-->

Serial Naga Geni Eps 03 : Badai Di Selat Karimata

 
Eps 03 : Badai Di Selat Karimata


LANGIT di sebelah timur dipenuhi oleh rantai-rantai cahaya merah yang berpijar, ketika dua buah perahu jung itu tengah membelah laut Jawa dengan lajunya ke arah barat laut. Sebentar-sebentar dari permukaan air laut muncullah beberapa ekor ikan terbang serta membuat loncatan-loncatan panjang di sekitar perahu- perahu itu, seperti ingin mengajak berlomba rupanya. Sungguh suatu pemandangan yang indah.

Di buritan perahu itu berdiri tiga orang yang diam membisu memandang ke air laut yang luas, dan berbuih buih yang ditinggalkan oleh buritan perahu. Mereka seolah-olah sedang mengenang segala pengalaman-pengalaman yang telah lewat. Pengalaman yang dipenuhi oleh kilatan pedang dan dentuman meriam. Terbayang kembali di mata mereka pertempuran-pertempuran yang hebat di Karimun Jawa ketika mereka berjuang menumpas bajak laut Pulau Ireng.

“Kakang Mahesa Wulung, lihatlah di sebelah utara itu!” suara Jogoyudo memecah kesunyian pagi yang bisu itu. “Hmm. Mengapa, Adi Jogoyudo? Adakah sesuatu yang menguatirkan?” kata Mahesa Wulung kemudian. Pikirannya tiba-tiba melayang ke arah peristiwa- peristiwa lalu, karena di sinilah gerombolan bajak laut Iblis Merah sering berkeliaran mencari mangsanya.

Bahkan lebih dari itu, ayahnya pun dikabarkan telah lenyap dan tewas puluhan tahun yang lalu di laut Selat Karimata ini, akibat keganasan mereka.

“Awan hitam itu sangat tebal. Rupanya badai akan turun sebentar lagi, Kakang,” sekali lagi Jogoyudo berkata pelan tapi matanya tak lepas-lepas dari awan hitam yang tebal dan pekat menggantung di langit utara.

“Mungkin benar juga perkiraanmu itu, Adi. Angin pun terasa bertiup semakin kencang,” ujar Mahesa Wulung.

“Baiknya kau perintahkan saja anak-anak untuk bersiap-siap menghadapi badai itu. Ikat erat-erat semua barang-barang agar tidak terlepas dari perahu.” “Adi Pandan Arum, masuklah ke kamar bawah. Itu lebih aman kiranya. Kami akan berjuang sekuat tenaga

jika badai itu benar-benar melanda kita.”

“Baik, Kakang,” sahut Pandan Arum singkat dan ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sementara seluruh awak perahu, sibuk bekerja.

Meriam-meriam diikat lebih erat dan sementara layar yang kurang penting ada yang diturunkan. Di kapal yang satu tampaklah kesibukan pula. Hang Sakti dan Egrang tak henti-hentinya memberi petunjuk-petunjuk kepada awak kapal.

Ketika angin bertiup semakin kencang, orang-orang di kedua kapal itu dikejutkan oleh alunan suara seruling. Sayup-sayup ia meliuk-liuk dibawa angin sangat merdunya. “Seruling Kakang Mahesa Wulung,” desis Egrang. “Ya, itulah tiupan Dinda Mahesa Wulung. Pantaslah

ia murid Panembahan Tanah Putih,” ujar Hang Sakti menyambung.

Memang di buritan perahu pertama, Mahesa Wulung dengan tenangnya meniup seruling yang berukir-ukir indah. Orang-orang pun setengah heran melihat sikap pimpinannya. Dalam saat-saat yang berbahaya ia masih sempat untuk memperdengarkan irama serulingnya yang merdu. Ah, tapi pastilah ia punya maksud-maksud tertentu dengan sikapnya itu.

Dan, dugaan sementara orang-orang itu memang benar juga. Mahesa Wulung yang kini asyik meniup seruling itu tidak hanya sekedar tiupan yang kosong belaka, tapi ia juga menyalurkan aji ‘Bayu Rasa’ yang keluar lewat lubang-lubang nada dari batang seruling itu. Dan akibatnya memang hebat sekali. Bersamaan dengan bertiupnya badai yang melanda kedua perahu jung itu, nada seruling itu pun bertambah semakin keras dan melengking.

Badai yang kini melanda laut Selat Karimata itu datangnya secara bergelombang dan dahsyat, hingga kedua perahu itu hanya seperti sabut kelapa saja yang berguncang dan terombang-ambing di air laut.

Angin yang bertiup menimbulkan bunyi menyakitkan telinga. Seolah-olah siulan dari setan- setan laut yang kelaparan. Beberapa orang anak buah perahu-perahu itu mulai tak tahan dengan siulan angin badai itu, sampai-sampai mereka menutup telinganya dengan kedua belah tangan. Tapi justru hal inilah kesalahan yang besar yang dibuat oleh mereka. Sebab dengan kedua belah tangan yang menempel ke telinga itu berarti mereka tak berpegang pada sesuatu benda, hingga sebentar kemudian tiga orang di antaranya terseret oleh ombak yang melambung ke tengah geladak perahu.

Melihat hal ini, Jogoyudo berteriak nyaring. “Heee, tutup telingamu dengan sobekan kain dan jangan kau lepaskan pegangan tanganmu.”

Mendengar seruan Jogoyudo itu, mereka pun segera mengerjakannya. Dengan begitu telinga   mereka terbebas dari pengaruh angin yang bersiul menyerikan. Sedang di buritan, Mahesa Wulung tetap tegak di tempatnya dan nada serulingnya bertambah dahsyat seperti berkejaran  dengan  tiupan  badai.  Bahkan seruling itu bergulung-gulung laksana gerak seekor ular raksasa yang  mencoba menahan amukan gelombang laut yang ganas. Pertempuran ajaib itu berjalan beberapa saat tapi cukup menakjubkan dan

membuat ngeri hati siapa saja yang menyaksikannya. Dalam pada itu, sambil meniup serulingnya Mahesa

Wulung di dalam hatinya berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih agar badai yang bertiup itu menjadi reda. Dengan hati yang penuh pasrah dan rendah hati, permohonan batin itu berulang-ulang berkumandang di dalam rongga dadanya. Dan sungguh di luar dugaan, badai yang tadinya bertiup dahsyat itu kini berangsur-angsur berkurang, dan mereda, kecuali bunyi seruling Mahesa Wulung yang masih tetap berkumandang tinggi mengalun di angkasa.

Dengan diam-diam Mahesa Wulung mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena badai itu telah mereda. Orang-orang di kedua perahu itu pun terheran-heran dibuatnya. Entah mengapa badai itu bisa reda. Apakah sebab dikalahkan oleh tiupan seruling Mahesa Wulung atau memang badai itu mereda karena sudah saatnya, tak seorang pun mampu menjawabnya. Tapi yang terang, badai itu kini telah lenyap dan mereka pun benar-benar merasa lega.

Awak-awak perahu kini sibuk kembali. Layar-layar dipasang seluruhnya dan kedua perahu itu pun kembali melaju ke arah barat laut. Beberapa orang tampak memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil akibat amukan badai tadi.

Matahari muncul dari balik awan hitam kini bertiup ke arah barat dan sinarnya itu gemerlapan dipantulkan oleh riakan ombak. Kepak-kepak sayap- sayap burung camar terdengar kembali di sekitar perahu membuat tenteram hati awak-awak kapal itu.

Berlayar berhari-hari memang membosankan dan membuat lelah di badan, sebab jika memandang ke luar perahu yang tampak semata-mata hanyalah air laut melulu, melimpah dan luas tak bertepi. Begitu luasnya laut hingga tepinya di batas cakrawala itu seolah-olah bertemu dan berpaut dengan langit biru. Malah sementara nenek moyang, takut berlayar jauh karena mereka percaya jika terus berlayar ke tepi sana, mereka pasti akan tergelincir dan jatuh ke jurang yang dalam bersama perahunya.

Memanglah kalau dibanding dengan luasnya lautan, maka diri kita akan terasa kecil sekali dan semakin kecil lagi bila kita menatap langit yang maha luas itu, yang kesemuanya telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Besar, bagi mahluk-mahlukNya. Dan di laut yang luas itulah dua buah perahu jung tetap berlayar dengan teguhnya setelah dihajar oleh badai di Selat Karimata. Kedua perahu itu terus berlayar ke arah barat laut menuju ke gugusan pulau-pulau Riau.

“Ahooi, daratan!” tiba-tiba kesunyian yang membosankan terpecah oleh teriakan penjaga tiang layar. Kata-kata “daratan” bagi setiap orang yang berlayar pastilah sangat menggembirakan, bagai air dingin menyiram tubuh yang kepanasan. Di situlah mereka dapat membayangkan untuk mendapatkan persediaan makanan, air, dan lain-lainnya.

Serentak para awak perahu berlarian ke dinding perahu sebelah kiri dan wajah-wajah mereka menjadi cerah ketika di arah barat laut tampak gugusan pulau- pulau yang kehijauan subur. Ketika perahu bertambah dekat, makin nyata kesuburannya. Puncak-puncak pohon nyiur tampak melambai-lambai ditiup angin laut.

“Kakang Mahesa Wulung, kita telah sampai di Kepulauan Riau. Pastilah Kakang Hang Sakti dan Nurlela sudah tak sabar untuk menginjak kembali tanah tumpah darahnya,” Jogoyudo yang berdiri di samping Mahesa Wulung berkata pelan, dan mendengar itu Mahesa Wulung cuma tersenyum manis.

“Ya, sebentar lagi kita akan mendarat dan di saat inilah kita mulai lagi langkah-langkah pertama untuk tugas yang baru,” berkata Mahesa Wulung menyambung.

Ketika perahu jung berdua itu makin mendekati pantai, tampaklah hal yang ganjil. Semua keadaan tampak sepi. Seorang pun tak kelihatan berada di bandar, meski beberapa perahu besar berlabuh dan perahu-perahu kecil lainnya tertambat di tonggak- tonggak kayu.

“Hmm, ada sesuatu yang kurang beres rupanya,” gumam Mahesa Wulung demi pandangannya dilayangkan ke bandar tersebut. “Jogoyudo, lekas perintahkan anak buah untuk meningkatkan kewaspadaan.”

“Apakah kita mendarat sekarang, Kakang?” tanya Jogoyudo sementara Mahesa Wulung berpikir keras untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

“Ya, kita mendarat sekarang juga. Tapi jangan lupa beberapa orang tetap tinggal di kapal untuk menciptakan meriam-meriam. Jika terpaksa, kita mendarat di bawah lindungan tembakan-tembakan meriam.”

“Oh, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu!” desis Jogoyudo penuh cemas, sebab iapun merasa bahwa di balik kesepian bandar Tanjung Pinang itu pastilah ada sesuatu yang tersembunyi.

Mungkin mautlah yang akan menyambut kedatangan mereka. Sebentar kemudian tampak Jogoyudo berkomat-kamit mengucapkan doa agar mereka dijauhkan dari bencana.

Mahesa Wulung memberi isyarat kepada perahu kedua dengan melambai-lambaikan pedangnya ke arah daratan dan segera perahu keduapun tampak sibuk menyiapkan pendaratan.

Suasana menjadi tegang. Lebih-lebih setelah sampan-sampan pendarat telah turun ke air dan didayung ke arah pantai. Semua awak perahu bersiaga dengan senjata masing-masing di tangannya.

Begitu kedelapan perahu kecil itu merapat di pantai, segera pula berlompatan awak-awak perahu ke tanah dan bersiaga. Namun tak sesuatu yang terjadi. Melihat hal ini Mahesa Wulung melangkah ke sebelah kanan mendapatkan Hang Sakti yang memimpin sayap kanan dari pagar manusia bersenjata itu. Sedang di pojok kiri, sayap barisan dipimpin oleh Jogoyudo.

“Kanda Hang Sakti, apakah kiranya Andika mengetahui seluk-beluk kota ini?” tanya Mahesa Wulung.

“Benar Dinda, aku tahu, sebab aku dilahirkan di sini dan semasa kecil telah kujelajahi segenap pelosok pulau ini,” kata Hang Sakti. “Biarlah, sekarang aku coba untuk menyelidiki keadaan.”

Hang Sakti tanpa ragu-ragu melangkahkan kakinya ke depan sampai beberapa langkah. Setelah kira-kira dua tombak jauhnya dari barisan itu iapun berhenti tiba-tiba, tepat sebuah teriakan nyaring terdengar dari balik-balik rumpun pohon kelapa

“Berhenti! Melangkah lagi berarti maut bagimu!”

Mendengar teriakan ancaman itu Hang Sakti tertegun sejenak, sebab suara itu begitu lantang dan penuh mengandung tenaga dalam. Demikian juga Mahesa Wulung penuh bertanya-tanya dalam hati. Siapakah gerangan orang ini? Ia pernah mendengar dari perantau-perantau bahwa di Pulau Bintan ini tinggal beberapa pendekar sakti dari Malaka yang terpaksa bersembunyi di pulau ini setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis di tahun 1511.

“Aku datang dengan maksud baik,” seru Hang Sakti lantang.

Sementara itu tampak Pandan Arum melolos senjata ampuhnya berupa selendang berwarna merah jingga. Begitu pula berkali-kali meraba cambuk pusaka Naga Geni yang diikatkan pada pinggangnya.

“Sebut namamu dahulu!” kembali teriakan nyaring terdengar dari rumpun pohon kelapa.

“Aku Hang Sakti dari Bintan.” Hang Sakti sekali lagi berteriak menjawab pertanyaan itu.

“Ooo, kau Hang Sakti? Baik, aku datang sekarang.

Ha, ha, ha, ha.”

Bersamaan dengan derai ketawa yang mengumandang, melesatlah satu bayangan dari atas pohon kelapa yang mendarat ke tanah dengan ringannya seperti seekor tupai tepat tiga tombak di depan Hang Sakti. Semua terkejut menahan napas, lebih-lebih dengan Mahesa Wulung sendiri. Ia begitu kagum melihat cara orang itu turun dari atas pohon kelapa.

Orang ini berbaju dan celana biru tua dan sarung tenun kotak-kotak hitam putih terpasang indah di pinggangnya, sedang ikat kepalanya hijau muda. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang berkilat tertimpa sinar matahari siang.

“Anaknda Hang Sakti?” seru orang itu ragu. “Benarkah penglihatanku ini ataukah mimpi, atau mungkinkah kau adalah hantunya dari mendiang muridku Hang Sakti?”

“Bapak Pendekar Prahara,” Hang Sakti berseru keheranan dan pada wajahnya terbayang kebingungan menghadapi hal ini. “Akulah Hang Sakti muridmu. Aku masih hidup dan kini berbicara di hadapanmu.”

“Aku pernah dengar bahwa kau bersama adikmu ketika berlayar ke Demak telah dicegat dan tewas oleh gerombolan bajak laut hitam Pulau Ireng.”

“Benar begitu, Bapak. Tapi kami berdua terhindar dari maut. Kami ditolong oleh Pendekar Barong Makara dari Demak!” berkata Hang Sakti untuk meyakinkan gurunya. Juga tiba-tiba dari barisan pendarat itu keluarlah Nurlela dan maju ke depan mendekati kakaknya yang tengah asyik berbicara dengan Pendekar Prahara.

“Bapak Pendekar, kami berdua masih hidup!” ujar Nurlela pula, sehingga pendekar setengah tua itu menjadi yakin dan manggut-manggut. Wajahnya tampak cerah dan ia tersenyum. Meski begitu di sudut matanya mengembang butiran air mata pertanda rasa haru bercampur gembira.

Melihat ini, Mahesa Wulung pun segera pula mendekati mereka bertiga. Hang Sakti segera memperkenalkan Mahesa Wulung kepada gurunya.

“Bapak Pendekar Prahara, inilah sahabatku, Pendekar Barong Makara dari Demak.”

Keduanya berkenalan dan berjabat tangan. “Perkenalkan Bapa, saya Barong Makara dari

Demak,” kata Mahesa Wulung sambil mengangguk hormat.

Pendekar separo umur itupun mengangguk hormat. “Terima kasih, Tuan. Anda telah menolong murid- muridku. Untuk ini Prahara mengucapkan terima kasih yang tak terhingga besarnya. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah melimpahkan karuniaNya untuk

Anda.”

Kini suasana tegang beralih cerah dan ketika Pendekar Prahara melambaikan tangannya tiga kali ke arah rumpun kelapa dan ilalang, dari balik batang- batang pohon kelapa bermunculanlah orang-orang bersenjata.

“Mereka adalah pasukan-pasukan dari pulau ini. Maka lebih dulu, harap dimaafkan jika kami mengejutkan kalian dengan sikap ini. Beberapa hari yang lalu pulau ini telah didatangi oleh segerombolan bajak laut Iblis Merah dari Selat Karimata. Hanya sayang pada waktu itu saya sedang berjalan jauh hingga mereka sempat mengobrak-abrik bandar ini. Sebelum gerombolan itu minggat lagi dari tempat ini, mereka masih mengancam bahwa suatu ketika mereka akan datang kembali. Gerombolan Iblis Merah memang termashur keganasannya. Terutama yang paling ditakuti orang-orang ialah pemimpinnya yang bernama Lanun Sertung.”

“Lanun Sertung?” seru Mahesa Wulung kaget. “Apakah Anda pernah mendengarnya?” kata Pendekar Prahara. “Agaknya nama itu amat berkesan bagi Tuan Barong Makara.”

“Benar, Bapak. Nama Lanun Sertung selalu terpatri di dalam hatiku. Sebab kepadanyalah saya harus menumpahkan dendam untuk membalas kematian ayahku yang dirampoknya di Selat Karimata,” kata Mahesa Wulung, hingga Pendekar Prahara mengangguk-angguk.

“Hmm, tapi menjatuhkannya tidaklah semudah perkiraan kita. Karena ia terhitung pendekar jagoan dengan ilmu pedangnya, ‘Si Mata iblis’ yang tak terkalahkan. Ilmu itu lebih hebat dari yang aku punyai sekarang ini. Telah berapa saja pendekar-pendekar sakti yang tewas di ujung pedangnya. Jika ia telah menggerakkan pedangnya, maka kita tidak akan melihatnya kecuali hanya bunyi berdesing, dan tahu- tahu lawannya akan mati tergeletak bermandi darah. Begitulah, Lanun Sertung menjadi tokoh yang ditakuti dan untuk menyebut namanya saja, orang sudah cukup ngeri rasanya. Dengan dasar kenyataan tersebut dan ancaman-ancaman yang ditimpakan kepada kami, maka tak ada salahnya jika kami mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap sepak terjangnya yang malang melintang tanpa tandingan. Meskipun kami sadar bahwa perlawanan itu tidak akan banyak menolong kami, namun kami lebih mantap jika menghadapi mereka dengan kekerasan pula. Buat kami, mati bertempur melawan mereka lebih baik daripada menyerah begitu saja atau mati secara cuma-cuma di tangan mereka.”

“Kapankah mereka kira-kira menyerang tempat ini, Bapak?” tanya Mahesa Wulung kepada pendekar tua itu.

“Itulah yang kami tidak ketahui dengan pasti,” ujar Prahara. “Mereka punya kebiasaan untuk menyerang lawannya secara tiba-tiba. Namun kami telah siap-siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Kedatangan Tuan Barong Makara dan kedua muridku itu sungguh di luar dugaan dan sangat kebetulan sekali dalam saat-saat seperti ini.”

Prahara berhenti sejenak.

Sementara itu tampaklah keakraban yang cepat terjalin antara laskar-laskar dari Bintan dan anak buah Mahesa Wulung dari Demak. Di sana-sini mereka pada asyik bercerita dan kadang-kadang diselingi dengan gelak ketawa.

“Aku kira ada baiknya kalau Tuan Barong Makara beristirahat. Bukankah jarak Demak sampai ke Pulau Bintan ini cukup jauh? Pastilah perjalanan tersebut sangat melelahkan,” ujar Pendekar Prahara dengan ramahnya.

“Terima kasih, Bapak. Memang perjalanan sejauh itu amat melelahkan,” Mahesa Wulung berkata lirih.

“Besok Tuan akan kami antar ke kota Bintan untuk menghadap Sultan Bintan. Beliaulah sebenarnya yang mengutus Hang Sakti untuk datang ke Demak.”

***

Tetapi malam itu Mahesa Wulung merasa gelisah sedang matanya sukar sekali untuk diajak tidur. Mengalami hal ini, Mahesa Wulung teringat akan semua kejadian-kejadian yang telah dialaminya. Sejak pertama ketika terlibat dalam pertempuran melawan gerombolan hitam Alas Roban di pantai utara Jawa, kemudian melawan bajak laut Pulau Ireng dari Karimun Jawa dan kini ia sekali lagi ditugaskan menumpas kawanan perompak laut Iblis Merah. Tugas ini bukanlah tugas yang boleh dipandang ringan begitu saja, karena ia sebagai ksatrya laut dari armada Demak telah sadar bahwa tugas ini, yang telah dipercayakan kepada dirinya oleh Kesultanan Demak, adalah atas permintaan Sultan Bintan dan benar- benar harus dilaksanakan dengan baik

Malam itu sungguh terasa dingin sekali, lebih-lebih angin bertiup cukup kencang. Daun kelapa terdengar bergesek-gesek seperti lagunya orang yang resah, seresah hati Mahesa Wulung atau Barong Makara yang malam itu berjalan mondar-mandir di kamarnya.

Hawa dingin yang bertiup di larut malam itu terasa tidak wajar, seolah-olah bukan dari alam, tapi dari suatu kekuatan lain yang luar biasa hebatnya. Barong Makara mula-mula juga merasakan dingin, maka cepat-cepat ia duduk bersila dan mengerahkan segenap kekuatan lahir batinnya untuk menolak rasa dingin tersebut. Dalam hati Mahesa Wulung dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum ketemu jawabannya. Jika orang sudah terserang rasa dingin ini, pastilah ia tertidur pulas.

“Hmm, menilik rasa dingin yang menyerang ini, pastilah dikerjakan oleh seseorang yang mempunyai kesaktian sirep cukup hebat. Tapi siapakah orangnya? Tunggulah, aku kini sudah hampir mengatasi pengaruh sirepnya.”

Mahesa Wulung yang duduk bersila dengan kedua sisi telapak tangan ditekuk lurus ke atas di depan dadanya tak lama kemudian berhasil mengatasi rasa dingin yang menusuk tulang itu. Dengan pelan dibukanya sedikit jendela kamarnya, dan terlihatlah bulan penuh mengembang di langit malam dengan indahnya.

Maka Mahesa Wulung terus menyelidiki. Mula-mula ke pohon-pohon kelapa, kemudian beralih ke tepi pantai sana. Beberapa perahu tampak berlabuh dengan tenangnya di bandar, termasuk kedua perahu jung yang dibawanya dari Demak. Tiba-tiba pandangan matanya tersampar ke sebelah tenggara, di mana tampak sebuah perahu terbujur di pasir terlindung oleh semak-semak pohon bakau. Beberapa orang tampak mengendap-endap dan mendekati rumah tempat ia berada. Sedang penjaga tergeletak tidur pulas di tanah karena termakan oleh sirep tadi.

Melihat hal ini, Mahesa Wulung cepat-cepat bersiaga di belakang pintu masuk. Malam makin bertambah larut dan sekali-sekali terdengar suara- suara binatang malam, sehingga suasana menjadi lebih tegang rasanya. Telinga Barong Makara yang tajam dapat menangkap bunyi telapak-telapak kaki yang menginjak tangga rumah. Bunyi itu berhenti tepat di muka pintu masuk dan tiba-tiba sebuah tangan menguak pintu pelan-pelan.

Ketika itu sebuah kepala melongok ke dalam rumah dan Mahesa Wulung yang telah bersiaga itu, tak mau menunggu lebih lama lagi. Cepat ia bertindak!

Betapa terkejutnya orang yang masuk itu ketika tangannya terasa ditarik oleh sepasang tangan yang kokoh dan belum lagi ia sempat memperbaiki dirinya, sebuah kepalan tangan sekeras batu telah menimpa rahang kirinya. Maka tak ampun lagi si penyerang jatuh terbanting ke lantai.

Semula dengan jatuhnya orang tadi, Mahesa Wulung merasa lega, namun tiba-tiba saja orang tersebut bangun dengan cekatan dan langsung kedua tangannya menyerang leher Mahesa Wulung dengan cekikan maut. Barong Makara tidak nyana sama sekali mendapat serangan demikian dan betapa terkejutnya, mendadak nafasnya menjadi sesak karena serangan tersebut. Hampir-hampir saja Mahesa Wulung kehilangan akal.

Maka cepat-cepat ia mengepal kedua tangannya menjadi satu, lalu dengan sekuat tenaganya ia menghempaskannya ke atas, sampai membentur kedua tangan lawannya dengan keras. Sebuah teriakan tertahan meluncur dari mulut lawannya dan cekikan maut itu terlepaslah.

Yang mengherankan Mahesa Wulung ialah daya tahan orang tersebut. Begitu serangannya merasa gagal, ia kembali berputar dan sebuah kakinya meluncur menyerang Mahesa Wulung di arah ulu hati. Kali ini Mahesa Wulung lebih waspada. Sebelum ujung kaki itu mengenai dadanya, ia berkelit ke samping dan hampir sukar ditangkap dengan mata, tahu-tahu si penyerang kena ditangkap kakinya, kemudian langsung ia mendorongnya ke arah pintu masuk. Disertai bunyi berserak dan jeritan, tubuh si penyerang yang didorong itu terhempas ke pintu yang ambrol berkeping-keping.

Mahesa Wulung segera memburu, tapi sampai di ambang pintu, sekali lagi ia melihat satu pemandangan yang sukar ditangkap kebenarannya. Tubuh lawannya yang terpelanting keluar rumah dan melayang jauh ke bawah, ketika berada di udara ia jungkir balik dan dengan kedua kakinya lebih dulu, ia mendarat dan berdiri tegak di tanah.

“Hee, keparat kau. Ayo lekas turun kalau kau memang laki-laki sejati. Jangan terus-terusan bertengger di atas seperti ayam saja,” terdengar lawannya menantang dari bawah sambil bertolak pinggang sangat sombongnya.

Benar-benar membuat telinga Mahesa Wulung merah mendengar tantangan orang tersebut. Maka tak ada jalan lain kecuali menerimanya. Sambil mengetrapkan aji Baju Rasa, Mahesa Wulung segera meloncat turun ke tanah dengan enaknya tepat di muka lawannya, dan di saat yang bersamaan, meloncatlah dari semak-semak gelap di sekelilingnya tidak kurang dari sepuluh orang bersenjata pedang yang segera mengurungnya serta membuka serangannya.

“Tahan! Kalian lihat saja dulu. Biar aku yang pertama-tama melawan dan merobohkannya. Setelah itu barulah kalian boleh mencincangnya lumat,” seru orang yang menjadi lawan utama Mahesa Wulung.

Di saat itu Mahesa Wulung agak merasa kaget, sebab ia merasa pernah mendengar suara lawannya. Dan ketika sinar purnama menerangi wajah orang itu, benar-benar ia merasa kaget. Lawan yang dihadapinya berdiri di mukanya, tidak lain adalah Marangsang yang dulu pernah bertemu di Karimun Jawa.

“Kau, Marangsang?” desis Barong Makara penuh kemarahan. “Kau yang dulu pengecut dan lari dari pertempuran melawan kami?”

“Keparat! Kau masih ingat aku, ya! Baiklah. Justru kedatanganku ke mari ini untuk mengganyangmu, setan!” seru Marangsang garang dan kini telah mulai membuka serangannya dengan sabetan sisi telapak tangannya.

Dalam hati Mahesa Wulung mengakui ketangguhan lawannya, tapi ini bukan berarti membikin kecil hatinya, malahan ia lebih hati-hati dan memperhitungkan langkah-langkah berikutnya dengan teliti.

Dalam sekejap mata saja, tempat itu sudah menjadi gelanggang pertempuran dahsyat antara dua jago silat yang terbilang gemblengan. Sementara mereka bertempur, beberapa anak buah Marangsang tetap di tempatnya dan berpencar merupakan lingkaran yang mengelilingi arena pertempuran tersebut. Masing- masing terpaku melihat lawannya dapat menandingi pemimpin mereka dengan baik.

Marangsang yang selama ini selalu menjadi kebanggaan mereka dan terkenal tak terkalahkan, kali ini mendapat lawan yang seimbang. Bahkan setelah bertempur lima belas jurus, tampaklah oleh mereka bahwa Marangsang mulai tergeser kedudukannya. Meski begitu, dasar ia seorang yang berkepala batu, maka segera ia melipat-gandakan serangannya yang datangnya bergulung-gulung laksana badai menghempas ke arah Mahesa Wulung.

Suatu kali sebuah tebasan sisi telapak tangan Marangsang mendatar dan membabat ke arah kepala lawannya. Mahesa Wulung cepat merendahkan tubuh dan kedua tangannya disilangkan melindungi kepala, siap untuk menyambut gempuran tangan Marangsang. Tapi rupa-rupanya gerakan tadi hanyalah tipuan belaka, sebab di saat Mahesa Wulung merendahkan tubuhnya, tiba-tiba kaki kanan Marangsang meluncur dan menggempur kaki kanan lawannya.

Gempuran itu sangat mengagetkan jadinya, sebab tubuh Mahesa Wulung jatuh cekakaran di tanah. Dan sebaliknya, Marangsang begitu kakinya menggempur kaki lawannya, ia mengeluarkan satu jeritan pilu yang panjang disusul maki-makian.

Kalau semula ia mengira bahwa gempuran tersebut akan mengakibatkan kaki lawannya remuk, tetapi kali ini lawannya masih segar bugar ketika terjatuh sedang kakinya tak cidera sedikitpun. Lebih heran lagi dengan kakinya sendiri, ketika bergempur itu seolah-olah kakinya menghantam satu tembok batu karang sehingga ia sambil menjerit cepat-cepat menarik kembali kakinya dan mundur menjauhi Mahesa Wulung dengan terpincang-pincang disertai mulutnya melolong-lolong kesakitan.

Kejadian yang terjadi demikian cepatnya itu, menyebabkan para anak buah Marangsang heran dan seperti terpukau. Mereka sesaat diam terpaku seperti arca.

Seorang di antaranya tersadar dan cepat melolos pedangnya untuk kemudian dilemparkannya ke arah Mahesa Wulung yang saat itu masih tergempuran tadi. Bagai sinar putih, pedang tadi melesat dan begitu seolah-olah hampir menancap di dada Mahesa Wulung, pendekar ini dengan satu gerakan yang sukar ditangkap mata cepat menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu kedua sisi telapak tangannya telah menjepit bagian tengah dari bilah pedang.

Dalam sekejap sambil bangkit, Mahesa Wulung telah menguasai pedang tadi yang sekaligus diputarnya laksana baling-baling dan menimbulkan pusaran angin panas. Melihat ini, ke sepuluh anak buah Marangsang segera menyerangnya bersama dari segenap jurusan. Mereka tetap dalam tata lingkaran dan sambil menyerang Mahesa Wulung, mereka bergerak berkeliling berputar-putar dengan tujuan untuk membingungkan lawannya.

Ternyata harapan mereka adalah sia-sia belaka. Malahan mata pedang Mahesa Wulung bergerak begitu cepat seperti ular yang mematuk-matuk, mengancam jiwa mereka. Suara gemerincing pedang yang beradu diseling dengus nafas dan teriakan-teriakan perang menggema di arena pertempuran saling bergantian, tak ubah irama kematian.

Rupanya salah seorang anak buah Marangsang sudah tak sabar lagi, maka ia lekas mengirim tebasan pedang ke arah perut Mahesa Wulung.

Trang! Tak!

Si penyerang melongo kecut karena pedangnya kena ditangkis oleh pedang Mahesa Wulung yang memagari perutnya dengan teguh. Belum lagi ia sempat memperbaiki diri, tiba-tiba....

Syraattt!!!

Seleret sinar pedang Mahesa Wulung menebas bahunya dan anak buah Marangsang ini menjerit ngeri lalu rebah ke tanah dengan luka terbelah pada bahunya yang menyemburkan darah segar!

Korban pertama telah jatuh. Biar begitu, kesembilan lawan Mahesa Wulung tak menjadi takut, karena bau darah bagi perompak-perompak laut itu seperti menggugah semangat mereka untuk bertempur lebih hebat lagi. Dan lama-lama Mahesa Wulung benar- benar kerepotan juga menghadapi mereka.

Marangsang masih mengawasi saja jalannya pertempuran. Jika rasa nyeri pada kakinya telah hilang, pastilah ia segera ikut mengurung Mahesa Wulung. Dengan sedikit terpincang-pincang, Marangsang melangkahkan ke arah titik pertempuran dengan menghunus pedangnya.

Marangsang di dalam hati mengakui kehebatan Mahesa Wulung yang telah mampu menghadapi kesepuluh anak buahnya yang terpilih dalam tugas ini. Bahkan kini seorang di antaranya telah menjadi korban sabetan pedang Mahesa Wulung sehingga Marangsang betul-betul penasaran melihat kejadian tadi.

“Edan! Dia telah berani membunuh seorang anak buahku,” geram Marangsang. “Sekali ini kau harus mampus di tanganku juga!” Sambil memutar pedangnya yang berpusaran seperti taufan, Marangsang kembali menyerang dengan ganas ke arah Mahesa Wulung.

Ternyata yang dikepung itu cukup lincah dan tubuh Mahesa Wulung seolah-olah menjadi sepuluh saking cepat gerakannya. Hanya saja Marangsang kini ikut mengeroyoknya, sehingga terasa bahwa lama- kelamaan Mahesa Wulung lebih banyak bersifat mempertahankan diri daripada menyerang para pengepungnya! Sayang sekali, dalam pertempuran ini Mahesa Wulung tidak sempat menggunakan senjata ampuhnya si cambuk sakti Naga Geni, karena masih tersimpan di dalam kamarnya. Dan lagi keadaan memang sangat mendesak pada waktu itu, serta serangan Marangsang tidak terduga-duga sama sekali datangnya.

Di saat pertempuran itu berjalan dengan hebatnya, sepasang mata di antara semak-semak di bawah pohon kelapa terus mengawasinya dan tiba-tiba saja mulut orang ini mengeluarkan tertawa kecil yang berderai persis suara ringkikan kuda! Suara itu bergetar di udara malam dan membuat mereka yang bertempur itu sangat terkejut, sehingga mau tak mau terpaksalah mereka berhenti sejenak.

Bersamaan derai ketawa aneh itu menjadi surut, bayangan hitam itu meleset dan dengan lincahnya melayang turun di tengah lingkaran pertempuran.

Hampir semua orang merasa terpesona dengan peristiwa itu, lebih-lebih dengan Mahesa Wulung sendiri. Sebab orang tadi yang ketawanya aneh tahu- tahu saja sudah berdiri di samping Mahesa Wulung.

“Eh, Bapak Pendekar Prahara!” seru Mahesa Wulung gembira bercampur kagum, melihat orang tua ini bisa terbebas dari pengaruh sirep Marangsang dan anak buahnya.

“Ha, ha, ha. Selamat malam, Anaknda Barong Makara. Aku tadi terganggu tidurku karena suara ribut-ribut di luar. Dan ternyata kalian tengah bermain-main di bawah sinar bulan. Maka izinkanlah aku ikut serta meramaikan permainanmu ini!” ujar Pendekar Prahara penuh kelakar.

“Setan tua!” umpat Marangsang jengkel dan marah. “Kau jangan turut campur dengan urusanku ini. Kami punya persoalan sendiri dengan Barong Makara dan harus kami selesaikan tanpa pihak lain yang campur tangan.”

“Hmm, kau boleh ngomong semaumu, Marangsang! Tapi kau harus ingat bahwa saat ini Barong Makara menjadi tamuku di sini. Dan setiap tuan rumah pasti akan mati-matian menjaga keselamatan tamunya,” kata Pendekar Prahara dengan tenangnya, sampai- sampai Marangsang dengan anak buahnya bergemertakan giginya saking mangkalnya. “Nah, kiranya kalian tidak keberatan, bukan, jika aku turut bermain-main?”

“Setan tua, aku tak keberatan kau ikut bermain- main dengan kami. Justru pedang-pedang kami ini sudah haus minum darah!” Marangsang berseru sambil memberi isyarat kepada ke sembilan anak buahnya untuk menyerang kedua lawannya.

Maka terjadilah untuk kedua kalinya di tempat ini pertempuran yang lebih hebat daripada yang semula. Kalau tadi hanya mampu menangkis serangan- serangan lawan, kini Mahesa Wulung ganti menyerang dan menghantam lawannya. Ini terjadi berkat kedatangan Pendekar Prahara yang tepat pada waktunya.

Meskipun ilmu   pedang   Mahesa   Wulung   tidak sehebat Pendekar Prahara, tapi keduanya bergerak saling mengisi, laksana dua ekor burung sikatan yang mengejar belalang.

Sambil bertempur itu Marangsang sibuk memeras akalnya, sebab jika ia bersama anak buahnya bersama-sama menyerang kedua musuhnya yang bergerak berpasangan itu, pastilah pertempuran ini tidak ada kesudahannya. Mungkin sampai pagi atau siang belum selesai. Dengan satu suitan nyaring dari mulutnya, sekali lagi Marangsang memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka yang sudah terlatih itu, dapat menangkap segera apa maksud isyarat pemimpinnya.

Kemudian Marangsang diikuti oleh ke empat anak buahnya bergerak ke samping untuk memberi tekanan-tekanan berat kepada Mahesa Wulung, sementara ke lima anak buahnya yang lain bersama- sama menyerang ke samping lain untuk menekan ke arah Pendekar Prahara. Dengan demikian, mau tidak mau akhirnya terpaksalah gerak berpasangan antara Barong Makara dengan Pendekar Prahara menjadi terpecah belah, sehingga pertempuran itu berubah menjadi dua lingkaran.

Pendekar Prahara memang jago pedang yang sudah terkenal namanya. Dan seperti namanya sendiri, ilmu pedangnya itu mampu bergerak seperti prahara yang dahsyat dan ia namakan ‘Seribu Badai’.

Ketika pertempuran itu mencapai jurus yang ke lima belas, pendekar tua itu dengan manisnya menggenjotkan tubuh ke udara bertepatan dengan ke lima pedang lawannya membacok berbareng.

Traaang!

Senjata-senjata mereka saling beradu karena sasarannya meleset ke atas. Hampir-hampir tak percaya mereka melihat pendekar tua itu dengan enaknya lolos dari serangan pedang mereka yang rapat dan ganas. Selagi pedang-pedang tadi beradu, kembali Pendekar Prahara melayang turun sambil menggerakkan pedangnya, dengan satu putaran secepat baling-baling sampai sukar ditangkap oleh pandangan mata kelima lawannya.

Sraaatt!

Terdengar suara tebasan pedang, kemudian disusul tiga jeritan ngeri sekeras-kerasnya, memenuhi udara malam yang dingin. Dua orang lawan pendekar tua itu masing-masing memegang dada dan yang satu menekan kepalanya, karena masing-masing terluka hebat menyemprotkan darah segar. Sementara itu seorang lagi menjerit-jerit karena tangan kanannya yang memegang pedang sebatas siku terbabat putus oleh pedang Pendekar Prahara dan benda itu terhempas ke tanah disertai darah memercik di sekitarnya.

Tiga orang lawan pendekar tadi tak lama kemudian telah tak bernyawa. Dua orang yang lain melihat hal ini serentak mundur ke belakang dengan ketakutan.

Demikian yang lain, ketika terdengar jeritan ngeri, Mahesa Wulung yang sibuk menghadapi ke lima lawannya sempat melirik ke arah lingkaran pertempuran antara Pendekar Prahara dengan anak buah Marangsang. Betapa kagetnya ketika ia melihat sabetan pedang pendekar tua itu sekaligus merobohkan tiga orang lawannya.

Demikian pula dengan Marangsang sendiri. Ia pun terkejut menyaksikan ilmu pedang pendekar tua itu. Selama ini ia hanya pernah menyaksikan ilmu pedang yang dimiliki oleh Lanun Sertung pemimpinnya sendiri yang mirip dengan ilmu pedang pendekar tua itu. Keduanya sama hebatnya.

Oleh sebab itu, ia pun sibuk menebak-nebak sendiri di dalam hatinya. Jangan-jangan Barong Makara yang kini dihadapinya ini, juga memiliki ilmu pedang yang sama dahsyatnya. Maka ia pun mulai bimbang hatinya.

Di saat itu tiba-tiba dilihatnya seleret sinar dan tahu-tahu pedang Mahesa Wulung meluncur menetak ke arah kepalanya. Untung ia sudah banyak pengalaman, meski dengan cekakaran ia cepat menangkis dengan pedangnya pula. Dua bunyi benturan senjata yang keras terdengar, kemudian disusul tubuh Marangsang terpental ke tanah, karena ia tak kuat menahan benturan pedang Mahesa Wulung yang dilambari oleh tenaga dalamnya.

Empat orang anak buahnya, melihat Marangsang jatuh ke tanah, cepat-cepat menyerbu Mahesa Wulung bersama-sama sebelum lawannya ini bertindak lebih jauh. Tapi Mahesa Wulung sekali lagi secepat kilat menyambar pedangnya dan dua jeritan terdengar berbareng dan seorang bajak laut terluka dadanya sedang yang seorang lagi rebah ke tanah dengan bahunya yang terpotong dan mengucurkan darah.

Melihat lima orang anak buahnya telah rubuh tak bernyawa dan seorang lagi luka-luka, maka hati Marangsang menjadi berdebar ketakutan. Lebih-lebih jika ia ingat dengan si Lanun Sertung pemimpinnya. Apakah kata orang yang terkenal kejam itu, bila ia ternyata gagal dalam melaksanakan tugasnya untuk menyingkirkan Barong Makara.

Marangsang akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pertempuran ini tidak bakal menguntungkan dirinya. Kalau seandainya tadi mereka hanya menghadapi Barong Makara seorang diri, pastilah keadaannya tidak seperti sekarang ini. Tapi kedatangan Pendekar Prahara benar-benar mengacaukan rencana!

Dengan demikian Marangsang tidak punya pilihan lain kecuali harus melarikan diri. Karena itu dengan suitan nyaring seperti siulan hantu yang bernada tinggi dan penuh tenaga dalam, Marangsang memberi isyarat kepada anak buahnya, sementara tangannya merauk tanah dan secepat kilat dilemparkannya ke arah kedua lawannya.

“Awas, Barong Makara! Tiarap!” teriak Pendekar Prahara melihat bahaya yang mendatang.

Begitu kedua pendekar itu meniarap ke tanah, terasalah di atas tubuh mereka butir-butir pasir pantai yang dilemparkan oleh Marangsang itu berdesing- desing bunyinya lewat dengan kencangnya. Untunglah mereka bertiarap dan luput dari serangan aneh tadi. Seandainya tidak, pastilah tubuh-tubuh mereka akan ditembusi oleh butir-butir pasir dan merasuk ke dalam hingga mereka menimbulkan kematian yang mengerikan.

Berbareng dengan serangannya itu, Marangsang diikuti oleh kelima anak buahnya segera melarikan diri ke arah perahu mereka. Semua berjalan dengan cepatnya. Mahesa Wulung dan Pendekar Prahara yang mengawasi cara berlari dari Marangsang dengan anak buahnya benar-benar kagum. Mereka berdua seperti kijang.

Seperti berkemauan yang sama, mereka berdua tidak berusaha untuk mengejar lawannya sebab masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh mereka, yaitu membebaskan orang-orang yang termakan sirep hebat dari Marangsang.

Bagai disiram oleh tetesan-tetesan embun malam yang dingin menyejukkan, terasalah hati Mahesa Wulung menjadi lega, setelah maut yang mengancam mereka telah berlalu. Kini ia bersama Pendekar Prahara sibuk menolong orang-orang dari pengaruh sirep.

***

2

BEBERAPA hari kemudian, sebuah rumah besar di kota Bintan tampaklah berpuluh-puluh prajurit menciptakan kudanya. Sementara itu, di depan tangga rumah, tampaklah Pendekar Prahara dan Barong Makara bergantian berjabat tangan dengan seorang berpakaian bangsawan.

“Nah, Tuan Barong Makara,” ujar bangsawan itu, “bawalah prajurit-prajuritku ini untuk menjaga bandar Tanjungpinang. Jika perlu Tuan boleh membawanya ke Selat Karimata untuk menumpas kawanan bajak laut Iblis Merah di sana!”

“Terima kasih, Pangeran Ahmad. Semoga keadaan tidak berkembang terlalu buruk dan mereka dapat kita tumpas dengan cepat,” kata Mahesa Wulung kemudian. “Jika mereka benar-benar akan menyerang bandar Tanjungpinang, pasti mereka kita hancurkan di tempat itu juga!”

“Hmm, yah, aku pun berharap demikian, Tuan Barong Makara. Dan Sultan Malaka menyampaikan salamnya untuk Anda!”

Belum lagi mereka melanjutkan bicaranya, tiba-tiba dari arah tenggara tampaklah debu-debu berkepul- kepul dan sesaat kemudian tampak seorang yang memacu kudanya ke arah mereka dengan wajah yang membayangkan kecemasan. Begitu menghentikan kudanya, penunggang kuda tersebut meloncat turun dan langsung mendapatkan Pendekar Prahara. Setelah memberi salam orang tersebut berkata dengan terengah-engah.

“Wah... Bapak Pendekar Prahara. Ketiwasan, Bapak. Mereka telah mengepung bandar Tanjungpinang dari lautan dan rupa-rupanya mereka telah bersiap-siap menyerbu ke darat!”

“Bandar Tanjungpinang terkepung?” Pendekar Prahara terkejut mendengar penuturan orang itu. “Siapa yang kau maksud dengan ‘mereka’ itu?”

“Mereka adalah orang-orang bajak laut Iblis Merah dari Selat Karimata!”

“Kalau demikian, kita harus selekasnya kembali ke Tanjungpinang serta membantu menghalau orang- orang Iblis Merah!” terdengar Mahesa Wulung memotong percakapan.

“Aku setuju dengan pendapatmu itu, Tuan Balung Makara,” sela Pangeran Ahmad. “Nah, saya kira kalian harus cepat-cepat menuju ke sana! Kami doakan semoga Tuhan menjauhkan kalian dari marabahaya.”

“Terima kasih, Pangeran!”

Tak lama kemudian setelah mereka meminta diri serta saling berjabat tangan, Mahesa Wulung, Pendekar Prahara serta puluhan prajurit dari Bintan dengan cepat memacu kudanya masing-masing ke arah tenggara sampai debu berkepulan naik ke angkasa.

Mereka benar-benar merasa cemas dan ingin lekas tiba di Tanjungpinang untuk membantu kawan-kawan mereka dalam pertempuran melawan perompak- perompak laut itu. Kuda Mahesa Wulung dilarikan dengan kencangnya di udara siang yang amat panas menyusuri sebuah teluk. Dan di belakangnya, kira-kira satu tombak jaraknya, Pendekar Prahara juga memacu kudanya seperti dikejar setan. Di belakangnya pula tampaklah prajurit-prajurit Bintan yang berkuda.

Kalau kawanan perompak laut Iblis Merah telah menyerang bandar itu, Mahesa Wulung sebenarnya merasa senang. Sebab memang itulah yang diharapkan. Mereka pasti akan lebih mudah dilawan di daratan daripada di laut. Hal ini sesuai dengan kemampuan prajurit-prajurit Bintan yang dibawanya. Mereka lebih sesuai dan terbiasa untuk pertempuran- pertempuran di darat.

Sambil berpacu itu, pikirannya jauh melayang ke bandar itu, yang hanya dijaga oleh lima puluh orang, termasuk Hang Sakti, Nurlela, Pandan Arum dan Jogoyudo. Seandainya gerombolan Iblis Merah itu mengerahkan semua pasukan, bandar Tanjungpinang bisa bertahan sampai malam nanti.

Mengingat ini semua, lebih-lebih dengan keselamatan sahabat-sahabatnya, Barong Makara menyeringai dan giginya gemeretah penuh dendam terhadap gerombolan Iblis Merah yang juga telah menewaskan ayahnya di Selat Karimata beberapa tahun yang silam.

Beberapa saat mereka berkuda menyusuri teluk dan ombak pun menggeru-geru memecah ke pantai, seolah-olah berteriak kepada mereka yang tengah berkuda ke arah selatan itu, “Cepat! Cepatlah memacu kudamu! Teman-temanmu di Tanjungpinang memerlukan bantuanmu! Jika kalian terlambat pastilah mereka dibinasakan oleh orang-orang Iblis Merah itu.”

Kini mereka telah mendekati daerah Tanjungpinang. Dari kejauhan tampaklah asap hitam berkepul menggulung-gulung ke angkasa diseling dentuman meriam terdengar sayup-sayup ke telinga mereka. “Kebakaran!” seru Pendekar Prahara kepada

Mahesa Wulung yang kini telah berkuda berdampingan. “Kita harus cepat-cepat tiba di sana, Barong Makara!”

“Ya, mari kita bersiap-siap memasuki arena pertempuran!” teriak Mahesa Wulung keras-keras.

Kemudian tangan kanannya diacungkan ke atas dan serentak prajurit Bintan bersiaga. Yang berpedang segera menghunus senjata-senjata mereka dari sarungnya, dan yang bertombak pun mempersiapkan tombaknya pula. Setelah Mahesa Wulung melihat prajurit-prajurit telah bersiap, kemudian tangan kanannya yang mengacung ke atas segera memberi isyarat. Antara ibu jari dan jari telunjuknya membentuk setengah lingkaran dan para prajurit itu segera tahu akan tugasnya.

Mereka serentak bergerak dan membentuk barisan berkuda setengah lingkaran. Pendekar Prahara segera pula berpacu ke arah ujung yang kiri dan memimpin sayap kiri dari barisan. Sedang Barong Makara memimpin sayap kanan.

Berbareng dengan aba-aba “Serbu!!!”, maka pasukan berkuda dengan bentuk ‘tapal kuda’ itu cepat berpacu ke arah bandar Tanjungpinang, dan mereka berbareng meneriakkan semangat perang, gegap gempita suaranya.

Sungguh tepat kedatangan pasukan itu, sebab pertempuran di bandar itu sudah berlangsung beberapa saat. Mereka gerombolan Iblis Merah itu sudah mendarat dan kini mereka bertempur di pantai dengan ganasnya, seolah-olah mereka seperti kerasukan setan.

Beberapa    orang     prajurit     penjaga     bandar Tanjungpinang telah tewas berkaparan di ujung senjata para bajak laut itu. Di tepi pantai terlihatlah lingkaran-lingkaran pertempuran kecil. Hang Sakti terlibat dalam pertempuran melawan seorang yang bertubuh jangkung berkumis dan berjenggot kaku dan di tangan kirinya terlihatlah gambar hiasan seekor naga.

“Hee, keparat. Ayo lekas menyerah kau, setan!” teriak orang jangkung itu yang tidak lain adalah Lanun Sertung kepala gerombolan Iblis Merah sendiri.

Ia memutar pedangnya laksana baling-baling merupakan sebuah lingkaran putih yang mengurung tubuh Hang Sakti dengan rapatnya.

“Ha, ha, ha, inilah saatmu yang terakhir, Hang Sakti. Tubuhmu akan menjadi potongan-potongan kecil. Jika kau bersedia menyerah dan meminta ampun, kau akan tetap hidup!”

Walau bagaimanapun keadaannya, bagi seorang pendekar seperti Hang Sakti yang tak kenal menyerah itu, menjadi tersinggung juga mendengar kata-kata Lanun Sertung yang penuh kesombongan itu. Maka iapun memperhebat permainan kerisnya untuk menangkis serangan-serangan Lanun Sertung.

“Persetan! Kaulah yang harus berlutut di kakiku,” teriak Hang Sakti dengan penuh kemarahan.

Dalam bertempur itu, sesekali mata Hang Sakti melirik ke arah lingkaran pertempuran yang lain. Ia sekali ini benar-benar mencemaskan nasib adiknya, Nurlela, walaupun gadis ini menguasai lima bagian dari ilmu pedang ‘Seribu Badai’ ciptaan Pendekar Prahara yang dahsyat itu. Ia pun sadar gerombolan Iblis Merah ini sangat kejam. Tetapi ketika lirikan matanya sampai ke tempat Nurlela bertempur, iapun menarik nafas lega, sebab adiknya bersama Pandan Arum bergerak berpasangan dalam bertempur melawan keroyokan orang-orang Iblis Merah. Keduanya sangat lincah. Kalau Nurlela itu memainkan pedangnya yang bergerak dan bergetar sangat cepat, Pandan Arum lain lagi. Ia memakai senjata selendang jingga pemberian bibinya dari lereng Gunung Muria yang mampu menyerang setiap lawannya dengan ilmunya ‘Sabet Alun’.

Hampir tak seorang pun yang mampu mendekati mereka berdua bila senjata di tangan mereka sudah beraksi, dan beberapa orang-orang Iblis Merah telah binasa di ujung senjata-senjata tadi, ketika mencoba mengepung mereka.

Tak jauh dari dua pendekar putri itu, Jogoyudo sibuk melayani Marangsang. Keduanya merupakan lawan yang seimbang dan bertempur dengan serunya. Kali ini putaran pedang Marangsang yang dahsyat mendapat lawan sambaran-sambaran keris Jogoyudo lincah seperti ular mematuk-matuk.

Sayap kiri pasukan berkuda yang dipimpin oleh Pendekar Prahara sudah melingkar sampai ke tepi pantai dan sambil berusaha mengepung orang-orang Iblis Merah, orang-orang berkuda tadi menyerang lawannya dengan tombak-tombaknya. Pertempuran bertambah hebat dan beberapa saat kemudian suasana menjadi berubah sama sekali. Kalau tadi mula-mula kawanan bajak laut Iblis Merah sudah hampir menguasai bandar Tanjungpinang, sekarang dengan kedatangan pasukan-pasukan dari Bintan orang-orang Iblis Merah benar-benar terdesak dan mereka tidak sedikit yang telah binasa.

Dengan mengumpat-umpat Lanun Sertung melihat anak buahnya porak-poranda dan banyak yang binasa, maka marahnya semakin menyala sehingga ia ingin cepat membinasakan lawannya. Hang Sakti dalam hati mengakui kehebatan Lanun Sertung yang telah mampu bertempur sampai berjalan puluhan jurus tanpa kelihatan lelah ataupun kehabisan nafas. Hal inilah merupakan kelebihan yang ada pada Lanun Sertung, sedang Hang Sakti sendiri lama-kelamaan tenaganya menjadi berkurang dan keringat menetes dari dahinya.

Melihat keadaan lawannya itu, Lanun Sertung makin mempergencar serangannya. Pedangnya sampai menimbulkan angin pusaran.

“Hua, ha, ha, ha, Hang Sakti, inilah saat ajalmu di tanganku. Lihatlah sinar matahari untuk penghabisan kalinya!” Lanun Sertung berteriak sambil menetakkan pedangnya disertai curahan tenaga dalam yang luar biasa. Pedangnya berkelebat dan ketika hampir membelah kepala Hang Sakti, pendekar muda ini menggerakkan kerisnya untuk menangkis pedang Lanun Sertung.

Traak!!!

Dua benturan senjata beradu dan kemudian disusul tubuh Hang Sakti terhempas ke tanah. Kerisnya terlempar lepas dari tangannya. Hang Sakti segera bangkit karena badannya lemas tak berdaya, bagai dilolosi urat dan tulang-tulangnya.

Oleh sebab itu ia kemudian memasrahkan hidup matinya di tangan Tuhan, karena dilihatnya Lanun Sertung mendekatinya sambil mengangkat pedangnya siap mencabut nyawanya.

“Nah, apa kataku tadi! Kau harus mati di tanganku ini, Hang Sakti!”

Sambil menyeringai puas, kepala bajak laut ini segera membacokkan pedangnya ke arah dada Hang Sakti. Pendekar ini memejamkan mata siap menanti maut yang sebentar lagi akan merenggutnya. Tapi belum lagi pedang itu menyentuh dadanya, tiba-tiba terdengar tiga kali ledakan cambuk yang segera membentur sisi pedang Lanun Sertung sampai tergetar! Pemimpin bajak ini kaget dan ia cepat menoleh ke samping untuk melihat orangnya yang telah berani menggagalkan bacokan pedangnya.

“Barong Makara!” desis Lanun Sertung setengah kaget melihat seorang berkedok kain penutup hidung dan mulutnya yang bergambar Makara kuning emas. Di tangannya tergenggam sebatang cambuk menyala biru kehijauan. “Keparat! Kau berani menghalangi maksudku, ha?! Marilah kalau kamu ingin mampus berbareng! Belum pernah yang bisa lolos dari serangan ilmu pedangku. ‘Mata Iblis ini!’”

Mendengar nama itu Mahesa Wulung terpaksa hatinya tergetar, sebab ilmu pedang itu lebih dahsyat dari ilmu pedang Pendekar Prahara, dan menurut cerita, ilmu itu dipelajari dari kitab-kitab pusaka ilmu gaib yang tersimpan di Candi Durga.

Biar nama ilmu tadi mengerikan tapi bagi Mahesa Wulung tidak menjadikan kendor semangatnya. Bahkan ia bertekad untuk melenyapkan setiap ilmu yang diselewengkan untuk kejahatan!

“Lanun Sertung, mari, aku siap meladeni permainan pedang terkutuk milikmu itu!” seru Mahesa Wulung.

Kedua pendekar itu saling berpandangan sambil menyiapkan masing-masing senjatanya, dan sesaat kemudian dengan teriakan-teriakan perang kedua pendekar jagoan itu terlibat dalam satu pertempuran hebat. Pedang di tangan Lanun Sertung itu bergerak amat lincahnya bagaikan halilintar menyambar- nyambar, persis gerak dewa maut. Kemana saja Mahesa Wulung bergerak, pedang itu selalu mengejar dan mengancamnya seolah-olah mempunyai mata. Dan satu hal yang membuat hati Barong Makara tergetar ialah cara Lanun Sertung memainkan pedang itu. Antara pedang dan tangan yang menggenggamnya seperti terjalin menjadi satu, bahkan pedang tadi seolah-olah merupakan bagian dari tangan Lanun Sertung. Itulah kehebatan ilmu pedang ‘Mata Iblis’.

Menghadapi lawannya yang berilmu hebat itu, Mahesa Wulung tidak kepalang tanggung dalam melawannya. Cambuk pusakanya diputar dan begitu ketat memagari tubuhnya dari ancaman ilmu pedang ‘Mata Iblis’. Cambuk Naga Geni mendapat lawan seimbang kali ini.

Yang mengagumkan Mahesa Wulung ialah pedang si Lanun Sertung yang seolah-olah mempunyai mata dan setiap kali cambuknya mencoba melibat pedang itu, dengan mudah Lanun Sertung selalu berhasil mengelakkannya. Mahesa Wulung cepat berpikir untuk mencari siasat yang cemerlang guna mengalahkan musuhnya yang ganas itu. Cepat tangan kirinya mencabut sebuah pisau kecil dari ikat pinggangnya yang sekaligus dilemparkan ke arah dada Lanun Sertung. Tentu saja kepala bajak laut ini tak menyangka dengan serangan yang amat tiba-tiba itu.

Begitu pisau itu hampir menyambar dadanya, Lanun Sertung menyabetkan pedangnya setengah lingkaran ke muka dan, “Trang”, bunyi berdenting dari dua senjata beradu. Pisau Mahesa Wulung beradu dengan pedang Lanun Sertung sampai terpental ke udara, kemudian tercampak ke tanah.

Tapi di saat itu cambuk Naga Geni meluncur dan langsung melibat pedang Lanun Sertung dengan eratnya sampai kepala bajak ini kaget setengah mati.

Kini kedua   pendekar   itu   saling   tarik-menarik dengan senjatanya yang telah saling melibat dan melekat sangat eratnya. Mereka sedang mengadu tenaga dalamnya yang tersalur lewat senjatanya itu.

Butir-butir peluh mengalir dari dahi Lanun Sertung yang menitik-nitik seperti gerimis, ketika tangan yang memegang pedang terasa panas seperti memegang bara api. Tetapi Mahesa Wulung pun mengucurkan keringat pula, manakala tangannya yang menggenggam cambuk Naga Geni menjadi kesemutan dan bergetar. Hampir-hampir saja, jika ia tidak mengeluarkan segenap tenaganya, pastilah cambuknya akan tercabut lepas dari jari-jarinya. Begitulah, dengan susah payah akhirnya iapun berhasil mengatasi rasa kesemutan di tangannya.

Sementara itu pertempuran menjadi sedikit mereda karena sebagian anak buah Lanun Sertung pada berebahan tak bernyawa oleh senjata-senjata prajurit Bintan. Sedang sebagian lagi sudah mulai menarik diri dari medan pertempuran dan mendekati perahu- perahu mereka.

Marangsang yang juga berhasil melepaskan diri dari lingkaran pertempuran melawan Jogoyudo kini memimpin mereka mundur ke arah pantai. Melihat lawannya lari itu, Jogoyudo diikuti oleh beberapa prajurit segera mengejar ke arah Marangsang.

Maka terjadilah kejar-mengejar di tepi pantai yang sebentar-sebentar diseling oleh pertempuran- pertempuran pendek, untuk kemudian mereka saling berkejaran kembali..

Ketika kedua rombongan itu melewati lingkaran pertempuran antara Mahesa Wulung melawan Lanun Sertung, tiba-tiba saja pemimpin bajak laut ini segera menghentakkan pedangnya sekeras-kerasnya sampai berhasil lepas dari belitan cambuk Mahesa Wulung. Gerakan Lanun Sertung sungguh lincah dan cepat. Begitu pedangnya terbebas dari cambuk lawannya, ia meloncat ke belakang beberapa langkah dan kemudian ia membalik serta berlari meninggalkan Mahesa Wulung yang setengah keheranan melihat gerak lincah kepala bajak laut itu.

“Ayo, Marangsang. Cepat lari menuju ke perahu. Kita harus meninggalkan tempat ini!” seru Lanun Sertung ketika ia tiba di rombongan anak buahnya.

“Mereka masih mengejar! Apakah kita tidak perlu melawannya?” ujar Marangsang.

“Jangan. Kita terus berlari saja. Biarkan mereka mengejar. Nanti akan kubereskan dengan jarum bisaku,” kata Lanun Sertung sambil berlari dan matanya sebentar-sebentar melirik ke arah para pengejarnya.

“Hee, pengecut! Jangan lari begitu hina. Ayo bertempur lagi!” teriak Mahesa Wulung yang kini ikut mengejar bajak laut itu.

“Keparat, kau masih saja berani menghalangi maksudku. Nah, terimalah ini kalau kamu semua ingin mampus!” Lanun Sertung berpaling dan tangan kanannya begitu cepat mengeluarkan jarum bisa dari ikat pinggangnya. Dengan satu gerakan hebat tangannya melontarkan senjata rahasianya dibarengi teriakan keras menggetarkan udara pantai.

“Awas, Jogoyudo! Itu jarum bisa! Tiarap!” teriak peringatan Mahesa Wulung sungguh mengagetkan, sebab Jogoyudo dan para prajurit itu tidak melihat puluhan jarum berbisa yang beterbangan di udara dan menuju ke arah mereka seperti air hujan derasnya.

Untungnya Jogoyudo dan beberapa prajurit sempat bertiarap, sedang lima orang lagi yang terlambat akhirnya jatuh terjungkal dengan beberapa jarum berbisa bersarang di tubuhnya. Mereka itu terpaksa bertiarap agak lama sebab Lanun Sertung tidak hanya sekali melempar jarum berbisanya, tetapi diulanginya beberapa gelombang sampai bajak laut itu cukup mencapai perahu mereka kembali.

Ketika serangan jarum bisa itu reda, mereka bermaksud mengejar kembali para bajak itu, sayangnya mereka terlambat, sebab Lanun Sertung dengan anak buahnya telah berlayar jauh dari pantai. Sesaat kemudian kedua perahu bajak laut yang berhasil lari itu semakin jauh dan akhirnya lenyap diiringi derai ketawa Lanun Sertung yang menyerikan telinga.

Mahesa Wulung, Jogoyudo dan enam orang prajurit yang tinggal, cepat kembali ke daerah bekas pertempuran yang kini telah sepi, kecuali beberapa orang yang luka-luka tengah merintih dan di sana-sini tergeletak mayat-mayat. Ketika Mahesa Wulung tiba di tempat itu, Pendekar Prahara, Hang Sakti, Nurlela dan Pandan Arum segera menyambutnya.

“Mereka berhasil melarikan diri dengan perahunya,” ujar Mahesa Wulung. “Dan lima orang prajurit-prajurit kita menjadi korban senjata rahasia mereka, ketika mengejarnya.”

“Senjata rahasia?” seru Pendekar Prahara kaget. “Ya, Lanun Sertunglah yang menyebar jarum-jarum

berbisa, sehingga kelima orang tadi yang terlambat bertiarap telah menjadi korbannya,” kata Mahesa Wulung pelan. “Tapi biarlah sementara mereka melarikan diri ke sarang mereka di Selat Karimata. Segera kita akan mengejarnya.”

Mahesa Wulung berhenti berkata karena matanya kini sibuk melihat bekas medan pertempuran. Beberapa prajurit tampak berkumpul dan pemimpin- pemimpin kelompok menghitung anak buahnya, untuk mengetahui berapa yang meninggal dan berapa yang masih hidup. Sementara itu beberapa orang lainnya mendapat tugas khusus untuk merawat dan mengobati kawan-kawan mereka yang terluka.

Di sebelah timur, tampaklah anggota-anggota bajak laut yang tertawan hidup-hidup, sedang di antara mereka yang terluka juga mendapat perawatan seperlunya. Kalau bagi orang-orang bajak laut hal ini dianggap janggal, tetapi bagi prajurit-prajurit Bintan sikap ini sudah biasa. Musuh pun kalau terluka harus ditolong meskipun toh akhirnya mereka nanti dihukum atas kejahatan-kejahatannya.

***

Matahari akhirnya pun menjadi semakin condong ke barat dan sinarnya pun tidak begitu panas lagi. Angin pantai berdesir lembut menggoyangkan ujung daun-daun nyiur dan wajah-wajah mereka yang masih pada berada di pantai. Di bandar itu kini telah disiapkan sebuah perahu jung oleh para awak kapalnya. Di dekat tangga naik ke perahu itu banyak sekali orang-orang bergerombol.

Para perwira, prajurit dan penduduk bandar Tanjungpinang tampak berkumpul di situ yang akan menyaksikan keberangkatan Mahesa Wulung meninggalkan pulau itu.

“Tuan Pendekar Barong Makara,” ujar Prahara dengan tenangnya. “Sebagai wakil dari penduduk bandar Tanjungpinang dan segenap prajurit Bintan, kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya atas bantuan Tuan Barong Makara dalam mengusir para bajak laut dari bandar ini.”

Mendengar   kata-kata    itu    diam-diam    Mahesa Wulung atau yang dipanggil pula sebagai Barong Makara menjadi terharu, lebih-lebih semua itu diucapkan oleh Pendekar Prahara dengan tulus ikhlas.

“Kami semua tidak dapat membalas jasa-jasa Tuan yang begitu besar. Maka sekedar sebagai tanda mata dari kami, terimalah ini sebilah pedang.”

Mahesa Wulung melangkah ke depan dan dengan tangan bergetar luapan rasa harunya, ia menerima pedang itu dari Pendekar Prahara. Setelah itu iapun menjabat tangan pendekar tua itu, yang mana segera pula menyambutnya dengan erat, seolah-olah mereka segan untuk berpisah.

Keasyikan mereka terpecah oleh sebuah isak tangis dan serentak keduanya menoleh ke arah suara itu. Ternyata Pandan Arum dan Nurlela saling berpelukan diserta isak tangis mengharukan siapa saja yang menyaksikan. Betapa tidak, kalau dua dara yang telah bersahabat erat, bahkan mereka sudah saling menganggap sebagai saudara sekandung dan beberapa kali mengalami suka duka bersama-sama bertempur melawan bajak-bajak laut, menentang kejahatan, dan kini harus berpisah. Entah untuk berapa lama, mungkin juga untuk selamanya. Jarak Pulau Bintan dengan Demak bukan jarak yang pendek yang cukup sehari dua hari dicapainya.

Kemudian setelah Mahesa Wulung menerima pedang itu dan menggantungkan pada ikat pinggangnya, iapun segera menjabat tangan Hang Sakti untuk meminta diri. Jogoyudo pun tak ketinggalan untuk berpamit kepada mereka, dan terakhir adalah Egrang.

Sebelum rombongan Mahesa Wulung naik ke perahu, keluarlah dari kelompok prajurit-prajurit Bintan seorang yang berperawakan kekar dan berkumis lebat. Ia maju ke depan didampingi oleh Pendekar Prahara ke arah Mahesa Wulung dan rombongannya berdiri.

“Tuan Barong Makara, terimalah salah seorang prajurit anak buahku ini dalam tugas Tuan untuk mengejar Lanun Sertung. Ia akan berjuang di sisi tuan sebagai wakil dari prajurit Bintan,” Pendekar Prahara berkata sambil memperkenalkan orang tersebut.

Ia bernama Sibahar.

Sungguh tepat nama orang ini, sebab pada pergelangan tangan kanannya ia mengenakan sebuah gelang besar dari akar bahari. Dengan senang hati Mahesa Wulung menerima prajurit ini sebagai anak buahnya sendiri.

Sesaat kemudian, setelah matahari semakin mendekati cakrawala barat dan sinarnya semakin pudar bertolaklah perahu jung itu meninggalkan bandar Tanjungpinang, diiringi oleh lambaian tangan serta sorak-sorai dari orang-orang yang memagari bandar itu sebagai ucapan selamat jalan.

Perahu itu semakin jauh dan berlayar ke arah tenggara dengan lajunya mengarungi laut yang telah dicekam oleh kegelapan senja.

*** 3

KEPULAUAN Karimata dan Selat Karimata terletak di sebelah barat daya Pulau Kalimantan yang besar dan mahaluas. Dari sekian pulau-pulau yang berserakan itu hanya dua buah pulau yang terbilang besar, yaitu Pulau Karimata sendiri dan di sebelah barat dayanya lagi Pulau Serutu. Daerah inilah yang telah diperkirakan menjadi sarang dari pusat gerombolan bajak laut Iblis Merah oleh Mahesa Wulung, sebab di daerah perairan inilah sering terjadi pencegatan perahu niaga oleh perompak-perompak laut.

Juga belasan tahun yang silam, iring-iringan perahu armada Demak sehabis menyerang Portugis di Malaka telah diganggu oleh mereka di selat ini.

Di suatu senja, di sebuah bandar kecil di Pulau Karimata berlabuhlah sebuah jung bendera dengan gambar lingkaran cakra kuning emas dan berwarna dasar biru hitam.

Lingkaran cakra menunjukkan ke delapan arah mata angin itu menandakan bahwa perahu jung itu berani menjelajah ke segenap penjuru angin dan sekaligus orang akan tahu bahwa perahu itu adalah perahu seorang petualang samudra. Tetapi di balik rahasia arti sesungguhnya dari gambar lingkaran cakra itu, sebenarnya adalah sebagai lambang dari seorang perwira laut armada Demak.

Di sebuah warung di bandar itu tampaklah beberapa gerombol orang yang tengah minum-minum dan ada juga yang berjudi. Di tengah kesibukan mereka itu, masuklah ke dalam warung seorang yang berperawakan tegap kekar  berkumis kecil di bawah hidungnya yang membuat wajah orang itu lebih keren. Ia berjalan seenaknya dan duduk di sebuah bangku panjang. Dari tingkah lakunya tampaklah jika ia orang baru di pulau ini dan melihat tamu itu, seorang laki- laki tua pelayan warung ini segera mendekatinya.

“Minumannya, Tuan?” sapa pelayan tua itu ramah. “Eeh, kasih kopi saja, Pak. Dan juga beberapa iris

jadah ketan,” ujar orang baru yang berkumis kecil itu sambil matanya menyusuri segenap ruangan warung.

Kemudian secara tiba-tiba pandangan mata orang baru itu tertambat ke pojok warung, di mana segerombolan orang lagi ramai-ramainya berjudi. Rupanya ia mengenal seorang di antaranya, terutama kepada seorang yang bertubuh pendek tapi kokoh.

“Hmm, itu si Dungkul anak buahku. Ia masih juga senang berjudi,”

Orang baru itu bergumam sendiri dan matanya tajam menatap si Dungkul, penjudi yang bertubuh pendek itu. Orang ini seperti terkena tenaga gaib, tiba- tiba iapun melayangkan pandangan matanya ke arah orang baru tadi dan ia terbelalak ketakutan.

Tetapi agaknya orang ini pandai menguasai perasaannya sebab iapun cepat-cepat berpura-pura tidak melihatnya.

Beberapa saat kemudian iapun kembali tenggelam dalam bantingan-bantingan kartu judinya, sambil sebentar-sebentar ia mengisi mulutnya dengan minuman tuak yang harum.

“Persetan dengan kedatangannya. Rupanya ia membawa sial bagiku. Hmm, berkali-kali kartuku mati semenjak ia datang di warung ini. Ia telah berulang- ulang melarangku untuk berjudi, tapi toh aku orang yang merdeka dan orang yang merdeka harus bebas memenuhi kegemarannya!” Begitulah kepala orang ini dipenuhi oleh pikiran- pikiran yang saling bergelut sendiri dan membuatnya semakin bertambah pusing. Tambahan lagi ia terus- terusan kalah dalam permainan judinya. Juga pengaruh tuak yang telah sekian banyak diminumnya itu rupanya telah bekerja. Sambil setengah mabuk ia menggoncang bahu teman sebelahnya.

“Hehhh, sini aku pinjam uangnya. Nanti aku ganti kalau aku menang.”

Teman sebelahnya yang berwajah bengis itu menyeringai. “Husss, ngomong seenaknya! Kalau kau kalah lagi apa yang akan kau bayarkan sebagai gantinya?!”

“Aku tak punya apa-apa lagi, kawan, kecuali sebuah keterangan yang tak ternilai harganya. Mungkin ini berguna buatmu, kawan.”

Si wajah bengis itu agaknya mulai tertarik oleh omongan si Dungkul, sebab ia menyodorkan setumpuk mata uang logam ke muka Dungkul.

“Nah ini cukup banyak, bukan? Sekarang cepat katakan padaku keterangan yang kau bilang menarik itu!”

Si Dungkul mendekatkan mulutnya ke telinga orang ini dan berbisik pelan.

“Sttt, kau lihat orang yang duduk sendirian di tepi sana?”

“Ya, aku lihat sejak tadi. Tapi mengapa dengan dia?” si wajah bengis keheranan.

“Kau belum tahu? Dialah Pendekar Barong Makara dari Demak yang menyamarkan diri sebagai petualang samudra. Ia sedang mencari Lanun Sertung untuk menangkapnya!”

“Gila kau!” hampir setengah berteriak si wajah bengis mendengar penuturan Dungkul itu. “Awas, jangan mencoba menipuku, kawan. Nyawamu bisa hilang nanti.”

“Sungguh mati aku berkata yang sebenarnya!” Dungkul agak takut juga mendengar ancaman itu.

“Kalau memang betul, kau nanti dapat tambahan uang lagi. Tapi aku ingin dulu mencoba orang itu.”

Si wajah bengis pergi ke pemilik warung untuk meminta tambahan minuman tuak dan secara cepat matanya mengerdip ke pemilik warung mengisyaratkan sesuatu.

Pemilik warung sambil menyiapkan semangkuk tuak harum cepat ia menuangkan sebungkus tepung putih ke dalam mangkuk minuman itu. Kemudian disertai senyuman penuh arti ia menyodorkan mangkuk itu.

Si wajah bengis sekali lagi meringis dan melirik ke arah orang baru itu. Sambil menimang-nimang dua mata logam bulat itu ia membelakangi meja kayu pemilik warung dan sejenak ia berdiri menghadap ke arah orang baru itu, seolah-olah sedang menaksir jarak antara mereka.

Tiba-tiba ia mengibaskan tangan kanannya dan seleret sinar putih menyambar ke arah orang baru itu yang tengah asyik menikmati kopi panasnya! Orang- orang di dalam warung serentak terpekik menyaksikan peristiwa itu, sebab mereka mengenal siapa Garang Segara, pendekar tanpa tandingan kaki tangan gerombolan bajak laut Iblis Merah.

Sinar yang menyambar itu seolah-olah sudah hampir mengenai kepala orang baru tadi, tapi dengan tenangnya ia memiringkan kepala ke kanan dan sinar tadi menabrak tiang kayu.

Traak!

Serempak orang-orang melongo melihat pada tiang kayu itu. Sebuah mata uang logam telah menancap hampir separo lebih ke dalam kayu! Orang baru yang tidak menyangka hal ini juga merasa kagum dengan ilmu kepandaian si wajah bengis.

“Sungguh hebat tenaga dalam orang ini, untungnya aku masih sempat menghindari permainan mata uangnya.” Orang baru berkumis kecil ini, bersukur dalam hatinya dan sebutir keringat menetes dari dahinya.

“Ha, ha, ha. Hebat! kau memang hebat orang baru! Kalau mata uangku yang pertama dapat kau elakkan, sekarang cobalah dengan yang kedua ini!” seru Garang Segara sambil menimang-nimang mata uang logam yang kedua.

“Jangan, Kisanak. Jangan kau ulangi permainanmu itu. Aku kuatir yang kedua ini akan benar-benar mengenaiku!”

Si orang baru ini tidak lain adalah Mahesa Wulung berkata sambil memperlihatkan wajah yang tampaknya takut setengah ketololan itu, sehingga membikin Garang Segara semakin kesenangan.

“Ha, ha, ha, ha, kau takut, orang baru? Kalau kau berani menghindarkan lemparan mata uangku itu berarti kau sudah langsung menantangku!”

“Tidak, Kisanak. Itu tadi adalah secara kebetulan sekali aku terhindar dari lemparan mata uangmu dan aku tak bermaksud sama sekali menantangmu!”

“Persetan! Aku tak perduli dengan ocehanmu itu. Kalau mata uangku yang pertama sudah meleset mengenaimu, maka setidak-tidaknya kau pasti mempunyai sedikit ilmu ketangkasan juga. Nah, sekarang bersiap-siaplah untuk menyambut mata uangku yang ke dua ini.”

Selesai dengan kata-katanya itu, sekali lagi Garang Segara mengibaskan tangannya dan seleret sinar putih sekali lagi melayang ke arah Mahesa Wulung.

Tetapi untuk yang kedua ini tampaknya Mahesa Wulung tidak menunjukkan tanda-tanda mengelakkan sinar yang menyambar ke arahnya. Ia hanya menggerakkan tangannya ke arah pinggang dan hanya terdengar suara benda dicabut, “sraat!”, kemudian disusul bunyi benda beradu berbareng dengan terpotongnya sinar yang menyambar itu oleh sebuah sinar yang lain.

Semuanya itu terjadi dalam waktu yang pendek sehingga orang-orang di dalam warung itu termasuk Garang Segara sendiri tercengang heran melihat sinar berputar dari tangan Mahesa Wulung.

Bersamaan bunyi berdenting, semua orang melihat ke arah lantai dan terlihatlah di atas lantai itu, uang logam milik Garang Segara, tetapi kini terbelah menjadi dua bagian seolah-olah dipotong oleh benda yang tajam! Dari arah lantai itu, semua pandangan mata kemudian beralih ke arah Mahesa Wulung yang dengan cepat tetapi tenang memasukkan kembali pedang di tangannya ke dalam sarungnya kembali.

“Huh, untunglah aku tidak membawa cambuk pusakaku si Naga Geni dalam penyamaranku ini. Jika tidak aku tinggal di perahu, pastilah setiap orang akan segera mengenalku sebagai Barong Makara!”

Mata Garang Segara hampir-hampir tak percaya melihat mata uang logamnya terbelah menjadi dua oleh sabetan pedang Mahesa Wulung.

“Harap dimaafkan, Kisanak. Itu tadi salah satu permainan pedangku yang terburuk. Mudah-mudahan ia tidak mengejutkanmu!” Mahesa Wulung berkata pelan sambil menyeruput air kopinya kemudian disusul tangannya mencomot juadah untuk dimakannya.

Garang Segara menyembunyikan kekagetannya dan ia segera mendekati Mahesa Wulung sambil membawa semangkuk tuak yang tadi telah dipesannya dari pemilik warung itu.

“Maaf, Tuan. Semuanya tadi adalah permainan untuk sekedar menghibur orang-orang pengunjung warung ini. Aku tak pernah benar-benar bermaksud mencelakaimu. Nah, izinkanlah aku duduk bersama Tuan!”

“Boleh, silahkan. Aku tak keberatan Kisanak duduk di sini,” jawab Mahesa Wulung ramah.

“Perkenalkan aku Garang Segara dari Karimata.” “Saya Wulung, petualang samudra tak bertempat

tinggal,” ujar Mahesa Wulung.

“Adakah kepentingan Tuan untuk berlabuh dan mengunjungi pulau ini?” Garang mulai menyelidik.

“Ah, saya hanya dagang kecil-kecilan dan tidak ada maksud-maksud lain. Apa salahnya seperti aku ini orang petualang samudra yang gemar melihat keindahan pulau-pulau yang tersebar di nusantara ini, untuk berlabuh disini?”

“Syukurlah kalau demikian. Dan untuk ketangkasan Tuan Wulung yang hebat tadi izinkanlah aku menyuguhkan untuk Anda semangkuk tuak harum yang tiada tandingannya!” Garang Segara menyodorkan semangkuk tuak untuk Mahesa Wulung sementara ia sendiri menikmati semangkuk tuak pula.

Mahesa Wulung yang tidak menyangka sama sekali kelicikan Garang Segara yang berkedok keramahan itu, dengan tanpa curiga sedikitpun mulai mengangkat semangkuk tuak itu, dan ia mulai meminumnya. Sesaat kemudian tampaklah perubahan pada wajah Mahesa Wulung setelah ia meminum tuak itu. Kelopak matanya meredup dan tampak seperti orang mengantuk, sedang mulutnya beberapa kali menguap.

“Heh, heh, apakah Tuan merasa mengantuk?” Garang Segara bertanya disertai mulutnya yang menyeringai kepuasan.

“Ya..., aku mengantuk... aku ingin tidur rasanya ”

Mahesa Wulung berkata terputus-putus, sebab ia sudah tak kuat lagi menahan kantuknya, maka sesaat kemudian ia merebahkan kepalanya ke atas meja dan mulai tidur kepulasan.

“Bagus, obat tidur itu sudah mulai bekerja dengan sempurna. Nah, sebentar lagi ia akan mampus di tangan Lanun Sertung!” Garang Segara berpikir cepat. “Hee, kawan-kawan. Tolonglah sahabatku ini. Bawalah ia ke kamar tidur kepunyaanku!”

Dua orang dari keempat kawan Garang Segara yang tadi berjudi bersama Dungkul bangkit dari duduknya dan cepat mereka menggotong tubuh Mahesa Wulung untuk dibawanya ke dalam sebuah kamar.

Pelayan tua yang mengikuti semua kejadian tadi sambil memegang tongkatnya, cepat menyelinap keluar dari warung. Pemilik warung itu sendiri agak heran mula-mula, tapi akhirnya iapun maklum bahwa pelayannya yang tua itu sering berkelakuan yang aneh, yang kadang-kadang sukar dimengerti olehnya.

Sementara itu kedua orangtua menggotong tubuh Mahesa Wulung masuk ke dalam sebuah kamar diikuti oleh Garang Segara di belakangnya. Kamar itu agak luas dalamnya. Sebuah meja kayu dan dua buah kursi terletak menghadap pintu dan di sebelahnya, merapat pada dinding terdapat sebuah balai-balai beralasan tikar anyaman berwarna-warni. Kalau orang masuk ke dalam kamar ini, pastilah perhatiannya akan tertarik pada balai-balai dari kayu yang mempunyai kaki besar-besar yang jarang sekali tandingannya. Sedang seluruh lantai itu terdiri dari batu-batu padas yang dipotong lebar-lebar tipis empat persegi panjang.

“Sekarang cepat geser ke samping balai-balai ini!” terdengar Garang Segara memerintah kedua anak buahnya.

Setelah mereka menggeletakkan tubuh Mahesa Wulung di lantai, kedua orang ini lalu menggeser balai- balai kayu dan kemudian keduanya membungkuk ke lantai serta menggeser sebuah di antara lantai-lantai batu padas ini. Akhirnya dengan sedikit payah berhasil pulalah mereka menggesernya. Ternyata dasar lantai yang digeser tadi merupakan sebuah lubang yang masuk ke dalam tanah.

“Nah, kini bawalah dia turun ke dalam gua.”

Sekali lagi Garang Segara menyuruh kedua anak buahnya menggotong tubuh Mahesa Wulung turun ke dalam gua di bawah tanah itu. Dan ia sendiri sebelum turun ke lubang itu, kembali memanggil seorang anak buahnya yang masih duduk-duduk di warung untuk menggeser kembali balai-balai tadi.

Ketiga orang yang kini berada di dalam ruangan gua di bawah tanah itu cepat-cepat memasang obor, dan ruangan itu sekejap menjadi terang-benderang. Ruangan itu tidak begitu luas dan cahaya obor itu menerangi sebuah jalan terowongan yang memanjang. Sebuah lubang di langit-langit terowongan yang dibuat dengan ruas-ruas bambu rupa-rupanya menembus sampai ke permukaan tanah sehingga udara segar mengalir ke dalam terowongan di bawah tanah itu.

“Dia harus kita bawa ke sarang kita di Lembah Maut,” kata Garang Segara kepada kedua orang anak buahnya yang sedang bersiap-siap menggotong kembali tubuh Mahesa Wulung. “Mengapa tidak kita bereskan di sini saja, dia?” bertanya salah seorang anak buah Garang Segara

“Tidak! Ia harus kita tangkap hidup-hidup. Begitulah perintah Lanun Sertung kepada kita. Nanti dia sendirilah yang akan menghabisi nyawa si Barong Makara ini. Dan jangan lupa, untuk ini kita bakal menerima upah yang cukup besar dari pemimpin kita!” Garang Segara meringis dan kemudian ketiganya tertawa cekakakan. Tetapi ketawa mereka terhenti sebab tiba-tiba dari mulut Mahesa Wulung terdengar suara keluhan dan tubuhnya mulai bergerak-gerak.

“Celaka, ia mulai sadar!” seru salah seorang anak buah Garang Segara.

“Tidak, tak mungkin ia sadar. Obat itu bekerja sampai besok pagi. Kalian tak perlu khawatir dan biar aku yang akan membuatnya pulas kembali!” Garang Segara tampak mengepal-ngepalkan jari-jarinya sambil menatap tajam ke arah Mahesa Wulung. “Dan sekarang tegakkan dia baik-baik!”

Kedua orang itu segera memapah tubuh Mahesa Wulung sampai setengah tegak berdiri di atas lantai terowongan.

“Awas, peganglah tubuhnya erat-erat!” teriak Garang Segara. Berbareng dengan itu ia melayangkan kepalan tangan kanannya. “Praak!” Dagu Mahesa Wulung kesambar jotosan Garang Segara sampai kepala pendekar ini terhempas ke belakang. “Buk!” Disusul tangan kiri Garang Segara bersarang ke perut Mahesa Wulung sehingga tubuhnya kembali meliuk ke depan seperti cacing kepanasan. Kemudian sekali lagi “Prak” mulut Pendekar Mahesa Wulung menjadi sasaran. Darah merah mengalir dari bibirnya yang tersobek. Setelah itu disusul lagi beberapa jotosan yang membuat tubuh Mahesa Wulung merosot ke bawah dan tidur pulas kembali tapi pada wajahnya kini dihiasi oleh bengkak-bengkak kecil kebiruan serta goresan-goresan merah.

“Dia tidur kembali sekarang.”

Ketiga orang ini sekali lagi tertawa riuh sampai mengumandang di segenap ruang terowongan, persis ketawa setan yang mendapat korban.

“Nah, sekarang cepat kita bawa ia ke sarang kita!”

Maka ketiganya membawa seolah-olah tak ada akhirnya.

***

Sementara itu suasana di dalam warung masih tetap ramai dan si pemilik warung sibuk menghitung uang dagangannya. Ia memakai baju berlengan panjang dan berkumis serta jenggotnya tampak kaku. Meski wajahnya kelihatan ramah, namun sinar matanya tajam seperti serigala dan membayangkan kebengisan.

Saking keasyikan ia menghitung duitnya itu, tak sadar bahwa seseorang telah datang dan berdiri di muka mejanya.

“Maaf Tuan, izinkanlah aku mengganggu sebentar.”

Pemilik warung terperajat, tapi ia cepat tersenyum lebar.

“Ooo, kau Lodan. Stt, bagaimana dengan obat tidurku tadi? Apakah ia cukup baik kerjanya?”

“Luar biasa, Tuan. Ia bekerja dengan sempurna. Dan kini si petualang samudra Barong Makara di tengah perjalanan ke Lembah Maut dalam keadaan tertidur pulas.”

“Ha, ha, ha, aku turut merasa senang dengan tertangkapnya si Barong Makara. Oleh sebab itu, nih terimalah uang ini sekedar sebagai rasa gembiraku.” Tangan si pemilik warung menyodorkan beberapa mata uang logam di atas meja dan oleh Lodan cepat- cepat dipungutnya serta pindah ke dalam ikat pinggangnya.

“Terima kasih Tuan, terima kasih.”

Tiba-tiba mereka dikejutkan sesosok bayangan yang meleset ke dalam warung itu sampai menimbulkan kegaduhan sejenak. Sedang si pemilik warung sendiri begitu menatap orang yang baru datang itu seketika membelalak saking heran bercampur kaget melebihi sebuah halilintar yang menyambar di sampingnya. Berkali-kali matanya dikedip-kedipkan seakan-akan ia tak mau percaya dengan apa yang dilihatnya! Seorang laki-laki berkedok biru dengan gambar Makara Kuning emas dan pada tangannya tergenggam sebatang cambuk menyala biru kehijauan!

“Barong Makara!” cetus si pemilik warung.

Yang lebih kaget lagi ialah si Dungkul tadi, sebab jelas ia telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa si petualang samudra yang tidak lain adalah Barong Makara telah mereka tangkap. Tapi kini Barong Makara muncul kembali bahkan lengkap dengan ciri- ciri khusus Pendekar Barong Makara sendiri, terutama dengan cambuk Naga Geni yang menyala biru kehijauan. Itu lebih meyakinkan bahwa yang baru datang ini adalah Barong Makara yang asli. Kalau begitu siapakah orangnya yang telah mereka tangkap tadi?

Belum lagi mereka selesai dengan hatinya yang bergelut dan penuh pertanyaan terhadap pendekar yang baru muncul ini, tiba-tiba tamunya telah bertanya lebih dulu.

“Hee, kau Dungkul! Aku tahu sahabatku si petualang samudra telah datang ke warung ini, tapi sekarang tak kulihat batang hidungnya lagi. Di mana dia sekarang?! Kau sebagai anak buahnya pasti tahu!”

Mendengar pertanyaan si pendekar berkedok ini, Dungkul yang telah merasa berbuat curang kepada si petualang samudra yang tidak lain adalah Mahesa Wulung, dengan sendirinya menjadi pucat ketakutan. Peluh dingin mulai menitik dari dahinya.

“Tidak! Aku tidak tahu kalau dia di sini!” teriak Dungkul semakin ketakutan ketika tangan pendekar itu dilihatnya mulai menggerak-gerakkan cambuknya. Sedang dua orang teman berjudinya yang duduk di samping Dungkul saling berpandangan seolah-olah saling bertanya apa yang bakal dilakukannya. Seorang di antaranya menurunkan tangannya di bawah meja dengan gerak lamban yang tidak mencurigakan. Tetapi sekejap kemudian tangan itu telah menggenggam sebatang pisau belati panjang siap dilemparkan ke arah pendekar berkedok.

Hanya sayang, orang ini belum tahu siapa dia pendekar berkedok itu. Karena dengan gerakan yang sukar dimengerti kecepatannya, tangan pendekar berkedok telah menggerakkan cambuknya yang meluncur ke arah tubuhnya seperti seekor naga dan tahu-tahu “Taarr!”, pisau belatinya terbetot lepas dari genggamannya dan kemudian terpelanting menancap di dinding kayu warung itu.

“Awas, jangan mencoba bermain-main dengan saya!” bentak pendekar berkedok keras-keras.

Si pemilik warung segera berbisik kepada Lodan yang masih berdiri di sampingnya, “Stt, Lodan, cepatlah kau usir orang berkedok itu. Aku akan keluar dari warung ini. Hadapilah dia bersama-sama sekuat tenaga. Tunjukkan bahwa kau anak buah Lanun Sertung yang baik!” “Baik, Tuan. Kami akan menghadapinya, jangan kuatir,” ujar Lodan meyakinkan dan si pemilik warung mengangguk puas, kemudian pergi menyelinap meninggalkan warung itu.

“He, pengecut berkedok! Kau jangan membuat keonaran di sini, tahu! Sebaiknya cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini sebelum kami semua terpaksa melemparkan kamu keluar dari warung ini!” Lodan berseru dengan garangnya sambil memberi isyarat kepada Dungkul serta kedua orang temannya.

“Ha, ha, ha, aku bukan anak kecil yang harus kau takuti dengan ancaman itu!” ujar pendekar berkedok setengah mengejek kepada Lodan dengan kawan- kawannya.

“Baik! Kau memang jantan dengan ucapan- ucapanmu itu, tapi belum tentu kau mampu menghadapi permainan pedangku dari perguruan Mata Iblis! Nah, bersiaplah menyambut ajalmu!” Lodan dengan kecepatan luar biasa menghunus pedangnya dan mulai melancarkan serangannya yang pertama. Pedangnya menebas miring ke arah dada pendekar berkedok.

“Jurus angin menyapu ombak!” desis pendekar berkedok melihat pedang lawannya menebas ke arah dadanya dengan sambaran angin yang hebat. Namun ia pun tak kalah cepatnya untuk melompat mundur satu langkah, sampai pedang lawan mengenai tempat kosong. Terdengar Lodan mengumpat melihat serangan pertamanya gagal.

Pendekar berkedok dengan lincah dan cepat melesat keluar dari warung itu.

“Haai, pengecut berkedok, mau lari ke mana, kau?!” berteriak Lodan sambil mengejarnya keluar dari warung itu, diikuti oleh Dungkul dan kedua orang temannya yang lain.

“Ha, ha, ha, aku tak pernah melarikan diri dari musuh-musuhku. Aku cuma ingin tempat yang lebih luas agar permainan cambukku ini bisa leluasa!” pendekar berkedok tertawa menjengkelkan keempat musuhnya! Pengunjung-pengunjung warung lainnya berlompatan ke luar warung.

Kini terjadilah di halaman warung itu pertempuran hebat dengan disaksikan oleh para pengunjung warung serta beberapa penduduk di situ. Pendekar berkedok memutar cambuknya seperti kitiran berpusaran dan sebentar-sebentar menyerang lawannya.

Lodan dalam beberapa jurus saja sudah mulai mengeluh menghadapi pendekar berkedok itu. Namun iapun sudah bertekad untuk bertempur sekuat tenaganya. Sekonyong-konyong sebuah sabetan cambuk Naga Geni meluncur ke arah kepalanya. Lodan cepat menangkis dengan putaran pedangnya, meskipun ia sadar bahwa itu tidak akan banyak menolongnya. Ternyata benar dugaannya, pedangnya kena terbentur oleh ujung cambuk Naga Geni dan Lodan terpental seperti disambar petir dan pedangnya terlepas dari tangan. Sekali lagi Lodan cepat bangun sambil melemparkan sesuatu yang baru diambilnya dari ikat pinggangnya.

Pendekar berkedok cukup waspada, begitu puluhan jarum berbisa melayang ke arah tubuhnya, ia cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan tubuhnya melesat ke atas berjumpalitan di udara. Maka puluhan jarum berbisa itu lewat di bawah tubuhnya laksana hujan deras. Dan sejurus, terdengarlah satu jeritan lagi. Ternyata dua orang anggota bajak lain yang menjadi lawan pendekar berkedok itu, berebahan ke tanah. Tubuhnya berubah menjadi hijau kepucatan dan matilah mereka.

Begitulah, senjata rahasia kawannya telah merenggut nyawa mereka sendiri. Jarum-jarum berbisa meminta nyawa! Melihat hal ini, Dungkul sudah tak sabar lagi. Ia benar-benar kehilangan pengamatannya sambil mengerahkan segenap tenaga simpanan, pedangnya diputar mematuk-matuk ke arah pendekar berkedok yang telah siap berdiri tegak dan memegang cambuk Naga Geninya. Pendekar berkedok ini masih berdiri tegak mengawasi tajam semua tingkah Dungkul yang memamerkan ilmu pedangnya. Berbareng Dungkul menyerbu ke arah pendekar berkedok, lawannya ini telah pula memutar cambuknya ke arah Dungkul untuk menyambut serangannya. Maka sejurus kemudian terjadilah dua benturan senjata beradu yang masing-masing telah digerakkan oleh dua tenaga berkekuatan tinggi.

Sebetulnya putaran pedang di tangan Dungkul berhasil membabat cambuk Naga Geni, tetapi anehnya cambuk ini seolah-olah terbuat oleh anyaman baja, sehingga ia tidak putus tetapi hanya bergetar saja. Kemudian Dungkul tak dapat mengelak lagi ketika ujung cambuk itu menjegat kepalanya. Satu jeritan ngeri kesakitan menggetarkan halaman warung. Orang-orang di situ terpekik pula dan melongo ketika mereka melihat tubuh Dungkul terbanting ke tanah dengan kepala yang hangus seperti disambar petir dan mulutnya melelehkan darah kematian, hitam kental.

Pendekar berkedok cepat memutar tubuhnya untuk menghadapi Lodan si pelempar jarum berbisa. Tetapi Lodan sendiri bukanlah orang yang bodoh jika ia masih berdiri di situ. Sebab ketika tubuh Dungkul terbanting ke tanah dengan kepala hangus, ia telah lebih dulu mengambil langkah seribu, menerobos pagar-pagar manusia yang menonton pertempuran tersebut. Beberapa orang penonton yang tidak menduga hal ini terpaksa terdesak, terhempas jatuh menimpa teman-temannya di sebelah, sehingga mereka pun jatuh terjengkang ke tanah. Terdengar makian bercampur merintih berbareng, namun hal itu sudah tak terdengar oleh Lodan yang telah lari dan di sebuah belokan jalan, tubuhnya sudah lenyap di sebuah semak-semak ilalang. Betapa marahnya si pendekar berkedok melihat lawannya telah lari dari tangannya, terbayang pada sorotan matanya yang tajam. Dan ketika pandangannya terpaku pada orang- orang yang masih berkelesetan di tanah akibat tubrukan dari tubuh Lodan tadi, pendekar berkedok cepat mendatangi mereka.

“Hmm, memang licik musuhku tadi. Ternyata ia tidak lari begitu saja, tapi masih sempat menotok jalan darah orang-orang ini!” terdengar ia menggeram.

Pendekar ini cepat-cepat menolong mereka dan ketiga orang yang terbaring di tanah separo lumpuh itu segera diurut-urut jalan darahnya, agar beredar kembali dengan lancar. Sebentar kemudian tampaklah mereka ditolong oleh kawan-kawannya untuk berdiri dan berhasil! Mereka sempat mengucapkan rasa terima kasihnya, pendekar berkedok telah meleset masuk ke dalam warung. Orang-orang tadi tak ada yang berani bergerak, sebab mereka di samping kagum bercampur takut, mereka memang tak ingin mencoba mengganggu maksud-maksud si pendekar berkedok. Mereka yakin bahwa orang ini bukanlah orang jahat. Setelah beberapa saat mereka berdiri di luar warung itu, tampaklah pendekar berkedok melangkah keluar dari dalam warung. Sekali lagi mereka dibuat terkejut oleh melesatnya tubuh si pendekar meninggalkan tempat itu sambil berseru dengan nyaring!

“Maaf para Kisanak, aku tak sempat berkenalan dengan kalian. Lain kali kita ketemu lagi. Selamat tinggal.”

Terdengar suara itu mengumandang dan kemudian semakin lemah lalu lenyap bersama tubuh si pendekar berkedok yang menerabas semak ilalang.

Semuanya seakan-akan terpaku dengan kejadian yang baru saja berlalu di hadapan mata mereka. Selama ini tak seorang pun berani menentang orang- orang dari kawanan Iblis Merah, tetapi hari ini mereka menyaksikan seorang pendekar berkedok telah menewaskan dan menentang mereka. Ah, mereka bersukur kepada Tuhan bahwa seseorang telah berani merintis, melawan kejahatan. Tetapi siapakah pendekar berkedok tadi? Tak seorang pun yang mampu menerkanya, sebab pendekar aneh tadi memang baru kali ini muncul di tempat tersebut.

***

4

DI PAGI buta itu embun masih mengembang di udara dengan pekat. Di sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah bukit, seorang laki-laki tampak berjalan tergesa-gesa dan sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang seperti takut diketahui orang atau memang ia takut akan sesuatu yang mengejarnya. Jalan yang dilaluinya itu terlindung di bawah semak-semak bambu dan ilalang sehingga ia sedikit merasa aman.

Ketika ia baru saja melewati rumpun pohon pisang, tiba-tiba terasa jari-jari tangan kokoh yang mencengkam tengkuknya.

“Berhenti kau, Lodan!”

Sebuah teriakan nyaring terdengar membuat hatinya serasa terbang. Orang tadi memejamkan mata ketika tangan yang kokoh mencengkam tengkuknya. Dan ia sudah membayangkan bahwa pendekar berkedok telah berada di belakangnya siap mengambil nyawa.

“Di mana kawan-kawan yang lain?!” terdengar sekali lagi suara nyaring di belakangnya.

Mendengar suara ini Lodan menarik napas lega. hatinya tenang kembali seperti disiram oleh seember air sendang. Ya, ia sudah mengenal suara di belakangnya ini dan telah bertahun-tahun ia menghadapinya. Oleh sebab itu ia serentak menoleh ke belakang.

“Oooh, Bapak?!”

Di belakangnya ternyata adalah pemilik warung yang pada tangan kirinya menggenggam sekantung uang penuh padat.

“Lekas jawab, di mana kawan-kawan yang lain?!” “Ampun, Pak. Mereka bertiga tewas dalam melawan

pendekar berkedok di halaman warung...,” ujar Lodan setengah merengek. Hatinya berdebar-debar sebab ia sadar, bahwa dua orang kawannya telah tewas akibat senjata jarum bisanya.

“Bagus. Kali ini kau masih kuampuni, setan! Ayo kita cepat meninggalkan tempat ini. Pasti kawan- kawan kita telah menunggu di Lembah maut!”

Lodan tak berani berkata-kata lagi kecuali mengikuti langkah-langkah si pemilik warung yang menanjak ke arena bukit yang dipenuhi oleh batu-batu besar bertonjolan setengah terpendam di dalam tanah. Begitu banyaknya, bagaikan setan-setan penjaga bukit, ditambah lagi beberapa batang pohon mati yang cabangnya bergerak-gerak tertiup angin menambah seramnya tempat itu.

Maka pantaslah bila tempat tersebut disebut Lembah Maut dan orang-orang di pulau ini tak seorang pun yang berani mencoba menginjaknya. Setelah kedua orang ini melewati kira-kira dua kali setinggi manusia, mereka mulai mengikuti jalan menurun ke Lembah Maut itu. Segera tampaklah beberapa gubuk kecil beratap ilalang di bawah sebuah batang pohon kering yang berdiri megah merajai Lembah Maut. Kedua orang ini disambut oleh seorang laki-laki berwajah garang.

“Selamat datang di Lembah Maut, Bapak.”

“Terima kasih, Garang Segara,” ujar si pemilik warung minum sambil mengelus-elus kumis ijuknya. “Di mana tamu kita, si petualang samudra, sekarang ini?”

“Dia baru beristirahat di sana, Bapak,” kata Garang Segara sambil menunjuk ke arah sebuah batu hitam besar yang permukaannya datar dan licin sedang di sekelilingnya terdapat pula beberapa batu serupa yang lebih kecil. Sepintas lalu orang akan membayangkan seperti meja besar yang dikelilingi oleh kursi-kursi batu.

Si pemilik warung segera mendekati batu meja yang besar itu, karena di atasnya terbaringlah sesosok tubuh. Ternyata itulah Mahesa Wulung terbaring dengan tangan dan kakinya, terikat oleh tali-tali. Meski sinar matanya tajam mengawasi orang yang mendekat itu, namun ia tak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali. Memang hebat pengaruh obat tidur yang terminum olehnya. Tubuhnya terasa lemah lunglai seperti tak bertulang tak berotot. Mendadak mata Mahesa Wulung menatap tajam ke arah si pemilik warung dan di sampingnya berdiri Marangsang.

“Keparat! Rupanya kau berkomplot dengan orang- orang jahat ini!” desis Mahesa Wulung sambil giginya gemeretakan menahan marah.

“Ha, ha, ha, lihatlah, Kisanak. Siapa yang kau ajak bicara ini,” si  pemilik   warung  berkata  sambil menanggalkan  baju panjangnya  dan  kemudian mengusap mukanya yang penuh garis keriput ketuaan. “Lanun  Sertung!”   seru Mahesa  Wulung  kaget setelah ia melihat, bahwa si pemilik warung yang berdiri di hadapannya itu tidak lain adalah Lanun Sertung   sendiri.  Orang  yang harus dicari dan

ditangkapnya.

“Ha, ha, ha, mengagumkan bukan?” ejek si Lanun Sertung kepada musuhnya yang tak berdaya lagi. “Ternyata penyamaranku ini cukup sempurna, sehingga kau masuk perangkapku! Ha, ha, ha, ha. Maaf jika sambutanku kurang menyenangkan dalam kunjunganmu ke Pulau Karimata ini. Tapi itu salahmu sendiri, jika orang-orang macam kamu berani mengejar-ngejar Lanun Sertung dengan gerombolannya. Nah, tunggulah sebagai hadiah keberanianmu. Siang nanti akan segera habis riwayatmu!”

“Huh, jangan kau kira anak buahku akan tinggal diam dengan perbuatanmu ini. Sebaiknya (kau) membebaskan aku dan menyerah saja!” kata Mahesa Wulung dengan tenang. “Akan kuampuni dosamu (yang) telah kelewat banyak!”

“Gila! Kawanan Iblis Merah tak kenal arti kata menyerah. Mereka hanya kenal semboyan, bertempur sampai mati. Kau lihat, biarpun anak buahku habis binasa di Tanjungpinang, dan kini tinggal lima belas orang saja, tetapi mereka cukup berani kalau hanya menghadapi anak buahmu!” Lanun Sertung berhenti sejenak dengan kata-katanya, namun matanya terus menatap tajam ke arah Mahesa Wulung. “Aku punya usul, Kisanak. Bagaimana jika Anda bekerja saja untukku?”

“Kurang ajar! Kalau kau menghendakinya, aku pun bersedia untuk membinasakanmu!” Mahesa Wulung merasa puas dengan kata-katanya yang tajam. “Kau harus menebus kematian ayahku yang telah kau tewaskan di Selat Karimata, pada belasan tahun yang lalu.”

“Ya, ya, aku sudah tahu hal ini. Justru itulah kami sudah bersiap-siap menyambutnya. Nah, kalau Anda memang benar-benar putera Sorengyudo yang telah terkubur di bawah laut sana, maka kematianmu tidak perlu ditunda-tunda lagi. Sekarang juga kau harus mampus!” Lanun Sertung berseru sambil menghunus pedangnya siap dibacokkan ke tubuh musuhnya yang tergeletak di batu.

Melihat hal ini, Mahesa Wulung benar-benar kehilangan akal, apa yang harus diperbuatnya? Tiba- tiba tanpa diduga oleh siapa saja, sebuah pondok telah termakan api, berderak-derak bunyinya.

“Hee, cepat siram dengan air!” perintah Lanun Sertung keras-keras. “Ayo, padamkan!”

Serentak orang-orang Iblis Merah sibuk mencari air untuk memadamkan pondok ilalang yang terbakar itu. Langkah-langkah kaki simpang siur membuat suasana makin membingungkan pandangan mata. Belum lagi api terpadamkan, mendadak satu pondok yang lainnya terbakar pula. Kalau tadi Lanun Sertung hanya memberi aba-aba saja, kini ia sendiri turut sibuk memadamkan api yang berkobar-kobar.

Dengan begitu untuk sementara mereka membiarkan Mahesa Wulung yang terikat tubuhnya itu, sendirian menggeletak di atas batu, tanpa ada yang menjaganya. Mereka seperti lupa bahwa tawanannya adalah Mahesa Wulung, seorang pendekar dari armada Demak yang terpilih dalam tugas-tugas yang berbahaya. Dan lagi, (bagi) setiap gerombolan hitam, nyawa Mahesa Wulung berharga ratusan mata uang emas.

Di saat nyala api makin berkobar, dari sela-sela batang-batang pohon tua yang kering meloncatlah satu bayangan ke arah tempat Mahesa Wulung terikat. Gerakannya lincah bagaikan hantu, lebih-lebih sosok tubuh ini berpakaian putih-putih. Mata Mahesa Wulung terbeliak ketika orang ini tiba di dekatnya.

“Bapak pe... la...,” kata-katanya terputus.

Namun orang ini cepat menyambungnya, “Ya, ya akulah pelayan warung seperti yang pernah Tuan jumpai di warung itu,” kata orang yang tua ini dengan ramahnya. Ia mengenakan sebuah caping pada kepalanya dan tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat lurus sepanjang satu depa.

“Maaf, Angger. Sekarang bukan saatnya kita berceritera panjang lebar. Aku harus menyelamatkan Angger dari tangan-tangan jahat mereka,” ujar orang tua ini sambil menarik pangkal tongkatnya.

Luar biasa, ternyata tongkat itu adalah sebilah mata pedang yang tajam pada kedua belah sisinya. Tanpa memakan waktu yang lebih lama, ujung pedang orang tua itu telah memutus tali-tali pengikat tubuh Mahesa Wulung.

“Maaf, Bapak, aku tak dapat berlari cepat karena pengaruh obat yang meracuni tubuhku belum punah sama sekali!” berkata Mahesa Wulung pelan sambil menggerak-gerakan tubuhnya yang telah bebas dari ikatan tali-tali.

“Jangan kuatir, Angger,” orang tua tadi berkata penuh hormat. “Kalau Angger tak mampu berjalan jauh, biar bapak yang akan menggendongmu!”

“Ah, tidak, Bapak. Terima kasih. Itu tak mungkin kulakukan, sebab Bapak lebih tua dan aku senantiasa menghormati orang tua.”

“Janganlah segan-segan, Angger. Aku menghormati sikapmu itu. Tapi dalam keadaan yang segenting ini dan juga mengingat keadaan tubuhmu, maka tak ada salahnya jika aku menggendongmu lari dari tempat ini.”

Belum lagi mereka beranjak dari tempat itu, sekonyong-konyong dari gumpalan asap api muncullah satu bayangan menuju ke tempat mereka.

“Nah, Angger, apa kataku tadi? Kita harus cepat- cepat pergi dari tempat ini. Lihatlah, bahaya yang lain sedang mengancam kita.” Orang tua ini cepat-cepat bersiaga menanti bayangan yang mendatang.

“Garang Segara!” desis Mahesa Wulung sambil menatap bayangan orang yang baru muncul dan kini berdiri di hadapan mereka.

Si wajah bengis ini pada ikat pinggangnya menyelipkan dua buah pedang dan mata Mahesa Wulung yang tajam segera dapat mengenal, bahwa salah satu di antara kedua pedang itu adalah pedangnya sendiri, hadiah pemberian Pendekar Prahara dari Tanjungpinang!

“Hmm, mereka merampas pedangku ketika aku jatuh tak sadar di warung, namun bagaimanapun juga ia harus kembali ke tanganku!”

Betapa kagetnya hati Garang Segara ketika ia melihat seorang tua telah melepaskan ikatan tali-tali pada tubuh Mahesa Wulung, maka secepat kilat ia menghunus pedangnya dan menyerbu ke arah mereka. “Hee, kau tua bangka bercaping,” bentak Garang Segara sambil mengacung-acungkan pedangnya ke arah muka si orang tua. “Kau rupanya ingin mampus bersama Barong Makara ini! Nah, bersiaplah untuk

menerima kematianmu!”

Dengan tebasan pedang yang hebat mengagumkan, Garang Segara menyerang si orang tua, namun lawannya ini hanya menggerakkan pedangnya sedikit dan saking cepatnya seolah-olah tampak sebagai kilatan sinar yang menyambar perut Garang Segara.

“Waak!” satu suara benda terobek disusul jerit ngeri terlontar dari mulut Garang Segara yang tubuhnya sesaat tampak kejang tetapi kemudian jatuh berguling ke tanah dengan darah merah menyemprot dari perutnya.

Mahesa Wulung ternganga heran melihat kehebatan ilmu pedang orang tua bercaping ini. Benar-benar lebih hebat dari ilmu pedang Pendekar Prahara yang pernah dipelajarinya selama ia tinggal di Tanjungpinang.

“Bapak, tolong ambilkan pedangku yang terselip di ikat pinggang Garang Segara itu. Ia dirampas dari tanganku ketika aku jauh tak sadar di warung.”

Pendekar tua itu segera memenuhi permintaan Mahesa Wulung, dan ia melolos pedang yang dimaksud dari ikat pinggang Garang Segara yang berlumuran darah.

Bersamaan keduanya beranjak meninggalkan tempat itu.

Dari arah utara muncullah beberapa sosok tubuh. Melihat hal ini, si pendekar tua yang menggendong Mahesa Wulung tak mau lebih lama terlibat di tempat ini, maka ia cepat-cepat meloncat meninggalkan tempat itu.

Orang-orang yang baru datang tadi, demi dilihatnya tubuh Garang Segara tergeletak tak bernyawa dan kemudian mereka melihat orang yang bergendongan lari dari tempat itu, mereka serempak berloncatan menyerbu. Tetapi sayang, mereka terpaksa melongo keheranan sebab orang yang menggendong itu dengan lincahnya melompat-lompat dari batu ke batu seperti hantu, sementara mulutnya mengeluarkan ketawa yang meringkik menyerikan telinga, sehingga membuat bulu tengkuk mereka pada meremang ketakutan.

“Hee, goblok kalian! Ayo, kejar mereka!” teriak Lanun Sertung yang baru tiba di tempat itu.

Demikian pula Marangsang tak menunggu perintah berikutnya, ia segera mengejar tawanannya yang dilarikan orang, disusul oleh orang-orang lainnya anak buah Lanun Sertung. Kejar-mengejar terjadi di jalan yang menanjak berbatu-batu. Para pengejar itu tak habis heran menyaksikan sasaran yang dikejarnya. Keduanya seperti katak bergendongan yang melompat- lompat ringan tak bersuara. Setiap orang yang mengejarnya merasakan desakan-desakan bergelut dalam dada mereka, seakan-akan mau pecah menahan napas dalam berlari-lari mengikuti jalan yang mendaki cukup tinggi.

Sesaat kemudian tampaklah oleh mereka sasaran yang dikejarnya telah melewati pintu gerbang dari batu besar dan tubuh mereka lenyap di dalam semak-semak ilalang. Marangsang, Lodan, Lanun Sertung dan anak buahnya tak berani lagi mengejar mereka, kesemuanya berhenti di tempat itu.

“Biarkan mereka lari. Hari hampir pagi. Besok kita cari sampai ketemu, meskipun seluruh pelosok pulau ini harus kita bongkar!” berkata Lanun Sertung kepada anak buahnya. “Mari, kita kembali ke sarang.”

***

Dalam hati Mahesa Wulung merasa geli bahwa sebesar ini ia masih digendong seperti anak kecil. Tak pernah ia membayangkan bahwa selama hidupnya, sekali ini ia mengalami hal-hal yang aneh. Seperti pertemuannya dengan pendekar tua bercaping ini dan cara larinya yang mengagumkan dapatlah ia segera mengukur betapa hebatnya tenaga dalam orang tua yang menggendongnya.

Mereka berdua keluar dari rumpun semak ilalang kemudian melewati sebuah mata air yang jernih airnya. Setelah menyusuri sebuah sungai kecil sampailah mereka pada sebuah dataran yang subur. Pohon nyiur tumbuh di sana-sini dengan buahnya bergantungan bulat-bulat besar. Pada sebidang tanah kecil yang ditanami pohon-pohon jagung, mereka berdua berhenti. Dari kejauhan terdengar deru ombak yang memecah di pantai yang letaknya tidak jauh dari ladang jagung itu.

“Nah, Angger kita telah sampai. Itulah tempat tinggalku sebuah pondok bambu yang tidak terlalu buruk.”

Mahesa Wulung turun dari punggung orang tua itu dan duduklah ia di atas sebuah batu besar di depan pondok bambu.

“Beristirahatlah Angger sejenak. Bapak akan mencoba meramu obat untuk menghilangkan racun di tubuhmu.”

“Terimakasih, Bapak,” ujar Mahesa Wulung berbesar hati.

Mendadak sebuah bayangan melesat dari semak pohon jagung dan tepat berdiri mencegat di hadapan pendekar tua bercaping. Orang ini berkata dengan lantang, “Bedebah, rupanya kaulah yang menculik sahabatku ini. Sekarang ia akan kuminta kembali.”

Mahesa Wulung ataupun si pendekar tua bercaping terkejut bukan main, sebab yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang yang berkedok biru laut dengan gambar makara kuning emas, sedang pada tangannya tergenggam sebatang cambuk menyala biru kehijauan. Yang paling heran adalah Mahesa Wulung sendiri. Ia melihat pusaka cambuknya Naga Geni dipegang oleh orang ini. Juga kedoknya pun dipakai pula. Kalau demikian siapakah dia yang telah berani memakai semua ciri-ciri khusus yang biasa dipakainya sebagai Pendekar Barong Makara?

“Nanti dulu, Kisanak yang berkedok,” ujar orang tua itu dengan ramahnya. “Kau janganlah keliru pengertian terhadapku. Aku bukan penculik sahabatmu seperti yang telah kau katakan tadi. Bahkan akulah yang telah menolong nyawa dan hidupnya dari keganasan kawan-kawan Iblis Merah dari Lembah Maut. Untuk meyakinkan kebenaran kata-kataku ini, Kisanak sendiri boleh menanyakan kepada sahabatmu itu.”

Pendekar berkedok ini segera berpaling kepada Mahesa Wulung yang masih duduk di atas batu, seolah-olah ingin bertanya tentang kebenaran kata- kata orang tua yang berdiri di hadapannya.

“Kisanak,” ujar Mahesa Wulung memecah kesunyian. “Memang benarlah semua tutur kata Bapak ini. Dialah yang menolong diriku dari cengkeraman orang-orang Iblis Merah.”

“Hmm, jika hal itu benar, aku pun sudah sepantasnya mengucapkan terima kasih kepada Bapak. Akan tetapi ia akan tetap kuminta dari tangan Bapak.”

Ucapan pendekar berkedok ini cukup membingungkan Mahesa Wulung sendiri. Tak mengira bahwa dirinya dijadikan bahan rebutan antara dua orang yang belum dikenalnya. Orang tua bercaping cuma tersenyum-senyum mendengar ucapan pendekar berkedok.

“Sabar, Kisanak. Aku tak punya maksud jahat terhadap sahabatmu ini. Biarlah ia akan kutahan di sini buat beberapa waktu.”

“Heh, apa kepentinganmu dengan menahan sahabatku ini di tempat sepi terpencil seperti ini?”

“Aku ingin mengambilnya sebagai muridku, Kisanak. Dan mewariskan segala ilmuku. Telah lama aku menginginkan seorang murid dan secara kebetulan aku menemukan sahabatmu yang teraniaya ini!”

“Hah, kau berkata ingin mengambilnya sebagai muridmu? Akan kau ajari apa dia di sini? Oh, barangkali Bapak ingin mengajari bertanam jagung atau memanjat kelapa kepadanya? Tak kulihat tanda- tanda keperkasaan atau keperwiraan pada diri Bapak!” Sekali lagi pendekar berkedok berkata dengan tajamnya!

“Memang bapak sudah tua dan hanya seorang petani saja. Tapi bapak sedikit-sedikit dapat bermain ini!” Orang tua ini berkata seraya mencabut tongkat pedangnya dan satu gerakan yang secepat topan ia menggerakkan tangannya. Seleret sinar putih menyambar sebatang pohon pisang dan “slaak”, tongkat pedang itu kembali ke sarungnya.

Pendekar berkedok dan juga Mahesa Wulung tak berkedip melihat gerakan kilat dari orang tua bercaping yang hampir-hampir sukar diikuti mata. Mereka berdua melihat ke arah pohon pisang yang kena sambar sinar pedang si orang tua, tetapi pohon pisang ini masih berdiri tegak!

“Ha, ha, ha, Bapak Tua, lihatlah pohon pisang itu masih utuh. Apakah menebas udara kosong itu yang akan kau ajarkan kepadanya?” pendekar berkedok kembali memperolokkan si orang tua bercaping.

“Maaf kalau permainanku telah mengecewakan Kisanak. Aku pun sangsi apakah pohon pisang itu masih utuh atau tidak. Maka kiranya tak berlebihan jika aku meminta tolong kepada Kisanak untuk memeriksanya!” Meski orang tua itu telah diperolokkan oleh si pendekar berkedok namun ia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan, bahkan ia tetap senyum-senyum lucu.

Pendekar berkedok tak sabar tampaknya. Dengan segera ia memeriksa dan memegang batang pohon pisang tersebut. Tiba-tiba matanya terbeliak kaget sebab batang pohon pisang ini mulai terasa bergerak, kemudian oleng dan akhirnya berguling rebah bersama daun-daunnya. Ternyata batang pohon pisang itu terpotong oleh bekas tebasan senjata tajam yang tidak lain adalah tongkat pedang si orang tua bercaping. Sungguh-sungguh mengagumkan, tetapi juga mengerikan!

“Lah, itulah Kisanak, sedikit permainanku yang buruk. Sekarang, apakah Kisanak masih keberatan jika aku mengambilnya sebagai muridku?”

“Hmm, cukup hebat, Bapak! Kau boleh mengambilnya sebagai murid, jika kau dapat mengalahkan permainanku dalam lima jurus gebrakan!” pendekar berkedok berkata, dan sekaligus menyiapkan cambuknya! Melihat ini, pendekar tua itu pun cepat bersiaga.

Mahesa Wulung bingung menghadapi hal ini. Kepada siapakah ia seharusnya berpihak? Tanpa menunggu lebih lama pendekar berkedok melayangkan pukulan cambuknya ke arah tubuh pendekar tua itu. Pendekar tua bercaping tak tinggal diam diserang oleh pukulan cambuk lawannya, cepat ia menggenjotkan kakinya ke tanah dan tubuhnya berjumpalitan di udara.

“Daar!”, suara ledakan terdengar berbareng ujung cambuk Naga Geni menggempur batu tempat pendekar tua berdiri. Untunglah ia keburu meloncat, kalau tidak apakah jadinya. Batu tersebut pecah dengan mengeluarkan asap panas berkepul ke udara.

Sambil melayang turun dari udara si orang tua menyabetkan tongkat pedangnya ke arah kepala pendekar berkedok, namun orang inipun betul-betul waspada. Dengan loncatan ke samping dan merendahkan kepalanya, ia terbebas dari maut!

Walaupun meleset mata pedang si orang tua masih dapat menyambar seekor lalat yang terbang di tempat itu.

“Persetan! Kau mengganggu permainanku!”

Tubuh lalat itu jatuh di atas tanah terbelah menjadi dua!

Keduanya bertempur hebat sampai mencapai jurus ke lima, dan tepat pada jurus terakhir ini, pendekar berkedok melayangkan pukulan cambuknya miring ke arah si orang tua bercaping. Pada saat yang bersamaan pendekar tua tadi menyilangkan mata pedangnya mendatar.

Srrttt! Cambuk Naga Geni melibat pedang si orang tua dengan eratnya dan segera terjadilah tarik-menarik antara mereka berdua untuk mengadu tenaga dalam. Peluh dingin bercucuran dari wajah mereka.

Tiba-tiba saja tanpa dinyana, tangan kiri si orang tua menyambar ke wajah pendekar bertopeng, sambil berseru nyaring, “Kau memang hebat, Kisanak. Tapi kau harus memperlihatkan wajahmu yang asli. Biar aku tahu dengan siapa aku berhadapan!”

Sambaran tangan kiri si orang tua sungguh di luar dugaan bagi pendekar berkedok. Maka tanpa sempat mengelak, kedok yang dipakainya terjambret lepas dari wajahnya.

“Pandan Arum? Dimas Pandan Arum?” terdengar teriakan kagum bercampur gembira dari mulut Mahesa Wulung ketika dilihatnya wajah asli dari pendekar berkedok itu yang tidak lain adalah Pandan Arum sendiri.

“Maaf, Kakang Mahesa Wulung. Itu semua aku lakukan guna menyelamatkanmu dari orang-orang Iblis Merah.”

“Ooh, tobat. Jadi kalian berdua sudah saling mengenal!” terdengar si orang tua berseru heran. “Dan Angger yang berkedok ini ternyata pula seorang gadis? Weh, tobat, tobat. Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang masih remaja sudah memiliki kemampuan bertempur yang hebat! Kalau demikian harap bapak yang sudah tua ini dimaafkan dan terimalah kembali kedokmu ini.”

Pandan Arum menerima kembali kedok yang dipakainya seraya mengangguk hormat kepada si orang tua bercaping. “Aku pun meminta maaf atas semua sikapku, Bapak.”

“Weh, weh, lupakanlah hal-hal yang telah lewat. Biarkan berlalu sekedar sebagai pengasah budi pekerti kita. Jika kita berbuat salah, itu sudah lumrah dalam kehidupan manusia. Tetapi hendaknya kesalahan itu sendiri akan menjadi peringatan bagi kita agar manusia tidak mengulangnya kembali perbuatan itu.” Orang tua itu berhenti sejenak dengan kata-katanya, seolah-olah sedang merenungkan apa-apa yang sudah diucapkannya.

“Terima kasih, Bapak. Dan jika diijinkan oleh Bapak, aku ingin sementara menemani Kakang Mahesa Wulung di sini. Aku punya obat-obatan yang mungkin berguna bagi sakitnya.” Pandan Arum berkata sambil mengambil sebuah kantung putih dari ikat pinggangnya, kemudian mengulurkannya kepada si orang tua.

“Hah? Hebat sekali isinya!” Orang tua itu berseru setengah heran melihat isi kantung obat-obatan milik Pandan Arum. “Hmm, ini isinya cukup lengkap. Ini jamu untuk menghilangkan pengaruh racun di tubuh. Ini obat menenangkan pikiran, obat penyembuh luka dan, wah, ini lebih dari cukup. Pantas kalau Angger Pandan Arum ini seorang bakul jamu dan yang diobati Angger Mahesa Wulung, hi, hi, hi, hi.” Orang itu ketawa dengan lucunya hingga kedua orang muda- mudi itu terpaksa mesem kemalu-maluan.

“Eh..., tapi nanti dulu, Angger Pandan Arum. Apakah semua obat-obatan ini kau sendiri yang membuatnya?” bertanya orang tua itu sambil tak henti-hentinya meneliti obat-obatan di dalam kantung putih tadi.

“Mengapa, Bapak? Adakah sesuatu yang menarik bagi Bapak?” Pandan Arum sekarang ganti bertanya.

“Ya, aku heran dengan macam obat-obatanmu itu. Nanti dulu, aku akan menunjukkan sesuatu kepada Angger berdua!”

Orang tua tadi melepaskan capingnya dan cepat masuk ke dalam pondok bambu. Sesaat kemudian iapun keluar dengan membawa sebuah kantung dan ditunjukkan isinya kepada Pandan Arum. Betapa kagetnya Pandan Arum melihat isi kantung ini.

“Ah, bukankah isinya ini sama dengan yang aku bawa tadi?”

“Benar, Angger. Isinya memang sama jenisnya!” orang tua itu membenarkan pendapat Pandan Arum. “Itulah yang membuatku heran!”

“Ini saya buat bersama Bibi Nyi Sumekar waktu saja tinggal di rumahnya di lereng Gunung Muria.”

“Ooo, jadi Angger Pandan Arum ini adalah kemenakan Nyi Sumekar dari Gunung Muria?!” orang tua itu tampak tercengang tapi kemudian ia menengadah ke atas menatap langit biru, seperti ingin mengumpulkan segala ingatannya kembali.

Maka suasana sesaat tampak menjadi hening. Mahesa Wulung sibuk berpikir, siapakah gerangan orang tua ini. Mengapa ia tinggal di tempat terpencil sesepi ini? Sementara itu Pandan Arum pun berpikir, bagaimana mungkin orang tua ini mempunyai obat- obatan yang sama jenisnya dengan kepunyaannya sendiri?

Melihat kedua tamunya itu, rupa-rupanya orang tua itu mengetahui apa yang tengah berkecamuk di dalam pikiran mereka, lalu iapun mulai memecah keheningan yang mencengkam.

“Angger Kisanak berdua, baiklah aku mencoba menyusun kembali segala lelakon saya dan sekaligus memperkenalkan diri kepada Angger berdua. Aku akan berceritera tentang jalan hidup saya sehingga terdampar di tempat ini. Dahulu, bapak pernah tinggal di kota Jepara. Masa muda yang gemilang dan menggembirakan itu aku isi dengan bekerja keras serta rajin menuntut ilmu keperwiraan. Di sebuah tempat, di lereng Gunung Muria, aku berguru kepada Eyang Muria, seorang tua yang bijaksana dan mempunyai ilmu yang tinggi di masa itu.

Sungguh banyak murid-murid Eyang Muria ini. Kami mendapat bermacam-macam ilmu yang berguna bagi kehidupan kita. Ilmu bermasyarakat berbudi luhur, ilmu tentang olah senjata, cara membuat obat- obatan dan masih banyak lagi macamnya.

Di antara murid-murid padepokan Gunung Muria itu ada seorang gadis yang bernama Rara Sumekar, dan dialah murid puteri yang paling cerdas di antara teman-temannya yang lain. Ketrampilannya menggunakan selendang sebagai senjata dan ketekunannya meracik obat-obatan sungguh mengagumkan.

Di saat inilah, sebagai seorang pemuda aku merasa sayang kepadanya dan perasaan itu terpupuk subur menjadi benih cinta.

Namun sayang sekali, belum lagi aku mencurahkan isi hatiku kepadanya, tiba-tiba tugas negara memanggilku. Di waktu itu armada Demak berusaha menggempur kekuasaan Portugis di Malaka. Sekembalinya dari serangan itu, kapal kami yang berada di belakang telah dicegat oleh kapal-kapal Portugis dan perahu-perahu bajak laut Iblis Merah yang membantunya.

Begitulah, sesudah kami bertempur mati-matian, kapal kami hancur dan tenggelam di Selat Karimata. Mungkin di antara semua awak kapal hanya sayalah yang masih hidup, karena beruntung dapat berpegang pada bilah-bilah papan, sisa-sisa pecahan kapal yang terapung di laut. Setelah berhari-hari dipermainkan ombak, akhirnya aku terdampar di pulau kecil ini.”

“Jadi, dari semua awak kapal itu hanya Bapaklah yang masih hidup?” Mahesa Wulung cepat memotong ceritera orang tua itu, karena iapun tiba-tiba teringat kepada mendiang ayahnya.

“Ya, ya, hanya akulah Si Camar Seta, orang yang tak berguna yang masih hidup...,” ujar si orang tua dengan terharu. “Semua tewas termasuk seorang perwira laut sahabat karibku bernama Ki Soreng... ah aku agak lupa namanya.”

“Ki Sorengyudo maksud Bapak?” sekali lagi Mahesa Wulung memotong perkataan Ki Camar Seta sehingga membuat orang tua ini terperanjat seraya mendekat ke arah Mahesa Wulung.

“Apakah Angger Mahesa Wulung mengenalnya?” “Dialah ayahku sendiri, Bapak!”

“Ookh, jadi kaulah putera mendiang Ki Sorengyudo!” seru Ki Camar Seta seraya memeluk Mahesa Wulung penuh harunya. Dua butir air mata meleleh di pipinya yang halus licin. “Rupanya Tuhan telah mempertemukan kita di tempat yang terpencil ini, Angger Mahesa Wulung.”

Pertemuan itu bagi ketiga orang tersebut sungguh merupakan kejadian yang tak terduga dan sangat menggembirakan. Maka sejak saat itulah Ki Camar Seta menganggap Mahesa Wulung sebagai puteranya sendiri.

Berkat pengobatan Ki Camar Seta dan perawatan Niken Pandan Arum yang cermat dan penuh kasih sayang, maka tubuh Mahesa Wulung berangsur- angsur pulih kembali kesehatannya dan terbebas dari pengaruh racun obat yang terminum ke dalam tubuhnya.

*** 5

SELAMA tinggal di pondok Ki Camar Seta, dari hari ke hari Mahesa Wulung dengan tekunnya mengikuti semua tuntunan-tuntunan orang tua itu dalam mempelajari ilmu pedangnya yang hebat. Hampir setiap hari Pandan Arum selalu mendampingi mereka berdua, lebih-lebih dalam setiap waktu istirahat sehabis latihan. Selain ia menyediakan air minuman, juga tak pernah lupa menyiapkan jagung rebus yang masih berkepul hangat.

Hari-hari itu rasanya panjang sekali bagi Mahesa Wulung, tetapi hal itu tak pernah melemahkan semangatnya, sebab ia telah bertekad akan menyelesaikan semua pelajaran yang diberikan oleh Ki Camar Seta dengan sebaik-baiknya.

“Angger Mahesa Wulung, ingatlah senantiasa cara- cara memegang tangkai pedang menurut petunjuk- petunjukku. Tempat itu harus kau pegang dengan teguh dan jangan lupa, gerak pergelangan tanganmu harus lincah agar mata pedangmu dapat bergerak ke segenap penjuru angin.”

Begitulah, setiap kali Ki Camar Seta selalu memberi petunjuk-petunjuk dan mengulanginya kembali dengan sabar jika muridnya ini membuat kekeliruan. Ki Camar Seta sendiri merasa puas dan kagum melihat ketangguhan muridnya dalam berlatih di setiap harinya.

“Hmm, yah, aku tak heran dengan kekerasan jiwanya. Ia benar-benar mirip dengan ayahnya, Ki Surengyudo, mendiang sahabatku. Aku adalah bekas prajurit armada Demak yang terpencil terdampar di pulau sepi ini, sehingga masa-masa tuaku banyak terbuang sia-sia dari bebrayan agung. Untunglah di tempat yang terpencil ini akan dapat melenyapkan kesepianku dengan melatih dan memperdalam ilmu pedangku dengan sempurna. Namun ketika aku benar- benar telah menguasainya, rasa cemasku timbul disebabkan umur tuaku yang terus meningkat dan akhirnya ilmu pedangku ini akan musnah kembali. Itulah yang dahulu amat kucemaskan! Tetapi sekarang ini, dengan perjumpaan yang tak terduga-duga dengan Mahesa Wulung dan gadisnya, harapanku kembali menyala dengan cemerlang. Kepada merekalah ilmu pedangku akan kuwariskan!”

Ki Camar Seta selalu melatih Mahesa Wulung bertempur di tempat yang berganti-ganti. Sekali diajaknya kedua muridnya berlatih di tempat yang terjal di daerah perbukitan, kemudian di dalam hutan yang lebat dan tak jarang ketiganya berkejaran di antara batu-batu di tengah sungai yang deras alirannya. Tapi tempat yang paling banyak dipilih ialah daerah pesisir.

Di tepi pantai itulah Ki Camar Seta memberikan tataran-tataran tertinggi dari ilmu pedangnya kepada muridnya, Mahesa Wulung. Jika keduanya sedang berlatih, Pandan Arum selalu menunggunya dan mengawaskan dari kejauhan saja. Dia sudah cukup puas dengan mempelajari bagian-bagian yang dianggap penting dari ilmu pedang Ki Camar Seta. Itu tak mengherankan jika ia hanya mempelajari sebagian saja, karena dia sendiri sudah mempunyai ilmu Sabet Alun ajaran bibinya, Nyi Sumekar. Ciri ilmu itu selalu mempergunakan selendang sebagai senjata!

Sering kali ia merasa kagum jika menyaksikan kedua orang itu berlatih pedang. Keduanya tampak seperti dua ekor burung camar yang berkejaran di tepi pantai amat lincahnya. Begitu kerasnya berlatih hingga kadang-kadang Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta tak terasa sampai jauh masuk ke dalam air. Pedang di tangan mereka seperti baling-baling yang berpusaran dan sekali-sekali berbentur dengan dahsyatnya sampai menimbulkan bunga-bunga api yang berloncatan. Dan jika ombak besar datang dari tengah laut bergulung- gulung, kedua orang itu berlompatan ke atas hingga ombak yang menghempas ke pantai itu dua jengkal lewat di bawah kaki-kaki mereka.

“Nah, Angger Mahesa Wulung. Semua telah kau pelajari dengan baik. Sekarang cobalah gerakan gerakanmu yang dapat kau kerjakan seorang diri. Kau boleh menambahnya dengan unsur-unsur gerak yang telah kau kuasai sebelumnya. Dengan menggabung- gabungkan beberapa unsur tadi pastilah gerakanmu akan lebih hebat. Maka, sekarang mulailah! Aku akan mengawasimu!”

Ki Camar Seta cepat meloncat ke tepi, tak jauh dari Pandan Arum berdiri.

Mahesa Wulung segera memulai gerakannya. Ia menekuk tangan kirinya menjelang di depan dada sedang tangan kanannya yang memegang pedang lurus ke depan. Pedang itu tergenggam tegak lurus dengan mata pedang menghadap ke arah muka. Setelah ia mengangguk hormat kepada Ki Camar Seta, Mahesa Wulung mulai memusatkan pikirannya. Tiba- tiba saja terlintas di hadapannya wajah almarhum ayahnya yang tergores pada wajah gurunya itu. Maka seperti dicengkam oleh perasaan gaib, tiba-tiba ia merasa seolah-olah berhadapan dengan almarhum ayahnya sendiri, yang sedang mengujinya.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Besar, Mahesa Wulung mulai menggerakkan pedangnya. Dimulailah dari gerakan-gerakan dasar yang paling sederhana. Satu demi satu, setahap demi setahap. Kemudian meningkat kepada unsur-unsur gerak yang paling sukar dan begitulah akhirnya Mahesa Wulung bergerak semakin lama semakin hebat dan mengerikan.

Dalam keadaan begitu Mahesa Wulung hampir melupakan keadaan sekelilingnya. Lupa bahwa ia bergerak seorang diri. Yang terbayang di hadapannya adalah wajah ayahnya yang tersenyum-senyum bangga memandang ke arah dirinya. Oleh sebab itu Mahesa Wulung berusaha mengungkapkan segala ilmu yang telah dimilikinya. Tambahan lagi ia menyalurkan aji pukulan ‘Lebur Waja’nya dalam setiap sabetan pedangnya, sehingga gerakan pedangnya hanya tampak sebagai kilatan-kilatan sinar yang menyambar- nyambar laksana halilintar.

Tubuh Mahesa Wulung sendiri tampak seperti menari dengan lincahnya, melesat ke sana, meloncat ke mari, kemudian berjumpalitan di udara dan mendarat kembali disertai sabetan-sabetan pedangnya yang mengerikan.

Tetapi Mahesa Wulung yang sekarang, bukanlah Mahesa Wulung pada saat mulai belajar dari tataran pertama. Sekarang selain segala unsur gerak ilmu pedang dari Ki Camar Seta telah dikuasainya, secara tak sengaja ia telah melengkapinya pula dari segala macam pengalamannya sejak pertama kali ia berhadapan dengan gerombolan hitam Alas Roban di pesisir utara Jawa, kemudian melawan bajak-bajak laut Pulau Ireng dari Karimun Jawa, ditambah gerakan-gerakan yang pernah dipelajarinya dari Pendekar Prahara di Tanjungpinang dan juga pengalamannya yang terakhir melawan orang-orang Iblis Merah. Dan dengan begitu tanpa setahu dirinya, ia telah berhasil mengungkapkan ilmu pedang yang maha dahsyat.

Ki Camar Seta dan Pandan Arum yang mengawasi permainan pedang Mahesa Wulung hampir-hampir tak percaya melihat kehebatan gerak pedang itu. Gerakan tubuh Mahesa Wulung yang lincah dan kadang-kadang berlompatan di atas deburan ombak yang memecah ke pantai, rupa-rupanya saja menarik perhatian makhluk yang lain. Sebab tak lama kemudian terlihatlah bayangan hitam di atas pasir pantai yang berputar- putar dengan cepatnya. Ki Camar Seta dan Pandan Arum melihat ke atas berbareng!

“Burung elang laut!” desis Ki Camar Seta.

“Rupanya ia tertarik kepada gerakan Kakang Mahesa Wulung, Bapak!” Pandan Arum pun berseru dengan kecemasan.

“Ya, benar katamu itu, Angger. Lihatlah elang itu mulai melayang dan melingkar-lingkar turun. Pasti ia siap menyerang Angger Mahesa Wulung!”

Namun di saat kedua orang itu merasa cemas, Mahesa Wulung tetap bermain dengan ilmu pedangnya yang dahsyat. Ketika ia menyabetkan pedangnya ke atas, terkejutlah Mahesa Wulung seketika, sebab dari udara sebuah bayangan hitam menukik dan menyambar ke arah kepalanya.

Wesss... Sambaran cakar-cakar elang itu memang hebat, tetapi Mahesa Wulung keburu merendahkan kepalanya, sehingga sambaran tadi meleset sama sekali. Bersamaan waktunya, selesai menghindar Mahesa Wulung menyabetkan pedangnya ke arah tubuh elang itu. Tetapi burung itupun seperti digerakkan oleh naluriahnya, cepat meliuk ke atas dan kini tebasan pedang Mahesa Wulung ganti membabat udara kosong.

Burung elang itu terus membubung ke atas dan kembali melingkar-lingkar di udara. Mata Mahesa Wulung terus mengawasi gerak burung elang di udara. Lama-kelamaan kepala Mahesa Wulung merasa agak pening setelah mengikuti gerakan elang yang melingkar-lingkar dengan cepatnya. Di saat itulah burung elang itu kembali menyambar ke arahnya.

Sekali lagi Mahesa Wulung berusaha menghindar dari sambarannya, namun tak urung cakar-cakar tajam elang itu berhasil menyambar bajunya sampai robek. Berbareng elang itu membubung ke udara, Mahesa Wulung membabatkan pedangnya ke arah burung elang itu, tetapi meleset! Kecuali dua lembar bulu ekornya saja yang terbabat putus!

Mahesa Wulung merasakan sesuatu yang mengalir di bahunya dan pedih, maka ia merabanya dengan jari kirinya. Darah! Rupanya cakar elang itu telah merobek bahunya. Melihat ini Pandan Arum terpekik kecemasan.

“Tenanglah engkau, Angger!” seru Ki Camar Seta. “Janganlah kita menambah kegugupan kepada Angger Mahesa Wulung. Itu akan tambah membahayakan dirinya!”

Burung elang laut itu semakin ganas setelah melibat darah mengalir dari luka-luka pada bahu Mahesa Wulung, maka ia cepat melingkar-lingkar dengan derasnya untuk bersiap-siap menyambar kembali. Sekali ini Mahesa Wulung telah kenyang akan pengalaman dan siasat penyerangan si burung elang laut. Ia tidak lagi berusaha mengikuti gerakan melingkar dari elang itu dengan matanya, sebab akan membuat rasa pusing di kepala. Mahesa Wulung hanya memusatkan perhatiannya pada ujung mata pedangnya, sementara itu tangan kirinya melolos sarung pedang yang masih tersisip pada ikat pinggangnya sebelah kiri.

“Heh, aku harus memakai siasat untuk mengalahkannya!”

Burung elang itu menyambar kembali dengan dahsyatnya. Cakar-cakarnya yang berkuku tajam mengembang  penuh, siap  merobek-robek  dan mencengkeram daging korbannya. Sekonyong-konyong tangan kiri Mahesa Wulung melemparkan sarung pedangnya ke arah tubuh elang laut. Untuk kali ini, elang itu kembali menghindari benda yang menyambar ke arah tubuhnya, namun di saat itu pula Mahesa Wulung melesat ke atas dan membacokkan pedangnya! Sraat. Tebasan pedang Mahesa Wulung menyambar tubuh burung elang ini, dan bersamaan satu jeritan keras dari mulutnya, elang laut yang ganas itu runtuh ke tanah dengan tubuhnya terbelah dua! Begitulah

kedahsyatan ilmu pedang Sigar Maruta.

Pandan Arum segera berlari ke arah Mahesa Wulung dan memeluknya dengan erat. “Oh, kau terluka, Kakang! Aku sungguh ngeri melihat pertempuran tadi ”

“Tapi sekarang sudah berlalu, bukan? Dan kiranya hanya tanganmu yang haluslah yang dapat menyembuhkan luka-luka itu,” Mahesa Wulung berkata sambil tersenyum manja, membuat Pandan Arum tersipu-sipu.

Saking gemasnya jari-jari gadis ini segera beraksi dengan cubitan-cubitannya pada lengan Mahesa Wulung.

“Aduh, aduh... piye iki. Diminta mengobati kok malah mencubit,” Mahesa Wulung semakin berkelakar, sedang Ki Camar Seta yang telah berada di sampingnya ikut tersenyum-senyum geli.

Luka-luka Mahesa Wulung segera diperiksa oleh orang tua itu. “Mmm, luka-lukamu tidak terlalu dalam, Angger. Tapi harus cepat-cepat diobati.”

Mereka bertiga pulang ke pondoknya. Meski latihan hari itu berakhir dengan peristiwa yang aneh, namun bagi Mahesa Wulung sendiri merasa beruntung sebab elang laut yang ganas tadi seolah-olah telah mencoba ilmu pedangnya yang dahsyat. Dan ternyata meski ilmu pedangnya telah hebat, namun satu hal yang tak boleh dilupakan ialah siasat dalam bertempur.

***

Matahari semakin jauh bergeser ke arah barat, sementara mega putih yang bersaput warna jingga kecoklatan berarak-arak mengalir ke arah selatan. Dan pada saat-saat warna biru kegelapan mulai merayapi langit di sebelah timur, matahari dengan malasnya tenggelam di cakrawala. Kini malam telah merajai dan alampun seperti tidur tampaknya, semuanya serba tenang dan damai.

Pada hari berikutnya setelah luka-luka Mahesa Wulung diobati dan mulai kering, kembalilah Ki Camar Seta melatihnya dalam ilmu pedangnya. Ketika mereka makin tenggelam dalam menekuni gerak-gerak pedang di tangannya yang berpusaran seperti prahara dan sesekali mematuk-matuk laksana seekor naga yang marah, secara tiba-tiba saja ketekunan mereka dibuyarkan oleh satu jeritan panjang.

Ya, satu jeritan panjang bernada kengerian dari mulut Pandan Arum membuat Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta berlarian ke arah tempatnya. Tampaklah Pandan Arum menjerit sambil menunjuk-nunjuk ke arah semak ilalang dan betapa kagetnya ketika Mahesa Wulung serta Ki Camar Seta melihat ke arah tempat itu. Dari sela-sela daun ilalang, muncul sebuah tangan yang menggapai-gapai ke atas, dengan belepotan darah merah yang telah kering pada jari-jarinya.

Melihat ini, mereka bertiga serentak berlari ke arah yang sama untuk memeriksa dan memberikan pertolongan seperlunya. Di tempat itu tergeletak seorang laki-laki yang rupa-rupanya telah merayap dari tempat yang jauh dan mulai kehabisan tenaga, sehingga ia hanya kuasa menggapai-gapaikan tangannya saja.

“Sibahar,” seru Mahesa Wulung kaget setelah ia dapat mengenali wajah orang ini. “Dia adalah seorang anak buahku, Bapak!”

“Kasihan dia. Biarlah aku mencoba mengobatinya,” ujar Ki Camar Seta sambil menegakkan kepala Sibahar dan kemudian diletakkan ke atas pangkuannya.

Sibahar mencoba tersenyum, sementara tangan kirinya ditekankan pada dadanya yang terluka.

“Tak ada gunanya, Tuan,” desah Sibahar kemudian. “Waktuku tidak banyak lagi. Kini aku merasa berbahagia dapat bertemu dengan Tuan Barong Makara dan nona pendekar Pandan Arum.” Sibahar menarik nafas dalam-dalam. “Aku akan berceritera ”

Mahesa Wulung atau Barong Makara itu segera merapatkan dirinya. Katanya, “Aku ingin sekali mendengarnya, Sibahar. Tetapi sekarang lebih baik engkau beristirahat. Telah terlalu banyak darahmu yang keluar. Sudahlah, Sibahar, tenangkanlah dirimu.” “Tidak apa-apa.  Biarlah aku mulai berceritera kepada Tuan. Setelah itu aku akan mati dengan tenang. Nah, dengarlah.... Setelah  Tuan  pergi meninggalkan kami untuk menyamar dan mencari keterangan tentang persembunyian orang-orang Iblis Merah, beberapa pekan kemudian, nona pendekar Pandan Arum pun telah pergi untuk menyusul Tuan.” Sibahar berhenti sejenak, sambil mengatur nafasnya yang mengalir semakin cepat. “Tetapi, kalian berdua terlalu lama pergi sehingga kami benar-benar merasa cemas. Akhirnya Kakang Jogoyudo telah menyuruhku untuk mencari Tuan berdua. Kami semua berenam dengan awak-awak kapal pergi ke tempat-tempat di segenap pulau ini. Tetapi malanglah kami, sebab di sebuah jalan kecil yang menuju ke Lembah Maut, kami telah disergap oleh orang-orang Iblis Merah! Dan meskipun kami sekuat tenaga melawan mereka, akhirnya orang-orang Iblis Merah itulah yang menang. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun mereka bertempur seperti setan! Kelima awak kapal tadi telah dicincang mati, sedang aku hanya dibiarkan dengan terluka begini, agar aku masih ada waktu untuk mencari Tuan dan menyampaikan tantangannya.” Sibahar berkata sambil menekan luka di dadanya.

Mahesa Wulung merasa ngeri melihat luka-luka pada dada Sibahar. Juga sebuah mata uang logam tertancap hampir seluruhnya di dalam luka-luka itu.

“Tantangan?” desis Mahesa Wulung dengan geramnya.

“Yah, mereka telah menantang Tuan untuk membuat perhitungan dengan Lanun Sertung, pemimpin gerombolan Iblis Merah itu. Mereka menanti kita di Lembah Maut, tepat di siang hari jika mata hari berada di atas kepala kita.” Sibahar menjadi semakin pucat sedang kata-kata yang terakhir hampir-hampir diucapkan setengah berbisik.

Sibahar kembali mencoba tersenyum dan berbareng jantungnya semakin lemah berdetak, mulut Sibahar menyebut nama Tuhan Yang Maha Besar. Setelah itu tubuh Sibahar terkulai lemah. Ia telah pergi, sedang wajahnya masih membayang senyum kepuasan seolah-olah menyatakan kerelaannya untuk meninggalkan dunia yang ramai ini.

Mereka bertiga menundukkan kepala masing- masing dengan penuh rasa haru.

Pengorbanan Sibahar tidaklah sia-sia. ia telah menunjukkan keperwiraannya. Sebagai wakil dari seluruh teman-temannya para prajurit di pulau Bintan, ia telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Meskipun jasadnya terbaring di pulau yang terpencil ini, namun namanya akan selalu terpancang pada deretan nama-nama laskar armada Demak dengan bau harum semerbak.

Dan semenjak saat itu, Mahesa Wulung berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan benar-benar memenuhi tantangan orang-orang Iblis Merah. Ia akan melawan Lanun Sertung dan membinasakannya. Dosanya sudah terlalu luber untuk diampuni.

***

Ketika matahari makin bertambah tinggi, udara seperti dibakar rasanya. Panas dan engas. Tetapi, di jalan kecil menuju ke pintu gerbang batu dari Lembah Maut, tampaklah tiga orang mengendap-endap mendekati tempat itu. Sebentar saja ketiganya sudah sampai di pintu gerbang batu, dan merekapun berhenti sejenak.

Seorang tua bercaping yang tidak lain adalah Ki Camar Seta tampak memberikan petunjuk-petunjuk.

“Nah, sekarang Angger Mahesa Wulung, masuklah engkau ke dalam lembah ini seorang diri terlebih dahulu. Jika engkau telah bertempur beberapa jurus, barulah kami berdua akan bergabung dengan Angger. Bapak akan masuk dari sebelah barat, dan Angger Pandan Arum dari arah timur. Sudah jelas, bukan? Sekarang, mari kita berpencar!” ujar orang tua itu setengah berbisik, kemudian iapun berbalik dan mulai merayap ke arah barat.

Demikian pula Pandan Arum mengendap-endap ke sebelah timur. Sedang Mahesa Wulung sendiri segera turun ke dalam Lembah Maut. Ia sangat hati-hati dan sebentar-sebentar tangannya mengelus tangkai pedangnya. Geraknya lincah. Sambil mengendap, sebentar-sebentar ia berhenti di balik batu-batu besar yang bertonjolan di sana-sini. Makin lama ia makin mendekat ke tengah-tengah lembah, di mana ia pernah ditawan beberapa waktu berselang di tempat itu.

Sekali lagi ia berhenti di balik batu besar. Pancingannya terus menyelidik. Meja batu besar yang terhampar di bawah batang pohon kering yang menjulang tinggi ke atas, tampak dengan jelasnya. Juga pondok-pondok beratap ilalang pun kelihatan. Tetapi suasana di sini tampak sepi. Lengang. Tak ada gerak dari makhluk hidup yang lewat, seolah-olah tempat ini telah lama ditinggalkan penghuninya, orang-orang Iblis Merah.

Mahesa Wulung mulai curiga. Sebentar ia mulai memandang ke bawah melihat bayang tubuhnya. “Hmm, masih condong sedikit ke barat. Sebentar lagi tepat matahari berada di atas kepala dan mereka harus muncul menetapi tantangannya.”

Dilangkahkannya kakinya pelan-pelan mendekati meja batu. Tepat pada langkah yang ke lima ia berhenti kembali. Mahesa Wulung melihat ke bawah. Tepat waktunya! Bayangan tubuhnya tepat tegak lurus di bawah kaki dan matahari bersinar dengan terik seolah-olah mau membakar Lembah Maut itu. “Heei, orang-orang Iblis Merah! Aku telah siap memenuhi tantanganmu! Keluarlah!” teriak Mahesa Wulung yang berkumandang kejar-mengejar memantul ke segenap sudut Lembah Maut.

Bersamaan lenyapnya gema teriakan Mahesa Wulung, dari sebelah utara berdesingan benda-benda bersinar yang menyambar ke arah tubuhnya.

“Senjata-senjata rahasia!” desis Mahesa Wulung sambil melolos pedangnya dengan gerak yang cepat, sekaligus diputarnya memagari tubuhnya.

Trang! Crak! Crak! Puluhan benda bersinar yang ternyata mata uang logam itu berpentalan terbelah dua ketika beradu dan tersampok oleh putaran pedang Mahesa Wulung. Begitu serangan itu berakhir, mendadak dari arah barat berkelebat sebuah tangan dari balik batu yang besar dan sekali lagi puluhan benda bersinar berpusaran menyambar ke arah Mahesa Wulung.

Tetapi Mahesa Wulung bukan anak-anak lagi yang takut oleh benda-benda berkilatan itu, maka dengan tenangnya ia bersiaga. Ketika serangan mata uang logam itu hampir menyentuhnya, dengan tiba-tiba Mahesa Wulung menggenjotkan kedua kakinya ke tanah dan tubuhnya melesat ke udara berjumpalitan dengan manisnya. Puluhan mata uang logam itu melayang di bawah tubuhnya dengan deras kemudian bertancapan ke dalam tanah. Sesaat kemudian Mahesa Wulung mendarat kembali dengan berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh seperti bukit karang, tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun hebatnya.

“Ha, ha, ha, ha. Kau memang hebat, kawan. Tetapi jangan keburu bertepuk dada, sebab sebentar lagi riwayatmu akan tamat di Lembah Maut ini!” terdengar suara itu bergaung memantul ke tebing-tebing lembah tanpa diketahui siapa orangnya yang telah berteriak itu.

Mahesa Wulung menggertakkan giginya dengan marah, sebab ia merasa seperti dijadikan sasaran permainan maut oleh orang-orang Iblis Merah.

“Ayo, keluarlah kamu, orang-orang Iblis Merah! Hadapilah aku sebagai orang-orang yang jantan!” Mahesa Wulung berteriak nyaring.

Sekali lagi terdengar derai ketawa dari arah utara dan puluhan mata uang logam menyambar hebat ke arahnya. Untunglah Mahesa Wulung cukup waspada dan serangan ketiga ini pun gagal karena putaran pedang Mahesa Wulung begitu rapat mengurung tubuhnya sehingga tak sebutir uang logam pun yang berhasil menerobosnya.

Sesaat kemudian, setelah serangan itu reda, Mahesa Wulung cepat menyarungkan pedangnya kembali. Matanya mengawasi segenap sudut-sudut Lembah Maut yang membentang luas di sekitarnya. Ia yakin, bahwa di balik batu-batu besar yang bertonjolan itu pastilah bersembunyi orang-orang Iblis Merah. Namun sampai pada saat itu tak seorang pun yang muncul dan secara terang-terangan bertempur berhadapan muka.

“Hemm,” desisnya. “Baiklah, jika mereka masih main sembunyi, aku akan memaksa mereka untuk keluar dari tempatnya.”

Mahesa Wulung melolos serulingnya dari ikat pinggangnya yang selama ini hampir dilupakan, kemudian ditiupnya dengan tenang.

Sebuah irama, mulai mengalun mendayu-dayu memilukan. Makin lama kian memilukan, menggetarkan udara Lembah Maut, mempengaruhi setiap jiwa insan yang mendengarnya dengan dahsyat. Irama itu merayapi udara dan bagaikan kekuatan sihir, melumpuhkan perasaan manusia yang hebat sekalipun.

Tak antara lama dari balik batu-batu besar yang bertonjolan itu, bermunculanlah orang-orang Iblis Merah dengan terhuyung-huyung meringis, sementara kedua tangannya berserabutan menutupi kedua telinganya untuk menahan alunan irama seruling Mahesa Wulung yang menusuk-nusuk memilukan. Hanya Lanun Sertung dan Marangsang yang terbilang tokoh jagoan agak tahan melawan alunan seruling itu meskipun keduanya harus mengerahkan segenap pemusatan tenaga dalamnya.

Kedua orang itu bersemedi untuk mengatur jalan nafas dan aliran darahnya agar tetap lancar, sedang untuk itu, gigi mereka bergemeletuk dan tubuhnya bergetar menggigil sementara peluh dingin keluar dari lobang-lobang kulitnya!

Tetapi di balik sebuah batu besar, tampaklah seorang yang tetap berdiri tegak laksana tugu karang yang perkasa. Rambutnya gondrong tak teratur awut- awutan. Ia mengenakan jubah panjang berwarna merah darah dan pada bahunya tergantung sebuah kulit siput berlekuk-lekuk bulat berwarna dengan putih kecoklatan.

Orang ini yang berdiri tidak jauh dari Lanun Sertung dan Marangsang, dengan tajam dan menggeram ia melihat ke sekeliling kepada orang- orang Iblis Merah lainnya yang kalang kabut terkena irama seruling Mahesa Wulung.

“Hah, keparat! Tukang suling itu memang hebat luar biasa! Tidak heran kalau sahabat-sahabatku ini dibuatnya tak berdaya,” gumam si rambut gondrong seraya memegang kulit siputnya. “Memang mereka bukanlah tandingannya, tetapi akulah yang akan menghadapinya!”

Berkata begitu, si rambut gondrong secepatnya meniup kulit siput yang merupakan sebuah terompet dan melengkinglah suatu bunyi himbauan yang berlenggok meliuk-liuk.

Kedua bunyi ini bertemu dan menggelegar di lembah itu, dan sesaat kemudian kedua bunyi tersebut saling melilit berkejar-kejaran seperti dua ekor ular yang bertarung. Namun beberapa waktu kemudian si rambut gondrong ini mengerutkan alisnya dan dari dahinya bertetesan peluh dingin. Dalam hati ia mengumpat sejadi-jadinya.

“Iblis laknat! Dari mana orang muda itu mendapat ilmu seruling yang sedahsyat dan sempurna seperti itu. Bunyi terompet siputku makin tergeser dan terdesak. Jika terus-terusan begini pastilah aku akan kalah dan betapa aku akan kehilangan muka di hadapan tokoh-tokoh hitam di nusantara ini. Baiknya aku serang saja dia. Dengan begitu ia akan terpaksa melawanku dan terhentilah irama serulingnya!! Aku merasa kasihan melihat sahabat-sahabatku ini terlalu lama menderita.”

Si rambut gondrong segera menghentikan tiupan terompet siputnya dan sambil menjangkau tongkat kayunya, ia melesat turun dari tebing lembah melayang turun ke arah Mahesa Wulung berdiri. Jubahnya berkelebatan ketiup angin seperti sayap seekor kelelawar raksasa siap menyambar mangsanya.

Mahesa Wulung terperanjat! Cepat-cepat ia menghentikan tiupan serulingnya dan menyelipkan kembali ke ikat pinggangnya. Semula ia merasa syukur bisa mengalahkan bunyi lengkingan terompet siput itu, tetapi kini ia dikagetkan oleh serangan musuhnya yang tiba-tiba meluncur ke arah dirinya dibarengi deraian ketawa yang menggeledek.

“Hah, ha, ha, ha, kau harus mampus di tanganku, orang muda! Tak seorang pun pernah lolos dari tangan Rikma Rembyak! Ha, ha, ha, ha!”

Wusss!

Tongkat si rambut gondrong menyabet kepala Mahesa Wulung, tapi mendadak satu kilatan sinar putih menyambutnya.

Tak!

Ujung tongkat terbabat putus oleh pusaran pedang di tangan Mahesa Wulung, membuat Rikma Rembyak meloncat mundur dan memaki-maki.

“Edan. Orang muda ini luar biasa!”

Kembali ia bersiaga dan menyerang lagi dengan teriakan tinggi ke arah Mahesa Wulung. Keduanya segera terlibat dalam pertempuran sengit. Tandang si Rikma Rembyak benar-benar mengerikan tak ubah gerak seekor kelelawar setan yang meliuk-menyambar nyamuk-nyamuk untuk dilalapnya.

Tetapi Mahesa Wulung bukanlah nyamuk-nyamuk yang bisa dianggap enteng begitu saja. Sebagai seorang perwira laut armada Demak ia tak gampang berputus asa menghadapi lawan yang bagaimanapun hebatnya. Bahkan ia makin bersemangat dan bila keringat telah membasahi dadanya, geraknya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton yang menghancurkan setiap perintang yang malang-melintang di hadapannya.

Debu berkepul beterbangan di tempat kedua orang yang bertempur semakin hebat. Sementara itu orang- orang Iblis Merah telah terbebas oleh pengaruh tiupan seruling Mahesa Wulung dan mereka pada mengusap keringat yang banyak bertetesan dari lubang-lubang kulit. Mereka diam-diam merasa kagum melihat musuhnya berani bertempur melawan Pendekar Rikma Rembyak yang dianggap sebagai gurunya itu. Terutama Lanun Sertung dan Marangsang, yang menaruh dendam kepada Mahesa Wulung, sehingga mereka cepat berlompatan turun mendekati titik pertempuran itu.

Suatu ketika Rikma Rembyak memutar tongkat kayunya dan menggempur ke arah Mahesa Wulung yang telah siap menyambutnya. Dua benturan senjata terdengar dan keduanya terpental surut ke belakang beberapa langkah.

Betapa kagetnya Rikma Rembyak. Belum lagi ia bersiaga, tiba-tiba Mahesa Wulung menerjang maju dengan sabetan pedang yang deras sambil berseru nyaring.

“Jangan kau mimpi dapat merobohkan Mahesa Wulung! Tak ada jalan kabur untukmu, Rikma Rembyak!”

Pada detik itu juga, di saat pedang Mahesa Wulung mengancam jiwanya, pendekar Rikma Rembyak yang namanya telah menghantui sepanjang laut Jawa itu melesat ke atas, sekaligus memukulkan tongkatnya ke samping ke arah punggung Mahesa Wulung.

Diserang secara demikian, secara cepat dan tiba- tiba Mahesa Wulung merebahkan badannya lalu bergulir menjauh dari tempat itu. Karuan saja pukulan maut tongkat Rikma Rembyak meleset tak mengenai sasarannya, sebaliknya membentur sebuah batang pohon tua sampai berderak roboh ke tanah.

Sekali lagi Rikma Rembyak, pendekar yang rambutnya gondrong serawutan itu, memburu ke arah Mahesa Wulung dengan tongkatnya yang diputar seperti baling-baling. “Ha, ha, ha, telah kukatakan bahwa tak seorang pun yang bisa lolos hidup-hidup dari tangan Rikma Rembyak. Nah, ajalmu segera tiba, Mahesa Wulung!”

Sebelum putaran tongkat itu menyentuh tubuhnya, Mahesa Wulung cepat berdiri kembali menyongsong tongkat Rikma Rembyak!

Traak!

Untuk kedua kalinya ujung tongkat si rambut gondrong terbabat putus oleh pedang lawan hampir dua jengkal panjangnya.

Melihat kenyataan ini, Rikma Rembyak melompat mundur ke arah batu-batu besar sambil berteriak, “Lanun Sertung! Marangsang! Keroyoklah wong nekad ini. Aku akan beristirahat sebentar!”

Rikma Rembyak berseru sambil napasnya berlompatan tak teratur. Selama ini baru sekarang ia menghadapi lawan yang semuda itu, tetapi keperwiraan dan ilmunya hampir melebihi dirinya.

Lanun Sertung dan Marangsang yang telah menunggu saat-saat itu, tak ragu-ragu lagi berlompatan menyerbu ke arah Mahesa Wulung. Begitu pula orang-orang Iblis Merah lainnya segera bergerak mengurung.

Sebelum mereka menyerang, mendadak dari arah barat dan timur melesat dua bayangan ke arah mereka. Kedua bayangan itu tak lain adalah Ki Camar Seta dan Pandan Arum yang muncul dari balik batu- batu besar. Kini keduanya berdiri di dekat Mahesa Wulung.

“Kurang ajar! Ternyata kalian betul-betul sudah bosan hidup kiranya. Baiklah, kamu bertiga akan mampus berbareng di Lembah Maut ini!” teriak Lanun Sertung sambil melolos dan mengelus-elus pedangnya.

“Majulah kalian berbareng! Senjata-senjata kami sudah siap merenggut nyawamu!” balas Mahesa Wulung dengan tenang membikin orang-orang Iblis Merah bertambah jengkel dan serentak mereka menyerbu dengan teriakan-teriakan yang mengerikan.

Pendekar Rikma Rembyak pun tak ketinggalan. Ia turut terjun ke arena pertempuran. Dan Lembah Maut itu, kini digetarkan oleh derapan dan langkah-langkah kaki mereka yang bertempur dengan sengitnya.

Dengan tangkasnya Mahesa Wulung menyambut serangan Lanun Sertung dan Marangsang yang datangnya berbareng.

Sekejap saja ketiganya terlibat dalam lingkaran pertempuran yang seru. Kalau kedua tokoh bajak laut itu bertempur laksana dua ekor serigala yang lapar dan ganas, sedang Mahesa Wulung bergerak sangat lincah tapi ujung pedangnya bersambaran seperti ujung paruh burung garuda yang tajam.

Di bagian lain, Ki Camar Seta yang bercaping itu sibuk melawan pendekar Rikma Rembyak. Ditambah empat orang Iblis Merah yang juga mengeroyoknya, membuat tubuh Ki Camar Seta seperti dikurung oleh kilatan-kilatan pedang lawan, dan senjata tongkat Rikma Rembyak yang benar-benar membahayakan! Maka ia cepat melepas capingnya dan mengagumkan! Caping itu ternyata juga sebagai sebuah perisai yang mampu menangkis setiap ujung dan setiap benturan senjata lawan.

Rikma Rembyak dan keempat orang Iblis Merah itu kaget, sebab setiap kali senjata-senjata mereka membentur perisai Ki Camar Seta, menjadi terpental seperti ditolakkan oleh tenaga raksasa! Seandainya mereka tahu, tak perlu mereka heran sebab caping perisai Ki Camar Seta yang tampaknya sepele, hitam lusuh berdebu itu, dibuatnya dari kulit ikan hiu yang dikeringkan dan direndam dalam ramuan-ramuan daun yang membuatnya sekeras baja, tetapi mudah melentur seperti karet, dan kesemuanya itu memerlukan waktu dua ratus hari.

Sementara itu Pandan Arum dengan senjata cambuk Naga Geni menghadapi Lodan dan enam orang Iblis Merah lainnya. Kalau mula-mula Lodan dan teman-temannya mengira mudah berhadapan dengan seorang gadis dalam pertempuran di Lembah Maut itu, setelah berlangsung beberapa gebrakan ternyata dugaan mereka keliru sama sekali. Memang jumlah mereka lebih banyak dan senjata-senjata di tangan mereka mengurung rapat Pandan Arum, tetapi tak sebuah pun mampu menembus putaran cambuk Naga Geni. Malahan dua orang Iblis Merah tak lama kemudian terpental beberapa jangkah dengan dada terbakar hangus ketika ujung cambuk itu mematuknya. Melihat ini, tandang Lodan dan ke empat teman-temannya semakin nekad.

Dari lingkaran pertempuran yang lain terdengar pula jeritan parah, dan Ki Camar Seta berhasil merobohkan tiga orang di antara para pengepungnya. Diam-diam pendekar Rikma Rembyak menggerundal di dalam hati. Tadi ia telah merasakan kehebatan ilmu pedang Mahesa Wulung dan kini ia kembali menghadapi Ki Camar Seta yang mempunyai ilmu pedang yang sama.

Di utara tampaklah Mahesa Wulung bertempur dengan gigihnya. Kilatan-kilatan pedangnya benar- benar membingungkan kedua tokoh bajak laut itu, sementara sarung pedang di tangan kirinya pun bergerak cukup lincah.

Di saat matahari makin jauh bergeser ke arah barat, pertempuran di Lembah Maut itu bertambah seru. Bunyi benturan senjata yang beradu dan teriakan-teriakan perang   yang   bergema, membuat lembah itu  seperti neraka.  Secara  tiba-tiba Marangsang mengambil senjata rahasia dari ikat pinggangnya, dan sebentar kemudian puluhan jarum beracun beterbangan melesat ke arah Mahesa Wulung. Untunglah  di   saat ini   Mahesa   Wulung   telah memiliki ilmu pedang ‘Sigar Maruta’ yang hebat, sehingga  jarum-jarum  beracun    itu  berpentalan

tersampok oleh kilatan pedangnya yang berputaran. “Aaahh!” Marangsang menjerit ngeri sebab sebuah

di antara jarum yang berpentalan itu menyasar mengenai lengannya.

Belum lagi Marangsang menyadari peristiwa yang baru saja dialaminya, mendadak sebuah sinar kilatan pedang Mahesa Wulung menyambar kepalanya.

Sraatt! Taak!

Sebuah goresan merah merupakan garis, menghias kepala Marangsang. Sedang kain ikat kepalanya terpotong lepas, Ia terbeliak seakan-akan tak percaya kepada dirinya. Sesaat ia terhuyung-huyung. Pedang di tangannya terlepas dan mendadak goresan garis merah di kepalanya itu menyemprotkan darah dan rebahlah Marangsang ke tanah dengan luka menganga mengerikan pada kepalanya.

Melihat tangan kanannya mati itu, Lanun Sertung benar-benar heran. Selama ini Marangsang dianggap sebagai wakil dirinya, dan telah bertahun-tahun selalu unggul di medan tempur yang bagaimanapun dahsyatnya. Oleh sebab itu, Lanun Sertung menjadi bertambah marah dan benci menatap wajah Mahesa Wulung. Demikian juga sebaliknya, Mahesa Wulung merasa muak memandang wajah Lanun Sertung yang membayangkan banyak dosa itu. Mereka berpandangan tajam, seakan-akan ingin saling melahap tubuh lawannya.

Belum lagi keduanya saling bertempur, secara tiba- tiba dua orang Iblis Merah menyerang berbareng ke arah Mahesa Wulung. Namun mereka memang bukan tandingan pendekar Demak ini, yang gerakannya laksana bayangan. Sekali pedangnya berkelebat, kedua orang tadi menjerit rebah ke bumi tanpa berkutik lagi!

“Nah, sekarang kita berdua saja, Lanun Sertung. Dengan begitu, kita tak terganggu lagi untuk membuat perhitungan.”

“Kurang ajar. Kau pendekar bermulut besar! Tak mungkin kau lolos dari sini hidup-hidup. Bersedialah untuk kematianmu!” seru Lanun Sertung dengan geram.

“Hmm... baik! Baik! Aku pun siap untuk menagih hutang nyawa sahabat-sahabat dan orang tuaku! Aku akan menolong mengirimmu ke neraka.”

“Jahanam!” teriak Lanun Sertung sambil menerjang Mahesa Wulung dengan puncak permainan ilmu pedangnya ‘Mata Iblis’.

“Hih, jebol dadamu, Mahesa Wulung!”

Terkaman Lanun Sertung sungguh hebat. Tubuhnya tampak meluncur seperti loncatan seekor tupai, untuk kemudian siap mencincang Mahesa Wulung. Mahesa Wulung mengakui, kalau serangan Lanun Sertung kali ini yang terhebat. Maka ia pun cepat mengendap, merendahkan tubuhnya serendah mungkin dan apa yang terjadi kemudian sukar diikuti oleh mata.

Ketika tubuh Lanun Sertung lewat sejengkal di atas tubuh Mahesa Wulung, terjadilah bentrokan- bentrokan senjata hebat.

Traak! Sabetan pedang Lanun Sertung tertangkis oleh sarung pedang Mahesa Wulung, dan kemudian...

Dess! Waaak!

Tubuh Lanun Sertung jatuh terjungkir setelah melewati punggung Mahesa Wulung, namun ia cepat berdiri dengan pedangnya siap menyerang kembali. Mendadak pemimpin bajak laut Iblis Merah ini mengerang hebat dan melototkan mata sebab begitu tangan kiri meraba perutnya yang terasa pedih, tiba- tiba saja telah basah oleh darah yang mancur dari perutnya yang tersobek oleh pedang Mahesa Wulung. Sesaat, Lanun Sertung masih mencoba berdiri tegak, tapi kemudian oleng dan ambruk ke bumi tanpa berkutik lagi.

Mahesa Wulung sendiri hampir-hampir tak percaya dapat menewaskan tokoh hitam bajak laut Iblis Merah ini, yang telah bertahun-tahun dengan ganasnya malang-melintang di sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata.

Mahesa Wulung mengucap syukur dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan ketika ia mengangkat pedangnya, terlintaslah di mata Mahesa Wulung bayangan wajah ayahnya, Ki Sorengyudo yang tersenyum seolah-olah merasa puas atas kematian tokoh Iblis Merah, si Lanun Sertung yang ganas.

Lodan dan keempat orang-orang Iblis Merah melihat pemimpinnya kena dirobohkan, seketika merasa ngeri dan hilang semangatnya. Mereka yakin bahwa mereka berhadapan dengan tokoh-tokoh jagoan yang tidak boleh dianggap remeh.

Lodan bersuit keras sebagai isyarat bahwa mereka harus kabur dari tempat itu. Baru saja mereka berbalik untuk kabur, mendadak ujung cambuk Naga Geni di tangan Pandan Arum telah menyambar mereka. Seketika Lodan bersama kedua orang temannya terpelanting ke tanah tak bernyawa, sedang kedua orang Iblis Merah yang lain melarikan diri ke arah pintu gerbang batu.

Melihat orang-orang Iblis Merah telah berkaparan mati, Pendekar Rikma Rembyak betul-betul kehilangan semangat untuk bertempur lebih lanjut. Apalagi ketika seorang Iblis Merah yang bertempur di sampingnya terbacok rubuh oleh tongkat pedang Ki Camar Seta.

“Hmm, kalau orang-orang Iblis Merah telah mampus semuanya, berarti aku tak punya ikatan apa- apa lagi dengan mereka. Baiknya aku lari saja dari tempat ini. Biarlah sementara aku mengaku kalah di saat ini, tapi di saat yang lain tunggulah. Aku akan memperdalam ilmuku dan membalas dendam kepada Mahesa Wulung dan orang-orangnya!” demikianlah pikir Rikma Rembyak dan tongkatnya bergerak semakin hebat.

Ki Camar Seta terkejut melihat perubahan sikap lawannya yang tiba-tiba itu. Sekonyong-konyong Rikma Rembyak melesat mundur sambil melontarkan tongkat kayunya dengan deras ke arah dada Ki Camar Seta.

Begitu pula dengan Mahesa Wulung dan Pandan Arum. Betapa kagetnya mereka ketika melihat kilatan sinar tongkat Rikma Rembyak yang melesat ke arah Ki Camar Seta dengan kecepatan begitu deras seolah-olah melebihi suara dan hampir-hampir tak mungkin dapat ditangkis oleh pendekar tua ini.

Untunglah gerak naluriah Pandan Arum cepat bertindak. Hanya dialah satu-satunya yang membawa senjata dengan kemungkinan jarak jangkauan yang cukup jauh, yaitu cambuk pusaka Naga Geni.

Maka secepat   kilat   disertai   gerakan   meloncat, Pandan Arum melecutkan cambuk itu. Taarrr!!! Sebuah kilatan menyambar dan memotong sinar yang menyambar ke arah Ki Camar Seta dan tongkat Rikma Rembyak tersedot oleh lilitan cambuk itu kemudian berderak patah menjadi dua di udara

Ki Camar Seta menahan nafas. Hampir-hampir saja nyawanya melayang oleh benturan tongkat Pendekar Rikma Rembyak, jika saja gerakan Pandan Arum terlambat sedikit saja!

Peristiwa yang baru saja berlalu dan betul-betul menegangkan urat syaraf itu cukup memberikan peluang waktu bagi Rikma Rembyak untuk lolos dari tempat itu secepat mungkin.

Mirip gerak seekor tupai tubuh Rikma Rembyak itu melesat berloncatan dari batu ke batu sambil berteriak dengan nyaring.

“Ha, ha, ha, ha, kalian memang lebih hebat kali ini. Nah, selamat tinggal para sobatku. Pertempuran ini cukup sekian dulu. Tapi tunggulah, kita pasti akan bertemu kembali dan rasakanlah pembalasan dendamku nanti!”

Sesaat kemudian tubuhnya meloncati sebuah dinding batu dan loloslah ia dari Lembah Maut.

Mahesa Wulung dan Pandan Arum mula-mula bersiap untuk mengejar Rikma Rembyak, tetapi Ki Camar Seta mencegahnya seraya berkata dengan tenangnya.

“Biarlah dia lari, Angger. Sebab dia sudah mengaku kalah, bukan? Dan lagi jiwa seorang ksatria tidak menghendaki kita untuk menyerang lawan yang sudah tak berdaya, lebih-lebih tanpa senjata. ”

Seruan Ki Camar Seta itu benar-benar berpengaruh dan bagaikan air embun menyusup sampai ke relung- relung hati kedua pendekar muda itu, membuat mereka mengurungkan maksudnya. Kebijaksanaan Ki Camar Seta itu benar-benar mengagumkan hati bagi mereka.

“Nah, Angger berdua, kita tidak perlu merasa cemas meskipun si Rikma Rembyak telah mengancam. Biarpun seandainya dia memperdalam ilmu untuk membinasakan kita, namun percayalah bahwa kebenaran akan menang juga pada akhirnya.”

“Terima kasih, Bapak,” ujar Mahesa Wulung dan Pandan Arum berbareng.

Di saat itu dari arah pintu gerbang batu tiba-tiba muncullah beberapa sosok tubuh menggiring dua orang yang terikat pada kedua belah tangannya. Di belakangnya lagi menyusul beberapa orang yang membawa senjata tombak.

“Eee, Kakang Mahesa Wulung. Bukankah itu Kakang Jogoyudo dengan anak buahnya? Dan lihatlah itu, dua orang anak buah Iblis Merah yang melarikan diri telah mereka tangkap!” Pandan Arum berseru dengan gembira dan mereka bertiga segera menyambutnya.

“Ooh, Kakang Mahesa Wulung dan Adi Pandan Arum, aku telah mencarimu ke mana-mana. Hampir segenap penjuru pulau ini telah aku datangi. Kiranya kalian berada di Lembah Maut ini. Ketika kami sedang mencarimu, tiba-tiba kami dikagetkan oleh dua orang yang berlari sangat mencurigakan. Mereka berhasil kami tangkap dan atas petunjuknya, sampailah kami di lembah ini,” Jogoyudo berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam. “Cuma aku merasa heran. Beberapa waktu sebelumnya aku telah mengutus Sibahar dengan beberapa awak kapal untuk mencarimu, tetapi sampai saat ini aku belum bertemu dengan mereka.” “Memang, kita tak akan lagi bertemu dengan mereka, Adi. Ketahuilah, bahwa mereka telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Mereka telah tewas sebagai ksatria dalam melawan keganasan orang-orang Iblis Merah,” Mahesa Wulung berkata dengan tenang dan pelan, tetapi cukup mengagetkan bagi Jogoyudo dan anak buahnya.

“Oooh,” Jogoyudo mengeluh sedih mendengar penuturan Mahesa Wulung, kemudian ia tertunduk seakan-akan mengheningkan cipta dan mengenang jasa-jasa Sibahar. Demikian pula segenap anak buahnya pada menunduk sedih.

Mereka dapat membayangkan betapa susahnya sanak keluarga Sibahar di Tanjungpinang sana, jika mendengar berita ini.

Tetapi mereka pun sadar bahwa suatu ketika mereka juga akan tewas sebagai seorang prajurit armada Demak yang selalu berjuang bagi kejayaan tanah air, bagi Nusantara yang terbentang indah di khatulistiwa. Mereka berjuang dengan tulus ikhlas tanpa pamrih pribadi, sebab sebagai seorang prajurit, dan juga sebagai manusia, mereka sebelumnya telah terdidik untuk berbuat sesuatu, selalu dengan sadar dan penuh perhitungan. Mereka tidak akan menjadi budak nafsu, terutama nafsu untuk berkuasa dan menang sendiri.

Sesaat orang-orang itu dicengkam oleh suasana haru, namun merekapun cepat tersadar ketika Mahesa Wulung memecah kesunyian itu dengan kata-katanya

“Hmm, hampir-hampir aku lupa. Adi Jogoyudo, perkenalkanlah. Ini adalah Ki Camar Seta bekas prajurit armada Demak belasan tahun yang silam. Beliaulah sahabat mendiang ayahku. Ketika kapalnya pecah diserang orang-orang Portugis dan Iblis Merah, ia terdampar di Pulau Karimata ini. Dan ketahuilah, Adi Jogoyudo, ketika aku tertangkap oleh orang-orang Iblis Merah dan ditawan di Lembah Maut ini, beliau pulalah yang telah menolong dan menyelamatkan nyawaku dari keganasan mereka. Juga beliau telah berbaik hati untuk melatihku dengan ilmu pedangnya, Sigar Maruta yang dahsyat.”

Jogoyudo dan anak buahnya seperti orang yang tersadar dari mimpi. Kalau tadi mereka terharu, kini ganti mereka dibuat kagum oleh kenyataan yang mereka hadapi. Mereka memandangi tubuh Ki Camar Seta, seperti tak akan puas. Wajahnya yang cukup tua tetap berseri, sedang tubuhnya pun masih tampak kokoh dan sepintas lalu masih terlihat bekas-bekas keperkasaan di masa remajanya.

Dengan senang dan setengah kagum mereka berkenalan dengan Ki Camar Seta.

Lembah Maut itu, kini tidak lagi terbakar oleh panasnya sinar matahari. Angin pun bertiup silir menyegarkan. Beberapa orang prajurit armada Demak tampak membersihkan dan membabat semak ilalang yang menutupi jalan masuk ke sebuah lubang dinding batu dari lembah ini.

Mereka, atas petunjuk kedua orang Iblis Merah yang tertangkap tadi telah dapat menemukan pintu terowongan rahasia yang menembus di bawah lantai warung minum di dekat bandar Karimata.

Setelah diperiksa, ternyata di dalamnya diketemukan bahan pangan yang tertimbun, juga beberapa kantong uang emas dan perhiasan yang cukup mahal harganya.

Kesemuanya itu mereka angkut ke luar, dan Mahesa Wulung memerintahkan untuk membagikan sebagian dari harta itu kepada para penduduk Pulau Karimata yang telah sekian waktu dicengkam oleh kecemasan dan dirugikan orang-orang Iblis Merah.

Di saat matahari mendekati cakrawala sebelah barat, mereka telah bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Begitulah, setelah Mahesa Wulung memberi aba- aba berangkat, rombongan itu beriring-iring meninggalkan Lembah Maut.

Mereka berjalan mendaki ke arah pintu gerbang batu. Sesekali ada satu dua orang prajurit yang berpaling ke arah Lembah Maut di bawah sana. Mereka kadang-kadang meremang bulu romanya bila mengingat nama Lembah Maut. Ya, benar-benar lembah tempat maut berkeliaran, sebab di sanalah orang-orang Iblis Merah bersarang dan di situ pulalah mereka terkubur untuk selama-lamanya.

Rombongan itu setelah melewati pintu gerbang batu segera berbelok ke kanan dan menuruni jalan berbatu- batu.

Sesudah melewati bukit-bukit kecil dan menerobos sebuah hutan, sampailah mereka di tanah datar. Deburan ombak yang memecah di pantai telah terdengar sayup-sayup dibawa angin ke telinga mereka, seolah-olah sebuah alunan irama lagu dan membuat hati mereka merasa rindu. Rindu untuk berlayar dan pulang ke Demak serta bertemu kembali dengan anak istri dan sanak saudaranya. Oleh sebab itu mereka mempercepat langkah untuk secepatnya tiba di bandar tempat perahu mereka berlabuh.

Warna langit di sebelah barat dipenuhi oleh saputan-saputan mega lembayung ungu yang berarak di antara warna kuning jingga, begitu matahari mulai menyentuh garis cakrawala barat. Kunang-kunang mulai beterbangan keluar dari semak-semak-belukar seperti hendak ikut menonton rombongan orang-orang yang berbaris menuju ke pantai.

Sesudah mereka membelok ke kiri dan melewati semak bambu, sampailah mereka di bandar. Di muka warung minum, para penduduk bandar telah bergerombol menanti kedatangan mereka. Sungguh mesra sambutan mereka. Para penduduk itu sungguh- sungguh merasa berhutang budi kepada orang-orang armada Demak, yang telah membebaskan mereka dari tindasan orang-orang Iblis Merah.

Mereka kemudian menjamu para tamunya di warung itu dengan makan minum secukupnya, dan pada kesempatan itulah Mahesa Wulung memberikan sebagian harta rampasan dari sarang Lembah Maut kepada mereka.

Juga Pandan Arum yang pernah muncul di depan warung itu yang menyamar sebagai pendekar Barong Makara menetapi janjinya dengan berkenalan kepada mereka.

Dari para penduduk itu, Mahesa Wulung dapat mengetahui bahwa dahulu warung itu memang bukan milik orang-orang Iblis Merah. Tetapi mereka telah merebut dan menduduki warung itu sebagai sarangnya. Sedang pemilik aslinya telah mereka bunuh setelah dengan berani dia menolak kemauan orang-orang Iblis Merah agar menjual warungnya kepada mereka. Tidak sampai di situ saja tindakan semena-mena orang-orang Iblis Merah, malahan mereka mengharuskan kepada penduduk pulau itu agar semua bahan makanan sebagian diserahkan kepada mereka dan setiap harinya para penduduk harus mengunjungi warung itu. Mereka bermaksud agar penyamaran mereka sebagai orang-orang Iblis Merah tidak dapat diketahui oleh para lawannya Di tengah kemeriahan ramah-tamah yang diseling oleh senda gurau, tiba-tiba muncullah seorang setengah tua berkumis tebal dengan diantar oleh dua orang prajurit bertombak.

Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Jogoyudo terkejut heran melihat orang itu, sebab ia mengenakan pakaian seragam perwira armada Demak. Demikian pula semua yang ada di dalam warung itu tak kalah herannya.

“Hei, ini Kakang Ranujaya berada di sini? Kapankah Andika tiba di sini?” Mahesa Wulung bertanya seraya menjabat tangannya setelah ia bangkit dari duduknya. Dalam hati Mahesa Wulung dipenuhi oleh tanda tanya. Mengapa sahabatnya yang juga menjabat sebagai perwira armada Demak telah berada di tempat ini. Adakah sesuatu yang penting?

“Adi Mahesa Wulung, aku baru saja tiba di bandar Karimata ini. Sebelumnya aku telah berlayar dan mencarimu ke Tanjungpinang. Di sana aku telah bertemu dengan Bapak Pendekar Prahara dan dari beliaulah aku mendapat keterangan bahwa Adi telah berlayar ke pulau ini. Maka aku pun segera menyusulmu kemari.”

“Hmm, agaknya ada sesuatu yang penting jika Kakang Ranujaya telah berlayar begitu jauh untuk mencariku.”

“Betul, Adi. Kedatanganku kemari memang diutus oleh Sultan agar memanggilmu kembali ke Demak, sebab di sana telah terjadi sesuatu yang genting yang benar-benar membuat kami merasa cemas.”

“Sesuatu yang genting, Kakang?” tukas Mahesa Wulung dengan mengerutkan dahinya.

“Ya. Ketahuilah, Adi, bahwa Empu Baskara telah hilang dari Demak tak tentu rimbanya!” “Empu Baskara yang ahli membuat senjata-senjata ampuh itu telah hilang?” ujar Mahesa Wulung kaget.

“Begitulah. Ia telah menghilang setelah berhasil menciptakan senjata yang dahsyat. Kami telah gagal mencarinya, sehingga kepadamulah tugas ini dipercayakan untuk penyelesaiannya.”

“Baiklah, Kakang. Aku selalu dengan senang hati menerima tugas itu. Kebetulan sekali kami memang bermaksud untuk berlayar kembali ke Demak besok pagi. Nah, sekarang apa salahnya jika Kakang Ranujaya turut makan minum dan beramah-tamah dengan penduduk disini. Marilah, Kakang. Silahkan duduk,” Mahesa Wulung mempersilahkan perwira Ranujaya mengambil tempat duduknya.

“Terima kasih, Adi Mahesa Wulung. Mmmm, memang bau sedap masakan di sini membuat perutku merasa lapar. Ha, ha, ha, ha.”

Suasana di warung itu kembali meriah. Ranujaya duduk semeja dengan Jogoyudo, Pandan Arum, Ki Camar Seta dan Mahesa Wulung. Dengan asyiknya ia menceriterakan hilangnya Empu Baskara dari Demak. Tak seorang pun yang tahu, entah kemana ia telah pergi.

Sebelum mencapai tengah malam, pertemuan di warung itu telah berakhir. Mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Juga para prajurit armada Demak kembali ke kapalnya, yang berlabuh ber- dampingan dengan sebuah perahu jung lain kepunyaan perwira Ranujaya.

Di waktu kabut pagi masih mengambang di udara, kedua perahu jung dari armada Demak itu telah mengangkat jangkarnya dan bertolaklah mereka dari bandar Pulau Karimata. Mereka dengan lajunya membelah air laut menuju ke arah tenggara, kembali ke Demak.

TAMAT