Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 52

Jilid 52

Terdengar suara terengah. Darah muncrat.

Nyai Demang menggigit lidahnya tak terasa. Potongan tangan yang masih berdarah, masih mengeluarkan gerakan, jatuh tepat di depannya. Tangan Pangeran Hiang. Kutung mulai dari pangkal bahu! Tangan kanan Pangeran Hiang.

Yang kelima jarinya seperti masih bergerak-gerak terus, sementara bagian pangkalnya menyemburkan darah segar.

Cepat dan tangkas jalan pikiran Nyai Demang, akan tetapi tak bisa mengartikan apa yang baru saja terjadi.

Gendhuk Tri tak bisa mengamati dengan jelas rangkaian kejadian yang seakan lebih cepat dari kilat. Sabetan cahaya kilat masih bisa dilihat pangkalnya, akan tetapi kejadian yang belakangan sulit diikuti mata. Yang ia tahu hanya bagian akhirnya. Sehingga harus disusun sendiri.

Yang dilihat Gendhuk Tri ialah bahwa kenyataan Halayudha lolos dari maut. Bahkan lebih dari itu, sewaktu tubuh Ngwang terpeleset, Halayudha bisa menendang keras. Sehingga tubuh tanpa kekuatan itu terpental. Saat itulah Halayudha mencabut Kangkam Galih, menyambar lawan dengan menyabetkan pedang. Saat itu Pangeran Hiang sudah bergerak.

Dan tangannya, tangan kanannya, tertebas.

Bagaimana Halayudha bisa meloloskan diri, masih diperkirakan kemungkinannya. Meskipun bagi Upasara Wulung bisa terbaca. Bahwa pada kejapan terakhir, Halayudha mempergunakan kekuatan sukma sejati, atau tenaga sukma sejati, sukmanya terogoh dengan sendirinya. Ngrogoh sukma yang sempurna.

Sebagaimana dulu Upasara memainkan, atau lebih tepat mengalami, ketika tubuhnya seolah menjadi dua atau tiga sosok yang berada di tempat yang berbeda.

Kini Halayudha yang mempunyai pencarian yang sama dengan pendalaman yang sama kuatnya, juga terpanggil sukmanya. Tubuhnya pecah menjadi dua. Seakan melintas ke belakang, seakan jatuh ke bawah.

Dalam hal ini Upasara sendiri tidak bisa memastikan di mana tubuh Halayudha berada. Berbeda dari dirinya, saat Ngrogoh Sukma Sejati, tubuh yang sebenarnya seakan terpaku di satu tempat. Meskipun tubuh yang lain berada di tempat yang berbeda, dan menghadapi lawan yang berbeda pula.

Tidak mudah bagi Upasara menangkap gejolak batin Halayudha.

Karena memang titik tolak pendalaman dari sikap yang mendasari berbeda.

Pada diri Halayudha pencapaian sukma sejati sebagai inti kekuatan tidaklah semurni Upasara Wulung. Akan tetapi, dalam hal ini tak bisa dikatakan lebih rendah atau kalah unggul. Kekuatan utama sukma sejati, justru pada kekuatan yang telah dimiliki, sikap mendalam dan mendasar yang ada.

Pada diri Halayudha, kemenangan adalah mutlak, dengan risiko atau cara apa pun.

Menyembulnya kemenangan itu dalam batas yang paling akhir, yaitu mempertahankan hidupnya.

Kekuatan sukma sejati memancar. Dan karena Halayudha pada dasarnya tidak bersih, yang mencuat ke luar adalah pencapaian pikirannya, batinnya, sukmanya. Yaitu secara sadar mengecoh lawan, dengan gerakan Krekalasa Warna.

Krekalasa berarti bengkarung atau bunglon, binatang yang mampu menyesuaikan warna kulitnya dengan alam sekitarnya. Maka pecahan tubuh Halayudha pun untuk menjebak serangan lawan. Dalam hal ini, Halayudha bisa menerjang dari bawah, dengan menggunakan kekuatan dan gerakan air, jika tusukan Ngwang tidak diubah.

Bagi Upasara, bisa jadi itu semua menjadi masalah. Akan tetapi tidak bagi Halayudha. Dengan pemahaman yang begitu mendalam dan larut pada berbagai ajaran dan ilmu silat, Halayudha susah dipastikan apakah dirinya penganut ajaran kekuatan bumi, air, atau bahkan dari Tartar dan atau juga dari Jepun. Semua bisa dimainkan tanpa bertentangan, karena pribadi Halayudha yang mendasari tak pernah menyatu. Karena sikap Halayudha sendiri mampu mencampakkan sementara apa yang sedang diyakini.

Dengan gerakan krekalasa, Ngwang terjebak. Celakanya, ia tidak menyadari kekuatan Kangkam Galih yang meskipun tipis tapi sangat berat ketika digerakkan.

Dan hanya Halayudha yang bisa sama ganasnya dengan Ngwang.

Ketika Ngwang kehilangan keseimbangan, Halayudha tidak hanya membiarkan lolos. Tapi juga menendang keras dengan gajulan sepenuh tenaga, karena kini posisi tubuhnya berada di belakang Ngwang.

Bukan berhenti di situ saja. Melihat lawan sungsang-sumbel, Halayudha mencabut Kangkam Galih dan menebas. Dan tidak hanya berhenti di situ pula.

Halayudha masih mencecar lawan.

Tubuhnya memutar, dan Kangkam Galih digetarkan. Pindah dari tangan kiri ke tangan kanan.

Sekali tubuhnya melayang, sekaligus melancarkan 24 tusukan yang berbeda arahnya.

Pukauan Angin

HALAYUDHA tak menyisakan sedikit kemungkinan bagi lawan. Kalau dalam satu sabetan berhasil mengutungkan lengan, Halayudha tak peduli sabetan kedua dan ketiga akan mengutungkan apa dan siapa yang terkena.

Dua puluh empat sabetan yang dilancarkan menunjukkan keganasan itu. Bahwa tenaga dalam Halayudha sepenuhnya dikerahkan dengan geram, dapat dilihat dari caranya memainkan pedang Kangkam Galih yang membabi buta, sehingga bisa dirasakan wibawa maut yang menyebar.

Ngwang yang sudah telanjang dada, memutar tubuhnya, melesat bagai pijaran kilat, sambil memanggul Pangeran Hiang. Tanpa sungkan atau malu-malu, tubuhnya meninggalkan gelanggang pertarungan begitu saja.

Hanya satu tangannya sempat melepaskan senjata rahasia, bersamaan tangan kiri Pangeran Hiang juga melepaskan pukulan.

Halayudha memperhitungkan bahwa Ngwang bisa melarikan diri. Itu sebabnya ia ingin mengunci dengan berbagai arah kemungkinan, sambil menutup diri, karena sadar bahwa lawan mampu menggunakan senjata rahasia yang serba tak bisa diperhitungkan sebelumnya. Terutama ragamnya yang aneh. Walau akibatnya sama, yaitu menghancurkan lawan dengan tega.

Hal yang tak diperhitungkan Halayudha adalah bahwa ketika ia menerjang tadi, Ngwang memuntahkan sesuatu dari tubuhnya. Bau wangi yang larut dalam angin.

Yang bisa bekerja begitu keras dan sangat cepat!

Semacam aji sirep atau ajian untuk memukau, untuk menghilangkan kesadaran. Halayudha pernah mengetahui keampuhan bubuk pagebluk yang datang dari tanah Syangka. Yang bila ditebarkan akan menguasai kesadaran dan melimbungkan. Tapi yang sekarang ini ternyata jauh lebih hebat.

Karena pukauan itu berkembang bersama angin, sesuai dengan kekuatan utama Ngwang.

Barangkali yang paling mengenali adalah Nyai Demang. Ia pernah merasakan pengaruh yang menindih seketika, sehingga tak sadar siapa yang berbuat padanya. Sedemikian kuatnya, sehingga Upasara Wulung ataupun Jaghana yang waktu itu ada di dekatnya juga tak segera menyadari dari mana datangnya pukauan.

Dan karena kemampuan tenaga dalam Nyai Demang paling lemah, dirinyalah yang lebih dulu terkuasai. Sebelum Ngwang mengempos seluruh kemampuannya. Mengeluarkan sengatan terakhir.

Halayudha tak mampu melancarkan pengejaran, bahkan sebaliknya. Kesadarannya rontok dengan cepat, pandangannya kabur. Ia masih sempat melihat luncuran senjata rahasia berupa ujung jarum kecil, namun tangannya kaku untuk ditarik.

Jarum berkait, yang baru diketahui kemudian, meluncur deras karena dorongan tenaga dalam Pangeran Hiang.

Baru tahu kemudian, karena sebagian besar jarum berkait itu terangkup pada selendang Gendhuk Tri. Yang tubuhnya melayang sambil melepaskan selendang, bersamaan dengan Upasara.

Keduanya masih tetap bergandengan ketika melayang ke bawah.

Halayudha terhuyung-huyung kembali. Dadanya terasa sesak. Hanya karena tenaga dalamnya cukup kuat dan kemauannya sangat keras, tidak membuatnya jatuh terduduk.

Halayudha mengelap wajahnya beberapa kali.

“Kalian jangan menduga aku akan mengucapkan terima kasih, karena sudah diselamatkan dari serangan jarum racun berkait.

“Aku bisa mengatasi sendiri.” Napas Halayudha tersengal-sengal. “Kalian berdua sungguh hebat. “Ngwang gendheng tadi juga hebat.

“Tapi aku tetap yang terhebat. Aku yang membuat mereka lari. Tapi itu belum berarti kemenangan. Rasa-rasanya keratonku berada dalam bahaya jika mereka pergi ke sana.”

Halayudha terbatuk-batuk. Dadanya terasa sakit.

“Jangan tahan napas di dada….” “Ingsun lebih tahu.

“Lebih tahu apa yang harus dilakukan. Keratonku!”

Halayudha menggerung. Kakinya masih sempoyongan, akan tetapi dipaksakan berjalan.

Sambil menyeret Kangkam Galih yang seolah membelah tanah saking tajamnya.

Barulah di tempat yang agak sepi, Halayudha  mengerahkan tenaga dalam murni  untuk mengusir angin yang melumatkan kesadarannya.

Halayudha sengaja memilih tempat yang sepi untuk keamanan dan untuk menyembunyikan bahwa pengaruh sirep Pendita Ngwang tak bisa dianggap main-main.

Halayudha tak ingin orang lain melihat kelemahannya. Apalagi orang lain itu Upasara Wulung dan Gendhuk Tri.

Yang kini menjelma bagai pasangan kekuatan yang menyatu. Dua nama yang sepanjang perjalanan hidupnya sebagai tokoh tak terkalahkan menurut ukurannya sendiri, selalu mementokkan keunggulannya.

Upasara Wulung, Halayudha sudah mempunyai perhitungan jauh sebelumnya. Ksatria sakti mandraguna yang satu ini memang susah diri. Pendalamannya tentang Kitab Bumi seakan selalu ditakdirkan selangkah lebih dulu.

Sampai di tataran Ngrogoh Sukma Sejati pun, Upasara sudah lebih dulu memperlihatkan.

Akan tetapi Gendhuk Tri dipandang lain. Gendhuk Tri bukan hanya mengalami kemajuan yang berarti, akan tetapi bahkan mampu melakukan loncatan besar dalam perkembangan ilmu silat maupun ketenangan tenaga dalamnya.

Bukti nyata tak terbantah siapa pun terlihat jelas ketika Gendhuk Tri berhasil menaklukkan Gemuka tanpa menggerakkan tangan dan mengerahkan tenaga. Itu merupakan kekuatan dalam yang luar biasa.

Bukti lain yang hanya diketahui Halayudha ialah ketika ia mengadu tenaga dalam dengan Gendhuk Tri. Mengejutkan sekali, bahwa Gendhuk Tri bisa menandingi. Hanya karena pengalaman dan pendalamannya yang kurang dibandingkan dirinya, Halayudha bisa meringkus Gendhuk Tri.

Akan tetapi dalam keadaan yang sudah sedemikian payah, Gendhuk Tri masih mempunyai benteng pertahanan yang kuat. Sehingga usaha Halayudha untuk menerobos tergagalkan. Bahkan kemudian akibatnya timbul bercak-bercak hitam yang terlihat di permukaan kulit.

Itu menandakan bahwa tenaga dalam Gendhuk Tri tak bisa dikalahkan, tak bisa diungguli. Yang bisa hanya dihancurkan.

Halayudha memang tidak memperhatikan risiko penderitaan Gendhuk Tri. Ia memaksakan diri, juga melalui tenaga dalam Mada. Nyatanya tetap tidak berhasil.

Bahkan Upasara sendiri pun kelihatannya juga tidak berhasil. Tidak berhasil?

Kalau mau jujur dengan diri sendiri, Halayudha tak bisa begitu saja menyimpulkan dengan satu pengertian: bahwa Upasara tidak berhasil. Meskipun kenyataannya, yang terlihat seperti itu. Bercak itu belum bisa pulih. Masih mengganjal pada Gendhuk Tri.

Toh itu tak mengurangi kekaguman Halayudha kecil-kecilan. Karena Gendhuk Tri hanya terpengaruh pada saat-saat tertentu saja. Kalau bercak itu tidak menghalangi, keadaannya tak berbeda sedikit pun.

Apalagi namanya kalau bukan simpanan tenaga dalam yang dahsyat?

80

By admin • Mar 22nd, 2009 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Kembali ke pernyataan semula bahwa Upasara telah gagal, rasanya pernyataan itu bisa berubah menjadi masih gagal. Karena justru di saat-saat terakhir itu, Upasara bisa bergandengan tangan dengan Gendhuk Tri. Artinya benturan tenaga dalamnya dengan tenaga dalam Gendhuk Tri tak lagi mematikan.

Kalau benar ini yang terjadi, dalam tahapan berikutnya hanya tinggal menyempurnakan. Kalau itu yang terjadi, Halayudha merasa tingkat kesempurnaan Upasara Wulung, dan bisa juga Gendhuk Tri, sulit ditandingi lagi.

Kaitannya dengan apa yang dikatakan Upasara Wulung sebagai kekuatan tanah air. Yang terpahami sepenuhnya oleh Halayudha akan tetapi tak sepenuhnya mampu mewujudkan.

Yang paling meng-goreh-kan, merisaukan pikirannya, ialah kematian Jaghana. Kematian yang pasrah, yang dilakukan dengan bersemadi, bersila, menyambut tusukan Ngwang.

Bagi Halayudha masih merupakan teka-teki.

Bahwa Jaghana memiliki rasa setia kawan, membela kawan dengan mengorbankan diri, serambut dibagi selaksa pun tak diragukan lagi. Akan tetapi kalau dinalar secara perlahan, Jaghana tak usah melakukan!

Tidak dengan bersemadi dan menerima tusukan.

Bisa dengan memotong serangan lawan. Atau mendului menyerang.

Apalagi posisi Upasara dan Gendhuk Tri saat itu tidak dalam keadaan sangat terancam. Bahwa mereka berdua bisa celaka sangat mungkin terjadi. Akan tetapi belum tentu harus ditengahi dengan pengorbanan diri.

Rasanya ada wadi, misteri, yang disampaikan Jaghana. Lebih kuat dugaan itu, karena sebelumnya Jaghana, Gendhuk Tri, maupun Upasara Wulung mengidungkan sesuatu yang ada kaitannya dengan tanah air.

Kidungan tanah air.

Halayudha tak mampu menerobos masuk, atau memberi makna pilihan kematian Jaghana. Tetapi merasa pasti ada sesuatu yang cukup berarti.

Bisa jadi itu merupakan inti pemecahan kekuatan tanah air. Tetapi inti yang bagaimana dan apa?

Bukankah kalau dirinya yang lebih dulu bisa menyingkap, tak ada lagi yang mampu menandingi sampai tujuh puluh turunan?

Pedang Kematian Abadi

HALAYUDHA masih berada di tempatnya. Jalan pikirannya masih berkutetan mengenai kematian Jaghana. Dicobanya menerobos dengan berbagai kemungkinan lintasan menerawang.

Saat-saat sebelum akhir hayatnya, Jaghana yang hanya mengenal ajaran dari Kitab Bumi, mampu mengungkapkan ajaran Kidungan Pamungkas. Mampu menggelarkan ajaran mahamanusia yang tidak bertentangan dengan takhta. Itu perubahan yang berarti, dan mungkin satu-satunya yang pernah terjadi. Jaghana menjadi Truwilun.

Dalam waktu perubahan yang singkat itu, Jaghana menemukan dan atau dipertemukan dengan murid-murid baru, di antaranya Mada. Seakan kebetulan yang membalikkan nasib seseorang.

Kebetulan karena ini bertentangan dengan ajaran Perguruan Awan. Selama ini Perguruan Awan tidak pernah mengangkat murid secara resmi. Kalau ada yang menggabungkan diri, jadilah mereka sebagian dari penghuni Perguruan Awan. Tak pernah ada yang berkelana ke luar dan kemudian mengangkat murid. Tapi, yang tak pernah terbayangkan bisa terjadi, bisa juga menjadi kenyataan. Dan ini mengubah nasib Mada. Dari seorang yang sama sekali tak dikenal, menjadi pusat perhatian. Mada seakan lahir begitu saja dari perut bumi. Didasari ajaran mahamanusia dari Jaghana, kemudian dipimpin langsung oleh Eyang Puspamurti, dan kemudian sekali selalu berlatih bersamanya.

Rasanya tak ada murid baru yang mempunyai guru dan pembimbing yang merupakan tokoh kelas satu seperti Mada.

Mada, bisa jadi juga akan menjadi kunci pemecahan wadi kematian Jaghana. Halayudha bisa mengeduk paksa keterangan yang nanti akan diperdebatkan dengan Mada.

Dari sudut pandang yang lain, bisa pula diperoleh dari Kangkam Galih. Pedang tipis-hitam-panjang, sejak masih dalam sarung galih asam, sudah menjadi senjata yang ganas. Gebukannya membuat tulang kepala jadi adonan lumpur. Ketika lepas dari sarung, Kangkam Galih makin merajalela. Menebarkan maut dengan cara yang mengerikan. Pasti sekali Jaghana mengenal keampuhan Kangkam Galih. Ketika pedang itu ditudingkan Jaghana justru memilih untuk menghadang.

Kenapa?

Kenapa Jaghana masih perkasa dan mencoba mengalahkan Ngwang, sebelum Ngwang merebut Kangkam Galih?

Bukan tidak mungkin pemecahan itu berasal dari pedang sakti pengantar kematian yang abadi. Bukan tidak mungkin, kalau diingat Jaghana sebelumnya bahkan berusaha keras mengungguli Ngwang. Terutama dengan memindahkan keampuhan ilmu Ngwang. Cara memindahkan yang sempurna, yang jauh lebih cepat dari yang bisa dilakukan Halayudha.

Bisa diartikan, saat itu belum terlintas dalam pikiran Jaghana untuk membiarkan tubuhnya dibelah. Masih penuh dengan dorongan untuk mempertahankan diri. Masih berkobaran semangat hidup, di mana dirinya sudah mencapai tahap pencerahan.

Tahap di mana semua ilmu yang dipelajari sudah menyatu dengan sikap hidupnya, dalam segala tindak-tanduknya. Pemecahan Kidungan Pamungkas, sebagai bentuk yang menyatu dari Kidungan Paminggir dengan Kidungan Para Raja, merupakan penemuan yang paling gemilang.

Jalan pikiran yang dipenuhi dengan pencerahan itu pula yang membuat Jaghana bisa memahami dengan cepat apa yang diperlihatkan Ngwang. Seakan hanya dengan menyalin mampu memindahkan semua simpanan Ngwang.

Itu sudah dibuktikan.

Dari kejadian ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya Jaghana tak perlu kalah dari Ngwang. Betapapun Ngwang berhasil menciptakan jurus-jurus yang mengandaskan serangan dari Kitab Bumi, Jaghana masih akan tetap bisa memahami.

Dan menandingi. Atau mengungguli.

Halayudha menimang Kangkam Galih.

Berusaha menggerakkan dengan memainkan berbagai jurus. Jurus dari Kitab Bumi, Kitab Air, dari Syangka, Jepun, Hindia. Setiap kali dijajal, bahkan sabetan anginnya mampu meretakkan dahan atau melukai kulit pohon.

Mendadak Halayudha menghentikan permainannya di tengah jalan. Kangkam Galih diletakkan di sebelahnya, sementara ia bersila kembali. Duduk tepekur, punggung sedikit melengkung. Kedua tangan terangkum berkaitan di depan, jatuh lepas di tanah. Matanya ditutup.

Serentak dengan itu, kemampuan indrianya ditenggelamkan. Getaran mulai mendenging lewat telinganya.

Halayudha memasrahkan diri dengan mengeluarkan tenaga sukma sejati. memanggil tanda nada, sukma dari dalam tubuhnya.

Ngrogoh Sukma Sejati, yang dilakukan dengan cari membisik tanpa suara, memanggil tanda nada, sukma dari dalam tubuhnya.

Tubuh yang melengkung itu bergetar. Seluruh ujung jari, kaki, rambut, telinga seperti bergetar. Seperti dilewati ratusan semut secara teratur. Makin lama makin cepat, temponya makin meninggi, seirama dengan tarikan napasnya.

Dap.

Halayudha merasa sukmanya melepas dari getaran. Pandangan matanya yang masih tertutup seperti menemukan dirinya sendiri, seperti masih berada di tempat, masih mengenali Kangkam Galih, masih merasakan semilirnya angin.

Hanya saja di depannya berdiri bayangan tubuh Jaghana. Yang tak berubah sedikit pun, kecuali sobekan menganga.

“Maaf, saya terpaksa memanggil Paman Jaghana…. “Paman sudah sampai di akhir perjalanan rupanya.” Bayangan itu tersenyum tipis.

“Saya ingin mengetahui kenapa Paman memilih jalan menerima tusukan Kangkam Galih. Apakah itu merupakan kunci pemecahan persatuan kekuatan tanah air, ataukah pencerahan yang lain?”

Bayangan Jaghana seperti berbicara, seperti tetap tersenyum, akan tetapi Halayudha bisa mendengar jelas. “Saya tidak memilih jalan kematian atau kehidupan. Semuanya datang sendiri. Apakah itu pencerahan atau pemecahan, adalah jawaban yang sesungguhnya sama dengan apakah saya memilih atau tidak memilih.

“Kekuatan tanah air, bukan sesuatu yang istimewa, karena tak ada yang lebih istimewa dari yang lain.”

“Kenapa Kangkam Galih?”

“Kangkam Galih adalah barang, berujud pedang. Barang tak pernah menyatukan atau memisahkan, karena tidak memiliki sukma. Pedang diisi, bisa menjadi hidup. Tetapi tetap barang yang mati.”

“Apakah dengan itu berarti harus ditolak?” Bayangan Jaghana makin mengabur. “Maaf, Paman, apakah yang hidup itu?” “Manusia, dan itulah adanya mahamanusia.

“Manusia, hanya manusia yang mampu mengubah diri menjelma menjadi mahamanusia. Binatang tak bisa mencapai menjadi maha binatang sampai selamanya.

“Manusia berasal dari manusia.

“Yang mengasalkan manusia, manusia juga, dan akan membuahkan manusia. Itulah yang disebutkan dalam Tembang Tanah air, yang melintas dan dikidungkan sesaat sebelum Kangkam Galih menusuk.

“Kangkam Galih tak akan melahirkan Kangkam Galih lain yang menjelmakan Kangkam Galih berikutnya.

“Sukma sejati tidak berada pada barang mati.”

Suara yang terdengar dalam telinga batin Halayudha makin melemah. Kemampuan Halayudha dipusatkan, akan tetapi bayangan Jaghana mengabur dan lenyap.

Tinggal tubuhnya yang masih bergetar.

Dan mulai menerima sekitarnya. Getaran Kangkam Galih yang diletakkan di sisinya, letak pohon dan dedaunan, serta bau tanah. Sesuatu yang juga dirasakan ketika merogoh sukma, akan tetapi terasakan ada bedanya.

Yang sekarang terasakan sangat wadak.

Halayudha mengatur napasnya. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Halayudha bangkit. Diambilnya Kangkam Galih dan diamati dengan cermat.

Sangat cermat.

Mencoba menerobos di balik guratan besi atau campuran dari besi, yang bukan tidak mungkin menyimpan kekuatan tertentu. Yang bukan tidak mungkin dari guratan itu tercermin kidungan, atau cara-cara melatihnya.

Seperti yang dilihat dulu, Kangkam Galih tetap berwarna hitam kelam, tipis panjang, tak menyimpan sesuatu yang lain.

Halayudha menjinjing.

Ringan langkahnya, perlahan ayunannya.

Seperti juga pikirannya yang disusun satu demi satu. Terutama mengenai Tembang Tanah air, seperti yang baru saja diuraikan bayangan Jaghana. Terutama tentang manusia yang bisa menjelma sebagai mahamanusia.

Didengar selintas seperti tak ada yang berbeda dari pengertian yang selama ini dimengerti semua orang. Namun pastilah mengandung sesuatu yang mempunyai makna yang dalam, karena menjadi pembicaraan terakhir sukma Jaghana.

Halayudha melangkah perlahan menuju Keraton.

Meskipun masih berpikir keras mengenai kematian Jaghana, Halayudha merasa masih berurusan dengan Ngwang maupun Pangeran Hiang. Itu sebabnya masih mencekal Kangkam Galih.

Dengan Kangkam Galih, yang meskipun disebut sebagai barang mati, Halayudha lebih percaya menghadapi Ngwang maupun Pangeran Hiang. Yang pasti akan menyatroni Keraton.

Kalau kedua tokoh itu menyerang dengan sisa kekuatan terakhir, Senopati Kuti dan para dharmaputra yang lain tak akan mampu menahan.

Pun andai Mada ikut bergabung.

Persiapan Enam Penjuru MADA memilih caranya sendiri. Sejak membawa Raja meninggalkan Keraton, seakan sayapnya tumbuh, cakarnya keluar. Tanggung jawab yang diemban, membongkar kemampuannya yang selama ini terpendam. Sebagai prajurit kawal Raja, Mada memperlihatkan kemampuan yang lebih dari itu.

Warisan ajaran mengenai tata keprajuritan dari Eyang Puspamurti yang pernah menjadi senopati, yang puluhan tahun terakhir hidupnya hanya memperdalam mengenai hal itu, mampu diserap Mada. Dan dipergunakan.

Gemblengan yang diperoleh Mada tidak melalui tahapan demi tahapan, melainkan seakan disuntak seluruhnya. Sehingga boleh dikatakan cara menyerapnya pun secara menyeluruh.

Ada untung dan ada ruginya.

Untung, karena dengan demikian Mada bisa memperoleh pengajaran banyak dalam waktu yang singkat. Seorang prajurit biasa memerlukan pengajaran lama sebelum memperoleh apa yang diperoleh Mada. Sementara Mada, dengan posisinya sebagai prajurit kawal Raja, telah terlibat dalam percaturan tingkat tinggi.

Rugi, karena dengan demikian cara berpikir dan bertindak Mada kadang menyimpang dari tata krama yang ada. Dorongan untuk cepat melaksanakan keputusan dan bertindak langsung kadang tidak dimengerti orang-orang di dekatnya.

Seperti tindakan Mada untuk menuju Perguruan Awan. Untuk menemui Jaghana dan meminta restu. Walau akhirnya Mada kembali di tengah perjalanan setelah menemukan darah yang berceceran, potongan tangan.

Mada hanya mengucapkan doa, dan kemudian kembali ke markas persembunyiannya di Badander. Ketika Raja mendesak dengan pertanyaan kapan menyerbu Keraton, Mada menghaturkan bahwa saatnya akan tiba.

Kalimat Mada yang sederhana, pendek, terasa menyinggung tata krama keprajuritan yang paling dasar. Walau dalam pengasingan, Raja yang tergantung keamanannya pada Mada, tetap tak bisa menerima sikap semacam itu.

Padahal, Mada tak mempunyai pikiran lain, selain mengabdi, dan mempersembahkan yang terbaik. “Apakah Ingsun juga tak boleh mengetahui rencanamu, Mada?”

“Hamba hanya akan melaksanakan dawuh…? “Lalu apa yang kamu tunggu lagi?”

Mada mengibaskan tangannya, menyuruh para prajurit yang lainnya menyingkir. Setelah yakin tak ada yang mendengarkan, barulah Mada mengutarakan rencananya.

“Benar semua yang disabdakan Ingkang Sinuwun.

“Bahwa Pangeran Muda Wengker serta Pangeran Anom Kertawardhana telah menyatakan kesetiaan. Akan tetapi sesungguhnya selama ini, sebagaimana Raja sesembahan yang mulia tahu, pangeran anom bawahan Keraton Majapahit ada enam.

“Empat yang lainnya adalah Pangeran Anom Pajang, Pangeran Anom Lasem, Pangeran Anom Mataun, serta Pangeran Anom Wirabumi. Kesemuanya mempunyai prajurit-prajurit, mempunyai garis komando yang berdiri sendiri-sendiri.

“Meskipun kekuatannya tidak sehebat Keraton Tua, keempat pangeran anom ini bisa menjadi kekuatan yang merepotkan bila tidak berada dalam satu komando.”

“Dengan kata lain, sebelum keenamnya mengakui Ingsun, kamu masih akan menunggu? “Sampai kapan, Mada?”

Mada menyembah. “Sampai kapan, Mada? “Sampai Ingsun dilupakan?”

“Mohon beribu ampun, Raja Sesembahan yang Mulia,

Hamba merasa perlu meyakinkan diri hamba bahwa enam penjuru memiliki irama yang sama, impian yang sama. Waktu selalu dibutuhkan, akan tetapi kita tak bisa nggege mangsa, mempercepat musim.

“Musim mangga berbuah, tak bisa dipercepat kalau mengharapkan mangga yang lezat sebagaimana diciptakan.

“Kalau dari enam pangeran anom ada yang tidak seirama, besar sekali kemungkinannya Senopati Kuti akan berlindung ke sana. Dan hamba akan mengalami kesulitan selama mereka belum bisa terbasmi. “Sebab perimbangannya akan berbalik.

“Hamba bersama prajurit berada di tempat terang, sementara mereka berada di tempat yang gelap. Seperti keadaan kita sekarang. Kita lebih leluasa bergerak.

“Mohon beribu ampun.

“Hamba hanya mengutarakan apa yang ada dalam benak hamba, yang belum teruji kebenarannya. Mohon Raja Sesembahan mempertimbangkan.

“Apa pun sabda Raja, hamba akan segera menjalankan.

“Kalau Raja bertitah menyerbu sekarang, sebelum keringat kering hamba sudah akan berada di barisan depan menyerbu Keraton. Kalau hamba rewel dan kurang tata krama, karena hamba ingin memastikan bahwa tak ada lagi kraman, tak ada pemberontakan. Ini yang terakhir.

“Demikianlah pendapat hamba.”

“Apakah para dharmaputra sangat kuat?” “Sangat kuat, kalau mereka bersatu.

“Sekarang ini sekurangnya Senopati Tanca secara resmi mengatakan tidak berada dalam satu barisan. Sejauh hamba tahu, Senopati Banyak diliputi keraguan.

“Dengan dua senopati tidak menyatu, hamba lebih berani menerjang habis hingga tandas.” “Gagasanmu tidak seburuk caramu bicara.” “Mohon beribu ampun.

“Hamba tak pernah belajar tata krama, hamba lebih mengenal lumpur dibandingkan batu bata….”

‘Tadinya Ingsun mengira kamu sengaja menunda-nunda, agar Ingsun mensabdakan ada pangkat tinggi jika kamu memenangkan perebutan kembali Keraton.

“Kalaupun begitu, kamu hanya bisa mencapai jika serangan balik ini berhasil.” Mada menyembah.

“Kalau benar nantinya Ingsun kembali ke Keraton, akan ada perubahan besar. Selama ini yang menjabat mahapatih tak sepenuhnya bisa menjalankan kewajiban dan wewenangnya.

“Mengherankan sekali Jabung Krewes. Ia sama sekali tidak memperlihatkan apa pangkat dan derajatnya.”

“Begitulah, Raja Sesembahan yang Mulia.

“Mahapatih Jabung Krewes, ibarat kata adalah suh, simpai, pengikat utama. Sehingga jika suh tidak kuat, tak ada sapu, yang ada adalah kumpulan lidi.

“Sapu tanpa suh, bukanlah sapu. Tidak bisa digunakan untuk menyapu, malah mengotori. Selain itu juga lebih mudah dipatahkan.”

“Ingsun lebih tahu mengenai hal itu. “Kamu kadang bicara lancang.”

Mada menyembah hingga rata dengan tanah. “Tetapi kali ini kuampuni, Mada.

“Aku menyadari sekali, ketika harus menempuh perjalanan malam tanpa wanita tanpa pelayan yang memijati dan mengelap keringat atau menyisir rambutku. Aku menyadari bahwa itu semua ternyata bisa terjadi.

“Wolak-waliking zaman, zaman bisa berbolak-balik. Yang di atas menjadi di bawah. Seorang Raja Tanah Jawa seperti aku, bisa dipaksa berkeringat dan lapar serta haus.

“Aku belajar banyak, Mada.

“Dan aku tak akan mengulangi apa yang terjadi padaku saat ini. Aku membutuhkan kamu, saat ini. “Segera setelah semua rencana kamu selesai, Ingsun yang akan memutuskan….”

Sampai di sini, nada Ingsun mulai meninggi, membuat dada Raja membusung terangkat.

“Selama ini kukira telah dilakukan Jabung Krewes dengan baik. Nyatanya semua omong kosong. Selama ini aku telah berbuat baik, mengampuni Tujuh Senopati Utama, tetapi mereka ternyata berbuat sangat kurang ajar.

“Ingsun tak akan pernah membiarkan mereka hidup.” “Demikian sabda Raja Sesembahan.

“Itu yang akan terjadi. Dengan mengandalkan waktu. Ada yang bisa dibasmi seketika, ada yang dibiarkan selama tidak merupakan ancaman. “Menumpas habis seluruhnya sampai tandas hanya akan membuat lebih banyak dendam permusuhan di belakang hari. Sementara dengan membiarkan beberapa di antaranya, citra keadilan dan kemurahan yang muncul. Yang pada dasarnya untuk menyempurnakan kemenangan.”

“Sejak kapan kamu membaca Kitab Perang?” “Mohon beribu ampun.

“Hamba hanya mampu mengingat serba sedikit apa yang diajarkan Eyang Puspamurti.”

“Memenangkan perang adalah menundukkan strategi lawan. Mematikan sebelum lawan bisa menggunakan.

“Mada, asal kamu ingat baik-baik.

“Ingsun tak bisa menunggu lebih lama lagi. Badanku, kulitku, rambutku, rasanya sudah menjadi kental. Tak banyak beda dengan kamu sekalian.

“Ingat itu, Mada.”

Mada menyembah hingga rata dengan tanah.

“Ingsun tak mau tahu apa yang kamu lakukan dengan enam pangeran anom atau dengan siapa pun, dengan cara apa pun.

“Ingsun menghendaki segera kembali ke Keraton. “Bisa kamu lakukan, Mada?”

Mada menyembah hormat lagi. “Buktikan, Mada.”

Mada masih menunduk hingga rata dengan tanah, di mana kaki Raja berdiri.

Serangan Seribu Lintah

PATIH TILAM, yang paling tua dan berpengaruh, datang ke Desa Badander bersama Patih Wangkong secara hampir bersamaan. Keduanya menemui Mada untuk sowan kepada Raja.

“Saya yang akan menyampaikan apa yang Paman Patih ingin sampaikan.”

“Apakah itu berarti kamu menghalangi kami?” Suara Patih Tilam terdengar dingin nadanya. “Bisa diartikan demikian.

“Saya tidak menghendaki dalam saat yang gawat seperti ini, Raja Sesembahan memperoleh keterangan yang bertentangan. Tak cukup waktu untuk merenungkan, sehingga kita semua terkena akibatnya bila Raja sudah bersabda.”

Patih Wangkong mendesis.

“Aku sudah menyiapkan seluruh prajurit. Mau tunggu apa lagi?” “Maaf, Paman Patih Arya Wangkong.

“Saya yang menjadi pemimpin senopati sekarang ini. Dalam peperangan, hanya ada satu kepala. Kereta tak bisa berjalan sempurna bila ada dua atau tiga sais.”

“Aku muak dengan omonganmu. “Kita jadi berperang atau tidak?” Mada ganti mendesis.

“Kalaupun semua prajurit mundur, saya tetap akan maju sendirian.”

“Apa yang kamu andalkan, sehingga berani membuka mulut lebar?” Suara Patih Tilam tetap dingin, menyudutkan.

“Saya hanya mengandalkan kekuatan penduduk.

“Prajurit kita banyak jumlahnya, terlatih, mempunyai kesetiaan tinggi. Akan tetapi tidak disiapkan untuk mengadakan penyerangan bersama. Kalah menyatu dengan prajurit Keraton atau juga prajurit pilihan Tujuh Senopati Utama.

“Peperangan besar hanya akan membuat kita malu karena tak bisa saiyeg saeka kapti, tak bisa kompak.”

“Aku sudah melihat kemungkinan itu, Mada.

“Sebaiknya kita memakai siasat perang Brajasutiknalungid. Dengan prajurit inti yang kuat dan mampu menggempur atau mundur, kita bisa segera menguasai Keraton.”

Patih Tilam mengatakan dengan suara perlahan, seolah tidak ingin didengar sempurna oleh Mada. Dalam hatinya ingin menjajal sejauh mana  Mada mengetahui mengenai siasat  perang. Dengan mengatakan secara samar dan cepat, kata-kata braja, sutikna, lungid disatukan. Artinya kata itu adalah panah yang tajam. Dalam siasat perang, mengandalkan satu pasukan tempur pilihan yang akan menggempur maju. Merupakan ujung panah yang menyusup maju mendahului. Dan karena jumlahnya tidak begitu banyak, bisa segera ditarik mundur, apabila situasi tidak memungkinkan untuk menang.

Siasat perang ini pernah dipergunakan Ugrawe ketika menggempur Keraton Singasari. Dibarengi dengan barisan Supit Urang, atau barisan yang membentuk lingkaran, dengan kekuatan utama di sapit kanan maupun kiri. Dua kekuatan ini merupakan inti penyerbuan dan bisa bergerak leluasa untuk memindahkan medan pertempuran.

Nyatanya berhasil menggempur dan menaklukkan para prajurit sekitar Keraton, sementara barisan Panah Runcing menyusup masuk ke Keraton. Dan berhasil sempurna, karena Sri Baginda Raja Kertanegara maupun Mpu Raganata, mahapatih utama, berhasil ditewaskan.

Mada menggeleng mantap.

“Brajasutiknalungid sebagai siasat perang waktu itu sangat memungkinkan, karena ada para ksatria pilihan yang digabungkan. Terutama sekali juga karena Sri Baginda Raja tidak menduga ada manusia berhati culas seperti halnya Raja Muda Gelang-Gelang.

“Saya tidak mengatakan siasat perang itu tidak baik. Justru sebaliknya, tokoh yang bernama Ugrawe sangat linuwih, sangat pinunjul, lebih hebat dari siapa pun, karena mampu mempergunakan kekuatan yang tak terduga oleh lawan.

“Namun saya sendiri menilai siasat perang itu sebagai serangan licik, tanpa mengurangi kehebatan strategi perang yang dilancarkan secara tepat.”

“Aku tidak mengerti, karena kamu susah payah mengumpulkan kami yang begitu luas berpengalaman dalam perang, kemudian mengubah menjadi serangan yang mengandalkan kekuatan penduduk?

“Bisa apa mereka?

“Kalau memang penduduk bisa berperang, tak ada lagi gunanya prajurit atau senopati atau patih seperti aku.”

“Paman Patih Wangkong.

“Sekarang perkenankan saya mengatakan rencana penyerangan, dan kemungkinan peperangan. “Mengetahui kekuatan lawan dan mengakui kelemahan sendiri, adalah langkah pertama.

“Saat ini, kekuatan Tujuh Senopati Utama adalah karena keunggulan dan kesatuan kepemimpinan. Telah dibuktikan bahwa Keraton bisa dikuasai mutlak kurang dari setengah malam.

“Saat ini, kelemahan kita justru pada jumlah prajurit yang kurang memadai, dengan keterampilan di bawah prajurit Tujuh Senopati Utama. Peperangan yang akan terjadi lebih banyak membuktikan perkiraan saya.

“Kita akui, prajurit Keraton selalu lebih unggul dari prajurit kanoman, prajurit yang dipimpin para pangeran anom.

“Saya lebih mengandalkan serangan dengan siasat Wredu-Angga Sasra, yang bergerak menyeluruh serta bersamaan.”

Patih Tilam mengelus bibir atas, tepat di bawah hidung. Sebagai orang yang dituakan, sebagai patih sekaligus penasihat rohani Pangeran Anom Wengker, pandangannya sangat luas. Sesaat melihat Mada, sudah terasakan kelebihan prajurit yang satu ini. Seakan memancarkan kekuatan yang sangat mendesak, menyeruak, dan siap meledak.

Sekarang terbukti.

Dengan mengajukan gagasan siasat Wredu-Angga Sasra, Mada membalik siasat yang selama ini dipakai dalam peperangan.

Wredu berarti ulat, wredu-angga berarti lintah, sedangkan sasra berarti seribu. Gerakan Wredu-Angga Sasra selama ini selalu diterapkan dalam membentuk barisan atau baris-berbaris. Gerakan tangan dan kaki yang bersamaan, diatur sedemikian rupa sehingga mirip gerakan seribu lintah bersamaan.

Tak pernah terpikirkan bahwa gerak baris-berbaris ini menjadi siasat perang.

“Saya mengetahui bahwa gagasan saya sangat tidak masuk akal. Paman Patih yang jauh lebih berpengalaman.

“Namun ada alasan kenapa sebaiknya kita memakai siasat Seribu Lintah. “Pertama, karena penduduk sekitar sudah terkumpul di alun-alun. Jumlah mereka sangat banyak. Kalau ada satu atau dua atau tiga yang menggerakkan maju secara bersamaan, akan merupakan kekuatan yang tak terbendung.

“Satu-dua prajurit dengan gampang bisa membunuh, akan tetapi itu hanya akan memancing peperangan besar. Kalau kita mempunyai pemimpin yang kuat untuk meneriakkan maju ke depan. Dalam kebersamaan yang menyatu, prajurit Keraton akan bimbang. Membunuhi penduduk gampang, akan tetapi mereka akan berpikir bahwa sungguh tidak layak prajurit membunuhi penduduk biasa. Dalam kebimbangan itulah barisan kita merangsek maju bagai gerakan seribu lintah.

“Dalam hal ini yang kita perlukan hanyalah para pemimpin yang namur laku, yang menyamar di antara para penduduk yang pepe, berjemur.

“Merekalah yang mengarahkan serangan dan maju dengan aba-aba.

“Alasan kedua, yang bagi saya sangat penting, adalah bahwa serangan ini serentak, menyeluruh, melibatkan semua penduduk dan prajurit. Yang mempunyai makna besar, bahwa mereka semua mendukung dan mengakui takhta Raja. Keunggulan ini sangat berarti, karena menggambarkan bahwa peperangan yang terjadi bukan hanya antara prajurit Tujuh Senopati Utama dan prajurit Raja, melainkan prajurit Tujuh Senopati Utama melawan seluruh penduduk dan prajurit.

“Pemusatan kekuatan ini menjadi sangat penting, ketika kita semua melakukan kewajiban dan menangkap Tujuh Senopati Utama. Dan alam pikiran kita semua akan terbebas dari rasa bersalah kalau kita menganggap bahwa mereka adalah kraman, yang memusuhi penduduk.”

Patih Tilam kembali mengangguk dalam hati.

Gerakan baris Wredu-Angga Sasra, atau Seribu Lintah, dalam hal ini memang bisa menjadi bagian serangan. Serangan yang menyeluruh. Kalau benar ini berhasil, Patih Tilam makin percaya bahwa Mada memiliki sinar yang berbeda dengan kebanyakan senopati.

Tapi Patih Tilam tak berubah wajahnya. Nada suaranya tetap dingin.

“Kamu akan mengorbankan penduduk biasa yang tak bersenjata? Di mana sifat prajurit yang seharusnya justru mengayomi?”

“Saya tidak mengorbankan penduduk biasa.” “Apakah…”

“Mereka itu ada yang menjadi korban, “Tetapi saya tidak mengorbankan.”

“Tahukah kamu, Mada, bahwa kata-katamu itu terlalu tajam dan kamu menjadi terlalu pintar untuk mengubah kebenaran?”

“Saya tidak paham kata-kata Paman Patih yang bijak.

“Saya hanya menjalankan tugas dan wewenang yang ada di pundak saya sekarang ini.” “Kamu yang bertanggung jawab kalau ada yang menjadi korban?”

“Saya tak akan lari dari tanggung jawab.

“Saya akan menerima semua tuntutan dan menanggung semua kesalahan ini. Kecuali kalau Paman Patih mengemukakan gagasan yang lain, yang bisa meyakinkan untuk merebut kemenangan.”

“Apakah kamu yakin?”

“Besok, saat matahari menyatu dengan bumi, saat bayangan tubuh terinjak sepenuhnya, keyakinan saya akan menjadi kenyataan.”

Pemberontakan Pamungkas

TEPAT ketika matahari bersinar di atas ubun-ubun, ketika bayangan lurus dengan tubuh, penduduk yang melakukan pepe, berjemur, bergerak serentak.

Patih Wangkong yang tak sabaran langsung berada di depan. Lautan manusia bagai gelombang pasang yang menggetarkan isi Keraton. Melewati alun-alun, bagian depan sudah di depan gerbang, sebagian masih di sitihinggil, sementara bagian belakang masih tertinggal di jalan masuk.

Senopati Jurang Grawah tidak memperhitungkan bahwa masyarakat yang dihadapi bisa menjadi kekuatan yang membuat bulu kuduknya bangkit. Betapa tidak, jika mereka hanya bisa mendesak maju, merangsek maju, menggertak maju. Tombak tak bisa menghalangi. Bahkan satu-dua korban yang jatuh membuat kemarahan menjadi berlipat. Hanya dalam waktu singkat, Keraton telah dipenuhi lautan manusia yang terus mendesak maju. Manusia tanpa senjata.

Senopati Kuti dan Senopati Pangsa belum sempat mengatur siasat dan menerapkan perintah, ketika Patih Wangkong sudah menggempur.

“Atas nama Raja Majapahit yang mulia.

“Para pemberontak yang hina harap meletakkan senjata!”

Diiringi bunyi genderang, bende, dan teriakan serta naiknya umbul-umbul dari berbagai penjuru, Mada memimpin di barisan tengah, mengawal joli indah.

Senopati Kuti mempersiapkan serangan bertahan yang terakhir. Akan tetapi perintahnya tak ada yang dipenuhi prajuritnya. Meskipun sigap dan cekatan, rasanya mereka masih ragu menghunjamkan senjata kepada penduduk yang tidak bersenjata. Sehingga terus terdesak mundur.

Senopati Kuti mencabut kedua kerisnya. Berusaha memotong arus maju yang makin merapat, ketika Patih Arya Wangkong menerjang ganas. Permainan silatnya yang lugas, serba tergesa, memang bukan tandingan Senopati Kuti. Akan tetapi gerebekan yang mengimpit rapat menyebabkan Senopati Kuti tak bisa berbuat banyak.

Apalagi Senopati Pangsa memilih mundur ke arah kaputren, yang segera disambut Patih Tilam. Pertarungan tak seimbang terjadi.

Tak seimbang karena Patih Tilam menyiapkan jebakan dengan jitu, sementara Senopati Pangsa dalam keadaan kacau-balau. Seakan patah semangat sebelum terjadi pertarungan yang sesungguhnya. Hanya dalam lima jurus, Senopati Pangsa berhasil ditundukkan dengan tusukan ujung tombak.

Robohnya Senopati Pangsa dibarengi dengan teriakan dahsyat. Teriakan bergemuruh sebagai tanda kemenangan. Senopati Wedeng bahkan tertusuk senjatanya sendiri. Senopati Yuyu seakan melakukan serangan nglalu atau serangan bunuh diri. Sendirian Senopati Yuyu menyerang ke arah joli utama. Sambutan serangan dari berbagai jurusan menyudahi gerakannya, jauh sebelum bisa menyentuh joli.

Mada meloncat maju setelah menyembah ke arah joli.

Senopati Pamingkas II - 81

Tubuhnya yang gempal, dadanya yang bidang, serta rambutnya yang berombak terlihat jelas di antara para prajurit yang menyamar maupun penduduk biasa.

Langsung menyerbu ke dalam.

Senopati Jurang Grawah berusaha menahannya. Akan tetapi hanya dengan tangan kosong Mada menyambut. Tusukan kedua, ketiga dihindari dengan menggeser kakinya. Tusukan keempat dibiarkan begitu saja, sementara pukulannya datang membarengi.

Yang diincar adalah bagian pangkal leher.

Jurang Grawah tak menduga Mada senekat itu. Kedua tangannya ditarik mundur. Itulah kekeliruannya.

Setidaknya kalau tidak ditarik atau malah diteruskan, Mada akan mengubah serangannya kalau tak ingin pundaknya putus. Karena berada dalam keraguan menarik kekuatan itulah Mada membenamkan kedua tangannya ke leher.

Dengan satu pengerahan tenaga keras, terdengar bunyi keretekan keras, seolah tulang belakang Jurang Grawah hancur. Tubuhnya bagai batang pisang ketika terbanting rata ke tanah.

“Kuti, akulah lawanmu.”

Besar semangat Mada. Lebih besar lagi keberanian memanggil nama Kuti begitu saja. Seakan nama besar Senopati Utama tak ada harganya.

Patih Wangkong yang belum bisa menundukkan, merasa sedikit terjegal. Karena Mada langsung mengambil alih pertarungan.

“Jaga mulutmu…” Kalimat Senopati Kuti belum selesai, ketika gulatan Mada mencengkeram. Mada benar-benar tidak memedulikan. Dadanya terkena pukulan, akan tetapi pinggang lawan berhasil dicekal, diangkat untuk dibanting. Bersamaan dengan itu tubuh Mada melayang dengan kedua kaki terentang.

Menendang jauh tubuh Senopati Kuti.

Patih Wangkong tak pernah membayangkan, bahwa di balik tubuh yang gemuk itu tersimpan kekuatan dan kegesitan. Senopati Kuti yang begitu perkasa bisa ditendang dan dibanting dalam satu rangkulan.

Bahkan masih juga disertai tendangan.

Itu ternyata belum semuanya. Ketika terkena tendangan tubuh Senopati Kuti terpental makin jauh. Akan tetapi Mada bergerak lebih cepat lagi. Mendahului ke tempat jatuhnya tubuh, dan sambil membalik tubuh, Mada melancarkan serangan tendangan. Sekali lagi tubuh Senopati Kuti terlempar.

Dengan mengerahkan kekuatan terakhir, Senopati Kuti membidikkan kedua kerisnya secara bersamaan. Mada membalikkan tubuhnya, berputar tiga kali di tengah udara, sebelum turun menyambar.

Lagi-lagi dengan tenaga penuh, Mada menubruk maju. Langsung memeluk tubuh Senopati Kuti rapat. Dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Terdengar bunyi krak yang agak keras.

Mada mengempos lagi tenaga dalamnya dan menarik kuat sekali lagi. Bunyi berikutnya merupakan sisa-sisa tulang dan atau kekuatan yang ada. Tubuh Senopati Kuti terkulai, sebelum untuk kesekian kalinya diempaskan Mada dengan bantingan berkekuatan penuh. Senopati Utama yang perkasa itu betul-betul dihajar habis. Tubuhnya terjajar di dinding Keraton, sebelum akhirnya nglumpruk, tanpa tenaga.

Jatuh merapat ke dinding.

“Yang menyerah mendapat pengampunan, yang menyerang mendapat kemenangan.”

Agak susah mengartikan apa yang diucapkan Mada. Karena dalam kalimat itu separuh pertama berlaku untuk lawan, separuh sisanya untuk prajurit.

Bagi lawan yang menyerah akan mendapat pengampunan, sementara prajuritnya yang menyerang akan mendapat penghargaan.

Tapi memang saat itu bukan saat yang longgar untuk menafsirkan kata-kata. Teriakan yang tanpa makna sekalipun bisa mempunyai arti menggugah dan mengobarkan peperangan.

Senopati Banyak yang meletakkan senjata segera diringkus. Tubuh Senopati Kuti diangkat tinggi- tinggi oleh Mada, diputar di atas kepalanya.

“Ayo, majulah semua jika ingin mati lebih ngenas.”

Sebelum bayangan tubuh di alun-alun membentuk sempurna, para pemberontak sudah berhasil ditundukkan. Mada segera memerintahkan agar Raja dibawa ke dalam.

Ia sendiri kemudian berbalik ke arah pintu gerbang. “Pertarungan melawan kejahatan telah selesai.

“Ini pemberontakan pamungkas, yang terakhir di Keraton. Barang siapa mencoba tidak setia, akan diselesaikan sekarang juga.

“Tak ada pengampunan.

“Tak ada bibit di kelak kemudian hari.”

Gagah, penuh wibawa, agak sedikit jemawa, kalimat Mada benar-benar menggetarkan.

Menggetarkan hati Patih Tilam yang sejak pertama mengakui bahwa Mada adalah prajurit pilihan. Apa yang dulu pernah membuat Mahapatih Jabung Krewes terheran-heran, terulang kembali. Hanya bedanya Patih Tilam merasa ancaman besar bagi dirinya. Yang entah kenapa telah terbayang dalam benaknya. Mada bergerak sangat cepat. Dan terus bergerak. Sebelum matahari tenggelam di bagian barat, semua prajurit bawahan dharmaputra telah dilucuti dan ditawan, dan dihitung jumlahnya. Para penduduk diminta kembali ke tempat semula, karena keadaan telah tenang kembali.

Barang siapa yang membangkang atau sengaja mencari keuntungan dalam keributan, digolongkan sebagai pemberontak.

Dan sewaktu obor dinyalakan, Mada mengatakan bahwa prajurit dan pemimpin dari enam kanoman, yang dipimpin para pangeran anom, diminta agar segera kembali ke daerahnya masing-masing.

“Ya, malam ini juga.

“Termasuk Paman Patih Tilam dan Paman Patih Wangkong. Tugas telah selesai, dan selanjutnya menunggu dawuh Raja yang berikutnya.”

Mada seakan tidak memedulikan perasaan yang melintas di wajah Patih Tilam dan Patih Wangkong. Malah mengesampingkan dengan bertanya.

“Apakah kurang jelas, Paman Patih?” “Apa lagi yang kamu rencanakan, Mada?”

“Akan segera saya sampaikan kepada Raja. “Karena saya prajurit Raja.”

Patih Tilam mengangguk.

“Saya tak tahu, apakah wangsit yang saya terima tidak mungkin keliru. Akan tetapi kamu melakukan kesalahan yang besar, Mada.

“Dan kamu tak punya waktu untuk menyesali. “Kamu akan mengingat apa yang kukatakan ini.”

Niatan Ungkal Bener

MADA memandang tanpa berkedip. Sikapnya tak berubah.

“Paman Patih, saya bisa menganggap ramalan perhitungan Paman terlalu dilebih-lebihkan. Tetapi saya tidak ingin mengatakan itu.

“Semua kesalahan akan saya tanggung sendiri.

“Saya hanya menjalankan tugas dan wewenang saya sebagai prajurit. Bahwa sesungguhnya untuk membasmi pemberontakan sampai tandas dan tak boleh bersemi lagi, adalah dengan memisahkan siapa lawan dan siapa kawan. Karena Keraton merupakan pusat segalanya, saya memulai dari Keraton.

“Saya sadar sepenuhnya bahwa tindakan saya sangat kurang ajar. Pangeran Muda Wengker bakal murka. Juga Pangeran Angon Kertawardhana. Juga keempat pangeran anom dan para patih lainnya. Saya yang mengundang dengan sangat hormat, tapi seakan sekarang ini bernada mengusir.

“Saya akan menanggung semua ini.” “Tajam lidahmu, Mada.

“Apakah kamu mengharapkan dengan tersingkirnya kami semua, Raja akan mengangkatmu sebagai mahapatih?”

“Mahapatih Jabung Krewes masih sepenuhnya menjabat dan Raja belum mencari penggantinya.” “Jadi apa yang kamu cari?”

“Menjalankan tugas dan wewenang sebagai prajurit.” Patih Tilam mengangguk.

“Baik. “Sebagai sesama prajurit yang menjalankan tugas, saya menolak. Saya hanya menerima perintah dari atasan saya.”

Mada mengangguk.

“Saya akan menemui para pangeran anom. Semuanya. Keenam-enamnya.”

Mada tak perlu melakukan sendiri. Karena yang kemudian terjadi adalah Raja menyatakan sendiri, bahwa Keraton sudah sepenuhnya dikuasai. Raja tak memerlukan lagi penjagaan. Pada hari tertentu, bulan tertentu yang akan ditetapkan kemudian, Raja akan mengadakan pertemuan besar.

Yang lebih mencengangkan lagi ialah kenyataan bahwa Jabung Krewes masih tetap kembali ke kedudukannya semula sebagai mahapatih.

Tak banyak yang menduga kejadian seperti itu.

Raja Jayanegara menyabdakan dengan suara yang mantap. Seakan kini sepenuhnya seluruh kekuasaan kembali utuh di tangannya. Tak ada yang perlu dikuatirkan lagi.

Tidak juga ketika secara resmi memberi pengampunan kepada Senopati Banyak, satu di antara enam senopati utama yang ikut menguasai Keraton.

Mahapatih Jabung Krewes maupun Senopati Utama Banyak tak menduga akan perubahan nasibnya, ketika Raja memanggilnya.

Mahapatih Jabung Krewes bahkan menghadap dengan rambut terurai dan mengenakan kain putih, sebagai pertanda menyerah tanpa akan membantah semua dosa dan kesalahan.

“Ingsun yang mengangkatmu, Jabung Krewes. Dan hanya Ingsun yang bisa mencabut derajat dan pangkatmu.

“Mulai hari ini, kamu menjalankan tugas sebagaimana biasa.” Jabung Krewes gemetar, menyembah ke kaki Raja.

“Kamu tidak becus. “Itu dulu.

“Sekarang masih ada sisa waktu untuk membuktikan bahwa kamu masih mempunyai sisa umur untuk mengabdi kepada Ingsun.”

“Sembah sujud ke kaki Raja….”

“Manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Kecuali Ingsun, yang tak bisa berbuat keliru.”

Jabung Krewes tidak menyadari sama sekali bahwa di balik pengampunan yang maha asih, tersimpan sesuatu yang sengaja tidak diungkapkan. Raja menyadari bahwa pada lapisan para senopati, kini terjadi kekosongan utama. Dengan tumbangnya para senopati utama, dengan lepasnya Halayudha, tak ada lagi yang bisa diandalkan. Para pangeran anom, dengan para pengikutnya, masih menyisakan tanda tanya. Kesetiaan mereka selama ini adalah kesetiaan untuk tidak memihak kepada pemberontak.

Dengan memaksakan kekosongan kepada senopati yang lain, akan sulit dikendalikan. Dengan beban dosa sebesar gunung, Jabung Krewes sekarang ini akan melata di bawah telapak kakinya.

Demikian pula halnya dengan Senopati Banyak. Sekurangnya dengan memberikan ampunan, sisa- sisa prajurit yang setia kepada Senopati Utama akan terpecah keinginannya membalas dendam. Di samping bisa dikuras seluruh keterangan di balik semua yang belum muncul ke permukaan.

Mada memang termasuk yang sangat diperhatikan. Prajurit kawal yang satu ini memang sangat istimewa. Kemampuannya bertindak dalam situasi yang kritis sangat menentukan. Keunggulan ilmu silatnya juga bisa diandalkan.

Hanya saja tradisi yang mengalir dalam darahnya bukanlah tradisi prajurit. Bukan anak-turun prajurit. Ditambah lagi masih terlalu muda dari segi pengalaman, sehingga tindakannya sangat gegabah.

Sekurangnya masih bertindak tanpa mengikuti garis kuasa yang menyangkut tata krama keprajuritan. Itu yang tak bisa diterima. Karena sebagai prajurit, seharusnya hanya menjalankan perintah tanpa pertimbangan lain. Sementara Mada beberapa kali menunjukkan bahwa suara hatinya merupakan getar pertama pilihan tindakannya. Lebih memiliki sifat ksatria daripada prajurit. Lebih memakai pendekatan ungkal bener dibandingkan kesetiaan pengabdian yang membuta.