiblat, terdengar suara jeritan di sana sini. Suara itu, seakan datang dari alam para roh penghuni neraka. Kemudian terjadilah dentuman menggeledek.

Blaamm! "Huaagrrrrk...!"

Hantu Liang Lahat terpelanting roboh, tubuhnya yang hampir gosong berkelojotan, lalu terdiam untuk selama-lamanya. Suro tergontai-gontai. Dari bibirnya terdengar nyanyian sumbang. Di angkasa sana Elang Perak memekik seakan merasa kehilangan. Tapi dia juga tidak melakukan serangan. Entah apa yang terjadi pada burung itu. Sang raksasa berputar-putar dan membubung tinggi. Selanjutnya meluncur ke arah kerajaan Pasundan.

Kalau pun ada orang yang sangat kagum melihat pertempuran yang sengit tadi puteri Saba-lah orangnya. Ia semakin jatuh hati pada pemuda tampan bertampang ketolol-tololan ini. Dihampirinya Suro, matanya berbinar-binar memandang dengan tatapan penuh arti.

"Kau bisa mengalahkan manusia itu. Sungguh aku tidak menyangka kau memiliki kepandaian tinggi." puji puteri Saba.

Suro cuma cengengesan. Setelah diam sebentar kemudian berkata.

"Kerajaan masih jauh lagi dari sini! Kalau aku menggandeng tanganmu apa tidak marah?" Goda Pendekar Blo'on. Wajah puteri Saba memerah sekejap. Lirikan mata si gadis sudah merupakan satu isyarat bagi Suro bahwa puteri Saba tidak menolak. Digandengnya puteri Saba, lalu Pendekar Blo'on membawanya berlari secepat terbang. Dikejauhan terdengar suara siulan panjang tidak menentu. Suasana kembali sepi seakan tidak pernah terjadi apa-apa di tempat itu.

***

Pabila kakek bertopi caping bambu masuk ke dalam warung di pinggir jalan utama kota raja. Maka para pelanggan warung tampak menunjukkan rasa tidak senangnya. Namun kakek bercaping bambu yang tidak lain adalah Angku Muda Pasak Langit ini bersikap acuh-acuh saja. Selain para pelanggan biasa, ternyata di dalam warung tersebut terdapat tiga orang prajurit, yang kelihatannya baru saja selesai membicarakan masa depan kerajaan yang suram.

"Siapa merasa pemilik warung ini, harap melayaniku." dingin suara si kakek. Sikapnya acuh, tidak memandang muka pada orang lain. Seorang laki-laki muda datang menghampiri.

"Kisanak mau pesan apa?" tanyanya ragu-ragu. Melihat penampilan orang tua yang sombong ini rasanya ia memang tidak punya uang.

"Semua pundi-pundi arak bawa kemari. Sepuluh ekor ayam kalau ada seorang gadis untuk menemani agar makanku jadi lahap!" kata Singa Gunung seenaknya.

Pemilik warung tercengang. "Gadis tidak ada, kisanak. Dua pesanan lainnya segera saya sediakan." jawab laki-laki muda itu. Seraya cepat-cepat berbalik ke belakang. Namun baru beberapa langkah terdengar bentakan salah seorang prajurit yang berbadan tegap tinggi.

"Jangan kau layani permintaannya. Biarkan tikus jembel itu mengais tulang Belulang ayam di tong sampah. Turut perintahku atau kau akan mendapat hukuman berat!" Ancam pengawal.

Singa Gunung angkat topi capingnya, hingga wajahnya yang angker itu terlihat jelas oleh semua orang yang berada di dalam ruangan. Sikapnya tetap acuh.

"Pulanglah kau menetek pada ibumu. Kau baru saja menjadi anjing penjaga, lagakmu sudah seperti dedengkot iblis!" dengus Angku Muda Pasak Langit.

Diejek begitu rupa di depan orang banyak, tentu pengawal ini merasa pamornya langsung turun beberapa tingkat.

"Mulutmu keterlaluan tua bangka busuk! Rasakanlah tombakku!" teriak si tinggi tegak. Ia langsung menusukkan tombaknya ke pinggang si kakek. Semua orang dapat memastikan sekali tusuk matilah kakek berbaju hitam ini. Tanpa disangka-sangka Singa Gunung berpaling, lalu menghembuskan nafasnya kuatkuat.

"Akh...!"

Pengawal ini menjerit kesakitan, ia tidak mampu bergerak karena sekujur tubuhnya ternyata telah ditotok. Dua orang kawannya tercengang, bagaimana kakek tua itu dapat melakukan totokan hanya dengan menghembuskan nafas saja. Suatu kejadian langka dan jarang ditemui. Mereka langsung ciut nyalinya. Namun dengan membiarkan kawan mereka dalam keadaan seperti itu adalah sesuatu yang sangat memalukan.

Serentak dua orang lainnya cabut pedang. Angku Muda Pasak Langit menjadi marah melihat kenyataan ini. Ia bangkit berdiri, bukan untuk memberi pelajaran. Namun cabut pedang berikut rangkanya.

"Silakan kalian bersombong-sombong di neraka sana. Makan kubatalkan dan aku harus secepat mungkin ke istana!"

"Jangan mimpi!" teriak pengawal tadi sambil bacokkan pedang di tangan. Hanya sedikit berkelit, luputlah serangan itu. Angku Muda Pasak Langit tibatiba saja cabut pedang Penebar Bencana.

Seer! "Haaaaah...!"

Seluruh orang yang berada di dalam warung langsung menjerit histeris ketika melihat sinar hitam memijar dari pedang di tangan Singa Gunung. Mereka bergelimpangan roboh, warung terbakar. Sosok bayangan berkelebat keluar disertai tawa bekakakan. Mereka semua tewas dalam keadaan hangus sebelum api yang membakar warung menjilat tubuh mereka.

Demikian dahsyatnya kharisma Pedang Penebar Bencana, hingga pancaran cahayanya saja membuat rumah dan benda-benda di sekitarnya terbakar, apalagi manusia yang tubuhnya terdiri atas darah dan daging.

Demikianlah dengan congkaknya Singa Gunung di sepanjang perjalanan menebar maut mengumbar bencana. Sampai di kerajaan Pasundan, prajurit-prajurit penjaga pun mengalami nasib serupa yang demikian tragis. Hingga tanpa kesulitan apa-apa ia berhasil masuk ke istana.

Angku Muda Pasak Langit bukan main girangnya melihat gadis-gadis yang sangat banyak di setiap kamar kaputren.

"Ha ha ha...! Mimpi apa aku semalam! Begini banyak gadis yang dapat memenuhi seleraku!" katanya sambil tergelak-gelak.

Para gadis-gadis itu sebagian ada yang ketakutan melihat kehadiran si kakek. Sedangkan sebagian lainnya yang selalu haus kepuasan, tentu mereka mendambakan kepuasan dari laki-laki mana pun. Tidak perduli apakah ia seorang raja, bangsawan, rakyat biasa, prajurit bahkan gembel kudisan sekalipun. Demikianlah jika nafsu sudah menguasai jiwa manusia rendah. Jiwa manusia yang tidak mengenai rasa takut siksa Tuhannya. Lain halnya dengan Sri Asih, Kumala dan beberapa orang lainnya yang memang sudah mendambakan kebebasan sejak mereka bertemu dengan Pendekar Blo'on (dalam Episode Api Di Puncak Sembuang). Mereka sejak saat itu sudah bertekad untuk membersihkan diri tidak mau melayani laki-laki manapun. Penghuni istana Sorga Dunia yang diciptakan Pangeran Suprana ini rupanya sudah insyaf.

Tidak heran bila untuk menghindari kemaksiatan, Kumala dan Sri Asih mengurung diri di ruangan rahasia.

Sekarang mereka jadi cemas melihat kemunculan Singa Gunung. Apalagi Kumala mendengar laporan salah seorang sahabatnya yang dipercaya, bahwa Angku Muda Pasak Langit mempunyai senjata yang dapat membuat tubuh seseorang menjadi hangus.

Sisa-sisa prajurit yang mengawal istana hampir tewas seluruhnya dengan keadaan yang sungguh menyedihkan. Bukan mustahil, suatu saat Singa Gunung mengetahui tempat persembunyian mereka. Padahal mereka sadar betul, diantara sekian banyak gadisgadis yang berada di istana itu bukankah mereka berdua yang paling cantik, yang paling mulus yang paling montok dan yang paling... segalanya.

Mereka rasanya lebih baik mati jika harus melayani tua bangka yang berjuluk singa gunung yang sebaya dengan kakek mereka sendiri. Kalau pun hati mereka ditanya satu persatu. Baik Kumala maupun Sri Asih. Tentu mereka memilih Pendekar Blo'on, pemuda konyol yang rambutnya beda dari kebanyakan orang. Pemuda itu tampan, walau pun lagaknya seperti orang tolol. Jujur saja mereka akui, kalau pun mereka berdua dimadu tentu mau. Tetapi apakah Suro Blondo, Pendekar geblek setengah sinting itu ya mau seperti mereka?

"Kita harus melarikan diri dari istana ini. Melihat gelagatnya kurasa Pangeran Suprana, Tuhan kesenangan dunia sudah mati!" suara Sri Asih gadis yang usianya dua tahun lebih tua dari Kumala memecah keheningan.

"Huh, jika dia benar-benar Tuhan, mana mungkin dia mampus! Aku sendiri takut suatu saat tua bangka bau tanah itu mengetahui keberadaan kita!" Kumala menanggapi.

"Memang kalau dipikir-pikir, kita ini tidak ubahnya seperti kambing ya...? Selalu digilir laki-laki tanpa suatu ikatan apapun. Bagaimana Gusti Allah tidak murka?"

"Malah lebih rendah dari binatang. Terkadang kita tertawa-tawa dalam dosa. Sekarang aku merasa jijik jika harus berbuat seperti itu!" kata Kumala pula.

"Hidup kita bergelimang dosa. Kita harus lari dari istana ini atau mati jika dipaksa melakukan perbuatan seperti itu!" tekad Sri Asih.

"Apa tidak sebaiknya kita menunggu kedatangan Pendekar itu? Bukankah dia telah berjanji untuk membebaskan kita semua dari neraka ini?" ucap Kumala seakan mengingatkan. Sri Asih terdiam, keningnya berkerut tajam.

"Terlalu lama, aku juga khawatir telah terjadi sesuatu yang tidak diingini dengannya. Sekarang untuk menyelamatkan diri sebaiknya kita harus berani mengambil keputusan!"

"Baik! Kurasa nanti malam adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan istana ini. Jangan kau bicarakan rencana kita pada orang lain." pesan Kumala.

"Bagaimana jika kawan-kawan kita mengetahui? Apa tidak sebaiknya kita bawa saja mereka sekalian?"

"Jangan bodoh! Usaha ini tidak mudah, hanya

dengan kita berdua saja mungkin sudah sulit untuk menyelinap keluar!" Sri Asih mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.

"Kalau mereka bertanya, kita janjikan saja pada mereka bahwa kita akan mencari pertolongan di luaran sana. Kemudian kita kembali lagi ke sini untuk membebaskan mereka!" jelas Kumala secara lebih terperinci.

"Ya, mudah-mudahan Gusti Allah memberikan pertolongannya pada kita! Sekarang persiapkanlah segala sesuatu yang kita perlukan. Nanti setelah lewat tengah malam, kita bisa melaksanakan rencana kita." kata Sri Asih menutup pembicaraan.

***

ENAM

Kakek berpakaian kulit harimau yang sebagian rambutnya menutupi wajahnya ini memang telah berubah seperti orang linglung. Apalagi setelah ia menemukan mayat muridnya, Pangeran Suprana. Dua orang yang sangat disayanginya di dunia ini telah terbunuh. Pertama Sang Bala dan yang kedua Iblis Peruntuh Mahkota. Pedih hati Dewa Kubu tidak terkirakan. Semua ini gara-gara mencari Pedang Penebar Bencana. Sementara itu nasib Elang Perak binatang raksasa itu masih belum ia ketahui.

Kepada siapa ia harus menuntut balas? Kepada kakek berambut merah itu? Ilmunya tinggi, jika pun sekali lagi ia berhadapan dengan Malaikat Berambut Api. Belum tentu ia dapat memenangkan pertarungan. Kakek rambut merah itu sakti bukan main. El Maut mungkin saja telah mati terkena pukulannya.

"Hmm, selama langit masih biru. Selama matahari masih terbit dari ufuk timur. Aku harus menemukan cara untuk membalas. Elang Perak harus kutemukan." pikir Dewa Kubu.

Di atas batu si kakek duduk bersila, matanya terpejam. Rupanya ia sedang mencoba melakukan semedi. Dalam semedinya ia mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Beberapa detik lamanya, wajahnya yang kusut dan semakin angker berubah cerah.

"Ternyata kau masih hidup Elang Perak! Datanglah kemari, kita harus bersama-sama menghancurkan musuh-musuh keparat itu! Sahabatmu Pangeran Suprana boleh mati, muridku Sang Bala boleh terbunuh. Namun puncak penyatuan kita berdua harus dapat membuktikan bahwa di dunia ini tidak boleh ada orang yang mengalahkan kita." kata Dewa Kubu seorang diri. Tingkahnya memang telah berubah derastis seperti orang yang kurang waras. Namun ternyata dia bukan sakit ingatan. Sebab melalui pemanggilan batin yang dilakukannya tadi. Tidak lama kemudian di angkasa lepas terlihat sebuah bayangan raksasa melayang-layang. Lalu terdengar suaranya yang keras menyakitkan telinga.

"Hiiiii...!"

"Elang Perak, turunlah!!" perintah Dewa Kubu.

Seraya membuka matanya kembali. "Kak...!"

Dari ketinggian Elang Perak meluncur turun. Setelah itu ia menjejakkan cakar-cakarnya yang tajam tidak jauh di depan Dewa Kubu. Daun-daun berterbangan oleh kepakan sayapnya. "Kak! Kek... Kak,..!"

Elang Perak terus mengeluarkan suara aneh. Seakan ia mengadukan kejadian yang menimpa dirinya juga diri Pangeran Suprana. Kepala burung di eluselus oleh Dewa Kubu.

"Aku telah mengetahui kejadian yang menimpa Pangeran Suprana." kata Dewa Kubu sambil memperhatikan burung elang itu. "Akh, ternyata seseorang telah menjahilimu dengan memasukkan jangkerik ke dalam kuping?" Begitulah, setiap isyarat gerakan Elang Perak diketahui artinya dengan pasti oleh Dewa Kubu.

"Heh, apa? Seorang pemuda bertampang tolol yang telah melakukannya? Mengapa tidak kau hancurkan saja wajahnya atau kau rusak wajahnya biar konyol?" tanya Dewa Kubu sambil terus memperhatikan gerakan Elang Perak.

"Apa? Pemuda itu cerdik? Kau ini bagaimana? Kalau tolol ya tetap tolol Elang Perak! Laporanmu ngelantur! Akh... sudahlah, pusing aku mendengarnya." sergah Dewa Kubu.

Elang Perak kemudian terdiam, Dewa Kubu adalah manusia setengah roh paling dihormatinya.

Jika antara binatang raksasa ini bersatu dengan Dewa Kubu. Maka terjalinlah sebuah kekuatan yang teramat dahsyat.

"Kita tidak usah berpisah lagi setelah ini. Aku yakin kita berdua mampu menghadapi cecungukcecunguk yang telah mempecundangimu. Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini!" Berkata begitu Dewa Kubu bergerak, tubuhnya terangkat mengambang seperti tanpa bobot. Di lain waktu Dewa Kubu telah berada di atas punggung Elang Perak.

Burung itu kepakkan sayapnya, membubung tinggi di udara. Hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

***

"Sekarang kita sudah berada di luar tembok istanamu! Lalu apa yang kita lakukan?" tanya gadis baju hitam yang baru saja melakukan penyelidikan ke dalam kerajaan Pasundan. Pemuda baju putih terdiam. Seakan ia sedang memikirkan cara terbaik untuk melakukan sesuatu.

"Hasil penyelidikanmu bagaimana? Apakah kau lihat masih banyak pengawal disana?" tanya pemuda baju putih yang tidak lain adalah Pendekar Kucar Kacir.

Gadis berpakaian hitam menggeleng. Kemudian di tegaskan dengan ucapannya.

"Tidak satu pun! Di halaman depan kulihat pemandangan yang mengerikan. Banyak mayat-mayat menjadi arang dan debu. Kurasa orang yang telah membunuh guruku ada disini. Dia tidak lain mungkin laki-laki tua bangka itu, hiiih...!"

"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Pangeran Demak Pati.

Jika saja tidak dalam keadaan malam hari, tentu pemuda polos dan kocak ini dapat melihat betapa wajah si gadis alias Maling Jenaka berubah merah padam.

"Siapa sih? Kok malah bengong, lagi mikir aku ya...!" celetuk Pendekar Kucar Kacir. Ia telah mengetahui banyak sifat Gadis selama dalam perjalanan. Meskipun terkesan manja = Mandi Jarang, namun menyenangkan. Pendekar Kucar Kacir diam-diam jatuh cinta pada pandangan ketiga. Mengingat sebelumnya mereka pernah bertemu di dalam gua di puncak Bukit Sembuang. "Kau tahu nggak apa yang ingin kukatakan ini sangat memalukan dan merendahkan derajat perempuan!" tegas Gadis tersipu-sipu.

"Katakan saja. Kalau merasa rendah biarkan aku yang meninggikannya. Lagipula di sini cuma kita berdua. Aku pandai menyimpan rahasia dan tempat rahasia punyaku cuma satu!"

"Kau bicara apa? Kutampar nanti mulutmu!" dengus si gadis merasa tersinggung.

"Hust, jangan sembarangan. Aku pangeran ta-

hu!"

"Mau pangeran kek, mau raja setan kek. Apa

kau kira aku perduli! Persoalanmu saja belum tuntas, masih bisa-bisanya kau bercanda?" Suara Maling Jenaka tajam menusuk.

Seakan teringat dengan keadaannya kembali. Sikap Pendekar Kucar Kacir yang tidak kalah kocaknya dengan Suro Blondo berubah serius kembali.

"Coba sekarang kau jelaskan apa yang terjadi di dalam istana. Aku siap mendengarnya!"

"Di istanamu sangat banyak perempuanperempuan cantik. Jumlahnya mungkin lebih empat puluh orang...!"

"Itu pekerjaan si keparat Pangeran Suprana!" "Mereka seperti pelacur!"

"Nah itulah sorga yang di gembar-gemborkan Iblis Peruntuh Mahkota!" celetuk Pendekar Kucar Kacir. "Lalu apa lagi?"

Gadis menarik nafas dalam-dalam seakan segan untuk bicara lagi.

"Terus... terus... bagaimana?" desak si pemuda. "Di sebuah ruangan kulihat delapan orang wa-

nita sedang melayani seorang kakek tua, mereka dalam keadaan te...!" Gadis tutup mulutnya merasa malu. "Terlanjur maksudmu?"

"Telanjang, bego?" desis Maling Jenaka. "Itulah tua bangka yang sedang main kapal-kapalan. Tapi...!" Pangeran Demak gelengkan kepala ke kiri, lalu sekali lagi ke kanan. "Tapi siapa kakek itu? Mungkin masa kecilnya tidak bahagia?"

"Tolol, mereka sedang bermaksiat!" maki Maling Jenaka merasa dongkol.

"Ya, ya... maksiat! Itu budaya peninggalan Kumbang Pemikat. Kurasa kakek itulah yang telah mencuri pedang dari tangan El Maut. Kita harus merebutnya!"

"Huh, apa kau kira semudah itu? Pedang itu tidak pernah jauh dari tempat dia berada. Kita harus menunggu kesempatan terbaik." ujar Gadis.

"Ya, walau kesempatan itu datangnya sampai lima puluh tahun lagi. Tua bangka itu akan mati dengan sendirinya jika sampai lima puluh tahun. Apalagi jika ia terus main kapal-kapalan siang dan malam!" kata Pendekar Kucar Kacir polos.

"Kau sama edannya dengan Suro Blondo. Bicaramu nyerempet-nyerempet terus!" Gadis menggerutu kesal.

"Aku dan monyet gondrong rambut merah itu memang seperti saudara kembar saja. Dia suka membicarakan tentang bukit dan hutan rimbanya, tapi aku tidak sependapat dengan dia. Ahh... sudahlah, mengapa kita bicara tentang kunyuk cacingan itu?" sergah Pendekar Kucar Kacir seakan merasa tersaingi.

Gadis alias Maling Jenaka alias Maling Cerdik sebenarnya punya suatu siasat untuk merampas pedang itu. Namun rencananya itu mengandung bahaya besar yang menyangkut harga diri dan kehormatan. Resikonya jika sampai gagal, ia bisa kehilangan mahkotanya seumur hidup. Itu sebabnya ia tidak mau bicara apa-apa lagi. Mungkin nanti jika ia bertemu dengan Pendekar Blo'on, ia akan utarakan siasat yang mungkin dapat dijalankan. Rasanya Gadis lebih percaya dengan kemampuan Pendekar Blo'on ketimbang Pendekar Kucar Kacir ini.

"Haruskah kita berdiri di sini sampai pagi, atau sampai tua dan lumutan?" Suara Pendekar Kucar Kacir memecah kebisuan di antara mereka berdua.

Gadis tidak menanggapi. Perhatian tertuju pada satu arah di mana di sebelah utara benteng istana tampak dua sosok bayangan sedang berusaha melewati tembok.

"Lihat! Siapa itu?" seru Maling Jenaka. Cepat Pangeran Demak memandang ke arah dimaksud. Ternyata memang ada dua sosok berpakaian ringkas bertubuh ramping sedang berusaha menuruni tembok istana. Melihat caranya, jelas sekali kedua perempuan itu tidak memiliki kepandaian apapun.

"Merekakan perempuan, bagaimana kalau sampai tersangkut? Sebaiknya kita datangi mereka!" tegas Pendekar Kucar Kacir.

Tanpa bicara, Gadis mendekati kedua wanita yang baru saja berhasil melewati tembok benteng.

Melihat kehadiran pemuda dan gadis yang tidak dikenal. Kedua perempuan tadi jadi ketakutan. Mereka hampir saja berteriak jika Pendekar Kucar Kacir dan Maling Jenaka tidak cepat membungkam mulutnya.

"Ssst! Jangan berisik! Aku orang baik-baik, sedangkan pemuda itu adalah Pangeran Demak Pati. Katakan siapa kalian??" tanya Gadis.

Seraya menarik tangannya, hingga kedua gadis berpinggul besar itu dapat menarik nafas lega di samping hati mereka juga jadi gembira. Sebab mengenai Pangeran Demak Pati mereka sedikit banyaknya sudah tahu. Dialah pewaris tahta kerajaan yang sah.

"Jangan bunuh kami, aku Kumala, sedangkan kawanku ini Sri Asih. Kami bermaksud menghindari tua bangka busuk itu. Kami sudah tobat dan ingin menjadi orang baik-baik." jelas Kumala suaranya memelas bahkan seperti orang yang hendak menangis.

"Kalian pasti bekas anunya Pangeran Demak Pati, eeeh... maksudku anunya Pangeran Demak Pati membekas di anunya...!"

Plok!

Pendekar Kucar terjajar. Kiranya yang menamparnya tadi adalah Gadis.

"Dasar Pangeran goblok! Bicara saja tidak becus, belepotan seperti anak kecil!" dengus Maling Jenaka. "Ingat kalau kalian berbohong, nyawa kalian tidak ada yang menjamin!" ancam Maling Cerdik di tujukan pada kedua gadis itu.

Sri Asih dan Kumala saking takutnya sampai berlutut memeluk lutut Gadis.

"Percayalah, kami ingin meninggalkan neraka ini. Sejak bertemu dengan seorang pemuda ganteng berwajah tolol. Kata-katanya membuat kami sadar bahwa jalan yang kami lalui benar-benar penuh lumpur berkubang nista!" lirih suara Sri Asih.

Sebaliknya Gadis tampak terkesiap mendengar mereka menyebut ciri-ciri Pendekar Blo'on. Pangeran Demak yang kumat gendengnya langsung nyeletuk.

"Jalan yang kalian lalui memang melelahkan, penuh liku, belokan serta bukit-bukit. Kalau sekarang hendak tobat, ya sudah! Sekarang pergi sana!" Dengan penuh rasa gembira kedua gadis itu bermaksud meninggalkan Gadis dan Pendekar Kucar Kacir. Namun Maling Jenaka menahannya.

"Tunggu dulu!"

Langkah keduanya tertahan, hampir bersamaan mereka menoleh.

"Ada apa, Nisanak?"

"Kalian dari dalam sana, apakah di istana masih ada prajurit?"

"Sama sekali tidak! Singa Gunung telah menghabisi mereka. Dia juga menghancurkan kawan-kawan kami dengan sinar pedangnya. Tolonglah mereka!!" pinta Kumala penuh permohonan.

"Hmm, begitu? Pergilah. Mudah-mudahan kawan-kawan kalian dapat diselamatkan!" janji Maling Jenaka.

Dengan penuh rasa terima kasih yang dalam, Kumala dan Sri Asih segera berlalu dari hadapan kedua muda mudi itu.

***

Kita ikuti Sri Asih dan Kumala yang terus berjalan di kegelapan malam. Mereka memang dalam keadaan tergesa-gesa dan ingin segera sampai di kampung halaman masing-masing yang tidak jauh dari kota raja. Sri Asih sendiri anak seorang kepala Desa, sedangkan Kumala puteri saudagar yang berhasil diculik oleh Pangeran Suprana beberapa purnama yang lalu.

Setelah jauh meninggalkan kerajaan Pasunda. Ternyata mereka tersesat jalan. Berhubung hari masih malam, mereka memutuskan untuk menetap di situ. Namun baru saja mereka menyandarkan kepala di batang pohon, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat. Lalu secepat kilat... Tek! Tek! "Ufss...!"

Sri Asih maupun Kumala langsung terkulai. Sekujur tubuh mereka kaku tidak dapat digerakkan lagi. Sadarlah kedua gadis ini bahwa seseorang telah menotoknya. Belum juga hilang kaget di hati mereka, tiba-tiba terdengar suara tawa bekakakan.

"Ha ha ha    Elang Perak! Malam ini kau harus

menutup mata! Aku dapat santapan lezat sebagai penawar rasa dukaku atas tewasnya kedua murid-murid tercinta." kata sebuah suara.

"Kak !"

Elang Perak menyahuti dari puncak batang pohon. Suaranya jelas gelisah.

"Si-a-pa kau....'" tanya Kumala yang sudah dalam keadaan tidak berdaya.

"Ha ha ha.... Usah kau tanya siapa aku, bayangkan saja apa yang akan kuberikan pada kalian!" sahut Dewa Kubu.

Tokoh dari tanah Andalas ini mulai merabaraba dada Kumala dan Sri Asih silih berganti. Kedua gadis itu menjerit-jerit ketakutan sambil mencaci maki. Tapi setelah Dewa Kubu meremas dada mereka,

maka keduanya langsung terdiam. Inilah suatu totokan yang aneh yang sulit dipunahkan.

"Hmm, kalian adalah bagian dari perjalananku. Tidak perlu merasa takut! ha ha ha. !" tawa iblis Dewa

Kubu kembali menggema.

Bret! Bret!

Dengan kasar pakaian Kumala dan Sri Asih dicabik-cabiknya. Sehingga kedua gadis itu dalam keadaan membugil. Sinar bulan yang temeraman menyinari mereka. Dewa Kubu merasa darahnya menggelegak. Ia sibuk meraba atau menjatuhkan ciumanciuman kasar pada kedua gadis itu.

Mula-mula yang mendapat giliran adalah Sri Asih. Sebentar saja gadis itu sudah terdorong maju mundur seiring dengan gerakan Dewa Kubu. Pucat wajah Kumala, diam-diam ia menggigit lidahnya hingga putus. Rupanya ia memilih mati daripada harus mengotori diri dengan melayani nafsu setan Dewa Kubu.

Keadaan itu segera diketahui Dewa Kubu, sementara Elang Perak mulai memekik gelisah. Apa yang dilakukan oleh Kumala rupanya diikuti oleh Sri Asih. Gadis itu pun akhirnya tewas membunuh diri.

***

TUJUH

"Sialan, aku lagi tanggung sudah terlanjur dingin. Benar perempuan-perempuan tidak berguna!" maki Dewa Kubu. Maka di tendangnya mayat Sri Asih dan Kumala hingga terpelanting. Kepala mereka remuk, yang satu terhempas batu yang satunya lagi menabrak pohon. Kakek tua yang cuma mengenakan baju kulit harimau ini bangkit berdiri. Ia mencari-cari celananya. Ternyata celana satu-satunya hilang. Atau mungkin ia salah meletakkan celana itu.

Dari balik kegelapan di bawah pohon tiba-tiba saja terdengar suara seseorang nyeletuk.

"Apanya yang terlanjur dingin, tua bangka? Kalau sudah dingin dan tanggung mengapa tidak diteruskan saja? Lihatlah betapa memalukan dirimu itu. Burung perkututmu yang sudah karatan itu siap terbang meninggalkan tubuhmu! Bulan di atas sana pun malu, Elang Perak burung kesayanganmu malu. Aku disini malu, tunggu apa lagi? Mengapa tidak kau pakai celanamu! Apakah kau sudah siap mati dalam keadaan seperti itu? Tulang belulangmu sudah rapuh, Dewa Kubu jika dugaanku ini tidak salah. Kulitmu sudah keriput. Hari mudamu sudah berlalu, batang usiamu semakin tinggi. Kau diberi umur panjang oleh Gusti Allah, betapa memalukan jika seluruh waktumu kau pergunakan untuk bermaksiat. Jika bumi ini bisa berkata, pasti dia sudah menjerit karena menanggung beban orang-orang berdosa! Kau terlahir dalam keadaan suci Dewa Kubu, apakah kau ingin pulang menghadap Tuhanmu dalam keadaan bergelimang dosa?"

Meremang kuduk Dewa Kubu mendengar ucapan orang di balik kegelapan itu.

"Siapa kau? Jika merasa mencuri celana cepat kembalikan!" bentak Dewa Kubu sambil tutupi auratnya.

"Ini celanamu!" sahut orang itu.

Sebuah benda melayang. Ternyata memang celana Dewa Kubu. Setelah dipakai rupanya celana tadi sebelum dikembalikan telah di potong-potong olah orang itu. Sehingga celana itu hanya dapat menutupi aurat. Ini merupakan suatu penghinaan besar.

"Cepat katakan siapa kau! Atau kau akan merasakan kematian yang menyakitkan!" ancam Dewa Kubu berang.

"Bicaramu masih lantang! Malaikat Berambut Api mengatakan kau manusia licik! Tapi aku murid penghulu Siluman! Nah, jika kau ingin bermain sulap di depanku, sekaranglah waktunya kau mulai!"

"Jahanam!" Dewa Kubu membentak garang. Tubuh manusia setengah roh itu tiba-tiba men-

gambang tidak menjejak tanah. Ketika si kakek berambut riap-riapan ini mengangkat tangannya. Dari pertengahan telapak tangan terlihat ada sinar merah melesat.

Buuum!

Kegelapan di bawah pohon terang seketika disertai dentuman keras. Tidak ada reaksi, malah kemudian terdengar suara tawa yang seakan datang dari delapan penjuru arah. Dewa Kubu tokoh kawakan, ia segera tahu bahwa lawan mempergunakan ilmu memindahkan suara.

Setelah menggelengkan kepala beberapa kali. Ia akhirnya tahu dimana posisi lawannya. Sekali lagi ia lepaskan pukulan ke samping kirinya. Kali ini sinar biru tampak melesat. Orang di balik kegelapan yang tidak lain adalah Suro Blondo keluarkan siulan sumbang. Sebelum sinar maut itu melumatkan tubuhnya. Suro sudah jungkir balik dan, melayang ke arah Dewa Kubu.

Blam!

Lagi-lagi pukulan mengenai tempat kosong. Sedangkan Suro telah berada di belakang lawan dan kakinya menghantam dengan telak.

Dess! "Heh!"

Suro terperanjat ketika melihat Dewa Kubu hanya bergetar saja. Sedangkan tubuhnya tetap mengambang dua jengkal di atas permukaan tanah. Si kakek berpakaian kulit harimau tiba-tiba saja berbalik, tangannya meluncur ke depan. Serangan itu dihindari oleh Suro, seraya kerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Sekejap Suro Blondo telah lenyap dari pandangan mata. Tubuhnya berubah menjadi bayang-bayang yang terus mengelilingi Dewa Kubu sambil lepaskan serangan bertubi-tubi. Namun tokoh dari Andalas itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Ia sangat berpengalaman. Walau pun dalam pandangannya gerakan Suro itu sangat cepat bukan main. Namun ia masih dapat melancarkan serangan dengan tepat. Rambutnya yang telah berubah kaku itu mengibas ke bagian wajah Pendekar Mandau Jantan.

Prat!

"Uss...! Manusia edan ini tidak kena di tipu, malah aku hampir tertipu pulang pergi!" gerutu murid Penghulu Siluman Kera Putih itu sambil bersalto ke belakang. Serangan dahsyat itu dapat di hindari, hebatnya lagi tubuh yang mengambang itu terus bergerak. Kakinya melesat dan....

Dekk! "Hekh !"

Suro jatuh terduduk dengan wajah pucat. Dadanya mendenyut, nafasnya seperti hendak putus. Mata si konyol melotot!

Ia geleng-gelengkan kepalanya sambil menggumam tidak jelas. Dewa Kubu tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Ia segera melepaskan pukulan 'Merobek Raga Meruntuhkan Sukma'. Rupanya ia sangat mendendam pada Malaikat Berambut Api. Sehingga kini Suro yang dijadikan pelampiasannya, Puteri Saba yang memang diperintahkan bersembunyi tidak jauh dari tempat itu mulai khawatir. Ia sadar betul Dewa Kubu bukan lawan sembarangan. Bahkan El Maut saja hampir tewas di tangan kakek sakti itu. Suro tidak menunggu serangan lawan itu sampai menghantam dirinya. Ia juga tidak melepaskan pukulan balasan. Melainkan bersalto dengan gerakan yang indah. Deru hawa panas melabrak kakinya, kaki cepat di angkat sambil diusap-usap. Selanjutnya ia membanting tubuhnya dan terus berguling-guling. Buum!

"Ayah, ada orang gila mengamuk!" pekik Suro kalang kabut.

Pukulan-pukulan gencar terus menghujani Pendekar Blo'on. Selincah-lincahnya pemuda itu menghindar, tidak urung salah satunya menghantam Suro juga. Tidak telak memang, tapi cukup membuat Suro terjajar dan memuntahkan darah segar. Terhuyung-huyung pemuda ini bangkit berdiri, Dewa Kubu sendiri merasa kagum dengan daya tahan yang dimiliki oleh lawannya.

Si konyol geleng-gelengkan kepala seperti orang prustrasi, bibirnya berpencong, ia garuk-garuk rambutnya, bingung. Dewa Kubu ternyata hebat. Kini ia memutuskan untuk menggabungkan jurus 'Tawa Kera Siluman' dengan jurus 'Kacau Balau'. Melihat gerakangerakan Suro yang mulai ngelantur, kacau tidak teratur bahkan disertai tawa di sana-sini. Dewa Kubu menduga lawan pasti sudah terganggu ingatannya. Apalagi ia tadi sempat me lihat kepala Suro sempat membentur akar pohon.

"Ha ha ha...! Gurumu sendiri belum tentu dapat mengalahkan aku! Apa lagi bocah ingusan macammu!" ejek Dewa Kubu penuh percaya diri.

Pendekar Blo'on tersenyum sinis dilanda kegeraman, sekali kepala mendongak ke langit, memandang ke bawah dan terus jelalatan. Satu hal yang tidak disadari oleh Dewa Kubu. Bahwa ketika itu rambut yang hitam kemerahan itu kini telah berubah merah sepenuhnya seperti menyala.

"Keseriusan membuat aku gila, kegilaan membuat aku tertawa. Anak kecil bodoh, masih ada harapan untuk belajar. Tua bangka berubah pikun lebih baik mampus saja!" kata si pemuda seenaknya. "Tua bangka sesat setengah roh. Malaikat Rambut Api lambang keseriusan, sedangkan Penghulu Siluman ugalugalan. Adakah kegilaan bisa menyatu dengan keseriusan? Engkau manusia pertama yang akan menjadi batu ujianku!" teriak Suro. Lalu terdengar suara tawanya di tengah-tengah gerakannya yang semakin menghebat dan terkesan serampangan. Tawanya semakin lama semakin melengking menghancurkan konsentrasi lawannya. Dewa Kubu katupkan bibirnya, tenaga dalam dikerahkan untuk menghilangkan pengaruh suara tawa itu. Elang Perak sendiri semakin resah dari telinga binatang itu mengucurkan darah. Puteri Saba jatuh pingsan demi mendengar suara tawa Suro.

Itu adalah pertarungan antara hidup dan mati Suro Blondo yang pertama kalinya selama melanglang buana. Kemudian terdengar siulan disertai nyanyian sumbang menyindir.

Blo'on itu bodoh, tolol itu aku Orang cerdik mengapa licik? Orang kaya mengapa serakah?

Orang sakti mengapa hilang pekerti Orang susah mengapa gelisah Orang sengsara mengapa merana Aku melintas di depan orang-orang Mereka yang hilang ingatan

Yang hilang kehormatan Yang hilang rasa malu

Yang diperkosa haknya sebagai manusia Lalu aku menjerit dalam kebodohanku,

Kemudian aku bertanya pantaskah aku mengaku sebagai anak manusia yang beradab?

"Kunyuk sinting! Heaa...!" Dewa Kubu membentak garang. Serangkaian serangan beruntun dilepaskannya.

Wees!

Anehnya serangan yang dilancarkan kali ini tidak mengenai sasaran. Dewa Kubu terperangah, penasaran ia lepaskan tendangan ke bagian perut lawannya. Suro tampak terhuyung, gerakannya gerubakgerubuk tokh apa yang dilakukan lawannya luput lagi.

Merasa panas hati Dewa Kubu menggabunggabungkan jurus-jurus terdahsyat yang dimilikinya.

Sementara tawa Suro semakin menggila, Elang Perak tidak kuat bertahan di situ dan langsung melesat terbang entah kemana.

"Hibah...!"

Dewa Kubu membentak keras. Tubuhnya melayang ke depan. Kini segala terasa berubah, Suro merasa gerakan yang dilakukannya seperti mendapat halangan di sana-sini. Walaupun merasa keadaan kini mulai berbalik, ia hantamkan tinjunya secara beruntun. Serangan itu berulangkali mengena namun Dewa Kubu seperti tidak merasakannya. Malah balasan yang dilakukan Dewa Kubu kemudian membuat pemuda terjengkang.

"Eehk, mati aku...!"

Suro megap-megap sambil pegangi dadanya. Banyak sekali darah kental yang tersembur dari mulutnya. Dewa Kubu terkekeh-kekeh, tanpa memberi kesempatan pada lawannya bangkit berdiri. Dewa Kubu kembangkan tangannya sekali lompat ia sudah hampir dapat mencengkeram leher si konyol. Di saat itulah ia menghentakkan tangannya dan lepaskan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis'. Demikian dekat jarak antara Dewa Kubu dengan Suro, hingga sinar merah itu tidak sempat dihindari lagi oleh Dewa Kubu. Duuum! "Akh...!"

Dewa Kubu menjerit tertahan, tubuhnya terdorong mundur. Jelas sudah bahwa tokoh dari Andalas ini terluka cukup parah. Ia sendiri merasa sangat heran melihat kenyataan ini. Ia seperti lemah dan kehilangan tenaga. Dicobanya mengerahkan tenaga dalam, tapi dadanya malah mendenyut sakit dan panas bukan main.

"Pemuda gila itu, apa yang telah dilakukannya padaku?!" desis Dewa Kubu merasa ketemu batunya.

"Heh he he...! Mau kita teruskan sampai salah seorang di antara kita ada yang mampus, Dewa Kubu?!" gertak Suro. Padahal ia sendiri sudah menderita kesakitan yang luar biasa.

Dewa Kubu sedikitpun tidak menyahut, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa jerih. Tanpa menunggu Suro berbuat lebih lanjut ia langsung ngacir dari hadapan Pendekar Blo'on.

"Hekh... a-ku sendiri hampir tidak tahan, kok. Dan rasanya sudah tidak kuat berdiri!" kata si konyol sambil menyeringai kesakitan. Dan ternyata ia jatuh terduduk sambil pegangi dadanya yang sakit. Suro telan tiga butir pel berwarna hitam. Setelah itu Suro tidak sadarkan diri.

Lain halnya lagi dengan puteri Saba, gadis itu kini sudah mulai sadar kembali. Ketika tidak melihat Pendekar Blo'on ia mulai khawatir jangan-jangan pemuda itu telah tewas di tangan Dewa Kubu. Tergesagesa puteri Saba mencarinya di sekitar bekas pertempuran yang porak poranda. Ia melihat Pendekar Blo'on terkapar dengan kepala nyungsep di rerumputan.

"Suro?" pekiknya cemas. Di tubruknya Pendekar Blo'on. Ternyata sekujur tubuhnya sudah sangat dingin sekali. "Jangan mati. Suro, jangan kau tinggalkan aku!" tangis sang puteri. Ia memangku kepala Suro di atas kedua pahanya. Wajah si konyol di tepuktepuknya, namun betapa wajah itu semakin dingin. Ada darah yang mengalir di selasela bibirnya. Darah itu langsung dibersihkan dengan punggung tangan puteri yang cantik itu. Kepala Pendekar Mandau Jantan didekap dan dipelukinya seakan ia tidak rela kehilangan pemuda itu.

"Hu hu hu... jangan mati Suro. Apa pun akan kulakukan asal kau dapat hidup kembali! Tuhaaaan... jangan kau ambil nyawanya?!" jerit puteri Saba. Ini merupakan suatu tanda betapa puteri Saba teramat sangat mencintainya.

Gadis itu terus memeluk kepala si konyol, sehingga tanpa disadari dadanya tentu menekan pipi Suro Blondo. Sang puteri memeriksa denyut nadi Pendekar Blo'on, ternyata denyut nadi di pergelangan tangannya ada lagi. Sang puteri merasa lega, namun masih khawatir juga.

"Suro, sadarlah...! Jangan kau mati sekarang? Nanti saja kalau sudah tuaan dikit! Suro...!" pekiknya.

Terdengar suara rintihan si pemuda, ternyata tadi ia memang pingsan berat. Kini setelah menyadari dirinya di peluki puteri Saba, si konyol yang sempat membuka mata, sekarang pejamkan mata lagi. Meskipun merasakan sakit luar biasa, sebenarnya hatinya geli juga senang.

"A-d-u-h... di mana aku ini? Apakah aku sudah meninggalkan dunia?" rintih si konyol setengah dibuatbuat.

"Tidak! Oh, sukurlah kau masih hidup. Saking girangnya puteri Saba memeluk kepala Pendekar Blo'on dengan eratnya. "Tumit-ku... eeh, tubuhku dingin sekali! A-ku seperti mandi di kolam es! Darahku membeku, selimut...!" kata si pemuda seperti orang mengigau. Puteri Saba kebingungan.

"Tidak ada selimut...!"

"Aku mungkin segera mati." "Tidak! Jangan!" pekik sang puteri.

"Peluk aku! Aku takut sekali!" desis Suro. Ternyata puteri Saba benar-benar memeluknya. "Cium aku, aku segera mati!" kata si konyol pu-

la.

Tanpa ragu-ragu dan sedikit gemetaran puteri

Saba menciumnya. Bukan di kening atau di pipi, melainkan langsung di bibir.

"Jangan tinggalkan orang yang hendak mati. Peluklah aku sambil di cium puteri. Karena Malaikat malu mengambil nyawa orang yang sedang berciuman," lanjut Suro ngaco

Anehnya puteri Saba tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan Suro sungguh tidak masuk akal. Ia melakukan apa yang diminta Suro, dipeluk sambil dicium.

Tiba-tiba Suro menyambut pelukan pewaris kerajaan Pasundan ini. Ia tertawa terkikik-kikik.

"Suro, kau...?" Puteri Saba merasa dirinya sudah di tipu.

Pendekar Blo'on tidak menghiraukannya. Ia malah melumat bibir sang puteri yang merah merekah dan sangat alami.

"Kau nakal sekali, Suro...!" desis gadis cantik itu dengan nafas terengah-engah. Tokh ia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan Pendekar Blo'on. Ia malah membalas pagutan Suro, bibir mereka saling melumat dalam gejolak jiwa muda yang kian memanas. Baik puteri Saba maupun Pendekar Blo'on sudah hampir lupa siapa diri mereka masing-masing. Ciuman si konyol berpindah ke pangkal leher puteri Saba yang jenjang. Gadis ini mulai terbakar gairah yang membara. Dua kancing baju puteri Saba terlepas. Terlihatlah bukit-bukit yang membusung, putih, indah dan menantang. Murid Penghulu Siluman Kera Putih, menyusupkan wajahnya di celah kedua bukit yang menebar bau harum itu, kecupan-kecupan yang lembut di jatuhkan Suro di kedua bukit yang indah. Puteri Saba semakin terbakar gairah sehingga semakin jelas suara desis dan tarikan nafasnya yang tersengal. Tubuh sang puteri menggeliat, matanya setengah terpejam, bibirnya merekah. Tampaknya ia menuntut Suro berbuat lebih jauh lagi. Ia siap menyerahkan diri sepenuh jiwa dan raganya. Namun Suro tiba-tiba memaki, wajahnya menjauh. Lalu tangannya menepak-nepak keningnya.

"Bego, tolol, bodoh, goblok! Kita hampir gila, hampir... hampir gila-gilaan...!" kata Pendekar Blo'on.

Seakan tersadar puteri Saba bangkit duduk dan cepat mengancingkan bajunya yang terbuka. Puteri Saba sempat melihat ada bekas merah di dadanya. Gadis cantik itu tersipu malu, wajahnya bersemu merah. Ia tundukkan kepala. Malu.

Hampir saja setan berhasil memperdaya mere-

ka.

"Maafkan aku, puteri. Maafkan...!"

Puteri Saba sama sekali tidak menyahut, wa-

jahnya semakin dalam tertunduk.

Tidak ada yang dapat disalahkan dalam hal ini. Ia sendiri terseret dalam gelora cintanya pada Suro. Cinta yang sudah tidak mampu ia sembunyikan lagi.

Kedua muda mudi itu saling terdiam. Lamaaaa

sekali! ***

DELAPAN

Pendekar Kucar Kacir duduk gelisah, waktu itu mereka sudah menyingkir cukup jauh juga dari istana. Maling Jenaka sendiri sudah tidak sabar jika harus menunggu lebih lama lagi. Apalagi Pangeran kocak ini terkadang mencuri-curi pandang kepadanya.

Sebenarnya ia mengakui, Pangeran Demak Pati cukup tampan juga, penampilannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah putera mahkota. Ia sederhana dan bersahaja. Meskipun ada juga rasa suka dalam hatinya. Rasanya ia lebih cenderung berat dengan si konyol Pendekar Blo'on.

Sayang sampai sekarang ia tidak tahu dimana pemuda itu.

Terkadang ia merasa khawatir juga dengan keselamatan pemuda berambut hitam kemerahan itu. Namun ia lebih cemas lagi jika Suro bersama seorang gadis. Seperti puteri Saba misalnya. Walau pun harus di akui bahwa kecantikan Gadis tidak kalah bila dibandingkan dengan dirinya.

"Apa yang kau pikirkan, Maling, eh    Gadis?

Kulihat keningnya berkerut seperti orang sakit perut dan semburut. Apakah perlu diurut?" celetuk Pangeran Demak Pati.

"Bisamu hanya bercanda saja Pendekar Kucar Kacir! Hidupmu seperti tanpa, masalah dan beban, padahal persoalanmu belum lagi selesai!" dengus Gadis, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Masalahku memang rumit, kalau kupikirkan kepalaku sakit. Rambut bisa rontok botak ubanan? Lalu aku harus bagaimana?" sahut Pangeran Demak terbodoh.

"Setiap hari kerjamu hanya membesarkan taik mata melulu. Kau punya pikiran, tentu bisa kau pergunakan untuk cari jalan keluar, Pangeran sepertimu pantasnya mati saja!"

"Jangan kau menghinaku, jelek-jelek begini aku Pangeran!"

"Pangeran atau bukan kau sama saja tidak ada gunanya. Pantasan Pangeran Suprana yang telah mampus itu dapat memperdayamu, rasanya monyet dungu pun bisa memperdayamu!" ejek Gadis.

"Kau jangan keterlaluan. Pangeran Suprana itu licik, otaknya kotor. Tapi sekarang ia sudah mampus juga. Mengapa kau seperti tidak suka padaku. Ada apa rupanya?!"

"Aku cuma tidak suka pada tabiatmu yang masa bodoh, tidak perduli. Sudahlah, bosan aku berdebat denganmu!"

"Sukur, aku juga bosan kok." sahut Pendekar Kucar Kacir seenaknya. Maling Jenaka duduk lagi tidak jauh dari hadapan si pemuda. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

"Ssst! Ada orang kemari!" Lirih suara Gadis. Ia memberi isyarat agar Pangeran Demak tidak bicara apa-apa. Malah Maling Jenaka berniat untuk sembunyi namun terlambat. Dua sosok tubuh telah sampai di depan mereka. Melihat siapa yang datang Maling Jenaka gembira, tapi bila melihat gadis yang menyertai pemuda baju hijau itu bibirnya cemberut. Cemburu!

"Ah tidak kusangka, kalian enak-enakan pacaran di sini!" celetuk pemuda baju biru alias Suro Blondo. Maling Jenaka mendelik.

"Bicara kau sekali lagi kutampar mulutmu!" ketus suara Gadis.

"Mengapa kalian lama sekali?" tanya Pendekar Kucar Kacir. "Kau pacaran dengan adikku, ya?"

Puteri Saba hanya terdiam. Suro cengengesan sambil garuk-garuk kepala.

"Jangan suka curiga, biasanya maling memang selalu teriak maling. Padahal melihat caramu memandang kau tidak dapat mungkir sebenarnya kau kan jatuh cinta pada Maling Jenaka?!" sahut Suro.

Wajah Gadis berubah merah seperti kepiting rebus. Tiba-tiba ia melompat dan...

Plak!

Ditamparnya Suro hingga membuatnya terhuyung-huyung. Pemuda itu mendelik. Tanpa disangka-sangka...

Plook!

"He he he! Kedudukan harus sama, satu-satu." kata Pendekar Blo'on sambil usap-usap pipinya.

"Kau berani lancang menuduhku begitu?" "Gadis! Aku bicara sungguhan, tidak percaya

tanya saja pada Pendekar pontang-panting itu?" Gadis semakin marah.

"Benar kau jatuh cinta padaku?" tanya Maling Jenaka alias Maling Cerdik.

Malu-malu Pangeran Demak Pati mengangguk. "Entah mengapa aku jatuh cinta padamu! Tadi

malam aku mimpi kejatuhan bintang, lalu kejatuhan bulan, kemudian kejatuhan duren!"

Suro langsung menanggapi. "Kalau begitu mampuslah, kau!" kata Suro. Gadis tidak dapat berbuat apa-apa mendengar kenyataan ini.

"Sudah... sudah...!   Mengapa   kalian   justru memperdebatkan yang tidak perlu!" Puteri Saba yang sedari tadi diam saja segera menengahi. Di sini jelas tanda-tanda kepemimpinannya lebih menonjol di bandingkan kakandanya. "Sekarang kanda harus jelaskan pada kami bagaimana keadaan istana saat ini?"

"Lebih baik kau tanyakan saja pada Gadis! Dia yang lakukan penyelidikan!" ujar Pangeran Demak Pati.

"Bagaimana saudari?"

Maling Cerdik tanpa menunggu lagi segera menjelaskan apa yang dilihatnya. Pendekar Blo'on dan puteri Saba mendengarkan penjelasan Gadis dengan bersungguh-sungguh.

"Bagaimana menurutmu, Suro?" tanya puteri Saba setelah mengetahui segala sesuatunya. Perlu diketahui sejak kejadian malam tadi, puteri cantik ini memang selalu menundukkan kepala bila bicara dengan Pendekar Blo'on.

"Aku punya satu cara, ini pun kalau kalian mau melakukannya! Aku tidak memaksa!" ujar Suro. "Bagaimana jika salah seorang diantara kalian masuk ke istana berpura-pura sebagai perempuan yang bersedia tidur dengan Singa Gunung atau lebih baik lagi berpura-pura sebagai gadis yang membutuhkan perlindungan?!" usul Suro. "Dengan begitu kita punya kesempatan menunggu di bawah kolong atau bersembunyi di kamar yang selalu dipergunakan oleh Singa Gunung untuk bersenang-senang!"

"Usul itu sangat berbahaya, tapi terus terang! aku sendiri semula juga punya rencana begitu." sahut Gadis sependapat.

"Persoalannya sekarang adalah siapa yang akan menyelinap ke sana. Jika aku, besar kemungkinan Singa Gunung sudah mengenalku!" kata sang puteri. "Aku bisa melakukannya, tapi rasanya mau ditaruh dimana mukaku ini?" kata Gadis tersipu-sipu

"Kalau begitu aku bersedia menyimpan mukamu untuk sementara!" celetuk Suro Blondo.

"Konyol! Jangan kau bergurau lagi!" dengus Puteri Saba.

"Rasanya tidak ada jalan lain. Kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan!"

"Jadi kau mau?" Pangeran Demak Pati belalakkan mata seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Bagaimana jika aku saja yang menyamar sebagai perempuan?" Pemuda baju putih itu menawarkan diri.

"Kau ini bagaimana? Apakah mau mampus? Kau kan punya tebu dan jambu kakek itu juga punya tebu. Kalau sampai ketahuan kau nggak bakal menjadi orang! Kau pikir enak jadi cacing tanah?" kata Suro Blondo.

Semua langsung terdiam. Maling Jenaka sendiri jadi ragu-ragu. Namun bukankah dia punya banyak keahlian?

"Tidak usah gelisah. Rencana itu tidak perlu kita jalankan! Aku punya rencana lain!" ujar Gadis.

Secara terperinci kemudian ia membeberkan rencana yang sangat mungkin untuk dikerjakan. Rencana itu memang masuk akal, mengingat Gadis adalah seorang maling juga copet yang sangat lihai.

"Kami setuju! Kami bertiga akan melindungimu jika sampai terjadi apa-apa yang tidak diingini!" kata yang lain-lainnya sependapat.

"Nanti bila keadaan sudah gelap kita mulai menyelinap. Istana bagiku tidak asing, karena aku memang mengetahui seluk beluknya!" kata Pangeran Demak. Demikianlah rencana itu telah sama mereka sepakati. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja.

***

Matahari baru saja tenggelam di kaki bukit. Keempat muda mudi itu kini telah bersiap-siap melompati tembok istana. Tidak seorang pun di antara mereka yang berani buka suara. Keadaan saat itu benar-benar sangat mencekam sekali.

Baru saja mereka hendak bergerak. Terlihat bayangan merah berkelebat ke arah orang-orang ini. Gerakannya cepat luar biasa. Hingga beberapa saat saja ia telah berdiri di depan Pangeran Demak Pati. Lalu terdengar suara seruan tertahan Suro Blondo.

"Guru...!!"

Ternyata yang datang memang Malaikat Berambut Api. Si kakek rambut merah hanya mengguman tidak jelas. Puteri Saba, Pendekar Blo'on menjura hormat dan segera diikuti oleh Gadis dan Pendekar Kucar Kacir.

"Tidak usah memakai segala macam peradatan! Kalian hendak kemana?" tanya Malaikat Rambut Api.

"Orang yang melarikan pedang ada di dalam istana, guru. Ia sedang bersenang-senang dengan wanita-wanita bekas kekasih Pangeran Suprana. Kami baru saja hendak menyusup kesana. Tujuan kami tentu merampas pedang itu di saat dia lengah!" jelas Pendekar Mandau Jantan.

"Tindakan itu memang patut dipuji. Cuma ada yang kalian tidak tahu. Pedang Penebar Bencana adalah Pedang Berdarah. Ia punya rahasia tertentu yang harus kalian ketahui. Senjata itu punya pasangan lain Pusaka Pembawa Rahmat. Dulu almarhum guruku Si Bayang Bayang mengatakan telah menciptakan pasangannya. Pusaka Pembawa Rahmat aku tidak tahu berada di mana. Sedangkan Angku Muda Pasak Langit itu sendiri kesaktiannya sangat tinggi. Jika Pusaka Pembawa Rahmat ada di sini, tentu kilauan sinarnya dapat memupus sinar pedang Penebar Bencana. Dengan begitu ia tidak akan dapat membuat orang-orang di sekelilingnya celaka. Kita tidak bisa menunggu datangnya sebuah keajaiban. Kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan muda. Aku akan melindungi usaha kalian. Cara lain masih ada, andai pedang itu dapat kalian rebut. Maka sepasang dari kalian harus memegang rangka Pedang. Jangan kalian sempat bercerai berai, karena hal itu dapat membuat kalian menjadi debu."

"Aku berpasangan dengan siapa guru? Apakah harus berpasangan dengan Pangeran goblok ini?" tanya Suro.

"Laki-laki dengan laki-laki bukan pasangan. Laki-laki pasangannya adalah perempuan. Jika pedang telah berada di tangan kalian. Urusan Singa Gunung adalah bagianku. Tugas kalian hanya memegang pedang itu secara berpasangan." jelas kakek Dewana.

"Usul guru. Apakah pedang itu berat? Hingga harus berpasangan? Bukankah lebih enak di pegang sendiri?" ujar Suro.

"Kalian berempat tidak tahu betapa tingginya ilmu yang dimiliki oleh kakang seperguruanku itu. Jika ia berhasil merampas pedang itu dari tanganmu. Maka semua akan binasa. Sedangkan jika kalian berdua berhasil memegang rangkanya saja. Walau pun pedang itu sendiri dapat di rampas oleh Singa Gunung. Cahayanya tidak dapat menghancurkan kita. Apa yang aku katakan ini adalah segala kemungkinan yang bakal terjadi. Dalam hal ini aku lebih mempercayakan kau bergabung dengan gadis baju hitam. Aku melihat dia punya keahlian mencuri."

"Kalau begitu mari berangkat!" kata Pangeran Demak Pati.

Mereka berlima segera melompati benteng istana. Dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian Angku Muda Pasak Langit. Sampai-sampai Malaikat Berambut Api yang sakti mandraguna saja khawatir dengan keselamatan mereka.

Orang-orang ini kemudian menyelinap dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Mereka sempat bertemu dengan beberapa orang gadis yang dalam keadaan ketakutan. Namun ketika melihat di antara mereka ada Pendekar Blo'on, maka legalah hati gadis-gadis ini. "Setan tua itu berada di mana?" tanya Suro pa-

da salah seorang diantaranya.

"Dia ada di kamar lain sedang bersenangsenang. Tapi tidak lama lagi ia pasti ke sini untuk mengajak kami begini begitu!" sahut gadis itu malumalu.

"Nah, kita hanya tinggal menunggu! Sebaiknya kita bersembunyi. Biar Suro dan Gadis yang menyelinap di bawah kolong!" kata kakek Dewana. "Kalian bersikaplah seperti biasa, kami akan menolong kalian juga!" kata Malaikat Berambut Api di tujukan pada gadis-gadis penghibur tersebut.

Setelah melihat gadis-gadis itu menganggukkan kepala. Maka Malaikat Berambut Api segera menyelinap pergi dengan di ikuti oleh Puteri Saba dan Pendekar Kucar Kacir.

Suro dan Maling Jenaka menyelinap ke bawah kolong. Lama juga mereka menunggu. Akhirnya pintu terbuka. Dari bawah kolong Suro dapat melihat kehadiran seorang kakek tua berwajah angker. Wajahnya ditumbuhi jambang dan bewok lebat dan sudah memutih.

Maling Jenaka keluarkan keringat dingin. Sedangkan Pendekar Blo'on menggerutu dalam hati.

"Orang ini sudah tua bangka. Bahkan mungkin Malaikat maut sudah hampir menjemputnya. Herannya aku dia lebih senang bermain becek."

Tidak lama Angku Muda Pasak Langit sudah, merangkul salah seorang perempuan dari empat gadis yang berada di dalam kamar.

"Mari kita bersenang-senang, gadis-gadisku!" kata si kakek. Bersamaan dengan itu pakaian-pakaian si gadis berjatuhan. Tubuh mereka telanjang seperti bayi. Lalu terdengar suara derit di atas ranjang. Sebelum perbuatan maksiat itu berlangsung, Angku Muda Pasak Langit meletakkan Pedang Penebar Bencana di pinggir ranjang dan tidak jauh darinya.

Selanjutnya terdengarlah desah dan rintihanrintihan berbau kemaksiatan. Suro memberi isyarat pada Maling Jenaka untuk segera bertindak. Sedikit demi sedikit mereka bergeser. Ketika tangan Suro menggapai, yang terpegang justru paha salah seorang gadis yang dalam keadaan polos. Untung gadis itu tidak menjerit. Suro memaki dalam hati.

"Tangan sial, kau kusuruh mencari pedang.

Bukan meraba paha gadis murahan!"

Akhirnya ia berada di luar ranjang. Posisinya dalam keadaan menelentang. Dua gadis yang berada di bibir ranjang tentu terlihat olehnya. Wajah Suro memerah, matanya mencari-cari, hingga ia melihat pedang itu. Cepat sekali diambilnya senjata maut itu.

Dengan sangat hati-hati sekali ia menyelinap keluar bersama Maling Jenaka. Sampai di luar kamar, sesuai pesan Malaikat Berambut Api pedang itu dipeganginya bersama Gadis.

"Kita harus membawa pedang ini!" bisik Suro. Ia berjalan ke bagian ruangan depan. Tapi Maling Jenaka memilih ke belakang. Sehingga terjadilah saling tarik-tarikan.

"Kau ini bagaimana, kita ke depan...!"

"Aku bilang ke belakang!" sahut Maling Jenaka. Beda pendapat ini hampir membuat mereka bertengkar. Untung Malaikat berambut Api muncul.

"Mengapa kalian berdebat. Cepat kalian bersembunyi ke belakang. Jangan sampai salah seorang dari kalian melepaskan pedang itu. Kalau kalian letih Pangeran Demak dan adiknya bisa menggantikan kalian!" pesan Malaikat Rambut Api.

"Kakek sendiri hendak kemana?" tanya Suro sebelum pergi.

"Bukan urusanmu! Aku dan Angku Muda Pasak Langit punya urusan yang harus segera diselesaikan!" sahut si kakek.

Keempat muda mudi itu segera menghilang dari pandangan Malaikat Berambut Api. Si kakek bergegas menghampiri pintu.

***

SEMBILAN

Braaaak!

Pintu didobrak dan hancur. Gadis-gadis yang berada di atas ranjang memekik ketakutan sambil menutupi auratnya masing-masing dengan apa saja yang berhasil mereka raih. Singa Gunung saking kagetnya melompat berdiri sambil raih pedang. Ternyata pedang telah lenyap. Pucat wajahnya ketika melihat kenyataan Pedang Penebar Bencana sudah tidak ada lagi disitu. Ia raih pakaiannya. Dengan tergesa-gesa ia memakai pakaian itu.

Sedangkan gadis-gadis yang menemaninya segera berhamburan keluar kamar tanpa sempat memakai pakaiannya.

Malaikat Berambut Api memperhatikan bekas saudara seperguruannya ini dengan sorot mata tajam, dingin menusuk.

"Jahanam, akhirnya kita bertemu juga!" dengus Singa Gunung sinis.

"Dulu kita berpisah dalam keadaan memalukan, dan kini kita bertemu dalam keadaan memalukan pula. Angku Muda Pasak Langit! Jika ada orang yang paling biadab di kolong langit ini, kaulah orangnya. Dulu kau bunuh guru kita, kemudian kau rusak kehormatan adik sendiri, kau rusak pula wajahnya. Sehingga sepanjang sisa-sisa hidupnya ia menderita. Kejahatanmu melebihi iblis, kebiadapanmu melebihi setan! Kau curi pedang Penebar Bencana, lalu kau renggut nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Dalam umurmu yang hampir di ujung batas kehidupanmu. Kau sama sekali tidak pernah menunjukkan tandatanda ingin bertobat!"

"Cukup!!" Singa Gunung berang. "Dewana! Jalan hidup kita sejak dulu memang berbeda, seperti bumi dengan langit. Tuhan memberimu wajah tampan. Sedangkan aku si buruk rupa, perjalanan nasib dan cintaku juga tidak beruntung, penuh kesialan, malah! Sudah adilkah Tuhan memperlakukan aku seperti itu? Kenyataan yang aku terima telah membuatku marah. Apa artinya hidup ini jika penuh kesialan?" Kakek Dewana tersenyum. Senyum pahit yang melukiskan kesedihan hati juga kemarahan.

"Kau mempersoalkan sesuatu yang tidak abadi. Hidupmu penuh kebencian, yang akhirnya hanya mengundang angkara murka! Singa Gunung, ku tahu setinggi apa kesaktianmu. Namun kebenaran mengatakan agar aku jangan bersurut menuntut balas atas kematian guru dan juga atas perbuatanmu pada Gayatri!" ujar Malaikat Rambut Api dingin.

"Ha ha ha.... Aku tahu kau pasti menyuruh muridmu mencuri pedang maut itu selagi aku lengah. Bukan hanya kau saja yang punya murid." kata Singa Gunung penuh rasa bangga.

Namun sebelum ia berkata lebih jauh Malaikat berambut Api sudah memotong.

"Muridmu yang bergelar Hantu Liang Lahat sudah mati di tangan muridku! Sekarang tanpa Pedang Penebar Bencana, kita akan mengadu kesaktian hingga salah seorang diantara kita ada yang mati." dingin suara si kakek rambut merah.

"Keparat bermulut besar! Kau lihatlah ini!" teriak Angku Muda Pasak Langit.

Tiba-tiba saja Singa Gunung acungkan telunjuknya ke arah tembok kamar. Tidak terlihat apa pun melesat dari tangan Singa Gunung. Tiba-tiba pula dinding tembok berlubang.

Mata kakek Dewana menyipit. Mulutnya menggembung, lalu meniup. Tidak ada hembusan angin yang keluar dari celah-celah bibirnya. Namun...

Brool...!

Dinding di belakang Singa Gunung runtuh.

Sehingga terlihatlah halaman samping istana melalui bagian besar dinding yang hancur.

"Itu adalah jalan keluar, Angku Muda Pasak Langit! Disana adalah kesempatan antara kau dan aku untuk hidup atau mati!" kata si kakek.

"Itu adalah yang kutunggu. Setelah sekian lama terpisah, sekarang ada saat yang paling menentukan. Sesungguhnya siapa yang paling pantas hidup di permukaan bumi ini!" sambut Singa Gunung.

Kemudian tanpa bicara apa-apa, Singa Gunung keluar melalui dinding yang hancur itu. Malaikat Berambut Api segera menyusulnya.

Di halaman samping istana yang hanya diterangi oleh cahaya terang bulan purnama mereka saling berhadap-hadapan.

"Huh...!"

Singa Gunung mendengus. Ketika ia hantamkan tangannya ke tanah, terdengar dentuman keras. Tanah berlubang besar.

"Disini kuburmu!" teriak Angku Muda Pasak

Langit.

Tidak mau kalah, kakek Dewana juga hantam-

kan tangannya. Sinar merah menghantam tanah di sampingnya. Lagi-lagi terdengar ledakan dahsyat. Tanah itu berlubang cukup dalam.

"Telah kusediakan pula kubur untukmu!" dengus Malaikat Berambut Api. Manusia-manusia sakti itu memang saling unjuk kesaktiannya masing-masing. Jika Suro menyaksikan hal ini, pasti ia tercengangcengang karena takjubnya.

Tiba-tiba saja dua-duanya saling membentak. Dua sosok tubuh melayang sama-sama mendekati. Angin dingin berkesir. Lalu terjadi benturan hebat di saat kedua tangan saling beradu.

Duung!

Singa Gunung berjumplitan seperti terdorong ke belakang. Kakek Dewana bersalto beberapa kali. Kemudian menjejakkan kakinya tanpa kekurangan suatu apapun.

Singa Gunung kaget juga, bekas adik seperguruannya ternyata tidak menderita apa-apa. Padahal tadi ia hantamkan pukulan Tangan Waja.

"Sebentar lagi segera kau lihat kematianmu!" teriak Singa Gunung. Ia segera putar-putar tangannya, kedua tangan itu sebentar saja telah berubah semerah bara.

"'Ajian Sungsang Jiwa'!" desis Malaikat Berambut Api.

Tidak ada kemungkinan lain yang dapat menandingi ajian yang membinasakan itu. Ia segera pergunakan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis'. Salah satu jurus dahsyat yang diciptakannya puluhan tahun silam.

Singa Gunung hentakkan kedua tangannya ke arah lawan, Malaikat Berambut Api berteriak tinggi, tubuhnya melesat secepat kilat. Seakan ia menyongsong sinar maut yang membinasakan itu.

Kakek Dewana merasa tubuhnya seperti terpanggang api. Namun ia terus menerobos sinar tadi. Lalu tangannya menghantam dada Singa Gunung.

Duuuk!

Singa Gunung tergontai-gontai, tawanya malah meledak. Malaikat Berambut Api hantamkan lututnya ke perut lawan.

Dess! Bruuuuk!

Tendangan itu mampu mendorong lawan beberapa langkah ke belakang. Hebatnya Singa Gunung seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal Malaikat Berambut Api sudah mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya.

Singa Gunung membalas dalam pertempuran jarak dekat. Dua kali tinjunya mendarat di wajah bekas adik seperguruannya. Malaikat Berambut Api, jangankan roboh, bergeming pun tidak.

Akhirnya mereka pun mulai menyerang dengan mengerahkan jurus-jurus andalan masing-masing. Setiap serangan atau gerakan apapun selalu menimbulkan badai angin yang menggila menderu-deru.

Inilah pertarungan antara hidup dan mati tokoh-tokoh tingkat atas yang benar-benar jarang terjadi di rimba persilatan. Udara di sekeliling mereka pun menjadi redup dipenuhi debu dan pasir yang berterbangan.

Setiap bentakan adalah gelegar suara yang menulikan telinga. Pertarungan itu berlangsung cepat, hingga dalam waktu singkat saja sudah melewati puluhan jurus.

Waktu berlalu, berganti dengan pagi. Baik kakek Dewana maupun Singa Gunung sama sudah mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sebagian istana Pasundan porak poranda.

Sementara Suro dan Gadis yang sudah letih memegang pedang mulai kasak-kusuk.

"Aku mengkhawatirkan keselamatan kakekku! Mereka bertarung hampir semalam suntuk. Aku pun sudah letih menunggu, letih pula memegang pedang!" ujar Suro.

"Biar aku yang menggantikannya dengan kanda Pangeran." kata puteri Saba.

"Peganglah, aku ingin melihat apa yang terjadi di depan sana!" Pendekar Blo'on segera menyerahkan pedang itu ke tangan Pendekar Kucar Kacir dan adiknya. Suro segera melompat ke depan.

"Sebaiknya kita ikuti dia!" usul Pendekar Kucar

Kacir. "Jangan, hal itu sangat berbahaya." cegah Puteri Saba.

"Kita disini hanya berdua, Maling Jenaka sudah menyusul ke sana!" kata si pemuda tetap ngotot.

Puteri Saba akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan Pangeran Demak. Mereka berjalan beriringan. Sampai di depan, Suro melihat pakaian gurunya sudah tercabik-cabik. Sedangkan Singa Gunung sendiri tampaknya sudah terluka. Mereka sudah samasama letih,

Sebenarnya Pendekar Blo'on ingin terjun ke kalangan pertempuran. Namun ia tidak berani melakukannya. Bukankah bila orang-orang gagah sedang bertarung tidak boleh main keroyok seperti tokoh-tokoh aliran sesat? Sekarang Suro hanya menunggu dan menjaga segala kemungkinan. Ia kaget melihat Maling Jenaka menyusulnya. Dan lebih kaget lagi ketika melihat Puteri Saba dan Pangeran Demak menyusul pula.

Ini sempat di lihat oleh Singa Gunung. Kakek tua yang dapat mengambil suatu benda dari jarak jauh ini tiba-tiba menyentakkan tangannya. Pedang Penebar bencana melayang ke arahnya dalam keadaan telanjang. Herannya pedang maut itu tidak memancarkan sinar. Mungkin seperti kata kakek Dewana, bila rangka pedang dipegang oleh sepasang insan berlainan jenis. Maka senjata itu kehilangan kharismanya. Singa Gunung tahu persis rahasia ini. Jadi caranya untuk menghancurkan lawan, adalah membunuh terlebih dahulu pemuda dan gadis yang memegang rangka pedang itu.

Malaikat Berambut Api kaget melihat Pedang Pemersatu sekarang telah berada di tangan Singa Gunung. Suro, Maling Jenaka, puteri Saba dan Pendekar Kucar Kacir juga tidak kalah kagetnya melihat pedang bisa tercabut dari warangkanya, lalu melayang ke arah musuh. Wajah mereka berubah pucat ketakutan.

"Kalian goblok dan tolol semua. Sudah kukatakan jangan menyusul kemari, sekarang akibat dari kebodohan kalian bisa lihat sendiri!" teriak si kakek gusar. "Jangan lepaskan rangka pedang itu!" katanya memberi peringatan.

"Ha ha ha...! Jika kubunuh mereka yang memegang rangka pedang ini. Berarti senjata ini akan memancarkan cahaya lagi. Dan kalian yang ada disini akan hangus semua!" kata Singa Gunung.

Dengan cepat tubuhnya melesat, bukan menyerang Malaikat Berambut Api dengan pedang tersebut. Ia bergerak ke arah puteri Saba dan Pangeran Demak. Pendekar Blo'on cabut mandau dan merintangi ke depan. Malaikat Berambut Api sadar betul apa yang akan dilakukan oleh Singa Gunung. Ia ingin melakukan tindakan penyelamatan, tapi jaraknya sangat jauh sekali. Begitu pula ia masih memburu.

"Menyingkir pemuda tolol! Atau...! Hiya...!" Pedang Penebar Bencana meluncur terus ke pe-

rut Suro. Namun pemuda ini segera melompat ke samping sambil menangkis dengan mandaunya.

Traang!

Api memijar dari kedua senjata yang sempat beradu tadi. Suro berguling-guling. Tangannya langsung melepuh sedangkan mandau hampir saja terlepas. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Singa Gunung, ia berbalik dan hantamkan pedang ke tangan puteri Saba dan Pangeran Demak.

Hanya setengah jengkal lagi senjata maut itu membabat putus kedua muda-mudi itu. Tiba-tiba terlihat sinar putih berkelebat, sinar itu menangkis.

Trek! Singa Gunung menjerit, tubuhnya terpental. Sinar putih yang ternyata memancar dari pedang telanjang di tangan seorang nenek berwajah rusak telah mendorongnya. Jadi bukan tenaga si nenek yang membuatnya terjengkang. Nenek baju hitam berdiri membelakangi Puteri Saba siap melindungi.

"Jangan salah seorang pun diantara kalian yang lepaskan rangka pedang itu." kata El Maut mengisiki.

Sekarang perhatiannya beralih pada Singa Gunung. Tua bangka yang membuatnya menderita lahir dan batin.

"Pedang Pusaka Pembawa Rahmat...!" desis Singa Gunung kaget.

Ia sadar betul, meskipun ia memegang Pedang Penebar Bencana, tanpa warangkanya posisi Singa Gunung semakin lemah. Apalagi kini El Maut memegang pedang Pembawa Rahmat yang merupakan senjata pamungkas yang dapat menandingi pedang Penebar Bencana. Dengan nekad ia bangkit berdiri. Dengan senjata itu ia menyerang secara membabi buta. Malaikat Berambut Api sadar betul bagaimana pun El Maut masih kalah dalam hal tenaga dalam dengan Singa Gunung. Untuk itu ia tidak tinggal diam. Kakek ini lepaskan ikat pinggangnya yang berwarna merah.

Mendapat serangan dari dua musuh bebuyutan ini. Singa Gunung meskipun bersenjata pedang terdesak juga.

"Manusia-manusia pengecut. Kalian mengaku sebagai golongan dan orang-orang terhormat. Memalukan sekali ternyata kalian hanya bisa main keroyokan!" ejeknya.

"Jangan banyak bicara! Kau harus mampus, kau harus mampus!" teriak El Maut sambil membacokkan senjatanya.

Sinar putih berkelebat-kelebat. Sekejap saja Singa Gunung telah terkurung sinar pusaka pembawa rahmat. Singa Gunung hanya dapat menangkis tanpa mampu membalas serangan yang dilakukan oleh dua tokoh sakti ini. Kakek Dewana hantamkan ikat pinggang ke punggung lawan. Singa Gunung menangkis...

Traang!

Dua-duanya terhuyung. Kesempatan ini dipergunakan oleh El Maut. Ia kibaskan senjata di tangannya.

Tees! "Akhhk...!"

Darah menyembur, tangan Singa Gunung yang memegang pedang terbabat putus. Ia sambil menjerit kesakitan coba memungut pedang yang jatuh bersama potongan tangan kanannya. El Maut sudah tidak memberinya kesempatan.

Craas!

Tangan kiri Singa Gunung putus lagi. Malaikat Berambut Api segera memungut pedang Penebar Bencana dan menyarungkannya ke dalam warangka yang di ambilnya dari tangan kedua muda mudi itu.

Singa Gunung menjerit-jerit. El Maut dengan penuh dendam membabat kaki orang yang dibencinya.

"Ini hadiah untukmu karena merampas kehormatanku! Sedangkan yang ini pembalasan untuk guru!" teriaknya. Sekejap saja Singa Gunung telah kehilangan kedua kaki dan tangannya. Ia melolong-lolong dalam keputus asaan dan rasa sakit yang mendera.

"Bunuh saja aku, bunuh!" jeritnya.

"Aku memang akan membunuhmu! Untuk wajahku yang kau rusak, kepalamu gantinya!"

Pusaka Pembawa Rahmat melayang lagi dan... Crees!

Kepala Singa Gunung menggelinding. Tubuh tanpa tangan, tanpa kepala dan tanpa kaki menggelepar. Kemudian diam. El Maut bermaksud mencincangnya. Tapi sebuah tangan mencegahnya.

"Jangan kau lakukan kekejian itu Gayatri. Dia sudah mati!" kata kakek Dewana dengan suara serak menahan haru.

"Mengapa guru main keroyok?" tanya Suro merasa tidak suka.

"Suro, persoalan kami dengan Singa Gunung siapapun tidak boleh mencampuri. Ini termasuk urusan besar. Engkau sendiri takkan mampu menghadapi uwa gurumu." jawab si kakek.

"Pemuda tolol itu muridmu?" tanya El Maut. "Ia bahkan cucuku!" sahut si kakek.

"Dan nenek adalah bibi guruku! Meskipun bersaudara jauh, kalau di hitung-hitung puteri Saba masih kerabat juga." kata Suro sambil nyengir.

"Aku juga, Suro!" kata Pangeran Demak tidak mau kalah.

"Entahlah, jika harus mengakui, aku masih pikir-pikir. Masalahnya kau Pangeran goblok sih!"

"Kau sendiri tolol!"

"Kalian sama saja!" Gadis menimpali.

"Gayatri. Lupakanlah masa lalumu! Berhubung raja Jasa Raga adalah muridmu. Alangkah lebih baik kau urus putra putrinya. Mereka memerlukan bimbinganmu. Bantu mereka, dan kalau Gadis mau rasanya ia pantas berjodoh dengan Pangeran Demak Pati agar pemuda ini tidak mengembara melulu." kata si kakek sambil melirik ke arah Gadis. Maling Jenaka tersipusipu.

"Aku, guru...?" tanya si konyol sambil nyengir. "Kau, boleh-boleh saja. Nanti setelah lebaran monyet!" ucap si kakek sambil berkelebat pergi.

"Kau dengan adikku saja, bagaimana?" tawar Pendekar Kucar Kacir.

Suro garuk-garuk kepala.

"Iya, nanti. Kata guru setelah lebaran monyet!" Waktu itu Gadis berbisik-bisik pada nenek El Maut,

"Lebaran monyet tidak pernah ada. Kau dikadali gurumu!" kata Pendekar Kucar Kacir. Seraya menyerahkan mahkota kerajaan pada adiknya.

"Ha ha ha...! Entahlah, aku bingung!" Suro menyahuti. Ia segera berkelebat pergi. Puteri Saba merasa Suro sempat menempelkan telunjuknya di bibir sang puteri. Gadis itu meraba bibirnya, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Ini membuatnya sedih.

"Suro, tungguu...!" Gadis mengejar ke arah menghilangnya pemuda itu. Pangeran Demak jadi khawatir.

"Maling Jenaka! Akh... nenek, bagaimana ini. Mengapa Gadis yang kucintai malah menyusul monyet gondrong itu?" katanya kecewa.

El Maut untuk pertama kalinya tersenyum. "Hust, diamlah. Tadi ia sudah berbisik padaku.

Mungkin dia mau menerimamu sebagai suaminya. Tapi ia harus bicara dengan Suro dulu!" kata El Maut.

Pangeran Demak Pati kegirangan. Sedangkan puteri Saba hanya diam. Tatapan matanya sendu memandang ke arah perginya Suro.

Dua purnama kemudian pesta pernikahan antara Pangeran Demak Pati dengan Gadis berlangsung. El Maut yang merestui hubungan mereka. Pedang Penebar Bencana diserahkan pada puteri Saba oleh El Maut. Sedangkan pedang Pembawa Rahmat dipercayakan pada Pangeran Demak. Kedua kakak beradik ini membangun kerajaan dengan dibantu Gadis. Dalam pimpinan puteri Saba, kejayaan kerajaan dapat pulih sebagaimana dulu ketika ayah mereka masih hidup. Hal ini juga tidak luput dari bantuan nenek El Maut.

Puteri Saba ternyata memang tidak dapat melupakan Suro, pemuda yang pernah memberi sentuhan indah padanya. Dalam kesendiriannya, puteri memanggil seorang ahli lukis untuk membuat gambar Suro Blondo. Begitu dalam cintanya, hingga gambar pemuda itu dipajang di kamar pribadinya.

Akankah puteri Saba yang jelita, baik hati dan lembut itu bertemu dengan Pendekar Blo'on? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

TAMAT