-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 55

Jilid 55

“Kamu tahu apa, Raja?”

“Aku tahu kamu masih ragu apakah kamu bisa mengungguli Upasara Wulung atau tidak. Kamu masih ragu melawan kekuatan utama, tenaga dalam Tanah air.

“Aku tahu bahkan berhadapan dengan Ngwang kamu jadi kecut. “Padahal semuanya telah tergenggam.

“Dengan Kangkam Galih di tanganmu, kamu bisa melakukan semuanya. Sekarang saatnya.” Mata Halayudha masih terpejam.

“Mendekatlah, biar kutahu siapa kamu sebenarnya.” Raja Jayanegara malah mundur. “Kamu tahu siapa Ingsun.

“Karena kamu telah memilihku untuk menerima ajaranmu.” Perlahan Raja menjauh.

Meninggalkan Halayudha sendirian. Yang masih bertarung dalam semadinya.

Kebimbangan Tartar

NGWANG sudah menjauh sejak tadi. Sejak Halayudha mengendus dan meminta Raja mendekat. Karena kesadarannya yang tinggi menangkap getar yang tidak wajar.

Ngwang tidak kuatir bahwa penyusupan sirepnya kurang berhasil. Periode yang paling sulit telah dilalui. Yaitu ketika mencoba meyakinkan Pangeran Sang Hiang!

Itu semua terjadi ketika Pangeran Hiang sendirian, dan tidak memperhitungkan bahwa akhirnya Ngwang berani menampakkan diri.

Ngwang bersoja hormat sekali. “Aku tidak suka kehadiranmu.”

“Maaf, Putra Mahkota, pujaan dan harapan Keraton yang Menguasai Jagat Beserta Isinya. “Hamba menyadari bahwa Putra Mahkota selama ini tidak memandang hamba sebelah mata. “Hamba pantas diperlakukan seperti itu.

“Lebih dari itu pun tetap pantas.

“Hamba menyusul bukan karena ingin memuaskan sang Pangeran. Itu akan selalu hamba jalani dengan rasa bahagia.

“Hamba…”

Wajah Pangeran Hiang berubah. Tangannya terkepal.

Keras.

“Jangan kamu sebut memuaskan diriku.

“Semua yang licik dan kotor telah kuhapus dari hidupku.

“Aku jijik bukan karena apa yang telah kamu lakukan. Melainkan apa yang kamu lakukan sekarang ini.”

Ngwang masih merunduk rata dengan tanah. Seperti menempel.

“Kamu tak mengetahui nilai yang lebih utama dari kemenangan. Nilai yang lebih berarti dari hubungan kita berdua. Yaitu nilai warisan leluhur kita sendiri, persahabatan.

“Persaudaraan.

“Aku telah  mengangkat saudara  dengan Pangeran Upasara Wulung, dan tak akan  pernah ada pemutusan persaudaraan sampai kehidupan yang akan datang.

“Rasa seperti ini mempunyai makna yang belum pernah tersentuh oleh indriaku selama di Tartar.” “Bunuhlah hamba, Pangeran…”

“Kembalilah.

“Aku tak membutuhkanmu lagi.” Tangan Pangeran Hiang mengibas. Ngwang masih tetap bertiarap. “Bunuhlah hamba.”

Ngwang meloncat maju, menubruk kaki Pangeran Hiang yang bergeser menghindar. “Aku tak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu.”

“Pangeran…”

Ngwang melakukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh Pangeran Hiang. Pendita yang selama ini bersoja, menyembah, berlutut, menerjang ke arahnya. Dengan satu gerakan sangat cepat dan tak terduga.

Dari segi ilmu silat, tak nanti Pangeran Hiang bisa dibekuk begitu saja. Tapi Ngwang mempergunakan kesempatan dengan caranya sendiri. Justru karena Pangeran Hiang tak menduga orang seperti dirinya-yang bahkan mendongak saja tak berani-bakal membekuknya!

Dan berhasil.

Mata Pangeran melotot.

“Pangeran, akan saya lakukan apa yang menjadi dendam Tartar. Kalau ada yang bimbang, tidak boleh menghapus seluruhnya. Masih ada yang harus kita teruskan sejak Tartar yang Paling Agung menghendaki Tanah Jawa.”

Ngwang mengerahkan kemampuan ilmu sirepnya. Yang dilakukan dengan kasar, karena tak mampu mendekati dengan cara yang halus. Jalan pikiran Pangeran Hiang dikuasai dengan bebauan harum yang menjadi andalannya.

Itulah saat Ngwang mulai muncul ke permukaan dan menampakkan diri. Memakai pakaian Pangeran Hiang, dan langsung menggebrak untuk menyandera Raja.

Semuanya hampir saja berhasil.

Kalau saja Halayudha tidak menerobos dengan ketajaman dan kelicikannya. Kalau saja Mada tidak memperdaya. Kalau saja Upasara Wulung muncul.

Kalau saja…

Semua mengharuskan Ngwang memutar langkah dari awal.

Sekarang melalui Raja, untuk mengadu Halayudha dengan Upasara Wulung!

Semua dilakukan dengan sangat halus. Karena Halayudha bisa curiga akan sesuatu yang terasa berbeda. Dalam keadaan kena sirep sekalipun, Halayudha masih akan mengangkat pedangnya jika menemukan bayangan Ngwang.

Ini berarti tinggal langkah-langkah berikutnya.

Apakah Halayudha benar-benar mencari Upasara Wulung, atau tidak. Pilihan Ngwang, lebih baik berangkat ke Perguruan Awan, dan menanti saat-saat yang sangat menentukan.

Sebenarnya Halayudha tetap tak bisa dipengaruhi begitu saja. Bahkan Raja Jayanegara tak akan mudah diterima. Hanya saja memang kesadaran Halayudha sudah melenceng banyak. Pengaruh ajaran mahamanusia yang bertubi-tubi telah menenggelamkan sebagian akal sehatnya menjadi berbalik-balik. Menyebabkan Halayudha tak bisa melihat berbagai pilihan jalan yang akan ditempuh, seperti keunggulannya di masa sebelumnya.

Kalau saja ada Mada yang selama ini bisa diajak bicara atau ada yang bisa diperhitungkan layak didengar suaranya, akan lain soalnya.

Akan tetapi saat itu Mada sudah sampai di Daha. Dan segera menghadap Patih Tilam untuk menyampaikan apa yang diperintahkan Raja.

Patih Tilam menerima Mada sendirian, dengan wajah yang membeku, suara kaku menahan gejolak perasaan yang menggelegak.

“Aku tahu perasaanmu, Mada. “Aku sangat tahu betapa kamu tak bisa menerima ini semua. Saat ini kalaupun aku membunuhmu, tak ada yang akan mengusut. Raja sesembahan pun sudah menyerahkan nyawamu padaku.

“Aku berhak atas mati-hidupmu, Mada.” “Demikianlah sesungguhnya.”

“Kamu akan segera merasakan.” Mada menyembah.

“Sengaja semua ini kukatakan agar kamu bisa merasakan hal yang paling perih, paling menyakitkan, dan bisa kamu nikmati perlahan-lahan.

“Aku memberi waktu padamu untuk merasakan semua kehinaan yang terdalam, sebelum aku melenyapkanmu.

“Nikmatilah, Mada.” Mada menunggu. Patih Tilam tersenyum.

“Pembalasan dendam, pelampiasan segala kutukan, dan akhirnya akan kubuktikan bahwa ramalan kebesaran dirimu di masa yang akan datang, ada di tanganku.”

Patih Tilam kembali tersenyum. Lalu meninggalkan ruangan.

Mada masih terus menunggu.

Sampai kemudian masuk beberapa prajurit dan meminta Mada mengikuti.

Diiringkan para prajurit Mada menuju rumah yang disediakan sebagai tempat kediamannya. Dalam perjalanan, Mada telah menyiapkan batinnya untuk menerima perlakuan yang paling keji sekalipun. Kalaupun ia diperintahkan membuat sungai, membuang kotoran, menyapu halaman, semua akan dijalani.

Akan tetapi Patih Tilam ternyata tidak melakukan itu. Justru sebaliknya. Di tempat yang disediakan untuknya, Mada mendapat sambutan yang megah. Para prajurit kawal menyembah hormat, delapan dayang-dayang siap melayani.

Segala kehormatan dan kebesaran ditujukan padanya.

Bukan hanya itu saja. Keesokan harinya dalam pertemuan para prajurit utama, Patih Tilam menceritakan betapa prajurit Mada diangkat menjadi senopati oleh Raja. Dan sebagai prajurit bisa dijadikan suri tauladan karena pengabdiannya yang besar. Seorang diri Mada mampu menyelamatkan Raja, dan bahkan menggalang persatuan untuk menghancurkan Senopati Kuti beserta seluruh pengikutnya tanpa kecuali.

“Adalah suatu kehormatan besar jika Keraton Tua ini menjadi tempat persinggahan prajurit kawal Keraton yang besar jasanya.

“Adalah kemurahan Raja yang tiada tara menempatkan pengawal pribadi di tempat ini. “Mada, terimalah penghormatan kami semua.”

Mada mengangguk lembut.

Buru-buru menyusuli dengan menyembah. “Semua pintu di Keraton Tua ini terbuka untukmu.”

Benar-benar mencengangkan. Semua pintu terbuka untuk Mada dalam artian sebenarnya. Mada diperbolehkan menghadap saat pertemuan besar. Diizinkan masuk ke kapustakan, kaputren, tanpa perlu minta izin lebih dulu.

Bahkan lebih dari itu semua, Pangeran Muda Wengker sendiri berkenan menerima pada pertemuan agung yang akan datang.

Sementara perlakuan sehari-hari sangat istimewa. Segala apa yang dikehendaki Mada, selama bisa diwujudkan akan segera dipenuhi. Baik untuk kesenangan pribadi maupun hal-hal yang lainnya. Di hari kelima, Patih Tilam mendatangi Mada, dan meminta semua prajurit menyingkir. Sehingga tinggal mereka berdua. Seperti ketika pertama kali Mada datang menghadap. “Ada yang akan kausampaikan padaku, Mada?”

“Rasa syukur yang dalam.”

Prajurit Utama Nala dan Naka

JAWABAN MADA tetap tenang. Seperti juga sikap secara keseluruhan. Tak ada sedikit pun rasa gentar atau takut.

“Adakah hatimu bertanya-tanya kenapa semua ini kulakukan padamu?” “Hamba akan menerima.”

“Tanpa bertanya, kenapa aku tidak segera menghukummu?” “Hamba menjalani apa yang Patih sabdakan.”

“Baik.

“Sekarang aku mau kamu menjawab dengan jujur. Kalau kamu menjadi aku, kira-kira apa yang menjadi alasanku?”

Sejenak Mada berdiam diri.

Baru kemudian berkata perlahan.

“Kalau hamba sebagai Patih berbuat ini, pertimbangannya tidak lain dan tidak bukan karena inilah yang terbaik.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.” “Hamba mempunyai pilihan-pilihan.

“Pertama membalas sakit hati dengan cara menindas atau mempermalukan. Itu sangat biasa.

“Pilihan kedua lebih bijaksana, yaitu dengan menenggelamkan diri dalam kemewahan duniawi sehingga hamba akan tenggelam dalam kenistaan duniawi, dengan segala pesta-pora dan tak tahu diri. Sebagai contoh manusia yang tak mengetahui dan melihat asal-usulnya, dan melakukan aji mumpung, mempergunakan semua kesempatan selagi berkuasa dan bisa.

“Pilihan ketiga, saya harus diperhitungkan dengan cermat sebagai kaca benggala, sebagai cermin. Karena Raja yang telah diselamatkan, telah dikembalikan ke takhtanya, bisa membuang begitu saja seumpama daun kering. Itu bisa terjadi pada siapa pun, senopati mana pun, tanpa dasar pertimbangan kebijakan yang berarti.

“Masih pilihan ketiga, saya masih bisa dipakai tenaganya, sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Dasar pertimbangan yang ketiga adalah bahwa sesungguhnya Raja tidak menjadi pusat sesembahan yang utama. Karena sabdanya tidak mencerminkan penguasa jagat dan pilihan Dewa. Kalau semua membela Raja, karena tidak suka menerima senopati mana pun merebut takhta.

“Pilihan keempat, saya dicurigai kenapa saya dikirim ke Daha. Bukan pengasingan yang lain. Apakah bukan karena Raja masih menaruh prasangka atas kesetiaan Pangeran Muda Wengker? Bukankah selama Raja meninggalkan Keraton, kesetiaan Pangeran Muda Wengker serta Pangeran Anom Angon Kertawardhana tidak terlihat sepenuhnya?

“Dalam pilihan keempat ini terkandung kemungkinan saya diutus kemari untuk meneliti, menyelidiki sejauh mana kesetiaan itu masih ada.

“Bahwa pilihan kemari sebagai sumber kecurigaan, dan bukan ke Keraton Tua Singasari, di luar kemampuan hamba untuk memperkirakan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan. “Menurut pendapatmu, pilihan mana yang paling tepat?” “Semua pilihan tepat.

“Karena tidak hanya satu alasan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan untuk kedua kalinya. “Kenapa semua alasan tepat, Mada?”

“Apa yang terjadi di Keraton, bisa terjadi di Keraton Tua atau di mana saja. “Paduka Patih Tilam lebih mengetahui dari hamba.

“Paduka bisa melihat jauh ke depan, kepada kejadian yang belum datang. Sebagai penasihat rohani pangeran kanoman, Paduka bisa merasa terancam derajat dan pangkat Paduka dengan kehadiran saya di sini.

“Kalau tidak keliru, Paduka Patih melihat bahwa hamba ini di kelak kemudian hari akan bisa menjadi ganjalan utama yang sangat berarti bagi Patih Tilam.”

“Aku hargai sepenuhnya kejujuranmu.

“Ternyata aku keliru menangkap sikapmu yang kuanggap kurang ajar.”

Mada tidak memperlihatkan bahwa dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang bisa membuat Patih Tilam murka. Mada hanya mengatakan apa yang diketahui. Menjawab apa yang ditanyakan sejauh bisa dijawab. Dan tidak menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan hatinya.

87

“Yang menetes dari sumbernya.

“Ajaran mahamanusia yang kamu cerna langsung sungguh luar biasa. “Sekarang katakan lagi, Mada, apakah ramalanku tentang dirimu bisa terjadi?”

“Semua penglihatan jauh bisa melihat apa yang akan terjadi. Hanya saja, kapan ramalan menjadi kenyataan, tidak menjadi perhitungan ketika meramalkan.”

“Baik.

“Kalau begitu kita sama-sama menunggu, apa yang akan terjadi.

“Apakah kamu bisa lolos dengan baik, sesuai dengan kepercayaan yang membuat tak ketakutan, atau memang harus menjalani apa yang seharusnya kamu alami.

“Kemungkinannya sama besar, Mada.

“Bagiku ini juga ujian besar. Selama ini aku dikenal sebagai peramal, tapi juga disepelekan. Sebagian priyagung pembesar Keraton menganggap Patih Wangkong lebih tepat karena berguru langsung dari ajaran Mpu Raganata.

“Entah mana yang tepat.

“Meskipun sekarang ini aku lebih suka keliru.” Mada menyembah.

Sampai Patih Tilam meninggalkan begitu saja.

Mada menjalani hari-hari sebagaimana biasa. Hanya sekarang lebih banyak waktu dihabiskan dengan berlatih diri. Ajaran Eyang Puspamurti yang dijejalkan habis-habisan, kini diurut dan dirunut satu per satu, dan dilatih dengan lebih saksama.

Tak ada pergolakan terlihat di wajahnya.

Pun ketika diminta menghadiri latihan para prajurit pratama. Para prajurit pratama adalah tingkatan yang pertama. Prajurit yang paling pilihan, paling diandalkan. Tingkatan kedua, ketiga, keempat disebut sebagai prajurit dwitiya, tritiya, caturta, dan seterusnya. Mada mendapat kehormatan duduk di barisan depan.

Sewaktu latihan perang tanding dimulai, serombongan prajurit pratama mendadak menyerbu ke arah Mada. Prajurit yang berada paling depan menusukkan tombak, langsung ke arah perut Mada.

Dua tusukan dari dua ujung tombak yang berbeda arahnya, tapi sama sasarannya. Mada mengeluarkan teriakan keras.

Kedua tangannya menyampok bersamaan, dan serentak dengan itu, dua penusuk terjengkang. Dua ujung tombak melukai perut Mada dan membuatnya mengucurkan darah, akan tetapi penyerangnya tak bergerak lagi.

Mada bangkit dari duduknya. Tanpa memedulikan darah yang mengucur di tubuhnya, Mada menolong penusuknya. Dengan menghentikan perdarahan hebat, dan mengurutnya.

Bagi prajurit yang sedang latihan dan melakukan kesalahan, bahkan di antara sesama prajurit, bakal mendapat hukuman keras. Apalagi ini terjadi pada tamu yang menyaksikan.

Akan tetapi Mada justru memperlihatkan sikap yang lain. Bahkan saat itu juga sowan kepada Patih Tilam.

“Hamba datang untuk meminta pengampunan bagi prajurit pratama Nala serta Naka. Mohon Patih yang mulia tidak menjatuhkan hukuman yang tidak memungkinkan mereka berdua memperbaiki kesalahannya.”

“Mereka jelas berniat jahat padamu, Mada.” “Hamba mengetahui dari arah datangnya tombak.

“Hamba juga akan melakukan hal yang sama jika diperintahkan demikian.” “Berani kamu mengatakan demikian padaku?”

“Hamba mengatakan yang bisa hamba haturkan.

“Prajurit pratama Nala dan Naka adalah prajurit yang sesungguhnya. Yang menjalankan tugas. Akan sangat sayang sekali kalau prajurit besar seperti ini harus dihilangkan untuk mengamankan. Karena yang tersisa di kelak kemudian hari hanyalah prajurit dasama, prajurit urutan kesepuluh.”

“Karena aku menganggap sebagai pelanggaran berat, aku tak mau menerimanya. “Kalau kamu mau berjasa pada mereka berdua, terimalah sebagai prajuritmu.

Mada menyembah.

“Dengan rasa syukur tak terhingga atas kebesaran Patih Tilam.” Patih Tilam menatap Mada.

“Usahaku menggagalkan ramalanmu sendiri, ternyata gagal pula. Kamu masih selamat. Masih hidup. “Betul-betul luar biasa.

“Entah dengan menindih perasaan apa, kamu masih bisa bersikap tenang.” “Hamba hanya menjalani nasib yang digariskan Dewa.”

“Tidak juga.

“Kamu mempunyai dasar yang lain.

“Satu hal, aku sebagai atasanmu yang resmi, dan kamu sebagai prajurit sejati, aku perintahkan untuk membawa Upasara Wulung kemari. Mati atau hidup.

“Dengan segenap kemampuanmu. “Lakukan, Mada.”

Peran Perang PATIH TILAM diam kaku. Mada menyembah.

Sikapnya sama sekali tak berubah. Wajah dan penampilannya tak menyembunyikan pertanyaan, apalagi keraguan, sedikit pun. Inilah yang sejak pertama membuat Patih Tilam gamang.

Gamang karena Mada menjalani dengan ketenangan yang wajar. Tak sedikit pun merasakan adanya sesuatu yang ganjil. Juga dari caranya menyembah yang tulus.

“Barangkali ini pertemuan kita terakhir, Mada.

“Barangkali kamu mendahului, atau aku yang lebih dulu menyelesaikan urusan jagat ini. Hanya perang besar yang menentukan yang mempercepat. Apakah seseorang menjadi orang besar atau menjadi mayat.

“Seharusnya aku tak mengatakan hal ini kepadamu.

“Tetapi aku tak bisa menahan diri. Sejak mendengar namamu, sejak melihat langsung dan berhubungan denganmu, perasaanku tak bisa ditahan lagi.

“Kamu bisa besar kepala, lebih besar dari sekarang ini, jika mendengar apa yang kukatakan. “Barangkali itulah nasib baik yang memihak padamu.

“Mada, kamu tahu siapa aku sebenarnya?” Mada menggeleng lembut.

“Dengan dasar kekuatan Ngrogoh Sukma Sejati kamu bisa mengetahui siapa aku yang sebenar- benarnya.”

“Hamba tak ingin menjajal.” “Aku tahu.

“Karena aku yang lebih dulu nyandra, lebih dulu melihat dirimu. Meskipun aku tidak menguasai kekuatan sukma sejati seperti yang kamu latih selama ini, aku bisa melihat masa depan yang belum terjadi.

“Aku melihatmu besar seperti gajah.

“Aku melihatmu mulai menduduki kursi kepatihan di sini, dan mulai memanjangkan gading dan belalai. Semua bisa kulihat dengan jelas. Tanpa kabut.

“Apakah aku harus membencimu?

“Melenyapkanmu, agar ramalan yang kulihat tak terjadi?

“Mada, barangkali kamu berpikir seperti itu. Itu perkiraan sebelumnya. Nyatanya tidak. Kamu ternyata bukan bledug, atau anak gajah. Kamu sudah menjadi gajah yang sesungguhnya. Kamu tidak berpikir aku berusaha melenyapkan dan kamu melakukan perlawanan.

“Kamu mengikuti jalan.

“Sebagaimana kewajaran yang berlangsung.

“Ketika prajurit pratama Nala dan Naka menggempurmu dan berusaha membunuhmu, kamu menghadapi sebagaimana sikap sesama prajurit.

“Barangkali itulah nasib. “Nasib baik.

“Seperti juga keberangkatanmu ke Perguruan Awan untuk menangkap Upasara Wulung dan membawa kemari. Barangkali justru ini akan menjadi jalan pencerahan bagimu.

“Mada,

“Aku hanyalah perantara. Yang melontarkan, meneruskan apa yang sudah dikehendaki alam dan Dewa Yang Maha Pencipta. “Seperti seorang Durna yang menyuruh Bima mencari ilmu yang tak masuk akal dan nalar menuju tengah samudra, dan bergulat dengan naga. Di sana ia menemukan apa yang dicari.

“Siapa tahu itu perjalanan nasibmu juga.” Patih Tilam mengambil napas sejenak.

“Aku menjalankan apa yang menjadi kehendak Dewa. Barangkali Raja pun melakukan hal yang sama tanpa disadari. Sewaktu kamu bisa menyelamatkan takhta, seharusnya kamu memperoleh pangkat yang tinggi. Tapi justru tidak.

“Barangkali, itu juga jalan ke arah puncak pangkat dan derajatmu. “Mada, semua ini kukatakan tanpa keinginan untuk membersihkan diri.”

Patih Tilam meninggalkan tempat, menuju sanggar semadinya, dan akan berkurung selama empat puluh hari empat puluh malam.

Mada tidak mengetahui. Karena pagi itu pula, langsung berangkat bersama Nala dan Naka. Tanpa banyak bicara. Kalaupun mereka berhenti di perjalanan, Mada hanya memberikan petunjuk mengenai cara menggunakan tombak, cara mengerahkan tenaga yang lebih memungkinkan keberhasilan.

“Pengerahan tenaga yang sesungguhnya bukan ketika kemurkaan itu datang. Bukan menggenggam lebih erat. Bukan menyatukan geraham. Itu malah mengurangi kekuatan yang sesungguhnya.

“Kekuatan yang inti harus kamu tumpahkan seluruhnya pada ujung tombak. Di situlah keberhasilan. Di situlah kemenangan.”

“Kakang Mada sangat bijak mengampuni kami berdua.” “Saya tak bisa mengampuni kalian.

“Kalian yang bisa mengampuni diri kalian sendiri. Itu yang dikatakan Eyang Puspamurti. Kalau selama ini kamu merasa melakukan kesalahan atau tidak berguna bagi sesama, bagi Keraton, ada sisa waktu dalam hidupmu untuk menebusnya.

“Kesempatan itu datang di Perguruan Awan.” “Ya, Kakang.

“Tapi benarkah kita akan menangkap Upasara Wulung?” “Itulah perintah yang saya dengar.”

“Kakang Senopati…”

“Usia kita masih sepantaran. Jangan panggil aku dengan sebutan senopati, selama kita masih bisa saling menyebut nama Kakang Nala, Kakang Naka.”

Naka mengangguk terdiam. Nala mengangguk.

“Kakang Mada, hari-hari ini saya mendapatkan pelajaran yang mahal dan membuat saya merasa menjadi manusia yang mengenal akal budi.

“Banyak yang ingin saya tanyakan.”

“Banyak yang ingin saya jawab, Kakang Nala.

“Akan tetapi rasanya waktu kita masih sangat panjang untuk berbincang-bincang. Sampai usia tua, kita masih akan selalu bersama-sama.”

“Saya merasa sebaliknya,” suara Naka terdengar muram. “Nyawa tidak bisa diperpanjang dua kali.” “Kepercayaan diri yang membuktikan itu.

“Sekarang kita sudah menginjak wilayah Perguruan Awan. Sebaiknya kita waspada.”

Meskipun mantap dan yakin, Mada memilih jalan berputar. Dengan melakukan gerakan baris pendem. Yaitu gerakan prajurit secara tersamar, menyatu dengan tumbuhan. Atau sekurangnya seolah terpendam dalam tanah. Nala mengakui kesabaran Mada. Yang bergerak dengan sangat hati-hati. Ia mendahului beberapa ratus tombak, dan setelah aman, barulah rombongan kedua menyusul, langsung ke depan seorang diri. Begitu aman, disusul dengan yang lainnya.

Walaupun geraknya sangat perlahan, akan tetapi mereka bisa mengetahui keadaan sekitar secara penuh.

Dan bisa bersiaga.

Seperti ketika mendengar langkah kaki yang mendekat. Mada tetap berada di dalam persembunyiannya. Meskipun yang dilihatnya hanyalah anak kecil yang berjalan sendirian.

Klobot!

Ketika itu Klobot yang terpukul perasaannya karena sikap Nyai Demang yang dianggap sangat kasar, memilih meneruskan berjalan kian-kemari daripada kembali ke tempat semula.

Melampiaskan kedongkolannya dengan memukul, menendang segala yang ditemui. Pepohonan menjadi korban pukulan dan tendangan. Sebagian roboh, sebagian rusak.

Mata Naka dan Nala membelalak.

Seolah tak percaya bahwa anak sekecil itu bisa memukul pohon hingga tangannya amblas ke tengah. Mada makin menahan diri ketika ada bayangan meloncat masuk.

“Aha, kukira ada Mada di sini.

“Getarannya kurasakan benar. Tapi rupanya yang ada Mada kecil.”

Suara yang tak asing lagi. Suara Halayudha yang berdiri gagah sambil memanggul pedang hitam. “Klobot!”

“Pukulanmu aneh.

“Siapa kamu, kunyuk buruk?” “Klobot.”

“Dari mana kamu pelajari…”

Mendadak Klobot mengangkat tangan kanannya ke atas sampai batas telinga dan tangan kiri tertarik ke belakang. Muntahan jurus Kakang Kawah yang membuat Halayudha mengerutkan keningnya.

“Ini bagus.

“Aneh. Kenapa tenaga dalammu tidak langsung dikerahkan? Hei, ilmu apa yang kamu pelajari?”

Bahwa Halayudha sampai mengangkat kaki menghindar bisa menandai betapa ia menaruh perhatian besar pada apa yang dilakukan Klobot. Tenaga aneh yang bergulung, membentur, seolah menyadarkan Halayudha bahwa pengerahan tenaga dalam yang ganjil itu seperti sangat dikenalnya, tetapi juga berbeda dasarnya.

Perbedaan dasar ini yang membuat semangat hidupnya tumbuh kembali seketika. Selama ini rasanya hampir menemui ilmu silat yang berbeda kembangannya, tetapi bukan sikap dasar.

“Itu bagus. “Ayo, apa lagi?”

Lutut Kekuasaan

RAJA JAYANEGARA seakan bangun dari mimpi yang panjang sewaktu Halayudha meninggalkan Keraton. Mimpi yang kelewat panjang, yang tak pernah disadari secara penuh.

Untuk pertama kali, telinganya mampu menangkap suara dari bibir yang lain. Selama ini telinganya seakan tidak ada gunanya. Kenyataan yang sederhana, namun membuat goresan yang dalam pada kesadaran batinnya. Padahal dimulainya dengan biasa-biasa sekali. Saat dirinya mendekati dan melihat Halayudha yang kelihatan bingung, kelihatan kehilangan arah.

Yang ternyata juga dialaminya.

Kekuasaan yang tunggal, keunggulan di atas manusia mana pun di seluruh Keraton, justru membuatnya kosong, menyudutkan ke kesepian, dan menempatkan dalam bagian yang hampa. Dengan caranya sendiri, Halayudha memaksanya berlutut.

Berlutut.

Bersila.

Sesuatu yang sejak tahun-tahun terakhir ini tak pernah dilakukan. Tak ada isi Keraton yang dapat membuatnya bersila. Itu terjadi sejak Baginda menyingkir ke Simping. Dan dirinya secara penuh memegang kendali kekuasaan.

Kalaupun ada, itu adalah Ibunda. Yang telah menyurutkan diri dan tak mempunyai pengaruh mendalam sejak dirinya mengangkat dan memilih Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Dengan cara itu, dirinya telah memutuskan hubungan kehormatan yang selama ini berlangsung.

Tokoh lain adalah Senopati Agung Brahma. Yang kalau diperhitungkan urutan darah, lebih tua urutannya. Akan tetapi sudah sejak lama Senopati Agung Brahma berada di luar Tanah Jawa. Satu- satunya yang tersisa tinggal Permaisuri Rajapatni!

Ya, yang masih ada hanyalah Permaisuri Rajapatni yang kemudian sekali memilih bertapa di Simping.

Penilaian Raja akan Permaisuri Rajapatni memang berbeda dari yang lainnya. Ada rasa enggan dan hormat yang dirasakan, sekaligus juga takut.

Kedudukan Permaisuri Rajapatni termasuk paling istimewa sebagai permaisuri. Meskipun bukan permaisuri utama seperti ibundanya, Permaisuri Rajapatni diramalkan para Dewa bakal menurunkan raja terbesar di Tanah Jawa.

Itu salah satu ganjalan utama, yang akhirnya membuatnya memotong perhitungan para Dewa. Raja mengambil Putri Tunggadewi dan Rajadewi ke dalam kekuasaannya. Sehingga tak mungkin bisa meneruskan takhta, kalaupun ada kesempatan. Juga kemungkinan untuk mendapatkan pasangan sesama pangeran. Raja telah memutuskan untuk membiarkan ngurak, mati tua dengan sendirinya.

Ini semua pagar-pagar utama yang akan melanggengkan kekuasaannya. Seperti juga halnya tidak memberi kesempatan munculnya para pangeran anom ke atas permukaan. Tak akan pernah terdengar nama lain yang menonjol. Tak ada yang bisa dijadikan tempat berpaling. Walau sejenak.

Tak ada orang kedua atau orang ketiga dalam Keraton. Lututnya tak pernah ditekuk untuk memberi penghormatan kepada orang lain.

Semua berjalan sebagaimana biasa, tidak pernah mengusik hatinya, kalau saja Halayudha tidak menyinggung soal keturunannya yang bakal lebih nista darinya.

Keturunan?

Menyerahkan kekuasaan?

Apakah itu akan terjadi suatu ketika nanti?

Rasa-rasanya selama dirinya masih bisa memandang matahari, tak akan begitu saja menyerahkan kekuasaan tertinggi yang berada dalam genggamannya.

Raja tak ingin mengalami seperti yang dialami Baginda, yang kemudian merasa tersisih, dan kedarang-darang, tersia-siakan, sampai di Simping.

Kejadian seperti itu tak ingin diulangnya.

Itu pula sebabnya Raja tak begitu peduli ketika dirinya meninggalkan Keraton, dan Kuti untuk sementara berkuasa, seluruh kerabatnya tercerai-berai. Para selir, berikut putra-putranya, ikut lepas dari Keraton.

Raja bahkan tak peduli apakah mereka ada yang kembali atau tidak. Tak pernah menghitung berapa jumlah mereka dan wajah mereka seperti apa. Semua toh sudah ada yang mengurusi, menghidupi, dan tak perlu benar dilihat.

Perdebatan dalam hati Raja bisa selalu dimenangkan sendiri. Selalu ada pembenaran kenapa berbuat ini dan itu. Hanya saja, satu-satunya orang yang mampu menggoyahkan pendapatnya memang Halayudha seorang.

Mahapatih yang merasakan takhta dan menjadi linglung itu masih merupakan satu-satunya orang yang bisa berbicara dari sisi yang berbeda. Kalau ada nama lain, itu hanya Praba Raga Karana, pemijat yang diangkat sebagai permaisuri. Tidak ada yang lainnya.

Kini keduanya tak ada.

Raja merasa sangat sepi dan bosan.

Semua yang ditemui menyembah dan mengiyakan, seperti juga Mahapatih Jabung Krewes yang selalu mengatakan sumangga kersa Dalem. Terserah kehendak Raja.

“Krewes, apakah kamu tidak mempunyai pandangan, apa yang sebaiknya Ingsun lakukan untuk menikmati kegembiraan hidup ini?”

“Sumangga kersa Dalem, Ingkang Sinuwun.

“Hamba akan melaksanakan sebaik-baiknya. Apakah Raja ingin berburu, membangun tamansari, atau menghendaki klangenan baru?”

“Ingsun muak dengan segala binatang buruan atau taman atau wanita yang begitu-begitu saja. “Rasanya ada sesuatu yang bisa dilakukan.”

“Maaf, Sinuwun.

“Kalau menyangkut Keraton, yang menunggu sabda Raja tinggal nasib Senopati Banyak. Apakah harus menjalani hukuman tigas jangga, penggal kepala, atau yang Raja sabdakan.”

“Biar saja menunggu.

“Tak ada pikiran Ingsun mengurusi hal itu. “Yang lain?”

“Maaf, Sinuwun.

“Hamba tak melihat ada yang perlu dilakukan. Semua, atas berkah Ingkang Sinuwun, lancar, baik, damai, dan sejahtera.”

“Atau ada yang harus Ingsun lakukan?

“Kamu tak akan berani mengatakan, Krewes. Meskipun kurasa sinar batinmu ingin menyebutkan mengenai kitab Kidungan Para Raja. Apakah tidak sebaiknya aku mulai menulis dalam kitab itu untuk kuwariskan kepada penerusku.

88

Posted on: May 19, 2009 by: admin

“Aku bahkan tak mengetahui kitab itu seperti apa, dan bagaimana menuliskannya. Sri Baginda Raja telah menuliskan panjang-lebar. Baginda pun telah menuliskan. Rasanya aku tinggal mengganti namanya saja.

“Kalau masih ada yang kupikirkan sekarang ini hanyalah sikap Tunggadewi dan Rajadewi. Ketika semua putri Keraton mengungsi dan berlarian serta tak ketahuan nasibnya, mereka berdua masih tetap berada dalam Keraton dan merasa aman.

“Apa yang menyebabkan keduanya begitu yakin bisa selamat?” “Maaf, Sinuwun.

“Sejauh hamba tahu dari penuturan Senopati Banyak, kaputren utama memang tidak akan diganggu. Apa pun yang terjadi.”

“Kenapa bisa begitu?” “Merupakan kesepakatan para pemberontak.”

“Kalau begitu, mulai sekarang juga, kamu awasi dengan ketat. Segera laporkan atau ambil tindakan pengamanan kalau ada sesuatu yang mencurigakan.

“Jangan-jangan mereka berdua mempunyai hubungan yang tidak kamu ketahui. “Ini perlu.

“Sebab rasanya, atau seharusnya, tak ada lagi rasa hormat yang tersisa kepada Tunggadewi dan Rajadewi. Mereka berdua telah berada dalam kehinaan yang amat nista.

“Lakukan dengan hati-hati, Mahapatih.

“Karena keduanya keras kepala dan bisa menahankan semua penderitaan.” “Sendika dawuh, Ingkang Sinuwun.

“Sekarang juga hamba akan melaksanakan.”

Disusul dengan sembah yang  dalam,  penghormatan yang  rata dengan  kaki,  Mahapatih  Jabung Krewes mengundurkan diri.

Sesudah itu kembali sepi. Kosong seperti hati Raja.

Merasa tak ada sesuatu yang harus dikerjakan. Tak ada sesuatu yang membuatnya gairah. Padahal alangkah menyenangkan semasa bergulat dengan Praba Raga Karana dulu itu. Masa-masa singkat penuh dengan guncangan perasaan.

Kembali datar.

Kembali ke Halayudha. Satu-satunya tokoh yang membuatnya berlutut, yang bisa diajak bicara. Yang sekarang ini pastilah sedang mencari Upasara Wulung.

Raja tak sabar menunggu.

Segera memerintahkan agar disiapkan prajurit istimewa untuk mengawalnya. Keinginannya hanya satu. Mencari Halayudha. Karena hanya itulah yang bisa mengisi hidupnya yang datar.

“Siapkan semuanya.

“Ingsun ingin segera berangkat hari ini juga!”

Perintah yang mendadak bukan sesuatu yang istimewa. Memang demikianlah yang biasa dan bisa terjadi. Hanya saja kali ini Jabung Krewes merasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Raja sehubungan dengan tugasnya mengawasi dan meneliti Tunggadewi serta Rajadewi.

“Ingsun tak mau mendengar.”

Asmara di Kaputren

PADAHAL kalau Raja meluangkan waktu dua tarikan napas lebih lama, kisah bisa berubah.

Karena Jabung Krewes menemukan sesuatu yang berarti. Barangkali sesuatu yang untuk pertama kalinya bisa ditemukan dalam menjalankan tugas.

Dengan cara yang sangat sederhana.

Sewaktu Raja memerintahkan memeriksa apa yang terjadi di kaputren, Jabung Krewes hanya memanggil ketiga menantunya. Dua menantu yang pertama segera menceritakan panjang-lebar bahwa selama ini kaputren menyimpan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Pergantian dayang- dayang yang melayani kaputren lebih sering dari biasanya.

Jabung Krewes segera bertindak.

Dua kali empat puluh dayang yang melayani Tunggadewi dan Rajadewi dikumpulkan. Diperiksa satu per satu dengan pengawasan langsung. “Kalau kamu menceritakan yang sesungguhnya terjadi, akan menerima hadiah. Kalau berdusta, seluruh keluargamu yang masih hidup akan habis.”

Ancaman sederhana yang cukup keras.

Tapi sedikitnya juga mengherankan Mahapatih Jabung Krewes. Para dayang yang sekian banyak jumlahnya, boleh dikatakan penyaringannya dilakukan oleh prajurit yang setia padanya. Atau bahkan juga dari tiga menantunya ikut menentukan langsung. Sehingga boleh dikatakan mereka semua adalah orang-orang sendiri. Toh demikian tak lebih dari lima dayang yang mengatakan bahwa selama ini memang sering ada barang hantaran dari luar. Yaitu dari Pangeran Anom Angon Kertawardhana dan Pangeran Muda Wengker.

Selebihnya memilih bungkam.

Ini agak membingungkan Mahapatih Jabung Krewes. Kebungkaman ini bisa jadi karena kesetiaan yang dalam, meskipun bisa juga karena tidak mengetahui masalah sebenarnya.

Akan tetapi apa pun yang menjadi alasan, cukup bagi Jabung Krewes untuk menindak 75 dayang yang ada. Semuanya dipecat, dan tidak diperkenankan mengabdi Keraton selama tujuh turunan. Bahkan mereka semua, tanpa kecuali, akan terus diperiksa, sehingga ditempatkan dalam suatu tempat tersendiri.

Langkah berikutnya sudah jelas.

Malah hari itu pula Mahapatih memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. Secara tata krama Keraton, sebenarnya agak sulit bagi Mahapatih Jabung Krewes untuk berkuasa memanggil kedua pangeran anom. Karena meskipun dirinya sebagai mahapatih, para pangeran anom memiliki keistimewaan posisi dalam Keraton.

Mereka semuanya hanya bisa dipanggil oleh Raja.

Akan tetapi karena sejak lama Raja menganggap tidak ada suatu yang istimewa bagi para pangeran anom, yang suatu saat bisa menjadi putra mahkota, Jabung Krewes berani bertindak.

Memanggil Pangeran Angon serta Pangeran Wengker menghadap padanya. Sedikitnya ini menaikkan pamornya.

Mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai mahapatih.

Dan ternyata, keesokan harinya kedua pangeran anom telah menunggu di kepatihan. “Agak kaget saya mendengar panggilan Mahapatih yang sangat mendadak.”

“Saya sendiri agak kaget mengetahui apa yang dilakukan Pangeran Anom.

“Selama ini rasanya semuanya sudah jelas bahwa apa yang disabdakan Raja harus dipatuhi tanpa kecuali oleh siapa pun, kecuali oleh Raja sendiri.”

Mahapatih Jabung Krewes sengaja menekan Pangeran Wengker. “Kesalahan apa yang kami lakukan, Mahapatih?”

“Berhubungan dengan putri sekar kedaton. “Yang berarti melanggar sabda Raja.” Wajah Pangeran Angon tetap tak berubah. Wajah Pangeran Wengker menjadi dingin.

“Atas nama Raja, saya akan melaporkan apa yang saya ketahui. “Terserah kehendak dan kemurahan hati Raja.”

“Mahapatih…” Suara Pangeran Angon terdengar tetap lembut. “Rasa-rasanya kita semua tidak harus gegabah dalam hal yang menyangkut sabda Raja.

“Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Mahapatih katakan.”

“Kalau Pangeran Angon ingin membela diri, tolong sampaikan langsung kepada Raja. “Saya berpegang pada apa yang saya ketahui.” Mahapatih Jabung Krewes mendongak dan melemparkan senyum tipis.

“Apakah kita tidak bisa berbicara sebelum Mahapatih melaporkan kepada Raja?” “Tergantung apa yang Pangeran tawarkan kepada saya.”

“Mahapatih, kami berdua hanya ingin bercerita mengenai suatu yang belum lama ini berlangsung di Keraton. Bahwa ketika terjadi keributan di mana Senopati Kuti menduduki Keraton, kami berdualah yang pertama kali berada di barisan terdepan.

“Ini agak berbeda dengan Mahapatih yang tetap berada di Keraton.” Senyum Jabung Krewes makin melebar.

“Pangeran keliru.

“Keliru besar kalau mengingatkan jasa Pangeran dalam usaha pengembalian Raja ke takhta setelah terlunta-lunta di pengasingan. Semua mengetahui, semua melihat sendiri, bahwa saya Mahapatih Jabung Krewes tidak berbuat apa-apa saat pemberontakan terjadi, dan juga saat penumpasan berlangsung.

“Saya tak mempunyai sumbangan apa-apa.

“Tetapi Pangeran juga masih melihat sekarang ini, bahwa saya masih tetap menjadi mahapatih.

“Tak ada yang lebih berjasa dalam pengembalian takhta selain prajurit kawal raja yang bernama Mada. Beserta dengan pengawal yang jumlahnya tak seberapa, Mada berhasil menghimpun dan menyatukan seluruh kekuatan.

“Mada.

“Tetapi Pangeran Wengker lebih mengetahui apa yang terjadi dengan Mada sekarang ini. Dikirim ke Daha, ke tempat kediaman Pangeran Wengker untuk mengabdi kepada Arya Tilam.

“Itu yang terjadi. “Itulah kenyataannya.

“Tak ada artinya menggugat jasa yang telah diberikan. Tak ada artinya mempersoalkan yang dianggap tidak berjasa.

“Rasanya kita semua paham mengenai hal itu.” Pangeran Wengker mengangguk dalam.

“Apa yang Mahapatih kehendaki dari saya?” Dada Mahapatih mengembang.

Berisi kebanggaan. Terpompa kemenangan.

Untuk pertama kalinya kembali bisa dirasakan keunggulannya sebagai mahapatih. Sebagai orang yang bisa membuat orang lain memandang hormat. Orang lain itu tak tanggung-tanggung: pangeran anom!

“Saya tak menginginkan apa-apa lagi.

“Sebagai mahapatih, saya telah memiliki semuanya. “Sekarang saya tidak akan meminta apa-apa. “Sampai saatnya nanti….”

“Saya akan selalu mengingat hal ini, Mahapatih.”

Inilah kemenangan utama Mahapatih Jabung Krewes. Ia merasa bisa menjerat dan mengikat erat kedua pangeran anom. Yang bukan tidak mungkin di belakang hari akan terpaksa membalas utang budi.

Inilah kemenangan utama, karena Mahapatih tetap bisa melaporkan kepada Raja! Dengan demikian ada dua hasil besar yang diperoleh. Ikatan utang budi dari Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, dan sekaligus menaikkan pamornya di mata Raja. Kalaupun kemudian Raja memutuskan untuk memberi hukuman, dirinya tak merasa kehilangan apa-apa.

Nyatanya Raja tidak mempersoalkan sama sekali.

Ini berarti satu jasa besar telah ditanam di Keraton Singasari dan Daha, tanpa berbuat suatu apa. “Telah tiba saatnya saya memainkan peranan,” kata Jabung Krewes pada dirinya sendiri.

“Walau barangkali tidak sehebat Halayudha, akan tetapi sebagai manusia mereka akan menghormatiku. Tinggal meneruskan.

“Telah tiba saatnya membalas dendam kepada yang selama ini meremehkanku.”

Semangat kemenangan merasuk dalam diri Jabung Krewes. Kini, dalam mengawal Raja ke Perguruan Awan, pikirannya bekerja. Menyusun langkah demi langkah untuk memastikan kekukuhan posisinya.

Yang segera bisa ditekan adalah Putri Tunggadewi serta Rajadewi. Keduanya merupakan mutiara yang paling berharga, yang sekarang tidak mempunyai pelindung sama sekali.

Padahal banyak hal bisa dilakukan untuk memperoleh pengaruh yang lebih luas.

Sekurangnya, selama ini masih banyak yang menaruh rasa hormat yang dalam dan tulus. Masih banyak pengikut setia yang bersedia mengorbankan apa saja bagi kedua putri tersebut.

Apakah itu karena dasar berkembangnya daya asmara seperti yang dialami Pangeran Angon serta Pangeran Wengker, atau karena kesetiaan kepada darah keturunan Baginda, bagi Jabung Krewes tak ada bedanya.

“Sekarang saatnya,” desis Jabung Krewes dalam hati.

Yang bisa membuatnya lebih bangga adalah karena sebentar lagi istrinya tak akan memandangnya sebelah mata lagi. Kehormatan dalam keluarga, yang selama ini tercampakkan, akan pulih kembali.

Kebanggaan sebagai suami, seorang yang dihormati luar-dalam, menjadi sempurna.

Kecemasan di Pendakian

SEMANGAT yang menggelora dalam diri Mahapatih Jabung Krewes, di satu pihak mendatangkan gairah baru yang selama ini tenggelam dalam kemurungan. Akan tetapi di pihak lain juga mendatangkan kecemasan.

Untuk pertama kalinya, Jabung Krewes kuatir jika dalam menjalankan tugas bersama kali ini gagal. Yang berarti usianya tidak panjang.

Sesuatu yang tadinya tak terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang dulu dijalani begitu saja. Bahkan di saat pemberontakan Kuti, Jabung Krewes seleh gegaman, meletakkan senjata tanpa peduli bagaimana akhirnya. Tak ada semangat melawan. Atau bahkan bertahan. Kalau ada prahara yang bakal melindasnya, diterimanya tanpa menahan napas.

Kali ini justru berbeda.

Sikapnya menjadi sangat hati-hati.

Alasan yang bisa dimengerti, karena yang didatangi sekarang ini adalah “kedung naga, sarang harimau, kandang demit” yang kelewat gawat. Rasanya di seluruh jagat ini tak ada tempat yang menimbulkan kecemasan lebih berat dari Perguruan Awan.

Setelah Raja dengan terang-terangan menyabdakan bahwa Perguruan Awan-dengan Upasara Wulung dan semua penghuninya-adalah musuh Keraton, keadaannya bisa menjadi menakutkan.

Dalam hal ilmu silat, Upasara Wulung belum ada tandingannya. Seluruh prajurit Keraton bergabung menjadi satu sekalipun, tak akan bisa melukai bayangannya. Bahwa Upasara tak akan mendahului menyerang, itu sedikit menenteramkan. Akan tetapi kalau belum-belum Raja memerintahkan penghancuran, bukankah Upasara Wulung akan mempertahankan? Yang seperti ini sangat mungkin, mengingat Raja bisa mengganti perintah yang berbeda pada hari yang sama.

Kecemasan yang tak bisa diusir, tak bisa ditutup-tutupi. “Akhirnya kamu merasakan ketakutan itu, Jabung Krewes.

“Itu tandanya kamu sedang mendaki. Sedang menyongsong angin yang lebih besar, karena kamu merasa tinggi. Kamu sudah merasa ayub-ayuben, takut jatuh.”

“Raja sangat tepat melihat hamba.”

“Dalam banyak hal aku dikatakan tak tahu apa-apa, akan tetapi sesungguhnya aku mengerti lebih banyak dari yang diduga para Dewa.

“Jabung Krewes, apa yang kamu takutkan?” Jabung Krewes terdiam sejenak.

“Barangkali ini juga kesempatan terakhir bagimu untuk bisa menjelaskan hal itu.

“Aku juga tak tahu apa yang akan kutemui di Perguruan Awan. Tetapi rasa-rasanya ini perjalananku yang terakhir ke tempat itu.”

“Sembah bagi Raja. “Hamba memang cemas.

“Pertama, karena  menurut kabar pawarta Perguruan Awan sedang panas. Semua penghuninya menggeliat.

“Kedua, karena Raja meninggalkan Keraton.” “Pikiranmu tak terlalu cethek, tak terlalu dangkal. “Kenapa kalau aku meninggalkan Keraton?” “Hamba masih was-was.

“Sekarang ini, para dharmaputra boleh dikatakan telah rata dengan tanah. Kalaupun tersisa, hanya Senopati Banyak yang tak berdaya, serta Senopati Tanca yang berdiam diri.

“Namun sesungguhnya bukan tidak mungkin akan ada yang memanfaatkan kekosongan Keraton.” “Siapa mereka itu?”

“Mohon beribu ampun, Raja.

“Hamba barangkali keliru besar. Namun para pangeran anom bukan tidak mungkin telah menyusun rencana tersendiri, mengingat Raja Sesembahan sampai hari ini…”

Di dalam joli yang mengangkut Raja mengelus jakunnya.

Mahapatih Jabung Krewes yang berkuda agak di sebelah belakang tidak berani memperhatikan, akan tetapi mengetahui bahwa Raja mempertimbangkan kalimatnya.

“Para pangeran anom?

“Siapa yang kamu maksudkan? “Angon Kertawardhana? Wengker?” “Maaf, Raja Sesembahan.

“Kedua pangeran anom, dari Daha dan Singasari, memang paling menonjol. Akan tetapi keempat pangeran anom yang lain sebenarnya mempunyai alasan darah keturunan yang sama.”

“Selama ini aku tidak mendengar mereka. “Angon tak akan berani.

“Wengker apalagi.” “Beribu ampun, Raja. “Sewaktu Sri Baginda Raja yang Mulia diserang mendadak oleh Raja Muda Gelang-Gelang, juga karena tidak menduga akan datangnya pengkhianatan. Dengan kata lain, justru yang tak terduga yang bisa menjadi bahaya.”

“Apa lagi?”

“Di kaputren masih ada Putri Tunggadewi serta Rajadewi.” “Aku sudah menguasai penuh.

“Hanya aku tak ingin takhta ini berlanjut dari keturunan langsung Sri Baginda Raja yang nyatanya masih selalu dipuja.

“Aku ingin darah keturunan itu menetes langsung dariku. “Tak soal benar, Krewes.

“Tak soal benar.

“Para pangeran anom juga tidak. Terlalu mudah memecah mereka. Aku justru akan membuat satu gerakan yang membuyarkan mereka. Aku ingin mempermainkan nasib dan harapan mereka.

“Kalau salah satu dari mereka kuberi angin, akan terjadi pergeseran dengan sendirinya.

“Mereka akan bertengkar dengan sendirinya. Saling iri, saling lihat kiri-kanan, dan merasa tak puas. “Menurut kamu siapa yang pantas, Krewes?”

“Hamba tak bisa menangkap kearifan Raja.” “Bodoh.

“Ini hal yang gampang.

“Ada enam pangeran anom yang mempunyai harapan ingin bisa meneruskan takhta seandainya Ingsun ini tidak memiliki putra mahkota.

“Dari keenam ini, Angon kelihatan mendongak, meskipun malu-malu. “Wengker akan selalu menjadi bayangannya.

“Masih ada empat. Di antara empat ini aku ingin memberi angin, Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka.

“Mengerti?”

“Hamba baru bisa menangkap sebagian kecil.”

“Siapa dari keempat pangeran anom yang paling bisa membuat iri?” “Sumangga Ingkang Sinuwun….”

“Aku sudah menduga itu jawabanmu. “Marma Mataun.

“Mataun punya sikap sesongaran, pandangan matanya mendelik meskipun dagunya menghadap ke bawah.

“Krewes, tugasmu hanyalah mengingatkan aku, agar aku suatu saat memanggil Mataun ke Keraton. “Hanya Mataun sendiri.”

“Hamba akan mengingat-ingat.” “Satu hal lagi, Krewes.”

“Mengapa tiba-tiba kamu mencemaskan kaputren?”

“Selama ini… selama ini, menurut perhitungan hamba, hanya kaputren yang tidak mempunyai kemungkinan bisa mendatangkan bahaya. Tetapi kini hamba merasakan getaran yang tidak enak dari sana.

“Maaf, Raja Sesembahan.”

“Rasa-rasanya kedua putri sekar kedaton…” “Kamu kira masih pantas mereka disebut bunga Keraton? “Hgh!

“Hgh!

“Aku mengerti maksudmu, Krewes.

“Kamu mau mengatakan bahwa mereka berdua yang masih bisa disebut bunga Keraton itu tak sepenuhnya menerima kehadiranku. Bagiku sama saja.

“Sama. “Hgh!!!

89

“Aku sudah meratakan dengan tanah. Segala kehormatan yang mereka miliki sudah tak ada lagi. Tak ada alasan untuk kuatir mengenai hal itu. Sejak masih kanak-kanak, aku sudah tahu hal itu. Sebelum mereka menjadi besar, aku telah menghancurkan.

“Hanya memang kamu harus memperhitungkan.

“Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Simping, tempat bekas Permaisuri Rajapatni bertapa. Yang akan tetap dianggap sesembahan, dianggap tokoh yang paling dihormati.

“Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Perguruan Awan. “Krewes, aku tak akan menyisakan sedikit pun.

“Akan kupancing agar bekas Permaisuri Rajapatni berhenti dari tapanya, dan ikut cawe-cawe, ikut campur tangan urusan Keraton, sehingga aku mempunyai alasan untuk meratakan dengan tanah.

“Tak akan ada sisanya lagi. “Sampai kapan pun.

“Cara memancing beliau tak terlalu sulit, kalau kamu memiliki sepersepuluh kemampuan Halayudha.

“Yang menjadi tanda tanya, kenapa kamu yang bodoh itu tidak memikirkan kemungkinan menggunakan dua putri itu untuk menjebak Upasara Wulung atau para ksatria yang lain.

“Bukankah ketika aku mengumumkan akan menikahi secara resmi timbul pergolakan? Kenapa tidak kita pakai cara itu saja?

“Aku yakin itu jaring yang tetap akan mengena!”

Tikaman di Kaputren

PERHITUNGAN Raja tak meleset sedikit pun.

Karena di kaputren terjadi pergolakan yang tak menentukan kelangsungan kejayaan Raja di belakang hari. Andai saja saat itu Raja mengetahui kejadian yang sebenarnya.