Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 38

 
Jilid 38

Nyai Demang juga cukup maklum, karena pernah merasakan kehebatannya. Walau baru pada gebrakan pertama.

“Apa yang Nyai ketahui tentang Kitab Jalan Perdamaian?”

“Kitab Jalan Perdamaian, sebutan kita untuk Tai Ping Ching, atau bisa juga disebut Kitab Perdamaian Agung.

“Seperti semua kitab yang suci dan diagungkan, kitab ini banyak disalin, banyak dipelajari, dan dengan sendirinya banyak perubahan yang terjadi.

“Dan seperti kitab yang lain, selain berisikan mengenai ilmu silat, mengenai hubungan Keraton dengan Dewa, hubungan manusia sejak lahir hingga kematian…”

“Adakah Nyai ingat bahwa ada bagian yang secara rinci menyebutkan mengenai sukma sejati?” “Tidak.”

“Atau menjurus ke arah itu?” “Tidak.”

“Atau bisa ditafsirkan ke arah itu?” “Tidak.

“Mahapatih lebih tahu tentang sukma sejati. Tentunya tidak bisa balik bertanya.” Halayudha menggerakkan badannya.

“Saya justru yang bertanya.

“Karena saya melihat, merasakan, bahwa kini, kalau benar Gemuka namanya, ia menguasai Raja secara penuh. Bukan hanya secara wadak atau jasmaniah saja, tetapi juga sukmanya, hingga ke tulang sumsum. Seakan tak ada kata dari Gemuka yang perlu diragukan atau ditanyakan.”

“Maaf, saya kurang mengerti tentang kekuatan sukma sejati.” Halayudha mengangguk.

Duduk bersila.

Kedua tangannya berada di paha.

“Nyai, saya akan berusaha menjelaskan sebisa saya. Sependek pengetahuan dan otak dalam kepala yang kecil ini.

“Secara tidak terduga sebelumnya gabungan dari Kitab Paminggir, Kitab Para Raja, Kitab Pamungkas memberikan suatu persamaan dalam pengerahan tenaga. Bahkan petunjuknya yang lebih jelas diperoleh dengan memenggal pupuh dari satu kitab, dan menggabungkan dengan pupuh pada kitab yang lain.

“Menurut kisah yang saya dengar, adalah Eyang Sepuh yang secara luar biasa menciptakan Kitab Paminggir, yang ditolak Sri Baginda Raja, yang kemudian menuliskan Kitab Para Raja. Kitab ini seperti Nyai ketahui, hanya boleh dibaca para raja, yang ditulis sendiri oleh para raja. Akan tetapi, Sri Baginda Raja adalah penguasa takhta satu-satunya dan tak bisa disamai oleh yang lain. Kitab Para Raja akhirnya malah setengah disebarkan kepada kalangan tertentu. Kepada para pendeta, para resi, para ksatria utama. Sebagai jawaban kepada Eyang Sepuh. “Secara resminya, persoalan sudah selesai. Bila Sri Baginda Raja telah bersabda, tak ada yang tersisa.

“Namun, Mpu Raganata, mahapatih pertama Keraton Singasari, mahapatih bijaksana yang mampu mengimbangi sebagai tangan kanan Sri Baginda Raja, sekaligus tokoh utama dalam dunia persilatan yang gegedhug, beliau mampu melahirkan Kitab Pamungkas.”

Nyai Demang merasa ada yang aneh dalam nada ucapan Halayudha. Barulah kemudian sadar, bahwa itu untuk pertama kalinya Halayudha, yang biasa mendongak ke arah lain, mau juga mengakui kebesaran orang lain. Kebesaran Mpu Raganata. Baik dalam pengertian sempit ingin mengangkat derajat dan pangkat seorang mahapatih, ataupun dalam arti yang lebih, keunggulan Mpu Raganata dalam dunia persilatan.

Ini termasuk pertama kalinya Halayudha mengakui secara terbuka.

Selama ini Halayudha boleh dikatakan tak pernah menganggap ada tokoh lain yang istimewa. Jangan kata Upasara Wulung, bahkan Eyang Sepuh pun tak pernah diakui kelebihannya.

Sebenarnya ini juga bukan sesuatu yang luar biasa. Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh, yang menciptakan Kitab Bumi. Sehingga kekagumannya kepada Eyang Sepuh jauh berkurang. Apalagi dalam perjalanan hidupnya Halayudha melalap semua kitab yang ada. Mempelajari secara bersungguh-sungguh dari sumber utama yang ditemui. Apakah dari Kiai Sambartaka, Naga Nareswara, atau Kama Kangkam dari Jepun.

Belum lagi langkah Jong dari Turkana maupun jurus-jurus dari tanah Syangka.

Boleh dikatakan, Halayudha mengenal semua aliran ilmu silat yang pernah ada di tanah Jawa.

Dari dalam tanahnya sendiri, Halayudha bukan hanya dibesarkan dari Kitab Bumi, tetapi juga mempelajari dan melatih apa yang ada dalam Kitab Air.

Gabungan dari aneka ragam yang bahkan Upasara Wulung pun tak bisa menyamai separuhnya. Bahwa ini semua masih menyisakan pujian bagi Mpu Raganata, merupakan pertanda keterbukaan.

Apakah ini karena pengaruh melatih kekuatan sukma sejati atau taktik belaka, Nyai Demang tak bisa memastikan segera.

“Dari Kitab Pamungkas, jelas-jelas disebutkan lahirnya mahamanusia. Manusia menjadi mahamanusia bila mampu menguasai kekuatannya yang tak terbatas, kecuali untuk satu orang yang kelak menjadi pilihan Dewa untuk menjadi raja.

“Mahamanusia berkuasa atas sukma, tanpa menjadi mati. Mahamanusia ialah barang siapa yang mampu mengikuti dan mendengarkan kekuatan dari sukma sejati.”

Pencerahan Sukma Sejati

APA yang dituturkan Halayudha bukan hal baru bagi Nyai Demang. Akan tetapi dari penjelasannya yang bernada menggurui, menyadarkan Nyai Demang bahwa Halayudha tidak mempelajari secara sembarangan.

“Puluhan tahun ketiga kitab utama dituliskan. Akan tetapi selama ini tak ada yang mendapat pencerahan untuk memahami.

“Bahkan tidak juga tokoh sakti yang bernama Eyang Puspamurti, yang sepanjang hidupnya mempelajari Kitab Pamungkas. Kidungan yang dihafal sampai ke dalam mimpinya itu, tak pernah dikuasai benar-benar sampai ketika bertemu dengan Jaghana.

“Paman Gundul dari Perguruan Awan ini seakan dituntun oleh roh Eyang Sepuh yang moksa untuk menyadarkan batasan mahamanusia, untuk menyadarkan Eyang Puspamurti bagian yang lain, yaitu dua kitab sebelumnya.

“Saya mengatakan pencerahan, sebab Jaghana telah melihat sinar terang itu sebelum bertemu Eyang Puspamurti. Dalam kegelisahan batinnya, Jaghana menjadi Dukun Truwilun, sesuatu yang tak akan pernah terbayangkan sebelumnya.

“Tokoh yang sangat sederhana, dari penampilan, namanya, sikap hidupnya sehari-hari, yang telah menyatu dengan seluruh kehidupannya, tiba-tiba muncul dengan cara lain. Dengan memanjangkan rambut, dengan terjun sebagai dukun.

“Perubahan tubuh yang tak pernah terjadi.

“Sesuatu yang biasa jika terjadi pada diri saya, pada diri Nyai Demang, atau bahkan Eyang Sepuh. Tapi tidak bagi Jaghana. “Menurut pengamatan saya, kegelisahan itu karena Jaghana mulai menangkap perubahan, akan tetapi belum memahami sepenuhnya ke mana gerak sukmanya.

“Begitulah Jaghana menempuh jalan dengan kaki dan tubuhnya mengikuti dorongan sukmanya.

“Dengan begini, sekurangnya ada dua tokoh sakti yang mengetahui adanya kekuatan sukma sejati. Kekuatan yang bukan lagi berdasarkan tenaga dalam atau tenaga luar, akan tetapi kekuatan yang bersumber dari sukma sejati.

“Tokoh lain yang dengan gemilang menangkap pencerahan ini adalah Dewa Maut….” Suara Halayudha menjadi haru.

Kalau saja saat itu Nyai Demang bertanya mengenai Dewa Maut, Halayudha tak akan berdusta. Ia akan mengatakan apa adanya!

Tapi Nyai Demang tidak menanyakan, karena ragu. Ragu jika ada yang mengetahui dirinya menanyakan secara khusus mengenai seorang lelaki. Ragu karena takut diketahui bahwa ia mempunyai hubungan asmara dengan seseorang, sejak ditinggal mati suami dan anak-anaknya.

Padahal kalaupun ditanyakan, tak akan menimbulkan kecurigaan sedikit pun.

“…yang sedang mencoba berlatih saat ini saya sendiri dan Upasara Wulung, untuk menyebutkan dua nama di samping puluhan tokoh yang lain.

“Mencoba dan tidak bisa menduga sampai di mana batas dan kemungkinannya.

“Karena seperti Nyai Demang dengar, bahkan Permaisuri Praba Raga Karana mendapat pencerahan yang sama sehingga terbebas dari penyakit dan penderitaannya.

“Tidak tahu sampai di mana batas dan kemungkinannya, karena bukan tidak mungkin Gemuka mampu menguasainya. Padahal Gemuka belum tentu mengetahui dari kitab yang sama.”

“Apa yang membingungkan, Mahapatih?

“Yang namanya kitab suci, kitab babon semua kitab, mempunyai persamaan dan perbedaan di negeri satu dengan yang lainnya. Itu sebabnya Eyang Sepuh mampu mengundang pendekar dari seluruh jagat untuk mengadu kesaktian, mana ajaran yang lebih benar. Atau ajaran yang paling benar.

“Bukan tidak mungkin kekuatan yang mempelajari sukma sejati juga diajarkan dalam kitab lain, meskipun penamaan sukma sejati hanya kita yang mengenalnya. Itu sebabnya saya mengatakan tidak, kalau disamakan dengan yang lain.”

“Yang membingungkan saya, pencerahan sukma sejati pada beberapa tokoh menjadi sangat berbeda bentuknya. Berbeda dengan kalau misalnya kita memperdalam Kitab Bumi, atau sebut kitab apa saja.

“Pada pencerahan sukma sejati, kita melihat Jaghana yang berubah dari seorang malu-malu menjadi beringas dan membiarkan rambutnya tumbuh di dagu, di pipi. Sesuatu yang selama ini bahkan tak bisa tumbuh di atas kepalanya.

“Pada Dewa Maut lain lagi.

“Pada Eyang Puspamurti, ia menjadi pengikut setia Jaghana dan menerima sepenuhnya Jaghana ketika menitipkan muridnya. Sekarang ini Eyang Puspamurti bahkan bersedia menjadi prajurit Keraton. Karena nglabuhi, membela keperluan Mada dan Kwowogen, yang sebenarnya tak ada artinya.

“Pada Permaisuri Praba Raga Karana berarti penyembuhan.

“Pada Upasara Wulung, ia juga mengalami perubahan mendasar seperti Jaghana. Sekarang bahkan mau menyanding Ratu Ayu.

“Pada diri saya sendiri, barangkali keinginan untuk menjadi abdi Keraton, memangku jabatan mahapatih secara lebih benar.

“Maaf, yang terakhir ini tak perlu dipercaya.

“Maaf, Nyai. Saya menangkap pembicaraan Nyai Demang dengan Gendhuk Tri mengenai Upasara Wulung. Namun bagi saya tetap menjadi tanda tanya.

“Kenapa kalau demi kedamaian hati Permaisuri Rajapatni dan Gendhuk Tri, Upasara Wulung tidak melakukan sejak dulu? Kenapa justru setelah mengenal kekuatan sukma sejati?

“Kenapa ini semua?

“Apakah karena kebetulan belaka?

“Karena kedewasaan sikap Upasara sehingga memilih kembali bersama Ratu Ayu?

“Apakah sukma sejati itu garis tangan yang disebut kodrat atau nasib, yang sebenarnya tak bisa dipelajari dan diperhitungkan kekuatannya?” Nyai Demang mengelus lehernya yang berkeringat. “Saya bisa menangkap apa kemauan Mahapatih.

“Menggali sumber latihan penggunaan kekuatan sukma sejati lewat Jalan Perdamaian.” “Lebih dari itu, Nyai.

“Saya ingin mengetahui sejauh mana Raja diperlakukan semaunya oleh Gemuka.”

“Saya bisa memahami cara Mahapatih bertutur dan mempengaruhi jalan pikiran orang lain.

“Barangkali dari sisi ini, Mahapatih Halayudha yang paling tepat mendalami. Karena menyerupai sifat Mahapatih Halayudha yang bisa mengubah diri hingga ke isi tulang.”

“Pujian yang menyakitkan, Nyai.

Tetapi bagaimanapun saya menerimanya sebagai pujian.” “Saya tak bisa menemukan jawaban yang tepat.

“Kenapa ajaran maha luhur Mpu Raganata justru tepat untuk seorang Halayudha.” Suara Nyai Demang terdengar memelas.

Tidak seperti gugatan, melainkan rintihan. “Bagaimana dengan Jalan Perdamaian?” “Kitab itu juga tidak berdiri sendiri.

“Kalau ada kaitannya, barangkali pada kidungan yang mengisahkan Jalan Lima Puluh Kati Beras. “Jalan di sini bisa berarti jurus…”

Suara Nyai Demang mengambang. Bibirnya bergumam dalam bahasa yang samar, sedikit dimengerti oleh Halayudha. Bahasa yang banyak persamaannya dengan yang diucapkan oleh Raja, dan dulu oleh Naga Nareswara.

Agaknya Nyai Demang mencoba mengenali dan menggali isi dari kidungan bahasa aslinya.

Salah satu Jalan Perdamaian adalah Yang disebut Jalan Lima Puluh Kati Beras

Jalan ini bisa dilewati beras seberat lima puluh kati Atau seonggok padi dalam satu pikulan

Barang siapa menghalangi, kibaskan Patahkan, kalahkan, tumpas

Sebab lima puluh kati beras

Adalah laksana bibit yang akan tumbuh Dan sesungguhnya saudagar itu bukan Kasta terendah sesudah pendeta, ksatria,

Saudagar itu tidak menempatkan yin di atas yang Tidak berada di bawah Langit, Bumi, dan Manusia Berarti, Jalan Lima Puluh Kati Beras

Adalah jalan lurus

Saudagar menjadi tenaga, menjadi arwah Yang mengutuk, yang membalas dendam Yang menimbulkan bahaya

Banjir, Api, Gunung Meletus Mata pencaharian dan kehidupan

Tempuhlah Jalan Lima Puluh Kati Beras Sebagai pemimpin,

Dan semua akan mengikuti

Jagat Perdamaian akan datang….

Nyai Demang menggeleng, tanda kurang puas akan apa yang dikatakan. “Nyai bisa menuliskan?”

“Tidak. Tapi kalau membaca rasanya masih bisa.”

“Maksud saya mengingatnya dalam bahasa Cina, dan saya akan menghafalkan. Ini cara singkat untuk menarik perhatian Raja agar berpaling dari Gemuka.”

Jika Bukan, Itu Jalan Tao

“BAGAIMANA caranya Gemuka bisa menyusup ke dalam Keraton?” Halayudha menggerakkan kedua bahunya.

“Hanya perkiraan, Nyai.

“Raja mempunyai kebiasaan secara diam-diam mengundang tokoh yang dianggap sakti. Sangat mungkin sekali cara Gemuka menyusup ke dalam puncak kekuasaan tak berbeda dengan para pendeta dari Syangka. Tak berbeda dengan para raja dari seberang yang dikumpulkan.

“Rasanya semua raja mempunyai rasa batin, dan Gemuka merupakan orang yang datang pada waktunya. Dengan pameran kesaktiannya, Raja akan terpikat dan memberi keleluasaan padanya.”

“Tahukah, Mahapatih, bahwa pernyataan itu membuahkan beberapa pertanyaan dan kesimpulan?

“Pertama, dengan cara apa Gemuka memamerkan kesaktiannya? Sekarang ini rasanya banyak tokoh yang sakti, yang bisa mendekat kepada Raja. Tetapi kenapa Gemuka? Pastilah ia mempunyai sesuatu yang sangat istimewa dan memikat.

“Kedua, dengan Gemuka berada di belakang Raja, berarti ia berdiam di sekitar Keraton. Rasanya sulit dimengerti kalau selama ini Mahapatih tak bisa menemukan.

“Ketiga, kalau Gemuka sudah mengetahui hasil di Lodaya, Raja berada dalam bahaya besar. Karena setiap saat Gemuka bisa menyekap dan membawa Raja ke tanah Tartar.”

“Keempat, kita harus bertindak cepat.

“Nyai, apa sebenarnya ajaran Jalan Perdamaian itu?”

“Segala yang bukan Jalan Buddha, dan bukan Jalan Kong, itu disebut Jalan Perdamaian, jalan yang pernah ditempuh Pendeta Tao. Sebab penamaan ini dengan memberikan kata bukan, lebih mengenai sasaran.

“Jalan Tao ialah bukan Jalan Buddha dan bukan Jalan Kong.

“Jalan Tao, Jalan Perdamaian berarti bukan jalan perang. Di antara dua perang, itulah perdamaian. Jalan Tao, atau Hsuan-chiao, membawa pengertian bahwa hsuan, bukan jalan biasa. Hsuan juga berarti mistik, berarti bisa menjadi sikap mendasar, cara membaca mantra dan kidungan. Itu sebabnya disebutkan sebagai agama, atau jalan.

“Dalam pupuh keempat, yang disebut Obah Ora Owah, atau Berbuat Tanpa Berubah, atau bisa juga disebut Bertindak Tanpa Berbuat. Wu, bisa diartikan berbuat, melakukan sesuatu, atau tumindak, sedangkan wu-wei berarti tidak.

“Dalam pupuh kelima, disebutkan sumber tenaga itu berasal dari chung, dari kekosongan, dari tanpa bentuk, atau kekosongan yang mengisi.

“Kalau benar begitu…” Halayudha mengangguk berat.

“Apa pun caranya, sebenarnya kita mengenal lebih dalam pengertian yang berbeda. Kekuatan utama Obah Ora Owah hanya berbeda pengertiannya dari apa yang saya kenal dengan pukulan Banjir Bandang Segara Asat.

“Hanya mungkin bedanya, saya masih harus menggerakkan pukulan dan melontarkan, sementara Jalan Perdamaian sama sekali tidak menggerakkan apa-apa.

“Gemuka sekarang ini berdiam diri, dan membiarkan Raja mengambil tindakan, berbuat. Tanpa perlu bergerak apa-apa, semua keinginannya tercapai.”

“Maaf, Mahapatih, pengetahuan saya mengenai bahasa aslinya sangat terbatas. Ini juga dari ingatan yang tumpul, ketika hamba mendengarkan apa yang dikatakan Naga Nareswara.

“Karena pada pupuh keempat belas yang menyebutkan mengenai asal mula tenaga dikatakan bahwa, lihat tapi tidak kelihatan itulah yi, dengar tapi tak terdengar itulah hsi, pegang tapi tak bisa disentuh itulah wei. “Tiga kata pada pupuh keempat belas yang disebutkan sebagai kekuatan asal mula, sebenarnya bisa mengandung pengertian tersendiri. Ungkapannya bisa seperti yi-hsi-wei, atau mirip-mirip i-hi-vei, yang memperlihatkan sesuatu yang berbeda.”

Nyai Demang mencoret-coret di lantai dengan jarinya, lalu menggeleng. “Akan saya sediakan keperluan Nyai.

“Akan tetapi agaknya saya harus bekerja keras dan cepat.

“Apakah Nyai masih ingin di sini sementara ataukah ingin kembali ke tempat semula?”

Bukan kebaikan yang tulus. Ini hanya karena cara berpikir Halayudha yang praktis. Pada akhirnya tak ada gunanya menahan Nyai Demang seperti sekarang ini, seperti yang dulu dilakukan pada Naga Nareswara atau Kama Kangkam.

“Terserah Nyai.”

“Mahapatih tak akan mampu berbuat sendiri.” “Rasanya begitu.

“Pertanyaan yang Nyai ajukan mengenai bagaimana cara Gemuka memperoleh kedudukannya sekarang, menghajar saya, menampar kekuatan saya.”

Dugaan Halayudha hanya satu.

Gemuka bisa mempengaruhi dan kemudian dekat dengan Raja hanya dengan satu alasan: Permaisuri Praba! Tak ada cara lain.

Rasanya kekuatan sukma sejati yang selama ini ditafsirkan orang, bukan jatuh di pangkuan Permaisuri Praba begitu saja, melainkan melalui cara yang biasa.

Disembuhkan.

Kalau benar begitu, kenapa Permaisuri Praba tidak menghukum dirinya? Dari mana jiwa besar itu muncul?

Halayudha tidak berani mengemukakan kemungkinan masuknya Gemuka melalui pengobatan Permaisuri Praba, karena tak bisa membayangkan betapa Nyai Demang akan murka hebat.

Perasaan sesama wanita akan membuat Nyai Demang membencinya tujuh turunan.

“Kita harus berpacu karena saya menyadari bahwa jika Gemuka pada akhirnya menguasai kekuatan sukma sejati dan bisa lebih berhasil, habislah kita semua ini.

“Maaf, Nyai.

“Selangkah dari pintu Nyai akan segera mengenali bangunan Keraton. Saya akan menemui Nyai untuk bertanya, dan dalem kepatihan terbuka lebar untuk kedatangan Nyai.”

Halayudha mengangguk, dengan menyembah hormat melangkah ke luar.

Nyai Demang masih tercenung beberapa saat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Menuju ke tempat kediamannya.

Dengan pikiran yang penuh.

Tak ada yang bisa dipegang sekarang ini. Bahkan Upasara Wulung pun rasanya perlu diragukan. Apakah bukan karena sebab yang lain ia memutuskan bersama Ratu Ayu?

Tak ada yang bisa dipercaya.

Perasaan ini tumbuh dalam sudut hati Nyai Demang sewaktu Gendhuk Tri datang. Mereka minum teh bersama, bercakap biasa. Yang membuat Nyai Demang bertanya-tanya adalah kenapa Gendhuk Tri tidak sedikit pun bertanya atau heran.

Gendhuk Tri seperti menyembunyikan sesuatu justru dengan tidak melontarkan pertanyaan kenapa pada pertemuan sebelumnya mereka tak bisa saling bertemu.

“Kamu baik-baik saja, anakku?” “Seperti yang Nyai lihat.” Suaranya dingin.

“Anakku Jagattri, apakah kini kamu pun perlu mempertimbangkan siapa yang mengajak bicara padamu? Apakah kamu akan percaya kalau saya mengatakan saya baru saja bertemu dengan Mahapatih Halayudha?”

Gendhuk Tri sama sekali tidak bereaksi.

“Apakah yang saya katakan ini merupakan rencana yang lain? Benarkah kamu berpikir begitu?” “Nyai, mengapa Nyai selama ini mendustai saya?” Mata Nyai Demang sedikit membelalak. “Dalam hal apa?”

“Dalam hal Kakang Upasara.

“Saya tidak menyesali putusan saya menjadi menantu Rama Ki Dalang Memeling. Saya tidak menyesali apa yang telah saya putuskan dan lakukan.

“Tetapi saya menyesali kenapa Nyai yang tidak bertemu dengan Kakang Upasara bisa mengatakan sebaliknya.”

Nyai Demang beringsut. Mundur. Matanya masih membelalak.

“Aku… aku… mana mungkin aku mendustai?” Gendhuk Tri menghela napas.

“Kakang Upasara mengatakan bahwa selama ini ia belum bertemu lagi dengan Nyai sejak pertarungan di Lodaya.”

Nyai Demang menggeleng. “Itu tidak mungkin.

“Tidak mungkin.”

Nyai Demang berdiri mendekat. Lalu mundur lagi.

“Apakah kau benar Jagattri, Gendhuk Tri, atau manusia jejadian?”

Nyai Demang memegangi pipinya, dadanya, beberapa kali menghela napas. Bagaimana mungkin ia tak bertemu dengan Upasara kalau bisa mengetahui dan mengingat apa yang dikatakan?

Tapi sama mustahilnya kalau Gendhuk Tri berdusta.

Apakah yang ditemuinya itu bukan Upasara Wulung? Tak mungkin. Apakah yang ditemui Gendhuk Tri bukan Upasara Wulung?

Ataukah yang dilihatnya sekarang ini bukan Gendhuk Tri?

Benarkah ini semua karena keunggulan Gemuka? Ataukah Halayudha? Ataukah keduanya? Kalau tidak, lalu siapa?

Tantangan Kekuasaan

SEBENARNYA tuduhan, tudingan, dan perkiraan Halayudha maupun Nyai Demang tidak meleset terlalu jauh.

Bahkan boleh dikatakan sangat tepat.

Terutama mengenai Raja Jayanegara yang telah memperhitungkan dan melihat kemungkinan- kemungkinan yang bisa muncul. Daya tarik utama baginya sekarang ini adalah memainkan peranannya. Karena secara menyeluruh merupakan tantangan kekuasaan. Raja ingin membuktikan pada dirinya bahwa takhta yang dikenakan, kursi emas yang diduduki sekarang ini bukan karena kebetulan dirinya adalah putra mahkota, melainkan karena dirinya adalah yang paling menguasai dan paling kuat.

Lebih dari sebelumnya, kini pusat perhatian terserap ke arahnya tanpa kecuali. Semua mata di bumi dan di langit seolah seperti menyorot ke arahnya. Baik dari mahapatihnya, para senopatinya, para prajurit, para raja seberang, maupun Dewa-Dewa di atas awan. 

Kalau sebelumnya selalu mengajak Permaisuri Praba Raga Karana dalam pembicaraan, dalam rerasan, kini dilakukan kembali. Padahal sejak Permaisuri Praba membisikkan bahwa Tunggadewi dan Rajadewi sengaja dikabarkan hilang, Raja tak mau mendatangi.

Kini berubah.

Bahkan dengan perasaan tidak meluap, Raja bisa mengajak bicara Permaisuri Praba. “Apa lagi yang kamu impikan, Praba?

“Akan ada puncak upacara pengangkatanmu sebagai permaisuri yang resmi. Sejak itu pula, putra yang kamu kandung nanti akan menjadi putra mahkota.

“Apa lagi yang kamu impikan, Praba?” “Raja sesembahan seluruh tanah Jawa.

“Hamba hanya berani memimpikan apa yang menjadi perintah Paduka.”

“Apakah bukan kebesaran Baginda yang membuatmu menjadi permaisuri sekarang ini? “Ingsun hanya putra Baginda….”

Tampak kekecewaan tergurat di wajah Raja.

Yang segera berpaling, menggerakkan tangan menyuruh Permaisuri menyingkir. Raja sendiri bergerak bersamaan melangkah ke arah lain, menuju tempat penyimpanan senjata pusaka.

Tempat yang paling wingit, paling angker, dan keramat. Tempat yang hanya boleh dimasuki Raja, atau prajurit yang bertugas membaca mantra dan memandikan senjata.

Tapi sejak beberapa waktu lalu, Raja memerintahkan bahwa tak ada seorang pun yang boleh memasuki senthong tempat penyimpanan senjata pusaka.

Para prajurit hanya mengawasi dari kejauhan.

Dengan menunduk dan menyembah, kala Raja keluar atau masuk. Seperti sekarang ini.

Ruangan itu boleh dikatakan sangat tertutup. Tanpa jendela, dengan pintu yang hanya terbuka saat Raja melalui.

Selebihnya hanya jajaran senjata pusaka yang ditata dengan sempurna. Dengan nama-nama pusaka, asal-usul, serta peletakan yang berurutan.

Hanya kali ini agak lain.

Sudah beberapa saat lalu lain. Karena dua tombak pusaka tidak dipasang tidur di dinding. Melainkan diberdirikan tegak, dengan ujung menganga tanpa tutup.

Di atas kedua ujung tombak itu terbaring tubuh yang kaku, seolah membeku karena tertusuk.

Begitu Raja masuk, tubuh yang berbaring di atas ujung tombak di bagian belakang kepala serta kaki bergerak sedikit. Kedua tangan yang terangkap di dada membuat gerakan menyembah.

Raja mengambil tempat bersila di bagian ujung, dekat dengan tumpukan keris. “Jadi apa sebenarnya maumu, Gemuka?

“Selain menjadi penasihat batin, kekuasaan apa yang kamu incar?” Yang diajak bicara memang Gemuka!

Saudara angkat Pangeran Hiang yang datang bersama ke tanah Jawa ini telah melakukan pilihan yang tepat. Tidak merapat bersama perahu. Melainkan turun lebih dulu, dan sasaran utamanya adalah Keraton.

Tidak terlalu sulit bagi Gemuka menyusup ke dalam Keraton dan berbuat semaunya. Yang menjadi sasaran utama adalah kapustakan.

Kemudian bergerak ke dalam.

Dengan satu langkah yang tepat dan tak terduga.

Ketika itu Raja menuju ke tempat pembaringan, menguakkan selimut. Pandangan Raja berubah ketika menemukan sosok tubuh yang berbaring dengan tenang. Dengan dada telanjang menampakkan keperkasaan.

“Raja Tanah Jawa yang memiliki semuanya, saya bisa melipat habis tubuhmu. Kalau mau.” Raja bergerak cepat mencabut kerisnya, dan dengan sangat cepat pula menusuk ke arah perut. Meskipun lama tidak berlatih silat, Raja Jayanegara termasuk tokoh yang tidak sembarangan. Gemblengan Mpu Sora terbukti dari tenaga dan arah sasaran.

Akan tetapi tubuh yang ditusuk mendadak miring. Dan keris tertancap di ranjang.

Tanpa bisa dicabut. “Raja Tanah Jawa.

“Kalau aku mau, sejak tadi aku bisa membunuhmu.”

Raja berusaha keras menarik kerisnya. Tangan kirinya yang bebas menjotos keras. Ke arah leher tubuh yang miring. Kembali terjadi sesuatu yang tak diduga.

Tangannya melengket.

Tak bisa ditarik. Baru terlepas ketika tubuh yang miring itu telentang. “Aku Gemuka.

“Benarkah kamu Raja Tanah Jawa?”

“Siapa yang mengajarimu tak mengenal tata krama?”

Suara Raja menanggung beban kemurkaan serta mengandung ancaman. “Aku memang tak mengenal tata krama.

“Tetapi aku sangat kamu butuhkan. Permaisuri Praba akan sembuh seperti sediakala.” Raja melangkah mundur setindak.

Gemuka tetap berbaring dengan kedua tangan terlipat di dada. Dengan napas yang teratur. “Di mana saja, Raja membutuhkan kekuatan yang bisa diandalkan.

“Aku akan mendampingimu, seperti dongengan kera putih mendampingi sang Prajaka menuju Puncak Jagat.

“Aku bisa membunuhmu, kapan saja aku mau.

“Ini sangat jelas membuktikan, aku tidak berbuat jahat.”

Tutur bicaranya kaku, terpotong-potong, akan tetapi cukup bisa dimengerti. “Siapa kamu, Gemuka?

“Apa maksudmu?”

“Aku sedang mencari saudaraku.

“Aku ingin kamu menjadi raja yang besar. Yang tidak dimakan mahapatih ataupun senopatimu. Akulah senopatimu, pendetamu, prajuritmu yang sesungguhnya.

“Ambillah kedua putri.

“Atau aku akan mengambilkan untukmu. “Perintahkan agar mahapatihmu mencari.

“Setelah itu Permaisuri Praba akan kusembuhkan.”

Semakin banyak berbicara, semakin memperlihatkan bahwa gaya berbicara Gemuka sangat tidak biasa. Caranya mengucapkan aku, kalimatnya yang berloncatan, serta sikapnya yang kurang ajar menegaskan bahwa Gemuka memang tidak mengenal tata krama.

Tapi inti maksudnya jelas.

Raja tak sempat berpikir banyak.

Sorot mata Gemuka begitu tajam mencengkeram. Pandangan yang dulu dirasakan dari Ibunda Permaisuri Indreswari yang membuatnya tak berani menempuh jalan lain. Pandangan Pendeta Manmathaba yang seakan tusukan pedang tipis.

“Raja Tanah Jawa akan mengetahui kepalsuan Mahapatih.” Dan semua terbukti.

Ketika kemudian kedua putri Permaisuri Rajapatni tahu-tahu berada dalam kamar peraduannya. Ketika kemudian Halayudha menyampaikan kesimpulannya bahwa kedua putri diculik Ratu Ayu.

Tapi yang paling menggetarkan adalah ketika Gemuka mengatakan dengan suara yang dingin.

“Raja Tanah Jawa, kalau memang Raja menghendaki Permaisuri sehat seperti sediakala, tunggulah saat yang tepat. Saat Raja merasa perlu berbicara dengannya, saat di mana kesembuhan itu tak terduga.

“Siapa yang tidak menginginkan kesembuhan, ia akan sembuh. Siapa yang sangat berharap dan memaksa diri, tak akan terpilih.”

“Hari ini juga Ingsun akan ke sana.”

“Kalau tidak ingin bersenang dengan kedua putri.” Lalu disambung,

“Lebih dulu.” Lalu dibetulkan.

“Kalau Raja tidak ingin bersenang dengan kedua putri lebih dulu.”

“Ingsun bisa melakukan setiap saat seperti dulu, seperti sekarang, seperti yang akan datang.” “Itu membuktikan Raja Tanah Jawa sangat mencintai Permaisuri Praba sekarang, dan itu artinya kesembuhan.

“Sebelum matahari sepenuhnya tenggelam.” Raja memandang tak percaya.

Siapa Berbisik, Siapa Berisik

GEMUKA tak berubah sikapnya.

“Permaisuri Praba hanya terkunci nadi dan sarafnya. “Aku bisa meniup dari sini.

“Aku bisa meniup sebelumnya. Itu jalannya. Itu penyembuhnya. Seperti semua dongeng, semua kisah, aku akan membuktikan keajaiban lebih dulu, sehingga Raja percaya.

“Meskipun sebenarnya bukan keajaiban. Hal yang sangat biasa. Makanya temui sebelum matahari tenggelam, sehingga Raja memberi kuasa dan keluhuran Permaisuri Praba hanya dengan usapan tangan.

“Bukti lebih berbicara.” Nyatanya begitu!

Nyatanya terbukti Permaisuri Praba seketika sembuh kembali.

Meskipun yang membuat Raja sangat murka ialah pengakuan Permaisuri Praba bahwa kesembuhannya berkat kebesaran Baginda! Hanya karena saat itu Raja menemui Jabung Krewes lebih dulu, dan datang membawa Kidungan Para Raja yang ditulis Baginda.

Dan ditembangkan olehnya.

Makanya bisa dimengerti kalau Raja murka dan seketika itu juga timbul niatnya membuka rahasia mengenai Gemuka.

Akan tetapi itu tersaput dengan kemurkaan yang lain.

Yaitu ketika Permaisuri Praba mengatakan langsung bahwa kedua putri disembunyikan oleh Raja sendiri.

Kemurkaan yang membuat Raja kalap tidak sepenuhnya bisa dimengerti oleh Praba Raga Karana.

Karena masalahnya bukan hanya bahwa kedoknya terbuka kala mengatakan daya asmara yang sejati dan masih menyembunyikan dua putri, akan tetapi lebih dari itu.

Telinga Raja menjadi panas membara, justru karena Praba mengetahui bahwa dirinyalah yang berada di belakang penculikan dua putri.

Rasanya tidak masuk akal, tidak masuk rasa.

Semakin dipikir, semakin dirasa-rasa, semakin membuahkan tanda tanya.

Selama ini Praba terbaring. Bahkan menggerakkan kelopak mata saja tak bisa. Bagaimana mungkin bisa mengetahui rencana penculikan dua putri? Yang Mahapatih pun tak mengetahui?

Amarah yang luar biasa karena Raja merasa dipermainkan Gemuka. Satu-satunya orang yang mengetahui hanyalah Gemuka.

Itu pula sebabnya begitu melangkah masuk, Raja langsung menusuk dengan pertanyaan apa yang disembunyikan.

“Pertanyaan menarik.

58

By admin • Dec 6th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II “Aku mau balas dendam.

“Mau menghancurkan, menundukkan tanah Jawa. “Tapi apa hubungannya?”

“Praba mengetahui siapa di belakang penculikan kedua putri.”

Wajah Gemuka seperti berubah. Tubuhnya sedikit bergoyang di atas tombak. “Raja Tanah Jawa. “Tanahmu tanah perkasa. Sehingga aku menduga kamu sengaja membuka serangan dengan taktik itu.

“Tak ada yang mengetahui.

“Tapi kalau benar Permaisuri Praba mengetahui, itu menunjukkan ada kekuatan lain yang hebat. “Tanahmu tanah perkasa.

“Perahu Siung Naga Bermahkota bisa kamu tenggelamkan. Itu belum berarti menang. “Tapi tak mengurangi inilah tanah perkasa.”

Gemuka merangkapkan kedua tangannya.

“Pada puncak pesta nanti, akan terlihat jelas. Siapa yang berbisik dan membisikkan apa, siapa yang berisik tapi tidak membisikkan apa-apa.

“Raja Tanah Jawa,

“Jangan sampai tidak, siapa pun yang dianggap lawan, hadirkan di puncak pesta.” “Ingsun tak pernah diperintahkan manusia atau Dewa.”

Gemuka tidak menjawab. Memejamkan matanya.

Hanya dua tombak yang menyangga tubuhnya bergoyang, menandai gemuruh yang terjadi saat memusatkan perhatian.

Bagi Gemuka keterangan bahwa Permaisuri Praba mengetahui rencana penculikan sulit dimengerti. Selain dengan pengertian bahwa memang tanah Jawa tanah yang perkasa. Yang menyimpan kekuatan demikian kuat, demikian kuat, di balik kelembutan dan kesan mudah dikuasai.

Gemuka adalah Gemuka yang lebih mengenal kekerasan padang pasir, lahir di antara barisan yang berperang. Hubungannya dengan

Pangeran Hiang sangat dekat. Boleh dikatakan satu perasaan dan satu pikiran. Akan tetapi Gemuka tetap bisa berbeda kesimpulan.

Terutama untuk pertama kalinya secara terbuka, adalah mengenai pendudukan tanah Jawa. Gemuka merasa bahwa jalan yang ditempuh Pangeran Hiang terlalu berbahaya. Justru karena berusaha menaklukkan dengan kekuatan kekerasan.

Gemuka sedikit pun tak menyangsikan kekuatan Barisan Api serta kehebatan Pangeran Hiang ataupun kelengkapan perahu Siung Naga Bermahkota.

Tapi ia juga punya perhitungan lain.

Yang lebih jelas. Yaitu gagalnya tiga utusan utama, yang dilengkapi puluhan perahu dengan persenjataan yang lengkap. Demikian juga kedatangan pendeta resmi Raja Segala Naga yang tak ada kabar beritanya.

Ini yang membuatnya tujuh kali lebih waspada.

Terutama karena banyak kemungkinan yang tak terduga, yang menyebabkan seluruh kemenangan berubah menjadi kekalahan. Rombongan Pangeran Hiang yang perahunya bisa ditenggelamkan, hancurnya Barisan Api yang selama ini belum pernah terpatahkan di Jepun maupun Koreyea, semua adalah bukti-bukti yang membuatnya menahan diri untuk meraih kemenangan.

Sebenarnya dengan menyusup ke dalam Keraton dan berduaan dengan Raja, Gemuka sudah berhasil. Sudah bisa mengibarkan bendera kemenangan.

Akan tetapi hati kecil Gemuka mengatakan bahwa kemenangan itu tak akan berarti banyak. Bukan kemenangan seperti yang diraih prajurit Tartar menundukkan seluruh jagat.

Karena dengan dibawanya Raja, tidak berarti tanah Jawa dengan sendirinya tunduk, dan setiap tahun kemudian akan menyerahkan upeti sebagai tanda pengakuan adanya kekuasaan yang lebih tinggi.

Raja yang menggantikan bisa menantang perang dan menyerbu sampai Tartar. Atau paling tidak raja- raja di tempat lain akan lebih mengakui kekuasaan keraton ini.

Itu yang menahannya berbuat seketika.

Karena Gemuka ingin mereguk kemenangan dalam arti yang sebenarnya. Kalaupun ia kembali ke Tartar dengan membawa tawanan seorang raja, itu benar-benar dalam arti segalanya.

Nyatanya tidak begitu mudah.

Nyatanya baru selangkah saja sudah terpatahkan. Ternyata Permaisuri Praba mengetahui apa yang direncanakannya bersama Raja. Bisa dimengerti kalau Raja mencurigainya.

Bisa dimengerti kalau Gemuka mencurigai Raja.

Dalam pengertian Gemuka, tanah yang liat dan kuat ini mulai memperlihatkan keperkasaannya. Inilah kekuatan yang tak terduga, yang diperhitungkan, akan tetapi tetap saja meleset.

Alasan Gemuka semakin kuat untuk mengumpulkan semua tokoh yang ada, dan ia akan memperlihatkan keunggulannya menaklukkan semuanya tanpa kecuali.

Memang ada keraguan yang menyebabkan Gemuka menjadi lebih waspada. Yaitu disebutnya tokoh utama dalam pembebasan Baginda yang bernama Upasara Wulung. Yang menurut cerita yang sampai ke telinganya lewat penuturan para senopati kepada Raja, Upasara Wulung mampu mematahkan Barisan Api.

Lebih menggetarkan lagi karena mulai disebut-sebut adanya kekuatan sukma sejati.

Alasan-alasan itulah yang makin menahan Gemuka untuk bertindak. Pilihannya adalah sekali melakukan harus berhasil. Seperti selama ini. Seperti selama ini dirinya belum pernah gagal melakukan tugas Keraton.

“Gemuka…”

“Meskipun berbaring, aku mendengarkan, Raja Tanah Jawa.

“Aku berbaring, karena inilah cara untuk menghimpun kekuatan. Dengan tidak bergerak. Dengan diam.

“Semua tindakan akan terhimpun menjadi tenaga dalam. “Raja Tanah Jawa bisa belajar kalau mau.”

“Ingsun bisa memutuskan sendiri kapan dan apa perlunya.

“Apa benar kamu yang menyembuhkan Praba, ataukah karena kidungan?” “Raja Tanah Jawa.

“Ketahuilah aku bisa bergerak ke mana pun aku mau. Telingaku terbuka lebar sehingga mengetahui yang dikatakan orang. Dengan begitu aku mengerti pentingnya Permaisuri Praba bagi Raja. Aku segera melihat dan menemukan penyembuhannya.

“Kebetulan Raja membawa kidungan.

“Kalaupun tidak, akan sembuh kembali. Karena aku telah membebaskan, dengan mengatur kesembuhannya sebelum matahari terbenam.”

“Apakah Praba mengetahui hal ini?” “Rasanya tidak.”

“Ingsun baru percaya sepenuhnya, kalau kamu membuktikan satu keunggulan lagi. Satu keajaiban lagi.”

Pendeta Empyak Jagat

GEMUKA. mendesis. Tangannya bergerak. Serentak dengan itu senjata pusaka yang berada dalam ruangan saling beradu, mengeluarkan bunyi. Bahkan dua keris lepas dari sarungnya, bergerak sendiri, menuju ke arah Raja.

Yang hanya bisa memandangi.

Karena kakinya membeku. Tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan untuk menggeser. Bahkan untuk menggerakkan pinggang.

Juga kedua tangannya. Bahkan lehernya.

Inilah hebat.

Bahwa senjata bisa lepas dari sarungnya, itu bukan sesuatu yang luar biasa. Tanpa kekuatan langsung dengan disentuh pun, keris pusaka bisa lepas dari sarungnya, bila disandingkan dengan keris pusaka sakti yang lainnya, yang kebetulan kekuatannya bertentangan.

Akan tetapi bahwa itu disertai dengan bergeraknya semua senjata, mencengangkan juga. Apalagi Raja seperti terpaku di tempatnya.

Semuanya terjadi tanpa Gemuka mengubah posisi tidurnya. “Gemuka!” “Apa lagi yang Raja Tanah Jawa inginkan?” “Ini permainan anak-anak.”

“Apa Raja Tanah Jawa ingin menderita gering seperti Permaisuri? Itu lebih mudah.”

Mendadak seiring dengan tarikan napas Gemuka yang keras, dua keris itu melesat. Langsung menuju Raja yang tak bisa bergerak.

Raja memejamkan matanya. Trang!

Dua keris itu berbenturan sendiri. Jatuh ke lantai. “Masih perlu bukti lagi?

“Raja Tanah Jawa, sekarang ini tak ada kekuatan lain di seluruh jagat yang akan mampu menyatroni Raja. Tak ada, karena Gemuka yang tanpa tanding ini berada di belakang Raja Tanah Jawa. Karena Kiai Sambartaka dari tlatah Hindia akan mendukung tanpa upah. Sebentar lagi Pangeran Hiang pun akan bergabung.

“Siapa lagi yang bisa mengalahkan, menandingi kami selain Pendeta Empyak Jagat?”

Suara Gemuka terdengar dalam nada tinggi. Seolah dibakar dengan semangat yang kelewat tinggi dari kebiasaannya yang selama ini terlihat.

Pendeta Empyak Jagat, atau Pendeta Puncak Dunia, adalah sebutan untuk menggambarkan tokoh sakti mandraguna yang berasal dari puncak dunia, tempat yang tertinggi di seluruh jagat. Gambaran ini menjadi semacam ukuran, bahwa tak ada lagi yang lebih tinggi darinya kecuali langit.

Sebutan ini sebenarnya bukan mengada-ada. Karena memang dulunya, menurut kisah dituturkan secara turun-temurun, tokoh yang pertama kali mengembangkan ilmu silat, mula-buka-nya, asal- usulnya, dari seorang pendeta yang mampu menaklukkan gunung tertinggi di jagat. Yang mampu melintasi dan menyebarkan ilmunya sampai ke negeri Cina, yang menjalar sampai Jepun, Koreyea, dan menyebar ke arah sekitar. Di balik gunung yang lain, ke Nepal, Tibet, tlatah Hindia, yang menurut anggapan menyebar antara lain ke tanah Jawa.

Ditimbang dari sisi ini, apa yang dikemukakan Gemuka sangat beralasan untuk meletakkan posisinya di tempat teratas. Apalagi dengan menyebut nama Kiai Sambartaka yang juga menjadi pendukungnya.

Raja bukan baru dua kali ini mendengar Gemuka menyebut Pendeta Empyak Jagat, atau kadang disebut sebagai Ksatria Empyak Jagat, dan membahasakan dirinya sebagai kera putih yang berada di sisinya.

“Raja Tanah Jawa.

“Bahkan Kaisar di Tartar sekarang ini pun tak memiliki susunan kekuatan pendukung yang begini dahsyat!

“Kenapa masih ragu?”

Raja mengakui apa yang dikatakan Gemuka.

Akan tetapi wajahnya tetap tak menunjukkan perubahan. “Jadi apa yang kamu takutkan?

“Kenapa menunda puncak pesta?”

“Saya tak akan membuat kesalahan seperti yang lain.

“Saya akan siap mengalahkan siapa pun juga. Kalaupun yang kalian sebut sebagai Eyang Sepuh muncul kembali, saya siap.

“Semua akan saya tumpas. Habis.” Raja menarik napas dalam.

Tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuhnya kembali bisa digerakkan. “Gemuka, apa yang sebenarnya kamu perhitungkan?”

“Pertama, para ksatria, para pendekar, para thay hiap, yang setingkat dengan Upasara Wulung. “Kedua, para senopati yang menjadi antek Mahapatih Halayudha.

“Ketiga, para cerdik dan culas yang selalu mencurangi. “Semua akan saya sikat dalam waktu yang bersamaan.”

“Dan kalau semua bisa kamu kalahkan, apa yang tersisa bagi Ingsun?” “Raja Tanah Jawa. “Raja yang bijaksana.

“Tak ada yang tersisa bagi Raja Tanah Jawa, selain pengakuan atas kebesaran Kaisar di Tartar. Selain tanda penyerahan yang tak bersyarat sampai turunan terakhir.

“Sampai Raja Tanah Jawa yang turunan mana nanti mampu mengulang kebesaran Sri Baginda Raja.” “Tahukah kamu bahwa ini semua bukan pekerjaan gampang?”

“Saya merasakan dendam Raja Tanah Jawa. “Atau semua yang tumbuh di bumi Jawa.

“Akan tetapi, kalau semua tak ada yang bisa melawan kami, apa yang kalian pilih? Mati dengan percuma pun tak mudah.”

“Kenapa kamu masih menguatirkan Upasara Wulung?”

“Dia dianggap ksatria lelananging jagat. Ia dinobatkan sebagai yang tak terkalahkan, dan mampu selamat dari perahu Siung Naga Bermahkota. Ilmunya dengan penguasaan Kitab Bumi yang luar biasa membuat saya gatal untuk mencoba. Apalagi saya mendengar ia menguasai ilmu Merogoh Sukma Sejati.”

“Kenapa kamu masih menguatirkan para senopati?”

“Perang di Lodaya, sejauh saya tahu, membuktikan bahwa para senopati mau mati bergiliran sampai habis untuk membela rajanya. Ini harus ditundukkan dari atasan.

“Mahapatih cukup digdaya.

“Akan tetapi komandonya bisa beralih ke tangan senopati yang lain.” “Siapa yang kamu maksudkan para cerdik pandai yang culas?” “Siapa saja.

“Para ksatria atau para senopati. “Para pendeta atau para prajurit. “Para istri atau para kuda.

“Semua bisa bergerak, berubah, dan harus diperhitungkan.” “Kenapa kamu tidak jegal mereka satu demi satu?”

“Raja Tanah Jawa.

“Saya tak  akan mengulangi kesalahan para pendahulu. Di tanah Jawa ini, ksatria bisa menjadi senopati, akan tetapi juga bisa menjadi prajurit biasa. Dan begitu pula sebaliknya.

“Semua bisa saling berkait.

“Satu-satunya jalan adalah menumpas habis.” “Pada puncak pesta nanti?”

Raja berdiri, menuju pintu. Tapi berhenti.

“Ingsun tak pernah diperhitungkan. “Itu kekeliruanmu, Gemuka.

“Ingsun masih tetap yang paling menentukan. Adalah keliru besar kalau kamu menganggap telah bisa menguasaiku dengan menakut-nakuti.

“Kalau kamu berharap pesta puncak nanti, sebelum pesta itu bisa terjadi sesuatu. Sebelum kamu bergerak, mereka akan bergerak lebih dulu. Ingsun bahkan bisa merasakan sekarang ini.

“Halayudha bisa menghimpun kekuatan besar. “Mendahuluimu.

“Upasara bisa menghimpun kekuatan besar. “Mendahuluimu.

“Dalam soal strategi kamu masih pupuk bawang, meskipun usiamu melebihiku.” “Saya telah memperhitungkan itu.

“Raja Tanah Jawa bisa memilih kekuatan mana. Kekuatan Gemuka, dukungan para senopati, atau dari para ksatria. Yang pasti tidak dari ketiga-tiganya secara bersamaan.

“Apakah cukup jelas?”

“Kamu lupa, bahwa Ingsun inilah sesungguhnya Pendeta Empyak Jagat itu.” Raja melangkah ke luar, dengan satu gerakan cepat sekali. Sekali tubuhnya bergerak, pintu terbuka dan tertutup kembali.

Gemuka memuji kehebatan Raja. Bukan dari loncatannya, akan tetapi dari gagasan yang dimuntahkan ke wajahnya. Seolah kotoran yang menyapu kegagahan Gemuka yang hampir saja terpancing.

Dari arah tumpukan senjata pusaka terdengar suara perlahan. “Kenapa Gemuka menyebut-nyebut nama saya?”

“Kiai Sambartaka, tutup mulutmu rapat-rapat.

“Saya mengatakan apa adanya, karena Raja juga mengatakan apa adanya. Dan saya menjunjung tinggi sifat ksatria seorang raja.

“Beliau memang raja yang sesungguh-sungguhnya.

“Saya tahu kamu pun menyimpan dendam busuk dan rencanamu sendiri, akan tetapi sekarang kamu akan selalu tunduk pada saya.

“Bukankah ini juga terus terang?”

Perjalanan Hamba Sahaya

KIAI SAMBARTAKA seperti menemukan dirinya telanjang bugil. Tak ada yang bisa disembunyikan dari sorot mata Gemuka.

Sejak pertama kali bertemu.

Itu terjadi ketika Kiai Sambartaka menyembunyikan diri untuk menyempurnakan ilmunya. Merasa aman berada dalam suatu tempat yang selama ini tak diendus siapa pun. Tekadnya hanya satu: memperdalam ilmunya untuk membalas dendam, atau kalau tidak berhasil lebih baik terkubur hidup- hidup tanpa diketahui siapa pun.

Sejak melarikan diri dengan menenggelamkan diri di Kali Brantas, Kiai Sambartaka merasa tak bisa dengan tegak memandang langit. Bagaimana mungkin dirinya yang dijuluki Kiai Kiamat yang menghancurkan seluruh jagat dan isinya bisa dipecundangi dan dikalahkan beberapa kali. Bahkan usahanya untuk bersatu dengan para pendeta Syangka juga kandas. Padahal dengan melakukan hal itu, para tetua di tlatah Hindia tak akan pernah memaafkannya.

Makanya kalau Kiai Sambartaka memilih untuk melatih ilmunya atau binasa, bukan pilihan yang mengada-ada.

Yang membuatnya terusik hanyalah ketika menemukan tujuh ular kobra yang menjadi senjata andalannya mati dengan saling gigit.

Ini tak pernah terjadi.

Ular kobra adalah jenis ular paling berbisa yang langka, yang menjadi simbol kesuburan, simbol bencana, simbol kebesaran dan keganasan. Selama hidupnya, Kiai Sambartaka sangat yakin bisa menguasai ular kobra lebih dari siapa pun di jagat ini. Sehingga tak ragu lagi menyembunyikan pasangan kobra di balik jubahnya, atau bahkan dalam mulutnya.

Tak mungkin mereka saling menyerang sendiri.

“Bagaimana mungkin kamu melatih ular kecil, kalau kamu tak bisa menghidupkan?” Sesosok tubuh yang tinggi, tegap, terselimuti jubah kedodoran berdiri kukuh di depannya. “Kalau ksatria dari mana asalmu, kalau pendeta dari mana perguruanmu.”

“Menggelikan.

“Bagaimana orang setua kamu, dari ilmu silat Hindia, tak bisa mengenaliku? Akulah sumber ilmu silat yang kamu pelajari. Pembagian empat tenaga berlipat tak mempunyai makna kalau kamu padukan dengan Jalan Buddha. Karena Jalan Buddha justru menghapus perbedaan pembagian pengerahan tenaga.”

“Apakah engkau datang dari negeri Empyak Jagat?” “Pandanganmu tajam.

“Tapi keliru.

“Aku pangeran dari Tartar, yang pernah melewati Empyak Jagat. Namaku Gemuka. Aku membutuhkanmu, seperti sang Ksatria Utama membutuhkan hamba sahaya. Kamu salah satunya.” “Aku tak pernah mendengar nama Gemuka.

“Tapi aku mengenal kiasanmu mengenai sang Ksatria Utama yang menaklukkan Empyak Jagat, diiringi hamba sahayanya yang berwujud kera, babi, kuda…”

“Kamulah babi. “Akulah kera.

“Mulai sekarang, kita menuju ke Keraton.”

Kiai Sambartaka mengernyitkan jidatnya. Ia merasa asing dan tak begitu saja menyerah, meskipun mengetahui bahwa Gemuka mempunyai ilmu yang cukup tinggi. Karena bisa membuat ular kobranya saling menggigit.

Gemuka menebak jalan pikiran Kiai Sambartaka. Dengan bersuit keras, ia mendengingkan suara, dan mendadak saja puluhan ular muncul bersama, menggeliat-geliat dan garang.

Kiai Sambartaka tak sedikit pun gentar dengan ular walau jumlahnya banyak sekali. Akan tetapi bahwa Gemuka bisa memanggil dalam sekejap, itu sungguh luar biasa.

Apalagi ketika dengingannya berubah, ratusan kumbang mendesing di atas kepalanya. “Dalam penguasaan kemauan binatang, kamu tak akan menang.

“Tenagamu tak akan mampu menandingi. Geseran dua kaki ke arah yang bertentangan untuk mengacaukan suara juga akan percuma. Karena titik pusarmu terbuka.

“Adalah sangat mudah mematahkan seranganmu, dengan mendesiskan ular di balik jubahmu.” Kiai Sambartaka benar-benar tak habis pikir.

Semua yang akan dilakukan bisa ditebak.

“Seperti kera menaklukkan babi, itulah yang kulakukan kini. “Semua ilmumu ada dalam genggaman tanganku.”

“Apa maumu, Gemuka?” “Seperti kamu. “Menaklukkan tanah Jawa.

Kita bisa bekerja sama untuk sementara. Setelah itu, kita boleh beradu kemenangan.” “Bagaimana kamu mengetahui diriku?”

“Dari gerakanmu bisa terbaca jelas. Dari undangan pertemuan setiap lima puluh tahun bisa terbaca jelas.

“Namamu saja menunjukkan kekalahanmu pada tanah Jawa.” “Apa yang kamu inginkan?”

“Keterangan sebanyak mungkin mengenai tanah Jawa.

“Kamu pasti mengetahui karena kamu lebih lama di sini. Kita bersama melakukan pembalasan dan meratakan tanah Jawa.”

Dua tangan Gemuka bergerak.

Kumbang menyerbu ke arah barisan ular, yang balas menyerang. Dalam sekejap terjadi pertarungan yang aneh. Yang mengerikan, karena ular dan kumbang kemudian saling bunuh sendiri.

“Itulah yang dinamakan tenaga Mo yang sebenarnya. Tenaga Tao yang sesungguhnya. “Memindahkan tanpa menggerakkan.

“Aku tahu kamu bisa melakukan, akan tetapi hanya terhenti pada kekuatan untuk mengeluarkan suara tanpa menggerakkan bibir. Ilmu yang sebenarnya baru tahap awal. Lima puluh tahun lagi, kamu tak akan pernah bisa maju, dan usiamu sudah membunuhmu.”

Kiai Sambartaka menggeram dalam hati.

Namun akhirnya mengikuti jejak Gemuka. Yang selama perjalanan bertanya terus-menerus, mencoba menggali keterangan selengkap mungkin, dan hanya beberapa kali saja memberi petunjuk di mana kemungkinan terbesar Kiai Sambartaka bisa dikalahkan.

“Cara berpikirmu yang salah.

“Selama kamu menganggap ilmu silat di tanah Jawa berasal dari tanah Hindia, itu betul. Akan tetapi kalau kamu menganggap sama, kamu keliru.

“Pengerahan tenaga dalam yang kamu paksakan akan lumer menghadapi tenaga dalam yang berkembang di tanah Jawa ini. Itulah sebabnya kamu bisa dengan mudah dikalahkan.” “Kalimatmu serba jemawa.

“Tapi aku melihat adanya kebenaran yang kamu katakan.”

“Tak ada ilmu silat yang bisa membungkam ilmu silat tanah Jawa, selama ia tidak mengikuti cara-cara yang dipakai di sini. Tapi begitu kamu mengikuti cara pernapasan di sini, kamu bisa terseret oleh cara mereka.

“Dua-duanya berarti kalah.”

“Tak mudah menaklukkan tanah Jawa.”

“Tidak akan pernah, dengan kekerasan yang kita miliki.

“Semakin keras kita mengimpit, semakin lenyet mereka, akan tetapi justru semakin liat. “Sebagai sesama hamba sahaya, kita bisa berbagi pengalaman.”

Itulah sebabnya kemudian Kiai Sambartaka bersedia mengikuti Gemuka. Kembali menyusup ke dalam Keraton.

Pada permulaannya mereka berpisah, akan tetapi kemudian selalu berada di tempat penyimpanan senjata. Dan setiap kali Gemuka memberondong dengan berbagai pertanyaan tanpa henti.

Yang membuat Kiai Sambartaka bertanya-tanya dalam hati ialah karena ternyata Gemuka menyimpan beberapa hal yang sudah diketahui. Hanya ingin dicocokkan saja.

Terutama mengenai kekuatan-kekuatan yang ada. Terutama mengenai jurus-jurus ilmu silat, terutama mengenai tata krama dalam Keraton.

Yang tetap mengherankan ialah bahwa Gemuka seperti tidak menutupi perasaannya. Apa yang dipikirkan, apa yang direncanakan, bisa dikatakan secara terbuka. Seperti juga mengenai persahabatan sebagai sesama hamba sahaya, akan tetapi juga kemungkinan mereka berdua akan saling memperebutkan kemenangan.

Sungguh rasa percaya diri yang berlebihan.

“Kiai Sambartaka, aku minta kamu sebarkan tanda siung naga di berbagai tempat. Aku masih berharap saudaraku, Pangeran Sang Hiang, mengetahui keberadaanku.”

“Kenapa tidak kamu lakukan sendiri, Gemuka?” “Aku perlu menghimpun seluruh kemampuanku.

“Dengan berdiam diri di sini, aku mengumpulkan tenaga dalam yang bisa disimpan, dan bisa dikerahkan sewaktu-waktu. Aku adalah kera sakti, yang bisa menyimpan makanan dalam mulut.

“Kamu belum bisa melakukan itu.”

Meskipun tersinggung, Kiai Sambartaka melakukan juga. Karena pada pikirnya, saudara Gemuka yang disebut Pangeran Sang Hiang pastilah tokoh yang sakti. Atau bahkan mungkin yang dimaksudkan sebagai Ksatria Utama.

Itu berarti kekuatan mereka lebih sempurna.

Benar-benar merupakan rencana penaklukan yang sempurna.

Itu sebabnya Kiai Sambartaka mengusulkan untuk menghimpun lebih banyak lagi. Terutama raja-raja atau utusan yang berasal dari seberang. Termasuk dari negeri Turkana.

“Aku mendengar ilmu Jalan Buddha Wanita adalah ilmu yang sesat. Dan aku tidak melihat keuntungannya ia berpihak pada kita.”

“Ratu Ayu adalah istri Upasara Wulung.” Wajah Gemuka berubah keras.

Pribadi Ambalung Usus

TINJUNYA terkepal. Bukan hanya itu saja. Tubuhnya bergerak, melayang turun, sementara dua tombak yang dijadikan tempat berbaring lepas jatuh ke lantai.

“Aku dengar nama besar thay hiap yang bergelar lelananging jagat. Aku sudah gatal tangan untuk menjajal Upasara Wulung. Yang pastilah sedemikian saktinya sehingga selama ini tak ada yang bisa mengalahkan.

“Ada yang bisa membunuhnya, akan tetapi ternyata bukan mengalahkannya. “Itulah kekeliruanmu, Kiai. “Apakah kamu kira jika Ratu Ayu berpihak ke kita, Upasara Wulung akan mengikuti? Kamu tidak mengenal manusia tanah Jawa. Manusia di belahan bumi ini adalah manusia yang ambalung usus, satu-satunya pengertian yang bisa menerangkan siapa mereka.”

Kiai Sambartaka bukannya tak mengerti apa maksud kata-kata Gemuka. Ambalung berarti menjadi tulang, seperti tulang, karena balung berarti tulang. Sedangkan ambalung usus, mengandung dua pengertian yang sangat berbeda. Antara pengertian keras, seperti tulang, dan pengertian lembut, seperti usus. Ini berarti usus pun bisa menjadi keras seperti tulang. Sebaliknya juga mungkin, yaitu tulang yang keras berubah menjadi lembut dan bisa ditekuk seperti usus.

Tak terlalu sulit mengetahui hal itu. Akan tetapi masuk ke pengertian untuk memahami wong Jawa, benar-benar menunjukkan ketajaman pandangan Gemuka.

Dengan kata lain, satu istilah dari Gemuka sudah bisa mematahkan usulan Kiai Sambartaka. Bahwa ditariknya Ratu Ayu belum tentu berarti tertariknya Upasara. Bahkan bisa berarti lain sama sekali. Yaitu terbalik. Ratu Ayu yang mengikuti jalan yang ditempuh Upasara.

Meskipun dalam penampilan bisa saja sama: Ratu Ayu berada di pihak mereka!

Meskipun dalam penampilan bisa saja sama, seperti tak bisa dibedakan di mana sebenarnya Ratu Ayu berpihak.

Wajah yang serba bertentangan, yang tak bisa diduga arti anggukan dan gelengan, arti menyerang dan bertahan, arti gusar dan bangga., menurut Kiai Sambartaka telah menyesatkan pandangannya.

Yang dialami secara langsung ketika terlibat dalam pertarungan mati hidup habis-habisan di Trowulan. Saat itu ada bayangan Eyang Sepuh, ada Paman Sepuh, serta ada Upasara Wulung sebagai wakil ksatria Jawa. Yang bertarung habis-habisan melawan tokoh-tokoh kelas puncak, yang berarti saling melawan antar mereka sendiri.

Di sinilah kehebatan itu terlihat jelas!

Naga Nareswara, Kama Kangkam, dan Paman Sepuh tewas seketika. Kiai Sambartaka hanya bisa menyelamatkan diri dengan cara yang tidak terpuji. Sementara Upasara Wulung dan Eyang Sepuh bisa muncul sebagai pemenang.

Dua pemenang.

Yang sebenarnya tidak mungkin, karena dalam perebutan gelar ksatria lelananging jagat, hanya ada satu pemenang.

Akan tetapi nyatanya bisa.

Karena sejak semula Eyang Sepuh antara ada dan tiada. Antara muncul dan lenyap. Moksa. Tidak turun ke gelanggang, akan tetapi ikut bertarung.

Sifat yang serba bertentangan, antara yang dan im, yang sejak awal disadari secara penuh oleh Gemuka. Yang justru menyatu dalam satu pribadi. Yang ambalung usus.

“Paling tidak, mereka berdua tidak secara terang-terangan berada di pihak lawan dan mengibarkan bendera atau umbul-umbul sendiri.”

“Kiai, aku hargai daya pikirmu.

“Tapi Upasara adalah ksatria yang telah membuktikan diri tak terkalahkan selama ini. “Satu-satunya cara yang tepat adalah melindasnya. Menindak habis.”

“Saat yang terbaik sekarang ini.

“Musim kawin ular berbisa, segala binatang berbisa, sehingga akan bisa kita kerahkan seluruhnya.” “Cara yang tidak gagah.

“Tapi aku akan melakukannya.”

Kiai Sambartaka mengangguk berat.

“Kalau Pangeran Hiang mengenali tanda Gemuka, ia akan bergabung dengan kita. Dengan begitu, sampailah kita kepada kehendak yang sesungguhnya.”

“Keliru.

“Sampailah kita kepada puncak pesta yang sesungguhnya. Soal kemenangan, itu soal lain. Akan tetapi aku tak percaya Dewa akan melindungi mereka dan kemenangan yang mereka raih dengan kebetulan itu bisa terulang.”

“Apakah keberadaan kita selama ini belum diketahui?”

“Mereka akan mengetahui sebagai penyesalan karena terlambat.” Apa yang diperkirakan Gemuka yang begitu cepat dan mendalam mencoba memahami budaya tanah Jawa memang tak teraba oleh yang lain.

Bahkan Raja Jayanegara baru kemudian mengetahui adanya Kiai Sambartaka.

Halayudha yang terkenal cerdik serta pandai membaca situasi dan mencari jalan untuk mengatasi situasi dan mencari jalan untuk mengatasi, sama sekali tak memperhitungkan kehadiran Kiai Sambartaka yang diam-diam mengalami kemajuan dalam melatih ilmunya di bawah petunjuk Gemuka. Apa yang sangat berarti bagi Kiai Sambartaka, bukan saja hanya karena dirinya bisa lebih memahami ilmu yang selama ini dipelajari, melainkan juga bagaimana menggunakan ilmu serta jurus- jurus dahsyatnya untuk menghadapi Upasara Wulung, atau para ksatria yang akan menjadi lawannya.

Keunggulan ilmunya tak akan ada artinya jika ketika menghadapi lawan jadi teperdaya. Seperti yang selama ini terjadi. Seolah ilmu dari tanah Hindia menjadi mandul dan menemui tembok buntu.

Ketidaktahuan Halayudha bisa berakibat berat di belakang hari!

Akan tetapi saat itu Halayudha memang sedang memusatkan seluruh kemampuannya untuk menebak dan mencegat seorang tokoh yang menurut perhitungan Nyai Demang adalah Gemuka. Sedemikian terpusatnya perhatian Halayudha pada Gemuka, sehingga yang lainnya termasuk terlupakan.

Terutama kehadiran Tujuh Senopati Utama, yang selama ini tak pernah berdiam diri. Apalagi pada dasarnya mereka mengabdi sepenuhnya kepada Baginda. Dan jauh di dalam hati kurang utuh pengabdiannya kepada Raja, yang mencapai puncaknya saat pengusiran Baginda-atau menyebabkan Baginda mengungsi-ke Simping. Ditambah lagi dengan perbuatan Raja yang melabrak tata krama susila dengan menguasai Tunggadewi serta Rajadewi.

Alasan yang kuat mendesak yang membuat mereka siap mengorbankan apa saja.

Kalau sampai saat itu mereka belum bergerak, terutama karena Senopati Tanca masih berusaha menahan. Namun suatu ketika saat mereka berkumpul di kediaman Senopati Yuyu, Senopati Tanca tak bisa menahan lagi gejolak yang ada.

“Para Kisanak, para Senopati Utama, saya tahu bagaimana Kisanak melihat dan memperhitungkan saya. Karena kelihatannya mengabdi setia kepada Raja.

“Sesungguhnyalah begitu.

“Saya tak ragu se-glugut pinara sasra, saya mengabdikan seluruh jiwa-raga saya kepada Yang Mulia Baginda…”

Suaranya lembut tak terpengaruh oleh gelora nafsu emosi. Pengakuan Senopati Tanca bahwa dirinya tak ragu “serambut bambu dibagi seribu”, atau tak ragu sedikit pun dalam mengabdi Raja, ternyata berlanjut dengan kata yang diucapkan sama tenangnya.

“…Kisanak Senopati Utama akan mengetahui, bahwa sayalah yang tetap akan melaksanakan hukuman pembalasan. Itu sumpah saya.”

“Kenapa hanya diomongkan saja?” suara Senopati Kuti yang terbiasa lugas terdengar keras. “Semua itu ada sangatnya.

“Ada waktu yang tepat.

“Dalam sehari ada lima sangat, lima waktu yang baik dan juga tidak baik. Alam yang mengatur.

“Mengatur kapan nangka berbunga, berbuah, dan masak. Kita tak bisa nggege mangsa, mempercepat waktu.

“Saya dalam mengobati, menyusun jamu, merawat tanaman, sangat yakin adanya sangat, kapan memberi minum, kapan bisa sembuh.”

“Maaf, saya tak mengenal kata-kata pujangga yang ahli pujasastra. “Bagi saya setiap waktu adalah baik.

“Juga sekarang ini.” “Terserah Kisanak.”

Senopati Wedeng berdeham kecil, mencoba melunakkan suasana yang panas menjarak. “Semua baik dan benar.

“Kita bertujuh berkumpul di sini bukan karena kita dharmaputra, senopati pilihan. Akan tetapi terutama karena kita digerakkan niatan yang sama, untuk meluhurkan asma Keraton.

“Maaf, kalau saya salah bicara. “Beberapa kali usaha kita gagal. Bahkan Permaisuri Indreswari bisa melucuti kita sebelum bergerak….”

“Jangan diungkit soal itu.”

“Maaf, Kisanak Semi yang gagah berani.

“Saya hanya memperkirakan bahwa Raja sengaja mengadakan pahargyan, penghormatan besar- besaran kepada Permaisuri Praba Raga Karana sebagai siasat Mahapatih Halayudha untuk menarik keluar kita. Sehingga ketidaksukaan kita, ketidakpatuhan kita sebagai prajurit terbaca jelas, dan saat itu kita akan ditumpas.”

“Oleh sebab itu, kita akan mendahului,” kata Senopati Yuyu mantap. “Malam ini kita dahului.”

Pengabdian Tanpa Alis

APA yang dikatakan Senopati Yuyu tak perlu dipertanyakan lagi, karena sudah menjadi persetujuan bersama. Kecuali Senopati Tanca yang tidak segera mengangguk. Malah menghela napas, dan kedua tangannya bersidekap, menutup di depan dada.

Di antara Tujuh Senopati Utama, Senopati Yuyu boleh dikatakan paling tidak mau menonjolkan diri. Selama ini selalu diam, dan tidak banyak menarik perhatian. Apalagi jika dibandingkan Senopati Semi maupun Kuti yang gagah dan bicara lantang.

Akan tetapi keberadaan Senopati Yuyu di antara ketujuh dharmaputra diakui sebagai penentu. Karena jika Senopati Yuyu telah memutuskan sesuatu, yang lainnya akan mengikuti. Tak ada keraguan untuk mempertanyakan kembali.

Justru kalau merasa tidak perlu berpendapat, Senopati Yuyu tidak membuka mulut. Lebih suka menarik diri, seperti yuyu atau ketam.

Yang tahan berada dalam tempat persembunyiannya untuk waktu yang lama, dan keluar pada saat yang tepat. Untuk menjapit mangsanya.

Dalam pertarungan dengan pasukan Tartar, Senopati Yuyu tidak muncul sebagaimana Senopati Kuti dan Semi yang langsung terjun ke gelanggang. Akan tetapi senopati inilah yang menyusun rencana penyerangan balik kepada pasukan Tartar. Yang berbisik di telinga Raden Sanggrama Wijaya ketika itu, bahwa ketiga Naga tak mengetahui kepada siapa harus membalaskan dendam.

Senopati Yuyu-lah yang dengan cepat dan tepat menjapit gagasan untuk membelokkan arah serangan pasukan Tartar ke Singasari, dan kemudian menyiapkan satu pukulan jitu di saat pasukan Tartar merayakan kemenangan.