-->

Serial Dewa Linglung Eps 20 : Pinangan Iblis

 
Eps 20 : Pinangan Iblis


Dewa Linglung jatuhkan pantatnya di akar pohon dengan menghembuskan napas dari mulutnya. Hari itu panas terik luar biasa, seperti membakar kulit kepala. Lembah itu begitu luas, seolah tak berujung. Entah berapa lama si Dewa Linglung menempuh perjalanan yang seakan-akan tak ada habisnya.

Sekitar lembah itu tak ada sebatang pohonpun yang berdaun. Semuanya gersang. Yang membuat aneh adalah sudah hampir setengah hari Nanjar melakukan perjalanan melintasi  lembah itu, tapi sampai sekian lama dia belum menemukan apa yang dinamakan ujung lembah.

Sekujur tubuh Nanjar telah basah oleh keringat. Terpaksa Nanjar membuka bajunya untuk memeras air keringat. Sementara dalam hati dia membathin.

"Aneh! Seumur hidupku baru aku menjumpai lembah seluas ini...! Gila! benar-benar gila! Lembah apa ini!?" Ketika dia menengadah menatap ke atas ternyata matahari masih tetap berada di atas kepala. Hati Nanjar tersentak.

"Aneh!? seharusnya matahari sudah condong kearah barat. Bukankah ketika aku menanyakan jalan ke Kota Raja pada kakek tua renta ditepi jalan tadi tepat tengah hari? Rasanya aku sudah hampir setengah hari menyusuri lembah, tetapi matahari masih tetap berada di atas kepala...?" Nanjar garuk-garuk tengkuknya memandang terheran-heran. Matanya menjalari sekitar lembah itu yang sunyi mencekam. Seekor burungpun tak ada yang terlihat terbang melintas di tempat yang gersang itu.

"Dimanakah aku? dan lembah apa ini?" Nanjar terlongong-longong keheranan. Tapi Nanjar segera mengambil keputusan.

"Aku harus segera menemukan jalan keluar dari lembah gila ini! Pasti ada yang tidak beres. Kakek tua renta itu pasti sengaja menipu agar aku tersesat di lembah edan ini..." pikir Nanjar dalam benak. Segera dikenakan bajunya yang baru selesai diperas.

Akan tetapi ketika lengannya menjulur untuk menjumput pedang mustika Naga Merah yang tadi diletakkan di atas akar, mendadak dia tersentak kaget.

"Hah!? kemana pedangku...?" Membelalak mata Nanjar melihat pedangnya telah lenyap. Pedang mustika itu memang diletakkan di tanah disandarkan pada akar pohon yang didudukinya ketika tadi dia membuka bajunya. Tapi senjata pusaka itu kini lenyap tak berbekas. Kecuali seruling tulang yang masih terselip dipinggang, dan buntalan kain yang selalu dibawanya.

Nanjar menyambar buntalan kainnya, lalu berkelebat ke balik pohon. Akan tetapi tak nampak ada orang bersembunyi disitu. Tubuh Nanjar kembali berkelebatan ke balik-balik pohon untuk memeriksa sekitar tempat itu. Namun tak dijumpai sepotong makhluk atau manusia yang berada di tempat itu.

"Gila! Aneh!? Edan...!" maki Nanjar dengan berdiri menjublak. Kepalanya terasa berdenyutdenyut dan otaknya serasa pecah memikirkan, keanehan itu.

"Apakah penyakit linglung ku kambuh lagi? Atau ada makhluk halus yang sengaja menyembunyikan pedangku? Ah! Gila! Edan semua!" Nanjar serasa sudah tak mampu berpikir lagi dengan kejadian aneh yang dialaminya.

Pada saat itulah lapat-lapat telinga Nanjar menangkap suara orang menangis terisak-isak. Hati Nanjar tercekat. Telinganya dipasang untuk mendengar dari mana arah suara itu. Mendadak tubuhnya berkelebat ke arah pohon kayu rebah yang berjarak kira-kira dua puluh tombak dari tempat dia berdiri.

Seorang wanita berpakaian compangcamping tampak duduk menggelepoh ditanah berdebu, tengah menangis terisak-isak. Rambutnya terurai menutupi wajahnya. Cepat Nanjar melompat menghampiri.

"Siapakah kau...? Mengapa berada ditempat ini?" tanya Nanjar. Mendengar ada orang yang menyapa, gadis ini mengangkat muka. Tampak wajahnya bersimbah air mata. Gadis ini berwajah bulat sirih. Rambutnya kusut masai. Sepasang matanya yang basah memandang Nanjar dengan bibir setengah terbuka, memperhatikan pemuda di hadapannya dari kepala sampai ke kaki.

"Namaku.... Mayanti. Aku... aku tersesat di lembah ini. Oh! to... tolonglah aku tuan muda yang gagah. Aku tak mau mati di tempat ini." berkata gadis itu dengan terisak-isak. Nanjar terlongong menatap gadis itu. Ternyata dia tidak sendiri. Selain dirinya ada pula orang yang tersesat di lembah aneh yang tak berujung itu. Bagaimana dia harus menolongnya, sedang menolong dirinya sendiri saja sudah sulit.

Akan tetapi Nanjar tampak unjukkan wajah cerah. Mendadak dia tertawa gelak-gelak.

"Bagus! kau dan aku adalah senasib. Akupun terjebak di lembah gila ini. Kalau kita tak dapat menemukan jalan keluar dan terkurung di lembah edan ini biarlah kita mati sama-sama!" Gadis itu membelalakkan matanya.

"Jadi   kau   sendiri   tersesat   dilembah   ini?" tanya si gadis melengak. Nanjar mengangguk. "Haha... tapi jangan khawatir, setiap rumah pasti ada pintunya. Setiap jalan pasti ada ujungnya. Mustahil kita tak menemukan jalan keluar dari lembah ini? Oh, ya! namamu Mayanti, bukan? Senang sekali bertemu kau. Namaku Ginanjar, panggil saja Nanjar !" kata si Dewa Linglung.

Nanjar ulurkan lengannya pada gadis itu. Sang gadis unjukkan senyum di antara belahan bibirnya. Sesaat Nanjar telah mengangkat bangun gadis itu. Sejenak keduanya saling tatap.

"Kita coba mencari jalan ke luar ke arah sana!" kata Nanjar sambil menunjuk. "Mungkin kita temukan ujung tepi lembah untuk keluar dari neraka ini!"

Mayanti mengangguk. "Aku hanya menurutkan kau. Dan... dan sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas kebaikan hatimu menolong diriku" berkata si gadis. Wajahnya tampak berubah agak cerah.

"Jangan       terlalu       tergesa-gesa       mengucapkan terima kasih, adik manis. Kita belum mengetahui nasib apa yang bakal menghadang di depan mata kita." kata Nanjar dengan tertawa tawar. Sementara dalam berkata, hati Nanjar  berkata lain. "Hm, aku hanya mencari jalan untuk kau  bisa keluar dari lembah ini. Bila ku berhasil menemukan, aku akan kembali memasuki lembah gila ini. Aku harus mengungkap keanehan-keanehan itu. Dan pedang mustika Naga Merah tak akan kubiarkan lenyap begitu saja..." 

DUA

Sementara Nanjar dan gadis itu beranjak pergi untuk mencari jalan keluar lembah, sesosok tubuh berkelebat entah dari mana munculnya, tahu-tahu telah berdiri di bawah sebatang pohon tempat Nanjar tadi menjatuhkan pantatnya. Ternyata sosok tubuh seorang kakek tua renta berjubah abu-abu. Lengannya mencekal sebuah tongkat kayu seperti akar.

Wajah kakek ini tampak tersenyum menyeringai. Matanya tertuju pada akar pohon di dekat kakinya. Pedang mustika milik Nanjar ternyata masih menggeletak ditempat semula. Akan tetapi aneh, karena Nanjar tadi sama sekali tak melihat pedangnya. "Hehehe... dengan ilmu sihir yang kumiliki, dengan mudah aku dapat menipu pandangan mata bocah linglung!"

Selesai tertawa orang tua ini ulurkan lengannya menjumput pedang mustika Naga Merah. Akan tetapi mendadak dia tersentak. Satu kekuatan aneh berhawa panas telah menyambar tangannya, hingga cepat-cepat dia menarik pulang lengannya dengan berteriak kaget.

Apa yang terjadi pada pedang mustika milik si Dewa Linglung itu sungguh membuat dia terkejut. Karena tampak benda mustika itu memancarkan sinar kuning, membentuk kobaran api yang mengelilingi badan pedang.

Sejenak laki-laki tua ini terpaku. Mendadak bibirnya berkomat-kamit seperti membaca mantera. Sepasang matanya menyorot tajam menatap kearah benda mustika yang mengeluarkan cahaya kuning membentuk lingkaran api itu.

Kekuatan mata bathin kakek ini ternyata mampu melihat sebuah benda berbentuk keris pada badan pedang tersebut. Keris itulah yang mengeluarkan sinar kuning menyala.

"Hah!? keris Kyai Jaran Goyang!" sentaknya terkejut. Cahaya itu mendadak padam. Kakek ini menunggu beberapa saat. Dia tak berani gegabah untuk menjulurkan tangan mengambil pedang itu. Pada saat itulah terdengar suara tertawa mengekeh dirinya munculnya sebuah bayangan

putih berkelebat.

"Hik hik hik, setan tua! ternyata ilmu sihirmu tak mampu mengangkat pedang mustika Naga Merah dari atas tanah. Matamu cukup tajam dapat melihat sesuatu yang tersembunyi di badan pedang itu. Benar! cahaya kuning itu berasal dari keris Kyai Jaran Goyang yang telah menyatu pada pedang mustika itu."

Kakek tua ini belalakkan mata melihat seorang nenek tua renta bertubuh bungkuk, mencekal tongkat bercagak di hadapannya.

"Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong! Angin apa yang meniupmu sampai kemari?" sentak si kakek terkejut.

"Hihihi... pengaruh kekuatan ilmu sihirmu itulah yang membuat aku datang kemari. Aku merasa dunia seperti mau kiamat. Apakah kau memang mau membuat dunia kiamat? Hihik hik... kau telah berbuat keterlaluan, setan tua! Apakah kau mau melebihi kekuasaan Tuhan? hingga melakukan perbuatan gila-gilaan?" sahut si nenek.

"Heh! apa perdulimu dengan urusanku? Sejak dulupun aku memang tak cocok denganmu. Kau selalu menghalangi langkahku. Kau  selalu mau ikut campur urusanku!" membentak marah si kakek. Wajahnya mendadak berubah mengelam. Urat-urat lehernya menggembung.

"Bagus, kalau kau berkata begitu. Kita memang tak cocok, dan tak akan pernah cocok! Kecuali kalau aku mau mendukung langkahmu!" sahut si nenek ketus.

"Heheheh... saat ini aku sudah tak memerlukan dukunganmu. Dengan ilmu-ilmu yang kumiliki, aku bisa mewujudkan cita-citaku tanpa mengharapkan secuil bantuanmu!" tertawa mengekeh si kakek.

Akan tetapi sebaliknya wajah si nenek berubah menyuram.

"Hm, setan tua Datuk Patilongga! Jangan harap cita-cita edanmu bisa terwujud. Walau gelarku Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong, tapi hatiku tak seburuk dan sejahat iblis! Kau kira ilmumu telah sampai setinggi langit? Hik hik hik... jangan sombong datuk setan tua! Kejahatan tak akan mendapat tempat berpijak di jagat ini selama masih ada ombak berdebur. Akulah orang pertama yang akan menentang ambisi gilamu!" berkata nenek tua bungkuk ini dengan suara lantang.

"Bagus! Aku memang sudah memasukkan nyawamu dalam daftar buku kematian. Akan tetapi kini bukan saatnya aku mengadu ilmu denganmu, nenek peot!" Selesai berkata kakek tua renta yang bernama Datuk Patilongga itu kibas-kan jubahnya. Mendadak asap hitam mengepul, dan sesaat tubuh kakek itu telah lenyap sirna, bersamaan dengan lenyapnya asap hitam itu.

Nenek tua renta yang bergelar Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong bukanlah seorang tokoh yang berilmu rendah. Sepasang matanya dapat melihat sosok tubuh Datuk Patilongga berkelebat memasuki hutan. Dia tak mengejar, karena diapun mengetahui kalau menggempur manusia yang pernah satu perguruan dimasa muda itu bukanlah saatnya. Disamping dia sendiri meragukan akan kekuatannya. Jelas dia melihat kehebatan ilmu sihir Datuk Patilongga yang sukar diukur tingginya. Selama belasan tahun tak berjumpa, tentu ilmu kepandaiannya pun semakin bertambah tinggi.

Namun dia bersyukur karena gagalnya kakek itu merampas pedang mustika Naga Merah. Di samping itu hatinya juga bergirang, karena diluar dugaan dia mengetahui adanya keris Kyai Jaran Goyang yang menyatu pada pedang mustika itu.

"Nenek bungkuk! terima kasih atas pertolonganmu! Ah, sayang mengapa kau membiarkan dia lenyap begitu saja? Dengan kita maju menggempur berdua, mustahil manusia setan itu tak berhasil ditumpas!"

Suara yang terdengar dibelakang si nenek adalah suara Nanjar. Gerakan kaki si Dewa Linglung yang hampir tak menimbulkan suara itu bukan tak terdengar oleh wanita tua ini. Bahkan dia sudah mengetahui siapa yang datang. Tanpa membalikkan tubuh, dia menyahut.

"Anak muda kau simpanlah pedang mustikamu baik-baik. Banyak bahaya di depan mata. Saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk menumpas manusia itu. Kau beruntung memiliki pedang mustika Naga Merah, dan sebuah senjata keramat yang ditakuti para iblis telah bersatu dengan pedang mustikamu. Nah, aku pergi! Hatihatilah kau menjaga diri. Mungkin kita akan dapat bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya, entahlah!" Selesai berucap tubuh nenek bungkuk berkelebat, dan lenyap....

Nanjar tercenung menatap ke arah lenyapnya bayangan tubuh wanita kosen itu. Wanita tua itu pernah berjumpa dengannya beberapa bulan yang lalu. Mata nenek bungkuk itu amat tajam, hingga dia dapat melihat pedang mustika Naga Merah yang tersembunyi di punggung di balik pakaiannya. Wanita tua itu menanyakan asalusul dirinya. Ternyata nenek tua renta yang bergelar Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong itu cuma menasihati saja agar menjaga baik-baik pedang miliknya.

TIGA

Nanjar cepat menjumput pedang mustika Naga Merah yang masih menyandar di akar seperti semula. Sesaat dia membolak-balik benda pusaka itu. Kemudian memeriksanya dengan mencabut keluar pedang itu dari serangka. Sinar merah segera memancar dari badan pedang yang berbentuk Naga itu.

"Sebuah senjata keramat yang ditakuti para iblis telah bersatu pada pedang ini?" kata Nanjar dalam hati, seraya mengamati. Tapi dia tak melihat tanda apa-apa yang aneh dari pedang mustikanya. "Senjata keramat macam apakah yang dimaksud nenek tua bungkuk itu...?" desis si Dewa Linglung. Ketika Nanjar akan memasukkan kembali pedangnya ke dalam serangka, gadis bernama Mayanti yang tadi ditinggalkan ketika Nanjar melompat ke tempat ini tiba-tiba muncul di belakang

Nanjar.

Naluri si Dewa Linglung cukup peka untuk mengetahui sesuatu yang berada di belakangnya.

Cepat dia berbalik. "Eh! kau... Mayanti?" sentak Nanjar terkejut. Jarak tempat dia meninggalkan gadis itu cukup jauh. Dan gadis itu tadi tampak sudah sangat keletihan. Tadinya Nanjar berniat memondong gadis itu. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara orang saling bicara di dalam lembah itu. Diamdiam dia pasang telinga untuk mendengar dari arah mana suara-suara itu. Setelah mendapat kepastian Nanjar menyuruh gadis itu untuk menunggunya di tempat itu. Lalu berkelebat meninggalkan si gadis. Demikianlah hingga dia mengetahui adanya dua orang kakek dan nenek yang saling bicara ketus.

Nanjar mengenali si kakek itu, yaitu orang tua renta yang ditemuinya berada di sisi jalan, dan yang menunjukkan arah yang  harus  dituju  ke arah Kota Raja. Hingga dia terjebak di lembah tak berujung itu.

Nenek bungkuk itu ternyata juga  orang yang telah dikenalnya, dan pernah berjumpa dengan dia. Adapun yang menjadi keheranan Nanjar adalah, jarak dari tempat gadis itu cukup jauh ke tempat ini. Tapi tahu-tahu gadis itu bisa berada di belakangnya dengan secepat itu.

"Tuan muda... pedangmu bagus. Boleh aku melihatnya?" tanya si gadis. Sejenak Nanjar tertegun. Tapi segera menyahut.

"Haha... mengapa tidak? Asal kau berhatihati jangan sampai jarimu tersayat!"

Baru saja Nanjar mengulurkan lengannya untuk memberikan pedangnya, mendadak membersit cahaya kuning menyilaukan mata. Gadis itu menjerit parau. Tubuhnya terhuyung ke belakang seperti tertolak oleh arus kekuatan berhawa panas yang mendorong tubuh gadis itu.

Alangkah terperanjatnya Nanjar ketika melihat tubuh gadis itu berubah menjadi gumpalan asap hitam. Ketika asap hitam itu lenyap, sosok tubuh gadis itupun lenyap entah ke mana.

"Hah!? apakah dia bukan manusia?" sentak Nanjar terperangah kaget. Mendadak bulu kuduknya meremang. Mendadak lapat-lapat telinganya mendengar suara tertawa cekikikan di sana-sini tak ketahuan arahnya, bercampur dengan suara orang merintih-rintih.

"Keparat! manusia atau ibliskah kalian semua? mengapa tak unjukkan diri dihadapanku?!" teriak Nanjar. Kepalang basah! Nanjar tak perduli apakah dia berhadapan dengan manusia atau iblis. Dia membentak gusar seraya putarkan pedang mustikanya. Sinar merah membias udara, bercampur cahaya kuning yang membersit dari badan pedang.

Saat itulah tiba-tiba terjadi keanehan. Mendadak berangsur-angsur cahaya matahari memudar. Cuacapun berubah menjadi gelap pekat.

Alangkah terkejutnya Nanjar ketika melihat dia bukan berada di sebuah lembah, melainkan di tengah pekuburan. Barulah dia menyadari kalau saat itu cuaca telah berubah menjadi malam hari.

Bulu tengkuk Nanjar kembali meremang. Kejadian apa lagi kah yang akan dialami? Belum sempat dia berpikir lebih jauh, mendadak telinganya mendengar suara mendesis. Suara mendesis itu ternyata dari benda yang dipegangnya. Hampir tak percaya si Dewa Linglung karena yang dicekalnya bukanlah pedang mustika Naga Merah, melainkan seekor ular yang mendesis-desis siap mematukkan mulutnya ke arah Nanjar.

"Hah! ular...?" teriak Nanjar. Secara tak sadar dia telah melemparkan ular itu. Ular mendadak lenyap, dan berubah menjadi pedang mustika Naga Merah seperti asalnya. Nanjar tersentak kaget. Barulah Nanjar sadar bahwa dia terkena pengaruh ilmu sihir.

Saat itu selarik asap kuning meliuk keluar dari badan pedang, lalu lenyap. "Sihir apa lagi ini?" sentak Nanjar dalam hati. Detik itu juga dia telah melompat untuk menyambar pedang mustika yang tergeletak di tanah. Akan tetapi mendadak pedang itu lenyap menjadi segumpal asap putih kemerahan yang membumbung ke udara. Pedang mustika itu lenyap.

Kegelapan kembali merayapi pekuburan itu. Cuma sepotong bulan yang menerangi samarsamar. Nanjar terpaku beberapa saat.

"Keparat! Gila! apa artinya semua ini?" teriak Nanjar dengan wajah pucat, dan peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Di saat itulah tiba-tiba pundak Nanjar seperti ada yang menyentuh, dan satu suara lirih membisik di telinganya.

"Jangan   risaukan   apa   yang   terjadi.   Mari ikuti aku..."

Sepasang mata si Dewa Linglung membelalak lebar melihat seorang kakek berjubah dan bersorban kuning dengan kumis dan jenggot putih menjuntai telah berada di hadapannya. Lengan kakek itu mencekal pundaknya.

Yang membuat aneh Nanjar adalah tubuh kakek itu hanya mirip bayang-bayang saja. Tapi sentuhan tangan pada pundaknya terasa membekas.

"Siapakah kau orang tua...?" sentak Nanjar dengan lidah terasa kelu. Laki-laki tua mirip bayangan itu tersenyum.

"Jangan  banyak  bertanya.  Mari  kita  tinggalkan tempat ini!" berkata kakek tua itu. Lalu balikkan tubuh. Selanjutnya Nanjar hanya melihat sosok tubuh kakek jubah kuning itu seperti meluncur tanpa ada gerakan kaki yang melangkah.

"Manusiakah, atau hantu?" sentak Nanjar dalam hati. Tapi kali ini Nanjar sudah tak perduli lagi. Tak ayal dia segera berkelebat menyusul mengikuti bayangan kakek misterius berjubah kuning itu. Sebentar saja sosok bayangan tubuh Nanjarpun lenyap dikegelapan malam yang semakin kelam....

EMPAT

Di suatu tempat tersembunyi di dalam sebuah goa di sisi relung bukit.... "Siapakah sebenarnya Eyang?" tanya Nanjar dengan menatap bayangan tubuh kakek berjubah, bersorban kuning di hadapannya. Manusia misterius ini tak buru-buru menjawab. Dia tersenyum seraya lengannya bergerak mengelus jenggot putihnya yang panjang menjuntai.

"Anak muda...! Akulah yang pada belasan tahun silam disebut Kyai Jaran Goyang." sahut si kakek.

"Kyai Jaran Goyang?" sentak Nanjar terheran. "Bukankah itu julukan sebuah keris pusaka?" Nanjar terlongong menatap kakek tua itu. Nanjar memang pernah terlibat dalam peristiwa berdarah dalam memperebutkan keris pusaka yang bernama Kyai Jaran Goyang. Tapi keris keramat itu lenyap tanpa seorangpun yang mengetahuinya.

"Apa yang kau dengar dan ketahui itu tidak salah, anak muda. Sebenarnya aku sudah tak mempunyai jasad kasar di dunia fana ini. Do'aku dikabulkan Yang Maha, Kuasa, hingga walau sebenarnya aku sudah mati, tapi sukmaku masih hidup. Sukmaku menyusup masuk ke dalam sebuah keris besi kuning. Hanya seorang Empu tua waktu itu yang mengetahui tentang diriku hingga dia menamakan keris yang kususupi sukmaku, Kyai Jaran Goyang..." ujar sang kakek berwujud bayangan itu.

Nanjar manggut-manggutkan kepalanya, mendengarkan penjelasan orang tua itu. Hatinya tercekat untuk mengetahui lebih lanjut.

"Sebenarnya nama itu bukanlah namaku. Karena Empu tua itu terheran-heran melihat keris yang diciptakan dari bahan besi kuning bergoyanggoyang dengan memperdengarkan suara seperti ringkik kuda. Maka dia menjuluki keris itu Kyai Jaran Goyang..." Nanjar kembali manggut-manggut kepala. "Siapakah nama Eyang sebenarnya?" tanya

Nanjar.

Seperti tadi, orang tua ini tak buru-buru menyahut. Dia mengelus jenggotnya dan tersenyum. Kemudian menghela napas.

"Namaku KAPILATU. Aku bekas seorang penasihat Kerajaan Medang yang pertama di pulau Jawa. Diwaktu terjadi pemberontakan aku meninggalkan kerajaan. Karena aku  merasa  sudah tak dibutuhkan lagi oleh baginda Raja. Aku mengasingkan diri ditempat sepi dan menjadi seorang pertapa."

Laki-laki tua berbentuk bayangan ini berhenti sejenak untuk menghela napas. Kemudian meneruskan penuturannya.

"Sebenarnya ceritanya terlalu panjang untuk kututurkan padamu, sedangkan waktu permohonan ku hampir habis. Karena aku telah menemukan jejak manusia keji yang telah membunuhku puluhan tahun yang silam. Dan aku telah menemukan orang yang kucari untuk mewarisi ilmu yang kumiliki "

"Siapakah manusia keji itu, Eyang? dan siapa yang Eyang maksudkan untuk tujuan Eyang itu?" tanya Nanjar dengan hati semakin tercekat.

"Manusia itu adalah adik kandungku sendiri yang telah menjadi orang sesat. Dia bernama PATILONGGA yang melengkapi namanya dengan sebutan Datuk."

"Maksud Eyang, Datuk Patilongga?" tanya Nanjar. "Benar! Bukankah kau telah pernah berjumpa dengan dia?" Nanjar mengangguk. Dia telah mengetahui yang dimaksud kakek ghaib itu adalah laki-laki tua yang menunjukkan jalan ke Kota Raja, hingga dia tersesat di lembah ciptaan yang tak berujung. Diapun telah mendengar nama itu dari nenek tua Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong ketika adu mulut dengan manusia itu di dalam lembah.

Tampaknya sukma Kyai Jaran Goyang alias Kapilatu tak dapat bicara panjang lebar. Waktu amat mendesak seperti dikatakannya. Ternyata orang yang dimaksudkan untuk menerima warisan ilmunya tiada lain dari Nanjar sendiri. Tentu saja terkejut dan girangnya hati si Dewa Linglung tak terkirakan. Seumur hidup baru dia belajar ilmu pada seorang manusia arwah.

"Sebenarnya telah sejak lama aku mengikuti langkah-langkahmu, anak muda. Karena sukmaku telah menyatu dengan pedang mustika Naga Merah yang kau miliki !" kata kakek ghaib ini. Nan-

jar terlongong sesaat. Barulah dia mengerti akan kata-kata si Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong. Benda keramat yang dimaksud nenek tua bungkuk itu adalah keris Kyai Jaran Goyang yang pada dasarnya adalah sukma Kapilatu.

"Waktuku tinggal empat puluh hari. Dan waktu yang sempit itu harus kau pergunakan untuk menyerap ilmu-ilmu yang kumiliki. Aku tahu bahwa dengan memiliki senjata mustika yang bagaimana hebatnya, sangatlah sukar untuk menjaga atau mempertahankannya. Tapi ilmu tak bisa lenyap, selama manusia pemilik ilmu itu selalu mematuhi peraturan yang terdapat dalam ilmu itu, dan tidak melanggar pantangan!" Kyai Kapilatu.

Kemudian meneruskan katakatanya. "Dengan kau memiliki ilmu untuk menjaga

diri serta untuk menolong orang yang memerlukan bantuan tanganmu, bukanlah berarti kau harus mengesampingkan senjata mustikamu. Karena senjata memang diperlukan pula sewaktu-waktu. Nah, dengan demikian mulai hari ini kau kuangkat menjadi muridku. !"

Nanjar tak berlaku ayal, segera membungkukkan tubuh memberi penghormatan pada kakek ghaib itu, seraya berseru girang.

"Terima kasih Eyang Guru....! sejak hari ini aku adalah muridmu. Perintah apapun yang kau tugaskan akan aku laksanakan dengan sepenuh hati!"

Kyai Jaran Goyang tersenyum manggutmanggut seraya mengangkat bangun si Dewa Linglung. Kemudian ujarnya.

"Kau harus melakukan tapa tujuh hari tujuh malam di goa ini. Dan hari selanjutnya harus kau pergunakan sebaik-baiknya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang akan kuwariskan padamu...!"

"Perintah Eyang Guru akan aku jalankan... Bilakah aku mulai melakukan Eyang Guru?" sahut Nanjar.

"Tunggulah sampai saat menjelang fajar. Ada beberapa syarat yang harus kali ucapkan dengan lidah dan kau iktikadkan dalam hati!" kata Kyai Kapilatu. Sementara itu malam terus merayap. Terasa begitu lama bagi Nanjar yang menanti saat-saat untuk dia mulai bertapa. Saat-saat itu pula teringat pada semua kejadian dan peristiwa yang dialami. Ternyata perjalanan hidupnya sudah cukup jauh. Banyak peristiwa dialami selama mengembara ke setiap wilayah. Ternyata di atas langit masih ada langit lagi. Nanjar bukanlah seorang tokoh super yang tak pernah mengalami kekalahan. Akan tetapi takdirlah yang menentukan, hingga saat ini dia masih bernasib baik.

Secara kebetulan Nanjar selalu terlibat dalam urusan dendam, cinta, kemelut dan berbagai kejahatan. Sebagai seorang pendekar yang berkewajiban menolong yang lemah dan menumpas kelaliman, Nanjar harus bergelut mengatasi semua itu. Kini telah muncul seorang tokoh bernama Datuk Patilongga. Tokoh sesat yang memiliki ilmu hitam yang amat tinggi.

Nanjar beruntung dapat bertemu dengan sukma Kyai Jaran Goyang. Hal yang hampir dikatakan terlalu mustahil! Tapi memang demikianlah kenyataannya.....

LIMA

Di bulan ketiga yang menginjak pada bulan Suro, seorang pemuda berambut gondrong berbaju penuh tambalan berwarna-warni melintas disebuah desa sebelah tenggara Kota Raja.

"Nama RENGGANA!" kata pemuda itu memperkenalkan diri seraya menjura dihadapan seorang laki-laki memakai blangkon, berbaju lurik bergaris-garis coklat. Laki-laki berusia antara 45 tahun itu adalah Demang  Sambiloto, kepala desa di wilayah itu. Sejenak dia menatap pemuda di hadapannya, memperhatikan dari kepala sampai ke kaki.

Pemuda di hadapannya hanya senyumsenyum sambil memeluk tangan mempermainkan dagunya. "Apakah aku kurang gagah untuk menjadi menantumu, orang tua?" bertanya pemuda ini. Tentu saja pertanyaan itu membuat Demang Sambiloto melotot lebar, dan langsung membentak.

"Bocah kurang ajar! siapa yang mau mengambilmu sebagai menantu? Aku hanya butuh seorang pembantu untuk mengurusi ternak kambing-kambingku. Apakah kau kemari diutus oleh Ki Jembor Lamat?"

"Haha... benar sekali, paman Demang! Maafkan aku, sebenarnya aku hanya bergurau." sahut pemuda ini dengan tertawa.

Demang Sambiloto yang tadi hatinya mendongkol, mau tak mau jadi tersenyum. "Benarkah kau hanya bergurau?" tanyanya agak kurang percaya.

"Haha... kalau aku tak  bergurau,  apakah aku bersungguh-sungguh? Haih! kukira akupun cukup tahu diri. Mana mungkin seorang laki-laki seperti aku yang tak punya kedudukan apa-apa, miskin dan buruk rupa. Masakan kau sudi mengambil aku sebagai menantu?"

Hampir sepekan Renggana tinggal di rumah Demang Sambiloto, tahulah dia kalau Demang Sambiloto memiliki seorang anak gadis berparas cantik. Gadis itu bernama, Ambarani. Renggana diberi tempat menginap di belakang rumah. Di belakang rumah besar ini terdapat tanah berpadang rumput luas. Sekelilingnya dipagar dengan pagar bambu. Tugas Renggana selain menggembala kambing juga memperbaiki pagar-pagar yang rusak. Di sebelah barat itulah terdapat belasan kandang kambing yang harus dirawat dan dibersihkan setiap hari.

Tugas Renggana memang cukup berat. Tapi dia mengerjakannya dengan rajin. Bahkan sering terdengar suara nyanyian pemuda itu. Bersenandung sambil menggembala ternak.

Ternyata sejak kemunculan Renggana, diam-diam telah menjadi perhatian Ambarani. Gadis ini sering mencuri pandang, mengintip dari balik pagar memperhatikan Renggana.

Hal itu bukan tak diketahui oleh Renggana.

Diam-diam dia mulai menjalankan rencananya.

Malam itu sudah cukup larut... ketika sesosok bayangan bergerak menuju pintu belakang rumah Demang Sambiloto. Tak terlalu sukar untuk menerka siapa adanya orang itu. Dia tak lain dari Renggana. Entah ilmu apa yang dipergunakan pemuda ini, karena palang pintu secara perlahan terbuka sendiri, seperti ada makhluk halus yang membukakan palang pintu dari dalam. Namun yang jelas bibir pemuda ini bergerak-gerak seperti membaca mantera-mantera.

Menjelang pagi  tiba-tiba  terdengar  jeritan pelayan, memekik-mekik sambil berlari ke ruang tengah dan berdiri gemetar didepan pintu kamar Demang Sambiloto.

Tentu saja jeritan pelayan perempuan itu membuat terkejut Demang Sambiloto. Bagai disengat kala dia terbangun dari tidurnya. Lalu melompat keluar dari kamar.

"Keparat! ada apakah kau pagi-pagi menjerit-jerit seperti orang kesurupan?!" bentak laki-laki ini.

"Uaaaaoooo! Uaaaooooo!"

Pelayan ini bukannya menerangkan apa yang terjadi, tapi justru semakin berteriak tergagap-gagap seperti suara orang mengigau. Terpaksa lengan Demang Sambiloto yang bicara. Satu tamparan keras mendarat di pipi pelayan perempuan itu. Seketika itu juga dia mengaduh, dan jatuh tersungkur di lantai.

"Apa yang terjadi, goblok! Lekas katakan!" bentak Demang Sambiloto menjambak rambut wanita pelayannya, hingga perempuan ini menyeringai kesakitan. Tampak pipi wanita pelayan itu biru membengkak. Tapi dia segera sadar.

"Ampun gusti De... mang. Jeng Ambarani... Jeng Ambarani, gusti Demang. Oh, lihatlah dikamarnya... " Ujar wanita pelayan ini dengan tergagap-gagap.

Tak menunggu sampai sang pelayan selesai berkata, Demang Sambiloto telah melompat bagaikan terbang, berlari memasuki pintu kamar anak gadisnya. Membelalak lebar mata laki-laki kepala desa ini melihat anak gadis satu-satunya itu menggeletak terlentang di pembaringan, dalam keadaan tak bergerak-gerak. Sepasang matanya melotot, lidahnya terjulur. Dari sudut bibirnya yang membuka tampak ada cairan darah yang mengental meleleh ke dagu membasahi payudara.

"Ambarani....! anakku....!" detik itu juga terdengar jeritan parau Demang Sambiloto. Dia menghambur memeluk sang anak gadis.

"Ya, Tuhan! apa gerangan yang telah terjadi padamu?" Diguncang-guncangkannya tubuh gadis yang sudah kaku itu sambil berteriak-teriak kalap. Tepat pada saat itu diluar rumah Demang Sambiloto tampak dua orang laki-laki mendatangi rumah kepala desa ini. Yang seorang adalah lakilaki tua berusia antara 70 tahun, seorang lagi ada-

lah seorang pemuda berkulit hitam.

Tampaknya mereka dua orang tetamu yang baru saja tiba. Mendengar suara jeritan dan kegaduhan dalam rumah besar Demang itu mereka saling pandang.

"Apa yang terjadi?" sentak laki-laki tua itu. Pemuda berkulit hitam itu cuma menggeleng, karena dia tahu pertanyaan itu bukan ditujukan padanya.

"Kau tunggu disini, Jumanta! Aku akan melihat ke dalam. Heh!? apakah yang telah terjadi?" kata laki-laki tua ini seraya menuju kepintu. Tapi ketika dia mendorong, daun pintu rumah Demang Sambiloto masih terkunci.

Baru dia mau mengetuk pintu, mendadak segera mengurungkan. Dari ruang dalam terdengar suara Demang Sambiloto. "Keparat! Jahanam! Ini pasti perbuatan Renggana! Dia telah memperkosa anakku, lalu membunuhnya!"

"Hah!? Renggana siapa Renggana? Dia telah memperkosa dan membunuh Jeng Ambarani?" sentak laki-laki tua ini dengan wajah berubah pucat. Tak ayal dia segera menggedor pintu.

"Siapa diluar itu? He, bujang tolol! cepat bukakan pintu! Keparat! Jahanam! Bagaimana kerjamu? Masakan tak tahu ada orang masuk ke dalam kamar anakku?" teriak Demang Sambiloto.

Perempuan pembantu ini berlari bagaikan terbang untuk membukakan pintu. Laki-laki  tua itu sejenak menatap pembantu wanita itu, lalu melompat ke dalam.

"Apa yang terjadi, gusti Demang?" suara laki-laki ini agak tergetar, dia berdiri menatap lakilaki kepala desa itu.

"Kau... kau Jahanam keparat!" membentak Demang Sambiloto dengan mata mendelik seperti mau melejit keluar dari kelopaknya, ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Mengapa dengan... dengan saya gusti Demang? Apakah salah saya...?" terperangah kaget laki-laki tua ini tak mengerti. Sekali lengannya bergerak Demang Sambiloto telah mencengkeram baju laki-laki tua itu.

"Keparat! Kau bawa Renggana kemari hanya untuk memperkosa dan membunuh anak gadisku? Kau lihat anakku! Dia telah tewas akibat perbuatan keponakanmu! Heh! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan ini, dan bocah itu harus membayar dengan jiwanya!"

"Tunggu dulu, gusti Demang. Siapakah Renggana itu? Aku justru kemari mau mengantarkan keponakanku. Dia bernama Jumanta. Bukankah aku telah berjanji akan mencarikan seorang pembantu laki-laki untuk mengurus kambingkambing gusti Demang?"

"Hah!? Jadi Renggana bukan orang suruhanmu?" sentak Demang Sambiloto terperangah kaget. Saat itu pemuda berkulit hitam yang menunggu diluar tiba-tiba masuk.

"Inilah Jumanta, gusti Demang. Keponakanku yang kujanjikan akan kubawa kemari !"

kata laki-laki tua itu yang tak lain dari Ki Jembor Lamat.

Mendadak Demang Sambiloto merasakan matanya berkunang-kunang. Kepalanya serasa berat. Lantai yang dipijaknya serasa berputar. Detik itu juga dia roboh tak sadarkan diri...

Ramailah seketika rumah Demang Sambiloto. Beberapa orang penduduk ternyata telah mendatangi. Mereka ramai-ramai memasuki rumah kepala desa itu. Jerit dan suara ratap tangis sang pembantu rumah tangga yang membaur dengan teriakan-teriakan kaget mereka yang berdatangan. Mayat gadis yang malang itu ditutupi dengan kain. Atas penjelasan pembantu wanita itu, Reng-

gana lah yang dicurigai melakukan perbuatan gila dan keji itu. Segera ramai-ramai mereka mencari Renggana. Tapi pemuda itu telah lenyap. ENAM

Malam  itu  adalah  tepat  malam  Jum'at  kliwon. Segunduk tanah yang masih memerah baru saja selesai diuruk. Para pengantar jenazah baru saja kembali dari mengubur mayat seorang gadis bernama Ambarani. Dialah anak gadis Demang Sambiloto yang tadi pagi kedapatan tewas di tempat tidur dengan keadaan membugil.

Makam sekitar lereng bukit itu sunyi mencekam. Cuma sepotong bulan yang menerangi samar-samar.

Entah dari mana munculnya mendadak sesosok bayangan telah berada di sekitar pekuburan itu. Matanya menatap ke arah kuburan yang masih baru itu.

Siapa adanya orang ini, tiada lain dari seorang kakek berjubah abu-abu. Dia tak lain dari Datuk Patilongga. Tampak wajahnya menyeringai. Lalu berkelebat melompat mendekati gundukan tanah itu.

"Hehehe... menurut si Renggana, muridku yang gagah itu gadis yang satu ini punya tubuh yang, bagus, putih mulus dan  berwajah  cantik. Hm, baiklah! Aku akan menggunakan mayat gadis ini sebagai umpan untuk memulai rencanaku..." menggumam si kakek alias Datuk Patilongga.

Selesai menggumam tampak mulutnya komat-kamit membaca mantera-mantera. Sepasang matanya tak berkedip menatap gundukan tanah di hadapannya. Mendadak cuaca berubah gelap. Bulan sekonyong-konyong lenyap. Dan angin tibatiba membersit keras merontokkan dedaunan.

Mantera-mantera yang dibaca semakin lama semakin cepat, dengan bahasa aneh yang tak dimengerti. Tampak kemudian kilatan petir berkredepan di angkasa. Salah satu lidah petir meluncur menyambar ke bawah.

Ternyata kilatan lidah petir itu tepat menyambar kayu nisan kuburan Ambarani.

Terjadilah keanehan. Tanah kuburan itu mendadak bergerak-gerak, tergetar. Saat berikutnya seperti terjadi sebuah ledakan dari dalam, tanah kuburan itu terbongkar.

Dan sesosok tubuh terbungkus kain putih muncul dari dalam lubang. Itulah mayat Ambarani yang telah bangkit kembali.

Datuk Patilongga berhenti membaca mantera. Matanya menatap tajam sosok mayat di hadapannya.

"Kau harus menurut perintahku! Nah! Cepat ikuti aku!" berkata Datuk Patilongga. Mayat itu mengangguk. Laki-laki tua ini segera balikkan tubuh, dan beranjak meninggalkan makam, diikuti mayat Ambarani.

***

Menjelang siang hari dua orang pemuda melintasi sisi makam, sambil bercakap-cakap. Salah seorang membawa sebuah kendi berisi air. "Kasihan jeng Ambarani. Setelah diperkosa, dibunuh pula! Pemuda bernama Renggana itu sungguh keji! Padahal aku ada menaruh hati padanya, sayangnya aku cuma seorang petani. Mana mungkin bisa menyunting anak gusti Demang?" kata laki-laki muda berusia antara dua puluh lima tahun berwajah cukupan ini. Dia bernama Maronto.

Kawannya yang membawa kendi berisi air itu, cuma tersenyum sambil menghela napas. "Haih! Kalau melihat kecantikan paras dan bagusnya tubuhnya, kukira dia bisa menjadi istri orang berpangkat. Setidak-tidaknya seorang Adipati. Tapi nasibnya sungguh buruk..." tukas laki-laki yang berusia agak lebih tua dari pemuda itu, dia bernama Kasiman. Kasiman pernah bekerja pada keluarga Demang Sambiloto. Dia berhenti ketika menikah dengan gadis dari kampung lain dan tinggal menetap di kampung istrinya.

Secara kebetulan dia datang ke desa ini untuk menjenguk orang tua. Hingga dia mengetahui kejadian yang menimpa keluarga Demang Sambiloto.

"Setelah meletakkan kendi penuh air itu di kuburan jeng Ambarani apakah kau akan terus kembali ke desa istrimu?" tanya Maronto.

"Ya! istriku baru saja melahirkan anakku yang kedua. Kasihan jika ditinggal bekerja di tempat jauh. Padahal gusti Demang menyuruhku bekerja lagi..."

"Mengapa tak kau ajak saja istrimu, dan tinggal menetap di rumah gusti Demang?"

"Aku memang pernah ditawari demikian oleh gusti Demang, tapi istriku tak mau. Dia lebih senang tinggal di rumah sendiri. Dan lagi aku bisa menggarap sawah mertuaku di sana..." sahut Kasiman.

Dalam bercakap-cakap itu merekapun membelok kearah pintu makam. "Yang mana kuburan jeng Ambarani?" tanya Maronto.

"Itu yang paling sudut dekat pohon Angsana" sahut Kasiman, sambil menunjuk. Mendadak hatinya tersentak karena melihat tanah kuburan itu seperti terbongkar.

"Seperti ada yang tidak beres...?" sentaknya dalam hati. Kasiman mempercepat langkahnya. Maronto bergegas mengikuti.

Laki-laki yang disuruh Demang Sambiloto menaruh kendi di kuburan Ambarani ini melihat kuburan Ambarani benar-benar terbongkar. Ketika mereka memeriksa ternyata kuburan itu telah kosong. Mayat gadis itu telah lenyap....

"Celaka!? ini pasti perbuatan manusia!" kata Maronto.

"Benar! Mayat jeng Ambarani telah dicuri orang! Oh, kita harus segera melaporkan pada gusti Demang!" kata Kasiman dengan terperangah. Kasiman melemparkan kendi berisi air yang dipegangnya. Dan detik itu juga kedua laki-laki itu

lari cepat meninggalkan pekuburan itu.

Gemparlah seketika penduduk desa itu. Diiringi puluhan penduduk, Demang tua itu berjalan setengah berlari menuju makam untuk membuktikan kata-kata Maronto dan Kasiman. Napas Demang Sambiloto tersengal-sengal ketika tiba di makam. Wajahnya tampak berubah pucat pias ketika melihat kuburan anak gadisnya terbongkar, dan jenazah Ambarani lenyap.

Gemetar tubuh Demang Sambiloto dengan, wajah merah padam.

"Ini pasti perbuatan manusia edan! Apa maksudnya menculik mayat anakku...?" menggumam laki-laki ini. Sesaat dia menatap para penduduk yang berjejalan untuk melihat gundukan tanah yang terbongkar itu. Pemandangan matanya terbentur pada Kasiman dan Maronto, dua lakilaki yang tadi memberi laporan.

"Kasiman, kau pernah bekerja padaku. Aku butuh pertolonganmu. Pergilah kalian berdua ke Kadipaten. Laporkan hal ini pada gusti Kanjeng Adipati. Terutama katakan kemunculan manusia bernama Renggana itu. Aku mencurigai pemuda keparat itulah telah melakukannya. Hal ini adalah suatu tindak kejahatan yang harus ditangani oleh yang berwajib. Munculnya pemuda bernama Renggana itu bukanlah hal yang mustahil kalau tak berlanjut dengan perbagai kejahatan lainnya. Bukan saja meresahkan warga desa kita, tapi juga bisa dikhawatirkan akan merambat ke Kota Raja!"

"Benar, gusti Demang. Tentu saja kami akan membantu, karena masalah ini bukan masalah keluarga gusti Demang saja. Tapi juga masalah setiap manusia yang mengutuk perbuatan keji dan jahat!"

Semua warga yang berkumpul manggutmanggut, dan menyatakan akan turut membantu mencari jejak Renggana.

"Kalau kalian menemui pemuda itu dengan ciri-ciri yang telah kalian ketahui, laporkan padaku! Biar aku yang mencincang tubuh manusia biadab itu!" berkata seorang laki-laki kekar yang berdiri di sebelah seorang pemuda berambut gondrong yang sedari tadi cuma berdiri memeluk tangan.

TUJUH

Pemuda yang bertampang dogol berbaju lusuh seperti orang kurang tidur itu adalah Nanjar si Dewa Linglung adanya. Mendengar disebut-sebut nama Renggana, Nanjar tersentak dan kerutkan keningnya. Ketika rombongan penduduk itu bubar, dan dua orang yang ditugaskan Demang Sambiloto telah berangkat pergi, Nanjarpun berlalu cepat dari makam itu.

"Aku tahu siapa pemuda itu...." berkata Nanjar dalam hati. Lalu berkelebat membelok kehutan kecil di tepi jalan. Sejak keberangkatan Demang Sambiloto dan puluhan penduduk menuju makam, Nanjar telah mendengar peristiwa yang menimpa keluarga Demang itu. Kemunculan Renggana segera dikaitkan dengan seseorang yang telah dikenalnya. Yaitu Datuk Patilongga.

"Aku yakin Renggana pasti ada hubungannya dengan kakek tua itu. Setidak-tidaknya hubungan guru dan murid. Penculik mayat itu kalau bukan Renggana sendiri yang menculik, tentu datuk sesat itu yang melakukannya!"

Nanjar yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang diturunkan kakek ghaib Kyai Jaran Goyang alias Kapilatu selama Empat Puluh hari, telah lebih tiga pekan mencari jejak Datuk Patilongga. Di samping untuk merebut kembali pedang mustika Naga Merah juga mendapat tugas melenyapkan manusia itu.

Tentu saja kemunculan Renggana membuat dia seperti menemukan langkah dimana adanya Datuk Patilongga, karena Nanjar yakin Renggana murid Datuk sesat itu.

Sejenak Nanjar termangu menatap ke depan dengan benak memutar, menyusun rencana yang akan dilakukannya.

"Melacak jejak datuk sesat itu agak sulit, karena selain dia memiliki ilmu sihir luar biasa, juga telah beberapa pekan ini aku tak dapat menemukan jejaknya. Sebaiknya aku mencari jejak Renggana..." kata Nanjar dalam hati.

Mendadak Nanjar tersenyum sendiri. "Hm, siapa tahu dia justru ke sana!" gumamnya. Setelah mengambil keputusan, Nanjar segera berkelebat pergi menerobos hutan kecil itu.

***

Sementara itu orang yang dicari Nanjar ternyata telah berada di wilayah Kota Raja. Tampaknya dia tengah menuju ke arah gedung Kadipaten.

Di tepi jalan dia merandek ketika mendengar suara gemuruh kaki-kaki kuda mendatangi. Sejenak dia terpaku, lalu berkelebat cepat ke sisi jalan dan sembunyi di balik semak belukar.

Tak lama muncul rombongan lasykar Kadipaten mengendarai empat belas ekor kuda. Paling depan adalah Adipati Haryo Geni. Rombongan lasykar berkuda itu melintas cepat di jalan itu. Dari tempat persembunyiannya Renggana tersenyum menyeringai.

"Haha... mereka tentu mencari aku setelah mendapat laporan dari dua orang anak buah Demang Sambiloto. Bagus! Ini kesempatan baik buat aku. Selagi gedung Kadipaten kosong, aku bisa memasuki kamar Adipati. Kabarnya dia baru beberapa bulan menikah dengan anak gadis keluarga bangsawan di Kota Raja. Haha.... tentu istrinya seorang gadis yang cantik. Aku akan menjadikan istri Adipati itu korban ke lima setelah anak gadis Demang Sambiloto..."

Renggana melompat keluar dari balik semak. Matanya menatap kepulan debu para lasykar kerajaan itu yang semakin jauh. Tak lama rombongan berkuda itu lenyap tak kelihatan lagi.

Gerakan Renggana memang sangat cepat, lincah. Entah dari mana menyelinapnya,  tahutahu tahu tak beberapa berapa lama kemudian dia sudah berada di ruang dalam gedung Kadipaten. Ternyata dia masuk melalui atap genting, lalu melompat turun melalui lubang langit-langit.

Secara kebetulan justru ruangan itu adalah kamar tempat tidur dua orang emban.

Sejenak dia mengawasi sekitar ruangan. Mendadak pintu kamar terbuka. Detik itu dengan gerakan cepat Renggana melompat ke balik lemari pakaian. Ternyata yang masuk adalah salah seorang pembantu wanita alias emban. Entah ada keperluan apa emban yang seorang ini memasuki kamarnya. Ternyata kakinya melangkah mendekati lemari pakaian.

Enak saja dia membukai pakaiannya, setelah terlebih dulu tadi dia mengunci pintu kamar. Karena kamar dan lagi dalam kamar yang sudah terkunci, mana khawatir apa-apa. Niatnya adalah untuk berganti pakaian.

Mata Renggana agak membesar melihat potongan tubuh sang emban yang masih gadis  ini. Dia memang baru beberapa bulan bekerja di Kadipaten.

Dengan tubuh membugil dia membuka pintu lemari pakaian. Pada saat itulah Renggana melompat dari balik lemari. Sekali lengannya bergerak, emban itu mengeluh dan roboh terkulai terkena totokan Renggana. Sepasang mata gadis itu membelalak melihat muncul seorang pemuda berambut gondrong yang menangkap tubuhnya. Baru saja dia mau menjerit, dengan cepat pemuda itu menekap mulutnya. Dan satu totokan telah membungkam pelayan wanita itu.

"Haha.... kau cantik juga, hehe    tentu kau

emban di gedung kadipaten ini" kata Renggana berdesis, seraya tersenyum menyeringai. Tubuh emban malang itu dilemparkan ke pembaringan.

Sepasang matanya menjalari kemontokan tubuh gadis itu.

Pada mulanya tampak wajah emban ini pucat pias saking takutnya. Tapi entah ilmu apa yang digunakan Renggana. Ketika dia menggamit dagu gadis itu, dengan menatap tajam tak berkedip, tampak butiran-butiran keringat menetes di leher sang emban.

Napasnya terdengar memacu. Tubuhnya pun seperti bergelinjangan mengharap sesuatu. Apalagi ketika lengan Renggana mulai menjalari ke setiap lekuk tubuh gadis itu.

Perlahan-lahan Renggana mengurut leher sang emban. Ternyata gerakan itu adalah memulihkan totokkan pada urat suara sang gadis.

"Siapa namamu...?" tanya Renggana berbi-

sik.

"Aku... Wartini..."  sahutnya  lirih.  Lengan

Renggana kembali meremas. Gadis ini menggeliat dengan mala setengah terpejam. Matanya mengatup. Dari bibirnya yang setengah terbuka terdengar desahan.

"Katakan dimana kamar gustimu?" tanya Renggana.

"Dikamar sebelah... Ohh, mengapa kau menanyakan kamar gustiku?" sahut sang emban. Matanya agak membelalak terbuka. Tapi lengan Renggana kembali meremas, membuat mata gadis itu kembali mengatup.

Hawa rangsangan tampak terlihat pada wajah Renggana, tapi seketika wajah itu berubah mengelam. Lengan yang sudah digunakan untuk membuka tali celana pangsinya, mendadak terangkat ke atas. Dan meluncur cepat ke arah leher sang emban.

Terdengar suara erangan halus. Tubuh gadis itu menyentak dengan mata membelalak lebar. Lehernya terjulur keluar. Tubuhnya pun tanpa berkelojotan. Selang sesaat tubuh itu terkulai setelah terdengar suara tulang yang remuk.

Renggana angkat lengannya dari leher pelayan itu. Tampak dari bibir gadis itu darah mengalir turun membasahi dagu. Sepasang matanya membeliak hampir putih seluruhnya. Lehernya terjulur mengeluarkan lendir bercampur darah. Ternyata jiwanya telah melayang.

Renggana melompat dari pembaringan ke arah pintu. Membukanya sedikit. Tampak di sebelah ujung ruangan ada dua prajurit penjaga dengan bercakap-cakap membelakangi.

Sekali berkelebat, dia telah melompat ke kamar yang bersebelahan dengan kamar itu. Saat itu pintu tampak agak sedikit terbuka. Tak ayal langsung Renggana melompat masuk. Dari dalam ruangan itu terdengar suara teriakan kaget.

Tapi sekejap kemudian senyap....

DELAPAN

Teriakan tertahan dari kamar istri Adipati itu cukup membuat dua pengawal gedung itu curiga.

"Heh!? aku seperti mendengar suara teriakan kaget gusti Kanjeng permaisuri dari dalam kamar..."

"Aku juga mendengar. Hm, mari kita lihat! Jangan-jangan manusia edan Renggana itu telah masuk ke gedung Kadipaten. Hah!? celaka kalau benar dia yang muncul..." kata kawannya. Mereka memang baru memperbincangkan pemuda anak tukang kuda Kadipaten itu yang kabur meninggalkan ayahnya, karena tak mau membantu pekerjaan sang ayah. Laki-laki tua yang biasa mengurus kuda di gedung Kadipaten itu telah meninggal beberapa bulan yang lalu. 

Mereka sepakat untuk melihat apa yang terjadi dalam kamar gusti mereka. Serentak keduanya berlompatan mendekati pintu kamar.

Salah seorang segera mengetuk pintu. Tapi tak ada sahutan. Tak sabar menunggu, salah seorang segera mendorong daun pintu. Ternyata tak dikunci. Saat keduanya melangkah masuk, mendadak terdengar jeritan keras saling  beruntun. Dan berbareng dengan suara jeritan itu, kedua tubuh pengawal itu terlempar keluar kamar. Dua pengawal itu berkelojotan meregang nyawa, lalu kepala mereka terkulai. Tampak darah segar membasahi lantai. Dari lubang mata, telinga dan mulut mereka mengalirkan darah kental.

Ternyata semua itu adalah perbuatan Renggana yang sengaja bersembunyi dibalik pintu setelah menotok istri Adipati. Dua hantaman keras mengenai belakang kepala dua pengawal sial itu. Kemudian Renggana melemparkan dua penjaga itu keluar kamar.

Ketika mendengar suara gaduh dalam ruangan gedung beberapa pengawal segera berdatangan. Terperanjat mereka melihat pintu kamar istri Adipati mereka menjeblak terbuka, dan dua orang pengawal terkapar tak bergerak.

Beberapa pengawal berlompatan memasuki kamar. Lainnya berjaga diluar. Akan tetapi para pengawal itu cuma menjumpai jendela kamar yang hancur, dan tak ditemui wanita istri Adipati berada dalam kamar itu. Mendadak api berkobar di ruangan belakang gedung.

Gemparlah seketika seisi gedung Kadipaten. Teriakan para pengawal hiruk-pikuk. Mereka berserabutan dengan berteriak-teriak.

"Api! Api! cepat padamkan..."

"Celaka!? Tolooong! Gusti permaisuri diculiki Gusti permaisuri diculik...!"

"Cepat cari  penjahat  itu!  Semua  menye-

bar...!"

Ramailah suara teriakan di sana-sini. Pen-

gawal berlari serabutan kesana-kemari. Ada yang memburu ke arah kebakaran, ada yang bolakbalik tak tentu apa yang harus dikerjakannya.

Sementara api semakin membesar di beberapa tempat. Kebakaran itu tampaknya sulit dicegah lagi. Tak berapa lama api telah mencapai wuwungan gedung. Siraman-siraman air para pengawal tak memadamkan api yang semakin ganas melahap gedung Kadipaten.

Sementara itu sesosok tubuh yang memanggul seseorang di atas pundaknya tampak berkelebatan bagai bayangan di antara kepanikan yang berlangsung digedung itu.

"Heh! puas sudah hatiku! Ayahku cuma menghabiskan usia puluhan tahun sebagai tukang kuda, ternyata matipun kalian tak mengurus jenazahnya secara layak. Tak sebanding dengan pengabdiannya!" menggumam Renggana dengan berdiri di belakang gedung yang terbakar.

Sesaat kemudian dia telah berkelebat cepat meninggalkan tempat itu dengan memondong istri sang Adipati di atas pundaknya.

Saat itu pula dua sosok bayangan muncul di belakang gedung, ketika Renggana baru saja angkat kaki. Ternyata tak lain dari Nanjar dan seorang nenek tua bungkuk bertongkat cagak. Siapa lagi kalau bukan si Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong.

"Dewa Linglung! Kau kejarlah dia ...! biar aku mencoba mengatasi kebakaran ini!" berkata Nenek Lembah Jerangkong. Nanjar mengangguk, lalu berkelebat mengejar seraya membentak dengan mengirim suara jarak jauh.

"Renggana! manusia busuk! jangan lari...!" Suara itu sampai ke telinga Renggana. Di-

am-diam hatinya tersentak kaget, karena suara bentakan itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang menggetarkan gendang telinga. Jelas si pengirim suara seorang berilmu tinggi. Akan tetapi tampak bibirnya tersenyum.

"Bagus! kau kejarlah aku! Ingin kulihat apakah kau mampu mengungguli ilmu lariku ...?" mendesis Renggana, seraya mempercepat gerakan larinya. Dalam beberapa lompatan saja tubuhnya lenyap menyusup ke dalam hutan di balik bukit.

Akan tetapi Renggana terlalu menganggap remeh pengejarnya. Si Pendekar Dewa Linglung ternyata memiliki gerakan tak kalah cepat. Sebelum tubuh Renggana lenyap ke dalam hutan, Nanjar telah jejakkan kaki terlebih dulu di atas bukit. Kemudian berkelebat mengejar pemuda itu yang jaraknya semakin dekat. Bahkan dengan sangat jelas dia bisa melihat punggung Renggana, dan sebagian tubuh seorang wanita yang menggemblok di atas pundak pemuda itu.

Renggana memang tak mengetahui kalau si pengejar memiliki ilmu yang tak hanya satu macam. Nanjar yang memiliki gerakan seperti seekor kera, dengan mudah dapat mendahuluinya. Hingga ketika tahu-tahu si Dewa Linglung meluncur turun dari atas pohon tepat menghadang di hadapan Renggana.

"Haha..hehe... sudah kukatakan kau tak akan mampu lolos dari kejaranku, Renggana!" berkata Nanjar dengan bertolak pinggang mengejek. Sikapnya masih mirip seekor kera, menggarukgaruk kepala sambil tertawa cengengesan.

Mendelik mata Renggana dengan wajah berubah merah padam. Tapi hatinya tersentak ketika mengetahui siapa yang mengejar. Ciri-ciri pemuda di hadapannya memang persis seperti yang dikatakan gurunya mengenai siapa adanya pemuda ini. "Heh! kiranya kau si Dewa Linglung?" ben-

tak Renggana dengan tampang sinis.

"Lho? kau mengenalku juga rupanya! siapa yang memberitahu kalau aku si Dewa Linglung?" kata Nanjar pura-pura bodoh.

"Hm, guruku Datuk Patilongga! Sayang aku telah dipesan guru untuk tidak mengadakan bentrokan dengan anda. Tapi tak ada salahnya kita main-main sejurus dua jurus. Aku ingin tahu juga kehebatan orang yang namanya terkenal dikalangan Rimba Hijau seperti kau!"

Nanjar melengak. Tapi hatinya girang, karena dugaannya tepat. Renggana memang murid manusia yang menjadi musuh besar Kyai Jaran Goyang alias Kapilatu. Seperti diceritakan di bagian depan, Nanjar telah diangkat menjadi murid kakek ghaib itu. Suatu hal yang cukup aneh kedengarannya, karena Nanjar cuma berguru selama empat puluh hari. Akan tetapi waktu sesingkat itu telah menambah ilmu si Dewa Linglung. Terutama dalam hal ilmu-ilmu keghaiban.

"Bagus! Aku tak menolak kalau kau menginginkan bentrok denganku...?" tanya Nanjar.

Renggana mendengus tanpa mengalihkan tatapan matanya yang tajam seperti mau menelan pemuda keluaran lereng gunung Rogojembangan itu.

"Hm, kau boleh bertanya pada guruku setelah selesai urusan kita!" sahut Renggana dengan suara ketus.

"Urusan kita sih mudah, tapi lepaskan dulu perempuan itu. Aku tak ingin melihat ada korban lagi di tanganmu!' kata Nanjar dengan tak kalah ketusnya.

"Heh! Akupun sudah hilang selera dengan perempuan istri Adipati ini!" kata Renggana seraya melemparkan tubuh wanita itu ke semak belukar.

"Mari kita bertarung sepuluh jurus! Kalau kau mampu bertahan dalam waktu yang  sedikit itu, kau layak menghadang guru. Tapi kalau nyatanya ilmu kepandaianmu tak mampu mengungguli ilmuku, maka kau lebih layak mampus!' ujar Renggana berkata. "Sanjungan orang tentang nama besarmu hanyalah karena kau memiliki pedang mustika Naga Merah. Kini pedang  mustika itu telah jatuh ke tangan guru. Heh! tanpa pedang itu kau bukanlah manusia lagi, Dewa Linglung!"

Tantangan Renggana ditanggapi Nanjar, segera dia berkata.

"Baik, aku setuju! Dengan cara ilmu apa kita bertarung?" tanya Nanjar.

"Jurus  apapun  boleh  kau  pergunakan!  Nah, bersiaplah Dewa Linglung!" bentak Renggana. Nanjar berpikir sejurus. Mendadak...

"Tunggu! Bertarung di tempat yang banyak pohon begini kurang leluasa. Nah! kau lihat, di sana pohon agak jarang. Kita saling menguji kepandaian di tempat itu!" kata Nanjar seraya mendahului melompat.

Renggana yang dadanya telah dibakar api kecemburuan. Entah sebab apa. Yang jelas dia tak ingin pemuda pendekar Linglung itu bergabung dengan mereka. Seperti yang diketahui Renggana, gurunya memang berniat memperalat pemuda si Pendekar Naga Merah untuk mencapai cita-citanya menguasai dunia persilatan.

Tak ayal dia segera berkelebat menyusul. Di saat itulah sesosok bayangan berkelebat dari balik sebatang pohon ke arah tergeletaknya wanita istri Adipati itu.

Ketika kedua pemuda itu telah saling berhadapan, terdengar suara seseorang berkata.

"Silakan kalian bertarung secara jujur, biar aku yang menjadi wasit!" Nanjar tersenyum menatap kearah datangnya suara. Sedangkan Renggana tampak masamkan mukanya. Tampak seorang nenek bungkuk telah berdiri di belakangnya dengan memanggul tubuh wanita istri Adipati. Siapa lagi kalau bukan si Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong.

"Heh! kau tak perlu campur tangan dalam urusan ini, Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong! Silakan kau bawa pergi perempuan itu!" bentak Renggana dingin.

"Hihik..hik siapa yang melarang kalau aku mau ikut campur urusan orang? Apalagi bocah macam kau sudah ketahuan jahat dan liciknya. Bahkan kau lebih licik lagi dari gurumu si tua bangka Datuk Patilongga!" sahut si nenek seraya tertawa mengekeh.

"Tutup bacot busukmu, anjing bungkuk!" menggembor marah Renggana. Mendadak lengannya terangkat. Segelombang angin keras menderu diiringi semacam kabut tipis berwarna hitam.

"Heh!? pukulan Uap beracun!" sentak nenek itu, seraya kibaskan lengan jubahnya. Kabut hitam buyar seketika.

Si nenek cepat sambar tongkat bercagaknya yang tadi dilepaskan, karena harus menangkis serangan Renggana.

Diam-diam Nanjar terkejut karena melihat pemuda itu memiliki jurus-jurus pukulan yang bukan saja dahsyat, tapi juga mengerikan. Kalau si nenek bungkuk tak berlaku cepat dan memiliki tenaga dalam tinggi akan sangat membahayakan diri si nenek itu, terutama wanita istri Adipati itu. "Nenek bungkuk! biarlah pertarungan ini tak usah kau Wasiti. Kau urus saja perempuan istri Adipati itu. Tak usah mengkhawatirkan aku. Kalau dia gunakan cara licik, masakan si Dewa Linglung mampu dibodohi...?" berkata Nanjar mengirim suara jarak jauh pada nenek bungkuk Lembah Jerangkong.

"Baiklah, hati-hati dengan tipu daya  iblis tua guru bocah geblek ini, sobat pendekar muda...!"

Selesai berkata dengan menggunakan juga cara mengirim suara jarak jauh yang hanya bisa didengar Nanjar. Nenek bungkuk segera angkat kaki dari tempat itu. Dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya lenyap dari hutan kecil itu.

"Nenek keparat! Suatu saat aku akan menguliti kulit kepalamu!" teriak Renggana menahan kemarahan. Akan tetapi segera berpaling pada si Dewa Linglung.

"Sudah siapkah kau pendekar gagah?" bentaknya dingin.

"Hm, silahkan kau mulai lebih dulu!" sahut Nanjar seraya pasang kuda-kuda dengan sebelah kaki diangkat sebatas lutut. Kedua lengannya menekuk mirip paruh burung.

"Aku akan melayanimu dengan jurus-jurus Bangau dan Kera!" kata Nanjar seraya merobah kuda-kuda. Kini mirip seekor kera yang sedang mencari kutu di kepala kawannya.

Renggana meludah dan tersenyum sinis seraya mengejek.

"Dengan jurus-jurus jelek semacam itu bisa mengangkat dirimu dimata kaum Rimba Hijau? Huh! benar-benar menggelikan!"

"Kau hadapi jurus Cakar Iblis dan Cengkraman Kelelawar Penghisap darah ini!" bentak Renggana. Wajah Renggana mendadak berubah mengelam. Kedua lengannya terlentang dengan sepuluh jari merenggang kaku agak membengkok. Urat leher pemuda ini tampak menggembung pertanda dia tengah mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti mengandung racun. Sekejap tampak kedua lengan Renggana berubah hijau kemerah-merahan. Sementara sorot matanya bagaikan menimbulkan cahaya api, membuat Nanjar agak tersentak.

"Hm, dia gunakan ilmu hitam. Untunglah Eyang guru Kyai Jarang Goyang telah membekali aku ilmu Penolak Iblis!" berkata Nanjar dalam hati. Kemudian cepat gunakan kekuatan bathin untuk menangkis tatapan mata Renggana, sementara bibirnya mengucapkan lafat. Do'a seperti yang diajarkan Kyai Jaran Goyang. Nanjar melakukannya dengan gerakan membalikkan tubuh, tentu saja Renggana tak melihat kalau bibir Nanjar bergerakgerak ketika mengucapkan lafal do'a itu.

Ternyata Renggana pun merapal manteramantera sesaat yang telah digunakan untuk menghadapi Nanjar. Walau dia belum mengetahui kehebatan si pendekar Dewa Linglung, namun hatinya agak gentar juga. Yang membuat nyalinya cukup besar adalah karena Nanjar tak memiliki pedang mustika Naga Merah.

"Lihat   serangan!"    mendadak    Renggana membentak keras. Tubuhnya meloncat ke depan. Sepasang lengan dengan jari terkembang membentuk cakar menyambar ke arah Nanjar.

Whuuuuk! Whuuuk!

Kalau saja saat itu ada yang menonton pertarungan, akan melihat sepasang Cakar Iblis Renggana berubah menjadi tangan-tangan raksasa yang menyambar dahsyat mengepulkan uap hitam.

Akan tetapi Nanjar telah merapal aji Penolak Iblis. Dengan gerakan Bangau Sakti Mengipas Mega dia memapaki serangan.

Whuuut! Whuuut!

Sepasang lengan Nanjar mengibas. Renggana terkejut ketika merasakan deru angin dahsyat yang menyambar ke lengannya. Cepat-cepat dia menarik serangan. Lalu tubuhnya melejit ke udara. Kembali dia lancarkan serangan mencengkeram batok kepala lawan.

Sementara angin kibasan "Sayap Bangau" yang dilepas Nanjar telah membuat tiga empat batang pohon roboh tersapu kerasnya bersitan angin yang ditimbulkan dari jurus yang dahsyat ini.

Renggana memang sangat cekatan, tahutahu selepas menghindar dia telah mengirim serangan berikutnya. Serangan Cakar Iblis yang menyambar ke arah batok kepala telah dibarengi dengan hantaman pukulan Iblis Gila Sambar Nyawa. Tampak kepalan pemuda itu memancarkan cahaya biru menggidikan.

Nanjar terkesiap. Barulah dia tahu kalau manusia bernama Renggana ini selain memiliki ilmu-ilmu yang tinggi, tapi juga telengas! Serangan yang dilakukan seperti mau menyudahi nyawanya dengan segera. Terpaksa dalam saat yang kritis itu Nanjar gunakan jurus Langkah Dewa Mabuk, dibarengi dengan jurus Ular Sakti Memeluk Mega.

Tubuh Nanjar terhuyung-huyung seperti diterpa angin.

Blllar! Cras...!

Tanah di belakang Nanjar menyemburat membentuk lubang besar, ketika serangan maut itu lolos. Dan pukulan Iblis Gila Sambar Nyawa menghantam tunggul pohon kayu yang seketika hancur berserpihan.

Gerakan Langkah Dewa Mabuk itu berhasil menolong diri Nanjar. Tapi sesuatu yang tak terduga oleh Renggana adalah mendadak kakinya seperti dibelit oleh seekor ular. Dia tersentak kaget melihat si Dewa Linglung tahu-tahu telah menggelindingkan tubuhnya, lalu secepat kilat memeluk sebelah kakinya.

"Keparat!" desis Renggana tersentak. Detik itu juga kaki yang dipeluk erat si Dewa Linglung tiba-tiba mengayun keras.

Gerakan ini adalah untuk melepaskan kakinya dari Nanjar.

Whuuuk!

Usaha ini berhasil baik. Nanjar terlempar ke udara. Tubuhnya melambung setinggi sembilan tombak. Renggana sesaat tertegun. Tapi segera berkelebat memburu ke arah depan, dimana beberapa saat lagi tubuh si Dewa Linglung akan meluncur turun. Sepasang lengannya telah disiapkan untuk melepaskan pukulan maut. Akan tetapi Renggana terpana dengan mata membelalak, karena melihat lurukan tubuh Nanjar seperti tertahan. Tubuh Nanjar seperti melayang dan urung menyentuh tanah. Bahkan melambung lagi ke atas. Inilah ilmu "Terbang" yang digunakan Nanjar. Salah satu dari kehebatan ilmu dari gurunya, si Raja Siluman Bangau.

"Ciluuuuk... Ba! Haha...hehe... mau memburu durian jatuhan, ya? Haha... sayang  duriannya nggak jadi jatuh!" kata Nanjar dengan tertawa gelak-gelak. Sesaat tubuhnya meluncur turun delapan tombak di depan Renggana.

"Hayo bertarung lagi!" teriak Nanjar. Renggana mendelik gusar. Dari jarak jauh dia melepaskan pukulannya.

Whuuuuk! Whuuuuk! Bummm...! Bummm...!

Angin keras membersit merambas udara. Dua ledakan terdengar berturut-turut. Dan dua buah lubang menganga lebar mengepulkan asap hitam yang menghanguskan tanah.

Tapi si Dewa Linglung telah lenyap dari tempat itu.

Gerakan berkelebatnya sangat mengagumkan Renggana. Dengan dua kah lompatan salto diudara si Dewa Linglung telah berdiri di puncak pohon. Kemudian melayang turun.

Renggana gertak gigi. Urat lehernya mengembung menahan marah. Api kecemburuan tampak memancar dari tatapan matanya. Akan tetapi sinar mata yang menggidikan itu segera menyurut ketika telinga Renggana mendengar suara membisik ditelinganya.

"Bocah bodoh! mengapa kau mengumbar nafsumu, Renggana? Pemuda gagah itu bakal kita habisi nyawanya setelah kita memperalat dia. Kini belum saatnya kau bertindak. Apakah kau mau meludaskan impian kita menguasai dunia persilatan? Tenaga pemuda itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kita! Kau bujuklah dia agar datang ke Lembah Seribu Iblis!"

Renggana tersentak. Itulah suara gurunya, Datuk Patilongga. Sementara itu Nanjar telah melompat kembali kehadapan pemuda itu.

"Haha... Renggana! masih adakah jurusjurus permainanmu yang lain?" kata Nanjar dengan sikap orang bodoh.

"Cukup Dewa Linglung! Bukankah kita hanya saling mengukur kepandaian? Seperti pesan guruku, aku tak diperkenankan bentrok denganmu. Kau tentu mau meminta kembali pedang Mustika Naga Merah, bukan? Nah! silahkan menemui guruku..." sahut Renggana.

"Heh! aku memang mau menemui Datuk Patilongga untuk meminta pedangku. Baik dengan cara kekerasan atau cara damai. Yang penting benda itu tak boleh jatuh ke tangan orang lain. Karena hanya akulah orang yang berhak memilikinya!" berkata si Dewa Linglung dengan dada dibusung-busungkan.

"Hahaha... kau memang pendekar aneh, Dewa Linglung. Selain bernyali macan juga berani mati! Apakah kau berani memasuki Lembah Seribu Iblis tempat bersemayam guruku?" tanya Renggana.

Nanjar jungkatkan alisnya. Mendadak dia tertawa gelak-gelak.

"Haha... Lembah Seribu Iblis? Nama lembah itu kurang seram. Jangankan lembah Seribu Iblis walau lembah Sepuluh Ribu Iblis, setan, dedemit, genderuwo dan kuntilanak sekalipun akan kudatangi. Nah! Antarkan aku kesana!" sahut Nanjar dengan mencibir. Padahal dalam hati diam-diam dia terkejut. Nama lembah itu saja sudah menyeramkan. Tentu bukan sedikit bahaya terdapat di sana. Apalagi yang dihadapi adalah seorang Datuk Sesat, yang memiliki ilmu-ilmu iblis.

Tapi rasa percaya diri serta dengan bekal ilmu-ilmu warisan Kyai Jaran Goyang, Nanjar membesarkan hati. Karena memang resiko dan bahaya mautlah yang harus ditempuhnya. Apabila Datuk Patilongga adalah manusia sesat yang sudah menjadi tugas dia untuk melenyapkan, di samping tugas yang dibebankan gurunya, Kyai Jaran Goyang, juga demi kemanusiaan.

"Bagus! kalau begitu kau ikutlah aku!" kata Renggana seraya berkelebat dari tempat itu. Nanjar tak menunggu lagi, segera menyusul sosok tubuh Renggana. SEMBILAN

DATUK PATILONGGA tertawa terkekehkekeh menatap sosok mayat Ambarani yang terbaring membugil dalam peti mati terbuat dari batu putih yang tembus cahaya. Ruang goa itu diterangi cahaya lampu minyak yang tergantung ditengah ruang. Seluruh ruangan kamar terbuat dari batu putih penuh tonjolan dan lekukkan. Karena ruangan itu adalah sebuah ruangan goa. Di sinilah tempat bersemayamnya Datuk Patilongga yang selama ini mengeram diri.

Goa itu terdapat pada dinding batu tebing yang terdapat di dalam lembah. Itulah Lembah Seribu Iblis. Lembah yang sangat terkenal keangkerannya dan tak pernah dirambah manusia. Datuk Patilongga menekan sebuah tombol. Maka pintu ruangan bergeser tertutup. Tak lama Datuk Patilongga berkelebat keluar goa. Dia memang tengah menanti kedatangan si Dewa Linglung. Kakek berjubah abu-abu ini berdiri di depan mulut goa di tengah hamparan lembah yang dikelilingi hutan rimba, diapit oleh dua tebing curam.

Kemunculan Nanjar yang dinantikan kedatangannya tak memakan waktu lama.  Kira-kira dua kali penanak nasi, si kakek yang duduk menjublak di atas batu besar tampak melompat bangkit berdiri.

Dua bayangan sosok tubuh tampak mendatangi dari sisi lembah. Tak lama semakin mendekat. Tampaklah siapa adanya mereka. Tak lain dari Nanjar dan Renggana.

"Bagus! saatnya sudah tiba..." berkata sang Datuk dalam hati.

"Guru... aku datang bersama si Dewa Linglung!" kata Renggana seraya bungkukkan tubuh.

"Ah, selamat datang pendekar gagah! Aku memang tengah menanti kedatanganmu..." ujar kakek ini seraya menjura.

"Kau pasti mau meminta pedang mustika Naga Merah itu, bukan?" sambungnya dengan tersenyum mengelus jenggotnya. Sikapnya sangat aneh, karena tampak sekali banyak perubahan.

"Hm, datuk sesat! Tak usah berbasa-basi! kalau kau sudah mengetahui, mengapa tak segera kau serahkan benda itu padaku?" ujar Nanjar dengan suara agak ditekan.

Datuk Patilongga tertawa mengekeh, lalu berkata.

"Sabar... sabar sobat pendekar Dewa Linglung. Aku telah mengundangmu secara baik-baik, dan kau mau datang ke tempatku yang buruk ini adalah suatu kehormatan buatku untuk memperlakukan seorang tamu dengan layak..."

"Hm, kelicikan apa lagi yang akan kau lakukan terhadapku? Setelah kau menipu aku hingga aku tersesat di lembah tak berujung, kemudian kau merebut pedang Naga Merah dari tanganku, lalu apakah kau mau mengulangi akal bulusmu?" berkata Nanjar dengan menyerocos.

"Semua itu ada dasarnya, sobat pendekar Dewa Linglung. Sedikitpun aku tak berniat jahat! Niatku baik. Terserah dengan dugaan orang lain. Kuharap kau tak salah tafsir...!" sahut Datuk Patilongga.

"Mari silahkan masuk, sobat Dewa Linglung. Dan kau Renggana, ajaklah sahabat kita itu ke ruang dalam!" kata sang Datuk.

Sesaat Nanjar tertegun. "Aneh...! Sikapnya sedemikian ramah. Ada apa lagi ini? Hm, sebaiknya aku harus berhati-hati."

"Tampaknya kau khawatir aku mencelakaimu, sobat pendekar gagah? Haii! Tak usah khawatir. Seorang pendekar gagah semacam kau yang sudah banyak makan asam-garam di dunia persilatan tak nantinya termakan jebakan macam apapun!" ujar sang Datuk dengan tertawa mengekeh.

Dasar Nanjar yang sifatnya terkadang ugalugalan. Kewaspadaannya mendadak lenyap. Dengan tertawa gelak-gelak dia berkata.

"Haha.. haha siapa yang takut oleh jebakan busukmu? Mari antar aku ke dalam, Renggana!" Renggana mengangguk seraya melangkah memasuki mulut goa. Nanjar dengan langkah lebar mengikuti di belakang Renggana. Tak lama Datuk Patilongga segera menyusul masuk.

Nanjar mendapatkan sebuah ruangan goa yang lebar. Di tengah ruangan goa ada terdapat empat buah batu persegi empat, yang merupakan empat buah tempat duduk. Di bagian tengah terdapat meja batu berbentuk bulat. Renggana yang mendapat isyarat kedipan mata oleh Datuk Patilongga segera beranjak masuk ke satu lorong goa, dan lenyap dalam lorong itu. "Heheh..heh.. silahkan duduk, sobat pendekar Dewa Linglung. Mari kita bicara baik-baik!" ujar sang Datuk mempersilahkan Nanjar duduk. Nanjar yang masih berdiri mengamati seluruh ruangan goa cepat balikkan tubuh. Diam-diam dia terkejut karena baru sadar kalau tadi dia telah bertindak gegabah.

Apa mau saat itu Datuk Patilongga telah mempersilahkan duduk. Sejak Nanjar mulai memasuki goa, pengaruh kekuatan iblis Datuk Patilongga mulai bekerja.

"Cukuplah, datuk sesat! segera kau berikan pedang mustika Naga Merah padaku. Tak usah bertele-tele!" berkata Nanjar tanpa bergerak dari berdirinya. Dalam benak Nanjar berfikir. "Menempur datuk sesat saat ini sungguh sulit. Dia tak menampakkan reaksi buruk. Tapi tunggulah saatnya..."

Kakek tua itu tertawa terkekeh mengelus janggutnya yang kaku.

"Tampaknya kau masih menaruh curiga padaku, sobat pendekar muda? Heheh... tak apalah. Hal itu wajar, karena aku pernah mengakali kau. Tapi sebenarnya aku berniat baik. Aku akan mengangkat dirimu menjadi Ketua Rimba Hijau! Untuk itulah aku menahan pedang Naga Merah. Bukankah itu suatu jabatan yang luar biasa? Semua tokoh baik kaum hitam atau putih akan tunduk di bawah kekuasaanmu. Nah! cukuplah penjelasanku untuk kau ketahui, dan dapat kau pertimbangkan, apakah niatku itu suatu hal yang buruk?" berkata Datuk Patilongga. Nanjar terpaku mendengar kata-kata sang Datuk. Mendadak dia tertawa geli terpingkalpingkal.

"Haha... aneh! Sungguh aneh! Kau akan mengangkat aku menjadi ketua kaum persilatan? kedengarannya sungguh lucu!"

"Tak ada yang lucu, sobat pendekar muda! Aku bersungguh-sungguh, Dan saat ini juga aku akan berikan pedang mustika Naga Merah padamu. Terserah dengan tawaranku, apakah kau akan menyetujui atau tidak. Setelah kau mendapatkan pedangmu, kau boleh angkat kaki dari lembah ini, atau menerima tawaran baikku itu!" kata Datuk Patilongga dengan nada bersungguhsungguh.

Lagi-lagi Nanjar tercengang. Aneh! saat itu Nanjar seperti mendengar suara bisikan-bisikan yang menyentuh hatinya. "Terima saja tawaran itu, Dewa Linglung. Kapan lagi? Bukankah dengan jabatan ketua itu akan menambah pamor nama Dewa Linglung di mata para tokoh kaum Rimba Hijau?"

Nanjar tersentak. Tapi saat itu hati nuraninya, membantah.

"Pamor? Hm, tampaknya hal semacam itulah yang menjadi keinginan setiap manusia. Tapi apakah artinya pamor, kekuasaan dan sebagainya? Jika tak dilandasi kebenaran, pasti akan hancur!"

"Mengapa termenung, sobat pendekar muda?" bertanya Datuk Patilongga. "Kau tak boleh bersikap ragu-ragu dalam mengambil keputusan. "Aku telah merencanakan akan mengundang semua tokoh Rimba Hijau untuk menyaksikan pengangkatanmu. Kalau kau menolak, aku tak bisa memaksa. Mungkin Renggana yang akan kujadikan penggantinya!" lanjut Datuk Patilongga.

"Renggana...?" sentak Nanjar.

"Benar! Dia cukup punya ambisi untuk itu!" sahut sang Datuk. Nanjar sejenak tertegun. Kembali kekuatan sesat dan lurus bertarung dihati Nanjar.

"Apakah kau menginginkan aku mengembalikan pedangmu sekarang juga?" tanya sang Datuk.

"Bagus! kukira itu lebih baik! Mengenai tawaranmu akan kupikir-pikir dulu..." kata Nanjar dengan wajah girang.

Dari bawah bangku batu yang didudukinya Datuk Patilongga menekan sebuah tombol. Mendadak batu di depan Nanjar bergeser terbuka.

Ternyata itulah ruang goa tempat menyimpan peti mati berisi mayat Ambarani. Di sebelah belakang peti mati dari batu tembus cahaya tampak pedang mustika Naga Merah menempel di dinding.

"Ambillah! Itu pedangmu!" berkata Datuk Patilongga. Sejenak Nanjar ragu-ragu. Tapi jelas memang itulah pedang mustika Naga Merah. "Hm, apakah datuk sesat ini menggunakan ilmu sihir menciptakan pedang itu? Dan mayat siapa dalam peti mati itu?" berkata Nanjar dalam hati.

Agaknya sang Datuk dapat membaca apa yang tersirat dalam hati Nanjar. Tampak senyum kemenangan dibibirnya. "Heheh..heh... kau tak usah khawatir aku tipu. Kalau aku mau menipu siang-siang kau tentu sudah mengetahui, sobat pendekar muda! Apakah kau takut dengan isi peti mati itu?"

"Mayat siapakah di dalam peti itu?" tanya Nanjar. Datuk Patilongga tak menjawab. Dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Datuk Patilongga! apakah kau tak mendengar pertanyaanku?"

"Hm, pendekar Dewa Linglung! Aku telah berbaik hati padamu. Kalau kau takut mati, lebih baik kau tinggalkan tempat ini!" berkata kakek ini dengan suara dingin.

Merahlah wajar Nanjar. Mendadak lagi-lagi hatinya seperti ada yang membisik. "Haha... kau pengecut Dewa Linglung! Percuma kau bergelar pendekar. Lebih baik kau copot gelar Pendekar Naga Merahmu, dan berhenti jadi seorang pendekar!"

"Setan! Aku tak sepengecut itu!" teriak Nanjar. Dan... dia telah berkelebat masuk ke ruang goa itu.

SEPULUH

Dengan hati mangkel Renggana meninggalkan goa lembah seribu iblis. Rasa iri hati masih tetap terbayang pada raut mukanya sebentar  saja dia telah berada jauh di luar lembah.

"Walau bagaimana aku tetap kurang percaya dengan kata-kata guru... Aku merasa hanya dijadikan alat saja. Tak ubahnya seperti si Dewa Linglung. Setelah datuk itu berhasil mencapai citacita, tentu dia tak diperlukan lagi...!" berkata Renggana dalam hati. Mendadak Renggana berhenti berlari. Benaknya memikir. "Heh! alangkah bodohnya aku! Bukankah dengan melepaskan diri dari dia aku bisa bebas, dan tak ada yang memerintah aku lagi? Hm, perduli dengan jasa baiknya menerima aku sebagai murid!" desis Renggana.

"Benar! Lama-lama semakin terasa guruku bukan seperti manusia lagi. Ah ... selama ini aku telah tersesat jauh dan banyak menebar bala kejahatan. Datuk itulah yang telah menanamkan benih kebencian di hatiku terhadap Adipati Haryo Geni. Kematian ayah kukira bukan karena terlalu berat bekerja, tapi karena beliau sakit karena memikirkan aku yang pergi tanpa pamit. Karena aku tak menyukai pekerjaan sebagai tukang kuda. Padahal ayah telah berjanji akan mengajukan aku untuk melamar pekerjaan sebagai prajurit Kadipaten..." Renggana merenung. Terdengar pemuda ini menghela napas.

Pada saat itulah terdengar bentakan menggeledek menggetarkan udara. "Renggana! manusia iblis busuk! kau tak dapat lolos dari tanganku!" Bentakan itu disusul dengan mendesingnya benda tipis ke arah batang lehernya. Renggana yang tengah tenggelam dalam lamunan tersentak kaget. Namun dengan cekatan dia berhasil melempar tubuhnya bergulingan, hingga loloslah dia dari bahaya maut.

Ketika dia melompat berdiri, tampaklah seorang laki-laki setengah umur berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Siapa adanya laki-laki ini tiada lain dari Adipati Haryo Geni. Di tangan Adipati ini tergenggam sebuah klewang panjang yang memancarkan cahaya berkilatan terkena pantulan cahaya matahari.

Mendadak dari balik semak belukar berlompatan beberapa sosok tubuh. Lebih dari sepuluh prajurit Kadipaten segera mengurung Renggana.

"Manusia busuk tak tahu membalas budi! Atas dasar apa kau menculik istriku dan membakar gedung Kadipaten? Mengapa kau lakukan kekejian dimana-mana? Ketahuilah, ayahmu jatuh sakit hingga sampai meninggal dunia adalah karena memikirkan kepergianmu. Kau tinggalkan surat pada ayahmu, bahwa kau tak sudi melakukan pekerjaan hina menjadi tukang kuda di gedung Kadipaten. Hm, pekerjaan itu kau anggap hina? Mana lebih hina dengan semua perbuatan yang kau lakukan. Menculik, memperkosa perempuan, merampas hak orang lain dan perbagai kejahatan lainnya?!"

Kata-kata Adipati Haryo Geni terdengar lantang menggetarkan udara. Dadanya naik turun karena menahan hawa amarah. Sepasang matanya membersitkan kemarahan yang luar biasa.

"Dendam apakah yang terpendam di hatimu, hingga kau menculik istriku, membunuh prajurit Kadipaten dan membakar gedung milik Kerajaan? Kesalahan apakah yang telah aku lakukan terhadap keluargamu? Ayahmu adalah seorang gelandangan yang hidup dalam kemiskinan. Ibumu mati karena sakit malaria ganas,  akibat  makan dan tidur yang tak menentu. Lalu aku membawanya ke Kadipaten, dan memberinya pekerjaan sebagai tukang kuda. Kuberi gaji yang sesuai, tempat beristirahat dan segala macam keperluan hidup lainnya.

Lalu salahkah aku? Kau bukannya berterima kasih, tapi setelah menghilang selama empat tahun lebih, kini muncul membuat keonaran!"

Renggana terpaku ditempatnya dengan menundukkan kepala. Para prajurit Kadipaten tak satupun yang bergerak, karena Adipati Haryo Geni belum memberi perintah. Sementara Adipati itu sendiri masih tetap berdiri dengan klewang terhunus di tangan.

"Jawablah    Renggana,    sebelum    aku    mengambil tindakan! Jauh sebelum kau membuat keonaran di Kadipaten, aku telah mendengar kau banyak melakukan perbuatan keji. Menculik gadis-gadis, memperkosa, membunuh dan lain sebagainya. Ketahuilah, saat ini kaum pendekar dan pihak kerajaan telah bersatu untuk melenyapkan manusia bernama Datuk Patilongga. Seorang manusia sesat yang bercita-cita bukan saja menguasai kerajaan, tapi juga menguasai seluruh kaum tokoh golongan Rimba Hijau. Sebuah ambisi gila! Aku mengkhawatirkan kau menjadi pengikut manusia iblis itu!"

Renggana mengangkat mukanya. Tampak disudut kelopak matanya menitik setetes air bening. "Kanjeng Gusti Adipati masih adakah kesempatan buat hamba untuk memperbaiki kesalahan? Aku kini sadar, bahwa langkahku selama ini berada di jalan yang sesat. Karena aku telah salah memilih guru. Orang yang Kanjeng Gusti Adipati sebut-sebut itu adalah guru hamba..." berkata Renggana dengan suara bergetar. Adipati Haryo Geni tersentak kaget. Tapi tak menampakkan keterkejutan pada wajahnya.

Sejenak Adipati terdiam. Tapi kemudian berkata, setelah menghela napas. "Kalau kau bersungguh-sungguh, mungkin kaum pendekar akan mengampuni kesalahanmu. Bagi diriku pribadi, memandang jasa ayahmu yang telah mengabdikan diri pada kerajaan, aku bisa memaafkan kesalahanmu. Sukurlah kau tak mengganggu istriku. Seorang pendekar wanita tua bergelar Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong telah membantu memadamkan api yang membakar gedung Kadipaten, dan menyelamatkan istriku... Tapi kau harus membuktikan bahwa kau benar-benar akan mencuci kesalahanmu dengan suatu perbuatan!"

"Hamba mengerti, Kanjeng Gusti Adipati..." kata Renggana seraya menekuk lutut dan merangkap kedua tangannya. "Terimakasih atas pengampunan paduka Kanjeng Gusti Adipati. Hamba akan pertaruhkan jiwa raga hamba untuk menumpas Datuk Patilongga!" Kata Renggana dengan suara tergetar. Sikap dan kejujuran pemuda itu nampak di mata Adipati Haryo Geni yang bijaksana. Air mata yang mengalir di pipi Renggana tak dapat dibohongi, bahwa pemuda itu benar-benar berniat mencuci diri.

Adipati segera memberi tanda agar para pengawal merenggangkan kurungan terhadap pemuda itu. Lalu melangkah mendekati setelah menyarungkan klewangnya.

"Bangunlah, Renggana! Katakan apa yang kau ketahui..." ujar sang Adipati.

"Gusti Adipati... Saat ini pendekar Dewa Linglung dalam bahaya besar. Dia akan diperalat oleh Datuk Patilongga untuk mencapai tujuannya!" berkata Renggana. Penuturan Renggana membuat wajah Adipati ini seketika berubah.

Pada saat itu tiba-tiba berlompatan beberapa sosok tubuh. Tiga laki-laki berbaju kulit srigala menyandang pedang, dan dua laki-laki berwajah kembar bersenjata golok, serta seorang nenek tua renta yang tak lain dari si Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong.

"Aku si Iblis tua bungkuk siap mengawal pemuda bernama Renggana itu, gusti Adipati!" ujar si nenek bungkuk seraya mengetukkan tongkatnya ke tanah. Disusul oleh dua laki-laki kembar yang berkata seraya menjura. "Kami Dua Pendekar Golok Kembar siap menyabung nyawa menumpas datuk sesat itu!"

Kemudian tiga laki-laki setengah umur bersenjata pedang turut menjura. Salah seorang berkata, "Kami yang rendah punya silang sengketa dengan datuk sesat itu. Kami dijuluki si Tiga Srigala Gunung Sumbing!"

"Bagus! Kalian memang kuperlukan bantuannya. Terima kasih atas kesediaan kalian menyumbang tenaga!" kata Adipati dengan wajah girang.

"Haiiiit! hehe.. haha.. hihi... Aku si pengamen pasar, Dandang Gulali mengapa mau dikesampingkan? Hehe.. haha.. hihi.. Akupun punya andil untuk membekuk manusia iblis itu!" Tibatiba seorang kakek berpakaian pengemis membawa Rebab meluncur dari atas pohon dan jejakkan kaki di depan Adipati Haryo Geni.

"Kakek Rebab Sakti...!" sentak Tiga Srigala Gunung Sumbing hampir berbareng. Ternyata mereka mengenali kakek pembawa alat musik itu. "Hehe.. haha.. hihi... si Datuk Patilongga itu pernah memutuskan seutas tali rebabku. Heh! dia harus mengganti dengan urat nadinya!" berkata si kakek pengemis ini dengan tertawa terkekehkekeh.

"Ah, tak dinyana hari ini banyak berdatangan tokoh-tokoh kosen kaum Rimba Hijau. Atas nama Kerajaan, aku Adipati Haryo Geni mengucapkan terima kasih atas bantuan anda sekalian..." kata Adipati Haryo Geni seraya menjura pada para kaum pendekar yang berkumpul di tempat itu.

"Kalau begitu sekarang juga kita berangkat! Dan kau Renggana sebagai penunjuk jalan!" kata Adipati Haryo Geni. Renggana mengangguk. Kemudian mendahului berkelebat. Disusul oleh si nenek bungkuk Lembah Jerangkong, dan para pendekar lainnya. Adipati Haryo Geni segera menyusul setelah memerintahkan para prajurit pengawalnya kembali ke kadipaten. SEBELAS

Nanjar tertegun menatap mayat seorang wanita membugil di dalam peti mati batu tembus cahaya itu. Darahnya tersirap. "Apakah ini mayat Ambarani, anak gadis Demang Sambiloto?" sentak Nanjar dalam hati. Akan tetapi Nanjar tak memperdulikan jenazah dalam peti mati itu. Lengannya bergerak menyambar pedang mustika Naga merah yang tergantung didinding.

Aneh! lengan Nanjar menyambar angin. Pedang itu lenyap. Pada saat itulah mendadak sepasang mata mayat wanita dalam peti mati tiba-tiba membeliak terbuka. Dan cahaya biru menyorot menembus tutup peti mati menerpa tubuh Nanjar.

Satu kekuatan ghaib yang tak kelihatan telah membuat Nanjar berdiri terpaku. Sekujur tubuhnya dilingkari cahaya biru. Ketika cahaya biru itu melenyap, Nanjar tak ubahnya bagaikan sebuah patung hidup yang berdiri tak bergerak, dengan sepasang mata agak membelalak dan mulut setengah terbuka menatap ke arah jenazah Ambarani.

Perlahan-lahan mayat gadis itu bangkit. Lengannya menjulur membuka tutup peti mati. Lalu dengan tubuhnya terangkat. Sekejap telah berdiri. Ternyata  pedang  mustika   berada dalam genggaman tangan mayat Ambarani.

"Hihihi... julurkan lenganmu pendekar Dewa Linglung...!" terdengar suara mayat gadis itu. Satu kekuatan sihir yang amat hebat telah memaksa lengan Nanjar bergerak terangkat. Dan... Nanjar merasakan lengan mayat yang dingin mencekal pergelangan tangannya.

"Hihihi... bagus! kini resmilah pertunangan kita. Kau telah menerima pinanganku...!" berkata mayat Ambarani.

Nanjar tersentak. Napasnya tersengal. Keringat dingin mengembun di tengkuknya. Dia berteriak dan berusaha menggerakkan tubuh untuk melepaskan diri dari satu kekuatan hebat yang membelenggu tubuhnya.

"Tidaaak! lepaskan tanganku... Aku tak mau bertunangan dengan Iblis!" Akan tetapi suara Nanjar hanya tersekat dikerongkongan.

Sementara itu Datuk Patilongga terus membaca mantera-mantera sesat yang ditujukan pada si Dewa Linglung. Ternyata suara mayat itu adalah suaranya sendiri yang disalurkan dengan kekuatan sihir pada mayat Ambarani.

"Kau tak dapat menolak lagi, pendekar Dewa Linglung. Kita telah menjadi bagian dari jiwa Datuk Patilongga dan kau harus patuh pada setiap perintahnya..." berkata mayat gadis itu.

"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan tanganku...!" teriak Nanjar terengah-engah. Mendadak dia bisa berteriak, ketika Nanjar berhasil membaca mantera do'a seperti yang diajarkan Kyai Jaran Goyang, guru ghaibnya.

Datuk Patilongga tersentak kaget. Pada saat itulah tiba-tiba dari luar goa terdengar teriakan.

"Datuk sesat! Keluarlah kau untuk menerima kematian! Kau telah terkepung! Tak ada jalan keluar bagimu!"

"Hah!? Setan keparat! Siapa yang berani mati datang ke lembah kekuasaanku?" sentak sang Datuk dengan wajah berubah karena terkejut.

Dengan kekuatan mata bathinnya, pandangan mata kakek ini mampu menembus dinding batu goa. Menggeram gusar sang Datuk, ketika melihat beberapa tokoh kaum Rimba Hijau telah mengepung di sekitar goa. Yang lebih membuat dia terkejut adalah adanya Renggana diantara mereka.

BLARRR!

Satu hantaman dahsyat dari  angin  pukulan telapak tangan Renggana telah membuat dinding goa hancur berlubang besar. Datuk Patilongga secepat angin telah berkelebat ke luar goa.

"Bocah edan, keparat! Dewa mana yang mempengaruhimu, hingga membawa orang memasuki lembah seribu Iblis? Kau sudah berubah pikiran, Renggana?!" membentak Datuk Patilongga.

Tetapi pada saat itu juga Tiga Srigala Gunung Sumbing telah berlompatan mengurung dengan pedang terhunus.

"Datuk sesat! Hutang jiwa adik seperguruan kami harus kau bayar sekarang juga dengan nyawa iblismu!" Seiring dengan bentakan itu mereka lantas menerjang secara berbareng.

"Bagus! kalian cari mampus!" bentak sang Datuk. Tiga larik sinar berkredepan dari cahaya pedang Tiga Srigala Gunung Sumbing memapas udara. Datuk Patilongga kibaskan jubahnya. Maka menyambarlah hempasan angin keras ke arah tiga penyerang.

Tapi Tiga Srigala Gunung Sumbing secara serentak lakukan gerakan melompat dan bersalto diudara. Gerakan ini disusul dengan gerakan menusuk secepat kilat yang dilakukan secara berbareng. Crass!! Tiga buah pedang menancap di tubuh Datuk Patilongga. Satu diubun-ubun kepala, dan dua pedang lagi menembus leher dan dada. Akan tetapi tiba-tiba terjadilah keanehan.

Mendadak tubuh sang Datuk lenyap berubah menjadi segumpal asap hitam.

Ketiga pendekar ini terperangah kaget. Detik itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh Datuk Patilongga.

"Heheh... heheh... tiga pendekar konyol! terimalah kematian kalian!" Cahaya biru tampak membersit dari kedua telapak tangan Datuk sesat yang tiba-tiba muncul di belakang Tiga Srigala Gunung Sumbing. Pukulan  dahsyat  sang  datuk tak dapat dihindarkan lagi. Ketiga pendekar itu terjungkal roboh. Tubuh mereka terpental beberapa tombak dengan keadaan hangus.

DUABELAS

Iblis terkutuk! aku takkan mengampuni selembar jiwamu!" bentak nenek bungkuk Lembah Jerangkong, seraya menyerbu dengan sambaran tongkatnya.

Menyusul dengan berkelebatnya Pendekar Dua Golok Kembar, dan si kakek pengemis Rebab Sakti.

"Bagus! Kalian semua mencari mampus, da-

ri pada hidup bersatu dalam pimpinanku!" bentak sang Datuk.

"Tutup bacotmu, manusia iblis! Siapa sudi menjadi budak manusia sesat macam kau?" Membentak nenek bungkuk Lembah Jerangkong yang menahan serangannya. "Hehe.. haha.. hihi.. serahkan iblis tua ini padaku, sobatku. Ingin kulihat apakah urat nadinya bisa dipakai pengganti tali Rebabku yang putus sepuluh tahun yang lalu?" mendadak kakek Rebab Sakti melompat ke depan sang Datuk.

Terpaksa nenek ini memberi isyarat pada pendekar Dua Golok Kembar untuk menyingkir. Dan dia sendiri melompat mundur.

"Bagus! Bagus! Kau boleh menghinaku, Rebab Sakti! Apakah kau mampu melawan ilmu sihir ku?" bentak datuk Patilongga. Mendadak dia melangkah setindak ke belakang. Bibirnya komatkamit membaca mantera sesat. Mendadak tubuhnya memancarkan cahaya biru yang menggidikkan.

Akan tetapi kakek Rebab Sakti cepat menggesek tali rebabnya sambil bersenandung. Katakata dalam nyanyiannya dibarengi gesekan tali Rebab tak lebih dari mantera penolak ilmu Iblis.

Tampak tubuh Datuk Patilongga terhuyung, seperti terseret oleh irama yang membuat dia ingin menari. Sementara sang Datuk sendiri merasakan kekuatan yang hebat membuyarkan manteramanteranya. Pada detik itulah, si kakek memberi isyarat pada nenek bungkuk Lembah Jerangkong untuk menghantamkan pukulannya.

Nenek ini mengerti isyarat itu. Lengannya yang telah terisi kekuatan tenaga dalam diarahkan ke tubuh sang Datuk.

WHUUUK !

BHLARRR !

Tampak tubuh Datuk Patilongga tercecer menjadi serpihan-serpihan daging dan tulang. Pukulan sakti yang sangat mengerikan telah dilontarkan si Iblis Bungkuk Lembah Jerangkong.

Suasana dicekam ketegangan. Semua memandang ke arah serpihan-serpihan tubuh itu mendadak lenyap menjadi gumpalan asap. Tahutahu nenek bungkuk ini menjerit parau merobek udara. Tubuhnya terlempar bergulingan. Ketika berhenti, nenek ini mencoba bangkit. Tapi kemudian roboh menggabruk. Nyawanya lepas dengan darah kental mengalir dari mata, telinga, hidung dan mulutnya. Ternyata datuk sesat itu masih berdiri segar-bugar, dan melepas pukulan maut menghabisi nyawa nenek Lembah Jerangkong.

"Iblis tua! serahkan urat nadimu!" satu bentakan keras merambah udara, diiringi berkelebatnya sosok tubuh kakek pengemis Rebab Sakti. Jago tua ini lepaskan pukulan dan hantaman ganas senjata Rebabnya yang terbuat dari perunggu.

Sementara pendekar Dua Golok Kembar tak dapat menahan kemarahannya. Mereka menerjang dengan tabasan-tabasan golok besarnya merencah tubuh sang Datuk. Tapi semua itu seperti juga tak berarti.

Lagi-lagi sosok tubuh Datuk Patilongga lenyap. Dan dua jeritan merabas udara diiringi teriakan kaget kakek Rebab Sakti

Plak!

Rebab terbuat dari perunggu itu remuk berderak. Kakek ini terhuyung beberapa langkah. Jubahnya tampak hangus di bagian dada sebelah kirinya. Serangan Datuk Patilongga yang tak terlihat itu tak dapat dihindarkan olehnya. Sedangkan si Pendekar Dua Golok Kembar terjungkal roboh. Tubuhnya mereka ambruk dan berkelojotan bagai ayam disembelih. Ternyata tulang lehernya remuk. Tak lama kedua pendekar ini lepaskan nyawa.

Saat itu Renggana seperti tengah berusaha melepaskan diri dari belenggu ghaib yang tiba-tiba membuat tubuhnya tak dapat digerakkan. Satu demi satu dia melihat para tokoh kaum pendekar roboh melepas nyawa.

Saat itu Adipati Haryo Geni yang telah menyusul ke tempat itu hanya terpaku memandang pertarungan. Jelas dia melihat kehebatan ilmu iblis Datuk Patilongga sangat luar biasa.

Kini tinggal kakek Rebab Sakti saja yang masih mencoba menyabung nyawa dengan sang Datuk. Tampaknya datuk ini sengaja memperlambat kematian sang kakek pengemis. Dia melayaninya dengan gerakan berkelebatan menghindari pukulan si kakek yang hanya bertangan kosong, disertai ejekan demi ejekan.

"Renggana! apakah daya kita? Datuk sesat itu sukar dirobohkan. Dan apa yang terjadi denganmu...?" Adipati Haryo Geni menggoncanggoncang tubuh Renggana yang pucat pias. Dahinya mengucurkan keringat dingin.

"Aku tertawan oleh belenggu Iblis! Seluruh lembah ini telah dikuasai ilmu-ilmu ghaib sesat guruku..." sahut Renggana dengan napas tersengal. Sedikitpun dia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

"Celaka...!? bagaimana dengan pendekar Dewa Linglung?" desis Adipati Haryo Geni dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Dia berada di dalam goa... Cepat kanjeng Gusti Adipati menyelinap ke dalam. Datuk Patilongga tak dapat dibunuh, karena... dia memiliki ilmu Ganti Nyawa..." kata Renggana mengeluh. Mendadak Renggana berbisik "Cuma ada satu jalan. Aku mengetahui rahasia kematiannya. Nyawanya telah dipindahkan pada mayat Ambarani, anak gadis Demang Sambiloto. Mayat gadis itu berada dalam goa! Tapi sangat berbahaya kalau si Dewa Linglung kena dipengaruhi kekuatan Iblis Datuk Patilongga. Dia bisa diperalat datuk sesat itu!"

"Cepat gusti Adipati! sebelum Datuk Iblis itu melihat kemunculanmu!" bisik Renggana dengan suara serak parau. Tampak bibir pemuda ini mulai meneteskan darah kental berwarna hitam.

Tak berlaku ayal Adipati Haryo Geni berkelebat melompat melalui reruntuhan batu, dan lenyap masuk ke dalam goa.... Pada saat itulah Renggana berhasil melepaskan diri dari belenggu Iblis. Akan tetapi hal itu bersamaan dengan terjungkalnya tubuh si kakek Rebab Sakti. "Renggana! Murid murtad! Kau harus me-

nebus kebodohanmu dengan jiwamu!" bentak sang Datuk. Mendadak cahaya merah kebiru-biruan menyambar ke arah Renggana. Datuk sesat ini telah lepaskan pukulan mautnya ke arah Renggana.

BHUMMMM...!

Tanah menyemburat berlubang besar. Renggana berteriak parau. Tubuhnya berkelebat menghindari serangan. Tetapi hawa pukulan masih menyerempet kulit tubuhnya. Bajunya terbakar hangus, dan kulit pundak sebelah kiri terkelupas.

Sementara itu si Dewa Linglung dalam keadaan gawat. Dua kekuatan saling tarik menarik, antara kekuatan iblis dan kekuatan ghaib yang mulai terhimpun sedikit demi sedikit di tubuh Nanjar.

Mantera-mantera suci ajaran Kyai Kapilatu alias kyai Jaran Goyang mulai memperlihatkan keampuhannya. Kini si Dewa Linglung mulai menampakkan kewajarannya. Kekuatan ghaib yang berlandaskan kesucian mulai dapat menangkis kekuatan sesat yang mempengaruhi sirkuit otak Nanjar.

Sekali menyentakkan tangan maka lepaslah cekalan tangan mayat Ambarani. Dan dengan gerakan cepat dia berhasil merampas pedang mustika Naga Merah dari tangan sang mayat.

Saat itulah Adipati Renggana muncul. Mata laki-laki ini membelalak melihat mayat membugil yang meloncat dari dalam peti mati mengejar si Dewa Linglung. Tahulah dia kalau itu mayat gadis anak Demang Sambiloto yang bernama Ambarani, dan telah diculik dari pekuburan oleh Datuk Patilongga.

Melihat mayat gadis itu mengejar, Nanjar tiba-tiba berbalik. Dan ... JROS! Sekali mengayun pedang, senjata mustika Naga Merah meluncur deras, dan menembus dada mayat Ambarani, tepat di jantungnya.

Mayat gadis itu roboh berbareng dengan jeritan parau membelah langit terdengar dari luar goa. Nanjar dan Adipati Haryo Geni yang telah dikenal pemuda ini sejenak saling pandang.

"Mari kita lihat keluar!" kata Adipati. Tak menunggu sampai kata-kata Adipati itu habis, Nanjar telah berkelebat ke luar goa. Apa yang mereka lihat di luar goa membuat mata mereka membelalak. Tampak Datuk Patilongga terhuyung-huyung memegangi dadanya yang menyemburkan darah. Sepasang matanya membeliak, mulutnya membuka menyeringai. "Kep... parat! Kau ... berhasil menge.. tahui... raha... sia..

ku... Dew... a Ling..lung...? Aaakhh..."

Kata-kata sang Datuk sesat itu terputus. Tubuhnya terjungkal roboh. Setelah berkelojotan sesaat, nyawanya pun berangkat ke Akhirat.

Nanjar terpaku menatap mayat-mayat berkaparan di depan mulut goa. Saat itu  Adipati Haryo Geni telah melompat ke arah Renggana yang tergeletak tertelungkup di atas batu besar.

"Renggana...!" sentak Adipati ini. Kakinya terpaku menatap tubuh pemuda itu yang tak bergerak-gerak. Saat itu Nanjar telah berkelebat memburu. Cepat Nanjar membalikkan tubuh pemuda itu. Wajah si Dewa Linglung tampak muram. "Dia telah tewas..." kata Nanjar mendesah.

Sejenak keduanya saling pandang. Ketika menatap ke arah mayat Datuk Patilongga mereka tersentak kaget. Tampak tubuh kakek itu menjadi cair, menimbulkan bau busuk menusuk hidung. Cairan daging tubuh sang Datuk sesat memakan proses tak lama. Dalam beberapa saat saja sosok tubuh kakek sesat itu telah berubah menjadi sebuah kerangka tengkorak.

"Haih! sungguh kejadian yang sangat aneh! Nyatalah kalau datuk Patilongga itu sudah benarbenar bukan manusia ..." berkata Nanjar dengan menggaruk-garuk tengkuknya.

"Tapi kita bersyukur manusia sesat itu dapat terbinasakan, walau harus dengan banyak pengorbanan..." ujar Adipati Haryo Geni trenyuh. Nanjar manggut-manggut.

"Mari gusti Adipati, kita tinggalkan tempat ini... Ah, berdiam lama-lama di lembah menyeramkan ini sungguh hal yang sangat tidak menyenangkan!" berkata Nanjar.

Ketika Matahari mulai menggelincir ke belakang bukit.....

"Kau akan terus kemana, sobat Dewa Linglung?" tanya Adipati Haryo Geni. Mereka sudah berada diperbatasan Kota Raja.

"Aku akan terus ke Tenggara gusti Adipati. Nah, aku hanya mengantar sampai di sini. Sampai bertemu lagi bila Tuhan masih mempertemukan kita..." sahut Nanjar.

"Nanjar! singgahlah dulu dirumah adikku Tumenggung Haryo Rono. Oh, ya! akan kuperkenalkan kau pada anak gadisnya. Kau pasti tak kecewa bila sudah melihatnya..."

Nanjar tertawa, "Haha.....apakah gusti Adipati mau meminangku untuk menjadi suaminya?" berkata Nanjar.

"Mungkin juga begitu. Gadis  anak  adikku itu cantik lho! Benar-benar cantik!" Adipati Haryo Geni tampak bersungguh-sungguh.

"Wah, wah, wah ...! bukannya aku menolak, tapi aku masih sawan, karena baru saja dipinang oleh iblis! Untunglah aku tak jadi menikah dengan mayat... Hiiii..." Nanjar menggerakkan tengkuknya yang bergidik seram.

"Mudah-mudahan kejadian itu tak akan terulang lagi terhadapmu, sobat  Nanjar.  Baiklah! aku tak dapat menahanmu, semoga kau selamat dalam perjalanan..." kata Adipati Haryo Geni.

Nanjar menjura dengan tertawa, kemudian setelah mohon diri segera berkelebat meninggalkan perbatasan Kota Raja. Adipati Haryo Geni mengantar dengan pandangan matanya.

TAMAT