-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 49

Jilid 49

Itulah puncak keraguan yang sangat dibencinya. Yang tak bisa ditanggalkan dan ditinggalkan.

Kalau sudah begitu, satu-satunya jalan yang menenteramkan hanyalah kembali ke dalam Keraton. Kembali menemui Mada dan Halayudha.

“Kasihan mahapatih yang satu ini,” kelakar Halayudha menyambut kedatangannya. “Setiap kali aku melihat wajahnya, setiap kali aku merasa makin dekat dengan kematiannya.

“Benar-benar perlu dikasihani.

“Manusia tanpa greget, tanpa krenteg, tanpa kemauan.

“Tanpa kemampuan. Juga misalnya membunuh dirinya sendiri.” “Duh, Mahapatih.

“Jangan dengarkan. Paduka Halayudha…”

“Mada, kamu tak perlu menasihati. Semakin banyak yang didengar, semakin bingung mahapatih ini. Semakin tak menentu. Semakin tak berguna.

“Mada, lupakan dia. Bagaimana tentang tanah air tadi?”

Gua Kencana, Gua Air Laut APA yang dirasakan Mahapatih Jabung Krewes lebih parah dari apa yang terlihat pada perubahan wajah seketika. Ucapan Mada yang ngeman, yang menyayangkan, terasa lebih menusuk lagi, justru karena setelah mengucapkan itu, Mada tenggelam dalam pembicaraan bersama Halayudha.

Tamparan yang menyakitkan.

Bahkan Mada seperti bertindak kurang ajar.

Tanpa disadari perasaan kecewa terhadap sikap Mada membekas, dan karena dirinya selalu lebih suka membicarakan dalam batin, bekas itu makin menggurat.

Mahapatih Jabung Krewes tidak biasa memperbincangkan persoalan yang dihadapi kepada istrinya. Dirinya memang jauh berbeda dari Senopati Tanca, yang boleh dikatakan selalu mengikutsertakan istrinya.

Kalau ada alasan yang dicari-cari, Mahapatih Jabung Krewes selalu kembali ke asal-mula, sewaktu dirinya masih prajurit biasa. Tak ada yang dibanggakan selain pangkat dan derajatnya sebagai prajurit. Ketika itulah seorang gadis yang sedikit lanjut usia, masih berdarah ningrat, disodorkan kepadanya. Tak ada alasan untuk menerima. Tak ada alasan untuk menolak.

Tapi pernikahan terjadi juga. Dan berkat hubungan dengan orang dalam, perlahan Jabung Krewes mulai dipandang, mulai diperhatikan. Dalam hati kecilnya Jabung Krewes selalu merasa berutang budi, merasa kalah setingkat, dan ini tak bisa dihilangkan setelah ketiga putrinya lahir, setelah mereka dewasa, setelah dirinya memegang wewenang sebagai orang kedua yang menjalankan pemerintahan.

Istrinya bisa menjalankan sendiri berbagai perencanaan. Kini dengan dibantu ketiga menantunya, mereka sudah siap membangun Keraton, memperbarui sitihinggil, menghijaukan kembali alun-alun, menciptakan taman sari yang lebih elok, sampai dengan rencana untuk memberikan persenjataan yang baru.

Jabung Krewes bukannya tidak mengetahui bahwa semua itu bisa berjalan lancar, berkat nama dan pangkat yang disandangnya sekarang ini. Kadang muncul pertanyaan dalam hatinya, apakah hal itu perlu ditangani keluarganya sendiri. Karena sebenarnya dalam keprajuritan sudah ada yang menangani.

Akan tetapi setiap kali kandas, jika telah berhadapan dengan istrinya.

“Raka Mahapatih,” sembah istrinya dengan hormat, “telah sekian lama kami menanggung beban yang besar untuk menjaga wibawa Raka.

“Sekarang ada kesempatan untuk sedikit menjalankan apa yang bisa dilakukan oleh anak Raka sendiri, oleh menantu Raka sendiri. Apakah Raka Mahapatih menyesali?”

“Tidak, Yayi.

“Dalem kepatihan beserta seluruh isinya ini ada di tangan Yayi. Saya merestui, karena ini demi kebaikan Keraton.

“Hanya saja, saya mulai mendengar…” “Raka Mahapatih.

“Kalau mendengar semua omongan, seratus telinga tak akan sanggup menampung.

“Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Sekaligus mengangkat nama Raka Mahapatih.” “Baik, baik, Yayi.”

Hanya itu yang bisa diucapkan.

Selebihnya adalah tikaman yang makin dalam. Goresan yang makin kandas ke dasar nuraninya. Suara yang tidak langsung terdengar bahwa istrinya sendiri yang mengatakan, “Raka Mahapatih mungkin tak pernah melakukan apa-apa. Tapi setidaknya bisa berbuat untuk warisan anak-cucu.” Mendengar bahwa rencana perbaikan alun-alun menimbulkan banyak perselisihan. Karena penguasaan alun-alun itu sepenuhnya berada dalam wewenang Senopati Kuti, salah seorang dharmaputra yang memperoleh perlakuan istimewa.

Adalah menyakitkan bahwa dirinya sebagai mahapatih harus berhadapan dengan Senopati Utama hanya karena soal penyediaan rumput untuk mengganti alun-alun.

Adalah membuat telinganya merah, karena Senopati Kuti mengatakan hal ini secara terbuka di depannya.

“Mahapatih, izinkanlah saya menghadap untuk menyampaikan sesuatu yang sangat mengganjal perasaan saya sebagai lelaki. “Saya sadar bahwa saya tidak berhak meminta kesempatan ini ke hadapan Mahapatih, karena saya tidak memegang jabatan keprajuritan, seperti semua senopati utama.

“Akan tetapi saya tak bisa menahan diri.

“Bagi saya lebih baik mengatakan secara terbuka. Itu sifat kasar saya yang buruk.”

“Paman Senopati Utama telah berhadapan sendiri dengan saya. Katakan, jangan sungkan-sungkan.” Senopati Kuti melanjutkan perkataannya,

“Kami para senopati utama mendapat anugerah tanah dari Baginda. Saya juga menerima anugerah. Di antaranya adalah merawat alun-alun, baik di sebelah utara maupun selatan Keraton. Besar atau kecil, itu anugerah dari Baginda. Besar atau kecil, itulah sebagian yang menghidupi keluarga, setelah saya tidak menjabat apa-apa.

“Anugerah itu memang titipan. “Bisa dicabut setiap saat.

“Akan tetapi, hormatilah saya. Meskipun tua, jelek-jelek saya pernah bertarung melawan barisan Tartar, sebelum Mahapatih memegang umbul-umbul.

“Mahapatih bisa mengatakan ha atau na sebelum melakukan pengerjaan begitu saja.” “Paman Senopati…”

“Mahapatih.

“Saya tak mau mendengar alasan Mahapatih belum mengetahui hal ini.” Mahapatih Jabung Krewes mendongak.

Dadanya tegak.

“Senopati Kuti, jangan berkata selancang itu.” “Saya mengatakan apa adanya.”

“Kamu keliru!”

Suara Mahapatih mengguntur. Senopati Kuti sedikit terperanjat.

“Aku adalah mahapatih. Aku tak bisa, dan tak mau ditekan dengan cara seperti itu. Selama ini aku telah menahan diri untuk tidak menindak kalian para senopati utama. Tetapi kini, alasan untuk menahan diri tak perlu lagi.

“Aku tak bisa diremehkan. “Tidak oleh siapa pun.” Senopati Kuti mengangguk.

“Saya minta maaf yang besar, Mahapatih.

“Saya berdosa tujuh turunan karena menantang Mahapatih. Akan tetapi saya tak melihat cara lain. Siapa yang meminum air laut akan semakin dahaga. Siapa yang masuk ke Gua Kencana, tak ingin keluar kembali….”

Kalimat pedas itu mengiang di telinga Mahapatih. Dengan mengibaratkan harta sebagai air laut, dengan mengingatkan Gua Kencana Sodagar Galgendu yang dulu penuh dengan tambang emas, Senopati Kuti telah menuding tepat di ujung hidungnya.

Meskipun Jabung Krewes mengakui Kuti adalah senopati yang kasar tindak-tanduknya, saat emosinya sedang peka seperti sekarang ini, kata-kata Kuti bagaikan menyulut tumpukan jerami kering.

“Kamu akan membayar mahal untuk kalimat itu.” “Sekarang pun saya siap menghadapinya.” “Baik.”

“Saya menghadap justru karena Mahapatih bisa saja khilaf untuk masalah yang hina seperti ini.” “Aku tahu di balik itu, Kuti!

“Aku tahu kalian tak akan berhenti mencari peluang untuk kembali memegang pangkat dan derajat.” “Saya akui, Mahapatih.

“Tapi bukan karena alasan rumput.

“Rasa sungkan kami yang tak terhingga kepada Raja, bukan kepada yang lainnya.” “Akulah bahu kanan kering, bahu kanan dan bahu kiri Raja.” Jabung Krewes berdiri dari kursinya.

“Katakan kepada semua senopati utama untuk bersiap-siap. Utusanku akan menjemput mereka setiap waktu.

“Pulanglah, Kuti!”

Senopati Kuti menyembah dengan hormat. Diiringkan prajurit kepatihan, Senopati Kuti kembali ke tempat tinggalnya. Tahulah ia kini bahwa barisan prajurit kepatihan yang lain telah mengepung kediamannya.

Hal yang sama juga terjadi di kediaman Senopati Tanca. Bahkan menurut kabar angin, Senopati Semi sendiri telah diamankan, bersama Senopati Banyak.

Berarti, Mahapatih memang sudah bergerak mendahului.

Walau darahnya mendidih dan kepalanya panas terbakar, akan tetapi Senopati Kuti adalah senopati yang mempunyai pengalaman luas. Pandangannya bisa jauh ke depan, perhitungannya tidak sekasar apa yang keluar dari mulutnya.

Justru di saat seperti itu, perhitungannya menjadi matang. Saat untuk bergerak telah tiba. Dengan pengepungan kepada Tujuh Senopati Utama, berarti rakyat mengetahui apa yang terjadi. Ini berarti kesempatan baik untuk memukul balik.

Senopati Kuti mengetahui lekuk-liku keadaan Keraton. Sehingga tak akan ada kesulitan yang berarti untuk menggerayangi. Mahapatih Jabung Krewes pun tidak termasuk halangan yang besar.

Tangannya sendiri bisa menyelesaikan.

Menunggu Angin Bertiup

SENOPATI KUTI tinggal mempertajam kegentingan dengan menyebar dan menularkan apa yang selama ini menjadi tanda tanya. Bahwa para senopati utama dilucuti, meskipun resminya telah leren, telah dipensiun, karena membela kepentingan rakyat. Yang dirampas hak-haknya untuk kepentingan keluarga Mahapatih.

Rumput di alun-alun menjadi contoh yang bisa diketahui semua mata. Karena memang merupakan lapangan terbuka yang dilewati semua orang di sisinya.

Kegelisahan semacam itu sangat cepat menjalar, dan dari bibir yang satu ke bibir yang lain mendapat tambahan.

Kalau kegelisahan ini merata, hanya tinggal menunggu angin. Yang tiupannya akan mengantarkan panas ke Keraton.

Yang lebih membulatkan tekad Senopati Kuti adalah kenyataan bahwa selama ini yang mengadakan pengamanan langsung hanyalah prajurit kepatihan. Yang berada di bawah perintah langsung Mahapatih.

Berarti prajurit utama Keraton tidak dilibatkan.

Senopati Kuti merasa makin tidak sabar. Sedikit ditahan niatnya. Disuruhnya prajurit kepercayaannya untuk menghubungi Senopati Tanca. Meskipun berada dalam pengawalan, bukan sesuatu yang sulit untuk bisa menemui. Dengan alasan meminta jamu kepada Nyai Makacaru, bisa mengetahui pendapat Senopati Tanca.

Akan tetapi jawaban yang terdengar membuat Senopati Kuti risi. “Penyakit yang pernah diderita sama dengan yang diderita Tantra….” Kata sandi itu terlalu jelas.

Senopati Tantra adalah senopati muda yang dipersiapkan Tujuh Senopati Utama, yang memilih jalan sendiri. Menerobos masuk ke dalam Keraton, berhasil menguasai. Akan tetapi hanya untuk sementara.

Dengan kata lain, Senopati Tanca kurang menyetujui gerakan yang akan dilakukan. Karena melihat kemungkinannya berhasil sangat kecil. Atau tidak pada sasaran yang dimaksud.

Risiko itu bukan tidak mungkin.

Akan tetapi Senopati Kuti merasa dirinya berpacu dengan waktu. Kalau harus terus menunggu, akhirnya akan dilucuti tanpa pernah melawan.

Tak ada jalan lain kecuali melakukan seorang diri.

Tekad Senopati Kuti bulat sudah. Ia memanggil semua prajurit kepercayaannya. Sekaligus juga meminta pemimpin prajurit kepatihan hadir. “Agar kalian bisa mendengar sendiri apa yang kukatakan. Dan kalian semua bisa melaporkan kepada Mahapatih.”

Tenang sekali Senopati mengumpulkan di pendapa, dan pada saat semua berkumpul, tanpa satu isyarat pun, para prajuritnya bergerak.

Gerakan yang sangat singkat.

Sebelum prajurit kepatihan menyadari apa yang terjadi, semua bisa diringkus. Tanpa meneteskan setitik darah. Bahkan tidak juga setitik keringat.

“Sumpal mulutnya, ikat semua tangan dan kakinya. “Kalau ada yang melawan, bunuh seketika.

“Kita berangkat sekarang dengan umbul-umbul kepatihan.”

Tanpa menunggu aba-aba, para prajurit bergerak lugas. Perlu diingatkan bahwa sebutan Senopati Utama bukanlah sebutan tempelan. Apalagi Senopati Kuti selama ini membuktikan diri sebagai prajurit sejati yang berada dalam medan peperangan. Prajurit inti yang setia kepadanya, boleh dikatakan selalu dalam keadaan siaga. Sehingga tak terlalu makan waktu untuk menggerakkan.

Kini seluruh rombongan sudah langsung menuju Keraton.

Berombongan 35, seperti biasanya dalam pasukan. Tanpa banyak menimbulkan gerak yang mencurigakan. Senopati Kuti berada di barisan depan.

Ia memerintahkan barisan memecah diri dalam lima pasukan. Dua menahan para prajurit di gerbang Keraton, tiga pasukan langsung menerobos masuk.

Suasana senja, saat pergantian para prajurit, membuat pasukan Senopati Kuti bergerak tanpa perlawanan sama sekali. Bahkan ketika memasuki ruangan dalam, pertarungan yang terjadi hanya ditandai dengan jeritan kecil.

Senopati Kuti memegang tombak panjang, melangkah masuk ke bagian yang paling dalam. Tujuan utamanya adalah tempat peraduan Raja.

Sejenak Senopati Kuti ragu di depan pintu.

Akhirnya menyembah hormat sebagaimana layaknya prajurit, dan mengetukkan ujung tombak ke pintu.

“Sinuwun…”

Kalimat pembuka untuk menghormat, yang dibarengi dengan loncatan tubuh dan dorongan tenaga luar biasa besar. Senopati Kuti mengerahkan seluruh kemampuannya, sementara para prajuritnya berjaga di kiri dan kanan.

Pintu peraduan tertabrak jebol. Membuka.

Ujung tombak Senopati Kuti tertuju ke arah ranjang. “Maaf, Sinuwun….”

Ujung tombak langsung menusuk. Amblas.

Dari balik selimut renda keemasan yang menyibak, sesosok tubuh melambung ke atas. Senopati Kuti memutar ujung tombaknya, dengan arah berbalik. Kini bagian yang tumpul menyodok ke arah dada, sementara kedua kakinya menggunting masuk.

Serangan berbahaya karena dilakukan dengan sepenuh tenaga.

Akan tetapi bayangan yang meloncat dari ranjang hanya mengedutkan selimut sutra yang menutup, memayungi Kuti. Disertai dengan kedutan keras, tubuh Kuti benar-benar tergulung.

Akan tetapi Senopati Kuti memang sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Begitu masuk, dirinya sudah siap menghabisi, atau habis dengan sendirinya.

Begitu tersedot tenaga lawan dan pandangannya tertutup, kedua tangannya serentak meraih dua keris dan ditusukkan berkali-kali.

Robekan kain sutra menimbulkan suara bagai jeritan, karena berubah menjadi serpihan. Sementara bayangan yang diserang berada di sudut.

“Sudah berani membangunkan dengan memanggil aku Sinuwun, kamu menyerang sungguhan….” Halayudha memandang dengan sorot mata heran.

Kini seluruh ruangan terisi para prajurit yang bersiaga untuk mati bersama. “Aku baru saja bisa mimpi, setelah sekian lama tak bisa memejamkan… “Hei, mau ke mana?”

Dengan satu aba-aba kecil, para prajurit tanpa kecuali melangkah balik. Senopati Kuti sendiri mendahului meloncat ke luar. Baginya, sasaran utama adalah Raja. Tak akan memedulikan yang lain.

Adalah di luar dugaannya bahwa yang menempati kamar peraduan utama justru Halayudha!

Kalaupun dalam hatinya bertanya-tanya, Senopati Kuti tak mau menyisakan waktu sedikit pun. Seratus lima prajurit pilihannya langsung mendobrak semua kamar yang tertutup.

Tak ada yang tersisa.

Akan tetapi bayangan Raja tak ada. “Semua berjaga di sini.

“Bunuh setiap gerakan yang mencurigakan.”

Senopati Kuti langsung menuju kaputren dengan pengawalan para prajurit. Setiap kamar dibuka dengan paksa. Digeledah. Akan tetapi, bayangan Raja tetap tak berbekas.

Sementara itu, Halayudha yang masih terheran-heran mencoba memusatkan pikirannya. Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Antara sadar dan tidak, Halayudha menyesali dirinya sendiri. Karena yang membenam dalam pikirannya bukan peristiwa apa yang terjadi, melainkan gerakan Kuti yang menusuk dengan ujung tombak, lalu membalik memukul dengan gagang, serta cabutan dua keris. Yang kesemuanya dilakukan dalam satu gerakan mengalir.

Antara sadar dan tidak, Halayudha masih merasa dirinya dipanggil Sinuwun, tetapi juga tak dipedulikan sama sekali. Dengan mencoba memusatkan pikiran, Halayudha keluar dari ruangan.

“Apa yang terjadi? “Ada apa ini?”

Halayudha terus melangkah, mencowel kiri-kanan dan tidak mendapat jawaban. Di kiri-kanannya semua prajurit seperti bersiaga.

“Di mana Raja bersembunyi?” Halayudha memandang Senopati Kuti. “Rasanya kukenal kamu.”

“Paman Halayudha, di mana Raja bersembunyi?” “Akulah Raja Diraja.

“Aku ini Sinuwun.”

Senopati Kuti tak berani gegabah. Karena selama ini mengetahui bahwa ilmu silat Halayudha sudah maju kelewat pesat. Apalagi baru saja dijajal dengan serangan mendadak dan mematikan, Halayudha masih bisa lolos. Tanpa lecet kulit arinya.

Benar-benar luar biasa. “Ya, kamu Sinuwun.

“Di mana yang biasa menempati kamar utama?” “Mada?”

Pengakuan Takhta

Cara berbicara Halayudha memang tak menentu, akan tetapi mengisyaratkan petunjuk tertentu. Dengan menjawab Mada, jelas itu tidak mungkin. Akan tetapi itu merupakan petunjuk bahwa ada nama lain yang bisa dekat dengan Raja.

Kalau benar prajurit kepercayaan itu Mada, Kuti tak bisa berdiam diri. Prajurit utama yang menjadi murid langsung Eyang Puspamurti itu memang kelihatan jauh lebih menonjol. Tapi yang lebih perlu diperhitungkan ialah bahwa Mada ditunjuk langsung oleh Mahapatih Jabung Krewes.

Senopati Kuti segera memerintah prajuritnya menuju kepatihan.

“Jurang Grawah, aku perintahkan kamu untuk menangkap Mahapatih Jabung Krewes, dengan atau tanpa kekerasan. Kamu menjadi senopati untuk tugas ini.”

Pengikut setia Senopati Kuti menyembah dan segera bergegas menuju kepatihan. Iringan yang dibawa serta hanya separuh pasukan, itu pun yang berada di luar Keraton.

Dengan bersenjata lengkap, Jurang Grawah melangkah masuk ke regol, atau pintu depan. Sambutannya ternyata di luar dugaan. Jabung Krewes berada di pendapa, dikelilingi prajurit kepatihan yang bersila di sekelilingnya. Yang mengejutkan ialah bahwa seluruh senjata diletakkan di samping tempat bersila.

Menyerah sebelum menarik napas.

Jurang Grawah merasa heran di samping girang.

Heran karena tidak menyangka sama sekali bahwa seorang mahapatih yang gerakan tangannya mampu membuat seluruh prajurit yang ada siap menyabung nyawa, ternyata lebih suka menyambut dengan penyerahan total. Girang karena tanpa perlu mengeluarkan satu gertakan pun, telah berhasil memenangkan pertempuran.

“Apa yang kamu inginkan, Jurang Grawah?” “Mahapatih masih mengenali saya yang rendah ini?

“Rasanya saya tak perlu mengatakan apa maksud kedatangan saya. Keraton serta seluruh isinya kini berada dalam tangan dan kekuasaan Senopati Kuti.

“Sebelum Senopati Kuti yang perkasa menjatuhkan hukuman, masih ada kesempatan mengaku salah.”

“Saya tak tahu di mana Raja.”

“Apakah mungkin seorang mahapatih tak mengetahui di mana rajanya?” “Itulah yang terjadi.

“Itulah kenyataan yang sesungguhnya.

“Saya tidak memohon keringanan hukuman atau sebaliknya dengan mengatakan ini. Saya telah dikalahkan dari dalam rumah ini, sebelum Senopati Kuti memulai.”

Jurang Grawah mendengus.

“Atas nama Senopati Kuti yang gagah perkasa, mulai hari ini, apa-apa yang ada di dalem kepatihan tak boleh dipindahkan. Baik harta tak bergerak maupun penghuninya.

“Siapa yang melanggar akan terkena hukuman tanpa pemeriksaan.” Jabung Krewes mengangguk.

“Bersiaplah menghadap Senopati Kuti.”

Tanpa perlawanan, tanpa sikap membangkang sedikit pun, Mahapatih Jabung Krewes mengikuti Jurang Grawah menuju Keraton. Bahkan ketika menunggu di balairung, Jabung Krewes sendiri yang melepaskan kelat bahu tanda kebesarannya.

“Apa maksudmu, Mahapatih?

“Apakah kamu mau mengatakan bahwa kamu tak ada gunanya, sehingga dibunuh pun tak perlu?” Jabung Krewes menunduk.

Seakan seluruh tubuhnya tak bertulang tak berotot.

Senopati Kuti tak pernah bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dalam waktu yang belum lama, belum ada sepasar atau lima hari, Jabung Krewes berubah luar biasa. Dari seorang yang masih bisa menggertak, seorang yang mampu menunjukkan kedigdayaan tanpa batas, berubah menjadi seorang yang tak mempunyai semangat hidup sama sekali.

Tapi dengan demikian pula, Senopati Kuti yakin bahwa Jabung Krewes tak mungkin berani menyembunyikan sesuatu.

Yang sedikit masih mengganggu adalah Halayudha yang masih mondar-mandir dan sesekali menyela pembicaraan.

“Tak pernah ada gunanya manusia yang satu ini. Baru mengetahui istrinya dikeloni menantunya saja sudah habis dunianya. Sedangkan aku yang dituduh membunuh satu-satunya anak lelakiku, dengan cara yang paling kejam, masih segar bugar.

“Ah, sudah sajalah.

“Kuti, kamu tak memerlukan dia.

“Kamu lebih memerlukan aku. Karena aku bisa memberimu nasihat, petunjuk, di mana Raja.”

Senopati Kuti mengajak Halayudha duduk, setelah memerintahkan para prajurit membawa Jabung Krewes pergi.

“Aku sekarang menghadapi Mada. “Ia bisa lepas dari sergapan. Memang sebelumnya aku sudah menduga bahwa kamu atau senopati utama yang lain akan bergerak mendahului. Tapi Mada memang hebat. Ia bisa bergerak lebih dulu. Kehebatannya adalah ketika orang lain baru memikirkan, ia sudah melakukan.

“Aku ingin menghadapi kecerdikannya.

“Kuti, kamu jadi saksi bahwa aku bisa mengalahkannya. Ia membawa Raja pergi. Tak ada lagi di Keraton.”

“Ke mana?” “Ke mana saja.

“Tapi bisa diperhitungkan. Bukan tidak mungkin dibawa ke Daha. Di sana ada Pangeran Muda Wengker yang setia kepada Raja. Terutama Patih Arya Tilam yang sakti-untuk ukuran patih. Patih yang mampu melihat masa depan dengan pertimbangan kekuatan batin. Sayang ilmunya belum menep, belum mengendap. Dan jangan lupa, Daha adalah cikap bakal Keraton, sehingga tempat itu dianggap sangat tepat.

“Tujuan yang lain adalah membawa ke petilasan Singasari. Di sana ada Pangeran Muda Angon Kertawardhana yang termasuk pemberani dan setia, dan penuh perhitungan. Ia memiliki penasihat yang gagah dan mampu bertapa seratus hari tanpa bergerak, Arya Wangkong. Penasihat rohani pangeran anom ini menurut cerita mampu meramal masa yang akan datang, tapi lebih suka memainkan tenaga kasar. Menurut perhitungan dan perkiraanku, Wangkong masih ada hubungan darah dengan Mpu Raganata. Entah darah yang mengalir dari hidung atau dari gurung, tenggorokan.

“Tujuan yang lain yang tak bisa kamu duga, adalah membawa ke Perguruan Awan. Di sana paling aman, karena ada Upasara Wulung, ada Jaghana, ada yang lain lagi. Meskipun Raja mati-matian memusuhi Upasara, akan tetapi jika berada di Perguruan Awan, manusia seperti Jaghana akan melindungi lebih mati-matian.

“Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah Pamalayu, mengingat di sana ada Senopati Agung Brahma. Mengingat Mada mengetahui dengan baik tentang laut, perahu, dan angin.

“Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah yang tak kita perhitungkan. Bisa di antara semak dan belukar, di antara ulat dan ular.”

Bagi Senopati Kuti, kegendhengan atau kegilaan Halayudha tidak berlaku ketika menerangkan tentang strategi dan peperangan serta ilmu silat.

“Terima kasih, Paman Halayudha.

“Saya akan memerintahkan prajurit untuk melacak sekarang juga.” “Keliru, Kuti.

“Aku sudah bilang, aku yang akan menghadapi Mada! “Dan aku tak perlu bergerak dari tempat ini.

“Mada menyimpan kekuatan yang tak dikenali karena mempelajari ajaran mahamanusia. Itu yang menyebabkan darinya bisa tumbuh berbagai pertimbangan dan keputusan yang tak terduga.

“Tapi aku sudah bilang, aku guru dalam ajaran mahamanusia.

“Sehingga tak perlu mencari dengan prajurit. Cukup kamu kirimkan lima prajurit ke Singasari, ke Daha, ke wilayah-wilayah terpencil. Minta penguasa setempat, para pangeran anom serta para abdinya, untuk mengakui takhta.

“Pengakuan takhta Keraton Majapahit menjadi penting, sehingga bila mereka menyembunyikan Raja, jelas melanggar perintahmu. Hukumannya adalah rata dengan tanah.

“Untuk apa diperangi kalau bisa kamu tundukkan?” “Lama aku menjadi senopati, akan tetapi…”

“Tentu saja ada akan tetapi.

“Kamu menjadi senopati, dan berhenti. Aku benar-benar mahapatih dan tidak berhenti. Aku bahkan sudah disembah sebagai ingkang sinuwun, tetapi tak berhenti.

“Dengan caraku, jelas lebih singkat dan mengena.

“Mada yang bersembunyi akan kelabakan setengah mati. Seperti ditelanjangi perlahan dan disuruh berdiri di atas sarang semut. Bergerak ketahuan, tidak bergerak kesakitan.

“Cukup jelas, Kuti?” “Rasanya….”

“Aku bisa menebak jalan pikiranmu. “Pengakuan takhta tidak berarti kamu yang menduduki kursi emas. Masih ada aku. Masih ada keturunan utama Baginda. Putri Tunggadewi, Putri Rajadewi, semuanya lebih pantas menduduki takhta. Atau bahkan Permaisuri Rajapatni misalnya bisa kamu betot dari pertapaannya di Simping. “Aku bisa mudah menduga, karena kamu ini pada dasarnya senopati Singasari. Tradisi yang ada di sana adalah kesetiaan, ketaatan tanpa batas. Sri Baginda Raja berhasil menanamkan jiwa keprajuritan pengabdi yang tiada taranya. Kidungan Para Raja menunjukkan itu, penghancuran Kidung Paminggir, sampai penerimaan Kidung Pamungkas memperlihatkan itu semua.” Lalu setelah terdiam lama,

“Dengan Ngrogoh Sukma mestinya aku tahu di mana Mada.”

Siasat Mandragini

BUKAN tidak mungkin Halayudha mengetahui di mana Mada. Meskipun ada kemungkinannya tidak bisa tepat benar. Mengingat Mada memiliki kecenderungan mengambil keputusan sesaat.

Hal ini sangat disadari Halayudha.

Sewaktu Halayudha mengenyahkan Jabung Krewes dan mengajak Mada membicarakan masalah tanah air yang disinggung dalam percakapan Raja dengan Upasara Wulung, Halayudha tak menduga bahwa Mada bisa menerangkan dengan jelas.

“Saya rasa tak terlalu sulit memahami ilmu ciptaan ksatria lelananging jagat yang saat ini tanpa tanding. Paduka mendengar pembicaraannya, melihat contoh dalam ilmu silat ketika menundukkan saya maupun ketika mengecoh Paduka.”

“Apa hubungannya dengan Raja?” “Menurut Eyang Puspamurti…”

“Aku tak suka kakek genit yang tidak waras itu.”

“Menurut Eyang Puspamurti, ajaran mahamanusia yang disarikan Eyang Agung Raganata adalah pengabdian kepada Keraton. Bahwa mahamanusia tidak sampai kepada takhta.

“Dan itu yang lebih betul.” “Tidak.

“Aku buktinya.” Mada membisu. “Baik, baik.

“Terus, bagaimana hubungannya dengan Raja?”

75

By admin • Feb 20th, 2009 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

“Bagi Paman Upasara, pengabdian tetap pengabdian. Kalau ia menerobos masuk ke Keraton dan mengambil paksa Bibi Jagattri, itu tidak mengurangi rasa hormat, rasa pengabdian kepada Keraton.

“Ada dua hal yang bertentangan, seperti tanah dengan air. “Tetapi satu bagi Paman Upasara.

“Yaitu tanah air.

“Ada dua tenaga kiri dan kanan yang memainkan tenaga bumi dan tenaga air, yang bisa dibolak-balik, bisa diatur. Tapi sebenarnya itu bukan dua tenaga yang berbeda. Bukan tangan kiri memainkan tenaga air dan tangan kanan memainkan tenaga bumi. Melainkan penguasaan tenaga tanah air.

“Paduka tak bisa, ketika mencoba dengan tenaga saya. “Atau ketika mencoba mengobati Bibi Jagattri.”

“Kamu mau bilang aku kalah dari Upasara?” “Paduka yang mengatakan.

“Bukan saya.”

“Menurut penilaian kamu yang bodoh?”

“Penilaian bodoh dan tidak, tergantung menjawab atau tidak.” “Jangan ajak aku berbantah soal itu.”

“Paduka yang mengajak.” “Baik, baik.

“Upasara lebih unggul?”

“Masih harus dibuktikan. Kalau Paduka bertanya tentang tenaga tanah air, itu jawabannya.” “Kelihatannya aku yang bertanya, tetapi aku lebih tahu dari kamu. Dan celakanya, setiap kali

pula kamu tambah pandai setingkat karena pembicaraan ini.

“Karena setiap kali aku menjajalnya, dan ilmu yang begini susah kuperoleh, kamu tinggal mengambilnya.

“Coba kita jajal lagi.”

Halayudha menarik paksa Mada. Keduanya memusatkan kekuatan pikir, batin, rasa, nalar, untuk disatukan. Itulah saat Halayudha melihat bayangan seorang senopati menyerbu masuk ke dalam Keraton, dan membuat Raja menggigil.

“Kamu lihat itu, Mada?” “Ya, Paduka.”

“Kamu kenali siapa yang menyerbu masuk?” “Tidak.”

“Aku juga tidak, tapi aku akan segera mengenali,” kata Halayudha sambil menghela napas berat, dan melepaskan pemusatan pikirannya.

“Kita tinggal menunggu saja. Apakah yang tergambar dalam pengembaraan sukma sejati tadi akan terjadi atau hanya kesesatan pikiran kita.

“Kalau benar terjadi, kita bisa mencegat perjalanan ilmu Upasara.”

Yang tidak diperhitungkan sama sekali oleh Halayudha ialah bahwa Mada tidak menunggu. Sebaliknya dari itu, Mada mempersiapkan prajurit yang paling dipercaya. Tiga belas prajurit kawal raja yang dipilih disiagakan. Bahkan secara teliti diperhitungkan jalan untuk melintas jika Keraton diserang dari arah depan, ataupun dari kaputren.

Ketika Mahapatih Jabung Krewes mulai memerintahkan pengamanan Tujuh Senopati Utama, Mada memberanikan diri menghadap Raja. Menyembah telapak kaki Raja sambil mengutarakan bahwa kemungkinan terbaik bila terjadi sesuatu adalah bergeser dari Keraton.

“Sekecil itu pangkatmu, senekat itu usulanmu?” ‘Duh, Raja sesembahan.

“Saat ini hamba tak bisa melihat bahwa Mahapatih akan bisa menyelesaikan penumpasan dengan baik. Sekali saja kedudukan berbalik, seluruh prajurit akan ikut berbalik. Atau paling tidak tak bisa digerakkan.

“Hanya satu perkecualian, kalau Raja berkenan turun tangan sendiri.” “Apakah Halayudha tak bisa diandalkan? Dan kamu lebih sakti darinya?”

“Nalar Mahapatih Halayudha sudah keblinger, sudah terbalik tak menentu. Tak bisa dipastikan berpihak ke mana.

“Hamba jauh lebih bodoh, lebih tak bisa apa-apa, akan tetapi hamba bisa menyelamatkan diri.” “Kamu terlalu bermimpi untuk bisa mengambil hatiku.”

Mada tak bisa berbuat lain.

Selain berjaga dan mencoba menyerap apa yang terjadi. Maka begitu terjadi keributan di gerbang Keraton, dan kemudian merembet ke dalam, Mada meloncat masuk ke peristirahatan Raja.

Yang ternyata sudah terjaga, dengan mata membelalak, geraham bergeretakan. Suara senjata, teriakan, langkah kaki yang demikian banyak yang mendadak, membuat Raja menyerahkan tindakan yang akan diambil sepenuhnya pada Mada.

Yang segera memerintahkan prajurit kepercayaannya berangkat bersama melalui jalan yang telah ditentukan. Mereka muncul di sebelah timur tanpa menimbulkan banyak kecurigaan. Apalagi di gerbang utama para prajurit masih serba siaga.

Mada memerintahkan berjalan secepatnya.

Di tengah perjalanan Mada memecah rombongan menjadi tiga bagian.

“Satu rombongan ke arah timur. Jangan menoleh, jangan berhenti satu langkah pun. “Satu rombongan ke arah selatan. Jangan menoleh, jangan berhenti satu langkah pun. “Ingat, kalian hanya boleh berbicara mengenai hal ini kepada aku seorang. Buktikan kalian prajurit sejati. Berangkatlah, aku akan segera menghubungi kalian.

“Jangan bertanya. “Bergegaslah.”

Mada memerintahkan kedua rombongan berangkat. Dengan salah seorang prajurit yang tampak paling tampan berada di tengah. Seolah dialah yang paling dilindungi dalam setiap gerakan.

Ia sendiri masih termenung beberapa saat. “Mada?”

“Ya?”

Suara Mada yang tinggi nadanya membuat Raja terbelalak. “Tak ada yang kurang ajar di sini, sekarang ini.

“Mereka akan sampai ke Daha dan Singasari. Kalau Senopati Utama mengejar akan menemukan rombongan yang keliru. Kita menuju ke timur-selatan. Kita memakai siasat Mandragini, yang sudah berhasil.”

Mandragini adalah nama tempat peraduan Raja. Siasat ini sudah membuahkan hasil tanpa direncana. Kamar peraduan, yang selama ini dipakai seenaknya oleh Halayudha, nyatanya memancing barisan kraman. Kalau Raja benar berada di situ, sulit dibayangkan bisa menyelamatkan diri.

Siasat itu kini digunakan lagi oleh Mada.

Dengan memecah menjadi tiga rombongan, dengan tujuan yang bisa diperhitungkan lawan, sekurangnya lawan akan terkecoh. Merasa menemukan yang dicari, padahal itu hanya umpan.

Apa artinya menangkap lima prajurit?

Apa artinya menangkap seorang yang dilindungi, yang bisa disangka Raja, tetapi sebenarnya prajurit biasa?

Mada menyiapkan diri untuk kemudian berangkat. Ia berada di tengah, bertindak seolah kurang terbiasa menempuh perjalanan, karena langkahnya susah seirama. Dengan perhitungan, kalaupun yang diserang yang di tengah, dirinya bisa menangkis dan melindungi Raja.

“Selama perjalanan tidak ada yang bergerak, menyapa, atau menjawab sapaan. Tak ada yang menoleh, mendongak, atau menggeleng.

“Keselamatan Raja di tangan kita semua.”

Rombongan Mada bergerak cepat. Sesampai di luar benteng Keraton, kelimanya bisa bergerak lebih cepat lagi. Adakalanya Mada meninggalkan barisan, bergerak lebih dulu ke depan. Seluruh kemampuannya dikerahkan, kalau-kalau menangkap sesuatu yang mencurigakan.

Akan tetapi justru karena itulah bahaya yang sesungguhnya mengincar. Tanpa terasa Mada berada dalam jebakan yang bisa memusnahkan.

Cegatan Takhta

MADA, seperti yang diperhitungkan Halayudha, penuh dengan semangat sesaat. Apa yang dilakukan bisa diubah di tengah jalan jika kehendaknya demikian. Dorongan ini disadari, dan oleh Mada dipakai sebagai kekuatan.

Seperti sekarang ini. Dalam menentukan perjalanan, Mada berusaha menyingkir jauh, akan tetapi kemudian juga mengubah kembali. Karena biar bagaimanapun, Raja tak boleh terlalu jauh dari takhta, dari Keraton. Kalau ada sesuatu yang menentukan, harus bisa segera kembali ke Keraton.

Demikianlah, perjalanan yang jauh menyusup, berganti lagi arahnya. Berputar kembali ke arah Keraton. Meskipun Raja sejak muda mempelajari ilmu silat dan mempunyai tenaga dalam yang kuat, tak urung mulai terkuras tenaganya. Apalagi Mada melarang berhenti, walau hanya untuk sekadar mengambil napas. Akan tetapi juga tak boleh terlihat basah oleh keringat.

“Apa maumu, Mada?”

“Kalau berhenti bisa mengundang kecurigaan. Di tengah malam, kenapa berhenti di tengah jalan. Kalau berkeringat, mengundang kecurigaan kita telah berjalan jauh. “Malam ini juga, pasukan khusus sudah disebarkan ke segala penjuru. Semua semak dan batu dijungkirbalikkan. Pengalaman prajurit lama ketika mencari Baginda akan dilipat gandakan. Kesempatan kita semakin sempit. Padahal satu kali saja kita alpa, segala usaha kita sia-sia.”

Menjelang fajar, Raja tak bisa menahan diri lagi. Berhenti di bawah sebatang pohon, dan langsung berbaring. Dengus napasnya sangat teratur. Tiga prajurit yang lain memandang penuh iba dan sangat hormat.

“Apakah tidak lebih baik kita ke rumah penduduk, dan mencari tempat yang lebih enak?” “Kalau aku tidak memerintahkan apa-apa, kalian bertiga lebih baik tutup mulut. Saat seperti

sekarang ini tak perlu pertimbangan banyak kepala.

“Yang diperlukan satu kepala yang memikul tanggung jawab untuk digantung. Dan itu adalah aku seorang.

“Dengan menginap di rumah penduduk, lebih banyak lagi yang harus menjaga rahasia. Kemungkinan bocor lebih besar. Siapa yang tahan menutup mulut jika mengetahui rumahnya diinapi Raja? Kalian yang biasa sowan saja masih begitu kaku, kikuk, dan salah tindak.”

“Kalau memang itu kehendak Lurah…”

“Jangan menaikkan pangkat kalau tidak mempunyai hak. Sejak pertama aku masih bekel, dan barangkali tak akan pernah naik pangkat, karena tak mempunyai atasan.

“Segeralah bersiap.

“Begitu Raja menggeliat dan terbangun, kita segera berangkat.”

Mereka berempat menjaga dengan ragu. Tak bisa sangat dekat, untuk tidak menimbulkan kecurigaan bahwa yang dijaga adalah orang yang terhormat, dan tak bisa terlalu jauh, karena takut bahaya yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Pada saat seperti itu, ketiga prajurit kawal Raja mengakui bahwa Mada memiliki keunggulan jiwa. Sikapnya kukuh, keras, tak mengenal pertimbangan lain, akan tetapi tetap tegar. Tak tampak sedikit pun kebimbangan atau kelelahan. Raut wajahnya sama tak berubah.

Juga ketika mencoba melanjutkan perjalanan, melintas barisan prajurit berkuda. Nyali ketiga prajurit yang lain seakan lenyap, ketika rombongan prajurit berkuda itu berpapasan dengan rombongan yang lain, dan mereka berhenti tepat di tengah jalan.

Mada masih berjalan dengan langkah biasa. Hanya sedikit menepi. Meskipun darahnya berdesir lebih cepat ketika mengenali bahwa pemimpin rombongan adalah Jurang Grawah. Yang kini mengenakan kain parang dengan sabuk besar, serta keris bertatahkan permata.

“Semua sudah terkuasai sepenuhnya.

“Dengan memakai umpan Putri Tunggadewi dan Putri Rajadewi, kedua pangeran anom menyatakan pengakuan akan takhta. Bahkan terkesan sekali kedua pangeran anom itu memperlihatkan rasa gembira. Karena keinginan mereka berdua mempersunting kedua putri tak menjadi halangan.

“Aku baru saja menerima laporan bahwa mereka berhasil menangkap prajurit bhayangkara, prajurit kawal raja.”

Sampai di sini Mada bersiaga.

Kalaupun terjadi pertarungan, dirinya lebih dulu bersiap. “Hanya belum jelas apakah mereka bersama Raja atau tidak.

“Menurut pengakuan sementara, mereka ditugaskan memata-matai Upasara Wulung dan Perguruan Awan yang kini menjadi buruan Keraton.

“Ah, kalau kita bisa menangkap Raja, rasanya dalem kepatihan tak terlalu besar untuk kita diami. Dan itu hanya soal waktu belaka.”

Mada berjalan di atas belukar. Bersama tiga prajurit yang menyamar.

Raja berada di sebelah kirinya, dengan pandangan menunduk. Debur darah Mada makin mengeras. Ia tak yakin apakah telinganya mendengar desiran angin, ataukah ada orang yang melintas.

Dengan sendirinya, tubuhnya jadi menutupi Raja.

Justru saat itu pundaknya merasa ditabrak sesuatu dengan keras. Disenggol dengan tenaga keras, sehingga tubuhnya terhuyung ke depan. Sadar akan kemungkinan yang tidak menguntungkan, Mada sengaja menjatuhkan diri. Tidak memberikan tenaga melawan sama sekali. Sehingga seperti tersandung akar. Akan tetapi pada saat bergulingan, kedua tangan dan kaki serta pusat perhatiannya siap meloncat, melancarkan serangan maut.

Pandangannya membelalak.

Karena tenaga yang menyenggolnya itu menabrak deretan prajurit di depannya. Tiga ekor kuda meringkik, lepas kendali, dan ketiga penunggangnya jatuh tersungkur.

Jurang Grawah menghunus kerisnya. “Siaga satu!”

Teriakan yang mengguntur, membuat prajurit yang lain berjajaran di belakang dan dalam keadaan siaga penuh. Tidak percuma selama ini Senopati Kuti melatih keras.

Mada merangkak ke arah yang lebih jauh, bersama Raja dan tiga prajurit yang lain.

Pandangan Mada lebih membelalak.

Karena mengenali jelas bayangan yang menabrak. Bukan tidak mungkin Jurang Grawah juga segera mengenali.

“Pangeran Hiang…”

Yang berdiri gagah memang Pangeran Hiang. Pakaian kebesaran yang dikenakan, sikapnya yang menguasai sekitar, sangat terasakan wibawanya.

Bagi sebagian prajurit, Pangeran Hiang sangat dikenal. Terutama dalam pertarungan terakhir di mana Pangeran Hiang juga muncul di gelanggang. Meskipun saat itu Pangeran Hiang memilih tidak terjun langsung dalam pertarungan, tetapi semua mata bisa melihat sosoknya.

“Katakan di mana Raja Tanah Jawa!”

Suaranya melengking, seperti diucapkan lidah yang kelewat tipis. “Kalau Pangeran mendengarkan, kami sedang membicarakan.” “Katakan di mana…”

Kedua tangan Pangeran Hiang terangkat. Jurang Grawah meloncat turun bersama para prajurit yang lain. Sebelum kaki-kaki menginjak tanah dengan baik, seakan kena sapu gelombang keras. Tubuh Jurang Grawah terjungkal.

Sambil menjatuhkan diri, Jurang Grawah menggenggam erat kerisnya. Begitu sampai satu setengah gelundungan, tubuhnya melesat ke atas. Bersama lima atau enam prajurit yang lain. Pangeran Hiang mengeluarkan suara perlahan, sambil menabrak maju.

Benar-benar menabrak maju begitu saja. Tanpa peduli tudingan senjata yang ditujukan ke arahnya. Dan bisa bergerak leluasa. Malah barisan prajurit yang berteriak-teriak kesakitan. Sebagian besar senjata terlepas dari tangan, sebagian memegangi tangan yang melepuh.

Seumur hidup Mada belum pernah menyaksikan ilmu yang begitu tinggi. Sungguh tak terbayangkan. Bahwa dengan melabrak begitu saja, barisan prajurit bersenjata yang diandalkan bisa tumbang berjatuhan. Tanpa ketahuan menggerakkan tangan atau tendangan.

Tidak hanya berhenti di situ saja. Pangeran Hiang membalik, melangkah ke arah Jurang Grawah. Tangannya memencet pundak para prajurit yang kemudian melolong kesakitan. Melepaskan satu per satu. Seakan memeriksa tulang pundak.

Kali ini Mada benar-benar terkesiap. Sukmanya seperti lepas dari tubuhnya yang menggigil.

Meskipun hanya dugaan, Mada tak bisa menahan rasa kecut yang menyergap kuat sehingga tak mampu berbuat sesuatu.

Dugaan Mada adalah Pangeran Hiang mencoba mencari Raja. Dengan jalan memencet tulang pundak. Barangkali dengan ilmu yang dimiliki, cara itu bisa untuk membedakan tulang pundak prajurit biasa dengan raja yang sedang menyamar.

Pencarian Raja ini dikaitkan dengan pertanyaan yang diucapkan sebelumnya. Ini berarti Pangeran Hiang benar-benar mencari Raja.

Pangeran Hiang bergerak ke arah Jurang Grawah, yang mencoba menghindar sambil nekat menghunjamkan keris ke arah lambung. Pangeran Hiang hanya mengegos pelan, dan tangannya sudah langsung memencet pundak Jurang Grawah.

Yang berteriak mengaduh, bagai lolongan anjing terkena gebukan keras.

Tapi agaknya Pangeran Hiang tidak berusaha menyiksa lebih jauh. Karena kini pandangannya tertuju ke arah Mada. Ngwang

NAPAS Mada serasa putus.

“Rasanya di sini ada Raja Tanah Jawa.”

Nada bicaranya melengking, seperti dipaksakan. Berkelebat beberapa bayangan pemikiran dalam diri Mada. Entah dengan cara bagaimana Pangeran Hiang yang ini bisa mengenali bahwa Raja ada di sekitar tempat ini. Dan dugaan itu ditunjukkan dengan cara menabrak begitu saja barisan prajurit. Dugaan yang tepat karena kemungkinan terbesar Raja ada dalam barisan tersebut. Untuk meyakinkan diri, tulang pundak diperiksa. Barangkali ada ilmu tertentu yang dipergunakan sehingga bisa membedakan apakah pemilik tulang pundak rakyat biasa ataukah raja.

Ini berarti Pangeran Hiang yang dihadapi sekarang adalah Pangeran Hiang yang tetap putra mahkota Tartar. Yang berusaha mencegat Raja. Yang tak bergeser dari keinginan semula, membawa Raja ke negeri Tartar sebagai tanda menyerah.

Dengan mencegat di tengah perjalanan, risiko untuk melawan keroyokan mati-matian bisa dihindari. Sesuatu yang pasti terjadi dengan kengerian apa pun.

Mada terlibat langsung ketika pertarungan habis-habisan di atas perahu Siung Naga Bermahkota. Ketika itu, seluruh ksatria, prajurit, tanpa memperhitungkan nyawa sendiri, tanpa memperhitungkan dendam kepada Keraton, siap membela kehormatan Keraton dengan rajanya.

Hal yang akan selalu terjadi kapan pun.

Kalau kejadiannya di tengah hutan di jalan setapak, tak akan banyak yang memedulikan. Seperti juga langkah yang pernah dilakukan dulu. Yaitu menculik Baginda ketika bertapa di Simping! Masalahnya bukan soal licik atau culas, akan tetapi bagaimana mendapatkan hasil yang terbesar tanpa pertumpahan darah yang melelahkan. Di samping agaknya sejak pertama Pangeran Hiang sudah memperhitungkan bahwa dengan cara kekerasan tak akan bisa menang.

Pangeran Hiang menyapukan pandangan ke sekeliling.

Sapuan mata yang tajam menguliti, yang bila disusul dengan satu gerakan ringan, akan membuka selubung penyamaran. Dan itu berarti Raja berada dalam bahaya. Berada dalam ambang kehinaan, karena tak akan tertahan lagi.

Dengan menyerahkan seratus nyawa sekalipun, Mada tak akan bisa menarik kembali. Dalam keadaan yang kritis, Mada mengambil keputusan.

Perlahan ia berdiri, dengan pandangan tegak, mata menatap lurus tak beralih, pundak rata memancarkan wibawa.

“Kalau benar kamu Pangeran Hiang, kamu akan mengenali siapa Ingsun. Tak perlu dengan menetak tulang pundak. Bau tubuh Ingsun bisa dibedakan dari yang lainnya.”

Suara Mada menggeletar, memancarkan pengaruh, seakan semua yang ada di hadapannya sangat kecil dibandingkan dengan dirinya.

Kepura-puraan yang sempurna.

Kalimatnya diucapkan dengan lancar, tak terpengaruh oleh apa yang terjadi. Sekaligus mengurai beberapa hal yang berusaha ditutupi. Dengan kalimat pembuka, Mada menelanjangi bahwa lawan yang dihadapi bukan Pangeran Hiang. Kesimpulan ini diperoleh dari sikap yang sungguh jauh berbeda, dan terutama sekali logat bicara yang seakan memaksa diri. Biarpun kagok, penguasaan bahasa Pangeran Hiang sangat lancar. Dengan demikian, Mada bisa menebak pasti yang dihadapi bukan Pangeran Hiang yang selama ini dikenal.

Berpura-pura menjadi Raja, bukan sesuatu yang teramat sulit. Mada boleh dikatakan sangat dekat dengan Raja. Sebagai prajurit biasa, hal yang pertama dirasakan perbedaannya yang tajam dengan Raja ialah bau tubuh yang jauh lebih wangi. Karena sejak mandi, membasuh tangan atau kaki, membasahi rambut, atau suasana kamar dan pakaian penuh dengan wewangian. Ketenangannya yang menguasai situasi, yang mengatasi keadaan, menambah bobot penampilannya.

“Mari kita cari tempat yang leluasa untuk berbicara, Ngwang.” “Raja Tanah Jawa mengenaliku?”

Mada melangkah menjauh.

Dengan langkah lebar, dada membusung, dagu rata. Tidak berusaha menoleh, melirik, atau memberikan perhatian ketika Ngwang menunjukkan keheranan. Barangkali kebetulan, barangkali karena cara pengucapan Mada yang memang kurang sempurna di telinga lawan bicaranya. Ngwang, yang dipakai sebutan oleh Mada, sebenarnya menunjukkan orang yang belum dikenal. Yang barangkali saja menunjukkan kedekatan dengan nama Huang, atau Kuang, atau yang sesuara dengan itu.

Ngwang bergerak perlahan. Kakinya seakan tidak menyentuh tanah.

Hanya bayangan tubuhnya tahu-tahu berada di depan Mada. Sedikit pun Mada tidak terpengaruh. Ayunan kakinya yang tinggi tak terganggu iramanya.

Tetap tenang Mada menjauh ke depan.

Dengan jalan demikian, Mada ingin menyeret Ngwang lebih jauh dari kerumunan. Dengan harapan pada saat itu, Raja dan prajuritnya mempergunakan kesempatan untuk meloloskan diri.

Sampai di tempat yang agak lapang, Mada berbalik. Ngwang telah melayang di sebelahnya.

“Apa yang kamu harapkan dari Ingsun?

“Membawa ke negeri Tartar sebagai tanda kekalahan?” “Raja Tanah Jawa telah mengetahui.”

“Ingsun tidak akan pernah menolak kata-kata yang telah Ingsun sabdakan. Dengan satu janji seorang ksatria, kalian tidak akan melakukan huru-hara di belakang hari. Kemenanganmu adalah kemenangan atas Raja, bukan atas Keraton atau penghuni tanah Jawa yang tak akan pernah bisa kamu kalahkan sepenuhnya.”

“Sikap Raja sangat mengagumkan.” “Bisa sebaliknya.

“Kamu membawa Ingsun, akan tetapi takhta sekarang bukan milik pribadi Ingsun. Ada raja yang baru. Yang tak bisa kamu kalahkan. Akan tetapi kalau ini menghentikan pertumpahan darah yang melelahkan, siapa pun akan bersedia melakukan.

“Juga kaisar kamu.”

Ngwang mengangguk, memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan. “Agar kamu puas, marilah kamu tunjukkan kemampuanmu.”

Ngwang merasa tertantang.

Apa yang didengarnya, yang oleh Mada sengaja diucapkan perlahan, menandakan bahwa ia berhadapan dengan tokoh yang selama ini dicari.

Semuanya berjalan nyaris sempurna, kalau Jurang Grawah dan para prajuritnya tidak segera mengerubut maju.

“Kalian semua, mundur!” Tangan Mada melambai.

Sejenak Jurang Grawah mengejapkan matanya. Berpandangan dengan para prajurit yang

lain.

Sewaktu ia mengedip dan memberi aba, para prajuritnya bergerak. Tapi kembali terjadi

adegan yang aneh. Mereka bagai kena sambar angin puyuh, terpuntir tubuhnya, terbanting, dan menggelinjang.

Bahwa Jurang Grawah bukan senopati unggulan, bisa dimaklumi. Bahwa kini tangannya terluka bisa dimengerti. Akan tetapi bahwa semua barisan bisa disapu dalam sekejap, membuat Mada terkesiap juga.

Dalam perkiraan sebelumnya, Mada masih berharap bisa mati bersama lawannya.

Keunggulan lawan ia akui, akan tetapi untuk mati begitu saja,

Mada tidak rela. Bahwa dirinya telah memilih jalan kematian dengan mengaku sebagai raja, adalah kesadaran pengorbanan. Tetapi masih akan meminta balasan yang ada bekasnya.

Ngwang berdiri tegak.

Tangannya terangkat di depan dada.

Mada memperlihatkan bahwa kaki Ngwang, keduanya, seperti tidak menginjak tanah. Memang tidak.

Itu sebabnya bisa bergerak seakan tanpa suara, tetapi sangat cepat sekali melintas. Mada mengerahkan seluruh kekuatannya. Kalau ada yang menguntungkan dirinya saat itu hanyalah bahwa Ngwang tidak akan menewaskannya. Paling banter menawan tanpa melukai. Dan kesempatan kecil ini akan dipergunakan sepenuhnya.

Mendadak tubuh Ngwang turun. Kakinya menginjak tanah.

Mada mendengar suara samar-samar. Baru beberapa saat kemudian menjadi jelas bahwa suara itu berasal dari bayangan tubuh Nyai Demang serta Jaghana.

“Kalian berdua datang lagi.”

Jaghana menunduk dengan anggukan kecil.

Sebaliknya, Nyai Demang mengertakkan gigi. Mengucap dalam bahasa yang hanya dimengerti Ngwang.

“Ya, memang saya orangnya.”

“Untuk apa selama ini menyembunyikan diri?

“Ajaran busuk dari Tartar seperti tak ada habisnya. Selama ini kamu telah mempermainkan perasaanku.

“Paman Jaghana…”

Jaghana menggeser langkahnya. “Di mana Pangeran Hiang?

“Kenapa tidak sekalian berada di sini?” “Kamu wanita busuk.

“Meracuni Pangeran Putra Mahkota Sang Hiang Penguasa Tartar yang Tiada Tara….”

Tangan Ngwang seperti bergerak, bersamaan dengan tubuh yang terangkat dari tanah. Jaghana menggebrak maju. Pundak kirinya maju, tangan kanannya mengeluarkan kepalan yang keras.

Tenaga keras, wungkul, padat membabat.

Ngleyang, Kabur Kanginan

PUKULAN Jaghana terasa padat bergulung. Tubuh Ngwang yang terangkat seperti dientakkan dengan dahsyat, melesat ke arah belakang. Keras.

Menabrak pohon di belakangnya.

Benar-benar seperti dibenturkan dengan paksa dan keras.

Akan tetapi dengan sangat menakjubkan tubuh Ngwang tidak menimbulkan bunyi keras.

Bahkan pohon pun hanya bergoyang.

Tubuh Ngwang terseret ke belakang pohon, menggeliat, dan sebelum goyangan pohon berhenti sudah melesat di depan Jaghana kembali.

Yang membalikkan tubuhnya, dan melemparkan serangan lewat kaki.

Kembali tenaga dalam mengentak dan menerjang tubuh Ngwang. Yang kembali melayang bagai kapas tertiup. Tak kuasa menahan.

Namun seperti yang pertama, tubuh itu menggulung dan menyerang dari belakang Jaghana. Mada ternganga.

Belum pernah menyaksikan keunggulan tubuh yang selalu melayang-layang, seakan tanpa kekuatan, tapi bisa bergerak sangat cepat.

Nyai Demang pun terkesima.

Selama ini boleh dikatakan bahwa semua ajaran, semua ilmu, dari negeri Tartar dikenali. Akan tetapi yang sekarang dilihat, betul-betul luar biasa.

Luwes, lemes, memes, tanpa beban. Sangat ringan.

Nyai Demang makin yakin bahwa yang dipanggil Ngwang memang luar biasa. Dalam soal meringankan tubuh, rasanya kapas yang melayang pun masih lebih berat.

Bisa dimengerti kalau selama ini Ngwang bisa bersembunyi. Bisa tak diketahui kehadirannya. “Ngleyang, kabur kanginan….” Suara Mada seperti merintih.

Selama ini Mada terbiasa menyaksikan sesuatu yang luar biasa, yang tak dikenali, dan saat itu Eyang Puspamurti memberitahukan. Hal yang sama terjadi ketika berlatih bersama Halayudha. Selalu ada penjelasan yang membuatnya bisa mengikuti.

Kali ini Mada sendiri yang mengucapkan tanpa sadar.

Tanpa sadar karena sesungguhnya kleyang, kabur kanginan adalah sebutan untuk sesuatu yang tak jelas, sesuatu yang melayang, tertiup angin.