Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 34

 
Jilid 34

Desakan agar Jabung Krewes ditarik, sedikitnya mempunyai dua kekuatan baginya.

Pertama, karena senopati berwajah lembut, dengan gerakan yang serba lemah gemulai ini mempunyai pandangan sangat tajam. Dalam diam, dalam kalimat yang kadang tak mempunyai gema dan makna, terkandung gugatan yang tajam. Terutama sekali karena pandangannya yang luas dalam membandingkan perkara satu dengan yang lainnya. Sehingga Bango Tontong merasa tersudut, dan gerakannya terganggu karena gugatan-gugatan Jabung Krewes, yang mengingatkan bahwa Bango Tontong tak bisa menahan para bangsawan seenaknya, atau mengangkut harta begitu saja. Jabung Krewes tak bisa diajak kerja sama. Senyumannya yang lunak, pandangannya yang menyiratkan wajah kanak-kanak, kelewat keras untuk mengubah pendiriannya yang tak bergoyah.

Sehingga Bango Tontong mengubah taktiknya.

Yaitu mengubahnya menjadikan kekuatan kedua. Dengan cara menarik Jabung Krewes ke pihaknya, karena selama ini diketahuinya bahwa Jabung Krewes tidak puas dengan kepemimpinan Halayudha.

Dengan menarik Jabung Krewes yang mempunyai kelebihan dan kekukuhan pendirian, Bango Tontong merasa tenaganya menjadi dua kali lipat untuk menjaga diri dari Halayudha. Caranya dengan membina persekutuan secara diam-diam. Bango Tontong tahu bahwa dalam kondisi seperti sekarang, pendekatannya tak akan digubris. Akan tetapi begitu diumumkan bahwa Jabung Krewes dipindahkan tugasnya ke dalam Keraton dan tidak mengawasi lapangan lagi, masalahnya menjadi lain. Jabung Krewes kini berada dalam keadaan tersingkir dan tersisih. Dalam keadaan gagal sebagai senopati, Jabung Krewes akan dengan senang hati menerima Bango Tontong yang mengutarakan bahwa sebenarnya Jabung Krewes dianggap menghalangi upaya untuk mengumpulkan harta dan pusaka. Bango Tontong menjelaskan bahwa ia semata-mata menjalankan perintah Mahapatih!

Ia berharap agar Jabung Krewes bisa menahan diri, untuk mencari waktu yang tepat menyatakan ketidakpuasannya.

Meskipun tidak segera menerima, Jabung Krewes tidak pula terang-terangan menolak uluran tangan Bango Tontong.

Bagi Bango Tontong ini sudah dua pertiga berhasil.

Kalau Halayudha merasa menang di atas angin dalam permainan ini, sebaliknya Bango Tontong juga tidak merasa kalah.

Dua permainan yang berbeda jurusnya. Seperti permainan anak-anak di Keraton. Di mana seorang anak meringkuk, dan lima atau enam anak meletakkan tangan menengadah di atas punggungnya. Salah seorang membawa giwang untuk diletakkan pada tangan secara bergantian diiringi nyanyian. Sampai satu saat nyanyian berhenti, dan si anak yang meringkuk duduk, kemudian menebak siapa di antara keenam anak yang menggenggam giwang.

Hanya satu yang benar-benar menggenggam giwang. Yang lima tidak. Keenamnya seolah menggenggam, tapi seolah juga tidak.

Permainan menyembunyikan suweng atau giwang ini sangat menyenangkan bagi anak-anak. Dan kali ini Bango Tontong juga menikmati, dengan tuntutan yang berbeda dari waktu kanak-kanak.

Yang tidak diketahui dan tak diduga oleh Halayudha maupun Bango Tontong ialah sebenarnya permainan apa yang tengah dimainkan oleh Jabung Krewes. Berbeda dari kedua tokoh yang memperlihatkan dirinya, Jabung Krewes masih bersembunyi di balik senyumnya yang sumanak, bersahabat dan akrab.

Padahal Jabung Krewes tidak menerima begitu saja.

Gagasan untuk menyampaikan keadaan di Simping sebenarnya hanyalah rekaan Jabung Krewes yang bisa menyusup masuk ke wilayah sanggar pamujan.

Akan tetapi seperti yang lain, Jabung Krewes tak bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Semua hanya berdasarkan dugaan dan perkiraan belaka. Dengan perhitungan bahwa kalau dirinya tak bisa menyusup lebih ke dalam, tokoh mana pun juga tak akan mampu.

Dalam hal ini, Jabung Krewes tidak sembarangan mengarang. Ada dasar-dasarnya.

Bagi orang luar, sejak kepulangan Baginda dari Keraton, apalagi sejak peristiwa di Lodaya, tak ada yang diperkenankan masuk ke sanggar pamujan. Jabung Krewes pun tidak bisa diterima meskipun selama ini ia memang melayani Baginda dalam menuliskan pujasastra.

Tapi bukannya tanpa hasil sama sekali. Dari para emban, para dayang, Jabung Krewes mendengar beberapa hal.

Di antaranya kabar bahwa Upasara Wulung telah datang, dan bertemu dengan Permaisuri Rajapatni yang didampingi Permaisuri Tribhuana.

Hasil lain yang lebih berarti baginya ialah karena secara diam-diam Jabung Krewes bisa mengangkut tulisan-tulisan dalam sanggar pamujan yang kosong.

Sejak menginjakkan kaki di Simping, tak ada yang menemuinya selain para dayang yang setia, yang mengenalnya. Saat itulah Jabung Krewes berusaha masuk ke sanggar pamujan secara diam-diam. Sanggar yang selama ini hanya ditempati oleh Baginda.

Sanggar tempat Baginda bersemadi ini menurut kabar yang terdengar tak pernah dimasuki orang lain, selain para permaisuri. Sejak kedatangannya di Simping, Baginda bahkan tidak memperkenankan para abdi untuk membersihkan atau merawat.

Semua dilakukan oleh tangan-tangan halus para permaisuri. Termasuk mengatur kayu cendana yang mengeluarkan bau harum, dupa sesaji, bunga, sampai dengan membersihkan debu.

Jabung Krewes sedikit terenyak. Tertunduk lama.

Tak ada siapa-siapa. Tak ada bayangan matahari, tak ada bayangan manusia. Ruangan yang kosong. Di dalamnya hanya ada sebuah ranjang kayu sederhana tanpa ukiran dengan selembar kain sutra putih di atasnya. Di dekatnya ada meja pendek dengan gulungan kertas warna pucat di atasnya, serta bulu angsa.

Tak ada lainnya. Tak ada apa-apa.

Jabung Krewes masih menunggu. Agak lama. Baru kemudian bergerak ke arah meja. Duduk di dekat meja, bersila. Dorongan batinnya yang membuatnya berani melakukan itu. Terutama karena merasa tak ada yang mengetahui.

Tikar pandan yang dianyam telah menjadi halus dan mengilat. Pertanda Baginda telah menggunakan untuk waktu yang lama.

Jabung Krewes menyingkirkan dengan hormat. Bersila di atas papan kayu.

Menyembah dalam, sebelum berani membaca. Tulisan yang sangat indah, sangat halus, tebal-tipis yang terjaga sangat sempurna. Hanya orang yang mempunyai cita rasa tinggi serta tahan menahan napas panjang yang mampu menghasilkan huruf-huruf yang tampak hidup dan terjaga dari lembar pertama.

51

By admin • Oct 31st, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Jabung Krewes bisa menilai dengan tepat karena tugas utamanya selama ini adalah menjadi juru tulis. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, gulungan kertas yang banyak itu dibawa dengan diam-diam, disembunyikan melebihi melindungi nyawanya sendiri.

Jabung Krewes tidak tahu apa yang harus dikerjakan dengan kertas kidungan yang ditulis Baginda. Kalaupun ia berusaha membaca, itu karena dorongan rasa ingin tahu semata-mata.

Jabung Krewes tetap tak tahu apa yang harus diperbuat, kalau dirinya tidak digeser kedudukannya kembali sebagai juru catat Keraton.

Kidungan Raja Pendiri

JABATAN sebagai juru tulis atau juru catat Keraton menempatkan Jabung Krewes lebih dekat dengan Raja. Sebab tugas utamanya kini melayani Raja, untuk menyalin kitab atau menuliskan perintah- perintah.

Itulah saat yang baik untuk bisa menghadap.

“Mohon Raja berkenan bermurah hati kalau hamba yang hina ini berani lancang. Baru sekarang hamba berani menyampaikan hal ini kepada Raja.”

Jabung Krewes menyerahkan tulisan yang ditemukan di sanggar. “Apa itu?”

“Inilah Kidungan Para Raja, duh Raja Yang Bijaksana dan Besar….” “Apakah berarti Baginda telah mengundurkan diri sepenuhnya sekarang ini?” “Bahkan jauh dari itu….”

Jabung Krewes sangat mengetahui bahwa setiap raja yang memerintah selalu menulis kidungan yang disebut Kidungan Para Raja. Biasanya raja yang mengundurkan diri pada saat-saat terakhirnya menuliskan semua yang dialami, untuk diwariskan kepada penggantinya yang akan memegang takhta.

“Jauh dari itu, apa maksudmu?” “Duh, Raja.

“Agaknya, melihat goresan yang ada, kidungan itu sudah lama ditulis Baginda.” “Kamu kidungkan dengan baik, Ingsun ingin tahu tanpa harus membaca sendiri.” Jabung Krewes menyembah tujuh kali kepada Raja.

Tujuh kali kepada kitab, yang kemudian ditembangkan dalam kidungan yang menawan.

Kidungan Para Raja Diwariskan Raja Pendiri Keraton Majapahit, Pelindung Syiwa dan Buddha,

Pendiri Tradisi Keluhuran dan Kebesaran Keraton Tanah Jawa Beserta Seluruh Isinya.

Pupuh pertama, dan pupuh penghabisan Akulah Raja yang meneruskan

garis kodrat para Dewa, Menyambung darah Raja

Sri Baginda Raja Kertanegara

Akulah Raja keturunan Rajasa yang perkasa

Kidung ini kutulis dengan bimbingan Dewa

Untuk putraku, yang akan memerintah tanah Jawa

Agar meneruskan kebijaksanaan, kewibawaan, pengayoman Dan hanya yang berdarah Rajasa yang berhak atas takhta Dewa pun tak bisa

Adalah Sri Baginda Raja Kertanegara yang tiada tara Memandang seluas laut, setinggi langit, sekokoh gunung Namun Sri Baginda Raja

Lupa bahwa Raja yang sesungguhnya adalah Raja dalam Keraton

Raja dalam keluarga

Raja dalam menyembah Dewa Raja dalam perang

Sri Baginda Raja, belum menjadi Raja dalam keluarga Akulah Raja yang sempurna

Yang membangkitkan tradisi, membuat Keraton Majapahit Yang menjunjung tinggi kebesaran

Dan meneruskan

Hanya aku Raja pendiri Dewa pun bukan

Dewa menunjuk, memilih, merestui aku Sebab hanya aku yang mampu Meneruskan apa yang ditinggalkan

Sri Baginda Raja

Yang Maha besar bagi sekalian jagat Akulah yang mampu

Menciptakan Keraton yang lebih besar Menciptakan tatanan, tata krama yang abadi

….

Suara Jabung Krewes terhenti. Raja menguap sambil bersungut. “Apa anehnya kidungan itu?

“Apa maksudmu, Jabung Krewes? Kamu menghendaki aku menulis lanjutannya dan menyerahkan kekuasaan?” “Duh, Raja sesembahan semua makhluk hidup di tanah Jawa.

“Kidungan Baginda lebih menjelaskan bahwa sejak Raja masih timur, masih kecil, telah dipilih oleh para Dewa, tanpa pernah ada keraguan lagi. Dan hanya keturunan Raja yang bisa meneruskan Keraton.”

“Apa anehnya? “Bukankah selalu begitu?”

Jabung Krewes tidak tergoda untuk menunjukkan bahwa ada bagian-bagian yang lebih penting. Karena kalau mengatakan hal itu, sama juga halnya dengan menelanjangi diri sudah membaca lebih dulu. Suatu pantangan yang tak bisa diampuni. Karena Kidungan Para Raja hanya boleh dibaca oleh raja.

“Baginda meninggalkan warisan….” “Aku malas mendengarnya.

“Baginda merasa repot, merasa kikuk, karena warisan kebesaran Sri Baginda Raja. Bukankah begitu?

“Jabung, Ingsun menjadi raja sejak masih kecil. Begitu lahir, Baginda telah memilihku. Permaisuri Tribhuana telah mengangkatku sebagai putranya.

“Aku mengerti semuanya. “Aku tahu segalanya.

“Aku tahu banyak keluarga Keraton yang ragu dan menimbang lebih dulu. Tapi aku tak ragu, tak takut, tak gentar.

“Aku telah menjadi raja sejak dalam kandungan. “Dewa tak berani menyangkal dan mengubah.” Jabung Krewes menunggu.

Sebagai abdi yang selama ini terbiasa melayani, bukan sesuatu yang luar biasa untuk menahan diri. “Jabung…”

“Sembah dalem…”

“Coba periksa, apakah ada yang menyebutkan mengenai perkawinanku dengan Tunggadewi dan Rajadewi yang jadi pembicaraan itu?”

“Rasanya tidak ada, duh Raja. “Baginda lebih mengingatkan akan…” “Kidungkan!”

Raja bersandar ke kursi.

Jabung Krewes menyembah lagi. Juga ke kitab.

Akulah Raja Pendiri, yang bisa mengatur segalanya dari awal mula

Akulah yang mengangkat mahapatih, senopati, prajurit, emban, atau apa saja, atau segalanya

tak mungkin keliru sebab Akulah Raja Pendiri tapi mereka itu orang tak tahu diri

berebutan seperti kelaparan bertarung seperti kehausan

Akulah Raja yang bijaksana yang bisa menentukan

mahapatih, senopati, daksa, pendeta tahu apa

mau apa

Aku sedih, kecewa

ternyata tak perlu dipercaya Aku tak bisa mengangkat derajat manusia yang hina.,..

Raja menguap kembali.

Tangannya memberi gerakan agar Jabung Krewes berhenti “Cukup.”

Jabung Krewes mengangguk. “Yang itu, aku tahu.

“Kamu tulis saja, untuk nanti.”

Jabung Krewes mengangguk dan menyembah. “Kamu tulis mengenai apa yang kukatakan. “Sudah itu pergilah.”

Jabung Krewes menyembah dan segera meninggalkan tempat peraduan. Wajahnya yang lembut, gerakannya yang lemah, tak sedikit pun menunjukkan kekecewaan yang teramat sangat.

Kekecewaan yang menyesakkan dadanya.

Baginya Kidungan Para Raja adalah kitab yang paling istimewa dari semua kitab yang ada. Kitab yang sesungguh-sungguhnya. Akan tetapi Raja ternyata tak berkenan, walaupun hanya untuk mendengarkan.

Jabung Krewes merasa bahwa pengabdiannya goyah.

Karena merasa apa yang dituliskan Baginda sangat berharga, sangat luar biasa. Tapi ternyata seperti tak ada gunanya.

Kidungan Permaisuri

RAJA JAYANEGARA membawa Kidungan Para Raja yang ditulis Baginda, menuju kamar Permaisuri Praba Raga Karana. Kemudian memerintahkan para dayang dan pengawal untuk meninggalkan mereka berdua.

Para dayang yang seluruhnya berjumlah empat puluh dan para pengawal pribadi diusir jauh. Raja duduk di pinggir ranjang Permaisuri Praba.

Yang terbaring lemah tanpa gerak. Hanya matanya yang kadang mengedip, itu pun tampak susah.

“Aku baru saja menerima Kidungan Para Raja, warisan Baginda. Goresannya lembut, hurufnya manis sekali, akan tetapi nadanya penuh keputusasaan. Pupuh pertama, sekaligus pupuh penghabisan. Semacam penyesalan, semacam pengakuan pemaksaan diri harus menuliskan kidungan.

“Kamu tahu, Permaisuri, bahwa aku nantinya tak perlu melanjutkan tradisi itu? Aku bahkan akan memintamu menuliskan Kidungan Permaisuri.

“Biar putra kita kelak mengerti.

“Bahwa aku adalah Raja yang sesungguhnya. Yang berkuasa dan menentukan. Yang bisa bicara seperti apa yang kuinginkan. Berbuat apa yang ingin kulakukan.

“Permaisuriku, bagiku kamu adalah segalanya. Aku tak bisa mempercayai siapa saja-dan aku tak mau menyesali seperti Baginda.

“Aku lebih suka bicara padamu.

“Permaisuriku, kamu mau dengar apa yang dituliskan Baginda? Akan kukidungkan buatmu.” Raja memilih dari beberapa lembar yang ada.

Lalu mulai mengidung.

Baru satu tarikan suara, sudah terputus.

“Segera akan kamu ketahui, bahwa aku sudah mengetahui bahkan sebelum Baginda menuliskannya. Barangkali memang kitab Kidungan Para Raja ini tak perlu ditulis.”

Suaranya mengandung gugatan yang diucapkan dengan lirih. Akulah Raja Pendiri

Yang memegang takhta dari peperangan bukan warisan

Akulah Raja Pendiri

Yang mewarisi trah Rajasa bukan Wijayawangsa Akulah Raja

Berdarah Raja

Di puncak takhta, aku melihat tanah Jawa rata di kakiku Aku terperanjat

Siapa gerangan Brahmana Hindu Datang dari gunung apa, sungai mana Di belahan jagat ini

Dewa siapa yang dibawa

Nilai apa yang menentukan jiwa Ini tanah Jawa

Akulah Raja Pendiri

Yang tidak harus mengikuti ajaran Brahmana Dari tlatah Hindia

Atau dari Syangka Atau dari Tartar

Akulah Raja yang menentukan merah atau putih, hitam atau biru

Dari atas takhtaku Aku melihat

Tanah Jawa telah lama menelan para Brahmana dan memuntahkan dalam tata krama Jawa

Aku yang mewarisi Dan meneruskan Untuk putraku Hanya untuk putraku

Tampan, putih, bercahaya

Kala Gemet yang akan meraih kuasa, kodrat, kemenangan Yang sempurna

Tak ada bayangan yang menyamai

Tak ada yang lebih tampan dan bercahaya

Semua hanya pembantu

Juga para senopati, para prajurit, para pendeta Dan para ksatria

Para ksatria adalah abdi yang setia Mengabdi Raja, mengabdi Keraton Itu kewajiban ksatria Pun jika bernama Upasara Wulung

Sebab Raja tak boleh mengotori tangan dan jarinya Sebab para ksatria

Hanya bisa mengabdi

Mengikuti, menyembah, dan berbakti Pun jika bernama Upasara Wulung

Senopati Pamungkas dalam Perang Tartar Yang menguasai Kitab Bumi

Tetap abdi

Akulah Raja, yang bakal menurunkan Raja

Sebab Raja adalah titisan Dewa Yang Maha dewa Sebab hanya Raja yang membuat dan membaca Kidungan Para Raja

….

Raja bersungut kecil.

“Tahukah kamu, permaisuriku, betapa Baginda gundah ketika berhadapan dengan Upasara Wulung? Yang mencari pembenaran asmara dan kuasa dalam kodrat?

“Tahukah kamu, permaisuriku, betapa aku tak gentar sedikit pun memilihmu, mencari pengganti Rajadewi dan Tunggadewi?

“Aku tak punya kegelisahan kerdil.”

Raja menunduk, mencium kening Praba Raga Karana. Kertas di tangannya teremas.

Justru saat itu terbaca baris-barisnya.

Yang membuat Raja menahan napas. Bibirnya membentuk garis keras.

Akulah Raja Pendiri Yang mewariskan takhta

Ketika Dewa belum siap sedia Aku kembali ke Simping

Dunia perjalananku yang abadi Sebab aku telah menguasai

Raja Keraton, Raja Keluarga, Raja Perang, Raja segalanya Di sanggar pamujan

Kutemukan diriku

Raja Pendiri tanpa tanding

Itu sudah melebihi Raja mana pun Kutinggalkan jagat

Kuucapkan selamat

Tak ada lagi diriku

Meskipun masih bisa kamu lihat dan rasa Itu bukan lagi Aku

Tapi kebesaranku

Telah kuucapkan selamat, moksa Tinggal kebesaranku tiada tara Selamanya… Raja mendesis lirih. Berubah menjadi keras.

“Permaisuriku, apakah yang meninggalkan Keraton itu bukan Baginda? “Apakah Baginda telah moksa?

“Apakah yang diperebutkan di Lodaya tepian Brantas bukan Baginda tapi kebesarannya? “Apakah semua ini bekas-bekas kebesaran Baginda?”

Mata Raja Jayanegara membelalak.

Di luar dugaannya, Praba Raga Karana mengangguk. “Praba!”

Teriakan Raja mengguntur. “Permaisuriku!”

Teriakan yang demikian keras, mau tidak mau memaksa para dayang berdesakan di mulut pintu. Mereka kuatir jangan-jangan Permaisuri Praba Raga Karana mengalami sesuatu yang…

Empat puluh dayang yang berjongkok dalam jajaran panjang berderet di depan pintu hanya sesaat memandang, lalu menunduk.

Tapi dalam sesaat itu seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Praba Raga Karana tampak menggerakkan lehernya. Tangannya!

Raja melihat Praba Raga Karana berusaha duduk, turun ke lantai, dan menyembah kakinya. “Praba!”

“Raja sesembahan semua kawula tanah Jawa. “Hamba telah sembuh. Berkat sabda Raja.

“Adalah benar bahwa sesungguhnya Baginda telah menuju jagat yang abadi, ketika mewariskan takhta kepada Raja.

“Sejak saat itu yang kita lihat, kita temui, adalah kebesarannya.” Praba Raga Karana menyembah.

Kidung Kebesaran Baginda

RAJA benar-benar terpesona.

Juga masih tak sepenuhnya sadar ketika turun dari pembaringan, jongkok di lantai, dan memeluk Praba. Memeluk kencang.

“Dewa Jagat Batara.

“Umumkan kepada seluruh Keraton agar berpesta pora selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa henti.

“Perintahkan sekarang juga. “Jabung Krewes, catat perintahku.

“Barang siapa tidak bersenang-senang akan dihukum, akan dipidana tanpa ampunan. “Umumkan sekarang juga.

“Bunyikan genderang. Tabuh semua bunyi-bunyian kegembiraan.” Raja merenggangkan pelukannya.

Di luar teriakan kegembiraan diumumkan secara bersambung dari mulut, dari bunyian, dari gerakan. Angin mengalir dengan keras, dengan kencang. Tak ada rumput dan dedaunan yang tidak terusik oleh kabar sangat luar biasa.

Permaisuri Praba Raga Karana telah sembuh. Sehat seperti sediakala.

Segala puja dan puji hanya untuk kebesaran Raja.

Saat itu juga empat puluh dayang menyediakan air wewangian untuk mandi, untuk keramas, untuk membersihkan kuku, menyiapkan pakaian kebesaran, menata semua keperluan yang ada.

Raja masih berada di tempatnya.

Duduk di ranjang kayu berukir warna emas. Praba Raga Karana masih bersimpuh. “Permaisuriku.

“Apakah ini yang dinamakan keajaiban?”

“Keajaiban Raja yang membawa berkah bahagia bagi umatnya.” “Raja atau Baginda?”

Kalimatnya menjadi bergolak. Kedua tangan Raja terkepal erat. “Permaisuriku.

“Aku tak tahu, apakah yang meninggalkan Keraton menuju Simping hanyalah bayangan yang ada dalam diri kita. Apakah Baginda sudah moksa atau menyusun Kidungan Para Raja kemudian, untuk membenarkan, untuk menyucikan diri.

“Aku tak mau tahu. “Permaisuriku.

“Aku hanya ingin mengerti, apakah mukjizat Dewa yang membuatmu sembuh secara tiba-tiba karena pengaruh kidungan?”

Praba tetap menunduk. Luruh ke bawah pandangannya. “Hamba tak bisa menjawab, Raja sesembahan….” “Kamu yang merasakan, permaisuriku.

“Katakan.” “Hamba, hamba…

“Hamba mendengar suara Raja sesembahan ketika membaca kidungan….” “Suara Ingsun atau suara Baginda?”

“Hamba belum pernah mendengar suara Baginda.” Jawaban yang sangat sederhana.

Tak ada yang bisa membantah. Praba Raga Karana, sebelum memakai nama tersebut adalah abdi dalem yang sangat jauh jaraknya dalam tata krama kepangkatan. Sehingga jangan kata mendengar suara Baginda, bisa mencium bau bunga yang bekas diinjak pun rasanya sudah istimewa.

Sederhana.

Menunjukkan bahwa suara Raja yang didengar. Tapi tidak menjelaskan.

Tidak menjelaskan kebanggaan dan kepuasan Raja. Karena kalau benar ada keajaiban-dan agaknya tak ada kemungkinan lain yang bisa menerangkan-itu karena kebesaran Baginda.

Praba menyadari, mengalami sendiri, sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Sejak ditotok nadi kepekaannya oleh Halayudha, Praba Raga Karana seolah tiga perempat mati. Rasa yang dimiliki tak ada lagi. Kehendak untuk ini atau itu, sekadar mengangkat tangan atau mengedipkan mata atau bahkan menelan ludah, tak bisa dilakukan seperti kemauannya.

Kalau bisa menelan ludah, itu seakan terjadi dengan sendirinya. Selebihnya hanya telentang dengan pandangan nyalang.

Perlahan pula kesadaran Praba menurun. Semua yang dilihat, didengar, dirasa menjadi samar. Antara disadari dan tidak. Antara terekam dalam ingatannya dan tidak.

Praba tak tahu berapa lama waktu berlalu. Tak ada bedanya siang dan malam. Tak ada bedanya emban atau Raja yang menyentuh dan mengelus rambutnya.

Sampai secara gaib, telinganya mendengar kidungan. Dirinya menjadi hanyut, dan pandangannya makin lama makin jelas ke arah sosok tubuh yang tinggi, perkasa, penuh dengan cahaya, naik ke angkasa, meniti asap dupa.

Tubuh Baginda.

Yang jernih, bercahaya.

Yang tertinggal di bawah hanyalah bayangan tubuhnya. Yang tidak jelas wajah, bentuk, maupun geraknya. Meninggalkan Keraton menuju Simping.

Sampai saat itu, Praba tak menyadari bahwa anggota tubuhnya mulai bisa digerakkan. Seolah bangun dari kelelapan yang panjang. Sesuatu yang membuatnya lupa akan penderitaan selama ini. Begitu saja perubahan itu.

Praba mengetahui bahwa penderitaan yang berkepanjangan adalah akibat tindakan Halayudha. Meskipun dirinya tak mengerti ilmu silat, akan tetapi tahu bahwa nadi-nadi tubuhnya yang dibekukan Halayudha.

Dan tiba-tiba saja totokan itu terbebas dengan sendirinya.

Praba tak bisa menjelaskan, apakah membukanya totokan nadi itu terjadi dengan sendirinya, karena kekuatan Halayudha sudah meluntur, ataukah karena tarikan kidungan. Ataukah keduanya. Yang terjadi pada saat yang sama.

Akan tetapi itu bukan pertanyaan pokok dalam diri Praba. Kepasrahannya menerima nasib dan menjalani, jauh lebih besar dan mendasar dari semua kegaiban yang dialami. Baginya, terpilih oleh Raja sebagai permaisuri, dicelakakan Halayudha, dan kini memperoleh kembali penyembuhan adalah takdir yang harus dijalani. Tanpa melontarkan pertanyaan mengusut.

Ini yang membedakan dengan Raja.

Bagi Raja, yang tidak mengetahui polah Halayudha, penderitaan yang disandang Praba Raga Karana menjadi tamparan yang keras. Seolah ada kekuatan yang luar biasa, yang mengerem dan menandingi tindakannya, yang rasanya tak ada yang mampu menunda.

Apalagi ketika semua tabib dan pendeta tak mampu mengobati.

Raja justru merasa disudutkan oleh cara berpikirnya sendiri untuk terus melawan. Dan akhirnya terbukti dirinya menang.

Praba sembuh kembali.

Yang mengganggu keakuannya adalah: apakah benar karena dirinya yang lebih besar, dan bisa mengatasi “kutukan” yang diderita Praba, ataukah karena kebesaran Baginda.

Bagi Raja ini konflik terbesar.

Perebutan kemenangan yang tak akan bisa dirasakan atau bahkan dimengerti orang lain. Yang hanya bisa dimengerti Baginda, yang ternyata juga menyimpan persaingan yang sama dengan Sri Baginda Raja.

Perasaan, pertarungan rasa yang hanya mungkin dirasakan oleh orang yang memegang puncak kekuasaan, yang memegang kodrat bagi orang lain.

Karena akar semua yang dilakukan sekarang ini adalah keinginannya untuk hadir. Untuk diakui sebagai raja.

Raja satu-satunya.

Tak dihalangi, tak ditinggii siapa pun. Raja yang sesungguhnya.

Pengertian akan hal ini sejak awal tumbuh dalam diri Raja. Sejak masih bayi, sejak merangkak dengan panggilan Bagus Kala Gemet, ia mulai menyadari dirinya berbeda dari siapa pun. Dengan bimbingan para senopati utama, para empu, Bagus Kala Gemet tumbuh dengan segala keunggulan.

Apalagi ketika secara resmi dirinya menjadi raja muda. Dari wilayahnya di Daha, Raja Muda Bagus Kala Gemet menyiapkan dirinya. Bukan sesuatu yang luar biasa dan terlalu dilebih-lebihkan jika saat itu laporan kepada Baginda menunjukkan kelebihan Raja Muda Bagus Kala Gemet.

Dalam usianya yang masih sangat muda, Raja Muda Bagus Kala Gemet telah menguasai berbagai kitab utama yang menjadi dasar ajaran Keraton. Bahkan lebih dari itu, Raja Muda juga menguasai ilmu silat.

Dalam suasana yang memberi keleluasaan dan kekuasaan yang tak terbatas, Raja Muda hanya melihat satu hal yang berada di atasnya.

Yaitu Baginda. Tak ada yang lain.

Tidak juga Dewa. Tidak juga tata krama Keraton.

Para empu, para senopati yang selama ini mendampingi, melayani, tidak bisa melihat bahwa perasaan yang sesungguhnya Raja Muda Bagus Kala Gemet adalah melangkah ke puncak kekuasaan. Dorongan yang tak akan terbaca oleh siapa pun.

Kecuali dirinya sendiri. Dan Baginda.

Lahir Sebagai Raja KESEMBUHAN Praba Raga Karana, yang mendadak tanpa sebab yang pasti, menggoyang alam pikiran Raja. Balik ke asal mula sejauh ingatannya bisa merekam.

Sekarang menyembul kembali.

Masa kanak-kanak yang diingat adalah ketika bisa mengenang dirinya yang berlari-lari di ruangan yang sangat luas, yang penuh dengan patung, porselen berwarna biru, cokelat, dan hijau, yang bila digoyangkan semua pengawal menjadi pucat ketakutan. Dan bila ia menjatuhkan hingga menjadi kepingan, ketakutan itu akan berubah menjadi menggelikan.

Ia melihat tubuh yang bersujud, menyembah, seakan menjilati kakinya. Ia bisa mengencingi mereka sambil tertawa, akan tetapi itu tak dilakukan. Karena kemudian sekali yang dirasa adalah rasa kesal. Para pengawal akan memaksanya untuk mencuci kemaluannya, mengganti kain yang dikenakan, menaburi dengan wewangian yang membuat napasnya sesak.

Ia bisa memenuhi kamarnya dengan ribuan cengkerik, tikus, ular yang digunting lidahnya, kucing, dan segala jenis burung. Tetapi yang paling menyenangkan ialah tidur di atas tumpukan buah mangga yang sudah dikupas.

Ada rasa aman, dingin, dan manis setiap kali bibirnya bergerak. Rasa manis yang tertinggal di tangan, jari-jarinya.

Satu-satunya yang membuatnya takut hanyalah seorang wanita yang harus ia panggil Ibunda Permaisuri Indreswari. Para pengawal yang begitu setia, begitu mau melakukan apa saja, tak berani menghalangi jika Ibunda Permaisuri Indreswari muncul, dan menanyakan soal makanan atau menyuruh tidur.

Setiap kali Ibunda Permaisuri Indreswari muncul, ia merasa takut, terkekang, dan ingin menangis.

Makanya sangat menyenangkan ketika ia mulai dipindahkan ke Dahanapura. Ia bisa bebas, berbuat apa saja, termasuk menetek pada dayang-dayang yang jumlahnya banyak sekali. Tak ada yang melarang, tak ada yang menghalangi. Ia bisa berendam di sungai buatan setiap hari, atau berada di atas pohon.

Satu-satunya yang kemudian sangat dikenal adalah seorang lelaki yang sudah berumur, yang datang menghadap kepadanya. Ia tak begitu peduli, karena setiap kali selalu ada yang menghadap dan menyembahnya.

Akan tetapi sekali ini lain.

Lelaki tua itu membawa bambu yang panjang, yang di dalamnya telah dihilangkan batas dan ruasnya. Sehingga ia bisa mengintip dan memandang buah-buahan, memandang dayang yang main di telaga.

Lelaki tua itu begitu sabar memberikan banyak permainan yang menyenangkan. Tangannya kalau didekatkan ke obor, bisa menimbulkan bayangan yang berbentuk kijang, harimau, gajah, buah manggis, ketela, kadang ayam.

Lelaki tua itu menyebabkannya melakukan hal yang sama. Ia mengikuti setiap gerakannya. “Paman Sora pintar sekali.”

“Putra Mahkota lebih pintar.”

Ia senang karena bisa melakukan apa yang dilakukan Paman Sora. Juga berlatih ilmu silat untuk meloncat ke dahan pohon. Berkelebat dan turun sudah membawa buah. Atau berada di sungai buatan dan melihat Paman Sora menahan arus dengan kedua tangannya. Menghentikan arus, bahkan membalik.

Paman Sora yang selalu mendongeng, berada di dekatnya bila malam, dan menjagai. “Paman Sora, jangan pergi.”

“Hamba akan selalu di samping Putra Mahkota bila dikehendaki.”

Ia merasa senang. Karena apa yang dilakukan bisa mengundang sembah hormat dan pujian. Semua yang diajarkan Paman Sora membuatnya bahagia.

“Aku ini putra mahkota, Paman?”

“Ya, Paduka adalah putra mahkota, yang akan menjadi raja.” “Di Keraton, Paman?”

“Di Keraton.”

“Lebih besar, lebih indah dari yang ada di sini?” “Ya. “Paduka putra mahkota yang akan menjadi raja, kelak kemudian hari. Paduka telah menjadi raja ketika lahir ke jagat. Lahir sebagai raja. Dengan lindungan Dewa dan pengabdian para hamba. Termasuk Paman Sora.”

“Apakah tidak banyak yang lahir sebagai raja?” “Hanya Paduka.”

“Rama Baginda?”

“Rama Baginda tidak lahir sebagai putra mahkota.” “Hanya aku, Paman?”

Pertanyaan demi pertanyaan memperoleh jawaban. Semua rasa ingin tahunya bisa terpuaskan. Paman Sora bisa menjawab apa saja yang ingin diketahuinya.

“Para pendeta itu tak bisa disingkirkan. Paduka akan selalu dikelilingi.” “Aku tak suka. Mereka menakutkan.”

“Tidak, Putra Mahkota.

“Para pendeta tidak untuk menakuti, melainkan untuk menjadikan Putra Mahkota suci. Adalah tugas para pendeta untuk menjaga kesucian, meneruskan ajaran kesucian dengan cara mengajar, belajar, mengajukan sajian, memanjatkan doa bagi Raja dan keluarganya, bagi dirinya sendiri, menerima dan memberikan derma.

“Para pendeta adalah abdi Paduka.

“Seperti halnya para prajurit. Mereka abdi yang akan melayani, menjunjung tinggi perintah Paduka. Menjaga keunggulan Keraton dengan berperang, dengan menggunakan senjata, dengan bermain ilmu silat.

“Seperti halnya para saudagar, yang akan memberikan upeti sebagai tanda persembahan. Porselen, kaca, sutra, bau harum, emas, permata, manikam, semua pengabdian kepada Putra Mahkota.”

Suara Paman Sora terngiang, lembut, melarutkan jiwanya. “Semua ada tata kramanya, ada aturannya, ada tugasnya.

“Pendeta tak bisa menjadi saudagar, karena akan mengotori sesajinya. Saudagar tak bisa menjadi pendeta, karena pujiannya tak sampai kepada Dewa.

“Semua ini disebut tata krama Keraton, yang menjadi angger-angger, menjadi undang-undang.

“Putra Mahkota tak perlu menjadi pendeta karena sudah ada yang akan melayani. Tak perlu menjadi prajurit. Tak perlu menjadi saudagar.

“Semua ada tata krama, ada aturannya. Kelak Putra Mahkota bisa membuat angger-angger kalau sudah memegang puncak kekuasaan seperti Baginda.

“Agar lebih cepat, Paduka bisa belajar membaca kitab.”

Ia mulai sadar, mulai menyadari hubungan barang satu dengan yang lainnya. Mulai bisa membedakan manusia satu dengan yang lainnya. Bisa mempelajari jurus-jurus yang diajarkan dasar- dasarnya oleh Paman Sora.

Baru kemudian ia mengetahui bahwa Paman Sora yang menjadi tempatnya bertanya, yang selalu berada di dekatnya, adalah salah seorang yang istimewa.

“Paman Sora dulu senopati utama di Keraton?” “Kebetulan Paman memang pernah mengabdi di Keraton.” “Benarkah Paman pernah akan menjadi mahapatih?”

“Maaf, nanti Paduka Putra Mahkota akan menemukan kebenarannya yang sejati.

“Paman sendiri tidak merasa demikian. Mahapatih adalah tangan kanan Raja yang berkuasa. Tidak sembarang senopati bisa kuat dan kangkat menduduki jabatan tersebut.

“Kelak Paduka harus cermat memutuskan pilihan.”

“Paman pastilah senopati yang hebat. Kalau tidak Rama Baginda tidak memilih Paman. “Aku merasa senang bersama Paman.”

“Sembah bekti hamba, Paduka berkenan menerima pengabdian hamba.”

“Paman, kenapa aku menjadi putra mahkota dan bukan yang lainnya? Bukankah putra Baginda tidak hanya seorang?”

“Putra Baginda lebih banyak dari jumlah jari kaki dan jari tangan hamba maupun Paduka. Akan tetapi Paduka adalah putra mahkota karena lahir sebagai raja. Dewa telah menunjuk, telah menyerahkan kekuasaan di bumi kepada Paduka, untuk melindungi dan menjaga kebesaran Keraton beserta semua isinya.

“Karena Paduka yang menentukan kematian dan kehidupan, kepangkatan dan kehinaan, perintah, larangan, yang menyangkut semuanya. Paduka harus teguh hati, kuat jiwa dan raga dalam memutuskan segala sesuatu. Memegang tindak yang adil, mengayomi rakyat. Sebab itulah kebesaran dan kedigdayaan sebuah keraton.”

“Apakah aku akan menjadi raja yang sakti mandraguna kelak atau sekarang ini?”

“Dengan kebijaksanaan dan keadilan, Dewa akan menyertai Paduka menjadi raja gung binatara, bukan sekadar sakti.”

“Aku tak ada yang mengalahkan lagi.”

“Ilmu silat itu seumpama bintang tingginya. Ada yang tinggi, masih ada yang lebih tinggi lagi. Paduka tak perlu bermain silat untuk mengalahkan lawan, karena sudah ada ksatria, sudah ada prajurit, sudah ada senopati, sudah ada mahapatih.

“Ilmu surat itu seumpama bintang tingginya. Ada yang tinggi pujasastranya, tetapi ada empu yang lebih tinggi lagi.

“Semua mendukung Paduka.”

Ia menemukan kedamaian dan ketenteraman. Hanya kemudian ketika Paman Sora menahan keinginannya untuk membuat Keraton Dahanapura seperti Keraton Majapahit, ia memalingkan wajahnya. Ia merasa terganggu. Apalagi ketika keinginannya untuk mendapatkan Ratu Ayu Azeri Baijani tidak segera dijawab dengan menyembah, ia melupakan Paman Sora-nya.

Pertarungan Batin Raja

SEJAK itu Putra Mahkota Bagus Kala Gemet memilih pendamping yang lain. Yang selalu menyembah dan menjalankan perintahnya.

Ia mulai merasa bahwa berada di Keraton jauh lebih menyenangkan daripada di Dahanapura. Ibunda Permaisuri Indreswari sangat merestui niatan itu.

Sejak itu pula segala niatan dan keinginannya dilaksanakan. Bisa berbuat seperti Baginda. Dengan prajurit kawal khusus, dengan pakaian kebesaran dan payung emas, dengan mengangkat gelar yang berwangsa Syangka.

Ia menemukan jalan bagi pertarungan utama yang mengendap. Bahwa dirinya akan segera menemukan kekuasaan dan kekuatan seperti yang telah dikodratkan. Ia memutuskan untuk tidak memakai para pendeta dari Hindu, melainkan dari Syangka.

Ia memilih para prajurit utama, dan memberi anugerah pangkat.

Hanya saja, selama ini dirinya belum merasa bisa menyamai atau menandingi Baginda. Selalu ada yang kurang memuaskan hatinya, dan selalu Baginda tampak lebih besar.

Juga Ibunda Permaisuri Indreswari.

Ia menentukan langkahnya sendiri. Memilih wanita pemijat untuk diangkat sebagai permaisuri, dan memberi gelar Permaisuri Praba Raga Karana.

Ia merasa bisa melakukan sesuatu yang berbeda.

52

By admin • Nov 2nd, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Dan nyatanya merasa begitu, kalau tidak tiba-tiba saja Praba menyebutkan kebesaran Baginda. Raja Jayanegara menghela napas.

“Permaisuriku, apakah kamu pun akan mengatakan bahwa Baginda mempunyai bayangan yang lebih besar dariku?”

“Hamba tak akan pernah menyebut itu, karena itu tak akan terjadi. Hamba hanya merasakan Raja Sesembahan yang mengidungkan sehingga hamba pulih seperti sediakala.”

Raja menggeleng. “Permaisuriku. “Kamu wanita yang luar biasa bagiku. Dalam segala hal. Ketika aku memilihmu, mengangkatmu sebagai permaisuri, kamu malah memalingkan wajah. Kamu malah mengatakan bahwa aku melakukan ini hanya untuk membuktikan bahwa aku yang berkuasa.

“Permaisuriku.

“Tanpa melakukan apa-apa, aku tetap Raja yang paling berkuasa. Bisa melakukan apa saja. “Permaisuriku.

“Dalam geringmu aku menunggui. Aku undang seribu tabib Keraton, aku lihat sendiri. Ketika ratusan putri menunggu dan berharap kulirik atau kupanggil menghiburku, aku memikirkanmu. Bahkan Ibunda Indreswari tak kupedulikan.

“Apakah kamu masih ragu?” Praba terguguk.

Menyembah dengan tangan dan tubuh gemetar. “Raja Sesembahan.

“Hamba…” “Permaisuriku.

“Bagiku kamu adalah wanita yang luar biasa. Yang sulit kuselami, yang menghadang keinginanku, tetapi aku bahagia.

“Permaisuriku.

“Aku hanya bisa bicara padamu. Hatiku merasa longgar, lega, dan penuh suka cita. “Tidak kepada yang lain.

“Tidak.” Raja berdiri.

“Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu. Aku sangat mengenalmu. Katakan….” Praba menunduk.

Tetap menunduk. “Katakan, Praba….” “Raja Sesembahan.

“Kalau hamba meminta, demi hamba sendiri dan demi kebesaran Raja Sesembahan….” “Katakan, Permaisuriku.

“Aku lebih bahagia bila bisa memenuhi keinginanmu. Pesta besar empat puluh hari empat puluh malam bisa kuperpanjang menjadi pesta selamanya.

“Permaisuriku. “Mintalah. “Katakan.”

Praba tetap menunduk. Wajahnya tertekuk ke arah lutut. Bibirnya gemetar.

Lirih. Samar.

Antara terdengar dan tidak. Antara mengucapkan dan tidak. Wajah Raja memerah.

Giginya bersatu.

Dengan satu gerakan, daun pintu ditendang keras, sebelum akhirnya menghilang.

Kejadian yang mendadak itu tak bisa diketahui secara persis oleh puluhan dayang dan prajurit kawal khusus yang menjadi pucat dan tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

Betapa tidak bingung.

Baru saja Raja memerintahkan untuk mengumumkan pesta empat puluh hari empat puluh malam, yang menjadi perintah resmi. Sebagai pertanda rasa suka cita. Lalu mendadak berubah.

Menendang pintu.

Pertanda tidak ingin menutupi kegeramannya. Inilah berbahaya.

Karena seorang raja tidak perlu memperlihatkan perasaan yang wadak, yang lahiriah sifatnya. Meskipun selama ini Raja selalu menunjukkan perintah yang aneh, akan tetapi belum pernah seperti sekarang ini. Saat bersama Praba Raga Karana!

Padahal sesungguhnya guncangan dari gelombang pertama masih terasa gelegarnya.

Kabar sembuhnya Praba Raga Karana adalah petir dan badai dahsyat yang menyambar secara bersamaan bagi Halayudha. Mahapatih yang merasa semua berada dalam perhitungannya itu benar- benar tak menduga. Bahwa akhir geringnya Praba Raga Karana begitu sederhana.

Kemampuan dan daya pikirnya yang luar biasa tak bisa menangkap apa yang sesungguhnya terjadi. Termasuk nasibnya!

Ini berarti hancur-hancuran. Tak ada yang tersisa lagi baginya untuk membela diri. Tak ada siasat yang bisa mengalihkan tanggung jawab dan perbuatan yang dilakukan.

Halayudha yang sering memuji dirinya, kini merasa benar-benar tak berharga. Tak bisa mengembangkan siasat sedikit pun.

Selama ini dalam berbagai kesempitan yang mengimpit, Halayudha mampu membebaskan dirinya. Selalu muncul kekuatan yang bisa menyelamatkan dirinya. Atau bahkan kadang berbalik menjadi keunggulan.

Tapi tidak sekarang ini.

Segala ilmu yang dipelajari, segala pencerahan yang pernah merasuk dalam dirinya, mendadak menjadi macet.

Tak ada jalan keluar.

Praga Raga Karana telah sembuh seperti sediakala.

Satu kata saja, selesailah dirinya. Habislah impiannya, yang sekarang justru telah digenggam dan merasuk ke dalam tubuhnya sebagai mahapatih.

Apa ada gunanya membela diri?

Tak ada lagi. Sehingga tak perlu meneliti siapa yang bisa menyembuhkan Praba. Apa ada gunanya membuat perhitungan terakhir.

Karena kini sebagai mahapatih, dirinya bisa menggerakkan seluruh prajurit dan senopati yang setia kepadanya. Untuk menundukkan Keraton dan menawan Raja, bukan sesuatu yang tak mungkin.

Apakah ini jalan satu-satunya untuk membela diri? Mendahului menggempur!

Tapi, sekali lagi, Halayudha merasa tak menemukan gema dalam hatinya. Tak ada kekuatan yang mendukung naluri yang tajam, yang biasa melejit dengan cemerlang.

Kalau ada sisa penyesalan yang mengganjal, bagi Halayudha hanyalah rasa terhina, rasa kalah, dan tersungkur, hanya karena seorang juru pijat!

Jagatnya menggelepar.

Bahkan kini Halayudha tak yakin lagi apa yang akan dilakukan jika ada senopati yang datang dan menawan. Tak yakin apakah ia akan melawan sepenuh tenaga untuk mempertahankan nyawanya, ataukah menyerah pasrah bongkokan, menyerah sepenuhnya, seutuhnya. Menunggu nasib baik adanya pengampunan.

Kemungkinan kecil ini dilindasnya sendiri. Tak ada lagi sisa itu.

Sikap yang paling berpengharapan pun tak akan sampai kepada separuh dari kemungkinan itu. Ataukah pada saat seperti ini akan ada gunung meletus, bumi terbelah, dan Keraton musnah?

Atau mendadak muncul lagi pasukan Tartar yang mengancam, sehingga untuk sementara Raja tidak memenggal kepalanya.

Halayudha tersenyum meringis.

Membayangkan dirinya tak bisa berpikir waras. Karena angan-angan yang diketahui paling mustahil pun, bisa menyeruak masuk dan memberi hiburan palsu padanya.

Justru di puncak kekuatannya, di ujung langit kekuasaannya, Halayudha merasa tak mempunyai tenaga. Kakinya, tangannya, tubuhnya, seperti tak mempunyai tenaga. Halayudha berjalan perlahan, seperti merambat untuk bisa duduk dengan tenang. Tubuhnya, raganya, rasanya seperti melayang-layang, tak menginjak tanah.

Getaran Sukma Sejati

SENOPATI BANGO TONTONG segera masuk ke kamar, membimbing Halayudha yang berjalan glayaran, sempoyongan dan limbung. Perasaan aneh menjalar dalam diri Bango Tontong ketika mengetahui tubuh yang dipegangnya sangat dingin.

“Mahapatih, Paduka…” Halayudha hanya menggeleng.

Bango Tontong membimbing ke arah tempat istirahat. Tubuh Halayudha seperti mengikut saja. Bahkan kalau saat itu Bango Tontong melepaskan secara tiba-tiba, pastilah tubuhnya ambruk di lantai.

“Mahapatih terlalu letih….”

Napas Halayudha masih satu-satu. Tertahan-tahan, perlahan, dan berjarak antara menarik dan melepaskan kembali. Bango Tontong memerintahkan agar menggosok dengan jahe yang telah diramu untuk membuat panas.

“Panggil Eyang Puspamurti….”

Bango Tontong menyembah dan segera menuju ke tempat penampungan Eyang Puspamurti yang berada dalam bagian kepatihan. Tak terlalu sulit menemukan, karena Eyang Puspamurti sedang berada di luar, di bawah pohon beringin.

Berdiri dan tepekur.

Mada serta Kwowogen bersila di depannya. Menunduk. Tepekur.

Langkah Bango Tontong terhenti karena kalimat Eyang Puspamurti seperti ditujukan kepada dirinya. “Perhatikan baik-baik, Mada dan kamu Kwowogen.

“Apa yang kukatakan tak keliru satu patah pun.

“Orang ini datang kemari karena disuruh Mahapatih. Untuk memanggilku.”

Bango Tontong adalah senopati yang cukup dianggap terhormat di Keraton. Telinganya menjadi panas disebut sebagai “orang ini” begitu saja. Akan tetapi perasaan tersinggung itu tak bergema dalam hatinya, karena ia cukup menyadari bahwa dalam dunia persilatan banyak tokoh yang sikapnya aneh.

“Apakah saya meleset?” “Tidak sedikit pun.

“Maka saya minta Eyang segera menghadap.” “Perhatikan baik-baik, Mada.

“Karena terlihat dengan jelas, bisa dilihat dengan mata telanjang. Halayudha kehilangan tenaga dan menjadi risau. Padahal itu tak apa-apa. Biasa saja.

“Sebentar lagi akan pulih dengan sendirinya, kalau sukmanya telah tenteram, kalau bisa menguasai diri.

“Itu hal yang biasa. “Wajar.

“Perhatikan baik-baik, Mada.

“Bila seseorang mempelajari dan menyelami Kitab Paminggir, Kitab Para Raja, serta Kitab Pamungkas, ia akan berada pada batas di mana kekuatan sukmanya terpanggil.

“Hubungan antara sukma dan tenaga dalam, dan tenaga luar, dan tubuhnya, tak bisa dibatasi, tak bisa dipisahkan. Saling mengalir dan menyatu. Begitu sukma sejati merasakan ada sesuatu yang tidak beres, akibatnya bisa dilihat pada tubuhnya.

“Di satu pihak saya suka karena mahapatih itu terpukul. Sekarang sedang keok.

“Tapi di lain pihak saya lebih suka lagi, karena itu bukti bahwa mahapatih yang pernah kita telanjangi itu sebenarnya telah mulai menguasai sukma sejati. Atau sekurangnya telah mengenali kekuatan itu.

“Perhatikan baik-baik, Mada.” Bango Tontong menahan diri dan memperhatikan dengan saksama.

Baginya, kalimat Eyang Puspamurti aneh bunyinya. Suka karena Mahapatih terpukul. Ini saja sudah ganjil. Mana ada senopati yang terang-terangan mengatakan hal itu?

Lebih ganjil lagi ketika mengatakan bahwa ia lebih suka lagi karena Mahapatih sudah menguasai sukma sejati.

Kenapa justru suka, kalau ia tidak setuju dengan apa yang dilakukan Mahapatih? Lalu kalimat yang dengan enteng diucapkan bahwa Mahapatih pernah ditelanjangi! Di telinga Bango Tontong memang ganjil.

Walau sebenarnya biasa-biasa saja.

Eyang Puspamurti mengatakan apa adanya. Ia merasa bersuka cita karena Mahapatih terluka. Tapi sebagai sesama ksatria yang mempelajari sifat mahamanusia, ia merasa bergembira karena menemukan tokoh yang sama alirannya.

Bahwa Mahapatih pernah ditelanjangi dalam artian sebenarnya, agak susah untuk diterangkan kepada Bango Tontong.

“Dari mana Eyang mengetahui?” “Perhatikan baik-baik pertanyaan itu, Mada. “Menurut kamu dari mana, Mada?” Kwowogen yang segera menjawab,

“Dari getaran. Siapa yang sudah bisa mempelajari sukma sejati bisa menangkap getaran yang sama. Pada tingkat tinggi, sudah bisa merogoh sukma sejati, untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

“Titik penguasaan itu yang dikatakan Eyang Sepuh dengan sebutan Tepukan Satu Tangan. Dengan satu tangan bisa mengeluarkan suara lebih nyaring dari dua tangan. Pemusatan kekuatan sukma sejati, seperti yang ditunjukkan Mpu Raganata dengan jurus-jurus dalam Weruh Sadurunging Winarah, Mengetahui Sebelum Terjadi.

“Inti pengerahan tenaga itu sama dengan apa yang pada dasarnya berada dalam pupuh ketiga Kitab Bumi. Kidungan yang mengatakan bahwa kekuatan bumi bisa kita ambil dengan tenaga berputar, telapak menghadap ke bawah.”

“Pupuh pertama,” jawab Mada mantap. “Pada pupuh pertama Kitab Bumi yang masih bernama Dua Belas Nujum Bintang, hal itu telah disebutkan. Mengangkangkan kaki seperti mengendarai kuda. Tangan ditarik dari bawah ke atas, siku tertarik ke belakang. Saat tarikan udara dari hidung ke otak turun ke sumsum tulang belakang, adalah memakai kekuatan bumi.”

“Saat tangan pertama bergerak, itu sebenarnya saat menarik kekuatan bumi.”

“Pupuh pertama,” sergap Kwowogen. “Pupuh pertama bisa dianggap demikian. Akan tetapi pemindahan tenaga bumi, penyerapan tenaga bumi yang intinya mencari kekuatan luar untuk diubah menjadi kekuatan sendiri, berawal dari pupuh ketiga.”

“Pupuh pertama,” suara Mada mengeras. “Karena sukma sejati berawal dari kekuatan sendiri. Berawal dari diri sendiri, dan bukan memakai tenaga pinjaman kekuatan luar.”

“Pupuh ketiga…” “Pertama.”

“Pertama,” suara Eyang Puspamurti lirih. “Yang pertama telah mengisyaratkan itu. Perhatikan baik- baik, Kwowogen.

“Niatan itu, theg, berawal dari kekuatan sendiri. Kemampuan diri. Sifat utama mahamanusia. Karena mahamanusia bisa menjadi mahamanusia bukan karena kekuatan alam, kekuatan di luar, kekuatan Dewa, kekuatan raja, melainkan kekuatan mahamanusia.”

“Eyang…”

“Kwowogen, perhatikan baik-baik.

“Dalam ajaran sukma sejati, tidak diterima dengan akal, tidak dengan nalar, tidak dengan pikiran.” “Eyang…”

“Tidak juga dengan rasa.

“Bukan batin kita, bukan rasa, bukan lubuk hati. “Dengan sukma sejati.” “Eyang, perhatikan baik-baik.

“Kalau tak bisa disamakan dengan kekuatan batin, kekuatan di dalam kekuatan hati…” “Karena itu kekuatan sukma sejati.

“Tak ada istilah lain.”

“Bukankah intinya sama, Eyang?” “Tidak ada inti atau bukan inti. “Tidak ada luar atau dalam. “Tidak ada persamaan.

“Tidak ada perbandingan.

“Yang ada penerimaan. Yaitu sukma sejati. Jangan diganti, jangan disamakan dengan pengertian yang pernah ada, yang pernah kamu terima.

“Perhatikan baik-baik.” “Baik, Eyang.”

“Mada?”

“Baik, Eyang.” “Baik.

“Jadi paham kalau Mahapatih menjadi gering seketika?” “Karena penguasaan sukma sejati belum sempurna.”

Eyang Puspamurti membanting kakinya keras. Hingga amblas ke rumput sampai sebatas separuh lutut.

Bango Tontong sampai melangkah mundur. “Bodoh.

“Kamu yang paling bodoh di seantero jagat ini, Mada. Saya kira kamu lebih pintar dari Kwowogen. Ternyata sama bodohnya. Sia-sialah saya mengajarimu selama ini.

“Bodoh.”

“Saya tidak bodoh, Eyang.

“Geringnya Mahapatih Halayudha bukan karena penguasaan kekuatan sukma sejati yang belum sempurna. Sampai kapan pun sukma sejati tetap tak akan bisa dikuasai. Karena sukma sejati adalah kekuatan yang mempunyai tata kramanya sendiri. Bisa dimunculkan, akan tetapi tak bisa dikuasai.”

“Itu separuh bodoh.

“Bagaimana mungkin saya mempunyai murid yang begini dungu? Umur saya bergegas, tapi mereka masih sama seperti sebelum bertemu dengan saya.”

Bergetar, Bukan Tergetar

KWOWOGEN merangkapkan tangan. Matanya tertutup.

Bibirnya bergerak-gerak.

“Bagaimana mungkin murid tidak bodoh kalau gurunya juga sama tololnya?”

Kali ini hati Bango Tontong yang mundur. Percakapan guru dengan murid seperti yang dilakukan Eyang Puspamurti dengan Mada dan Kwowogen, dilihat sekilas seperti kurang ajar. Kalau diperhatikan benar-benar menyinggung tata krama. Menjungkir-balikkan hubungan murid dengan guru.

Bagaimana bisa murid mengatai gurunya juga tolol?

Rasanya ajaran mana pun tak sekasar itu. Lebih menyakitkan telinga Bango Tontong karena selama ini dirinya juga mendalami ilmu surat serta ilmu silat. Memang dalam memperdalam ilmu surat, dirinya tak bisa dibandingkan dengan Jabung Krewes yang memang memperdalam secara lebih tekun. Akan tetapi Bango Tontong menyadari bahwa tata krama, aturan baku, menjadi terbiasa dengan kehidupannya sehari-hari. Tata krama dalam bahasa, dalam menulis, dalam membaca, telah ada patokan tertentu yang tak bisa dilanggar begitu saja, kalau tidak mau dikatakan salah.

Bango Tontong tak bisa menerima cara-cara yang dilihat di depan matanya. “Saya memang separuh goblok. Tapi kalian berdua lebih goblok lagi. Sampai tujuh turunan masih akan begitu.”

“Di mana kekeliruan itu?” “Di kepala kamu.

“Di otak.

“Di penalaran. “Di hati.

“Di dalam sukma sejati.

“Perhatikan baik-baik, Mada dan kamu Kwowogen.

“Sukma sejati itu adanya bersama jagat. Lahir bersama roh suci kebaikan, kebajikan. Sukma sejati bisa dikuasai, karena ia bisa dipanggil, seperti memanggil dan mengerahkan tenaga dalam. Sukma sejati bisa dilatih.

“Itu jelas.”

“Eyang, saya mengatakan begitu.” “Itu salahmu, Kwowogen.”

“Salahnya, karena untuk menguasai sukma sejati harusnya memakai tenaga sukma sejati itu sendiri,” Mada menjawab cepat sekali. “Begitu sukma sejati keluar, mewujud, kita mengikuti kekuatannya, yang akan menuntun, menyeret, melarutkan kita.”

“Hampir tepat.

“Dalam contoh wadak, kenapa Halayudha bisa sakit?” Keduanya tak menjawab.

“Karena ada kekuatan lain yang tidak sepenuhnya rela. Sukma sejati sebagai unsur kekuatan terhambat oleh sesuatu yang ditolak Halayudha, yang tersembunyi. Suatu karep, kehendak, yang sebenarnya ditolak sukma sejatinya.”

“Kehendak apa yang ditolak oleh Mahapatih? “Kehendak apa yang disembunyikan Mahapatih?” “Itulah ketololan yang paling tak bisa dimaafkan. “Perhatikan baik-baik, Mada.

“Perhatikan, perhatikan. Saya selalu bilang perhatikan tapi kalian tidak menaruh perhatian sedikit pun. “Itulah namanya cubluk, atau tolol, atau dungu, atau bodoh.

“Perhatikan baik-baik.

“Kamu tidak menanyakan itu kepada saya, atau kepada Mahapatih, atau kepada orang ini. Tidak ada gunanya. Itu masih lebih percaya kepada panca indria.

“Kamu bisa bertanya sendiri. “Kalau mau.

“Sebab kamu memiliki sukma sejati.”

Bango Tontong menahan napas. Ia tertarik akan tetapi lebih banyak yang tak terpahami. “Biarkan sukma sejati bergetar.

“Keluar.

“Biarkan menjadi karep, menjadi niyatingsun, menjadi kehendak pribadi. Ikuti saja, apakah ia mau mencari tahu atau tidak.

“Dengan membiarkan hadir, keluar, dengan theg, sukma sejati akan bergetar. Bergetar, ingat. Perhatikan baik-baik.

“Bergetar, bukan tergetar. “Bergetar dengan sendirinya.

“Seperti ketika saya bisa mengetahui ada sesuatu yang tidak beres dengan Mahapatih. Saya tidak ingin mencari tahu. Karena tadi kita sedang membicarakan hal lain. Lalu tiba-tiba saya mengetahui, dan melihat, dan tepat.

“Kalian sebagai murid saya harus bisa memperhatikan dengan baik.” Sunyi sesaat. “Eyang…”

“Kamu balik kembali ke dalam,” tuding Eyang Puspamurti kepada Bango Tontong. “Tak perlu eyang- eyangan. Kalau mahapatih mu itu tahu, ia sudah tahu diri. Tak perlu berusaha mendatangkan saya atau yang lain.

“Sana, pergi sana.”

Bango Tontong mengangguk.

“Saya akan mengatakan apa yang Eyang katakan.” “Mada, Perhatikan baik-baik.

“Orang ini bisa baik, bisa jahat.

“Bisa baik karena sebagai prajurit ia mengabdi, menjalankan perintah.

“Bisa jahat karena sebagai prajurit ia tidak menyelesaikan perkara. Ia diperintahkan memanggil, tapi tidak memaksa.

“Perhatikan baik-baik, Mada dan Kwowogen.

“Begitu kalian menjadi prajurit, kalian harus melaksanakan perintah. Sampai tuntas semua tugas. Semua yang menghalangi harus ditebas. Semua bendungan harus dikuras. Semua yang lunak harus dibuat keras. Semua bijian adalah beras. Untuk menjalankan perintah, karena kamu prajurit.

“Sukma sejati dalam dirimu akan hadir sebagaimana wujud kasarmu. “Jelas?”

Senopati Bango Tontong mendengar secara utuh. Kali ini telinganya benar-benar panas. “Eyang Puspamurti jangan mencaci seenaknya.

“Sebagai pemimpin Barisan Kosala, saya bisa menahan siapa pun, bisa menghukum siapa pun. Termasuk Eyang, termasuk Mada dan Kwowogen.”

“Perhatikan baik-baik, Mada,” suara Kwowogen berubah nadanya. Menjadi tinggi, senada dengan Eyang Puspamurti.

“Perhatikan, Mada dan Eyang.

“Pemimpin Barisan Kosala, Senopati Bango Tontong, sedang menunjukkan kekuasaan, bukan kekuatan. Itu cara terpendek untuk menciptakan tenaga. Jika kekuatan sebenarnya tidak berbunyi yang muncul adalah kekuasaan.

“Sebagai ini, sebagai itu.

“Padahal itu hanya dipakai sebagai jalan terakhir.”

Senopati Bango Tontong bergerak cepat. Kedua tangannya membentuk lingkaran sebelum menjotos ke arah Kwowogen, yang meloncat menghindar sambil menyembah.

Ketika Bango Tontong bersiap dengan serangan berikutnya, Eyang Puspamurti menggerakkan tangannya. Mendorong ke depan, ke arah tubuh Bango Tontong.

Terhuyung.

“Perhatikan baik-baik, Kwowogen,” suara Mada menggeledek. “Kamu harus bisa menjaga mulutmu, tubuhmu, tanganmu, dan kakimu. Tak boleh bersikap kurang ajar kepada atasan. Apalagi Senopati Bango Tontong.” Lalu suaranya berubah menghormat.

“Hamba menyesal melihat kelakuan teman hamba. Mohon Senopati Bango Tontong berkenan memaafkan, atau menjatuhkan hukuman yang sesuai dengan kelancangannya.”

Senopati Bango Tontong berusaha berdiri tegak. “Baik, aku terima permohonanmu.

“Prajurit Mada, kamu bisa menguasai diri, tapi juga sangat keras. Di belakang hari, kita pasti akan bertemu.”

Dengan satu putaran, Bango Tontong kembali ke dalam dalem kepatihan. Banyak pertanyaan menggoda dalam benaknya. Siapa sebenarnya Eyang Puspamurti, Bango Tontong tak begitu mengetahui asal-usulnya, meskipun ia mengawasi semua kejadian di Keraton sejak masih mengabdi kepada Mahapatih Nambi. Namun satu hal sangat jelas, Eyang Puspamurti sangat sakti. Dan tak bisa ditarik ke pihaknya.

Akan tetapi Bango Tontong melihat kemungkinan Eyang Puspamurti akan menjadi bagian kekuatannya. Yaitu dengan cara memperalat Kwowogen serta Mada.

Kalau diperhatikan bahwa Eyang Puspamurti begitu open, begitu teliti dan penuh kasih kepada Mada serta Kwowogen, rasanya peluang itu bukannya tidak ada. Apalagi kalau Kwowogen tetap bersikap terbuka dan kasar, akan lebih banyak peluang untuk menekan.

Perlahan Bango Tontong menyusun kerangka langkah-langkah yang akan datang. Saat yang baik untuk mengatur strategi, kalau benar Mahapatih Halayudha masih memerlukan waktu untuk kembali seperti sediakala.

Dugaannya keliru.

Halayudha sudah duduk di kursi, mengenakan kain putih melilit bagian bawah tubuhnya. “Aku kalah. Tapi aku tak rela kekuasaan jatuh ke tanganmu, Bango Tontong.”

Panggilan Permaisuri Praba

BANGO TONTONG tidak mengerti dan tak bisa menebak arah kata-kata Halayudha. Memang tidak.

Dan Halayudha tidak memberi kesempatan baginya untuk mengerti. Ia lebih suka meninggalkannya sebagai teka-teki yang nantinya akan menggerogoti pikiran Bango Tontong.

Halayudha tak mempunyai pilihan lain ketika secara resmi menerima panggilan Permaisuri Praba Karana untuk menghadap. Ketika utusan resmi dan prajurit kawal khusus menghadap, Halayudha segera bangkit.

Merasa tubuhnya lebih sehat.

Mendengarkan perintah dengan bersila di lantai.

Dan kemudian mengganti kainnya dengan warna putih. Warna berkabung, warna pasrah, warna untuk melanjutkan perjalanan ke alam lain.

Sesuatu yang tak bisa ditawar.

Panggilan Permaisuri Praba Raga Karana hanya berarti kematian baginya. Perlawanan yang akan diberikan dengan membangkang, hanya memperpanjang dan memperdalam luka serta penderitaan. Meskipun merasa dirinya sakti, Halayudha tak akan bisa mengalahkan pengaruh Permaisuri Praba.

Keraton bukan Lumajang.

Memang terbersit keinginan untuk menyergap Permaisuri pada saat-saat terakhir, akan tetapi keinginan itu menjadi keraguan. Taruh kata ia bisa menyerang, apakah artinya sesudah itu kalau seluruh Keraton mengeroyoknya?

Memang terbersit keinginan untuk melarikan diri saat sekarang ini. Akan tetapi keinginan itu menjadi keraguan. Taruh kata ia bisa melarikan diri dan selamat, pencarian seluruh Keraton akan menyulitkan dirinya.

Keraton yang dihadapi sekarang ini.

Halayudha untuk pertama kali dalam hidupnya mengakui kekalahan. Mengakui niatan terakhir untuk mempertahankan hidupnya tak ada lagi.

Meskipun demikian, Halayudha masih tidak rela jika jabatan mahapatih nantinya akan jatuh ke tangan Senopati Bango Tontong. Meskipun pengangkatan mahapatih adalah penunjukan Raja secara mutlak, akan tetapi mengingat posisi Bango Tontong sebagai pemimpin Barisan Kosala sekarang ini, memberi kesempatan paling besar bagi Bango Tontong.

Masih ada semangat untuk mematahkan Bango Tontong. Tapi tidak untuk melawan Permaisuri Praba.

Halayudha menyadari ada kekuatan batin yang bergeser. Akan tetapi tak bisa menerangkan dengan jelas untuk dirinya sendiri.