Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 40

 
Jilid 40

Luar biasa.

Usaha Pangeran Muda untuk menahan hanya menghasilkan dua kutungan keris yang berdenting di lantai. Dua keris pusaka andalannya tertebas, seolah pelepah pisang. Galih Kangkam memang bukan hanya pedang tajam semata di tangan Ratu Ayu. Selama ini boleh dikatakan jarang dipergunakan. Upasara Wulung sendiri, meskipun pernah memainkan satu-dua kali dalam pertempuran, tak terlalu mengenal kekuatan utamanya. Seperti juga yang lain. Yang sama- sama dimaklumi hanyalah bahwa pedang yang tipis panjang itu pastilah bukan pusaka yang biasa, karena selama ini tersimpan dalam tongkat galih asam, tanpa diketahui Galih Kaliki yang mempergunakannya.

Meskipun Pangeran Anom selamat, akan tetapi begitu masuk jurus kelima, ketiganya benar-benar tertindih berat. Pangeran Muda tak bisa merangsek maju. Malah beberapa kali harus membuang tubuhnya secara tak teratur langkahnya. Pangeran Anom bisa menyusup maju, akan tetapi juga tak berhasil mengeluarkan pukulan yang mematikan.

Seperti kesiuran angin cepat dan makin menerbitkan irisan tajam.

Angon Kertawardhana juga tak bisa berbuat banyak setelah bisa menepikan Putri Tunggadewi. Dengan kata lain, kekalahan mereka hanya tinggal waktu saja.

Dan itu tak lama.

Nyai Demang melirik Gendhuk Tri. Gendhuk Tri melirik Nyai Demang. Terlambat.

Karena yang lebih dulu meloncat ke tengah pendapa justru Ki Dalang Memeling. Yang menggertak maju ketika pedang Galih memperdengarkan suara yang menyayat.

Karena berhasil menebas rambut Pangeran Anom dan Pangeran Muda sekaligus. Hingga gelungannya terpotong!

Mengenaskan.

Karena satu atau setengah jari lebih dalam berarti kulit kepala atau malah batok kepala.

Ilmu Ratu Ayu memang ganas, akan tetapi sekali ini lebih dari itu. Tak memedulikan lawan sama sekali. Tak memperhitungkan lawan yang menggunakan senjata tak seimbang. Tak memperhitungkan bahwa lawannya masih hijau dalam pengalaman. Justru sebaliknya, Ratu Ayu seakan memanfaatkan keunggulannya.

“Aku ingin tahu, apakah pedang ini bisa menguliti kalian sehingga Ki Dalang bisa memainkan wayang yang baru.”

Ratu Ayu memang memperlihatkan keunggulannya. Ketika berhasil menebas gelung, tidak segera melanjutkan dengan serangan berikutnya. Malah menarik diri, menunggu sampai Ki Dalang hinggap dengan selamat.

“Kamu masih mengenaliku?” “Tidak, kalau kulitmu terkelupas.

“Sudah kukatakan sejak semula, siapa yang ingin sekalian maju, saya masih bersedia menunggu.”

Ki Dalang Memeling mengeluarkan palu dari buntalan kain di perutnya. Bentuknya mirip cempala, ketokan yang biasa dimainkan dalang dengan menjapit di kaki untuk dipukulkan ke kotak wayang. Akan tetapi jelas sekali tidak terbuat dari kayu, karena tampak berat. Dan bukan cempala, karena ada pegangan di bawah dan ada bagian yang berat di atas.

Ki Dalang Memeling menggenggam dengan kedua tangannya.

Palu di tangannya bergetar, dan bergoyang makin keras, sebelum naik ke hidung, terdiam beberapa saat, dan turun perlahan, diiringi desisan.

“Mudra… Mudra…”

Pangeran Anom mengikuti dengan menurunkan kedua tangan, lalu disusul dengan desisan lirih. “Bumispara Mudra…”

Telapak tangannya terus menurun menyentuh lantai.

Begitu Ratu Ayu mencoba menyabet, Ki Dalang Memeling menangkis, dan Pangeran Anom yang lebih dulu bisa menyerang dengan tendangan kaki.

Keras, kuat, terarah.

Karena tubuh Pangeran Anom seolah bertumpu pada tangan.

Serentak dengan itu, Pangeran Muda melakukan gerakan yang sama, dan Angon Kertawardhana pun melakukan hal yang sama dengan cepat, lalu disusul dengan gerakan tangan ke arah depan, seolah sedang memberikan sesuatu, memberi amalan kepada Ratu Ayu. Tepat, desis Halayudha dalam hati.

Terdengar suara kontrangan keras yang memekakkan telinga ketika Kangkam Galih seperti beradu dengan palu Ki Dalang yang bergerak cepat, yang sendal pancing.

Pujian Halayudha sebenarnya tertuju kepada Ki Dalang. Yang dengan cepat bisa membaca jurus- jurus andalan Ratu Ayu.

Serangan Ki Dalang adalah menggabungkan jurus-jurus yang ada dalam ajaran Sembilan Jalan Buddha, gerakan tangannya bisa disebutkan mudra. Digabungkan dengan senjata andalannya mudgara atau palu, sangat tepat untuk menghadapi Ratu Ayu.

Pedang tipisnya dilabrak dengan palu berat dan tebal yang memakai tenaga sendal pancing, begitu tersentuh pedang lawan ditarik kembali secepatnya.

Secara dasar, Ki Dalang bisa membaca dan menemukan cara mengatasi jurus Ratu Ayu.

Seperti diketahui, meskipun ilmu silat Ratu Ayu boleh dikatakan ruwet dan tak terpahami, apalagi gerakannya yang kaku, akan tetapi dasarnya tetap ajaran Jalan Buddha.

Yang pada Ratu Ayu disesuaikan menjadi cara bergerak arca Buddha,

Tathagata Pratiwimba, gerakan kaku dan terpatah, namun sangat bertenaga. Inti dalamnya berpusat pada pengerahan tenaga Tathagati, atau Buddha Wanita, yang dianggap sesat.

Ki Dalang Memeling bisa saja tidak mengetahui nama jurus yang dimainkan Ratu Ayu, akan tetapi dalam pandangan Halayudha bisa menangkap sikap dasar gerakan.

Itu sebabnya menjawab dengan mudra, gerakan tangan, atau bahkan jari dalam bersemadi sebagaimana ajaran Jalan Buddha.

Ini yang juga terbaca oleh Pangeran Anom yang meneruskan dengan Bumispara Mudra, atau Gerakan Tangan Menyentuh Bumi. Di mana kekuatan kaki dipakai untuk menyerang bagian yang kosong, bagian tubuh yang ditinggalkan pedang.

Lebih hebat lagi, Angon Kertawardhana menyambung dengan Wara Mudra, atau Gerakan Tangan yang Melambangkan Pemberian Amal. Yang dalam hal ini berwujud tenaga dalam mendesak, mengimpit, meskipun tidak memilih tempat yang rawan.

Inilah bedanya dengan gerakan-gerakan yang dilakukan Ratu Ayu. Pada Ratu Ayu, gerakan yang sama bisa tertuju ke arah bagian lawan yang bisa langsung mematikan atau membuat cacat. Bukan gerakan untuk mengamankan diri, sebagaimana diyakini ketika pertama kali diciptakan.

Perbedaan inilah yang menyebabkan adanya pembedaan yang tajam antara aliran sesat dan aliran yang murni.

Karena inti yang sesungguh-sungguhnya bukan hanya perbedaan apakah tendangan dan pukulan mengarah ke ulu hati atau kaki, melainkan berasal dari niatan bertarung. Untuk keselamatan diri, atau untuk menghancurkan lawan.

Halayudha bisa memuji tinggi, karena Ki Dalang menguasai gerakan tangan, mudra, yang lebih murni. Sehingga rangkaian yang lain, Abhaya Mudra atau Memenangkan Diri dengan Bertahan, Dhyana Mudra atau Gerakan Tangan untuk Mengumpulkan dan Mengerahkan Tenaga, ataupun serangan Dharmacakra Mudra yang memutar tenaga dalam lawan, memindahkan tenaga menyerang lawan menjadi tenaga bertahan, seperti halnya menggerakkan roda. Yang atas menjadi bawah, dan sebaliknya.

Ataupun serangan Witarka Mudra, yang memecah serangan lawan menjadi tidak berarti. Rangkaian yang sangat tepat untuk menghadapi Ratu Ayu.

Untuk meredam habis kehebatan Ratu Turkana!

Siapa Melawan Siapa

PUJIAN yang tepat untuk strategi yang tepat.

Selama ini terpateri dalam benak para pendekar, bahwa Ratu Ayu mempunyai simpanan ilmu silat yang sulit dikalahkan. Pemunculan pertama yang menggetarkan di pasewakan Keraton, ataupun jauh- jauh hari dengan para prajuritnya, menempatkannya pada posisi teratas.

Akan tetapi pada pemunculan kali ini, bisa menemukan lawan yang kuat.

Justru dari angkatan muda yang boleh dikata belum pernah terdengar namanya. Atau dari seorang dalang yang tampaknya biasa-biasa. Meskipun sebenarnya tidak sesederhana itu.

Ki Dalang Memeling sesungguhnya bukan tokoh yang biasa-biasa. Ditempa dengan pengalaman hidup yang kuat dan dahsyat, dilandasi kemauan tinggi untuk selalu melatih ilmu silatnya. Ditambah lagi, sedikit-banyak Ki Dalang Memeling mengenali pola permainan Ratu Ayu.

Sehingga bisa langsung menggebrak.

Ini yang membedakan siapa lebih unggul dari siapa. Karena dalam pertarungan, bukan hanya pameran keunggulan atau penguasaan jurus saja. Melainkan juga memainkan jurus yang mana dalam menghadapi jurus apa.

Kekuatan utama Ki Dalang bukan hanya karena memainkan gerakan tangan dari Jalan Buddha. Melainkan juga dari senjata andalannya yang berupa mudgara. Senjata berbentuk palu yang tumpul dan berat itu sebenarnya tak seimbang dengan pedang tipis panjang yang tajam. Dari segi permainan, pedang lebih luwes untuk dipakai menyerang. Sebaliknya mudgara tampak memberatkan untuk bertahan, dan menguras tenaga terlalu banyak kalau dipakai menyerang.

Namun dengan memakai kekuatan tenaga sendal pancing, keadaan menjadi imbang. Setiap kali menempel, menyentuh, serta-merta ditarik kembali untuk diteruskan dengan gendaman yang berbeda.

Untuk ini, Halayudha juga menilai keunggulan Ki Dalang. Pengerahan tenaga sendal pancing, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Prinsip dasar pengerahan tenaga sendal pancing boleh dikatakan dipakai semua pesilat. Bahwa dalam memukul lawan, tangan yang menyentuh secepat mungkin ditarik kembali. Karena dengan demikian tenaga membalik tidak akan mengenai diri di penyerang.

Yang dipujikan adalah Ki Dalang menggunakan taktik itu untuk menghadapi Ratu Ayu, yang memang mengandalkan gerakan kaku dan terpatah-patah.

Enam jurus berikutnya, Ratu Ayu hanya bisa bertahan, tanpa bisa mendekat ke arah Putri Tunggadewi yang kini sepenuhnya berada dalam perlindungan Angon Kertawardhana.

“Menjajal pesta puncak yang akan datang, saya jadi ingin meramaikan keroyokan ini.”

Kiai Sambartaka mengatakan dirinya siap terjun ke medan pertarungan. Hanya karena kedudukannya sebagai tokoh kelas tinggi yang membuatnya perlu memberitahukan, dan tidak langsung terjun dalam keroyokan.

Bisa dipastikan jika Kiai Sambartaka terjun, akan mengundang lawan yang terus memuncak. Ini bisa diartikan bahwa pesta sudah dimulai.

Yang masih mengganjal dalam benak Halayudha ialah, siapa sebenarnya yang tengah bertarung sekarang ini dan melawan kekuatan yang mana?

Dengan mudah terbaca bahwa Ratu Ayu berada di pihak Kiai Sambartaka. Dua-duanya tokoh dari mancanegara. Akan tetapi siapa yang berdiri di belakangnya sekarang ini?

Benarkah Raja merestui gebrakan mereka? Itu dari sisi Ratu Ayu.

Sementara dari sisi para pangeran muda juga masih mengandung teka-teki. Siapa yang akan membela mereka?

Kalau dipertimbangkan secara masak-masak, terjunnya para pangeran muda yang disusul Ki Dalang Memeling lebih disebabkan karena upaya membebaskan Putri Tunggadewi. Bukan karena menghantam suatu gerakan atau kekuatan yang mencoba kraman.

Ini berbeda dari apa yang dilakukan Bango Tontong. Senopati yang dipercaya ini begitu muncul sudah membawa umbul-umbul dan bahkan cincin Raja. Yang menandainya sebagai utusan resmi yang mempunyai kekuasaan tertentu dan istimewa.

Berarti memang ingin melindas habis para Senopati Utama. Dan kalau melihat Ratu Ayu segera muncul menghabisinya, bisa dikatakan Bango Tontong berpihak kepada mereka.

Apa itu juga berarti kelompok Ratu Ayu berada dalam restu Raja?

Begitu banyak pertanyaan yang masih menggantung, terutama karena selama ini Raja sendiri seakan menunggu kekuatan mana yang lebih unggul.

Bagi Halayudha, sisa pertanyaan akan menjadi jelas jika segera mengetahui kemunculan Upasara Wulung. Jika Upasara, seperti juga Ratu Ayu, ditambah dengan Gemuka, kekuatan mereka tak akan mungkin diimbangi.

Halayudha tidak yakin apakah dengan mengerahkan para prajurit sekarang ini bisa menahan pembantaian habis-habisan. “Untuk apa membawa putri yang penyakitnya tak bisa disembuhkan?”

Kembali ucapan Kiai Sambartaka bagai sambaran kilat yang menyadarkan semua orang. Nyai Demang yang melihat Putri Tunggadewi sejak pertama dan menemukan kelainan, makin yakin bahwa Putri Tunggadewi berada dalam pengaruh kekuatan lain.

Yang kalau ucapan Kiai Sambartaka benar, Kiai Sambartaka pun tak mengetahui sebabnya.

Pikiran Nyai Demang sama dengan jalan pikiran Halayudha. Yang segera menyembah hormat dan membawa Putri Tunggadewi ke pinggir. Yang dibawa hanya mengikuti, tanpa memberikan reaksi.

Dengan gerakan cepat, Halayudha menyentuh beberapa nadi inti di tubuh Putri Tunggadewi. Untuk memastikan apakah ada nadi atau jalan darah yang tertotok.

Hasilnya membuat Halayudha menggigit bibirnya lebih keras. Tak ada satu pun nadi Putri Tunggadewi yang terganggu.

Juga ketika berusaha membaui pernapasan, Halayudha tak menemukan adanya pengaruh jamu dan jampi tertentu. Udara yang diembuskan dari pernapasan Putri Tunggadewi wajar.

Halayudha menggerakkan tangannya secara terbuka. Menggetar. Dan meraba seluruh tubuh Putri Tunggadewi dalam jarak kurang dari sekilan, sejengkal, satu rentangan jari tangan.

Mulai dari ubun-ubun hingga ke telapak kaki. Tiga kali.

Itulah cara untuk mengetahui seseorang yang terkena aji sirep, ajian untuk mempengaruhi seseorang sehingga tidak sadar.

Hasilnya sama, tak ada pengaruh dari luar. Setidaknya yang bisa terbaca oleh Halayudha. Hal ini bisa disebut ganjil tapi juga tidak.

Disebut ganjil, karena jelas kondisi Putri Tunggadewi tidak dalam keadaan wajar. Halayudha menguasai ilmu soal nadi dan mengetahui banyak mengenai jampi-jampi dari aliran sesat. Sehingga hanya kekuatan yang luar biasa yang mampu lolos dari pengawasan Halayudha.

Disebut tidak ganjil, karena memang itulah kenyataannya. Putri Tunggadewi seperti tidak menderita penyakit apa-apa, kecuali ada yang membeku di pulung ati, di dapur susu, yang letaknya di antara lekukan buah dada.

Di bagian pulung ati getaran tangan Halayudha seperti membentur tenaga yang beku.

Seperti diketahui, pulung ati dalam dunia persilatan mempunyai arti yang penting, walau tidak berhubungan langsung dengan pengerahan tenaga dalam, yang memang berawal dari bagian yang lebih bawah, di sekitar pusar.

Pulung bisa bermakna ganda. Di satu pihak berarti bintang bahagia, kemuliaan karena Dewa. Tapi juga bisa berarti kematian, karena “diambil” Dewa.

Seorang jago silat tidak terlalu mengistimewakan wilayah pulung ati. Kalaupun perlu dilindungi, seperti bagian tubuh lain yang juga perlu dilindungi.

Akan tetapi pada beberapa orang biasa, pulung ati diartikan sebagai pusat perasaan, pusat rasa yang mempengaruhi pikiran dan emosinya.

Mengingat Putri Tunggadewi bukan jago silat dan tidak berlatih secara khusus, agaknya kemungkinan yang terakhir yang lebih tepat.

Hanya saja, Halayudha tak bisa menentukan apa penyebabnya dan bagaimana penyembuhannya.

Kiai Sambartaka sejak tadi mengikuti gerakan tangan Halayudha dan berusaha memperhatikan dengan sangat cermat. Apalagi ketika getaran tangan Halayudha tertahan lebih lama di tengah dada!

Rasa ingin tahunya sedemikian besar, karenanya sedikit tertahan untuk maju ke medan pertarungan. Sesaat saja.

Akan tetapi yang sesaat itu berbicara banyak. Karena Kiai Sambartaka, yang merasa dirinya lebih menguasai aji sirep untuk mempengaruhi orang atau binatang, seperti menemukan jalan buntu.

Ini baru diketahui kemudian ketika dirinya sudah bergabung dengan Gemuka, yang kemudian menculik kedua putri. Secara samar, Gemuka mengemukakan kepadanya, bahwa Putri Tunggadewi sedang menderita gering yang tak diketahui.

Ini menarik bagi Kiai Sambartaka, karena selama ini Gemuka selalu membuktikan diri berhasil menjawab segala peristiwa. Ternyata Gemuka pun tidak berhasil. Blong, Sukma Tanpa Theg

GEMUKA saat itu hanya memberi pendapat yang samar. “Lihat dia, Kiai.

“Itu mungkin kekuatan sukma sejati yang terbalik. Yaitu bukan menemukan theg, melainkan menjadi blong”

Kiai Sambartaka merasa tertantang untuk memperlihatkan keunggulannya. Kalau sekali ini bisa mengalahkan Gemuka, bukan tidak mungkin dirinya bisa menemukan sela-sela yang lain.

Dengan menyusup, Kiai Sambartaka masuk ke tempat penahanan kedua putri. Dan menemukan bahwa Putri Tunggadewi maupun Rajadewi seperti tidak menderita penyakit tertentu.

Juga ketika Kiai Sambartaka mengerahkan segenap kekuatan, semua ilmu yang dimiliki. Tak ada yang aneh.

Tak ada yang ganjil.

Selain tindakannya. Putri Tunggadewi, lebih dari Putri Rajadewi, seolah tidak menginjak tanah kenyataan. Dituntun ke kiri, bergerak ke kiri, dituntun ke kanan, bergerak ke kanan. Disuruh mengambil sirih, akan bergerak dengan sepenuh hati.

Kiai Sambartaka benar-benar tak mampu menembus.

Ini pula yang menyebabkan ketika bertemu kembali dengan Gemuka di kamar penyimpanan senjata pusaka, ia menerima kalimat Gemuka dengan muka panas.

“Aku tahu niatmu menunjukkan kelebihan ilmu padaku gagal. “Kiai, kamu pun tak mengerti sebabnya?”

“Guncangan kejiwaan.

“Roh batin Putri Tunggadewi terguncang hebat. Sedemikian hebatnya sehingga kesadarannya tak ada lagi. Sehingga blong-bolong, bleng-kosong.

“Sebabnya tak lain dan tak bukan karena Putri Tunggadewi harus melayani Raja Jayanegara yang masih saudara satu ayah.”

“Tidak.

“Di kaputren sebelum aku ambil, keadaannya sudah seperti itu. Kalau kemudian melayani Raja atau tidak, sama saja. Tanpa perasaan, tanpa kesadaran sama sekali.

“Itulah blong.”

“Gemuka, kenapa kamu mengaitkan itu dengan sukma sejati?” “Karena aku lebih hebat dari kamu.

“Semua kekuatan yang tak dikenali, kita sebut saja kekuatan sukma sejati. Kekuatan yang bukan berawal dari tenaga dalam maupun tenaga luar.

“Aku lebih tahu dari kamu, karena aku mengetahui sumber utama kekuatan sukma sejati berawal dari theg. Adalah bukan tidak mungkin Putri Tunggadewi menempuh cara yang berbalik dari theg, menjadikan dirinya blong.

“Dengan disadari atau tidak.”

“Terlalu gampang mengandaikan seperti itu.” “Kamu tak mampu mengandaikan begitu.” “Gemuka…”

“Kiai!

“Kamu yang mendengarkan aku. Karena aku lebih pantas didengarkan. Kamu menerima, dan akan bertambah hebat, walau tetap tak akan bisa mengimbangi aku.

“Selama ini yang kutahu melatih tenaga sukma sejati adalah Upasara Wulung dan Mahapatih. Yang lainnya tak cukup berarti.

“Maka jalan terbaik, kirimkan Tunggadewi ke Upasara agar bisa diluruskan. Kalau benar begitu, kita sudah menguasai sukma sejati.

“Aku, bukan kita.

“Aku mengetahui kekuatan theg dan blong.”

Itulah yang kemudian terjadi. Putri Tunggadewi muncul di depan khalayak umum. Hanya kemudian, bukan jawaban dari Upasara yang terjadi, melainkan lebih banyak yang menggunakan Putri Tunggadewi untuk kepentingan masing-masing. Termasuk Halayudha, dan kemudian Nyai Demang, atau juga Ratu Ayu.

Yang berloncatan dalam benak Kiai Sambartaka adalah pertanyaan, apa yang menyebabkan Putri Tunggadewi berada dalam keadaan blong, dan bagaimana membongkar pertanyaan serta sekaligus jawaban di balik semua itu.

Selalu menemui jalan buntu.

Makanya perhatiannya terserap penuh saat Halayudha berusaha menyembuhkan. Justru karena Halayudha juga menemukan ada sesuatu yang tak beres di pulung ati. Halayudha mengusap wajahnya, menghela napas.

“Tuan Putri, silakan beristirahat sejenak….”

Putri Tunggadewi mengikuti arah yang ditunjuk Halayudha. Menuju sisi luar pendapa.

Sehingga lebih mudah menyelamatkan diri jika suasana kemelut merambat. Apalagi kini para prajurit kawal pribadi telah mengelilingi.

Kalau saja Putri Tunggadewi mau meninggalkan pendapa. Tapi tidak.

Putri Tunggadewi duduk bersimpuh di pinggir pendapa, seolah sedang menghadap Raja.

Sementara pertarungan masih terus berlangsung. Ketika para pangeran muda, bersama Ki Dalang Memeling, masih terus berkutat dengan Ratu Ayu

Meskipun beberapa kali merebut keunggulan, Ki Dalang tak bisa memaksakan kemenangan. Karena Ratu Ayu masih tetap ganas, dan bisa membalas dengan beberapa serangan yang berbahaya.

Terutama ketika Ratu Ayu mulai mencecar Pangeran Muda Wengker, yang terasa sekali bernafsu segera menyelesaikan pertarungan. Justru karena itu, gerakan kaki dan loncatannya beberapa kali tersikat oleh Ratu Ayu.

Langkah jong yang perkasa.

Yang meloncati satu orang untuk menebas yang lain. Ditambah dengan pedang panjang yang membuat lawan tak berani merangsek, ruangan pendapa seakan menjadi pameran kekuatan Ratu Ayu.

“Awas!”

Teriakan Ki Dalang Memeling terlambat. Tubuh Ratu Ayu telah melesat.

Ke arah Putri Tunggadewi.

Pangeran Muda yang berusaha menerjang maju malah kena sodokan siku yang membuat tubuhnya terbanting ke kiri. Sementara Ki Dalang Memeling tertegun. Karena loncatan Ratu Ayu sangat cepat. Satu-satunya jalan ialah melemparkan palu. Akan tetapi bahayanya terlalu besar, karena kalau Ratu Ayu menyampok keras, bisa-bisa arahnya melenceng ke Putri Tunggadewi.

Yang justru bergerak cepat adalah Angon Kertawardhana. Tubuhnya melesat ke tengah, menghadang langsung.

Sabetan pedang dielakkan pendek, kedua tangannya terulur maju meremas bagian dada. Tak ada lagi pilihan lain!

Tak ada kesempatan menghindari sabetan dan memilih serangan yang lebih sopan. Terdengar suara tarikan napas pendek, dan darah muncrat ke lantai.

Pundak Angon Kertawardhana tertoreh.

Walaupun hanya tersentuh sabetan angin, akan tetapi menimbulkan luka cukup dalam. Ratu Ayu menggerakkan pergelangan tangannya.

Pedang panjangnya yang tadinya menuding langit sehabis menebas, kembali membeset dengan tusukan lurus. Angon Kertawardhana yang masih berdiri dengan sempoyongan melihat datangnya bahaya tanpa menyingkir.

Karena melindungi Putri Tunggadewi.

Akan tetapi Pangeran Anom tidak membiarkan begitu saja. Ketika tadi Ratu Ayu meloncat, tubuhnya ikut bergerak. Hanya saja karena kekuatan tenaga Banyu Mili tidak bisa sepenuhnya mengikuti daya tarik Ratu Ayu, ia tak bisa bergerak cepat. Sehingga Angon terlukai. Akan tetapi ketika pedang itu menuding langit, tubuh Pangeran Anom sudah berada di belakang Ratu Ayu.

Yang langsung menggulung.

Benar-benar menggulung, karena kedua tangan Pangeran Anom menekuk leher Ratu Ayu, menekan ke bawah sekuat tenaga, untuk diputar dengan jurus Dharmacakra Mudra atau Gerakan Memutar Roda Dharma.

Hebat akibatnya.

Kepala Ratu Ayu tertekan ke bawah, tubuhnya melingkar, dan kemudian terbesot seolah kena isapan air yang melontarkannya ke luar pendapa!

Kiai Sambartaka melayang, menangkap tubuh Ratu Ayu, dan berputar di tengah udara untuk akhirnya berdiri di tengah pendapa.

Berdampingan.

Selain Gendhuk Tri, Halayudha juga mengetahui bagaimana Pangeran Anom dalam satu gerakan bisa menekuk tubuh Ratu. Kekuatan utama Kitab Air adalah menggunakan sifat-sifat air. Banyu Mili atau Air Mengalir memang bukan kekuatan yang mengandalkan kecepatan, akan tetapi terutama sekali datangnya tenaga yang tak diketahui oleh lawan.

Seperti bergeraknya air merembes. Tanpa suara.

Itu pula sebabnya Ratu Ayu tak menduga ada serangan dari belakang. Karena tak mendengar suara angin.

Tahu-tahu kepalanya ditekuk dengan tekanan yang tinggi. Sebelum tenaga dalam terkerahkan untuk menangkis dengan sendirinya, kuda-kudanya telah goyah.

Tanpa bisa dikuasai lagi tubuhnya terlempar.

Dan bisa berbahaya, karena Ratu Ayu masih menggenggam Galih Kangkam. Yang kalau tidak dikuasai bisa menusuk tubuhnya. Tapi Kiai Sambartaka memperlihatkan kelas yang sesungguhnya.

Pesta dan Perang

MELAYANG, sambil menangkap orang yang terlempar, bukan gerakan yang mengagumkan. Akan tetapi Kiai Sambartaka memperlihatkan secara luar biasa.

Menangkap tubuh Ratu Ayu yang menggenggam pedang, lalu berputar di tengah udara tanpa menjejak tanah lebih dulu atau memakai pijakan lain, dan kemudian sekali bisa hinggap dengan gagah.

Siap menghadapi serangan. Siap menyerang.

Karena dengan merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, puluhan ular kobra merayap keluar dari pakaian yang dikenakan. Meleletkan lidah.

Siap dilempar.

Halayudha mengangkat tangannya. Semua prajurit bersiaga.

Pendapa berubah menjadi medan pertarungan yang sesungguhnya. Udara dingin sudah tak terasa lagi. Kini semua berada dalam keadaan siap tempur.

Mendadak perhatian terpecah. Dari luar regol terdengar suara nyaring, tinggi, dan gedubrakan keras.

Ketika Gendhuk Tri menoleh ke arah regol, hampir tak percaya apa yang dilihat. Di bawah penerangan obor yang dibawa para prajurit, seekor gajah besar mendobrak regol.

Hingga pintunya somplak.

Gajah besar yang bagian kepalanya dihiasi dengan ratna manikam, dengan kain sutra. Di bagian punggung ada kursi dengan payung pelindung. Meskipun tengah malam.

Serentak dengan itu seluruh prajurit yang ada, termasuk Halayudha, menunduk, bersila, dan menyembah.

Raja Jayanegara!

Gigi Nyai Demang berkerotan. Bahwa Raja menunggangi gajah sebagai kebesarannya, bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi di tengah malam Raja mengendarai gajah menuju dalem senopaten, baru luar biasa dan tak masuk akal.

Lebih mengejutkan lagi karena di belakangnya masih ada seekor gajah lagi. Yang sedikit lebih kecil, yang belalainya bergoyangan.

Di atas punggungnya juga ada kursi kecil dengan payung yang lebih kecil. Permaisuri Praba Raga Karana!

Yang tampak tenang, memandangi sekeliling, menerima penghormatan dengan dagu sedikit terangkat ke atas.

Halayudha mendengar suara para prajurit yang mengatur barisan untuk menjaga Raja. Hatinya bercekat, karena tidak mengetahui apa yang akan disabdakan.

Sesuatu yang lain dari dugaan semua orang!

Raja bisa muncul dengan tindakan yang mengejutkan. Seperti malam ini, dengan mengendarai gajah. “Pesta belum lagi mulai, tapi kegembiraan telah terjadi.

“Menyenangkan, bukan?”

Suara Raja yang ditujukan kepada Permaisuri Praba terdengar jelas karena keadaan sekitar menjadi hening.

Ini yang sedikit-banyak menjengkelkan Halayudha. Dalam situasi perang yang memuncak, Raja malah berbicara soal lain.

Halayudha menyembah dalam. “Mohon petunjuk Raja sesembahan….”

“Ingsun ingin melihat pesta yang menyenangkan. Tak perlu petunjuk, karena di tempat yang tinggi Ingsun bisa melihat semuanya lebih jelas.

“Bukan begitu, permaisuriku?” Permaisuri Praba menyembah.

Perhatian yang tertuju dan menghormat kepada Raja mendadak pecah. Kiai Sambartaka mengentakkan tangannya dan puluhan ular melayang ke segala penjuru. Para prajurit yang masih bersila menjerit kaget.

Suasana berubah gaduh seketika.

Ketiga Pangeran Anom dan Ki Dalang Memeling segera melindungi Putri Tunggadewi. Akan tetapi Kiai Sambartaka ternyata tidak berhenti hanya dengan melontarkan ular kobra yang makin lama makin banyak, seperti keluar dari sarang dalam tubuhnya.

Kiai Sambartaka menyambar siapa saja yang ada di dekatnya, untuk diangkat dan dibanting.

Ratu Ayu bahkan langsung menusuk ke arah Halayudha dan menyabet Senopati Yuyu yang terpaksa menggelundungkan tubuhnya ke luar pendapa, jatuh ke bawah.

Gendhuk Tri tak bisa menahan diri lagi.

Dengan satu putaran, tubuhnya melesat maju. Kedua tangannya bergerak cepat. Mengamankan prajurit yang diterbangkan Kiai Sambartaka, sekaligus berusaha menahan. Nyai Demang pun tak ketinggalan.

Pendapa dan ruangan dalem menyatu sebagai medan pertarungan yang kurang seimbang. Karena Kiai Sambartaka dan Ratu Ayu seakan merajalela sendirian.

Pedang di tangan Ratu Ayu benar-benar garang. Tak menyisakan jeritan sama sekali. Karena demikian tajam dan terkuasai permainannya.

Halayudha yang menjadi sasaran utama sedikit-banyak menjadi repot, karena Kiai Sambartaka dengan puluhan ular kobra juga menyerang langsung ke arahnya.

Repot karena tidak terlalu siap. Perhatiannya masih tersita menanti dawuh, perintah, dan sekaligus petunjuk Raja, ketika Ratu Ayu dan Kiai Sambartaka melakukan serangan habis-habisan.

Segala apa yang menghalangi langsung disabet putus Ratu Ayu atau ditekuk Kiai Sambartaka. Sangat ganas dan beringas.

Bahkan cecaran kepada Halayudha membuat mahapatih yang sakti ini menghindar dua-tiga langkah ke belakang. Ratu Ayu dan Kiai Sambartaka tak memberi kesempatan untuk menyusun kekuatan. Langsung menerjang maju. Ratu Ayu kelihatan memusatkan seluruh kemampuannya. Tubuhnya bergerak, mengeluarkan warna- warni, seperti menyebarkan cahaya di setiap sudut. Matanya menatap kosong tanpa perasaan, sementara pedangnya terus berkelebat.

Halayudha yang mampu menginjak kepala ular kobra kali ini benar-benar sangat repot. Pukulan geledek Kiai Sambartaka terus mengurungnya.

Tak ada jalan mundur.

Tapi bukan Halayudha kalau bisa dikalahkan begitu saja. Pada situasi yang terdesak, kakinya berhasil menyongkel mayat Bango Tontong. Begitu terangkat ke atas, Halayudha mendorong maju, sementara tubuhnya melayang ke arah langit-langit pendapa, untuk memperbaiki posisi.

Yang terjadi kemudian adalah pemandangan yang meremangkan bulu kuduk.

Belasan ular kobra langsung menancap ke tubuh Bango Tontong. Yang lebih membuat bergidik adalah ayunan pedang Ratu Ayu. Dalam satu gerakan, pergelangan tangannya menebas dan menetas beberapa kali.

Tubuh Bango Tontong terpotong-terpotong.

Terlepas kepala, kaki, tangan, kaki, dan bahkan isi perutnya seperti tersentak semuanya! Bahkan ular kobra yang melintang di bagian tubuh itu ikut terpotong.

Memerindingkan bulu kuduk karena potongan itu terlempar ke berbagai arah, masih mengucurkan darah. Sebagian membasahi wajah Ratu Ayu yang kini menyibakkan rambutnya yang juga basah oleh cipratan darah,

Tubuh Bango Tontong berkeping-keping.

Ketiga Pangeran Anom yang menjaga Putri Tunggadewi, dan juga Ki Dalang Memeling, berusaha melindungi lebih rapat.

Akan tetapi Putri Tunggadewi justru berdiri.

Meminggirkan tubuh Angon Kertawardhana dan Pangeran Anom. “Kakang… jangan, Kakang…

“Jangan, Kakang Singanada… Jangan…”

Suaranya seperti mendesis lembut. Tapi keinginannya mendesak untuk maju seperti tak tertahankan. “Jangan, Paman Upasara tak menghendaki…”

61

Suaranya tertelan keributan yang mendadak makin meninggi dan serentak sekaligus. Karena Ratu Ayu justru memapak maju, dan dengan kekuatan penuh menusuk ke arah Putri Tunggadewi. Ki Dalang Memeling yang berusaha menahan, terlempar dengan pukulan tangan kiri. Sementara dua kaki Ratu Ayu bisa menyeruak masuk ke dada Angon Kertawardhana dan Pangeran Muda yang tercongkel serta menabrak tubuh Pangeran Anom.

Langkah dan kekuatan jurus-jurus Buddha Wanita menikam semua yang menghalangi. Keras, kuat, ganas, dan menerjang.

Sementara Putri Tunggadewi sendiri seperti tak memedulikan bahaya, tetap melangkah menuju potongan tubuh Bango Tontong! Menyongsong tebasan Ratu Ayu!

Kangkam Galih tergetar. Membalikkan sinar obor yang remang, berkilat menyilaukan. Hanya saja tertahan sebentar, tergetar. Karena ada satu tenaga yang menggoyangkan. Sesaat. Karena kemudian menebas ke bawah. Hanya saja sekali ini bukan tergetar, tetapi terlepas. Melayang ke arah lantai. Ratu Ayu merasakan tangannya ngilu tak tertahankan. Namun tangan kirinya yang bebas masih bisa meraup pedang tipis hitam, tepat di gagangnya, dan sekali lagi dipakai untuk menebas. Sekali lagi pedang yang sudah dicekal itu terlepas. Pindah ke tangan lain.

“Paman Upasara…”

Tubuh Putri Tunggadewi tersentak keras, bergoyang, sebelum ambruk dalam rangkulan Upasara Wulung.

Potengan Tubuh

UPASARA WULUNG!

Ya, pandangan Gendhuk Tri tak salah lagi. Yang mendesak maju adalah Upasara Wulung. Yang tampak sekilas seperti kurus, dengan rambut yang terurai di kiri-kanan, menutupi telinganya. Halayudha melihat bahwa Upasara mempertaruhkan keselamatannya dengan melibatkan diri. Akibatnya ikatan rambutnya terlepas. Tidak begitu jelas, apakah karena sabetan Kangkam Galih atau hanya tersentuh ujung pedang.

Halayudha bisa melihat jelas karena tubuhnya melayang dari atas. Dan kini bisa berada di bagian yang sedikit longgar untuk mempersiapkan diri.

Kejadian beruntun yang desak-mendesak.

Ditambah lagi dengan kesiuran angin yang luar biasa kencang, menyebabkan puluhan obor padam, lalu disusul suara gedubrakan yang keras, seakan seluruh bangunan rumah roboh seketika terkena guncangan gempa.

Memang sesungguhnya dalem senopaten roboh. Bukan karena gempa. Melainkan karena gerakan yang sangat kuat mengguncangkan dan melabrak tiang utama di pendapa, keempat-empatnya, hingga terlepas dari pondamen.

Runtuhnya atap pendapa menimbulkan suara gedubrakan yang keras dan memenuhi telinga manakala disusul bagian yang menghubungkan dengan dalem, juga roboh.

Genteng sirap dan kayu-kayuan beterbangan bersama dengan batu bata yang hancur menebarkan debu dan rontokan.

Ternyata masih disusul gedubrakan yang lain.

Seluruh bangunan senopaten Yuyu rata dengan tanah. Terdengar tawa yang keras, memekakkan telinga. “Aku suka kamu mau ketemu denganku.

“Upasara Wulung, namaku Gemuka!”

Tanpa penjelasan itu pun, Gendhuk Tri bisa menduga. Tokoh yang mampu menendang roboh tiang pendapa dengan sekali sentuh, serta secara beruntun, pastilah tokoh yang benar-benar sakti. Apalagi dengan sekali bergerak tangannya, kakinya, mampu membuat keonaran, sehingga seluruh bangunan hancur, rontok, dan lepas rangkaiannya.

Kemampuan bergerak yang demikian tinggi, seolah seluruh lapangan dikuasai suara yang berasal dari berbagai penjuru, mempertegas keunggulan.

Dengan padamnya obor, suasana menjadi gelap dan agak kacau.

Bukan oleh rintihan prajurit yang terkena jatuhan kayu, melainkan karena dengan demikian semua menjadi terbuka.

Para Senopati Utama, Eyang Puspamurti dan kedua muridnya, serta Jabung Krewes dan para prajurit jadi ketahuan.

Dan waspada, karena belum mengetahui apa yang bakal terjadi.

Nyai Demang mengatur pernapasan dan memusatkan kekuatan untuk berjaga sepenuhnya. Demikian juga Gendhuk Tri yang menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Telinganya mendengar suara panggilan Pangeran Anom, akan tetapi Gendhuk Tri lebih memusatkan perhatian kalau-kalau ada gerakan aneh lagi.

Dugaannya keliru.

Karena yang terlihat kemudian adalah barisan prajurit yang membawa obor, disertai genderang yang ditabuh bertalu-talu. Umbul-umbul Keraton dinaikkan tinggi-tinggi.

Keadaan menjadi lebih terang.

Meskipun sebenarnya tanah juga mulai terang oleh cahaya surya.

Bagian pendapa dan dalem telah rontok seluruhnya, kecuali bagian yang paling belakang. Di pendapa, Upasara Wulung masih merangkul Putri Tunggadewi yang sepenuhnya berada dalam bopongannya. Halayudha berada di sebelah kanan, berseberangan dengan Gendhuk Tri dan Nyai Demang.

Di depannya, Kiai Sambartaka menyilangkan tangan sambil berdiri gagah. Sementara Ratu Ayu Azeri Baijani berdiri tegak dengan dua tangan menggenggam erat Kangkam Galih.

Di bagian belakang dalem, berkumpul kelompok Jabung Krewes dengan para prajuritnya. “Paman Upasara…”

“Seorang ksatria menghendaki jalan ksatria.

“Kematian seorang ksatria adalah pilihan sukma sejati.” Gendhuk Tri menjadi limbung. “Apakah… apakah… Apakah…” Upasara Wulung mengangguk perlahan. Perlahan sekali.

Tangan kirinya menggenggam tangan Gendhuk Tri. Menarik tubuh Gendhuk Tri ke tubuhnya. Merapatkan.

Upasara mencium sudut mata Gendhuk Tri yang basah. Sunyi.

Baru kemudian sekali Upasara Wulung melepaskan genggaman Gendhuk Tri. Tangannya mengusap wajah Putri Tunggadewi, kemudian menyembah dan menyerahkan tubuh Putri Tunggadewi yang terkulai layu ke arah Nyai Demang.

Nyai Demang menerima dengan tergopoh. Secara spontan, tangannya memeriksa tubuh Putri Tunggadewi. Dan merasa tenang karena tidak menemukan sesuatu yang luar biasa.

Putri Tunggadewi seperti terlelap tidur karena kelelahan yang melampaui batas ketegangan pikirannya.

Gendhuk Tri bersila di kaki Upasara. Upasara berdiri tegak.

“Aku Gemuka.

“Pesta puncak dimulai sekarang. Kamu siap, Upasara?”

Dada Upasara yang tampak kurus tetap teratur membesar dan mengecil. Pandangannya sedikit pun tak berubah.

Tak bereaksi.

Tidak juga Gendhuk Tri yang bersemadi dengan khusyuk.

Nyai Demang yang cerdas dan bisa menghubungkan peristiwa yang satu dengan yang lain, hanya bisa meraba dan menduga apa yang sesungguhnya terjadi.

Pertama diawali ketika Ratu Ayu me-moteng-moteng tubuh Bango Tontong menjadi beberapa bagian. Kemudian Putri Tunggadewi seperti tersedot oleh kekuatan itu dan maju.

Ketika Ratu Ayu menebas.

Saat itu Upasara menampilkan diri.

Kalimat yang bisa dijadikan petunjuk hanyalah sebutan nama Kakang Singanada, dan Paman Upasara tidak menghendaki. Kemudian sekali adalah pertanyaan Gendhuk Tri yang belum jelas, karena hanya mengatakan apakah, apakah, apakah, tanpa keterangan yang lain. Yang kemudian menyebabkan Gendhuk Tri bersemadi.

Dalam keseluruhan peristiwa yang dialami, baik oleh dirinya sendiri maupun lewat penuturan, Nyai Demang boleh dikatakan menemukan gambaran yang menyeluruh.

Sehingga sedikit-banyak bisa merangkaikan.

Yang berawal dari tindakan Gendhuk Tri bersama Pangeran Anom yang terpaksa memotong kaki Maha Singanada. Senopati seberang dari Caban itu kemudian perlu meninggalkan mereka berdua.

Sebenarnya kisah itulah yang mulai dialami oleh Tunggadewi, Rajadewi, serta Permaisuri Rajapatni yang merawat tubuh Upasara yang terluka parah oleh pukulan Halayudha serta tusukan keris pusaka milik Senopati Agung Brahma.

Seperti diketahui ketiganya menyembunyikan secara diam-diam dan tak mengetahui bagaimana merawat selain berdoa. Karena tubuh Upasara tak menimbulkan reaksi apa-apa.

Saat itu, Maha Singanada yang tengah keluyuran dengan hati pedih di Keraton bertemu dengan ketiganya secara tak sengaja.

Putri Tunggadewi bisa bercerita lengkap karena dialah yang pertama kali melihat, dan menduga yang datang adalah Paman Upasara.

“Paman… Oh, bukan Paman.” “Namaku Maha Singanada. “Itu tak penting benar. “Karena aku sudah tak ada gunanya lagi. Kakiku sudah hilang. Tapi bukan itu sebabnya aku merasa tak ada artinya. Aku memang dilahirkan dengan kehinaan atas Keraton Singasari yang terberat.

“Semakin aku dikenal, semakin jelas betapa noda dan dosa itu diciptakan.

“Tetapi kalian bisa membuat aku mempunyai guna dan hidupku penuh makna. Untuk terakhir kalinya.”

Maha Singanada berusaha duduk dengan susah.

“Aku tahu kalian adalah putri Keraton. Satunya lagi Permaisuri Rajapatni. “Yang kalian rawat adalah Upasara Wulung.

“Yang pasti akan dicari untuk dimatikan. “Biarlah aku yang menggantikan.

“Dengan demikian, aku masih bisa menyelamatkan Upasara Wulung, kalau nyawaku bisa memaksa Dewa untuk tidak mencabutnya.”

Putri Tunggadewi memandang bingung. “Lakukan, Permaisuri.

“Aku yang menghendaki.”

“Saya tak mengerti maksud Senopati.”

“Tubuh dan perawakanku mirip Upasara. Sedemikian miripnya sehingga Gendhuk Tri bisa terpikat olehku. Kalau tubuhku yang mengganti tubuh Upasara, rasanya tak ada yang mengetahui. Kalaupun ada, Upasara sudah bisa selamat.

“Selama tubuhku terpoteng, tak akan mudah diketahui.”

“Saya tak mengerti kenapa Senopati Maha Singanada melakukan hal ini.” “Aku ingin berbuat sesuatu untuk kebesaran Keraton.

“Sehingga dosa ibu dan bapakku tertebus.” “Kenapa kamu pilih Kakangmas Upasara?” Maha Singanada meringis.

Menahan rasa sakit dan kebanggaan.

Bukan Pesan, Bukan Titipan, Asmara

TANPA meringis pun, bagi Putri Tunggadewi sikap Maha Singanada termasuk tidak biasa. Tata kramanya, terutama dalam bertutur kata, jumpalitan, akan tetapi penampilannya tidak mengesankan kasar. Bahkan sebaliknya.

“Aku memilih menggantikan Upasara Wulung karena ia lelaki sejati. Ksatria yang baik, mulia, dan mengabdi kepada manusia.

“Aku memilih menggantikan Upasara Wulung karena aku tidak mempunyai harapan lagi. Aku akan mati dalam waktu tidak lama, dan tak ada yang bisa kulakukan.

“Sekarang ini kesempatan bagiku.” “Saya tak bisa melakukan.”

“Tak ada yang tak bisa.

“Permaisuri bisa memotong tubuh saya. Tangan, kaki, kepala, dan bagian yang lain. Kemudian menguburkan seolah tubuh Upasara Wulung, sementara Upasara Wulung bisa tersembunyi dengan aman untuk sementara.”

“Saya tak bisa.

“Saya belum pernah…”

“Baik kalau begitu, aku akan melakukan sendiri. Bagian terakhir kamu yang melakukan. “Apakah di sini ada pedang atau keris?”

Maha Singanada sendiri yang mencari, menemukan, dan meyakinkan diri bahwa senjata itu cukup tajam.

“Senopati Singanada…” “Ada apa lagi?” “Jangan kamu lakukan itu.”

“Aku akan melakukan juga, Permaisuri Rajapatni. “Ini semua kemauanku.”

“Apakah kamu sudah berpikir?” “Sudah.”

“Sudah mempertimbangkan?” “Sudah.”

“Tak ada lagi yang memberatimu?” “Tidak.”

“Apakah kekasihmu…” “Gendhuk Tri namanya.

“Ia gadis yang baik. Yang mulia dan sakti.

“Aku akan berbahagia kalau ia mendampingi Upasara suatu saat nanti. Rasanya aku ingin menitipkan kata-kata ini. Tapi tak ada gunanya. Aku juga ingin meninggalkan pesan. Tapi tak ada gunanya.

“Asmara dan kehidupan adalah yang paling indah untuk dititipi pesan dan keinginan.

“Asmara dengan tata krama seperti itu hanya akan menjerat diri. Seperti yang Permaisuri Rajapatni alami.

“Tapi itu baik. “Bagi jagat ini.”

Maha Singanada menyiapkan pedangnya.

“Karena kalian tidak tegaan, aku akan memutus kaki sebelah, lalu tangan, dan kalian yang menyelesaikan leher serta tangan satunya.”

“Kakang Maha…”

Maha Singanada menoleh ke arah Tunggadewi. “Apa?”

“Paman Upasara tidak akan menyukai cara Kakang.” “Tak apa.

“Kenapa harus mengikuti kemauan dia? “Aku berhak atas cara kematianku sendiri.

“Kenapa begini panjang upacara dan pertanyaan hanya untuk kematian yang sekejap?” Tunggadewi menjerit tanpa suara.

Terempas tanpa bisa apa-apa.

Maha Singanada benar-benar mengayunkan pedangnya ke arah kaki. Dengan sepenuh tenaga. Dalam satu tarikan keras pedang diayunkan lagi ke tangan kirinya yang diangsurkan. Dan kemudian memenggal kepalanya.

Darah yang muncrat, teriakan aduhan, bagian tubuh yang terpotong, belum pernah dilihat dan dialami Tunggadewi. Jiwanya terguncang, kekuatan batinnya ambrol. Seekor nyamuk yang menggigit tubuhnya bisa menimbulkan iba bila diceblek. Seekor anak angsa yang kedinginan, seekor kucing yang terinjak ekornya, sebatang pohon yang meranggas, bisa membuatnya gelisah dan terganggu untuk waktu yang lama. Seekor ikan hias di taman yang terseret arus menyebabkan dirinya tak bisa makan dan tidur selama beberapa pekan.

Apalagi kejadian seperti ini.

Yang sangat mendadak, sangat menghancurkan sistem nilai dan akal budinya.

Tunggadewi tak mengerti bagaimana kisah berikutnya. Ia hanya merasa tubuh Maha Singanada menggelepar, berkelojotan, di mana-mana darah, karena agaknya sabetan ke leher tidak sempurna.

Tunggadewi tak sadar apakah Permaisuri Rajapatni yang melanjutkan atau tangannya sendiri, atau Rajadewi, atau ketiganya. Tak ingat bagaimana mulainya, dan bagaimana akhirnya.

Telinganya hanya mendengar suara, dan suara itu akan dituruti begitu saja. Seperti saat ia membawa tubuh Upasara Wulung, menggotong, menyeret, membawa ke gua bawah Keraton. Mengumpulkan potongan tubuh Maha Singanada, menunggui sementara tokoh-tokoh lain melihat, dan akhirnya ia ikut menyaksikan penguburan di halaman bagian belakang yang merupakan kebun di kaputren.

Sejak saat itu Tunggadewi tak sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi. Bayangan tubuh yang terpotong begitu lengket dan tak bisa terusir.

Satu-satunya yang setengah sadar bisa dilakukan ialah bila mendengar suara, ia bisa mengikuti. Bisa menjawab, tapi tak mengetahui bagaimana semua kejadian itu berlangsung.

Seluruh nadi sarafnya menjadi sangat tegang.

Dan baru bisa melepas semuanya ketika menyaksikan tubuh Bango Tontong yang terpotong- potong. Kesadarannya seperti dikuakkan lagi.

Hanya saja kemampuan dan daya tubuhnya tak kuat menghadapi guncangan.

Nyai Demang tak bisa menyelami seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Akan tetapi mengetahui bahwa sekarang ini justru Putri Tunggadewi berada dalam keadaan yang paling waras. Akan segera pulih kembali dalam waktu dekat. Hanya karena tidak mengetahui harus dipasrahkan kepada siapa untuk merawat, Nyai Demang masih menelentangkan di bagian bawah pendapa.

Halayudha mencoba mendekat dan merasakan bahwa pulung ati Putri Tunggadewi membalas getaran tangannya.

Kiai Sambartaka yang mengawasi sejak tadi melirik ke arah Gemuka. “Upasara bisa menyembuhkan hanya dengan bisikan.”

“Itu bukan urusanku. “Aku akan berpesta.”

Suara itu mendengung dari pelbagai penjuru. Kadang seolah dari regol, kadang dari atas punggung gajah.

Upasara tidak segera menanggapi.

Tangannya menyentuh pundak Gendhuk Tri, seakan memberi isyarat lembut.

Gendhuk Tri telah menyelesaikan semadinya, mengucapkan doa bagi arwah Maha Singanada.

Ujung matanya masih basah. Tapi wajahnya kelihatan dingin.

Pangeran Anom yang mendesak maju hanya mendapat tatapan sesaat.

“Wanita tua sesat, lihat siapa yang masih kebal kulitnya untuk menerima pedang ini.”

Ratu Ayu mumbul ke atas, lalu dari atas meluncur lurus dengan kepala ke bawah. Kangkam Galih menghunjam lurus ke batok kepala Gendhuk Tri.

“Kembalikan pusaka Paman Galih.” Kalimat Upasara pendek.

Tangan kanannya bergerak ke atas. Satu sedotan tenaga yang sangat besar membetot dan melencengkan arah pedang. Bahkan kemudian bisa terlepas.

Tergenggam ujungnya oleh tangan Upasara! Hebat.

Tapi Ratu Ayu yang meluncur turun tidak membiarkan begitu saja. Betotan tenaga yang mengakibatkan ngilu tangannya memang membuatnya kaget seperti tadi. Namun cepat sekali pedang direbut kembali. Ditarik dengan perkasa, bersamaan dengan tubuhnya yang melorot turun.

Ujung pedang dinaikkan, seakan menyodet wajah Upasara. Dan berhasil.

Berhasil mengungkit ke atas, karena jepitan Upasara lepas.

Tangan kanan yang melepaskan jepitan itu balik memegang pergelangan tangan Ratu Ayu. Memencet keras, sehingga Kangkam Galih kembali mumbul ke atas. Dengan satu tangan yang lain, Upasara berhasil menggenggam gagangnya.

Namun tangan Ratu Ayu yang bebas menyundul dari bawah. Kangkam Galih kembali mumbul ke atas.

Dalam satu tarikan napas, Kangkam Galih beberapa kali berpindah tangan. Bergantian antara Upasara dan Ratu Ayu. Dan semua berjalan dalam waktu cepat sekali. Sebenarnya ketika Upasara baru saja masuk ke pendapa, hal yang sama telah terjadi. Akan tetapi sekarang ini menjadi sangat jelas, karena Kangkam Galih tegak lurus dengan langit. Sehingga naik-turunnya terlihat jelas.

Demikian juga tangan yang bersambaran.

Setiap kali Ratu Ayu berhasil memegang, tangannya kena pencet sebelum sempat mempergunakan. Sebaliknya, kalau Upasara bisa menguasai, Ratu Ayu juga bisa mengambil alih.

Bukan Perpisahan Asmara

KEJADIAN yang berlangsung di tengah ruangan itu juga terlihat dari tempat Eyang Puspamurti. Hanya kali ini tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Lebih banyak menghela napas dan berdecak.

Sementara Ratu Ayu terus merebut, kakinya mulai menggasak Upasara. Setiap kali Upasara harus menghindari injakan dan terjangan.

Pemandangan yang aneh. Aneh dan menarik.

Kedua orang itu berdiri tegak tanpa mengubah letak kaki, akan tetapi saling mengangkat kaki, menekuk, merendah, dan di atasnya Kangkam Galih masih naik-turun.

Nyai Demang menarik udara keras.

Bersama dengan itu, tangan Upasara yang menggenggam pedang menyentil ke atas, sementara tubuhnya yang tetap tegak tak bergerak. Kedua tangannya mendorong tubuh Ratu Ayu. Seperti dorongan lembut, akan tetapi cukup membuat Ratu Ayu tertekuk, karena kakinya saling mengait sendiri.

Tubuhnya terbanting ke lantai. Andai terus jatuh.

Karena ada bayangan yang menyangga dan menggandeng untuk bangkit kembali. Nyai Demang menduga bahwa Upasara yang melakukan.

Nyatanya bukan.

Upasara berada satu tindak lebih jauh. Memegang Kangkam Galih, dalam posisi seperti mengiris lantai.

Yang berada di sebelah Ratu Ayu adalah Gemuka. “Aku Gemuka.”

Tanpa terasa Nyai Demang menggigil.

Cahaya pagi telah mulai menerangi sehingga sosok gagah dan tegap yang terbalut jubah bulu gedombrongan warna putih terlihat jelas.

Banyak alasan yang membuat Nyai Demang menggigil.

Pertama, kekaguman pada apa yang diperlihatkan Gemuka. Dengan tubuh yang tegap, gede, dan berjubah longgar, bisa melesat cepat dan tepat dari suatu tempat yang tak diketahui di mana tadinya berada.

Itu saja sudah membuatnya kagum.

Berarti nama besar yang membakar, yang selama ini dikuatirkan Halayudha, tidak dilebihkan sedikit pun.

Kedua, yang membuat Nyai Demang menggigil adalah sikap Upasara Wulung. Kelihatan sangat dingin, membeku, tapi tidak mencerminkan permusuhan atau meninggalkan bekas-bekas tertentu.

Baik saat berebutan pedang maupun saat mendorong Ratu Ayu.

Rasanya Upasara yang dikenalnya selama ini tak mungkin bersikap seperti itu!

Nyai Demang merasa dirinya sangat mengenal Upasara. Bahkan sejak Upasara masih belia dan pertama kali mengenal asmara. Sampai perkembangannya yang kemudian mengenal dan jatuh asmara kepada Gayatri, pertautannya dengan Gendhuk Tri, dan pernikahannya dengan Ratu Ayu.

Meskipun jelas menunjukkan perbedaan, tapi tidak seperti sekarang ini. Bisa dingin tanpa emosi. Tanpa dendam, tanpa sayang, tanpa bekas, seolah menghadapi seseorang yang sama sekali tak mempunyai kesan apa-apa dalam hidupnya.

Padahal berhubungan dengan Ratu Ayu.

Ratu Ayu dari Turkana, di mana Upasara diangkat sebagai Raja Turkana!

Bahwa pasangan suami-istri bisa menunjukkan hubungan yang beku, Nyai Demang cukup kenyang mengenali. Atau bahkan saat-saat terakhir Gendhuk Tri masih menunjukkan emosi tinggi dari rasa ingin tahunya mengenai Upasara, masih bisa dibenarkan.

Tetapi sekarang ini!

Benarkah ini Upasara yang dikenalnya?

Upasara yang lingsem, malu hati, kalau disinggung mengenai Permaisuri Rajapatni, Upasara yang merah mukanya kalau diajak berbicara mengenai wanita, Upasara yang menurut Gendhuk Tri menunjukkan kenakalan kala di pulau terasing?

Setajam dan setipis apa pun jalan pikiran Nyai Demang, tak mampu menerobos kejadian yang dialami Upasara. Bahkan memperkirakan pun rasanya sadar akan kemungkinan keliru.

Akan tetapi Upasara sadar sepenuhnya.

Sejak mengalami keguncangan batin setelah pertemuannya dengan Permaisuri Tribhuana, Upasara justru seperti menemukan jalan yang lapang.

Apa yang memberati hatinya tak terasa lagi sebagai beban.

Itu terjadi saat Upasara mencoba memusatkan pikiran dan mengerahkan sukma sejati. Ada semacam pembicaraan yang rasanya bisa dilakukan dengan Permaisuri Rajapatni secara langsung.

“Kakangmas, saya tahu Kakangmas akan datang.” “Ya, Yayimas Permaisuri.”

“Selama ini saya memberati Kakangmas.” “Saya juga begitu.”