Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 48

Jilid 48

“Kita putari sekali lagi.” “Paman, Paman…

“Masih juga Paman belum sadar gawatnya situasi sekarang ini?

“Anakmas Upasara tak ketahuan rimbanya. Anakku Jagattri malah lebih dungu lagi masuk Keraton untuk menantang Halayudha.

“Benar-benar habis-habisan. “Yang tersisa hanya kita berdua.

“Paman Jaghana yang lebih bahagia berada di tengah tumbuhan, bersama alam. Dan saya yang tak bisa apa-apa.

“Paman, apakah memang ini zaman pamungkas?”

Pertanyaan Nyai Demang lebih terasa sebagai pernyataan keprihatinan dan keputusasaan.

Pertemuan Langit dengan Bumi

JAGHANA mengusap wajahnya. Kedua tangannya mengelap tiga kali berturut-turut. Ucapan Nyai Demang mempengaruhi dirinya secara perlahan. Apa yang dikatakan Nyai Demang memang sulit dibantah.

“Paman, kita kitari sekali lagi. Kalau memang tak bertemu, kita harus melakukan sesuatu.” Sebagai jawaban, tangan kiri Jaghana meraup pinggang Nyai Demang seraya mengentakkan kedua kakinya. Tubuhnya melayang ringan sekali.

Dengan menggandeng Nyai Demang, tak sedikit pun gerakan Jaghana terganggu. Tetap bisa melayang dengan cepat, melejit ke depan. Kakinya bergerak sesekali menotol tanah, menginjak rumput seolah sangat hati-hati. Bahkan ujung kakinya seakan bisa memilih di antara sela-sela rumput atau semak.

Gerakan Jaghana tetap lembut, meskipun loncatan makin lama makin cepat. Tubuhnya menerobos maju, dan setiap kali melayang di angkasa bisa menghindar dari ranting-ranting di atasnya.

Dalam keadaan biasa, Nyai Demang bisa memuji dengan kata-kata. Tubuh gendut yang terkesan lambat bisa bergerak cepat, mengingatkan Nyai Demang pada Wilanda, bekas murid Perguruan Awan yang bergerak bagai capung. Tapi sekali ini Nyai Demang sendiri tidak sabar. Beberapa kali mengerahkan tenaganya.

Wilayah Perguruan Awan bisa dikatakan sangat luas, tetapi juga bisa dikatakan sangat terbatas. Karena tidak ada batas-batas resmi. Hanya ujung yang melingkari tetumbuhan lebat berupa tanah lapang, yang sering dipakai sebagai batas pemisah.

Dua kali Jaghana mengitari dan menempuh balik dengan menyilang, tetap tak menemukan bayangan Upasara maupun Pangeran Hiang. Terdorong rasa tak sabar, Nyai Demang memaksa diri. Akibatnya justru memakan tenaga dalamnya. Sehingga menjelang putaran ketiga, tubuh Nyai Demang ambruk.

Untung Jaghana segera tanggap kondisi Nyai Demang. Sehingga tak perlu membiarkan Nyai Demang jatuh.

Dengan perlahan Jaghana menangkap tubuh Nyai Demang, menggendong, sebelum meletakkan di tanah, dan segera memeriksa nadi. Untuk kemudian memberikan pertolongan cepat dengan memainkan kedua jempolnya untuk pengobatan Sirih Kalacakra.

Adegan inilah yang disaksikan Pangeran Hiang, yang berada di pepohonan yang paling

rimbun.

Kalau saja Jaghana mengetahui di mana Pangeran Hiang berada! Tetapi tidak.

Dalam suasana mencari-cari, dalam suasana mulai ditumbuhi rasa curiga, pikiran Jaghana tidak sepenuhnya bersih. Sehingga tak mampu menangkap goyangan dahan yang berbeda karena diberati tubuh Pangeran Hiang.

Kalau saja Nyai Demang mengetahui di mana Pangeran Hiang berada! Tetapi tidak.

Dalam kemelut hati dan rasa penasaran, kalaupun Nyai Demang melihat Pangeran Hiang sendirian di pohon, bisa langsung menggertak dan menanyakan di mana Upasara.

Sementara Pangeran Hiang sendiri merasa terpukul melihat perlakuan Jaghana pada Nyai Demang. Berbagai pengobatan dengan tusuk jari, pijatan, Pangeran Hiang sangat mengetahui dengan baik. Segala jenis totokan dikuasai. Akan tetapi tak pernah mendengar adanya pengobatan Sirih Kalacakra. Hal yang bisa dimengerti, karena betapapun mendalamnya Pangeran Hiang mempelajari semua unsur persilatan dan budaya, tak mungkin bisa memahami seluruhnya.

Pangeran Hiang merasa terpukul dan terhina.

Ia sudah mendengar mengenai Nyai Demang sebelumnya. Di saat kecurigaan meninggi, segala gerakan yang sedikit berbeda bisa ditafsirkan penyimpangan. Mana lagi, bagi Pangeran Hiang urusan asmara yang dialami tak begitu menyenangkan. Pertemuan dan ikatan asmara habis-habisan dengan Putri Koreyea berakhir, atau bahkan berawal dengan kengerian. Akibat perbuatan tidak senonoh yang dilakukan Putri Koreyea.

Kejadian ini saja membuat luka dalam yang tak akan pernah tersembuhkan. Dan sekarang ini, matanya melihat sendiri bagaimana kedua jempol Jaghana leluasa mengurut bagian tubuh Nyai Demang.

Jaghana yang sedang memusatkan perhatian kepada tubuh Nyai Demang berhenti mendadak. Wajahnya mendongak ke atas, dibarengi dengan tubuhnya.

Meloncat tinggi sekali.

Dari keadaan bersila bisa langsung mencelat ke atas, memperlihatkan bahwa Jaghana masih menguasai pengerahan tenaga dalam dengan baik. Akan tetapi Pangeran Hiang ternyata sudah pergi.

Hanya bekasnya, goyangan dahan yang lebih keras dari biasanya. Ketika Jaghana hinggap di dahan yang sama, ia menyadari bahwa seseorang baru saja berada di tempat itu. Bau tubuh manusia masih tertempel di antara daun dan dahan yang memancarkan bau alami tetumbuhan.

Jaghana melayang turun. “Ada apa, Paman?”

Jaghana tak bisa menyembunyikan apa yang diketahui. Dengan caranya sendiri, Jaghana mengatakan bahwa memang ada orang lain yang berkeliaran leluasa di Perguruan Awan.

“Bagaimana dengan Anakmas?” “Saya belum mengetahui, Nyai.” “Aneh, Paman.

“Sungguh aneh sekali.

“Tubuh saya ini bisa mendadak lemas tak bertenaga, bisa segera pulih. Kemampuan untuk berbicara bisa hilang, bisa datang lagi. Entah totokan jalan darah macam apa yang dilakukan Pangeran Hiang. Atau jenis aji sirep macam apa.

“Paman, saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa, sekarang makin jelas bahwa petunjuk- petunjuk yang saya curigai mempunyai alasan mendasar.

“Di jagat ini tinggal kita berdua.

“Saya tak tahu harus berbuat apa, tetapi apa yang baik menurut Paman Jaghana, akan segera saya lakukan.”

Jaghana memalingkan wajah.

Nyai Demang menarik ke atas kainnya, membetulkan letak kain, mengikatkan setagen dengan baik, sebelum akhirnya duduk bersila mengumpulkan kekuatannya.

“Sangat mungkin sekali Pangeran Hiang bersembunyi di salah satu tempat yang rimbun.

Sama mungkinnya orang yang selama ini berhubungan dengannya juga bersembunyi. “Akan tetapi rasanya tidak mungkin jika Upasara juga bersembunyi.”

“Paman, apakah di Perguruan Awan ini tidak ada gua-gua yang tidak Paman ketahui?” “Rasanya saya mengenalnya seperti saya mengenal jari-jari di tangan sendiri.”

“Dan kita telah memasuki semuanya?” “Ya.”

“Apakah tidak mungkin ada gua yang… yang… saya mau mengatakan, apakah tidak mungkin Anakmas Upasara terjeblos ke dalam…”

“Tidak.

“Anakmas mengenal hutan ini dengan baik. Seperti saya, seperti juga Nyai Demang yang pernah berdiam di sini untuk beberapa saat.

“Rasanya tak mungkin.”

“Bagaimana dengan Gua Lawang Sewu?” Jaghana menggeleng.

Gua Lawang Sewu, atau Gua Pintu Seribu, berada di sebelah barat Perguruan Awan. Tempat itu merupakan peninggalan yang konon dibuat oleh Mpu Raganata. Sengaja dibuat gua dengan seribu pintu, untuk menenggelamkan musuh yang akan menyerbu Keraton, tetapi juga bisa menjadi tempat persembunyian yang paling aman.

Akan tetapi gua itu sudah lama terkubur. Sejak peperangan besar, sewaktu prajurit dari Gelang-Gelang yang dipimpin Ugrawe menyapu habis semua ksatria.

Peristiwa yang mengerikan. Di mana seluruh ksatria yang terpancing datang untuk menemui Tamu dari Seberang disikat habis oleh Ugrawe tanpa belas kasihan.

Gua Lawang Sewu masih ada, akan tetapi boleh dikatakan semua pintu gua sudah tertutup dengan tanah. Karena saat itu Ugrawe mengubur para ksatria yang berada di dalamnya.

“Jangan-jangan Anakmas Upasara terjebak di situ.”

“Nyai, marilah kita lepaskan kekuatiran kita pada Upasara.

“Biar bagaimanapun Anakmas Upasara tak akan seringkih yang Nyai bayangkan.” “Paman, keadaan kita sendiri bisa berarti bisa tidak. Akan tetapi jika anakku Jagattri tak ketahuan nasibnya, sementara Anakmas Upasara juga hilang, apa lagi yang tersisa bagi kita?

“Saya tidak berusaha merendahkan Paman atau diri saya sendiri. Tapi Upasara dan Jagattri adalah langit dengan bumi, yang memayungi dan tempat berdiri yang diandalkan selama ini. Kalau kita hanya melihat pertemuan itu di suatu ujung yang tak ada, di cakrawala, apakah kita masih bisa merencanakan sesuatu?”

“Kalau demikian halnya, apa yang ingin Nyai lakukan?”

Biasanya Nyai Demang bisa berpikir cepat. Namun kali ini justru sebaliknya menjadi buntu.

Tak segera mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan.

Karena hilangnya Upasara secara mendadak membuat pikirannya kacau. “Apakah tidak mungkin Anakmas Upasara masuk ke Gua Lawang Sewu?”

Langit Pun Merendah

MESKIPUN kedengarannya seperti angin-anginan, pendapat Nyai Demang belum tentu keliru. Ini menurut Jaghana, yang sekarang hanya bisa mengikuti pendapat Nyai Demang.

“Baik kalau Nyai mau mencoba ke sana.”

Jaghana membimbing Nyai Demang berdiri. Dengan semangat yang masih tersisa, Nyai Demang menempelkan tubuhnya kepada Jaghana, dan keduanya melayang ke arah Gua Lawang Sewu, atau Gua Pintu Seribu.

Nyai Demang hampir bersorak ketika pandangannya menemukan bahwa di salah satu mulut gua ada bekas-bekas kaki. Disebutkan salah satu mulut gua, karena memang jumlahnya diperkirakan seribu.

Jaghana mengikuti petunjuk yang ada. “Paman…”

Jaghana menoleh ke arah tudingan Nyai Demang.

Ke arah pohon yang batangnya seperti dicocoki dengan lidi atau benda runcing. Jaghana mendekat.

“Di sini juga ada, Paman.”

Nyai Demang menunjuk ke bagian yang lain. “Ini juga ada.”

“Rasanya ini tulisan Anakmas Upasara.” Jaghana mengangguk perlahan.

“Saya belum pernah melihat Anakmas Upasara menggoreskan sesuatu, akan tetapi jika bukan Anakmas, siapa yang bisa menoreh begitu halus, begitu sempurna, berupa titik-titik tanpa melukai kulit pohon?

“Nyai…”

Nyai Demang terdiam.

Kali ini otaknya bekerja keras.

Perlahan bibirnya berkomat-kamit mengeja tulisan di kulit pohon, di dahan, di daun-daun, di tanah yang keras. Nyai Demang berusaha menyusun rangkaian tulisan itu, untuk menentukan harus memulai dari mana membacanya:

Daya asmara itu sebenarnya sukma apa yang membuat langit pun rendah

yang membuat bumi meninggi daya asmara bukan sukma sejati sebab sukma sejati adalah sendiri

daya asmara itu sebenarnya sukma apa yang membuat pohon tumbuh matahari bersinar air mengalir

bumi terpisah

air yang memisahkan bumi dari bumi bumi yang menelan air

daya asmara itu tembang, kidungan bukan kidung kemenangan

bukan kidung kekalahan bukan kidung bukan tembang sebab hanya satu

bumi dan air itulah tanah air

tembang yang sesungguhnya ialah sukma yang mengalir sukma itu tanah air

tak bisa dipisah tanah dan air tak bisa diubah air dengan tanah tanah air

tanah air

itulah tembang tembang tanah air

daya asmara yang sesungguhnya tembang tanah air

asmara tanah air adalah akhir adalah lahir… tanah. Jaghana mengikuti kalimat demi kalimat seperti juga Nyai Demang.

Keduanya mengertakkan gigi ketika menemukan tulisan yang sebagian sudah terhapus di Tinggal dan tanggalkan daya asmara yang tak pernah ada

seperti langit

hanya ada satu tembang tembang tanah air




“Nyai…” Kali ini Jaghana yang justru mulai berbicara. “Tak bisa diragukan lagi, ini goresan Anakmas Upasara Wulung.”

“Kalau benar begitu, Anakmas belum cukup lama berada di sini.” “Kita masih ada waktu untuk membaca.”

Jaghana segera melesat. Mengitari wilayah yang disebut Lawang Sewu, dari bagian ujung ke ujungnya lagi. Melihat kemungkinan bekas-bekas yang ditinggalkan pada setiap kemungkinan lubang yang ada. Tidak mudah dan tak bisa dilakukan dengan cepat.

Karena yang disebut gua, bukan berupa gua dalam pengertian umum, melainkan kadang hanya berupa tanah menganga, seperti lubang sumur. Itu pun hampir seluruhnya sudah tertutup semak, pepohonan, atau sebagian sudah diuruk, ditimbun paksa oleh pasukan Ugrawe. 

Berputar sampai sepenanak nasi, Jaghana kembali ke tempat semula. Nyai Demang duduk bersandar pada sebatang pohon.

“Paman Jaghana.

“Saya kira keadaan ini benar-benar gawat. Lebih dari yang kita perkirakan. Lebih gawat dari pertarungan yang pernah kita alami berdua.

“Ini kalau jalan pikiran saya benar, atau sekurangnya separuh benar.

“Ada tiga hal yang tidak kita pahami, dan kita menjadi anak kecil yang tak punya bekal untuk menduga.

“Pertama, keadaan Anakmas Upasara.

“Dengan perkembangan kekuatan Ngrogoh Sukma Sejati, kita tak tahu di mana muara ajaran ganjil itu. Barangkali Anakmas menemukan inti ajaran penyatuan Kitab Bumi dengan Kitab Air, tetapi bagaimana kelanjutannya kita tak tahu.

“Anakmas Upasara sering menghilang dan muncul lagi saat diperlukan, akan tetapi sekali ini bisa lain.

“Kedua, keadaan Pangeran Hiang.

“Dengan sengaja menyembunyikan diri dan menghilang, tanda tanya kita makin besar. Taruh kata semua tadi hanya kecurigaan belaka atau salah paham, rasanya Pangeran Hiang tak perlu menghilang. Sikap yang tak akan dilakukannya. Berarti memang ada yang direncanakan. Dan kita tak tahu apakah orang yang dihubungi itu satu atau sepuluh atau seratus. Kita juga tak tahu apa yang akan dilakukan nanti. Apakah ini merupakan bagian dari balas dendam terakhir.

“Ketiga, keadaan anakku Jagattri.

“Dengan menemui Halayudha, Jagattri sekarang ini tidak ketahuan mati-hidupnya. Yang jelas pastilah bukan keadaan yang menggembirakan.

“Paman.

“Ketiga soal ini bisa berkaitan, bisa berdiri sendiri-sendiri.

“Menurut pendapat Paman, apa yang harus kita lakukan pertama?” Tak ada jawaban.

Mendadak Nyai Demang menjadi sangat cemas.

Tidak. Jaghana masih berada di tempatnya. Hanya kini tampak berdiam diri, bersemadi dengan mata tertutup. Bedanya dengan bersemadi biasa, kedua tangan Jaghana terbuka, terentang, dan bergerak-gerak.

“Paman!”

Nyai Demang berteriak keras.

Dan terkejut sendiri karena Jaghana juga berteriak keras. Yang disusul dengan tawa berkepanjangan. Tawa yang tidak wajar. Tawa yang mengisyaratkan keganjilan.

Karena selama ini Nyai Demang tak pernah mendengar, tak pernah melihat Jaghana bersikap terlalu. Tersenyum tipis.

Apa yang tersimpan dalam hati dan perasaan Jaghana bisa terbungkus rapi. Ketenangan adalah segalanya.

Tapi kali ini justru tertawa keras. Terbahak-bahak.

Dengan mata tertutup, dengan kedua tangan terentang, dengan perut gendut bergerak-gerak naik-turun.

Mengulang Nasi Usang NYAI DEMANG boleh berpikir panjang dan memperkirakan apa yang terjadi baik pada diri Upasara maupun Pangeran Hiang. Demikian juga Jaghana. Akan tetapi apa yang sesungguhnya terjadi masih merupakan tanda tanya.

Bagi Jaghana, perkiraan Nyai Demang ada benarnya, ada tidaknya. Hanya saat itu, Jaghana tak mengatakan bagian mana perkiraan yang tepat dan bagian mana yang meleset.

Upasara sebenarnya tidak berniat meninggalkan kegelisahan. Ketika ia berjalan bersama Pangeran Hiang, keduanya berdiam agak lama. Hanya langkah kaki keduanya terasa dibebani perasaan yang membuat dada sesak.

“Pangeran Upasara, saya bisa menerka perasaan Pangeran.”

“Saya kira Pangeran Hiang mengetahui keingintahuan saya. Tetapi saya sadar Pangeran Hiang masih ingin menyimpan sendiri, dan belum mau mengatakan.”

“Benar, Pangeran Upasara.

“Tetapi kehormatan saya memberi jaminan penuh, bahwa saya tidak bermaksud jahat. Tidak juga menyimpan niatan buruk.”

Upasara mengangguk perlahan.

“Tadinya saya mengira arwah Gemuka yang masih penasaran menggerayang sampai Perguruan Awan.”

Wajah Pangeran Hiang berubah. Sikapnya menjadi dingin.

“Pangeran Upasara, jangan paksa saya sampai tak bisa mundur lagi.” “Pangeran Hiang, kita berdua manusia biasa.

73

“Mempunyai keluhuran, mendasari dengan sikap ksatria. Kita sama-sama lelaki yang menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Akan tetapi kita ditakdirkan lahir dari tradisi yang berbeda. Dari beban yang berbeda. Dari tanah sawah yang tak sama.

“Saya mencoba mengatakan terus terang.

“Pangeran Hiang adalah putra mahkota Keraton Tartar yang tak terbayangkan betapa megah dan besarnya. Banyak kewajiban yang diwariskan dari leluhur. Begitu pula saya. Saya dilahirkan sebagai ksatria, dengan kewajiban dan kepatuhan pada nilai tradisi.

“Adakalanya nilai-nilai tadi bisa sama. “Adakalanya tidak.

“Kita sama-sama menyadari itu, Pangeran.” “Ya.”

“Pangeran Hiang tetap tidak mau mengatakan sekarang?” “Tidak.

“Maaf, Pangeran.”

Upasara berhenti di depan Gua Lawang Sewu.

“Pangeran Hiang, di depan itu ada gua yang dinamai Pintu Seribu. Pada saat saya pertama kali keluar dari Ksatrian Pingitan, saya berada di tempat ini. Bersama seluruh ksatria setanah Jawa, yang dibuai selentingan adanya Tamu dari Seberang. Ternyata itu tipu muslihat tokoh silat sakti yang bernama Ugrawe.

“Kami semua para ksatria tanpa kecuali disikat habis.

“Saya meloloskan diri lewat salah satu pintu gua yang ada, bersama Bibi Jagaddhita dan Adik Gendhuk Tri. Namun akhirnya Bibi wafat dan terkubur di dalamnya.”

“Tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi Pangeran.” “Ya, banyak membangkitkan kenangan.”

“Terutama karena adanya Adik Tri, Putri Jagattri?” “Terutama karena gua ini yang menentukan mati dan hidup.

“Siapa yang masuk tidak pasti apakah bisa menemukan jalan keluar.” “Untuk apa gua itu dibuat?” “Saya tak pernah tahu pasti, Pangeran Hiang.

“Ada yang mengatakan untuk menjaga Keraton. Lawan yang mau menghancurkan Keraton bisa tersesat di tempat ini. Ada yang mengatakan untuk melarikan diri bila ada bahaya mengancam di Keraton.”

“Akan tetapi jaraknya terlalu jauh dari Keraton. “Sangat jauh.”

“Menurut cerita, Mpu Raganata yang menciptakan gua ini. Bukan tidak mungkin betul-betul sampai ke Keraton, meskipun kalau kita berkuda melalui jalan biasa bisa tiga hari.”

“Untuk apa Pangeran ceritakan itu?”

“Untuk mengajak Pangeran melalui gua itu.” Kening Pangeran Hiang berkerut.

“Apakah ini berarti tantangan?” “Ini berarti ajakan.

“Pangeran Hiang bisa menerima, bisa menolak. Pangeran Hiang bisa menerima sebagai tantangan, bisa menganggap sebagai mainan.”

“Pangeran ingin mengulang perjalanan hidup?” “Kali ini Upasara tersenyum.

“Ada satu ajaran di tanah Jawa yang mengatakan, mbaleni sega wadhang, mengulang nasi basi, mencoba kembali nasi usang. Bila tak menemukan makanan lain, kenapa tidak memakan nasi basi?”

“Saya masih menemukan jalan yang lain.” “Kalau begitu saya yang harus mengulangi.” Pangeran Hiang berdiam sejenak.

Melangkah menghadang. “Pangeran Upasara.

“Sebelum Pangeran melakukan, mohon pertimbangkan kembali. Apakah perlu melakukan pengulangan itu? Apakah jalan buntu pikiran Pangeran harus dipecahkan dengan cara melarikan diri seperti itu?”

“Saya tidak sedang melarikan diri, Pangeran.”

“Bukankah Pangeran merasa buntu dengan penolakan Adik Jagattri?” Upasara mengangguk.

“Dan buntu dengan apa yang saya sembunyikan?” Upasara mengangguk.

“Kebimbangan semacam itu adalah kebimbangan yang mengguncangkan. Rasa daya asmara dan rasa persaudaraan menjadi tidak ada nilainya.

“Saya menyadari.

“Tapi bukan begitu caranya mencari jawaban.” “Pangeran Sang Hiang tak perlu mengajari saya.” “Maaf.”

“Bukan pertama kalinya saya melakukan cara seperti ini. Dan saya masih tetap hidup sampai saat ini.”

“Maaf.

“Maaf, Pangeran Upasara.

“Maaf, sebelum berpisah, bolehkah saya mengajukan pertanyaan lain?” “Silakan, selama saya bisa menjawab.”

“Pangeran Upasara.

“Setelah Pangeran masuk ke gua, kalau benar seperti Pangeran utarakan, barangkali kita tak akan pernah bertemu kembali. Dalam pengembaraan saya ke penjuru jagat, saya menemukan begitu banyak manusia. Tapi pertemuan dengan Pangeran sangat membahagiakan saya. Saya sepenuhnya mensyukuri dan tak menyesal mengangkat saudara dengan Pangeran.

“Dengan dasar itulah saya ingin bertanya. “Apakah Pangeran masih bersedia ke negeri Tartar?” “Masih.

“Dengan senang hati.”

“Dan saya tetap mengundang.

“Pertanyaan berikutnya, apakah ada yang ingin Pangeran perintahkan untuk saya lakukan?” “Hati-hatilah, Pangeran.

“Nyai Demang mengetahui bahwa Pangeran Hiang sekarang ini tidak sendirian.” “Saya sadar hal itu.

“Paman Jaghana pasti juga mengetahui.

“Satu pertanyaan terakhir, Pangeran Upasara apakah Nyai Demang pantas menjadi permaisuri penguasa Tartar?”

Kedua tangan Upasara terkepal. Lehernya tegang.

“Maaf, Pangeran….” “Pangeran Sang Hiang.

“Barangkali Pangeran yang tak akan bisa mendampingi Bibi Demang….”

Upasara berbalik. Dengan satu entakan kaki tubuhnya melayang, melalui kepala Pangeran Hiang. Ringan tapi gerakannya sangat tajam, menerobos semak di depannya.

Pangeran Hiang terenyak. Bibirnya digigit keras.

Ia menyesali pertanyaan yang dilontarkan. Menyesali karena kemampuan bahasanya begitu kacau, akan tetapi merasa sudah menguasai. Sehingga Upasara bisa tersinggung.

Padahal dalam hatinya, Pangeran Hiang hanya ingin menanyakan bagaimana sebenarnya Nyai Demang itu. Apakah di kelak kemudian hari bisa mendampinginya, bisa setia, mengingat dirinya…

Akan tetapi kalimatnya yang pendek-pendek, situasi yang mepet, membuatnya tak mampu memilih kata-kata yang tepat.

Memang membutuhkan waktu yang panjang, bahwa dirinya bisa terbuka, hanya dengan Upasara Wulung seorang. Seorang yang dianggap saudara, yang benar-benar lelananging jagat. Bahkan kepada Gemuka sekalipun, Pangeran Hiang tak pernah menceritakan apa yang dirisaukan.

Ini kaitannya dengan seseorang yang diam-diam mencoba menghubunginya. Yang tak bisa diceritakan sekarang ini.

Kerisauan Pangeran Hiang menemukan jawaban yang menampar wajah dan kesadarannya.

Ketika memergoki Nyai Demang yang sedang diobati Jaghana.

Nalar dan Rasa

APA yang mengganggu jalan pikiran Pangeran Hiang barangkali ganjil bagi orang lain. Dengan tingkat penguasaan ilmu silat seperti sekarang ini, soal penyembuhan yang paling aneh pun bisa diterima. Pengobatan yang memijat bagian tertentu sekalipun masih bisa diterima nalar.

Yang membedakan nalar atau akal sehatnya tidak berjalan sebagaimana mestinya adalah adanya rasa curiga. Curiga bahwa Nyai Demang mencoba melakukan perbuatan yang tak bisa dibenarkan dengan Jaghana. Rasa itu muncul menyeruak, dan hanya bisa dirasakan seorang seperti dirinya. Orang lain yang tak mempunyai pengalaman dan perasaan sepertinya, dengan mudah bisa menyalahkan, atau menganggap kecurigaan Pangeran Hiang berlebihan.

Kepekatan hati Pangeran Hiang tak bisa disampaikan kepada orang lain. Satu-satunya yang dianggap bisa mendengar adalah Upasara Wulung. Namun yang terakhir ini pun meninggalkan dirinya! Dengan membawa prasangka tertentu.

Yang sebenarnya tak bisa disalahkan juga, karena pengalaman Upasara berbeda darinya.

Pangeran Hiang merasa kagumnya makin berlebihan akan pencapaian Sukma Sejati, yang bisa mengatasi perasaan, yang bisa melampaui daya nalar.

Itulah tingkat yang kini sudah dirasuki Upasara. Tapi kenapa Upasara meninggalkannya?

Pangeran Hiang memang tak bisa merasakan getaran yang menggelegak di dalam tubuh Upasara Wulung. Getaran yang membuatnya seperti berjalan di atas awan, yang membuat pikirannya menerawang dan membumi secara berganti-ganti.

Semua ini dirasakan di seluruh tubuhnya sejak kedua tangannya mencoba menggabungkan ajaran Kitab Bumi dengan Kitab Air. Pergolakan yang seakan menuntut terus dilakukan.

Tiba-tiba benda di sekelilingnya menjadi lain. Selembar daun yang jatuh,

bisa terasa dekat tapi juga sekaligus jauh. Dekat karena dilihat, jauh karena tak dirasakan.

Maka ketika melihat Gua Pintu Seribu, jalan pikiran Upasara seperti menerobos semua jalanan bawah tanah. Jalan yang buntu, yang mampet, yang tertimbun, yang bercelah, seolah tampak jelas. Seakan semua jalanan di bawah tanah bisa dilihat dari atas. Dorongan dan tarikan untuk mengetahui, untuk membuktikan begitu kerasnya, sehingga Upasara meloncat masuk ke salah satu gua. Bahwa secara langsung bisa menemukan gua yang tertutupi semak, merupakan keunggulan yang ketika menjejakkan kakinya seperti belum jelas sepenuhnya.

Upasara seperti mengikuti nalurinya, di mana nalar dan rasa menyatu. Meloncat begitu saja, diterkam dalam kegelapan yang dalam.

Akan tetapi justru berada dalam kepekatan itulah Upasara seperti bisa melihat jelas. Bagian mana yang menuju jalan buntu, bagian mana yang menyiratkan cahaya. Ini semua bukan karena Upasara pernah berada di tempat itu. Bahkan rasanya Upasara bisa mengenali bahwa dulu ia berada pada lubang yang lain. Yang kalau mau sekarang bisa ditelusuri kembali. Juga bisa menemukan kembali di mana Bibi Jagaddhita berbaring, walaupun barangkali hanya tinggal rambutnya yang telah kering.

Upasara berjalan, merangkak, merayap, menggali dengan tangan kanan dan kiri. Gerakannya berbeda. Dan benar dugaannya, tubuhnya bisa melesat dengan cepat. Geliatan tenaga di pinggang bisa membuatnya maju beberapa tindak.

Bukan sesuatu yang luar biasa kalau dalam waktu yang tak terlalu lama Upasara muncul di bagian yang lain. Berarti telah melewati deretan Gua Lawang Sewu.

Yang dulu dilakukan seperti menjalani antara mati dan hidup. Yang dilakukan dengan bekerja keras, dan seolah bisa hidup kembali dari kematian ketika akhirnya bisa selamat.

Itulah saat Upasara menemukan Pak Toikromo. Seorang penduduk yang sederhana, polos, dan akan mengangkatnya sebagai menantu. Upasara tersenyum tipis.

Tanpa didahului helaan napas, Upasara kembali ke dalam gua. Mengulang gerakan tangan kiri dan kanan yang berbeda. Menempuh lorong yang berbeda, hanya dengan mengandalkan ke arah mana tenaga bisa dikerahkan. Tanpa memperhitungkan arah dengan perkiraan, tanpa memakai kemungkinan mempergunakan nalar atau rasa. Setiap kali ada persimpangan, seketika itu juga Upasara membiarkan tubuhnya memilih menggeliat ke kiri atau ke kanan. Atau bahkan menembus tanah yang seolah membuntu.

Nyatanya berhasil.

Upasara bisa muncul kembali di wilayah Perguruan Awan.

Dan berbalik masuk kembali ke gua. Mengulangi sekali lagi. Dan dua kali lagi. Dan kesekian

kalinya.

Baru kemudian berhenti. Bersila di pinggir, menghaturkan sembah yang dalam.

“Eyang Raganata, maafkan saya yang telah mengacak karya Eyang yang begitu sempurna.” Dalam hatinya Upasara memuji dan mengagumi secara tulus, bahwa sesungguhnyalah Mpu

Raganata memiliki ketajaman dan keunggulan yang luar biasa. Tokoh yang benar-benar sakti

mandraguna. Seorang ksatria yang memilih mengabdi sebagai prajurit, yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Keraton, kepada Sri Baginda Raja. Namun tetap seorang yang linuwih. Gua Pintu Seribu adalah puncak di antara puncak-puncak ciptaannya. Yang mungkin tak pernah diketahui orang lain.

Pada zamannya, Mpu Raganata bukan tidak mungkin berbuat lebih banyak dalam pengabdian dibandingkan dengan yang lainnya. Akan tetapi tetap saja Mpu Raganata tak pernah menunjukkan keunggulannya. Tetap saja menyembunyikan diri ketika mengajari Bibi Jagaddhita atau yang lainnya. Tetap saja mengakui bahwa Eyang Sepuh yang lebih pantas disebut yang paling unggul.

Kesadaran baru yang rumasuk ke dalam alam pengertian Upasara, seolah menyadarkan akan banyak hal. Sikap inilah yang membuat langkahnya ringan ketika menuju ke arah Keraton. Puluhan bahkan ratusan kali Upasara menuju Keraton. Ada saatnya merasa terpaksa, ada saatnya karena merasa perlu, adakalanya dengan beban pikiran yang tak disetujui. Tapi kali ini merasa jauh lebih enteng.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Keraton. Dan Upasara tidak masuk dengan cara sembunyi-sembunyi. Langkahnya tegap ketika melewati batas Keraton, dan mulai melangkah ke dalam. Melewati sitihinggil, sebelum memasuki gapura.

Para prajurit yang menjaga segera mundur menghormat, dan membukakan pintu. Upasara melangkah masuk.

Di depannya, gerbang utama untuk masuk ke Keraton. Yang dijaga penuh oleh para prajurit yang bersiaga. Akan tetapi mereka pun minggir, memberi jalan kepada Upasara.

Upasara terus melangkah masuk.

Melewati pintu utama, sampailah di bagian dalam. Perlahan Upasara naik ke pasewakan, dan baru kemudian berjalan jongkok.

Masuk.

“Akhirnya kamu datang juga, Ksatria Lelananging Jagat….”

Upasara mendongak. Memandang seseorang yang dikenali, yang kini mengenakan kelat bahu di kedua lengannya.

“Saya Mahapatih Jabung Krewes merasa mendapat kehormatan besar atas kedatanganmu. “Kalau boleh bertanya, apa gerangan yang Ksatria inginkan?”

“Maaf, Mahapatih.

“Saya sedang mencari Adik Tri….”

“Jagattri berada di ruang dalem, tempat Raja. “Bersama dengan Halayudha dan Mada. “Serta Raja.”

“Apakah saya diperkenankan masuk?” Mahapatih Jabung Krewes mengelus dagunya. “Siapa yang bisa menahanmu saat ini?

“Tak ada.

“Tidak juga saya, seorang mahapatih.

“Akan tetapi saya ingin meminta, janganlah masuk saat ini. Raja sesembahan…” Terdengar tapak kaki.

Mahapatih menunduk, menyembah. Demikian juga Upasara. Para prajurit seakan rata dengan tanah. Raja Jayanegara melangkah dengan penuh wibawa. “Sembah bakti bagi Raja….”

“Aku tak pernah membayangkan Upasara Wulung, ksatria lelananging jagat, menyembah padaku.

“Kuterima sembahmu, Upasara.”

Upasara tetap menunduk, walau kedua tangannya tidak dalam keadaan menyembah lagi. “Kalau Mahapatih menahanmu, aku mempersilakan kamu masuk.”

“Terima kasih atas belas kasih Raja.” Upasara tetap belum bergerak. “Upasara.

“Sebelum kamu melangkah ke dalam, jawablah pertanyaanku. Apakah benar Jagattri lebih penting bagimu dari Keraton atau takhta Ingsun?”

Upasara terdiam. “Jawablah, biar aku lega.”

“Keraton adalah yang utama, dan satu-satunya.” “Kenapa?” “Sebab Keraton dengan takhta adalah tanah air.” “Tanah dan air?”

“Maaf, Raja. “Tanah air.”

Tembang Tanah air

RAJA JAYANEGARA mengerutkan keningnya.

Suasana masih tetap hening.

“Upasara, Ingsun telah mengalami penderitaan yang paling buruk, maupun kejayaan yang tak mungkin bisa disamai raja lain. Tapi aku tak menangkap apa maksudmu.

“Apa maksudmu dengan tanah air?”

“Menyatunya tanah, bumi, dengan air. Menyatunya air dengan bumi. Menyatunya warga dengan Keraton.”

“Kenapa kamu ingin membela Keraton?” “Demikianlah adanya, Raja sesembahan. “Demikianlah kodratnya.”

“Bukankah kamu bisa tidak menggubris?”

“Hamba bagian dari Keraton. Seperti tanah bagian dari air, dan air bagian dari tanah.

Mensyukurinya dengan jalan menembangkan, mengidungkan.” “Sulit dimengerti, tapi bisa kuterima.

“Kamu memang linuwih, kamu memang ditakdirkan memiliki sifat lebih dari manusia yang

terpilih.

“Katakan padaku, Upasara. Kenapa ketika Baginda mengangkatmu sebagai mahapatih kamu

menolaknya, kalau kamu mau mengabdikan diri pada Keraton?” “Hamba tak mungkin menolak.”

“Kenyataannya…”

“Kenyataannya ada senopati yang lebih tepat,” Upasara menjawab dengan cepat. “Kamu angkuh. Dadamu menyimpan kesombongan.

“Tapi kamu sembada, mampu membuktikan hal yang tak bisa dilakukan orang lain. “Aku kagum kegagahanmu.

“Tapi aku tak suka kesombonganmu.

“Upasara, Baginda pun tak akan pernah berterus terang seperti ini padamu. Hanya aku.

Ingsun, raja yang mengatakan isi hatinya secara terbuka seperti ini.

“Satu hal kamu ingat, Upasara. Setelah kamu meninggalkan Keraton, saya tak akan pernah mengizinkan kamu menginjak Keraton tanpa perintahku.

“Aku akan menangkapmu. “Kamu tahu itu?”

Upasara menyembah.

“Mahapatih, dengar baik-baik sabdaku. “Dan laksanakan perintahku.”

“Sendika dawuh, Sinuwun” “Masuklah, Upasara.”

Raja menelan ludah dengan berat.

Upasara menyembah sekali lagi dengan sangat hormat. Wajahnya tak sedikit pun diberati dengan perasaan dan pertanyaan tertentu. Raja memandang agak lama sebelum meninggalkan tempat.

Upasara masih menunduk. Lama.

Baru kemudian kepalanya mendongak. Perlahan berjalan jongkok, masuk ke ruang itu. Mendorong pintu, menutupkan lagi.

Bersamaan dengan tertutupnya pintu, satu sosok bayangan menghantam keras. Upasara hanya mengegoskan tubuhnya perlahan, menghindari datangnya pukulan.

Mada yang menyerang bagai harimau menerkam, melanjutkan dengan serangan berikutnya.

Sekali lagi Upasara hanya menggerakkan tubuhnya sedikit. Pukulan Mada seperti mengenai angin.

Akan tetapi agaknya Mada menjadi lebih penasaran. Kedua tangannya tergenggam keras, menutup arah miring tubuh Upasara, serentak dengan itu lutut kanannya terangkat menyerang selangkangan.

Upasara terpaksa mengangkat dua tangannya. Terjadi tangkis-menangkis serangan.

Mada tak menarik atau mengubah tangannya. Keras beradu. Hanya saja ketika dua tangan saling menempel, Mada menjerit tertahan. Lutut kanannya yang sudah terangkat tak bisa digerakkan lagi. Darahnya seperti bergolakan tak keruan. Tenaga dalam yang dikerahkan terbentur tangan kiri lawan, dan buyar di tangan kanan.

Mada boleh dikatakan beruntung. Sebab jika Upasara memakai tiga persepuluh tenaga dalamnya, akibatnya bisa lebih mengerikan. Dari sekadar terhuyung-huyung dan duduk tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan hal itu?”

Suara yang sangat dikenal oleh Upasara. Suara yang pernah membuat daun telinganya panas. Suara Halayudha!

Suara yang mengundang kesangsian karena pertanyaan seperti itu rasanya aneh keluar dari bibir seorang tokoh sesakti Halayudha. “Itu tak bisa.

“Tak bisa. Aku sudah mencobanya.” Keduanya berhadapan.

Geraham Upasara rapat.

Halayudha berdiri dengan kepala sedikit miring, dan matanya setengah tertutup. “Bagaimana kamu bisa melakukan hal itu, Upasara?”

“Saya tidak datang kemari untuk membicarakan pukulan. “Halayudha, saya datang kemari untuk membawa kembali Adik Tri.” “Tak bisa.

“Sama sekali tak bisa.

“Justru aku sedang melatih diri untuk menemukan cara seperti itu.” Upasara maju setindak.

Halayudha berdiri menghadang.

“Katakan padaku, Upasara, apakah kamu pernah berguru kepada Ugrawe, kakak seperguruanku?”

Upasara menggeleng. “Tak mungkin.

“Aku tahu betul hal itu. Kamu memainkan jurus Banjir Bandang Segara Asat. Hanya kembangannya sedikit berbeda.”

Upasara tidak menanggapi. Tubuhnya menerjang maju ke arah kamar dari mana Halayudha keluar. Karena mendengar dengus napas seorang wanita di dalam. Yang bisa dipastikan adalah dengus napas Gendhuk Tri.

Kalau ada yang sedikit meragukan hanyalah bahwa dengus napas itu menunjukkan wanita tersebut dalam keadaan terluka.

Halayudha berkelebat. Tubuhnya bagai tirai tipis yang menutup semua jalan masuk. Tenaga dalamnya menahan terobosan tenaga Upasara.

Tidak berhenti di situ saja. Tubuhnya pun berputar, melipat ruangan yang seketika menjadi sesak, mampat. Upasara tidak meneruskan menggebrak maju karena merasa impitan udara bisa membahayakan Gendhuk Tri yang berada dalam kamar. Sebenarnya perkiraan Halayudha tak jauh meleset.

Sewaktu menyaksikan Upasara menangkis dua pukulan Mada, kentara sekali bahwa Upasara memainkan dua tenaga yang berbeda. Yang kanan berbeda dari yang kiri. Dan meskipun Mada tergolong prajurit yang memiliki kemampuan tinggi, tak kuasa menahan. Bahkan dalam gerakan pertama.

Perkiraan Halayudha, Upasara memainkan bagian dari jurus Banjir Bandang Segara Asat, yang pernah merajai dunia persilatan ketika dimainkan Ugrawe.

Seperti diketahui jurus silat itu sangat berbahaya. Karena intinya melabrakkan tenaga dalam. Tenaga dalam yang kalah akan terbetot. Dalam memainkannya, juga memakai tenaga mendorong dan menarik. Yang berarti tidak dalam pengerahan yang sama.

Kalau Halayudha menduga itu bagian ajaran Ugrawe, bukannya tidak beralasan sama sekali. Meskipun jelas Halayudha sendiri tidak yakin sepenuhnya. Karena justru pengaturan tenaga dalam seperti itu yang macet ketika mencoba menerobos ke dalam tubuh Gendhuk Tri. Bahkan ketika dicoba memainkan keseimbangan lewat tenaga dalam Mada juga gagal. Apalagi tenaga dalamnya sendiri.

Mengetahui Upasara mengendurkan usahanya menerobos, Halayudha mendengus keras.

Sikunya menusuk ke dada Upasara. Sementara kakinya menyabet dagu Upasara. Dua gerakan yang sulit itu dilakukan serentak dengan membalikkan tubuh.

Sebaliknya dari menangkis maju, Upasara hanya menarik ke belakang tubuhnya. Miring sepenuhnya, dengan kaki masih tetap menginjak lantai sepenuhnya.

Halayudha tidak mengganti atau menghentikan serangannya. Akan tetapi meneruskan. Seolah tubuhnya menjadi lebih panjang. Kakinya seperti terbetot, dan berusaha menggapai dagu Upasara.

Upasara sendiri makin merebahkan tubuhnya ke belakang.

Terdengar bunyi keretek. Seakan ruas-ruas kaki Halayudha terlepas agar kakinya mencapai dagu Upasara.

Ujung kaki Halayudha tergetar. Bergerak maju.

Upasara makin rebah. Dengan kedua kaki masih tertanam di lantai. Mada melongo.

Tak pernah dibayangkan bahwa sekarang ini bisa menyaksikan pemandangan yang begitu ganjil. Jalan pikirannya mengatakan tak mungkin kaki Halayudha makin lama makin bertambah. Sama tidak mungkinnya tubuh Upasara bisa merebah tiga perempat, tapi kakinya masih lurus.

Tapi itulah yang dilihatnya!

Putaran Kanaba

MADA jauh-jauh sebelumnya menyadari sepenuhnya bahwa yang tengah bertarung ini beberapa tingkat melayang di atasnya. Sejak mengenal ilmu silat pertama kali, Mada sudah mengagumi nama besar Upasara maupun Halayudha. Dan bukan pertama kali mengalami dengan terlibat langsung.

Sewaktu Upasara masuk, Halayudha yang terdengar mengatur tenaga dalam Gendhuk Tri sudah memerintahkan Mada menyambutnya.

“Kamu hanya mungkin mencuri gerakan pertama. Jika itu gagal, kamu tak akan menang, bahkan melawan bayangan tubuhnya sekalipun. Saya ingin mengetahui apa yang telah dicapai Upasara sekarang ini.”

“Kenapa tidak dijajal sendiri?”

“Ilmumu dekat dengan Upasara. Gebrakan pertama akan memancing persamaan.” Mada melakukan apa yang dikatakan Halayudha.

Berusaha mencuri kemenangan pada gebrakan pertama. Akan tetapi ternyata hasilnya dirinya keok sebelum Upasara menyerang. Hanya dengan menangkis tanpa menggeser anggota tubuh, sudah bisa membuatnya tak berdaya.

Yang sedikit mengherankan Mada adalah kenyataan bahwa gerakan Upasara maupun Halayudha sangat dikenali. Gerakan yang bisa dilakukan dengan sama baiknya. Hanya kedalaman tenaga dan cara pengerahan, yang menyebabkan berbeda pengaruhnya. Hal yang sama juga dirasakan Halayudha. Sewaktu Mada melabrak pertama kali, Halayudha melihat Upasara justru memainkan gerakan yang paling dasar yang dimiliki, yaitu jurus-jurus Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka.

Semua gerakannya bisa terbaca. Hanya saja kedua tangan Upasara tidak menggantikan peranan tanduk yang kukuh, melainkan memancarkan tenaga yang berbeda. Yang seakan bertentangan.

Itulah sebabnya kini Upasara bisa tetap berdiri, meskipun tingkat kemiringan tubuhnya makin besar, makin dekat ke lantai. Halayudha mengerahkan tenaganya untuk menjulurkan kakinya, agar bisa mencapai dagu Upasara.

Kalaupun bisa terulur beberapa jari lebih panjang, masih saja tak bisa menyentuh dagu. Inilah hebat.

Halayudha menahan semua kekuatan di bawah pusar, dan mulai mengerahkan dengan bergelombang. Dimulai dari bawah pusar, menggelombang ke arah kaki yang masih terjulur. Gerakan menggelombang seolah membuat tubuhnya menjadi panjang.

Dengan gerakan naik-turun, kaki Halayudha bergerak di depan wajah Upasara, dan seketika itu gelombang tenaga mengalir ke bagian tubuh atas. Halayudha membalik tubuhnya. Kedua tangannya kini leluasa sekali menerjang leher lawan. Tenaga yang digunakan ialah tenaga surung, atau tenaga mendorong. Bukan menjepit atau memiting leher, melainkan mendorong. Tenaga surung untuk serangan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan menjepit, karena posisi tubuh Upasara lebih mudah didorong daripada dijepit. Dengan memainkan kedua tangan, pengerahan ini berarti pengerahan basunya, yang mengandung kemungkinan bahaya. Karena dua tangan yang menyerang, bisa dilawan dengan dua tenaga yang berbeda. Akan jauh lebih mengenaskan dibandingkan dengan serangan satu tangan.

Ajaran yang mendasari serangan Halayudha sekarang ini adalah ajaran yang berdasar pada titik toh, atau tanda kekuatan di tubuh yang tak dipergunakan.

Toh, bila di kulit terlihat seperti bercak hitam yang lebih besar dari tahi lalat. Tanda itu menurut para ahli silat merupakan simpanan kekuatan yang telah mati. Itulah yang disergap Halayudha.

Sementara gerakan putaran tubuh mengganti posisi kaki dengan tangan, dengan menggelombangkan tubuh memakai pengerahan tenaga kanaba, atau tenaga kelabang. Tenaga yang dipakai lipatan untuk menggerakkan tubuh. Yaitu dengan seluruh tenaga yang ada. Seluruh jari-jemari di tangan dan kaki bergerak semuanya.

Yang terlihat adalah gerakan penari yang mengerikan karena menyimpan kekuatan maut. Halayudha sadar bahwa Upasara tak akan bisa dikalahkan dengan satu atau lima jurus.

Apalagi yang dimainkan sekarang adalah gerakan-gerakan yang sangat dikenalnya.

Seperti diketahui, inti gerakan itu berpusat pada Kitab Bumi bagian awal. Yang sering disebut sebagai Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Di mana peranan letak bintang di langit menjadi pedoman kekuatan.

Gerakan kanaba ini pun gerakan awal. Yang bisa disambut Upasara dengan gerakan wrecita, atau gerakan cacing. Dengan gerakan itu, serangan kelabang untuk sementara bisa ditangkis. Begitulah menurut ajaran yang ada.

Sampai tujuh langkah berikutnya gerakan-gerakan itu masih akan dikenali keduanya. Karena gerakan tenaga yang berikutnya adalah tenaga rekata- yuyu, ketam. Disusul tenaga maesa-kerbau, kemudian tenaga mintuna- ikan, dan tenaga mangkara-udang, dan berakhir pada gerakan tenaga menda-kambing.

Tujuh langkah pertama memang merupakan pembukaan dan jawaban yang paling aman. Karena siapa pun yang mempelajari Kitab Bumi, pasti hafal dan tabu bagaimana kekuatan langkah yang paling aman ini.

Siapa pun yang berani mengubah urutannya, berarti menyiapkan diri berada dalam kemungkinan yang tidak menentu. Artinya bisa menjadi lebih unggul, atau lebih besar risikonya. Yang kedua lebih sering terjadi, dan itu akan terasa pada jurus-jurus berikutnya. Karena pertahanan tak bisa sepenuhnya sekuat rangkaian gerakan-gerakan pembukaan.

Upasara justru memainkan dengan dingin.

Gerakan kanaba dihadapi dengan wrecita, dengan menggeliat lembut menghindari serangan. Tubuhnya membalik, berdiri, dengan kedua tangan terangkat. Daya membal tubuh dari setengah miring ke arah berdiri seolah bertumpu pada angin di bawah punggung. Yang lebih tepat adalah pada angin dari celah kedua kaki. Yang disebut tenaga lumrang. Upasara memakai toh sebagai sumber kekuatan.

Toh di antara selangkangan yang disebut lumrang memiliki keistimewaan. Di tempat lain diberi nama berbeda, tapi lumrang juga berarti bisa berada di mana-mana. Itulah sebabnya Upasara bisa berdiri tegak kembali!

Bersangga pada kekuatan mana pun bisa.

Halayudha berteriak kegirangan. Kedua tangannya sraweyan, bergerak ke kiri-kanan tak menentu, seluruh tubuhnya bergetar. Ini baru tantangan besar yang mampu membakar semangatnya.

Kalau selama ini lawan-lawan yang dihadapi terutama memukau karena keanehan jurus silatnya, kini justru berhadapan dengan bagian yang sangat dihafal, sangat dikenal. Dan Upasara bisa menyajikan dengan sempurna. Tak kalah indah, tak kalah hebat akibat yang ditimbulkannya.

Dengan berjingkrakan Halayudha tidak menghindar, tidak berkelit. Ketika Upasara tegak, jarak keduanya menjadi dekat. Pukulan Upasara yang menyambar ke wajahnya, tak ditangkis.

Halayudha berdiri tegak. Menunggu pukulan datang. Dengan meringis.

Anehnya, justru Upasara yang menarik pukulannya, dan meliukkan tubuh, seakan menghantam dari belakang.

Agak ganjil memang.

Atau sangat ganjil di mata Mada yang menjadi satu-satunya saksi pertarungan utama saat ini.

Ketika bisa menyerang, justru memilih bagian lain yang sulit. Kalau Mada, tetap akan menyerang, meskipun dengan sangat hati-hati karena mungkin lawan sengaja memancing, sebelum mendahului dengan pukulan tak terduga.

Sebenarnya Halayudha tidak memainkan pancingan. Ia menenggelamkan diri dalam arus permainan yang mengandalkan gerakan binatang serta titik toh. Yang baru saja dimainkan disebut wisadesti, yaitu nama toh di bagian wajah. Maka Halayudha mengerahkan tenaga ke wajah, karena tahu pukulan Upasara justru akan berakibat pada dirinya sendiri. Tenaga yang ada membalik, seakan memindahkan kulit mati di wajah Halayudha ke arah Upasara.

Pengaturan tenaga dalam yang menuntut kecermatan dan ketepatan sangat tinggi. Wisa berarti bisa, sedangkan desti atau destun bisa diartikan: sebenarnya saja jadi baik, tetapi sesungguhnya memang baik.

Dalam pengertian pengerahan tenaga, seolah-olah Halayudha sengaja memasang wajahnya untuk digampar, padahal sesungguhnya memang begitu. Dalam pengertian pertarungan, seolah-olah saja Halayudha jahat, tetapi sebenarnya bahkan lebih jahat. Karena dengan memindahkan kulit mati, lawan tak bisa berkutik lagi. Tenaga dalamnya akan membuntu dengan sendirinya, bukan karena serangan tenaga balik.

Dan Upasara mengetahui hal ini, sehingga membalik gerakannya menjadi gerakan brajadesti, yaitu nama kulit mati di bagian belakang tubuh. Gerakan ini sebenarnya sangat membahayakan diri Upasara, karena dengan demikian pengerahan tenaganya pun berada dalam posisi yang sama. Seolah Upasara mempunyai toh di bagian belakang, yang dipercayai sebagai tanda penderitaan sepanjang hidupnya.

Itu jika pukulannya tidak berhasil atau dimentahkan Halayudha. Jika berhasil, Halayudha yang akan menderita sepanjang hidupnya! Pilihan yang ganas.

Yang dimainkan dengan lembut.

Kekuatan Toh

LEMBUT, karena tak ada angin pukulan yang memorak-porandakan isi ruangan. Bahkan seolah tak mengganggu barang-barang yang ada. Lembut karena keduanya seperti tengah berlatih.

Halayudha yang meringis, mengerutkan tubuhnya, kepalanya bergerak cepat bagai disentakkan. Gelungan rambutnya lepas, dan menyapu tangan Upasara. Dalam gerakan perlahan, rambut itu menjadi lurus, keras bagai senjata, bagai braja. Upasara menarik tubuhnya.

Bergeser dua tindak dan berdiri tegak.

Halayudha yang kini seluruh rambutnya seakan lidi berdiri, mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Kita berdua mungkin yang paling hebat, Upasara.”

Upasara tak bereaksi.

Pendengarannya mencoba menangkap desah napas Gendhuk Tri di balik ruangan.

“Kamu setingkat lebih unggul karena mampu memisahkan kanan dan kiri, atas dan bawah, yang sebentar lagi juga akan kukuasai dengan lebih baik. Meskipun demikian, keunggulanmu belum bicara banyak, Upasara.

“Masih harus kita buktikan.”

Upasara membalik, seakan menuju ke arah kamar Gendhuk Tri. Halayudha menjejakkan kakinya, melayang menutup gerakan Upasara. Dan kecele.

Karena Upasara ternyata masih tetap berada di tempatnya. “Gendheng.

Gila.

“Bagaimana kamu bisa melakukan itu? “Coba ulangi lagi.”

Halayudha berbalik ke tempatnya semula. Menunggu Upasara bereaksi. Sebaliknya, Upasara seperti menyunggingkan senyuman. Dan sebelum Halayudha sadar, tubuh Upasara telah melesat ke dalam ruangan.

Tanpa menyentuh lebih dulu tubuh Gendhuk Tri yang terbaring di ranjang elok, Upasara langsung mengangkat Gendhuk Tri dan membopongnya.

Sekurangnya itulah yang dibayangkan Mada, karena kini Upasara telah berada di tempatnya semula. Sambil tangan kanannya memegangi kaki Gendhuk Tri, yang tubuhnya sepenuhnya tersampir di pundak kiri.

Kepala Halayudha miring, mengangguk-angguk. “Boleh juga.

“Kamu kira aku tak bisa melakukan?”

Halayudha bergerak. Upasara merunduk, dengan tangan kiri yang bebas terbuka siap menghalau serangan yang datang.

Kali ini Upasara yang kecele.

Karena Halayudha tidak menerjang ke arah Upasara, melainkan masuk ke ruangan di mana tadi Gendhuk Tri berada, meraup bantal besar dan membopongnya.

Serta kembali berhadapan.

Upasara membopong Gendhuk Tri, sementara Halayudha juga melakukan hal yang sama dengan bantal.

“Tak bisa kamu dibilang lebih unggul.

“Karena tubuh wanita itu tak berdaya, seperti bantal ini.” “Menyingkirlah!”

“Mana mungkin aku mau menyingkir begitu saja?

“Kamu anggap apa aku ini? Akulah raja, mahapatih, penguasa terkuat, ksatria tanpa tanding.

Dalam sejarah hidupku, aku tak akan pernah disuruh dan diperintah. “Kamu yang menyingkir!”

Upasara mengangguk. Ia berjalan ke arah pinggir. Menuju pintu.

Halayudha menggaruk-garuk kepalanya, sementara Upasara melesat dari pintu. “Kenapa kamu diam saja, Mada?”

“Paduka yang memerintahkan pergi.

“Sekarang ini siapa yang mampu membantah Paduka?” Halayudha mengangguk. “Benar juga.

“Tapi Upasara itu gendheng, ilmunya ilmu gila. Ia membagi kekuatannya dengan hebat.

Tubuhnya seakan bergerak tapi ternyata diam. Diam ternyata bergerak.

“Aku sempat kecolongan. Tenaga air yang digunakan kukira untuk mengalir. Ternyata ia memakai tenaga bumi. Sehingga aku menutup di depannya. Ternyata dia masih berdiri di tempatnya.

“Dan sebaliknya.

“Itu termasuk hebat, Mada.” “Paduka juga bisa melakukan.”

“Bisa tapi tidak seperti Upasara. Aku memainkan dengan tenaga yang sama. Banjir Bandang Segara Asat adalah dua tenaga yang berbeda, yaitu antara menarik dan mendorong. Tapi namanya tetap saja sama: tenaga keras.

“Sementara yang diperlihatkan Upasara justru sebaliknya. Dua tenaga akan tetapi satu pemunculan.

“Ia menyebutkan sebagai tanah air. “Mada, panggil Raja.

“Aku mau dengar lebih jelas apa yang tadi dikatakan.”

Mati berdiri pun Mada mau melakukan, tapi tidak untuk mengundang Raja Jayanegara.

Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? “Paduka Halayudha…”

“Aku bisa menebak jalan pikiranmu, Mada. “Kamu pasti bingung. Kenapa Raja kupanggil? “Ya, kan?

“Kamu lupa, bahwa ia raja, tetapi akulah yang lebih raja.” “Rasanya bukan itu yang hamba pikirkan.”

“Tidak mungkin.”

“Hamba justru memikirkan bagaimana mungkin Upasara bisa miring sekali tubuhnya akan tetapi tidak jatuh, dan dengan enak serta enteng bisa berdiri tegak lagi.”

“Dan aku tidak menghindari pukulannya?”

Mada mengangguk cepat sekali karena merasa berhasil mengalihkan perhatian Halayudha. “Itu memakai kekuatan toh.

“Kamu tak akan mengerti.” 74 “Kenapa tidak dilanjutkan terus?” “Gila.

“Kamu kira ada berapa toh dalam tubuh manusia?”

“Kalau tidak banyak, kenapa kita tidak memakai tanda yang lain? Andheng-andheng atau tahi lalat bisa kita samakan dengan toh. Itu sama-sama kulit mati.”

“Mada!

“Pikiranmu ada gunanya. “Bisa kita jajal.

“Tidak, tidak, kamu tak mengerti.” “Kalau jumlahnya lebih dari 57…” “Hebat.

“Jadi kamu sedikit mengerti mengenai kulit mati. Aha, hari ini kita ciptakan 57 jurus baru, dengan memakai kekuatan toh.

“Itu bagus.

“Kita mulai sekarang.”

Halayudha mengambil keris dan menggoreskan di lantai, membentuk tubuh manusia. Kekuatannya begitu kuat, sehingga lantai batu mengilat yang keras seakan tanah liat. “Ada 57 tempat yang bisa ditumbuhi kulit mati. “Ini yang pertama, di bagian kepala.”

Ujung keris Halayudha menusuk bagian kanan goresan kepala di lantai. “Manikhardika.”

“Ya, namanya manikhardika, yang mempunyai arti wadak mudah mencapai kemauannya. Berarti pengerahan tenaga di bagian ini bisa dipersiapkan sebelum menyerang.

“Lalu ini di sebelah kiri.” Halayudha menusuk bagian kiri. Jenjem.

“Tenaga yang meragukan, karena tak bisa dipaksa keluar seperti kemauan kita.”

Setiap kali menerangkan, Halayudha menusuk bagian tertentu pada goresan di lantai, sementara Mada mengingatkan nama sebutannya. Di bagian belakang kepala, dibarengi dengan sebutan cantuka, di tengah pusaran rambut disebut pulungjati, di ubun-ubun dinamai durjati.

Demikian juga bagian kening, pelipis kiri dan kanan, di pelupuk mata, kanan dan kiri, baik atasnya maupun bawahnya, sudut mata kanan dan kiri….

“Mada, kalau kita hanya menghafal seperti ini tak ada gunanya. “Akan saya buatkan toh ini di tubuhmu, dan kamu bisa menjajalnya.” “Dengan senang hati.

“Bagaimana bila Paduka kalah hebat?” “Tidak mungkin.

“Tapi bisa juga.

“Kamu bisa berdusta. Kamu bilang tidak padahal sebenarnya menyimpan tenaga. “Aku tahu kamu bisa mendustaiku.”

Halayudha menggaruk lehernya. “Jabung Krewes, kemari segera.

“Cari senopati yang sakti. Aku akan mempraktekkan temuan jurus-jurus baru. “Jabung Krewes…”

Yang diundang segera menghadap.

Senopati Klangenan

MAHAPATIH JABUNG KREWES merasa tak menentu. Terutama untuk menentukan sikap yang jelas menghadapi Halayudha.

Di satu pihak dirinya merasa ngeri dengan keampuhan ilmu Halayudha yang tak terkalahkan, akan tetapi di lain pihak merasa wibawa Keraton dirobek-robek tak menentu.

Secara sangat tersamar, Jabung Krewes pernah mengemukakan hal ini kepada Raja. Dengan dalih bahwa Raja mungkin sangat terganggu dengan kehadiran Halayudha yang menempati bagian utama Keraton.

“Anggap saja Halayudha itu senopati klangenan, kesukaan Ingsun untuk yang lucu-lucu, untuk menghibur. Seperti juga binatang buas yang ada, seperti wanita-wanita di kaputren. Seperti yang lainnya.

“Sedikit mengganggu juga tak apa. “Aku bisa mencari tempat lain.”

“Maaf, Sinuwun… Maafkan kalau hamba tak bisa segera menangkap kearifan Ingkang Sinuwun…!’

“Aku merasa masih perlu adanya senopati seperti Halayudha. Ia tak akan mengancammu karena kamu sudah resmi menyandang gelar mahapatih. Malah kamu bisa belajar banyak dari ilmunya. Kamu dan Mada beruntung, karena hanya kalianlah yang diajak bicara.

“Bagi Keraton, Halayudha lebih baik ada.

“Apa yang dilakukan Halayudha tak sepenuhnya membawa makna besar, seperti andai Ingsun yang melakukan.

“Keinginan Ingsun terkabul dari apa yang dilakukannya. “Kamu tak akan bisa mengerti.

“Tapi itulah sabdaku.” Sabda adalah sabda. Dengan sepenuh hati Jabung Krewes menjalankan. Tak ada pilihan lain. Selain menyalahkan diri sendiri, bahwa dirinya terlalu kecil dan bodoh untuk memahami keluasan daya jangkau wawasan Raja.

Walau kadang muncul godaan untuk diam-diam menyingkirkan Halayudha.

Dengan cara yang halus. Dengan menyelewengkan ilmu-ilmu yang sekarang dipelajari. Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.

Itu berarti tumpuan harapannya kembali ke Mada. Karena prajurit itulah satu-satunya yang diajak bicara Halayudha, selain dirinya.

Tidak tepat sekali, akan tetapi agaknya Mada menyadari peranannya yang menentukan.

“Untuk sementara waktu, senopati klangenan masih akan sibuk dengan toh. Usahakan terus ia tenggelam di situ, Mada.”

“Sendika dawuh, Mahapatih.” Mada menyembah hormat.

“Akan tetapi kalau jumlahnya hanya 57, semalam saja sudah selesai.” “Sesungguhnya begitu, Mahapatih.”

“Mada, biarlah aku yang merencanakan jalan lain. “Laksanakan tugasmu dengan baik.

“Kamu masih muda. Aku sudah tua. Kamu memiliki cahaya yang bersinar, aku mulai redup. Matahari tenggelam ke barat, setiap kali terasa lebih cepat. Aku harus berpacu dengan sisa-sisa usiaku.”

Mahapatih Jabung Krewes menghela napas berat.

Setiap kali pikirannya terseret ke masalah itu, setiap kali pula terbangun dari tidurnya. Setiap kali dicoba dilarikan ke dalam doa, setiap kali pula kegelisahan itu mereda untuk sementara.

Sering dalam hening tengah malam, Jabung Krewes menengadahkan wajahnya ke langit. Mencoba sepenuhnya memahami peranan yang dijalani.

Dirinya dilahirkan sebagai prajurit. Dan sejak kecil pengabdian kepada Keraton yang selalu menjadi impiannya. Setingkat demi setingkat pengabdiannya diterima. Dirinya termasuk salah seorang senopati.

Akan tetapi sangat jauh dari angannya bahwa kemudian dirinya ditarik sebagai mahapatih!

Derajat dan pangkat yang sama sekali jauh dari jangkauannya. Bahkan dalam keadaan paling mabuk pun tak berani dibayangkan.

Apakah ini yang dinamakan nasib?

Apakah ini yang dinamakan tinggal menjalani apa yang telah dituliskan Dewa?

Jabung Krewes sadar, bahwa masuknya ia ke barisan senopati yang menentukan adalah sejak adanya ketegangan dalam Keraton. Ketegangan yang terutama antara Halayudha dan Tujuh Senopati Utama yang saling ingin menanamkan pengaruh, saling menjaga diri dari kemungkinan yang terburuk. Menjadi lebih parah lagi, karena Raja sendiri ingin turun tangan dalam hal-hal tertentu.

Ketika Senopati Bango Tontong mendapat kekuasaan yang lebih besar untuk menjaga ketertiban dan keamanan dengan membentuk Barisan Kosala, agaknya Halayudha mulai berpikir lain. Apalagi mengingat Senopati Bango Tontong selama ini dikenal sebagai pengikut setia Mahapatih Nambi.

Bukan tidak mungkin akan menggalang kekuatan sendiri, dan selama ini telah terbukti bisa menyembunyikan diri. Halayudha mulai repot, karena tak mungkin melenyapkan atau menyingkirkan begitu saja.

Untuk menjaga keseimbangan, untuk mengurangi kekuasaan Senopati Bango Tontong yang tanpa batas, Halayudha menarik dan memberi wewenang kepada Senopati Jabung Krewes.

Strategi semacam itu disadari sepenuhnya. Ketika memperoleh wewenang lebih besar, Senopati Jabung Krewes mengetahui bahwa dirinya naik ke jenjang yang lebih tinggi, terutama bukan karena kemampuannya. Melainkan untuk mengurangi kekuasaan senopati kuat yang lain. Dengan adanya pertarungan tersamar di lapisan kedua, Mahapatih bisa lebih leluasa melihat dan memutuskan.

Akan tetapi dengan sangat cepat terjadi perubahan. Mahapatih Halayudha seperti berubah ingatan.

Pada saat yang genting dan menentukan, dirinya berada di dekat Raja. Dan kemudian Raja mengangkatnya sebagai mahapatih!

Suatu kedudukan yang membuat gamang. Gamang karena wewenang dan tanggung jawabnya sedemikian besar dibandingkan dengan kemampuannya. Untuk yang terakhir ini, Jabung Krewes bisa melihat dengan jelas pada dirinya.

Itu yang sangat disadari.

Itu yang ternyata tak bisa diubah.

Dengan kekuasaan seperti sekarang, dirinya bisa mengambil tindakan tegas kepada Tujuh Senopati Utama. Baik untuk menindak, ataupun sebaliknya. Akan tetapi nyatanya, hatinya selalu diliputi keraguan.

Semua ini membuatnya pedih. Sedih.

Hatinya selalu merintih, saat-saat berdoa kepada Dewa yang Mahadewa. “Duh, Dewa.

“Dosa dan kenistaan apa yang hamba tanggung sekarang ini, sehingga hamba harus menentukan nasib banyak manusia?

“Duh, Dewa.

“Kalau jelas hamba tak mampu, kenapa harus hamba yang menjalani ini, memangku derajat dan pangkat yang bila disandang orang yang tepat akan lebih bermanfaat bagi Keraton beserta seluruh isinya?”

Rintihan batin Jabung Krewes tergema balik.

Sejak memakai kelat bahu di sepasang lengannya, Jabung Krewes makin merasa beban yang disandangnya tak tertanggungkan. Dan pada situasi semacam itu yang bisa dilakukan adalah menunda dan menunda.

Menunda malam bergeser ke pagi.

Menunda penyelesaian persoalan malam hari ke pagi berikutnya. Akan tetapi ternyata itu juga hanya berarti penundaan yang makin lama makin berat.

Malam setelah berpesan kepada Mada, Mahapatih Jabung Krewes merasa lebih lega. Kini saatnya membuktikan diri, bahwa ada sesuatu yang bisa ia lakukan. Dirinya tak ingin dianggap klangenan belaka.

Untuk sesaat, Jabung Krewes ragu menentukan siapa yang bisa menjadi teman sejati untuk bertukar pikiran. Para senopati di bawahnya hanya akan mengiya saja.

Dengan Tujuh Senopati Utama jelas tidak mungkin.

Dengan Upasara Wulung juga tidak mungkin. Apalagi sabda Raja telah dijatuhkan, bahwa sepeninggal Upasara dari Keraton ia akan menjadi lawan. Berarti dengan para ksatria yang berasal dari Perguruan Awan pun tertutup kemungkinan bekerja sama.

Keraguan makin meninggi manakala Jabung Krewes mencoba menemukan apa yang seharusnya dilakukan saat ini.