-->

Serial Naga Geni Eps 22 : Jejak Telapak Iblis

 
Eps 22 : Jejak Telapak Iblis

BAGIAN I

Kelelawar mulai beterbangan, sementara dedaunan pohon berkerosak terombang-ambing oleh sapuan an- gin senja yang agak santer.

Sungguh suatu senja yang tak berbeda dengan sen- ja-senja yang lain. Namun bagi mereka yang masih duduk-duduk di ruangan tamu rumah Ki  Selakriya, agak terasa adanya ketakjuban dan sesuatu yang mencekam di senja itu.

Perhatian mereka tak putus-putusnya terpancang pada sebuah ikat pinggang kulit yang berada di tangan Mahesa Wulung.

“Ini sangat berguna bagi kita, Ki Sela!” ujar Mahesa Wulung sambil menunjuk denah rahasia dari Bukit Kepala Singa yang tergambar pada ikat pinggang ter- sebut.

“Yah, memang demikian, Tuan. Beruntung bagi kita semua, bahwa ikat pinggang berisi denah rahasia itu dapat saya selamatkan. Mudah-mudahan saja Tuan dapat memanfaatkannya dengan baik.”

“Jangan khawatir, Ki Sela. Harapan Bapak pasti kupenuhi. Aku akan mempelajari dan membawanya pula ke Demak.”

“Jadi Tuan bersedia menghancurkan bukit terkutuk itu?!” desis Ki Selakriya dengan mata bersinar kerian- gan.

“Begitulah, Bapak.”

“Ooh, heh. Syukurlah, Tuan. Syukurlah. Dengan begitu hatiku akan merasa tentram.  Bagaimanapun juga, bapak ikut bertanggung jawab terhadap Bukit Kepala Singa itu,” demikian ujar Ki Selakriya. “Tapi... tetapi...?”

“Mengapa, Bapak?”  sahut  Mahesa  Wulung  ketika orang tua itu menampakkan wajah ragu-ragu dan se- tengah takut.

Sedang yang lainpun ikut keheranan dengan peru- bahan Ki Selakriya ini. Gagak Cemani, Pandan Arum, Palumpang, Tungkoro dan Sekarwangi penuh ber- tanya-tanya di dalam hati. Mereka menunggu penjela- san dari kakek tua ini.

“Aku ternyata masih hidup! Jadi... bagaimanakah jika Tangan Iblis mengetahuinya? Pastilah dia akan berbuat lebih kejam lagi, sampai dia yakin benar bah- wa aku telah mati.”

Mereka yang mendengar segera memahami hal itu, sementara Mahesa Wulung lalu berkata, “Kekhawati- ran itu jangan Andika besar-besarkan, Ki Sela. Serah- kanlah hal tersebut kepada kami. Keselamatan Bapak akan kami jaga dari kemungkinan-kemungkinan tin- dakan Tangan iblis. Untuk itu, kami akan menem- patkan beberapa orang prajurit di sekitar rumah ini, sementara kami kembali ke Demak dan mencari jejak Tangan Iblis!”

“Terima kasih, Tuan. Ehh, saya telah membuat An- dika semua menjadi kerepotan dan menambah persoa- lan. Harap dimaafkan orang tua yang tak berguna se- perti saya ini.”

“Jangan berkata demikian, Ki Sela,” sahut Gagak Cemani. “Apa yang baru saja Andika serahkan kepada Adi Mahesa Wulung, ternyata jauh lebih berharga dari pada pertolongan yang kami berikan kepada Andika. Karenanya, justru kamilah yang seharusnya lebih ba- nyak berterima kasih kepada Ki Sela.”

Mendengar percakapan dan kata-kata yang dikelua- rkan oleh Ki Selakriya, Palumpang diam-diam merasa kagum. Betapapun Ki Sela merendahkan diri, namun kemuliaan dan kebaikan budi tetap bersinar pula, ba- gai sinar matahari yang menembus kabut awan.

“Tapi siapakah yang akan tinggal di sini, menemani Ki Selakriya, sementara kita masuk ke kota Demak?” bertanya Palumpang seraya menatap ke arah Mahesa Wulung serta sahabat-sahabatnya yang lain. “Bagai- manakah jika aku saja yang tinggal di sini?”

Mahesa Wulung mengangkat kening lalu menyahut, “Aah, bukankah Andika sebagai tamuku di Demak?! Mengapa Andika akan tinggal di sini? Saya kira, Adi Tungkoro dapat pula tinggal di sini sementara kita kembali ke Demak dan mengirimkan beberapa orang prajurit yang akan tinggal di sini.”

“Maaf, Sobat. Aku masih agak canggung untuk memasuki kota besar dan bergaul dengan  banyak orang. Mungkin kepalaku akan menjadi pusing dan ja- tuh pingsan... heh, heh, heh. Karenanya, biarlah saya tinggal sementara di sini sambil menunggu kedatangan prajurit-prajurit itu nanti. Aku akan menyusul Andika kemudian. Dalam pada itu, siapa  pula yang tahu bah- wa Ki Selakriya masih harus membutuhkan beberapa ramuan obat yang bisa saya siapkan?”

Mahesa Wulung manggut-manggut lalu tersenyum dan berkata penuh pengertian, “Baiklah, Sobat Palum- pang. Mungkin hal itu baik juga, sebab tentunya Adi Tungkoro akan segera memberi laporan-laporan kepa- da para pimpinan di Demak.”

“Saya harap Andika semua tidak akan tergesa-gesa kembali ke Demak. Hari telah cukup gelap,” ujar Ki Se- lakriya menyela.

“Memang demikian, Ki Sela,” sambung Mahesa Wu- lung pula. “Kami tidak akan berangkat sekarang, tetapi besok, pada saat matahari telah terbit setinggi tom- bak.”

Tiba-tiba Mahesa Wulung menghentikan bicaranya sewaktu Palumpang meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya sendiri. Sedang tangan kirinya menun- juk-nunjuk ke arah pintu samping, sebagai pintu ma- suk kedua yang terdapat di sebelah selatan.

Seketika suasana menjadi tegang, namun Gagak Cemani dengan gesitnya melesat ke arah pintu samp- ing dan membukanya secara tiba-tiba.

Kreettt!

“Ki Jagabaya!” terdengar desisan kaget bercampur takjub ketika di depan pintu yang dibuka secara tiba- tiba tadi terlihatlah seorang tua, masih dalam sikap orang memasang telinga, mendengarkan suatu pembi- caraan. Karena itu pula, si Jagabaya tadi menjadi blingsatan seperti sikap kera kena sumpit, menggeleng dan menengok ke kanan kiri menderita malu.

“Eh, ehh..., ses... saya hanya... kebetulan saja lewat di sini, Tuan-tuan. Saya biasa melakukan ronda berke- liling di wilayah ini,” begitu si Jagabaya berkata den- gan gugup dan terputus-putus. “Harap Tuan-tuan ti- dak terganggu.”

Wajah si Jagabaya yang tersentuh oleh cahaya be- berapa dian minyak kelapa dari ruang tersebut, mem- buat lebih jelas betapa wajah itu tampak kepucatan.

“Eh, tak mengapa, Ki Jagabaya,” ujar Gagak Cema- ni. “Jadi Andika biasa meronda seorang diri?!”

“Beb... beb... begitulah, Tuan,” jawab si Jagabaya masih gugup. “Sekarang permisi..., dan selamat ma- lam...,” si Jagabaya tadi menyelesaikan kata-katanya sambil tergesa-gesa melangkah pergi dari tempat itu.

Gagak Cemani sangat merasa curiga, maka iapun bermaksud menahan si Jagabaya  tadi,  tetapi  di  saat itu juga Mahesa Wulung menahan maksud Gagak Ce- mani, seraya berbisik, “Jangan! Biarkan ia berlalu, Ka- kang Cemani.” “Hmm,” gumam Gagak Cemani menahan perasaan yang bergemuruh di dalam dadanya. Meski ia rasanya mau mengejar orang itu, tapi terpaksalah diurungkan karena Mahesa Wulung telah mencegahnya.  Dalam pada itu iapun sadar bahwa maksud Mahesa Wulung tadi pasti dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan yang masak.

Mahesa Wulung sendiri yang telah berada di am- bang pintu, segera dapat melihat sosok tubuh si Jaga- baya yang berjalan tergesa-gesa, kemudian berlonca- tan lalu lenyap di balik rumpun-rumpun pohon bambu di sebelah timur.

“Maaf, aku membuatmu kecewa, Kakang,” gumam Mahesa Wulung pelahan. “Tapi mudah-mudahan sia- satku ini berjalan baik.”

“Hah, Adi Wulung membuat siasat?!”

“Benar, Kakang Cemani,” sahut Mahesa Wulung kembali. “Biarlah ia melarikan diri, dan jika ternyata ia mempunyai kawan-kawan pastilah mereka akan saling berhubungan. Nah, di saat itulah kita akan menyer- gapnya.”

“Bagus. Aku menyetujui rencanamu, Adi Wulung.” “Sekarang, baiknya kita memeriksa jejak-jejaknya,

Kakang Cemani. Siapa tahu ia meninggalkan jejak atau tanda-tanda yang dapat kita kenal?!”

“Pikiran yang tajam. Ayolah kita periksa bersama,” ujar Gagak Cemani lalu melangkah keluar dan disusul Mahesa Wulung di belakangnya. Semuanya segera memeriksa sepanjang tepi dinding luar dan meraba- raba tanah yang mungkin meninggalkan tanda-tanda tertentu.

“Hee, Adi Wulung! Lihatlah ini!” seru Gagak Cemani seraya berjongkok ke tanah dengan pandangan mata membelalak tertuju ke bawah seperti orang yang meli- hat barang aneh.

Karuan saja Mahesa Wulung buru-buru mendekati Gagak Cemani dan mengawasi ke tanah, ke arah mana pula sahabatnya ini menunjukkan jari telunjuknya.

“Hah?!” desah Mahesa Wulung begitu tatapan ma- tanya sampai ke arah jejak-jejak yang aneh. Sentuhan sinar rembulan yang belum begitu tinggi cukup mem- buat jelas suasana di situ. Demikian pula dengan je- jak-jejak tersebut.

“Lihatlah, Adi Wulung! Ternyata jejak kaki ini dapat membuat hancur batu-batuan yang diinjaknya!” kata Gagak Cemani. “Orang biasa tak mungkin melakukan- nya!”

“Jadi orang tersebut pasti memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi!” sahut Mahesa Wulung sambil me- raba pecahan-pecahan batu di sekitar jejak kaki terse- but. “Rupanya saja ia sengaja memamerkan kesak- tiannya kepada kita!”

“Mungkin memang begitu.”

“Hmmm, si Jagabaya tadi ternyata bukan orang sembarangan!” Mahesa Wulung berkata menggeren- deng seperti orang yang merasa tidak  senang.  “Lalu apa maksudnya?”

“Jelas ia memata-matai kita dengan mendengarkan pembicaraan kita tentang Bukit Kepala Singa tadi!” sambung Gagak Cemani. “Maka itulah yang aku kha- watirkan, Adi Wulung! Bagaimana kalau kita membun- tutinya?!”

Mahesa Wulung berpikir cepat dan kemudian ber- kata, “Baiklah! Asal tidak terlalu dekat dan semoga ki- ta mendapat keterangan lebih banyak.”

“Kakang Wulung! Hendak ke mana Andika ber- dua?!” bertanya Pandan Arum yang telah tiba di luar seraya membawa ranting menyala guna menerangi tempat tersebut.

“Ssstt! Ada sesuatu yang penting! Masuklah kembali ke dalam, dan tutup pintu rapat-rapat. Kami akan ber- jalan-jalan sebentar di luar.”

Pandan Arum mengangguk, namun ia berbisik juga, “Bagaimana harus kukatakan kepada mereka?!”

“Katakan saja bahwa kami berdua akan menghirup udara segar untuk beberapa saat.”

“Baiklah, Kakang. Tapi... hati-hatilah,” ujar Pandan Arum dengan nada cemas, lebih-lebih setelah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani bergegas meloncat ke arah timur, untuk membuntuti si Jagabaya.

Maka buru-buru Pandan Arum kembali ke arah pin- tu dan memenuhi pesan-pesan dari kekasihnya, se- dang pintu tersebut lalu ditutupnya dari dalam dengan rapat.

Kedua sahabat yang berilmu tinggi itu lalu berlon- catan di antara semak-semak dan sekali-kali mengen- dap-endap sambil memeriksa tempat di sekelilingnya.

Rumpun bambu terdapat di sana-sini dengan lebat- nya. Terkadang bergeritlah bunyi pergeseran antara cabang-cabang dengan batang bambu menimbulkan suara yang cukup mendirikan bulu tengkuk, menye- ramkan.

Beberapa batang bambu yang melengkung ke tanah malahan kadang-kadang tampak bagaikan tangan- tangan hantu yang tengah mencegat mangsa.

“Kakang Cemani. Bukankah ke arah ini, si Jaga- baya tadi melarikan diri?” bisik Mahesa Wulung kepa- da sahabatnya, pendekar berjubah dan berkumis me- lintang.

“Tidak keliru! Tapi tak terdapat tanda apa-apa di si- ni, Adi Wulung!” balas Gagak Cemani sambil menebar- kan pandangan mata ke arah keliling. “Sungguh aneh.”

“Memang! Ia seperti lenyap ditelan pohon-pohon di sini,” desis Gagak Cemani perlahan.

“Dan tempat ini terlalu sepi!” berbisik Mahesa Wu- lung di dekat telinga Gagak Cemani.

“Sangat mencurigakan. Berhati-hatilah!”

“Saya merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi kita, Kakang Cemani!”

“Saya pun merasa demikian, Adi.”

Ketegangan segera mencekam kedua pendekar ini. Tanpa diperintah mereka telah bersiaga sepenuhnya, untuk menghadapi segala sesuatu yang bakal terjadi.

Telinga mereka dengan tajamnya menjaring suara- suara dan setiap gerakan yang mencurigakan. Namun sampai sejauh itu, tak satu suarapun yang aneh ke- dengaran, kecuali desiran angin yang menggoyangkan dedaunan.

Mendadak saja, ketika Mahesa Wulung dan Gagak Cemani tengah mengawasi pohon-pohon di sekeliling- nya, berdesirlah sambaran-sambaran angin yang da- tang tanpa keruan sumbernya.

Wesstt... sringng... sring... sring...! Begitulah desin- gan-desingan mengurung Mahesa Wulung berdua den- gan derasnya laksana air hujan.

“Heeiitt!” dengus Mahesa Wulung sambil  meloncat ke udara, sedang Gagak Cemani pun berbuat  yang sama.

“Lindungi dirimu, Kakang Cemani!”

Peringatan Mahesa Wulung tadi ternyata memang tepat. Sebab itulah Gagak Cemani secepat kilat men- cabut golok panjangnya sekaligus diputarnya melin- dungi tubuh.

Dalam detik yang sama, Mahesa Wulung tanpa ayal menghunus pedangnya lalu diputarnya sederas puta- ran angin. Kiranya memang itulah cara satu-satunya yang paling tepat, sebab yang datang mengurung me- reka adalah sambaran-sambaran paku baja.

Trang.... Tak... tak... taaakk!

Kedua pendekar ini dengan lincahnya memutar sen- jatanya masing-masing di tangan menyampok runtuh belasan paku baja yang tengah menyambarnya.

“Paku-paku baja!” desis Mahesa Wulung dengan ge- ramnya. “Menyerang secara gelap... keparat! Aku harus bertindak keras. Hiaatt!”

Begitu Mahesa Wulung berseru, maka tangan ki- rinya mendorong ke depan ke arah pepohonan di seke- liling berkali-kali sambil berputar di udara.

Braak! Kraasss! Braass!

Satu demi satu pepohonan di sekeliling tumbang terhempas di bumi bagaikan dihajar oleh angin badai. Rupanya Mahesa Wulung telah menggunakan pukulan jarak jauh ajaran dari gurunya, si Pendekar Bayangan. Gagak Cemani yang berada di sebelah Mahesa  Wu- lung, tak kalah herannya melihat hal ini. Ia dengan se- penuhnya kagum oleh ilmu tersebut, yang dilancarkan ke tempat-tempat di sekeliling guna mencegah seran-

gan lebih lanjut dari lawan gelapnya ini.

Ketika pohon-pohon di sekeliling mereka roboh, ter- lihatlah satu bayangan hitam meloncat kabur sambil mengutuk-ngutuk dan sesaat kemudian disusul suara ketawa yang bergema.

“Heh, ha, ha, ha. Kali ini aku tak dapat lebih lama bermain-main menemanimu, Sobat. Tapi lain kali kita akan bertemu lagi!”

“Itulah penyerang gelap yang kita cari, Kakang Ce- mani!” seru Mahesa Wulung sambil mendaratkan ka- kinya ke tanah, disusul oleh Gagak Cemani.

“Tapi tinggal suara pantulannya, Adi! Orangnya te- lah kabur lebih dahulu,” sambung Gagak Cemani.

“Ia bergerak kelewat cepat. Memang ia punya kele- bihan juga, Kakang Cemani. Sayang kita tak dapat menangkapnya!”

“Jadi jelaslah bahwa si Jagabaya itu orang yang be- rilmu tinggi!” demikian Gagak Cemani mengambil ke- simpulan. “Namun ada juga kemungkinan lain.”

“Heh, kemungkinan lain?”

“Benar, Adi. Mungkin pula bahwa si penyerang ge- lap tadi bukan si Jagabaya sendiri.”

“Kalau begitu, orang lain?” tanya Mahesa Wulung. “Benar.”

“Berarti si Jagabaya ini tidak sendirian.”

“Sebaiknya kita periksa lebih teliti, Adi Wulung. Kita dapat mendatangi rumah si Jagabaya itu besok pagi,” berkata Gagak Cemani sambil memungut beberapa paku baja dari tanah dan mengamat-amatinya.

“Marilah kita kembali sekarang, Kakang Gagak Ce- mani. Sudah cukup lama kita meninggalkan rumah Ki Selakriya. Pasti mereka telah menanti kita.”

“Ayo!” sahut Gagak Cemani seraya menyimpan pa- ku-paku baja tadi, lalu menyertai Mahesa Wulung kembali ke arah barat. “Kita menghadapi persoalan ba- ru, rupanya.”

“Hmm,” desah Mahesa Wulung seraya menghela napas. “Kita telah terlibat persoalan baru, meski segala sesuatunya kait-mengait dari soal-soal yang terdahu- lu.”

“Ujarmu tidak keliru, Adi Wulung,” sambung Gagak Cemani. “Segala peristiwa di alam kehidupan ini sering saling mempengaruhi dan berhubungan antara yang satu dengan yang lain.”

Mahesa Wulung mengangguk tanpa berkata apapun kecuali melangkahkan kakinya menuruti jalan kecil yang semula dilewatinya. Daun-daun bambu masih berdesiran tergoyang oleh sentuhan angin malam yang lembut, bagaikan turut mengiringi langkah-langkah kedua pendekar itu kembali ke rumah Ki Selakriya. Dering suara jengkerik terdengar di sana-sini, sedang bulan makin naik dan menebarkan warna sinar perak- nya ke permukaan bumi.

BAGIAN II

Siang cukup teriknya, ketika Mahesa Wulung dan Gagak Cemani meminta penjelasan dari Ki Selakriya tentang si Jagabaya di kampung itu. Mereka bertiga duduk di halaman rumah yang penuh tetumbuhan in- dah dan teratur letaknya.

“Ki Sela, apakah Andika kenal baik dengan si Jaga- baya di kampung ini?” bertanya Mahesa Wulung mem- buka percakapan mereka.

“Ooh, ya. Tentu saja  aku  mengenalnya  dengan baik,” Ki Selakriya menjawab pasti. “Masih ingatkah Tuan, tentang seorang setengah tua yang menyambut Andika ketika aku terluka oleh pukulan Telapak Iblis? Nah, itulah si Jagabaya Ki Carang yang sangat baik.” 

Kedua pendekar itu mengangguk-angguk setengah tidak percaya oleh keterangan Ki Selakriya, sebab bu- kankah tadi malam mereka memergoki si Jagabaya berdiri di belakang pintu.

“Tetapi kami telah mencurigainya semalam, Ki Se- la,” ujar Mahesa Wulung. “Mencurigai Ki Carang ketika kami membuka pintu dengan tiba-tiba. Ternyata ia be- rada di situ.”

“Ya, ya. Aku dapat memahami kecurigaan  Tuan- tuan. Hanya sayang sekali aku tak melihat  dengan je- las wajah si Jagabaya itu. Dan lagi agaknya sudah se- patutnya bahwa seorang jagabaya sering berkeliling kesana-kemari secara diam-diam guna menjaga kea- manan.”

“Tapi yang ini lain, Ki Sela,” terdengar Gagak Cema- ni ikut bicara. “Ketika kami sapa, malah melarikan  di- ri. Dan Andika tahu? Sewaktu kami berdua mencari je- jaknya, kami telah diserang secara gelap oleh senjata- senjata ini!” demikian Gagak Cemani berkata seraya menunjukkan tiga buah paku baja kepada Ki  Sela- kriya.

“Hah? Paku baja!” desis Ki Selakriya. “Aku belum begitu mengenal dengan senjata ini. Tapi apakah Tuan-tuan telah yakin bahwa hal itu adalah serangan gelap dari Ki Carang?”

“Memang kami belum pasti. Justru kami ingin me- nyelidiki hal itu, sebab tak urung hal ini menyangkut keselamatan denah rahasia Bukit Kepala Singa, yang berarti pula menyangkut keselamatan negara kita se- mua,” begitu Mahesa Wulung menjelaskan persoalan- nya.

“Aaih, itu benar, Tuan,” sambung Ki Selakriya. “Jadi bagaimana maksud dan rencana Andika berdua?!”

“Kami akan mengunjungi rumah Ki Carang dan menyelidikinya secara diam-diam,” Gagak Cemani menjelaskan rencananya. “Bagaimanakah jika Ki Sela kami harap mengawani kami ke sana?”

“Yah, aku setuju, Tuan. Aku akan mengantar Andi- ka berdua ke sana. Dengan begitu kita tidak terlalu mencurigakan dan kita akan bertamu ke rumahnya.”

“Terima kasih, Ki Sela.”

“Kita bisa berangkat sekarang ini juga, Tuan,” Ki Se- la mengajak kedua pendekar itu berangkat. “Mudah- mudahan ia tidak pergi ke mana-mana.”

Sejurus kemudian mereka bertiga telah melangkah pergi meninggalkan halaman dan menuju ke arah jalan rintisan kecil menuju ke arah timur.

Diam-diam Mahesa Wulung dan Gagak Cemani sal- ing berpandangan. Sebab mereka tahu bahwa semalam mereka telah melewati jalan ini juga sewaktu mengejar si Jagabaya.

Jalan yang ditempuh semakin ke timur tatkala den- gan tiba-tiba Ki Selakriya berseru kaget, “Huh! Luar biasa! Apakah yang terjadi di sini semalam?! Lihatlah, Tuan! Pohon-pohon di sini roboh dan tumbang ke ta- nah. Agaknya semalam telah terjadi angin ribut atau mungkin ada hantu berkelahi di sini.”

Mahesa Wulung kembali menatap ke arah Gagak Cemani. Keduanya sama-sama mengangkat dahi dan tersenyum dikulum begitu mendengar tutur kata Ki Selakriya.

“Mungkin begitu, Ki Sela,” terdengar Gagak Cemani membenarkan. “Untung tidak menimbulkan korban.”

“Ya, marilah kita berbelok ke kanan melintas ke ja- lan lain,” Ki Selakriya menggumam. “Aku segan mele- wati tempat tersebut. Siapa tahu ada kekuatan- kekuatan aneh yang tersembunyi di situ.”

Tanpa berkata apa-apa, kedua pendekar ini mengi- kuti langkah Ki Selakriya sambil tersenyum-senyum kecil. Tapi kemudian Gagak Cemani menggamit Mahe- sa Wulung agar senyumnya tidak sampai terlihat  oleh Ki Selakriya.

Beberapa kali mereka melewati bulak rumput bam- bu kemudian ladang jagung yang cukup lebar. Di sebe- lahnya tampaklah sebuah rumah berukuran sedang dengan halaman yang bersih dan rapi.

Ki Selakriya kemudian memasuki halaman rumah tersebut diikuti Mahesa Wulung dan Gagak  Cemani yang hatinya mulai berdebar-debar di dalam dadanya. “Inilah rumah kediaman Ki Carang,” tutur Ki Sela- kriya kepada kedua pendekar di belakangnya. “Andika berdua dapat mulai memeriksa segala sesuatunya se- karang.”

“Terima kasih, Ki Sela,” gumam Mahesa Wulung se- raya menyenggol lengan Gagak Cemani agar mereka mulai menjalankan tugasnya.

Setelah mereka lebih jauh memasuki halaman, ta- hu-tahu seorang perempuan berusia separo tua datang menyongsong mereka bertiga dari arah pintu masuk.

“Ehh, bukankah ini Ki Selakriya?! Si pemahat ulung dari Demak?!” demikian sapa si perempuan separo tua serta diiringi ketawa yang ramah.

“Aah, Nyi Carang selalu memperolok-olokku setiap aku datang sowan ke mari!” sahut Ki Selakriya seraya tertawa-tawa pula.

Mahesa Wulung di dalam hati  dapat  mencatat  hal ini dengan baik. “Hmm, jelas agaknya bahwa Ki Sela- kriya telah mengenal lebih jauh dengan keluarga si Ja- gabaya ini.”

“Nyai, kedatanganku ke mari adalah untuk menen- gok Ki Carang dan sekaligus memperkenalkan kedua orang tamuku ini. Sejak aku menderita luka beberapa hari yang lalu, aku belum sempat bertemu lagi dengan Ki Carang. Apakah kabarnya, Nyai?”

Perempuan setengah baya ini menyudahi senyum- nya disusui helaan napas panjang seperti menahan se- suatu yang agak berat. Katanya kemudian, “Syukurlah jika Andika telah sembuh kembali, Ki Sela. Tetapi so- batmu tidak demikian untung.”

“Elho. Tidak untung bagaimana, Nyai?”

“Itu. Ki Jagabaya Carang. Sehari  kemudian  sesudah ia menjumpaimu dalam keadaan luka, iapun  menda- pat kecelakaan dan sampai hari ini tak bisa berjalan! Sepanjang hari ia terbaring di balai-balai tempat tidur- nya.”

“Hah?!” Ki Selakriya berseru kaget. Tapi yang paling kaget adalah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani sen- diri. Kedua pendekar ini terpaku bisu tanpa berkata apapun.

Betapa mereka dapat begitu saja menerima penutu- ran Nyi Carang yang mengatakan bahwa suaminya te- lah menderita sakit, sedang semalam mereka berdua dapat melihat dengan jelas bahwa si Jagabaya berdiri di depan pintu rumah Ki Selakriya?!

“Jadi ia tak pernah pergi keluar rumah?!”  bertanya Ki Selakriya dengan wajah yang menampakkan rasa bingung.

Nyi Carang menggeleng-gelengkan kepala sambil menggumam. “Aaah, Andika ini bagaimana, Ki Sela? Ia bangun dari tempat tidurnya saja masih harus dito- long. Maka mengherankan bila ia dapat menginjakkan kaki keluar rumah.”

Ki Selakriya berpaling ke samping dan menatap Mahesa Wulung serta Gagak Cemani. Meski Ki Sela- kriya tak berkata apapun, namun dari sorot matanya dapatlah Mahesa Wulung berdua memahami bahwa Ki Selakriya menunjukkan kenyataan yang bertentangan.

“Kami ingin sekali berjumpa dengan suamimu,” kembali Ki Selakriya memecah kesunyian.

“Ya, ya. Tentu. Marilah masuk ke dalam. Andika bertiga dapat segera menjumpainya.” Nyai Carang mempersilahkan mereka ke tempat di mana terdapat sebuah balai-balai kayu.

Di atas balai-balai tersebut terbaringlah seorang la- ki-laki setengah tua, yang kira-kira lebih muda bebe- rapa tahun daripada Ki Selakriya.

Ketika Mahesa  Wulung  dan  Gagak  Cemani  dapat mengenali wajah orang yang terbaring itu, dada mere- ka seperti tergoncang oleh gempa, sebab wajah itu ada- lah wajah Ki Carang, si Jagabaya yang semalam telah dilihatnya di balik pintu!

“Aaa, Andika sudi menengokku, Sobat?!” seru Ki Jagabaya Carang dari tempatnya  berbaring.  “Sialan. Aku sekarang yang ganti sakit dan terbaring seperti kain tua tanpa daya.”

“Semoga Andika lekas sembuh, Ki Carang. Dan ini, perkenalkanlah dua orang penolongku dan juga tamu- ku...,” ujar Ki Selakriya pula.

Si Jagabaya Carang mengangguk kepada Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. “Terima kasih Andika ber- dua sudi datang kemari. Perkenalkan, nama saya ada- lah Ki Carang.”

“Saya Mahesa Wulung,” berkata Mahesa Wulung memperkenalkan diri. “Sedang di sampingku ini Gagak Cemani.”

“Kecelakaan macam apakah yang telah mencederai kakimu, Ki Carang?” kembali Ki Selakriya bertanya.

Sementara itu Mahesa Wulung dan Gagak Cemani saling berpandangan penuh tanda tanya.  Dasar  lagi bagi Mahesa Wulung yang otaknya penuh dengan pen- galaman, iapun lalu menjadi curiga terhadap perihal sakitnya si Jagabaya Carang. Apakah hal ini bukan sekedar siasat dan tipuan untuk mengelakkan perta- nyaan-pertanyaan lainnya?

“Hehh, inilah sakitku yang membuatku tak dapat berjalan,” Ki Carang berkata seraya menyingkapkan kain selimut yang menutupi kakinya.

Maka tampaklah segera satu pemandangan yang membuat Mahesa Wulung, Gagak Cemani, dan Ki Se- lakriya terkejut bukan main.

Pada kaki kanan Ki Carang terlihatlah satu bengkak kebiruan yang tampaknya sangat menimbulkan rasa sakit, sehingga keterangan Ki Carang tentang keadaan dirinya dapatlah dipahami.

Ki Selakriya bertiga yang duduk di tepi balai-balai lebar itu tak lepas pandangan matanya dari kaki Ki Carang tadi, seolah mereka masih meragukan hal ter- sebut.

“Ki Carang, aku tak sampai hati  melihat  deritamu itu. Bolehkah aku mengusulkan sesuatu?” bertanya Ki Selakriya.

Jagabaya itu menghela napas, lalu berkata pula, “Apakah dayaku, Ki Sela? Bermacam-macam ramuan jamu untuk meredakan dan menyembuhkan bengkak- ku ini tak berhasil saya gunakan. Dan putuslah hara- panku sudah. Mungkin sudah kehendak nasib bahwa saya akan terbaring lumpuh begini.”

“Janganlah berkata demikian, Ki Carang,” sambung Ki Selakriya. “Kau lihat dengan diriku! Semula aku tak mempunyai harapan untuk hidup lagi. Namun berkat pertolongan Tuan-tuan berdua ini, maka aku masih dapat menikmati udara segar dan panasnya sinar ma- tahari. Karenanya jika Andika tidak berkeberatan, bi- arlah mereka berdua memeriksa kakimu,” begitu Ki Se- lakriya berkata lalu berpaling ke arah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. “Bagaimana, Tuan, apakah Andika berdua tidak berkeberatan?”

“Ehm. Dengan senang hati kami akan memerik- sanya, Ki Sela,” sahut Mahesa Wulung. “Mudah- mudahan tidak terlalu berat.”

Sebentar kemudian, Mahesa Wulung dan Gagak Cemani memeriksa kaki Ki Carang yang bengkak kebi- ruan dengan seksama. Bagi kedua pendekar yang telah banyak memahami segala macam luka dan cedera, itu tidaklah begitu sukar. Namun di saat itulah timbul kegelapan yang begitu sukar. Sebab dari pemeriksaan itu,  Mahesa  Wulung dan Gagak Cemani terpaksa tergeleng-geleng.

“Ini cedera yang sungguh-sungguh dan menurut tanda-tandanya yang pasti, si Jagabaya ini telah men- dapat bencana kurang lebih lima atau empat hari yang lalu,” demikian pikir Mahesa Wulung diam-diam. “Jadi tak mungkin ia dapat berjalan-jalan keluar dari rumah ini! Jika demikian, siapakah yang berdiri di balik pintu rumah Ki Selakriya? Bukankah wajahnya juga wajah dari orang ini juga?!”

Agaknya saja Gagak Cemanipun menjadi kebingun- gan dengan peristiwa itu, terlihat bahwa ia cuma ber- diam diri sambil mengelus-elus kumisnya.

Suasana sesaat seperti bisu dan kaku. Untunglah kemudian muncul Nyai Carang sambil membawa talam berisi mangkuk-mangkuk  minuman  dengan  sekendi air minum beserta sepinggan jadah ketan.

“Bengkak ini dapat disembuhkan, Ki Carang. Tapi tentu saja memakan waktu beberapa hari!” ujar Mahe- sa Wulung. “Dan  kamipun harus meminta bantuan da- ri teman kami yang seorang lagi. Sekarang ini ia tinggal di rumah Ki Sela.”

“Syukurlah, Ki sanak,” desis Ki Carang lagi.

“Namun kami ingin pula mengajukan beberapa per- tanyaan kepada Bapak,” Gagak Cemani ikut bicara.

“Pertanyaan apakah, Ki sanak? Silahkan!”

Gagak Cemani segera mengambil satu bungkusan kain dari ikat pinggangnya dan dibukanya di depan Ki Carang seraya berkata, “Kenalkah Bapak dengan ben- da-benda ini?!”

“Hahh! Itu... itu...,” desis Jagabaya Carang dengan wajah kepucatan. “Di mana Ki sanak mendapatnya?”

“Semalam, Ki Carang. Tak Jauh dari rumah Ki Se- lakriya,” sahut Mahesa Wulung pula.

“Mengapa sampai berada di tangan Ki sanak?” “Semalam kami diserang dengan paku-paku baja

ini, tapi untunglah kami dapat menghindarkannya,” kembali Gagak Cemani memberi penjelasan.

“Celaka diriku!” desis Jagabaya Carang. “Mengapa Anda berkata demikian?” “Paku-paku baja itu adalah senjataku!”

“Senjata dari Ki Carang?!” terdengar Ki Selakriya berseru.

“Ya, benar! Senjata paku baja ini adalah senjata ciri yang khusus tentang diriku!” kata Ki Carang. “Dengan sendirinya tentu Ki sanak berdua mengira bahwa aku- lah yang menyerang Andika berdua, bukan?!”

“Begitulah memang perkiraan kami yang semula,” Mahesa Wulung menegaskan dirinya. “Tetapi dengan melihat cedera bengkak pada kaki Andika, pastilah hal itu tidak mungkin.”

“Yah, memang tidak mungkin. Tambahan lagi, aku masih cukup waras untuk tidak sembarangan meng- gunakan senjata ciri khusus seperti ini!” kata Ki  Ca- rang dengan suara berat. “Di samping itu kita tidak bermusuhan, bukan?”

“Hah, itu benar, Ki Carang. Akan tetapi ada satu hal lagi yang menyebabkan kami menyangka bahwa Andi- kalah yang menyerang kami semalam. Tentu saja kami bertiga ingin mendengar penjelasan-penjelasan dari Ki Carang sendiri.”

Jagabaya Carang menjadi kian tertarik oleh tutur kata Mahesa Wulung tadi, maka segera ia  bertanya, “Hal apakah yang Ki sanak maksudkan itu?”

“Nah, dengarlah baik-baik, Ki Carang,” ujar Mahesa Wulung menjelaskan. “Semalam kami tengah mengo- brol dengan Ki Selakriya di rumahnya. Di antaranya ada hal-hal penting yang kami bicarakan. Pada saat itu kami tiba-tiba merasa ada seseorang yang mendengar dan memata-matai dari balik pintu masuk. Maka sece- patnya kami membuka pintu tersebut, dan ternyata di situ berdirilah seseorang yang berwajah seperti Andika, Ki Carang! Wajah yang mirip sekali sehingga kami tak ada alasan lain untuk menyangkal bahwa orang itulah Ki Carang sendiri!” Mahesa Wulung berhenti sejenak, seolah-olah masih memberi kesempatan berpikir kepa- da Ki Carang.

“Hehh... ya. Aku telah mendengarnya. Coba  te- ruskan dengan ceritera tadi,” ujar Ki Carang disertai wajah kepucatan.

“Akhirnya kami membuntuti orang tersebut ketika tak lama kemudian belasan paku-paku baja menye- rang kami,” demikian Mahesa Wulung menyudahi pe- nuturannya.

“Jika demikian maka baiklah aku menjelaskan ke- pada Andika bertiga, mengapa kakiku sampai menderi- ta cedera seperti ini,” berkata Ki Carang.

“Itu lebih baik, Ki Carang, Ceriterakanlah lebih jelas kepada Tuan-tuan berdua ini. Sebab Tuan Mahesa Wulung ini tidak lain adalah seorang wiratamtama dari Demak.”

“Ohh, baik, Gusti. Baik..., hamba akan berceritera dengan sejelas-jelasnya,” ujar Ki Carang kemudian dengan wajah ketakutan dan gugup.

“Jangan merubah sikap, Ki Carang. Tetaplah seperti semula dan tidak perlu membungkuk-bungkuk seperti ini. Nah, lanjutkanlah ceriteramu tadi,” gumam  Mahe- sa Wulung kepada Jagabaya Carang.

Memang sikap si Jagabaya Carang tidak dapat dis- alahkan, sebab ia sangat merasa rendah hati. Jabatan seorang jagabaya seperti dirinya akan seberapa besar- nya bila dibandingkan dengan kedudukan dan pangkat wiratamtama dari kerajaan?!

“Malam itu,” demikian Ki Carang memulai cerite- ranya, “yakni sehari sesudah saya menjumpai Tuan- tuan di depan rumah Ki Selakriya, saya telah diserang di tengah hutan bambu. Ternyata para penyerang tadi lebih dari seorang dan jelasnya mereka telah menge- royokku! Salah seorang dari penyerang tadi marah- marah dan berkata mengapa aku masih bersedia men- jadi seorang jagabaya dan suka mencampuri urusan orang lain. Maka saat itu juga terjadilah pertempuran seru di tengah hutan bambu. Tapi  sayang,  sebelum saya sempat menggunakan senjata khususku ini, tiba- tiba saja seorang lawanku telah menghajar kaki ka- nanku dengan pukulan sisi telapak tangan yang hebat, sehingga membuatku lumpuh setengah pingsan. Aku merasa beberapa orang menggeledahi pakaianku, se- saat sebelum aku pingsan sama sekali.

“Ketika kemudian aku sadar, aku mendapati bahwa kaki kananku telah sakit dan mulai bengkak kecil membiru. Tetapi yang lebih kaget lagi, sewaktu aku meraba ikat pinggangku ternyata sekantong senjata paku baja milikku telah hilang! Dengan susah  payah aku merangkak pulang sampai keadaanku seperti An- dika ketahui sekarang ini.”

Baik Mahesa Wulung, Gagak Cemani maupun Ki Selakriya terpekur mendengar penuturan Jagabaya Carang tadi. Lebih-lebih bagi Mahesa Wulung berdua.

Kalau semula ia bersama Gagak Cemani telah ber- keyakinan bahwa sasaran yang mereka cari adalah si Jagabaya itu, maka di saat ini juga keyakinan tadi menjadi lenyap.

Jalan yang semula terang, kini menjadi gelap kem- bali, seakan menyesatkan kedua pendekar yang hen- dak melewatinya. Oleh karenanya pula Mahesa Wu- lung dan Gagak Cemani terbisu untuk beberapa saat.

“Masih ada sesuatu yang kurang jelas, Ki Carang,” tiba-tiba Gagak Cemani melanjutkan bicara, “yaitu ten- tang wajah seorang asing yang mirip dengan wajah Andika.”

“Hmm, aku belum dapat mengerti hal  itu,  Tuan,” ujar Ki Carang. “Jelas bahwa nama saya telah ternoda dalam peristiwa ini.”

“Ada dua kemungkinan mengenai wajah itu!” Mahe- sa Wulung menyela. “Pertama, orang tersebut sengaja menggunakan semacam topeng dengan maksud meli- batkan nama Ki Carang. Sedang kemungkinan kedua orang tersebut memang benar-benar memiliki wajah itu. Mungkin dia adalah salah seorang dari saudara Ki Carang.”

“Ya! Keduanya memang serba mungkin!” ujar Ki Ca- rang pula. “Akupun mempunyai seorang adik yang berwajah mirip dengan wajahku. Tapi ia telah pergi meninggalkanku belasan tahun  yang  lalu.  Dan  sejak itu saya tak mendengar lagi kabar beritanya.”

“Siapakah nama adik Andika itu, Ki Carang?” Gagak Cemani bertanya pula. “Jika tidak berkeberatan, biar- lah kami sedikit banyak mengetahui tentang dirinya.”

“Namanya adalah Jaka Rebung,” jawab Ki Carang seraya menghela napas. “Dia pergi meninggalkanku karena satu pertengkaran kecil yang berkisar soal ke- luarga.”

“Itu sudah cukup, Ki  Carang,” potong  Gagak Cema- ni pula. “Kami tak ingin mencampuri urusan keluarga Andika. Cukuplah dengan keterangan itu saja pada kami.”

“Terima kasih. Semua keteranganku semoga bergu- na bagi Tuan-tuan berdua.” “Kembali tentang cedera pada kakimu ini, Ki Ca- rang,” kata Gagak Cemani seraya memungut tabung kecil dari ikat pinggangnya dan menuangkan beberapa butir obat yang berwarna hijau ke atas telapak tan- gannya. “Minumlah nanti obat ini dan jalan darah yang terhenti pada cedera bengkak itu akan menjadi lancar kembali.”

“Ooh, terima kasih, Tuan.”

“Belum cukup dengan itu, Ki Carang. Tunggulah nanti. Seorang temanku yang  bernama  Palumpang akan datang kemari dan ia akan mengurut serta mem- balut luka bengkak itu dengan ramu-ramuan ja- munya.”

Ki Carang menjadi berseri-seri wajahnya saking gembira dan kemudian ia meletakkan tiga butir obat pemberian Gagak Cemani ke dalam mangkuk di sebe- lahnya. Selanjutnya ia mempersilahkan ketiga ta- munya ini untuk meneguk minuman serta mencicipi jadah ketannya, dan pembicaraanpun berkisar ke soal- soal biasa yang sehari-hari.

Tampak benar keramahan yang terjelma dalam pembicaraan mereka. Malahan Nyi Carangpun ikut ke- luar dan menemani ketiga tamunya dengan membawa pisang rebus.

Ketika matahari mulai condong ke kaki langit di se- belah barat, Ki Selakriya, Mahesa Wulung, dan Gagak Cemani segera meminta diri. Sedang senja nanti Pa- lumpang akan datang ke tempat Ki Carang untuk mengobati bengkak pada kakinya.

***

Sehari kemudian, pada  saat matahari telah muncul di balik pepohonan hutan di sebelah timur, Mahesa Wulung telah mempersiapkan kudanya bersama yang lain.

Gagak Cemani, Pandan Arum dan Tungkoro sudah membereskan bekal-bekal dan barang-barangnya. Tampak pula Ki Selakriya, Sekarwangi dan Palumpang membantunya.

Seperti rencana semula, Palumpang tetap tinggal di rumah Ki Selakriya untuk beberapa hari sambil me- nunggu kedatangan beberapa orang prajurit Demak yang akan tinggal di sekeliling Ki Selakriya.

“Hati hatilah, Sobat Palumpang,” ujar Mahesa Wu- lung sambil tersenyum ramah. “Jagalah  Ki  Selakriya dan Sekarwangi baik-baik.”

“Heh, heh, heh. Andika tak perlu khawatir, Sobat Wulung,” sahut Palumpang. “Akan kujaga mereka den- gan sebaik-baiknya.”

“Terima kasih,” ujar Mahesa Wulung sambil menja- bat tangan sahabatnya itu, disusul  oleh  Gagak Cema- ni, Pandan Arum dan Tungkoro. Ki Selakriya dan Se- karwangipun tidak ketinggalan untuk mengucapkan selamat jalan kepada rombongan yang akan pergi itu.

Tak lama kemudian, Mahesa Wulung berempat te- lah menderapkan kudanya meninggalkan halaman rumah Ki Selakriya, sementara beberapa orang pendu- duk di situ ikut melambai-lambaikan tangannya seba- gai ucapan selamat jalan.

Debu berkepul-kepul mengalun ke udara mening- galkan bekas-bekas jalan yang dilalui oleh rombongan kecil yang menuju ke arah Demak.

“Kakang Cemani,” ujar Mahesa Wulung. “Persoalan menjadi kian berbelit-belit, lebih-lebih dengan lenyap- nya jejak penyerangan gelap yang bersenjatakan paku baja itu.”

“Memang, Adi Wulung,” sambung Gagak Cemani. “Namun aku yakin bahwa persoalannya pasti akan da- pat kita pecahkan.”

“Bagaimana dengan Kakang Cemani? Apakah kira- kira si penyerang gelap itu ada hubungannya dengan Tangan Iblis?”

“Masih terlalu samar-samar, Adi Wulung. Dari ke- duanya dapatlah kita catat adanya dua peristiwa da- lam satu lingkungan, meski dalam saat yang agak ber- lainan,” Gagak Cemani berkata menggambarkan pen- dapatnya. “Peristiwa dilukainya Ki Selakriya oleh Tan- gan Iblis dan cederanya Ki Carang oleh penyerang ge- lap yang merampas senjata paku bajanya, benar-benar cukup menyulitkan. Tapi yang lebih penting adalah melaporkan dan memeriksa denah rahasia Bukit Kepa- la Singa pemberian Ki Sela, ke Demak!”

“Benar, Kakang Cemani. Sabuk kulit berisi gambar rahasia itu telah aku bawa dan sekarang aku pasang pula pada pinggangku,” ujar Mahesa Wulung seraya menepuk ikat pinggang kulit pemberian Ki Selakriya.

“Nah, bukankah hal itu sangat penting. Dan siapa tahu dari ikat pinggang tersebut, akan tercium pula je- jak-jejaknya Tangan Iblis.”

“Aku tak mengira bahwa Sugatra yang bergelar Tangan Iblis itu telah sampai di daerah Demak!”

“Satu pertanda bahwa daerah ini telah kemasukan musuh-musuh gelap,” ujar Gagak Cemani.  “Bahkan salah seorang prajurit kawal telah mengkhianatimu. Andika masih ingat, Adi Wulung?”

“Benar, Kakang Cemani. Aku masih ingat betapa Gombong, si prajurit kawal itu, pernah menjebakku, meski akhirnya ia mati dan menyesal atas perbuatan- nya,” ujar Mahesa Wulung menjelaskan. (Bacalah Seri Naga Geni 17, Seribu Keping Emas untuk Mahesa Wu- lung)

Gagak Cemani manggut-manggut  mengerti dan  ia- pun teringat, betapa Mahesa Wulung telah diculik oleh Surokolo beberapa waktu yang lalu.

Mereka berempat makin mempercepat pacu ku- danya ke arah selatan melewati tanah-tanah persawa- han yang sangat subur. Beberapa kali mereka berpa- pasan dengan orang-orang desa yang menggendong barang-barang dagangan seperti sayur-mayur dan lain- lainnya.

“Rasanya aku ingin lekas-lekas sampai ke Demak,” desah Mahesa Wulung. “Terlalu banyak persoalan- persoalan yang harus kita selesaikan.”

“Heh, heh, heh,” Gagak Cemani tertawa menggele- gas. “Selama manusia itu hidup akan selalu ada per- soalan-persoalan yang melibatnya. Hal itu harus kita hadapi dengan dada terbuka, Adi Wulung. Anggaplah sebagai satu ujian saja. Mana yang lebih kuat dan ta- bah, dialah yang bakal mengatasi persoalan itu.  Se- dang yang lemah, pastilah dia bakal terseret dan teng- gelam di dalamnya.”

“Heh, yah, kiranya memang begitu,” desah Mahesa Wulung seraya mengangkat muka saking kagumnya dengan tutur-kata sahabatnya Gagak Cemani tadi.

Keempatnya terus berpacu dan membelok ke kanan memasuki jalan agak besar yang di kiri kanannya pe- nuh ditumbuhi oleh pohon-pohon asam. Itulah jalan yang menuju ke kota Demak.

BAGIAN III

Dalam pada itu, jauh di sebelah utara, di luar kota Asemarang, terlihatlah dua sosok tubuh yang berjalan bergegas tergesa-gesa.

Jalanan di situ cukup sepi dan awan mendung be- rarak-arak menambah suasana kesenyapan yang me- nimbulkan kebekuan dan keseraman.

Kalau bayangan yang satu bertubuh ramping den- gan rambut disanggul di atas, maka yang seorang lagi bertubuh pendek sedikit gemuk.

“Ayolah, Paman Dunuk! Aku tak sabar  lagi  untuk tiba di rumah Ki Sungkana. Mari kita berjalan saja,” demikian seru si tubuh  ramping,  gadis  bersanggul yang berwajah manis membulat telur itu.

Pada pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam mengkilap. Larinya sangat cepat, tak ubahnya lari see- kor kijang.

“Weh, weh. Baik, Angger. Tapi jangan cepat-cepat!” seru laki-laki bertubuh pendek gemuk yang mengikuti lari si gadis dengan sedikit susah payah. Tapi ternyata iapun cukup gesit pula.

Ketika Ki Dunuk merasa sedikit tertinggal di bela- kang, maka berserulah ia dengan komat-kamit, “Tun! Atun! Atuuunnn! Engkau terlalu cepat berlari.”

Namun gadis itu seperti tidak mendengar seruan Ki Dunuk.

“Cepatlah, Paman Dunuk! Susullah aku! Pakailah ilmu lari yang telah kau pelajari itu!” seru gadis ber- tongkat hitam seraya tersenyum, melihat betapa laki- laki gemuk pendek itu terguncang-guncang mengikuti larinya, tak ubah sebuah bola yang menggelinding di atas tanah berbatu-batu.

Ki Dunuk masih berkomat-kamit, sedang gerundal- nya terdengar. “Weh, weh. Angger Tuntari memang ge- sit. Dan benar pula kalau aku harus menggunakan  il- mu lari. Jika tidak, mustahil aku sanggup menyusul- nya.”

Maka sesaat kemudian iapun mengetrapkan ilmu larinya dengan landasan ilmu penataan irama napas dan langkah kaki. Ki Dunuk cukup sebat untuk itu. Biarpun langkah kakinya tidak lebar-lebar karena tu- buhnya yang pendek, tapi ia mampu menggerakkan- nya dengan cepat, berganti-ganti tak ubahnya putaran baling-baling.

Sebentar itu pula, keduanya telah berlari dengan cepatnya hampir-hampir sukar ditangkap mata, kecua- li dua sosok tubuh bagai bayangan hitam susul- menyusul tanpa henti.

Kini tampaklah bahwa Ki Dunuk tidak terpaut terla- lu jauh jaraknya dengan lari si gadis ramping itu. Pal- ing-paling ia cuma terpaut dua langkah saja di bela- kangnya, dan itu sudah lebih untung baginya. Kedua- nya melewati jalan-jalan yang sunyi dan arahnya ma- kin ke luar kota, menuju ke arah barat.

Gadis bertongkat hitam yang bernama Tuntari itu tidak mengurangi larinya. Baginya ia harus cepat-cepat tiba di rumah Ki Sungkana, salah seorang sahabat ayahnya yang paling akrab.

Demikianlah perintah ayahnya. Ia harus tiba di sa- na sebelum senja hari dan menerima sesuatu dari Ki Sungkana yang kemudian harus disampaikan kepada ayahnya.

Tapi barang apakah yang akan  diterimanya itu, ia tak diberitahu, bahkan ayahnya sendiri juga tidak mengetahuinya. Yang ia masih ingat adalah datangnya seorang utusan Ki Sungkana ke rumahnya dengan menyerahkan sebuah surat untuk ayahnya.

Surat tadi menyatakan bahwa ayahnya atau salah seorang utusannya harus segera mengambil sebuah barang penting ke rumah Ki Sungkana.

Sekarang dialah yang mewakili ayahnya untuk mengambil barang tersebut, ditemani oleh Ki Dunuk, salah seorang pembantu ayahnya yang telah diang- gapnya seperti keluarga sendiri. Satu perasaan aneh telah menyelinap di dalam dada Tuntari, menimbulkan degupan dan detak-detak keras. Dengan sendirinya gadis ini sibuk menerka-nerka, apakah gerangan yang bakal dijumpainya. Mengapa hatinya tiba-tiba saja merasa cemas tak tentu arahnya. Adakah bahaya di depannya?

Namun apa yang dirasakan oleh Tuntari tadi benar- benar telah terjadi. Tak berapa jauh jaraknya dari Tun- tari dan Ki Dunuk berlari-lari, berlangsunglah satu pertempuran seru di sebuah halaman rumah yang cu- kup lebar dan terpelihara rapi. Sayangnya pertarungan yang kini tengah berlangsung, telah membuat porak- poranda halaman tersebut.

Beberapa tanaman bunga dan pohon-pohon buah telah hancur terbabat oleh senjata dan terinjak-injak kaki, sehingga terbayanglah betapa serunya pertarun- gan ini.

“Ki Sungkana! Kau tak bakal mampu bertahan lama meski beberapa orang pembantu telah membelamu!” teriak seorang bertubuh tegap berpakaian warna coklat sedang mulutnya tertutup oleh kain selendang yang membalut lehernya. Pada tangan kanannya tergeng- gam sebilah pedang pendek yang bermata tajam pula kedua belah sisinya.

“Keparat! Mengapa dengan pengikutmu  sebanyak itu engkau mengepung rumahku?! Apa yang kauke- hendaki?!” ujar Ki Sungkana dengan beraninya, se- mentara sebilah keris telah siap di tangan kanannya.

“Ha, ha, ha. Jangan berlagak linglung dan melom- pong, Sobat Sungkana! Aku tahu bahwa engkau me- nyimpan barang berharga, yang mahalnya melebihi emas intan! Ha, ha, ha. Serahkan saja barang itu ke- padaku!”

“Tahu apa  aku,  tentang  barang  yang  kau  maksud itu?!” ujar Ki Sungkana disertai dada berdebaran.

“Ha, ha, ha. Masih pura-pura pilon, hee?! Bukankah engkau menyimpan Arca Ikan Biru?!” seru si mulut berselubung dengan lantangnya.

Mendengar ini, bukan main terkejutnya hati Ki Sungkana. Sebab memang sesungguhnya ia memiliki dan menyimpannya dengan hati-hati apa yang disebut Arca Ikan Biru tadi. Ia masih ingat betul bahwa kurang lebih dua pekan yang lalu, di saat ia mengunjungi dae- rah Bandar Asemarang telah bertemu dengan seorang tua yang turun dari sebuah perahu besar.

Pelaut tadi menjumpai Ki Sungkana dan menanya- kan selanjutnya, apakah Ki  Sungkana  seorang  jujur dan tidak memusuhi pemerintahan Demak? Ini adalah satu pertanyaan yang kelewat aneh! Akan tetapi Ki Sungkana telah menjawabnya dengan tegas dan ra- mah, bahwa dirinya adalah termasuk orang yang de- mikian.

Maka tiba-tiba saja pelaut tua ini mengeluarkan se- buah arca kecil berbentuk ikan, terbuat dari batu per- mata biru. Itulah sebabnya kemudian  disebut  Arca Ikan Biru. Kepada Ki Sungkana, benda tadi ditawarkan dengan disertai pesan agar benda tersebut segera dis- ampaikan kepada salah seorang narapraja yang akan meneruskannya ke Demak.

Akhirnya Ki Sungkana membeli benda itu dari tan- gan si pelaut tua. Sekali lagi ia mendengar pesan dari orang ini bahwa Arca Ikan Biru itu sangat penting ar- tinya bagi kerajaan.

Dan Ki Sungkana sendiri tahu bahwa ia mempunyai salah seorang sahabat yang kebetulan menjabat seo- rang narapraja di Asemarang dan kepadanyalah Ki Sungkana bermaksud akan menyerahkan barang ber- harga itu. Tetapi sekarang, benda tersebut akan dirampas oleh beberapa orang yang menyerang rumahnya. Maka su- dah tentu Ki Sungkana tidak akan membiarkan hal itu dan dengan tekadnya ia akan mempertahankan Arca Ikan Biru di dalam tangannya!

“Jadi kau masih membandel, ya?!” terdengar kem- bali seruan keras dari mulut lawannya yang berpedang pendek itu.

Ki Sungkana tak menjadi gentar oleh ancaman ini dan dengan lantangnya ia menyahut, meski dengan mengelakkan jejak benda berharga itu, “Kau salah alamat! Seandainya aku memiliki barang tersebut, pas- ti kupertahankan mati-matian!”

Si pedang pendek menggeram marah oleh jawaban Ki Sungkana, namun sekelumit keragu-raguan muncul pula di dalam dadanya. Jangan-jangan Ki Sungkana tidak menyimpan benda yang dicarinya itu.

Akan tetapi segala sesuatunya telah terlambat, seandainya saja ia bermaksud menarik serangannya terhadap Ki Sungkana ini. Bahkan mungkin akan me- nimbulkan hal-hal yang merugikan dirinya. Tampaklah beberapa pengikutnya telah bertempur.

Maka ia harus melanjutkan tindakannya ini dan se- gera menumpas Ki Sungkana beserta seluruh penghu- ni rumahnya!

“Mampuslah dengan pedangku ini!” teriak si pedang pendek seraya meloncat maju dengan menyabetkan senjatanya ke arah Ki Sungkana.

Ki Sungkana itupun kemudian tidak membiarkan dadanya terobek oleh pedang lawannya, dengan me- mutar tubuh ke belakang setengah lingkaran tanpa lu- pa merendahkan kepala.

Maka lewatlah pedang lawan itu sejauh satu jengkal di sisi kepalanya. Namun terkejut juga Ki Sungkana dibuatnya. Sambaran pedang itu ternyata sangat ce- patnya, meski meleset dari sasaran.

Rupanya, Ki Sungkana tidak sekedar  mengendap saja dengan percuma, sebab kakinya tak ketinggalan mengirimkan satu tendangan ke pinggang lawan den- gan cukup deras.

Si Mulut Bertudung melihat hal itu dan segera be- rusaha menghindarkan diri, tetapi ia tak mempunyai waktu secukupnya hingga tendangan Ki Sungkana berhasil pula menggempur pinggangnya. Terasalah su- atu deraian rasa sakit seolah-olah pinggangnya akan patah berkeping-keping.

Sambil mengumpat-umpat, si Mulut Bertudung mengaduh kesakitan dan terhuyung-huyung ke samp- ing, sementara Ki Sungkana berusaha mengejarnya dengan satu tikaman maut dengan kerisnya.

“Hyaaatt!”

Meskipun pinggangnya masih merasa sakit, si  Mu- lut Bertudung tidak menyia-nyiakan dirinya untuk jadi sasaran keris lawannya. Ia menjatuhkan diri ke tanah dan mengguling-guling menjauh dan kemudian tu- buhnya melenting ke atas seperti ulat.

Kagum juga Ki Sungkana melihat ketrampilan la- wannya, dan karenanya ia menerjang kembali dengan kerisnya! Pertempuran hebatnya segera terjadi.

Dalam pada itu, beberapa orang pembantu Ki Sungkana tak kalah serunya bertarung melawan para pengikut si Mulut Bertudung.  Gema  senjata  beradu dan teriakan-teriakan terdengar riuh, menambah kese- raman suasana.

Ternyata bahwa para pengikut si Mulut Bertudung ini sangat tangkas dan ganasnya. Tandang geraknya tampak liar seperti sekawanan iblis yang sedang men- gerubut mangsa. Setelah beberapa saat bertempur memeras tenaga dan menumpahkan segenap kepandaiannya, ternyata- lah bila para pembantu Ki Sungkana mulai terdesak oleh lawan-lawannya. Mereka terkurung oleh libatan- libatan senjata golok dan pedang dari pengikut si Mu- lut Bertudung. Rupanya saja mereka telah mengguna- kan ilmu serangan berantai yang gerakannya selalu bertautan susul-menyusul. Dengan  begitu  lawan- lawan yang dihadapi dengan cara ini akan menjadi buyar dan kewalahan.

Bila mereka tak memiliki ilmu bertempur yang am- puh, jangan harap sanggup menanggulangi para pen- gikut si Mulut Bertudung.

Rupanya Ki Sungkana yang lagi gigih bertarung me- lawan pemimpin menyerbu ini dapat memahami kere- potan  para pembantunya, maka setapak demi setapak ia berusaha mendekati titik pertempuran mereka agar segera ia dapat membantu orang-orangnya yang tam- pak terdesak itu.

Sayang sekali akhirnya. Tampaknya saja si Mulut Bertudung dapat mencium maksud Ki Sungkana itu, maka serta-merta ia mempergencar serangan pedang- nya.

Mata pedang pendek si Mulut Bertudung tampak menjadi puluhan, bahkan sesaat kemudian berbareng si penyerang aneh ini berseru, maka mata pedangnya menjadi ratusan, menyerang bagian-bagian pertaha- nan Ki Sungkana yang lemah.

Buat sesaat, Ki Sungkana memang terkejut, tapi ia- pun meningkatkan serangannya pula dan kerisnya se- kali-sekali berhasil menyelusup ke dalam putaran pe- dang pendek si Mulut Bertudung.

Bahkan keris itu pula berhasil  menyentuh  pakaian si Mulut Bertudung, hingga lawannya ini mengutuk- ngutuk manakala beberapa bagian pada pakaiannya terobek.

“Kau pandai juga berolah senjata, Ki Sungkana!” se- ru si Mulut Bertudung dengan nada geram. “Aku sen- gaja masih memberi kesempatan kepadamu untuk ber- lagak!”

“Jangan coba-coba menggertak! Aku masih sanggup melayanimu bertempur sampai malam nanti!” balas Ki Sungkana dengan terus menggerakkan kerisnya.

“Lekaslah minta ampun kepadaku!” “Apa perlunya?!”

“Supaya hidupmu masih kuampuni!”

“Heh, heh. Pantasnya kau bercakap-cakap dengan anak kecil yang masih ingusan,” seru Ki Sungkana, “sehingga mendengar gertakanmu ini, akan gemetar menangis!”

“Terlalu sombong! Coba kau sambut bacokanku ini. Hyaatt,” terdengar si Mulut Bertudung berteriak dan tiba-tiba saja pedang pendeknya mematuk ke arah ke- pala Ki Sungkana.

Hampir saja pedang itu sempat membuat lobang pada kepala Ki Sungkana, jika orang tua ini tidak le- kas-lekasnya mengendap ke bawah.

Wess!

“Keparat setan! Gesit juga gerakanmu!” umpat si Mulut bertudung sambil mengejar terus gerakan tubuh lawannya, dan pedangnya laksana kilat yang menyer- bu dan menerjang dengan dahsyatnya.

Apalagi seperti si Mulut Bertudung ini yang melan- dasi setiap serangannya dengan tenaga dalam yang cukup tangguh.

Traangng!

Tiba-tiba saja keris Ki Sungkana membentur pe- dang lawannya, ketika pedang ini mencoba menikam dari arah samping.

“Huh!” desah Ki Sungkana begitu kerisnya memben- tur pedang lawan. Terasa telapak tangannya sangat nyeri sebab keris tadi seolah-olah membentur dinding baja yang tebal. Tubuhnya bergetar dan surut bebera- pa langkah.

Tidak hanya Ki Sungkana, si Mulut Bertudung pun terperanjat ketika saja pedangnya hampir terpelanting lepas. Hanya saja ia agak lebih unggul dari lawannya sebab tubuhnya tak bergeming ataupun tergetar surut. “Hmm, aku masih lebih unggul dari lawanku!” desis

si Mulut Bertudung seraya tersenyum kecut. “Akhirnya toh aku pasti dapat merobohkannya!”

“Eaarhh!” Terdengar jeritan dari lingkungan per- tempuran antara pembantu-pembantu Ki Sungkana melawan para pengikut si Mulut Bertudung.

Seorang pembantu Ki Sungkana roboh dengan dada sobek, menghamburkan darah segar karena tebasan golok lawannya. Hal ini terang mempengaruhi teman- temannya, sehingga sedikit banyak hati mereka terge- tar cemas.

Suara gemerincing senjata makin seru dan bunga- bunga api memercik ke sana-sini menambah gempar dan kalut. Malahan tak antara lama, terdengar pula te- riakan parau berbareng korban kedua di pihak pem- bantu-pembantu Ki Sungkana. Orang tersebut ter- sungkur dan pundak sempal karena dilanggar golok lawan.

Ki Sungkana makin tak sabar  melihat  beberapa anak buahnya telah roboh bermandi darah. Akhirnya ia menggenjotkan kaki dan tubuhnya  melenting  ke arah lingkaran pertempuran yang telah kalut.

Sekali ini, Ki Sungkana melesat tanpa memberi ke- sempatan. Si Mulut Bertudung mendahului tindakan lawannya. Iapun meloncat ke udara sehingga berpapa- sanlah keduanya di udara bersamaan kedua senja- tanya beradu dengan dahsyatnya.

Traaangng...!

Keduanya hinggap kembali di atas tanah bagai dua ekor jago yang habis melambung dan berlaga di udara. Ki Sungkana tertatih-tatih ke samping, namun ia ma- sih dapat bertahan dan menguasai keseimbangan tu- buhnya.

Sedang si Mulut Bertudung tertawa terkekeh-kekeh, manakala kedua kakinya mendarat di tanah dengan mantapnya, seolah kedua telapak kaki itu mencengke- ram bumi tanpa bergeming sedikitpun.

Melihat ini, hati Ki Sungkana berdesir pula. Kini ia tahu bahwa setidak-tidaknya si Mulut Bertudung itu berada di atasnya dalam tingkat ilmunya. Ia mempu- nyai beberapa kelebihan daripada dirinya.

“Hmm, aku harus menyerang secepat kilat,” desis Ki Sungkana sambil melesat dengan tusukan kerisnya ke arah tubuh lawan yang masih berdiri kokoh sambil ter- tawa-tawa.

Si Mulut Bertudung menyadari bahaya ini dan ber- kelit ke samping, namun tiba-tiba terasalah lengannya seperti disengat lebah. Pedih dan panas. Ketika ia me- nengok ke samping ternyatalah bahwa lengannya ter- gores mengucurkan darah.

“Kurang ajar!” geram si Mulut Bertudung penuh kemarahan dan sebentar menyeringai pedih. “Kau ha- rus menebus lebih mahal untuk kesombonganmu ini, Ki Sungkana!”

“Hiaah!” Tubuh si Mulut Bertudung tiba-tiba saja berbalik dan pedang  pendeknya menyambar  ke lutut Ki Sungkana yang belum bersiaga sepenuhnya.

Keruan saja  gerak naluri  Ki  Sungkana  bekerja  ce- pat. Ia melenting ke udara menghindari sambaran pe- dang tersebut. Mendadak saja, dalam saat yang  sing- kat dan berbareng, si Mulut Bertudung menggerakkan tangan kirinya ke depan.

Sing! Sinngg! Sinngg! Beberapa sinar hitam me- nyambar langsung ke arah Ki Sungkana dengan de- rasnya, tak ubahnya sambaran ular-ular ganas yang menyerang mangsa.

Ki Sungkana tahu hal itu, namun kejadian ini  terja- di begitu sangat cepatnya dan tanpa ampun lagi sinar- sinar hitam tadi sebagian besar menerkam dirinya!

“Eaaarrrgh...!” jerit parau melontar dari mulut Ki Sungkana ketika terasa bahwa lengan dan bahunya menjadi pedih bukan main. Ia lalu terhuyung-huyung, sementara tangan kirinya berusaha meraba bahu ka- nan dan lengannya yang kini menjadi panas serasa terbakar dan setengah lumpuh.

“Senjata rahasia!” desis Ki Sungkana ketika jari- jemarinya menyentuh benda-benda runcing semacam jarum berukuran kelewat besar bersarang pada daging bahu dan lengannya.

Biarpun rasa sakit mulai menyerang sendi-sendi tu- lang lengan dan bahunya, Ki Sungkana berusaha buat bertahan diri. Sinar matanya memancarkan kemara- han yang meluap-luap kepada lawannya: si Mulut Ber- tudung.

“Hah, ha, ha, ha. Bagaimana Ki Sungkana? Cukup nikmat, bukan, senjata rahasiaku itu?!” ejek si Mulut Bertudung seraya menyeringai kepuasan.

Ki Sungkana menggeram marah, telinganya terasa terbakar oleh bara api yang panas. Dengan langkah- langkah pelahan dan terhuyung ia bersiaga kembali untuk serangan terakhir.

“Heh, heh. Hai, bocah-bocah!” seru si Mulut Bertu- dung kepada para pengikutnya yang lagi sibuk ber- tempur. “Jangan kepalang tanggung. Binasakan setiap pembantu dan penghuni rumah Sungkana ini!”

Kemarahan makin memuncak di kepala Ki Sungka- na, menyebabkan ia mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk melancarkan serangan balasan dengan  keris- nya.

Tetapi ia lebih terkejut lagi begitu ia menerjang ke depan, si Mulut Bertudung telah mendahului dengan gerakan pedangnya.

Breettt!

“Aaakkk!” Ki Sungkana terhenyak berdiri, sesaat se- sudah lambungnya merasa dingin dan pedih, terobek oleh pedang lawan. Darah panas terasa membasahi kakinya.

Sambil tertatih-tatih ia bersandar pada dinding ru- mah, sementara kerisnya tercampak lolos dari tangan- nya yang kini setengah lumpuh. Ia sudah tak mampu berbuat apa-apa dan dirinya telah pasrah kepada Tu- han Yang Maha Penyayang untuk ajalnya.

“Ha, ha, ha! Begitu lebih baik, Sungkana. Sedotlah udara sore yang terakhir sebelum pedangku ini mem- belah badanmu!” seru si Mulut Bertudung serta me- langkahkan kakinya perlahan-lahan ke arah Ki Sung- kana yang bersandar seperti pohon layu tanpa daya.

Tubuhnya terasa makin lemah dan kini tidak lagi mampu bersandar, tapi perlahan-lahan merosot ke bawah untuk kemudian jatuh terduduk sambil mene- bah lambungnya.

Melihat ini, si Mulut Bertudung semakin mengum- bar ketawa berderai mengalun di udara sore. Hatinya semakin puas meski seandainya Arca Ikan Biru itu ti- dak dijumpainya, toh ia berhasil menumpas Ki Sung- kana! Lawannya itu kini telah tak berdaya, tak ubahnya seekor ikan yang kekeringan air, terjelapak menanti aj- al. Hanya sorot matanya saja yang masih menatap sen- jata pedang di tangan si Mulut Bertudung.

Ujung pedang tersebut bergerak-gerak dan semakin bertambah dekat seolah-olah mengiramakan tarian maut, apalagi Ki Sungkana telah sadar bahwa tak ada sedikitpun kesempatan untuk menghindari.

Iapun tahu bahwa para pengikut si Mulut Bertu- dung telah mengepung rumahnya dengan serapat- rapatnya. Bahkan tampak pula olehnya bahwa pintu pagar batu halaman rumah telah pula dijaga oleh em- pat anak buah si Mulut Bertudung dan  menutupnya dari dalam.

Dengan demikian tipis sekali harapan orang luar yang berani menolongnya. Apalagi pintu tersebut ter- buat dari kayu yang cukup tebal. Sedang letak rumah- nya sendiri terletak jauh di luar kota, jauh dari kera- maian manusia sehari-hari.

Kembali ditatapnya pedang lawannya yang sebentar lagi pasti menerkam tubuhnya. Ki  Sungkana  buru- buru memejamkan mata untuk menjaga agar ia tabah menghadapi saat kematian.

Telinganya kini mendengar langkah-langkah yang semakin dekat, diiringi rentetan ketawa yang menggila dan kata-kata kemenangan.

“Haaa, terimalah pedangku ini, Sobat! Hyaat!” Traaangngng!

“Haduuhh!” teriakan sesambat meluncur dari bibir si Mulut Bertudung, manakala sebuah bayangan hitam yang ramping melesat masuk dari arah luar pagar tembok dan langsung menghajarkan tongkat hitam ke sisi pedang pendeknya yang hampir membacok tubuh Ki Sungkana. Si Mulut Bertudung tidak hanya sekedar terkejut biasa tapi terkejut dan luar biasa, sebab hanya dengan benturan itu saja tubuhnya telah terpental dan bergu- lingan seolah-olah ia telah terlanggar oleh tenaga rak- sasa yang sukar ditakar kekuatannya.

Dalam saat itu tangannya serasa terbakar dan hampir saja pedangnya terlepas seandainya ia tidak le- kas-lekas mengerahkan tenaga untuk mati-matian mempertahankannya.

“Setan! Siapa engkau? Berani turut campur uru- sanku, huh!” gerundal si Mulut Bertudung untuk me- nutupi tangan kanannya yang masih kesemutan menggenggam pedang.

“Heh, heh, heh. Jangan berpura-pura, Sobat! Tan- ganmu merasa kesemutan, bukan?” ujar si penyerang dengan suara nyaring yang  tidak lain  adalah  Tuntari, si gadis bertongkat hitam.

Si Mulut Bertudung berjingkrak kaget mendengar ucapan penyerang. Sungguh tepat ucapan tadi. Ter- nyata memang jari-jari tangan kanannya masih pegal- pegal.

“Hmm, kau mencari mati, hah?!” seru si Mulut Ber- tudung seraya bersiaga kembali. “Kaukira, dengan seo- rang diri akan sanggup menghadapi kami yang sekian banyaknya?!”

“Tak usah banyak cakap! Lihat saja nanti!” seru Tuntari dengan tenangnya. Tongkat hitam di tangan- nya telah siap.

“Kau gadis sombong! Sayang sekali kalau aku harus membunuhmu! Lekas berlalu dari depan mataku!”

Braaaasss! Daaarr!

Tiba-tiba terdengar benturan hebat.

Si Mulut Bertudung terperanjat bukan main oleh suara benturan yang hebat tadi, dan berpalinglah ia ke arah tembok halaman.

Sedang Tuntari cuma tersenyum kecil saja.

Ketika semua pandangan si Mulut Bertudung dan para anak buahnya tertuju ke arah pintu, dapatlah mereka menyaksikan satu pemandangan yang menga- getkan penuh pesona.

Pintu gerbang kayu tadi sempal dan pecah, sedang keempat anak buah si Mulut Bertudung yang berjaga di situ terpelanting dan tercampak ke atas tanah bagai lembaran-lembaran daun kering, tanpa dapat bangun kembali, kecuali menggeliat-geliat diiringi mulutnya menggerung-gerung kesakitan.

Kemudian di tengah-tengah daun pintu yang telah berantakan itu muncullah seorang bertubuh gemuk pendek, dan masuklah ia ke dalam halaman, dalam langkah-langkah tenang.

Beberapa anak buah si Mulut Bertudung yang telah bersiaga menyambutnya, menjadi mundur teratur dan bersiap mengepungnya.

“Paman Dunuk!” seru Tuntari keras-keras. “Jangan tanggung-tanggung menghadapinya! Mereka adalah orang yang kejam dan tidak berperi-kemanusiaan. Be- rilah hajaran dan jangan kasih ampun!”

Bersamaan teriakan gadis itu, salah seorang anak buah si Mulut Bertudung mencoba menerjang maju se- raya menebaskan goloknya ke arah Ki Dunuk.

“Hyaaatt... mampus kau!”

“Hupp!” Ki Dunuk gesit menggerakkan kedua belah tangannya dan tahu-tahu si penyerang tadi tertangkap tangan. Dengan sekali pelintiran tangan, golok tadi ter- lepas dari tangan si penyerang dan ia bergelinjang ma- nakala tubuhnya tahu-tahu telah diangkat oleh kedua belah tangan Ki Dunuk.

“Kembali ke teman-temanmu!” seru Ki Dunuk seka- ligus menggerakkan kedua tangannya ke depan dan tubuh si penyerang tadi tanpa ampun meluncur deras lalu menimpa tubuh teman-temannya yang lain!

Broakk!

“Earrghh!” Si penyerang yang terlempar tadi men- dadak menjerit keras sewaktu merobohi teman- temannya. Ternyatalah bahwa sebuah golok temannya telah menancap tubuhnya tanpa disengaja! Seketika tubuhnya  berkelojotan  dan  sesaat   kemudian   matilah ia.

Melihat hal ini, hati anak buah si Mulut Bertudung lainnya menjadi tergetar, namun tak ada pilihan selan- jutnya, selain mereka serentak menyerang  berbareng ke arah Ki Dunuk.

Sekilas kemudian terjadilah pertempuran dahsyat di dekat pintu gerbang tembok rumah Ki Sungkana. Se- mentara itu beberapa pembantu Ki Sungkana yang masih hidup segera terjun ke tengah arena pertempu- ran dan berdiri di pihak Ki Dunuk.

Si Mulut Bertudung menggeram marah, karenanya iapun menerjang ke arah Tuntari dengan pedang pen- deknya dan sekali ini ia tak setengah-setengah me- numpahkan ilmunya, karena ia  sadar  bahwa  gadis yang menjadi lawannya ini memiliki ilmu yang tinggi.

Pedang pendek si Mulut Bertudung bergerak lebih hebat daripada yang sudah-sudah. Kini bergulung- gulung merupakan kilasan-kilasan cahaya yang men- gurung tubuh Tuntari.

Sebenarnya untuk menghadapi seorang lawan le- bih-lebih seorang gadis saja, tak perlu ia menggunakan ilmu simpanannya itu. Tetapi yang dihadapi sekarang adalah Tuntari, seorang gadis yang telah matang da- lam ilmu tatakelahi dan tenaga dalam. Itulah  sebab- nya, mengapa si Mulut Bertudung dengan serunya menyerang Tuntari tanpa sedikitpun memberi kelong- garan.

Berkali-kali pedangnya terjulur, mematuk ke arah tubuh gadis itu, tapi setiap saat itu pula tongkat hitam di tangan Tuntari bergerak cepat memapakinya.

Kembali si Mulut Bertudung menyumpah-nyumpah, sebab setiap kali pedangnya berbentur, seketika tan- gannya berguncang kepedihan. Untunglah saja pe- dangnya tidak terlepas dari jari-jemarinya.

Dari pengalaman itu, maka selanjutnya si Mulut Bertudung selalu berusaha menghindari benturan- benturan langsung dengan senjata tongkat Tuntari, kecuali sentuhan-sentuhan sepintas saja yang ia bera- ni menghadapinya.

BAGIAN IV

Selama pertempuran itu, si Mulut Bertudung makin bertambah gelisah. Sebentar-sebentar ia melirik den- gan kilasan mata ke arah anak buahnya yang lagi ber- tempur.

Mereka tampak semakin jelas kalau terdesak oleh gempuran Ki Dunuk dan sisa-sisa pembantu Ki Sung- kana. Bahkan setelah belasan jurus berlangsung, be- berapa orang di antaranya telah toboh terkapar di ta- nah.

Memang harus diakui bahwa Ki Dunuk itu memiliki tenaga besar. Meskipun badannya gemuk pendek tapi sama sekali tidak mengurangi kelincahannya dalam bergerak. Serudukan tangannya saja mirip dahsyatnya dengan serudukan seekor banteng, sehingga beberapa anak buah si Mulut Bertudung yang terkena telah ter- pental muntah darah.

Rupanya saja  si  Mulut  Bertudung  terpaksa  meng- gunakan cara terakhir, cara di mana ia berhasil mero- bohkan Ki Sungkana, yakni dengan senjata-senjata rahasianya.

Maka tak antara lama iapun melambung ke atas dengan satu serangan menyambar, laksana seekor ga- ruda, sementara tangan kirinya secara cepat bergerak lincah menebarkan senjata-senjata rahasianya ke arah Tuntari.

“Hiiaah! Mampus kau sekarang!” Traang... taang... taangng!

Ternyata Tuntari tidak kurang gesit dan waspada menghadapi serangan yang demikian tiba-tiba itu. Ta- hu-tahu tongkat hitamnya telah menjadi dua  bagian dan berputar menangkis serangan senjata rahasia dari lawannya.

Bunyi benturan dari tangkisan tongkat gadis itu te- lah memukul dan mementalkan balik semua senjata rahasia milik si Mulut Bertudung, sehingga hampir  sa- ja mengenai kembali kepada pemiliknya sendiri, sean- dainya si Mulut Bertudung tidak lekas-lekas berputar ke udara.

Tidak hanya itu saja yang mengagetkan si Mulut Bertudung, sebab dengan sekali lirikan saja ia  telah tahu bahwa sesungguhnya tongkat di tangan Tuntari tadi adalah berisi sebilah pedang kecil dan panjang!

Gadis inipun menggunakan kesempatan berikutnya. Selagi si Mulut Bertudung hendak mendaratkan ka- kinya, secepat kilat ia melesat menghadap dengan sambaran tongkat pedangnya.

Wesss Syraattt!

“Aauuhhh!”

Si Mulut Bertudung mengaduh tertahan sebab len- gan kirinya tahu-tahu telah terobek oleh mata tongkat pedang lawannya. Darah segar mengucur menetes- netes jatuh di atas tanah.

Terdengar si Mulut Bertudung menggeram saking marahnya. Sekali lagi ia berusaha menerjang maju dengan pedang pendeknya, tapi buat kedua  kalinya pula tongkat pedang Tuntari menangkis dengan se- runya.

Traangng! “Uuh?!”

Hampir tak percaya si Mulut Bertudung melihat bahwa pedang pendeknya terpental lepas begitu mu- dahnya. Hal ini seakan-akan menyadarkan bahwa tak berguna lagi untuk melanjutkan pertempuran ini.

Secepat kilat ia memutar tubuhnya untuk kabur, meski akhirnya ia dibuat kaget sebab secara tiba-tiba pundak kanannya seperti disengat lebah! Panas dan nyeri!

Si Mulut Bertudung melirik pundak kanannya, ke- mudian ke arah lawannya. Kiranya gadis itu telah se- kali lagi menggerakkan tongkat pedangnya dan kini pundak kanannya telah terluka kembali!

Sedang Tuntari sendiri cuma tersenyum-senyum ta- jam sambil menggerakkan tongkat pedangnya ke ka- nan-kiri, tak ubahnya seorang anak kecil manja yang mengobat-abitkan sebatang lidi permainannya! Sung- guh mengagumkan tapi juga mengerikan! Gadis  ini yang mempunyai watak keras dan tak mau mengalah tetap bersiaga menghadapi setiap kemungkinan.

“Keparat! Kau lebih beruntung hari ini!” seru si Mu- lut Bertudung seraya menahan sakitnya dengan perin- gisan. “Tapi lain kali aku akan merobohkanmu!”

Selesai berkata demikian, si Mulut Bertudung me- loncat ke sisi tembok dengan sisa-sisa tenaganya dan berhasil menggantung pada puncak tembok batu dari halaman itu. Akan tetapi, rupanya gadis yang berwatak keras ini tidak mau begitu saja melepaskan lawannya. Lebih- lebih setelah si Mulut Bertudung mengeluarkan anca- mannya. Maka iapun melesat mengejar ke arah yang sama dengan ancaman pedangnya.

“Keparat! Kau telah berlaku kejam kepada penghuni rumah ini! Sekarang terimalah hukumanmu!” teriak Tuntari seraya menggerakkan pedangnya.

Sekonyong-konyong, sebelum tongkat pedang Tun- tari menyentuh tubuh si Mulut Bertudung, bertiuplah angin santer mengiringi turunnya sesosok tubuh ber- pakaian serba hitam menggenggam sebatang tongkat panjang yang pada kedua ujung dilengkapi dengan dua buah mata tombak!

“Babo! Babo! Wong denok ayu, jangan kau ganggu orang ini!” seru si pendatang. Ternyata orang ini berpe- rawakan sedang, rambutnya disanggul di atas sedang kumis dan jenggotnya lebat.

Ketika ia datang menimbulkan angin santer sehing- ga terpaksalah Tuntari meloncat ke samping mengu- rungkan maksudnya karena terhalang oleh si tokoh pendatang!

“Heei, Ki sanak! Masih termasuk apakah engkau dengan musuhku ini, sampai engkau turun tangan membelanya?!” seru Tuntari dengan geram.

“Heh, heh, heh. Hi, hi, hi. Dia bukan apa-apaku, Wong denok ayu!” sahut si pendatang seraya mengga- ruk-garuk kumisnya.

“Jika demikian apa perlunya?!”

“Aku butuh uang dan ia pasti bersedia membayarku bila aku membelanya dari seranganmu, Bocah ayu!”

Tuntari terkejut oleh kata-kata tersebut. Sungguh aneh perangai orang ini! Demikian pikir gadis yang bertongkat pedang. Hampir saja ia tak dapat memper- cayai kata-kata tadi, seandainya si Mulut Bertudung yang kini hampir berhasil tiba di puncak pagar batu, tidak berteriak keras-keras.

“Haaaiii, Wasi Sableng! Kau selalu membuntuti diri- ku! Jangan kau berharap akan mendapat uang dari tanganku!”

Sesaat Wasi Sableng agak terkejut namun  kemu- dian ia terkekeh-kekeh dengan tawanya, lalu berkata, “Bagus! Jadi kau lebih menghargai uang daripada nyawamu?!”

“Persetan! Kau boleh mengoceh semaumu!” berte- riak si Mulut Bertudung penuh marah, seperti  orang gila layaknya.

“Baiklah jika demikian, Anak bandel!” sahut Wasi Sableng seraya memaling ke arah Tuntari dan berkata, “Nah, Bocah ayu! Kau lebih beruntung karena orang yang akan kutolong ternyata tidak membutuhkan per- tolongan tersebut. Sekarang kau bebas bertindak, Bo- cah ayu! Nah, jangan ragu-ragu lagi. Akan kau coblos dadanya? Atau kau tebas sampai putus kedua lengan atau kakinya? Dan bagaimana jika lehernya kau peng- gal saja, Bocah denok ayu?! Silahkanlah, dia tak bakal sanggup mengelak ataupun menyelamatkan dirinya.”

Si Mulut Bertudung terperanjat oleh kata-kata Wasi Sableng yang demikian memberi angin kepada gadis Tuntari. Apalagi jika diingatnya bahwa sebagian besar tubuhnya masih tergantung di sisi tembok bagian da- lam.

Dengan demikian, itu merupakan satu sasaran em- puk bagi Tuntari yang telah bersiaga dengan tongkat pedangnya. Tampak olehnya bahwa gadis itu mulai melangkah ke arah pagar tembok di mana tubuhnya masih bergelantung.

Seketika keringat  dingin  mengalir  turun  dari  da- hinya dan ia ketakutan setengah mati. Sepintas lalu terbayanglah kematian yang bakal tiba. Mungkin tu- buhnya akan terbelah dua oleh tongkat pedang Tuntari yang panjang dan kecil.

Jika sampai ia mati, maka semua  barang  miliknya tak akan berguna lagi. Juga beberapa kantong uang emas yang ada di rumah, tak akan punya arti apa-apa lagi.

Jadi, apakah salahnya bila ia kehilangan uang be- berapa keping di saat segawat ini, demi kelangsungan hidupnya?! Sungguh goblok! Apakah harta lebih ber- harga daripada nyawa?

Berpikir itu semua, si Mulut Bertudung segera ber- seru keras-keras, tertuju kepada Wasi Sableng, “Hai, Wasi Sableng! Cegah tindakan gadis itu! Aku bersedia membayarmu. Aku butuh pertolonganmu sekarang!”

Keruan saja Tuntari terkejut oleh hal itu, sehingga untuk sesaat ia menjadi ragu, seolah-olah menantikan Wasi Sableng atas teriakan tawaran dari si Mulut Ber- tudung.

Wasi Sableng tertawa terkekeh-kekeh kesenangan, dan katanya kemudian, “Ha, ha, ha, ha. Bagus! Mau bayar berapa engkau untuk pertolonganku ini?”

“Lima keping uang emas!” seru si Mulut Bertudung. “Terlalu pelit kau, Bocah edan!” bentak Wasi Sab-

leng. “Jika nyawamu cuma seharga lima keping uang emas itu, mungkin gadis inipun sanggup membayar sebanyak itu untuk memperoleh nyawamu!”

“Kujadikan sepuluh keping uang emas!” “Masih terlalu murah, Sobat!”

“Dua puluh keping!”

“Ha, ha, ha. Tidak!  Sekarang  kau tahu berapa mah- al nyawamu?”

“Jadi berapa maumu? Limapuluh keping?” “Hah, ha. Aku menghendaki semua uang yang kau- bawa sekarang! Jika tidak, maka aku akan  membiar- kan gadis ini mencabut nyawamu!”

“Jangan! Jangan kau biarkan  gadis  itu  melakukan hal tersebut! Kau boleh mendapatkan semua ua- ngku...!” ujar si Mulut Bertudung seraya mengambil kantong uangnya dengan susah-payah.

Melihat ini, Wasi Sableng manggut-manggut dengan diiringi suara ketawa yang mampu menggetarkan dada siapa saja, kemudian berseru nyaring, “Nah, sekarang lemparkan ke bawah!”

Si Mulut Bertudung segera menuruti perintah Wasi Sableng. Ia melemparkan kantong uangnya ke bawah sambil melirik ke arah Wasi Sableng dan Tuntari yang berada di bawah sana.

“Hyaatt!”

Tiba-tiba Wasi Sableng menggerakkan tangan ka- nannya menarik kembali ke belakang dan terjadilah satu hal yang hampir sukar dipercaya oleh mata.

Baik si Mulut Bertudung sendiri maupun Tuntari ternganga kagum oleh hal itu, sebab baru sekali inilah mereka menjumpai kejadian seaneh begitu.

Kantong uang si Mulut  Bertudung  yang  meluncur ke bawah, tiba-tiba berganti arah dan melayang den- gan cepatnya ke arah tangan kanan Wasi Sableng, se- perti tersedot oleh tenaga dalamnya yang cukup hebat!

“Hah, ha, ha. Bagus, bagus! Nah, Bocah denok ayu, sekarang aku telah dibayar olehnya. Maka berarti aku menjadi pembelanya sekarang! Kau tak boleh lagi mengganggunya!” seru Wasi Sableng dengan lantang, mengejutkan si Mulut Bertudung dan Tuntari.

Akhirnya si Mulut Bertudung tersenyum-senyum gembira, sebab dengan begitu ia bakal terlindung dari ancaman gadis bertongkat pedang yang hampir saja mencabut nyawanya.

Sebaliknya dengan Tuntari, ia menjadi marah  bu- kan main dengan sikap dan tindakan Wasi Sableng. Karenanya iapun bersiaga untuk meneruskan mak- sudnya.

“Wasi Sableng! Jangan kau menggertakku seperti anak kecil. Menyingkirlah dari ancaman pedangku. Bi- ar kubereskan lawanku itu!” seru Tuntari seraya men- gancamkan pedangnya ke arah Wasi Sableng karena orang tersebut telah menghadang jalannya.

“Bocah denok ayu! Aku memperingatkan sekali lagi kepadamu. Jangan kau teruskan maksudmu, atau aku terpaksa bertindak terhadapmu,” sahut Wasi Sableng seraya tangan kanannya menyimpan kantong uang pemberian si Mulut Bertudung ke dalam bajunya se- dang tangan kirinya bersiaga dengan tombak yang be- rujung dua.

“Keparat! Aku kepingin mencoba kesaktianmu! Hyaatt!” teriak Tuntari seraya melesat ke depan, me- nerjang Wasi Sableng dengan tongkat pedangnya.

“Huh, kau tak bakal mengalahkan aku, Denok ayu!” seru Wasi Sableng seraya mengegoskan tubuhnya ke kiri sedikit dan loloslah ia dari serangan pertama Tun- tari.

Dalam pada itu, si Mulut Bertudung yang kini telah berhasil mencapai puncak pagar batu, menjadi terse- nyum-senyum senang karena dirinya sekarang yang menjadi penonton dari adegan pertempuran itu.

Terlihatlah betapa Wasi Sableng selalu berhasil mengelakkan setiap serangan Tuntari dengan mudah- nya, seolah-olah tengah mempermainkan seorang anak kecil.

Kendati demikian diam-diam Wasi Sableng menga- kui bahwa gadis Tuntari ini adalah calon pendekar ter- baik. Kegesitannya sangat mengagumkan meski tenaga dalamnya masih jauh di bawah tingkatnya.

Beberapa saat kemudian. Traangng!

Tiba-tiba tongkat pedang Tuntari menghajar tangkai tombak Wasi Sableng yang melintang di depannya. Ke- duanya tergetar, lebih lagi dengan kedua sisi senjata yang saling bersentuhan telah mengepulkan asap pa- nas!

Kiranya dua orang itu telah mengerahkan tenaga dalamnya. Namun yang akhirnya paling terkejut ada- lah Tuntari sendiri, sebab begitu tongkat pedangnya menempel pada tombak Wasi Sableng, terasalah bah- wa tenaganya seperti tersedot oleh tenaga dalam la- wannya, tak ubahnya sebatang logam  yang  disedot oleh besi sembrani!

Dengan sekuat tenaga, Tuntari berusaha menge- rahkan kekuatannya untuk menarik diri secepat mungkin. Bila sampai terlambat, pastilah tenaganya akan habis terkuras sehingga akibatnya berarti ke- lumpuhan mutlak pada dirinya!

Keadaan menjadi semakin tegang dan boleh dipas- tikan bahwa sebentar lagi Tuntari akan roboh dengan tubuh yang lumpuh. Sedang Ki Dunuk yang menyak- sikan kejadian tersebut segera berusaha menolong Tuntari, tapi sayang bahwa iapun masih harus me- nyingkirkan beberapa sisa anak buah si Mulut Bertu- dung yang berusaha mempertahankan diri.

Rupanya memang Tuntari masih bernasib baik. Mendadak saja satu angin keras menerjang wajah Wasi Sableng, sehingga tokoh yang berpakaian serba hitam ini terdorong ke belakang beberapa langkah seraya berseru kaget.

Dengan demikian terbebaslah gadis Tuntari dari te- naga sedotan Wasi Sableng yang dahsyat itu.  Dalam hati Tuntari mengucapkan syukur bahwa dirinya telah terbebas dari bencana.

Sekarang, baik Tuntari, Wasi Sableng sendiri mau- pun si Mulut Bertudung menjadi terkejut ketika mere- ka melayangkan pandangnya ke arah tembok pagar batu di sebelah timur. Dari sana terdengarlah getaran ketawa yang menggelegas disertai perbawa dingin yang aneh.

Di sana di atas pagar tembok batu itu, berdirilah seorang laki-laki bertubuh tegap, berkepala gundul, serta mengenakan jubah berwarna kuning.

Pada tangan kirinya tergenggam seuntai tasbeh berwarna hitam, sementara tangan kanannya  ditekuk di depan dada dalam sikap abhaya-pasta yang bertu- juan menentramkan suasana.

“Sadhu... sadhu... sadhu... semoga kejahatan akan tersingkir dari tempat ini! Aku melihat seorang berilmu sakti mencoba menghancurkan seorang tunas yang masih hijau!” ujar si Jubah Kuning dengan suara te- nang tapi menyelusup ke segenap relung-relung hati para pendengarnya.

“Heeii! Kau jangan menggertakku, Gundul!” seru Wasi Sableng dengan sombongnya. “Apakah kau ingin mencoba kesaktianku, haa?! Dan siapa  pula  nama- mu?”

“Berbahagialah orang yang sabar, bijaksana dan mampu menahan nafsu. Aku, Bikhu Gandhara, hanya mohon agar Ki sanak cepat-cepat meninggalkan tem- pat ini!”

“Tak perlu ngoceh berkhotbah di hadapan Wasi Sableng, Bikhu Gandhara! Kaulah yang seharusnya le- kas-lekas menyingkir!” berseru pula Wasi Sableng se- raya meloncat marah. “Hmm, sayang sekali hatimu telah dikuasai oleh kemarahan dan kebencian! Orang yang demikian tidak akan mencapai kebenaran serta ketenangan!”

Wasi Sableng menjadi makin marah oleh kata-kata si Jubah Kuning, maka secepat kilat ia melesat ke arah tembok timur seraya menusukkan tombaknya.

Tapi belum lagi ia mencapai separo jarak mendadak saja Bikhu Gandhara mengibaskan tasbihnya ke depan dan seketika berhembuslah udara dingin dengan ken- cangnya memapaki loncatan Wasi Sableng, sehingga tokoh ini tergoncang dan terpental balik sejauh hampir dua tombak!

Untunglah bahwa Wasi Sableng masih mampu menguasai dirinya dengan berputar di udara mema- tahkan tenaga dorong dari Bikhu Gandhara.

“Tobat! Babo! Babo! Hebat benar kesaktianmu, Gandhara!” desis Wasi Sableng seraya mendarat ke ta- nah dengan sedikit cekakaran dan hampir jatuh.

“Nah, sudah kukatakan, Ki sanak. Kekerasan akan merugikan dirimu sendiri. Karenanya lekaslah me- nyingkir dari tempat ini dan biarlah suasana ketenan- gan kembali seperti sediakala! Sadhu... sadhu... sad- hu....,” demikian ucapan si Jubah Kuning seraya me- loncat turun ke dalam halaman dengan gerakan yang sangat ringan, seolah-olah sebatang daun kering yang melayang turun ke atas tanah.

Si Mulut Bertudung yang berada di puncak pagar tembok batu menjadi sangat kaget. Hatinya berdebar- debar aneh melihat pertandingan aneh antara kedua tokoh kuat itu.

Sementara di depan pintu gerbang masuk, Ki  Du- nuk masih terus gigih bertempur. Rupanya saja di an- tara sisa-sisa anak buah  si  Mulut  Bertudung  masih ada yang memiliki ilmu yang cukup tangguh, terbukti bahwa mereka masih dapat bertahan.

Tuntari dapat menarik napas lega meski tenaganya masih belum pulih seluruhnya. Akibat sedotan tenaga dalam dari Wasi Sableng tadi, terasa sendi-sendi tu- langnya pada ngilu-ngilu seperti hendak copot. Sean- dainya pertandingannya melawan Wasi Sableng tadi masih berlangsung, boleh jadi tenaganya akan lumpuh dan tulang-tulangnya retak, ataupun hancur.

Dengan begitu, kedatangan si Jubah Kuning itu sangat menolong jiwanya. Namun ia heran pula bahwa si Jubah Kuning itu belum dikenalnya sama sekali.

Kini ia menatap dengan penuh perhatian ke  arah dua orang sakti yang telah berhadap-hadapan. Tam- paknya mereka telah bersedia menghadapi setiap ke- mungkinan.

Hanya saja terlihat jelas dua perbedaan pada kedua tokoh tersebut. Kalau pada diri Bikhu Gandhara tam- pak adanya ketenangan diri disertai wajah yang sumeh dan cerah penuh kesabaran, sedang pada wajah Wasi Sableng tercermin adanya kemarahan yang meluap, membuat kulit mukanya merah menyala.

“Kau berani membuat malu diriku di hadapan bo- cah-bocah ini, Setan!” teriak Wasi Sableng. “Untuk itu kau harus membayar dengan nyawamu!”

“Hmm, sabarlah, Ki sanak!”

Sementara keadaan menjadi tegang, warna merah senja seperti membakar langit di sebelah barat, hingga suasana di situ kian tampak dipenuhi oleh warna- warna api dan kemerahan yang menyala-nyala, seperti marahnya Wasi Sableng terhadap lawannya.

“Kau tak semudah itu menyuruh aku pergi mening- galkan tempat ini, Gandhara!” teriak Wasi Sableng.

“Jadi apa maumu, Ki sanak?!”

“Aku ingin mencoba kepandaianmu!” “Hmm, masih juga mempertahankan  kekerasan,” ujar Bikhu Gandhara seraya  tersenyum  ramah.  Satu hal yang benar-benar mengagumkan. Betapa ia dapat menguasai diri dan bersabar mendapat kata-kata ka- sar dari Wasi Sableng.

Namun kesabaran itu justru membuat Wasi Sableng menjadi lebih berkobar marahnya. Sebab kesabaran Bikhu Gandhara tampak bagai satu ejekan yang me- nyakitkan hatinya.

“Coba kau terima ini, Gandhara!” seru Wasi Sableng seraya mendorongkan tenaga dalam lewat tangan ka- nannya ke arah si Jubah Kuning.

Nampak sepintas lalu bahwa dorongan tangan Wasi Sableng ini tidak berarti apa-apa, namun dapatlah se- lintas terlihat betapa dahsyatnya oleh Tuntari maupun si Mulut Bertudung yang masih terpaku takjub di atas pagar tembok batu.

Begitu tenaga dorongan tadi melintas, beberapa daun tua yang kebetulan tersentuh olehnya seketika menjadi hangus! Akan tetapi si Jubah Kuning tidak menjadi gentar karenanya. Iapun mendorongkan tan- gan kanannya ke depan dan terlontarlah suatu tenaga dalam yang tidak kalah dahsyatnya.

Desssss...! Suatu asap putih mengepul ketika dua tenaga dalam itu bertemu di udara tak  ubahnya bara api yang tersiram seember air.

“Babo, babo! Kowe memang hebat!” umpat Wasi Sableng seraya berjingkrak dan menggaruk-garuk ke- pala saking marah dan bingungnya. Namun sesaat kemudian ia menggenggam erat-erat tombaknya yang bermata tajam pada kedua ujungnya. “Tapi aku belum mau kalah!”

Melihat ini Bikhu Gandhara tetap tenang-tenang sa-

ja. Kini tangan kirinya melipat ke dada sementara tan- gan kanannya menggenggam erat tasbih hitamnya, seolah-olah seperti orang yang lagi semadhi memu- satkan perhatian.

“Hyaattt!” tiba-tiba dengan teriakan menggeledek, Wasi Sableng melesat ke depan dan menusukkan tom- baknya ke arah si Jubah Kuning. Gerakan ini sangat cepat dan sukar ditangkap oleh mata sehingga kare- nanya, Tuntari terpekik kecemasan.

Serangan ini sangatlah hebatnya. Boleh dipastikan bahwa si Jubah Kuning pasti terhunjam oleh tombak Wasi Sableng yang bergerak begitu pesatnya. Cuma sa- ja Bikhu Gandhara tidak kalah gesit. Diliukkannya tu- buhnya ke samping sedikit namun itu  sudah  cukup buat menghindari sambaran tombak Wasi Sableng.

Siingng....

“Oooss....! Babo! Babo! Keparat. Sanggup pula menghindar, hee?!” serapah Wasi Sableng seraya ce- pat-cepat menahan dorongan gerak tubuhnya sendiri, sebab jika tidak pastilah tubuhnya bakal menabrak dinding tembok batu di depannya.

Kembali Wasi Sableng memutar tubuh, dan bersiaga kembali dengan tombaknya yang baru saja gagal mela- kukan tugasnya. Sudah barang tentu ia semakin  ma- rah kalang kabut oleh tindakan lawannya.

Kedua belah tangannya kini berpegang erat pada si- si pertengahan dari tangkai tombak tersebut, kemu- dian diiringi satu bentakan kecil, diputarnyalah tom- bak tadi dengan cepatnya. Seolah-olah Wasi Sableng kini menggenggam sebuah payung yang selalu berpu- tar di depannya. Sungguh mengerikan bila menghada- pi serangan yang demikian. Lingkaran luar dari tom- bak yang berputar ini tampak berkilat-kilat karena ke- dua mata tombaknya tersentuh oleh sinar-sinar mata- hari senja.

Selain menakutkan, putaran senjata Wasi Sableng tadi menerbitkan pusaran angin panas, akibatnya ter- jadi pergeseran antara udara dengan mata tombaknya yang telah dilandasi dengan tenaga dalam.

Wess... wess... wess...!

“Ha, ha, ha, sekarang hadapilah serangan ini, jika engkau berani, Gundul berjubah!” seru Wasi Sableng beringas. Setapak demi setapak ia menyiapkan jurus serangan kilat.

Sekalipun hatinya berdesir, si Jubah Kuning tetap memperlihatkan ketenangan yang mengagumkan menghadapi sikap lawannya itu.

Inilah yang mengagumkan.

Tuntari diam-diam mencatat peristiwa ini, yang se- sungguhnya merupakan satu pelajaran yang  bernilai tak terhingga. Seperti ketenangan yang mantap dari Bikhu Gandhara ini, membuat Tuntari semakin  ka- gum.

Ketenangan memang sangat berguna bagi siapapun orangnya, lebih-lebih dalam menghadapi setiap bahaya atau kejadian luar biasa. Dengan ketenangan maka se- tiap orang dapat lebih jelas menyadari apa yang kini dihadapi. Tentu saja ketenangan tadi dibarengi oleh kewaspadaan diri yang senantiasa siap memberikan tanggapan dalam bentuk apapun, sesuai dengan kebu- tuhan.

“Heeitt!” Satu teriakan keras meledak keras disusul satu loncatan gesit yang merupakan serangan kilat paling hebat dari Wasi Sableng. Tokoh berpakaian hi- tam ini melesat seperti angin. Tombaknya berputar mengancam tubuh si Jubah Kuning yang menjadi la- wannya.

Kejadian   berikutnya    sukar    dibayangkan.    Sang- gupkah si Jubah Kuning menanggulangi serangan kilat Wasi Sableng ini? Baik Tuntari maupun si Mulut Ber- tudung sama-sama berdebar mengikuti perkembangan berikutnya. Boleh dipastikan bahwa pertarungan ini jauh lebih seru.

Wess... claangng! Terdengar satu benturan nyaring, membuat kaget hati siapa saja. Terutama Tuntari, si Mulut Bertudung, dan Wasi Sableng sendiri.

Yang mereka lihat hanyalah Bikhu Gandhara me- nyampokkan tasbihnya sewaktu tombak Wasi Sableng menerjang dirinya. Sesudah itu si Jubah Kuning kem- bali berdiri tenang dengan wajah cerah, seperti tidak membayangkan suatu kejadian apapun.

Sedang Wasi Sableng sendiri berdiri terlongoh- longoh keheranan, sebab ketika ia menatap senja- tanya, tombak itu ternyata telah bengkok melengkung separo lingkaran tanpa bisa digunakan lagi, kecuali hanya berguna untuk menakut-nakuti anak kecil saja.

Meremang bulu tengkuk Wasi Sableng mengalami hal begini. Benar-benar sekarang ia tahu bahwa la- wannya yang berjubah kuning itu jauh lebih tinggi tingkatan ilmunya. Dan rasanya ia tak bakal mempero- leh kemenangan apapun melawan Bikhu Gandhara, seperti terbukti beberapa kali serangan mautnya terpa- tah di tengah jalan.

“Babo, babo! Kita sudahi dulu pertandingan ini! Kau boleh berbangga atas kelebihanmu, Gandhara. Akan tetapi tunggulah lain kali. Aku akan menantangmu kembali,” teriak Wasi Sableng dengan wajah yang ma- rah bercampur malu, sementara tangannya mencam- pakkan tombaknya yang rusak ke atas tanah.

“Hmm, aku menyesal harus merusakkan tombak- mu, Ki sanak. Tapi apa boleh buat, karena engkau menyenangi kekerasan. Sekarang berlalulah dari de- pan hidungku, jika engkau masih menyenangi nyawa- mu. Bikhu Gandhara lebih menyukai kedamaian,” ujar si Jubah Kuning dengan kata-kata yang  tenang,  lem- but tapi penuh wibawa.

Tanpa menggubris lagi sebenarnya ia telah merasa kalah dan jerih hatinya. Wesi Sableng lalu menggen- jotkan kakinya ke tanah, lalu melesat ke luar dengan melewati pagar tembok batu.

Si Mulut Bertudung tak punya pilihan lainnya, demi Wasi Sableng meninggalkan tempat itu. Maka iapun segera meloncat keluar, turun dari puncak pagar batu dengan mulut bersungut-sungut karena si penolong- nya telah dikalahkan oleh si Jubah Kuning.

Sedang sisa-sisa anak buah  si  Mulut  Bertudung yang lagi bertempur melawan Ki Dunuk serta empat orang pembantu Ki Sungkana, secepat kilat telah me- nerobos keluar pintu gerbang, kabur menyelamatkan diri.

Mereka berlima cepat-cepat mendapatkan Tuntari yang lagi berbicara dengan si Jubah Kuning, Bikhu Gandhara.

Ki Dunuk berlima merangkap kedua tangan lalu membungkuk dan mengucapkan terima kasihnya. “Andika telah menolong kami, Sang Bikhu Gandhara. Terimalah ucapan terima kasih yang tak terhingga be- serta salam hormat.”

“Damai... damai... damai. Semoga kalian selalu di- karunia kebijaksanaan dan kesabaran, para ki sanak,” ujar si Jubah Kuning dengan ramahnya.

“Oh, jika Bapak tidak turun tangan, entah apa yang bakal aku alami,” desah Tuntari seraya menyarungkan kembali pedangnya.

“Sudah sewajibnya manusia saling tolong-menolong, Angger. Aku kebetulan saja lewat di luar pagar ketika tiba-tiba telingaku menangkap adanya bentrokan sen- jata. Maka aku cepat-cepat masuk ke tempat ini.” Si Jubah Kuning berhenti sejenak  seraya  menatap  ke arah Ki Sungkana yang mengelumpruk kepayahan. Ia mengeluarkan sebuah kantong kecil berwarna kuning dan berkata lagi, “Orang itu saya kira memerlukan per- tolongan dengan segera. Nah, gadis yang baik, minum- kanlah obatku kepada orang itu. Tenaganya pasti akan segera pulih kembali.”

“Terima kasih, Bapak,” ujar Tuntari seraya meneri- ma kantong kuning dari tangan Bikhu Gandharapati.

“Nah, Ki sanak semua.  Kedamaian  telah  kembali dan aku minta permisi. Semoga kalian selalu selamat, dan bahagia. Sadhu... sadhu... sadhu...,” demikian si Jubah Kuning berkata lalu melesat ke luar meninggal- kan halaman rumah Ki Sungkana, dengan melompati pagar tembok batu.

***

“Lekaslah, Ki sanak. Kau ambil air minum, agar  ob- at ini segera kuminumkan kepadanya,” ujar Tuntari kepada salah seorang dari keempat pembantu Ki Sungkana yang masih hidup.

“Baik, Nona,” ujar orang tersebut seraya buru-buru berlari ke dalam rumah guna mengambil air. Sebentar itu pula ia telah ke luar dengan membawa sebuah lo- dong tanah liat.

Akhirnya Tuntari berhasil meminumkan obat itu ke mulut Ki Sungkana dibantu oleh Ki Dunuk dan  seo- rang lagi. Sedang seorang lainnya telah mengambil se- lembar kain dari dalam rumah guna membalut luka- luka Ki Sungkana.

Dian lampu minyak kelapa telah pula dipasang, se- mentara sebuah obor dipasang di dalam halaman, me- nerangi tempat itu untuk menggantikan sinar senja yang semakin menipis.

Para pembantu Ki Sungkana yang tiga orang sibuk memeriksa korban-korban dari pertempuran. Ternyata dari kedelapan pembantu Ki Sungkana, tiga orang te- lah tewas dan seorang luka-luka parah. Mereka segera merawatnya baik-baik. Dari pihak anak buah si Mulut Bertudung, tujuh orang telah meninggal.

“Ooh, siapakah Andika yang telah sudi menolong- ku?” desah Ki Sungkana seraya menatap ke wajah Tuntari. “Eh, aku seperti pernah melihatmu, Nak.”

“Mungkin begitu, Paman. Aku bernama Tuntari, pu- teri dari Ki Demang Cundraka di  Desa  Peterongan,” ujar Tuntari dengan ramahnya.

“Aah, ya, ya. Aku masih ingat itu. Dan kedatangan- mu ini pasti diutus Ki Cundraka, bukan?!”

“Benar, Paman. Aku memang diutus Ayahanda un- tuk menjemput sebuah benda berharga dari Paman Sungkana. Beliau sendiri  lagi  berkunjung  ke  desa lain.”

“Baiklah, Angger. Memang ayahmu dulu telah ber- kata demikian. Jika ia berhalangan pasti akan diki- rimnya seorang utusan kemari. Tak tahunya engkau sendirilah, Angger Tuntari,” ujar Ki Sungkana. “Nah marilah masuk ke dalam rumah. Akan kuberikan ben- da itu kepadamu.”

Ki Sungkana kemudian dibantu oleh Ki Dunuk dan Tuntari, dipapahnya masuk ke dalam, sementara keempat pembantu sibuk dengan masing-masing tu- gasnya.

Mereka bertiga segera memasuki ruangan besar se- telah melewati pintu kayu yang tebal. Agaknya saja in- ilah ruang kerja dari Ki Sungkana.

“Aku tak  melihat  keluarga  lainnya,  Paman?!”  ber- tanya Tuntari ketika kesenyapan  mencekam  tempat itu.

“Itulah yang lebih untung. Mereka tengah berkun- jung ke sanak keluarga di tengah kota. Seandainya mereka di rumah, pastilah akan kalang kabut ketika terjadi penyerbuan tadi.”

Tuntari mengangguk-angguk.

Ki Sungkana mendekati sebuah tiang kamar yang berukir indah, dan sebentar kemudian tampak memu- tar salah sebuah sisinya.

Ki Dunuk dan Tuntari menjadi kagum, karena tiba- tiba sebuah sisi tiang terbuka, merupakan pintu kecil yang terahasia. Ruangan atau relung dalam tiang be- rukir tadi memang digunakan oleh Ki Sungkana guna menyimpan benda-benda paling berharga. Sebagai seo- rang saudagar, Ki Sungkana memang patut memiliki tempat-tempat seperti itu.

Tampaklah kemudian Ki Sungkana memungut se- suatu benda dari dalam relung tadi yang merupakan bungkusan kain sutera biru.

Ditunjukkannya bungkusan tersebut kepada Ki Dunuk dan Tuntari, yang telah duduk di atas lantai beralaskan permadani indah. Setelah ia meletakkan bungkusan tadi di  atas  permadani,  maka  berkatalah ia, “Angger Tuntari, dengarlah baik-baik segala pesan- ku sebelum Angger menerima benda ini dari tangan- ku.”

Tuntari dan Ki Dunuk mengangguk penuh penger- tian.

“Nah, itu bagus,” Ki Sungkana melanjutkan bica- ranya sambil membuka bungkusan sutera biru di de- pannya. Maka terlihatlah sebuah arca ikan yang ter- buat dari batu permata biru, lebih kurang sebesar te- lapak tangan. “Arca ikan ini sangat penting artinya ba- gi Demak, dan aku telah sepakat untuk menyerahkan- nya kepada ayahmu, Adimas Demang Cundraka, yang kemudian akan meneruskannya ke Demak.”

Kini Tuntari dapat menyadari betapa pentingnya benda itu bagi kerajaan. Namun sampai saat ini ia be- lum paham. Dalam hal apakah benda tersebut sampai mempunyai nilai yang sangat tinggi. Apakah karena ia merupakan benda bersejarah, atau sebuah pusaka, barangkali?

Maka tak heran bila si Mulut Bertudung dan anak buahnya berusaha memburu benda ini. Untunglah bahwa kedatangannya sangat tepat, sehingga ia berha- sil membela Ki Sungkana dari kekejaman si Mulut Ber- tudung.

“Angger Tuntari, terimalah benda ini dan jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Kau harus membe- lanya mati-matian. Bila perlu kau harus mengorban- kan kepentinganmu guna membela Arca Ikan Biru ini,” ujar Ki Sungkana pula. “Bagaimanakah  Angger,  apa- kah Angger keberatan?”

“Sama sekali tidak, Paman.”

“Itu bagus. Segala seluk-beluk tentang Arca Ikan Bi- ru ini hanya aku dan ayahmulah yang tahu.  Kare- nanya, berhati-hatilah menjaga benda ini.” Ki Sungka- na berpaling pula ke arah Ki Dunuk. “Dan kepada An- dika pula, aku berharap agar Andika menjaga Angger Tuntari dengan sebaik-baiknya.”

“Itu sudah sewajibnya, Ki Sungkana. Sejak kecil aku dibesarkan oleh orang tua Ki Cundraka bersama- sama, sehingga Ki Cundraka sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Demikian pula dengan Angger Tunta- ri,” begitu kata Ki Dunuk seraya menundukkan kepala. “Syukurlah, Ki  Dunuk,”  sambung  Ki  Sungkana  se- raya tersenyum puas. “Aku sangat menghargai kese- tiaan Andika yang sebesar itu.”

Suasana hening sejenak ketika Tuntari menerima dan mengamati Arca Ikan Biru di tangannya. Gadis ini tampak meneliti dengan seksama.

“Angger Tuntari dan Dunuk,” tiba-tiba Ki Sungkana memecah kesepian, “waktu sangat berguna bagi Andi- ka. Karenanya, lekas-lekaslah kalian sampaikan benda ini kepada Adimas Demang Cundraka.”

“Ehh, jadi kami berdua harus meninggalkan Paman Sungkana sekarang juga?” kata Tuntari setengah  ka- get, begitu mendengar tutur kata Ki Sungkana.

“Benar, begitulah! Saya kira tidak ada pilihan lain,” sahut Ki Sungkana pula.

“Bagaimana dengan Andika?”

“Tak perlu Angger cemaskan. Bukankah beberapa orang pembantuku masih ada?” Ki Sungkana menje- laskan. “Mereka akan mengurus dan merawatku den- gan baik.”

“Jika kehendak Paman demikian, aku tidak berke- beratan,” sambung Tuntari seraya membungkus benda berharga dengan pembungkus sutera biru. “Dan kami berdua mohon permisi sekarang juga.”

“Silahkan, Angger. Simpanlah ia baik-baik dan hati- hatilah di jalan,” kata Ki Sungkana. “Keadaanku telah lebih baik daripada tadi. Andika berdua tak perlu kha- watir. Yang lebih berguna kalian pikirkan adalah sece- pat-cepatnya membawa Arca Ikan Biru ini dengan se- lamat.”

Begitulah akhirnya Tuntari dan Ki Dunuk mengun- durkan diri dan meninggalkan Ki Sungkana di dalam kamarnya dengan perasaan yang berat, mengingat lu- ka-luka yang diderita oleh saudagar itu.

Mereka berdua segera meninggalkan halaman ru- mah Ki Sungkana. Keempat pembantu saudagar itu- pun mengucapkan selamat jalan dan rasa terima ka- sihnya. Mereka mengantarkan Tuntari dan Ki Dunuk sampai ke pintu gerbang pagar halaman.

Di saat itu pula, Ki Dunuk diam-diam  melirik  ke arah daun pintu gerbang yang berantakan karena ter- jangan tenaganya beberapa saat yang lalu. Tersenyum juga tokoh gemuk pendek ini ketika merasakan akibat tindakannya. Tapi hal itu terpaksa dilakukannya, ka- rena itulah satu-satunya jalan bagi dirinya untuk me- nerobos masuk. Berbeda dengan Tuntari yang sanggup melesat melewati dinding tembok batu  untuk  masuk ke halaman.

Mereka berdua lalu melangkah ke arah timur, me- lewati jalan sunyi yang kini telah ditelan malam. Po- hon-pohon yang besar di sepanjang tepi jalan ini tak ubahnya raksasa-raksasa malam sedang berjaga den- gan ketatnya. Sedang di langit barat, sisa-sisa warna merah senja telah lenyap di balik pepohonan yang te- lah menghitam pula, menandakan bahwa sang mata- hari telah tenggelam dan beradu di balik pelukan kaki langit.

Sebentar-sebentar mereka berdua masih sekali- sekali menoleh ke belakang, mengawasi bentuk rumah Ki Sungkana yang makin jauh dan mengecil, sebelum akhirnya lenyap di balik pepohonan.

Tuntari tidak perlu khawatir lagi karena ia telah menyimpan bungkusan Arca Ikan Biru ke dalam ba- junya, sehingga tak seorangpun yang mengetahui bahwa mereka berdua membawa barang sangat ber- harga. BAGIAN V

Di tanah lapang kecil, yang terbentang di depan Ba- lai Ksatryan Demak, tampaklah beberapa ekor kuda yang ditambatkan di bagian timur, tak jauh dari pen- dapa.

Hari telah senja, sehingga latihan-latihan keprajuri- tan telah selesai dan kini halaman luas itu  menjadi sunyi senyap kecuali beberapa prajurit yang masih berjaga di tempat-tempat tertentu, seperti pada kedua pintu gerbang.

Di dalam pendapa Balai Ksatryan, diterangi oleh di- an-dian minyak, duduklah beberapa orang  dengan asyik memperbincangkan sesuatu.

“Hmmm, semuanya  telah  saya  catat,  Anakmas,” ujar Ki Tambakbayan, perwira paling tua yang duduk di depan Mahesa Wulung. Semua dicatatnya di atas se- lembar kain dengan cairan tinta, sedang di depannya, tergeletak selembar ikat pinggang kulit dengan gambar tanah Bukit Kepala Singa. “Jadi jelaslah bahwa Bukit Kepala Singa itu sangat berbahaya bagi kita. Kare- nanya sangatlah berbahaya untuk  menyerbu  tempat itu secara langsung.”

“Saya telah merencanakan untuk menerobos perta- hanan mereka secara diam-diam,” sahut Mahesa Wu- lung. “Mudah-mudahan hal ini dapat saya rencanakan lebih teliti sebelum maksud itu benar-benar dilaksana- kan.”

“Ikat pinggang ini boleh kau simpan kembali, Anakmas Mahesa Wulung. Suatu saat pasti sangat berguna bagimu.”

“Terima kasih.”

“Anakmas masih harus membicarakan hal ini lebih lanjut dengan para Wiratamtama Laut di banjar Jepa- ra,” berkata kembali Ki Tambakbayan. “Namun hal ter- sebut harus benar-benar engkau rahasiakan, sebab ti- dak mustahil bila Rikma Rembyak menyebar kaki tan- gannya untuk mengetahui segala gerak-gerik kita.”

Mahesa Wulung mengangguk-angguk mengerti. Se- pintas itu juga ia teringat akan pengkhianatan si Gom- bong yang ternyata adalah kaki tangan dari Rikma Rembyak. (Bacalah Seri Naga Geni 16, 17, Pembalasan Rikma Rembyak dan Seribu Keping Emas untuk Mahesa Wulung) Maka sudah selayaknya kalau ia harus lebih berhati-hati, meski nasib manusia berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan Anakmas juga harus tinggal di Demak untuk beberapa waktu, sebab ada hal-hal penting  lainnya yang mesti diketahui oleh Anakmas Mahesa Wulung,” berkata kembali Ki Tambakbayan dengan suara yang ramah.

“Dengan senang hati, Paman,” ujar Mahesa Wulung. “Kebetulan sekali saya ingin menggembirakan dua orang sahabat yang telah banyak berjasa menolong di- riku. Mereka adalah Kakang Gagak Cemani dan Ki sa- nak Palumpang yang saat ini masih tinggal di rumah Ki Selakriya di daerah Muoro Demak.”

“Hmm. yah. Akupun mengucapkan terima kasih ke- pada Andika, Angger Gagak Cemani,” sambung Ki Tambakbayan seraya menatap ke arah Gagak Cemani yang duduk di sebelah Mahesa Wulung. “Sayang sekali aku belum ketemu dengan Ki sanak Palumpang. Ehh, kapankah Anakmas mengirimkan beberapa prajurit ke rumah Ki Selakriya?”

“Besok pagi setelah orang-orangnya kita pilih.” “Baiklah. Sekarang Anakmas boleh beristirahat

sambil memikir-mikirkan tugas-tugas dan rencana se- lanjutnya.” Akhirnya, sebentar kemudian mereka telah selesai dengan pembicaraannya dan keluar meninggalkan pendapa Balai Ksatryan untuk kembali ke rumah mas- ing-masing.

Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan Tungkoro sege- ra mengambil kuda-kuda mereka di tempat tambatan. Setelah itu mereka bertiga berpacu ke arah selatan menuju ke tempat bermalam. Sedang Pandan Arum, tinggal di rumah salah seorang keluarga pegawai ista- na yang masih terhitung keluarga mendiang Empu Baskara.

Namun malam itu terjadilah sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Mahesa Wulung bertiga. Selagi mereka berpacu ke arah selatan, mendadak saja kuda Mahesa Wulung meringkik-ringkik berjingkrakan se- perti terkejut.

Rupanya Mahesa Wulung segera dapat menangkap isyarat kudanya, bahwa ia  telah  mencium  sesuatu yang asing sehingga ia mengeluarkan sikap yang de- mikian.

“Ada sesuatu yang diciumnya, Kakang!” bisik Mahe- sa Wulung seraya menarik-narik tali kekang kuda.

“Rupanya ia mencium bahaya!” desis Gagak Cema-

ni.

“Jika begitu, kita terjang saja ke depan!” seru Tung-

koro yang tampaknya sudah tidak sabar lagi. “Daripa- da kita yang diserang, lebih baik kita mendahuluinya!”

“Sabar, Adi Tungkoro,” potong  Mahesa  Wulung. “Ada beberapa hal yang kita belum tahu pasti. Apakah kita telah pasti bahwa seandainya ada berapa orang bersembunyi di balik semak-semak bambu di depan kita, apakah mereka bermaksud menghadang dan me- nyerang kita?!”

Tungkoro terdiam oleh  kata-kata  Mahesa Wulung. Ternyata memang ia berpikir terlalu keras dan sedikit bernafsu untuk lekas-lekas bertempur.

Tiba-tiba Gagak Cemani memberi peringatan kepa- da kedua orang sahabatnya, “Sttt. Dengarlah, ada ge- rakan di balik semak-semak di depan. Bersiap-siaplah dengan senjatamu.”

Belum lagi lama Gagak Cemani selesai berkata de- mikian, mendadak saja dua orang penunggang kuda keluar dari balik semak-semak di depannya, lalu ber- pacu cepat ke arah selatan.

“Itu dia, orang yang mengintip kita!” seru Tungkoro. “Mereka memata-matai kita!” ujar Mahesa Wulung

dengan kagetnya. “Kita harus berbuat sesuatu!”

“Kejar mereka!” teriak Gagak Cemani seraya mende- rapkan kudanya ke arah selatan, disusul oleh Mahesa Wulung dan Tungkoro.

Sebentar saja terjadilah kejar-mengejar ke arah se- latan antara Mahesa Wulung bertiga dengan kedua pengintai.

Kedua orang asing itu ternyata pandai mengendarai kudanya. Mereka berpacu seperti dua orang gila yang dikejar setan. Terlebih lagi sewaktu Mahesa Wulung berteriak menyapanya, mereka menjadi semakin cepat memacu kudanya.

“Heei! Siapa kalian? Tunggu!”

Debu dan batu-batu kerikil bertebaran oleh terjan- gan-terjangan kaki-kaki kuda mereka, mengaburkan pandangan. Namun hal itulah yang membuat kejar- mengejar itu menjadi semakin seram dan mendebar- kan.

Tanpa terasa, mereka semakin jauh menginjak dae- rah selatan. Tepat di saat itu pula, Mahesa Wulung bertiga berhasil mendekati kedua orang asing di de- pannya. “Hiaah!” seru Mahesa Wulung dan Gagak Cemani berbareng seraya meloncat dari punggung kudanya untuk menerjang kedua orang di depan.

Keduanya bergerak sangat cepat sampai-sampai Tungkoro tidak begitu jelas melihat gerakan mereka, sebab tahu-tahu Mahesa Wulung dan Gagak Cemani telah menerjang kedua orang buronan itu sampai ter- pelanting jatuh dari punggung kudanya. Sedang kedua sahabatnya itu sendiri tampak oleh Tungkoro mampu mendaratkan kedua kakinya di tanah dengan lincah- nya, tak ubahnya dua ekor bajing yang meluncur dari atas pohon.

Kendatipun demikian, Mahesa Wulung menjadi ka- get pula bila mengetahui dua buronan tersebut segera berdiri tegak sesudah mereka bergulingan di atas ta- nah berbatu-batu ketika terjatuh dari punggung ku- danya.

Bahkan tidak itu saja kekagetan  Mahesa  Wulung dan Gagak Cemani, sebab begitu kedua buronan tadi berdiri, segera menyerang dengan golok di tangan yang telah terhunus.

Akan tetapi lawan-lawan yang harus mereka hadapi adalah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani, dua pen- dekar yang telah lulus dari beberapa gemblengan.

Hanya Tungkoro yang tetap duduk terpaku di atas punggung kudanya, seolah penonton yang menyaksi- kan dua pasang jago aduan lagi berlaga di gelanggang.

Pertarungan tersebut berlangsung seru tapi tidak sampai mencapai dua puluh jurus, seperti yang terli- hat kemudian bahwa Mahesa Wulung melancarkan te- basan telapak tangan tepat menghajar pergelangan tangan kanan dari lawannya.

Prakk!

“Aduuhh!” seru  lawan  Mahesa  Wulung  kesakitan berbarengan goloknya tercampak lepas. Orang ini ke- mudian berdiri setengah kaku sambil mendesis-desis menahan pergelangan tangan kanannya yang seolah- olah remuk.

Sedang Gagak Cemanipun bertindak dengan cepat- nya. Kedua ujung jari tangan kanannya secara gesit menotok tengkuk lawannya, membuat orang ini seperti disengat kala dan tahu-tahu goloknya runtuh ke tanah sementara tubuhnya terasa kaku-kaku.

“Ampun... aduh! Ampun, Tuan!” rintih kedua orang tersebut dengan ketakutan. “Jangan... jangan sakiti ”

“Baik! Tapi lekas katakan. Apa maksudmu bersem- bunyi di balik pepohonan ketika kami lewat!” bentak Gagak Cemani dengan tajamnya kepada kedua orang tawanan itu.

“Ka... kami tidak   sengaja, Tuan.”

“Bohong! Kau jangan mengelabuhi kami!  Kalian pasti memata-matai kami bertiga!” ujar Gagak Cemani.

“Ti... tidak   ”

“Kalian ingin kubikin lumpuh sama sekali?!” “Jangan, Tuan. Jangan ”

“Sebab itu katakan cepat! Kalian datang dari mana- kah?” tanya Gagak Cemani lebih garang.

“Bab... baik... eh... kami... kami   ”

“Lekas katakan, dan kami akan mengampuni kalian berdua!” ujar Mahesa Wulung pula. “Kalian pengikut- pengikut siapa?”

“Kami... kami   ”

Wuuss! Plaakk! Plaakk! “Aarrgghh.”

Tiba-tiba saja bertiup angin santer dibarengi dua benturan keras disusul kedua tubuh tawanan itu menggeliat kesakitan dan menjerit, untuk kemudian roboh ke tanah dengan masing-masing punggungnya berbekas telapak tangan kemerahan!

“Jejak Telapak Iblis!” desis Mahesa Wulung.

“Yang dilontarkan dengan pukulan jarak jauh,” seru Gagak Cemani menyambung seraya menatap ke arah sekeliling. Bulan tiga perempat memancarkan sinar pe- raknya membuat tempat di situ cukup terangnya un- tuk dilihat oleh mata.

Mahesa Wulung tidak membuang waktu. Naluri dan otaknya bekerja cepat. Kalau kedua orang korban itu roboh menghadap ke arah barat sedang luka-luka me- reka pada punggung, maka pastilah penyerangan itu datang dari arah timur. Dan memang di sana Mahesa Wulung melihat adanya sebuah semak pohon ilalang yang cukup lebat.

Maka seketika Mahesa Wulung melancarkan puku- lan jarak jauh ajaran Pendekar Bayangan ke arah se- mak ilalang tersebut. (Bacalah Seri Naga Geni ke 6 dan ke 8, Munculnya Pendekar Bayangan dan Keruntuhan Netra Dahana)

Ssttt... Braasshh!

Bagai diterkam angin prahara, semak ilalang tadi tergoncang dan sebagian di antaranya terbetot sampai ke akar-akarnya, lalu berhambur ke udara.

Mendadak saja, satu bayangan hitam melesat  ke- luar dari balik semak-semak ilalang untuk kemudian terus kabur ke arah selatan dengan gerakan secepat kilat, diiringi ketawa berderai berkepanjangan.

Tungkoro yang masih berada di punggung kuda menjadi berdiri bulu tengkuknya, seolah-olah ia baru saja menyaksikan hantu yang berlari.

Hampir saja Mahesa Wulung tak percaya melihat peristiwa tersebut. Buru-buru pendekar wiratamtama ini melancarkan pukulan jarak jauhnya yang disebut “Pukulan Angin Bisu” ke arah bayangan tadi. Blaasshhh!

“Heeitt?” si bayangan menjadi berseru kaget, tapi dengan gesit ia melenting berputar di udara, menghin- dari serangan bisu ini hingga lewat di bawahnya dan selanjutnya ia kabur dan lenyap di pepohonan daerah selatan.

Sekali lagi Mahesa Wulung bermaksud mengejar- nya, tapi Gagak Cemani segera menahannya seraya berkata, “Tahan, Adi Wulung! Kukira orang tadi cukup jerih terhadap kita. Jaraknyapun cukup jauh sehingga lebih banyak kemungkinan untuk tidak  berhasil!  Di lain saat pastilah kita akan menemukannya. Kita akan mulai memburu jejak telapak iblis!”

Mahesa Wulung segera dapat memahami hal itu. “Dan lagi,” demikian Gagak Cemani melanjutkan bi-

caranya, “masih banyak tugas-tugas penting yang mes- ti Adi Mahesa Wulung lakukan bagi kepentingan yang lebih besar.”

“Terima kasih, Kakang Cemani. Aku yakin bahwa orang tersebutlah yang bernama Tangan Iblis!” ujar Mahesa Wulung.

“Akupun mengira demikian.”

“Terbukti seperti bekas pukulan telapak tangan pa- da punggung kuda korban ini,” ujar Mahesa Wulung seraya memperhatikan kedua korban. “Tak berbeda dengan bekas luka di dada Ki Selakriya dahulu.”

“Dan dia telah membunuh kedua orang ini, agar ti- dak berbicara apapun. Besar kemungkinan mereka adalah anak buahnya sendiri!” Gagak Cemani berkata.

Tungkoro pun segera mendekat dan turun dari ku- danya untuk kemudian ikut meneliti korban-korban tersebut. Ternyata Tungkoro pun dapat mengenal be- kas pukulan telapak tangan itu.

“Bagaimana dengan  kedua  korban  ini?”  bertanya Gagak Cemani seraya menatap ke wajah Mahesa Wu- lung dan Tungkoro, seakan menantikan jawaban.

“Hmm..., tinggalkan saja di sini. Dalam perjalanan pulang, akan kita cari rumah penduduk terdekat, agar mereka mengubur kedua korban ini,” ujar Mahesa Wu- lung.

“Saya kira, hal itu cukup baik, Kakang Wulung,” Tungkoro menyahut serta sekali lagi melempar pan- dang ke bawah. “Hei, lihat, Kakang. Sebuah kantong uang agaknya!” Tiba-tiba Tungkoro menunjuk sesuatu di dekat kedua korban itu, serta memungutnya. “Yaa, benar. Sekantong uang!”

“Bawalah saja, Adi Tungkoro. Nanti akan kita beri- kan kepada penduduk yang menguburkannya,” Mahe- sa Wulung berkata, lalu mulai menyiapkan kudanya. “Sekarang marilah kita kembali.”

Tak antara lama, mereka bertiga telah berpacu kembali ke arah utara, menempuh jalan yang tadi dila- luinya. Dari kejauhan terdengarlah bunyi himbauan burung hantu, memilukan hati dan menyelusup di an- tara celah-celah pepohonan.

***

Dalam pada itu, jauh di sebelah selatan, berlonca- tanlah sesosok bayangan manusia dengan gerakan- gerakan ringan tak ubah belalang lagi berkejaran.

Dari satu batu ke batu, dari pohon ke pohon, kedua kakinya bergerak melesat berganti-ganti, menandakan betapa ia memiliki ilmu peringan tubuh dan loncatan- loncatan yang baik.

Sambil berloncatan itu, terdengarlah satu gerunda- lan dari mulutnya dalam nada marah dan jengkel, “Tak kusangka aku menjumpai orang yang memiliki tenaga pukulan sedemikian hebat, sampai-sampai mampu menjebol semak ilalang ke akar-akarnya. Huh, terpak- sa aku harus kabur, karena memang belum waktunya aku mengadu tenaga dan kesaktian dengan dia!”

Orang ini terus meloncat-loncat ke arah selatan dan sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang, ke arah mana Mahesa Wulung hampir menggempur dirinya dengan pukulan Angin Bisu.

Hatinya masih merasa panas dan mendongkol. Ka- lau saja ia menuruti amarahnya, rasanya ia mau me- labrak hancur lawannya itu. Hanya saja ia merasa be- lum waktunya berhadapan langsung dengan Mahesa Wulung.

Ketika orang ini menghampiri sebuah pohon berin- gin tua yang besar iapun berhenti dari loncatannya. Matanya menyapu ke segenap penjuru dan sebentar kemudian iapun bersuit nyaring.

Seketika berloncatanlah belasan sosok tubuh ma- nusia dari balik lipatan-lipatan akar beringin raksasa tadi, lalu menyambut kedatangan orang ini dengan membungkuk hormat.

Seorang berlengan satu lalu maju ke depan seraya berkata hormat, “Guru, agaknya Andika mengalami se- suatu?”

“Benar, Jimbaran! Aku terpaksa membunuh dua orang di antara anak buahku sendiri, karena mereka hampir membuka rahasia tentang diriku. Jelasnya, mereka hendak berkhianat!”

“Sudah sepatutnya mereka mendapat hukuman  da- ri Tangan Iblis,” geram Jimbaran, murid utama dari Tangan Iblis yang hanya berlengan kanan saja. Sedang tangan kirinya telah terpenggal putus ketika bertempur melawan Tawes di tanah Gilimanuk, di pulau Dewata pada beberapa waktu yang silam.

“Dan satu hal lagi, Jimbaran. Baru saja aku men- dapat serangan yang cukup hebat dari seorang lawan yang tadi telah menangkap kedua orang anak buahku itu!” kata Tangan Iblis sambil mengepal-ngepalkan tangan. “Satu waktu aku ingin berhadapan dengan orang ini!”

“Aku berharap, Andika dapat mengalahkannya, Guru,” sambung Jimbaran. “Kami semua bersedia membantu Andika untuk hal ini.”

“Bagus, Jimbaran. Tapi ada tugas lebih penting dari Kakang Rikma Rembyak yang harus kita kerjakan dan inilah yang harus pertama-tama kita laksanakan, sebe- lum soal-soal kecil lainnya,” begitu kata Tangan Iblis. “Malam ini kita tak ada kerja lain. Suruhlah orang- orang kita.”

“Baik, Guru,” sahut Jimbaran seraya meninggalkan Tangan Iblis untuk melaksanakan perintah- perintahnya.

Sebagian dari anak buah Tangan Iblis kembali ke rongga-rongga batang pohon beringin tua itu untuk be- ristirahat. Enam orang tampak berjaga-jaga di bebera- pa tempat, sedang Tangan Iblis sendiri melesat ke atas pohon dan hinggap di atas cabang pohon bagaikan seekor kelelawar hinggap.

Di situ tersedialah tumpukan daun-daun  ilalang yang dianyam tebal bagaikan kasur untuk tempat  ti- dur bagi Tangan Iblis, pemimpin dari rombongan ter- sebut.

Sebentar kemudian tampak sepi pohon beringin tua itu, seakan-akan  membayangkan  satu  keangkeran yang mengerikan seperti kebanyakan orang percaya bahwa beringin tua yang sebesar itu pasti ditempati oleh hantu-hantu, jin setan yang suka mengganggu manusia. BAGIAN VI

Angin siang bertiup cukup santernya di sepanjang sungai yang mengalir di sebelah barat kota Asemarang. Jauh di daerah selatan dari sungai ini, terdapat daerah perbukitan batu-batu karang yang kelihatan angker.

Di situ terlihatlah sisa-sisa sebuah kerangka perahu besar yang konon kabarnya terdampar dari hempasan gelombang. Sebuah jangkar raksasa berkarat dapat terlihat di situ pula, merupakan pemandangan tragis dari sisa-sisa pengalaman dan riwayat sebuah perahu.

Agak ke selatan, di celah lekukan bukit-bukit, ter- dapatlah sebuah rumah yang pintu gerbangnya terpa- hat dari batu-batu karang.

Menilik dari pintu gerbang itu serta dua orang pen- jaga yang tinggal di situ, dapat dikira-kira bahwa tem- pat itu adalah milik orang yang kaya atau paling tidak berpengaruh.

Memang sebenarnyalah demikian. Rumah berpintu gerbang batu itu adalah milik seorang saudagar kaya bernama Arya Demung. Selain terkenal sebagai sauda- gar, Arya Demung pun tergolong orang yang berilmu dan sakti.

Hal itu tak perlu diherankan, sebab iapun termasuk salah seorang tokoh persilatan di daerah itu. Namanya cukup terkenal dan ditakuti oleh orang luar maupun oleh para pengikutnya sendiri.

Di siang itu udara cukup panas, seolah-olah mem- bakar wajah-wajah manusia yang lagi berkumpul dan duduk-duduk di halaman rumah yang dirindangi oleh pohon-pohon sawo.

Bintik-bintik keringat menempel di dahi Arya De- mung yang tampak kemerahan. Ternyata bukan seke- dar disebabkan panasnya siang, tapi oleh suasana yang baru saja dilaporkan oleh si Mulut Bertudung dengan nada setengah takut.

“Goblok! Jadi gagal juga kau mencari benda terse- but?!” gereneng Arya Demung jengkel. “Benda seperti Arca Ikan Biru tersebut sangat penting artinya bagi ki- ta. Maka  sungguh  celaka jika  benda itu sampai  jatuh ke tangan orang lain!”

“Kami sudah menjatuhkan Ki Sungkana, Kakang Arya. Tetapi mendadak saja datanglah seorang gadis bersama seorang gemuk pendek yang langsung meng- hajar kami,” demikian si Mulut Bertudung  menje- laskan sekali lagi. “Menurut katanya, ia bernama Tun- tari dan si gemuk pendek itu disebut Ki Dunuk!”

“Hmm, mereka adalah orang-orangnya Ki Demang Cundraka, sahabat karib dari Sungkana!” desis sauda- gar Arya Demung. “Tapi kau tadi menyebut nama Wasi Sableng itu pendekar yang angot-angotan, suka ber- tindak semau diri. Bukankah ia dapat kau ajak agar berpihak dengan kita?!”

“Memang saya bermaksud demikian, Kakang Arya Demung. Tetapi ketika Wasi Sableng dikalahkan oleh Bikhu Gandharapati, ia telah kabur tanpa kuketahui arah tujuannya dengan membawa sekantong uangku!” ujar si Mulut Bertudung.

“Jadi sebenarnya Wasi Sableng itu dapat kita guna- kan,” sambung Arya Demung. “Orang seperti dia, yang suka hidup royal dan bermewah-mewah, pasti banyak membutuhkan uang dan kita dapat mencukupinya, bukan?”

“Benar, Kakang Arya Demung.”

“Sebab itu, engkau harus secepatnya berusaha mencari Wasi Sableng dan katakan kepadanya, bahwa ia kuundang ke rumahku,” kata Arya Demung seraya mengeluarkan sekantong uang dari balik bajunya. “Be- rikan ini kepada Wasi Sableng sebagai hadiah persa- habatan dari Arya Demung.”

Dengan tergopoh, si Mulut Bertudung menyambut kantong uang tersebut dari tangan  Arya  Demung. “Akan kucari Wasi Sableng sampai ketemu dan kuajak kemari.”

Arya Demung manggut-manggut puas mendengar kesanggupan si Mulut Bertudung, si pendekar yang menjadi tangan kanannya. “Hati-hatilah terhadapnya, sebab ia orang yang aneh dan sukar ditebak kata ha- tinya. Perlakukan dia dengan baik, karena tugasmu harus dapat mengambil hatinya.”

Belum lagi si Mulut Bertudung mengundurkan diri, mendadak saja datanglah seorang penjaga pintu ger- bang dengan mengantar seorang tamu berperawakan kecil, berikat kepala hijau tua dan yang lebih menghe- rankan adalah matanya yang cekung dengan sinar ta- jam.

“Haaa, kau sudah datang, Klenteng!” seru Saudagar Arya Demung kepada si tamu yang berkulit agak hi- tam.

“Terimalah salam hormatku, Ki Demung!” berkata si tamu yang bernama Klenteng seraya melangkah mem- beri hormat kepada tuan rumah.

Si Mulut Bertudung tidak menjadi heran dengan kedatangan si tamu yang bermata cekung dan berkulit hitam itu, sebab ia telah mengenalnya beberapa waktu yang lalu, ketika Klenteng, yaitu salah seorang pengi- kut Arya Demung, berhasil menyelusup dan bekerja sebagai tukang sapu di rumah Ki Sungkana.

“Bagaimana, Klenteng? Adakah berita baru yang sangat penting?!” ujar Arya Demung menanyakan ka- bar yang diharap-harapkannya dari tamu ini.

“Ki Demung boleh percaya, apa yang akan kucerita- kan ini membuat persoalan Arca Ikan Biru menjadi le- bih jelas,” demikian kata Klenteng memulai jawaban- nya.

“Ya, ya. Itulah yang aku tunggu. Berita itu sangat kunanti-nanti darimu, Klenteng!” gumam Arya De- mung seperti tidak sabar. “Nah, coba katakan cepat!”

“Setelah penyerbuan Sobat si Mulut Bertudung ke rumah Ki Sungkana, ternyata Arca Ikan Biru tersebut telah diserahkan ke tangan Tuntari dan Ki Dunuk!”

“Haaahh?! Celaka! Benda itu sangat berguna bagi kita! Kau tahu?!” gereneng Arya Demung sambil melo- tot. “Sekarang kau harus menyelidiki kembali tentang benda itu!”

“Baik, Ki Demung. Yang jelas, benda tersebut pasti akan berada di tangan Demang Cundraka!” sahut Klenteng.

“Ya, itu memang jelas! Justru hal inilah yang harus kau selidiki dengan segera! Setelah Arca Ikan Biru itu berada di tangan Demang Cundraka, selanjutnya akan berpindah ke tangan siapa lagi?! Nah, inilah tugasmu!”

“Hua, ha, ha, ha. Ki Saudagar!  Ki  Saudagar  De- mung! Keluar lekas!” begitulah tiba-tiba terdengar te- riakan keras dari arah pintu gerbang diiringi ketawa yang menggetarkan udara siang.

Sudah barang tentu Arya Demung, Klenteng, dan si Mulut Bertudung menjadi terkejut bukan main, sebab baru sekali inilah mereka mendengar adanya kelan- cangan yang melewati batas, seperti teriakan-teriakan yang memanggil nama Arya Demung tadi. Ini merupa- kan satu kejadian yang aneh dan luar biasa.

Nama Arya Demung merupakan nama yang ditakuti oleh setiap penduduk di sekitar tempat ini.  Mereka akan selalu berhati-hati untuk menyebut nama itu, ti- dak seperti teriakan yang baru saja terdengar sangat gegabahnya!

Maka sudah boleh dipastikan bahwa si peneriak ta- di pastilah orang yang mencari kesulitan. Kalau bukan berarti tantangan, maka berarti pula kesengajaan bu- nuh diri.

Karena sesungguhnya, Arya Demung sangat keras menjaga namanya, bahkan tidak segan untuk turun tangan bagi setiap orang yang berani mengucapkan namanya secara sembrono. Beruntunglah kalau orangnya hanya ditampar, sedang biasanya pastilah akan disobeknya mulut orang yang malang itu.

Arya Demung bersama orang-orangnya serentak berdiri dan berlari-lari ke arah pintu gerbang. Malahan segenap penghuni rumah itu pada bertebaran keluar, laksana sebuah sarang lebah yang kena usik, hingga semua penghuninya marah-marah.

Sementara berlarian ke arah pintu gerbang, si Mu- lut Bertudung berkata kepada Arya Demung, “Kakang Arya, jika tidak keliru suara tersebut adalah suara Wa- si Sableng. Aku masih bisa mengenalnya!”

“Jika demikian, itu merupakan keuntungan bagi ki- ta! Ayo, kita sambut orang yang bermulut besar itu!” seru Arya Demung sambil berlari pula.

Sebentar saja mereka telah sampai di pintu gerbang batu dan dua orang penjaga serentak melapor kepada Saudagar Arya Demung.

“Kami telah berusaha mengusirnya, Ki Demung. Te- tapi orang itu membandel dengan berteriak-teriak se- perti orang gila!”

“Biarlah aku yang menghadapinya,” ujar Arya De- mung dengan nada gusar, lalu melempar pandang ke arah halaman di luar pintu gerbang batu karang.

Di sana terlihatlah seorang berpakaian hitam-hitam sedang membrakoti seruas batang tebu manis. Sikap orang ini kelihatan ceroboh, apalagi sambil menikmati tebu manis tadi, ia duduk menongkrong di atas se- bongkah batu.

“Heei, Ki Saudagar! Saudagar Demung! Keluarlah lekas. Aku sangat haus!” demikian teriak si baju hitam tanpa menggubris bahwa di tengah pintu gerbang telah terpagar oleh manusia. Merekapun telah bersenjata pula di tangannya.

“Diaammm! Mulutmu bisa kusobek nanti!” seru Saudagar Arya Demung dengan mendongkol dan ma- rah.

“Ehh?! Heh, he, he, he.  Sudah  keluar  orangnya?! Heh, he, he, he. Mana yang bergelar Arya Demung?” demikian ucapan cerewet terus meluncur dari mulut si baju hitam. “Aku kepengen ketemu dengan orangnya... heh, he, he, he.”

Mendengar kesembronoan orang asing ini, tiba-tiba majulah salah seorang anak buah Arya Demung den- gan golok terhunus. Teriakannya kemudian, “Keparat, orang asing. Sebelum majikanku bersedia dan sudi menyambutmu, terlebih dahulu sambutlah  golokku ini!”

“Heeit! Cari gara-gara kau! Niih!” teriak orang asing berbaju hitam sambil mengibaskan  tangan  kanannya ke arah si penyerang tadi.

Tanpa terelakkan, ruas tebu yang barusan dibrakoti seketika melesat dan langsung bersarang ke pelipis si penyerang tersebut, hingga orangnya roboh  berkelojo- tan bermandi darah, mengerikan!

Hampir semua mulut yang  menyaksikan  kejadian itu pada melongo di samping hati mereka merasa keder pula. Orang asing yang dikira sepele itu, ternyata me- miliki ilmu tinggi, seperti terbukti mampu menimpuk- kan seruas tebu sampai menancap di pelipis salah seo- rang dari rekannya.

“Heh, he, he, he. Sambutan yang cukup manis. Tapi sayang, kepalanya terpaksa kusumbat dengan ruas te- bu. Mudah-mudahan ia dapat berpikir lebih baik  ke- lak! Dengan begitu baru pantas ia menghadapi Wasi Sableng!” demikian kata si baju hitam yang tidak lain adalah Wasi Sableng. “Ayo, siapa penyambut yang be- rikutnya?”

“Sabarlah, Ki sanak!” kata Arya Demung seraya ma- ju ke depan.

“Hmm. Heh, heh. Siapa pula engkau?! Tampaknya engkau lebih berhati-hati dari orang itu!” Wasi Sableng bertanya serta sesaat menatap ke arah si penyerang yang sial dan malang. Beberapa orang anak buah Arya Demung segera menggotong tubuh si korban dan di- bawanya masuk ke dalam pendapa.

“Harap Sobat tidak bergusar dengan  sambutan orang tersebut,” sahut Arya Demung. “Akulah orang- nya yang engkau cari! Aku bernama Arya Demung.”

“Babo! Babo! Toblas..., eh, toblas! Memang engkau- lah yang aku cari-cari!” ujar Wasi Sableng seraya menggosok-gosok kumisnya yang penuh serabut tebu. “Hari amat panas! Kau dengar teriakanku tadi? Aku butuh minuman dan uang! Lekas berikan kepadaku!”

“Wasi Sableng! Aku telah memaafkan kelancangan- mu! Tapi perkara uang dan minuman, tidak akan se- mudah itu engkau memperoleh dari tanganku!” sahut Arya Demung kemudian. “Kecuali engkau dapat men- galahkanku!”

“Sangat setuju!” seru Wasi Sableng seraya bersiaga dengan jurus pembukaan yang sangat aneh! Betapa ti- dak mengherankan, bila Wasi Sableng cuma berdiri mengangkangkan kaki dengan tangan kiri bertolak pinggang, sementara tangan kanan menggaruk-garuk kepala tak ubahnya orang yang sakit gatal. “Ayolah mulai, Saudagar Arya Demung!”

“Awas, Wasi Sableng! Jika engkau kalah, harus kau cium ujung kakiku ini!” teriak Arya Demung  dengan hati panas. Diiringi geraman marah, tahu-tahu ia telah melesat ke depan, menyerang Wasi Sableng sambil berseru, “Sambut ini jika mampu!”

Mereka yang melihat gerakan ini menjadi terkesiap, ketika tubuh Arya Demung meluncur  pesat  seperti anak panah lepas dari busurnya, disertai angin yang santer.

Wesss....

Tiba-tiba....

“Haahh?” desah kekagetan meluncur dari  mulut Arya Demung, manakala Wasi Sableng menggeliat kecil dengan gerakan sederhana, namun membuat terka- man mautnya telah meleset!

Akan tetapi Arya Demung pun bukan orang semba- rangan. Sebelum ia terlanjur kena dorong tenaganya sendiri, cepat ia memutar dirinya dan melancarkan sa- tu tendangan kaki yang dahsyat.

Wasi Sableng terperanjat  buat  sesaat.  Cepat-cepat ia menangkiskan tangan kirinya yang ditekuk ke da- lam, menyongsong dupakan kaki Arya Demung sebe- lum serangan tersebut benar-benar menyentuh da- danya.

Tangkisan dari Wasi Sableng ini dapat diketahui pu- la oleh Arya Demung, namun ia tak berusaha merobah gerakannya, agar kakinya tetap membentur tangan la- wannya. Bagaimanapun juga ia telah bertekad untuk mencicipi ilmu dan kepandaian Wasi Sableng, si pen- dekar angot-angotan.

Maka terjadilah satu benturan yang tidak ringan dengan suara bergebruk keras dan menggetarkan se- tiap dada yang mendengarnya.

Duukk!

Arya Demung terpaksa berjumpalitan untuk men- daratkan kakinya yang terasa panas bagai dibakar oleh api, sementara Wasi Sableng yang menangkis, hampir saja terpelanting!

Untunglah ia masih mampu menguasai keseimban- gan tubuhnya, sehingga akibatnya ia cuma jatuh ter- duduk di tanah sambil mulutnya bergerundalan, “Hengng! Boleh juga tenaganya. Demi anggur minuman selodong dan uang sekantong, aku akan bertarung ma- ti-matian untuk mengalahkannya!”

Sampai di sini selesailah Seri Naga Geni “Jejak Te- lapak Iblis”, dan akan menyusul Seri Naga Geni berju- dul “ARCA IKAN BIRU”. Lebih mengasyikkan dan men- gikat pembaca untuk segera mengetahui apakah sebe- narnya Arca Ikan Biru itu, dan bagaimana dengan to- koh-tokoh yang mengincarnya.

TAMAT