-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 57

Jilid 57

HALAYUDHA terkeduk murkanya.

Nekat atau sekadar cari mati, nyatanya Gendhuk Tri mampu membuat oleng jatuhnya Kangkam Galih sehingga Halayudha memerlukan jungkir-balik untuk bisa menggenggam kembali dengan sempurna. Pada saat yang sama, Gendhuk Tri malah merangsek maju. Masuk ke jangkauan sabetan pedang. Sambil membalik tubuh, Halayudha melakukan tebasan memotong dengan kedua tangan mencekal gagang pedang.

Kekuatannya berlipat.

Gendhuk Tri seakan tidak merasakan datangnya tebasan yang sangat berbahaya. Kedua kakinya menendang maju.

Beriringan.

Di antara sabetan Kangkam Galih!

Halayudha selalu dua kali siaga jika menghadapi Gendhuk Tri. Pertarungan demi pertarungan selama ini menyadarkan bahwa di balik ilmunya yang makin tinggi, kegesitan Gendhuk Tri makin berlipat, sementara jurus-jurus yang dimainkan juga makin ganjil. Kalau tidak melorot ke bawah kaki lawan, menyusup menginjak pundak atau kepala, juga serba tak terduga.

Seperti yang dilakukan sekarang ini.

Akal yang paling miring pun susah menerima kenyataan, justru Gendhuk Tri yang menyongsong datangnya Kangkam Galih, dengan kaki. Dengan balutan kain.

Sementara satu tangan kosong bersiaga, dan satu tangan mengamankan Nyai Demang. Tak kurang dari Ngwang yang mengeluarkan desisan.

Untuk sepersekian kejap Ngwang merasa bahwa sirep wanginya telah mengubah keberanian Gendhuk Tri menjadi sepuluh kali lipat. Sehingga tidak melihat adanya bahaya selain maju menerjang.

Rasanya mustahil tanpa dorongan pengaruh aji sirep, kalau sampai Gendhuk Tri berani mengentak dengan tendangan.

Di antara sabetan pedang. Mada tak bisa menahan diri.

Sejak pertama tadi darahnya sudah terlibat dalam pertarungan. Ada getaran yang sama yang rumangsuk dalam dirinya, yang membuatnya tak sabar diri.

Pamungkas II - 93

Kalau selama ini masih bisa menahan diri dan berada di kejauhan, kini merangseknya Gendhuk Tri membuatnya tak mampu menahan diri untuk maju menerjang.

Dengan mengepalkan kedua tinjunya, tubuhnya berguling ke tengah. Menjotos Halayudha di bagian lambung. Dengan menggelundung, Mada memakai cara tercepat untuk sampai ke tengah pertarungan. Loncatan yang bagaimanapun cepatnya, akan mudah dikenali Halayudha. 

Dengan menjotos ke arah lambung, Mada melihat itulah satu-satunya peluang ketika dua tangan Halayudha mencekal pedang.

Agak sulit bagi Mada untuk menyelamatkan Gendhuk Tri. Dan Mada sadar tidak berpikir sejauh itu. Apa yang ada dalam batinnya hanyalah melakukan sesuatu untuk mencegah sesuatu yang mengerikan. Dorongan yang ada padanya adalah dorongan yang murni, tanpa berniat menyejajarkan dirinya dengan yang tengah berlaga.

Perasaannya akan mengutuk dirinya sepanjang sisa hidupnya kalau sampai Kangkam Galih membelah tubuh Bibi Tri, tanpa dirinya berbuat sesuatu.

Dengan menggelundungkan diri, Mada terjun ke lautan pertarungan.

Sementara itu Pangeran Hiang yang sudah merasakan keganasan Kangkam Galih dengan korban sebelah tangannya menahan napas.

Kalau tulang tangan bisa putus tandas, apa artinya kain yang hanya selembar? Apa artinya kaki Gendhuk Tri, atau bagian tubuhnya?

Berbeda dari Mada, Pangeran Hiang memusatkan diri sepenuhnya pada kemungkinan yang bisa terjadi mendadak, dengan harapan masih bisa turut campur. Tanpa terasa lengan bajunya yang buntung, yang tadi melambai-lambai, menjadi kaku tegang dan terangkat.

Di bagian lain, Nyai Demang tidak mengetahui apa yang tengah terjadi. Sejak menarik Klobot dan melindungi, Nyai Demang hanya merasakan ngilu dan mati rasa bagian pinggang ke bawah.

Kalau kemudian merasakan sesuatu, hanyalah tubuhnya yang tertarik ke atas, terdorong ke arah samping dengan masih memeluk Klobot.

Nyai Demang tidak mengetahui bahwa nyawa Gendhuk Tri bagai seutas rambut. Juga setelah berada di tempat yang tak terjangkau serangan dan sabetan, Nyai Demang masih belum sadar benar.

Sorot matanya masih mencari-cari.

Halayudha mencelos. Bukan tidak menyangka Gendhuk Tri akan senekat ini, akan tetapi rasa hatinya mengatakan bahwa di balik serangan ini tersembunyi jebakan yang tak diduganya.

Permainan macam apa lagi?

Kalah atau menang masih panjang memang.

Tapi pikiran harus gesit, cepat, lebih dari sambaran pedang yang berkelebat. Perhitungan inilah yang mengacak dalam benak Halayudha.

Serangan mendadak dan berani dari Gendhuk Tri, memang memancing Mada. Tapi, kalau benar Gendhuk Tri berada dalam bahaya, kenapa Pangeran Hiang bersikap menunggu?

Ataukah Pangeran Hiang yakin bahwa Gendhuk Tri sebenarnya memiliki andalan tertentu yang bisa membebaskan tebasan pedang? Atau bahkan lebih jauh dari itu, Pangeran Hiang menunggu reaksi dirinya, dan kalau sesuai dengan perhitungan, dirinya masuk dalam jebakan yang sudah diperhitungkan.

Halayudha tak mau mengambil risiko yang konyol.

Apalagi dirinya belum bisa mengawasi apa yang akan dilakukan Ngwang.

Makanya Halayudha menarik kembali pedangnya, dengan gerakan sedikit memiringkan arah pedang. Ketika itulah pukulan Mada menyentuh lambung dan membuatnya sedikit miring.

Kain Gendhuk Tri robek karena sambaran angin. Namun dengan kain selendang yang berkibaran, seperti tetap bisa menutup tubuh. Hebat Gendhuk Tri. Dengan sekali gertak maju, mampu menggagalkan serangan Halayudha, bisa membebaskan Nyai Demang dan Klobot. Dua tujuan utama.

Gendhuk Tri menggerakkan seluruh tubuhnya. Tenaganya menggelegak. Bagai gumpalan air bendungan yang menyentak bersamaan.

Langkah ragu dan gerak mundur Halayudha merupakan peluang besar untuk menyudutkan.

Sebab setiap langkah menjadi berarti untuk susunan dan bangunan serangan yang berikutnya.

Dua ujung selendangnya mematuk paksa ke arah Halayudha yang sudah telanjur terdesak satu tindak. Salah satu ujung selendang menggulung Kangkam Galih dan berusaha membetot.

Lagi-lagi pameran keberanian yang gila.

Kalau tadi merangsek dengan kain dan kaki, kini melibat dan membetot dengan selendang.

Sementara Mada menemukan ruangan kosong, tubuhnya terus menggelundung, terus berputar dengan kedua jotosan yang menghantam sekenanya.

Bisa dimengerti kalau Mada sampai bergulingan di bawah. Dorongan tenaga dalam serta nafsunya yang demikian besar, belum sepenuhnya bisa dikuasai. Sehingga dirinya masih hanyut dalam gelombang tenaganya sendiri.

Apalagi sekarang ini, untuk pertama kali gelombang tenaganya yang melabrak tidak menemukan sasaran.

Karena Halayudha juga tidak meladeni. Bukan karena menganggap sepi. Melainkan karena melihat bahwa serangan mendadak, keras, dan nekat yang dilontarkan Gendhuk Tri menjadi lebih berbahaya dengan satu gerakan ringan yang tiba-tiba dan mengejutkan.

Nyai Demang yang kini bisa menyaksikan dengan saksama, bibirnya membuka. Kalau tadi karena belum memahami apa yang terjadi, kini karena mengakui dan memuji keberanian serta kehebatan Gendhuk Tri. Serangannya mencerminkan ajaran Kitab Air, yaitu serangan terangkai, mbanyu mili, atau seperti air mengalir. Satu serangan berakhir disusul serangan berikutnya. Dengan tenaga yang terpadu antara serangan pertama dan kedua, dan seterusnya.

Kalau dalam tendangan tengah yang nekat Gendhuk Tri berhasil menggoyahkan Halayudha, serangan kedua dilancarkan dengan tenaga lembut. Hebat dan tajam Kangkam Galih, akan tetapi kalau dilibat selendang dengan tenaga lembut, keampuhannya bisa teredam. Ketajamannya menjadi berkurang karenanya.

Ini sangat dimungkinkan karena serangan Gendhuk Tri sekarang ini mengandung tenaga dalam yang tergabung, yaitu tenaga dalam tanah air. Bisa keras menggumpal, tapi juga terus mengalir.

Halayudha tak akan bisa dikalahkan di bawah sepuluh jurus, akan tetapi sekarang menjadi sangat geter, berdebar juga.

Makin disadari keampuhan Gendhuk Tri, makin tersisa pertanyaan bagaimana mungkin Gendhuk Tri mampu menyatukan serangan yang bersungguh-sungguh dengan serangan yang sebenarnya lebih bersifat menggertak.

Sedikit-banyak ini ada kaitannya dengan apa yang diperlihatkan Klobot ketika menyerang dirinya. Klobot.

Klobot merupakan kunci untuk memahami.

Baru sekarang disadari bahwa kenekatan Gendhuk Tri menyerang dengan tendangan sebenarnya pancingan pembuka. Serangan yang sebenarnya ialah libatan selendang. Cara mengerahkan tenaga seperti yang diperlihatkan Klobot dengan jurus Kakang Kawah. Hanya karena dimainkan Gendhuk Tri, pengerahan itu mendekati tingkat sempurna. Ditambah sodokan pukulan Mada, Halayudha menjadi repot.

Menjadi lebih mendebarkan lagi ketika tubuh Pangeran Hiang menggeliat dan menyampok. Halayudha benar-benar bercekat.

Kepet Banaspati

ALIH-ALIH dari melanjutkan menggempur, Halayudha malah menarik diri Mengurung dalam pertahanan.

Karena Pangeran Hiang sudah melayang masuk ke pertarungan. Berarti juga Ngwang.

Nalurinya mengatakan begitu. Sebagian benar, sebagian lebih benar.

Pangeran Hiang menggebrak maju, karena melihat bahaya yang tak disadari siapa pun yang ada dalam pertarungan, kecuali Ngwang. Asap sirep wangi yang memadat, yang tak bisa buyar oleh tepisan angin, untuk sementara tak berbahaya.

Akan tetapi begitu menggumpal bagai pasir, Ngwang menyentak. Seluruh kekuatannya tertumpah penuh.

Menebarkan kembali.

Pasir-pasir sirep menyambar. Lembut mematikan. Satu titik saja masuk ke mata, akibatnya bisa kehilangan penglihatan dengan cara yang sangat menyakitkan. Apalagi kalau menerobos kulit.

Ngwang tidak berhenti dengan satu gerakan.

Rangkaian serangannya yang lain muncul tanpa sungkan-sungkan, apalagi sudah jelas bahwa Pangeran Hiang membuyarkan rangkaian serangan sirep wangi.

Yang tak diduga oleh Halayudha ialah jatuhnya sambaran keras yang mengeluarkan bunyi gemeretak. Menyambar tepat di antara lehernya. “Kepet banaspati…’”

Seruan Nyai Demang tidak berarti banyak untuk menyelamatkan posisi Halayudha.

Yang segera tahu bahwa sabetan ke arah lehernya berasal dari kepet atau kipas. Yang bahannya terbuat dari logam tipis tajam, sehingga menimbulkan bunyi kemeretek. Sambaran yang mengincar ke arah batas leher ini yang menyebabkan Nyai Demang meneriakkan “kepet banaspati”.

Sebab banaspati adalah sejenis hantu yang berbentuk kepala, tanpa anggota tubuh yang lain. Dengan sebutan itu Nyai Demang ingin menggaris bawahi bahwa kepala Halayudha yang menjadi sasaran.

Tidak banyak artinya karena Halayudha sudah mengalami langsung apa yang diteriakkan. Justru ketika posisinya tersudut, dan Kangkam Galih terlilit selendang Gendhuk Tri.

Tajam dan culas seperti apa pun, Halayudha tak bisa memahami kenapa Ngwang justru menyerang ke arahnya sebagai sasaran yang pertama.

Halayudha memang memperhitungkan bahwa Ngwang juga lawan yang bakal dihadapi secara mati-hidup.

Tetapi bukan pada serangan pertama seperti ini.

Ngwang memang tidak mengikuti jalan pikiran Halayudha. Atau yang lainnya.

Dengan cabar, atau gagalnya serangan asap wangi, juga setelah diubah menjadi gumpalan pasir, Ngwang memutuskan segera mengakhiri pertarungan untuk memperoleh kemenangan mutlak.

Lawan pertama yang tak dipilih adalah Pangeran Hiang.

Bukan karena segan, akan tetapi sejak Pangeran Hiang menunjukkan pukulan membekukan asap sirep, Ngwang menjadi jeri.

Yang bisa dipilih Gendhuk Tri atau Halayudha.

Gendhuk Tri saat ini justru sedang kuat pemusatan pikiran dan kekuatan batinnya. Libatan selendangnya menunjukkan hal itu.

Jadi wajar jika yang dipilih Halayudha yang sedang terdesak. Dengan mencelakai Halayudha, berarti tinggal satu langkah ke arah Gendhuk Tri, yang sebenarnya dengan libatan selendang, tenaga dalamnya sudah menyatu dengan Halayudha.

Apa yang terjadi pada Halayudha, mempunyai getar yang sama pada Gendhuk Tri.

Bahwa Nyai Demang bisa menangkap cepat apa yang dilakukan Ngwang, sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Nyai Demang boleh dikatakan sangat menguasai ilmu dari negeri Tartar. Bahkan sejak pertama kali, kitab-kitab pusaka yang dibawa Kiai Sangga Langit telah dipelajari, sebelum sebagian disalin.

Apalagi kini yang memainkan adalah Ngwang, yang justru memakai pengertian-pengertian yang ada di Tanah Jawa. Karena ilmunya memang khusus diciptakan untuk mematahkan ilmu dan ajaran Kitab Bumi.

Ada dua pilihan bagi Halayudha.

Menjatuhkan diri menghindari sambaran kipas dalam serangan banaspati, yang berarti melepaskan Kangkam Galih. Atau menyelamatkan diri dengan cara lain, tetap dengan melepaskan Kangkam Galih yang membuatnya tertahan.

Halayudha tidak melakukan dua-duanya. Justru sebaliknya.

Tangan kirinya mencakar ulu hati Ngwang, dan pedangnya menebas ke arah pinggang.

Sementara selendang Gendhuk Tri menyambar, menggulung dengan pelintiran ke arah leher.

Ngwang meleletkan lidahnya.

Tubuhnya terjungkal-balik, berkelojotan, dan kipas banaspati balik menyambar ke arah lehernya.

Mada yang masih bergulingan, membebaskan diri dengan melompat ke udara. Tubuhnya gemetar, giginya berkelutukan.

Pandangannya tak bisa menerjemahkan apa yang sesungguhnya terjadi dalam waktu yang singkat. Ada bahaya yang mengancam bagi Ngwang, sekaligus Halayudha. Tapi juga bisa berarti Gendhuk Tri.

Bagi Ngwang, karena jelas sambaran Kangkam Galih sepenuhnya tertuju ke arahnya.

Bagi Halayudha, karena sambaran selendang yang membersit dari pedang membelit ke arah

leher.

Bagi Gendhuk Tri, Mada tidak yakin benar yang mana, hanya saja terasakan bahwa seluruh

pertahanan Gendhuk Tri ternganga.

Hanya Pangeran Hiang yang menyadari bahaya maut bagi Ngwang lebih besar dan mengancam daripada bagi kedua yang lain.

Kalau tadi tubuhnya melayang untuk menepis pasir beracun, kini dilanjutkan dengan gerakan yang lain. Lengan kosongnya mendesak Ngwang untuk menyingkir.

Apa yang baru saja terjadi dalam kejapan terakhir memang sulit diduga.

Halayudha sendiri baru merasakan betapa ganasnya irisan kepet yang memotong ke arah lehernya. Tepat di bagian pangkal. Kesempatan untuk membuang diri dilakukan harus benar-benar bisa merata. Sebab kalaupun kepalanya terbebas dari tebasan, arah kipas bisa berubah. Ini sama buruknya.

Akan tetapi pada saat itu, Halayudha merasa bahwa libatan selendang Gendhuk Tri melonggar. Mencair. Sehingga dengan cepat Halayudha menarik, sementara tangan kiri mendahului dengan serangan. Saat itu kalau Gendhuk Tri mengedut dengan selendang, bagian tubuh Halayudha yang mana pun akan dengan mudah terkena serangan.

Namun Gendhuk Tri tidak menyerang Halayudha. Tidak melanjutkan serangan.

Melainkan mengubah menyerang ke arah Ngwang. Inilah yang dilihat Pangeran Hiang! Ngwang lebih berada dalam bahaya besar.

Karena gempuran dua arah.

Kalau Mada tidak sepenuhnya bisa memahami perubahan itu, bukan salah atau kekurangannya. Gendhuk Tri sendiri merasa ada tenaga lain yang menggerakkan arah serangan. Tenaga yang berasal dari dalam tubuhnya.

Sewaktu selendangnya bisa melihat Kangkam Galih yang hampir menewaskan dirinya, Gendhuk Tri mengerahkan tenaga lembut. Ketika membarengi dengan tenaga bumi, dorongan itu tertarik ke arah tenaga panas yang dikerahkan Ngwang.

Masih belum jelas sepenuhnya bagi Gendhuk Tri. Apakah tarikan tenaga itu berawal dari tenaga panas yang lebih kuat dari Ngwang, ataukah nuraninya yang mengatakan lebih baik menggempur Ngwang.

Pertimbangan itu bukannya tidak ada.

Akan tetapi kalau dinalar, terlalu besar risikonya melepaskan Halayudha begitu saja. Bisa-bisa Halayudha malah balik menyerang secara licik.

Kelebatan jalan pikiran Gendhuk Tri terpupus. Suara kemeretek kepet Ngwang menyambar ke segala penjuru. Yang paling repot adalah Pangeran Hiang.

Paling repot dan paling celaka.

Karena tubuh Pangeran Hiang melayang dengan kekuatan penuh untuk menolong Ngwang. Padahal serangan itu datang dari Ngwang.

Pendita sakti yang banyak akal serta tipu muslihatnya ini tak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan diri, selain menyabetkan kipas secara sama rata. Dan Ngwang bukannya tidak menyadari bahwa pada saat-saat terakhir ternyata Pangeran Hiang berusaha menolongnya. Dorongan ujung lengan kutung, dibalas dengan sabetan kipas logam tipis yang tajam.

Hanya dengan cara itu ia bisa meloloskan diri.

Serangan kemenangan darinya yang mendadak berubah terbalik, sungguh tak pernah diperkirakan. Bagaimana mungkin Gendhuk Tri dan Halayudha bisa menyatu pikirannya untuk balik menggempurnya? Kalau ini permainan sebelumnya, alangkah sempurnanya manusia Tanah Jawa ini.

Tak ada manusia lain yang mampu memahami.

Sebenarnya tak bisa dikatakan bahwa Gendhuk Tri bersekutu dengan Halayudha. Semuanya bisa terjadi, karena kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri yang kini berbeda dari sebelumnya. Inti tenaga dalam Gendhuk Tri merupakan perpaduan tenaga tanah atau tenaga bumi dengan tenaga air. Sementara Halayudha memakai tenaga bumi. Unsur yang sama, tenaga bumi dalam tubuh Gendhuk Tri dan Halayudha bisa menyatu.

Kepet Kemamang

KARENA memancarkan getar yang sama, tenaga yang mempunyai sifat dan sumber sama lebih mungkin menyatu daripada bertentangan.

Ini tidak dipahami Ngwang. Yang tidak mengetahui asal-usul Kitab Bumi, dan bagaimana hubungannya dengan Kitab Air. Yang bahkan pada tingkat awal dulu, Gendhuk Tri pernah memainkan bersama Maha Singanada.

Atau bahkan berlatih bersama Halayudha!

Hal yang bisa dengan cepat disadari Pangeran Hiang. Yang menemukan inti ajaran dengan menciptakan Enam atau Tujuh Langkah Karawitan. Di mana iramanya memang berbeda dan terasa ganjil bagi yang tidak masuk ke dalam jiwa karawitan.

Pangeran Hiang mampu menyelami. Makanya bisa memahami kemungkinan serangan Halayudha dan Gendhuk Tri menyatu.

Itu yang menyebabkannya bergerak cepat.

Tapi itu juga yang menyebabkannya masuk ke dalam tusukan maut. Karena Ngwang melepaskan kepet banaspati, dan lempengan-lempengan kipas terlepas. Lempengan besi tipis yang mengeluarkan bunyi kemeretek itu lepas, dan menyebar dengan tenaga penuh ke segala penjuru.

Termasuk ke arah Pangeran Hiang.

Yang sebenarnya cukup memaklumi kemungkinan itu. Sangat memaklumi, justru karena Pangeran Hiang datang ke Tanah Jawa dengan perahu Siung Naga Bermahkota yang dilengkapi senjata rahasia beraneka ragam. Hanya saja Pangeran Hiang tidak menduga sama sekali bahwa Ngwang akan mempergunakan itu untuk membela diri setelah mengetahui dirinya melayang untuk menolong.

Dan sesungguhnya tidak perlu melakukan itu. Belum perlu.

Ngwang masih bisa meloloskan diri dengan merendahkan tubuhnya yang selalu berjarak dengan cara menggulung tubuhnya secara bulat. Atau sebaliknya, memancal bumi dan melayang dengan tenaga ngleyang kabur kanginan, mengikuti getaran angin. Dengan cara seperti ini Ngwang bukan hanya berhasil meloloskan diri, tetapi juga bisa memancing lawan mengejar, dan pada saat itu ikatan kipasnya dibuka.

Selain jauh lebih bertenaga dan lebih terarah sasarannya, juga lebih tak terduga. Karena Halayudha dan Gendhuk Tri merasa sedikit di atas angin.

Dan yang lebih penting lagi bagi Pangeran Hiang, dirinya tidak masuk perangkap! Ataukah justru ini yang dikehendaki Ngwang?

Karena merasa Pangeran Hiang sudah memusuhi, atau tak bisa diajak bersama-sama menaklukkan Tanah Jawa seisinya?

Apa pun alasannya, bagian kipas itu menghunjam ke arahnya. Mada mendengar pekik kematian.

Ada darah muncrat. Membasahi tubuhnya juga.

Seseorang telah terkena lempengan kipas dari logam tipis itu. Mengena tepat.

Pandangannya belum bisa menangkap secara utuh. Karena perhatiannya masih tertuju ke arah jalannya pertarungan ketimbang bersikap menjaga diri. Makanya tidak bisa mengikuti secara cermat apa yang tengah berlangsung.

Tidak berarti Mada tidak bisa menangkap bayangan yang melabrak masuk. Hanya saja tidak bisa segera mengenali, karena bayangan itu seperti sangat aneh. Seperti Upasara Wulung, tokoh yang diam-diam sangat dihormati, yang seolah memiliki sayap.

Nyai Demang memeluk Klobot erat-erat, dan bibirnya menjadi kering.

Yang masuk ke medan pertarungan memang Upasara Wulung. Tampak aneh di mata Mada, tetapi tidak di mata Nyai Demang. Karena Upasara menggendong Cubluk, yang disampirkan di pundaknya.

Upasara muncul dalam keadaan terdesak.

Itu yang membuat Nyai Demang kering bibirnya. Bukan karena ucapan bahwa Upasara selama ini tak akan melibatkan diri dalam pertarungan, sesuatu yang agak tidak masuk akal kalau dipertahankan sekarang ini.

Melainkan karena saat ini Upasara Wulung masih bergulat dengan maut. Kondisi Cubluk yang tersampir di pundaknya tak jauh berbeda dari ketika berangkat ingin menemui Mpu Tanca.

Bahkan boleh dikatakan lebih menguatirkan lagi. Cubluk dalam keadaan kelewat gawat.

Satu-satunya dewa penolong yang bisa menahan merambatnya bercak hitam hanyalah tenaga dalam Upasara. Perawatan yang membutuhkan pemusatan pikiran sepenuhnya. Sedikit saja alpa saat bercak menyerang, habislah nyawa Cubluk. Barangkali perjalanan yang panjang dan penuh kehati-hatian menyebabkan kondisi Cubluk makin merosot.

Sementara Upasara sendiri, begitu kembali ke Perguruan Awan disambut dalam pelukan pertarungan mati-hidup.

Dengan memanggul Cubluk yang tak bisa dilepaskan begitu saja.

Kalau tidak, pastilah tidak dipanggul seperti sekarang ini, menyeruak ke dalam pertarungan ganas yang setiap gerakan menggariskan kematian.

Adalah bahaya yang tak terperikan membawa Cubluk ke medan yang mempercepat kematian bagi siapa saja.

Apalagi kemunculannya justru saat Ngwang melepaskan kipas besinya.

Hanya Gendhuk Tri yang mengetahui bahwa Upasara mau tak mau akan muncul pada saatnya. Nalurinya sebagai ksatria sejati, dorongannya sebagai manusia yang tak bisa dipisahkan dari keadaan sekelilingnya, akan memaksanya keluar. Meskipun tengah bergulat dengan kematian, dengan nyawa Cubluk sekalipun, Upasara tetap Upasara yang tak pernah bisa memikirkan hanya dirinya sendiri.

Gendhuk Tri makin sadar siapa lelaki yang didampinginya selama ini.

Ksatria sejati, lelananging jagat yang dengan kepala tegak menghadapi bahaya untuk menolong sesama, tetapi juga masih manusia biasa yang keras menolak menemui Permaisuri Rajapatni.

Lelaki sejati. Upasara Wulung. Kakang Upasara!

Hanya saja Gendhuk Tri merasa pemunculan kali ini bukan saat yang tepat. Gendhuk Tri merasa yakin bisa mengatasi pertarungan, dengan cara apa pun, meskipun harus mengerahkan seluruh kemampuannya. Upasara bisa sedikitnya menunggu sampai situasi lebih jelas. Atau seperti yang disindirkan Halayudha.

Barangkali Upasara memang baru saja datang. Barangkali sudah sejak tadi.

Tetapi sifat mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri bukanlah sifat Upasara. Lagi pula tak ada saat yang tepat untuk ikut bertarung.

Sampai kapan pun situasi tetap mengandung bahaya dan tak menentu. Terutama bagi

Cubluk.

Cubluk yang murni, gadis kecil yang matanya bagai mata rusa. Yang berpandangan jernih.

Entah kenapa emosi Gendhuk Tri memuai dan merayap liar. Bisa jadi karena beban pikirannya selama ini menjadi lepas dari ketegangan dengan munculnya Upasara Wulung.

Seolah Upasara adalah penyelesai segalanya.

Padahal Mada saja mengetahui bahwa siapa pun di antara ksatria utama, tak akan menyelesaikan seorang diri.

Upasara Wulung berdiri tegak.

Tangan kanannya mengurut lembut punggung Cubluk, sementara bibirnya berkomat-kamit seakan membisikkan sesuatu yang menenteramkan hati.

Ditantang dengan penghinaan yang paling buruk sekalipun, tak akan membuat Upasara muncul. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa jiwa Pangeran Hiang terancam bahaya, kakinya menjejak bumi. Tubuhnya bergerak cepat, dua tangannya membuka, dan serta-merta memancarkan hawa keras, panas, menyambar ke arah kipas Ngwang yang membuka.

Menjadikan pecahnya senjata rahasia sebagai kekuatan kepet kemamang, yaitu mengubah arah semua serangan ke bagian pangkal kepala menjadi kekuatan api.

Kemamang adalah salah satu dari sebelas hantu yang menampilkan diri dalam bentuk api menyala. Tanpa pemberitahuan Nyai Demang yang meneriakkan nama kepet banaspati, Upasara sudah menangkap arah dan maksud serangan. Makanya dengan sama mudahnya bisa mengubah menjadi serangan api.

Dengan mengubah menjadi kepet kemamang, arah luncuran lempengan kipas tidak hanya mengarah ke leher, melainkan menyebar ke segala penjuru, seperti berkobarnya api.

Kelihatannya perbedaannya kecil,  akan tetapi  sangat besar artinya  bagi  para  jago silat.

Terutama bagi Pangeran Hiang yang untuk sepersekian kejap bisa menyelamatkan diri.

Perubahan arah yang sekejap, memberi cukup waktu untuk mengubah jalan hidupnya dari kematian.

Sebaliknya yang terjadi pada diri Naka. Tidak tepat benar demikian. Karena kalaupun tidak diubah, lempengan kipas itu tetap akan memutuskan lehernya. Hanya arahnya yang berubah dan menembus tepat di tengah dadanya.

Pekikan kematian dan muncratnya darah segar, yang menyadarkan Mada bahwa maut sudah mulai menggerayangi satu demi satu.

Dan agaknya tak akan berhenti.

Halayudha sudah mengangkat tinggi-tinggi Kangkam Galih. Memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri. Pandangannya liar menyapu.

Pangeran Hiang melirik ke Upasara dalam kejapan pandangan mata yang cepat, sebelum bersiaga. Tangannya yang masih utuh terkepal dengan siku tertekuk.

Tega Lara…

DALAM putaran pertama, yang paling menderita adalah Ngwang. Pendita Tartar yang memiliki beberapa keunggulan, dan tidak terlalu kalah dalam bidang yang lain, ternyata ditabrakkan pada dinding kekalahan.

Satu-satunya lawan yang bisa dijungkirbalikkan hanyalah Klobot. Selebihnya, dirinya yang menjadi korban.

Semua senjata andalan yang dikeluarkan ternyata sia-sia. Pecahan tasbih yang memancarkan bau wangi penyirep tak banyak gunanya. Hanya mampu membuat barisan prajurit kawal Keraton, serta Raja Jayanegara, dan Mahapatih tidak melakukan perlawanan.

Pecahan tasbih yang merupakan salah satu dari senjata andalannya yang bisa membungkam seluruh petarung, bisa dimentahkan oleh Pangeran Hiang. Bahkan juga bagian kedua yang berbentuk pasir, musnah begitu saja.

Kemudian kipas logam tipis yang biasa menyodet leher hingga memutus kepala, dengan rahasia terbesar bisa dilepas sebagai senjata rahasia, juga tak banyak berbicara. Kalaupun ada hasilnya, hanyalah menjatuhkan seorang prajurit yang sama sekali tak dikenal. 

Keunggulannya dalam bermain silat dengan tendangan maut hanya mengenai Nyai Demang, yang juga boleh dikatakan tidak bersiaga.

Apa yang diharapkan bisa menjadikan kemenangan besar, ternyata membuahkan kesia-siaan.

Ini semua masih harus ditambah bahwa hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang makin rapuh. Makin patah arang.

Dan kini posisinya sudah tersudut. Tak bisa mundur atau mengelak lagi. Karena ketahuan bahwa lepasan kipasnya termasuk untuk menghajar Pangeran Hiang.

Lautan dendam, murka, kebencian, menggelegak di seluruh pembuluh. Wajahnya tampak membeku, kering terbakar nafsu. Hangus oleh amarah.

Bibir Ngwang mendesis bagai jeritan barisan ular yang dilindas derap kaki kuda. Dari kejauhan, Nyai Demang menahan napas.

Pergolakan batin Ngwang bisa dirasakan. Dalam hubungan dengan Pangeran Hiang, Ngwang dua kali dipermalukan. Pertama, saat pemutusan hubungan tali kandungan, punahnya rasa persaudaraan. Kedua, ketika tadi Ngwang melepas lempengan kipas tipis, justru pada saat Pangeran Hiang bergerak menolong.

Ini tak berbeda jauh dari apa yang menjadi budaya di mana Nyai Demang hidup. Peribahasa kata, hubungan Pangeran Hiang dengan Ngwang masih bersifat tega larane, ora tega patine. Tega melihat sakit, tapi tidak tega membiarkan mati.

Dengan kata lain, meskipun sudah putus hubungan persaudaraan, Pangeran Hiang masih tetap tak akan membiarkan Ngwang mati mengenaskan.

Gondok, kesal, dongkol, berdentuman dalam dadanya. Dengan demikian pengaruh sirep Ngwang menjadi pudar. Kuncian yang membuat Raja, Jabung Krewes, serta para prajurit membisu tak sadarkan diri, menjadi buyar.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara-suara. Para prajurit terbangun dan dalam bingungnya lebih membuat kegaduhan. Sementara Mahapatih Jabung Krewes bahkan terjatuh dari dahan di mana ia tertidur.

Hanya Raja yang merasa lebih tenang.

Berpegangan di dahan, menggelantung, sambil melihat ke bawah. Melihat begitu banyak ksatria yang tampak aneh, melihat prajurit kawalnya serabutan tak berirama dalam barisan.

“Rama Ingkang Sinuwun…”

Teriakan Klobot yang menggema lebih dulu.

Nyai Demang mendongak ke atas. Dan bercekat karena memang yang dilihatnya tak lain dan tak bukan adalah Raja Majapahit. Raja yang bergelantungan di atas pohon.

Hal lain yang tak terduga ialah dengan teriakan Klobot, Cubluk yang berada di pundak Upasara Wulung menggeliat.

“Rama…”

“Ya, saya di sini, Anak Ayu…. ” Jawaban Upasara Wulung terdengar antara haru dan berpengharapan. Haru melihat wajah Cubluk yang pasi, berpengharapan karena setelah sekian lama bibir pucat itu terkancing rapat kini membuka. Biarpun sangat lirih.

Cubluk menggeleng.

Jakun Upasara turun dan tertahan. “Rama…”

Suara Cubluk lirih. Gendhuk Tri mendekat. Rapat.

Upasara menahan napas.

Cubluk menyebutkan “rama”, akan tetapi yang dimaksudkan bukan dirinya.

“Rama Ingkang Sinuwun. Hamba menghaturkan sembah pangabekti. Mudah-mudahan diterima di telapak kaki Sinuwun…”

Klobot melepaskan diri dari rangkulan Nyai Demang. Bersujud di tanah.

Cubluk ikut melorot.

Perlahan Upasara menurunkan ke tanah, sementara Gendhuk Tri berjaga, karena Halayudha masih memainkan pedang dari tangan kiri ke tangan kanan. Karena Ngwang masih menggeletar.

Perlahan sekali Upasara menurunkan Cubluk, akan tetapi gadis kecil itu seakan tak menyimpan tenaga sedikit pun. Sehingga begitu kakinya menyentuh tanah, seluruh tubuhnya ambruk seperti selembar kain.

Nyai Demang mengeluarkan suara tertahan. Klobot masih bersujud.

Mendadak Nyai Demang berteriak keras. “Katakan sesuatu kepada mereka berdua. “Agar tak perlu bersujud seperti itu. “Katakan!”

“Ingsun tak kenal siapa kalian.

“Untuk apa menerima sembah sungkem seperti ini.” Nyai Demang benar-benar gusar.

Masih bagus ada yang menghormat begitu dalam. Tapi masih bisa bertingkah. Tenaga Nyai Demang tersalur ke tangan. Siap memukul. Hanya saja pinggangnya masih kaku dan menimbulkan rasa sakit.

“Raja, bersabdalah, agar Klobot dan Cubluk bisa mengakhiri sembah mereka.”

Gendhuk Tri bersuara keras, akan tetapi sikapnya sangat hormat. Bersila dan menyembah. “Kalian orang perguruan mursal, perguruan rusak. Sejak kapan ada raja diperintah?” Belum habis suaranya, terdengar bunyi keras.

Pohon sebesar dua pemeluk condong, karena bagian bawahnya kena tebas. Luar biasa.

Halayudha hanya menggerakkan Kangkam Galih dan angin kesiurannya mampu menggores dalam. Dengan sekali sabet. Ketika Halayudha mengayun untuk kedua kalinya, disusul sekali lagi, pohon raksasa itu benar-benar roboh.

Menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Raja Jayanegara melayang turun.

Masih dengan senyum yang keras. Mada meloncat, dan menubruk cepat. Hingga keduanya bergulingan.

“Baik, baik, berdirilah kalian berdua.” Suara yang serak tertahan terdengar. Klobot menyembah lagi, dan kini bersila.

Cubluk ditarik kembali oleh Upasara. Dipanggul di pundak. Lehernya tertekuk, seolah memang tak memiliki sisa kekuatan sedikit pun.

Apa yang dilakukan Mada, tak mungkin bisa dilakukan orang lain.

Dengan menubruk, Mada menyelamatkan Raja. Tapi juga sekaligus membuat Raja terjatuh.

Dan saat itu terdengar suara mengiyakan.

Masih menjadi tanda tanya, apakah itu perintah Raja, ataukah suara Mada yang menirukan. Namun siapa pun yang berbicara telah menyebabkan, terutama Cubluk, merasa tenang dalam rangkulan Upasara.

Bisa dibayangkan betapa ruwetnya persoalan, jika Raja tetap tak mau mengatakan sepatah kata pun.

Mahapatih Jabung Krewes segera maju melindungi.

Tapi belum lima langkah tubuhnya terjungkal kaku. Setiap kali Halayudha menggerakkan tangannya, tiga atau lima prajurit jatuh keras.

“Jangan mengacaukan suasana.

“Di sini hanya para ksatria yang berhak berdiri.” “Halayudha!”

Mada segera menarik Raja menjauh. Setengah menyeretnya.

“Tidak akan terulang dua kali!” teriak Raja gusar. “Maaf, Raja Sesembahan.

“Para ksatria sedang mengadu ilmu.” “Kamu kira Ingsun ini siapa atau apa?”

Raja mengentak, dan tubuh Mada terlempar kembali ke tengah pertarungan. Ngwang mendesis. Klobot berlutut.

Nyai Demang mendampingi.

Tangan kanan Upasara masih mengurut punggung Cubluk dengan lembut. Dengan getaran kasih yang mengalir dari seluruh jemarinya.

Hanya Pangeran Hiang yang berdiri kaku. Ngwang sedang merencanakan sesuatu.

Anak Raja, Cucu Halayudha

GENDHUK TRI merasa serba susah.

Kalau mengikuti adatnya, meskipun pikirannya terpantek pada Cubluk, tangannya yang jail bisa mempermainkan Raja. Akan tetapi kalau itu dilakukan, bisa melukai hati dan perasaan Cubluk serta Klobot sekaligus.

Membiarkan Raja mengumbar kesombongan, membuat darahnya mendidih. Yang dalam pertarungan penentuan, bisa mengganggu.

“Klobot, berdiri yang gagah! “Di sini Halayudha. “Eyangmu. “Memerintahmu.”

Klobot ragu.

“Kalau kamu putra Tenggala Seta, kamu adalah cucuku.

“Sekarang kamu telanjang agar semua mata bisa melihat plananganmu, kelelakianmu.” Ganjil, seakan tak keruan juntrungannya omongan Halayudha bagi yang tidak memahami. “Hamba menunggu perintah Rama Ingkang Sinuwun…”

“Kamu ini bagaimana?

“Kalau kamu cucu Halayudha, mana mungkin putra Raja? “Tapi begitu juga tak apa.

“Asal kalian tak mengganggu.

“Kami sedang menentukan siapa yang paling unggul. “Minggir!”

Tangan Halayudha bergerak. Kangkam Galih berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan.

Desiran anginnya mengiris tajam. Mada bersila di kaki Raja.

Di antara para prajurit kawal raja, Mada boleh dibilang sangat dekat, walau bukan prajurit yang kinasih, atau dicintai, atau diistimewakan. Bahkan boleh dikatakan biasa-biasa saja. Bahkan dikirim ke Daha sebagai tanda dibuang.

Namun Mada adalah prajurit sejati.

Apa pun perlakuan yang diterima, semuanya dijalani dengan tulus, dengan ikhlas dan rasa bahagia.

Hanya sekarang ini tak pernah bisa mengerti kenapa Raja bersama Mahapatih menuju ke Perguruan Awan. Dan belum-belum sudah temangsang, tersangkut di pohon. Alangkah aib dan hinanya. Maka kini Mada ingin melindungi sepenuhnya.

Segala kehormatan dan pengabdiannya dipertaruhkan. Siapa pun yang bermaksud kurang ajar apalagi mencelakai, akan dihadapi dengan taruhan jiwa-raga.

Dadanya membusung.

Terisi penuh udara keprajuritan.

Raja memandangi sekitar dengan tajam. Dirinya pernah berkelana ketika Kuti memberontak. Masuk ke semak belukar. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Di mana semua yang ada tegak berdiri, tidak menoleh, tidak menyapa ke arahnya.

Sungguh suatu kehinaan yang nista yang dioleskan ke wajahnya. Halayudha pernah membuatnya berlutut.

Akan tetapi tidak di alam terbuka.

Mendadak berkelebat bayangan aneh dalam pikiran Raja. Selalu bisa muncul kelebatan pemikiran yang lain. Seperti ketika mendadak ingin mengangkat Praba Raga Karana menjadi permaisuri.

Yang kini membuat pikirannya berkelebat adalah Klobot serta gadis kecil di pundak Upasara Wulung.

“Klobot, dan kamu gadis kecil, mari kemari. “Ingsun mau melihat lebih dekat.” Suaranya biasa.

Tetapi pengaruhnya terasa.  Klobot berjalan  laku dodok, setengah merangkak ke depan.

Demikian juga Cubluk yang menggeliat di pundak Upasara.

Upasara tak bisa berbuat lain, selain laku dodok juga, agar Cubluk di pangkuannya merasa melakukan hal yang sama.

Saat yang tepat!

Ngwang melihat adanya kesempatan terbaik.

Sakti seperti tujuh dewa, mempunyai nyawa rangkap tujuh, tak nanti Upasara bisa lolos dari tangannya. Dengan sekali sergap, Ngwang akan memperoleh kemenangan.

Saat yang tepat.

Tetapi juga membuat Ngwang ragu.

Gendhuk Tri bisa menyambar dengan nekat. Sementara Pangeran Hiang mungkin juga tak akan membiarkan begitu saja.

Kecuali kalau dirinya memiliki senjata rahasia.

Kedua tangan Ngwang masuk ke dalam pakaian yang gedombrongan.

Menganyam seblak, semacam sapu pembersih, yang terbuat dari helai rambut yang telah disusupi racun ganas. Dengan menyentak dan melepaskan mendadak ratusan rambut, pasti ada yang menyangkut dan menyusup.

Saat yang tepat!

Tinggal melaksanakan.

Tangan Ngwang gemetar.

Tubuhnya yang tak menyentuh tanah turun beberapa jari. Pangeran Hiang melirik.

Bersamaan dengan Halayudha. Semua napas seperti tertahan. Karena masing-masing dapat menduga kemungkinan yang bisa muncul secara sangat tiba- tiba. Bisa memperkirakan serangan yang sedang direncanakan.

Klobot terus ngesot ke depan.

Dalam jarak lima tombak berhenti, bersila, dan menyembah. Juga Cubluk dalam pangkuan Upasara Wulung.

“Tidak semua bibir di jagat ini berani memanggil Ingsun dengan sebutan rama. “Tidak juga Dewa di langit ketujuh.

“Tapi kalian berani menyebut.

“Dari mana asal kalian dan kenapa kalian berada di sini?” Dari mata Cubluk yang kuyu menetes air.

Hangat tapi pedih. Mulut Klobot terkunci.

“Barangkali kalian memang salah satu dari putraku yang begitu banyak dan tak kukenali.

95

“Barangkali juga anak yang berkeliaran dan biasa bermimpi paling ganjil.

“Kalau kalian benar putraku, ikat tangan semua yang ada di sini. Paksa mereka menyembah kepada Ingsun”

Perintah yang paling gila yang pernah didengar Nyai Demang. Tapi Klobot menyembah dalam.

“Sendika dawuh, Rama Ingkang Sinuwun…” Klobot membalik.

Menarik tangan Upasara ke belakang. “Menyembah, Rama Wulung!

“Rama Wulung harus menyembah!” Upasara mendongak ke arah langit. Helaan napasnya terdengar berat.

“Bagaimana mungkin mengikat tangan sekaligus memerintahkan menyembah? “Sudah begini susahkah manusia mengucapkan kata-kata?”

Tangan Upasara yang berada di belakang bergerak. Menyembah.

Tubuhnya sedikit membungkuk, pundaknya tertarik ke atas. Jabung Krewes yang pertama bereaksi. Tangannya seperti akan bergerak, sebelum lututnya bisa lurus. Tenaga tangan yang dirangkapkan mengalir, memancar bagai sinar. Lurus menghantam Raja, tepat di bagian ulu hati.

Raja menahan kekuatan di perutnya.

Akan tetapi apa yang dialami tak berbeda banyak.

Pangeran Hiang sedikit mengerutkan alisnya. Agak di luar dugaannya bahwa Upasara akan bertindak seperti itu. Rasa-rasanya agak kasar dan tak mungkin dilakukan seorang yang selama ini dikenalnya.

Pangeran Hiang sadar ucapan Upasara tentang “seorang yang diikat tangannya sekaligus disuruh menyembah” merupakan puncak kejengkelan. Siapa pun yang mendengar bisa sebal akan kesewenang-wenangan perintah yang tak mungkin bisa dilaksanakan. Akan tetapi sekali lagi tetap tersisa pertanyaan, kenapa Upasara bisa melakukan hal itu? Pertanyaan kecil ini menjadi sangat penting bagi Pangeran Hiang untuk bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tanah Jawa ini. Bagaimana perilaku yang hidup dalam diri para ksatria sehingga mereka kondang, dikenal di seluruh jagat.

Salah satunya seperti yang diperlihatkan Upasara Wulung.

Ksatria yang berbakti, yang mengabdi sepenuh jiwa-raga tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun baik pangkat maupun derajat, yang akan menerima penghinaan dengan kepala tunduk, tapi ada saatnya juga bisa memperlihatkan sikap yang kasar.

Yang masih menjadi pertanyaan Pangeran Hiang, apa yang menyebabkan Pangeran Upasara menjadi kasar? Apa yang menyebabkan Upasara begitu gusar?

Upasara mampu menguasai pergolakan emosi, perasaan, dengan sikap pendita. Pastilah ada sesuatu yang lebih mendasar yang membuat Upasara melepaskan tenaga membungkam.

Gadis kecil di pangkuannya? Mungkin.

Tapi kalau itu sebabnya, pasti sejak tadi sudah dilakukan. Agar tak mengganggu jalannya pertarungan? Mungkin.

Tapi kalau itu sebabnya, apa bedanya dengan Halayudha?

Pertanyaan kecil yang mengasyikkan. Karena bisa menyelam jauh ke dalam. Hanya saja bukan sekarang saatnya. Karena Upasara sudah membalik, memanggul gadis kecil itu.

Sementara Halayudha mulai teratur napasnya. Tangan Ngwang sepenuhnya masuk ke saku. Angin berhenti mengalir.

Seakan tak ada napas.

Pertarungan Perjaka

SITUASI lengang tak berlangsung lama.

Boleh dikatakan lebih lama mata berkejap atau kilat menyambar.

Begitu Upasara tegak, begitu pedang bergerak dari tangan kanan ke tangan kiri, begitu pula Halayudha sudah melancarkan serangan.

Yang bergerak bersamaan adalah Gendhuk Tri.

Dalam membaca situasi, Gendhuk Tri bisa bergerak cepat. Kalau menunggu sedikit saja, pertarungan pasti akan terserap kepada Upasara. Baik Halayudha maupun Ngwang, lebih ngincim, mengancam, Upasara. Yang saat ini justru sedang direpotkan dengan memanggul Cubluk.

Serangannya memotong kemungkinan gebrakan yang diduga bakal dilancarkan Halayudha begitu Raja berhasil dibungkam. Namun ternyata pada saat yang bersamaan, Halayudha juga bergerak.

Kalau tadi keduanya bersatu menggempur Ngwang, sekarang pertarungan justru berawal dari Halayudha dengan Gendhuk Tri. Hanya bedanya, Halayudha tidak memilih satu lawan. Kejemawaannya terlihat jelas. Cakaran tangan kiri kembali mengarah ke Ngwang, sementara sabetan pedangnya ke arah Gendhuk Tri maupun Nyai Demang.

Nyai Demang memang paling lemah posisinya. Keunggulannya membaca situasi yang sedang berlangsung seakan tak ada gunanya. Sementara ilmu silatnya tak seberapa dibandingkan para jawara yang terkemuka. Beban lain, jalan pikirannya masih ngacak tidak menentu. Baik karena kehadiran kembali Pangeran Hiang, ataupun memprihatinkan Klobot yang kini berada di tempat jauh darinya. Masih harus ditambah bagian bawah tubuhnya tak bisa digerakkan leluasa. Sabetan pedang Halayudha bisa melukai, meskipun hanya sambaran anginnya. Dua-tiga kali Halayudha menebas, tubuh Nyai Demang bisa menjadi daging cincang, tanpa pernah tersentuh pedang.

Apa yang bisa dilakukan hanyalah bergulingan, menggulung diri. Namun tak urung pundaknya terasa panas, dan kekakuan di pinggang mulai merayap ke atas.

Yang pertama terasa kaku adalah tengkuknya. Celaka berat, pikirnya.

Kalau keadaannya makin parah, dirinya akan menjadi beban bagi Upasara maupun Gendhuk Tri. Tak ubahnya dengan Cubluk.

Dalam keadaan terjepit, Nyai Demang mengertakkan gigi. Dirinya tak mau menjadi si lumpuh yang tak berguna. Apalagi menjadi halangan. Rasa bersalah dalam hatinya tak bisa dihapus, jika itu berkelanjutan.

“Mada, kamu maju!”

Suara Nyai Demang lebih memerintah dari meminta.

Anehnya, Mada seperti mendengar panggilan yang sudah ditunggu. Kedua tangannya terkepal, dan mulai menggeliat. Getaran tubuhnya mengguncang medan pertarungan. Sebuah persiapan pengerahan tenaga dalam, yang bagi Halayudha tak perlu memakai waktu dan sikap khusus seperti itu.

Perhitungan Nyai Demang, meskipun kedengarannya asal-asalan, sebenarnya mempunyai akar yang kuat. Lejitan pikirannya masih mampu mengambil jarak dari persoalan yang ada.

Dan menemukan jalan keluar.

Dengan melihat, di antara sekian orang yang bertarung, dirinya yang paling lemah. Bukan kebetulan kalau keadaan dirinya berbeda dari yang lain.

Dirinya sudah berkeluarga.

Sementara yang lainnya, rasanya masih perjaka tulen.

Selama ini Upasara Wulung tak pernah berhubungan dekat dengan wanita. Bahkan hubungannya yang menyatu dalam batin dengan Permaisuri Rajapatni, sebenarnya tak lebih dari sentuhan tangan. Tidak sampai hubungan badani. Daya asmara masih tersimpan murni.

Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Meskipun usianya sudah jauh melewati masa remaja, Gendhuk Tri malah boleh dikatakan bersikap dingin jika berhubungan dengan para ksatria. Satu-satunya keikhlasan menyerahkan pilihan adalah kepada Maha Singanada. Tapi itu pun baru terbatas menyatakan kesediaan, ketika kemudian ksatria gagah berani itu mengorbankan diri menggantikan posisi Upasara.

Tokoh yang lain, rasanya demikian juga.

Halayudha, meskipun menurut kabar pernah berhubungan dengan Dewi Renuka di masa remaja, sekarang malah tidak memiliki apa-apa.

Barangkali demikian juga halnya dengan Pangeran Hiang. Meskipun resminya memiliki calon permaisuri Putri Koreyea, tetapi menurut kabar cerita, Putri Koreyea menderita sakit parah sejak dinikahi resmi.

Tak jauh berbeda dari Ngwang.

Gelaran pendita pastilah diterapkan dengan benar.

Itu sebabnya Nyai Demang kemudian meneriakkan nama Mada. Yang dari sisi ini, bisalah dianggap tetap perjaka.

Kemungkinan perhitungan Nyai Demang bisa keliru, dan itu akan bisa dibuktikan dengan siapa yang lebih dulu tertindih.

Akan tetapi lepas dari tepat atau meleset sedikit, teriakan Nyai Demang ada gunanya. Dengan masuknya Mada ke dalam pertarungan, seakan membebaskan Mada dari “kewajiban” menunggui Raja yang kaku, di samping untuk sementara sodokannya mempunyai pengaruh terhadap gerakan Halayudha.

Dilihat sepintas memang kurang masuk akal.

Mada hanyalah prajurit biasa. Sementara Halayudha adalah mahapatih. Dari segi penguasaan ilmu silat, Mada boleh dikatakan masih bau pupuk bawang di ubun-ubunnya, sementara Halayudha sudah terlalu kenyang dengan berbagai ilmu. Dari segi taktik dan strategi, Mada hanya mengenal satu garis lurus, sementara Halayudha dengan lingkaran dan cabang-cabang.

Akan tetapi dalam dua jurus awal, Mada bahkan mampu mengimbangi Halayudha. Sabetan ganas Kangkam Galih yang selama ini selalu menyembelih dan dihindari lawan-lawannya, bisa disusupi Mada.

Bahkan beberapa kali sikunya menyerempet dada.

Kepercayaan diri Nyai Demang tumbuh lagi. Apa yang membersit dalam alam pikirannya ternyata tidak sepenuhnya keliru. Meskipun Nyai Demang tidak tahu persis bahwa hubungan Mada dengan Halayudha memang berbeda dari yang biasa.

Hubungan antar manusia, hubungan sesama mahamanusia, meniadakan jarak pangkat dan derajat, serta penguasaan ilmu. Karena Halayudha dalam banyak hal bisa merasa cocok dan terjawab oleh Mada. Begitu juga sebaliknya.

Sentuhan persamaan getaran inilah yang membuat Mada seolah bisa menebak apa yang dilakukan Halayudha. Bahkan sejak pergelangannya berputar, Mada bisa mengetahui arahnya.

Memasuki jurus ketiga, benar-benar suatu keajaiban.

Halayudha bahkan bisa didesak Mada, dan hanya melayani Mada. “Paduka keliru, bukan ditahan di perut, tapi sedikit ke bawah.” “Tutup mulutmu!”

“Tak bisa.

“Paduka jangan memaksa.

“Lambung diserang, tapi jidat tak boleh tertutup. Getarkan seperti ketika Paduka mendorong tenaga Bibi Jagattri. Dorongan tenaga memaksa.”

Halayudha makin blingsatan.

Pemusatan pikirannya menjadi buyar tak menentu.

Masuk di tataran kebimbangan, Mada makin bisa menguasai jalan pikiran. Dan terus mengatakan apa yang sebaiknya dilakukan, dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan.

Halayudha menggerung keras.

Bukan Halayudha kalau kena didikte begitu saja. Tekanan yang berat justru memberikan perlawanan yang lebih dahsyat lagi. Gerungan keras disertai auman membuat Kangkam Galih tergetar. Karena secara mendadak Halayudha mengubah cara bersilatnya. Mengubah total.

Kangkam Galih digigit! Sodokan Mada tertahan. Matanya membelalak.

Nalarnya tak bisa menerima bagaimana pedang sakti yang kelewat tajam itu digigit. Bukan hanya tidak bisa dilakukan untuk menyerang, tapi sangat membahayakan dirinya.

Apalagi Halayudha menarik kedua tangannya. Menggebuk Mada dengan pedang yang tergigit. “Mundur!”

Teriakan Nyai Demang terlambat.

Pundak Mada kena gempur, hingga tubuhnya terbalik bagai kena dorongan keras dari depan dan tarikan kuat dari belakang. Akibatnya terpuntir. “Balik!”

Kalimat Nyai Demang tidak jelas. Tetapi sebenarnya Mada bisa menangkap apa maunya. Bahwa Halayudha menukar cara berpikir dan cara bersilatnya. Membalikkan jalan pikiran yang ada. Kalau pedang biasa dipegang, kini digigit. Kalau tangan untuk memukul, kini ditelikung sendiri. Kalau tenaga dikerahkan sewaktu memukul, kini justru disimpan.

Mada yang terjebak.

Penguasaan jalan pikirannya menjadi keliru. Itu sebabnya kena sampok.

Kalaupun Mada sadar, tak bisa segera mengubah diri. Karena sampokannya mengena cukup keras. Dan membuat pandangannya berkunang-kunang.

Napasnya menjadi sesak.

Hanya karena Halayudha kemudian mengarah kembali ke Gendhuk Tri dan Nyai Demang, Mada terhindar.

Pasangan Tanah air

HALAYUDHA harus menukar kembali cara bersilatnya. Karena kalau menghadapi Gendhuk Tri memakai cara yang sama, belum-belum Kangkam Galih akan menyobek bibirnya sendiri.

Itulah Halayudha.

Yang mampu mengubah pribadi dalam waktu beberapa kejap. Itulah mahamanusia.

Yang dalam sikap Halayudha adalah manusia yang tak mengenal baik-buruk, benar-salah, atas-bawah.

Dengan demikian pertarungan kembali seperti di bagian awal, sebelum masuknya Mada.

Ngwang tengah ngleyang, menyambar bagai angin, ke arah Upasara, dengan dua tangan masih tersimpan di saku. Baru di tengah perjalanan, tangannya terangkat ke luar dan menyapu dengan seblak, atau kemucing bertangkai panjang yang pada bagian ujungnya diikatkan segepok rambut. Rajutan dalam saku telah selesai sejak tadi. Ngwang sedang mencari saat yang tepat untuk menyergap. Hanya saja dalam hal ini, Gendhuk Tri yang lebih dulu mengambil peranan.

Dengan memegang seblak, tangan Ngwang terlihat lebih panjang. Seblak itu bisa menjulur setengah panjang tangannya. Ditambah cara bergeraknya yang cepat, serta pengerahan kemampuannya yang terakhir, angin bahaya tercium seketika.

Yang belum terduga lagi, terutama karena seblak itu ternyata bisa dipendekkan, seperti ketika berada dalam saku pakaiannya yang gedombrangan.

Tangan kanan Upasara masih mengelus punggung Cubluk. Tangan kirinya menangkis keras, membelit dengan putaran. Memutar pergelangan tangan Ngwang yang memegang senjata. Kalau Ngwang mampu menggerakkan sedikit saja pergelangan tangan, berarti rambut seblak-nya. akan menusuk masuk ke kulit tangan Upasara. Dan itu kemungkinan besar sangat bisa terjadi, dengan risiko yang tinggi bagi Upasara.

Seolah adu keras dengan mengorbankan kekuatan.